Beranda blog Halaman 108

Serba-serbi Seputar Surah Ali Imran

0
Serba-serbi Seputar Surah Ali Imran
Mengenal surah Ali Imran

Surah Ali Imran adalah surah ketiga dalam Alquran. Ia termasuk salah satu dari tujuh surah terpanjang (al-sab’ al-tiwal) dengan total 200 ayat. Surah ini turun di periode Madinah pada urutan ke-85 setelah surah Alanfal. Untuk mengenal lebih lanjut seputar surah Ali Imran, berikut uraian tentang nama, kandungan, dan keutamaannya.

Nama surah

Nama populer untuk surah ini adalah surah Ali Imran; satu-satunya surah dalam Alquran yang namanya bertemakan keluarga. Ali Imran berarti keluarga Imran. Imran adalah ayah Maryam, ibunda Nabi Isa a.s.

Imran bukan seorang nabi atau rasul. Namun, lantaran sosok Imran dan keluarganya patut menjadi teladan generasi setelahnya, Allah menjadikan namanya abadi sebagai salah satu nama surah dalam Alquran.

Cerita Imran dan keluarganya mulai disinggung pada ayat ke-33 yang menyatakan bahwa keluarga ini merupakan keluarga terpilih di antara orang-orang pada masa itu. Kemudian narasi dilanjutkan dengan cerita istri Imran yang menurut Ibn Kathir bernama Hannah binti Faqudz. Hannah yang telah dianggap mandul itu bernazar, andaikata suatu hari dikaruniai anak oleh Allah, dia akan mempersembahkan anaknya untuk mengabdi kepada Baitul Maqdis.

Maryam pun lahir dan mulai semenjak usia muda dia mengabdi untuk Baitul Maqdis, salah satu dari tiga masjid yang paling mulia. Maryam senantiasa menjaga kesucian diri dan sangat patuh pada ketetapan Allah dengan menjalankan takdirnya; melahirkan anak tanpa suami. Dia sabar akan ujian itu dan yakin pada skenario terbaik Allah di tengah cibiran masyarakat.

Isa yang lahir dari rahim perempuan saleh dan dididik di lingkungan keluarga terpilih itu diangkat Allah menjadi nabi dan rasul. Beliau bahkan termasuk rasul yang paling utama; yang dijuluki ululazmi. Namun, perjuangan dakwahnya tidaklah mudah. Di akhir kisahnya, beliau hampir disalib sebelum  Allah memalsukan kematiannya dan mengangkatnya ke langit (Q.S. Ali Imran: 55).

Selain populer dengan sebutan Ali Imran, surah ini juga memiliki nama lain. Salah satunya Tayyibah yang merupakan julukan keluarga Imran. Abu ‘Attaf menjelaskan, sebagaimana dikutip al-Suyuti dalam al-Itqan (hal. 123), bahwa nama keluarga Imran di Taurat adalah Tayyibah yang bermakna keluarga yang suci.

Nama-nama lain yang juga dinisbahkan kepada surah ini adalah al-Aman (keamanan), al-Kanz (perbendaharaan), al-Mu’inah (penolong), al-Mujadalah (perdebatan), dan al-Istighfar (permohonan ampun) (Asma’ al-Qur’an al-Karim, hal. 54).

Baca juga: Serba-serbi Seputar Surah Albaqarah

Kandungan surah

Secara umum, kandungan surah Ali Imran dapat dipetakan ke dalam tiga bagian. Bagian pertama (ayat 1-22) berisi tentang pengenalan sifat-sifat Allah. Bagian kedua (ayat 23-99) berisi seputar dialog Nabi Muhammad dengan ahli kitab tentang Nabi Isa dan lain-lain. Kemudian bagian ketiga atau yang terakhir (ayat 100-200) berisi ayat-ayat yang bertujuan meneguhkan keimanan orang-orang mukmin (Bitaqah al-Ta’rif bi Suwar al-Mushaf al-Syarif, hal. 28).

Sedangkan menurut Izzah Darwazah, tiga tema utama surah ini adalah seputar dialog antara Nabi Muhammad dengan orang Nasrani Najran, watak dan tipu daya orang Yahudi, dan peperangan antara umat Islam dengan orang musyrik pada masa awal Islam (al-Tafsir al-Hadith, 7/105).

Beberapa kandungan surah Ali Imran terkait dengan kandungan surah Albaqarah. Di dalam surah Ali Imran banyak perincian atas hal-hal yang hanya disinggung secara global di surah Albaqarah seperti masalah penurunan Alquran dan balasan orang yang mati syahid. Ada kalanya pula perincian di surah ini dan surah sebelumnya saling melengkapi seperti pembahasan tentang riba dan haji. Lebih dari itu, ada kesinambungan erat antara akhir surah Ali Imran dengan awal surah Albaqarah (Bitaqah al-Ta’rif, hal. 26).

Baca juga: Keluarga Imran sebagai Potret Keluarga Ideal dalam Alquran

Keutamaan surah

Beberapa keutamaan surah Ali Imran sudah disinggung di pembahasan keutamaan surah Albaqarah pada artikel sebelumnya. Sebab, kedua surah ini-seperti dijelaskan sebelumnya-saling terkait. Bahkan, keduanya memiliki nama khusus; al-Zahrawain (dua hal yang menerangi).

Selain itu, ada beberapa riwayat yang menerangkan keutamaan lain dari surah ini, antara lain:

من قرأ سورة آل عمران يوم الجمعة، صلَّت عليه الملائكةُ إلى الليل

Siapa yang membaca surah Ali Imran pada hari Jumat, para malaikat akan berselawat (mendoakan dan memintakan ampunan) untuknya sampai malam hari (H.R. al-Darimi, no. 3263).

من قرأ آخرَ سورةِ آلِ عمرانَ في ليلةٍ ، كُتِبَ له قيامُ ليلةٍ

Siapa yang membaca akhir surah Ali Imran di malam hari, akan ditulis baginya pahala ibadah malam (Tafsir al-Qurtubi, 4/2).

اسمُ اللهِ الأعظمُ الَّذي إذا دُعِي به أجاب في سورٍ ثلاثٍ البقرةُ وآلُ عمرانَ وطه

Nama agung Allah yang jika digunakan untuk berdoa akan diijabah doanya ada di dalam tiga surah; surah Albaqarah, Ali Imran, dan Taha (H.R. Ibn Majah, no. 3856).

Penjelasan dari Ibn Kathir menyebutkan bahwa nama agung Allah dalam surah Ali Imran adalah dua ayat pertamanya. Wallahu a’lam.

Baca juga: Inilah Enam Keutamaan Surah Ali Imran

Rasulullah Adalah Karunia Ilahi, Maka Berbahagialah atas Kelahirannya!

