Beranda blog Halaman 311

Tafsir Al-Baqarah Ayat 164: Menyikapi Pandangan Ulama Klasik Tentang Larangan Berlayar di Laut

0
Tafsir Al-Baqarah Ayat 164: Menyikapi Pandangan Ulama Klasik Tentang Larangan Berlayar di Laut
Menyikapi Pandangan Ulama Klasik Tentang Larangan Berlayar di Laut

Salah satu persoalan hukum yang mungkin cukup jarang dipikirkan oleh khalayak banyak, dan barangkali malah dianggap tidak pernah dipersoalkan, adalah hukum berlayar di lautan. Pada kenyataannya, hukum berlayar di lautan pernah menjadi perbincangan di antara para ulama’. Buktinya, Al-Jashshash mencantumkan “Bab Bolehnya Berlayar di Lautan” dalam Tafsir Al-Ahkam ketika membahas tafsir Al-Baqarah ayat 164. Lalu apa saja aspek ahkam yang diungkap para ulama’ terkait permasalahan ini? Simak penjelasannya berikut ini:

Tafsir Al-Baqarah Ayat 164

Cukup banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang menyinggung tentang hukum berlayar di lautan. Salah satunya yang menjadi pusat kajian para ahli tafsir terkait hal ini adalah firman Allah yang berbunyi:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ ١٦٤

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti. (QS. Al-Baqarah [2]: 164).

Imam Al-Qurthubi tatkala menguraikan tafsir Al-Baqarah ayat 164 di atas menyatakan, ayat ini dan ayat-ayat sesamanya adalah dasar diperbolehkannya berlayar di lautan secara mutlak. Entah itu untuk tujuan berniaga, atau beribadah seperti untuk menunaikan haji dan berjihad. Imam Al-Jashshash juga menyatakan hal serupa. Boleh berlayar di lautan untuk tujuan berperang, berdagang, dan hal-hal bermanfaat lainnya. Sebab di dalam ayat di atas tidak ada redaksi yang mengkhususkan satu kemanfaatan tertentu dan menafikan yang lainnya (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an/2/188 dan Ahkamul Qur’an/1/264).

Kenapa perlu dijelaskan bolehnya berlayar di lautan? Apakah ada ulama’ yang melarang? Benar, ada ulama yang melarang. Imam Al-Alusi menjelaskan, bolehnya berlayar di lautan tanpa adanya hukum makruh, adalah pendapat sekelompok ulama’ saja. ‘Abdurrazzak meriwayatkan dari Ibn ‘Umar, bahwa beliau tidak menyukai tindakan berlayar di lautan kecuali untuk tiga tujuan; untuk berperang, berhaji, dan menjalankan umrah (Tafsir Ruhul Ma’ani/10/121).

Imam Al-Qurthubi mengutip adanya riwayat bahwa ‘Umar ibn Khattab dan ‘Umar bin Abdul ‘Aziz melarang tindakan berlayar di lautan. Namun Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa pendapat ini tertolak berdasarkan beberapa ayat Al-Qur’an serta hadis Nabi yang salah satunya menceritakan sahabat yang berlayar di lautan. Hadis tersebut diriwayatkan dari Abi Hurairah yang berbunyi:

سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ مِنْ مَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Seorang lelaki bertanya pada Rasulullah –salallahu alaihi wasallam- dan berkata: “Wahai Rasulullah, kami berlayar di lautan dan membawa sedikit air yang apabila kami berwudhu dengannya, kami bisa kehausan. Apa boleh kami berwudhu dengan air laut?” Rasulullah lalu menjawab: “Air laut suci dan mensucikan. Bangkainya hukumnya halal (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi dan selainnya).

Andai berlayar adalah larangan, tentu Nabi akan melarang. Namun pada kenyataannya tidak ada larangan dari Nabi. Kemudian Imam Al-Qurthubi memperkirakan, mungkin larangan dari dua sosok ‘Umar di atas untuk menjaga diri seseorang yang terlalu sibuk mengejar dunia sehingga abai dengan keselamatan di lautan. Sedangkan untuk urusan ibadah, larangan itu tidak diberlakukan (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an/2/188).

Baca juga: Tafsir Ahkam: Bolehkah Berwudhu dengan Air Laut?

Penutup

Kitab-kitab fikih tidak ketinggalan dalam mengulas hukum berlayar di lautan, dan mencantumkannya pada Bab Haji. Salah satunya adalah kitab Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi. Dalam kitab ini sendiri terlihat bahwa salah satu aspek penting dalam bolehnya berlayar di lautan meski itu untuk tujuan haji, adalah persoalan keselamatan. Maka bisa jadi larangan-larangan yang pernah muncul terkait berlayar di lautan, berhubungan dengan minimnya jaminan keselamatan dalam berlayar di lautan ketika itu (Al-Majmu’/7/85). Wallahu a’lam bish shawab.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Syarat Wajib Haji dan Beberapa Ketentuannya

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 32-33

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 32-33 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai akhir kehidupan orang-orang yang bertakwa. Mereka mati dalam keadaan baik dan khusnul khatimah. Kedua mengenai prilaku buruk orang musyrik hingga ajal menjemputnya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 28-31


Ayat 32

Allah swt melukiskan bahwa orang-orang yang bertakwa, yang senantiasa menaati segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, ketika malaikat maut datang untuk mencabut nyawanya, mereka mati dalam keadaan husnul khatimah dan mendapat salam sejahtera dari malaikat.

Hal itu dikarenakan kebersihan mereka dari noda-noda kemusyrikan dan kemaksiatan, dan jiwanya tetap di bawah bimbingan wahyu Allah swt. Segenap perjalanan mereka dihiasi dengan akhlak yang mulia dan terhindar dari sifat-sifat tercela.

Orang yang seperti ini menghadap Tuhannya dengan hati lapang dan berserah diri, karena ia merasa akan meninggalkan dunia yang fana, dan pergi untuk menerima ketentuan yang telah ditetapkan oleh Tuhannya. Ketika itu, ia menghadapi maut dengan tenang dan bahagia. Allah swt berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ 

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ”Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (Fu¡¡ilat/41: 30)

Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa para malaikat itu memberikan kabar gembira bahwa mereka akan memasuki surga yang disediakan bagi mereka, sesuai dengan amal perbuatan yang telah mereka lakukan. Berita gembira yang disampaikan oleh malaikat kepada mereka merupakan janji Allah yang akan mereka alami nanti sesudah hari kebangkitan.

عَنْ مُحَمَّدٍ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيْ قَالَ: إِذَا أَشْرَفَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ عَلَى الْمَوْتِ جَاءَهُ مَلَكٌ فَقَالَ السَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا وَلِيَّ اللهِ، يَقْرَأُ عَلَيْكَ السَّلاَمَ وَ بَشَّرَهُ بِالْجَنَّةِ. (رواه ابن جرير الطبري والبيهقي)

Diriwayatkan dari Muhammad bin Ka‘ab Al-Qura§i ia berkata, “Apabila seorang hamba yang mukmin telah tiba saat kematiannya datanglah malaikat seraya berkata, “Salam sejahtera untukmu hai wali Allah, Allah mengirimkan salam untukmu dan memberikan berita gembira bahwa engkau akan masuk surga.” (Riwayat Ibnu Jarir at-tabari dan al-Baihaqi)


Baca juga: Surah An-Nisa Ayat 3, Praktik Poligami Menurut Mufasir Indonesia


Ayat 33

Allah swt menjelaskan bahwa tidak ada gunanya memberikan kesempatan kepada orang-orang musyrik Mekah untuk mengubah sikap mereka.

Mereka tetap akan berpendirian demikian, sehingga tiba saatnya malaikat merenggut nyawa mereka, atau datang perintah Tuhan untuk menurunkan azab kepada mereka di dunia seperti dialami orang-orang kafir sebelum mereka.

Di antara orang-orang musyrik yang tidak menaati nabi dan rasul ada yang dibinasakan oleh suara petir, dihancurkan oleh gempa bumi, dan ada pula yang diluluhlantakkan oleh banjir besar dan angin topan tanpa mereka duga kedatangannya.

