Beranda blog Halaman 309

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 33-35

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 33-35 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai kebodohan orang musyrik yang menyembah berhala. Kedua mengenai keadaan malang yang dialami orang-orang musyrik tersebut. Ketiga berbicara tentang kenikmatan surga.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 31-32


Ayat 33

Dalam ayat ini, Allah swt mencela kebodohan orang-orang kafir dan musyrik yang menyembah selain Allah, yaitu benda-benda yang mereka anggap sebagai Tuhan mereka, yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudarat, tidak mengetahui apa-apa yang dikerjakan manusia, dan tidak pula dapat mengawasi serta memberikan pahala ataupun siksa kepada manusia berdasarkan amal dan perbuatannya.

Allah mengatakan, “Apakah Allah yang mengawasi perbuatan mereka sama dengan apa-apa yang dipertuhankan mereka yang tidak mempunyai sifat-sifat seperti itu?”

Karena kaum musyrikin menjadikan beberapa sekutu bagi Allah swt, maka Allah memerintahkan rasul-Nya untuk mengatakan kepada mereka, “Sebutkanlah sifat-sifat yang dimiliki oleh apa yang kamu anggap sebagai tandingan atau sekutu Allah!” Semuanya sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat kesempurnaan seperti yang dimiliki Allah swt. Oleh sebab itu, tidaklah pantas untuk menjadi sekutu-Nya.

Ucapan dan tuntutan mereka kepada Nabi Muhammad seperti tersebut di atas juga memberikan kesan adanya anggapan mereka bahwa Allah seakan-akan tidak mengetahui apa yang terjadi di bumi ini.

Oleh sebab itu, dalam ayat ini Allah swt mempertanyakan kepada mereka, apakah mereka mengucapkan kata-kata tersebut dengan maksud untuk memberitahukan kepada Allah swt tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di bumi yang mereka anggap tidak diketahui Allah? Padahal Allah mengetahui apa saja yang terjadi di alam ini.

Karena kaum musyrikin itu mempersekutukan Allah dengan yang lain, maka dalam ayat ini Allah swt memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menanyakan kepada mereka, apakah mereka menyebut-nyebut “sekutu-sekutu” Allah hanya sekedar ucapan lahiriyah saja, dan tidak mempunyai hakikat kebenaran sama sekali?

Kalau demikian halnya, maka ucapan mereka adalah omong kosong yang tidak mempunyai hakikat kebenaran sama sekali. Padahal Allah sama sekali tidak mempunyai sekutu. Dia Mahatinggi dan Maha Sempurna.

Pada akhir ayat ini, Allah swt membuka tabir rahasia dari kesesatan orang-orang kafir dan musyrik, yaitu mereka telah terpukau oleh berbagai godaan setan yang menggambarkan kepada mereka bahwa tipu daya yang mereka lakukan itu adalah suatu kebaikan dan perbuatan yang terpuji.

Oleh karena mereka telah menuruti rayuan setan tersebut, maka mereka telah dihalangi dan diselewengkan dari jalan Allah. Siapa yang telah menyimpang dari jalan Allah, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada orang-orang itu karena mereka telah menuruti kemauan setan.


Baca juga: Membaca Ayat-Ayat Antropomorfisme: Tafsir Tajsim Muqatil Ibn Sulaiman


Ayat 34

Ayat ini menjelaskan betapa malangnya nasib orang-orang yang sesat itu, dan bagaimana besarnya kerugian yang mereka derita, yaitu: kesengsaraan hidup di dunia ini, sedangkan di akhirat akan diazab lebih berat lagi. Mereka tidak mendapatkan seorang pelindung pun dari azab Allah.

Ayat 35

Salah satu kebiasaan Al-Qur’an adalah setelah menyebutkan hal-hal yang berkenaan dengan neraka, biasanya diiringi dengan menyebutkan hal-hal yang berkenaan dengan surga yang penuh dengan kenikmatan yang akan diperoleh orang-orang yang beriman, bertakwa, dan beramal saleh.

Dalam ayat ini, surga yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang bertakwa diumpamakan sebuah kebun yang indah dan subur karena dialiri sungai-sungai. Pohon-pohonnya dilukiskan berbuah tidak henti-hentinya dan memberikan naungan kepada orang yang berteduh di bawahnya. Surga tersebut merupakan tempat tinggal terakhir dan selamanya bagi orang-orang yang bertakwa.

Sebaliknya, neraka merupakan tempat kediaman yang penuh kesengsara-an bagi orang-orang kafir.

Dengan digambarkannya perbandingan antara kedua tempat tersebut, maka manusia yang hidup di dunia ini dipersilakan untuk memilih jalan ke surga dengan beriman, beramal, dan bertakwa, atau jalan ke neraka dengan kekafiran, kemusyrikan, dan perbuatan-perbuatan jahat.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 36-37


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 31-32

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 31-32 berbicara mengenai dua hal yang saling berkaitan. Pertama berbicara mengenai permintaan-permintaan nyeleneh dari orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad SAW. Kedua berbicara mengenai motivasi Allah kepada Nabi SAW.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 27-30


Ayat 31

Pada ayat ini, Allah menjelaskan kebesaran Al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw. Namun sebelumnya, ayat ini menjelaskan bahwa walaupun ada satu bacaan atau Kitab Suci yang dapat menyebabkan gunung-gunung dapat berjalan, bumi dapat terbelah, atau orang-orang yang telah mati dapat hidup kembali dan berbicara, tetap akan ada orang-orang yang tidak beriman.

Maksud pernyataan di atas adalah bahwa Allah telah memberikan mukjizat kepada Nabi Musa, seperti gunung Tur dapat berjalan, dan batu dapat mengeluarkan mata air setelah dipukul dengan tongkatnya. Allah swt juga telah memberikan mukjizat kepada Nabi Isa, sehingga ia dapat menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati.

Kepada Nabi Muhammad, Allah telah memberikan mukjizat terbesar yaitu Al-Qur’an, mukjizat yang bersifat abadi dan tetap dapat dilihat sampai sekarang. Al-Qur’an mengandung bukti-bukti yang menunjukkan kebesaran kekuasaan Allah dan keindahan ciptaan-Nya.

Selain itu, Al-Qur’an membawa hikmah-hikmah, hukum-hukum, dan peraturan-peraturan yang diperlukan manusia untuk mengatur kehidupan dalam berbagai bidang baik ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya, yang menjamin kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat jika mereka mau memahami dan mengamalkannya. Dengan demikian, mereka akan tampil menjadi bangsa dan umat yang terbaik di bumi ini.

Menurut at-Tabrant dari Ibnu Abbas bahwa ada sekelompok kaum musyrikin Mekah, antara lain Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah, mengadakan pertemuan di belakang Ka’bah, dan mengutus seseorang untuk memanggil Rasulullah saw.

Beliau lalu datang ke tempat mereka, dan Abdullah bin Abi Umayyah mengatakan kepadanya bahwa mereka akan bersedia menjadi pengikutnya apabila beliau dapat membuktikan ke-mukjizatan Al-Qur’an untuk memindahkan gunung-gunung yang berada di sekitar Mekah, sehingga tempat tersebut menjadi lapang dan bisa dijadikan sebagai lahan pertanian.

Jika hal tersebut dapat dilakukan Rasulullah, barulah mereka percaya bahwa ia benar-benar nabi dan rasul.

Mereka juga meminta kepada Rasulullah agar dapat menguasai angin dan menjadikannya sebagai kendaraan pulang pergi dari Mekah ke negeri Syam. Menurut mereka, ini akan membuktikan bahwa Muhammad betul-betul nabi dan rasul Allah seperti Nabi Sulaiman yang mampu menggunakan angin sebagai kendaraan.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 28-30: Kecaman terhadap Kaum Musyrikin Mekah


Selain itu, mereka juga meminta agar Muhammad saw menghidupkan kembali nenek moyangnya yang telah lama meninggal dunia, seperti Qusai bin Kilab atau siapa saja yang mereka inginkan di antara nenek moyang mereka yang sudah mati.

