Beranda blog Halaman 203

Muhammad Nabi Cinta; Nabi Muhammad di Mata Seorang Penganut Katolik

0
Muhammad Nabi Cinta
Muhammad Nabi Cinta

Pada artikel sebelumnya, saya telah mencoba mengulas beberapa kisah teladan cinta kasih Nabi Muhammad dari perspektif tokoh Muslim (insider). Maka, pada kesempatan kali ini, saya ingin melihat sosok Nabi Muhammad dari perspektif outsider atau orang di luar Islam. Hal ini penting, untuk melihat secara seimbang dan objektif tentang sosok Nabi Muhammad, yaitu Muhammad Nabi Cinta.

Untuk membawa pada tujuan tersebut, tulisan ini akan membahas mengenai buku yang ditulis oleh Craig Considine dengan judul terjemahan Muhammad Nabi Cinta. Craig adalah seorang sosiolog berkebangsaan Amerika, yang merupakan penganut Katolik. Hal ini menjadi cukup menarik, mengingat gencarnya isu Islamophobia di Barat dan tidak sedikitnya orientalis yang membuat tuduhan negatif terhadap Nabi Muhammad. Dan benar saja, Ia bahkan pernah termakan isu tersebut, dan berpikiran bahwa Islam itu identik dengan kekerasan seperti yang digambarkan media.

Namun, setelah melakukan interaksi secara langsung dengan berbagai literatur Islam dan beberapa tokoh Muslim yang ditemuinya, khususnya Profesor Akbar Ahmed yang merupakan dosennya sendiri, Craig Considine lantas secara utuh menyatakan kekagumannya terhadap Nabi Muhammad, berkat ucapan, sikap, dan tindakan-tindakannya, yang disebut sangat menjunjung cinta kasih dan sisi kemanusiaan.

Baca Juga: Tafsir Al Quran dan Keteladanan Nabi

Tentang Isi Buku

Buku ini berisi 25 tulisan yang lumayan ringkas namun padat, yang dikelompokkan dalam tiga bab, yaitu Islam dan Toleransi, Islam dan Peradaban, serta Islam dan Politik.

Sekalipun judul buku tersebut merujuk secara spesifik pada sosok Nabi Muhammad, namun ternyata di dalamnya juga terdapat tulisan yang membincangkan kisah-kisah beberapa tokoh yang dianggap memiliki misi yang sama dengan Nabi Muhammad. Selain itu, juga terdapat pula kisah-kisah pengalaman Craig Considine dalam perjalanannya mempelajari Islam dan berinteraksi dengan ajaran agama Islam.

Kisah-kisah tersebut diikut sertakan karena pada dasarnya, pengalaman yang dialaminya, serta kisah tokoh-tokoh tersebut masih memiliki benang merah yang sama dengan tujuan awalnya menulis buku ini, yaitu untuk membangun jembatan perdamaian antara umat Islam dan Kristen. (Craig Considine, Muhammad Nabi Cinta)

Hanya saja, untuk dapat fokus pada judul yang telah tertera di atas, tulisan ini dibatasi hanya membahas terkait bagaimana Craig Considine, sebagai penganut Katolik, memandang Nabi Muhammad.

Interaksi Nabi Muhammad dan Kalangan Kristen

Craig Considine, berdasarkan beberapa kisah Nabi yang dipelajarinya, ia melihat sosok Nabi sebagai seorang yang toleran. Bahkan kepada orang yang berbeda keyakinan dengannya.

Sebut saja tatkala adanya kunjungan kelompok Kristen Najran ke kota Madinah. Pertemuan ini disebut oleh Craig sebagai interaksi antar-Iman. Karena pada saat itu, terjadi sebuah diskusi yang menarik yang tidak saja menyangkut terkait hal-hal sosial, seperti pemerintahan dan politik, namun juga persoalan agama dan keyakinan. Dalam banyak hal, mereka bersepakat, namun pada persoalan teologis mereka memutuskan untuk tidak bersepakat, dan berhenti pada frasa ‘saling menghormati’.

Sehingga, dapat dipahami bahwa interaksi antar-iman yang dimaksud di sana adalah hanya sebatas upaya melakukan dialog dan diskusi untuk saling memahami keyakinan dan praktik keagamaan masing masing. Bukannya saling menukar keyakinan, ataupun mencampur adukkan ajaran.

Hal yang menarik lainnya dari peristiwa itu adalah, tatkala perbincangan selesai, dan kalangan Kristen Najran ingin melakukan Ibadah. Karena tidak ada gereja terdekat, mereka memutuskan berjalan keluar masjid untuk bersembahyang di jalanan Madinah. Alih-alih membiarkan mereka beribadah di jalanan yang padat dan berdebu, Nabi Muhammad berpaling dan berkata: “Kalian adalah para pengikut Tuhan. Silakan berdoa dalam masjidku. Kita semua saudara sesama manusia.”

Peristiwa lain yang menggambarkan interaksi Nabi Muhammad dengan Kristen tercatat dalam Piagam Madinah dan perjanjian antara Muhammad dengan para biarawati di Gunung Sinai, Mesir.

Dalam Piagam Madinah, Nabi Muhammad memberikan hak yang sama kepada non-Muslim yang tinggal di negara Islam, dari segi kebebasan beragama, perlindungan dan kesetaraan di mata hukum. Sementara di Sinai, Nabi menawarkan perlindungan terhadap kalangan Kristen, menyeru agar umat Islam menghormati hakim-hakim dan gereja Kristen serta melarang adanya peperangan melawan saudara Kristen mereka.

Baca Juga: Surah Al-Anbiya Ayat 107: Misi Nabi Muhammad saw Menebar Rahmat

Penganjur sikap Anti-Rasisme

Selain sikap positifnya kepada umat yang berbeda, Nabi Muhammad juga merupakan seorang yang anti-rasisme dan penganjur kesetaraan. Contoh yang paling terkenal adalah persahabatannya dengan Bilal bin Rabah. Pernah suatu ketika Nabi membela Bilal tatkala Abu Dzar Al-Ghifari, salah satu Sahabat Nabi, menyebut Bilal sebagai “bocah seorang wanita kulit hitam”. Mendengarnya, Nabi lantas menyatakan “Engkau orang yang masih memiliki pembawaan jahiliyah dalam dirimu”.

Sikap anti rasisme dan kecenderungannya pada kesetaraan, termanifestasi pada khutbahnya di Gunung Arafah pada tahun 632 M. Ia menyatakan bahwa, “Orang Arab tidak lebih unggul dibanding dengan orang non-Arab, atau orang non-Arab tidak lebih superior dari orang Arab. Orang kulit putih tidak lebih unggul daripada kulit hitam, juga kulit hitam tidak lebih unggul daripada kulit putih, kecuali karena kesalehan dan amal perbuatan”.