Ayat ini merupakan ancaman keras kepada mereka dengan maksud agar mereka beriman kepada Allah dan rasul-Nya serta segera meninggalkan kebatilan dan kembali kepada kebenaran sebelum datang malapetaka seperti yang pernah menimpa orang-orang sebelum mereka.

Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa nenek moyang mereka yang mempunyai sifat dan perilaku yang sama dengan mereka telah mengalami kehancuran lebih dulu karena azab Allah akibat tidak mau mendengarkan seruan para rasul dan nabi Allah yang membimbing mereka kepada ke-benaran.

Mereka yang tetap bergelimang dalam kebatilan telah dimusnahkan oleh Allah dengan siksaan yang berat. Hal ini bukan berarti Allah telah menganiaya mereka, akan tetapi mereka sendiri yang menganiaya diri sendiri.

Allah telah cukup memberikan bimbingan wahyu dan bukti-bukti yang jelas tentang kebenaran wahyu itu. Akan tetapi, mereka tetap saja membangkang dan mendustakan kebenaran dan mengotori jiwa mereka dengan menciptakan patung-patung sebagai tuhan-tuhan yang dipersekutu-kan kepada Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 34-35


(Tafsir Kemenag)

 

Penulisan Al-Quran sebagai Awal Tradisi Intelektual Islam Menurut Ali Romdhoni

0
Penulisan Al-Quran

Di antara sarjana Indonesia yang mengkaji sejarah Al-Quran dalam kaitannya dengan tradisi literasi adalah Ali Romdhoni. Kajian Ali Romdhoni tergolong unik, sebab ia tidak hanya membuktikan bahwa Penulisan Al-Quran telah dilakukan sejak masa Nabi Muhammad SAW, tetapi juga mengandung makna filosofis mengapa Al-Quran sudah diperintahkan ditulis saat itu. Kajian Ali Romdhoni tersebut, terutama, dapat dirujuk dari bukunya Al-Qur’an dan Literasi (2013).

Buku Ali Romdhoni tersebut mengemukakan berbagai argumentasi ilmiah, terutama dari berdasarkan data-data sejarah, mengenai tradisi literasi yang berkembang pada Islam Awal. Dalam sub judul bukunya “Sejarah Rancang-Bangun Ilmu-ilmu Keislaman” memberi pemahaman bahwa sejarah Al-Qur’an adalah sejarah terbangunnya peradaban tulis-menulis dalam Islam. Hal ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an secara khusus membawa perubahan besar dari segi model keilmuan manusia.

Dalam kaitannya dengan sejarah Al-Qur’an, posisi tradisi literasi amat penting. Diwahyukannya surah Al-‘Alaq: 1-5 sebagai wahyu pertama menjadi catatan penting bagi perjalanan Islam itu sendiri. Dalam konteks ini, kajian Ali Romdhoni penting diungkap terutama untuk melihat bagian-bagian sejarah penulisan Al-Quran yang biasa dinilai terjadi alamiah dan di bawah takdir Ilahi, tetapi bagi Ali Romdhoni hal tersebut memiliki makna tersendiri untuk tradisi intelektual Islam.

Mengenal Ali Romdhoni dan Kajiannya atas Al-Qur’an

Ali Romdhoni adalah sarjana Islam Indonesia yang aktif meneliti sekaligus sebagai dosen di universitas Wahid Hasyim Semarang. Beliau lahir dan besar di lingkungan pesantren di desa Prawoto, Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Sehingga, beliau sangat akrab dengan belajar baca-tulis Al-Qur’an dan berbagai kitab berbahasa Arab –‘Kitab Kuning’. Tahun 1994, beliau belajar di pesantren Al-Ma’ruf Bandungsari, Grobongan. Tahun 2000, beliau belajar di pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang.

Ali Romdhoni
Ali Romdhoni

Pada tahun 2001, Ali Romdhoni melanjutkan belajarnya di IAIN (sekarang UIN) Walisongo Semarang, dengan konsentrasi Filsafat Islam. Setelah itu, tahun 2006 Ali Ramdhani lanjut ke jenjang S2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan berfokus pada program Ulumul Qur’an. Selesainya di UIN Jakarta, beliau mengikuti Pendidikan Kader Mufassir (PKM) yang didirikan oleh M. Quraish Shihab. Adapun pendidikan doktoralnya diambil di Universitas Helongjiang Harbin, China, dengan berfokus di bidang Religious Studies.

Ali Romdhoni termasuk sarjana yang produktif, beberapa karyanya yang terkait studi Al-Qur’an adalah Tradisi Hafalan Qur’an di Masyarakat Muslim Indonesia (2015), Al-Qur’an: Memerangi Illetary, Mencipta Peradaban Ilmu Pengetahuan (2012), Masa Depan Kajian Al-Qur’an di Indonesia (2013), Al-Qur’an dan Literasi: Sejarah Rancang-Bangun Ilmu-ilmu Keislaman (2013).

Baca Juga: Proyek Tafsir Al-Mishbah: Menggapai Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an ala M. Quraish Shihab

Di lihat dari karya-karyanya, sekalipun tidak semuanya disebutkan di sini, kajian Ali Romdhoni dapat dinilai memberi perhatian tersendiri dalam diskusi literasi, terutama kaitannya dengan Al-Qur’an. Kajiannya memberi kesan bahwa peradaban umat Islam, dalam sejarahnya, di antaranya karena memperhatikan tradisi baca-tulis. Buku Al-Qur’an dan Literasi menjadi bagian penting dari kajian Ali Romdhoni tersebut, termasuk pada pembahasan penulisan Al-Quran.

Pengumpulan Al-Qur’an: Tradisi Hafalan dan Tulisan

Dalam memasuki pembahasan tradisi intelektual dalam Islam, Ali Romdhoni menyinggung sejarah penulisan Al-Quran. Sebagaimana marak dikenal bahwa penulisan Al-Quran menjadi satu pemahaman dari pengumpulan Al-Qur’an (jam’ Al-Qur’an), di samping menghafalnya. Di sini, menghafal lebih dahulu menjadi pengumpulan Al-Qur’an dibanding menulisnya. Karena itu, tradisi dan proses menghafal tidak dapat dipisahkan penulisan Al-Quran.

Secara umum, bangsa Arab sebelum hingga datangnya Islam memang terkenal sebagai bangsa yang kuat dalam tradisi hafalan. Sehingga, ketika Al-Qur’an diwahyukan, umat Islam saat itu sangat mudah menghafalnya. Saat yang sama, yang membuat Al-Qur’an marak dihafal juga dapat dirujuk dalam hadis Nabi Muhammad SAW, yang di antaranya mengatakan “…kepadamu (Muhammad) telah kuturunkan Al-Qur’an yang tidak dapat dihapus dengan air, dan engkau bisa membacanya dalam keadaan tidur ataupun terjaga…”

Menurut Ali Romdhoni, hadis di atas dapat dipahami bahwa pada masa Islam awal, Al-Quran dikaji dan dibaca berdasarkan hafalan. Transmisi atau perpindahan Al-Qur’an dari satu orang ke yang lainnya melakukan hafalan. Dengan kata lain, setelah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu, ia ditransmisikan kepada sahabat, dan dari sahabat satu ke sahabat lainnya, dilakukan secara hafalan.

Jika tradisi hafalan yang begitu kuat menjadi alat utama mentransmisikan Al-Qur’an, sehingga para sahabat saat itu nampak cukup membaca dan mempelajari Al-Qur’an berdasarkan hafalan, lalu mengapa Nabi Muhammad SAW saat itu juga memerintahkan agar wahyu dituliskan? Demikian pertanyaan Ali Romdhoni. Dalam sejarahnya, Nabi Muhammad SAW memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk menuliskan Al-Qur’an, baik pada lembaran kulit unta, tulang, pelepah kurma, dan seterusnya.

