Beranda blog Halaman 311

Tafsir Ahkam: Hukum Memakan Janin yang Mati dalam Perut Hewan yang Disembelih

0
Hukum Memakan Janin Yang Mati dalam Perut Hewan yang Disembelih
Hukum Memakan Janin Yang Mati dalam Perut Hewan yang Disembelih

Apabila kita menyembelih sapi lalu setelah membedah perutnya menemukan janin si sapi yang ikut mati, bagaimana hukum memakan si janin? Hal ini tentunya membingungkan banyak orang. Mungkin akan ada yang berpendapat bahwa seharusnya si janin halal, sebab selama ia belum lahir dan ia ibarat daging. Namun mungkin juga akan ada yang merasa kikuk, sebab bagaimanapun juga ia bakal hewan yang kelak akan menjadi hewan lain selain induknya.

Permasalahan ini rupanya juga menarik perhatian para pakar tafsir. Hal ini disebabkan ada yang meyakini bahwa janin tersebut adalah bangkai, yang berarti dianggap hewan lain yang mati tanpa proses disembelih. Dan sudah jelas bagaimana pandangan Al-Qur’an tentang bangkai. Ulama’ yang menolak, mengajukan dasar hadis untuk menunjukkan bahwa janin yang mati di dalam kandungan induknya yang disembelih, tidaklah disebut bangkai oleh syariat.

Baca juga: Berikut Tips Beristikamah dari Tafsir Ayat tentang Istikamah

Memakan Janin Hewan yang Disembelih dalam Kitab Tafsir

Para ahli tafsir mengulas persoalan janin hewan pada dua tempat di dalam Al-Qur’an. Yang pertama di dalam Surat Al-Maidah yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَوْفُوْا بِالْعُقُوْدِۗ اُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيْمَةُ الْاَنْعَامِ اِلَّا مَا يُتْلٰى عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّى الصَّيْدِ وَاَنْتُمْ حُرُمٌۗ – الى ان قال –  حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji! Dihalalkan bagimu hewan ternak, kecuali yang akan disebutkan kepadamu (keharamannya) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang berihram (haji atau umrah). – sampai ayat – Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang (sempat) kamu sembelih (QS. Al-Ma’idah [5] :1-3)

Baca juga: Surah Al-Hajj [22] Ayat 34: Berkurban Adalah Syariat Agama Samawi

Imam Ibn Katsir menyatakan dalam tafsir ayat di atas, Ibn ‘Umar, Ibn Abbas dan tidak sedikit ulama’ menjadikan ayat ini sebagai dasar kehalalan janin yang ditemukan mati di perut induknya yang disembelih. Setelah itu Ibn Katsir menuturkan beberapa riwayat hadis yang menjelaskan bahwa hukum si janin adalah sebagaimana hukum sembelihan induknya. Dalam artian, apabila ibunya halal, maka si janin otomatis menjadi halal meski mati tidak melewati proses disembelih (Tafsir Ibn Katsir/2/8).

Tempat kedua adalah firman Allah yang berbunyi:

اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ

Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah (QS. Al-Baqarah [2] :173).

Imam Ar-Razi menyatakan dalam tafsir ayat di atas, ulama’ berbeda pendapat mengenai hukum mengkonsumsi janin hewan yang ditemukan mati setelah induknya disembelih. Imam Abu Hanifah menghukuminya haram sebab menganggapnya sebagai bangkai. Imam Malik memberi rincian, apabila wujudnya telah sempurna dan bulunya telah tumbuh, maka halal. Apabila belum, maka haram. Imam Syafi’i dan Ahmad menghukuminya halal dikonsumsi sebab berdasarkan dalil hadis tentang sembelihan janin yang diriwayatkan dari Jabir ibn Abdullah dan berbunyi (Tafsir Mafatihul Ghaib/3/30):

« ذَكَاةُ الْجَنِينِ ذَكَاةُ أُمِّهِ »

Sembelihan janin adalah sembelihan induknya (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Hakim dan selainnya)

 Baca juga: Mengenal Tujuh Istilah Angin yang Disebutkan dalam Al-Quran

Mayoritas ulama’ menyatakan bahwa janin yang ditemukan mati setelah induknya disembelih hukumnya halal. Hal ini bisa disimak lewat pernyataan Imam An-Nawawi yang menuturkan bahwa hanya Imam Abu Hanifah dan Zufar yang menyatakan haram. Imam An-Nawawi juga mengutip pernyataan Imam Ibn Mundzir yang mengatakan, hanya Imam Abu Hanifah yang mengatakan haram. Akan tetapi Ibn Mundzir mengatakan tidak yakin pengikut Abu Hanifah akan mengikuti pendapat Abu Hanifah tersebut (Al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab/9/128). Wallahu a’lam bish showab.

Membaca Ayat-Ayat Antropomorfisme: Tafsir Tajsim Muqatil Ibn Sulaiman

0
Membaca Ayat-Ayat Antropomorfisme: Tafsir Tajsim Muqatil Ibn Sulaiman
Tafsir Muqatil Ibn Sulaiman

Salah satu isu dalam Al-Qur’an yang kerap menimbulkan polemik di dalam tubuh umat Islam adalah bagaimana pembacaan dan penafsiran terhadap ayat-ayat antropomorfisme atau ayat-ayat yang seperti mengandung penyerupaan antara Allah dengan makhluknya.

Ayat-ayat yang menerangkan sifat-sifat Allah seperti istawa (bersemayam), yad (tangan), wajh (wajah), dan lain-lain hingga isu kemampuan manusia untuk melihat Allah di akhirat kelak. Penafsiran terhadap ayat-ayat ini di kemudian hari memicu berkembangnya penafsiran yang bercorak teologis atau akidah.

Secara umum penafsiran terhadap ayat-ayat antropomorfisme ini bisa diklasifikasikan pada tiga aliran pemahaman yaitu aliran mujassimah, mu’tazilah dan ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Di mana ketiganya memiliki pemikiran dan ke-khasannya masing-masing yang membedakan satu sama lain.

Baca juga: Makna Qur’an yang Plural dan Kontradiktif, Makna Awal Qur’an yang Terlupakan

Penafsiran Tajsim Kalangan Mujassimah

Yang pertama adalah kalangan mujassimah. Dalam Mu’jam al-Syamil li Mushthalahat al-Falsafah (745-746) Abdul Mun’im al-Hafni mengatakan bahwa mujassimah adalah kelompok yang mengatakan bahwa Allah itu berupa jisim dengan sebenar-benarnya. Bahkan sebagian di antara mereka ada yang sangat berlebihan hingga mengatakan Allah itu berbentuk seperti rupanya manusia.

Salah satu tokoh mufassir yang disebut sangat terpengaruh paham tajsim adalah Muqatil Ibn Sulaiman. Di antara pernyataan yang dinisbatkan kepadanya adalah bahwa Allah itu merupakan jism sebagaimana manusia, memiliki daging, darah, rambut dan tulang, tersusun dari berbagai anggota tubuh, serta memiliki kepala dan dua mata. Menurut Abdullah Syahatah, penisbatan kepada Muqatil ibn Sulaiman ini tidak benar adanya.

Para pengikut Muqatil ibn Sulaiman -atau muqatiliyyah-, sebagaimana disampaikan oleh Abdullah Mahmud Syahatah selaku muhaqqiq kitab Tafsir Muqatil ibn Sulaiman berargumen atas pendapatnya ini dengan mengatakan (5/80),

وَقَالَت مُقَاتِلِيَّةُ فِي تَعلِيلِ ذَلِكَ: لِأَنَّا لَا نَشهَدُ شَيئًا مَوسُومًا بِالسَّمعِ وَالبَصَرِ وَالعَقلِ وَالعِلمِ وَالحَيَاةِ وَالقُدرَةِ إِلَّا مَا كَانَ لَحمًا وَدَمًا.

Karena kami tidak pernah menyaksikan sesuatu yang tersusun dengan pendengaran, penglihatan, akal, ilmu, kehidupan, dan kekuatan kecuali sesuatu itu juga pasti memiliki daging dan darah”.

Pandangan-pandangan tajsim Muqatil Ibn Sulaiman ini bisa dilihat dalam kitab tafsirnya. Misalnya ketika ia menafsirkan firman Allah Q.S. Thaha [20]: 5 berikut,

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang ber-istiwa’ di atas ‘Arsy

Dalam tafsirnya (3/20-21), Muqatil mengatakan bahwa Allah telah ber-istiwa di atas ‘arsy sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Kata istiwa’ pada ayat ini ditafsiri oleh Muqatil dengan istaqarra yang berarti menetap. Yang berarti Allah itu bertempat –tamakkun-, duduk dan bersemayam tepat di atas ‘arsy.

Penafsiran ini juga berkesinambungan dengan penafsirannya terhadap kata kursiy dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 255,

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ

…Kursi Allah meliputi langit dan bumi…

Ia mengatakan dalam tafsirnya (1/213),

كُلُّهَا وَكُلُّ قَائِمَةٍ لِلكُرسِيِّ طُولُهَا مِثلُ السَمَىوَاتِ السَّبعِ وَالأَرضِينَ السَّبعِ تَحتَ الكُرسِيِّ فِي الصَّغرِ كَحَلقَةٍ بِأَرضِ فَلَاة

kursinya (Allah) itu luasnya meliputi langit dan bumi. Dan setiap tiang penyangganya panjangnya seperti tujuh lapis langit dan bumi, (lalu tujuh lapis langit dan bumi) itu tak lebih dari seonggok cincin di padang tandus jika dibandingkan dengan besarnya kursi Allah”.