0
Gembira atas kelahiran Rasulullah
Gembira atas kelahiran Rasulullah

Bulan Rabiulawal menjadi bulan penuh sukacita bagi para pencinta Nabi Muhammad saw. Disebut rabī’ yang dalam Bahasa Arab berarti musim semi, menandakan momen bunga-bunga tumbuh dan bermekaran selepas musim dingin. Kelahiran Rasulullah di Bulan ini seharusnya juga menumbuhkan bunga kegembiraan di hati setiap pengikutnya di seluruh penjuru dunia.

Sebagai pencinta Nabi Muhammad saw. perlukah sebuah alasan untuk berbahagia di hari kelahiran Sang Kekasih? Bukankah rasa bahagia adalah respons khas para pencinta saat menyambut kedatangan kekasih? Tulisan ini akan mengurai satu perintah yang hanya disebut sekali dalam Alquran dan mengandung beragam keunikan. Perintah apakah itu? Simak penafsiran ayat berikut ini!

Q.S. Yunus ayat 58:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ٥٨

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.””

Dalam ayat ini, Nabi Muhammad saw. diperintahkan menghimbau semua manusia agar menyambut karunia Allah (faḍlillāh) dan rahmat-Nya (raḥmatihī) dengan penuh kegembiraan. Lalu, apa yang dimaksud dengan karunia dan rahmat-Nya dalam ayat ini? Dan kegembiraan seperti apa yang diperintahkan?

Makna Karunia dan Rahmat-Nya

Sebagian mufasir seperti Quraish Shihab dan Asy-Sya’rāwī menjelaskan bahwa faḍlillāh wa raḥmatihī adalah Alquran. Karena pada ayat sebelumnya dijelaskan fungsi Alquran yang sedemikian agung dan multimanfaat serta jauh dari tuduhan sihir. (Tafsir Al-Misbah, juz 6, hal. 105, Tafsīr al-Sya’rāwī, juz 10, hal. 6004) Artinya, karunia Allah dan rahmat Allah terkumpul dalam satu wujud, yaitu Alquran al-Karim.

Berebeda dengan sebelumnya, Ibn ‘Atiyyah dalam kitabnya memberikan 4 pendapat penafsiran yang berkaitan dengan karunia dan rahmat Allah. Pertama, pendapat yang dinukil dari Ibn Abbās, bahwa faḍlillāh adalah al-Islām dan raḥmatihī adalah al-Qur’ān. Kedua, dari Abu Sa’īd Al-Khuḍrī, bahwa faḍlillāh adalah Alquran dan raḥmatihī merupakan para ahlinya (ahlulqur’ān). Ketiga, dari Zaid bin Aslām dan al-Dahāk, kebalikan dari yang pertama, faḍlillāh adalah al-Qur’ān dan raḥmatihī adalah al-Islām. Sementara yang terakhir, dari Fariqah, bahwa faḍlillāh adalah Nabi Muhammad saw. dan raḥmatihī adalah al-Qur’ān. (Tafsīr Muḥarrar Al-Wajīz, jilid 3, hal. 126.)

Baca juga: Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (6): Surah Al-Ahzab Ayat 56

Dari 4 pendapat yang dinukil Ibn Atiyyah, pendapat yang menarik adalah yang terakhir, bahwa faḍlillāh adalah Nabi Muhammad Saw. Pendapat ini juga didukung oleh penafsiran Makārim al-Syīrāzī, bahwa dalam banyak riwayat disebutkan bahwa faḍlillāh atau karunia Ilahi yang dimaksud adalah wujud Nabi Muhammad saw. dengan kenabiannya (nubuwwah). Di akhir penafsiran, al-Syīrāzī menjelaskan bahwa beragamnya pemaknaan ini tidak bertentangan satu sama lain, melainkan keseluruhannya terkandung dalam frasa faḍlillāh dan raḥmatihī. (Tafsīr al-Amṡal, jilid 6, hal. 383.)

Maka Bergembiralah!

Setelah memahami makna karunia dan rahmat-Nya, lalu kegembiraan seperti apa yang diperintahkan? al-Rāzī dalam kitabnya menjelaskan bahwa kata fabiẓālika (dengan itu) merupakan pengulangan kata untuk penguatan (taukīd). Selain itu, frasa fabiẓālika falyafraḥū, sesuai susunan kebahasaan memberi makna pembatasan (al-ḥasr), yang bermakna bahwa seorang manusia hanya wajib berbahagia dengan hal itu, tidak dengan selainnya. (Tafsīr Mafātīh al-Ghoib, juz 17, hal. 269.)

Penjelasan tersebut memberi isyarat bahwa kebahagiaan dan kegembiraan wajib ditampakkan ketika seorang manusia mendapat karunia dan rahmat-Nya saja. Dan satu dari bentuk karunia itu adalah kehadiran dan kelahiran Nabi Muhammad saw. Momentum kelahiran Rasulullah adalah saat maulid Nabi di bulan Rabiulawal seperti ini.

Baca juga: Ketika Allah Menyeru Rasulullah di dalam Al-Qur’an

Kata fa-ra-ḥa bermakna kebahagiaan dalam hati yang ditampakkan. Berbeda dengan kata sa’ādah yang bermakna kebahagiaan yang hanya dirasakan di dalam diri manusia (batin). Artinya, perintah berbahagia yang dimaksud adalah kebahagiaan yang bermula dari hati kemudian ditampakkan dalam ekspresi raut wajah, tutur kata yang indah, serta perayaan-perayaan yang meriah.

Ayat ini diakhiri dengan kalimat, itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. Dengan demikian, kegembiraan dengan menyambut kelahiran Nabi Muhammad saw. adalah kebaikan yang tak tertandingi dengan apapun yang manusia pernah kumpulkan. Seluruh mufasir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mimmā yajma’un adalah mengumpulkan harta dan sesuatu yang bersifat materi. (Tafsīr Ibn Asy‘ūr, jilid 11, hal. 205)

Tadabur Ayat

Melalui surah Yunus ayat ke-58 ini dapat diambil beberapa poin yang penting untuk ditadaburi. Pertama, Satu di antara bentuk karunia Allah adalah kelahiran Nabi Muhammad saw. Kedua, hanya karena karunia dan rahmat Allah seseorang manusia wajib berbahagia. Ketiga, kebahagiaan yang diperintahkan adalah kebahagiaan yang bersemi di dalam hati kemudian ditampakkan ke luar diri. Keempat, perasaan gembira atas karunia dan rahmat-Allah lebih baik dari segala apapun kenikmatan materi di dunia ini.

Baca juga: Muhammad Nabi Cinta; Nabi Muhammad di Mata Seorang Penganut Katolik

Dengan demikian, tidakkah perintah berbahagia ini cukup menjadi alasan kita merayakan maulid Nabi? Mari kita sambut kelahiran Nabi Muhammad saw. sebagai karunia Ilahi dan rahmat Allah untuk alam semesta dengan penuh sukacita. Mari kita tampakkan kegembiraan kita dengan berbagai tradisi dan perayaan yang meriah dengan penuh kecintaan kepada Rasulullah saw. Semoga rasa cinta dan kegirangan ini menjadi bekal kebaikan untuk meraih safaat Rasulullah kelak di hari akhir nanti. Wallahu’alam Bishawab.

