Beranda blog Halaman 464

Sering Merasa Takut? Baca Ayat Ini Untuk Menangkal Gangguan Jin

0
Menangkal Gangguan Jin
Menangkal Gangguan Jin

Allah swt adalah zat yang Maha Menciptakan. Dia menciptakan berbagai macam makhluk termasuk manusia. Jin adalah salah satu jenis makhluk ciptaan Allah yang memiliki sifat fisik tertentu, berbeda dengan jenis manusia atau malaikat. Terkadang, keberadaan jin memang bisa mengganggu para manusia. Oleh karenanya, manusia harus meminta pertolongan Allah swt untuk menangkal gangguan jin.

Jin diciptakan dari bahan dasar api sebagaimana yang telah Allah swt firmankan, “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.” (QS. Ar-Rahman: 14-15). Dikatakan bahwa jin memilki sifat iri, dengki dan pembangkang. Misalnya, Iblis yang menentang perintah Allah swt untuk sujud kepada nabi Adam karena merasa lebih sempurna dibanding manusia yang terbuat dari tanah sedang dia dari api.

Menurut sebagian ulama, jin dapat mengganggu manusia baik secara fisik maupun non-fisik. Maksud dari secara fisik adalah gangguan Jin yang dapat menyebabkan penyakit. Misalnya, seperti orang yang mengeluhkan sakit dan divonis oleh dokter memiliki sakit TBC. Namun ketika diperiksa laboratorium, tidak menunjukkan adanya gejala TBC atau penyakit apapun. Sedangkan pada saat bersamaan ia merasakan sakit tersebut.

Baca Juga: Ketahui Ayat-Ayat Favorit Santri Bekal Rohani dari Para Kyai

Sedangkan gangguan jin yang bersifat psikis biasanya akan menimbulkan beberapa rasa cemas, was-was, takut, gelisah, merasa tidak nyaman pada diri seseorang. Hatinya selalu merasa gelisah, kalut, bingung terhadap dirinya padahal menurut dokter ia sama sekali tidak memiliki gejala penyakit jiwa apapun. Titik klimaks gangguan jin adalah depresi berat yang jika tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kegilaan.

Disamping itu, gangguan jin juga bisa menyebabkan keimanan seseorang memudar, karena saat diganggu oleh jin ia mungkin merasa bahwa jin tersebut memiliki kekuatan yang dapat menguasainya. Akhirnya, ia meyakini bahwa jin memiliki kekuatan dan patut diagungkan serta melupakan bahwa Allah adalah satu-satunya yang dapat memberi manfaat dan mudarat. Dalam konteks ini, ia harus mendekatkan diri kepada Allah swt agar dapat menangkal gangguan jin.

Baca Ayat Ini Untuk Menangkal Gangguan Jin

Salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah dalam rangka menangkal gangguan jin adalah dengan membaca Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an adalah sarana termudah yang dapat diakses manusia untuk menstimulasi rasa kedekatan seseorang terhadap Tuhan. Ketika membaca Al-Qur’an dengan penuh keyakinan dan kekhusukan seseorang akan mampu merasakan Dzat Maha Agung yang telah mewahyukan bait-bait suci tersebut.

Imam al-Ghazali menyebutkan dalam kitab adz-Dzahabul Ibris bahwa ayat Al-Qur’an dapat digunakan sebagai sarana untuk menangkal gangguan jin dan sejenisnya. Ayat yang dapat dibaca menurut pendapat beliau adalah surah at-Taubah [9] ayat 128-129 dan surah ar-Rahman [55] ayat 33 yang masing-masing berbunyi:

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ١٢٨ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ ࣖ ١٢٩

Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman. Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung. (QS. At-Taubah [9]: 128-129)

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ ٣٣

“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).” (QS. Ar-Rahman [55]: 33).

Amalan membaca surah at-Taubah [9] ayat 128-129 dan surah ar-Rahman [55] ayat 33 imam al-Ghazali sandarkan pada sebuah riwayat imam Nafi’ dari Ibnu ‘Umar ra, ia berkata: “Pada suatu hari saya duduk bertamu ke rumah ‘Aisyah ra, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang kerasukan jin dibawa ke hadapannya. Maka ‘Aisyah ra membacakan kepada anak itu – tanpa aku dengar – surah at-Taubah [9] ayat 128-129 dan surah ar-Rahman [55] ayat 33.”

“Berkat izin Allah swt, maka anak tersebut sembuh. Aku pun (Ibnu Umar) bertanya pada beliau, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang engkau bacakan untuk anak itu?” Beliau menjawab, Aku bacakan untuknya – surah at-Taubah [9] ayat 128-129 dan surah ar-Rahman [55] ayat 33. Allah mengizinkan kalian ataukah kalian melawan padanya.”

Baca Juga: Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 16-17: Kisah Iblis Mengganggu Manusia

Berdasarkan penjelasan di atas, pada suatu waktu bisa saja jin mengganggu manusia karena alasan tertentu, baik dengan tujuan positif maupun negatif. Seseorang dapat menangkal gangguan jin tersebut, ia dapat membaca surah at-Taubah [9] ayat 128-129 dan surah ar-Rahman [55] ayat 33 dengan penuh keyakinan bahwa Allahlah yang akan membantunya menangkal gangguan jin. Wallahu a’lam.

Mengenal Empat Waqaf dalam Membaca Al-Quran

0
waqaf dalam al-quran
waqaf dalam al-quran

Waqaf adalah salah satu pembahasan dalam ilmu tajwid yang harus diketahui oleh qari’ Al-Quran karena mempunyai peranan penting untuk menjaga keselamatan makna ayat. Sebagaimana perkataan al-Anbari : “salah satu kesempuraan dalam mengetahui Al-Quran adalah dengan mengetahui waqaf dan ibtida’, seseorang tidak akan mengerti makna Al-Quran kecuali mengetahui jeda-jeda pembacaannya.

Kata waqaf secara bahasa berarti memberi atau mewakafkan, diam, berdiri, dan berhenti. Sedangkan kata waqaf secara istilah menurut Abdul Qadir Mansur adalah menghentikan suara kalimat Al-Quran secara sementara, biasanya dengan mengambil nafas untuk berniat melanjutkan bacaanya lagi.

Definisi senada juga dikemukakan oleh Muhammad Shadiq Qamhawi. Menurutnya, waqaf adalah memutuskan suara dari kalimat untuk bernafas sementara dengan berniat untuk melanjutkan bacaannya lagi, tidak untuk mengakhirinya. Lain halnya dengan al-Jazari yang mendefinisikan waqaf dalam dua makna yaitu tempat-tempat berhenti dan cara menghentikan bacaan.

Selanjutnya, ketika membahas tentang waqaf maka tidak bisa terlepas dari Ibtida’. Keduanya merupakan ilmu yang saling berkaitan. Mengapa demikian? Karena ketika seseorang berhenti (waqaf) dalam suatu bacaan maka secara otomatis orang tersebut akan memulai (ibtida’) bacaannya kembali.

Kata Ibtida’ secara bahasa berarti memulai sesuatu. Sedangkan kata Ibtida’ secara istilah menurut Husni Syaikh ‘Usman adalah memulai bacaan sesudah memutuskan atau menghentikannya. Pengertian yang senada juga dikemukakan oleh M. Basori Alwi. Menurutnya, Ibtida’ adalah memulai bacaan sesudah waqaf dan hanya boleh dilakukan pada perkataan yang tidak merusak arti susunan kalimat.

Sederhananya, waqaf dan ibtida’ adalah salah satu ilmu yang mempelajari tentang bagaimana caranya berhenti dan memulai yang sesuai ketika sedang membaca Al-Quran.

Baca juga: Hukum Bacaan Tarqiq dan Tafkhim dalam Ilmu Tajwid

Empat Waqaf dalam Membaca Al-Quran

Secara umum, menurut Muhammad Ahmad Ma’bad dan Muhammad Isom Muflih waqaf ketika membaca Al-Quran dapat dibagi menjadi empat macam. Berikut penjelasannya:

Pertama, waqaf idtirari (terpaksa) adalah bacaan waqaf yang dilakukan oleh qari karena terpaksa tanpa keinginannya, seperti kehabisan nafas, bersin, batuk, lupa dan lain sebagainya. Qari boleh berhenti pada bacaan manapun namun wajib memulai lagi dari bacaan dimana ia berhenti, jika memulai disitu dibenarkan (tidak merusak makna kalimat).

Misalnya dalam Q.S al-Baqarah [2]: 5

اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 5)

Ketika qari berhenti pada kata “هُدًى” maka memulainya dari kata “عَلَى هُدًى” karena jika memulainya dari kata “هُدًى” atau kata setelahnya maka dapat merusak makna.

