Beranda blog Halaman 176

Mengenal Qiyas Sebagai Sumber Hukum Islam Perspektif Al Quran

0
Mengenal Qiyas sebagai sumber hukum Islam
Mengenal Qiyas sebagai sumber hukum Islam

Secara Etimologi  qiyas diartikan sebagai ukuran atau al-taqdir, seperti apabila dikatakan “qistu al tsauba  bi al-dzira” yang bermakna  aku mengukur kain dengan ukuran hasta.  Adapun secara terminologi qiyas berarti mempertemukan sesuatu yang tidak ada  dalil hukumnya dengan perkara  lain yang ada dalil hukumnya karena ada persamaan llat hukum. (Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqih, terj. Saefullah Ma’shum 336-337)

Qiyas sendiri menurut mazhab Syafi’i menempati posisi ke empat sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’. Imam Syafi‟i sendiri adalah pelopor mujtahid yang menggunakan qiyas sebagai satu-satunya jalan untuk menggali hukum, beliau  mengatakan bahwa yang dimaksudkan ijtihad adalah qiyas. Beliau menambahi  bahwa “ijtihad” dan “qiyas” merupakan dua kata yang memiliki makna yang sama. (Muhammad bin Idris al-Syafi’I, Al-Risalah, hal. 477)

Tak jauh beda dengan pendapat di atas Al-Thanthawi juga  mengartikan qiyas sebagai upaya mengarahkan persoalan yang tidak ada hukumnya dalam nas Al-Qur’an dan tidak pula dalam al-Sunnah kepada perkara yang telah ada persoalan hukumnya, karena keduanya tergabung dalam satu illat (sebab adanya) hukum. (Mahmud Muhammad al-Thanthawi, Ushul Fiqh Al islami, hal. 221)

Baca Juga: Mengenal Ijma’ Sebagai Sumber Hukum Islam Perspektif Para Mufasir

Dasar Hukum Keabsahan Qiyas

Dasar hukum qiyas sebagai  salah satu sumber hukum Islam terdapat dalam  Al Qur’an, Surah an-Nisa 59:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Dari penjelasan Ayat di atas  kiranya dapat menjadi dasar hukum qiyas, sebab maksud dari ungkapan “kembali kepada Allah dan Rasul” (dalam masalah khilafiah), tiada lain adalah perintah supaya menyelidiki tanda-tanda kecenderungan apa sesungguhnya yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Hal ini dapat diperoleh melalui pencarian llat hukum yang merupakan tahapan dalam melakukan qiyas. (Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqih, terj. Saefullah Ma’shum, hal. 341)

Baca Juga: Mengenal Hukum Wadh’i dan Contohnya dalam Al-Qur’an

Rukun Qiyas

Berdasarkan dua definisi diatas tampak bahwa qiyas itu bisa dilakukan apabila memenuhi beberapa rukun ( Abdul Wahab Khallaf Ilmu Ushul Fiqih 60)

  1. Al Ashlu (pokok) yaitu perkara yang telah jelas hukumnya melalui nas (Alqur’an dan As Sunnah)
  2. Al Far’u (cabang) yaitu perkara yang hendak dicari hukumnya melalui qiyas
  3. Al Hukmu as Syar’i, yaitu sesuatu yang akan ditetapkan pada al far’u (cabang)
  4. Al illat al musytarakah baina al-ashli wa al far’i yakni alasan yang sama dan terdapat dalam asal dan cabang dan ia merupakan perkara yang karenanya cabang mengambil hukum asal.

Contoh Qiyas

Apabila kita cermati dalam Al Quran terdapat beberapa ayat yang bisa dijadikan bahan untuk memutuskan hukum melalui metode qiyas salah satunya terdapat dalam Al Qur’an Surah al-Maidah ayat 90-91:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ فِى ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ ٱللَّهِ وَعَنِ ٱلصَّلَوٰةِ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ

Artinya: Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Wahbah Zuhaili menafsirkan Surah Al-Maidah ayat 90 sebagai berikut: Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman yang memabukkan, berbagai jenis perjudian, berhala yang dipahat untuk disembah, dan mengundi nasib dengan anak panah (tongkat untuk perjudian) adalah najis dan keburukan yang kotor seperti bangkai. khamr, perbuatan kotor seperti perjudian, dan perbuatan lain yang disebutkan setelahnya di ayat ini, maka tinggalkanlah dan jauhilah sejauh-jauhnya. Hal ini menunjukkan suatu pengharaman dan menakut-nakuti agar tidak melakukannya, seperti perintah Al-Qur’an untuk menjauhi kesyirikan, menyembah berhala, dan bersaksi palsu, supaya kalian bisa memenangkan kebahagiaan dan ketenangan di dunia, dan memenangkan surga beserta kenikmatannya di akhirat. Ayat ini turun karena Sa’d bin Abi Waqash yang meminum khamr sebelum adanya pengharaman khamr, dan bertengkar dengan seorang laki-laki karena keduanya minum (khamr), atau karena ucapannya: “Orang-orang Muhajirin lebih baik daripada orang Anshar,” lalu temannya memukulnya menggunakan kulit kepala unta dan menyakiti hidungnya, kemudian turunlah ayat ini untuk keduanya (Tafsir Al wajiz, hal. 124)

Baca Juga: Mengenal Lima Hukum Taklifi dan Contohnya dalam Al-Quran

Dalam ayat diatas Allah Ta’ala memberikan illat (sebab) meminum khamar adalah memabukkan (al iskar) yang dapat menyebabkan berbagai macam keburukan.

