Beranda blog Halaman 548

Hakikat Makna Kata Birr dalam Al Quran

0
Hakikat Makna Kata Birr
Hakikat Makna Kata Birr credit: mbvssghsd.wordpress.com

Makna kata Ihsan seperti yang dikemukakan pada artikel sebelumnya adalah “perbuatan baik yang lebih” yang dilakukan terhadap Tuhan, seseorang atau sesuatu. Ini berarti bahwa Ihsan itu mempunyai batasan makna dan implementasinya juga terbatas. Yang menjadi ciri Ihsan adalah adanya kelebihan kebaikan yang dilakukan. Kebaikan yang pas-pasan, dikategorikan sebagai amal saleh. Kedua kata ini sangat berbeda makna dengan kata Birr. Artikel ini akan membahas hakikat makna Birr dalam Al Quran.

Kata Birr, yang saya amati, baik dalam penggunaannya di dalam Alquran maupun di dalam hadis Nabi mempunyai konotasi yang sangat khusus. Hakikat makna kata Birr dapat kita telusuri dari penggunaannya. Kata ini hanya digunakan untuk menggambarkan kebaikan-kebaikan yang dilakukan seseorang terhadap kedua orang tuanya dan terhadap Allah swt.

Kebaikan-kebaikan yang dilakukannya dalam pengertian Birr, harus bersifat abadi, tidak terbatas oleh waktu, tidak terbatas oleh tempat dan tidak terbatas oleh jumlah, tidak terbatas oleh besar kecilnya sesuatu yang dilakukan.

Mengapa kata Birr itu hanya dikaitkan dengan kebaikan-kebaikan yang abadi terhadap kedua orang tua? Jawabannya adalah bahwa kedua orang tua adalah manusia yang paling berjasa dalam mewujudkan anaknya untuk hidup di dunia ini.

Tidak ada satu pun manusia yang paling berjasa terhadap anak, kecuali kedua orang tuanya. Kedua orang tua yang membuat anaknya ada. Kedua orangtuanya yang telah mengandungnya.

Kedua orang tuanya yang telah mengasuh dan membesarkannya. Kedua orang tuanya yang telah mendidiknya. Kedua orang tuanya yang telah melakukan segalanya untuk anaknya. Keduanya telah memberikan segalanya kepada anaknya tanpa batas waktu dan tempat, tanpa mengharap imbalan dan balas jasa, tidak hanya pada saat di dunia ini, tetapi juga setelah kematian anaknya.

Inilah rahasianya, mengapa seorang anak harus melakukan perbuatan Birr kepada kedua orang tuanya tanpa batas waktu dan tempat, tanpa batas jumlah dan sifat amalnya. Karena orang tua yang memberikan segalanya untuk anaknya. Oleh sebab itulah, maka Allah dan rasul-Nya memerintahkan kepada setiap anak untuk berbuat kebaikan dalam bentuk Birr kepada kedua tuanya. Hanya kepada kedua orang tuanya dari semua manusia yang ada di dunia ini yang dipatut diersembahkan perbuatan Birr. Kepada yang lain hanya dipersemabhakn perbuatan saleh, dan Ihsan.

Mengapa pula kata Birr itu hanya dikaitkan dengan kebaikan-kebaikan yang abadi dari manusia terhadap Allah swt? Jawabannya adalah bahwa Allahlah yang telah menciptakan dari tidak ada menjadi ada, yang menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat sempurna.

Allah Swt yang telah memberikan jasad dan roh kepada mereka sehingga mereka bisa hidup. Tidak ada yang mampu mencipta manusia, kecuali Allah. Allah yang telah memberi segalanya kepada mereka, memberikan rahmat, memberi nikmat, memberi keberkahan, memberi rezeki, memberi pahala, dan memberi segalanya.

Inilah rahasianya, mengapa manusia harus melakukan perbuatan BIRR kepada Tuhannya, dalam bentuk ibadah dan taat kepadanya tanpa batas waktu dan tempat, tanpa batas jumlah dan sifat amalnya. Karena Allah yang memberikan segalanya untuk manusia tanpa batas waktu dan tempat, tanpa ada diskriminasi di antara manusia.

Dialah yang memberikan rahmat ketika manusia hidup di dunia ini dan Dia pulalah yang memberikan rahmat-Nya ketika di akhirat nanti. Oleh sebab itulah, maka Allah dan rasul-Nya memerintahkan manusia untuk berbuat kebaikan dalam bentuk Birr kepada Allah swt. Hanya kepada Allah, Zat yang dipatut diersembahkan perbuatan Birr, yang abadi.

Ingatlah saudara-saudaraku pesan Rasulullah saw berkaitan dengan perbuatan BIRR kepada kedua orang tua kita dan kepada Allah: “Seandainya tidak ada Tuhan yang kita sembah, maka yang kita sembah adalah kedua orang tua kita.” Maknanya adalah kita harus berbuat BIRR kepada kedua tua kita karena keduanya telah memberikan segalanya kepada kita sebagaimana kita berbuat Birr kepada Allah karena Dia telah memberikan kita segalanya.

Semoga kita menjadi anak yang mampu mewujudkan Birr itu kepada kedua orang tua kita karena kedua telah memberi kepada kita tanpa batas sebagaimana kita sebagai hamba Allah mampu mewujudkan Birr itu kepada Allah yang telah memberi kepada kita segalanya tanpa batas. Wallaahu a’lam bi al-shawaab.

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 177-182

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 177

Setelah Allah membuka kedok orang-orang yang membantu dan memihak orang-orang kafir yang menentang kaum Muslimin, dan menegaskan bahwa mereka pada hakikatnya menentang dan memerangi Allah, maka pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa hal itu juga berlaku untuk setiap orang yang lebih mengutamakan kekafiran daripada keimanan.

Mereka tidak memberi mudarat kepada Allah sedikitpun, dan bagi mereka azab yang pedih. Mereka tidak akan dapat melakukannya, karena Allah membela Islam. Justru mereka akan mendapat hukuman yang berat di akhirat.

Ayat 178

Janganlah sekali-kali orang-orang kafir itu menyangka bahwa dibiarkannya mereka berumur panjang adalah baik bagi diri mereka. Tidaklah demikian halnya, kecuali kalau mereka bermartabat dan mengerjakan amal saleh yang akan menyucikan dan membersihkan mereka dari hal-hal yang keji dan sifat-sifat yang jelek.

Hal-hal yang semacam itulah yang akan bermanfaat bagi mereka dan bagi manusia lainnya. Tetapi kenyataannya, mereka tetap saja berbuat maksiat dan dosa. Dengan demikian mereka membinasakan diri mereka sendiri, sehingga mereka mendapat azab yang menghinakan.

Ayat 179

Salah satu sunatullah kepada hamba-Nya yang tidak dapat diubah-ubah ialah bahwa Dia tidak akan membiarkan orang-orang mukmin tetap di dalam kesulitan sebagaimana halnya pada Perang Uhud. Allah akan memisahkan orang-orang mukmin dari orang-orang munafik, dan akan memperbaiki keadaan orang mukmin dan memperkuat iman mereka.

Di dalam keadaan sulit dan susah, dapat dinilai dan dibedakan antara orang-orang yang kuat imannya dengan orang-orang yang lemah imannya. Kaum Muslimin diuji sampai di mana iman dan kesungguhan mereka menghadapi kaum kafir.

Setelah kaum Muslimin mengalami kesulitan dalam Perang Uhud karena dipukul mundur oleh musuh, dan mereka hampir-hampir patah semangat, di kala itulah diketahui bahwa di antara kaum Muslimin ada orang-orang munafik yang menyeleweng, berpihak kepada musuh. Orang-orang yang lemah imannya mengalami kebingungan. Berlainan halnya dengan orang-orang yang kuat imannya, kesulitan yang dihadapinya itu mendorong mereka untuk menambah kekuatan iman dan semangat mereka.

Hal-hal yang gaib dan hikmah yang tersembunyi dalam peristiwa ini, tidak diperlihatkan, kecuali kepada orang-orang tertentu, seperti kepada rasul yang telah dipilih oleh Allah. Di antara rasul-rasul, Nabi Muhammad saw. dipilih oleh Allah dengan memberikan keistimewaan kepadanya berupa pengetahuan untuk menanggapi isi hati manusia, sehingga dia dapat menentukan siapa di antara mereka yang benar-benar beriman dan siapa pula yang munafik atau kafir.

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖٓ اَحَدًاۙ  ٢٦  اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ فَاِنَّهٗ يَسْلُكُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ رَصَدًاۙ  ٢٧

Dia Mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya.  (al-Jinn/72: 26-27)

Sesudah diterangkan celaan-celaan kaum munafikin atas kenabian Muhammad saw setelah Perang Uhud dan menjelaskan bahwa peristiwa Uhud itu banyak mengandung iktibar, maka orang-orang mukmin diperintahkan agar tetap beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan kepada Nabi Muhammad saw yang membenarkan rasul-rasul sebelumnya.

Jika mereka beriman kepadanya terutama mengenai hal-hal yang gaib dan bertakwa kepada Allah dengan menjauhi larangan-larangan-Nya, mematuhi segala perintah-perintah-Nya, maka mereka akan memperoleh pahala yang amat besar.

Di dalam Alquran sering disusulkan kata takwa sesudah kata iman sebagaimana halnya kata zakat sesudah kata salat. Itu menunjukkan bahwa iman itu barulah sempurna jika disertai dengan takwa, sebagaimana halnya salat barulah sempurna jika zakat dikeluarkan.

