Beranda blog Halaman 463

Tafsir Surat Al Qari’ah Ayat 1-11

0

Pada pembahasan surat yang lalu berbicara mengenai motivasi bagi kaum muslimin dengan menjadikan kuda yang sangat agresif sebagai objek sumpah, dalam Tafsir Surat Al Qari’ah Ayat 1-11 ini kembali kita berbicara mengenai hari kiamat. Dengan menggunakan kata al-qari’ah dan diulang-ulangnya kata tersebut mengindikasikan kedashsyatan hari itu sehingga membuat semua manusia kelimpungan.


Baca juga: Tafsir Surat Al ‘Adiyat Ayat 1-11


Setelah menjelaskan makna pengulangan kata al-qari’ah tersebut, Tafsir Surat Al Qari’ah Ayat 1-11 berbicara mengenai penggambaran bagaimana terjadinya hari itu. dikatakan bahwa manusia bagaikan laron yang berterbangan di sekeliling lampu. Hal itu menunjukkan kebingungan yang dihadapi manusia. Gunung-gunung juga berterbangan seperti kapas.

Pada keadaan yang karut-marut tersebut hanya terdapat dua golongan. Yaitu golongan orang-orang yang selamat dan golongan orang-orang yang celaka. Orang yang selamat adalah orang yang beriman dan beramal saleh ketika di dunia. Sedangkan orang yang celaka adalah orang yang ingkar dan selalu berbuat kerusakan.

Ayat 1

Dalam ayat ini, Allah menyebutkan kata al-qariah, yaitu salah satu nama hari Kiamat, seperti al-Haqqah, asSakhkhah, atTammah, dan al-Gasyiyah. Hari Kiamat itu juga disebut al-qariah karena ia menggetarkan hati setiap orang akibat kedahsyatannya. Kata al-qariah juga digunakan untuk menyebut suatu bencana hebat. Allah berfirman:

وَلَا يَزَالُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا تُصِيْبُهُمْ بِمَا صَنَعُوْا قَارِعَةٌ

Dan orang-orang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri. (ar-Ra’d/13: 31)

Maksudnya mereka ditimpa malapetaka hebat yang mengetuk hati mereka dan menyakiti tubuh mereka, sehingga mereka mengeluh karenanya.

Ayat 2

Dalam ayat ini Allah mengulang kata al-qariah dalam bentuk pertanyaan untuk meminta perhatian agar manusia memahami karena dahsyatnya kejadian hari Kiamat dan huru-hara yang membuat hati kecut, sehingga sulit menggambarkannya dengan tepat dan sulit mengetahui dengan sebenarnya.

Ayat 3

Allah mengulangi kata al-qariah itu adalah untuk menggambarkan kedahsyatan hari Kiamat itu, seakan-akan tidak ada sesuatu pun yang dapat dijadikan contoh untuk al-qariah itu. Bagaimana pun mengkhayalkannya, al-qariah lebih hebat dari itu.

Ayat 4

Karena sangat sulit mengetahui hakikat al-qariah, maka dalam ayat ini Allah menjelaskan waktu kedatangannya. Ketika itu, keadaan manusia bagaikan laron  yang beterbangan di sekeliling lampu pada malam hari. Penyerupaan ini adalah untuk menggambarkan keadaan manusia yang kebingungan dan tidak menentu arah tujuannya.

Manusia pada hari yang dahsyat itu bertebaran di mana-mana, bingung, dan tidak tahu ke mana akan dituju, apa yang akan dikerjakan, dan untuk apa mereka dikumpulkan di sana. Kondisi ini tidak ubahnya seperti anai-anai yang tidak berketentuan arahnya. Dalam ayat lain, Allah berfirman:

كَاَنَّهُمْ جَرَادٌ مُّنْتَشِرٌ

Seakan-akan mereka belalang yang beterbangan. (al-Qamar/54 : 7)

Ayat 5

Dalam ayat ini, Allah mengungkapkan bahwa gunung-gunung yang telah hancur itu beterbangan dari tempatnya seperti bulu halus yang diterbangkan angin. Lalu bagaimanakah keadaan manusia yang mempunyai tubuh yang lemah itu bila mengalami al-qariah itu.

Banyak terdapat dalam Alquran ayat-ayat tentang keadaan gunung-gunung pada hari Kiamat, di antaranya Allah berfirman pada ayat-ayat berikut:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ

Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (an-Naml/27 : 88)

وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيْبًا مَّهِيْلًا

Dan menjadilah gunung-gunung itu seperti onggokan pasir yang dicurahkan. (al-Muzzammil/73: 14)

وَّسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًاۗ  ٢٠

Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana. (an- Naba’/78: 20)

Semua keterangan tersebut untuk menjelaskan bahwa gunung-gunung yang besar dan kuat seharusnya tetap tidak dapat digerakkan, tetapi al-qariah dapat menghancurkannya, apalagi manusia makhluk yang lemah.


Baca juga: Mengenal Nasr Hamid Abu Zaid, Pengkaji Al-Quran Kontemporer Asal Tanta, Mesir


Ayat 6-7

Dalam ayat-ayat ini, Allah menjelaskan tentang ganjaran bagi orang-orang yang banyak melakukan amal kebajikan, yaitu ketika amal mereka ditimbang dan timbangannya berat karena banyak mengerjakan amal-amal saleh.

Ganjaran bagi orang-orang ini adalah kesenangan abadi di surga. Mereka hidup di dalamnya penuh dengan kebahagiaan, kenikmatan, dan kepuasan. Kita wajib mempercayai adanya mizan (neraca/timbangan) yang tersebut pada ayat ini dan dalam firman-Nya:

وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ

Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat. (al-Anbiya’/21: 47)

Ayat 8-9

Allah juga menjelaskan nasib orang-orang jahat yaitu bila amal orang-orang jahat itu ditimbang dan timbangannya itu ringan karena banyak mengerjakan kejahatan dan sedikit mengerjakan kebajikan di dunia maka mereka akan ditempatkan dalam neraka Hawiyah tempat penyiksaan orang-orang jahat, tempat hidup sengsara; suatu tempat yang mereka dijerumuskan ke dalamnya.

Ayat 10-11

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan arti kata hawiyah dalam bentuk pertanyaan, yaitu: apakah neraka Hawiyah itu dan dari apa ia dijadikan? Neraka Hawiyah adalah api yang menyala-nyala yang sangat panas di mana orang-orang yang berdosa dijerumuskan ke dalamnya untuk menerima balasan atas kejahatan dan kemungkaran yang mereka lakukan. Ayat ini menggambarkan jika semua api di seluruh dunia dikumpulkan dan dipersatukan, tidak akan dapat menyamai panasnya api neraka Hawiyah.


Baca setelahnya: Tafsir Surat At Takasur Ayat 1-3


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Nasr Hamid Abu Zaid, Pengkaji Al-Quran Kontemporer Asal Tanta, Mesir

0
nasr hamid abu zaid
nasr hamid abu zaid (islami.co)

Diskursus tanzil Al-Quran yang bersumber dari pemikir Islam modernis turut meramaikan kajian Al-Quran dewasa ini. Sebut saja Muhammad Arkoun, dia berargumen bahwa Al-Quran yang ada pada kita saat ini adalah edisi dunia. Sementara Al-Quran yang sebenarnnya adalah yang “diamankan” di Lauh Mahfudz (preserved tablet). Karena itu, menurut Arkoun dalam Lectures du Coran, kita tidak perlu menyakralkan Al-Quran edisi dunia yang telah mengalami “modifikasi, revisi bahkan substansi”.

Demikian juga Nasr Hamid Abu Zaid dalam Mafhum An-Nas, ia menyatakan bahwa Al-Quran adalah produk budaya (muntaj tsaqafi), artinya teks Al-Quran merupakan bagian yang tak terpisahkan dari struktur budaya Arab. Dalam kesempatan ini penulis akan mengulas biografi Nasr Hamid Abu Zaid, perjalanan intelektualnya serta karya-karyanya.

Profil Nasr Hamid Abu Zaid

Nasr Hamid bernama lengkap Nasr Hamid Rizk Zaid. Ia lahir di Tanta, ibukota Provinsi al-Gharbiyah, Mesir pada 10 Juli 1943. Muh Nur Ichwan dalam Nasr Hamid Abu Zaid dan Studi Al-Quran menyebutkan bahwa Nasr Hamid Abu Zaid lahir dalam lingkungan keluarga agamis dan religius yang taat beribadah. Ia mengenyam pendidikan agama sejak dini.

Ayahnya sendiri tercatat sebagai aktivis IM (Ikhwanul Muslimin) pengikut Sayyid Qutb yang pernah dipenjara menyusul dieksekusinya Sayyid Qutb. Nasr Hamid adalah seorang qari dan hafiz sehingga ia mampu menceritakan isi Al-Quran sejak usia 8 tahun sehingga ia dipanggil “Syaikh Nasr” oleh teman sejawatnya di desa.

