Beranda blog Halaman 459

Tafsir Surat Al A’raf ayat 24-27

0
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102

Dalam tafsir surat Al A’raf ayat 24-27 ini menceritakan bahwa Allah menerima taubat Adam dan istrinya. Namun meskipun begitu Adam dan Hawa tetap diperintah untuk keluar dari surga dengan diperkuat imannya oleh Allah. 

Selain itu tafsir surat Al A’raf ayat 24-27 juga membahas seruan Allah kepada keturunan Adam agar senantiasa mengingat nikmat yang telah diberikan dan menghindar dari perbuatan maksiat.


Baca juga: Tafsir Surat Al A’raf ayat 18-23


Ayat 24-25

Allah kemudian menerima tobat Adam dan istrinya, dan memerintahkan keduanya keluar dari surga dan turun ke bumi. Allah memperkuat imannya dan menerima tobatnya karena nabi itu ma’shum (terpelihara dari dosa), bisa salah tetapi tidak bisa terjadi kesalahan karena dikoreksi Allah. Setelah tobatnya diterima, ia menjadi orang pilihan kembali dan mendapatkan bimbingan dari Allah, seperti dalam firman-Nya:

وَعَصٰىٓ اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى ۖ  ١٢١  ثُمَّ اجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدٰى   ١٢٢  قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيْعًا

… dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah dia. Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk. Dia (Allah) berfirman, ”Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama…”   (Thaha/20: 121-123)

Telah menjadi sunatullah bahwa setiap perbuatan buruk akan mempunyai akibat yang buruk pula. Di bumi ini akan terjadi permusuhan, sebagian akan menjadi musuh dari sebagian yang lain. Iblis dan kawan-kawannya akan selalu memusuhi anak-cucu Adam. Sebaliknya anak-cucu Adam harus selalu waspada dan tetap memandang dan menjadikan Iblis itu musuh yang sangat berbahaya, karena kalau tidak mereka akan dijebloskan ke dalam neraka. Allah berfirman:

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ

Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Fathir/35: 6)

Mereka akan tinggal dan menetap di bumi dilengkapi dengan sumber penghidupan yang menjadi kesenangannya sampai kepada waktu yang telah ditentukan oleh Allah, yaitu pada waktu berakhirnya ajal dan tibanya hari Kiamat sesuai dengan firman Allah:

وَلَقَدْ مَكَّنّٰكُمْ فِى الْاَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيْهَا مَعَايِشَ

Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu… (al-A’raf/7: 10)

Ayat 26-27

Pada ayat ini, Allah menyeru kepada anak-cucu Adam dan memperingatkan nikmat yang begitu banyak yang telah dianugerahkan-Nya agar mereka tidak melakukan maksiat, tetapi hendaklah mereka bertakwa kepada-Nya, dimana saja mereka berada, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw:

(اِتَّقِ الله َ حَيْثُمَا كُنْتَ (رواه الترمذي عن معاذ بن جبل

“Bertaqwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.” (Riwayat at-Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal)

Allah yang menurunkan hujan dari langit, yang menyebabkan tumbuhnya kapas, rami, wool dan sebagainya yang kesemuanya itu dapat dijadikan bahan pakaian sesudah diolah untuk dipakai menutupi aurat kita, tubuh kita dan untuk menahan panas dan dingin dan dipakai dalam peperangan untuk menahan senjata (baju besi) pakaian juga bisa dijadikan keindahan sebagai perhiasan, satu hal yang disukai oleh Allah sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:

(اِنَّ الله َ جَمِـيْلٌ يُـحِبُّ الْجَمَـالَ (رواه مسلم والترمذي عن ابن مسعود

“Sesungguhnya Allah itu sangat indah, menyenangi keindahan.” (Riwayat Muslim dan at-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud)

Ini semua merupakan pakaian dan keindahan lahiriah. Di samping itu ada lagi macam pakaian yang sifatnya rohaniah yang jauh lebih baik dari pakaian lahiriah tadi, karena ia dapat menghimpun segala macam kebaikan, yaitu takwa kepada Allah.

Sabda Nabi Muhammad saw:

(عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللهِ فَإِنَّهَا جَمَاعُ كُلِّ خَيْرٍ (رواه أبو يعلى عن أبي سعيد

“Hendaklah kamu bertakwa kepada Allah, karena sesungguhnya takwa itu menghimpun segala kebaikan”. (Riwayat Abu Ya’la dari Abu Sa’id)

Dengan takwa itu, Allah senantiasa memberikan kepada kita petunjuk untuk dapat mengatasi dan keluar dari kesulitan yang dihadapi. Dia akan memberikan kepada kita rezeki dari arah yang tidak terduga-duga sebelumnya dan selalu dimudahkan urusan kita, sebagaimana firman Allah:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ  ٢  وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (at-Thalaq/65: 2-3)

Firman Allah:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا

Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya. (At-Thalaq/65: 4)

Segala nikmat yang telah dianugerahkan Allah seperti memberikan pakaian adalah tanda bagi kekuasaan Allah dan membuktikan kebaikan-Nya kepada anak cucu Adam a.s. maka pada tempatnyalah kalau kita selalu mengingat Allah, mensyukuri nikmat-Nya, menjauhi ajakan setan dan tidak berlebihan dalam ucapan dan lain sebagainya.

 


Baca juga: Tafsir Surat Al A’raf ayat 18-23


(Tafsir Kemenag)

 

Manuskrip Mushaf Al-Quran dari Daun Lontar: Koleksi Kiai Abdurrachim asal Grobogan, Jawa Tengah

0
manuskrip mushaf al-quran dari daun lontar
manuskrip mushaf al-quran dari daun lontar

“Indonesia adalah gudangnya manuskrip”. Kalimat tersebut agaknya tidak terlalu tendensius dan merasa superior karena memang adanya begitu. Hal tersebut telah dibuktikan sendiri oleh Puslitbang Lektur Keagamaan Kementerian Agama dengan inventarisasi dan riset mengenai manuskrip mushaf Al-Quran di berbagai daerah pada tahun 2003 hingga 2005. Manuskrip –manuskrip tersebut dimiliki oleh baik perorangan, musium, perpustakaan, masjid, maupun pesantren.

Penyalinan mushaf Al-Quran di Nusantara ditengarai berlangsung dalam rentan waktu yang sangat lama, sekitar 6500 tahun. Diperkirakan telah ada sejak sekitar akhir abad ke-13, ketika era Kerajaan Samudera Pasai (kerajaan pesisir pertama di Nusantara yang memeluk Islam). Mushaf Nusantara tertua yang bisa diketahui saat ini tersimpan di Belanda yang menjadi koleksi William Marsden. Ali Akbar dalam Mushaf Al-Quran di Indonesia dari Masa ke Masa menerangkan bahwa mushaf tersebut berasal dari Johor, Malaysia tahun 1606 M.

Tetapi pada penghujung abad ke-19 M minat penulisan mushaf Al-Quran di Indonesia semakin berkurang seiring dengan masuknya era disrupsi teknologi. Bahkan Mustopa dalam Mushaf Kuno Lombok Telaah Aspek Penulisan dan Teks memperkirakan pembuatan manuskrip mushaf Al-Quran mulai berhenti pada awal abad ke-20. Manuskrip-manuskrip naskah tersebut masih dapat dijumpai hingga saat ini seperti manuskrip mushaf Al-Quran dari daun lontar koleksi Kiai Abdurrochim asal Dusun Tarub, Tawangharjo, Grobogan Jawa Tengah yang akan dikaji dalam artikel ini.

Sekilas Mushaf Al-Quran Daun Lontar

Qona’ah dan Abdul Khalik dalam Manuskrip Mushaf Al-Quran Daun Lontar Koleksi Kiai Abdurrochim (Kajian Pemakaian Rasm dan Qiraat) mengemukakan sejauh penelusuran, manuskrip mushaf Al-Quran yang ditulis di atas daun lontar tersebut bukan satu-satunya manuskrip yang ada di Indonesia.

Sejatinya masih banyak lagi manuskrip-manuskrip daun lontar yang ada di wilayah Indonesia seperti manuskrip Kiai Helmi dari Bogor yang mana merupakan pemberian dari seorang yang tidak diketahui identitasnya sehingga diyakini mengandung unsur mistis sebagaimana dituturkan Lu’luatun Latifah dalam Kekhasan Manuskrip Daun Lontar Milik Kiai Helmi (Kajian Filologi dan Resepsi).

Selain itu, tulisan Ali Akbar dalam situs Kemenag menginformasikan bahwa selain berwujud buku (codek), terdapat Al-Quran “kuno-kunoan” dalam bentuk salinan di atas daun lontar. Hal tersebut menunjukkan bahwa perlunya riset mendalam terhada[ mushaf daun lontar ini, apakah manuskrip daun lontar koleksi Kiai Abdurrochim ini juga termasuk Al-Quran “kuno-kunoan” tadi ataukah benar-benar memang manuskrip yang sudah berumur tua?