Selain itu, ketika menafsirkan ayat ini ia juga menetapkan bahwa Allah berada di atas semua makhluk sehingga tidak ada yang lebih agung dari-Nya. Ia juga mengatakan bahwa kursiNya ditopang oleh empat orang malaikat, di mana ini ia sandarkan pada riwayat isra’iliyyat yang tidak jelas sanadnya.

Penafsirannya yang lain, yang juga ‘berbau’ tajsim adalah ketika ia menafsirkan kata yamin (tangan kanan) dan kata saaq (betis) pada Q.S. Al-Zumar [39]: 67 dan Q.S. Al-Qalam [68]: 42.

Allah berfirman dalam Q.S. Al-Zumar [39]: 67

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya berada dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya

Muqatil menegaskan dalam tafsirnya (3/685),

فهمما كلاهما في يمينه يعني في قبضته اليمنى

maka keduanya (langit dan bumi) berada di kedua tangannya, yakni di genggaman tangannya yang kanan”.

Adapun dalam Q.S. Al-Qalam [68]: 42 Allah berfirman,

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ

Pada hari ketika ‘betis’ disingkapkan…

Oleh Muqatil (4/408), ayat ini dikaitkan dengan firman Allah Q.S. Al-Zumar [39]: 69 yang artinya ‘dan bumi menjadi terang benderang dengan cahanya Tuhannya’. Dalam tafsirnya terkait ayat ini (3/687), Muqatil menjelaskan bahwa nur atau cahaya yang disebutkan pada ayat tersebut berasal dari betis-Nya yang disebutkan pada Q.S. Al-Qalam [68]: 42.

Baca juga: Melihat Sisi Lain Muqatil bin Sulayman

Dugaan Inkonsistensi Tafsir Tajsim Muqatil Ibn Sulaiman

Dari beberapa penafsirannya di atas, terlihat bahwa Muqatil terindikasi berpaham tajsim atau bisa dikatakan ekstrim kanan dalam Dzat Allah, dimana ia terkesan berlebih-lebihan dalam meng-itsbatkan sifat Allah sehinga jatuh kepada tasybih.

Hujjatul Islam al-Ghazali dalam Iljam al-‘Awamm memberikan peringatan yang sangat keras akan paham seperti ini, al-Ghazali bahkan mengumpamakan kalangan mujassimah ini tak ubah layaknya penyembah berhala lantaran menyerupakan Tuhan dengan makhluk karena men-jisimkan Tuhan.

Namun, perlu diketahui bahwa pada beberapa penafsirannya terhadap ayat antropomorfisme yang lain, Muqatil menetapkan sifat Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk, seperti penafsirannya terkait melihat Allah kelak di akhirat dan terkadang ia juga menta’wil ayat-ayat sifat seperti kata yad atau yadain dengan kekuatan, kesetiaan dan hikmah sesuai dengan konteks ayat.

Ini berarti Muqatil ibn Sulaiman ketika menafsirkan ayat-ayat antropomorfisme tidak ‘sepenuhnya’ terpengaruh paham tajsim.

Sebagai catatan akhir, menurut muhaqqiq kitab ini (5/113), masih terdapat perbedaan pendapat di antara para pakar apakah benar yang terpengaruh paham tajsim ini adalah Muqatil ibn Sulaiman yang mufassir atau ada Muqatil lain yang dimaksud. Misalnya al-Syahrastani dalam al-Milal wa al-Nihal (1/92) justru menyandingkan Muqatil bin Sulaiman dengan imam Malik bin Anas sebagai panutan ulama salaf, ashab al-hadith yang menjelaskan akidah Islam yang benar dan membentenginya dari kelompok-kelompok yang menyimpang.

Ada juga pernyataan dari al-Saksaki yang mengatakan bahwa Muqatil yang mujassim itu berbeda dengan Muqatil yang mufassir, namun hal ini dibantah oleh al-Kauthari dalam al-Farq baina al-Firaq karya al-Bagdadi yang di-tahqiqnya (hlm. 139) yang mengatakan bahwa keduanya adalah Muqatil yang sama. Kesimpulannya, sosok ‘Muqatil’ di sini masih debatable dan terbuka untuk penelitian lebih lanjut, namun fokus tulisan ini hanya membahas isi penafsirannya sebagaimana di atas. Wallahu a’lam.

Baca juga: Makna Wahyu dalam Penafsiran Muqatil bin Sulayman

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 78-84

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Setelah pada pembahasan sebelumnya diterangkan bagaimana kisah kedurhakaan kaum Nabi Luth. Maka dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 78-84 akan dijelaskan tentang keingkaran penduduk kota Aikah di masa Nabi Syu’aib A.S. Kaum ini menganut kepercayaan politeisme, gemar menyamun dan merampok orang yang lewat di negeri mereka, serta berlaku curang dalam menimbang dan menakar dagangan.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 73-77


Kaum lain yang diceritakan dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 78-84 adalah keingkaran kaum al-Hijr di masa nabi Saleh A.S. Dinamakan dengan al-Hijr karena mereka memahat gunung dan batu sebagai tempat tinggal mereka. Kaum ini juga dikenal dengan kaum Samud, sebagaimana akan diterangkan dibawah ini.

Ayat 78

Ayat ini menerangkan bahwa penduduk kota Aikah adalah penduduk yang zalim dan ingkar. Kepada mereka diutus Nabi Syuaib a.s., tetapi mereka mengingkari dan mendustakan dakwahnya.

Dalam hadis diterangkan hubungan penduduk Aikah dengan penduduk kota Madyan.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنَّ مَدْيَنَ وَاَصْحَابَ الْأَيْكَةَ اُمَّتَانِ بَعَثَ اللهُ اِلَيْهَا شُعَيْبًا (رواه ابن مردويه وابن عساكر)

Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya penduduk kota Madyan dan penduduk Aikah itu adalah dua umat yang kepada keduanya Allah mengutus Nabi Syuaib”. (Riwayat Ibnu Mardawaih dan Ibnu ‘Asakir).

Arti dasar dari Aikah ialah hutan, kemudian menjadi nama suatu negeri karena negeri itu memiliki banyak hutan. Negeri itu terletak di daerah Madyan.

Penduduk Aikah menganut kepercayaan politeisme, suka menyamun dan merampok orang yang lewat negeri mereka, serta berlaku curang dalam menimbang dan menakar. Kepada mereka diutus Nabi Syuaib a.s., tetapi mereka mengingkarinya.


Baca Juga: Isyarat Pelestarian Alam Dibalik Kisah Nabi Shalih, Unta dan Kaum Tsamud


Ayat 79

Karena tindakan mereka yang melanggar larangan Allah dan meng-abaikan seruan rasul itu, mereka ditimpa azab berupa panas terik selama tujuh hari, tanpa sedikit pun awan yang menaungi. Allah kemudian mengirimkan awan, lalu mereka bernaung di bawahnya. Tiba-tiba dari dalam awan itu memancar nyala api yang menghanguskan mereka. Dalam Surah al-A’raf/7: 91, diterangkan bahwa mereka juga ditimpa gempa yang dahsyat.

 فَاَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَاَصْبَحُوْا فِيْ دَارِهِمْ جٰثِمِيْنَ

Lalu datanglah gempa menimpa mereka, dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka. (al-A’raf/7: 91).

Kemudian Allah swt menerangkan bahwa kota Sodom dan kota Aikah itu adalah dua kota yang berdekatan letaknya, sama-sama terletak di jalan yang biasa dilalui manusia. Bahkan, bekas peninggalan mereka masih dapat dilihat dan diteliti, agar dijadikan pelajaran oleh orang-orang yang mau menggunakan pikirannya.

Ayat 80-81

Ayat ini menerangkan bahwa penduduk kota al-Hijr telah men-dustakan para rasul. Dalam ayat ini disebutkan rasul-rasul padahal mereka hanya mendustakan seorang rasul, yaitu Nabi Saleh a.s., karena mendustakan seorang rasul hukumnya sama dengan mendustakan seluruh rasul Allah. Seluruh rasul yang diutus Allah membawa agama tauhid dan asas-asas agama yang sama.

Walaupun mendustakan seorang rasul, tetapi mereka telah mendustakan ketauhidan dan asas-asas agama yang dibawa rasul itu, yang berarti mereka telah mendustakan seluruh rasul.

Kota al-Hijr adalah tempat tinggal kaum Samud yang terletak antara Mekah dan Syam, di dekat Wadil-Qura. Kepada mereka diutus Nabi Saleh yang diberi mukjizat sebagai bukti kerasulannya.

Saleh menyatakan mukjizatnya berupa unta betina yang mereka kenal sebagai bukti kerasulan-nya. Unta itu tidak boleh diganggu dan disakiti. Jatah air minumnya ditentukan banyaknya secara bergantian, yaitu sehari untuk minum unta dan sehari untuk minum mereka semuanya. Tetapi mereka tidak mau mengikuti ketentuan Saleh itu, bahkan mereka menyembelih unta itu.