Ayat 180

Orang-orang yang telah diberi harta dan limpahan karunia oleh Allah kemudian mereka bakhil, tidak mau mengeluarkan kewajiban mengenai harta tersebut, seperti zakat dan lain-lain, adalah sangat tercela. Janganlah sekali-kali kebakhilan itu dianggap baik dan menguntungkan bagi mereka.

Harta benda dan kekayaan akan tetap utuh dan tidak kurang bila dinafkahkan di jalan Allah, bahkan akan bertambah dan diberkahi. Tetapi kebakhilan itu adalah suatu hal yang buruk dan merugikan mereka sendiri, karena harta yang tidak dinafkahkan itu akan dikalungkan di leher mereka kelak di hari kiamat sebagai azab dan siksaan yang amat berat, sebab harta benda yang dikalungkan itu akan berubah menjadi ular yang melilit mereka dengan kuat. Nabi Muhammad saw bersabda:

مَنْ اَتَاهُ الله ُمَالاً فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ شُجَاعًا اَقْرَعُ لَهُ زَبِيْـبَتَانِ يُطَوِّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَقُوْلُ: اَنَا مَالُكَ اَنَا كَنْزُكَ ثُمَّ تَلاَ هٰذِهِ اْلاٰيَةَ

(رواه البخاري والنسائي عن أبي هريرة)

Siapa yang telah diberi harta oleh Allah, kemudian tidak mengeluarkan zakatnya, akan diperlihatkan hartanya berupa ular sawah yang botak, mempunyai dua bintik hitam di atas kedua matanya, lalu dikalungkan kepadanya di hari Kiamat nanti. Ular itu membuka rahangnya dan berkata, “Saya ini adalah hartamu, saya ini adalah simpananmu,” kemudian Nabi membaca ayat ini. (Riwayat al-Bukhari dan al-Nasa’i dari Abu Hurairah)

Sebenarnya segala apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah, diberikannya kepada orang yang dikehendaki-Nya sebagai titipan dan amanat. Sewaktu-waktu dapat dicabut dan dipindahkan ke tangan orang lain menurut kehendak-Nya. Jadi apakah alasan bagi mereka yang bakhil dan tidak mau mengeluarkan harta Allah untuk mencari rida-Nya? Apa saja yang dikerjakan seseorang, semuanya itu diketahui oleh Allah dan dibalas sesuai dengan amal dan niatnya. Nabi Muhammad saw bersabda:

اِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّـيَّاتِ وَاِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Bahwasanya amal itu tergantung dari niat, dan bahwasanya setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin al-Khattab).

Ayat 181

Ketika turun wahyu Allah:

مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا

Barang siapa meminjami Allah (menginfakkan hartanya) dengan pinjaman yang baik …(al-Baqarah/2:245),

maka datanglah seorang Yahudi kepada Rasulullah saw dan berkata, “Apakah Tuhanmu fakir? Lalu meminta-minta kepada hamba-Nya agar diberi pinjaman? Kami ini adalah orang-orang yang kaya.” Maka turunlah ayat ini. Sesungguhnya Allah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan, “Bahwasanya Allah fakir dan kami ini kaya.”

Dan percayalah bahwa kata-kata dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar itu akan dicatat, kemudian sebagai balasan, mereka akan diberi ganjaran azab yang setimpal. Pada waktu itulah Allah akan mengatakan kepada mereka, “Rasakanlah azab yang membakar ini sebagaimana pengikut-pengikut rasul telah merasakan pedihnya kata-katamu di dunia yang menusuk perasaan.”

Ayat 182

Azab yang pedih yang berlaku atas mereka (kaum Yahudi) adalah  akibat perbuatan mereka sendiri di dunia. Mereka mengatakan, bahwa Allah fakir. Mereka membunuh Nabi-nabi, melakukan perbuatan-perbuatan fasik, maksiat dan lain-lain.

Allah sekali-kali tidak akan menganiaya hamba-hamba-Nya. Allah memperlakukan hamba-hamba-Nya sesuai amal perbuatannya. Firman Allah

هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ

Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula). (ar-Rahman/55:60)

Kalau perbuatannya baik dibalas dengan surga, dan kalau perbuatannya buruk dibalas dengan neraka. Allah tidak akan memperlakukan orang yang berbuat maksiat sama dengan orang bertakwa, begitu juga orang-orang kafir tidak sama dengan orang  mukmin.

اَمْ حَسِبَ الَّذِيْنَ اجْتَرَحُوا السَّيِّاٰتِ اَنْ نَّجْعَلَهُمْ كَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَوَاۤءً مَّحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۗسَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ ࣖࣖ

Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, yaitu sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. (al-Jasiyah/45:21)

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 166-176

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 166

Kemenangan yang diperoleh tentara Islam dalam Perang Badar, karena izin dan pertolongan Allah. Kekalahan itu pada lahirnya merupakan nasib buruk, dan sebaliknya kemenangan  merupakan nasib baik bagi para syuhada serta pelajaran bagi  Muslimin. Allah berfirman:

مَآ اَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ ۖ وَمَآ اَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ ۗ

Kebajikan apa pun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apa pun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri. …. (an-Nisa’/4:79)

Adanya kemenangan dan kekalahan itu dalam permulaan peperangan baik bagi pasukan Muslimin maupun yang lain adalah suatu hal yang lumrah, tetapi pada akhirnya pasukan Muslimin yang akan menang. Yang demikian itu dimaksudkan antara lain, untuk menguji keteguhan iman dan ketabahan masing-masing agar orang-orang mukmin lebih tebal keimanannya sehingga dapat dibedakan dari umat yang lain.

Ayat 167

Demikian juga agar orang-orang munafik dapat diketahui kemunafikannya dengan nyata. Pada waktu Perang Uhud jumlah tentara Islam 1.000 orang kemudian ditengah jalan 300 orang yang tergolong munafikin di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay telah kembali ke Medinah. Maka Perang Uhud merupakan pemisah antara tentara yang benar-benar beriman dan yang setengah-setengah imannya, yakni golongan munafik.

Kaum munafikin pada waktu diajak berperang fi sabilillah menegakkan agama Allah, mempertahankan hak dan keadilan dan menolak kebatilan dan kemungkaran guna mencari rida Allah atau berperang untuk menjaga diri dan mempertahankan tanah tumpah darahnya, mereka menjawab, “Jika kami mengetahui bahwa kita dapat dan mampu berperang pasti kami mengikuti kaum Muslimin.”

Tetapi mereka menilai bahwa kaum Muslimin berperang pada waktu itu semata-mata menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Sebenarnya mereka lebih cenderung kepada kekafiran daripada keimanan dan apa yang mereka katakan bukan sebenarnya apa yang ada dalam hati mereka. Allah mengetahui kemunafikan yang mereka sembunyikan dalam hati mereka.

Ayat 168

Orang-orang munafik itu tidak ikut berperang dan berkata kepada teman-temannya yang telah terbunuh dalam Perang Uhud, “Sekiranya mereka mengikuti kami tinggal di Medinah saja tanpa ikut berperang, niscaya mereka tidak akan mati terbunuh.”

Katakanlah kepada mereka ya Muhammad, “Tolaklah kematian dirimu jika kamu benar.” Sebenarnya mereka tidak akan dapat menolak kematian meskipun mereka tinggal saja di rumah atau berlindung dalam suatu benteng yang kokoh. Pada waktunya orang pasti akan mati. Adapun sebab-sebab kematian mungkin berbeda-beda. Allah berfirman:

اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكْكُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُّشَيَّدَةٍ ۗ

Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kokoh… (an-Nisa’/4:78).

Ayat 169

Orang-orang yang telah terbunuh sebagai syuhada dalam perang fi sabilillah, janganlah dikira mereka mati, sebagaimana anggapan orang- orang munafik, tetapi mereka masih hidup di sisi Allah, mendapat rezeki dan nikmat yang berlimpah.

Bagaimana keadaan hidup mereka seterusnya, hanyalah Allah yang mengetahui. Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas, Nabi saw bersabda

اَلشُّهَدَاءُ عَلَى بَارِقِ نَهْرٍ بِبَابِ الْجَنَّةِ فِي قُبَّةٍ خَضْرَاءَ يَخْرُجُ اِلَيْهِمْ رِزْقُهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ بُكْرَةً وَ عَشِيًّا

(رواه الحاكم واحمد والطبراني عن ابن عبّاس)

Para syuhada berada di tepi sungai dekat pintu surga, mereka berada dalam sebuah kubah yang hijau. Hidangan mereka keluar dari surga itu setiap pagi dan sore. (Riwayat al-Hakim, Ahmad dan at-Tabrani dari Ibnu ‘Abbas)

Para syuhada itu menikmati pemberian-pemberian Allah, mereka ingin mati syahid berulang kali. Hal ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah saw:

مَا مِنْ نَفْسٍ تَمُوْتُ لَهَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ يَسُرُّهَا اَنْ تُرْجَعَ اِلَى الدُّنْيَا اِلاَّ الشَّهِيْدُ فَاِنَّهُ يَسُرُّهُ اَنْ يُرْجَعَ اِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ مَرَّةً اُخْرَى مِمَّا يَرَى مِنْ فَضْلِ الشَّهَادَةِ

(رواه مسلم)

“Tidak ada seorang yang telah mati dan memperoleh kenikmatan di sisi Allah, kemudian ingin kembali ke dunia kecuali orang yang mati syahid. Ia ingin dikembalikan ke dunia, kemudian mati syahid lagi. Hal itu karena besarnya keutamaan mati syahid..” (Riwayat Muslim)

Ayat 170

Para syuhada Perang Uhud setelah menikmati karunia Tuhan, mereka berkata, “Mudah-mudahan teman-teman kami mengetahui kenikmatan ini.” Kemudian dijawab oleh Allah, “Akulah yang menyampaikan hal ini kepada mereka.” Para syuhada itu bergembira atas nikmat dan kemurahan yang telah diberikan Allah kepada mereka.

