Beranda blog Halaman 462

Ketahui Fungsi-Fungsi Air dalam Al-Quran, Inilah Penjelasannya

0
Fungsi air dalam Al-Quran
Fungsi air dalam Al-Quran

Sebagai pedoman hidup yang bersifat universal, Al-Quran tidak hanya bicara soal urusan–urusan ‘ubudiyah dan ‘aqidah saja. Al-Quran juga banyak berbicara soal mu’amalah atau interaksi sosial. Ternyata Al-Quran juga menginformasikan tentang sumber daya alam, fungsinya sekaligus pengelolaannya. Salah satu sumber daya alam yang akan dibahas kali ini yaitu air. Berikut penjelasan tentang fungsi air dalam Al-Quran.

Air merupakan salah satu bagian dari infinite resource atau sumber daya alam tak terhingga. Tata kelola air dalam Al-Quran dijelaskan dalam banyak ayat, penyebabnya salah satunya adalah kondisi demografis masyarakat Arab pada saat itu yang cenderung mempunyai persediaan air yang tak banyak. Sehingga efektifitas penggunaannya perlu diinformasikan.

Fungsi air dalam Al-Quran jenis pertama yaitu sebagai komponen penumbuhan tanaman. Pengelolaan air jenis ini adalah yang paling banyak disebutkan dalam Al-Quran, di antaranya adalah surat Al-An’am ayat 99 :

وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انْظُرُوا إِلَى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya, “Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.

Baca Juga: Mengenal Lebih Jauh Tentang Tafsir Ilmi: Pengertian dan Perkembangannya

Berdasar ayat diatas, bisa kita simpulkan  bahwa air adalah komponen penting untuk menumbuhkan buah–buahan, pepohonan, dan tanaman–tanaman lain. Dalam ayat tersebut, lafaz Ma’ (Air) disandingkan dengan kata Fa Akhrajna (Maka kami tumbuhkan). Penambahan preposisi Bi yang dimudhafkan pada dhamir referensi dari air, menunjukkan faidah sababiyah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa air adalah salah satu faktor pendukung terjadinya pertumbuhan tanaman.

Hal ini disebabkan karena air yang mengandung unsur mineral diserap oleh akar tanaman, yang kemudian disalurkan oleh batang ke dedaunan pohon. Ini menunjukkan bahwa Al-Quran cukup konsern dalam membahas hal–hal yang berkaitan dengan agraria sebagai salah satu alternatif cara manusia untuk bertahan hidup.

Tidak hanya tumbuhan, di ayat 30 surat Al-Anbiya’ juga disampaikan bahwa segala sesuatu yang hidup itu berasal dari air,

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ……….

“……….dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?”

Baca Juga: Tafsir Ilmi Kemenag: Bumi yang Dinamis dan Relevansinya Bagi Kehidupan

Kedua, fungsi air dalam Al-Quran tertera dalam surat Al-Anfal ayat 11. Di ayat ini Air dikatakan sebagai sarana hidup bersih. Berikut bunyi ayatnya:

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ

Artinya : “(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu air (hujan) dari langit untuk mensucikan kamu dengan air itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu)”

Dalam ayat tersebut, air disandingkan dengan kata Li Yutahhirakum (agar bersuci kalian semua). Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tafsir Al-Jalalain menjelaskan bahwa yang dimaksud bersuci adalah bersuci dari hadas dan najis. Sementara itu, air menjadi komponen utama dalam aktifitas bersuci, wudu, mandi dan menyucikan najis (baik di badan maupun tempat).

Namun demikian, penafsiran Muhammad Abu Zahrah dalam tafsirnya Zahrat at-Tafasir, yang mengatakan bahwa proses penyucian disini meliputi proses secara Hissy (konkrit) maupun ma’nawy (filosofis) juga perlu diperhatikan.

Baca Juga: Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat 5 – 9: Tiga Nikmat yang Tampak di Langit dan Bumi

Ketiga, air sebagai sumber pelepas dahaga. fungsi air dalam Al-Quran kali ini tertera dalam surat Al-Hijr ayat 22 :

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ

Artinya  : “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”.

Ini adalah fungsi air yang paling utama, yakni sebagai minuman manusia. Selain sebagai media pelepas dahaga, air juga memenuhi kebutuhan manusia akan mineral dan menjaga kinerja organ tubuh agar lebih maksimal. Selain itu, ayat ini juga menyatakan bahwa air adalah tanda kekuasaan Allah, sehingga kosakata yang digunakan adalah Asqaa-yusqii (meminumkan), hal ini diperkuat dengan frasa wa maa antum lahu bi khaaziniin, yang menunjukkan bahwa manusia tak berdaya dalam menampung maupun membuat air.

Demikianlah fungsi–fungsi air yang disebutkan dalam Al-Quran. Ini menunjukkan pada kita bahwa Al-Quran benar-benar merupakan Big Book petunjuk bagi seluruh umat manusia. Selain tentang fungsi air, petunjuk yang dapat kita ambil dari ayat-ayat di atas adalah pentingnya menjaga dan merawat sumber daya alam tersebut

Pelestarian air antara lain bisa dengan menghemat dalam penggunaannya, baik untuk bebersih maupun untuk dikonsumsi, menjaga air bersih agar tidak terkontaminasi, tercampur dengan limbah pabrik atau yang lainnya. Alam itu paling tahu cara berterimakasih, setiap yang manusia berikan padanya, ia akan membalasnya dengan serupa. Bukankah apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai? Wallahu A’lam

Surat Ar-Rum [30] Ayat 30: Mengesakan Allah SWT adalah Fitrah Manusia

0
Fitrah Manusia
Fitrah Manusia

Allah swt menciptakan manusia dengan berbagai atribut yang menyertai mereka, mulai dari jiwa, raga, nafsu, hingga akal pikiran atau hati. Berbagai atribut tersebut memiliki beberapa potensi bawaan dan mencakup potensi kebaikan dan ketidakbaikan (prosperous or unprosperous) yang berkaitan erat dengan kondisi jiwa. Salah satu contoh konkrit potensi bawaan manusia adalah fitrah manusia mengesakan Allah swt.

Surat Ar-Rum [30] Ayat 30: Fitrah Manusia Mengesakan Allah swt

Salah satu ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai fitrah manusia mengesakan Allah swt adalah surat ar-Rum [30] ayat 30 yang berbunyi:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ٣٠

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30).

Menurut Quraish Shihab, ayat ini seakan-akan berkata, “Hadapkanlah wajahmu serta arahkan perhatianmu kepada agama yang disyariatkan Allah, yakni agama Islam dalam keadaan lurus. Tetaplah mempertahankan fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atasnya yakni menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan yakni fitrah Allah tersebut. Itulah agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, yakni tidak memiliki pengetahuan yang benar.

Kata fa aqim wajhaka adalah perintah untuk mempertahankan dan meningkatkan upaya menghadapkan diri kepada Allah secara sempurna, karena selama ini kaum muslimin apalagi nabi Muhammad saw telah menghadapkan wajah kepada tuntunan agama-Nya. Dari perintah di atas tersirat juga perintah untuk tidak menghiraukan gangguan kaum musyrikin, yang ketika turunnya ayat ini di Mekah, masih cukup banyak.

Kata hanifa biasa diartikan lurus atau cenderung kepada sesuatu. Kata ini pada mulanya digunakan untuk menggambarkan telapak kaki dan kemiringannya ke arah telapak pasangannya. Telapak kaki yang kanan condong ke arah kiri, dan telapak kaki yang kiri condong ke arah kanan. Ini menjadikan manusia dapat berjalan dengan lurus. Kelurusan itu menjadikan si pejalan tidak serong ke kiri dan tidak pula ke kanan.

Sedangkan kata fithrah terambil dari kata fathara yang berarti mencipta. Para pakar bahasa menyebutkan fitrah adalah “menciptakan sesuatu pertama kali tanpa ada contoh sebelumnya.” Kata tersebut dapat juga dipahami dalam arti asal kejadian atau bawaan sejak lahir. Patron kata yang digunakan ayat ini menunjuk kepada keadaan atau kondisi penciptaan itu sebagaimana diisyaratkan juga oleh lanjutan ayat ini yang menyatakan “yang telah menciptakan manusia atasnya.”

