Beranda blog Halaman 479

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 33

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 33 menyambung pembicaraan yang telah lalu, yaitu terkait degan penciptaan Nabi Adam as yang sempat di”protes” oleh malaikat serta rahasia dan hikmah dari penciptaan tersebut.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 30-32


Dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 33 ini dikemukakan mengenai kelanjutan dari respons Allah atas “protes” malaikat. Ternyata mereka tidak mengetahui nama-nama benda yang telah diperlihatkan oleh Allah. Sedangkan Nabi Adam as dapat mengetahuinya dengan baik.

Hikmah lain yang dijelaskan dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 33 ini adalah dengan diajarkannya nama-nama benda kepada Nabi Adam as pada akhirnya kita dapat melihat dan menikmati segala yang ada di bumi. Seperti tanaman berbuah, ladang, pabrik dan lian sebagainya. Hal itu tidak akan terjadi apabila malaikat yang menghuni bumi karena mereka tidak butuh semua hal tersebut.

Dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 33 ini juga dijelaskan mengenai kajian ilmiah terkait dengan tanah sebagai bahan dasar Allah menciptakan Nabi Adam as. Dalam tanah terbadapat berbagai kandungan yang berfungsi dalam proses kimiawi maupun biokimiawi.

Ayat 33

Setelah para malaikat ternyata tidak tahu dan tidak dapat menyebutkan nama benda-benda yang diperlihatkan Allah kepada mereka, maka Allah memerintahkan kepada Adam a.s. untuk memberitahukan nama-nama tersebut kepada mereka. Adam melaksanakan perintah itu lalu diberitahukannya nama-nama tersebut kepada mereka.

Kemudian, setelah Adam a.s. selesai memberitahukan nama-nama tersebut kepada malaikat, dan diterangkannya pula sifat-sifat dan keistimewaan masing-masing makhluk itu, maka Allah berfirman kepada para malaikat bahwa Dia pernah mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya Dia mengetahui pula apa-apa yang mereka nyatakan dengan ucapan-ucapan mereka dan pikiran-pikiran yang mereka sembunyikan dalam hati mereka. Dia menciptakan sesuatu tidaklah dengan sia-sia, melainkan berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya.

Dalam masalah pengangkatan Adam a.s. sebagai khalifah di bumi terkandung suatu makna yang tinggi dari hikmah Ilahi yang tak diketahui oleh para malaikat. Mereka tidak dapat mengetahui rahasia-rahasia alam, serta ciri khas yang ada pada masing-masing makhluk, sebab para malaikat sangat berbeda keadaannya dengan manusia. Mereka tidak mempunyai kebutuhan apa-apa, seperti sandang, pangan dan harta benda.

Maka seandainya malaikat yang dijadikan penghuni dan penguasa di bumi ini, niscaya tak akan ada sawah dan ladang, tak akan ada pabrik dan tambang-tambang, tak akan ada gedung-gedung yang tinggi menjulang. Juga tidak akan lahir bermacam-macam ilmu pengetahuan dan teknologi seperti yang telah dicapai umat manusia sampai sekarang ini, yang hampir tak terhitung jumlahnya.

Dengan kekuatan akalnya, manusia dapat memiliki pengetahuan dan kemampuan yang terus berkembang serta dapat melakukan hal-hal yang hampir tak terhitung jumlahnya. Dengan kekuatan itu, manusia dapat menemukan hal-hal baru yang belum ada sebelumnya. Dia dapat mengolah tanah yang gersang menjadi tanah yang subur.

Dengan bahan-bahan yang tersedia di bumi ini manusia dapat membuat variasi-variasi baru yang belum pernah ada. Pengawinan antara kuda dengan keledai, melahirkan hewan jenis baru yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu hewan yang disebut “bagal”.

Dengan mengawinkan atau menyilangkan tumbuh-tumbuhan yang berbunga putih dengan yang berbunga merah, maka lahirlah tumbuh-tumbuhan jenis baru, yang berbunga merah putih. Pengolahan logam menjadi barang-barang perhiasan yang beraneka ragam dan alat-alat keperluan hidup sehari-hari dan pengolahan bermacam-macam tumbuh-tumbuhan menjadi bahan pakaian dan makanan untuk kesejahteraan mereka.

Pada zaman sekarang ini dapat disaksikan berjuta-juta macam benda hasil penemuan manusia, baik yang kecil maupun yang besar, sebagai hasil kekuatan akalnya.

Adapun para malaikat, mereka tidak mempunyai hawa nafsu yang akan mendorong mereka untuk bekerja mengolah benda-benda alam ini dan memanfaatkannya untuk kepentingan hidup mereka.

Oleh karena itu, apabila mereka yang telah dikaruniai kekuatan akal serta bakat-bakat dan kemampuan yang demikian diangkat menjadi khalifah di bumi, maka hal ini adalah wajar, dan menunjukkan pula kesempurnaan ilmu dan ketinggian hikmah Allah swt dalam mengatur makhluk-Nya.

Rangkaian ayat di atas menegaskan bahwa tugas manusia di muka bumi adalah menjadi khalifah. Ketika mengetahui maksud Allah hendak menjadikan khalifah di muka bumi para malaikat bertanya-tanya mengapa Allah hendak menjadikan manusia sebagai khalifah, padahal mereka banyak berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah? Allah menjawab bahwa Dia mengetahui apa yang tidak diketahui oleh para malaikat.

Ternyata yang menjadikan manusia patut mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi adalah karena karunia yang Allah berikan kepada manusia berupa kemampuan untuk mengetahui nama-nama benda seluruhnya serta mengingatnya dan menjelaskannya, sementara para malaikat tidak memiliki kemampuan seperti ini.

Jika ditelaah lebih dalam, kemampuan untuk mengidentifikasi dan memberikan nama pada hakekatnya adalah kemampuan dasar yang sangat diperlukan manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Kegiatan analisis dan sintesis untuk menghasilkan ilmu pengetahuan tidak mungkin dapat dilakukan tanpa kemampuan untuk mengidentifikasi dan memberi nama.

Oleh karena itu, bab atau topik yang menjadi bahasan awal ilmu mantik dan filsafat ilmu pengetahuan adalah tentang “nama”, tentang hakekat nama dan kaitan antara nama dengan konsep yang dirujuk olehnya.

Kemampuan memberi nama, baik yang konkrit maupun yang abstrak pada hakekatnya adalah kemampuan untuk membuat konsep yang pada gilirannya memfasilitasi kemampuan untuk melihat keterkaitan antar berbagai konsep serta mensintesis berbagai konsep menjadi konsep baru. Proses ini terjadi terus menerus dan dengan cara demikian ilmu pengetahuan terus terakumulasi dan berkembang.


Baca juga:Kisah Bani Israil Dalam Al-Quran dan Hidangan Dari Langit


Sangat sulit untuk membayangkan terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan jika manusia tidak memiliki kemampuan memberi nama atau membangun konsep.

Jika kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan menjadikan manusia pantas untuk mengemban tugas khalifah di muka bumi, maka dapat dimengerti jika Allah swt memberikan derajat yang tinggi kepada manusia yang berilmu. Allah berfirman yang artinya:

… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (al Mujadalah/58: 11)

Lebih jauh, lihat pula Surah al Hijr/15: 26, 28 dan 33 yang terkait dengan penciptaan manusia, yang artinya : ;

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (al Hijr/15: 26)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (al Hijr/15: 28) Ia (Iblis) berkata, “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. ( al Hijr/15: 33)

Pertanyaannya adalah mengapa Adam mampu menjelaskan nama-nama benda-benda itu, sedangkan Malaikat tidak mampu? Dalam beberapa surah, termasuk Surah al-Hijr di atas, Allah swt menjelaskan bahwa manusia dibuat dari tanah. Tanah mengandung banyak atom-atom atau unsur-unsur metal (logam) maupun metalloid (seperti-logam) yang sangat diperlukan sebagai katalis dalam proses reaksi kimiawi maupun biokimiawi untuk membentuk molekul-molekul organik yang lebih kompleks.

Contoh-contoh unsur-unsur yang ada di tanah itu antara lain, besi (Fe), tembaga (Cu), kobalt (Co), mangan (Mn) dll. Juga dengan adanya unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), nitrogen (N), fosfor (P) dan oksigen (O), maka unsur-unsur metal maupun metalloid diatas mampu menjadi katalis dalam proses reaksi biokimiawi untuk membentuk molekul yang lebih kompleks seperti ureum, asam amino atau bahkan nukleotida.

Molekul-molekul ini dikenal sebagai molekul organik, pendukung suatu proses kehidupan. Otak manusia, yang merupakan organ penting untuk menerima informasi, kemudian menyimpannya, serta mengeluarkannya kembali; terbuat dari unsur-unsur kimiawi diatas, yang tersusun menjadi makro-molekul dan jaringan otak.