Dalam pandangan Ali Romdhoni bahwa ada motivasi yang luar biasa dalam tradisi tulis-menulis sehingga Nabi Muhammad SAW memerintahkan dan menggalakkan program penulisan Al-Quran. Dalam konteks ini, pengumpulan Al-Qur’an dalam lingkup penulisannya lebih luas wilayah kerjanya daripada menghafalnya.

Menulis Al-Qur’an bukan hanya sekedar merekam dan menjaga Al-Qur’an, tetapi menampilkan seluruh Al-Qur’an (30 Juz) dalam bentuk tulisan yang dapat dilihat, mengelompokkan dan mengatur susunan ayatnya, dan seterusnya, yang semuanya dilakukan dalam bentuk lembaran (sahifah). Masa penulisan inilah kemudian dikenal sebagai kodifikasi Al-Qur’an.

Tradisi Intelektual Islam yang Bermula dari Penulisan Al-Quran

Yang terpenting dalam penulisan Al-Quran adalah bahwa ia menjadi dasar utama terciptanya tradisi ilmiah umat Islam. Penulisan Al-Quran yang di antaranya bertujuan untuk mengabadikan Al-Qur’an, ternyata berkembang membentuk masyarakat yang mengerti dan mendalami tradisi baca-tulis. Dari sini, bangsa Arab terus mengembangkan tradisi baca-tulisnya pada intelektualitas yang lebih canggih. Menurut Ali Romdhoni, peradaban ini bermula dari penulisan Al-Quran.

Lebih jauh, ditarik ke asal mula kuatnya tradisi literasi bangsa Arab yang mengantarkan mereka pada budaya ilmiah, sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari Al-Qur’an itu sendiri seperti QS. Al-‘Alaq: 1-5. Sehingga, penulisan Al-Quran menjadi masa yang terbilang vital untuk merealisasikan ajaran Islam dalam mengubah bangsa dari buta huruf ke melek huruf. Dengan pemahaman tersebut, Ali Romdhoni mengkritik pemaknaan ummi sebagai tidak bisa membaca dan menulis.

Baca Juga: Sayyid Qutb: Intelektual Mesir Penulis Tafsir Fi Zilal aL-Qur’an

Secara sederhana, Ali Romdhoni menilai bahwa makna ummi yang tepat adalah orang tersebut bukan dari golongan Yahudi atau Nashrani. Makna ini disandarkan pada QS. Ali Imran: 20. Ali Romdhoni mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW sejak awal adalah orang yang pandai dalam membaca dan menulis.

Berbagai pandangan Ali Romdhoni di atas memperlihatkan bahwa tradisi intelektual Islam diperkuat oleh dua argumentasi, (1) tradisi literasi yang digalakkan oleh Nabi Muhammad SAW melalui penulisan Al-Quran, dan (2) ajaran Islam itu sendiri. Dengan demikian, penulisan Al-Quran bukan hanya sekedar menjaga dan mengabaikan Al-Qur’an di atas lembaran-lembaran, melainkan juga menuju peradaban intelektual bagi umat Islam. [] Wallahu A’lam.

Konsekuensi Logis dalam Kisah Nabi Zakariya Menurut Sayyid Muhammad Thanthawi

0
Tentang Kisah Keberhasilan Nabi Zakariya
Tentang Kisah Keberhasilan Nabi Zakariya

Konsekuensi logis merupakan metode berfikir yang melahirkan suatu hal, baik itu ucapan atau perbuatan memengaruhi kepada hasil akhir. Sehingga dapat dikatakan bahwa hasil tersebut adalah dampak dari perbuatan atau perkataan manusia itu sendiri. Metode tersebut sebagaimana yang digunakan oleh tokoh tafsir Mesir, Sayyid Muhammad Thanthawi ketika menganalisa perbuatan Nabi Zakariya.

Ketika menggunakan jalan berfikir konsekuensi logis, Sayyid Thanthawi telah membangun sebuah pondasi pemahaman terkait dengan hakikat sebuah keterhubungan antara satu kalimat atau ayat dengan ayat lainnya. Dengan demikian, kesinambungan antara ayat satu dengan yang lainnya tidak bisa dinafikan untuk melahirkan tafsir yang dapat difahami secara mendetail.

Contoh yang paling konkret ialah mengenai kesuksesan Nabi Zakariya –alaihi salam– mempunyai keturunan di usia yang bisa dibilang tidak muda lagi. Atas usaha dan do’a yang sungguh-sungguh Nabi Zakariya mendapatkan apa yang ia inginkan. Pertanyaannya kenapa do’a dan keinginan Nabi Zakariya dipenuhi oleh Allah?

Bukan hanya karena Nabi Zakariya berstatus Nabi yang mempunyai keistimewaan, namun perbuatan dan perkataan beliau lah yang memberikan peran secara signifikan hingga cita-cita dan keinginannya terealisasi.

Baca juga: Mengenal Empat Tipologi Anak dalam Al-Quran

Sebelumnya, diketahui bahwa usia Nabi Zakariya saat itu menginjak akhir usia, yakni 120 tahun dan istrinya memasuki usia 98 tahun (Tafsīr al-Jalālain 1,71). Sebagaimana yang terdapat dalam Q.S Āli Imrān ayat 40.

قَالَ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي غُلَٰمٞ وَقَدۡ بَلَغَنِيَ ٱلۡكِبَرُ وَٱمۡرَأَتِي عَاقِرٞۖ قَالَ كَذَٰلِكَ ٱللَّهُ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ  ٤٠

Kata Zakariya, “Wahai Tuhanku! Betapa aku akan mendapatkan anak sedangkan aku sangat tua dan istriku seorang yang mandul. Firman Allah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

Namun, keadaan tersebut tidak mengakibatkan Nabi Zakariya putus asa dan tidak berhenti berharap kepada Allah, walaupun ditinjau dari adat (kebiasaan) tidak memungkinkan untuk mempunyai keturunan.

Dalam hal ini, Nabi Zakariya terus memberikan pengabdian dengan semaksimal mungkin dan terus berdoa kepada Allah; firman Allah Q.S Al-Anbiya ayat 89-90

وَزَكَرِيَّآ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرۡنِي فَرۡدٗا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡوَٰرِثِينَ  ٨٩ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَوَهَبۡنَا لَهُۥ يَحۡيَىٰ وَأَصۡلَحۡنَا لَهُۥ زَوۡجَهُۥٓۚ إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ  ٩٠

Dan Zakariya, tatkala ia menyeru Rabbnya, “Ya Rabbku! Janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, dan Engkaulah Waris yang paling baik. Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya mengandung, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera di dalam kebaikan-kebaikan, dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harapan dan takut, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.

Dalam ayat tersebut terdapat tiga pokok pembahasan; pertama, berdo’anya Nabi Zakariya kepada Allah; kedua, do’anya dikabulkan; ketiga, konsekuensi logis terkabulnya do’a Nabi Zakariya.

Kendati demikian, untuk poin pertama dan kedua tidak akan terlalu dideskripsi secara komprehensif terkait dengan interpretasi dan maknanya. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa yang dimaksud فَرۡدٗا dalam ayat tersebut bukan secara hakiki, melainkan menyendiri dengan tidak mempunyai keturunan.

Baca juga: Benarkah Malaikat Sujud Kepada Nabi Adam? Begini Pendapat Mufassir

Muhammad Sayyid Thanthawi di dalam tafsirnya (al-Tafsīr al-Wasīṭ 9,246) menjelaskan secara implisit ada dua perbuatan Nabi Zakariya yang sekaligus menjadi konsekuensi logis terkabulnya do’a (hasil) Nabi Zakariya. Pertama, bergegas dalam melakukan kebaikan; kedua, berharap dan takut kepada Allah, terlebih ketika berdo’a.

