Beranda blog Halaman 309

Mengenal Kitab Tafsir ‘Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an Karya Ruzbihan al-Baqli

0
Mengenal Kitab Tafsir ‘Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an Karya Ruzbihan al-Baqli
Kitab Tafsir ‘Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an Karya Ruzbihan al-Baqli

Kitab tafsir yang berjudul “’Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an” ini merupakan karya dari seorang sufi asal Persia yang bernama lengkap Muhammad Ruzbihan ibn Abi Nashr al-Baqli al-Syirazi (522 H/1128 M-606 H/1209 M). Tidak diketahui secara pasti kapan dan membutuhkan waktu berapa lama bagi Ruzbihan al-Baqli untuk menyelesaikan karya monumental ini. Melalui karya ini, Ruzbihan al-Baqli menafsirkan seluruh ayat Al-Qur’an penuh hingga 30 juz secara berurutan dengan menggunakan urutan tartib mushafi.

Kitab tafsir ‘Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an dicetak pertama kali oleh penerbit Dar al-Kutub al-Ilmiyah pada tahun 2008. Dalam cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyah tersebut, kitab tafsir ini tersusun dalam bentuk tiga jilid, dengan rincian berikut: (1) jilid pertama dimulai dari penafsiran QS. al-Fatihah [1] hingga QS. al-Anfal [8]; (2) jilid kedua memuat penafsiran QS. al-Taubah [9] sampai QS. al-Mu’minun [23]; dan (3) jilid ketiga berisi penafsiran QS. an-Nur [24] sampai QS. an-Nas [114].

Dalam proses penafsiranya, Ruzbihan al-Baqli mengungkap makna ayat Al-Qur’an berdasarkan pendekatan sufistik. Husain al-Dzahabi dalam al-Tafsir al-Mufassirun membagi klasifikasi corak tafsir sufistik dalam dua bentuk: (1) Tafsir Sufi Nazhari (Teoretis), yaitu madzhab tafsir yang dalam pengungkapan makna ayat Al-Qur’an menggunakan pendekatan kajian terhadap beberapa teori tasawuf maupun filsafat. Kemudian, dari kajian tersebut kemudian dicarikan dalil-dalil dari Al-Qur’an untuk memperkuat teori tersebut; (2) Tafsir Sufi Isyari/’Amaliy (Praktis), yaitu corak tafsir yang dalam pengungkapan makna Al-Quran menggunakan ta’wil berdasarkan pada isyarat-isyarat khusus yang diberikan kepada para sufi, salik, ahli ibadah, dan orang-orang yang dekat dengan Allah.

Jika ditinjau dari klasifikasi tersebut, maka karya Ruzbihan al-Baqli ini termasuk dari corak tafsir isyari. Hal ini dikarenakan ia menggunakan isyarat-isyarat ilahi sebagai salah satu sumber penafsiranya. Kemudian, dalam proses penyajianya, Ruzbihan al-Baqli menyampaikan hasil interpretasinya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dengan sistematika berikut:

وَصَنَّفْتُ فِيْ حَقَائِقِ القُرْآنِ كِتَابًا مُوْجَزًا مُخَفَّفًا لَا إِطَالَةَ فِيْهِ وَلَا إِمْلَالَ، وَذَكَرْتُ مَا سَنَحَ لِيْ مِنْ حَقِيْقَةِ القُرْآنِ، وَلَطَائِفِ البَيَانِ، وَإِشَارَةِ الرَّحْمَنِ فِيْ القُرْآنِ بِأَلْفَاظٍ لَطِيْفَةٍ، وَعِبَارَةٍ شَرِيْفَةٍ، وَرُبَّمَا ذَكَرْتُ تَفْسِيْرَ آيَةٍ لَمْ يُفَسِّرْهَا الْمَشَايِخُ، ثُمَّ أَرْدَفْتُ بَعْدَ قَوْلِيْ أَقْوَالَ مَشَايِخِيْ مِمَّا عَبَارَتُهَا أَلْطَفُ، وَإِشَارَتُهَا أَظْرَفُ بِبَرَكَاتِهِمْ، وَتَرَكْتُ كَثِيْرًا مِنْهَا، لِيَكُوْنَ كِتَابِيْ أَخَفُّ مَحْمَلًا، وَأَحْسَنُ تَفْصِيْلًا

“Aku menyusun kitab haqaiq al-Qur’an sebagai kitab yang ringkas nan ringan, di dalamnya tidak ada pembahasan yang panjang dan menyusahkan. Aku menyebutkan apa saja yang masuk dalam pikiranku dari hakikat Al-Qur’an, penjelasan yang halus, dan isyarat Allah dalam Al-Qur’an dengan lafal yang halus, dan frasa yang mulia. Boleh jadi aku menyebutkan penafsiran ayat yang mana hal tersebut belum pernah ditafsirkan oleh para guru-guru. Kemudian, aku menambahkan setelah pendapatku dengan pendapat-pendapat guru-guruku, yang mana pendapat tersebut memiliki frasa yang lebih halus, dan isyaratnya leboh elok dengan keberkahan mereka. Dan aku meninggalkan banyak darinya (tidak mengutip semuanya), supaya karyaku lebih ringan dibawa dan memiliki perincian yang lebih baik”

Baca juga: Mengenal Ruzbihan al-Baqli: Mufasir dan Sufi Besar Asal Persia

Kritik atas Tafsir ‘Arais al-Bayan

Sebagai sebuah karya tulis, tentu tidak terlepas dari kritik para pembacanya. Misalnya kritik dari Husain al-Dzahabi, ia mengkritisi salah satu ungkapan Ruzbihan al-Baqli dalam mukaddimahya, yaitu:

وَاسْتَعِنْتُ بِهِ، لِيَكُوْنَ مُوَافَقًا لِمُرَادِهِ، وَمُوَاطَئًا لِسُنَّةِ رَسُوْلِهِ

aku meminta tolong dari Allah terhadap maksudnya dan kesesuaian dengan sunnah Rasul-Nya

Dengan ungkapan tersebut, al-Dzahabi menganggap Ruzbihan al-Baqli ingin mengatakan bahwa apa saja yang ada di dalam kitab ‘Arais al-Bayan merupakan hasil penafsiran dan penjelasan Al-Qur’an yang sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal ini dikarenakan al-Dzahabi menemukan makna-makna yang aneh (gharibah) dari hasil penafsiran Ruzbihan al-Baqli, yang mana hal tersebut tentu tidak mungkin dimasukkan ke dalam apa yang dimaksudkan dari lafal Al-Qur’an, serta menurutnya juga tidak logis apabila maksud Allah hanya bisa dipahami dan menjadi khitab bagi pribadi-pribadi tertentu.

Namun demikian, menurut penulis pribadi, kritik al-Dzahabi tersebut terlampau berlebihan. Mengingat ungkapan Ruzbihan al-Baqli tersebut hanyalah sebuah ucapan harapan bukan pengakuan sepihak. Dan itu lumrah diucapkan oleh banyak mushannif ketika menulis karya-karya mereka. Selain itu, di akhir mukaddimahnya, al-Baqli telah menyampaikan maaf apabila nantinya ditemukan kesalahan dalam hasil penafsiranya, sebagaimana ungkapanya berikut:

وَمَا أَصَبْتُ ذَلِكَ، فَهُوَ بِتَأْيِيْدِ اللهِ وَنُصْرَتِهِ، وَمَا أَخْطَأْتُ فِيْهِ، فَهُوَ لَازِمٌ لِيْ، وَأَنَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ تَعَالَى مِنْ ذَلِكَ

“Apabila (hasil penafsiran) aku benar, maka itu tidak lain hanyalah berkat dukungan dan pertolongan Allah. Dan apabila aku salah dalam menafsirkan, maka kesalahan itu harus dialamatkan kepadaku, dan aku memohon ampun kepada Allah atas kesalahan tersebut”

Baca juga: Memahami Konsep Self Oriented Pada Tafsir Isyari

Contoh Penafsiran Isyari Ruzbihan al-Baqli

Setelah disampaikan mengenai karakteristik kitab ‘Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an, maka penulis akan menunjukkan salah satu hasil interpretasi Ruzbihan al-Baqli terhadap ayat Al-Qur’an. Misalnya, dalam penafsiran Q.S. al-Baqarah [2] ayat 11 berikut:

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ – ١١

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan”

Dalam menjelaskan ayat di atas, Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib mengutip pendapat Ibnu Abbas yang memahami bahwa kerusakan di bumi yang dimaksud adalah semakin banyaknya kemaksiatan yang tampak (idzhar al-ma’shiyah). Berbeda dengan pandangan sebelumnya, Ruzbihan al-Baqli justru memberikan interpretasi terhadap ayat tersebut sebagaimana berikut:

(وَإِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِي الْأَرْضِ)

أَيْ: لَا تُنْكِرُوْا أَوْلِيَاءَ اللهِ، وَلَا تُشَوِّشُوْا قُلُوْبَ الْمُرِيْدِيْنَ بِغِيْبَةِ شُيُوْخِهِمْ عِنْدَهُمْ، وَلَا تُلْقُوْهُمْ إِلَى تَهْلُكَةِ الفِرَاقِ، وَقَنْطَرَةِ النِّفَاقِ

(Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!) maksudnya: jangan mengingkari/menentang para wali Allah, jangan kalian ganggu hati para murid dengan membicarakan guru-guru mereka, dan jangan kalian jatuhkan mereka ke dalam kehancuran perpecahan dan kemunafikan”

Berdasarkan dua penafsiran di atas, maka disimpulkan bahwa kitab tafsir ‘Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an karya Ruzbihan al-Baqli ini sangat didominasi dengan pemahaman terhadap makna batin yang terkandung di balik makna lahirnya. Bahkan, dalam banyak penafsiranya, ia meninggalkan pembahasan makna lahir ayat dan langsung menuju makna batin ayat tersebut sesuai dengan isyarat dan pemahaman dari Ruzbihan al-Baqli. Wallahu A’lam

Baca juga: Sayyid Muhammad Husain Al-Thabathaba’i: Arsitek Tafsir Al-Mizan

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 58-62

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 58-62 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai penisbatan anak perempuan kepada Allah SWT. Sedang mereka malu jika mempunya anak perempuan. Kedua mengenai ancaman atas prilaku buruk yang dilakukan oleh mereka.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 54-57


Ayat 58

Selanjutnya Allah swt mengungkapkan sikap mereka mengenai anak perempuan yaitu apabila mereka diberi kabar bahwa istri mereka melahirkan anak perempuan, muramlah muka mereka karena jengkel dan malu.

Perasaan serupa itu disebabkan oleh perasaan mereka sendiri bahwa anak-anak perempuan itu hanya memberi malu kaumnya, karena anak-anak perempuan itu tidak dapat membantu dalam peperangan, dan apabila mereka kalah perang, anak-anak perempuan menjadi barang rampasan.

Sebenarnya mereka dihukum oleh perasaan mereka sendiri karena anggapan bahwa wanita itu martabatnya tiada lebih dari barang yang boleh dipindah-tangankan.

Ayat 59

Allah swt menjelaskan lebih lanjut perilaku orang-orang musyrik pada saat mereka mendapatkan anak perempuan. Mereka menarik diri dari masyarakatnya karena mendapat kabar buruk dengan kelahiran anak perempuan itu. Mereka bersembunyi dari orang banyak karena takut mendapat hinaan, dan tidak menginginkan ada orang yang mengetahui aib yang menimpa dirinya.

Kemudian terbayang dalam pikiran mereka apakah anak yang mendatangkan aib itu akan dipelihara dengan menanggung kehinaan yang berkepanjangan, karena anak perempuan itu tidak berhak mendapat warisan dan penghargaan masyarakat, serta hanya sebagai pelayan laki-laki, atau apakah mereka akan menguburnya ke dalam tanah hidup-hidup.

Kebiasaan mereka mengubur anak perempuan hidup-hidup itu dipandang sebagai dosa besar yang harus mereka pertanggungjawabkan di hari perhitungan, karena perbuatan itu bertentangan dengan nurani manusia dan akal sehat.

Allah swt berfirman:

وَاِذَا الْمَوْءٗدَةُ سُىِٕلَتْۖ   ٨  بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْۚ  ٩

Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa dia dibunuh? (at-Takwir/81: 8-9)

Di akhir ayat, Allah swt menyatakan bahwa alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan dan simpulkan itu, yaitu mereka malu memperoleh anak perempuan sehingga menyembunyikan dirinya dari orang banyak.

Begitu malunya mereka sehingga mereka merasa harus memilih apakah akan tetap memelihara anak perempuan itu tetapi dengan menanggung malu, atau mereka kubur hidup-hidup. Allah menegaskan bahwa pandangan mereka mengenai anak perempuan itu sangat keliru.

Ayat 60

Allah swt menjelaskan bahwa nasib buruk itu justru dimiliki oleh orang-orang kafir itu, yaitu mereka akan terhina karena dimasukkan ke dalam neraka. Sedangkan Allah akan tetap mulia, tidak memerlukan anak atau siapa pundalam menciptakan dan mengelola alam ini. Bahkan bila semua manusia di alam ini membangkang kepada-Nya, tidak akan merusak kemuliaan dan kemahakuasaan-Nya.

Bahkan manusia itu sendiri yang rugi di dunia karena tidak menikmati keuntungan yang diperoleh dari pelaksana-an nilai-nilai mulia yang diajarkan-Nya dan di akhirat masuk neraka.

Itulah yang ditegaskan Allah pada penutup ayat ini, bahwa ia Mahaperkasa dalam kemahakuasaan-Nya dan Mahabijaksana dalam menjatuhkan azab bagi yang ingkar. Artinya, azab itu memang sesuatu yang pantas bagi orang-orang yang ingkar itu.


Baca juga: Kisah Khadijah dan Pembacaan Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir atas QS. Al-Alaq: 1-5


Ayat 61

Allah swt mengancam orang-orang musyrik yang bergelimang dosa. Ancaman itu ialah apabila Allah ingin menghukum manusia karena kezaliman mereka, Ia mampu untuk melakukannya. Mereka akan ditumpas dari permukaan bumi ini, tidak ada satupun yang tersisa.

Akan tetapi, Allah tidak menghendaki yang demikian itu. Karena rahmat-Nya yang luas, Allah menangguhkan siksaan-Nya sampai pada suatu saat yang telah ditentukan, yaitu saat ajal telah merenggut mereka.

Maksudnya adalah agar mereka dapat mengubah pandangan dan perilaku mereka. Akan tetapi, bila mereka tetap  tidak berubah, Allah akan menurunkan azab ketika ajal mereka datang. Dan bila ajal itu telah datang, mereka tidak akan mampu mengundurkan atau mempercepatnya sesaat pun. Kemudian di akhirat mereka akan dimasukkan ke dalam neraka.

Ayat 62

Sekali lagi Allah menjelaskan bahwa mereka selalu melemparkan segala hal yang tidak  mereka senangi kepada Allah, di antaranya  tentang anak perempuan. Mereka tidak mau memiliki anak perempuan, karena menurut mereka anak perempuan hanyalah bagi Allah. Jadi Allahlah yang hina.

Dijelaskan juga bahwa mereka selalu menyampaikan kata-kata dusta, yaitu mereka akan selalu bahagia baik di dunia maupun di akhirat, walaupun bergelimang dosa. Hal itu dibantah oleh Allah seraya mengatakan bahwa tempat mereka adalah neraka dan mereka dijebloskan dengan paksa ke dalamnya.

Dari informasi di atas, jelas bahwa mereka benar-benar tidak mau mempercayai hari kebangkitan dan tidak mau menyadari kejahatan mereka. Itulah sebabnya Allah swt menegaskan bahwa mereka tidak diragukan lagi akan menjadi penghuni neraka dan akan merasakan azab yang sangat pedih pada saat yang telah ditentukan, yaitu hari akhirat.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 63-66


(Tafsir Kemenag)

Surah Ar-Ra’d [13] Ayat 28: Zikir Dapat Menenangkan Hati

0
Zikir menenangkan hati
Zikir menenangkan hati

Secara etimologi zikir berasal dari bahasa Arab zakara-yazkuru-zikrun yang berarti ‘menyebut’ atau ‘mengingat’. Sedangkan secara istilah, zikir acap kali didefinisikan dengan menyebut atau mengingat Allah dengan lisan melalui kalimat-kalimat thayyibah. Zikir sendiri memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah zikir dapat menenangkan hati.

Kendati zikir sering dimaknai sebagai upaya mengingat Allah melalui lisan, namun sesungguhnya esensi zikir ada pada kesadaran penuh akan pengawasan Allah dalam segala aspek kehidupan manusia. Kesadaran inilah yang akan membuat hidup menjadi tenteram, semangat, menenangkan hati dan pikiran. Sebab dalam konteks ini seseorang akan merasa bersama Allah.

Allah swt berfirman dalam surah ar-Ra’d [13] ayat 28 berkenaan zikir dapat menenangkan hati:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ  ٢٨

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13] ayat 28).

