Beranda blog Halaman 310

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 20-22

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 20-22 membicarakan tentang bagaiamana Allah menyifati orang-orang yang beriman yang disebut juga dengan Ulul Albab. Para Ulul Albab secara zahir dan batin mengimani apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 18-19


Dalam Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 20-22 dipaparkan delapan macam sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang berpredikat Ulul Albab. Tiga sifat pertama berkaitan dengan Allah SWT, yakni memenuhi janji Allah, memelihara perintah Allah serta takut kepada Allah.

Sedangkan lima sifat lainnya yang dipaparkan dalam Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 20-22 ini berkaitan dengan dirinya sendiri seperti memelihara diri dari siksa akhirat.

Ayat 20, 21, 22

Allah swt menyifati ulul albab dari kalangan orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah suatu kebenaran yang berlaku, sebagai berikut:

  1. Sifat pertama: bahwa orang-orang tersebut senantiasa memenuhi janji Allah, dan tidak mau mengingkari perjanjian itu. Yang dimaksud dengan “janji Allah” di sini ialah janji-janji yang telah mereka ikrarkan atas diri mereka, baik mengenai hubungan mereka dengan Allah, maupun hubungan mereka dengan orang lain. Fitrah mereka yang suci, dan hati mereka yang murni mengakui adanya perjanjian itu dan wahyu Allah pun mengharuskan adanya perjanjian tersebut.

Mereka tidak mau mengingkari atau pun memungkiri perjanjian yang telah mereka kukuhkan, karena mereka sangat menjauhi sifat-sifat kemunafikan.

Betapa pentingnya sifat memenuhi janji ini, oleh Qatadah telah disebutkan bahwa dalam Al-Qur’an, Allah swt telah menyebutnya sebanyak lebih dua puluh kali.

  1. Sifat kedua: mereka memelihara semua perintah Allah dan tidak melanggarnya, baik hak-hak Allah maupun hak-hak hamba-Nya, termasuk memelihara silaturrahim.

Hubungan antara sesama manusia ialah menjalin hubungan tolong-menolong, menjalin cinta dan kasih-sayang, sebagaimana disebutkan dalam hadis:

;عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَنْ اَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

(رواه الشيخان)

Dari Abi Hurairah r.a. bahwasanya ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa senang dilapangkan rezekinya dan selalu disebut-sebut kebaikannya, maka hendaklah pelihara hubungan silaturrahim.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

; Dan hadis Nabi saw:

;عَن ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْبِرَّ وَالصِّلََةَ لَيُخَفِّفَانِ سُوْءَ الْحِسَابِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ اْلايَةَ.

(رواه الخطيب وابن عساكر)

Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata, “Bersabda Rasulullah saw, “Sesungguh-nya kebajikan dan menghubungkan silaturrahim itu, kedua-duanya benar-benar meringankan hisab yang buruk di hari kiamat.” Kemudian Rasulullah saw membaca ayat ini.” (Riwayat al-Khatib dan Ibnu ‘Asakir)

  1. Sifat ketiga: mereka benar-benar takut kepada Allah swt. Sifat takut kepada Allah adalah perasaan takut yang dilandasi dengan rasa hormat yang mendorong orang untuk taat kepada-Nya. Sifat ini dimiliki oleh para ulama, dan ciri dari orang-orang “muqarrabin”. Dalam hubungan ini Allah swt telah berfirman:

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ

Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. (Fatir/35: 28)

  1. Sifat keempat: mereka senantiasa takut kepada hisab yang sifatnya merugikan mereka pada hari kiamat, yaitu hasil yang buruk dari amalan mereka di hari kiamat, karena banyaknya kejahatan yang dilakukannya selagi hidup di dunia ini. Oleh sebab itu, mereka senantiasa mawas diri, sebelum dihisab amalannya di akhirat kelak.

Mereka selalu membandingkan antara amal-amal mereka yang baik dengan yang buruk, selalu berusaha agar amal yang baik lebih banyak dari perbuatan yang buruk, agar neraca kebajikan mereka di akhirat kelak lebih berat daripada neraca keburukan. Dalam hal ini, Allah telah berfirman:

فَاَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهٗۙ ٦فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۗ ٧وَاَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهٗۙ  ٨  فَاُمُّهٗ هَاوِيَةٌ  ۗ  ٩

Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)-nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)-nya maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. (al-Qari’ah/101: 6 – 9)

  1. Sifat kelima: mereka senantiasa sabar dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan, demi mengharapkan rida Allah. Sabar dalam hal ini berarti menahan diri terhadap segala hal yang tidak disenanginya, baik dengan cara melakukan ketaatan dan menunaikan segala kewajiban yang telah ditetapkan agama maupun dengan jalan menjauhi hal-hal yang dilarang agama.

Bisa juga berarti bersikap rela menerima segala ketentuan Allah yang telah berlaku berupa musibah dan lain sebagainya.

Kesabaran yang diminta dari setiap orang yang berakal dan beriman ialah kesabaran yang dilakukan semata-mata karena mengharapkan keridaan Allah dan ganjaran-Nya, bukan kesabaran yang dibuat-buat karena ingin dipuji dan disebut-sebut. Itulah kesabaran yang sejati, yang menjadi sifat bagi orang-orang yang berakal dan beriman.


Baca juga: Keindahan Bahasa Al-Qur’an dan Kemunculan Metode Tafsir Sastrawi


  1. Sifat keenam: mereka senantiasa mendirikan salat. Arti “mendirikan salat” ialah menunaikan dengan cara yang sebaik-baiknya, dengan menyempurnakan rukun dan syaratnya, disertai rasa khusyuk dan tawaduk menghadapkan wajah dan hati kepada Allah semata, tidak dibarengi dengan ria, serta memelihara waktu yang telah ditetapkan untuknya.

Hal ini hanya dapat dilakukan bila pada saat-saat melakukan salat, kita merasa sedang berdiri sendiri di hadapan Allah swt, Pencipta dan Penguasa semesta alam. Dengan demikian, maka tak ada sesuatu pun yang dipikirkan pada saat itu, kecuali semata-mata bermunajah kepada Allah.

  1. Sifat ketujuh: mereka senantiasa menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan, baik infak wajib seperti terhadap istri, anak, dan karib kerabat maupun infak sunah seperti terhadap fakir miskin. Kenyataan dapat memberikan pengertian kepada kita tentang rahasia yang tersimpan di dalamnya.

Al-Qur’an berulang kali menganjurkan kepada orang-orang mukmin untuk menginfakkan sebagian dari rezeki yang telah diperolehnya kepada yang memerlukan pertolongan, dan untuk menyokong kepentingan umum. Jika mereka mau melakukannya, niscaya kemiskinan dan kemelaratan dapat dilenyapkan dari kehidupan masyarakat.

  1. Sifat kedelapan: mereka senantiasa menolak kejahatan dengan kebajikan, karena kebajikan itu dapat menolak kejahatan. Kenyataan menunjukkan bahwa apabila seseorang dapat bergaul dengan orang lain dengan akrab dan kasih sayang serta menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan, ia tidak akan dimusuhi atau dibenci oleh masyarakatnya.

Apabila ia mendapat musibah, maka orang yang pernah mendapat pertolongannya akan segera pula mengulurkan pertolongan kepadanya. Sebaliknya orang yang suka menyakiti orang lain, atau enggan memberikan bantuan dan pertolongan adalah orang yang egois dan tidak menggunakan akalnya.

Sikap dan perbuatannya itu hanyalah mempersempit ruang lingkup kehidupannya sendiri, serta menimbulkan kebencian dan kedengkian orang lain terhadap dirinya.

Berbuat kebaikan untuk menghindari kejahatan, atau sedapat mungkin membalas perbuatan jahat orang lain dengan berbuat kebajikan atau dengan diam adalah tanda orang yang mau menggunakan akalnya dan bijaksana. Firman Allah:

وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

“… dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “salam.” (al-Furqan/25: 63)

Dari sini dapat dipahami, betapa tingginya nilai ajaran agama Islam dalam membina hubungan baik antara sesama manusia guna menciptakan kerukunan dan kesejahteraan masyarakat.

