Beranda blog Halaman 326

Tafsir Surah Maryam ayat 34-37

0
Tafsir Surah Maryam
Tafsir Surah Maryam

Tafsir Surah Maryam ayat 34-37 ini Allah menegaskan bahwa Nabi isa adalah seorang hamba Allah bukanlah keturunannya, karena Allah Maha Kuasa hingga tidak memerlukan keturunan yang akan merawatnya di masa tua sebagaimana halnya manusia. Tafsir Surah Maryam ayat 34-37 ini merupakan penjelasan mendalam dari tafsir surah Maryam ayat 30-33 sebelumnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Maryam ayat 27-33


Ayat 34

Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Isa adalah seorang hamba Allah yang akan menjadi nabi dan akan diturunkan kepadanya Al-Kitab, yang mempunyai sifat-sifat dan akhlak yang mulia bukan sebagaimana yang dituduhkan oleh kaumnya, bukan anak zina dan bukan pula anak Allah sebagaimana yang diucapkan dan dipercayai oleh kaumnya di belakang hari.

Apa yang diucapkannya sewaktu ia masih bayi dalam gendongan itulah ucapan yang benar dan tak dapat diragukan lagi meskipun kaumnya masih meragukan ucapan-ucapan itu dan menuduhnya sebagai tukang sihir. Dia bukan tukang sihir sebagaimana dikatakan orang Yahudi, bukan putra Allah sebagaimana didakwahkan oleh kaum Nasrani dan bukan pula Tuhan sebagaimana dikatakan golongan yang lain. Dia adalah hamba Allah yang akan diangkat menjadi nabi dan rasul.

Ayat 35

Pada ayat ini Allah menegaskan kembali bahwa Isa itu bukan anak Allah. Tidak wajar dan tidak mungkin Allah mempunyai anak karena Allah tidak memerlukan keturunan seperti manusia yang di masa tuanya sangat membutuhkan pertolongan dan perawatan dan membutuhkan orang yang akan melanjutkan dan memelihara hasil usahanya atau mengharumkan namanya sesudah ia meninggal.

Allah tidak memerlukan semua itu karena Dia Mahakuasa, senantiasa berdiri sendiri tidak membutuhkan bantuan orang lain sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

اَللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُۗ

Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya). (Āli ‘Imrān/3: 2)

Mahasuci Allah dari segala sifat kekurangan dan dari segala tuduhan yang diucapkan oleh kaum kafir. Apabila Dia hendak menciptakan sesuatu, cukuplah Dia menfirmankan “Kun” (jadilah) maka terciptalah dia.

Baginya tidak sulit untuk menciptakan seorang anak tanpa bapak atau menciptakan manusia tanpa ibu dan bapak seperti menciptakan Adam dan Allah berfirman:

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, ”Jadilah!”  Maka jadilah sesuatu itu.  (Āli ‘Imrān/3: 59)

Allah Yang Maha Sempurna dan demikian besar kekuasaan-Nya tidaklah mungkin membutuhkan seorang anak karena yang demikian itu menunjukkan kepada kelemahan dan sifat-sifat kekurangan.

Ayat 36

Pada ayat ini Allah menerangkan lagi ucapan Isa di waktu dia masih bayi dalam buaian di samping ucapan-ucapannya pada ayat 30-33 Surah ini yaitu, “Bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyembah-Nya.” Isa menegaskan kepada kaumnya bahwa dia hanya hamba Allah seperti mereka juga meskipun dia dilahirkan dengan cara yang luar biasa tanpa bapak.

Hal ini tidak menunjukkan bahwa dia adalah putra Allah, atau dia adalah Tuhan yang patut disembah. Dia hanya manusia biasa diciptakan Allah. Oleh sebab itu dia mengajak kaumnya supaya menyembah Allah Yang menciptakannya dan menciptakan semua makhluk. Yang patut mereka sembah hanyalah Allah Pencipta segala sesuatu.

Selanjutnya Isa menerangkan kepada mereka, bahwa manusia sepatutnya menyembah Allah bukan menyembah setan dan berhala. Inilah jalan yang lurus yang akan membawa mereka pada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ini pula jalan yang ditunjukkan oleh nabi-nabi sebelum dia. Barangsiapa yang menempuh jalan itu ia akan berbahagia dan barangsiapa yang menempuh jalan selain itu akan sesat dan celaka.

Ayat 37

Kemudian pada ayat ini Allah menerangkan bahwa kaum Nabi Isa tidak mengindahkan petunjuk-petunjuk yang diberikan kepada mereka. Mereka telah jatuh ke dalam lembah kesesatan dan perselisihan yang hebat. Mereka terpecah-pecah menjadi beberapa golongan;

Golongan “Yakubiyah” yaitu golongan yang mengikuti ajaran seorang pendeta bernama Yakub, yang mengatakan bahwa Isa adalah tuhan yang diturunkan ke bumi tetapi kemudian naik lagi ke langit.

Golongan “Nasturiah” yang mengikuti ajaran seorang pendeta bernama Nastur yang mengatakan bahwa Isa adalah putra Tuhan yang diturunkan ke bumi kemudian diangkat-Nya kembali ke langit. Golongan ini mengatakan bahwa Isa adalah salah satu dari oknum yang tiga yaitu: Bapak, putra dan Ruhulkudus.

Golongan lain mengatakan bahwa Isa adalah salah satu dari Tuhan yang tiga, yaitu: Allah, Isa anak-Nya dan Maryam ibu Isa. Di samping golongan-golongan yang sesat itu, ada pula golongan yang benar dan beriman sesuai dengan ajaran dan petunjuk Isa yang beriman bahwa Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, golongan ini bernama “Malakania”.

Terhadap golongan-golongan yang sesat itu Allah mengancam mereka bahwa mereka akan menyaksikan sendiri bagamana dahsyatnya hari kiamat nanti dan bagaimana pedihnya siksaan yang disediakan untuk mereka. Semua anggota badan mereka akan menjadi saksi atas kekufuran dan keingkaran mereka.

Allah menangguhkan siksaan terhadap mereka sampai hari Kiamat dan tidak menyegerakan siksaan mereka semata-mata karena rahmat dan kasih sayang-Nya sebagaimana tersebut dalam sabda Nabi saw:

اِنَّ الله َلَيُمْلِى لِلظَّالِمِ حَتىَّ اِذَا اَخَذَهُ لمَ ْيُفْلِتْهُ (رواه البخاري ومسلم عن ابى موسى)

Sesungguhnya Allah menangguhkan penyiksaan bagi orang zalim sehingga apabila Dia menyiksanya, dia tidak akan dapat lepas dari siksaan itu. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abu Musa)

Mengenai sikap kaum Nabi Isa ini Nabi Muhammad saw bersabda:

لاَاَحَدَ اَصْبَرَ عَلَى اَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللهِ، اِنَّهُمْ يَجْعَلُوْنَ لَهُ وَلَدًا وَهُوَ يَرْزُقُهُمْ وَيُعَافِيْهِمْ (رواه البخارى عن عبد الله بن قيس)

Tak ada seorang pun yang tahan, mendengar kata-kata yang menyakitkan kecuali Allah. Mereka mengatakan bahwa Allah mempunyai anak sedang Allah tetap memberi mereka rezeki dan kesehatan. (Riwayat al-Bukhāri dari Abdullah bin Qais)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Maryam ayat 38-40


Tafsir Surah Maryam ayat 27-33

0
Tafsir Surah Maryam
Tafsir Surah Maryam

Tafsir Surah Maryam ayat 27-33 mengisahkan tentang Maryam yang berpuasa dan juga tidak berbicara dengan seorangpun ketika akan melahirkan Nabi Isa. Tafsir Surah Maryam ayat 27-33 ini menjelaskan secara runtut keadaan Maryam saat orang-orang mengetahui bahwa ia hamil. Dijelaskan pula dalam Tafsir Surah Maryam ayat 27-33 ini bagaimana Nabi Isa yang baru saja dilahirkan dapat berbicara memberi penjelasan kepada orang-orang yang mencemooh Maryam.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Maryam ayat 12-16


Ayat 27

Setelah Maryam diperintahkan untuk berpuasa pada hari melahirkan putranya dan tidak berbicara dengan seorang pun dan setelah ada jaminan dari Allah bahwa kehormatannya tetap terpelihara; maka Maryam menyerahkan seluruh nasibnya pada ketetapan Allah, Maryam menggendong anaknya dan membawanya kepada kaumnya, hal itu menyebabkan kaumnya mencela perbuatannya seraya berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu perbuatan yang amat mungkar.”