Begegas dalam Kebaikan

Poin pertama ini, mungkin sederhana dan tidak sukar difahami karena dalam realita sosial hubungan seperti ini sering terjadi. Tatkala seseorang membutuhkan bantuan dari orang lain, orang tersebut dalam normanya harus bergegas ketika diperintahkan oleh orang lain. Hubungannya, susah menjalankan perintah maka akan sulit juga ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

Sama halnya ketika seorang hamba menginginkan prioritas dari Tuhannya, maka apa yang diperintahkan oleh Tuhannya haruslah disegerakan. Dan inilah yang dimaksud dengan bergegas dalam kebaikan. Sayyid Thanthawi sangat tegas menyebutkan bahwa Allah memberikan kepada mereka (termasuk Nabi Zakariya) berbagai nikmat karena mereka merespon perintah-Nya dengan cepat dan bersungguh-sungguh dalam menjalankannya, baik dengan ucapan atau perbuatan.

Baca juga: Surah Al-Hajj [22] Ayat 36-37: Dua Tujuan Ibadah Kurban

Oleh karena itu, sebelum kita meminta apa yang diinginkan terlebih dahulu memperbaiki hubungan kita dengan Allah, karena konsekuensi logis mengatakan demikian. Artinya, ketika frekuensi kebaikan seseorang tinggi maka pintu prioritas utama dari Allah terbuka lebar.

Berharap dan Takut Ketika Berdo’a

Keberhasilan Nabi Zakariya dalam komunikasi dengan Allah ialah menyertakan rasa takut dan harapan ketika komunikasi berlangsung. Rasa takut tersebut bisa diekspresikan dengan cara memfokuskan pada redaksi do’a, melembutkan suara, dan tunduk serta pasrah. Sehingga itu semua adalah repsentasi dari ketakutan terhadap kebesaran, siksa, dan ancaman Allah. Maka dari itu, memposisikan sebagai hamba yang sempurna marupakan keniscayaan.

Selain mempunyai rasa takut, manusia harus mempunyai harapan yang tinggi kepada-Nya, dalam waktu yang sama ketergantungan terhadap sesama akan terminimalkan. Kedua sifat tersebut akan melahirkan kepatuhan dan ketundukan kepada Tuhannya, sekaligus dibarengi dengan rendah hati, yang menafikan sifat kesombongan dan keangkuhan.

Bahkan Sayyid Thanthawi melegitimasi bahwa sifat yang terkandung dalam surat tersebut akan menghasilkan kebaikan, pemberian, dan ridha dari Allah; sehingga manusia tersebut termasuk dalam kategori makhluk-makhluk terpilih.

Wallahu A’lam

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 28-31

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 28-31 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai gambaran orang musyrik di akhirat. Kedua mengenai gambaran dari orang-orang mukmin ketika di akhirat. Keadaan keduanya saling berlwanan.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 26-27


Ayat 28

Kemudian Allah swt melukiskan keadaan orang-orang musyrik pada akhir hayat mereka, yaitu ketika malaikat maut akan merenggut nyawa mereka sedangkan mereka masih tetap dalam keadaan menganiaya diri sendiri. Mereka tidak dapat mengelakkan diri dari kematian dan malaikat pencabut nyawa, padahal mereka telah mengingkari pencipta alam semesta.

Pada saat itu, mereka membayangkan siksaan yang akan mereka terima karena mengingkari Allah Yang Maha Esa dan menganiaya diri sendiri. Ketika itu, nurani merekalah yang berbicara, mereka mengakui kebenaran-Nya, seraya mengatakan kami tidak menyekutukan Allah dengan yang lain. Sebagaimana firman Allah:

وَاللّٰهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِيْنَ

Demi Allah, ya Tuhan kami, tidaklah kami menyekutukan Allah. (al-An’am/6: 23)

Pengakuan seperti itu sangat terlambat karena pada saat sebelum kematian, mereka di dunia mendustakan keesaan Allah dan bergelimang dalam kebatilan. Tidaklah benar apabila mereka mengharapkan kebahagiaan, karena mereka telah diberi akal yang dapat menilai baik dan buruk.

Mereka sadar betapa besarnya dosa mendustakan keesaan Allah dan wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, hukuman yang pantas bagi mereka ialah menerima siksaan yang sesuai dengan amal perbuatannya.

Mereka tidak dapat lagi menutup-nutupi kejahatan yang mereka lakukan, karena sesungguhnya mereka sendiri telah menyadari dan mengakui kejahatan mereka dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Ayat 29

Allah swt menegaskan bahwa yang akan mereka terima di akhirat tiada lain hanyalah neraka Jahanam dan merasakan berbagai macam azab. Mereka akan tinggal dalam neraka Jahanam itu selama-lamanya dan menerima azab sesuai dengan berat ringannya dosa yang mereka lakukan.

Inilah hukuman yang pantas dan penderitaan yang sesuai bagi orang yang sombong, takabur, dan tidak mau mengikuti pedoman hidup dan petunjuk yang dibawa oleh Rasul.

Allah berfirman:

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَۚ  لَا يُقْضٰى عَلَيْهِمْ فَيَمُوْتُوْا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِّنْ عَذَابِهَاۗ  كَذٰلِكَ نَجْزِيْ كُلَّ كَفُوْرٍ

 

Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan hingga mereka mati, dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. (Fatir/35: 36)

Baca juga: Benarkah Malaikat Sujud Kepada Nabi Adam? Begini Pendapat Mufassir

Ayat 30

Allah swt menggambarkan keadaan orang-orang mukmin apabila ditanya bagaimana kesannya terhadap apa yang diturunkan oleh Allah. Orang-orang yang mematuhi ayat-ayat Allah itu akan memberikan jawaban bahwa yang diturunkan itu adalah kebaikan dan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya yang menaati agamanya dan mempercayai rasul-Nya, serta mengamalkan ayat itu di tengah-tengah masyarakat.

Mereka akan menjadi hamba Allah yang berbuat kebajikan dan menerima kebahagiaan hidup, sedangkan di akhirat akan mendapat pahala yang lebih baik lagi dari pahala yang mereka terima di dunia.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa kehidupan akhirat adalah lebih baik dan sebagai tempat yang paling baik bagi orang-orang yang bertakwa. Kebahagiaan yang akan mereka terima di akhirat itu sifatnya kekal, sedang kebahagiaan di dunia hanya sementara.

Kebahagiaan di akhirat memberikan kepuasan dalam arti sebenar-benarnya, sedang kebahagiaan di dunia merupakan kebahagiaan yang sementara dan terbatas. Kebahagiaan yang akan diterima oleh orang-orang mukmin sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut ini:

فَاٰتٰىهُمُ اللّٰهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْاٰخِرَةِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Ali ‘Imran/3: 148)

Ayat 31

Allah swt lalu menjelaskan keadaan surga yang akan menjadi tempat bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya beberapa sungai.

Di situ orang-orang yang bertakwa akan mendapatkan apa yang ia inginkan yang menjadi kepuasan bagi diri mereka berupa kenikmatan pemandangan, peralatan, dan pelayanannya yang melebihi kepuasan yang mereka terima di dunia. Allah swt menegaskan bahwa mereka akan kekal selama-lamanya.

Allah menjanjikan surga ‘Adn kepada orang-orang mukmin yang benar-benar bertakwa kepada-Nya, dan memelihara diri dari segala noda-noda kemusyrikan dan kemaksiatan. Penegasan ini sangat penting artinya bagi orang-orang mukmin supaya mereka selalu memupuk ketakwaannya sehingga meningkat ke derajat yang lebih tinggi.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 32-33


(Tafsir Kemenag)

 

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 26-27

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 26-27 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai tipu daya yang dilakukan orang-orang musyrik. Tipu daya itu hanya akan mencelakakan mereka sendiri. Kedua mengenai siksaan yang menanti di akhirat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 24-25


Ayat 26

Allah menjelaskan bahwa tipu daya orang-orang musyrik itu hanya akan mencelakakan diri mereka sendiri. Mereka akan mengalami penderitaan seperti yang dirasakan oleh umat-umat terdahulu dimana mereka juga mendustakan rasul-rasul mereka dengan berbagai macam tipu daya dan berbagai macam alasan.

Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan Fir’aun ketika ia meminta menterinya untuk membangun menara yang tinggi guna melihat Tuhan Musa a.s.