Dari contoh diatas dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Khamar disebut sebagai al ashlu (pokok)
  2. Minuman, atau suatu yang dapat memabukkan yang dampaknya sama dengan khamar dinamakan sebagai far’u (cabang)
  3. Mabuk (iskar) yang mengakibatkan keburukan ( permusuhan, perselisihan dan hal buruk lain) disebut sebagai illat
  4. Pengharaman khamar dalam ayat diatas disebut hukum asal
  5. Pengharaman minuman, atau suatu yang dapat memabukkan yang dampaknya sama dengan khamar merupakan hukum tsabit yang diperoleh melalui qiyas (Mahmud Muhammad al Thanthawi, Ushul Fiqh Al islami 222)

Demikian penjelasan singkat mengenai keabsahan qiyas  sebagai sumber hukum beserta contoh qiyas yang terdapat dalam Al Quran . Wallahu a’lam

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 12-13

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 12-13 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai kekuasaan Allah SWT. Kedua berbicara mengenai syariat yang diturunkan kepada manusia.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 11


Ayat 12

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang memiliki perbendaharaan langit dan bumi. Baik buruknya sesuatu ada di tangan Dia. Siapa saja yang dianugerahi rahmat, tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi-Nya.

Sebaliknya, siapa yang tidak diberi rahmat, tidak seorang pun yang dapat mendatangkan kepadanya. Dialah yang melapangkan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia pula yang membatasi rezeki kepada yang dikehendaki-Nya. Semua itu terjadi sesuai dengan kebijaksanaan-Nya berdasarkan kekuasaan-Nya yang luas dan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu.

Agama Islam memerintahkan kepada para pemeluknya agar bekerja dan berusaha mencari nafkah untuk kehidupannya di dunia. Adapun hasilnya sesuai dengan kebijaksanaan Allah, ada yang berhasil memperoleh harta yang banyak sebagai ujian, tetapi ada yang memperoleh rezeki hanya sedikit sebagai cobaan bagi hidupnya. Abu Bakar al-Jazairi dalam kitab Tafsirnya Aisar at-Tafasir menyatakan:

اللهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ اِمْتِحَانًا وَيُضِيْقُ اِبْتِلاَءً

Allah meluaskan rezeki bagi siapa saja sebagai ujian, dan menyempitkannya sebagai cobaan.;


Baca juga: Mengenal 5 Prinsip Pendekatan Tafsir Ma’na Cum Maghza


Ayat 13

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia telah mensyariatkan agama kepada Muhammad saw dan kaumnya sebagaimana Dia telah mewasiatkan pula kepada Nuh dan nabi-nabi yang datang sesudahnya yaitu Ibrahim, Musa dan Isa.

Syariat yang diwasiatkan kepada Nabi Muhammad saw dan nabi-nabi sebelumnya memiliki kesamaan dalam pokok-pokok akidah seperti keimanan kepada Allah swt, risalah kenabian dan keyakinan adanya hari pembalasan atau hari Kiamat.

Sedangkan landasan agama yang menjadi misi utama para rasul tersebut adalah beribadah kepada Allah swt dan tidak menyekutukan-Nya. Allah berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ   ٢٥

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. (al-Anbiya’/21: 25)

Sedangkan perbedaan yang tidak mendasar di antara risalah para nabi adalah dalam bidang syariat yang bersifat furµ‘iyyah. Beberapa bentuk ibadah dan rinciannya sesuai dengan perkembangan masa, kebutuhan, dan kemaslahatan umat manusia. Allah berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَاجًا

Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. (al-Ma’idah/5: 48)

Hadis Nabi yang diriwayatkan Abµ Hurairah berbunyi:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِي اْلأُوْلَى وَاْلاۤخِرَةِ قَالُوا كَيْفَ يَارَسُوْلَ اللهِ قَالَ اْلأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلاَّتٍ وَاُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ فَلَيْسَ بَيْنَنَا نَبِيٌّ. (رواه أحمد ومسلم)

Rasulullah saw bersabda, “Aku adalah manusia yang lebih utama daripada Isa bin Maryam di dunia dan akhirat.” Para sahabat bertanya, “Mengapa wahai Rasulullah?”Nabi menjawab, “Para Nabi merupakan bersaudara dari berbagai keturunan. Ibu mereka banyak, namun agama mereka hanya satu. Dan tidak ada antara kami (Nabi Muhammad dan Isa) seorang nabi pun.” (Riwayat Ahmad dan Muslim)

Allah hanya menyebut nama-nama nabi tersebut di atas karena posisi mereka yang lebih tinggi dibandingkan dengan nabi-nabi lain yang tidak disebutkan, mempunyai tanggung jawab yang besar dan berat, dan karena ketabahan mereka menghadapi cobaan dan kesulitan-kesulitan yang ditimbulkan oleh kaum mereka sehingga mereka itu mendapat julukan Ulul-Azmi dari Allah.

Dengan disebutkan nama Musa dan Isa diharapkan orang-orang Yahudi dan Nasrani bisa sadar dan tertarik kepada agama yang dibawa oleh Muhammad saw, agama Samawi yang banyak persamaannya dengan agama mereka, yang tertera jelas di dalam Kitab Taurat dan Injil terutama mengenai tauhid, salat, zakat, puasa, haji dan akhlak yang baik seperti menepati janji, jujur, menghubungkan silaturahim, dan lain-lain.

Allah memerintahkan agar agama Islam yang dibawa Muhammad saw itu dipelihara dan ditegakkan sepenuhnya; pengikutnya dilarang berselisih sesamanya yang dapat mengakibatkan perpecahan dan merusak persatuan. Firman Allah:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ  وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ࣖ   ١٠

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (al-Hujurat/49: 10)

Dan firman-Nya:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا

Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. (Āli Imran/3: 103)

Tampaknya berat bagi orang-orang musyrik untuk memeluk agama tauhid yaitu agama Islam yang dibawa oleh Muhammad saw dan melepaskan agama syirik dan menyembah berhala mereka yang telah diwarisi turun-temurun dari nenek moyang mereka; kekuatan mereka telah diabadikan di dalam Al-Qur’an.

اِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّهْتَدُوْنَ   ٢٢

Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka. (az-Zukhruf/43: 22)

Memang tidak semua orang dapat memenuhi seruan untuk memeluk agama Islam yang dibawa Muhammad saw itu, tetapi Allah menentukan hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada mereka sehingga mereka memeluk agama Islam.