Pada akhir ayat ini, Allah swt menegaskan bahwa orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut pasti akan memperoleh tempat kediaman terakhir yang baik, yaitu surga Jannatun Naim di akhirat kelak di samping kebahagiaan, ketenangan, dan kesejahteraan di dunia ini.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 23-24


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 18-19

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 18-19 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai balasan yang baik bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya secara penuh. Kedua berbicara mengenai perbedaan antara orang yang mengerti akan kebenaran dan yang tidak.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 17


Ayat 18

Bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, mengikuti semua perintah-Nya, dan membenarkan apa yang diturunkan oleh Allah kepada rasul-Nya, disediakan pembalasan yang baik, yang bersih dari segala penderitaan dan kesusahan dan kekal selama-lamanya. Sesuai dengan firman Allah:

لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوا الْحُسْنٰى وَزِيَادَةٌ  ۗ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). (Yµnus/10: 26);Dan firman-Nya:

وَاَمَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهٗ جَزَاۤءً ۨالْحُسْنٰىۚ وَسَنَقُوْلُ لَهٗ مِنْ اَمْرِنَا يُسْرًا  

Adapun orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka dia mendapat (pahala) yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami sampaikan kepadanya perintah kami yang mudah-mudah. (al-Kahf/18: 88)

Bagi mereka yang tidak memenuhi seruan Allah, tidak menaati-Nya, tidak mengikuti perintah-Nya dan tidak mencegah diri dari larangan-Nya, ada bermacam-macam perlakuan dan azab, di antaranya:

  1. Ketika menghadapi azab yang sangat pedih, niscaya mereka melepaskan seluruh kekayaan itu untuk menebus dirinya dari azab Allah. Sebab yang paling dicintai oleh setiap orang adalah dirinya sendiri. Apabila dirinya terancam bahaya, maka seluruh kekayaannya akan dijadikan sandera atau tebusan, demi untuk keselamatan dirinya.
  2. Mereka akan diperiksa secara rinci dan diteliti semua amal perbuatannya sampai sekecil-kecilnya. Tersebut dalam sebuah hadis: Barang siapa yang dihisab secara rinci pasti kena azab.
  3. Tempat kediaman mereka ialah Jahanam, dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman dan tempat kembali.

Baca juga: Membaca Ayat-Ayat Antropomorfisme: Tafsir Tajsim Muqatil Ibn Sulaiman


Ayat 19

Pada ayat ini, Allah swt menjelaskan bahwa tidak sama orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepada Muhammad adalah sesuatu yang nyata benarnya dan datang dari Allah dibandingkan dengan orang buta yang tidak memahami dan mempercayainya. Firman Allah:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلًاۗ

Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur’an) dengan benar dan adil. (al-An’am/6: 115)

Menurut Ibnu ‘Abbas, ayat ini turun berkaitan dengan dua orang, yang seorang mukmin dan yang lainnya kafir, yaitu Hamzah dan Abu Jahal. Apakah (Hamzah) yang percaya dan mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw itu benar, tanpa keraguan lagi, sama dengan (Abu Jahal) yang buta hatinya, dan sama sekali tidak mendapat petunjuk kepada kebaikan? Tentu tidak sama. Hanya orang-orang yang sehat pikirannya saja yang dapat menyadari hal seperti ini, dan yang dapat mengambil manfaat dari perumpamaan-perumpamaan yang dikemukakan Allah swt dalam kitab suci-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 20-22


(Tafsir Kemenag)

Sekolah Hadis El-Bukhari Institute Membuka Pendaftaran Member Baru Periode Juli – Desember 2021

0
Sekolah Hadis
Sekolah Hadis

Setelah kurang lebih lima tahun berjalan, Sekolah Hadis El-Bukhari Institute telah berhasil membantu ratusan peserta dalam memahami kajian hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. Mulai dari kelas Ilmu Hadis Dasar yang membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan unsur-unsur hadis dan pembagian-pembagiannya, Ilmu Takhrij dan kajian sanad yang mengkaji kaedah-kaedah dalam menemukan hadis serta menganalisis kualitasnya, hingga kajian metode memahami hadis (atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ilmu Matan Hadis) yang bertujuan untuk menuntun seseorang dalam mengamalkan hadis sesuai dengan konteks situasi dan kondisi kenapa sebuah hadis itu disampaikan oleh Nabi Saw kepada umatnya.

Ketika seorang muslim mendengar atau membaca sebuah hadis, dia tidak diperkenankan untuk langsung mengamalkannya sebelum mengkajinya secara mendalam melalui ketiga ilmu yang disebutkan di atas atau menanyakannya kepada mereka yang menguasai ketiga ilmu tersebut. Hal itu disebabkan karena hadis mempunyai beragam pemaknaan dan sudut pandang yang tidak mungkin hanya bisa dipahami lewat terjemahan semata ataupun interpretasi dangkal yang tidak didasari oleh ilmu yang memadai. Akibat dari interpretasi yang dangkal tersebut sangat banyak kita temui saat ini oknum-oknum yang menyalahgunakan hadis untuk hal-hal negatif yang justru bertentangan dengan semangat hadis itu sendiri.

Sebagai contoh misalnya, ada oknum yang menggunakan hadis untuk memerangi kelompok lain yang mereka anggap berbeda secara akidah dengan mereka. Selain itu ada juga oknum yang dengan pemahaman tesktualnya menyesatkan dan bahkan mengafirkan saudaranya sesama muslim lantaran berbeda secara muamalah sehari-hari dengan mereka. Dan bahkan ada juga sebagian oknum yang dengan beraninya menggunakan hadis untuk tujuan-tujuan politis dalam rangka mendukung atau menolak seorang tokoh yang mereka jagokan untuk memimpin pemerintahan. Kasus-kasus tersebut cukup menjadi bukti kuat bahwa kajian hadis perlu untuk dibumikan dan disebarluaskan kepada semua masyarakat agar kesucian hadis tetap terjaga.

Untuk itu Sekolah Hadis El-Bukhari Institute hadir kembali dan membuka peluang untuk semua masyarakat muslim Indonesia yang ingin mendalami kajian Hadis secara menyeluruh untuk ikut bergabung sebagai member program. Adapun fasilitas yang akan didapatkan di antaranya adalah berhak mengikuti ketiga cabang ilmu hadis yang sudah kami jelaskan di atas sampai tuntas sekaligus mengikuti kajian kitab-kitab Hadis, Ilmu Hadis, dan Fikih secara komprehensif bersama dengan asatidz El-Bukhari Institute. Selain itu, member juga akan mendapatkan buku panduan dan kitab-kitab kajian yang akan dikirimkan secara langsung ke alamat peserta plus kesempatan untuk mengakses kajian hadis digital secara gratis selama satu tahun melalui platform Hadispedia.

Untuk pendaftaran dan informasi detail lainnya bisa ditemukan dengan mengklik tautan berikut http://bit.ly/SekolahHadisEl-Bukhari atau mengikuti semua akun media sosial kami di IG dengan nama akun @hadispedia, Facebook dengan nama akun Hadis Pedia, Twitter dengan nama akun hadispedia, dan website resmi kami www.hadispedia.id. Mari bersama kita kembangkan kajian hadis menjadi kajian yang lebih hidup, inklusif, dan inovatif agar mudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi oase dalam segala tindak-tanduk kehidupan kita.!

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 17

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 17 berbicara mengenai perumpamaan terjadinya proses keimanan antar manusia satu dengan yang lainnya. Perumpamaan yang dikemukaan diambil dari proses terjadinya hujan beserta aliran-alirannya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 16


Lebih lanjut Air dari proses hujan yang dijelaskna dalam Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 17 ini mengaliri lembah lalu sedikit demi sedikit menggerus bebatuan lalu kemudian membentuk aliran sungai sehingga terbentuk sungai besar dan kecil.

Selain memaknai Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 17 dari sisi teologinya, di sini dijelaskan pula dari sisi ekologinya.

Ayat 17

Allah menurunkan air hujan dari langit yang mengandung awan, lalu mengalirkan air hujan itu ke berbagai lembah yang lebar dan yang sempit sesuai dengan ukurannya. Kajian saintis menjelaskan bahwa lembah-lembah umumnya terbentuk oleh gerusan air.

