Beranda blog Halaman 126

Munasabah Surah Quraisy dan Alma’un

0
Munasabah Surah Quraisy dan Alma'un
Munasabah Surah Quraisy dan Alma'un

Dalam khazanah Ulumul Quran terdapat istilah munasabah yang berarti keterkaitan. Munasabah dapat terjadi dalam konteks ayat maupun surah. Dalam tesis Sahiron Syamsuddin yang telah dibukukan, munasabah diistilahkan dengan Irtibat al-Ayat wa al-Suwar. Jika dialih bahasakan menjadi “ketersalingterkaitan ayat-ayat dan surah-surah dalam Alquran”. Tujuan dari mempelajari munasabah ialah untuk mengambil pelajaran antar ayat dan surah dalam Alquran, meskipun terkadang bila dibaca sepintas terdapat perbedaan. Untuk itu, tulisan ini mengulas salah satu munasabah surah dalam Alquran, yakni Surah Quraisy dan Alma’un.

Penafsiran Surah Quraisy dan Alma’un menurut para mufasir

Ayat pertama dan kedua surah Quraisy mengisahan tentang masyarakat Quraisy yang berkebiasaan berdangang ke negeri Syam ketika musim panas serta Yaman dan Basrah ketika musim dingin (Tejemah Tafsir At-Thabari, jilid 26, hlm. 973). Pada ayat ketiga, Allah memerintahkan Nabi yang juga sebagian dari masyarakat Quraisy untuk menyembah Allah dan bersyukur. Yakni Dzat yang memberikan rezeki berupa makanan dikala lapar dan keamanan dikala hati takut yang dijelaskan pada ayat ke empat.

Mayoritas ulama sepakat bahwa Surah Quraisy dan Alfiil adalah dua surah yang berbeda. Akan tetapi Ibnu Jarir dan dan Quraish Shihab dalam Al-Misbah mendiskusikan tentang alasan mengapa kedua surah ini saling terhubung. Pada surah Al-Fiil disebutkan tentang pertolongan Allah atas kaum Quraisy terhadap serangan pasukan gajah. Melalui surah Quraisy ini, Allah juga memberikan beberapa kenikmatan lainnya dan memerintahkan mereka untuk bersyukur (Tafsir Al-Misbah, jilid 15, hlm. 536).

Baca juga: Tafsir Surah Quraisy Ayat 2: Ke Mana Rihlah Quraisy?

Dalam Tafsir Al-Misbah begitu juga dalam tulisan Siti Rohmah yang telah terbit, dijelaskan muasal tradisi berdangang berasal dari Hasyim Ibnu Abd Manaf, kakek Rasulullah. Sebelumnya, ketika musim kelaparan melanda, masyarakat Quraisy berpindah-pindah tempat sampai mereka mati kelaparan. Melihat realita tersebut, Hasyim mengajak penduduk Quraisy untuk bergotong-royong berdagang ke negara tetangga guna mempertahankan hidup. Keuntungan yang mereka dapatkan dibagi rata antara kaya dan miskin (Tafsir Al-Misbah, jilid 15, hlm. 538).

Terkait penafsiran Surah Alma’un, sebelumnya saya telah menuliskan dalam dua artikel tersendiri yang tentu tidak perlu diulang di sini. Inti dari surah Alma’un pada dua tulisan saya sebelumnya adalah kecaman Allah pada orang-orang yang mendustakan Agama. Yakni orang-orang  yang tidak memenuhi hak-hak orang yang membutuhkan, tidak bersungguh-sungguh dalam salat dan melakukan perbuatan terpuji tanpa dilandasi niat tulus karena Allah.

Hubungan Surah Quraisy dan Alma’un

Munasabah surah Quraisy dan Alma’un terwujud dalam bentuk yang berlawanan. Pada surah Quraisy, Allah mengabarkan tentang banyak nikmat yang Dia berikan kepada masyarakat Quraisy. Nikmat tersebut berupa keamanan dan keselamatan dari kelaparan.

Sekalipun Surah Quraisy mengisahkan tentang kebiasaan berdagang masyarakat Quraisy, keberhasilan berdangang mereka yang menghasilkan banyak harta semata-mata bukan hanya dari usaha, melainkan juga melibatkan kuasa Allah sebagaimana yang dijelaskan pada ayat keempat. Untuk itu, redaksi ayat sebelumnya berisi seruan untuk menyembah Tuhan pemilik Kabah.

Pesan tersirat dari Surah Quraisy adalah seruan untuk menyembah Allah. Sebab kenikmatan dan keamanan yang manusia dapatkan adalah berkat rahmat Allah. Begitulah yang tergambarkan pada kisah dalam Surah Quraisy secara keseluruhan.

Baca juga: Surah Alma’un dan Ibadah Dimensi Sosial

Adapun dalam Surah Alma’un, kecaman  terhadap pendusta agama merupakan implementasi dari seruan menyembah Allah. Setelah bertauhid, seseorang harus menjalankan syariat Islam secara keseluruhan. Pada artikel saya sebelumnya, implementasi beragama terbagi menjadi dua bentuk ibadah yakni ibadah ketuhanan dan ibadah dimensi sosial.

Ibadah ketuhanan seperti salat merupakan suatu kewajiban tiap muslim kepada Allah. Adapun dimensi sosial seperti zakat dan sedekah merupakan bentuk ibadah yang mengajarkan bahwa tiap-tiap harta yang dimiliki seorang muslim mengandung hak orang lain yang membutuhkan.

Itu sebabnya pada surah Quraisy  pada ayat 3 yang berisi seruan menyembah Allah didahului dengan kisah perdagangan masyarakat Quraisy di masa lampau. Ayat 3 juga di akhiri dengan alasan perintah menyembah Allah, yakni karena mereka telah dimudahkan mendapatkan rezeki dan rasa aman dari ketakutan.

Simpulan

Munasabah surah Quraisy dan Alma’un terletak pada seruan dan implementasi menyembah Allah. Salah satu pesan dari surah Quraisy berisi seruan kepada Allah atas segala kenikamatan yang telah diberikan-Nya. Adapun pada Surah Alma’un berisi kecaman terhadap orang-orang yang tidak menerapkan esensi agama Islam secara paripurna. Inti dari beragama pada surah tersebut yani ibadah berdimensi spiritual dan sosial.  Wallahu a’lam[]

Tafsir Surah Al-Hadid ayat 26-27

0
Tafsir Surah al-Hadid
Tafsir Surah al-Hadid

Tafsir Surah Al-Hadid ayat 26-27 menceritakan tetang Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim yang merupakan Rasul Allah yang mana semua Rasul berasal dari keturunan mereka hingga ke Nabi Muhammad SAW.

Pada ayat 27 dalam Tafsir Surah Al-Hadid ayat 26-27 ini mengkhususkan tentang Nabi Isa dan penjelasan mengenai sifat-sifat pengikutnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 17-20


Ayat 26

Allah menerangkan, bahwa Dia telah mengutus Nuh sebagai rasul kepada kaumnya, kemudian Dia mengutus Ibrahim sebagai rasul kepada kaum yang lain. Diterangkan pula bahwa para rasul yang datang kemudian setelah kedua orang rasul itu, semuanya berasal dari keturunan mereka berdua, tidak ada seorang pun daripada rasul yang diutus Allah yang bukan dari keturunan mereka berdua. Hal ini dapat dibuktikan kebenarannya sampai kepada rasul terakhir Nabi Muhammad saw.

Diterangkan bahwa tidak semua keturunan Nuh dan Ibrahim beriman kepada Allah, di antara mereka ada yang beriman, tetapi kebanyakan dari mereka tidak beriman, mereka adalah orang-orang yang fasik, yang mengurangi, menambah dan mengubah agama yang dibawa oleh para rasul sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka.

Dari ayat ini dipahami bahwa belum tentu seseorang hamba yang saleh kemudian anaknya menjadi hamba yang saleh pula, tetapi banyak tergantung kepada bagaimana cara seseorang mendidik dan membesarkan anaknya. Ayat ini juga merupakan peringatan keras dari Allah kepada orang-orang yang telah beriman dan mengikuti para rasul yang diutus kepada mereka, tetapi mereka tidak mengikuti ajaran yang dibawa para rasul itu.

