Beranda blog Halaman 110

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 15-16

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 15-16 berbiacara mengenai dua hal. Pertama mengenai balasan yang akan diperoleh oleh setiap individu tergantung amal perbuatannya. Kedua mengenai anugerah yang telah diberikan kepada Bani Israil.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 14


Ayat 15

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa tiap-tiap orang akan mendapat balasan masing-masing sesuai dengan amal perbuatannya di dunia. Maka barang siapa di antara hamba-Nya menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh keikhlasan dan kesadaran, maka hasilnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Ia akan memperoleh tempat kembali yang penuh kenikmatan.

Sebaliknya barang siapa yang mengingkari perintah-perintah-Nya dan tidak menghentikan larangan-larangan-Nya, maka akibat buruk sebagai balasan perbuatannya itu akan menimpa dirinya sendiri. Ia akan mendapat tempat kembali yang buruk, hina, dan azab yang sangat berat di dalam neraka.

Pada akhir ayat ini Allah menerangkan bahwa hanya kepada Allah dikembalikan semua makhluk, tidak kepada yang lain. Semuanya akan dikumpulkan di padang Mahsyar untuk menerima keputusan yang adil dari Allah.

Di antara mereka ada yang berseri-seri wajahnya kegirangan karena ia akan bertemu dengan Allah yang selalu diharapkan selama hidup di dunia. Mereka yakin bahwa Allah mengasihi hamba-Nya yang tabah, sabar dan selalu tunduk dan patuh kepada-Nya.

Sebaliknya, ada pula orang yang muram mukanya karena hatinya penuh ketakutan dan penyesalan. Mereka takut menemui Allah karena akan menerima kemurkaan-Nya serta akan merasakan siksaan yang sangat pedih di dalam neraka.


Baca juga: Kriteria-kriteria Tafsir Kontekstual Menurut Ali Mustafa Yaqub


Ayat 16

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Bani Israil telah diberi Kitab Taurat, kemampuan memahami agama, kenabian, rezeki yang berlimpah dan keutamaan yang melebihi bangsa-bangsa lain pada masanya itu.

Anugerah yang diberikan Allah kepada Bani Israil pada waktu itu adalah seimbang dengan sikap dan usaha Bani Israil menegakkan agama Allah. Karena itu, keutamaan yang diberikan itu juga merupakan keutamaan dunia dan akhirat. Dalam ayat yang ini disebutkan enam macam anugerah yang telah diberikan kepada mereka, yaitu:

Pertama : Kitab Taurat

Kitab ini diturunkan kepada Nabi Musa. Di dalamnya terdapat petunjuk, pelajaran dan ketentuan-ketentuan yang dapat membimbing Bani Israil ke jalan yang benar. Kitab ini khusus diturunkan Allah untuk Bani Israil.

Kedua : Kemampuan memahami agama Allah.

Dengan kemampuan ini, Musa, Harun beserta pemimpin kaumnya dapat menjelaskan persengketaan yang terjadi di antara kaumnya dan dengan kemampuan ini pula dapat diterangkan agama Allah kepada Bani Israil dengan baik.

Ketiga : Kenabian

Banyak di antara para rasul dan para nabi yang diutus Allah diangkat dari Bani Israil; ada di antara mereka sebagai Nabi saja seperti Nabi Khidir, ada pula sebagai nabi dan rasul seperti Musa, Harun, Ayyub, dan lain-lain, dan ada pula nabi dan rasul yang diangkat dari kalangan mereka di samping bertugas sebagai nabi dan rasul, juga sebagai kepala negara seperti Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Dengan demikian, terhimpunlah kekuasaan dunia dan agama pada mereka.

Keempat: Rezeki yang berlimpah-limpah

Bani Israil telah dianugerahi Allah masa kejayaan dan keemasan pada masa-masa pemerintahan Nabi Daud dan pada masa pemerintahan putranya Sulaiman.

Banyak kisah yang menceritakan keagungan dan kejayaan Bani Israil pada masa kedua pemerintahan anak dan bapak itu.

Kekuasaan dan kebijaksanaan Nabi Daud dan Nabi Sulaiman diterangkan dalam Al-Qur’an. Apa yang pernah dicapai Bani Israil pada waktu itu tidak didapatkan oleh bangsa lain yang sezaman dengannya.

Kelima: Keutamaan mereka yang melebihi bangsa-bangsa lain pada zamannya yaitu pada zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman.

Keenam: Allah telah memberikan kepada mereka hukum-hukum dan ajaran-ajaran yang diperkuat dengan mukjizat-mukjizat. Hal ini yang mendorong mereka untuk bersatu dan mereka tidak berselisih melainkan hanya perselisihan yang ringan yang tidak membawa kemudaratan.

Akan tetapi tatkala datang ilmu kepada mereka, mereka berselisih sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah tersebut di atas. Perselisihan di antara mereka itu timbul setelah datang hujjah (argumen) yang nyata karena perebutan soal pimpinan dan kedengkian di antara mereka.

Sehubungan dengan keutamaan yang diperoleh Bani Israil ini, Ibnu ‘Abbas pernah berkata, “Tidak ada seorang pun di antara orang-orang di dunia ini yang dicintai Allah melebihi mereka itu.”

Allah telah menampakkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang dapat dilihat, didengar, dan dipahami mereka. Mereka pun mengikuti segala petunjuk Allah. Demikian keadaan Bani Israil pada zaman itu.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat  17-18


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 14

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 14 berbicara mengenai perintah untuk lapang dada dalam menghadapi sikap-sikap orang-orang musyrik. Selain itu juga disampaikan sebab nuzul dari ayat 14 ini.


Baca setbelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 13


Ayat 14

Al-Wahidi dan Al-Qusyairi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini turun berhubungan dengan persoalan yang terjadi antara ‘Umar bin Khattab dan Abdullah bin Ubay dalam peperangan Bani Mustalik.

Mereka singgah di sebuah sumur yang disebut Al-Muraisi’, kemudian Abdullah mengutus seorang anak muda mengambil air, tetapi pemuda itu lama sekali kembali, Abdullah bin Ubay bertanya kepada pemuda itu mengapa begitu lama ia baru kembali.

Pemuda itu menjawab bahwa Umar duduk di pinggir sumur. Ia tidak membiarkan seorang pun mengambil air sebelum ia mengisi girbai (tempat air dari kulit) Nabi Muhammad saw, girbai Abu Bakar, dan girbai bekas budak Umar, lalu Abdullah bin Ubay berkata, “Kami dan mereka tidak ubahnya seperti perumpamaan: Gemukkan anjingmu, maka ia akan memakan engkau.”

Kemudian kata-kata Abdullah itu sampai kepada Umar. Beliau menjadi marah, lalu menghunus pedangnya untuk membunuh Abdullah bin Ubay, maka turunlah ayat ini yang melunakkan hati Umar.