Baca setelahnya:  Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 14


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ali Imran Ayat 7 dan Kisah Ali Baba dan Qasim

0
tafsir surah Ali Imran ayat 7 dan kisah Ali Baba dan Qasim
tafsir surah Ali Imran ayat 7 dan kisah Ali Baba dan Qasim

Keterkaitan  tafsir surah Ali Imran ayat 7 dengan salah satu kisah dalam Kisah Seribu Satu Malam, yaitu Ali Baba dan Qasim bisa kita dapati ketika membincang tentang motif dan tujuan seseorang dalam menafsirkan Al-Quran. Memang benar bahwa tidak ada kutipan ayat Al-Quran sama sekali dalam kisah Ali Baba dan Qasim, terleih lagi penafsirannya, namun ketika kisah ini dijadikan sebagai analogi dalam menyinggung motif dan tujuan seseorang dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, maka hubungan keduanya akan sangat dekat sekali, sebagaimana pernah disinggung oleh Nadirsyah Hosen dalam tulisannya di buku #HIDUPKADANGBEGITU.

Baca Juga: Tafsir Surat Ali ‘Imran Ayat 7 – 10

Surah Ali Imran ayat 7: di antara motif dan tujuan seseorang menafsirkan Al-Quran

Berikut bunyi surah Ali Imran ayat 7 dan terjemahannya,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.​”

Di kalangan para pengkaji Al-Quran, sebut saja As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi Ulum Al-Quran hal. 425 menjadikan ayat ini sebagai legitimasi klasifikasi model ayat Al-Quran. Berdasar pada bagian awal ayat ini, disimpukan bahwa ayat Al-Quran itu terbagi menjadi dua model, ayat muhkamat dan ayat mutasyabihat. Sederhananya, dua model ini didefinisikan dengan ayat-ayat yang mudah dipahami dari redaksinya (pengertian untuk ayat-ayat muhkam) dan ayat-ayat yang sulit dipahami dengan hanya melihat redaksinya saja (pengertian untuk ayat-ayat mutasyabih).

Meski demikian, untuk pengertian dari dua model ayat Al-Quran di atas, para pengkaji Al-Quran berbdeda-beda dalam memberikan indikator muhkam dan mutasyabih-nya, tidak hanya melihat dari akses mudah dan sulit-nya memahami ayat Al-Quran.

Satu lagi informasi dari ayat 7 surah Ali Imran ini yaitu tentang motif dan tujuan seseorang mengkaji Al-Quran. Informasi ini tepatnya pada bagian tengah ayat, fa amma alladzin fi qulubihim zaighun……………….hingga kata ta’wilih. At-Thabari dalam tafsirnya menukil beberapa riwayat tentang makna zaighun yang semuanya memaknai zaighun dengan kecondongan yang jauh dari kebenaran (al-mailu ‘an al-haq). Ibnu Athiyah yang juga mufasir klasik tidak berbeda dalam mengartikan kata zaighun, hanya saja ia lebih memperjelas maksud dari alladzina zaighun dalam ayat ini, yaitu setiap kelompok yang kafir, zindiq, jahil dan shohib bid’ah.

Selain mencari tahu siapa yang berstatus alladzina zaighu, hal penting berikutnya adalah kelakuan dari kelompok tersebut, yaitu fayattabi’una ma tasyabaha…….. hingga kata ta’wilih (mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya). Informasi dari bagian tengah surah Ali Imran ayat 7 ini disederhanakan oleh pak Sahiron Syamsuddin dalam salah satu seminar. Dia menjelaskan bahwa frasa pertengahan ayat tersebut menunjukkan bahwa ada masa ketika itu seseorang menafsirkan Al-Quran karena kepentingan tertentu yang tujuannya mencari dan menciptakan kekacauan, ia mengutip dan menggunakan ayat Al-Quran sebagai dalil untuk menguatkan dan mengikuti kemauannya.

Nah, seberapa besar motif dan tujuan seseorang dalam menafsirkan Al-Quran itu berpengaruh terhadap hasil dan kualitas penafsirannya? Jawabannya dapat kita temukan dalam analogi kisah Ali Baba dan Qasim yang diceritakan ulang dan diberi sudut pandang yang berbeda oleh Gus Nadir.

Baca Juga: Kepada Semua yang Ingin Mempelajari Al Quran….

Kata sakti yang sama tapi nasibnya berbeda

Ali Baba dan Qasim itu bersaudara. Singkat cerita, hidup Ali Baba yang dulunya miskin dan merana itu mendadak berubah menjadi orang yang berkecukupan, saudaranya, Qasim yang dari awal sudah bisa dibilang kaya, iri melihat perubahan nasib adiknya. Sang kakak lantas bertanya kepada adiknya, tentang penyebab perubahannya tersebut. Karena rasa sayang Ali Baba pada kakakanya, ia pun memberi tahu kronologinya.

Ali Baba bercerita bahwa ia pernah melihat sekelompok penyamun yang menuju pintu batu dengan mengucapkan kata sakti untuk membuka pintu dan memasukinya, juga keluar dengan mengucapkan kata sakti yang sama untuk menutup lagi pintu batu tersebut. Selepas penyamun pergi, Ali Baba pun menirukan apa yang dilakukan oleh penyamun. Pintu batu berhasil terbuka, Ali Baba pun kaget karena melihat banyak emas dan banyak barang-barang berharga lainnya dalam tempat tersebut. Lantas Ali Baba mengambil secukupnya dan keluar. Hal ini lah yang membuatnya menjadi kaya.

Mendengar cerita tersebut, Qasim langsung bergegas menuju tempat yang dimaksud dan mengucapkan kata sakti yang telah diajarkan Ali Baba. Pintu pun terbuka, Qasim langsung silau dan terperangah dengan emas dan barang-barang mewah lainnya. Dengan sangat bersemangat dan penuh ketamakan ia mengambil sebanyak-banyaknya kepingan emas dan barang-barang lainnya, sampai ia sadar bahwa peluh telah membasahi sekujur tubuhnya karena nafsunya ia mengumpulkan kepingan emas. Dan ketika hendak keluar, tenggorokannya merasa tercekat, dia lupa dengan kata sakti ‘password’ untuk membuka pintu batu itu.