Kedua, waqaf intidzari (menunggu) adalah bacaan waqaf yang dilakukan ketika seorang qari mengumpulkan beberapa qiraat yang berbeda riwayat dalam satu kalimat. Hal tersebut bertujuan untuk melancarkan qira’at-qira’at yang lain. Namun, qari harus memilih satu qira’at saja ketika hendak melanjutkan bacaannya.

Misalnya dalam Q.S Ali Imran[3]: 80

وَلَا يَأْمُرَكُمْ اَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَالنَّبِيّٖنَ اَرْبَابًا ۗ اَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ اِذْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ࣖ

dan tidak (mungkin pula baginya) menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Apakah (patut) dia menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu menjadi Muslim? (Q.S. Ali Imran [3]: 80)

Ketika qari berhenti pada kata يَأْمُرَكُمْ kemudian mengulanginya lagi karena selain dengan memfathahkan huruf ra, kata يَأْمُرَكُمْ dapat juga dibaca dengan mendhamahkan huruf ra menjadi يَأْمُرُكُمْ maka waqaf seperti ini diperbolehkan dalam proses belajar bagi orang-orang yang mengkaji qira’at.

Baca juga: Pengertian dan Pembagian Hukum Mad serta Contohnya dalam Al-Quran

Ketiga, waqaf ikhtibari (memberi kabar/keterangan) adalah bacaan waqaf yang dilakukan oleh qari dengan bertujuan untuk menguji, memperbaiki bacaan, dan mengajarkan tentang tata cara waqaf dalam suatu kalimat.

Misalnya dalam Q.S al-Maidah[5]: 27

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ ابْنَيْ اٰدَمَ بِالْحَقِّۘ اِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ اَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْاٰخَرِۗ قَالَ لَاَقْتُلَنَّكَ ۗ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ

Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 27)

Qari berhenti pada kata ابْنَيْ yang sebenarnya tidak diperbolehkan, kecuali untuk kepentingan pengajaran. Jika terpaksa harus waqaf maka seharusnya dibaca dengan tambahan ن pada ujung lafadznya menjadi ابْنَيْنْ. Namun jika dibaca bersambung dengan kata sesudahnya maka membacanya sebagaimana yang tertulis dalam mushaf.

Keempat, waqaf ikhtiyari (memilih) adalah bacaan waqaf yang dilakukan oleh qari karena pilihan dan kehendaknya sendiri tanpa disebabkan oleh sebab-sebab sebelumnya, seperti karena alasan idtirari (terpaksa), intidzari (menunggu), maupun ikhtibari (member kabar/keterangan).

Menurut Ad-Dani dan M. Basori Alwi, waqaf ikhtiyari dapat dibagi lagi menjadi empat macam, yaitu waqaf tamm, waqaf kafi, waqaf hasan dan waqaf qabih. Berikut penjelasannya :

Pertama, waqaf tamm (sempurna) adalah berhenti pada perkataan yang sempurna susunan kalimatnya, baik lafadz maupun maknanya tidak berkaitan dengan kalimat sesudahnya. Adapun tanda waqaf yang dapat dijadikan sebagai pedoman waqaf tamm adalah tanda waqaf lazim (م), tanda waqaf mutlaq (ط), dan tanda waqaf al-waqfu aula (قلى).

Pada umumnya terdapat di akhir ayat, misalnya pada Q.S al-Fatihah [1]: 4, terkadang sebelum akhir ayat, misalnya pada Q.S an-Naml [27]: 34, terkadang di pertengahan ayat, misalnya pada Q.S al-Furqan[25]: 29, dan terkadang di akhir ayat tambah sedikit seperti pada Q.S ash-Shaffat [37]: 137-138.

Kedua, waqaf kafi (cukup) adalah berhenti pada perkataan yang sempurna kalimatnya, tetapi masih berkaitan makna dengan kalimat sesudahnya, tidak berkaitan lafadznya. Adapun tanda waqaf yang dapat dijadikan sebagai pedoman waqaf kafi adalah tanda waqaf jaiz (ج).

Misalnya pada kata لا يُؤْمِنُونَ dalam Q.S al-Baqarah [2]: 6-7 mempunyai arti mereka tidak akan beriman, kemudian pada kata sesudahnya yaitu خَتَمَ اللَّهُ mempunyai arti Allah telah mengunci. Kedua ayat tersebut masih berkaitan maknanya yaitu penyebab mereka tidak akan beriman adalah karena hati, pendengaran, dan penglihatan mereka sudah dikunci oleh Allah.

Ketiga, waqaf hasan (baik) adalah berhenti pada perkataan yang sempurna susunan kalimatnya, tetapi masih berkaitan makna dan lafadznya dengan kalimat sesudahnya. Adapun tanda waqaf yang dapat dijadikan sebagai pedoman waqaf hasan adalah tanda waqaf al-washlu aula (صلى) dan waqaf murakhas (ص).

Misalnya dalam Q.S al-Fatihah[1]: 2-3, qari berhenti pada kata رَبِّ الْعَالَمِينَ kemudian memulai pada kata الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ karena kata sesudahnya masih berkaitan dengan sifatnya Allah.

Keempat, waqaf qabih (buruk) adalah berhenti pada perkataan yang tidak sempurna susunan kalimatnya, karena berkaitan dengan lafadz dan makna perkataan atau kalimat sesudahnya. Adapun tanda waqaf yang dapat dijadikan sebagai pedoman waqaf qabih adalah tanda waqaf adamul waqf (لا).

Misalnya dalam Q.S al-Fatihah [1]: 2, qari berhenti pada kata الْحَمْدُ dari kata الْحَمْدُ لِلَّهِ. Kedua kata tersebut merupakan susunan mubtada dan khobar. Karenanya, qari tidak boleh berhenti dengan sengaja pada waqaf ini, kecuali karena darurat, seperti kehabisan nafas, bersin dan sebagainya. Demikian juga tidak boleh ibtida’ pada kata sesudah waqaf ini.

Pada akhirnya, pembagian waqaf antara satu dengan yang lainnya dapat dikatakan sama sekaligus berbeda. Persamaannya terletak pada tujuan waqaf yaitu untuk menjaga keselamatan makna suatu ayat, sedangkan perbedaannya terletak pada kesempurnaan waqaf dari segi bahasa dan tafsirnya. Wallahu A’lam.

Mengkaji Slogan Kembali Kepada Al-Quran dan Al-Hadits

0
Kembali kepada Al-Quran
Kembali kepada Al-Quran dan Hadits

Menjamurnya penceramah yang bersemangat mengkampanyekan slogan kembali kepada al-Quran dan al-Hadits/al-Sunnah kepada kaum awam membawa dampak sangat buruk dalam praktek kehidupan beragama di tengah masyarakat. Semangat dan kesadaran beragama terlihat semakin naik, namun pemahaman dan pengamalan agama yang benar-benar dilandasi ilmu demikian bermasalah. Ada deviasi antara apa yang seharusnya dengan kenyataan yang sebenarnya.

Di tengah kehidupan beragama masyarakat yang plural masih sering kita saksikan kekerasan atas nama agama bermunculan silih berganti. Caci maki, fitnah, hujatan, ujaran kebencian, pemaksaan kehendak, merasa benar sendiri, saling cakar berebut benar, sikap intoleran terhadap perbedaan identitas, ceramah dengan wajah penuh amarah, berkata kotor, provokasi agar memusuhi dan melawan pemerintahan yang sah, berusaha mengganti NKRI dengan sistem khilafah islamiyah, menganggap Pancasila, UUD 1945, dan semua aturan buatan manusia adalah “thaghut“, pengkafiran terhadap sesama muslim, memusuhi dan memerangi non muslim, menghalalkan darah sesama manusia, hingga terorisme adalah sederet masalah krusial yang menjadi hal biasa yang kita saksikan sehari-hari. Semua yang dilarang oleh ajaran Islam itu justru semakin subur di tengah kemunculan semangat beragama. Jelas semangat beragama yang melahirkan sikap keras demikian itu tidak dilandasi ilmu dan bimbingan yang benar dari ulama dalam artian yang sesungguhnya.

Kalangan awam muslim jelas tidak akan mampu untuk mengaplikasikan slogan kembali kepada al-Quran dan al-Hadits. Mereka yang awam dalam beragama itu bisa “mabuk agama” karena keliru mengutip sendiri dalil-dalil dari al-Qur’an dan terjemahnya serta al-Hadits. Mereka itu ibarat pasien yang tidak memiliki pengetahuan tentang obat dari penyakitnya, namun diberi kelonggaran dan kebebasan untuk mengambil sendiri obatnya di gudang obat tanpa petunjuk dokter atau boleh meracik sendiri obatnya tanpa konsultasi kepada ahlinya. Akibatnya penyakit yang dideritanya tidak segera sembuh karena salah mengkonsumsi obat, over dosis, atau keracunan obat dan akibat buruk lainnya.