Ayat 27

Demikianlah Allah mengutus para rasul, kemudian diiringi pula oleh rasul-rasul yang sesudahnya, untuk menyampaikan agama-Nya kepada manusia, sehingga tidak ada alasan bagi manusia di akhirat untuk meng-atakan, mengapa mereka diazab padahal kepada mereka tidak diutus seorang rasul pun.

Dalam ayat ini Allah mengkhususkan keterangan tentang Isa karena banyak pengikut-pengikutnya yang fasik, yaitu mengubah-ubah, menambah dan mengurangi ajaran-ajaran yang disampaikan Isa. Diterangkan bahwa Isa adalah putera Maryam, diberikan kepadanya Kitab Injil, berisi pokok ajaran yang agar dijadikan petunjuk oleh kaumnya dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat dan sebagai penyempurnaan ajaran Allah yang terdapat dalam kitab Taurat yang telah diturunkan kepada Nabi Musa sebelumnya.

Kemudian diterangkan sifat-sifat pengikut Nabi Isa:

  1. Allah swt menjadikan dalam hati mereka rasa saling menyantuni sesama mereka, mereka berusaha menghindarkan kebinasaan yang datang kepada mereka dan saudara-saudara mereka serta berusaha memperbaiki kebina-saan yang terjadi pada mereka.
  2. Antara sesama mereka terdapat hubungan kasih sayang dan mengingin-kan kebaikan pada diri mereka.

Sekalipun mereka telah mempunyai sifat-sifat terpuji dan baik seperti yang diajarkan Nabi Isa, tetapi mereka melakukan kefasikan, yaitu mengada-adakan rahbaniyyah, dengan menetapkan ketentuan larangan kawin bagi pendeta-pendeta mereka, padahal perkawinan termasuk sunah Allah yang ditetapkan bagi makhluk-Nya. Mereka menetapkan rabbaniyah itu dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah, tetapi Allah tidak pernah menetapkannya. Karena itu mereka adalah orang yang suka mengada-adakan sesuatu yang bertentangan dengan sunatullah, yaitu tidak mensyariatkan perkawinan bagi pendeta-pendeta mereka yang tujuannya untuk melanjutkan keturunan dan menjaga kelangsungan hidup manusia.

Perbuatan fasik lain yang mereka lakukan, ialah mereka telah mengubah, menambah dan mengurangi agama yang dibawa Nabi Isa, yang terdapat dalam Injil, karena memperturutkan hawa nafsu mereka.

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia akan memberikan pahala yang berlipat-ganda kepada orang-orang yang beriman, mengikuti syariat yang dibawa para rasul, tidak mengada-adakan yang bukan-bukan dan tidak pula menambah dan mengubah kitab-kitab-Nya. Sedang kepada orang-orang fasik itu akan ditimpakan azab yang sangat berat.

(Tafsir Kemenag)

nyebabkan anemia, mungkin jumlah sel darah merahnya atau karena hemoglogin (bahan yang berisi zat besi berwarna merah yang dapat mengangkut zat asam) dalam sel darah merah berkurang dari biasanya.

Allah swt menerangkan bahwa Dia berbuat yang demikian itu agar Dia mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang mengikuti dan menolong agama yang disampaikan para rasul yang diutus-Nya dan siapa yang mengingkarinya. Dengan anugerah itu, Allah ingin menguji manusia dan mengetahui sikap manusia terhadap nikmat-Nya. Manusia yang taat dan tunduk kepada Allah akan melakukan semua yang disampaikan para rasul itu, karena ia yakin bahwa semua perbuatan, sikap dan isi hatinya diketahui Allah, walaupun ia tidak melihat Allah mengawasi dirinya.

Pada akhir ayat ini, Allah swt menegaskan kepada manusia bahwa Dia Mahakuat, tidak ada sesuatu pun yang mengalahkan-Nya, bahwa Dia Mahaperkasa dan tidak seorang pun yang dapat mengelakkan diri dari hukuman yang telah ditetapkan-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 28-29

Tafsir Surah al-Hadid ayat 28-29

0
Tafsir Surah al-Hadid
Tafsir Surah al-Hadid

Tafsir Surah al-Hadid ayat 28-29 menerangkan tentang perintah Allah kepada Bani Israil agar beriman kepada Nabi Muhammad dan mengikuti perintah dan larangan-Nya sesuai dengan yang disiarkan Isa bin Marya sebagai rasul dan utusan-Nya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 25


Ayat 28

Allah swt memerintahkan kepada Bani Israil yang telah beriman kepada Isa bin Maryam sebagai rasul dan utusan-Nya agar beriman kepada Muhammad saw yang datang sesudah itu, mengikuti perintah-perintah dan menghentikan larangan-larangan-Nya yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan Hadis. Perintah ini pada hakikatnya menguatkan perintah Allah yang terdapat dalam Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa.

Jika Bani Israil mengikuti perintah Allah swt, maka Allah menjanjikan kepada mereka pahala dua kali lipat dari pahala yang akan diterima orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw saja. Di samping itu, akan mengampuni dosa-dosa mereka, karena Dia mengampuni dosa-dosa orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Jika yang dijanjikan Allah kepada pengikut Nabi Isa dan mereka beriman pula kepada Muhammad ialah:

  1. Mereka akan dianugerahi pahala dua kali lipat.
  2. Mereka akan diterangi cahaya petunjuk dalam menghadapi kesengsaraan dan malapetaka di hari Kiamat dan dalam menuju surga yang penuh kenikmatan.
  3. Allah swt mengampuni dosa-dosa yang telah mereka perbuat.

Dalam hadis di bawah ini diterangkan orang-orang yang akan memperoleh pahala dua kali lipat, yaitu:

رَوَى الشَّعْبِيُّ عَنْ أَبِيْ بُرْدَةَ عَنْ أَبِيْهِ اَبِيْ مُوْسَى اْلأَشْعَرِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْل ُاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلاَثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتاَبِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَآمَنَ بِيْ فَلَهُ أَجْرَانِ وَ عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ وَحَقَّ مَوَالِيْهِ فَلَهُ أَجْرَانِ وَرَجُلٌ أَدَّبَ أَمَتَهُ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ.

(رواه البخاري ومسلم)

Diriwayatkan oleh asy- Sya’biy dari Abu Burdah dari bapaknya Abu Musa al-Asy’ari, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Tiga macam orang yang diberi pahala dua kali lipat, yaitu ahli kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman pula kepadaku, maka baginya dua pahala, dan budak yang menunaikan hak Allah dan hak tuannya maka baginya dua pahala, dan orang yang mendidik budak perempuannya dengan baik kemudian di-merdekakan dan dikawini, maka baginya dua pahala pula.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Ayat 29

Pada Tafsir Surah al-Hadid ayat 28-29 khususnya dalam ayat ini Allah menolak pendapat Bani Israil yang mengatakan bahwa rasul-rasul dan nabi-nabi itu hanyalah diangkat dari keturunan mereka saja. Allah mengangkat Nabi Muhammad saw bukan dari keturunan Bani Israil, agar mereka mengetahui bahwa hanya Dia yang menentukan segala sesuatu dan yang akan memperoleh pahala dua kali lipat itu hanyalah ahli kitab yang beriman kepada Muhammad saw saja, jika mereka tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw mereka tidak akan mendapat pahala sedikit pun.

Pada akhir ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia mempunyai karunia yang tidak terhingga banyaknya, yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.

(Tafsir Kemenag)

Filosofi Hijrah Rasulullah Saw Menuju Transformasi Sosial

0
Filosofi hijrah
Filosofi hijrah

Semarak hijrah kaum millenial dewasa ini sangat menggembirakan di satu sisi, namun sangat mengkhawatirkan di sisi lain. Munculnya sejumlah slogan, komunitas dan event berbasis hijrah menunjukkan kesadaran keberagamaan yang meningkat di kalangan masyarakat. Namun di sisi lain, semangat tersebut terkadang melenceng dari semangat awal atau filosofi hijrah Rasul itu sendiri. Kata hijrah dewasa ini telah mengalami penyempitan makna. Gerakan hijrah tidak selamannya mencerminkan nilai-nilai spiritual, tetapi telah menjadi sebuah gerakan sosial, ekonomi maupun politik. Nilai-nilai hijrah yang bersifat substansial kerap terabaikan dan tertutupi oleh euforia simbolik yang mengarah pada komodifikasi maupun konstruk identitas baru, terlebih di dunia digital (Afina Amna, 2019).