Selanjutnya Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw dan para pengikutnya agar berlapang dada dalam menghadapi sikap kaum musyrikin dan memaafkan tindakan mereka yang memperolok-olokkan ayat-ayat Allah. Mereka adalah orang yang menentang Allah dan tidak takut kepada ancaman-Nya.

Dari ayat ini dipahami nilai budi pekerti yang tinggi yang diajarkan agama Islam kepada penganutnya yaitu berlapang dada dan memaafkan orang-orang yang pernah bertindak tidak baik terhadap dirinya atau berusaha menghancurkan agamanya.

Memaafkan kesalahan keluarga, teman sejawat, tetangga dan kenalan dapat dengan mudah dilakukan seseorang, tetapi berlapang dada dan memaafkan perbuatan orang yang selalu ingin merusak diri dan agamanya pada setiap kesempatan memerlukan kebesaran jiwa.

Ayat ini mengajarkan dan mendidik kaum Muslimin agar dapat berlapang dada, suka memaafkan, dan berjiwa besar dalam menghadapi segala sesuatu dalam hidupnya.


Baca juga: Na’ilah Hashim Sabri, Perempuan Pertama Penulis Lengkap Tafsir Alquran


Pada akhir ayat ini Allah menerangkan mengapa Rasulullah saw dan pengikut-pengikutnya harus berlapang dada dan memaafkan tindakan orang Quraisy yang memperolok-olok ayat-ayat Allah itu. Sebabnya ialah karena Allah yang akan memberikan pembalasan yang setimpal kepada mereka sesuai dengan perbuatannya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 15-16


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 13

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 13 berbicara mengenai anugerah Allah SWT berupa penundukan semua makhluk ciptaannya untuk manusia. Selain itu juga dijelaskan mengenai fenomena alam yang berkaitan dengan anugerah tersebut.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 11-12


Ayat 13

Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa Dialah yang menundukkan semua makhluk ciptaan-Nya yang ada di langit dan di bumi agar manusia dapat menggunakan dan memanfaatkannya untuk kepentingan mereka dalam melaksanakan tugas sebagai khalifah Allah di bumi.

Hal ini berarti bahwa manusia wajib berusaha mencari manfaat dan kegunaan ciptaan Allah bagi mereka. Kunci dari semuanya adalah kemauan berusaha dan keinginan mengetahui sebagian pengetahuan Allah.

Hal ini telah dimulai oleh manusia sejak zaman dahulu sampai sekarang sehingga semakin lama umur bumi ini didiami manusia, semakin banyak pula ilmu Allah yang diketahui manusia dan manfaat alam semesta. Semua ini untuk kepentingan hidup dan kehidupan manusia. Namun, baru sebagian kecil saja dari ilmu Allah yang telah diketahui manusia.

Ciptaan Allah yang ada di langit seperti matahari, bulan, bintang-bintang, awan, angin, air hujan, dan ciptaan-Nya yang ada di bumi seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, lautan dan sebagiannya semua diciptakan-Nya di samping sebagai rahmat dan karunia-Nya kepada manusia juga mengandung tanda-tanda kekuasaan dan keagungan-Nya, yang menunjukkan bahwa penciptanya adalah Zat Yang Maha Esa.

Tidak ada Tuhan yang lain selain Dia, yang selalu menjaga makhluk-Nya dan tidak layak dipersekutukan dengan sesuatu pun. Kesimpulan seperti ini hanya akan diperoleh oleh hamba Allah yang melakukan pengamatan dengan cermat, menggunakan pikiran yang sehat dan mau mencari kebenaran.

Apabila seseorang mau memperhatikan alam semesta, mau memperhatikan hubungan kesatuan satu jenis makhluk dengan makhluk yang lain, tentulah ia akan sampai kepada kesimpulan bahwa masing-masing kesatuan itu ada kaitannya antara yang satu dengan yang lain, tidak dapat lepas atau berdiri sendiri.

Terlihat dalam proses terjadinya hujan, erat hubungannya dengan adanya laut, adanya gunung-gunung, adanya panas yang dipancarkan matahari, adanya angin dan sebagainya. Demikian pula perkisaran arah angin ditentukan oleh banyak hal, seperti adanya awan, gunung dan panas matahari.

Kapal yang berlayar di laut memerlukan hembusan angin atau bahan bakar seperti batubara atau minyak. Semakin tinggi ilmu pengetahuan seseorang semakin banyak pula ia mengetahui hubungan antara satu makhluk dengan makhluk-makhluk yang lain. Bulan tidak dapat melepaskan lintasannya dari bumi, seolah-olah tertawan oleh bumi, demikian pula bumi dan planet-planet yang lain menjadi tawanan matahari.


Baca juga: Merencanakan Generasi Terbaik dengan Membatasi Kelahiran Anak


Planet-planet itu selalu mengitari matahari pada garis edarnya masing-masing. Selanjutnya matahari dan planet-planet yang mengikuti tidak dapat melepaskan diri dari kesatuan yang lebih besar, yaitu Galaksi Bimasakti. Akhirnya Galaksi Bimasakti bersama-sama galaksi-galaksi yang lain terikat pula kepada tata susunan tertentu pula. Maka dengan pemikiran dan penelitian orang akan sampai kepada kesimpulan bahwa penciptanya tentulah Zat Yang Maha Esa lagi Mahakuasa.

Ayat di atas sebagaimana banyak ayat senada memperlihatkan bagaimana Allah menundukkan langit dan bumi untuk manusia. Seperti diketahui alam memiliki sifat-sifat fisis yang semuanya merupakan ketetapan Allah, Sunatullah, dan merupakan manifestasi ketertundukan alam. Sebagai contoh, bumi memiliki sifat-sifat fisis seperti kelistrikan, kemagnetan, elastisitas dan kerapatan massa.

Dari sifat-sifat fisis tersebut manusia, khususnya para ahli geologi, dapat mempelajari bumi bahkan sampai jauh menembus bumi. Dengan memanfaatkan sifat elastisitas bumi, manusia bisa menangkap gelombang-gelombang gempa yang menjalar dalam perut bumi dan mengetahui karakter fisis lapisan bumi yang dilaluinya.

Dengan gelombang gempa ini manusia dapat mengetahui lapisan-lapisan bumi dari atas hingga inti bumi yang berada sekitar 6000 km di bawah kita. Pada penggunaan praktis, pencarian minyak bumi menggunakan sifat elsatisitas bumi ini yakni dengan mengirim gelombang yang sumbernya berasal ‘gempa buatan’, yang di masa lalu menggunakan dinamit.

Di bagian dalam bumi terdapat inti bumi, yang bagian luarnya bersifat cair. Inti inilah yang menyebabkan bumi memiliki medan magnet kuat yang berperan penting dalam menjaga kelangsungan kehidupan. Menyebar jauh di atas permukaan, medan magnet ini melindungi bumi dari radiasi yang merusak dan berasal dari angkasa luar.