Manuskrip mushaf daun lontar koleksi Kiai Abdurrochim ini berada di kediaman beliau belum terlalu lama. Asal-usulnya pun kurang jelas. Meski begitu, uniknya manuskrip ini tidak mempunyai syakal atau tanda baca sebagaimana mushaf-mushaf lainnya. Hal ini tentu semakin menimbulkan kecurigaan, apakah memang disengaja tidak diberi syakal agar terkesan “kuno” atau memang adanya begitu?. Maka perlu diadakan kajian rasm dan qiraat pada mushaf tersebut untuk mendeteksinya.

Baca juga: Jejak Qiraat Imam Nafi’ dalam Manuskrip Al-Quran Keraton Kacirebonan

Mushaf Daun Lontar Koleksi Kiai Abdurrochim

Mushaf ini merupakan koleksi kiai Abdurrochim, seorang tetua agama di Desa Tarub, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Mushaf ini tidak mempunyai kode mushaf sebab termasuk kategori mushaf milik perorangan. Nama pengarangnya pun tidak disebutkan di dalamnya sekaligus nama penyalinnya. Namun status mushaf ini dimiliki kiai Abdurrochim.

Dari data yang diambil dari Qona’ah dan Abdul Khalik dalam Manuskrip Mushaf Al-Quran Daun Lontar Koleksi Kiai Abdurrochim (Kajian Pemakaian Rasm dan Qiraat), Kiai Abdurrochim mengaku tidak banyak informasi yang diketahuinya terkait manuskrip tersebut. Konon mushaf ini adalah milik Kiai Thoyyib dari Jawa. Sebagaimana dikatakan Bapak Ahmadi, selaku pemegang mushaf kelima,

“yang membuat itu termasuke juga orang alim mbak Kiai Thoyyib bin Abdurrohman, asli keturunan Jawa dulunya pengasuh pondok. Usianya waktu menulis, ceritane sejak dulu ia belajar membaca Al-Qur‘an  dan menulis. ceritanya dulu orang mencari ilmu kemudian dapat istri anak kiai. Mushafnya ada banyak sekitar 9 mushaf, ada yang di Jawa, di Sumatra, dan ada yang dikasihkan, ada yang ditukar dengan ongkos mencari ilmu tadi. Saya mendapat mushaf yaitu awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)”

Artinya: yang membuat mushaf itu termasuk orang alim, namanya Kiai Thoyyib bin Abdurrohman, asli keturunan Jawa yang juga pengasuh pondok. Usianya ketika menulis yaitu sejak ia belajar membaca dan menulis. Ceritanya ia mencari ilmu disuatu pondok dan mendapat istri dari anak kiai tersebut. Mushafnya banyak yaitu sekitar 9 mushaf, ada yang di Jawa, di Sumatra, dan ada yang diberikan, ada pula yang ditukar dengan uang sebagai ongkos mencari ilmu tadi. Saya mendapat mushaf yaitu pada awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).”

Baca juga: Mushaf Sultan Ternate; Pernah Dianggap Tertua di Nusantara dengan Dua Kolofon Berbeda

Wawancara tersebut semakin mena’kidkan bahwa mushaf tersebut tidak hanya satu yang beredar melainkan terdapat 9 mushaf yang sama dan itu disengaja diproduksi dengan tujuan komersial. Pak Kiai Ahmadi mengaku memperoleh mushaf tersebut di era pemerintahan SBY (2004). Beliau juga menuturkan bahwa pembuatan mushaf tersevut adalah sejak awal pemerintahan Suharto. Berikut penuturannya,

Artinya: “Saking mrika nipun pemerintahan Soeharto, yang membuat masih remajaremajanya masih kentheng, di pesantren, Pak yai Thoyyib dari Jawa timur ceritane niku dulu kala orang musafir ngudi bidang diagama di Jawa Timur. Jawa Timurnya mana yo mbk, aku kurang jelas, beliau sampun sedo, terus nek wong kali jowo penurunya saja ceritane nganu og mbak waktu masih  pesantrennya sudah nggak ada ya penurunnya sekarang mungkin murid-murid seperti kita, seperti saya anggap seperti saya.”

Artinya: “Dari sananya yaitu pada pemerintahan Soeharto, yang membuat kerika masih remaja, masih sehat-sehatnya, membuatnya di pesantren, pak kiai Thoyyib dari Jawa Timur, Jawa Timurnya mana ya mbak, aku kurang jelas, beliau sudah meninggal. Kemudian kata penurunnya yaitu waktu beliau masih ada pesantrennya sudah tidak ada penurunnya, sekarang bisa jadi penurunnya adalah murid-murid seperti kita, saya anggap seperti saya.”

Kiai Ahmadi hanya memberikan keterangan bahwa dari pemberi pertama yakni sejak pada era pemerintahan Soeharto. Beliau mengatakan bahwa penulis mushaf ini adalah Kiai Thoyyib asal Jawa Timur. Kiai Thoyyib sudah meninggal, begitu pula tidak ada generasi yang melanjutkan tongkat estafetnya.

Dengan demikian, pada aspek penanggalan meskipun tidak terdapat informasi internal seperti penyebutan penulis maupun kepemilikannya, akan tetapi dapat dipastikan melalui bukti eksternal (wawancara dan uji sejarah dengan mengkomparasikan teknik penulisan), diperkirakan usia mushaf ini adalah 40 hingga 50 tahunan.

Identias Manuskrip Mushaf Al-Quran Daun Lontar

Mushaf ini berukuran 50 x 40 x 6 cm, dengan rincian panjang lebar halaman secara full 50 cm dan lebar 40 cm. Sedangkan ukuran panjang dan lebar halaman yang digunakan untuk menulis adalah panjang 50 cm dan lebar 37 cm. Adapun ukuran yang tidak digunakan untuk menulis berukuran panjang 50 cm dan lebar 40 cm. Setidaknya ada 3 halaman yang tidak digunakan untuk menulis yaitu 1 halaman kosong pada lembaran awal, dan 2 halaman kosong pada lembaran paling akhir.

Mushaf ini disalin di atas daun lontar yang pada satu halamannya terdiri dari 16 daun lontar, di mana satu daun lontar memuat 3 baris sehingga 3 x 16 = 48. Jadi dalam satu naskah membutuhkan 48 baris pada setiap halamannya. Pengecualian untuk surat al-Fatihah dan awal surat al-Baqarah, hanya terdiri dari 8 baris plus nama suratnya.

Nama surat ditulis ditepi bagian kanan, kecuali Surat Al-Fatihah dan Al-Baqarah ditulis di tepi atas. Sampulnya terbuat dari pohon palem, mushaf ini tidak beriluminasi dan pada halaman awal menyisakan bagian kosong. Ditulis dengan tinta hitam, dan berbahasa Arab karena manuskrip ini adalah mushaf Al-Quran lengkap 30 juz. Terdapat dua kuras pada setiap halamannya, jika ditotal maka keseluruhannya terdapat 74 kuras.

Baca juga: Tayyar Altikulac: Filolog Muslim Pengkaji Manuskrip Al-Qur’an Kuno

Penomorannya menggunakan angka Arab diletakkan di setiap lembar bagian kiri dan tidak bolak balik, dimulai dari angka dua pada lembar daun ketiga, total jumlah keseluruhan halaman ada 39 halaman. Mengutip dari Manuskrip Mushaf Al-Quran Daun Lontar Koleksi Kiai Abdurrochim (Kajian Pemakaian Rasm dan Qiraat), kondisi manuskrip ini kurang baik, jilidnya sudah renggang dan terdapat tulisan yang memudar.

Bahkan Surat Al-Anfal ditulis dua kali hal ini bisa jadi disengaja atau bisa juga penulis mushaf lalai sehingga mengalami redundan (ganda) pada mushaf. Kelalaian tersebut bisa jadi tergesa-gesa dalam menulisnya mengingat ketika wawancara penulis kepada pemilik mushaf bahwasannya mushaf tersebut sebenarnya ada 5 mushaf dan salah satunya sudah diperjualbelikan.

Mushaf ini juga tidak ada kolofon sehingga tidak terdapat informasi internal terkait penyalin dan tahun penyalinannya. Pada akhir halaman termaktub doa khotmil Al-Quran. Demikianlah perkenalan kita kepada manuskrip mushaf Al-Quran koleksi Kiai Abdurrochim dari Grobogan, Jawa Tengah. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al A’raf ayat 18-23

0
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102

Setelah membahas Iblis yang membangkang perintah Allah, pada tafsir surat Al A’raf ayat 18-23 ini diterangkan sekali lagi laknat Allah terhadap Iblis. Setelah Iblis keluar dari surga Allah memerintahkan Adam dan istrinya (Hawa) untuk menempati surga dengan membebaskan mereka untuk makan apa saja kecuali buah yang berasal dari satu pohon. Dalam tafsir surat Al A’raf ayat 18-23 ini akan menceritakan lebih jauh perihal kejadian Adam dan Hawa ketika digoda oleh Iblis sehingga mereka juga diturunkan ke bumi.