Pandangan Alquran tentang Korupsi dan Solusinya

0
Pandangan Alquran tentang Tindakan Korupsi dan Solusinya
Ilustrasi tindak pidana korupsi.

Siapa yang tidak kenal dengan kata korupsi. Di negara kita, Indonesia, korupsi menjadi salah satu permasalahan yang sangat serius. Praktik korupsi sudah ada sejak lama dan masih berkembang hingga sekarang. Tindak pidana korupsi sudah termasuk extra ordinary crime dan sudah diakui sebagai transnational organized crime secara internasional (Millah, “Korupsi dalam Perspektif Al-Qur’an”, Syariati, 197). Lalu, bagaimana Alquran menjelaskan masalah ini?

Term korupsi dalam Alquran

Jika mencari makna korupsi atau kata dalam Alquran yang berartikan korupsi, kita tidak akan menemukannya. Term korupsi tidak secara eksplisit dijelaskan dalam Alquran. Namun, korupsi bisa dikiaskan dengan tindak pidana lain. Misalnya, perampokan (al-harb), pencurian (as-sarq), penghianatan (al-ghulul), dan penyuapan (as-shut). Berikut rinciannya:

  1. Term al-ghulul

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang, pada hari kiamat dia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu. Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang dia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (Q.S. 3: 161).

Al-Zamakhsyari menjelaskan, term ghulul bermakna mengambil tanpa izin atau mencuri. Seperti dalam ayat ini yang diartikan sebagai mengambil harta rampasan secara tersembunyi (al-Kassyaf, 475).

Quraish Shihab menyatakan bahwa tidak mungkin seorang nabi akan berkhianat kepada kaumnya, apalagi dalam hal harta rampasan perang. Setiap nabi memiliki sifat amanah, maka tidak wajar mereka melakukan pengkhianatan (Tafsir Al-Misbah, 2/265). Begitu juga dengan Rasyid Ridha yang menjelaskan bahwa tidak mungkin nabi menyembunyikan perintah Allah Swt.

Term ghulul memiliki titik tekan kepada sebuah pengkhianatan atas amanah yang telah dipercayakan. Pengkhiatan ini terkait dengan amanah atau jabatan. Secara luas bisa dimaknai juga dengan pengkhiatan dalam hal harta benda (Dasuki (dkk.), al-Qur`an dan Tafsirnya, 770).

Orang yang melakukan ghulul akan mendapatkan sanksi moral. Mereka akan mendapatkan risiko dipermalukan di hadapan Allah di hari kiamat. Hal ini sesuai dengan jenis sanksi moral yang telah diterapkan oleh Rasulallah.

2. Term hirabah

Q.S. Al-Maidah: 33 turun berkaitan dengan hukuman yang ditetapkan oleh Nabi saw. Jumhur ulama mengatakan bahwa ayat ini turun dalam beberapa keadaan. Menurut Ibnu Abbas, ia turun mengenai penyamun; jika seseorang mengambil dan membunuh barang berharga, dia harus dibunuh dan disalib. Jika dia membunuh dengan tidak mengambil barang-barang berharga, dia hanya dibunuh tanpa disalib (Tafsir Ibnu Katsir, 3/76).

Kata hirabah memiliki arti perampokan. Kata yuharibuna jika dirunut dari asalnya memiliki makna seseorang yang merampas harta dan meninggalkan tanpa bekal apapun (Binjai, Tafsir al-Ahkam, 384).

Baca juga: Kecaman Alquran Terhadap Perilaku Korupsi: Tafsir Surah Ali-Imran Ayat 161

3. Term as-sariqah (pencurian)

Dalam Q.S. al-Maidah [5]: 38 dijelaskan sanksi bagi para pencuri yaitu dipotong pergelangan tangannya sebagai pembalasan duniawi yang menjadikan dia jera dan orang lain takut untuk melakukan hal serupa (Tafsir Al-Misbah, 91).

Term As-sariq menjelaskan bahwa yang bersangkutan telah berulang kali melakukan pencurian dan sangat wajar jika dinamai pencuri. Mencuri adalah mengambil secara sembunyi barang berharga milik orang lain yang disimpan oleh pemiliknya di tempat yang wajar dan si pencuri tidak diizinkan untuk masuk ke dalam tempat itu.

4. Term as-shut (penyuapan)

Dalam Q.S. Al-Maidah: 42, kata as-shut berasal dari kata sahata yang bermakna memperoleh harta yang haram (Kamus Al-Munawwir, 614). Az-Zamakhsyari dalam tafsirnya (hal. 57) memaknai as-shut dengan harta haram. Ats-Tsa’labi menguraikan dalam tafsirnya menjelaskan bahwa harta yang haram adalah suap yang diberikan pada seseorang dalam suatu urusan (Al-Kasyf wa Al-Bayan, 455). Term as-suht dalam ayat tersebut merupakan bagian term Alquran yang mengindikasikan praktek suap yang juga bagian dari korupsi.

Dalam menginterpretasikan Q.S. Al-Maidah [5]: 42, Al-Qurtubi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan as-shut yaitu bila seseorang makan karena adanya kekuasaan atas dirinya. Seseorang yang memiliki jabatan di sisi penguasa kemudian ada seorang yang meminta tolong atas sesuatu dan dia tidak akan memenuhinya kecuali dengan adanya suap yang diambil (Tafsir Al-Qurtubi, 4/489).

Kata shut tidak hanya dijelaskan dalam Q.S. Al-Maidah [5]: 42, tapi juga pada Q.S. Al-Maidah [5]: 62-63. Kata shut mempunyai makna membinasakan dan yang haram pasti akan membinasakan si pelaku. Seseorang yang tidak peduli dengan asal muasal hartanya, maka dia akan disamakan dengan hewan binatang yang melahap segala yang dia dapatkan. Karena itu, dia akan binasa dengan perbuatan sendiri (Tafsir Al-Misbah, 101).

Ayat tersebut menjelaskan secara utuh praktik korupsi seperti yang terjadi pada saat ini. Praktik suap menyuap menjadi bagian dari bentuk korupsi yang telah menjamur di masyarakat.

Dari penjelasan ayat-ayat yang identik dengan term korupsi di atas terlihat bahwa Alquran pun melarang tindak pidana korupsi. Namun, sampai saat ini masih banyak pejabat yang melakukan korupsi. Maka dari itu haruslah ada sebuah perbaikan tatanan untuk penanggulangan korupsi.

Tiga cara penanggulangan korupsi

Sedikitnya ada tiga konsep penanggulangan korupsi:

Pertama: pendidikan anti korupsi

Kegiatan pendidikan dan pelatihan anti korupsi haruslah dilaksanakan sejak dini. Hal ini dilakukan agar pemahaman terhadap bahaya korupsi tertanam pada jiwa seseorang sebelum terjun di dunia kerja.