Menurut Quraish Shihab, orang yang beriman hatinya akan damai dan tenteram. Sebab zikir dapat menenangkan hati pelakunya. Zikir di sini maksudnya adalah mengingat Allah, baik melalui hati maupun lisan. Dengan zikir seseorang akan keluar dari rasa ragu, bimbang dan kekhawatiran. Ole karena itu, seorang muslim mesti menanamkan zikir dalam kehidupan sehari-hari.

 Kata zikir pada mulanya berarti mengucapkan dengan lidah. Makna ini kemudian berkembang menjadi “mengingat”, karena pada umumnya ketika seseorang mengingat sesuatu, itu akan termanifestasi dalam ucapannya. Dengan demikian, mengingat sesuatu sering kali mengantar lidah menyebutnya. Demikian pula menyebut dapat mengantarkan hati untuk mengingat lebih banyak apa yang disebut (Tafsir al-Misbah [6]: 599).

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna spesifik zikir pada surah ar-Ra’d [13] ayat 28 di atas. Ada yang memahaminya dalam arti Al-Qur’an, karena salah satu nama Al-Qur’an memang al-dzikr. Ada pula yang memahami dalam arti zikir secara umum, baik berupa ayat-ayar Al-Qur’an maupun selainnya. Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa zikir dapat menenangkan hati dan membawa ketenteraman jiwa.

Al-Sa’di menyebutkan dalam kitabnya, Taisir al-Karim al-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, surah ar-Ra’d [13] ayat 28 menginformasikan bahwa zikir dapat menenangkan hati. Maksudnya, zikir dapat menghilangkan kegundahan, kegalauan, keguncangan, dan keraguan hati. Dengan zikir pula hati akan menjadi tentang dan merasakan kenikmatan.

Syekh Nawawi al-Bantani menerangkan bahwa makna surah ar-Ra’d [13] ayat 28 adalah orang-orang yang beriman dengan apa yang dibawa nabi Muhammad akan tenang hatinya dengan mengingat Allah, yakni kalam-kalam-Nya. Pengetahuan seorang muslim terhadap kemukjizatan Al-Qur’an menghasilkan ketenangan hati terhadap kebenaran nabi saw dan ajarannya (Marah Labid).

Menurut Thabathaba’i ketenteraman hati pada surah ar-Ra’d [13] ayat 28 dihasilkan melalui zikir yang berlandaskan keimanan, bukan hanya pengetahuan. Keimanan yang sesungguhnya bukanlah pengetahuan tentang obyek iman semata, tetapi kesadaran dan keyakinan mendalam. Artinya, ilmu saja tidak cukup karena itu tidak mampu mendatangkan ketenangan, bahkan terkadang menghasilkan kecemasan.

Kata thatma’inna pada ayat ini disebut dalam bentuk kata kerja masa kini atau fi’l mudhari’. Penggunaan di sini bukan bertujuan menggambarkan ketenteraman dan ketenangan hati pada masa tertentu, tetapi maksudnya adalah kesimabungan dan kemantapannya. Artinya, orang-orang mukmin yang berzikir akan senantiasa tenteram dan tenang hatinya, baik saat sendirian maupun di tengah orang ramai.

Imam al-Ghazali menyebutkan, manusia sebagai hamba Allah harus dapat mengambil dari lafaz “Allah” kesadaran tentang kebesaran Allah, yakni kekuasaan-Nya yang mutlak, tiada terbatas, pengetahuan dan pengaturan-Nya yang menyeluruh bagi semua makhluk. Selain itu, ia juga harus mengaitkan seluruh jiwanya dengan Allah, tidak memandang kepada selain-Nya, tidak berharap kepada selain-Nya, dan tidak takut kepada selain-Nya.

Dengan demikian, ketika seseorang berzikir ia seharusnya memahami itu semua, bahwa sesungguhnya Allah adalah wujud hakiki dan haq sedangkan selain Dia hanya wujud nisbi yang akan hilang pada waktunya. Dalam konteks ini, zikir dapat menenangkan hati dan membawa pelakunya kepada kesadaran serta keasatuan dalam dzat-Nya yang Maha Agung lagi Maha Kuasa.

Jika zikir tidak dilakukan dengan benar, maka itu tidak akan memberi manfaat signifikan. Maka tak heran, kita sering kali menemukan dan bahkan mungkin dirasakan oleh sebagian orang, masih ada rasa gelisah dan gamang dalam hati, kendati sudah berzikir. Hal ini disebabkan adanya kotoran di dalam hati dan adanya ketidaktulusan (Ihya Ulumuddin).

Imam al-Ghazali mengilustrasikan, jika seseorang sedang berjalan, lalu ada anjing yang hendak mengganggu dan ia menghardiknya, maka anjing itu akan segera pergi. Namun, bila di sekitarnya banyak tulang dan daging yang menjadi makanannya, maka anjing tersebut tidak akan pergi meskipun dihardik dengan keras. Kalaupun dia pergi, paling hanya sebentar untuk kemudian mengintai lagi, menunggu kita lengah lalu segera kembali.

Melalui ilustrasi tersebut, al-Ghazali ingin menjelaskan bahwa zikir itu ibarat sebuah hardikan terhadap setan. Zikir baru akan efektif, kalau hati kita bersih dari makanan setan. Kalau hati sudah bersih, maka zikir akan mampu menghardik setan. Sebaliknya, bila hati dipenuhi dengan makanan setan, maka zikir sebanyak apa pun tidak akan sanggup mengusir setan. Bahkan, setan akan ikut berzikir pula dalam hati kita.

Berdasarkan penjelasan di atas, surah ar-Ra’d [13] ayat 28 berisi tentang informasi bahwa zikir dapat menangkan hati. Zikir di sini pada esensinya adalah mengingat Allah dan segala ke-Maha-an-Nya. Zikir sendiri akan efektif bila dilakukan dengan hati yang bersih dan tulus. Tanpa penghayatan, zikir tidak akan berperan signifikan bagi kehidupan seseorang. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 54-57

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 54-57 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai sifat ingkar mereka. Kedua mengenai keingkaran mereka yang telah melewati batas, yaitu memberikan anak perempan kepada Allah SWT.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 49-53


Ayat 54

mereka yaitu menghilangkan kesulitan yang dideritanya, mereka segera berbalik mempersekutukan tuhan-tuhan yang lain kepada Allah, dan menyembah patung-patung itu kembali. Mereka tidak mau lagi mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Demikianlah tipu daya mereka.

Allah swt berfirman:

وَاِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِى الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُوْنَ اِلَّآ اِيَّاهُۚ فَلَمَّا نَجّٰىكُمْ اِلَى الْبَرِّ اَعْرَضْتُمْۗ وَكَانَ الْاِنْسَانُ كَفُوْرًا

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur). (al-Isra’/17: 67)

Ayat 55

Ayat ini menyatakan bahwa Allah membiarkan orang-orang kafir dan musyrik mengingkari nikmat-nikmat yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Allah juga membiarkan mereka mengingkari-Nya sebagai Zat yang Mahakuasa menghilangkan bahaya yang menimpa mereka, hingga meng-ingkari Allah yang Mahaperkasa melepaskan diri mereka dari bahaya itu.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa mereka dibiarkan menikmati kehidupan dunia dan memuaskan hawa nafsu mereka sampai tiba saatnya ajal merenggut mereka. Sesudah itu, mereka pasti akan kembali kepada Allah. Di saat itulah mereka mengetahui dengan seyakin-yakinnya akibat keingkaran dan pembangkangan mereka. Mereka akan menyesali perbuatan mereka dengan penyesalan yang tiada berguna.


Baca juga: Tafsir Ali Imran Ayat 137: Anjuran Tapak Tilas Kisah Umat-Umat Terdahulu


Ayat 56

Allah swt menjelaskan bahwa di antara perbuatan orang-orang musyrik ialah menyediakan sesaji kepada berhala-berhala mereka, padahal sesaji-sesaji yang disediakan itu merupakan nikmat Allah yang diberikan kepada mereka.

Berbagai sesaji yang diberikan kepada berhala-berhala itu merupakan hasil pertanian atau binatang-binatang ternak mereka. Mereka berbuat demikian dengan maksud agar berhala-berhala itu dapat menolong mereka.

Padahal mereka tidak mengetahui sedikit pun bahwa berhala-berhala itu tidak mampu memberi manfaat dan menghindarkan mereka dari bahaya yang akan menimpa. Perbuatan mereka ini adalah perbuatan syirik, yaitu mempertuhankan yang lain di samping Allah.

