Beranda blog Halaman 110

Perhatian Sahabat dan Tabiin Terhadap Tafsir Alquran

0
penafsiran alquran era sahabat
Perhatian Sahabat dan Tabiin Terhadap Tafsir

Pada masa Rasulullah saw para sahabat tidak kebingungan ketika dihadapkan ayat yang menurutnya susah dipahami, mereka bisa konfirmasi langsung kepada Rasulullah saw dan meminta penjelasan kepadanya. Kegiatan bertanya inilah yang nantinya timbul fan ilmu hadis sebagai penjelas atau tafsiran dari ayat-ayat Alquran. Mereka juga sering mengadu kepada Rasulullah tentang permasalahan hidupnya, maka Alquranlah sebagai jawaban untuk menuntaskan masalah tersebut.

Setelah Rasululah saw wafat tentu para sahabat tidak tinggal diam dalam mempertahankan eksistensi Alquran sebagai pijakan umat muslim. Mereka mengumpulkan mushaf Alquran kemudian dibukukuhan menjadi satu kitab agar generasi Islam bisa membaca dan mempelajarinya dengan praktis. Sehingga pada zaman Ustman bin Affan Alquran utuh dalam satu kitab yang kemudian memberi dampak bagi umat muslim hingga saat ini.

Perhatian para sahabat tidak hanya sekedar pembukuan Alquran saja, namun yang lebih diperhatikan selanjutnya adalah isi dan kandungan dari pada Alquran itu sendiri. Para sahabat sangat menghormati mereka yang ahli Alquran, penghafal Alquran dan mereka yang mengetahui maknanya walaupun sedikit.

Para sahabat dan tabiin sangat peduli terhadap tafsir Alquran. Mereka memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada orang yang mengetahui makna dan maksud ayat walaupun sedikit.

Baca Juga: Mencari Titik Temu Sains dan Alquran

Al-Qurtubi dalam tafsirnya menyampaikan bahwa Ali bin Abi Thalib menganggap Jabir bin Abdillah sebagai ahli ilmu. Seseorang Tanya kepadanya “Kamu jadikan ia tebusanmu? Kamu anggap Jabir sebagai ahli ilmu sedangkan kamu?” Kemudian Ali berkata “karena ia telah mengetahui tafsir Q.S. Al-Qashash [28] ayat 28”.

Al-Qurtubi juga menyebutkan Ibnu Athiyah berkata “Sebagian besar salaf adalah mufasir Alquran, dan mereka menyayangi umat Islam karena itu”. Adapun mufassir paling berpengaruh pada era sahabat diantaranya adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Abdullah bin Abbas pada tingkat kedua dengan gaya dan model penafsiran yang berbeda. Selain itu mufasir yang berpengaruh pada zaman sahabat setelah Ibnu Abbas adalah Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Kaab, Zaid bin Sabit dan Amr bin Ash.

Tafsir dari para sahabat ini layak didahulakan sebab merekalah saksi hidup turunya wahyu dengan bahasa mereka. Sebagai bentuk perhatian sahabat terhadap tafsir adalah ia mengamapanyekan bahwa saya adalah orang yang tahu ayat ini, sebab turunya begini, maknanya adalah ini serta mengajarkan kepada umat muslim.

Amir bin Watsilah pernah mendengar Ali bin Abi Thalib berkhotbah “Bertanyalah tentang kitab Allah, demi Allah aku sangat tahu setiap ayat yang diturunkan, pada malam hari atau siang hari, diturunkan di tanah datar atau di gunung”.

Setelah zaman sahabat, para tabiin dan mujahid sebagai pewaris pemegang tafsir. Mufassir yang masyhur pada saat itu adalah Said bin Jubair, Hasan Al-basri, Al-Qamah, Ikrimah, Adh-dahak dan lain sebagainya. Mereka menghafal, mempelajari menyampaikan dan mengembangkan penafsiran dari para sahabat.

Baca Juga: Merencanakan Generasi Terbaik dengan Membatasi Kelahiran Anak

Ibnu Athiya berkata “mereka telah membacakan Alquran dihadapan Ibnu Abbas sambil memahami maknanya”.  Sedangkan Ikrimah dan Adh-dahak mereka mempelajari tafsir dari Ibnu Jubair, mereka berdua dianggap kurang layak dianggap menjadi mufassir oleh Amir As-Sya’bi karena kurang luasnya wawasan mereka.

Kualifikasi menjadi mufassir pada saat itu sangat ketat, terdapat banyak syarat yang harus dipenuhi untuk dikatakan ahli tafsir sesungguhnya. Antaralain mempunyai guru yang sanadnya sambung ke Rasulullah, memiliki hafalan dan pengetahuan luas tentang Alquran, prilakunya baik, terpercaya dan masih banyak lagi.

Ketatnya kualifikasi tersebut sebagai bentuk perhatian para sahabat akan keagungan ilmu Alquran. Begitu juga para tabiin, mereka mengamanahkan ilmu ini kepada mereka yang jujur dan terpercaya. Sehingga tafsir sampai sekarang bisa kita rasakan keorisinilannya. Wallahuaalam.

Inklusivitas Kebenaran dalam Islam

0
Inklusivitas kebenaran dalam Alquran
Inklusivitas kebenaran dalam Alquran

Inklusivitas kebenaran meniscayakan tidak ada kebenaran tunggal di dunia ini. Absolutisme kebenaran hanya boleh dilakukan oleh Sang Pencipta, bukan makhluk. Karena itu, Islam menyerukan kepada pemeluknya untuk berpikiran terbuka (open minded) agar mampu menerima kebenaran dari siapa saja datangnya. Sebab, eksklusivitas pemikiran hanya akan menimbulkan perpecahan dan disharmoni sosial.

Surah Albaqarah ayat 147 mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran yang mutlak ada pada sisi Allah Swt. Dalam Q.S. Albaqarah [2]: 147 tertera:

اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ ࣖ

“Kebenaran itu dari Tuhanmu. Maka, janganlah sekali-kali engkau (Nabi Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 147)

Mayoritas mufasir menafsirkan makna kebenaran tertuju kepada arah kiblat, yaitu Kakbah di Mekah (istiqbalil ka’bah). Sedangkan mufasir yang lain, kebenaran yang dimaksud adalah wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya.

Tidak jauh berbeda, Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menafsirkannya bahwa bagi setiap umat ada kiblatnya sendiri yang mereka menghadap kepadanya, sesuai dengan kecenderungan atau keyakinan masing-masing. Kalaulah mereka dengan mengarah ke kiblat masing-masing bertujuan untuk mencapai rida Allah, dan melakukan kebajikan, maka umat Islam mestinya berlomba-lomba dengan umat lain dalam berbuat aneka kebaikan (fastabiqul khairat).

Baca juga: Makna Kebenaran dan Kebebasan Beragama dalam Alquran

Selain itu, al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkan makna kebenaran dengan “pengajaran Allah kepada Nabi saw. bukan apa yang dikatakan orang-orang Yahudi dan Nasrani kepada Nabi.” Dari mayoritas penafsiran, menunjukkan bahwa kebenaran itu datangnya dari Allah. Manusia hanya bisa meraba-raba dengan menggunakan seperangkat akal, indera, dan ilmu yang dimiliki. Itupun tidak sepenuhnya dapat menafsirkan kebenaran di sisi Allah.

Mengarifi hal tersebut, Gus Baha, Ulama Kenamaan Indonesia, mengatakan bahwa kebenaran sejati itu, salah satu tandanya, adalah boleh diuji di mana saja. Dia melandaskan pernyataannya ini dengan merujuk pada Alquran Surah Alanbiya ayat 18:

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهٗ فَاِذَا هُوَ زَاهِقٌۗ

“Sebaliknya, Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu (yang hak) itu menghancurkannya. Maka, seketika itu ia (yang batil) lenyap.” (Q.S. al-Anbiya [21]: 18)

Menurut penafsiran Gus Baha, ayat di atas menunjukkan ketangguhan kebenaran yang sejati (baca: di sisi Allah) yang dapat di uji di mana saja dan oleh siapa saja. Artinya, kebenaran itu sama sekali tidak bercampur sedikitpun dengan kebatilan. Ia jelas, terang-benderang. Ulama terdahulu, Ibn Asyur, misalnya, dalam al-Tahrir wa al-Tanwir memaknai kata fayadmaguhu itu layaknya penghancuran benda keras yang isinya kosong-melompong.

Makna ini mengisyaratkan bahwa kebatilan walau sepintas terlihat kokoh, namun ia kosong, tidak berisi. Apa yang dikemukakan Gus Baha tersebut senada dengan Quraish Shihab, bahwa Allah Swt. membatalkan kebatilan dengan jalan melontarkan kebenaran, yakni Yang Maha Kuasa itu menjelaskan kebenaran melalui para nabi dan rasul dan orang-orang yang dipilih-Nya serta menganugerahkan akal dan pemahaman kepada manusia, sehingga kebatilan yang m enyelubungi pikiran dan hati mereka dapat sirna.

Lebih dari itu, Allah juga menganugerahkan kekuatan lahir dan batin kepada hamba-hamba-Nya, sehingga mereka mampu untuk menumpas kebatilan. Di sisi lain, Allah menciptakan dan melengkapi haq dengan kekuatan tersendiri sehingga ia tidak mungkin punah, atau tertumpas. Sebaliknya, kebatilan memiliki kelemahan-kelemahannya yang menjadikannya tidak dapat bertahan lama, kendati sesekali ia terlihat begitu perkasa.

Dari Orkestrasi Perbedaan ke Harmoni Kebenaran

Perbedaan pendapat (juga kritik) semestinya tidak menimbulkan kebencian, justru merekatkan persaudaraan. Keterbukaan seseorang akan diversitas kebenaran menjadi peluang untuk menambah cakrawala baru dan mengakodomasi sesuatu dari perspektif yang lain. Acapkali kita terjebak pada penjumudan mazhab atau satu kelompok tertentu sehingga menegasikan alternatif perspektif.