Air pertama-tama menggerus bagian-bagian batuan yang paling lunak dan kemudian membentuk aliran sungai. Alur aliran sungai ini lambat laun membesar membentuk lembah-lembah sungai. Ukuran lembah-lembah sungai umumnya selain dipengaruhi oleh besarnya aliran air yang juga ditentukan oleh besarnya curah hujan, kekerasan batuan dan umur batuan.

Dalam bidang geomorfologi dikenal besaran kerapatan sungai, yaitu jumlah panjang sungai yang terdapat pada satu luasan daerah dengan satuan km/km2. Besarnya kerapatan sungai umumnya menggambarkan besarnya curah hujan di daerah tersebut.

Arus air itu akan menimbulkan banyak buih di permukaannya yang merupakan gumpalan buih yang ikut bergerak dengan arus air, sehingga bila ada angin kencang yang bertiup, maka buih itu akan segera lenyap dari pandangan mata.

Menurut kajian saintifik, buih adalah zat mengambang di atas air yang mengandung banyak udara. Terjadinya buih merupakan bagian dari proses pemurnian air yang terjadi secara alami dalam pengalirannya (dikenal dengan istilah self purification).

Pemurnian ini terjadi karena adanya pencampuran dengan udara yang melarut ke dalam air terutama oksigen. Dengan adanya oksidasi, pengotor (umumya senyawa organik) yang terlarut di dalam air mengurai dan bagian yang ringan mengapung di atas permukaan air, sedangkan bagian yang berat akan tenggelam dan mengendap.

Inilah perumpamaan yang pertama yang dikemukakan oleh Allah swt tentang kebenaran dan kebatilan serta tentang keimanan dan kekafiran.

Buih juga bisa terbentuk dalam proses pemurnian logam dengan pemanasan. Bijih logam di alam umumnya ditemukan dalam bahan padat yang tidak murni.

Pada proses peleburan, bijih mencair, dan logam-logam yang berat akan tenggelam sedangkan bagian yang kurang bermanfaat atau yang dapat merusak mutu hasil biasanya berupa buih dan akan mengapung ke permukaan bersama udara yang terkandung di dalamnya.

Logam tersebut dibuat untuk perhiasan dan alat-alat keperluan rumah tangga, pertanian, pertukangan, dan perindustrian. Inilah perumpamaan yang kedua.

Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batil. Kebenaran dan kebatilan itu bila bercampur, seperti arus air yang bercampur dengan buih, atau seperti logam yang dibakar yang sama-sama juga mengeluarkan buih berupa kotoran karat yang semula melekat pada logam itu, kemudian terpisah karena pengaruh api yang membakarnya.

Maka sebagaimana buih yang berada di atas arus air akan lenyap setelah ada tiupan angin, dan buih yang berada di atas logam yang sedang dibakar akan hilang pula karena api, demikian pula perkara yang batil akan hilang musnah bilamana datang hak dan kebenaran yang jelas.

Buih itu akan hilang tersangkut di pinggir lembah dan pohon atau ditiup angin. Demikian pula kotoran atau karat yang semula melekat pada logam akan habis terbakar.

Yang tinggal hanya yang memberi manfaat saja kepada manusia, yaitu air, yang dapat diminum, digunakan untuk mengairi tanaman yang bermanfaat bagi manusia dan binatang, emas yang digunakan untuk perhiasan, dan logam-logam lainnya untuk alat rumah tangga, pertanian, dan sebagainya.


Baca juga: Tafsir Tarbawi: Pentingnya Pendidikan Ekologi bagi Peserta Didik


Dari kedua perumpamaan itu dapat diambil pengertian bahwa Allah swt telah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw kemudian disampaikan ke dalam hati manusia yang masing-masing tidak sama potensi dan persiapannya untuk menerima.

Masing-masing mempunyai keterbatasan dalam hal bacaan, pengertian, hafalan, dan pengamalannya. Ayat Al-Qur’an menjadi unsur kehidupan kerohanian dan kebahagiaan hidup sebagaimana air menjadi sebab hidup semua makhluk.

Di antara tanah yang ditimpa hujan itu ada yang tandus, tidak dapat menumbuhkan tanam-tanaman, hanya sekedar menyimpan air saja, yang dapat dijadikan sumber penampungan air jernih.

Ada pula tanah yang subur yang setelah disiram dengan air hujan dapat menghasilkan bermacam-macam hasil bumi. Itulah air yang bermanfaat bagi manusia dan binatang-binatang.

Di antara logam yang dilebur dalam api seperti emas, perak, tembaga, perunggu, dan timah, ada yang dijadikan alat rumah tangga, pertukangan, perindustrian dan sebagainya. Orang mukmin diumpamakan seperti air dan logam yang bermanfaat bagi manusia dan binatang.

Buih yang semula bercampur kemudian lenyap karena tiupan angin atau habis dibakar oleh api, adalah perumpamaan bagi kekafiran dan kebatilan yang akhirnya hancur bila berhadapan dengan hak dan kebenaran, firman Allah:

وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ  ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

Dan katakanlah, ”Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap. (al-Isra’/17: 81)

Demikianlah Allah membuat perumpamaan yang indah yang dapat menjelaskan kepada manusia apa yang masih dipandang sulit oleh mereka tentang masalah-masalah agamanya, agar jelas perbedaan antara yang hak dan yang batil, antara keimanan dan kekafiran, sehingga mereka dapat menempuh jalan petunjuk kepada kebahagiaan dan menghindari jalan yang dimurkai Allah dan menyesatkan.

Dengan memperhatikan perumpamaan-perumpamaan yang tepat dan baik itu niscaya umat Islam akan menjadi umat terbaik yang dikeluarkan di muka bumi untuk jadi teladan bagi umat yang lain. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari:

;إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا طَائِفَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوْا وَرَعَوْا وَسَقَوْا وَزَرَعُوْا. وَاَصَابَتْ طَائِفَةٌ مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيْعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِيْ دِيْنِ اللهِ وَنَفَعَهُ اللهُ بِمَا بَعَثَنِى بِهِ وَنَفَعَ النَّاسَ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ. وَمَثَلُ مَنْ لمَ ْيَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلمَ ْيَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ.

Sesungguhnya perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutus diriku, adalah seperti air hujan yang menimpa bumi. Di antaranya ada sebagian bumi yang menerima air itu, lalu menumbuhkan rumput dan tanam-tanaman. Ada pula tanah yang tandus, hanya menyimpan air saja, lalu Allah memberikan manfaat air itu kepada manusia.

Maka ada yang meminumnya dan mempergunakannya untuk mengairi kebun-kebun tanamannya dan ladang-ladangnya. Ada pula sebagian tanah yang keras, tidak dapat menyimpan dan menyerap air, sehingga tidak menumbuhkan tanaman apa-apa.

Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan Allah memberikan manfaat kepadanya dalam ajaran agama yang Allah mengutusku untuk menyampaikannya kepada manusia, sehingga ia mengetahui dan mengajarkannya (kepada orang lain), dan perumpamaan orang yang sama sekali tidak memperhatikan dan tidak menerima petunjuk Allah yang mengutusku untuk menyampaikannya. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Diriwayatkan pula oleh Imam A¥mad dari Abu Hurairah:

;مَثَلِىْ وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا اَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِى يَقَعْنَ فِى النَّارِ يَقَعْنَ فِيْهَا وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَقْتَحِمْنَ فِيْهَا فَذَلِكَ مَثَلِىْ وَمَثَلُكُمْ اَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِ النَّارِ، هَلُمَّ عَنِ النَّارِ فَتَغْلِبُوْنِى فَتَقْتَحِمُوْنَ فِيْهَا.

(رواه أحمد والشيخان عن أبى هريرة)

Perumpamaanku denganmu seperti orang menyalakan api, ketika api menerangi tempat sekelilingnya, mulailah kupu-kupu dan serangga yang mendatangi berjatuhan ke dalam api, dan orang itu menghalangi, namun dikalahkan oleh serangga-serangga lalu masuklah serangga-serangga itu ke dalam api. Itulah perumpamaanku denganmu. Aku menghalangimu dari api, jauhilah api itu, namun kamu mengalahkanku dan menerobos masuk ke dalamnya. (Riwayat Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Abu Hurairah)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 18-19


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 16

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 16 berbicara tentang pembangkangan yang dilakukan oleh orang-orang kafir semasa Nabi Muhammad SAW. NAbi diperintahkan untuk menanyak tentang siapakah pencipta alam semesta yang indah ini?


