Beranda blog Halaman 478

Tafsir Surat Al An’am Ayat 129

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pada pembahasan sebelumnya disinggung mengenai keadaan orang kafir di hari kiamat dan saling menyalahkan satu sama lain, dan menuduh setan-setan telah menyesatkannya, Tafsir Surat Al An’am Ayat 129 ini memaklumi kesesatan mereka ketika di dunia. Karena pada dasarnya orang-orang dengan kecenderungan yang sama akan saling terhubung. Semisal orang-orang yang sesat dengan orang sesat lainnya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 127-128


Yang dimaksud dengan keterhubungan satu sama lain dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 129 ini adalah mengenai orang-orang kafir yang percaya bahwa berhala-berhala mereka dapat memberikan pertolongan. Padahal perilaku mereka tersebut berasal dari bujukan setan yang berharap akan menjadi temannya di neraka.

Ayat 129

Pada ayat ini ditegaskan bahwa hidup berkelompok antara orang yang sama tujuan, cita-cita dan kepentingannya terutama dalam hal yang jahat dan menyesatkan telah menjadi kebiasaan dari sebagian makhluk hidup, tidak ada bedanya antara jin dan manusia.

Mereka selalu tolong menolong dan bantu membantu dalam berbagai usaha dan upaya agar keinginan dan usaha mereka terpenuhi sesuai dengan rencana mereka. Mereka tidak segan-segan melakukan tindak kekerasan, kezaliman dan penganiayaan serupa dan tidak menghiraukan norma-norma kemanusiaan, keadilan, dan sifat kasih sayang, asal mereka dapat memenuhi nafsu mereka dalam menikmati kehidupan dunia ini dengan sepuas-puasnya.

Hal ini dapat dibuktikan dari berbagai peristiwa dalam sejarah sejak zaman dahulu kala sampai sekarang ini. Betapa banyak nabi dan rasul pembawa kebenaran, penyeru kepada akidah tauhid, mendapat tantangan yang hebat dan keras dari penyembah berhala dan pembela kebatilan dan kesesatan karena para nabi dan rasul itu tetap dalam pendiriannya, mantap dalam dakwahnya sehingga Allah memberi hukuman kaumnya yang sesat dan durhaka seperti kaum Ad dan Samµd.

Betapa banyak bangsa-bangsa yang merasa dirinya kuat dan perkasa dengan terang-terangan merampas hak bangsa-bangsa yang lemah tanpa memperdulikan rasa keadilan dan perikemanusiaan. Tetapi bangsa yang tertindas dan terjajah itu tidak tinggal diam, mereka berjuang dengan berbagai cara untuk merebut kembali kemerdekaannya. Memang telah menjadi sunatullah bahwa kebenaran pasti menang selama kebenaran itu tetap dibela dan diperjuangkan.

Allah berfirman:

وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ  ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. (al-Isra′/17: 81)

Allah tidak menyuruh manusia atau jin bersatu dan berkelompok untuk berbuat kejahatan, melakukan yang batil dan berbuat yang mungkar, tetapi hal ini adalah tabiat manusia dan masyarakat sendiri, mereka lebih tertarik untuk bergabung dan bertolong-tolongan dengan kelompok yang sama arah dan tujuan hidupnya, walaupun hal itu ditujukan untuk melakukan kezaliman dan bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat yang lain. Allah berfirman:

اَلْمُنٰفِقُوْنَ وَالْمُنٰفِقٰتُ بَعْضُهُمْ مِّنْۢ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ اَيْدِيَهُمْۗ نَسُوا اللّٰهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan kepada Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. (at-Taubah/9: 67)

Dalam menafsirkan ayat ini, Qatadah berkata, “Sesungguhnya Allah menjadikan manusia berteman akrab karena masing-masing memiliki kecenderungan yang sama; seorang mukmin adalah wali (teman akrab) bagi orang mukmin lain, kapan dan dimana dia berada. Seorang kafir adalah wali orang kafir lainnya, kapan dan di manapun ia berada. Iman itu bukan hanya dengan angan-angan dan bukan pula hanya berupa simbol atau tanda.


Baca juga: Tabayyun, Tuntunan Al-Quran dalam Klarifikasi Berita


Demi Allah yang memiliki umurku! Bila engkau berbuat taat kepada Allah, sedang engkau tidak mengenal seorang pun diantara orang yang taat kepada-Nya, maka hal itu tidak membahayakan kepadamu. Dan bila engkau berbuat durhaka dan maksiat yang dilarang Allah sedang engkau berteman akrab dengan orang yang taat dan takwa kepada-Nya, maka hal itu tidak akan berguna sedikit pun bagimu.”

Abu Syaikh meriwayatkan dari Mansur bin Abi al-Aswad ia berkata, “Aku bertanya kepada al-A’masy tentang maksud ayat 129 ini: Apakah yang engkau dengar dari para sahabat dan ulama tabi’in?” Al-A’masy menjawab, “Aku dengar mereka berkata, “Apabila akhlak manusia telah rusak, maka mereka akan mudah diperintah oleh manusia-manusia yang jahat.” Allah berfirman:

وَاِذَآ اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman Kami), kemudian Kami binasakan sama sekali (negeri itu). (al-Isra′/17: 16)

Di pihak lain, orang-orang mukmin bersatu dan memiliki pemimpin dan orang kepercayaan yang terdiri dari orang-orang yang baik, jujur dan bertakwa kepada Allah.

Firman Allah:

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana. (at-Taubah/9: 71)


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 130


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Tafsir An-Nur Karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy

0
Tafsir An-Nur
Tafsir An-Nur

Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy merupakan salah satu cendikiawan Islam di Indonesia yang mahir dalam ilmu fikih, hadis dan Al-Quran. Salah satu karyanya di bidang tafsir adalah Tafsir al-Qur’anul Majid atau bisa di kenal dengan Tafsir an-Nur.

Tafsir An-Nur adalah kitab tafsir yang penting diketahui dan dipelajari para pemula dalam membaca dan mendalami Al-Quran. Dengan adanya terjemah huruf Arab ke dalam huruf latin, dapat memudahkan mereka untuk mengetahui kandungan Al-Quran.

Tafsir An-Nur juga merupakan buku tafsir yang ringkas dan lengkap, serta menjelaskan apa yang terkandung dalam tiap-tiap ayat.

Spesifikasi Tafsir An-Nur

Menurut Nourouzzaman Shiddiqi, editor Tafsir An-Nur sekaligus putra dari Hasbi Ash-Shiddieqy, tafsir ini mulai ditulis pada tahun 1952 hingga selesai di tahun 1961. Penyelesaian tafsir ini bersamaan dengan kesibukan Hasbi mengajar, memimpin fakultas, menjadi anggota Konstituante dan kegiatan lainnya.

Hasbi secara langsung membacakan naskah tafsirnya kepada Nourouzzaman yang langsung menjadi naskah siap cetak. Ketika proses penulisannya itu, di atas meja kerja Hasbi banyak buku, catatan, dan lembaran kertas yang masih berserakan.

Tafsir An-Nur diterbitkan pertama kali oleh penerbit Bulan Bintang Jakarta pada tahun 1961 dengan jumlah 30 jilid. Setiap jilidnya berisi 1 juz al-Quran. Edisi ini berlangsung hingga tahun 1995.

Kemudian pada tahun 1995, edisi kedua penerbitan Tafsir An-Nur diterbitkan oleh PT. Pustaka Rizki Putra Semarang atas pemberian hak dari ahli waris Hasbi. Edisi ini mengalami perubahan dengan tidak diterbitkan per-juz, melainkan diubah menjadi sekelompok surah dan diterbitkan dalam 5 jilid. Akan tetapi edisi ini masih mengunakan pola yang sama seperti edisi pertama, yaitu penerjemahan dilakukan per qith’ah (yang terdiri dari beberapa ayat), kemudian ditafsirkan terhadap penggalan ayat.

Baca Juga: Buya Hamka, Mufasir Reformis Indonesia Asal Minangkabau

Karena Hasbi banyak mengonsumsi bacaan dengan sumber berbahasa arab, struktur dan istilah bahasa Arab ikut terbawa dalam karya tafsirnya. Hal ini bagi penulis sedikit banyak menyulitkan pembaca yang tidak memahami bahasa Arab. Karena alasan ini pada terbitan 1995 Nourouzzaman Shiddiqi dan Z. Fuad Hasbi, selaku editor, melakukan pengeditan ulang.