Mengutip Husein Muhammad dalam Islam Tradisional, dia menuturkan bahwa keterbukaan pemikiran semacam ini bukanlah berarti semau-maunya atau menghalalkan segala cara untuk sebuah tujuan yang dikehendaki. Hal ini karena dalam moralitas kemanusiaan Islam (akhlaqul karimah) terkandung secara inheren pengertian penghargaan terhadap pemikiran orang lain dan penghormatan terhadap semua nilai-nilai moral yang luhur, seperti nilai persaudaraan, kebersamaan, keadilan, toleransi, kasih sayang, kejujuran, dan lain sebagainya.

Perbedaan pemikiran, lanjut Muhammad, tidak seharusnya menafikan persaudaraan dan kebersamaan antarumat manusia. Ia juga tidak boleh menjadi dasar bagi tindakan ketidakadilan terhadap siapa saja dan kelompok mana saja, baik besar maupun kecil.

Baca juga: Praktik Toleransi Antar Umat Beragama dalam Surah Yunus: 99-100

Dalam khazanah intelektual Islam klasik, Imam Syafi’i, misalnya, pernah mengatakan, “Apabila argumen-argumenku kurang tepat menurut kalian, maka kalian tidak boleh menerimanya karena akal pikiran tidak bisa dipaksa untuk menerima kebenaran seseorang” (Husein Muhammad dalam Islam Tradisional, hlm. 296-297). Pada saat yang lain, dia mengatakan, “Pemikiranku benar meski mungkin keliru, dan pemikiran orang lain keliru meski mungkin benar”.

Lebih jauh, Imam Abu Hanifah juga mengemukakan hal yang sama. Imam Abu Hanifah, seorang pendiri aliran fikih Rasional (Imam ahlu ra’yi) adalah seorang yang jujur, tulus dan memiliki toleransi yang tinggi dalam menyampaikan pandangan dan pendapatnya. Beliau tidak pernah mengklaim pendapat dirinya yang paling benar, dan pendapat yang lain salah. Sebagaimana dikutip Husein Muhammad, Imam Abu Hanifah selalu mengatakan:

قَوْلُنَا هَذَا رَأْيِ، وَهُوَ أَحْسَنُ مَا قَدَرْنَا عَلَيْهِ، فَمَنْ جَاءَنَا بِأَحْسَنِ مِنْ قَوْلِنَا فَهُوَ أَوْلَى بِالصَّوَابِ مِنَّا

 “Apa yang aku sampaikan ini adalah sekedar pendapat. Ini yang dapat aku usahakan semampuku. Jika ada pendapat yang lebih baik dari ini, ia lebih patut diambil.”

Ketika Imam al-Ghazali dikritik kaum fundamentalis bahwa pemikiran-pemikirannya terpengaruh oleh kaum filsuf awal (falasifatul qudama), yakni para filsuf Yunani, ia menjawab,

إِذَا كَانَ الْكَلاَمُ مَعْقُوْلًا فِىْ نَفْسِهِ مُؤَيَّدًا بِالْبُرْهَانِ وَلَمْ يَكُنْ عَلَى مُخَالِفَةِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَلَمْ يَنْبَغِى اَنْ يَهْجُرَ وَيَتْرُكَ

“Jika ucapan itu benar dan didukung oleh argumen yang rasional serta tidak bertentangan dengan Alquran dan hadits nabi, mengapa ia harus dibuang atau ditolak?”. (Imam al-Ghazali dalam Al-Munqdiz min al-Dlalal)

Selain itu, Ibn Rusyd juga mengatakan,

فَمَا كَانَ مِنْهَا مُوَافَقًا لِلْحَقِّ قَبْلِنَا مِنْهُمْ وَسُرُرُنَا بِهِ وَشُكْرُنَاهُمْ عَلَيْهِ. وَمَا كَانَ مِنْهَا غَيْرَ مُوَافِقٌ لِلْحَقِّ نَبَّهَنَا عَلَيْهِ وَحَذَّرَنَا مِنْهُ وَعَذَرَنَاهُمْ

“Jika kita menemukan kebenaran dari mereka yang berbeda dari agama kita, mestinya kita menerima dengan gembira dan menghargainya. Tetapi jika kita menemukan kesalahan dari mereka, kita patut mengingatkan, memperingatkan, dan menerima maafnya”. (Ibn Rusyd, Fashlul Maqal sebagaimana dikutip Husein Muhammad dalam Islam Tradisional, hlm. 296-297).

Sebagai penutup, kami ingin mengutip pernyaatan al-Kindi, seorang filosof Arab pertama dalam Islam. Dalam Rasail al-Kindi al-Falsafiyyah, al-Kindi menyatakan,

وينبغي لنا ألا نستحيى من الحق واقتناء، الحق من أين أتى، وإن أتى من الأجناس القاصية عنا والأمم المباينة لنا، فإنه لا شيئ. أولى بطالب الحق من الحق وليس ينبغي بخسن الحق ولا تصغير بقائله ولا بالآتى به، ولا أحد بخسن بالحق، بل كل يشرفه الحق, ويعبر الكندي عن شكره ولكل من جاء بشيئ من الحق مهما كان يسيرا، لأن معرفة الحقيقة ثمرة لنضا من الأجيال الإنسانية في عصور متطاولة، كل جيل يضيف إلى التراث الإنسانى ثمرة فكره ويمهد السبيل لمن يجىء بعده

“Kita hendaknya tidak merasa malu untuk mengakui sebuah kebenaran dan mengambilnya dari manapun dia berasal, meski dari bangsa-bangsa terdahulu ataupun dari bangsa asing. Bagi para pencari kebenaran, tidak ada yang lebih berharga kecuali kebenaran itu sendiri. Mengambil kebenaran dari orang lain tersebut tidak akan menurunkan atau merendahkan derajat sang pencari kebenaran, melainkan justru menjadikannya terhormat dan mulia, serta membuka jalan bagi mereka yang datang setelahnya” (Al-Kindi dalam Rasail al-Kindi, hlm. 50-51). Wallahu a’lam.

Lima Tanda Kepahlawanan Perspektif Alquran

0
Lima tanda kepahlawanan perspektif Alquran
Lima tanda kepahlawanan perspektif Alquran

Hari ini peringatan Hari Pahlawan 10 November 2022. 77 tahun silam sudah para pejuang dan pahlawan mengusir, meluluhlantakkan, dan berhasil mengalahkan pasukan sekutu yang hendak menjajah kembali bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Presiden Soekarno menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Penetapan ini termaktub dalam Keppres Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Hari ini, tentu bentuk perjuangan para pahlawan di tempo dulu tidak bisa disamakan dengan era sekarang. Tidak mungkin kita akan memanggul senapan dan meriam berpuluh kilogram. Namun, generasi muda saat ini tetap harus memiliki semangat juang dengan berbagai cara, misalnya, menuntut ilmu yang tekun, belajar mandiri, kritis dalam berpikir, dan solutif dalam mengatasi problem kemasyarakatan.

Terminologi kepahlawanan sendiri, menurut Emha Ainun Nadjib, Budayawan Indonesia, disebabkan karena dia telah berjasa, atau telah berbuat sesuatu. Menurutnya, ada jenis pahlawan yang menjadi pahlawan tidak karena berbuat sesuatu, tetapi justru tidak berbuat sesuatu. Kepahlawanan dinilai dari perjuangan yang telah diistiqomahi. Ada orang yang mampu melakukan sesuatu kebaikan, misalnya melawan dan menghancurkan kebatilan, dengan perjuangan yang tak kenal lelah. Dia berhasil berbuat sesuatu, jasanya akan dikenang, dan tentu orang-orang akan mengenang sebagai pahlawan.

Baca Juga: Implementasi Mental Heroik dalam Al-Quran; Refleksi Peringatan Hari Pahlawan

Artikel ini mengulas lima tanda kepahlawanan seseorang perspektif Alquran sebagai berikut.

Tidak Bermental Pengemis

Tanda kepahlawanan yang pertama adalah seseorang tidak bermental pengemis. Dia selalu memilih posisi ‘tangan di atas’ daripada ‘tangan di bawah’. Dalam Alquran disebutkan la yas-alunannasa ilhafa (mereka tidak meminta-minta kepada orang secara mendesak) sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya,

لِلْفُقَرَآءِ ٱلَّذِينَ أُحْصِرُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِى ٱلْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ ٱلْجَاهِلُ أَغْنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُم بِسِيمَٰهُمْ لَا يَسْـَٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. (Q.S. al-Baqarah [2]: 273)

Redaksi la yas-alunannasa ilhafa tersebut bermakna tidak bermental meminta-minta atau dikasihani oleh orang lain. Kata ilhafa di sini bermakna menekan, menindas dan menghalalkan segala cara. Jadi, para ulama kita terdahulu seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Ahmad Dahlan, dan sebagainya, mereka sama sekali tidak bermental meminta-minta, tidak bermental penindas dan penekan, maupun otoriter. Mereka justru lebih banyak memberi ketimbang meminta. Bahkan, dikisahkan KH. Hasyim Asy’ari tatkala menjelang pertempuran 10 November 1945 menyuplai logistik para militer dan santri yang tengah berjuang bertempur.

