Beranda blog Halaman 310

Mengenal Ruzbihan al-Baqli: Mufasir dan Sufi Besar Asal Persia

0
ilustrasi gambar syeikh Ruzbihan al-Baqli
ilustrasi gambar syeikh Ruzbihan al-Baqli

Seorang sufi besar abad ke-12 yang memiliki nama lengkap Muhammad Ruzbihan ibn Abi Nashr al-Baqli al-Syirazi ini dilahirkan pada tahun 522 H/1128 M di daerah Pasa (bahasa Arab: Basa), provinsi Fars, Persia bagian barat daya. Kalau ditinjau secara peta geografis saat ini, tempat kelahiran Ruzbihan al-Baqli tersebut berdekatan dengan dua tempat bersejarah masa Persia yang saat ini terletak di Iran yaitu kota Pasargadae dan Persepolis.

Tumbuh bersama para tokoh sufi besar

Dalam pengantar buku Beauty in Sufism: the Teachings of Rusbihan Baqli, Kazuyo Murata menjelaskan bahwa al-Baqli ia hidup di saat Dinasti Saljuk mengusai sebagian besar tanah Persia, lebih tepatnya di bawah komando pemerintahan Dinasti Salghurid (1148-1282). Marshal Hodgson menyebut al-Baqli hidup di era awal abad pertengahan (erlier middle period) sejarah Islam, yaitu abad ke-12 masehi. al-Baqli sendiri lahir di lingkungan keluarga yang religius, nilai-nilai pendidikan spiritual telah diperolehnya sejak kecil.

Baca Juga: Mengenal Ibn al-Araby: Mahaguru Tafsir Sufi Nazhari

Menurut pendapat Paul Ballanfat, pada usia 23 tahun, sufi besar ini pindah ke daerah Shiraz dan memulai pendidikan formalnya di sebuah surau sufi atau tempat berkumpulnya para penempuh jalan tasawuf (sufi convent) yang didirikan oleh Syaikh Siraj al-Din Mahmud ibn Khalifa (w. 1165 M). Ia belajar ilmu tasawuf dan menghafal Al-Qur’an di tempat tersebut hingga mendapatkan jubah kesufian (khirqa) dari gurunya tersebut. Setelah itu, ia kemudian melakukan pertapaan spiritual (ascetic life) atau uzlah selama tujuh tahun di Gunung Bamu yang terletak di pinggiran kota Shiraz.

Selain berguru kepada Syaikh Siraj al-Din Mahmud, Carl W. Ernst menyampaikan dalam karyanya yang berjudul Ruzbihan Baqli: Mysticism and the Rhetoric of Sainthood in Persian Sufism, bahwasanya al-Baqli juga berguru kepada beberapa tokoh sufi besar pada masanya seperti Syaikh Jamal al-Din Abu al-Wafa al-Fasa’i, Syaikh Abu al-Safa’a al-Wasiti, Syaikh Jagir Kurdi, Syaikh Qiwam al-Din Suhrawardi, Syaikh Fakhr al-Din ibn Maryam, Syaikh Arshad al-Din Nayrizi.

Dalam buku The Unveiling of Secrets Kashf al-Asrar: The Visionary Autobiograpgy of Ruzbihan al-Baqli (1128-1209 A.D.) karya Firoozeh Papan-Matin, dijelaskan bahwa al-Baqli tidak hanya menimba ilmu di Shiraz, tetapi juga melakukan pengembaraan intelektual di berbagai negara, seperti Irak, Hijaz (Makkah & Madinah), Syiria, dan Mesir. Ketika di Aleksandria, al-Baqli pernah mengikuti kajian kitab Shahih al-Bukhari yang diajarkan oleh seorang sufi besar yang juga pakar hadis yaitu Abu al-Najib al-Suhrawardi.

Kemudian, tatkala perjalanan menuju Makkah, Ruzbihan al-Baqli bertemu dengan Abu al-Najib al-Suhrawardi di Madinah. Pertemuan dua tokoh sufi tersebut menghasilkan terjadinya diskusi yang cukup panas antara keduanya berkaitan dengan hal-hal tasawuf dan metode wushul kepada Allah. Abu al-Najib al-Suhrawardi berpendapat bahwa cara wushul kepada Allah adalah melalui jalan pertapaan spiritual (ascetic). Sedangkan al-Baqli lebih memilih jalan memabukkan diri dalam cinta kepada Allah. Karena perdebatan terjadi cukup panas, menyebabkan keduanya pergi tanpa adanya kesepakatan antara al-Suhrawardi dengan al-Baqli.

Namun, berselang tiga hari setelah perdebatan tersebut, Abu al-Najib al-Suhrawardi mengalami mukasyafah dan diberitahu oleh malaikat Jibril bahwasanya lawan debatnya kemarin itu merupakan seorang tokoh besar sufi pada zaman itu. Setelah mengalami mukasyafah tersebut, ketika berada di Madinah, al-Suhrawardi segera mengunjungi Ruzbihan al-Baqli dan memberikan penghormatan kepadanya. Berkat ketinggian pangkat spiritual tersebut, ketika kembali ke Shiraz, al-Baqli menjadi seorang guru sufi yang mengajar di Masjid ‘Atiq.

Baca Juga: Penafsiran Kaum Sufi Tentang Persoalan Apakah Manusia Dapat Melihat Allah Swt

Terdapat kisah menarik yang disampaikan oleh Mu’in al-Din Abu al-Qasim Junaid Shirazi menjelaskan dalam karyanya Shadd al-Izar fi Hathth al-Auzar ‘an Zuwwar al-Mazar. Pada waktu al-Baqli sakit, tepatnya saat-saat menjelang akhir hayatnya, ia didatangi oleh Syaikh ‘Ali al-Siraj dan Syaikh Abu Hasan al-Kardawiyah. Sufi asal Persia ini kemudian memanggil kedua syaikh tersebut lalu diberitahu bahwa kita akan segera meninggalkan ikatan dunia yang fana ini menuju kehidupan yang abadi di akhirat kelak. Kedua syaikh tersebut mengiyakan ucapan al-Baqli.

Setelah menyampaikan hal tersebut, mungkin Ruzbihan al-Baqli mengalami mukasyafah sehingga memberitahu ‘Ali dan Abu Hasan dengan ucapan berikut:

فَقَالَ الشَّيْخُ أَنَا أَتَقَدَّمُ وَأَنْتَ يَا عَلِى بَعْدَ مَضَى شَهْرٍ وَأَنْتَ يَا أَبَا الْحَسَنِ بَعْدَ خَمْسَةِ عَشَرَ يَوْمًا

“Maka syaikh (al-Baqli) berkata: saya lebih dahulu (wafat), dan kamu wahai ‘Ali (akan menyusul wafat) setelah berlalu satu bulan, dan kamu Abu Hasan (akan wafat) setelah 15 hari dari sekarang”

Ungkapan Ruzbihan al-Baqli tersebut akhirnya benar terjadi. Firoozeh Papan-Matin menjelaskan bahwa menjelang akhir hayatnya, al-Baqli mengalami kelumpuhan. Mendengar hal tersebut, salah satu muridnya yang baru saja dari Mesir membawa obat untuk berupa medicinal oil untuk mengobati penyakit tersebut. Namun Ruzbihan al-Baqli malah menolaknya, dan menyuruh muridnya agar mengoleskan minyak obat tersebut kepada anjing yang sedang terbaring dalam keadaan sakit di depan pintu.

Pertemuan dan interaksinya dengan banyak tokoh sufi inilah yang nantinya sangat mempengaruhi pemikiran beliau, khususnya dalam menafsirkan Al-Quran dalam tafsirnya, ‘Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an.

Hingga akhirnya Ruzbihan al-Baqli wafat pada awal bulan Muharram tahun 606 H atau pertengahan bulan Juli tahun 1209 M. Jasad beliau dikebumikan di daerah Shiraz, Iran. Pada tahun 1928, makam beliau ditemukan oleh Ivanow, dan dilakukan pemugaran makam oleh kementrian budaya Iran hingga menjadi salah satu tempat religi penting di provinsi Fars, Iran pada saat ini.

Baca Juga: Nalar Sufistik dan 3 Ragam Konteks Interaksinya dengan al-Quran

Karya-karya Ruzbihan al-Baqli

Selama hidupnya, al-Baqli telah meninggalkan banyak karya tulis di berbagai bidang keilmuan Islam. Syaraf al-Din dalam karyanya Tuhfat Ahl al-’Irfan menyampaikan bahwa total keseluruhan karya dari Ruzbihan al-Baqli mencapai 60 karya tulis, yang mencakup bidang ilmu tafsir, hadis, fikih, tasawuf, teologi. dan sya’ir. Namun, sayangya mayoritas karya tersebut telah hilang pada saat pasca wafatnya Ruzbihan al-Baqli. Berbeda dengan pendapat sebelumnya, Muhammad Taqi Danish Pazhuh menyampaikan bahwa karya al-Baqli mencapai seratus karya tulis. Mayoritas karya dari al-Baqli menggunakan bahasa Persia.