Instrumen penyimpan informasi lainnya yang dipunyai oleh manusia adalah senyawa kimia yang dikenal sebagai DNA atau desoxyribonucleic acid: asam desoksi ribonukleat. Baik jaringan otak manusia maupun molekul-molekul DNA terdiri dari unsur-unsur utama C,H,O, N dan P.

Prof. Carl Sagan dari Princeton University, AS dalam bukunya The Dragon of Eden memberikan gambaran bahwa manusia memang unggul bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain ciptaan Allah swt.. Salah satu keunggulannya adalah manusia dilengkapi dengan sistem penyimpan informasi/memori. Sistem penyimpan informasi pada manusia ada dua macam, yaitu:

(1) Jaringan Otak, yang menyimpan informasi apapun yang dapat direkam olehnya. Otak manusia mempunyai kemampuan untuk menyimpan informasi sebanyak 1013 bits atau 107 Gbits. Penyimpan informasi yang ke

(2). DNA-Kromosomal, yaitu molekul DNA yang ada di kromosom, yang menyimpan informasi genetik manusia. Informasi ini akan dialihkan atau diturunkan kepada keturunannya. DNA-kromosomal manusia mampu menyimpan memori sebanyak 2×1010 bits atau sekitar 2×104 Gbits. Kapasitas menyimpan informasi DNA-kromosomal manusia ini sebanding dengan buku setebal 2.000.000 halaman, atau sebanding dengan 4000 jilid buku @ 500 halaman. Kedua penyimpan memori yang canggih ini terbuat dari unsur-unsur yang ada di tanah, subhanallah.

Inilah jawabannya, mengapa Adam mampu menangkap dan mengerti semua yang diajarkan Allah swt, berupa nama-nama benda-benda; serta mengungkapkannya kembali dengan benar; karena manusia Adam dilengkapi dangan instrumen penyimpan dan pengekspresi kembali memory: jaringan Otak dan DNA yang terdiri dari unsur-unsur tanah itu; sedangkan malaikat tidak demikian halnya. Iblis menyombongkan diri, karena kebodohannya dalam memahami ciptaan Allah swt, dengan melecehkan unsur tanah.

Baca setelahnya:

(Tafsir Kemenag)

Kisah Thalut Dalam Al-Quran: Representasi Sosok Pahlawan Bangsa

0
Kisah Thalut
Kisah Thalut dalam Al-Quran

Kisah Thalut dalam Al-Qur’an adalah salah satu kisah yang mengajarkan nilai kepahlawanan. Sebab ia hadir sebagai representasi sosok pahlawan bangsa Israil di tengah kemerosotan sosial-politik dan keagamaan mereka pasca wafatnya nabi Musa as. Terlebih lagi, kala itu mereka berada di bawah cengkeraman kekuasaan bangsa Amaliqah atau Balthatha yang dipimpin oleh raja Jalut.

Kisah Thalut bermula ketika bani Israil mengalami masa suram dan gelap selepas kepergian nabi Musa. Pada waktu itu terjadi krisis keimanan dan perjuangan di kalangan mereka, terutama ketika Yusya bin Nuh – seorang pengikut setia nabi Musa as dan pemimpin agama dan sosial bani Israil – wafat. Akibatnya, mereka terpuruk, kehilangan arah, dan tujuan seperti domba tanpa pengembala.

Tanpa sosok pemuka agama yang berpengaruh, masyarakat Israil mulai melupakan agama. Mereka melakukan berbagai dosa dan penyimpangan yang semestinya tidak dilakukan seperti membunuh nabi. Tanpa sosok pemimpin, bani Israil juga menjadi lemah dan akhirnya terjajah oleh bangsa lain, yaitu dinasti Bukhtanashar.

Dinasti Bukhtanashar terkenal sangat kejam kepada bani Israil. Dikisahkan bahwa mereka menahan pembesar bani Israil, menculik anak-anak, menarik upeti semena-mena dan berbagai tindakan yang membuat umat nabi Musa ini sengsara. Kebebasan hidup bangsa Israil direnggut hingga tak tersisa, bahkan mereka diperlakukan layaknya budak.

Di tengah penindasan tersebut, bani Israil memohon kepada Allah Swt untuk mengutus seorang nabi yang dapat menyelamatkan mereka. Padahal sebelumnya mereka selalu membunuh para nabi dan keturunannya. Doa mereka ini kemudian dijawab oleh Allah Swt dengan mengutus seorang nabi bernama Syamwil (Samuel), seorang keturunan terakhir dari keluarga Lawi.

Thalut Hadir Sebagai Representasi Sosok Pahlawan Bangsa Israil

Singkat cerita, Samuel kemudian diangkat menjadi nabi. Ia diperintahkan oleh Allah Swt untuk mengemban dan meneruskan risalah nabi Musa as. Dengan kehadiran Samuel, bangsa Israil berharap mereka dapat mengakhiri penindasan dinasti Bukhtanashar. Untuk memenuhi tujuan tersebut, suatu hari mereka meminta Samuel agar mengangkat seorang pemimpin sebagai langkah taktis melawan Jalut.

Mereka berkata, “…Angkatlah seorang raja untuk kami, niscaya kami berperang di jalan Allah.” Nabi (Samuel) mereka menjawab, “Jangan-jangan jika diwajibkan atasmu berperang, kamu tidak akan berperang juga?” Mereka menjawab, “Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, sedangkan kami telah diusir dari kampung halaman kami dan (dipisahkan dari) anak-anak kami?…” (QS. Al-Baqarah [2]: 246).

Kemudian Samuel mengangkat Thalut – seorang yang saleh dan bijaksana – sebagai pemimpin bani Israil. Namun mereka malah tidak setuju dan berkata, “…Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi Samuel) menjawab, “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik…” (QS. Al-Baqarah [2]: 247).

Mereka sangat kesal dengan terpilihnya Thalut – seorang penggembala miskin dan bukan keturunan Lawi – sebagai pemimpin. Sebab dalam tradisi bangsa Israil, para nabi dan raja harus berasal dari golongan bangsawan dan keturunan rumpun kenabian. Keengganan mereka ini baru mereda setelah nabi Samuel menyebutkan bukti the facto kepemimpinan Thalut, yakni sebuah Tabut.

Tabut merupakan peti kayu berlapis emas tempat menyimpan Taurat. Sebelumnya Tabut – yang diyakini oleh bangsa Israil membawa ketenangan dan kemakmuran – hilang akibat direbut oleh tentara dinasti Bukhtanashar. Lalu malaikat mengembalikannya kepada Thalut sebagai bukti bahwa ia telah dipilih menjadi pemimpin kaumnya.

Segera setelah pelantikannya, Thalut mengumpulkan seluruh kekuatan bangsa Israil, melatih, dan menyiapkan taktik pertempuran bagi mereka. Diperkirakan pada saat itu ada sekitar 70 ribu pemuda yang berposisi sebagai prajurit dan Thalut sebagai jendral utama. Ia adalah representasi sosok pahlawan bangsa yang memimpin pasukan dengan gagah untuk melawan raja Jalut yang zalim.

Pasukan bani Israil kemudian bertolak menuju medan peperangan melalui padang sahara yang kering dan tandus. Di tengah perjalanan – diantara Yordania dan Palestina – mereka bertemu sebuah sungai yang penuh dengan air jernih. Melihat sungai tersebut, mereka sangat bersuka cita dan ingin segera melompat ke dalamnya.

Raja Thalut yang melihat kondisi pasukannya tersebut serta atas ilham dari Allah Swt memperingatkan mereka agar tidak minum secara berlebihan karena itu dapat mempengaruhi kekuatan pasukan bani Israil. Jika mereka meminum air sungai tanpa penuh kesiagaan atau secara berlebih-lebihan, maka hampir dipastikan sesudahnya mereka akan terkapar atau bisa jadi disergap musuh (Qashash al-Anbiya: 709).

Thalut berkata, “…Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka barangsiapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barangsiapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan….” (QS. Al-Baqarah [2]: 247). Tetapi perintah Thalut ini tidak dihiraukan oleh pasukannya kecuali segelintir orang termasuk nabi Daud muda yang sat itu belum diangkat menjadi nabi.

Sebagian besar pasukan bani Israil yang tidak mematuhi perintah Allah Swt mundur karena takut terhadap pertempuran. Lantas Thalut melanjutkan perjalanan dengan ditemani pasukan kurang lebih sejumlah 300 orang prajurit. Dalam hal ini, Thalut kemudian hadir sebagai sosok pahlawan bagi bangsa Israil dengan semangatnya yang menggebu-gebu. Ia berkata, “…Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah…”

Setelah sekian lama, pasukan Thalut akhirnya berjumpa dengan bala tentara Jalut yang jumlahnya berkali-kali lipat. Ketika melihat mush, Thalut dan pasukannya berdoa dan memohon pertolongan Allah Swt. Mereka serempak berkata, “…Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir…”

Sebelum pertempuran dimulai akan diadakan duel satu lawan satu dari setiap perwakilan pemimpin pasukan. Ini adalah sebuah tradisi peperangan yang turun temurun kala itu. Jalut kemudian dengan sombong menantang semua pasukan Thalut. Namun ketika Thalut hendak menjawab tantangan tersebut, seorang pemuda gagah berani – yakni nabi Daud – meminta izin untuk melawan Jalut.