Allah swt berfirman:

وَجَعَلُوْا لِلّٰهِ مِمَّا ذَرَاَ مِنَ الْحَرْثِ وَالْاَنْعَامِ نَصِيْبًا فَقَالُوْا هٰذَا لِلّٰهِ بِزَعْمِهِمْ وَهٰذَا لِشُرَكَاۤىِٕنَاۚ فَمَا كَانَ لِشُرَكَاۤىِٕهِمْ فَلَا يَصِلُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَمَا كَانَ لِلّٰهِ فَهُوَ يَصِلُ اِلٰى شُرَكَاۤىِٕهِمْۗ سَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ

Dan mereka menyediakan sebagian hasil tanaman dan hewan (bagian) untuk Allah sambil berkata menurut persangkaan mereka, ”Ini untuk Allah dan yang ini untuk berhala-berhala kami.” Bagian yang untuk berhala-berhala mereka tidak akan sampai kepada Allah, dan bagian yang untuk Allah akan sampai kepada berhala-berhala mereka. Sangat buruk ketetapan mereka itu. (al-An’am/6: 136)

Kemudian Allah mengancam mereka dengan ancaman yang keras. Allah bersumpah dengan nama-Nya, bahwa Ia benar-benar akan meminta pertanggungjawaban mereka atas perbuatan mereka mengada-adakan tuhan selain Allah. Kemudian mereka akan disiksa sesuai dengan keingkaran dan perbuatan mereka itu.

Allah swt berfirman:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْـَٔلَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ

Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, (al-¦ijr/15: 92);Di akhir ayat, Allah swt meminta pertanggungjawaban mereka terhadap apa yang mereka ada-adakan, memberikan pengertian bahwa Allah mencela mereka terhadap perkataan ataupun perbuatan yang mereka ada-adakan itu.

Ayat 57

Kemudian Allah swt mengungkapkan bentuk kesyirikan mereka yang lain, yaitu memberi Allah anak perempuan, sedangkan untuk mereka anak laki-laki.

Allah swt berfirman:

وَجَعَلُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ الَّذِيْنَ هُمْ عِبٰدُ الرَّحْمٰنِ اِنَاثًا ۗ اَشَهِدُوْا خَلْقَهُمْ ۗسَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْـَٔلُوْنَ

Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat hamba-hamba (Allah) Yang Maha Pengasih itu sebagai jenis perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan (malaikat-malaikat itu)? Kelak akan dituliskan kesaksian mereka dan akan dimintakan pertanggungjawaban. (az-Zukhruf/43: 19)

Orang-orang musyrik itu menganggap bahwa para malaikat itu anak-anak perempuan Allah. Perbuatan mereka yang demikian ini dinilai sebagai dosa besar, karena mereka menuduhkan sesuatu kepada Allah yang tidak semestinya, yaitu Allah mempunyai anak-anak perempuan, padahal mereka sendiri tidak senang mempunyai anak-anak perempuan.

Allah swt berfirman:

اَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْاُنْثٰى   ٢١  تِلْكَ اِذًا قِسْمَةٌ ضِيْزٰى   ٢٢

Apakah (pantas) untuk kamu yang laki-laki dan untuk-Nya yang perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. (an-Najm/53: 21-22);Dan firman-Nya:

اَلَآ اِنَّهُمْ مِّنْ اِفْكِهِمْ لَيَقُوْلُوْنَۙ  ١٥١  وَلَدَ اللّٰهُ ۙوَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَۙ  ١٥٢  اَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِيْنَۗ   ١٥٣  مَا لَكُمْۗ  كَيْفَ تَحْكُمُوْنَ  ١٥٤

Ingatlah, sesungguhnya di antara kebohongannya mereka benar-benar mengatakan, ”Allah mempunyai anak.” Dan sungguh, mereka benar-benar pendusta. Apakah Dia (Allah) memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki? Mengapa kamu ini? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan? (as-Saffat/37: 151-154)

Allah swt menegaskan bahwa Dia Mahasuci dari segala tuduhan mereka. Sungguh, sangat keji bahwa mereka hanya menginginkan anak laki-laki  dan tidak menginginkan anak-anak perempuan.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 58-62


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 49-53

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 49-53 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai kekuasaan Allah atas segala yang ada di langit dan bumi. Kedua mengenai larangan agar tidak menyekutukan Allah SWT.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 45-48


Ayat 49

Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa semua makhluk yang ada di langit dan di bumi tunduk kepada kekuasaan-Nya. Mereka itu sujud kepada Allah menurut cara masing-masing sesuai dengan fitrahnya yang alami. Bahkan malaikat pun yang berada di langit tidak mau menyombongkan dirinya dan tidak membangkang kepada ketentuan-ketentuan Allah.

Ayat 50

Di dalam ayat ini, Allah swt menjelaskan ketaatan para malaikat secara khusus, yaitu bahwa para malaikat itu tunduk di bawah kekuasaan Allah dan tekun melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya. Makhluk yang ada di langit dan di bumi tidak dapat dan tidak mampu untuk menghindari hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan Allah yang berlaku.

Demikianlah, penjelasan ini diberikan kepada orang-orang yang mengingkari adanya Allah dan selalu membuat tipu daya itu, supaya mereka menyadari bahwa tidak ada ciptaan Allah yang dapat melepaskan diri dari kekuasaan-Nya. Allah berfirman:

ثُمَّ اسْتَوٰىٓ اِلَى السَّمَاۤءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْاَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا اَوْ كَرْهًاۗ قَالَتَآ اَتَيْنَا طَاۤىِٕعِيْنَ

Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.” (Fussilat/41: 11)

Dan firman-Nya lagi :

وَلِلّٰهِ يَسْجُدُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّظِلٰلُهُمْ بِالْغُدُوِّ وَالْاٰصَالِ ۩

Dan semua sujud kepada Allah baik yang di langit maupun yang di bumi, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayang mereka, pada waktu pagi dan petang hari. (ar-Ra’d/13: 15)

Dengan penjelasan ini diharapkan mereka dapat mengakhiri keingkaran mereka, dan kembali ke fitrah semula yaitu tunduk di bawah kekuasaan Allah dan mempercayai kebenaran wahyu yang diturunkan kepada hamba-Nya yang terpilih, yaitu Muhammad saw.


Baca juga: Tafsir Ali Imran Ayat 137: Anjuran Tapak Tilas Kisah Umat-Umat Terdahulu


Ayat 51

Allah swt menjelaskan kepada para hamba-Nya agar jangan sekali-kali menyembah tuhan-tuhan yang lain selain Dia, karena yang demikian itu berarti mempersekutukan Allah, padahal Allah Mahasuci dari sekutu. Tidak mungkin Allah swt yang Mahakuasa di jagat raya ini lebih dari satu. Dia itu tunggal, dan hanya Dia yang berhak disembah.

Allah memerintahkan kepada manusia agar takut kepada ancaman dan hukuman-Nya. Dia juga melarang manusia mempersekutukan-Nya dan membuat sesembahan lain selain Dia. Secara jelas, larangan yang terdapat dalam ayat ini adalah menyembah dua Tuhan.

Namun demikian, bilangan itu bukanlah menunjukkan bilangan dua saja, tetapi untuk menunjukkan bilangan yang paling sedikit. Sedang yang dimaksud ialah menyembah tuhan-tuhan yang lain selain Allah dan supaya tidak terbayang dalam pikiran manusia ada tuhan-tuhan yang lain selain Dia.;

Ayat 52

Allah swt lalu menjelaskan bahwa semua yang ada di alam ini adalah milik-Nya. Allah tidak membagi kekuasaan-Nya kepada yang lain dalam mengurus segala yang ada di langit dan di bumi. Ia tidak memerlukan pembantu ataupun serikat. Oleh sebab itu, yang berhak ditaati hanyalah Dia. Taat dalam arti yang sebenar-benarnya, ikhlas, dan tidak berkesudahan.

Dengan demikian, tidaklah benar apabila ada manusia yang bertakwa kepada selain-Nya karena tuhan-tuhan itu tidaklah mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan nikmat yang telah ada atau mendatangkan siksa. Oleh karena itu, takwa harus disandarkan hanya kepada Allah.;

Ayat 53

Selanjutnya Allah swt menjelaskan mengapa yang wajib ditakuti hanyalah Allah. Hal itu karena semua nikmat yang mereka peroleh, seperti kesehatan dan kebahagiaan, semata-mata dari Allah. Maka kewajiban manusialah untuk mensyukuri nikmat dan memuji kebaikan-Nya yang tiada terputus kepada makhluk-makhluk-Nya.