Dan mereka berharap terhadap kawan-kawan mereka seperjuangan yang tidak gugur dalam perang fi sabilillah sekiranya mereka dapat pula memperoleh kemurahan dan nikmat Allah yang serupa dengan apa yang mereka peroleh. Bagi mereka ini tidak ada kekhawatiran dan kesusahan.

Ayat 171

Orang mukmin dan mujahidin bergembira atas nikmat dari Allah sebagai pahala amal mereka dan atas tambahan karunia yang lain. Sungguh Allah tidak akan mengurangi pahala yang telah ditentukan bagi para mukmin dan mujahidin.

Ayat 172

Orang mukmin memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya untuk tetap berada di jalan Allah meskipun mereka telah mendapat luka. Mereka yang berbuat baik dan takwa akan memperoleh pahala yang besar.

Ayat 173

Turunnya ayat ini berhubungan dengan Abu Sufyan panglima perang kaum musyrikin Mekah dan tentaranya, yang sudah kembali dari Perang Uhud. Mereka setelah sampai di suatu tempat bernama Ruha, mereka menyesal dan bermaksud akan kembali lagi untuk melanjutkan perang.

Berita ini sampai kepada Rasulullah, maka beliau memanggil kembali pasukan Muslimin untuk menghadapi Abu Sufyan dan tentaranya. Kata Rasulullah saw, “Jangan ada yang ikut perang hari ini kecuali mereka yang telah ikut kemarin, sedang tentara Islam pada waktu itu telah banyak yang luka-luka. Tapi akhirnya Allah swt menurunkan rasa takut pada hati kaum musyrikin dan selanjutnya mereka pulang kembali.

Para mujahidin ditakut-takuti oleh sebagian musuh (munafik), dengan menyatakan bahwa musuh telah menghimpun kekuatan baru guna menghadapi mereka. Tetapi para mujahidin tidak merasa gentar karena berita itu, bahkan bertambah imannya dan bertambah tinggi semangatnya untuk menghadapi musuh Allah itu dengan ucapan, “Allah tetap akan melindungi kami dan kepada Allah kami bertawakal.”

Ayat 174

Dengan keimanan dan tekad yang kuat itu akhirnya mereka dapat ke Medinah. Abu Sufyan dan tentaranya tidak jadi melakukan serangan terhadap mereka. Mereka sama sekali tidak mengalami panderitaan dan mereka tetap dalam keridaan Allah.

Ayat 175

Musuh-musuh yang munafik yang berusaha menakut-nakuti orang-orang mukmin merupakan setan yang mengajak teman-temannya agar jangan ikut berperang dan menakut-nakuti Muslimin dengan menyatakan bahwa jumlah musuh amat banyak dan mempunyai senjata lengkap. Allah memperingatkan agar para mujahidin itu jangan terpengaruh dan jangan ikut mereka, tetapi takutlah kepada Allah dan bersiaplah untuk berperang bersama Rasulullah saw jika kamu sekalian benar-benar beriman.

Ayat 176

Nabi Muhammad saw ketika melihat keadaan kaum Muslimin dalam Perang Uhud, beliau merasa sedih dan cemas. Ketika itulah ayat ini turun untuk menghibur Nabi saw, “Wahai Muhammad janganlah merasa sedih dan cemas, melihat perbuatan sebagian pengikutmu yang munafik yang bersama-sama orang kafir menghimpun segala usaha dan kekuatan untuk membela kekafiran. Pada hakikatnya bukanlah engkau yang diperangi dan dianiaya mereka, tetapi Allah-lah yang mereka perangi. Tentulah mereka tidak akan berdaya menentang Allah.”

Maksud mereka akan mencelakakan dan memberi mudarat kepada kaum Muslimin, tetapi pada hakikatnya mereka sendirilah yang celaka. Allah tidak akan memberikan ampunan kepada mereka di akhirat. Mereka akan mendapat azab yang amat pedih dan tidak terkira besarnya.

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat As-Shaffat Ayat 78-81: Terima Kasih Allah kepada Nabi Nuh

0
terima kasih kepada nabi nuh
terima kasih kepada nabi nuh

Berterima kasih mungkin merupakan hal yang remeh bagi sebagian orang. Tapi ternyata tidak semua orang dapat melakukannya dengan mudah, apalagi dengan ikhlas. kendati demikian, berterima kasih merupakan hal yang sangat penting untuk dilakukan sehingga harus diajarkan dan diteladankan mulai sejak dini.

Para Nabi termasuk Nabi Nuh dalam hal ini mengimplementasikan rasa terima kasih tersebut dengan pengorbanan yang luar biasa hebat. Nabi Nuh mengalami kesendirian yang panjang, dicemooh dan dihinakan oleh kaumnya. Perbuatannya sebagai rasa terima kasih kepada Allah swt dianggapnya sebagai orang gila bahkan oleh anaknya sendiri. Maka Allah swt mengapresiasi dakwah dan segala pengorbanan Nabi Nuh. Hal ini termaktub dalam firmannya Q.S. al-Shaffat ayat 78-81:

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى الْاٰخِرِيْنَ

سَلٰمٌ عَلٰى نُوْحٍ فِى الْعٰلَمِيْنَ

اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan Kami abadikan untuk Nuh (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. ”Kesejahteraan (Kami limpahkan) atas Nuh di seluruh alam.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman” (Q.S. al-Shaffat [37]: 78-81)

Tafsir Ayat

Hamka menafsirkan ayat di atas bahwa Allah swt meninggalkan pujian yang baik terhadap Nabi Nuh. Maksudnya bahwa kisah bahtera Nabi Nuh menjadi pegangan dan bukti konkrit atas dakwahnya selama 950 tahun.

Selanjutnya, Allah swt mengapresiasi kerja keras Nabi Nuh dengan ungkapan salamun ‘ala nuh (salam sejahtera Kami limpahkan atas Nuh), ungkapan ini merupakan bentuk penghargaan yang tinggi kepada Nabi Nuh. Ia telah gigih, tabah, dan sabar dalam berjuang menegakkann syiar Islam. Dan ia selalu memohon pertolongan kepada Allah karena ia sadar bahwa manusia tidak akan berhasil dalam usahanya tanpa ada campur tangan dariNya. 

Baca juga: Tafsir QS. Ali Imran [3] ayat 14-15: Cintai Dia Sewajarnya, Cintai Tuhan Sepenuhnya

Penafsiran yang berbeda dikemukakan oleh Quraish Shihah menyatakan bentuk selamat atas Nabi Nuh adalah terhindar dari segala yang tercela dan berbahaya atau hal-hal yang tidak menyenangkan dan menakutkan seseorang pada tempat tertentu.

Penggunaan kata nakirah pada salam yakni tidak memakai alif dan lam untuk menggambarkan betapa besar dan banyaknya keselamatan dan kedamaian yang diterima Nabi Nuh. Dalam hal ini Allah mengucapkan selamat, salam sejahtera kepada Nabi Nuh atas jasanya yang sangat besar dalam mensyiarkan ajaran tauhid.

Senada dengan Shihab, Ibn Katsir memaparkan bahwa bentuk salam tersebut adalah buah baginya atas tutur kata dan kesabaran yang baik di kalangan sesudahnya (umat Nabi Muhammad saw). Ibn Abbas berkata yadzkuru bikhair (sebutan baik bagi Nabi Nuh).

Baca juga: Tafsir Surat An-Nahl ayat 15-16: Nikmat Allah Bagi Penduduk Bumi

Mujahid berkata sebutan yang baik di kalangan semua nabi. Qatadah dan Al-Saddi berkata bahwa Allah swt mengabadikan bagi Nuh pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Al-Dhahhak mengatakan pujian yang baik. Sedangkan pada ayat ke-81, sesungguhnya Nabi Nuh adalah pribadi yang al-mushaddiqin (membenarkan), al-muwahhidin (yang mengesakan), dan al-muqinin (meyakini kebesaranNya).

Hikmah Terima Kasih Allah terhadap Nabi Nuh

Ayat di atas mengajarkan kepada kita bahwa Allah swt tak segan untuk berterima kasih dan menambah nikmat kepada hambaNya tanpa pandang bulu mulai level Nabi hingga kita sebagai manusia biasa. Jikalau Allah Swt. sebagai Tuhan kita semua tak malu untuk berterima kasih kepada hamba-Nya apalagi kita sebagai manusia yang tak memiliki kedudukan istimewa yang patut diunggulkan justru semakin membuat kita harus dan membiasakan diri untuk berterima kasih kepada sesama.