Ayat 28

Kemudian mereka menambah celaan dan cemoohan serta tuduhan kepada Maryam seraya berkata, “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang wanita tuna susila. Bagaimana kamu sampai mendapatkan anak ini.” Maryam dipanggil dengan sebutan “Saudara perempuan Harun”, oleh karena telah menjadi kebiasaan Bani Israil untuk menyebutkan nama-nama para nabi dan orang-orang saleh sebelumnya.

Diriwayatkan oleh al-Mugirah bin Syu`bah yang diutus oleh Rasulullah saw, ke Najran di negeri Yaman di mana terdapat orang-orang Nasrani dan mereka bertanya kepadanya, “Mengapa kamu membaca di dalam Al-Qur’an, “hai saudara perempuan Harun,” padahal Harun dan Musa itu hidupnya lama sekali sebelum lahirnya Isa putra Maryam?” al-Mugirah tidak sempat memberikan jawaban dan ketika beliau pulang ke Medinah dan menghadap Rasulullah beliau mengemukakan pertanyaan itu. Oleh Rasulullah saw dijawab:

اَلاَ أَخْبَرْتَهُمْ اَنَّهُمْ كَانُوْا يُسَمُّوْنَ بِالْاَنْبِيَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ قَبْلَهُمْ. (رواه أحمد)

“Mengapa kamu tidak memberitahu mereka, bahwa kebiasaan mereka (Bani Israil) itu suka menyebut-nyebut nama para nabi dan orang-orang saleh sebelum mereka.” (Riwayat Ahmad)

Ayat 29

Maryam menunjuk kepada putranya supaya berbicara dan menjelaskan tentang keadaannya, karena Maryam sudah bernazar untuk tidak berbicara dengan siapa pun dan sudah merasa yakin bahwa anaknya mengerti isyarat itu. Orang-orang Yahudi bertanya dengan keheranan, “Bagaimana kami akan berbicara dengan seorang bayi yang masih di dalam gendongan?” Mereka menduga bahwa Maryam memperolok-olok mereka.

Ayat 30

Isa a.s. yang masih dalam gendongan ibunya kemudian berkata, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia yang akan memberikan aku kitab suci Injil dan Dia yang akan menjadikan aku seorang Nabi.” Ucapan ini mengandung penjelasan bahwa ibunya adalah seorang wanita yang suci karena seorang Nabi harus dari keturunan orang yang saleh dan suci.

Ayat 31

Selanjutnya Isa kecil mengatakan, Allah akan menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, karena aku memberi manfaat kepada manusia dan memberi petunjuk kepada mereka ke jalan kebahagiaan.

Allah telah memerintahkan aku untuk mendirikan salat karena dalam mendirikan salat itu terkandung perbuatan membersihkan diri dari berbagai macam dosa lahir dan batin, Allah juga memerintahkan aku untuk menunaikan zakat selama aku hidup di dunia. Zakat bertujuan untuk membersihkan harta, jiwa dan memberi bantuan kepada fakir miskin.

Ayat 32

Isa yang masih bayi menjelaskan lebih lanjut, bahwa Allah memerintahkan kepadanya supaya berbakti kepada ibunya, tunduk dan selalu berbuat kebaikan kepadanya. Ucapan ini menunjukkan pula kesucian Maryam, karena apabila tidak demikian maka Nabi Isa tidak akan diperintah untuk berbakti kepada ibunya.

Keterangan selanjutnya Isa mengatakan, “Allah tidak menjadikan aku seorang yang sombong karena aku selalu taat menyembah Allah dan tidak pula menjadikan aku seorang yang celaka karena aku selalu berbuat baik kepada ibuku.”

Ayat 33

Selanjutnya Isa berdoa, Semoga kesejahteraan dan keselamatan dilimpahkan kepadanya pada tiga peristiwa yaitu pada hari ia dilahirkan, pada hari ia wafat dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali pada hari Kiamat. Maka tidak ada seorang pun yang dapat memberi mudarat kepadanya dalam tiga peristiwa ini yang merupakan peristiwa-peristiwa paling sulit dan kritis bagi setiap hamba Allah yang hidup di dunia.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengingkari bahwa Isa a.s. pernah berbicara ketika masih bayi dan masih dalam gendongan. Mereka mengemukakan bahwa seandainya hal ini betul-betul terjadi tentu beritanya tersebar luas di kalangan masyarakat ramai, karena peristiwa itu merupakan hal yang sangat aneh dan sangat menarik perhatian. Mereka telah mengadakan penyelidikan ke mana-mana dan tidak menjumpai keterangan itu dalam kitab-kitabnya.

Bagi kaum Muslimin peristiwa ini tetap menjadi suatu keyakinan karena tersebut di dalam Al-Qur’an yang pasti kebenarannya karena seandainya Isa a.s., tidak berbicara waktu kecilnya dan membersihkan ibunya dari segala tuduhan yang kotor tentu orang Yahudi akan melaksanakan hukuman rajam kepada Maryam, besar kemungkinan bahwa yang menyaksikan ucapan bayi itu beberapa orang saja yang jumlahnya terbatas sehingga tidak sampai tersebar luas di kalangan mereka.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Maryam ayat 34-37


 

Inilah Tiga Istilah Cahaya dalam Al-Quran

0
Tiga Istilah Cahaya dalam Al-Quran
Tiga Istilah Cahaya dalam Al-Quran

Seberkas cahaya mampu menerangi kegelapan. Cahaya bagi kehidupan umat manusia amatlah penting peranannya. Tanpa cahaya, bagaimana mungkin manusia dan alam seisinya berdialektika satu sama lain. Ibn al-Haitsam, ilmuwan muslim berkelahiran Basrah adalah orang pertama yang concern pada penelitian tentang cahaya. Dan tulisan kali ini akan mengurai tentang cahaya dalam al-Quran.

Hanan Dowidar dan Ahmad Salem melukiskan sosok fisikawan abad ke-11 ini dengan “Albeit Almuzlim”, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa latin sebagai “camera obscura”(perangkat yang menjadi dasar (underlying) fotografi). Ibn Haitsam banyak melakukan riset tentang cahaya dan telah menginspirasi saintis Barat, sebut saja Roger Bacon dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop.

Di dalam Al-Quran sendiri, ada beberapa istilah yang digunakan untuk menyitir cahaya, di antaranya adalah dau’, nur, siraj, dan sebagainya. Pada pembahasan ini kita akan mengulas tiga istilah cahaya dalam Al-Quran. Simak penjelasannya.

Baca juga: Tafsir Surah al-Takatsur dan Fenomena Membanggakan Diri

Tiga Istilah Cahaya dalam Al-Quran

Tidak dapat diingkari bahwa Al-Quran (Q.S. al-Nur [24]: 35, Q.S. al-Furqan [25]: 61, Q.S. Yunus [10]: 5) telah menginspirasi banyak penemuan ilmuwan muslim, seperti al-Kindi, Ibn al-Haitsam, Ibn Sina, dan sebagainya dalam bidang ilmu sains termasuk fisika tentang berbagai diaspora cahaya di mana ada yang berbentuk optik, spektrum, refleksi (pemantulan), dan refraksi (pembiasan) cahaya.

Bahkan, matahari (al-syams) dengan nur (cahaya atau sinar) memiliki keterkaitan yang cukup dekat. Dalam Al-Quran sendiri, kedua istilah tersebut diulang sampai 33 kali. Namun, jika ditilik lebih jauh sebenarnya ada tiga istilah berbeda yang digunakan untuk menunjukkan kata cahaya atau sinar, yaitu nur, diya’ atau dau’ dan siraj.

Kata nur, misalnya, dijumpai pada Q.S. Yunus [10]: 5, Q.S. al-Nur [24]: 35, Q.S. al-Furqan [25]: 61 dan Q.S. Nuh [71]: 16. Sedangkan kata diya’ pada Q.S. Yunus [10]: 5 dan siraj dalam Q.S. al-Furqan [25]: 61, Q.S. Nuh [71]: 16 dan Q.S. al-Naba’ [78]: 13. Berikut penjelasannya.

Baca juga: Inilah Enam Fungsi Energi Matahari Menurut Tafsir

Dau’ atau Diya’

Muhammad Fuad Abdul Baqi dalam al-Mu’jam al-Mufahras li Alfadz Al-Quran, kata diya’ merupakan bentuk jama’ dari dhau’ yang bermakna sesuatu yang terpancar dari benda-benda yang bercahaya. Dhau’ berbeda dari nur. Dhau’ adalah pancaran yang bersumber dari sesuatu yang bersinar, sedangkan nur merupakan pancaran yang bersumber dari lainnya.

