Beranda blog Halaman 107

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 12-14

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 12-14 ini menjelaskan tentang orang-orang yang mengingkari hari Kiamat. Mereka memohon agar diberi kesempatan untuk kembali ke dunia sehingga dapat mengikuti semua ajaran rasul. Tetapi pintu taubat telah ditutup oleh Allah dan mereka kekal di dalam neraka, akibat tindakan dan perbuatan mereka.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 8-11


Ayat 12

Allah memberitahukan kepada Rasul-Nya bahwa ia akan merasa ngeri jika melihat keadaan orang-orang yang mengingkari hari Kiamat ketika mereka menundukkan kepala di hadapan Allah karena malu dan takut atas segala tindakan dan perbuatan mereka dalam hidup di dunia. Mereka menyatakan kepada Allah bahwa mereka telah melihat kenyataan hari Kiamat itu benar-benar terjadi, dan telah merasakan pula malapetaka yang menimpa mereka pada hari itu.

Mereka kemudian memohon agar diberi kesempatan untuk kembali ke dunia sehingga dapat mengikuti semua petunjuk rasul. Ketika itu, mereka mengaku benar-benar telah meyakini apa yang dahulu mereka dustakan. Mereka juga mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah, yang menghidupkan dan mematikan, serta yang membangkitkan kembali, seperti saat itu.

Dalam ayat lain, Allah berfirman:

;وَلَوْ تَرٰٓى اِذْ وُقِفُوْا عَلَى النَّارِ فَقَالُوْا يٰلَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِاٰيٰتِ رَبِّنَا وَنَكُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, “Seandainya kami dikembalikan (ke dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.” (al-An’am/6: 27)

Ayat 13

Jika Allah menghendaki semua manusia mendapat taufik dan hidayah untuk beriman dan beramal saleh, tentu hal itu tidak sukar bagi-Nya. Akan tetapi, hal itu tidak sesuai dengan sunatullah yang dahulu berlaku di alam ini. Aturan dan hukum Allah yang berlaku di alam ini adalah aturan dan hukum yang paling sempurna.

Menurut aturan dan hukum itu ialah menempatkan segala sesuatu di tempatnya, seperti menempatkan mata, telinga, hati, tangan, kaki, dan sebagainya berada di tempat yang layak dan wajar, sesuai dengan keindahan dan fungsinya. Di antara sunatullah itu ialah Allah akan mengisi neraka Jahanam dengan jin dan manusia yang layak bertempat tinggal di sana dan menjadi penghuninya, sebagaimana Dia akan memenuhi surga dengan orang-orang yang layak pula bertempat tinggal di sana.

Jika manusia memperhatikan sunatullah yang berlaku di alam ini, akan tampak suatu keserasian dan kerapian di dalamnya. Ikan yang hidup di dalam air mempunyai sirip, insang, dan berdarah dingin. Demikian pula lalat, ular, burung, dan sebagainya. Jika mata memandang ke cakrawala luas, maka di dalamnya terdapat pula sunatullah yang juga sangat rapi, sehingga planet-planet itu tidak berbenturan antara yang satu dengan yang lain.


Baca juga: Apa Makna “Kiamat Sudah Dekat” dalam Al-Quran? Ini Penjelasannya


Ayat 14

Karena orang-orang musyrik mendustakan hari Kiamat, dan me-mandangnya sebagai suatu hal yang mustahil terjadi, serta meyakini bahwa mereka tidak akan bertemu dengan Tuhan pada hari Kiamat, mereka merasakan azab yang ditimpakan itu. Pada waktu pintu tobat telah tertutup, Allah menyatakan bahwa Ia tidak akan memperhatikan lagi permintaan mereka.

Pada akhir ayat ini, Allah menyebutkan bentuk azab yang ditimpakan kepada orang-orang kafir adalah azab yang kekal di dalam neraka, akibat tindakan dan perbuatan mereka itu.


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 14-15


Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 8-11

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 8-11 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai proses penciptaan manusia dari setets nutfah. Kedua berbicara mengenai keingakaran orang-orang kafir terhadap hari kebangkitan. Ketiga mengenai kebenaran hari kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 6-7


Ayat 8

Ayat ini menerangkan bahwa Allah menciptakan keturunan manusia dari sperma, yaitu air yang sedikit dan memancar, yang bertemu dengan sel telur. Hasil pertemuan ini disebut dengan nu¯fah.

Ayat 9

Kemudian di dalam rahim perempuan, Allah menyempurnakan kejadian nutfah itu, sehingga berbentuk manusia. Kemudian ditiupkan roh ke dalamnya. Dengan demikian bergeraklah janin yang kecil itu. Setelah nyata kepadanya tanda-tanda kehidupan, Allah menganugerahkan kepadanya pendengaran, penglihatan, akal, perasaan, dan sebagainya.

Manusia pada permulaan hidupnya di dalam rahim ibu, sekalipun telah dianugerahi mata, telinga, dan otak, tetapi ia belum dapat melihat, mendengar, dan berpikir. Hal itu baru diperolehnya setelah ia lahir, dan semakin lama panca inderanya itu dapat berfungsi dengan sempurna.

Pada akhir ayat ini, Allah mengatakan bahwa hanya sedikit manusia yang mau mensyukuri nikmat Allah yang telah dilimpahkan kepadanya.


Baca juga: Mengenal Mushaf Kuno Buleleng


Ayat 10

Ayat ini menerangkan tentang pertanyaan orang-orang musyrik kepada Rasulullah saw, yang menunjukkan keingkaran dan kesombongan mereka. Mereka berkata, “Apakah apabila daging dan tulang belulang kami telah hancur menjadi tanah, mungkinkah kami dihidupkan lagi seperti semula?”

Dari pertanyaan di atas tergambar bahwa menurut mereka mustahil manusia dapat hidup kembali setelah mati dan tubuhnya hancur menjadi tanah. Mereka tidak dapat menggambarkan dalam pikirannya bagaimana besarnya kekuasaan Allah.

Jika mereka ingin mencapai kebenaran, mereka dapat mencari bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran Allah pada penciptaan manusia. Mereka dahulu tidak ada, kemudian menjadi ada. Tentu menciptakan kembali yang pernah ada lebih mudah bagi Allah. Sebenarnya jika mereka mau berpikir tentu mereka sampai kepada kesimpulan bahwa segala sesuatu itu adalah sama mudahnya bagi Allah, tidak ada yang sukar bagi-Nya.

Orang-orang musyrik itu bukan hanya mengingkari kekuasaan Allah, tetapi juga mengingkari adanya hari kebangkitan, yaitu hari semua manusia dihadapkan di Mahkamah Agung Ilahiah.