Oleh karenanya, perbuatan terima kasih yang dilukiskan Allah swt kepada Nabi Nuh tidak diberikan secara cuma-cuma alias gratis, Ia memberikan tantangan yang tidak mudah bahkan tersulit, tetapi Ia juga melimpahkan kenikmatan yang tiada tara bagi mereka yang berhasil melakukannya. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 161-165

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 161

Dalam Perang Badar ada selembar selimut merah dari barang rampasan hilang sebelum dibagi-bagi. Sebagian dari orang munafik mengatakan bahwa selimut itu mungkin diambil oleh Rasulullah saw atau pasukan pemanah.

Tidak pantas dan tidak mungkin Rasulullah saw berbuat khianat mengambil barang gan³mah (rampasan dalam peperangan). Hal itu bertentangan dengan sifat-sifat kemaksuman Nabi (terpeliharanya dari perbuatan yang tercela), akhlaknya yang tinggi yang menjadi contoh utama.

Barang siapa berbuat khianat serupa itu maka ia pada hari kiamat akan datang membawa barang hasil pengkhianatannya dan tidak akan disembunyikannya. Setiap orang akan menerima balasan atas amal perbuatannya baik atau buruk, dan dalam hal balasan itu ia tidak akan teraniaya. Seperti orang yang berbuat baik dikurangi pahalanya atau orang yang berbuat buruk ditambah siksaannya.

Yang dimaksud dengan gulul pada ayat 161 ialah mengambil secara sembunyi-sembunyi milik orang banyak. Jadi pengambilan itu sifatnya semacam mencuri. Seorang rasul sifatnya antara lain amanah, dapat dipercaya. Karena itu sangat tidak mungkin Rasulullah saw berbuat gulul bahkan dalam masalah gulul ini Rasulullah saw pernah bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ! مَنْ عَمِلَ لَنَا مِنْكُمْ عَمَلاً فَكَتَمَ مَخِيْطًا فَمَا فَوْقَهُ فَهُوَ غُلٌّ يَأْتِي بِهِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ

(رواه مسلم)

“Wahai sekalian manusia! Barang siapa di antaramu mengerjakan sesuatu untuk kita, kemudian ia menyembunyikan sehelai barang jahitan atau lebih dari itu, maka perbuatan itu gulul (korupsi) harus dipertanggungjawabkan nanti pada hari Kiamat.” (Riwayat Muslim)

Umar bin Khattab pernah meriwayatkan:

عَنْ عُمَرَ ابْنِ الْخَطَّابِ قَالَ: لَمَّا كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ اَقْبَلَ نَفَرٌ مِنْ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوْا: فُلاَنٌ شَهِيْدٌ وَفُلاَنٌ شَهِيْدٌ حَتَّى مَرُّوْا عَلَى رَجُلٍ فَقَالُوْا: فُلاَنٌ شَهِيْدٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَلاَّ اِنِّي رَأَيْتُهُ فِى النَّارِ فِي بُرْدَةٍ غَلَّهَا اَوْ عَبَاءَةٍٍ، ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَاابْنَ الْخَطَّابِ اِذْهَبْ فَنَادِ فِى النَّاسِ اِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلاَّ الْمُؤْمِنُوْنَ. قَالَ فَخَرَجْتُ فَنَادَيْتُ اِلاَّ اِنَّهُ لاَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ اِلاَّ الْمُؤْمِنُوْنَ

(رواه مسلم)

“Dari Umar bin al-Khattab berkata, “Setelah selesai perang Khaibar beberapa sahabat menghadap Rasulullah saw seraya mengatakan, Si A mati syahid, si B mati syahid sampai mereka menyebut si C mati syahid. Rasul menjawab, “Tidak, saya lihat si C ada di neraka, karena ia mencuri selimut atau sehelai baju.” Kemudian Rasul bersabda, Hai Umar pergilah engkau lalu umumkan kepada orang banyak bahwa si C tidak akan masuk surga, kecuali orang-orang mukmin. Umar berkata, lalu aku keluar, maka aku menyeru, ketahuilah bahwa si C tidak akan masuk surga kecuali orang-orang mukmin.” (Riwayat Muslim).

Ayat 162

Orang yang mencari keridaan Allah dengan beribadah dan beramal saleh tidak sama dengan orang yang memperoleh murka Allah, karena berbuat maksiat, melanggar larangan-larangan-Nya dan meninggalkan kewajibannya. Orang yang memperoleh murka Allah itu tempatnya di neraka jahanam, dan itu adalah tempat kembali yang terjelek.

Dalam Alquran banyak terdapat ayat yang dirangkaikan menyebut dua golongan yang berbeda yang memang sifat-sifat mereka berbeda dan berlawanan misalnya ayat:

۞ اَفَمَنْ يَّعْلَمُ اَنَّمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ اَعْمٰ

Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan Tuhan kepadamu adalah kebenaran, sama dengan orang yang buta? … (ar-Ra’d/13:19).

اَفَمَنْ وَّعَدْنٰهُ وَعْدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيْهِ كَمَنْ مَّتَّعْنٰهُ مَتَاعَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا

Maka apakah sama orang yang Kami janjikan kepadanya suatu janji yang baik (surga) lalu dia memperolehnya, dengan orang yang Kami berikan kepadanya kesenangan hidup duniawi…(al-Qasas/28:61)

Kedua golongan itu masing-masing mempunyai tingkatan, karena pada hari Kiamat nanti yang merupakan hari pembalasan, kedua golongan itu akan dibalas sesuai dengan amal perbuatannya di dunia. Orang yang banyak berbuat baik akan tinggi tingkatannya dan orang yang banyak kejahatannya akan berada di tingkat yang paling rendah.

Tingkatan golongan manusia yang tertinggi biasa disebut ar-rafiul ala, yaitu tingkat yang dicapai oleh Nabi Muhammad saw, dan yang terendah disebut ad-darkul asfal. Hal ini dijelaskan dalam Alquran bahwa manusia di sisi Allah apakah ia baik ataukah jelek, adalah bertingkat-tingkat kebaikan dan kejelekannya. Allah Maha Mengetahui akan tingkat-tingkat amal perbuatan mereka dan memberi balasan sesuai dengan amal perbuatan masing-masing.

Ayat 163

Segenap makhluk Allah yang tampak dibagi kepada 3 macam jenis, ialah jenis nabatat  (tumbuh-tumbuhan), jenis hayawanat (binatang) dan jenis jamadat (benda-benda mati).

Jenis nabatat  ialah jenis tumbuh-tumbuhan baik yang tumbuh pada tanah atau air maupun yang tumbuh di tempat-tempat lain, misalnya pada dahan atau batang-batang kayu. Jenis hayawanat ialah jenis makhluk yang hidup bernyawa. Jenis jamadat ialah selain dari jenis nabatat dan hayawanat. Makhluk jenis hayawanat ada yang untuk kepentingan hidupnya dikaruniai akal dan pengertian, misalnya manusia dan ada yang tidak ialah jenis nabatat. Manusia semestinya dengan mempergunakan akal pikiran dan pengertiannya dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang bermanfaat dan yang mudarat.

Kemudian ia dapat memilih mana yang baik untuk kemaslahatan dirinya. Tetapi karena manusia itu juga diberi hawa nafsu, bila ia tidak pandai-pandai mengendalikannya, akan lebih banyak mengajak kepada keburukan dan kejahatan. Oleh karena itu jika manusia dalam mengarungi bahtera hidup dan kehidupannya tanpa pimpinan dan tuntunan seorang rasul, maka akan mengalami kekacauan, kerusakan dan kehancuran.

Hal ini telah dibuktikan oleh sejarah Nabi Adam. Artinya: setiap zaman fatrah (zaman vakum antara seorang rasul dengan rasul sesudahnya) manusia di bumi ini selalu mengalami kekacauan, keributan dan kehancuran, maka diutusnya seorang rasul adalah merupakan nikmat dan kebahagiaan bagi masyarakat manusia.

Ayat 164

Allah benar-benar memberi keuntungan dan nikmat kepada semua orang mukmin umumnya dan kepada orang-orang yang beriman bersama-sama Rasulullah khususnya, karena Allah mengutus seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, sehingga mereka mudah memahami tutur katanya dan dapat menyaksikan tingkah lakunya untuk diikuti dan dicontoh amal-amal perbuatannya.

Nabi Muhammad langsung membacakan ayat-ayat kebesaran Allah menyucikan mereka dalam amal dan iktikad, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Adapun yang dimaksud al-Kitab adalah suatu kompendium semua pengetahuan yang diwahyukan (revealed knowledge), sedangkan al-Hikmah adalah mencakup semua pengetahuan perolehan (acquired knowledge).

Jika dihubungkan dengan keberadaan kalam dan falsafah, maka kalam lebih berat ke al-Kitab sedangkan falsafah lebih berat ke al-Hikmah, meskipun kedua-duanya mengagungkan satu dengan lainnya dengan tingkat keserasian tertentu yang tinggi. Keduanya bertemu dalam kesamaan iman dan kedalaman rasa keagamaan.

Ayat 165

Ayat ini masih ada hubungannya dengan ayat tentang kisah Perang Uhud. Pada waktu Perang Uhud 70 dari pasukan Muslimin gugur sebagai syuhada. Di antara mereka ada yang berkata dari manakah dan sebab apakah kita mengalami musibah sedemikian besar? Sedangkan pasukan Muslimin pada Perang Badar telah memperoleh kemenangan besar dengan menjadikan musuh lari kocar-kacir dan dapat menewaskan 70 orang musuh dan menawan 70 orang lagi.

