Beranda blog Halaman 338

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 1-5

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 1-5 mengulas tentang tujuan diturunkannya Alquran dan tugas Nabi Muhammad diutus oleh Allah. Khususnya dalam ayat 2 pada Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 1-5 ini dijelaskan bahwa Alquran itu lurus tidak melebih-lebihkan peraturan dan tidak pula memberatkan umat Islam.


Baca Juga: Pembukaan Awal Tafsir Surah al-Kahfi: Kisah dan Keutamaan Membaca Surah al-Kahfi


Ayat 1

Dalam ayat ini Allah swt memuji diri-Nya, sebab Dialah yang menurunkan kitab suci Al-Qur’an kepada Rasul saw sebagai pedoman hidup yang jelas. Melalui Al-Qur’an, Allah memberi petunjuk kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Ayat Al-Qur’an saling membenarkan dan mengukuh-kan ayat-ayat lainnya, sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan.

Nabi Muhammad saw yang menerima amanat-Nya menyampaikan Al-Qur’an kepada umat manusia, disebut dalam ayat ini dengan kata ‘hamba-Nya’ untuk menunjukkan kehormatan yang besar kepadanya, sebesar amanat yang dibebankan ke pundaknya.

Ayat 2

Allah swt menerangkan bahwa Al-Qur’an itu lurus, yang berarti tidak cenderung untuk berlebih-lebihan dalam memuat peraturan-peraturan, sehingga memberatkan para hamba-Nya. Tetapi juga tidak terlalu singkat sehingga manusia memerlukan kitab yang lain untuk menetapkan peraturan-peraturan hidupnya. Al-Qur’an diturunkan kepada Muhammad saw agar beliau memperingatkan orang-orang kafir akan azab yang besar dari Allah, karena keingkaran mereka kepada Al-Qur’an.

Juga memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan memperoleh pahala yang besar dari-Nya, karena keimanan mereka kepada Allah dan rasul-Nya, serta amal kebajikan yang mereka lakukan selama hidup di dunia.

Ayat 3

Pahala yang besar itu tidak lain adalah surga yang mereka tempati untuk selama-lamanya, mereka tidak akan pindah atau dipindahkan dari surga itu, sesuai dengan janji Allah swt kepada mereka.

 Firman Allah swt:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِيْٓ اُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan. (az-Zukhruf/43: 72);

Ayat 4

Dalam ayat ini Allah kembali menyebutkan tugas Rasulullah untuk memberikan peringatan kepada kaum kafir, karena kekufuran mereka dipandang perkara besar oleh Allah, terutama orang-orang kafir yang mengatakan Allah itu mempunyai anak.

Mereka itu terbagi menjadi tiga golongan, yaitu: pertama, golongan musyrikin Mekah (Arab) yang mengatakan bahwa malaikat-malaikat itu putri Tuhan; kedua, golongan orang Yahudi yang mengatakan bahwa Uzair putra Tuhan; dan ketiga, golongan orang Nasrani yang mengatakan bahwa Isa putra Tuhan.

 Al-Qur’an diturunkan ke dunia untuk mengembalikan kepercayaan umat manusia kepada tauhid yang murni. Banyak ayat-ayat yang mengancam berbagai kepercayaan kepada selain Allah yang dianggap sebagai keyakinan yang sangat keliru.

 Firman Allah swt:

وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرُ ِۨابْنُ اللّٰهِ وَقَالَتِ النَّصٰرَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِاَفْوَاهِهِمْۚ يُضَاهِـُٔوْنَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ ۗقَاتَلَهُمُ اللّٰهُ ۚ اَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ

Dan orang-orang Yahudi berkata, ”Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani  berkata, ”Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai  berpaling? (at-Taubah/9: 30);

Ayat 5

Anggapan mereka bahwa Allah mempunyai anak sama sekali tidak didasarkan atas pengetahuan dan keyakinan mereka sendiri, tetapi didasarkan atas persangkaan yang tidak benar atau taklid buta kepada nenek moyang mereka. Padahal, nenek moyang mereka itu juga tidak mempunyai pengetahuan dan dasar keyakinan tentang kepercayaan yang demikian.

Sungguh terlalu jelek ucapan mereka itu, yang tidak lahir dari pikiran yang sehat, tetapi begitu saja keluar dari mulut yang lancang. Allah menegaskan bahwa apa yang diucapkan mereka itu adalah kekafiran yang sangat besar, karena tidak didasarkan atas keyakinan, dan tidak patut diucapkan oleh seorang manusia.

Kelancangan mereka mengucapkan kalimat kufur itu ditegaskan Allah sebagai suatu kebohongan, yang tidak mengandung kebenaran. Allah swt mengingatkan Rasul untuk memerintah-kan kepada umatnya supaya kembali kepada agama tauhid, sebagaimana yang diajarkan Al-Qur’an.

Firman Allah:

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ

Katakanlah (Muhammad), ”Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. (Ali ‘Imran/3: 64)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 6-8


Tafsir Surah An-Naml ayat 89-93

0
Tafsir Surah An Naml

Tafsir Surah An-Naml ayat 89-93 ini menjelaskan tentang orang beriman yang melaksanakan amal sholeh akan memperoleh balasan dari amal baiknya. Dan dijelaskan pula dalam Tafsir Surah An-Naml ayat 89-93 ini bahwa yang menyekutukan Allah akan mendapat balasan setimpal pula.

Penutup Tafsir Surah An-Naml ayat 89-93 ini mengisahkan bahwa Al-Quran diturunkan sebagai kabar gembira.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah An-Naml ayat 88


Ayat 89

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang beriman kepada Allah dan melaksanakan amal kebajikan, akan memperoleh balasan yang lebih baik dari amalnya sendiri, dan diberi tempat kediaman yang nyaman dan kekal dalam surga Na’im, mereka aman tenteram dari kejutan yang dahsyat pada hari Kiamat itu.

Ayat 90

Sebaliknya barang siapa yang menyekutukan Allah dan berbuat kejahatan, maka wajah mereka disungkurkan ke dalam neraka seraya dikatakan kepada mereka, “Kamu tidak mendapat balasan, melainkan setimpal dengan kemusyrikan dan kejahatan yang dahulu kamu kerjakan di dunia, sehingga menjadi sebab datangnya kemurkaan Allah.”

Ayat 91

Pada ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya menyampaikan kepada orang-orang musyrik Mekah bahwa beliau hanya disuruh Allah menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) yang telah dijadikan sebagai tanah Haram (Tanah Suci), diharamkan adanya pertumpahan darah atau berbuat kezaliman terhadap siapa pun di sana.

Penyebutan negeri Mekah secara khusus pada ayat ini karena di sana terdapat Ka’bah, yaitu rumah peribadatan yang pertama kali dibangun di muka bumi ini sebagai tempat manusia menghadap ketika salat di mana pun mereka berada, sesuai dengan firman-Nya:

اِنَّ اَوَّلَ بَيْتٍ وُّضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِيْ بِبَكَّةَ مُبٰرَكًا وَّهُدًى لِّلْعٰلَمِيْنَۚ

Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. (Ali ‘Imran/3: 96) ;Adapun yang wajib disembah hanya Allah, bukan berhala-berhala yang oleh diletakkan kaum musyrikin di sana, sesuai dengan firman Allah:

فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِۙ  ٣  الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ ࣖ  ٤

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan. (Quraisy/106 : 3-4).

Ini merupakan celaan yang keras kepada orang-orang kafir Mekah yang tidak menyembah Allah yang mempunyai Baitullah, tetapi menyembah berhala-berhala yang mereka tempatkan di sekitarnya. Kepunyaan Allah segala sesuatu, baik di langit maupun bumi, dari segi ciptaan, pemilikan, dan pengurusannya, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Oleh karena itu, hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah dan kepada-Nya Nabi saw diperintahkan supaya berserah diri dengan penuh keikhlasan dan ketauhidan yaitu jalan lurus atau agama Islam, sesuai dengan firman-Nya:

قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰىنِيْ رَبِّيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ەۚ دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.”(al-An’am/6: 161)

Ayat 92

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw diperintahkan supaya membacakan Al-Qur’an kepada manusia, untuk mengungkap makna dan rahasia yang terkandung di dalamnya, dan menyerap dalil-dalil tentang kekuasaan Allah yang dapat dilihat pada alam semesta. Dengan demikian, beliau dapat menyelami hakikat hidup yang sebenarnya dan menerima limpahan karunia Allah kepadanya.