Sebaliknya, apabila manusia ditimpa oleh kesukaran hidup, kesulitan, penyakit, dan sebagainya, kepada Allahlah mereka mengeluh dan meminta pertolongan. Hal ini merupakan tabiat manusia bahwa apabila mereka berada dalam kesulitan, terbayanglah dalam pikiran kelemahan mereka dan adanya kekuasaan di luar diri mereka yang menguasai mereka.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 54-57


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 45-48

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 45-48 berbicara mengeani dua hal. Pertama mengenai peringatan Allah kepada orang-orang musyrik yang selalu membuat tipu muslihat. Kedua mengenai perintah Allah kepada mereka agar mereka memikirkan tentang kekuasaan Allah SWT.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 43-44


Ayat 45-47

Allah memberi peringatan kepada orang-orang musyrik, yang selalu berusaha membuat rencana dan tipu muslihat yang jahat dan menghalangi dakwah Islam, bahwa mereka tidak akan pernah merasa aman dari ancaman-ancaman Allah yang akan ditimpakan kepada mereka. Ancaman-ancaman itu ialah:

Pertama: Allah akan menenggelamkan mereka dari permukaan bumi dan memusnahkan mereka dari alam ini, seperti yang dialami oleh Qarun.

Kedua: Allah akan menurunkan siksa bagi mereka dari langit pada saat yang tidak mereka duga sebelumnya, seperti yang dialami oleh kaum Nabi Lut.

Ketiga: Mereka ditimpa azab pada saat berada dalam perjalanan mencari rezeki atau sibuk dalam berdagang, sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menolaknya. Artinya, mereka tidak akan dapat lari untuk melindungi dagangan dan jiwa mereka, karena azab itu menyerang dengan tiba-tiba.

Keempat: Mereka akan mengalami siksaan sebagai hukuman setelah mengalami kerugian harta benda dan nyawa, sehingga mereka tidak dapat melepaskan diri dari siksaan itu.

Kemudian Allah swt mengakhiri firman-Nya dengan menyatakan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hal ini untuk menunjukkan bahwa Allah tidak akan menghukum mereka dengan segera, tetapi mengancam mereka dengan siksaan yang berat. Hal ini untuk memberikan kesempatan berpikir dan waktu kepada mereka untuk mengubah sikap terhadap ajakan rasul. Ini adalah bukti rahmat Allah yang sangat luas bagi para hamba-Nya.


Baca juga: Kisah Qarun Dalam Al-Quran: Orang Paling Kaya Pada Zaman Nabi Musa


Ayat 48

Kemudian Allah swt menyebutkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang berlaku bagi seluruh makhluk-Nya dengan maksud agar orang-orang yang selalu membuat tipu daya yang jahat itu memikirkan segala sesuatu yang telah diciptakan oleh Allah swt, misalnya bayang-bayang.

Pada waktu matahari terbit di ujung timur bayang-bayang dari semua benda memanjang ke arah barat, kemudian apabila matahari meninggi, bayangan itu pun menyusut, dan akhirnya pada saat matahari melintasi meridian, bayangan itu berubah arah.

Ketika matahari mulai menurun, bayangan itu makin lama makin memanjang ke arah timur, sampai pada waktu matahari itu mendekati kaki langit pada ufuk bagian barat, bayangan itu telah memanjang ke timur. Bayang-bayang itu berubah-ubah demikian karena tunduk kepada hukum yang telah ditetapkan Allah.

Bayangan itu bukan hanya berubah arah ke barat dan ke timur, tetapi juga ke utara dan ke selatan setiap tahun. Apabila matahari berada di khatulistiwa persis pada meridian, tidak terdapat bayang-bayang sama sekali.

Akan tetapi, untuk hari-hari berikutnya yaitu sesudah tanggal 21 Maret pada saat matahari di meridian, matahari membuat bayangan yang mengarah ke selatan. Kemudian pada tanggal 21 Juni pada saat yang sama yaitu pada saat matahari berada di meridian bayang-bayang setiap benda mengarah ke selatan sepanjang-panjangnya. Seterusnya makin hari makin memendek, hingga tanggal 23 September.

Sejak itu matahari sudah mulai pindah ke arah selatan dan bayang-bayang mulai mengarah ke utara, makin hari makin memanjang hingga pada tanggal 22 Desember, matahari membuat bayang-bayang mengarah ke utara sepanjang-panjangnya.

Kemudian pada hari berikutnya matahari mulai bergerak ke utara, bayang-bayang mulai memendek dari hari ke hari. Akhirnya pada tanggal 21 Maret, matahari kembali lagi ke daerah khatulistiwa sehingga pada saat matahari sampai ke meridian, bayang-bayang pada saat itu tidak terlihat sama sekali.

Demikianlah untuk seterusnya. Hal itu terjadi karena gerak tahunan matahari itu tunduk kepada tata hukum yang diciptakan oleh Allah dan berlaku untuk setiap makhluk-Nya.

Penjelasan Allah serupa itu ditujukan kepada manusia agar mereka mau meneliti sehingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa semua benda di alam ini tidak ada yang menentang hukum Allah melainkan tunduk di bawah kekuasaan-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 49-53


(Tafsir Kemenag)

 

Kajian Semantik Kata Wahyu dan Keragaman Maknanya dalam Al-Qur’an

0
Kajian Semantik Kata Wahyu dan Keragaman Maknanya dalam Al-Qur’an
Kajian Semantik Kata Wahyu

Kata wahyu merupakan kata yang berasal dari Bahasa Arab (wahy), kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia dan masyhur digunakan. Sebagai bahasa adopsi, terkadang makna wahy digunakan sekenanya tanpa mempertimbangkan dengan keaslian maknanya. Hal ini tentu dipandang perlu untuk mengkaji ulang apa makna wahyu sebenarnya. Di samping itu, kata wahyu merupakan istilah penting dalam Islam, sehingga kita sebagai umat Islam sendiri sangat penting memahami maknanya secara mendalam. Maka dalam tulisan ini, akan dilakukan kajian semantik kata wahyu serta mengungkap keragaman maknanya dalam Al-Qur’an.

Makna Kata Wahyu dalam Konsep Sebelum Al-Qur’an

Perlu diketahui, bahwa sejatinya kata wahyu sudah digunakan masyarakat Arab sebelum al-Qur’an hadir di tengah-tengah mereka, karena pada dasarnya kata wahyu telah lazim digunakan secara berulang-ulang dalam syair-syair Arab yang mereka banggakan. Dalam buku God and man in the Qur’an, Toshihiko Izutsu menjelaskan bahwa makna asli kata wahyu sebelum al-Qur’an tidak terlepas dari tiga makna.

Pertama, wahyu sebagai praktik komunikasi yang mengharuskan adanya dua tokoh yang mana bahasa, posisi dan derajatnya harus sama agar komunikasi benar-benar terwujud, (manusia dengan manusia). Namun komunikasi ini hanya bersifat satu arah. Kedua, wahyu tidak harus bersifat verbal linguistik, sekalipun dapat menggunakan kata-kata. Dan ketiga, wahyu bersifat misterius, rahasia dan pribadi. Oleh karena itu, komunikasi tersebut dilakukan dengan sedemikian privasi antara A dan B, maka konteks komunikasi tersebut sulit dipahami siapapun oleh selain keduanya. Hal ini dibuktikan dengan syair Arab yang mengandung unsur misteri yang disampaikan penyair terkenal ‘Alqamah al-Fahl dalam gubahannya:

يُوْحَى إِلَيْهَا بِإِنْقَاضٍ وَنَقْنَقَةٍ #   كَمَا تَرَاطَن فِي أَفْدَانِهَا الرُّوْمِ

“(Burung Unta jantan) berbicara kepada isterinya dengan suara gemeretak dan naqnaqah, sebagaimana orang Yunani berbicara dengan bahasa yang tidak diketahui di istana mereka”

Kata يوحى dalam syair tersebut mengandung unsur misteri dan rahasia karena maksudnya tersembunyi dan hanya diketahui oleh yang bersangkutan (baca: burung unta jantan). Dikisahkan bahwa burung unta jantan berbicara kepada burung unta betina dengan suara gemeretak, dan tentu saja pembicaraan tersebut hanya mereka berdua yang memahami apa maksudnya.

Baca juga: Teori Semantik Al-Quran Toshihiko Izutsu dan Kontribusinya dalam Studi Al-Quran

Makna Kata Wahyu dalam Konsep Al-Qur’an

Makna wahyu dalam konsep al-Qur’an diasumsikan menggunakan konsep wahyu yang cukup mirip dengan konsep wahyu pra-Qur’an yang disampaikan Toshihiko. Akan tetapi, tentu saja dengan modifikasi-modifikasi, bahwa terdapat kualifikasi-kualifikasi tertentu agar tidak sama persis dengan tiga karakteristik makna wahyu pada masa pra-Qur’an. Adapun konsep makna kata wahyu dalam Al-Qur’an setidaknya mengandung dua makna, yaitu wahyu sebagai kalam atau parole (ujaran personal) dan wahyu sebagai lisan atau langue.

