Beranda blog Halaman 549

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 141-145

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Ayat 141

Peristiwa musibah kaum Muslimin pada Perang Uhud sesudah mereka menang dalam Perang Badar sebelumnya, adalah juga dimaksudkan untuk membedakan orang yang benar-benar beriman dari kaum munafik dan untuk membersihkan hati orang mukmin yang masih lemah, sehingga benar-benar menjadi orang yang ikhlas, bersih dari dosa.

Derajat keimanan seseorang itu masih tersamar, dan tidak jelas hakikatnya kecuali melalui ujian berat. Kalau ia lulus dalam ujian itu, maka ia bisa dikatakan sebagai orang yang bersih dan suci, sebagaimana halnya emas, baru dapat diketahui keasliannya sesudah diasah, dibakar dan diuji dengan air keras.

Pasukan pemanah melanggar perintah Nabi saw dalam Perang Uhud dengan meninggalkan posnya di atas gunung, lalu turut memperebutkan harta rampasan. Karena itu pasukan Muslimin akhirnya terpukul mundur, dikocar-kacirkan oleh musuh. Peristiwa ini menjadi satu pelajaran bagi kaum Muslimin untuk menyadarkan mereka bahwa umat Islam diciptakan bukanlah untuk bermain-main, berfoya-foya, bermalas-malasan, menimbun kekayaan, melainkan harus bersungguh-sungguh beramal, menaati perintah Nabi saw dan tidak melanggarnya, apa pun yang akan terjadi.

Keikhlasan hati kaum Muslimin dan ketaatannya kepada perintah Nabi  dapat dibuktikan ketika terjadi perang Hamra’ul Asad sesudah terpukul dalam Perang Uhud. Nabi saw memerintahkan bahwa orang-orang yang dibolehkan ikut pada perang Hamra’ul Asad ialah orang-orang yang pernah ikut dalam Perang Uhud.

Mereka dengan segala senang hati mematuhi perintah Nabi dengan kemauan yang sungguh-sungguh dan ikhlas sekalipun di antara mereka masih ada yang mengalami luka-luka yang parah, hati yang sedih dan gelisah. Sebaliknya orang-orang kafir menderita kehancuran karena hati mereka kotor, masih bercokol di dalamnya sifat-sifat sombong dan takabur, akibat kemenangan yang diperolehnya.

Ayat 142

Ulama-ulama tafsir menerangkan bahwa setelah Nabi saw, mengetahui persiapan pihak Quraisy berupa pasukan yang berjumlah besar untuk menyerang kaum Muslimin sebagai balasan atas kekalahan mereka dalam Perang Badar, maka Nabi saw bermusyawarah dengan para sahabatnya, apakah mereka akan bertahan saja di kota Medinah ataukah akan keluar untuk bertempur di luar kota.

Meskipun Nabi  sendiri lebih condong untuk bertahan di kota Medinah, namun beliau mengikuti pendapat terbanyak yang menghendaki agar menyerang musuh di luar kota. Dengan demikian Rasulullah saw keluar kota ke bukit Uhud dengan pasukan sebanyak 1.000 orang untuk melawan orang Quraisy yang berjumlah lebih dari 3.000 orang. Pasukan Muslimin yang jauh lebih sedikit ini hampir memperoleh kemenangan, tetapi akhirnya suasana berbalik menjadi kegagalan disebabkan kurang sabar mematuhi perintah Rasulullah sebagai komandan dalam peperangan itu.

Banyak korban berguguran di sana-sini dan ada pula yang lari ketakutan. Nabi sendiri terdesak dan terancam, bahkan tersiar berita bahwa Nabi saw telah terbunuh. Yang terbunuh sebagai syuhada ialah para sahabatnya seperti Abu Dujanah, Talhah bin Ubaidillāh, Ummu Imarah dan lain-lain yang telah mengorbankan diri dan nyawa mereka sebagai perisai Rasulullah. Terbunuh juga dalam Perang Uhud, Hamzah bin Abdul Mutalib, paman Rasul yang dicintainya. Pada ayat 142, Allah mengatakan, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.”

Ini adalah satu celaan dan koreksi Tuhan terhadap sebagian kaum Muslimin yang turut dalam Perang Uhud itu, yaitu kepada orang-orang yang semula ingin berperang dengan semangat berapi-api dan mendorong Rasulullah, agar keluar kota untuk memerangi pihak Quraisy dan jangan hanya bertahan di kota Medinah saja. Mereka dengan tegas menyatakan sanggup berbuat segala sesuatu untuk menghadapi musuh meskipun mereka akan mati seperti pahlawan-pahlawan Badar.

Tetapi nyatanya setelah mereka berada dalam suasana yang sulit dan keadaan gawat, bukan saja mereka kehilangan semangat dan tidak dapat melaksanakan apa yang tadinya mereka nyatakan kepada Rasulullah, bahkan kebanyakan dari mereka sudah kehilangan pegangan, terkecuali sebagian yang memang semangat tempur dan juangnya bernyala-nyala terus, karena keteguhan keyakinan dan keimanan yang tidak dapat digoyahkan oleh keadaan dan suasana apa pun juga. Mereka inilah pembela-pembela Rasulullah, pembela Islam dan kebenaran.

Ayat 143

Kaum Muslimin sebelum terjadi Perang Uhud berjanji akan mati syahid mengikuti jejak para syuhada Badar. Tetapi mereka tidak menepati janji itu ketika melihat dahsyatnya pertempuran. Sebagai puncak dari kesukaran yang dihadapi oleh kaum Muslimin dalam Perang Uhud, ialah tersiarnya berita Rasulullah telah terbunuh.

Ketika itu orang-orang yang lemah imannya ingin memperoleh jasa-jasa baik dari Abdullah bin Ubai, kepala kaum munafik di Medinah, agar dia berusaha mendapat perlindungan dari Abµ Sufyān, bahkan ada pula yang berteriak seraya berkata, “Kalau Muhammad sudah mati, marilah kita kembali saja kepada agama kita semula.”

Dalam keadaan kalut sahabat Nabi (Anas bin an-Nadar) berbicara, “Andaikata Muhammad telah terbunuh, maka Tuhan Muhammad tidak akan terbunuh. Untuk apa kamu hidup sesudah terbunuhnya Rasulullah? Marilah kita terus berperang, meskipun beliau telah mati.” Kemudian Anas bin an-Nadar berdoa meminta ampun kepada Tuhan karena perkataan orang-orang yang lemah iman itu, lalu ia mengambil pedangnya dan terus bertempur sehingga ia mati syahid.

Ayat 144

Muhammad hanyalah seorang Rasul Allah. Kalau dia mati terbunuh, maka itu adalah hal biasa sebagaimana telah terjadi pula pada nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya. Ada yang mati biasa dan ada yang terbunuh. Mengapa ada di antara kaum Muslimin yang murtad disebabkan mendengar berita Muhammad telah mati terbunuh?

Ketahuilah bahwa orang yang murtad tidak akan menimbulkan sesuatu mudarat kepada Allah. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur kepada-Nya. Pengertian bersyukur biasa diartikan terima kasih. Berterima kasih dalam ayat ini bukanlah sekedar ucapan, tetapi dengan suatu perbuatan dan bukti yang nyata.

Bersyukur kepada manusia ialah berbuat baik kepadanya sebagai balas jasa, sedang bersyukur kepada Allah ialah berbakti kepada-Nya, sesuai dengan perintah-Nya. Di dalam menegakkan kebenaran, kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh, berjuang dengan penuh iman dan kesabaran dan rela menerima segala macam cobaan dan penderitaan. Orang-orang semacam inilah yang benar-benar bersyukur kepada Allah dan yang pasti akan mendapat balasan yang dijanjikan-Nya.

Ayat 145

Allah menyatakan, “Semua yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin-Nya, tepat pada waktunya sesuai dengan yang telah ditetapkan-Nya.” Artinya: persoalan mati itu hanya di tangan Tuhan, bukan di tangan siapa-siapa atau di tangan musuh yang ditakuti. Ini merupakan teguran kepada orang-orang mukmin yang lari dari medan Perang Uhud karena takut mati, dan juga merupakan petunjuk bagi setiap umat Islam yang sedang berjuang di jalan Allah. Seterusnya Allah memberikan bimbingan kepada umat Islam bagaimana seharusnya berjuang di jalan Allah dengan firman-Nya:

وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَا

… Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu,…(Ali ‘Imran/3:145)

Ini berarti setiap orang Islam harus meluruskan dan membetulkan niatnya dalam melaksanakan setiap perjuangan. Kalau niatnya hanya sekedar untuk memperoleh balasan dunia, maka biar bagaimanapun besar perjuangannya, maka balasannya hanya sekedar yang bersifat dunia saja. Dan barang siapa yang niatnya untuk mendapat pahala akhirat, maka Allah akan membalasnya dengan pahala akhirat. Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur yaitu orang-orang yang mematuhi perintah-Nya dan selalu mendampingi Nabi-Nya.