Baca juga: Mengenal Empat Pembacaan Nashr Hamid Abu Zaid terhadap Al-Quran

Dari situlah awal mula Nasr Hamid memperlihatkan bakatnya dalam ilmu bahasa dan sastra yang pada gilirannya ia mengembangkan sebuah pembacaan baru terhadap Al-Quran dengan pendekatan linguistik dan sastra. Guna mempertajam intelektualnya, ia melanjutkan pendidikannya dari S1 sampai S3 di jurusan Sastra Arab pada Universitas Kairo yang sekaligus tempatnya mengabdi sebagai dosen sejak 1972.

Nasr Hamid Abu Zaid juga pernah memperoleh beasiswa untuk riset Ph.D nya di Institute of Middle Eastern Studies, University of Pennsylvania dan berkat itu ia tinggal di Amerika selama 2 tahun (1978-1980) yang kemudian melahirkan pemikiran kontroversial. Dan sejak tahun 1976-1987, ia mengajar untuk orang asing di Pusat Diplomat dan Menteri Pendidikan.

Berbagai stigma negatif seperti vonis murtad dan sejenisnya turut disematkan kepadanya. Vonis murtad, misalnya, terjadi tatkala ia terlibat dalam meramaikan diskursus keagamaan. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan peristiwa Qadiyyah Nasr Hamid Abu Zaid atau Hukuman kepada Nasr Hamid.

Tidak berhenti di situ, vonis itu berlanjut hingga pengadilan banding Kairo hingga akhirnya menghasilkan putusan hukum bahwa ia harus menceraikan istrinya Dr. Ibtihal Yunes dengan dalih seseorang yang murtada tidak boleh menikahi wanita muslimah. Semenjak peristiwa tersebut, Nasr Hamid beserta istrinya meninggalkan Mesir dan menetap di Netherlands (Belanda). Di Belanda, justru karirnya berkibar, ia menjadi profesor tamu studi Islam pada Universitas Leiden terhitung sejak 26 Juli 1995 hingga 27 Desember 2000. Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar tetap di Universitas tersebut.

Baca juga: Massimo Campanini; Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Italia

Karya-Karya

Nasr Hamid tergolong pemikir Islam kontemporer yang produktif dan konsisten dalam mengembangkan pendekatan barunya yaitu linguistik dan sastra dalam memahamai Al-Quran. Berikut beberapa karyanya,

  • Al-Ittijah al-Aqli fi al-Tafsir: Dirasat fi Qadiyyat al-Majaz inda al-Mutazilat (Kecenderungan Rasional dalam Penafsiran: Studi atas Persoalan Metafor dalam Al-Quran menurut kalangan Mutazilah), Beirut, (1982).
  • Falsafat al-Tawȋl: Dirasat fi Tawil al-Quran inda Muhyi al-Din Ibn Arabi (Filsafat Hermeneutik: Studi atas Hermeneutik AlQuran Muhyi al-Din Ibnu Arabi), Kairo, (1983).
  • Mafhum al-Nashsh: Dirasat fi Ulum al-Quran (Konsep Teks: Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran), Kairo, (1990).
  • Naqd al-Khitab al-Dini (Kritik Wacana Keagamaan), Kairo: Sina li al-Nasyr, 1994 (edisi ke-2), diterjemahkan dalam bahasa Jerman oleh Cherifa Magdi, Islam and Politic : Kritik des religiosen Diskursus. Frankfrut: Dipa, 1996.
  • Al-Takfir fi Zaman al-Tafkir: Didda al-Jahl wa al-Zayf wa al-Khurafat (Pemikiran di Zaman Pengkafiran: Menentang Kebodohan, Kekeliruan dan Khurafat), Kairo, (1995).
  • Al-Nash, al-Sulthat, al-Haqiqat: al-Fikr al-Dini bayna Iradat al-Marifat (Teks, Kekuasaan, dan Esensi: Pemikiran Keagamaa n antara Kehendak Pengetahuan), Kairo, (1995).
  • Dawair al-Kawf: Qiraat fi Khitab al-Marat (Wilayah Ketakutan: Pembacaan atas Wacana Perempuan), Dar al-Beida, (1999).
  • Al-Imam al-Syafii wa Tasis al-Aidiulujiyyah al-Washatiyyah. Kairo: Sina li al-Nasyr.

Wallahu A’lam.

Menyoal Pemaknaan Wali Menurut Al-Quran

0
Pemaknaan Wali Menurut Al-Quran
Pemaknaan Wali Menurut Al-Quran

Pembahasan tentang wali adalah persoalan yang rumit. Al-Quran sendiri menyebutkan, terdapat sebanyak 124 kata benda dan sekitar 112 kata kerja dari kata dasar wali yang dipakai (Quraish Shihab: 2014). Sebab itu, kata wali atau auliya’ tidak pernah henti-hentinya dikaji, baik di jurnal, buku, majalah, maupun tugas akhir; skripsi, tesis, dan disertasi. Berikut pemaknaan wali menurut al-quran.

Kata wali banyak polarisasinya. Ada yang mengatakan akar kata wali adalah ‘al-wilayah’ yang artinya ’kekuasaan’ atau ‘daerah’. Lalu diserap ke dalam bahasa Indonesia dan kita mengenalnya dengan istilah wali kota, wali murid, atau wali mempelai dalam pernikahan. Arti wali dalam konteks tersebut bermakna seseorang yang menguasai, punya hak penuh atas apa yang ia miliki.

Ada juga yang mengatakan kalau ‘wali’ terambil dari kata ‘al-walayah’, yang berarti pertolongan. Dari segi bahasa, wali memang maknanya bermacam-macam; kekasih, sekutu, penolong, kawan karib, follower, tetangga, dan lain-lain.

Baca juga: Syah Waliyullah Al-Dahlawi: Tokoh Pencetus Asbabun Nuzul Makro

Sementara secara terminologinya, di kalangan Ulama Ahlussunnah sering menyebut wali ditujukan kepada seorang yang beriman, bertakwa, dan mempunyai kedekatan tinggi di hadapan Allah Swt. Tidak salah jika Walisongo yang menyebarkan agama Islam di tanah Nusantara disebut sebagai waliyullah (orang yang dekat dengan Allah), karena memang kata dasar dari wali adalah ‘waliya-yawla’, yang berarti ‘dekat’.

Lantas, siapakah yang mempunyai otoritas untuk mengklaim atau menyebut seseorang sebagai wali? Sebab jika diukur dari kualitas ibadah atau iman dan taqwa seseorang, konsep tersebut masih abstrak. Derajat wali ada di bawah nabi, tapi identitasnya lebih misteri dibanding nabi. Wajar jika ada sebuah kaidah yang terkenal mengatakan; ‘la ya’riful wali illal wali’, tidak ada yang tahu wali kecuali wali itu sendiri.

Mengenai penjagaan seorang wali, Allah Swt dalam sebuah hadis qudsi-Nya berfirman, “Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah menyatakan perang untuknya” (Man ‘adaa liy waliyyan faqad aadathu bi al-harbi). Di dalam Q.S. Yunus (10): 62 dicirikan, seorang wali adalah ia yang tidak punya rasa takut dan rasa sedih di hatinya. Dia selalu berada dalam garis pembelaan terhadap ajaran Allah, dengan cara membela makhluk-Nya. Menistakan makhluk-Nya, sama saja menistakan pencipta-Nya. Tidak aneh jika K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) disebut sebagai seorang wali karena pembelaannya kepada nilai-nilai kemanusiaan tanpa rasa takut.

Bila melihat definisi al-Qur’an tersebut, wali tidak masuk kepada kategori orang-orang yang takut terhadap segala hal yang menimpa dirinya. Takut dipenjara, takut dihukum, takut disidang, takut jatuh miskin, takut tidak bisa menikah, takut sulit move on, dan kesedihan lainnya. Sebab itulah, sikap silau terhadap kehebohan seseorang yang kita anggap sebagai pembela agama, namun perilakunya bertentangan dengan ajaran agama, tidak dibenarkan.

Baca juga: Maryam Binti ‘Imran, Perempuan yang Menjadi Wali Allah

Dalam sebuah kisah diceritakan seorang wali yang dikenal sebagai orang gila berpakaian compang-camping laiknya gelandangan. Namun ketika meninggal dunia, banyak khalayak berbondong-bondong mengantarkan kepergiannya. Dalam hemat saya, katakanlah orang tersebut adalah gila dan hina di hadapan manusia, tetapi tidak di hadapan Allah Swt.