Radiasi dari bintang selain matahari tidak dapat melewati perisai ini, yang disebut dengan nama Sabuk Van Allen. Perisai ini merentang hingga sekitar 18.000 km dari bumi, melindungi bola ini dari energi mematikan. Dalam aspek praktis, dengan mengetahui sifat kemagnetan ini pula para ahli-ahli kebumian mengembangkan metode-metode eksplorasi baik mineral maupun minyak bumi.

Pernyataan mengenai penciptaan yang dilakukan bukan untuk main-main, banyak di kemukakan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Pernyataan inilah yang menjamin bahwa bumi layak huni. Bumi dimudahkan Allah untuk dihuni umat manusia.

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ   ١٥

Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi.             (al-Mulk/67: 15)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 14


Siratan Pesan Azyumardi Azra untuk Kebangkitan Islam Asia Tenggara

0
Azyumardi Azra
Azyumardi Azra

Minggu (18/9), Indonesia kehilangan salah satu tokoh intelektual muslim berpengaruh, Azyumardi Azra, cendekiawan Islam berkaliber internasional. Sang sejarawan tersohor ini menghabiskan sebagian besar umurnya untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan dan memajukan pendidikan Islam di Indonesia. Jasa Prof. Azra-begitu sapaan akrabnya-antara lain memesatkan Perguruan Tinggi Keislaman Negeri (PTKIN) dengan gagasan-gagasannya. Melansir kompas.com, Menag Yaqut pun juga menegaskan demikian dalam pidato duka cita.

Selama hidup, semangat Prof. Azra untuk memajukan keilmuan Islam tak pernah habis. Di hembus napas terakhir pun, beliau sedang dalam perjalanan konferensi ilmiah di Kajang, Malaysia. Pada kesempatan itu, beliau sedianya hendak menyampaikan makalah bertajuk Nusantara untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme dan Peran Umat Muslim Asia Tenggara.”

Baca juga: Yusuf al-Qaradhawi: Pengkaji Alquran dan Maestro Kajian Islam Kontemporer

Dalam tulisan tersebut, Prof. Azra memberi pesan kepada intelektual muslim Asia Tenggara untuk bersiap menyongsong kebangkitan Islam. Di sisi lain, juga mengusulkan strategi bagaimana Islam dapat mewujudkannya. Kebangkitan yang sebelumnya bagi tokoh pembaru ini masih setahap formalitas; antusiasme terhadap Islam yang masih sekadar cenderung pada aspek ritual. (Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia tenggara, xvii).

Dekadensi Barat dan celah untuk Timur

Berbagai karya tokoh Barat yang diulas dalam makalah tersebut, yang memberikan sinyal bahwa peradaban Barat mengalami dekadensi sejak abad 20, menjadi angin segar bagi dunia Timur untuk mengambil alih kekuasaan. Meski wacana itu sarat pro-kontra, dan hari ini pun Amerika masih menunjukkan kedikdayaannya, posisi China sebagai wakil dunia Timur sedikit demi sedikit melemahkan Barat.

Azra menyebutkan kebangkitan China pada bidang sains, teknologi, dan lebih-lebih ekonomi adalah sangat signifikan dan mampu menekan hegemoni Amerika. Bahkan, dalam beberapa aspek seperti ekonomi dan devisa, Amerika menunjukkan ketergantungan terhadap negeri ini. Kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi kaum muslim Timur khususnya Asia Tenggara untuk mengupayakan kebangkitan.

Asia Tenggara digadang sebagai aktor dalam menyukseskan kebangkitan Islam berdasarkan usulan pemerintahan negara muslim di Asia Barat dan Selatan. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah menjadi salah satu lantaran mengapa mayoritas negara muslim di Asia menaruh harapan besar kepada Asia Tenggara. Di sisi lain, juga atas pertimbangan bahwa negara dengan populasi muslim mayoritas di wilayah tersebut–yakni Indonesia dan Malaysia-menganut sistem demokrasi, yang cenderung non-blok. Karena itulah, diharapkan dua negara ini mampu berpartisipasi aktif untuk membangkitkan peradaban Islam antara lain dengan memoderasi konflik Timur Tengah.

Strategi kebangkitan Islam

Fakta memang menunjukkan bahwa mayoritas muslim di Asia termasuk bagian dari negara dunia ketiga. Kenyataan tersebut bersesuaian dengan pernyataan Azra bahwa kebangkitan Islam hari ini masih sebatas euforia. Masyarakat muslim butuh merancang strategi agar cita-cita tersebut tidak lebur di permukaan. Beliau menandaskan beberapa aspek yang mesti digarap demi kebangkitan itu terwujud. Aspek tersebut meliputi peningkatan kualitas pendidikan, penguatan sistem politik, pengembangan masyarakat madani dan beradab, serta penguatan ekonomi.

Dalam aspek pendidikan, Azra menekankan peningkatan mutu pendidikan. Untuk memperbaiki ilmu pengetahuan dalam rangka menyukseskan kebangkitan Islam, muslim Indonesia dan Malaysia tidak cukup hanya fokus pada pemerataan pendidikan, melainkan harus pula menyediakan sistem pendidikan yang berkualitas. Lebih-lebih dalam taraf sekolah tinggi. Dua motor penggerak peradaban Islam ini diharapkan mampu mewujudkan universitas berbasis riset, bukan sekadar pengajaran saja.

Orientasi riset yang disarankan Azra sejalan dengan prinsip pendidikan dalam Islam. Islam menuntun untuk membangun kepakaran (Q.S. Attaubah ayat 122); menganalisis peristiwa dengan data yang akurat dan otoritatif–tidak menerima mentah-mentah-(Q.S. Ala’raf ayat 179 & Q.S. Alhujurat ayat 6); berpikir kritis dan filosofis (Q.S. Albaqarah ayat 70 & Q.S. Alan’am ayat 75-81), dan lain-lain.

Baca juga: Urgensi Rasionalitas dalam Pendidikan Islam

Politik sebagai bagian vital dalam pembangunan peradaban juga harus diperhatikan. Baik Indonesia maupun Malaysia sama-sama mesti memperkuat sistem demokrasi. Kendati telah diterapkan sejak lama, dalam praktiknya sistem ini masih belum diterapkan dengan baik oleh seluruh elemen masyarakat dua negara tersebut, baik dari lembaga pemerintah maupun non-pemerintah.

Mewujudkan masyarakat madani atau masyarakat kewargaan (civil society) adalah pesan Azra yang tak kalah urgen. Komponen ini meniscayakan sistem politik demokrasi yang sehat. Dalam perspektif Islam, civil society dapat dibangun berdasarkan nilai universal Qurani seperti egaliterianisme, toleransi, pluralisme, keadilan, dan musyawarah sebagaimana yang diajarkan dan dipraktikkan Nabi saat membangun Madinah (prototipe civil society dalam Islam, yang kemudian dikenalkan oleh Naquib al-Attas dengan istilah al-mujtama’ al-madani atau masyarakat madani) (Ahmad Suaedy, Akar-akar Civil Society dalam Islam, 56-57).