Ayat 82-84

Kaum Samud adalah kaum yang kuat dan perkasa tubuhnya. Mereka memahat gunung-gunung batu untuk dijadikan rumah-rumah mereka, sehingga kota mereka dinamakan “kota al-Hijr” yang berarti kota pegunungan batu.

Karena kemungkaran, Allah menimpakan kepada mereka azab berupa suara keras yang mengguntur dan menghancurkan mereka semuanya. Azab keras itu datang di waktu pagi pada hari keempat dari hari yang ditetapkan Saleh bagi mereka untuk berpikir.

Tetapi mereka tidak mengindahkannya, sehingga mereka terkubur di dalam rumah-rumah mereka yang berupa gua-gua yang dipahat pada gunung-gunung batu itu. Keadaan mereka ini diterangkan Allah dalam firman-Nya yang lain:

وَاَخَذَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَاَصْبَحُوْا فِيْ دِيَارِهِمْ جٰثِمِيْنَۙ ٦٧كَاَنْ لَّمْ يَغْنَوْا فِيْهَا ۗ اَلَآ اِنَّ ثَمُوْدَا۠ كَفَرُوْا رَبَّهُمْ ۗ اَلَا بُعْدًا لِّثَمُوْدَ ࣖ ٦٨

Kemudian suara yang mengguntur menimpa orang-orang zalim itu, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, kaum Samud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, binasalah kaum Samud. (Hud/11: 67-68)

Kaum Samud tidak dapat menghindarkan diri dari azab Allah sedikit pun. Tidak ada faedah keperkasaan tubuh mereka, kemampuan mereka memahat gunung untuk dijadikan rumah yang seakan-akan merupakan benteng yang kokoh, serta harta dan jumlah mereka yang banyak. Semua hancur lebur bersama mereka, seakan-akan negeri itu tidak pernah dihuni manusia.

Tentang kedahsyatan azab yang dialami kaum Samud, tergambar dalam hadis Nabi saw:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ النَّبِيَّ مَرَّ بِالْحَجَرِ وَهُوَ ذَاهِبٌ إِلَى تَبُوْكَ فَقَنَعَ رَأْسَهُ وَاَسْرَعَ بِرَاحِلَتِهِ وَقَالَ ِلأَصْحَابِهِ: لاَ تَدْخُلُوْا بُيُوْتَ الْقَوْمِ الْمُعَذَّبِيْنَ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنُوْا باَكِيْنَ فَإِنْ لَمْ تَبْكُوْا فَتَبَاكَوْا خَشْيَةَ أَنْ يُّصِيْبَكُمْ مَا أَصَابَهُمْ. (رواه البخاري)

Dari Ibnu Umar r.a. bahwasanya Nabi saw telah lewat di kota Hijr dalam perjalanan beliau menuju perang Tabuk, lalu beliau menundukkan kepalanya dan mempercepat perjalanannya seraya berkata kepada para sahabatnya, “Janganlah kamu memasuki rumah-rumah kaum yang diazab (kaum Samud), kecuali kamu akan menangis. Jika kamu tidak menangis, maka hendaklah seakan-akan menangis karena kamu takut akan ditimpa azab nanti sebagaimana mereka telah ditimpa azab dahulu.” (Riwayat al-Bukhari)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 85-87


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 73-77

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 73-77 menjelaskan bentuk azab yang ditimpakan Allah kepada kaum nabi Luth. Azab tersebut dimulai dengan bunyi halilintar pada waktu subuh, kemudian bencana lainnya muncul silih berganti hingga memporak-porandakan negeri tersebut. Lebih jelasnya, akan diterangkan bagaimana model dan alasan ditimpakan azab kepada kaum tersebut, serta menjadi pelajaran kepada kaum setelahnya, agar tidak melakukan kedurhakaan serupa.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 66-72


Ayat 73

Ayat ini menerangkan azab yang ditimpakan kepada kaum Lut, untuk menunjukkan akibat perbuatan mereka. Azab itu datang pada dini hari berupa suara halilintar yang menghancurkan kota Sodom. Pada ayat yang lain disebut bahwa azab itu datang pada waktu subuh dan berakhir pada waktu matahari terbit.


Baca Juga: Kisah perilaku Homoseksual Kaum Nabi Luth


Ayat 74

Allah menerangkan bentuk azab yang menimpa kaum Lut ada tiga macam:

  1. Berupa suara petir yang mengguntur dan menakutkan;
  2. Membalikkan kota Sodom, sehingga lapisan tanah yang semula di atas terbalik menjadi lapisan yang di bawah;
  3. Menghujani mereka dengan batu.

Ayat 75

Ayat ini menerangkan perbuatan dan tingkah laku kaum Lut, kemudian mereka dihancurkan karena perbuatan-perbuatan mereka yang bertentangan dengan perintah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Mahakuasa, mengasihi dan menyayangi hamba-hamba-Nya yang beriman, dan mengazab orang-orang yang ingkar kepada-Nya.

Orang-orang beriman, yang memperhatikan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah, menjadikan semuanya itu sebagai pelajaran, sebagaimana tersebut dalam hadis:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِتَّقُوْا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُوْرِ اللهِ ثُمَّ قَرَأَ هٰذِهِ اْلاٰيَةَ.

(رواه الترمذي وابن جرير الطبري عن أبي سعيد الخدري)

Rasulullah swt bersabda, “Jagalah dirimu terhadap firasat orang-orang yang beriman karena sesungguhnya ia melihat dengan nµr Allah,” kemudian beliau membaca surah ini. (Riwayat at-Tirmizi dan Ibnu Jarir at-Thabari dari Abu Sa’id al-Khudri). Firasat ini ada dua macam:

  1. Suatu kesan dan perasaan yang dijadikan Allah swt pada hati orang-orang yang saleh. Kemampuan yang diberikan kepadanya untuk membaca raut muka, tingkah laku dan keadaan orang lain.
  2. Firasat yang ditimbulkan oleh pengalaman, kehidupan yang luhur, dan budi pekerti yang mulia.

Dalam hadis disebutkan pula:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنَّ ِللهِ عِبَادًا يَعْرِفُوْنَ النَّاسَ بِالتَّوَسُّمِ. (رواه الطبراني و البزار عن أنس بن مالك)

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang mengetahui manusia dengan tanda-tanda.” (Riwayat at-Thabrani dan al Bazzar dari Anas bin Malik)

Ayat 76

Allah swt menerangkan bahwa negeri kaum Lut yang telah dihancurkan itu terletak pada jalan-jalan yang biasa dilalui manusia. Reruntuhannya dapat dilihat sampai saat ini oleh orang-orang yang mengadakan perjalanan dari Medinah ke Syam. Hal ini ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya yang lain:

وَاِنَّكُمْ لَتَمُرُّوْنَ عَلَيْهِمْ مُّصْبِحِيْنَۙ  ١٣٧  وَبِالَّيْلِۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ ࣖ   ١٣٨

Dan sesungguhnya kamu (penduduk Mekah) benar-benar akan melalui (bekas-bekas) mereka pada waktu pagi, dan pada waktu malam. Maka mengapa kamu tidak mengerti? (as-Shaffat/37: 137-138).

Orang-orang Arab Mekah biasanya mengadakan perdagangan ke Syam. Mereka berangkat dalam kafilah. Dalam perjalanan mereka pulang balik dari Mekah ke Syam itu, mereka melalui negeri kaum Lut dan dapat menyaksikan bekas-bekasnya.

Ayat 77

Kemudian Allah swt memperingatkan bahwa azab yang ditimpakan-Nya kepada kaum Lut sehingga mereka hancur binasa serta terhindarnya Lut beserta pengikutnya merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah. Dia akan mengazab setiap orang yang ingkar dan durhaka dan memberi pahala orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Sedang bagi orang-orang kafir, peristiwa yang menghancurkan kaum Lut itu hanyalah semata-mata akibat bencana alam. Adanya gempa bumi, panas terik sepanjang tahun, dan timbulnya wabah penyakit adalah suatu hal yang biasa terjadi di alam ini, tidak ada hubungan dengan kedurhakaan dan keingkaran manusia pada Allah swt.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 78-84


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 66-72

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 66-72 masih melanjutkan kisah Nabi Luth, bahwa upaya pembinasaan terhadap kaumnya sudah Allah ceritakan, dan tibalah hari yang dimaksud. Ketika para malaikat datang bertamu, kaum durhaka itupun hadir di rumah Luth guna mengajak para tamu yang tampan itu melakukan hal-hal yang tidak senonoh. Meski sudah diperingatkan oleh Luth, akan tetapi mereka tidak menggubrisnya, justru menentang peringatan tersebut dengan angkuh.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 57-65


Ayat 66

Dalam ayat ini diterangkan bahwa sebelum kedatangan para malaikat, Allah telah mewahyukan kepada Luth a.s. tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi sebelum dan sesudah azab yang ditimpakan kepada kaumnya.

Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa setelah para malaikat memberi penjelasan kepada Luth a.s. tentang beban yang ditugaskan Allah kepada mereka, dan mendengar perintah-perintah malaikat yang diberikan kepada beliau, dan sesuai dengan wahyu yang telah diturunkan Allah, beliau percaya bahwa azab yang akan ditimpakan pada kaumnya oleh para malaikat benar-benar akan terjadi.