Metode yang digunakan oleh Hasbi ash-Shiddiqi dalam menafsirkan al-Quran adalah metode tahlili (analisis). Corak penafsirannya adalah adabi al-ijtima’i. Hal ini dapat dilihat dari latar belakang penulisan Tafsir An-Nur. Pada waktu itu Hasbi mencoba menjawab permasalah-permasalahan social yang ada dalam bentuk Kitab Tafsir.

Contoh Penafsiran

Berikut ini adalah contoh Penafsiran surat al-Fatihah ayat-4:  Maaliki yaumid diin = yang memiliki hari pembalasan

Tuhan yang memiliki atau memerintah hari perhitungan (hisab) amal perbuatan manusia dan memberikan imbalan kepada mereka menurut kadar amalan mereka masing-masing.

Maaliki, yaitu dipanjangkan mim (م) nya, maaliki berarti: yang memiliki. Jika mim tidak dipanjangkan, maliki, berarti: yang memerintah. Sandaran kedua bacaan terdapat didalam dalam al-Quran sendiri.

Memerintah dan memiliki mengandung makna yang berbeda. Persaamaan makna antara keduanya mungkin dikarenakan tidak melihat pada filsafat bahasa. Sebagian ulama berpendapat sebaiknya maliki dibaca dengan memendekkan mim agar bermakna yang memerintah. Sebab, arti yang memerintah mengandung makna yang lebih dalam (balig) dan lebih agung.

Makna ini memberi kesan bahwa Allah sendirilah yang mengendalikan makhluk-Nya yang berakal dengan cara memerintah, melarang dan memberikan imbalan serta ganjaran. Kendatipun begitu ada pula sebahagian ulama yang berpendapat sebaiknya maliki dibaca dengan memanjangkan mim agar berarti yang memiliki. Sebab, bagi mereka arti yang memilikimengandung makna yang lebih dalam dan agung.

Baca Juga: Mengenal Muhammad Dawam Rahardjo dan Karyanya, Ensiklopedi Al-Quran

Ad-diin, artinya ialah perkiraan atau perhitungan; memberi  seimbang yang diterima; dan pembalasan. Makna yang terakhir yang sesuai untuk rangkaian ayat ini.

Tuhan berfirman yang memerintah hari pembalasan (penyelesaian segala perkara), bukan yang memerintah pembalasan, untuk menumbuhkan keyakinan pada diri setiap Muslim akan ada suatu hari yang pada hari itu setiap orang yang mematuhi agama menerima imbalan atas kepatuhannya.

Sebaliknya, manusia yang berbuat baik, seperti tidak memperoleh balasan apa-apa. Namun pada hakikatnya mereka tetap memperoleh balasan berupa kebahagiaan batiniyah, ketenteraman hidup, kejernihan pikiran, rasa senang, sejahtera fisik dan berakhlak mulia. Sementara itu harus diyakini, bahwa balasanbalasan di dunia itu bukan semua balasan yang seharusnya diterima. Balasan yang sempurna akan diperoleh pada hari pembalasan kelak. Pada hari itulah, setiap orang akan menerima balasan yang setimpal.

Pembalasan yang diperoleh sesuatu umat di dunia nyata sejelas-jelasnya. Ummat-ummat yang berpaling dari jalan yang lurus, tidak memperhatikan sunnah Allah, ditimpa bala-bencana yang memang berhak mereka menerimanya, yaitu kepapaan, kelemahan, kerendahan, walaupun dahulunya mereka itu kuat, disegani dan dihormati.

Tuhan menyebut Maaliki yaumid diin sesudah ar-Rahmaanir rahiim, untuk menunjukkan bahwa manusia, tidak hanya mengharap, tetapi juga harus takut. Dan untuk menyatakan bahwa Tuhan, tidak saja mendidik hamba-Nya dengan memberi, melimpahkan rahmat, tetapi juga mendidik hamba-Nya dengan menghukum, sebagai balasan terhadap perbuatan mereka.

Tabayyun, Tuntunan Al-Quran dalam Klarifikasi Berita

0
Klarifikasi berita dalam Al-Quran
Klarifikasi berita dalam Al-Quran

Hidup di tengah masyarakat tidak akan sepi dari berbagai isu, gosip, kabar miring, hingga berita yang memancing adu domba antar manusia. inilah yang membuat proses tabayyun (klarifikasi berita) menjadi sangat penting. Bahkan, Al-Quran juga mengingatkan akan hal itu dengan istilah tabayyun.

Penyebaran kabar bohong (yang kemudian dikenal dengan hoax) di era digital ini semakin parah. Hal ini makin diperkeruh oleh sebagian orang yang mudah terpancing dengan kabar yang belum jelas kebenarannya. Mirisnya, keadaan ini oleh sebagian kalangan justru dijadikan sebagai komoditas sehingga bisa meraup keuntungan.

Bagaimanapun juga, berbagai berita yang beredar di media sangat perlu untuk diteliti kembali. Adanya isu miring bisa saja membahayakan dan merugikan sebagian pihak. melalui firman-Nya dalam surat al-Hujurat ayat 6, Allah telah mengingatkan akan pentingnya sebuah “kroschek” dalam memahami sebuah berita, ayat tersebut yakni:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”

Baca juga: Hubungan Unik Surat Al-Ma’un dan Al-Kautsar

Sebab turunnya ayat

Al-Qurthubi dalam tafsirnya menukil riwayat dari Qatadah yang menjelaskan tentang sebab turunnya ayat ini. ayat ini turun berkenaan dengan kasus al-Walid bin ‘Uqbah yang  ditugaskan Nabi Saw menuju Bani al-Musthalaq untuk memungut zakat. Ketika mereka mendengar tentang kedatangan al-Walid, mereka keluar menyambutnya sambil membawa sedekah, namun al-Walid menduga bahwa mereka akan menyerangnya. Karena itu ia kembali sambil melaporkan kepada Rasul Saw bahwa Bani al-Musthalaq enggan membayar zakat dan bermaksud menyerang Nabi Saw.

Rasul kemudian mengutus Khalid Ibn Walid menyelidiki keadaan sebenarnya dan berpesan agar tidak menyerang mereka sebelum masalah ini tuntas. Ia dan informannya menyelidiki perkampungan Bani al-Musthalaq yang ternyata masih mengumandangkan adzan dan shalat berjamaah.  Khalid kemudian mengunjungi mereka lalu menerima zakat yang telah mereka kumpulkan. Riwayat lain menyatakan bahwa justru mereka yang menemui Rasul untuk menyampaikan zakat sebelum Khalid Ibn al-Walid melangkah ke perkampungan mereka. (al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkami al-Quran, 16:311)

Baca juga: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 11: Larangan Saling Menghina Dan Merendahkan dalam Al-Quran

Tafsir surat Al-Hujurat ayat 6: pentingnya tabayyun

Penggunaan kata in yang bermakna jika biasa digunakan untuk suatu yang diragukan atau jarang terjadi. Ini isyarat bahwa kedatangan orang fasik kepada kaum mukmin jarang terjadi. Hal ini karena orang fasiq sadar bahwa kaum mu’min tidak mudah dibohongi dan selalu meneliti info yang didapatkan.

Naba’ dalam ayat tersebut bisa diartikan sebagai berita penting. Oleh karenanya perlu memilah informasi apakah itu penting atau tidak, dan perlu juga memilah pembawa berita  tersebut apakah bisa dipercaya atau tidak.

Dalam kamus al-Munawwir disebutkan bahwa tabayyun ialah bermakna tampak, jelas dan terang. Al-Maraghi juga memaknainya dengan mencari kejelasan, Sedangkan Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah menjelaskan fatabayyanu bermakna telitilah dengan sungguh-sungguh.

Adapun imam al-Thabarه dalam jami’ul Bayan fi ta’wil Ayil Quran mengatakan bahwa sebagian penduduk madinah membaca fatabayyanu dengan fatastabbatu. Dan ini juga diterangkan oleh al-Qurthubi dengan mengambil riwayat Hamzah dan al-Kisa’i.

Baca juga: Tuntunan Al-Quran dalam Menyikapi Penghinaan Terhadap Nabi SAW

Ayat tersebut merupakan tuntunan yang logis bagi penerimaan dan pengamalan suatu berita. Manusia sangat kesulitan bahkan tidak mungkin menjangkau seluruh informasi secara mandiri sehingga membutuhkan pihak lain. perlu digaris bawahi pula pihak lain tersebut bisa saja orang yang jujur begitu pula sebaliknya. Oleh karenanya perlu adanya penyaringan suatu berita sehingga tidak melangkah dalam kebodohan (jahalah).