Mereka akan menanyakan kepada orang yang dihidupkan itu apakah dakwah yang disampaikan Muhammad saw benar atau tidak. Menurut mereka, hal ini adalah untuk membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw benar-benar nabi dan rasul Allah sebagaimana halnya Nabi Isa as yang dengan mukjizatnya dapat menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati.

Allah swt lalu menurunkan ayat di atas untuk menegaskan bahwa seandainya Allah mengabulkan apa-apa yang mereka minta itu menjadi bagian dari kemukjizatan Al-Qur’an, pasti hal itu dapat terjadi, karena semuanya berada di bawah kekuasaan-Nya.

Akan tetapi, seandainya hal tersebut benar-benar dikabulkan, mereka tetap tidak akan beriman kepada Allah, Nabi Muhammad, dan Al-Qur’an yang merupakan mukjizatnya.

Nabi Muhammad sangat ingin agar mereka itu beriman, namun mereka itu tidak juga beriman, bahkan mengajukan permintaan yang beraneka ragam. Oleh karena itu dalam ayat ini, Allah swt memberikan hiburan kepadanya dengan menegaskan bahwa ia dan orang-orang mukmin harus betul-betul memahami bahwa jika Allah menghendaki semua manusia beriman, pastilah Allah memberi petunjuk kepada mereka semuanya.

Selain itu, orang-orang mukmin harus meyakini pula bahwa orang-orang kafir itu senantiasa akan ditimpa bencana dan kemurkaan Allah karena kekafiran dan perbuatan buruk mereka. Bencana itu bisa terjadi di dekat tempat kediaman mereka, sehingga akhirnya datanglah apa yang dijanjikan Allah, yaitu kehancuran mereka sendiri.

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa janji Allah untuk menolong kaum Muslimin dan membinasakan orang-orang kafir pasti akan terjadi, karena Allah tidak akan menyalahi janji-Nya.

Ayat 32

Ayat ini berisi hiburan kepada Rasulullah dan umat Islam agar mereka tidak berkecil hati terhadap sikap dan keingkaran orang-orang kafir dan musyrikin Mekah.

Di sini, Allah swt menerangkan bahwa bukan hanya Nabi Muhammad yang pernah diperolok-olok oleh kaum kafir dan musyrik, rasul-rasul yang telah diutus Allah kepada mereka sebelumnya pun mengalami keadaan yang demikian.

Hanya saja, Allah memberi tenggang waktu dan menangguhkan datangnya azab dan malapetaka kepada orang-orang kafir tersebut. Pada akhirnya, Allah pasti membinasakan mereka dengan azab yang sangat dahsyat.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 33-35


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 27-30

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 27-30 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai tantangan orang musyrik kepada Nabi Muhammad SAW. Kedua berbicara mengenai orang saleh yang mendapatkan nikmat iman dan Islam. Ketiga mengenai diutusnya Nabi Muhammad SAW.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 26


Ayat 27

Setelah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik terpukau oleh fatamorgana kehidupan duniawi dan gembira dengan kenikmatan yang kecil, lalu Allah menyebutkan akibat yang timbul dari sikap dan pandangan mereka yang keliru dengan mengajukan usul kepada Nabi Muhammad, agar kepada beliau diturunkan satu ayat dari Tuhan yang akan membuktikan kenabian dan kerasulannya.

Di antara mereka adalah Abu Sufyan bin Harb (sebelum masuk Islam), Abdullah bin Abi Umayyah, dan kawan-kawannya.

Mereka pernah mengatakan, “Mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad bukti-bukti sebagaimana yang telah diturunkan kepada para nabi dan rasul terdahulu, seperti jatuhnya langit berkeping-keping kepada mereka, mengubah Bukit Safa menjadi emas, atau menggeser gunung-gunung dari sekitar kota Mekah, sehingga tempat-tempat yang lowong itu dapat dijadikan kebun.”

Ucapan mereka yang lain disebut dalam Al-Qur’an, antara lain yang terdapat dalam ayat berikut :

فَلْيَأْتِنَا بِاٰيَةٍ كَمَآ اُرْسِلَ الْاَوَّلُوْنَ

Cobalah dia datangkan kepada kita suatu mukjizat sebagaimana rasul-rasul yang telah diutus. (al-Anbiya/21: 5)

Dengan ucapan-ucapan mereka yang semacam itu, seolah-olah semua tanda dan bukti nyata yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw seperti Al-Qur’an dan lain-lain, bukan bukti nyata kerasulannya yang mampu mendorong mereka untuk taat dan iman kepada Allah, atau sebagai suatu kebenaran yang tak dapat diragukan lagi.

Selanjutnya, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk menjelaskan kepada orang-orang musyrik tersebut bahwa turunnya bukti-bukti tersebut, tidak berperan menjadikan seseorang mendapat petunjuk atau menjadi sesat. Seluruhnya berada dalam kekuasaan Allah semata.

Hanya Allah swt yang kuasa menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya, dan menuntun orang yang suka bertobat ke jalan yang diridai-Nya.

Walaupun Nabi Muhammad memiliki mukjizat yang membuktikan kerasulannya, namun hal itu tidak akan bermanfaat untuk menjadikan seseorang beriman. Yang harus ditempuh seseorang untuk beriman hanyalah bersikap rendah hati, taat, dan memohon hidayah kepada Allah swt, untuk memperoleh keberuntungan di dunia dan di akhirat, serta terhindar dari tipu daya dan godaan setan.

Bagi orang yang beriman, Al-Qur’an adalah mukjizat yang membuktikan kerasulan Nabi Muhammad saw, sehingga tidak diperlukan bukti-bukti lain. Sebaliknya, orang-orang musyrik tenggelam dalam kesesatan dan keingkaran, sehingga bukti-bukti atau mukjizat apapun yang diperlihatkan oleh Rasulullah tidak akan menjadikan mereka orang-orang yang beriman.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 6-7: Tunjukkanlah Kami ke Jalan Orang Yang Diberi Nikmat, Begini Penjelasannya


Ayat 28

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan orang-orang yang mendapat tuntunan-Nya, yaitu orang-orang beriman dan hatinya menjadi tenteram karena selalu mengingat Allah.

Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram dan jiwa menjadi tenang, tidak merasa gelisah, takut, ataupun khawatir. Mereka melakukan hal-hal yang baik, dan merasa bahagia dengan kebajikan yang dilakukannya.

Ayat 29

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa orang yang beriman dan melakukan amal saleh, niscaya akan memperoleh kebahagiaan dan tempat kembali yang baik di sisi Allah pada hari kemudian

Ayat 30

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah mengutus Nabi Muhammad kepada umat yang belum pernah menerima kedatangan rasul Allah. Walaupun sebelumnya telah ada umat-umat lainnya yang pernah didatangi oleh para rasul-Nya, tetapi mereka tetap mengingkari adanya Tuhan yang Maha Rahmat

Allah swt menjelaskan bahwa tugas Nabi Muhammad adalah untuk membacakan kepada umatnya Al-Qur’an yang telah diwahyukan kepada beliau. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar ia mengatakan kepada umatnya, bahwa Allah adalah Tuhan semesta alam, tidak ada Tuhan selain Allah, dan hanya kepada-Nya ia bertawakal dan bertobat. Oleh karena itu, hendaklah umatnya beriman kepada-Nya.