Poinnya adalah orang tersebut tidak pernah melukai hati saudaranya. Tidak pernah menghina dan mendzalimi sesama. Justru orang-orang yang seperti itu malah sering mendoakan kebaikan kepada saudara-saudaranya. Di pesantren, saya diajarkan, ada sebuah sindiran bila melihat orang yang gila, para santri menyentil, “Ojo dipoyoki sopo ngerti kui wali” atau “Atine ditoto ojo dirasani sing ora-ora, iso wae dongone mandi”. Dan saya pribadi justru menyangsikan, kalau ada orang yang kelihatannya paling depan dan berteriak paling keras soal bela agama, tetapi perilakunya jauh dari agama, berat rasanya orang itu disebut sebagai waliyullah (kekasih Allah).

Imam Syafi’i dalam kitab A’lamus Sunnah Al-Manshurah menyatakan, apabila kalian melihat orang yang bisa berjalan di atas air atau terbang di udara, janganlah tertipu dengannya, sampai kalian mengetahui dia mengikuti amalan dan sunnah Rasulullah. Jika bertentangan dengan ajaran Rasul, maka dia adalah wali setan (temannya setan).

Pernyataan Imam Syafi’i di atas sangat menarik jika kita kaji kembali khususnya oleh generasi milenial, generasi yang lahir di tengah banyaknya informasi hoax serta bermacam bentuk kepalsuan dan rekayasa (simulakra). Banyak orang yang kelihatannya hebat, bisa menggandakan uang, bisa menghilang, dan mempunyai pasukan ribuan di akun-akun media sosial. Kita tidak perlu terkejut, gumunan. Karena bisa jadi itu semua hanya tipuan mesin-mesin robot yang sengaja diciptakan untuk tampak memukau di depan mata, untuk menipu orang yang melihatnya.

Baca juga: Hermeneutika Kritis Jurgen Habermas dan Posisinya dalam Studi Al-Quran

Di media sosial, kita tidak perlu menyanjung dan memuja seseorang sak sundul langit, jika ia melakukan kehebatan atau suatu kehebohan yang luar biasa. Dan kita juga tidak perlu menghina dan menista seseorang yang telah berbuat jahat atau dosa. Siapa tahu orang yang berbuat baik itu hanyalah kepalsuan. Dan yang berbuat buruk atau jahat, dia juga berpeluang menjadi orang yang baik.

Kita tentu pernah mendengar sebuah kisah dimana seorang pelacur yang masuk surga karena memberi minum kepada anjing yang kehausan, dan kita juga pernah mendengar keampuhan seorang ustadz Barseso, yang bisa terbang dan menghilang, namun di ujung kematiannya, dia melakukan perbuatan yang melanggar syariat Islam; minum khomr, berbuat zina, bahkan sampai membunuh saudaranya.

Wali (orang yang dekat dengan Allah) untuk saat ini, adalah dia yang bukan hanya duduk manis dalam ritus-ritus ibadah an sich. Sekarang juga ada wali digital (waliyuddigital). Dialah yang mengamalkan prinsip-prinsip kebaikan, tidak mudah mencemooh dan melakukan hujatan di media sosial. Sebaliknya, ada wali setan. Orang-orang yang menciptakan chaos, mengajak keburukan dengan cara menyebarkan fitnah serta ujaran kebencian, walaupun dengan topeng agama sekalipun.

Kita berhak menjadi follower dari akun yang kita anggap sebagai kekasih (baca: wali) di media sosial, karena itu hak kita secara personal. Namun perlu diingat, kita tidak pernah mendengar seorang wali, kekasih Allah, yang menyebarkan ajaran Islam dengan kekerasan dan mengumbar kebencian, serta menghujat dan memaki orang lain. Karena kekasih Allah tentu ia mendakwahkan ajaran yang sesuai dengan sifatnya yang rahman dan rahim, pengasih dan penyayang. Sementara wali setan, adalah sebaliknya.

Bisa jadi, yang kita maki-maki di media sosial adalah seorang yang mempunyai kedekatan tinggi di sisi-Nya, kita tidak tahu. Namun di dalam hadis qudsi-Nya, Sang pemilik wali itu berpesan; Man ‘adaa liy waliyyan faqad aadathu bi al-harbi, “Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah menyatakan perang untuknya”. Membenci dan memerangi makhuk-Nya, berarti sama halnya mengajak perang pencipta-Nya. Lalu, bagaimana jika yang kita maki-maki di media sosial itu justru orang-orang yang selama ini dekat dengan-Nya? wallahu a’lam[]

Hermeneutika Kritis Jurgen Habermas dan Posisinya dalam Studi Al-Quran

0
Jurgen Habermas
Jurgen Habermas

Jurgen Habermas merupakan seorang sosiolog ternama di Jerman. Pemikiran hermeneutiknya banyak memberikan kritik kepada Gadamer. Dalam bangunan hermeneutikanya, Habermas menekankan pada aspek kritisime dalam analisis bahasa.

Baginya, bahasa tidak hanya sebagai alat penyampai pesan atau alat berkomunikasi tapi lebih daripada itu, bahasa juga dapat menjadi media bagi penguasa atau ideologi tertentu untuk melakukan pembenaran.

Jadi sebuah sistem bahasa yang telah ada atau telah membudaya bukanlah suatu hal yang netral sebab di dalamnya bisa saja ada sebuah distorsi yang sistematis di dalamnya, yakni dimana pengguna bahasa sudah terjebak dalam ketidaksadaran atas bahasa yang ia gunakan baik secara individu maupun kelompok.

Sederhananya banyak kosa kata khusus yang digunakannya akibat pengaruh pergaulan di lingkup lingkungan sosialnya, sehingga menjadi sebuah anomali jika dinilai dengan tata bahasa umum.

Baca Juga: Muhammad al-Ghazali, Mufassir Penggerak Hermeneutika dari Timur Tengah

“Komunikasi yang terdistorsi secara sistematis” inilah yang dilihat oleh Jurgen Habermas sebagai aspek yang tidak terjamah oleh Gadamer. Bagi Habermas perlu atau sebuah keharusan bagi seorang penafsir untuk mengetahui dan mengecek pemahaman penulis terhadap apa yang ditulisnya sehingga terbebas dari distorsi makna. Kebebasan akan distorsi makna itulah yang akan membebaskan kebenaran.

Adapun distorsi itu dapat dilihat (dalam teks) dari ketidakpatuhan penulis dengan tata bahasa umum yang telah ada. Dalam hal cara kerjanya, ada dua cara kerja utama hermeneutika kritis Jurgen Habermas, yakni: 1) interpretasi, dimana ini adalah tugas penafsir untuk mampu mencoba merancang sebuah konstruksi pengetahuan yang di dalamnya ada bahasa publik dan privat—hanya penulisnya yang tahu; 2) analisis, yakni sebuah upaya untuk mengkaji lebih dalam terhadap simbol-simbol privat yang digunakan oleh penulis, yang dalam hal ini dapat dikatakan “terdistorsi”, dengan meminta penulis me-recall ingatannya sehingga dapat ditemukan motif-motif yang melatarbelakangi sang penulis melakukan sensor terhadap dirinya (Hardiman, Seni Memahami: 203-209).

Dari sanalah akan didapati kesepahaman antara penafsir dan penulis dalam bentuk kebenaran yang sifatnya emansipatoris atau terbebas dari belenggu-belenggu power yang dapat berbentuk kekuasaan ataupun ideologi-ideologi yang merepresi penulis—disini terlihat sekali pengaruh pemikiran Marx.

Teori hermeneutika kritis ala Habermas ini di satu sisi merupakan pelengkap dari hermeneutika yang digagas oleh Gadamer, namun di sisi lain sebenarnya tidak bisa menjangkau apa yang digagas oleh Gadamer.

Dalam hermeneutika Gadamer, teks dianggap netral dan universal artinya tidak adanya kecurigaan bahwa telah terjadi distorsi dalam teks yang disebabkan oleh penulisnya sendiri. Maka hermeneutika Habermas, dapat dikatakan, lahir untuk memberikan kritik sekaligus melengkapi aspek yang tak terjamah oleh Gadamer yakni terjadinya distorsi secara sistematis dalam teks, dengan memberikan sebuah modul cara kerja untuk mengorek dan menjelaskan permasalahan distorsi ini langsung dari penulisnya.

Namun dalam realita empirisnya—yang dimaksud disini adalah dalam ranah kajian al-Qur’an, metode hermeneutika kritis ini terlihat tidak dapat diterapkan sebab kitab-kitab yang dikaji biasanya penulisnya telah wafat—kecuali jika mengkaji pemikir-pemikir kontemporer yang masih ada seperti Farid Essack maupun Abdullah Saeed misalnya, atau bahkan jika merujuk kepada al-Qur’an secara langsung itu akan menjadi mustahil untuk diterapkan.