Firman Allah:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يٰهَامٰنُ ابْنِ لِيْ صَرْحًا لَّعَلِّيْٓ اَبْلُغُ الْاَسْبَابَۙ  ٣٦  اَسْبَابَ السَّمٰوٰتِ فَاَطَّلِعَ اِلٰٓى اِلٰهِ مُوْسٰى وَاِنِّيْ لَاَظُنُّهٗ كَاذِبًا ۗوَكَذٰلِكَ زُيِّنَ لِفِرْعَوْنَ سُوْۤءُ عَمَلِهٖ وَصُدَّ عَنِ السَّبِيْلِ ۗوَمَا كَيْدُ فِرْعَوْنَ اِلَّا فِيْ تَبَابٍ ࣖ   ٣٧ 

Dan Fir’aun berkata, ”Wahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhannya Musa, tetapi aku tetap memandangnya seorang pendusta.” Dan demikianlah dijadikan terasa indah bagi Fir’aun perbuatan buruknya itu, dan dia tertutup dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir’aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian. (al-Mu’min/40: 36-37)

Kemudian Allah swt melukiskan bahwa tipu daya yang mereka lakukan terhadap Rasulullah saw bagaikan orang-orang yang membangun rumah. Setelah rumah itu jadi, Allah menghancurkan rumah itu dari fondasinya.

Setelah pondasi itu hancur dan tiang-tiangnya mulai berjatuhan, berguguranlah atap dan seluruh bangunannya, sehingga menimpa diri mereka sendiri. Mereka sendiri tidak merasakan sebelumnya apa yang akan terjadi dan akibat apa yang harus mereka terima terhadap perbuatan yang mereka lakukan itu.

Akibat dari perbuatan mereka itu tidak saja menghancurkan diri mereka sendiri, tetapi juga menghancurkan keluarga dan keturunan mereka. Hal itu merupakan gambaran yang tepat bagaimana Allah swt menggagalkan tipu daya mereka.

Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa mereka itu akan mendapat azab pada saat yang tidak mereka duga sebelumnya dan tidak pula mereka sadari. Hal ini menunjukkan bahwa akibat yang mereka temui tidaklah seperti yang mereka duga sebelumnya.

Apa yang terjadi pada umat terdahulu berlaku pula bagi umat Islam, di mana mereka mengira bahwa dengan berbagai macam tipu daya, mereka dapat menghalang-halangi dan menghancurkan dakwah Islam.

Akan tetapi justru sebaliknya, dakwah  Islam makin lama makin meluas dan semangat pengikut-pengikutnya makin lama makin membaja. Akhirnya mereka akan mengalami kehancuran di berbagai medan pertempuran terutama pada saat terjadinya perang Badar.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Hajj Ayat 39: Perang itu Diizinkan Bukan Diperintahkan


Ayat 27

Malapetaka tersebut di atas merupakan azab dunia bagi mereka, sedangkan di akhirat Allah swt akan memberikan siksaan yang pedih dan mereka akan merasakan kehinaan yang tiada taranya. Kehinaan mereka digambarkan dengan keadaan mereka yang bingung, mencari sekutu-sekutu mereka yang dahulu pernah mengajak mereka untuk melakukan tipu daya.

Mereka menyesal karena orang-orang yang dahulu mengajak mereka tidak lagi dapat memberikan dukungan kepada mereka untuk melepaskan diri mereka dari siksa Allah. Sebab pada saat itu, manusia tidak mempunyai kekuatan dan tidak pula ada yang dapat memberikan pertolongan.

Firman Allah:

فَمَا لَهٗ مِنْ قُوَّةٍ وَّلَا نَاصِرٍ

Maka manusia tidak lagi mempunyai suatu kekuatan dan tidak (pula) ada penolong. (at-Tariq/86: 10)

Kemudian Allah swt menjelaskan bahwa pada hari kebangkitan, orang-orang yang telah diberi ilmu, yaitu orang-orang yang mengetahui dan mengikuti petunjuk-petunjuk wahyu dan yakin akan kebenaran hidayah yang diterimanya, serta meyakini keesaan Allah dan kerasulan Muhammad, akan tersenyum dengan penuh kepuasan.

Mereka mengatakan bahwa kehinaan dan azab pada hari itu benar-benar ditimpakan kepada orang-orang kafir akibat mengingkari Allah, memusuhi para rasul-Nya, dan mendustakan akan terjadinya hari kebangkitan.

Firman Allah:

فَالْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُوْنَۙ  ٣٤  عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ  ٣٥ 

Maka pada hari ini, orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan. (al-Mutaffifin/83: 34-35)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 28-31


(Tafsir Kemenag)

 

Kontradiksi Penafsiran Al-Quran Surah Al-A’raf Ayat 52

0
kontradiksi penafsiran Al-Quran
kontradiksi penafsiran Al-Quran

“Makna dalam teks-teks Al-Qur’ān adalah produk penafsiran manusia (a product of human interpretation). Penafsir Al-Qur’ān lah pihak yang berperan aktif dalam memproduksi makna.” Saya ingin meneguhkan kembali tesis utama risalah ini. Karena penafsir tidak pernah satu dan sama dalam tradisi penafsiran, maka makna yang diproduksi oleh penafsir yang beragam itu pun menjadi kontradiktif. Hal ini terefleksikan pada penafsiran atas makna fasala, yang akar katanya, f-s-l, dipakai sekitar 43 kali dalam Al-Qur’ān dalam konteks yang variatif. Selama ini, pemahaman umum tentang makna fasala merujuk pada karakter Qur’ān yang jelas dan detail.

Baca Juga: Lokus Makna Al-Quran: Otoritas Teks atau Otoritas Penafsir?

Penafsiran Al-Quran yang kontradiktif atas frasa fassal

Al-Qur’ān surah Al-A’raf [7]: 52, misalnya. Ayat ini diterjemahkan dan ditafsirkan dengan makna bahwa Tuhan menjelaskan Kitab Al-Qur’ān secara jelas dan detail. Penafsir Islam modern, ‘Abdullah Yusuf Ali (w. 1953), menerjemahkan Al-Qur’ān surah Al-A’raf [7]: 52, “For We had certainly sent unto them a Book, based on knowledge, which We explained in detail, a guide and mercy to all who believe.

Pemaknaan yang sama juga dapat ditemukan dalam karya Habib Shakir, seorang hakim di Mesir, yang menerjemahkannya seperti berikut: “And certainly We have brought them a Book, which We had made clear with knowledge, a guidance and mercy for people who believe.” Frase fassalnāhu dalam dua karya Muslim modern yang populer itu diterjemahkan dan, dengan sendirinya, ditafsirkan sebagai rujukan atas makna bahwa “Tuhan menjelaskan Al-Qur’ān secara detail dan jelas.”

Pemaknaan atas Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 di Islam modern ini sebenarnya hanyalah replika pemikiran dari tradisi penafsiran Al-Quran pada periode awal dan pertengahan Islam. Adalah Abū Ja‘far b. Jarīr Ath-Thabarī (w. 310/923) yang menafsirkan Al-Qur’ān surah Al-A’raf [7]: 52 sebagai rujukan atas karakter Al-Qur’ān yang jelas dan detail.

Baca Juga: Konflik Bacaan Al-Quran, Preferensi Bacaan atas Surah Al-Isra Ayat 106

Kontradiksi penafsiran Ath-Thabari dan Al-Maturidi

Dalam karya tafsirnya yang momumental, Jāmi‘ albayān ‘an ta’wīl āy Al-Qur’ān, 30 vol. (Cairo: Mustafa al-Bābī Al-Halabī, 1986), Ath-Thabarī menafsirkan frase fassalnāhu dalam Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 dengan makna “untuk menjelaskan, membedakan antara kebenaran dan kepalsuan” (mufassilan, mubayyinan fīhi al-haqq min al-bāthil). Yang sungguh mengejutkan adalah Ath-Thabarī tidak mempresentasikan keragaman opini, seperti kebiasaannya, dengan hanya memproduksi penafsiran yang tunggal dan monolitik.