Nabi saw mengulang bacaan ayat itu beberapa puluh kali sampai terbit fajar. Ketika membacanya tampaklah bagi beliau beberapa rahasia yang terkandung di dalamnya, sehingga beliau merasakan faedah membaca ayat Al-Qur’an serta memahami isinya, sesuai dengan firman-Nya:

ذٰلِكَ نَتْلُوْهُ عَلَيْكَ مِنَ الْاٰيٰتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ

Demikianlah Kami bacakan kepadamu (Muhammad) sebagian ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah. (Ali Imran/3: 58)

Firman Allah yang lain:

كَذٰلِكَ اَرْسَلْنٰكَ فِيْٓ اُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَآ اُمَمٌ لِّتَتْلُوَا۟ عَلَيْهِمُ الَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ

Demikianlah, Kami telah mengutus engkau (Muhammad) kepada suatu umat yang sungguh sebelumnya telah berlalu beberapa umat, agar engkau bacakan kepada mereka (Al-Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu. (ar-Ra’d/13: 30)

Barang siapa yang mengikuti ajaran Al-Qur’an, beriman kepada Nabi Muhammad, dan menerima petunjuknya, maka sungguh ia telah menempuh jalan lurus menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Petunjuk itu adalah untuk kebaikan dirinya sendiri. Akan tetapi, barang siapa yang sesat, dan menyeleweng dari jalan lurus yang telah dirintis oleh Nabi, maka kemudaratan akan dirasakan oleh mereka sendiri. Nabi saw tidak akan menderita kerugian apa pun sebab tugas beliau hanya sekadar memberi peringatan sesuai dengan firman Allah:

فَاِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلٰغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ

Maka sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, dan Kamilah yang memperhitungkan (amal mereka). (ar-Ra’d/13: 40)

Dan firman Allah:

اِنَّمَآ اَنْتَ نَذِيْرٌ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ

Sungguh, engkau hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah pemelihara segala sesuatu. (Hud/11: 12) ;

Ayat 93

Pada ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad, yang telah menyampaikan kabar gembira kepada kaum Muslimin yang mengikuti petunjuknya, dan memberi peringatan kepada mereka yang mengingkarinya, untuk mengatakan bahwa segala puji bagi Allah atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya. Di antaranya adalah nikmat kenabian dan kerasulan, yang menyebabkan datangnya nikmat-nikmat yang lain, baik kenikmatan di dunia maupun akhirat.

 Allah telah memberi taufik kepada Nabi untuk memikul segala beban dalam melaksanakan seruan agama, dalam rangka ketaatan dan kepatuhan kepada Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih, Yang telah menyediakan keridaan dan pahala yang besar bagi hamba-hamba-Nya yang tulus ikhlas.

Allah telah memberikan kepada Nabi berbagai mukjizat, yang menunjukkan kebenaran risalah-Nya dan taufik untuk mengikuti jalan agama yang lurus. Rasul ingin sekali supaya umatnya membuka hati untuk dapat melihat bukti-bukti kebenaran. Akan  tetapi, setan dan hawa nafsu telah sedemikian rupa mengelabui mata penglihatan mereka sehingga tidak dapat melihat kenyataan yang sebenarnya.

Jika mereka masih tetap juga membangkang dan keras kepala, maka ingatlah bahwa semua manusia akan mati. Mereka semua pada hari Kiamat akan dibangkitkan dari kuburan masing-masing dan dihadapkan ke hadirat Allah, yang akan memeriksa semua perbuatan yang mereka lakukan di dunia. Di sanalah nanti Allah akan memperlihatkan kepada orang-orang yang membangkang tanda-tanda kebesaran-Nya.

Di sana juga nanti Allah akan memperlihatkan kepada mereka azab-Nya yang sangat pedih, sehingga mereka akan mengetahuinya. Di sana jugalah nanti mereka akan mengemukakan penyesalan yang tiada terhingga atas kekafiran mereka terhadap risalah nabi. Penyesalan yang tiada arti dan manfaat lagi karena mereka telah menyia-nyiakan kesempatan dan umur yang telah lewat itu, sedang Tuhan tidak lalai dari apa yang mereka kerjakan.

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah An-Naml ayat 88

0
Tafsir Surah An Naml

Tafsir Surah An-Naml ayat 88 menerangkan bahwa ketika kiamat gunung-gunung yang kokoh di muka bumi ini aka dicabut dan diterbangkan bagai bulu di udara. Dijelaskan pula dalam Tafsir Surah An-Naml ayat 88 ini bahwa ketika tiupan sangkakala yang kedua maka kejadian-kejadian dahsyat yang tak dapat dihindari manusia terjadi.

Selengkapnya Tafsir Surah An-Naml ayat 88 tentang dahsyatnya hari kiamat….


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah An-Naml ayat 82-87


Ayat 88

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa gunung-gunung yang sekarang kelihatannya kokoh berdiri di tempatnya, nanti pada hari Kiamat akan dicabut dari bumi kemudian diterbangkan bagaikan bulu di udara dan berjalannya awan. Firman Allah:

وَتَكُوْنُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِۙ

Dan gunung-gunung bagaikan bulu (yang beterbangan). (al-Ma’arij/70: 9)

Ada dua pendapat ulama tafsir mengenai pernyataan ayat ini bahwa gunung-gunung akan diterbangkan di udara seperti jalannya awan, atau dalam ayat lain seperti bulu ditiup oleh angin. Pendapat pertama, yang merupakan pendapat sebagian besar mufasir, mengemukakan bahwa ayat ini berhubungan dengan peristiwa hari Kiamat, seperti dalam firman Allah:

  يَّوْمَ تَمُوْرُ السَّمَاۤءُ مَوْرًاۙ   ٩  وَّتَسِيْرُ الْجِبَالُ سَيْرًاۗ   ١٠

Pada hari (ketika) langit berguncang sekeras-kerasnya, dan gunung berjalan (berpindah-pindah). (ath-Tur/52: 9-10 )

Dan firman-Nya:

وَّسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًاۗ

Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana. (an-Naba’/78: 20)

Dalam firman-Nya yang lain:

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْاَرْضُ غَيْرَ الْاَرْضِ وَالسَّمٰوٰتُ وَبَرَزُوْا لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi di ganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa. (Ibrahim/14: 48)

Kejadian-kejadian yang amat dahsyat ini terjadi pada hari Kiamat setelah tiupan sangkakala yang kedua kalinya, dimana semua manusia dibangkitkan dari kuburnya dan mereka menyaksikan segala macam peristiwa yang sangat dahsyat itu dengan sikap yang berbeda-beda.

Pendapat yang kedua mengenai tafsir ayat 88 ini, yakni pendapat ulama ahli falak, menyatakan bahwa ayat ini bukan berhubungan dengan peristiwa hari Kiamat, tetapi dengan fenomena alam di dunia.

Ayat ini mengatakan, “Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan.” Ia dijadikan dalil bahwa bumi berputar seperti planet-planet lain pada garis edar yang telah ditentukan, hanya saja manusia sebagai penghuni bumi tidak merasakannya.

Alasan ulama falak, bahwa ayat 88 ini berhubungan dengan peristiwa sekarang dan bukan dengan peristiwa hari Kiamat, adalah:

  1. Ayat ini tidak dapat dimasukkan dalam kategori ancaman atau menakut-nakuti dengan kedahsyatan hari Kiamat karena di belakangnya di sambung dengan kata-kata: (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Oleh karena itu, ayat ini lebih tepat bila dihubungkan dengan masa sekarang, di mana manusia sebagai penghuni bumi menyangka bahwa bumi ini diam, demikian pula gunung-gunung yang berada di atas permukaannya. Padahal, bumi bersama gunung-gunung itu berjalan atau beredar sebagai jalannya awan.
  2. Gunung-gunung itu diterbangkan untuk dihancurkan pada hari Kiamat, dan terjadi bersamaan dengan kehancuran alam semesta, termasuk kematian seluruh manusia. Hanya beberapa malaikat saja yang tetap hidup. Jika pada hari setelah tiupan sangkakala yang pertama tidak ada lagi manusia yang hidup, bagaimana dapat dikatakan bahwa nanti mereka akan melihat gunung-gunung yang disangka diam, padahal ia berjalan seperti jalannya awan.
  3. Orang-orang di Padang Mahsyar yang menyaksikan gunung-gunung berjalan seperti jalannya awan, tentu sadar dan melihat dengan mata kepala sendiri sehingga tidak pantas dikatakan bahwa mereka menyangka gunung-gunung itu diam saja di tempatnya. Berlainan sekali jika dihubungkan dengan masa sekarang, karena memang manusia tidak dapat merasakan bahwa gunung-gunung itu bergerak dan berjalan di angkasa sebagaimana jalannya awan, karena gunung-gunung itu ikut bergerak bersama bumi, dan udara yang ada di sekitarnya. Dengan pengertian yang demikian, maka barulah cocok dengan kata-kata: (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Kata-kata yang indah ini tidak patut dikemukakan pada konteks hari Kiamat yang penuh dengan ancaman dan ketakutan terhadap kehancuran seluruh alam semesta.