Baca Juga: Tinjauan Tafsir terhadap Jihad, Perang dan Teror dalam Al-Quran

Demikian halnya, penceramah agama yang sering mempropagandakan slogan kembali kepada al-Quran dan al-Hadits di hadapan kaum muslim awam itu dapat diibaratkan sebagai orang tua yang menyuapkan makanan keras yang perlu dikunyah kepada bayi yang belum tumbuh gigi. Sungguh daya rusaknya luar biasa.

Dakwah demikian itu pada hakikatnya justru menjauhkan kaum muslim awam dari cahaya kebenaran Islam. Oleh sebab itu, beragama tidak cukup bermodal semangat membara saja, melainkan amat perlu mengikuti bimbingan dari para ulama yang sesungguhnya dan didasarkan pada ilmu yang secukupnya.

Saya tidak akan mengutip satu pun ayat al-Quran untuk saya tafsirkan, karena untuk menafsirkannya tidaklah mudah, menafsirkannya berdasarkan pendapat sendiri tanpa ilmu (al-ra’yu al-madzmum) diancam akan dijebloskan ke dalam neraka, sedang untuk mencari contoh ayatnya langsung dari kitab-kitab tafsir al-Qur’an saya tidak cukup waktu. Mungkin contoh yang tepat berupa ayat al-Qur’an terkait jihad yang oleh para teroris muslim dijadikan dalih wajibnya jihad dalam arti qital (perang) pada masa damai dan di tempat/negara yang damai.

Oleh sebab itu, sebagai ilustrasi di bawah ini cukup saya kutipkan sebuah hadits (sabda Nabi Muhammad saw.) yang sering dijadikan sebagai dalil bagi muslim radikalis terkait kewajiban untuk memerangi keseluruhan manusia lain hingga mereka berucap, “tiada tuhan selain Allah….,” alias semua orang wajib beragama Islam.

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengatakan, “Tidak ada tuhan selain Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dapat dibayangkan jika ada kaum muslim awam yang terobsesi ingin kembali kepada al-Quran dan al-Hadits, lalu membaca terjemahan dan menafsirkan hadits di atas, kemudian mengambil simpulan, bahwa berarti saya–seperti halnya Nabi Muhammad saw. sebagai teladan–diperintahkan untuk memerangi semua orang demi tercapainya tujuan ini, yakni sebagai dalil kewajiban mendeklarasikan perang untuk memaksa semua orang agar membaca dua kalimat syahadat atau memeluk Islam.

Kesimpulan penafsiran sedemikian itu terhadap hadits tersebut menjadi jelas keliru karena salah tafsir, bertentangan dengan nash (teks suci al-Qur’an dan al-Hadits) dan al-Ijma’ (konsensus para Ulama), serta mustahil menurut akal sehat bila semua orang diperangi dan amat mustahil semua orang diwajibkan dengan paksa untuk memeluk Islam.

Padahal yang dimaksud dengan “manusia” yang disebut secara umum dalam hadits di atas berdasarkan al-Ijma’ (konsensus Ulama) adalah kaum Musyrik Arab, sehingga tidak mencakup/mengecualikan Ahlul-kitab (Yahudi dan Nasrani) dan juga Majusi karena mereka berperilaku seperti Ahlul-kitab.

Kaum Musyrik Arab pada saat itu, sesuai konteks historis hadits di atas, yang lebih dahulu memerangi Rasulullah saw. dan kaum muslim, sehingga diperintahkan oleh Allah untuk memerangi mereka karena kejahatan mereka yang melampaui batas dan bukan diperangi sebab kekafiran mereka.

Baca Juga: Viral Slogan Kembali Kepada Al Quran dan As Sunnah, Benarkah?

Slogan “kembali kepada al-Quran dan al-Hadits” terbukti memicu kekerasan atas nama agama dalam kehidupan bersama sebagai bangsa yang satu, Bangsa Indonesia, karena boleh jadi akan semakin banyak kalangan muslim awam yang menemukan terjemah ayat-ayat al-Qur’an tentang jihad dalam makna perang yang kemudian diamalkan pada masa damai dan di negara yang damai (dar al-salam), yakni Indonesia.

Praktek beragama yang benar akan membawa kita semua menjadi manusia yang lebih beradab, lebih bisa saling menghargai satu sama lain, hidup lebih tenang, tidak membawa kegaduhan, dan tidak pula membahayakan kemanusiaan. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat 5 – 9: Tiga Nikmat yang Tampak di Langit dan Bumi

0
Nikmat yang tampak di muka bumi
Surat Ar-Rahman 5 - 9: Nikmat yang tampak di muka bumi

Surat Ar-Rahman pada ayat 1-4 menyampaikan sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih) Allah Swt kepada manusia berupa sesuatu yang paling bersentuhan dengannya, yaitu Al-Quran dan tercipta sebagai makhluk sempurna, yakni manusia. Selanjutnya, surat ini akan menjelaskan nikmat yang ada di Bumi dan langit, yang tidak hanya dinikmati oleh manusia namun dinikmati pula oleh makhluk yang lain, seperti hewan dan tumbuhan.

Apa nikmat tersebut? Yaitu terciptanya matahari dan bulan, serta tumbuhan. Allah swt berfirman:

اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ وَّالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan, dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya). (Q.S. Ar-Rahman [55]: 5-6)

Syekh Ahmad As-Showi menafsiri ayat kelima seperti ini,

والمعنى : أن الشمس والقمر يجريان في بروجهما ومنازلهما بمقدار واحد لا يتعديانه لمنافع العباد على حسب الفصول والشهور القمرية والقبطية من مبدإ الدنيا لمنتهاها

Artinya : ‘Maksudnya : bahwa matahari dan bulan bergerak pada porosnya dengan satu sistem, yang tidak akan diterobos, untuk kebaikkan manusia, sesuai dengan perputaran musim dan bulan qomariyyah, mulai  dari terciptanya dunia sampai kiyamat.’

Baca juga: Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat 1-4: Inilah Dua Kenikmatan Besar Pada Manusia

Pada penjelasan ayat seterusnya, Syekh As-Showi menjelaskan maksud النَّجْمُ dan الشَّجَرُ  :

(ما لا ساق له ) وهو المفروش على الأرض كالقثاء والبطيخ وغيرهما . …(ما له ساق ) أي وهو المرتفع كالنخل والنبق ونحوهما …(يخضعان ) اي ينقادان لما يراد منهما طوعا

Artinya: (Tumbuhan yang tidak ada batangnya) yaitu tumbuhan yang merambat di tanah seperti pohon timun, semangka dsb. (Tumbuhan yang ada batangnya) yaitu tumbuhan yang menjulang ke atas seperti pohon kurma, bidara dsb. (Keduanya tunduk) yakni kedua jenis tumbuhan tersebut mengikuti yang dikendaki (oleh Allah Swt).’ (Syekh As-Showi, Hasyiyah Showi ‘ala Tafsir Jalalain. [Beirut: Dar Al-Fikr, 2014] juz 4, hal. 126)

Imam Fakhrudin Ar-Razi menjelaskan kenikmatan yang tampak di langit adalah adanya matahari dan bulan yang berputar secara teratur. Kedua benda langit tersebut sangat bermanfaat bagi kehidupan di bumi, baik manusia, maupun hewan dan tumbuhan. Karena tanpa matahari dan bulan niscaya kehidupan di bumi akan kacau.

Adapun kenikmatan yang tampak di bumi adalah tumbuh-tumbuhan yang sangat beragam, baik yang merambat maupun menjulang tinggi ke atas. Karena tanpa tumbuhan niscaya manusia dan hewan akan mampu bertahan hidup di bumi ini. (Imam Ar-Razi, Tafsir Kabir, [Kairo : Dar Al-Hadits,2012] juz 15, hal. 90)

Setelah Allah Swt menyampaikan kenikmatan yang ada di langit dan bumi, selanjutnya Dia memperingatkan umat manusia pada ayat seterusnya,

وَالسَّمَاۤءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ اَلَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ

Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu, dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu. (Q.S. Ar-Rahman [55]: 7-9)

Baca juga: Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat 17: Peredaran Bumi, Bulan, dan Matahari serta Empat Musim dan Iklim Bumi

Syekh Wahbah Az-Zuhailiy membuat konklusi dari ketiga ayat ini, yaitu kenikmatan yang lain adalah diciptakannya langit tinggi diatas bumi dan menjadikannya penyeimbang alam semesta, menciptakan mizan (alat timbangan) untuk dijadikan barometer keadilan dalam transaksi di dunia ini, dan perintah tegas menegakkan keadilan. (Syekh Wahbah Az-Zuhailiy, Tafsir Munir, [Beirut: Dar Al-Fikr, 2018], juz 14, hal. 215)

Imam Fakhrudin Ar-Razi menggarisbawahi pada tiga ayat ini ada lafadz yang sama, yaitu الْمِيزَانَ tapi memiliki makna yang berbeda. Lafadz pertama bermakna alat timbangan, kedua bermakna ukuran timbangan, dan ketiga adalah sesuatu yang ditimbang.

