Beranda blog Halaman 460

Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 11

0
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102

Sekilas dalam Tafsir surat Al-A’raf ayat 11 membahas proses penciptaan manusia pertama di muka bumi yakni Nabi Adam AS, yang hal tersebut juga akan berlaku terhadap penciptaan manusia setelahnya.

Secara spesifik tafsir surat al-A’raf ayat 11 membagi proses penciptaan secara rinci menjadi empat tahapan yang akan dijelaskan pada kalimat di bawah ini.


Baca juga: Tafsir Surat Al-A’raf ayat 10


Ayat 11

Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah telah menciptakan Adam a.s. yang akan disusul oleh keturunannya. Tentang penciptaan manusia,  Al-Qur′an telah menceritakan secara rinci, baik penciptaan manusia pertama, yaitu Adam, maupun penciptaan keturunannya. Tentang penciptaan Adam, Al-Qur′an telah menginformasikan bahwa Nabi Adam diciptakan melalui empat tahapan sebelum tahapan penghembusan roh. Keempat tahapan tersebut ialah: a. Fase Turab, b. Fase Tin, c. Fase Hama′ Masnun, dan d. Fase Salsal.

Berikut penjelasannya.

Fase Pertama: Fase Tanah yang belum bercampur air (turab)

Ada beberapa ayat yang menjelaskan tentang fase ini sebagaimana yang terdapat pada Surah al-Kahf/18: 37, al-Hajj/22: 5, ar-Rum/30: 20, Fathir/35: 11, Gafir/40: 67, dan ‘Ali ‘Imran/3: 59. Dua dari enam tempat tersebut berada pada surah Madaniyah, yaitu ‘Ali ‘Imran/3 dan al-Hajj/22, selebihnya adalah pada surah-surah Makiyah.;Salah satu di antara ayat-ayat tersebut adalah:

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa bagi Allah, seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, ”Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. (Ali ‘Imran/3: 59).

Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan dari Abu Daud dan at-Tirmidzi disebutkan bahwa tanah yang menjadi bahan pokok untuk menciptakan Adam adalah diambil dari berbagai macam dan warna tanah yang terdapat pada seluruh lapisan tanah.

Dalam hadis tersebut disebutkan:

ان الله تعالى خلق آدم من قبضة قبضها من جميع الأرض فجاء بنو آدم على قدر الأرض منهم الأحمر والأبيض والأسود

Allah menciptakan Adam dari satu genggaman (tanah) yang diambil dari seluruh penjuru bumi. Oleh karena itu, keturunan Adam sesuai dengan (warna) bumi. Di antara mereka ada yang berwarna merah, putih dan hitam (al-Khazin II: 118). Watak manusia juga berbeda, ada yang lemah lembut dan adapula yang keras.

Bermacam warna kulit manusia ditegaskan pada Surah ar-Rum/30: 22 yang berbunyi:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ اَلْسِنَتِكُمْ وَاَلْوَانِكُمْۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْعٰلِمِيْنَ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (ar-Rum/30: 22)


Baca Juga: Benarkah Nabi Adam AS Penghuni Pertama di Bumi?


Fase Kedua: Fase Tanah yang bercampur air (Tin)

Fase kedua ini terdapat pada 8 tempat di 7 surah, yaitu: al-An’am/6: 2, al-A’raf/7: 12, al-Mu′minun/23: 12, as-Sajdah/32: 7, as-Shaffat/37: 11, ¢ad/38: 71, 76, dan al-Isra′/17: 61. Seluruhnya adalah surah-surah Makiyah.

Salah satu di antara ayat-ayat tersebut ialah:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ طِيْنٍ ثُمَّ قَضٰٓى اَجَلًا ۗ

Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu)… (al-An’am/6: 2)

Fase Tin atau tanah liat adalah fase dimana setelah tanah dicampur dengan air. Karena air adalah prasyarat bagi semua makhluk yang hidup.

Fase Ketiga: Fase Lumpur hitam (Hama′ Masnun)

Fase ini terjadi setelah fase kedua berlangsung lama sehingga menjadi Lumpur hitam yang berbau dan berubah bentuk.

Fase ini disebutkan tiga kali dalam Surah al-Hijr/15, yaitu pada ayat 26, 28 dan 33. Ayat 26 berbunyi:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍ

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (al-Hijr/15: 26)

Fase Keempat: Fase Tembikar (Salsal kal Fakhkhar)

Fase ini diceritakan oleh Al-Qur′an pada empat tempat. Tiga tempat pada Surah al-Hijr yang bersamaan dengan fase ketiga. Sedangkan yang keempat terdapat pada Surah ar-Rahman/55: 14.

Dalam surah ini, Allah berfirman:

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. (ar-Rahman/55: 14)

Lumpur hitam (hama′ masnun) seperti pada fase ketiga, lalu diberi bentuk sebagaimana manusia dalam keadaan berlubang atau kosong.

Bentuk manusia yang diciptakan Allah adalah bentuk yang terbaik dari hewan-hewan yang ada. Dalam Surah At-Tin/95: 4, Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.(at-Tin/95: 4)

Keadaan ini (calon manusia yang sudah dibentuk) jika kering karena panas matahari misalnya, dinamakan Salsal. Dinamakan demikian karena benda ini jika tertiup angin akan bersuara (Salsalah).

Setelah fase ini, barulah masuk fase berikutnya, yaitu fase penghembusan roh dimana “orang-orangan” dari tanah liat itu, atas izin Allah, akhirnya menjadi manusia yang hidup dan bisa bergerak yang disebut dengan “basyar” (al-Khazin III: 64, al-Maragi XIV: 21).


Baca setelahnya: Nabi Adam dalam Al-Quran: Manusia Pertama dan Tugasnya di Dunia


(Tafsir Kemenag)

Pengertian Tawakal dan Perintahnya dalam al-Quran

0
pengertian tawakal
pengertian tawakal dan perintahnya dalam al-Quran

Ada sejumlah pengertian tawakal yang dikemukakan oleh para ulama. Al-Jurjani (dalam al-Ta’rifat, hal. 70), misalnya, telah memberikan pengertian tawakal yang sangat sederhana, bahwa tawakal adalah sebuah keyakinan akan segala sesuatu yang ada di sisi Allah dan keraguan (ketidakpercayaan, putus asa) terhadap apa yang ada di tangan manusia.

Ulama lain yang telah memberikan pengertian tawakal ialah Mahmud al-Mishri (dalam Ensiklopedi Akhlak Nabi Muhammad Saw, hal. 409), yang menyatakan bahwa tawakal adalah menyndarkan hati kepada Allah ketika mencari maslahat atau menghindari madarat dalam perkara duniawi maupun ukhrawi.

Selanjutnya ia menegaskan bahwa seorang mukmin yang bertawakal akan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah swt. Dan mewujudkan keimananya dengan meyakini bahwa hanya Allah yang mampu memberi atau tidak memberi sesuatu, dan mendatangkan manfaat atau marabahaya.

Abu Turab al-Nakhsyabi memberi pengertian tawakal dengan menunjukkan hal-hal yang saling terkait antara satu dengan lainnya, yaitu 1) total dalam beribadah, 2) menggantungkan hati untuk memenuhi hak Allah, 3) menenangkan diri dengan meras serba cukup atas pemberian-Nya, 4) bersyukur jika diberi, dan 5) bersyukur jika tertahan.

Harus disadari bahwa tawakal adalah sebuah sikap yang ditempatkan di akhir dari sebuah usaha yang telah dilakukan sebelumnya dengan penuh kesungguhan dan keseriusan. Tawakal tidak akan pernah muncul di awal dari sebuah usaha dan kegiatan. Ia selalu muncul di akhirat. Jika sebuah sikap tawakal muncul di awal, maka hal ini bukan sebuah tawakal. Ini yang disebut pasimisme.

