Beranda blog Halaman 461

Tafsir Surat Yusuf Ayat 1-2: Alasan Al-Quran Diturunkan dengan Bahasa Arab

0
tafsir surat Yusuf Ayat 1
tafsir surat Yusuf Ayat 1, al-Quran menggunakan bahasa Arab

Kita sudah mengetahui al-quran diturunkan dengan bahasa Arab. Tentu hal ini bukan hanya kebetulan. Latar belakang tentang alasan al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, kita bisa melacak dengan mempelajari penjelasan para mufassir. Pada tulisan ini kita akan menelusuri berdasarkan penjelasan surat Yusuf ayat satu. Ayat satu tersebut jelas menyebutkan bahwa ayat al-Quran adalah kitab al-mubin. Apakah makna al-mubin ini bersinggungan dengan bahasa al-quran?. Untuk lebih jelasnya, kita mulai dari uraian tafsir surat Yusuf ayat 1-2:

الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ 

Alif Lam Ra, ini adalah ayat-ayat kitab (Alquran) yang jelas.

Al-Baghawi berpendapat dalam tafsirnya maksud al-mubin pada ayat ini adalah memiliki kejelasan halal dan haramnya, baik itu ketentuannya dan hukum-hukumnya. Al-Baghawi mengutip pendapat Qatadah, yaitu al-mubin berarti yang jelas-demi Allah-keberkahannya, petunjuknya dan bimbingannya. Sesungguhnya al-mubin berasal kata bana dengan arti dhahara, yakni menunjukkan.

Baca juga: Penamaan Surat dalam Al-Quran: Antara Tauqifi dan Ijtihadi

Kemudian pendapat al-Zujjah, al-quran sebagai al-mubin karena menjelaskan haq dari yang bathil dan menjelaskan halal dari yang haram. Selanjutnya al-Mubin dari kata abana dengan arti adhhara (menunjukkan). (Tafsir al-Baghawi, II/473)

Sedangkan menurut tafsir Ibnu Katsir kata al-Mubin berarti kejelasan yang nyata, yang mengungkapkan, menerangkan dan menjelaskan sesuatu yang rancu. Sedikit berbeda dengan pendapat al-Baydhawy, ayat satu surat Yusuf ini jelas perkaranya sebagai mu’jizat, maksudnya ialah penjelasan bagi orang yang menghayati atau bagi orang Yahudi yang bertanya kepada Nabi Muhammad saw terkait mengapa keluarga Ya’qub pindah dari Syam ke Mesir dan kemudian bertanya mengenai kisah Nabi Yusuf. Maka dari peristiwa itulah Allah SWT menurunkan surat Yusuf.

Baca juga: Mengurai Dua Peta Tipologi Pemikiran Tafsir Kontemporer

Alasan Al-quran Diturunkan dengan Bahasa Arab

Firman Allah SWT menjelaskan bahwa al-quran diturunkan dengan bahasa arab tertuang dalam surat Yusuf Ayat 2:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ 

Susunguhnya kami menurunkannya berupa Alquran berbahasa Arab, agar kamu mengerti.

Mengapa al-quran diturunkan dengan bahasa Arab? mari perhatikan pendapat para mufassir dalam menjelaskan surah Yusuf ayat 2. Berikut ini penjelasannya:

Alasan Sosiologis

Allah menurunkan Alquran dengan bahasa Arab sesuai bahasa orang Arab, supaya orang Arab mengetahui artinya dan memahami apa yang terdapat di dalamnya. (Tafsir al-Baghawi, II/473). Begitu juga dengan al-Tsa’laby dalam tafsir al-Kasyf wa al-Bayan ‘an Tafsir al-Quran, mengutarakan pendapat yang sama dengan al-Baghawi.

Alasan Superioritas Bahasa Arab

Menurut Ibn Katsir al-quran diturunkan dengan bahasa Arab karena bahasa Arab paling fasih, paling jelas, paling luas dan paling banyak pemenuhan terhadap arti. Maka dari itu, menurut Ibn Katsir, Allah menurunkan kitab terbaik dengan bahasa terbaik, kepada utusan terbaik, dengan duta malaikat terbaik, di tempat terbaik di belahan bumi dan memulai penurunannya pada bulan yang terbaik, yaitu Ramadhan. Sempurnalah dari berbagai sisinya. (Tafsir Alquran al-Adhim,  Dar Thayyibah, IV/366).

Baca juga: Krisis Kemanusiaan, Gus Mus Serukan Para Kyai Memviralkan Kandungan Surat Al-Hujurat

Alasan Agar Kita Berfikir

Ini alasan yang menarik, menurut al-Qudhamy al-quran diturunkan dengan bahasa arab agar kita memahaminya, agar kita menyadari artinya, dengan begitu tidak menimbulkan kerancuan. Maka dari itu Allah firman dalam sura al-Fushshilat ayat 44:

وَلَوْ جَعَلْنَٰهُ قُرْءَانًا أَعْجَمِيًّا لَّقَالُوا۟ لَوْلَا فُصِّلَتْ ءَايَٰتُهُۥٓ ۖ ءَا۬عْجَمِىٌّ وَعَرَبِىٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هُدًى وَشِفَآءٌ ۖ وَٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِىٓ ءَاذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ يُنَادَوْنَ مِن مَّكَانٍۭ بَعِيدٍ

Dan sekiranya Alquran kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah patut (Alquran) dalam bahasa selain bahasa Arab sedang (Rasul) orang Arab? Katakanlah, “Alquran adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Alquran) itu merupakan kegelapan bagi mereka. Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.”

Selain menggunakan akal pikiran, kemudian juga dapat mengetahui tentang kisah Nabi Yusuf yang demikian, ternyata kisah tersebut bukan dari orang yang tidak belajar tentang kisah cerita, akan tetapi Kisah Nabi Yusuf merupakan mu’jizat dan hal itu turun karena pewahyuan. Disamping itu al-Qudhamy juga menyampaikan pendapatnya seperti alasan yang kedua, seperioritas bahasa Arab. (Mahasin al-Ta’wil, Dar al-Kutub al-Ilmiah, VI/145)

 

Tafsir Surat Al A’raf ayat 4-5

0
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102

Baca juga: Tafsir Surat Al-A’raf 1-3

Tafsir surat al-A’raf ayat 4-5 ini membahas lebih lanjut balasan Allah terhadap orang-orang yang menentang dan mendustakan Rasulullah. Tafsir surat al-A’raf ayat 4-5 ini juga berkaitan dengan ayat sebelumnya yang menyatakan bahwa surat Al-A’raf diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah sebagai salah satu surat yang menghibur Rasulullah dari hinaan orang musyrik terhadap agama Islam.

Sebagaimana yang kita ketahui Allah akan membalas perbuatan manusia berdasarkan amal perbuatannya, baik itu ketika di dunia maupun di kelak di akhirat.

