Beranda blog Halaman 312

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 47-50

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 47-50 berbicara perihal janji Allah kepada penduduk surga bahwa akan dicabut dalam diri mereka sifat-sifat buruk yang terpedam sewaktu di dunia, dan menggantinya menjadi sifat yang kasih terhadap sesama, dan kebahagian kan selalu membersamai mereka dengan sifat yang demikian.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 41-46


Janji lain yang Allah terangkan dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 47-50 adalah penduduk surga tidak akan pernah merasakan letih dan khawatir sebagaimana yang mereka rasakan ketika di dunia. Sehingga yang mereka rasakan hanyalah ketentraman dan kesenangan semata ketika berada di surga.

Ayat 47

Allah berjanji akan mencabut dari hati penduduk surga segala macam dendam, kebencian, dan rasa dengki yang telah terpendam selama mereka hidup di dunia, dan menjadikan mereka hidup bersaudara dan berkasih sayang. Mereka senantiasa bergembira bersama-sama dan duduk berhadap-hadapan di atas permadani yang terhampar.

Diriwayatkan oleh al-Qasim dan Abu Umamah, ia berkata, “Semula ahli surga ketika masuk surga masih membawa apa yang telah tersimpan dalam hati mereka selama hidup di dunia, seperti rasa dengki dan dendam, hingga mereka duduk berhadapan dengan temannya di atas dipan dalam surga.

Allah lalu mencabut segala yang tersimpan di dalam hati mereka itu.” Kemudian Abu Umamah membaca ayat ini.

Keadaan penghuni surga itu diterangkan pula dalam firman Allah swt:

عَلٰى سُرُرٍ مَّوْضُوْنَةٍۙ ١٥مُّتَّكِـِٕيْنَ عَلَيْهَا مُتَقٰبِلِيْنَ ١٦يَطُوْفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُوْنَۙ ١٧بِاَكْوَابٍ وَّاَبَارِيْقَۙ وَكَأْسٍ مِّنْ مَّعِيْنٍۙ ١٨لَّا يُصَدَّعُوْنَ عَنْهَا وَلَا يُنْزِفُوْنَۙ ١٩وَفَاكِهَةٍ مِّمَّا يَتَخَيَّرُوْنَۙ ٢٠وَلَحْمِ طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُوْنَۗ ٢١وَحُوْرٌ عِيْنٌۙ    ٢٢كَاَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُوْنِۚ  ٢٣

Mereka berada di atas dipan-dipan yang bertahtakan emas dan permata, mereka bersandar di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan sloki (piala) berisi minuman yang diambil dari air yang mengalir, mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan apa pun yang mereka pilih, dan daging burung apa pun yang mereka inginkan. Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik. (al-Waqi’ah/56: 15-23).


Baca Juga: Perjanjian Manusia dengan Allah Sebelum Lahir ke Dunia


Ayat 48-50

Penduduk surga tidak pernah merasa letih dan lelah, karena mereka tidak lagi dibebani oleh berbagai usaha untuk melengkapi kebutuhan pokok yang mereka perlukan. Segala sesuatu yang mereka inginkan telah tersedia, tinggal memanfaatkan saja.

Mereka tidak pernah merasa khawatir akan dipindahkan ke tempat yang tidak mereka senangi karena mereka kekal di dalam surga. Mereka akan terus merasakan kenikmatan dan kesenangan yang sudah tersedia.

Pada ayat yang lain Allah swt melukiskan keadaan di dalam surga itu:

الَّذِيْٓ اَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهٖۚ  لَا يَمَسُّنَا فِيْهَا نَصَبٌ وَّلَا يَمَسُّنَا فِيْهَا لُغُوْبٌ

Yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.” (Fathir/35: 35).

Hadis Nabi saw menjelaskan keadaan surga:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّ اللهَ أَمَرَنِيْ اَنْ اُبَشِّرَ خَدِيْجَةَ بِبَيْتٍ فِى الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لاَ صَعْبَ فِيْهِ وَلاَ نَصَبَ.

(رواه البخاري و مسلم عن عبد الله بن أوفى)

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah berupa rumah (yang akan ditempatinya) di surga yang terbuat dari bambu, tidak ada kesulitan di dalamnya, dan tidak ada pula kelelahan.” (Riwayat a-Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin Aufa)

Dari keterangan di atas, maka keadaan orang-orang beriman dalam surga itu dapat digambarkan sebagai berikut: orang-orang yang beriman berada dalam keadaan terhormat, bersih dari berbagai penyakit hati seperti rasa dengki, iri hati, marah, kecewa, dan sebangsanya.

Tidak pernah merasa lelah, sakit, dan lapar, selalu dalam keadaan senang dan gembira, saling bersilaturrahim, dan bersahabat dengan penduduk surga yang lain, dan mereka kekal di surga sehingga tidak perlu merasa khawatir akan dipindahkan ke tempat yang tidak disenangi.

Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari Abdullah bin Zubair bahwa Rasulullah saw menegur para sahabat yang tertawa ketika beliau lewat di hadapan mereka. Beliau berkata, “Apa yang menyebabkan kamu tertawa?.” Maka turunlah ayat ini sebagai teguran kepada Nabi saw agar membiarkan mereka tertawa karena Allah Maha Pengampun di samping siksa-Nya yang sangat pedih.

Diriwayatkan pula oleh Abµ Hātim dari Ali bin Abi Husain bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan Abu Bakar dan Umar bin al-Khathab, yang mana rasa dengki keduanya telah dicabut Allah dari dalam hatinya. Ketika ditanya orang, “Kedengkian apa?”

Ali bin Abi Husain menjawab, “Kedengkian jahiliyah, yaitu sikap permusuhan antara Bani Tamim (Kabilah Abu Bakar) dan Bani Umayyah.” Ketika Abu Bakar terserang penyakit pinggang, Ali memanaskan tangannya dan dengan tangannya ia memanaskan pinggang Abu Bakar, maka turunlah ayat ini.

Pada ayat ini, Allah swt menjelaskan janji dan ancaman-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar menyampaikan kepada hamba-hamba-Nya bahwa Dia bersedia menghapus segala dosa, jika seseorang telah bertobat dalam arti yang sebenarnya dan kembali menempuh jalan yang diridai-Nya. Allah tidak akan mengazab hamba-hamba-Nya yang bertobat.

Allah juga memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar menyampaikan kepada hamba-Nya bahwa azab-Nya akan menimpa orang yang durhaka dan berbuat maksiat dan tidak mau bertobat atau kembali ke jalan-Nya. Azab-Nya itu sangat pedih, dan tidak ada bandingannya di dunia ini.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 51-56


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 41-46

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Melaui Tafsir Surah al-Hijr Ayat 41-46 Allah menegaskan bahwa tidak semua yang dibicarakan Iblis itu benar, sedangkan mereka yang tergoda kepada rayuan Iblis hanyalah hamba yang lemah imannya. Berbeda dengan mereka yang imannya kuat, lagi teguh dalam ketakwaan, maka Allah menjamin mereka tetap lurus dan terjaga dari rayuan setan.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 34-40


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 41-46 juga menjelaskan bagaimana keadaan hamba-hamba yang ingkar dan berlaku dosa kelak ketika masa penghakiman dihadapan Allah, mereka akan ditempatkan di neraka-neraka, sesuai dengan dosa yang mereka lakukan. Sedangkan mereka yang taat dan lurus, mereka akan mendapatkan surga dengan segala kenikmatan didalamnya.

Ayat 41-44

Allah swt mengecam Iblis dengan ayat ini bahwa apa yang dinyatakan Iblis itu tidak semuanya benar karena ia tidak dapat memperdaya hamba-hamba-Nya yang saleh. Ini dikatakan Allah sebagai jalan yang lurus. Dia memberi pahala semua amal baik seorang hamba dan membalas dengan siksa semua amal buruk seseorang.

Untuk menghilangkan keragu-raguan yang mungkin dipahami pada ayat-ayat yang lalu maka Allah swt menegaskan dalam ayat ini, bahwa hamba-hamba Allah yang ikhlas beriman tidak seorang pun yang dapat dikuasai setan.

Semuanya telah diberi taufik untuk beriman, melaksanakan perintah-perintah Allah, dan menghentikan semua larangan-Nya. Godaan apapun tidak akan mempengaruhi iman mereka. Hal ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya yang lain:

وَقَالَ الشَّيْطٰنُ لَمَّا قُضِيَ الْاَمْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَخْلَفْتُكُمْۗ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّآ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ ۚفَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ مَآ اَنَا۠ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَآ اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّۗ اِنِّيْ كَفَرْتُ بِمَآ اَشْرَكْتُمُوْنِ مِنْ قَبْلُ ۗاِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, ”Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sungguh, orang yang zalim akan mendapat siksaan yang pedih. (Ibrahim/14: 22).