Melalui momentum tahun baru Hijriah, 1 Muharram 1444 H yang bertepatan pada tanggal 30 Juli 2022, tulisan ini merespon persoalan tersebut, dengan kembali membaca filosofi hijrah Rasul sebagai acuan bagi aktifis hijrah menuju hijrah transformatif. Hijrah Rasulullah ke Madinah tidak hanya mengajarkan arti penting sebuah pengorbanan, cinta dan keikhlasan Nabi dan para sahabat muhajirin. Tetapi, momentum hijrah tersebut menjadi awal transformasi sosial dari masyarakat jahiliyah ke masyarakat madani. Di saat yang sama, Rasulullah melalui spirit hijrah telah membentuk sebuah pandangan dunia (world view) yang qurani menuju peradaban islami.

Pandangan dunia yang dimaksud dari hijrah Rasul setidaknya bermuara pada tiga kata kunci, yaitu pentingnya membangun tiga kekuatan utama secara bersamaan; fisik (maddiyah), spiritual (ruhiyyah), rasionalitas (aqliyah). Tiga kekuatan tersebut menjadi perhatian Rasulullah sejak pertama kali hijrah di kota Madinah;

Baca Juga: Tiga Metode Pendidikan Para Rasul dalam Al Quran

Pertama, membangun fisik (maddiyah). Dalam hal ini, persoalan yang pertama kali dilakukan oleh Nabi adalah membangun masjid Quba. Masjid tersebut sebagai simbol arti penting sebuah infrastruktur dalam sebuah komunitas. Masjid Quba sebagai infrastruktur ibadah ketika itu menjadi wadah bagi umat Islam awal untuk melakukan sejumlah aktifitas, baik yang terkait pembinaan rohaniyah, pendidikan maupun urusan ekonomi dan politik.

Dalam perkembangannya, untuk mewujudkan kekuatan fisik umat Islam, Rasulullah menjalin kerjasama dengan dengan non Muslim dalam berbagai aspek, baik ekonomi, politik maupun sosial kemasyakatan. Dalam riwayat terekam bahwa Rasulullah pernah menggadaikan baju perangnya kepada seorang Yahudi (HR. Bukhari dan Muslim). Riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah pernah memberikan tanah Khaibar kepada orang Yahudi untuk digarap dan bagi hasil (HR. Bukhari). Data tersebut mencerminkan karakter Rasulullah yang sangat kolaboratif dan toleran terhadap penduduk agama lain.

Kedua, membangun kekuatan spiritual (ruhiyyah). Selain fisik, Rasulullah sejak awal hijrahnya juga telah membangun kekuatan spiritual. Kekuatan fisik sangat penting, tapi hal itu akan menjadi rapuh, jika tidak dibarengi dengan kekuatan spiritual. Kekuatan spiritual yang dimaksud adalah keikhlasan, kesederhanaan, kebermaknaan hidup. Keikhlasan mencerminkan kejernihan hati dalam segala bentuk perbuatan dan perkataan. Tidak ada tujuan selain untuk ridha Allah. Kesederhanaan menggambarkan kehidupan yang bersahaja, ketawadhuan serta hidup sesuai dengan kebutuhan, bukan sesuai keinginan. Sementara kebermaknaan hidup adalah orentasi kehidupan pada pengabdian. Mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Spirit tersebut yang terinternalisasi pada diri sahabat secara alamiah maupun melalui pendidikan. Karakter tersebut terbentuk secara alamiah pada diri para sahabat karena tauladan secara langsung dari Rasul. Mereka menyaksikan kehidupan Rasul yang penuh dengan kebersahajaan. Hidupnya semata untuk menyebarkan pesan ilahi, yang penuh kasih. Selain itu, pendidikan Rasulullah lebih mementingkan aspek subtansial daridapa formalistik semata. Di antaranya, Rasulullah memvonis seorang sahabat yang mati dalam medan perang sebagai penghuni neraka karena niat yang tidak tulus dalam hatinya. Metode pendidikan ini yang kemudian dikenal dengan educational prophetic (pendidikan profetik).

Ketiga, membangun kekuatan rasionalitas (aqliyyah). Kekuatan ini juga tidak kalah penting dari dua hal sebelumnya. Rasionalitas menggambarkan pentingnya daya pikir dan kritis dalam kehidupan sosial maupun beragama. Kekuatan rasionalitas menjadi perhatian Rasulullah sejak awal, baik melalui motivasi qurani maupun hadis. Ayat pertama turun adalah petintah untuk membaca dan menalar. Membaca bukan hanya yang tertulis, sebagai kitab Allah (Alquran), tapi mencakup pembacaan dalam bentuk penalaran semua fenomena alam. Selain itu, pentingnya rasionalitas juga ditegaskan dalam hadis, ‘tidak ada agama bagi yang tidak memiliki akal’. Artinya taklif gugur bagi mereka yang tidak berakal, baik yang belum tamyiz maupun yang gila.

Rasionalitas dalam beragama semakin penting ketika kita mampu memahami spirit dari tiap ajaran agama Islam. Dalam tiap perintah maupun larangan, sejatinya terdapat unsur kemaslahatan dan kemudaratan di dalamnya. Misalnya, perintah salat,  bukan hanya sekedar mengingat Allah, tapi salat yang benar adalah menjadi perisai dari segala bentuk kemungkaran. Begitupun dengan zakat, tidak hanya bermakna kesalehan individu, tapi zakat sebagai spirit pementasan kemiskinan dan ketimpangan sosial. Inilah di antara bentuk rasionalitas dalam beragama. Dampaknya adalah agama tidak hanya sebatas ajaran normatif-formalistik semata, tapi agama hadir secara fungsional baik dalam membetuk kesalehan individu maupun sosial.

Baca Juga: Tantangan Alquran kepada Penentang Risalah Nabi Muhammad

Demikian tiga filosofi hijrah Rasul yang bisa menjadi pegangan dewasa ini. Tiga fondasi tersebut juga tersirat dalam QS. Al-An’am: 141:

۞وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَ جَنَّٰتٖ مَّعۡرُوشَٰتٖ وَغَيۡرَ مَعۡرُوشَٰتٖ وَٱلنَّخۡلَ وَٱلزَّرۡعَ مُخۡتَلِفًا أُكُلُهُۥ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُتَشَٰبِهٗا وَغَيۡرَ مُتَشَٰبِهٖۚ كُلُواْ مِن ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثۡمَرَ وَءَاتُواْ حَقَّهُۥ يَوۡمَ حَصَادِهِۦۖ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ

141.  Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.

Kaitannya dengan filosofi hijrah, Syeikh Ali Jum’ah, dalam al-Biah wa al-Hifadz alaiha min Manzur Islami, menyatakan bahwa QS. Al-An’am di atas mencakup tiga prinsip dasar dalam membangun masyarakat madani. Perintah untuk merenungi ciptaan Allah yang penuh hikmah dan bernaneka ragam itu adalah aspek rasionalitas. Perintah untuk makan buah adalah aspek materi/fisik, sementara perintah mengeluarkan hak dan larangan berlebihan adalah nilai-nilai spiritualitas. Ketiganya saling terkait, dan tak terpisahkan. Itulah tiga hakekat filosofi hijrah Rasul yang telah berhasil membangun peradaban Islam yang sangat dahsyat dalam sejarah.

Dalam konteks hijrah dewasa ini, filosofi tersebut menjadi acuan untuk mewujudkan hijrah transformatif dan holistik. Hijrah yang tidak hanya sebatas fisik-formalisitk semata, tapi yang tak kalah penting adalah menjaga aspek subtansial, baik yang berkaitan dengan aspek spiritualitas maupun aspek rasionalitas. Hijrah tanpa spiritualitas hanya akan melahirkan keterasingan (alienasi) di tengah keramaian. Sementara, hijrah tanpa rasionalitas cenderung melahirkan ekslusivitas berbasis identitas keagamaan! Wallah a’lam.