Kedua makna ini merupakan dua sisi dalam melihat bahasa dan saling keterkaitan. Maksudnya, parole dimaknai sebagai peristiwa, dan langue sebagai struktur yang dengannya peristiwa berlangsung. Sebagaimana kita tahu bahwa wahyu (al-Qur’an) turun di tengah masyarakat Arab dengan bahasa Arab. Hal ini tentu agar tidak menjadi bantahan terhadap bangsa Arab, sehingga tidak bisa beralasan mereka tidak mengikuti Al-Qur’an, karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka, walau faktanya mereka tidak serta merta mau menerimanya.

Wahyu sebagai kalam atau parole, dimaknai bahwa wahyu harus sebagai kalam yang konkret atau jelas. Sebagaimana al-Qur’an sebagai wahyu Nabi yang merupakan kalam Ilahi yang benar adanya, nyata, dan jelas. Pewahyuan dalam konsep al-Qur’an ini terjadi antara dua figur yang berbeda, berbeda posisi dan berbeda derajat. Allah Swt sebagai pemberi wahyu sekaligus sebagai Tuhan, dan Nabi Muhammad sebagai manusia yang menerima wahyu tersebut. Jika diselaraskan dengan konsep wahyu pra-Qur’an, hal tersebut tidak bisa dikatakan wahyu karena unsur komunikasi yang berbeda dan dilakukan oleh dua tokoh yang berbeda posisi dan derajat. Akan tetapi, Toshihiko menyebutkan bahwa itulah keistimewaan wahyu al-Qur’an. Al-Qur’an menggambarkan model komunikasi yang berbeda dengan dua figur yang berbeda.

Lebih dari itu, bahkan wahyu dalam konsep al-Qur’an melibatkan tiga aktor yang berbeda posisi: Allah-Malaikat-Nabi Muhammad. Wahyu Allah Swt tersebut tidak hanya berhenti pada Nabi Muhammad saw saja, melainkan Nabi Muhammad harus menyampaikan wahyu tersebut kepada umatnya. Dengan demikian, wahyu dalam konsep al-Qur’an lebih kompleks dan komprehensif, bukan sekadar pola perbincangan antar dua figur.

Kemudian, wahyu sebagai lisan atau langue, yang mana bahasa Arab sebagai bahasa sosial orang Arab dan al-Qur’an diturunkan dengan berbahasa Arab. Dalam hal ini, ada hal menarik yang disampaikan Toshihiko, bahwa ternyata al-Qur’an tidak menjadikan ke arabiyah-annya itu sebagai instrumen untuk mengangkat ras orang Arab dan bahasa Arab itu sendiri sebagai bahasa yang superior (unggul), di atas bahasa-bahasa lain.

Baca juga: Alasan Kenapa Al-Quran Diturunkan Berbahasa Arab

Ragam Makna Wahyu dalam Al-Qur’an

Di dalam al-Qur’an, kata wahy ditemukan sebanyak 78 kali dan masing-masing menyandang makna dan terbentuk dalam derivasi yang berbeda. Hal ini sejalan dengan penjelasan Muhammad Fuad ‘Abd al-Bāqi dalam kitab al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Qur’an al-Karīm, bahwa dari 78 term ini, setidaknya terbentuk dalam kata benda (isim) sebanyak 6 kali dalam kata kerja (fi’il) sebanyak 72 kali.

Dalam bentuk kata benda (isim), penggunaan kata wahyu dalam al-Qur’an selalu berbentuk isim masdar dari tsulatsi mujarrad yang terbentuk dari wazan فَعْلٌ, yakni wahy (وَحْيٌ). Adapun ketika berupa kata kerjanya (fi’il), kata  wahyu dalam al-Qur’an seringkali berbentuk fi’il tsulātsī mazīd, terlebih dalam bentuk fi’il madhi dan fi’il mudhari, yang mana terbentuk dari wazan (أَفْعَلَ – يُفْعِلُ) menjadi (أَوْحَى- يُوْحِي). Hal ini sejalan dengan pendapatnya Abū al-Haytam yang kemudian dikutip al-Azharī (Tahzīb al-Lughah Vol. II, hlm. 213), bahwa kata اَوْحَي ini kerapkali digunakan dalam al-Qur’an dengan tambahan hamzah menjadi أَوْحَي.

Secara semantik kata wahyu yang digunakan dalam al-Qur’an tentu mengandung makna dan maksud yang berbeda. Sebagai contoh dalam Q.S. Maryam [19]: 11, yang mengandung makna penyampaian pesan secara rahasia melalui ucapan tanpa suara serta isyarat tubuh dan tulisan. Kemudian dalam Q.S. Al-An’am [6]: 112 bermakna isyarat, pertimbangan dan tulisan. Masih dalam surah yang sama Q.S. Al-An’am [6]: 121 wahyu bermakna isyarat dan bisikan kewaswasan. Selanjutnya, wahyu juga dimaknai sebagai perkataan Ilahi yang disampaikan kepada para nabi dan wali-Nya. Hal ini tercantum dalam Q.S. Asy-Syu’arā [26]: 52. Kemudian adapula wahyu dimaknai sebagai pengetahuan akan keesaan Allah, sebagaimana dalam Q.S. Al-Anbiyā’ [21]: 25.

Makna selanjutnya adalah makna wahy dari segi penyampaiannya. Nabi Muhammad menerima wahyu melalui malaikat Jibril dengan melihat dzatnya sekaligus suaranya. Ini terjadi ketika Jibril menyampaikan wahyu dengan menyerupai bentuk tertentu, sebagaimana termaktub dalam Q.S. Asy-Syūrā [42]: 51. Kemudian wahyu dimaknai dengan hanya terdengar suara lalu menyelusup langsung ke dalam hati, seperti yang dialami Nabi Musa, sebagaimana dalam Q.S. Asy-Syu’arā [26]: 193-194. Dalam Q.S. Al-Qasas [28]: 7 wahyu dapat berbentuk ilham dan dapat melalui sindiran.

Lebih jauh lagi, wahyu dimaknai sebagai pengetahuan yang disampaikan melalui perantara Nabi untuk orang selain Nabi. Sebagai contoh, melalui Nabi Isa dan disampaikan pada al-Hawāriyyūn dalam Q.S. al-Māidah [5]: 111. Kemudian dengan perantara para nabi dan disampaikan pada umat-umatnya dalam Q.S. Al-Anbiyā’ [21]: 73. Selanjutnya wahyu disampaikan melalui perantara Jibril kepada Musa, dan melalui perantara Jibril dan Musa kemudian disampaikan kepada Harun dalam Q.S. Yūnus [10]: 83.

Dalam suatu ayat, juga terkadang tidak disebutkan siapa yang akan mendapat wahyu, tetapi dapat diketahui dengan melihat konteks ayat Q.S. Fushilat [41]: 12. Dalam ayat tersebut tidak disebutkan secara eksplisit siapa yang diberikan wahyu, akan tetapi dari konteks ayat dapat diketahui bahwa sejatinya wahyu ditujukan kepada para malaikat karena merekalah para penghuni langit, dalam arti malaikatlah sebagai perantara wahyu untuk disampaikan kepada Nabi-Nya.

Demikian penjelasan semantik kata wahyu dalam Al-Qur’an menggunakan model analisis Toshihiko Izutsu dan bagaimana keragaman makna wahyu itu sendiri dalam Al-Qur’an. Semoga bermanfaat. Wallaahu A’lam Bisshawab.

Baca juga: Makna Wahyu dalam Penafsiran Muqatil bin Sulayman

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 43-44

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 43-44 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai para utusan yang rata-rata adalah laki-laki. Kedua mengenai apa yang di bawa oleh masing-masing utusan tersebut.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 44-42


Ayat 43

Allah menyatakan bahwa Dia tidak mengutus seorang rasul pun sebelum Nabi Muhammad kecuali manusia yang diberi-Nya wahyu. Ayat ini menggambarkan bahwa rasul-rasul yang diutus itu hanyalah laki-laki dari keturunan Adam a.s. sampai Nabi Muhammad saw yang bertugas mem-bimbing umatnya agar mereka beragama tauhid dan mengikuti bimbingan wahyu.

