Beranda blog Halaman 288

Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 5-9

0
Tafsir Surah Al Muddassir
Tafsir Surah Al Muddassir

Senantiasa Allah meminta Nabi Muhammad untuk menyeru kepada umat manusia agar meninggalkan perbuatan dosa seperti menyembah berhala di dalam Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 5-9. Selain itu Allah juga mengingatkan Nabi Muhammad untuk senantiasa bersikap sabar serta dijelaskan pula ciri-ciri orang sabar dalam Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 5-9, sebab Rasulullah merupakan teladan bagi umatnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 1-4


Ayat 5

Selanjutnya Nabi Muhammad diperintahkan supaya meninggalkan perbuatan dosa seperti menyembah berhala atau patung. Kata ar-rujz yang terdapat dalam ayat ini berarti siksaan, dan dalam hal ini yang dimaksudkan ialah perintah menjauhkan segala sebab yang mendatangkan siksaan, yakni perbuatan maksiat. Termasuk yang dilarang oleh ayat ini ialah mengerjakan segala macam perbuatan yang menyebabkan perbuatan maksiat.

Membersihkan diri dari dosa apalagi bagi seorang dai adalah suatu kewajiban. Sebab, kalau pada diri sang dai sendiri diketahui ada cela dan aib oleh masyarakat, tentu perkataan dan nasihatnya sulit diterima orang. Bahkan mubalig yang pandai memelihara diri sekali pun pasti menghadapi dua bentuk tantangan, yakni:

  1. Boleh jadi orang yang diajak dan diseru ke jalan Allah akan menepuk dada, memperlihatkan kesombongannya, sehingga merasa tidak lagi membutuhkan nasihat. Dengan kekayaan, ilmu pengetahuan, atau kedudukan tinggi yang dimilikinya, ia merasa tidak perlu lagi diajak ke jalan Allah.
  2. Mungkin pula sang dai dimusuhi oleh penguasa dan yang tidak senang kepadanya. Sang dai akan diusir, disiksa, dikurangi hak-haknya, diintimidasi, dilarang, atau dihalang-halangi menyampaikan dakwah dan menegakkan yang hak. Semuanya itu merupakan akibat yang harus dihadapi bagi siapa saja yang berjihad di jalan Allah. Memelihara diri dari segala tindakan dan perkataan yang melunturkan nama baik di mata masyarakat adalah sebagian dari ikhtiar dalam rangka mencapai kesuksesan dalam berdakwah.

Ayat 6

Dalam ayat ini, Nabi Muhammad dilarang memberi dengan maksud memperoleh yang lebih banyak. Artinya dengan usaha dan ikhtiar mengajak  manusia ke jalan Allah, serta dengan ilmu dan risalah yang disampaikan, beliau dilarang mengharapkan ganjaran atau upah yang lebih besar dari orang-orang yang diserunya. Tegasnya jangan menjadikan dakwah sebagai objek bisnis yang mendatangkan keuntungan duniawi. Bagi seorang nabi lebih ditekankan lagi agar tidak mengharapkan upah sama sekali dalam dakwah, guna memelihara keluhuran martabat kenabian yang dipikulnya.

Ayat 7

Ayat ini memerintahkan supaya Nabi Muhammad bersikap sabar, karena dalam berbuat taat itu pasti banyak rintangan dan cobaan yang dihadapi. Apalagi dalam berjihad untuk menyampaikan risalah Islam. Sabar dalam ayat ini juga berarti tabah menderita karena disiksa atau disakiti karena apa yang disampaikan itu tidak disenangi orang. Bagi seorang dai, ayat ini berarti bahwa ia harus dapat menahan diri dan menekan perasaan ketika misinya tidak diterima orang, dan ketika kebenaran yang diserukannya tidak dipedulikan orang. Janganlah putus asa, sebab tidak ada perjuangan yang berhasil tanpa pengorbanan, sebagaimana perjuangan yang telah dialami para nabi dan rasul.

Ada beberapa bentuk sabar yang ditafsirkan dari ayat di atas, di antaranya: (1) sabar dalam melakukan perbuatan taat, sehingga tidak dihinggapi kebosanan, (2) sabar menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan menghadapi musuh, (3) sabar ketika menghadapi cobaan dan ketetapan (qadar) Allah, dan (4) sabar menghadapi kemewahan hidup di dunia. Dengan sikap sabar dan tabah itulah sesuatu perjuangan dijamin akan berhasil, seperti yang diperlihatkan oleh junjungan kita, Nabi Muhammad saw.

Ayat 8-9

Setelah memberikan pengarahan khusus kepada Nabi Muhammad (yang juga menjadi cermin pengajaran bagi umat beliau) yang dimulai dari ayat 1 sampai dengan ayat 7 di atas, maka pada ayat ini, Allah menjelaskan pula tentang suasana kedatangan hari Kiamat. Di hari yang dijanjikan itu, orang-orang yang telah menyakiti hati para rasul dan juru dakwah karena menyampaikan ajaran Allah, akan mengalami suatu kesulitan yang luar biasa. Mereka tersentak mendengar seruan Kiamat ditiup Malaikat Israfil. Mereka langsung merasakan betapa hebatnya kesulitan yang harus ditempuh. Oleh karena itu, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya bersabar menghadapi gangguan-gangguan musuh tersebut.

Pada hari Kiamat, semua orang mendapatkan apa yang telah mereka amalkan: kesenangan yang abadi bagi orang yang beriman dan berjihad menegakkan keimanan yang benar, serta kecelakaan dan kesengsaraan bagi siapa yang ingkar dan hidup di atas keingkaran itu.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 10-14


 

Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 1-4

0
Tafsir Surah Al Muddassir
Tafsir Surah Al Muddassir

Melalui ayat pertama Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 1-4 ini Allah memerintahkan untuk segera bangun dari selimutnya dan memperingatkan umat yang masih sesat ke jalan yang benar, yakni Islam. Diperintahkan pula dalam Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 1-4 ini untuk mengagungkan Allah dengan takbir dan tidak memohon pertolongan kepada siapapun kecuali kepada-Nya.


Baca Juga: Siapakah Orang-Orang yang Sesat dalam Surat Al-Fatihah Ayat 7?


Ayat 1-2

Dalam ayat 1-2 disebutkan bahwa Nabi Muhammad sedang berselubung dengan selimut karena diliputi perasaan takut melihat rupa Malaikat Jibril, lalu turunlah wahyu yang memerintahkan agar segera bangun dan memperingatkan umat yang masih sesat itu supaya mereka mengenal jalan yang benar.

Perkataan “qum” (bangunlah) menunjukkan bahwa seorang rasul harus rajin, ulet, dan tidak mengenal putus asa karena ejekan orang yang tidak senang menerima seruannya. Rasul tidak boleh malas dan berpangku tangan. Semenjak ayat ini turun, Nabi Muhammad tidak pernah berhenti melaksanakan tugas dakwah. Sepanjang hidupnya diisi dengan berbagai macam kegiatan yang berguna bagi kepentingan umat dan penyiaran agama Islam.

Peringatan-peringatan yang beliau sampaikan kepada penduduk Mekah yang masih musyrik pada waktu itu, berupa kedahsyatan siksaan Allah di hari Kiamat kelak. Untuk menyelamatkan diri dari azab tersebut, manusia hendaknya mengenal Allah dan patuh mengikuti perintah Rasul saw.

Ayat 3

Ayat ini memerintahkan agar Nabi Muhammad mengagungkan Allah dengan bertakbir dan menyerahkan segala urusan kepada kehendak-Nya. Beliau dilarang mencari pertolongan selain kepada-Nya.

