Beranda blog Halaman 109

Maulid dan Kelahiran Manusia Baru

0
Maulid Nabi dan Kelahiran Manusia Baru
Maulid Nabi dan Kelahiran Manusia Baru

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan rasul) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Ali Imran: 164).

Pemikiran dan gagasan besar tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh dalam sebuah “iklim” dengan segala muatannya, berangkat dari aneka harapan dan kondisi yang melingkupinya, berbekal multi strategi dan mengacu pada sejumlah target sasaran yang jelas. Pada saatnya, semua itu mendorong lahirnya tatanan baru yang diyakini penggagasnya sebagai tatanan yang lebih baik; lebih bermartabat dibanding tatanan lama yang dinilai sarat dengan keburukan dan kesesatan.

Gerakan perubahan yang didengungkan Muhammad tidak mengidealkan perubahan total mencakup semua bentuk dan format lama. Gerakan yang dipelopori Muhammad tidak menuntut dirinya menjadi seseorang yang benar-benar baru dengan nilai dan tatanan makna yang sepenuhnya baru. Perannya memang besar, tapi ia tidak bergerak di dunianya sendiri, tidak berpikir dalam kerangka pengalaman pribadinya sendiri. Muhammad adalah seorang Rasul, utusan Tuhan yang bergerak; berpikir dan bertindak, dalam kerangka risalah yang diembannya. Kendati demikian, ia bukan orang asing bagi kaumnya. Seperti kata ayat di atas, Muhammad berasal dari golongan mereka sendiri. Apa yang dirasakan (dipedulikan) Muhammad tidak asing bagi mereka; apa yang dipikirkan Muhammad berangkat dari realitas yang akrab dengan mereka.

Muhammad berasal dari “jantung” masyarakat di mana ia tinggal di dalamnya. Tuhan mengutusnya kepada mereka untuk menyampaikan ayat-ayat-Nya, kiranya mata mereka terbuka melihat keagungan-Nya; hati mereka terbuka menerima hidayah-Nya. Tuhan menugaskannya melakukan penyucian jiwa mereka dari akhlak tercela, perilaku buruk, pemikiran dan kebiasaan yang jelek. Tuhan menyuruhnya mengajarkan kepada mereka Kitab Allah yang terkandung di dalamnya segenap risalah dan “bertemu” di dalamnya ajaran semua rasul.

Kepada mereka Muhammad juga mengajarkan hikmah-kebijaksanaan yang menghubungkan gerak hidup mereka dengan lingkup kosmik (semesta) yang berjalan mengikuti sunnah-Nya yang lurus dan konstan. Seorang Muslim tidak cukup hanya fasih berteori di aras pemikiran sambil melafalkan ayat-ayat Kitab Suci. Ia harus terus melangkah di jalan kesempurnaan dengan menautkan pemikiran teoritisnya dan dalil-dalil yang dihafalnya dengan realitas di mana ia hidup di dalamnya. Itulah antara lain makna hikmah yang Tuhan meminta Muhammad untuk mengajarkannya pada mereka. Hikmah yang mengajarkan keseimbangan antara pemikiran (teori) dan kenyataan (tempat menerapkan teori).

Muhammad datang untuk itu semua (tilawah, tazkiyah, dan ta’lim) dalam rangka membebaskan mereka dari kubangan kesesatan yang nyata, baik di tingkat pemikiran maupun ranah perbuatan. Semua itu oleh ayat disebut sebagai karunia Allah atas mereka. Jalan hidup yang lurus, pola pikir yang bening, orientasi hidup yang jelas lagi benar; semua ini merupakan sebenar-benarnya kebaikan di mana mereka harus hidup di dalamnya. Dalam segala keadaan, kebaikan itu harus tetap terawat agar hidup tetap berlimpahkan kedamaian dan kasih-sayang.

———-

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung” (al-A’raf: 157).

Yang menjadi fokus dari ayat di atas adalah penggalan ini: “…yang menyuruh mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” Seperti terlihat dan cukup mudah dipahami, Allah menjadikan amar ma’ruf, nahi munkar, penghalalan segala yang baik, pengharaman segala yang buruk, serta membebaskan beban dan belenggu; Allah menjadikan semua ini dalam “satu paket”, satu-sama-lain saling terkait.

“Ma’ruf” mencakup segala hal yang dapat diterima akal sehat dan fitrah lurus, sedang “munkar” kebalikannya. “Segala yang baik” di ayat ini adalah makanan sebagaimana disebut dalam al-Baqarah: 168 dan al-Ma`idah: 4. Bukan amal-perbuatan, sebab amal-perbuatan terkelompokkan dalam ma’ruf dan munkar. Makanan tidak masuk dalam kelompok ma’ruf dan munkar. Bukan wilayah akal untuk membedakan makanan; mana yang dapat dimakan, mana yang tidak. Adat-kebiasaan manusia yang menentukan. Kemudian Islam datang memberi ketegasan; halal semua makanan yang baik, haram semua makanan yang buruk.

Yang dimaksud “membebaskan beban” adalah menghapus syariat terdahulu yang dirasa berat. Syariat dalam kitab Taurat mengandung banyak hukum yang dinilai berat, seperti hukuman mati atas sejumlah dosa, pengharaman atas banyak jenis makanan yang baik-baik, pengharaman atas perkara-perkara yang “biasa-biasa saja”. Puncak beratnya syariat dalam Taurat adalah tidak adanya taubat dari dosa yang pernah diperbuat. Pelaku dosa tidak mempunyai kesempatan bertaubat. Beratnya syariat Taurat ini diisyaratkan dalam al-Baqarah: 286.

“Belenggu”, yang dimaksud adalah beban berat dan tak tertanggungkan seperti kehinaan yang ditanggung kaum Yahudi pasca kehancuran Bait al-Muqadas dan lenyapnya kerajaan Yahudza. Cukup mudah dipahami menunjuk “kehinaan” sebagai “belengggu”, karena belenggu memang antara lain menyimbolkan kehinaan, pun kehinaan biasa membelenggu yang bersangkutan.