Hal ini memberikan suatu indikasi kuat bahwa frase fassalnāhu telah disepakati maknanya secara konsensus oleh komunitas penafsir, sehingga terjadi proses stabilisasi makna yang pasti (the fixation of meaning). Yakni, Tuhan telah menurunkan Kitab Al-Qur’ān secara jelas dan detail (mufassilan), sehingga Kitab itu dapat berfungsi sebagai pembeda/ distingsi (mubayyinan) antara kebenaran dan kebatilan.

Dalam genre tafsīr, kebenaran atas makna ini sudah mencapai status konsensus dalam otoritas komunitas penafsir dan, konsekuensinya, makna yang disepakati itu memperoleh legitimasi yang kuat secara keagamaan, sehingga validitas kebenarannya nyaris tidak pernah dipertanyakan lagi.

Baca Juga: Tafsir Al-Qur’an Bersifat Multivokal, Ini Tiga Alasannya

Seorang teolog, penafsir dan fakih, Abū Mansūr al-Matūrīdī (w. 333/944), melakukan terobosan penafsiran inovatif atas Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 yang sudah terlanjur mengalami stabilisasi makna yang pasti dalam rentang waktu yang panjang.

Dalam karyanya yang multi-volume, Ta’wīlāt Al-Qur’ān (Turkey: Dār al-Mīzān, 2005-2011, 18 volumes), al-Māturīdī menafsirkan fassalnāhu dalam Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 yang sama sekali tidak lazim di kalangan ortodoksi Islam Sunni dan Shi’i sekalipun. Sembari mengakui kemungkinan makna umum fassalnāhu sebagai rujukan atas titah Tuhan sendiri, (1), yang menjelaskan Kitab secara detail (explained in detail), (2) yang membuat Qur’ān jelas (to make the Qur’ān clear), dan (3) yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan (to distinguish between truth and falsehood).

Al-Māturīdī juga mengeksplorasi penafsiran atas kemungkinan makna baru fassalnāhu yang selama ini tidak pernah disajikan dan diperbincangkan dalam tradisi penafsiran Al-Quran. Yakni, pemaknaan baru fassalnāhu itu merujuk pada karakter utama pewahyuan Al-Qur’ān yang bersifat gradual, sedikit demi sedikit, dan tidak turun sekaligus (jumlatan wāhidatan, all at once). Secara lebih spesifik, menurut al-Māturīdī, bahwa makna baru fassalnāhu dalam Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 adalah pewahyuan Al-Qur’ān yang bersifat gradual itu sendiri, sebagaimana ia analisis secara sangat meyakinkan di bawah ini:

“Kami telah menurunkan atau membagi Al-Qur’an menjadi beberapa bagian selama proses pewahyuannya dan Kami tidak mengirimkannya [kepada Muhammad] dalam satu wahyu sekaligus (jumlatan wāhidatan), seperti dalam firman Tuhan: Dan Qur’an yang Kami telah turunkan menjadi beberapa bagian atau potongan, sehingga kamu [Muhammad] dapat membacakannya kepada orang-orang dengan tidak tergesa-gesa (Al-Qur’an, surah Al-Isra [17]: 106), yaitu, Kami telah membagi Al-Qur’an menjadi bagian-bagian atau potongan-potongan selama proses pewahyuannya sesuai dengan peristiwa atau keadaan tertentu (‘alā qadr al-nawāzil) agar mereka [orang-orang] mengetahui makna hukum dari setiap ayat sesuai dengan peristiwa, keadaan, atau peristiwa yang mendorong turunnya wahyu tertentu. Atau Tuhan menurunkan Al-Qur’ān sedikit demi sedikit (mufarraqan, terpisah) karena lebih mudah (ahwan wa-aisar) bagi orang-orang untuk memahami hukum-hukum Tuhan jika Al-Qur’an diturunkan sebagian atau potongan-potongan kecil (bi-al-tafārīq), bukan secara keseluruhan atau lengkap” (jumlatan) (al-Matūrīdī, Ta’wīlāt Al-Qur’ān, Turkey: Dār al-Mīzān, 2005-2011, vol. 5:362).

Penafsiran brilian al-Māturīdī atas makna fassalnāhu dalam Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 memberikan sumbangsih terbesar dalam tradisi penafsiran Al-Quran yang multivokal dan kontradiktif. Makna fassalnāhu tidak melulu ditafsirkan sebagai kehendak Tuhan untuk menjelaskan Kitab-Nya secara detail dan sekaligus membedakan antara kebenaran dan kebatilan, tetapi juga ditafsirkan dengan makna baru, yakni Tuhan yang mewahyukan Al-Qur’ān secara gradual, sedikit demi sedikit, tidak sekaligus.

Apakah dua makna fassalnāhu dalam Al-Qur’ān, surah Al-A’raf [7]: 52 yang kontradiktif itu bersumber dari Tuhan? Tidak! Itulah kesimpulan saya melalui risalah ini, karena dua makna yang kontradiktif itu sejatinya hanya bersumber dari pikiran manusia itu sendiri, yakni pikiran penafsir Al-Qur’ān. Makna dalam teks Al-Qur’ān, dengan demikian, bukanlah makna yang diwahyukan oleh Tuhan dalam peristiwa yang transhistoris, tetapi makna yang dikonstruksikan secara historis oleh penafsir Al-Qur’ān itu sendiri.

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 24-25

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 24-25 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai sifat sombong dari orang-orang musyrik ketika mereka menganggap al-Qur’an adalah dongeng kitab kuno. Kedua mengenai dosa dari apa yang mereka perbuat itu.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 22-23


Ayat 24

Allah swt menjelaskan kesombongan orang-orang musyrik, yaitu apabila ditanyakan kepada mereka apakah yang telah diturunkan oleh Allah? Mereka pun menjawab bahwa Allah tidak menurunkan apa pun juga kepada Muhammad. Apa yang dibacakan oleh Muhammad itu tiada lain hanyalah dongeng-dongeng orang-orang dahulu yang ia ambil dari kitab kuno.

Ucapan seperti itu menggambarkan kesombongan mereka terhadap diri Rasulullah dan kepada firman Allah.

Allah swt berfirman :

وَقَالُوْٓا اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلٰى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا

Dan mereka berkata, ”(Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.” (al-Furqan/25: 5)

Kesombongan mereka terhadap Nabi Muhammad digambarkan dengan kata-kata seperti tuduhan mereka bahwa Nabi Muhammad itu tukang sihir, penyair, dan tukang tenung. Bahkan ada yang secara berlebih-lebihan menuduhnya sebagai orang gila. Kesombongan mereka kepada Nabi Muhammad saw bukan saja terlihat dari ucapan-ucapan mereka akan tetapi betul-betul telah merasuki jiwa dan darah daging mereka.

Allah swt berfirman:

اِنَّهٗ فَكَّرَ وَقَدَّرَۙ   ١٨  فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَۙ   ١٩  ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَۙ   ٢٠  ثُمَّ نَظَرَۙ   ٢١  ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَۙ   ٢٢  ثُمَّ اَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَۙ   ٢٣  فَقَالَ اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ يُّؤْثَرُۙ   ٢٤  اِنْ هٰذَآ اِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِۗ   ٢٥

Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia (merenung) memikirkan, lalu berwajah masam dan cemberut, kemudian berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, ”(Al-Qur’an) ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini hanyalah perkataan manusia.” (al-Muddassir/74: 18-25)


Baca juga: Al-Wujuh dan Al-Nazhair Kata Shalat pada Al-Qur’an


Ayat 25

Allah swt menjelaskan bahwa ucapan mereka yang congkak itu menyebabkan mereka harus memikul dosa-dosa mereka sendiri dan dosa orang-orang yang secara taklid buta mengikuti ucapan itu.

Orang yang mengikuti disamakan hukumnya dengan orang yang diikuti karena mereka masing-masing telah diberi akal untuk menilai ucapan orang-orang yang diikuti itu. Akan tetapi, mereka tidak menggunakan akal itu sehingga mereka mengikuti tanpa dasar pijakan sedikit pun.