Artinya bahwa seseorang yang akan mengejar cita-citanya harus diawali dengan usaha dan usaha yang dilakukan dengan penuh rencana yang matang, dan berusaha terus hingga ke ujuan dari usahanya itu. Di akhir itulah baru dia menunjukkan sikap tawakal. Tawakal tidak dibenarkan jika tidak didasari usaha yang sungguh-sungguh. Bukanlah disebut tawakkal tanpa usaha. Tawakal harus disertai usaha. Yang bertawakal tanpa usaha bertentangan dengan sunah.

Tawakal adalah salah satu perwujudan iman. Tawakal adalah ciri kesempurnaan iman seseorang kepada Allah. Orang yang tidak tawakal pada hakikatnya telah merusak imannya. Kata Mahmud al-Mihsri, tawakal adalah termin keperbidian rasulullah Muhammad saw yang sangat muliam, sedangkan usaha dan kerja keras adalah sunah beliau.

Allah swt. telah memerintahkan semua hamba-Nya untuk bertawakal kepada-Nya dalam segala hal. Hal ini tergambar dari sejumlah ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang tawakal. Ada 42 ayat yang berbicara tentang tawakal yang tersebar dalam berbagai ayat dan surat, yang isinya, oleh Mahmud al-Mishri, dapat dikelompokkan, di antaranya sebagai berikut:

  1. Dalam meminta pertolongan dan kelapangan dari suatu kesempitan dan kesulitan, bertawakallah kepada Allah. Lihat Surat Ali Imran [3]: 160:

إِن يَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۡۖ وَإِن يَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِي يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١٦٠

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.”

Ayat ini menegaskan bahwa yang memberikan pertolongan kepada manusia adalah Allah Swt. Kalau Allah Swt sudah memberi pertolongan dan kesuksesan dalam berbagai usaha, maka tidak satu pun manusia yang dapat menggagalkanmu. Yang dapat menyukseskan atau menggagalkan segala usahamu hanyalah Allah Karena itu Allah Swt. memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk bertawakal, menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah.

  1. Tawakkal harus dijadikan sikap yang terus-menerus ada di dalam diri kita, dan dijadikan sebagai teman hidup. Jika musuh menghadang, tawakal adal teman kita. Allah menyatakan hal ini didalam Surat Al-Nisa’ [4]: 81:

وَيَقُولُونَ طَاعَةٞ فَإِذَا بَرَزُواْ مِنۡ عِندِكَ بَيَّتَ طَآئِفَةٞ مِّنۡهُمۡ غَيۡرَ ٱلَّذِي تَقُولُۖ وَٱللَّهُ يَكۡتُبُ مَا يُبَيِّتُونَۖ فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلًا ٨١

“Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: “(Kewajiban Kami hanyalah) taat”. tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.”

Ayat ini menegaskan bahwa apabila engkau telah melakukan berbagai usaha untuk mencapai suatu kesuksesan lalu ada orang lain yang ingin menggagalkan usahamu itu karena kebencian dan ketidaksukaan mereka terhadap usahamu, maka jalanilah usaha-usahamu itu dengan penuh keyakinan dan tekad disertai dengan sikap tawakkal kepada Allah. Hanya Allah yang dapat melindungimu. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al A’raf Ayat 10

0
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102

Setelah diingatkan dengan pembalasan akan perbuatan kita di akhirat kelak, dalam tafsir surat Al-A’raf ayat 10 Allah kembali mengingatkan pentingnya bersyukur kepada-Nya. Allah telah menghamparkan bumi yang luas untuk manusia huni. Pada pembukaan tafsir surat Al-A’raf ayat 10 dijelaskan bahwa Allah menyempurnakan bumi dengan berbagai macam tumbuhan, hewan-hewan dan keperluan lain bagi manusia.

Hal tersebut hendaknya mengingatkan kita untuk senantiasa bersyukur dengan mengucap hamdalah seperti pada akhir tafsir surat Al-A’raf ayat 10 ini.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Araf Ayat 7-9


Ayat 10

Pada ayat ini Allah menegaskan sebagian dari sekian banyak karunia yang telah dianugerahkan kepada hamba-Nya yaitu bahwa Dia telah menyediakan bumi ini untuk manusia tinggal dan berdiam di atasnya, bebas berusaha dalam batas-batas yang telah digariskan, diberi perlengkapan kehidupan. Kemudian disempurnakan-Nya dengan bermacam-macam perlengkapan lain agar mereka dapat hidup di bumi dengan senang dan tenang, seperti tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam macamnya, binatang-binatang, baik yang boleh dimakan maupun yang tidak, burung baik di udara atupun di darat, ikan baik di laut, di danau maupun di tempat-tempat pemeliharan ikan lainnya, air tawar untuk diminum, dipergunakan mencuci pakaian dan keperluan lainnya, minuman dan makanan yang bermacam rasa dan aromanya untuk memenuhi selera masing-masing. Bahkan semua yang ada di bumi ini adalah diperuntukkan bagi manusia, sebagaimana firman Allah:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا

Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu. (al-Baqarah/2: 29)

Untuk memenuhi keperluan hidup seseorang tentu tidak akan bisa terus menetap di satu tempat, tetapi ia berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain, untuk itu disediakan bagi mereka alat pengangkutan dan perhubungan yang bermacam-macam yang berkembang dan maju sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk dipergunakan mereka seperti mobil dengan segala macam bentuk dan keindahannya, kapal terbang, kapal laut, dan kapal selam, kereta api dan lain sebagainya yang tak terhitung banyaknya. Tidak seorang pun manusia yang dapat memberi angka pasti tentang banyaknya karunia itu sekalipun dengan komputer. Allah berfirman:

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. (Ibrahim/14: 34)

Semua karunia dan nikmat tersebut di atas adalah untuk memenuhi keperluan hidup jasmani baik secara perorangan maupun secara berkelompok yang akan dijadikan batu loncatan untuk memenuhi dan menjaga kesejahteraan hidup rohani guna kesucian diri dan mempersiapkan diri untuk hidup kekal di akhirat nanti serta memperoleh nikmat dan kebahagian abadi yang tak berkesudahan. Atas semua karunia dan nikmat yang tak terhitung banyaknya itu maka wajiblah manusia bersyukur, mensyukuri penciptanya, yaitu Allah swt, dan janganlah sekali-kali dia mengingkarinya, sebagaimana firman Allah:

وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (al-Baqarah/2: 152)

Alangkah sedikitnya manusia yang dapat menyadari dan menginsyafi hal tersebut. Pada umumnya manusia menganggap bahwa yang dicapai dan diperolehnya itu adalah hasil dari kecerdasan otaknya, kesungguhan usahanya, bukan dari Allah dan sedikit dari mereka yang bersyukur:

وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur. (Saba′/34: 13)

Bersyukur kepada Allah tidak cukup dengan hanya mengucapkan Alhamdulillah wasysyukru lillah; tetapi harus diiringi dengan amal perbuatan yaitu dengan cara mendayagunakan nikmat tersebut dalam hal-hal yang diridai dan disukai Allah, bermanfaat bagi sesama manusia serta menaati segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Ibrahim Ayat 7: Hikmah dan Cara Mensyukuri Nikmat Allah


(Tafsir Kemenag)

Kisah Kesabaran Nabi Yusuf Yang Membuat Kagum Nabi Muhammad

0
Kisah Kesabaran Nabi Yusuf
Kisah Kesabaran Nabi Yusuf

Andai kita difitnah orang, sehingga  menjalani hukuman penjara selama 14 tahun, lalu Allah berkehendak membuat presiden mengeluarkan kita dari penjara dan meminta kita menemuinya, sebab jasa kita untuk negeri, maka apakah yang kita lakukan?. Mungkin akan segera keluar dari penjara. Atau malah kemudian mengincar orang yang memfitnah kita. Namun ini berbeda dengan Nabi Yusuf, malah kisah kesabaran Nabi Yusuf ketika dipenjara yang kemudian menjadi penyebab kekaguman nabi Muhammad terhadap pribadi beliau.