Ulama berbeda pendapat mengenai maksud dari kata fitrah pada surat ar-Rum [30] ayat 30 ini. Ada yang berpendapat bahwa fitrah yang dimaksud adalah fitrah manusia mengesakan Allah swt sebagaimana perkataan nabi Muhamad saw, “Semua anak yang lahir dilahirkan atas dasar fitrah, lalu kedua orang tuanya menjadikannya menganut agama Yahudi, Nasrani atau Majusi….” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan lain-lain melalui Abu Hurairah).

Al-Biqa’i tidak membatasi makna fitrah pada fitrah manusia mengesakan Allah swt. Menurutnya, yang dimaksud dengan fitrah adalah ciptaan pertama dan tabiat awal yang Allah ciptakan manusia atas dasarnya. Beliau mengutip al-Ghazali yang menulis dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din bahwa “Setiap manusia telah diciptakan atas dasar keimanan kepada Allah bahkan atas potensi mengetahui persoalan-persoalan sebagaimana adanya, karena adanya potensi pengetahuan (padanya).”

 Ibnu ‘Asyur memaknai fitrah sebagai “Keadaan atau kondisi penciptaan yang terdapat dalam diri manusia yang menjadikannya berpotensi melalui fitrah itu, mampu membedakan ciptaan-ciptaan Allah serta mengenal Tuhan dan syariat-Nya.” Fitrah menurutnya adalah unsur-unsur dan sistem yang Allah anugerahkan kepada setiap makhluk. Fitrah manusia adalah apa yang diciptakan Allah dalam diri manusia yang terdiri dari jasad dan akal serta jiwa.

Manusia berjalan dengan kakinya dan mengambil kesimpulan dengan mengaitkan premis-premis adalah fitrah akliah-nya. Sebaliknya, mengambil kesimpulan dengan premis-premis yang saling bertentangan bukanlah fitrah akliah manusia. Memastikan apa yang disaksikan mata kita sebagai hal-hal yang mempunyai wujud dan sebagaimana apa adanya adalah fitrah akliah, sedang mengingkarinya sebagaimana yang diduga oleh penganut sophisme adalah bertentangan dengan fitrah akliah.

Ibnu Sina mengilustrasikan cara kerja fitrah manusia seperti seorang dilahirkan ke dunia dengan akal yang sempurna, tetapi dia tidak dipengaruhi oleh konstruksi sosial dan hanya menyaksikan hal-hal yang bersifat indrawi. Lalu ia mengambil beberapa kondisi dan memaparkan ke dalam benaknya. Jika ia ragu berarti fitrah tidak mendukungnya, tetapi bila dia tidak ragu, maka itulah petunjuk fitrah. Namun beliau menambahkan bahwa tidak semua keputusan manusia dipengaruhi oleh fitrah karena masih ada faktor lain seperti akal dan nafsu.

Surat ar-Rum [30] ayat 30 di atas berbicara tentang fitrah yang dipersamakan dengan agama yang benar, Ini menunjukkan bahwa yang dibicarakan oleh ayat ini adalah fitrah manusia mengesakan Allah swt atau fitrah keagamaan, bukan fitrah dalam arti semua potensi yang diciptakan Allah pada makhluk. Melalui Surat ar-Rum [30] ayat 30, Al-Qur’an ingin mengajarkan bahwa fitrah keagamaan perlu diperjuangkan dan dipertahankan.

Berkenaan dengan fitrah ini, Prof. Vilayanur Ramachandran – ahli ilmu saraf – bersama timnya dari Universitas California di San Diego Amerika Serikat pernah menemukan fakta menarik, yakni adanya konsentrasi gelombang unik pada titik temporal lobes – bagian otak yang berada di belakang jidat – seseorang ketika ia khusuk mengingat Tuhan. Dalam temuan mereka, bagian yang responsif terhadap pemikiran terhadap hakikat Tuhan ini dinamakan sebagai god spot.

Berdasarkan penjelasan di atas, surat ar-Rum [30] ayat 30 memberi tahu pembaca Al-Qur’an bahwa Allah swt telah memberikan fitrah kepada manusia sebagai atribut pelengkap. Salah satu fitrah ini adalah fitrah manusia mengesakan Allah swt. Fitrah tersebut melekat pada setiap manusia tanpa terkecuali. Selain itu, ayat ini juga mengindikasikan bahwa esensi ajaran agama Allah – sebagai fitrah manusia – sangat erat dengan kemanusiaan itu sendiri. Wallahu a’lam.

Surat Al-Isra Ayat 26-27: Larangan Menyia-Nyiakan Makanan

0
Menyia-nyiakan makanan
Larangan menyia-nyiakan makanan

Banyak di antara kita yang masih belum bisa mengukur berapa besar kemampuan kita dalam menghabiskan makanan pada saat makan pagi, siang atau malam. Akibatnya seringkali saat selesai makan, kita sering menyia-nyiakan makanan dengan banyaknya sisa nasi atau lauk. Hal ini tentu tidak baik, apalagi kalau mengingat banyak manusia lain yang bahkan untuk satu kali makan saja mereka kesulitan.

Kebiasan menyia-nyiakan makanan di negara kita ini masih dapat dengan mudah kita temukan. Misalnya dalam budaya makan nasi liwet bersama dengan menggunakan alas daun pisang. Porsi yang diberikan biasanya banyak sekali, sehingga saat sesi makan selesai, banyak makanan yang tersisa.

Masih bagus kalau sisa makanan itu diberikan ke hewan ternak, tetapi kalau berakhir di tong sampah, tentu akan sia-sia. Kebiasaan menyia-nyiakan makanan tak hanya ada di situ, di restoran, warung-warung nasi, warung bakso, dan tempat makan lain, sisa makanan ini dapat dengan mudah kita lihat.

Tak heran kemudian, negara kita memperoleh gelar sebagai negara kedua di dunia yang paling banyak membuang makanan. Data yang dirilis Economist Intellegent Unit (EIU) menunjukan bahwa berdasarkan Food Sustainibility Index, Indonesia berada di peringkat paling bawah, satu tingkat lebih baik dari Arab Saudi dalam hal membuang sisa makanan.

Baca Juga: Surah Al-Baqarah [2] Ayat 168: Anjuran Makan Makanan Halal dan Bergizi

Penulis kemudian teringat dengan sebuah cerita dari seorang tetangga yang pernah bekerja di sebuah negara Arab. Beliau bekerja di sebuah keluarga yang kaya raya. Dalam sehari, koki di rumah tersebut harus minimal menyediakan 16 menu makanan, tak boleh kurang dari itu. Pernah suatu hari Sang Koki mengurangi makanan menjadi 14 menu. Ia takut berdosa, karena setiap hari harus membuang sisa makanan yang banyak.

Mengetahui hal itu, sang majikan malah marah besar, dia meminta sang koki tetap memasak 16 menu, soal dosa ia sendiri yang tanggung, demikian kata majikannya. Mendengar hal ini, tentu kita sangat miris.

Apalagi kalau kita mendengar bahwa negara muslim seperti Suriah dan Yaman terancam bencana kelaparan akibat perang dan pandemi corona. Padahal tentang menghambur-hamburkan nikmat makanan ini, jauh-jauh hari, Al-Quran, Surat al-Isra ayat 26-27 telah mengingatkan kepada kita:

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan hak mereka, kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang menempuh perjalanan, dan janganlah engkau menghambur-hamburkan (hartamu, termasuk makanan, (ed)) dengan cara  boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudaranya setan, dan setan itu terbukti ingkar kepada Tuhanya.”

Sepertinya, ayat tersebut belum sepenuhnya terpatri dalam diri kaum muslimin semuanya. Malah sebaliknya, beberapa negara non muslim malah terlebih dahulu sadar tentang hal ini, sehingga mereka menerapkan denda yang cukup berat bagi para pembuang makanan. Sebagai contoh di Seattle, Amerika, ada peraturan bila sebuah rumah tangga ketahuan membuang sampah makanan sebanyak 10 persen dari total sampah rumah tangganya, maka akan didenda sekitar 1 US $.