Baca juga: Tafsir Surat Al A’raf ayat 12-17


Ayat 18

Ayat ini menerangkan sekali lagi, tentang laknat Allah terhadap Iblis dan mengusirnya keluar dari surga dalam keadaan hina dan terkutuk. Barang siapa dari anak cucu Adam terpengaruh oleh Iblis dan mereka mengikuti kemauannya, menempuh jalan sesat, menyeleweng dari akidah tauhid kepada kepercayaan syirik, mereka akan dimasukkan-Nya bersama Iblis ke dalam neraka. Firman Allah:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ  ٨٢  اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ  ٨٣

(Iblis) menjawab, ”Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” (Shad/38: 82-83)

Ayat 19

Ayat ini menerangkan bahwa setelah Allah memerintahkan Iblis keluar dari surga karena keangkuhan dan kesombongannya, maka Dia menyuruh Adam agar menempati surga bersama istrinya Siti Hawa, dan membolehkan mereka makan segala yang ada di dalamnya dengan sepuas-puasnya kecuali satu pohon tertentu di dalamnya. Apabila mereka melanggar larangan itu, maka mereka berarti zalim karena telah melakukan pelanggaran.

Ayat 20

Ketika Iblis mengetahui dan melihat kebebasan yang diberikan kepada Adam dan istrinya begitu luas di dalam surga, dan kesenangan yang begitu banyak ia merasa tidak senang dan timbul rasa dengki dan bencinya. Mulailah dia berupaya untuk menipu Adam dan isterinya, agar kebebasan dan kesenangan yang diberikan Allah kepada Adam dan istrinya di dalam surga hilang dan lepas dari padanya. Akhirnya dia menemukan suatu cara, lalu dibisikkannya ke telinga keduanya: “Wahai Adam, tahukah kamu kenapa Allah melarang kamu bedua mendekati pohon itu dan makan buahnya? Sebenarnya larangan itu dimaksudkan agar kamu berdua tidak seperti malaikat yang mempunyai kelebihan dibanding dengan makhluk yang lain seperti kekuatan hidup sepanjang masa, tidak mati dan sebagainya, dan agar kamu tidak tetap dan tinggal di surga secara bebas dan bersenang-senang dengan sepuas hatimu. Jadi kalau kamu berdua ingin menjadi seperti malaikat dan tetap diam di surga ini dengan senang dan tenang disertai dengan kebebasan yang penuh, maka makanlah buah pohon yang dilarang kamu mendekatinya itu”.

Ayat 21

Untuk menguatkan bisikan jahat dan tipu dayanya itu dia bersumpah kepada Adam dan Hawa, bahwa dia sebenarnya adalah pemberi nasihat yang benar-benar menginginkan kebahagiaan keduanya dan apa yang dinasihatkannya itu adalah benar. Perlu diingat bahwa Al-Qur′an tidak menyebut nama istri Adam itu.

Ayat 22

Iblis menunjukkan kesungguhannya, sehingga Adam tidak melihat sedikit pun sesuatu yang mencurigakan. Apa yang dikemukakan Iblis dan dianjurkannya itu adalah bohong atau tipu daya belaka, maka keduanya terpengaruh dengan bujukan Iblis penipu itu, lalu mereka makan buah pohon yang dilarang oleh Allah untuk mendekatinya. Lalu keduanya lupa sama sekali akan kedudukan mereka dan larangan Allah kepada mereka, sebagaimana firman Allah:

وَلَقَدْ عَهِدْنَآ اِلٰٓى اٰدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهٗ عَزْمًا

Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya. (Thaha/20: 115)

Al-Qur’an tidak menyebutkan siapa yang terlebih dahulu makan buah larangan itu, apakah Adam atau Hawa. Untuk itu pencarian informasi tentang hal ini tidaklah penting.

Setelah kejadian tersebut, Allah mencela Adam karena tidak mengindahkan larangan-Nya dan tidak mematuhi-Nya, sehingga ia teperdaya dan menuruti bujukan Iblis penipu itu. Lalu Allah memperingatkannya, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua mendekati pohon itu dan makan buahnya, dan Aku telah menandaskan kepadamu bahwa setan itu adalah musuhmu yang nyata, apabila kamu menuruti kemauan dan kehendaknya, Aku akan mengeluarkan kamu dari kehidupan yang lapang, senang dan bahagia kepada kehidupan yang penuh kesulitan, penderitaan dan kesusahan.” Sejalan dengan hal tersebut, Allah berfirman:

فَقُلْنَا يٰٓاٰدَمُ اِنَّ هٰذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقٰى

Kemudian Kami berfirman, ”Wahai Adam! Sungguh ini (Iblis) musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti kamu celaka.”  (Thaha/20: 117)

Ayat 23

Setelah Adam dan istrinya menyadari kesalahan yang diperbuatnya, yaitu menuruti ajakan setan dan meninggalkan perintah Allah, dia segera bertobat, menyesali perbuatannya. Allah mengajarkan kepada keduanya doa untuk memohon ampun. Kemudian dengan segala kerendahan hati dan penuh khusyuk, mereka pun berdoa.

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

Keduanya berkata, ”Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”  (al-A’raf/7: 23)

Berkat ucapan doa yang benar-benar keluar dari lubuk hatinya dengan penuh kesadaran disertai keikhlasan, maka Allah memperkenankan doanya, mengampuni dosanya dan melimpahkan rahmat kepadanya. Firman Allah:

فَتَلَقّٰٓى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (al-Baqarah/2: 37).


Baca juga: Benarkah Nabi Adam AS Penghuni Pertama di Bumi?


(Tafsir Kemenag)

 

Tafsir Surat Al A’raf ayat 12-17

0
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102
Tafsir Surat Al A'raf ayat 101-102

Tafsir Surat Al A’raf ayat 12-17 menceritakan peristiwa dikeluarkannya Iblis dari surga sebab tidak melaksanakan perintah Allah SWT. Salah satu penyebab keluarnya Iblis dari surga adalah sikap sombong Iblis yang merasa dirinya lebih mulia dari Nabi Adam, manusia pertama yang Allah ciptakan, sehingga ketika Allah memerintahkan kepada semua makhluk untuk bersujud kepada Nabi Adam hanya Iblis yang menolak untuk melakukannya. Selengkapnya silahkan membaca tafsir surat al-a’raf ayat 12-17 di bawah ini.


Baca juga: Tafsir Surat al-A’raf Ayat 12: Congkak Bentuk Pembangkangan Iblis terhadap Allah


Ayat 12

Allah bertanya kepada Iblis, “Apakah gerangan yang menyebabkan kamu membangkang perintah kami, enggan sujud kepada Adam ketika Kami memerintahkan yang demikian itu? Dengan penuh kesombongan setan menjawab, “Saya tidak akan sujud kepada Adam untuk menghormatinya, karena saya lebih tinggi dan lebih mulia dari Adam, saya Engkau ciptakan dari api sedang Adam Engkau ciptakan dari tanah”. Iblis menganggap api itu lebih mulia dari tanah.

Ayat 13

Setelah Allah melihat tingkah laku Iblis yang menyombongkan diri, karena menganggap bahwa dia lebih mulia dari Adam a.s. yang menyebabkan dia durhaka dan membangkang dan tidak taat pada perintah-Nya, maka ia diperintahkan oleh Allah agar turun dari surga, tempat dia berada waktu itu, karena tempat itu adalah diperuntukkan bagi hamba-Nya yang ikhlas dan rendah hati dan bukanlah tempat untuk memperlihatkan keangkuhan dan kesombongan. Kemudian disusul dengan perintah agar dia keluar dari tempat itu, karena dia telah termasuk makhluk yang hina tidak sesuai dengan tempat yang mulia dan terhormat itu.

Ayat 14

Ketika Iblis mendengar perintah Allah itu agar ia turun dan keluar dari surga, maka Iblis minta dipanjangkan umurnya dan jangan dimatikan dahulu, begitu juga keturunannya sampai hari kebangkitan di hari kemudian, agar waktu yang cukup lama dan panjang itu dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk menggoda dan menyesatkan Adam dan anak-cucunya selama hidup di dunia.

Ayat 15

Permintaan Iblis agar tetap hidup bersama keturunannya selama anak-cucu Adam masih ada di dunia diperkenankan Allah sampai pada tiupan sangkakala pertama saja, ketika semua penghuni bumi ini mati sekaligus, termasuk Iblis dan keturunannya, dan isinya hancur musnah. Pada tiupan sangkakala kedua, semua manusia akan hidup kembali dan bangkit dari kematian.