———-

Tentang Ali Imran: 164 di atas, saya olah dari tafsir Min Wahy al-Qur`an sedang tentang al-A’raf: 157 saya saripatikan dari tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir. Dari tafsir Min Wahy al-Qur`an, kita dapat mengambil pelajaran bahwa seorang pembaharu, pelopor pergerakan dan perubahan, seorang revolusioner, tidak harus seorang Super Man. Justru dia harus human being. Dia seorang pemikir-aktivis yang cermat memetakan masalah, fasih mengartikulasikan pemikiran dan gagasan, serta memiliki visi yang jelas tentang apa yang hendak dicapai dari sebuah pemikiran. Semua itu dia ramu dari realitas yang dia lihat dan rasakan, dari persoalan-persoalan riil yang ia hadapi, bukan hasil renungan hampa tanpa dukungan fakta dan realita. Penggalan “dari golongan mereka sendiri…” dari Ali Imran: 164, saya rasa menegaskan hal itu.

Sedangkan terhadap tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir saya menambahkan bahwa “beban” dan “belenggu” yang coba dienyahkan Muhammad dari pundak umat bukan hanya berupa beban syariat dan belenggu kehinaan seperti yang pernah dirasakan umat Yahudi. Lebih dari itu, bahkan yang terpenting, adalah penderitaan, penindasan, ketidakadilan, kebodohan, dan hal-hal serupa itu. Al-Anbiya`: 107 yang menggariskan risalah Muhammad sebagai risalah rahmat, saya pikir mengacu, antara lain, pada apa yang saya tambahkan tersebut. Yakni Muhammad adalah Sang Pembebas. Risalah rahmat yang diusungnya setara maknanya dengan risalah pembebasan.

Karena kita tidak terbiasa secara khusus memperingati hari pengangkatan Muhammad menjadi Nabi, maka tidak keliru kiranya jika saya mengaitkan hari kelahirannya (maulid) yang selalu kita peringati dengan kelahiran manusia baru. Dengan kata lain, maulid Nabi menandai kelahiran manusia baru.

Shallu ‘ala al-Nabi

Kisah Inspiratif Perempuan yang Berbahasa Alquran

0
Kisah Inspiratif Perempuan yang Berbahasa Alquran
Kisah Inspiratif Perempuan yang Berbahasa Alquran

Orang-orang meresepsi Alquran dengan caranya masing-masing. Beberapa resepsi Alquran menarik diketahui karena unik dan jarang ditemukan. Salah satunya kisah seorang perempuan Arab yang menggunakan ayat-ayat Alquran untuk berkomunikasi dalam kesehariannya. Dia tidak berbicara kecuali dengan bahasa Alquran.

Kisah ini tertuang dalam kitab Hilyah al-Auliya’ wa Tabaqat al-Asfiya’ (10/182) karya Abu Nu’am dan dapat ditemukan pula dalam kitab Syarah ‘Uqud al-Lujain (hal. 23). Kisah ini bersumber dari riwayat Abdullah bin Daud al-Wasiti. Pendapat lain mengatakan sumbernya adalah pengalaman pribadi Abdullah bin al-Mubarak.

Diceritakan suatu ketika Abdullah bin Daud al-Wasiti sedang wukuf di Arafah yang merupakan bagian dari manasik haji. Di sana dia bertemu dengan seorang perempuan yang tiba-tiba membaca Q.S. Ala’raf: 186 di hadapannya:

“Siapa yang Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk.”

Al-Wasiti menyadari perempuan itu sedang memberi petunjuk kalau dia sedang tersesat. Dia lantas bertanya, “Wahai perempuan, kamu dari mana?”

Si perempuan menjawab, “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa” (Q.S. Alisra: 1).

Mendengarnya, al-Wasiti tahu bahwa perempuan itu berasal dari Baitul Maqdis. Dia lalu menanyai maksud perjalanannya, “Lantas apa yang membuatmu melakukan perjalanan ini?”

“Kewajiban manusia terhadap Allah, berhaji (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (Q.S. Ali Imran: 97), jawab si perempuan yang mengisyaratkan dia sedang melaksanakan ibadah haji.

“Apakah kamu punya suami?” telisik al-Wasiti.

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya” (Q.S. Alisra: 36), tegas si perempuan.

Al-Wasiti lalu menawarkan si perempuan tunggangan, “Maukah kamu menaiki untaku?”

“Apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya” (Q.S. Albaqarah: 197), kata si perempuan mengindikasikan kalau dia menerima niat baik al-Wasiti.

Tatkala hendak akan menaiki unta, perempuan itu membaca ayat Alquran lainnya, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya” (Q.S. Annur: 30).

Mendengar ayat tersebut, al-Wasiti seketika memalingkan pandangannya seraya menanyakan nama si perempuan, “Siapakah namamu?”

Perempuan itu menjawab, “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Alquran” (Q.S. Maryam: 16).

“Apakah kamu punya anak?” lanjut al-Wasiti.

“Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub” (Q.S. Albaqarah: 132), jawabnya. “Berarti dia punya beberapa anak,” batin al-Wasiti. “Lantas siapa nama mereka?” telisik lagi al-Wasiti.

Perempuan itu menjawab, “Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung; Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya; Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi” (Q.S. Annisa: 164, Annisa: 125, dan Sad: 26). Itu berarti ibu ini memiliki tiga orang anak. Masing-masing dia namai Musa, Ibrahim, dan Daud.

Al-Wasiti kemudian berniat mempertemukan sang ibu dengan anaknya dengan bertanya, “Kalau begitu di manakah aku bisa mendapati mereka berada?”

“(Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk” (Q.S. Annahl: 17), jawabnya. Al-Wasiti menyimpulkan mereka adalah rombongan pengendara unta.

Al-Wasiti lanjut bertanya, “Wahai Maryam, apakah kamu tidak makan sesuatu?” Dijawab oleh Maryam, “Sesungguhnya aku telah nazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah” (Q.S. Maryam: 26).

Baca juga: Mengenal Terma-Terma Perempuan dalam Al-Quran

Al-Wasiti dan Maryam melanjutkan perjalanan sampai kemudian bertemu dengan rombongan anak-anak Maryam itu. Mereka pun menangis terharu sesaat setelah melihat ibunya kembali. Maryam berkata kepada mereka, “Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota” (Q.S. Alkahf: 19).

Al-Wasiti menanyakan mereka perihal sang ibu. Mereka menerangkan, “Ibu kami telah tersesat sejak tiga hari lalu. Beliau sendiri telah bernazar untuk tidak berbicara kecuali dengan Alquran karena khawatir lisannya akan tergelincir.”