Nabi Muhammad juga diperintahkan untuk menyampaikan kepada umatnya bahwa ia bertawakal dan bertobat kepada Allah swt, walaupun ia adalah seorang nabi dan rasul Allah yang tidak pernah berbuat dosa. Jika seorang rasul masih berbuat demikian, apalagi orang-orang yang berdosa, tentu mereka lebih layak untuk bertawakal dan bertobat kepada Allah dari segala dosa yang telah mereka lakukan.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 31-32


(Tafsir Kemenag)

Naskah-Naskah Mushaf Makna Antarbaris di Nusantara

0
Naskah-Naskah Mushaf Makna Antarbaris di Nusantara
Mushaf koleksi Museum Cagar Budaya Candi Cangkuang Kabupaten Garut

Penulis tentunya telah tergesa-gesa ketika dalam tulisan berjudul Perbedaan Fungsi Mushaf dan Tafsir dalam Internal Umat Islam dahulu menyebutkan “Umat Islam tidak pernah melakukan pengkajian makna Al-Qur’an secara langsung dari mushaf, melainkan ber-wasilah dengan kitab-kitab tafsir karangan para ulama.”

Namun demikian, penulis juga tidak sepenuhnya keliru dengan kesimpulan yang ada. Mengingat bahwa kebanyakan umat Muslim memang tidak menggunakan mushaf Al-Qur’an sebagai media kajian makna, melainkan cukup sebagai media bacaan. Sehingga redaksi yang barangkali lebih tepat digunakan adalah, “Kebanyakan umat Islam tidak melakukan pengkajian makna Al-Qur’an secara langsung dari mushaf.

Karena praktik tersebut bersifat jumhuriyyah atau mayoritas, tentu saja meniscayakan pengecualian-pengecualian tertentu, meski bersifat minor. Sebuah kaidah menyebutkan, kull syai’ lahu mustatsnayat, segala sesuatu pasti ada pengecualiannya. Jika demikian, maka dalam tulisan kali ini penulis akan ulas beberapa temuan berkaitan dengan penggunaan mushaf sebagai media pengkajian makna. 

Baca juga: Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia dalam Diskursus Rasm Mushaf Indonesia

Mushaf Makna Antarbaris

Berdasarkan penelusuran terhadap naskah-naskah mushaf kuno di Indonesia, penulis mendapati beberapa mushaf yang ditemukan di dalamnya pemaknaan ayat di antara baris-barisnya (interlinear translation). Tepatnya, penulis dapati dalam Mushaf Kuno Nusantara edisi Pulau Jawa terbitan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama tahun 2019.

Beberapa mushaf tersebut adalah dua mushaf koleksi Perpusnas berkode A.51a-e dan A.54a-e; dua mushaf koleksi Museum Geusan Ulun Sumedang, Jawa Barat; dan satu mushaf koleksi Museum Cagar Budaya Candi Cangkuang Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Secara umum, ada setidaknya dua model besar pemaknaan mushaf Al-Qur’an yang penulis temukan. Pertama, pemaknaan model terjemahan sebagaimana lazim dijumpai pada mushaf terjemahan modern masa kini. Dan kedua, pemaknaan literal, yakni kata per kata, dengan model gandhul. Yang kesemuanya ditampilkan dalam gaya interlinear translation atau makna antarbaris.

Dari lima mushaf yang penulis temukan, dua mushaf koleksi Perpusnas masuk dalam kategori pertama, di mana makna antar barisnya berupa terjemahan. Sementara sisanya masuk dalam kategori kedua dengan makna gandhul.

Keberadaan mushaf-mushaf bermakna ini cukup memberikan banyak informasi yang menarik terkait dengan penggunaan makna antar baris. Di antaranya dalam hal kategori terjemahan. Bahasa yang digunakan cukup bervariatif, seperti bahasa Melayu sebagaimana dalam mushaf A.51a-e dan bahasa Jawa sebagaimana dalam mushaf A.54a-e.

Apabila mengamati cara penyajiannya, terutama dalam makna berbahasa Jawa, agaknya makna-makna tersebut ditulis di waktu yang bersamaan dengan teks ayat Al-Qur’an-nya. Artinya, mushaf ini memang sedari awal difungsikan sebagai Al-Qur’an terjemahan seperti kebanyakan mushaf modern saat ini. Hal ini dapat dilihat dari jarak antar teks ayatnya yang telah disesuaikan dengan makna yang ada.

Baca juga: Mushaf Al-Quran Pojok Menara Kudus sebagai Simbol Lokalitas

Mushaf Makna ala Pesantren

Hal menarik lain yang dapat dijumpai adalah penggunaan kertas daluang dalam dua mushaf yang menggunakan makna gandhul. Ini kemungkinan mengindikasikan bahwa pemilik mushaf berasal dari kalangan pesantren, mengingat distribusi kertas daluang lazim terjadi di kalangan pesantren, bukan pada lingkungan keraton. Hal ini menjadi sangat menarik karena dalam tradisi pesantren, pengkajian Al-Qur’an umumnya dilakukan menggunakan kitab tafsir, bukan melalui mushaf secara langsung.

Dua mushaf makna gandhul ini adalah mushaf koleksi Museum Geusan Ulun dengan kode MPGUS/-, tanpa nomor inventarisasi (Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara, jilid 5A, Jawa Barat) dan mushaf koleksi Museum Cagar Budaya Candi Cangkuang.

Selain menunjukkan pengguna mushaf yang berasal dari lingkungan pesantren, keberadaan makna gandhul ini juga dapat digunakan sebagai media mengetahui usia naskah, atau paling tidak waktu di saat teks tersebut dituliskan. Terlebih jika melihat kertas yang digunakan adalah daluang, yang tidak dimungkinkan melakukan identifikasi usia melalui fisiknya kecuali menggunakan uji radiokarbon.

Metode ini, menggunakan makna gandhul untuk mengetahui usia naskah atau teks naskah, sebagaimana penulis ketahui dari keterangan Nur Ahmad, penulis buku Filologi Naskah-Naskah Islam Nusantara. Mas Nur, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa ada pergeseran tertentu dalam penggunaan bahasa Jawa pegon. Hal ini memungkinkan peneliti untuk mengetahui usia naskah melihat dari bahasa yang digunakan. Mas Nur juga menambahkan, fenomena serupa akan jadi lebih menarik jika pemaknaannya menggunakan aksara Jawa atau hanacaraka.

‘Ala kulli hal, penggunaan mushaf Al-Qur’an sebagai media pengkajian makna secara langsung memang sebuah anomali dalam tradisi Al-Qur’an di Indonesia. Anomali ini, sebagaimana disebutkan Zahra Kazani, menyimpan aspek-aspek tertentu berkaitan dengan konteks sosial dan kultural peredaran naskah-naskah kuno. Di sisi lain, anomali ini juga menunjukkan keunikan dan kekhasan tersendiri manakala dilihat dari konteks modern hari ini. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

Baca juga: Ilmu Rasm dalam Filologi Mushaf Al-Quran Kuno dan Upaya Kritik Teks

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 26

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 26 berbicara mengenai rizki yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada hambanya. Ada sebagian hambanya yang diberi lebih banyak dari pada yang lain. Hal itu terjadi tergantung bagaimana usaha seseorang tersebut.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 25


Ayat 26

Allah melapangkan dan memudahkan rezeki bagi sebagian hamba yang dikehendaki-Nya, sehingga mereka memperoleh rezeki yang lebih dari keperluan sehari-hari. Mereka adalah orang-orang yang rajin dan terampil dalam mencari harta, dan melakukan bermacam-macam usaha. Selain itu, mereka hemat dan cermat serta pandai mengelola dan mempergunakan harta bendanya itu.