Ayat 11

Ayat ini menolak anggapan orang-orang musyrik yang menyatakan bahwa hari Kiamat itu tidak ada. Dalam ayat ini dikatakan, “Hai orang-orang musyrik, sesungguhnya malaikat yang bertugas mencabut nyawa manusia, benar-benar menjaga waktu, maka mereka mencabut nyawa orang itu tepat pada waktunya, tidak mundur sesaat pun, dan tidak pula dipercepat walau sesaat.” Hal ini berlaku bagi semua orang-orang musyrik itu, dan mereka tidak dapat lari dari ketetapan Allah ini. Kemudian mereka dibangkitkan kembali di hari Kiamat dan diminta pertanggungjawaban semua perbuatannya dengan adil.


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 12-14


Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 6-7

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 6-7 berbicara mengenai kekuasaan Allah SWT meliputi segala penjuru. Selain itu di sini juga membahas cara pandang ideal untuk melihat alam semesta.


Baca juga: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 4-5


Ayat 6-7

Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang menciptakan, mengatur, dan mengurus langit dan bumi serta segala yang ada padanya itu adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui. Dia Maha Mengetahui segala yang gaib, yang tersembunyi dalam hati, yang akan terjadi, dan yang telah terjadi. Dia juga Maha Mengetahui segala yang dapat dilihat dan yang tidak dapat dilihat oleh mata. Dialah Tuhan Yang Mahakuasa, Mahakekal Rahmat-Nya dan Dia pulalah Yang menciptakan seluruh makhluk dengan bentuk yang baik, serasi serta dengan faedah dan kegunaan yang hanya Dia saja yang mengetahuinya.

Jika diperhatikan seluruh makhluk yang ada di alam ini sejak dari yang besar sampai kepada yang sekecil-kecilnya akan timbul dugaan bahwa di antara makhluk itu ada yang besar faedahnya dan ada pula yang dirasa tidak berfaedah atau tidak berguna sama sekali, bahkan dapat menimbulkan bahaya bagi manusia, seperti ular berbisa, hama-hama penyakit menular, tanaman yang mengandung racun, dan sebagainya. Dugaan ini akan timbul jika masing-masing makhluk itu dilihat secara terpisah, tidak dalam satu kesatuan alam semesta ini.

Jika makhluk-makhluk itu dilihat dalam satu kesatuan alam semesta, dimana antara yang satu dengan yang lain mempunyai hubungan erat, akan terlihat bahwa semua makhluk itu ada faedah dan kegunaannya dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian alam ini.

Bahkan terlihat dengan nyata bahwa usaha-usaha sebagian manusia, baik secara sengaja atau tidak, merusak dan membunuh sebagian makhluk hidup, menimbulkan pencemaran di alam ini, sehingga kelestariannya terganggu. Salah satu contoh ialah dengan adanya obat pembasmi hama, banyak cacing dan bakteri yang musnah. Akibatnya, proses pembusukan sampah menjadi terganggu.

Padahal bakteri dan cacing itu dianggap binatang yang tidak ada gunanya sama sekali. Penebangan hutan mengakibatkan tanah menjadi gundul, sehingga banyak terjadi banjir dan tanah longsor di musim hujan, serta kekeringan pada musim kemarau.


Baca juga: Penjelasan tentang Fitnah Lebih Kejam daripada Pembunuhan


Semua itu akibat keserakahan manusia. Hal itu bisa dikategorikan sebagai perbuatan merusak di bumi. Akibat yang ditimbulkannya bisa luas dan memberi efek domino (beruntun).

Berdasarkan paparan di atas nyatalah bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah, ada faedahnya, tetapi banyak manusia yang tidak mau memperhatikannya.

Kemudian ayat ini menerangkan bahwa Dia menciptakan manusia dari tanah. Maksudnya ialah Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian menciptakan anak cucu Adam dari sari pati tanah yang diperoleh oleh ayah dan ibu dari makanan berupa hewan dan tumbuh-tumbuhan yang semuanya berasal dari tanah.

Dalam ayat 7 dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah, tetapi pada ayat ini ditegaskan bahwa hanya pada permulaannya saja manusia diciptakan dari tanah. Dengan ayat ini dapat pula ditafsirkan bahwa ada fase lain setelah awal penciptaan sebelum ciptaan tersebut menjadi manusia.

Jika hal tersebut memang terjadi demikian, banyak pertanyaan lain yang masih tersisa, antara lain (1) apakah awal penciptaan manusia sama dan bersamaan dengan awal penciptaan makhluk hidup bumi lainnya (lihat tafsir Surah al- An’am ayat 2), (2) apakah fase setelah penciptaan awal tersebut manusia berkembang melalui bentuk antara seperti halnya proses evolusi makhluk hidup lainnya yang kini banyak dipercayai (lihat Surah ar-Rum/30 ayat 20), atau (3) manusia tercipta melalui proses khusus yang berbeda dari makhluk hidup lainnya (al-Ahzab/33 ayat 33).


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 8-11


Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 4-5

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 4-5 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai penegasan dan peringatan Allah SWT. Kedua berbicara mengenai perbedaan waktu antara di dunia dan di akhirat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 2-3


Ayat 4

Ayat ini menerangkan bahwa Tuhan yang telah menurunkan Al-Qur’an kepada Muhammad saw itu adalah Tuhan Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya dalam enam masa. Maksud enam masa dalam ayat ini bukanlah hari (masa) yang dikenal seperti sekarang ini, tetapi adalah hari sebelum adanya langit dan bumi. Hari pada waktu sekarang ini adalah setelah adanya langit dan bumi, serta setelah adanya peredaran bumi mengelilingi matahari dan sebagainya.

Setelah menciptakan langit dan bumi, Allah pun bersemayam di atas ‘Arasy, sesuai dengan kekuasaan dan kebesaran-Nya. (lihat al-A’raf/7: 54) Allah menegaskan bahwa tidak seorang pun yang dapat mengurus segala urusannya, menolak bahaya, malapetaka, dan siksa. Tidak seorang pun yang dapat memberi syafaat ketika azab menimpanya, kecuali Allah semata, karena Dialah Yang Mahakuasa menentukan segala sesuatu.

Kemudian Allah memperingatkan, “Apakah kamu hai manusia tidak dapat mengambil pelajaran dan memikirkan apa yang selalu kamu lihat itu? Kenapa kamu masih juga menyembah selain Allah?”


Baca juga: Hadis Tentang Istigfar Rasulullah dan Tafsir Surah Al-Fath Ayat 1-2


Ayat 5

Hanya Allah-lah yang mengurus, mengatur, mengadakan, dan me-lenyapkan segala yang ada di dunia ini. Segala yang terjadi itu adalah sesuai dengan kehendak dan ketetapan-Nya, tidak ada sesuatu pun yang menyimpang dari kehendak-Nya itu. Pengaturan Allah dimulai dari langit hingga sampai ke bumi, kemudian urusan itu naik kembali kepada-Nya.

Semua yang tersebut pada ayat ini merupakan gambaran dari kebesaran dan kekuasaan Allah, agar manusia mudah memahaminya. Kemudian Dia menggambarkan pula waktu yang digunakan Allah mengurus, mengatur, dan menyelesaikan segala urusan alam semesta ini, yaitu selama sehari. Akan tetapi, ukuran sehari itu sama lamanya dengan 1000 tahun dari ukuran tahun yang dikenal manusia di dunia ini.