Selang beberapa waktu al-Wasiti melihat anak-anak Maryam itu kembali menangis. Setelah diselidiki, rupanya perempuan itu sedang mengalami sakratulmaut. Al-Wasiti lalu buru-buru masuk menjumpainya dan menanyakan keadaannya. Dia menjawab, “Dan datanglah sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya” (Q.S. Qaf: 19). Maryam pun kemudian menemui ajalnya.

Pada malam harinya al-Wasiti bermimpi melihat Maryam. “Di manakah kamu berada sekarang?” tanya al-Wasiti. Dijawab oleh Maryam, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa” (Q.S. Alqamar: 54-55).

Baca juga: Perempuan dalam Al-Quran: Antara Pernyataan Allah Sendiri dan Kutipan atas Ucapan Orang Lain

Demikianlah kisah Maryam, seorang perempuan yang tidak pernah berbicara-menurut suatu riwayat selama 40 tahun terakhir dari masa haidupnya-kecuali menggunakan ayat-ayat Alquran. Dia menempatkan Alquran sebagai “bahasa” Tuhan yang kedudukannya di atas bahasa manusia sehingga dia merasa lebih aman dan maslahat baginya untuk hanya berkomunikasi dengan Alquran.

Dari kisah Maryam dapat diambil pelajaran tentang pentingnya memperhatikan setiap ucapan yang keluar dari lisan. Sebab, lisan sangat mudah tergelincir yang akhirnya menjadi penyebab seseorang binasa. Kisah Maryam juga mengajarkan akan perlunya untuk selalu berusaha dekat dengan Alquran dalam keseharian. Tidak harus seperti Maryam, tetapi bisa dengan cara membiasakan diri mengaji, memahami, dan mengamalkan Alquran sesuai kadar kemampuan masing-masing. Semoga kita bisa meneladaninya.

Baca juga: Al-Mar’ah fil Islam: Antologi Kesetaraan Perempuan dalam Al-Quran, Hadis, dan Sejarah Nabi

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 26-27

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 26-27 berbicara mengenai kuasa Allah SWT untuk menghidupkan serta mematikan manusia. Setelah sebelumnya dibahas mengenai keingkaran orang-orang terhadap hari kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-25


Ayat 26

Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menjelaskan kepada orang-orang musyrik Mekah, bahwa Allah-lah yang berkuasa menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya.

Dahulu mereka belum ada dan merupakan benda mati, sesudah itu atas kuasa Allah mereka dijadikan makhluk hidup di dunia untuk jangka waktu yang ditentukan. Apabila telah sampai waktu yang ditentukan itu, mereka pun dimatikan.

Kemudian mereka dibangkitkan kembali pada hari Kiamat untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia.

Allah menegaskan bahwa terjadinya hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang pasti, tidak ada keraguan sedikit pun. Jika Allah kuasa menghidupkan dan mematikan, tentu Dia kuasa pula menghidupkan dan menghimpun kembali bagian-bagian tubuh mereka yang telah hancur berserakan menjadi tanah.

Mengulang kembali suatu perbuatan adalah lebih mudah daripada menciptakannya untuk pertama kali. Dan bagi Allah, tidak ada suatu perbuatan pun yang sukar.

Pada akhir ayat ini, Allah menyayangkan mengapa kebanyakan orang-orang musyrik tidak meyakini kebenaran adanya hari kebangkitan dan tetap mengingkarinya dengan alasan bahwa orang yang telah mati, yang tubuhnya telah hancur lebur bersama tanah, tulang-tulangnya telah berserakan tidak mungkin hidup kembali. Allah berfirman:

وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ   ٧

Dan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur. (al-Hajj/22: 7)


Baca juga:‘Good Governance’ Perspektif  Alquran 


Ayat 27

Allah menjelaskan bahwa yang memiliki kekuasaan di langit dan di bumi ialah Allah. Tidak ada yang melebihi kekuasaan-Nya yang berlaku sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada penguasa yang lain selain Dia dan tidak ada tuhan-tuhan lain yang pantas disembah selain-Nya.

Kekuasaan-Nya meliputi seluruh alam; alam dunia dan alam akhirat. Allah juga berkuasa pada saat alam dunia berakhir dan mulainya hari akhirat. Pada saat itu manusia akan dibangkitkan dari alam kubur.

Semua manusia akan digiring ke padang mahsyar untuk menghadapi ke pengadilan. Pada saat itu, perbuatan mereka akan diperiksa secara teliti. Tiap-tiap orang akan menerima catatan perbuatannya selama ia hidup di dunia, yang dibuat secara teliti oleh para malaikat pencatat amal.

Pada hari itulah, tampak kemurungan orang-orang kafir yang mendustakan kebenaran ayat-ayat Allah. Kemurungan itu berubah menjadi kesengsaraan dan penderitaan yang amat berat ketika mereka diseret ke neraka Jahanam, disanalah mereka menampakkan penyesalan mereka, tetapi penyesalan itu tidak berguna lagi.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 28


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-25

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-25 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai keingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan. Kedua mengenai respons Allah SWT mengenai tidakan mereka.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 23


Ayat 24

Pada ayat ini Allah menjelaskan keingkaran orang-orang musyrik terhadap hari kebangkitan. Menurut anggapan mereka kehidupan itu hanya di dunia saja. Di dunia mereka dilahirkan dan di dunia pula mereka dimatikan dan di situlah akhir dari segala sesuatu, dan demikian pula terjadi pada nenek moyang mereka.

Menurut mereka, yang menyebabkan kematian dan kebinasaan segala sesuatu ialah pertukaran masa. Dari pendapat mereka, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka mengingkari terjadinya hari kebangkitan.

Keterangan itu diperkuat oleh adat kebiasaan orang Arab Jahiliyah yaitu apabila mereka ditimpa bencana atau musibah, terlontarlah kata-kata dari mulut mereka, “Aduhai celakalah masa.” Mereka mengumpat-umpat masa karena menurut mereka masa itulah sumber dari segala musibah.