Hal ini termaktub dalam Q.S. Yunus [10]: 5,

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). (Q.S. Yunus [10]: 5)

Merujuk ayat di atas, matahari yang memancarkan sinar atau cahaya dari dirinya disebut diya’, sedangkan cahaya bulan yang berasal dari yang lain disebut nur. Al-Quran menyebut kata diya’ sebanyak tiga kali dalam bentuk jama’, yakni pada Q.S. Yunus [10]: 5, Q.S. al-Anbiya [21]: 48, dan Q.S. al-Qashash [28]: 71.

Jika dalam bentuk kata kerja lampau (fi’il madhi) sebagaimana disampaikan Tafsir Ilmi Kemenag, disebutkan sebanyak dua kali, yakni pada Q.S. al-Baqarah [2]: 17 dan 20. Jika dalam bentuk kata kerja sekarang (fi’il mudhari’) sebanyak satu kali, yakni Q.S. al-Nur [21]: 35 seperti yang dikemukakan Amin al-Khuliy dalam al-Mu’jam (4/128).

Baca juga: Bom Bunuh Diri Tinjauan Tafsir Maqashidi

Sumber lain, Hasyiah al-Jamal, misalnya seperti yang dikutip Tantawy bahwa cahaya atau sinar matahari disebut diya’ karena mengandung cahaya yang sangat kokoh dan lebih sempurna ketimbang nur atau cahaya yang sinarnya lebih lemah. Pada ayat di atas keduanya disebutkan secara berbeda agar manusia bisa membedakan antara siang dan malam. Tantawy dalam al-Tafsir al-Wasith (1/2080) menuturkan bahwa hal ini menunjukkan sinar matahari mempunyai endurance strong (daya tahan yang lebih kuat) dan lebih sempurna daripada cahaya rembulan.

Nur

Istilah kedua adalah nur. Ada tiga kata turunan dari term nur ini yaitu nar, nur dan munir. Kata nar, misalnya, disebutkan sebanyak 145 kali seperti yang disampaikan Tafsir Ilmi Kemenag. Kata nar sendiri bermakna kobaran api yang menimbulkan panas dan membakar. Mayoritas kata ini digunakan untuk menggambarkan api neraka di akhirat nanti. Terkadang kata ini diikuti dengan istilah “jahannam”.

Istilah selanjutnya adalah nur, kata ini disebutkan 43 kali dalam Al-Quran. Kata ini memiliki berbagai makna di antaranya (1) sinar atau cahaya yang bersumber dari benda yang bersinar atau bercahaya. Sinar ini berlaku di dunia maupun di akhirat. (2) keyakinan terhadap kebenaran dan petunjuk. Biasanya beriringan dengan kata “dzulumat”, yakni keraguan (min al-dzulumat ila al-nur, dari keraguan atau kegelapan menuju kepada keyakinan atau terang benderang).

Sebagian ulama mengartikan nur sebagai keimanan dan dzulumat sebagai bentuk-bentuk syirik. Makna ketiga (3) adalah pengetahuan, hakikat dan bukti-bukti yang mendatangkan keyakinan dan kemantapan dalam berakidah, menghilangkan keraguan, serta kesesatan dalam berakidah. Makna keempat (4) ialah kitab suci samawi yang menghapus keraguan dan menerangi jalan.

Makna kelima (5), nur bermakna nabi yang datang dengan membawa risalah. Jadi nur bisa juga bermakna kenabian dan agama. Terakhir (6), nur berarti munawwir artinya penerang sekaligus sumber cahaya. Adapun istilah munir bermakna jelas atau terang, kata ini disebutkan enam kali dalam Al-Quran.

Siraj

Istilah ketiga adalah siraj. Ibn Faris dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah (3/122) menjelaskan siraj terambil dari kata saraja yang berarti baik, indah, hiasan. Lampu (misbah) disebut siraj karena keindahan dan gemerlapan cahayanya yang dipancarkannya. Siraj juga diartikan lampu yang menyala pada malam hari dengan sumbu dan minyak. Siraj juga berarti segala sesuatu yang bersinar, bentuk jamaknya adalah suruj.

Al-Quran menyebut kata siraj setidaknya tiga kali. Adakalanya Rasulullah Muhammad saw disebut siraj, pun demikian juga matahari. Kata siraj terdapat dalam Q.S. al-Furqan [25]: 61, Q.S. Nuh [71]: 16 dan Q.S. al-Naba [78]: 13, dan satu di antaranya bermakna Nabi saw, yaitu pada Q.S. al-Ahzab [33]: 46. Rasul saw disebut siraj karena dilukiskan bak lampu yang bersinar dan menjadi lentera di tengah kegelapan.

Kesimpulan

Ketiga istilah di atas menunjukkan bahwa kata diya’, siraj dan nur digunakan untuk menjelaskan sifat cahaya yang ditimbulkan oleh matahari dan bulan sebagaimana juga disampaikan dalam Tafsir Ilmi Kemenag. Jadi, tatkala menyebut sifat matahari, Al-Quran menggunakan term diya’ atau siraj. Sebab kata diya mengandung pengertian bersinar karena dirinya sendiri atau memancarkan cahaya dari dzatiahnya sendiri.

Baca juga: Arti Kata Tabaarakallah dan Penjelasannya dalam Al-Qur’an

Sedangkan siraj bermakna pelita, yakni sesuatu yang memancarkan sinar yang kemudian menjadi sumber cahaya. Abdullah Yusuf Ali dalam Holy Qur’an: Text, Translation and Commentary menjelaskan kata diya’ memiliki arti shining glory atau splendour and glory of brightness yang berarti terang-benderang. Sementara siraj, ia istilahkan dengan lamp, yaitu lampu, pelita, atau sumber cahaya. Jadi, diya’ dan siraj memiliki makna serupa, yakni memancarkan cahaya atau sinar dari dirinya sendiri karena ia sendiri adalah sumber cahaya atau sinar itu sendiri.

Adapun kata nur merujuk pada bulan yang bercahaya. Masih tetap Abdullah Yusuf Ali, ia memaknai nur dengan ligh of beauty (cahaya indah). Dalam term yang lain, nur sebagai sesuatu yang bercahaya karena pantulan sinar. Dengan demikian, nur lebih tepat diterjemahkan menjadi “cahaya” atau “bercahaya”. Wallahu A’lam.

Hikmah Penyusunan Al-Qur’an dalam Bentuk Kumpulan Surah

0
hikmah penyusunan Al-Quran dalam bentuk kumpulan surah
hikmah penyusunan Al-Quran dalam bentuk kumpulan surah

Walaupun telah terjadi pergantian zaman, interaksi umat Islam terhadap Al-Qur’an dari awal diturunkanya hingga saat ini tidak pernah putus. Berbagai pola interaksi telah dilakukan oleh umat Islam terhadap Al-Qur’an, mulai dari membaca, menghafal, hingga mengkaji dan mentadabburi kitab yang tersusun dari 114 surah tersebut. Namun sudahkah kita tahu, sebenarnya mengapa Al-Qur’an disusun dalam bentuk kumpulan surah? Apakah terdapat hikmah tertentu dari penyusunan surah tersebut?

Sebelum menguraikan hikmah penyusunan surah dalam Al-Qur’an, terlebih dahulu penulis sampaikan terkait definisi surah. Dalam aspek linguistik, para ulama menjelaskan bahwa term surah berasal dari kata al-su’r (السؤر) yang bermakna sesuatu yang tersisa dari bekas minuman yang terdapat dalam sebuah wadah/bejana.

Artinya, bekas air tersebut merupakan bagian dari minuman tersebut. Begitu juga dengan sebuah surah, ia merupakan salah satu bagian (qith’ah) dari Al-Qur’an. Berdasarkan pemahaman tersebut maka para ulama mendefinisikan surah sebagai kumpulan bagian ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki permulaan dan akhiran.

Kemudian, dalam tataran kajian historis, Musa Syahin Lasyin menjelaskan dalam karyanya al-Laali’ al-Hisan fi ‘Ulum al-Qur’an, bahwasanya para ulama berbeda pendapat terkait masalah apakah kitab-kitab samawi terdahulu (Taurat, Zabur, dan Injil) juga disusun dalam bentuk kumpulan surah atau tidak.

Menurut al-Zarkasyi, penggunaan susunan surah hanya khusus untuk Al-Qur’an tidak bagi kitab-kitab samawi sebelumnya. Pendapat tersebut dibangun atas dasar dua argumen, yaitu: (1) kitab-kitab samawi terdahulu tidak memiliki kandungan mukjizat dalam sisi tekstualitas kalimat dan urutanya; (2) kitab-kitab samawi tersebut tidak dimudahkan untuk dihafal.