Walhasil, Surat Ar-Rahman ayat 5-9 ini menyampaikan ada tiga kenikmatan besar yang diberikan oleh Allah Swt kepada makhluknya, khususnya manusia, dan yang paling berkewajiban menjaganya tentu juga manusia. Serta diperintahkan untuk menjaga keseimbangan alam ini, dan menegakkan keadilan. Wallahu A’lam.

Mengenal 55 Nama Al-Quran Beserta Alasan Penamaannya (2)

0
sumber pengambilan nama Al-Quran
sumber pengambilan nama Al-Quran

Banyaknya nama Al-Quran yang kita kenal tidak lain berasal dari petunjuk Al-Quran itu sendiri. Berikut ini lanjutan dari 55 nama Al-Quran yang dicatat oleh As-Suyuthi dalam Al-Itqan fi Ulum Al-Quran, lengkap dengan alasan dan sumber pengambilan nama tersebut.

  1. Qayyim

Al-Qur’an dinamakan “al-Qayyim” karena ia membimbing orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. Sumber pengambilan nama tersebut dari Q.S. al-Kahfi [18] ayat 2:

قَيِّمًا لِّيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيْدًا

“Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan akan siksa yang sangat pedih

  1. Qaul

Dikatakan dengan nama “al-Qaul” karena Al-Qur’an benar-benar berasal dari firman Tuhan. Sebagaimana dalam Q.S. al-Thariq [86] ayat 13:

اِنَّهٗ لَقَوْلٌ فَصْلٌۙ – ١٣

Sungguh, (Al-Qur’an) itu benar-benar firman pemisah (antara yang hak dan yang batil)

Baca Juga: Mengenal 55 Nama Al-Quran Beserta Alasan Penamaanya (1)

  1. Fashl

Nama Al-Quran yang satu ini, “al-Fashl” karena Al-Qur’an memisahkan antara yang hak (benar) dan yang batil. Sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan ayat pada nama Al-Qur’an sebelumnya.

  1. Naba’ ‘Adhim

Al-Qur’an juga dinamakan dengan “al-Naba’ al-’Adhim”, karena adanya berita-berita besar tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan pasca kematian. Sumber pengambilan nama ini yaitu Q.S. al-Naba’ [78] ayat 2:

عَنِ النَّبَاِ الْعَظِيْمِۙ – ٢

Tentang berita yang besar (hari kebangkitan)

  1. Ahsan al-Hadits

Dinamakan dengan nama “Ahsan al-Hadits” karena Al-Qur’an merupakan sebaik-baik perkataan dan ucapan. Nama Al-Quran tersebut berdasar pada Q.S. al-Zumar [39] ayat 23:

اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang”

  1. Mutasyabih

 Al-Qur’an juga dinamakan dengan “al-Mutasyabih”, karena adanya kemiripan atau keserupaan dari sebagian ayat dengan ayat lainya dalam hal kebaikan (keindahan) dan kebenaran. Sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan ayat pada nama Al-Qur’an sebelumnya.

  1. Matsani

Penyematan nama “al-Matsani” terhadap Al-Qur’an dikarenakan di dalamnya diuraikan terkait kisah-kisah umat terdahulu. Sehingga terjadi proses pengulangan akan cerita dan nasihat dari kisah-kisah terdahulu. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Zumar [39] ayat 23.

  1. Tanzil

 Dinamakan dengan nama “al-Tanzil” karena Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur melalui perantara malaikat Jibril. Sumber pengambilan nama At-Tanzil kali ini adalah Q.S. asy-Syu’ara [26] ayat 192:

وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ – ١٩٢

Dan sungguh, (Al-Qur’an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam

  1. Ruh

Al-Qur’an dinamakan dengan istilah “al-Ruh” dikarenakan Al-Qur’an dapat menghidupkan hati dan jiwa seorang manusia. Sebagaimana dalam Q.S. asy-Syura [42] ayat 52:

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami

Baca Juga: Penjelasan Tentang Nama Al-Quran: Az-Zikr dan Al-Kitab

  1. Wahy

Dinamakan dengan “al-Wahy” karena Al-Qur’an merupakan kumpulan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui perantara malaikat Jibril. Nama Al-Quran yang ini tertulis dalam Q.S. al-Anbiya’ [21] ayat 45:

قُلْ اِنَّمَآ اُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِۖ

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya memberimu peringatan sesuai dengan wahyu

  1. ‘Arabiy

Penamaan Al-Quran dengan nama “al-’Arabiy”, disebabkan Al-Qur’an menggunakan media perantara bahasa Arab dalam menyampaikan pesan-pesan ilahi. Q.S. Yusuf [12] ayat 28 menunjukkan adanya nama Al-Quran yang ini:

قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِيْ عِوَجٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ – ٢٨

(Yaitu) Al-Qur’an dalam bahasa Arab, tidak ada kebengkokan (di dalamnya) agar mereka bertakwa

  1. Basha’ir

Al-Qur’an dinamakan dengan “al-Basha’ir” karena ia menjadi bukti nyata akan keberadaan Tuhan dan kebenaran risalah kenabian. Sebagaimana dalam Q.S. al-A’raf [7] ayat 203:

هٰذَا بَصَاۤىِٕرُ مِنْ رَّبِّكُمْ

ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu

  1. Bayan

Penamaan “al-Bayan” terhadap Al-Qur’an dikarenakan di dalamnya berisi penjelasan dan keterangan yang lengkap bagi umat manusia. Sebagaimana dalam Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 138:

هٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ

Inilah (Al-Qur’an) suatu keterangan yang jelas untuk semua manusia

Baca Juga: Penjelasan Tentang Nama Al-Quran: al-Quran, al-Furqan, dan al-Tanzil

  1. ‘Ilm

Dinamakan dengan sebutan “al-’Ilm” karena Al-Qur’an menjadi sumber ilmu dalam Islam. Sumber pengambilan nama tersebut adalah Q.S. al-Baqarah [2] ayat 145:

مِّنْۢ بَعْدِ مَاجَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ

setelah sampai ilmu kepadamu

  1. Haqq

Dikatakan sebagai “al-Haqq” karena semua ajaran Al-Qur’an mengandung kebenaran. Sebagaimana dalam Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 62:

اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ

Sungguh, ini adalah kisah yang benar

  1. Hady

Dinamakan dengan nama “al-Hady”, karena Al-Qur’an memberikan petunjuk dan hidayah kepada umat manusia. Sebagaimana dalam Q.S. al-Isra’ [17] ayat 9:

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ

Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk

  1. ‘Ajab

Al-Qur’an disebut juga dengan nama “al-’Ajab”, dikarenakan keindahan susunan kata Al-Qur’an sehingga ia menjadi sebuah bacaan yang menakjubkan. Sebagaimana dalam Q.S. al-Jinn [72] ayat 1:

قُرْاٰنًا عَجَبًاۙ – ١

Bacaan yang menakjubkan (Al-Qur’an)

  1. Tadzkirah

 Dinamakan dengan nama “al-Tadzkirah” dikarenakan Al-Qur’an merupakan sumber pelajaran bagi mereka yang ingin bertakwa. Sebagaimana dalam Q.S. al-Haqqah [69] ayat 48:

وَاِنَّهٗ لَتَذْكِرَةٌ لِّلْمُتَّقِيْنَ – ٤٨

Dan sungguh, (Al-Qur’an) itu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa

  1. al-’Urwah al-Wutsqa

Al-Qur’an disebut dengan nama “al-’Urwah al-Wutsqa” karena ia bagaikan tali yang sangat kuat, dan barangsiapa yang berpegang pada tali tersebut maka ia akan selamat. Sebagaimana dalam Q.S. al-Baqarah [2] ayat 256:

اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا

“dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus”

  1. Shidq

Dinamakan “al-Shidq” karena semua isi dari Al-Qur’an adalah ajaran kebenaran. Sebagaimana dalam Q.S. al-Zumar [39] ayat 33:

وَالَّذِيْ جَاۤءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهٖٓ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ – ٣٣

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang yang bertakwa

Masih banyak nama Al-Quran yang lain yang dicatat oleh ulama pengkaji Al-Quran. Ini adalah salah satu bukti bahwa ilmu Al-Quran itu luas sekali, tidak akan pernah habis untuk dikaji. Wallahu A’lam

Kisah Nabi Musa dan Doa-Doa yang Dipanjatkannya dalam Surat al-Qashash

0
Surat Al-Qashash
Doa Nabi Musa dalam Surat Al-Qashash

Kisah adalah salah satu media yang digunakan al-Qur’an untuk menyampaikan pesan-pesan Ilahiyah kepada manusia. Melalui kisah, manusia diharapkan mampu mengambil ibrah atau pesan pelajaran maupun keteladanan (Shihab, Kaidah Tafsir). Seperti halnya saat membaca kisah-kisah Nabi dan Rasul, di dalamnya banyak ibrah yang bisa diambil termasuk di dalamnya doa-doa yang mereka panjatkan. Pada tulisan ini akan secara khusus dibahas doa-doa yang dipanjatkan Nabi Musa dalam Surat al-Qashash, surat ke-28 dalam urutan tartib mushafi.

Kisah Nabi Musa dalam Surat al-Qashash dapat dibagi ke dalam beberapa episode kisah jika merujuk pada tafsir al-Munir karya Wahbah al-Zuhaili. Dari sekian episode tersebut ada beberapa episode kisah yang memberikan informasi mengenai beberapa doa yang dipanjatkan Nabi Musa beserta konteks yang mendorongnya, sehingga didapati maksud dan tujuan dari doa yang dipanjatkan.

Doa Taubat

Doa pertama ditemukan pada episode ayat 15-21, yang menceritakan tragedi pembunuhan yang dilakukan Nabi Musa terhadap seorang Qibti. Tragedi itu terjadi tatkala Musa ingin menolong kawannya dari pem-bully-an seorang Qibti yang merupakan salah satu utusan Fir’aun. Musa pun memukulnya hingga tewas dan kemudian ia pun begitu menyesali perbuatannya sehingga ia pun memanjatkan doa sebagai bentuk pertaubatannya sebagaimana direkam dalam Surat al-Qashash [28]: 16:

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ

Dia (Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.”

Dari lafadz doa ini dapat dilihat betapa menyesalnya Musa kala itu atas perbuatannya. Ia juga mengutarakan bahwa suatu kezaliman yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain hakikatnya merupakan bentuk kezaliman pada diri sendiri. Maka doa ini juga seakan memberikan pesan bahwa tindakan kezaliman apapun kepada orang lain haruslah dijauhi sebab apabila dilakukan maka sejatinya tindakan itu juga merusak diri sendiri.

Baca Juga: Tafsir Surat Taha Ayat 29-35: Diangkatnya Harun Menjadi Nabi Atas Permintaan Nabi Musa

Hal ini sebagaimana didapati pada dua ayat selanjutnya bahwa akibat dari perbuatannya ini, Musa menjadi serba ketakutan saat berjalan di kota.

فَاَصْبَحَ فِى الْمَدِيْنَةِ خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ

Karena itu, dia (Musa) menjadi ketakutan berada di kota itu sambil menunggu (akibat perbuatannya)

Ayat ini memberikan gambaran sisi kemanusiaan, di mana apabila manusia melakukan sebuah kezaliman atau dosa maka hatinya akan was-was dan ketakutan. Hal ini juga sebagaimana disampaikan dalam sebuah Hadis pada kitab Bulugh al-Maram:

والإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَاسُ

Dosa adalah sesuatu yang (kamu kerjakan dan) mengusik hatimu dan kamu benci atau tidak ingin jika sesuatu (yang kamu kerjakan) itu diketahui oleh orang lain.

Maka jika sudah terlanjur melakukan sebab tidak bisa menahan, maka sesalilah perbuatan yang dilakukan dan panjatkan doa ini sebagai bentuk pertaubatan. Sebab sebagaimana di akhir ayat ke-16 ini dikatakan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Doa Terbebas dari Kezaliman dan Mendapat Tempat yang Lebih Baik

Doa kedua ini ditemukan masih dalam episode ayat kisah yang sama dengan doa pertama. Doa kedua ini juga sekaligus menjadi penutup episode pertama di mana akhirnya Musa meninggalkan Mesir (sebab adanya niatan Fir’aun untuk mengepung dan membunuh Musa) dan berhijrah menuju Madyan. Doa ini dicatat dalam Surat al-Qashash [28]: 21:

فَخَرَجَ مِنْهَا خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ ۖقَالَ رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ

Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.”

Sesuai konteksnya, bahwa doa ini dipanjatkan Musa tatkala dirinya sudah tidak kuasa melawan Fir’aun yang ingin membunuhnya. Lalu akhirnya ia berhijrah dari Mesir menuju Madyan demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan terbebas dari kezaliman, sebelum nantinya kembali dan mengalahkan Fir’aun.

Maka berdasarkan penjelasan di atas, doa yang dipanjatkan Nabi Musa ini dapat diamalkan oleh umat Islam yang mengalami kezaliman di lingkungan tempat tinggalnya, tempat kerjanya ataupun tempat-tempat beraktivitas lainnya, lalu ingin pindah dan ingin mendapatkan tempat yang lebih baik.

Doa Saat Tersesat dalam Perjalanan

Doa ketiga ini didapati pada episode ayat 22-28 yang mengisahkan tentang perjalanan Musa ke Negeri Madyan dan pernikahannya denga putri Nabi Syuaib. Doa yang termaktub dalam Surat al-Qashash [28]: 22 ini digambarkan, dalam penafsiran Ulama, terjadi saat situasi Nabi Musa yang sedang tersesat di tengah perjalanan ke Madyan. Maka ia pun melafadzkan doa berikut:

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاۤءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسٰى رَبِّيْٓ اَنْ يَّهْدِيَنِيْ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ

Dan ketika dia menuju ke arah negeri Madyan dia berdoa lagi, “Mudah-mudahan Tuhanku memimpin aku ke jalan yang benar.”

Dikatakan bahwa Musa kala itu menemui tiga cabang jalan di depannya. Maka setelah ia berdoa ia pun ditunjukkan oleh Allah jalan yang tepat untuk dilewati hingga akhirnya sampai di Madyan. Maka umat Islam apabila tersesat di jalan dan tidak ada seseorang pun yang bisa dimintai petunjuk, panjatkanlah doa ini dan gantungkanlah segala harapan hanya kepada-Nya.

Doa Lancar Rezeki dan Jodoh

Doa terakhir ini masih berada pada satu episode yang sama dengan kisah sebelumnya. Doa ini merupakan salah satu doa yang masyhur didengar atau bahkan dipraktekkan oleh sebagian umat Islam sebab ditengarai mampu memperlancar jalan mendapat jodoh. Tapi apakah hanya jodoh saja yang diperlancar oleh doa ini? Mari lihat terlebih dahulu lafadz doanya:

فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ

Maka dia (Musa) memberi minum (ternak) kedua perempuan itu, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku.” (Surat al-Qashash [28]: 24)

Konteks dari doa ini ialah menggambarkan keadaan Musa yang akhirnya berhasil memberi minum hewan ternak kedua gadis tersebut (putri Syuaib) dari sumur Madyan yang ditutup batu. Di mana batu penutup sumur itu tidak akan bisa dibuka kecuali diangkat bersama-sama oleh sepuluh orang. Maka setelah menutup kembali sumur, Musa pun berteduh di bawah pohon untuk beristirahat. Musa yang sangat kelaparan pun berdoa kepada Allah dengan lafadz doa tersebut.

Baca Juga: Ingin Diberi Kelancaran Urusan? Baca Doa Nabi Musa Ini!

Jadi pada dasarnya niat Musa saat memanjatkan doa tersebut ialah memohon kepada Allah agar dikaruniai makanan. Sebab kondisinya saat itu saat lelah dan lapar. Namun doa ini dikatakan dapat memperlancar jalan mendapat jodoh, sebab melalui doa ini juga Musa ditakdirkan berjumpa dengan Nabi Syuaib karena telah menolong putrinya dan kemudian dijadikan menantu olehnya.

Berdasarkan konteksnya, doa ini sejatinya bisa diamalkan dalam keadaan sempit secara ekonomi dan memohon kepada Allah agar dikaruniai kelapangan serta tercukupinya kebutuhan. Selain itu sebagaimana dikenal, doa ini juga tepat untuk diamalkan sebagai wasilah melancarkan azam ingin segera menikah namun belum memiliki pasangan.