Sementara itu apabila sebuah apartemen atau tempat usaha diketahui membuang sampah dengan jumlah persentase yang sama, maka akan didenda sebesar 50 US $. Hal yang sama juga berlaku di Jerman, berdasarkan berita dari laman cntraveler.com, bila seorang pengunjung tak menghabiskan makanan di sebuah restoran maka pengunjung tersebut bisa didenda antara 1 sampai dengan 2 Euro.

Kembali pada konteks awal tulisan ini, adalah sangat penting bagi kita untuk mengukur seberapa jauh kita dapat menghabiskan makanan, karena kalau tidak dihabiskan, maka makanan akan menjadi mubadzir. Hal ini sesuai sekali dengan apa yang pernah disampaikan rasulullah SAW.”Takarlah makanan kalian, maka kalian akan diberkahi” (Shahih Bukhari, dari al-Miqdam bin Ma’diyakrib).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Petunjuk Al-Quran Tentang Makanan yang Halal dan Haram

Keberkahan yang dimaksud dapat berupa hilangnya rasa lapar dan keleluasan tubuh kita yang tidak terlalu kenyang. Selain itu, makanan yang belum tersentuh oleh kita, masih layak dimakan orang di sebelah kita atau mungkin diberikan kepada orang lain yang membutuhkan, setelah dikemas atau dibungkus terlebih dahulu.

Kemampuan mengelola nikmat makanan ini menjadi sangat penting, apalagi dimasa ketika makan berlimpah ruah seperti di acara syukuran, pesta pernikahan, buka puasa bersama, atau saat perayaan hari besar agama. Jangan sampai niat kita bersyukur, malah terjerumus menjadi kufur.

Kemampuan mengelola nikmat makanan ini juga melatih kita untuk mengelola nikmat-nikmat lain yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Seperti nikmat waktu luang atau berlimpahnya harta. Jangan sampai nikmat-nikmat besar itu hanya berlalu begitu saja, tanpa pernah kita gunakan untuk membantu orang lain di sekitar kita. Bila kita dapat memaksimalkan nikmat-nikmat itu untuh hal yang baik, maka insya allah kita layak mendapatkan nikmat dari Allah SWT yang jauh lebih besar lagi. Wallahu ‘alam.

Tafsir Surat Yasin Ayat 9-10: Perumpamaan Bagi Orang yang Tidak Beriman

0
Yasin Ayat 9-10
Yasin Ayat 9-10

Pada tulisan yang lalu kita telah membahas tafsir surat Yasin ayat 7-8 tentang orang-orang yang terbelenggu dalam kekafiran. Adapun pada tulisan kali ini penulis akan mengajak pembaca membahas tafsir surat Yasin ayat 9-10 yang menceritakan nasib mereka yang dicap kafir tersebut. Allah Swt berfirman:

وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ

وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Dan Kami adakan di hadapan mereka tembok dan di belakang mereka tembok (pula), dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.

Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.

Secara garis besar dua ayat di atas menginfokan bahwa orang-orang yang telah dicap kafir itu tidak akan bisa mendapatkan hidayah. Peringatan yang disampaikan Nabi tidak mampu menjadikan mereka beriman. Baik diberi peringatan maupun tidak, sama saja bagi mereka.

Baca Juga: Tafsir Surat Yasin ayat 1: Pengantar Tafsir dan Keutamaan Membacanya

Wahbah az-Zuhaili menyatakan, ayat ke-9 merupakan tamsil (perumpamaan) akan tertutupnya iman orang yang telah dicap kafir. Ini diilustrasikan dengan seseorang yang di hadapannya terbentang tembok besar yang menutupi pandangan, sehingga ia tidak mampu melihat apapun.

Allah Swt telah mengetahui dengan jelas siapa yang akan beriman dan siapa yang akan menjadi kafir. Pengetahuan Allah ini bersifat azali dan hanya Allah saja yang mengetahuinya, sehingga dalam realitasnya ini tidak menghalangi seseorang untuk beriman. Masing-masing orang telah diberi kemampuan (qudrah) dan keinginan (iradah) yang menjadikannya bebas dalam menentukan nasibnya sendiri.

Oleh karena itu, menurut Az-Zuhaili, kekafiran mereka disebabkan oleh sikap mereka yang angkuh, sombong, keras kepala, arogan dan tidak sudi menerima serta tunduk pada kebenaran. Pendapat tersebut diamini oleh M. Quraish Shihab. Menurutnya, ketidakmampuan mereka melihat ayat Allah sebenarnya didasari oleh keengganan mereka, maka peringatan Nabi Muhammad saw tidak berpengaruh pada diri mereka.

Sebagian orang menjadi kafir bukan karena tidak yakin pada Allah Swt, akan tetapi karena enggan menerima kebenaran. Sama seperti Iblis yang durhaka pada Allah Swt dengan menolak menaati perintahnya untuk sujud pada Nabi Adam as, meski ia tahu hal tersebut dilarang.

Berkaitan dengan kata saddan pada ayat ke-9, Nawawi al-Bantani menyebutkan terdapat dua versi cara membacanya. Pertama, dengan men-fathah-kan sin (saddan) yang merupakan qiraat Hamzah, al-Kisa’i dan Hafs. Sementara yang kedua dengan men-dammah-kannya (suddan). Ini adalah qiraat selain dari tiga imam yang telah disebutkan.

Kata saddan yang disebutkan dua kali di sini berarti tembok atau dinding yang menghalangi penglihatan. Tembok ini menurut Ar-Razi membatasi seseorang dari mendapatkan hidayah. Baik itu hidayah fitriyyah/jibiliyyah (bawaan dari lahir), maupun hidayah nazariyyah (yang dicari dan diusahakan).

Orang yang telah dicap kafir tidak bisa menemukan hidayah yang diusahakan karena terhalang tembok di depannya, serta tidak pula dapat kembali kepada hidayah bawaan, juga karena terhalang tembok di belakangnya.

Menurut Ibn Kasir, pesan ayat di atas mirip dengan QS. Yunus: 96-97 yang berbunyi:

إِنَّ الَّذِينَ حَقَّتْ عَلَيْهِمْ كَلِمَتُ رَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ

وَلَوْ جَاءَتْهُمْ كُلُّ آيَةٍ حَتَّىٰ يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Tuhanmu, tidaklah akan beriman,

meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih.

Ayat-ayat al-Qur’an maupun peringatan Nabi tidak berpengaruh pada orang-orang seperti ini. Menurut Sayyid Qutb, hal tersebut disebabkan karena peringatan, ajakan atau nasihat orang lain tidak terlalu berpengaruh, meskipun itu datang dari seorang Nabi sekalipun. Buktinya banyak kerabat Nabi yang hingga kematiannya tetap pada kekafiran.

Baca Juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 5-6: Diutusnya Nabi Muhammad SAW Sebagai Pemberi Peringatan

Yang lebih berpengaruh dan yang lebih menentukan ialah keterbukaan hati dalam menerima kebenaran yang disampaikan oleh orang lain. Hal ini yang luput dari hati orang-orang yang telah dicap kafir tersebut.

Meskipun demikian, sebagai pembawa risalah, Nabi Muhammad saw tetap diperintahkan untuk mendakwahi orang-orang seperti ini. Sebagaimana Nabi Musa a.s. yang juga diperintahkan untuk mendakwahi Fir’aun, bahkan dengan tetap menggunakan kata-kata yang lemah lembut (QS. Taha: 44)

Demikianlah tafsir surat Yasin ayat 9-10 yang penulis sarikan dari berbagai kitab tafsir populer. Nantikan pembahasan lain dari tafsir surat Yasin pada tulisan-tulisan selanjutnya. Wallahu a’lam.