Quraish Shihab memberi catatan penting bahwa banyaknya orang yang menyebarkan berita atau isu, tidak menjamin akan keberanan informasi tersebut. Bila dahulu para ulama ketika menyeleksi suatu hadis dari berbagai perawi, maka jika ditemukan banyak perawi yang meriwayatkan hadis disebut mutawattir. Ini memiliki derajat yang tinggi karena diriwayatkan oleh banyak perawi yang dinilai mustahil untuk berbohong.

Namun perlu diketahui pula bahwa jumlah banyak itu harus memenuhi berbagai syarat dan kriteria. Ketika ditarik pada era sekarang, maka jumlah banyak memang tidak menjamin kevalidan suatu berita. Boleh jadi mereka yang banyak itu tidak tahu persoalannya, atau memiliki dasar yang keliru bahkan bisa saja kompak untuk menyebarkan hoaks demi membuat keruh dan memancing keributan.

Tabayyun demi menjaga keharmonisan

Era demokrasi merupakan era dimana salah satu tandanya ialah adanya kebebasan berpendapat. Bahkan di indonesia, kebebasan tersebut dijamin undang-undang. Namun adanya kebebasan tanpa dibarengi dengan etika dan logika justru cenderung menjerumuskan ke dalam kehancuran. Penyebaran informasi yang kurang jelas hingga membangun opini yang menyesatkan telah dialami oleh masyarakat.

Tabayyun atau di masa sekarang biasa dikenal klarifikasi merupakan prinsip penting demi menjaga keharmonisan dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Seseorang akan selamat dari salah faham atau bahkan pertumpahan darah karena adu domba karena melakukan tabayyun dengan cara yang baik.

Selain menjaga keharmonisan umat manusia, beberapa tujuan dari adanya tabayyun ialah menjadi pertanda kematangan akal dan cara berpikir, menjaga dari keputusan yang tergesa-gesa hingga menjauhkan diri dari keraguan serta bisikan dan tipu daya setan. Wallahu ‘alam[]

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 35-36

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Setelah pada pembahasan yang lalu membicarakan mengenai ‘polemik’ pencipataan Nabi Adam as yang berujung penolakan Iblis untuk menghormati Nabi Adam as, Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 35-36 berbicara mengenai tipu daya Iblis kepada Nabi Adam as dan istrinya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 34


Dijelaskan dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 35-36 bahwa Nabi Adam as dan istrinya dibebaskan untuk menikmati anugerah dalam surga dan hanya dilarang untuk mendekati sebuah pohon, namun mereka tergoda bujuk rayu iblis dana akhirnya berani melanggar perintah Allah swt.

Pelanggaran tersebut berimbas pada keduanya dengan di keluarkan dari surga dan diperintahkan untuk mendiami bumi, merawatnya dan memanfaatkannya. Kisah yang dipaparkan dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 35-36 ini mengandung banyak hikmah.

Ayat 35

Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah memerintahkan Adam a.s. dan istrinya untuk menempati surga yang telah disediakan untuk mereka.

Mengenai surga yang disebutkan dalam ayat ini, sebagian besar mufasir, mengatakan bahwa surga yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah surga di langit yang dijanjikan Allah sebagai balasan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Menurut mufasir lain, surga yang tersebut dalam ayat itu adalah suatu taman, tempat Adam dan istrinya berdiam dan diberi kenikmatan hidup yang cukup.

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Adam a.s. dan istrinya dibolehkan menikmati makanan apa saja dan di mana saja dalam surga tersebut dengan aman dan leluasa, hanya saja Allah swt melarang mereka mendekati dan memakan buah pohon tertentu yang hanya merupakan salah satu pohon saja di antara banyak pohon yang ada dalam surga itu.

Setan menamakan pohon tersebut pohon keabadian, karena menurutnya, jika Adam a.s. dan istrinya memakan buah pohon itu maka mereka akan dapat kekal selama-lamanya dalam surga. Padahal yang sebenarnya adalah sebaliknya, yaitu apabila ia dan istrinya memakan buah pohon itu maka mereka akan dikeluarkan dari surga, karena hal itu merupakan pelanggaran terhadap larangan Allah swt.

Jika mereka melanggar larangan itu, maka mereka termasuk golongan orang zalim terhadap diri mereka, dan akan menerima hukuman dari Allah swt yang akan mengakibatkan mereka kehilangan kehormatan dan kebahagiaan yang telah mereka peroleh.

Dalam ayat ini Allah swt tidak menjelaskan hakikat dari pohon tersebut. Seseorang tak akan dapat menentukannya tanpa ada dalil yang pasti. Lagi pula, maksud utama dari kisah ini sudah tercapai tanpa memberikan keterangan tentang hakikat pohon tersebut.

Tetapi dapat dikatakan bahwa larangan Allah swt, kepada Adam a.s. dan istrinya untuk mendekati pohon itu dan memakan buahnya, tentulah berdasarkan suatu hikmah daripada-Nya, yaitu merupakan suatu ujian dari Allah swt terhadap Adam a.s. dan istrinya.


Baca juga: Nilai Kesetaraan Hingga Evaluasi Diri; Qiraah Maqashidiyah Kisah Nabi Adam


Ayat 36

Dalam ayat ini dijelaskan, bahwa setan telah menggoda Adam a.s. dan istrinya sehingga akhirnya mereka tergoda dan melanggar larangan Allah untuk tidak memakan buah pohon itu. Dalam ayat lain juga disebutkan bagaimana setan itu membujuk Adam a.s. dan istrinya.

فَوَسْوَسَ اِلَيْهِ الشَّيْطٰنُ قَالَ يٰٓاٰدَمُ هَلْ اَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلٰى

Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, ”Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Taha/20: 120)

Dalam firman-Nya yang lain disebutkan pula bujukan setan itu:

وَقَالَ مَا نَهٰىكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ ِالَّآ اَنْ تَكُوْنَا مَلَكَيْنِ اَوْ تَكُوْنَا مِنَ الْخٰلِدِيْنَ

… Dan (setan) berkata, ”Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” (al A’raf/7: 20)

Dalam melakukan godaan itu, setan berusaha untuk meyakinkan Adam a.s. bahwa ia benar-benar hanya memberikan nasihat yang baik dan untuk itu ia bersumpah:

اِنِّيْ لَكُمَا لَمِنَ النّٰصِحِيْنَۙ

”…Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu.” (al A’raf/7: 21)

Karena kesalahan yang telah dilakukan Adam dan istrinya, maka Allah swt mengeluarkan mereka dari kenikmatan dan kemuliaan yang telah mereka peroleh selama ini, lalu Allah swt memerintahkan agar mereka turun dari surga itu ke bumi. Sejak itu mereka dan setan senantiasa dalam keadaan bermusuhan satu sama lain.

Selanjutnya, Allah menerangkan bahwa mereka itu akan memperoleh tempat tinggal dan kenikmatan hidup di bumi sampai kepada ajal masing-masing. Dengan demikian, tak seorang pun yang akan hidup kekal di bumi. Jelaslah kebohongan bisikan-bisikan setan kepada Adam a.s. dan istrinya, bahwa dengan memakan buah pohon itu mereka akan kekal selama-lamanya di dalam surga.

Dalam ayat tersebut terdapat isyarat, bahwa Adam a.s. dikeluarkan bersama istrinya dari surga ke bumi bukanlah untuk membinasakan mereka, melainkan agar mereka bekerja memakmurkan bumi ini, dan bukan menjauhkan mereka dari kenikmatan hidup, sebab di bumi pun mereka tetap dikaruniai kenikmatan; dan tidak pula untuk hidup kekal, karena suatu ketika mereka akan menemui ajal dan meninggalkan dunia yang fana ini.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 37-39


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 13: Apakah Al-Quran Menyetarakan Kasta dalam Pernikahan?

