Beranda blog Halaman 477

Tafsir Surat Al An’am Ayat 131-132

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pada pembahasan sebelumnya berbicara mengenai azab orang-orang yang ingkar atas risalah Nabi Muhammad saw, yaitu dimasukkan ke neraka, Tafsir Surat Al An’am Ayat 131-132 ini berbicara mengenai kebijaksanaan Allah swt sebelum menyiksa mereka.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 130


Sesungguhnya Allah swt tidak menganiaya mereka, akan tetapi mereka sendiri yang menganiaya dirinya sendiri. dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 131-132 di jelaskan bahwa Allah swt tidak akan mengazab suatu kamu sebelum Allah swt datangkan seorang utusan kepada mereka agar menghentikan kemaksiatan. Namun sebagian dari mereka ada yang membangkang dan menjerumuskan dirinya sendiri ke neraka.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 131-132 ini juga berbicara mengenai kebebasan manusia untuk memilih mana jalan yang terbaik untuk dirinya. Telah tampak pula perbedaan antara jalan yang bain dan buruk dengan adanya rasul sebagai pengingat bagi jin dan manusia.

Ayat 131

Pada ayat ini Allah telah menjelaskan sunah dan ketetapan-Nya sesuai dengan hikmah kebijaksanaan dan keadilan-Nya, apabila Allah hendak membinasakan suatu umat karena kedurhakaan dan kezalimannya, terlebih dahulu Allah mengutus seorang rasul yang akan memberi peringatan kepada mereka.

Allah tidak akan menurunkan azab dan siksa-Nya kepada suatu umat yang dalam keadaan lalai dan terlena sebelum mengirim rasul-Nya kepada mereka yang memberi tuntunan dan petunjuk, yang akan memperingatkan dan menimbulkan kesadaran dalam hati mereka bahwa mereka benar-benar telah sesat dari jalan yang lurus dan telah melakukan perbuatan-perbuatan tercela yang bertentangan dengan keadilan dan perikemanusiaan.

Siksaan yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya yang durhaka kepada rasul yang memberi peringatan kepada mereka, misalnya memusnahkan mereka seperti yang pernah terjadi pada kaum Ad dan Samud.

Atau siksaan yang menghinakan mereka dengan cara mengusir dan mencerai beraikan mereka, seperti yang diderita oleh Bani Israil. Ada pula siksaan yang menghancurkan kekuatan mereka, seperti yang diderita oleh kaum musyrikin Mekah.

Sesudah Nabi Muhammad diutus Allah kepada semua umat manusia, siksaan yang menghancurkan dan memusnahkan itu tidak ada lagi. Adapun malapetaka yang terjadi, seperti gempa, topan, banjir dan sebagainya, adalah cobaan dan ujian bagi umat manusia agar mereka insaf dan sadar akan kekuasaan Allah dan agar mereka selalu ingat kepada-Nya, dan tidak berpaling dari petunjuk dan ajaran yang diturunkan-Nya dengan perantara rasul-Nya.

Allah sekali-kali tidak akan menganiaya hamba-Nya, tetapi merekalah yang menganiaya diri sendiri dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan sunatullah dan melanggar norma-norma yang telah diberikan-Nya untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.

Mungkin ada beberapa umat yang nampaknya kuat dan jaya padahal umat itu telah berpaling dari norma-norma keadilan dan perikemanusiaan, bahkan ada yang mengingkari kekuasaan Allah dan menganggap agama sebagai racun yang membunuh manusia.

Hal itu adalah istidraj dari Allah yang membiarkan mereka tenggelam dalam paham kebendaan, sombong dan takabur atas hasil yang mereka capai. Namun akhirnya mereka akan mengalami nasib seperti orang yang sombong dan takabur.

Terserah kepada manusia itu sendiri apakah ia akan menjadi orang yang beriman, mematuhi dan menjalankan semua aturan dan ajaran yang diturunkan-Nya dengan perantaraan rasul-Nya, sehingga dia hidup berbahagia jasmani dan rohaninya, ataukah dia akan menganggap dirinya lebih berkuasa atau lebih pintar serta menganggap ajaran-ajaran agama itu sudah ketinggalan zaman.

Manusia bebas berpikir, berbuat dan menetapkan sesuatu menurut kehendaknya dan akhirnya akan terombang-ambing antara teori-teori yang terus berubah dan tidak tentu ujung pangkalnya serta terjerumus ke jurang kehancuran, keonaran dan kerusakan. Allah telah membentangkan di hadapan manusia jalan yang baik dan jalan yang buruk; diserahkan kepada manusia untuk memilihnya, jalan mana yang akan ditempuhnya.


Baca juga: Ingin Punya Keturunan Yang Saleh? Amalkan 3 Doa Nabi Ibrahim Ini


Ayat 132

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa masing-masing jin dan manusia yang telah mendapatkan seruan rasul, akan mendapat derajat dan tingkatan yang sesuai dengan amal perbuatannya.

Orang yang beriman, yang bertakwa dan mengerjakan amal saleh, akan mendapat derajat dan tingkatnya sesuai dengan tebalnya iman, kuatnya takwa dan banyaknya amal saleh yang dikerjakan seperti derajat para nabi, siddiqin (orang-orang yang benar keyakinannya dalam hidup mereka), syuhada′ (para kesatria dan pahlawan) dan salihin (orang-orang yang saleh), sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا

Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (an-Nisa′/4: 69)

Sebaliknya orang-orang kafir, munafik dan ingkar yang banyak melakukan kejahatan, akan menempati tingkat yang rendah yang paling bawah, sesuai dengan usaha dan pekerjaan mereka masing-masing; seperti orang munafik tempatnya adalah di dalam neraka yang paling bawah, sebagai tersebut dalam firman Allah:

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِۚ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًا

Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.(an-Nisa′/4: 145)

Allah sekali-kali tidak lengah terhadap apa yang dikerjakan oleh jin dan manusia. Semua pekerjaannya, baik yang kecil maupun yang besar, yang buruk atau yang baik, akan dicatat dan mereka akan mendapat balasannya. Kejahatan akan dibalas dengan siksaan yang setimpal dan kebaikan akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 133-134


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Mushaf Sunan Ampel di Museum Al-Quran PTIQ Jakarta

0
Mushaf Sunan Ampel
Mushaf Sunan Ampel

Sunan Ampel merupakan salah satu Walisongo yang berdakwah di pulau Jawa. Dimakamkan di Surabaya, Sunan Ampel telah mewariskan berbagai peninggalan, termasuk masjid yang ada di sekitar pemakaman. Menariknya, salah satu peninggalan berupa mushaf Al-Quran sekarang ini ada di Museum Al-Quran PTIQ Jakarta. Mushaf Sunan Ampel ada di museum tersebut, di antara ratusan koleksi dari dalam maupun luar negeri.

Berdasarkan katalog, Mushaf ini memang berasal dari Masjid Sunan Ampel Surabaya. Disebutkan bahwa mushaf ini milik Sunan Ampel yang hidup pada abad ke-15. Sayangnya, belum ada penelitian yang menjadi bukti secara tertulis, sehingga untuk membuktikan klaim ini perlu adanya kajian lebih lanjut.

Mushaf Sunan Ampel ini berbahan kertas Eropa dengan dua watermark. Pertama bertuliskan Propatria Eendragt Maakt Magt, terdapat medallion bermahkota dengan gambar singa membawa pedang menghadap ke kanan. Kedua bertuliskan Concordia Res Parvae Crescunt, terdapat medallion bermahkota dengan gambar singa membawa pedang menghadap ke kiri. Sementara itu, countermark kertas ini tertuliskan W & H Pannekoek dan Vg.

Baca juga: Iluminasi Mushaf Al-Bantani; Ekspresi Identitas Keislaman Masyarakat Banten

Dari keterangan Jonni Syatri yang membuat catatan deskripsi, qiraat mushaf Sunan Ampel mengikuti Imam ‘Āṣim Riwayat Ḥafṣ. Rasm yang digunakan merupakan rasm imla’i, layaknya mushaf kuno lainnya yang ada di Nusantara. Nampaknya mushaf ini digunakan untuk Pendidikan Al-Quran karena sangat sederhana dan tidak memiliki iluminasi.