Sebab secara teologis sebagai umat Islam tidak mungkin kita menyatakan bahwa Tuhan mengalami gejala psikopatologi sebagaimana manusia tatkala kita menjumpai ayat al-Qur’an yang secara uslub keluar dari uslub orang Arab pada umumnya—sebab justru hal itu dikatakan sebagai al-i’jaz al-balaghy atau mukjizat kebahasaan.

Namun dalam rangka pengembangan Studi Islam secara umum, teori Jurgen Habermas dapat dijadikan sebagai alat atau kacamata dalam melihat fenomena sosial keagamaan. Jadi dengan melihat realita yang sedang berkembang dan membaca adanya fenomena psikopatologi di dalamnya. Semisal munculnya berbagai fenomena arabisasi ataupun fundamentalisme yang belakangan ini banyak terjadi dalam tubuh masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Kajian Barat atas Timur: Dari Edward Said Sampai Angelika Neuwirth

Dengan menggunakan pisau analisis teori hermeneutika Habermas, kita dapat melakukan interpretasi dan upaya rekonstruksi atas epistemologi pemikiran yang dibangun dalam masyarakat tersebut.

Selanjutnya untuk mendapatkan pemahaman yang holistik atas fenomena yang terjadi, maka perlu adanya penggalian informasi dengan salah satunya mengadakan penelitian partisipatif sehingga nantinya didapati apa yang saya sebut sebagai refleksi natural—atau sederhananya prilaku spontan yang telah menjadi ciri khas suatu komunitas tertentu yang didalamnya tentu dipengaruhi oleh ideologi yang mempengaruhinya—dari apa yang mereka pahami dan apa yang mereka lakukan. Wallahu a’lam.

Surah Al-Baqarah [2] Ayat 133: Nabi Yaqub Berwasiat Kepada Anaknya

0
Nabi Yaqub
Nabi Yaqub AS

Nabi Yaqub as adalah putra dari nabi Ishaq bin Ibrahim dan ibunya Rifqah binti A’zar atau yang lebih dikenal orang barat sebagai Rebecca. Beliau adalah salah satu nabi yang wajib diketahui dan dipercaya oleh umat Islam yang bersal dari Palestina. Nabi Yaqub menjalani hidupnya tepat di bawah jejak ayah dan kakeknya (nabi Ibrahim) yang memiliki keyakinan penuh pada Keesaan Tuhan.

Menurut Sami bin Abdullah Al-Maghluts dalam bukunya, Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, nabi Yaqub diutus kepada penduduk bani Israil pada tahun 1750 SM atau saat berusia sekitar 87 tahun. Beliau diperkirakan lahir pada 1837 SM dan wafat pada 1690 SM. Nabi Yaqub dimakamkan di Al-Khalil, Hebron, Palestina. Sedangkan pengutusannya adalah wilayah Syam.

Nabi Yaqub memiliki empat orang istri, masing-masing bernama Liya yang menurunkan tujuh orang anak; Rahel yang menurunkan dua orang anak (nabi Yusuf dan Bunyamin); Balha melahirkan dua orang anak; dan Zulfa yang juga melahirkan dua orang anak. Sehingga, total anak-anak nabi Yaqub berjumlah 12 orang.

Ia dikenal sebagai sosok orang tua yang penyayang. Beliau senantiasa memberikan perhatian dan kasih sayang yang sama untuk semua anak-anaknya, termasuk dua yang paling bungsu Yusuf dan Bunyamin. Tak jarang nabi Yaqub berwasiat kepada anaknya agar selalu hidup berdasarkan ketentuan Allah swt, sebab Dia adalah Tuhan Semesta alam.

Surah Al-Baqarah [2] Ayat 133: Nabi Yaqub Berwasiat Kepada Anaknya

Dalam Al-Qur’an nama Yaqub disebutkan sebanyak 16 kali dengan nama yang jelas. Beberapa kali disebut dengan nama Israil, ayahnya Yusuf, dan lainnya. Namanya juga beberapa kali disebut bersamaan dengan kisah putranya, Yusuf, serta kisah Ibrahim dan Ishaq. Hal ini disebabkan karena zaman mereka berdekatan dan kesamaan visi serta misi yang mereka sampaikan.

Baca Juga: Kisah Nabi Yahya dalam Al-Quran: Dapat Hikmah dan Maksum Sejak Kecil

Dakwah Nabi Yaqub tidak banyak diceritakan dalam Al-Qur’an maupun buku-buku sejarah yang juga ditulis dari sumber Al-Qur’an karena minimnya sumber rujukan atau referensi. Namun, kisahnya bersama Yusuf, menunjukkan keutamaan Yaqub dalam menjalankan tugasnya sebagai utusan Allah swt kepada anak-anak dan kaumnya.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang menyinggung tentang ajaran nabi Yaqub kepada anak-anak dan umatnya adalah surah al-Baqarah [2] ayat 133. Secara umum ayat ini menyebutkan bahwa sebelum kematiannya nabi Yaqub berwasiat kepada anaknya tentang Tuhan yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yakni Allah Yang Maha Esa.

اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُۙ اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْۗ قَالُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَاۤىِٕكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ١٣٣

Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah [2] ayat 133).

Menurut Quraish Shihab, ketika Allah berfirman, “Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya,” Dia tidak sedang bertanya mengenai kehadiran para penduduk bani Israil, karena pada waktu itu tidak ada yang hadir kecuali anak-anak nabi Yaqub. Pertanyaan ini sebenarnya merupakan sebuah kritik kepada mereka yang menyekutukan Allah dengan dalih mengikuti ajaran nabi Yaqub.

Pada ayat ini, Allah swt ingin menegaskan ketika mendekati kewafatannya, Ia berwasiat kepada anaknya bahwa mereka harus senantiasa mengesakan Allah di manapun dan kapanpun mereka berada. Penekanan penyebutan waktu sebelum maut akan menjemput pada surah al-Baqarah [2] ayat 133 menunjukkan bahwa wasiat ini amatlah penting. Karena itu adalah saat terakhir, saat perpisahan dan tidak akan ada wasiat lain sesudahnya.

Selanjutnya, ayat di atas menjelaskan wasiat itu dalam bentuk yang sangat meyakinkan. Mereka ditanya oleh Yaqub, lalu setelah mereka sendiri menjawab, jawaban itulah yang merupakan wasiat nabi Yaqub: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mengapa redaksi pertanyaan itu berbunyi “apa” dan bukan “siapa” yang kamu sembah? Karena kata “apa” dapat mencakup lebih banyak hal dari kata “siapa.”

Pertanyaan nabi Yaqub menggunakan kata “apa” bukan tanpa sebab. Beliau berkaca pada sejarah penyimpangan manusia terhadap ajaran nabi sebelumnya. Bukankah ada orang Yahudi dan selainnya yang menyembah makhluk tak berakal? Orang Yahudi pernah menyembah anak sapi, yang lainnya menyembah berhala, ada lagi yang menyembah bintang, matahari, dan lain-lain.

Ketika mendengar nabi Yaqub bertanya, mereka dengan tegas dan serempak menjawab, “Kami kini dan nanti akan terus-menerus menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, dan putra Nabi Ibrahim dan juga pamanmu yang sepangkat dengan ayahmu yaitu lsma‘il serta Tuhannya ayah kandungmu wahai ayah kami Nabi Yaqub, yaitu Ishaq.” Tuhan yang dimaksud di sini Adalah Allah swt.

Baca Juga: Kisah Nabi Musa dan Doa-Doa yang Dipanjatkannya dalam Surat al-Qashash

Terlihat bahwa jawaban mereka amat gamblang. Bahkan, untuk menghilangkan kesan bahwa Tuhan yang mereka sembah itu dua atau banyak tuhan – karena sebelumnya mereka berkata, Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu – maka ucapan mereka dilanjutkannya dengan penjelasan bahwa (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya siapa pun Dia.

Berdasarkan keterangan di atas, dapat diketahui bahwa menjelang kewafatannya nabi Yaqub berwasiat kepada anaknya agar senantiasa mengesakan Allah swt dan tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu apapun. Wasiat ini adalah ajaran ketauhidan yang dibawa oleh setiap nabi dan rasul, mulai dari nabi Adam as hingga nabi Muhammad saw. Sebuah ajaran yang wajib diketahui, diyakini dan diamalkan oleh umat Islam sepanjang zaman. Wallahu a’lam.