Firman Allah swt:

اِنَّهٗ لَيْسَ لَهٗ سُلْطٰنٌ عَلَى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ ٩٩ اِنَّمَا سُلْطٰنُهٗ عَلَى الَّذِيْنَ يَتَوَلَّوْنَهٗ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِهٖ مُشْرِكُوْنَ ࣖ  ١٠٠  .

Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan. Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin dan terhadap orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (an-Nahl/16: 99-100)

Kemudian Allah swt mengancam setan dan pengikut-pengikutnya dengan neraka Jahanam sebagai pembalasan bagi segala macam kejahatan yang pernah mereka perbuat.

Allah swt menerangkan keadaan neraka yang akan didiami oleh orang-orang yang sesat, yaitu terdiri atas tujuh tingkat. Tiap-tiap tingkat didiami oleh orang-orang yang dosa dan hukumannya sesuai dengan tingkat kejahatan yang telah mereka perbuat.

Menurut Ibnu Juraij, neraka itu tujuh tingkat, pertama Jahannam; kedua Laza’; ketiga Huthamah; keempat: Sa’³r; kelima Saqar; keenam Jahim; dan ketujuh Hawiyah. Masing-masing tingkat ditempati sesuai dengan kadar dosa mereka.

Dari ayat-ayat ini dapat dipahami bahwa manusia mempunyai dua macam sifat yang menonjol, yaitu pertama, mempunyai sifat yang suka mengikuti hawa nafsu dan terpengaruh oleh kehidupan dunia dengan segala macam kenikmatan hidup yang memesona dirinya. Mereka inilah orang-orang musyrik yang mudah dipengaruhi setan.

Kedua, manusia yang mempunyai sifat percaya kepada Allah dan rasul, jiwanya bersih dan mulia, hubungannya dengan Allah sangat dekat, dan suka kepada kebaikan. Golongan ini tidak dapat dipengaruhi oleh setan karena hati mereka telah cenderung kepada Allah swt.


Baca Juga: Kajian Semantik Kata Surga dan Neraka dalam Al-Quran 


Ayat 45

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang bertakwa akan ditempatkan dalam surga dengan taman-taman yang memiliki beberapa mata air yang mengalir. Pada firman Allah swt yang lain diterangkan pula sifat surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa itu, sebagaimana firman Allah:

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ ۗفِيْهَآ اَنْهٰرٌ مِّنْ مَّاۤءٍ غَيْرِ اٰسِنٍۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهٗ ۚوَاَنْهٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيْنَ ەۚ وَاَنْهٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۗوَلَهُمْ فِيْهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ ۗ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِى النَّارِ وَسُقُوْا مَاۤءً حَمِيْمًا فَقَطَّعَ اَمْعَاۤءَهُمْ

Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau, dan sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai khamar (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai madu yang murni. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka. Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga ususnya terpotong-potong? (Muhammad/47: 15).

Yang dimaksudkan dengan orang-orang yang bertakwa ialah orang yang menjaga dirinya dari azab Allah dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Ayat 46

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang bertakwa dipersilakan masuk ke dalam surga. Di sana mereka akan selamat, sejahtera, aman, dan sentosa, serta tiada rasa takut sedih, dan gundah. Tidak ada suatu apa pun yang mengganggu ketenangan perasaan mereka, dan tidak ada bencana yang akan menyusahkan, bahkan Allah akan menurunkan nikmat yang tiada putus-putusnya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 47-50


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 34-40

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Sebelumnya telah dibahas tentang iblis yang diusir dari surga akibat keangkuhannya atas perintah Allah Swt. Adapun Tafsir Surah al-Hijr Ayat 34-40 menceritakan tentang keadaan Iblis setelah diusir dari surga, mereka bahkan tidak meminta ampun kepada Allah Swt. Justru meminta izin untuk mengajak anak cucu adam membersamai mereka di neraka, yakni dengan menggoda mereka untuk melakukan kejahatan sewaktu di dunia.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 28-33


Ayat 34-38

Allah swt menjawab keingkaran Iblis dengan memerintahkannya agar keluar dari surga atau dari golongan malaikat. Akibat pengingkaran itu, Iblis telah jauh dari rahmat Allah, dikenai hukuman, dan terus menerus mendapat kutukan-Nya sampai hari pembalasan nanti.

Dalam firman Allah yang lain, diterangkan bahwa Iblis diusir dari surga karena ia menyombongkan diri dan termasuk golongan orang-orang yang hina. Allah swt berfirman:

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُوْنُ لَكَ اَنْ تَتَكَبَّرَ فِيْهَا فَاخْرُجْ اِنَّكَ مِنَ الصّٰغِرِيْنَ

(Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguh-nya kamu termasuk makhluk yang hina.” (al-A’raf/7: 13).

Setelah mendengar keputusan Allah itu, Iblis menyatakan menerima hukuman itu. Akan tetapi, ia mohon kepada Tuhan agar umurnya dipanjang-kan sampai hari ketika manusia dibangkitkan dari kubur.

Permohonan Iblis itu dikabulkan Allah dan ia akan hidup terus-menerus sampai akhir zaman hingga tiupan sangkakala yang membangkitkan manusia dari kubur.


Baca Juga: Ketika Iblis Membangkang Sujud Kepada Adam


Ayat 39-40

Karena telah dikutuk dan dilaknat Allah dengan menjauhkannya dari nikmat-Nya dan menjadikan ia sesat dan hina, Iblis memohon supaya Allah memberi kesempatan untuk menyesatkan anak cucu Adam dengan menjadikan perbuatan jahat menjadi baik menurut pandangannya.

Dengan demikian, akan menarik hati mereka sehingga tanpa disadari mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang jahat itu. Namun hal itu tidak berlaku bagi hamba-hamba yang ikhlas dan saleh, yang tidak dapat dipalingkan dari kebenaran.

Menurut sebagian mufasir, setelah dikutuk, Iblis tidak memohon ampun kepada Allah, tetapi malahan bersumpah akan menipu dan memperdaya anak cucu Adam sampai hari kiamat, kecuali hamba-hamba yang saleh dan ikhlas.

Mereka tidak dapat ditipu dan diperdaya karena kekuatan imannya, berdasarkan firman Allah swt:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ  ٨٢  اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ  ٨٣

(Iblis) menjawab, ”Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” (Hud/38: 82-83).

Sumpah ini benar-benar dilaksanakan dan diwujudkan Iblis dengan segala kemampuan yang ada padanya, sebagaimana firman Allah swt:

قَالَ فَبِمَآ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيْمَۙ  ١٦  ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ  ١٧

(Iblis) menjawab, ”Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (al-A’raf/7: 16-17).

Allah swt menyatakan bahwa Iblis dapat memenuhi target sumpahnya dengan menyesatkan sebagian besar manusia. Allah berfirman:

وَلَقَدْ صَدَّقَ عَلَيْهِمْ اِبْلِيْسُ ظَنَّهٗ فَاتَّبَعُوْهُ اِلَّا فَرِيْقًا مِّنَ الْمُؤْمِنِيْنَ

Dan sungguh, Iblis telah dapat meyakinkan terhadap mereka kebenaran sangkaannya, lalu mereka mengikutinya, kecuali sebagian dari orang-orang mukmin. (Saba’/34: 20).

Orang-orang yang mengikuti setan dan Iblis menjadikannya sebagai pimpinan mereka, sebagaimana firman Allah swt:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْاٰتِهِمَا ۗاِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (al-A’raf/7: 27);

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 41-46


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 28-33

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 28-33 menceritakan kembali tentang proses ketika hendak menciptakan manusia, yakni Adam. Dimana ada perdebatan dikalangan malaikat yang khawatir jikalau manusia nantinya akan berlaku zalim dikala di dunia.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 25-27


Namun, Allah menepis keraguan malaikat dan memerintahkan mereka serta seluruh mahluk untuk bersujud pada Adam, kecuali Iblis yang menolak. Sikap Iblis yang merasa lebih mulia dari Adam mendapat kecaman dari Allah, hingga kemudian mengutuk dan mengusir Iblis dari syurga, serta menjamin bahwa Iblis akan ditempatkan di neraka selama-lamanya.

Ayat 28-33

Pada ayat ini, Allah swt memerintahkan agar Nabi Muhammad saw mengingatkan umatnya, tatkala Allah mengatakan kepada para malaikat tentang maksud-Nya untuk menciptakan Adam.