Adapun ukuran mushaf Sunan Ampel ini kurang lebih 33,5 x 21 x 7 cm dengan bidang teksnya 24 x 13,5 cm. Halamannya pun tergolong tebal karena mencapai 700 halaman dengan 5 halaman kosong. Per halaman terdiri dari 13 baris, dengan goresan ayat menggunakan tinta hitam dan bergaya naskhi. Namun terdapat juga tanda ayat, keterangan nama surah, tanda tajwid, dan tanda juz yang meggunakan tinta warna merah.

Ini merupakan salah satu mushaf yang ada di Museum Al-Quran PTIQ Jakarta. Sesungguhnya museum ini merupakan ruangan yang ada dalam lingkup perpustakaan kampus PTIQ. Namun, karena koleksinya mencapai ratusan mushaf, tak elok rasanya jika kita tidak melihat museum ini lebih dekat.

Baca juga: Sejarah Baru! KH Sya’roni Ahmadi, Gus Mus dan Sembilan Kaligrafer akan Tulis Ulang Mushaf Menara Kudus

Museum Al-Quran PTIQ Jakarta, Satu-satunya museum Al-Quran di kampus Indonesia

Museum Al-Quran PTIQ dalam sejarahnya didirikan pada 24 Juli 1971 M. / 29 Rajab 1391 H. Semula pengelolaan Museum Al-Qur’an di bawah koordinasi Badan Eksekutif Yayasan Pendidikan Al-Quran (YPA), namun pada tahun 1988 diserahkan kepada Institut PTIQ Jakarta.

Museum ini diresmikan oleh Wakil Presiden H. Adam Malik bersamaan dengan Perpustakaan Institut PTIQ Jakarta pada Sabtu, 19 Februari 1983. Museum yang berlokasi di Jl. Batan I / 2 Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan ini merupakan hasil bantuan dari Pemerintah DKI Jakarta.

Menariknya, koleksi Museum Al-Quran PTIQ ini sangat beragam baik dari Nusantara maupun Mancanegara. Tujuan museum ini antara lain mempersembahkan kepada masyarakat, sebagai suatu hasil kerja, kreatifitas dan apresiasi umat. Secara keseluruhan, museum ini memiliki koleksi sebanyak 129 Al-Quran terdiri dari Mushaf Al-Quran Kuno (Tulisan tangan) dan Mushaf Al-Quran Modern (Cetakan).

Baca juga: Mushaf bu Tien yang Menawan: Cara Soeharto Mengenang Almarhumah Istrinya

Al-Quran kuno tulisan tangan (manuskrip) di Museum PTIQ sebanyak 33 eksemplar. 20 eksemplarnya berbentuk asli tulisan tangan, 11 eksemplarnya berupa copy-an tulisan tangan dari Indonesia. Sementara dua eksemplar sisanya dari mancanegara. Rata-rata usia mushaf ini pun 200-300 tahun.

Ada juga mushaf cetak yang dalam katalog disebut sebagai koleksi Al-Quran Modern. Jumlah mushaf cetak di sini mencapai 95 eksemplar. 32 eksemplar merupakan mushaf cetak asal Nusantara, 63 mushaf lainnya dari manca negara. Selain itu, ada juga mushaf spesial yang bernama Mushaf “Ibnu Sutowo”, mushaf ini menjadi bukti atas dedikasinya untuk Institut PTIQ Jakarta.

Perihal mushaf Mancanegara, museum yang di bawah naungan rektor Prof. Dr. Nasaruddin Umar ini memiliki koleksi dari Asia, Afrika, hingga Eropa. Misalnya mushaf cetak dari Nigeria. Mushaf ini berkode MQ-PTIQ.100 dengan nama Al-Kur’ani Ti A Tumo Si Ede Yoruba.  Selain itu, ada juga mushaf dari Jepang, India, Pakistan, Mesir, Jerman, dan lain sebagainya.

Adanya Museum Al-Quran di PTIQ merupakan nilai plus dari kampus ini. Terlebih ada juga mushaf yang bersejarah seperti Mushaf Sunan Ampel, serta mushaf lainnya dari berbagai dunia. Fasilitas yang jarang dimiliki oleh kampus-kampus lain ini menunjukkan adanya keunggulan kampus PTIQ dalam kajian Mushaf.

Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 40

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Setelah pada ayat yang lalu membahas mengenai dua jalan yang diberikan kepada anak cucu Nabi Adam as untuk dipilih, apakah memilih jalan kebahagiaan atau jalan keburukan, Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 40 ini berbicara mengenai orang-orang yang memilih jalan keburukan atau kesengsaarraan, yaitu Bani Israil.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 37-39


Mengapa dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 40 ini mula-mula Allah swt menyebut Bani Israil, karena merekalah yang seharusnya memberikan contoh kepada orang kafir lainnya untuk menerima risalah Nabi Muhammad saw. Pasalnya kabar tentang datangnya Nabi Muhammad saw sudah ada dalam Taurat.

Namun mereka lebih memilih untuk ingkar kepada risalah Nabi Muhammad saw dan sekaligus mereka ingkar terhadap kitab Taurat yang mereka jadikan pedoman. Dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 40 juga disebutkan tiga perintah Allah swt kepada Bani Israil.

Ayat 40

Allah memulai ayat ini dengan menyebut Bani Israil (orang-orang Yahudi), karena merekalah bangsa yang paling dahulu mengemban kitab Samawiyah, dan karena di antara mereka terdapat pula orang-orang yang paling keras memusuhi orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw.

Kalau mereka masuk Islam maka hal itu akan merupakan alasan yang kuat yang dapat diarahkan kepada orang-orang Nasrani dan orang kafir yang lain yang tidak mau beriman, karena bangsa Yahudilah yang paling dahulu berjanji kepada Allah swt bahwa mereka akan beriman kepada setiap nabi yang diutus-Nya, apabila telah ada bukti-bukti yang nyata.

Israil adalah gelar yang diberikan kepada Nabi Yakub. Karena itu keturunannya dinamakan dengan Bani Israil. Nabi Yakub terkenal sebagai hamba Allah yang amat saleh, sabar, dan tawakal. Maka Allah memanggil anak cucu Yakub dalam permulaan ayat ini dengan sebutan “Bani Israil” untuk mengingatkan kepada mereka agar mereka mencontoh nenek moyang mereka itu dalam hal keimanan, ketaatan, kesalehan, ketakwaan dan kesabaran serta sifat-sifat lain yang terpuji.

Hal ini disebabkan karena pada waktu turunnya Alquran kepada Nabi Muhammad saw, tampak gejala-gejala bahwa tingkah laku Bani Israil itu sudah melampaui batas, dan jauh menyimpang dari ajaran dan sifat-sifat nenek moyang mereka, terutama sikap mereka terhadap Alquran yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw.


Baca juga: Israiliyat Dalam Tafsir, Validkah? Berikut Pandangan Ibnu Khaldun


Mereka tidak mau beriman bahwa Alquran itu adalah wahyu Allah, bahkan mereka mendustakan kenabian dan kerasulan Muhammad saw. Seharusnya merekalah yang paling dahulu beriman kepada Nabi Muhammad saw, sebab berita tentang kedatangannya telah disebutkan lebih dahulu dalam kitab suci mereka, yaitu Taurat.

Dalam ayat ini terdapat tiga macam perintah Allah kepada Bani Israil, yaitu:

Pertama, agar mereka senantiasa mengingat nikmat-nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepada mereka, dan mensyukurinya dengan lisan dan perbuatan. Wujud nikmat-nikmat tersebut memang tidak diterangkan dalam ayat ini. Tetapi yang dimaksud antara lain bahwa Allah telah memilih nabi-nabi-Nya dari kalangan mereka. Hal ini terjadi dalam masa yang cukup lama, sehingga mereka diberi julukan sebagai Syabullah al-Mukhtar yaitu “hamba-hamba Allah yang terpilih”.

Semuanya itu harus mereka ingat dan mereka syukuri. Salah satu cara untuk mensyukurinya ialah beriman kepada setiap nabi yang diutus Allah untuk memberikan bimbingan kepada manusia. Tetapi dalam kenyataannya mereka menjadikan nikmat tersebut sebagai alasan untuk tidak menerima seruan Nabi Muhammad saw, malahan mengejeknya, dan mengatakan bahwa nikmat dan karunia Allah hanya tertentu untuk mereka saja.