Firman Allah:

قَالَ رَبِّ فَاَنْظِرْنِيْٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ  ٧٩  قَالَ فَاِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَۙ  ٨٠  اِلٰى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُوْمِ  ٨١ ;

(Iblis) berkata, ”Ya Tuhanku, tangguhkanlah aku sampai pada hari mereka dibangkitkan.”  (Allah) berfirman, ”Maka sesungguhnya kamu termasuk golongan yang diberi penangguhan, sampai pada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).” (Shad/38: 79-81)

Firman-Nya lagi:

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَصَعِقَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ اِلَّا مَنْ شَاۤءَ اللّٰهُ ۗ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ اُخْرٰى فَاِذَا هُمْ قِيَامٌ يَّنْظُرُوْنَ  ;

Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah). (az-Zumar/39: 68)

Ayat 16

Ayat ini menerangkan ancaman Iblis kepada Adam dan anak-cucunya. Karena Allah telah menghukum Iblis akibat keangkuhan dan kesombongannya sendiri, maka ia bersumpah akan berusaha sekuat tenaga menghalangi anak-cucu Adam dari jalan yang lurus untuk menyesatkan mereka sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ

(Iblis) menjawab, ”Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya”. (Shad/38: 82)

Iblis akan berusaha mencegah dan menghalang-halangi anak cucu Adam a.s. menempuh jalan yang lurus, jalan yang hak, jalan yang diridai Allah, jalan yang akan menyampaikan mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ayat 17

Iblis melihat bahwa sekedar menghalang-halangi anak-cucu Adam a.s. menempuh jalan yang lurus tidaklah cukup, karena itu dia akan mendatangi dan menyerbunya dari segala penjuru; dari depan dan dari belakang; dari arah kanan dan kiri, yang menurutnya ada kelemahan anak cucu Adam. Iblis yakin dengan strategi seperti itu banyak dari mereka yang akan tergoda, terpengaruh dan teperdaya sehingga iman yang ada di dada mereka menjadi lemah dan luntur, ajaran agama berangsur-angsur diragukan dan didustakan, hari Kiamat dan segala peristiwanya diingkari, amal-amal kebaikan ditinggalkan. Mereka tidak sanggup menguasai hawa nafsu, sebaliknya merekalah yang dikuasai oleh hawa nafsu, Allah memperingatkan dengan firman-Nya:

لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ وَمِمَّنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ اَجْمَعِيْنَ

“Sungguh, Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan kamu dan dengan orang-orang yang mengikutimu di antara mereka semuanya.” (Shad/38: 85)

Rencana dan target Iblis seperti tersebut di atas, benar-benar berhasil:

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ اِبْلِيْسُ ظَنَّهٗ فَاتَّبَعُوْهُ اِلَّا فَرِيْقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya mereka, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin. (Saba′/34: 20)


Baca Juga: Ketika Iblis Membangkang Sujud Kepada Adam


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Yasin Ayat 13-14: Utusan Itu Hanya Bertugas Menyampaikan

0
Surat Yasin Ayat 13-14
Surat Yasin Ayat 13-14

Sebelumnya, dalam tafsir surat Yasin ayat 11-12 telah dibahas mengenai kekuasaan Allah swt atas segala sesuatu dan salah satunya adalah kuasa untuk memberikan hidayah kepada siapun yang Ia kehendaki. Kali ini dalam tafsir surat Yasin ayat 13-14 kita akan membahas mengenai para utusan yang didustakan oleh kaumnya. Bunyi ayatnya sebagai berikut:

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا اَصْحٰبَ الْقَرْيَةِۘ اِذْ جَاۤءَهَا الْمُرْسَلُوْنَۚ

اِذْ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوْهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوْٓا اِنَّآ اِلَيْكُمْ مُّرْسَلُوْنَ

Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan datang kepada mereka;

(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga (utusan itu) berkata, “Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.”

Tafsir Kemenag memberikan informasi bahwa ayat tersebut merupakan perintah kepada Nabi Muhammad saw supaya menceritakan kisah “Ashab al-Qaryah”, agar menjadi peringatan bagi orang-orang yang mengingkari risalahnya. Terutama bagi orang kafir Mekah pada waktu itu. Mengenai “Ashab al-Qaryah” ini, para mufassir berbeda pendapat.

Mufassir klasik, semisal al-Suyuti, Ibnu Katsir, dan Nawawi a-Bantani, sepakat bahwa yang dimaksud “Ashab al-Qaryah” adalah Antokiah, sebuah kota di bawah kekuasaan Romawi. Dalam Al-Misbah, Quraish Shihab menyebutnya dengan Antiokhiah, sebuah kota lama di hulu sungai al-Ashy. Saat ini termasuk dalam wilayah Suriah. Menariknya Quraish Shihab memiliki analisis berbeda dengan mufassir-mufassir di atas.

Quraish mengatakan bahwa Antiokhiah ini tidak mempunyai rekam jejak buruk terkait dengan pembinasaan penghuninya. Baik di masa Nabi Isa as maupun sebelumnya. Sedangkan kisah “Ashab al-Qaryah” tersebut bercerita tentang pembinasaan suatu kaum akibat pembangkangannya. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa penduduk Antoikhiah dikenal sebagai penduduk pertama yang menerima risalah Nabi Isa as.

Baca juga: Tafsir Surat Yusuf Ayat 1-2: Alasan Al-Quran Diturunkan dengan Bahasa Arab

Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, pengisahan tentang “Ashab al-Qaryah” dalam Tafsir surat Yasin ayat 13-14 ini merupakan peringatan kepada orang-orang yang ingkar kepada risalah Nabi Muhammad saw tentang bagaimana “Ashab al-Qaryah” tersebut juga mengingkari risalah Nabi Isa as dan akhirnya dibinasakan oleh Allah swt. Tentunya kejadian ini diharapkan tidak terulang kembali dengan cara mengambil hikmah atas kisah tersebut.

Terkait dengan siapakah utusan yang diperintahkan untuk berdakwah kepada “Ashab al-Qaryah”, para mufassir berbeda pendapat. Ibn Katsir mengatakan ketiganya bernama Sadiq, Saqduq, dan Syalum. Al-Shawi mengatakan Sadiq, Masduq, dan Syam’un. Sedangkan al-Bantani mengatakan Yuhana, Paulus, dan Syam’um. Setiap mufassir mempunya argumentasinya tersendiri dalam menentukan nama-nama tersebut.

Untuk mengetahui lebih lengkapnya tentang riwayat mengenai perbedaan-perbedaan tersebut, bisa merujuk pada kitab al-Dur al-Masur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur karya Jalaluddin al-Suyuti. Namun yang terpenting adalah bagaimana fakta ketiga utusan Nabi Isa as tersebut diingkari oleh “Ashab al-Qaryah”.

Dikisahkan bahwa tiga utusan tersebut tidak datang secara bersamaan. Dua utusan lebih dahulu mendatangi “Ashab al-Qaryah”. Mereka mendakwahkan risalah Nabi Isa as kepada penduduk wilayah tersebut. Menurut al-Shawi kedua utusan ini juga memiliki kemampuan menyembuhkan segala penyakit dan salah satu cara dakwah yang dipakai mereka adalah menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Salah satu penyakit yang berhasil disembuhkan adalah kelumpuhan yang diderita salah seorang dari “Ashab al-Qaryah”. Namun tetap saja mereka semua ingkar terhadap kedua utusan tersebut. Al-Shawi mengishakan bahwa dakwah keduanya berakhir tragis, yakni mereka berdua berakhir di tiang disalib.

Baca juga: Tafsir Surat An-Nahl Ayat 68-69: Keistimewaan Lebah dalam Al-Quran

Lalu Allah datangkan lagi seorang utusan untuk mengukuhkan kebenaran yang disampaikan dua orang sbelumnya. Namun hasilnya sama saja, mereka tetap mengingkarinya. Dari kisah ini hikmah apa yang bisa kita dapat. Mengenai hal ini Quraish mengemukakan analis menarik.

Menurutnya, ayat ini merupakan salah satu bukti menyangkut kebebasan beragama. Pasalnya meskipun Allah swt telah mengukuhkan kebenaran para utusan tersebut, namun Allah swt tidak memaksakan mereka untuk percaya. Karena tugas seorang pengajur kebaikan hanyalah menyampaikan bukan memaksakan.

Hal itu terbukti dengan sikap kepasrahan yang dimiliki oleh ketiga utusan tersebut dan juga sikap yang dimiliki oleh Nabi Muhammad saw ketika menghadapi kaumnya. Tidak pernah ada pemaksaan apapun. Karena sejatinya perbuatan dan pilihan setiap orang akan kembali kepada dirinya sendiri. Quraish Shihab mengatakan bahwa Allah swt hanya menerima keimanan yang tulus, sehingga setiap orang bebas memilih jalan yang dikehendakinya.

Kiranya demikian penjelasan singkat mengenai tafsir surat Yasin ayat 13-14. Untuk mengetahui bagaiamana kelanjutan kisah “Ashab al-Qaryah” tersebut, nantikan pembahasan selanjutnya. Wallahu A’lam.

Surat Ali Imran [3] Ayat 19: Makna Agama Islam dalam Al-Quran

0
Surat Ali Imran Ayat 19
Surat Ali Imran Ayat 19

Belakangan ini terjemah Al-Qur’an sering mendapat sorotan oleh khalayak ramai, terutama para ahli dan pengkaji Al-Qur’an. Sebab, beberapa pendakwah kadangkala menyampaikan nasihat hanya berdasarkan terjemah Al-Qur’an tanpa melihat makna ayat secara mendalam. Akibatnya, makna ayat Al-Qur’an mengalami distorsi signifikan. Misalnya, surat Ali ‘Imran [3] ayat 19 yang berbicara tentang legalitas agama Islam disalahpahami sebagai ayat justifikasi untuk menyalahkan agama orang lain.

Memahami surat Ali ‘Imran [3] ayat 19 – yang berbicara tentang legalitas agama Islam – sebagai dalil bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diterima Allah swt tidaklah keliru. Karena pemahaman seperti ini sesuai dengan literal ayat. Hanya saja, terjemahan populer ini belum sepenuhnya mengungkap makna ayat tersebut, bahkan pada kondisi tertentu dapat menimbulkan kerancuan dan fanatisme dalam beragama.