Tafsir Surah al-Hadid ayat 25

0
Tafsir Surah al-Hadid
Tafsir Surah al-Hadid

Tafsir Surah al-Hadid ayat 25 menjelaskan tentang mukjizat para rasul yang diutus Allah kepada umat-Nya dengan membawa bukti kebenaran risalah-Nya. Selengkapnya Tafsir Surah al-Hadid ayat 25 di bawah ini.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 17-20


Ayat 25

Tafsir Surah al-Hadid ayat 25 Allah menerangkan bahwa Dia telah mengutus para rasul kepada umat-umat-Nya dengan membawa bukti-bukti yang kuat untuk membukti-kan kebenaran risalah-Nya. Di antara bukti-bukti itu, ialah mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada para rasul. Di antara mukjizat tersebut seperti tidak terbakar oleh api sebagai mukjizat Nabi Ibrahim, mimpi yang benar sebagai mukjizat Nabi Yusuf, tongkat sebagai mukjizat Nabi Musa, Al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw dan sebagainya.

Setiap rasul yang diutus itu bertugas menyampaikan agama Allah kepada umatnya. Ajaran agama itu adakalanya tertulis dalam sahifah-sahifah dan adakalanya termuat dalam suatu kitab, seperti Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an. Ajaran agama itu merupakan petunjuk bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Sebagai dasar untuk mengatur dan membina masyarakat, maka setiap agama yang dibawa oleh para rasul itu mempunyai asas “keadilan”. Keadilan itu wajib ditegakkan oleh para rasul dan pengikut-pengikutnya dalam masyarakat, yaitu keadilan penguasa terhadap rakyatnya, keadilan suami sebagai kepala rumah tangga, keadilan pemimpin atas yang dipimpin-nya dan sebagainya, sehingga seluruh anggota masyarakat sama kedudukan-nya dalam hukum, sikap dan perlakuan.

Di samping itu, Allah swt menganugerahkan kepada manusia “besi” suatu karunia yang tidak terhingga nilai dan manfaatnya. Dengan besi dapat dibuat berbagai macam keperluan manusia, sejak dari yang besar sampai kepada yang kecil, seperti berbagai macam kendaraan di darat, di laut dan di udara, keperluan rumah tangga dan sebagainya. Dengan besi pula manusia dapat membina kekuatan bangsa dan negaranya, karena dari besi dibuat segala macam alat perlengkapan pertahanan dan keamanan negeri, seperti senapan, kendaraaan perang dan sebagainya. Tentu saja semuanya itu hanya diizinkan Allah menggunakannya untuk menegakkan agama-Nya, menegak-kan keadilan dan menjaga keamanan negeri.

Sebuah ensiklopedia sains modern menggambarkan unsur-unsur kimia yang ada di bumi kita ini mempunyai variasi yang menakjubkan, beberapa di antaranya susah ditemukan tapi ada juga yang berlimpah. Ada yang dapat dilihat oleh mata telanjang karena berbentuk cairan dan padat, tetapi ada juga yang tak tampak karena berupa gas.

Sekitar 300 tahun yang lalu hanya 12 unsur yang diketahui di antaranya adalah unsur Ferrum (Fe) yang bernomor atom 26 pada Tabel Susunan Berkala Unsur-Unsur. Fe ini lebih dikenal dengan sebutan besi.


Baca Juga: Tafsir Surah al-Hadid Ayat 25: Fungsi Besi bagi Kehidupan Manusia


Besi merupakan salah satu unsur paling mudah ditemukan di Bumi. Diperkirakan 5% daripada kerak Bumi adalah besi. Kebanyakan besi ditemukan dalam bentuk oksida besi, seperti bahan galian hematit, magnetit dan takonit. Juga diduga keras permukaaan bumi banyak mengandung aloi logam besi-nikel.

Konon unsur besi bukan unsur asli “kepunyaan” bumi tapi ia berasal dari luar bumi. Para pakar sependapat bahwa meteorit turut andil dalam pembentukan aloi besi-nikel yang ada di bumi. Barangkali, inilah “cara” Allah mendatangkan” unsur besi ke permukaan bumi jauh sebelum manusia ada.

Pada umumnya besi adalah logam yang diperoleh dari bijih besi, dan dijumpai bukan dalam keadaan bebas tetapi selalu dalam bentuk senyawa atau campuran dengan unsur-unsur yang lain. Karenanya untuk mendapatkan unsur besi, unsur lain harus dipisahkan yang biasanya dilakukan melalui proses kimia.

Seperti dalam industri besi baja, besi banyak digunakan yakni dalam bentuk logam campuran (aloi). Jenis campuran ada yang terdiri dari logam-logam yang berlainan tetapi ada juga bahan campuran yang digunakan berasal dari nonlogam, misalnya karbon. Semuanya dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kualitas yang diinginkan sesuai dengan kebutuhan dan dengan pertimbangan untuk menekan biaya produksi.

Sifat fisis unsur Fe jika dipanaskan terus menerus maka sebelum mencair ia akan mengalami fasa pelelehan. Fasa dimana besi dalam keadaan padat tapi ia memiliki sifat lunak. Karenanya pada fasa atau keadaan ini besi mudah dibentuk walaupun hanya dengan menggunakan teknologi tradisional yang sederhana seperti teknologi pandai besi (black-smith).

Dengan teknologi yang sederhana tadi maka dalam sejarah perkembangan manusia pemanfaatan besi telah digunakan banyak dalam aspek kehidupan manusia sehari-hari, termasuk juga untuk perang. Sayyid Qutub dalam tulisannya menguraikan, “Allah menurunkan besi ‘…yang padanya terdapat kekuatan yang hebat…, yaitu kekuatan dalam perang dan damai. Kemudian ‘…Dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya… Penggalan ini mengisyaratkan jihad dengan senjata. Sebuah penyajian yang selaras dengan konteks surah yang tengah membicarakan pengorbanan dengan jiwa dan harta.”

Dalam pengetahuan biologi maka unsur besi (Fe) dalam bentuk zat besi juga amat dibutuhkan oleh semua makhluk organik, kecuali bagi sebagian kecil bakteria. Seperti dalam tubuh kita zat besi sangat diperlukan. Dalam tubuh manusia besi kebanyakan ditemukan dalam bentuk logamprotein (metalloprotein) yang stabil, jika tidak maka ia dapat menyebabkan timbulnya radikal bebas yang cenderung menjadi racun bagi sel.

Dalam tubuh manusia zat besi terlibat dalam pembentukan sel–sel darah merah. Sementara sel-sel darah merah sangat penting keberadaannya karena dialah yang membawa zat asam (oksigen) dari paru-paru ke seluruh jaringan-jaringan yang ada dalam tubuh kita. Jaringan hidup memerlukan persediaan zat asam. Lebih giat suatu jaringan maka semakin banyak ia membutuhkan zat asam.

Kekurangan zat besi dalam darah dapat menyebabkan anemia, mungkin jumlah sel darah merahnya atau karena hemoglogin (bahan yang berisi zat besi berwarna merah yang dapat mengangkut zat asam) dalam sel darah merah berkurang dari biasanya.

Allah swt menerangkan bahwa Dia berbuat yang demikian itu agar Dia mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang mengikuti dan menolong agama yang disampaikan para rasul yang diutus-Nya dan siapa yang mengingkarinya. Dengan anugerah itu, Allah ingin menguji manusia dan mengetahui sikap manusia terhadap nikmat-Nya. Manusia yang taat dan tunduk kepada Allah akan melakukan semua yang disampaikan para rasul itu, karena ia yakin bahwa semua perbuatan, sikap dan isi hatinya diketahui Allah, walaupun ia tidak melihat Allah mengawasi dirinya.

Pada akhir ayat ini, Allah swt menegaskan kepada manusia bahwa Dia Mahakuat, tidak ada sesuatu pun yang mengalahkan-Nya, bahwa Dia Mahaperkasa dan tidak seorang pun yang dapat mengelakkan diri dari hukuman yang telah ditetapkan-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 26-27

Tafsir Surah al-Hadid ayat 23-24

0
Tafsir Surah al-Hadid
Tafsir Surah al-Hadid

Tafsir Surah al-Hadid ayat 23-24 menjelaskan tentang implementasi dari sikap sabar. Sebab cobaan itu sejatinya bukan hanya berupa kesengsaraan dan malapetaka saja, akan tetapi kesenangan dan kegembiraan juga bentuk lain dari cobaan. Oleh sebab itu ketika sedang mendapatkan cobaan hendaknya orang mukmin bersabar menghadapinya.