Di saat yang sama, para penyamun sudah berdiri di luar pintu untuk masuk dengan kata saktinya. Setelah pintu terbuka, betapa terkejutnya ketika mereka mendapati Qasim ada di dalam ‘gudang  harta’ mereka. Dan bisa ditebak apa yang terjadi pada Qasim.

Baca Juga: Adab Lahiriah dan Adab Batiniah dalam Membaca Al-Qur’an

Nasib Qasim berbeda dengan Ali Baba. Padahal cara yang mereka tempuh sama, bekal ‘kata sakti’ pun langsung diajarkan oleh Ali Baba. Oleh karena itu, Gus Nadir memberi catatan pada kisah ini

‘Boleh jadi, pengetahuan yang kita miliki sama. Boleh jadi, kita sama-sama mengetahui rahasia Ilahi. Boleh jadi, di antara kita juga sama-sama hafal kata sakti atau ayat Ilahi. Namun kesucian hatilah yang membedakan kita’ (Gus Nadir & Kang Maman, #HIDUPKADANGBEGITU, hal. 55).

Sama dengan aktifitas penafsiran, boleh jadi, perangkat keilmuan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran sama, tapi substansi hasil penafsirannya berbeda, motif dan tujuan yang terselip di hati yang paling dalam lah yang membedakannya. Oleh karena demikian, tidak heran jika ada satu ayat yang ditafsirkan membawa kemaslahatan dan, kedamaian, di saat yang sama, oleh orang yang berbeda, ditafsirkan membawa kekerasan dan kekacauan.

Wallahu a’lam

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 11

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 11 berbicara mengenai kekuasaan Allah meliputi segala yang ada di langit dan bumi.


Baca sebelmnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 10


Ayat 11

Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi serta segala isinya, begitu juga hal-hal aneh dan ajaib yang mengherankan yang kita saksikan seperti luasnya cakrawala yang membentang luas di atas kita tanpa ada tiang yang menunjangnya; karenanya, Dia-lah yang pantas dan layak dijadikan sandaran dalam segala hal dan dimintai bantuan dan pertolongan-Nya; bukan tuhan-tuhan mereka yang tidak berdaya dan tidak dapat berbuat apa-apa.

Dia-lah yang menjadikan bagi manusia dari jenisnya sendiri jodohnya masing-masing; yang satu dijodohkan kepada yang lain sehingga lahirlah keturunan turun-temurun memakmurkan dunia ini. Demikian itu berlaku pula pada binatang ternak yang akhirnya berkembang biak memenuhi kehidupan di bumi.

Dengan demikian, kehidupan makhluk yang berada di atas bumi ini menjadi teratur dan terjamin bagi mereka. Makanan yang cukup bergizi, minuman yang menyegarkan dan nikmat-nikmat lain yang wajib disyukuri untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Semuanya itu menunjukkan kebenaran dan kekuasaan Allah. Tidak ada satu pun yang menyamai-Nya dalam segala hal.

Dia Maha Mendengar, Dia mendengar segala apa yang diucapkan setiap makhluk, Dia Maha Melihat. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya. Dia melihat segala amal perbuatan makhluk-Nya, yang baik maupun yang jahat. Tidak ada sesuatu pun yang menyamai kekuasaan, kebesaran, dan kebijaksanaan-Nya.


Baca juga:


Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ayat ini secara jelas menyatakan demikian. Demikian pula beberapa ayat berikut:

سُبْحٰنَ الَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ  ٣٦

Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (Yasin/36: 36)

Firman Allah:

وَهُوَ الَّذِيْ مَدَّ الْاَرْضَ وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْهٰرًا ۗوَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِيْهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ   ٣

Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. (ar-Ra’d/13: 3)

Dan Firman-Nya:

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ  ٤٩

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah). (az-Dzariyat, 51: 49)

Menurut kajian ilmiah, bukan hanya makhluk hidup yang berpasang-pasangan, namun benda-benda mati juga berpasang-pasangan. Dengan menggunakan ilmu dan peralatan canggih yang ada saat ini, sudah dapat diketahui mengenai adanya pasangan-pasangan dari atom sampai ke awan.

Atom, yang tadinya diduga merupakan wujud yang terkecil dan tidak dapat dibagi, ternyata ia pun berpasangan. Atom terdiri dari elektron dan proton. Proton yang bermuatan listrik positif dikelilingi oleh beberapa partikel elektron yang bermuatan listrik negatif. Muatan listrik di kedua kelompok partikel ini sangat seimbang.

Tumbuh-tumbuhan pun memiliki pasangan-pasangan guna pertumbuhan dan perkembangannya. Sebelumnya, manusia tidak mengetahui bahwa tumbuh-tumbuhan juga memiliki perbedaan kelamin jantan dan betina. Buah adalah produk akhir dari reproduksi tumbuhan tinggi.

Tahap yang mendahului buah adalah bunga, yang memiliki organ jantan dan betina, yaitu benangsari dan putik. Bila tepungsari dihantarkan ke putik, akan menghasilkan buah, yang kemudian tumbuh, hingga akhirnya matang dan melepaskan bijinya. Oleh sebab itu, seluruh buah mencerminkan keberadaan organ-organ jantan dan betina, suatu fakta yang disebut dalam Al-Qur’an.

Ada tumbuhan yang memiliki benangsari dan putik sehingga menyatu dalam diri pasangannya, dan dalam penyerbukannya ia tidak membutuhkan pejantan dari bunga lain. Namun, ada juga yang hanya memiliki salah satunya saja sehingga untuk berproduksi ia membutuhkan pasangannya dari bunga lain. Hanya Allah yang tidak berpasangan.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 12-13


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 10

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 10 berbicara mengenai hakikat kebenaran hanya milik Allah SWT. Maka dari itu tiada lain memang harus berpegang pada petunjuk Allah SWT.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 8-9


 Ayat 10

Allah menerangkan bahwa apa saja yang diperselisihkan mengenai urusan agama, keputusannya agar dikembalikan kepada Allah, artinya hanya Allah yang menentukan mana yang benar dan mana yang salah.