Berbelas Kasih Kepada Pembencinya

Nabi Muhammad oleh Craig Considine juga dipandang sebagai seorang yang berbelas kasih dan pengampun, sekalipun kepada Pembencinya. Pandangan tersebut dilihatnya dari beberapa kisah Nabi. Misalnya, kisah yang menceritakan seorang perempuan yang sering melempari sampah kepada Nabi, tatkala Nabi melintasi jalan. Kepadanya, jangankan untuk membalas dendam, marahpun tidak, bahkan Nabi menunjukkan belas kasih dan pengampunan, misalnya dengan tidak pernah menanggapinya dengan cara yang buruk.

Selain itu, kisah lain yang tepat untuk menggambarkan sikap Nabi tersebut adalah ketika Nabi membebaskan musuh-musuh yang ditawannya, sembari mengatakan bahwa mereka boleh pergi tanpa ada yang menyakiti. Pada posisi itu, Nabi bisa saja mengambil langkah sebaliknya, misalnya membunuh atau menyiksa mereka. Namun ia bukanlah pendendam melainkan seorang pemaaf dan berbelas kasih.

Tiga uraian di atas merupakan sedikit kutipan dari kisah-kisah Nabi, yang akhirnya menjadikan Craig Considine, merubah pandangannya terhadap Islam dan Nabi Muhammad. Yang sekaligus juga menyatakan bahwa, pengkajian yang objektif dan utuh terhadap Nabi Muhammad, akan membawa kita mengarungi cinta-kasihnya luas.

Tafsir Ahkam: Hukum Air Hujan itu Suci Menyucikan, Kecuali Jika…

0
tafsir ahkam_hukum air hujan
tafsir ahkam_hukum air hujan

Para ahli tafsir ahkam menyatakan, air hujan yang memiliki sifat asal suci dan menyucikan, tidak selamanya terus-menerus memiliki kedua sifat tersebut. Percampuran air hujan dengan hal lain dapat membuat air hujan tidak lagi dibuat berwudhu, bahkan bisa saja tidak lagi suci alias menjadi air najis. Kesimpulan ini didapat dari analisa terhadap ayat-ayat tentang hukum air hujan dan beberapa hadis yang menunjukkan perubahan hukum air dengan sebab bercampur dengan benda lain. Apa saja faktor yang dapat mengubah status air hujan tersebut dan perubahan seperti apa yang dapat mengubah hukum air hujan? Simak penjelasan para pakar tafsir dan fikih berikut ini,

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Dalil Diperbolehkannya Berwudhu dengan Air Hujan

Hukum Asal Air Hujan

Allah berfirman mengenai hukum asal air hujan:

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ

 Dan menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu, (QS. Al-Anfal [8] :11)

di ayat lain Allah berfirman:

وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً طَهُوْرًا ۙ

Kami turunkan dari langit air yang sangat suci (QS. Al-Furqan [25] :48).

Lewat redaksi thahuuran di atas, Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa air hujan memiliki sifat asal yang ganda, yakni suci dan menyucikan. Ia juga menyatakan bahwa air yang turun dari langit (air hujan) serta yang muncul dari (air sumber dst.), memiliki sifat suci serta menyucikan meski kadang berbeda-beda warna, rasa dan baunya. Suci memiliki arti tidaklah najis, sedang menyucikan memiliki arti dapat dibuat berwudhu, mandi besar serta bersuci lainnya.

Hanya saja sifat asal ini dapat berubah seiring bercampurnya air tersebut dengan benda lain. Imam Al-Qurthubi membagi proses pencampuran dalam tiga bagian. Pertama, bercampur dengan benda lain yang juga memiliki sifat suci serta menyucikan seperti halnya debu. Pencapuran ini tidak merubah sifat asal air. Kedua, bercampur dengan benda yang hanya suci tanpa memiliki sifat menyucikan seperti kopi. Maka pencampuran ini membuat air kehilangan sifat mensucikannya. Ketiga, bercampur dengan benda yang tidak suci dan menyucikan seperti kotoran binatang. Maka pencampuran ini menghilangkan sifat suci sekaligus menyucikannya air (Tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an/13/39).

Namun uraian Imam Al-Qurthubi di atas masihlah perlu pelajari kembali. Sebab beliau juga menyatakan bahwa percampuran dengan benda suci yang tidak menyucikan, yang keberadaannya sulit dipisahkan dengan air sebagaimana lumut, maka tidak merubah sifat suci dan menyucikannya air. Beberapa ulama’ juga membedakan antara mukhalit atau percampuran secara menyeluruh sebagaimana air kopi yang tidak memungkinkan untuk memisahkan keduanya, dan mujawir atau percampuran yang tidak menyeluruh seperti air dan lumut yang masih memungkinkan untuk memisahkan keduanya (Al-Majmu’/1/103).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Dalil Diperbolehkannya Berwudhu dengan Air Hujan

Salah satu proses percampuran yang telah disepakati ulama’ yang dapat menghilangkan sifat mensuyikannya air, adalah percampuran yang dapat menghilangkan kemutlakan nama air. Atau lebih mudahnya membuat air yang sebelumnya dapat disebut air biasa, menjadi memiliki nama lain. Misalnya dicampur dengan susu atau kopi sehingga menjadi bernama air susu dan air kopi. Hukum ini didasarkan ayat tentang kebolehan tayamum yang salah satunya menggantungkan bolehnya tayamum sebab ketiadaan air dengan redaksi secara mutlak. Hal ini menunjukkan bahwa air yang tidak mutlak tidak dapat dibuat bersuci dan keberadaannya tidak menghalangi bolehnya bertayamum (Al-Bayan/1/16).

Imam Ar-Razi menambahkan, kalangan mazhab syafi’iyah meyakini bahwa air dapat kehilangan sifat suci dan menyucikannya meski tidak bercampur dengan benda lain. Yakni ketika melalui proses sudah dibuat bersuci terlebih dahulu atau biasa diistilahkan dengan air musta’mal (air yang sudah bekas dibuat bersuci). Keyakinan adanya air musta’mal didasarkan salah satunya pada sebuah hadis sahih yang diriwayatkan dari sahabat Abi Hurairah:

« لاَ يَغْتَسِلُ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ »

Janganlah salah seorang dari kalian mandi di air yang tidak mengalir, sementara ia sedang junub (HR. Imam Muslim)

Berbagai uraian di atas menunjukkan hukum asal air hujan serta air dari mata air semisal, adalah suci dan menyucikan. Namun ada kalanya dua sifat tersebut hilang salah satunya ataupun keduanya disebabkan telah bercampur dengan benda lain atau telah melalui proses pemakaian untuk bersuci. Hanya saja tidak setiap percampuran dapat menghilangkan dua sifat tersebut dari air. Penjelasan lebih rinci dapat dipelajari dalam kitab-kitab fikih berbagai mazhab. Wallahu a’lam bish showab.

Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (6): Surah Al-Ahzab Ayat 56

0
dalil maulid Nabi dalam Al-Quran (6)_surah Al-Ahzab ayat 56
dalil maulid Nabi dalam Al-Quran (6)_surah Al-Ahzab ayat 56

Melanjutkan sekaligus menutup artikel-artikel sebelumnya, kita akan membaca uraian ihtifal Maulid Nabi dalam nushus (teks-teks) al-Quran, kali ini adalah surah al-Ahzab [33]: 56,

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”

Baca Juga: Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (5): Surah Al-Hajj Ayat 77

Perintah Berselawat

Ayat tersebut menunjukkan betapa mulia dan agungnya derajat Nabi Muhammad Saw di sisi Allah. Bagaimana tidak, Allah lah yang pertama berselawat kepada beliau Saw, lalu yang kedua para malaikat-Nya, baru kemudian memerintahkan para mukmin untuk turut berselawat-salam kepada beliau Saw.

Dinukil dari al-Tahrir wa al-Tanwir, Ibn Asyur menerangkan bahwa selawat yang diperintahkan tak hanya kepada Nabi Muhammad belaka, tetapi juga kepada para isteri dan keluarga beliau Saw. Kita tentu hafal selawat yang setiap hari kita baca di dalam salat. Benar. Selawat Ibrahimiyah. Selawat yang redaksinya dari Nabi Muhammad langsung. Membacanya, kita tak hanya berselawat kepada Nabi Muhammad Saw dan Nabi Ibrahim saja tetapi juga berselawat kepada keluarga mereka.

Dengan berselawat kepada Nabi Muhammad, derajat seorang hamba menjadi dekat dengan para malaikat dan Allah. Hal ini ditunjukkan dengan penyebutan orang-orang mukmin setelah malaikat dan Allah. Kemudian bentuk kalimat ayat tersebut adalah jumlah ismiyah yang memberi faidah menguatkan khabar, yaitu yushalluna (berselawat), dan dibuka oleh lafal Jalalah sebagai pengangungan terhadap perkara yang dikandung ayat tersebut.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 56: Perintah Bershalawat Kepada Nabi Muhammad Saw

Keistimewaan Hari Jumat

Lebih khusus, perintah ini ditegaskan lagi dalam hadis Nabi Muhammad Saw berikut,

أكثروا الصلاة علي يوم الجمعة

“Perbanyaklah selawat kepadaku di hari Jumat.”

Hari Jumat memanglah hari yang istimewa. Banyak faidah yang terdapat di dalamnya. Mengenai hal ini, Ibn al-Qayyim dalam Zad al-Ma’ad fi Hady Khair al-Ibad (1998) menyebutkan, “..(kekhususan) yang kedua adalah sunnahnya memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad Saw, siang dan malamnya, berdasar hadis di atas. Rasulullah Saw adalah sayyidul anam, pemimpin manusia dan hari Jumat adalah sayyidul ayam, pemimpin hari, dan berselawat pada hari tersebut memiliki keutamaan yang tidak dimiliki hari yang lain.”

“Hikmah yang lain,” lanjut Ibn al-Qayyim, “adalah semua kebaikan yang didapat oleh umat Muhammad, baik kebaikan dunia maupun akhirat, tak lepas dari perantara beliau Saw. Allah telah mengumpulkan kebaikan dunia-akhirat umat Muhammad pada diri beliau Saw. Maka hanya pada hari Jumat kemulian teragung itu diperoleh. Hari Jumat adalah hari di mana manusia dibangkitkan dari kubur menuju tempat tinggal dan istananya di surga. Ia adalah hari berbekal ketika mereka masuk ke dalam surga. Ia adalah hari raya di dunia dan hari di mana Allah memenuhi permohonan dan hajat-hajat hamabaNya. Doa setiap hamba pada hari itu tak kan ditolak. Ini semua adalah sebab Nabi Muhammad. Barangsiapa bersyukur dan memuji Allah, lalu menunaikan hak beliau Saw, maka hendaklah memperbanyak selawat kepada beliau Saw di hari Jumat, siang maupun malam.”

Dr. Alwi bin Ahmad (2020) menambahkan, pada dasarnya semua perkara adalah mubah. Tetapi niat baik merubahnya dari sebuah kebiasaan yang diperbolehkan menjadi ibadah yang diganjar pahala. Kaidahnya, al-niyyah tuhawwilu al-‘adah ila ibadah, niat dapat merubah perkara adat (kebiasaan) menjadi ibadah.

Baca Juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

Berselawat; Hakikat Maulid

Meski tidak diamalkan oleh 3 masa awal (Rasul, Sahabat dan Tabiin), tidak berarti ihtifal Maulid Nabi merupakan perkara bidah apalagi dhalalah. Al-Hafiz al-Sakhawi dalam al-Ajwibah al-Mardhiyah, “dasar perbuatan Maulid tidak dinukil dari satu pun tiga masal awal, tetapi merupakan perkara baru yang memiliki tujuan yang baik dan niat yang ikhlas. Lalu orang-orang Islam baik dari kampung maupun kota, bersama-sama merayakan bulan Maulid Nabi Saw dengan perjamuan yang elok, aneka macam hidangan yang baik, dan mereka menyedekahkan semua di malam-malam bulan Maulid. Mereka menampakkan kebahagaian dan memperbanyak amal kebaikan. Bahkan mereka membaca riwayat hidup Nabi Muhammad Saw di tiap-tiap malam bulan Maulid.”

Pada hakikatnya, tak ada faidah dalam Maulid Nabi kecuali memperbanyak selawat kepada beliau Saw. Sayyid Ahmad Abidin, sebagaimana dinukil Syaikh Yusuf al-Nabhani dalam Jawahir al-Bihar, menyebutkan, “jika tidak ditemukan faidah lain dalam maulid nabi kecuali memperbanyak selawat, maka itu sudah cukup.”

Masih banyak ayat-ayat al-Quran yang menunjukan bolehnya ihtifal Maulid Nabi bagi yang mentadabburinya, misalnya dalam ayat terakhir surah al-Dhuha, tetapi barangkali cukup sampai di sini. Al-Quran adalah semudera luas yang darinya mengalir sungai-sungai. Betapa indahnya syair Imam al-Haddad berikut

ألا إنه البحر المحيط و غيره * من الكتب أنهار تمد من البحر

تدبر معانيه و رتله خاشعا * تفوز من الأسرار بالكنز و الذخر

Ketahuilah, al-Quran adalah samudera nan luas. Kitab-kitab suci selainnya adalah sungai-sungai yang mengalir darinya. Renungilah makna-makna di baliknya. Bacalah dengan sungguh-sungguh. Kamu akan memperoleh asrar yang agung (al-Durr al-Manzhum li Dzawi Al-Fuhum wa Al-‘Uqul)

Semakin manusia paham mengenai al-Quran, sesungguhnya itu tidak seberapa dengan apa yang dititipkan Allah dalam satu ayat al-Quran. Al-Imam Sahl al-Tusturiy menuturkan, “andai seorang hamba diberi seribu pengetahuan dari setiap huruf dalam al-Quran, itu belum sebanding dari ilmu Allah dalam satu ayat. Sebab al-Quran adalah kalam Allah, kalamNya adalah sifatNya. Sebagaimana tak ada habisnya bagi Allah, begitu juga dengan kalamNya. Seberapa Allah bukakan pengetahuan kepada seseorang, sekadar itulah orang mengetahui al-Quran,” (al-Zarkasyi, al-Burhan fi Ulum Al-Quran).