Terhadap pertanyaan itu Rasulullah dapat perintah untuk menjawab bahwa malapetaka itu adalah karena kesalahan mereka sendiri. Pasukan pemanah oleh Rasulullah diperintahkan bertahan di atas bukit dan tidak boleh meninggalkannya sebelum ada perintah dari beliau. Tetapi mereka telah melanggar perintah itu dan turun meninggalkan bukit untuk ikut mengambil barang ganimah. Dari atas bukit yang ditinggalkan pasukan pemanah itulah musuh menyerbu tentara Islam, sehingga akhirnya mereka mengalami kekalahan. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

(Tafsir Kemenag)

Beda Derajat Orang yang Berilmu dan Tidak Berilmu

0
pendidikan Islam
pendidikan Islam

Agama Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Sebagai agama ilmiah nan mulia, Islam sangat mendorong sekali umatnya menjadi orang yang berilmu, menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, terlebih seorang pendidik, guru, dosen, ustadz.

Bahkan mereka diklasifikasikan sebagai orang-orang yang ulul albab (orang yang berakal) dan beruntung baik di dunia maupun di akhirat. Derajat mereka tentu lebih tinggi bahkan tidak sama dengan mereka yang tidak berilmu, sebagaimana dalam firman-Nya surat az Zumar ayat 9;

اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ

(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran. (Q.S. az-Zumar [39]: 9)

Tafsir Surat az-Zumar Ayat 9

Al-Suyuthi dalam Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul menjelaskan asbabun nuzul ayat ini, menurut Ibnu Abi Hatim dari penuturan Ibnu Umar, ayat ini berkenaan dengan sahabat Utsman bin Affan. Sementara Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari jalur al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, bahwa orang yang dimaksudkan ialah Ammar bin Yasir. Adapun menurut Juwaibir dari Ibnu Abbas yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah Ibnu Mas’ud, Ammar bin Yasir, dan Salim mantan budak Abu Huzaifah.

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini menurut ats-Tsauri telah meriwayatkan dari Firas, dari as-Sya’by, dari Masruq, dari Ibnu Mas’ud yang dimaksud kata al-qanit adalah orang yang selalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya. Penafsiran yang lain datang dari al-Baghawy, ia menyebut al-qanit dengan al-muqim ala ath-tha’ah (senantiasa dalam keadaan taat). Ibnu Umar mengatakan al-qunut bermakna qiraatul qur’an wa thulul qiyam (membaca Alquran dan panjang berdirinya (beribadah di tengah malam)).

Sedangkan Ibnu Abbas, al-Hasan, al-Saddi, dan Ibnu Zaid menafsiri redaksi ana al-lail ialah tengah malam, yakni waktu tengah-tengah malam (jauf al-lail). Berbeda dengan mereka, al-Tsauri telah meriwayatkan dari Mansur yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud adalah waktu malam yang terletak antara Magrib dan Isya’. Al-Hasan dan Qatadah menyebutkan waktu permulaan, pertengahan dan akhirnya.

Pada redaksi selanjutnya, yahdzarul aakhirata wa yarju rahmata rabbihi, Ibnu Katsir menafsirinya dengan dalam ibadahnya ia takut (khaaif) dan berharap (raja’) kepada Allah. Dan memang sepatutnya ibadah kepada-Nya dilakukan dengan seperti itu. Sedangkan al-Baghawy menafsirkan redaksi yahdzarul akhirah dengan yakhaful akhirah (takut kepada azab akhirat) dan yarju rahmata rabbihi seperti perbuatan yang dilakukan tanpa mengharap sesuatu alias tulus dan ikhlas.

Kalimat yang menyebut, “adakah sama orag yang tidak mengetahui dengan yang mengetahui?” Ulama ahli tafsir beragam dalam menafsirkan kalimat ini. Di antaranya, Abu Sa’ud al-‘Imady Muhammad bin Muhammad dalam Irsyad al-‘Aqli as-Salim ila Mazaya Kitab al-Karim mengatakan apakah sama orang-orang yang mengetahui hakikat segala sesuatu kemudian melakukan sesuatu sesuai pengetahuan yang dimilikinya sebagaimana orang yang bangun di tengah malam dibanding mereka yang tidak mengetahui hakikat sesuatu kemudian beramal dengan kebodohan dan kesesatan?

Maka, jawabannya jelas tidak sama. Sejalan dengan al-Imady, Ibnu Katsir mengatakan, apakah sama orang yang sebelumnya menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah?

Al-Zujaj memberikan pandangannya dalam Tafsir al-Qurthuby, bahwa tidak sama orang yang berada dalam ketaatan dengan mereka yang berada dalam kemaksiatan. Ia menambahkan tidak sama orang yang melakukan suatu amal yang didasari dengan ilmu dengan suatu amal yang dilakukan tanpa berdasar pada ilmu.

Maka, sesungguhnya orang yang mengetahui perbedaan di antara keduanya hanyalah orang yang mempunyai akal, hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Pungkas ayat ini.

Beda Derajat Orang Berilmu dan Tidak Berilmu

Kedudukan orang yang berilmu, orang yang taat berbeda dengan mereka yang tidak berilmu (bodoh) dan berada dalam kemaksiatan. Ayat di atas menyiratkan bahwa orang yang menghabiskan waktunya untuk berbuat taat kepada Allah dengan berbagai bentuk ketaatann didasarkan pada ilmu tidak sama dengan mereka yang hanya menuruti hawa nafsunya. Mereka memiliki kedudukan lebih tinggi dan mulia ketimbang yang senantiasa berbuat kemaksiatan dalam hidupnya.

Mengutip Kiai Hasyim Asy’ari dalam Adab al-Alim wa al-Muta’allim menjelaskan selisih derajat ulama dibandingkan orang Muslim pada umumnya dengan mengutip sahabat Ibnu Abbas, “Para ulama mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang mukmin pada umumnya dengan selisih 700 derajat dan di antara dua derajat terpaut selisih 500 tahun.”

Ini belum dibandingkan dengan derajat orang yang senantiasa bermaksiat dan berada dalam kesesatan, tentu perbedaannya cukup signifikan. Sungguh, barang siapa yang beramal tanpa didasari dengan ilmu, maka tertolak. Semoga spirit pendidikan yang terkandung dalam ayat di atas, mampu kita praktikkan dengan menuntut ilmu sepanjang hayat serta pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu A’lam.

Alasan Kenapa Al-Quran Diturunkan Berbahasa Arab

0
Alquran berbahasa arab
Alquran berbahasa arab

Pernahkah kita bertanya-tanya mengapa bahasa Arab menjadi bahasa Al-Quran. apakah karena Rasulullah terlahir di Arab, dan Al-Quran merespons semua kejadian yang terjadi di Arab kala itu?. Benarkah hanya itu alasannya?. Mari kita ketahui lebih dalam lagi, melalui penjelasan berikut:

Al-Quran dikarunia kemukjizatan yang agung tiada tanding, salah satu mukjizat Al-Quran adalah sisi kebahasaannya. Ini berarti, cara untuk menarik makna dari pesan-pesan Al-Quran terletak pada pengetahuannya tentang bahasa Arab. Jika menerawang pada masa turunnya, ternyata keindahan balaghoh Al-Quran sendiri mencapai tingkatan yang belum pernah dikenal sebelumnya.

Itu artinya, meski kosakata Al-Quran menggunakan bahsa Arab, namun sifat bahasa Arab yang digunakan oleh Al-Quran berbeda dengan sifat bahasa Arab yang dikonsumsi oleh masyarakat Arab ketika turunnya Al-Quran. lantas, apa yang membedakan.

M.Quraish Shihab dalam karyanya menjelaskan, bahwa bahasa Arab yang di gunakan oleh manusia jelas berbeda dengan bahasa Al-Quran yang memuat kalimat-kalimat ilahi dengan ketelitian dan tingkat keindahan susastranya. Masyarakat Arab, menggunakan bahasa yang tersusun oleh manusia dengan ragam sifat-sifat mereka.

Meski pada masanya dikenal dengan kaya akan syair, namun kualitas sastranya berbeda-beda sesuai aneka sifat penyairnya, tidak menutup kemungkinan, teridentifikasi kobohongan yang ditolerir dalam kalimat si penyair.

Al-Quran, bukanlah syair, bukanlah kata mutiara, bukan pula puisi melainkan ayat-ayat mulia yang mampu menyentuh kalbu para pedengarnya. Ini terbukti, pada sejarah sahabat Umar bin Khattab ketika memeluk agama Islam. Sebelum Islam, sahabat Umar merupakan seorang yang keras, ditakuti penduduk Arab, dan memusuhi ajaran Rasulullah.

Namun dengan perantara keindahan ayat Al-Quran, ia memeluk Islam usai mendengar lantunan adik perempuannya saat membaca Al-Quran surah Thaha ayat 1-5. tidak dipungkiri, sayup-sayup bacaan Al-Quran melelehkan hati sabahat Umar, hingga membanting tekadnya untuk memeluk ajaran Rasulullah. Bahkan hingga masa saat ini, tidak sedikit orang memeluk islam karna tergerak hatinya ketika mendengar kalamullah Al-Quran.