(Tafsir Kemenag)

Merenungi Tanda-Tanda Kekuasaan Allah di Surat Ar-Rum ayat 20-25

0

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ اِذَآ اَنْتُمْ بَشَرٌ تَنْتَشِرُوْنَ  () وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ () وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ اَلْسِنَتِكُمْ وَاَلْوَانِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْعٰلِمِيْنَ () وَمِنْ اٰيٰتِهٖ مَنَامُكُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاۤؤُكُمْ مِّنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّسْمَعُوْنَ () وَمِنْ اٰيٰتِهٖ يُرِيْكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَّطَمَعًا وَّيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَيُحْيٖ بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَاۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ () وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ تَقُوْمَ السَّمَاۤءُ وَالْاَرْضُ بِاَمْرِهٖۗ  ثُمَّ اِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةًۖ مِّنَ الْاَرْضِ اِذَآ اَنْتُمْ تَخْرُجُوْنَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak (20) Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir (21) Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui(22) Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan (23) Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu dihidupkannya bumi setelah mati (kering). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mengerti (24) Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar (dari kubur) (25)

Beberapa Tanda Kekuasaan Allah

‘Allah maha kuasa’. Untuk melihat dan mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah maka lihat dan renungkanlah ciptaan-ciptaannya, di saat itu kita akan menemukannya. Alquran telah merekam bukti-bukti kekuasaan Allah itu salah satunya dalam surat ar-Rum secara beriringan, yaitu ayat 20-25. Ada enam kehebatan Allah yang diinformasikan dalam ayat-ayat tersebut.

Pertama, penciptaan manusia. Kedua, mempersatukan pasangan suami istri. Ketiga, penciptaan langit dan bumi serta isinya yang beraneka ragam. Keempat, tidurnya manusia di malam dan siang hari yang dilanjutkan dengan usahanya mencari rezeki. Kelima, fenomena kilat dan hujan. Keenam, adanya hari kebangkitan (yawm al-ba’th).

Keenam bukti itu tidak lain adalah hal-hal yang sudah terbiasa ada di sekitar kita, di kehidupan kita sehari-hari. Akan tetapi sangat disayangkan hanya sedikit orang yang menyadarinya, terlebih yang dapat mengungkap rahasia di balik itu semua. Hal ini yang oleh Alquran diistilahkan dengan ‘kaum yang berpikir, orang-orang yang alim, kaum yang mendengarkan dan lainnya.

Ayat-ayat di atas memberikan informasi kepada kita bahwa Allah hadir dimana-mana. Melalui ayat-ayatNya di pentas alam raya, Allah menampakkan dzatNya dengan jelas (adh-Dhahir), tetapi secara bersamaan Dia juga al-Bathin, Yang tersembunyi hakikat, Zat dan SifatNya, bukan karena tidak jelas, namun karena terlalu jelas, sehingga mata biologi manusia tidak dapat menjangkaunya.

Keindahan alam yang sangat luar biasa, keserasian dan keharmonisannya mulai dari penciptaan manusia yang hanya dari tanah menjadi sosok makhluk yang gagah dengan segala kesempurnaan yang dimilikinya (dibekali pengetahuan) yang tidak dimiliki oleh makhluk selainnya. Manusia yang awalnya hanya satu menjadi banyak dan beragam, ada manusia Arab, manusia Amerika, manusia Prancis, manusia Jerman, manusia Belanda, manusia Indonesia dan yang lainnya dengan disertai identitasnya masing-masing. Manusia tidak sendiri, ada makhluk lain di sekelilingnya yang ikut menemaninya dan mendukung keberlangsungan hidupnya, seperti tumbuh-tumbuhan dan hewan.

Langit dan bumi sebagai tempat tinggal manusia sudah dilengkapi olehNya dengan berbagai hal yang sudah tersistem sedemikian rupa, ada daratan-lautan, ada gunung, hutan, gurun pasir dan yang lainnya. semuanya berdampingan dengan harmonis. Ada juga air, angin, kilat, petir, halilitar, guruh, batu, debu, bintang, planet, meteor dan seterusnya dengan masing-masing tugasnya, kadang hujan, kadang terik, kadang ada badai, gempa dan lainnya. Tidak terlewatkan pula adanya siang-malam, terang-gelap, terjaga-tidur, bergerak-diam, senang-sedih yang waktunya sudah disediakan sendiri-sendiri oleh Allah. Semua itu merupakan kerajaan dan kuasaNya yang menyadarkan kita bahwa dalil wujudnya terbentang dimana-mana.

Ajakan untuk Berpikir

Ayat-ayat ini hendaknya dipahami lebih filosofis lagi, ada apa dengan penyebutan semua ini, apa rahasia dibalik itu semua? Maka di sini Alquran tidak cukup hanya dibaca, tetapi juga direnungkan dan bahkan diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Alquran hendaknya dibaca secara ma’nawiy, bukan sekadar harfiy. Qira’ah yang dilakukan tidak hanya bersifat ta’abbudiyah, melainkan pula istinbathiyah. Bukan pula at-taqlidiyah dan at-tarikhiyah, melainkan al-maqasidiyah.

Pembacaan secara filosofis ini diisyaratkan oleh kelompok ayat-ayat di atas dengan ujung ayat yang selalu menggunakan redaksi yang sangat identik dengan tugas dan fungsi akal juga panca indra. Sebut saja kalimat ‘sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir’ pada ayat 21, ‘sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang alim’ pada ayat 22, ‘sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti-bukti bagi kaum yang mendengarkan’ pada ayat 23, ‘sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal’ pada ujung ayat 24.

Pernyataan ini sekaligus menjadi seruan bagi manusia untuk berpikir, menggunakan akal pikirannya secara maksimal untuk mengungkap rahasia di balik tanda-tanda Allah yang sangat banyak itu. Bukankah yang ditandai itu lebih bernilai daripada tanda itu sendiri. Berpikir dengan media memandang, mengungkap serta menganalisis manifestasi ayat-ayat Allah adalah esensi dari agama itu sendiri. Padanan ayat di atas terdapat di banyak tempat dalam al-Qur’an. oleh karena seringnya al-Qur’an menyeru untuk berpikir, maka Jamal Albanna dalam A-‘Audah Ila al-Qur’an mengatakan bahwa metode Alquran adalah ajakan untuk berpikir.

Wallahu A’lam

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 134

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 134 berbicara mengenai beberapa sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang bertakwa.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 130-133


Ayat 134

Ayat ini langsung menjelaskan sifat-sifat orang yang bertakwa, yaitu: Pertama: Orang yang selalu menafkahkan hartanya baik dalam keadaan berkecukupan maupun dalam keadaan kesempitan (miskin), sesuai dengan kesanggupannya. Menafkahkan harta itu tidak diharuskan dalam jumlah yang ditentukan sehingga ada kesempatan bagi si miskin untuk memberi nafkah. Bersedekah boleh saja dengan barang atau uang yang sedikit nilainya, karena itulah apa yang dapat diberikan tetap akan memperoleh pahala dari Allah swt.

Diriwayatkan oleh Aisyah Ummul Mukminin bahwa dia bersedekah dengan sebiji anggur, dan di antara sahabat-sahabat Nabi ada yang bersedekah dengan sebiji bawang. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

اِتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ وَرَدُّوا السَّائِلَ وَلَوْ بِظُلْفٍ مُحْرَقٍ

(رواه أحمد في مسنده)

“Peliharalah dirimu dari api neraka meskipun dengan menyedekahkan sepotong kurma, dan perkenankalah permintaan seorang peminta walaupun dengan memberikan sepotong kuku hewan yang dibakar.” (Riwayat Ahmad dalam Musnad-nya). )

Bagi orang kaya dan berkelapangan tentulah sedekah dan dermanya harus disesuaikan dengan kesanggupan. Sungguh amat janggal bahkan memalukan bila seorang yang berlimpah-limpah kekayaannya hanya memberikan derma dan sedekah sama banyaknya dengan pemberian orang miskin. Ini menunjukkan bahwa kesadaran bernafkah belum tertanam di dalam hatinya. Allah berfirman:

لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖۗ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهٗ فَلْيُنْفِقْ مِمَّآ اٰتٰىهُ اللّٰهُ ۗ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَآ اٰتٰىهَاۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا

Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.  (at-Talaq/65:7).