Enggan Keluar Dari Penjara

Tatkala Nabi Yusuf yang sudah bertahun-tahun mendekam di penjara akibat fitnah Zulaika, kemudian memperoleh panggilan Raja Mesir melalui seorang utusan sebab berhasil mengartikan mimpi yang dapat menyelamatkan penduduk mesir, nabi yusuf tidak lantas segera keluar dari penjara. Ia justru enggan keluar dari penjara dan meminta raja meninjau kembali kasus yang membuatnya dipenjara.

Allah berfirman dalam Surat Yusuf:

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ

Raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf: “Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana perihal wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha mengetahui tipu daya mereka.” (QS: Yusuf [12] 50).

Di dalam ayat di atas dikisahkan Nabi Yusuf menolak keluar dari penjara. Ia justru meminta sang utusan kembali kepada raja dan memintanya agar mencari tahu perihal para perempuan yang melukai tangannya. Yaitu perempuan-perempuan yang diundang Zulaikha untuk menyaksikan ketampanan Yusuf, dan tidak sadar telah melukai tangan mereka sebab takjub pada ketampanan Nabi Yusuf.

Baca juga: Kisah Nabi Ilyas as dalam Al-Quran dan Pertemuan dengan Nabi Ilyasa as

Dalam surat yusuf ayat 51 kemudian dijelaskan, hal ini bertujuan agar Nabi Yusuf dapat menunjukkan kepada orang-orang, ia tidaklah berbuat khianat dengan menggoda istri menteri Mesir yang telah merawat dirinya dan menganggapnya sebagai anak sendiri. Tindakan Nabi Yusuf itu membuahkan hasil berupa sang istri menteri Mesir; Zulaikha mengakui perbuatannya tanpa melalui paksaan.

Ada beberapa sikap mulia Nabi Yusuf yang dapat kita perhatikan dalam kisah di atas.

Pertama, Nabi Yusuf tidaklah menyimpan dendam pada pramusaji minuman raja dengan mempersulitnya, yang datang menemuinya untuk menanyakan arti mimpi sang raja. Padahal jauh sebelum peristiwa mimpi aneh sang raja, saat si pramusaji dipenjara bersama Nabi Yusuf dan mengalami sebuah mimpi, Nabi Yusuf berkenan mengartikan mimpinya dan berpesaan saat si pramusaji bebas agar mau melaporkan kasus nabi yusuf kepada raja. Namun si pramusaji lupa akan pesan Nabi Yusuf.

Kedua, pada saat Nabi Yusuf meminta raja untuk meneliti kembali kasusnya, Nabi Yusuf sama sekali tidak menyinggung soal Zulaikha maupun sang menteri Mesir. Padahal keduanya adalah yang paling tahu dengan kejujuran Nabi Yusuf. Nabi Yusuf memilih tidak meluapkan kekesalannya dipenjara bertahun-tahun, dengan mempermalukan keduanya atau bahkan melayangkan tuduhan pada keduanya.

Baca juga: Kisah Nabi Zulkifli Dalam Al-Quran: Sosok Hamba Yang Penyabar

Kekaguman Nabi Muhammad Pada Kesabaran Nabi Yusuf

Sikap Nabi Yusuf tersebut yang jauh dari rasa marah sebab dizalimi orang lain, mengundang kekaguman dari nabi Muhammad. Imam Bukhari meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda:

وَلَوْ لَبِثْتُ فِى السِّجْنِ طُولَ مَا لَبِثَ يُوسُفُ لأَجَبْتُ الدَّاعِىَ »

Andai aku berada di penjara seperti lamanya Nabi Yusuf berada di penjara, pastilah aku akan menerima panggilan keluar dari penjara (HR. Imam Bukhari)

Imam Ahmad meriwayatkan sabda Nabi Muhammad yang sedikit berbeda dengan riwayat di atas. Ia meriwayatkan dari Abi Hurairah bahwa Nabi bersabda mengenai Surat Yusuf ayat 50:

« لَوْ كُنْتُ أَنَا لأَسْرَعْتُ الإِجَابَةَ وَمَا ابْتَغَيْتُ الْعُذْرَ »

Andai itu aku, pasti aku akan segera memenuhi panggilan tersebut. Dan aku tidak perduli dengan hal lain (HR. Imam Ahmad).

Baca juga: Kisah Kesetiaan Abu Bakar As-Shiddiq dibalik Surah At-Taubah Ayat 40

Ibn Katsir mengutip hadis mursal yang diriwayatkan Imam Abdur Razzaq dari ‘Ikrimah (Tafsir Ibn Katsir/2/632):

 لقد عجبت من يوسف وصبره وكرمه والله يغفر له حين سئل عن البقرات العجاف والسمان ولو كنت مكانه ما أجبتهم حتى أشترط أن يخرجوني ولقد عجبت من يوسف وصبره وكرمه والله يغفر له حين أتاه الرسول ولو كنت مكانه لبادرتهم الباب ولكنه أراد أن يكون له العذ 

Aku kagum terhadap kesabaran dan perangai mulia Nabi Yusuf. Semoga Allah mengampuninya tatkala ia ditanya tentang arti dari mimpi sapi-sapi kurus dan gemuk. Andai aku berposisi seperti dirinya, aku tidak akan memberi jawaban pada mereka sampai mereka mengeluarkanku (dari penjara). Aku kagum pada kesabaran dan kemuliaan Nabi Yusuf. Semoga Allah mengampuninya saat utusan raja menemuinya. Andai aku berada di posisinya, pasti aku segera menuju pintu. Namun Nabi Yusuf memiliki alasannya tersendiri. (HR. Abdur Razzaq)

Tafsir Surat Al-A’raf ayat 7-9

0
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102

Tafsir Surat Al-A’raf ayat 7-9 ini membahas perbuatan manusia selama di dunia yang akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat. Sebagai umat Islam wajib bagi kita untuk mempercayai hal-hal yang bersifat ghaib seperti hari akhir, adanya surga dan juga neraka.

Selain itu tafsir surat Al-A’raf ayat 7-9 ini secara ringkas menjelaskan pertimbangan amal manusia, barangsiapa yang timbangan amalnya baik maka amanlah dia. Tetapi barangsiapa yang timbangan amalnya dipenuhi dengan keburukan maka ia akan menanggung balasan yang setimpal dari Allah SWT.


Baca juga: Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 6


Ayat 7

Ayat ini menerangkan bahwa kepada mereka, baik kepada rasul-rasul maupun kepada umat yang telah menerima seruan rasul, akan diceritakan kelak hal-hal yang telah mereka perbuat karena semua itu telah diketahui Allah, dan semuanya telah dicatat di dalam buku catatan malaikat pencatat. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pencatatan malaikat, sebagaimana firman Allah:

يٰوَيْلَتَنَا مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰىهَاۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًاۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا

… dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun. (al-Kahf/18: 49)

Allah selalu menyaksikan gerak-gerik dan segala perbuatan mereka pada setiap waktu. Allah mendengar apa yang mereka katakan, melihat apa yang mereka lakukan, mengetahui semua perbuatan mereka, baik yang mereka lakukan secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Allah berfirman:

وَهُوَ مَعَهُمْ اِذْ يُبَيِّتُوْنَ مَا لَا يَرْضٰى مِنَ الْقَوْلِ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطًا

…karena Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridai-Nya. Dan Allah Maha Meliputi terhadap apa yang mereka kerjakan. (an-Nisa′/4: 108);

Pertanyaan ini bukanlah untuk meminta penjelasan tentang sesuatu yang tidak diketahui Allah, tetapi semata-mata untuk mencela perbuatan dan kelakuan mereka.