Lebih dalam, seorang pakar bahasa Arab, Ustman Ibnu Jinni mengatakan, bahwa pemilihan huruf kosakata bahasa Arab yang tercantum dalam Al-Quran bukan merupakan suatu kebetulan, melainkan menyimpan kaidah falsafah tersendiri yang unik, luas lagi terperinci. Tata bahasa Arab pun sangat rasional, namun cukup rumit. Misalnya ketika berusaha manafsirkan firman Allah QS. al-A’raf 7: 172,

اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا

 “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.”

Dinukil dari kitab al-Burhan fi Ulumil Quran karya az-Zarkasyi. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa jika kata balaa diganti dengan kata na’am maka penjawab akan berpotensi menjadi kafir. Mengapa demikian, karena na’am diperuntukukan untuk jawaban yang membenarkan suatu pertanyaan dari redaksi yang bersifat negatif ataupun positif.

Jika redaksi “Bukakah, aku Tuhan kamu” dijawab dengan na’am maka akan memiliki arti “Benar, Engkau bukan Tuhanku”. Berbeda ketika dijawab dengan kata balaa, kata ini digunakan untuk membenarkan hal positif dan menyangkal redaksi yang bersifat negatif, sebagaimana menyangkal kalimat bukankah, sehingga menjadi “Aku Tuhanmu”, dan jawaban balaa berarti “Iya, Engkau Tuhan kami”.

Melalui ketelitian inilah yang membedakan bahasa Arab dengan bahasa lainnya. Di samping itu, kekayaan bahasa Arab dan kedalamannya dalam Al-Quran menjadikan siapapun yang meragukannya tidak mampu menandingi kualitas kebahasaan Al-Quran. Ini merupakan bentuk keistimewaan bahasa Al-Quran. Bahkan Allah sendiri menantang dalam firmannya Q. Al-Baqarah [2]: 23,

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Jika kamu dalam keraguan menyangkut apa (Al-Quran) yang kami turunkan kepada hamba kami (Muhammad) maka buatlah yang hampir serupa dengannya dan ajaklah siapa pun selain Allah. Kalau memang kamu tidak percaya.

Memang tidak mudah mendalami bahasa Arab untuk dapat memahami makna Al-Quran, baik dalam keserasian dan keseimbangannya. Ini juga membuktikan bahwa Al-Quran bukanlah karangan Nabi Muammad secara pribadi, karena keistimewaan dan ketelitan redaksinya sangat diluar kemampuan, bahkan yang mendalami bahasa Arab pun belum tentu dapat merasakannya. Wallahu A’lam.

Tafsir Tarbawi: Belajar Menjaga Amanah

0
menjaga amanah
menjaga amanah

Amanah merupakan salah satu sifat kenabian. Sungguh mulia tatkala manusia mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini, kita tengah mengalami krisis amanah yang cukup akut. Betapa banyak disuguhkan pemberitaan jual beli jabatan, korupsi yang menggurita, guru atau siswa yang bertindak asusila, dan masih banyak lainnya.

Karenanya dalam Islam kita diajarkan bersikap amanah dan menjaga amanah itu dengan sangat baik. Tujuannya tak lain adalah demi kemaslahatan manusia itu sendiri sebagaimana yang disiratkan dalam firman-Nya di bawah ini,

فَانْطَلَقَا ۗحَتّٰىٓ اِذَآ اَتَيَآ اَهْلَ قَرْيَةِ ِۨاسْتَطْعَمَآ اَهْلَهَا فَاَبَوْا اَنْ يُّضَيِّفُوْهُمَا فَوَجَدَا فِيْهَا جِدَارًا يُّرِيْدُ اَنْ يَّنْقَضَّ فَاَقَامَهٗ ۗقَالَ لَوْ شِئْتَ لَتَّخَذْتَ عَلَيْهِ اَجْرًا

Maka keduanya berjalan; hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu), lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, “Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu. (Q.S. al-Kahfi [18]: 77)

Tafsir Surat al-Kahfi Ayat 77

Ayat ini menjelaskan kisah Nabi Musa dan Khidir a.s tatkala menyusuri perjalanan hingga tibalah pada satu daerah. Ibnu Katsir menceritakan bahwa Ibnu Juraij telah meriwayatkan dari Ibnu Sirin bahwa daerah tersebut adalah al-Ailah. Dalam sebuah hadits disebutkan,

حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ لِئَامًا

hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri yang kikir.

Di mana penduduk negeri itu kikir-kikir dan pelit. Disebut kikir karena tidak mau menjamu mereka (Nabi Musa dan Khidir) sehingga beliau berdua mendapat sebuah rumah yang hampir roboh. Makna iradah atau kehendak yang disandarkan kepada jidar (dinding) dalam ayat ini merupakan ungkapan isti’arah (kata pinjaman), sebab sejatinya pengertian iradah hanya dinisbahkan kepada makhluk yang bernyawa yakni al-mailu (kecenderungan). Inqidhadh bermakna al-suquth (runtuh/roboh).

Lalu Nabi Khidir menegakkan (memperbaiki) rumah yang hampir roboh itu. Dalam sebuah hadits terdahulu telah disebutkan bahwa Khidir menegakkan dinding itu dengan kedua tangannya, yakni dengan mendorongnya sehingga tidak miring lagi. Hal ini merupakan sebuah kejadian yang menakjubkan. Saat itu juga Musa bertanya yang termaktub dalam ayat di atas, “Mengapa kau tak mengambil upah untuk itu?”. Dalam artian, sebab penduduk negeri itu tidak mau menjamu beliau berdua, maka selayaknya Nabi Khidir tidak mengerjakan hal itu secara cuma-cuma tanpa imbalan.

Perlu diketahui, menurut tradisi saat itu, tatkala seorang hartawan tidak mau berderma atau menjamu tamu, maka hal itu sangat dicela serta menunjukkan kerendahan akhlaknya. Dalam hal ini orang-orang Arab menyampaikan celaannya dengan perkataan yang sangat keras “Si fulan menolak tamu (mengusir) dari rumahnya.” Qatadah berkata, “seburuk-buruk negeri ia adalah yang penduduknya tidak suka menerima tamu dan tidak mau mengakui hak ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan kehabisan bekal).

Muhammad ‘Ali as-Shabuny dalam Shafwah at-Tafasir menyampaikan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Keduanya (Musa dan Khidir) mencari makan atau jamuan, adapun penduduk negeri Ailah tidak memberikan makanan kepada keduanya yang dalam keadaan lapar, tidak menerima keduanya sebagai tamu, mereka menolak atas penamuan dan penjamuan keduanya.” Sehingga keduanya mendapati dinding rumah yang miring (haithan mailan) yang hampir roboh, lalu keduanya menegakkannya. Baca juga: Al-Quran Menghapus Praktik Perdagangan Perempuan

Berbeda dengan Ibnu Katsir dan al-Shabuny, al-Razy menjelaskan dalam tafsirnya at-Tafsir al-Kabir Mafatih al-Ghaib, Aku melihat dalam kitab-kitab hikayat, bahwa penduduk daerah yang didatangi Musa dan Khidir ketika mendengar turunnya ayat ini mereka merasa malu. Lantas, mendatangi Rasul saw dengan membawa emas dan berkata, Wahai Rasulullah, kami beli dengan emas ini agar engkau mengubah huruf “ba” menjadi “ta” sehingga bacaannya menjadi,

فَأَتَوْا أَنْ يُضَيِّفُوْهُمَا

Maksudnya “Para penduduk daerah itu datang untuk menjamu mereka”. Artinya kami (penduduk itu) menjamu mereka. Orang-orang itu berkata, “tujuan kami agar kesan sifat bakhil, pelit dan hina itu terlenyapkan dari kami.”

Mendengar itu, maka Rasul saw enggan melakukannya dan bersabda, “Sungguh mengubah satu titik ini menetapkan kebohongan pada kalam Allah.” Dan hal itu menetapkan kehinaan dalam sifat ketuhanan. Karenanya kita mengetahui bahwa mengubah satu titik dari alQuran dapat membatalkan sifat ketuhanan Allah dan kehambaan makhluk.”

Belajar Menjaga Amanah

Penafsiran di atas secara gamblang menegaskan, bahwa menjaga Al-Quran meskipun hanya satu titik sangat penting. Sebab mengubah sedikit saja redaksi kata dan tulisannya, akan mengubah makna dan penafsirannya sebagaimana mengubah huruf “ba” menjadi “ta” yang di mana makna awalnya “penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka” berubah “para penduduk itu datang untuk menjamu mereka”, sungguh sangat bertolak belakang.

Karenanya kita mengetahui, bahwa mengubah satu titik dari al-Quran menetapkan batalnya sifat ketuhanan Allah dan sifat kehambaan makhluk. Dari sini dapat difahami bahwa menjaga amanah itu sangat penting, terlebih jika berkaitan dengan khazanah ilmu pengetahuan. Berkaitan dengan pentingnya menjaga amanah, dalam hadits riwayat Imam Bukhari dijelaskan,

إِذَا ضُيِعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

Ketika amanah disia-siakan maka tunggulah kehancurannya

Tidak hanya seorang guru yang semestinya menjaga amanah, kita sebagai manusia biasa terlebih diamanahi jabatan sudah semestinya bersifat amanah dan dapat dipercaya, serta selalu menjaga sifat ini ajeg dan kontinyu. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 155-160

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 155

Sewaktu pertempuran yang menentukan dalam Perang Uhud ada sebagian dari Muslimin meninggalkan tempat pertahanan yang tidak boleh ditinggalkan terutama oleh barisan pemanah, tetapi mereka tinggalkan juga. Mereka merasa musuh sudah kalah sehingga mereka meninggalkan posisi dengan maksud untuk mendapatkan harta rampasan, akhirnya musuh menempati posisi mereka dan mereka kocar-kacir dan menderita karena serangan musuh yang bertubi-tubi.