Apakah Islam adalah satu-satunya Agama yang diterima Allah Swt?

Allah swt berfirman:

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ فَاِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ ١٩

Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (Surat Ali ‘Imran [3] ayat 19).

Surat Ali ‘Imran [3] ayat 19 di atas secara umum berbicara mengenai legalitas agama Islam di sisi Allah swt. Sebagian orang memahami ayat ini sebagai alat justifikasi pembenaran agama Islam di atas agama-agama lain di dunia. Pemahaman tersebut biasanya mengacu pada terjemah Al-Qur’an. Misalnya, terjemah Kemenag pada tahun 2002 memaknainya sebagai, “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.

Menurut Quraish Shihab, “Terjemah atau makna itu, walau tidak keliru, belum sepenuhnya jelas, bahkan dapat menimbulkan kerancuan pemahaman. Oleh karena itu, butuh penjelasan lebih lanjut untuk memahami maknanya yang terdalam.” Agar kita menemukan pemahaman yang lengkap, maka ayat ini perlu dihubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya.

Pada ayat sebelumnya Al-Qur’an menegaskan bahwa tiada Tuhan – yakni Penguasa yang memiliki dan mengatur seluruh alam – kecuali Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Jika demikian, ketundukan dan ketaatan kepada-Nya adalah keniscayaan yang tidak terbantahkan, sehingga hanya keislaman – yakni penyerahan diri secara penuh kepada Allah – yang diakui dan diterima di sisi-Nya.

Surat Ali ‘Imran [3] ayat 19 menurut Ibnu Katsir mengandung pesan Allah bahwa tiada agama di sisi-Nya, dan yang diterima-Nya dari seorang pun kecuali Islam, yakni mengikuti rasul-rasul yang diutus-Nya setiap saat hingga berakhir dengan Muhammad saw. Dengan kehadiran beliau, maka telah tertutup semua jalan menuju Allah swt kecuali jalan dari arah beliau.

Pendapat Ibnu Katsir di atas didasarkan pada Firman Allah swt surat Ali ‘Imran [3] ayat 85 yang berbunyi:

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ٨٥

Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.”

Menurut sebagian ulama, Islam dalam ayat ini adalah agama para nabi. Istilah Muslimin juga digunakan bagi umat-umat para nabi terdahulu. Asy-Sya’rawi misalnya, menyatakan bahwa Islam tidak terbatas hanya pada risalah nabi Muhammad saw, tetapi Islam adalah ketundukan makhluk kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam ajaran yang dibawa oleh para rasul, yang didukung oleh mukjizat dan bukti-bukti yang meyakinkan.

Hanya saja – kata Asy-Sya’rawi – kata Islam untuk ajaran para nabi yang lalu merupakan sifat saja, sedangkan umat nabi Muhammad saw memiliki keistemewaan dari sisi kesinambungan sifat itu bagi agama umat Muhammad saw sekaligus menjadi tanda dan nama baginya. Oleh sebab itu, kaum Muslimin tidak menamai ajaran agama Islam dengan Muhammadinisme.

Jika kita mencermati ayat-ayat Al-Qur’an, maka tidak ditemukan kata Islam sebagai nama agama kecuali setelah agama ini sempurna dengan kedatangan nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, tidak keliru jika kata Islam dalam surat Ali ‘Imran [3] ayat 19 dimaknai dengan ajaran yang dibawa oleh Muhammad saw dan sebagai bukti legalitas agama Islam di sisi Allah swt. Sebab secara teologis maupun sosiologi, itulah nama ajaran yang disampaikan olehnya.

Surat Ali ‘Imran [3] ayat 19 merupakan legalitas agama Islam di sisi Allah swt. Namun kendati demikian, jangan membatasi Islam hanya pada ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Sebab, ajaran-ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi terdahulu juga merupakan agama Islam. Ayat ini sebenarnya ingin menekankan bahwa siapapun – sejak Adam hingga akhir zaman – yang tidak menganut agama sesuai yang diajarkan oleh rasul utusan Allah, maka ia tertolak.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kata Islam memuat dua makna, yakni secara umum dan khusus. Secara umum Islam adalah agama ketundukan dan ketaatan kepada Allah yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul sepanjang zaman. Sedangkan Islam secara khusus adalah nama agama yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Keduanya – agama nabi terdahulu dan Islam yang dibawa nabi Muhammad adalah agama yang diterima di sisi Allah swt. Wallahu a’lam.

Muhammad Syahrur, Salafisme dan Hakikat al-Qur’an Shalih li Kulli Zaman wa Makan

0
Muhammad Syahrur
Muhammad Syahrur ilustrasi: alaraby.co.uk

Muhammad Syahrur mungkin dikenal sebagai tokoh cendekiawan Islam modern yang diklaim menyuguhkan gagasan-gagasan “kontroversial”. Namun perlu diketahui bahwa tidak semua gagasan Syahrur dapat digeneralisir sebagai gagasan “kontroversial”, sebab banyak hal yang bisa dipelajari dari keinginannya untuk melakukan pembaharuan kajian Islam.

Salah satunya yang akan dibahas pada tulisan kali ini terkait komentarnya mengenai gerakan Salafisme dan hakikat al-Qur’an shalih li kulli zaman wa makan. Kedua term pembahasan ini bisa dibilang sangat berkaitan dan bisa dijadikan sebagai pertimbangan dalam melihat berbagai fenomena sosial-keagamaan dewasa ini.

Biografi

Muhammad Syahrur adalah salah satu tokoh cendekiawan Islam modern yang pemikirannya banyak dikaji di kalangan intelektual Islam. Syahrur memiliki nama lengkap Muhammad Da’ib Syahrur. Ia lahir di kota Damaskus, Suriah pada tanggal 11 Maret 1938.

Jika menelusuri jejak perjalanan akademiknya, maka tidak ditemukan bahwa Syahrur adalah seorang yang menekuni kajian Islam sejak dini. Di kampung halamannya, Syahrur menyelesaikan pendidikan ibtidaiyah dan tsanawiyah di madrasah atau sekolah yang tidak fokus pada kajian keilmuan Islam.

Baca Juga: Mengenal Nasr Hamid Abu Zaid, Pengkaji Al-Quran Kontemporer Asal Tanta, Mesir

Selepas lulus, Syahrur melanjutkan pendidikan tingginya di Moskow, Rusia, tepatnya di Moskow Engineering Institute dan mengambil jurusan Teknik Sipil. Setelah menjadi sarjana, tahun 1965 ia diterima menjadi pengajar di Universitas Damaskus dan di tahun 1969 dikirim untuk melanjutkan studi pascasarjananya di National University of Irlandia. Ia pun lulus sebagai doktor di tahun 1972 dengan spesialisasi Teknik Tanah dan Bangunan.

Kedatangannya di Irlandia menjadi awal mula alasannya tertarik pada kajian keIslaman. Ia merasa kajian Islam di dunia Barat begitu minim dan sudah terbelenggu oleh kotak-kotak aliran yang saling mendominasi (Sunni-Muktazilah-Syiah) serta taqlid pada pandangan Fiqh Klasik. Maka ia pun mulai bergelut pada kajian keIslaman dan menuliskan gagasan-gagasannya yang dinilai sebagai gagasan pembaharuan.

Di antara karya-karya Syahrur yang menjadi buah gagasannya ialah al-Kitab wa al-Qur’an: Qira’ah Mu’ashirah, Dirasah a-Mua’ashirah fi Daulah wa al-Mujtama’, al-Iman wa al-Islam: Mandzhumah al-Qiyam, Nahwa Ushul Jadidah li al-Fiqh al-Islami.

Muhammad Syahrur wafat di usia 81 tahun di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Sebelum wafat, ia berwasiat agar jasadnya dimakamkan di Damaskus, Suriah tempat di mana ia dilahirkan dan dibesarkan.

Salafy dan Sikap Terhadap Turats

Salah satu yang menjadi kegelisahan intelektual Muhammad Syahrur adalah kekeringan kajian Islam saat ini, khususnya di tanah Arab, yang disebabkan oleh kebergantungan umat Islam pada epistemologi Islam doktrinal era klasik-pertengahan. Lahirnya aliran-aliran konservatisme Islam yang justru mendorong umat muslim untuk kembali pada epistemologi pemikiran Islam generasi salaf menjadi bukti nyata bahwa adanya krisis ijtihad dan metodologi dalam tubuh Islam.

Dalam muqaddimah salah satu kitabnya yang fenomenal sekaligus kontroversial, al-Kitab wa al-Qur’an: Qira’ah Mu’ashirah, Syahrur secara gamblang menyebut salafy sebagai salah satu aliran konservatisme sekaligus memberikan tawaran metodologi baru dalam upaya memahami al-Qur’an serta turast yang menjadi warisan intelektual masa lampau.

Bagi Syahrur, Salafy adalah sebuah aliran pemahaman yang menyerukan untuk mengikuti jalan (pemahaman) salaf al-shalih dengan tanpa membuka mata atas perbedaan realitas konteks yang ada. Salafi adalah seorang muqallid yang buta, ia tak mampu membedakan bahwa dirinya sedang hidup di zaman yang sangat jauh rentangnya dari zaman yang ia ikuti, seorang yang hidup di abad 21 dan taqlid generasi yang hidup di abad ke-7 (dalam kalender Masehi).