Pendidikan di sekolah sangat urgen dalam menanamkan sikap anti korupsi bagi para siswa. Memberikan pemahaman terhadap bahaya korupsi kepada peserta didik bisa dimulai dari hal terkecil. Upaya yang dilakukan oleh lembaga pendidikan mengenai gerakan anti korupsi diharapkan akan memberikan pandangan kepada siswa akan bahaya laten dari tindakan korupsi.

Baca juga: Pentingnya Kurikulum Pendidikan Anti Korupsi, Tafsir Surah Al-Hajj Ayat 38

Kedua: peningkatan etos kerja

  1. Mencari rezeki

Q.S. Al-Jumu’ah [62]: 10 menyatakan:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan salat, bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Dari ayat tersebut dijelaskan bahwa Islam tidak menghendaki para pengikutnya menjadi orang yang malas dan menyerah saja, apalagi memandang bahwa bekerja itu sebuah siksaan tersendiri. Islam mendidik para pengikutnya agar cinta bekerja dan menghargai bahwa bekerja adalah sebuah kewajiban manusia dalam hidupnya. Manusia diharapkan dapat mengambil kemanfaatan dari pekerjaan tersebut.

  1. Bekerja keras

Islam menganjurkan kepada umatnya untuk bekerja keras. Tidak hanya itu, Islam juga memerintahkan umatnya untuk berlatih kesabaran, ketekunan, keterampilan, kejujuran, dan memperkuat umat Islam. Jika semua orang Islam dapat menyadari bahwa bekerja keras itu penting, tidak mungkin orang tertarik dengan hal-hal yang sifatnya instan seperti korupsi. Dalam firman-Nya Q.S. Al-An’am: 135 disebutkan:

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Katakanlah: “Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu. Sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.

Terlihat jelas dari ayat tersebut bahwa orang yang zalim tidak akan mendapat keberuntungan. Korupsi adalah salah satu sikap menzalimi dana orang lain yang seharusnya milik rakyat akan tetapi mereka ambil untuk kepentingan pribadi.

  1. Jujur

Kejujuran merupakan kunci keberhasilan di dalam dunia kerja. Dengan sikap jujur, seseorang tidak akan mungkin ingin mencoba untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dari sikap jujur.

Keasadaran umat Islam akan tiga poin penting tersebut setidaknya dapat mengurangi tindak pidana korupsi.

Baca juga: Kisah Nabi Syu’aib dan Jihad Melawan Korupsi

Ketiga: hukum pidana mati

Sebagai upaya penanggulangan tindak pidana korupsi, salah satu sanksi terberat yaitu pidana mati. Formulasi tersebut dilatarbelakangi oleh keinginan untuk memberantas tindak pidana korupsi. Namun, kebijakan formulasi tidak mudah untuk segera dilaksanakan.

Menurut ketua Komisi Yudisial Busyro Muqodas, ada tiga kriteria utama yang membuat seorang pelaku tindak pidana korupsi layak dijatuhi hukuman mati:

  1. Nilai uang negara yang dikorupsi lebih dari Rp. 100 miliar dan secara masif telah merugikan rakyat.
  2. Pelaku tindakan pidana korupsi tersebut adalah pejabat negara.
  3. Pelaku korupsi tidak jera dengan hukuman yang telah diberikan, maka mereka melakukan korupsi secara berulang-ulang.

Hukuman  mati bagi koruptor perlu diterapkan di Indonesia sebagai manifestasi bahwa telah tercapainya keadilan di tengah-tengah masyarakat. Selain itu hukuman mati juga akan memberikan efek jera dan takut bagi pelakunya. Perlunya hukuman tersebut karena saat ini korupsi tidak lagi digolongkan sebagai kejahatan biasa akan tetapi sudah telah menjadi kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Hal ini jika dilihat dari pandangan psikologi seorang koruptor (Maswandi, ”Penerapan Hukuman Mati bagi Koruptor dalam Perspektif Islam di Indonesia”, Mercatoria, 76).

Dalam Islam, sanksi pidana yang dapat menyebabkan pelakunya di hukum mati ada tujuh, yaitu sariqah (mencuri), zina, qadzaf (memfitnah berzina), hirabah (merampok), khamr (mabuk), riddah (murtad), dan bughah (memberontak). Perbuatan korupsi dalam hal ini dimasukkan pada term sariqah. Islam tidak membatasi seberapa banyak koruptor mengambil uang negara. Akan tetapi, yang dinilai adalah dampak dari korupsi tersebut yaitu menyebabkan kerusakan pada tatanan kehidupan masyarakatnya. Mengingat begitu besarnya dampak kerusakan yang timbul, maka pantas dan cukup beralasan jika syariat Islam membenarkan adanya hukuman mati bagi koruptor sebagaimana dijelaskan pada Q.S. An-Nisa’: 29:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ ۚ وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu; dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Tiga hal inilah yang sekiranya dapat dilakukan untuk mengurangi atau menanggulangi semakin meningkatnya kasus tindak pidana korupsi.

Baca juga: ‘Good Governance’ Perspektif Alquran

Surah Yunus Ayat 57-58: Bergembira atas Kelahiran Nabi Muhammad Saw

0
Kelahiran Nabi Muhammad
Kelahiran Nabi Muhammad

Bulan Rabiul Awwal atau Bulan Maulid adalah waktu ketika seluruh umat Muslim di Dunia memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. Menurut catatan Ibn Ishaq dalam al-Sirah al-Nabawiyah kelahiran Nabi Muhammad saw ditandai dengan peristiwa penyerangan Kakbah oleh pasukan bergajah sehingga tahun kelahirannya disebut dengan ‘Am al-Fil (Tahun Gajah). Ibn Ishaq tidak menjelaskan secara detail hari dan tanggal kelahiran Nabi saw.

Mengenai hari lahir Nabi saw adalah hari Senin, para ulama sepakat karena ditemukan sebuah riwayat hadis dalam Sahih Muslim. Ketika Nabi saw ditanya mengapa berpuasa di hari Senin, Nabi saw bersabda, “Hari tersebut (Senin) adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162)

Kemudian terkait dengan tanggal kelahiran Nabi saw, para ulama berbeda pendapat. Al-Mas’udi berpendapat bahwa kelahiran Nabi Muhammad saw bertepatan pada tanggal 8 Rabi’ul Awwal, karena menghitung bahwa kelahirannya terjadi lima puluh hari setelah kehadiran pasukan bergajah yang diperkirakan terjadi pada tanggal 13 Muharram. Sedangkan Mahmud al-Falaky menetapkan bahwa Nabi Muhammad saw lahir pada hari ke-55 pasca kekalahan tentara bergajah, sehingga diperkirakan lahir pada tanggal 9 Rabiul Awwal.