Demikianlah kedua pendapat tentang tafsir ayat 88 ini. Sebagian besar mufasir menerangkan bahwa ayat itu berhubungan dengan peristiwa hari Kiamat. Sebagian lagi yang terdiri dari ulama falak menerangkan bahwa ayat itu berhubungan dengan peristiwa sekarang, dan dijadikan dalil bahwa semua yang ada di atas bumi termasuk gunung-gunung bergerak, berjalan di angkasa sebagaimana berjalannya awan.

Perbedaan penafsiran itu tidak mengenai pada tataran arti, namun hanya menyangkut waktu terjadinya. Karena kejadian ini termasuk dalam alam gaib, maka lebih baik perhatian manusia dititikberatkan kepada perbaikan amalnya. Oleh karena itu, pada akhir ayat itu dinyatakan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang dikerjakan manusia.

Menurut pandangan saintis, bumi merupakan planet terbesar kelima dari sembilan planet yang ada di tata surya. Bentuknya mirip dengan bola bundar, dengan keliling sekitar 12.743 km. Luas permukaan bumi diperkirakan sekitar 510 juta km2. Sekitar 29% permukaan bumi adalah daratan, sedangkan sisanya berupa lautan.

Bumi terdiri dari beberapa lapisan yang secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian. Bagian paling atas disebut kerak bumi dan ketebalannya bervariasi dari 0-100 km di mana ke arah kontinen makin menebal. Di bawahnya terdapat mantel dengan kedalaman sampai 2.900 km. Bagian paling dalam disebut inti bumi dengan kedalaman dari 2.900-6.370 km. Pembagian ini didasarkan pada analisa gelombang gempa dan masing-masing bagian tersebut mempunyai sifat fisis yang berbeda. Inti bumi misalnya mempunyai sifat fisis layaknya benda cair. Pembagian ini pada dasarnya dapat diperinci lebih detail. Manusia berada pada lapisan bumi bagian atas, yakni kerak bumi.

Sampai paruh abad 20, bidang kebumian ditandai oleh perdebatan tentang continental drift (kontinen yang mengapung). Mereka yang tidak setuju, disebut fixists, sedang yang setuju disebut mobilists. Menurut kubu mobilist, continental mengapung dan bergerak di atas mantel. Kalau kita melihat peta dunia, maka dengan amat mudah kita melihat benua Afrika dan benua Amerika [Selatan] bila diimpitkan, maka garis pantai keduanya relatif berimpit. Jadi, pada dasarnya semua benua yang ada semula berupa satu benua yang satu, yang disebut Pangea, kemudian pecah dan bergerak ke tempat yang sekarang kita lihat. Data ilmiah seperti data kemagnitan purba, kesamaan fosil maupun kesamaan formasi geologi mendukung teori ini. Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan.

Perdebatan ini terus berlangsung dan puncaknya pada tahun enam puluhan. Pada saat itu, terjadilah  revolusi pemikiran di bidang ilmu geologi dan pemikiran kaum mobilists mulai diterima secara luas. Penemuan punggungan tengah samudra di Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik yang didukung data geologi dan geofisika, khususnya data magnetik, memperlihatkan adanya pemekaran dasar samudra di mana dua lempeng saling bergerak menjauh. Pada lantai samudra ini, magma dengan suhu sangat tinggi yang berasal dari mantel bumi naik ke atas membentuk punggungan tengah samudra

Dari dua konsep di atas, Apungan Benua dan Pemekaran Samudra, lahir konsep Tektonik Lempeng yang berkembang sangat cepat sejak tahun 1967 dan memiliki implikasi terhadap seluruh aspek geologi termasuk gempa bumi, gunung api, sampai pada perkembangan cekungan hidrokarbon maupun endapan-endapan mineral. Teori ini mengatakan bahwa bumi bagian atas terdiri dari lempengan-lempengan litosfer yang terdiri dari kerak bumi dan mantel bagian atas yang mengapung dan bergerak di atas bagian mantel yang disebut astenosfer.

Lempeng-lempeng litosfer bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Pada tempat-tempat saling bertemu, pertemuan lempengan ini  menimbulkan gempa bumi. Sebagai contoh adalah Indonesia yang merupakan tempat pertemuan tiga lempeng: Eurasia, Pasifik, dan Indo-Australia. Bila dua lempeng bertemu, maka terjadi tekanan (beban) yang terus menerus, dan bila lempengan tidak tahan lagi menahan tekanan (beban), maka lepaslah beban yang telah terkumpul ratusan tahun itu, dan dikeluarkan dalam bentuk gempa bumi, seperti firman Allah:

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَرْضُ زِلْزَالَهَاۙ  ١  وَاَخْرَجَتِ الْاَرْضُ اَثْقَالَهَاۙ  ٢  وَقَالَ الْاِنْسَانُ مَا لَهَاۚ  ٣  يَوْمَىِٕذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَاۙ  ٤

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya. (al-Zalzalah/99: 1-4)

Pada hari itu, bumi menceritakan beritanya. Beban berat yang dikeluarkan dalam bentuk gempa bumi merupakan satu proses geologi yang berjalan bertahun-tahun. Begitu seterusnya, setiap selesai beban dilepaskan, kembali proses pengumpulan beban terjadi. Proses geologi atau berita geologi ini dapat direkam, baik secara alami maupun dengan menggunakan peralatan geofisika ataupun geodesi.

Sebagai contoh adalah gempa-gempa yang beberapa puluh atau ratus tahun yang lalu, peristiwa pelepasan beban direkam dengan baik oleh terumbu karang yang berada dekat sumber gempa. Pada masa modern, pelepasan energi ini terekam oleh peralatan seismograf (pencatat gempa) maupun peralatan geodesi yang disebut GPS (Global Position System).

(Tafsir Kemenang)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah An-Naml ayat 89-93


Perintah Mendo’akan Orang yang Berzakat: Surah At-Taubah Ayat 103

0
Mendo’akan Orang yang Berzakat: Surah At-Taubah Ayat 103
Zakat

Diantara keistimewaan orang yang berzakat (muzakki) adalah mendapatkan rahmat Allah, dihapus dosanya, dilipat gandakan pahalanya, diberkahi hartanya dan sebagainya. Bahkan Allah SWT secara khusus memerintahkan kepada orang yang menerima zakat untuk mendo’akan muzakki. Perintah itu termuat dalam Al-Qur’an Surah At-Taubah ayat 103, Allah SWT berfirman:

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan do’akanlah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Seringkali mendo’akan muzakki ini terlupakan dan menganggap cukup dengan ucapan terimakasih kepada muzakki, maka tidak heran jika ada perintah tersendiri.

Baca juga: Tafsir Surah Al-A’raf Ayat 199: Tiga Prinsip Utama dalam Bergaul

Pada ayat tersebut ada kata وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡ dan do’akanlah untuk mereka” yang berbentuk fi’il amr (kata perintah). Pertanyaannya, apakah wajib hukumnya mendo’akan muzakki atau sebatas sunnah? Bagaimana lafadz atau redaksi do’anya? Tulisan ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Mendo’akan Untuk Muzakki, Wajib atau Sunnah?

Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat. Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir (VI/35-36) menyebutkan ada dua pendapat, beliau berkata:

يَجِبُ عَلَى الْإِمَامِ أَوْ نَائِبِهِ إِذَا أَخَذَ الزَّكَاةَ أَنْ يَدْعُوَ لِلْمُتَصَدِّقِ بِالْبَرَكَةِ، وَهَذَا رَأْيُ الظَّاهِرِيَّةِ. وَأَمَّا سَائِرُ الْأَئِمَّةِ فَحَمِلُوْا الْأَمْرَ عَلَى النَّدْبِ وَالْاِسْتِحْبَابِ

Bagi imam atau penggantinya ketika mereka mengambil zakat wajib mendo’akan keberkahan untuk orang yang berzakat. Ini pendapatnya Dhohiriyyah. Adapun imam madzhab yang lain mengarahkan perintah ini ke dalam hukum nadb atau sunnah.

Syekh Wahbah Az-Zuhaili juga menyebutkan alasan dari pendapat kedua ini, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW memerintah Mu’adz dalam suatu hadits yang disepakati oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Ibnu Abbas: Beritahukan mereka bahwa mereka wajib mengeluarkan zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka, dan dibagikan kepada orang-orang fakir mereka. Nabi tidak memerintahkan untuk mendo’akan mereka dan ketika orang-orang fakir mengambil haknya mereka tidak diwajibkan mendoa’akan.