Padahal sikap taqlid itu seharusnya mustahil dilakukan sebab kita hanya bisa mengakses dokumen-dokumen sejarah (al-turats al-tarikhi), sehingga tidak akan bisa memahami konteks yang terjadi di abad ke-7 sebagaimana pemahaman anak zamannya.

Dalam membahas tentang tentang turats, Syahrur menjelaskan bahwa turats adalah produk material maupun pemikiran yang ditinggalkan atau diwariskan oleh generasi terdahulu kepada generasi masa kini, yang memainkan peran penting dalam pembentukan masyarakat terdahulu baik dalam membentuk pola pikir (mode of thought) maupun pola tindakan (mode of conduct).

Maka hal penting yang perlu dicatat adalah bahwa turats adalah produk atau wujud dari aktifitas manusia yang berkelindan dengan zamannya (muta’aqib bi zamanih), sehingga dalam berinteraksi dengan turats yang sifatnya nisby (relatif) dan temporal, Syahrur menginginkan agar pembacanya menggunakan metode pembacaan yang kontemporer dalam membacanya (qira’ah mu’ashirah).

Adapun yang dimaksud dengan qira’ah mu’ashirah adalah pembacaan yang mengedepankan dialektika antara produk peninggalan generasi (turats) terdahulu dengan pembaca yang terikat dengan konteksnya sendiri. Implikasinya, pembaca tidak harus berafiliasi sepenuhnya dengan turats, namun ia berhak memilah dan memilih informasi yang terdapat dalam turats yang memiliki kebermanfaatan bagi pembaca dan masanya serta bagi generasi di masa yang akan depan.

Dengan begitu, Salafy telah salah dalam mengambil sikap terhadap turats, sebab telah menempatkan turats sejajar dengan teks suci yang sakral. Implikasinya, teks al-Qur’an tidak membutuhkan lagi pengembangan pemahaman ataupun penalaran, sehingga al-Qur’an cukup dibaca saja dan adapun jika ingin memahaminya cukup kembali pada turats yang telah ada.

Maka dari sinilah terjadi vernakularisasi, yaitu terjadinya pergeseran dari al-Qur’an yang memegang otoritas tunggal terhadap maknanya menuju pada turats. Inilah justru yang menyebabkan tertutupnya karakter al-Qur’an sebagai kitab yang shalil li kulli zaman wa makan.

Al-Qur’an: Shalih li kulli Zaman wa Makan

Al-Qur’an bagi Syahrur bukanlah turats, sebab al-Qur’an adalah wahyu Tuhan yang di dalamnya terdapat dimensi absolusitas Tuhan dalam kandungan maknanya (al-muhtawa), sehingga otoritas kebenaran makna bukanlah milik manusia. Namun sebagai kitab yang ditujukan kepada manusia, al-Qur’an juga memuat muatan nisbiyah atau relativitas yang diwakilkan oleh pemahaman manusia atasnya.

Konsekuensi atas pendapat Syahrur di atas adalah bahwa turats yang hadir atas pemahaman terhadap al-Qur’an baik dari sisi pemaknaannya secara komprehensif yang diwakilkan oleh kitab-kitab tafsir (klasik-pertengahan) maupun dari sisi yuridisnya saja yang diwakilkan oleh kitab-kitab fiqh bersifat nisby yakni relatif dan temporal sehingga tidak sepatutnya dijadikan pegangan bagi generasi yang hidup di era modern-kontemporer.

Maka Syarur berkesimpulan bahwa semestinya untuk mengatakan bahwa al-Qur’an shalih li kulli zaman wa makan, al-Qur’an harus diibaratkan sebagai kitab yang turun di zaman kita dan Nabi Muhammad sebagai penyampai risalahnya diumpakan diutus di zaman kita.

Baca Juga: Muhammad al-Ghazali, Mufassir Penggerak Hermeneutika dari Timur Tengah

Dengan begitu seorang pembaca akan mampu berinteraksi dengan al-Qur’an dengan menggunakan berbagai pendekatan yang berkembang di zamannya, serta mampu memproduksi pemaknaan yang tepat terhadap al-Qur’an dan relevan juga ramah dengan konteks zamannya, sehingga tidak terjebak pada pemahaman turats yang disinyalir sudah tidak relevan bagi masa kini.

Walhasil, bagaimanapun pemikiran Syahrur dengan segala “kontroversi” yang diklaim ada di dalamnya, tetap ada hikmah dan pelajaran yang bisa diambil. Adapun jika ada yang dinilai tidak sesuai di dalamnya, maka boleh ditinggalkan atau dikritisi secara akademik. Sebab sebagai muslim yang open-minded dan berwawasan sudah semestinya menyikapi perbedaan pemikiran sebagai bagian dari warna-warna yang menghiasi Islam layaknya pelangi. Wallahu a’lam.

Memahami Makna Nisyan dan Penyebabnya di dalam Al-Quran

0
makna nisyan
makna nisyan

Kata nisyan merupakan bentuk mashdar dari lafad nasiya yang mempunyai arti melupakan atau melalaikan. Dalam Lisan al-‘Arab disebutkan bahwa kata nisyan merupakan lawan dari kata adz-dzikr yang mempunyai arti mengingat. Di dalam Al-Quran, kata nisyan dan derivasinya disebutkan banyak sekali, baik dalam bentuk fi’il madhi, fi’il mudhari’ majhul maupun ma’lum, fa’il, mashdar, dan lainnya. Pertanyaannya kemudian, apa makna nisyan di dalam Al-Quran? Berikut penjelasannya:

Pertama, nisyan bermakna meninggalkan, sebagaimana firman-Nya:

وَلَقَدۡ عَهِدۡنَآ إِلَىٰٓ ءَادَمَ مِن قَبۡلُ فَنَسِيَ وَلَمۡ نَجِدۡ لَهُۥ عَزۡمٗا

Artinya: Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya. (Q.S Thaha: 115)

Baca Juga: Memahami Makna Kata Ikhlas dan Penafsirannya dalam Al-Quran

Dalam Tafsir At-Thabari disebutkan suatu hadis yang diriwayatkan oleh Ibn ‘Abbas, bahwasanya lafad nasiya pada ayat tersebut bermakna meninggalkan. Dalam hal ini Nabi Adam As. meninggalkan apa yang telah diperintahkan oleh Allah swt dan mengikuti bujukan setan.

Selain itu, nisyan bermakna meninggalkan juga terdapat dalam Q.S. Al-An’am: 44, Q.S. Al-Maidah : 13, Q.S. At-Taubah: 67, Q.S. al-Baqarah : 106 dan 237, Q.S. Al-A’raf : 51 dan 165, Q.S. Al-kahfi: 73, Q.S. Thaha: 115 dan 126.

Kedua, makna nisyan berikutnya adalah melupakan, lupa atau dilupakan, sebagaimana firman-Nya:

قَالَ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا

Artinya: Dia (pembantunya) menjawab, “Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. (Q.S al-Kahfi: 63).

Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Musa As pernah melakukan sebuah perjalanan jauh bersama dengan muridnya. Di tengah perjalanan, muridnya merasa letih dan lapar. Kemudian Nabi Musa As meminta muridnya untuk mengambil makanan. Namun muridnya lupa menceritakan kepada Nabi Musa As bahwa ketika dalam perjalanan sebelumnya ia telah melihat ikan. Kelupaan murid Nabi Musa As untuk menceritakan tentang ikan tersebut tidak lain disebabkan oleh syaitan.

Selain itu, makna nisyan melupakan, lupa atau dilupakan juga terdapat dalam Q.S. Maryam: 23, Q.S. Al-An’am :68.

Baca Juga: Memahami Makna Kata Jaza dalam Al-Quran dan Penggunaannya

Penyebab Nisyan dalam Al-Quran

Selanjutnya, di dalam beberapa ayat Al-Quran yang lain disebutkan bahwasanya ada tiga penyebab seseorang meninggalkan, melupakan, lupa atau dilupakan, berikut penjelasannya:

Pertama, nisyan yang disebabkan oleh setan, sebagaimana firman-Nya:

وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Artinya: Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zhalim. (Q.S Al-An’am: 68).

Pada ayat tersebut dijelaskan bahwasanya ketika terdapat sekelompok orang yang menghina Al-Quran, maka tinggalkanlah mereka. Apabila setan telah menjadikan kita lupa akan peringatan tersebut, maka janganlah ikut bergabung bersama mereka. Selain itu, disebutkan juga dalam Q.S. Yusuf: 42 dan Q.S. Al-Kahfi: 63.

Kedua, nisyan yang disebabkan oleh diri sendiri dalam sebuah perjanjian, sebagaimana firman-Nya:

إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ وَٱذۡكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلۡ عَسَىٰٓ أَن يَهۡدِيَنِ رَبِّي لِأَقۡرَبَ مِنۡ هَٰذَا رَشَدٗا

Artinya: Kecuali (dengan mengatakan), “Insya Allah.” Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat (kebenarannya) daripada ini. (Q.S Al-Kahfi: 24).