Mengagungkan Allah dengan segenap jiwa dan raga tentu menumbuhkan kepribadian yang tangguh dan tidak mudah goyah. Sebab, manusia yang beriman memandang bahwa tidak ada yang ditakuti selain Allah. Sikap ini perlu dihayati oleh seorang dai (juru dakwah) yang tugasnya sehari-hari mengajak manusia ke jalan Allah.

Ayat ini juga mengandung arti bahwa Nabi Muhammad diperintahkan supaya bertakbir yaitu membesarkan nama Tuhan-Nya, melebihi dari segala sesuatu yang ada. Sebab setelah manusia mengenal pencipta alam dan dirinya sendiri serta yakin bahwa pencipta itu memang ada, maka hendaklah dia membersihkan zat-Nya dari segala tandingan-Nya. Bila tidak demikian, orang musyrik pun mengagungkan nama tuhan mereka, akan tetapi keagungan yang berserikat dengan zat-zat lain.

Membesarkan Allah berarti mengagungkan-Nya dalam ucapan dan perbuatan, menyerahkan segala urusan hanya kepada-Nya, beribadah dan membersihkan zat-Nya dari segala yang dipersekutukan dengan-Nya, dan menggantungkan harapan kepada-Nya saja. Kalau unsur-unsur yang demikian dipenuhi dalam membesarkan Allah, barulah sempurna penghayatan iman bagi seorang mukmin.

Ayat 4

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya membersihkan pakaian. Makna membersihkan pakaian menurut sebagian ahli tafsir adalah:

  1. Membersihkan pakaian dari segala najis dan kotoran, karena bersuci dengan maksud beribadah hukumnya wajib, dan selain beribadah hukumnya sunah. Membersihkan di sini juga termasuk cara memperolehnya, yaitu pakaian yang digunakan harus diperoleh dengan cara yang halal. Ketika Ibnu ‘Abbas ditanya orang tentang maksud ayat ini, beliau menjawab bahwa firman Allah tersebut berarti larangan memakai pakaian untuk perbuatan dosa dan penipuan. Jadi menyucikan pakaian adalah membersihkannya dari najis dan kotoran. Pengertian yang lebih luas lagi, yakni membersihkan tempat tinggal dan lingkungan hidup dari segala bentuk kotoran, sampah, dan lain-lain, sebab dalam pakaian, tubuh, dan lingkungan yang kotor banyak terdapat dosa. Sebaliknya dengan membersihkan badan, tempat tinggal, dan lain-lain berarti berusaha menjauhkan diri dari dosa. Demikianlah para ulama Syafi‘iyah mewajibkan membersihkan pakaian dari najis bagi orang yang hendak salat. Begitulah Islam mengharuskan para pengikutnya untuk selalu hidup bersih, karena kebersihan jasmani mengangkat manusia kepada akhlak yang mulia.
  2. Membersihkan pakaian berarti membersihkan rohani dari segala watak dan sifat-sifat tercela. Khusus buat Nabi Muhammad, ayat ini memerintahkan beliau menyucikan nilai-nilai nubuwwah (kenabian) yang dipikulnya dari segala yang mengotorinya (dengki, dendam, pemarah, dan lain-lain). Pengertian kedua ini bersifat kiasan (majazi), dan memang dalam bahasa Arab kadang-kadang menyindir orang yang tidak menepati janji dengan memakai perkataan, “Dia suka mengotori baju (pakaian)-nya,” Sedangkan kalau orang yang suka menepati janji selalu dipuji dengan ucapan, “Dia suka membersihkan baju (pakaian)-nya.” Secara singkat, ayat ini memerintahkan agar membersihkan diri, pakaian, dan lingkungan dari segala najis, kotoran, sampah, dan lain-lain. Di samping itu juga berarti perintah memelihara kesucian dan kehormatan pribadi dari segala perangai yang tercela.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 5-9


 

Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 47-49

0
tafsir surah al-ahzab
tafsir surah al-ahzab

Melalui ayat ini dan dijelaskan kembali dalam Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 47-49, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar menyampaikan berita gembira pada orang-orang beriman, bahwa Allah telah menyedikan nikmat besar kepada mereka. Karena itu, Allah mewanti-wanti kaum Mukmin agar tidak mengikuti perilaku kaum Munafik dan Kafir.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 41-46


Selain itu, dalam Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 47-49, Allah juga menyinggung bahwa tidak ada ‘iddah bagi perempuan yang dicerai oleh suaminya sementara dirinya belum dicampuri. Dan perempuan tersebut bisa lansung dinikahi oleh laki-laki lain. Bagi mantan suaminya, hendaklah berlaku santun terhadap istri yang ia ceraikan itu, dan dianjurkan baginya untuk memberi hadiah bagi mantan istrinya sebagai pelipur kesedihan untuk menghiburnya.

Ayat 47

Ibnu Jarir ath-Thabari dan Ikrimah telah meriwayatkan sebuah hadis dari al-Hasan yang menerangkan bahwa ketika turun ayat al-Fath/48: 2

لِّيَغْفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْۢبِكَ وَمَا تَاَخَّرَ

Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang. (al-Fath/48: 2)

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah! Kami telah mengetahui apa yang diperbuat Allah untukmu, maka apakah yang akan diperbuat Allah untuk kami?” Maka turunlah ayat ini (al-Ahzab/33: 47)

Pada ayat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya menyampaikan berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi mereka karunia yang amat besar yang melebihi karunia yang diberikan kepada umat-umat lainnya, karena mereka diberi kemampuan untuk memperbaiki akhlak masyarakat dari berbagai kezaliman kepada keadilan dan kemaslahatan.

Mereka juga dapat mengubah wajah umat-umat yang dihadapinya dari sikap membangkang kepada sikap yang tunduk dan patuh demi perbaikan nasibnya di dunia dan di akhirat kelak.


Baca Juga : Tafsir Ahkam: Dasar Hukum Rujuk dan Syarat-Syaratnya


Ayat 48

Pada ayat ini, Allah menjelaskan tentang apa yang dapat menimbulkan kemudaratan. Allah melarang orang yang beriman untuk menuruti orang kafir dan orang-orang munafik.

Mereka juga diperintahkan untuk tidak menghiraukan gangguan orang kafir terhadap berlangsungnya dakwah kepada jalan Allah, dan menghadapi mereka dengan penuh kesabaran dan tawakal.

Allah-lah yang harus dipandang sebagai pelindung di dalam melaksanakan tugas dakwah guna semaraknya syiar Islam.

Ayat 49

Pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa jika terjadi perceraian antara seorang mukmin dan istrinya yang belum pernah dicampuri, maka perempuan yang telah diceraikan itu tidak mempunyai masa idah dan perempuan itu langsung bisa nikah lagi dengan lelaki yang lain.

Bekas suami yang menceraikan itu hendaklah memberi mut’ah, yaitu suatu pemberian untuk menghibur dan menyenangkan hati istri yang diceraikan. Besar dan kecilnya mut’ah itu tergantung kepada kesanggupan suami sesuai dengan firman Allah:;

لَاجُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ مَا لَمْ تَمَسُّوْهُنَّ اَوْ تَفْرِضُوْا لَهُنَّ فَرِيْضَةً ۖ وَّمَتِّعُوْهُنَّ عَلَى الْمُوْسِعِ قَدَرُهٗ وَعَلَى الْمُقْتِرِ قَدَرُهٗ ۚ مَتَاعًا ۢبِالْمَعْرُوْفِۚ حَقًّا عَلَى الْمُحْسِنِيْنَ

Tidak ada dosa bagimu, jika kamu menceraikan istri-istri kamu yang belum kamu sentuh (campuri) atau belum kamu tentukan maharnya. Dan hendaklah kamu beri mereka mut’ah, bagi yang mampu menurut kemampuannya dan bagi yang tidak mampu menurut kesanggupannya, yaitu pemberian dengan cara yang patut, yang merupakan kewajiban bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. (al-Baqarah/2: 236).