Keterbukaan dan kesetaraan individual maupun kolektif juga semestinya dibarengi dengan etika sosial yang baik. Mengamati dekadensi moral yang terus meningkat sebagai imbas dinamika zaman 5.0, Azra juga berpesan untuk membangun masyarakat yang tak hanya demokratis, tetapi juga beradab. “Hanya dengan keadaban publik yang kuat, negara Indonesia dapat maju, berharkat, dan berperadaban,” tegas Azra dalam halaman 21.

Pembangunan masyarakat beradab jika dihadapkan dengan era digital seperti sekarang ini juga mesti diterapkan di dunia maya. Artinya, prinsip seperti menghormati perbedaan, berperilaku sopan, serta bijak dalam berkomentar seharusnya juga diterapkan di ruang digital. Dengan begitu, nilai Islami yang sejatinya selaras dengan prinsip kemanusiaan tersebut akan benar-benar diterapkan oleh masyarakat Muslim. Selanjutnya, diharapkan Islam lekas dikenal sebagai negara yang beradab dan berperikemanusiaan. (penjelasan ini antara lain dapat ditinjau dalam tafsir Q.S. Alhujurat ayat 11 & 13 tentang larangan untuk memantik konflik dengan mengolok-olok dan sebagainya, kesadaraan terhadap pluralitas manusia, serta tuntunan untuk toleransi, dalam al-Tahrir wa al-Tanwir, jilid 26).

Baca juga: Etika Bermedia Sosial dalam Pandangan Alquran

Poin terakhir yang tak kalah krusial ialah penguatan ekonomi. Tanpa ekonomi yang stabil, mustahil suatu bangsa dapat makmur dan sejahtera. Jika demikian, impian membangkitkan peradaban pun tidak dapat tercapai. Berdasarkan data worldpopulationreview.com, negara berpenduduk mayoritas muslim masih menduduki posisi rentan di sektor ekonomi.

Indonesia dan Malaysia diharapkan mampu mengupayakan penguatan ekonomi secara maksimal, terlebih dua negara ini juga masih setaraf negara berkembang. Dalam ikhtiar di bidang ekonomi, Azra juga berpesan untuk bijak dalam mengembangkan sektor ekonomi; tidak eksploitatif terhadap sumber daya alam.

Dengan membumikan prinsip Islam sebagai agama pembawa rahmat untuk semesta alam, mengembangkan perekonomian dapat diwujudkan antara lain dengan pemanfaatan sumber energi terbarukan sebagai lahan industri. Elemen ini seperti yang diisyaratkan dalam Q.S. Annahl ayat 10-14, tentang pemanfaatan sumber energi air, tenaga surya, bumi, dan bahari.

Sekarang waktu bagi kita untuk berupaya mewujudkan pesan-pesan tersebut secara optimal. Cukup kiranya kita mencari dalil sebagai pembenaran terhadap langkah yang mesti ditempuh untuk membangkitkan peradaban Islam atau untuk mendefinisikan kebangkitan Islam itu sendiri, yang seringkali justru berujung pada pemahaman yang problematik dan memicu langkah menyimpang. Pesan sang mahaguru sudah cukup dikatakan Islami karena terbukti memang selaras dengan prinsip-prinsip Islam yang disampaikan Nabi. Saatnya kita meneruskan ikhtiar beliau agar kebangkitan bagi Islam tidak hanya menjadi utopia. Wallahu a’lam []

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 11-12

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 11-12 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai al-Qur’an sebagai petunjuk dari Allah SWT. Kedua berbicara mengenai hikmah penciptaan laut.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 9-10


Ayat 11

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk yang berasal dari Allah, yang disampaikan-Nya kepada Muhammad saw, agar disampaikan kepada seluruh umat manusia. Petunjuk itu yang menuntun manusia ke jalan yang benar menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.

Diterangkan orang yang mengingkari petunjuk Al-Qur’an itu akan menempuh jalan yang sesat, jalan yang menuju kepada penderitaan hidup dunia dan akhirat.

Al-Qur’an sebagai petunjuk dapat mengeluarkan manusia dari kesesatan menuju kebenaran, dari kekafiran menuju keimanan. Oleh karena itu, orang yang tidak beriman akan mendapat siksa yang sangat pedih.


Baca juga: Tafsir Surah Allail Ayat 6-10: Algoritma Amal Saleh


Ayat 12

Allah menyatakan bahwa Dialah yang menundukkan laut untuk keperluan manusia. Hal ini berarti bahwa Allah menciptakan laut hanyalah untuk manusia. Dalam ayat yang lain diterangkan bahwa Allah menjadikan bumi dan semua isinya untuk manusia.

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ  ٢٩

Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (al-Baqarah/2: 29)

Karena itu, ayat ini seakan-akan mendorong manusia untuk berusaha dan berpikir semaksimal mungkin, di mana laut dan segala isinya itu dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, demikian pula alam semesta ini.

Sebagai contoh dikemukakan beberapa hasil pemikiran manusia yang telah digunakan dalam memanfaatkan lautan, misalnya kapal yang berlayar dari sebuah negeri ke negeri yang lain, mengangkut manusia dan barang-barang keperluan hidup mereka sehari-hari.

Tentu saja lalu-lintas di laut itu akan dapat mempererat hubungan antara penduduk suatu negeri dengan penduduk negeri yang lain.

Manusia juga dapat memanfaatkan laut ini sebagai sumber penghidupan. Di dalamnya terdapat bahan-bahan yang dapat dijadikan makanan, seperti ikan, rumput-rumput laut, dan sebagainya.

Juga terdapat bahan perhiasan seperti mutiara, marjan, dan semacamnya. Air laut dapat diuapkan sehingga menghasilkan garam yang berguna untuk menambah tenaga dan menyedapkan makanan, dan dapat diusahakan menjadi tawar untuk dijadikan air minum dan untuk mengairi tanaman, dan untuk lain-lain.

Batu karang yang beraneka warna dan ragam bentuk dan jenisnya dikeluarkan dari laut, dijadikan kapur untuk bahan bangunan rumah.

Pada masa sekarang, semakin banyak yang ditemukan dari dalam laut seperti minyak, besi dan logam yang bermacam-macam. Dalam menghadapi ledakan perkembangan penduduk dewasa ini, orang telah mulai mengarahkan pikirannya ke lautan. Mereka telah mulai memikirkan kemungkinan-kemungkinan memanfaatkan dan menggali hasil lautan sebagai sumber bahan makanan karena produksi bahan makanan di daratan diduga dalam waktu yang tidak lama lagi akan berkurang dan tidak seimbang dengan jumlah dan pertambahan penduduk.