Dia akan menciptakan manusia dari tanah kering yang berasal dari lumpur hitam, dan jika Dia telah menyempurnakan bentuknya dengan sebaik-baiknya, akan ditiupkan ke dalamnya roh ciptaan-Nya serta akan memerintahkan malaikat dan Iblis sujud kepadanya sebagai penghormatan kepadanya.

Perintah Allah ini dilaksanakan oleh para malaikat dengan patuh dan khidmat, kecuali Iblis. Ia enggan bersujud kepada Adam, karena ia merasa dirinya lebih tinggi derajatnya daripada Adam. Ia diciptakan dari api, sedang Adam diciptakan dari tanah.

Kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa peristiwa penciptaan Adam dan peristiwa pengingkaran Iblis terhadap perintah Allah serta ketaatan dan keikhlasan malaikat melaksanakan perintah itu menggambarkan watak dari ketiga macam makhluk Allah tersebut.

Malaikat diciptakan sebagai makhluk yang selalu tunduk dan patuh kepada perintah Allah, tidak pernah mengingkarinya sedikit pun. Oleh karena itu, malaikat dijadikan Allah sebagai pengawal dan pengatur bumi dengan izin-Nya, dan diperintahkan tunduk kepada Adam beserta keturunannya.


Baca Juga: Hakikat Penciptaan Manusia dalam Surah al-Dzariyat ayat 56


Adapun manusia adalah makhluk Allah yang terdiri dari dua unsur, yaitu unsur jasmani dan unsur rohani. Penggabungan kedua macam unsur ini menyebabkan manusia mempunyai potensi untuk mengambil manfaat dari bumi seluruhnya dengan pengetahuan yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Terbuka berbagai kemungkinan baginya untuk berbuat dan bekerja guna memenuhi dan melengkapi kebutuhan yang diperlukannya dengan menggali dan mengambilnya dari perbendaharaan Allah swt.

Dengan potensi diri dan ilmu pengetahuan, manusia dapat memanfaatkan air, udara, barang tambang, tumbuh-tumbuhan, binatang ternak, garis edar planet-planet, kekuatan listrik, kekuatan atom, dan sebagainya.

Dengan demikian, tampaklah kelebihan manusia dari malaikat dan setan sebagai-mana yang dapat dipahami dari jawaban Allah kepada para malaikat waktu Adam a.s. akan diciptakan Allah. Allah swt berfirman:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ”Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, ”Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, ”Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah/2: 30).

Di atas telah diterangkan keingkaran Iblis yang tidak mau mengikuti perintah Allah agar sujud kepada Adam. Diterangkan pula berbagai alasan yang dikemukakan Iblis sehubungan dengan keingkarannya itu. Sikap Iblis yang demikian menunjukkan kebodohan dan kefasikannya, karena:

  1. Ia menentang perintah Tuhannya, sebagaimana yang dipahami dari jawabannya.
  2. Ia mengemukakan alasan-alasan yang sangat lemah. Alasan-alasan itu menunjukkan kebodohannya sendiri.
  3. Ia tidak mau mengikuti perintah Allah dengan mengatakan bahwa ia lebih baik dari Adam.
  4. Alasan yang dikemukakan bahwa ia lebih baik dari Adam merupakan pendapatnya sendiri tanpa alasan yang dapat diterima oleh akal pikiran.

 (Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 34-40


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 25-27

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 25-27 berbicara tentang kehidupan di akhirat, bahwa manusia akan dikumpulkan dari kaum terdahulu hingga yang akan datang dan mereka semua tidak akan luput dari kesaksian serta pertanggung-jawaban atas perbuatan selama hidup di dunia.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 23-24


Dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 25-27 juga menjelaskan tentang penciptaan manusia dan jin, bahwa manusia diciptakan dari tanah, sedangkan jin dan setan diciptakan sebelum manusia dari api yang sangat panas. Ada perdebatan dikalangan ulama terkait penciptaan keduanya, dan pertanyaan apakah benar Adam adalah manusia pertama? Dan siapakah yang lebih dahulu diciptakan antara jin dan setan? Berikut penjelasannya.

Ayat 25

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt akan mengumpulkan semua manusia di akhirat nanti, baik yang terdahulu, sekarang, maupun akan datang. Semua mereka akan ditimbang amal perbuatannya, tidak ada satupun yang tidak ditimbang, karena tidak satupun dari perbuatan itu yang luput dari pengetahuan Allah.

Kemudian Dia memberikan pahala dan pembalasan kepada manusia sesuai dengan perbuatan yang telah mereka lakukan. Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui segala sesuatu.


Baca Juga: Keistimewaan Ka’bah dalam Al-Quran dan Pahala Memandangnya


Ayat 26

Ayat ini menerangkan bahwa setelah menyempurnakan bentuk ciptaan-Nya, Allah lalu meniupkan roh kepadanya. Menurut para saintis, kata Hama’ (lumpur hitam) pada ayat ini mengisyaratkan akan terlibatnya molekul air (H2O) dalam proses terbentuknya molekul-molekul pendukung proses kehidupan.

Seperti diketahui “air” adalah media bagi terjadinya suatu proses reaksi kimiawi/biokimiawi untuk membentuk suatu molekul baru. Kata “yang diberi bentuk”, mengisyaratkan bahwa reaksi biokimiawi yang terjadi dalam media berair itu, telah menjadikan unsur-unsur, yang semula ‘hanya’ atom-atom menjadi suatu molekul organik, yang susunan dan bentuknya tertentu, seperti asam amino atau nukleotida.

Pada ayat yang lain, Allah swt menerangkan kejadian manusia itu:

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ   ١٤  وَخَلَقَ الْجَاۤنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍۚ    ١٥

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap. (ar-Rahman/55: 14-15).

Secara ilmiah, tembikar adalah semacam porcelain, yang dalam proses reaksi kimiawi dapat digunakan sebagai katalis untuk terjadinya proses polimerisasi.

Kata “tanah kering seperti tembikar” mungkin mengisyaratkan terjadinya proses polimerasasi atau reaksi perpanjangan rantai molekul dari asam-asam amino menjadi protein atau dari nukleotida menjadi polinukleotida, termasuk molekul Desoxyribonucleic Acid (DNA), suatu materi penyusun struktur gena makhluk hidup.

Dan firman Allah swt:

اِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ خَالِقٌۢ بَشَرًا مِّنْ طِيْنٍ  ٧١  فَاِذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ  ٧٢

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ”Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.” (Hud/38: 71-72).

Yang dimaksud dengan insan (manusia) dalam ayat ini, ialah Adam a.s. yang merupakan bapak seluruh manusia. Sebagian ahli tafsir berpendapat Adam yang disebut dalam ayat ini bukanlah manusia pertama, karena sebelum itu Allah swt telah menciptakan beribu-ribu Adam.

Tetapi Nabi Adam adalah nabi pertama yang diberi tugas untuk berdakwah kepada manusia agar mengikuti jalan yang benar.

Dalam hadis Nabi diterangkan proses penciptaan Adam itu. Nabi Muhammad saw bersabda:

اِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ اٰدَمَ مِنْ قَبْضَةِ مَنْ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيْعِ اْلاَرْضِ فَجَاءَ بَنُوْ اٰدَمَ عَلَى قَدْرِ اْلاَرْضِ فَجَاءَ مِنْهُمُ اْلاَحْمَرُ وَاْلاَسْوَدُ وَبَيْنَ ذٰلِكَ وَالسَّهْلُ وَالْحَزْنُ وَالطَّيِّبُ وَالْخَبِيْثُ. (رواه أحمد و مسلم عن عائشة)

Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menciptakan Adam dari kepalan tanah yang diambil dari segala macam tanah, maka lahirlah anak Adam menurut kadar tanah itu. Di antara mereka ada yang merah, ada yang hitam, dan ada di antara kedua warna itu. Ada yang mudah, ada yang sukar, ada yang baik, dan ada yang buruk. (Riwayat A¥mad dan Muslim dari Aisyah)

Ayat 27

Allah swt menerangkan bahwa Dia telah menciptakan jin dari api yang sangat panas sebelum menciptakan Adam.

Tentang hakikat api ini, hanyalah Allah yang mengetahui. Sesuai dengan hadis di atas bahwa tabiat manusia itu berbeda-beda menurut keadaan tanah yang membentuk dirinya, maka hal ini dapat dijadikan dalil bahwa tabiat jin itu sesuai dengan tabiat asal kejadiannya.