Sebaliknya, Allah juga membatasi rezeki bagi sebagian hamba-Nya, sehingga rezeki yang mereka peroleh tidak lebih dari apa yang diperlukan sehari-hari. Mereka biasanya adalah orang-orang pemalas dan tidak terampil dalam mencari harta, atau tidak pandai mengelola dan mempergunakan harta tersebut.

Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki hamba-Nya berdasarkan hikmah serta pengetahuan-Nya tentang masing-masing hamba itu. Kedua hal tersebut tidak ada hubungannya dengan kadar keimanan dan kekafiran hamba-Nya. Oleh karena itu, ada kalanya Allah menganugerahkan rezeki yang banyak kepada hamba-Nya yang kafir.

Sebaliknya, kadang-kadang Allah menyempitkan rezeki bagi hamba yang beriman untuk menambah pahala yang kelak akan mereka peroleh di akhirat. Maka kekayaan dan kemiskinan adalah dua hal yang dapat terjadi pada orang-orang beriman maupun yang kafir, yang saleh ataupun yang fasik.

Ayat ini selanjutnya menceritakan bahwa kaum musyrik Mekah yang suka memungkiri janji Allah, sangat bergembira dengan banyaknya harta benda yang mereka miliki, dan kehidupan duniawi yang berlimpah-ruah, dan mereka mengira bahwa harta benda tersebut merupakan nikmat dan keberuntungan terbesar.

Oleh sebab itu, pada akhir ayat ini Allah menunjukkan kekeliruan mereka, dan menegaskan bahwa kenikmatan hidup duniawi ini hanyalah merupakan kenikmatan yang kecil, pendek waktunya, serta mudah dan cepat hilang, dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat yang besar nilainya dan sepanjang masa.

Dengan demikian, tidaklah pada tempatnya bila mereka bangga dengan kenikmatan di dunia yang mereka rasakan itu.


Baca juga: Penjelasan tentang Kebaikan di Akhirat dalam Surah al-Baqarah Ayat 201


Dalam hubungan ini, riwayat yang disampaikan oleh Imam at-Tirmi©³ dari Ibnu Mas‘µd menyebutkan sebagai berikut:

نَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيْرٍ وَقَدْ اَثَّرَ فِى جَنْبِهِ فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ لَوِ اتَّخَذْنَا لَكَ وِطَاءً، فَقَالَ مَا لِى وَلِلدُّنْيَا مَا اَنَا فِى الدُّنْيَا اِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا.

(رواه الترمذي عن ابن مسعود)

Pernah Rasulullah tidur di atas sehelai tikar kemudian beliau bangun dari tidurnya, dan kelihatan bekas tikar itu pada lambungnya, lalu kami berkata, “Ya Rasulullah seandainya kami ambilkan tempat tidur untukmu?” Rasulullah bersabda, “Apalah artinya dunia ini bagiku. Aku hidup di dunia ini hanya laksana seorang pengendara yang berteduh sejenak di bawah pohon, kemudian ia berangkat lagi dan meninggalkan pohon itu.” (Riwayat at-Tirmizi dari Ibnu Mas’ud)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 27-30


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 25

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 25 berbicara mengenai perjanjian antara Allah dan manusia. Salah satu di antara perjanjiannya adalah wajib mengesakan Allah, beriman kepada Rasul-Nya serta wahyu yang diturunkan dari-Nya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 23-24


Ayat 25

Ada beberapa perjanjian antara Allah dan manusia, di antaranya adalah manusia wajib mengakui kemahaesaan Allah serta kodrat dan iradat-Nya, beriman kepada para nabi-Nya dan wahyu yang diturunkan-Nya, dan sebagainya. Allah swt telah memberikan bukti-bukti dan dalil-dalil yang nyata atas semua itu. Akan tetapi, pada kenyataannya ada di antara manusia yang telah merusak perjanjian tersebut, dalam arti:

  1. Mereka tidak memperhatikan janji-janji tersebut, sehingga mereka tidak dapat melaksanakan kewajiban yang merupakan akibat yang timbul dari perjanjian itu. Misalnya, bila mereka benar-benar berpegang teguh kepada tauhid, mereka tentunya tidak akan beribadah kepada selain Allah. Allah memberikan bukti-bukti yang nyata tentang kemahaesaan-Nya. Akan tetapi, mereka tidak memperhatikan sehingga mereka tetap menentang landasan tauhid tersebut. Mereka senantiasa menganut kepercayaan syirik, mempercayai dan menyembah selain Allah.
  2. Pada mulanya mereka memperhatikan janji-janji yang telah mereka ikrarkan dan dalil-dalil yang telah diberikan. Mereka telah mengakui dan meyakini kebenarannya, tetapi kemudian mereka menyangkal kebenaran itu, dan tidak lagi bersedia mengamalkannya.

Orang yang suka memungkiri dan menyalahi janji yang telah diikrarkan dinamakan “munafik”. Dalam hubungan ini Rasulullah saw telah bersabda:

;عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اٰيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَ إِذَا ائْتُمِنَ خَانَ.

(رواه مسلم و الترمذي و النسائى);

Abi Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga macam: apabila ia berkata, ia selalu bohong, apabila ia berjanji selalu ingkar, dan apabila ia dipercayai berkhianat.” (Riwayat Muslim, at-Tirmizi dan an-Nasa’i)

Dalam menafsirkan ayat 25 ini, Abu al-Aliyah, seorang mufasir, me-nyebutkan bahwa ada enam macam sifat orang-orang munafik yang mereka tampakkan jika mereka merasa memiliki posisi yang kuat dalam satu masyarakat, yaitu:

  1. Apabila berbicara, mereka berbohong.
  2. Apabila berjanji, mereka ingkar.
  3. Apabila diberi kepercayaan, mereka berkhianat.
  4. Suka mengingkari janji Allah yang telah mereka ikrarkan sebelumnya.
  5. Suka memutuskan silaturrahim yang diperintahkan Allah untuk di-hubungkan dan dipelihara seperti hubungan dengan para Nabi-Nya yang telah datang membawa kebenaran. Mereka hanya beriman kepada sebagian dari para nabi tersebut, dan kafir terhadap sebagian yang lainnya.

Mereka juga memutuskan silaturrahim antara sesama manusia terutama dengan orang-orang mukmin, tetapi mereka tetap menjaga hubungan dan memberikan bantuan kepada orang-orang kafir. Di antara contohnya adalah mereka menghalang-halangi setiap usaha yang menuju kepada pembinaan kehidupan yang harmonis dan penuh kasih sayang. Mereka tidak sudi melihat terwujudnya persatuan dan kesatuan antara orang-orang mukmin, seperti yang dianjurkan Rasulullah:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

(رواه البخاري ومسلم و الترمذي عن أبي موسى الأشعري)

Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain haruslah seperti suatu bangunan, bagian yang satu menguatkan bagian yang lain. (Riwayat al-Bukhari, Muslim, dan at-Tirmizi dari Abu Mµsa al-Asy’ari)

Dan Sabda Rasulullah saw:

اَلْمُؤْمِنُ كَالْجَسَدِ الْوَاحِدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعٰى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالْحُمَّى وَالسَّهَرِ.

(رواه البخاري ومسلم عن النعمان بن بشير)

Orang-orang mukmin itu adalah seperti satu tubuh, apabila salah satu anggotanya menderita sakit, maka anggota-anggota yang lain pun rela pula menderita karena tidak tidur dan merasa demam karenanya. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir)

Oleh sebab itu, umat Islam haruslah hati-hati dalam menjaga kesatuan dan persatuan antara mereka, jangan dimasuki hasutan dan usaha-usaha kaum munafik untuk memecah belah persatuan itu.