Patut diperhatikan bahwa jika perempuan itu harus meninggalkan rumah maka cara mengeluarkannya hendaklah dengan sopan-santun sehingga tidak menyebabkan sakit hatinya. Kepadanya harus diberikan bekal yang wajar, sehingga pemberian itu benar-benar merupakan hiburan yang meringankan penderitaan hatinya akibat perceraian yang dialaminya. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad dan Abu Usaid:

تَزَوَّجَ النَِّبيُّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ اُمَيْمَةَ بِنْتَ شَرَاحِيْلَ فَلَمَّا دَخَلَتْ عَلَيْهِ بَسَطَ يَدَهُ اِلَيْهَا فَكَاَنَّهَا كَرِهَتْ ذَلِكَ فَأَمَرَ اَبَا اُسَيْدٍ اَنْ يُجَهِّزَهَا وَيَكْسُوْهَا ثَوْبَيْنِ رَازِقِيَّيْنِ. (رواه البخاري)

Nabi saw telah mengawini Umaimah binti Syarahil. Ketika Umaimah masuk ke dalam rumah (Nabi), Nabi mengulurkan tangan kepadanya, namun dia seakan-akan tidak menyukai (cara penyambutan Nabi tersebut). Maka Nabi menyuruh Abµ Usaid agar memberikan dua potong baju yang baik yang terkenal pada waktu itu (sebagai hadiah perceraian). (Riwayat al-Bukhari)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Ahzab Ayat 50-51


Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 41-44

0
tafsir surah al-ahzab
tafsir surah al-ahzab

Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 41-44 menganjurkan kepada orang Mukmin agar senantiasa mengingat Allah Swt. Bahwa Dialah Dzat yang memberi Rahmat kepada makhluk-makhluk-Nya. Sementara, Muhammad Saw. adalah utusan yang membawa risalah-Nya. Karena itu, haruslah bagi mereka mentaati dan melaksanakan perintah maupun larangan keduanya. Jika mereka masuk syurga, para malaikat akan memberi penghormatan atas ketaatan dan keimanan mereka selama di dunia.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 37-40


Ayat 41-42

Pada ayat ini, Allah menganjurkan kepada semua orang beriman kepada Allah dan rasul-Nya supaya banyak zikir mengingat Allah dengan menyebut nama-Nya sebanyak-banyaknya dengan hati dan lidah pada setiap keadaan dan setiap waktu.

Sebab, Allah-lah yang melimpahkan segala nikmat kepada mereka yang tidak terhingga banyaknya. Mereka diperintahkan bertasbih kepada-Nya dengan pengertian membersihkan dan menyucikan Allah dari segala sesuatu yang tidak pantas bagi-Nya.

Berzikir dan bertasbih ini dilakukan di pagi hari ketika baru bangun dari tidur, sebab ketika itu seakan-akan seseorang hidup kembali setelah mati, untuk menghadapi hidup yang baru.

Diperintahkan juga bertasbih pada sore hari karena pada saat itu seseorang telah selesai mengerjakan bermacam-macam pekerjaan sepanjang hari. Zikir pada waktu itu merupakan tanda bersyukur kepada Allah atas limpahan taufik dan hidayah-Nya sehingga dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik, dan dapat memperoleh rezeki untuk keperluan hidupnya dan nafkah bagi keluarganya.

Dengan banyak zikir, ia dapat menghambakan diri kepada Allah dan untuk menghadapi alam akhirat. Di samping itu, ia dapat pula meneliti perbuatan yang sudah dilaksanakan sehingga dapat mengusahakan perbaikan-perbaikan yang diperlukan bagi hari-hari yang akan datang.


Baca Juga : Perbedaan Penafsiran Surah Al-Nisā’ [4]: 34 dari Klasik hingga Kontemporer


Ayat 43

Allah menjelaskan bahwa Dialah yang memberikan rahmat kepada orang-orang yang beriman dan menguji mereka di hadapan malaikat yang berada di langit. Para malaikat pun memohonkan ampun untuk mereka supaya Allah mengeluarkan mereka dengan taufik, hidayah, dan rahmat-Nya dari kegelapan kekafiran kepada cahaya keimanan.

Dia Maha Penyayang kepada seluruh kaum Muslimin di dunia dan akhirat. Di dunia, Allah memberi petunjuk kepada mereka pada jalan yang benar, dan di akhirat, Ia memberi keselamatan bagi mereka dari kegoncangan dan malapetaka yang hebat.

Ayat 44

Apabila orang-orang mukmin masuk surga, para malaikat memberi penghormatan kepada mereka dengan ucapan “salam” seperti dalam firman  Allah

وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ   ٢٣  سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ     ٢٤ 

Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu. (ar-Ra’d/13: 23-24).

Allah menyediakan pahala bagi mereka di akhirat yang datangnya tanpa diminta terlebih dahulu. Mereka merasakan nikmat dari kelezatan makanan, minuman, pakaian, dan tempat-tempat kediaman di dalam surga yang luas sekali. Kenikmatan surga itu belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, ataupun terlintas dalam hati.

Ayat 45

Pada ayat ini, Allah menjelaskan kepada Nabi Muhammad bahwa ia diutus untuk menjadi saksi terhadap orang-orang (umat) yang pernah mendapat risalahnya.

Allah mengutusnya sebagai pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang membenarkan risalahnya dan mengamalkan petunjuk-petunjuk yang dibawanya bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam surga.

Ia juga sebagai pemberi peringatan kepada mereka yang mengingkari risalahnya, bahwa mereka akan diazab dengan siksa api neraka.

Sehubungan dengan fungsi Nabi sebagai saksi (syahid), dalam ayat lain Allah berfirman:

فَكَيْفَ اِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ اُمَّةٍۢ بِشَهِيْدٍ وَّجِئْنَا بِكَ عَلٰى هٰٓؤُلَاۤءِ شَهِيْدًاۗ

Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka. (an-Nisa’/4: 41)

Ayat 46

Nabi juga berperan sebagai juru dakwah agama Allah untuk seluruh umat manusia agar mereka mengakui keesaan dan segala sifat-sifat kesempurnaan-Nya.

Juga bertujuan agar manusia beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas; memberi penerangan laksana sebuah lampu yang terang benderang yang dapat mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran kepada cahaya keimanan, dan menyinari jalan yang akan ditempuh oleh orang-orang yang beriman agar mereka berbahagia di dunia dan akhirat. Semua tugas Nabi saw itu dilaksanakannya dengan dan perintah izin Allah.

 

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Ahzab Ayat 47-49


Tafsir Ekologi: Prinsip-prinsip dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam

0
Tafsir Ekologi: Prinsip-prinsip dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam
Tafsir Ekologi: Prinsip-prinsip dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam

Rempah-rempah banyak tumbuh di Indonesia, karena letak geografis Indonesia sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman ini. Keuntungan yang didapatkan dari rempah-rempah adalah tumbuhan yang menghasilkan aroma dan cita rasa yang kuat, Sebagaimana yang fungsinya adalah untuk perasa masakan yang mampu menciptakan rasa masakan menjadi sedap. Selain untuk perasa masakan, rempah-rempah juga mampu mengubah perjalanan Nusantara dan dunia. Misalnya saja pada The History of a Temptation (2004) Karya Jack Turner, mengulas rempah-rempah sebagai lingkup sejarah global. Akan tetapi, pada tulissan ini tidak akan mengulas sisi sejarah peranannya rempah-rempah, namun bagaimana prespektif Al-Qur’an terhadap pengelolaan sumber alam.