Baca Juga: Maulid dan Kelahiran Manusia Baru

Riwayat yang paling populer di kalangan umat Islam terkait kelahiran Nabi saw adalah pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Di Indonesia sendiri tanggal 12 Rabiul Awwal dijadikan sebagai Hari Libur Nasional untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. Pendapat ini disahihkan oleh Izzuddin bin Badruddin al-Kinani melalui kitabnya al-Mukhtashar al-Kabir fi Sirat al-Rasul.   

Untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw umat Muslim melakukan berbagai macam agenda dan kegiatan, meskipun ada sebagian yang menganggap bid’ah. Berbagai kegiatan yang sudah menjadi tradisi umat Muslim adalah bagian dari bentuk rasa cinta dan rasa syukur atas kelahiran Nabi saw yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Meskipun tidak ada perintah untuk merayakan hari kelahiran Nabi saw, akan tetapi Al-Quran memerintahkan manusia untuk bergembira dengan kehadiran Nabi saw sebagai pembawa risalah Al-Quran dan ajaran Islam. Allah Swt dalam surah Yunus ayat 57-58 berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (57) قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (58)

“Wahai seluruh manusia, telah datang kepadamu tuntunan dari Tuhanmu, obat bagi penyakit-penyakit yang terdapat dalam dada, hidayat dan rahmat bagi orang-orang mukmin. Sampaikanlah wahai Nabi Muhammad, bahwa itu adalah anugerah Allah dan rahmat-Nya dan karena itu hendaklah mereka bergembira (menyambutnya), itu lebih baik daripada apa yang mereka senantiasa kumpulkan.”

Menurut Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb, bergembira dan bersyukur atas nikmat adalah sebuah keniscayaan. Akan tetapi rasa syukur itu bukan karena adanya nikmat itu sendiri, melainkan karena bersumber dari Allah Swt. Begitulah sikap seorang mukmin yang sepatutnya dalam pandangan al-Razi.

Baca Juga: Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (5): Surah Al-Hajj Ayat 77

Masih menurut al-Razi bahwa yang dimaksud dengan anugerah Allah (fadhlullah) dalam ayat di atas adalah Islam, sedangkan rahmat adalah al-Quran. Sedangkan dalam riwayat lain dari Abu Sa’id al-Khudri dikatakan bahwa yang dimaksud dengan fadhlullah adalah al-Quran, kemudian rahmat adalah Islam.

Terkait ayat di atas, Quraish Shihab berpendapat bahwa sudah sewajarnya umat Islam merayakan kelahiran Nabi saw karena Allah Swt dalam banyak ayat al-Quran menceritakan tokoh-tokoh seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Ismail, Nabi Isa, dan tokoh-tokoh lain, untuk diteladani, diingat, dan dijadikan figur. Maka sudah sewajarnya orang-orang berkumpul untuk mengenang dan menguraikan tentang Nabi Muhammad saw, meneladani dan bergembira atas kehadirannya.

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 35-37

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 35-37 berbicara mengenai dua hal. Pertama alasan mengapa orang-orang kafir patut menerima siksa. Kedua berbicara mengenai penutup dari surah ini, yaitu dasar-dasar pengambilan keputusan pada hari Kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 32-34


Ayat 35

Pada ayat ini Allah menjelaskan mengapa orang-orang kafir itu harus menerima siksaan dan azab yang mengerikan itu, sebabnya ialah:

  1. Karena waktu mereka hidup di dunia, mereka memperolok-olok ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka melalui Rasul-Nya. Sikap ini dianggap sebagai sikap yang penuh keangkuhan dan kesombongan. Mereka juga ingin mendangkalkan iman yang telah meresap dalam dada kaum Muslimin dengan berbagai macam dalih dan cara.
  2. Mereka telah tertipu oleh kenikmatan hidup di dunia, sehingga mereka melupakan kehidupan akhirat yang menjadi tujuan akhir kehidupan manusia.;Itulah sebabnya ketika Allah menjatuhkan keputusan-Nya, tidak ada kemungkinan bagi mereka untuk melepaskan diri dari azab dan tidak ada lagi ampunan bagi mereka.

Baca juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 48-50: Hari Kiamat Datang dengan Tiba-Tiba


Ayat 36-37

Kedua ayat ini merupakan ayat penutup Surah al-Jastiyah. Dalam ayat-ayat ini Allah menyebutkan beberapa sifat-Nya yang ada hubungannya dengan dasar-dasar pengambilan keputusan pada hari Kiamat nanti, yaitu:

  1. Dia Maha Terpuji, karena itu bagi-Nyalah segala puji. Ungkapan ini memberikan pengertian bahwa segala nikmat apa pun yang diperoleh manusia selama hidup di dunia berasal dari Allah agar manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifah-Nya di bumi, bukan untuk berbuat sewenang-wenang dan memperturutkan hawa nafsu. Jika manusia tidak mensyukuri nikmat itu dan tidak mempergunakan nikmat itu menurut yang semestinya, tentulah orang itu akan mendapat murka dan azab-Nya.
  2. Allah Mahakuasa, Dia menguasai semesta alam. Perkataan ini memberikan pengertian bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi berada dalam kekuasaan-Nya. Dia menguasai dunia dan akhirat.
  3. Dia Mahaagung, karena keagungan dan keangkuhan hanya bagi Allah di langit dan di bumi dan kekuasaan-Nya berada di atas segala kekuasaan.
  4. Dia Mahaperkasa, keputusan-Nya tidak dapat ditolak, tidak dapat diubah oleh siapa pun, dan tidak ada yang dapat menandingi kekuasaan-Nya itu.
  5. Dia Mahabijaksana. Maksudnya: Allah dalam menetapkan perintah-Nya kepada seluruh makhluk-Nya, selalu disertai aturan, perhitungan, dan berhasil serta pasti, terjadi sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.

Baca setelahnya: 


 

Kata Aḥmad dan Muḥammad dalam Alquran

0
Kata Aḥmad dan Muḥammad dalam Alquran
Kata Aḥmad dan Muḥammad dalam Alquran

Kita sering mendengar anggapan bahwa nama lain dari Nabi Muhammad saw. adalah Ahmad. Anggapan tersebut didasarkan pada keterangan Q.S. Asshaff [61]:6 sebagai berikut:

وَاِذْ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَمُبَشِّرًاۢ بِرَسُوْلٍ يَّأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِى اسْمُهٗٓ اَحْمَدُۗ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ بِالْبَيِّنٰتِ قَالُوْا هٰذَا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

(Ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu untuk membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi kabar gembira tentang seorang utusan Allah yang akan datang setelahku yang namanya Ahmad (Nabi Muhammad).”  Akan tetapi, ketika utusan itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”

Salah satu pernyataan yang diucapkan Nabi Isa as. kepada Bani Israil adalah tentang kedatangan seorang utusan Allah yang bernama Ahmad. Menurut Syekh al-Sya’rawi dalam Tafsîr al-Sya’rawî (hlm. 15191-15192), rasul yang dimaksud pada ayat tersebut merupakan Nabi Muhammad saw. yang di dalam Injil disebut sebagai Ahmad, sebagaimana yang disebutkan juga dalam Alquran, meskipun menggunakan kata Muhammad pada Q.S. Âli‘Imrân [3]: 144, Q.S. Alaḥzâb [33]: 40, Q.S. Muḥammad [47]: 2, dan QS. Alfatḥ [48]: 29.