Sifat kikir yang tertanam dalam hati manusia hendaklah diberantas dengan segala macam cara dan usaha, karena sifat ini adalah musuh masyarakat nomor satu. Tak ada satu umat pun yang dapat maju dan hidup berbahagia kalau sifat kikir ini merajalela pada umat itu. Sifat kikir bertentangan dengan perikemanusiaan.

Oleh sebab itu Allah memerintahkan untuk menafkahkan dan menjelaskan bahwa harta yang ditunaikan zakatnya dan didermakan sebagiannya, tidak akan berkurang bahkan akan bertambah. Firman Allah:

يَمْحَقُ اللّٰهُ الرِّبٰوا وَيُرْبِى الصَّدَقٰتِ

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.… (al-Baqarah/2:276)

Imam Gazali menjelaskan bahwa memerangi suatu sifat yang buruk haruslah dengan membiasakan diri melawan sifat itu. Jadi kalau orang akan memberantas sifat kikir dalam dirinya hendaklah dia membiasakan berderma dan memberi pertolongan kepada orang lain. Dengan membiasakan diri akan hilanglah sifat kikirnya dengan berangsur-angsur.

Kedua: Orang yang menahan amarahnya. Biasanya orang yang memperturutkan rasa amarahnya tidak dapat mengendalikan akal pikirannya dan ia akan melakukan tindakan-tindakan kejam dan jahat sehingga apabila dia sadar pasti menyesali tindakan yang dilakukannya itu dan dia akan merasa heran mengapa ia bertindak sejauh itu. Oleh karenanya bila seseorang dalam keadaan marah hendaklah ia berusaha sekuat tenaga menahan rasa amarahnya lebih dahulu. Apabila ia telah menguasai dirinya kembali dan amarahnya sudah mulai reda, barulah ia melakukan tindakan yang adil sebagai balasan atas perlakuan orang terhadap dirinya.

Apabila seseorang telah melatih diri seperti itu maka dia tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang melampaui batas, bahkan dia akan menganggap bahwa perlakuan yang tidak adil terhadap dirinya itu mungkin karena khilaf dan tidak disengaja dan ia akan memaafkannya. Allah menjelaskan bahwa menahan amarah itu suatu jalan ke arah takwa. Orang yang benar-benar bertakwa pasti akan dapat menguasai dirinya pada waktu sedang marah.


Baca juga: 


Siti Aisyah pernah menjadi marah karena tindakan pembantunya, tetapi beliau dapat menguasai diri, karena sifat takwa yang ada padanya. Beliau berkata, “Alangkah baiknya sifat takwa itu, ia bisa menjadi obat bagi segala kemarahan.” Nabi Muhammad saw bersabda, “Orang yang kuat itu bukanlah yang dapat membanting lawannya tetapi orang yang benar-benar kuat ialah orang yang dapat menahan amarahnya.” Allah berfirman:

وَاِذَا مَا غَضِبُوْا هُمْ يَغْفِرُوْنَ ۚ

… Dan apabila mereka marah segera memberi maaf. (asy-Syµra/42:37).;Ketiga: Orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Memaafkan kesalahan orang lain sedang kita sanggup membalasnya dengan balasan yang setimpal, adalah suatu sifat yang baik yang harus dimiliki oleh setiap Muslim. Mungkin hal ini sulit dipraktekkan karena sudah menjadi kebiasaan bagi manusia membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi bagi manusia yang sudah tinggi akhlak dan kuat imannya serta telah dipenuhi jiwanya dengan ketakwaan, maka memaafkan kesalahan itu mudah saja baginya.

Mungkin membalas kejahatan dengan kejahatan masih dalam rangka keadilan tetapi harus disadari bahwa membalas kejahatan dengan kejahatan pula tidak dapat membasmi atau melenyapkan kejahatan itu. Mungkin dengan adanya balas membalas itu kejahatan akan meluas dan berkembang.

Bila kejahatan dibalas dengan maaf dan sesudah itu diiringi dengan perbuatan yang baik, maka yang melakukan kejahatan itu akan sadar bahwa dia telah melakukan perbuatan yang sangat buruk dan tidak adil terhadap orang yang bersih hatinya dan suka berbuat baik. Dengan demikian dia tidak akan melakukannya lagi dan tertutuplah pintu kejahatan.

Keempat: Orang yang berbuat baik. Berbuat baik termasuk sifat orang yang bertakwa maka di samping memaafkan kesalahan orang lain hendaklah memaafkan itu diiringi dengan berbuat baik kepada orang yang melakukan kesalahan.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi, ada seorang jariah (budak perempuan) milik Ali bin Husain menolong tuannya menuangkan air dari kendi untuk mengambil wudu. Kemudian kendi itu jatuh dari tangannya dan pecah berserakan. Lalu Ali bin Husain menatap mukanya seakan-akan dia marah. Budak itu berkata, “Allah berfirman:

وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ

… Dan orang-orang yang menahan amarahnya … (Ali ‘Imr±n/3:134)

”Ali bin Husain menjawab, “Aku telah menahan amarah itu.” Kemudian budak itu berkata pula, “Allah berfirman:

وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ

… Dan memaafkan (kesalahan) orang lain … (Ali ‘Imran/3:134)

”;Dijawab oleh Ali bin Husain, “Aku telah memaafkanmu.” Akhirnya budak, itu berkata lagi, “Allah berfirman:

وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

… Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (Ali ‘Imran/3:134)

”Ali bin Husain menjawab, “Pergilah kamu aku telah memerdekakanmu,” demi mencapai keridaan Allah.

Demikianlah tindakan salah seorang cucu Nabi Muhammad saw terhadap kesalahan seorang budak karena memang dia orang yang mukmin yang bertakwa, tidak saja dia memaafkan kesalahan budaknya bahkan pemberian maaf itu diiringinya dengan berbuat baik kepadanya dengan memerdekakannya.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 135-140


(Tafsir Kemenag)

Covid-19 dan Kisah Ketakutan Kepada Selain Allah dalam Al Quran

0
www.freepik.com created by articular

Covid-19 yang mulai melanda dunia akhir tahun 2019 membuat panik seluruh isi bumi. Manusia belum sepenuhnya mengenal makhluk Allah yang baru ini. Karena keterbatasan informasi tentang virus tersebut, berkembanglah informasi yang simpang siur tentangnya, para agamawan pun tidak ketinggalan turut berkomentar.

Sayangnya sebagian komentar agamawan tidak dalam proporsinya, dan telah melampaui bidang yang bukan keahliannya, termasuk pada isu medis. Dalam isu yang terkait agama pun beberapa perlu diluruskan semisal bahwa Covid-19 ini tentara tuhan, konspirasi komunis untuk menutup masjid, pemaksaan pemberlakuan syariat, dan lain-lain.

Dalam tulisan pendek ini, isu yang ingin diluruskan berkaitan dengan Covid-19 dan agama adalah upaya mempertentangkan ketakutan kepada Allah SWT dengan ketakutan terhadap selain-Nya. Hal ini guna menjawab pernyataan sebagian penceramah yang menolak mengikuti anjuran medis dengan dalih ketakutannya hanya kepada Allah, bukan pada virus atau penyakit.

Mengkontradiksikan ketakutan kepada Allah dan kepada virus tentu bukan dalam proporsi yang tepat, dan bisa menjatuhkan seseorang dalam fatalisme (jabariyah). Karena masing-masing seharusnya didudukkan dalam posisinya, sehingga seseorang tetap berdoa dan bertawakal namun setelah didahului ikhtiar. Renungkanlah beberapa peristiwa dalam Alquran berikut:

  1. Nabi SAW bersama para sahabat merasa ketakutan diserang musuh ketika melaksanakan salat dalam situasi perang, lalu diturunkanlah oleh Allah pelajaran mengenai tata cara salat jamaah untuk kondisi perang yang dinamakan dengan salat al-khawf (salat dalam keadaan takut). Dalam hal ini Alquran mengakomodir ketakutan terhadap musuh. Sebagaimana termaktub dalam Q.S An-Nisa ayat 102:

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُم

“Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata…” (QS al-Nisa [4]: 102)

  1. Rasulullah pernah bersembunyi beberapa kali dari kejaran musuh, termasuk pada saat hijrah ke Madinah, bersembunyi di Gua Tsur, sehingga Abu Bakar ketakutan sebelum akhirnya turun Q.S At-Taubah ayat 40:

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ الله إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا  فَأَنزَلَ الله سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan menjadikan kalimat orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Taubah [9]: 40).