Hinga saat ini, dari banyaknya karya tersebut, yang sampai di era kita saat ini hanya beberapa manuskrip saja. Beberapa manuskrip tersebut ada yang sudah dicetak ulang dan ditahqiq. Menurut hasil penelitian Ivanow, Massignon, Corbin, dan Mu’in, karya-karya Ruzbihan al-Baqli yang masih beredar dan dapat diakses antara lain adalah:

  1. ‘Arais al-Bayan fi Haqaiq al-Qur’an
  2. Mantiq al-Asrar bi Bayan al-Anwar
  3. Syarh al-Thawasin
  4. Kasyf al-Asrar wa Mukasyafat al-Anwar
  5. Siyar al-Arwah
  6. Risalah al-Uns fi Ruh al-Quds
  7. Ghalathat al-Salikin
  8. ‘Abhar al-’Asyiqin
  9. Syarh al-Hujub
  10. al-Maknun fi Haqaiq al-Kalim al-Nabawiyyah
  11. Masyrab al-Arwah

Demikian sekilas profil al-Baqli, keluarga, guru, teman diskusi dan lingkaran kehidupannya. Bberapa aspek ini sedikit banyak akan memberi andil dan berpengaruh besar terhadap pemikirannya, sebagaimana terlihat dalam beberapa karya-karyanya tersebut.

Kisah Khadijah dan Pembacaan Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir atas QS. Al-Alaq: 1-5

0
Khadijah ra
Khadijah ra

Khadijah ra. adalah Istri Nabi Muhammad SAW yang juga perempuan pertama yang memeluk agama Islam. Kenyataan ini membentuk kisah yang menarik tentang posisi perempuan dalam sejarah Islam, terutama merespon relasi sosial antara perempuan dan laki-laki. Di sini, Faqihuddin Abdul Kodir mengulas sosok Khadijah dalam kisahnya tentang awal kenabian Muhammad SAW. Ulasan Faqihuddin tersebut dapat dirujuk dalam bukunya, Qira’ah Mubadalah.

Faqihuddin melihat Khadijah sebagai satu fakta bahwa Islam memanggil, menyamakan laki-laki dan perempuan secara setara. Kajiannya ini merupakan model baru yang belum pernah disentuh dalam tradisi tafsir atas QS. Al-‘Alaq: 1-5, ataupun analisis sejarah kenabian Muhammad SAW. Faqihuddin membuktikan bahwa perempuan dan laki-laki dipanggil secara bersamaan dan setara sejak awal Islam. Tulisan ini akan membahas kajian Faqihuddin tersebut.

Mengenal Faqihuddin dan Pembacaan Mubadalahnya

Faqihuddin Abdul Kodir merupakan sarjana Indonesia kontemporer yang pendidikan S1-nya diambil dengan double deggre di Fakultas Dakwah Abu Nur (1989-1995) dan Fakultas Syari’ah di Universitas Damaskus-Syria. Pendidikan S2-nya diambil di Fakultas Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences dalam budang Pengembangan fiqh zakat (1996-1999) di International Islamic University Malaysia. Sebenarnya, beliau juga belajar S2 tentang fiqh dan ushul fiqh di Universitas Khrtoum-Cabang Damaskus, tetapi beliau tidak menyelesaikannya.

Baca Juga: Mengenal Faqihuddin Abdul Kodir, Perintis Metode Qira’ah Mubādalah

Faqihuddin melanjutkan S3-nya di Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS) UGM Yogyakarta (2009-2015). Disertasinya yang berjudul Interpretasi Abu Syuqqah terhadap Teks-teks Hadits untuk Penguatan hak-hak Perempuan dalam Islam termasuk banyak mempengaruhi pemikiran Faqihuddin, terutama yang tertuang dalam buku Qira’ah Mubadalah: Tafsir Progresif untuk Keadilan Gender dalam Islam.

Beliau memang dikenal sangat akrab dengan pemikiran-pemikiran isu keadilan gender. Beliau pernah aktif selama 10 tahun di kerja-kerja sosial keislaman untuk pengembangan masyarakat, terutama pengembangan perempuan. Beliau mendirikan Fahmina Institute bersama Buya Husein, Kang Fandi,dan Zeky, dan memimpin eksekutif pada 2000-2009. Beliau juga aktif di Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK NU) Pusat, dan menjadi Sekretariat Nasional Alimat (Gerakan Nasional untuk Keadilan dalam Perspektif Islam).

Faqihuddin mengungkap bahwa buku Qira’ah Mubadalah merupakan rekaman dinamika teks dan konteks yang resiprokal antara laki-laki dan perempuan. Konsep dan metode pemaknaan mubadalah adalah bagian kecil dari kerja peradaban Islam Indonesia, terutama mereka yang meyakini keadilan relasi perempuan dan laki-laki. Buku ini pertama kali diterbitkan pada bulan Februari 2019 oleh IRCiSoD Yogyakarta. Dalam buku inilah kisah Khadijah ra diulas dalam kerangka keadilan relasi perempuan dan laki-laki dalam Islam.

Khadijah ra. adalah Orang Lain Pertama yang Dipanggil dalam Islam

Umum dipahami dalam sejarahnya bahwa setelah Nabi Muhammad SAW menerima surah Al-Alaq: 1-5 sebagai Wahyu Pertama dalam Islam. Beliau diselimuti kekhawatiran dan kebimbangan tak terhingga yang dialaminya dari tempatnya bertahannuts di gua Hira hingga sampai di rumahnya. Dalam keadaan ini, Nabi Muhammad SAW pertama kali menceritakan keadaannya ini kepada istrinya, Khadijah ra.

Menariknya, redaksi literal surah Al-‘Alaq: 1-5 memperlihatkan penggunaan struktur bahasa laki-laki yang umum dipakai oleh masyarakat Arab, seperti iqra’ bukan iqra’i. Menurut Faqihuddin bahwa saat itu Nabi Muhammad SAW memahami bahwa wahyu tersebut bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk umat manusia (laki-laki dan perempuan).

Oleh karena itu, sekalipun redaksi literal surah Al-Alaq: 1-5 menggunakan struktur bahasa laki-laki, tetapi Nabi Muhammad SAW juga memperdengarkannya kepada Khadijah ra. Pada saat inilah Khadijah ra. menjadi perempuan pertama, bahkan sebagai Orang Lain pertama yang dipanggil oleh Islam melalui surah Al-‘Alaq: 1-5.

Bagi Faqihuddin bahwa fakta di atas menunjukkan bahwa perintah “membaca”, sebagaimana perintah surah Al-‘Alaq: 1-5, bukan hanya untuk laki-laki tetapi juga ditujukan untuk perempuan. Sekiranya melalui ayat ini, laki-laki diperintahkan untuk membaca ayat-ayat Allah SWT yang tertulis maupun dalam bentuk hamparan alam semesta, maka ayat ini juga mesti berlaku untuk perempuan. Dapat juga dipahami bahwa, melalui kasus Khadijah ra., perempuan tidak boleh dihalangi dan dilarang untuk iqra’.

Kisah Khadijah ra. sebagai Fakta Mubadalah laki-laki dan Perempuan

Secara sederhana, Islam melalui QS. Al-‘Alaq: 1-5 memanggil manusia secara keseluruhan, sehingga di dalamnya adalah laki-laki dan perempuan. Yang menjadi catatan menarik bahwa kisah Khadijah ra. adalah kejadian awal Islam yang menjadi fakta mubadalah antara laki-laki dan perempuan.

Faqihuddin menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan, secara bersamaan, berhak memperoleh semua ilmu pengetahuan, dan berhak melakukan ‘pembacaan’ atas apa ada di seluruh alam ini.  Kisah Khadijah ra. menjadi kesaksikan sebagai manusia dan sebagai perempuan –untuk menggugurkan karakter patriarkhi yang dipegang sebagian laki-laki- yang menerima berita kewahyuan Nabi Muhammad saw.

Ketika beliau menerima, Khadijah ra. bukan hanya langsung mengimaninya, tetapi juga menjadi pendukung utama misi kenabian dan Islam. Bahkan, Khadijah ra. adalah menusia pertama yang meyakinkan Nabi Muhammad SAW ketika ragu, menenangkan ketika galau, dan melipur ketika sedih.