Ayat 4

Ayat ini menerangkan bahwa tidak sedikit negeri yang telah dimusnahkan dan penduduknya dibinasakan karena kedurhakaannya. Mereka menentang, membangkang dan mendustakan para rasul Allah yang diutus kepadanya untuk memberi kabar gembira dan peringatan.

Firman Allah:

فَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَهْلَكْنٰهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۖ وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَّقَصْرٍ مَّشِيْدٍ

Maka betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)nya dalam keadaan zalim, sehingga runtuh bangunan-bangunannya dan (betapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi (tidak ada penghuninya). (al-Hajj/22: 45)

وَكَمْ اَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ ۢ بَطِرَتْ مَعِيْشَتَهَا ۚفَتِلْكَ مَسٰكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِّنْۢ بَعْدِهِمْ اِلَّا قَلِيْلًاۗ وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِيْنَ

Dan betapa banyak (penduduk) negeri yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya yang telah Kami binasakan, maka itulah tempat kediaman mereka yang tidak didiami (lagi) setelah mereka, kecuali sebagian kecil. Dan Kamilah yang mewarisinya. (al-Qasas /28: 58)

Apabila suatu negeri akan dimusnahkan, maka datanglah azab dan siksaan Allah kepada penduduk negeri itu dalam keadaan mereka sedang lengah dan tidak menduga sama sekali, karena tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Adakalanya siksaan itu datang di waktu malam, di waktu mereka bersenang-senang, merasa aman sebagaimana halnya kaum Nabi Luth. Adakalanya datang di waktu siang, di kala mereka istirahat tidur sebagaimana halnya kaum Nabi Syu’aib.

Allah berfirman:

حَتّٰٓى اِذَآ اَخَذَتِ الْاَرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ اَهْلُهَآ اَنَّهُمْ قٰدِرُوْنَ عَلَيْهَآ اَتٰىهَآ اَمْرُنَا لَيْلًا اَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنٰهَا حَصِيْدًا كَاَنْ لَّمْ تَغْنَ بِالْاَمْسِۗ  كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir. (Yunus/10: 24)

Firman-Nya:

اَفَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرٰٓى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَّهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَۗ  ٩٧  اَوَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرٰٓى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَّهُمْ يَلْعَبُوْنَ  ٩٨

Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain?  (al-A’raf/7: 97-98)


Baca Juga: Empat Tipologi Bencana dalam Perspektif al-Qur’an


Ayat 5

Ayat ini menerangkan bahwa umat yang telah ditimpa siksa itu, tidak lain keluhannya kecuali mereka mengakui kezaliman, kesalahan dan kedurhakaan yang telah mereka perbuat. Ketika itulah baru mereka sadar dan menyesal, serta mengharapkan sesuatu jalan yang dapat mengeluarkan mereka dari bencana yang telah menimpa itu. Kesadaran dan penyesalan mereka tentunya tidak akan bermanfaat dan tidak ada gunanya lagi; sebagaimana firman Allah:

وَكَمْ قَصَمْنَا مِنْ قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً وَّاَنْشَأْنَا بَعْدَهَا قَوْمًا اٰخَرِيْنَ   ١١  فَلَمَّآ اَحَسُّوْا بَأْسَنَآ اِذَا هُمْ مِّنْهَا يَرْكُضُوْنَ ۗ  ١٢  لَا تَرْكُضُوْا وَارْجِعُوْٓا اِلٰى مَآ اُتْرِفْتُمْ فِيْهِ وَمَسٰكِنِكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْـَٔلُوْنَ   ١٣  قَالُوْا يٰوَيْلَنَآ اِنَّا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ   ١٤  فَمَا زَالَتْ تِّلْكَ دَعْوٰىهُمْ حَتّٰى جَعَلْنٰهُمْ حَصِيْدًا خَامِدِيْنَ   ١٥

Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang zalim yang telah Kami binasakan, dan Kami jadikan generasi yang lain setelah mereka itu (sebagai penggantinya). Maka ketika mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari (negerinya) itu. Janganlah kamu lari tergesa-gesa; kembalilah kamu kepada kesenangan hidupmu dan tempat-tempat kediamanmu (yang baik), agar kamu dapat ditanya. Mereka berkata, ”Betapa celaka kami, sungguh, kami orang-orang yang zalim.” Maka demikianlah keluhan mereka berkepanjangan, sehingga mereka Kami jadikan sebagai tanaman yang telah dituai, yang tidak dapat hidup lagi. (al-Anbiya′/21: 11-15)


Baca setelahnya: Tafsir Surat At Takasur Ayat 6


(Tafsir Kemenag)

Teori Hermeneutika Hans-Georg Gadamer dan Perkembangannya dalam Studi Al-Quran

0
Hans-Georg Gadamer
Hans-Georg Gadamer

Hans-Georg Gadamer merupakan seorang filsuf dan pemikir yang hidup sepanjang abad ke-20. Ia lahir di Marburg tanggal 11 Februari 1990 dari kalangan keluarga menengah dan memiliki karir akademik yang tinggi. Ayahnya seorang ahli kimia dan memuja ilmu-ilmu alam dan merendahkan kajian humaniora (Hardiman, 2015: 156-157). Namun, ternyata pepatah ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’ tidak berlaku dalam kehidupan intelektual Gadamer. Ia memutuskan untuk terjun dalam dunia filsafat.

Hans-Georg Gadamer banyak menimba ilmu kepada beberapa filsuf terkenal seperti Heidegger, Nikolai Hartman, dan Rudolf Bultmann (Sumaryono, 1999: 67). Khususnya perjumpaan Gadamer dengan Heidegger banyak mempengaruhi pemikiran filsafatnya. Melalui Heidegger juga, ia belajar tentang pra-struktur pemahaman yang terikat dengan dimensi ontologis manusia, disebut dasein. Maka Hermeneutika Gadamer pun dikategorikan sebagai bagian dari Hermeneutika Filosofis.

Baca Juga: Hermeneutika Kritis Jurgen Habermas dan Posisinya dalam Studi Al-Quran

Dalam teorinya, Hans-Georg Gadamer tidak menjelaskan secara detail mengenai metode khusus dalam memahami sebuah teks. Alasan mendasarnya, Gadamer tidak ingin terjebak pada ide universalisme metode hermeneutika untuk semua bidang sosial dan humaniora. Namun konsep-konsep hermeneutika yang digagas Gadamer bisa dikatakan secara khusus dapat memperkuat jembatan dalam memahami teks.

Sahiron Syamsuddin dalam karyanya Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Qur’an mengklasifikasikan teori Hans-Georg Gadamer ke dalam empat konsep besar yaitu: 1) Teori Kesadaran Keterpengaruhan oleh Sejarah (Affective History); 2) Teori Prapemahaman; 3) Teori Penggabungan/Asimilasi Horizon; 4) Teori Penerapan/ Aplikasi (Syamsuddin, 2017: 76-83).