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d ayat 14-15


Ayat 16

orang-orang yang menyekutukan Allah, “Siapakah pencipta alam semesta yang keindahannya sangat mengagumkan manusia?” Kemudian Nabi sendiri diminta untuk menjawab pertanyaan itu dan mengatakan kepada mereka, “Dialah Allah yang menciptakan semuanya, mengatur, dan memeliharanya secara tertib dan sempurna.”

Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw supaya menjawab pertanyaan itu karena bunyi jawaban itu akan sama dengan yang diucapkan oleh orang-orang musyrik sendiri. Mereka tidak akan mengingkari bahwa penciptanya adalah Allah sendiri, seperti tersebut dalam firman-Nya:

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ ۗفَاَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ

Dan jika engkau bertanya kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Pasti mereka akan menjawab, “Allah.” Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran). (al-‘Ankabµt/29: 61)

Jika memang Allah pencipta alam semesta, maka patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah, padahal berhala-berhala yang mereka sembah itu tidak dapat memberi kemanfaatan atau menolak kemudaratan.

Mengapa mereka tetap menjadikan benda-benda mati itu menjadi pelindung? Mengapa akal pikiran mereka tidak digunakan untuk menentukan pilihan yang benar? Padahal benda-benda tersebut tidak mempunyai kemampuan apa-apa meskipun hanya menciptakan seekor lalat. Firman Allah:

اِنَّ الَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ لَنْ يَّخْلُقُوْا ذُبَابًا وَّلَوِ اجْتَمَعُوْا لَهٗ ۗوَاِنْ يَّسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْـًٔا لَّا يَسْتَنْقِذُوْهُ مِنْهُۗ

Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. (al-Hajj/22: 73)

Kemudian dalam rangka membuka tabir kepicikan akal mereka, sehingga tidak dapat membandingkan antara yang baik dan yang buruk, Nabi saw diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka adakah sama orang buta yang sama sekali tidak dapat melihat dengan orang yang matanya sehat, dapat melihat semua benda di hadapannya dengan terang dan jelas?

Tentu saja jawabannya adalah tidak sama. Jika ditanyakan pula kepada mereka apakah sama gelap gulita dengan terang benderang? Tentu jawabannya juga tidak sama. Dengan demikian, akhirnya dapat disimpulkan bahwa Allah Yang Maha Esa dan Sempurna dalam segala-galanya tidak bisa disamakan dengan berhala, benda mati yang sama sekali tidak dapat memberi manfaat dan menolak kemudaratan.


Baca juga: Tafsir Ahkam: Hukum Memakan Janin yang Mati dalam Perut Hewan yang Disembelih


Demikian pula kekafiran seseorang kepada Allah dan rasul-Nya tidak sama dengan cahaya keimanan seorang mukmin yang memancar dari wajah dan hatinya. Pertanyaan selanjutnya, apakah berhala-berhala yang mereka sembah itu dapat menciptakan makhluk seperti ciptaan Allah, sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka, dan sukar dibedakan mana ciptaan berhala dan mana ciptaan Allah?

Jika Allah bisa disamakan dengan berhala dalam penciptaan maka ada alasan bagi mereka untuk menyekutukan-Nya. Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian. Berhala-berhala itu adalah benda mati, jangankan dapat disamakan ciptaannya dengan ciptaan Allah, wujudnya saja ada karena diukir oleh tangan manusia.

Mereka tidak dapat menjawab jika ditanya dan tidak dapat memberi kemanfaatan dan kemudaratan sedikit pun kepada penyembahnya. Sesajen yang dihidangkan di hadapannya jika dicuri oleh lalat, mereka sama sekali tidak dapat mengambilnya kembali. Bahkan jika penyembah-penyembahnya sedang lengah, seekor serigala pun dapat mengencingi kepalanya.

Allah adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk pula Pencipta berhala-berhala, dan Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa. Mengapa kamu menyembah kepada selain-Nya, yang sama sekali tidak memberi manfaat dan kemudaratan?


Baca setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 17


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Al-Furqan Ayat 61: Matahari Sebagai Sumber Energi Terbarukan

0
matahari sebagai sumber energi terbarukan
matahari sebagai sumber energi terbarukan

Sudah saatnya manusia beralih menggunakan energi matahari dalam kehidupan sehari-hari, guna mengatasi perubahan iklim yang begitu cepat (climate change) dan mengurangi degradasi lingkungan diperlukan sebuah bauran energi yang ramah lingkungan dan terbarukan (renewable energy). Bauran energi terbarukan terbesar itu ada dalam energi matahari.

Anshul Awasthi dalam risetnya yang terbaru di tahun 2020, berjudul Review on sun tracking technology in solar PV system, menjelaskan bahwa energi surya merupakan sumber energi terbarukan (renewable source of energy) yang tidak menimbulkan  pencemaran lingkungan selama penggunaannya. Karena itu, ia menyarankan agar energi ini diadopsi, dimanfaatkan dan menggantikan semua sumber energi konvensional yang bersifat “tidak ramah lingkungan”.

Apa yang dikatakan Anshul dalam risetnya sejatinya telah dilukiskan dalam firman Allah swt Q.S. al-Furqan [5]: 61 bahwa Allah swt telah menjadikan padanya (Matahari) yang sirajan (menyala bersinar terang) dan bulan yang bercahaya (qamaran muniran).

تَبٰرَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِى السَّمَاۤءِ بُرُوْجًا وَّجَعَلَ فِيْهَا سِرٰجًا وَّقَمَرًا مُّنِيْرًا

Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar. (Q.S. al-Furqan [25]: 61)

Dalam ayat yang lain dinyatakan,

وَّجَعَلَ الْقَمَرَ فِيْهِنَّ نُوْرًا وَّجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا

Dan di sana Dia menciptakan bulan yang bercahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita (yang cemerlang)? (Q.S. Nuh [71]: 16)

Baca Juga: Tafsir Surah Luqman Ayat 29, Matahari Sebagai Sumber Kehidupan

Tafsir Al-Furqan Ayat 61 tentang Energi Matahari

Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkan ayat di atas (Q.S. al-Furqan [25]: 61) dengan menukil riwayat sahabat, yaitu telah diceritakan kepada kami Muhammad bin al-‘Ala, Muhammad bin al-Mutsanna, Salim bin Janadah, mereka berkata kepada Abdullah bin Idris bahwasannya saya mendengar ayahku, dari Athiyah bin Sa’ad di dalam firman Allah swt “tabarakal ladzi ja’ala fis sama’ burujan bermakna qushuran fis sama’ (istana di langit). Abi Shalih juga menafsirkan demikian. Ulama mutaakhirin menafsirkannya dengan al-nujum al-kibar (bintang-bintang yang besar).

Selain itu, al-Tabari juga mengemukakan berbagai bacaan qiraat tentang redaksi wa ja’ala fiha sirajan. Imam qurra Madinah dan Basrah, misalnya, mengatakan bahwa redaksi tersebut menunjukkan makna tauhid. Sedangkan Qatadah menafsirkan kata sirajan dengan al-syams (matahari). Adapun ulama qurra Kuffah membacanya dengan surujan bermakna jima’ (berhubungan intim). Takwilnya, Allah swt menempatkan gugusan bintang itu dalam kondisi demikian.

Tidak jauh berbeda, al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib dan Ibn al-Jauzi dalam Zad al-Masir menafsirkan kata sirajan dengan dua makna yaitu al-syamsi wal kawakibi al-kibari (matahari dan gugusan planet yang agung) sebagaimana dikatakan Hasan dan al-A’masy. Sedangkan term qamaran muniran bermakna jama’ dari lailah qamra (malam yang bersinar) sebab cahaya matahari yang menerangi gelapnya malam.

Dalam tafsir yang lain, al-Zamakhsyari, misalnya, dalam Tafsir al-Kasyaf ia menafsirkan cukup rinci terkait gugusan bintang dalam ayat di atas.