Manusia dalam kehidupan dunia harus mengikuti petunjuk Allah dalam Al-Qur’an dan petunjuk sunnah Rasul, sebagaimana firman Allah:

فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ

Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. (an-Nisa’/4: 59)

Sedangkan yang memutuskan perselisihan manusia di akhirat nanti sepenuhnya hanya Allah saja, karena semua makhluk tidak ada yang memiliki kekuasaan, dan hanya Allah saja yang berkuasa, sebagaimana firman-Nya:

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ  ٤

Pemilik hari pembalasan. (al-Fatihah/1: 4)

Dia-lah yang akan menetapkan hukumnya pada hari Kiamat, menangani persoalan antara orang-orang yang berselisih. Di sanalah baru dapat diketahui dengan jelas siapa yang benar dan siapa yang salah, siapa yang layak masuk surga dan siapa yang menjadi penghuni neraka.


Baca juga: Tanggapan Fred Donner atas Kajian Otentisitas Al-Quran Para Revisionis


Hanya Allah-lah yang memiliki sifat-sifat menghidupkan dan mematikan, menetapkan hukum antara dua orang yang berselisih, dan bukan tuhan-tuhan selain Allah yang dianggap dan diakui mereka.

Kepada-Nyalah manusia bertawakal dan berserah diri agar terhindar dari segala usaha jahat musuh-musuh mereka. Berhasil atau tidaknya urusan mereka hanya kepada Allah-lah segala sesuatunya dikembalikan, dan kepada-Nyalah kita bertobat atas segala dosa dan maksiat yang telah kita lakukan. Allah berfirman:

;وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ ࣖ  ٢١٠

Dan kepada Allah-lah segala perkara dikembalikan. (al-Baqarah/2: 210)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 11


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 8-9

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 8-9 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai kebijaksanaan Allah atas segala yang dikehendakiNya. Kedua mengenai orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah SWT.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 7


Ayat 8

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa jika Dia menghendaki, maka semua manusia itu akan beriman sehingga menjadi umat yang satu. Tetapi kebijaksanaan yang diambil-Nya adalah dengan menyerahkan urusan iman dan kufur kepada pribadi manusia masing-masing. Dia tidak mau memaksakan agar semua manusia itu beriman, namun memberikan kepada mereka hak memilih dan menentukan nasibnya menurut kemauan mereka sendiri.

Berbahagialah orang-orang yang mengikuti petunjuk rasul. Mereka selalu bersyukur memuji Allah dan akan dimasukkan ke dalam rahmat-Nya dan celakalah orang-orang yang selalu menentang dan tidak mau mengikuti petunjuk rasul, mereka akan disiksa di hari kemudian dan tidak seorang pun yang akan menolong dan melindungi mereka. Mereka tidak dapat menyesali siapa-siapa kecuali diri mereka sendiri, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

;فَمَنْ وَجَدَ خَيْراً فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذٰلِكَ فَلاَ يَلُوْمَنَّ اِلاَّ نَفْسَهُ. (رواه مسلم عن أبى ذرّ الغفاري)

Siapa memperoleh kebaikan hendaklah memuji Allah dan siapa memperoleh selain daripada itu janganlah ia menyalahkan melainkan terhadap dirinya sendiri. (Riwayat Muslim dari Abµ Zarr al-Giffari)

Tidak sedikit ayat yang senada dengan ayat 8 ini. Antara lain firman Allah:

وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدٰى

Dan sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia jadikan mereka semua mengikuti petunjuk. (al-An’Am/6: 35)

Dan firman-Nya:

وَلَوْ شِئْنَا لَاٰتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدٰىهَا

Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami berikan kepada setiap jiwa petunjuk (bagi)nya. (as-Sajdah/32: 13)


Baca juga: Kontekstualisasi Penggunaan Term Tijarah (Perniagaan) dalam Al-Qur’an


Ayat 9

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang musyrik Mekah telah mengambil pelindung selain Allah untuk menolong mereka dalam hal-hal yang memerlukan pertolongan.

Mereka telah sesat, karena mereka mengambil makhluk sebagai pelindung yang tak dapat mendatangkan manfaat atau menolak bencana bagi dirinya apalagi bagi yang lain.

Kalau mereka menghendaki pelindung yang benar dan sesungguhnya, yang dapat mendatangkan manfaat dan menolak bencana, tentunya mereka akan memilih Allah sebagai pelindung mereka, Tuhan Yang Mahakuasa atas yang demikian itu, Tuhan yang menghidupkan dan mematikan.

Tuhan yang akan membangkitkan mereka kelak di akhirat, dan mestinya mereka tidak akan memilih makhluk yang lemah dan tidak berdaya sebagai pelindung mereka, sebagaimana firman Allah:

;اِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗوَاِنْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنْقِذُوْهُ مِنْهُۗ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوْبُ  ٧٣

Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat mevrebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah. (al-Hajj/22: 73)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 10


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 7

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 7 berbicara mengenai bahasa al-Qur’an yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakatnya. Hal ini agar memudahkan masyarakatnya menerima dakhwah rasul-rasul Allah SWT.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 5


Ayat 7

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa wahyu yang diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad saw adalah dalam bahasa Arab, sesuai dengan bahasa penduduk negeri Mekah dan sekitarnya, untuk memudahkan mereka mengerti dakwah dan seruan serta peringatan yang ditujukan Muhammad saw kepada mereka.

Setiap rasul yang diutus ia menggunakan bahasa kaumnya agar mudah memberikan penjelasan kepada mereka, sebagaimana firman Allah:

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهٖ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۗ ٤

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. (Ibrahim/14: 4)

Sekalipun hanya penduduk Mekah dan sekitarnya yang disebut pada ayat ini, yang menjadi sasaran dakwah dan peringatan Nabi Muhammad saw, tetapi itu tidaklah berarti bahwa Muhammad saw diutus terbatas hanya kepada orang Arab saja.