Sebab itu juga, beliau mengikuti dengan khidmat perintah-perintah dan petunjuk-petunjuk yang diberikan para malaikat itu dalam usaha menghindarkan orang-orang yang beriman dari malapetaka yang mengerikan itu.


Baca Juga: Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 80-81: Benarkah Kaum Nabi Luth Homoseksual?


Ayat 67-71

Ketika kaum Luth, penduduk kota Sodom, mendengar bahwa Luth kedatangan tamu-tamu yang gagah, mereka pun bergembira. Timbullah hawa nafsu jahat mereka untuk berbuat homoseksual dengan tamu-tamu itu, yang merupakan kebiasaan buruk yang selalu mereka lakukan.

Melihat tingkah laku kaumnya, Luth a.s. berkata kepada mereka, “Sesungguhnya pemuda-pemuda yang kamu datangi dan kamu ajak melakukan perbuatan mesum adalah tamu-tamuku.

Aku harus menghormati dan memuliakan tamu-tamuku itu, janganlah kamu melakukan perbuatan mesum dengan mereka, karena tindakan kamu itu akan memberi malu kepadaku. Bertakwalah kamu kepada Allah, peliharalah dirimu dari siksaan-Nya, dan janganlah kamu memperkosa mereka.”

Kaum Luth menentang dan mengancam Nabi Luth karena perkataannya itu dengan mengatakan, “Bukankah kami pernah melarangmu untuk melindungi tamu-tamu yang datang ke sini dari keinginan dan perbuatan yang akan kami lakukan terhadap mereka.”

Perkataan kaum Luth ini memberikan isyarat bahwa kaum Luth itu selalu memaksa tamu-tamu yang datang ketika itu agar bersedia melakukan perbuatan homoseksual dengan mereka. Perbuatan keji itu dilarang oleh Luth. Akan tetapi, mereka tidak menghiraukan larangan itu, bahkan mereka mengancam Luth dengan suatu hukuman, seandainya Luth masih mencampuri urusan mereka itu.

Tetapi Luth masih memperingatkan mereka dan menawarkan kepada mereka putri-putrinya untuk mereka nikahi, karena itulah yang sesuai dengan sunatullah. Beliau berkata:

“Hai kaumku, menikahlah dengan putri-putriku. Janganlah kamu melakukan perkawinan dengan orang yang sejenis denganmu, karena kawin dengan orang yang sejenis itu diharamkan Allah. Lakukanlah perbuatan yang halal dan sesuai dengan sunatullah.

Allah sengaja menciptakan laki-laki dan perempuan agar mereka menikah dan  memiliki keturunan. Jika kamu terus berbuat demikian, niscaya kamu tidak akan  memiliki keturunan dan jenis manusia akan punah dari muka bumi.”

Dalam ayat ini, Luth a.s. menyebut “putri-putriku”. Maksudnya ialah “para pengikutnya yang wanita” karena seorang nabi biasa menyebut kaumnya dengan anak-anaknya dan istri nabi adalah ibu dari umatnya sebagaimana firman Allah:

اَلنَّبِيُّ اَوْلٰى بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ اَنْفُسِهِمْ وَاَزْوَاجُهٗٓ اُمَّهٰتُهُمْ ۗ

Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. (al-Ahzab/33: 6).

Jika istri-istri nabi adalah ibu orang-orang yang beriman, tentulah nabi sendiri adalah bapak mereka dan seluruh umatnya adalah putra-putrinya.

Ayat 72

Ayat ini menerangkan penegasan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw bahwa perbuatan homoseksual dan lesbian yang dilakukan kaum Luth benar-benar perbuatan keji dan sesat, karena itu wajib dijauhi dan ditinggalkan.

Orang Arab biasa bersumpah dengan menyebut umur seseorang. Dalam ayat ini Allah swt bersumpah dengan umur dan kehidupan Nabi Muhammad saw yang tujuannya ialah untuk menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad saw.

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang bersumpah dalam ayat ini ialah para malaikat. Mereka menyatakan perbuatan kaum Luth yang demikian itu keterlaluan.

Akan tetapi, pendapat ini dibantah oleh riwayat yang mengatakan bahwa Allah swt tidak pernah bersumpah dengan menyebut umur nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain, kecuali menyebut umur Nabi Muhammad saw. Hal ini semata-mata untuk menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad.

 

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 73-76


 

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 57-65

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 57-65 masih mengisahkan tentang era nabi Ibrahim. Setelah sebelumnya kedangan tamu dari para malaikat dan merasa yakin dengan informasi yang mereka bawa. Ibrahim pun bertanya terkait tujuan mereka berada di kota tersebut selain dari menyampaikan berita gembira kepada Ibrahim dan Istrinya.

Disampaikan pula dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 57-65 bahwa tujuan lain dari kedua malaikat tersebut adalah sebagai utusan kepada kaum nabi Luth untuk membinasakan mereka yak durhaka dan berdosa. Sedangkan kaum yang mengikuti nabi Luth akan diselamatkan dari bencana tersebut.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 47-50


Selanjutnya dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 57-65 mengisahkan tentang kedatangan kedua malaikat itu menemui Luth menceritakan kepadanya perihal upaya pembinasaan pada kaumnya yang ingkar, dan menjanjikan keselamatan kepada kaumnya yang taat.

Ayat 57-58

Setelah Ibrahim yakin bahwa para tamunya adalah malaikat, timbul pertanyaan di benaknya kenapa yang datang beberapa malaikat, padahal biasanya hanya satu yang datang. Jika yang datang beberapa malaikat, tentu tugas yang dipikulnya sangat besar. Beliau lalu bertanya kepada malaikat tentang tugas yang diberikan Allah kepada mereka.

Malaikat pun menjawab bahwa mereka ditugaskan untuk mengazab kaum yang berdosa, yaitu kaum Luth yang telah durhaka kepada Allah dan mengingkari seruan rasul yang diutus kepada mereka.


Baca Juga: Kisah perilaku Homoseksual Kaum Nabi Luth


Ayat 59-60

Para malaikat yang menjadi tamu Nabi Ibrahim menerangkan kepadanya bahwa mereka ditugaskan untuk membinasakan kaum Luth yang tidak mengindahkan seruan nabi yang diutus kepada mereka. Termasuk orang-orang yang dibinasakan itu adalah istri Luth sendiri. Sedangkan orang-orang yang mengikuti Luth akan diselamatkan dari azab itu.

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa seseorang tidak dapat membebaskan orang lain dari azab Allah walaupun orang lain itu adalah istri, anak-anak atau orang tuanya, karena manusia bertanggung jawab kepada Allah atas segenap perbuatan yang telah dilakukannya. Allah tidak akan membebani seseorang dengan dosa orang lain sedikit pun. Firman Allah:

 وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ

… Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain… (al-An’am/6: 164)

Ayat 61-62

Setelah para malaikat menyampaikan kabar gembira kepada Ibrahim a.s. akan anugerah Allah kepadanya berupa kelahiran seorang putra dan berita akan kehancuran kaum Luth yang ingkar, mereka pun meninggalkan rumah Ibrahim menuju kota Sodom, negeri tempat tinggal kaum Lut yang terletak di daerah Yordania, untuk melaksanakan tugas yang telah dipikulkan Allah kepada mereka.

Kedatangan mereka secara tiba-tiba ke rumahnya tidak diduga-duga sedikit pun oleh Luth a.s. dan ia tidak mengetahui sedikit pun siapa para tamu yang datang itu. Hal ini tergambar dalam ucapan Luth ketika menyambut tamunya itu, “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang yang tidak dikenal.” Pada firman Allah yang lain digambarkan pula kegelisahan Lut dan ketidaktahuannya terhadap kaumnya itu.

Allah berfirman:

وَلَمَّآ اَنْ جَاۤءَتْ رُسُلُنَا لُوْطًا سِيْۤءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا

Dan ketika para utusan Kami (para malaikat) datang kepada Lut, dia merasa bersedih hati karena (kedatangan) mereka, dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka. (al-‘Ankabut/29: 33).

Dari ayat dipahami bahwa sebab kekhawatiran dan kegelisahan Nabi Lut itu ialah kedatangan tamu-tamu itu ke rumahnya secara tiba-tiba dan tidak terduga sebelumnya.

Para malaikat itu menyamar seperti laki-laki rupawan yang sangat disukai oleh kaum Luth yang senang mengerjakan perbuatan homoseksual. Biasanya kalau datang laki-laki seperti itu, kaum Lut akan datang beramai-ramai ke rumahnya dan memaksa Luth menyerahkan tamunya kepada mereka.

Seandainya Luth a.s. mengetahui dengan pasti bahwa yang datang itu para malaikat, tentulah dia tidak merasa khawatir karena dia percaya bahwa para malaikat dapat mempertahankan dan membela diri dari tindakan mereka itu.

Ayat 63-65

Para malaikat menerangkan maksud kedatangan mereka kepada Luth a.s. Mereka datang untuk menyampaikan kabar buruk yaitu azab yang akan ditimpakan kepada kaumnya yang telah mengingkari dan men-dustakannya.

Dalam ayat ini disebutkan jawaban para malaikat, “Sesungguhnya kami datang kepadamu dengan membawa azab yang selalu mereka dustakan.” Bahkan dengan perkataan, “Kami datang untuk mengazab mereka.”