البروج منازل الكواكب السبعة السيارة الحمل، والثور، والجوزاء، والسرطان، والأسد، والسنبلة، والميزان، والعقرب، والقوس، والجدي، والدلو، والحوت وسميت بالبروج التي هي القصور العالية لأنها لهذه الكواكب كالمنازل لسكانها

“Gugusan bintang itu meliputi tujuh planet, yaitu Aries (al-haml), Taurus (al-tsaur), Gemini (al-jauza’), bintang cancer (al-surthan), Leo (al-asad), virgo (al-sunbulah), libra (al-mizan), scorpio (al-‘aqrab), sagitarius (al-qaus), capricorn (al-jadi), aquarius (al-dalwa), pisces (al-haut). Semua gugusan itu disebut bintang yang terletak di planet-planet yang tinggi karena planet ini seperti rumah bagi penghuninya”.

Lebih dari itu, Muhammad Sayyid Tantawi dalam Tafsir al-Wasith, memaknai sirajan dengan al-syams seperti beberapa penafsiran di atas. Term qamaran muniran, ia tafsiri dengan

قمرا يسطع نوره على الأرض المظلمة، فيبعث فيها النور الهادي اللطيف .ثم تنتقل السورة الكريمة الى الحديث عن نعمة أخرى فتقول: وهو الذي جعل الليل والنهار خلفة لمن أراد أن يذكر أو أراد شكورا

“Bulan yang cahayanya menyinari bumi yang gelap karena begitu lembutnya cahaya itu”. Dalam ayat berikutnya disampaikan, “Dialah yang menjadikan malam dan siang hari bagi orang yang senantiasa mengingat-Nya atau bersyukur kepada-Nya”.

Baca Juga: Matahari Sebagai Pusat Tata Surya dan Keseimbangan Alam Menurut Al-Quran

Matahari sebagai Sumber Energi Terbarukan

Ayat di atas menunjukkan kepada kita sebuah bauran energi matahari khususnya, yang tak akan habis dan lekang sepanjang masa. Cahaya matahari yang dilukiskan-Nya dengan term siraj mengindikasikan betapa kokohnya cahaya itu sehingga mampu dimanfaatkan sebagai pelita di kegelapan malam dan menyinari kehidupan di muka bumi ini.

Solangi, et.al (2011) dalam A review on global solar energy policy, menjelaskan bahwa energi matahari merupakan sumber energi terbarukan terbaik yang pernah ada (solar energy is one of the best renewable energy sources) dengan dampak negatif paling sedikit terhadap lingkungan. Berbagai negara, kata Solangi, telah merumuskan kebijakan energi surya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan meningkatkan produksi energi domestik dengan energi surya.

Dalam riset yang lain, Paul Holmes dan Shalve Mohile, pakar Insinyur dan Konsultan Energi Solar (Solar Power Engineers and Consultants), misalnya, dalam risetnya berjudul Solar Power for Beginners: How to Design and Install the Best Solar Power System for Your Home (DIY Solar Power), menguraikan betapa hematnya penggunaan energi surya sehingga mampu menghemat ratusan dolar untuk pengolahannya ketimbang energi fosil. Panel surya adalah manifestasi dari efisiensi tenaga surya.

Bahkan, S.P. Deolalkar dalam Designing Green Cement Plants, energi matahari dapat dikonversi menjadi energi listrik (electrical energy) dengan dua cara, yaitu pertama, Concentrated Solar Power (CSP), di mana sinar matahari difokuskan pada area yang mengandung air yang diubah menjadi uap dan digunakan untuk menghasilkan tenaga, seperti pada pembangkit listrik termal. CSP menghasilkan penyinaran sinar matahari terkonsentrasi untuk memanaskan cairan, padat atau gas seperti pada TPS biasa. Situs terbaik untuk CSP berada di kawasan bebas awan sabuk khatulistiwa. Dan Indonesia sangat diuntungkan dengan garis khatulistiwa ini.

Kedua, Sel PV, di mana cahaya diubah menjadi listrik menggunakan sel fotovoltaik (PV). Sel surya menghasilkan daya DC, yang berfluktuasi sesuai dengan intensitas cahaya yang disinari. Ini membutuhkan inverter untuk menghasilkan daya pada frekuensi dan fase tegangan yang diinginkan. Sistem PV terhubung ke jaringan. Mereka membutuhkan baterai untuk cadangan.

Tentu dalam kesempatan ini, penulis tidak akan mengulas lebih detail tata cara itu, namun hanya menunjukkan betapa efisiensi dan efektifnya energi matahari sebagai sumber energi terbarukan. Hal ini sangat relevan dengan firman Allah swt, “Dialah yang menjadikan matahari dan bulan bagi mereka yang mengingat maupun mensyukuri-Nya”. Salah satu manifestasi dari mengingat atau mensyukuri itu adalah sudah saatnya umat manusia beralih memanfaatkan energi matahari dalam kehidupan sehari-harinya. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 88-99

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Edisi terakhir tafsir surah al-Hijr diawali dengan penjelasan Tafsir Surah al-Hijr Ayat 88-99 bahwa salah satu kenikmatan Allah yang dianugerahi kepada orang berimandan bernilai besar yaitu surah al-Fatihah, surah yang dikenal dengan sab’ul matsani, tujuh kalimat yang sering diulang-ulang. Tujuannya adalah agar manusia mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar, yang dapat membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik.

Kemudian Tafsir Surah al-Hijr Ayat 88-99 juga menjelaskan tentang dakwah Nabi Muhammad agar dilakukan secara terang-terangan. Sekaligus memperingati kaum yang ingkar atas perbuatan mereka, terutama ketika menghalangi dan memusuhi dakwah Nabi mereka sendiri.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 85-87


Sebagai penutup, Tafsir Surah al-Hijr Ayat 88-99 menerangkan tentang jaminan keamanan Allah kepada Nabi Muhammad dari olok-olokan kaum kafir serta kezaliman yang kerap mereka lakukan. Selain itu, Allah pun menjamin al-Qur’an akan tetap aman dari pelaku yang ingin merusak serta berniat buruk terhadap al-Qur’an tersebut.

Ayat 88-89

Pada ayat di atas diterangkan bahwa Allah swt telah meng-anugerahikan sesuatu yang besar nilainya kepada orang-orang yang beriman, yaitu Surah al-Fatihah. Pemberian itu berupa petunjuk ke jalan yang benar dan tidak dapat dinilai dengan harta berapa pun banyaknya.

Oleh karena itu, Allah swt memperingatkan orang-orang yang beriman agar jangan merasa berkecil hati dan bersedih atas kesenangan duniawi yang telah diberikan Allah kepada orang-orang kafir. Tidak pantas seseorang memalingkan perhatiannya dari sesuatu yang mulia dan tinggi nilainya kepada sesuatu yang kurang bernilai, apalagi jika kesenangan dunia itu diperoleh dengan cara yang tidak dibenarkan Allah.

Semua itu adalah kesenangan yang bersifat sementara, kemudian mereka akan dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Ayat ini senada dengan firman Allah swt yang melarang Rasul melihat kenikmatan yang diberikan kepada orang-orang kafir:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ەۙ لِنَفْتِنَهُمْ فِيْهِ ۗوَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى

Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal. (Thaha/20: 131).

Allah swt melarang Nabi Muhammad saw bersedih hati terhadap orang kafir yang tidak mengindahkan seruannya. Larangan Allah ini disebabkan karena Nabi saw sangat mengharapkan agar seluruh manusia beriman dan mengharapkan agar orang-orang kafir tidak ditimpa siksa Allah di akhirat nanti karena keluasan rahmat-Nya.

Larangan Allah juga mengingatkan Nabi saw bahwa tugasnya hanya menyampaikan agama Allah, bukan memaksa manusia untuk beriman.

Kemudian Allah memutuskan agar Nabi saw berlaku lemah lembut dan mengatakan kepada orang-orang kafir bahwa mereka akan ditimpa azab Allah jika mereka terus-menerus dalam kekafiran dan kesesatan, sebagaimana yang telah ditimpakan kepada umat-umat sebelum mereka.


Baca Juga:


Ayat 90-91

Ayat ini menerangkan bahwa sebagaimana Allah telah meng-anugerahkan as-sab’ul-matsani kepada umat Nabi Muhammad, Dia juga telah menganugerahkan yang serupa itu kepada umat-umat sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi yang telah diutus kepada mereka.