Hanya penduduk Mekah dan sekitarnya yang disebut, karena sesuai dengan posisi Nabi yang berdomisili di Mekah pada waktu itu. Namun pada hakikatnya Muhammad saw itu adalah Rasul bagi segenap manusia, sebagaimana firman Allah:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ   ٢٨

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Saba’/34: 28)

Sabda Rasulullah:

عَنْ أََبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هٰذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلاَ يُؤمِنُ بِمَا أُرْسِلْتُ بِهِ اِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ. (رواه مسلم)

Abµ Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Demi Allah yang jiwaku yang berada dalam kekuasaan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengarkan tentang aku, lalu mati namun tidak beriman dengan (risalah) yang ditugaskan kepadaku, melainkan ia menjadi penghuni neraka.” (Riwayat Muslim)


Baca juga: Tanggapan Fred Donner atas Kajian Otentisitas Al-Quran Para Revisionis


Nabi Muhammad selain ditugasi untuk memberi peringatan kepada penduduk Mekah dan penduduk negeri-negeri sekelilingnya, juga ditugasi memberi peringatan tentang hari Kiamat. Hari Kiamat itu merupakan hari yang pasti dan tidak diragukan datangnya.

Pada hari itu segenap makhluk akan dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di dunia dan mendapat ganjaran sesuai dengan perbuatan mereka.

Ayat 7 ini diakhiri dengan suatu penegasan bahwa sesudah diadakan pemeriksaan yang amat teliti dan perhitungan yang sangat cermat pada setiap makhluk atas segala perbuatannya di dunia, mereka dibagi menjadi dua golongan.

Segolongan dari mereka termasuk yang berbahagia dan dimasukkan ke dalam surga. Mereka kekal di dalamnya, karena mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta beramal saleh di dunia. Wajarlah kalau mereka mendapat karunia dari Allah menikmati kesenangan yang abadi di dalam surga, sebagaimana firman Allah:

وَاَمَّا الَّذِيْنَ سُعِدُوْا فَفِى الْجَنَّةِ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا

Dan adapun orang-orang yang berbahagia, maka (tempatnya) di dalam surga; mereka kekal di dalamnya. (Hµd/11: 108)

Sedangkan golongan yang kedua, termasuk golongan yang celaka; mereka dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala, kekal di dalamnya karena mereka pada waktu berada di dunia tetap ingkar kepada Allah, menentang apa yang didakwahkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad saw sebagaimana firman Allah:

;فَاَمَّا الَّذِيْنَ شَقُوْا فَفِى النَّارِ لَهُمْ فِيْهَا زَفِيْرٌ وَّشَهِيْقٌۙ    ١٠٦  خٰلِدِيْنَ فِيْهَا

Maka adapun orang-orang yang sengsara, maka (tempatnya) di dalam neraka, di sana mereka mengeluarkan dan menarik nafas dengan merintih, mereka kekal di dalamnya. (Hµd/11: 106-107)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 8-9


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 5-6

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 5 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai ke-Maha Besaran Allah SWT. Kedua berbicara mengenai dakwah Nabi Muhammad SAW.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 1-4


Ayat 5

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa karena kemahabesaran dan kemahatinggian serta kehebatan-Nya, hampir saja langit retak, pecah berantakan, dan berguguran.

Para malaikat senantiasa bertasbih menyucikan Allah dari segala sifat kekurangan, memuji dan mensyukuri-Nya atas segala nikmat yang telah diberikan kepada mereka, taat dan patuh kepada perintah-Nya, tak pernah berbuat maksiat dan durhaka kepada-Nya, sebagaimana firman Allah:

يُسَبِّحُوْنَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُوْنَ   ٢٠

Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang. (al-Anbiya’/21: 20)

Dan firman-Nya:

لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ   ٦;

Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (at-Tahrim/66: 6)

Para malaikat juga selalu memohon kepada Allah agar mengampuni dosa orang-orang yang beriman di bumi ini, dan mengilhami mereka, sehingga mereka senantiasa menempuh jalan kebaikan yang membawa kebahagiaan.

Malaikat itu diumpamakan laksana cahaya yang memberi kehidupan dengan panas yang ada padanya, dan memberi petunjuk dengan cahayanya.;;

Sejalan dengan apa yang tersebut di atas, Allah berfirman pula:

اَلَّذِيْنَ يَحْمِلُوْنَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهٗ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُوْنَ بِهٖ وَيَسْتَغْفِرُوْنَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۚ رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَّعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِيْنَ تَابُوْا وَاتَّبَعُوْا سَبِيْلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ   ٧

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka yang menyala-nyala. (Gafir/40: 7)

Ayat kelima ini menegaskan bahwa Allah Maha Pengampun, mengampuni dosa setiap orang yang kembali dan tobat kepada-Nya dengan tobat nasuha. Setiap makhluk berhak memperoleh rahmat dan kasih sayang-Nya daripada-Nya. Ditunda dan ditangguhkannya azab dan siksaan terhadap orang-orang kafir dan orang-orang yang durhaka, adalah suatu rahmat dan tanda kasih sayang-Nya terhadap mereka.


Baca juga: Mengenal 5 Prinsip Pendekatan Tafsir Ma’na Cum Maghza


Ayat 6

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang menyekutukan Allah dan mengambil pelindung-pelindung selain Dia, Allah sendirilah yang mengawasi perbuatan mereka, dan Dia pulalah yang akan memberi balasan yang setimpal di akhirat nanti atas segala perbuatan mereka di dunia.