Baca Juga: Memaknai Kandungan al-Quran dan Perintah Iqra’

Dalam sejarah Islam, umum dicatat bahwa Khadijah ra. mengeluarkan seluruh hartanya untuk mendukung penuh misi Islam ini. Singkatnya, Khadijah ra. merupakan salah satu model perempuan yang patut diteladani dan dipahami tentang bagaimana Islam memanggilnya bersamaan dengan laki-laki. Dengan kesamaan tersebut, hak-hak beserta kewajiban-kewajiban dalam iqra’ atau ‘bacalah’ adalah milik bersama laki-laki dan perempuan.

Khadijah ra. adalah yang diperintahkan oleh wahyu Islam berupa iqra’ dalam QS. Al-‘Alaq: 1-5, demikian juga wahyu-wahyu lainnya. Fakta mubadalah ini menjadikan laki-laki dan perempuan menjadi subjek dihadapan wahyu-wahyu Islam. Keduanya dipanggil, diajak, diperintahkan, demikian juga dilarang, yang semuanya itu mengarah pada ketaatan dan ikut atas ajaran-ajaran Islam. [] Wallahu A’lam.

Sebagian Karakteristik Ortografi Mushaf Utsmani

0
Ortografi Mushaf Utsmani
Ortografi Mushaf Utsmani

Dalam tulisan ini akan dijelaskan mengenai karakteristik ortografi mushaf Utsmani. Ortografi merupakan sistem ejaan suatu bahasa atau gambaran bunyi bahasa yang berupa tulisan atau lambang. Ortografi antara lain meliputi masalah ejaan, kapitalisasi, pemenggalan kata, serta tanda baca. Ortografi memerikan himpunan yang digunakan simbol (grafem dan diakritik) serta aturan penulisan simbol-simbol (Language – Standard Variety – Dialect).

Ortografi berkaitan erat dengan masalah ejaan, khususnya hubungan antara fonem dan grafem dalam suatu bahasa. Elemen lain ortografi adalah tanda hubung, kapitalisasi, jeda kata, penekanan, dan tanda baca. Dengan demikian, Ortografi menggambarkan atau mendefinisikan himpunan simbol yang digunakan dalam menulis bahasa, dan aturan tentang bagaimana menggunakan simbol-simbol tersebut (The Blackwell Encyclopedia of Writing Systems).

Dalam konteks kajian ortografi mushaf Utsmani, yang menjadi fokus pembahasan adalah sistem imla (penulisan) atau scripto defectiva yang digunakan di dalam mushaf Ustmani guna mencatat ayat-ayat Al-Qur’an. Meskipun sistem tersebut – sering kali – hanya dianggap sebagai hal teknis, karena otentisitas teks Al-Qur’an bersumber pada tradisi lisan, namun ia memiliki makna penting dalam sejarah Al-Qur’an.

Baca Juga: Mushaf Al-Quran Pojok Menara Kudus sebagai Simbol Lokalitas

Sepanjang sejarah, ada banyak kajian terhadap ortografi mushaf Utsmani, baik dari sarjana muslim maupun sarjana barat. Salah satu sarjana muslim yang paling terkenal dalam kajian ortografi mushaf Utsmani adalah Abu Amr al-Dani dengan karyanya al-Muqni‘ fî Ma‘rifah Marsum Mashahif Ahl al-Amshar. Di sana ia telah mendokumentasikan karakteristik-karakteristik ortografi mushaf Utsmani yang menyimpang dari kaidah bahasa Arab pada umumnya.

Karakteristik ortografi mushaf Utsmani juga pernah diteliti oleh G. Bergstraesser, penulis buku Hebraeische Grammatik yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab sebagai al-Tathwir al-Nahwy Lugah al-‘Arabi. Ia – sebagaimana disampaikan Taufik Adnan Kamal dalam Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an – telah menyusun ciri khas atau karakteristik ortografi mushaf Utsmani.

Kedua tokoh di atas menyampaikan bahwa ortografi mushaf Utsmani sedikit berbeda dengan ortografi bahasa Arab pada umumnya. Dalam ortografi Arab, kata-kata biasanya ditampilkan dalam bentuk pausa, dan tidak ada bentuk “khusus” meskipun ditempatkan dalam suatu konteks kalimat (siyaq al-kalam). Sedangkan dalam ortografi mushaf Utsmani, suatu kata memiliki bentuk “khusus” jika diletakkan pada konteks tertentu.

Diantara karakteristik ortografi mushaf Utsmani adalah: penulisan huruf ta sebagai pengganti huruf ta marbutah. Ini dapat ditemukan pada kata نعمت  di sebelas tempat, kata رحمت  dan امرأت di tujuh tempat, kata منت di lima tempat, kata لعنت dalam 3: 61; 23: 7, kata معصيت dalam 58: 8-9, kata كلمت dalam 7: 137, kata بقيت dalam 11: 86, kata قرت dalam 28: 9, kata فطرت dalam 30: 30, kata شجرت dalam 44: 43, kata جنت dalam 56: 89, dan kata ابنت dalam 66: 12.

Huruf waw dan ya sering dihilangkan ketika vokal diringkas karena suatu penggabungan kata atau washl. Kasus penghilangan huruf ya dapat ditemukan diantaranya pada kata yu’ti  dalam 4: 146, kata yaqdhi dalam 6: 57, nanji dalam 10: 103, dan al-wadi dalam 20: 12. Penghilangan huruf waw dapat ditemukan diantaranya pada kata yad‘u dalam 17: 11, kata nad‘u dalam 96: 18; 54: 6,  kata yamhu dalam 42: 24, dan kata shalihu dalam 66: 4.

Nunasi atau tanwin ditulis dengan huruf nun dalam kata (كاين) yakni كاين atau كائن yang membuat derivasi kata tersebut, yakni ka alif ya menjadi kabur dan sulit dikenali. Kemudian, huruf-huruf vokal alif, ya, dan waw yang biasanya digunakan untuk mengekspresikan vokal panjang dalam bahasa Arab, tidak jarang dibuang dalam ortografi mushaf Utsmani.

Penghilangan huruf alif di tengah-tengah kata dalam penulisan Al-Qur’an merupakan salah satu ciri khas yang paling menonjol dalam ortografi mushaf Utsmani pada masa-masa awal ketika menggunakan khatt atau tulisan kufi. Kata-kata seperti al-rahmān dan kitāb sering kali ditulis dengan al-rahman dan al-kitab dengan membuang alif yang berfungsi sebagai tanda vokal panjang.

Kasus serupa juga terjadi dengan huruf alif yang berada pada kata plural -āt, tepatnya jama’ muannats salim, akhiran dual –ān atau mutsanna, dan lain-lain. Partikel-partikel tertentu seperti (يا) atau (ها) juga kehilangan alif dalam penulisannya. Misalnya lafaz ياأيها dan هاأنتم menjadi يأيها dan هانتم, dibuang satu alif. Menurut Kamal, ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang Arab berujar secara glottal (hanjari).

Huruf vokal i atau ya sering dihilangkan ketika bertemu dengan huruf senada seperti dalam penulisan al-nabiyyin yang dihapus salah satu huruf ya-nya. Pengecualian terjadi pada kata ‘illiyyin dan bentuk kausatif atau sababiyyah dari kata yuhyīkum. Penghilangan semacam ini, dan penghilangannya dalam kasus di penghujung suatu kata, barangkali bertalian dengan penghilangannya dalam artikulasi (nuthq), terutama dalam dialek suku Quraisy.

Huruf  waw sebagai lambang vokal panjang u, selain dalam kasus penyambungan kata atau washl, hanya dihilangkan ketika bertemu dengan huruf yang sama. Misalnya, kata يلوون menjadi يلون dalam 3:78, dan kata يستون menjadi يستون dalam 9:19; 16: 75. Huruf waw juga dihilangkan pada kata ru’ya (رؤيا) menjadi رءيا, tanpa waw dalam 12:43; 17:60; dan 37:105.

Huruf vokal panjang yang dibaca ā dalam ortografi mushaf Utsmani sering ditulis dengan huruf ya dan waw. Kasus penulisan ā dengan huruf ya, misalnya, dapat ditemukan ketika ya menjadi akar kata ketiga, seperti dalam kata atā atau dalam bentuk fleksi (tashrif ) – yakni deklinasi kata kerja – seperti dalam tudā‘ī. Di samping itu, kasus senada terjadi dalam penulisan beberapa partikel seperti ilā, hattā, dan annā.

Dalam manuskrip-manuskrip Al-Qur’an tulisan tangan beraksara kufi awal, penggantian ya dan alif juga terjadi. Misalnya, حتا dalam 15:99 menjadi حتى, علا dalam 8:49 menjadi على, اغنا dalam 26:207 menjadi اغنى dan lain-lain. Penulisan semacam ini terutama dapat dijelaskan lewat cara pengartikulasian yang lain dari ortografi yang diriwayatkan. Belakangan, hal senada juga ditemukan dalam manuskrip-manuskrip tulisan tangan Magribi.