Sedangkan orang yang diikuti, di samping menanggung dosa sendiri, juga menanggung dosa orang yang disesatkan. Mereka dianggap sebagai penyesat dan penyebab orang-orang lain berkeyakinan seperti keyakinan mereka. Sabda Rasulullah saw:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذٰلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ لَهُ مِنَ اْلأِثْمِ مِثْلُ اٰثَاِم مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذٰلِكَ مِنْ اٰثَامِهِمْ شَيْئًا.

(رواه أحمد ومسلم عن أبي هريرة)

Barang siapa mengajak orang-orang kepada petunjuk (agama Islam), maka ia memperoleh pahala orang-orang yang mengikutinya, dan hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan ia memperoleh dosa seperti dosa-dosa yang mengikuti, yang hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun. (Riwayat Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah)

Dan firman Allah:

وَلَيَحْمِلُنَّ اَثْقَالَهُمْ وَاَثْقَالًا مَّعَ اَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْـَٔلُنَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَمَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ ࣖ

Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri, dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka, dan pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan. (al-‘Ankabµt/29: 13)

Mereka diancam dengan ancaman yang berat karena menilai firman Allah yang disampaikan kepada Rasulullah dengan penilaian yang tidak wajar. Mereka telah mengotori pikiran dan jiwa mereka sendiri sehingga mereka berani berbuat berbagai macam tipu daya untuk menjatuhkan pribadi Rasul di hadapan para pengikutnya.

Mereka diberi ancaman keras karena perbuatan dosa yang mereka lakukan. Bahkan mereka memikul dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya pada hari akhir. Lalu Allah menyatakan bahwa dosa yang mereka pikul itu adalah dosa yang paling berat.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 26-27


(Tafsir Kemenag)

Kritik Aliran Sastrawi terhadap Aliran Ilmi dalam Bingkai Penafsiran Al-Quran Era Modern

0
Kritik Aliran Sastrawi terhadap Aliran Ilmiah dalam Penafsiran Al-Qur'an Modern
Kritik Aliran Sastrawi terhadap Aliran Ilmiah dalam Penafsiran Al-Qur'an Modern

Era modern merupakan titik balik bagi sarjana muslim dalam melakukan pembaruan intelektual di dunia Muslim setelah mengalami kebekuan yang cukup lama. Pembaruan intelektual tersebut hampir nyaris terjadi di semua disiplin keilmuan yang telah mapan dalam Islam, tak terkecuali pada bidang penafsiran Al-Quran. Ciri khas penafsiran Al-Quran era modern tidak lagi mengomentari teks dengan kutipan teks, otoritas sanad, dan sifatnya lebih mengkontekstualisasikan interpretasi dengan realitas zaman.

Aliran yang cukup populer dalam penafsiran Al-Quran era modern salah satunya adalah penafsiran ilmi (al-tafsir al-‘imi), yang berusaha mendekatkan argumentasi saintifik dengan ayat-ayat Al-Quran. Namun, dalam perkembangan tafsir Al-Quran, aliran ini mendapat kritikan yang tajam dari penafsiran sastrawi modern yang datang setelahnya dan tak kalah populernya.

Baca Juga: Potret Penafsiran Al-Quran Hari Ini: Era Modern-Kontemporer

Dua tren penafsiran Al-Quran era modern: aliran ilmi dan sastrawi

Dalam pembaruan penafsiran Al-Quran era modern, tepatnya pada abad 19, penafsiran bercorak ilmi menyita perhatian mufasir. Penafsiran Al-Quran dengan pendekatan saintifik mengalami kebangkitan kembali dengan munculnya pelopor seperti Tantawi Jawhari yang meluncurkan karya tafsirnya Al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an al-Karim. Yūsuf al-Qaraḍāwī sebagai salah satu ulama otoritatif era modern menganggap penasiran ilmi merupakan satu penafsiran yang penting. Ini dibuktikan dengan ditulisnya satu bab khusus oleh Al-Qaraḍāwī mengenai al-tafsir al-‘imi dalam bukunya yang berjudul Kayfa Nataʿāmal maʿa al-Qurʾān al-ʿAẓīm.

Aliran penafsiran ilmi semakin dikukuhkan menjadi tren penafsiran modern dengan agumentasi ʿAbdallāh Shiḥāta dalam karyanya, ʿUlūm al-Tafsīr yang menyatakan bahwa penafsiran ilmi merupakan satu pendekatan yang sudah mapan. Aliran ini sebenarnya mencoba membantah argumentasi para sarjana Barat yang berusaha membenturkan antara agama dan sains modern, teknologi, dan penemuan ilmiah. Konsep i’jaz al-Qur’an dengan pendekatan penafsiran ini mendapatkan validasi dan ruang yang kukuh sebagai kebenaran ilmu.

Jenis aliran kedua yang juga menjadi tren penafsiran modern adalah tafsir sastrawi. Aliran tafsir tersebut digawangi oleh Amīn Al-Khūlī, ia merumuskan banyak fomulasi linguistik sastra untuk menafsirkan Al-Quran sebagaimana dalam karyanya Manahij Tajdid fi al-Nahwi wa al-Balaghah wa al-Tafsir wa al-Adab dll.

Kerja akademik Al-Khūlī kemudian dikembangkan lebih dalam oleh istrinya, ʿĀisha ʿAbd al-Raḥmān Bint al-Shātịʾ dengan menulis tafsir Al-Quran berdasarkan rumusan sastra tersebut,  Al-Qurʾān wa al-Tafsir al-ʿAṣrī. Kerja utama dari aliran ini adalah meremajakan kembali tradisi sastra Arab (al-Balaghah) sebagai alat memahami Al-Quran dengan interpretasi yang lebih relevan.

Kedua tren tafsir era modern tersebut sebagaimana tesis yang dikemukakan oleh Suruq Naguib dalam jurnal The Hermeneutics of Miracle: Evolution, Eloquence, and the Critique of Scientific Exegesis in the Literary School of tafsīr, jika ditelisik lebih ke atas sedikit ternyata berangkat dari akar teologis yang sama yaitu beranjak dari pemikiran Muhammad ʿAbduh. Pada prinsipnya, pemikiran ʿAbduh adalah melakukan reformasi pola pikir umat Islam agar maju dengan perkembangan zaman.

Baca Juga: Amin Al-Khuli: Mufasir Modern Yang Mengusung Tafsir Sastrawi

Kritik aliran penafsiran sastrawi terhadap penafsiran ilmi

Sebagaimana diketahui di muka, ada dua tren aliran dalam penafsiran Al-Quran era modern, yang ternyata punya satu hilir pijakan yaitu berasal dari pemikiran ʿAbduh. Namun, menariknya kedua aliran tersebut tidak bisa dikatakan senafas. Terjadi ketegangan sengit di antara keduanya. Aliran penafsiran ilmi mendapat hujaman kritik dari aliran sastrawi. Amīn Al-Khūlī, sebagaimana diungkapkan H{usayn al-Dhahabī’ dalam Al-Tafsīr wa al-Mufassirūn, merupakan seorang kritikus aliran ilmiah dengan mengusung genre baru tafsir sastrawinya tersebut.

Di buku karangannya, Kitāb al-Khayr, Al-Khūlī mengungkapkan dua keberatan filosofisnya atas penafsiran ilmi. Pertama, menurut Al-Khūlī, penafsiran ilmi Al-Quran mengabaikan tujuan utama terhadap eksistensi teks asli yang dapat memberikan panduan etis. Kedua, penafsiran ilmi pasti sifatnya sangat dangkal dan lemah, karena Al-Quran hanya memberikan sedikit rincian mengenai hal-hal saintifik, tidak seluruhnya, ditambah pemahaman kita pasti tidak lengkap tentang data-data alam semesta.

Kritik Al-Khūlī tersebut ia jabarkan lebih lanjut dalam artikelnya yang berjudul Al-Khūlī al-Tafsir. Dengan menambahkan dukungan dari sarjana Andalusia, Al-Shātịbī, Al-Khūlī membangun kontra-narasinya atas penafsiran ilmi dengan menyuguhkan tiga argumentasi. Ketiga argumentasi tersebut adalah linguistik, estetika sastra (al-balagha), dan interpretasi relijius yang seluruhnya merupakan dimensi tekstualitas Al-Qur’an.