Kisah Nabi Ibrahim as Yang Tak Hangus Dibakar Api

0
Nabi Ibrahim as
Kisah Nabi Ibrahim as dalam Surat Al-Anbiya Ayat 69

Nabi Ibrahim as adalah nabi ke-6 dalam sejarah rasul Allah yang wajib diketahui umat Islam. Secara silsilah, nabi Ibrahim adalah Ibrahim bin Azzar bin Tahur bin Sarush bin Ra’uf bin Falish bin Tabir bin Shaleh bin Arfakhsad bin Syam bin Nuh. Beliau dilahirkan pada tahun 2295 SM di negeri Mausul. Sebagai seorang yang mulia, tugas nabi Ibrahim as memiliki tugas berat untuk mendakwahi masyarakat jahiliyah penyembah berhala.

Arti nama Ibrahim adalah sebagaimana yang tertuang dalam Taurat, disebutkan bahwa nabi Ibrahim as dikenal sebagai Abram yang artinya ayah yang luhur. Sebagian lain berpendapat bahwa nama Ibrahim berasal dari ab, rab, dan ham yang berarti ayah, banyak dan sebagian besar. Maka, kata Ibrahim berarti “ayah bagi sebagian besar manusia” atau menjadi “pemimpin bagi sebagian besar manusia di dunia.”

Hal ini senada dengan penyebutan namanya dalam Al-Qur’an surah al-Baqarah ayat 124, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.”

Kisah Nabi Ibrahim Yang Tak Hangus Dibakar Api

Nabi Ibrahim as dikenal cerdas dan kritis sejak belia. Beliau sering bertanya-tanya pada dirinya, di manakah Tuhan itu? Manakah yang dinamakan Tuhan? Kemudian Allah swt memberikan wahyu kepada nabi Ibrahim tentang hakikat ontologi Tuhan sekaligus mengutusnya sebagai penyampai keberadaan-Nya dan mengajak semua orang untuk senantiasa bertakwa kepada Allah swt serta meninggalkan berhala berhala yang tidak penting.

Baca Juga: Kisah Nabi Yahya dalam Al-Quran: Dapat Hikmah dan Maksum Sejak Kecil

Suatu ketika nabi Ibrahim as melakukan tipu daya dengan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya. Ketika mereka pergi keluar kampung untuk menyaksikan anugerah hari besar, nabi Ibrahim menuju berhala-berhala kaumnya. Setiap berhala berhias dengan indah dan di hadapannya tersaji berbagai macam makanan sebagai kurban atau sesembahan. Lalu Nabi Ibrahim dengan nada mencela dan mencemooh berkata:

Mengapa kamu tidak makan? Mengapa kamu tidak menjawab? Lalu dihadapinya (berhala-berhala) sambil memukulnya dengan tangan kanannya.” (QS. Ash-Shaff: 91-93).

Nabi Ibrahim as kemudian menghancurkan berhala-berhala itu hingga hancur berkeping-keping dengan menggunakan kapak dan hanya menyisakan patung yang paling besar saja. Kemudian beliau meletakkan kapaknya di tangan berhala itu, untuk memberikan kesan bahwa dia-lah pelaku yang menghancurkan berhala-berhala lainnya.

Saat kaumnya pulang, mereka terhenyak dengan apa yang menimpa berhala-berhala. “Mereka menyatakan, “Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zalim.” (QS Al-Anbiya: 59).  Ketika mereka menyadari bahwa itu adalah perbuatan nabi Ibrahim, maka mereka bermaksud menghukumnya.

Nabi Ibrahim as berdalih dan berkata, “Sebenarnya (patung) besar itu yang melakukannya. Maka tanyakanlah kepada mereka, jika mereka dapat berbicara.” (QS. Al-Anbiya’: 63). Nabi Ibrahim menyebutkan hal tersebut tidak dengan makna sesungguhnya, ia hanya memberikan satire terhadap kaumnya agar mereka sadar atas kebodohan yang mereka lakukan.

Pada saat itu, kaum nabi Ibrahim sebenarnya sadar akan kebodohan mereka. Namun mereka tidak menerimanya karena kesombongan, keangkuhan, dan takut akan kehancuran tatanan sosial yang ada. Akhirnya, mereka – yang dipimpin oleh raja Namrud – memutuskan untuk menghukum Ibrahim. Mereka mengucapkan, “Buatlah bangunan (perapian), lalu lemparkan dia kedalam api yang menyala-nyala itu.” (QS. Ash-Shaffat: 97).

Mereka kemudian mengumpulkan berbagai jenis kayu dari semua tempat yang bisa mereka dapatkan. Lalu mereka mengarah ke sebuah tanah lapang-keras yang luas, dan meletakkan kayu bakarnya disana. Kemudian mereka membakarnya, hingga api berkobar dan membumbung tinggi, belum pernah terlihat pemandangan api yang seperti itu sebelumnya. Panasnya memancar hingga puluhan meter ke area sekitar.

Setelah itu mereka meletakkan nabi Ibrahim as dalam manjaniq (sejenis pelontar batu untuk perang kuno). Mereka mengikat nabi Ibrahim dengan meletakkan di belakang pundak. Selain itu mereka juga menanggalkan seluruh pakaian nabi Ibrahim, hingga beliau dalam keadaan telanjang tanpa sehelai kainpun. Lalu mereka lemparkan ke dalam kobaran api.

Ketika nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api, beliau mengucapkan “Hasbunallah wa ni’mal wakil (cukuplah Allah sebagai penolong) kami, dan dialah sebaik-baik pelindung).” Sebagian ulama menyebutkan, ketika nabi Ibrahim berada di udara setelah dileparkan, malaikat Jibril menawarkan bantuan kepada beliau, Jibril berkata, “Hai Ibrahim! Apa kau punya suatu keperluan?” nabi Ibrahim menjawab, “Tidak padamu.”

Kemudian Allah swt berfirman:

قُلْنَا يٰنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ۙ ٦٩

Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 69).

Setelah beberapa hari berada dalam kobaran api, kemudian Allah memerintahkan kepada nabi Ibrahim untuk keluar dan agar tidak berbicara kepada orang-orang yang menyaksikan pembakaran tersebut. Seluruh orang yang menyaksikan kebingungan dengan apa yang mereka lihat, karena nabi Ibrahim yang tak hangus dibakar api. Demikianlah tanda-tanda dari kebesaran Allah swt, ketika Dia berkehendak, maka tidak ada sesuatupun yang mampu menolak.

Baca Juga: Ingin Dikenang Baik di Dunia dan Akhirat? Amalkan Doa Nabi Ibrahim Ini!

Dari kisah nabi Ibrahim yang tak hangus dibakar api di atas, kita dapat mempelajari beberapa hikmah, yakni: seorang muslim harus memiliki pikiran yang tajam dan kritis terhadap apa yang ada di sekitarnya; jangan pernah menyekutukan Allah swt kepada sesuatu apapun, baik berhala fisik maupun berhala-berhala lainnya; seorang hamba yang beriman seyogyanya meyakini bahwa Allah swt adalah satu-satunya tempat bergantung dan meminta pertolongan meskipun ia telah berusaha. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat al-Mulk Ayat 19: Hikmah di Balik Penciptaan Seekor Burung

0
Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 28-30
Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 28-30

Terbukti, bahwa banyak ayat al-quran yang memotivasi kita untuk bertafakur. Tepatnya sebuah ayat, yakni surat al-mulk ayat 19, Allah mengajak akal kita berpetualang menafakuri keistimewaan burung. Ketika kita sedang hilang kendali, merasa putus asa dan lainnya, lihatlah ada makhluk kecil Allah yang terus berjuang terutama dalam hal pemenuhan hajat dan kebutuhan sehari-hari.

أَوَلَمْ يَرَوْا۟ إِلَى ٱلطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَٰٓفَّٰتٍ وَيَقْبِضْنَ ۚ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا ٱلرَّحْمَٰنُ ۚ إِنَّهُۥ بِكُلِّ شَىْءٍۭ بَصِيرٌ

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu. (Q.S al-Mulk ayat 19)

Pada Tafsir Jalalain karya Imam As-Suyuti  menggambarkan kepada kita sebagai hamba Allah, untuk melihat dan memperhatikan burung-burung yang berada di atas mereka yakni di udara (yang mengembangkan sayapnya) melebarkan sayapnya (dan mengatupkannya) menutupkannya sesudah dikembangkan.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 16-18: Ragam Ancaman Allah serta Ibrah dari Umat Terdahulu

Tidak hanya itu, burung juga memiliki pertahanan pada tubuh mereka yakni menahan diri agar tidak jatuh ke bumi sewaktu mengembangkan dan mengatupkan sayapnya. Fenomena tersebut mampu terjadi hanya karena Allah Maha Penyayang dengan segala kekuasaan-Nya. (Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala sesuatu), akan tetapi banyak hambanya yang tidak menyimpulkan dengan adanya burung-burung di udara merupakan bentuk kekuasaan Allah, jika itu terjadi yakni hambanya tidak percaya atas segala ciptaan Allah, maka Allah dapat menimpakan kepada mereka azab dan lainnya.