Ayat 8

Ayat ini menerangkan adanya timbangan di akhirat nanti. Timbangan ini wajib kita percayai karena dengan timbangan itulah akan diketahui besar kecilnya, berat ringannya amal seseorang. Timbangan di akhirat nanti adalah timbangan yang seadil-adilnya dan tak mungkin terjadi kecurangan dalam timbangan itu.

وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا

Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit. (al-Anbiya′/21: 47);

Barang siapa berat timbangan amalnya, karena iman yang dimilikinya adalah iman yang sebenarnya. Ibadahnya kepada Allah dilakukan sebanyak mungkin penuh dengan khusuk dan ikhlas, dan hubungannya dengan sesama manusia baik sekali. Dia banyak menolong orang yang memerlukan pertolongan, membantu pembangunan masjid, madrasah, pesantren dan bangunan-bangunan lain yang digunakan memperbaiki dan meningkatkan akhlak umat, memelihara anak yatim, dan lain sebagainya. Manusia yang demikian inilah yang akan beruntung di akhirat nanti, merasa puas menerima semua balasan amalnya di dunia sebagaimana firman Allah:

فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهٗۙ  ٦  فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۗ  ٧

Artinya:

Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). (al-Qari’ah/101: 6-7)

Ayat 9

Barang siapa yang ringan timbangan amalnya, karena keingkarannya, imannya lemah sehingga ia banyak melakukan pelanggaran agama; ibadah ditinggalkan; amal-amal kebaikan disia-siakan, dan yang digemarinya adalah larangan-larangan agama, banyak menipu, menyakiti hati sesama manusia, memusuhi tetangganya, menyia-nyiakan anak yatim, membiarkan orang-orang sekelilingnya lapar dan menderita, asal dia kenyang dan senang. Manusia yang seperti ini akan merugi di akhirat nanti, dan akan dimasukkan ke dalam api neraka yang membara, seperti firman Allah:

وَاَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗۙ  ٨  فَاُمُّهٗ هَاوِيَةٌ  ۗ  ٩  وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا هِيَهْۗ  ١٠  نَارٌ حَامِيَةٌ ࣖ  ١١  ;

Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas. (al-Qari’ah/101: 8-11);

Yang ditimbang ialah amal perbuatan, sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Ishak az-Zajjaj, “Telah sepakat ahlu sunnah tentang adanya timbangan itu, dan amal perbuatan hamba itulah yang ditimbang di akhirat nanti. Timbangan itu mempunyai lidah dan dua daun neraca timbangan.” Pernyataan Abu Ishak ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad saw:

تُوْضَعُ الْمَوَازِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَتُوْزَنُ الْحَسَنَاتُ وَالسَّيِّئَاتُ فَمَنْ رَجَحَتْ حَسَنَاتُهُ عَلَى سَيِّئَاتِهِ مِثْقَالَ حَبَّةٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ، فَمَنْ رَجَحَتْ سَيِّئَاتُهُ عَلَى حَسَنَاتِهِ مِثْقَالَ حَبَّةٍ دَخَلَ النَّارَ (رواه أبو داود والترمذي عن جابر)

“Diletakkanlah timbangan-timbangan itu di Hari Kiamat, maka ditimbanglah amal kebaikan dan amal kejahatan. Barang siapa lebih berat timbangan kebaikannya dari timbangan kejahatannya, sekali pun seberat butir biji, maka masuklah ia ke dalam surga, dan barang siapa timbangan kejahatannya lebih berat dari timbangan kebaikannya, sekalipun seberat butir biji masuklah ia ke dalam neraka.” (Riwayat Abu Daud dan at-Tirmidzi dari Jābir r.a.)


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al-Araf ayat 10


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Yasin Ayat 18-19: Menjadi Sial Akibat Berperilaku Buruk

0
perilaku buruk
perilaku buruk

Syariat Allah swt. diajarkan para rasul kepada umatnya agar mereka dapat mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan sebenar-benarnya. Karena beribadah adalah tujuan utama diciptakannya jin dan manusia. Selain itu, syariat Allah juga menjadi petunjuk dan pedoman bagi kehidupan manusia sebagai al-Khalifah fi al-Ardh agar tidak terjadi kekacauan di atas bumi. Maka dari itu, tidak jarang kita jumpai sebagian kaum mendapat peringatan dari Allah akibat perilaku buruk yang melampaui batas-batas syariat.

Alquran telah banyak mengisahkan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kaum terdahulu, seperti musibah, nasib sial dan bahkan adzab.  Hal tersebut juga menjadi peringatan dan pelajaran bagi kaum lainnya. Dan terkait ini kita bisa mengambil pelajaran dari kaum Anthakiyah tentang keluhan nasib sial.

Allah swt berfirman dalam (QS. Yasin [36]: 18-19):

قَالُوْٓا اِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْۚ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهُوْا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيْمٌ قَالُوْا طَاۤىِٕرُكُمْ مَّعَكُمْۗ اَىِٕنْ ذُكِّرْتُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ

Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami rajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.” Mereka (utusan-utusan) itu berkata, “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (Q.S. Yasin [36]: 18-19)

Baca juga: Krisis Kemanusiaan, Gus Mus Serukan Para Kyai Memviralkan Kandungan Surat Al-Hujurat

Dua ayat di atas adalah lanjutan kisah kaum Anthakiyah dari ayat 13 tentang ajakan untuk beriman kepada Allah swt. Singkat ceritanya, Nabi Isa as. mengirim tiga utusan untuk mendakwahi penduduk Anthakiyah, dan sebagian dari mereka beriman. Sebagian lainnya yang tidak menerima dakwah mereka mengucapkan kata-kata kasar, berperilaku buruk, melemparkan tuduhan kepada para utusan dan bersumpah akan mencelakainya.

Ketika menjelaskan ayat 18, para mufassir menyebutkan beberapa riwayat dari jawaban penduduk Anthakia saat mereka sudah tidak bisa beralasan apa-apa.

Pertama: mereka mengancam dengan mengatakan “bahwa kalau kesengsaraan menimpa mereka kelak, maka hal ini disebabkan perbuatan kalian (para utusan). (at-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran)

Kedua: mereka berkata, “bahwa kami mengalami musibah kemarau panjang dan tersebarnya banyak penyakit penyebabnya tidak lain adalah sebab kedatangan kalian”. (al-Hamami, Tafsir Yasin, hlm. 7)

Ketiga: riwayat Qatadah, mereka berkata ,“tidaklah suatu kampung dimasuki orang-orang seperti kalian, kecuali mereka akan mendapat adzab”. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/ 505)

Dari berbagai penafsiran di atas intinya adalah penolakan kaum Anthakiyah terhadap dakwah para utusan, padahal tanda-tanda kebesaran Allah telah nyata di hadapannya. Mereka menganggap turunnya musibah disebabkan datangnya para utusan dan ajakan beriman kepada Allah swt. Respon mereka sangat mengherankan. Bagaimana mungkin kedatangan para utusan yang sejatinya mengupayakan anugerah, kenikmatan dan kemuliaan untuk mereka, tetapi mereka menyambutnya dengan kata-kata kasar dan tuduhan pembawa kesialan atau perilaku buruk lainnya.

Baca juga: Pesan Cinta Syekh Adnan al-Afyouni: Pertahankan Kesejahteraan Indonesia !