Vokal panjang juga bisa dituliskan dengan huruf waw. Hal ini dapat ditemukan pada kata shalāh, zakāh, hayāh, misykāh, najāh, manāh, gadāh dan ribā. Penulisan tanda vokal ā dengan waw hanya berlaku jika kata-kata tersebut tidak dibubuhi sufiks (lahiqah). Apabila dibubuhi sufiks, maka tanda vokalnya disalin dengan alif atau disalin secara defektif (naqish). Namun dalam mushaf Utsmani beraksara kufi awal, juga ditemukan penulisan vokal ā dengan alif seperti حياة.

Baca Juga: Penulisan Al-Quran sebagai Awal Tradisi Intelektual Islam Menurut Ali Romdhoni

Setiap kata yang berakhir dengan waw dalam penulisan biasanya diikuti oleh alif, seperti dalam penulisan kata al-ribā, yakni الربوا. Hal ini terlihat hanya bertalian dengan penampakan grafis bahwa  waw biasanya dihubungkan dengan kata berikutnya. Pengecualian terjadi pada kata باؤ, فاؤ, جاؤ dalam 2:226 dan تبوؤ  dalam 59:9. Yang pertama karena diartikulasikan pendek, sedangkan yang kedua karena diikuti huruf alif pada kata setelahnya.

Demikian penjelasan sebagian karakteristik ortografi mushaf Utsmani. Di luar itu masih ada karakteristik-karakteristik lain yang bisa dibaca dalam al-Muqni‘ fî Ma‘rifah Marsum Mashahif Ahl al-Amshar atau buku-buku sejenis yang berbicara mengenai ortografi mushaf Utsmani. Terakhir sebagai catatan, penulisan Al-Qur’an ditujukan untuk menjaga bacaan Al-Qur’an. Artinya, otentisitas pertama tetap berada pada tradisi kelisanan dan sanad sahih. Walahu a’lam.

Tafsir Al-Baqarah Ayat 28: Alasan dan Cara Mensyukuri Kehidupan Dunia

0
Tafsir Al-Baqarah Ayat 28: Alasan dan Cara Mensyukuri Kehidupan Dunia
Tafsir Al-Baqarah Ayat 28: Alasan dan Cara Mensyukuri Kehidupan Dunia

Lika-liku kehidupan yang kadang penuh kesengsaraan kadang membuat kita amat menyepelekan kehidupan. Alih-alih bersyukur telah diberi kehidupan, kadang kita memiliki anggapan bahwa kehidupan adalah sumber segala kesengsaraan. Kita beranggapan bahwa andai tidak hidup, tentu kita tidak akan merasakan kehilangan harta, kehilangan orang yang dicintai serta merasakan hal-hal yang menyedihkan lainnya.

Anggapan-anggapan di atas berkebalikan dengan kesimpulan yang diperoleh para pakar tafsir Al-Qur’an. Menurut para pakar tafsir, kehidupan bukan sumber segala kesengsaraan, tapi sumber segala nikmat yang harus disyukuri. Menurut mereka, jangan memandang kehidupan hanya akan berguna saat kita hidup saja, sehingga kita mengukur baik buruk kehidupan dari yang dominan kita alami di dunia. Namun pandanglah guna kehidupan saat kelak kita mati atau ketika mengalami kehidupan di akhirat. Berikut penjelasan lengkapnya:

Diciptakan Dari Ketiadaan

Allah berfirman:

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ 

Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia akan mematikan kamu, Dia akan menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan? (QS. Al-Baqarah [2] 28).

Imam Ibn Katsir menyatakan, Al-Baqarah ayat 28 ini muncul untuk menunjukkan bukti keberadaan Allah dan sifat kuasa Allah. Al-Qur’an secara tidak langsung bertanya kepada manusia, bagaimana kalian ingkar akan keberadaan Allah dan sifat kuasanya, padahal Dialah yang menciptakanmu dari ketiadaan dan membuatmu hidup sebagai manusia? (Tafsir Ibn Katsir/1/212).

Imam Al-Alusi menyatakan, menurut sebagian ahli tafsir, kematian pertama yang disinggung Al-Baqarah ayat 28 di atas adalah ketiadaan sebelum kemudian diberi kehidupan. Ini adalah penafsiran yang diriwayatkan dari sahabat Ibn ‘Abbas, Ibn Mas’ud dan Imam Mujahid (Ruhul Ma’ani/1/246).

Tatkala berbicara tentang tafsir Al-Baqarah ayat 28 di atas, Imam Ar-Razi menyatakan, meski ayat tersebut berupa pertanyaan, tapi sejatinya ayat tersebut merupakan celaan keras dari Allah kepada orang yang mendurhakai-Nya. Hal ini bisa dilihat besarnya nikmat yang dijadikan bahan pembicaraan, yang tentunya berbanding lurus dengan besarnya dosa orang yang mengingkari nikmat tersebut (Mafatihul Ghaib/1/427).

Baca juga: Inilah 3 Kiat-Kiat Agar Kita Selalu Bersyukur dalam Menjalani Kehidupan

Hidup Sebagai Sumber Segala Nikmat

Lalu seperti apakah besarnya nikmat yang terkandung di dalam proses dari ketiadaan menuju kehidupan? Imam Ar-Razi menyatakan, kehidupan adalah nikmat yang amat besar sebab kehidupan adalah sumber dari segala nikmat. Manusia yang dahulunya tidak ada, kemudian diberi kehidupan sehingga dapat merasakan berbagai nikmat yang memang hanya bisa dirasakan oleh orang yang pernah hidup (Mafatihul Ghaib/1/427).

Dengan kehidupan, manusia bisa merasakan nikmat-nikmat duniawi, seperti nikmat makanan, keindahan alam, hubungan sosial antar manusia, kesehatan tubuh, kecerdasan pikiran dan nikmat-nikmat lain. Tanpa kehidupan, apakah manusia dapat merasakan nikmat-nikmat tersebut?

Tatkala memberikan tafsir Surah Al-Mulk ayat 2, Imam Ar-Razi kembali menyatakan kehidupan sebagai sumber segala nikmat, duniawi maupun ukhrawi. Melalui kehidupan, manusia berkesempatan merasakan nikmat akhirat dengan dapat melakukan amal baik serta menjauhi amal buruk di dunia, sehingga memperoleh balasan nikmat surga di akhirat kelak. (Mafatihul Ghaib/15/395).

Imam Ibn Katsir mengutip sebuah hadis terkait Surah Al-Mulk ayat 2 yang diriwayatkan Imam Ibn Abi Hatim dari Imam Qatadah (Tafsir Ibn Katsir/4/508):

« إنَّ اللَّه تعالى أذلَّ بَنِي آدَمَ بالموتِ ، وجَعلَ الدُّنْيَا دَار حياةٍ ثُمَّ دَارَ مَوْتٍ ، وجَعَل الآخِرةَ دَارَ جزاءٍ ، ثُمَّ دَارَ بَقَاءٍ »

Sesungguhnya Allah Ta’ala membuat hina anak Adam dengan kematian (ketiadaan). Ia menjadikan dunia sebagai tempat kehidupan, kemudian tempat kematian. Dan ia menjadikan akhirat sebagai tempat pembalasan, kemudian tempat yang kekal (HR. Ibn Abi Hatim).

Hadis yang juga dikutip Imam al-Qurtubi dan as-Suyuthi di atas menunjukkan kepada kita, bagaimana Allah mengangkat manusia dari keadaan hina lewat kesempatan untuk hidup. Diberikannya kehidupan adalah kesempatan untuk membuat diri memperoleh derajat mulia. Kemuliaan ini dapat kita peroleh tidak di dunia semata, tapi juga di akhirat. Oleh karena itu, kita harus bisa memanfaatkan kehidupan agar bisa memperoleh tambahan kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jangan sampai justru membuat diri hina dan menderita.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Larangan Melakukan Bunuh Diri dalam Al-Quran

Kesimpulan

Uraian di atas memberi tahu kita untuk tidak menganggap sepele kehidupan dunia, apalagi sampai dengan mudahnya menghilangkan nyawa, hanya karena problem yang sama sekali tidak sebanding dengan segala nikmat yang masih dapat kita rasakan saat masih hidup. Perilaku seperti bunuh diri hanya akan membuat kita menyesal dan semakin menderita di akhirat kelak. Allah Swt sendiri melalui QS. An-Nisa’ [4] 29-30 telah mengancam akan memasukkan pelaku bunuh diri ke dalam neraka.