Sebagaiman juga firman Allah dalam al-Kahfi [18]: 109,

قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat Tuhanku selesai (ditulis) meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”

Selamat merayakan Maulid Nabi. Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad!

Download Tafsir Ibnu Katsir, Kitab Tafsir Advance bagi Para Santri

0
download tafsir ibnu katsir
download tafsir ibnu katsir

Selain Tafsir Jalalain yang merupakan kitab tafsir intermediate di kalangan santri, Tafsir Ibnu Katsir merupakan kitab tafsir yang juga cukup banyak dikaji. Dalam Musabaqah Qiraatil Kutub, Tafsir Ibnu Katsir menjadi kitab yang dilombakan dalam tingkat ulya. Selain tentunya Tafsir Jalalain dalam tingkat wustha. Artikel ini akan mencantumkan link download Tafsir Ibnu Katsir yang dapat diakses secara gratis dalam bentuk pdf.

Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim atau Tafsir Ibnu Katsir adalah salah satu kitab tafsir yang terkenal. Dikatakan bahwa kitab ini merupakan kitab nomer dua setelah kitab tafsir karangan Ibn Jarir al-Thabari. Sebagai kitab tafsir bil ma’tsur, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim memuat banyak sekali riwayat penafsiran salaf.

Hal yang cukup menarik dari kitab tafsir karangan al-Imam al-Jalil al-Hafidz Imaduddin Ibn Katsir ini ialah pada bagian pendahuluannya yang panjang. Di dalamnya, Ibn Katsir menuliskan semacam pengantar mengenai ilmu al-Qur’an dan tafsir. Namun setelah ditelusuri ternyata sebagian besar isinya merupakan salinan dari tulisan gurunya, Ibn Taimiyah, yang bisa dilihat dalam kitab Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir.

Dari sisi isi penafsirannya, Ibn Katsir menuliskan penafsiran dengan kalimat yang mudah serta diperingkas. Adapun jika ditilik dari sisi metodologi penafsirannya, Ia biasanya melakukan penafsiran dengan metode tafsirul qur’an bil qur’an. Lalu menambahkan riwayat-riwayat yang sesuai dengan pembahasan ayat baik berupa hadis maupun atsar.

Ibn Katsir tidak hanya mengutip dan menempelkan riwayat dalam penafsirannya, ia juga menerapkan analisis kritis terhadapnya dengan mengomentari dari sisi validitasnya. Hal ini menunjukkan kapasitasnya sebagai seorang yang menguasai keilmuan hadis. Selanjutnya ia juga mengutip dari kitab-kitab para mufassir pendahulunya seperti Ibn Jarir.

Keistimewaan Tafsir Ibnu Katsir diulas oleh Ali Ash-Shabuni yang kemudian melahirkan karya kitab mukhtashar Tafsir Ibn Katsir. Menurutnya, keistimewaan kitab tafsir ini adalah sebab kitab ini menggunakan metode tafsir bi al-ma’tsur (menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an, sunah, pendapat para sahabat, dan tabiin) dengan ungkapan yang jelas dan mudah dan memadukannya dengan tafsir bi al-ra’y (tafsir dengan penalaran akal). Beliau menguatkan klaimnya dengan mengutip pendapat As-Suyuthi yang menyatakan “Belum pernah disusun tulisan yang sepadan dengan gaya tafsir ini”.

Para Pembaca dapat melakukan download Tafsir Ibnu Katsir sebanyak 8 jilid melalui link yang tertera di bawah ini

Jilid 1
Jilid 2
Jilid 3
Jilid 4
Jilid 5
Jilid 6
Jilid 7
Jilid 8

Hukum Iqlab dalam Nun Mati dan Tanwin Beserta Contohnya

0
Hukum Iqlab
Hukum Iqlab

Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan mengenai hukum idgham disertai pembagian dan juga contohnya dalam Al-Quran. Artikel ini akan melanjutkan penjelasan yang ketiga terkait hukum Iqlab dalam lingkup nun mati dan tanwin. Syekh Sulaiman al-Jamzuri menerangkan hukum iqlab dalam Tuhfat al-Athfal sebagai berikut:

و الثالث الإقلاب عند الباء # ميما بغنة مع الإخفاء

Ketiga adalah hukum iqlab, hurufnya adalah ba’. Dibaca mim dengan ghunnah serta samar.

Menurut Syekh Hasan Dimasyqi dalam bukunya Taqrib al-Manal bi Syarh Tuhfat al-Athfal, iqlab secara bahasa adalah mengubah sesuatu dari asalnya atau mengubah sesuatu yang jelas dengan yang samar (tahwil al-syai’i ‘an wajhih wa tahwil al-syai’ dzahran li bathnin).

Baca Juga: Hukum Nun Mati dan Tanwin: Hukum Idzhar Dilengkapi dengan Contoh dalam Al-Quran

Sedangkan secara bahasa, Hukum Iqlab adalah menjadikan suatu huruf di tempat huruf yang lain (ja’lu harfin makana akhar). Dalam definisi lain yakni mengganti huruf nun atau tanwin dengan mim lalu menghilangkannya untuk menjaga ghunnah (qalbu nun au tanwin miman ma’a khafa’ li mura’at al-ghunnah).

Penempatan nun sukun atau tanwin diganti dengan mim ketika bertemu huruf  iqlab yaitu ba’ adalah dalam satu kata maupun dalam dua kata yang berbeda. Adapun contoh bacaannya dalam Al-Quran adalah sebagai berikut:

Dalam satu kata yang sama terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 33:

قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ

Yang menjadi contoh adalah dalam kata Anbi’hum dibaca menjadi Ambi’hum huruf nun diganti dengan mim karena terdapat hukum iqlab yaitu nun sukun bertemu dengan huruf ba’ sebagai huruf iqlab.

Baca Juga: Hukum Idgham dalam Nun Mati dan Tanwin beserta Contohnya dalam Al-Quran

Kemudian contoh dalam dua kata yang berbeda terdapat dalam Surah Luqman ayat 28:

مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Yang menjadi contoh hukum iqlab adalah pada kalimat sami’un bashir dibaca menjadi sami’um bashir huruf nun yang terdapat pada kata samii’un diganti dengan huruf mim karena berlaku iqlab, tanwin bertemu dengan huruf ba’.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai hukum iqlab, definisinya, beserta contohnya dalam Al-Quran. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

Kunci Ketujuh dan Kedelapan Menggapai Kebahagiaan: Menjaga Hubungan dengan Tuhan dan Alam

0
Menjaga Hubungan
Menjaga Hubungan dengan Tuhan dan Alam

Setelah enam kunci menggapai kebahagiaan diulas pada artikel-artikel sebelumnya, dalam artikel ini akan diulas kunci ketujuh dan kedelapan. Menjaga hubungan baik dengan Tuhan merupakan kunci penting dalam kehidupan manusia.