  1. Nabi Ibrahim AS adalah manusia yang paling dicintai oleh Allah sehingga bergelar khalilullah. Meski begitu ia pernah bersiasat dan menghindari ancaman Namrud yang akan membunuhnya. Kisahnya tercatat dalam QS al-Anbiya [21] ayat 57-66.
  2. Nabi Musa AS termasuk nabi yang mendapat kategori ulul azmi (punya ketabahan luar biasa) dan mempunyai fisik yang sangat kuat. Meski begitu ia pernah lari hingga membelah lautan menghindari kejaran Firaun. Kisahnya ini tercatat dalam QS Thaha [20] ayat 77 dan QS al-Syu’ara [26] ayat 60-66.

Demikian beberapa kisah dari Alquran yang menunjukkan adanya ketakutan kepada Allah tidak dipertentangkan dengan ketakutan kepada makhluk. Karena keduanya harus ditempatkan dalam posisi dan kadarnya masing-masing yang tentu saja berbeda.

Alquran juga memerintahkan manusia untuk senantiasa berikhtiar dan menghindari sesuatu yang membahayakannya, “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS al-Baqarah [2]: 195). Menghindari sesuatu yang membahayakan ini wajib hukumnya dalam agama, bahkan terdapat diskresi dalam persoalan ini (QS Ali Imron [3]: 28).

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa di tengah pandemi Covid-19 ini kita harus senantiasa optimis berikhtiar dengan mengikuti anjuran medis. Kewaspadaan terhadap penyakit tidak bisa dihalangi dengan propaganda mempertentangkan ketakutan kepada Allah dan kepada penyakit, karena ketakutan terhadap selain Allah juga dialami dan diperagakan oleh para nabi sebagaimana tercatat dalam Alquran di atas. Ikhtiar dulu, tawakal kemudian, sebagaimana pesan Nabi, “I’qilha tsumma tawakkal ”.

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 130-133

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 130-133 berbicara mengenai tata kelola harta yang baik dan benar secara agama dan sosial. Terkait dengan ayat 130 berbicara mengenai hukum harta riba. Selanjutnya bercerita mengenai larangan riba bagi muslim terkait harta riba.


Baca juga: Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 123-129


Ayat 130

Ayat ini adalah yang pertama diturunkan tentang haramnya riba. Ayat-ayat mengenai haramnya riba dalam Surah al-Baqarah ayat 275, 276 dan 278 diturunkan sesudah ayat ini. Riba dalam ayat ini, ialah riba nas³’ah yang juga disebut riba jahiliah yang biasa dilakukan orang  pada masa itu.

Ibnu Jarir berkata, “bahwa yang dimaksud Allah dalam ayat ini ialah: Hai, orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, janganlah kamu memakan riba berlipat ganda, sebagaimana kamu lakukan pada masa jahiliah sesudah kamu masuk Islam, padahal kamu telah diberi petunjuk oleh-Nya.” Pada masa itu bila seseorang meminjam uang sebagaimana  disepakati waktu meminjam, maka orang yang punya uang menuntut agar utang itu dilunasi menurut waktu yang dijanjikan.

Orang yang berutang (karena belum ada uang untuk membayar) meminta penangguhan dan menjanjikan akan membayar dengan tambahan yang ditentukan. Setiap kali pembayaran tertunda ditambah lagi bunganya. Inilah yang dinamakan riba berlipat ganda, dan Allah melarang, kaum Muslimin melakukan hal yang seperti itu.

Ar-Razi memberikan penjelasan sebagai berikut, “Bila seseorang berutang kepada orang lain sebesar seratus dirham dan telah tiba waktu membayar utang itu sedang orang yang berutang belum sanggup membayarnya, maka orang yang berpiutang membolehkan penangguhan pembayaran utang itu asal saja yang berutang mau menjadikan utangnya menjadi dua ratus dirham atau dua kali lipat.

Kemudian apabila tiba waktu pembayaran tersebut dan yang berutang belum juga sanggup membayarnya, maka pembayaran itu dapat ditangguhkan dengan ketentuan utangnya dilipatgandakan lagi, demikianlah seterusnya sehingga utang itu menjadi bertumpuk-tumpuk. Inilah yang dimaksud dengan kata “berlipat ganda” dalam firman Allah. Riba semacam ini dinamakan juga riba nasi’ah karena adanya penangguhan dalam pembayaran bukan tunai.

Selain riba nasi’ah ada pula riba yang dinamakan riba fadal yaitu menukar barang dengan barang yang sejenis sedang mutunya berlainan, umpamanya menukar 1 liter beras yang mutunya tinggi dengan 1½ liter beras yang bermutu rendah. Haramnya riba fadal ini, didasarkan pada hadis-hadis Rasul, dan hanya berlaku pada emas, perak dan makanan-makanan pokok, atau yang diistilahkan dengan “barang-barang ribawi.”

Karena beratnya hukum riba ini dan amat besar bahayanya maka Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin agar menjauhi riba dan selalu memelihara diri dan bertakwa kepada Allah agar jangan terperosok ke dalamnya dan agar mereka dapat hidup berbahagia dan beruntung di dunia dan di akhirat.


Baca juga: Tidak Hanya Khamar, Pengharaman Riba dalam Al-Quran Juga Bertahap


Ayat 131

Allah memerintahkan agar kaum Muslimin memelihara dan menjauhi perbuatan orang kafir yang tidak mempedulikan apakah harta yang mereka peroleh berasal dari sumber-sumber yang tidak  halal seperti riba, memeras kaum lemah, dan miskin dan sebagainya. Semua cara yang tidak halal itu akan membahayakan mereka di dunia dan membawa mereka ke neraka kelak.

Diterangkan oleh Imam Abu Hanifah, bahwa ayat ini mengandung ancaman yang sangat menakutkan, karena dalam ayat ini Allah mengancam kaum Muslimin akan memasukkan mereka ke dalam neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir bila mereka tidak memelihara diri dari perbuatan yang dilarang-Nya.

Ayat 132

Kemudian perintah tersebut diiringi dengan perintah agar kaum Muslimin selalu taat dan patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya karena dengan menaati Allah dan Rasul-Nya itulah mereka akan dapat limpahan rahmat-Nya dan dapat hidup berbahagia di dunia dan di akhirat.

Ayat 133

Allah menyuruh agar kaum Muslimin bersegera meminta ampun kepada-Nya bila sewaktu-waktu berbuat dosa dan maksiat, karena manusia tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Seorang Muslim tidak akan mau mengerjakan perbuatan yang dilarang, tetapi kadang-kadang karena kuatnya godaan dan tipu daya setan dia terjerumus ke dalam jurang maksiat, kemudian ketika sadar akan kesalahannya dan menyesal atas perbuatan itu dia lalu bertobat dan mohon ampun kepada Allah, maka Allah akan mengampuni dosanya. Allah adalah Maha Penerima tobat dan Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Bila seorang Muslim selalu menaati perintah Allah dan Rasul-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya  dan  segera bertobat bila jatuh ke jurang dosa

dan maksiat, maka Allah akan mengampuni dosanya dan akan memasukkannya nanti di akhirat ke dalam surga yang amat luas sebagai balasan atas amal yang telah dikerjakannya di dunia yaitu surga yang disediakan-Nya untuk orang yang bertakwa.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 134


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 123-129

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 123-129 berbicara mengenai perintah Allah SWT untuk meneguhkan hati dan yakin secara penuh atas pertolongan Allah SWT. Lebih khusus pada dua ayat pertama yang berbicara mengenai perang Badar dan perang Uhud.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 118-122


Ayat 123

Sebagai penambah kekuatan jiwa dan ketabahan hati dalam menghadapi segala bahaya dan kesulitan, Allah mengingatkan mereka kepada perang Badar ketika mereka berada dalam keadaan lemah dan jumlah yang amat sedikit dibanding, dengan kekuatan dan jumlah musuh.

Berkat pertolongan Allah, mereka berhasil memporak-porandakan musuh hingga banyak di antara pembesar Quraisy yang jatuh menjadi korban dan banyak pula yang ditawan dan tidak sedikit harta rampasan yang diperoleh kaum Muslimin. Karena mereka ingat pada perintah Allah agar  mereka bersabar dan bertakwa kepada-Nya dan dengan sabar dan takwa itu mereka akan mendapat pertolongan daripada-Nya dan akan mendapatkan kemenangan.

Ayat 124-125

Untuk lebih memperkuat hati dan tekad kaum Muslimin dalam menghadapi Perang Uhud ini, Nabi mengatakan kepada mereka bahwa mereka akan dibantu oleh Allah dengan 3.000 malaikat. Apabila mereka sabar dan tabah menghadapi segala bahaya dan bertakwa, Allah akan membantu mereka dengan 5.000 malaikat.