Kedua, janji mereka kepada Allah ada dua macam, pertama janji yang berlaku bagi seluruh manusia, yaitu bahwa mereka harus menimbang segala masalah dengan timbangan akal dan pikiran serta penyelidikan yang akan membawa mereka mengetahui hakikat segala sesuatu, sebagai jalan untuk mengenal Allah. Kedua, janji bahwa mereka hanya akan menyembah Allah semata-mata, dan tidak akan memperserikatkan-Nya dengan sesuatu pun; dan bahwa mereka akan beriman kepada rasul-rasul-Nya.

Andaikata Bani Israil yang ada pada masa itu memperhatikan janji-janji tersebut, antara lain ialah bahwa Allah akan mengutus seorang nabi yang berasal dari keturunan saudara nenek moyang mereka ) yang menurunkan suatu bangsa yang baru, yaitu bangsa Arab, niscaya mereka beriman kepada Nabi Muhammad saw dan pasti pula mereka mengikuti petunjuk yang diturunkan Allah kepadanya.

Dengan demikian mereka akan termasuk orang-orang yang memperoleh kemenangan. Sebaliknya, jika mereka memenuhi janji kepada Allah, maka Allah akan mengizinkan mereka untuk menetap di tanah suci Palestina, dan mereka akan diberi kemuliaan serta kehidupan yang makmur. Kenyataan menunjukkan bahwa mereka tidak memenuhi janji-janji mereka itu, antara lain disebabkan karena rasa takut dan khawatir terhadap satu sama lainnya.

Tiga, agar mereka hanya takut kepada Allah semata-mata. Perintah ini diberikan Allah, karena kenyataan menunjukkan bahwa Bani Israil itu tidak memenuhi janji-janji mereka kepada Allah antara lain, mereka tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad saw. Hal itu disebabkan karena rasa takut mereka terhadap satu sama lain. Maka Allah memerintahkan agar mereka hanya takut kepada Allah semata-mata, dan jangan takut kepada selain Allah.

Sebab, hanya Allah sajalah yang menguasai segala persoalan. Dialah yang telah memberikan nikmat yang begitu besar kepada mereka, Dia pula yang kuasa untuk mencabut kembali nikmat itu dari tangan mereka, dan Dia pula yang akan mengazab mereka karena tidak mensyukuri nikmat itu. Mereka seharusnya tidak perlu merasa takut terhadap sesamanya karena khawatir akan hilangnya sebagian dari keuntungan-keuntungan mereka, atau akan terjadinya malapetaka atas diri mereka karena mengikuti yang hak dan menyalahi kemauan pemimpin-pemimpin mereka. Allah lebih kuasa daripada pemimpin-pemimpin itu.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 41-43


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Al An’am Ayat 130

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Masih terkait dengan tema sebelumnya yang membicarakan tentang keadaan orang-orang kafir dan sekutu-sekutunya ketika di neraka, Tafsir Surat Al An’am Ayat 130 ini membicarakan terjadinya dialog antara Allah swt dan orang-orang kafir dengan maksud mencemooh mereka.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 129


Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 130 dijelaskan pula bahwa ketika mereka di dunia lebih mementingkan aspek duniawi. Aspek-aspek duniawi tersebut meliputi harta, wanita, tahta, dan kedudukan. Hal inilah yang menjerumuskan mereka ke neraka.

Ayat 130

Di akhirat nanti, kepada semua jin dan manusia yang durhaka, yang tidak mengikuti ajaran rasul dan tidak mengindahkan larangan Allah yang disampaikan rasul kepada mereka sehingga mereka berbuat sewenang-wenang di bumi, akan dikemukakan kepadanya pertanyaan:

“Apakah tidak datang kepadamu rasul-rasul Kami, memperingatkan kamu dan memberi petunjuk yang benar agar kamu tidak tersesat dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Kami?

Mereka tidak berdaya menjawabnya, dan mereka menyesali segala yang mereka perbuat semasa di dunia, dan dengan menundukkan kepala mereka mengakui kesalahan-kesalahan mereka seraya menjawab:

“Kami mengakui bahwa Rasul Allah telah datang kepada kami dan telah memberikan peringatan dan ajaran-ajaran yang baik yang seharusnya kami perhatikan dan kami ikuti dengan patuh dan taat, tetapi kami tidak mengindahkannya, bahkan kami mendustakan mereka dan memperolok-olok seruan mereka.”

Allah berfirman:

قَالُوْا بَلٰى قَدْ جَاۤءَنَا نَذِيْرٌ ەۙ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍۖ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ كَبِيْرٍ

Mereka menjawab, ”Benar, sungguh, seorang pemberi peringatan telah datang kepada kami, tetapi kami mendustakan(nya) dan kami katakan, ”Allah tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu sebenarnya di dalam kesesatan yang besar.” (al-Mulk/67: 9)

Mereka telah ditipu dan diperdaya oleh kehidupan dunia dan mereka silau oleh harta, wanita, pangkat dan kedudukan, sehingga hati mereka menjadi beku, mata mereka menjadi buta, tidak dapat lagi membedakan mana yang baik, dan mana yang buruk. Mereka tidak dapat lagi melihat cahaya ajaran Ilahi yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Para rasul itu telah membacakan kepada mereka ayat-ayat yang diturunkan Allah dan telah memperingatkan mereka bahwa di akhirat nanti akan ada hari pembalasan di mana orang-orang yang berbuat baik akan masuk surga dan orang-orang yang ingkar akan disiksa dalam neraka. Di kala itulah mereka mengaku terus terang bahwa mereka dahulu (di dunia) memang ingkar dan kafir, mendustakan rasul-rasul dan tidak percaya dengan adanya hari akhirat.

Mengenai rasul-rasul yang diutus itu, apakah mereka terdiri dari manusia ataukah ada pula rasul-rasul dari jin yang diutus kepada umatnya? Jumhur ulama berpendapat bahwa rasul-rasul itu semuanya terdiri dari manusia, tetapi bertugas untuk menyampaikan dakwah kepada jin dan manusia, tidak ada rasul-rasul dari kalangan jin. Alquran dan hadis-hadis sahih menunjukkan bahwa Nabi Muhammad juga diutus kepada jin seperti tersebut dalam ayat berikut:

وَاِذْ صَرَفْنَآ اِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُوْنَ الْقُرْاٰنَۚ فَلَمَّا حَضَرُوْهُ قَالُوْٓا اَنْصِتُوْاۚ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا اِلٰى قَوْمِهِمْ مُّنْذِرِيْنَ   ٢٩

قَالُوْا يٰقَوْمَنَآ اِنَّا سَمِعْنَا كِتٰبًا اُنْزِلَ مِنْۢ بَعْدِ مُوْسٰى مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِيْٓ اِلَى الْحَقِّ وَاِلٰى طَرِيْقٍ مُّسْتَقِيْمٍ   ٣٠

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Muhammad) serombongan jin yang mendengarkan (bacaan) Alquran, maka ketika mereka menghadiri (pembacaan)nya mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)!” Maka ketika telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, “Wahai kaum kami! Sungguh, kami telah mendengarkan Kitab (Alquran) yang diturunkan setelah Musa, membenarkan (kitab-kitab) yang datang sebelumnya, membimbing kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (al-Ahqaf/46: 29-30)


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 131-132


(Tafsir Kemenag)

Tujuh Kaidah Penting Dalam Proses Penafsiran Ayat Al-Quran

0
Proses Penafsiran Ayat Al-Quran
Proses Penafsiran Ayat Al-Quran

Untuk memudahkan dalam proses memahami dan mengkaji Al-Qur’an, para ulama memberikan berbagai kaidah dalam penafsiran ayat Al-Quran. Tentu jumlah kaidah yang dihasilkan sangatlah banyak, namun dalam kitab Buhuts fi Ushul al-Tafsir wa Manahijuh, Syaikh Fahd al-Rumi meringkas berbagai kaidah tersebut menjadi tujuh kaidah penting dalam proses penafsiran ayat Al-Quran. Tujuh kaidah tersebut antara lain adalah:

  1. Kull ‘Aam Yabqa ‘ala ‘Umumih hatta Ya’tiy ma Yukhashishuh

Kaidah ini bermakna bahwa setiap lafadz ayat yang mengandung makna lebih dari satu, maka ayat tersebut juga ditafsirkan dengan berbagai ragam makna yang terkandung di dalamnya. Namun, kaidah di atas tidak berlaku apabila terdapat dalil yang mengkhususkan pada salah satu makna yang terkandung dalam ayat tersebut.