Di akhir penjelasan, Tafsir Surah al-Hadid ayat 23-24 ini menerangkan sikap angkuh dan sombong manusia. Sikap itu terbentuk sebab manusia merasa dapat melakukan suatu hal sendiri tanpa campur tangan Allah.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 21-22


Ayat 23

Pada ayat ini Allah swt menyatakan bahwa semua peristiwa itu ditetapkan sebelum terjadinya, agar manusia bersabar menerima cobaan Allah. Cobaan Allah itu adakalanya berupa kesengsaraan dan malapetaka, adakalanya berupa kesenangan dan kegembiraan. Karena itu janganlah terlalu bersedih hati menerima kesengsaraan dan malapetaka yang menimpa diri, sebaliknya jangan pula terlalu bersenang hati dan bergembira menerima sesuatu yang menyenangkan hati. Sikap yang paling baik ialah sabar dalam menerima bencana dan malapetaka yang menimpa serta bersyukur kepada Allah atas setiap menerima nikmat yang dianugerahkan-Nya.

Ayat ini bukan untuk melarang kaum Muslimin bergembira dan bersedih hati, tetapi maksudnya ialah melarang kaum Muslimin bergembira dan bersedih hati dengan berlebih-lebihan. ‘Ikrimah berkata, “Tidak ada seorang pun melainkan ia dalam keadaan sedih dan gembira, tetapi hendaklah ia menjadikan kegembiraan itu sebagai tanda bersyukur kepada Allah dan kesedihan itu sebagai tanda bersabar.”

Pada akhir ayat ini ditegaskan, bahwa orang yang terlalu bergembira menerima sesuatu yang menyenangkan hatinya dan terlalu bersedih hati menerima bencana yang menimpanya adalah orang yang pada dirinya terdapat tanda-tanda tabkhil dan angkuh, seakan-akan ia hanya memikirkan kepentingan dirinya saja. Allah swt menyatakan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang mempunyai sifat-sifat bakhil dan angkuh.

Ayat 24

Orang-orang yang mempunyai sifat sombong dan angkuh adalah orang yang bila memperoleh suatu nikmat, kesenangan atau harta, maka ia berpendapat bahwa semuanya itu diperolehnya semata-mata karena kesanggupan dan kepandaiannya sendiri. Karena berusaha, maka ia memperolehnya, bukan karena pertolongan dan anugerah Allah kepadanya.

Kemudian setan membisik-bisikkan ketelinganya bahwa ia adalah orang-orang yang kuat dan mampu, tidak memerlukan pertolongan orang lain. Karena yakin akan kemampuan dirinya itu, ia merasa tidak mengindahkan orang lain dan memberi orang lain. Jika ia memberi dan mengindahkan orang lain ia akan menjadi miskin. Keyakinan itu disampaikan pula kepada orang lain dan menganjurkan orang lain berkeyakinan seperti dirinya, yaitu berlaku kikir agar tidak menjadi miskin.

Pada ayat ini ditegaskan, bahwa orang yang mempunyai sifat-sifat seperti di atas adalah orang-orang yang berpaling dari perintah-perintah Allah. Allah memerintahkan agar manusia bersifat rendah hati, suka menolong sesamanya, membantu fakir miskin, berinfak di jalan Allah dan sebagainya, tetapi mereka menganjurkan dan berbuat sebaliknya. Allah menyatakan bahwa sikap dan tindakan mereka yang demikian itu tidak akan merugikan Allah sedikit pun, melainkan akan merugikan diri mereka sendiri, karena Allah tidak memerlukan sedikit pun harta dan pemberian mereka, tetapi merekalah yang memerlukannya. Allah Maha Terpuji karena Dialah yang melimpahkan nikmat kepada seluruh makhluk-Nya.

Ayat lain yang sama artinya dengan ayat ini, ialah:

وَلِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَاِيَّاكُمْ اَنِ اتَّقُوا اللّٰهَ ۗوَاِنْ تَكْفُرُوْا فَاِنَّ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَنِيًّا حَمِيْدًا   ١٣١

Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan (juga) kepadamu agar bertakwa kepada Allah. Tetapi jika kamu ingkar, maka (ketahuilah), milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (an-Nisa’/4: 131)

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 25

Tafsir Surah al-Hadid ayat 21-22

0
Tafsir Surah al-Hadid
Tafsir Surah al-Hadid

Dalam Tafsir Surah al-Hadid ayat 21-22 ini Allah memerintahkan agar manusia berlomba-lomba untuk mengerjakan amal saleh agar mendapat ampunan dari Allah. Kemudian Tafsir Surah al-Hadid ayat 21-22 ini ditutup dengan penjelasan bahwa musibah yang terjadi di muka bumi ini telah ditetapkan dalam sebuah catatan.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 17-20


Ayat 21

Pada ayat ini Allah memerintahkan agar manusia itu bersegera dan berlomba-lomba mengerjakan amal saleh untuk dapat memperoleh ampunan dari Allah dan mendapat surga di akhirat kelak, yang luasnya seluas langit dan bumi, yang dipersiapkan bagi orang-orang yang beriman, kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, mengakui keesaan Allah membenarkan rasul-rasul-Nya.

Semua yang dipersiapkan Allah bagi mereka, adalah karunia, rahmat dan anugerah daripada-Nya.

Di dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dijelaskan sebagai berikut:

إِنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِيْنَ قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِالْأُجُوْرِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيْمِ الْمُقِيْمِ. قَالَ: وَمَا ذَاكَ؟ قَالُوْا: يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّيّ وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ وَيَتَصَدَّقُوْنَ وَلاَ نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُوْنَ وَلاَ نُعْتِقُ قَالَ: أَفَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ سَبَقْتُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلاَ يَكُوْنُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ اِلاَّ مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ تُسَبِّحُوْنَ وَتُكَبِّرُوْنَ وَتَحْمَدُوْنَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ. قَالَ: فَرَجَعُوْا فَقَالُوْا: سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ اْلأَمْوَالِ مَا فَعَلْنَا فَعَلُوْا مِثْلَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: (ذٰلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَشَاءُ) (رواه مسلم عن أبي صالح عن أبي هريرة)

Fakir miskin dari kalangan Muhajirin mengeluh, “Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya telah membawa pergi pahala, derajat yang tinggi dan nikmat yang tiada hingga.” Rasulullah bertanya, “Apa itu?” Fakir miskin Muhajirin menjawab, “Mereka (orang-orang kaya) salat sebagaimana kami salat, puasa sebagaimana kami puasa, tetapi mereka bersedekah sedangkan kami tidak, mereka memerdekakan budak sedangkan kami tidak (karena tidak mampu.)” Nabi menjawab, “Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang apabila diamalkan niscaya kalian mendahului orang-orang sesudahmu serta tidak ada seorang pun yang lebih mulia darimu kecuali seseorang yang mengerjakan amalan seperti amalan kalian, yakni membaca tasbih, takbir, tahmid, tiga puluh tiga kali setiap selesai salat. Abu Shalih (perawi) berkata, “Kemudian fakir miskin Muhajirin itu kembali kepada Nabi seraya berkata, ‘Saudara-saudara kita yang kaya itu telah mendengar amalan yang kita kerjakan lalu mereka mengamalkan apa yang kita amalkan. Lalu Nabi bersabda, ‘Itu merupakan keutamaan Allah yang diberikan kepada orang yang Ia kehendaki.” (Riwayat Muslim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah).

Ayat ini ditutup dengan ketegasan bahwa Allah itu amat luas pembe-rian-Nya dan besar karunia-Nya. Dia memberikan orang yang dikehen-daki-Nya apa saja menurut kehendak-Nya; dilapangkan rezekinya di dunia, dianugerahi bermacam-macam nikmat, diberitahu di mana ia harus bersyukur, kemudian dibalas di akhirat dengan balasan yang menyenangkan yaitu surga Jannatun Na’im.