Seperti halnya sikap dan tindakan umat yang terdahulu terhadap kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka, demikian pula sikap orang-orang musyrik di Mekah yang telah menamakan Al-Qur’an dengan nama yang bermacam-macam, seperti syair, sihir, dongeng-dongeng orang purbakala, buatan Muhammad, dan sebagainya.

Para mufasir berbeda pendapat tentang yang dimaksud dengan perkataan “al-muqtasim³n” (orang yang membagi-bagi).

Pendapat pertama mengartikan al-muqtasim³n dengan orang-orang kafir yang telah bersumpah bahwa Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati. Perkataan ini sesuai dengan firman Allah swt:

وَاَقْسَمُوْا بِاللّٰهِ جَهْدَ اَيْمَانِهِمْۙ  لَا يَبْعَثُ اللّٰهُ مَنْ يَّمُوْتُۗ بَلٰى وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh, ”Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati.” Tidak demikian (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (an-Nahl/16: 38).

Dan firman Allah swt:

اَهٰٓؤُلَاۤءِ الَّذِيْنَ اَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ اللّٰهُ بِرَحْمَةٍ

Itukah orang-orang yang kamu telah bersumpah, bahwa mereka tidak akan mendapat rahmat Allah? (al-A’raf/7: 49).

Pendapat kedua mengartikan al-muqtasim³n dengan “orang-orang yang membagi-bagi” kitab Allah, yaitu mengurangi, menukar, dan menambah isi kitab Allah yang telah diturunkan kepada para rasul-Nya. Dasar pendapat mereka ialah firman Allah swt:

اَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتٰبِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ

…Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain)?… (al-Baqarah/2: 85).

Dan firman Allah swt:

مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوْا يُحَرِّفُوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَّوَاضِعِهٖ

(Yaitu) di antara orang Yahudi, yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya… (an-Nisa’/4: 46).

Pendapat ketiga mengartikan al-muqtasim³n dengan “orang-orang yang membagi-bagi”. Maksudnya ialah mereka menamakan Al-Qur’an sesuai dengan nama yang mereka ingini, sehingga orang tidak mempercayai sebagai kitab yang diturunkan Allah. Alasan mereka ialah firman Allah swt:

بَلْ قَالُوْٓا اَضْغَاثُ اَحْلَامٍۢ بَلِ افْتَرٰىهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ

Bahkan mereka mengatakan, “(Al-Qur’an itu buah) mimpi-mimpi yang kacau, atau hasil rekayasanya (Muhammad), atau bahkan dia hanya seorang penyair. (al-Anbiya/21: 5)

Firman Allah swt:

فَقَالَ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ يُّؤْثَرُ

Lalu dia berkata, ”(Al-Qur’an) ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). (al-Muddatstsir/74: 24).

Setiap pendapat di atas mempunyai dalil-dalil yang kuat, tetapi yang lebih tepat dan sesuai dengan ayat-ayat ini ialah pendapat ketiga, apalagi jika dihubungkan dengan ayat-ayat selanjutnya, yaitu firman Allah yang artinya: “Yaitu orang-orang yang telah menjadikan Al-Qur’an itu terbagi-bagi”.

Al-Mar±g³, menukil pendapat Ibnu Abbas, mengatakan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani telah menjadikan pula Al-Qur’an itu terbagi-bagi, ada bagian yang mereka percayai, dan ada pula bagian yang mereka ingkari.

Hasan al-Ba¡ri berpendapat bahwa orang-orang musyrik Mekah telah membagi-bagi jalan yang akan dilalui manusia, kemudian mereka berdiri di jalan yang akan dilalui manusia dan menakut-nakuti orang-orang yang akan menempuh jalan yang telah dibentangkan oleh Nabi saw.

Ayat 92-93

Ayat ini memerintahkan agar Nabi Muhammad memperingatkan orang-orang yang membagi-bagi Al-Qur’an dan tidak mempercayainya sebagai kitab suci bahwa Allah akan menurunkan azab kepada mereka sebagaimana Allah telah membinasakan umat-umat terdahulu karena perbuatan yang serupa dengan mereka.

Baca Juga:

Ayat 94

Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad saw agar menyiarkan agama Islam dengan terang-terangan, tidak lagi dengan sembunyi-sembunyi, menantang orang-orang musyrik, tidak mempedulikan mereka dan apa yang mereka katakan, dan tidak takut kepada mereka yang menghalanginya dalam menyiarkan agama Allah, karena Allah melindunginya dari gangguan mereka.

Sebagian ahli tafsir menafsirkan “Berpalinglah dari orang-orang musyrik” maksudnya adalah janganlah mempedulikan segala macam tindak-tanduk orang-orang musyrik yang telah mendustakan, memperolok-olok, dan menentang kamu. Janganlah tindakan mereka itu menghalangimu menyiarkan agama Allah, karena Allah memelihara kamu dari gangguan mereka.

Ayat 95-99

Ayat ini memberi jaminan kepada Nabi Muhammad bahwa Allah swt memeliharanya dari tindakan orang-orang musyrik Mekah yang memperolok-olok dan menyakitinya serta memelihara Al-Qur’an dari usaha-usaha orang-orang yang ingin mengotorinya.

At-Thabari menyampaikan riwayat dari Sa’id bin Jubair bahwa orang-orang musyrik Mekah yang memperolok-olok Al-Qur’an dan Nabi Muhammad ialah al-Walid bin Mugirah, al-‘Ash bin Wa’il, Al-‘Adi bin Qais, Aswad bin Abdu Yaguth, dan Aswad bin Muthalib. Mereka semua terkenal dalam sejarah, dan sebab-sebab kematian mereka adalah akibat tindakan mereka sendiri.

Menurut suatu riwayat diterangkan bahwa suatu ketika Nabi saw berada di hadapan orang-orang kafir Mekah, mereka saling mengedipkan mata tanpa setahu Nabi Muhammad saw, dan berkata sesamanya dengan maksud mengejek Nabi, “Inikah orang yang mendakwakan dirinya nabi?”

Pada waktu itu, Jibril a.s. menyertai Nabi, lalu Jibril menusuk punggung orang-orang yang memperolok-olokkan itu dengan jarinya, sehingga menimbulkan bekas, luka, dan borok yang busuk baunya. Tiada seorang pun yang mendekati mereka karena baunya itu. Maka turunlah ayat ini yang menegaskan bahwa Nabi saw dilindungi Allah swt dari gangguan orang-orang kafir.

Allah mengetahui bahwa Nabi saw merasa sedih karena olok-olokan dan tindakan orang-orang kafir. Untuk mengobati kesedihannya itu, Allah memerintahkan Nabi saw untuk bertasbih, mensucikan Allah dari segala sesuatu yang menyekutukan-Nya, salat, rukuk, sujud, banyak melakukan ibadah, berbuat baik, dan mengekang hawa nafsu. Hal ini berlaku pula bagi  kaum Muslimin sampai akhir hayat mereka.

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 14-15

0
Tafsir Surah Ar Ra'd
Tafsir Surah Ar Ra'd

Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 14-15 berbicara mengenai dua hal. Pertama berbicara mengenai wewenang Allah dalam hal mengabulkan doa. Kedua berbicara mengenai kepasrahan diri hanya kepada Allah Swt.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 13


Ayat 14

Ayat ini menjelaskan bahwa hanya Allah yang memiliki wewenang untuk mengabulkan doa yang benar. Ada pula yang menafsirkan: hanya kepada Allah saja seruan yang benar tentang ketauhidan, kemurnian, dan keikhlasan dalam ibadah. Berhala-berhala yang disembah kaum musyrik tidak dapat mengabulkan permintaan mereka sedikit pun.

Meminta sesuatu kepada berhala ibarat orang yang ingin minum, tetapi hanya dengan membuka kedua telapak tangannya ke dalam air. Ia berharap supaya air itu naik sendiri ke dalam mulutnya. Padahal air itu tentu tidak akan mungkin masuk dengan sendirinya ke dalam mulutnya tanpa ditampung dulu dengan kedua telapak tangan.

Demikian pula berhala-berhala yang mereka sembah, jangankan memenuhi permintaan penyembahnya, ditanya saja mereka tidak dapat menjawab. Doa dan ibadah orang-orang kafir kepada berhala hanya sia-sia belaka. Bila mereka berdoa kepada Allah, doanya tidak dikabulkan karena mereka tidak meyakini kekuasaan-Nya. Jika mereka berdoa kepada berhala-berhala, sedikit pun mereka tidak bisa mendengar apalagi mengabulkan permintaannya.