Kesempatan yang Allah berikan kepada kita untuk merasakan kehidupan, seharusnya dapat menjadi pendorong kita untuk selalu bersyukur. Bersyukur dengan cara mendayagunakan nikmat tersebut untuk ketaatan, bukan untuk bermaksiat atau mendurhakai-Nya. Pantaskah kita menyia-nyiakan pemberian terbesar ini, hanya karena kehilangan hal-hal kecil yang tak sepadan dengan nikmat yang sedang atau akan dapat kita miliki? Wallahu a’lam bish shawab.

Baca juga: Bom Bunuh Diri Termasuk Mati Syahid?: Surah An-Nisa’ Ayat 29-30

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 40-42

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 40-42 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai kekuasaan Allah SWT yang tidak terbatas langit maupun bumi dan seisinya. Kedua berbicara mengenai anjuran sabar kepada mereka yang sedang berjuang di jalan hijrah.


Baca sebelumnya: Ayat Tafsir Surah An-Nahl Ayat 37-39


Ayat 40

Allah swt menerangkan bahwa kekuasaan-Nya tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi sedikit pun oleh semua makhluk, baik yang di langit maupun yang di bumi. Allah swt menyatakan bahwa apabila ia berkehendak untuk menghidupkan orang yang mati, Ia cukup mengatakan kepadanya, “Jadilah.” Jadilah ia sesuai dengan kehendak Allah itu.

Pada ayat lain, Allah swt menerangkan bahwa terwujudnya sesuatu yang dikehendaki itu tidaklah memerlukan waktu yang lama, akan tetapi cukup dalam waktu yang singkat.

Allah swt berfirman:

وَمَآ اَمْرُنَآ اِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ ۢبِالْبَصَرِ

Dan perintah Kami hanyalah (dengan) satu perkataan seperti kejapan mata. (al-Qamar/54: 50)

Allah juga menjelaskan bahwa membangkitkan orang-orang yang telah mati bagi-Nya sama halnya dengan menciptakan satu jiwa.

Allah swt berfirman:

مَا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ اِلَّا كَنَفْسٍ وَّاحِدَةٍ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌۢ بَصِيْرٌ

Menciptakan dan membangkitkan kamu (bagi Allah) hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja (mudah). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (Luqman/31: 28)


Baca juga: Makna Fahsya’ dan Munkar dalam Al-Qur’an, Mirip Namun Tak Sama


Ayat 41

Allah swt menjelaskan bahwa orang-orang yang hijrah meninggal-kan kaum kerabat yang dicintai dan kampung halamannya semata-mata mengharapkan pahala dan keridaan Allah, pasti akan diberi tempat yang baik di sisi-Nya.

Yang dimaksud dengan hijrah dalam ayat ini ialah hijrah kaum Muslimin dari Mekah ke Habasyah, hijrah pertama yang dilakukan 83 orang Muslimin. Pengertian ini didasarkan pada pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini adalah ayat Makkiyyah, dan dikuatkan pula oleh riwayat dari Abdullah bin Humaid, Ibnu Jarir at-Tabari, dan Ibnu Munzir dari Qatadah yang mengatakan bahwa para sahabat Nabi saw teraniaya oleh penduduk Mekah.

Mereka diusir dari kampung halamannya, sehingga sebagian dari mereka ikut hijrah ke negeri Habasyah. Sesudah itu, Allah menyuruh mereka mempersiapkan diri hijrah ke Medinah, lalu kota itu dijadikan kota hijrah dan mereka diberi penolong-penolong yang terdiri dari penduduk Medinah yang beriman.

Kemudian mereka dijanjikan kemenangan atas orang-orang yang telah menganiaya mereka dan tempat yang baik di dunia. Semua itu diperoleh karena mereka rela meninggalkan tempat tinggal dan harta benda mereka, semata-mata hanya mengharapkan keridaan Allah.

Janji kemenangan yang diberikan kepada kaum Muslimin itu ialah mereka akan diberi tempat yang bebas dari kekuasaan orang-orang musyrik dan mereka dapat mengatur tata kemasyarakatan sendiri. Mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin yang takwa dan memerintah orang-orang yang takwa pula.

Di samping itu, mereka dijanjikan pula pahala akhirat yang lebih besar. Apabila mereka mengetahui, tentu mereka akan mengatakan bahwa pahala akhirat itulah yang lebih utama bila dibandingkan dengan kebahagiaan yang mereka rasakan di dunia.

Ibnu Jarar at-Tabari meriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa apabila seorang Ansar memberi suatu pemberian kepada seorang laki-laki dari golongan Muhajirin, ia berkata, “Terimalah pemberian ini, semoga Allah memberikan berkah kepadamu dalam menikmatinya. Ini yang telah Allah janjikan untukmu di dunia, sedang di akhirat kamu akan mendapatkan yang lebih baik lagi”.

Ayat 42

Ayat ini menjelaskan sifat-sifat seorang Muslim yang dijanjikan Allah akan memperoleh kemenangan dunia dan kebahagiaan akhirat.

Mereka adalah orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, seperti menerima siksaan orang-orang kafir Quraisy, menahan penderitaan karena kerinduannya terhadap kampung halaman yang ditinggalkan, dan memikul beban hidup di perantauan karena serba kekurangan dan dalam keadaan terkucil dari keluarga yang masih di Mekah.

Firman Allah:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَاهَدُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۙ اَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan. (at-Taubah/9: 20)

Di akhir ayat, Allah swt menyebutkan sifat mereka sebagai orang-orang yang sabar dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah. Yaitu orang-orang yang menyerahkan akhir perjuangannya kepada Allah karena perjuangan itulah yang mereka tempuh untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sifat sabar dan tawakal termasuk sifat-sifat terpenting yang harus dimiliki orang-orang yang membela kebenaran. Sebab, kedua sifat itu yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya cita-cita.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 43-44


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah al-Kahfi Ayat 6: Petunjuk Allah Saat Dakwah Ditolak

0
Tafsir Surah al-Kahfi Ayat 6: Petunjuk Allah Saat Dakwah Ditolak
Tafsir Surah al-Kahfi Ayat 6: Petunjuk Allah Saat Dakwah Ditolak

Al-Quran selain memuat Rasulullah sebagai Nabi, juga menampilkan Rasulullah sebagai persona manusia biasa, dan, menariknya, di beberapa ayat terdapat gambaran bagaimana persona kemanusiaan Rasulullah dihadapkan pada tantangan kenabian. Misalnya, ketika menghadapi penolakan atas dakwah, tentu Rasulullah merasakan sedih—sebagaimana manusia umumnya—dan Allah memberikan teguran sekaligus petunjuk bagaimana Nabi harus bersikap. Tilikan lebih lanjut pada ayat seperti ini dapat memunculkan etika-sosial kenabian, sebagaimana terdapat dalam surah al-Kahfi ayat 6:

فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلٰٓى اٰثَارِهِمْ اِنْ لَّمْ يُؤْمِنُوْا بِهٰذَا الْحَدِيْثِ اَسَفًا ٦

“Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).”

Baca juga: Tafsir Al-Baqarah Ayat 164: Menyikapi Pandangan Ulama Klasik Tentang Larangan Berlayar di Laut

Larangan Mencelakai Diri Sendiri

Konteks kesedihan Rasulullah pada ayat di atas, menurut Wahbah az-Zuhaily dalam Tafsir al-Munir, bermula dari perkataan musyrikin bahwa Allah memiliki anak. Keyakinan musyrikin itu bertolak belakang dengan spirit tauhid yang merupakan inti ajaran Islam. Di sisi lain, berkenaan dengan visi profetik, Rasulullah tentu menginginkan semua manusia beriman pada Allah agar memperoleh keselamatan. Dengan kerangka demikian Qurasih Shihab berpendapat bahwa ayat ini sesungguhnya menunjukkan belas kasih Rasulullah. Sebegitu sedih hingga Rasulullah dinarasikan hendak mencelakai diri sendiri.

Kata la’alla, masih menurut Quaraish Shihab, berfungsi untuk menunjukkan harapan atau rasa kasih sayang terhadap mitra bicara, maka ayat ini masih berada dalam lingkup kasih sayang. Sedangkan menurut az-Zuhaily kata la’alla bermakna nafi (larangan), sehingga dapat bermakna larangan untuk mencelakai diri sendiri karena kesedihan mendalam akibat kekufuran musyrikin.