Menurut riwayat Ad-Dahhak, bantuan dengan 5.000 malaikat ini adalah janji dari Allah yang dijanjikan-Nya kepada Muhammad jika kaum Muslimin sabar dan bertakwa. Ibnu Zaid meriwayatkan, ketika kaum Muslimin melihat banyaknya tentara kaum musyrikin dan lengkapnya persiapan mereka, mereka bertanya kepada Rasulullah saw, “Apakah dalam perang Uhud ini Allah tidak akan membantu kita sebagaimana Dia telah membantu kita dalam Perang Badar?” Maka turunlah ayat ini.

Memang dalam Perang Badar Allah telah membantu kaum Muslimin dengan 1000 malaikat sebagai tersebut dalam firman-Nya:

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, ”Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (al-Anfal/8:9)

Pada mulanya dalam Perang Uhud ini pasukan kaum Muslimin sudah dapat mengacaubalaukan musuh sehingga banyak di antara kaum musyrik yang lari kocar-kacir meninggalkan harta benda mereka, dan mulailah tentara Islam berebut mengambil harta benda itu sebagai ganimah (rampasan). Melihat keadaan ini para pemanah diperintahkan oleh Nabi Muhammad saw agar tetap bertahan di tempatnya, apa pun yang terjadi. Menyangka kaum musyrikin telah kalah, para pemanah pun meninggalkan tempat mereka dan turun untuk ikut mengambil harta ganimah.

Karena tempat itu telah ditinggalkan pasukan pemanah, Khalid bin Walid panglima musyrikin Quraisy waktu itu, dengan pasukan berkudanya naik ke tempat itu dan mendudukinya, lalu menghujani kaum Muslimin dengan anak panah dari belakang sehingga terjadilah kekacauan dan kepanikan di kalangan kaum Muslimin. Dalam keadaan kacau balau itu kaum musyrikin mencoba hendak mendekati markas Nabi saw, tetapi para sahabat dapat mempertahankannya walaupun Nabi sendiri mendapat luka di bagian muka, bibirnya serta giginya pecah.

Akhirnya berkat kesetiaan mereka membela Nabi dan kegigihan mereka mempertahankan posisinya, mereka bersama Nabi naik kembali ke bukit Uhud dengan selamat. Dengan demikian berakhirlah pertempuran dan pulanglah kaum musyrikin menuju Mekah dengan rasa kecewa karena tidak dapat mengalahkan Muhammad dan pasukannya, walaupun mereka sendiri masih selamat dari kehancuran.


Baca juga: Kisah Thalhah Bin Ubaidillah di Perang Uhud


Ayat 126

Apa pun yang terjadi sebenarnya kemenangan itu hanyalah datang dari Allah Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana. Jadi kalau kaum Muslimin benar-benar mengamalkan petunjuk Allah dan rasul-Nya dan benar-benar percaya dan yakin akan mendapat kemenangan dan tetap bersifat sabar dan takwa dengan penuh tawakal tentulah Allah akan memberikan kemenangan kepada mereka.

Tetapi pada perang Uhud, tidak terdapat kebulatan tekad dan tidak terdapat kepatuhan kepada perintah, kecuali pada permulaan pertempuran. Hal ini terbukti dengan timbulnya keragu-raguan dalam hati dua golongan kaum Muslimin dan turunnya pasukan pemanah yang diperintahkan agar tidak meninggalkan tempat mereka. Inilah sebabnya mengapa kaum Muslimin sangat terpukul dalam Perang Uhud.

Ayat 127

Pada permulaan pertempuran, sebagaimana tersebut di atas, pasukan kaum Muslimin dapat mengacaubalaukan barisan musuh, sehingga banyak di antara mereka yang jatuh menjadi korban. Sebagian sejarawan mengatakan bahwa ada delapan belas orang yang terbunuh dari kaum musyrikin.

Tetapi pendapat ini ditolak oleh sebagian sejarawan yang lain. Mereka berkata, “Sayidina Hamzah saja, dapat membunuh puluhan orang dari mereka.” Ahli sejarah yang lain mengatakan bahwa sebab perbedaan pendapat ini adalah karena ketika kaum Muslimin menghitung korban yang jatuh di kalangan kaum musyrikin, mereka hanya menemukan delapan belas mayat.

Padahal kaum musyrikin sebelum kembali ke Mekah sempat menguburkan sebagian korban dan membawa korban yang lain bersama mereka. Jadi kemenangan kaum Muslimin pada pertempuran pertama ini adalah berkat kebulatan tekad dan ketetapan hati mereka yang ditimbulkan oleh perkataan Rasulullah saw yang tersebut dalam ayat 124 dan 125.

Kekalahan kaum musyrikin dan jatuhnya korban yang banyak di kalangan mereka memang sudah menjadi kehendak Allah untuk membinasakan segolongan orang kafir, menjengkelkan hati mereka dan menghina mereka dengan kekalahan itu.

Ayat 128

Dalam pertempuran kedua kaum Muslimin menderita kegagalan  sehingga ada 70 orang di antara mereka gugur sebagai syuhada dan Nabi pun mendapat luka-luka. Hal ini amat menyedihkan hati kaum Muslimin dan hati Nabi sendiri.

Ayat 129

Memang demikianlah hak Allah atas hamba-Nya karena Dia Yang memiliki semua yang ada di langit dan di bumi. Dia berkuasa penuh atas semuanya, tak ada seorang pun yang berkuasa atas makhluk-Nya kecuali Dia. Dialah yang menghukum dan memutuskan segala urusan. Dia berhak mengampuni dan menerima tobat hamba-Nya yang tampak durhaka, tetapi siapa tahu bahwa pada diri hamba-Nya itu ada bibit-bibit keimanan dan kebaikan.

Dia berhak menyiksa karena Dialah Yang Maha Mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang patut mendapat siksaan di dunia atau di akhirat. Di samping itu Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Ali Imran Ayat 130-133


(Tafsir Kemenag)

Etika Menjadi Seorang Pebisnis dalam Membangun Kepercayaan

0
pebisnis menunjukkan laporan

Menjadi pengusaha atau pembisnis merupakan sebuah aktivitas yang tidak jauh dengan apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan untuk menjadi seorang pebisnis Islam juga tidak meninggalkan yang namanya etika. Mempelajari etika bisnis dalam Islam sebelum berbisnis adalah suatu kewajiban. Etika dalam bisnis dibangun demi memperoleh sebuah kepercayaan.

Berikut kerangka untuk memperoleh semangat kepercayaan yang sesuai dengan syariat Islam. Kepercayaan itu bisa diterima, setelah kita melakukan aksi. Dan aksi ini bisa berupa cara memandang dan berbicara, berperilaku, cara kerja.

Lantas bagaimana etika yang harus diterapkan dalam berbisnis, agar mampu menimbulkan kepercayaan?. Berikut Firman Allah surat al-Baqarah ayat 282 menjelaskan tentang etika dalam berbisnis:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 282

Ayat ini memang kategori ayat yang begitu panjang, dan kalimat يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ merupakan tanda nasihat Allah yang ditunjukkan kepada hambanya yang beriman. Menurut kitab Tafsir Ibnu Katsir karya Ibnu Katsir bahwa untuk orang-orang beriman, lakukanlah proses muamalah secara tidak tunai, hendaknya menulisnya. Tujuan ini untuk dapat menjaga jumlah dan batas waktu muamalah, selain itu sungguh menguatkan bagi saksi, dengan begitu akan meninggalkan keraguan.

Kemudian kata وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ menjelaskan tentang adil. Maksudnya ialah ketika menuliskan proses muamalah, tidak boleh memihak kepada salah satu orang, harus sesuai dengan kesepakatan transaksi. Dengan menulis ini juga akan menambah validitas dalam berbisnis, sehingga sesame pengusaha pun bisa menaruh kepercayaan kepada pengusaha yang lainnya.