Semua itu adalah karunia Allah yang dianugerahkan kepada manusia sebagai tanda kemurahan-Nya, agar dengan demikian manusia mensyukurinya. Amat banyak lagi karunia Allah yang lain yang belum diketemukan manusia, karena itu hendaklah manusia berusaha dan berpikir bagaimana menemukannya.

Allah menundukkan lautan agar kapal-kapal dapat berlayar padanya. Salah satu yang merupakan sekian banyak karunia-Nya adalah kemampuan manusia dengan izin Allah untuk menyelam pada kapal selam.

Kapal selam, yang kini juga banyak digunakan dalam penelitian, merupakan suatu kendaraan air yang bisa beroperasi di dalam air pada tekanan-tekanan yang mampu ditahan oleh manusia. Kapal selam berada dalam keadaan terapung secara positif dan bobotnya lebih kecil dari volume air yang dipindahkannya.

Untuk menyelam secara hidrostatis, suatu kapal harus mendapatkan keterapungan negatif dengan cara menambah bobotnya sendiri atau dengan memperkecil volume air yang dipindahkan. Untuk mengendalikan bobotnya, sebuah kapal selam harus dilengkapi dengan tangki ballast yang dapat diisi baik dengan air dari sekelilingnya, atau dengan udara tekan.

Untuk gerakan penyelaman dan pengapungan secara umum, maka kapal selam menggunakan tangki maju dan mundur yang dinamakan Tangki Balas Utama (Main Ballast Tank) yang bisa dibuka dan diisi penuh dengan air untuk bisa menyelam atau diisi dengan udara tekan untuk mengapung.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 13


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 9-10

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 9-10 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai respons negatif orang musyrik ketika mendengar al-Qur’an. Kedua mengenai keadaan orang musyrik ketika di akhirat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 6-8


Ayat 9

Pada ayat ini diterangkan sikap yang lain dari orang musyrik Mekah sewaktu mendengar ayat-ayat Al-Qur’an disampaikan kepada mereka. Apabila ada di antara kawan-kawan mereka yang menyampaikan berita tentang ayat-ayat Al-Qur’an, mereka pun memperolok-olok ayat-ayat itu.

Diriwayatkan bahwa ketika Abu Jahal mendengar firman Allah:

اِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّوْمِۙ  ٤٣  طَعَامُ الْاَثِيْمِ ۛ   ٤٤

 Sungguh pohon zaqqµm itu, makanan bagi orang yang banyak dosa. (ad-Dukhan/44: 43-44)

Ia meminta kurma dan keju, seraya berkata kepada kawan-kawannya, “Makanlah buah zaqqµm ini, yang diancamkan Muhammad saw kepadamu itu tidak lain adalah makanan yang manisnya seperti madu.” Dan ketika ia mendengar firman Allah:

عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَۗ   ٣٠

Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). (al-Muddatssir/74: 30)

Abu Jahal berkata, “Kalau penjaganya hanya sembilan belas, maka saya sendiri akan melemparkan mereka itu.” Banyak lagi cara-cara dan sikap lain yang bernada menghina dari orang-orang kafir Mekah pada waktu mereka mendengar bacaan Al-Qur’an. Bahkan Abu Jahal menantang sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an:

وَاِذْ قَالُوا اللهم  اِنْ كَانَ هٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَاَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ اَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ  ٣٢

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Ya Allah, jika (Al-Qur’an) ini benar (wahyu) dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (al-Anfal/8: 32)

Karena mereka selalu mendustakan ayat-ayat Allah dan memperolok-olokkannya, maka dalam ayat ini Allah menegaskan balasan yang akan mereka terima nanti di akhirat. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka yang menghinakan dan menyiksa mereka sebagai balasan dari sikap dan perbuatan mereka itu.


Baca juga: Hukum Wudu dan Mandi Wajib saat Masih Haid atau Nifas


Ayat 10

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa kaum musyrikin di akhirat kelak akan berhadapan dengan neraka Jahanam yang telah disediakan untuk mereka, sebab mereka selalu bersikap sombong untuk menerima petunjuk yang disampaikan oleh Nabi Muhammad.

Segala sesuatu yang mereka usahakan di dunia sedikit pun tidak dapat menyelamatkan mereka dari Jahanam, demikian pula apa yang mereka sembah selain Allah, tidak dapat memberikan perlindungan sedikit pun dan mereka akan memperoleh azab yang sangat besar.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 11-12


Dimensi Sufistik di Balik Ayat tentang Nasikh Mansukh

0
Dimensi sufistik dalam nasikh mansukh
Dimensi sufistik dalam nasikh mansukh

Salah satu cabang dalam ilmu Alquran adalah nasikh Mansukh. Kata nasikh merupakan bentuk isim fa’il dan mansukh merupakan bentuk dari isim maf’ul, keduanya berasal dari masdar naskh. Secara etimologi, dalam kitab “al-Tibyan fi Ulum Alqurannaskh memiliki beberapa makna yakni penghilangan/penghapusan (izalah), penggantian (tabdil), pengubahan (tahwil), dan pemindahan (naql). Sementara naskh secara termonologi adalah menghilangkan/membatalkan hukum syarak dengan dalil yang datang kemudian. (Ali al-Shabuni, 2016: 65).

Dalam diskursus ilmu Alquran, nasikh dan mansukh mengalami perdebatan di antara para ulama yakni dalam hal menetapkan ada atau tidak adanya ayat-ayat mansukh (dihapus) dalam Alquran. Salah satu penyebabnya karena terdapat ayat-ayat yang tampak kontradiksi jika dilihat dari segi lahirnya. Sehingga, sebagian ulama berpendapat bahwa diantara ayat-ayat Alquran ada yang tidak bisa dikompromikan. Oleh karena itu, mereka menerima teori nasikh dan mansukh. Sebaliknya, para ulama yang berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut secara keseluruhan bisa dikompromikan, mereka tidak mengakui teori penghapusan tersebut.

Baca juga: Mengenal Ibnu Ajibah: Waliyullah Penulis Tafsir al-Baḥr al-Madīd

Terlepas dari perdebatan para ulama tentang nasikh mansukh, dalam hal ini penulis menemukan makna yang lebih dalam dan luas dibalik ayat yang menjelaskan tentang penghapusan ayat tersebut yakni dengan cara memahami dan menginterpretasikannya melalui kaca mata sufistik. Lantas seperti apa dimensi sufistik dibalik ayat tentang nasikh manuskh ini?

Secara spesifik, di antara beberapa ayat yang menjelaskan tentang naskh (penghapusan ayat) ialah surah Albaqarah ayat 106 yang berbunyi:

مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?” (Q.S. Albaqarah [2]: 106)

Ibnu Ajibah dalam Bahr al-Madid mengutip perkataan Ibnu Abbas al-Mursy ra., beliau menyatakan, ayat ini mengisyaratkan bahwa Allah Swt. tidak mencabut nyawa seorang wali kecuali Allah akan mendatangkan seorang wali yang lebih baik dari sebelumnya atau setidaknya sama.