Dalam hadis Qudsi dari Abµ Hurairah, Rasulullah bersabda:

;قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ يُؤْذِيْنِي ابْنُ ﺁدَمَ يَقُولُ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ فَلاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ يَا خَيْبَةَ الدَّهْرِ فَإِنِّيْ أَنَا الدَّهْرُ أُقَلِّبُ لَيْلَهُ وَنَهَارَهُ فَإِذَا شِئْتُ قَبَضْتُهُمَا. (رواه مسلم);

Allah berfirman, “Manusia telah menyakitiku dengan mengatakan wahai masa yang sial. Maka janganlah salah seorang kalian mengatakan masa yang sial karena Akulah (Pencipta dan Pengatur)masa. Aku mengganti malam menjadi siang, dan jika Aku menghendakinya niscaya Aku genggam keduanya.” (Riwayat Muslim)

Kemudian Allah menyayangkan sikap kaum musyrikin Mekah yang tidak didasarkan pada pengetahuan yang benar. Allah menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang hal yang menyangkut masa itu. Pendapat mereka itu hanyalah didasarkan pada sangkaan dan dugaan saja.


Baca juga: Na’ilah Hashim Sabri, Perempuan Pertama Penulis Lengkap Tafsir Alquran


Ayat 25

Pada ayat ini, Allah menerangkan dan menegaskan bahwa pendapat mereka itu benar-benar berdasarkan dugaan dan sangkaan belaka, yang menjurus kepada pengingkaran terjadinya hari kebangkitan.

Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Allah yang mengandung keterangan tentang bukti-bukti terjadinya hari kebangkitan, mereka tidak mau memahami keterangan yang dikemukakan itu, dan juga mereka menantang Rasulullah saw agar beliau menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Jika hal itu dapat dilakukan oleh Rasulullah, barulah mereka mau beriman.

Dari sikap mereka yang demikian itu, dapat diambil kesimpulan bahwa mereka benar-benar telah dikendalikan oleh hawa nafsu mereka, tidak lagi mempergunakan pikiran mereka dengan baik sehingga mereka tidak mau menerima segala kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah saw, bahwa hari kebangkitan itu akan datang pada saat yang telah ditentukan yaitu setelah semua manusia yang hidup dimatikan dan jagat raya serta segala isinya hancur-lebur. Namun hal ini tidak membuat mereka mengerti dan mengakui.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 26-27


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 23

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 23 berbicara mengenai dua hal. Pertama akan dibahas mengenai sebab turunnya ayat ini. kedua berbicara mengenai orang kafir yang tengah tenggelam dalam perbuatan jahat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 22


Ayat 23

Muqatil mengatakan bahwa ayat ini turun berhubungan dengan peristiwa percakapan Abµ Jahal dengan al-Walid bin al-Mugirah.

Pada suatu malam Abu Jahal tawaf di Baitullah bersama Walid. Kedua orang itu membicarakan keadaan Nabi Muhammad. Abu Jahal berkata, “Demi Allah, sebenarnya aku tahu bahwa Muhammad itu adalah orang yang benar. ”Al-Walid berkata kepadanya, “Biarkan saja, apa pedulimu dan apa alasan pendapatmu itu?” Abu Jahal menjawab, “Hai Abu Abdisy Syams, kita telah menamainya orang yang benar, jujur, dan terpercaya dimasa mudanya, tetapi sesudah ia dewasa dan sempurna akalnya, kita menamakannya pendusta lagi pengkhianat. Demi Allah, sebenarnya aku tahu bahwa dia itu adalah benar.” Al-Walid berkata, “Apakah gerangan yang menghalangimu untuk membenarkan dan mempercayai seruannya?” Abu Jahal menjawab, “Nanti gadis-gadis Quraisy akan menggunjingkan bahwa aku pengikut anak yatim Abu Talib, padahal aku dari suku yang paling tinggi. Demi Al-Lata dan Al-‘Uzza, saya tidak akan menjadi pengikutnya selama-lamanya.” Kemudian turunlah ayat ini.

Selanjutnya, pada ayat ini Allah menerangkan keadaan orang-orang kafir Mekah yang sedang tenggelam dalam perbuatan jahat. Semua yang mereka lakukan itu disebabkan oleh dorongan hawa nafsunya karena telah tergoda oleh tipu daya setan.

Tidak ada lagi nilai-nilai kebenaran yang mendasari tingkah laku dan perbuatan mereka. Apa yang baik menurut hawa nafsu mereka itulah yang mereka perbuat. Seakan-akan mereka menganggap hawa nafsu mereka itu sebagai tuhan yang harus mereka ikuti perintahnya.

Mereka telah lupa bahwa kehadiran mereka di dunia yang fana ini ada maksud dan tujuannya. Ada misi yang harus mereka bawa yaitu sebagai khalifah Allah di muka bumi. Mereka telah menyia-nyiakan kedudukan yang diberikan Allah kepada mereka sebagai makhluk Tuhan yang paling baik bentuknya dan mempunyai kemampuan yang paling baik pula.

Mereka tidak menyadari bahwa mereka harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kepada Allah kelak dan bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan dengan balasan yang setimpal. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ  ٧  وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ ࣖ  ٨

Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (az-Zalzalah/99: 7-8)

Sebenarnya hawa nafsu yang ada pada diri manusia itu merupakan anugerah yang tidak ternilai harganya yang diberikan Allah kepada manusia. Di samping Allah memberikan akal dan agama kepada manusia agar dengan keduanya manusia dapat mengendalikan hawa nafsunya.

Jika seseorang mengendalikan hawa nafsunya sesuai dengan pertimbangan akal yang sehat dan tidak bertentangan dengan tuntunan agama, maka orang yang demikian itu telah berbuat sesuai dengan fitrahnya.

Tetapi apabila seseorang memperturutkan hawa nafsunya tanpa pertimbangan akal yang sehat dan tidak lagi berpedoman kepada tuntutan agama, maka orang itu telah diperbudak oleh hawa nafsunya. Hal itu berarti bahwa ia telah berbuat menyimpang dari fitrahnya dan terjerumus dalam kesesatan.


Baca juga: Ayat-Ayat Konflik yang Dipahami Keliru dan Kemunculan Kafirphobia di Kalangan Umat


Berdasarkan keterangan di atas, maka dalam mengikuti hawa nafsunya, manusia terbagi atas dua kelompok. Kelompok pertama ialah kelompok yang dapat mengendalikan hawa nafsunya; mereka itulah orang yang bertakwa. Sedangkan kelompok kedua ialah orang yang dikuasai hawa nafsunya. Mereka itulah orang-orang yang berdosa dan selalu bergelimang dalam lumpur kejahatan.