Meniru Konsep Bisnis Masa Sahabat Ali Bin Thalib

Sahabat sekaligus mantu dari Rasulullah SAW juga menerapkan firman Allah surat Al-Baqarah ayat 282. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib juga memaparkan tentang harta dan juga etika berhadapan dengan lawan bisnis. Ali sudah menuliskan tentang etika berbisnis dalam bukunya yang berjudul Najhul Balaghah, bahwa sebuah bisnis akan berhasil atau sukses apabila sumber daya manusia yang terlibat di dalam bisnis sangat berkompeten, karena ini nanti akan mempengaruhi  laju percepatan kepercayaan pada seorang pembisnis

Selain itu, Ali juga menegaskan bahwa untuk menjaga sebuah kepercayaan, pekerja harus melewati beberapa ujian sebelum terlibat dalam bisnis tersebut. Dan yang terpenting dalam setiap devisi harus ada yang namanya pembukuan. Ali menganalogikan layaknya orang berdoa saja tanpa bekerja, bagai memanah tanpa busur. Wallahu A’lam

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 118-122

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 118-122 ini secara garis bersar berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai larangan untuk menjalin hubungan dekat dengan orang-orang kafir. Kedua berbicara mengenai hasutan-hasutan yang dilakukan oleh orang-orang munafik kepada umat muslim agar tidak ikut berperang.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 111-117


Ayat 118

Peringatan kepada orang mukmin agar jangan bergaul rapat dengan orang kafir yang telah nyata sifat-sifatnya yang buruk itu, jangan mempercayai mereka dan jangan menyerahkan urusan kaum Muslimin kepada mereka.

Ayat ini ditutup dengan ungkapan “Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat kepada kamu agar kamu mengerti,” agar orang beriman benar-benar mengerti dan menyadari tentang sifat-sifat buruk orang kafir dan oleh sebab itu tidak sepantasnya mereka dijadikan teman dekat dalam pergaulan selama mereka itu bersikap buruk terhadap orang beriman.

Janganlah orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai teman  kepercayaan yang mempunyai sifat yang dinyatakan dalam ayat ini,  yaitu mereka :

  1. Senantiasa menyakiti dan merugikan Muslimin dan berusaha menghancurkan mereka.
  2. Menyatakan terang-terangan dengan lisan rasa amarah dan benci terhadap kaum Muslimin, mendustakan Nabi Muhammad saw dan Alquran dan menuduh umat Islam sebagai orang-orang yang bodoh dan fanatik.
  3. Kebencian dan kemarahan yang mereka ucapkan dengan lisan itu adalah amat sedikit sekali bila dibandingkan dengan kebencian dan kemarahan yang disembunyikan dalam hati mereka. Tetapi bila sifat-sifat itu telah berubah menjadi sifat-sifat yang baik atau mereka tidak lagi mempunyai sifat-sifat yang buruk terhadap kaum Muslimin, maka Allah tidak melarang untuk bergaul dengan mereka.

Firman Allah:

لَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ لَمْ يُقَاتِلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَلَمْ يُخْرِجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْهُمْ وَتُقْسِطُوْٓا اِلَيْهِمْۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ   ٨  اِنَّمَا يَنْهٰىكُمُ اللّٰهُ عَنِ الَّذِيْنَ قَاتَلُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ وَاَخْرَجُوْكُمْ مِّنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوْا عَلٰٓى اِخْرَاجِكُمْ اَنْ تَوَلَّوْهُمْۚ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ   ٩

Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan mereka sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim. (al-Mumtahanah/60:8-9)

Banyak ditemui dalam sejarah berbagai peristiwa penting yang terkait dengan Ahli Kitab, seperti pengkhianatan Yahudi Banu Qainuqa, Banu Nadir dan Banu Quraizah di Yasrib terhadap Nabi dan kaum Muslimin, sampai terjadinya Perang Khandaq. Kemudian kaum Nasrani yang membantu kaum Muslimin dalam perjuangan Islam seperti dalam penaklukan Spanyol dan pembebasan Mesir.

Mereka mengusir orang-orang Romawi dengan bantuan orang Qibti. Banyak pula di antara orang Nasrani yang diangkat sebagai pegawai pada kantor-kantor pemerintah pada masa Umar bin Khattab dan pada masa Daulah Umayah dan Abbasiah, bahkan ada di antara mereka yang diangkat menjadi duta mewakili pemerintah Islam.

Demikianlah Allah telah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kaum Muslimin agar diperhatikan dengan sebaik-baiknya, jangan terperosok ke dalam jurang kebinasaan karena kurang hati-hati dan tidak waspada ketika  berteman akrab dengan orang kafir itu.

Ayat 119

Ayat ini menambah penjelasan mengenai sebab-sebab mengapa orang-orang kafir itu tidak boleh dijadikan teman akrab yaitu:

  1. Mereka tidak menyukai kesuksesan kaum Muslimin dan menginginkan agar Muslimin selalu dalam kesulitan dan kesusahan, padahal mereka telah dianggap sebagai saudara dan kepada mereka telah diberikan hak yang sama dengan hak kaum Muslimin sendiri.
  2. Kaum Muslimin mempercayai semua Kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk membenci Ahli Kitab karena banyak di antara Muslimin yang sayang kepada mereka, bergaul secara baik dengan mereka. Tetapi mereka tidak juga menyenangi Muslimin bahkan tetap mempunyai keinginan untuk mencelakakan.
  3. Banyak di antara mereka yang munafik, apabila berhadapan dengan Muslimin mereka mengucapkan kata-kata manis seakan-akan benar-benar teman sejati, percaya kepada kebenaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, tetapi bila mereka kembali kepada golongannya, mereka bersikap lain dan mengatakan dengan terang-terangan kebencian dan kemarahan mereka terhadap kaum Muslimin.

Mereka sampai menggigit jari karena iri melihat kaum Muslimin tetap bersatu, seia sekata, dan selalu berhasil dalam menghadapi musuh Islam.

Oleh sebab itu Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar dengan tegas mengatakan kepada mereka:

 مُوْتُوْا بِغَيْظِكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ

… “Matilah kamu karena kemarahanmu itu!” Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (Ali ‘Imran/3:119)

Allah mengetahui segala niat yang tersimpan dalam hati kaum Muslimin yang mencintai orang-orang kafir itu sebagaimana Dia mengetahui pula keburukan hati orang-orang kafir. Maka Dia akan membalas kebaikan hati kaum Muslimin dengan balasan yang berlipat ganda dan akan membalas pula kejahatan orang kafir dengan balasan yang setimpal.


Baca juga: Haruskah Selalu Bersikap Kasar dan Keras Terhadap Orang Kafir dan Munafik? Tafsir Surah At-Taubah Ayat 73


Ayat 120

Selain dari sifat-sifat yang tersebut di atas yang menyebabkan timbulnya larangan bagi kaum Muslimin mengambil mereka sebagai teman setia, dalam ayat ini disebutkan kembali sikap yang menggambarkan bagaimana jahatnya hati orang-orang kafir dan hebatnya sifat dengki yang bersemi dalam dada mereka. Allah berfirman:

اِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْۖ وَاِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَّفْرَحُوْا بِهَا

Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya.  (Ali ‘Imran/3:120)

Qatadah berkata dalam menjelaskan firman Allah ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, “Apabila orang-orang kafir itu melihat persatuan yang kukuh di kalangan kaum Muslimin dan mereka memperoleh kemenangan atas musuh-musuh Islam, mereka merasa dengki dan marah. Tetapi bila terdapat perpecahan dan perselisihan di kalangan Muslimin dan mereka mendapat kelemahan dalam suatu pertempuran, mereka merasa senang dan bahagia.

Memang sudah menjadi sunatullah, baik pada masa dahulu sampai masa sekarang maupun pada masa yang akan datang sampai hari kiamat, bila timbul di kalangan orang kafir seorang cendekiawan sebagai penantang agama Islam, Allah tetap akan membukakan kebohongannya, melumpuhkan hujahnya dan memperlihatkan cela dan aibnya.”

Karena itu Allah memerintahkan kepada umat Islam dalam menghadapi kelicikan dan niat jahat kaum kafir itu agar selalu bersifat sabar dan takwa serta tawakal kepada-Nya. Dengan demikian kelicikan mereka itu tidak akan membahayakan sedikitpun. Allah Maha Mengetahui segala tindak tanduk mereka.

Ayat 121

Orang-orang munafik telah menghasut kaum Muslimin agar jangan ikut berperang. Dalam perjalanan ke medan pertempuran mereka berhasil membawa kembali ke Medinah sepertiga dari tentara yang dipersiapkan untuk menghadapi kaum musyrikin. Berkat pertolongan Allah, ketabahan hati dan kesabaran menghadapi segala percobaan dan taat serta patuh menjalankan perintah Rasulullah saw yang telah membagi pasukan muslim menjadi beberapa bagian dan menempatkan mereka pada posisi-posisi yang strategis di medan perang. Sebagai buah ketaatan itu kaum Muslimin dapat terhindar dari kehancuran.