Dan anggapan mereka pun di bantah oleh para utusan melalui firman Allah pada (QS. Yasin: 19). At-Thabari dalam kitabnya menerangkan:

يقولون: أعمالكم وأرزاقكم وحظكم من الخير والشر معكم، ذلك كله في أعناقكم

“para utusan berkata: ‘amal perbuatan, rizki, dan nasib baik maupun buruk pada diri adalah disebabkan kalian sendiri, semuanya berada di pundaknkalian’”.

Al-Hamimi dalam kitabnya Tafsir Surat Yasin menambah keterangan, ‘yakni, nasib sial yang menimpa kalian sebabnya adalah kekufuran dan pengingkaran kalian’.

Senada dengan kandungan ayat di atas adalah firman Allah swt. tentang kaum nabi Shaleh as, ’Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”.. Shalih berkata: Nasibmu ada pada sisi Allah. (Q.S. An-Naml [27]: 47).

Dampak Berbuat Maksiat

Menurut al-Qurthubi, sebagian penduduk Anthakiyah yang tidak beriman, bahkan membantah, mereka kemudian dibinasakan oleh malaikat Jibril.  Ini adalah potret fenomena suatu kaum akibat berperilaku yang buruk.

Perilaku buruk seseorang disadari atau tidak secara langsung berdampak negatif pada dirinya sendiri (hati). Dan bahkan pengaruh maksiat terhadap hati adalah  asal dari berbagai dampak negatif lainnya yang sifatnya lahiriyah, bahkan dampaknya dapat menjalar kepada orang lain.

Diriwayatkan oleh an-Nu’man bin Basyir,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati”. (HR. al-Bukhari, No. 50)

Semoga kita selalu mendapatkan pertolongan dari Allah swt. dalam menjaga kesucian hati. Karena perkataan yang baik, perilaku yang baik dan sikap yang baik adalah cerminan dari hati yang baik pula.  Wallahu A’lam.

Kisah Nabi Ilyas as dalam Al-Quran dan Pertemuan dengan Nabi Ilyasa as

0
Nabi Ilyas as
Nabi Ilyas as

Nabi Ilyas as adalah seorang nabi yang diutus oleh Allah swt setelah nabi Daud dan Sulaiman. Beliau diperintahkan oleh Allah swt untuk berdakwah kepada kaum Baal di Kota Ba’albak yang terletak di daerah sebelah barat Damaskus (Suriah), daerah tersebut kini masuk wilayah Lebanon. Mereka adalah kelompok Bani Israil yang menyembah berhala Ba’al. Nabi Ilyas as menyeru mereka agar hanya menyembah kepada Allah dan mengesakan-Nya.

Menurut Wahb bin Munabbih, nabi Ilyas as merupakan putra Nissi bin Fanhas bin al-‘Izar bin Harun bin Imran. Sedangkan Menurut Ibn Ishaq, sebagaimana dikutip oleh Muhammad Washfi dalam Tarikh al-Anbiya’ wa ar-Rusul (hlm. 249), nabi Ilyas adalah putera Yusa ibn Fanhash ibn al-‘Izar ibn Harun, saudaranya Musa. Wahb juga menambahkan bahwa masa spesifik pengutusan nabi Ilyas as kepada bani Israil adalah sesudah Hizqil as (Hezkiel).

Kegigihan Nabi Ilyas Menghadapi Keingkaran Bani Israil dan Kemarau Panjang

Nama nabi Ilyas sendiri disebut dalam Al-Qur’an sebanyak empat kali, yaitu di Surat al-An’am ayat 85 dan ash-Shaffat ayat 123, 129, dan 130. Sedangkan, kisah tentang perjuangan nabi Ilyas dalam memperingatkan kaumnya termuat dalam surat ash-Shaffat ayat 124 hingga 128. Tidak banyak ayat yang menceritakan tentang kisah nabi Ilyas. Namun, keberadaannya sebagai nabi dan Rasul Allah swt sangat jelas disebutkan dalam surat ash-Shaffat ayat 123 tersebut.

Firman Allah swt:

وَاِنَّ اِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۗ ١٢٣

Dan sungguh, Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul.” (QS. Ash-Shaffat [37]: 123)

Nabi Ilyas as lahir di tengah-tengah kaum penyembah berhala. Mereka bersama Raja Ahab yang kejam membuat dan menyembah patung Baal besar di tengah kota untuk dijadikan sebagai pusat penyembahan. Nabi Ilyas seringkali berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Baal dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?” (QS. Ash-Shaffat: 124-126).

Baca Juga: Kisah Nabi Ibrahim as Yang Tak Hangus Dibakar Api

Mendengar ajakan dari nabi Ilyas, kaum bani Israil begitu marah dan berkata, “Hai Ilyas, berani sekali engkau meminta kepada kaum kami untuk meninggalkan tuhan-tuhan kami. Sesungguhnya, kami melakukan hal itu karena bapak-bapak kami juga telah melakukan hal tersebut.” Nabi Ilyas kemudian segera mendatangi Raja Ahab dan mengatakan bahwa jika mereka tidak bertaubat, maka Allah akan mendatangkan malapetaka berupa kemarau panjang selama tiga tahun.

Nabi Ilyas juga mengingatkan bahwa berhala yang mereka sembah itu tak akan mampu menolong ketika penduduk mendapat azab. Namun rupanya peringatannya justru membuat penduduk marah dan terusik. Mereka mengusir nabi Ilyas dan melemparinya dengan batu. Nabi Ilyas tak membalas perlakuan mereka dan tetap melanjutkan dakwah meskipun hanya menuai keingkaran bani Israil. Hingga pada suatu hari, penduduk geram dan mengusir Nabi Ilyas untuk selama-lamanya.

Dalam Ensiklopedia Islam, disebutkan bahwa Nabi Ilyas berusaha menghindari kejaran kaumnya. Ia bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain. Karena perbuatan buruk nabi Israil itu, Allah swt lalu menimpakan azab kepada mereka berupa kekeringan dan kemarau panjang. Hujan tidak turun di negeri mereka selama kurang lebih tiga tahun. Hewan ternak banyak yang mati dan sawah ladang kering sehingga mereka kesulitan mendapatkan makanan.

Penduduk pun marah dan menganggap bencana tersebut karena kedatangan nabi Ilyas dan kemarahan berhala mereka. Dalam sumber lain disebut Raja Israil meminta para imam berdoa ke berhala agar kemarau lekas usai. Tapi kemarau berkepanjangan tetap berlanjut dan tidak berhenti. Akhirnya, bani Israil semakin marah tak terkira dan mereka bertekad untuk memburu nabi Ilyas secara besar-besaran.

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa nabi Ilyas terpaksa selalu berpindah tempat pasca diburu akibat keingkaran bani Israil. Terkadang, ia tinggal di rumah seorang kaumnya yang memercayai Ilyas. Terkadang, ia tinggal di gua. Namun, Ilyas tak pernah berhenti berdakwah dan menyampaikan kebenaran. Beliau dengan gigih menyampaikan ajaran Allah swt. Menurut sejumlah literatur, setiap rumah yang disinggahi Nabi Ilyas akan tercium bau makanan.

Di tengah pelariannya, nabi Ilyas menemukan sebuah rumah di gurun pasir. Sumber lain menyebut, di tengah persembunyian itu Ilyas diutus untuk menemui seorang ibu yang memiliki anak laki-laki. Ilyas tinggal sementara di sana, makan, minum, tidur dan hari-harinya dihabiskan di rumah itu. Di situlah ia dipertemukan dengan Ilyasa’ yang kelak juga diangkat sebagai Nabi Allah.

Kondisi Ilyasa’ saat itu bergitu memprihatinkan karena ia mengidap sakit keras sejak lama. Kemudian nabi Ilyas berdoa dan memohon kepada Allah swt agar penyakitnya disembuhkan. Berkat izin Allah swt, Ilyasa’ bisa sehat seperti sedia kala. Nabi Ilyas kemudian mulai mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada Ilyasa. Menurut sebagian riwayat, hal yang pertama diajarkan kepada ilyasa adalah tauhid.