Baca Juga: Penamaan Surat dalam Al-Quran: Antara Tauqifi dan Ijtihadi

Berbeda dengan pendapat al-Zarkasyi, pengarang kitab Tafsir al-Kasysyaf yaitu al-Zamakhsyari mengatakan bahwa kitab-kitab samawi terdahulu juga diturunkan dengan susunan kumpulan surah sebagaimana dalam Al-Qur’an. Pendapat yang demikian juga diamini oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam karyanya al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an dengan menggunakan basis argumen sebuah riwayat dari Qatadah berikut:

فَقَدْ أَخْرَجَ اِبْنُ أَبِيْ حَاتِمِ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: كُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّ الزَّبُوْرَ مِائَةٌ وَخَمْسُوْنَ سُوْرَةً، كُلُّهَا مَوَاعِظُ وَثَنَاءٌ، لَيْسَ فِيْهِ حَلَالٌ وَلَا حَرَامٌ، وَلَا فَرَائِضُ وَلَا حُدُوْدٌ وَذَكَرُوْا أَنَّ فِي الْإِنْجِيْلِ سُوْرَةً تُسَمَّى سُوْرَةُ الْأَمْثَالِ.

“Ibnu Abi Hatim telah mengeluarkan sebuah riwayat dari Qatadah, ia berkata: sesungguhnya kami bercerita bahwasanya kitab Zabur memiliki 150 surah. Setiap surah-surah tersebut berisi kumpulan nasihat, dan pujian. Tidak disebutkan di dalamnya perihal halal-haram, kewajiban, dan batasan hukum. Dan disebutkan juga bahwa kitab Injil memiliki satu surah yang disebut dengan nama surah al-Amtsal”

Hikmah Penyusunan Al-Quran dalam Bentuk Kumpulan Surah

Berikutnya, menuju inti pembahasan. Dawud al-Attar dalam karyanya yang berjudul Mujaz ‘Ulum al-Qur’an, menyampaikan bahwa terdapat beberapa kandungan hikmah mengapa Al-Qur’an disusun dan dibagi dalam beberapa surah, diantaranya adalah:

  1. Sebagai Bentuk Mukjizat (al-Ta’jiz)

Telah jamak diketahui bahwa Al-Qur’an beberapa kali menantang para kaum kafir yang mengingkari kebenaran Al-Qur’an dengan menyuruh mereka untuk membuat semisal Al-Qur’an. Tantangan tersebut disampaikan oleh Allah dengan 3 bentuk, yaitu: pertama, tantangan untuk menyusun semisal Al-Qur’an secara keseluruhan (QS. ath-Thur [52]: 34); kedua, tantangan membuat 10 surah (QS. Hud [11]: 13); dan ketiga, tantangan untuk mengarang satu surah saja (QS. Yunus [10]: 38 & QS. al-Baqarah [2]: 23). Namun, semua tantangan tersebut tidak ada satupun yang mampu disanggupi oleh kaum kafir Quraisy.

Berdasarkan hal tersebut, maka salah satu hikmah disusunya Al-Qur’an dalam beberapa surah adalah untuk semakin menguatkan bahwa Al-Qur’an merupakan sebuah kalam ilahi yang mengandung mukjizat yang mampu melemahkan setiap penentangnya. Hal ini dikarenakan menyusun sebagianya saja tidak bisa, bagaimana mungkin mereka mampu menandingi Al-Qur’an secara keseluruhan.

Selain itu, penyusunan Al-Qur’an dalam bentuk kumpulan surah juga berfungsi untuk menegaskan bahwa keberadaan kandungan mukjizat tidaklah disyaratkan hanya bagi surah-surah yang panjang semata semisal QS. al-Baqarah (286 ayat), namun juga bagi surah-surah yang pendek semisal QS. al-Kautsar (3 ayat), QS. al-’Ashr (3 ayat), dan QS. an-Nashr (3 ayat). Oleh karena itu, seluruh surah Al-Qur’an merupakan mukjizat baik yang kuantitas ayatnya banyak maupun yang sedikit.

Baca Juga: Inilah Ragam Pendapat Ulama tentang Nidzam Al-Quran

  1. Memberikan Kemudahan (al-Taisir)

Sesungguhnya seseorang yang telah menghafal atau mempelajari sebuah surah Al-Qur’an secara sempurna, maka biasanya ia akan memiliki rasa semangat yang tinggi untuk menghafal dan mempelajari surah-surah Al-Qur’an yang lain.

Oleh karena itu, disusunya Al-Qur’an dalam bentuk kumpulan surah memiliki hikmah untuk memudahkan umat Islam dalam menghafalkan maupun mempelajari kalam-Nya. Hal ini dikarenakan dengan susunan tersebut, maka umat Islam dapat dengan mudah untuk memulai menghafal/mengkaji secara gradual dari surah Al-Qur’an terpendek hingga terpanjang.

  1. Menumbuhkan Rasa Semangat Dalam Membaca Al-Qur’an (al-Tasywiq)

Dawud al-Attar menyampaikan bahwa apabila terdapat seseorang yang telah membaca/menghafal sebuah surah dalam Al-Qur’an, maka ia akan merasa timbul rasa kebahagiaan dan kebanggaan karena telah menyelesaikan sebuah surah dalam Al-Qur’an. Sehingga dengan hal tersebut akan menjadikan setiap pembaca Al-Qur’an memiliki jiwa semangat yang tinggi untuk terus membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang terkumpul dalam surah-surah yang lain.

Selain itu, para pembaca/penghafal surah Al-Qur’an akan sangat disegani oleh umat Islam, sebagaimana bentuk penghormatan para sahabat Nabi bagi para pembaca Al-Qur’an dalam kutipan riwayat dari Anas berikut:

كَانَ الرَّجُلُ إِذَا قَرَأَ البَقَرَةَ وَآلِ عِمْرَانَ جَلَّ فِيْنَا

“Apabila seseorang telah membaca surah al-Baqarah dan Ali Imran maka ia dipandang mulia di kalangan kami”

Baca Juga: Uniknya Kosa Kata Al-Quran, Antara Jumlah Bilangan Kata dengan Akibatnya

  1. Mengklasifikasikan dalam Beberapa Sub Bab Pembahasan (al-Tabwib)

Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak sekali ragam pembahasan yang disampaikan, mulai dari kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu, hukum-hukum syari’at, hal-hal ghaib/ekskatologis (surga, neraka, dll) dan lain sebagainya. Karena pembahasan tersebut sangat kompleks, maka salah satu hikmah pembagian Al-Qur’an dalam kumpulan surah adalah untuk membuat sistemisasi tema-tema pembahasan Al-Qur’an tersebut ke dalam surah-surah tertentu.

Misalnya surah Yusuf, walaupun surah tersebut terdiri dari 100 ayat lebih, namun dalam surah tersebut tidak disebutkan hal-hal berkaitan dengan surga dan neraka. Akan tetapi berfokus pada penjabaran tentang sejarah kehidupan Nabi Yusuf. Begitu juga dengan surah Ibrahim yang menyampaikan tentang kisah hidup Nabi Ibrahim. Serta, surah al-Taubah yang menyajikan pembahasan tentang ciri-ciri orang munafik dan masih banyak surah-surah lainya.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa penyusunan Al-Qur’an dalam kumpulan surah bukanlah penyusunan biasa, namun terkandung di dalamnya ragam kandungan hikmah. Pengetahuan akan hikmah tersebut penting untuk kita ketahui guna menjadikan kita semakin semangat dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam

Manhaj Haraki Ala Muhammad Husein Fadhlullah dalam Tafsir Min Wahyil Quran

0
Manhaj Haraki
Manhaj Haraki dalam tafsir

Setelah menguraikan profil kitab dan tokoh Muhammad Husein Fadhlullah dalam tulisan terdahulu, artikel ini akan menjelaskan lebih lanjut soal metode (manhaj) yang hadir memberi semangat realistis-praktis dalam memberi pemaknaan terhadap ayat Alquran. Metode ini dikenal dengan istilah manhaj haraki, suatu metode yang diterapkan Sayyid Husein dalam karya tafsirnya, Min Wahyi Alquran, sebagai upaya menghidupkan Alquran dalam akal, hati dan kehidupan manusia.

Terminologi dan Asumsi Dasar Manhaj Haraki

Pada artikel sebelumnya dijelaskan bahwa manhaj haraki adalah suatu metode tafsir tahlily (terperinci), dimana seorang mufasir melakukan penafsiran dengan bertumpu pada naungan penjelasan maksud Allah yang tertuang dalam Alquran. Metode ini mengikuti pergerakan mufasir di masyarakat sesuai dengan pergerakan Alquran untuk memenuhi kebutuhan dan tantangan umat kontemporer. Demikian ini bersandar pada definisi yang diberikan Muhammad Ali Iyazi dalam kitabnya, al-Mufassirun hayatuhum wa manhajuhum.