Dengan izin Allah, Daud as dapat mengalahkan dan membunuh Thalut. Dikisahkan bahwa ia membunuh Jalut dengan ketapel yang selalu dibawanya sebagai senjata. Tiga buah batu meluncur deras ke kepala Jalut hingga ia tewas. Melihat kematian Jalut, bala tentaranya kehilangan arah dan akhirnya berhasil dikalahkan dengan mudah (Qashash al-Anbiya: 710).

Kisah Thalut dan bani Israil dalam Al-Qur’an ini diakhiri dengan informasi bahwa Allah telah memilih Daud sebagai nabi dan raja bagi bangsa Israil. Allh Swt berfirman, “…Allah memberinya (Dawud) kerajaan, dan hikmah, dan mengajarinya apa yang Dia kehendaki. Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan-Nya) atas seluruh alam.”

Kisah Thalut sebagai representasi sosok pahlawan bangsa Israil ini dapat ditemukan dalam QS. al-Baqarah [2] ayat 246 hingga 251. Selain itu, perincian kisah tersebut juga dapat ditelusuri dalam Al-Kitab dengan inti kisah yang tidak jauh berbeda dari Al-Qur’an. Ibnu Katsir dalam buku Qashash al-Anbiya turut menceritakan secara rinci bagaimana kisah Thalut dan Jalut.

Dari kisah Thalut, kita dapat mempelajari beberapa hal, diantaranya: 1) Ketidaktaatan kepada Allah Swt dapat menjerumuskan manusia ke dalam jurang kemerosotan, kemunduran, dan kehancuran. 2) Ketika umat dalam masa kegelapan, maka dibutuhkan sosok pahlawan bang dan agama yang mampu membantu mereka keluar dari masa tersebut. 3) Tiada ada upaya kecuali atas izin dan kekuasaan Allah Swt. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 122-123

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Setelah berbicara mengenai perbedaan antara hukum Allah SWT dan hukum yang dibuat-buat orang kafir, khususnya mengenai sembelihan, Tafsir Surat Al An’am Ayat 122-123 ini berbicara lebih lanjut mengenai perbedaan antara orang-orang mukmin dan orang-orang musyrik (kafir).


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 118-121


Perbedaan yang dijelaskan dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 122-123 dikemukakan pada awal pembahasan setelah penyebutan sebab nuzul ayat 122. Sebab nuzul tersebut turun pada pada Umar dan Abu Jahal.

Setelah itu Tafsir Surat Al An’am Ayat 122-123 ini berbicara mengenai kejahatan dan tipu daya yang dilakukan oleh para pembesar orang-orang musyrik. Sebagaimana kebiasaan memang setiap ada seorang utusan Allah dalam suatu kaum, maka para pembesar-pembesar kaum tersebut akan merasa tersaingi dan menghalang-halangi.

Ayat 122

Sabab Nuzul ayat ini diriwayatkan oleh Abu Syaikh dari Ibnu ‘Abbas dalam firman Allah

(او من كان ميتا فاحييناه)

beliau mengatakan bahwa ayat ini turun pada Umar dan Abu Jahal.

Dalam rangka menampakkan perbedaan antara kaum Muslimin dari orang-orang kafir, Allah mengemukakan pertanyaan, yaitu apakah orang-orang yang mati hatinya karena kekufuran dan kebodohan lalu Kami hidupkan hatinya dengan keimanan dan Kami berikan pula kepadanya cahaya, yaitu Alquran yang terang benderang, sama keadaannya dengan keadaan orang yang berada dalam kegelapan yang berlapis-lapis?

Ia tidak dapat keluar dari kegelapan itu. Dirinya diliputi dengan ketakutan, kelemahan dan kebingungan. Demikian pula seorang yang berada dalam kebodohan, taklid yang buta dan kerusakan pikiran, tidak dapat keluar lagi dari hal yang demikian itu. Ia merasa takut keluar dari gua kesesatannya dan merasa tidak perlu untuk keluar kepada petunjuk yang terang benderang karena matanya silau oleh cahaya petunjuk itu.

Maka sepantasnyalah setiap muslim untuk selalu mencari dan menggunakan ilmu pengetahuan dalam segala hal. Ia harus mengetahui kebenaran agamanya dengan penuh keyakinan sehingga ia mantap dalam melakukan amal-amal kebajikan, dan dapat menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya.

Dengan demikian, ia akan menjadi mercusuar yang mencerminkan keyakinan yang kuat dan hujah yang nyata, memperlihatkan keutamaan agamanya kepada pemeluk agama-agama yang lain. Begitulah Allah telah menjadikan orang beriman memandang baik kepada cahaya petunjuk dan agama yang telah menghidupkan hatinya.

Sebaliknya Allah telah menjadikan orang-orang kafir memandang baik apa saja yang mereka kerjakan, seperti berbuat dosa dan pelanggaran memusuhi Rasul, menyembelih kurban untuk selain Allah dan mengharamkan apa yang tidak diharamkan oleh Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan-Nya dan sebagainya.

Semua itu mereka lakukan disebabkan oleh tipu daya setan yang membisikkan bujukan itu ke dalam hati mereka. Contoh nyata dari orang yang tidak beriman dan menolak hidayah Allah adalah Abu Jahal.

Ayat 123

Sebagian penduduk Mekah telah sesat karena bujukan pembesar-pembesar mereka yang melakukan bermacam-macam kejahatan dan tipu daya. Hampir di setiap negeri dan kota besar terdapat beberapa pembesar yang korup dan jahat yang melakukan tipu daya.

Telah menjadi sunatullah di dalam masyarakat bahwa setiap kali Allah mengutus seorang rasul di suatu tempat untuk memberi bimbingan kepada mereka selalu ada pembesar-pembesar yang memusuhi rasul itu serta pengikut-pengikutnya. Padahal rasul itu bermaksud mengadakan perbaikan dan pembenahan.


Baca juga: Nilai Kesetaraan Hingga Evaluasi Diri; Qiraah Maqashidiyah Kisah Nabi Adam


Sering muncul di beberapa negeri dan kota besar, sejumlah tokoh yang ingin merebut kekuasaan dan menimbun kekayaan dengan berbagai macam cara. Bawahan mereka yang tidak sejalan dengan pembesar mereka merasa bingung dalam melaksanakan tugasnya.

Mereka tidak sanggup mengikuti pemimpin-pemimpinnya yang korup dan menyeleweng. Dalam suasana kacau seperti itu, diperlukan adanya kebijaksanaan, keimanan yang kuat dan mental yang tinggi, sehingga tidak mudah dibawa arus kesesatan yang menyebabkan datangnya murka Allah.

Yang dimaksud dengan pembesar-pembesar yang jahat ialah mereka yang menentang seruan agama dan memusuhi rasul-rasul serta pengikut-pengikutnya. Demikianlah keadaan negeri Mekah ketika diutusnya Nabi Muhammad. Keadaan serupa itu terus berulang di negeri-negeri lain. Para pembesar yang korup memusuhi rasul-rasul dan pengikut-pengikutnya yang menyampaikan ajaran agama. Pada hakekatnya mereka itu adalah penipu belaka, menipu dirinya sendiri, akan tetapi mereka tidak sadar.

Telah menjadi sunatullah, bahwa suatu kejahatan akan membawa pada keburukan. Tiap-tiap tipu daya yang direncanakan terhadap hamba-hamba Allah yang saleh akhirnya menimpa diri pelakunya. Banyak peristiwa dalam sejarah manusia menunjukkan bahwa umat-umat yang menentang rasul-rasul dan para pengikutnya akhirnya dihancurkan oleh Allah dengan bermacam-macam azab, seperti bencana alam, dan lain-lain.

Mereka melakukan tipu daya untuk menentang perbaikan akhlak dan moral manusia, karena terdorong oleh keinginan untuk menduduki jabatan-jabatan tinggi dan menuruti dorongan hawa nafsunya. Mereka tidak menyadari bahwa akibat perbuatan yang buruk itu akan menimpa diri mereka sendiri, karena mereka tidak memahami sunatullah tersebut.