0
Tafsir Surat Al-Hujurat ayat 13
Tafsir Surat Al-Hujurat ayat 13

Surat Al-Hujurat ayat 13 memiliki beberapa versi sababun nuzul. Ayat ini menekankan makluk Allah SWT agar mampu hidup dalam berbangsa, dan juga menginsafi sebuah perbedaan demi menjaga silaturahmi. Karena semakin kuat pengenalan satu pihak dengan pihak lainnya, maka semakin terbuka peluang untuk saling memberi manfaat. Akan tetapi, ternyata ayat ini juga memiliki kandungan terkait pernikahan beda kasta. Terdapat kisah pada masa Rasulullah tentang menjodohkan pasangan yang beda kasta, dari kisah tersebut turunlah Surat Al-Hujurat ayat 13.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Baca juga:  Nilai Kesetaraan Hingga Evaluasi Diri; Qiraah Maqashidiyah Kisah Nabi Adam

Sebab Turunnya Surat Al-Hujurat Ayat 13

Imam Suyuthi dalam kitab tafsirnya Al-Durr Al-Mantsur fi Tafsir Bil-Ma’tsur menyebutkan dua kisah turunnya surat al-Hujurat ayat 13:

: ‎أخرج ابْن الْمُنْذر وَابْن أبي حَاتِم وَالْبَيْهَقِيّ فِي الدَّلَائِل عَن ابْن أبي مليكَة قَالَ: لما كَانَ يَوْم الْفَتْح رقي بِلَال فَأذن على الْكَعْبَة فَقَالَ بعض النَّاس: هَذَا العَبْد الْأسود يُؤذن على ظهر الْكَعْبَة وَقَالَ بَعضهم: إِن يسْخط الله هَذَا يُغَيِّرهُ فَنزلت {يَا أَيهَا النَّاس إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ من ذكر وَأُنْثَى} الْآيَة ‎وَأخرج ابْن الْمُنْذر عَن ابْن جريج وَابْن مرْدَوَيْه وَالْبَيْهَقِيّ فِي سنَنه عَن الزُّهْرِيّ قَالَ: أَمر رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم بني بياضة أَن يزوّجوا أَبَا هِنْد امْرَأَة مِنْهُم فَقَالُوا: يَا رَسُول الله أتزوّج بناتنا موالينا فَأنْزل اللهيَا أَيهَا النَّاس إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ من ذكر وَأُنْثَى

Kisah yang pertama ialah  ketika Rasulullah memasuki kota Mekkah dalam peristiwa Fathu Makkah, Bilal bin Rabah naik ke atas Ka’bah dan menyerukan azan. Maka sebagian penduduk Mekkah yang mengetahui bahwa Bilal di Madinah merupakan seorang muadzin, mereka pun sontak kaget. Ada yang berkata: “Budak hitam inikah yang azan di atas Ka‘bah?”

Bahkan ada seruan ejekan seperti ini, Apakah Muhammad tidak menemukan selain burung gagak ini untuk berazan?”. Yang lain berkata, “Jika Allah membencinya, tentu akan menggantinya.” Lalu turunlah ayat 13 surat al-Hujurat.

Kemudian kisah kedua ini tidak hanya terdapat pada kitab Al-Durr Al-Mantsur fi Tafsir Bil-Ma’tsur, akan tetapi juga ada pada kitab Al Maraasil karangan Imam Abu Dawud, kisah dari  Abu Hind yang seorang bekas budak yang kemudian bekerja sebagai tukang bekam. Nabi meminta kepada Bani Bayadhah untuk menikahkan salah satu putri mereka dengan Abu Hind. Tapi mereka menolak dengan alasan: “Ya Rasul, bagaimana kami hendak menikahkan putri kami dengan bekas budak kami?” Lalu turunlah ayat 13 surat al-Hujurat.

Baca juga: Tafsir Surat An-Nahl Ayat 97: Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Beribadah
Apakah Al-Quran Menekankan Persamaan Kasta dalam Pernikahan?

Setelah memahami tafsir di atas khusus pada kisah Abu Hind, membuktikan bahwa Allah tidak menginginkan kita merasa paling baik dari pada orang lain. Dalam pernikahan saja Allah memperbolehkan untuk berpasangan dengan yang tidak sekasta dengannya. Seperti Abu Hind seorang budak dengan bani bayadhah.

Dalam Tafsir Al-Misbah , karangan Prof. Quraish Shihab kata تعارفوا terambil dari kata عرف  yang berarti mengenal. Semakin kuat pengenalan satu pihak dengan pihak lainnya, maka semakin terbuka peluang untuk saling memberi manfaat. Karena ayat diatas menekankan untuk saling mengenal.

Perkenalan itu dibutuhkan untuk saling menarik pelajaran dan pengalaman dari pihak lain, selain itu juga guna meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Swt, sehingga dampaknya pada kedamaian dan kesejahteraan hidup. Upaya saling mengenal dapat dilakukan dengan proses bersilaturrahim.

Salah satu kebesaran Allah Swt yang diperlihatkan-Nya kepada umat manusia adalah keragaman. Dalam setiap keragaman akan selalu ada persamaan dan perbedaan. Layaknya pasangan suami-istri boleh saja beda kasta, asalkan masing-masing pasangan memiliki ke takwaan kepada Allah SWT.

Baca juga: Inilah Tiga Prinsip Kesetaraan Gender dalam Al Quran

Kemudian pada Tafsir Al-Qurthubi dipaparkan bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya, dari persilangan laki-laki dan perempuan artinya ialah bernasab-nasab, bermarga-marga, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Dari itulah Allah menciptakan perkenalan diantara mereka, dan mengadakan regenarasi bagi mereka, demi sebuah hikmah yang telah Allah tentukan.

Selanjutnya dari Ahmad Mustofa Al-Maraghi Terjemah Tafsir Al-Maraghi, bahwa Rasulullah bersabda, ”sesungguhnya Allah tidak memandang kepada pangkat-pangkat kalian dan tidak pula kepada nasab-nasabmu dan tidak pula pada tubuhmu, dan tidak pula pada hartamu, akan tetapi memandang pada hatimu.

Maka barang siapa mempunyai hati  yang shaleh, maka Allah belas kasih kepadanya. Kalian tak lain adalah anak cucu Adam. Dan yang paling dicintai Allah hanyalah yang paling bertaqwa kepadaNya. Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Al An’am Ayat 127-128

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 127-128 membahas mengenai keselamatan dan kebahagiaan yang dianugerahkan kepada orang-orang yang yang terpilih. Yaitu orang-orang yang terbuka hatinya menerima risalah Nabi Muhammad saw. sebagaimana sempat disinggung pada pembahasan yang lalu.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 124-126


Tidak hanya anugerah di akhirat saja, ketika di dunia pun Allah swt mencukupkan balasan yang baik terhadap perbuatan mereka, memberikan pentunjuk dan taufik untuk beramal baik. Setelah itu Tafsir Surat Al An’am Ayat 127-128 berbicara mengenai hari kiamat. Pada hari itu orang-orang kafir menyesali perbuatannya ketika di dunia dan saling menyalahkan saatu sama lain.

Ayat 127

Bagi mereka yang menempuh jalan yang lurus disediakan Darussalam (surga) di sisi Tuhan. Mereka hidup mengikuti pedoman para nabi yang memberi petunjuk kepada mereka sehingga mereka terhindar dari jalan-jalan yang bengkok dan akhirnya sampailah mereka ke Darussalam.

Allah memimpin mereka dan mencukupkan balasan bagi setiap perbuatan yang mereka kerjakan di dunia. Allah memberi petunjuk kepada mereka selama di dunia dan memberi taufik untuk melakukan amal kebajikan, sehingga mereka memperoleh pahalanya, dan diizinkan untuk memasuki surga-Nya semata-mata atas karunia-Nya.

Ayat 128

Pada hari Kiamat nanti, seluruh umat manusia dan jin akan dikumpulkan di Padang Mahsyar, lalu Allah berfirman kepada mereka untuk mencela perbuatan jin yang telah mempengaruhi manusia dan mengajak mereka kepada kesesatan, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

اَلَمْ اَعْهَدْ اِلَيْكُمْ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ اَنْ لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطٰنَۚ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ   ٦٠

وَاَنِ اعْبُدُوْنِيْ ۗهٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ   ٦١

وَلَقَدْ اَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيْرًا ۗاَفَلَمْ تَكُوْنُوْا تَعْقِلُوْنَ   ٦٢

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu,dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Dan sungguh, ia (setan itu) telah menyesatkan sebagian besar di antara kamu. Maka apakah kamu tidak mengerti? (Yasin/36: 60-62)

Semua orang yang mengikuti ajaran jin dan setan akan dikumpulkan bersama-sama. Semua orang yang mukalaf akan dihimpun bersama para pengikutnya, baik dalam segi kebenaran maupun kejahatan. Lalu berkatalah orang-orang yang menjadi pengikut jin itu sebagai jawaban mereka kepada Allah:

“Ya Tuhan kami, masing-masing di antara kami telah merasakan kenikmatan dari pihak lainnya. Jin-jin itu mendapatkan kenikmatan karena mereka telah berhasil menyesatkan kami dengan bujukan-bujukan dan mengikuti kehendak hawa nafsu, sebaliknya kami pun merasa senang mengikuti mereka dan mendengarkan bisikan-bisikan mereka. Kami merasa leluasa bergelimang kelezatan di dunia.”