Ayat 122

Dalam suasana yang sulit dan tidak menguntungkan itu ada dua golongan di antara kaum Muslimin yang hampir patah semangatnya setelah mengetahui bahwa tiga ratus orang dari pasukan kaum Muslimin tidak mau ikut bertempur dan telah kembali ke Medinah. Mereka yang hampir patah semangatnya itu ialah Bani Salamah dari suku Khazraj dan Bani Harisah dari suku Aus masing-masing sayap kanan dan kiri.

Mereka terpengaruh oleh suasana yang amat mencemaskan dan merasa daripada dihancurkan oleh musuh yang demikian besar lebih baik mundur. Untunglah perasaan patah semangat itu tidak lama mempengaruhi mereka karena mereka adalah orang-orang yang penuh tawakal kepada Allah dan tetap berkeyakinan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bersabar dan bertakwa kepada-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 123-129


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah An-Nur Ayat 33: Al-Quran Menghapus Praktik Perdagangan Perempuan

0
perdagangan perempuan
perdagangan perempuan

Perdagangan perempuan dan prostitusi yang masih dijumpai hingga sekarang ini, sejatinya bukanlah sesuatu yang baru di dunia. Praktik tersebut jelas sudah ada sejak zaman Jahiliah, baik terikat dengan paksaan ataupun tidak.

Praktik perdagangan perempuan jelas sangat menistakan perempuan sendiri. Manusia dengan jenis kelamin perempuan ialah yang paling banyak dirugikan dari langgengnya praktik prostitusi. Sehingga bukan sesuatu yang bisa disembunyikan lagi bahwa, sejak 14 abad lalu, Islam menentang keras adanya praktik perdagangan perempuan, sebagai pemuas lelaki semata.

Pada masa Jahiliah, seorang tuan memiliki kuasa penuh atas budak-budaknya. Bahkan sebagian dari mereka, jika ada yang memiliki budak perempuan, ia berhak memaksa budak melacurkan dirinya.

Tuannya pun mematok pajak dengan besaran semaunya, dengan waktu setoran sesuai keinginannya. Ketika Islam datang, Allah Swt. melarang semua orang untuk melakukan hal tersebut.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nur [24] ayat 33,

وَلَا تُكْرِهُوْا فَتَيٰتِكُمْ عَلَى الْبِغَاۤءِ اِنْ اَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِّتَبْتَغُوْا عَرَضَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَمَنْ يُّكْرِهْهُّنَّ فَاِنَّ اللّٰهَ مِنْۢ بَعْدِ اِكْرَاهِهِنَّ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi. Barangsiapa memaksa mereka, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (kepada mereka) setelah mereka dipaksa.” [Q.S. An-Nur (24): 33]

Memang terdapat berbagai riwayat yang berbeda terkait latar belakang turunnya ayat tersebut. Akan tetapi para ahli tafsir secara tegas menyatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan perilaku Abdullah bin Ubay bin Salul. Meski sebagian kecil juga ada yang bersikukuh bahwa ayat tersebut berkenaan dengan perilaku Abdullah bin Aufa.

Merujuk penuturan Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, Abdullah bin Ubay memiliki sejumlah budak perempuan yang dipaksa untuk menjadi pelacur. Hal itu dilakukannya semata-mata hanya untuk memperoleh tambahan kekayaan.

Oleh sebab itu, ia menetapkan tarif tertentu atas budaknya. Ketika salah seorang budak mengadu kepada Nabi, singkat cerita, kemudian diturunkanlah surah An-Nur ayat 33.

Keuntungan dunia yang diharapkan oleh para tuan (baca: mucikari), sebenarnya bukan hanya pajak atas upah dari pelacuran yang dilakukan oleh hamba sahayanya semata.

Perempuan yang dipaksa untuk berzina itu juga diharapkan dapat melahirkan seorang anak, yang kemudian anak itu dapat kembali diperjualbelikan oleh tuannya kepada orang lain.

Dalam kitab Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam Al-Qurthubi menyebutkan satu riwayat, apabila seorang budak tadi ingin menebus anak yang dilahirkannya, maka ia dibebani syarat untuk memberikan seratus onta kepada tuannya.

Syarat yang dibebankan kepada budak itu memang sangat aneh, serta terkesan hanya jebakan saja.

Bagaimana mungkin seorang budak mampu menebus anaknya, apabila untuk menebus dirinya supaya dibebaskan saja tak kunjung mampu.

Bagaimana mungkin seorang budak mampu mempersembahkan seratus unta kepada tuannya, apabila untuk mencukupi kebutuhan hidupnya saja masih terjerat dalam perangkap tuannya.

Kemudian bagaimana status hukum bagi perempuan yang dipaksa tuannya untuk berzina, padahal sesungguhnya ia telah menolak karena ingin menjaga kesuciannya?

Dalam Tafsir At-Tahrir wat Tanwir, Imam Ibnu ‘Asyur menguraikan bahwa seseorang yang benar-benar “dipaksa”, maka ia akan diampuni. Makna zahir dari ayat sudah jelas, bahwa Allah Swt. ialah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (ghafurun rahimun). Sedangkan dosanya akan ditimpakan kepada orang yang memaksa.

Selain berdasar pada surah An-Nur ayat 33, simpulan ini juga didukung dengan sabda Rasulullah Saw., yang diceritakan oleh sahabat Ibnu ‘Abbas;

إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Allah membiarkan(mengampuni) kesalahan dari umatku akibat kekeliruan, lupa, dan keterpaksaan.” (H.R. Ibnu Majah & Baihaqi)

Menurut Syekh Fakhruddin ar-Razi dalam Tafsir Mafatihil Ghaib, konsekuensi tersebut dapat berlaku apabila perempuan yang dimaksud benar-benar tidak mampu untuk menolak paksaan.

Apabila perempuan itu tidak memulainya dengan penolakan, tidak menyertainya dengan pengingkaran bahwa hal tersebut salah, bahkan turut menikmati dengan kerelan hati, maka tidak ada bedanya ia dengan tuannya.

Adapun hal-hal yang dapat menyebabkan bolehnya seorang hamba sahaya menuruti paksaan tuannya yaitu, apabila ia telah menerima ancaman-ancaman yang berbahaya bagi dirinya.

Imam Ahmad ash-Shawi, menyebutkan contoh ancaman tersebut dalam kitab Hasyiyah ash-Shawi, yakni seperti ancaman pembunuhan dan dihilangkannya anggota tubuhnya.

Terdapat juga suatu pelajaran yang berhubungan dalam hal menyebut atau memanggil orang lain, seperti yang dijelaskan oleh Imam Az-Zamakhsyari dalam Tafsir Al-Kasysyaf.

Yakni, meski pun konteks pemaksaan dalam ayat tersebut sebenarnya adalah budak yang dipaksa oleh tuannya, tetapi Allah Swt. tidak menyebut mereka dengan redaksi budak (‘abdun atau ‘abdah). Oleh Al-Qur’an, mereka disebut dengan redaksi “fatayat”, yang berarti para perempuan muda.

Berdasarkan uraian di atas, dapat semakin dimengerti bahwa Islam jelas memiliki visi untuk menghapuskan ketidakadilan, termasuk ketidakadilan bagi perempuan.

Ketika pada masa Jahiliah perempuan dijadikan sebagai barang warisan, Islam memberikan keleluasaan bagi mereka untuk mendapatkan warisan.

Ketika perempuan tidak dianggap persaksiannya, Islam memberikan kesempatan bagi mereka untuk bersaksi.

Kemudian, ketika perempuan tidak bisa menolak dari “paksaan” melakukan zina, Allah menjanjikan ampunan bagi mereka, bahkan orang yang memaksalah yang dituntut untuk menanggung akibatnya. Wallahu a’lam bish shawab.

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 111-117

0
tafsir surat ali 'imran
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 111-117 ini berbicara mengenai ahli kitab, terkhusus berbicara mengenai ahli kitab dari kalangan Yahudi. Kebanyakan mereka dengki terhadap orang-orang muslim.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 101-110


Ayat 111

Ahli Kitab itu tidak membahayakan umat Islam, kecuali sekadar menyakiti hati dengan perkataan yang keji, atau dengan menjelek-jelekan sifat Nabi dan menjauhkan manusia dari agama Islam.

Segala usaha dan tipu daya mereka akan hilang tak berbekas ditelan oleh keteguhan iman dan ketabahan berjuang yang dimiliki oleh kaum Muslimin sebagaimana diungkapkan dalam ayat ini.

(1) “Mereka sekali-kali tidak akan mendatangkan mudarat kepada kamu selain gangguan-gangguan berupa celaan saja.” Mereka hanya mencaci, mencela, memburuk-burukkan Islam, mencoba menimbulkan keraguan dan mengumpat Nabi.