Dalam ayat-ayat di atas, Allah memberikan ancaman kepada semua pembesar yang durhaka, Allah juga memberi motivasi kepada Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya untuk terus melakukan amal saleh karena dalam rangka melaksanakan tugas yang suci, mereka tidak boleh menghiraukan godaan dan rintangan yang timbul dari manapun datangnya.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 124-126


(Tafsir Kemenag)

Jejak Qiraat Imam Nafi’ dalam Manuskrip Al-Quran Keraton Kacirebonan

0
Manuskrip Al-Quran Keraton Kacirebonan
Manuskrip Al-Quran Keraton Kacirebonan

Jika membicarakan qiraat dalam mushaf Indonesia saat ini, tentu kita familiar dengan riwayat Hafs dari Ashim. Namun jauh sebelum beredarnya mushaf cetak, dahulu ada juga mushaf yang ditulis dengan qiraat lainnya. Misalnya adalah manuskrip Al-Quran Keraton Kacirebonan KCR 1. Dalam suatu penelitian, mushaf ini disebut mengikuti qiraat Imam Nafi’.

Di Cirebon memang terkenal sebagai lokasi yang bersejarah dan memiliki peradaban luhur. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena Cirebon pernah menjadi pusat keislaman dan memiliki berbagai peninggalan pusaka maupun pustaka. Dalam konteks pernaskahan, Cirebon memiliki corak naskah yang variatif. Variasi ini dapat ditemukan dalam berbagai naskah seperti mushaf, tauhid, tembang, serat, kitab tasawuf, fiqih, hingga obat-obatan.


Baca juga: Mengenal Mansukhut Tilawah (Ayat Yang Dicabut Status Keayatannya)


Kali ini menarik rasanya untuk menelusuri manuskrip Al-Quran KCR 1 yang ditulis dengan qiraat Imam Nafi’. Melihat dari berbagai sentuhan budaya dan beragamnya suku yang ada di Cirebon, hadirnya mushaf berqiraat Imam Nafi’adalah suatu keniscayaan.

Manuskrip Al-Quran dengan kode KCR 1 merupakan salah satu naskah di antara 50 naskah lainnya yang ada di Keraton Kacirebonan. Ukuran mushaf ini 32 x 20 x 5,5 cm dan bidang teksnya 22 x 12,5 cm. Kondisinya saat ini sudah rusak dan tidak lengkap, hanya dimulai dari juz dua sampai surah Al- Muddatsir. Selain itu ada halaman terakhir, yakni surah Al Falaq dan An-Nas. Meskipun dengan kondisi seperti itu, mushaf ini tetap memberikan simpul-simpul informasi yang patut untuk digali.

Kertas mushaf ini berasal dari Eropa dengan dua macam kertas, bagian depan ber-counter mark JW HATM 1812, dan kertas kedua MWI dan VI. Sayangnya cap kertas dari mushaf ini tidak terlihat jelas. Beberapa peneliti menyebut mushaf ini ditulis pada kisaran tahun 1815-1816. Keunikan mushaf ini adalah, adanya ragam alternatif qiraat yang ditampilkan, yakni riwayat Hafs, qiraat Nafi’ dan bahkan qiraat Abu Amr.


Baca juga: Kapankah Datang Pertolongan Allah Swt? Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 214


Penjelasan mengenai qiraat dalam manuskrip Al-Quran KCR 1 ini pernah diteliti oleh peneliti IAIN Syekh Nurjati. Dengan judul Ragam Qiraat Mushaf Alquran di Cirebon; Studi atas Mushaf Keraton Kacirebonan, Abdul Latif, Mahrus, dan Adib memaparkan keunikan tiga mushaf dalam pendekatan ilmu qiraat. Dari penelitian ini, disebutkan hanya mushaf KCR 1 yang menampilkan qiraat yang berbeda.

Perbedaan ini bisa dilihat dari berbagai lafadz, misalnya dalam QS. Ali Imran ayat 145 mushaf ini tertulis min nabiin qutila, sementara mushaf dengan riwaat Hafs dari Asim tertulis min nabiyyin qaatala. Contoh lainnya adalah awal surat al Maidah berikut ini,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَوْفُوا۟ بِٱلْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُم بَهِيمَةُ ٱلْأَنْعَٰمِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّى ٱلصَّيْدِ وَأَنتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

Dalam mushaf KCR 1 ayat pertama berhenti pada lafadz بِٱلْعُقُودِ, sementara bacaan berdasarkan riwayat Hafs dari Ashim ayat pertama berhenti pada lafadz يُرِيدُ. Perbedaan ini menunjukkan tanda bahwa masyarakat Cirebon pada tahun 1800-an masih sangat majemuk bacaan Al Qur’annya.


Baca juga: Hari Pahlawan: Ini 3 Artikel Refleksi Peringatan Pahlawan dalam Al-Quran dan Tafsir


Melihat kemajemukan Cirebon dari tradisi mengaji

Sebagaimana mushaf pada umumnya, manuskrip Al-Quran di Keraton Kacirebonan barang tentu digunakan untuk mengaji atau bahan mengajar. Dari mushaf KCR 1 tadi, Nampaknya wawasan ulumul Qur’an ulama Keraton saat itu sangat mumpuni, terlebih ilmu qiraat merupakan salah satu fan yang jarang istimewa.

Asumsi ini didukung adanya dua jenis qiraat yang ditampilkan. Teks inti ditulis dengan qiraat Imam Nafi’ namun di sekitar kotak inti terdapat alternatif riwayat Hafs dengan tinta biru. Bahkan menurut penelusuran Latif dkk-nya, sesekali ada qiraat Abu Amr juga.

Selain itu, nampaknya memang riwayat Hafs tidak bisa dilepaskan dari konteks keindonesiaan. Saat itu meski belum ada keputusan ‘paten’ perihal riwayat Hafs seperti saat ini, namun dalam manuskrip Al Quran yang berqiraat Imam Nafi’ pun masih ditampilkan riwayat Hafs.

Dari sini nampaknya di tengah kemajemukan, saat itu mayoritas masyarakat Cirebon lebih banyak menggunakaan riwayat Hafs untuk mengaji. Kembali pada kenyataan Cirebon saat itu sebagai pusat keislaman, kemajemukan adalah hiasan dari peradaban.

Wallahu a’lam[]

Hukum Mim Sukun dalam Ilmu Tajwid dan Contohnya dalam Al-Quran

0
Mim Sukun
Hukum Mim Sukun

Mim Sukun adalah mim yang berharakat sukun. Mim sukun jika terletak sebelum huruf Hijaiyah selain Alif Layyinah (ى) memiliki tiga hukum bacaan:

  1. Ikhfa’

Ikhfa’ berarti menyamarkan. Adapun huruf Ikhfa’ berjumlah satu, yaitu huruf Ba’ (ب). Sehingga, jika terdapat Mim Sukun yang terletak sebelum huruf Ba maka dibaca Ikhfa’. Selain Ikhfa, pada posisi ini juga berlaku Ghunnah.

Bacaan ini dinamakan Ikhfa’ Syafawi karena makhrajnya dari mulut. Menurut Qamhawi, terdapat ulama yang berpendapat bacaan ini disebut Idhar, tetapi menurut pendapat yang lebih kuat dibaca Ikhfa’. Berikut ini contoh pada huruf yang ditebalkan.

Surat Al-Baqarah ayat 188

وَلَا تَأۡكُلُوۤا۟ أَمۡوَ ٰ⁠لَكُم بَیۡنَكُم بِٱلۡبَـٰطِلِ وَتُدۡلُوا۟ بِهَاۤ إِلَى ٱلۡحُكَّامِ

Surat An-Nisa’ ayat 86

وَإِذَا حُیِّیتُم بِتَحِیَّةࣲ فَحَیُّوا۟ بِأَحۡسَنَ مِنۡهَاۤ أَوۡ رُدُّوهَاۤۗ

Surat an-Nahl ayat 58

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدࣰّا وَهُوَ كَظِیمࣱ

  1. Idgham.

Hukumnya wajib, dan berlaku ketika Mim sukun bertemu huruf Mim. Bacaan ini dinamakan Idgham Mitslain/ Idgham Mitslain Shaghir. Ketika seseorang membaca ini,  wajib menambahkan Tasydid dan memperjelas Ghunnah.

Baca Juga: Hukum Nun Sukun dan Tanwin dalam Ilmu Tajwid

Menurut al-Jazari, bacaan ini juga berlaku bagi Nun Sukun atau Tanwin yang bertemu huruf Mim. Namun, menurut pendapat yang masyhur, Idghom Mitslain yaitu ketika terdapat Mim Sukun bertemu huruf Mim. Contohnya:

Surat Ali ‘Imran ayat 152

وَتَنَـٰزَعۡتُمۡ فِی ٱلۡأَمۡرِ وَعَصَیۡتُم مِّنۢ بَعۡدِ مَاۤ أَرَىٰكُم مَّا تُحِبُّونَۚ مِنكُم مَّن یُرِیدُ ٱلدُّنۡیَا وَمِنكُم مَّن یُرِیدُ ٱلۡـَٔاخِرَةَۚ ثُمَّ صَرَفَكُمۡ عَنۡهُمۡ لِیَبۡتَلِیَكُمۡۖ

Surat Al-Baqarah ayat 270

وَمَاۤ أَنفَقۡتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوۡ نَذَرۡتُم مِّن نَّذۡرࣲ فَإِنَّ ٱللَّهَ یَعۡلَمُهُۥۗ

Surat Al-Qalam ayat 24

أَن لَّا یَدۡخُلَنَّهَا ٱلۡیَوۡمَ عَلَیۡكُم مِّسۡكِینࣱ

  1. Idzhar

Bacaan Idzhar disini ialah membaca dengan jelas tanpa mendengung (Ghunnah). Bacaan ini dikenal dengan istilah Idhar Syafawi.