Baca juga: Mengenal Kajian Resepsi-Living Qur’an Ahmad Rafiq


  1. Mereka suka berbuat kerusakan di bumi, baik berupa kezaliman yang mereka lakukan terhadap diri sendiri maupun kezaliman yang mereka lakukan terhadap hak milik orang lain dengan jalan yang tidak sah, ataupun dengan menimbulkan fitnah dan bencana dalam masyarakat Muslimin, dan mengobarkan permusuhan dan peperangan terhadap mereka.

Pada akhir ayat ini, Allah menetapkan hukuman yang layak untuk ditimpakan kepada orang munafik mengingat jahatnya kelakuan dan perbuatan-perbuatan mereka. Hukuman tersebut ialah berupa laknat Allah, yaitu menjauhkan mereka dari rahmat-Nya, sehingga mereka tersingkir dari kebaikan dunia dan akhirat. Mereka akan menemui kesudahan yang sangat buruk, yaitu azab neraka Jahanam, sebagai balasan dari kejahatan dan dosa-dosa yang telah mereka perbuat.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 26


(Tafsir Kemenag)

Kisah Nabi Ibrahim Mencari Tuhan Melalui Matahari dalam Al-Quran

0
Kisah Nabi Ibrahim Mencari Tuhan Melalui Matahari
Kisah Nabi Ibrahim Mencari Tuhan Melalui Matahari

Salah satu fungsi umum matahari adalah sebagai sumber energi yang paling besar di dunia. Berbicara tetang matahari, ada sebuah kisah Nabi Ibrahim a.s. tatkala mencari Tuhannya melalui pengalaman empiris, sehingga ia berhasil menemukan Tuhan yang sebenarnya, yaitu Allah swt selaku pencipta langit dan bumi (inni wajjahtu wajhiya lilladzi fathara samawati wal ardh). Kisah ini begitu menarik karena ada peran Matahari dalam proses pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim. Kisah ini juga diabadikan dalam firman-Nya Q.S. al-An’am [6]: 78,

فَلَمَّا رَاَ الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هٰذَا رَبِّيْ هٰذَآ اَكْبَرُۚ فَلَمَّآ اَفَلَتْ قَالَ يٰقَوْمِ اِنِّيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ

Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (Q.S. al-An’am [6]: 78)

Baca juga: Kajian Semantik Makna Kata Khauf dalam Al-Quran

Energi Matahari dalam Tafsir

Ayat di atas menceritakan prosesi pencarian jati diri Nabi Ibrahim dengan sangat gamblang. Sebenarnya ayat ini saling terkait dengan beberapa ayat sebelumnya, persisnya dari ayat 74-79. Namun pada kesempatan ini, penulis mengulas ayat di atas sebagai core pembahasan. Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkannya dengan tatkala Nabi Ibrahim melihat matahari terbit, tepatnya al-Tabari menggunakan term thali’ah (طالعة), artinya meriset, meneliti, mengkaji dan mengamati.

Jadi Nabi Ibrahim meriset betul apakah benar bahwa Tuhan itu besar? Al-Tabari mengisahkannya dengan haadza akbar min al-kawakib wal qamari (ini adalah bintang terbesar). Akan tetapi, ternyata ia berkesimpulan bagaimana mungkin ia disebut sebagai Tuhan karena ia dapat tenggelam dan terbit. Lalu, Nabi Ibrahim menyucikan pengetahuan dan pemahamannya tentang Tuhan sebagai berikut,

أي من عبادة الآلهة والأصنام ودعائه إلهاً مع الله تعالى

“(Aku berlepas diri) dari segala sesembahan berhala dan kembali kepada Allah ta’ala”.

Ayat ini juga mengkabarkan kepada kita sebagaimana perkataan al-Tabari,

وهذا خبر من الله تعالى ذكره عن خليله إبراهيم عليه السلام، أنه لما تبين له الحقّ وعرفه، شهد شهادة الحقّ، وأظهر خلاف قومه أهل الباطل وأهل الشرك بالله، ولم يأخذه في الله لومة لائم، ولم يستوحش من قيل الحقّ والثبات عليه، مع خلاف جميع قومه لقوله وإنكارهم إياه عليه

“Dan ini merupakan khabar dari Allah swt atas kisah pencarian kekasih-Nya, Nabi Ibrahim a.s. Bahwa tatkala telah tampak kebenaran baginya, dia telah menyaksikan dengan kesaksian yang haq, dan menampakkkan perselisihan, kebatilan dan kesyirikan umatnya. Dan dia tidak mempersalahkan orang yang mencela di hadapan Allah, ia tidak takut kepada celaan. Dia juga tidak merasa kesepian dari orang yang diberitahu kebenaran, ia merasa tabah atas-Nya sekalipun diterjang perbedaan dan pengingkaran dari umatnya”.

Baca juga: Surah Al-Maidah [5] Ayat 5: Hukum Hewan Sembelihan non-muslim, halalkah?

Sedangkan al-Raz dalam Mafatih al-Ghaib menafsirkan ayat di atas bahwa sebenarnya Nabi Ibrahim telah mengantongi keyakinan yang mantap akan Allah swt sebagai Tuhan. Hal ini teruntai dalam argumentasi al-Razi,

الحجة الثانية: أن إبراهيم عليه السلام كان قد عرف ربه قبل هذه الواقعة بالدليل. والدليل على صحة ما ذكرناه أنه تعالى أخبر عنه أنه قال قبل هذه الواقعة لأبيه آزر:{ أَتَتَّخِذُ أَصْنَاماً ءالِهَةً إِنّى أراك وقومك في ظلال مبين } [الأنعام: 74]

“Argumen kedua: bahwa Ibrahim as, telah mengenal Tuhannya sebelum kejadian ini dengan mengantongi bukti empirik. Adapun bukti yang sahih sebagaimana disebutkan dalam ayat sebelumnya, “Pantaskah engkau (ayah Nabi Ibrahim) menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku telah melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata (Q.S. al-An’am [6]: 74)”

Lebih jauh, al-Razi menafsirkan proses pencarian jati diri Nabi Ibrahim ini bahwa Nabi Ibrahim mencari “agama” dan kebenaran atas dirinya dan keberadaan Tuhannya (kana yathlubu ad-din wal ma’rifati li nafsihi) dan ia berhasil menemukannya sehingga semakin mantaplah keimanan dan ketakwaannya kepada Allah.

Sedikit berbeda, al-Qurtubi, misalnya ia lebih menafsiri ayat di atas dengan corak kebahasaan. Redaksi al-syamsa bazighatan oleh al-Qurtubi ditafsiri dengan ru’yatul ‘ain (penglihatan dengan indera mata). Jadi Nabi Ibrahim saat itu mengamati proses terbit tenggelamnya matahari menggunakan indera mata (hissi). Kemudian redaksi haadza rabbi (ini Tuhanku) bermakna ini adalah Tuhanku yang tinggi (haadza thali’u rabbi) sebagaimana diwartakan al-Kisa’i dan al-Akhfash. Dalam pendapat yang lain dikatakan, ini adalah cahaya (haadza dhau’).