Maksud jawaban para malaikat dengan perkataan yang demikian itu ialah untuk menyatakan kebenaran ancaman yang biasa disampaikan Lut kepada kaumnya selama ini. Nabi Luth a.s. selalu memperingatkan kaumnya agar mengikuti dan memeluk agama yang telah disampaikannya serta mengakui kerasulannya.

Jika mereka tetap ingkar, mereka akan ditimpa azab Allah. Seruan dan pernyataan Luth ini mereka sambut dengan ejekan. Mereka tidak mempercayai keesaan dan kekuasaan Allah yang dapat mengazab orang-orang yang ingkar. Bahkan mereka menantang Luth agar segera menurunkan azab yang dijanjikan itu.

Kemudian para malaikat menegaskan kepada Luth bahwa maksud kedatangan mereka ialah untuk melaksanakan tugas yang telah dibebankan Allah swt kepada mereka untuk menyampaikan azab kepada kaumnya.

Tugas ini pasti terlaksana dan segala yang mereka ucapkan itu adalah benar, karena mereka sendiri adalah para malaikat yang tidak pernah menyalahi perintah Allah.

Setelah itu, para malaikat memberikan perintah kepada Luth a.s. tentang cara-cara yang harus dilaksanakannya beserta pengikut-pengikutnya untuk menghindarkan diri dari azab Allah yang akan datang.

Luth beserta keluarga dan kaumnya yang telah beriman diperintahkan untuk segera meninggalkan negeri itu pada akhir malam. Luth a.s. diminta berjalan di belakang pengikut-pengikutnya, agar dia dapat mengatur dan mempertahankan diri dari serangan kaumnya yang mengejar dari belakang. Ini juga bertujuan  agar Luth a.s. dapat mendorong para pengikutnya berjalan secepatnya, karena azab yang akan ditimpakan hampir datang, dan ia dapat memperhatikan kaumnya yang tidak mau meneruskan perjalanan.

Selanjutnya para malaikat memerintahkan agar tidak seorang pun dari pengikut Luth yang menoleh ke belakang pada waktu mendengar halilintar yang menghancurkan. Dengan demikian, mereka tidak dapat melihat peristiwa yang mengerikan yang dapat merusak dan menggoncangkan jiwa mereka, sehingga mereka selamat dan iman mereka bertambah kuat sampai ke tempat yang aman yang sedang dituju itu.

Pada ayat ini, disebutkan agar Luth berangkat beserta keluarga dan kaumnya yang setia. Kemudian para malaikat menguatkan perintah dan larangannya dengan mengatakan, “Teruskanlah perjalananmu ke tempat yang telah diperintahkan kepadamu.” Menurut suatu riwayat yang dimaksud dengan tempat yang diperintahkan dalam ayat ini ialah negeri Syam (Syria).

Pada Surah Hud, kisah Luth dikisahkan menurut urutan peristiwa yang pernah terjadi, sedang pada surah ini dikisahkan secara melompat-lompat, tidak menurut urutan kejadian yang sebenarnya.

Perbedaan cara dalam mengutarakan kisah ini adalah karena tujuan Allah menyampaikan kisah ini pada kedua surah tersebut juga berbeda. Jika dihubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya, maka tujuan mengutarakan kisah Luth dalam Surah Hud ialah untuk menguatkan hati Nabi Muhammad saw beserta sahabat-sahabatnya, dalam menyampaikan agama Allah dan menyatakan keesaan dan kekuasaan Allah swt yang wajib disembah.

Rasul-rasul yang diutus Allah sejak dahulu selalu mendapat tantangan dan ancaman dari kaumnya, tetapi mereka tetap tabah dan sabar melaksanakan tugas yang dibebankan Allah kepada mereka.

Sedang tujuan kisah Luth dengan kaumnya pada Surah Al-Hijr ini adalah untuk menjelaskan kepada orang-orang yang beriman akan rahmat dan nikmat Allah yang telah mereka terima. Juga nikmat yang telah diterima oleh orang-orang yang beriman dahulu kala kepada rasul-rasul yang diutus Allah kepada mereka.

Di antaranya adalah nikmat yang telah dilimpahkan kepada Nabi Ibrahim a.s. berupa putra-putra yang selalu diidam-idamkannya, dan nikmat yang telah dilimpahkan kepada Nabi Luth beserta pengikutnya. Juga untuk menerangkan azab Allah yang telah ditimpakan kepada orang-orang kafir dan ingkar kepada dakwah rasul yang diutus kepada mereka.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 66-72


Keindahan Bahasa Al-Qur’an dan Kemunculan Metode Tafsir Sastrawi

0
Keindahan Bahasa Al-Qur’an dan Kemunculan Metode Tafsir Sastrawi
Keindahan Bahasa Al-Qur’an

Sebelum lebih jauh membahas mengenai wacana kesusastraan dalam kajian Al-Qur’an. Hal yang juga penting untuk dipahami ialah kesadaran bahwa Al-Qur’an merupakan kitab suci yang berbahasa Arab. Hal ini penting untuk diutarakan sebagai sebuah wacana awal dan titik perjumpaan antara Al-Qur’an dengan sastra dan bagaimana konteks kemunculan sisi sastrawi Al-Qur’an.

Sejauh ini tidak ada perdebatan yang sangat mencolok mengenai definisi yang mengatakan bahwa Al-Qur’an merupakan kalam Tuhan (kalamullah), khususnya dalam ranah teologis. Hal tersebut, bahkan sudah menjadi sebuah konsensus (ijma) di kalangan para ulama dan para sarjana Al-Qur’an. Namun, pada tingkatan filologi-linguistik muncul beragam respon, khususnya dari kalangan cendikiawan dan pengkaji Qur’an modern (W. M. Watt dan R. Bell, Introduction to The Qur’an: 1991).

Respon-respon tersebut setidaknya bila dirasakan mengarah pada satu gagasan yang mencoba menempatkan Al-Qur’an sebagai salah satu dari beberapa kitab suci yang diturunkan Tuhan dan ditujukan kepada manusia. Sederhananya, mereka mencoba membangun kesadaran bahwa Al-Qur’an adalah sebuah teks yang nantinya akan berdialektika dengan manusia itu sendiri.

Konsekuensi dari hal ini ialah ketika Al-Qur’an yang merupakan bahasa Tuhan ini diturunkan kepada manusia, maka tentu saja memerlukan sebuah medium supaya ia dapat dipahami oleh audiensnya. Sederhananya, kalam Tuhan tersebut perlu diformulasikan dalam bahasa manusia agar pesan Tuhan sampai kepada manusia, yang dalam hal ini adalah bahasa Arab (Aksin Wijaya, Arah Baru Studi Ulum Al-Qur’an: 2009).

Dari wacana di atas dapat kita lihat bahwa bahasa secara aksidensi (dalam hal pewahyuan) memiliki fungsi sebagai media ketika Tuhan ingin menyampaikan pesannya yang berupa Al-Qur’an kepada manusia. Namun, dengan tidak mengabaikan fungsi tersebut lebih jauh lagi seharusnya kita tidak berhenti pada fungsi bahasa sebagai penyampai pesan, karena hal ini memberikan implikasi bahwa bahasa (dalam hal ini bahasa Arab) hanya secara kebetulan dipilih karena audiensnya pada saat itu adalah masyarakat Arab.

Keistimewaan bahasa Arab dan motif pemilihannya sebagai bahasa Al-Qur’an

Bila dilihat lebih jauh, tentu saja ada beberapa argumen mengapa bahasa Arab menjadi opsi utama sebagai bahasa Al-Qur’an. Dari sisi kompleksitas misalnya, menurut Quraish Shihab, bahasa Arab memiliki keunikan tersendiri. Bahasa Arab juga sangat kaya akan kosa kata, di sisi lain bahasa Arab juga mempunyai kemampuan yang luar biasa untuk melahirkan makna-makna baru dari akar-akar kata yang dimilikinya (M. Quraish Shihab, Kaidah Tafsir: 2013).

Selanjutnya, jika dibaca secara politis, bahasa Arab yang digunakan oleh Al-Qur’an juga merupakan salah satu cara Al-Qur’an untuk mempengaruhi audiensnya yaitu bangsa Arab yang dikenal sangat dekat dengan kesusateraan dan syair-syair. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Hitti bahwa tidak ada bangsa di dunia ini selain bangsa Arab yang memiliki apresiasi terhadap bahasa dan mendapatkan pengaruh secara emosional yang besar melebihi bahasa Arab (Philip K. Hitti, History of Arabs: 2002).

Dengan kata lain, apa yang dilakukan oleh Al-Qur’an pada saat itu merupakan strategi politis untuk mengontrol pertumbuhan wacana melalui bahasa. Karena jika ada yang ingin melakukan perubahan secara radikal di tanah Arab pada saat itu, maka medium yang paling ampuh untuk digunakan adalah bahasa. Pola pikir dan psikologi bangsa Arab yang bisa dikendalikan oleh bahasa menjadi pintu masuk bagi Al-Qur’an menuju ruang nalar dan psikologi mereka.

Pemilihan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an juga merupakan sebuah strategi yang sangat akurat. Sebab, posisi bahasa Arab dan sastra sangat sentral di kalangan masyarakat Arab pra-Qur’an pada saat itu. Maka tentu saja hal yang paling ampuh untuk memperkenalkan sebuah identitas kitab suci baru adalah bahasa dan sastra yang pada saat itu sangat dekat dengan masyarakat Arab pra-Qur’an.