Dalam ayat ini, Allah memberikan petunjuk bahwa setiap manusia senantiasa didampingi setan yang berusaha untuk membujuknya dengan bisikan yang mengajaknya kepada kefasikan dan kedurhakaan kepada Allah, sehingga ia tidak menyadari, bahwa hal itu adalah tipu daya dari setan tersebut.

Makhluk halus itu selalu berusaha untuk menyesatkan manusia kepada lembah kebatilan dan kejahatan, sebagaimana kuman-kuman yang selalu berusaha untuk menimbulkan bermacam-macam penyakit dalam tubuh manusia atau hewan.

Kuman-kuman itu mengetahui jalannya untuk memasuki tubuh manusia atau binatang dari lubang-lubang yang halus. Demikian pula setan mengetahui jalan untuk memasuki hati manusia, sehingga manusia jatuh ke lembah kesesatan tanpa disadarinya.

Apabila ada kuman yang berhasil menyelinap ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan timbulnya penyakit, maka manusia yang lebih halus sifatnya, dapat dimasuki pengaruh makhluk-makhluk halus, yaitu jin dan setan, yang dapat menjerumuskan kepada penyakit-penyakit rohani manusia.

Orang-orang yang menjadi pengikut jin dan setan berkata, dengan penuh kesedihan dan penyesalan, “Ya Tuhan, kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami, setelah kami menerima kelezatan duniawi karena mengikuti ajakan jin dan setan dan kami telah mengakui dosa-dosa kami, maka kami berserah diri kepada-Mu untuk menerima hukuman-Mu yang seadil-adilnya.”


Baca juga: Jejak Qiraat Imam Nafi’ dalam Manuskrip Al-Quran Keraton Kacirebonan


Perkataan mereka memperlihatkan penyesalan dan keterlanjuran mereka dalam mengikuti hawa nafsu dan sekarang mereka berserah diri kepada Allah yang mengetahui segala perbuatan mereka.

Dalam ayat ini tidak disebutkan bagaimana jawaban jin dan alasan setan yang membawa mereka kepada kesesatan itu, tetapi dijelaskan dalam firman Allah yang lain yang menunjukkan bahwa setan, jin dan manusia yang menjadi korban hasutan mereka saling bertikai melepas tanggungjawab dan saling mengutuk satu sama lain:

ثُمَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَّيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۖوَّمَأْوٰىكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ

“… kemudian pada hari Kiamat sebagian kamu akan saling mengingkari dan saling mengutuk; dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sama sekali tidak ada penolong bagimu.” (al-Ankabµt/29: 25)

Sebagai jawaban atas keluhan mereka itu Allah berfirman, “Neraka itulah tempat kamu berdiam sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali Tuhan menghendaki yang lainnya.” Segala sesuatu berada di bawah kehendak dan pilihan-Nya, dan tidak ada yang mengetahui kehendak-Nya selain Dia sendiri. Dialah Tuhan Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.

Ibnu Abbas memahami ayat di atas, bahwa siapapun tidak patut turut campur dalam menentukan nasib seorang hamba Allah, apakah dia akan dimasukkan ke surga atau ke neraka. Semuanya berada di bawah kekuasaan dan kehendak Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 129


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 34

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Masih dalam pembahasan mengenai ‘polemik’  pencipataan Nabi Adam as, Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 34 ini membahas mengenai perintah Allah swt kepada seluruh malaikat dan iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam as.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 33


Makna sujud yang diterangkan dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 34 ini adalah bersujud untuk menghormati Nabi Adam as yang dianugerahkah ilmu oleh Allah swt. Namun ada yang membangkang dalam perintah tersebut, yakni Iblis.

Alasan yang menjadikan Iblis tidak mematuhi perintah Allah swt adalah rasa sombong dengan merasa lebih baik daripada Nabi Adam as. Karena ia diciptakan dari api sedangkan Nabi Adam as diciptakan dari tanah. Dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 34  juga dipaparkan mengenai perbedaan pendapat terhadap sosok iblis.

Ayat 34

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah memerintahkan kepada para malaikat agar mereka bersujud atau memberi hormat kepada Adam a.s. Maka malaikat menaati perintah itu, kecuali Iblis, artinya setelah Adam a.s. selesai memberitahukan nama makhluk-makhluk itu kepada para malaikat, Allah memerintahkan kepada mereka bersujud atau memberi hormat kepada Adam a.s. Maka sujudlah malaikat kepada Adam a.s.

Perintah itu bukanlah sujud untuk beribadah kepadanya, melainkan sujud sebagai penghormatan semata-mata, dan sebagai pengakuan mereka terhadap kelebihan dan keistimewaan yang ada padanya. Dalam agama Islam, sujud ibadah hanya diperbolehkan kepada Allah swt semata. Pada hakikatnya, sujud kepada Allah ada dua macam.

Pertama, sujud manusia kepada Allah dalam beribadah, yaitu sujud salat, sujud tilawah dan sujud syukur menurut cara-cara yang telah ditentukan dalam ajaran syariat. Kedua, sujud semua makhluk kepada Allah dengan arti tunduk dan patuh kepada-Nya. Arti yang asli dari kata-kata “sujud” adalah “tunduk dan patuh”.

وَّالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ

Dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya). (ar Rahman/55: 6)

وَلِلّٰهِ يَسْجُدُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا

Dan semua sujud kepada Allah baik yang di langit maupun yang di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa … (ar Ra’d/13: 15)

Sujud para malaikat kepada Adam a.s. sebagai penghormatan dan pernyataan tunduk kepadanya, bukan untuk beribadah. Perintah Allah swt kepada mereka untuk sujud kepada Adam menunjukkan kelebihan Adam dari mereka, sehingga ia benar-benar lebih berhak dijadikan khalifah di bumi.

Mengenai asal usul kejadian Adam, malaikat dan Iblis, disebutkan bahwa Adam a.s. diciptakan Allah dari tanah dan malaikat diciptakan dari cahaya (nur), ) sedang jin, Iblis dan setan diciptakan dari api (nar).

Iblis dan setan selalu membisikkan kepada manusia hal-hal yang tidak benar untuk menggoda dan menyesatkannya dari jalan yang lurus. Bahkan Adam dan Hawa sebagai manusia pertama telah digoda untuk melanggar larangan Allah swt.

Iblis bukanlah termasuk jenis malaikat, melainkan suatu makhluk dari bangsa jin. Iblis itu pada mulanya pernah berada dalam kalangan malaikat, bergaul dengan mereka dan mempunyai sifat-sifat seperti mereka pula, walaupun asal kejadiannya berbeda dari asal kejadian malaikat.


Baca juga: Riwayat Israiliyyat Batil dalam Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis


Buktinya ialah firman Allah swt pada akhir ayat tersebut yang menerangkan bahwa ketika Allah swt memerintahkan kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam a.s., maka mereka semuanya patuh, kecuali Iblis.

Jadi teranglah bahwa Iblis itu bukanlah dari kalangan malaikat, sebab malaikat selalu patuh dan taat kepada perintah Allah dan tidak pernah membangkang. Arti harfiah “iblis” yaitu “putus asa”, “membangkang”, “diam”, atau “menyesal”.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ اَمْرِ رَبِّهٖ

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ”Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya…(al Kahf/18: 50)

Iblis, sama halnya dengan jin dan setan, diciptakan Allah dari api. Iblis menganggap bahwa api lebih mulia daripada tanah. Sebab itu ia memandang dirinya lebih mulia daripada Adam, sebab Adam diciptakan Allah dari tanah. Itulah sebabnya Iblis menolak bersujud kepada Adam.

Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa Iblis itu termasuk jenis malaikat juga, sebab perintah Allah kepada malaikat agar bersujud kepada Adam a.s. adalah ditujukan kepada semua malaikat.

Lalu disebutkan, bahwa para malaikat itu semua bersujud kepada Adam a.s., kecuali Iblis. Memang benar, bahwa sifat yang asli dari para malaikat adalah patuh dan taat kepada Allah swt. Namun demikian tidaklah mustahil bahwa sebagian atau salah satu dari mereka ada yang bersifat durhaka, sebagai sifat yang datang kemudian. Itulah Iblis.