Baca Juga: Bertakwalah, Maka Allah Akan Mengajarimu!


Ayat 22

Tafsir Surah al-Hadid ayat 21-22 khususnya pada Ayat ini menerangkan bahwa semua bencana dan malapetaka yang menimpa permukaan bumi, seperti gempa bumi, banjir dan bencana alam yang lain serta bencana yang menimpa manusia, seperti kecelakaan, penyakit dan sebagainya telah ditetapkan akan terjadi sebelumnya dan tertulis di Lauh Mahfudz, sebelum Allah menciptakan makhluk-Nya. Hal ini berarti tidak ada suatu pun yang terjadi di alam ini yang luput dari pengetahuan Allah dan tidak tertulis di Lauh Mahfudz.

Menetapkan segala sesuatu yang akan terjadi itu adalah sangat mudah bagi Allah, karena Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang telah ada maupun yang akan ada nanti, baik yang besar maupun yang kecil, yang tampak dan yang tidak tampak.

Ayat ini merupakan peringatan sebagian kaum Muslimin yang masih percaya kepada tenung, suka meminta sesuatu kepada kuburan yang dianggap keramat, menanyakan sesuatu yang akan terjadi kepada dukun dan sebagainya. Hendaklah mereka hanya percaya kepada Allah saja, karena hanyalah Dia yang menentukan segala sesuatu. Mempercayai adanya kekuatan-kekuatan gaib, selain dari kekuasaan Allah termasuk memperseri-katkan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya dan berarti tidak percaya kepada tauhid rububiyyah yang ada pada Allah.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah al-Hadid ayat 23-24


Laknat Isa kepada Yahudi Perspektif Alquran dan Injil

0
Laknat Isa kepada Yahudi Perspektif Alquran dan Injil
Laknat Isa kepada Yahudi Perspektif Alquran dan Injil

Mendialogkan konsep tertentu dalam Alquran dan Injil atau Bibel sudah lama dilakukan para mufasir klasik lewat periwayatan israiliyyat. Kini kajian serupa mulai marak kembali dengan sebutan kajian intertekstual. Tulisan ini ingin melanjutkan tradisi tersebut dengan mengangkat topik laknat Isa kepada kaum Yahudi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ

Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. [Q.S. Almaidah: 78].

Ibnu ‘Abbas berkata mengenai “laknat” kepada golongan kafir dari Bani Israil dalam ayat di atas:

Telah dilaknati mereka itu dengan semua lisan; dilaknat di atas perjanjian Musa di dalam Taurat, dilaknat di atas perjanjian Nabi Daud di dalam Zabur, dan dilaknat di atas perjanjian Nabi Isa di dalam Injil

At-Thabari mengatakan dalam tafsirnya, laknat yang keluar dari lisan Nabi Isa itu juga termaktub dalam kitab injil, sebagaimana laknat dari lisan Nabi Daud termaktub dalam kitab Zabur (sering dikaitkan dengan Mazmur).

Jika kita menelisik Perjanjian Baru, kitab suci yang sering dikaitkan dengan Injil, kita akan temukan delapan laknat atau yang dikenal dengan the eight woes yang keluar dari lisan Yesus atau Isa kepada kaum Yahudi dari kelompok Farisi. Laknat itu tercantum dalam Kitab Matius 23 dimulai dari ayat 13:

  1. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.
  2. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.
  3. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.
  4. Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat.
  5. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
  6. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan.
  7. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.
  8. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi  dan memperindah tugu orang-orang saleh.

Baca juga: Pemahaman Anak Allah dalam Perspektif Alkitab dan Alquran

Perbandingan dua konsep

Bisa jadi delapan laknat Yesus kepada kaum Yahudi dari golongan Farisi bukanlah yang dimaksud dengan laknat Isa bin Maryam kepada orang kafir dari Bani Israil sebagaimana diterangkan ayat 78 surah Almaidah di atas. Namun setidaknya ia menunjukkan bahwa “kecaman keras” Yesus terhadap golongan Yahudi yang menyimpang itu memang ada di dalam Perjanjian Baru. Sehingga ayat 78 dari surah Almaidah di atas dan delapan laknat dari Matius 23, yang belum tentu berkaitan itu setidaknya memiliki kemiripan makna.

Apabila diperhatikan dari kecaman keras Yesus dalam Matius 23 di atas, tabiat Farisi yang dominan dalam konteks ini adalah kemunafikan, kepalsuan berbungkus agama, berbangga dengan pakaian kebesaran, menghalangi orang dari jalan kebenaran, menganjurkan orang lain berbuat kebaikan namun dirinya sendiri lalai, dan bermegah-megahan dalam membangun kuburan para nabi.

Menariknya, dalam delapan laknat itu tersebutlah karakter semisal mengetahui tetapi tidak beramal; dan yang demikian itu di antara karakter dominan Yahudi Madinah. Ibnu Katsir saat mengomentari surah Alfatihah ayat ke-7 berkata:

Kaum Yahudi keluputan amal dan kaum Nasrani luput dari mereka ilmu, karena itu kemurkaan itu (al-maghdhub) adalah bagi kaum Yahudi, dan kesesatan itu (adh-dhalal) bagi Nasrani.

Di masa Yesus dahulu Bani Israil setidaknya terbagi menjadi tiga kelompok; perushim (Farisi), seduqim (Saduki), dan Issiyim (Eseni). Farisi merupakan satu kandidat kuat dari identitas kaum Yahudi di Madinah.

Seorang peneliti sejarah Yahudi bernama Dr. Haggai Mazuz berpendapat setidaknya ada 17 contoh bagaimana para kalangan ahli ilmu mereka mengubah-ubah huruf-huruf dalam penafsiran mereka akan Taurat. Haggai juga memandang kritik Alquran tentang ini “tidak sepenuhnya keliru.” Anggapan Haggai ini cukup beralasan, dalam khazanah keislaman, kaum Yahudi Madinah dikenal kerap mengubah perkataan dari tempat yang semestinya (tahrif bil nash) atau menakwilnya dengan takwil yang jauh (tahrif bil ma’na). Wallahu a’lam.

Baca juga: Sepuluh Perintah Tuhan dalam Alquran dan Alkitab: Membaca Argumen Sebastian Günter

Bertakwalah, Maka Allah Akan Mengajarimu!

0
Kaitan takwa dengan ilmu
Kaitan takwa dengan ilmu

Di era digital, ilmu bertebaran di mana-mana. Berbagai platform menawarkan kemudahan untuk menguasai berbagai bidang keilmuan. Metode belajar seperti ini mengharuskan kita untuk tekun dan fokus, bahkan ada pelatihan privat yang berbayar agar mahir dalam suatu bidang.

Benar, banyak jalan untuk meraih ilmu. Namun, ada sebuah jalan ilmu yang agaknya sering diabaikan di era yang serba digital. Jalan ini diisyaratkan oleh Alquran melalui kesiapan diri dengan “platform” ketakwaan. Perhatikan penggalan akhir ayat berikut:

وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: “Dan bertakwalah kepada Allah; maka Allah akan mengajarimu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Albaqarah: 282)

Berdasarkan ayat tersebut, didapatlan informasi bahwa Allah akan mengajari hambaNya dengan memerintah takwa terlebih dahulu. Apa kaitan takwa dengan ilmu? Bagaimana maksud pengajaran Allah bagi mereka yang bertakwa? Berikut akan kita jawab melalu penelusuran berbagai kitab tafsir!

Baca Juga: Kriteria Orang Bertakwa dalam Al-Quran Surat Yunus Ayat 133-135

Kaitan Takwa dengan Ilmu dalam surah Albaqarah ayat 282

Ayat di atas merupakan penggalan ayat terpanjang dalam Al-Qur’an yang berbicara mengenai utang piutang. Quraish Shihab menerangkan bahwa ayat yang berisi perintah takwa dan pengajaran ilahi ini menjadi penutup yang tepat, karena seringkali, dalam transaksi, manusia menggunakan ilmu untuk hal terselubung dalam meraih keuntungan. (Tafsir Al-Misbāh, jil.1, hal. 609). Jika Quraish Shihab mempertimbangkan konsentrasi keseluruhan ayat ketika menafsirkan ayat ini, maka dapat dikatakan bahwa takwa pada ayat ini adalah takwa dalam bermuamalah, yakni utang piutang. Berdasar pada ini, diketahui bahwa istilah takwa itu tidak hanya menyangkut perihal ibadah, tapi juga muamalah.