Setiap manusia harus selalu menjaga hubungan yang baik dengan Tuhan. Apa yang harus dilakukan oleh manusia untuk menjaga hubungan dengan Tuhannya? Caranya ialah dengan memperbanyak berzikir kepada Allah Swt.

Zikir adalah seluruh kegiatan ibadah yang dilakukan oleh seseorang, baik dalam bentuk amal badaniyah, yaitu amal yang dilakukan oleh anggota badan, amal lisaniyah, yaitu amal yang dilakukan oleh lidah dengan mengucapkan kalimat-kalimat zikir, dan amal qalbiyah, yaitu amal yang dilakukan oleh hati.

Baca Juga: Kunci Pertama Menggapai Kebahagiaan: Beriman Kepada Allah Swt

Semua amal ibadah yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mendekatkan dirinya kepada Tuhan adalah zikir. Zikir akan menjadikan manusia tetap menjaga hubungannya dengan Tuhannya. Allah menyatakan di dalam QS. Ali Imran [3]” 190-191:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Di dalam QS. Al-Ra’d [13]: 28 Allah menyatakan: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

Rasulullah menyatakan dalah suatu hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah r.a.: “Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah saw., bersabda: Ada 7 golongan yang akan dilindungi/dinaungi oleh Allah swt. dalam lindungannya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan/lindungan Allah swt., yaitu (1) pemimpin yang adil, (2) pemuda yang tumbuh dan besar dalam menyembah tuhannya, (3) seseorang yang hatinya selalu terikat dan terkait dengan masjid, (4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berkumpul karena Allah dan mereka berpisah karena Allah swt., (5) seseorang yang apabila diminta oleh seorang wanita yang kaya berkedudukan tinggi lagi cantik untuk berzina, maka ia menolak dengan ucapan” Aku takut kepada Allah swt.,(6) seseorang yang selalu bersedekah dalam keadaan sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan oleh tangan kanannya, dan (7) seseorang yang selalu berzikir kepada Allah dalam keadaan sunyi dan menangis karena takutnya kepada-Nya.”

Kunci berikutnya untuk menggapai kebahagiaan adalah menjaga hubungan dengan alam dan lingkungan. Alam dan lingkungan di mana manusia hidup diciptakan oleh Allah untuk umat manusia. Manusia dapat memanfaatkan seluruh potensi alam ini untuk menjalani kehidupannya. Allah telah menciptakan alam ini dengan beraneka ragam makhluk di dalamnya adalah untuk manusia.

Baca Juga: Kunci Kelima dan Keenam Menggapai Kebahagiaan: Ikhlas dan Menjaga Hubungan

Lingkungan alam ini mencakup flora dengan beraneka ragam bentuk dan macamnya, fauna dengan segala macam bentuk dan ragamnya, dan benda padat, seperti tanah batu, kayu dan lain-lain, dan benda cair yang ada di alam ini. Tanpa itu semua manusia tidak mungkin dapat menjalani kehidupannya ini dengan baik dan sempurna. Oleh sebab, itu menjaga lingkungan sama dengan menjaga kelestarian hidup manusia. Setiap orang dari anak manusia harus senantiasa menjaga hubungan yang baik dengan lingkungan. Rusaknya lingkungan akan menyebabkan rusaknya ekosistem kehidupan manusia dan ini berarti bahwa kehidupan manusia akan menjadi rusak.

Manusia tidak boleh merusak alam dan lingkungannya. Karena manusia merusak alam dan lingkungannya, maka manusia pada hakikatnya merusak tatanan ekosistem kehidupan mereka sendiri. Menjaga alam dan lingkungan berarti mewujudkan kemaslahatan bagi kehidupan di dunia dan menghasilkan kenikmatan di akhirat.

Ada sejumlah ayat menerangkan tentang perlunya menjaga lingkungan ini. Di antaranya adalah QS. al-A’raf/7: 56:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ (56)

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Di dalam QS. Al-Shaffat [37]: 19 Allah menyatakan: “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.”

Di dalam QS. Al-Baqarah [2]: 22 Allah menyatakan: “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”

Di dalam QS. Ibrahim [14]: 32:” Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.”

Demikianlah kunci ketujuh dan kedelapan untuk menggapai kebahagiaan yakni menjaga hubungan dengan Tuhan dan Alam. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 34-35 (2)

0
tafsir surah ahqaf
tafsir surah ahqaf

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 34-35 (2) adalah sesi terkahir dalam tafsir surah ini yang menjelaskan tentang azab Allah kepada orang kafir kelak di akhirat. Sementara orang-orang yang beriman akan mendapatkan balasan berupa surga, karena ketaatan mereka sewaktu di dunia.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ahqaf Ayat 34-35 (1)


Ayat 35 (2)

Berikutnya Allah menerangkan keadaan orang-orang kafir di akhirat ketika melihat azab yang akan menimpa mereka. Mereka merasa seakan-akan hidup di dunia ini hanya sesaat saja, di siang hari.

Perasaan ini timbul karena dosa dan ketakutan yang timbul di hati mereka ketika melihat azab yang akan menimpa mereka. Keadaan mereka diterangkan Allah pada ayat yang lain ketika kepada mereka ditanyakan berapa lama mereka hidup di dunia.

قٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى الْاَرْضِ عَدَدَ سِنِيْنَ  ١١٢  قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـَٔلِ الْعَاۤدِّيْنَ   ١١٣

Dia (Allah) berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung.” (al-Mu’minµn/23: 112-113).

Dan firman Allah:

كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا ࣖ  ٤٦

Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari. (an-Nazi’at/79: 46).

Dalam ayat ini terdapat perkataan “balig” yang dalam ayat ini berarti “cukup”. Maksudnya ialah: Allah menyatakan bahwa ayat ini merupakan penjelasan yang cukup bagi manusia, terutama orang-orang kafir yang mau berpikir dan merenungkan kejadian alam semesta ini. Seandainya mereka tidak mau mengindahkan penjelasan ini, mereka pasti akan menanggung akibatnya. Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

هٰذَا بَلٰغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوْا بِهٖ وَلِيَعْلَمُوْٓا اَنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ وَّلِيَذَّكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ ࣖ   ٥٢

Dan (Al-Qur’an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran. (Ibr±h³m/14: 52).