Sebab, sangat disayangkan jika kita sebagai penduduk Indonesia yang merasakan rempah-rempah dengan mudah, tidak bisa merawat atas segala kenikmatan alam yang diberikan oleh Allah Swt.

Baca juga: Nabi Muhammad Saw Gemar Berkurban Setiap Tahun

Sebenarnya tulisan ini tidak menawarkan terkait metode Al-Quran terkait alam dan tumbuh-tumbuhan, karena masih sama, yakni terkait pelestarian lingkungan yang diwajibkan menurut dari perspektif fiqhiyah. Dorongan tersebut dipertegas dengan sabda Rasul Saw dengan kata lain, menanam pohon, menabur benih akan dipandang sebagai amal jariyah.

Salah satu ayat yang mengindikasikan fungsi tetumbuhan untuk menjaga pelestarian lingkungan yaitu surah Al-Mu’minūn ayat 19.

فَأَنشَأْنَا لَكُم بِهِۦ جَنَّٰتٍ مِّن نَّخِيلٍ وَأَعْنَٰبٍ لَّكُمْ فِيهَا فَوَٰكِهُ كَثِيرَةٌ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagian dari buah-buahan itu kamu makan ( QS. al- Mukminun Ayat 19)

Pada kitab Tafsir al-Misbah dijelaskan ayat di atas bahwa dari air tersebut, Allah Swt menciptakan beraneka ragam kebun untuk kalian, seperti kebun kurma dan kebun anggur yang menghasilkan banyak buah yang dapat kalian makan.

Baca juga: Menjelang Idul Adha, Inilah 6 Perbedaan Kurban dan Akikah

Prinsip-prinsip dalam Mengelola Sumber Daya Alam

Kemudian Abdul Mustaqim berpendapat bahwa dalam pengoperasian tafsir ekologi, perlu adanya prinsip-prinsip etis-teologis dalam bersikap, yang pada tahap selanjutnya menjadi acuan dalam mengelola sumber daya alam.

Adapun prinsip-prinsip yang dimaksud, antara lain: Pertama, prinsip al-‘adalah yakni berlaku adil. Dalam upaya memanfaatkan sumber daya alam, manusia juga harus mempertimbangkan prinsip keadilan. Menurut al-Asfahani, kata ‘adl berarti memberi pembagian yang sama.

Sementara itu, pada Lajnah Pentashilan Mushaf Al-Qur’an, bahwa pakar lain mendefinisikan kata ‘adl adalah sikap profesional, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya, dengan tidak berlebihan (ifrat) dan tidak kekurangan (tafrit).

Baca juga: Empat Pemetaan Kajian Al-Qur’an dan Tafsir Yang Penting Diketahui

Kemudian dalam buku Quraisdh Shihab yang berjudul Wawasan Al-Qur’an Tafsir Atas Pelbagai Persoalan Umat, dijelaskan keadilan disebut dengan kata al-‘adl, al-qisth, al-mizan. Maka, adil dalam konteks ekologi berarti harus berbuat secara seimbang, dan tidak berlaku aniaya terhadap alam dan lingkungan.

Meskipun, manusia merupakan bagian dari mahkluk Allah Swt, akan tetapi  manusia berkewajiban menjaga pelestarian alam. Bahkan, manusia harus bertanggung jawab terhadap seluruh lingkungannya, sebagaimana mereka bertanggung jawab terhadap keluarganya.

Kedua, prinsip al-tawazun (keseimbangan). Keindahan, kenikmatan segala kehidupan yang diberikan oleh sang Maha Kuasa, perlu ada keseimbangan.  

Bisa kita perhatikan, bahwa gunung, sungai, danau, laut, pepohonan dirancang sedemikian rupa oleh Allah SWT untuk menghidupkan bumi yang kering kerontang menjadi segar bugar. Dan bumi bisa menjadi segar bugar, lantaran ada air yang menumbuhkan tetumbuhan, yang menghasilkan biji bijian, rempah-rempah, hingga manusia dan makhluk lainnya mampu mempertahankan kehidupannya di Bumi. 

Melalui sirklus air itulah, kesimbangan makhluk bumi bisa bertahan, tumbuhan menjadi subur dan lainnya. Namun, bumi pun bisa rusak, jika manusia tidak menjaganya, misalnya tidak memanfaatkan air dengan baik atau boros dalam penggunaan air.

Baca juga: Surah Al Fatihah dan Ijazah Doa KH Achmad Asrori  Al-Ishaqi

Selanjutnya yang ketiga prinsip al- intifa’ dun al-fasad ialah prinsip mengambil manfaat tanpa merusak. Kita sudah mengambil potensi dari bumi, baik itu rempah-rempah, buah-buhan, dan kita juga mengambil potensi dari laut berupa ikan serta segala ekosistem yang ada di dalamnya. Namun, setelah kita menikmati semua, janganlah lalai untuk merawatnya. Mengasihi alam, maka kita pun akan dikasihinya. Dengan tidak melakukan ekploitasi, meraup keuntungan dengan cara yang tidak sepantasnya. Wallahu a’lam[].

Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 37-40

0
tafsir surah al-ahzab
tafsir surah al-ahzab

Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 37-40 membahas tentang status anak angkat dalam Islam. Setidaknya, ada dua hal yang disinggung al-Quran dalam masalah ini. Pertama, status anak angkat disamakan dengan anak kandung pada aspek pewarisan harta, dan kedua ayah angkat tidak boleh menikahi mantan istri anak angkatnya sendiri.Maka, ketika islam hadir, hukum tersebut kemudian dihapys, karena bisa berdampak buruk pada tatanan kehidupan sosial.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 35-36


Sebagai bentuk legitimasi hukum, selain tentang pewarisan harta, Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 37-40 menceritakan bagaimana Allah memerintahkan Nabi untuk menikahi mantan istri anak angkatnya. Ini sekaligus menunjukkan bahwa tidak ada lagi superioritas anak angkat dalam Islam, sebagaimana tradisi di jaman Jahiliyah. Konsekuesinya, yang diterima Nabi adalah mendapat cemoohan dari orang Munafik maupun Yahudi Madinah. Mereka menilai, apa yang dilakukan oleh nabi tidaklah pantas.

Ayat 37

Sebelum ayat ini turun, ststus anak angkat disamakan dengan anak kandung. mereka berhak mewarisi keluarga angkat, dan ayah angkat tidak boleh menikahi mantan istri anak angkatnya.

Ayat ini turun untuk menghapus anggapan salah tersebut. Anak angkat selamanya tidak akan sama statusnya dengan anak kandung.

Selain itu, ayat ini juga mengajarkan bahwa pada tataran ideal, pernikahan dilangsungkan atas keinginan dan persetujuan kedua belah pihak dan mendapat dukungan dari dari kedua keluarga.


Baca Juga : Mengenal Empat Tipologi Anak dalam Al-Quran


Ayat 38

Pada ayat ini, Allah menguatkan hukum yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu bahwa tidak ada suatu keberatan apa pun atas Nabi saw apa yang telah menjadi ketetapan Allah baginya untuk mengawini perempuan bekas istri anak angkatnya setelah dijatuhi talak oleh suaminya dan habis masa idahnya.

Orang-orang Yahudi sering mencela Nabi Muhammad saw karena mempunyai istri yang banyak, padahal mereka mengetahui bahwa nabi-nabi sebelumnya ada yang lebih banyak istrinya seperti Nabi Daud dan Nabi Sulaiman.