Doa-doa Nabi Musa dalam Surat al-Qashash yang telah dijabarkan, baik dari sisi konteks maupun tujuannya, semoga bisa menambah referensi doa-doa harian yang ingin diamalkan oleh pembaca yang mungkin saat ini sedang dalam kondisi dan keadaan yang menyerupai konteks dari masing-masing doa. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al ‘Adiyat Ayat 1-11

0
tafsir surat al 'Adiyat
Tafsiralquran.id

Setelah pada surat yang lalu berbicara mengenai hari kiamat serta kebingungan yang dialami penghuninya, dalam Tafsir Surat Al ‘Adiyat Ayat 1-11 berbicara mengenai motivasi Allah swt kepada seluruh umat Islam. Khususnya kepada mereka yang sedang dalam jihad fi sabilillah. Konteks ayat dalam ayat ini adalah perlwanan terhadap orang-orang kafir.


Baca juga: Tafsir Surat Az Zalzalah Ayat 1-8


Sebagai awalan dalam Tafsir Surat Al ‘Adiyat Ayat 1-11 ini Allah swt bersumpah menggunakan objek kuda yang sangat berani dan kuat. Tujuan dari sumpah tersebut untuk membangkitkan semangat umat Islam ketika itu. Makna lain dari sumpah ini bahwa manusia juga bisa mempunyai sifat seperti kuda. Misalnya dalam hal keliarannya sehingga perlu untuk ditegur dan diingatkan.

Meski begitu, Tafsir Surat Al ‘Adiyat Ayat 1-11 ini lebih lanjut mengonfirmasi juga bahwa meskipun manusia juga berpotensi liar namun keliaran itu bisa dikendalikan jika mereka bisa mawas diri dan sadar diri sehingga tidak terjerumus dalam kekufuran dan keingkaran. Allah swt mengancam orang-orang yang kufur dan ingkar atas nikmat-nikmat yang telah Ia berikan.

Ayat 1-5

Allah bersumpah dengan kuda perang yang memperdengarkan suaranya yang gemuruh. Kuda-kuda yang memancarkan bunga api dari kuku kakinya karena berlari kencang. Kuda-kuda yang menyerang di waktu subuh untuk menyergap musuh di waktu mereka tidak siap siaga. Karena kencangnya lari kuda itu, debu-debu jadi beterbangan.

Allah menyatakan bahwa kuda yang menyerang itu tiba-tiba berada di tengah-tengah musuh sehingga menyebabkan mereka panik. Allah bersumpah dengan kuda dan sifat-sifatnya dalam suasana perang bertujuan untuk membangkitkan semangat perjuangan di kalangan orang-orang Mukmin.

Sudah selayaknya mereka bersifat demikian dengan membiasakan diri menunggang kuda dengan tangkas untuk menyerbu musuh. Mereka juga diperintahkan agar selalu siap siaga untuk terjun ke medan pertempuran bila genderang perang memanggil mereka untuk menghancurkan musuh yang menyerang, sebagaimana Allah berfirman:

وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ

Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah dan musuhmu. (al-Anfal/8: 60)

Allah bersumpah dengan kuda perang yang dalam keadaan berlari kencang, hilir-mudik, memancarkan percikan bunga api dari kakinya karena berlari kencang, dan dengan penyergapan di waktu subuh, menunjukkan bahwa kuda-kuda yang dipelihara itu bukan untuk kebanggaan. Hendaknya kuda yang dipuji adalah yang digunakan untuk memadamkan keganasan musuh, melumpuhkan kekuatan mereka, atau menghadang serangan mereka.

Maksudnya, dalam ketangkasan berkuda terkandung faedah yang tidak terkira banyaknya. Di antaranya adalah dapat dipergunakan untuk mencari nafkah, cepat bergerak untuk suatu keperluan yang mendadak, digunakan untuk menyergap musuh, dan dapat mencapai tempat yang jauh dalam waktu yang singkat.


Baca juga: Tinjauan Tafsir terhadap Jihad, Perang dan Teror dalam Al-Quran


Ayat 6

Dalam ayat ini, Allah menerangkan isi sumpah-Nya, yaitu: watak manusia adalah mengingkari kebenaran dan tidak mengakui hal-hal yang menyebabkan mereka harus bersyukur kepada penciptanya, kecuali orang-orang yang mendapat taufik, membiasakan diri berbuat kebajikan dan menjauhkan diri dari kemungkaran.

Hubungan antara ayat 5 yang menggambarkan persoalan kuda dan ayat 6 yang memberi informasi tentang sifat dasar manusia adalah bahwa manusia itu mempunyai potensi menjadi liar seperti kuda yang tidak terkendali, sehingga menyebabkannya ingkar kepada Allah.

Sifat yang terpendam dalam jiwa manusia ini menyebabkan ia tidak mementingkan apa yang terdapat di sekelilingnya, tidak menghiraukan apa yang akan datang, dan lupa apa yang telah lalu. Bila Allah memberikan kepadanya sesuatu nikmat, dia menjadi bingung, hatinya menjadi bengis, dan sikapnya menjadi kasar terhadap hamba-hamba Allah.

Ayat 7

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa seorang manusia meskipun ingkar, aniaya, dan tetap dalam keingkaran serta kebohongan, bila ia mawas diri, seharusnya ia akan kembali kepada yang benar.

Dia mengaku bahwa dia tidak mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang dianugerahkan kepadanya. Dia juga mengakui bahwa semua tindakannya merupakan  penentangan dan pengingkaran terhadap nikmat tersebut. Ini adalah kesaksian sendiri atas keingkarannya, pengakuan tersebut lebih kuat daripada pengakuan yang timbul dari diri sendiri dengan lisan.

Ayat 8

Allah menyatakan bahwa karena sangat sayang dan cinta kepada harta serta keinginan untuk mengumpulkan dan menyimpannya menyebabkan manusia menjadi sangat kikir, tamak, serta melampaui batas. Allah berfirman:

وَّتُحِبُّوْنَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّاۗ  ٢٠

Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. (al-Fajr/89: 20)

Ayat 9-11

Dalam ayat-ayat berikut ini, Allah menerangkan ancaman-Nya kepada orang-orang yang ingkar terhadap nikmat-nikmat-Nya dengan menyatakan apakah mereka tidak sadar bahwa Allah mengetahui isi hatinya. Allah juga menyatakan bahwa Dia akan membalas keingkaran mereka itu pada hari dikeluarkan apa yang ada di dalam dada dan dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Qari’ah Ayat 1-11


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat 17: Peredaran Bumi, Bulan, dan Matahari serta Empat Musim dan Iklim Bumi

0
peredaran bumi, bulan, matahari dan empat musim
peredaran bumi, bulan, matahari dan empat musim

Bumi adalah planet dihuni oleh jutaan umat manusia dari masa ke masa. Di bumi, manusia tinggal dengan semua kejadian alam yang menopang kehidupannya. Mulai dari silih bergantinya siang dan malam, pasang dan surut air laut, terjadinya empat musim, hingga adanya iklim bumi yang berbeda-beda di setiap wilayah.

Gejala-gejala dan peristiwa alam tersebut merupakan ayat kauniyah. Tanda-tanda yang Allah berikan kepada manusia agar ia bisa mengenal dan mengingat-Nya, tentunya bagi manusia yang mau berfikir dan bertafakkur. Karena begitu besar kasih sayang-Nya kepada manusia hingga apa yang ada di bumi ini sejatinya hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, termasuk gejala pergantian empat musim dan adanya perbedaan iklim di masing-masing wilayah bumi. Adanya empat musim dan perbedaan iklim tersebut ternyata juga diisyaratkan Allah dalam Surat Ar-Rahman ayat 17.

Peredaran Bumi, Bulan, dan Matahari

Dalam surat Ar-Rahman ayat 17, Allah memberikan penegasan terhadap ayat kauniyah-Nya. Allah swt merajai dan mengatur kejadian di alam semesta. Adapun lafadz surat Ar-Rahman ayat 17 adalah sebagai berikut:

رَبُّ ٱلْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ ٱلْمَغْرِبَيْنِ

“Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya.”

Di dalam Tafsir Kemenag ayat tersebut mengandung penjelasan tentang peredaran matahari dan bulan. Allah telah menciptakan keduanya kemudian mengatur peredarannya dengan perhitungan yang cermat dan tepat. Allah memelihara dua tempat tersebut, dua tempat terbenam matahari. Kemudian atas perubahan-perubahan tersebut muncullah siang dan malam serta musim yang silih berganti, kemudian iklim yang berbeda-beda di setiap bagian bumi.