Strategi ini terbukti ampuh, jika dilihat dengan waktu yang cukup singkat, yaitu sekitar 23 tahun pasca kenabian. Nabi Muhammad berhasil menyebarkan pengaruhnya ke seantero jazirah Arab. Bahkan dalam sejarah, Nabi Muhammad tercatat menempati urutan pertama dari seratus tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Pencapaian tersebut tentu saja tidak lepas dari power Al-Qur’an yang secara historis menemani dakwah Nabi ketika itu (Michael H. Hart, Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh di Dunia: 1986).

Baca juga: Surah al-Kahfi Ayat 110: Melihat Sisi Kemanusiaan Nabi Muhammad

Keindahan bahasa Al-Qur’an dan tradisi sastra bangsa Arab

Kembali lagi pada aspek kebahasaan Al-Qur’an. Ketika Al-Qur’an menggunakan bahasa sebagai alat, secara otomatis bahasa yang digunakan tersebut memberikan efek psikologis bagi pendengarnya. Sehingga, Nabi Muhammad tidak perlu secara personal melakukan negosiasi dengan bangsa Arab supaya mereka mengikutinya. Ia hanya butuh menyampaikan wahyu, dan membiarkan struktur bahasa tersebut memberikan efek, terutama efek psikologis bagi pendengarnya.

Selain sebagai sebuah strategi pendekatan emosional, sejauh ini terlihat bahwa bahasa Arab juga memiliki fungsi khusus sebagai sebuah mekanisme kuasa. Melihat kondisi masyarakat Arab pra-Qur’an pada saat itu sangat dekat dengan bahasa dan kesastraan, maka bahasa Arab yang digunakan oleh Al-Qur’an menjadi sebuah senjata yang sangat jitu dalam hal memengaruhi masyarakat pada saat itu. Bahkan, lebih jauh lagi nanti dapat kita lihat dalam sejarah bagaimana Al-Qur’an mereproduksi makna-makna baru yang nantinya merubah secara perlahan budaya dan kebiasaan masyarakat Arab pada saat itu.

Al-Qur’an sebagai sebuah teks berbahasa Arab tentu saja memiliki nilai sastra yang begitu tinggi. Hal ini bisa dilihat dari ketertarikan para penyair Arab pada saat itu yang mencoba menirukan teks Al-Qur’an. Namun, usaha mereka pada akhirnya berakhir sia-sia. Misalnya apa yang dilakukan oleh Musailamah yang berusaha menandingi ayat-ayat Al-Qur’an dengan syair yang ia buat:

يا ضفدع بنت ضفدعين نقي ما تنقين اعلاك في الماء و اسفلك في الطين

Wahai anak katak dari dua katak, berkuaklah sesukamu, bagian atasmu berada di air dan bawahmu ada ditanah.”

Upaya-upaya penyair pada saat itu tentu saja pada akhirnya menemui kegagalan. Hal ini dikarenakan walaupun syair-syair yang dibuat oleh para penyair menggunakan bahasa Arab sebagaimana yang digunakan oleh Al-Qur’an. Namun, aspek moral dan pesan dari perkataan para penyair tersebut sama sekali tidak mengandung nilai kemaslahatan bagi manusia sebagaimana yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Hal tersebut juga tentu saja tidak terlepas dari aspek kemukjizatan Al-Qur’an itu sendiri. Peran mukjizat sangat penting dalam rangka mendukung karisma dan daya tarik suatu klaim otoritas ilahi. Jika para nabi selalu memiliki mukjizat untuk mendukung klaim kenabiannya, maka Al-Qur’an juga diklaim memiliki mukjizat untuk mendukung klaim keilahian dan keontentikannya sebagai sebuah wahyu Tuhan.

Berbeda halnya dengan mukjizat nabi-nabi sebelumnya yang terpisah dari wahyu (teks) itu sendiri, kemukjizatan Al-Qur’an yang menunjukkan kebenaran dirinya dan kebenaran pembawanya (Muhammad) sebagaimana termanifestasikan secara tekstual dalam struktur Al-Qur’an yang berbentuk kebahasaan dan kesusastraan. (Amin al-Khulli dan Nasr Hamid Abu Zaid, Metode Tafsir Sastra).

Baca juga: Melihat Al-Quran sebagai Pembungkam Nalar Sastra Arab

Tantangan Al-Qur’an kepada para penentangnya

Aspek kebahasaan dan ketinggian sastra yang dimiliki oleh Al-Qur’an ini juga merupakan aspek kemukjizatan utama dan yang pertama kali ditunjukkan oleh Al-Qur’an kepada masyarakat Arab pra-Qur’an pada saat itu. Hal ini bisa dilihat dari fakta sejarah di mana pada saat itu ahli-ahli bahasa berkumpul untuk menantang kesastraan Al-Qur’an. Tetapi tidak seorang pun dari mereka yang berhasil menyaingi ketinggian sastra Al-Qur’an.

Padahal menurut fakta sejarah, masa-masa ketika Al-Qur’an turun merupakan era di mana lembaga-lembaga dan pusat-pusat bahasa kesusateraan Arab sedang berada dalam titik puncak keemasan. (Manna’ Khalil Qaththan, Mabahis fi ‘Ulum al-Qur’an: 2009).

Bahkan menurut data sejarah, Makkah pada saat itu merupakan tempat yang paling tepat untuk mendengar lantunan puisi para penyair Arab terbaik. Di kota ini, tepatnya di pasar Ukaz, para penyair terbaik berkumpul setiap tahunnya untuk memperdengarkan karya epik mereka dalam sebuah kompetisi. Puisi-puisi yang dianggap istimewa digantungkan (Mu’allaqat) di Ka’bah sebagai sebuah bentuk apresiasi. (Ingrid Mattson, Ulumul Qur’an Zaman Kita: 2013).

Namun, menghadapi kondisi masyarakat yang seperti itu Al-Qur’an dengan gentle malah menanggapi tantangan tersebut dengan menantang balik para penyair dan ahli bahasa yang mencoba membuat tandingan Al-Qur’an. Namun, tetap saja tidak ada seorang pun dari mereka yang berhasil menghadirkan karya sastra semisal Al-Qur’an.

Al-Qur’an memberi tantangan secara bertahap kepada para penantangnya pada saat. Hal ini terekam dalam beberapa penggalan surahnya, di mana mula-mula Al-Qur’an memberikan tantangan kepada siapa saja yang mampu membuat Al-Qur’an tandingan QS. At-Ṭur: 34, dan setelah melihat ketidakmampuan para penantangnya pada saat itu, Al-Qur’an pun mulai menurunkan tantangannya yang semula menuntut para ahli bahasa dan penyair untuk mendatangkan semisal Al-Qur’an menjadi 10 surah saja.

Hal ini sebagaimana yang digambarkan dalam QS. Hud: 13. Bahkan Al-Qur’an menurunkan tantangannya kepada para penyair saat itu untuk menghadirkan satu surah saja semisal Al-Qur’an sebagaimana terekam dalam QS. Al-Baqarah: 23.

Namun, mereka juga masih tidak sanggup menghadirkan semisal Al-Qur’an walau satu ayat pun. Akhirnya, Al-Qur’an mengeluarkan sebuah ultimatum bahwa tidak ada yang mampu menghadirkan satu ayat pun semisalnya. Bahkan jika manusia bekerjasama dengan jin sekalipun hal tersebut tetap tidak akan pernah terwujud (QS. Al-Isrā: 88).

Wacana tafsir Al-Qur’an bercorak sastrawi

Beberapa argumen di atas setidaknya menggambarkan bagaimana hubungan Al-Qur’an dan sastra. Hubungan yang digambarkan oleh sejarah mengenai Al-Qur’an dan sastra bagaiakan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa sastra merupakan salah satu senjata jitu yang membersamai Al-Qur’an ketika menghadapi masyarakat Makkah pada saat itu.

Kesadaran-kesadaran akan sisi sastrawi yang melekat pada Al-Qur’an ini juga yang nantinya memunculkan ketertarikan para muffasir untuk mengkaji Al-Qur’an secara mendalam, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang menjadikan sisi sastrawi ini sebagai kajian tersendiri dalam pembahasannya.

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 51-56

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 51-56 mengisahkan tentang Nabi Ibrahim yang merasa takut dengan tamu tak dikenal yang mendatanginya, dan mengabarkan kepada Ibrahim beserta istrinya bahwa mereka akan dikaruniai seorang anak. Adalah berita yang tidak mereka sangka dan tidak masuk di akal, sebab keduanya sudah berusia lanjut. Namun, demikianlah permisalan karunia Allah terhadap hamba-Nya yang soleh lagi taat.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 47-50


Ayat 51-52

Ayat ini menerangkan keadaan Nabi Ibrahim ketika kedatangan tamu yang tidak dikenal dan tidak diundang. Para tamu itu masuk dan mengucapkan salam. Karena tidak mengenal para tamunya, Nabi Ibrahim mengatakan bahwa ia takut kepada mereka. Penyebab ketakutan Ibrahim dijelaskan dalam ayat yang lain. Allah swt berfirman:

فَلَمَّا رَاٰىٓ اَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ اِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَاَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيْفَةً ۗقَالُوْا لَا تَخَفْ اِنَّآ اُرْسِلْنَآ اِلٰى قَوْمِ لُوْطٍۗ

Maka ketika dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, dia (Ibrahim) mencurigai mereka, dan merasa takut kepada mereka. Mereka (malaikat) berkata, ”Jangan takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Lut.” (Hud/11: 70)

Menurut ayat ini, Ibrahim merasa takut kepada tamunya karena mereka tidak mau memakan daging anak lembu yang dipanggang dan disuguhkan kepada mereka. Menurut kebiasaan, tamu yang tidak mau memakan suguhan yang dihidangkan kepadanya adalah tamu yang datang untuk maksud jahat atau bisa juga berarti bahwa tamu itu curiga dengan niat baik tuan rumah.