Burung dapat Terbang Hingga Hilang dan Tanpa Menggerakkan Sayapnya

Kemudian pada Tafsir al-Misbah Karangan Quraish Shihab, menjelaskan yang tidak jauh beda dengan apa yang ditulis oleh Imam As-Suyuti. Selanjutnya lafal Al-shaff  pada ayat di atas yang mana terambil dari kata al-shaffat yang berarti burung membentangkan kedua sayapnya dengan tanpa digerakkan.

Tidak hanya itu, ternyata terbangnya burung adalah suatu mukjizat yang baru diketahui setelah adanya perkembangan kajian ilmu cabang pergerakan udara yaitu ilmu aeronautika dan teori aerodinamik. Akan tetapi yang mengundang kekaguman pada keunikan dari seekor burung adalah dapat terbang di udara sampai hilang dari pandangan, dan itu tanpa menggerakkan kedua sayapnya. Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa burung-burung yang terbang tanpa menggerakkan kedua sayapnya itu sebenarnya terbang di atas aliran-aliran udara yang muncul, baik karena benturan udara dengan segala sesuatu yang menghalanginya atau karena tingginya tekanan udara panas.

Kenapa semua itu bisa terjadi pada burung?

Sesungguhnya Allah SWT memberikan spesifikasi pada burung dengan berikut, burung memiliki berat badan yang ringan, jantungnya juga memiliki kemampuan yang tinggi berbeda dengan manusia, kemudian peredaran darah pada alat pernapasan burung juga terbilang seimbang dengan tubuh. Sehingga organ tubuh yang dimiliki oleh burung dapat menjaga keseimbangan dan mengatur arah tubuhnya ketika terbang.

Selain itu, dalam catatan Tafsir al-Quranil Adzim karya Ibnu Katsir mempertegas bahwa tidakkah mereka (manusia) memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas, tanpa ada yang menahannya selain dari Allah. Hal ini merupakan bukti dari kekuasaan Allah SWT.

Baca juga: Tafsir Surat al-Mulk Ayat 15: Berkelanalah! Hingga Sadar Kefanaan Dunia dan Kekekalan Allah

Hikmah di Balik Penciptaan Seekor Burung

Penjelasan ini nanti akan terlihat sepele, namun jika kita merenungkan, maka kita akan menginsyafi peran burung memang sungguh luar biasa. Jika kita melihat bentuk fisik burung, dia terlihat kecil, jauh berlipat-lipat jika dibandingkan dengan tubuh manusia. Namun, memberikan makhluk mungilnya ini menjadi luar biasa. Burung mengajarkan kepada kita untuk memiliki obsesi melebihi bentuk fisik kita, misalnya, fisik boleh kecil, tetapi cita-cita dan idealisme harus lebih besar.

Dari sini penulis hanya menegaskan bahwa hal ini bukanlah mimpi dan khayalan. Karena yang membedakan antara kenyataan dan khayalan adalah kemauan dan kesungguhan untuk merealisasikan harapan dan cita-cita.

Kita bisa meneladani kisah burung hudhud pada zaman nabi Sulaiman, burung tersebut mampu memberikan informasi yang tidak diketahui oleh Nabi Sulaiman, bahwa ada kerajaan yang penduduknya menyembah selain Allah SWT dan dipimpin oleh seorang wanita.

Baca juga: Sering Membaca Surat Al-Mulk? Berikut ini Lima Keutamaannya

Selain itu juga burung juga mengajarkan optimisme, tidak boleh berputus asa dalam berbuat, terutama dalam hal pemenuhan hajat dan kebutuhan sehari-hari. bagaimana tidak? ketika hendak pergi, burung masih dalam keadaan lapar, namun ketika pulang pada sore hari, dia sudah merasa kenyang. Bagaimana burung yang sedemikian kecil dari segi fisik itu, begitu besar dalam semangat mencari dan mengais karunia Allah SWT. Sesungguhnya burung hanya mempunyai insting, namun mampu mencukupi kebutuhannya, apalagi manusia yang dilengkapi dengan akal. wallahu a’lam []

Mengenal Istilah Kaum dan Umat dalam al-Quran, Samakah Keduanya?

0
umat dalam al-Quran
kaum dan umat dalam al-Quran

Istilah kaum dan umat sering ditemukan dalam al-Quran dan Hadis guna menunjuk himpunan manusia. Dua kata ini juga digunakan untuk merujuk kepada makna bangsa. Lantas, bagaimana pemaknaan kata kaum dan umat dalam al-Quran? samakah makna keduanya?

Kata Qawm(قوم) dan Ummah (أمّة), keduanya merupakan istilah bahasa arab yang diserap dalam bahasa Indonesia dengan sebutan kaum dan umat. Kata kaum dapat kita temukan misalnya dalam Surat al-Hujurat (49):11:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ 

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Imam al-Biqai dalam tafsirnya Nadhm al-Durar menafsirkan kata qawm bertujuan mendorong untuk bangkit mengelola diri dan menghindari kekurangan ataupun keburukan. Al-Biqai melanjutkan agar senantiasa bersyukur atas kekuatan yag dianugerahkan Tuhan kepada kita. Menariknya, al-Biqai mengungkap makna semantik dari kata qawm ini, kata qawm diambil dari kata qama (قام) yang berarti tampil ke depan dan melaksanakan segala hal dengan sempurna.

Baca Juga: Muballigh Atau Ustaz, Samakah Makna Keduanya?

Dalam hal ini, kata qama sering digunakan oleh masyarakat Arab untuk menujuk golongan laki-laki saja. menurut َQuraish Shihab dalam bukunya Islam dan Kebangsaan, karena yang sering maju atau tampil ke depan dikuasai oleh kaum laki-laki.

Namun, jika kita melihat beberapa ayat tentang qawm dalam al-Quran, ia tak terbatas hanya laki-laki. Kata qawm digunakan untuk lelaki atau perempuan selama memiliki kesamaan keturunan meski ada perbedaan secara agama, namun tetap menjadi saudara. Hal ini telah jelas disampaikan dalam Surat al-A’raf (7):65 yang berbunyi:

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ 

“Dan kepada (kaum) ‘Ad, (kami telah mengutus) saudara mereka,Hud. Dia berkata ‘hai kaumku, sembahlah Allah , sekali-kali tidak ada bagimu satu Tuhan pun (yang Kuasa dan berhak disembah) melainkan dia, tidakkah kalian bertaqwa?”.

Hal ini telah jelas untuk membuktikan bahwa makna qawm tidak terbatasi. Bahkan, menurut Shihab, pengguna bahasa Arab modern mengartikan qawm sebagai bangsa dan qawmiyyah diartikan sebagai kebangsaan. Tentu makna ini luas sekali.

Makna Umat dalam al-Quran

Umat atau dalam versi bahasa Arab Ummah (أمّة) terambil dari kata amma-yaummu berarti menuju, menumpu, meneladani. Kata ini pun melahirkan Ummun (أمّ)  yaitu ibu, dan Imam yakni memimpin. Keduanya disandingkan karena memang ibu adalah teladan, tumpuan pandangan, dan harapan.

Al-Raghib al-Ashfihani dalam Mufradat al-Alfadz al-Quran menerangkan bahwa kata Ummah digunakan untuk menunjuk suatu kelompok yang dihimpun oleh sesuatu. Disini memiliki kesamaan dari aspek agama, waktu atau tempat, baik penghimpunannya secara terpaksa atau tidak.