Oleh karena itu, yang pantas diutus untuk melakukan tugas itu adalah rasul-rasul dari jenis mereka dan berbahasa mereka. Pada waktu Nabi Muhammad saw diutus, orang-orang Arab menyangkal bahwa Allah tidak mungkin mengutus utusan yang berjenis manusia seperti mereka. Mereka menginginkan agar yang diutus itu haruslah seorang malaikat, seperti firman Allah swt:

وَقَالُوْا مَالِ هٰذَا الرَّسُوْلِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِيْ فِى الْاَسْوَاقِۗ  لَوْلَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُوْنَ مَعَهٗ نَذِيْرًا ۙ

Dan mereka berkata, ”Mengapa Rasul (Muhammad) ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa malaikat tidak diturunkan kepadanya (agar malaikat) itu memberikan peringatan bersama dia.” (al-Furqan/25: 7)

Dan firman-Nya:

اَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا اَنْ اَوْحَيْنَآ اِلٰى رَجُلٍ مِّنْهُمْ اَنْ اَنْذِرِ النَّاسَ وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنَّ لَهُمْ قَدَمَ صِدْقٍ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۗ قَالَ الْكٰفِرُوْنَ اِنَّ هٰذَا لَسٰحِرٌ مُّبِيْنٌ

Pantaskah manusia menjadi heran bahwa Kami memberi wahyu kepada seorang laki-laki di antara mereka, ”Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan.” Orang-orang kafir berkata, ”Orang ini (Muhammad) benar-benar penyihir.” (Yµnus/10: 2)

Mengenai penolakan orang-orang Arab terhadap kerasulan Muhammad karena ia seorang manusia biasa, dapat dibaca dari sebuah riwayat ad-Dahhaak yang disandarkan kepada Ibnu ‘Abbas bahwa setelah Muhammad saw diangkat menjadi utusan, orang Arab yang mengingkari kenabiannya berkata, “Allah lebih Agung bila rasul-Nya itu bukan manusia.” Kemudian turun ayat-ayat Surah Yµnus di atas.

Dalam ayat ini, Allah swt meminta orang-orang musyrik agar bertanya kepada orang-orang Ahli Kitab, baik Yahudi maupun Nasrani, apakah di dalam kitab-kitab mereka terdapat keterangan bahwa Allah pernah mengutus malaikat kepada mereka.

Kalau memang disebutkan di dalam kitab mereka bahwa Allah pernah menurunkan malaikat sebagai utusan Allah, mereka boleh mengingkari kerasulan Muhammad. Akan tetapi, apabila disebutkan di dalam kitab mereka bahwa Allah hanya mengirim utusan kepada mereka seorang manusia yang sejenis dengan mereka, maka sikap mereka meng-ingkari kerasulan Muhammad saw itu tidak benar.


Baca juga: Mengenal Tradisi Aswaja dalam Tafsir Surah Yasin Karya Kiai Abdul Basith


Ayat 43

Sesudah itu Allah swt menjelaskan bahwa para rasul itu diutus dengan membawa bukti-bukti nyata tentang kebenaran mereka. Yang dimaksud dengan bukti-bukti yang nyata dalam ayat ini ialah mukjizat-mukjizat yang membuktikan kebenaran kerasulan mereka. Sedangkan yang dimaksud dengan az-zubur ialah kitab yang mengandung tuntunan hidup dan tata hukum yang diberikan oleh Allah kepada manusia.

Ayat ini juga menerangkan bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw supaya beliau menjelaskan kepada manusia mengenai ajaran, perintah, larangan, dan aturan hidup yang harus mereka perhatikan dan amalkan.

Al-Qur’an juga mengandung kisah umat-umat terdahulu agar dijadikan suri teladan dalam menempuh kehidupan di dunia. Nabi Muhammad juga diperintahkan untuk menjelaskan hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an dan merinci ayat-ayat yang bersifat global mengkhususkan yang bersifat umum, membatasi yang mutlak dan lain-lain agar mudah dicerna dan  sesuai dengan kemampuan berpikir mereka.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan agar mereka memikirkan kandungan isi Al-Qur’an dengan pemikiran yang jernih untuk memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat, terlepas dari berbagai macam azab dan bencana seperti yang menimpa umat-umat sebelumnya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 45-48


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Tradisi Aswaja dalam Tafsir Surah Yasin Karya Kiai Abdul Basith

0
Kiai Abdul Basith
Kiai Abdul Basith

Bagi kita yang belum membaca Tafsir Surah Yasin milik Kiai Abdul Basith mungkin tak pernah terbayangkan kalau dalam karya yang satu ini begitu kental dengan nuansa ke-NU-an. Dalam tafsirnya itu, seolah Kiai Basith mencoba mensosialisasikan pesan dan nilai yang dibawa Al-Quran dengan bercirikhas ala NU. Di antara yang paling kentara adalah seperti tradisi membaca surah Yasin (Yasinan/Tahlilan) dan wiridan bil al-jahr selepas salat. Di sisi lain, ini menjadi bukti layaknya tafsir pada umumnya, kehadiran Tafsir Surah Yasin tidak bisa dilepaskan dari sosok penulisnya sendiri sebagai tokoh penting di lingkungan NU dan seorang kiai pesantren.

Tradisi ‘Yasinan’

Dalam kehidupan warga Nahdliyyin, surah Yasin adalah salah satu surah yang paling favorit dan sering dibaca setiap hari. Terlebih lagi kalau malam jum’at tiba, masyarakat NU antusias berbondong-bondong untuk mengikuti pembacaan Yasin dan tahlil bersama. Dalam pengantar tafsirnya, tidak hanya mengapresiasi, Kiai Abdul Basith bahkan memberikan pijakan normatif betapa pentingnya tradisi Yasinan yang sudah mengakar kuat di tengah-tengah masyarakat NU itu. Ia menandaskan:

“Dalam pandangan penulis, warga Nahdliyyin mestinya patut berbahagia jika selama ini memiliki tradisi untuk selalu membaca surah Yasin dan mengamalkannya dalam kehidupan, meskipun belum mengerti hadis yang menjelaskan keperluannya. Sadarilah bahwa ajaran Islam itu terdiri dari dua hal: hablum minallah dan hablum minannas sebagaimana telah dinyatakan oleh Allah dalam surah Ali Imran ayat 112.” (lihat Basith, Tafsir Surah Yasin)

Baca Juga: Tradisi Wirid Yasin di Gogodalem, Semarang

Bagi Kiai Abdul Basith, kita warga NU sudah sepatutnya berbahagia dengan tradisi membaca surah Yasin dan menghidupkannya dalam kehidupan. Pembacaan surah Yasin secara bersama-sama taruhlah seperti pada acara tahlilan malam jum’at atau pada acara hajatan yang lain, merupakan suatu tradisi yang memiliki banyak manfaat. Tradisi yang sudah lama turun temurun ini tidak sekadar melestarikan hablum minallah, tetapi lebih dari itu juga menjaga keberlangsungan hablum minannas seperti yang termaktub dalam QS. Ali Imran [3]: 112.

Mempererat silaturahmi, solidaritas, meraih berkah dan masih banyak lagi manfaat yang bisa kita dapatkan. Lebih dari itu, surah Yasin juga sudah menjadi kebiasaan masyarakat dibaca ketika salah satu keluarga ada yang sakit kritis. Surah ini dibaca dengan harapan andai bisa sembuh semoga cepat sembuh, dan jika Allah menghendaki yang bersangkutan kembali kepada-Nya, semoga segera diambil oleh-Nya dengan tenang.

Di saat itu, adakalanya surah Yasin dibaca oleh pihak keluarga sendiri, ada juga yang dibaca bersama-sama dengan para tetangga. Tetapi yang jelas, orang yang sakit itu sudah tidak memiliki harapan lagi untuk sembuh karena tanda-tanda akhir kehidupannya telah benar-benar tampak. Singkat kata, pembacaan surah Yasin menjadi pengantar kepulangannya ke hadirat Allah (lihat Fattah, Tradisi Orang-Orang NU, 307-310)

Wiridan ‘bi al-Jahr’ Selepas Salat

Sewaktu menafsiri ayat 33-35, ada yang menarik dari penjelasan Kiai Basith.

وَءَايَةٞ لَّهُمُ ٱلۡأَرۡضُ ٱلۡمَيۡتَةُ أَحۡيَيۡنَٰهَا وَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهَا حَبّٗا فَمِنۡهُ يَأۡكُلُونَ  ٣٣ وَجَعَلۡنَا فِيهَا جَنَّٰتٖ مِّن نَّخِيلٖ وَأَعۡنَٰبٖ وَفَجَّرۡنَا فِيهَا مِنَ ٱلۡعُيُونِ  ٣٤ لِيَأۡكُلُواْ مِن ثَمَرِهِۦ وَمَا عَمِلَتۡهُ أَيۡدِيهِمۡۚ أَفَلَا يَشۡكُرُونَ  ٣٥

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air. Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengakapakan mereka tidak bersyukur?”