Secara etimologi, kata muḥammad dan aḥmad sama-sama terdiri dari tiga huruf dasar, hâ’, mîm, dan dâl yang bermakna al-ḥamdu atau pujian. Berbeda dengan kata muḥammad, tidak didapati adanya petunjuk turunan kata atau derivasi yang membentuk kata aḥmad.

Baca juga: Makna Dibalik Panggilan Hamba di Cerita Isra Nabi Muhammad dalam Alquran

Uraian bahasa dari Syekh Mutawallî al-Sya’râwî menujukkan bahwa kata aḥmad merupakan bentuk mubâlaghah dari kata ḥâmid yang artinya orang yang memberikan pujian kepada orang lain. Bentuk mubâlaghah pada kata aḥmad menghasilkan makna bahwa aḥmad merupakan sebutan bagi orang yang banyak memuji orang lain. Jika pujian yang diberikan seseorang terbatas, maka disebut dengan ḥâmid, bukan aḥmad.

Adapun kata muḥammad merupakan bentuk derivasi dari kata mahmûd, artinya sesuatu atau seseorang yang dipuji oleh orang lain. Kata muḥammad merupakan bentuk mubâlaghah dari kata maḥmûd, sehingga arti yang dihasilkan tidak hanya sekedar orang yang dipuji, melainkan orang yang  sangat banyak dipuji oleh orang lain.

Jika yang dimaksud dengan kata aḥmad pada Q.S. Asshaff [61]: 6 adalah Nabi Muhammad saw., maka berdasarkan kandungan makna kata aḥmad dan muhammad,  Rasulullah saw. menghimpun dua hal, yaitu orang yang banyak mendapat pujian dari Allah Swt. (muḥammad), dan orang yang memuji Allah Swt. (aḥmad).

Bagi Ibn ‘Âsyûr, sebagaimana yang dikutip oleh M. Quraish Shihab, pemaknaan kata aḥmad sebagai nama lain dari Nabi Muhammad saw. tidak sesuai dengan realitas yang ada bahwa Nabi Muhammad saw. tidak pernah diberi nama Aḥmad, baik sebelum maupun sesudah kenabian. Menurutnya, penggalan ayat “ismuhû Aḥmad” hendaknya dipahami secara menyeluruh, tidak hanya terfokus pada kata ahmad dan mengabaikan kata ismuhû. Dalam hal ini, Ibn ‘Asyûr memaknai ahmad sebagai sesuatu yang terpuji. Namun penggalan ayat “ismuhû Aḥmad”, bisa dipahami dalam tiga makna, tergantung dari pemahaman terhadap kata “ismuhu” pada kalimat tersebut.

Baca juga: Irhash Kenabian Muhammad, Bukti Allah Merayakan Maulid Nabi

Penggalan ayat tersebut dapat dipahami melalui tiga pemaknaan. Pertama, Kata ismu dalam arti al-musamma, yakni “sosok yang dinamai”. Nabi yang dimaksud pada ayat tersebut adalah sosok yang lebih terpuji dalam hal kepribadian, risalah, dan syariat daripada Nabi Isa as. Kedua, ismu dalam arti “kemasyhuran dan kebajikan”,  yakni popularitas Nabi tersebut pada masanya dan sesudah masanya dalam hal kebajikan. Ketiga, Pemaknaan ketiga ini berkaitan dengan kata muhammad yang berarti sesuatu banyak sekali dipuji, sehingga karena sering dan banyaknya beliau dipuji, maka beliau adalah Aḥmad yakni yang paling terpuji (Tafsir al-Mishbah, jilid 14, hlm. 200-201).

Demikianlah uraian mengenai pemaknaan dari kata Aḥmad dalam Q.S. Asshaff [61]: 6. Dari perbedaan pendapat di atas, dapat dipahami bahwa Aḥmad tidak hanya sekedar nama lain dari Nabi Muhammad saw., akan tetapi juga secara simbolis sebagai bentuk pujian kepada beliau.

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 32-34

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 32-34 berbicara mengenai dua hal yang saling berkelindan. Pertama mengenai penyesalan orang-orang kafir di akhirat. Kedua mengenai ketakutan mereka pada waktu pengadilan hari kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 29-31


Ayat 32

Pada ayat ini, Allah menjelaskan penyesalan orang-orang yang mengingkari terjadinya hari kebangkitan. Sewaktu masih di dunia, apabila disampaikan kepada mereka berita tentang terjadinya hari kebangkitan, mereka beranggapan bahwa berita hari kebangkitan itu adalah berita yang aneh dan mustahil.

Bagi mereka mustahil membangkitkan orang yang telah mati yang tulang-tulangnya telah berserakan dan seluruh tubuhnya telah hancur menjadi tanah.

Tetapi nanti setelah mereka menghadapi kenyataan dan berhadapan dengan siksa yang sangat mengerikan, barulah mereka menyesali sikap dan perbuatan mereka dahulu yang semata-mata didasarkan atas dugaan dan prasangka belaka, tidak berdasarkan ilmu pengetahuan dan kepercayaan kepada Allah Yang Maha Penguasa Semesta Alam.

Ayat 33

Kemudian Allah menjelaskan keadaan kaum musyrikin ketika kejahatan mereka telah terungkap dengan jelas. Mereka tergagap menghadapi tanggung jawab yang begitu besar. Mereka merasa takut melihat dosa mereka yang bertumpuk-tumpuk yang harus mereka tebus dengan siksaan neraka yang sangat mereka takuti.

Mereka menyadari pula saat itu bahwa tidak ada seorang pun yang dapat membela mereka; kekuasaan mereka selama di dunia, harta benda yang melimpah ruah, anak cucu mereka, teman bersekongkol, dan sebagainya semuanya tidak ada artinya pada waktu itu. Satu-satunya pilihan yang dapat mereka ambil waktu itu hanyalah menunggu keputusan dan pasrah untuk menerima azab Allah.


Baca juga: Tiga Kondisi Kaget Manusia pada Hari Kiamat


Ayat 34

Pada ayat ini, Allah menjelaskan cemoohan, penghinaan dan azab yang mereka tanggungkan pada hari Kiamat itu. Pada hari itu, Allah tidak akan menghiraukan jerit dan tangis mereka, ratapan dan penyesalan mereka karena semua yang mereka alami itu benar-benar sebagai pembalasan yang seimbang dengan perbuatan mereka di dunia dahulu.

Di dunia mereka menganiaya dan memfitnah orang yang tidak bersalah, menghalalkan yang haram untuk kepentingan pribadi dan kelompok mereka; Allah akan memberikan balasan yang setimpal dengan amal mereka semua di akhirat nanti.