Syaikh Fahd al-Rumi mencontohkan implementasi kaidah ini dalam memahami Q.S. Quraisy [106] ayat 4:

الَّذِيْٓ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ەۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ ࣖ – ٤

Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan

Pemberian rasa aman dalam ayat tersebut bersifat umum, yaitu bisa bermakna rasa aman dari musuh (‘aduw) ataupun dari penyakit kusta/lepra (judzam). Sehingga ayat tersebut tidak bisa dimaknai hanya sebagai bentuk pengamanan dari musuh ataupun sebaliknya, tetapi harus dibiarkan bermakna umum sebagaimana asal keumuman ayat tersebut.

  1. Al-Ibrah bi ‘Umum al-Lafdzi La bi Khusus al-Sabab

Maksud kaidah ini adalah yang dijadikan dasar pemahaman ayat adalah keumuman lafadznya bukan kekhususan sabab turunya ayat tersebut. Al-Allamah Abdurrahman ibn Sa’diy mengatakan bahwa riwayat historis asbab nuzul dari sebuah ayat itu berguna sebagai pemisalan atau ilustrasi untuk menjelaskan (taudhih) teks ayat. Sehingga makna ayat tidak bisa dibatasi hanya untuk subjek yang berkaitan dengan konteks historis ayat tersebut.


Baca juga: 9 Ciri ‘Ibadurrahman dalam Surat Al-Furqan Ayat 63-76


Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa apabila terdapat kalimat hadzih al-ayah nazalat fi kadza, bukan bermaksud bahwa hukum ayat itu hanya berlaku pada pelaku historis ayat tersebut, tetapi berlaku umum untuk semua orang. Contoh implementasi kaidah ini bisa ditemukan dalam Q.S. al-Baqarah [2] ayat 204:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖ ۙ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ – ٢٠٤

Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras


Baca juga: Mengenal Imam An-Naisaburi dan Kitabnya Ghara’ib al-Qur’an wa Ragha’ib al-Furqan


Diriwayatkan oleh al-Thabari dalam tafsirnya, bahwsanya Ka’ab al-Qardhi berkata: “Sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dengan seorang laki-laki, tetapi kemudian berlaku umum”. Seorang laki-laki yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah al-Akhnas ibn Syuraiq, namun karena lafal ayat bersifat umum maka diberlakukan untuk semua orang selain al-Akhnas.

  1. Ikhtilaf al-Qira’at fi al-Ayah Yu’addid Ma’aniha

Syaikh Fahd al-Rumi menjelaskan bahwa perbedaan qira’at terjadi dalam dua keadaan: Pertama, perbedaan qira’at pada ragam pembacaan huruf dan harakat, seperti bacaan idzhar, idgham, imalah, mad, dan lain sebagainya. Kedua, perbedaan qira’at dalam tataran kalimat ataupun harakat yang mengakibatkan adanya perbedaan makna.

Penguasaan terhadap keilmuan qira’at sangatlah penting dalam proses penafsiran Al-Qur’an. Perangkat tersebut membantu mufasir dalam membedakan mana qira’at yang berakibat pada perubahan atau penambahan makna dan yang tidak merubah makna. Hal ini dikarenakan apabila ditemukan qira’at yang mengakibatkan perubahan atau perbedaan makna, maka hal tersebut sangat mempengaruhi dalam penafsiran terhadap ayat Al-Qur’an.

  1. Al-Ma’na Yakhtalif bi Ikhtilaf Rasm al-Kalimah

Terkadang terdapat sebagian kalimat yang memiliki multi makna. Namun, hal tersebut dapat dibedakan dengan melihat format penulisan teks mushaf (rasm al-mushaf) yang digunakan. Sehingga dalam hal ini, rasm al-kalimah memiliki peran penting dalam mentarjih antar ragam makna yang terkandung, agar dapat dipilih satu makna yang sesuai. Contoh penggunaan kaidah ini dapat dijelaskan dalam memahami Q.S. al-A’la [87] ayat 6:

سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسٰىٓ ۖ – ٦

Kami akan membacakan (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) sehingga engkau tidak akan lupa

Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai kalimat (فلا تنسى). Terdapat pendapat yang memaknai kalimat tersebut sebagai bentuk penyangkalan (li al-nafyi) sehingga bermakna pemberitaan. Namun, ada pendapat yang mengatakan bahwa kalimat tersebut sebagai bentuk larangan (li al-nahyi). Untuk mengetahui pendapat mana yang lebih kuat, maka disinilah fungsi rasm al-kalimah sebagai murajjih antar dua pendapat tersebut.


Baca juga: 9 Ciri ‘Ibadurrahman dalam Surat Al-Furqan Ayat 63-76


Setelah dilihat secara rasm al-kalimah, maka kalimat tersebut lebih sesuai berfungsi sebagai kalimat penyangkalan. Hal ini dikarenakan dalam kalimat tersebut terdapat al-alif al-maqshurah (ى) setelah huruf sin. Andaikan kalimat tersebut bermakna larangan maka seharusnya rasm al-kalimah-nya hanya tansa (تنس) tanpa al-alif al-maqshurah. Hal ini disebabkan apabila (لا) dalam kalimat tersebut li al-nahyi maka fi’il setelahnya akan menjadi majzum. Dan konsekuensi dari majzum adalah penghilangan huruf illah (hadf al-harf al-mu’tal) pada lam fi’il-nya.

  1. Al-Siyaq al-Qur’aniy

Kaidah kelima ini mengingatkan kepada setiap mufasir agar dalam proses penafsiran Al-Qur’an tidak hanya fokus pada satu ayat saja, tetapi juga dilakukan peninjauan terhadap ayat-ayat lain yang memiliki korelasi, keterkaitan dan hubungan terhadap ayat yang sedang dikaji. Cara yang demikian dapat membantu dalam penetapan makna yang mendekati terhadap apa yang dikehendaki Al-Qur’an, walaupun dalam kata atau kalimat ayat tersebut mengandung banyak makna.

Pentingnya penguasaan terhadap kaidah ini dapat dilihat dalam menafsirkan Q.S. al-Baqarah [2] ayat 121:

اَلَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْكِتٰبَ يَتْلُوْنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْمِنُوْنَ بِهٖ ۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ࣖ – ١٢١

Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barangsiapa ingkar kepadanya, mereka itulah orang-orang yang rugi

Dikutip oleh al-Thabari dalam tafsirnya, bahwasanya Qatadah mengatakan jika ayat tersebut berbicara berkenaan dengan para sahabat Nabi. Namun, ulama lain berbendapat bahwa ayat di atas bercerita tentang ahli kitab dari bani Israil yang menjadi pengikut Nabi Muhammad. Dalam menyikapi hal ini, al-Thabari lebih memilih pendapat yang kedua. Hal ini dikarenakan pada ayat-ayat sebelumnya menjelaskan tentang cerita ahli kitab, sehingga ada siyaq (korelasi) antara ayat yang dikaji dengan ayat sebelumnya.

  1. Al-Tafsir Yakun bi al-Aghlab al-Dzahir min al-Lughah

Karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab, maka tidak boleh jika hasil tafsirnya terhadap ayat Al-Qur’an menyelisihi makna dan aspek kebahasaan yang digunakan oleh lisan orang-orang Arab saat itu. Oleh karena itu, penguasaan terhadap aspek kebahasaan menjadi sebuah hal yang sangat urgen dalam proses penafsiran ayat Al-Qur’an.

Contoh penerapan kaidah ini dapat diketahui dalam penafsiran Q.S. al-Baqarah [2] ayat 102:

وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرٰىهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۗ وَلَبِئْسَ مَاشَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْ ۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ – ١٠٢…

Dan sungguh, mereka sudah tahu, barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu


Baca juga: Jejak Qiraat Imam Nafi’ dalam Manuskrip Al-Quran Keraton Kacirebonan


Dalam memaknai kata khalaq, Ibnu Jarir al-Thabari mengartikanya sebagai keberuntungan (al-nashib). Argumentasi al-Thabari dalam pemilihan makna tersebut dikarenakan kata khalaq dalam konteks ucapan orang Arab saat itu dimaknai sebagai nashib (keberuntungan).