Namun, dikalangan ulama syafi’iyah sendiri juga ada yang mewajibkan mendo’akannya. Imam Nawawi Ad-Dimasyqi dalam kitab Al-Adzkar An-Nawawiyah (315) menjelaskan bahwa do’a ini disunahkan bagi penerima zakat, baik penarik zakat atau orang-orang fakir. Menurut yang masyhur dari madzhab kita dan madzhab selain kita, mendo’akan ini tidak wajib. Sebagian ulama kita mengatakan wajib, karena perkataan Imam Syafi’I “Wajib bagi pemimpin (wali) mendo’akannya” dan dalilnya adalah dhohirnya ayat tersebut.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Bolehkah Menyerahkan Zakat kepada Keluarga Sendiri?

Doa untuk Orang yang Berzakat Menurut Hadis

Berkaitan dengan redaksi do’a, ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dari Abdullah bin Abi Aufaa, dia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِمْ فَأَتَاهُ أَبُوْ أَوْفَى بِصَدَقَتِهِ، فَقَالَ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِيْ أَوْفَى

“Bila ada satu kaum yang datang membawakan zakat mereka kepada Rasulullah SAW, beliau selalu membaca, “Ya Allah, berilah shalawat kepada mereka.” Kemudian datanglah Abu Aufaa dengan membawa zakatnya, Rasulullah SAW berdoa, “Ya Allah, berilah shalawat kepada keluarga Abi Aufaa”

Sholawat di sini yang dimaksud adalah rahmat (الرحمة) dan memintakan rahmat (الترحم). Berkaitan dengan ini, Syekh Muhammad Amin Al-Harari dalam Tafsir Hadaiq Ar-Rauh Wa Ar-Raihan (XII/27) menyebutkan, bahwa sholawat dari Allah SWT kepada para hambanya itu merupakan rahmat untuk mereka, sholawat dari malaikat itu memintakan ampun untuk mereka, sholawat dari orang-orang mukmin kepada Nabi SAW itu merupakan do’a untuknya.

Lebih lanjut, para ulama berbeda pendapat dalam kebolehan mendo’akan dengan redaksi sebagaimana hadits tersebut. Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsirnya menjelaskan, para ulama Hanabilah dan Dhohiriyyah berpendapat dalam masalah do’a tidak ada larangan bagi orang yang menerima zakat untuk berdoa, اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ فُلَانٍ (Ya Allah, berilah shalawat kepada keluarga fulan). Sementara para ulama lainnya berpendapat tidak boleh berdo’a dengan ungkapan seperti itu, karena lafadz shalawat itu dikhususkan untuk para nabi ‘Alaihissalam.

Imam Nawawi Ad-Dimasyqi dalam Al-Adzkar-nya mengutip perkataan ulama, bahwa tidak disunahkan berdo’a: “Ya Allah, berilah shalawat kepada keluarga fulan.” Kemudian beliau juga menjelaskan berkaitan dengan perkataan Nabi Muhammad SAW “Ya Allah, berilah shalawat kepada keluarga Abi Aufaa”, bahwa lafadz sholawat itu dikhususkan untuknya. Maka Nabi SAW boleh mengucapkan dengan lafadz sholawat kepada siapa saja yang beliau kehendaki, berbeda dengan kita.

Baca juga: Pesan Prof Said Agil (2): 3 Keutamaan Rasulullah Sebagai Rahmatan Lil Alamin

Berbeda halnya ketika mengikutkan penyebutan selain para nabi setelah mereka, tentu tidak ada perselisihan diantara para ulama mengenai diperbolehkannya hal tersebut. Imam Nawawi Ad-Dimasyqi dalam Al-Adzkar-nya dan Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munirnya juga menjelaskan mengenai permasalahan tersebut.

Selain itu, ada juga sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i, mengenai seseorang yang dimintai zakat. Namun, dia malah memberikan zakat berupa unta yang kurus. Rasulullah SAW mendo’akannya supaya dia dan untanya tidak diberkahi. Akhirnya orang itu bertaubat dan menemui Rasulullah SAW dengan membawa zakat berupa unta yang baik. Kemudian beliau mendo’akannya dengan do’a اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ وَفِيْ إِبِلِهِ “Ya Allah, berkahilah dia dan untanya.

Berdasarkan riwayat hadits di atas, maka boleh juga berdo’a dengan redaksi:

اللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ وَفِيْ أَمْوَالِهِ

(Ya Allah, berkahilah dia dan harta-hartanya).

Selain itu, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam tafsirnya Marah Labid (I/337) juga mengutip do’a pilihan Imam Syafii RA, beliau berkata disunnahkan bagi imam ketika mengambil zakat untuk mendo’akan dengan do’a ini:

آجَرَكَ اللهُ فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَبَارَكَ لَكَ فِيْمَا أَبْقَيْتَ، وَجَعَلَهُ لَكَ طَهُوْرًا

“Semoga Allah membalas apa yang telah kamu berikan, memberkahi untukmu apa yang kamu sisakan, dan menjadikannya sebagai pembersih bagimu”.

Baca juga: Kisah Perhatian Nabi Muhammad Terhadap Anak Yatim Terutama di Hari Raya

Dalam kitab Nihayatuz Zain (177) Syekh Nawawi Al-Bantani juga menyebutkan sebuah do’a yang redaksinya berbeda, yaitu sebagai berikut:

طَهَّرَ اللهُ قَلْبَكَ فِي قُلُوْبِ الأَبْرَارِ وَزَكَّى عَمَلَكَ فِي عَمَلِ الأَخْيَارِ وَصَلَّى عَلَى رُوْحِكَ فِي أَرْوَاحِ الشُّهَدَاءِ

Semoga Allah menyucikan hatimu dalam hatinya para hamba yang baik-baik. Semoga Allah membersihkan amalmu dalam amalnya para hamba pilihan. Semoga Allah bershalawat untuk ruhmu dalam ruh para syuhada.

Silahkan berdo’a dengan beberapa redaksi di atas atau boleh juga selainnya. Kalau pun tidak bisa menggunakan bahasa arab, maka tidak ada salahnya juga menggunakan bahasa yang lain. Mendo’akan mereka dengan do’a yang terbaik itulah salah satu adab yang diajarkan oleh Allah SWT kepada orang yang menerima zakat.

Semoga kita yang saat ini mengeluarkan zakat diterima oleh-Nya. Begitu juga kita yang saat ini berstatus menerima zakat, semoga di tahun mendatang tidak lagi menjadi orang yang berhak menerima zakat (mustahiq zakat), tetapi meningkat menjadi orang yang mengeluarkan zakat (muzakki). Sekian. Wallahu Ta’ala A’lam.

Tafsir Surah An-Naml ayat 82-87

0
Tafsir Surah An Naml

Tafsir Surah An-Naml ayat 82-87 dijelaskan tentang kemurkaan Allah terhadap manusia yang durhaka ketika hari akhir nanti. Sebelum itu Tafsir Surah An-Naml ayat 82-87 ini juga menceritakan bahwa menjelang datangnya hari kiamat binatang-binatang melata telah memperingati manusia.

Selengkapnya Baca Tafsir Surah An-Naml ayat 82-87


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah An-Naml ayat 79-81


Ayat 82

Pada ayat ini, Allah menjelaskan bila kemarahan dan kemurkaan-Nya telah dijatuhkan kepada manusia yang durhaka, karena meninggalkan perintah dan mengotori kemurnian agama-Nya, maka pada saat menjelang datangnya hari Kiamat, binatang-binatang melata keluar dari bumi dan berbicara kepada mereka dengan lidah yang fasih, bahwa kebanyakan manusia tidak yakin kepada ayat-ayat Allah, dan tidak percaya akan datangnya hari Kiamat.

Ucapan dari binatang melata itu mengandung cercaan dan peringatan yang sangat keras kepada manusia yang berada di sekelilingnya. Keanehan yang akan terjadi sebelum kiamat, di mana seekor binatang melata dapat berbicara memberi peringatan kepada orang-orang yang durhaka, tidak mustahil bagi Allah. Ia dapat memberi kemampuan kepada binatang tersebut untuk berbicara pada saat itu, sesuai dengan firman-Nya:

قَالُوْٓا اَنْطَقَنَا اللّٰهُ الَّذِيْٓ اَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ

Mereka berkata, “Allah yang telah menjadikan kami dapat bicara pasti juga dapat menjadikan segala sesuatu dapat berbicara.” (Fushshilat/41: 21)

Mengenai keluarnya binatang melata dianggap sebagai masalah gaib karena bentuk dan sifatnya tidak disebutkan dalam Al-Qur’an. Keterangan mengenai hal ini hanya terdapat dalam hadis. Di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Abdullah bin amr:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيْثًا لَمْ أَنْسَهُ بَعْدُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ أَوَّلَ اْلآيَاتِ خُرُوْجًا طُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَخُرُوْجُ الدَّابَّةِ عَلَى النَّاسِ ضُحًى وَأَيُّهُمَا مَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا فَاْلأُخْرَى عَلَى إِثْرِهَا قَرِيْبًا. (رواه مسلم)

‘Abdullah bin ‘Amr berkata, “Aku menghafal sebuah hadis dari Rasulullah saw yang tidak akan aku lupakan. Aku mendengar beliau bersabda, ‘Tanda-tanda akan (datangnya kiamat) yang pertama kali muncul adalah terbitnya matahari dari sebelah barat dan keluarnya binatang melata kepada manusia di pagi hari. Manakala salah satu dari dua peristiwa ini terjadi, maka yang satu lagi segera menyusul setelahnya’.” (Riwayat Muslim)

Ayat 83-84

Pada ayat-ayat ini, Allah menerangkan tingkah laku dan perbuatan orang-orang kafir yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya ketika mereka menyaksikan sendiri datangnya hari Kiamat. Pada hari itu, Allah mengumpulkan orang-orang yang mengingkari ayat-ayat-Nya dari setiap umat manusia. Setelah mereka berkumpul di Padang Mahsyar untuk dihisab, mereka semuanya berdiri di hadapan Allah untuk menghadapi berbagai pertanyaan dan pemeriksaan.