Penafsiran dengan nuansa sufistik juga disampaikan al-Qusyairi. Dalam Lathaif al-Isyarat-nya, al-Qusyairi menuturkan,

ويقال قوله – عند شهود الكواكب والشمس والقمر – { هَـٰذَا رَبِّي } إنه كان يلاحظ الآثار والأغيار بالله، ثم كان يرى الأشياء لله ومن الله، ثم طالع الأغيار محواً في الله. أفردتُ قصدي لله، وطهَّرت عقدي عن غير الله، وحفظت عهدي في الله لله، وخلصت وجدي بالله، فإني لله وبالله، بل محو في الله والله الله

“Dijelaskan bahwa tatkala Nabi Ibrahim menyaksikan bintang-bintang, matahari dan bulan lalu mengatakan (ini Tuhanku), maka sesungguhnya ia telah melihat bekas (atsar) dan segala sesuatu yang lain mellaui Allah. Ia melihat sesuatu karena Allah, dari Allah. Kemudian Nabi Ibrahim memurnikan niat dan menghadapkan wajahnya, seraya berkata, “Aku berniat dan bermaksud untuk Allah, aku sucikan akidahku dari sesuatu selain Allah, aku jaga keyakinanku dan komitmenku hanya untuk Allah, dan aku ikhlas karena Allah, maka ketika itu keyakinan dan keimanan Nabi Ibrahim telah dipenuhi Allah Allah dan Allah”.

Baca juga: Kedudukan Nabi saw dan Wahyu Al-Quran Menurut Malek Bennabi

Keberadaan Matahari Sebagai Proses Pencarian Tuhan

Secara eksplisit, ayat di atas menunjukkan betapa sentralnya matahari sehingga Allah swt menjadikannya sebagai “pelajaran” bagi Nabi Ibrahim a.s atas prosesi pencarian kediriannya. Matahari ternyata tidak hanya mengilhami ilmu sains, namun juga ilmu agama. Posisi matahari telah menegaskan peran akal untuk mencerna dan mengolah informasi sedemikian rupa guna kepentingan ilmu pengetahuan di satu sisi dan keimanan (teologi) pada sisi yang lain.

Al-Ghazali menjelaskan hadirnya matahari telah mengilhami akal sehingga sumber cahaya, katanya adalah akal. Baginya, matahari hanya sebagai pemantik. Justru karena akal lah manusia dapat memproses energi yang ditimbulkan bulatan panas dan menghasilkan satu kemanfaatan bagi kehidupannya sehari-hari.

Muhammad Mahdi al-Asafi dalam kitabnya, al-Hawa fi Hadits ahl al-Bait, menandaskan bahwa akal mempunyai tiga peran dalam kehidupan manusia – belajar dari kisah Nabi Ibrahim di atas – yaitu (1) mengenal Allah adalah pangkal dan entry point tugas akal, (2) ketaatan mutal kepada segala perintah Allah sehinga ia kenal dengan rububiyah Allah dan menghasilkan satu ketaatan, dan (3) taqwa kepada Allah. Ketiga fungsi ini dijalankan dengan baik oleh Nabi Ibrahim sehingga ending-nya ia bertakwa kepada Allah dan semakin mantap kokoh keimanannya.

Dengan demikian, ayat di atas menjadi ibrah (hikmah) bagi kita semua ternyata semua ciptaan Allah tak terkecuali matahari dalam pembahasan ini mampu menjadi sumber ilmu agama yang mampu menguatkan dan memperkokoh keimanan kita kepada Allah. Semoga kita mampu memetik hikmah dari segala ciptaan-Nya. Wallahu A’lam.

 

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 23-24

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 23-24 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai orang-orang yang juga mendapatkan pengampunan akibat dari prilaku para Ulul Albab. Kedua berbicara mengenai salah satu nikmat ketika berada di surga.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 20-22


Ayat 23

Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan bahwa yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak bukan hanya semata-mata yang memiliki sifat tersebut, melainkan juga orang-orang saleh di antara ibu-ibu dan nenek moyang mereka, demikian pula istri dan keturunan mereka yang terdekat.

Mereka ini pun akan turut pula merasakan kebahagiaan dan kesejahteraan itu, selama mereka tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan mereka kehilangan hak untuk memperoleh rahmat Allah, misalnya karena kekafiran dan kemusyrikan kepada Allah. Ayat ini memberikan isyarat bahwa pada hari tersebut tidak berlaku hubungan kekeluargaan sedikit pun kecuali amal saleh masing-masing. Firman Allah:

فَاِذَا نُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَلَآ اَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَىِٕذٍ وَّلَا يَتَسَاۤءَلُوْنَ 

Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya. (al-Mu’minµn/23: 101);Dalam hubungan ini, Rasulullah saw pernah bersabda kepada putrinya Fatimah az-Zahra sebagai berikut:

;يَا فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ: سَلِيْنِىْ مِنْ مَالِىْ مَا شِئْتِ لاَ أُغْنِىْ عَنْكِ مِنَ اللهِ شَيْئًا.

(رواه الترمذى عن أبي هريرة)

“Wahai Fatimah putri Muhammad! Mintalah dari hartaku apa yang kau inginkan karena aku sedikit pun tidak akan dapat menolongmu dari azab Allah.” (Riwayat at-Tirmizi dari Abu Hurairah)

Dalam Al-Qur’an,  Allah telah menegaskan pula sebagai berikut:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ    ٨٨  اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ   ٨٩ 

(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (asy-Syu’ara’/26: 88-89)

Orang-orang yang menggunakan akalnya seperti yang tersebut di atas akan ditempatkan Allah kelak dalam surga-Nya. Mereka di sana duduk berhadap-hadapan di atas balai-balai yang indah disertai orang-orang yang mereka cintai, yaitu nenek moyang, kaum keluarga, dan anak-anak mereka, serta orang-orang yang patut masuk surga dari kalangan orang-orang yang saleh, agar hati mereka menjadi senang dan bahagia.

Hal itu merupakan rahmat dan kebaikan Allah swt kepada mereka. Selain itu para malaikat datang kepada mereka dari segala penjuru untuk memberikan ucapan selamat atas keberuntungan yang telah mereka peroleh, yaitu masuk surga. Mereka tinggal dalam rumah yang diliputi kesejahteraan, berdekatan dengan para nabi dan rasul serta orang-orang yang mengakui kebenaran agama Allah.


Baca juga: Matahari Sebagai Pusat Tata Surya dan Keseimbangan Alam Menurut Al-Quran


Ayat 24

Dalam ayat ini, disebutkan bahwa para malaikat mendatangi penghuni surga sambil mengucapkan salam, “Semoga kamu aman dari segala hal yang tidak diinginkan dan ditakuti, yang telah merusak orang-orang selain kamu. Keberuntungan ini kamu peroleh berkat kesabaran dan penderitaan yang kamu alami selama menjalani kehidupan di dunia.”

Ibnu Jarir at-Tabari dan Ibnu Abi Hātim dari Umāmah meriwayatkan bahwa Nabi saw semasa hidupnya sering datang ke makam para syuhada pada setiap permulaan tahun. Di sana beliau membaca ayat tersebut. Hal semacam itu dilakukan pula oleh Abu Bakar, Umar, dan Usman r.a.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 25


(Tafsir Kemenag)

Kajian Semantik Makna Kata Khauf dalam Al-Quran

0
makna kata khauf dalam Al-Quran
makna kata khauf dalam Al-Quran

Tulisan kali ini akan membahas makna khauf dalam al-Quran dengan menggunakan pendekatan semantik. Dalam semantik al-Quran, terdapat tiga periode waktu semantik historis kosakata yakni pra-quranik, masa quranik, dan pasca-quranik.

Semantik sendiri merupakan ilmu yang mempelajari tentang arti atau makna tanda pada suatu bahasa. Pendekatan semantik juga digunakan dalam memahami al-Quran, yakni disebut dengan semantik al-Quran. Istilah tersebut menjadi populer setelah diperkenalkan oleh Thosihiko Izutsu dalam bukunya yang berjudul “God  and  Man  in  the  Koran: Semantics of the Koranic Weltanschauung”.

Dalam buku tersebut, Izutsu menjelaskan semantik al-Quran sebagai kajian analitik terhadap istilah-istilah kunci yang terdapat di dalam al-Quran dengan menggunakan bahasa al-Quran agar diketahui weltanschauung al-Quran, yaitu visi-misi qurani tentang alam semesta.