Secara singkat teori-teori yang disebut di atas sangat bersesuian dengan teori-teori ulumul Qur’an maupun penafsiran yang dibangun di atas tradisi mufassir muslim. Dalam kasus ini, penjelasan Syamsuddin dapat dijadikan basis utama dalam menemukan titik-titik persamaan dua bangun teori yang berbeda dari sisi tradisi ini.

Syamsuddin mengelaborasikan bahwa teori “prapemahaman”, yang tentunya sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sang mufassir, dapat dimaknai sebagai al-ra’y, yang dalam sebuah hadis dilarang untuk digunakan dalam menafsirkan al-Qur’an. Sebab al-ra’y di sana tidak bermakna al-‘aql atau pikiran yang berdasar secara ilmiah (Syamsuddin, 2017: 84-86). Maka inti dari teori ini adalah sebagai peringatan kepada penafsir agar tidak terjebak dalam horizon (cakrawala pengetahuan) subjektifnya, sebab masih ada horizon objektif yang harus digali.

Selanjutnya, Syamsuddin mengelaborasikan kesesuaian antara teori fusion of horizon dan dirasah ma fi al-Qur’an dan ma hawla al-Qur’an Amin al-Khulli. Walhasil, dijumpai bahwa teori yang yang dibangun Gadamer menekankan kepada seorang pembaca (mufassir) untuk melakukan analisis historis-linguistik agar mendapatkan apa yang disebut sebagai horizon teks yang kemudian nantinya akan direlevansikan dengan asumsi awal seorang penafsir (horizon mufassir) untuk direaktualisasikan (Syamsuddin, 2017: 86-87).

Sederhananya, kedua horizon tersebut berdiri dalam realitas sejarahnya masing-masing. Gadamer menyebut realitas sejarah tersebut dengan sebutan sejarah efektif atau effective history. Konsep ini dipahami untuk melihat tiga kerangka waktu yang mengitari teks historis. Pertama, masa lampau di mana teks tersebut dilahirkan dan makna teks bukan hanya milik pengarang, melainkan juga milik setiap orang yang membacanya. Kedua, masa kini di mana penafsir datang dengan ‘segudang’ prasangka (prejudice). Prasangka ini akan berdialog dengan masa sebelumnya sehingga menghasilkan suatu produksi makna. Ketiga, masa depan, di mana terdapat nuansa baru yang produktif (Muslih, 2005: 143).

Dalam hemat penulis, gagasan ini sebenarnya telah dibangun sejak abad ke 8 oleh Abu Ishaq al-Syatibi dalam teori Maqashid al-Syariah-nya. Sebab dalam teorinya telah dibangun, asumsi dasar sebelum aktivitas penafsiran adalah bahwa al-Qur’an memuat nilai-nilai universal yang dihimpun dalam lima nilai pokok yang disebut maqashid al-syariah. Lalu dari asumsi itu dibangun sebuah metode penafsiran yang tidak hanya melihat dzohir ayat namun juga mempertimbangkan siyaq al-kalam untuk menguji asumsi yang telah dibangun, sekaligus mendapatkan nilai unversal (illah) dari teks yang nantinya bisa diaplikasikan dalam menjawab persoalan yang terjadi  di zaman sang mufassir (al-Raisuni, 1992: 116).

Baca Juga: Aplikasi Tafsir Maqashidi, Ulya Fikriyati: Beda Maqashidus Syariah dan Maqashidul Qur’an

Menurut hemat penulis, dalam konteks pengembangan riset keilmuan di bidang Ilmu al-Qur’an dan Tafsir perlu adanya upaya untuk mengkombinasikan penggunaan teori yakni yang berasal dari Timur dan Barat. Hal ini sebenarnya untuk mereduksi anggapan bahwa teori Barat jauh lebih unggul, maupun klaim bahwa teori Timur lebih shahih diterapkan.

Sebab khazanah Timur ternyata mampu bersaing dan tidak jarang menjadi dasar pengembangan teori-teori yang ada di Barat—sehingga tidak tepat jika dikatakan berada di bawah Barat. Dan khazanah Barat juga merupakan ilmu atau produk pengetahuan yang sifatnya universal sehingga tidak layak untuk direndahkan dengan klaim teologis, kecuali ditinggalkan jika di dalamnya terdapat unsur-unsur yang tidak tepat diaplikasikan. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat An-Nahl Ayat 68-69: Keistimewaan Lebah dalam Al-Quran

0
Keistimewaan lebah dalam Al-Quran
Keistimewaan lebah dalam Al-Quran

Lebah menjadi salah satu hewan yang namanya tidak hanya disebut dalam Al-Quran, melainkan dijadikan nama surat, yaitu An-Nahl. Allah menciptakan sebuah makhluk yang sangat istimewa yaitu lebah yang mempunyai manfaat bagi manusia. Salah satu keistimewaan lebah ialah, koloni-koloni lebah menghasilkan madu. Madu tersebut telah menjadi konsumsi yang lazim bagi manusia bahkan seringkali digunakan untuk obat. Karena keistimewaan tersebut manusia hingga hari ini terus menerus membudidayakan lebah madu. Dalam Al-Quran, Allah menceritakan hewan istimewa ini dalam surat An-Nahl ayat 68-69.

Baca juga: Belajar Organisasi dari Semut dalam Surat An-Naml Ayat 18-19

Tafsir surat An-Nahl ayat 68: lebah, hewan yang diberikan wahyu

Lebah adalah satu hewan yang istimewa dan unik. Mereka adalah hewan yang diperintahkan Allah untuk melaksanakan tugas-tugasnya di muka bumi. Dengan kata lain, hewan lebah ini telah diberikan wahyu oleh Allah tentang fitrahnya di dunia. Adapaun perihal ini telah dijelaskan Allah dalam surat An-Nahl ayat 68:

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).”

Sebagaimana firman Allah dalam surat As-Syu’ara ayat 51, bahwa hanya ada tiga cara bagi makhluk Allah untuk berkomunikasi dengan-Nya. Cara pertama adalah dengan wahyu, bisa melalui hati dan mimpi yang dinamakan ilham seperti yang terjadi pada Ibu Nabi Musa. Kedua adalah melalui hijab seperti yang terjadi pada pertemuan Nabi Musa dengan Allah yang diceritakan pada surat Al-Qashas ayat 30. Ketiga adalah melalui perantaraan Malaikat Jibril seperti yang terjadi pada nabi dan rasul. Cara pertama adalah yang terjadi pada lebah, bahwa ia diperintah Allah melalui wahyu.