Sebagaimana api bersifat panas, maka tabiat jin pun demikian pula. Api dengan tiba-tiba dapat menggejolak menjadi besar, kemudian tiba-tiba menjadi susut dan kecil.

Demikian pula jin, suka tergesa-gesa, cepat menjadi marah, suka mempermainkan dan menyakiti manusia, kadang-kadang tunduk dan patuh kepada Allah, tetapi serta merta membangkang dan mendurhakai Allah.

Manusia bersifat sesuai dengan sifat asal kejadiannya, seperti bersifat sabar, suka menumbuhkan, mengembangkan, memelihara dan mencari sesuatu yang baik, suka mengindahkan perintah, mempunyai sifat suka tunduk dan patuh, walaupun kadang-kadang ia durhaka kepada Allah karena tunduk dan mengikuti hawa nafsunya.

Dalam hadis qudsi disebutkan asal kejadian malaikat, jin dan manusia berdasarkan riwayat Aisyah:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: خَلَقْتُ الْمَلاَئِكَةَ مِنْ نُوْرٍ وَخَلَقْتُ الْجَآنَّ مِنْ مَارِجٍ مِنَ النَّارِ وَخُلِقَ اٰدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ. (رواه أحمد و مسلم عن عائشة)

Allah swt berfirman, “Aku telah menciptakan malaikat dari cahaya, dan Aku telah menciptakan jin dari nyala api dan telah diciptakan Adam sebagaimana yang telah diterangkan kepadamu.” (Riwayat Ahmad dan Muslim dari Aisyah)

Jin termasuk makhluk Allah. Sebagaimana makhluk Allah yang lain, maka jin itu ada yang taat kepada Allah dan ada pula yang durhaka, sebagaimana firman Allah swt:

وَّاَنَّا مِنَّا الصّٰلِحُوْنَ وَمِنَّا دُوْنَ ذٰلِكَۗ  كُنَّا طَرَاۤىِٕقَ قِدَدًاۙ

Dan sesungguhnya di antara kami (jin) ada yang saleh dan ada (pula) kebalikannya. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (al-Jinn/72: 11).

Jin itu diberi beban dan tanggung jawab oleh Allah, sebagaimana manusia diberi beban dan tanggung jawab, ia berkembang dan berketurunan. Hanya saja manusia tidak dapat melihatnya, sedang ia dapat melihat manusia.

Karena itu, jin ada yang tunduk patuh kepada Allah, dan ada pula yang durhaka seperti Iblis. Allah swt berfirman:

وَّاَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُوْنَ وَمِنَّا الْقَاسِطُوْنَۗ فَمَنْ اَسْلَمَ فَاُولٰۤىِٕكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

Dan di antara kami ada yang Islam dan ada yang menyimpang dari kebenaran. Siapa yang Islam, maka mereka itu telah memilih jalan yang lurus. (al-Jinn/72: 14).

Menurut Ibnu ‘Abbas, yang dimaksud dengan jin (jin) dalam ayat ini ialah bapak dari segala jin, sebagaimana Adam adalah bapak dari segala manusia. Sedang Iblis adalah bapak dari segala setan. Jin-jin itu juga makan, minum, hidup, dan mati seperti manusia.

Allah swt berfirman:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْاٰتِهِمَا ۗاِنَّهٗ يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (al-A’raf/7: 27);

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 28-33


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 23-24

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Usai menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan bumi. Tafsir Surah al-Hijr Ayat 23-24 kemudian menerangkan tentang kekuasaan Allah yang lain yakni menghidup dan mematikan apa saja yang ada di bumi, termasuk manusia. Dan Allah pula-lah yang mewarisi apa yang ditinggalkan oleh manusia. Lebih jauh, Allah mengetahui dan mengatur kejadian yang akan datang dan yang telah lampau.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 22 (Part 2)


Ayat 23

Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dialah yang menghidupkan manusia jika Ia menghendaki, dan Dia pula yang mematikannya jika Dia menghendaki.

Selanjutnya, sebagaimana dijelaskan Ibnu Jarir at-Thabari dalam tafsirnya, jika semua yang hidup ini telah mati, maka di saat itu hanya Allah sajalah yang hidup, karena hanya Dia sajalah yang kekal. Kemudian Allah membangkitkan manusia kembali untuk ditimbang dan dihitung amal perbuatannya, sebagaimana firman Allah swt:

لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ ۗرَبُّكُمْ وَرَبُّ اٰبَاۤىِٕكُمُ الْاَوَّلِيْنَ

Tidak ada tuhan selain Dia, Dia yang menghidupkan dan mematikan. (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu dahulu. (ad-Dukhan/44: 8)

Ayat 23 ini diakhiri dengan ungkapan wa nahnul-waritsun (dan Kami pulalah yang mewarisi). Al-Qāsimi dalam tafsirnya Mahasin at-Ta’wil menjelaskan bahwa Kami (pulalah) yang mewarisi, maksudnya ialah Kamilah yang masih ada dan menerima atau memiliki semua yang telah ditinggalkan manusia yang telah mati. Istilah  waris ini juga digunakan Nabi dalam doanya:

وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا (رواه الترمذي عن ابن عمر)

Dan jadikanlah dia pewaris dari kita. (Riwayat at-Tirmizi dari Ibnu Umar)


Baca Juga: Mengenal Kitab Asas al-Ta’wil: Kitab Tafsir Yang Disusun Berdasarkan Teologi al-Sab’iyah


Ayat 24

Dalam suatu riwayat yang disampaikan oleh at-Tirmizi dan al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas diterangkan bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan wanita cantik yang salat mengikuti Nabi saw.

Oleh karena itu, sebagian sahabat yang ingin salat mengikuti Nabi saw maju ke saf pertama agar tidak dapat melihat wanita itu. Mereka khawatir dengan melihat muka wanita itu salat menjadi batal.

Sedang sebagian sahabat yang lain mundur ke bagian belakang dengan harapan dapat melihat muka wanita itu di waktu rukuk melalui ketiak mereka. Maka turun ayat ini mencela perbuatan sahabat itu.

Allah swt mengetahui maksud para sahabat yang maju ke saf pertama dan maksud para sahabat yang mundur ke saf belakang.

Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat Nabi sebagai manusia ada yang sangat baik, sangat memelihara salat mereka supaya tidak melihat wanita cantik karena khawatir dapat membatalkan salat.

Akan tetapi, ada yang justru ingin melihat wanita cantik itu. Hal ini adalah wajar dan bersifat manusiawi, serta belum sampai pada perbuatan dosa yang melanggar agama.

Sekalipun ayat ini diturunkan dengan peristiwa di atas, tetapi meliputi juga pengetahuan Allah swt terhadap segala yang tersirat dan tergores di dalam hati seseorang.

Berdasarkan sabab nuzul ini, maka Ibnu ‘Abbas mengartikan al-mustaqdimun wal-musta’khirun sebagai keutamaan salat pada saf terdepan dibandingkan dengan salat pada saf paling belakang.

Sebagian ulama mengartikannya dengan pengetahuan terhadap manusia yang diciptakan lebih dulu, manusia sekarang, dan manusia yang diciptakan belakangan.

Arti lain dari al-mustaqdimun wal-musta’khirun adalah Allah mengetahui masa lampau dan masa mendatang manusia. Ada pula ulama yang mengartikan al-mustaqdimun sebagai orang-orang yang bersegera melakukan kebaikan, dan al-musta’khirun dengan arti sebaliknya.

Pada ayat ini, Allah swt menegaskan bahwa Dialah yang Mahakuasa mengetahui semua yang terdahulu beserta peristiwa yang telah terjadi dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Dia mengetahui apa yang ada sekarang ini, dan mengetahui apa yang terjadi pada masa yang akan datang, tidak satu pun kejadian yang tidak diketahui-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 25-27


Resepsi Al-Qur’an Masyarakat Gogodalem: Khataman Rabu Pon

0
Resepsi Al-Qur’an Masyarakat Gogodalem: Khataman Rabu Pon
Khataman Rabu Pon Masyarakat Gogodalem

Resepsi (penerimaan) simbolis terhadap sebuah karya sastra pada dasarnya terjadi secara dinamis. Karena manusia sebagai pelaku resepsi juga diciptakan secara beragam, kendati tumbuh dan besar dalam kultur yang sama. Buah dari kedinamisan ini yang boleh jadi menyebabkan adanya perkembangan dalam bentuk resepsi, pemunculan model baru misalnya. Apa yang hendak penulis ulas ini barangkali dapat menjadi contoh perkembangan resepsi sebagaimana dimaksud. Resepsi Al-Qur’an sebagai seperangkat simbol-simbol.