Perkataan seribu tahun dalam bahasa Arab tidak selamanya berarti 1000 dalam arti sebenarnya, tetapi kadang-kadang digunakan untuk menerangkan banyaknya sesuatu jumlah atau lamanya waktu yang diperlukan.

Dalam ayat ini bilangan seribu itu digunakan untuk menyatakan lamanya waktu kehidupan alam semesta ini sejak diciptakan Allah pertama kali sampai kehancurannya di hari Kiamat, kemudian kembalinya segala urusan ke tangan Allah, yaitu hari berhisab. Semua itu menempuh waktu yang lama sekali, sehingga sukar bagi manusia menghitungnya.

Dalam ayat yang lain digunakan perkataan ribuan itu untuk menerangkan lamanya waktu yang dibutuhkan seandainya manusia ingin naik menghadap Allah, sekalipun para malaikat hanya perlu sehari saja. Allah berfirman:

تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ

Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun. (al-Ma’arij/70: 4)

Ada pula yang berpendapat bahwa maksud ayat ini ialah segala urusan dunia ini kembali kepada Allah di hari Kiamat dalam waktu satu hari, yang sama lamanya dengan 1000 tahun waktu di dunia ini. Sebagian mufasir menafsirkan ayat ini, “Para malaikat naik kepada Allah ke langit dalam satu hari. Jika jarak itu ditempuh oleh selain malaikat, maka ia memerlukan waktu 1000 tahun.”

Rasulullah saw dalam malam mi’raj pernah naik ke langit bersama malaikat Jibril menghadap Allah. Jarak itu ditempuh dalam waktu kurang lebih setengah malam.


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 6-7


Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 2-3

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 2-3 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai  bantahan atas tuduhan kepada Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Kedua berbicara mengenai mengenai penegasan bahwa al-Qur’an bukan buatan Nabi Muhammad SAW.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 1


Ayat 2

Ayat ini menerangkan bahwa Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad ini benar-benar wahyu dari Allah, Tuhan semesta alam. Al- Qur’an ini bukanlah buatan tukang sihir, bukan mantra-mantra tukang tenung, dan bukan pula buatan Muhammad, tidak ada keraguan padanya sedikit pun.

Ayat ini merupakan bantahan bagi dakwaan orang-orang kafir yang menyatakan bahwa Al-Qur’an ini adalah syair yang digubah oleh penyair, dan ada yang mengatakan gubahan tukang tenung. Ada juga yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu hanyalah dongengan-dongengan purbakala saja, serta ada pula yang mengatakan bahwa dia adalah buatan Muhammad.

Allah berfirman:

;وَقَالُوْٓا اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلٰى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا

Dan mereka berkata, “(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (al-Furqan/25: 5)


Baca juga: Empat Mental Block Yang Harus Dijauhi Oleh Pelajar


Ayat 3

Ayat ini menerangkan bahwa sikap orang-orang musyrik seperti yang diterangkan ayat di atas adalah sikap yang tidak layak. Tidak pantas mereka menuduh Muhammad telah melakukan kedustaan dengan mengatakan bahwa ia telah membuat-buat Al-Qur’an, padahal mereka benar-benar telah mengetahui keadaan Muhammad, sejak ia masih kecil sampai ia dewasa dan diangkat menjadi rasul. Bahkan mereka memberi gelar dengan “Al-Amin” (orang kepercayaan) karena mereka sangat percaya kepada Muhammad. Akan tetapi, tiba-tiba mereka menuduhnya sebagai pendusta.

Oleh karena itu, Allah menegaskan bahwa semua yang disampaikan Muhammad itu adalah benar. Al-Qur’an benar-benar berasal dari Allah dan diturunkan kepadanya untuk memperingatkan orang-orang musyrik pada azab akhirat yang akan ditimpakan kepada orang-orang yang mengingkari rasul yang diutus kepada mereka. Al-Qur’an berisi pelajaran dan petunjuk yang mengantar mereka menuju jalan kebahagiaan abadi.

Pada ayat yang lain dinyatakan pula sikap orang-orang musyrik itu terhadap Al-Qur’an. Allah berfirman:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّآ اِفْكُ ِۨافْتَرٰىهُ وَاَعَانَهٗ عَلَيْهِ قَوْمٌ اٰخَرُوْنَۚ فَقَدْ جَاۤءُوْ ظُلْمًا وَّزُوْرًاۚ

Dan orang-orang kafir berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh dia (Muhammad), dibantu oleh orang-orang lain,” Sungguh, mereka telah berbuat zalim dan dusta yang besar. (al-Furqan/25: 4)


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 4-5


Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 1

0
tafsir surah as-sajdah
tafsir surah as-sajdah

Pembahasan diawali dengan Tafsir Surat As Sajdah ayat 1. Pembahasan ini berkaitan dengan huruf Muqata’ah atau huruf lepas yang terpisah-pisah. Ada sekitar 29 surat yang dimulai dengan huruf muqata’ah, salah satunya adalah surat As Sajdah ini.

Dalam Tafsir Surat As Sajdah ayat 1 ini juga dipaparkan mengenai maksud dari penyebutan huruf muqata’ah ini serta apa hikmah yang ada dibalik penyebutannya. setidaknya ada dua pendapat mengenai hal itu.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Luqman Ayat 1-16


Ayat 1

Alif Lam Mim. Ayat pertama surah Al-Baqarah ini terdiri dari huruf-huruf lepas. Sebagaimana pada surah-surah Makkiyah banyak yang dibuka dengan huruf-huruf lepas seperti Alif Lam Ra, Alif Lam Mim Ra, Ha Mim, Ta Ha, Kaf Ha Ya ‘Ain Sad, dan lain-lain.

Surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf singkatan (muqata’ah) semuanya berjumlah 29 surah. Selengkapnya sebagai berikut: al-Baqarah dengan Alif Lam Mim, Ali ‘Imran dimulai dengan Alif Lam Mim, al-A’raf dimulai dengan Alif Lam Mim Sad, Yunus dengan Alif Lam Ra, Hud dengan Alif Lam Ra, ar-Ra’d dengan Alif Lam Mim Ra; Ibrahim dengan Alif Lam Ra; al-Hijr dengan Alif LAm Ra;

Maryam dengan Kaf Ha Ya ‘Ain Sad; Taha dengan Ta Ha; asy-Syu’ara′ dengan Ta Sin Mim; an-Naml dengan Ta Sin; al-Qasas dengan Ta Sin Mim; al-‘Ankabut dengan Alif Lam Mim; ar-Rum dengan Alif Lam Mim, Luqman dengan Alif Lam Mim, as-Sajdah dengan Alif Lam Mim, Yasin dengan Ya Sin; Sad dengan Sad; al-Mu′min dengan Ha Mim; Fussilat dengan Ha Miim; asy-Syura dengan Ha Mim; az-Zukhruf dengan Ha Mim; ad-Dukhan dengan Ha Mim; al-Jasiyah dengan Ha Mim; al-hqaf dengan Ha Mim; Qaf dengan Qaf; dan al-Qalam dengan Nun.