Lebih rinci, Ar-Rāzi menjelaskan bahwa perintah takwa adalah sebuah peringatan untuk menaati perintah dan menjauhi larangan. Sementara frasa, Allah akan mengajarimu; bahwa Allah akan mengajarkan apapun ilmu yang memberi petunjuk kepada manusia baik urusan dunia maupun akhirat. Kemudian frasa, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu; merupakan isyarat bahwa Allah yang paling mengetahui maslahat dunia dan akhirat bagi manusia. (Tafsir Al-Kabīr, jil. 7, hal. 99). Di sini Ar-Razi tidak terlihat menunjuk khusus bentuk ketakwaan. Ini artinya bahwa takwa tersebut dalam hal apa pun, baik dalah hal ibadah maumpun muamalah.

Menjawab kaitan takwa dengan ilmu, Ibnu Asyūr dalam tafsirnya menerangkan bahwa takwa adalah kunci segala kebaikan dan tameng dari kefasikan. Bahwa pengajaran Allah adalah nikmat berupa segala bentuk ilmu yang mengeluarkan manusia dari kebodohan, khususnya ilmu tentang syariat dan keteraturan alam. Perintah takwa juga bentuk kasih sayang Allah, karena takwa adalah sebab tercurahkannya ilmu. (Tafsir at-Tahrīr wa at-Tanwīr, jil. 6, hal. 582). Pada penafsirannya, Ibn Asyur dengan jelas mengatakan bahwa takwa menjadi sebab dari pemberian ilmu dari Allah.

Terakhir, Makarim Asy-Syirazi menjelaskan ayat tersebut secara filosofis. Bahwa ketakwaan memiliki pengaruh yang besar terhadap makrifat manusia serta penambahan ilmu. Mengapa? Karena kesucian hati manusia dengan wasilah ketakwaan menjadikannya seperti cermin yang memancarkan sifat-sifat ilahiah. Hal ini menjadi logis, karena perilaku buruk menjadi penghalang untuk melihat hakikat ilmu yang suci. (Tafsir Al-amtsal, jil 2, hal. 357)

Melalui beberapa rujukan tafsir, menjadi jelas bahwa ketakwaan menjadikan hati dan jiwa manusia menjadi bersih dan suci. Keadaan hati dan jiwa seperti ini memberikan daya yang kuat untuk memperoleh ilmu. Daya ini yang kemudian menjadi kunci pengajaran Allah kepada mereka yang bertakwa. Diingat, betakwa dalam hal ibadah sekaligus muamalah.

Baca Juga: Tafsir Surah Ali Imran Ayat 134-135 : Empat Perilaku Orang Yang Bertakwa

Sebagai catatan, bukan berarti ilmu hanya ditempuh melalui ketakwaan dan penyucian jiwa saja, melainkan ilmu juga perlu dipelajari melalui upaya dan usaha. Dengan demikian, terdapat dua macam ilmu; ilmu yang harus dipelajari melalui usaha dan ilmu ilahiah yang diajarkan langsung oleh Allah karena ketakwaan.

Semoga, ayat ini dapat menjadi inspirasi bahwa selain belajar, ketakwaan adalah satu jalan untuk meraih ilmu. Bertakwa dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Pesan penting ayat ini adalah Allah akan mengajarkan sebuah ilmu bagi mereka yang bertakwa, karena ketakwaan erat kaitannya dengan ilmu. Semoga Allah menggabungkan kita bersama mereka yang bertakwa dan mengajari kita karena buah ketakwaan. Amin. Walalhu’alam Bishawab.

Ḥannân Laḥḥâm: Aktivis Perempuan, Pegiat Tafsir Virtual, dan Pengarang Kitab Maqâṣid al-Qur’ân al-Karîm

0
Hannan Lahham
Hannan Lahham

Cendekiawan muslimah yang memiliki nama lengkap Ḥannân bint Muḥammad Sa’dî al-Laḥḥâm ini dilahirkan pada tahun 1943 di kota Damaskus, Syiria. Menurut Ulya Fikriyati dalam disertasinya yang berjudul Interpretasi Ayat-ayat “Pseudo Kekerasan” (Analisis Psikoterapis atas Karya-karya Tafsir annân Laḥḥâm), dijelaskan bahwa masa kecil Hannan Lahham tidak seindah masa kecil anak perempuan lainnya. Lingkungan keluarga yang jauh dari ajaran Islam memberikan memori buruk berupa kekerasan dan pertengkaran yang senantiasa menghiasi kehidupan Laḥḥâm di masa kecil.

Dalam sebuah artikel hasil notulensi wawancara yang dilakukan Ḥajîbah Aḥmad Syîdakh dengan Hannan Lahham yang berjudul Ma’a al-Ustâdzah annân Laḥḥâm “Ṣâḥibah al-Ta’ammulât al-Qur’âniyyah wa al-Isyrâqât al-Tanwîriyyah”, Laḥḥâm menjelaskan bahwa kenangan pahit di masa kecilnya tersebut menjadikan dia sempat berpikir bahwa Islam lebih memuliakan laki-laki ketimbang perempuan. Namun, kenangan buruk tersebut tidak menjadikan Laḥḥâm putus asa, tetapi menjadikan dia lebih termotivasi untuk mempelajari ajaran agama Islam secara komprehensif.

Perjalanan Intelektual

Dalam proses belajar Islam, pada awalnya—disampaikan oleh Laḥḥâm sendiri—bahwasanya dia terpukau dan tertarik dengan pemikiran Abû al-A’la al-Maudûdî, Sayyid Quṭb, dan Muḥammad Quṭb. Secara informal, Ulya Fikriyati menjelaskan bahwa cara Laḥḥâm belajar agama adalah dengan menghadiri alaqât ‘ilmiyah (majelis-majelis ilmu) khusus perempuan yang disampaikan oleh para tokoh ulama Damaskus di serambi-serambi masjid. Dalam proses pencarian ilmu tersebut, Laḥḥâm juga hampir berminat untuk mendalami kajian ilmu tasawuf.

Adapun pendidikan secara formal, Laḥḥâm sempat mengenyam bangku perkuliahan di Fakultas Sastra Arab, Universitas Damaskus. Akan tetapi, pada tahun 1961, ketika usianya memasuki 18 tahun, dia menikah dengan Ḥasan Hilâl. Hal tersebut menjadikan Laḥḥâm terpaksa harus menghentikan pendidikan formalnya dikarenakan disibukkan dengan beban tugas keluarga. Namun demikian, dia masih berusaha menyempatkan diri untuk menghadiri alaqât ‘ilmiyah yang diasuh oleh para ulama Damaskus.

Proses pengembaraan intelektual yang berlika-liku tersebut mulai mencapai titik terang ketika pamannya yaitu Mundzir Qahf mengenalkan kepada Laḥḥâm pemikiran Jaudat Sa’îd. Awal mula perjumpaan Laḥḥâm dengan pemikiran Jaudat Sa’îd adalah ketika dia menghadiri alaqât tafsîriyah (majelis kajian tafsir) yang diasuh oleh Laila Sa’îd (murid sekaligus saudari perempuan Jaudat Sa’îd) pada tahun sekitar 1960-an. Laila Sa’îd ini menjadi semacam jembatan yang menghantarkan Laḥḥâm lebih mengenal pemikiran-pemikiran Jaudat Sa’îd.

Selama mengikuti alaqât tafsîriyah, Laḥḥâm termasuk murid yang rajin menyimak, bahkan menyediakan buku khusus untuk mencatat dan melakukan muthala’ah kembali pelajaran-pelajaran tafsir yang telah diberikan di waktu lain. Hal inilah yang menjadikan dia berbeda dengan murid-murid pada umumnya, sehingga ia dapat menguasai materi tafsir yang telah diajarkan. Selain mengkaji tafsir, Laḥḥâm juga belajar tentang sejarah Nabi Muhammad, ilmu hadis, dan ilmu-ilmu lain yang dapat menambah perbendaharaan pengetahuan bagi dirinya.