Namun demikian, perlu dicatat sebelumnya bahwa ketika penulis mengatakan ‘resepsi terhadap Al-Qur’an’, bukan berarti penulis mengklaim Al-Qur’an sebagai sebuah ‘karya sastra’. Tetapi lebih kepada penjelasan kemungkinan adanya resepsi Al-Qur’an dikarenakan wujudnya yang menyastra.

Selapanan Malam Rabu Pon

Jika term tradisi hanya boleh disematkan kepada sesuatu yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang, sebagaimana KBBI menyebutkan, praktek ini mungkin belum boleh disebut sebagai tradisi. Namun jika menilik tradisi sebelumnya dan prediksi akan mentradisinya praktek ini, boleh lah kita sebut praktek ini sebagai tradisi.

Termasuk bagi masyarakat Gogodalem, tradisi ini memang terbilang cukup baru mengingat perjalanannya yang baru berusia 8 lapan (hingga tulisan ini dibuat). Lapan atau selapan sendiri adalah hitungan kalender Jawa berjumlah 35 hari. Diambil dari hasil perkalian jumlah hari yang ada 7 dengan jumlah pasaran yang ada 5. Namun demikian, akar dari tradisi ini sesungguhnya cukup kuat, yakni tradisi khataman mushaf Blawong yang diselenggarakan setiap tanggal 19 Sya‘ban, sehari sebelum haul awliya’ Gogodalem diadakan.

Karena ‘mengakar’ dari tradisi sebelumnya yang serupa, maka agenda utamanya juga tidak jauh berbeda, yakni khataman mushaf Blawong. Bedanya, tradisi baru ini diadakan selapan sekali, setiap malam Rabu Pon, dengan jumlah yang dibaca dari mushaf Blawong hanya satu juz setiap selapan-nya. Oleh karenanya tradisi ini sering disebut dengan selapanan malam Rabu Pon.

Baca juga: Mengenal Mushaf Al-Qur’an Blawong Gogodalem yang Dianggap Mistis (Part 1)

Memang ada baiknya jika sebelum mengulas tradisi ini, terlebih dahulu penulis mengulas tradisi khataman 19 Sya‘ban, supaya tidak terjadi jumping. Namun karena waktu penyelenggaraannya yang hanya setahun sekali, penulis belum berkesempatan mengikutinya secara langsung untuk kemudian mengamati dan menjelaskan detail ritualnya.

Ritual Tradisi

Rangkaian selapanan malam Rabu Pon ini dimulai usai dilakukannya salat Isya’ di Masjid At-Taqwa. Jamaah dan beberapa ‘tamu’ dari wilayah lain yang berminat mengikuti akan berkumpul bersama-sama di serambi masjid. Mereka duduk bersama membentuk lingkaran dengan jamaah perempuan menempati bagian selatan dan laki-laki di bagian utara. Terkadang ruang yang dipakai bahkan sampai pada teras luar masjid karena saking banyaknya peserta.

Usai menunggu Pak Kiai dan kehadiran peserta juga dianggap telah mencukupi, acara kemudian dimulai oleh seorang MC, membacakan susunan acara yang akan berlangsung.

Acaranya sendiri sebenarnya sangat fleksibel. Seperti kesempatan yang penulis ikuti saat itu, acara yang diselenggarakan sekaligus diperuntukkan peringatan Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad Saw. Sehingga acara yang umumnya hanya terdiri dari khataman, tahlil dan doa, kini ditambah dengan mau‘idzoh hasanah.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, selapanan malam Rabu Pon ini merupakan versi mini dari khataman 19 Sya‘ban, karena itu, jumlah yang dibaca dari mushaf Blawong juga hanya satu juz secara berurutan setiap selapan-nya. Kebetulan yang penulis ikuti saat itu sampai pada juz ke-8.

Adalah KH. Saifuddin yang mendapat kehormatan membaca mushaf Blawong. Kiai Saifuddin memang sudah menjadi ‘pembaca tetap’ pada setiap acara yang berkaitan dengan pembacaan mushaf Blawong, seperti pada khataman 19 Sya‘ban dan selapanan malam Rabu Pon. Beliau sendiri adalah pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Muta‘allimin yang juga dzuriyah awliya’ Gogodalem.

Sementara sisa juz yang tidak dibaca dari mushaf Blawong dibaca dengan Al-Qur’an juz-juzan yang dibagi secara sukarela kepada sejumlah volunteer yang hadir, seperti khataman lainnya. Mereka yang tidak kebagian jatah akan membaca surat Yasin, memperbanyak bacaan surat Al-Ikhlas atau zikir-zikir lain seperti sholawat. Dan ketika semua bacaan telah selesai, Kiai Saifuddin selaku imam ritual akan memberikan komando untuk bersama-sama membaca serangkaian bacaan tahlil dan menutup ritual dengan doa khatam Al-Qur’an.

Baca juga: Mengenal Kajian Resepsi-Living Qur’an Ahmad Rafiq

Bentuk Resepsi Masyarakat

Penulis mengamati bahwa selapanan malam Rabu Pon ini merupakan bentuk resepsi Al-Qur’an oleh masyarakat secara umum dan mushaf Blawong secara khusus. Masyarakat percaya bahwa pembacaan terhadapnya merupakan salah satu media ber-tawasul, menyelesaikan masalah-masalah yang masyarakat tengah hadapi, seperti Covid-19 atau spesifik pada masalah yang melanda wilayah pertanian Gogodalem, yakni hama tikus dan lain sebagainya.

Selain tawasul, tradisi khataman juga dipahami sebagai wujud tabarukan bacaan Al-Qur’an secara umum dan mushaf Blawong secara khusus. Hal ini dapat dilihat pada perilaku warga yang membawa air minum dalam botol-botol untuk ditaruh di depan pembaca mushaf Blawong.

Juga menjadi ajang bersedekah. Terlihat bagaimana masyarakat membawa jamuan masing-masing untuk dinikmati bersama-sama. Menurut penuturan Kiai Ahsin, acara selapanan yang digabung dengan Isra’ Mi‘raj ini terbilang acara besar sehingga jamuannya juga berupa makan besar, nasi tumpeng. Tetapi jika murni acara khataman biasanya hanya dicukupkan dengan snack atau makanan ringan.

Sepanjang perjalanan acara, penulis menyaksikan bagaimana acara ini mampu membangun kedekatan interaksi antar elemen masyarakat. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, kiai dan masyarakat awam, pejabat atau warga sipil, kesemuanya bersatu padu nyengkuyung berlangsungnya acara yang menjadi warisan leluhur Gogodalem.

*****

Terlihat bagaimana sebuah ritual tradisi khataman memiliki muatan nilai-nilai yang sangat kompleks. Tak hanya resepsi terhadap mushaf Al-Qur’an Blawong dan awliya’ yang mendiami Gogodalem. Lebih dari itu, syarat akan rasa persaudaraan dan persatuan. Bagaimana kesemuanya itu diramu dalam sebuah ritual seremonial berbentuk resepsi Al-Qur’an. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

Penulis mengajak kepada seluruh pembaca mengunjungi Desa Gogodalem dan mengikuti secara langsung setiap acara yang diselenggarakan disana, entah itu selapanan malam Rabu Pon, mujahadah Ahad Pahing, khataman 19 Sya‘ban atau haul awliya’ Gogodalem, atau sekadar berziarah di makam Sentono, makam para wali Gogodalem.

Baca juga: Tradisi Wirid Yasin di Gogodalem, Semarang

Sa’id Hawwa: Penulis Kitab al-Asas fi al-Tafsir yang Bercorak Sufistik

0
Sa'id Hawwa
Sa'id Hawwa

Sa’id Hawwa merupakan seorang pemikir muslim kontemporer asal Syria atau Suriah. Ia adalah pemikir, mufasir, ahli fikih, dan aktivis terkemuka Ikhawanul Muslimin. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai sufi yang concern terhadap persoalan jiwa manusia. Karena kompetensinya tersebut, Hawwa dianggap sebagai salah satu tokoh muslim berpengaruh abad 20 (Awakening Islam: The Politics of Religious Dissent in Contemporary Saudi Arabia).

Nasab lengkapnya adalah Sa’id bin Muhammad Dib bin Mahmud Hawwa al-Nu’aimiy dan memiliki nama panggilan Abu Muhammad. Ia dilahirkan di Kota Hamah, Syria pada tahun 1935. Menurut otobiografi Hawwa yakni Hadzihi Tajribati wa Hazdzihi Syahadati, keluarga ayahnya adalah keturunan dari suku al-Na`im, yang silsilahnya bersambung kepada Nabi Muhammad, sedangkan keluarga ibunya berasal dari marga al-Muwali.