Argumentasi linguistik menekankan ‘evolusi leksikal’ (tadarruj al-dalāla) dari kata-kata Al-Quran yag sifatnya historis untuk menentukan suatu makna. Bagi Al-Khūlī, kata-kata dalam Al-Qur’an dapat memperoleh konotasi yang baru dengan melakukan analisis sejarah-filologis, yaitu menelusuri konteks makna itu muncul dan digunakan.

Dengan ini, penafsir dapat mencocokkan kata Al-Quran dengan konotasi yang paling sesuai dengan konteks wahyu. Ini pulalah yang menjadi letak tolak Al-Khūlī terhadap penafsiran ilmi, bahwa penafsiran ilmi adalah ahistoris dan bertentangan dengan istilah-istilah Al-Quran konteks wahyu turun.

Baca Juga: Pro Kontra Tafsir Ilmi dan Cara Menyikapinya (2): Ulama Kontra

Argumentasi estetika sastra melanjutkan kerja argumen linguistik. Al-Khūlī mendasarkan argumentasinya tersebut pada teori al-balāgha klasik “mutạ̄baqat al-kalām li-muqtaḍā al-ḥāl” (kesesuaian antara ucapan dengan konteks situasi). Argumen ini menyingkap penafsiran ilmi yang menghasilkan implikasi pemahaman bahwa penerima wahyu Al-Qur’an gagal memahami persyaratan situasi, dan ini bertentangan dengan kaidah al-balāgha tersebut.

Argumentasi terakhir soal interpretasi religius Al-Quran. Argumentasi ini menitikberatkan tentang pesan Al-Quran yang harus progresif dan relevan. Hermeneutika yang dikembangkan Al-Khūlī sifatnya menstabilkan teks, sedangkan penafsiran ilmi bersifat fluktuatif sehingga sangat mudah dipatahkan oleh penemuan yang lebih baru. Hanya kajian historis-kontekstual teks lah menurut Al-Khūlī yang akan menstabilkan aspek kebahasaannya, dan dengan perangkat al-balāgha-reformasi sebagai kritik sastra akan memungkinkan interpretasi Al-Quran yag lebih terbuka sepanjang masa.

Bint al-Shātị̄ʾ, melanjutkan serta mengembangkan bangunan proyek aliran sastrawi dari Al-Khūlī, suami sekaligus gurunya tersebut. Ia melengkapi karya Al-Khūlī denga memperbaharui konsep pada i’jaz al-Qur’an. Kemukjizatan Al-Quran dapat dipahami dengan pendekatan aspek linguistik-sastra, bukan dengan teori-teori saintifik yang ahistoris.

Adanya kritik dari aliran sastrawi terhadap aliran ilmiah ini makin memperlebar garis patahan di antara keduanya, terutama soal konsep i’jaz al-Qur’an. Aliran sastrawi menanggap i’jaz hanya bisa disentuh dengan pendekatan linguistik-sastra, sedang aliran ilmiah kukuh memegang asumsi i’jaz dapat valid hanya dengan pendekatan ilmiah. Terlepas dari itu semua, perbedaan-perbedaan dan kritik tersebut justru memperkaya diskursus disiplin studi Al-Quran. Hal itu justru semakin memudahkan umat dalam menentukan jalan kebenaran sesuai pilhan masing-masing. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 22-23

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 22-23 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai pernyataan Allah bahwa seluruh manusia wajib meng-EsakanNya. Kedua berbicara mengenai keingkaran orang-orang kafir terhadap wahyu Allah.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 17-21


Ayat 22

Allah swt menjelaskan bahwa Tuhan yang wajib disembah dan ditaati oleh seluruh manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Penegasan dengan Yang Maha Esa, memberikan pengertian yang pantas disembah hanyalah Dia. Oleh sebab itu, Dia pulalah yang wajib ditaati oleh seluruh manusia dan tidak boleh mengangkat tuhan-tuhan yang lain sebagai sekutu-Nya.

Sesudah itu, dalam ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang kafir mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain karena tidak mau mengakui keesaan Allah, janji dan ancaman-Nya, serta terjadinya hari akhir.

Itulah sebabnya maka mereka membangkang terhadap apa saja yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, meskipun berita yang disampaikan itu mengandung berita tentang kekuasaan dan kebenaran Allah serta luasnya nikmat yang diberikan kepada manusia.

Hati mereka telah tertutup, meskipun telah diberitakan kepada mereka bahwa peribadatan mereka itu tidak benar. Seharusnya yang berhak disembah ialah Allah Yang Maha Esa, namun mereka tetap tidak mau percaya.

Di akhir ayat, Allah swt menegaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang sombong dan tidak mau menerima kebenaran. Mereka tidak mau tunduk kepada kebenaran, tetap mengingkarinya, dan bertaklid buta mengikuti nenek moyang mereka.

Allah swt berfirman:

اَجَعَلَ الْاٰلِهَةَ اِلٰهًا وَّاحِدًا ۖاِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ 

Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. (Sad/38: 5)

وَاِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَحْدَهُ اشْمَـَٔزَّتْ قُلُوْبُ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِالْاٰخِرَةِۚ وَاِذَا ذُكِرَ الَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُوْنَ 

Dan apabila yang disebut hanya nama Allah, kesal sekali hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat. Namun apabila nama-nama sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira. (az-Zumar/39: 45)

بَلْ قَالُوْٓا اِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّهْتَدُوْنَ   ٢٢  وَكَذٰلِكَ مَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍۙ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ  ۙاِنَّا وَجَدْنَآ اٰبَاۤءَنَا عَلٰٓى اُمَّةٍ وَّاِنَّا عَلٰٓى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ  ٢٣ 

Bahkan mereka berkata, ”Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.” Dan demikian juga ketika Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Muhammad) dalam suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, ”Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan sesungguhnya kami sekedar pengikut jejak-jejak mereka.” (az-Zukhruf/43: 22-23)


Baca juga: Surah Al-Hajj [22] Ayat 36-37: Dua Tujuan Ibadah Kurban


Ayat 23

Tidak dapat diragukan lagi, sesungguhnya Allah telah mengetahui keingkaran orang-orang musyrik itu terhadap wahyu yang telah diberikan kepada Nabi Muhammad saw yang mereka sembunyikan dalam hati mereka. Allah juga mengetahui apa yang mereka nyatakan terhadap Nabi Muhammad saw serta tuduhan mereka bahwa beliau membuat berita-berita palsu.

Di akhir ayat dijelaskan bahwa Allah tidak suka kepada orang-orang sombong yang tidak mau percaya kepada keesaan-Nya dan enggan mengikuti seruan para nabi dan rasul-Nya. Pernyataan ini menunjukkan betapa murka dan bencinya Allah kepada mereka dan sikap mereka yang tidak mengerti akan kedudukan diri mereka.

Di ayat lain, Allah swt mengancam bahwa orang-orang yang sombong akan dimasukkan ke neraka Jahanam. Allah swt berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ ࣖࣖࣖ 

Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (al-Mu’min/40: 60)

Rasulullah saw bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ وَلاَ يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ اِيْمَانٍ. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اَلرَّجُلُ يُحِبُّ اَنْ يَكُوْنَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنًا؟ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ. اَلْكِبْرُ بَطْرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

(رواه مسلم وأبو داود و الترمذي وابن ماجه عن ابن مسعود)

Tidak akan masuk surga orang yang di hatinya ada kesombongan sebiji sawi, dan tidak akan masuk neraka orang yang di hatinya ada iman sebiji sawi, kemudian berkatalah seorang laki-laki, “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau seorang laki-laki ingin agar bajunya bagus dan sandalnya bagus? Kemudian Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya Allah indah, menyukai keindahan. Kesombongan itu ialah tidak mau menerima kebenaran dan menghina manusia.” (Riwayat Muslim, Abu Dawud, at-Tirmizi, dan Ibnu Majah, dari Ibnu Mas’ud)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 24-25


(Tafsir Kemenag)