Dalam ayat yang lain juga dikatakan, seperti Surat Yasin ayat 21 “Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. Sejatinya, semua hal yang dilakukan oleh para pahlawan dan pejuang kemerdekaan Indonesia, dalam hal ini, mereka telah mengamalkan sabda Nabi saw. yang diriwayatkan Abu Said al-Khudry,

مَن يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، ومَن يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، ومَن يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وما أُعْطِيَ أحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

Siapa yang menjaga kehormatan dirinya—dengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi untuk memperoleh apa yang ada di tangan mereka, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya iffah (kehormatan diri). Siapa yang merasa cukup, Allah akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki). Siapa yang menyabarkan dirinya, Allah akan menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 2421)

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Hasyr Ayat 9: Sifat-Sifat Kepahlawanan Kaum Ansar

Lebih Besar Kasih Sayangnya daripada Kebenciannya

Tanda kepahlawanan berikutnya adalah lebih besar kasih sayangnya ketimbang kebenciannya. Ciri ini ditandai dalam Alquran dengan mengucapkan salamun ‘alaikum (semoga keselamatan senantiasa terlimpah kepada kalian). Allah swt berfirman,

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى الأعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلا بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ

Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan diatas a’raf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga, “salamun alaikum”. Mereka belum lagi memasukinya, sedangkan mereka ingin segera (memasukinya). (Q.S. al-A’raf [7]: 46)

Menafsiri ayat di atas, Quraish Shihab menjelaskan bahwa mereka, yakni yang berada di al-A’raf itu menyeru penduduk surga — setelah mereka masuk dan tenang di dalam surga — salamun ‘alaikum, yakni keselamatan serta rasa aman selalu menyertai kalian. Mereka yang menyampaikan salam itu, ketika itu belum memasuki surga, padahal mereka sangat ingin segera memasukinya atau sudah sangat yakin bahwa mereka akan memasukinya.

Penafsiran Shihab tersebut menyiratkan sesungguhnya mereka yang bercirikan pahlawan adalah yang tidak enggan untuk menyapa sesamanya yang di bawah atau dalam kondisi yang kesulitan/ sengsara. Mereka, para ulama, pahlawan, dan pejuang tidak lupa diri dan tetap mendoakan, serta beraksi nyata untuk mengentaskan kesusahan mereka yang membutuhkan.

Eksistensinya Berdampak (Kebermanfaatannya Sustainable)

Tanda kepahlawanan yang ketiga yaitu eksistensinya berdampak. Maksudnya adalah keberadaan dan perjuangannya dirasakan dan berdampak kepada masyarakat, kebermanfaatannya terus berlangsung (sustainable) sekalipun dia telah wafat. Dalam konteks hari Pahlawan, sesuatu yang telah ditinggalkan oleh para pejuang yang telah meninggal bisa dinikmati oleh generasi sekarang. Kenikmatan itu terus berlangsung dan dapat dirasakan sampai hari ini.

Makna ini terukir dalam redaksi min atsaris sujud dalam Surat Al-Fath ayat 29.

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًا ۖ سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. (Q.S. al-Fath [48]: 29)

Makna atsar al-sujud di sini adalah bekas sujud. Dalam hal ini, kami menafsirkannya dengan eksistensinya tetap berbekas. Wajah (baca: perjuangan) Nabi Muhammad saw itu seluruh perjuangan dan eksistensinya selalu membumi (down to earth). Hal ini sama dengan perjuangan pahlawan dan ulama kita. Dalam penafsiran yang lain, At-Tabari dalam Jami’ al-Bayan, misalnya, menafsirkan atsar al-sujud dengan karakteristik Islam, pesonanya, kharismanya, dan kerendah hatiannya.

Baca Juga: Kisah Thalut Dalam Al-Quran: Representasi Sosok Pahlawan Bangsa

Bukan Pelaku Kejahatan

Tanda kepahlawanan selanjutnya adalah dia yang bukan pelaku kejahatan. Dalam arti dia berhati-hati dalam berbuat dan mengendalikan nafsunya. Dia bukanlah tipikal orang yang suka berbuat maksiat, tidak mementingkan ego pribadi daripada kepentingan umat. Dalam hal ini, Allah menyatakan dalam firman-Nya,

يُعْرَفُ الْمُجْرِمُوْنَ بِسِيْمٰهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِيْ وَالْاَقْدَامِۚ

“Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.” (Q.S. Al-Rahman [55]: 41)

Makna ayat di atas senada dengan surah Ali Imran ayat 106. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang-orang yang berdosa itu diketahui dengan tanda-tandanya, lalu dengan mudah mereka direnggut ubun-ubun dan kakinya untuk dilempar ke neraka. Hal ini merupakan peringatan keras Allah kepada para jin dan manusia. Di saat hari akhir tiba, para pendosa baik manusia maupun jin dibangkitkan dengan disertai tanda masing-masing dan mereka diperlakukan dengan sangat kejam. Untuk tanda tersebut diperjelas oleh para ulama sebagai berikut:

Abu Hayyan al-Andalusi dalam al-Bahr al-Muhith mengungkapkan,

وسيما المجرمين : سواد الوجوه وزرقة العيون ، قاله الحسن ، ويجوز أن يكون غير هذا من التشويهات ، كالعمى والبكم والصمم

“Tanda para pendosa adalah hitamnya wajah dan birunya mata, pendapat ini disampaikan oleh al-Hasan. Dan tanda tersebut bisa juga dengan kecacatan seperti buta, bisu dan tuli”. Tanda-tanda yang diungkap di sini memang seputar fisik, tapi jika coba dipahami lebih lanjut, pemahaman umum dari tafsir ini yaitu orang-orang pelaku kejahatan itu pasti ada tandanya dan yang sangat jelas, dia ‘hitam’, membawa kemudaratan dan kerusakan untuk lingkungannya.

Mampu Menaklukkan Egoisme

Tanda kepahlawanan yang kelima adalah mampu mengesampingkan egoisme pribadi. Dalam istilah Husein Muhammad, dia itu pribadi yang berhasil menaklukkan egoisme dan menundukkan arogansi diri. Sebagai pejuang, seluruh pikiran dan energinya hanya tercurahkan kepada kepentingan masyarakat, bangsa dan negara. Itulah figur pahlawan sejati, dan itulah pejuang bangsa dan ulama kita terdahulu. Hal ini ditegaskan Allah swt dalam firman-Nya,

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ

Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. (Q.S. Al-Maidah [5]: 8)

Kepentingan kemanusiaan dan kemaslahatan bangsa di atas segalanya, itulah prinsip hidup pahlawan sehingga menurut Shihab, yang perlu lebih dahulu diingatkan adalah keharusan melaksanakan segala sesuatu demi karena Allah karena hal ini yang akan lebih mendorong untuk meninggalkan permusuhan dan kebencian.

Sebagai penutup, Ali Shariati pernah berkata, “Sesungguhnya perjuangan Rasul Muhammad dan para nabi senantiasa memperjuangkan, membela dan melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan kelompok mustaqdirin (penguasa, borjuis, kapitalis, imperialisme, kolonialisme) kepada kelompok mustadh’afin (kaum yang lemah, proletar, tertindas). Tugas intelektual Muslim dan generasi bangsa Indonesia hari ini, lanjut Shariati, adalah membangkitkan dan menghidupkan kembali cita-cita kenabian dalam upaya meneladani kembali spirit Nabi Muhammad dan melanjutkan perjuangan mereka melawan segala bentuk penindasan (continue the struggle against all forms of oppression)”.

Pahlawanku, Teladanku! Selamat Hari Pahlawan.

Belajar dari Kisah Hannah dan Maryam: Dua Sosok Ibu Tunggal Inspiratif

0
hukum memperingati hari Ibu
Ibu Tunggal dalam Al-Quran

Menjadi perempuan single parent bukanlah hal yang mudah. Peran ganda dimana sebagai ibu tunggal yang mengasuh anak, mengurus rumah tangga, belum lagi juga beban menjadi kepala keluarga berkewajiban mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Yang lebih lebih sulit dari status single moms adalah menghadapi stereotip dari masyarakat umum yang masih cenderung negatif. Butuh mental ekstra untuk menghadapi stigma sosial ini. Hal tersebut bahkan dapat mengakibatkan beban psikologis berupa frustrasi, putus asa, cemas, dan bisa jadi mengarah pada gangguan depresi apabila tidak dikelola dengan baik malah bisa memperburuk kondisi seorang ibu tunggal.

Merupakan realitas psiko-sosial bahwa tantangan yang dihadapi oleh single mom berlipat-lipat lebih berat dari pada ibu normal pada umumnya yang memiliki pasangan. Kisah dalam al-Quran mengakomodir keadaan riil yang dialami ibu tunggal sebagai perjuangan keras dalam kesulitan dan penderitaan. Penggambaran tersebut sangat dekat dengan kenyataan Ibu tunggal pada zaman sekarang. Walaupun figur single mother dalam al-Quran merupakan wanita-wanita luar biasa yang bahkan merupakan ibu dari seorang Nabi, namun persoalan dan masalah yang mereka hadapi merefleksikan esensi apa yang juga dialami oleh ibu tunggal masa kini.

Kisah Ibu Tunggal yang Diabadikan dalam Al-Quran

Berbicara mengenai ibu tunggal, kita pasti akan teringat dengan sosok wanita suci nan mulia yaitu Maryam binti Imran yang dikisahkan dalam al-Quran. Dan kemuliaan itu dimulai dari ibundanya yang shalihah, yaitu Hannah binti Faqud, istri Imran. Kilasan betapa mulianya mendidik anak terdapat pada kisah yang terekam dalam QS. Ali Imran ayat 35-37, betapa mendidik anak memiliki nilai yang tinggi dan luar biasa.