Muhammad saw tidak dibebani dan tidak ditugasi mengawasi perbuatan mereka. Ia hanya ditugasi menyampaikan apa yang diperintahkan Allah kepadanya, sebagaimana firman-Nya:

فَاِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ   ٤٠

Maka sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, dan Kamilah yang memperhitungkan (amal mereka). (ar-Ra’d/13: 40)

Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw tidak perlu gusar dan merasa sesak dada kalau orang kafir masih tetap ingkar dan tidak mau beriman, karena bagaimanapun juga dia tidak memaksa mereka untuk beriman dan memperoleh hidayah, kecuali hal itu dikehendaki Allah, sebagaimana firman-Nya:

;لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ

Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (al-Baqarah/2: 272)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 7


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 1-4

0
tafsir surah asy-syura
tafsir surah asy-syura

Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 1-4 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai huruf muqataah. Kedua berbicara mengenai dakwah Nabi Muhammad SAW. ketiga berbicara mengenai kekuasaan Allah SWT.


Baca sebelumnya: 


Ayat 1-2

Kedua ayat ini terdiri dari huruf-huruf hijaiyah, sebagaimana terdapat pada permulaan beberapa Surah Al-Qur’an. Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud huruf-huruf itu. Selanjutnya dipersilahkan menelaah masalah ini pada jilid I, yaitu tafsir ayat pertama Surah al-Baqarah.

Ayat 3

Pada ayat ini Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana menjelaskan bahwa apa yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw antara lain agar ia berdakwah mengenai tauhid, mengesakan Allah, juga mengenai kenabian, beriman kepada hari akhir, memperbaiki diri dengan akhlāqul-karimah dan menjauh dari hal-hal yang rendah dan hina, beramal untuk kebahagiaan pribadi dan masyarakat.

Hal ini telah diwahyukan pula kepada nabi-nabi sebelumnya. Firman Allah:

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ   ٢٥

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. (al-Anbiya’/21: 25)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًاۚ   ١٦٣

Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya; Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Daud. (an-Nisa’/4: 163)


Baca juga: Tafsir Sosiologis Surah An-Nisa Ayat 34: Makna Alternatif Kata Rijal dan Nisa


Ayat 4

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia-lah yang menguasai dan memiliki semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Ini menunjukkan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Dia bisa saja berbuat sekehendak-Nya sesuai iradat-Nya.

Semua yang ada, harus tunduk kepada-Nya. Dia-lah yang mengatur segala yang ada, Dia Mahatinggi, tiada suatu kerajaan atau kekuasaan yang lebih tinggi daripada-Nya. Dia Mahabesar.

Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan bumi. Ciptaan dan pemilikan Allah tanpa terbatas pada makhluk-Nya. Dia Mahaagung akan segala urusan, hukum, dan pemeliharaan-Nya. Mahasuci Allah, tiada Tuhan selain Dia.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Asy-Syura Ayat 5


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Bey Arifin dan Tafsir Samudera Al-Fatihah

0
Bey Arifin
Bey Arifin

Bey Arifin dengan karyanya, Samudera Al-Fatihah telah mencatatkan namanya sebagai salah satu tokoh tafsir di Indonesia. Karya tafsirnya juga telah meramaikan keragaman model dan corak tafsir Indonesia yang lahir saat itu. Keputusan sang pengarang untuk hanya membahas atau menafsirkan satu surah saja, yaitu surah Al-Fatihah menguatkan tesis bahwa Al-Fatihah itu memang istimewa dan Al-Quran itu luas sekali kandungannya. Berikut penjelasan tentang Bey Arifin dan karyanya.

Baca Juga: Mengenal Kitab Tafsir Indonesia yang Lahir dari Ruang Akademik

Biografi Bey Arifin

Bey Arifin Lahir di desa Parah Lawek, kecamatan Tilatang, Sumatera Barat pada tanggal 26 September 1917 M, atau  sekitar tanggal 9 1335 H. Ibunya bernama Siti Zulaikha, dan ayahnya bernama Muhamad Arif. Karena beliau lahir dari keluarga masyarakat minang, dimana kebiasaan dari masyarakat minang tidak langsung memberi nama anak yang baru lahir, maka beliau di awal kelahirannya diberi nama Buyung, yang artinya anak laki-laki. Karena ibunya berasal dari suku Tanjung, ditambahkanlah nama depan Tanjung, sehingga menjadi Buyung Tanjung. Selain nama itu, beliau juga sering dijuluki oleh keluarganya dengan nama Buyung Kepuyuak.

Berkat perjuangan dari ayahnya, beliau kemudian masuk sekolah umum tingkat dasar yang pada saat itu bernama FolkSchool. Beliau menempuh pendidikan ini selama tiga tahun. Akan tetapi, waktu selama tiga tahun itu belum cukup bagi Bey Arifin untuk mengumpulkan ilmu pengetahuan. Beliau kemudian meneruskan sekolahnya ke tahap dua di Velvolgschool. Pada saat yang sama, beliau juga mengikuti pendidikan Ibtida’iyah pada Diniyahschool. Sehingga saat beliau tamat di Velvolgschool, ia juga tamat di tingkat Ibtida’iyah Diniyahschool pada tahun 1931.

Pada tahun 1938, Bey Arifin melanjutkan pendidikannya di Islamic College, kota Padang. Disana beliau sering berpidato dalam kumpulan organisasi seperti HPII (Himpunan Pemuda Islam Indonesia). Beliau sering menyingkat namanya dengan huruf B.J dan kemudian menambahkan nama belakang ayahnya Afifin, sehingga menjadi B.J Arifin. Akan tetapi, pada tahun 1934, salah seorang temannya yang bernama Tamarjaya menyarankan kepadanya agar huruf B.J diganti menjadi Bey, sehingga namanya menjadi Bey Arifin.

Bey Arifin adalah seorang dosen yang pernah mengajar di berbagai sekolah islam di pulau sumatera, Jawa, dan Kalimantan Selatan. Beliau aktif sebagai pimpinan di Kodam (Komando Daerah Militer) VIII Brawijaya hingga pensiun pada tahun 1970. Ia banyak menghasilkan karya selain Samudera Al-Fatihah ini antara lain: Hidup Sesudah Mati, Rangkaian Cerita Dalam Al-Qur’an, Mengenal Tuhan, Dialog Islam dan Kristen. Beliau meninggal dan dimakamkan di Surabaya, Jawa Timur, 30 April 1995 pada umur 77 tahun.