Ibnu ‘Abbas berkata, “Setiap kali Allah menyebut hawa nafsu dalam Al-Qur’an, setiap kali itu pula Dia mencelanya.” Allah berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنٰهُ بِهَا وَلٰكِنَّهٗٓ اَخْلَدَ اِلَى الْاَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوٰىهُۚ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ الْكَلْبِۚ اِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ اَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْۗ ذٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَاۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ  ١٧٦

Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir. (al-A’raf/7: 176)

Pada ayat lain :

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ

Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. (Sad/38: 26)

Dalam ayat ini, Allah memuji orang-orang yang dapat menguasai hawa nafsunya dan menjanjikan baginya tempat kembali yang penuh kenikmatan. Allah berfirman:

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ  ٤٠  فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ  ٤١

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya). (an-Nazi’at/79: 40-41)

Banyak hadis-hadis Nabi saw yang mencela orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin ‘As bahwa Nabi saw bersabda:

لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِماَ جِئْتُ بِهِ. (رواه الخطيب البغدادي)

Tidak beriman seseorang dari antara kamu sehingga hawa nafsunya itu tunduk kepada apa yang saya bawa (petunjuk). (Riwayat al-Khatib al-Bagdadi);

Syaddad bin Aus meriwayatkan hadis dari Nabi saw :

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، الْعَاجِزُ مَنْ اَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ. (رواه الترمذي وابن ماجه)

Orang yang cerdik ialah orang yang menguasai hawa nafsunya dan berbuat untuk kepentingan masa sesudah mati. Tetapi orang yang zalim ialah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan mengharap-harap sesuatu yang mustahil dari Allah. (Riwayat at-Tirmizi dan Ibn Majah)

Orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya biasanya kehilangan kontrol dirinya. Itulah sebabnya ia terjerumus dalam kesesatan karena ia tidak mau memperhatikan petunjuk yang diberikan kepadanya, dan akibat perbuatan jahat yang telah dilakukannya karena memperturutkan hawa nafsu.

Keadaan orang yang memperturutkan hawa nafsunya itu diibaratkan seperti orang yang terkunci mati hatinya sehingga tidak mampu lagi menilai mana yang baik mana yang buruk, dan seperti orang yang telinganya tersumbat sehingga tidak mampu lagi memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di langit dan di bumi, dan seperti orang yang matanya tertutup tidak dapat melihat dan mengetahui kebenaran adanya Allah Yang Maha Pencipta segala sesuatu.

Selanjutnya, Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar tidak membenarkan sikap orang-orang kafir Mekah dengan mengatakan bahwa tidak ada kekuasaan yang akan memberikan petunjuk selain Allah setelah mereka tersesat dari jalan yang lurus.

Pada akhir ayat ini, Allah mengingatkan mereka mengapa mereka tidak mengambil pelajaran dari alam semesta, kejadian pada diri mereka sendiri, dan azab yang menimpa umat-umat terdahulu sebagai bukti bahwa Allah Mahakuasa lagi berhak disembah.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 24-25


Ulasan Mengenai Perbedaan Fakir dan Miskin dalam Al-Qur’an

0
Fakir dan Miskin
Fakir dan Miskin

Dalam Surah Al-Taubah [9]: 60 disebutkan bahwa di antara orang yang berhak menerima zakat adalah orang fakir dan orang miskin. Dalam bahasa Indonesia, kata fakir dan miskin seringkali dimaknai sama, bahkan dalam penggunaan sehari-hari, dua kata tersebut digabungkan menjadi “fakir miskin”.

Pada dasarnya baik fakir maupun miskin merupakan kata serapan dari Bahasa Arab, namun dalam perkembangan penggunaannya di Indonesia dua kata tersebut dimaknai sama. Artikel ini akan mengulas secara singkat makna asal dari kata fakir dan miskin sekaligus menemukan perbedaan keduanya.

Fakir merupakan hasil serapan dari bahasa Arab, yaitu “faqîr” yang merupakan  isim musyabbahah dari kata faqura (Mu’jam al-Mu’âshirah). Kata faqîr digunakan dalam empat tempat, sebagaimana yang diuraikan oleh al-Râghib al-Ashfahânî dalam Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân (hlm. 641-642) sebagai berikut:

1. Fakir untuk menyatakan bahwa manusia memiliki hajat untuk memenuhi kebutuhannya. Ini berlaku untuk manusia dan makhluk lainnya selama mereka berada di dunia ini, sebagaimana yang diisyaratkan dalam QS. Fâthir [35]: 15 dan al-Anbiyâ’ [21]: 8.

2. Fakir bermakna kekurangan harta, sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Al-Baqarah [2]: 273, QS. Al-Taubah [9]: 60, dan QS. Al-Nûr [24]: 32.

Baca Juga: Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran

3. Fakir jiwa, yaitu kerakusan yang dimaksud oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya “kâda al-faqr an yakûna kufran”, artinya “kefakiran dekat dengan kekufuran”.

4. Fakir di sisi Allah sebagaimana dimaksud dalam firman-Nya QS. Al-Qashash [28]: 24.

Sementara itu, al-Râghib al-Ashfahânî memaknai miskin adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa. (Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân, hlm. 417).

Buya Hamka mengilustrasikan orang fakir adalah orang yang keperluan hidupnya sebesar 100 rupiah, namun dia hanya mampu mendapatkan penghasilan kurang dari setengah biaya kebutuhannya hidup. Adapun orang miskin adalah orang yang pendapatannya tidak memenuhi biaya kebutuhannya, namun sudah melebihi dari setengahnya. Dapat disimpulkan bahwa menurut Buya Hamka orang fakir dan miskin sama-sama orang yang belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, namun orang yang miskin tidak separah orang fakir.

Untuk memperkuat argumentasi ini, Buya Hamka menjadikan QS. Al-Kahfi [18]: 79 sebagai contoh bahwa orang miskin memiliki aset, meskipun tidak dapat memenuhi kebutuhannya. Ketika Nabi Khidir as. ditanya oleh Nabi Musa as. tentang alasan melubangi perahu, Nabi Khidir menjawab bahwa perahu itu milik orang-orang miskin yang berusaha di lautan, sedangkan raja di negeri itu suka merampok perahu orang yang menurutnya bagus. QS. Al-Kahfi [18]: 79 menjadi petunjuk bahwa si pemilik perahu yang berusaha sebagai nelayan adalah orang miskin.