Nabi Ilyas ditemani Ilyasa’ kemudian melanjutkan dakwah mereka. Pada saat itu, kondisi kekeringan dan kemarau panjang sudah demikian parah menimpa bani Israil, makanan sudah sulit didapat, ternak banyak yang mati, dan lahan-lahan menjadi tandus. Karena putua asa, mereka pun berusaha mencari nabi Ilyas. Ketika berjumpa, mereka memohon kepada beliau agar bisa membantu persoalan yang dihadapi kaumnya.

Baca Juga: Kisah Nabi Yahya dalam Al-Quran: Dapat Hikmah dan Maksum Sejak Kecil

Nabi Ilyas memerintahkan kaumnya agar meninggalkan sesembahan berhala Baal dan beriman kepada Allah. Dalam doanya, Nabi Ilyas memohon kepada Allah agar mengabulkan doanya. Beliau berkata, “Ya Tuhanku, semoga Engkau berkenan menghilangkan dari mereka bahaya kelaparan yang telah mengancam kehidupan mereka, dan mudah-mudahan (setelah itu terjadi) menjadikannya orang-orang yang bersyukur kepada Engaku.”

Allah swt mengabulkan doa nabi Ilyas dengan menurunkan hujan sehingga kekeringan dan kemarau panjang berakhir. Hujan ini membuat sawah-ladang menjadi subur kembali, binatang-binatang berkembangbiak dan menurunkan anak-anaknya yang sangat banyak. Namun, keimanan mereka ini tak berselang lama, sebab keingkaran bani Israil kembali dengan menyembah Baal dan berhala lainnya. Mereka akhirnya diazab dengan kekeringan dan kemarau panjang. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 6

0
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102

 


Baca juga: Tafsir Surat Al-ِA’raf ayat 4-5


Tafsir surat Al-A’raf ayat 6 ini membahas lebih lanjut balasan Allah terhadap perilaku manusia ketika di dunia. Kelak di akhirat umat manusia maupun jin akan ditanya apakah telah melaksanakan seruan para rasul untuk memeluk agama Islam? Atau malah mendustakan para rasul tersebut?

Lebih lanjutnya tafsir surat al-A’raf ayat 6 menjelaskan lebih lanjut bagaimana nasib manusia maupun jin yang mengingkari para rasul dan disertai dengan beberapa ayat yang terkait.

Ayat 6

Ayat ini menerangkan bahwa di akhirat nanti, semua umat yang telah diutus seorang rasul kepada mereka akan ditanya, sebagaimana firman Allah:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَٔلَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ  ٩٢  عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ   ٩٣

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (al-Hijr/15: 92-93)

Lebih dahulu ditanyakan tentang rasul-rasul yang telah diutus kepada mereka, kemudian disusul dengan pertanyaan sampai di mana mereka telah merespon dan melaksanakan seruan para rasul itu.

Firman Allah:

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَقُصُّوْنَ عَلَيْكُمْ اٰيٰتِيْ وَيُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَاۤءَ يَوْمِكُمْ هٰذَاۗ قَالُوْا شَهِدْنَا عَلٰٓى اَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ اَنَّهُمْ كَانُوْا كٰفِرِيْنَ

Wahai golongan jin dan manusia! Bukankah sudah datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri, mereka menyampaikan ayat-ayat-Ku kepadamu dan memperingatkanmu tentang pertemuan pada hari ini? Mereka menjawab, ”(Ya), kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.” Tetapi mereka tertipu oleh kehidupan dunia dan mereka telah menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang kafir. (al-An’am/6: 130);

Firman-Nya:

يَوْمَ يَجْمَعُ اللّٰهُ الرُّسُلَ فَيَقُوْلُ مَاذَٓا اُجِبْتُمْ

(Ingatlah), pada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul, lalu Dia bertanya (kepada mereka), ”Apa jawaban (kaummu) terhadap (seruan)mu?” (al-Ma′idah/5: 109);

Pertanyaan itu diajukan kepada orang-orang yang durhaka, dan pembuat maksiat bukan karena Allah tidak tahu atau belum tahu keadaannya, tetapi semua itu dilakukan semata-mata untuk mendapatkan pengakuan mereka atas adanya rasul yang telah diutus kepada mereka dan untuk menampakkan cela dan aib mereka, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak disiksa atau dimasukkan ke dalam neraka.

Imam ar-Razi berkata, sebenarnya mereka ditanya bukanlah mengenai amal yang telah diperbuatnya di dunia, karena semua itu telah diketahui melalui catatan malaikat yang ditugaskan untuk itu, sehingga tidak ada suatu perbuatan manusia dari yang sebesar-besarnya sampai yang sekecil-kecilnya yang luput dari catatannya, tetapi yang ditanyakan ialah sebab yang mengakibatkan mereka meninggalkan perintah Allah. Ayat ini tidak bertentangan dengan ayat-ayat yang menerangkan bahwa tidak akan ditanyakan dosa manusia dan jin dan dosa orang-orang yang berbuat maksiat, seperti dalam firman Allah:

فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُسْـَٔلُ عَنْ ذَنْۢبِهٖٓ اِنْسٌ وَّلَا جَاۤنٌّ

Maka pada hari itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya. (ar-Rahman/55: 39);

Dan firman-Nya:

وَلَا يُسْـَٔلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ

Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka. (al-Qasas/28: 78);

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa bukan saja umat yang telah diutus Rasul kepada mereka yang ditanya sampai di mana mereka melaksanakan seruan rasul itu, tetapi juga rasul-rasul yang telah diutus kepada suatu umat akan ditanya sampai di mana seruan mereka disambut baik dan dilaksanakan oleh umatnya sebagaimana firman Allah:

يَوْمَ يَجْمَعُ اللّٰهُ الرُّسُلَ فَيَقُوْلُ مَاذَٓا اُجِبْتُمْ;

(Ingatlah), pada hari ketika Allah mengumpulkan para rasul, lalu Dia bertanya (kepada mereka), “Apa jawaban (kaummu) terhadap (seruan)mu?” (al-Ma′idah/5: 109);

Pertanyaan yang ditujukan kepada rasul di akhirat nanti, adalah pertanyaan yang jawabannya merupakan pengakuan dan kesaksian atas seruan yang telah disampaikan kepada umatnya, dan pembangkangan umat atas isi seruan ini.


Baca setelahnya: Inilah Alasan Mengapa Umat islam Harus Mengenal Rasulullah SAW


(Tafsir Kemenag)

 

Tafsir Surat Yasin Ayat 11-12: Kuasa Allah Swt Atas Segala Sesuatu

0
Yasin Ayat 11-12
Yasin Ayat 11-12

Pada pembahasan sebelumnya sudah dijelaskan tentang tafsir ayat 9-10 yang menceritakan nasib orang-orang yang dicap kafir. Adapun pada tulisan kali ini penulis akan membahas tafsir surat Yasin ayat 11-12 tentang kuasa Allah swt atas segala sesuatu dan kuasa untuk memberi hidayah sesuai yang Ia kehendaki. Allah Swt berfirman:

اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍ

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ

  1. Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.
  2. Sungguh, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).

Secara umum Surat Yasin Ayat 11-12 ini menerangkan tentang seruan Allah kepada Nabi Muhammad bahwa peringatan yang ia sampaikan kepada orang kafir hanya diterima oleh mereka yang mau mengikuti, sekaligus menyampaikan bahwa hidup dan mati ada ditangan Allah swt, apapun yang dilakukan oleh manusia ketika di dunia tidak ada yang luput dari perhatian-Nya.