Pada dasarnya, penafsiran Sayyid Husein yang berbasis pergerakan terinspirasi dari manhaj haraki Sayyid Qutb. Namun, maksud haraki dalam Quranic studies adalah penafsiran yang berbasis pergerakan dengan tujuan menghidupkan ruh/intisari Alquran yang bertumpu pada maksud ayat. Maka, titik poin dari manhaj haraki adalah penafsiran yang membumi, yang terfokus pada amali waqi’i (tindakan nyata) atau aspek praktis dari suatu ayat.

Asumsi yang dibangun Sayyid Husein adalah ayat Alquran bukanlah kata-kata yang memiliki makna beku/stagnan (tatajammad), lebih dari itu, ia merupakan kata-kata yang bergerak/bermanufer (tataharrak). Asumsi ini membangun usaha untuk sampai pada tujuan Alquran sebagai kitab petunjuk. Teks Alquran tidak lagi dianggap sebagai wahyu yang mati, tetapi sebagai wahyu yang hidup sehingga harus ditafsirkan sesuai kebutuhan zaman. Upaya yang relatif kuat dalam mengambil inspirasi makna ayat Alquran sebagai sumber pergerakan manusia dalam menghadapi problematika kehidupan, Hasan Hanafi menyebut Sayyid Husein berusaha mentransfer logos ke praktis.

Karakteristik Manhaj Haraki

Salah satu ciri khas yang merepresentasikan manhaj haraki dalam tafsir Min Wahyi Alquran adalah adanya beberapa kata yang sering disebut di sela-sela penjelasan tafsirnya, yaitu taharraka, tataharraka, harakah, harakiyyah. Berikut beberapa karakteristik manhaj haraki yang tertuangkan dalam tafsir Min Wahyi Alquran:

  1. Istiqlaliyyatu Alquran (independensi Alquran)

Prinsip ini biasa dikenal dengan penafsiran Alquran bi Alquran/Alquran yufassiru ba’duhu ba’dan. Pada dasarnya, Alquran adalah nas yang mampu berdiri sendiri dan tidak menggantungkan diri pada nash yang lain. Demikian menunjukkan bahwa Alquran memiliki otoritas tertinggi dalam menafsirkan Alquran itu sendiri. Pengertian ini tidak bermaksud meremehkan posisi riwayat dan khabar, hanya saja menerapkan sikap selektif dalam menggunakan suatu riwayat sebagai sumber kedua bagi umat Islam.

  1. Al-Zuhuru Alqurany (makna lahiriah Alquran)

Sayyid Fad}lullah mempunyai karakter pembacaan yang berpegang teguh pada makna lahiriah teks. Aspek ini menjadi dasar dari metode pergerakan (haraki) yang tertuang dalam tafsirnya. Demikian ini tidak berarti ia meniadakan kebolehan atas pemahaman yang melampaui makna lahiriah.

Ia berupaya agar penafsiran Alquran tidak terfokus pada kaidah linguistik berupa perdebatan panjang mengenai gramatikal maupun balaghah yang dapat menjauhkan dari tujuan utama diturunkannya Alquran. Ia terfokus pada makna lahiriah Alquran di mana tidak akan ditemukan ruang untuk membicarakan Alquran sebagai kitab penuh rumus linguistik serta ungkapan-ungkapan yang jauh dari konteks, sehingga tidak ditemukan cahaya dalam menjelaskan tabiat makna.

  1. Al-siyaqu Alquran (konteks Alquran)

Proses pemahaman terhadap suatu perkataan tidak dapat dipisahkan dari mempertimbangkan konteks/realitas dimana dan bagaimana perkataan tersebut dilahirkan. Jika tidak, hasilnya akan mengarahkan pada pemahaman yang kaku (tekstualis). Demikian ini tidak berarti -dalam Quranic studies– seorang mufassir dapat merubah konteks dengan tujuan menguatkan penafsirannya. Konteks yang dimaksud adalah ketika menafsirkan Alquran, seorang mufassir tidak bisa lepas dari konteks yang melatar belakangi suatu ayat diturunkan dan saat mufassir melakukan penafsiran.

  1. Al-istiha’ (mencari inspirasi)

Uslub ini dalam paradigma kontemporer disebut dengan kontekstual (mencari aspek-aspek inspiratif suatu ayat). Cara kerjanya adalah mengalihkan dimensi material menuju dimensi non-material (maknawi) dan dari pengalaman historis pada masyarakat di mana Alquran diturunkan -termasuk penyelesaian problematika masyarakat tersebut- menuju pengalaman baru dalam menghadapi tantangan dan problematika kekinian. Sehingga, sasaran uslub ini adalah mencari makna di balik ayat (ruh dan spirit suatu ayat), tidak sekedar makna literal ayat.

Implikasi Manhaj Haraki dalam Pembacaan Ayat Alquran

Manhaj haraki Sayyid Husein secara signifikan berimplikasi terhadap pembacaannya dalam menguak serta menghidupkan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu ayat. Sehingga melahirkan pembacaan yang responsif menjawab isu-isu kontemporer, terlebih pada hal-hal yang menyangkut persatuan dan perdamaian umat seperti kesetaraan gender, HAM, pluralisme dan sebagainya.

Salah satu pembacaan yang representatif terhadap prinsip manhaj haraki adalah ihwal perempuan. Sayyid Husein menjadikan realitas sebagai partner saat menafsirkan Alquran, seperti saat menafsirkan Q.S. an-Nisa’ [4]: 34. Realitas sosial di masa kontemporer menunjukkan bahwa banyak dari perempuan mengemban peran ganda yakni sebagai ibu rumah tangga dan wanita karir. Dua peran yang diemban sekaligus secara tidak langsung akan mengurangi tanggung jawab sebagai al-madrasatu al-ula bagi anak-anaknya. Sering kali ditemui fenomena anak-anak dititipkan di lembaga penitipan anak, tidak mendapatkan ASI sesuai kebutuhannya sampai pada kurangnya kasih sayang orang tua. Dalam merespon problem demikian, Sayyid Husein mengatakan:

ولسنا هنا لنقرر حرمة عمل المرأة، أو لنحاربه  من ناحية المبدأ، ولكن لنؤكد على الحقيقة الإسلامية التي لا تعتبر أنه الأفضل، في حال تعارضه مع نمو وتطور حياة الأسرة الروحية والمادية.

“Hal ini tidak berarti kami mengharamkan pekerjaan bagi seorang wanita, atau menolak hal tersebut sejak awal, akan tetapi kami hanya menegaskan esensi (hakikat) ajaran Islam yang tidak menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang utama, dalam konteks yang berlawanan dengan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan keluarga baik secara spiritual maupun material.”

Dalam kondisi demikian, Sayyid Husein tidak mengharamkan seorang wanita bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga. Ia hanya menegaskan bahwa pekerjaan tidak utama bagi wanita. Karena pada realitanya, seorang wanita telah dibebankan pada urusan mengurus anak dan rumah. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Maryam ayat 16-26

0
Tafsir Surah Maryam
Tafsir Surah Maryam

Tafsir Surah Maryam ayat 16-26 merupakan perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk menceritakan kisah Maryam yang ada dalam Alquran. Dikisahkan dalam Tafsir Surah Maryam ayat 16-26 bahwa Maryam merupakan sosok perempuan yang menjaga dirinya dalam satir yang terjaga dari pandangan laki-laki. Selanjutnya Tafsir Surah Maryam ayat 16-26 akan menjelaskan peristiwa Maryam dari mulai mengandung Nabi Isa hingga akan melahirkannya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Maryam ayat 12-15


Ayat 16

Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya menceritakan kisah Maryam yang diterangkan dalam Al-Qur’an ketika Maryam ibunda Nabi Isa menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat yang berada di sebelah timur Baitul Makdis untuk mendapatkan ketenangan dalam beribadat kepada Allah. Maryam ingin melepaskan diri dari rutinitas kegiatan hidup sehari-hari.

Sehubungan dengan ayat ini, Ibnu Abbas berkata, “Di antara semua orang aku paling mengetahui tentang apa sebab kaum Nasrani menjadikan kiblat mereka ke arah Timur; yaitu sesuai dengan firman Allah bahwa Maryam menenangkan dan menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah Timur, lalu mereka menjadikan tempat kelahiran Nabi Isa a.s. itu sebagai kiblat.”