Dalam hal ini, Ibnu Ajibah memberikan komentar atas pernyataan Syaikh Mursy tersebut bahwa pernyataan itu ialah sebagai konter bagi orang-orang yang menyatakan tarbiyah seorang guru – maksud guru dalam hal ini ialah guru mursyid – terputus tatkala sudah wafat.

Baca juga: Konsep Nasikh Mansukh Menurut Syah Waliyullah al-Dahlawi

Beliau juga mengutip kisah dalam Lataif al-Minan bahwa, sebagian ulama ahli makrifat ditanya tentang para wali yang bisa menolong orang-orang dalam menggapai rida Allah (al-Madad), “Apakah dalam setiap zaman mereka (para wali) berkurang?” Ulama ahli ma’rifat menjawab, “Seandainya mereka berkurang walaupun itu satu saja, maka, langit tidak akan diperintah untuk menurunkan hujan dan Bumi tidak akan menumbuhkan tanaman-tanaman. Rusaknya suatu zaman bukanlah karena berkurangnya jumlah dan pertolongan para wali akan tetapi, itu karena kehendak Allah swt dengan menyamarkan para kekasihnya namun wujud dan pertolongannya masih tetap utuh…

Jika dianalisis, uraian-uraian di atas sebenarnya memiliki kaitan dengan hadis Rasulullah saw. yang berbunyi, “ulama adalah pewaris para Nabi.” Dalam kitab “Muntakhabat fi Rabithah al-Qalbiyah wa Shilah al-Ruhiyah” karya Romo Kyai Achmad Asrori al-Ishaqy ra. disebutkan bahwa hakikat mewarisi di sini ialah perpindahan sesuatu yang diwariskan kepada si pewaris yang sesuai dengan sifat yang ada pada orang yang diwarisi. Sehingga, setiap orang yang memiliki ilmu namun tidak memiliki rasa takut kepada Allah, maka ia bukan ahli waris.

Dari ungkapan Kyai Achmad Asrori ra. yang perlu digarisbawahi di sini bahwa pada esensinya, silsilah (rantai pertalian dan jalinan) bimbingan, penyaksian, kewalian, kesungguhan dan kewalian Quthub senantiasa terbentang dari Rasulullah saw., sebagai sosok pangkal yang luhur dan yang mencakup segalanya hingga saat ini. Hal tersebut akan terus berlangsung hingga hari kiamat.

Oleh karenanya, dalam konteks ber-thariqah untuk menuju makrifat kepada Allah, seorang salik yang tidak mempunyai guru pembimbing yang terhubung silsilahnya sampai kepada Rasulullah saw. dan hanya mengandalkan hati terbuka dengan sifat menerima apa adanya maka, dalam konteks ini ia adalah anak yang terlantar dan tidak memiliki bapak. (Al-Ishaqy, 2016: 89)

Baca juga: Nilai-Nilai Sufistik dalam Penyembelihan Hewan Kurban

Dimensi sufistik lain dari ayat ini juga disebutkan oleh Imam Qusyairi dalam “Lataif al-Isyarat”-nya yakni ayat di atas mengisyaratkan bahwa maqam ibadah seorang hamba memiliki tiga tingkatan; pertama, maqam atsar al-ibadah. Kedua, maqam anwar al-‘ubudiyah dan ketiga maqam aqmar al-‘ubudah. Jadi, al-Qusyairi memaknai “naskh” pada ayat di atas dengan pemindahan, dalam hal ini pemindahan dari maqam ibadah yang rendah ke maqam yang lebih tinggi. (Al-Qusyairi: 111)

Bagian pertama “atsar al-ibadah” (bekas daripada ibadah) ialah maqam ibadahnya orang awam karena mereka beribadah karena Allah namun juga disertai agar tidak disiksa dan agar dimasukkan ke dalam surga. Maqam kedua “anwar al-ubudiyah” (cahaya ibadah) diperuntukkan bagi al-Khawas (orang-orang khusus) yakni mereka yang melakukan amal ibadah karena keagungan, kemuliaan dan kecintaannya kepada Allah swt tanpa ada niat riya’ dan embel-embel dimasukkan ke dalam surga dan jauh dari siksa. Adapun tingkatan yang paling tinggi adalah tingkatan “aqmar al-‘ubudah” yang dimiliki khawas al-khawas atau orang-orang yang sudah bermakrifat kepada Allah Swt.

Demikian nilai-nilai sufistik yang tersimpan/terkandung dalam ayat 106 surah Albaqarah, yang pada intinya untuk wushul ilallah (sampai kepada Allah) maka, seorang hamba harus ber-thariqah, serta memiliki seorang guru yang secara silsilah keilmuannya sampai kepada Rasulullah saw. Tarbiyah (bimbingan) seorang guru mursyid yang sudah wafat akan terus berlanjut walaupun tidak tampak secara lahir namun, secara transendental. Dengan demikian, melalui jalan thariqah dengan bimbingan seorang guru mursyid maka, seorang hamba juga akan mudah sampai pada maqamaqmar al-‘ubudah” seperti yang dijelaskan al-Qusyairi di atas.

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 6-8

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 6-8 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai al-Qur’an yang menggetarkan orang-orang Mekah. Kedua mengenai ancaman Allah SWT kepada orang yang ingkar.


Baca juga: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 5 (III)


Ayat 6

Allah menyatakan kepada Rasulullah saw, bahwa ayat Al-Qur’an yang dibacakan kepadanya itu adalah ayat-ayat yang mengandung bukti, dan dalil-dalil yang kuat baik dari segi asal Al-Qur’an itu (dari Allah) maupun dari segi isi dan gaya bahasanya. Pernyataan Allah itu telah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw kepada kaum musyrik Mekah, tetapi semuanya itu tidak dapat mereka terima, bahkan mereka bertambah ingkar kepada Rasulullah saw.

Pada waktu Al-Qur’an dibacakan kepada orang kafir Mekah, hati mereka mengakui ketinggian isi dan gaya bahasanya. Pengakuan ini langsung diucapkan ‘Utbah bin Rabi’ah dan Abul Walid, sastrawan kenamaan orang Arab waktu itu.

Kepada mereka diperintahkan agar memperhatikan kejadian alam semesta ini, kejadian diri mereka sendiri, air hujan yang turun dari langit yang menyirami bumi sehingga bumi yang tandus menjadi subur, angin yang bertiup, dan sebagainya, semuanya itu dapat dijadikan bukti bahwa Allah adalah Maha Esa, Mahakuasa lagi Mahaperkasa.

Kepada mereka pun telah diutus seorang rasul yang akan menyampaikan agama Allah kepada seluruh manusia. Rasul itu adalah orang yang paling mereka percayai di antara mereka, orang yang mereka segani dan orang yang selalu mereka mintai nasihat dalam menyelesaikan perselisihan-perselisihan yang terjadi di antara mereka.