Surat Ibrahim Ayat 34: Menghitung Nikmat Allah dan Rasa Iri Melihat Orang Lain

0
menghitung nikmat Allah
Menghitung nikmat Allah

Artikel ini akan mengulas penggalan ayat yang cukup populer di kalangan masyarakat. Tentu kita pernah dengan adagium “jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak mampu menghitungnya. Ya, potongan ayat ini terdapat dalam Surat Ibrahim [14] Ayat 34. Allah Swt berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“…Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan ‎mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan ‎sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.S. Ibrahim: 34)‎

Disadari atau tidak, manusia sering merasa iri melihat kehidupan orang ‎lain yang lebih baik darinya. Ketika melihat orang yang lebih kaya, lebih pintar, ‎lebih dihormati, lebih sukses darinya, tidak jarang muncul keinginan dalam diri ‎seseorang untuk bisa seperti mereka, atau bahkan bisa melebihi mereka.‎

Baca Juga: Kisah Qarun Dalam Al-Quran: Orang Paling Kaya Pada Zaman Nabi Musa

Sebetulnya, keinginan tersebut sangat wajar dan manusiawi. Karena ‎pada hakekatnya, setiap orang tentu mendamba kehidupan yang lebih baik ‎dari waktu ke waktu. Jika rasa iri tersebut dalam arti positif, yaitu bertujuan ‎memotivasi diri untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, dengan ‎meningkatkan etos kerja, mengembangkan diri dengan bekal pengetahuan ‎dan keterampilan, maka hal itu sah-sah saja.‎

Persoalannya adalah, jika rasa iri itu dalam arti negatif, yaitu ‎memunculkan rasa tidak suka kepada orang lain. Sehingga apa pun yang ‎berkaitan dengan orang lain, berupa harta, ilmu, jabatan serta kehormatan ‎yang dia miliki menjadi alasan seseorang untuk membencinya.

Lebih buruk ‎lagi, karena rasa benci kepada seseorang, maka dengan berbagai cara orang ‎yang iri itu berusaha untuk dapat menjatuhkannya. Membuat usahanya ‎bangkrut, misalnya, memfitnahnya, atau bahkan yang paling sadis ‎membunuhnya. Semua dilakukan karena kebenciannya kepada seseorang, ‎yang notabene, dalam pandangannya lebih segala-galanya dari dirinya.‎

Inilah kondisi umum yang terjadi pada diri seseorang yang tidak ‎pandai bersyukur. Dia selalu melihat orang lain lebih baik serta lebih sukses ‎darinya. Dia selalu melihat rumput tetangga lebih hijau.‎

Padahal, kalau dia sadari, dalam dirinya sungguh banyak nikmat, ‎anugerah serta potensi yang Allah berikan dan harus disyukuri. Nikmat hidup, ‎nikmat sehat, nikmat kesempatan serta nikmat-nikmat lainnya adalah ‎anugerah serta modal luar biasa yang Allah berikan. Tinggal bagaimana ‎seseorang menggunakannya.‎

Dalam masyarakat Jawa ada istilah sawang-sinawang, yaitu ‎kecenderungan seseorang yang melihat kehidupan orang lain lebih baik, lebih ‎menyenangkan darinya. Padahal, belum tentu orang yang dia anggap ‎menyenangkan kehidupannya, dalam kenyataannya juga seperti itu.

Bisa jadi ‎kehidupan orang yang memandang orang lain lebih baik, jutru lebih baik dan ‎lebih menyenangkan daripada kehidupan orang yang dilihatnya. Begitulah ‎kehidupan manusia. Selalu saja ada perasaan kurang dalam dirinya. ‎

Maka, untuk bisa menikmati dan mensyukuri kehidupan ini, tidak lain ‎adalah dengan cara melihat ke dalam diri kita sendiri, bukan melihat ke luar ‎‎(baca: orang lain). Kita lihat apa yang kita miliki, bukan apa yang kita ‎inginkan. Bukan pula melihat apa yang orang lain miliki.‎

Lihat ke dalam, bukan ke luar. Lihat apa yang ada dalam diri kita. ‎Bukan apa yang ada di luar kita. Karena yang kita miliki adalah sebuah ‎anugerah yang luar biasa dari Allah Swt. Sementara yang di luar sana belum ‎tentu baik bagi kita.‎

Baca Juga: Amalan Untuk Mengatasi Krisis Kepercayaan Diri dalam Al-Quran

Allah sangat tahu betul kapasitas serta kemampuan kita. Allah tidak ‎akan memberikan ‘sesuatu’ kepada seseorang yang menurut padangan-Nya, ‎orang tersebut belum siap untuk mendapatkannya. ‘Sesuatu’ itu akan Allah ‎berikan kepada orang yang tepat, di saat yang tepat dan dengan cara yang ‎tepat.

Inilah konsep kelayakan menurut Allah. Jika seseorang dianggap layak ‎oleh Allah untuk mendapatkan ‘sesuatu’, maka Allah pun akan memberikan ‎kepadanya. Tetapi jika orang tersebut tidak atau belum layak untuk ‎mendapatkannya, maka Allah pun tidak akan memberikan kepadanya.‎

Dengan memahami konsep kelayakan ini, maka tidak akan ada ‎perasaan kecewa dalam diri kita, ketika apa yang kita harapkan belum menjadi ‎kenyataan. ‎

Alih-alih mengeluh dan menyesali keadaan, karena keinginan memiliki ‎‎‘sesuatu’ di luar yang kita miliki belum terwujud, menikmati dan ‎memaksimalkan sesuatu yang kita miliki jauh lebih baik dan lebih bermakna ‎bagi kehidupan kita.

Dengan cara ini, kita sudah menunjukkan rasa syukur ‎kita kepada Allah Swt. Maka, kita tinggal berharap, sesuai janji Allah di atas, ‎bahwa siapa yang bersyukur atas nikmat-Nya, pasti Allah akan menambah ‎nikmat kepadanya.‎ Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al-Waqiah Ayat 1-6: Hari Kiamat itu Pasti, Inilah Visualisasinya

0
Surat Al-Waqiqh ayat 1-6
Surat Al-Waqiqh ayat 1-6

Pembuka surat ini diawali dengan pembahasan tentang penegasan tentang adanya hari kiamat dan gambarannya. Mengikuti klasifikasi at-Thabari, bahasan pertama surat ini terdiri dari enam ayat, yaitu ayat 1-6. Berikut penjelasan tafsir surat Al-Waqiah ayat 1-6

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6

“Apabila terjadi hari Kiamat (1) terjadinya tidak dapat didustakan (disangkal). (2) (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain). (3) Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, (4) dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya, (5) maka jadilah ia debu yang beterbangan, (6)”

Tafsir surat Al-Waqiah ayat 1-6 setidaknya mengandung dua poin, konfirmasi kepastian terjadinya hari kiamat dan visualisasi tentangnya. Surat Al-Waqiah bukan satu-satunya surat yang mengabarkan tentang kiamat, surat Al-Qiamah, surat Al-Qariah, surat At-Taghabun, surat Al-Haqqah, surat Al-Ghasyiyah dan surat Al-Zalzalah juga berbicara tentang hal yang sama. Selain itu, juga masih ada banyak ayat perihal kiamat yang tersebar dalam surat yang lain.

Baca Juga: Kenali Kandungan Surat Al-Waqiah dan Beberapa Keutamaannya

Semua surat dan ayat itu mengandung konfirmasi kepastian akan datangnya hari akhir. Penegasan dari Allah yang berulang-ulang ini tidak lain karena pengingkaran terhadapnya juga banyak dan terus terjadi mulai dari dulu hingga sekarang. Hal ini dapat dilihat misalnya pada Surat Al-Isra’ [17] ayat 49, Al-An’am [6] ayat 29, Al-Ankabut [29]: 23 dan ayat semacamnya.

Percaya kepada hari akhir pun menjadi salah satu rukun iman yang paling sering disandingkan dengan rukun iman yang pertama, yaitu iman kepada Allah. Petunjuk ini bisa dilihat antara lain dalam ayat Al-Quran atau hadis dengan redaksi man amana billahi wal yaumil akhiri atau man kana yu’min billahi wal yaumil akhiri atau redaksi lain yang hampir sama. Berdasar pada kode ini tidak berlebihan jika mengatakan bahwa orang yang beriman kepada Allah mestinya juga beriman kepada hari akhir, sedang yang tidak percaya pada hari akhir, berarti ia tidak percaya kepada Allah.

Sedang untuk redaksi ‘Al-Waqiah’ sendiri, At-Thabari dan Ibnu Asyur mengatakan bahwa nama itu adalah satu dari beberapa nama hari kiamat yang ada dalam Al-Quran, seperti ath-thammah, as-shakhkhah dan al-azifah. Kali ini menggunakan nama Al-Waqiah karena untuk menunjukkan hal yang sedang berlangsung. Degan kata lain, apabila kiamat itu sudah tiba, maka tidak ada kesempatan sedetikpun untuk mendustakan dan lari darinya.

Baca Juga: Mengulik Makna Kiamat dalam Al-Quran

Kapan hari kiamat itu tiba?