Quraish Shihab mengungkap bahwa kata Ummah terkadang tidak terpikat oleh jumlah, seperti posisi Nabi Ibrahim yang sendirian namun menghimpun banyak sifat terpuji yang tidak bisa disandang oleh sekian banyak orang.

Contohnya dalam Surat al-Nahl(16): 120.

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ 

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin (umat) yang dijadikan teladan dan patuh kepada Allah, dan tidak sekali-kali ia termasuk golongan kaum musyrikin”.

Baca Juga: Allahumma dan Yaa Rabbana dalam Al Quran, Samakah maknanya?

Kendati demikian, kata ummah dan qawm ada kemiripan makna dari segi bahasa. Namun, kata ummah sering digunakan dengan kata al-Ummah al-Islamiyah dan qawm atau qawmiyyah lebih cocok diartikan sebagai bangsa. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 16-18: Ragam Ancaman Allah serta Ibrah dari Umat Terdahulu

0
Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 28-30
Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 28-30

Termasuk cara dakwah Islam yang termuat dalam Al-Quran ialah memberi janji dan ancaman terhadap orang yang didakwahi. Salah satunya, ada pada Surat Al-Mulk ayat 16-18. Dalam Tafsir Al-Munir, Wahbah Az-Zuhayli menyebutkan bahwa tiga ayat ini menjelaskan ancaman Allah berupa kemungkinan terjadinya fenomena bumi menelan manusia dan badai. Tak hanya itu, kelompok ayat ini juga memuat ibrah umat terdahulu, yang dapat menjadi renungan bagi manusia.

Ancaman Bagian dari Metode Dakwah

Dalam Al-Quran, kita menjumpai beberapa metode dakwah. Yang populer tentu saja Surat Al-Nahl ayat 125, yang setidaknya mengandung tiga hal; bil hikmah (dahwah dengan bijaksana), maw’idzatil hasanah (penyampaian yang baik), dan jadilhum billati hiya ahsan (berdebat dengan baik).

Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 12-14: Allah Maha Mengetahui Sesuatu, Sekalipun Isi Hati Manusia

Tiga-tiganya terwujud dalam berbagai cara penyampaian. Antara lain, berupa pertanyaan kontemplatif, sehingga kemudian orang yang didakwahi merenunginya, seperti pertanyaan tentang hari kiamat (QS. An-Nazi’at: 42). Ada pula yang berupa penjelasan fenomena alam, seperti fenomena langit terbelah (QS. Al-Infitar: 1). Ada pula berupa sumpah yang mengindikasikan pentingnya objek yang dibuat sumpah, seperti saat Allah bersumpah demi waktu Ashar (QS. Al-‘Ashr: 1-3), agar manusia lebih menghargai waktu dengan mengerjakan amal baik.

Ancaman juga termasuk dari cara berdakwah yang cukup sering Allah gunakan, terutama dalam konteks mendakwahi orang kafir. Ancaman dalam bahasa Al-Quran diistilahkan dengan al-wa’id, dan sering beriringan dengan janji (al-wa’d).  Contoh dari ancaman itu antara lain ada pada surat An-Nisa ayat 173, tentang ganjaran berlimpah bagi mukmin yang beramal saleh, serta azab pedih bagi siapa saja yang sombong.

Lalu, mengapa ancaman jadi salah satu cara dakwah? Karena, ancaman dapat menimbulkan efek takut dan khawatir bagi orang yang didakwahi. Cara ini tentu saja lebih efektif digunakan saat menghadapi orang kafir, karena dengan kecenderungannya terhadap keingkaran mereka pasti sulit menerima dakwah yang dibumbui janji manis berupa surga atau keselamatan dari api neraka. Sehingga, ancaman berupa kesengsaraan duniawi dan ukhrawi lebih mampu mencuri perhatian mereka.

Baca juga: Tafsir Surat al-Mulk Ayat 15: Berkelanalah! Hingga Sadar Kefanaan Dunia dan Kekekalan Allah

Ancaman Bagi Orang yang Tak Patuh

Ancaman Allah bagi orang yang tak patuh terhadapNya antara lain ada pada Surat Al-Mulk ayat 16 dan 17 berikut ini:

ءَأَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ أَن يَخۡسِفَ بِكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

أَمۡ أَمِنتُم مَّن فِي ٱلسَّمَآءِ أَن يُرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبٗاۖ فَسَتَعۡلَمُونَ كَيۡفَ نَذِيرِ

“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang?”

“Atau sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan mengirimkan badai yang berbatu kepadamu? Namun kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku”

Mengutip Jami’ul Bayan fi Ta’wili Ayil Quran milik at-Thabari, ayat ini turun untuk mengancam orang kafir Quraish. Allah menyindir lewat pertanyaan itu karena mereka tidak kunjung mengikuti ajakan Nabi. Seakan mereka merasa aman-aman saja sebab tak ada azab yang menimpa mereka seperti malapetaka berupa hilangnya jasad mereka karena ditelan bumi. Dan juga, tidak datang kepada mereka badai bebatuan.

Ibnu ‘Asyur dalam at-Tahrir wat-Tanwir menjelaskan fenomena pertama dengan goncangan yang sangat dahsyat, sebab dataran bumi terbalik. Sedangkan, fenomena kedua ditafsiri Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quranul ‘Adzim berupa badai yang memuat kerikil dan bisa menghancurkan manusia.

Bila dicermati, dua azab ini pernah diturunkan kepada kaum terdahulu. Wahbah Az-Zuhayli menyebutkan, azab berupa guncangan dataran bumi hingga menelan manusia, pernah Allah timpakan pada Qarun. Sementara azab berupa badai kerikil pernah Allah turunkan pada Kaum Sodom dan Pasukan Gajah yang dipimpin Raja Abrahah dahulu kala saat menyerang Ka’bah.

Pertanyaan pada dua ayat tersebut bermakna pengingkaran terhadap sikap orang kafir.  Sebagaimana yang disebutkan Ibnu ‘Asyur, dua pertanyaan ini adalah sebagai wujud negasi atas keimanan kafir terhadap azab-azab Allah. Dua ayat tersebut juga menjadi bukti kasih sayang dan kelapangan Allah. Ia tidak langsung menurunkan azab kepada mereka sekalian orang kafir, tetapi lebih memilih mengancamnya dahulu dengan apa yang menimpa umat sebelum mereka, umat yang telah hancur peradabannya sebab ingkar terhadap Allah. Demikianlah yang disampaikan Ibnu Katsir dan Az-Zuhayli.

Sementara yang dimaksud nadzir pada akhir ayat ke-17 ialah Nabi Muhammad SAW, yang selain ditugaskan oleh Allah sebagai mubasysyir (pemberi kabar gembira terhadap siapa yang beriman), juga ditugaskan menjadi mundzir (pemberi peringatan terhadap yang ingkar). Pendapat ini disampaikan Ar-Razi berdasarkan hadis riwayat Ibnu ‘Abbas dan ad-Dhahhak. Maka mereka yang ingkar dari kaum Qurasih akan mengetahui bagaimana akibat dari ancaman Allah terhadapnya, yakni yang dibuktikan dengan Al-Quran dan kehadiran Nabi SAW.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 5-7: Balasan Bagi yang Tak Patuh Perintah

Selanjutnya, Allah mempertegas ancamannya terhadap sekalian kaum kafir dengan Surat Al-Mulk ayat 18:

وَلَقَدۡ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيرِ

“Dan sungguh, orang-orang yang sebelum mereka pun telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka betapa hebatnya kemurkaan-Ku!”

Pada awal ayat, tertera lam dan qad yang menunjukkan pengukuhan terhadap sikap dusta yang dilakukan umat terdahulu. Dalam Tafsir Al-Munir disebutkan, Mereka, yakni kaum ‘Ad, Tsamud, dan umat-umat sebelum Nabi Muhammad menyampaikan risalah, menyaksikan langsung azab Allah, dan pada akhirnya memusnahkan peradaban mereka. Hal ini sekaligus semakin mempertegas ancaman Allah terhadap siapapun yang ingkar kepadaNya.

Lalu, mengapa Allah mengamcam kafir Quraish dengan apa yang menimpa umat terdahulu?