Baca Juga: Seni Rekonsiliasi Konflik Ala Nabi Muhammad

Dalam keadaan Hannah yang riang gembira menunggu kelahiran seorang anak yang sudah lama dicita-citakannya,  ternyata perasaan itu berganti dengan sedih dan pilu, karena suaminya Imran berpulang ke rahmatullah, menemui Tuhannya sebelum dapat melihat bayi mungil yang telah ditunggu-tunggunya puluhan tahun. Tinggallah Hanna seorang diri, namun ia tidak lepas mendoakan anak bayinya yang bernama Maryam itu kepada Tuhan, agar dijagaNya dan dilindungi dari segala noda dan cela, agar amal dan pekerti anak itu nanti sesuai dengan nama yang diberikannya, Maryam yang artinya pengabdi Tuhan. Dia doakan pula, agar Maryam dan keturunannya diperlindungi Allah dari godaan-godaan setan yang laknat. Hal ini mengajarkan kita bahwa menjadi single Parent, harus memiliki kedekatan yang luar biasa kepada Allah dengan sepenuhnya menghamba pada Allah, pun tidak pernah lepas untuk mendoakan kebaikan anak turunnya.

Merujuk penerangan dalam Tafsir as-Sa’di, alangkah tabah dan kesatrianya hati yang dimiliki Janda Imran ini. Dia baru saja kehilangan suami, anaknya yang hanya seorang yang dinantikan berpuluh tahun lamanya itu, diserahkannya pula untuk memenuhi nazarnya, karena taat akan janji dan nazar yang sudah diucapkannya ke hadirat Allah. Sebagai orang tua kita diberi contoh bahwa ketulusan dan keikhlasan yang sempurna dan keridhaan hati dalam menerima ketentuan Allah membuahkan hasil, Allah mengabulkan nazar Hannah, sehingga apa yang dimohonkan dikabulkan oleh Allah secara bertahap dari waktu ke waku. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Allah menghadirkan seorang pengasuh dan pendidik terbaik, yaitu Nabi Zakaria yang juga seorang pengabdi untuk Bait al-Maqdis.

Hingga tumbuhlah Maryam menjadi sosok yang sangat tekun beribadah, suatu waktu hadir Jibril dan mengabarkan amanah dari Allah bahwa ia akan mengandung bayi mulia yang akan mengantarkan risalahNya kepada umat. Kisah itu termaktub dalam QS. Maryam ayat 19-21. Bisri Musthafa dalam Tafsir al-Ibriz menerangkan pada saat itu Maryam mengalami dilema yang luar biasa, kaumnya mencacinya sebagai seorang pezina, ia menanggung malu yang luar biasa karena keluarganya juga termasuk keluarga Imran yang sangat beriman dan menjaga agama dengan sebaiknya. Keadaan sulit dan menghimpit mengharuskannya untuk pergi menjauh dari keluarga dan kampungnya, dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh (QS. Maryam: 22).

Maryam sendirian dalam penderitaan, kesakitan, dan kekhawatiran. Quraish Shihab menggambarkan keadaannya saat akan melahirkan, Maryam terbayang kemungkinan sikap ingkar orang-orang disekitar terhadap kelahiran anaknya kelak. Ia pun berharap cepat meninggal dunia supaya kejadian ini tidak lagi berarti dan cepat dilupakan. Dalam sakitnya melahirkan seorang diri, dia meratap “Wahai, betapa baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” (QS. Maryam: 23). Keadaan Maryam demikian sedih dan ucapannya menggambarkan kecemasan yang mendalam.

Ibrah yang Dapat Dipetik dari Sosok Ibu yang Istimewa

Al-Quran mengisahkan dua sosok ibu tunggal ini sebagai wanita tangguh yang beriman dan percaya kepada Tuhannya. Mereka menjalani perjuangan itu dengan ikhlas, disertai ketaatan dan keimanan kepada Allah. Hannah, dalam duka ia menahan siksaan batin tetapi dengan ketabahan dan keteguhan hatinya, pada akhirnya hal itu mengantarkan pada kebahagiaan, dijadikanNya binti Imran itu menjadi wanita suci, mulia, terjaga kehormatannya dan taat mengabdi kepada Tuhan sesuai harapan Ibundanya.

Begitupula kisah ketika Maryam kembali kepada masyarakatnya yang heran dan terkejut atas kelahiran puteranya. Tudingan dari orang-orang di sekitarnya, mereka tidak percaya bahkan mendustakan kisah yang menyebutkan bahwa bayi yang dikandungnya adalah anugerah dari Allah tanpa melalui seorang laki-laki. Namun, ia tidak melarikan diri atau bersembunyi, Maryam menghadapinya dengan keyakinan pada pertolongan Allah.

Baca Juga: Membangun Resiliensi Diri dengan Sabar dan Salat

Hannah dan Maryam memiliki keberanian besar dalam perjuangannya. Keduanya mempunyai karakter kuat dan hebat dalam menghadapi ujian berat yang Allah berikan. Kita tentu melihat kedua ibu tunggal ini sebagai sosok yang berani, tangguh, tabah, percaya diri, dan teguh dalam berkomitmen.

Beberapa potong kisah ibu tunggal inspiratif, yang dimuat di dalam al-Quran ini menyuguhkan susunan dan relasi sebuah plot yang indah, sehingga mampu menggerakkan kesadaran dan memancarkan motivasi serta harapan untuk menjalani hari-hari dengan kualitas spiritual yang lebih baik, di tengah berbagai tantangan khususnya yang dihadapi oleh seorang single mother. Bahwa meraih dan mempertahankan keseimbangan dirinya melalui sumber-sumber spiritual itu penting, salah satunya dengan mentadabburi kisah-kisah ini dan meneladani figur yang memerankan episode kehidupan yang serupa dengannya, yakni para ibu tunggal yang diabadikan di dalam kitab al-Quran. Wallahu a’lam.

Tafsir Tarbawi: Lima Kecerdasan Emosi yang harus dimiliki oleh Guru

0
Kecerdasan emosi
Kecerdasan emosi bagi guru

Penting bagi seorang guru memiliki kecerdasan emosi yang stabil agar mampu mengendalikan dan menahan emosi, dan berbagai hal yang tidak diinginkan. Dalam kurikulum Indonesia, kecerdasan semacam ini disebut dengan kompetensi kepribadian. Artikel ini akan mengulas lima kecerdasan emosi (emotional intelligence) yang harus dimiliki oleh seorang guru dan juga siswa dengan melandaskannya pada ayat-ayat Al-Quran.

Mampu Mengenali Diri

Kecerdasan emosi yang pertama adalah mampu mengenali dirinya. Daniel Goleman dalam Emotional Intelligence menyebutnya dengan self-awareness (kesadaran diri). Self Awareness adalah kemampuan mengenali dan memahami mood, emosi, dan dorongan jiwa serta efeknya pada orang lain. Di samping itu, ia mengerti emosi-emosi yang bermain di dalam dirinya. Perintah untuk mengenali diri ini termaktub dalam firman-Nya,

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنْسٰىهُمْ اَنْفُسَهُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

Janganlah kamu seperti orang-orang yang melupakan Allah sehingga Dia menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. (Q.S. al-Hasyr [59]: 19)

Melupakan Allah menyebabkan manusia melupakan kesadaran dirinya serta menjadikannya masuk ke dalam golongan orang-orang yang fasik. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh para ulama,

ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

Artinya, “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Makna mengenali diri adalah mengenal karakter, kedirian, dan dorongan jiwa serta efeknya pada orang lain. Dalam konteks guru, ia harus sadar betul apa yang seharusnya ia lakukan, kesadaran akan pentingnya memaknai hidup, dan kesadaran akan berbagai karakter peserta didik yang ia didik. Hal ini menjadi modal dasar bagi pendidik. Fenomena sebagian pendidik yang kedapatan berperilaku tidak senonoh (baca: asusila) dan kekerasan, adalah menjadi bukti betapa rendah kemampuannya dalam mengenali dirinya.

Mampu Mengendalikan Diri

Daniel Goleman menyebutnya dengan self-regulation. Self-regulation ialah kemampuan mengontrol dan mengarahkan emosi dan dorongan jiwa yang negatif dan merusak. Sebagai misal, saya itu kalau bertemu dengan tipikal orang temperamen, bikin naik darah atau suka emosi, maka harus saya kontrol.

Selain itu, tidak mencari-cari alasan untuk menutupi hal negatif. Ia selalu mencari alasan yang negatif untuk diubah menjadi positif. Justru, bukan mengubah yang negatif menjadi positif. Misalnya, guru kesulitan untuk mencari alternatif metode yang lain dan terbatasnya sarana prasana sehingga tidak kondusif pembelajarannya. Padahal, sebenarnya ia malas. Untuk menutupi rasa malasnya, ia mencari-cari alasan yang tidak-tidak.

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Tiga Jenjang Belajar dalam Menuntut Ilmu

Bagi pelajar, misalnya, dalam satu waktu ia dihinggapi rasa malas. Lalu ia mencari-cari alasan, “oh aku tidak bisa ngaji kok, belum khatam Al-Quran, belum lancar, dan sebagainya. Yang sebenarnya terjadi adalah ia tidak mau mengubah yang negatif menjadi positif, ia hanya mencari-cari alasan saja untuk mengkambinghitamkan alasan tadi.

Dalam Islam, mengontrol diri disebut dengan mujahadah an-nafs. Kontrol diri sama halnya dengan pengendalian nafsu, emosi, dan segala tingkah laku yang dapat menimbulkan efek negatif kepada diri sendiri maupun orang lain. Atau istilah Jawa menyebutnya dengan “sing waras ngalah”.