Rasul yang diutus itu dapat pula membuktikan bahwa ia benar-benar Rasul yang diutus Allah kepada manusia, misalnya dengan mengemukakan beberapa mukjizat yang diberikan Allah kepadanya.

Sudah banyak bukti yang dikemukakan kepada mereka, tetapi mereka tidak juga beriman. Sebenarnya, bagi orang yang mau menggunakan pikirannya, cukup banyak bukti untuk menjadikan dia seorang yang beriman.

Itulah sebabnya maka Rasulullah saw diperintahkan oleh Allah menanyakan kepada kaum musyrik Mekah tentang keterangan apalagi yang mereka minta yang dapat mengubah hati mereka sehingga menjadi beriman.

Telah lengkap keterangan yang diberikan kepada mereka. Tidak ada lagi dalil-dalil dan bukti-bukti yang lebih kuat daripada yang telah dikemukakan itu. Jika mereka tidak mau juga memahaminya dan tidak mau menerima bukti dan dalil-dalil itu, terserah kepada mereka sendiri. Mereka akan mendapatkan balasan yang setimpal akibat sikap kepala batu mereka itu.

Ayat 7-8

Kemudian Allah mengancam kaum musyrikin yang selalu mengingkari kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an dengan ancaman yang sangat mengerikan. Mereka tetap mendustakan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an, padahal di dalamnya terdapat keterangan tentang dalil-dalil dan bukti-bukti keesaan dan kekuasaan-Nya yang cukup jelas. Bukti dan keterangan itu telah mereka dengar sendiri. Menurut ukuran yang wajar, tentu mereka telah memahaminya.

Akan tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya. Itulah sebabnya mereka disebut dalam ayat ini orang-orang yang banyak berdusta dan banyak melakukan perbuatan dosa.


Baca juga: Tafsir Ahkam: Hukum Tidur dalam Keadaan Junub


Selanjutnya diterangkan bahwa keadaan orang-orang musyrik sebelum dan sesudah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an tetap sama, tidak ada perubahan dalam sikap dan perilaku mereka, bahkan mereka bertambah ingkar dan menyombongkan diri.

Itulah sebabnya dalam ayat ini mereka dikatakan seolah-olah tidak pernah mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka.

Dalam ayat yang lain, diterangkan bahwa mereka sendiri mengakui tidak pernah merasa mendengar Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka. Allah berfirman:

وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا فِيْٓ اَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُوْنَآ اِلَيْهِ وَفِيْٓ اٰذَانِنَا وَقْرٌ وَّمِنْۢ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ اِنَّنَا عٰمِلُوْنَ  ٥

Dan mereka berkata, “Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepadanya dan telinga kami sudah tersumbat, dan di antara kami dan engkau ada dinding, karena itu lakukanlah (sesuai kehendakmu), sesungguhnya kami akan melakukan (sesuai kehendak kami).” (Fussilat/41: 5)

Dalam ayat lain:

وَالَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرٌ وَّهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى

Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Al-Qur’an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. (Fussilat/41: 44)

Pada akhir ayat ini, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya menyampaikan kabar gembira kepada mereka bahwa mereka akan memperoleh azab yang pedih di neraka. Dalam ayat ini disebutkan bahwa memberitakan adanya azab yang pedih merupakan suatu berita gembira, bukan suatu berita duka.

Ungkapan ini sengaja dibuat demikian untuk membalas sikap mereka yang memperolok-olokkan ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepadanya dan untuk menunjukkan bahwa sikap mereka itu merupakan sikap yang sudah melampaui batas. Karena itu, yang dimaksud dengan kabar gembira di sini ialah lawan daripada kabar gembira itu, yaitu kabar sedih sebagai penghinaan kepada mereka.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 9-10


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 5 (III)

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 5 (III) meneruskan pembicaraan mengenai angin. Setelah sebelumnya dikatan bahwa angin ini bisa dimanfaatkan oleh nelayan, kali ini menjadi penutup dari pembicaraan tersebut, semua itu merupakan betuk dari kekuasaan Allah SWT dan manusia dituntut untuk menggunakan akalnya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 5 (II)


Ayat 5 (III)

Dari perkisaran angin itu, orang akan mengetahui betapa Mahabijaksana dan Mahaperkasa-Nya Allah yang menciptakan alam semesta ini.

Itulah sebabnya pada bagian akhir surah ini, Allah menegaskan bahwa tanda-tanda kekuasaan-Nya yang dapat dilihat pada jagat raya, pada diri manusia, pada perkisaran angin, pada turunnya hujan, dan sebagainya menjadi bukti kekuasaan-Nya bagi orang yang mempergunakan akalnya dan bagi orang yang benar-benar mau mencari kebenaran.

Dengan bermacam-macam himbauan itulah, Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya agar manusia meyakini kemahaesaan dan kemahakuasaan-Nya. Dengan mengetahui semuanya itu dengan benar, niscaya bertambah mantaplah iman mereka dan bertambah pulalah gairahnya untuk memanfaatkan pengetahuannya itu bagi kemaslahan umat manusia.

Dari keterangan di atas, dipahami pula amat banyak yang dapat dijadikan bukti adanya Allah, Mahakuasa dan Mahabijaksana, asal saja orang mau mengikuti cara berpikir yang digariskan Allah dalam Al-Qur’an, hal ini juga berarti bahwa sebenarnya, semakin tinggi ilmu seseorang semakin banyak ia mempunyai bukti-bukti itu. Jika ada seorang yang berilmu yang tidak mempercayai adanya Tuhan, berarti ia belum lagi mempergunakan ilmunya itu menurut yang semestinya.

Dalam ayat-ayat ini terdapat tiga kalimat berbeda, pertama yu’minµn, kedua yµqinµn, dan ketiga ya’qilµn, hal ini dimaksudkan; jika kalian beriman maka pahamilah tanda-tanda keagungan Allah ini dan jika tidak beriman namun mencari kebenaran dan keyakinan maka pahamilah tanda-tanda ini, dan jika tidak beriman dan tidak mencari kenyataan maka jadilah kalian orang yang berakal dan pahamilah tanda-tanda ini.

Ayat ini dengan singkat menggambarkan adanya mekanisme-mekanisme perputaran dan peredaran bumi yang berkaitan dengan perubahan cuaca serta perkisaran angin. Ilmu pengetahuan saat ini menerangkan adanya siang dan malam di bumi disebabkan oleh perputaran (rotasi) bumi pada porosnya.


Baca juga: Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran


Disamping berotasi, bumi juga beredar pada garis lintasannya (evolusi) yang berbentuk elips. Bumi memerlukan waktu satu tahun untuk beredar pada lintasan ini sampai berada kembali pada posisi yang sama.

Proses rotasi dan evolusi bumi, di samping berkaitan dengan cuaca dan iklim di berbagai tempat di permukaan bumi, berkaitan pula dengan perubahan-perubahan arah angin.