Ayat 17

Maka Maryam membuat tabir (dinding) yang melindunginya dari pandangan keluarganya dan manusia lainnya. Kemudian Allah mengutus malaikat Jibril kepadanya dalam bentuk seorang laki-laki yang gagah dan rupawan untuk memberitahukan kepada Maryam bahwa ia akan melahirkan seorang putra tanpa ayah. Adapun hikmatnya kedatangan Jibril dalam bentuk manusia itu agar supaya tidak menimbulkan ketakutan pada diri Maryam.

Ayat 18

Tatkala Maryam melihat ada seorang laki-laki di tempatnya yang terasing itu, beliau berlindung kepada Allah Ta`ala dari kejahatan yang mungkin timbul seraya berkata, “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah; jangan sekali-kali kamu mengganggu aku jika kamu bertakwa kepada-Nya, sebab setiap orang yang bertakwa itu selalu menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.”

Ayat 19

Untuk menenteramkan hati Maryam dan menghilangkan ke-curigaannya Malaikat Jibril berkata, “Sesungguhnya aku ini hanyalah utusan dari Tuhanmu untuk menyampaikan berita kepadamu akan lahir seorang anak laki-laki yang suci dari segala macam noda.” Malaikat Jibril menyebutkan bahwa dia sendiri yang akan menyampaikan berita tentang anak laki-laki itu, karena ia diperintahkan oleh Allah Ta`ala untuk meniupkan roh ke dalam tubuh Maryam.

Ayat 20

Maryam merasa sangat terkejut mendengar berita itu dan dengan nada keheranan ia berkata, “Bagaimana aku akan mendapat seorang anak laki-laki padahal belum pernah ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku; dan aku bukan pula seorang pezina.”

Ayat 21

Jibril menjawab pertanyaan Maryam dengan mengatakan bahwa Maryam akan mendapat seorang anak laki-laki walaupun tidak bersuami ataupun tidak mengadakan hubungan dengan laki-laki; karena yang demikian itu adalah kehendak Allah Yang Mahakuasa dan yang demikian itu mudah bagi-Nya.

Allah menjadikan seorang putra dari Maryam itu agar menjadi bukti bagi manusia atas kekuasaan-Nya. Pemberian putra kepada Maryam sebagai rahmat dari Allah karena kelak anak laki-laki itu akan menjadi seorang Nabi yang menyeru kepada jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan itu adalah keputusan Allah yang tidak dapat dirubah lagi.”

Ayat 22

Setelah Jibril menerangkan maksud kedatangannya itu, maka Maryam menjawab, “Aku berserah diri kepada ketetapan Allah.” Lalu Jibril meniupkan roh Nabi Isa ke Maryam sehingga mengakibatkan Maryam mengandung; lalu ia mengasingkan diri dengan kandungannya ke suatu tempat yang jauh dari orang banyak untuk menghindari tuduhan dan cemoohan dari Bani Israil.

Ayat 23

Ketika Maryam merasa sakit karena akan melahirkan anaknya, maka ia terpaksa bersandar pada pangkal pohon kurma untuk memudahkan kelahiran; dengan penuh kesedihan ia berkata, “Aduhai, alangkah baiknya jika aku mati saja sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan.”

Ia mengharapkan seandainya mati saja sebelum melahirkan karena merasa beratnya penderitaan akibat melahirkan seorang anak tanpa seorang ayah yang berakibat timbulnya tuduhan dan cemoohan dari kaumnya yang tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya; atau beliau mengharapkan menjadi sesuatu benda yang tidak berarti dalam pandangan manusia, lagi dilupakan daripada menderita perasaan tertekan dan malu yang luar biasa.

Ayat 24

Maka datanglah Jibril dan berseru dari suatu tempat yang rendah, “Janganlah kamu bersedih hati, karena sesungguhnya Tuhanmu telah mengalirkan sebuah anak sungai di bawahmu.” Ini merupakan suatu rahmat bagi Maryam karena di tempat itu pada mulanya kering tidak ada air yang mengalir, tetapi kemudian terdapat aliran air yang bersih.

Ayat 25

Jibril kemudian menyuruh Maryam untuk menggoyang pohon kurma dan nanti pohon itu akan menjatuhkan buah kurma yang telah masak kepadanya. Dan ini adalah rahmat yang lain untuk Maryam karena pada mulanya pohon kurma itu telah kering, dengan kehendak Allah menjadi hijau dan subur kembali serta berbuah sebagai rezeki untuk Maryam.

Ayat 26

Maka Jibril menyuruh Maryam supaya makan, minum dan ber-senang hati karena mendapat rezeki itu dan menghilangkan kesedihan hatinya karena Allah berkuasa untuk membersihkannya dari segala tuduhan yang tidak pantas, sehingga Maryam tetap dianggap sebagai wanita yang suci tidak pernah ternoda.

Jika kamu melihat seorang manusia yang bertanya tentang persoalannya dan persoalan anaknya, maka isyaratkanlah kepadanya, “Sesungguhnya aku telah bernazar atas diriku untuk berpuasa semata-mata untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, dan aku tidak akan berbicara langsung dengan seorang manusia pun pada hari ini, karena ucapanku itu mungkin ditolak dan tidak dipercayai.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Maryam ayat 27-33


Tafsir Surah Maryam ayat 12-15

0
Tafsir Surah Maryam
Tafsir Surah Maryam

Tafsir Surah Maryam ayat 12-15 mengisahkan tentang Yahya yang memegang kitab Taurat sebagai nikmat terbesar dari Allah kepada Bani Israil. Dijelaskan pula dalam Tafsir Surah Maryam ayat 12-15 bahwa Nabi Yahya merupakan sosok yang penuh welas asih terutama kepada orang fakir.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Maryam ayat 6-11


Ayat 12

Allah memerintahkan kepada Yahya supaya mengambil kitab Taurat yang merupakan nikmat terbesar dari Allah kepada Bani Israil dengan penuh perhatian dan sungguh-sungguh dan mengamalkan isinya dengan tulus ikhlas. Kemudian Allah mengungkapkan sifat-sifat Nabi Yahya yang sangat terpuji yang patut ditiru oleh sekalian pengikutnya.

Di antaranya, Allah telah memberikan kepadanya hikmah dan pengertian yang sangat mendalam tentang agama dan kegairahan untuk mengamalkan segala amal kebaikan walaupun ketika itu Yahya masih sangat muda. Diriwayatkan bahwa beliau pernah dikerumuni oleh anak-anak sebayanya dan diajak supaya main bersama-sama, lalu beliau menjawab, “Kita ini diciptakan Tuhan bukan untuk bermain-main. Marilah ikut bersama saya salat.”

Ayat 13

Allah menjadikan Nabi Yahya itu seorang yang memiliki rasa belas kasihan kepada sesama manusia terutama fakir miskin sebagaimana Allah menjadikan Nabi Muhammad saw memiliki perasaan yang sama, seperti tercantum dalam firman Allah:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ

Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. (Āli ‘Imrān/3: 159)

Dan firman Allah:

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. (at-Taubah/9: 128)

Sifat Nabi Yahya juga bersih dari syirik dan selalu menjauhkan diri dari setiap perbuatan yang menyebabkan kemurkaan Allah. Beliau selalu bertakwa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Ayat 14

Ayat ini menjelaskan sifat Nabi Yahya yang selalu berbakti kepada kedua orang tuanya, karena berbakti kepada mereka itu dijadikan amal kebajikan setelah beribadah kepada Allah, sesuai dengan firman-Nya:

۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.(al-Isrā/17: 23)

Di antara sifat Nabi Yahya lainnya ialah tidak sombong terhadap manusia yang lain, selalu rendah hati, seperti sifat yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad saw dalam firman Allah:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu. (asy-Syu`arā/26: 215)

Dan firman Allah:

وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ

Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. (Āli ‘Imrān/3: 159)

Oleh karena sifat sombong ini sangat buruk, sehingga menyebabkan Iblis dikutuk karena ia berlaku sombong, tidak mau sujud menghormati kepada Nabi Adam as, atas perintah Allah. Sifat yang terakhir di antara sifat Nabi Yahya yang terpuji adalah tidak pernah menentang perintah Allah.

Ayat 15

Allah menerangkan pahala kebajikan Nabi Yahya itu karena ketaatan dan kesalehannya, keselamatan, kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan ke dunia, dan pada hari ia wafat meninggalkan dunia yang fana ini serta pada hari ia dibangkitkan hidup lagi pada hari Kiamat. Disebutkannya tiga peristiwa ini, karena setiap manusia pada ketiga masa itu sangat membutuhkan rahmat dan karunia Tuhan.