Dalam ayat lain disebutkan bahwa Allah menanyakan kepada Iblis apa alasannya untuk tidak bersujud kepada Adam. Allah berfirman:

قَالَ يٰٓاِبْلِيْسُ مَا مَنَعَكَ اَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۗ اَسْتَكْبَرْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِيْنَ  ٧٥

 (Allah) berfirman, ”Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kekuasaan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?” (Sad/38:75)

Allah menceritakan jawaban Iblis:

قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ  ٧٦

(Iblis) berkata, ”Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Sad/38:76)

Iblis enggan mematuhi perintah Allah yang menyuruh sujud kepada Adam, dan ia bersikap angkuh karena ia merasa dirinya lebih mulia dan lebih berhak dari Adam untuk dijadikan khalifah. Karena Iblis menolak perintah Allah berdasarkan anggapannya itu, maka ia termasuk makhluk yang kafir kepada Allah. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa Iblis adalah makhluk yang pertama-tama mengingkari perintah Allah.

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Iblis merupakan asal dari semua jin, sebagaimana Adam asal dari semua manusia.

Jin itu mempunyai keturunan. Mereka penghuni bumi sebelum Adam diciptakan Allah dan mereka telah berbuat kerusakan di bumi. Itulah sebabnya, ketika Allah memberitahukan kepada para malaikat bahwa Dia akan menjadikan Adam sebagai khalifah di bumi, para malaikat berkata, “Apakah Engkau akan menjadikan khalifah di bumi orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan suka menumpahkan darah?

Jadi malaikat mengira bahwa manusia pun akan berbuat seperti jin ketika mereka berkuasa di bumi.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 35-36


(Tafsir Kemenag)

Qoer-an Soetji Sumbangan Terjemah Tafsir Al-Quran dari HOS Tjokroaminoto

0
Qoer-an Soetji
Qoer-an Soetji/RKSS

Sosok pahlawan HOS Tjokroaminoto yang selalu bergerak melawan kolonialisme, mendidik generasi-generasi bangsa, juga wawasan religiusitas yang tinggi. Ternyata, HOS Tjokroaminoto mempunyai karya yang cukup dianggap kontroversial karena dinilai sesat oleh beberapa kalangan. Yakni Qoer-an Soetji.

HOS Tjokroaminoto merupakan tokoh besar dalam perjuangan Indonesia. Merupakan guru bangsa dari orang-orang besar setelahnya. Pimpinan Sarekat Islam, organisasi pertama di Indonesia dengan jumlah besar pada masanya. Berbagai karyanya terkenal dari hal yang berbau kiri seperti Sosialisme dan Islam, hingga karya yang berbau kanan seperti Memeriksai Alam Kebeneran. Di antara berbagai karya beserta pergolakan pemikiran dalam prosesnya, Qoer-an Soetji cukup kontroversi bahkan dijegal penerbitannya di tengah-tengah proses kepenulisannya.

Qoer-an Soetji merupakan terjemah tafsir dari The Holy Quran karya Maulana Muhammad Ali, pimpinan Ahmadiyah Lahore. Sejarah mempertemukan pemikiran HOS Tjokroaminoto yang bersedia menerjemahkan The Holy Quran yakni ketika organisasi Ahmadiyah Lahore ekspansi di Indonesia dan berpusat di Yogyakarta. Di sisi lain, Sarekat Islam yang dipimpin HOS Tjokroaminoto juga gencar-gencarnya untuk terus bergerak. Sehingga sering terjalin silaturahim antara HOS Tjokroaminoto dan pimpinan Ahmadiyah Lahore di Indonesia, Mirza Walid Ahmad Baig. Hasil silaturahmi pada saat itu, menginspirasi pemikiran HOS Tjokroaminoto untuk tertarik menerjemahkan The Holy Quran, tafsir Quran berbahasa Inggris karya Maulana Muhammad Ali.


Baca juga: Kisah Thalut Dalam Al-Quran: Representasi Sosok Pahlawan Bangsa


Alasan HOS Tjokroaminoto, Qoer-an Soetji Diterbitkan

HOS Tjokroaminoto menilai tafsir The Holy Quran ini layak untuk dikonsumsi masyarakat Indonesia. Pun pada masa itu, literasi tentang Alquran masih minim. Tafsir yang diterjemahkan saja masih memasuki periode kedua dari periodisasi terjemahan Alquran di Indonesia. Hal ini yang membuat HOS Tjokroaminoto melestarikan terjemah tafsir agar masyarakat Indonesia dapat lebih membaca dan memahami Alquran serta isinya. sehingga lahirlah Qoer-an Soetji.

Tahun 1925, HOS Tjokroaminoto dipercaya untuk menerjemahkan The Holy Quran. Semua pihak sepakat dari kalangan Sarekat Islam. Namun, berselang dua tahun berikutnya, setelah HOS Tjokroaminoto pulang dari Mekah dalam rangka delegasi dari Indonesia pada Rabithah Alam Islamiyah. Banyak hal menyudutkan HOS Tjokroaminoto atas berbagai dugaan dan fitnah. Proyek penerjemahan yang dilakukan HOS Tjokroaminoto pun terhambat. Anggota Sarekat Islam yang dari kalangan Muhammadiyah banyak menentang atas proyek penerjemahan ini. Dikarenakan ideologi Ahmadiyah yang dinilai berlawanan dengan Islam sehingga berdampak pada kualitas karya yang berbau Ahmadiyah tidak direkomendasikan untuk disebar luaskan di berbagai kalangan.

Qoer-an Soetji diputuskan untuk tidak dialnjutkan proses penerjemahannya. Juga personal HOS Tjokroaminoto pun diserang anggotanya sendiri dalam tubuh Sarekat Islam yang kontra dengannya. Berbagai fitnah dituduhkan padanya, hingga keluarganya pun tak terlepas dari tuduhan negatif. Tuduhan-tuduhan negatif ini cukup membuat luka yang amat dalam pada HOS Tjokroaminoto. Qoer-an Soetji pun tidak dilanjutkan prosesnya.


Baca juga: Implementasi Mental Heroik dalam Al-Quran; Refleksi Peringatan Hari Pahlawan


Proyek penerjemahan dari The Holy Quran menjadi Qoer-an Soetji  yang dicekal dengan dalih bacaan yang tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi masyarakat, merupakan dalih politis. anggota Sareka Islam yang kontra dengan HOS Tjokroaminoto menilai bahwasanya HOS Tjokroaminoto sendiri sudah jarang sholat, tidak pandai dalam bahasa Arab, korupsi dan lainnya, mereka menilai dari segi sikap saja sudah tidak berkompeten.

The Holy Qoern dinilai produk Ahmadiyah yang mana aliran teologinya berbeda dengan berbagai organisasi masyarakat pada masa itu. Sehingga dengan dalih seperti ini bahwa proyek penerjemahan yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto tersebut, sesat.

Model Terjemah Qoer-an Soetji yang dilakukan HOS Tjokroaminoto

Melihat model penerjemahan yang HOS Tjokroaminoto lakukan, ia tetap menuliskan apa adanya sesuai tafsir aslinya. Pada The Holy Quran, Maulana Muhammad Ali menuliskan tafsirannya dengan menerjemahkan maknanya dulu sebagaimana terjemah Alquran. Lalu pada ayat-ayat yang ditafsirkan, dibantu dengan catatan kaki. Sehingga tafsirnya dapat dibaca di bagian bawah halaman.

Model penerjemahan yang dilakukan HOS Tjokroaminoto yakni menggabungkan dua model yang mana saling berkaitan. secara utuh, HOS Tjokroaminoto menerjemahkan The Holy Quran menjadi Qoer-an Soetji dengan model terjemah harfiyah. Yakni pengalih bahasakan dari bahasa asal pada bahasa tujuan sesuai strukur kalimat bahasa asal. Hal ini dibuktikan dari teknis kepenulisan hingga layout yang sama dan utuh.

Namun penerjemahan secara harfiyah memiliki kelemahan yakni pada suatu ayat tertentu tidak bisa diterjemahkan sebagaimana adanya. Diperlukan suatu penjelasan lebih dalam lagi dengan bahasa tujuan yang lebih mudah. HOS Tjokroaminoto pun dalam terjemahnya tidak hanya utuh menerjemahkan, namun disisipkan keterangan lebih lanjut terkait ayat yang memang butuh penjelasan lebih.