Dan firman Allah:

اِنَّ فِيْ هٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوْمٍ عٰبِدِيْنَ ۗ  ١٠٦

Sungguh, (apa yang disebutkan) di dalam (Al-Qur’an) ini, benar-benar menjadi petunjuk (yang lengkap) bagi orang-orang yang menyembah (Allah). (al-Anbiya’/21: 106).


Baca Juga: Surat Al-Fajr Ayat 15 – 16: Kekayaan yang Sesungguhnya dan Kritik Atas Pandangan Materialistis


Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa betapapun besar dan dahsyatnya azab Allah itu, tidak akan menimpa orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Hanya orang-orang kafir yang tidak mengindahkan perintah-perintah Allah dan melanggar larangan-larangan-Nya saja yang akan ditimpa azab yang mengerikan itu.

Ayat ini juga menggambarkan betapa besarnya rahmat dan karunia Allah yang dilimpahkan kepada orang-orang yang taat kepada-Nya. Sehubungan dengan rahmat dan karunia, azab dan malapetaka ini, Rasulullah saw sering berdoa kepada Allah, seperti yang tersebut dalam hadis di bawah ini:

عَنْ اَنَسٍ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُوْ اَللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مُوْجِبَاتِ رَحْمَتِكَ وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالسَّلاَمَةَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ اَللَّهُمَّ لاَتَدَعْ ليِ ذَنْباً إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَدَيْناً إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَلاَحَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَاﻵخِرَةِ إِلاَّ قَضَيْتَهَا بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. (رواه الطبراني)

Diriwayatkan dari Anas, Nabi saw berdoa, “Wahai Tuhan, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau penyebab rahmat-Mu, kepastian ampunan-Mu, dan keberuntungan dari segala kebaikan, dan keselamatan dari setiap perbuatan dosa. Wahai Tuhan, janganlah Engkau biarkan satu dosa pun bagiku, kecuali Engkau mengampuninya, dan kesempitan kecuali Engkau melapangkannya, dan hutang kecuali Engkau membayarnya, demikian pula segala keperluan dari keperluan-keperluan duniawi dan ukhrawi, kecuali Engkau menyelesaikannya dengan rahmat Engkau, wahai Tuhan Yang Maha Pemurah. (Riwayat at-Thabrani)

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 34-35 (1)

0
tafsir surah ahqaf
tafsir surah ahqaf

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 34-35 (1) menjelaskan balasan bagi mereka yang mengingkari hari Kebangkitan. Diterangkan pula tentang perintah Allah kepada Nabi Muhammad agar sabar dalam menghadapi kaumnya yang ingkar, sebab dengan sabar, kesuksesan akan diraih, dan Allah bersama hamba-Nya yang sabar.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ahqaf Ayat 30-33


Ayat 34

Dalam ayat ini, Allah menerangkan akibat yang akan diterima oleh orang-orang yang mengingkari adanya hari kebangkitan. Pada hari kebangkitan itu, mereka dan orang-orang yang tidak percaya akan adanya pahala dan siksa Allah, akan dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala.

Kepada orang-orang kafir diucapkan pertanyaan yang menyakitkan hati dan penuh penghinaan, “Hai orang-orang kafir, bukankah azab yang kamu rasakan hari ini adalah azab yang pernah diperingatkan kepada kamu dahulu, semasa kamu hidup di dunia, sedangkan kamu mendustakan dan memperolok-olokkannya.” Mereka menjawab, “Benar ya Tuhan kami, kami benar-benar telah merasakan akibatnya.”

Allah mengatakan kepada mereka, “Sekarang rasakanlah olehmu apa yang kamu perolok-olokkan itu. Inilah balasan yang setimpal dengan sikap dan tindakanmu itu.”

Ayat 35 (1)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar selalu tetap tabah dalam menghadapi sikap dan tindakan orang-orang kafir yang mengingkari dan mendustakan risalah yang disampaikan kepada mereka seperti ketabahan dan kesabaran yang telah dilakukan rasul-rasul ulul ‘azmi terdahulu.

Rasulullah saw melaksanakan dengan baik perintah Allah ini. Beliau selalu bersabar dan tabah menghadapi segala macam cobaan yang datang kepada beliau. Mengenai kesabaran beliau ini diterangkan dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: ظَلَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا ثُمَّ طَوَى ثُمَّ ظَلَّ صَائِمًا ثُمَّ طَوَى ثُمَّ ظَلَّ صَائِمًا قَالَ: يَا عَائِشَةُ اِنَّ الدُّنْيَا لاَ يَنْبَغِى لِمُحَمَّدٍ وَلاَ لِآلِ مُحَمَّدٍ يَا عَائِشَةُ اللهُ لَمْ يَرْضَ مِنْ اُولِى الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ اِلاَّ الصَّبْرَ عَلَى مَكْرُوْهِهَا وَالصَّبْرَ عَنْ مَحْبُوْبِهَا ثُمَّ لَمْ يَرْضَ مِنِّى اِلاَّ اَنْ يُكَلِّفَنِى مَاكَلَّفَهُمْ فَقَالَ: (فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوالْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ) وَإِنِّى وَاللهِ لَأَصْبِرَنَّ كَمَا صَبَرُوْا جُهْدِى وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ. (رواه ابن أبي حاتم و الديلمي)

Dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah saw senantiasa berpuasa, lalu perutnya jadi kempis, kemudian ia tetap berpuasa, lalu perutnya jadi kempis, kemudian ia berpuasa. Beliau berkata, “Ya Aisyah, sesungguhnya kesenangan di dunia tidak patut bagi Muhammad dan keluarganya. Ya Aisyah, sesungguhnya Allah tidak menyukai para rasul ulul ‘azmi (Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad), kecuali bersabar atas segala cobaannya dan bersabar atas yang dicintainya, kemudian Allah tidak menyukai aku, kecuali Dia membebankan kepadaku seperti yang telah dibebankannya kepada para rasul itu. Maka Dia berkata, “Bersabarlah seperti para rasul “ulul ‘azmi telah bersabar.” Dan sesungguhnya aku, demi Allah, benar-benar akan bersabar seperti para rasul itu, dan tidak ada sesuatu pun kekuatan kecuali kekuatan Allah.” (Riwayat Ibnu Abi Hatim dan ad-Dailami).


Baca Juga: Tafsir Surah Al-Baqarah 280: Lebih Bersabar dalam Menunggu Pembayaran Hutang


Sabar adalah sifat utama dan kunci menuju kesuksesan. Berbahagialah orang yang mempunyai sifat itu.

Lawan dari sabar ialah tergesa-gesa. Dalam ayat ini, Allah mencela sifat tergesa-gesa, dan memperingatkan Nabi Muhammad agar jangan mempunyai sifat tersebut seperti memohon kepada Allah agar segera ditimpakan azab kepada orang-orang musyrik yang mengingkari seruan beliau karena azab itu pasti menimpa mereka, dan waktu kedatangannya hanya Allah yang mengetahui.