Nabi Muhammad diperintahkan Allah supaya tidak menghiraukan pembicaraan khalayak ramai sehubungan dengan pernikahan beliau dengan Zainab.

Ketika Zaid telah menceraikan istrinya, Allah menikahkan Nabi saw dengan Zainab agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk menikahi bekas istri anak angkat apabila telah diceraikan.

Ketetapan Allah tentang pernikahan Zainab dengan Nabi adalah suatu ketetapan yang sudah pasti.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan at-Tirmizi bahwa Zainab sering membangga-banggakan dirinya di hadapan istri-istri Nabi lainnya dengan ucapan, “Kamu dinikahkan oleh keluargamu sendiri, tetapi saya dinikahkan oleh Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dari Sya’bi bahwa Zainab pernah berkata kepada Nabi, “Saya mempunyai kelebihan dengan tiga perkara yang tidak dimiliki oleh istri-istrimu yang lain, yaitu: kakekku dan kakekmu adalah sama yaitu Abdul Muthalib; Allah menikahkan engkau denganku dengan perintah wahyu dari langit; dan yang ditugaskan menyampaikannya adalah Malaikat Jibril.”

Ayat 39

Pada ayat ini, Allah menerangkan bahwa rasul-rasul yang mendahului Nabi Muhammad itu telah melaksanakan sunatullah. Mereka adalah orang-orang yang penuh dengan ketakwaan dan keikhlasan dalam beribadah.

Mereka juga orang-orang yang menyampaikan syariat-syariat Allah, sangat takut kepada-Nya dan tidak merasa takut kepada selain-Nya. Nabi Muhammad pun diperintahkan untuk menjadikannya teladan dalam melaksanakan sunatullah, dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.

Ayat 40

Tatkala Rasulullah menikahi Zainab, banyak orang munafik yang mencela pernikahan itu karena dipandang sebagai menikahi bekas istri anak sendiri.

Maka Allah menurunkan ayat ini yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw tidak usah khawatir tentang cemoohan orang-orang yang mengatakan bahwa beliau menikahi bekas istri anaknya, karena Zaid itu bukan anak kandung beliau, tetapi hanya anak angkat.

Muhammad saw sekali-kali bukan bapak dari seorang laki-laki di antara umatnya, tetapi ia adalah utusan Allah dan nabi-Nya yang terakhir. Tidak ada nabi lagi setelah beliau.

Nabi Muhammad saw itu adalah bapak dari kaum Muslimin dalam segi kehormatan dan kasih sayang sebagaimana setiap rasul pun adalah bapak dari seluruh umatnya.

Muhammad itu bukan bapak dari seorang laki-laki dari umatnya dengan pengertian “bapak” dalam segi keturunan yang menyebabkan haramnya mu¡±harah (perbesanan), tetapi beliau adalah bapak dari segenap kaum mukminin dalam segi agama. Beliau mempunyai rasa kasih sayang kepada seluruh umatnya untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, seperti kasih sayang seorang ayah terhadap anak-anaknya.

Anak laki-laki Nabi saw dari Khadijah ada tiga orang, yaitu Qasim, Thayyib, dan Thahir, semuanya meninggal dunia sebelum balig. Dari Mariyah al-Qibthiyah, Nabi memperoleh seorang anak laki-laki bernama Ibrahim yang juga meninggal ketika masih kecil.

Di samping tiga anak laki-laki, Nabi saw juga mempunyai empat anak perempuan dari Khadijah, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah. Tiga yang pertama meninggal sebelum Nabi wafat.

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu tentang siapa yang diangkat sebagai nabi-nabi yang terdahulu dan siapa yang diangkat sebagai nabi penutup. Berikut hadis-hadis yang menerangkan tentang kedudukan Nabi Muhammad sebagai nabi penutup atau terakhir, di antaranya:

عَنْ جَابِرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ: اِنَّ لِى اَسْمَاءً اَنَا مُحَمَّدٌ اَنَا اَحْمَدُ اَنَا اَلْمَاحِى الَّذِيْ يَمْحُو اللهُ بِى الْكُفْرَ وَاَنَا اَلْحَاشِرُ اَلَّذِيْ يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى قَدَمِى وَاَنَا الْعَاقِبُ الَّذِيْ لَيْسَ بَعْدِيْ نَبِيٌّ . (رواه البخاري ومسلم)

Dari Jabir bin Muth’im bahwa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Aku punya beberapa nama: aku Muhammad, aku Ahmad, aku al-Mahi yang mana Allah menghapus kekufuran denganku dan aku al-Hasyir di mana manusia dikumpulkan di bawah kakiku dan aku juga al-‘Āqib yang mana tidak ada lagi nabi sesudahku.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ مَثَلِى وَمَثَلُ النَّبِيِّيْنَ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنىَ دَارًا فَأَكْمَلَهَا وَاَحْسَنَهَا اِلاَّ مَوْضِعَ لُبْنَةٍ فَكَانَ مَنْ دَخَلَهَا فَنَظَرَ اِلَيْهَا قَالَ ماَ اَحْسَنَهَا اِلاَّ مَوْضِعَ هَذِهِ اللُّبْنَةِ فَاَنَا مَوْضِعُ اللُّبْنَةِ خُتِمَ بِى اْلاَنْبِيَاءُ عَلَيْهِمُ السَّلاَم. (رواه مسلم)

Dari Jabir bin ‘Abdullah bahwa ia berkata, “Rasulullah bersabda: Posisiku di antara para nabi adalah seperti seorang laki-laki yang membangun rumah, dia menyempurnakan dan menghiasinya kecuali satu tempat batu (bata yang belum dipasang). Orang yang memasuki rumah itu dan melihatnya berkata, “Alangkah bagusnya rumah ini, kecuali satu tempat batu (bata yang belum dipasang),” maka akulah batu (bata yang belum dipasang) itu, di mana  aku menjadi penutup kenabian.” (Riwayat Muslim)

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  فُضِّلْتُ عَلَى اْلاَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ اُعْطِيْتُ جَوَامِعَ الْكَلِمَ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَاُحِلَّتْ لِيَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِيَ اْلاَرْضُ طَهُوْرًا وَمَسْجِدًا وَاُرْسِلْتُ اِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً وَخُتِمَ بِيَ النَّبِيُّوْنَ. (رواه مسلم و الترمذى)

Dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, “Rasulullah bersabda, “Aku dilebihkan dari para nabi dengan enam hal: 1) Aku diberi kalimat yang singkat tapi padat (luas maknanya). 2) Aku ditolong dengan (diberi rasa) ketakutan (bagi musuh). 3) Dihalalkan bagiku rampasan perang. 4) Allah menjadikan bagiku bumi itu suci (untuk tayamum) dan menjadi masjid. 5) Aku diutus kepada seluruh makhluk, dan 6) Aku dijadikan sebagai penutup para nabi.” (Riwayat Muslim dan at-Tirmizi)

عَنْ اَنَسِ بْنِ ماَلِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ اِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدْ اِنْقَطَعَتْ فَلاَ رَسُوْلَ بَعْدِى وَلاَ نَبِيَّ. (رواه احمد)

Dari Anas bin Malik bahwa ia berkata, “Rasulullah bersabda, “Kerasulan dan kenabian telah terputus, tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahku.” (Riwayat Ahmad)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Ahzab Ayat 41-46


Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 35-36

0
tafsir surah al-ahzab
tafsir surah al-ahzab

Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 35-36 berbicara tentang karakter dari hamba yang kelak mendapatkan ampunan Allah, ada 10 kriteria yang akan dijelaskan dalam tafsir dibawah ini. Selain itu, sifat-sifat tersebut adalah perantara yang akan mengantarkan mereka menuju syurga.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 31-34


Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 35-36 juga mewanti-wanti orang beriman bahwa tidak sepatutnya jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, sementara mereka berpaling dari ketentuan yang dipilih-Nya. Ini mengindikasikan bahwa belumlah cukup kiranya 10 sifat tadi sebagai penakar keimanan mereka, akan tetapi jauh daripada itu, keimanan pada Allah dan Rasul-Nya adalah yang paling utama.