  1. Taqdim al-Ma’na al-Syar’iy ‘ala al-Ma’na al-Lughawiy

Apabila dalam satu kata terdapat dua makna atau lebih, dimana dalam ragam makna tersebut terdapat dimensi makna lughawiy dan syar’iy, serta antara makna lughawiy dan syar’iy juga saling bertentangan, maka yang didahulukan adalah dimensi makna syar’iy. Mengapa demikian? Karena Al-Qur’an diturunkan berfungsi sebagai penjelas syari’at, bukan untuk menjelaskan makna kebahasaan, kecuali ada hal yang mengharuskan penggunaan makna lughawiy.

Contoh penerapan kaidah ini dapat diketahui dalam memahami Q.S. al-Taubah [9] ayat 84:

وَلَا تُصَلِّ عَلٰٓى اَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّاتَ اَبَدًا وَّلَا تَقُمْ عَلٰى قَبْرِهٖۗ اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَمَاتُوْا وَهُمْ فٰسِقُوْنَ – ٨٤

Kata tushalli dalam ayat tersebut mengandung dua dimensi makna yaitu dimensi lughawiy bermakna do’a. Kemudian juga dimensi syar’iy yang bermakna shalat jenazah. Maka dalam hal ini, secara umum yang didahulukan adalah makna syari’atnya yaitu shalat jenazah. Namun sebaliknya, bisa jadi makna lughawiy lebih didahulukan apabila ada hal yang mendukung penggunaan makna lughawiy tersebut. Seperti dalam Q.S. al-Taubah [9] ayat 103:

خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ – ١٠٣

kata wa shalli dalam ayat di atas tidak bermakna perintah shalat, sebagaimana jika dipahami dengan dimensi makna syar’iy. Namun, kata tersebut lebih sesuai dimaknai dengan dimensi makna lughawiy yaitu do’a. Hal ini dikarenakan adanya hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan nomor hadis 1078 yang mengindikasikan bahwa pemaknaan lughawiy lebih tepat dalam memaknai kata wa shalli dalam ayat di atas. Hadis tersebut tertulis sebagaimana berikut:

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِيْ أَوْفَى – رضى الله عنه – قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ: اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِمْ

Dari Abdullah ibn Abi Aufa, ia berkata: bahwasanya Rasulullah SAW ketika terdapat suatu kaum yang datang kepadanya dengan membawa zakat mereka, maka Rasulullah bersabda: Ya Allah berkahilah mereka

Dengan demikian dapat diketahui bahwa tujuh kaidah yang telah dijelaskan di atas merupakan kaidah dasar yang sangat urgen untuk dikuasai oleh setiap pengkaji Al-Qur’an. Hal ini dikarenakan kaidah-kaidah tersebut sangat membantu dalam proses penafsiran makna ayat Al-Qur’an. Wallahu A’lam

Mengenal Imam An-Naisaburi dan Kitabnya Ghara’ib al-Qur’an wa Ragha’ib al-Furqan

0
Imam An-Naisaburi
Manuskrip salinan tulisan tangan Imam An-Naisaburi

Imam An-Naisaburi ialah seorang Ulama Islam sekaligus mufasir yang terkenal dengan kitabnya Ghara’ib al-Qur’an wa Ragha’ib al-Furqan. Nama lengkapnya ialah Nidzhamuddin ibn al-Hasan ibn Muhammad ibn al-Husain al-Khurasani An-Naisaburi. Ia dikenal juga dengan nama Nidzhamul al-A’raj. Ia berasal dari keluarga yang secara keturunan berasal dari kota Qum (sekarang Ibu Kota Iran). Namun ia dibesarkan dan bertumbuh kembang di Naisabur.

Ia adalah seorang yang terpandang di Naisabur berkat kegigihannya dalam menuntut ilmu serta menguasai berbagai cabang ilmu keislaman. Ia juga secara khusus dianggap sebagai salah satu ulama besar yang menguasai al-Qur’an serta Qira’at. Meskipun begitu luasnya ilmu serta beragam gelar tinggi yang ia dapatkan, menurut Adz-Dzahabi, Imam An-Naisaburi dikatakan adalah seorang ulama yang wara’, zuhud dan sufi. Hal ini bisa disaksikan dalam karya tafsirnya yang juga memiliki sisi sufistik di dalamnya.

Imam An-Naisaburi meninggalkan karya-karya akademik baik berupa ulasan (syarah) maupun hasil pemikirannya yang orisinil. Di antara kaya-karyanya ialah syarah dari kitab al-Tadzkirah karangan al-Thusi yang mengkaji ilmu Matematika dan Astronomi, kemudian syarah Mutun al-Syafi’iyah karangan Ibn Hajib yang mengkaji ilmu Shorof, lalu kitab Auqaf al-Qur’an yang ia tulis dengan meniru gaya tulisan al-Sajawandi serta magnum opusnya Ghara’ib al-Qur’an wa Ragha’ib al-Furqan.

Adapun mengenai perihal tahun lahir dan wafatnya, tidak ditemukan riwayat yang menunjukkannya secara pasti. Hanya ada satu riwayat yang disebutkan oleh al-Dzahabi dalam kitabnya At-Tafsir wa al-Mufassirun yang memberikan informasi bahwa Imam An-Naisaburi salah satu ulama dunia abad ke-900-an Hijriah dan sudah mendekati derajat ulama-ulama semisal Jalaluddin al-Diwani serta Ibn Hajar al-Asqalani, informasi lainnya ialah bahwa terdapat catatan yang menunjukkan akhir dari penulisan kitab tafsirnya yaitu sekitar tahun 850 H.

Mengenal Ghara’ib al-Qur’an wa Ragha’ib al-Furqan

Kitab tafsir yang dikarang oleh Imam An-Naisaburi ini merupakan kitab tafsir yang disusun atas dasar pengkajiannya terhadap dua kitab tafsir besar sebelumnya yakni Mafatih al-Ghaib dan al-Kasysyaf. Kedua kitab ini merupakan rujukan utamanya, namun juga terdapat beberapa rujukan kitab lain serta porsi dari hasil ijtihad-nya pribadi.

Melihat fakta bahwa Mafatih al-Ghaib dan al-Kasysyaf merupakan rujukan utamanya, maka menarik untuk melihat posisi Imam An-Naisaburi terhadap kedua sosok di balik lahirnya dua kitab tersebut yakni al-Razi dan al-Zamakhsyari. Menurut al-Dzahabi, Imam Naisaburi adalah seorang yang netral. Ia menukil dan meringkas pendapat al-Razi begitupun juga pada pendapat al-Zamakhsyari. Ia juga tidak berafiliasi pada golongan yang kaku sebab tekstualis, baginya itu adalah kecondongan yang salah dan ia memilih untuk membebaskan pikirannya serta mengkritisi pendapat-pendapat yang ia nukil dalam kitabnya.

Hal menarik lainnya ialah tatkala ia mengutip pendapat al-Zamakhsyari, ia biasa menuliskan di awal kutipannya dengan qala fi al-Kasysyaf ataupun qala Jar Allah. Kemudian jika ia mengutip pendapat yang saling bertentangan antara al-Razi dan al-Zamakhsyari, ia akan melakukan ijtihad dan menentukan pilihannya atas pendapat yang lebih ia dukung.

Baca Juga: Biografi Al-Zamakhsyari: Sang Kreator Kitab Tafsir Al-Kasysyaf

Jika dikaji mengenai langkah-langkah penafsirannya, didapati bahwa Imam An-Naisaburi pertama kali menyebutkan ayat al-Qur’an terlebih dahulu, kemudian ia menyisipkan kajian Qira’at berdasarkan dari riwayat Qira’at Imam yang sepuluh (al-a’immah al-asyrah). Kemudian ia menyebutkan waqaf dan menyebutkan penjelasan dari masing-masingnya. Ia juga menyebutkan munasabah yang terdapat di dalam ayat yang dikaji lalu menjelaskan aspek linguistik yang ada di dalamnya baik itu berupa penjelasan terhadap dhamir maupun Balaghah.