Baca juga: Menilik Keutamaan dan Tujuan Qasam dalam Al-Quran

As-Sa’di dalam Tafsir As-Sa’di menjelaskan bahwa dalam ayat di atas, lebah telah medapatkan ilham dari Allah berupa bimbingan yang ajaib. Allah memberikan kemudahan bagi lebah untuk menuju padang rumput dan taman untuk mencari makan kemudian kembali ke sarangnya yang sangat bagus dan unik atas petunjuk Allah. Wahbah Zuhayli dalam Tafsir al-Wajiz juga memberikan keterangan bahwa Allah telah memberikan kemudahan habitat makanan lebah kemudian Allah juga memberikan arahan kepada lebah untuk merenovasi rumahnya dengan sedemikian mengagumkan.

Al-Mahalli dan As-Suyuthi dalam Tafsir Jalalayn menafsirkan kata “an” di atas sebagai “an” mashdariyah atau mufassiriyah yang berarti ilham yang diberikan kepada lebah berupa sarang untuk tempat tinggal. Sarang tersebut bisa bertempat di bukit-bukit, pohon-pohon, atau tempat-tempat yang telah disediakan maunusia. Sedang Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah memberikan pengertian bahwa lebah telah diberikan Allah ilham untuk menyelesaikan semua persoalan hidupnya. Termasuk juga yang dimudahkan Allah bagi lebah adalah membuat sarang di gunung-gunug, celah-celah pepohonan, maupun pucuk-pucuk rumah manusia.

Tafsir surat An-Nahl ayat 69: manfaat lebah bagi manusia

Keistimewaan lebah yang lain juga dijelaskan Allah dalam ayat selanjutnya, yaitu surat An-NAhl ayat 69:

ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan”

Al-Mahalli dan As-Suyuthi dalam Tafsir Jalalayn menafsirkan lafadz “dzululan” ini sebagai bentuk jamak dari lafadz “dzaluulun”. Makna dari lafadz tersebut adalah dimudahkannya lebah untuk mengambil makanan sejauh dan sesulit apapun jalan tersebut, ia tidak akan tersesat untuk kembali ke sarangnya. Lalu dari perut lebah tersebut keluar minuman yang bermacam-macam warnya, yang di dalamnya mengandung obat bagi segala penyakit. Minuman tersebut bernama madu.

Mengenai madu sebagai penyembuh ini Rasulullah pernah bersabda “penyembuhan bisa lewat tiga macam: bekam, minum madu, atau membakar dengan api. Dan aku melarang umatku membakar dengan api.” (HR Bukhari). Dalam hadis lain riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah juga pernah menyuruh sahabatnya untuk meminumkan madu kepada orang yang sakit diare. Diminumkannya madu tersebut kepda orang yang sakit sebanayk tiga kali lalu penyakitnya pun sembuh.

Baca juga: Ketahui Manfaat Gunung Sebagai Pasak Bumi, Ini Penjelasannya dalam Al Quran

Dalam Tafsir al-Misbah Quraish Shihab menerangkan ayat ini dengan penjelasan saintifik modern atau menggunakan penafsiran bil ‘ilmi. Menurut ilmu pengetahuan modern di dalam madu ini terdapat unsur glukosa dan perfentous dalam porsi yang besar. Dalam ilmu kedokteran, glukosa ini berguna sekali bagi proses penyembuhan berbagai macam jenis penyakit melalui injeksi atau dengan perantaraan mulut yang berfungsi sebagai penguat.

Di samping itu, madu juga memiliki kandungan vitamin yang cukup tinggu terutama vitamin B kompleks. Dalam seminar ilmiah yang dialakukan cendekiwan muslim di Qatar mengungkapkan bahwa madu lebah berperan penting dalam menghentikan pertumbuhan mikroba. Enzim di dalamnya dapat merangsang kesehatan tubuh manusia dan berfungsi meningkatkan zat antibody untuk melawan penyakit yang menyerang.

Atas dasar ilmu pengetahuan modern ini Quraish Shihab mendapatkan afirmasi untuk panfsiran bahwa dalam minuman yang dihasilkan oleh lebah mengandung obat dari berbagai penyakit sesuai yang telah difirmankan Allah. Ayat ini sekali lagi menjadi bukti bahwa antara kebenaran Al-Quran dan kebenaran sains atau ilmu pengetahuan tidaklah bertentangan. Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Al A’raf Ayat 1-3

0
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102

Baca juga: Tafsir Surat Al- An’am 1


Sebelum membahas tafsir surat Al-A’raf ayat 1-3 baiknya terlebih dahulu kita berkenalan dengannya. Surat ini berjumlah 206 ayat menepati urutan ke 7 menurut Tartib Mushaf Usmani, dan termasuk golongan surat Makkiyah karena diturunkan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah.

Tafsir surat Al-A’raf ayat 1-3 menjadi pembuka pada surat ke-7 yang mengantarkan para pembaca pada keseluruhan isi kandungan surat Al-A’raf. Surat yang memiliki arti “Tempat Tertinggi” ini di awali dengan huruf muqatha’ah yang telah di bahas dalam Q.S al-Baqarah ayat 1. Surat Al-A’raf juga termasuk dalam “Assab ‘Uththiwal” yakni 7 surah yang panjang.

Tafsir surat Al-A’raf ayat 1-3 secara ringkas, khususnya dalam ayat 2-3 membahas Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah sebagai petunjuk dan juga peringatan terhadap orang-orang mukmin. Allah menghibur Rasulullah dari orang-orang musyrik yang menghinanya dengan menurunkan Al-Qur’an, agar Rasulullah senantiasa bersabar dalam berdakwah.

Ayat 1

Mengenai tafsir ayat “Alif Lam Mim Sad”, lihat jilid I Al-Qur′an dan Tafsirnya tentang tafsir permulaan surah dengan huruf-huruf hijaiyah.

Ayat 2-3

Ayat ini menerangkan bahwa kitab yang diturunkan kepada Muhammad saw yang berisi bimbingan dan petunjuk, adalah untuk memberi peringatan kepada orang-orang mukmin. Muhammad janganlah sekali-kali merasa sedih menghadapi tantangan, perlawanan, ejekan dan hal-hal yang lain dari kaum musyrikin, dalam menyampaikan risalah yang telah ditugaskan kepadanya. Hendaklah dia bersabar menghadapinya. Adanya tantangan dari kaum musyrikin sehingga dada Muhammad saw akan menjadi sesak karenanya telah diketahui oleh Allah sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. (al-Hijr/15: 97)

Tetapi ia diperintahkan agar bersabar, tetap teguh hati menghadapi mereka sebagaimana halnya rasul-rasul sebelumnya.

Firman Allah:

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati… (al-Ahqaf/46: 35)

Kitab tersebut harus dijadikan pelajaran dan peringatan bagi orang-orang mukmin, karena peringatan itu akan membawa manfaat dan pengaruh kepada mereka.

وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ

Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin. (Adz-Dzariyat/51: 55)


Baca Juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 5-6: Diutusnya Nabi Muhammad SAW Sebagai Pemberi Peringatan


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat At Takatsur Ayat 4-8

0
tafsir surat at takatsur
Tafsiralquran.id

Setelah pada ayat yang lalu berbicara mengenai orang-orang yang sombong dengan membangga-banggakan harta, anak keturunan, serta jabatannya, Tafsir Surat At Takatsur Ayat 4-8 ini berisi ancaman Allah swt atas perilaku mereka. Pada pembahasan sebelumnya juga telah dipaparkan mengenai ancaman Allah dan ancaman tersebut diulangi kembali.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat At Takasur Ayat 1-3


Dalam Tafsir Surat At Takatsur Ayat 4-8 ini juga berisi peringatan Allah swt agar tidak terlena dengan harta yang melimpah. Karena melimpahnya harta biasanya membuat lalai terhadap ibadah. Orang-orang yang berprilaku lalai seperti ini nantinya akan mendapat azab atas apa yang mereka lakukan di dunia.

Ayat 4

Allah mengulang ancaman-Nya melalui ayat ini dan merupakan ancaman sesudah ancaman, bagaikan  seorang tuan berkata kepada hamba sahayanya bahwa agar tidak mengerjakan sesuatu, kemudian tuan itu mengulangi ucapannya itu.

Ayat 5

Ayat ini merupakan peringatan Allah dalam bentuk perintah agar waspada terhadap tingkah laku yang buruk itu. Keinginan untuk berlebih-lebihan dapat menyibukkan seseorang untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak bermanfaat.

Pendirian yang dianggapnya benar itu sebenarnya adalah salah. Itu hanya sangkaan belaka yang pasti berubah, karena tidak sesuai dengan kenyataan. Yang harus menjadi pendirian adalah yang sesuai dengan kenyataan yang dapat disaksikan oleh mata, oleh perasaan atau berdasarkan dalil sahih.

Ayat 6

Dalam ayat ini, Allah menerangkan sebagian azab yang akan dialami oleh orang yang bermegah-megahan itu karena kelalaian tersebut. Mereka akan ditimpa azab di akhirat, dan pasti akan melihat tempat itu dengan mata kepala mereka sendiri.

Oleh sebab itu, mereka hendaknya selalu merenungkan kedahsyatan azab itu dalam pikiran agar membawa mereka kepada perbuatan yang baik dan bermanfaat. Maksud perkataan “melihat neraka Jahim” adalah merasakan azabnya, sesuai dengan tujuan Al-Qur’an dalam pemakaian kata-kata tersebut.


Baca juga: Mengenal 55 Nama Al-Quran Beserta Alasan Penamaannya (3)


Ayat 7

Kemudian dengan ayat ini, Allah menguatkan isi ayat sebelumnya, bahwa azab itu benar-benar akan dirasakan oleh orang yang teperdaya itu. Oleh karena itu, siapa saja dan dari golongan apa saja hendaklah bertakwa kepada Tuhannya serta menghindari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka disiksa.

Hendaknya seseorang itu memperhatikan nikmat-nikmat Allah yang ada padanya untuk dipelihara dan dipergunakan sesuai dengan fungsi nikmat tersebut. Juga hendaknya mereka tidak melakukan kejahatan, mengada-adakan kemungkaran, dan mengharap-harapkan ampunan Allah hanya semata-mata dengan pengakuan beragama Islam dengan memakai nama dan gelar yang muluk-muluk, sedangkan ia menyalahi hukum-hukum Alquran dan melakukan tindakan yang sama dengan musuh Islam.

Ayat 8

Allah lebih memperkuat lagi celaan-Nya terhadap mereka dengan mengatakan bahwa sesungguhnya mereka akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan-kenikmatan yang mereka megah-megahkan di dunia, apa yang mereka perbuat dengan nikmat-nikmat itu.

Apakah mereka telah menunaikan hak Allah daripadanya, atau apakah mereka menjaga batas-batas hukum Allah yang telah ditentukan dalam bersenang-senang dengan nikmat tersebut. Jika mereka tidak melakukannya, ketahuilah bahwa nikmat-nikmat itu adalah puncak kecelakaan di hari akhirat.

Diriwayatkan dari Nabi Muhammad, beliau berkata:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِيْ سِرْبِهِ مُعَافًى فِيْ جَسَدِهِ عِنْدَهُ قُوْتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّهُ حِيْزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا.

(رواه البخاري وأبو داود والترمذي وابن ماجه عن عبيد الله محصن)

Barangsiapa di antara kamu yang bangun pagi dalam keadaan aman sentosa pada dirinya atau aman di tempatnya, sehat wal afiat badannya serta mempunyai bekal hidup untuk harinya, maka seolah-olah dunia dengan segala kekayaannya telah diserahkan kepadanya. (Riwayat al-Bukhari, Abµ Dawud, at-Tirmizi, dan Ibnu Majah dari Ubaidillah bin Muhsan)

Baca setelahnya: Tafsir Surat Al ‘Asr Ayat 1-3

(Tafsir Kemenag)

Krisis Kemanusiaan, Gus Mus Serukan Para Kyai Memviralkan Kandungan Surat Al-Hujurat

0
Gus Mus Serukan Para Kyai Memviralkan Kandungan Surat Al-Hujurat
Gus Mus Serukan Para Kyai Memviralkan Kandungan Surat Al-Hujurat

Ujaran kebencian dan kekerasan semakin menggila di negeri ini. Mengaku benar hingga merendahkan orang lain seakan-akan menjadi kewajaran. Pembunuhuan dengan atas nama “kebenaran” personal pun menguat, terlebih bayang-bayang hoax selalu menyertainya. Atas fenomena krisis kemanusiaan ini, Gus Mus pun menyerukan kyai dan ustadz-ustadz untuk memviralkan kandungan surat Al-Hujurat.

Kyai kharismatik asal Rembang ini menyampaikan pesan dalam pengajian rutin kitab Tafsir anggitan ayah beliau, KH Bisri Mustofa. Dalam pengajian di pesantren beliau yang disiarkan live streaming di channel youtube GusMus Channel pada 27 November lalu, pesan di penghujung pengajian mendadak viral. Banyak sekali youtube reuploader yang memotong bagian akhir pengajian itu untuk lebih menegaskan pentingnya pesan Gus Mus. 