Seandainya kita tahu waktu hari kiamat tiba, hari, tanggal dan jam nya mungkin kita bisa mempersiapkannya jauh-jauh hari, sehingga kita dapat merencanakan untuk menyelamatkan diri, menghindar dari kehancuran. Tapi sayangnya, tidak ada satu pun ayat Al-Quran beserta tafsirnya yang menginformasikan perihal jadwal kiamat, termasuk tafsir surat Al-Waqiah ayat 1-6, bahkan seorang Nabi Muhammad saw juga tidak mengetahuinya. Sebagaimana direkam dalam Surat Al-Ahzab [33] ayat 63,

يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا

“Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah, “Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat waktunya”.

Tidak ada bocoran tentang jadwal pasti hari kiamat, namun di akhir ayat Allah menyelipkan catatan ‘boleh jadi kiamat sudah dekat’. Ini clue yang diberikan Allah tentang waktu kiamat. Selain itu, jika untuk tujuan maksimalisasi persiapan, bukankah Allah sudah berulang kali mengingatkan tentang kepastian tibanya hari kiamat, bahkan lengkap dengan visualisasinya.

Seakan tidak tega kepada umatnya karena banyak yang penasaran tentang waktu kiamat, maka Nabi Muhammad saw dalam suatu hadisnya menjelaskan hanya tentang tanda-tandanya. Salah satunya adalah hadis riwayat Umar bin Khattab dalam Shahih Muslim. Tanda-tanda kiamat dalam hadis tersebut yaitu saat ibu atau orang tua menjadi budak anaknya sendiri, dan ketika orang-orang miskin berlomba-lomba mendirikan bangunan megah.

Kemurahan hati Nabi Muhammad saw ini menjadi pedoman tentang waktu hari kiamat tiba. Selain tanda-tandanya, hal yang lebih realistis terkait dengan informasi tentang hari kiamat dalam Al-Quran adalah visualisasinya, seperti yang tertulis di ayat 3-6.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 8-11: Penyesalan Orang yang Ingkar di Hari Kiamat

Visualisasi hari kiamat

Visualisasi hari kiamat dalam tafsir surat Al-Waqiah ayat 1-6 dimulai dari ayat ketiga, ‘(hari kiamat itu) meninggikan dan merendahkan’. Beragam istilah yang digunakan oleh para mufasir dalam menafsirkan dua kata yang berlawanan ini meski pada intinya sama. Syekh Nawawi dalam Marah Labid mengatakan pada hari kiamat, Allah akan merendahkan orang kafir di neraka dan disiksa. Di saat yang sama meninggikan orang beriman di surga dengan kenikmatannya. Penafsiran yang sama disampaikan oleh Ar-Razi dan At-Thabari.

Dua keadaan yang berlawanan ini menandakan kebalikan dari keadaan yang terjadi di dunia, ia yang merasa tinggi di dunia karena atribut keduniawiannya, di akhirat akan menjadi rendah. Sementara ia yang merendah di dunia, di hari kiamat kelak akan ditinggikan kedudukannya. Demikian kurang lebih penjelasan Al-Qurthubi dan Ibnu Asyur.

Menurut Abu Hayyan Al-Andalusi dalam Al-Bahr Al-Muhit, perbuatan seseorang di dunia akan mempengaruhi kedudukannya pada hari kiamat kelak. Ia yang buruk amalnya akan direndahkan dengan masuk ke neraka, sedang yang amalnya baik makan akan ditinggikan dengan masuk ke surga.

Pada ayat berikutnya, terjadinya hari kiamat diperlihatkan dengan peristiwa bumi berguncang dengan dahsyat dan gunung meletus dengan sangat dahsyat pula. Bumi berguncang dengan mengeluarkan segala kandungan yang ada di dalamnya (surat Al-Zalzalah ayat 2), gunung pun demikian, letusannya yang dahsyat sehingga terlihat seperti bulu yang berhamburan (surat Al-Qariah ayat 5).

Sementara gambaran untuk keadaan manusia, di ayat ke empat surat Al-Qariah disampaikan betapa manusia pada saat itu berhamburan, kebingungan. Setiap orang bingung mencari perlindungan sendiri-sendiri, tidak peduli dan tidak ingat lagi terhadap saudaranya, ibunya, ayahnya, istri tercintanya, suaminya, anak yang disayanginya dan temannya (surat Abasa ayat 34-36).

Gambaran di atas sebenarnya sudah sangat akrab dalam kehidupan kita. Jika masih kurang jelas, coba putar ingatan kita kembali pada Desember 2004 silam ketika terjadi gempa dan tsunami Aceh, gempa Jogja tahun 2006, gempa Lombok 2018, gempa dan tsunami Palu September 2018, meletusnya gunung kelud tahun 2014 dan seterusnya. Berapa banyak korban jiwa dan kerusakan sebab bencana ini.

Peristiwa-peristiwa tersebut masih tidak ada apa-apanya dibanding dengan hari kiamat nanti, akan tetapi tidak ada salahnya jika kita mengambil pelajaran dari bencana alam yang sudah sering terjadi di depan kita. Bukankah itu juga pelajaran dan peringatan dari Allah? Jika dengan menghadirkan Kembali kejadian tersebut membuat kita sadar akan datang dan dahsyatnya hari kiamat, mengapa enggan kita lakukan? Wallahu A’lam

Mengenal 55 Nama Al-Quran Beserta Alasan Penamaannya (3)

0
Nama Al-Quran-Al-Adl
Nama Al-Quran-Al-Adl

Tulisan ini merupakan seri terakhir dari pembahasan tentang 55 nama Al-Quran serta alasan penamaan tersebut dalam kitab Al-Itqan fi Ulum Al-Quran.

  1. ‘Adl

Al-Qur’an juga dikenal dengan nama “al-’Adl” karena semua keputusan yang tercantum dalam Al-Qur’an adalah pasti adil. Sebagaimana dalam Q.S. al-An’am [6] ayat 115:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلًاۗ

Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur’an) dengan benar dan adil

  1. Amr

Dinamakan “al-Amr” karena dalam Al-Qur’an terdapat perintah-perintah Allah yang harus dilaksanakan oleh umat Islam. Nama ini berdasar pada Q.S. al-Thalaq [65] ayat 5:

ذٰلِكَ اَمْرُ اللّٰهِ اَنْزَلَهٗٓ اِلَيْكُمْۗ

Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu

Baca Juga: Mengenal 55 Nama Al-Quran Beserta Alasan Penamaanya (1)

  1. Munadiy

Al-Qur’an memiliki nama “al-Munadiy”. Alasan penamaan ini karena ia menyerukan kepada umat manusia agar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana dalam Q.S. Ali ‘Imran [3] ayat 193:

رَبَّنَآ اِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُّنَادِيْ لِلْاِيْمَانِ

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman

  1. Busyra

Dinamakan “al-Busyra”, karena dalam Al-Qur’an terdapat kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. Sebagaimana dalam Q.S. al-Naml [27] ayat 2:

هُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ ۙ – ٢

Petunjuk dan berita gembira bagi orang-orang yang beriman

  1. Majid

Al-Qur’an dinamakan dengan nama “al-Majid” karena sifat kemuliaan yang dimiliki Al-Qur’an. Sebagaiamana disebutkan dalam Q.S. al-Buruj [85] ayat 21:

بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌۙ – ٢١

Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Qur’an yang mulia

  1. Zabur

Nabi Muhammad juga pernah menamakan kitab Zabur dengan Al-Qur’an, sebagaimana dalam sabdanya: Khuffifa ‘ala Dawud al-Qur’an (telah diperingan pada Nabi Dawud Al-Qur’an), tetapi tidak dijelaskan alas an penamaan tersebut. Nama ini dapat ditemukan dalam Q.S. al-Anbiya’ [21] ayat 105:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ

Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur

  1. Basyir

 Al-Qur’an dinamakan “al-Basyir” karena Al-Qur’an membawa berita kembira kepada orang-orang yang beriman berupa surga. Sebagaimana dalam Q.S. Fussilat [41] ayat 3-4:

كِتٰبٌ فُصِّلَتْ اٰيٰتُهٗ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَۙ – ٣  بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًاۚ

Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan peringatan

Baca juga: Mengenal 55 Nama Al-Quran Beserta Alasan Penamaannya (2)

  1. Nadzir

Disebut juga dengan nama “al-Nadzir”, karena Al-Qur’an juga menjelaskan tentang peringatan-peringatan terkait neraka supaya umat Islam menghindarinya. Sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan ayat pada nama Al-Qur’an sebelumnya.