Baca Juga: Kisah Kelahiran Nabi Ishaq dalam Al-Quran


Ayat 53-56

Melihat Ibrahim merasa takut, maka para tamu itu mengatakan kepadanya, agar tidak takut karena maksud kedatangan mereka ialah untuk menyampaikan kabar gembira dari Allah, bahwa ia akan dianugerahi seorang anak laki-laki yang saleh. Dalam firman Allah yang lain disebutkan bahwa anak yang akan dianugerahkan itu akan mempunyai kedudukan yang penting di kemudian hari.

Allah berfirman:

وَبَشَّرْنٰهُ بِاِسْحٰقَ نَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

Dan Kami beri dia kabar gembira dengan (kelahiran) Ishak seorang nabi yang termasuk orang-orang yang saleh. (ash-Shaffat/37: 112).

Ibrahim merasa heran atas berita gembira yang disampaikan para malaikat itu. Dia hampir saja tidak mempercayainya, apalagi berita itu disampaikan oleh orang yang belum dikenalnya dan ketika itu Ibrahim dan istrinya Sarah telah berusia lanjut.

Menurut kebiasaan, orang yang sudah berusia lanjut tidak mungkin lagi mempunyai anak. Sudah tentu berita itu dianggapnya aneh, apalagi istrinya juga seorang yang mandul.

Tamu-tamu Ibrahim itu menegaskan bahwa berita yang disampaikan mereka itu adalah berita yang benar, sebab kelahiran seorang putra yang diinginkan itu termasuk nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya.

Allah kuasa melimpahkan nikmat itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dia juga kuasa untuk mengadakan atau menciptakan sesuatu yang menyimpang dari sunnah-Nya sendiri.

Setelah mendengar keterangan para malaikat itu, timbullah keyakinan pada diri Ibrahim bahwa tamu yang aneh itu bukanlah sembarang tamu. Mereka adalah malaikat-malaikat Allah yang diutus kepadanya untuk menyampaikan berita gembira.

Karena keyakinan itulah Ibrahim segera menjawab perkataan mereka bahwa tidak ada orang yang putus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat. Dalam hadis Nabi saw diterangkan betapa banyak dan luasnya nikmat Allah:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ خَلَقَ الرَّحْمَةَ. يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِيْنَ رَحْمَةً وَأَرْسَلَ فِى خَلْقِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ كُلَّ الَّذِيْ عِنْدَهُ مِنْ رَحْمَةٍ لَمْ يَيْأَسْ مِنَ الرَّحْمَةِ، وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ كُلًّ الَّذِيْ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنَ الْعَذَابِ لمَ ْ يَأْمَنْ مِنَ النَّارِ.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt telah menciptakan rahmat, ketika itu Dia menciptakan seratus rahmat, maka ditahan-Nya sembilan puluh sembilan rahmat, dan melepaskan satu rahmat kepada makhluk-Nya seluruh-Nya. Kalau orang kafir mengetahui semua rahmat yang ada pada sisi Allah, niscaya mereka tidak putus asa dari rahmat itu, dan kalau orang mukmin mengetahui semua macam azab yang ada pada Allah swt, niscaya mereka tidak merasa aman dari api neraka.” (Riwayat al-Bukhar dan Muslim dari Abu Hurairah).

Dalam hal ini, Ibrahim a.s. sebagai nabi dan rasul Allah pasti mengetahui betapa banyaknya rahmat yang ada pada sisi Allah. Oleh karena itu, beliau yakin akan kebenaran yang disampaikan para malaikat itu.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 57-65


Matahari Sebagai Pusat Tata Surya dan Keseimbangan Alam Menurut Al-Quran

0
Matahari Sebagai Pusat Tata Surya dan Keseimbangan Alam
Matahari Sebagai Pusat Tata Surya dan Keseimbangan Alam

Matahari berperan penting dalam kehidupan manusia. Tanpa sinar matahari tidak ada kehidupan di muka bumi ini. Matahari sebagai pusat tata surya telah menjaga keberlangsungkan alam semesta ini. Nicolaus Copernicus (1473-1543), seorang pakar matematika dan astronom, yang dikutip oleh Profesor Robert S. Westman, mengatakan bahwa matahari diam di pusat alam semesta (center of the universe) dan bumi berputar mengelilinginya.

Hal ini menegaskan posisi matahari sebagai pusat tata surya, bergerak sesuai garis edarnya sehingga mampu menjaga keseimbangan alam sebagaimana difirmankan-Nya dalam Q.S. al-Anbiya [21]: 33),

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing beredar pada garis edarnya. (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 33)

Baca juga: 3 Hal yang Menjadikan Hermeneutika Al-Qur’an Penting Digunakan menurut Fahruddin Faiz

Tafsir Tentang Energi Matahari

Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkan ayat di atas dengan menukil riwayat sahabat, yaitu telah menceritakan kepada Kami Qasim, dari al-Husain, Hujaj, dari Ibn Juraih, dari Mujahid, bahwa,

والله الذي خـلق لكم أيها الناس اللـيـل والنهار، نعمة منه علـيكم وحجة ودلالة علـى عظيـم سلطانه وأن الألوهة له دون كلّ ما سواه فهما يختلفـان علـيكم لصلاح معايشكم وأمور دنـياكم وآخرتكم، وخـلق الشمس والقمر أيضا

“Demi Allah yang telah menciptakan manusia, siang dan malam, dan berbagai kenikmatan sebagai hujjah dan dalil (bukti empirik) atas kekuasan-Nya. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang lain yang dapat menyamai-Nya. Semua ciptaan Allah tidak lain bertujuan untuk memberi kemaslahatan bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat (li shalahi ma’ayisyakum wa umuri dunyakum wa akhiratikum) termasuk dalam hal ini penciptaaan matahari dan bulan”

Sedangkan al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib mengulas panjang lebar matahari sebagai pusat tata surya dan garis edar planet. Ia menjelaskan bahwasannya,

وتقريره أن نقول قد ثبت بالأرصاد أن للكواكب حركات مختلفة فمنها حركة تشملها بأسرها آخذة من المشرق إلى المغرب وهي حركة الشمس اليومية

“Kami mengamati bahwa planet-planet memiliki pergerakan yang berbeda-beda (harakat mukhtalifah), beberapa di antaranya mencakup secara keseluruhan, bergerak dari ufuk timur ke Barat yang merupakan pergerakan harian matahari”.

Lebih jauh, mayoritas ahli filsafat dan ahli planet (jumhur al-falasifah wa ashab al-haiah) mengatakan justru memiliki pergerakan lain seperti dari Barat ke Timur. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa ternyata ada planet yang bergerak lebih cepat melebihi planet lainnya. Begitupula ada yang lambat dari yang lain. Ketika planet itu bergerak ke arah timur, maka terlihat lah bulan karena muncul satu atau dua hari setelahnya.

Baca juga: Berikut Tips Beristikamah dari Tafsir Ayat tentang Istikamah

Termasuk juga bertambahnya siang dan malam karena diakibatkan pergerakan planet-planet tersebut. Para ilmuwan, demikian kata al-Razi, juga menemukan bahwa planet-planet itu tetap bergerak perlahan sesuai garis orbitnya. Tidak jauh berbeda dengan al-Razi, Tantawi Jauhari dalam Tafsir al-Wasith, menafsirkannya bahwa pergerakan matahari dan bulan yang sesuai dengan garis edarnya merupakan bentuk sujudnya kepada Allah (ra-aituhum li sajidin).

Selain itu, Tantawi juga menuturkan hendaknya manusia meniru sikap matahari dan bulan yang patuh berjalan sesuai relnya tanpa harus ingin mendahului dan didahului sebab semuanya pasti binasa. Hal ini dikatakan Tantawi dalam rangka menyitir orang musyrik dan sifat manusia yang selalu serakah. Dalam tafsir yang lain, Fathul Qadir karya al-Syaukani, misalnya, bahwa ayat ini memberi warning bagi kepada mereka yang suka melalaikan kenikmatan-Nya (haadza tadzkir lahum bini’matin ukhra mimma an’ama bihi ‘aaihim).

Dia menciptakan siang dan malam, demikian kata al-Syaukani, untuk manusia tinggali. Dia juga menciptakan matahari dan bulan sebagai kehidupan bagi mereka. Terkait pergerakan matahari dan bulan yang sesuai garis orbitnya, penafsiran al-Syaukani relatif sama dengan beberapa penafsir di atasnya, hanya saja ia mengistilahkan kata yasbahun seperti berenang di dalam air (ka al-sabih fil ma’).