Pada ayat tersebut dijelaskan bahwasanya menurut Ibn ‘Abbas ketika seseorang telah menetapkan sebuah perjanjian yang akan dilakukan maka hendaknya mengucapkan kalimat “Insya Allah” dengan harapan perjanjian yang akan dilakukan benar-benar akan terjadi. Jika seseorang tidak mengucapkannya, maka Allah swt bisa saja akan menjadikan seseorang itu lupa terhadap janjinya.

Baca Juga: Inilah Makna Qishash Menurut Al-Quran, Berikut Penjelasannya

Ketiga, nisyan yang disebabkan oleh diri sendiri dengan sengaja dalam hal keburukan, sebagaimana firman-Nya:

فَذُوقُواْ بِمَا نَسِيتُمۡ لِقَآءَ يَوۡمِكُمۡ هَٰذَآ إِنَّا نَسِينَٰكُمۡۖ وَذُوقُواْ عَذَابَ ٱلۡخُلۡدِ بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

Artinya: Maka rasakanlah olehmu (azab ini) disebabkan kamu melalaikan pertemuan dengan harimu ini (hari Kiamat), sesungguhnya Kami pun melalaikan kamu dan rasakanlah azab yang kekal, atas apa yang telah kamu kerjakan. (Q.S As-Sajdah: 14).

Pada ayat tersebut dijelaskan bahwasanya orang-orang yang sengaja berbuat maksiat ketika hidup di dunia, maka akan mendapat siksaan. Selain itu, disebutkan juga dalam Q.S. Al-A’raf : 51, Q.S. at-Taubah : 67, Q.S. Al-Hasyr : 19

Pada akhirnya, setan adalah musuh yang paling nyata bagi manusia. Terkadang godaannya dapat menjerumuskan manusia terhadap sesuatu yang dilarang oleh agama, na’udzubillah. Akan tetapi, sesungguhnya Allah Swt senantiasa memberikan perlindungan terhadap manusia dari godaan setan, selanjutnya tinggal manusianya saja mau melakukan atau meninggalkannya.

Wallahu A’lam

Rencana Pembunuhan Nabi Ilyas dan Bencana untuk Kaumnya

0
Rencana pembunuhan Nabi Ilyas dan bencana bagi kaumnya
Rencana pembunuhan Nabi Ilyas dan bencana bagi kaumnya

Nabi Ilyas merupakan nabi dan rasul yang diutus kepada kaum Bani Israil. Namanya disebut dua kali dalam Al-Quran. Ia disebut dalam surat Al-An’am ayat 85 dan surat As-Shaffat ayat 123. Kemudian  Nabi Iyas disebut dengan  ‘Ilyasin‘ pada surat As-Shaffat ayat 130. Salah satu kisah tentangnya, ialah rencana pembunuhan Nabi Ilyas dan balasan bagi kaumnya.

Diutusnya Nabi Ilyas kepada kaum Bani Israil merupakan kelanjutan dari dakwah Nabi Musa dan Nabi Harun. Silsilah Nabi Ilyas menurut Ibnu Ishaq dalam Tarikh Ibnu Ishaq bertemu kepada Nabi Harun yaitu Ilyas bin Yusa’ bin Fanhash bin al’Izar ibn Harun. Nabi Ilyas termasuk salah satu nabi yang sangat sabar. Dalam kisahnya diceritakan bahwa perjuangan dakwahnya ditentang oleh kaumnya Bani Israil dan juga penguasa pada saat itu. Al-Quran merekam perjuangan Nabi Ilyas beserta akhir dari kaumnya yang ditimpa bencana oleh Allah.

Baca juga: Kisah Kesabaran Nabi Yusuf Yang Membuat Kagum Nabi Muhammad

Nabi Ilyas dan kaumnya yang membangkang

Dalam surat As-Shaffat ayat 123-132, menceritakan kisah Nabi Ilyas serta respon kaumnya yang membangkang terhadap dakwah dan risalahnya. Berikut rangkaian surat As-Shaffat ayat 123-132:

وَإِنَّ إِلْيَاسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ . إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَلَا تتقُونَ . أَتَدْعُونَ بعْلًا وَتَذَرُونَ أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ . اللَّهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ آبَائِكُمُ الأوَّلِينَ . فَكَذَّبُوهُ فَإِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ . إِلا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ . وَترَكْنَا عَلَيْهِ فِي الآخِرِينَ . سَلامٌ عَلَى إِلْ يَاسِينَ . إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ . إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ 

Dan sesungguhnya Ilyas benar-benar termasuk salah seorang rasul-rasul. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya. ‘Mengapa kamu tidak bertakwa? Patutkah kamu menyembah Ba’l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, (yaitu) Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?” Maka mereka mendustakannya-, karena itu mereka akan diseret (ke neraka). kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu): “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas.” Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman”

Ayat di atas menjelaskan bahwa kaum Nabi Ilyas menyembah Ba’l. Buya Hamka menjelaskan dalam tafsir Al-Azhar bahwa Ba’l ini adalah berhala sesembahan kaum Punichia. Punichia adalah nama kaum yang dulu hidup di pantai Utara Arabia. Sementara Bek adalah nama raja penguasa pada saat Nabi Ilyas diutus.

Baca juga: Kisah Nabi Ilyas as dalam Al-Quran dan Pertemuan dengan Nabi Ilyasa as

Di banyak riwayat seperti pada Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir, Mu’jamul Buldan karya Yaqut al-Hamawa, Fathul Qadir karya As-Syaukani, dan At-Thabari dalam kitab tafsirnya Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an menyebutkan bahwa tempat diutus Nabi Ilyas adalah Ba’labak. Ba’l adalah nama berhala sesembahan kaumnya, sedang Bek adalah nama raja pengikut kaumnya yang juga membangkang. Kini daerah tersebut masuk wilayah Lebanon yang juga masih ditemui sebuah bangunan bernama Heliopolis, tempat menyembah berhala.

Buya Hamka menjelaskan bahwa kaum Nabi Ilyas telah diingatkan berkali-kali untuk mengesakan Allah dan meninggalkan sesembahan berhala mereka. Namun mereka tetap saja menolak dan berdalih bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar seperti yang dilakukan nenek moyang mereka. Padahal jelas-jelas bahwa nenek moyang mereka dahulu adalah orang-orang yang taat menyembah Allah.

Ibnu Katsir juga memberikan keterangan dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim bahwa penolakan yang terjadi juga berasal dari raja penguasa pada saat itu. Raja Bek yang awalnya beriman namun kemudian murtad mengikuti kaumnya yang menyembah berhala. Lantas mereka bersama-sama memusuhi dan menentang Nabi Ilyas. Hingga pada akhirnya tidak ada lagi yang mengikuti risalah Nabi Ilyas. Namun, Allah Maha Bijaksana dan Adil. Seperti firman-Nya dalam surat As-Shaffat ayat 127 bahwa orang-orang tersebut akan diseret ke neraka. Sedang Nabi Ilyas sendiri diangkat derajatnya dan dimuliakan namanya oleh Allah.

Rencana pembunuhan Nabi Ilyas dan bencana kekeringan untuk kaumnya

Dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim Ibnu Katsir menjelaskan peristiwa yang dialami kaum Nabi Ilyas akibat pembangkangan mereka. Diceritakan bahwa kesesatan kaumnya semakin besar. Tidak ada lagi seorang pun yang mau mengimani ajakan Nabi Ilyas, bahkan raja yang awalnya beriman murtad dan malah menentangnya bersama kaumnya.

Penentangan kaumnya pun semakin menjadi-jadi. Mereka menantang Nabi Ilyas meminta kepada Tuhannya untuk didatangkan bencana jika Tuhan yang dimaksud Nabi Ilyas itu benar-benar ada. Lalu Nabi Ilyas berdoa kepada Allah untuk memberikan pelajaran kepada mereka. Maka Allah pun menahan hujan dari mereka hingga terjadi kekeringan selama tiga tahun.

At-Thabari dalam Tafsir At-thabari menuturkan bahwa akibat bencana yang mereka alami, kaum Nabi Ilyas pun memohon agar bencana itu dilenyapkan. Jika Nabi Ilyas berhasil memenuhi permintaan mereka, mereka berjanji akan beriman kepadanya. Lantas Nabi Ilyas pun berdoa kepada Allah untuk menurunkan hujan kembali. Dan hujan pun akhirnya turun seperti biasanya. Namun, yang terjadi pada kaumnya tetap sama saja, mereka tidak mau beriman dan tetap pada kekafirannya. Mereka malah mengusir Nabi Ilyas bahkan merencanakan pembunuhan terhadapnya.

Baca juga: Kisah Nabi Yahya dalam Al-Quran: Dapat Hikmah dan Maksum Sejak Kecil

Karena pengusiran dan perencanaan pembunuhan oleh kaumnya tersebut, Nabi Ilyas pun pergi dari satu tempat ke tempat lain. Ia pernah tinggal di sebuah gua untuk bersembunyi. Ibnu Katsir menjelaskan suatu ketika raja dan Bani Israil menemukan persembunyian Nabi Ilyas. Hingga akhirnya Nabi Ilyas pun menyeberangi suatu sungai dan mendapati sebuah rumah terpencil. Nabi Ilyas meminta izin kepada tuan rumah untuk bersembunyi. Tuan rumah tersebut ternyata adalah orang yang baik hati dan mengizinkan Nabi Ilyas untuk tinggal di sana. Tuan rumah ini juga mempercayai risalah Nabi Ilyas dan di kemudian hari ia juga diangkat Allah menjadi seorang Nabi, yaitu Nabi Ilyasa.