La’alla dengan makna kasih sayang maupun larangan, masing-masing memiliki signifikansi dalam konteks keseluruhan ayat. Namun kebanyakan mufassir lebih memahami ayat ini sebagai larangan, sebab kata la’alla bersanding dengan kata bakhi’, yang bermakna dasar membunuh. Menurut Ibn ‘Ashur, dalam at-Tahrir wa at-Tanwir, makna kata bakhi’ adalah membunuh diri sendiri atau menyembelih, kedua makna ini menurut Ibn ‘Ashur cukup identik menurut asal-usulnya.

Makna menyembelih juga dikemukakan oleh Qurasih Shihab, makna yang berasal dari kata bukha’: urat terakhir di leher binatang, di mana urat ini menjadi penyangga terakhir sebelum leher putus dari badan hewan ketika disembelih. Arti ini memberikan penekanan bahwa kesedihan yang dirasakan sebegitu luar biasa hingga dapat mengantar pada kematian.

Baca juga: Surah An-Nisa Ayat 3, Praktik Poligami Menurut Mufasir Indonesia

Namun beberapa mufassir melepaskan kata bakhi’ dari arti membunuh diri sendiri, seperti menurut Al-Syaukani, dalam tafsir Fath al-Qadir, kata bakhi’ memiliki arti tidak produktif atau lemah. Makna tidak produktif masih memiliki keterkaitan dengan kesedihan Rasulullah. Artinya dengan terlalu bersedih dapat menyebabkan tidak produktif atau lemah. Selain itu kata ini juga dapat berarti al-juhd, kesusahan. Ibn Kathir dalam Tafsir al-‘Adzim mengartikan kata bakhi’ dengan mencelakai diri sendiri, disamping mengutip Qatadah yang memberi arti bakhi’ sebagai membunuh diri sendiri.

Kata la’alla dan bakhi’ menjadi dua kata kunci untuk masuk pada pemahaman seluruh ayat. Variasi pemaknaan kata bakhi’ di atas, dari yang ekstrem (membunuh diri sendiri), hingga yang cukup netral (mencelakai diri sendiri), ketika beranding dengan larangan maka bermuara pada satu kesimpulan pararel: larangan berbuat buruk, dengan berbagai bentuk, kepada diri sendiri ketika bersedih akibat gangguang dari luar.

Berkaitan dengan larangan bersedih, Quraish Shihab menutup penafsirannya dengan pemaknaan kata athar, yang berarti jejak kaki di pasir yang telah terlewati. Makna semantik tersebut, menurut Quraish Shihab, berfungsi sebagai bentuk metaforis tuntunan kepada Rasulullah untuk tidak bersedih karena penolakan kaum musyrikin tidak lebih hanya seperti jejak tanpa nilai, yang memang sepantasnya ditinggalkan.

Psikologi Positif dan Misi Rasulullah

Ayat ke-6 surah al-Kahfi, tidak kurang berfungsi sebagai dukungan mental terhadap misi kenabian Rasulullah. Larangan bersedih dan mencelakai diri sendiri tersebut, dalam salah satu pemaknaan Ibn Kathir, terkait kepentingan misi kenabian, yakni Rasulullah harus tetap fokus menyampaikan wahyu tanpa larut pada pendapat kaum muysrik. Az-Zuhaily, meskipun hanya dalam kalimat singkat, juga menafsirkan bahwa ayat menunjukkan keharusan menyampaikan risalah Allah meski Rasulullah dalam keadaan sedih.

Baca juga: Makna Fahsya’ dan Munkar dalam Al-Qur’an, Mirip Namun Tak Sama

Dari pemaknaan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa Allah menghendaki misi filantropi religius tetap menjadi tujuan utama. Gagasan ini, dalam kerangka keilmuan yang oleh Martin Seligman disebut sebagai psikologi positif, dapat menimbulkan kebahagiaan. Seligman, professor di bidang psikologi, berdasarkan riset lapangan, mengatakan bahwa kebahagiaan makna adalah kekuatan paling menimbulkan efek positif.

Kebahagiaan makna, menurut Seligman dalam Authentic Happiness, adalah mendayagunakan seluruh sumber daya untuk melayani sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Seuatu di luar diri sendiri, dan sangat bermakna bagi diri sendiri, menjadi sarana sumber semangat aktualisasi dan, puncaknya, menimbulkan kepuasaan visioner. Dalam kerangka ini, menyampaikan misi kenabian termasuk dalam aktualisasi diri.

Dengan demikian, masih dalam bentuk korelatif dengan psikologi positif, signifikansi ayat 6 surah al-Kahfi mengandung pembelajaran tidak hanya untuk Rasulullah, tetapi juga berlaku universal bagi seluruh manusia, yakni peran aktualisasi diri.

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 37-39

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 37-39 berbicara mengenai pembangkangan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Salah satu hal yang mereka ingkari adalah adanya hari kiamat. Padahal secara jelas Allah menyatakan bahwa hari itu pasti datang.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 36


Ayat 37

Allah swt lalu menjelaskan kepada Nabi Muhammad saw agar jangan kecewa menghadapi keingkaran kaumnya dan pembangkangan yang berlebihan, padahal Rasul sendiri sangat menginginkan mereka menjadi orang-orang yang beriman.

Allah swt menjelaskan kepada Rasulullah saw bahwa meskipun dia sangat mengharapkan agar kaumnya mendapat petunjuk dan mengikuti seruannya, harapan tersebut tidak ada gunanya apabila Allah tidak menghendaki mereka mendapat petunjuk karena mereka telah menentukan pilihannya sendiri.

Mereka itu berpaling dari bimbingan wahyu dan tertarik kepada tipu daya setan sehingga terjerumus ke dalam lembah kemaksiatan dan kemusyrikan.

Allah swt berfirman:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima  petunjuk. (al-Qasas/28: 56)

Dan firman-Nya:

وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِيْٓ اِنْ اَرَدْتُّ اَنْ اَنْصَحَ لَكُمْ اِنْ كَانَ اللّٰهُ يُرِيْدُ اَنْ يُّغْوِيَكُمْ ۗهُوَ رَبُّكُمْ ۗوَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَۗ

Dan nasihatku tidak akan bermanfaat bagimu sekalipun aku ingin memberi nasihat kepadamu, kalau Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Hµd/11: 34)

Dan firman Allah:

وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍ

Dan barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memberi petunjuk baginya. (ar-Ra’d/13: 33)

Karena itulah Allah tidak akan memberikan petunjuk lagi kepada mereka, karena mereka telah memilih kesesatan dan telah diberi penjelasan akibat yang akan menimpa diri mereka.

Di akhir ayat, Allah swt menjelaskan bahwa apabila Ia berkehendak untuk menyiksa mereka, tidak ada seorang pun yang dapat memberikan pertolongan kepada mereka. Allah berkuasa kepada makhluk-Nya dan Allah yang menentukan nasib makhluk itu.


Baca juga: Apa Makna “Kiamat Sudah Dekat” dalam Al-Quran? Ini Penjelasannya


Ayat 38

Allah swt menjelaskan kepada Nabi Muhammad saw bahwa mereka itu bersumpah dengan nama Allah dengan sikap yang bersungguh-sungguh bahwa mereka tetap berkeras hati tidak mau percaya akan terjadinya hari kebangkitan setelah kehidupan dunia ini.

Pembangkangan mereka terhadap hari kebangkitan adalah akibat dari keingkaran mereka terhadap seruan rasul. Mereka berpendapat bahwa kematian itu tiada lain hanyalah kehancuran dan kemusnahan, maka bagaimana mungkin terjadi kebangkitan setelah tubuh hancur-lebur dan tulang-belulang menjadi lapuk. Mengembali-kan barang yang sudah hancur kepada bentuknya semula adalah mustahil.

Allah swt mengoreksi keyakinan mereka yang salah itu dan menegaskan bahwa yang demikian itu tidak benar. Keyakinan yang benar ialah membangkitkan seluruh manusia yang telah mati adalah janji yang telah ditetapkan Allah dan pasti terjadi.

Karena kebanyakan dari mereka tidak mengerti sifat-sifat Allah yang mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas, mereka tidak meyakini terjadinya hari kebangkitan dimana pada saat ini semua makhluk yang telah hancur lebur akan dibangkitkan kembali dari alam kuburnya. Mereka akan dihidupkan kembali untuk mempertanggung-jawabkan amal perbuatan mereka di dunia.

Ayat 39

Allah swt menjelaskan hikmah terjadinya hari kebangkitan, yaitu menjelaskan kepada mereka tentang kebenaran wahyu yang dibawa oleh rasul yang mereka ingkari dan perselisihkan. Pada hari itu, mereka dapat menyaksikan kebenaran wahyu dan menyadari kesalahan pendapat mereka terhadap ajaran yang disampaikan para rasul.