Ayat 35

Pada ayat ini Allah menjelaskan sifat-sifat hamba-Nya yang akan diampuni segala dosa dan kesalahannya serta dimasukkan ke dalam surga. Sifat-sifat mereka ada sepuluh macam:

  1. Taat dan tunduk kepada hukum Islam, baik ucapan maupun perbuatan.
  2. Membenarkan dan memercayai ajaran Allah dan rasul-Nya.
  3. Selalu melaksanakan perintah-perintah agama dengan penuh kekhusyukan dan ketenangan.
  4. Selalu benar dalam ucapan dan perbuatan, sebagai tanda keimanan yang sempurna. Dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Peganglah kebenaran, bahwa kebenaran itu membawa pada kebajikan, dan kebajikan akan membawa masuk surga, dan jauhilah dusta, sebab dusta itu membawa pada kedurhakaan dan kedurhakaan itu membawa ke neraka.”
  5. Sabar menghadapi kesulitan dan penderitaan dalam melaksanakan perintah Allah serta menahan syahwat dan hawa nafsu.
  6. Khusyuk dan tawaduk kepada Allah, baik jasmani maupun rohani, dalam melaksanakan semua tugas dan kewajiban dan keikhlasan semata-mata untuk mencari keridaan Allah.
  7. Bersedekah dengan harta dan memberi bantuan kepada mereka yang serba kekurangan dan tidak mempunyai penghasilan.
  8. Berpuasa yang dapat membantu menundukkan syahwat dan hawa nafsu, sebagaimana tercantum di dalam sabda Rasulullah saw:

يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَاِنَّهُ اَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَاَحْصَنُ لِلْفَرْجِ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

 (رواه البخاري ومسلم عن ابن مسعود)

 “Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk kawin silakan kawin, karena perkawinan itu lebih dapat menahan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan, dan barang siapa yang belum mampu, supaya berpuasa, karena berpuasa itu dapat membendung syahwatnya.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).

  1. Menjaga kemaluan dan kehormatan dari segala perbuatan yang haram dan keji, sesuai dengan firman Allah:

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ  ٥  اِلَّا عَلٰٓى اَزْوَاجِهِمْ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَۚ  ٦  فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَاۤءَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْعٰدُوْنَ ۚ  ٧

Dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (al-Mu’minun/23: 5-7).

  1. Selalu ingat kepada Allah dengan lidah dan hati, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Mujahid yang menyatakan bahwa seseorang itu belum disebut banyak mengingat Allah kecuali bila sudah dapat mengingat-Nya sambil berdiri, duduk, dan berbaring. Abu Sa’id al-Khudri telah meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah bersabda:

اِذَا اَيْقَظَ الرَّجُلُ اِمْرَاَتَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّيَا رَكْعَتَيْنِ كَانَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ مِنَ الذَّاكِرِيْنَ الله َكَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ. (رواه ابوداود والنسائى وابن ماجه)

“Apabila seorang suami membangunkan seorang istrinya di malam hari lalu mereka salat tahajud dua rakaat , maka mereka berdua pada malam tersebut termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah.” (Riwayat Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Dalam hadis yang lain dari Sahal bin Mu’az al-Juhani dari ayahnya diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw:

اَيُّ الْمُجَاهِدِيْنَ اَعْظَمُ اَجْرًا يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِكْرًا. قَالَ: أَيُّ الصَّائِمِيْنَ اَكْثَرُ اَجْرًا؟ قَالَ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِكْرًا ثُمَّ ذَكَرَ الصَّلاَةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ يَقُوْلُ رَسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَكْثَرُهُمْ ذِكْرًا. فَقَالَ اَبُوْ بَكْرٍ لِعُمَرَ رَضِيَ الله ُعَنْهُ: ذَهَبَ الذَّاكِرُوْنَ بِكُلِّ خَيْرٍ. فَقَالَ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَجَلْ. (رواه احمد)

“Pejuang-pejuang manakah yang paling besar pahalanya wahai Rasulullah?” Nabi saw menjawab, “Yang paling banyak ingatnya kepada Allah. Lalu ia bertanya lagi,” Cara orang yang berpuasa manakah yang paling besar pahalanya?” Nabi saw menjawab, “Yang paling banyak ingat kepada Allah.” Kemudian dia menyebutkan pula orang yang salat, berzakat, naik haji dan bersedekah, dan pada kesemuanya itu Nabi saw mengatakan, “Mereka yang paling banyak ingatnya kepada Allah.” Abu Bakar lalu berkata kepada Umar, “Orang yang banyak ingatnya kepada Allah telah membawa semua kebajikan.” Dan Nabi saw menambahkan, “Memang demikianlah.” (Riwayat Ahmad)


Baca Juga : Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 1-5: Pujian kepada Allah dan Fungsi Al-Quran sebagai Pedoman yang Lurus


Ayat 36

Pada ayat ini, Allah menjelaskan bahwa tidak patut bagi orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan ketentuan, mereka memilih ketentuan lain yang bertentangan dengan ketetapan keduanya.

Menentukan pilihan sendiri yang tidak sesuai dengan ketentuan dari Allah dan rasul-Nya berarti mendurhakai perintah keduanya, dan tersesat dari jalan yang benar. Hal seperti itu diancam pula oleh Allah dengan firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (an-Nur/24: 63)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Ahzab Ayat 37-39


Tafsir Surah Al Qiyamah Ayat 36-40

0
Tafsir Surah Al Qiyamah
Tafsir Surah Al Qiyamah

Tafsir Surah Al Qiyamah Ayat 36-40 menegaskan kembali kebenaran hari kebangkitan kelak. Sebagai penutup surah, Tafsir Surah Al Qiyamah Ayat 36-40 juga mengingatkan kembali proses penciptaan manusia.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al Qiyamah Ayat 30-35


Ayat 36

Ayat ini mengemukakan dalil tentang kebenaran hari kebangkitan dengan menggunakan kalimat pertanyaan, yaitu apakah manusia dijadikan percuma begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? Apakah manusia diciptakan kemudian dibiarkan hidup seenaknya, tanpa ada perintah dan larangan dari Allah yang harus ditaatinya? Apakah setelah ia mati, Allah tidak meminta pertanggungjawaban hidupnya, di alam kubur dan di Padang Mahsyar kelak?

Allah berfirman:

اِنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى   ١٥

Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan. (Thaha/20: 15)

 

Firman Allah lainnya:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۗذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِۗ  ٢٧

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Shad/38: 27)

Dalil yang terdapat di balik pengertian ayat ini adalah meyakinkan kepada manusia yang ragu tentang adanya hari kebangkitan, dan menolak atau membantah dengan keras orang yang mengingkarinya, baik karena kecerobohan, sikap keras kepala, atau hanya karena ingin mempermainkan ayat-ayat suci.

Ayat 37-39

Dalam ayat-ayat ini, Allah mengingatkan kembali tentang asal mula penciptaan manusia, yaitu ia diciptakan dari setetes air mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakan, dan menyempurnakannya. Allah juga menjadikan dari padanya sepasang laki-laki dan perempuan.