Meskipun demikian akhirnya mereka sadar dan menyesali kesalahan mereka, maka Allah mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun dengan membebaskan mereka dari hukuman di akhirat.

Peperangan yang terjadi dalam sejarah Islam di masa Nabi, tak ada satu pun yang dimulai oleh Muslimin. Sikap Nabi dan para sahabat dalam hal ini hanya defensif, mempertahankan diri, bukan ofensif, sesuai dengan prinsip-prinsip dalam Alquran,  Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah melampoi batas. Sungguh Allah tidak menyukai mereka yang melampui batas  (al-Baqarah/2: 190). Tetapi bila pihak musuh mengajak damai, sambutlah segera (al-Anfal/8: 61).

Kita harus selalu siap menerima perdamaian jika kecenderungan ke arah perdamaian di pihak lain juga demikian. Tugas kita harus menjadi pelopor perdamaian, bukan menjadi pelopor peperangan. Tak ada faedahnya berperang hanya untuk berperang.

Begitulah yang terjadi dalam Perang Badar (Ali ‘Imran/3: 13, 123) pada bulan Ramadan tahun kedua setelah hijrah. Kemudian dalam Perang Ahzab (Perang Parit, al-Ahzab/33:9) sekitar tahun ke-5 setelah hijrah, Musyrikin Mekah dengan kekuatan 10.000 orang, dengan bantuan Yahudi yang berkhianat setelah mengadakan perjanjian dengan Rasulullah. Tetapi mereka kemudian lari dan kembali ke Mekah membawa kegagalan besar. Lalu yang terakhir Perang Hunain tak lama setelah Pembebasan Mekah pada tahun ke-8.

Begitu juga dalam Perang Uhud (Ali ‘Imran/3:121) yang terjadi setahun setelah Perang Badar, pihak musuh yang datang jauh-jauh dari Mekah mau menyerang Medinah. Kedatangan mereka dengan kekuatan 3000 orang datang ke Medinah hendak membalas kekalahan mereka dalam Perang Badar. Dalam perang inilah Muslimin dan Rasulullah mendapat cobaan berat.

Nabi Saw  bermusyawarah dengan para sahabatnya, seperti yang sudah menjadi cara hidup Nabi yang selalu bermusyawarah. Sebagian mereka ingin bertahan di dalam kota, dengan alasan musuh tidak mengenal seluk-beluk kota. Bila musuh sudah memasuki kota, akan kita kepung dan kita serang.

Rakyat juga akan menyerang dengan batu dari atap-atap rumah. Yang lain menghendaki menyongsong musuh di luar kota, sebab jika musuh sampai menginjakkan kaki ke kota Medinah, penduduk akan menjadi korban, dan mereka akan menganggap sudah mendapat kemenangan dan akan membuat mereka bertambah berani. Atas dasar keputusan dengan pertimbangan itu, kaum Muslimin berangkat ke luar kota di bawah pimpinan Rasulullah saw. Dalam perang ini tak ada yang menang dan tak ada yang kalah.

Dalam menghadapi ancaman tersebut, Rasulullah dengan pandangannya yang jauh, berani dan penuh tanggung jawab, segera memutuskan akan mengambil tempat di kaki Gunung Uhud, yang mengintari sebagian besar kota Medinah, sekitar tiga mil ke utara. Pada 7 Syawal tahun ketiga Hijri (Januari 625) waktu subuh, ia sudah mengadakan persiapan untuk menghadapi perang itu. Medinah terkenal dengan musim dinginnya yang luar biasa, tetapi prajurit Muslimin (700 sampai 1000 orang) subuh itu sudah siap.

Di sebelah selatan mereka terdapat lembah yang curam dengan aliran air yang deras, sedang lorong-lorong bukit di belakang mereka ditempati oleh 50 orang pasukan pemanah untuk mencegah serangan musuh dari belakang. Pihak musuh sudah bersiap-siap hendak menyerang tembok Medinah, sedang pasukan Muslimin berada di belakang mereka.

Pada mulanya pertempuran itu menguntungkan kaum Muslimin. Pihak musuh sudah porak-poranda, tetapi barisan pemanah Muslimin, yang tidak menaati perintah Nabi meninggalkan posnya. Mereka ikut mengejar dan memperebutkan rampasan perang.

Perintah itu ialah: Janganlah mengejar rampasan perang, dan jagalah disiplin kuat-kuat. Tidak sedikit musuh yang mati terbunuh, dan mereka sudah mulai mundur. Pada saat itu sebagian pasukan Muslimin, melanggar perintah, terus mengejar mereka karena tertarik oleh kemungkinan mendapatkan harta rampasan perang. Pihak musuh mengambil peluang yang telah ditinggalkan oleh pasukan pemanah, dan ketika itulah terjadi pertempuran satu lawan satu yang amat sengit, yang menurut laporan banyak menguntungkan pihak musuh. Sahabat-sahabat dari kaum Ansar banyak yang terbunuh.

Tetapi mereka tidak kenal mundur. Dalam pertempuran ini Hamzah, paman Rasulullah dari pihak bapak, terbunuh sebagai syahid. Rasulullah sendiri juga mendapat luka-luka di bagian kepala dan muka, sebuah giginya tanggal. Kalau tidak karena keteguhan hati, keberanian dan ketenangannya, niscaya pihak Muslimin akan menderita kekalahan besar.

Meskipun Rasulullah dalam keadaan luka, begitu juga kaum Muslimin yang lain mengalami luka-luka, keesokan harinya mereka kembali ke medan pertempuran. Abu Sufyan dan pasukan Mekah-nya dengan hati-hati sekali segera menarik diri. Medinah dapat diselamatkan. Kaum Muslimin dapat belajar dari peristiwa ini: keimanan, kesetiaan dan ketabahan. (Diringkaskan dari Tafsir Alquran A. Yusuf Ali).

Ayat 156

Tentang semangat berjihad pada orang-orang yang beriman yang sudah tertanam, Allah melarang mereka menganut kepercayaan seperti kepercayaan orang-orang kafir yang berkata mengenai teman-temannya yang mati sewaktu dalam perjalanan atau berperang. “Kalau mereka, orang-orang mukmin itu tetap bersama kita, tidak pergi berperang, tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh.”

Kepercayaan dan perkataan itu, bukan saja tidak benar, tetapi juga menimbulkan rasa penyesalan yang sangat dalam, padahal soal hidup dan mati adalah di tangan Allah. Dialah yang menghidupkan dan mematikan semua makhluk-makhluk-Nya menurut waktu, tempat dan sebab yang telah ditetapkan.

Ayat 157

Kemudian ayat itu menerangkan bahwa tidak ada hal yang perlu ditakuti oleh orang yang beriman apabila mereka berjihad di jalan Allah, kerena andaikata mereka gugur atau mati, niscaya mereka akan memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah. Itu adalah jauh lebih baik bagi mereka daripada harta rampasan perang atau kekayaan duniawi yang fana ini.

Ayat 158

Semua orang akan mati atau gugur dengan sebab apa saja, baik karena meninggal di dalam peperangan dalam bepergian atau di tempatnya sendiri. Mereka pasti akan dikembalikan kepada Allah dan akan diperhitungkan segala amal perbuatannya di akhirat nanti. Kalau jahat dibalas dengan siksa neraka dan kalau baik dibalas dengan masuk surga.

Oleh karena itu orang mukmin hendaklah memilih dan menempuh jalan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah, agar memperoleh ampunan dan rahmat-Nya. Untuk itu, janganlah seorang Muslim merasa enggan berjihad di jalan Allah, untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Ayat 159

Meskipun dalam keadaan genting, seperti terjadinya pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian kaum Muslimin dalam Perang Uhud sehingga menyebabkan kaum Muslimin menderita, tetapi Rasulullah tetap bersikap lemah lembut dan tidak marah terhadap para pelanggar itu, bahkan memaafkannya, dan memohonkan ampunan dari Allah untuk mereka. Andaikata Nabi Muhammad saw bersikap keras, berhati kasar tentulah mereka akan menjauhkan diri dari beliau.

Di samping itu Nabi Muhammad saw selalu bermusyawarah dengan mereka dalam segala hal, apalagi dalam urusan peperangan. Oleh karena itu kaum Muslimin patuh melaksanakan keputusan-keputusan musyawarah itu karena keputusan itu merupakan keputusan mereka sendiri bersama Nabi. Mereka tetap berjuang dan berjihad di jalan Allah dengan tekad yang bulat tanpa menghiraukan bahaya dan kesulitan yang mereka hadapi. Mereka bertawakal sepenuhnya kepada Allah, karena tidak ada yang dapat membela kaum Muslimin selain Allah.

Ayat 160

Apabila Allah  hendak menolong pasukan Muslimin, maka tidak ada sesuatupun yang dapat menghalanginya sebagaimana Allah menolong pasukan Muslimin pada Perang Badar karena mereka berserah diri kepada Allah. Demikian pula apabila Allah hendak menghina atau hendak menimpakan malapetaka kepada mereka maka tidak ada sesuatupun yang dapat menghalang-halanginya, apa yang terjadi dalam Perang Uhud akibat kurang patuh dan tidak disiplin terhadap komando Rasul. Oleh karena itu, setiap mukmin hendaklah bertawakal sepenuhnya kepada Allah, karena tidak ada yang dapat membela kaum Muslimin selain Allah.