Baca juga: Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat 1-4: Inilah Dua Kenikmatan Besar Pada Manusia

Dua Timur dan Dua Barat menyiratkan bentuk Bumi yang bulat. Karena hanya pada benda-benda yang berbentuk seperti bola saja peristiwa-peristiwa yang seoerti itu dapat terjadi. Dalam ilmu pengetahuan seperti geografi bentuk bumi ini senyatanya memang bulat. Adanya aat ini membuktikan bahwa Al-Quran dan ilmu pengetahuan memang tidak ada pertentangan.

Ayat ini juga mengandung pengertian tentang peredaran Bumi yang mengelilingi Matahari. Kedua tempat terbit dan terbenam matahari yang disebutkan pada ayat di atas merupakan akibat dari berputarnya Bumi terhadap Matahari. Waktu perederan merekapun sangat tepat dan tidak pernah terlambat. Atas gerak peredaran Bumi dan Matahari tersebut muncullah kejadian siang dan malam seperti yang juga difirmankan Allah swt dalam surat Al-Qashash ayat 71, 72, dan 73.

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menjelaskan bahwa peredaran Bumi ini tidak hanya berkaitan dengan Matahari saja, tetapi juga bersinggungan dengan Bulan. Bulan yang pada siang hari tidak tampak, dan hanya terlihat pada malam hari adalah akibat dari gerak orbit Bulan yang mengelilingi Bumi. Beberapa kejadian seperti fenomena gerhana bulan dan juga gerhana Matahari juga sebagai akibat dari gerak orbit ini.

Peredaran Bulan ini akhirnya dapat digunakan manusia sebagai acuan dalam menentukan sistem penanggalan dalam Islam. Sistem penanggalan tersebut bernama penanggalan Hijriyah. Di samping pula terdapat sistem penanggalan yang menurut peredaran Matahari yaitu sistem penanggalan Syamsiyah.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Qamar Ayat 1: Fenomena Terbelahnya Bulan

Isyarat Empat Musim dan Perbedaan Iklim di Bumi

Peredaran Bumi, Bulan, dan Matahari yang terdapat dalam surat Ar-Rahman ayat 17 juga menimbulkan fenomena-fenomena alam lain yang juga berdampak bagi kehidupan manusia di bumi. Akibat peredaran tersebut muncullah empat musim di Bumi yang silih berganti.

Al-Mahalli dan As-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain menuturkan bahwa ayat tersebut mengandung pengertian musim dingin dan musim panas. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah Quraish Shihab menjelaskan secara lebih detail dan rinci mengenai isyarat empat musim yang terdapat dalam surat Ar-Rahman ayat 17. Fenomena terbit dan terbenamnya Matahari di dua tempat tersebut disebabkan oleh kecondongan garis edar Bumi yang mengedari Matahari selama 523,5 derajat.

Ketika belahan Bumi utara yang condong ke Matahari pada musim panas akan mengakibatkan siang lebih panjang daripada malam. Kondisi ini berlangsung hingga matahari mencapai ujung utara garis bujur timur dan Barat. Lalu kembali sedikit demi sedikit hingga tiba musim gugur.

Kondisi pada musim ini mengakibatkan malam lebih panjang daripada siang dan berlangsung hingga Matahari bergeser ke selatan yang menjadi tanda dimulainya musim dingin. Kemudian Matahari akan bergeser hari demi hari hingga mencapai garis bujur Timur dan Barat pada saat musim semi.

Wahbah al-Zuhaili dalam al-Tafsir al-Wasith menjelaskan bahwa dua tempat terbit dan terbenam suah Ar-Rahman ayat 17 di atas adalah tempat terbit dan terbenam pada musim panas dan hujan yang  berarti Allah menjaga, mengatur dan memelihara matahari sehingga terjadi empat musih di bumi yaitu  semi, panas, gugur dan dingin. Selain itu akibat gerak orbit Bumi dan Maatahari ini muncullah perbedaan iklim yang terjadi di wilayah Bumi seperti iklim seperti iklim sedang, dingin, tropis dan subtropis.

Dalam kitab Tafsir Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Takwil, al-Baidhawi menjelaskan bahwa dari surat Ar-Rahman ayat 17 tersebut mengandung pengetahuan tentang perbedaan iklim serta pergantian musim. Selain itu mengandung pengertian juga bahwa terdapat faedah manfaat yang Allah berikan kepada manusia dari fenomena tersebut.

Adanya perbedaan iklim dan pergantian musim tersebut membawa dampak yang baik bagi manusia seperti terjadinya musim tanam, musim panen, dan sebagainya yang memberikan manusia, hewan, tumbuhan, dan makhluk Allah yang lain untuk beraktivitas. Wallahu A’lam

Kisah Nabi Zulkifli Dalam Al-Quran: Sosok Hamba Yang Penyabar

0
Kisah Nabi Zulkifli
Kisah Nabi Zulkifli

Kisah nabi Zulkifli merupakan salah satu kisah Al-Qur’an yang menginspirasi. Beliau merupakan salah seorang nabi yang diutus oleh Allah swt kepada bani Israil dari sekian banyak nabi. Nabi Zulkifli dikenal sebagai sosok hamba yang penyabar, memenuhi janji, amanah, jujur, dan sanggup menanggung risiko maupun kesulitan dari dakwah yang dilakukan kepada kaumnya.

Nabi Zulkifli merupakan putra nabi Ayyub yang mempunyai nama asli Basyar. Beliau tinggal di negeri Syam yang dipimpin oleh seorang raja tua dan tidak memiliki keturunan. Awal mula dia dipanggil Zulkifli adalah ketika suatu hari sang raja sedang mencari penggantinya. Ia menyerahkan akan menyerahkan kekuasaan kepada siapa saja yang mau bertanggung jawab menjalankan amanah umat (zulkifli) dan orang-orang yang bertakwa kepada Allah swt.

Suatu hari, ketika sang raja yang arif dan bijaksana akan pensiun dan resah karena belum memiliki calon pengganti yang tepat. Dia pun mengadakan sayembara kala itu dan mengumpulkan semua rakyatnya di depan kerajaan. Sang raja berkata, “Wahai rakyatku, aku ingin mengangkat seseorang untuk memimpin kalian di masa hidupku agar aku dapat melihat tindak tanduknya.” (Qashash al-Anbiya: 393).

Dia lantas berkata, “Siapa yang mampu mengembang tiga tugas dariku, yakni sanggup berpuasa di siang hari, salat di malam hari, dan menahan emosi. Ia akan aku angkat menjadi pemimpin negeri ini.” Namun tidak ada satu pun dari rakyatnya yang menjawab, karena tiga tugas yang ia berikan sangatlah berat dan sulit untuk dilaksanakan secara terus-menerus kecuali bagi orang-orang pilihan.

Hingga akhirnya, berdirilah seorang pemuda bernama Basyar sambil mengangkat tangan kanannya dan berkata, “Hamba sanggup!” tegas nabi Zulkifli. Berulang-ulang sang raja bertanya kepada rakyatnya, namun tidak ada yang menjawab selain sang pemuda tadi. Maka terpilihlah Basyar menggantikan sang raja, dan namanya pun berubah menjadi Zulkifli yang berarti “orang yang sanggup memegang janji.”

Kisah Nabi Zulkifli Dalam Al-Qur’an: Sosok Hamba Yang Penyabar

Nabi Zulkifli as pun menjadi raja Syam saat itu. Sosok hamba yang penyabar ini mampu memimpin negerinya dengan baik. Beliau bahkan lebih mementingkan urusan rakyatnya dibandingkan urusan dirinya dan keluarganya. Dia memegang teguh janjinya untuk berpuasa di siang hari dan jalan di malam hari, serta selalu sabar dalam keadaan apapun. Ia juga tidak pernah marah-marah apalagi terlihat murka.

Suatu ketika, terjadi pemberontakan di negeri Syam oleh orang-orang yang durhaka kepada Allah swt. Nabi Zulkifli lalu meminta prajurit dan rakyatnya untuk datang ke medan pertempuran. Namun, tidak ada satu rakyat pun yang berani melawan mereka karena takut mati. Sehingga mereka meminta nabi Zulkifli mendoakan kepada Allah swt untuk menjamin keberlangsungan hidup mereka.

Tanpa berpikir dua kali, nabi Zulkifli dengan sabar berdoa kepada Allah swt dan doanya tersebut segera dikabulkan oleh-Nya. Allah swt berfirman, “Aku telah mengetahui permintaanmu, dan aku mendengar doamu. Semua itu akan Aku kabulkan.”  Kemenangan pun dapat diraih tanpa seorang pun dari mereka yang gugur dalam pertempuran atas izin Allah swt.