Ayat ini mengingatkan manusia yang ingkar bagaimana air mani itu diciptakan Allah menjadi daging yang dengannya manusia diciptakan dengan sempurna melalui proses kehamilan. Adalah hal yang mudah juga bagi Allah menghidupkan manusia, kemudian mematikan dan menghidupkannya kembali.

Sperma laki-laki dan sel telur perempuan bercampur menjadi satu sehingga tercipta manusia yang sempurna, lengkap dengan penglihatan dan pendengaran, baik dari jenis laki-laki maupun perempuan. Maka apakah manusia tidak pernah memikirkan bahwa sang Pencipta dari segala proses kejadian itu mampu pula menghancurkan dunia ini kemudian menciptakan hari Kiamat serta manusia yang telah mati dibangkitkan hidup kembali?

Ini suatu penegasan bagi manusia yang mau berpikir andaikata masih ragu-ragu tentang kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali manusia yang telah mati.

Ayat 40

Ayat ini merupakan jawaban dari semua itu, bahwa bukankah Allah yang berbuat demikian, berkuasa pula menghidupkan orang yang telah mati? Maksud pernyataan ini adalah apakah Zat yang menciptakan makhluk yang sempurna dari setetes air mani itu tidak sanggup mengembalikan orang yang sudah meninggal? Justru yang demikian itu lebih mudah bagi-Nya. Begitulah Allah menegaskan dalam firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِيْ يَبْدَؤُا الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيْدُهٗ وَهُوَ اَهْوَنُ عَلَيْهِۗ وَلَهُ الْمَثَلُ الْاَعْلٰى فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ   ٢٧ 

Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. Dia memiliki sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. (ar-Rum/30: 27)

Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa bila selesai membaca surah ini, Rasulullah saw berdoa:

إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَرَأَ (أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَ) قَالَ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبَلَى. (رواه ابن مردويه عن أبي هريرة)

Sesungguhnya Rasulullah saw selepas membaca Surah al-Qiyamah, memanjatkan doa, “Subhanaka Allahumma wa bala” (Maha Suci Engkau ya Allah dan Engkaulah yang Mahakuasa). (Riwayat Ibnu Mardawaih dari Abu Hurairah)

Demikian pula bila selesai membaca Surah at-Tin, beliau berdoa:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ قَرَأَ مِنْكُمْ (وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِ) فَانْتَهَى إِلَى آخِرِهَا (أَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِيْنَ) فَلْيَقُلْ : (بَلَى وَاَنَا عَلَى ذَ لِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ). وَمَنْ قَرَأَ (لاَ أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ) فَانتَهَى إِلَى (أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَ) فَلْيَقُل: (بَلَى). وَمَنْ قَرَأَ (وَالْمُرْسَلاَتِ) فَبَلَغَ (فَبِأَيِّ حَدِيْثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُوْنَ) فَلْيَقُلْ: (آمَنَّا بِاللهِ). (رواه أحمد وأبو داود والترمذي وابن المنذر وابن مردويه والبيهقي والحاكم وصححه عن أبي هريرة)

Rasulullah bersabda: Siapa saja yang membaca Surah at-Tin sampai selesai, hendaklah ia berdoa, “Bala wa’ana ‘ala dzalikum minasy-syahidin” (Ya , saya bersaksi atas hal tersebut). Dan siapa yang membaca Surah al-Qiyamah sampai akhir, hendaklah ia berdoa, “Bala” (ya, Engkaulah yang Mahakuasa). Dan siapa yang membaca Surah al-Mursalat hingga akhir, hendaklah ia berdoa, “Āmanna billahi” (kami beriman kepada Allah). (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, ibnu al-Mundzir, Ibnu Mardawaih, al-Baihaqi, dan disahihkan oleh al-Hakim dari Abu Hurairah)

Doa-doa di atas dibaca Rasulullah setelah membaca ayat-ayat seperti ini ketika di luar salat. Sedangkan ketika dalam salat, beliau tidak melakukannya dan tidak terdapat keterangan atau dalil tentang hal itu.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al Insan Ayat 1


 

Tafsir Surah Al Qiyamah Ayat 30-35

0
Tafsir Surah Al Qiyamah
Tafsir Surah Al Qiyamah

Tafsir Surah Al Qiyamah Ayat 30-35, Allah mengingatkan orang kafir bahwa mereka akan celaka karena tidak mempercayai Rasulullah dan mengimani Allah, bahkan dengan sombong dan angkuh mereka justru menceritakan ke sanak saudaranya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al Qiyamah Ayat 25-29


Ayat 30

Ayat ini menegaskan bahwa pada hari itu manusia dihalau kepada Tuhannya, yakni dikembalikan apakah dia akan ditempatkan di neraka atau di dalam surga.

Menurut Ibnu ‘Abbas, ayat ini merupakan pemberitaan tentang orang kafir yang tidak diterima di sisi Allah, roh yang dahulu tidak pernah mau beriman dan hanya berbuat menurut apa yang disukainya. Pengertian ayat ini dikaitkan dengan ayat lain:

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهٖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً ۗحَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُوْنَ   ٦١  ثُمَّ رُدُّوْٓا اِلَى اللّٰهِ مَوْلٰىهُمُ الْحَقِّۗ  اَلَا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ اَسْرَعُ الْحَاسِبِيْنَ   ٦٢

Dan Dialah Penguasa mutlak atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya. Kemudian mereka (hamba-hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) ada pada-Nya. Dan Dialah pembuat perhitungan yang paling cepat. (al-An‘am/6: 61-62)

Ayat 31-32

Ayat-ayat ini menerangkan bahwa orang kafir itu tidak mau membenarkan rasul, dan berpaling dari kebenaran serta tidak mau mengerjakan salat. Ia selalu mendustakan Rasulullah dan Al-Qur’an, dan tidak mau mengesakan Allah. Ia tetap menyekutukan-Nya dan meyakini bahwa Tuhan itu berbilang. Ia juga tidak mau mengerjakan kewajiban-kewajiban yang dibebankan kepadanya, dan selalu menentang dan berpaling dari perintah Tuhan, serta terpengaruh oleh kesenangan duniawi.

Ayat 33

Ayat ini selanjutnya menjelaskan bahwa orang kafir itu tidak hanya menantang dan tidak mau patuh kepada Allah, bahkan dia mendatangi keluarga dan sanak familinya untuk menceritakan segala sikapnya itu dengan sombong dan angkuh.

Orang-orang yang mengingkari Allah selalu bersikap mendustakan kebenaran Ilahi dengan hatinya, serta berbuat dan bertindak sehari-hari dengan sikap itu. Lebih dari itu, dia merasa bangga dan sombong terhadap apa yang dikerjakannya. Tidak sedikit pun kebaikan menurut pandangan Allah yang melekat pada diri orang itu, lahiriah maupun batiniah.

Ayat 34

Tafsir Surah Al Qiyamah Ayat 30-35, khususnya ayat ini menegaskan bahwa dengan nada mengancam, Allah  mengingatkan orang kafir akan kedatangan kecelakaan baginya. Ucapan ini berarti suatu ancaman dan peringatan keras. Merekalah yang paling patut dan pantas menerima siksaan. Orang Arab mengucapkan kalimat itu kepada seseorang yang mengerjakan perbuatan tercela.