Orang-orang kafir dan musyrik mendengar dakwaan yang sangat menusuk perasaan. Di antaranya adalah mengapa mereka telah mengingkari ayat-ayat Allah yang secara jelas memberitahukan akan adanya hari kebangkitan dan hari penghisaban ini.

Mengapa mereka tidak memikirkan persoalan itu, padahal dalil-dalilnya jelas dan gamblang disampaikan oleh rasul-rasul kepada mereka? Mengapa mereka bersikap sombong dan angkuh tidak mau menerima keterangan para rasul itu, padahal mereka tidak memiliki pengetahuan yang pasti dan tidak pernah memikirkannya secara teliti dan sungguh-sungguh.

Ayat 85

Ayat ini menjelaskan bahwa kemurkaan Allah kepada orang-orang yang ingkar itu disebabkan kezaliman mereka sendiri. Mereka tidak dapat berkata apa-apa untuk menolak azab yang akan menimpa mereka seperti tersebut dalam firman Allah:

هٰذَا يَوْمُ لَا يَنْطِقُوْنَۙ  ٣٥  وَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُوْنَ   ٣٦

Inilah hari, saat mereka tidak dapat berbicara, dan tidak diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan agar mereka dimaafkan. (al-Mursalat/77: 35-36)

Ayat 86

Setelah menyampaikan berita yang sangat menakutkan tentang kedahsyatan hari Kiamat, maka Allah pada ayat ini mengemukakan dalil-dalil keesaan-Nya, tentang kepastian akan datangnya hari kebangkitan, dan dalil-dalil yang membenarkan Muhammad saw sebagai utusan Allah. Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah adalah adanya malam dan siang yang datang silih berganti.

Apakah orang-orang yang mengingkari hari Kiamat itu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menjadikan malam untuk beristirahat dari kesibukan dan kelelahan bekerja pada siang hari, waktu untuk berkumpul dan santai dengan keluarga di rumah masing-masing, dan untuk memulihkan kembali seluruh tenaga dan kekuatan guna melanjutkan tugas pada keesokan harinya. Hari yang terang benderang telah menunggu mereka untuk melanjutkan usaha mencari nafkah bagi diri dan keluarganya.

Tidakkah mereka memikirkan bahwa kesemuanya diatur dan dikemudikan oleh Allah Yang Mahakuasa, yang dapat menghidupkan, mematikan, dan membangkitkan mereka setelah mati? Sebagaimana siang dan malam banyak mengandung manfaat dan faedah bagi kehidupan manusia, maka demikian pula diutusnya para rasul itu membawa manfaat yang besar sekali bagi kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sesungguhnya pada kejadian-kejadian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman.

Ayat 87

Pada ayat ini, Allah menggambarkan peristiwa kiamat secara khusus, yaitu pada hari peniupan sangkakala oleh malaikat Israfil. Segala yang ada di langit dan di bumi terkejut, kecuali malaikat Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, dan orang-orang yang beriman.

Tiupan sangkakala itu terjadi dua kali, tiupan pertama yang diberi nama “nafkhah ash-sha’q” menyebabkan matinya semua makhluk selain mereka yang dikecualikan. Kemudian dengan tiupan kedua, mereka semuanya akan dibangkitkan dari kubur mereka masing-masing, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ

Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah). (az-Zumar/39 :68)

Tiupan yang kedua ini diberi nama “nafkhah al-ba’ts” artinya tiupan kebangkitan, seperti dalam firman-Nya:

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَاِذَا هُمْ مِّنَ الْاَجْدَاثِ اِلٰى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَ

Lalu ditiuplah sangkakala, maka seketika itu mereka keluar dari kuburnya (dalam keadaan hidup), menuju kepada Tuhannya. (Yasin/36: 51)

Peristiwa ini disebutkan pula dalam firman Allah:

يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ سِرَاعًا كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَۙ  ٤٣  خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ  ۗذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ ࣖ   ٤٤

(yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), pandangan mereka tertunduk ke bawah diliputi kehinaan. Itulah hari yang diancamkan kepada mereka. (al-Ma’arij/70: 43-44)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah An-Naml ayat 88


Tafsir Surah Al-A’raf Ayat 199: Tiga Prinsip Utama dalam Bergaul

0
Tiga prinsip dalam bergaul
Tiga prinsip dalam bergaul

Hidup di dunia paling mulia adalah menjadi orang baik dalam bergaul. Yakni, menjadi pribadi yang suka berbuat kebaikan dan mengajak kepada kebenaran. Maka, agar dapat melakukannya, manusia harus mau berusaha dan membuktikannya dengan perbuatan yang nyata. Sepakat dengan Kiai Sahal, seorang ulama asal Kajen Pati sekaligus pengusung Fikih Sosial dalam petuahnya bahwa diamnya seseorang saja sudah bernilai baik, lain halnya dengan utilitas yang membutuhkan perjuangan untuk mewujudkannya.

Baca juga: Termasuk Kebaikan Yaitu Kesalehan Sosial, Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 177

Urgensi menjadi manusia yang baik dan bermanfaat adalah selain untuk mengurangi populasi orang-orang bodoh, juga memerangi kebodohan itu sendiri. Mengenai hal ini, Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 199,

خُذِ ٱلْعَفْوَ وَأْمُرْ بِٱلْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ ٱلْجَٰهِلِينَ

Jadilah engkau (Muhammad) pemaaf dan suruhlah orang-orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’raf [7]: 199)

Ayat ini menjelaskan perintah Allah kepada utusan-Nya agar konsisten menggenggam tiga prinsip utama dalam bergaul yaitu murah hati, berseru kepada kebaikan serta menghindari kesia-siaan.

Pengarang Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an, Al-Baghawi menukil penuturan Ibnu Abbas bahwa Allah memberi perintah kepada Nabi saw agar lebih memilih memaafkan moral manusia. Mujahid senada dengan Ibnu Abbas dengan tambahan yakni memaafkan moral dan perilaku manusia tanpa memata-matai. Maksud memaafkan di sini adalah rasa tepa salira (tenggang rasa).

Diriwayatkan saat ayat ini turun, Nabi saw bertanya kepada Jibril as, “Apa maksudnya ayat ini?”, Jibril menjawab, “Aku tidak tahu sampai aku bertanya kepada Allah terlebih dahulu”, Kemudian Jibril kembali lagi dan berkata, “Sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkanmu untuk menjalin dengan orang yang memutus hubungan denganmu, berilah sesuatu kepada mereka yang tidak menghormatimu, dan maafkanlah mereka yang telah menzalimimu”.

Baca juga: Tafsir Surah Hud Ayat 114: Perbuatan yang Dapat Menghapus Dosa

Dalam ibadah sosial, menjalin hubungan baik dalam bergaul tidak hanya kepada teman dan kerabat, juga diperuntukkan kepada orang yang memutus hubungan dengan kita, orang yang tidak mau hormat kepada kita bahkan mereka yang suka zalim kepada kita. Sebuah pelajaran bahwa keburukan harus dibalas dengan kebaikan, bukan dengan kejahatan yang sama apalagi dendam. Dengan prinsip ini, maka potensi hilangnya masalah dan rasa permusuhan akan terminimialisir, syukur kalau kemudian saling berdamai.

Ibnu Abbas, Adh-Dhahhak, dan Al-Kalbi sepakat maksudnya adalah mengambil amnesti pajak, tepatnya sisa harta dari nafkah wajib keluarga. Kata “al-‘afwu” dalam ayat ini sama dengan ayat dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 219, ayat ini turun sebelum zakat diwajibkan kemudian dinasakh.