Baca juga: Surah Al-Maidah [5] Ayat 5: Hukum Hewan Sembelihan non-muslim, halalkah?


Ayat 15

Ayat ini menegaskan bahwa hanya kepada Allah semua malaikat, jin, dan manusia yang beriman tunduk, sujud, dan patuh, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, yang berada di langit dan di bumi, rela dan ikhlas dengan kemauan sendiri. Sedangkan orang-orang kafir hanya tunduk dan patuh apabila dalam keadaan darurat atau terdesak, seperti dalam firman Allah:

وَاِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِى الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُوْنَ اِلَّآ اِيَّاهُۚ

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. (al-Isra’/17: 67)

فَاِذَا رَكِبُوْا فِى الْفُلْكِ دَعَوُا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۚ فَلَمَّا نَجّٰىهُمْ اِلَى الْبَرِّ اِذَا هُمْ يُشْرِكُوْنَۙ

Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). (al-‘Ankabµt/29: 65)

Allah menjelaskan bahwa bukan hanya tubuh-tubuh mereka saja yang tunduk, sujud, dan patuh kepada Allah, tetapi sujud pula bayang-bayang mereka di waktu pagi dan petang.

Setiap benda yang kena sinar matahari terutama di waktu pagi dan petang tentu kelihatan bayang-bayangnya memendek atau memanjang. Semua benda dan bayang-bayangnya tunduk kepada Allah, baik dengan kemauan sendiri maupun terpaksa. Hal ini menunjukkan kekuasaan Allah yang Mahasempurna.


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Ar Ra’d Ayat 16


(Tafsir Kemenag)

Surah Al-Maidah [5] Ayat 5: Hukum Hewan Sembelihan non-muslim, halalkah?

0
hewan sembelihan non-muslim
hukum hewan sembelihan non-muslim sumber: aljazeera.net

Di era modern, dengan kecanggihan alat transportasi mobilitas masyarakat dari satu tempat ke tempat yang lain, bahkan antar negara, menjadi lebih mudah dan efisien. Hal yang sama terjadi pada orang-orang Islam, mereka dapat bepergian ke mana pun tanpa kendala, termasuk negara non-muslim. Namun biasanya ada pertanyaan wisatawan muslim di mancanegara, bagaimana hukum hewan sembelihan non-muslim, halalkah?

Jika ingin menentukan bagaimana hukum hewan sembelihan non-muslim, maka hal yang perlu ditinjau pertama kali adalah metode penyembelihannya, mulai dari siapa yang menyembelih, alat sembelihan, cara dan praktik penyembelihan hingga doa atau zikir yang digunakan saat menyembelih. Setelah meninjau itu semua dan dirasa telah sesuai syariat Islam, barulah hukum sembelihan tersebut ditentukan kehalalannya.

Berkenaan dengan hukum hewan sembelihan non-muslim, Allah swt berfirman dalam surah al-Maidah [5] ayat 5 yang berbunyi:

اَلْيَوْمَ اُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبٰتُۗ وَطَعَامُ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حِلٌّ لَّكُمْ ۖوَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَّهُمْ ۖوَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الْمُؤْمِنٰتِ وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ مُحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسٰفِحِيْنَ وَلَا مُتَّخِذِيْٓ اَخْدَانٍۗ وَمَنْ يَّكْفُرْ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهٗ ۖوَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ࣖ ٥

Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan perempuan piaraan. Barangsiapa kafir setelah beriman, maka sungguh, sia-sia amal mereka, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Maidah [5] ayat 5).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Dalil Kehalalan Susu Hewan dalam Al-Quran

Sekilas surah al-Maidah [5] ayat 5 menjelaskan bahwa Allah telah menghalalkan segala makanan yang baik-baik dan bahwa hewan sembelihan non-muslim, tepatnya Ahli Kitab, halal atau boleh dimakan oleh umat Islam. Sebaliknya, hewan sembelihan orang Islam juga halal dimakan oleh Ahli Kitab. Dalam bingkai sejarah, hal ini juga pernah dipraktikkan baginda nabi dan sahabatnya.

Quraish Shihab mengatakan, surah al-Maidah [5] ayat 5 menyatakan, pada hari ini dihalalkan bagi kamu kaum muslimin semua yang baik-baik. Makanan, yakni binatang halal sembelihan orang-orang yang diberi Alkitab itu halal bagi kamu memakannya dan makanan kamu halal pula bagi mereka, sehingga kamu tidak berdosa bila memberinya kepada mereka ataupun sebaliknya.

Kata tha’am yang dimaksud dalam surah al-Maidah [5] ayat 5  di atas, ditafsirkan dalam Tafsir Jalalain sebagai dzabaih atau “sembelihan”. Imam Al-Qurthubi menerangkan dalam Tafsir al-Qurthubi – berdasarkan pendapat dari Imam at-Thabari – ulama fikih atau fuqaha telah sepakat bahwa hewan sembelihan Ahli Kitab itu halal dan boleh dimakan. Demikian juga dicatat oleh Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid.

Namun kemudian muncul pertanyaan terkait pemaknaan terperinci surah al-Maidah [5] ayat 5, tepatnya tentang siapa yang dimaksud atau digolongkan Ahli Kitab? Apakah hari ini masih ada Ahli Kitab? Berkenaan dengan pertanyaan-pertanyaan ini, para ulama berbeda pendapat; ada yang menyatakan maksud dari orang-orang yang diberi Alkitab tersebut adalah Ahli Kitab secara umum dan ada pula yang menyatakan tidak umum, melainkan bersifat khusus.

Menurut Quraish Shihab, dalam Tafsir al-Misbah (jilid 3: 30), para ulama berbeda pendapat tentang definisi Ahli Kitab, apakah generasi Yahudi dan Nasrani masa lalu dan keturunannya saja atau termasuk pula penganut kedua agama itu hingga ini. Setidaknya ada dua pendapat yang ia kutip, yakni: Pertama, Ahli kitab hanya diperuntukkan bagi penganut Yahudi dan Nasrani di masa lalu; Kedua, Ahli kitab adalah semua agama samawi, tanpa terkecuali, termasuk saat ini.

Ibnu Katsir menyebutkan dalam Tafsir al-Qur’an al-Azim, maksud Ahli Kitab pada surah al-Maidah [5] ayat 5 adalah penganut Yahudi dan Nasrani secara umum, karena mereka percaya kepada Allah swt. Inilah pandangan yang dikuti oleh mayoritas ulama, bahwa hewan sembelihan Ahli Kitab halal dan boleh dimakan oleh umat Islam, begitu pula sebaliknya. Walau demikian terdapat perbedaan mengenai syarat kebolehannya.

Ulama mazhab Hanafi berpendapat, hewan sembelihan yang halal adalah yang dilakukan oleh kaum yang mengimani ajaran Taurat dan Injil. Artinya, mereka (Ahli Kitab) adalah kalangan Yahudi dan Nasrani dari bangsa mana pun. Sedangkan sembelihan musyrik di luar agama tersebut seperti penyembah berhala maupun penyembah api (Majusi) tidak boleh dimakan.

Akan tetapi terdapat catatan penting dari ulama mazhab Hanafi terkait hewan sembelihan Ahli Kitab, yakni diperbolehkan makan hewan sembelihan dari Ahli Kitab dengan syarat metode penyembelihannya serupa dengan yang ditetapkan dalam Islam. Namun jika seorang muslim tidak tahu persis bagaimana proses penyembelihannya, maka boleh memakannya, tapi lebih baik ditinggalkan.

Menurut ulama Maliki, diperbolehkan makan hewan sembelihan dari Ahli kitab dengan syarat benar-benar dalam rangka makan-makan, dan bukan untuk suatu ritual kepercayaan, seperti sesajen. Sedangkan menurut ulama Syafi’i, diperbolehkan makan sembelihan dari Ahli Kitab secara mutlak, asalkan ketika penyembelihannya tidak menyebut nama siapa pun, seperti Al-Masih, atau untuk ritual kepercayaan.