Kiai Abdul Basith mengawali penafsirannya dengan menyampaikan:

“Dalam ayat 33 Allah. menyatakan bahwa salah satu kebesaran-Nya yang terletak pada penciptaan Bumi, penciptaan hujan dan dari huja itulah semua makhluk hidup yang ada di bumi bisa makan dan tumbuh. Dalam ayat 34-35 Allah juga menyatakan penciptaan kebun-kebun dan sumber mata air untuk makanan manusia supaya mereka bersyukur.” (lihat Basith, Tafsir Surah Yasin)

Dari cuplikan penafsiran di atas, Kiai Basith memulai penafsirannya dengan menguraikan tentang ke-Esaan Tuhan. Salah satu tanda ke-Esaan Tuhan adalah keberadaan bumi dan menurunkan hujan sehingga semua makhluk yang ada di bumi dapat bertahan hidup. Hal ini dikarenakan kehidupan semua makhluk bumi selalu berhubungan dengan makanan.

Menariknya, setelah menjelaskan ke-Esaan Tuhan dengan mengutip QS. Al-Baqarah [2]: 152, Kiai Basith melanjutkan penafsirannya dengan menjelaskan bahwa sepantasnya manusia bersyukur karena telah diberi karunia yang begitu melimpah. Menurut Kiai Basith, salah satu cara mengekspresikan rasa syukur kita kepada Allah adalah dengan membaca wiridan setiap kali selesai salat yaitu dengan membaca subhanallah sebanyak 33 kali, alhamdulillah 33 kali dan Allahu Akbar 33 kali (lihat Basith, Tafsir Surah Yasin).

Baca Juga: Tujuan Al-Quran Diturunkan: Merubah Tradisi Buruk Masyarakat Jahiliyyah

Tatacara menyampaikan rasa syukur dengan membaca wiridan yang ditawarkan oleh Kiai Abdul Basith mencerminkan sosok dirinya sebagai tokoh NU sekaligus kiai di pesantren. Sejarah memang sudah membuktikan bagaimana pesantren-pesantren sukses menjadi sentra pelestarian tradisi wiridan. Sederhananya, wiridan adalah kegiatan dzikir dan doa yang dilakukan setelah salat baik sendiri atau berjama’ah dengan dibaca bersuara (bi al-jahr).

Wiridan selepas salat semacam ini sudah menjadi rutinitas kaum muslimin terutama warga NU. Wiridan sangat dianjurkan oleh agama karena di antara waktu yang mustajabah adalah ketika selesai menunaikan salat. Satu di antara beberapa dalil yang menganjurkan agar kita selalu wiridan selepas salat adalah QS. Al Nisa’ [4]: 103 (lihat Hartono dan Lutfauziyah, NU dan Aswaja: Menelusuri Tradisi Keagamaan Masyarakat Nahdliyyin di Indonesia, 100-101). Wallahu a’lam []

Tafsir Ali Imran Ayat 137: Anjuran Tapak Tilas Kisah Umat-Umat Terdahulu

0
Tafsir Ali Imran Ayat 137: Anjuran Tapak Tilas Kisah Umat-Umat Terdahulu
Anjuran Tapak Tilas Kisah Umat-Umat Terdahulu

Al-Qur’an adalah sumber utama ajaran Islam. Oleh sebab itu, di dalamnya memuat berbagai macam hal yang berkaitan dengan keberlangsungan umat manusia. Bahkan Al-Qur’an dikatakan “Salih li kulli zaman wa makan”, yakni senantiasa relevan seiring dengan berkembangnya zaman dan pada ruang-ruang waktu yang berbeda. Di dalam Al-Qur’am juga diceritakan umat-umat terdahulu, yang durhaka dan yang patuh kepada utusan Allah Swt. Begitu pula Allah Swt memerintahkan hambanya agar menapaktilasi atau berjalan di muka bumi untuk menelusuri jejak-jejak peninggalan umat-umat terdahulu tersebut. Sebagaimana disebutkan secara eksplisit dalam surah Ali Imran ayat 137 berikut:

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ 

Sungguh telah berlalu sebelum kamu sunah-sunah (Allah), karena itu berjalanlah kamu ke segenap penjuru bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan rasul-rasul” (Q.S. Ali Imran [3]: 138).

Ibnu katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman di saat perang Uhud ketika 70 orang sahabat terbunuh. Adapun yang dimaksud dengan kata “sunan” pada ayat tersebut adalah metode yang muktabar (diakui) dan jalan yang diikuti. Kemudian, Imam Fakhruddin al-Razi menyatakan kata “sunan” pada ayat tersebut menurut meyoritas ulama’ tafsir adalah jalan yang rusak (sunan al-halak), sebab potongan ayat setelahnya memerintahkan agar memperhatikan adzab orang-orang terdahulu yang mendustkan rasul-rasul mereka yakni orang-orang kafir.

Namun dalam riwayat yang lain, kata “sunan” selain orang kafir juga mencakup orang mukmin. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Mujahid bahwa “sunan” memuat di dalamnya orang-orang kafir dan orang-orang mukmin. Sebab selain dunia juga ada akhirat di mana orang-orang mukmin yang meninggal akan harum dan dipuji lalu, dibalas kelak di akhirat sementara orang-orang kafir, mereka dilaknat di dunia dan akan disiksa di akhirat. Sehingga perintah untuk mengetahui umat-umat terdahulu yang nantinya dijadikan sebagai pelajaran seyogianya tidak hanya kepada umat-umat yang menentang tetapi juga umat-umat yang beriman atau yang patuh pada Rasul yang diutus oleh Allah.

Al-Maraghi menyatakan bahwa tujuan Allah menyuruh hamba-Nya agar melakukan perjalan di muka bumi adalah agar mereka berangan-angan mengenai konstelasi keadaan umat-umat terdahulu, sehingga mendapatkan ilmu yang sahih dan mengambil petunjuk dari apa yang telah didapat. Bahwa umat-umat yang haq akan menang dari umat-umat yang batil.

Baca juga: Napak Tilas Kemerdekaan Islam Pada Peristiwa Fathu Makkah

Lantas, apakah yang dimaksud “fasiru” (maka berjalanlah kamu) pada Ali Imran ayat 137 di atas harus dengan mengadakan perjalanan biasa atau traveling? Sementara di era milenial ini seakan-akan dunia ada di genggaman tangan atau bisa disebut dengan era digitalisasi yang memudahkan kita untuk mengetahui berita nasional atau internasional melalui media sosial.

Untuk menjawabnya, saya mengumpulkan beberapa eksegesis potongan ayat tersebut yang sangat relevan dengan zaman modern ini, di mana teknologi informasi dan komunikasi sangat berkembang pesat. Bahwa untuk mengetahui seperti apa umat-umat terdahulu yang kemudian dijadikan pelajaran, tidak harus dihasilkan melalui traveling namun juga dapat melalui aktivitas membaca atau mendengar. Imam Fakhruddin al-Razi dalam “Mafatih al-Gahib” secara tegas menyebutkan bahwa untuk mengetahui berita-berita tersebut tanpa melakukan perjalanan di muka bumi sudah dianggap cukup untuk menghasilkan sesuatu yang dituju.

Eksegesis atau penafsiran yang lebih jelas lagi dari Imam al-Maraghi yang menyebutkan bahwa untuk menapaktilasi jejak-jejak umat-umat terdahulu baik yang durhaka atau tidak, hal tersebut dapat dilakukan dengan cara kita membaca buku-buku sejarah yang ditulis oleh para peneliti yang pernah melakukan perjalanan di penjuru bumi. Dengan begitu, kita dapat menggali pelajaran dan nasihat yang terkandung di dalam perjalanan hidup mereka. 

Barangkali ayat tersebut juga dapat dijadikan sebagai dalil untuk melakukan penelitian dengan cara observasi langsung ke suatu objek atau tempat yang ingin diteliti (penelitian kualitatif). Al-Razi juga menyatakan, tidak salah jika dinyatakan bahwa melihat secara langsung jejak-jejak umat terdahulu dengan diri kita sendiri adalah lebih kuat pengaruhnya daripada hanya sekadar mendengar dari orang lain.

Dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan, untuk mengamalkan maksud atau kandungan Ali Imran ayat 137 di atas, tidak harus dengan cara melakukan perjalanan tetapi cukup dengan membaca, baik membaca di media sosial atau membaca secara langsung buku-buku sejarah. Sebab, dengan tulisan itu pula pengetahuan akan terekam, agama akan hidup, dan bangsa yang datang belakangan akan mengenal sejarah umat-umat sebelumnya, siapa yang tercela dan siapa yang terpuji. Dengan tulisan pula, peradaban manusia akan terbangun dan dapat menjadi penerang terhadap perselisihan. Sebagaimana ungkapan al-Maraghi ketika menafsirkan Q.S. Al-Alaq: 1-5.

Baca juga: Esensi Qalam dan Anjuran Menulis Dalam Al-Quran