Lanjut Al-Baghawi menafsiri “wa’mur bil ‘urf” dengan makruf, artinya semua sesuatu yang baik dan sesuai syariat. Sedangkan menurut Atha’ berarti mengucap laa ilaha illallah. Lalu “wa a’ridl ‘anil jahilin” yang dimaksud adalah Abu Jahal dan para komplotannya. Dikatakan bahwa jika ada orang bodoh menipumu maka jangan (membalasnya dengan) membandingkan dia dengan kebodohannya. Sesuai dalam potongan ayat dalam surah Al-Furqan ayat 63,

وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

… Dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan “salam”. (QS. Al-Furqan [23]: 63)

Ayat diatas maksudnya adalah salamul mutarakah, yang berarti salam damai. (Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an/2/260)

Dari sisi hadis, Abu Abdillah Al-Jadali meriwayatkan dari Aisyah yang berkata,

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْجَدَلِيِّ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: “لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَلَا سَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ، وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ”

Nabi saw tidak pernah berkata buruk dan bukanlah orang yang keji, dan tidak berteriak-teriak di pasar. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, justru beliau mengampuni dan  memaafkan. (HR. Ibnu Hibban) (Sahih Ibn Hibban/14/355)

Sedangkan menurut Al-Wahidi dalam tafsirnya, arti “al-‘afwu” adalah memberi tanpa membebani. Maksudnya adalah menerima moral mereka dengan mudah tanpa menginvestigasinya yang dapat memicu kemarahan. Lalu memerintahkan mereka agar berbuat yang baik-baik (makruf), yaitu suatu perbuatan yang setiap orang dapat membenarkannya dan dapat diterima hati. Ini adalah pernyataan Muqatil, Urwah, dan Adh-Dhahhak.

Lanjut Al-Wahidi menafsirkan “berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” yaitu menahan diri saat berhadapan dengan mereka dari kebodohan mereka. Qatadah mengatakan ayat ini mengandung akhlak yang Allah perintahkan kepada Nabi saw, melalui ayat ini pula Allah menunjukkan bahwa ayat ini mencakup seluruh kemuliaan akhlak.

Diriwayatkan bahwa sahabat Ibnu Abbas berkata, ‘Uyaynah ibn Hishn singgah di rumah keponakannya, Al-Hurr ibn Qais. Karena keponakanannya tersebut merupakan salah satu orang yang mempunyai kedekatan dengan Khalifah Umar, maka Uyaynah meminta keponakannya agar memintakannya izin untuk bertemu dengan Umar. Lalu Umar mengizinkan. Masuklah Uyaynah seraya berkata, “Hati-hatilah, hai putra Al-Khattab, demi Allah, engkau tidak memberikan banyak pemberian pada kami dan tidak pula menetapkan hukum di antara kita dengan adil”.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Bolehkah Menyerahkan Zakat kepada Keluarga Sendiri?

Umar meresponsnya dengan marah sehingga hampir saja ia menjatuhkan hukuman padanya. Al-Hurr kemudian berkata, “Ya Amiral Mukminin, sesungguhnya Allah berfirman kepada Nabi-Nya: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh“. Dan ‘Uyainah ini termasuk golongan orang-orang yang bodoh. Demi Allah, Umar tidak melewatkannya ketika Al-Hurr membacakan ayat tersebut. Umar adalah seorang yang amat mematuhi Kitabullah. (At-Tafsir Al-Wasith/2/437-438)

Al-Mawardi dalam tafsirnya menyebutkan, “Bagaimana bisa perintah untuk berpaling (dari orang-orang bodoh) bersamaan dengan perintah kewajiban ingkar kepada mereka?”. Dikatakan pula berpaling di sini adalah saat ada orang-orang bodoh yang suka menganggap remeh. Adapun ayat ini sebagai pesan kepada Nabi saw untuk memberi teladan kepada umatnya. (An-Nukat wa Al-‘Uyun/2/288)

Sepakat dengan Al-Mawardi, Ath-Thabari menambahkan dalam tafsirnya, perintah berpaling ditujukan kepada orang-orang bodoh yang zalim dan memusuhi, bukan orang bodoh yang awam terhadap kewajiban memenuhi hak-hak Allah. Tidak juga bermaksud berpaling untuk berdamai dengan orang kafir yang tidak meyakini keesaan Allah, sedangkan mereka dengan nyata telah memerangi umat islam. (Jami’ul Bayan fi Ta’wil Al-Qur’an/13/332)

Wallahu a’lam.

Tafsir Surah An-Naml ayat 78-81

0
Tafsir Surah An Naml

Pada Tafsir Surah An-Naml ayat 78-81 diterangkan bahwa semua persoalan yang diselisihkan oleh Bani Israil telah diselesaikan oleh Allah. Dijelaskan pula dalam Tafsir Surah An-Naml ayat 78-81 ini bahwa tugas Nabi Muhammad hanyalah menyampaikan risalah, bukan menjadikan orang-orang musyrik beriman.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah An-Naml ayat 64-77


Ayat 78

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa Dia akan menyelesaikan semua persoalan yang diperselisihkan Bani Israil dengan keputusan-Nya yang adil lagi bijaksana. Dengan demikian, yang batil akan mendapat azab, dan yang benar akan diberi pahala sesuai dengan amalnya, karena Allah adalah Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.

Ayat 79

Setelah menerangkan sifat-sifat-Nya Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui, Allah memerintahkan Rasul supaya bertawakal sepenuhnya dan menyerahkan semua urusan kepada-Nya. Dialah yang memberi kecukupan dan memberi pertolongan untuk mengalahkan musuh-musuh agama, karena Muhammad benar-benar berada di atas kebenaran yang nyata.

Perintah Allah kepada Nabi Muhammad supaya bertawakal kepada-Nya mengandung arti yang dalam. Isinya melarang Nabi untuk terpengaruh apalagi putus asa karena melihat orang-orang kafir selalu keras kepala, tidak menghiraukan malahan mencemoohkan seruannya. Walaupun Nabi keras kemauannya untuk mengislamkan mereka, namun bila hati mereka belum dibukakan oleh Allah, tetap saja mereka tidak akan beriman, sesuai dengan firman-Nya:

وَمَآ اَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِيْنَ

Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun engkau sangat menginginkannya. (Yusuf/12: 103)

Ayat 80

Pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad tidak ditugaskan supaya menjadikan orang-orang musyrik itu beriman. Beliau hanya ditugaskan untuk menyampaikan seruan atau risalah dari Allah. Tidak termasuk wewenang beliau untuk memaksa orang kafir menjadi seorang mukmin.

Hal tersebut berada dalam kekuasaan Allah. Nabi tidak mampu memasukkan petunjuk ke dalam hati orang yang sudah terkunci mati. Ayat ini juga menjelaskan bahwa Muhammad tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati itu mendengar dan tidak pula menjadikan orang-orang tuli mendengar panggilan, terlebih lagi bila hati mereka telah berpaling ke belakang.

Kalimat “orang-orang yang mati” dan “orang-orang yang tuli” dalam ayat ini adalah ungkapan metafora. Maksudnya adalah orang-orang musyrik itu dianggap sebagai orang yang sudah mati pikirannya, sudah tuli dan tidak dapat mendengar panggilan dan ajakan kebaikan.

Mereka telah berpaling ke belakang. Mereka diserupakan dengan orang yang mati dan orang yang tuli karena semua ayat yang dibacakan kepada mereka tidak berpengaruh sama sekali

Walaupun secara umum ayat ini menjelaskan bahwa orang yang telah mati tidak dapat mendengar seruan orang yang masih hidup, tetapi ada beberapa hadis yang sahih, seperti yang diriwayatkan oleh Muslim, yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad pernah berbicara pada mayat-mayat kaum musyrikin yang terbunuh waktu perang Badar dan dikubur bersama-sama dalam sebuah sumur.

Melihat hal itu, sebagian sahabat, di antaranya Umar bin Khattab, menyatakan keheranannya dengan bertanya mengapa Rasulullah berbicara dengan orang yang sudah meninggal. Menanggapi hal itu, Rasulullah bersabda:

مَا اَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُوْلُ مِنْهُمْ غَيْرَ أَنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيْعُوْنَ أَنْ يَرُدُّوْا عَلَيَّ شَيْئًا (رواه مسلم عن أنس بن مالك)

Kamu tidak lebih mendengar daripada mereka terhadap apa yang aku katakan, hanya saja mereka tidak dapat menjawab. (Riwayat Imam Muslim dari Anas bin Malik)

Pengertian yang terkandung dalam hadis di atas adalah bahwa orang-orang yang masih hidup dan mayat-mayat itu sama dapat mendengar ucapan Nabi. Akan tetapi, orang yang masih hidup dapat menjawab, sedangkan mereka tidak. Dalam beberapa hadis yang sahih diterangkan pula oleh Nabi bahwa bila seorang mayat telah selesai dimasukkan ke kuburnya, ia dapat mendengar suara sepatu atau terompah orang-orang yang mengantarnya.