Beberapa youtube reuploder itu seperti channel Ngaji KiaiKu dengan judul “Pesan Syaikhina KH. A. Mustofa Bisri untuk Gus Baha dan Kiai-Kiai”, sampai saat ini postingan itu mencapai 126 ribu views. Ada juga channel Generasi Muda Nusantara dengan judul “Apa Isinya!! Hingga Gus Mus Berpesan kepada Gus Baha’ untuk Memviralkan QS. Al-Hujurat?”, sampai saat ini pun sudah mencapai 163 ribu views.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 11: Larangan Saling Menghina Dan Merendahkan dalam Al-Quran

Dalam pengajian ini, Gus Mus semula menjelaskan tentang surat Al-Baqarah ayat 253 tafsir Al-Ibriz. Ayat ini berbunyi,

 ۞ تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍۘ مِنْهُمْ مَّنْ كَلَّمَ اللّٰهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجٰتٍۗ وَاٰتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنٰتِ وَاَيَّدْنٰهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِيْنَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنٰتُ وَلٰكِنِ اخْتَلَفُوْا فَمِنْهُمْ مَّنْ اٰمَنَ وَمِنْهُمْ مَّنْ كَفَرَ ۗوَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ مَا اقْتَتَلُوْاۗ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ ࣖ ٢٥٣ 

Artinya: Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat. Dan Kami beri Isa putra Maryam beberapa mukjizat dan Kami perkuat dia dengan Rohulkudus. Kalau Allah menghendaki, niscaya orang-orang setelah mereka tidak akan berbunuh-bunuhan, setelah bukti-bukti sampai kepada mereka. Tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) yang kafir. Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya.

Dalam penafsiran ini, kaum-kaum setelah Nabi Isa saling berselisih, bahkan ada yang bunuh-bunuhan. Ini yang ditanggapi Gus Mus bahwa umat Islam pun demikian. Setelah era Nabi Muhammad banyak sekali perselisihan hingga saat ini. Padahal Al-Qur’an sudah menjelaskan agar bersosial dengan baik.

Ini yang kemudian menjadi keresahan Gus Mus. Apakah umat Muslim saat ini tidak membaca Al-Qur’an? Atau membaca Al-Qur’an namun tidak memahami, tidak menghayati, apalagi mengamalkan?. Gus Mus pun berasumsi ada dua kemungkinan, pertama umat muslim memang tidak membaca Al-Qur’an. dan asumsi kedua umat muslim mulai mengabaikan pedomannya sendiri. Sungguh Ironi.

Baca juga: Jangan Berprasangka Buruk! Renungkanlah Pesan Surat Al-Hujurat Ayat 12

Dalam pengajian itu Gus Mus secara tegas memberikan pesan terhadap para Kyai, Ustadz dan penceramah lainnya untuk memviralkan kandungan QS. Al-Hujurat.

“Saiki kyai-kyai, ustadz-ustadz suruh Ngaji khusus surat Al-Hujurat. Saat ini penting kon moco, Kandani Gus Baha barang kon mulang surat Al-Hujurat,”

“Saat ini kyai-kyai, ustadz-ustadz suruh mengaji khusus surat Al-Hujurat. Saat ini penting untuk membaca itu. Sampaikan juga ke Gus Baha agar mengajar surat Al-Hujurat,” ujar Gus Mus.

Kyai yang piawai bersastra ini juga membacakan beberapa kandungan QS. Al-Hujurat.

  1. Al-Hujurat; Pedoman Bersosial untuk Sesama

Gus Mus memberikan beberapa contoh kandungan surat ini, di antaranya yaitu ayat tentang diciptakannya manusia dari beragam bangsa hingga suku untuk saling mengenal. Kemudian, kemuliaan seseorang di hadapan Allah dinilai dari ketaqwaanya. Ayat ini merupakan ayat ke-13 yang berbunyi,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣ 

Gus Mus juga membacakan ayat sebelas tentang larangan mengolok-olok.

لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ

“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).”

وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ

“Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”

Kemudian Gus Mus pun membacakan ayat kedua belas tentang larangan berprasangka buruk.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.”

Baca juga: Surat Al-Hujurat Ayat 13: Dalil Sila Kedua Pancasila

Terakhir, Gus Mus mulai mempertanyakan umat Islam tentang fenomena caci maki, merendahkan antar golongan. Ayat ini pun mempertanyakan, apakah ada yang tega memakan daging saudara sendiri? Tentu ayat ini bertanda akan pentingnya intropeksi diri.

اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ

“Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik,”

Dari pesan-pesan ini, jelas sekali Gus Mus mengajak kepada para ulama lain agar menyampaikan kasih sayang menghindari permusuhan. Jauh dari beberapa ayat yang disebutkan Gus Mus, memang dalam QS. Al-Hujurat banyak narasi perdamaian. Mari kita turut menyebarkan pesan ini, semoga Indonesia kembali damai, mari mengaji lagi QS. Al-Hujurat.

Wallahu a’lam[]

Menelisik Tafsir Falsafi (2), Karakteristik, Metode dan Sumber Penafsiran

0
tafsir falsafi
tafsir falsafi

Dalam artikel sebelumnya telah dijelaskan mengenai pengertian, sejarah dan perkembangan tafsir falsafi. Sekarang kita masuk pada bagian kedua, yaitu karakteristik, metode dan sumber penafsiran tafsir falsafi. Jamak diketahui bahwa setiap corak atau metode dalam penafsiran Al-Quran memiliki ciri masing-masing. Muhammad Ali al-Ridha’i al-Isfahany dalam Durus fi Al-Manhaj wa Al-Ittijahat al-Tafsiriyah li Al-Quran memberikan karakteristik tafsir falsafi sebagai berikut.

Karakteristik Tafsir Falsafi

  • Penafsiran ayat-ayat Al-Quran berhubungan dengan wujud Allah dan sifat-Nya.
  • Memperhatikan ayat-ayat mutasyabihat.
  • Menakwilkan zahir Al-Quran dan merekonsiliasikan antara kalam filsafat dengan ayat-ayat Al-Quran, serta relevansi ayat dengan filsafat.
  • Menggunakan rasio dan bukti (burhan atau bayyin) serta mengadopsi pendekatann ijtihad-rasional dalam tafsir.
  • Motif interpretasi adalah mempertahankan pandangan filosofis dan teori-teori filsafat.

Dari paparan al-Isfahany ada satu hal yang patut kita kritisi bersama adalah motif interpretasi dengan pendekatan filsafat adalah untuk mempertahankan tesis filsafat dan teori-teorinya. Dalam konteks ini, al-Isfahany terlalu tendensius apabila mempergunakan filsafat untuk mempertahankan pandangan fiolosofis.

Mengingat pendekatan filsafat sejatinya adalah tools (alat) untuk menghasilkan pemahaman yang rasional, sistematif, inklusif, universal dan tentunya ciri atau karakteristik ini adalah ciri khas dari filsafat itu sendiri sehingga menjadikan kajian tafsir falsafi menjadi “istimewa” dan menarik atensi tersendiri dari para penafsir bermazhab filosofis.

Senada dengan al-Isfahany, pendapat serupa juga dikemukakan oleh al-Dzahabi, bahwa tafsir falsafi menggunakan pentakwilan terhadap nushus al-Diniyah dan hakikat syariah, menyesuaikan dengan proposisi atau logika pemikiran filsafat, dan atau menggunakan pendekatan filsafat dalam menafsirkan Al-Quran.