Huruf Idzhar Syafawi berjumlah enam belas, yaitu semua huruf hijaiyah kecuali huruf Mim dan Ba’. Sebagian pendapat memasukkan huruf Fa dan Wawu ke dalam Idhar, namun sebagian yang lain mengkategorikannya pada Ikhfa’.

Contoh pada lafadz yang ditebalkan.

Surat Al-A’raf 194

إِنَّ ٱلَّذِینَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ عِبَادٌ أَمۡثَالُكُمۡۖ فَٱدۡعُوهُمۡ فَلۡیَسۡتَجِیبُوا۟ لَكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِینَ

Surat Ibrahim ayat 21

إِنَّا كُنَّا لَكُمۡ تَبَعࣰا فَهَلۡ أَنتُم مُّغۡنُونَ عَنَّا مِنۡ عَذَابِ ٱللَّهِ مِن شَیۡءࣲۚ قَالُوا۟ لَوۡ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ لَهَدَیۡنَـٰكُمۡۖ سَوَاۤءٌ عَلَیۡنَاۤ أَجَزِعۡنَاۤ أَمۡ صَبَرۡنَا مَا لَنَا مِن مَّحِیصࣲ

Surat Al-Mulk ayat 8

كُلَّمَاۤ أُلۡقِیَ فِیهَا فَوۡجࣱ سَأَلَهُمۡ خَزَنَتُهَاۤ أَلَمۡ یَأۡتِكُمۡ نَذِیرࣱ

Wallahu A’lam. Semoga bermanfaat.

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 30-32

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 30 – 32 dijelaskan soal penciptaan Nabi Adam As, pengajaran nama-nama dan protes Malaikat kepada Allah Swt. Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 30 – 32 menunjukkan Kekuasaan Allah Swt atas segala sesuatu. Dialah Dzat yang Maha Segala-galanya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 29


Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 30 – 32 juga mengajarkan kepada kita hikmah pentingnya ilmu. Nabi Adam sebagai manusia yang diciptakan dari tanah dapat diangkat derajatnya oleh Allah Swt karena ilmu. Berikut adalah penjelasan Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 30 – 32 yang diambil dari Al-Quran dan Tafsirnya Kementerian Agama RI:

Ayat 30

Ketika Allah swt memberitahukan  kepada  para  malaikat-Nya (bahwa Dia akan menjadikan Adam a.s. sebagai khalifah) di bumi, maka para malaikat itu bertanya, mengapa Adam yang akan diangkat menjadi khalifah di bumi, padahal Adam dan keturunannya kelak akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi. Para malaikat menganggap bahwa diri mereka lebih patut memangku jabatan itu, sebab mereka makhluk yang selalu bertasbih, memuji dan menyucikan Allah swt.

Allah swt tidak membenarkan anggapan mereka itu, dan Dia menjawab bahwa Dia mengetahui yang tidak diketahui oleh para malaikat. Segala yang akan dilakukan Allah swt adalah berdasarkan pengetahuan dan hikmah-Nya yang Mahatinggi walaupun tak dapat diketahui oleh mereka, termasuk pengangkatan Adam a.s. menjadi khalifah di bumi.

Yang dimaksud dengan kekhalifahan Adam a.s. di bumi adalah kedudukannya sebagai khalifah di bumi ini, untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya, dan memakmurkan bumi serta memanfaatkan segala apa yang ada padanya. Pengertian ini dapat dikuatkan dengan firman Allah:

يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ

“….Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi …” (Sad/38: 26)

Sebagaimana kita ketahui Daud a.s. di samping menjadi nabi juga menjadi raja bagi kaumnya. Ayat ini merupakan dalil tentang wajibnya kaum Muslimin memilih dan mengangkat seorang pimpinan tertinggi sebagai tokoh pemersatu antara seluruh kaum Muslimin yang dapat memimpin umat untuk melaksanakan hukum-hukum Allah di bumi ini.

Para ulama telah menyebutkan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh tokoh pimpinan yang dimaksudkan itu, antara lain ialah: adil serta berpengetahuan yang memungkinkannya untuk bertindak sebagai hakim dan mujtahid, tidak mempunyai cacat jasmaniah, serta berpengalaman cukup, dan tidak pilih kasih dalam menjalankan hukum-hukum Allah.

Ayat 31

Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt mengajarkan kepada Adam a.s. nama-nama, tugas dan fungsinya seperti Nabi dan Rasul, tugas dan fungsinya sebagai pemimpin umat.

Manusia memang makhluk yang dapat dididik (educable), bahkan harus dididik (educandus), karena ketika baru lahir bayi manusia tidak dapat berbuat apa-apa, anggota badan dan otak serta akalnya masih lemah. Tetapi setelah melalui proses pendidikan bayi manusia yang tidak dapat berbuat apa-apa itu kemudian berkembang dan melalui pendidikan yang baik apa saja dapat dilakukan manusia.

Adam sebagai manusia pertama dan belum ada manusia lain yang mendidiknya, maka Allah secara langsung mendidik dan mengajarinya. Apalagi Adam dipersiapkan untuk menjadi khalifah yaitu pemimpin di bumi. Tetapi cara Allah mendidik dan mengajar Adam tidak seperti manusia yang mengajar sesamanya, melainkan dengan mengajar secara langsung dan memberikan potensi kepadanya yang dapat berkembang berupa daya pikirnya sehingga memungkinkan untuk mengetahui semua nama yang di hadapannya.

Setelah nama-nama itu diajarkan-Nya kepada Adam, maka Allah memperlihatkan benda-benda itu kepada para malaikat dan diperintahkan-Nya agar mereka menyebutkan nama-nama benda tersebut yang telah diajarkan kepada Adam dan ternyata mereka tidak dapat menyebutkannya.

Hal ini untuk memperlihatkan keterbatasan pengetahuan para malaikat itu dan agar mereka mengetahui keunggulan Adam sebagai manusia terhadap mereka, dan agar mereka mengetahui ketinggian hikmah Allah dalam memilih manusia sebagai khalifah. Hal ini juga menunjukkan bahwa jabatan khalifah yaitu mengatur segala sesuatu dan menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi ini memerlukan pengetahuan yang banyak dan kemampuan serta daya pikir yang kuat.


Baca juga: Mengenal Mustansir Mir dan Unsur-Unsur Sastra Dalam Al-Quran


Ayat 32

Setelah para malaikat menyadari kurangnya ilmu pengetahuan mereka, karena tidak dapat menyebutkan sifat makhluk-makhluk yang ada di hadapan mereka, maka mereka mengakui terus terang kelemahan diri mereka dan berkata kepada Allah bahwa Dia Mahasuci dari segala sifat-sifat kekurangan, yang tidak layak bagi-Nya, dan mereka menyatakan tobat kepada-Nya.

Mereka pun yakin bahwa segala apa yang dilakukan Allah tentulah berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya yang Mahatinggi dan Mahasempurna, termasuk masalah pengangkatan Adam menjadi khalifah. Mereka mengetahui bahwa ilmu pengetahuan mereka hanyalah terbatas kepada apa yang diajarkan-Nya kepada mereka. Dengan demikian lenyaplah keragu-raguan mereka tentang hikmah Allah dalam pengangkatan Adam menjadi khalifah di bumi.

Dari pengakuan para malaikat ini, dapatlah dipahami bahwa pertanyaan yang mereka ajukan semula “mengapa Allah mengangkat Adam a.s. sebagai khalifah,” bukanlah merupakan suatu sanggahan dari mereka terhadap kehendak Allah, melainkan hanyalah sekadar pertanyaan meminta penjelasan. Setelah penjelasan itu diberikan, mereka mengakui kelemahan mereka, maka dengan rendah hati dan penuh ketaatan mereka mematuhi kehendak Allah, terutama dalam pengangkatan Adam a.s., menjadi khalifah.

Mereka memuji Allah swt, karena Dia telah memberikan ilmu pengetahuan kepada mereka sesuai dengan kemampuan yang ada pada mereka. Selanjutnya, mereka mengakui pula dengan penuh keyakinan, dan menyerah kepada ilmu Allah yang Mahaluas dan hikmah-Nya yang Mahatinggi. Lalu mereka menegaskan bahwa hanya Allah yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.