Baca Juga: Larangan Menimbun Barang dalam Surah Hud Ayat 85

Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan lebih rinci perbedaan definisi miskin dan fakir menurut ulama. Menurut Imam al-Syâfi’i orang fakir adalah orang yang mempunyai harta dan mata pencaharian yang tidak mencukupi dan tidak meminta-minta, sedangkan orang miskin adalah orang yang mempunyai harta atau mata pencaharian tetapi tidak mencukupi kebutuhan sehingga meminta-minta merendahkan harga diri. Sebaliknya, menurut Imam Abû Hanîfah, miskin ialah apa yang dikatakan fakir menurut pengertian Imam al-Syâfi’i, dan yang dikatakan miskin menurut Imam al-Syâfi’i adalah fakir menurut Imam Abû Hanîfah.

Berdasarkan ulasan singkat di atas, dapat disimpulkan secara singkat bahwa fakir dan miskin merupakan dua kata yang maknanya tidak sama. Meskipun terdapat perbedaan pendapat dalam memaknai kata tersebut, namun semua pendapat tersebut bersepakat bahwa fakir dan miskin merupakan sebutan bagi orang yang tidak kekurangan dan belum mampu mencukupi kebutuhannya.

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 22

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 22 berbicara mengenai tujuan penciptaan langit dan bumi. Selain itu tujuan diciptakannya langit dan bumi bergantung pada kehendak Allah SWT.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 19-21


Ayat 22

Allah menjelaskan bahwa langit dan bumi diciptakan dengan benar, dan memiliki tujuan penciptaan sesuai dengan kehendaknya. Tidak ada satu benda pun diadakan Tuhan tanpa mempunyai tujuan. Tujuan kehadiran satu ciptaan adalah untuk dimanfaatkan oleh ciptaan yang lain, dalam rangka mencapai tujuan ciptaan yang lain itu.

Apabila suatu kegiatan tidak memiliki tujuan, maka yang terjadi adalah laib, permainan. Kata sebaliknya batil, kebalikan kata Haq banyak digunakan untuk menjelaskan hal yang sama, sebagaimana ayat di bawah:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۗذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِۗ  ٢٧

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Sad/38: 27)

Seperti yang kita saksikan, sifat fisis bumi, seperti massa, struktur, suhu, dan seterusnya begitu tepat bagi kehidupan. Namun, sifat-sifat itu saja tidak cukup untuk memungkinkan adanya kehidupan di bumi, faktor penting lain adalah susunan atmosfer (lihat Surah Ibrahim/14:19 dan Surah al-Jatsiyah/45: 3).

Tidak ada satu pun kekuatan lain yang dapat mengubah kehendak Allah. Ketentuan yang demikian berlaku bagi seluruh ciptaan-Nya sesuai dengan keadilan dan sunah-Nya. Di antara keadilan Allah ialah memberikan balasan yang setimpal kepada para hamba-Nya atas amal dan perbuatannya pada hari pembalasan.

Barang siapa yang melakukan perbuatan yang baik akan menerima ganjarannya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan-Nya, demikian pula barang siapa yang melakukan perbuatan jahat akan menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan jahatnya itu.

Mengapa dikatakan bahwa pemberian balasan yang setimpal itu sesuai dengan keadilan Allah. Karena Allah menciptakan manusia sebagai makhluk-Nya, dilengkapi dengan kecenderungan dan kemampuan untuk berbuat baik dan berbuat jahat. Kedua-duanya atau salah satu daripada kedua potensi itu dapat berkembang pada diri seseorang. Perkembangannya itu banyak ditentukan oleh keadaan, lingkungan, dan waktu.

Di samping itu, Allah menganugerahi manusia akal pikiran. Dengan akal pikirannya itu manusia mempunyai kesanggupan-kesanggupan untuk menilai rangsangan-rangsangan yang mempengaruhi tindakan dan perilakunya.


Baca juga: Identitas dan Kisah Penduduk Rass dalam Alquran


Sebelum seseorang menentukan sikap untuk melakukan suatu perbuatan atau tidak melakukannya, maka dalam dirinya terjadi gejolak dalam mempertimbangkan dan menetapkan suatu pilihan, sikap mana atau tindakan mana yang akan diambilnya dari kedua tindakan itu.

Pada saat-saat yang demikian itu, manusia diberi kemerdekaan memilih antara yang baik dan yang buruk. Dalam pergolakan yang demikian, maka jiwa manusia mendapat tekanan-tekanan yang disebut tekanan-tekanan kejiwaan.

Apabila ia memilih dan memutuskan melakukan suatu kebaikan, maka perbuatan itu terjadi berdasarkan pilihannya sendiri. Bila ia memilih keputusan melakukan keburukan, maka itu pun terjadi karena pilihannya sendiri pula.

Saat-saat yang seperti itu adalah saat-saat yang menentukan apakah ia sengaja melakukan suatu perbuatan atau ia tidak sengaja melakukannya. Dan juga membedakan antara perbuatan yang dilakukan; apakah perbuatan itu dilakukan dengan sadar atau tidak. Itulah sebabnya dikatakan bahwa balasan Allah terhadap hamba-Nya sesuai dengan amal dan perbuatannya, itulah gambaran keadilan Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 23


 

Tafsir Tarbawi: Dua Kunci Memunculkan Keberkahan Ilmu untuk Pelajar

0
Ilmu Pengetahuan
Keberkahan Ilmu Pengetahuan

Kunci untuk memunculkan keberkahan ilmu bagi pelajar adalah beramal shalih dan tidak menyekutukan Allah swt. Kedua hal ini penting mengingat betapa banyak para pelajar setelah menimba ilmu cukup lama, akan tetapi tidak berkah atau tidak manfaat ilmunya. Bisa jadi, ada yang salah dalam menempuh proses mencari ilmu sehingga tidak muncul keberkahannya.