Baca Juga: Ngaji Gus Baha’: Bisakah Manusia Berdialog dengan Hewan dan Tanah?

Adapun menurut ulama Hambali, diperbolehkan makan hewan sembelihan dari Ahli Kitab jika disembelih atas nama Allah, namun jika sengaja meninggalkan nama Allah maka tidak boleh dimakan. Sementara bila benar-benar tidak mengetahui proses penyembelihannya, maka boleh dimakan, terutama jika dalam keadaan genting di mana tidak ada lagi makanan selain hal tersebut (Fath al-Qarib).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa surah al-Maidah [5] ayat 5 berisi tuntunan tentang kebolehan memakan hewan sembelihan Ahli Kitab yang benar-benar berpegang teguh dalam agamanya. Namun dalam konteks keseharian, alangkah lebih baik kita memakan daging hasil produksi umat Islam sendiri agar keluar dari ikhtilaf. Selain itu, yang penting untuk diperhatikan adalah kehalalan daging secara dzat, kebersihan, dan kesehatannya. Wallau a’lam.

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 85-87

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Usai menceritakan kisah beberapa kaum yang durhaka, Tafsir Surah al-Hijr Ayat 85-87 berbicara tentang proses Allah menciptakan langit, bumi, beserta isinya. Allah juga menegaskan bahwa Dia pula yang memelihara, menjaga, menentukan segala sesuatu yang dikehendaki, bahkan mengetahui setiap karakter hamba-hamba-Nya.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 79-84


Setelah pada tafsir sebelumnya Allah mengisahkan hinaan kaum pendurhaka kepada para rasul Allah dan siksaan yang ditimpakanNya kepada mereka. Maka dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 85-87 ini Allah menjelaskan anugerah yang diberikan-Nya kepada Nabi Muhammad.

Ayat 85

Ayat ini menerangkan bahwa Allah menciptakan semua yang ada di langit dan di bumi ini, bukan untuk berbuat aniaya dan zalim kepada seluruh penduduk atau makhluk, seperti yang dilakukan terhadap umat dahulu yang durhaka.

Allah menciptakan benda-benda tersebut dengan maksud dan tujuannya, sesuai dengan pengetahuan dan kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya. Demikian pula kisah-kisah umat yang dahulu disampaikan agar dijadikan iktibar, tamsil, dan ibarat bagi orang-orang yang mau percaya kepada kekuasaan dan kebesaran Allah.

Kemudian Allah swt menegaskan bahwa hari kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan sedikit pun, karena pada waktu itulah Allah menyem-purnakan balasannya kepada manusia sesuai dengan perbuatan yang telah mereka lakukan. Perbuatan baik dibalas dengan surga, sedang perbuatan buruk dibalas dengan azab neraka.

Allah memperingatkan bahwa jika manusia tidak mau beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad, serta tidak mau mengambil pelajaran dan pengalaman yang telah dialami umat-umat yang dahulu, maka Rasul diperintahkan untuk berpaling dari mereka, dan memperlihatkan sikap yang baik, budi pekerti yang tinggi, serta memaafkan tindak-tanduk mereka yang tidak wajar terhadapnya.

Ayat ini menerangkan sikap-sikap yang harus dimiliki oleh seorang dai khususnya dan seluruh kaum Muslimin pada umumnya dalam menyampai-kan agama Allah dan menghadapi orang-orang yang durhaka. Kaum Muslimin hanya berkewajiban menyampaikan agama Allah, dan tidak diharuskan untuk memaksa dan menjadikan mereka (orang-orang durhaka) beriman, yang menjadikan iman dan kafirnya seseorang hanyalah Allah.


Baca Juga: Hikmah Penciptaan Jagat Raya Selama Enam Hari dalam Al-Quran


Ayat 86

Selanjutnya Allah menegaskan bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pencipta, dan Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang tampak atau yang tidak, yang nyata dan yang disembunyikan dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati.

Ayat 87

Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menurunkan kepada Nabi Muhammad “as-sab’ul matsani” (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan Al-Qur’an yang agung. Tidak diterangkan dalam ayat ini yang dimaksud dengan “as-sab’ul matsani” dan “Al-Qur’an yang agung itu”.

Tetapi, ada hadis menerangkan bahwa yang dimaksud dengan as-sab‘ul matsani dan Al-Qur’an yang agung itu ialah Surah al-Fatihah. Hadis itu ialah:

عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْمُعَلَّى قَالَ: مَرَّ بِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أُصَلِّى فَدَعَانِيْ فَلَمْ اٰتِهِ حَتَّى صَلَّيْتُ فَأَتَيْتُهُ فَقَالَ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَأْتِيَنِيْ فَقُلْتُ كُنْتُ أُصَلِّى فَقَالَ: اَلَمْ يَقُلِ اللهُ: يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا ِللهِ وَ لِلرَّسُوْلِ ثُمَّ قَالَ: اَلاَ أُعَلِّمُكُ اَعْظَمَ سُوْرَةٍ فِى الْقُرْاٰنِ قَبْلَ اَنْ اَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ فَذَهَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَخْرُجَ فَذَكَرْتُهُ فَقَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِيّ وَالْقُرْاٰنُ الْعَظِيْمُ الَّذِيْ أُوْتِيْتُهُ. (رواه البخاري)

Dari Abi Said Al-Mu‘alla ia berkata, “Telah lewat di hadapanku Nabi saw sedang saya dalam salat, maka dia memanggilku dan aku tidak mendatanginya hingga aku selesai salat. Kemudian aku datang kepadanya, kemudian Nabi berkata, “Kenapa engkau tidak datang kepadaku.” Aku menjawab, “Aku sedang salat.” Beliau berkata, “Bukanlah Allah telah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman perkenankanlah seruan Allah dan rasul,” kemudian beliau berkata, Ketahuilah! Aku akan mengajarkan kepadamu surah yang paling agung di dalam Al-Qur’an, sebelum aku keluar dari mesjid ini.” Maka Nabi saw pergi untuk keluar lalu beliau kuingatkan, maka katanya,”Al-hamdu lillahi rabbil-‘alamin adalah “as-sab’ul-matsani” dan “Al-Qur’an yang agung” yang telah diberikannya kepadaku.” (Riwayat al-Bukhari)

Pada hadis yang lain, Rasulullah saw bersabda:

أُمُّ الْقُرْاٰنِ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِى وَالْقُرْاٰنُ الْعَظِيْمُ. (رواه البخاري)

Ummul-Qur’an itu ialah as-sab’ul-matsani dan Al-Qur’an yang Agung. (Riwayat al-Bukhari).

Banyak hadis sahih lain yang menerangkan bahwa as-sab’ul-matsani dan Al-Qur’an yang Agung adalah nama-nama lain dari Surah al-Fatihah.

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan as-sab’ul matsani dalam ayat di atas ialah as-sab’u at-Thiiwal (tujuh surah Al-Qur’an yang terpanjang ayat-ayatnya), yaitu Surah al-Baqarah, Ali ‘Imran, al-Ma’idah, an-Nisa’, al-A’raf, al-An’am, dan at-Taubah atau al-Anfal.

Surah-surah yang tujuh itu disebut as-sab’ul-matsani, karena dalam surah yang tujuh itu diulang-ulang penyebutan kisah-kisah, hukum-hukum, ketauhidan, dan lain-lain. Akan tetapi, pendapat ini bertentangan dengan hadis-hadis sahih di atas. Sementara itu, sebagian dari surah as-sab’u at-Thiwal diturunkan di Medinah, sedangkan ayat yang menerangkan tentang as-sab’ul-matsni ini adalah Makkiyah.

Disebut as-sab’ul-matsani (tujuh berulang-ulang) karena Surah al-Fatihah itu terdiri atas tujuh ayat yang diulang-ulang membacanya pada tiap-tiap rakaat dalam salat. Seorang muslim sekurang-kurangnya salat tujuh belas rakaat dalam sehari semalam.

Oleh karena itu, mereka sekurang-kurangnya membaca al-Fatihah tujuh belas kali dalam sehari semalam. Disebut Al-Qur’an yang agung karena isi Surah al-Fatihah itu merupakan pokok-pokok isi dari seluruh Al-Qur’an, dan sesuai pula dengan maksud hadis di atas.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 88-99