Baca Juga: Empat Makna Kata Khasyah dalam Al-Quran menurut Mufasir

Makna kata khauf masa pra-Quranik, Quranik dan pasca-Quranik

  1. Pra-Quranik

Pada periode ini, ditemukan beberapa syair yang memuat kata khauf. Syair-syair jahiliyah sendiri di masa ini, merupakan muara dalam memahami arti sebuah kosakata. Salah satunya adalah syair karya Abi al-Faraj al-Asfahani dalam kitabnya yang berjudul Al-Aghani. Bunyi syair tersebut yakni: “Akan  tetapi  jika  hidup  dengan  hati  yang  takut,  maka  hidup  bagiku tidak bahagia  matipun  tidak  dekat.  Aku  belajar  bahwasanya  sebab-sebabnya  ridho adalah  takut  meninggalkan,  dan  cintaku  mengajarkan  padanya  bagaimana  dia melumpuhkan.”

Dari penggalan syair tersebut, dapat diketahui makna kata khauf yang dimaksud adalah takut atas sesuatu yang menjadi penyebab tidak bahagia dan takut akan kehilangan sesuatu berharga yang dimilikinya.

  1. Masa Quranik

Pada periode ini, makna kata khauf disesuaikan dengan konteksnya, yakni tempat diturunkannya ayat-ayat tentang khauf. Kata khauf dalam ayat Makkiyah cenderung menunjukkan rasa takut atas sesuatu yang dapat membuat orang merasa tidak bahagia, seperti yang terdapat dalam QS. Ghafir: 30,

وَقَالَ الَّذِىۡۤ اٰمَنَ يٰقَوۡمِ اِنِّىۡۤ اَخَافُ عَلَيۡكُمۡ مِّثۡلَ يَوۡمِ الۡاَحۡزَابِۙ

Artinya: “Dan orang  yang beriman itu berkata, “Wahai kaum-ku!  Sesungguhnya  aku khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti hari kehancuran golongan yang bersekutu.”

Khauf pada ayat di atas menunjukkan rasa takut Nabi Nuh terhadap kaumnya yang akan ditenggelamkan dengan air bah oleh Allah sebab mengingkari ajaran Allah dan enggan bertaubat.

Sementara itu, pada ayat Madaniyah, khauf memiliki makna takut akan siksaan Allah Swt apabila mengingkari ajaran-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam QS. Al-Baqarah: 38,

قُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya : “Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Pada ayat ini makna khauf ditujukan pada rasa takut apabila tidak mengikuti petunjuk Allah. Sebaliknya, bagi seluruh keturunan Adam yang senantiasa patuh pada perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya, maka akan terhindar dari rasa khauf (takut) karena tersesat ataupun siksaan bagi mereka yang mengingkari-Nya.

  1. Pasca-Quranik

Pada periode ini terjadi perkembangan pemikiran oleh umat Islam yang kemudian lahir disiplin kajian filsafat, tasawuf, dan teologi. Sehingga, pada periode ini kata khauf -pun mengalami perkembangan makna. Kata khauf pada periode ini termasuk ke dalam bagian tasawuf. Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin, mendefinisikan khauf yakni rasa sakit dalam hati akan takut terjadinya sesuatu yang tidak disukai. Selain itu, ia juga membagi khauf menjadi beberapa derajat (qasir,mufrith, dan mu’tadil) dan tingkatan (al-awam, al-khasah, dan al-khasah al-khasah).

Baca Juga: 12 Golongan yang Terhindar dari Keresahan Hati: Telaah Makna Khauf dalam Al-Quran (1)

Tafsir dan makna kata khauf  dalam Al-Quran

Adapun pengertian khauf secara bahasa berasal dari kata khafa-yakhafu-khaufan  (خَافَ-يَخَافُ-خَوْفًا)yang berarti takut. Menurut Al-Asfahani dalam kitabnya Mu’jam Mufradat Alfaz al-Quran, kata khauf berarti ketakutan akan suatu hal atau takut karena lemahnya seseorang itu. Selain digunakan dalam urusan ukhrawiyah, khauf juga dapat digunakan dalam hal duniawiyah.

Di dalam al-Quran, setidaknya terdapat 3 makna kata khauf, yakni taqwa (QS. An-Nisa: 9), berkurang (QS. An-Nahl: 47), dan al-‘ilmu (QS. Al-Baqarah: 182).

  1. Taqwa

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا

(QS. An-Nisa: 9) Artinya:“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan taqwa sebagai rasa takut atas adzab Allah sebab melanggar apa yang telah diperitahkan dan dilarang oleh-Nya. Selain itu, dalam Ensiklopedia Al-Quran: Kajian Kosakata, M. Quraish Shihab juga menerangkan taqwa sebagai cara agar terhindar dari adzab Allah dengan mengikuti pentujuk-Nya dan menjauhi larangan-Nya seperti melaksanakan sholat lima waktu, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu.

  1. Berkurang

أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَىٰ تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ

(QS. An-Nahl: 47) Artinya: “Atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa). Maka sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Menurut M. Quraish Shihab dalam kitabnya Tafsir Al-Misbah, kata takhawwuf berarti berkekurangan, misalnya diberikannya kemarau panjang, berlanjut dengan paceklik, wabah penyakit, terjadinya bencana alam, hingga rasa aman pun hilang dari mereka.  Begitu pula dengan Sayyidina Umar juga menyetujui makna takhawwuf ini, yang pada saat itu disampaikan oleh seorang tokoh kabilah Hudzail. Intinya, ayat ini berbicara tentahg adzab yang diberikan Allah dengan berkekurangan secara terus menerus hingga binasa.

  1. Al-’ilmu

فَمَنْ خَافَ مِن مُّوصٍ جَنَفًا أَوْ إِثْمًا فَأَصْلَحَ بَيْنَهُمْ فَلَآ إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

(QS. Al-Baqarah: 182) Artinya: “(Akan tetapi) barangsiapa khawatir terhadap orang yang berwasiat itu, berlaku berat sebelah atau berbuat dosa, lalu ia mendamaikan antara mereka, maka tidaklah ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kata fala itsma  (فَلَآ إِثْمَ) dan khafa (خَافَ) makna sebenarnya adalah takut. Akan tetapi, terdapat beberapa ulama yang mengartikannya sebagai mengetahui. Mengacu pada Tafsir Al-Muyassar, ayat di atas menjelaskan rasa takut seseorang karena mengetahui pemberi wasiatnya akan melakukan penyimpangan dan ketidakadilan.

Baca Juga: Tafsir Surat Yunus Ayat 62: Tak Ada Rasa Takut dan Sedih bagi Wali Allah

Namun, ketakutan tersebut dapat teratasi dengan cara menasihati sang pembuat wasiat serta mendamaikan orang-orang yang bersengketa atas wasiat tersebut. Dengan usaha memperbaiki kekeliruan tersebut, maka orang itu akan mendapat pahala dan tidak ada dosa baginya.

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa kajian semantik al-Quran memiliki tiga periode waktu semantik historis kosakata yakni pra quranik, quranik, dan pasca quranik. Pada ketiga periode tersebut, maksud dari sebuah kata pun berbeda, misalnya pembahasan kata khauf pada tulisan ini.

Selain itu, dalam kajian semantik al-Quran, perlunya digali makna dasar dan makna relasional dari sebuah kata yang dimaksud, misalnya kata khauf  berasal dari kata khafa-yakhafu-khaufan (خَافَ-يَخَافُ-خَوْفًا) yang berarti takut, dan makna relasionalnya adalah taqwa, berkurang, dan al-‘ilmu.