Karena itu, keberkahan ilmu sangatlah penting bagi pelajar karena dengan modal tersebut akan menjadikan kita semakin dekat kepada Allah swt sebagaimana hadits nabi saw, “barang siapa yang bertambah ilmunya dan tidak bertambah hidayahnya, maka ia akan semakin jauh dari-Nya”. Dengan melandaskan Q.S. al-Kahfi [18]: 110, artikel ini mengulas dua kunci untuk memunculkan keberkahan ilmu bagi pelajar. Simak selengkapnya di bawah ini.

Amal Shalih

Kunci keberkahan ilmu yang pertama adalah beramal shalih sebagaimana yang Allah sampaikan dalam firman-Nya,

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا…..

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya (Q.S. al-Kahfi [18]: 110).

Baca Juga: Menghormati Guru Adalah Bagian dari Jihad

Merujuk pada ayat di atas, barang siapa yang bertakwa dan memiliki rasa khauf (takut) kepada Allah, memperhatikan betul perbuatan maksiatnya dan berharap pahala atas ketaatannya, maka hendaknya ia menjadikan amal shalih sebagai perantara untuk meraih ridha-Nya. Kata al-Tabari, tidak cukup hanya beramal shalih, melainkan harus dilandasi dengan keikhlasan (fal yukhlis lahul ‘ibadah). Di samping itu, dalam tafsir Mafatih al-Ghaib, Ar-Razi mengatakan:

مَنْ حَصَلَ لَهُ رَجَاءٌ لِقَاءِ اللهِ فَلْيَشْتَغِلُ بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ

“Barang siapa yang menginginkan keberhasilan dapat berjumpa dengan Allah, maka sibukkanlah dirimu dengan amal shalih”.

Dalam konteks pelajar, bentuk amal shalih dapat diwujudkan dengan giat belajar, tirakat (riyadhah), melawan rasa malas, bersedekah dalam makna; memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, tekun beribadah dan lain sebagainya. Hal-hal semacam itu yang nantinya ketika selesai nyantri atau bersekolah atau berkuliah, akan memunculkan keberkahan ilmunya dengan sendirinya.

Tidak Menyekutukan Allah Swt

Kunci yang kedua adalah tidak menyekutukan Allah swt sebagaimana Ia tegaskan dalam firman-Nya di bawah ini,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ

Barang siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya. (Q.S. al-Kahfi [18]: 110)

Konteks ini ayat ini berkaitan dengan sahabat Jundub bin Zuhair al-Amiri yang agak ke-PD-an dengan amalnya sendiri sebagaimana dijelaskan oleh Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib dan Syekh Nawawi Banten dalam Tafsir Marah Labid. Sahabat Jundub lalu bilang pada Rasulullah,

إِنِّيْ أَعْمَلُ الْعَمَلَ للهَ تَعَالَى فَإِذَا اِطَّلَعَ عَلَيْهِ أَحَدٌ سَرَّنِيْ

“Aku akan beramal karena Allah. Karena itu, jika Allah melihat amalku, maka itu akan membuatku bahagia.” Lalu Nabi menjawab,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبَلُ مَا شورك فيه

“Allah itu tidak akan menerima amalan yang di dalamnya terdapat unsur menyekutukanku” (HR Thabrani). Artinya, sahabat Jundub masih merasa ingin dianggap bahwa Allah melihat amalnya. Namun di lain kesempatan Nabi juga bilang padanya,

لَكَ أَجْرَانِ أَجْرُ السِّرِّ وَأَجْرُ الْعَلَانِيَةِ

“Kamu mendapatkan dua pahala, yaitu pahala menyembunyikan amal dan memperlihatkannya” (HR Ibnu Majah).

Baca Juga: Tiga Lingkungan Belajar yang Harus Diperhatikan Oleh Pelajar

Dalam hal ini, tidak semua amalan yang disembunyikan tidak baik dan baik juga, dan sebaliknya amalan yang ditampakkan tidak sepenuhnya buruk juga. Artinya, jikalau amalan itu memang sengaja kita tampakkan dengan tujuan agar orang lain berpotensi meniru apa yang kita lakukan, itu sah-sah saja.

Menurut al-Razi, yang dimaksud dengan musyrik atau menyekutukan Allah adalah seseorang menjadikan sekutu sebagai mitra bagi apapun yang diperbuatnya, apakah mencari ilmu, beribadah maupun bekerja. Karena itu, lanjut al-Razi, bagi pelajar hendaknya tidak menjadikan selain Allah Swt sebagai mitra bagi apapapun pekerjaannya. Sekutu yang dimaksud dapat berupa materialisme, tujuan keduniaan, harta, tahta, reputasi, pangkat, jabatan, wanita, dan semacamnya karena hal tersebut dilarang oleh agama sebab dapat mengotori rasa keikhlasan kita kepada Allah Swt. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 19-21

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 19-21 berbicara mengenai tiga hal. Pertama meyinggung kembali apa yang telah dibahas pada ayat 17-18. Kedua mengenai al-Qur’an sebagai pedoman manusia. Ketiga mengenai persangkaan orang kafir.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 17-18


Ayat 19

Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik tidak mengetahui syariat Allah dan tidak mengakui keesaan-Nya. Karenanya mereka tidak akan dapat menolak atau menghindari azab Allah yang ditimpakan kepada mereka di akhirat.

Kemudian diterangkan bahwa orang-orang musyrik itu saling menolong antara yang satu dengan yang lain dalam melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Ditegaskan bahwa tipu muslihat mereka dijalankan dengan bersekongkol untuk merintangi dan merusak agama Islam dan memecah belah kaum Muslimin.

Hal seperti ini dapat mereka lakukan selama hidup di dunia saja, sedangkan di akhirat nanti hal itu tidak dapat mereka lakukan. Pada hari itu, seseorang tidak dapat menolong orang lain dan tidak dapat menanggung dosa orang lain; tiap-tiap orang bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri-sendiri.

Pada akhir ayat, Allah menegaskan bahwa Dia pelindung orang yang bertakwa. Takwa yang mereka lakukan untuk mencari keridaan Allah itu dibalas oleh-Nya dengan pahala yang berlipat ganda di akhirat.


Baca juga: Mengenal Tafsir Tematik Karya Imam As-Sa’di


Ayat 20

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa Al-Qur’an itu adalah pedoman hidup bagi manusia, petunjuk dan rahmat yang dikaruniakan kepada hamba-Nya yang meyakininya.