Jika Allah bersikap tidak mengacuhkan mereka karena sikap angkuh dan sombong yang telah mereka lakukan, serta sikap yang tidak berperikemanusiaan yang telah mereka lakukan. Maka sikap yang demikian itu adalah balasan yang wajar sesuai dengan keadilan-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 35-37


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 29-31

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 29-31 berbicara mengenai salah satu kondisi pada hari kiamat. Kondisi tersebut ialah mengenai catatan amal perbuatan manusia di mana di dalamnya tertulis seluruh kegiatan manusia selama di dunia.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 28


Ayat 29

Allah menyatakan firman-Nya kepada seluruh umat manusia bahwa kitab-kitab yang memuat catatan amal perbuatan itu adalah kitab yang benar, tidak ada suatu pun kesalahan terdapat di dalamnya, dibuat atas dasar perintah Allah Yang Mahakuasa, yang menjadi dasar pertimbangan untuk menentukan keputusan bagi umat manusia.

Allah juga menyatakan bahwa pada saat orang itu hidup di dunia, telah dikerahkan para pencatat amal perbuatan, baik perbuatan yang baik maupun perbuatan yang buruk. Catatan itu tidak mungkin salah karena dibuat dengan ketelitian yang tinggi sebagai alat bukti yang tidak dapat diragukan kebenarannya.


Baca juga: Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran


Ayat 30

Kemudian Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang beriman dan yang melakukan amal saleh. Mereka itu akan mendapat balasan yang setimpal dengan amal perbuatannya. Mereka itu termasuk hamba Allah yang memperoleh limpahan rahmat-Nya.

Yang dimaksud dengan rahmat Allah dalam ayat ini adalah surga. Hal ini sesuai dengan maksud hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

قَالَ الله تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِلْجَنَّةِ: أَنْتِ رَحْمَتِى أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِى. (رواه البخاري ومسلم)

Sesungguhnya Allah berkata kepada surga, “Engkau adalah rahmat-Ku. Dengan kamu Aku melimpahkan Kasih sayang-Ku kepada orang-orang yang Aku kehendaki.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Pada bagian akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa surga itu merupakan kebahagiaan yang akan dicapai oleh orang-orang yang beriman karena nikmatnya yang berlimpah-limpah yang akan dirasakan penghuninya.

Ayat 31

Pada ayat ini Allah menjelaskan keadaan orang-orang yang mengingkari keesaan-Nya. Mereka itu selalu menerima cemoohan dan penghinaan karena kepada mereka telah didatangkan utusan Allah yang telah membacakan ayat-ayat-Nya, tetapi mereka bersikap sombong dan keras kepala.

Karena itu mereka akan merasakan siksa Allah yang menghinakan disebabkan oleh perbuatan dosa yang telah mereka kerjakan. Pada saat itulah, mereka tergagap karena melihat kenyataan yang dahulu mereka dustakan.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 32-34


Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 28

0
tafsir surah al jatsiyah
tafsir surah al jatsiyah

Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 28 berbicara mengenai kondisi pada waktu hari kiamat. Di sini akan disebutkan beberapa kondisi tersebut.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 26-27


Ayat 28

Pada ayat ini, Allah menjelaskan keadaan manusia pada hari penentuan keputusan itu dan kedahsyatan huru-hara pada saat menunggu detik-detik yang menentukan, yaitu:

  1. Pada hari itu, manusia berlutut dan bersimpuh di hadapan Tuhan penguasa seluruh alam untuk menerima perhitungan amal perbuatan mereka dan menerima keputusan akhir yang akan ditetapkan atas mereka.
  2. Pada hari itu, mereka dipanggil melihat catatan mereka yang dibuat oleh para malaikat. Kemudian mereka memeriksa apakah ada di antara perbuatan mereka yang belum tercatat atau ada yang tercatat, tetapi tidak sesuai dengan yang telah mereka kerjakan.

Apabila perbuatan mereka yang tercatat itu sesuai dengan yang diperintahkan oleh agama yang dibawa rasul mereka, maka mereka akan memperoleh kebahagiaan dan keberuntungan, sedangkan apabila tidak sesuai dengan perintah dan banyak melanggar larangan agama mereka, maka mereka akan memperoleh kecelakaan dan azab di neraka. Allah berfirman:

وَاَشْرَقَتِ الْاَرْضُ بِنُوْرِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتٰبُ وَجِايْۤءَ بِالنَّبِيّٖنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ  ٦٩

 Dan bumi (padang Mahsyar) menjadi terang benderang dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan buku-buku (perhitungan perbuatan mereka) diberikan (kepada masing-masing), nabi-nabi dan saksi-saksi pun dihadirkan, lalu diberikan keputusan di antara mereka secara adil, sedang mereka tidak dirugikan. (az-Zumar/39: 69)


 Baca juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 48-50: Hari Kiamat Datang dengan Tiba-Tiba


 Pada ayat lain Allah berfirman:

وَوُضِعَ الْكِتٰبُ فَتَرَى الْمُجْرِمِيْنَ مُشْفِقِيْنَ مِمَّا فِيْهِ وَيَقُوْلُوْنَ يٰوَيْلَتَنَا مَالِ هٰذَا الْكِتٰبِ لَا يُغَادِرُ صَغِيْرَةً وَّلَا كَبِيْرَةً اِلَّآ اَحْصٰىهَاۚ وَوَجَدُوْا مَا عَمِلُوْا حَاضِرًاۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ اَحَدًا ࣖ   ٤٩

Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun. (al-Kahf/18: 49)

Pada saat itu, manusia mendapat panggilan. Kepada mereka diberitahukan bahwa pada hari itulah mereka akan menerima balasan dari amal perbuatan mereka masing-masing dengan balasan yang setimpal.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al-Jatsiyah Ayat 29-31


Maulid dan Kelahiran Manusia Baru

0
Maulid Nabi dan Kelahiran Manusia Baru
Maulid Nabi dan Kelahiran Manusia Baru

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan rasul) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Ali Imran: 164).

Pemikiran dan gagasan besar tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh dalam sebuah “iklim” dengan segala muatannya, berangkat dari aneka harapan dan kondisi yang melingkupinya, berbekal multi strategi dan mengacu pada sejumlah target sasaran yang jelas. Pada saatnya, semua itu mendorong lahirnya tatanan baru yang diyakini penggagasnya sebagai tatanan yang lebih baik; lebih bermartabat dibanding tatanan lama yang dinilai sarat dengan keburukan dan kesesatan.