(2) “Dan jika mereka berperang dengan kamu pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang.” Mereka tidak pernah berhasil menimbulkan kerugian besar di kalangan Muslimin.

(3) “Kemudian mereka tidak akan mendapat pertolongan,” untuk mencapai kemenangan. Memang belum pernah mereka mendapat kemenangan di dalam peperangan melawan Islam, meskipun mereka bersekutu dengan kaum musyrikin.

Ayat 112

Dengan kekafiran dan keingkaran para Ahli Kitab (Yahudi), serta tindak tanduk mereka yang keterlaluan memusuhi umat Islam dengan berbagai cara dan usaha, Allah menimpakan kehinaan kepada mereka di mana saja mereka berada, kecuali bila mereka tunduk dan patuh kepada peraturan dan hukum Allah dengan membayar jizyah, yaitu pajak untuk memperoleh jaminan keamanan (Habl min Allah) dan mereka memperoleh keamanan dari kaum muslimin (Habl min al-nas).

Tetapi hal ini tidak dapat mereka laksanakan dalam pergaulan mereka dengan Nabi dan para sahabatnya di Medinah, bahkan mereka selalu menentang dan berusaha melemahkan posisi kaum Muslimin dan tetap memusuhi Islam. Karena itu mereka mendapat kemurkaan Allah, ditimpa kehinaan dan terusir dari Medinah.

Ayat 113

Orang Yahudi adalah suatu kaum yang mempunyai sifat-sifat dan perbuatan buruk, antara lain mereka kafir kepada ayat-ayat Allah, membunuh para nabi tanpa alasan yang benar, tetapi mereka semua tidak sama. Ada di antara mereka yang beriman, sekalipun kebanyakan di antaranya adalah orang-orang fasik.

Abdullah bin Salam, Sa’labah bin Sa’id, Usaid bin ‘Ubaid dan kawan-kawannya adalah orang-orang Yahudi dari Ahli Kitab yang menegakkan kebenaran dan keadilan, tidak menganiaya orang, memeluk agama Islam dan tidak melanggar perintah-perintah Allah.

Mereka membaca ayat-ayat Alquran dengan tekun dan penuh perhatian pada waktu malam yang diawali dengan terbenamnya matahari dan diakhiri dengan terbitnya fajar,  ketika orang tidur nyenyak, dan mereka juga sujud  mengadakan hubungan langsung dengan Allah swt.

Ayat 114

Mereka beriman kepada Allah dan kepada hari akhirat dengan iman yang sungguh-sungguh, iman yang tidak dicampur dengan kemunafikan. Beriman kepada Allah berarti beriman pula kepada yang wajib diimani dan dipercayai, mencakup rukun iman seperti beriman kepada malaikat, para rasul, kitab-kitab samawi, qada dan qadar dan sebagainya.

Beriman kepada hari akhirat, berarti menjauhi segala macam maksiat, karena yakin apabila mereka berbuat maksiat di dunia mereka di azab di hari kemudian dan mereka mengadakan kebajikan karena mengharapkan pahala dan keridaan Allah.

Setelah mereka menyempurnakan diri dengan sifat-sifat dan amal perbuatan yang baik seperti tersebut di atas, mereka juga berusaha untuk menyelamatkan orang lain dari kesesatan, membimbing mereka kepada jalan kebaikan dengan amar makruf, dan mencegah mereka dari perbuatan yang dilarang agama dengan jalan nahi mungkar.

Selanjutnya mereka secara bersama-sama dan berlomba-lomba mengadakan pelbagai kebajikan. Oleh karena mereka telah memiliki sifat-sifat mulia dan amal baik seperti tersebut, Allah memasukkan mereka kepada golongan orang yang saleh.


Baca juga: Nabi Ibrahim Adalah Muslim, Bukan Yahudi ataupun Nasrani


Ayat 115

Orang-orang Yahudi yang masih fasik senantiasa mengadakan provokasi kepada teman-temannya yang sudah beriman dan masuk Islam, bahwa mereka akan rugi dengan imannya itu.

Sebagai jawaban dan bantahan atas perbuatan buruk mereka itu, ditegaskan bahwa kebajikan apa saja yang telah dikerjakan oleh mereka yang telah beriman, mereka tetap akan memperoleh pahala dari amal perbuatannya dan tidak akan dihalangi sedikit pun menerimanya.

Allah Maha Mengetahui orang-orang yang benar-benar beriman dan bertakwa di antara mereka. Karenanya, amal perbuatan mereka tidak akan disia-siakan tetapi akan diberi pahala yang berlipat ganda.

Ayat 116

Ayat ini turun berkenaan dengan orang Yahudi dan kaum musyrik yang selalu mencerca dan menghina Nabi Muhammad saw, serta pengikut-pengikutnya. Mereka mengatakan, “Kalau Muhammad dan pengikut-pengikutnya memang orang yang benar dan dapat dipercaya, kenapa mereka selalu dalam kemiskinan dan kemelaratan, padahal kitalah yang kaya-kaya dan banyak anak.”

Mereka selalu membanggakan hal ini kepada orang-orang yang beriman dan mencoba menariknya agar berpihak kepada mereka dan kembali menganut agama nenek moyang mereka. Hal ini biasa dilakukan orang kafir pada masa dahulu terhadap nabi-nabi yang diutus Allah sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

وَقَالُوْا نَحْنُ اَكْثَرُ اَمْوَالًا وَّاَوْلَادًاۙ وَّمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ

Dan mereka berkata, ”Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami tidak akan diazab.”  (Saba’/34:35)

Maka sebagai jawaban atas penghinaan dan tantangan itu diturunkanlah ayat ini yang menegaskan bahwa banyak harta dan anak tidak akan melepaskan mereka dari siksaan di akhirat kelak.

Ayat 117

Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan itu seperti angin dingin yang berhembus sangat kencang menghabiskan segala tanaman yang ditanam, sehingga pemiliknya tidak dapat memetik hasilnya walau sedikit pun. Meskipun pada lahirnya mereka telah menafkahkan hartanya untuk kepentingan umum seperti membangun benteng pertahanan, jembatan-jembatan, sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit dan lain-lain dengan harapan yang besar bahwa kebaikan mereka itu akan mendapat ganjaran dari Allah dan dapat menolong mereka di akhirat nanti, namun harapan itu akan sia-sia belaka. Firman Allah:

وَقَدِمْنَآ اِلٰى مَا عَمِلُوْا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنٰهُ هَبَاۤءً مَّنْثُوْرًا

Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (al-Furqan/25:23).

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا

Dan orang-orang yang kafir, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila (air) itu didatangi tidak ada apa pun. (an-Nur/24:39)

Sebenarnya Allah tidak menganiaya orang kafir karena tidak memberi ganjaran bagi amal perbuatan mereka yang baik, tetapi mereka sendirilah yang menganiaya diri sendiri karena tidak mau beriman, padahal bukti-bukti telah banyak sekali di tangan mereka yang menunjukkan kebenaran dan kerasulan Nabi Muhammad saw.

Menurut kajian ilmiah, salah satu fenomena penting yang terjadi pada tanaman yang terkena hawa (angin) yang sangat dingin di antaranya adalah fenomena rusaknya sel-sel, terutama sel daun. Seperti telah umum diketahui bahwa kira-kira 70% dari kandungan sel adalah air. Ketika terkena hawa yang sangat dingin maka air di dalam sel membeku.

Apabila air sudah membeku maka terbentuklah kristal-kristal es yang volumenya lebih besar daripada air. Adanya pembekuan itu menyebabkan dinding-dinding sel hancur karena tergerus molekul-molekul air yang mengembang karena pembekuan. Kenampakan fenomena ini dari luar: daun terlihat menjadi kering seperti terbakar.  Fenomena ini seperti sering terjadi pada tanaman teh di pegunungan Jawa Barat yang dikenal dengan fenomena Ibun Bajra (Embun Api).

Perumpamaan harta yang dibelanjakan tidak sesuai dengan kehendak Allah, akan membawa kehancuran bagi pelakunya, seperti cairan sel yang menghancurkan dirinya sendiri ketika kena hawa dingin.

Dalam ayat di atas juga diperlihatkan akibat perubahan perilaku cuaca terhadap kehidupan, dalam hal ini tanaman pertanian. Secara biologis, suatu perubahan cuaca yang tidak biasa, misal kenaikan maupun penurunan suhu yang tajam, akan sangat mengganggu proses metabolisme tumbuhan. Akibatnya jelas, yaitu akan terjadi disfungsi dari berbagai organ yang ada yang mengakibatkan pertumbuhan yang tidak normal, atau tanaman akan mati.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 118-122


(Tafsir Kemenag)