Imam An-Naisaburi juga menyebutkan penjelasan dimensi fiqh dengan melakukan metode fiqh muqaran atau perbandingan madzhab, lengkap dengan argumentasi-argumentasinya. Ia juga meniru al-Razi dalam upaya meneguhkan dominasi ahlus sunnah wal jama’ah sebagai teologi yang paling lurus. Imam An-Naisaburi juga tidak melewatkan perbincangan mengenai dimensi kauniyah (kealaman) dan filsafat dalam ayat. Kemudian sebagaimana telah disinggung dalam bagian biografi bahwa Imam An-Naisaburi adalah salah satu ulama sekaligus sufi. Maka sisi sufistiknya itu turut serta mewarnai penafsirannya.

Sebagaimana layaknya seorang yang terkemuka, Imam An-Naisaburi tidak lepas dari tuduhan-tuduhan yang ditujukan pada dirinya. Salah satu tuduhan yang diarahkan pada dirinya ialah salah satu dari ulama Syi’ah. Hal ini didasarkan kepada salah satu penggalan penutup tafsirnya “aku mengharap fadhlullah yang agung dan bertawassul dengannya untuk mendapatkan kemuliaan-Nya, juga kemuliaan Nabi-Nya serta Wali-Nya yang mulia, Ali ibn Abi Thalib”.

Baca Juga: Siapa Saja Mufasir di Era Sahabat? Edisi Ali Ibn Abi Thalib

Penggalan akhir dari penutup tersebut menjadi dasar tuduhan Syi’ah yang diarahkan pada Imam An-Naisaburi dan nyatanya, ini dibantah keras oleh Adz-Dzahabi bahwa itu tidak bisa dijadikan dalil untuk menuduhnya Syi’ah sebab jika dikaji penafsirannya secara keseluruhan khususnya pada ayat-ayat tertentu yang mengundang perdebatan teologis (semisal Q.S. al-Maidah [5]: 54) didapati pembelaannya terhadap madzhab ahli sunnah wal jama’ah serta pengingkarannya atas madzhab teologi yang lainnya. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 37-39

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 37-39 ini berbicara mengenai pengajaran Allah kepada Nabi Adam as untuk bertobat atas kesalahan yang dilakukan sebelumnya. Hal tersebut sebagaimana telah pembahasan sebelumnya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 35-36

Setelah di ajarkan, lalu Nabi Adam as langsung mempraktekkannya dan Allah swt menerima taubatnya. Dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 37-39 juga dijelaskan mengenai syarat-syarat taubat agar diterima.

Lebih jauh Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 37-39  membahas tentang pilihan-pilihan yang kelak akan diberikan kepada Nabi Adam dan Hawa beserta seluruh keturunannya dua pilihan jalan, yaitu jalan kebahagiaan dan jalan keburukan. Siapapun yang memilih jalan kebahagiaan dengan menerima risalah Nabi Muhammad akan masuk surga. Sedangkan yang memilih jalan keburukan dengan ingkar terhadap risalah akan masuk neraka.

Ayat 37

Dalam ayat ini diterangkan bahwa setelah Adam a.s. dikeluarkan dari surga, dia menerima ilham dari Allah swt yang mengajarkan kepadanya kata-kata untuk bertobat. Lalu Adam bertobat dan memohon ampun kepada Allah dengan menggunakan kata-kata tersebut, yang berbunyi sebagai berikut:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ اَنْفُسَنَا وَاِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

Keduanya berkata, ”Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (al-A’raf/7: 23)

Setelah Adam berdoa memohon ampunan kepada Allah dengan mengucapkan kata-kata tersebut, Allah pun menerima tobatnya, dan melimpahkan rahmat-Nya kepada Adam. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat dan Maha Pengasih. Sebab Allah senantiasa memberikan maaf dan ampunan serta rahmat-Nya kepada orang-orang yang bertobat dari kesalahannya.

Tobat yang diterima Allah adalah tobat yang memenuhi hal-hal sebagai berikut:

  1. Menyesali dan meninggalkan segala kesalahan yang telah dilakukan.
  2. Menjauhi dan tidak mengulangi lagi kesalahan-kesalahan dan perbuatan-perbuatan semacam itu.
  3. Mengiringi perbuatan dosa itu dengan perbuatan-perbuatan yang baik.

Dalam hal ini Rasulullah saw telah bersabda:

وَ أَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

(رواه الترمذي عن أبي ذر)

“Iringilah perbuatan jahat itu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskan dosanya”. (Riwayat at-Tirmizi dari Abi Zarr)

Dalam ayat ini ada dua macam sifat Allah swt yang disebutkan sekaligus, yaitu “Maha Penerima tobat”, dan “Maha Pengasih”. Hal ini merupakan isyarat tentang jaminan Allah kepada setiap orang yang bertobat menurut cara-cara yang tersebut di atas, bahwa Allah swt akan melimpahkan kepadanya kebajikan dan ampunan-Nya.

Ayat 38

Pada ayat ini Allah mengulangi lagi perintah-Nya agar Adam dan Hawa keluar dari surga yang penuh kenikmatan dan kesenangan hidup, pindah ke bumi yang menghendaki kerja keras dan perjuangan. Kepadanya dibentangkan dua macam jalan.

Pertama, adalah jalan yang dapat mengantarkan manusia kepada kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat, yaitu dengan beriman kepada Allah serta mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya. Kedua, jalan yang akan membawa manusia kepada kerugian dan kesengsaraan hidup di dunia dan di akhirat kelak, yaitu jalan orang kafir dan durhaka terhadap-Nya, serta menuruti bujukan-bujukan setan.

Siapa yang mengikuti petunjuk-petunjuk yang disampaikan Allah melalui rasul-rasul-Nya, maka mereka akan memperoleh kebahagiaan dan ketenteraman. Mereka tidak akan merasa cemas, karena iman dan ketaatan mereka yang teguh kepada kekuasaan dan rahmat Allah.

Mereka tidak akan merasa sedih dan menyesal atas kejadian-kejadian pada masa lalu yang menimbulkan kerugian harta benda atau pun kehilangan anggota keluarga dan sebagainya, karena bagi orang-orang yang beriman dan selalu berpegang kepada petunjuk-petunjuk Allah, mudah baginya menghadapi segala macam musibah dan cobaan-cobaan yang menimpa dirinya.

Sebab dia percaya bahwa kesabaran dan penyerahan diri kepada Allah adalah jalan yang terbaik untuk memperoleh keridaan-Nya, di samping pahala dan ganjaran yang diperolehnya dari Allah sebagai ganti yang lebih baik dari yang hilang.


Baca juga: Peristiwa Taubat Nabi Adam AS. di Bulan Muharram


Agama mengharamkan sebagian dari makanan yang lezat untuk dinikmati oleh manusia. Larangan tersebut disebabkan karena kerusakan yang dapat ditimbulkannya, baik terhadap pribadi orang yang melakukannya, maupun terhadap orang lain dan masyarakat umum.

Maka siapa yang dapat membayangkan bahaya yang mungkin timbul karena menikmati kelezatan yang telah diharamkan itu, dan dapat pula menggambarkan dalam pikirannya pengaruh-pengaruh dan bekas-bekas jelek yang akan menimpa dirinya karena perbuatan itu, baik terhadap dirinya maupun terhadap umatnya, niscaya dia menghindari setiap kelezatan yang diharamkan itu, seperti larinya orang-orang yang sehat dari penyakit kusta.

Lebih-lebih orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, dia akan memandang bahwa yang dilarang agama akan menimbulkan aib dan kekotoran pada dirinya dan akan menjauhkannya dari kebahagiaan dan kemuliaan di hari kiamat kelak. Orang-orang yang bersih dari perbuatan dosa di dunia ini nanti akan kelihatan wajahnya berseri-seri, sedang orang-orang yang selalu bergelimang dosa akan kelihatan wajahnya hitam muram.

Ayat 39

Dalam ayat ini Allah swt menegaskan bahwa orang yang tidak mau mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya, dan orang yang kafir terhadap ayat-ayat-Nya, serta mendustakan ayat-ayat itu dengan ucapannya, maka balasan bagi mereka adalah neraka.