  1. ‘Aziz

Alasan penamaan “al-’Aziz” karena Al-Qur’an selalu menang atas orang-orang yang menentang dan mengingkari akan kebenaran Al-Qur’an. Sebagaimana dalam Q.S. Fussilat [41] ayat 41:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِالذِّكْرِ لَمَّا جَاۤءَهُمْ ۗوَاِنَّهٗ لَكِتٰبٌ عَزِيْزٌ ۙ – ٤١

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika (Al-Qur’an) itu disampaikan kepada mereka (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya (Al-Qur’an) itu adalah Kitab yang mulia

  1. Balagh

Al-Qur’an juga dikenal dengan nama “al-Balagh”, alasan penamaan tersebut dalam Al-Qur’an disampaikan kepada umat manusia terkait perintah-perintah yang harus dijalani, serta juga disampaikan perihal larangan-larangan yang harus dihindari. Sebagaimana dalam Q.S. Ibrahim [14] ayat 52:

هٰذَا بَلٰغٌ لِّلنَّاسِ

Dan (Al-Qur’an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia

  1. Qashash

Al-Qur’an juga disebut dengan nama “al-Qashash” karena di dalamnya diceritakan tentang kisah-kisah umat terdahulu supaya bisa diambil pelajaran (ibrah) dari kisah tersebut. Sebagaimana dalam Q.S. Yusuf [12] ayat 3:

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ اَحْسَنَ الْقَصَصِ

Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik

Baca Juga: Penjelasan Tentang Nama Al-Quran: al-Quran, al-Furqan, dan al-Tanzil

  1. Shuhuf

Dinamakan “Shuhuf” karena Al-Qur’an terkumpul dan tertulis dalam beberapa lembaran (Shahifah). Sebagaimana dalam Q.S. ‘Abasa [80] ayat 13:

فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ – ١٣

di dalam kitab-kitab yang dimuliakan (di sisi Allah)

  1. Mukarramah

Ibnu Jarir al-Thabari mengatakan bahwa makna penamaan Al-Qur’an dengan kata “al-Mukarramah” adalah karena di dalamnya terkandung kumpulan ilmu dan hikmah. Sehingga menjadikanya sebagai kitab yang mulia. Sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan ayat pada nama Al-Qur’an sebelumnya.

  1. Marfu’ah

Dinamakan dengan nama “al-Marfu’ah” dikarenakan Al-Qur’an berasal dari tingkatan alam tertinggi (al-’alam al-’ulwiy) yaitu langit ke tujuh. Sebagaimana dalam Q.S. ‘Abasa [80] ayat 14:

مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍ ۢ ۙ – ١٤

yang ditinggikan (dan) disucikan

  1. Muthahharah

Al-Qur’an memiliki nama “al-Muthahharah” karena ia merupakan kitab yang suci dari penentangan dan penghinaan orang-orang kafir. Ibnu ‘Asyur dalam tafsirnya mengatakan bahwa suci dalam hal ini adalah bentuk majaz dari kemuliaan (syaraf). Sebagaimana telah disebutkan dalam kutipan ayat pada nama Al-Qur’an sebelumnya.

  1. Wa’id

Alasan penamaan “al-Wa’id”, karena di dalam Al-Qur’an disebutkan terkait ancaman dan peringatan bagi umat manusia. Sebagaimana dalam Q.S. Ibrahim [14] ayat 14:

وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْاَرْضَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗذٰلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِيْ وَخَافَ وَعِيْدِ – ١٤

Dan Kami pasti akan menempatkan kamu di negeri-negeri itu setelah mereka. Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (menghadap) ke hadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku

Selain 55 nama tersebut, ternyata Al-Qur’an masih memiliki banyak nama lainya. Syaikh Adam Bemba dalam karyanya yang berjudul Asma’ al-Qur’an al-Karim, menyebutkan delapan nama baru Al-Qur’an, yaitu Syahid, Shirat Allah, Fariq, Qaul Thayyib, Kitab Maknun, Kalimah Thayyibah, Mishbah Munir, dan Wa’id. Bahkan, ada juga ulama yang berpendapat bahwa Al-Qur’an memiliki 90 nama (al-Harraliy), 100 nama (al-Nasafiy), dan 100 nama (Fairuzzabadi). Wallahu A’lam

Utsman Thaha: Penulis Mushaf Al-Qur’an yang Karyanya Dibaca Muslim Seantero Dunia

0
Utsman Thaha: Penulis Mushaf Al-Qur’an
Utsman Thaha: Penulis Mushaf Al-Qur’an

Sebelum mengenal Utsman Thaha, nampaknya kita terlebih dahulu mengenal karya goresannya. Ya, mushaf Madinah adalah salah satu karyanya yang disebar luas dan dibaca oleh Muslim dunia. Karena sering menjadi cinderamata khas orang pulang haji atau umrah, tak heran jika mushaf ini pun mudah ditemukan di Indonesia.

Mushaf yang bercover hijau ini sangat istimewa, karena penulisnya merupakan tokoh muslim yang berpengaruh. Pada tahun 2019 lalu, Utsman Thaha masuk dalam The 500 Most Influential Muslims, sebuah pengharagaan bergengsi atas dedikasinya menulis kaligrafi dan mushaf.

Pada tahun ini nama Utsman Thaha menjadi perbincangan lagi, tepatnya pada bulan Agustus lalu. Arab News.com melaporkan bahwa ia diduga terjangkit Covid-19, ia pun dirawat di salah satu rumah sakit Saudi, namun akhirnya ia pun dinyatakan negatif. Dari kabar ini, beberapa media internasional pun akhirnya menuliskan kembali profil sang maestro khat ini.

Baca juga: Mushaf Sultan Ternate; Pernah Dianggap Tertua di Nusantara dengan Dua Kolofon Berbeda

Sekarang, Utsman Thaha telah mencapai usia 86 tahun. Tentu di balik usia yang tidak lagi muda ini, ia telah memberikan karya yang luar biasa untuk umat Muslim dunia. Utsman Thaha memiliki nama lengkap Utsman bin Abduh bin Husain bin Thaha Alkurdi. Ia berasal dari Aleppo Suriah, dan merupakan putra dari seorang imam dan ahli khat ternama di daerahnya. Semula ia mempelajarai dasar-dasar khat dari sang ayah yang memang piawai dalam khat riq’ah.

Setelah belajar dasar khat, Utsman Thaha melanjutkan pelajaran khatnya kepada para pakar di kota. Guru-gurunya yaitu Muhammad Ali Al Maulawi, Muhammad Al Khathib, Husain Husni At Turki, Al Khatthath Syaikh Abdul Jawwad, dan Prof. Ibrahim Ar Rifa’i. Kemudian ia kuliah di Universitas Damaskus dan memiliki berkesempatan lebih mendalami khat dengan para master kaligrafi. Di antaranya yaitu dengan Prof. Muhammad Badawi Ad Dirani, seorang ahli khath Syam, Prof. Hasyim Muhammad Al Baghdadi, seorang ahli khath dari Irak, dan pada tahun 1973 ia mendapatkan ijazah dari guru besar ilmu khat dunia, Syaikh Hamid Al-Amidi Turki.

Sebelum mendapatkan ijazah, Utsman Thaha telah menulis mushaf Al-Qur’an pertama kali untuk Kementerian Wakaf Suriah pada tahun 1970. Namun setelah mendapatkan ijazah dari Syaikh Hamid Al-Amidi, karier kaligrafinya semakin moncer. Pada tahun 1988 ia mulai didaulat sebagai salah satu juri lomba kaligrafi internasional. Di tahun yang sama, ia pun mendapatkan kepercayaan untuk menjadi penulis kaligrafi di penerbitan Al-Qur’an Kompleks Raja Fahd. Sejak itu pun ia mulai tinggal di Madinah.

Kompleks Raja Fahd ini memang mengerjakan megaproyek dalam penerbitan Al-Qur’an. Melalui kesempatan inilah goresan tangan Utsman Thaha dikenal muslim sejagad raya. Dalam hal ini, Kyai Afifuddin Dimyati (Gus Awis) dengan artikel Utsman Thaha; Sang Maestro Khat Al-Qur’an mencatat beberapa karakteristik penulisan mushaf Madinah. Gus Awis menyebut ada empat karakter yang mudah diingat oleh para pembacanya.

Pertama, mushaf Madinah menghindari gaya penulisan huruf bertumpuk, sehingga semua kalangan tidak menemukan kerumitan. Kedua, mushaf ini menghindari variasi huruf-huruf yang rancu, misalnya huruf ra yang ujungnya melengkung. Maka mushaf ini terlihat sederhana namun rapi dan indah. Ketiga, huruf yang dituliskan diberikan ruang yang agak lebar, agar tidak terlalu rapat dan penulisan huruf pun jelas. Keempat, mushaf ini memiliki standar baris yakni 15 baris. Sehingga tiap juznya pun rapi 20 halaman, kecuali juz 30 yang mencapai 23 halaman.