Pada suatu hari, Iblis datang untuk melakukan tipu daya agar nabi Zulkifli gagal dalam mengemban tugasnya sebagai raja dan ketua dewan hakim. Iblis tersebut ternyata memiliki tipu daya yang begitu licik. Ia berubah wujud menjadi seorang manusia tua dan mengetuk pintu rumah nabi Zulkifli as untuk menggoyahkan kesabaran beliau (Qashash al-Anbiya: 395).

“Siapa Anda,” ujar nabi Zulkifli kepada setan yang menyamar. “Hamba musafir, semua barang kepunyaan hamba dirampok orang,” balas setan tersebut. Dengan rasa iba, nabi Zulkifli meminta setan yang menyamar tersebut datang besok hari ke kerajaannya. Namun, yang ditunggu tak kunjung datang. Padahal Nabi Zulkifli sudah meluangkan waktu untuk membantu setan yang menyamar itu.

Suatu saat, nabi Zulkifli merasa sangat ngantuk dan berpesan kepada keluarganya agar tidak mengizinkan orang lain menemuinya di waktu istirahat siang. Lagi dan lagi, setan datang untuk mengganggu nabi Zulkifli. Setan kembali menjelma menjadi pria tua, datang dan mengetuk rumah sosok hamba yang penyabar ini. Akan tetapi, keluarga beliau melarangnya karena nabi Zulkifli telah berpesan agar tidak ada yang mengganggu istirahatnya.

Tidak terima atas penolakan, setan yang menyamar itu pun masuk melalui lubang di dinding rumah. Dia membangunkan nabi Zulkifli yang sedang tertidur pulas. “Lihatlah dari mana aku datang,” ujar si setan. Menyadari bahwa pintu rumahnya terkunci, tetapi bapak tua tersebut tetap bisa masuk, nabi Zulkifli pun berseru, “Kau musuh Allah!”

Setan itu pun menjawab, “benar, kau telah membuatku putus asa untuk menggoda dirimu. Maka Aku melakukan perbuatan yang kau saksikan sendiri secara langsung agar kau marah kepadaku.” Tanpa rasa kesal sedikit pun, ternyata nabi Zulkifli as tidak marah dan ia tetap sabar meski terus-menerus diganggu bahkan ia sampai-sampai beberapa hari ia tidak bisa beristirahat.

Berkat kesabarannya tersebut, Allah swt memuji nabi Zulkifi dalam surah al-Anbiya’ [21] ayat 85-86 dan surah Shad [38] ayat 48 yang masing-masing berbunyi:

وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِدْرِيْسَ وَذَا الْكِفْلِۗ كُلٌّ مِّنَ الصّٰبِرِيْنَ ۙ ٨٥ وَاَدْخَلْنٰهُمْ فِيْ رَحْمَتِنَاۗ اِنَّهُمْ مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ ٨٦

“Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Zulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar. Dan Kami masukkan mereka ke dalam rahmat Kami. Sungguh, mereka termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 85-86).

وَاذْكُرْ اِسْمٰعِيْلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ ۗوَكُلٌّ مِّنَ الْاَخْيَارِۗ ٤٨

“Dan ingatlah Ismail, Ilyasa‘dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (QS. Sad [38]: 48).

Dari pemaparan di atas, ada beberapa hikmah yang dapat dipelajari melalui kisah nabi Zulkifli dalam Al-Qur’an, yakni seorang seharusnya menjadi sosok yang penyabar sebagaimana dirinya. Dalam konteks kekinian, kita di tengah berbagai masalah dan cobaan seperti covid-19 harus sabar terhadap itu semua sebagaimana nabi Zulkifli sabar atas godaan setan. Di sisi lain, kita juga melaksanakan dan mengupayakan perubahan ke arah yang lebih baik. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat al-Mulk Ayat 15: Berkelanalah! Hingga Sadar Kefanaan Dunia dan Kekekalan Allah

0
Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 28-30
Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 28-30

Berkelanalah, agar kita mengerti arti penciptaan dunia untuk MakhlukNya.  Pergilah, agar kita paham indahnya bumi dan isinya adalah bentuk ciptaan Allah, yang patut kita syukuri. Akan tetapi sesungguhnya Allah menyukai rasa syukur kita dengan menjelajah bumi demi untuk kemaslahatan segala makhlukNya. Kita menikmati rezeki makanan dan lainnya dari bumi, sebagai tanda bahwa bumi adalah bentuk kekuasaan Allah yang tiada habisnya untuk keperluan makhlukNya. Surat al-Mulk ayat 15 sebagai pengingat bahwa Allah memberikan rezeki melalui segala bentuk bumi. Maka jelajailah bumi.

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهِ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ

Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. (Q.S. al-Mulk [67]: 15)

Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 12-14: Allah Maha Mengetahui Sesuatu, Sekalipun Isi Hati Manusia

Tafsir Surat al-Mulk Ayat 15

Pada kitab Tafsir al-Misbah karangan Quraish Shihab tertulis bahwa Allah lah yang telah menundukkan bumi sehingga memudahkan kalian. Maka, jelajahilah di seluruh pelosoknya dan makanlah dari rezeki yang dikeluarkan dari bumi itu untuk kalian. Sesungguhnya hanya kepada-Allah lah kita akan dibangkitkan untuk diberi balasan.

Maksudnya, berjalanlah kalian ke mana pun yang kamu kehendaki di berbagai kawasannya, serta lakukanlah perjalanan mengelilingi semua daerah dan kawasannya untuk keperluan mata pencaharian dan perniagaan. Dan ketahuilah bahwa upaya kalian tidak dapat memberi manfaat sesuatu apapun bagi kalian, kecuali Allah sendiri yang berkehendak untuk memudahkannya.

Meskipun bumi itu bulat, dan terus menerus berputar, namun Allah SWT tetap memudahkan kita untuk tetap bisa menjelajah tanpa mengkhawatirkan peredaran bumi yang terus berputar.

Sebagaimana dengan apa yang disampaikan oleh Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdur Rahman, bahwa sahabat Umar bin Khatab pernah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda: Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberimu rezeki, sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung. Maksudnya ialah burung ketika pergi di pagi hari dengan keadaan lapar, kemudian pada saat pulang tepatnya pada petang hari, burung tersebut sudah dalam keadaan kenyang.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 8-11: Penyesalan Orang yang Ingkar di Hari Kiamat

Selanjutnya lafaz Dzaluul pada ayat 15 surat al-mulk adalah mufrad, jamaknya dzulul. Berasal dari kata adz dzillah atau dzalla-yadzullu yang berarti rendah, hina, tunduk, patuh, belas kasihan, mudah dan sebagainya. Al Husain bin Muhammad Ad Damaaghani mengatakan bahwa lafadz dzaluul di dalam Al Qur’an mengandung beberapa makna, yaitu tawaddu’, lemah lembut, kehinaan, terbentang dan terbelenggu.

Dalam Safwah At- Tafasirdzaluul pada ayat ini bermakna lunak dan mudah dijadikan tempat berjalan. Kemudian jika pada tafsir Al Azhardzaluul diartikan dengan rendah, maknanya bumi rendah di bawah kaki manusia atau di bawah pijakan manusia. Maka, bagaimanapun tingginya gunung, apabila manusia mendakinya, namun puncak gunung itu tetap terletak di bawah kaki manusia juga.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 5-7: Balasan Bagi yang Tak Patuh Perintah

Berkelanalah! Hingga Sadar Kefanaan Dunia dan Kekekalan Allah

Berkelana atau pun menjelajah bumi adalah menjadikan semakin jelas bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal, kecuali bentuk kekuasaan Allah dan dapat berakhir juga karena kehendak Allah. Menjelajah juga sangat positif, selain memang sangat dianjurkan dalam al-Quran. Dengan menjelajah, manusia diharapkan akan semakin bersyukur dan mendapatkan banyak hikmah serta pelajaran dari berbagai kejadian yang dihadapinya di perjalanan.

Dengan begitu, menjelajah bumi akan menemukan kebesaran Allah, pengetahuan luar biasa, berbagai macam ilmu hidup serta mampu memahami hakikat kehidupan, dan menyadari atas perihal kefanaan dunia, segala sesuatu tidak terlepada dengan kehendak Allah SWT. Bahkan selai itu juga, lebih merasuk dalam memahami ayat-ayat Allah sehingga kita akan senantiasa menunduk bertasbih dan khusyuk kepada Allah. Dan tentunya Allah SWT memberikan kelimpahan rezeki melalui bentuk kekuasaaNya yaitu bumi. Wallahu a’lam [].