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Maryam ayat 6-11

0
Tafsir Surah Maryam
Tafsir Surah Maryam

Tafsir Surah Maryam ayat 6-11 menjelaskan bahwa doa Nabi Zakaria dikabulkan oleh Allah namun Nabi Zakaria khawatir di umurnya yang telah tua dia sudah tak bisa memiliki keturunan ditambah sang istri juga mandul bagaimana Allah akan mengiriminya anak? Apakah dia akan dikembalikan menjadi muda?

Selengkapnya Tafsir Surah Maryam ayat 6-11 di bawah ini….


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Maryam ayat 1-5


Ayat 6

Ayat ini menyebutkan isi doa Nabi Zakariya, Ya Tuhan, berikanlah kepadaku keturunan yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Yakub dan jadikanlah ia seorang yang patut lagi taat dan diridai oleh-Mu, karena mempunyai akhlak dan budi yang luhur lagi mulia, dapat dijadikan suri tauladan oleh sekalian pengikutnya.

Doa memohon keturunan yang saleh dan kelak menjadi pemimpin bagi orang yang bertakwa memang diperintahkan Allah, seperti pada firman-Nya:

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا

Dan orang-orang yang berkata, ”Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqān/25 :74)

Ayat 7

Dalam ayat ini Allah memberitahukan tentang dikabulkannya doa Zakaria a.s. dan pemberian nama putranya langsung dari Allah sendiri. Allah berfirman kepada Zakaria, bahwa sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepadanya, bahwa permohonannya untuk dianugerahi seorang putra akan terkabul, dan telah disiapkan pula supaya anaknya itu jika lahir diberi nama Yahya dan nama itu belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelum dia.

Ayat 8

Nabi Zakaria a.s. setelah diberitahu akan mempunyai seorang putra bertanya kepada Allah. Pertanyaan itu timbul bukan karena keragu-raguan tentang kekuasaan Allah, akan tetapi untuk mendapat penjelasan tentang caranya, karena beliau merasa sudah tidak mampu lagi untuk memiliki putra, dan istrinya mandul.

Apakah beliau akan dijadikan seperti seorang pemuda lagi dengan kekuatan fisik yang cukup, atau istrinya akan dikembalikan menjadi seorang perempuan muda yang dapat melahirkan seorang anak, ataukah beliau harus kawin lagi dengan seorang perempuan lain yang tidak mandul?

Karena Zakaria sangat gembira dengan berita akan mendapat seorang anak itu, dan beliau penuh dengan rasa keheranan tentang cara-cara pelaksanaannya, maka beliau tidak dapat menahan diri untuk menanyakan hal itu kepada Tuhannya. Maka dijawab dengan firman Allah pada ayat berikut ini:

Ayat 9

Ayat menjelaskan bahwa Zakariya akan dianugerahi seorang putra, walaupun ia sudah sangat tua dan istrinya mandul. Hal itu adalah mudah bagi Tuhan. Kalau Allah mampu menciptakan Adam dari yang tidak ada sama sekali kemudian menjadi ada, maka menciptakan seorang anak dari yang ada, yaitu Zakaria dan istrinya adalah lebih mudah bagi Allah. Beberapa firman Allah berikut ini menunjukkan bahwa tidak ada kesulitan sedikitpun bagi Allah untuk menciptakan segala yang dikehendaki-Nya antara lain yaitu :

اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّ ذٰلِكَ فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. (al-Hajj/22: 70)

Dan firman Allah :

اَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللّٰهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah memulai penciptaan (makhluk), kemudian Dia mengulanginya (kembali). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. (al-‘Ankabut/29: 19)

Ayat 10

Kemudian Nabi Zakaria memohon kembali kepada Allah supaya diberi tanda-tanda bahwa anaknya itu segera akan dilahirkan, agar hatinya tambah tenteram dan rasa syukurnya bertambah dalam. Beliau berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda yang dapat menambah ketenteraman hatiku tentang terlaksananya janji engkau itu.”

Hal seperti ini pernah terjadi pula pada Nabi Ibrahim a.s. ketika ditanya, “Apakah engkau belum percaya bahwa Allah kuasa menghidupkan yang telah mati?” Beliau menjawab, “Sungguh aku percaya, akan tetapi aku bertanya supaya bertambah tenteram hatiku.” Sebagaimana tersebut dalam firman Allah:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰىۗ قَالَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗقَالَ بَلٰى وَلٰكِنْ لِّيَطْمَىِٕنَّ قَلْبِيْ ۗقَالَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِفَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗوَاعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌحَكِيْمٌ ࣖ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ”Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, ”Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, ”Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, ”Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (al-Baqarah/2: 260)

Ayat 11

Nabi Zakaria a.s. keluar dari mihrab menuju kaumnya, yang sudah lama menunggu karena kebiasaan mereka ikut salat berjamaah bersama di tempat beribadatnya pada pagi dan petang hari. Mereka bertanya, “Gerangan apa yang menyebabkan beliau terlambat membuka pintu mihrabnya.”

Lalu beliau memberi isyarat kepada mereka, supaya bertasbih mensucikan Allah dari kemusyrikan dan dari tuduhan mempunyai anak dan dari setiap sifat yang tidak layak bagi Allah. Mereka diperintahkan supaya banyak bertasbih di waktu pagi dan petang.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Maryam ayat 12-15


Tafsir Surah Maryam ayat 1-5

0
Tafsir Surah Maryam
Tafsir Surah Maryam

Tafsir Surah Maryam ayat 1-5 menjelaskan tentang Nabi Zakaria yang berdoa kepada Allah agar diberi keturunan, dikisahkan bahwa Nabi Zakaria telah berumur dan memiliki uban namun belum dikaruniai seorang anakpun. Dalam Tafsir Surah Maryam ayat 1-5 ini diawali dengan huruf muqathaah yang telah dijelaskan pula pada pembukaan surah Al-Baqarah.


Baca Juga: Doa Al-Quran: Doa Agar Memiliki Keturunan dari Nabi Zakaria


Ayat 1

Telah diterangkan dalam tafsir permulaan Surah al-Baqarah bahwa permulaan Surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah seperti Alif Lām Mim, Kāf Hā Yā ‘Ain Shād dan sebagainya termasuk ayat “Mutasyābihāt” yang arti sesungguhnya hanya diketahui oleh Allah tujuannya agar jadi peringatan dan menambah perhatian tentang Al-Qur’an yang banyak mengandung hikmah dan rahasia yang mendalam.

Ayat 2

Yang dibaca ini adalah penjelasan tentang rahmat Tuhanmu yang dilimpahkan kepada seorang hamba-Nya yang sudah tua, yaitu Nabi Zakaria a.s. ketika beliau berdoa supaya diberi seorang anak yang saleh. Nabi Zakaria berasal dari keturunan Bani Israil yang menjadi nabi setelah Nabi Yunus untuk memimpin kaumnya.

Ayat 3

Yaitu tatkala beliau berdoa dengan suara lembut lagi menyendiri dalam mihrabnya, supaya diberi keturunan yang akan melanjutkan tugas kerasulan. Doanya itu sengaja diucapkan dengan suara yang lembut dan dalam keadaan sunyi, supaya terasa lebih ikhlas dan terkabul. Kemudian Al-Qur’an menyebutkan bagaimana bunyi doanya itu.

Berdoa memang diperintahkan Allah kepada kita semua dengan tawadhu’, yaitu rendah hati serta dengan suara yang lembut, tidak menjerit-jerit, seperti disebutkan dalam firman Allah:

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَۚ  

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (al-A’rāf/7: 55)

Ayat 4

Nabi Zakaria dalam doanya antara lain mengemukakan, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku memohon terkabulnya doaku ini, karena beberapa sebab yang aku yakini akan membuka rahmat karunia-Mu.

Pertama, aku telah mencapai usia yang sangat tua yaitu hampir sembilan puluh tahun, di mana aku sudah merasa tulang-tulangku sudah lemah, dan kelemahan kerangka badan itu mengakibatkan pula kelemahan yang menyeluruh dalam seluruh tubuhku, dan seorang yang sudah tua seperti aku ini, sangat pantas untuk disayangi dan dikasihani.

Kedua, di kepalaku sudah penuh dengan uban, sehingga siapapun yang memandang kepadaku pasti menaruh belas kasihan dan tergerak hatinya untuk memenuhi permohonanku. Ketiga, aku selama ini belum pernah dikecewakan dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhan, sejak aku masih muda, apalagi sekarang di mana kelemahanku telah nampak secara keseluruhan.”

Nabi Zakaria sendiri mengetahui bahwa jika doanya dikabulkan, akan membawa banyak perbaikan dalam bidang agama dan kemasyarakatan. Karena itu beliau melanjutkan doanya seperti disebutkan pada ayat berikut ini.