Perintah untuk mampu mengendalikan diri sejatinya telah diutarakan dalam firman-Nya,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang. (Q.S. al-Hujurat [49]: 12)

Selain itu, Nabi saw juga bersabda,

وقال ابن مسعود قال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَعُدُّونَ الصُّرَعَةَ فِيكُمْ قُلْنَا الَّذِي لَا تَصْرَعُهُ الرِّجَالُ قَالَ لَيْسَ ذَلِكَ وَلَكِنِ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغضب

Ibnu Mas’ud berkata, Nabi bertanya, ‘Siapa yang kalian anggap sebagai orang yang perkasa?’ Kami menjawab, ‘Dia yang tidak bisa dikalahkan keperkasaannya oleh siapa pun.’ Nabi menimpali, ‘Bukan demikian, akan tetapi yang perkasa adalah orang yang bisa menahan dirinya ketika marah’.” (HR Muslim)

Memiliki Motivasi yang Kuat

Ketiga adalah guru harus memiliki motivasi yang kuat. Motivasi adalah kemampuan melakukan sesuatu dari dalam, bukan dorongan dari luar. Juga, semangat untuk melakukan sesuatu tanpa imbalan atau pamrih. Setiap sesuatu yang ia kerjakan, tidak mesti harus diukur dengan imbalan atau untung rugi semata. Prinsip sederhananya adalah kalau itu baik dan bermanfaat, harus dikerjakan apapun kondisinya, apakah ia harus memaksa dirinya dan lain sebagainya.

Motivasi ini penting dimiliki seorang guru karena ia berada di garda terdepan dalam mendidik dan berinteraksi dengan siswa. Tidak sedikit siswa yang tidak memiliki motivasi untuk belajar, maka di sinilah peran guru. Allah swt sendiri sudah menyatakan di dalam Al-Quran bahwa janganlah kamu merasa lemah, bersedih hati maupun berputus asa dari rahmat-Ku sebagaimana dalam Surat Ali Imran ayat 139 dan Surat Yusuf 87 di bawah ini.

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin. (Q.S. Ali Imran [3]: 139)

وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗاِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir. (Q.S. Yusuf [12]: 87)

Memiliki Empati

Yang keempat adalah guru harus memiliki rasa empati. Empati adalah kemampuan memahami emosi orang lain atau rasa peduli. Dalam bahasa lain disebut transposisi, kemampuan kita berposisi di depan orang lain. Misalnya, andai kata saya yang berada di posisi itu, mungkin saya akan stress dan banyak pikiran.

Bagi seorang guru, memiliki rasa empati adalah suatu keniscayaan. Guru tidak boleh sembarangan menjustifikasi perbuatan peserta didik hanya karena masuk terlambat, misalnya, melainkan ia harus melakukan pendekatan kemanusiaan yang baik. Misalnya, kamu kenapa terlambat? Berangkat pakai apa? Kemarin tidur jam berapa sehingga terlambat? Dan pendekatan-pendekatan lainnya yang mengutamakan aspek kemanusiaan, bukan represif dan hukuman oriented.

Artinya, guru harus bijak dalam memahami kondisi peserta didiknya. Hal ini juga ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya,

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ

Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. (Q.S. Al-Maidah [5]: 2)

Makna tolong-menolong di sini, menurut hemat kami, adalah mampu memahami kondisi orang lain dan memiliki rasa peduli yang tinggi.

Menjalin Hubungan Sosial Yang Baik

Yang kelima adalah guru wajib memiliki kemampuan sosial yang baik, mudah bergaul, menyenangkan, dan menjadi sosok yang inspiratif untuk peserta didiknya. Goleman menyebutnya dengan social skills, kemampuan menata hubungan atau membangun jaringan dengan orang lain. Mudah bergaul, dan mudah diterima di mana-mana sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya,

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu (Q.S. An-Nisa [4]: 1).

Baca Juga: Tiga Niat dalam Menuntut Ilmu

Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Adam a.s. dan Hawa tidak diciptakan melalui proses evolusi hayati seperti makhluk hidup lainnya, tetapi diciptakan secara khusus seorang diri, lalu diciptakanlah pasangannya dari dirinya. Mekanismenya tidak dapat dijelaskan secara sains. Selanjutnya, barulah anak-anaknya lahir dari proses biologis secara berpasangan-pasangan sesuai kehendak-Nya. Kemudian, ia diminta oleh Allah untuk memelihara hubungan kekeluargaan yang baik

Hubungan kekeluargaan di sini juga bermakna hubungan sosial kepada orang lain. Dalam konteks guru adalah peserta didik. Jika guru sudah mampu membangun komunikasi yang positif dengan peserta didik, sudah menjadi sosok yang selalu dirindukan, menyenangkan dan inspiratif, maka pengajaran dan pendidikan yang diberikan kepada mereka akan lebih mudah dikarenakan pendekatan yang ia lakukan adalah pendekatan berbasis kemanusiaan, bukan hirarki kekuasaan.

Di sinilah lima kecerdasan emosi yang harus dimiliki oleh seorang guru yang benar-benar layak digugu dan ditiru. Wallahu A’lam.

Etika dalam Penisbatan Qadla dan Qadar Allah

0
Etika dalam Penisbatan Qadla dan Qadar Allah
Etika dalam Penisbatan Qadla dan Qadar Allah

Salah satu fakta penting berkaitan dengan iman atas qadla dan qadar Allah adalah bahwa keduanya mencakup hal-hal buruk (syarr) di samping hal yang baik (khair). Iman-yang berarti tashdiq atau pembenaran-terhadap keduanya juga berarti membenarkan fragmen turunannya: bahwa kebaikan dan keburukan adalah datang dari Allah subhanahu wa ta‘ala.

Namun demikian, dalam konteks formal keseharian, mungkinkah menisbatkan keburukan kepada Allah? Pertanyaan ini lah yang ingin dijawab dari tulisan singkat ini.

Di antara elemen penting yang menjadi bagian dari penjelasan iman terhadap qadla dan qadar adalah memahami esensi keimanan serta mengaplikasikannya dengan benar. Aplikasi ini mencakup poin etika dan bias pembicaraan hakikat keduanya. Hal ini dikarenakan Allah “terlanjur” berfirman dalam surah An-Nisa’ [4] ayat 78,

قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللهِ

“Katakanlah, Semuanya (datang) dari sisi Allah.”

Letterlijk ayat ini menyebutkan bahwa sah-sah saja menisbatkan keburukan kepada Allah. Toh memang Dia, Zat yang menciptakan segalanya (Al-Khaliq), tapi benarkah demikian?

Syaikh Nawawi Banten dalam ulasannya terhadap qadla dan qadar dalam Kasyifah al-Saja menyiratkan adanya keharusan pembacaan menyeluruh terhadap Alquran, yang dalam dunia tafsir disebut dengan maudlu’i dan atau al-ayah bi al-ayah. Pembacaan ini dilakukan usai melakukan penghimpunan terhadap ayat-ayat yang memiliki kesamaan tema.

Dalam pembacaan yang dilakukan Syaikh Nawawi, ayat di atas hanya berlaku dalam pembicaraan yang berkaitan dengan hakikat dan bukan dalam konteks formal keseharian. Aspek hakikat di sini dimaksudkan pemahaman esensial dari iman itu sendiri, bahwa memang kebaikan dan keburukan berasal dari Allah. Namun, dalam konteks formal keseharian, aspek yang dikedepankan adalah kelaikan yang menjadi unsur utama dalam etika.

Lantas bagaimana beretika dalam konteks iman terhadap qadla dan qadar secara benar?

Baca juga: Ketika Kaum Sufi Berinteraksi dengan Alquran

Pada lanjutan elaborasinya, Syaikh Nawawi menghimpun setidaknya tujuh ayat yang menyiratkan etika dalam beriman terhadap qadla dan qadar. Ketujuh ayat tersebut adalah

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّفْسِكَ

“Kebaikan (nikmat) apa pun yang kamu peroleh (berasal) dari Allah, sedangkan keburukan (bencana) apa pun yang menimpamu itu disebabkan oleh (kesalahan) dirimu sendiri” (4: 79)

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيْكُمْ

“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri” (42: 30)

فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا

“Maka, Tuhanmu menghendaki agar keduanya mencapai usia dewasa” (18: 82)

فَأَرَدْتُّ أَنْ أَعِيْبَهَا

“Maka, aku bermaksud membuatnya cacat” (18: 79)

الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِ. وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ. وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ

“(Allah) yang telah menciptakanku. Maka, Dia (pula) yang memberi petunjuk kepadaku. Dia (pula) yang memberiku makan dan minum. Apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (26: 78-80)

Tujuh ayat ini memberikan gambaran relasi yang terbentuk antara kebaikan dan keburukan dengan otoritas penyebabnya. Ayat pertama dan kedua secara eksplisit menggunakan redaksi kebaikan dan keburukan. Kebaikan disandarkan kepada Allah dan keburukan kepada makhluk-Nya. Sementara lima ayat sisanya memanivestasikan masing-masing kebaikan dan keburukan dalam aktivitas yang lebih konkrit: pendewasaan; perusakan kapal; penciptaan; pemberian petunjuk, makanan, minuman dan kesembuhan; serta penyakit.

Dari keseluruhan relasi yang ada, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa setiap kebaikan-dengan berbagai manivestasinya-akan disandarkan kepada Allah. Sedangkan setiap keburukan–juga dengan berbagai manivestasinya-akan disandarkan kepada makhluk atas tindak perilakunya.

Baca juga: Tata Krama Berdoa

Isyarat penisbatan keburukan kepada makhluk dalam konteks formal keseharian seperti yang ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Khidir dalam dhawuh keduanya yang muncul dalam situasi perbincangan formal keseharian, bukan mengenai esensi dan hakikat. Sehingga ayat yang menjelaskan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dikhususkan (takhshish) pada pembicaraan hakikat semata.