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 146-154

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 146

Allah kembali memberikan koreksi kepada sebagian pengikut Nabi Muhammad saw yang lemah dan tidak setia dalam Perang Uhud dengan mengemukakan keadaan umat nabi-nabi sebelumnya bahwa dalam jihad fisabilillah, semangat dan iman mereka tetap kuat, tidak lemah, tidak lesu dan tidak menyerah di kala menderita bencana. Orang-orang semacam itulah yang dicintai Allah karena kesabarannya.

Ayat 147

Mereka di samping kesabaran dan ketabahan berjihad f³sab³lillāh bersama Nabi, tidak lupa mengadakan hubungan langsung dengan Allah swt dengan berdoa agar dosanya dan tindakan yang berlebih-lebihan diampuni oleh Tuhan, pendiriannya ditetapkan agar mereka dimenangkan terhadap orang-orang kafir.

Ayat 148

Oleh karena kesungguhan, keikhlasan, keteguhan iman dan kesabaran para pengikut nabi-nabi yang terdahulu dalam menghadapi segala macam penderitaan dalam memperjuangkan kebenaran di jalan Allah, maka Allah memberikan kepada mereka balasan dunia dan pahala yang setimpal di akhirat.

Ayat 149

Menurut Ali bin Abi Talib, ayat ini diturunkan sehubungan dengan peristiwa orang-orang mukmin ketika mendapat pukulan berat dalam Perang Uhud sehingga orang-orang munafik berkata kepada mereka, “Kembalilah kamu kepada saudara-saudara kamu dan masuklah agama mereka.” Dengan demikian yang dimaksud dengan orang-orang kafir dalam ayat ini ialah orang-orang munafik.

Ayat ini memperingatkan setiap orang beriman kepada Allah baik yang telah mengalami penderitaan dalam Perang Uhud maupun lainnya di setiap masa dan tempat, tetap selalu waspada agar tidak terperosok kepada sikap lemah, menyerah dan mengikuti bujukan berbisa dari orang-orang kafir, munafik Yahudi, karena akibatnya akan menimbulkan bahaya dan kerugian yang sangat besar.

Ayat 150

Kaum Muslimin agar taat kepada Allah  karena Dialah Pelindung mereka yang terbaik. Janganlah mereka mengikuti orang-orang kafir seperti Abµ Sufyān dan kawan-kawannya (pada waktu itu), atau orang-orang munafik seperti ‘Abdullāh bin Ubai atau orang-orang kafir dan munafik lainnya yang akan menyesatkan dan menjerumuskan mereka ke jurang yang sangat berbahaya.

Ayat 151

Bentuk pertolongan Allah yang diberikan kepada orang mukmin,  dengan membisikkan ke dalam hati orang  kafir rasa takut untuk melanjutkan peperangan, karena mereka mempersekutukan Allah. Tempat mereka neraka dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang zalim.

Memang bagaimanapun hebat dan gagah perkasanya seseorang, ia akan merasa lemah dan tidak dapat berbuat sesuatu, apabila ia telah dihinggapi oleh perasaan takut.

Ayat 152

Allah telah memenuhi segala apa yang telah dijanjikan kepada hambanya yang beriman, di mana mereka telah sampai kepada suatu tahap kemenangan dengan menghancurkan kekuatan musuh yang jauh lebih banyak jumlah dan persiapannya.

Tetapi karena mereka kurang sabar, kurang patuh dan kurang disiplin terhadap komando Muhammad yang memerintahkan agar setiap regu, terutama regu pemanah jangan meninggalkan tempatnya masing-masing sebelum ada perintah, tetapi banyak di antara mereka yang melanggarnya, bahkan mereka berselisih karena menghendaki harta dunia, yakni mengejar harta rampasan perang, maka terjadilah apa yang terjadi, musuh kembali menjadi kuat, karena telah merebut tempat-tempat strategis, akhirnya kaum Muslimin menjadi lemah, sehingga mengalami penderitaan disebabkan perbuatan dan tingkah laku mereka sendiri, sebagai ujian dari Allah terhadap keimanan, kesabaran dan kedisiplinan mereka.

Pada akhir ayat ini, Allah menerangkan apa yang telah terjadi dan mereka telah menyesali kesalahan-kesalahan itu, dan Allah telah mengampuni mereka, karena Allah selalu memberikan karunia-Nya kepada orang-orang mukmin.

Para ahli tafsir menguraikan apa yang dimaksud dengan janji Allah yang disebutkan dalam ayat ini sebagai berikut:

  1. Janji Allah akan menolong kaum mukminin dalam Perang Uhud dengan mengirimkan bala bantuan sebanyak lima ribu malaikat, kalau mereka sabar dan bertakwa.
  2. Janji Allah akan memberi kemenangan yang disampaikan oleh Nabi kepada regu pemanah selama mereka tidak meninggalkan tempatnya. Tetapi rupanya banyak yang meninggalkan tempat.
  3. Janji Allah akan menolong setiap orang mukmin yang bersabar dan bertakwa yang banyak disebutkan dalam beberapa ayat dan surah dalam Al-Qur’an;Kalau kita perhatikan tiga pendapat tersebut di atas, tidaklah bertentangan satu dengan yang lain, hanya tinjauannya dari segi yang berlainan. Pendapat yang pertama meninjau dari segi historisnya dan hubungan ayat 152 ini dengan ayat 125. Pendapat yang kedua meninjau dari segi kenyataan historis tentang pelanggaran mereka terhadap taktik perang, yang telah diperintahkan oleh Rasulullah kepada mereka, pendapat yang ketiga meninjau secara umum, karena di dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menjanjikan bantuan dan pertolongan kepada orang yang beriman, sabar dan bertakwa kepadanya.

Ayat 153

Kejadian-kejadian yang penting di barisan kaum Muslimin dalam Perang Uhud, yaitu: sebab-sebab kegagalan mereka, ketika sebagian besar dari mereka lari, sedang Rasul memanggil mereka dari belakang agar jangan berbuat demikian dan kembali ke pasukan masing-masing, tetapi mereka tidak mengindahkannya.

Oleh karena itu, mereka ditimpa penderitaan yang cukup berat. Kalau mereka sadari apa yang telah mereka perbuat pada waktu itu, tentulah mereka tidak akan bersedih hati atau heran, mengapa mereka menjadi gagal dalam Perang Uhud, Allah Maha Mengetahui semua apa yang akan mereka perbuat.

Ayat 154

Lanjutan peristiwa setelah mereka mengalami kesulitan dan penderitaan, maka Allah memberikan kepada segolongan mereka yang kuat iman dan kesabarannya perasaan kantuk untuk menenangkan mereka dari rasa ketakutan, lelah dan kegelisahan. Dengan demikian mereka dapat mengumpulkan kembali kekuatan mereka yang telah berkurang karena sengitnya pertempuran dan kehilangan semangat.

Sedang segolongan lainnya tidak menerima nikmat kantuk ini, yaitu golongan yang lemah imannya bahkan mereka tetap merasa takut dan gelisah. Ayat ini mengutarakan bahwa pengikut-pengikut Nabi setelah selesai peperangan terbagi atas dua golongan.

Pertama: Golongan yang menyadari bahwa terpukulnya mereka dalam Perang Uhud disebabkan kekeliruan mereka berupa kurangnya disiplin terhadap komando Rasulullah selaku komandan pertempuran. Mereka tetap yakin dan percaya pada pertolongan Allah berupa kemenangan bagi orang-orang yang beriman. Karena meskipun pada kali ini mereka mengalami malapetaka, namun Allah tetap akan membela orang-orang yang beriman. Golongan inilah yang memperoleh nikmat kantuk itu.

Kedua: Golongan yang lemah imannya karena diliputi rasa kekhawatiran  mereka belum begitu yakin kepada komando Rasulullah karena kemunafikan yang telah bersarang di hati mereka. Golongan kedua inilah yang menyangka yang bukan-bukan terhadap Allah dan Muhammad seperti sangkaan orang-orang jahiliah.

Antara lain mereka menyangka kalau Muhammad benar-benar seorang Nabi dan Rasul, tentu ia dan sahabatnya tidak akan kalah dalam Perang Uhud. Mereka berkata untuk melepaskan tanggung jawab, “Apakah kita ada hak campur tangan dalam urusan ini?” Katakanlah hai Muhammad, “Semua urusan ini adalah di tangan Allah.”

Mereka banyak menyembunyikan hal-hal yang tidak mereka lahirkan kepadamu, mereka berkata, “Sekiranya ada hak campur tangan pada kita, niscaya kita tidak akan dikalahkan di sini.” Tetapi katakanlah kepada mereka andaikata mereka berada di dalam rumah masing-masing dengan tidak ikut berperang, tetapi kalau sudah ditakdirkan akan mati di luar rumah, maka mereka pasti akan mati juga di tempat yang sudah ditentukan.

Semua kejadian ini adalah untuk menguji apa yang tersimpan di dalam dada kaum Muslimin dan untuk membersihkan hati mereka dari keraguan yang dibisikkan oleh setan, sehingga bertambah kuatlah keimanan dalam hati mereka. Allah Maha Mengetahui isi hati mereka.

(Tafsir Kemenag)