Wallahu a’lam

Kedudukan Nabi saw dan Wahyu Al-Quran Menurut Malek Bennabi

0
Malek Bennabi
Malek Bennabi

Nabi Muhammad saw adalah sosok sentral untuk memahami fenomena pewahyuan. Kedudukannya ketika menerima wahyu beriringan dengan tahap penyampaian kepada masyarakat Arab. Fenomena penerimaan dan penyampaian wahyu ini diulas dengan unik berbasis analisis psikologis oleh Malek Bennabi dalam karyanya Le Phenomine Coranique.

Kajian mengenai kedudukan Nabi Muhammad saw pada masa pewahyuan diurai oleh Malek Bennabi dengan menganalisis kondisi Nabi ketika menerima wahyu pertama dan redaksi ayat Al-Qur’an. Memang, beberapa ulama atau sarjana sebelumnya telah menyinggung keadaan Nabi Muhammad saw, tetapi pembacaan berbasis psikologis ini menjadikan kajian Malek Bennabi penting diungkap.

Tulisan ini akan memaparkan kajian Malek Bennabi tersebut. Hal ini untuk mengimbangi wacana yang tersebar tentang keraguan Al-Qur’an sebagai Kalamullah. Penulis menilai bahwa kajian Malek Bennabi akan memberi pemahaman baru terkait kedudukan Nabi Muhammad SAW dan otentisitas Al-Qur’an. Ini penting, karena yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW adalah Kalam Tuhan.

Sekilas tentang Malek Bennabi dan Bukunya

Malek Bennabi dilahirkan pada 28 Januari 1905 di Constantine, Aljazair. Ia termasuk sarjana Islam yang kuliah di Perancis pada 1930 dan pada tahun 1954-1962 melanjutkan perjalanan intelektualnya di Mesir.

Baca Juga: Mengenal Abdullah Yusuf Ali dan Tafsir The Holy Qur’an

Malek Bennabi merupakan sarjana Islam yang banyak membela kajian Islam dan banyak mengkritik kajian orientalis, yang dilakukannya sebelum Edward Said. Ia wafat pada 31 Oktober 1973 di Aljir, Aljazair.

Buku Le Phenomine Coranique adalah buku pertamanya yang banyak berpengaruh di kalangan umat Islam. Buku yang kita terima saat ini merupakan hasil tulisan beliau, yang terbit pada 1946, karena sebelumnya hancur akibat serangan udara, pada masa-masa Perang Dunia II.

Buku ini diterjemahkan ke versi bahasa Arab dengan judul Al-Zhahirah Al-Qur’an, dan juga diterjemahkan dalam versi bahasa Indonesia dengan judul Fenomena Al-Qur’an. Buku Le Phenomine Coranique ini membahas tentang landasan metodologis dan filosofis sekaligus, yang kelak banyak mempengaruhi kajian-kajian selanjutnya.

Nabi Muhammad SAW ketika Menerima Wahyu

Dalam bukunya, Malek Bennabi terlebih dahulu mengungkap narasi penerimaan wahyu pertama, tepatnya ketika Nabi Muhammad SAW telah beberapa kali bertahannus setiap Ramadhan di gua Hira. Sebagaimana umum diinformasikan dari berbagai riwayat yang sahih bahwa Nabi Muhammad SAW didatangi oleh Malaikat Jibril lalu mengatakan “bacalah!”.

Saat itu Muhammad saw hanya menjawab “Aku tidak dapat membaca”. Keadaan ini terulang sebanyak tiga kali, hingga Nabi saw merasa kesusahan. Malaikat Jibril kemudian memerintahkan kembali yang kemudian dibacakanlah surah Al-‘Alaq: 1-5 sebagai wahyu Pertama. Turunnya wahyu ini menjadi penanda Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul.

Dalam konteks ini, Malek Bennabi menilai bahwa dialog Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad saw di atas unik, terlebih karena itu terjadi sebagai pembuka era baru –era kenabian Muhammad. Malek Bennabi mengatakan bahwa dialog tersebut merupakan dialog satu-satunya yang historis positif antara Nabi dan Malaikat. Di sini, muncul persoalan “Apakah ini kejadian berupa halusinasi dan kekacauan pikiran?”

Malek Bennabi mengatakan bahwa disebut sebagai halusinasi dan kekacauan pikiran ketika kejadian tersebut dalam awal atau akhir tidur. Kekacauan yang terjadi di awal tidur disebut sebagai Haypnogogic, yakni “keadaan antara tidur dan sadar”. Dan Kekacauan yang terjadi di akhir tidur atau tersadar dari tidur disebut Hypnopompic, yakni “keadaan antara tidur dan sadar”.

Dari sini, Malek Bennabi dengan berdasar pada ilmu psikologi medis mengatakan bahwa keadaan Haypnogogic atau Hypnopompic tidak mengenai orang-orang yang normal (fisik dan psikologinya), sebagaimana yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW di atas. Terlebih lagi kejadian Nabi Muhammad SAW dengan Malaikat Jibril tersebut berulang sebanyak tiga kali. Sehingga, kejadian tersebut benar-benar (secara ilmiah –psikologi) terjadi dan nyata.

Nabi Muhammad saw ketika Menyampaikan Wahyu

Sejak awal dialog dalam pewahyuan di atas memerankan Nabi Muhammad SAW sebagai orang kedua tunggal atau orang yang diajak bicara. Penempatan ini mengindikasikan bahwa Nabi saw bersifat pasif dan hanya menyampaikan wahyu dari Tuhan yang berbicara dengan menggunakan kata ganti pertama (Aku, Kami). Nabi Muhammad saw di sini disebut ummi dalam pengertian tidak dapat baca-tulis.

Malek Bennabi pertama-tama mengajukan pertanyaan bahwa apakah wahyu dari Tuhan kepada Nabi saw dapat berpadu secara psikologis dalam satu pribadi, yaitu pribadi Nabi saw? Malek Bennabi menjawabnya secara panjang yang kira-kira dapat diringkas dengan jawaban bahwa ke-ummi-an Nabi saw menjadi keadaan penting dan logis berpadunya wahyu dalam diri pribadinya.

Sehingga, ketika Tuhan berbicara dalam bentuk wahyu kepadanya, maka cara terbaik bagi Nabi Muhammad saw sebagai orang yang ummi adalah berdiam. Di sini, Malek Bennabi mengatakan bahwa berdiamnya Nabi Muhammad saw menunjukkan kesadaran definitif selama fenomena pewahyuan. Nabi saw tidak akan menjawab, mengoreksi, apalagi menolak apa yang diwahyukan kepadanya.

Baca Juga: Biografi Mahmud Syaltut: Tokoh Perintis Penerapan Tafsir Tematis

Sikap Pasif Nabi Muhammad saw ini diperkuat oleh adanya ayat Al-Qur’an yang secara sepintas lalu mengandung kesan yang aneh, yang karenanya menarik diperhatikan, yakni QS. Yusuf: 22. Malek Bennabi mengatakan bahwa ‘menyimpang’nya dari kaidah bahasa yang lazim ditemui di kalangan bangsa Arab inilah yang menjadikan wahyu (QS. Yusuf:22) tersebut benar-benar dari Allah SWT, bukan dari Nabi Muhammad saw. Sekiranya itu dari Nabi Muhammad SAW, maka ia segera memperbaikinya.

Sampai di sini, peran Nabi Muhammad SAW ketika menerima dan menyampaikan wahyu, dalam argumentasi psikologis Malek Bennabi, dapat dikatakan pasif. Wahyu yang disampaikan benar-benar diterima sepenuhnya oleh Nabi Muhammad SAW, dan disampaikannya apa adanya kepada masyarakat Arab saat itu. Sehingga, Al-Qur’an benar-benar otentik dari Allah SWT. [] Wallahu A’lam.