Elaborasi Syaikh Nawawi ini juga didukung dengan isyarat yang cukup sharih dari potongan hadis panjang yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (206-261 H.) yang berbunyi,

وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ

“Tidaklah keburukan itu kepada-Mu”

Yang oleh beliau diartikan dengan,

(وَالشَّرُّ) لَايُضَافُ إِلَى اللهِ تَأَدُّبًا

“Etikanya, keburukan tidaklah disandarkan kepada Allah”

Oleh karenanya, meskipun benar segala sesuatu-baik dan buruk-berasal dari Allah, tetapi etikanya tidak diperkenankan menisbatkan keburukan kepada-Nya. Kecuali dalam pembicaraan mengenai hakikat dan esensi segala sesuatu. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Baca juga: Tafsir Ahkam: Hukum Berdoa Meminta Kematian

Tafsir Surah Almaidah Ayat 31: Relasi Manusia dengan Alam

0
Tafsir Surah Almaidah ayat 31: relasi manusia dengan alam
Tafsir Surah Almaidah ayat 31: relasi manusia dengan alam

Dalam artikel yang berjudul “Islamic Ecotheology: Understanding The Concept of Khalīfah and The Ethical Responsibility of The Environment” yang diterbitkan oleh Academic Journal of Islamic Principles and Philosophy (vol. 3, no. 1, hlm. 1), disebutkan bahwa salah satu penyebab kerusakan lingkungan adalah karena ada kesalahpahaman manusia dalam memandang alam. Oleh kebanyakan manusia, alam diperlakukan sebagai objek yang harus tunduk kepada manusia, apa pun keinginannya. Alam semesta dianggap berada satu tingkat di bawah manusia, sehingga menimbulkan sebuah legitimasi supremasi kekuasaan manusia atas makhluk lain di muka Bumi (antroposentrisme). Menepis anggapan keliru ini, tersirat dalam Surah Almaidah ayat 31 bahwa Allah Swt. pernah menjadikan alam sebagai mediator untuk mengajari manusia bagaimana cara memperlakukan manusia yang sudah tidak bernyawa. Oleh karena itu, sudah selayaknya alam sebagai sesama ciptaan Tuhan diposisikan setara dengan manusia.

فَبَعَثَ اللّٰهُ غُرَابًا يَّبْحَثُ فِى الْاَرْضِ لِيُرِيَهٗ كَيْفَ يُوَارِيْ سَوْءَةَ اَخِيْهِ ۗ قَالَ يٰوَيْلَتٰٓى اَعَجَزْتُ اَنْ اَكُوْنَ مِثْلَ هٰذَا الْغُرَابِ فَاُوَارِيَ سَوْءَةَ اَخِيْۚ  فَاَصْبَحَ مِنَ النّٰدِمِيْنَ ۛ

“Kemudian, Allah mengirim seekor burung gagak untuk menggali tanah supaya Dia memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana cara mengubur mayat saudaranya. (Qabil) berkata, “Celakalah aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini sehingga aku dapat mengubur mayat saudaraku?” Maka, jadilah dia termasuk orang-orang yang menyesal.”

Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian kisah Surah Almaidah ayat 27 yang menjelaskan tentang perkelahian antara dua orang yang mengakibatkan salah satu di antara keduanya mati. Dalam keadaan kebingungan melihat lawannya mati, Allah Swt. mengirimkan burung gagak untuk mengajarinya menguburkan jasad tersebut. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa burung gagak yang dikirimkan oleh Allah Swt. ditujukan kepada dua orang dari kalangan Bani Israil yang saling membunuh.

Baca juga:Tafsir Surah Taha Ayat 55: Belajar dari Teologi Tanah

Pendapat tersebut disanggah oleh Imâm al-Thabarî, jika yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah dua orang dari Bani Israil, untuk apa Allah Swt. mengirimkan burung gagak tersebut karena orang-orang di masa itu sudah mengetahui tata cara penguburan jenazah. Menurut Imâm al-Thabarî, burung gagak tersebut ditujukan pada kasus pembunuhan Habil oleh saudaranya, Qabil. Dikarenakan mereka termasuk golongan awal manusia yang hidup di muka Bumi, dan di waktu yang bersamaan pembunuhan tersebut merupakan kasus pertama yang dilakukan oleh manusia, maka mereka belum mengetahui tata cara memperlakukan manusia yang meninggal dunia sehingga Allah Swt. mengirimkan burung gagak untuk mengajarinya (Tafsîr al-Thabarî, jilid 3 , hlm. 75).

Ketidaktahuan Qabil tentang tata cara memperlakukan mayat diperkuat dengan kata sau’ah (سَوْءَةَ) yang bermakna keburukan. Makna “keburukan” tersebut kemudian ditafsirkan dengan arti bau busuk dan kerusakan badan, yang berarti mengisyaratkan bahwa cukup lama Qabil kebingungan dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya, sampai-sampai badan saudaranya sudah rusak dan mengeluarkan bau tak sedap. Upaya buruk gagak yang menguburkan burung gagak yang dibunuhnya, kemudian mengilhami Qabil untuk menguburkan saudaranya yang terbunuh (Tafsir al-Mishbah, jilid 3, hlm. 31).

Baca juga: Reformasi Lingkungan Perspektif Yusuf al-Qaradhawi: Membentuk Manusia Ber-mindset Eko-Teologis

Kejadian ini merupakan salah satu contoh dari apa yang disebut oleh Komaruddin Hidayat dalam bukunya, Iman yang Menyejarah (hlm. 62) sebagai proses dialog dan penafsiran manusia dengan alam untuk mengatasi problem kehidupan. Saat hewan dapat menjadi sumber inspirasi, pengetahuan, dan pengalaman bagi manusia (Tafsîr al-Manâr, jilid 5, hlm. 346).

Dari dialog tersebut lahirlah pemaknaan dan pembelajaran hidup untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah dan rohaniah umat manusia, sebagaimana halnya yang dicontohkan dalam kisah Qabil dan Habil. Hal tersebut tidak dapat diwujudkan jika manusia merasa superior atas alam dan merasa berhak mendominasinya secara membabi-buta. Wallahu a’lam.

Ilmu Gramatika Alquran: Definisi dan Perkembangannya

0
Ilmu Gramatika Alquran: Definisi dan Perkembangannya
Kitab Ma’ani al-Qur’an karya al-Farra (w. 207 H).

Ayat Alquran terdiri dari rangkaian kalimat (al-kalam). Setiap kalimat disusun dari beberapa kata (al-kalimah). Susunan ini memiliki fonem tersendiri yang terlihat dalam harakat sesuai dengan struktur kalimat yang menyusunnya. Terkadang bernuansa marfu, manshub, majrur, atau majzum. Fonem diujarkan sesuai dengan fungsi kalimat yang mengitarinya. Fonem dan rangkaian kalimat membuahkan makna yang berbeda. Perbedaan tersebut akan melahirkan corak penafsiran atau mungkin terjadi khilaf antar pandangan ulama.

Dari aspek ini, Alquran dapat ditelaah dengan analisis gramatika atau disebut nahu. Salah satu komponen penting dalam nahu adalah i’rab. Dari i’rab akan memunculkan fungsi kalimat dan corak yang berbeda. Para ulama biasanya menyebutkan khabariyah dan insya’iyyah untuk corak kalimat. Adapun struktur kalimat, kaidah yang muncul cukup banyak. Ada yang disebut fa’il, na’ib al-fa’il, mubtada’, khabar, maf’ul bih, mashdar, al-hal, al-tamyiz, dan sebagainya sesuai dengan posisi i’rab baik marfu, manshub, majrur, atau majzum. Kajian-kajian seperti ini dipandang oleh ulama sebagai I’rab al-Qur’an.

Apa itu I’rab al-Qur’an?

Secara kebahasaan, I’rab al-Qur’an tersusun dari kalimat idhafah dari kata i’rab yang disandarkan pada kata al-Qur’an. Struktur idhafah ini mengambil makna muqaddar untuk lam yang bermakna “untuk”. Sehingga, kalimat ini dapat dimaknai kajian gramatika untuk ayat-ayat Alquran. Dalam Abjad al-‘Ulum disebutkan bahwa I’rab al-Qur’an adalah cabang dari ilmu tafsir sebagaimana dikutip dari kitab Miftah al-Sa’adah. Sementara dalam al-Itqan, al-Suyuthi memandang hakikat ilmu ini adalah nahu yang dipandang sebagai disiplin ilmu tertentu. Ilmu ini, menurut al-Suyuthi mendorong pembaca untuk memperhatikan aspek gramatika dari keseluruhan aspeknya.

Al-Baihaqi berpendapat I’rab al-Qur’an memiliki dua makna. Pertama, berhubungan dengan pemeliharaan terhadap harakat yang membedakan antara orang Arab dengan non-Arab. Sebab, kebanyakan non-Arab cenderung menyukunkan kata dengan mabni baik dalam menyambungkan (washal) atau menghentikan bacaan (waqaf). Mereka pun tidak bisa membedakan fa’il dan maf’ul, juga pada bentuk madhi untuk makna mustaqbal. Kedua, berhubungan dengan pemeliharaan terhadap harakat yang tampak, sebab terkadang muncul kesalahan atau bahkan mengubah makna. Penjelasan ini dapat dirujuk pada al-Ta’rifat li al-Jurjani dan al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an li al-Zarkasyi.  

Baca juga: Nalar Balaghah Sebagai Metodologi Penggalian Makna Ayat-Ayat Hukum

Sebagai disiplin ilmu tersendiri, I’rab al-Qur’an memiliki beberapa batasan pembahasan. Yusuf al-‘Isawi dalam ‘Ilm I’rab al-Qur’an membagi batasan ilmu ini pada tiga hal. Pertama, aspek makna. Pada aspek ini dibahas makna kalimat, memilih makna yang sahih, penyesuaian i’rab dengan karakteristik mukhattab, dan memperhatikan redaksi yang memungkinkan terjadi perbedaan i’rab.

Kedua, aspek penulisan dan bacaan. Pada aspek ini dibahas bentuk i’rab sesuai dengan bacaan, pendapat di luar mushaf resmi tertolak, tidak boleh mengembalikan bacaan kepada i’rab apabila telah tetap bacaannya, berpegang teguh pada bentuk i’rab yang sesuai dengan rasm mushaf, pernyataan yang diluar rasm mushaf tertolak, tidak boleh mengungguli qira’at yang sesuai dengan mushaf, qira’at mutawatir yang di luar i’rab adalah kuat, dan bacaan fasih yang boleh secara bahasa tetapi syad tidak bisa menjadi mutawatir.