Baca Juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 9-10: Perumpamaan Bagi Orang yang Tidak Beriman

Ali As-Shabuni menafsirkan ayat 11 sebagai informasi kepada Nabi Muhammad bahwa yang akan mengikuti seruannya hanyalah mereka yang beriman kepada al-Qur’an dan mengamalkan isinya. Selain itu mereka juga takut kepada Allah meski tidak bisa melihat-Nya.

Menarik untuk disimak penjelasan Abu Hayyan tentang kata wakhasyiya ar-rahman. Menurutnya, dua kata ini saling terkait, kata ar-rahman menunjukkan sifat rahmah (pengasih). Sifat yang cenderung kepada pengharapan, dimana rasa berharap itu selalu diiringi kesadaran akan adanya sifat kasih-sayang, yang akhirnya menghadirkan perasaan takut (khasyyah) kepada-Nya, yakni takut kehilangan nikmat-nimat yang telah Allah swt limpahkan.

Selain itu, kata al-Ghaib juga dimaknai Qurthubi dengan khasyyah, yakni rasa takut pada sesuatu yang tersembunyi, yang tidak diketahui oleh pandangan manusia, seperti azab api neraka.

Jika mereka telah memenuhi kriteria-kriteria diatas, “fabasysyirhum bi maghfiratin wa ajrin karim”, maka mereka berhak mendapatkan kabar gembira, yakni ampunan dan keridhaan dari Allah swt, serta mendapat balasan berupa surga. Sebagaimana ditegaskan dalam ayat lain:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya yang tidak terlihat oleh mereka, mereka memperoleh ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Mulk [67]:12)

Wahbah Zuhaili menerangkan tentang asbabun nuzul ayat 12, ia mengutip hadith yang diriwayatkan oleh ‘Abdur Razzaq dari Abi Sa’id yang berkata bahwa suatu ketika Bani Salimah datang mengadu kepada Rasulullah saw terkait jauhnya jarak tempat tinggal mereka dengan masjid, kemudian turunlah ayat ini. Nabi pun berkata kepada mereka “tetaplah tinggal ditempat kalian, karena akan dicatat bekas-bekas (yang kalian tinggalkan)”.

Versi yang hampir sama juga dijelaskan oleh Tirmidzi, Hakim, dan Thabrani bahwa Nabi berkata, “Sesungguhnya bekas yang kalian tinggalkan akan dicatat, maka janganlah pindah”. Pada riwayat ini dijelaskan tentang keinginan Bani Salimah untuk pindah di samping masjid Nabi, namun Nabi melarangnya.

Ibnu Kathir memahami kalimat inna nahnu nuhyil mauta pada ayat 12 dengan dua makna, yakni; 1) dibangkitkan dari kubur ketika hari kiamat sudah tiba, 2) isyarat bahwa Allah  mampu menghidupkan hati seseorang yang telah mati ataupun sesat untuk menuju hidayah-Nya, sekalipun orang tersebut kafir.

Ini menunjukkan kekuasan Allah swt. atas segalanya, jika pada ayat sebelumnya (9-10) dijelaskan tentang sukarnya mereka untuk beriman kepada nabi, namun kali ini, Allah memberi penegasan bahwa tidak ada yang mustahil bagi-Nya untuk memberi hidayah kepada orang-orang yang Ia kehendaki.

Ayat ini sekaligus mengingatkan kita agar tidak mudah mengatakan kafir kepada seseorang, sekalipun dia adalah “kafir”. Sebab atas kehendak-Nya, Ia bisa menghidupkan hati untuk mendapat hidayah kebenaran. Dan sebaliknya, atas kehendak-Nya pula Ia bisa mematikan hati dan menjauhkan-Nya dari kebenaran.

Adapun kata atsar pada ayat ini secara literal dimaknai dengan bekas. Lebih rinci at-Thabari menjelaskan yang dimaksud dengan atsar (bekas) adalah setiap langkahmu didunia yang baik ataupun buruk itu akan dicatat. Menukil hadith yang diriwayatkan oleh Muslim dari Jarir bin Abdillah al-Bajali, bahwasanya Nabi bersabda:

مَنْ سَنَّ فِي الْاِسْلاَم سُنَّةً حَسَنَةً كَانَ لَهُ اَجْرُها واجْرُ مَن عمِلَ بها مِن بَعده , مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ اُجُوْرِهَا شَيْئًا , وَ مَنْ سَنَّ فِي الْاِسْلاَم سُنَّةً سَيِّئَةً , كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهَا شَيْئًا

Terjemah bebasnya:

“Barangsiapa yang menunjukkan suatu perkara yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan double pahala, yakni pahala dari dirinya sendiri dan dari orang lain yang mengikutinya. Sebaliknya, jika menujukkan kepada perkara buruk, maka ia juga akan mendapatkan double dosa, yaitu dosa disebabkan dirinya sendiri, dan dari orang lain yang mengikuti dirinya”.

Kemudian amal-amal yang dilakukan selama di dunia itu dicatat dalam sebuah buku khusus yang disebut Mujahid dan Qatadah dengan Lauhul Mahfuzh . Mereka juga menyebut buku tersebut dengan ummul kitab yakni buku induk, dimana menurut Sayyid Qutb dalam buku tersebut tidak ada yang luput, lupa, ataupun keliru untuk dicatat, sesuai dengan apa yang dilakukan manusia ketika di dunia. Wallahu a’lam bis showab.

Demikianlah tafsir singkat surat Yasin ayat 11-12, semoga bermanfaat. Tunggu tulisan-tulisan tafsir surat Yasin selanjutnya.

Anda Sedang Khataman Al-Quran? Berikut Anjuran Para Ulama Mengenainya

0
ilustrasi tradisi namatang
ilustrasi tradisi namatang

Kegiatan mengkhatamkan Al-Quran merupakan suatu bentuk ritual yang telah banyak dilakukan dan dipraktikkan oleh umat Islam. Dalam konteks Indonesia kegiatan mengkhatamkan Al-Quran tersebut banyak dilakukan di bulan Ramadhan dan ketika terdapat acara-acara tertentu. Untuk lebih menyempurnakan kegiatan tersebut, para ulama menjelaskan terkait anjuran-anjuran yang perlu diterapkan ketika melakukan khataman Al-Quran.

Dalam kitab al-Ziyadah wa al-Ihsan fi ‘Ulum Al-Quran karya Ibnu ‘Uqailah al-Makki, ia mengutip pendapat Syaikh Ahmad al-Qasthalani yang memberikan tiga anjuran ketika telah mengkhatamkan Al-Qur’an , yaitu:

Baca Juga: Mengkhatamkan Al-Quran dan Prinsip-Prinsipnya Menurut Para Ulama

  1. Membaca Istighfar Ketika Khatam Al-Quran

Terdapat sebagian kelompok yang tatkala menyelesaikan bacaan Al-Quran secara sempurna 30 juz, mereka menahan diri dari membaca doa khataman Al-Quran dan menggantinya dengan membaca istighfar. Hal yang demikian dilakukan oleh Yusuf ibn Asbath ketika ia mengkhatamkan Al-Quran, sebagaimana riwayat berikut:

قِيْلَ لِيُوْسُفَ ابْنِ أَسْبَطْ: بِأَيِّ شَيْئٍ تَدْعُوْ إِذَا خَتَمْتَ الْقُرْآنَ، فَقَالَ: أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ تِلَاوَتِيْ، لِأَنِّيْ إِذَا خَتَمْتُ ثُمَّ تَذَكَّرْتُ مَا فِيْهِ خَشِيْتُ عَلَى نَفْسِيْ مِنَ الْمَقْتِ، فَأَعْدِلُ إِلَى الْإِسْتِغْفَارِ وَالتَّسْبِيْحِ

Dikatakan kepada Yusuf ibn Asbath: dengan apa dirimu berdoa ketika telah mengkhatamkan Al-Quran? Maka ia berkata: aku memohon ampun kepada Allah atas bacaanku, karena tatkala aku mengkhatamkan (Al-Quran) kemudian aku ingat apa-apa (kesalahan) yang terjadi saat itu, aku takut kemarahan (Allah) akan menimpaku. Oleh karena itu aku membaca istighfar dan tasbih

Amalan yang demikian dilakukan oleh kelompok-kelompok yang dalam diri mereka dipenuhi rasa takut kepada Allah. Karena Al-Quran bukan hanya sebatas teks yang sekedar dibaca, tetapi juga sebagai pedoman yang harus ditadabburi dan diamalkan.