Huruf yang disebutkan ini berjumlah 14 huruf, yaitu setengah dari huruf hijaiyah. Huruf-huruf ini adalah huruf-huruf yang banyak terpakai dalam bahasa Arab. Huruf-huruf ini ada yang disebutkan berulang-ulang.

Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari Al-Qur′an itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini.


Baca juga: Surah An-Nur Ayat 26: Penjelasan Ayat dan Konsep Jodoh


Tentang soal pertama, maka para mufasir berlainan pendapat:

  1. Ada yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, “Allah saja yang mengetahui maksudnya.” Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayat-ayat mutasy±bih±t.
  2. Ada yang menafsirkannya. Mufasir yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka:
  3. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (singkatan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka Alif adalah singkatan dari “Allah”, Lam singkatan dari “Jibril”, dan M³m singkatan dari Muhammad, yang berarti bahwa Al-Qur′an itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra, Alif singkatan dari “Ana”, Lam singkatan dari “Allah” dan Ra singkatan dari “ar-Rahman”, yang berarti “Aku Allah Yang Maha Pengasih.”
  4. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu.
  5. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan Alif adalah “Alif”, yang dimaksud dengan Lam, adalah “Lam”, yang dimaksud dengan Nµn adalah “Nun”, dan begitu seterusnya.
  6. Huruf-huruf abjad itu untuk menarik perhatian. Ada mufasir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah Al-Qur′an untuk menarik perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh Bangsa Arab pada waktu itu, karena itu maka hal ini menarik perhatian mereka.
  7. Untuk tantangan. Menurut para mufasir ini, huruf-huruf singkatan itu disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Al-Qur′an, hikmahnya adalah untuk “menantang”. Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Al-Qur′an itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf singkatan, seperti Alif Lam Mim Ra, Kaf Ha Ya ‘Ain Sad, Qaf, Ta Sin dan lain-lain.

Maka kalau kamu tidak percaya bahwa Al-Qur′an datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Al-Qur′an ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya”

Maka ada “penantang”, yaitu Allah, dan ada “yang ditantang”, yaitu bangsa Arab, dan ada “alat penantang”, yaitu Al-Qur′an. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk beluk bahasa Arab menurut naluri mereka, karena di antara mereka itu ada pujangga-pujangga, penyair-penyair dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab tantangan Al-Qur′an dengan membuat ayat-ayat seperti Al-Qur′an.

Ada juga di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan Al-Qur′an itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayat-ayat Al-Qur′an itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri.


Baca setelahnya: Tafsir Surah As-Sajdah Ayat 2-3


Hadis Tentang Istigfar Rasulullah dan Tafsir Surah Al-Fath Ayat 1-2

0
hadis istigfar Rasulullah dan tafsir surah al-Fath ayat 1-2
hadis istigfar Rasulullah dan tafsir surah al-Fath ayat 1-2

Hadis yang lumayan popular di kalangan beberapa mubaligh atau dai di antaranya adalah ahadis tentang istigfar Rasulullah saw. Pada hadis tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah setiap hari membaca istigfar seratus kali. Hadis yang cukup popular ini termuat dalam beberapa kitab hadis induk, seperti Sahih Muslim, Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Sunan an-Nasa’i, dan lainnya. Sepintas penjelasan sederhana ini tidak mengandung sesuatu yang problematik, akan tetapi bunyi literal hadis ini bertentangan dengan Alquran, surah Al-Fath ayat 1-2 yang berbunyi:

اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ (١

”Sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepadamu kemenangan yang nyata…”

لِّيَغْفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْۢبِكَ وَمَا تَاَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهٗ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيْمًاۙ

“…agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Nabi Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, menyempurnakan nikmat-Nya atasmu, menunjukimu ke jalan yang lurus,”

Dua ayat pertama dalam surah Al-Fath ini memberikan penjelasan cukup gamblang bahwa Nabi Muhammad adalah manusia yang telah terjamin dari melakukan dosa. Berdasarkan ayat ini pula, para ulama bersepakat atas kemaksuman (terjaga dari dosa) para Nabi. Konsensus ini dikutip, di antaranya oleh Imam Al-Subki dan Ibnu Atiyyah dalam karya tafsirnya.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apa maksud dari sabda Nabi, bahwa beliau beristighfar seratus kali dalam sehari? Tulisan ini akan berupaya memberikan penjelasan berdasarkan pendapat para ulama, khususnya padangan ulama tasawuf.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Fath Ayat 1 (2)

Hadis Tentang Nabi Muhammad Beristighfar Seratus Kali Sehari

Redaksi lengkap dari hadis tersebut, sebagaimana tercantum dalam Musnad Ahmad dan lain-lain, bersumber dari Al-Agharr Al-Muzani, adalah sebagai berikut:

إنَّه لَيُغَانُ علَى قَلْبِي، وإنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ في اليَومِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Sungguh hatiku (seperti) tertutupi (sesuatu), dan Aku beristghfar dalam sehari seratus kali

Jika kita membaca redaksi hadis ini secara tekstual, pemahaman yang didapat tentu menunjukkan bahwa Nabi Muhammad membaca istighfar karena hatinya lalai dan melakukan kesalahan ataupun dosa. Padahal sebagaimana diungkapkan di awal, terkait kesepakatan ulama, bahwa semua Rasul adalah maksum, artinya terjaga dari melalukan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil, yang tidak sampai pada merendahkan martabat. Meskipun demikian, beberapa kelompok, seperti Muktazilah, mengatakan bahwa boleh saja Nabi melakukan dosa kecil yang tidak sampai merendahkan martabat Nabi. Argumentasi mereka adalah ayat kedua dari surah Al-Fath yang telah dikutip di atas. Namun, pendapat yang dipilih (al-mukhtar) adalah yang menegaskan bahwa Nabi terjaga dari segala bentuk dosa, karena kita semua diperintahkan untuk mengikuti Nabi baik dalam segi ucapan maupun perilaku.

Baca Juga: Meninjau Ulang Makna Asyiddaa’u alal Kuffar dalam Al-Quran Surah Al-Fath Ayat 29

Beberapa Penjelasan Ulama Terkait Makna “Tertutupi” dalam Hadis Istigfar Nabi

Ada beberapa penjelasan alternatif dari para ulama terkait makna dari kata “layughanu” (tertutupi) dalam hadis di atas. Ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah kondisi saat Nabi tidak berdzikir atau mengingat Allah, yang seharusnya itu harus senantiasa terjadi, dan itu oleh Nabi dianggap sebagai sebuah ‘dosa’, sehingga beliau beristighfar. Ada yang memaknai kata “layughanu” dengan “ketenangan hati”, sedangkan istigfar adalah bentuk penegasan kehambaan Nabi, sekaligus sebagai ungkapan syukur. Ada juga yang memaknainya dengan “rasa takut”, dan istigfar adalah bentuk ungkapan rasa syukur.