Hal ini mengandung suatu pelajaran bahwa manusia yang telah dikaruniai ilmu pengetahuan yang lebih banyak dari yang diberikan kepada para malaikat dan makhluk-makhluk lainnya, hendaklah selalu mensyukuri nikmat tersebut, serta tidak menjadi sombong dan angkuh karena ilmu pengetahuan yang dimilikinya, serta kekuatan dan daya pikirannya.

Sebab, betapapun tingginya ilmu pengetahuan dan teknologi manusia pada zaman kita sekarang ini, namun masih banyak rahasia-rahasia alam ciptaan Allah yang belum dapat dijangkau oleh ilmu pengetahuan manusia, misalnya ialah hakikat roh yang ada pada diri manusia sendiri. Allah telah memperingatkan bahwa ilmu pengetahuan yang dikaruniakan kepada manusia hanya sedikit sekali dibandingkan ilmu Allah dan hakikat-Nya.

وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

 “…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan, melainkan sedikit.” (al Isra′/17: 85)

Selama manusia tetap menyadari kekurangan ilmu pengetahuannya, tentu dia tidak akan menjadi sombong dan angkuh, dan niscaya dia tidak akan segan mengakui kekurangan pengetahuannya tentang sesuatu apabila dia benar-benar belum mengetahuinya, dan dia tidak akan merasa malu mempelajarinya kepada yang mengetahui. Sebaliknya, apabila dia mempunyai pengetahuan tentang sesuatu yang berfaedah, maka ilmunya itu tidak akan disembunyikannya, melainkan diajarkan dan dikembangkannya kepada orang lain, agar mereka pun dapat mengambil manfaatnya.


Baca Selanjutnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 33


 

Hari Pahlawan: Ini 3 Artikel Refleksi Peringatan Pahlawan dalam Al-Quran dan Tafsir

0
Hari Pahlawan
Hari Pahlawan

Setiap tanggal 10 November bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Presiden Soekarno menetapkan Hari Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959 pada 16 Desember 1959 lalu.

Tepat hari ini kita memperingati hari besar yang menjadi tonggak perlawanan para pahlawan bangsa menghadapi kedatangan kembali para penjajah yang hendak merebut kemerdekaan yang telah diproklamirkan.

Pada waktu itu, para tentara dan milisi Indonesia yang pro terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia gagah berperang melawan tentara Britania Raya dan Belanda. Sutomo alias Bung Tomo menjadi salah satu tokoh yang berhasil membangkitkan perlawanan rakyat untuk melakukan perlawanan terhadap penjajah dengan pekikan “Allahu Akbar”.

Dalam rangka ikut memaknai peringatan Hari Pahlawan, tafsiralquran.id merangkum 3 artikel yang berbicara soal mental heroik dalam al-Quran, refleksi pertempuran Badar, dan penafsiran Ukhuwwah menurut KH. Ahmad Shiddiq.

Implementasi Mental Heroik dalam Al-Quran; Refleksi Peringatan Hari Pahlawan

Pada artikel ini, dijelaskan soal bagaimana Al-Quran menanamkan mental heroik yang luar biasa kepada umat Islam. Mental ini kemudian diimplementasikan oleh Rasulullah dan para sahabatnya dalam perjuangannya mendakwahkan Islam, baik itu dalam bentuk perundingan atau kesepakatan perjanjian maupun perang.

Berdasarkan penafsiran Surat At-Taubah Ayat 20, artikel ini menerangkan bahwa ayat ini menjadi spirit bagi kaum muslimin untuk berjuang dengan harta dan jiwa mereka. Al-Quran menekankan betapa pentingnya berkontribusi dengan harta dan jiwa untuk bangsa dan agama. Kontribusi kecil maupun besar sangat penting, khususnya dalam konteks memperjuangkan kedaulatan bangsa.

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 154: Merenungi dan Meneladani Spirit Hari Pahlawan

Dalam artikel ini diterangkan mengenai penafsiran Surat Al-Baqarah Ayat 154 sebagai ayat yang berbicara soal pahlawan yang gugur di medan perang. Mengutip pendapat Imam Al-Qurtubi ayat di atas menjelaskan mengenai balasan yang ditujukan bagi orang-orang beriman yang gugur di jalan Allah swt.

Jika orang beriman wafat sebagai Syahid, maka akan dibalas dan diberi nikmat berupa kehidupan juga rezeki yang tidak terduga. Selain itu, keberadaan ayat di atas pun menjadi dalil adanya kehidupan setelah kematian. Jika orang-orang beriman wafat, maka di alam kubur akan mendapatkan nikmat kubur.

KH. Ahmad Shiddiq dan Penjelasan Tentang Tafsir Ukhuwah

Melalui artikel ini, dijelaskan soal bagaimana KH. Ahmad Shiddiq, Rais Am PBNU 1984 – 1991,  membagi konsep persaudaraan kemanusiaan menjadi empat sesuai dengan kepentingannya. Empat persaudaraan itu meliputi ukhuwah Nahdliyah (persaudaraan sesama NU), ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah Wataniyah (persaudaraan setanah air) dan ukhuwah Bashariyah (persaudaraan sesama umat manusia).

Dalam artikel ini juga dijelaskan sekilas mengenai tafsir Surat Ali Imran Ayat 103. Melalui ayat ini, Al-Quran menegaskan bahwa persatuan dan persaudaraan antararindividu maupun antarkelompok yang sudah terjalin, terlebih ketika mereka punya kisah kelam sebelumnya, adalah anugerah yang sangat besar dari Allah yang harus disyukuri dan dijaga.

Demikian 3 artikel untuk memperingati Hari Pahlawan tanggal 10 November yang dapat dirangkum oleh tafsiralquran.id. Semoga bermanfaat.

Selamat Hari Pahlawan. Merdeka!

Bolehkah Perempuan Menjadi Pemimpin Publik? Qiraah Maqashidiyah atas Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

0
perempuan pemimpin publik
perempuan pemimpin publik (lombokita.com)

Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis dalam Al-Quran dijelaskan dalam QS. An-Naml [27]: 23-44. Dalam Al-Quran, Ratu Balqis menjadi simbol adanya seorang perempuan yang mampu menjadi pemimpin di sebuah kerajaan dengan sangat piawai dan sangat gemilang. Adanya kisah Ratu Balqis dalam Al-Quran ini menunjukkan bahwa sebenarnya perempuan diperbolehkan untuk menjadi seorang pemimpin di sebuah negara (publik).

Kebolehan seorang perempuan menjadi pemimpin publik masih menjadi perdebatan karena adanya sebuah hadis Nabi Muhammad saw yang menyatakan bahwa “tidak beruntung suatu kaum jika dipimpin oleh perempuan.”  Hadis inilah yang kemudian digunakan untuk klaim kebenaran atas larangan seorang perempuan menjadi pemimpin publik.

Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis ini sebenarnya menceritakan dua pemimpin yang berbeda jenis kelamin, keduanya memimpin sebuah kerajaan besar dan keduanya mampu memimpin kerajaannya dengan sangat piawai. Tidak hanya seorang laki-laki, sebenarnya perempuan juga mampu menjadi seorang pemimpin di ranah publik.

Dalam qiraah maqashidiyah yang pertama harus dilakukan yaitu analisis bahasa. Untuk menganilisa kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis, penulis membagi ke dalam 4 bagian. Pertama, sosok Ratu Balqis. Kisah Ratu Balqis dalam QS. An-Naml[27]: 23-44 diawali dengan kata Imraah yang berasal dari kata mara’a yang artinya baik dan bermanfaat. Kata imraah dalam Al-Quran seluruhnya digunakan untuk menjelaskan tentang istri Nabi terkecuali dalam QS. An-Naml yang menunjuk pada seorang perempuan yang belum menikah.

Baca juga: Kisah Al-Quran: Ratu Balqis, Pemimpin Perempuan nan Demokratis dan Diplomatis

Kata al-Mar’ah juga menunjukkan arti kedewasaan atau kematangan. Kata al-mar’ah manakala memenuhi kriteria sosial dan budaya tertentu seperti berumur dewasa, telah berumah tangga dan mempunyai peran tertentu dalam masyarakat. Kisah Ratu Balqis ini menunjukkan adanya seorang perempuan dewasa secara emosional maupun intelektual yang berhasil dalam memimpin kerajaannya.

Kedua, keimanan Ratu Balqis. Kisah Ratu Balqis ini seringkali ditolak untuk dijadikan sebagai landasan kebolehan perempuan menjadi pemimpin karena agama Ratu Balqis yaitu menyembah matahari. Jika keimanan dalam konteks ini yang dimaksudkan adalah agama bukan religiusitas maka tidak tepat jika dijadikan alasan untuk menolak pemimpin perempuan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya karena Ratu Balqis masih mengikuti budaya yang ada di sekitarnya dan belum bertemu dengan Nabi Sulaiman yang mengajaknya menuju jalan kebenaran.