Gerakan perubahan yang didengungkan Muhammad tidak mengidealkan perubahan total mencakup semua bentuk dan format lama. Gerakan yang dipelopori Muhammad tidak menuntut dirinya menjadi seseorang yang benar-benar baru dengan nilai dan tatanan makna yang sepenuhnya baru. Perannya memang besar, tapi ia tidak bergerak di dunianya sendiri, tidak berpikir dalam kerangka pengalaman pribadinya sendiri. Muhammad adalah seorang Rasul, utusan Tuhan yang bergerak; berpikir dan bertindak, dalam kerangka risalah yang diembannya. Kendati demikian, ia bukan orang asing bagi kaumnya. Seperti kata ayat di atas, Muhammad berasal dari golongan mereka sendiri. Apa yang dirasakan (dipedulikan) Muhammad tidak asing bagi mereka; apa yang dipikirkan Muhammad berangkat dari realitas yang akrab dengan mereka.

Muhammad berasal dari “jantung” masyarakat di mana ia tinggal di dalamnya. Tuhan mengutusnya kepada mereka untuk menyampaikan ayat-ayat-Nya, kiranya mata mereka terbuka melihat keagungan-Nya; hati mereka terbuka menerima hidayah-Nya. Tuhan menugaskannya melakukan penyucian jiwa mereka dari akhlak tercela, perilaku buruk, pemikiran dan kebiasaan yang jelek. Tuhan menyuruhnya mengajarkan kepada mereka Kitab Allah yang terkandung di dalamnya segenap risalah dan “bertemu” di dalamnya ajaran semua rasul.

Kepada mereka Muhammad juga mengajarkan hikmah-kebijaksanaan yang menghubungkan gerak hidup mereka dengan lingkup kosmik (semesta) yang berjalan mengikuti sunnah-Nya yang lurus dan konstan. Seorang Muslim tidak cukup hanya fasih berteori di aras pemikiran sambil melafalkan ayat-ayat Kitab Suci. Ia harus terus melangkah di jalan kesempurnaan dengan menautkan pemikiran teoritisnya dan dalil-dalil yang dihafalnya dengan realitas di mana ia hidup di dalamnya. Itulah antara lain makna hikmah yang Tuhan meminta Muhammad untuk mengajarkannya pada mereka. Hikmah yang mengajarkan keseimbangan antara pemikiran (teori) dan kenyataan (tempat menerapkan teori).

Muhammad datang untuk itu semua (tilawah, tazkiyah, dan ta’lim) dalam rangka membebaskan mereka dari kubangan kesesatan yang nyata, baik di tingkat pemikiran maupun ranah perbuatan. Semua itu oleh ayat disebut sebagai karunia Allah atas mereka. Jalan hidup yang lurus, pola pikir yang bening, orientasi hidup yang jelas lagi benar; semua ini merupakan sebenar-benarnya kebaikan di mana mereka harus hidup di dalamnya. Dalam segala keadaan, kebaikan itu harus tetap terawat agar hidup tetap berlimpahkan kedamaian dan kasih-sayang.

———-

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung” (al-A’raf: 157).

Yang menjadi fokus dari ayat di atas adalah penggalan ini: “…yang menyuruh mereka berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” Seperti terlihat dan cukup mudah dipahami, Allah menjadikan amar ma’ruf, nahi munkar, penghalalan segala yang baik, pengharaman segala yang buruk, serta membebaskan beban dan belenggu; Allah menjadikan semua ini dalam “satu paket”, satu-sama-lain saling terkait.

“Ma’ruf” mencakup segala hal yang dapat diterima akal sehat dan fitrah lurus, sedang “munkar” kebalikannya. “Segala yang baik” di ayat ini adalah makanan sebagaimana disebut dalam al-Baqarah: 168 dan al-Ma`idah: 4. Bukan amal-perbuatan, sebab amal-perbuatan terkelompokkan dalam ma’ruf dan munkar. Makanan tidak masuk dalam kelompok ma’ruf dan munkar. Bukan wilayah akal untuk membedakan makanan; mana yang dapat dimakan, mana yang tidak. Adat-kebiasaan manusia yang menentukan. Kemudian Islam datang memberi ketegasan; halal semua makanan yang baik, haram semua makanan yang buruk.

Yang dimaksud “membebaskan beban” adalah menghapus syariat terdahulu yang dirasa berat. Syariat dalam kitab Taurat mengandung banyak hukum yang dinilai berat, seperti hukuman mati atas sejumlah dosa, pengharaman atas banyak jenis makanan yang baik-baik, pengharaman atas perkara-perkara yang “biasa-biasa saja”. Puncak beratnya syariat dalam Taurat adalah tidak adanya taubat dari dosa yang pernah diperbuat. Pelaku dosa tidak mempunyai kesempatan bertaubat. Beratnya syariat Taurat ini diisyaratkan dalam al-Baqarah: 286.

“Belenggu”, yang dimaksud adalah beban berat dan tak tertanggungkan seperti kehinaan yang ditanggung kaum Yahudi pasca kehancuran Bait al-Muqadas dan lenyapnya kerajaan Yahudza. Cukup mudah dipahami menunjuk “kehinaan” sebagai “belengggu”, karena belenggu memang antara lain menyimbolkan kehinaan, pun kehinaan biasa membelenggu yang bersangkutan.

———-

Tentang Ali Imran: 164 di atas, saya olah dari tafsir Min Wahy al-Qur`an sedang tentang al-A’raf: 157 saya saripatikan dari tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir. Dari tafsir Min Wahy al-Qur`an, kita dapat mengambil pelajaran bahwa seorang pembaharu, pelopor pergerakan dan perubahan, seorang revolusioner, tidak harus seorang Super Man. Justru dia harus human being. Dia seorang pemikir-aktivis yang cermat memetakan masalah, fasih mengartikulasikan pemikiran dan gagasan, serta memiliki visi yang jelas tentang apa yang hendak dicapai dari sebuah pemikiran. Semua itu dia ramu dari realitas yang dia lihat dan rasakan, dari persoalan-persoalan riil yang ia hadapi, bukan hasil renungan hampa tanpa dukungan fakta dan realita. Penggalan “dari golongan mereka sendiri…” dari Ali Imran: 164, saya rasa menegaskan hal itu.

Sedangkan terhadap tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir saya menambahkan bahwa “beban” dan “belenggu” yang coba dienyahkan Muhammad dari pundak umat bukan hanya berupa beban syariat dan belenggu kehinaan seperti yang pernah dirasakan umat Yahudi. Lebih dari itu, bahkan yang terpenting, adalah penderitaan, penindasan, ketidakadilan, kebodohan, dan hal-hal serupa itu. Al-Anbiya`: 107 yang menggariskan risalah Muhammad sebagai risalah rahmat, saya pikir mengacu, antara lain, pada apa yang saya tambahkan tersebut. Yakni Muhammad adalah Sang Pembebas. Risalah rahmat yang diusungnya setara maknanya dengan risalah pembebasan.

Karena kita tidak terbiasa secara khusus memperingati hari pengangkatan Muhammad menjadi Nabi, maka tidak keliru kiranya jika saya mengaitkan hari kelahirannya (maulid) yang selalu kita peringati dengan kelahiran manusia baru. Dengan kata lain, maulid Nabi menandai kelahiran manusia baru.

Shallu ‘ala al-Nabi