Pendapat lain mengatakan bahwa Nabi bermaksud memberikan edukasi kepada umatnya, bahwa manusia adalah tempat salah dan lupa, dan oleh karenanya harus banyak beristigfar. Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa dalam hadis itu sebenarnya Nabi beristigfar untuk umatnya atas dosa-dosa yang telah dan akan mereka lakukan di masa dahulu dan yang akan datang. Pendapat yang terakhir ini, menurut penulis lebih bisa diterima dan tidak menciderai kemuliaan Nabi Muhammad sebagai manusia yang maksum.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Fath Ayat 1 (1)

Pandangan Ulama Tasawuf

Ulama tasawuf memiliki pemaknaan yang berbeda dari beberapa alternatif pemakaan yang telah dikutip di atas. Dalam pemaknaan sufistik, hadis di atas bukan berarti mengindikasikan bahwa Nabi melalukan dosa, karena mereka adalah sosok manusia yang sempurna dan maksum. Namun menunjukkan dan mengisaratkan bahwa Nabi Muhammad senantiasa meningkat dan naik (al-taraqi) serta bertambah (al-tazayudi) dekat dengan Allah setiap waktu, dari satu kondisi spiritual (ahwal) ke kondisi spiritual yang lebih tinggi.

Para Nabi adalah orang-orang yang paling kuat mujahadah-nya. Mereka senantiasa ber-mujahadah dalam beribadah sebagai bentuk syukur kepada Allah, seraya merasa kurang sempurna dalam mengabdi kepada Allah. Dari sinilah kemudian Nabi beristigfar untuk menyesali kekurangsempurnaan itu dan menuju yang lebih sempurna. Dengan demikian makna “tertutupi” dalam hadis di atas, adalah ketertutupan atau hijab ‘cahaya’ dalam arti spiritual, bukan hijab ‘kegelapan’ dalam arti dosa.

Ketika Nabi telah berhasil naik dari satu kondisi spiritual ke kondisi spiritual yang lebih tinggi, beliau beristigfar atas kondisi sebelumnya, yang beliau ungkapkan dengan ‘ketertutupan’ (gelap), walaupun pada hakikatnya itu adalah ‘cahaya’ (terang). Hal ini bukan berarti menunjukkan suatu kekurangan, akan tetapi justru kesempurnaan yang senantiasa meningkat.

Pemaknaan ini selaras dengan penafsiran, tepatnya penakwilan Ibnu Abbas atas surah al-Duha ayat 4 yang berbunyi: ﴿ وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ  ﴾. Beliau mengatakan bahwa makna ayat ini adalah, “‘kondisi’ yang terakhir lebih baik bagimu daripada ‘kondisi’ sebelumnya”.

Pemaknaan yang hamper sama juga disampaikan oleh Al-Ghazali. Dia menegaskan bahwa hadis ini tidak bisa dipahami secara tekstual (lafdiyah). Dia menjelaskan bahwa Nabi Muhammad senantiasa naik dari satu ‘kondisi ruhani’ ke ‘kondisi ruhani’ yang lebih tinggi. Tatkala Nabi melihat kondisi sebelumnya, beliau kemudian membaca istghfar. Jumlah istighfar yang beliau baca sesuai dengan jumlah kondisi ruhani di level sebelumnya. Inilah makna dari ungkapan para ulama tasawuf, “hasanatul abrar sayyi’atul muqarrabin” (kebaikan-kebaikan orang yang sudah dekat dengan Allah, adalah keburukan bagi mereka yang sedang dalam proses pendekatan kepada Allah). Wallah a’lam

Empat Mental Block Yang Harus Dijauhi Oleh Pelajar

0
Mental Block
Mental Block yang harus dijauhi

Mental Block adalah hambatan psikologis (psychological obstacle) atau pola pikir yang mencegah seseorang untuk menyelesaikan tugas penting dan menghalangi kesuksesan. Kondisi ini hampir dipastikan pernah dialami oleh seseorang, tak terkecuali seorang pelajar. Di samping itu, mental block juga menghambat seseorang untuk mengembangkan kreativitas, inovasi dan produktivitas. Karena itu, mental block ini harus dihindari oleh pelajar agar tidak menghambat proses belajarnya sehingga tetap bersemangat dalam belajar.

Artikel ini akan mengulas empat mental block yang harus dijauhi oleh pelajar dengan melandaskannya pada ayat-ayat Al-Quran dan pendapat para ulama.

Tidak Percaya Diri

Ketidakpercayaan diri atau merasa insecure menjadi penghalang seseorang dalam mengembangkan potensinya. Kondisi ini juga disebut self doubt (keraguan terhadap diri sendiri). Mereka tidak percaya terhadap diri sendiri sehingga endingnya tumbuh pemikiran bahwa mereka tidak layak untuk mendapatkan suatu prestasi atau berkompetisi dengan orang lain.

Kondisi semacam ini yang dilarang dalam agama, karena belum apa-apa sudah ciut nyalinya. Dalam firman-Nya, Allah Swt menghimbau, janganlah kalian merasa lemah (insecure) dan berlebihan dalam bersedih hati, karena sesungguhnya kamulah yang paling tinggi derajatnya.

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.”

Meskipun ayat tersebut berbicara terkait perang Uhud, namun substansinya relevan untuk pelajar agar tidak berkecil hati terhadap kemampuan yang dimiliki. Pelajar tidak boleh “mengidap” penyakit sindrom inferiority complex atau bermental rendah diri. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menuturkan, penting bagi pelajar untuk menguatkan mentalnya dalam menempuh ilmu dan bergaul dengan dunia luar, serta piawai memainkan peran penting dalam memberi solusi atas persoalan global. Karena sesungguhnya, apa yang ia perjuangkan itu derajatnya paling tinggi di sisi Allah di dunia dan di akhirat, di dunia karena apa yang ia perjuangkan adalah kebenaran dan di akhirat karena ia mendapat surga.

Stagnasi Pemikiran

Mental block yang kedua adalah stagnasi pemikiran (fixed mindset), pola pikir yang tidak bertumbuh dan hanya terpaku pada satu perspektif atau metode dalam menyelesaikan suatu persoalan. Mindset semacam ini tidak boleh dilestarikan oleh pelajar. Pelajar harus memiliki growth mindset (pola pikir yang bertumbuh) dan mampu menggunakan nalar kritisnya untuk mengembangkan keilmuan yang ditekuni.

Baca Juga: Dua Kunci Memunculkan Keberkahan Ilmu untuk Pelajar

Selain itu, pelajar harus memiliki mindset yang bertumbuh/ tidak stagnan (growth mindset) agar adaptif, inovatif dan kreatif dalam menghadapi tuntutan zaman. Allah swt berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). (Q.S. al-Hasyr [59]: 18)

Ayat di atas mengajarkan kepada kita untuk mempersiapkan segala sesuatunya lebih matang. Artinya, Allah swt mengajarkan kepada kita untuk me-manage, mem-planning sesuatu dengan presisi, akurat dan berbasis data yang valid. Tidak boleh asal-asalan dalam mengerjakan sesuatu, terlebih menuntut ilmu bagi seorang pelajar.