Hujan-hujan setempat umumnya terjadi setelah tengah hari, ketika suhu mulai mendingin, setelah pada pagi dan siang hari sebelumnya permukaan bumi mendapatkan panas matahari yang banyak dan cukup menghasilkan uap air untuk menghasilkan awan yang menurunkan hujan.

Poros perputaran bumi membuat sudut sebesar 23,5o terhadap garis lintasan peredarannya, sehingga jumlah intensitas cahaya matahari yang diterima belahan bumi utara dan selatan selalu berbeda, kecuali pada posisi bidang lintasan tegak lurus terhadap bidang penampang setengah bola bumi, ketika itu matahari berada persis di atas katulistiwa.

Adanya tempat-tempat yang mendapatkan intensitas cahaya yang berbeda menyebabkan panas permukaan bumi berbeda-beda pula. Dengan adanya perbedaan panas di permukaan bumi maka terjadilah aliran udara (angin) dari tempat yang dingin ke tempat yang lebih panas.

Di daerah sekitar khatulistiwa (ekuatorial) terdapat angin yang berhembus sepanjang tahun ke arah katulistiwa yang selalu panas yang dikenal dengan angin pasat. Di Indonesia yang terletak di antara dua samudera besar dan dua benua berhembus angin yang berganti arah setiap setengah tahun, dikenal dengan angin muson (moonsoon).

Pada bulan Oktober sampai April, angin berhembus dari barat laut ke arah tenggara (angin barat) yang membawa serta kelembaban dan menyebabkan musim hujan. Pada bulan April sampai Oktober, angin yang berhembus dari tenggara ke arah barat laut, bersifat kering, menyebabkan musim kemarau.

Di permukaan laut, perbedaan panas cahaya matahari ini menyebabkan adanya arus laut dan perbedaan produksi uap air. Perpaduan dinamika arah angin dan produksi uap air di permukaan bumi menghasilkan siklus perubahan iklim, yang pada dasarnya akan berulang setiap tahun. Pada periode perulangan tertentu biasa terjadi pula kasus-kasus ekstrim seperti fenomena El Nino dan La Nina.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 6-8


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 5 (II)

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 5 (II) berbicara mengenai tanda kekuasaan Allah SWT yang lain, yakni adanya hujan. Terjadinya hujan ini tidak instan. Di dalam prosesnya terdapat banyak sekali sesuatu yang menujang terjadinya hujan tersebut.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 5 (I)


Ayat 5 (II)

Kemudian Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya yang terlihat pada turunnya hujan dari langit. Karena panas matahari, air pun menguap ke atas. Angin yang selalu bertiup mempercepat proses penguapan itu dan menghalaunya ke suatu tempat dan lama-kelamaan terkumpullah uap air itu di angkasa sebagai awan.

Apabila awan yang berarak dihalau angin itu tertahan oleh gunung, maka terkumpullah ia di sana, semakin lama semakin tebal. Warnanya yang semula keputih-putihan berubah menjadi hitam. Dan apabila suhu udara telah mencapai kedinginan sedemikian rupa, turunlah uap air itu sebagai hujan yang menyirami permukaan bumi.

Karena air hujan itu, tumbuhlah beraneka macam tumbuh-tumbuhan, dan karena air hujan itu pula, binatang dan manusia dapat hidup. Manusia dengan hasil pemikirannya dapat mengatur aliran air itu sehingga tidak mengalir seluruhnya ke laut. Sebagian dimanfaatkan dan sebagian lagi dapat digunakan pada musim kemarau.

Pada tiap daerah, di permukaan bumi, curah hujan tidak sama; bergantung kepada faktor-faktor yang menentukan. Ada daerah yang curah hujannya sangat lebat dan ada pula yang sangat tipis dan ada yang sedang. Dengan memperhatikan turunnya hujan itu dan manfaatnya bagi kehidupan makhluk, orang dapat mengetahui betapa luasnya kekuasaan penciptanya.

Sesudah itu Allah menunjukkan pula tanda-tanda kekuasaan-Nya yang dapat dilihat pada perkisaran tiupan angin yaitu perkisaran angin darat dan angin laut yang selalu berhembus berganti arah.

Telah menjadi hukum alam bahwa daratan lebih cepat menjadi panas bila ditimpa sinar matahari dibandingkan dengan lautan yang lambat menjadi panas bila ditimpa sinar matahari. Sebaliknya daratan lebih cepat pula melepaskan panas di malam hari, pada waktu panas matahari tidak ada lagi dibandingkan dengan lautan yang lambat melepasnya.

Dengan demikian, terdapatlah daerah maksimum dan minimum udaranya. Pada siang hari daratan lebih panas dari lautan sehingga udaranya menjadi minimum, sedangkan lautan kurang panas udaranya dibandingkan dengan daratan sehingga udaranya menjadi maksimum.

Udara mengalir dari daerah maksimum ke daerah minimum, maka bertiuplah pada siang hari angin laut menuju daratan. Akan tetapi, di waktu malam, terjadi kebalikannya; daratan menjadi maksimum dan lautan menjadi minimum karena daratan lebih cepat menjadi dingin daripada lautan sehingga bertiuplah angin dari daratan menuju lautan.

Keadaan yang demikian menguntungkan para nelayan. Mereka berangkat pada waktu malam, berlayar ke tengah lautan mengikuti arah hembusan angin laut. Di samping itu, perubahan letak matahari berada di lintang-balik- utara belahan bumi bagian selatan. Karena itu, udara maksimum di belahan bumi bagian selatan. Maka bertiuplah angin dari belahan bumi selatan ke belahan bumi bagian utara.


Baca juga: Tafsir Ayat Al-Ahkam Karya Abdur Rosyad Suhudi dan Makmun Afandi Nur


Waktu itu di Indonesia mengalami musim kemarau. Akan tetapi, bila matahari berada pada lintang balik selatan, belahan bumi bagian selatan menerima panas lebih banyak dari bagian bumi sebelah utara. Karena itu, udara maksimum di bagian utara, maka bertiuplah angin dari utara ke selatan.

Untuk Indonesia, angin bertiup dari padang pasir Gobi ke Tiongkok, menyusur Semenanjung Malaysia karena pengaruh perputaran bumi membelok ke timur, ke Indonesia, menuju Padang Pasir Victoria di Australia. Pada saat itu, di Indonesia mengalami musim hujan.

Di samping itu, terdapat angin yang bertiup dari kutub utara dan kutub selatan secara tetap, karena daerah kutub selalu mengalami udara yang lebih dingin daripada khatulistiwa maka daerah-daerah kutub, udaranya selalu maksimum.

Akan tetapi karena perputaran bumi pada porosnya dari barat ke timur, maka angin yang bertiup dari kutub itu mengalami pembelokan ke barat. Itulah sebabnya angin itu di Indonesia bertiup dari tenggara. Untuk daerah-daerah kutub sendiri, bertiuplah selalu angin barat yang tetap sepanjang masa.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 5 (III)