Ketiga, aspek perhatian terhadap struktur i’rab. Pada aspek ini dibahas mengenai perhatian terhadap makna yang valid, menghindari penarikan makna yang keluar dari struktur bahasa Arab, menguatkan i’rab pada pendapat yang kuat dibandingkan dengan pendapat yang syad dan lemah, perhatian terhadap pernyataan yang syubhat, dan penyesuaian struktur bahasa dengan dalil syariat.

Baca juga: Balaghah Alquran: Keindahan Penggunaan Huruf Athaf “Tsumma”

Perkembangan Ilmu I’rab al-Qur’an

Ilmu ini berkembang seiring dengan fenomena kesalahan dalam pengucapan dan pemberian tanda baca. Perkembangannya diawali dengan adanya al-lahn atau kesalahan pengucapan yang berujung pada pengubahan makna. Dapat dimafhumi, bahwa salah dalam bunyi tanda baca atau i’rab pasti berujung pada munculnya kesalahan makna. Dalam hal ini, al-Asbahani pernah menyatakan bahwa al-lahn berarti memalingkan pembicaraan dari kebiasaannya yang berlaku. Hal ini bisa terjadi baik dari tidak memperhatikan i’rab maupun kesalahan penulisan. Kenyataan ini banyak terjadi ketika Islam bertambah luas dengan bertambahnya orang-orang non-Arab.

Para sahabat mulai mendesak orang untuk belajar bahasa Arab. Di sekitar mereka muncul pepatah “Alquran adalah bahasa Arab, maka bacalah seperti bacaan orang Arab”.

Selain fenomena al-lahn, ilmu ini berkembang ketika proses pemberian tanda baca pada ayat Alquran. Secara historis proses ini terbagi dua. Pertama, pemberian tanda baca (harakat) yaitu sesuatu yang menunjukkan pada apa yang ditampakkan pada huruf baik harakat atau sukun. Kedua, penyeleksian terhadap kata yang terbentuk dari huruf-huruf sehingga membedakan mana yang sesuai dengan bahasa Arab dan mana yang tidak.

Setelah fase ini, ilmu ini beriringan dengan perkembangan ilmu nahu. Sejatinya pembubuhan tanda baca secara hakikatnya menyebarluaskan kaidah nahu. Hal ini tentu sangat penting dalam menjelaskan makna dan maksud kalimat. Setiap harakat memiliki sebab yang menyebabkannya mengalami perubahan, yang biasa disebut sebagai al-‘illah al-nahwiyah.

Apabila kita memegang pendapat bahwa I’rab al-Qur’an adalah penerapan dari kaidah nahu, maka permulaan ilmu ini sama dengan permulaan ilmu nahu dalam menetapkan ragam kaidahnya. Sebab, Alquran menjadi dalil pertama dari petunjuk ilmu nahu. Terkait hal ini, al-Bujawi menuturkan bahwa ilmu ini berkembang tahap demi tahap sampai menjadi ilmu yang berdiri sendiri dalam kajian Alquran.

Perkembangan selanjutnya adalah bermunculannya berbagai kitab tentang makna Alquran dan gramatikanya. Kitab ini menjelaskan aspek bahasa pada pelafalan dan gaya bahasa dalam Alquran. Dalam ilmu ini, terdapat penjelasan susunan kalimat yang sulit dalam Alquran sehingga membutuhkan ragam kajian. Pada awal-awal kajian ini, terdapat karya al-Farra (w. 207 H) Ma’ani al-Qur’an, al-Akhfasy (w. 215 H) Ma’ani al-Qur’an, dan al-Zujaj (w. 311 H) Ma’ani al-Qur’an wa I’rabuhu. Setelah periode ini, banyak bermunculan kitab sejenis dari beberapa ulama. Wallahu a’lam.

Baca juga: Balaghah Alquran: Seni Tata Krama dalam Bahasa Alquran

Tiga Sifat Rasulullah dalam Surah At-Taubah Ayat 128

0
Pujian Allah Untuk Rasulullah dalam Al-Qur’an
Pujian Allah Untuk Rasulullah dalam Al-Qur’an

Segala laku hidup Rasulullah saw adalah suri tauladan untuk kita semua. Tidak hanya itu, kepribadian Rasul saw sampai dipuji setinggi langit oleh Allah Swt, wa innaka la’ala khuluqin adzim (Sungguh, Engkau (Muhammad) berada di paling atas budi pekerti yang agung). Artikel ini hendak mengulas tiga sifat Rasulullah dalam Surah At-Taubah ayat 128 yang patut kita teladani untuk segala hal. Simak selengkapnya di bawah ini.

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Q.S. al-Taubah [9]: 128)

Istikamah dalam Mengajak Kebaikan

Sifat pertama nabi adalah azizun ‘alaihi ma anittum, artinya berat terasa baginya penderitaanmu. Al-Jilani dalam Tafsir al-Jilani menafsirkannya dengan segala sesuatu yang tak diinginkan yang terjadi pada dirimu. Di masa kenabian, Nabi saw diuji dengan berbagai hal berat seperti tanda-tanda kekufuran pada kaumnya sendiri, kesyirikan, ketidaktaatan, serta ketidakpatuhan kepada perintah dan larangan Allah.

Baca Juga: Tiga Niat dalam Menuntut Ilmu

Senada dengan itu, Ibn Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Adzim, bahwa terasa berat olehnya sesuatu yang membuat umatnya menderita karenanya. Karena itu, di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan melalui berbagai jalur disebutkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:

بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ

“Aku diutus dengan membawa agama Islam yang hanif lagi penuh dengan toleransi”

Di dalam hadis sahih disebutkan:

إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ وَشَرِيعَتَهُ كُلَّهَا سَهْلَةٌ سَمْحَةٌ كَامِلَةٌ، يَسِيرَةٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهَا اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ

Sesungguhnya agama ini mudah, semua syariatnya mudah, penuh dengan toleransi lagi sempurna. Ia mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah dalam mengerjakannya.

Dari ujian berat ini, tak heran jika Nabi saw mampu memahami karakter semua orang dan muncul rahmah (kasih sayang) tanpa membeda-bedakan kedudukannya. Nabi itu sangat istikamah dalam mengajak kebaikan. Nabi selalu memandang bahwa saudara kita adalah lapangan atau ladang untuk mendapatkan ridha dan pahala dari Allah, bukan sebaliknya. Semakin sulit jalan yang harus dilalui Nabi, maka semakin banyak kebaikan yang diraih.

Semangat Mengantarkan Hidayah

Pribadi nabi yang kedua adalah Nabi sangat menginginkan umatnya selamat dan berprilaku baik. Hal ini tercermin dari kata harisun ‘alaikum bahwa nabi saw sangat menginginkan bagimu keimanan, keislaman, dan perbaikan kondisimu. Ibn Katsir mengatakan, nabi itu sangat menginginkan kita semua memperoleh hidayah sehingga senantiasa mampu bermanfaat untuk orang lain, baik di dunia maupun akhirat.

Dalam bahasa al-Razi, ia menyebutkan حريص على إيصال الخيرات إليكم في الدنيا والآخرة, artinya ingin menyampaikan kebaikan (sampai ke hati dan menjadi gaya hidup) kepada kita semua. Di dalam hadits lain disebutkan,

إن اللَّهَ لَمْ يُحَرِّمْ حُرمة إِلَّا وَقَدْ عَلِمَ أَنَّهُ سَيَطَّلِعُهَا مِنْكُمْ مُطَّلَع، أَلَا وَإِنِّي آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ أَنْ تَهَافَتُوا فِي النَّارِ، كَتَهَافُتِ الْفِرَاشِ، أَوِ الذُّبَابِ

Dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali mengharamkan sesuatu melainkan Dia telah mengetahui bahwa kelak akan ada dari kalian yang melanggarnya. Ingatlah, sesungguhnya akulah yang menghalang-halangi kalian agar jangan sampai kalian berhamburan terjun ke neraka sebagaimana berhamburannya laron atau lalat”.

Nabi itu memiliki semangat yang mengembara (harisun) untuk mengantarkan dan menyampaikan hidayah kepada umatnya. Nabi tidak berputus asa hanya dengan satu cara, melainkan berbagai cara ia tempuh. Nabi juga tidak hanya berdakwah kepada yang jauh sehingga melalaikan sekitarnya.

Banyak fenomena pendakwah hari ini yang semangat ke sana kemari, tetapi kanan kirinya tidak. Justru, berdakwah harus dimulai dari sekitarnya. Apapun sarana prasarana yang ada, akan diambil demi mengantarkan/ menyampaikan hidayah kepada orang lain. Lebih dari itu, Nabi tidak membatasi diri untuk satu umat saja, melainkan menyentuh seluruh lapisan manusia, tanpa terkecuali.

Penyantun dan Penyayang terhadap Umat

Kepribadian nabi yang ketiga adalah bil mu’minina ra’ufun rahim (Nabi saw itu penyantun, penyayang dan mudah memaafkan orang lain). Nabi itu adalah pribadi yang pemaaf, dan kasih sayang kepada sesama. Sampai-sampai dikisahkan Nabi saw itu seringkali memaafkan dan mengasihi kepada sesama sekalipun pendosa.

Disampaikan Al-Baghawi dalam Ma’alim al-Tanzil bahwa Nabi saw sangat penyantun kepada mereka yang taat akan perintah Allah dan penyayang kepada para pendosa. Senada dengan al-Baghawi, Muqatil bin Sulaiman dalam tafsirnya, menuturkan bahwa Nabi saw sangat penyayang dan belas kasihan kepada semua orang, sebagaimana yang digambarkan dalam kata al-Ra’fah (الرأفة), yaitu al-rahmah, selalu menyayangi, mengasihi dan memuliakan semua orang.