Syekh Abu Nashar al-Shaffar al-Ansari, sebagaimana dikutip Syekh al-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim, bersenandung dalam syairnya,

يَانَفْسِ يَانَفْسِ لاَ تُرْخِى عَنِ الْعَمَلِ، فِى الْبِرِّ وَالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ فِي مَهَلِ

Wahai nafsuku, jangan engkau malas dan lemah dari berbuat kebaikan, berlaku adil dan jujur. Apalagi berbuat baik, hendaklah dengan cara pelan-pelan (sedang) atau kontinyu.

Latah (Tidak Punya Pendirian)

Kecenderungan pelajar hari ini adalah mereka suka latah atau ikut-ikutan sesuatu yang sedang ngetrend sehingga melalaikan apa yang menjadi fokusnya. Konsekuensinya, mereka tidak menguasai bidang yang digeluti alias setengah-setengah karena tergoda sesuatu yang trending. Sebagai misal, seorang pelajar memiliki kemampuan hanya bisa menekuni satu bidang keahlian. Suatu ketika, ia melihat temannya yang terbiasa mengerjakan sesuatu secara bersamaan (multi tasking), dan karena latah, ia akhirnya mencoba memaksakan diri untuk multi tasking yang sebenarnya dirinya tidak sanggup.

Kondisi semacam itu yang tidak baik dan menyalahi fitrahnya.  Allah swt berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa” (Q.S. An Najm [53]: 32)

Makna suci di sini, menurut Quraish Shihab, adalah larangan memuji amal dan menyatakan dirinya suci. Adalah bila ia diungkap dengan rasa bangga dan keyakinan diterimanya amalnya. Tetapi bila tujuannya adalah mensyukuri nikmat Allah sambil menyadari bahwa hal tersebut diperoleh karena anugerah-Nya, maka itu tidak terlarang. Larangan tersebut ditujukan kepada setiap orang, baik dalam kedudukannya sebagai pribadi maupun kolektif, dan dengan demikian tidaklah wajar satu suku atau bangsa memuji diri mereka.

Menurut hemat kami, ayat di atas dapat dikontekstualisasikan dengan makna mendowngrade-kan atau meng-upgrade dirinya berlebihan. Artinya, seseorang tidak boleh menurunkan kualitas dirinya (downgrade) yang sebetulnya ia mampu atau melebih-lebihkan kemampuannya yang sebetulnya tidak mampu (upgrade). Dalam hal ini, Nabi saw bersabda,

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ

“Janganlah kalian merasa diri kalian suci, Allah lebih tahu akan orang-orang yang berbuat baik diantara kalian” (HR. Muslim Nomor 4953 dalam Kitab Syarh Sunan Abi Dawud lil ‘Ibad).

Putus Asa

“Dunia tak selebar daun kelor”, begitulah bunyi peribahasa dalam bahasa Jawa bahwa dunia ini tak sesempit apa yang kita bayangkan. Jadi, seseorang tidak boleh men-desperate dirinya sendiri atas suatu problem yang menjangkitinya. Justru, persoalan yang datang bertubi-tubi berdatangan adalah cara Tuhan untuk mendewasakan hamba-Nya. Maka, persoalan itu tidak harus dijauhi, namun disikapi dengan baik. Banyak pelajar yang baru saja dilanda satu persoalan seperti telat kiriman logistik dari orang tuanya, sudah down.

Padahal Allah sudah menyatakan, “Aku pasti menguji kamu, untuk melihat siapa di antara kamu yang paling baik amalnya” (Q.S. al-Mulk [67]: 2). Kalaulah baru satu ujian yang didapat, sudah down, misalnya, lantas bagaimana ia mampu menjadi pribadi yang tangguh? Itulah pertanyaan yang harus direnungkan kita bersama, khususnya pelajar.

Oleh karenanya, Allah berpesan, “janganlah kalian berputus asa dari rahmat-Ku” sebagaimana firman-Nya di bawah ini,

قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S. Az-Zumar [39]: 53)

Baca Juga: Tiga Niat dalam Menuntut Ilmu

‘Janganlah berputus asa dari rahmat Allah itu’ bermakna sesulit apapun persoalan yang membelit kalian, wahai manusia, janganlah melepaskan diri dari rahmat-Ku. Putus asa juga bermakna melepaskan diri. Padahal Allah swt sudah jelas menyatakan dalam lanjutan redaksi tersebut, ‘Sesungguhnya Allah mengampuni dosa kalian semuanya”. Artinya, Allah pasti memberikan jalan keluar dari kesulitan yang dihadapi hamba-Nya. Karena itu, bersabar sembari berikhtiyar adalah kunci.

Gus Baha, ulama kenamaan Indonesia, memiliki penafsiran yang unik terkait ayat di atas. Bagaimana tidak, katanya, Allah saja masih memanggil hambanya dengan redaksi ya’ibadi (wahai hambaku) kepada pendosa atau orang yang dzalim sekalipun. Artinya, Allah masih menginginkan hamba-hamba-Nya tadi yang masih berada di jalan kesesatan untuk segera kembali dan bertaubat. Lalu, Allah berfirman dengan kalam yang teramat santun, la taqnatu min rahmatillah, janganlah engkau berputus asa dari rahmat-Ku, kata Allah.

Pertanyaannya kemudian, apakah Allah hanya cukup mengatakan jangan berputus asa? Tentu tidak. Bahkan, Allah menggaransi bahwa seluruh dosa dan maksiat yang telah ia perbuat, diampuni semuanya. Makna pengampunan di sini adalah Allah swt memberi petunjuk atas apa yang ia perbuat. Kisah betapa rihlah intelektualnya Ibn Hajar al-Asqalani sekaligus keputusasaan al-Asqalani dalam menuntut ilmu, dapat dibaca dalam konteks ini.

Pasca Ibn Hajar mendapat hidayah melalui tetesan air hujan di atas batu sehingga berlubang, ia kembali menemukan kesejatian dirinya dan Allah bersama dirinya. Dari situ, Ibn Hajar bangkit dengan penuh semangat juang untuk kembali berusaha menuntut ilmu meski usianya sudah tak muda lagi. Inilah ibrah yang dapat kita ambil sebagai pelajar agar tidak mudah berputus asa atas cobaan dan ujian yang kita alami dalam menuntut ilmu. Wallahu a’lam.