Kegiatan ini (tadabbur dan amal) yang sering dilalaikan oleh umat Islam. Padahal tadabbur menjadikan mereka akan senantiasa menyadari kekurangan dan merasa tidak pernah aman dan cukup terhadap amal yang telah mereka lakukan.

  1. Membaca Doa Ketika Khatam Al-Quran

Bentuk yang kedua ini telah jamak dilakukan oleh umat Islam, yaitu membaca doa ketika menyelesaikan khataman Al-Quran. Praktik yang demikian didasarkan pada riwayat yang disampaikan Ibnu Mas’ud, sebagaimana berikut:

عَنْ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: مَنْ خَتَمَ الْقُرْآنَ فَلَهُ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ. وَكَانَ عَبْدُ اللهِ إِذَا خَتَمَ جَمَعَ أَهْلَهُ، ثُمَّ دَعَا، وَأَمّنُوْا عَلَى دُعَائِهِ

Dari Ibnu Mas’ud berkata: (barangsiapa yang mengkhatamkan Al-Quran, maka ia memiliki doa yang mustajabah). Tatkala Abdullah ibn Mas’ud telah mengkhatamkan (Al-Quran), ia kumpulkan keluarganya, kemudian berdoa dan mereka mengamini doa tersebut

Baca Juga: 3 Cara Tepat Membaca Al Quran

  1. Melanjutkan Bacaan Al-Quran Hingga Q.S. al-Baqarah [2]: 5

Sebagaimana Hadis Nabi yang diriwayatkan dari jalur Abdullah ibn Katsir, sebagaimana berikut:

عَنْ درباس مَوْلَى ابن عَبَّاس، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَرَأَ: (قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ) افْتَتَحَ فِيْ (أَلْحَمْدُ لِلَّهِ) ثُمَّ قَرَأَ مِنَ الْبَقَرَةِ إِلَى (أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ) ثُمَّ دَعَا بِدُعَاء الْخَتْمَةِ، ثُمَّ قَامَ

Dari Darbas budak Ibnu Abbas, dari Abdullah ibn Abbas, dari Ubay ibn Ka’ab, dari Nabi Saw, sesungguhnya Nabi ketika membaca (qul ‘audzu bi rab al-nas) dibuka kembali dengan (alhamdulillah) dilanjutkan membaca dari surah al-Baqarah hingga (ulaika hum al-muflihun) kemudian berdoa dengan doa khataman, lalu berdiri

Praktik yang demikian dilakukan bertujuan sebagai bentuk menjaga kontinuitas amal. Sebagaimana sebuah sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, berikut:

أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الحَالُ الْمُرْتَحِلُ

(Nabi ditanya) amal apa yang paling dicintai oleh Allah? (maka Nabi menjawab) yaitu amal yang seperti keadaan orang yang sedang melakukan perjalanan

Orang yang sedang bepergian bisa berhenti hanya untuk istirahat sebentar, dan akan melanjutkan kembali perjalanan tersebut. Sehingga dengan melanjutkan pembacaan Al-Quran dari akhir surat menuju awal surat, diharapkan hal tersebut menjadi sebuah keinginan yang kuat untuk mengkhatamkan Al-Quran kembali di waktu yang akan datang.

Kemudian, Imam Az-Zarkasyi menambahkan dalam karyanya al-Burhan fi ‘Ulum Al-Quran terkait beberapa anjuran lainya ketika melakukan khataman Al-Quran. Beberapa anjuran tersebut antara lain adalah:

  1. Waktu yang Disunnahkan Untuk Khataman Al-Quran

Dalam melakukan khataman Al-Quran, para ulama menjelaskan perihal waktu-waktu yang baik untuk memulai khataman Al-Quran. Ibnu al-Mubarak mengatakan, apabila memasuki musim dingin/hujan (syita’) maka disunnahkan untuk melalui khataman di awal malam musim dingin tersebut. Kemudian, apabila memasuki musim panas (shaif), maka waktu yang disunnahkan adalah awal siang dari musim panas tersebut.

Bahkan, Ibrahim ibn Yazid al-Nakh’iy mengatakan: “apabila mengkhatamkan Al-Quran dimulai pada awal siang hari, maka para malaikat mendoakannya hingga sore hari. Dan apabila dimulai pada malam hari, maka para malaikat mendoakannya hingga pagi hari

  1. Mengulang Q.S. al-Ikhlas Sebanyak Tiga Kali

Kegiatan pembacaan surat al-Ikhlas secara berulang ini telah menjadi kebiasaan umat Islam dari dulu. Imam az-Zarkasyi menjelaskan bahwa terdapat perbedaan dalam kalangan ulama terkait hal ini. Beliau menyebutkan bahwasanya Imam Ahmad melarang umat Islam untuk melakukan hal yang demikian. Namun, mayoritas umat Islam tetap melakukannya. Hal ini dikarenakan adanya beberapa hikmah dari mengulang surat al-Ikhlas.

Salah satu hikmah dari mengulang pembacaan surat al-Ikhas sebanyak tiga kali adalah sebagai bentuk penyempurnaan dan penegasan bahwa telah mengkhatamkan Al-Quran. Hal ini disebabkan surat al-Ikhlas merupakan sepertiga Al-Quran, sehingga ketika membacanya sebanyak tiga kali sama halnya telah mengkhatamkan Al-Quran secara keseluruhan.

Baca Juga: Alasan Mengapa Surat Al-Ikhlas Sebanding Sepertiga Al-Quran Menurut Imam Ghazali

  1. Membaca Takbir Dalam Setiap Pergantian Surat Yang Dimulai dari Q.S. al-Dhuha

Para ulama ahli Qira’at Makkah menganjurkan agar membaca takbir ketika prosesi khataman Al-Quran telah mencapai surat al-Dhuha. Praktik yang demikian diambil dari riwayat yang disampaikan Ibnu Katsir dari Mujahid. Selain itu, para ulama melakukan praktik ini berdasarkan qiyas (analogi) terhadap puasa Ramadhan. Dimana ketika puasa Ramadhan, apabila telah sempurna puasanya maka dianjurkan untuk memperbanyak ucapan takbir.

Oleh karena itu, ketika pembacaan Al-Quran telah sempurna mencapai 30 juz, maka dianjurkan juga untuk membaca satu kalimat takbir. Selain itu, pembacaan takbir ini juga bertujuan untuk pemisah antara surat yang satu dengan surat yang lainya. Sulaim al-Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa praktik pembacaan takbir ini tidak dibaca secara langsung atau bersambung setelah akhir surat, tetapi berhenti sejenak kemudian baca kalimat takbir.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa terdapat berbagai anjuran dari para ulama dalam prosesi kegiatan mengkhatamkan Al-Quran. Hal ini dilakukan tidak lain bertujuan untuk menyempurnakan kegiatan khataman Al-Quran tersebut, serta meneladani apa yang telah dilakukan oleh salaf al-shalih sebelum kita. Wallahu A’lam