Baca juga: KH. Ahmad Shiddiq dan Penjelasan Tentang Tafsir Ukhuwah


Terkait sesat tidaknya produk penerjemahan ini, sebenarnya tidak sesat. Maulana Muhamamad Ali merupakan ulama besar dari golongan Ahmadiyah Lahore. Ahmadiyah Lahore dikenal dengan moderasinya yang sangat baik walau secara administratif-organisasitaoris berbeda dengan Ahmadiyah Qadiyan. Ahmadiah Lahore tetap mempercayai nabi Muhammad sebagai nabi terakhir. Hal ini berbeda dengan Ahmadiyah Qadiyan yang mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi setelah Nabi Muhammad. Aliran teologis yang dianut oleh Ahmadiyah Lahore merupakan wasathiyah yang bergerak mengikuti zaman.

HOS Tjokroaminoto yang dikenal dengan siasah yang baik pun tidak lepas dari tekanan-tekanan politis dari berbagai arah. Begitulah yang dialami guru bangsa ini pada saat proses penerjemahan Qoer-an Soetji. Tuduhan bahwa harus diberhentikan proses penerjemahan tersebut semata-mata karena pihak yang kontra dengan HOS Tjokroaminoto ingin mendapatkan panggung lebih baik. Qoer-an Soetji aman secara teologis dan menurut H. Agus Salim, sahabat dari HOS Tjokroaminoto tersebut juga sudah kenal dan mempelajari The Holy Quran setahun lebih. Dia berpendapat bahwa tafsir ini cocok untuk dikonsumsi berbagai kalangan masyarakat khususnya pemuda.

Bahkan cukup mengherankan, proyek penerjemahan yang dikerjakan HOS Tjokroaminoto dicekal dan dinilai negatif. Namun beberapa tahun selanjutnya tepatnya 1935 diterbitkannya terjemah dari The Holy Quran dalam bahasa Belanda dengan judul De Heilege Qoern oleh Sadewo dari kalangan Muhammadiyah. Terbukti juga pada masa diterbitkannya terjemah tersebut menjadi rujukan akademis oleh berbagai tokoh bangsa, khususnya presiden Soekarno.

Qoer-an Soetji pada prosesnya ini memang tergolong pada periode kedua dari periodisasi terjemahan di Indonesia. Kondisi sosial juga masyarakat butuh akan referensi-referensi bacaan sebagai perawatan nalar. Tak hanya itu, pada masa itu masyarakat harus berjuang melawan kolonialisme Belanda. HOS Tjokroaminoto yang salah satu guru bangsa, menghadirkan upaya penerjemahan tersebut untuk memperkaya khazanah tentang substansi makna Alquran. wallahu a’lam[]

Hikmah Adanya Nasakh dan Mansukh Dalam Al-Quran, Begini Penjelasannya

0
nasikh dan mansukh
nasikh dan mansukh

Adanya dinamika pencabutan atau atau pembatalan status ayat atau hukum di dalam Al-Quran, atau yang biasa dikenal dengan nasakh dan mansukh, membuat sebagian orang bertanya-tanya. Terlebih pada ayat yang dibatalkan hukumnya saja, sementara status ayatnya masih ada sehingga masih tercantum di dalam kitab suci Al-Quran.

Untuk apa sebuah ayat ditetapkan di dalam Al-Quran, kalau hukum yang dikandungnya sudah tidak lagi berlaku? Para pakar ilmu Al-Quran sering menyinggung soal ini di dalam karya mereka. Simak penjelasan mereka di dalam keterangan berikut ini:

Sekilas Tentang Nasakh dan Mansukh di dalam Al-Quran

Pencabutan, pembatalan, atau revisi ayat (nasakh dan mansukh) serta kandungannya atau salah satunya, memang benar terjadi dalam di dalam Al-Quran. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa kita pungkiri keberadaanya. Karena hal ini berdasar dari nash Al-Quran dan hadis. Para pakar ilmu Al-Quran sendiri banyak yang membuat kitab khusus atau bab khusus tentang nasakh dan mansukh di dalam Al-Quran.

Salah satu contoh ayat yang dicabut hukum yang dikandungnya sementara bunyi ayatnya masih ada di dalam Al-Quran adalah:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لأزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya) (Q.S. Al-Baqarah [2] 240).

Ayat tersebut dicabut kandungan hukumnya oleh ayat:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari (QS. Al-Baqarah [2] 240).

Di dalam contoh di atas, masa tunggu (iddah) seorang istri yang ditinggal mati suaminya, yang semula ditetapkan lamanya setahun (di ayat pertama), dicabut dan digantikan dengan masa tunggu lamanya 4 bulan sepuluh hari (di ayat kedua). Meski ayat pertama kandungan hukumnya sudah tidak ada lagi, tapi bunyi ayatnya tidak ikut dicabut dan digantikan dengan bunyi ayat kedua. Sehingga tetap ada dalam kitab suci Al-Quran.

Baca juga: Perbedaan Pandangan Ulama tentang Nasikh dan Mansukh

Hikmah Dibalik Keberadaan Ayat yang Dicabut Hukumnya di dalam Al-Quran

Adanya pencabutan, pembatalan, atau revisi ayat (nasakh dan mansukh) yang yang hanya dibatalkan hukumnya saja, sementara status ayatnya masih ada sehingga masih tercantum di dalam kitab suci Al-Quran, menurut ulama memiliki hikmah yang penting untuk diketahui. Masuk kategori penting sebab seorang muslim yang tidak mengetahui hikmah tersebut, bisa terjerumus pada tindakan menghujat Al-Quran sebab menganggap di dalam Al-Quran dianggap ada ayat yang tak lagi berguna.

Berdasar keterangan Imam As-Suyuthi di dalam kitab Al-Itqan, berikut hikmah dari keberadaan nasakh dan mansukh atau ayat yang hanya dibatalkan hukumnya saja, sementara status ayatnya masih ada di dalam Al-Quran:

Pertama, untuk menunjukkan bahwa antara ayat dan hukum yang dikandungnya memiliki fungsi sendiri-sendiri. Ayat fungsinya adalah untuk dibaca. Membaca ayat Al-Quran tanpa memahami maknanya, tetap memperoleh pahala tersendiri. Sedang hukum yang dikandung ayat tersebut berfungsi untuk dipelajari dan diamalkan.

Pada saat suatu ayat dibatalkan kandungan maknanya dan status bunyi ayatnya masih dinyatakan termasuk bagian dari Al-Quran, sehingga tatkala membaca ayat tersebut tetap terhitung ibadah, pembaca Al-Quran akan tahu bahwa keutamaan ayat-ayat Al-Quran tidak bergantung sepenuhnya terhadap makna yang dikandungnya. Namun juga bergantung bahwa ayat itu merupakan firman Allah dan dinyatakan sebagai ayat suci Al-Quran.

Baca juga: Inilah Empat Pilar Tafsir Al-Quran Perspektif Al-Zarkasyi, Berikut Penjelasannya

Kedua, proses pencabutan serta pembatalan suatu hukum umumnya disertai pergantian ke hukum yang lebih ringan, sebagaimana dalam contoh di atas. Pencabutan suatu hukum tanpa disertai pencabutan status bunyi ayatnya, dapat menjadi pengingat bagi manusia terhadap keberadaan rahmat Allah kepada hamba-Nya berupa proses memberi keringanan dalam melakukan kewajiban.

Setiap pembaca Al-Quran menemui suatu ayat yang telah dicabut hukum yang dikandunganya, ia akan berusaha mencari tahu hukum penggantinya. Disaat tahu hukum penggantinya lebih ringan dari hukum pertama, ia akan tahu sifat belas kasih Allah dalam menitahkan kewajiban kepada hamba-Nya (Nahjut Taisir/150). Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 124-126

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pada pembahasan yang lalu dikemukakan protes dari para pembesar Quraisy terkait dengan terpilihnya Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah, dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 124-126 ini dikemukakan contoh protes dari salah satu pemuka tersebut, yaitu Walid bin Mughirah.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 122-123


Para pembesar tersebut ingkar terhadap risalah Nabi dikarenakan perasaan dengki yang menguasai diri mereka. Lebih lanjut Tafsir Surat Al An’am Ayat 124-126 ini menyinggung bahwa sebenarnya dalam lubuk hatinya, mereka percaya terhadap Nabi Muhammad. Hal ini dibuktikan dengan julukan yang pernah disematkan kepada Nabi Muhammad, yakni al-Amin (yang terpercaya).