Keingkaran terhadap ayat-ayat Allah swt adalah suatu kekafiran, baik kekafiran itu disebabkan karena tidak percaya atas kebenaran Rasulullah, atau kekafiran yang disebabkan oleh kesombongan dan keangkuhan yang mendorong untuk mendustakan rasul. Mengenai mereka ini Allah swt berfirman kepada Rasul-Nya:

فَاِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُوْنَكَ وَلٰكِنَّ الظّٰلِمِيْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ يَجْحَدُوْنَ

“… (janganlah bersedih hati) karena sebenarnya mereka bukan mendustakan engkau, tetapi orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. (al An’am/6: 33)

Orang-orang mukmin mempunyai keimanan di dalam hati dan diucapkannya dengan lidahnya. Ada pula orang yang ingkar di dalam hati, tetapi lidahnya mengucapkan bahwa dia beriman. Inilah orang munafik. Lain di mulut, lain di hati dan lain pula dalam perbuatan.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 40


(Tafsir Kemenag)

Meneladani Akhlak Nabi Muhammad saw di Akhir Bulan Maulid

0
Akhlak Nabi
Akhlak Nabi Muhammad Saw

Di akhir bulan maulid Nabi Muhammad saw, masih relevan dan akan terus relevan bagi kita untuk menyegarkan ingatan tentang seluk beluk perjalanan dan akhlak Nabi Muhammad saw.

Memperbaharui komitmen kita untuk mengikuti dan mencontoh akhlak Nabi Saw adalah sebuah keniscayaan bagi kita. Semua itu diungkapkan kembali pada momentum maulid agar senantiasa dapat dijadikan pegangan dalam menempuh perjalanan hidup kita.

Memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw merupakan momentum yang sangat baik untuk menyegarkan kembali segala tuntunan yang telah diberikan oleh Rasulullah dan segala sifat yang telah ditunjukkannya kepada kita melalui hadis dan sunahnya, baik sebagai anggota dan individu dalam masyarakat maupun sebagai seorang pemimpin masyarakat. Beliau adalah panutan dan teladan bagi umatnya, baik dalam ucapan maupun perbuatannya.

Hal ini seperti yang telah dikemukakan oleh Allah dalam Al-Quran, Surat Al-Ahzab Ayat 21 yang berbunyi:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

Keteladanan akhlak Nabi Saw telah ditunjukkan sepanjang hidupnya. Rasulullah saw menunjukkan keteladanan yang multidimensi. Tidak hanya setelah diangkat dan diutus sebagai Rasul, bahkan sejak awal sewaktu beliau masih usia kanak-kanak dan muda belia.

Baca Juga: Wahyu Al-Quran dan Keteladanan Nabi Muhammad Saw Sebagai Pejuang Kemanusiaan

Keteladanan akhlak Nabi saw yang multidimensi itu telah ditunjukkannya pula dalam berbagai perilaku kehidupan, baik dalam statusnya sebagai ayah, sebagai suami, sebagai panglima perang, sebagai kepala negara, maupun dalam statusnya sebagai anggota masyarakat.

Perilaku yang terpuji  dan akhlak Nabi yang ditunjukkan itu sesuai dengan makna nama yang disandang beliau. Kata “محمد” dalam bahasa Arab mengandung makna yang sangat dalam dan sangat luas. محمد berarti “seseorang yang senantiasa dipuji dan mendapat pujian karena kebaikan dan kebajikannya, yaitu pujian yang tidak dibatasi oleh waktu dan tempat”.

Makna yang dalam bagi nama itu telah ditunjukkan oleh beliau dalam perilaku dan prikehidupan beliau yang selalu mendapat pujian, tidak hanya oleh kawan dan sahabat beliau, tetapi juga oleh lawan dan musuh beliau.

Nama “Muhammad” ketika itu merupakan nama yang tidak populer, bahkan asing di kalangan orang-orang Arab Quraisy. Para ahli sejarah mengungkapkan bahwa nama itu merupakan nama yang amat baru di kalangan orang-orang Quraisy.

Pada umumnya orang-orang Quraisy ketika itu memberi nama anak-anak mereka dengan nama-nama yang di dalamnya mengandung makna keberanian dan kepahlawanan, seperti nama أسد (yang berarti “singa”), فهد (yang berarti “macan tutul”), dan نمر (yang berarti “harimau”). Nama-nama seperti itu sangat populer di kalangan orang-orang Quraisy ketika itu dan ini dimaksudkan agar anak-anak yang menyandang nama-nama itu memiliki sifat-sifat keberanian.

Gambaran kepribadian akhlak Nabi saw yang utuh dan sangat terpuji tergambar dari berbagai sikap dan perilaku yang telah ditunjukkan beliau semasa hidupnya. Di waktu kecil, beliau telah menunjukkan sifat-sifat yang khas yang berbeda dengan anak dan pemuda semasanya.

Rasulullah tidak pernah melakukan penyembahan terhadap berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya, tidak pernah memberikan pengorbanan untuk berhala-berhala itu, tidak pernah meminum khamar, dan tidak pernah melakukan hal-hal lain yang menurutnya bertentangan dengan jiwanya.

Allah Swt telah menunjukkan kepadanya sejak kecil jalan-jalan yang suci yang harus ditempuh dan dilakukan oleh seseorang yang akan diangkat menjadi calon pemimpin besar dan Nabi yang terakhir untuk semua umat sesudahnya hingga akhir zaman. Sejak kecil beliau tidak hanya menunjukkan kepribadian yang sangat terpuji terhadap dirinya sendiri, tetapi juga sangat terpuji terhadap sesamanya.

Baca Juga: Tafsir At-Taubah 128; Potret Cinta Nabi Muhammad Saw pada Umatnya

Para ahli sejarah menyatakan bahwa di mata kaumnya, beliau adalah orang yang memiliki sopan santun yang paling tinggi, paling baik akhlaknya, paling baik pergaulannya dengan tetangga, berkata yang benar, sangat menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan keji dan kotor, paling tinggi rasa kasihnya terhadap sesama, dan paling bertanggung jawab.

Sejak masa kanak-kanak itu, beliau dianugerahi jiwa dan semangat kemandirian yang sangat tinggi dalam bekerja. Seperti kita ketahui, ayahnya meninggal sebelum beliau dilahirkan, ibunya meninggal pada saat beliau berumur 6 tahun, yaitu umur yang masih sangat muda untuk ditinggal pergi oleh kedua orang tua.

Mulai saat itu, Muhammad menjadi yatim piatu, tanpa ayah dan tanpa ibu. Dalam keadaan yatim-piatu itu, tanggung jawab untuk membina Muhammad jatuh ke tangan kakeknya, Abdul Muttalib yang telah memberikan dukungan yang besar dan pembinaan yang tidak kalah pentingnya, hingga beliau berumur 8 tahun. Masa-masa kehidupan yang dilalui oleh Rasulullah sesudah itu, sesudah meninggalnya Abdul Muththalib, berada dalam pembinaan dan asuhan Paman beliau, Abu Thalib, yang juga telah memberikan bimbingan dan dukungan yang besar pula.

Semoga bermanfaat.

9 Ciri ‘Ibadurrahman dalam Surat Al-Furqan Ayat 63-76

0
'Ibadurrahman
Ciri-Ciri 'Ibadurrahman dalam al-Quran

Siapakah sesungguhnya ‘Ibadurrahman itu? Apa saja ciri-ciri serta karakter yang melekat kepadanya?

Surat Al-Furqan ayat 63-76 menjawab pertanyaan di atas. Allah Swt. menyifati hamba-hamba-Nya yang disebut ‘Ibadurrahman– yang tulus, ikhlas dalam menjalani hidup ini penuh pengabdian kepada Allah dan kepada manusia, serta layak mendapat pahala yang besar di sisi-Nya, mendapat posisi yang tinggi lagi mulia– dengan sembilan sifat utama.

Pertama, ‘Ibadurrahman adalah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati. Yaitu orang yang, meski berkelimpahan materi, berkedudukan tinggi, berilmu mumpuni, hidup penuh prestasi, tetapi kakinya tetap menginjak bumi, tidak tinggi hati, tidak berbangga diri, serta penuh empati.

Kedua, jika orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam”. Maksudnya, menurut Al-Maraghi dalam tafsirnya, jika orang-orang bodoh mencelanya dengan kata-kata yang buruk, mereka (‘ibadurrahman) tidak membalas ucapan mereka dengan kata-kata serupa, tetapi memaafkan serta membalasnya dengan ucapan yang baik.