Baca Juga: Metodologi Tafsir Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Konstruksi Fiqh Ke-Indonesiaan

Kandungan surah Al-Fatihah yang seluas samudera

Mengenai latar belakang kepenulisan tafsir ini, Bey Arifin menjelaskan pada bagian pendahuluan tafsirnya, Samudera Al-Fatihah nya bahwa keutamaan, kedudukan dan kandungan surah Al-Fatihah sebagai pembuka Al-Quran itu sudah sangat jelas. Untuk itu, ia menulis tafsir khusus tentang surah Al-Fatihah ini agar dapat mengkaji lebih dalam tentang pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dan tentu untuk menambah keimanan dan kekhusyukan dalam mendekatkan diri kepada Allah.

Jika dilihat dari segi tahun penafsiran, Samudera Al-Fatihah dalam tulisan Ace Saefuddin, Metodologi Dan corak Tafsir Modern (Telaah Terhadap Pemikiran J. J.G. Jansen.) termasuk dalam kelompok penafsiran masa modern, tepatnya tahun 1951-1980. Tahun munculnya tafsir ini juga bisa dijadikan sebagai salah satu indikasi dalam menilik metode penafsirannya. Sebagaimana disampaikan oleh Nashruddin Baidan  dalam bukunya yang berjudul Perkembangan Tafsir Al-Qur’an di Indonesia menjelaskan bahwa dari empat macam metode yang berkembang dalam sejarah penafsiran Al-Qur’an di Indonesia, hanya dua metode saja yang diterapkan pada periode modern ini yaitu metode analitis dan metode global.

Hal ini dapat dilihat ketika Bey Arifin menafsirkan satu tema dalam penjelasan penafsiran Basmalah, ia menjelaskan tema tersebut mulai dari menyebutkan nama-nama Allah dengan maknanya, fungsi basmalah bagi kehidupan manusia dan pengaruhnya bagi orang yang membaca. Ini jelas menggambarkan bahwa Bey Arifin dalam menafsirkan tema tertentu menggunakan metode analitis.

Sedang untuk coraknya, beberapa peneliti tentang karya tafsir tersebut seperti Abdul Muiz dalam penelitiannya, Relasi Al-Quran dan Sains (Telaah Kritis Terhadap Tafsir Samudera Al-Fatihah Karya Bey Arifin) mengatakan bahwa Samudera Al-Fatihah menggunakan corak pendekatan ilmi atau yang biasa disebut corak ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Dinamika Perkembangan Tafsir Ilmi di Indonesia

Contoh penafsiran hamdalah Bey Arifin

Susunan  penulisan buku ini dimulai dengan menjelaskan keistimewaan surah al-Fatihah, menjelaskan nama-nama lain dari surah al-Fatihah, menafsirkan bacaan Ta’awudz, baru kemudian masuk kedalam pembahasan surah al-fatihah itu sendiri yang dimulai dari lafaz basmalah, tidak lupa juga ia membahas tentang ungkapan ‘amin’ yang biasa dibaca ketika sselesai membaca surah Al-Fatihah.

Sistematika penafsirannya diawali dengan mengulas per ayat lengkap dengan terjemahannya. Setelah itu ia membagi satu ayat tersebut kedalam beberapa tema lagi untuk ditafsirkan. Diawali dengan penafsiran secara bahasa, baru kemudian lebih dalam lagi membahas tentang tema dari ayat tersebut. Salah satu contoh ketika menafsiri ayat al-hamdulillahi rabbil alamin.

Dalam tafsir hamdalah ini Bey Arifin membaginya kedalam tiga pokok pembahasan yang mana merupakan penafsiran dari penggalan kalimat hamdalah itu sendiri (Bey Arifin, Samudera Al-Fatihah, hal. 147-198).

  1. Al-Aalamiin (Alam Semesta), segala yang ada dinamai “alam” memiliki dua pengertian. Pertama, alam Nyata, yaitu semua alam yang dapat ditangkap dengan panca indera manusia. Kedua, alam ghaib, yaitu alam yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera manusia. Alam yang dapat ditangkap dengan menggunaka panca indera manusia pun terbagi kedalam dua kategori, yaitu Alam Kosmos seperti matahari, planet-planet, dan galaksi Bima Sakti. Serta Alam Mikros seperti nyamuk, bakteri, sperma dan ovum, virus, dan atom.
  2. Rabbil ‘Aalamiin (tuhan semesta alam), semakin tinggi pengetahuan manusia, semakin banyak hal-hal yang tidak diketahui. Hal ini mengakibatkan semakin dekatlah manusia kepada pengakuan terhadap suatu kekuasaan atau zat yang berdiri sendiri dibelakang alam semesta dan bagian-bagiannya, suatu zat yang bukan saja menciptakan alam semesta, tetapi juga mengaturnya, yang menjaga dan memeliharanya, suatu zat yang selalu senantiasa mengawasi alam semesta dan segala bagiaan-bagiannya itu.
  3. Alhamdulillaah (segala puji bagi Allah), disaat manusia diciptakan Allah dan hidup diatas muka bumi ini maka ia sudah dapat melihat luasnya alam semesta, sudah dapat melihat segala keindahan dan warna pemandangan, pasti akan timbul rasa syukur dan terima kasih terhadap Allah yang sudah menciptakan dirinya.

Selanjutnya, ditambahkanlah beberapa hadits dan ayat al-Qur’an lain yang menjadi pendukung dari penafsiran itu guna mengantarkan pembaca kepada pemahaman yang dimaksudkan. Demikian sekilas perkenalan dengan Samudera Al-Fatihah karya Bey Arifin. Dalam penafsiran surah Al-Fatihah ini kita juga dapat mengambil ibrah, jika satu surah saja mengandung banyak pesan dan kandungan yang sangat dalam dan luas, maka bagamiana dengan keseluruhan Al-Quran yang surahnya berjumlah ratusan? Wallahu a’lam