Masa kecil Sa’id Hawwa cukup sulit dan memilukan, karena pada usia dua tahun ibunya sudah meninggal dunia. Di sisi lain, Ayahnya yang berjuang melawan penjajah Prancis diasingkan secara paksa akibat perseteruan politik. Alhasil, Sa’id Hawwa kecil tumbuh besar di bawah asuhan sang nenek hingga ayahnya kembali ke Hamah (Sa’id Hawwa: The Making of a Radical Muslim Thinker in Modern Syria).

Bisa dikatakan bahwa masa muda Sa’id Hawwa dikelilingi ketidakstabilan situasi politik dan berbagai keterbatasan lainnya. Namun itu semua tidak membuatnya berputus asa dan terkebelakang. Sejak kecil Hawwa gemar menuntut ilmu pengetahuan, terutama ilmu agama. Karena itulah, ia tumbuh menjadi sosok yang mulia dan berpengetahuan.

Semasa muda, Sa’id Hawwa berguru dengan beberapa ulama besar Syria, di antaranya: Syekh Muhammad al-Hamid, Syekh Muhammad al-Hasyimi, Syekh Abdul Wahab Dabas, Syekh Ahmad al-Murad, dan Syekh Muhammad Ali Murad. Di antara nama-nama tersebut, Syekh Muhammad al-Hamid adalah guru yang paling berpengaruh bagi Hawwa, terutama berkenaan dengan pemikiran tasawufnya.

Baca Juga: Biografi Mahmud Syaltut: Tokoh Perintis Penerapan Tafsir Tematis

Pada tahun 1955, Sa’id Hawwa mendaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Islam Universitas Damaskus. Di sana ia mendapatkan bimbingan beberapa guru seperti Mustafa al-Siba’i. Pada saat bersamaan, Hawwa juga melanjutkan pendidikan tasawuf di bawah bimbingan sejumlah syekh di Damaskus, yang paling terkenal di antaranya adalah Abdul Karim al-Rifa’i dari Masjid Zaid bin Tsabit.

Setelah lulus pada tahun 1961, Sa’id Hawaa lalu menjabat sebagai guru sekolah yang bertanggung jawab atas pembelajaran agama di sebuah kota provinsi al-Hasaka dan kemudian di Kota Salamiyah, berdekatan dengan kota Hamah. Kedekatan kedua kota ini memungkinkan Hawwa untuk tetap aktif dalam gerakan politik di sana dan memainkan peran penting pada kelompok Ikhwanul Muslimin.

Karena meningkatnya ketegangan antara rezim Ba’thist dan Ikhwanul Muslimin di Suriah, Sa’id Hawwa menghabiskan periode antara 1966 dan 1971 di Arab Saudi, di mana ia menulis karya-karya besar pertamanya, termasuk salah satu kitab yang menjadi karya masyhurnya, yakni Jund Allāh Tsaqāfatan wa Akhlāqan (Prajurit Tuhan, Secara Budaya dan Moral).

Sa’id Hawwa baru kembali ke Syria atau Suriah pasca tahun 1971 di mana Detente mengambil Alih kekuasaan. Pada saat itu, Hawwa kembali aktif dalam pergerakan politik dan menggalang para ulama Suriah untuk menentang konstitusi permanen yang diusul Asad. Sebagai akibatnya, ia dipenjarakan di Mezzeh, Damaskus selama lima tahun. Selama ditahan, Hawwa menyelesaikan beberapa karya, termasuk al-Asas fi al-Tafsir.

Selain al-Asas fi al-Tafsir, sepanjang hidupnya Sa’id Hawwa juga menuliskan banyak karya, di antaranya: Allah Jalla Jalaluhu, al-Rasul Shalla Allah alaihi wa al-sallam, al-Islam, al-Asas fi al-Sunnah, al-Asas fi Qawa’id al-Ma’rifah wa Dawabith al-Fahm li al-Nushush, Jaulat fi Fiqhain al_kabir wa al-Akbar, Tarbiyatuna al-Ruhiyah, al-Mustakhlash fi Tazkiya al-Anfus, Mudzakarat fi Manazil al-Shiddiqin wa al-Rabbaniyin, dan fi Afaq al-Ta’lim.

Para sarjana kontemporer berbeda pendapat mengenai orientasi intelektual Sa’id Hawwa. Emmanuel Sivan dalam Radical Islam: Medieval Theology and Modern Politics menyebut Hawwa sebagai “Murid” Sayyid Quthb yang mendukung revolusi Islam. Hal senada disampaikan oleh Stephane Lacroix dalam Awakening Islam: The Politics of Religious Dissent in Contemporary Saudi Arabia. Menurutnya, Hawwa adalah “Convinced Qutbist” atau pengikut setia Quthb.

Di sisi lain, Itzchak Weismann dalam tulisannya Sa’id Hawwa: The Making of a Radical Muslim Thinker in Modern Syria menyebut Hawwa bukanlah pengikut setia pemikiran Quthb, karena ia menolak banyak ide-ide Quthb meskipun pada satu-dua aspek keduanya serupa. Weismann menambahkan, “seluruh kegiatan politik Hawwa di Suriah bertujuan untuk mengekang pengaruh Mawan hadid, orang yang telah membawa pemikiran Quthb ke Suriah.”

Sedangkan Michael Cook menyebutkan dalam The Koran: A Very Short Introduction, Sa’id Hawwa sebenarnya tidak sepenuhnya sama dengan Quthb. Di sana ia menyoroti perbedaan keduanya, terutama pandangan tafsir. Cook menyimpulkan bahwa Hawwa mengambil posisi yang lebih tradisonalis atau literalis dan tidak lebih moderat daripada Quthb. Selain itu, ia juga melemparkan beberapa kritik terhadap penafsiran Hawwa yang dianggapnya radikal.

Sekilas Tentang Kitab Al-Asas Fi Al-Tafsir

Kitab tafsir Sa’id Hawwa berjudul al-Asas fi al-Tafsir. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, maka maknanya adalah dasar dalam penafsiran. Dinamakan demikian, karena kitab ini sangat memperhatikan hal-hal mendasar dalam penafsiran Al-Qur’an seperti hubungan antar ayat yang memiliki kesesuaian atau biasa disebut munasabah.

Al-Asas fi Al-Tafsir
Al-Asas fi Al-Tafsir karya Sa’id Hawwa

Kitab al-Asas fi al-Tafsir ditulis Sa’ide Hawwa ketika berada dalam penjara Mezzeh. Damaskus, setelah menentang pemerintahan keluarga Asad di Suriah. Kitab ini ditulis dengan beberapa tujuan, yakni: Sa’id Hawwa ingin mengembangkan lebih luas konsep munasabah; anti-tesis terhadap pemahaman baru terhadap teks Al-Qur’an; melawan syubhat dan pertentangan terhadap Al-Qur’an; dan ingin mendekatkan muslim kembali dengan Al-Qur’an.

Kitab al-Asas fi al-Tafsir merupakan karya monumental Sa’id Hawwa yang terdiri dari sebelas jilid tebal. Hal ini mencerminkan komitmennya yang bertujuan untuk mengali hubungan  ayat dan surah Al-Qur’an. Bahkan dalam pengantarnya, Hawwa menulis satu sub-bab khusus berjudul al-Wahdah al-Qur’aniyyah yang berisi tentang prinsip kesatuan ayat dan surah Al-Qur’an.

Secara umum, kitab al-Asas fi al-Tafsir memiliki empat tujuan esensial sebagaimana disampaikan Sa’id Hawwa dalam mukadimah-nya, yaitu: menjelaskan aspek akidah atau (ushuluddin), fikih, ruhiyyah dan sulukiyyah. Dua aspek terakhir merupakan pemaparan tentang kajian tasawuf dan perilaku sufi dalam menempuh jalan tasawuf. Maka tak heran, tafsir ini sangat bernuansa sufistik.

Sama seperti kitab tafsir yang tebal pada umumnya, kitab Kitab al-Asas fi al-Tafsir menggunakan metode tahlili dan berdasarkan tartib mushafi. Namun dengan catatan, metode tahlili-nya tersebut berorientasi pada kesatuan ayat dan surah Al-Qur’an. Sebagai contoh, ketika hendak menafsirkan sebuah surah, Hawaa selalu memberikan pendahuluan yang berisi tentang munasabah surah tersebut dengan surah lainnya.