Inilah penyesalan yang dialami oleh orang-orang yang menganiaya diri sendiri. Pada saat itu, mereka akan merasakan bahwa seruan rasul itu adalah bimbingan Allah yang benar, sedang mereka menyesali keingkaran mereka itu dengan penyesalan yang tidak berguna lagi.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa Ia membangkitkan mereka pada saat hari kiamat agar orang-orang yang mengingkari kebenaran wahyu-Nya dapat mengetahui bahwa hari kebangkitan dan pembalasan yang mereka dustakan itu betul-betul terjadi.

Mereka ternyata orang-orang yang berdusta dan tidak ada yang mereka dustakan kecuali diri mereka sendiri. Pada hari itu, mereka benar-benar menyaksikan azab Allah yang diancamkan kepada mereka dan mereka tidak lagi dapat menghindar dari azab tersebut.

Allah swt berfirman:

هٰذِهِ النَّارُ الَّتِيْ كُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُوْنَ

(Dikatakan kepada mereka), ”Inilah neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” (at-Tµr/52: 14)

Firman-Nya lagi:

اِصْلَوْهَا فَاصْبِرُوْٓا اَوْ لَا تَصْبِرُوْاۚ سَوَاۤءٌ عَلَيْكُمْۗ  اِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Masuklah ke dalamnya (rasakanlah panas apinya); baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu; sesungguhnya kamu hanya diberi balasan atas apa yang telah kamu kerjakan. (at-Tµr/52: 16)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 40-42


(Tafsir Kemenag)

Bayangan Matahari dan Inspirasi Pengembangan Sains dalam Al-Quran

0
bayangan matahari dan pengembangan sains
bayangan matahari dan pengembangan sains

Matahari melalui bayang-bayangnya menyumbang penemuan besar dalam sains. Allah swt menunjukkan kuasa-Nya melalui bayang-bayang itu. Dia bisa mengatur elastisitas, fleksibilitas, presisi dan akurasi bayang-bayang tersebut, panjang-pendeknya, terang-redup, dan sebagainya. Ini menginspirasi lahirnya “teori gemerlap pita bayangan gerhana” (The scintillation theory of eclipse shadow bands) sebagaimana diriset oleh J.L. Codona di Center of Astrophysics, Harvard University.

Elastisitas bayang-bayang matahari tersebut sejatinya telah termaklumatkan dalam firman-Nya Q.S. al-Furqan [25]: 45,

اَلَمْ تَرَ اِلٰى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّۚ وَلَوْ شَاۤءَ لَجَعَلَهٗ سَاكِنًاۚ ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيْلًا ۙ

Tidakkah engkau memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan sekiranya Dia menghendaki, niscaya Dia jadikannya (bayang-bayang itu) tetap, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk, (Q.S. al-Furqan [25]: 45)

Baca Juga: Inilah Enam Fungsi Energi Matahari Menurut Tafsir

Fenomena bayangan matahari dalam beberapa tafsir

Ayat di atas secara eksplisit menyampaikan bahwa tujuan matahari diciptakan memang sebagai petunjuk, dan di ayat tersebut, bagian dari matahari yang disinggung adalah bayangannya. Dalam Jami’ al-Bayan, al-Tabari, menukil riwayat dari Ibn Abbas menjelaskan tafsir ayat di atas dengan menjelaskan beberapa hal terkait matahari dan bayangannya.

Pertama, yaitu waktu kemunculan bayang-bayang yang dimaksud, yaitu antara terbitnya fajar hingga terbit matahari atau yang biasa dikenal dengan waktu subuh. Kedua, status matahari dan bayangannya yang tidak lain merupakan ciptaan Allah dan senantiasa berada di bawah kuasaNya, mau diadakan atau tidak, mau dipanjangkan atau tidak. Ketiga, tujuan dari penciptaan matahari dan fenomena bayangannya ini bukan lain yaitu sebagai petunjuk bagi manusia.

Untuk tujuan penciptaan matahari tersebut, At-Tabari membahasakannyaseperti berikut,  

دَلالَتُها عَلَـيْه أنّه لَوْ لَـمْ تَكُن الشّمسُ التـي تَنْسَخه لَـمْ يَعْلَـمْ أنهُ شيءٌ

“Keberadaan matahari sebagai petunjuk adalah suatu keniscayaan. Tanpa matahari bagaimana mungkin seseorang akan mengetahui sesuatu”.

Di sinilah posisi matahari sebagai salah satu penyumbang terbesar perkembangan sains. Dalam konteks ini adalah bayang-bayang matahari. Senada dengan itu, al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menafsirkannya dengan lebih panjang dan nuansa saintifiknya  pun lebih terasa. Ia menyampaikan sebagai berikut,

“Allah swt berkata, (kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk), artinya Kami ciptakan bayang-bayang (dzillun) terlebih dahulu dengan segenap manfaat dan kemaslahatannya. Lalu Kami bimbing petunjuk itu dengan akal sehingga manusia mengetahui dengan keberadaan bayang-bayang itu. Maka hadirnya matahari adalah sebagai hujjah adanya kenikmatann ini (al-syamsi dalilan ‘ala wujudi hadzihi al-ni’mah). Lalu Kami menangkap bayang-bayang itu, Kami pendekkan perlahan, karena semakin tinggi matahari naik, semakin banyak bayangan yang berkurang di sisi Barat dan tidak ada pergerakan spasial. Dan sebaliknya, jika bayangan itu dipanjangkan, semakin pendek matahari tenggelam, semakin banyak bayangan yang bertambah di sisi Timur dan ada pergerakan spasial. Demikian salah satu penakwilan saya (al-Razi)”.

Baca Juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 38: Kuasa Allah Swt dalam Pergerakan Matahari

Sementara itu, Sayyid Muhammad Tantawi dalam Tafsir al-Wasith menafsirkan ayat di atas dengan mengutip al-Qurtubi,

قال القرطبي: قوله- تعالى-: ألم تر إلى ربك كيف مد الظل … يَجُوزُ أنْ تَكونَ هذهِ الرُّؤْيَةُ مِنْ رُؤْيةِ الْعَينِ، وَيَجُوزُ أن تكونَ مِنَ الْعِلْمِ

“Al-Qurtubi berkata bahwa firman Allah (Alam tara ila rabbika kaifa madda al-dzillu) bermakna bahwa fenomena ini merupakan bagian dari penglihatan mata (ru’yah al-‘ain), sekaligus bagian dari ilmu”.

Kata ilmu dalam kutipan di atas ini tidak berlebihan jika diartikan dengan ‘penglihatan akal atas fenomena alam’ yang istilah lainnya yaitu sains. Tidak jauh berbeda, al-Jamal dalam Hasyiah al-Jamal berpendapat mengenai bayang-bayang matahari sebagai berikut,

“Al-Jamal berkata: bahwa firman Allah (Kemudian Kami menjadikan matahari sebagai petunjuk baginya), bermakna bahwa Allah menjadikan matahari dengan menghilangkan (memendekkan) bayangan itu ketika datang, sebagai dalil (petunjuk) bahwa bayangan itu tidak lebih sebagai “sesuatu”. Oleh karena itu, segala sesuatu diketahui dengan kebalikannya, dan jika bukan karena matahari, bayangan tidak akan diketahui, dan tanpa cahaya, kegelapan tidak akan diketahui, karena itu bagian daripada isim.  Sebagaimana dikatakan bahwa matahari menjadi burhan (yang dapat direnungi, diriset, diteliti dan ditelaah), sekaligus matahari sebagai haq (bukti bahwa Allah menghendakinya ada)

Baca Juga: Tafsir Surah Luqman Ayat 29, Matahari Sebagai Sumber Kehidupan

Bayang-Bayang Matahari sebagai Inspirasi Pengembangan Sains

Ayat di atas mengajarkan kepada kita bahwa ternyata Allah swt “tidak kurang akal” memantik rasio manusia untuk selalu meriset dan mempelajari segala ciptaan-Nya, tidak terkecuali matahari yang dilengkapi dengan bayangannya. Bayang-bayang matahari (sun shadow) yang dilukiskan secara eksplisit dalam ayat di atas menjadi sumber inspirasi bagi sains untuk lebih meneliti lebih lanjut potensi bayang-bayang itu.

Matahari beserta bayang-bayangnya telah berfungsi sebagai penyeimbang kehidupan alam semesta. Bayangan itu berimplikasi pada pergantian siang dan malam sebagaimana difirmankan-Nya dalam Q.S. Yunus [10]: 67 yang tentu bermanfaat bagi kehidupan manusia.

M Amenomori, et.al (1999) dalam risetnya, Sun’s shadow by 10 TeV cosmic rays under the influence of solar activity menceritakan bahwa bayangan matahari dengan sinar kosmik 10 TeV yang diamatinyai melalui rangkaian pancuran udara Tibet (the Tibet air shower array) selama periode dari tahun 1991 hingga 1997 menghasilkan riset bahwa ada hubungan sebab akibat antara gerakan bayangan dan perubahan kemiringan lembar arus heliosfer besar (the heliospheric current sheet of the large).