Menurut Ibnu ‘Asyur, agar mereka lebih mudah mengambil pelajaran dari kaum-kaum itu. Sebab, Masyarakat Arab mengetahui dengan baik bagaimana sejarah peradaban kaum ‘Ad Tsamud, dan lain sebagainya. Selanjutnya, Ibnu ‘Asyur menegaskan, pemungkas ayat berupa ‘Betapa hebatnya kemurkaanKu’ adalah untuk memperingatkan Kafir Quraish bahwa kemurkaan Allah terhadap umat terdahulu juga bisa menimpa mereka Ketika mereka tidak mau beriman.

Demikianlah strategi dakwah Allah terhadap kaum yang ingkar. Dengan memberi ancaman, orang yang memusuhiNya, lebih mudah mempengaruhinya kemudian meluluhkan hatinya dan membuatnya patuh terhadap perintah. Dan dari sini kita tahu, bahwa teknik ancaman tidak selalu berkonotasi negatif, asal tetap dalam koridor bil hikmah dan maw’idhah hasanah. Wallahu a’lam[]

Menelisik Tafsir Falsafi (1): Pengertian dan Sejarah Perkembangannya

0
tafsir falsafi
tafsir falsafi (pewartanusantara)

Salah satu corak tafsir Al-Quran yang jarang dikaji adalah corak tafsir falsafi. Adalah corak tafsir Al-Quran yang banyak memuat aspek filosofis. Corak tafsir ini banyak menuai pro dan kontra, Al-Ghazali, misalnya, di pihak kontra dengan beberapa catatan kritis terhadap filsafat, sedangkan yang pro direpresentasikan oleh Al-Farabi, Ar-Razi, Ibn Sina, Ikhwan As-Shafa, At-Thabathaba’i.

Tafsir Falsafi merupakan bagian dari tafsir bil ra’yi. Tafsir bil ra’yi adalah bentuk penafsiran Al-Quran dengan menggunakan rasio (ra’y). Para mufasir berupaya mengungkapkan makna ayat-ayat Al-Quran berdasarkan background keilmuan yang dimilikinya.

Definisi Tafsir Falsafi

Ada banyak ragam pendapat ulama mengenai tafsir falsafi. Al-Dzahabi dalam Tafsir al-Mufassirun-nya berpendapat bahwa tafsir falsafi ialah upaya pentakwilan ayat-ayat Al-Quran senada dengan pemikiran filsafat atau penafsiran ayat Al-Quran dengan menggunakan teori-teori filsafat. Sedangkan Amin Suma dalam Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran mendefinisikan tafsir falsafi adalah penafsiran ayat-ayat Al-Quran berdasarkan pendekatan logika atau pemikiran filsafat yang bersifat liberal dan radikal.

Sementara itu, Muhaimin dkk memberikan pengertian bahwa tafsir falsafi adalah model interpretasi Al-Quran dengan pendekatan filsafat melalui perenungan dan penghayatan yang mendalam, dan mengkajinya secara radikal (mengakar), sistematis dan obyektif. menurut Thabathaba’i dalam Tafsir al-Mizan fi tafsir al-Quran, tafsir falsafi ialah bagaimana para filsuf membawa pikiran-pikiran filsafat ketika memahami ayat-ayat Al-Quran.

Baca juga: Mengenal Corak Tafsir Sufistik (1): Definisi, Klasifikasi dan Prasyarat yang Harus Dipenuhi

Tidak jauh berbeda dengan definisi di atas, Quraish Shihab dalam Sejarah dan Ulum Al-Quran juga menyumbangkan pendapatnya, tafsir falsafi adalah upaya penafsiran Al-Quran dikaitkan dengan persoalan-persoalan filsafat. Dari beberapa pendapat di atas, penulis dapat menarik benang merah bahwa tafsir falsafi merupakan upaya penafsiran Al-Quran dengan menggunakan pendekatan filsafat, baik terkait teori, persoalan maupun logika-logika filsafat.

Lebih dari itu, tafsir falsafi jika kita tilik ia cenderung membangun proposisi universal berdasarkan logika. Dalam konteks ini, logika amatlah mendominasi karenanya metode ini “kurang” mempertimbangkan aspek historisitas kitab suci. Namun begitu, keunggulan metode ini adalah kemampuannya membangun abstraksi dan proposisi makna-makna laten (tersembunyi) dari teks suci untuk kemudian didialogkan kepada khalayak tanpa terhalang faktor budaya dan bahasa.

Sejarah dan Perkembangannya

Keberadaan corak tafsir ini tentu memiliki sebab dan faktor yang melatari kemunculan tafsir ini. Sudah jamak diketahui bahwa filsafat berpegang pada akal dan istidhlal (argumen). Muhammad Ali al-Ridha al-Ishfihani dalam Durus fi al-Manahij wa al-Ittijahat al-Tafsiriyah li Al-Quran menuturkan bahwa istidhlal aqli juga terdapat dalam Islam bersamaan dengan perkembangan ilmu dan sains.

Perkembangan corak tafsir ini bermula di zaman keemasan Islam yakni Dinasti Abbasiyah  yang sangat kental akan nuansa Persia di dalamnya. Gerakan penerjemahan besar-besaran karya Yunani ke dalam bahasa Arab menjadi bukti untuk itu. Kemajuan Abbasiyah di bidang ilmu pengetahuan dan sains tidak terlepas dari ilmu filsafat di dalamnya. Hal tersebut juga merujuk pada Adz-Dzahabi, ia menerangkan bahwa embrio lahirnya penafsiran bercorak falsafi ditengarai dimulai pada masa Abbasiyah khususnya khalifah Al-Mansur dan Al-Ma’mun.

Baca juga: Mengenal Corak Tafsir Sufistik (2): Sejarah dan Periodisasi Perkembangan Tafsir Sufistik

Pada masa kedua khalifah tersebut bebarengan dengan proyek penerjemahan karya-karya Yunani, Persia dan India ke dalam bahasa Arab. Proyek penerjemahan karya-karya tersebut mendapatkan apresiasi yang tinggi dari khalifah baik material maupun non material. Terutama penerjemahan karya-karya filsafat Plato (427 SM-347 SM) dan Aristoteles (384 SM-322 SM).

Dari proyek penerjemahan ini kemudian melahirkan tokoh-tokoh baru dalam dunia filsafat Islam sebut saja Al-Farabi (870-950 M), Ibnu Sina, Al-Razi, Ibnu Maskawaih (932-1030 M), dan hampir semua ilmuwan yang hidup di masa Abbasiyah menguasai filsafat secara baik dan mendalam. Bahkan, Al-Farabi mendapat gelar prestisius sepanjang sejarah yaitu “al-Mu’allim al-Tsani” (guru kedua setelah Aristoteles). Luar biasa bukan.

Khalid Abd ar-Rahman al-‘Ak dalam Buhus fi al-‘Ulum Al-Quraniyah Ushul al-Tafsir wa Qawa’iduh menggunakan istilah “falsafi al-kalami” untuk menyebutkan tafsir falsafi. Penafsiran terhadap Al-Quran secara filsafat relatif banyak dijumpai dalam sejumlah kitab tafsir, akan tetapi secara spesifik tafsir yang menggunakan pendekatan falsafi secara keseluruhan terhadap semua ayat Al-Quran relatif tidak begitu banyak.

Al-Sayyid Muhammad Ali Iyyaziy dalam al-Mufassirun Hayatuhum wa Manahijuhum menyampaikan bahwa di antara kitab tafsir yang bercorak falsafi ialah Tafsir Al-Quran Al-Karim karya Shadr al-Mutaalihin al-Siyraziy, Fushus al-Hikam karya al-Farabi, Rasail karya Ibnu Sina, dan Rasail Ikhwan as-Shafa oleh Ikhwan as-Shafa, Tafsir Mafatih al-Ghaib karya Fakhdruddin Ar-Razi, Tafsir al-Mizan karya Thabathaba’i, dan lain sebagainya.