Kebalikannya, dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 124-126 pula dipaparkan mengenai orang-orang yang jernih hatinya dan menerima risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Allah swt menganugerahkan rahmat kepada mereka yang terbuka hatinya.

Ayat 124

Ibnu Munzir meriwayatkan dari Ibnu Juraij dan Abu Syaibah bahwa ayat ini diturunkan karena ada seorang pembesar Mekah bernama Walid bin Mugirah yang berkata, “Demi Allah, seandainya kenabian Muhammad itu benar, tentulah aku lebih berhak untuk diangkat sebagai nabi dari pada Muhammad, sebab aku lebih banyak mempunyai harta benda dan keturunan.”

Apabila turun ayat Alquran yang menjelaskan kebenaran kenabian Muhammad dan berisi pengetahuan dan petunjuk yang dibawanya dari Allah, mereka berkata, “Kami tidak mau percaya kepada Muhammad, kecuali bila dia membawa mukjizat seperti yang diberikan Allah kepada Nabi Musa yakni tongkatnya yang dapat membelah lautan, atau seperti mukjizat Nabi Isa yang dapat menyembuhkan penyakit sopak dan menghidupkan orang mati.”

Tuntutan mereka yang lebih besar lagi disebutkan dalam firman Allah:

وَقَالَ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَاۤءَنَا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَوْ نَرٰى رَبَّنَا ۗ لَقَدِ اسْتَكْبَرُوْا فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ وَعَتَوْ عُتُوًّا كَبِيْرًا

“Dan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat) berkata, ”Mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sungguh, mereka telah menyombongkan diri mereka dan benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan kezaliman).” (al-Furqan/25: 21)

Pada dasarnya mereka tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad, kecuali bila Nabi diberikan hal-hal yang serupa sebagaimana diberikan kepada rasul-rasul sebelumnya. Allah membantah tuntutan mereka dan menyatakan bahwa hanya Allah yang mutlak mengetahui kepada siapa Dia menempatkan tugas kerasulan. Tuntutan mereka seperti itu dijelaskan pula oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya:

وَقَالُوْا لَوْلَا نُزِّلَ هٰذَا الْقُرْاٰنُ عَلٰى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيْمٍ  ٣١  اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا

“Dan mereka (juga) berkata, ”Mengapa Alquran ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu dua negeri ini (Mekah dan Taif)?” Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (az-Zukhruf/43: 31-32)

Tuntutan-tuntutan seperti itu dikemukakan mereka kepada Nabi Muhammad yang dikaitkan dengan kehidupan duniawi karena terdorong oleh kedengkian dan kesombongan mereka dan dimaksudkan untuk membantah posisi Nabi sebagai  Rasulullah.

Hal ini dijelaskan dalam firman Allah:

وَاِذَا رَاٰكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ يَّتَّخِذُوْنَكَ اِلَّا هُزُوًاۗ اَهٰذَا الَّذِيْ يَذْكُرُ اٰلِهَتَكُمْۚ وَهُمْ بِذِكْرِ الرَّحْمٰنِ هُمْ كٰفِرُوْنَ

“Dan apabila orang-orang kafir itu melihat engkau (Muhammad), mereka hanya memperlakukan engkau menjadi bahan ejekan. (Mereka mengatakan), ”Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhanmu?” Padahal mereka orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pengasih.”  (al-Anbiya′/21: 36)

Pemuka-pemuka Quraisy yang menghina Nabi Muhammad, sesungguhnya dalam hati kecil mereka mengakui kemuliaan keturunan, kejujuran dan keagungan akhlak Nabi, sehingga mereka memberikan julukan kepada Nabi dengan sebutan Al-Amin (orang yang tepercaya).

Mereka mengakui Nabi Muhammad layak untuk dijadikan utusan Allah. Tidak ada sebab lain yang menghalang-halangi mereka dari keimanan kecuali karena kedengkian, kesombongan, dan taklid buta kepada keyakinan nenek moyang.

Posisi kerasulan semata-mata karunia Allah yang dianugerahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Posisi kenabian tidak mungkin dicapai dengan jalan usaha atau dengan meningkatkan taraf pendidikan dan tidak pula dicapai melalui nasab atau keturunan.

Posisi tersebut hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang dipilih-Nya. Kemudian Allah mengancam pemuka-pemuka Quraisy yang sombong bahwa mereka akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang pedih karena perbuatan mereka yang jahat dan tipu daya mereka terhadap Nabi Muhammad dan kaum Muslimin, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

فَاَذَاقَهُمُ اللّٰهُ الْخِزْيَ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚوَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

“Maka Allah menimpakan kepada mereka kehinaan pada kehidupan dunia. Dan sungguh, azab akhirat lebih besar, kalau (saja) mereka mengetahui.” (az-Zumar/39: 26)

Azab dari Allah ditimpakan kepada mereka yang durhaka, disebabkan dosa-dosa dan pelanggaran mereka. Sayang sekali, bahwa azab itu dipandang oleh sebagian manusia hanya sebagai bencana alam dan tidak menimbulkan kesadaran dalam hati mereka, sebagai azab Tuhan ada di antara mereka yang mati terbunuh pada waktu perang Badar dan ada pula yang mengalami nasib hina dalam kehidupan.


Baca juga: Kisah Thalut Dalam Al-Quran: Representasi Sosok Pahlawan Bangsa


Ayat 125

Jika ada orang yang berjiwa besar dan terbuka hatinya untuk menerima kebenaran agama Islam, maka yang demikian itu disebabkan karena Allah hendak memberikan petunjuk kepadanya. Oleh karena itu, dadanya menjadi lapang untuk menerima semua ajaran Islam, baik berupa perintah maupun larangan.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang “kelapangan dada” yang dimaksud dalam ayat ini, lalu beliau menjawab, “Itulah gambaran cahaya Ilahi yang menyinari hati orang mukmin, sehingga menjadi lapanglah dadanya.”

Para sahabat bertanya lagi, “Apakah yang demikian itu ada tanda-tandanya?” Nabi saw menjawab, “Ada tanda-tandanya, yaitu selalu condong kepada akhirat, selalu menjauhkan diri dari tipu daya dunia dan selalu bersiap-siap untuk menghadapi kematian.” (Riwayat Ibnu Abi Hatim dari Abdullah bin Mas’µd)

Jika demikian sifat-sifat orang mukmin yang berlapang dada disebabkan oleh cahaya iman yang masuk ke dalam hatinya, maka sebaliknya orang yang dikehendaki Allah untuk hidup dalam kesesatan, dadanya dijadikan sesak dan sempit seolah-olah ia sedang naik ke langit yang hampa udara.

Apabila ia diajak untuk berfikir tentang kebenaran dan tafakur tentang tanda-tanda keesaan Allah, maka disebabkan oleh kesombongan dalam hatinya, ia menolak karena perbuatan itu tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Hasrat  untuk mengikuti kebenaran melemah, dan setiap anjuran agama dirasakannya sebagai suatu beban yang berat yang tidak dapat dipikulnya.

Gambaran orang serupa itu adalah seperti orang yang sedang naik ke langit. Semakin tinggi ia naik, semakin sesak nafasnya karena kehabisan oksigen, sehingga ia terpaksa turun kembali untuk menghindarkan diri dari kebinasaan.

Dalam ayat ini, Allah memberikan sebuah perumpamaan, agar benar-benar diresapi dengan perasaan yang jernih. Demikianlah Allah menjadikan kesempitan dalam hati orang-orang yang tidak beriman, karena kekafiran itu seperti kotoran yang menutup hati mereka, sehingga ia tidak menerima kebenaran. Keadaan ini dapat disaksikan pada tingkah laku mereka dalam kehidupan sehari-hari yang selalu menjurus kepada kejahatan.

Ayat 126

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa hati seorang mukmin selalu lapang dan bahagia disebabkan oleh ajaran agama Allah yang lurus yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Agama Islam mengajarkan akidah (sistem keyakinan) yang benar yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.

Hal itu sangat jelas karena disertai dalil yang nyata dan keterangan yang meyakinkan. Satu-satunya jalan yang lurus yang sesuai dengan akal dan fitrah yang bersandar pada firman Allah yang kekal abadi, ialah jalan yang menuju kepada keridaan Allah, yakni tali Allah yang kokoh. Allah telah menjelaskan ayat-ayat-Nya bagi mereka yang mau memperhatikan.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 127-128


(Tafsir Kemenag)