Baca juga: Menelisik Tafsir Falsafi (1): Pengertian dan Sejarah Perkembangannya

Metode Tafsir Falsafi

Setidaknya ada dua metode dalam melakukan kerja penafsiran Al-Quran bercorak falsafi, sebagai berikut. Pertama, menafsirkan ayat Al-Quran dengan mengkontraskannya dengan teori-teori filsafat. Artinya di saat yang bersamaan mereka melakukan takwil terhadap nash Al-Quran sekaligus menjelaskan nash tersebut melalui teori filsafat.

Mereka menempatkan pandangan para filosof sebagai first class (primer) ketimbang Al-Quran yang notabene lebih legitimate dalam kedudukan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa filsafat seolah-olah melampaui teks Al-Quran (beyond a holy scripture). Ini kan sangat sporadis, apatis dan menyudutkan kitab suci. Mazhab inilah yang ditempuh oleh Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib dan al-Thabathaba’i dalam al-Mizan fi Tafsir al-Quran.

Kedua, menafsirkan dan memahami ayat-ayat Al-Quran dengan teori filsafat. Berbeda dengan metode pertama, metode kedua ini lebih menggunakan pemikiran filsafat dijadikan sebagai alur kerangka berpikir (framework) dalam menafsirkan dan memahami ayat-ayat Al-Quran. Model penafsiran ini dianut oleh al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ikhwan al-Shafa.

Sumber Penafsiran Tafsir Falsafi

Al-Isfahanu menerangkan bahwa yang menjadi rujuan atau sumber-sumber dalam menafsirkann ayat-ayat Al-Quran secara falsafi ialah merujuk pada di bawah ini.

Ittijah al-Falsafiyah al-Masya’iyah fi al-Tafsir

Term falsafah al-Masya’iyah atau peripatetik ini berdasarkan kepada metode falsafi yang merujuk pada akar pemikiran Aristoteles. Salah satu tokoh yang dianggap menonjol adalah Ibnu Sina dalam filsafat al-Masya’iyah melalui kitabnya As-Syifa yang mencakup di dalamnya pemikiran filsafat.

Baca juga: Mengenal Corak Tafsir Sufistik (2): Sejarah dan Periodisasi Perkembangan Tafsir Sufistik

Ittijah al-Falsafah al-Isyraqiyah [timur] fi al-Tafsir

Sumber kedua ini merujuk pada pemikiran Neo-Plotinus (al-Afathaniyah al-Jadidah) dan filsafat Iran klasik (al-Qudama’), di antara tokoh Islam yang paling berpengaruh ialah Syihab al-Din al-Sahrawardi (549-587 H) yang memberi kontribusi besar terhadap perkembangan corak falsafi isyraqiyah.

Ittijah al-Hikmah al-Muta’aliyah fi al- Tafsir

Corak ketiga adalah menggabungkan corak filsafat Masya’iyah dengan al-Isyraqiyyah. Al-Mula Sadra al-Syirazi (1050 H) adalah tokoh yang memadukan dua corak ini dalam penafsiran Al-Quran.

Dari ketiga sumber penafsiran di atas, menurut al-Isfahany yang menjadi fokus penafsiran dengan pendekatan filsafat adalah ayat-ayat tentang Itsbat wujud Allah, hakikat wujud Allah dan sifat-sifatnya, tauhid, al-nafs, al-‘aql, al-‘aliyyah, dan al-I’jaz.

Tafsir Surat At Takatsur Ayat 1-3

0
tafsir surat at takatsur
Tafsiralquran.id

Pada pembahasan yang lalu telah berbicara mengenai hari kiamat serta keadaan mencekam yang menyertainya, Tafsir Surat At Takatsur Ayat 1-3 ini berbicara mengenai kesombongan manusia dalam hal duniawi. Mereka berlomba-lomba dalam menumpukk harta, bermegah-megah sehingga membuatnya lalai atas dirinya sebagai hamba.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Qari’ah Ayat 1-11


Yang di maksud dengan dengan kesombongan dalam Tafsir Surat At Takatsur Ayat 1-3 ini adalah sikap tidak mau kalah dengan membangga-banggakan kekayaan, keturunan dan jabatan yang dimilikinya. Padahal hal tersebut telah dilarang oleh Allah swt karena dapat menimbulkan kekacauan dan permusuhan.

Ayat 1

Dalam ayat ini, Allah mengungkapkan bahwa manusia sibuk bermegah-megahan dengan harta, teman, dan pengikut yang banyak, sehingga melalaikannya dari kegiatan beramal. Mereka asyik dengan berbicara saja, teperdaya oleh keturunan mereka dan teman sejawat tanpa memikirkan amal perbuatan yang bermanfaat untuk diri dan keluarga mereka.

Diriwayatkan dari Mutarrif dari ayahnya, ia berkata:

اَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْرَأُ اَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ قَالَ يَقُوْلُ ابْنُ آدَمَ مَالِيْ مَالِيْ قَالَ وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ.

(رواه مسلم)

Saya menghadap Nabi saw ketika beliau sedang membaca al-hakumut-takasur, beliau bersabda, “Anak Adam berkata, Inilah harta saya, inilah harta saya. Nabi bersabda, “Wahai anak Adam! Engkau tidak memiliki dari hartamu kecuali apa yang engkau makan dan telah engkau habiskan, atau pakaian yang engkau pakai hingga lapuk, atau yang telah kamu sedekahkan sampai habis.” (Riwayat Muslim)

Diriwayatkan pula bahwa Nabi saw bersabda:

لَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى إِلَيْهِ ثَانِيًا وَلَوْ كَانَ لَهُ وَادِيَانِ لاَبْتَغَى إِلَيْهِ ثَالِثًا وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ.

(رواه أحمد والبخاري ومسلم والترمذي عن أنس)

Seandainya anak Adam memiliki satu lembah harta, sungguh ia ingin memiliki dua lembah harta, dan seandainya ia memiliki dua lembah harta, sungguh ia ingin memiliki tiga lembah harta dan tidak memenuhi perut manusia (tidak merasa puas) kecuali perutnya diisi dengan tanah dan Allah akan menerima tobat (memberi ampunan) kepada orang yang bertobat.  (Riwayat Ahmad, al-Bukhari, Muslim, dan at-Tirmizi dari Anas)

Ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa maksud ayat ini adalah bangga dalam berlebih-lebihan. Seseorang berusaha memiliki lebih banyak dari yang lain baik harta ataupun kedudukan dengan tujuan semata-mata untuk mencapai ketinggian dan kebanggaan, bukan untuk digunakan pada jalan kebaikan atau untuk membantu menegakkan keadilan dan maksud baik lainnya.

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ  كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ  ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ   ٢٠

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. (al-Hadid/57: 20)


Baca juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 9-10: Perumpamaan Bagi Orang yang Tidak Beriman


Ayat 2

Selanjutnya Allah menjelaskan keadaan bermegah-megah di antara manusia atau dengan usaha untuk memiliki lebih banyak dari orang lain akan terus berlanjut hingga mereka masuk lubang kubur. Dengan demikian, mereka telah menyia-nyiakan umur untuk hal yang tidak berfaedah, baik dalam hidup di dunia maupun untuk kehidupan akhirat.