Sebagai seorang penyampai risalah Allah, Nabi tidak dapat memberi hidayah kepada orang-orang musyrik untuk menjadi mukmin sebagaimana yang terjadi dengan paman Nabi yaitu Abu Thalib yang hingga akhir hidupnya tidak beriman. Firman Allah:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk (al-Qashash/28: 56)

Tugas Nabi hanya memberi petunjuk dalam arti memberi bimbingan (irsyad), memberi keterangan (bayan), dan melaksanakannya, sebagaimana firman Allah:

وَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙ

Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus.(asy-Syura/42: 52)

Pengertian hidayah pada Surah al-Qashash/28: 56 di atas adalah “taufik”. Hal ini mengandung pengertian bahwa Nabi tidak mempunyai kewenangan untuk memberi taufik kepada manusia, walaupun terhadap orang yang dicintainya, misalnya Abu Thalib. hanya Allah yang dapat memberi hidayah dalam arti taufik kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.

Adapun hidayah pada Surah as-Syura/42: 52 bermakna “tabyin dan irsyad”. Hal ini berarti bahwa Nabi mempunyai kewenangan untuk memberi penjelasan dengan petunjuk yang luas.

Ayat 81

Pada ayat ini, Allah memperkuat pengertian ayat sebelumnya bahwa Nabi Muhammad sama sekali tidak dapat memalingkan orang-orang buta yang telah terkunci hatinya dari kesesatan. Mata hatinya tidak dapat diberi petunjuk kepada jalan yang lurus karena ada hijab atau dinding yang menutupi pandangannya, sehingga tidak dapat melihat kebenaran sama sekali.

Nabi Muhammad tidak dapat menjadikan seseorang dapat mendengar seruannya dengan pendengaran yang positif, kecuali orang-orang yang beriman kepada Allah, lalu berserah diri secara tulus ikhlas kepada-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah An-Naml ayat 82-87


Tafsir Ahkam: Bolehkah Menyerahkan Zakat kepada Keluarga Sendiri?

0
Bolehkah menyerahkan zakat kepada keluarga sendiri?
Bolehkah menyerahkan zakat kepada keluarga sendiri?

Menyerahkan zakat atau sedekah sunnah kepada keluarga sendiri yang masuk kategori tidak mampu bukanlah sesuatu yang asing di kalangan umat muslim. Di satu sisi hal itu dipandang baik. Sebab berdasar hadis nabi, selain apa yang diberikan dapat membantu ekonomi mereka, juga akan mempererat tali silaturahim.

Namun di sisi lain hal itu menimbulkan masalah. Di antaranya pada saat keluarga yang diberi adalah anak atau orang tua yang wajib dinafkahi oleh orang si pemberi zakat. Sebab hal itu sama saja memberikan zakat pada orang yang wajib kita tunaikan zakatnya. Lalu bagaimana sebenarnya hukum menyerahkan zakat fitrah kepada kerabat sendiri? Berikut penjelasan ulama’.

Baca juga: Haruskah Zakat Fitrah Dibagikan Secara Merata ke Delapan Golongan?

Keumuman Status Delapan Golongan Penerima Zakat di dalam Al-Qur’an

Keumuman ayat yang menjelaskan delapan golongan penerima zakat, berpotensi menunjukkan bolehnya menyerahkan zakat fitrah kepada keluarga sendiri. Allah berfirman:

 اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. (QS. At-Taubah [9] :60)

Pada ayat di atas, secara umum Allah menjelaskan bahwa zakat diserahkan kepada delapan golongan tersebut. Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai ketentuan masing-masing golongan terutama terkait status si penerima zakat memiliki hubungan kerabat dengan si pemberi zakat. Namun oleh karena sebagian kesimpulan dari keumuman ayat tersebut bertabrakan dengan ketentuan dalam mengeluarkan zakat, sebagian ulama’ angkat bicara terkait menyerahkan zakat kepada kerabat sendiri yang masuk kategori delapan golongan yang berhak menerima zakat.

Baca juga: Peran Sayyidah Khadijah Saat Nabi Menerima Wahyu Pertama di Bulan Ramadan

Imam Al-Jashshash dalam Ahkamul Qur’an menyatakan, ulama fikih berbeda pendapat mengenai hukum memberikan zakat kepada kerabat sendiri. Mazhab Hanafiyah menyatakan bahwa zakat tidak boleh diserahkan kepada orang tua ke atas, anak ke bawah, serta istri. Maksud dari orang tua keatas adalah mencakup orang tua sendiri, kakek-nenek, buyut dan seterusnya. Sedang maksud dari anak ke bawah adalah mencakup anak sendiri, cucu, cicit dan seterusnya.

Mazhab Malikiyah dan Syafiiyah menyatakan, tidak boleh memberikan zakat kepada kerabat yang si pemberi zakat berkewajiban menanggung nafkah mereka. Hal ini berarti mencakup orang tua, anak dan istri. Sedang Ibn Syubramah menyatakan bahwa tidak boleh memberikan zakat pada kerabat yang menjadi ahli waris bagi si pemberi zakat. Ini adalah pendapat berbagai mazhab secara umum. Untuk perincian serta ketentuan-ketentuannya dapat dirujuk kepada karya yang membahas fikih mazhab mereka secara langsung (Ahkamul Qur’an/7/89).

Baca juga: Malam yang Diberkahi Lailatul Qadar atau Nishfu Syaban?

Dalam Mazhab Syafiiyah sendiri, tidak diperbolehkannya memberikan zakat kepada orang tua, anak dan istri, tidaklah berlaku secara mutlak. Hukum tidak boleh tersebut muncul bila ketiganya dinafkahi si pemberi zakat dan hendak diberi zakat atas nama fakir atau miskin. Sebab keberadaan si pemberi zakat secara tidak langsung menafikan kebutuhan mereka atas zakat. Oleh karena itu, orang tua, anak dan istri boleh menerima zakat bila nafkahnya tidak ditanggung si pemberi zakat, atau hendak diberi atas nama selain fakir dan miskin (Al-Majmu’/6/229).

Imam Al-Mawardi dari kalangan Mazhab Syafiiyah menyatakan, untuk kerabat yang nafkahnya tidak ditanggung oleh si pemberi zakat, maka dianjurkan mendahulukan memberikan zakat kepada mereka, daripada selain mereka. Hal ini menunjukkan bahwa zakat lebih diutamakan diberikan kepada kerabat, selama nafkahnya tidak menjadi tanggungan si pemberi zakat (Al-Hawi Al-Kabir/8/1355).

Kesimpulan

Berdasar berbagai keterangan di atas, menurut Mazhab Syafiiyah menyerahkan zakat kepada kerabat lebih utama dari selainnya. Namun ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Diantaranya adalah kerabat tersebut nafkahnya tidak ditanggung oleh si pemberi zakat, bila memang hendak diberi atas nama fakir atau miskin. Wallahu a’lam bish shawab.

Tafsir Surah An-Naml ayat 75-77

0
Tafsir Surah An Naml

Tafsir Surah An-Naml ayat 75-77 menerangkan bahwa apa saja yang terjadi di langit maupun bumi  sudah tercatat di Lauh Mahfuz. Selain itu Tafsir Surah An-Naml ayat 75-77 juga menjelaskan bahwa Al-Quran merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad.

Selengkapnya Baca Tafsir Surah An-Naml ayat 75-77…..


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah An-Naml ayat 64-74


Ayat 75

Pada ayat ini diterangkan bahwa semua yang gaib yang terjadi di langit dan bumi telah dicatat di Lauh Mahfuz, sesuai dengan firman-Nya:

اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِۗ اِنَّ ذٰلِكَ فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ

Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfudz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. (al-Hajj/22: 70)

Ayat 76-77

Pada kedua ayat ini, Allah menerangkan keistimewaan Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad, yaitu:

  1. Al-Qur’an memberi kepastian kepada Bani Israil tentang berbagai hal yang telah mereka perselisihkan terutama yang terkait dengan Isa al-Masih putra Maryam. Sebagian Ahli Kitab ada yang menganggapnya sebagai tuhan, ada pula yang memandangnya sebagai anak Allah, dan ada pula yang menganggapnya sebagai oknum ketiga dalam trinitas. Ada pula yang memandangnya sebagai nabi palsu, sebagaimana ibunya, Maryam, dituduh telah melakukan perbuatan zina.
  2. Al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk bagi orang-orang beriman karena mengandung berbagai dalil dan bukti yang menunjukkan kebenaran tauhid yang menjadi inti risalah para nabi. Al-Qur’an juga berisi hukum-hukum yang sangat dibutuhkan oleh seluruh umat manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hal ini meyakinkan orang yang membaca Al-Qur’an bahwa kitab ini benar merupakan wahyu dari Allah.
  3. Al-Qur’an juga merupakan rahmat bagi orang-orang mukmin. Meskipun Nabi Muhammad itu seorang ummi yang tidak dapat membaca dan menulis, dan belum pernah bergaul dengan pemuka-pemuka Ahli Kitab sebelum menjadi rasul, tetapi karena Al-Qur’an adalah firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad, maka ia berisi lengkap tentang kisah-kisah dari para nabi dan umat terdahulu sebagaimana diuraikan dalam kitab Taurat dan Injil.