Penamaan Surat dalam Al-Quran: Antara Tauqifi dan Ijtihadi

0
Penamaan surat dalam Al-Quran
Penamaan surat dalam Al-Quran

Perdebatan terkait tauqifi dan ijtihadi tidak hanya terjadi pada pembahasan susunan surat Al-Quran, namun juga pada proses penamaan surat dalam Al-Quran. Perdebatan ini muncul akibat adanya perbedaan penamaan surat dalam Al-Quran antara surat yang tercantum dalam mushaf resmi utsmani dengan mushaf-mushaf pra-utsmani, sehingga timbul pertanyaan, apakah semua nama surat Al-Quran itu pasti bersifat tauqifi atau ijtihadi?

Secara umum, dalam kitab Asma’ Suwar Al-Quran wa Fadha’iliha karya Syaikh Munirah Muhammad Nashir al-Dussari, dijelaskan bahwa mayoritas ulama memandang  penamaan surat dalam Al-Quran bersifat tauqifi. Pandangan yang demikian didasarkan pada beberapa argumentasi dalil Hadis Nabi, sebagaimana berikut:

Baca Juga: Mengenal Penamaan Surat dalam Al-Quran, Begini Penjelasannya

  1. Berdasarkan perintah Nabi dari pemberitahuan Malaikat Jibril

Argumentasi pertama ini sudah jamak diketahui oleh kalangan ulama. Hal ini dikarenakan tatkala Malaikat Jibril menyampaikan wahyu kepada Nabi, ia juga memberikan pengarahan kepada Nabi terkait penempatan dan nama surat dari ayat tersebut. Bukti dari hal tersebut dapat diketahui dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Diceritakan bahwasanya tatkala turun Q.S. al-Baqarah [2]: 280, Malaikat Jibril memberi tahu Nabi dengan perkataan berikut:

ضَعْهَا فِيْ رَأْسِ ثَمَانِيْنَ وَمِائَتَيْنِ مِنْ سُوْرَةِ البَقَرَةِ

Letakkanlah ayat tersebut pada ayat yang ke dua ratus delapan puluh dari surat al-Baqarah

  1. Nabi menyebut keutamaan sebuah surat beserta namanya

Banyak disebutkan dalam beberapa riwayat hadis, bahwasanya Nabi seringkali menyebutkan keutamaan sebuah surat Al-Quran beserta nama surat tersebut. Sebagaimana dalil hadis tentang keutamaan surat al-Kahfi berikut:

حديث أبي الدرداء أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَةٍ مِنْ سُوْرَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Darda’, sesungguhnya Nabi Saw bersabda: (Barangsiapa yang hafal sepuluh ayat dari surat al-Kahfi, maka ia akan dilindungi dari (fitnah) Dajjal)

Baca Juga: Kontroversi Bolehnya Penamaan “Surat Al-Baqarah”. Berikut Penjelasannya!

Dari paparan berbagai riwayat hadis tersebut dapat dipahami bahwasanya penamaan surat Al-Quran itu murni dari Nabi (tauqifi) tanpa adanya intervensi dari pihak manapun. Adapun generasi selanjutnya yaitu para sahabat Nabi, mereka menamai surat-surat Al-Quran dalam mushaf mereka berdasarkan hafalan mereka atas riwayat-riwayat hadis yang pernah Nabi sampaikan tersebut. Proses atau cara penamaan surat dalam Al-Quran yang demikian digunakan hingga masa kodifikasi mushaf resmi utsmani.

Namun demikian, perlu diketahui bahwasanya setiap surat Al-Quran itu tidak hanya memiliki satu nama, tetapi juga memiliki beberapa nama lain. Di sinilah yang menjadi pertanyaan, apakah semua nama surat tersebut bersifat tauqifi? atau mungkin sebagiannya bersifat ijtihadi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan menyampaikan terkait pola penamaan terhadap surat Al-Quran yang tertulis dalam kitab al-Muharrar fi ‘Ulum Al-Quran karya Syaikh Musa’id ibn Sulaiman al-Thayyar. Ia menjelaskan bahwa terdapat tiga pola utama penamaan surat Al-Quran, yaitu:

  1. Penamaan surat berdasarkan perintah Nabi

Penjelasan penamaan surat dalam Al-Quran menggunakan yang pertama ini sudah dijelaskan di awal.

  1. Penamaan surat berdasarkan Ijtihad para Sahabat

Pola kedua ini menjelaskan bahwa terdapat sahabat Nabi yang juga memberikan nama tertentu terhadap sebuah surat Al-Quran. Hal ini dapat dibuktikan dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Sa’id ibn Jubair. Ia berkata kepada Ibnu Abbas tentang nama surat al-Hasyr. Namun kemudian Ibnu Abbas menimpalinya dengan mengatakan “katakanlah surat Baniy al-Nadhir”. (H.R. Bukhari no. 4029)

  1. Penamaan surat berdasarkan permulaan ayat

Penamaan surat dalam Al-Quran pada pola yang ketiga ini tidak mendasarkan pada hadis Nabi ataupun atsar sahabat, tetapi nama tersebut diambil dari permulaan ayat dalam surat tersebut. Misalnya surat araita (Al-Ma’un), surat lam yakun (Al-Bayyinah), dan seterusnya. Tidak semua surat menggunakan pola ketiga ini, hanya sebagian besar saja.

Baca Juga: Kenali Dua Tipe Pembuka Surat Al-Quran dan Rahasianya

Kemudian, sebagai argumentasi bahwa terdapat nama surat yang ditulis berdasarkan ijtihad para sahabat dan tabi’in, penulis mengutip pendapat Syaikh Abu al-Wafa Ahmad Abd al-Akhir dalam karyanya yang berjudul al-Mukhtar min ‘Ulum Al-Quran al-Karim. Ia menjelaskan sebagaimana berikut:

فَإِنْ كَانَ لَهَا إِسْمٌ وَاحِدٌ فَإِنَّ هَذَا الْإِسْمَ يَكُوْنُ تَوْقِفِيًّا قَطْعًا كَسُوْرَةِ الْأَنْعَامِ وَالْكَهْفِ وَإِنْ كَانَ لَهَا أَكْثَرُ مِنْ إِسْمٍ فَإِنَّ بَعْضَ هَذِهِ الْأَسْمَاءِ يَكُوْنُ تَوْقِفِيًّا وَبَعْضَهَا يَكُوْنُ مِنْ وَضْعِ بَعْضِ الصَّحَابَةِ أَوْ التَّابِعِيْنَ

Apabila sebuah surat hanya memiliki satu nama, maka nama tersebut bersifat tauqifi secara pasti, seperti surat al-An’am dan al-Kahfi. Dan apabila surat tersebut memiliki lebih dari satu nama, maka sebagian nama tersebut bersifat tauqifi, dan sebagian lainya berasal dari penamaan para sahabat atau tabi’in

Contoh surat yang memiliki nama yang banyak adalah surat Al-Fatihah. Syaikh Abu Al-Wafa menyebutkan bahwa nama lain Al-Fatihah yang bersifat tauqifi hanya lima, yaitu Fatihah al-Kitab, Fatihah Al-Quran, Umm al-Kitab, Umm Al-Quran, dan Al-Sab’ al-Matsani. Kemudian, sebagian nama al-Fatihah lainya adalah bersifat ijtihadi, seperti al-Wafiyah yang merupakan hasil ijtihad Sufyan ibn Uyainah. Serta ijtihad Yahya ibn Abi Katsir yang menamai surat al-Fatihah dengan al-Kafiyah .

Selain al-Fatihah, surat lain yang juga memiliki nama lain hasil ijtihad para sahabat dan tabi’in antara lain adalah surah Al-Fadhihah dan surah Al-’Adzab yang merupakan hasil penamaan Hudzaifah terhadap surat At-Taubah. Kemudian ada juga surah Al-Badr (al-Anfal), surah An-Ni’am (al-Nahl), surah Al-Kalim (Thaha), dan surah Al-Qital (Muhammad). Kemudian ada Al-Hudzali yang menamai surat Thaha dengan “Musa”, dan surat Shad dengan nama “Dawud”. Serta Al-Ja’bari yang menamai surat Ash-Shaffat dengan nama “Adz-Dzabih”. Wallahu A’lam