Ayat 5

Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap orang-orang yang akan mengendalikan dan memimpin umatku, karena tidak ada seorang pun yang dapat dipercaya di antara mereka itu, oleh sebab itu aku mohon dianugerahi seorang anak. Walaupun istriku mandul dan aku sendiri telah sangat tua, tetapi hal ini tidak menyebabkan aku berputus asa, karena percaya atas kebijaksanaan dan kekuasaan Allah Yang Mahaagung. Berputus asa memang dilarang oleh Allah, seperti pada beberapa firman-Nya, yaitu:

وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ 

“…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir.” (Yusuf/12: 87)

 Dan firman Allah:

قَالَ وَمَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبِّهٖٓ اِلَّا الضَّاۤلُّوْنَ   

“Dia (Ibrahim) berkata, ”Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.” (al-Hijr/15: 56)

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Maryam ayat 6-11


 

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 101-110

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 101-110 menjelaskan bahwa orang-orang yang mata hatinya tertutup dari kekuasaan Allah akan disediakan Azab yang pedih. Sebagai penutup dari surah Al-Kahfi Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 101-110 ini lebih banyak memperingati manusia untuk berperilaku baik sesuai dengan syariat dan ridha yang ditetapkan oleh Allah.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 98-100


Ayat 101

Ayat ini menjelaskan bahwa azab yang pedih itu disediakan untuk orang-orang yang mata hatinya selalu tertutup dari memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di dunia ini. Mereka tidak pernah memikirkan bukti-bukti kekuasaan-Nya, tidak pernah bertobat kepada Tuhannya, tidak pernah mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, seolah-olah mereka menutup telinga tidak mau mendengar peringatanperingatan dari Allah itu.

Azab yang demikian itu ditimpakan kepada mereka sebagai akibat perbuatan mereka berkecimpung (bergelimangan) dalam dosa dan pelanggaran, mengikuti godaan setan masuk dalam perangkap-perangkap yang dipasang oleh setan, sehingga hati mereka dikunci mati oleh Tuhan sehingga tidak dapat lagi mempergunakan mata dan telinganya untuk menerima petunjuk dan kebenaran. Dan Allah menjelaskan bahwa apa-apa yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi manfaat kepada mereka sedikit pun.

Ayat 102

Apakah orang-orang kafir yang mempersekutukan Aku dengan yang lain menyangka bahwa hamba-hamba-Ku yang ada dalam genggaman kekuasaan-Ku, seperti para malaikat, Isa putra Maryam dan berhala-berhala yang mereka sembah, dapat mereka jadikan penolong untuk menyelamatkan diri dari kemurkaan dan azab-Ku?

Sangkaan mereka itu adalah sesat dan salah belaka dan Allah dengan tegas menyatakan lagi, “Kami telah menyediakan neraka Jahannam bagi orang-orang kafir sebagai tempat tinggal dan sebagai ganti dari apa-apa yang mereka sajikan untuk sembahan-sembahannya.

Ayat 103

Ayat ini menjelaskan perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada orang-orang yang membantahnya di antara Ahli-ahli Kitab yaitu Yahudi dan Nasrani, “Maukah kamu diberi tahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya yaitu orang-orang yang telah bersusah payah mengerjakan suatu perbuatan yang dengan perbuatan itu ia mengharap pahala dan karunia, tetapi yang mereka peroleh hanyalah malapetaka dan kebinasaan, seperti orang-orang yang telah membeli barang dengan mengharapkan keuntungan, tetapi yang diperolehnya hanyalah kerugian belaka.

Ayat 104

Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam menghimpun kebaikan di dunia, mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan perbuatan yang diridai Allah dan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat yang sebaik-baiknya. Kemudian ternyata mereka telah berbuat keliru dan menempuh jalan yang sesat sehingga amal perbuatan yang telah mereka kerjakan itu tidak memberi manfaat sedikit pun bagaikan debu yang terbang habis dihembus angin.

Ayat 105

Mereka yang sia-sia usahanya itu ialah orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan dan kufur pula terhadap hari kebangkitan padahal di hari itu mereka akan dihadapkan kepada hari perjumpaan dengan Allah. Oleh karena itu segala amal mereka akan hapus sehingga tidak ada lagi amal kebajikan yang akan ditimbang di atas neraca timbangan mereka. Karena yang akan memberatkan timbangan pada hari Kiamat hanyalah amal saleh yang bersih dari kemusyrikan.

Ayat 106

Balasan yang demikian itu diakibatkan kekafiran mereka kepada utusan-utusan Allah dan mukjizat-mukjizat yang dibawanya yang selalu mereka jadikan sebagai olok-olok. Mereka bukan hanya tidak percaya saja tetapi juga memperolok-olok dan menghinakan utusan-utusan Allah yang berarti pula menghinakan Allah yang mengutusnya.

Ayat 107

Sesungguhnya orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan membenarkan risalah para rasul dan berbuat amal saleh semata-mata untuk mencapai keridaan-Nya, bagi mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal. Diriwayatkan oleh al-Bukhāri dan Muslim dari Abu Hurairah ra, bersabda Rasulullah saw:

اِذَا سَأَلْتُمُ الله َفَاسْأَلُوْهُ الْفِرْدَوْسَ فَاِنَّهَا اَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَاَعْلَى الْجَنَّةِ وَفَوْقَهَا عَرْشُ الرَّحْمٰنِ تَبَارَكَ وَتَعَالىٰ وَمِنْهُ تُفَجِّرُ اْلاَنْهَارُ. (رواه البخاري ومسلم عن ابى هريرة)

Apabila kamu memohon kepada Allah, maka mohonlah surga Firdaus, karena ia itu surga yang paling mulia dan yang paling tinggi dan di atasnya terdapat Arsy Ar Rahmàn, dan dari surga Firdaus itu mengalirlah sungai-sungai surga. (Riwayat al-Bukhāri dan Muslim dari Abu Hurairah)

Ayat 108

Mereka kekal di dalam surga dan tidak ingin pindah ke tempat lain, karena tidak ada tempat yang lebih mulia dan lebih agung pada sisi mereka kecuali surga Firdaus.

Ayat 109

Diriwayatkan bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Nabi Muhammad, “Engkau mengatakan bahwa kami telah diberi oleh Allah hikmah, sedang dalam kitab engkau (Al-Qur’an) terdapat ayat:

وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ

Dan barangsiapa dianugerahkan al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. (al-Baqarah/2: 269)

Kemudian engkau mengatakan pula sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an:

وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (al-Isrā’/17: 85)

Mereka berpendapat, ada pertentangan antara kedua ayat ini, maka turunlah ayat ini sebagai jawaban atas kritikan mereka. Rasul diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka, “Katakanlah kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menuliskan (dengan pena) kalimat-kalimat Tuhanku dan ilmu-ilmu-Nya, maka akan habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku meskipun air laut itu ditambahkan sebanyak itu pula, karena lautan itu terbatas sedangkan ilmu dan hikmah Allah tidak terbatas.”

Seperti firman Allah:

وَلَوْ اَنَّ مَا فِى الْاَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ اَقْلَامٌ وَّالْبَحْرُ يَمُدُّهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖ سَبْعَةُ اَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمٰتُ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Luqmān/31: 27)

Ayat 110

Dalam Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 101-110 ini, Katakanlah kepada mereka, “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, mengakui bahwa semua ilmuku tidak sebanding dengan ilmu Allah, aku mengetahui sekedar apa yang diwahyukan Allah kepadaku, dan tidak tahu yang lainnya kecuali apa yang Allah ajarkan kepadaku. Allah telah mewahyukan kepadaku bahwa, “Yang disembah olehku dan oleh kamu hanyalah Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak ada sekutu bagi-Nya.”

Oleh karena itu barangsiapa yang mengharapkan pahala dari Allah pada hari perjumpaan dengan-Nya, maka hendaklah ia tulus ikhlas dalam ibadahnya, mengesakan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah-Nya dan tidak syirik baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi seperti riya, karena berbuat sesuatu dengan motif ingin dipuji orang itu termasuk syirik yang tersembunyi.

Setelah membersihkan iman dari kemusyrikan itu hendaklah selalu mengerjakan amal saleh yang dikerjakannya semata-mata untuk mencapai keridaan-Nya.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

اِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُوْلُ: اَنَا اَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ فَمَنْ عَمِلَ عَمَلاً اَشْرَكَ فِيْهِ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ. (رواه مسلم عن ابي هريرة)

Sesungguhnya Allah berfirman, “Saya adalah yang paling kaya di antara semua yang berserikat dari sekutunya. Dan siapa yang membuat suatu amalan dengan mempersekutukan Aku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya.” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

(Tafsir Kemenag)