Demikianlah mushaf Madinah karya Utsman Thaha. Di balik itu, terdapat hal yang menarik saat ia mengerjakan karyanya.

Baca juga: Sering Merasa Takut? Baca Ayat Ini Untuk Menangkal Gangguan Jin

Teladan saat Utsman Thaha Menulis Mushaf

Dilansir dari Arab News.com, Utsman Thaha memang konsisten menggores ayat-ayat Al-Qur’an. Meskipun sudah belasan mushaf yang ditulisnya dengan berbagai qiraat seperti Imam Warsy, Hafs, Ad-Duri, dan Qalun, namun ia tetap merasakan getaran yang berbeda saat menggores ayat-ayat Al-Qur’an.  Terlebih ayat itu tentang surga dan neraka.

“I wish the verses about Jannah (heaven) would never end, and my hand trembles when I write the verses about Jahannam (hell).”

“Saya berharap ayat tentang surge takkan pernah ada habisnya, dan tangan saya gemetar saat menulis ayat tentang neraka,” ujarnya.

Ini menandakan bahwa dalam proses penulisan mushaf, ia juga menyelam memahami apa yang ditulisnya. Ia pun terus konsisten hingga kini hasil goresannya tak hanya dinikmati dalam bentuk mushaf cetak, melainkan juga digital. Bahkan, gaya goresannya turut dijadikan standar font internasional.  Dari dedikasinya yang tinggi hingga 40 tahun lebih ia lalui, memang layak diganjar dengan penghargaan yang berarti.

Wallahu a’lam[]

Kisah Nabi Yahya dalam Al-Quran: Dapat Hikmah dan Maksum Sejak Kecil

0
Kisah Nabi Yahya dalam Al-Quran
Kisah Nabi Yahya dalam Al-Quran

Nabi Yahya adalah nabi sekaligus rasul yang diutus untuk kaum Bani Israil. Ia merupakan nabi kaum Bani Israil sebelum Nabi Isa. Ia anak dari Nabi Zakariya yang diutus di tanah Palestina. Kisah Nabi Yahya tersebut 5 kali dalam Al-Quran, yaitu pada Surat Ali Imran (3): 39; Maryam (19): 7, 12-15; dan Surat Al-Anbiya’ (21): 89-90.

Kelahiran Nabi Yahya

Nabi Yahya adalah putra dari Nabi Zakariya. Ia meneruskan perjuangan ayahnya dalam mengemban risalah dari Allah sebagaimana dengan apa yang didoakan oleh Nabi Zakariya. Permintaan Nabi Zakariya ini dilatarbelakangi karena kemandulan istrinya seperti yang diutarakan Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim yang ia kutip dari hadis riwayat Ibnu Abbas. Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar juga turut memberikan pendapat bahwa ketika itu Nabi Zakariya juga sudah sangat tua, usianya diperkirakan sekitar 90 tahun lebih.

Sebagaimana fitrah manusia yang menginginkan keturunan, Nabi Zakariya pun ingin memiliki keturunan. Di samping itu juga agar nantinya ada dari keturunannya yang melanjutkan perjuangannya. Lantas ia pun berdoa kepada Allah agar dikaruniai seorang anak sebagaimana difirmankan Allah dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 89.

Dalam lanjutan Surat Al-Anbiya’ ayat 90, yang berisi salah satu fragmen kisah Nabi Yahya, Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya tersebut dengan menganugerahkan seorang saleh yang bernama Yahya. Ibnu Katsir mengungkapkan bahwa Nabi Zakariya memang seorang yang khusyuk, hanya menggantungkan segala harapan kepada Allah, dan selalu bersegera dalam mengerjakan amal saleh hingga ia dipuji Allah sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al-Anbiya ayat 90.

Baca juga: Kisah Kelahiran Nabi Ishaq dalam Al-Quran

Kemudian dalam Surat Ali Imran ayat 39, Allah juga menceritakan bahwa Ia mengutus malaikat untuk mengunjungi Nabi Zakariya yang sedang shalat di mihrab. Malaikat itu membawa kabar gembira bahwa Nabi Zakariya akan dikaruniai seorang anak bernama Yahya. Nama Yahya menurut Buya Hamka berasal dari bahasa Ibrani “Yohanes” yang diarabkan. Nama tersebut belum pernah dipakai oleh seorang pun sebelum Nabi Yahya.

Tak lama kemudian, janji Allah pun menjadi kenyataan, istri Nabi Zakariya mengandung. Kemudian lahirlah seorang putra bernama Yahya. Putra yang bernama Yahya ini Allah janjikan sebagai orang membenarkan kalimat-kalimat Allah, menjadi seorang pemimpin yang terpelihara, dan menjadi seorang nabi yang saleh seperti yang termaktub dalam Surat Ali Imran ayat 39. Diangkatnya Yahya menjadi seorang nabi dan rasul oleh Allah ini sekaligus menjadi jawaban bagi doa yang senantiasa dipanjatkan Nabi Zakariya. Nabi Yahya pun kelak melanjutkan risalah yang diemban ayahnya.

Baca juga: Doa Al-Quran: Doa Agar Memiliki Keturunan dari Nabi Zakaria

Diberikan hikmah dan dimaksumkan sejak kecil

Ketika putra yang bernama Yahya tersebut lahir, sifat-sifat istimewa yang Allah janjikan pun hadir. Yahya kecil telah dikaruniai beberapa keistimewaan tersendiri oleh Allah seperti yang diceritakan dalam rangkaian Surat Maryam ayat 12 – 15.

يَا يَحْيَى خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ وَآَتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا . وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا وَزَكَاةً وَكَانَ تَقِيًّا . وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا . وَسَلَامٌ عَلَيْهِ وْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

“Wahai Yahya! Ambillah (pelajarilah) Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.” Dan Kami berikan hikmah kepadanya (Yahya) selagi dia masih kanak-kanak, dan (Kami jadikan) rasa kasih sayang (kepada sesama) dari Kami dan bersih (dari dosa). Dan dia pun seorang yang bertakwa, dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong (bukan pula) orang yang durhaka. Dan kesejahteraan bagi dirinya pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali.”

Menurut penjelasan Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar, hikmah yang diberikan Allah kepada Nabi Yahya kecil adalah berupa wahyu dan diangkatnya menjadi rasul sejak usia belia. Nabi Yahya juga seorang yang sejak kecil dihilangkan nafsu-nafsu duniawinya seperti tidak mau bermain-main layaknya anak-anak kecil seusianya. Menurut hadis riwayat Ma’mar ketika dirinya yang masih belia tersebut diajak main oleh teman sebayanya, ia menjawab “aku tidak diciptakan Allah untuk bermain-main saja”. Buya Hamka juga menuturkan bahwa Nabi Yahya juga tidak terpengaruh kepada perempuan yang elok rupawan.

Baca juga: Kisah Nabi Musa dan Doa-Doa yang Dipanjatkannya dalam Surat al-Qashash

Mufassir Ibnu Asyur dalam kitab tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir berpendapat berbeda mengenai hikmah Nabi Yahya ini. Menurutnya, hikmah tersebut adalah seruan Allah kepada Nabi Yahya agar berpeang teguh kepada Taurat sepanjang hidupnya dan mendakwahkan kepada kaumnya untuk mengikuti ajaran Taurat.

Dalam Ruh al-Ma’ani, al-Alusi sependapat dengan Ibnu Asyur mengenai hikmah Nabi yahya tersebut. al-Alusi juga menambahkan penjelasan yang ia kutip dari hadis riwayat Ibnu Abbas bahwa Nabi Yahya diberikan kefahaman kitab Taurat sejak usia 7 tahun dan ditumbuhkan oleh Allah semangat beribadah sejak usia kecil.

Nabi Yahya selain diberikan kecerdasan dan hikmah untuk mengerti kitab Taurat sejak kecil, ia juga dimaksumkan Allah sejak lahir. Menurut pengertian, maksum adalah terjaganya seorang hamba dari perbuatan dosa dan maksiat. Menurut al-Baidhawi dalam Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Takwil, Nabi Yahya adalah seorang yang semenjak lahir terjaga dari setan, terjaga dari azab ketika di alam kubur, serta terjaga dari kebangkitan kiamat serta azab neraka.

Kemaksuman Nabi Yahya ini juga disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim yang dikutip dari hadis riwayat Ibnu Abbas. Dalam hadis tersebut Rasulullah bersabda “tidak ada seorang pun dari anak Adam melainkan pernah berbuat dosa atau berniat melakukan suatu dosa, selain Yahya ibnu Zakaria. Dan tidaklah layak bagi seseorang mengatakan bahwa diriku lebih baik daripada Yunus ibnu Mata” (HR Ahmad). Wallahu a’lam[]