Ayat 35

Ancaman ini diulang sekali lagi untuk memperkuatnya, “Kecelakaanlah bagi orang kafir dan kecelakaan baginya.” Diriwayatkan oleh ahli-ahli tafsir dari Qatadah bahwa pada suatu hari Rasulullah saw memegang erat-erat lengan Abu Jahal sambil menghardik musuh Allah itu, “Celaka engkau hai Abu Jahal, celaka engkau!” Abu Jahal menjawab dengan sombong, “Muhammad, engkau mengancamku? Demi Allah, tak sanggup engkau berbuat sesuatu terhadapku, bahkan Tuhan yang engkau sembah juga tidak! Demi Allah, saya ini lebih perkasa dari segala orang yang berjalan antara bukit ini, dari segala penduduk Mekah.” Tetapi di hari pertempuran Badar, Allah membinasakan Abu Jahal dengan kematian yang buruk sekali. Ketika berita tewasnya Abu Jahal disampaikan kepada Rasulullah, beliau bersabda, “Sesungguhnya setiap umat itu ada Fir‘aunnya (ada orang yang paling sombong), maka Fir‘aun dari umat ini adalah Abu Jahal.”

Sa‘id bin Jubair bertanya kepada Ibnu ‘Abbas tentang perkataan “aula laka fa aula” ini, apakah sesuatu yang diucapkan Nabi ini berasal dari dirinya atau memang Allah yang menyuruhnya? Ibnu ‘Abbas menjawab, “Benar beliau yang mengucapkannya, kemudian Allah menurunkan wahyu sama dengan ucapan beliau itu.” Kutukan Allah ini berlaku bagi orang yang berwatak seperti Abu Jahal yang akan muncul pada setiap masa.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al Qiyamah Ayat 36-40


 

Nabi Muhammad Saw Gemar Berkurban Setiap Tahun

0
Berkurban Setiap Tahun
Berkurban Setiap Tahun

Ibadah kurban merupakan salah satu amaliah yang utama dalam ajaran Islam di samping ibadah-ibadah wajib. Karena itulah, nabi Muhammad saw gemar berkurban sebagai bentuk rasa syukur beliau kepada Allah swt. Bahkan disebutkan dalam banyak riwayat bahwa beliau senantiasa berkurban setiap tahun meskipun dalam keadaan sulit dan hanya dilakukan secara sederhana.

Kegemaran nabi Muhammad saw berkurban bukan tanpa alasan, sebab Allah swt telah memerintah beliau secara langsung dalam surah al-Kautsar untuk melakukan ibadah kurban sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang begitu banyak dari-Nya. Firman Allah Swt:

اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ ١ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢ اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ ٣

Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan surah al-Kausar diturunkan. Kelompok pertama berpandangan bahwa kata abtar yang berarti terputus menunjukkan surah ini diturunkan di Mekah, karena istilah itu banyak merujuk pada makna terputusnya keturunan, yakni saat nabi Muhammad diolok-olok oleh kaum Quraisy pasca kewafatan anak beliau Ibrahim.

Baca Juga: Menjelang Idul Adha, Inilah 6 Perbedaan Kurban dan Akikah

Kelompok kedua menyatakan bahwa surah al-Kausar diturunkan di Madinah atau madaniyah. Sebab, salah satu hadis yang berbicara mengenai asbabun nuzul surah al-Kausar diriwayatkan oleh Anas bin Malik yang dopercaya baru memeluk Islam pada awal hijrah. Oleh karena itu, ada kemungkinan surah ini turun di Madinah, bukan di Mekah (Tafsir al-Qur’an al-Azhim).

Terlepas dari perdebatan diturunkan, surah al-Kausar berisi tentang anugerah Allah swt yang banyak kepada nabi Muhammad saw dan nikmat tersebut mesti disyukuri oleh beliau dalam kehidupan sehari-harinya seperti melakukan shalat dan berkurban. Menurut al-Biqa’i, al-kautsar atau al-nahr yakni penyembelihan unta merupakan simbol kemurahan dan anugerah di kalangan masyarakat Arab kala itu (Nazm ad-Durar fi Tanasub al-Ayat wa as-Suwar).

Quraish Shihab menyebutkan, surah al-Kausar ayat 1-2 bermakna sesungguhnya Allah swt telah memberikan banyak anugerah kepada nabi Muhammad saw, maka wajar saja jika Allah kemudian memerintahkan beliau, “Maka shalatlah demi Tuhan pemelihara-mu dan sembelihlah binatang untuk kamu sedekahkan kepada orang yang membutuhkan.

Quraish Shihab juga menyatakan bahwa surah al-Kausar memilik kaitan dengan surah al-Ma’un. Menurutnya, surah al-Kausar berisi dua bentuk manifestasi iman, yakni ibadah ritual (shalat) dan sosial (kurban). Dalam konteks ini seakan-akan Allah swt berfirman, “shalat dan berkurbanlah, jangan engkau menjadi orang yang mengabaikan sosial seperti para penghardik anak yatim (Tafsir al-Misbah [15]: 563).

Perintah Allah swt kepada nabi Muhammad saw dalam surah al-Kausar ini kemudian beliau praktikkan secara sempurna. Bahkan disebutkan bahwa nabi Muhammad saw gemar berkurban setiap tahun walaupun dalam keadaan sulit. Beliau senantiasa berkurban sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah swt, baik untuk dirinya maupun umatnya yang belum bisa berkurban.

Ibadah kurban yang dilakukan Nabi Muhammad saw pun tidak tanggung-tanggung. Misalnya, pada saat Haji Wada’ tahun 10 H atau 632 M beliau mengurbankan 100 ekor unta pada Idul Adha kala itu. Hal ini menunjukkan bahwa nabi Muhammad saw gemar berkurban dan sangat antusias melaksanakannya dalam rangka mensyukuri nikmat Allah swt.

Riwayat ini dapat disimak pada hadis dari Jabir ra yang berbunyi, “Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika berhaji, membawa 100 ekor unta untuk al-hadyu (kurban bagi orang yang haji). Beliau menyembelih 63 ekor unta, dan mewakilkan ke Ali untuk menyembelih sisanya” (Sahih Ibnu Hibban [9]: 327). Sementara di riwayat yang lain menyebut nabi memotong 30 ekor dan Ali sisanya.

Nabi Muhammad juga pernah berkurban bagi umatnya. Jabir dan Abdillah berkata, “Saya menghadiri salat Idul-Adha bersama Nabi. Setelah beliau berkhotbah, beliau turun dari mimbarnya dan didatangkan kepadanya seekor kambing. Kemudian beliau menyembelihnya dengan tangannya, sambil mengatakan: Dengan nama Allah. Allah Maha Besar. Kambing ini dariku dan dari orang-orang yang belum menyembelih di kalangan umatku.” (HR. Ahmad).

Baca Juga: Surah Al-Hajj [22] Ayat 34: Berkurban Adalah Syariat Agama Samawi

Yang perlu diperhatikan berkenaan ibadah kurban yang dilakukan nabi – selain dari aspek intensitas dan kualitasnya – adalah tujuan berkurban itu sendiri. Nabi Muhammad saw gemar berkurban setiap tahun semat-mata sebagai bentuk ketakwaan dan rasa syukur kepada Allah swt, bukan demi mencari simpati atau pujian dari manusia. Karena pada hakikatnya yang diinginkan dari ibadah kurban adalah ketakwaan, bukan ketenaran.

Terakhir, kisah nabi Muhammad saw gemar berkurban setiap tahun sebagaimana dijelaskan di atas sebaiknya dijadikan contoh oleh umatnya untuk melakukan hal serupa atau lebih dari itu. Beliau telah mengajarkan kepada manusia – khususnya umatnya – bahwa ketakwaan yang sesungguhnya adalah gabungan dari keimanan kepada Allah swt dan perbuatan baik kepada sesama manusia atau makhluk. Wallahu a’lam.