Surah An-Nur Ayat 26: Penjelasan Ayat dan Konsep Jodoh

0
Surah An-Nur ayat 26
Surah An-Nur ayat 26

Wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan begitu pula sebaliknya. Kita tentu familiar dengan kaidah ini. Kaidah ini diambil dari ayat Alquran Surah An-Nur ayat 26 berikut:

اَلْخَبِيْثٰتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ وَالْخَبِيْثُوْنَ لِلْخَبِيْثٰتِۚ وَالطَّيِّبٰتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَالطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبٰتِۚ اُولٰۤىِٕكَ مُبَرَّءُوْنَ مِمَّا يَقُوْلُوْنَۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” [Surah An-Nur ayat 26]

Penjelasan Ayat

Surah An-Nur ayat 26 ini adalah ayat penutup yang Allah turunkan untuk menyatakan tentang kesucian Aisyah radhiyallahu ‘anha istri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dari hadis ifki, yakni berita bohong bahwa Aisyah sudah berselingkuh dengan Sufyan bin Mu’atthal.

Rahasia didahulukannya kata al-khabitsat menurut Ibnu Asyur dalam kitab At-Tahrir wa At-Tanwir, karena maksud awalnya adalah sesegera mungkin mensucikan sosok Aisyah ra. Artinya, bagaimana mungkin isu keji itu diarahkan kepada sosok Aisyah yang bertakwa. Dengan kata lain, bahwa para nabi, terkhusus lagi Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi manusia terbaik secara mutlak, maka hanya mendapatkan istri yang baik-baik saja.

Baca Juga: Gempa Bumi: Isyarat Alquran

Ayat ini juga berisikan pesan akan pentingnya sekufu. Berkenaan ayat di atas, Imam Al-Maraghi dalam tafsirnya mengatakan bahwa memang sudah sunnahnya mereka yang mempunyai kesamaan itu akan bersatu, dan bersatunya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan Aisyah sebagai bukti bahwa keduanya sama-sama saleh dan salehah. Aisyah pantas berjodoh dengan Rasulullah karena beliau adalah wanita yang suci dan terhormat, jauh dari yang diisukan.

Menurut Quraish Shihab, ayat ini merupakan penegasan ayat-ayat sehingga berimplikasi pada kaidah bahwa seorang pendosa atau pezina kemungkinan besar akan memilih pasangan seperti dirinya. Dan Aisyah tidaklah seperti itu, ayat ini membantah isu miring tersebut. Aisyah adalah seorang yang bertakwa dan itulah mengapa ia disandingkan dengan Rasulullah. Sebab pezina hanya akan bersanding dengan yang semisalnya.

Atas dasar sekufu itulah, maka laki-laki baik akan berusaha mencari perempuan yang baik, dan sebaliknya. Dari penjelasan ini maka jelaslah bahwa ayat ini hendaknya tidak hanya dimaknai tekstual, tapi juga memperhatikan asbab an nuzul.

Kaidah Jodoh adalah Cerminan Diri

Pada umumnya, wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan sebaliknya. Dengan kata lain, seseorang akan lebih tertarik dengan orang yang satu frekuensi dan kecendeungan. Namun kaidah ini tidak selamanya berlaku. Buktinya, banyak kita temui suratan yang menyalahi ini. Misalnya seperti kisah masyhur mengenai dipasangkannya Asiah dan Fir’aun, juga nabi Nuh dan istrinya.

Oleh karena itulah, surah An-Nur ayat 26 yang seringkali dikait-kaitkan dengan konteks jodoh sebagai cerminan diri, perlu ditelaah kembali. Sebab maksud ayat tersebut lebih menekankan tentang pembebasan Aisyah dari tuduhan-tuduhan keji yang disematkan kepada beliau.

Tak dimungkiri, para mufassir pun memang ada yang memaknai ayat ini sebagai keumuman dalam berpasangan di rumah tangga. Ibnu Katsir misalnya, beliau dalam tafsirnya memgemukakan dengan mengutip pendapat ulama lain bahwa wanita yang jahat hanya pantas bagi laki-laki yang jahat dan begitu pula sebaliknya. Juga menurut Quraish Shihab, bahwa secara alamiah, seseorang selalu cenderung kepada sesuatu yang memiliki kesamaan dengannya.

Hal ini pun cukup beralasan sebab apabila seseorang berkumpul di dalam lingkungan yang baik, maka kemungkinan untuk bertemu pasangan yang baik memiliki peluang lebih besar. Dengan demikian, lingkungan juga dapat menjadi penentu bagaimana seseorang bisa memilih seseorang yang kelak menjadi jodohnya.

Namun sayangnya, hal tersebut tidaklah berlaku mutlak. Betapa jodoh merupakan rahasia Allah, yang bahkan dalam realitanya seorang yang baik pun dapat dipasangkan dengan yang tidak baik. Tapi setidaknya, kaidah jodoh sebagai cerminan diri dapat menjadi motivasi agar setiap orang berikhtiar mencari jodoh yang baik dengan cara selalu berusaha menjadi pribadi yang baik. Sebab kaidah ini pun tak sepenuhnya terbantahkan.

Pasangan sebagai Ujian

Dalam kasus seseorang yang baik namun pasangannya tidak baik, maka bisa jadi Allah mengirimkan pasangan itu sebagai ujian untuknya. Sebab pada hakikatnya, mencari jodoh yang baik hanyalah sebatas ikhtiar, sebab hasilnya adalah murni sepenuhnya takdir Allah. Namun kesamaran hasil tersebut lantas bukan berarti dimaknai untuk meninggalkan ikhtiar dalam berusaha menjadi pribadi baik.

Adapun fenomena pasangan sebagai ujian, tentu amat banyak kita temui. Itulah mengapa, dalam jalannya pernikahan terdapat syariat talak, bukan agar umat bermudah-mudahan untuk cerai, tapi sebagai solusi saat kehidupan rumah tangga sukar meraih tujuan pernikahan dan tak kunjung menemukan titik terang.

Baca Juga: Begini Pemaknaan Al-Quran tentang Politik Identitas

Meski di sisi lain, banyak pula orang-orang saleh  yang lebih memilih bertahan dan menganggap keburukan pasangannya sebagai ujian bagi kesabaran mereka. Misalnya saja al-Qurthubi menuturkan sebuah kisah yang bersumber dari Ibn al-‘Arabi.

Al-kisah, seorang Syaikh yang alim bernama Abu Muhammad bin Abu Zaid memiliki istrinya yang buruk perangainya. Istrinya seringkali tak memenuhi hak-hak suami dan sering pula menyakitinya.

Maka, suatu hari seseorang bertanya tentang mengapa beliau begitu sabar menghadapi istrinya. Beliau  menjawab “Aku adalah seorang laki-laki yang diberikan kesempurnaan nikmat oleh Allah berupa kesehatan badan, makrifat kepada Allah, dan adanya seorang istri. Oleh karenanya, mungkin saja perlakuan dia terhadap diriku merupakan balasan atas dosa-dosaku selama ini. Jika aku menceraikannya, aku takut balasan yang menimpaku justru akan jauh lebih buruk dan dahsyat dari sikap istriku yang selama ini aku rasakan.”