Ketiga, Ratu Balqis dan para tentaranya. Setelah mendapatkan surat dari Nabi Sulaiman, Ratu Balqis kemudian mengundang menteri-menteri kerajaan, pembesar-pembesar kerajaan dan ahli-ahli kerajaan untuk bermusyawarah. Hal ini memperlihatkan bahwa Ratu Balqis merupakan sosok pemimpin yang diplomatik, tidak otoriter dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.

Keempat, bertemunya Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman. Pertemuan keduanya diawali dari pemindahan singgasana Ratu Balqis ke kerajaan Nabi Sulaiman. Setelah sampainya Ratu Balqis di kerajaan Nabi Sulaiman, Ratu Balqis terheran karena melihat kemiripan antara singgasana Nabi Sulaiman dengan singgasananya. Nabi Sulaiman bertanya  kepada Ratu Balqis “Serupa inikah istanamu?” dengan agak ragu dan bingung, dia menjawab “Seakan-akan inilah singgasanaku.”  

Baca juga: Inilah 4 Karakter Kepemimpinan Transformatif Menurut Al-Quran

Dengan jawaban tersebut dapat terlihat adanya ketelitian dari sosok Ratu Balqis dengan apa yang dimilikinya. Dari bagian-bagian inilah kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa perempuan dapat menjadi pemimpin publik jika mempunyai kemampuan baik secara capable maupun acceptable. Yang dimaksud capable adalah kemampuan diri seseorang dan acceptable adalah dukungan dari luar berupa dukungan politik, keluarga dan masyarakat.

Hal ini senada dengan hadis yang mengatakan bahwa “tidak beruntung suatu kaum jika dipimpin oleh perempuan.” Hadis ini disabdakan oleh Nabi Muhammad saw karena melihat kerajaan Kisra yang dipimpin oleh perempuan yang tidak memiliki kapabilitas untuk memimpin. Namun berbeda jika pemimpin perempuan ketika itu mempunyai kemampuan untuk memimpin maka dipastikan Nabi Muhammad saw tidak akan bersabda seperti hadis di atas. Hadis ini dapat menjadi landasan yang relevan jika terdapat seorang perempuan yang tidak memiliki kemampuan untuk memimpin namun dijadikan pemimpin dalam suatu kelompok.

Maka dari itu dapat dipastikan bahwa sebenarnya seorang perempuan dapat menjadi pemimpin publik jika mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin. Tidak hanya perempuan begitupun laki-laki, jika ingin menjadi seorang pemimpin atau memilih pemimpin maka pilihlah pemimpin yang mempunyai kemampuan dan kepiawaian dalam memimpin. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 118-121

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pada pembahasan yang lalu Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk selalu mematuhi perintah Allah SWT, Tafsir Surat Al An’am Ayat 118-121 ini pun berbicara mengenai hal tersebut. Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk tidak mengikuti aturan-aturan orang-orang musyrik.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 114-117


Perintah yang tecantum dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 118-121 adalah dilarang mengikuti aturan mengenai hukum halal-haram orang-orang musyrik. Orang-orang musrik ketika menyembelih hewan tidak menyebut nama Allah melainkan menyebut nama-nama berhala mereka. Hal tersebut sangat dilarang keras oleh Allah.

Sebab nuzul dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 118-121 ini berkaitan dengan pertanyaan orang-orang musyrik mengenai hukum penyembelihan. Pernyataan ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dalam Sunan Abi Daud dan al-Tirmizi.

Ayat 118

Sabab Nuzul surah al-An’am ayat 118-121 diriwayatkan dalam Sunan Abi Daud dan at-Tirmizi dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan, “orang-orang datang kepada Rasul saw, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, apakah kita makan apa yang kita sembelih dan kita tidak makan apa yang disembelih Allah (bangkai),” maka turunlah ayat

(فكلوا ممّا ذكر اسم الله)

sampai pada firman Allah

(وان اطعتموهم انكم لمشركون)

Pada ayat ini Allah membolehkan kaum Muslimin makan sembelihan yang disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya, jika mereka benar-benar beriman kepada ayat-ayat Allah.

Orang-orang musyrik dan golongan-golongan lainnya telah menjadikan upacara sembelihan itu sebagai satu upacara ritual. Mereka menyertakan dasar-dasar akidah dalam upacara penyembelihan. Mereka biasa melaksanakan penyembelihan untuk mendekatkan diri kepada berhala-berhalanya dan kepada pemimpin-pemimpinnya yang didewa-dewakan.

Mereka suka menyebut nama berhala yang disanjungnya ketika menyembelih hewan dan perbuatan yang semacam ini termasuk syirik (mempersekutukan Allah). Setiap penyembelihan harus ditujukan semata-mata karena Allah. Oleh sebab itu kaum Muslimin dilarang makan sembelihan kaum musyrik karena jelas sembelihan itu membawa pada kemusyrikan.

Ayat 119

Dalam ayat ini, Allah mengajukan pertanyaan, apa halangan bagi kaum Muslimin untuk tidak makan hewan yang halal yang disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya? Padahal Allah telah menjelaskan kepada mereka apa yang sesungguhnya diharamkan bagi mereka, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ لَّآ اَجِدُ فِيْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٗٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْ دَمًا مَّسْفُوْحًا اَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّهٗ رِجْسٌ اَوْ فِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَّلَا عَادٍ فَاِنَّ رَبَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ   ١٤٥

Katakanlah, ”Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan  makannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi – karena semua itu kotor – atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah. Tetapi barang siapa terpaksa bukan karena menginginkan dan tidak melebihi batas (darurat) maka sungguh, Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang (al-An’am/6: 145)

Tetapi Allah memberikan keringanan kepada kaum Muslimin untuk makan makanan yang diharamkan jika dalam keadaan terpaksa. Di dalam Ushul Fiqh ada sebuah kaidah yang berbunyi:

الضَّرُوْرَةُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ

“Keadaan darurat (memaksa) membolehkan makan apa yang diharamkan”

Tindakan sebagian besar manusia memang salah dan menyesatkan dengan cara penyembelihan yang mereka lakukan, sehingga mereka terperosok ke dalam tindakan syirik, dan jauh dari akidah yang benar, yaitu kepercayaan tauhid yang dibawa para nabi dan rasul yang diutus Allah untuk umat manusia seluruhnya.

Di antara umat Nabi Nuh terdapat beberapa pemimpin yang saleh. Setelah mereka wafat, pengikut-pengikutnya mendirikan beberapa patung untuk mengenang jasa-jasa mereka dan untuk mereka jadikan teladan yang baik.

Lama kelamaan para pengikutnya melampaui batas, sehingga mereka memberikan penghormatan kepada patung-patung itu dengan cara menyembelih hewan untuk dipersembahkan kepada patung-patung itu, bahkan mereka memohon berkah dari patung-patung itu.

Keadaan ini berlangsung terus, generasi demi generasi, dan akhirnya menyebar kepada umat yang lainnya, sehingga penghormatan yang dimaksud berubah menjadi keyakinan bahwa patung-patung itu pantas dihormati dan disembah.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 45-46: Khusyuk dalam Al-Quran


Ayat 120

Allah melarang kaum Muslimin berbuat dosa, baik yang tampak dalam perilaku maupun yang tersembunyi. Dosa-dosa yang tampak ialah yang dilakukan oleh manusia dengan mempergunakan anggota badannya, sedang dosa-dosa yang tersembunyi ialah yang tercermin dalam sikap dan hal lain yang tidak ditampakkan (perbuatan buruk yang disembunyikan), seperti menyombongkan diri, merencanakan kejahatan dan penipuan kepada manusia.

Allah menyatakan dengan tegas, bahwa semua dosa harus ditinggalkan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi dan Allah memberikan ancaman bahwa siapa pun yang berbuat dosa akan ditimpa siksaan yang berat, sebagai akibat dari pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya, dengan cara sengaja dan terang-terangan.

Adapun orang-orang yang berbuat dosa dan kejahatan karena kebodohan, kemudian mereka berhenti dengan melaksanakan tobat yang sungguh-sungguh, maka terhadap mereka, Allah akan memberikan ampunan dan menghapus dosa-dosanya, karena mereka telah berbuat kebajikan sebagai bukti tobatnya. Sebenarnya setiap kebaikan dapat menghilangkan kejahatan, sebagaimana difirmankan Allah:

اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِ

Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. (Hµd/11: 114)

Ayat 121

Sabab Nuzul ayat ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan al-Hakim dari Ibnu Abbas pada ayat

(وان الشيٰطين ليوحون الى)

mengatakan, “orang-orang datang kepada Nabi saw, mereka berkata: apa yang disembelih Allah jangan kalian makan, apa yang kalian sembelih, itulah yang kalian makan”, maka turunlah ayat ini.