Adapun al-Suyuti dalam al-Dur al-Mantsur menafsirkan ayat di atas dengan menukil riwayat sahabat di bawah ini,

وأخرج ابن جرير وابن أبي حاتم وأبو الشيخ في العظمة، عن ابن عباس رضي الله عنهما في قوله: { كل في فلك } قال: فلكة كفلكة المغزل { يسبحون } قال: يدورون في أبواب السماء ما تدور الفلكة في المغزل

“Diriwayatkan Ibn Jarir dan Ibn Hatim, dan Syekh yang agung Ibn Abbas r.a. bahwasannya firman Allah (kullun fi falakin) bermakna masing-masing beredar sesuai porosnya. Dan kata yasbahun bermakna mereka berputar di pintu-pintu langit sesuai porosnya”.

Matahari sebagai Pusat Tata Surya dan Keseimbangan Alam

Ayat di atas menginformasikan kepada kita bahwa Allah swt telah menjadikan malam dan siang serta matahari dan bulan untuk melayani manusia dan seluruh alam. NASA dalam lamannya solarsystemnasa.gov, menyatakan bukti empiris bahwa matahari adalah objek terbesar (the largest object) dalam tata surya kita, terdiri dari 99,8% massa sistem. Matahari terletak di pusat tata surya (the center of our solar system) kita, dan Bumi mengorbit 93 juta mil jauhnya darinya.

Radiasi dan medan magnet matahari menyebar ke seluruh tata surya melalui angin matahari. Masih tetap laporan NASA, matahari merupakan jantung tata surya kita (the heart of our solar system) yang berisi bola panas dan gas-gas yang bercahaya. Gravitasinya menyatukan tata surya, menjaga segala sesuatu mulai dari planet terbesar hingga partikel puing terkecil di orbitnya. Arus listrik di Matahari mampu menghasilkan medan magnet yang dibawa melalui tata surya oleh angin matahari — aliran gas bermuatan listrik (a stream of electrically charged gas) yang bertiup keluar dari Matahari ke segala arah.

Baca juga: Proyek Tafsir Al-Mishbah: Menggapai Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an ala M. Quraish Shihab

Medan magnet ini kemudian menarik segala planet dan menjaga keseimbangan di dalamnya sehingga dapat mengatur musim, cuaca, iklim dan segala hal lainnya. Hal senada juga disampaikan Markus J.Aschwanden dalam The Sun dan Eugene F. Milone dalam The Core of the Solar System: The Sun bahwa matahari adalah bintang terdekat kita (our nearest star) sekaligus pusat gravitasi dan sumber energi tata surya kita (the gravity center and ultimate energy source for many processes in our solar system).

Sungguh takjub betapa Allah swt menciptakan matahari beserta energi yang ditimbulkannya hanya untuk kehidupan manusia dan menjaga keseimbangan alam seisinya. Semoga kita mampu menjaga dan memanfaatnya dengan baik. Wallahu A’lam.

Proyek Tafsir Al-Mishbah: Menggapai Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an ala M. Quraish Shihab

0
Tafsir Al-Mishbah
Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab

Quraish Shihab adalah seorang ulama sekaligus penafsir yang terbilang sangat berpengaruh di dunia studi Al-Qur’an di Indonesia selama era modern-kontemporer ini. Sebagian orang bahkan menyebut beliau sebagai maestro dalam studi Al-Qur’an. Karyanya berjudul Tafsir Al-Mishbah menjadi karya fenomenal setelah Tafsir Al-Azhar yang ditulis Buya Hamka. Hingga saat ini, Tafsir Al-Misbah masih menjadi rujukan terpercaya oleh berbagai kalangan, terutama kalangan sarjana Al-Qur’an, di Indonesia.

Menariknya, Tafsir Al-Mishbah yang ditemui saat ini sebenarnya bukan karya tafsir yang langsung ada, tetapi melewati perjalanan panjang, mulai sebelum hingga selesai ditulis. Tujuannya jelas, yaitu upaya menggapai pesan, kesan, dan keseraian Al-Qur’an. Dari sini, Tafsir Al-Misbah dapat disebut kitab tafsir yang diarahkan selalu hidup mengiringi perjalanan kehidupan M. Quraish Shihab, hingga saat ini.

Tulisan ini akan memaparkan secara ringkas proyek Tafsir Al-Mishbah M. Quraish Shihab, terutama apa yang dimaksud pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an. Proses transfomasi Tafsir Al-Mishbah menjadi titik berangkat tulisan ini dalam melihat kerja M. Quraish Shihab memperlihatkan pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an dalam penafsirannya.

Transformasi Tafsir Al-Mishbah: Sebuah Perjalanan Tafsir

Quraish Shihab adalah ulama tafsir kelahiran Bugis pada 16 Februari 1944 di Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan. Keberadaannya di Indonesia menjadi kebangaan tersendiri bagi bangsa Indonesia, sebab ia banyak memberi sumbangsih besar pada Islam di Indonesia. Bahkan termasuk 500 muslim yang paling berpengaruh di dunia. Tidak heran jika ia ditempatkan sebagai muslim moderat yang banyak dirujuk oleh berbagai kalangan Islam dan non-Islam.

Baca Juga: Quraish Shihab: Ada Isyarat Kedamaian Pada Ayat-Ayat Perang

Ada sangat banyak karya M. Quraish Shihab, baik yang tertulis maupun dalam bentuk lisan. Tidak jarang karya tulisnya disampaikan kembali dalam bentuk lisan, atau sebaliknya. Kitab Tafsir Al-Misbah dapat disebut sebagai salah satu karya fenomenal M. Quraish Shihab. Kitab tersebut merupakan hasil upaya M. Quraish Shihab melakukan penafsiran dengan gaya baru dari yang telah dilakukan dalam kitab Tafsir Al-Qur’an al-Karim (1997) yang dipaparkan secara tartib nuzuli –yakni berdasarkan turunnya surah, yang dimulainya dengan surah Al-Fatihah.

Proyek kitab Tafsir Al-Mishbah yang dicetak pertama kali pada tahun 2002 hingga pada tahun 2021 ini terus dilakukan cetakan terbaru dengan model dan gaya yang semakin menarik. Hal ini menunjukkan bahwa kitaf Tafsir Al-Misbah mendapat tempat tersendiri di kalangan pembacanya, dari berbagai kalangan. Bahkan, tafsir Al-Misbah ini tidak berhenti disajikan dalam bentuk kitab (tulisan), tetapi tetapi berlanjut hingga kajian yang dikenal “Kajian Tafsir Al-Mishbah” sejak tahun 2004.

“Kajian Tafsir Al-Mishbah” merupakan kajian yang ditayangkan dalam program televise nasional, bahkan telah tersedia dalam Youtube. Melalui program ini, M. Quraish Shihab menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan metode tahlili. Lebih jauh, M. Quraish Shihab memaparkan kandungan dan penafsiran Al-Qur’an berdasarkan susunan mushafi, yakni dari surah Al-Fatihah hingga surah Al-Nas.

Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an

Sebenarnya, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an adalah ungkapan yang menjadi subtitle dari Tafsir Al-Misbah yang menjadi judul karya fenomenal M. Quraish Shihab di atas, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an. Pengungkapan pesan, kesan dan keserasian dalam tulisan ini memberi penekanan bahwa bagian penting dalam penafsiran M. Quraish Shihab adalah penggapaian pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an yang bermuara pada tema-tema pokok dan tujuan surah.

Ungkapan ‘pesan Al-Qur’an’ yang hendak digapai melalui kitab Tafsir Al-Misbah menunjukkan bahwa ada pesan utama dalam setiap ayat Al-Qur’an yang dapat digapai dan ditemukan melalui memahami tema-tema pokok setiap surah Al-Qur’an. Sehingga, ketika 114 surah dapat dipahami tema-tema pokoknya, maka ia dapat memahami pesan Al-Qur’an yang menjadikan kitab Suci ini dikenal lebih dekat dan mudah.

Ungkapan ‘kesan Al-Qur’an’ menunjukkan bahwa dengan memahami tema-tema pokok dan tujuan surah dapat memunculkan kesan yang benar. Yang dimaksud kesan keliru di sini adalah adanya pengkhususan satu surah tertentu dibandingkan surah lainnya. Menurut M. Quraish Shihab, memahami tema-tema pokok Al-Qur’an atau tujuan surah tersebut akan membantu mengatasi dan meluruskan kesan yang keliru tersebut.

Sementara ungkapan ‘keserasian Al-Qur’an’ menunjukkan bahwa sistematika penyusunan ayat dan surah dalam Al-Qur’an mempunyai keserasian yang di dalamnya mengandung unsur pendidikan yang sangat menyentuh. Dengan memahami tema-tema pokok Al-Qur’an dan menunjukkan keserasian surah dengan temanya, maka akan membantu menghilangkan kerancuan dan kekacauan yang dimiliki oleh siapa saja yang melakukannya.

Baca Juga: Merawat Nilai-nilai Kebangsaan dalam Tafsir Lisan M. Quraish Shihab

Dari sini, dapat dikatakan bahwa M. Quraish Shihab melalui proyek Tafsir Al-Mishbah hendak menyampaikan kepada seluruh umat Islam, terutama pembacanya, bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab Suci yang dibaca penuh keimanan, tetapi lebih dari itu. Al-Qur’an semestinya dipahami, dikaji, dan dimaknai sehingga pesan, kesan, dan keserasiannya dapat dirasakan oleh pembacanya. [] Wallahu A’lam.