Al-Qur’an disebut pedoman karena di dalamnya terdapat dalil-dalil dan keterangan-keterangan agama yang sangat mereka perlukan untuk kesejahteraan manusia di dunia dan kebahagiaan mereka di akhirat.

Petunjuk dan rahmat Allah itu hanya akan dapat dirasakan oleh orang-orang yang benar-benar yakin dan percaya kepada Allah dan Rasul-Nya dalam melaksanakan isi Al-Qur’an.

Ayat 20

Allah memerintahkan Rasul-Nya agar menanyakan kepada orang-orang kafir Mekah tentang persengketaan mereka dengan maksud menyangkal dugaan mereka. Mereka menduga bahwa Allah akan memperlakukan dan akan memberikan balasan yang sama kepada mereka seperti yang diberikan kepada orang-orang yang beriman.

Apakah Allah akan mempersamakan orang yang beriman kepada-Nya tetapi tidak melaksanakan syariat-Nya dengan orang yang beriman yang melakukan syariat-Nya. Jawabannya, tentu tidak, sekali-kali tidak, sebagaimana firman Allah:

لَا يَسْتَوِيْٓ اَصْحٰبُ النَّارِ وَاَصْحٰبُ الْجَنَّةِۗ  اَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ   ٢٠

Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (al-Hasyr/59: 20)

Dalam ayat-ayat lain, diterangkan bahwa tidaklah sama orang-orang yang beriman yang melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan larangan-larangan-Nya dengan orang-orang fasik, yaitu orang yang beriman dan mengakui adanya perintah-perintah dan adanya larangan Allah, tetapi tidak melaksanakannya, Allah berfirman:

اَفَمَنْ كَانَ مُؤْمِنًا كَمَنْ كَانَ فَاسِقًاۗ  لَا يَسْتَوٗنَ  ١٨

Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik (kafir)? Mereka tidak sama. (as-Sajdah/32: 18)

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa semua dugaan dan sangkaan orang-orang kafir itu adalah dugaan dan sangkaan yang tidak benar dan mustahil terjadi. Karena itu, hendaklah kaum Muslimin waspada terhadap sangkaan itu sehingga tidak terpengaruh olehnya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 22


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 17-18

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 17-18 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai keutamaan yang dianugerahkan kepada Bani Israil. Kedua berbicara mengenai perintah kepada Rasulullah SAW agar tidak terpengaruh oleh orang-orang kafir.

Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 15-16


Ayat 17

Pada ayat ini, dijelaskan keutamaan yang keenam yang pernah diberikan Allah kepada Bani Israil yaitu bahwa Allah telah memberikan kepada mereka kemampuan memahami dalil-dalil dan keterangan-keterangan tentang agama. Keterangan itu adakalanya berupa hukum, peringatan, dan ada pula yang berupa mukjizat.

Semua dipahami dan dilaksanakan dengan baik sehingga kehidupan mereka menjadi baik, tidak terjadi perselisihan sesama mereka dan ikatan masyarakat mereka menjadi baik pula, karena itu banyak usaha besar yang dapat mereka lakukan waktu itu.

Sebenarnya ketentuan seperti di atas tidak saja berlaku bagi Bani Israil, tetapi juga berlaku bagi semua bangsa yang mau melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan larangan-Nya serta tunduk, patuh dan berserah diri kepada-Nya.

Jika demikian, maka kebahagiaan yang diperoleh tidak saja berupa kebahagiaan dunia, tetapi juga kebahagiaan akhirat. Seakan-akan dengan ayat ini Allah mengingatkan manusia agar mencontoh kehidupan Bani Israil pada zaman dahulu itu.

Pada akhir ayat ini Allah menerangkan sebab-sebab terjadinya perselisihan di kalangan Bani Israil yang datang kemudian. Nabi-nabi mereka dahulu pernah menerangkan bahwa akan datang Nabi penutup nanti, yang diutus kepada semua manusia. Nabi itu termasuk keturunan Ibrahim dari anaknya Ismail.

Setelah Nabi yang dimaksud itu datang dan memberikan keterangan sesuai dengan keterangan yang disampaikan nabi-nabi mereka dahulu, mereka pun mengingkarinya, dan tidak mempercayainya.

Kedengkian itu timbul karena Nabi yang diutus itu bukan dari keturunan Ishak, dan mereka menganggap bahwa keturunan Ishak lebih mulia dari keturunan Ismail walaupun keduanya adalah saudara seayah (Nabi Ibrahim). Karena itu, tidak pantas nabi dan rasul terakhir diangkat dari keturunannya. Allah berfirman:

وَمَا تَفَرَّقُوْٓا اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ

Dan mereka (Ahli Kitab) tidak berpecah belah kecuali setelah datang kepada mereka ilmu (kebenaran yang disampaikan oleh para nabi) karena kedengkian antara sesama mereka. (asy-Syura/42: 14)

Mengenai masalah yang mereka persengketakan itu, Allah akan memberikan keputusan-Nya pada hari Kiamat dan akan menjelaskan alasan yang sebenarnya yang menyebabkan terjadinya perselisihan di antara mereka.

Pada saat itu, nampak dengan jelas hasad dan kedengkian mereka, yang menjurus kepada fanatik golongan sehingga nikmat yang semula harus disyukuri, malah menjadikan mereka sombong dan takabur.


Baca juga: Mengenal Secangkir Tafsir Juz Terakhir Karya Salman Harun


Ayat 18

Kemudian Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar jangan terpengaruh oleh sikap orang-orang Quraisy karena Allah telah menetapkan urusan syariat yang harus dijadikan pegangan dalam menetapkan urusan agama dengan perantara wahyu. Maka peraturan yang termuat dalam wahyu itulah yang harus diikuti, tidak boleh mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahuinya.

Syariat yang dibawa oleh para rasul terdahulu dan syariat yang dibawa Nabi Muhammad pada asas dan hakikatnya sama, sama-sama berasaskan tauhid, membimbing manusia ke jalan yang benar, mewujudkan kemaslahatan dalam masyarakat, menyuruh berbuat baik dan mencegah berbuat mungkar.

Jika terdapat perbedaan, maka perbedaan itu bukan masalah pokok, hanya dalam pelaksanaan ibadah dan cara-caranya. Hal itu disesuaikan dengan keadaan, tempat dan waktu.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 19-21