Allah berfirman:

وَذَرْنِيْ وَالْمُكَذِّبِيْنَ اُولِى النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيْلًا   ١١

Dan biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang-orang yang mendustakan, yang memiliki segala kenikmatan hidup, dan berilah mereka penangguhan sebentar. (al-Muzzammil/73: 11);Dan firman Allah:

فَمَهِّلِ الْكٰفِرِيْنَ اَمْهِلْهُمْ رُوَيْدًا  ١٧

Karena itu berilah penangguhan kepada orang-orang kafir itu. Berilah mereka itu kesempatan untuk sementara waktu. (ath-Thariq/86: 17).

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ahqaf 34-35 (2)


Tafsir Surah Ahqaf Ayat 30-33

0
tafsir surah ahqaf
tafsir surah ahqaf

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 30-33 diawali dengan dialog antar sesama Jin tentang kebenaran al-Qur’an yang mereka dengar dari Nabi Muhammad. Selanjutnya, Tafsir Surah Ahqaf Ayat 30-33 menerangkan keingkaran orang kafir pada hari Kebangkitan.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ahqaf Ayat 29


Ayat 30

Dalam ayat ini diterangkan bahwa serombongan jin yang telah mendengar bacaan Al-Qur’an dari Nabi Muhammad saw menyeru kaumnya, “Wahai kaumku, sesungguhnya kami telah mendengar pembacaan ayat-ayat sebuah kitab yang telah diturunkan Allah setelah Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa.”

“Kitab itu membenarkan kitab-kitab yang diturunkan Allah sebelumnya, menunjukkan jalan yang paling baik ditempuh seseorang yang ingin mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat serta menerangkan jalan yang diridai dan jalan yang tidak diridai Allah.”

Jin juga makhluk yang harus memikul kewajiban beribadah. Firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ  ٥٦

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (az-Zariyat/51: 56)

Ayat 31

Selanjutnya jin-jin itu menyeru kaumnya, “Wahai kaumku, perkenankanlah dan terimalah seruan Muhammad saw sebagai rasul Allah yang telah menyeru manusia untuk mengikuti agama Allah, beriman kepada-Nya agar Allah mengampuni dosa-dosa mereka dan melindungi mereka dari azab yang tidak seorang pun dapat melepaskan diri dari azab itu, kecuali dengan seizin-Nya.” Ayat ini memberi pengertian bahwa:

  1. Meskipun ada jin yang beriman dan ada pula yang kafir, namun dalam ayat ini mereka diseru agar beriman kepada Allah.
  2. Jin berkewajiban beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, jin menerima syariat sebagaimana syariat yang disampaikan oleh para nabi dan rasul kepada manusia.
  3. Jin yang beriman akan selamat dari api neraka.

Ayat 32

Kemudian diterangkan dalam ayat ini bahwa jika ada di antara jin yang menolak seruan Muhammad sebagai rasul Allah, yaitu tidak melaksanakan perintah Allah dan menjauhkan diri dari larangan-Nya yang tersebut dalam Al-Qur’an dan hadis, maka ia tidak dapat menghindarkan diri dari azab-Nya. Ia tidak mendapat seorang penolong pun untuk melepaskan dirinya dari azab Allah, kecuali jika Allah sendiri menghendakinya.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa seluruh ibadah yang diwajibkan kepada kaum Muslimin diwajibkan pula kepada seluruh jin untuk mengerjakannya, seperti salat, puasa, tolong-menolong, dan sebagainya.

Diterangkan pula bahwa jin-jin yang tidak mengikuti seruan Muhammad saw berada dalam kesesatan dan menyimpang dari jalan yang benar.


Baca Juga: Menelisik Jin dalam Al-Quran, Makhluk yang Juga Dibebani Syariat


Ayat 33

Ayat ini merupakan teguran keras kepada orang-orang kafir yang mengingkari hari kebangkitan, dan adanya hidup setelah mati untuk menghisab perbuatan yang telah dilakukan manusia.

Allah mencela orang-orang kafir yang lalai dan tidak pernah merenungkan kejadian alam semesta ini sehingga tidak mengetahui bahwa Allah yang telah menciptakan langit dan bumi tidak pernah merasa letih dalam penciptaan itu. Allah juga berkuasa menghidupkan yang telah mati.

Dari ayat ini dipahami bahwa orang kafir tidak pernah menggunakan pikirannya untuk merenungkan kejadian alam semesta dalam arti yang sebenarnya. Mereka tidak mau memikirkan siapa pencipta alam yang amat teratur dan dilengkapi dengan hukum-hukum yang sangat rapi dan kokoh.

Mereka juga tidak mau memikirkan siapa yang menciptakan dirinya sendiri dan menjaga kelangsungan hidupnya. Seandainya mereka mau memikirkan dengan tujuan ingin mencari kebenaran, mereka akan sampai kepada kesimpulan bahwa pencipta semua itu adalah Allah yang Mahabijaksana lagi Mahakuasa.

Jika Allah Mahakuasa, tentulah Dia sanggup melaksanakan segala sesuatu yang Dia kehendaki, tanpa mengenal lelah. Zat yang bersifat demikian tentu mudah bagi-Nya menghidupkan kembali orang-orang yang telah dimatikan-Nya, karena menciptakan langit dan bumi itu jauh lebih sukar daripada menciptakan manusia serta mematikan dan menghidupkan kembali.

Allah berfirman:

لَخَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ اَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ  ٥٧

 Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Gafir/40: 57).

Selain itu, biasanya membuat kembali sesuatu lebih mudah dari menciptakan pertama kalinya. Allah berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ وَهُوَ اَهْوَنُ عَلَيْهِۗ وَلَهُ الْمَثَلُ الْاَعْلٰى فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ   ٢٧

Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (ar-Rµm/30: 27).

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa yang Maha Pencipta segala sesuatu lagi Mahaperkasa itu adalah Allah Yang Mahakuasa. Dia dapat melakukan segala yang dikehendaki-Nya, tanpa seorang pun dapat menghalangi dan menentang-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ahqaf 34-35


Tafsir Surah Ahqaf Ayat 29

0
tafsir surah ahqaf
tafsir surah ahqaf

Tafsir Surah Ahqaf Ayat 29 berbicara tentang sesuatu yang ghaib, bahwa sesuatu yang ghaib bukanlah tidak ada, atau tidak akan terjadi, melainkan sebaliknya.

Karena itu, sebagai seorang mukmin, kita wajib untuk mengimani hal-hal yang sifatnya ghaib. Termasuk dari hal ghaib yang akan diulas dan diceritakan dalam Tafsir Surah Ahqaf Ayat 29 adalah makhluk Allah yang bernama jin.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Ahqaf Ayat 25-28


Ayat 29

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik Mekah peristiwa tentang pertemuannya dengan sekelompok jin yang telah datang kepadanya untuk mendengarkan dan memperhatikan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an.