Ketiga, orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. Di saat orang lain lelap dalam tidurnya, dia berasyik masyuk dengan Tuhannya. Dia tumpahkan segala kerinduan yang membuncah dalam dadanya kepada Sang Kekasih, yakni Allah Swt.

Keempat, orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Dia terus menerus memohon kepada Allah untuk dijauhkan dan dihindarkan dari siksa api neraka Jahannam.

Kelima, orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Mereka adalah orang-orang yang bersikap proporsional, tidak boros tidak pula kikir, tetapi hemat.

Baca Juga: Tafsir Surah Hud Ayat 112: Perintah Istiqomah Dalam Kebaikan

Keenam, orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Mereka tidak pernah menyukutukan Allah, tidak melakukan tindak kejahatan pembunuhan, tidak juga perilaku amoral dan asusila seperti berzina.

Ketujuh, orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Mereka selalu berkata jujur, apa pun resikonya. Mereka juga tidak terpengaruh dengan lingkungan sekitar yang buruk, mereka dapat terus menjaga kehormatan dirinya.

Kedelapan, orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Mereka selalu membuka mata dan telinganya terhadap petuah, nasehat serta petunjuk agama. Mereka selalu terbuka dengan kritik, saran dan masukan yang membangun.

Kesembilan, orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka terus menerus bermunajat kepada Allah, memohon dengan sepenuh hati untuk diberi pasangan serta anak keturunan yang dapat menjadi penawar hati ketika resah, penentram jiwa saat gelisah, serta penyejuk pandangan di saat ditimpa pelbagai masalah. Mereka juga berharap supaya dijadikan Allah sebagai pemimpin orang-orang yang takwa.

Mereka itulah orang yang diberi ganjaran berupa martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 223: Inilah Etika dalam Berhubungan Intim Suami Istri

0
hubungan intim suami istri
hubungan intim suami istri (muslim.okezone.com)

Kehidupan rumah tangga bagaikan bahtera yang mengarungi lautan yang luas dan besar. Ombak selalu ada di depan mata. Akan tetapi, jika mampu melewati ombak yang deras dengan tenang, pasti akan ada jalan keluar. Begitu pula masalah rumah tangga, cobaan dan tantangan akan selalu ada, jika dapat melewati bersama, maka akan terjadi keharmonisan.

Keluarga terbangun dari hubungan dua insan yang berbeda jenis kelamin yakni lelaki dan wanita. Keduanya memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing. Suami bertugas untuk mencari dan memberi nafkah bagi sang istri. Istri pun bertugas untuk membantu suami dalam urusan rumah tangga dan lain-lain.

Nafkah bukan hanya berupa nafkah lahir semata. Nafkah batin terutama hal-hal yang dapat membuat senang keduanya mesti terpenuhi. Salah satu dari sekian banyak nafkah batin adalah hubungan intim antara suami istri. Memang hal ini tidaklah menjamin seluruh kebahagiaan, namun hal ini bisa menjadi masalah bila salah satu pihak tidak puas. Karena itu, penting dipahami bahwa hubungan intim perlu mendapat perhatian.

Berkenaan dengan masalah keintiman antara suami dan istri, terdapat firman Allah Swt. sebagai berikut

نِسَاۤؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ ۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ مُّلٰقُوْهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman. (Q.S. al-Baqarah (2) : 223)

Baca juga: Tafsir Surat Ali Imran 31: Cara Mempererat Hubungan Suami-Istri

Apabila melihat sebab turunnya ayat tersebut berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, al-Tirmidhi, an-Nasa`I, dan ibn Majah dari Jabir ibn ‘Abd Allah r.a. Diketahui bahwa menurut orang-orang Yahudi jika ada seorang lelaki berhubungan seks dengan istrinya dari arah belakang, akibatnya anaknya bermata juling. Lalu Allah swt. merespon pandangan tersebut dengan menurunkan surat al-Baqarah ayat 223 (Khalid ibn Sulayman al-Mazini, al-Muharrar Fi Asbab Nuzul al-Qur`an, juz 1, hal. 271)

Selain itu, latar belakang turunnya ayat ini berkaitan dengan kebiasaan Penduduk Madinah yang sering meniru kebiasaan kaum Yahudi yang tidak berhubungan seks dari belakang meskipun tidak melakukan anal seks. Ketika penduduk Madinah memeluk agama Islam, terdapat seorang pria Muhajirin yang menikahi wanita Ansar. Tatkala akan berhubungan intim, suami akan mendatangi istri dari belakang. Tetapi istrinya menolak karena kebiasaan penduduk Madinah yang menolak berhubungan seks dari arah belakang karena hal tersebut tidak lazim bagi penduduk Madinah.

Lalu kejadian ini dilaporkan kepada Rasulullah saw, Sehingga turunlah ayat di atas untuk merespon kasus ini. Adapun penjelasan dari mendatangi istri maksudnya pada satu lubang saja di bagian depan atau Somamin Wahidin. (Ismail ibn Kathir al-Dimashq, Tafsir al-Qur`an al-‘Azhim, Juz 1, hal. 589-590)

Jika melihat redaksi al-Harth ada ayat di atas, maka secara bahasa kata tersebut dimaknai dengan al-Zar’ yang berarti bercocok tanam. Ada pun maksud dari bercocok tanam dalam ayat ini adalah Injab al-Awlad atau tempat untuk berkembang biak yang dapat menghasilkan keturunan. Sehingga maksud ayat di atas adalah wanita merupakan tempat untuk menanam benih-benih yang dapat menghasilkan keturunan. Hal ini karena wanita memiliki rahim yang dapat menampung pertemuan antara sel sperma dan sel telur (Majma’ al-Buhuth al-Islamiyyat, al-Tafsir al-Wasit Li al-Qur`an al-Karim, Jilid 1, 366).

Pada redaksi selanjutnya yakni fa`tu harthakum anna shi`tum yang diterjemahkan dengan maka datangilah dari mana saja yang kau inginkan. Kemudian dilanjut pada redaksi selanjutnya yakni wa qaddimu li anfusikum yang berarti dan utamakan yang baik bagimu.

Baca juga: Menstruasi dan Cara Menjaga Kesehatan Reproduksi dalam Al-Quran

Maksudnya adalah dalam melakukan hubungan seksual atau intim antara suami dengan istri, ayat ini membolehkan untuk melakukan dari arah depan maupun belakang. Selain itu melakukan seks dengan gaya yang berbeda selama hanya memasukkan di bagian vagina, maka diperbolehkan. Akan tetapi terdapat rambu-rambu yang harus diperhatikan. Redaksi selanjutnya merupakan alarm bagi suami maupun istri dalam berhubungan intim.

Dalam berhubungan seks perlu diperhatikan seni dan etika yang berlaku. Ada pun etika dalam hal ini seperti hal yang tidak boleh dilakukan dalam seks seperti menggauli istri ketika sedang haid (lihat surat al-Baqarah ayat 222) dan melakukan Anal Sex atau seks lewat dubur. Pada poin kedua ini jumhur ulama bersepakat bahwa hal tersebut haram yang didasarkan pada Hadis Riwayat Abu Dawud dan an-Nasa`i sebagai berikut

قال رسول الله صلىالله عليه وسلم : ملعون من أتى امرأة في دبرها

Rasulullah saw. bersabda : Terlaknatlah orang yang mendatangi istrinya dari belakang (dubur).

Hadis di atas merupakan penjelas dari surat Al-Baqarah ayat 223, sehingga dalam menjalin hubungan intim antara suami dan istri perlu mempertahatikan pandangan agama tentang masalah ini baik aturan maupun etikanya. Dengan ini hubungan yang dilakukan tidak hanya bertujuan untuk memuaskan nafsu birahi semata. Akan tetapi, hal tersebut dapat menghasilkan kemaslahatan bagi suami dan istri (Majma’ al-Buhuth al-Islamiyyat, al-Tafsir al-Wasit Li al-Qur`an al-Karim, Jilid 1, 366-367).

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa hubungan seks suami dan istri perlu memperhatikan seni dan etika bercinta. Seks tanpa memperhatikan seni, maka akan terjadi ketidakpuasan diantara kedua pihak. Apa pun gaya dilakukan boleh-boleh saja, akan tetapi yang paling utama tidak melakukan anal sex dan bercinta saat istri haid. Wallahu A’lam