Perselisihan pendapat di kalangan Ahli Kitab memang sudah sangat mendalam dan menyangkut hal-hal yang prinsip seperti pendapat tentang trinitas, adanya Tuhan Bapa dan Tuhan Anak. Ada juga yang me-nganggap bahwa Isa al-Masih sebagai nabi palsu, nabi terakhir adalah Yusya dan sebagainya.

Jika para Ahli Kitab mempelajari kitab mereka dengan jujur, dan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran tanpa sentimen kebangsaan atau kesukuan, niscaya mereka akan mendapat kesimpulan bahwa nabi yang diisyaratkan dalam Kitab Taurat tidak lain adalah Nabi Muhammad karena sifat-sifat yang disebutkan dalam Kitab Taurat memang sama dengan sifat-sifatnya.

Akan tetapi, karena Nabi Muhammad bukan dari keturunan Bani Israil, mereka sukar menerima kebenaran itu. Dalam kitab Perjanjian Lama, kitab Ulangan (Deuteronomium 18: 18) disebutkan demikian, “Bahwa Aku (Tuhan) akan menjadikan bagi mereka itu seorang nabi dari antara segala saudaranya, yang seperti engkau (Musa), dan Aku akan memberi segala firman-Ku dalam mulutnya dan ia pun akan mengatakan kepadanya segala yang Kusuruh akan dia.

Bahwa sesungguhnya barang siapa yang tidak mau mendengar segala firman-Ku, yang akan dikatakan olehnya dengan nama-Ku, niscaya Aku menuntutnya kelak kepada orang itu.”

Isyarat dari kitab Ulangan itu mengandung pengertian bahwa nabi yang akan diutus Allah setelah Nabi Musa itu ialah dari saudara-saudara Bani Israil, yaitu Bani Ismail atau bangsa Arab, sebab Israil atau Yakub dan Ismail adalah sama-sama keturunan Nabi Ibrahim. Ismail adalah putra Ibrahim dan Yakub adalah putra Ishak, yang juga putra Ibrahim. Nabi yang akan diutus adalah seperti Musa.

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa Al-Qur’an yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad menjelaskan kepada Bani Israil sebagian besar dari persoalan-persoalan yang mereka perselisihkan.

Jika mereka sadar dan insaf serta menjauhkan diri dari ajakan hawa nafsu dan sentimen kesukuan, mereka akan merasakan hak dan kemurnian ajaran Al-Qur’an itu. Akan tetapi, karena terhalang oleh ketakaburan, mereka tetap menolaknya, padahal sudah jelas tampak dalil-dalil kebenarannya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah An-Naml 78-81


Tafsir Surah An-Naml ayat 67-74

0
Tafsir Surah An Naml

Tafsir Surah An-Naml ayat 67-74 menerangkan tentang keingkaran orang-orang kafir terhadap hari akhir. Alasan orang-orang kafir tersebut tidak mempercayai karena mereka telah mendapat ancaman serta dongeng-dongeng dari leluhurnya mereka. Dalam Tafsir Surah An-Naml ayat 67-74 ini dijelaskan pula meskipun orang kafir tersebut ingkar Allah yang Maha Penyantun tetap memberi kesempatan untuk mereka bertaubat.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah An-Naml ayat 65-66


Ayat 67

Pada ayat ini, Allah menerangkan keingkaran orang-orang kafir terhadap hari Kebangkitan dari kubur. Mereka berkata, “Apakah setelah kita mati dan menjadi tanah, dan begitu pula nenek moyang kita, akan dikeluarkan kembali dalam keadaan hidup dari kubur?” Pertanyaan mereka itu diucapkan secara sinis yang menunjukkan seolah-olah peristiwa itu mustahil akan terjadi, seperti tercantum dalam firman Allah:

وَقَالُوْٓا ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا وَّرُفَاتًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَ خَلْقًا جَدِيْدًا

Dan mereka berkata, “Apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan benda-benda yang hancur, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?” (al-Isra’/17: 49)

Ayat 68

Pada ayat ini, Allah menerangkan alasan orang-orang kafir yang mengingkari hari Kebangkitan dengan ucapan mereka bahwa sesungguhnya mereka selalu diberi ancaman seperti itu sejak nenek moyang mereka dahulu. Itu tidak lain hanya dongengan orang dahulu kala yang sama sekali tidak berdasarkan kenyataan.

Ayat 69

Pada ayat ini, Allah menyuruh Nabi Muhammad saw agar memberi nasihat dan petunjuk kepada orang-orang yang mengingkari hari kebangkitan. Nabi saw menyuruh mereka untuk melakukan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana nasib orang-orang yang berdosa di antara umat-umat terdahulu yang mendustakan Allah dan para rasul yang diutus-Nya.

Bagaimana umat-umat itu telah mengalami kehancuran sebagai akibat kekafiran mereka kepada Allah dan hari Kebangkitan. Hendaknya peristiwa-peristiwa itu menjadi pelajaran bagi mereka. Akan tetapi, mereka tetap saja dalam keingkaran, sehingga mereka akan mengalami kehancuran, berdasarkan sunatullah yang tetap berlaku.

Ayat 70

Pada ayat ini, Nabi Muhammad diperintahkan Allah supaya berlaku sabar dan tenang menghadapi bermacam-macam tantangan dan cemoohan dari orang-orang kafir itu. Nabi dilarang bersedih hati dan putus asa menghadapi tipu daya mereka karena Allah pasti memberi pertolongan sehingga agama Islam akan tersebar luas ke seluruh pelosok bumi, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya, seperti tercantum dalam firman-Nya:

هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (at-Taubah/9: 33)

Ayat 71

Pada ayat ini diterangkan bahwa orang-orang Quraisy tidak saja mengingkari hari Kebangkitan, bahkan mereka menantang dengan menyuruh Nabi Muhammad mendatangkan azab yang diancamkan kepada mereka. Tantangan itu menunjukkan sikap mereka yang benar-benar mendustakan adanya hari Kebangkitan.

Bahkan, mereka menge-mukakan tuntutan kepada Nabi Muhammad untuk mempercepat datangnya ancaman Allah dengan ucapan mereka, “Bilakah datangnya azab yang kamu ancamkan kepada kami jika memang kamu orang-orang yang bisa dipercaya?”

Ayat 72

Tafsir Surah An-Naml ayat 67-74 khususnya pada ayat 72 ini, Nabi Muhammad disuruh Allah menjawab pertanyaan orang-orang Quraisy itu dengan mengatakan bahwa azab yang mereka tunggu-tunggu dan ingin disegerakan itu sebentar lagi pasti akan datang. Secara kenyataan, azab itu muncul berupa kebinasaan dan kekalahan yang akan mereka alami waktu Perang Badar. Sebanyak 70 orang di antara pemimpin mereka, termasuk Abu Jahal, terbunuh dan 70 orang lainnya menjadi tawanan perang.

Ayat 73

Pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa azab yang mereka minta disegerakan itu tidak diturunkan karena Ia benar-benar mempunyai karunia besar untuk manusia. Allah yang Maha Penyantun tidak segera menurunkan azab-Nya, bahkan sebaliknya memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan menyadari kesesatan mereka sehingga dengan penuh kesadaran menerima petunjuk Allah yang dibawa oleh Nabi-Nya. Kesempatan untuk bertobat dan kembali kepada jalan kebenaran itu adalah karunia yang besar, tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukurinya. Hal ini tersebut pula dalam firman-Nya:

اِنَّ اللّٰهَ لَذُوْ فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ

Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. (al-Baqarah/2: 243)

Ayat 74

Tafsir Surah An-Naml ayat 67-74 pada ayat 74 ini, Allah menjelaskan bahwa Dia benar-benar mengetahui apa yang mereka sembunyikan di dalam hati dan apa yang mereka nyatakan. Dia mengetahui apa yang mereka sembunyikan tentang permusuhan mereka terhadap Rasulullah dan apa yang mereka nyatakan dalam perbuatan dan tipu muslihat. Allah akan memberi balasan sesuai dengan amal perbuatan mereka itu. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:

سَوَاۤءٌ مِّنْكُمْ مَّنْ اَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهٖ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍۢ بِالَّيْلِ وَسَارِبٌۢ بِالنَّهَارِ

Sama saja (bagi Allah), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya dan siapa yang berterus-terang dengannya; dan siapa yang bersembunyi pada malam hari dan yang berjalan pada siang hari. (ar-Ra’d/13: 10)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah An-Naml ayat 75-77