Kesimpulan

Jodoh adalah cerminan diri, seseorang akan diperuntukan pada yang sefrekuensi, sepatutnya siapapun yang ingin mendapat jodoh yang baik agar berusaha memantaskan diri menjadi pribadi yang baik, seperti ketika Allah memantaskan pribadi Aisyah untuk Rasulullah.

Adapun fakta yang menyelisihi kaidah ini tidak ada hubungannya dengan surah An-Nur ayat 26, sebab konteks ayat tersebut lebih kepada asbab an nuzul mengenei hadis ifki yang membebaskan dan mensucikan Aisyah dari tuduhan keji.

Adapun mufassir yang menafsirkan kaidah bahwa ‘yang baik untuk yang baik’ pun hanya berpandapat secara keumuman, bahwa pada umumnya seorang yang baik dipasangkan dengan yang baik. Di luar itu, adalah kehendak dan rahasia Allah. Maka dari itulah, tak selamanya jodoh adalah cerminan diri.

Jodoh sepenuhnya takdir Allah. Selalu ada hikmah di balik kisah mereka yang berpasang-pasangan. Bagi mereka yang ahlul khair namun dipasangkan dengan yang buruk, maka boleh jadi pasangannya sebagai ujian. Wallahu A’lam.

Mushaf Buleleng II, Bukti Peninggalan Islam Bugis dan Makassar

0
Halaman doa khatam pada Mushaf Masjid Agung Jami’ Singaraja Buleleng II
Halaman doa khatam pada Mushaf Masjid Agung Jami’ Singaraja Buleleng II

Anton Zaelani dan Enang Sudrajat dalam kajian mereka menyebutkan bahwa persebaran Islam di tanah Bali tak lepas dari adanya peran serta muslim Bugis dan Makassar. Keberadaan komunitas Islam keduanya di beberapa wilayah perkampungan di Bali menjadi bukti akan hal ini: Serangan, Suwung, Kajanan Buleleng, Kusamba, dan Loloan Jembrana. Di kampung-kampung ini pula diduga menyimpan peninggalan bersejarah Islam (selengkapnya baca Mushaf Al-Qur’an Kuno di Bali).

Dalam pembacaan mushaf berkode BLAS/Bul/Q/MAJS.3/2019 pada repositori Wanantara, penulis mendapati sebuah mushaf yang boleh jadi menguatkan pernyataan Zaelani dan Sudrajat di atas. Mushaf yang kini tersimpan di Masjid Agung Jami’ Singaraja yang terletak di Jl. Imam Bonjol, No. 65, Desa Kampung Kajanan, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.

Mushaf ini, yang disebut dengan Mushaf Buleleng II merupakan salah satu dari dua koleksi mushaf kuno yang dimiliki Masjid Agung Jami’ Singaraja. Mushaf satunya telah penulis berikan ulasannya beberapa waktu yang lalu dalam tulisan berjudul Mengenal Mushaf Kuno Buleleng, mushaf yang konon ditulis oleh I Gusti Ngurah Ketut Jelantik Tjelagie, putra raja Buleleng.

Adapun mushaf kedua ini memiliki ukuran naskah 24 cm x 16 cm dengan bidang teksnya 17 cm x 11 cm. Jumlah halamannya masih utuh 30 juz. Pada akhir mushaf, beberapa surah bahkan ditulis dua kali, yakni mulai surah An-Nashr [110] sampai surah An-Nas [114]. Mushaf tidak dilengkapi dengan nomor halaman, iluminasi dan ilustrasi, tetapi ditemukan kata alihan (catchword).

Teks utama di dalamnya ditulis menggunakan tinta hitam. Tinta merah digunakan pada bagian tertentu seperti kepala surah, catatan pias, dan aksen lafaz Jalalah pada bagian doa. Merujuk pada kajian Zaelani dan Sudrajat, kertas yang digunakan merupakan kertas Eropa Lumsden 1845. Namun demikian, penulis tidak mendapati kertas yang dimaksud dalam katalog kertas seperti milik Churchill.

Catatan kolofon dalam mushaf ini menunjukkan bahwa penyalinan mushaf ini selesai pada hari Senin, 12 Rabi‘ul Akhir 1243 H. di waktu asar. Selain itu juga ditemukan tulisan nama di akhir catatan tersebut yang menyebutkan Hairon ‘Isa dan angka 1687. Zaelani dan Sudrajat menduga bahwa angka tersebut menunjukkan tahun, tetapi tidak memberikan keterangan lebih lanjut tahun atas apa.

Satu hal yang cukup unik dari mushaf ini adalah doa khatam yang dituliskan cukup berbeda dibanding mushaf lain. Doa dalam mushaf ini secara khusus disebut sebagai doa pemenuhan hajat (fi hajah al-aqdliyat). Di bagian awal doa juga turut disertakan riwayat dan khasiat doa, serta hadlarah kepada Nabi Muhammad saw. sebelum membacanya.

Catatan dengan aksara Lontara pada mushaf Buleleng II
Catatan dengan aksara Lontara pada mushaf Buleleng II

Penjelasan yang penulis kemukakan di awal, bahwa mushaf ini merupakan penguat atas klaim Zaelani dan Sudrajat atas Islam Bali ada pada setidaknya dua hal dalam mushaf ini. Pertama, catatan qiraat yang diberikan di dalamnya. Merujuk pada kajian yang dilakukan Ali Akbar (baca selengkapnya di Manuskrip Al-Qur’an dari Sulawesi Barat), mushaf-mushaf dengan catatan qiraat serupa merupakan mushaf dari Sulawesi Selatan, utamanya tradisi Bugis dan Makassar.

Mushaf semacam ini berkembang di Sulawesi Selatan pada kisaran abad ke-19, abad yang sama dengan penulisan Mushaf Buleleng II ini. Hasil konversi yang penulis lakukan terhadap tahun penyalinan Mushaf Buleleng II (12 Rabi‘ul Akhir 1243 H.) mendapati hasil sekitar tahun 1827 M. Hasil konversi ini berbeda dengan angka yang tertera pada bagian akhir kolofon, 1687, yang diduga sebagai tahun konversi awal sehingga angka yang tertulis tersebut belum diketahui maksud dari penulisannya.

Kedua, temuan adanya tiga baris catatan menggunakan aksara Lontara. Catatan ini terletak menjelang akhir doa khatam. Catatan ditulis menggunakan tinta hitam di bawah catatan lain berbahasa Arab dengan tinta merah. Sayangnya, penulis tidak dapat mengakses catatan tersebut dikarenakan keterbatasan pengertian aksara dan tingkat kejelasan gambar yang didapat.

Hal yang membuat penulis bertanya-tanya adalah mengapa catatan ini tidak disinggung Zaelani dan Sudrajat di dalam kajiannya sehingga menimbulkan kecurigaan berikutnya, yaitu apakah catatan dengan aksara Lontara ini baru ditambahkan belakangan? Wallahu a‘lam. Setidaknya keberadaan catatan ini dapat menjadi bukti penguat atas adanya tradisi Bugis dan Makassar pada perkembangan Islam di tanah Bali. Wallahu a‘lam bi al-shawab.