Dalam Tafsir Al-Qur’an al-’Adhim Ibnu Katsir menjelaskan akhir dari kisah dan perjuangan Nabi Ilyas. Di dalam ketegangan dan keterasingan itu Nabi Ilyas berdoa kepada Allah agar dicabut nyawanya. Allah pun mengabulkan doa Nabi Ilyas dan mengangkatnya ke tempat yang tinggi. Ketika itu juga Nabi Ilyasa telah diangkat menjadi nabi melanjutkan risalah Nabi Ilyas. Sedang kaum Nabi Ilyas masih menuai azabnya. Kota Ba’labak mengalami kekeringan luar biasa dan telah merenggut nyawa penduduknya satu per satu. Bencana tersebut membuat kekacauan di Ba’labak hingga binatang ternak pun ikut menjadi korban bencana. Wallahu a’lam[]

Menelisik Tafsir Falsafi (3): Pro dan Kontra Tafsir Falsafi

0
tafsir falsafi
tafsir falsafi

Setiap penafsiran Al-Quran dengan pendekatan yang mengadopsi dari luar Islam selalu kontroversial. Ada ulama yang pro dan kontra perihal kontroversial tersebut. Hal ini juga terjadi pada tafsir falsafi. Tidak sedikit ulama yang menolak pendekatan falsafi ketika menafsirkan Al-Quran, serta banyak juga ulama yang mengapresiasi dan menerimanya. Berikut penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Ulama yang Kontra

Di antara tokoh yang “vokal” menentang tafsir falsafi ialah Al-Ghazali, sehingga ia merasa perlu menulis kitab khusus tentang itu dengan judul “Al-Irsyad” untuk menolak paham mereka karena al-Ghazali melihat telah banyak terjadi penyimpangan dalam berfikir filsafat, sehingga ia pun mengkriktik para filosof dengan kitabnya at-Tahafut al-Falasifah dan al-Munqidz min al-dhalal.

Perlu digarisbawahi bahwa Al-Ghazali bukanlah tokoh yang sepenuhnya menentang filsafat termasuk pula tafsir falsafi, Al-Ghazali tetap menerima pemikiran filsafat yang tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam, sebab ada beberapa pemikiran filsafat yang dianggapnya berlainan dengan Islam.

Di awal pembahasan artikel terdahulu, telah dijelaskan bahwa tafsir falsafi adalah bagian daripada tafsir bil ra’yi. Jadi cikal bakal perdebatan tafsir ini sudah dimulai sejak era tafsir bil ra’yi. Salah satu argumentasi yang digunakan adalah berdasar hadits Nabi saw, “orang yang menafsirkan Al-Quran berdasarkan pendapatnya (ra’y) maka ia sedang menyediakan tempatnya di neraka.” Berikut riwayat lengkapnya dari Imam At-Timirdzi,

(Tirmidzi berkata) Suufyān bin Waki’ menceritakan kepada kami, (Sufyan berkata): Suwaid bin `Amr al-Kalbi menceritakan kepada kami, (Suwaid berkata): Abu `Awānah menceritakan kepada kami dari `Abd al-A`lā dari Sa`id bin Jubair dari Ibn `Abbas dari Nabi Saw, beliau bersabda; takutlah kalian (hati-hati dalam memegangi) hadis-hadis dariku kecuali yang benarbenar telah aku ajarkan kepada kalian, barangsiapa berbohong atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya dari api neraka, siapa yang mengatakan sesuatu tentang Al-Quran dengan ra’yunya maka hendaklah ia menempati tempat duduknya dari api neraka. [HR. al-Tirmidzi]

Berkenaan dengan riwayat Imam Tirmidzi, Abdullah Saeed menambahkan argumentasinya dengan menukil hadits lain yang mengungkapkan pandangan bahwa tafsir bil ra’yi dilarang disebabkan, “orang yang mengatakan sesuatu tentang Al-Quran berdasarkan opininya (meskipun itu) benar, maka ia telah melakukan kesalahan.”

Argumen tersebut dilegitimasi oleh Q.S. Ali Imran [3]: 7,

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرّٰسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal. (Q.S. Ali Imran [3]: 7)

Baca juga: Menelisik Tafsir Falsafi (1): Pengertian dan Sejarah Perkembangannya

Sebagian mufasir menafsirkan ayat di atas bahwa tafsir ayat-ayat mutasyabihat hanya diketahui oleh Allah swt sehingga mayoritas ulama mencela setiap usaha untuk menafsirkan ayat-ayat tersebut.

Di antara ulama yang menolak menafsirkan ayat tersebut ialah Imam Hanbali, Ibn Taimiyah, dan Ibn Katsir, mereka menolak semua tafsir yang berbasis nalar murni sehingga Ibn Taimiyah sempat berargumen sebagaimana dikutip Abdullah Saeed dalam Interpreting the Qur’an: Toward a Cantemporary Appoach, bahwa, “Orang yang berpaling dari pandangan sahabat, tabi’in dan tafsir mereka, dan menerima apa yang bertentangan dengan pandangan mereka, berada dalam kekeliruan. Dia adalah ahli bid’ah bahkan pun jika ia adalah seorang mujtahid yang notabene apabila salah dalam berjihad akan dima’fu.

Pendapat Ibnu Taimiyah tersebut mengindikasikan bahwa ia cenderung lebih tertarik untuk mempertahankan pendapat dan pandangan para ulama salaf terkaif penafsiran Al-Quran. Di samping itu Az-Dzahabi dalam Tafsir al Mufassirun mengatakan bahwa apabila kerja penafsiran didekati dengan metode falsafi maka jauh dari pemahaman nash dan ia berkesimpulan itu sama saja dengan menjadikan agama sebagai filsafat.

Ulama Yang Pro

Kendatipun menuai pertentangan, kritik dan apatis terhadap keberadaan tafsir falsafi, namun tidak dapat dipungkiri pemikiran-pemikirna filsafat telah membuka ruang ijtihad seseorang untuk menafsirkan teks suci Al-Quran yang notabene sebagai pedoman primer umat Islam.

Menurut ulama yang pro terhadap tafsir falsafi, mereka berpendapat bahwa sesungguhnya antara filsafat dan agama dapat dikompromikan sehingga menemukan benang merah guna menyingkap makna ayat Al-Quran. Argumentasi berikutnya ialah bahwa antara filsafat dengan agama Islam tidak ada pertentangan yang signifikan, pada prinsipnya wahyu Allah swt tidak bertentangan dengan akal, keduanya berjalan beriringan sebab banyak juga ayat yang membincangkan dan menuntut manusia agar berpikir seperti afala tatafakkarun, afala ta’qilun, ulil albab, dan seterusnya.

Baca juga: Menelisik Tafsir Falsafi (2), Karakteristik, Metode dan Sumber Penafsiran

Raghib al-Asfahany dalam Mu’jam Mufradat Alfadz al-Qur’an menyampakan akal adalah kekuatan untuk menerima ilmu dan ilmu yang bermanfaat itu tak lain juga akibat dari akalnya. Hal ini didasarkan pada Q.S. Al-Ankabut ayat 43,

وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِۚ وَمَا يَعْقِلُهَآ اِلَّا الْعٰلِمُوْنَ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu. (Q.S. Al-Ankabut [29]: 43)

Dalam rangka mengotimalkan fungsi akal, maka tafsir falsafi menawarkan metode konvergensi-sinergis dengan “merekonsiliasikan” agama dengan filsafat seperti digagas oleh Al-Kindi, Ar-Razi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibn Rusyd dan filosof muslim lainnya yang dimanifestasikan dalam bentuk pentakwil terhadap nash-nash Al-Quran, terutama ayat-ayat mutasyabihat sebagaimana termaktub dalam Q.S. Ali Imran ayat 7 di atas. Pentakwilan terhadap ayat-ayat mutasyabih tersebut sudah barang tentu memberi titik terang sesuai kerja rasio serta kaidah-kaidah berfikir logis lainnya.

Lebih dari itu, Abdullah Saeed dalam Interpreting the Qur’an-nya mengatakan bahwa Ibn Rusyd berargumen bahwa tafsir berbasis nalar (takwil) tujuannya adalah untuk mengkomunikasikan dan mendialogkan pesan-pesan Al-Quran agar relevan dengan perkembangan peradaban manusia baik secara intelektual maupun sosial-budaya. Sebab kata Ibnu Rusyd, Al-Quran diturunkan untuk maslahat manusia. Dalam konteks inilah tafsir falsafi menemukan titik signifikansinya. Di antara ulama yang setuju terhadap tafsir falsafi ialah Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib, At-Thabathaba’i dalam Tafsir Al-Mizan, dan sebagainya. Wallahu A’lam.