Sesungguhnya setan-setan, jin dan manusia itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar membantah kaum Muslimin. Ikrimah berkata, “Setan dari golongan Majusi setelah mendengar bahwa Nabi Muhammad, mengharamkan bangkai, mereka menulis kepada orang Quraisy yang pada waktu itu sering mengadakan surat-menyurat dengan orang-orang Majusi.

Di dalam surat itu mereka mengatakan, “Muhammad mengaku dirinya telah mengikuti perintah Allah, tetapi mengapa ia beranggapan bahwa yang disembelih oleh manusia halal, tetapi yang disembelih oleh Allah (bangkai) adalah haram?” Lalu Allah menurunkan ayat ini.

Tentang makan daging hewan yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, ada beberapa pendapat di kalangan ulama Islam. Menurut Imam Malik, semua hewan yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah ketika menyembelihnya haram dimakan. Menurut Imam Abu Hanifah, jika nama Allah tidak disebut dengan sengaja, maka haram makan daging hewan itu, dan jika tidak disebut karena lupa, maka halal makannya.

Menurut Imam Syafi’i, semua hewan yang ketika menyembelihnya tidak disebut nama Allah, baik disengaja maupun karena lupa, maka dagingnya halal dimakan, asalkan orang yang menyembelihnya adalah Muslim. Demikianlah jika kaum Muslimin mengikuti kehendak kaum musyrikin tentang menghalalkan bangkai, maka mereka pasti termasuk golongan musyrik.

Ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah atau mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang musyrik, karena dengan demikian mereka telah menetapkan adanya pihak yang berhak membuat syariat selain Allah swt.


Baca setelahnya:  Tafsir Surat Al An’am Ayat 122-123


(Tafsir Kemenag)

Kisah Bani Israil Dalam Al-Quran dan Hidangan Dari Langit

0
Kisah Bani Israil
Kisah Bani Israil

Dalam Al-Quran kisah bani Israil banyak diceritakan. Jika ditelusuri secara literal, maka dapat ditemukan bahwa kata bani Israil terulang sebanyak 43 kali dalam Al-Qur’an. Namun jika ditelusuri secara maknawi, dapat ditemukan banyak kisah bani Israil, terutama surah al-Baqarah yang mayoritas ayatnya berbicara mengenai sejarah nabi terdahulu dan bani Israil.

Salah satu kisah bani Israil yang diceritakan Al-Qur’an adalah kisah umat nabi Isa dan hidangan dari langit. Kisah ini dapat ditemukan dalam Surat al-Maidah ayat 111 sampai 115. Secara umum ayat-ayat ini berbicara mengenai umat nabi Isa yang diberi Allah Swt nikmat berupa hidangan makanan dari langit untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Alkisah, pada suatu hari nabi Isa memerintahkan Hawariyyun dan umatnya untuk berpuasa selam 30 hari. Setelah selesai, mereka meminta kepada nabi Isa agar diturunkan hidangkan bagi mereka sebagai bukti bahwa Allah Swt telah menerima puasa mereka dan supaya hati mereka menjadi tenang. Nabi Isa kemudian memenuhi permintaan tersebut sebagai bentuk perayaan bagi mereka.

Pada hari itu semua golongan umat nabi Isa bersiap, mulai dari yang muda, yang tua, yang miskin, hingga yang kaya. Mereka semua berkumpul menunggu permintaan dikabulkan. Nabi Isa – sebelum meminta kepada Allah Swt – menasihati mereka dan merasa khawatir sekiranya mereka tidak mau bersyukur dan menaati syarat-syaratnya. Namun, mereka semua tetap bersikeras meminta.

Baca Juga: Bagaimana Kisah Harut dan Marut Sebenarnya dalam Al-Quran?

Tatkala mereka tak mau mengurungkan niat dan permintaan tersebut, maka nabi Isa bangkit menuju tempat shalat, mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu, berdiri di atas kedua kakinya, menundukkan kepala dengan air mata bercucuran, merendahkan diri di hadapan Allah Swt seraya berdoa dan memohon agar permintaan umatnya dikabulkan (Kisah Para Nabi dan Rasul: 870).

Kemudian doa nabi Isa dijawab oleh Allah Swt dengan menurunkan hidangan dari langit dan Umat nabi Isa melihat hal tersebut dengan mata kepala mereka sendiri. Hidangan turun dari langit melalui sela-sela diantara dua awan. Kemudian hidangan tersebut sedikit demi sedikit mulai mendekati mereka. Pada saat bersamaan, Nabi Isa berdoa semoga itu merupakan nikmat Allah Swt, bukan azab-Nya.

Ketika hidangan sampai di hadapan nabi Isa dan kaumnya, beliau berdiri dan berkata, “Dengan menyebut nama Allah, sebaik-baik pemberi rezeki.” Hidangan tersebut terdiri dari tujuh ikan laut dan tujuh roti. Ada yang mengatakan cuka dan ada pula yang mengatakan itu adalah buah delima serta buah-buahan lainnya. Terlepas dari itu semua, hidangan ini merupakan makanan dari Allah Swt.

Lantas nabi Isa memerintahkan umatnya untuk menikmati hidangan dari langit tersebut. Namun mereka malah berkata, “Kami tidak akan makan sebelum kamu makan.” Nabi Isa menjawab, “Kalianlah yang meminta hidangan ini.” Mereka menolak untuk memakan lebih dulu karena khawatir hidangan tersebut merupakan azab dari Allah Swt (Kisah Para Nabi dan Rasul: 871).

Kemudian nabi Isa memerintahkan orang-orang fakir, orang-orang yang kekurangan dan orang-orang tua dengan penyakit menahun yang berjumlah Jumlah sekitar 1.300 orang untuk memakannya. Setelah menikmati hidangan, atas izin Allah setiap penyakit dan disfungsi anggota tubuh mereka semua sembuh total. Ini membuat orang-orang yang tidak mau memakannya sangat menyesal.

Dikisahkan bahwa hidangan Allah Swt yang turun dari langit ini diberikan sekali dalam sehari. Karena sudah ada bukti keamanan dan khasiat hidangan tersebut, maka orang-orang – yang berjumlah sekitar 6.000 orang – mulai berani memakannya. Namun mereka yang memakan hidangan hanya mendapatkan rasa kenyang, tidak sebagus khasiat pertama kali.

Setelah beberapa waktu, hidangan ini tidak lagi turun setiap hari, tetapi berselang satu hari sebagaimana pemanfaatan unta nabi Shalih yang susunya sehari diminum oleh orang-orang dan sehari tidak diminum. Kemudian Allah Swt memerintahkan nabi Isa untuk memberikan hidangan tersebut hanya kepada orang fakir dan orang yang membutuhkan, tidak termasuk orang kaya.

Tindakan nabi Isa di atas lalu mendapatkan beberapa protes dari orang-orang kaya dan orang-orang munafik. Bagi mereka, hal ini sangat tidak adil dan menyulitkan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibat protes tersebut, kemudian Allah Swt memberhentikan pemberian hidangan dan merubah orang-orang yang mempersoalkan distribusi menjadi binatang, yakni babi.

Baca Juga: Kisah Al-Quran: Ratu Balqis, Pemimpin Perempuan nan Demokratis dan Diplomatis

Kisah Bani Israil dan hidangan dari langit juga diceritakan dalam sebuah hadis mauquf riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir yang berujung kepada Sa’id bin Abi ‘Urbah. Ia berkata bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:

Hidangan turun dari langit yang terdiri dari roti dan daging. Mereka (umat nabi Isa as) diperintahkan agar tidak berkhianat, tidak menimbun, dan tidak membawanya untuk hari esok. Namun mereka berkhianat, menimbun, dan membawanya, sehingga wujud mereka dirubah menjadi babi-babi.”

Ulama berbeda pendapat berkenaan dengan rincian kisah umat nabi Isa dan hidangan dari langit ini. Jumhur ulama mengatakan bahwa hidangan memang diturunkan dari langit sebagaimana literal ayat Al-Qur’an. Namun Imam Mujahid dan Hasan al-Bashri menolak pendapat tersebut. Menurut keduanya, kata turun pada Surat al-Maidah ayat 115 hanyalah sebuah kiasan.

Terlepas dari perdebatan ulama mengenai realitas kisah umat nabi Isa dan hidangan dari langit dan serba-serbinya, kisah ini mengajarkan kepada pembaca agar mensyukuri nikmat Allah Swt sebesar atau sekecil apapun itu dan agar tidak iri dengan nikmat orang lain. Karena jika seseorang melakukan hal tersebut – bisa jadi – nikmat yang dimilikinya akan diangkat oleh Allah Swt. Wallahu a’lam.