Kegigihan Laḥḥâm dalam belajar tafsir secara intens di alaqât tafsîriyah menjadikan ia dipandang oleh gurunya sebagai murid yang cerdas. Hal ini dibuktikan ketika Laila Sa’îd berhalangan hadir karena ada keperluan ke Jerman, yang ditunjuk sebagai pengganti pengajar tafsir di alaqât tafsîriyah adalah Hannan Lahham. Dalam melaksanakan amanah gurunya, ia selalu menjelaskan kajian tafsir berdasarkan catatan yang telah disampaikan oleh Laila Sa’îd, sembari ditambahkan kutipan dari kitab-kitab tafsir karya para ulama, sepeti Tafsîr al-Qur’ân al-‘Aẓîm karya Ibnu Katsîr, Fî ilâl al-Qur’ân karya Sayyid Quṭb, Tafsîr al-Manâr karya Rasyîd Ridha, dan literatur-literatur tafsir lain.

Pada tahun 1982, Ḥannân Laḥḥâm hijrah dari Damaskus ke Arab Saudi untuk mendampingi suaminya. Ketika berada di Arab Saudi, kesibukan harian Laḥḥâm mulai berkurang, mengingat anak-anaknya sudah mulai dewasa dan mandiri. Kelonggaran waktu dia manfaatkan untuk membaca sebanyak-banyaknya literatur-literatur tafsir dan buku-buku lain dari ragam genre, mulai dari pemikiran Islam, sejarah, novel, sastra, dan seterusnya.

Minat baca yang sangat tinggi menjadikan Laḥḥâm memiliki pengetahuan yang mendalam tentang ragam bidang ilmu pengetahuan, khususnya dalam diskursus tafsir Al-Qur’an, meskipun tidak memiliki ijazah pendidikan formal. Kepakaran Laḥḥâm dalam bidang tafsir dibuktikan dengan pengangkatan dirinya sebagai dosen tamu di Universitas King Abdul Aziz khusus perempuan (li al-banât), Jeddah. Selama dua tahun ia ditugasi oleh kampus untuk mengajar matakuliah Tafsir (Tafsir Q.S. al-Nisa’ dan Tafsir Akâm) dan Peradaban Islam.

Baca Juga: Mengenal Faridah Zamarrad, Muslimah Pakar Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an Asal Maroko

Menjadi Muslimah Aktivis Perdamaian

Diakui oleh Laḥḥâm sendiri, bahwasanya guru yang paling berpengaruh dalam membentuk pola pikir Laḥḥâm adalah Jaudat Sa’îd. Selain itu, ia juga terpengaruh dengan pemikiran Malek Bennabi dan mengaku sebagai muridnya. Walaupun Laḥḥâm tidak berguru kepada Malek Bennabi secara intens, namun pada tahun sekitar 1970-an, Laḥḥâm pernah melakukan istifadah ilmiah sebentar kepada Malek Bennabi ketika dia mengunjungi Jaudat Sa’îd di Damaskus.

Salah satu pemikiran Jaudat Sa’îd yang sangat mempengaruhi Laḥḥâm adalah terkait gerakan anti-kekerasan/nir-kekerasan. Semangat untuk mengkampanyekan gerakan anti-kekerasan semakin terpatri dalam diri Laḥḥâm tatkala Laila Sa’îd juga mengaplikasikan ide anti-kekerasan Jaudat Sa’îd dalam memberikan kuliah tafsir Al-Qur’an. Gagasan terkait gerakan anti-kekerasan di tengah terjadi konflik Syiria mendapat respon sinis dan cemooh dari masyarakat sekitar. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat Laḥḥâm untuk menjadi aktivis perdamaian.

Ide-ide gerakan anti-kekerasan dikampanyekan oleh Laḥḥâm melalui karya-karya tulisnya, serta dalam bentuk ceramah agama alaqât ‘ilmiyah  di Masjid Damaskus. Tidak hanya itu, ia juga sempat turun ke jalan ikut demonstrasi damai di wilayah Daria dan beberapa tempat lainnya. Ulya Fikriyati menyebutkan bahwa salah satu keyakinan yang menyebabkan Hannan Lahham mantap untuk mengkampanyekan gerakan nir-kekerasan ini didasarkan pada fakta historis bahwasanya Nabi Muhammad membangun sebuah negara tanpa adanya pertumpahan darah.

Selain menjadi aktivis perdamaian, Laḥḥâm juga sangat getol dalam mengkampanyekan pentingnya pendidikan bagi anak-anak usia dini. Ia berpandangan bahwa sebuah perubahan besar dalam suatu masyarakat dimulai dari bagaimana generasi mudanya dibentuk dan diarahkan. Oleh karena itu, Laḥḥâm kemudian mendirikan Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang diberi nama  Raudlah Nâdî al-Tufûlah pada tahun 1993 sebagai bukti perhatian Laḥḥâm terhadap pendidikan generasi muda.

Baca Juga: Fatimah Mernissi dan Inspirasi Bergelut di Bidang Tafsir Feminis, Ada Kisah Memilukan

Karya-karya Ilmiah annân Laḥḥâm

Dalam wawancara dengan Ḥajîbah Aḥmad Syîdakh, Laḥḥâm menyerukan agar kaum perempuan ikut serta dalam meramaikan diskursus kajian tafsir Al-Qur’an melalui penulisan karya-karya tafsir. Hal ini dikarenakan perintah tadabbur Al-Qur’an dalam QS. al-Nisa’ [4]: 82 dan QS. Muhammad [47]: 24 (afalâ yatadabbarûna al-Qur’ân) tidak hanya berlaku bagi laki-laki, namun juga perempuan

Hingga saat ini, Laḥḥâm masih produktif untuk menelurkan karya-karya ilmiah dari ragam fan keilmuan, mulai dari tafsir, sejarah, dan sastra. Walaupun sudah memiliki minat dalam kajian tafsir sejak di Damaskus, namun ia baru memulai menulis karya-karya tafsirnya di sela-sela saat ia mengajar di Universitas King Abdul Aziz. Beberapa karya Laḥḥâm dalam bidang Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir antara lain adalah:

  1. Min Hadyi Sûrah al-Nisâ(1986)
  2. Min Hadyi Sûrah Ali ‘Imrân (1989)
  3. Min Hadyi Sûrah al-Baqarah (1989)
  4. Ta’ammulât fî Sûrah al-Ahzâb (1995)
  5. Hikâyât li Ahdâf Laylah al-Qadr (1997)
  6. Majmû’ah Sûrah al-‘Asr (1998)
  7. Ta’ammulât fî Manzilah al-Mar’ah fî al-Qur’ân al-Karîm (2002)
  8. Maqâṣid al-Qur’ân al-Karîm (2004)
  9. Tafsîr Sûrah al-Taubah (2007)

Dalam kesempatan lain, Laḥḥâm juga aktif memberikan kajian tafsir secara virtual melalui status akun Facebook-nya. Dalam artikel jurnal karya Ulya Fikriyati yang berjudul I’âdah Qirâ’ah al-Nas al-Qur’ânî: Tahlîl Mansyûrât Tafsîriyyah ‘ala Jidâr Fîsbuk annân Laḥḥâm, dijelaskan bahwa dalam jangka waktu 32 hari (25 Mei-25 Juni 2017), dia membuat status tafsir sebanyak 49 postingan.

Dari banyak postingan tersebut, Ulya Fikriyati menyimpulkan bahwa terdapat tiga hal utama misi penafsiran yang ingin dikonstruksi oleh Laḥḥâm dalam postingan-postingan tafsirnya, yaitu: (1)  menghidupkan akhlak islami dan ruh kemanusiaan (iḥyâ’ al-akhlâq al-islâmiyah wa rûḥ al-insâniyah); (2) urgensi pengetahuan dan kebebasan berfikir (ahammiyah al-malakah al-‘ilmiyyah wa ḥurriyah al-tafkîr); dan (3) kebebasan perempuaan (taḥrîr al-mar’ah). Wallahu A’lam