Para ulama berpendapat bahwa menziarahi kuburan adalah obat penawar yang paling ampuh untuk melunakkan hati, karena dengan ziarah kubur itu manusia akan ingat mati dan hari akhirat, maka dengan sendirinya akan membatasi keinginan-keinginan yang bukan-bukan.

Nabi Muhammad bersabda:

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِى الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ اْلآخِرَةَ.

(رواه ابن ماجه عن ابن مسعود)

Saya pernah melarang kamu menziarahi kubur, maka sekarang ziarahilah kubur itu, karena menziarahi kubur itu akan menjadikan zuhud dari kemewahan dunia dan mengingatkan kamu kepada kehidupan akhirat. (Riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Mas’µd)

Ayat 3

Kemudian Allah dengan ayat ini memperingatkan bahwa bermegah-megahan itu tidak pantas dikerjakan karena akibatnya buruk serta menimbulkan kekacauan dan permusuhan. Sebaliknya Allah menganjurkan agar diciptakan kerukunan hidup, bantu-membantu dalam menegakkan kebenaran dan tolong-menolong dalam kebajikan dan dalam melestarikan hidup bermasyarakat, dengan membina akhlak yang luhur serta budi pekerti yang baik.


Baca setelahnya: Tafsir Surat At Takasur Ayat 4-8


(Tafsir Kemenag)

Ingin Memiliki Keluarga Sakinah? Amalkan Doa Surat Al-Furqan Ayat 74

0
Memiliki Keluarga sakinah: Doa Surat Al-Furqan ayat 74
Memiliki Keluarga sakinah: Doa Surat Al-Furqan ayat 74

Memiliki keluarga sakinah adalah dambaan setiap orang. Mempunyai pasangan yang saleh dan cocok dengan kita. Diberikan anak-anak yang saleh serta berbakti kepada kedua orang tuanya. Diliputi rasa bagaia, tentram, berkah, dan harmonis dalam keluarga. Dan tentunya menjadi keluarga bertakwa yang memperoleh ridho dari Sang Maha Kuasa.

Ajaran Islam telah memberikan pedoman dan petunjuk kepada umatnya agar mencapai kehidupan bahagia di dunia maupun akhirat. Kebahagiaan yang diharapkan tersebut termasuk perihal urusan manusia dalam hal membina rumah tangga. Di dalam Al-Quran surah Al-Furqan ayat 74 terdapat sebuah doa yang diajarkan kepada manusia agar mencapai keluarga yang sakinah.

Baca juga: Tuntunan Membina Keluarga dalam Al-Quran: Surat At-Taghabun Ayat 6

Ciri-ciri Keluarga Sakinah dalam Surat Al-Furqan Ayat 74

Dalam surah Al-Furqan ayat 74, terdapat sebuah penjelasan mengenai ciri-ciri keluarga sakinah:

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan doa yang dipanjatkan oleh orang-orang yang saleh di masa terdahulu. Mereka adalah orang-orang yang khsusyuk beribadah kepda Allah. Mereka juga menginginkan agar keluarga mereka, istri-istri mereka, dan anak keturunan mereka juga menjadi orang yang bertakwa kepada Allah. Mengenai ayat tersebut Wahbah Zuhayli dalam Tafsir al-Wajiz menerangkan bahwa orang-orang tersebut menginginkan sebuah keluarga yang harmonis dan juga sakinah. Di antara ciri-ciri keluarga sakinah dalam surah Al-Furqan ayat 74 adalah sebagai berikut.

Pertama, dianugerahi istri atau pasangan yang menyenagkan hati sebagaimana dalam lafadz قُرَّةَ أَعْيُنٍ. Lafadz ini ditafsirkan Wahbah Zuhayli sebagai yang menyejukkan mata kepala dan mata hati. Banyak orang-orang di zaman sekarang yang menginginkan pasangannya sempurna. yang meraka maksud sempurna adalah dari segi materi seperti cantik, tampan, pintar, kaya, modis dan lain-lain. Namun ternyata dalam Al-Quran, hal ini bukanlah menjadi patokan kebahagiaan. Justru yang menjadi landasan kebahagiaan dalam membina rumah tangga adalah pasangan yang menyenangkan hati, meskipun pasangan kita tidak sempurna secara materi.

Ciri kedua adalah anak-anak dan keturuanan yang juga menyenangkan hati. Secara psikologis, kehadiran seorang anak merupakan pelengkap bagi keutuhan rumah tangga. Tentunya sebagi orang tua akan sangat senang jika anugerah anak yang dititipkan Allah adalah yang menyenangkan hati. Anak-anak yang saleh dan salehah dan selalau berbakti kepada kedua orang tuanya.

Baca juga: Keluarga Ideal Menurut al-Quran dan Perannya Demi Keutuhan Bangsa

Ketika manusia telah mempunyai dua unsur tersebut, yaitu pasangan dan anak-anak yang menyenangkan hati maka bisa dikatakan ia telah memiliki keluarga yang harmonis. Namun, ternyata terdapat tambahan keterangan dalam surah Al-Furqan ayat 74 untuk bisa dikatakan sebagai keluarga yang sakinah. Ayat itu ditutup dengan وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا . Wahbah Zuhayli menjelaskan bahwa lafadz ini adalah doa yang yang dipanjatkan orang-orang saleh tersebut agar pasangan dan anak keturunan mereka menjadi orang yang taat kepada Allah, berilmu, dan juga pandai beramal.

Doa Mendapatkan Keluarga Sakinah

Surah Al-Furqan ayat 74 tersebut pada mulanya adalah sebuah ucapan doa dari orang-orang saleh yang diabadikan Allah dalam Al-Quran. Wahbah Zuhayli menjelaskan bahwa ayat ini adalah lafadz doa orang-orang terdahulu agar dianugerahi keluarga yang saleh. Kemanfaatan atas doa yang mereka ini tidak hanya kembali kepada mereka pribadi, namun juga kepada segenap umat Islam karena sifat dan doa mereka dapat diteladani.

Hal tersebut menandakan bahwa ayat ini juga dapat dicontoh dan sangat dianjurkan kepada umat Islam sekarang. Ayat doa tersebut memang sederhana, namun ternyata maknanya sangat luar biasa. Menjadi keluarga yang sakinah tidak diukur dari kekayaan materi yang diperoleh seperti pasangan yang sempurna atau kaya raya. Lebih dari itu, keluarga sakinah adalah memiliki pasangan yang menyenangkan hati, anak-anak yang berbakti dan menjadi keluarga yang selalu taat kepada Allah. Adapun lafadz doanya adalah sebagai berikut:

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”