Baca Juga: Tiga Lingkungan Belajar yang Harus Diperhatikan Oleh Pelajar

Bukti sikap kasih sayang nabi kepada manusia adalah Nabi Muhammad saw bangkit ketika ada sebuah prosesi pemakaman seorang Yahudi Madinah. Tatkala ia ditanya mengapa ia berdiri untuk seorang Yahudi, Nabi menjawab, “Bukankah ia seorang manusia?” (alaisat nafsan). (H.R. al-Bukhari dan Muslim).

Di sinilah letak keiistimewaan Nabi bahwa seluruh perkataan, perbuatan dan sikapnya selalu memandang dari segi kemanusiaan. Nabi melintasi sekat agama, ras, suku, budaya, bangsa. Nabi saw adalah suri tauladan untuk kita semua.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip perkataan Habib Ali Al-Jufri bahwa kemanusiaan itu mendahului keberagamaan. Kemanusiaan mengajarkan umat manusia untuk memandang dan bersikap terhadap orang lain secara patut dan manusiawi. Kemanusiaan merupakan salah satu tafsiran atas rahmatan lil alamin. Wallahu A’lam.

Seni Rekonsiliasi Konflik Ala Nabi Muhammad

0
Seni rekonsiliasi konflik ala Nabi Muhammad
Seni rekonsiliasi konflik ala Nabi Muhammad

Adalah hal yang lumrah dalam lingkaran sosial jika seseorang menjumpai konflik, baik di lingkup keluarga, pertemanan, tempat kerja, masyarakat, atau bahkan konflik dalam diri sendiri. Namun demikian, tidak berarti konflik dibiarkan begitu saja tanpa ada upaya mengelola konflik dan meredamnya. Surah Ali Imran ayat 159 mengajak kita belajar bagaimana upaya rekonsiliasi konflik yang telah diteladankan Nabi Muhammad. Beliau yang mempunyai perangai sangat luhur dan mulia telah dididik langsung oleh Allah. Baginda Nabi selalu bersikap lemah lembut, berjiwa pemaaf, bersedia mendengar saran dari orang lain, sangat demokratis, serta tidak otoriter dalam memutuskan sesuatu.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”

Sebab penurunan Q.S. Ali Imran [3]: ayat 159

Sayyid Qutb dalam Kitab Tafsir Fi Zilalil Qur’an menerangkan, ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Perang Uhud yang terjadi pada tahun 3 Hijriah. Pada waktu itu, semangat kaum muslimin berkobar untuk pergi berperang. Terutama, mereka yang sebelumnya tidak ikut Perang Badar. Namun barisan mereka mengalami guncangan. Banyak dari pasukan sahabat yang meninggalkan pos-pos yang telah ditentukan dalam peperangan itu. Akibatnya, umat Islam mengalami kekalahan.

Peristiwa ini sebenarnya sangat wajar kalau mengundang emosi manusia untuk marah, tetapi Nabi Muhammad masih tetap menunjukkan sikap kelemahlembutan kepada mereka. Meskipun sebelum peperangan itu, Rasulullah bermusyawarah dan menerima usulan tentang strategi peperangan dari para sahabat, yang lantas hasil kesepakatan diabaikan saat peperangan terjadi dengan meninggalkan pos masing-masing.

Baca juga: Quraish Shihab: Ada Isyarat Kedamaian Pada Ayat-Ayat Perang

Redaksi ayat yang disusul dengan perintah memberi maaf dan seterusnya menegaskan bahwa sikap Nabi Muhammad saw. yang amat luhur, tidak bersikap keras, tidak juga berhati kasar, pemaaf, dan bersedia mendengar saran dari orang lain. Itu semua disebabkan karena rahmat Allah kepada beliau, yang telah mendidiknya sehingga semua faktor yang dapat mempengaruhi kepribadian beliau disingkirkan.

Rangkaian peristiwa tersebut melatarbelakangi penurunan Surah Ali Imran ayat 159 untuk menenangkan dan menyenangkan hati Rasulullah. Selain itu, juga untuk menyadarkan kaum muslimin akan salah satu nikmat Allah, yaitu Rasulullah yang memiliki akhlak mulia, pemaaf, lemah lembut, selalu tawakal, dan menerapkan asas musyawarah.

Isi kandungan Surah Ali Imran ayat 159 dan teladan Rasulullah dalam memecahkan konflik

Ayat ini dapat memberi inspirasi motivasi dan advokasi tentang resolusi konflik demi terwujudnya perdamaian sosial. Salah satu upaya merekonsiliasi konflik adalah dengan media musyawarah, yaitu upaya untuk memecahkan persoalan guna mengambil sebuah keputusan terbaik sebagai solusi terkait problem yang sedang terjadi. Sebab, dengan bermusyawarah diharapkan akan diperoleh pandangan yang lebih membawa kepada kebaikan bersama.

Sejarah mencatat begitu banyak kisah yang menceritakan Rasulullah dan para sahabat melaksanakan musyawarah untuk mengambil keputusan dalam suatu problem atau konflik. Selain dalam riwayat perang uhud yang dijelaskan dalam ayat ini, peristilah islah dalam perjanjian Hudaibiyah juga menunjukkan sikap Nabi saw. untuk menyelesaikan konflik dengan musyawarah. Pun saat perang Ahzab dan perang Badar, Rasulullah mengajak sahabat bermusyawarah untuk mufakat.

Quraisy Shihab berpendapat, musyawarah atau syura adalah salah satu pokok ajaran yang sangat penting dalam Islam.  Merujuk penjelasan dari Tafsir al-Azhar, al-Munir, dan Ibnu Katsir penulis mensarikan, dalam Q.S. Ali Imran ayat 159 disebutkan tiga sifat dan sikap yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad saw. secara berurutan. Penyebutan ketiga hal itu, walaupun dari segi konteks penurunan ayat mempunyai makna tersendiri yang berkaitan dengan Perang Uhud, secara implisit juga menerangkan prinsip esensi musyawarah yang harus dimiliki setiap orang untuk menyelesaikan permasalahan bersama.

Baca juga: Rasulullah Adalah Karunia Ilahi, Maka Berbahagialah atas Kelahirannya!

Pertama, ketika melakukan musyawarah apalagi sesorang yang berada dalam posisi pemimpin, yang pertama harus dia hindari adalah tutur kata yang kasar serta sikap keras kepala, karena jika tidak, maka mitra musyawarah akan bertebaran pergi. Telah dicontohkan Rasulullah dalam hal ini untuk bersikap lemah lembut dan menjauhi sikap kasar. Kata-kata kasar dan keras hati adalah sikap yang secara fitrah dibenci oleh manusia. Sedangkan, Baginda Nabi adalah pemimpin yang agung. Beliau tidak pernah marah karena persoalan pribadi. Sayyid Qutb menggambarkan pribadi beliau, “Tak pernah sempit dadanya menghadapi kelemahan mereka selaku manusia dan tak pernah mengumpulkan kekayaan untuk dirinya sendiri bahkan memberikan segala yang beliau punya. Kesantuan, kesabaran, kebajikan kelemahlembutan dan cinta kasih sayangnya yang mulia senantiasa meliputi mereka.”

Syaikh Wahbah al-Zuhaili menambahkan dengan mengutip atsar dari Umar bin Khattab: “Tidak ada sikap lembut yang lebih dicintai Allah dari sikap lembut dan murah hati seorang pemimpin. Dan tidak ada sikap kasar lagi angkuh yang lebih dibenci Allah dari sikap kasar dan arogansi seorang pemimpin seorang yang melakukan musyawarah, apalagi yang berada dalam posisi pemimpin.” Ini mengisyaratkan, sikap lemah lembut harus dimiliki oleh setiap mukmin, terlebih lagi jika ia seorang pemimpin. Jika ada pemimpin yang kata-katanya kasar dan hatinya keras, manusia akan menjauhinya. Kalaupun ada yang mendekat, mereka mendekat bukan karena cinta, tapi karena takut dan terpaksa.

Kedua, rekonsiliasi konflik atau islah diupayakan dengan sikap legowo dua pihak yang saling berseteru untuk saling memaafkan dan berdamai. Begitu pula, upaya untuk memecahkan problem bersama dalam hal ini setiap orang yang musyawarah harus mempersiapkan mental untuk selalu bersedia memberi maaf, karena boleh jadi ketika melakukan musyawarah terjadi perselisihan pendapat yang bahkan boleh jadi mengubah musyawarah menjadi pertengkaran dan melahirkan konflik baru.

Ketiga, yang harus mengiringi musyawarah adalah permohonan maghfirah atau ampunan kepada Allah. Hal ini dilakukan untuk mencapai hasil yang terbaik.

Baca juga: Teladan Baginda Nabi dalam Membangun Relasi Suami-Istri

Demikian Alquran mengajarkan tentang etika dalam menyelesaikan suatu perkara dengan mengedepankan prinsip lembut dan santun, dengan tidak berkata kasar, saling memaafkan, serta memohon maaf kepada Allah. Nabi Muhammad mendidik kita dengan perangai yang sangat mulia, dalam bermusyawarah Baginda Nabi menekankan untuk belajar selalu bersedia mendengar dan menghargai pendapat orang lain, tidak boleh mementingkan idenya sendiri, apalagi sampai memaksa orang lain untuk mengikutinya. Begitu juga, jika hasil musyawarah untuk menyelesaikan perselisihan itu telah tercapai, seyogianya tetap menyandarkan diri dengan bertawakkal kepada Allah, agar keputusan bersama yang telah diambil itu diberikan kemudahan jalan dalam pelaksanaan hasil keputusan musyawarah tersebut, serta yang terleih penting adalah tidak menyimpang dari ketentuanNya.