Pada waktu mereka mendengarkan bacaannya, di antara mereka ada yang berkata kepada yang lain, “Dengarlah baik-baik bacaan Al-Qur’an ini agar dengan demikian kita dapat memusatkan perhatian kepada bacaan yang belum pernah kita dengar selama ini dan untuk menunjukkan sikap dan budi pekerti yang baik pada waktu mendengarkan pembacaan ayat Al-Qur’an yang mulia ini.”

Setelah mereka selesai mendengarkan bacaan Al-Qur’an itu, mereka kembali kepada kaumnya untuk menyampaikan apa yang telah mereka dengarkan itu.

Dalam ayat ini diterangkan bahwa jin telah mendengarkan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dari Nabi saw. Bagaimana cara jin mendengarkan pembacaan itu dan bagaimana Nabi saw memperdengarkannya tidak ada keterangan yang menerangkannya dengan jelas.

Demikian pula, tidak ada bukti-bukti nyata yang dapat dikemukakan dengan pasti adanya alam jin itu sendiri.

Adanya alam jin itu hanya didapat dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi saw. Maka kita sebagai umat Islam wajib mempercayai adanya jin itu, sebagaimana kita wajib mempercayai adanya malaikat, karena kepercayaan kepada adanya jin dan malaikat termasuk dalam keimanan kepada seluruh isi Al-Qur’an yang merupakan sumber pokok agama Islam.

Malaikat dan jin termasuk makhluk gaib, karena itu hanya Allah saja yang mengetahui dengan pasti tentang hakikat dan kejadiannya. Seorang Muslim wajib percaya bahwa Nabi Muhammad pernah berhubungan dengan malaikat, seperti ketika menerima wahyu dan sebagainya.

Demikian pula seorang Muslim wajib percaya pula bahwa pada suatu waktu, ketika Rasulullah saw masih hidup, beliau pernah berhubungan dengan jin, yaitu ketika membacakan ayat-ayat Al-Qur’an kepada mereka, dan pada waktu mereka mendengarkan dengan sungguh-sungguh, kemudian menyampaikan kepada kaumnya.

Mengenai hadis-hadis Rasulullah yang menerangkan pertemuan beliau dengan serombongan jin antara lain hadis di bawah ini:

عَنْ مَسْرُوْقٍ قَالَ: سَأَلْتُ ابْنَ مَسْعُوْدٍ مَنْ ﺁذَنَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْجِنِّ لَيْلَةَ اسْتَمَعُوا اْلقُرْﺁنَ. قاَلَ: ﺁذَنَتْهُ بِهِمُ الشَّجَرَةُ. (رواه البخاري ومسلم)

Masruq berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Mas’ud tentang siapa yang memberitahukan kepada Nabi Muhammad saw akan kehadiran jin pada malam mereka mendengarkan bacaan Al-Qur’an,” beliau menjawab, “Yang memberitahukan kehadiran mereka ialah pohon kayu itu.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Pada hadis yang lain disebutkan sebagai berikut:

عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ: قُلْتُ ِلاِبْنِ مَسْعُوْدٍ هَلْ صَحِبَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْكُمْ اَحَدٌ لَيْلَةَ الْجِنِّ؟ قَالَ: مَا صَحِبَهُ مِنَّا اَحَدٌ. (رواه أحمد ومسلم والترمذي)

 ‘Alqamah berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Mas’ud, adakah salah seorang di antara kamu yang menyertai Rasulullah saw pada malam pertemuannya dengan jin?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Tidak seorang pun di antara kami yang menyertainya.” (Riwayat Ahmad, Muslim, dan at-Tirmizi).

Ayat ini diturunkan ketika Rasulullah saw dan para sahabat sedang menghadapi tantangan yang sangat berat dari kaum musyrik Mekah.

Setelah istri yang beliau cintai, Khadijah wafat, kemudian disusul dengan wafatnya paman beliau, Abu Thalib, beliau merasa kehilangan orang-orang yang selama ini melindungi dan menolong beliau dari gangguan orang-orang Quraisy.


Baca Juga: Sering Merasa Takut? Baca Ayat Ini Untuk Menangkal Gangguan Jin


Sementara itu, ancaman dan gangguan orang Quraisy semakin bertambah. Menghadapi keadaan semacam ini beliau pergi ke kota Taif dengan harapan akan mendapat perlindungan dan pertolongan dari Bani Tsaqif. Tetapi beliau tidak memperoleh apa yang diharapkannya, bahkan Bani Tsaqif sendiri bertindak kasar dengan menyuruh budak-budak mereka mengusir dan melempari Rasulullah saw sehingga kaki beliau luka dan berdarah.

Mereka memaksa Rasulullah saw melarikan diri ke kebun ‘Utbah dan Syaibah. Di sana beliau berlindung dari teriknya matahari. Setelah beliau berdoa meminta pertolongan dari Allah, barulah budak-budak itu pergi.

Kemudian Rasulullah kembali ke Mekah. Dalam perjalanan itu, beliau singgah di Nakhlah, suatu tempat di pinggir kota Mekah. Beliau bermalam di sana. Maka pada malam ketika beliau sedang salat dan membaca Al-Qur’an dalam salat itu, Allah mengerahkan tujuh pemuka jin untuk mendengarkan Nabi saw membaca Al-Qur’an.

Beliau tidak mengetahui akan kedatangan jin dan beliau juga tidak mengetahui saat jin itu kembali ke tempatnya. Dengan turunnya ayat ini barulah Rasulullah saw mengetahui kedatangan jin itu.

Ayat ini diturunkan untuk menenteramkan hati Nabi dan para sahabatnya. Tidak lama setelah itu, terjadilah peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Kedua peristiwa itu menambah kuat hati Nabi dan keyakinan akan keberhasilannya menyampaikan risalah yang ditugaskan Allah kepadanya.

Ayat ini juga menerangkan bahwa jin memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca Rasulullah, kemudian menyampaikan isi Al-Qur’an itu kepada kaumnya.

Dari peristiwa ini, dapat diambil kesimpulan bahwa seruan Rasulullah saw itu tidak saja tertuju kepada seluruh manusia, tetapi juga ditujukan kepada jin, makhluk gaib yang tidak dapat diketahui hakikat dan keadaannya oleh manusia.

Hanya saja manusia tidak mengetahui kapan dan bagaimana cara jin itu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.

Sebagian ahli tafsir mengambil kesimpulan berdasarkan ayat ini bahwa seandainya ada makhluk hidup yang berada di luar planet bumi ini, yang keadaannya seperti manusia, yaitu dapat berpikir, berbuat, dan berperasaan, maka risalah Muhammad saw berlaku pula bagi mereka, dan kaum Muslimin wajib menyampaikannya kepada mereka sedapat mungkin.

Jin sebagai makhluk gaib wajib melaksanakan risalah Muhammad saw dan tentulah makhluk lain yang tidak gaib dan sama dengan manusia lebih wajib lagi melaksanakan risalah Muhammad saw.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ahqaf 30-32