Dengan demikian, pengamatan lebih lanjut dengan statistik yang lebih tinggi dapat memberikan informasi langsung tentang hubungan antara variasi waktu dari struktur skala besar medan magnet matahari dan antarplanet dan fase siklus aktivitas matahari.

Bahkan, bayangan matahari yang terjadi pada fenomena gerhana matahari merupakan fenomena yang mengandung banyak prediksi kejadian alam sebelum maupun pasca gerhana matahari. .J.J. Quan menyebut bayangan matahari itu dengan shadow bands (pita matahari) dalam The shadow band phenomenon. Jadi, bayangan matahari pun dapat menginsipirasi perkembangan sains. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 36

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 36 membahas tentang tugas seorang rasul. Allah menjelaskan bahwa para rasul diutus sesuai dengan sunnatullah. Tugas utamanya adalah membimbing manusia ke jalan yang baik dan benar.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 34-35


Ayat 36

Allah swt menjelaskan bahwa para rasul itu diutus sesuai dengan sunatullah yang berlaku pada umat sebelumnya. Mereka itu adalah pembimbing manusia ke jalan yang lurus. Bimbingan rasul-rasul itu diterima oleh orang-orang yang dikehendaki oleh Allah dan membawa mereka kepada kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat.

Allah swt menjelaskan bahwa Dia telah mengutus rasul kepada tiap-tiap umat yang terdahulu, seperti halnya Dia mengutus Nabi Muhammad saw kepada umat manusia seluruhnya. Oleh sebab itu, manusia hendaklah mengikuti seruannya dan meninggalkan segala larangannya.

Allah swt berfirman:

اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا ۗوَاِنْ مِّنْ اُمَّةٍ اِلَّا خَلَا فِيْهَا نَذِيْرٌ

Sungguh, Kami mengutus engkau dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan. (Fatir/35: 24);Dan firman-Nya:

وَسْـَٔلْ مَنْ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رُّسُلِنَآ  ۖ اَجَعَلْنَا مِنْ دُوْنِ الرَّحْمٰنِ اٰلِهَةً يُّعْبَدُوْنَ

Dan tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau, ”Apakah Kami menentukan tuhan-tuhan selain (Allah) Yang Maha Pengasih untuk disembah?” (az-Zukhruf/43: 45)

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa Allah tidak menghendaki hamba-Nya menjadi kafir, karena Allah swt telah melarang mereka mengingkari-Nya. Larangan itu telah disampaikan melalui para rasul-Nya. Akan tetapi, ditinjau dari tabiat manusia, mungkin saja ada di antara mereka yang mengingkari Allah, karena manusia telah diberi akal pikiran dan kebebasan untuk memilih sesuai dengan kehendaknya.


Baca juga: Mari Berkenalan Dengan Tiga Sosok Qari Terkemuka Pada Masa Rasulullah


Takdir Allah berlaku sesuai dengan pilihan mereka. Oleh karena itu, apabila ada di antara hamba-Nya yang tetap bergelimang dalam kekafiran dan dimasukkan ke neraka Jahanam, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah.

Allah telah cukup memberikan akal pikiran dan kebebasan untuk memilih dan menentu-kan sikap jalan mana yang akan mereka tempuh. Sedang Allah sendiri tidak menghendaki apabila hamba-Nya menjadi orang-orang yang kafir.

Kemudian dijelaskan lebih lanjut bahwa Allah telah mengingatkan hamba-Nya yang mendustakan kebenaran rasul dengan ancaman hukuman di dunia apabila mereka tidak mau mengubah pendiriannya dan menerima petunjuk yang dibawa rasul. Oleh karena itu, Allah membinasakan mereka dengan hukuman-Nya yang sangat pedih.

Tetapi ada pula di antara mereka yang diberi petunjuk oleh Allah, sehingga mereka menerima dan mengikuti petunjuk dan wahyu yang dibawa rasul-Nya. Mereka inilah orang-orang yang berbahagia dan selamat dari azab Allah.

Sesudah itu, Allah swt memerintahkan kepada mereka agar bepergian ke seantero muka bumi dan menyaksikan negeri-negeri yang didiami oleh orang-orang zalim. Mereka disuruh melihat bagaimana akhir kehidupan orang-orang yang mendustakan agama Allah.

Di dalam ayat ini, Allah swt menyuruh manusia agar mengadakan penelitian terhadap sejarah bangsa-bangsa lain dan membandingkan antara bangsa-bangsa yang menaati Allah dan rasul-Nya dengan yang mengingkari seruan Allah dan rasul-Nya. Hal ini tiada lain hanyalah karena Allah menginginkan agar mereka mau mengikuti seruan rasul.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 37-39


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 34-35

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 34-35 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai datangnya bencana bagi orang-orang musyrik akibat prilaku mereka sendiri. Kedua berbicara mengenai tipu daya orang-orang musyrik serta alasan mendustai Rasulullah SAW.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 32-33


Ayat 34

Mereka ditimpa oleh bencana yang mengerikan karena kejahatan yang mereka lakukan. Tidak ada seorang pun dari mereka yang dapat melepaskan diri dari bencana yang mengerikan itu karena semuanya berjalan menurut ketentuan dan sunnah Allah. Mereka telah diberikan peringatan berulang kali bahwa pada suatu saat akan datang azab Allah.

Akan tetapi, mereka bukan menerima dengan kesadaran, justru malah mendustakan dan memperolok-olok rasul yang membawa berita tentang kehancuran yang akan mereka alami akibat perbuatan itu.

Di akhirat, mereka pun akan merasakan sesuatu yang lebih mengerikan lagi yaitu pada saat mereka telah diputuskan untuk memasuki pintu-pintu Jahanam yang tidak dapat mereka hindari.

Allah swt berfirman:

هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَ

Inilah hari keputusan yang dahulu kamu dustakan. (as-Saffat/37: 21)


Baca juga: Kontradiksi Penafsiran Al-Quran Surah Al-A’raf Ayat 7


Ayat 35

Allah swt lalu menjelaskan tipu daya orang-orang musyrik dan alasan mereka untuk mendustakan Rasulullah saw dan pengikut-pengikutnya. Mereka mengemukakan alasan bahwa mereka menyembah berhala-berhala karena Allah telah merestui peribadatan itu. Kalau Allah menghendaki mereka menyembah Allah Yang Maha Esa, tentulah mereka tidak akan menyembah sesuatu apa punselain Allah swt.

Demikian juga penetapan mereka terhadap: bahirah (unta betina yang telah beranak lima kali dan anak kelima itu jantan), sā`ibah (unta betina yang dibiarkan pergi ke mana saja lantaran suatu nazar), waasilah (domba betina yang melahirkan anak kembar sedangkan anaknya jantan dan betina), dan ham (unta jantan yang tidak boleh diganggu gugat lagi karena telah membuahi unta betina sepuluh kali), sebagai binatang yang haram, menurut mereka sudah direstui Allah.

Sekiranya Allah tidak menyukai apa yang telah mereka lakukan, tentu mereka diberi petunjuk ke jalan yang benar, atau Allah akan menimpakan hukuman kepada mereka dengan segera. Demikian beberapa alasan yang dikemukakan orang-orang musyrik untuk menolak wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Alasan yang mereka kemukakan itu sama halnya dengan tindakan orang-orang sebelum mereka dalam hal mendustakan rasul.

Allah swt menyangkal alasan yang mereka kemukakan dan menolak dugaan mereka yang salah itu. Allah tidak membenarkan apa yang mereka kerjakan karena Allah telah menyampaikan petunjuk melalui rasul-Nya. Rasul telah menyampaikan bimbingan kepada kaumnya ke jalan yang benar melalui perantaraan wahyu-Nya.

Allah swt berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنَامِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآاِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku. (al-Anbiya’/21: 25)

Petunjuk Allah yang disampaikan melalui rasul-Nya itu akan dinikmati oleh orang yang benar-benar berusaha untuk mendapatkannya.

Allah swt berfirman:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ3

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (al-‘Ankabµt/29: 69)

Oleh sebab itu, seandainya ada orang yang tidak mau mendengarkan ajakan rasul, maka bukanlah tugas rasul untuk memaksa mereka agar menerima dakwahnya. Yang demikian itu, bukanlah tugas dan tanggung jawab rasul serta bukan pula sifat dari agama Islam. Islam tidak memaksa mereka yang tidak mau menerima kebenaran.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 36


(Tafsir Kemenag)