Secara spesifik, metode penafsiran Sa’ide Hawwa dapat dapat diringkas dalam empat langkah, yakni: pertama, menampilkan beberapa ayat sesuai kelompok munasabah-nya. Ayat-ayat Surah panjang biasanya tergabung pada satu maqta dengan beberapa faqrah. Sedangkan ayat-ayat surah pendek – biasanya surah madaniyah) hanya terbagi kepada satu maqta atau faqrah saja.

Ketika menafsirkan surah Al-Qur’an, Sa’ide Hawwa biasanya terlebih dahulu menjelaskan profil surah tersebut, mulai dari nama surah, tema surah, klasifikasi surah, hubungan dengan surah lain atau kandungan surah secara global. Selain itu, Hawwa biasanya juga menjelaskan riwayat-riwayat yang menerangkan tentang asbab al-nuzul surah.

Kedua, menafsirkan ayat. Pada tahap ini, Sa’id Hawwa menjelaskan makna setiap ayat yang sudah dikelompokkan secara harfiah dan global berdasarkan teks ayat, tinjauan kebahasaan dan uslub. Dalam hal ini Hawwa sering menggunakan rujukan kitab tafsir seperti al-nasafi, Ibnu Katsir, Sayyid Quthb dan al-Alusi. Bisa dikatakan bahwa penafsiran Hawwa tidak terlalu panjang dan tidak pula terlalu pendek seperti Tafsir Jalalain.

Baca Juga: Mohamed Talbi: Penggagas Hermeneutika Historis Humanistik

Ketiga, menjelaskan hubungan susunan ayat (Munasabah). Pada tahap ini, Sa’id Hawwa melakukan kajian terhadap struktur ayat dalam surah. Ia biasanya akan menerangkan tentang hubungan antar faqrah atau maqta dan ayat-ayat lain yang berkaitan. Uraian tentang ini dikemukakan dengan istilah fi al-siyaq. Bisa dikatakan bahwa tahap inilah yang menjadi sumbangsih utama Hawwa.

Keempat, menjelaskan hikmah ayat. Bagian ini dikenal dengan istilah fawaid. Poin ini merupakan upaya penafsiran yang lebih luas dan komprehensif Sa’id Hawwa sebagai seorang mufasir sekaligus sufi berdasarkan konteks ayat. Namun, terkadang pada bagian ini juga terdapat poin tambahan dari penjelasan Hawwa sebelumnya seperti aspek munasabah dan asbab al-nuzul.

Terlepas dari latar belakang dan orientasi keilmuan Sa’ide Hawwa yang dianggap radikal dan konservatif, pemikiran-pemikirannya telah memberi banyak sumbangsih dalam kajian keislaman, terutama di bidang tafsir tentang kesatuan Al-Qur’an dan bidang tasawuf berkenaan tazkiyat al-nafs. Tokoh berpengaruh ini wafat pada tahun 1980 di Amman akibat komplikasi penyakit. Wallahu a’lam.

Berikut Tips Beristikamah dari Tafsir Ayat tentang Istikamah

0
tips beristikamah
tips beristikamah

Salah satu ayat Al-Quran yang memerintah senantiasa beristikamah di jalan Allah yaitu QS. Fushshilat [41]: 6:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadanya (istikamah) dan mohonlah ampun kepadanya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya.

Ad beberapa hal penting yang disampaikan oleh Allah di dalam ayat di atas, yaitu:

  1. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menyatakan bahwa dirinya adalah manusia biasa, seperti umatnya. Yang membedakan beliau dengan umatnya hanya satu, yaitu beliau diberi wahyu oleh Allah Swt.
  2. Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyatakan bahwa Tuhannya adalah Allah Swt, Tuhan umatnya juga adalah Allah Swt., dan Tuhan seluruh umat manusia adalah Allah Swt. Karena, Dialah yang pantas disembah.
  3. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk memerintahkan kepada seluruh umatnya agar menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa itu, dan tetap senantiasa berada di jalan-Nya, jalan yang lurus. Jika umat melakukan yang demikian, maka mereka menjadi manusia yang beruntung.
  4. Allah menyatakan di dalam ayat ini bahwa kecelakaan yang sangat besar bagi manusia yang menyekutukan Allah dan tidak berada di jalan-Nya.

Baca Juga: Apa Saja Jaminan Allah dalam Al-Quran untuk Mereka yang Istikamah?

Sikap istikamah dari seseorang, bisa jadi tinggi pada saat tertentu, boleh jadi berada pada tingkat menengah pada saat tertentu, dan pada saat yang lain bisa rendah. Menjaga sikap istikamah agar tetap stabil pada tingkat yang sangat tinggi memang berat. Untuk menstabilkan sikap istikamah itu, perlu ada upaya-upaya yang dilakukan oleh setiap orang. Berikut tips beristikamah sekaligus hal-hal yang melemahkannya.

Penyebab rendahnya istikamah

Istikamah seseorang bisa menjadi meningkat, dan bisa juga menjadi lemah atau rendah. Hal-hal yang menyebabkan rendahnya istikamah di dalam diri seseorang ialah:

  1. Rendahnya kadar keimanan kepada Allah. Kadar iman yang rendah dapat menjadikan istikamah itu menjadi rendah. Sebaliknya, kadar iman yang kuat akan mendorong istikamah itu menjadi kuat. Ini berarti bahwa pada saat tertentu istikamah bisa menjadi kuat dan pada saat yang lain istikamah menjadi rendah.
  2. Rendahnya komitmen untuk menerima semua anugerah Allah, baik anugerah yang baik dalam bentuk nikmat maupun anugerah yang tidak menyenangkan dalam bentuk ujian dan cobaan Allah. Komitmen untuk menerima semua anugerah Allah akan menyebabkan kadar istikamah seseorang menjadi kuat. Karena itu, terima dengan tulus dan ikhlas apa ayang telah dianugerahkan Allah kepadamu.
  3. Kurangnya pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan. Pengetahuan yang banyak tentang kedua hal itu, akan mendorong seseorang untuk lebih meningkatkan sikap istikamahnya. Karena itu, kita harus belajar terus tentang kebaikan dan keburukan. Kebaikan yang ada dalam pengetahuan kita harus kita amalkan. Keburukan yang ada di dalam pengetahuan harus kita hindari.
  4. Tidak bergaul dengan orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang memiliki sifat istikamah. Bergaullah dengan para ulama dan orang-orang yang memiliki sifat istikamah, agar kita dapat meneladani mereka.
  5. Tergoda oleh kenikmatan sesaat yang bersifat duniawi, sehingga melalaikan kenikmatan akhirat yang hakiki dan kekal abadi. Hati-hatilah dengan kenikmatan yang  diperoleh. Semua kenikmatan akan memudahkan seseorang untuk melupakan Pemberi nikmat. Kenikmatan yang hakiki, yaitu kenikmatan di alam akhirat harus kita perhatikan dengan melakukan amal yang terbaik.
  6. Mudah terpengaruh oleh keadaan, tanpa mempertimbangkan keuntungan yang lebih bermanfaat bagi dirinya. Jangan mudah terpengaruh oleh keadaan yang ada di sekeliling kita. Orang yang mudah terpengaruh oleh keadaan akan menyebabkan rendahnya tingkat istikamahnya.

Baca Juga: Sabar dan Tekad Kuat, Kunci Sukses Menjadi Pemimpin

Tips beristikamah

Sementara itu, agar seseorang senantiasa memiliki sifat istikamah, maka ia harus melakukan berbagai hal, di antara tips beristikamah sebagai berikut:

  1. Tingkatkan iman dengan senantiasa berzikir kepada Allah. Sebab, zikir akan meningkatkan iman. Orang yang kurang berzikir kepada Allah, imannya menurun. Orang yang tidak pernah berzikir, dapat dipastikan imannya berada pada titik nadir, yang sangat rendah.
  2. Tingkatkan ilmu dengan senantiasa mencari dan menuntutnya. Ilmu yang bertambah akan membuat wawasan seseorang menjadi bertambah luas dan dalam. Ilmulah yang mengantarkan seseorang dapat memahami, mendalami, dan menghayati sesuatu. Orang yang rendah ilmunya, pemahaman, penghayatan, dan pendalamannya menjadi berkurang.
  3. Tingkatkan amal dengan melaksanakan berbagai perintah Allah, baik yang wajib maupun yang sunat. Amalan yang wajib membuat kita bertambah cinta kepada Allah, dan amal yang sunat akan membuat kita dicintai oleh Allah. Bertambah banyak dan istikamah seseorang melakukan amal wajib, maka cinta kepada Allah bertambah kuat. Bertambah banyak seseorang melaksanakan amal sunat, maka cinta Allah pun akan bertambah kepadanya. Seseorang meningkatkan amal sesuai dengan pengetahuan dan kemampuannya.
  4. Perbanyak berzikir kepada Allah, dengan melaksanakan berbagai macam amal saleh, baik amal badaniah, seperti salat, amal batiniyah (nafsiyah) seperti puasa, amal lisaniah, mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, dan amal qalbiah, dengan zikir sirri. Berzikir membuat hatimu menjadi tenang dan tidak gampang berbalik.
  5. Perbanyak amal saleh karena amal saleh merupakan obat penyubur bagi hati untuk istikamah. Amal saleh itu akan melahirkan kebaikan bagi diri sendiri, kebaikan bagi orang lain, dan kebaikan bagi Tuhannya. Kesalihan yang dilakukan seseorang akan menjadikan hatinya menjadi stabil, tidak mudah terombang-ambing.
  6. Jangan mudah terpancing dengan godaan yang hanya bersifat duniawi, bersifat sesaat. Pancingan yang mengarah kepada keduniaan begitu banyak, datang dari segala sisi, dari atas, dari depan, belakang, dari arah kanan juga arah kiri. Pancingan itu datang dari berbagai pihak, dari hawa nafsu kita  sendiri, dari orang lain yang ada di sekitar kita, dari barang-barang yang menyilaukan kita, dan dari setan yang senantiasa menggoda.
  7. Kuatkan komitmen bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan kehidupan dunia kekal abadi. Ingatlah bahwa hidup di dunia ini hanya sesaat dan sebentar. Gunakan kesempatan sesaat itu beramal untuk akhirat. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal dan abadi, tidak ada ujungnya. Kebahagiaan akhirnya akan dapat diraih, jika kita melakukan kebaikan-kebaikan ketika masih berada di dunia ini.
  8. Bergaullah dengan orang yang berilmu dan yang memiliki sifat istikamah. Bersama dengan orang-orang yang berilmu, akan menyebabkan seseorang dapat menimba ilmunya, dan dengan cara ini ia mendapat keberkatan. Bergaul dengan orang-orang yang memiliki sifat istikamah akan membuat seseorang mendapat keteladanan darinya. Keteladanan yang baik hanya didapat dari orang-orang yang baik.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat 18:  Intropeksi Diri, Manajemen Waktu, dan Tabungan Kebaikan dalam Al Quran

Iman yang kuat akan menguatkan istikamahmu. Iman yang rendah akan menurunkan istikamahmu. Perkuatlah imanmu dengan banyak berzikir. Kekuatan iman, ilmu, amal dan dzikirmu memperkuat istikamahmu. Kelemahan iman, ilmu, amal dan zikirmu melemahkan istikamahmu.

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 22 (Part 2)

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Setelah sebelumnya dijelaskan tentang manfaat hujan yang berperan dalam siklus terjadinya hujan. Maka, dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 22 (Part 2) dijelaskan tentang peran lain dari hujan, yakni tentang fenomena botanik yang dikenal dengan penyerbukan atau persarian yang terjadi pada tumbuhan dan buah-buahan.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 22 (Part 1)


Selai itu, Tafsir Surah al-Hijr Ayat 22 (Part 2) juga menjelaskan peran lain dari hujan yaitu sebagai pembersih debu pada tumbuhan, sehingga tumbuhan tersebut dapat bernafas dengan baik dan tumbuh besar, dan bisa memberikan manfaat bagi mahluk lain, hingga manfaat itupun bisa manusia rasakan.

Ayat 22 (Part 2)

  1. Allah swt mengembuskan angin yang menerbangkan tepung sari dari beragam bunga. Maka hinggaplah tepung sari jantan pada putik bunga, sehingga terjadilah perkawinan yang memunculkan bakal buah, dan buah-buahan menjadi masak terasa yang lezat dan nikmat bagi manusia serta bijinya dapat tumbuh dan berbuah pula di tempat lain.

Menurut kajiian ilmiah, ayat diatas nampaknya memberikan isyarat tentang proses fenomena botanik yang dikenal dengan penyerbukkan atau persarian. Pada tumbuhan berbiji terbuka (gymnospermae) maka penyerbuk-an atau persarian adalah peristiwa jatuhnya serbuk sari (pollen) pada liang bakal biji (microphyl) yang berhubungan langsung dengan bakal-biji.

Sedangkan pada jenis tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae), maka penyerbukan atau persarian adalah peristiwa jatuhnya serbuk sari (pollen) dari benang sari (stamen) ke kepala putik (stigma). Penyerbukan kemudian diikuti dengan pembuahan atau fertilisasi. Inilah proses perkawinan di dunia botani (tumbuh-tumbuhan).

Penyerbukan memerlukan perantara atau vektor. Berdasarkan perantara atau vektor, maka proses penyerbukan dikelompokkan menjadi penyerbukan oleh angin, air, atau hewan/ serangga. Kalimat dalam ayat diatas yang berbunyi “Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan”, mengisyarat-kan peristiwa penyerbukan dengan perantaraan angin, yang dalam bahasa ilmiah dikenal sebagai anemophily atau anemogamy.

  1. Hembusan angin dapat membersihkan kotoran debu yang hinggap pada batang dan daun tumbuh-tumbuhan, sehingga tumbuh-tumbuhan itu mudah bernafas dan menjadi besar, serta daunnya mudah menyerap sinar matahari yang menambah kekokohan dan kesuburannya.

Hal ini memberikan pelajaran bagaimana manusia membuat perkawinan buatan pada berbagai macam pohon bunga dan buah-buahan. Dengan cara itu dapat dihasilkan bunga dengan buah yang banyak.

Bahkan dengan perkawinan silang antar beberapa jenis buah, dapat dihasilkan bunga yang lebih indah dan lebih banyak warna, serta buah yang lebih lezat atau lebih besar ukurannya.

Dari perkawinan buatan pada tumbuh-tumbuhan, manusia kemudian dapat mengembangkan perkawinan buatan pada beberapa binatang ternak seperti sapi, kambing, kuda, dan lain-lain.


Baca Juga : Inilah Empat Manfaat Hujan dalam Al Quran


Perkawinan buatan ini menghasilkan ternak yang lebih besar dan banyak dagingnya, serta lebih tahan terhadap penyakit. Demikian jika manusia mau belajar dari petunjuk-petunjuk Allah dalam ayat-ayat Al-Qur’an.

Nikmat Allah swt yang lain yang berhubungan dengan air yang diturunkan-Nya dari langit sebagaimana tersebut dalam ayat ini ialah: Allah menurunkan hujan dari langit, kemudian air itu dijadikan bagi manusia sebagai minuman yang dapat melepaskan dahaga, sebagaimana firman Allah swt:

اَفَرَءَيْتُمُ الْمَاۤءَ الَّذِيْ تَشْرَبُوْنَۗ ٦٨ءَاَنْتُمْ اَنْزَلْتُمُوْهُ مِنَ الْمُزْنِ اَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُوْنَ   ٦٩  لَوْ نَشَاۤءُ جَعَلْنٰهُ اُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُوْنَ   ٧٠

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur? (al-Waqi’ah/56: 68-70).

Dan firman Allah swt:

وَهُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ الرِّيٰحَ بُشْرًاۢ بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهٖۚ وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً طَهُوْرًا ۙ ٤٨ لِّنُحْيِ َۧ بِهٖ بَلْدَةً مَّيْتًا وَّنُسْقِيَهٗ مِمَّا خَلَقْنَآ اَنْعَامًا وَّاَنَاسِيَّ كَثِيْرًا   ٤٩

Dan Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang sangat bersih, agar (dengan air itu) Kami menghidupkan negeri yang mati (tandus), dan Kami memberi minum kepada sebagian apa yang telah Kami ciptakan, (berupa) hewan-hewan ternak dan manusia yang banyak. (al-Furqan/25: 48-49).

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa Allah yang mengatur air hujan kapan diturunkan dan di kawasan mana sesuai dengan kehendak-Nya. Akan tetapi, manusia bertugas mengatur pemakaian dan penyimpanan air di bumi supaya hujan yang merupakan rahmat itu tidak berubah menjadi bencana.

Dengan kehendak-Nya, Allah menganugerahkan air kepada manusia, sehingga mereka dapat minum, mencuci, mengairi sawah dan ladang, dan memberi minum binatang ternak.

Air itu mengairi sungai-sungai, danau-danau, dan lautan yang dapat dilayari manusia dan menjadi salah satu sumber rezeki dan kehidupan yang tidak habis-habisnya. Jika Allah swt menghendaki, disimpan-Nya air itu di dalam tanah atau di perut bumi yang dapat digali dan dipompa oleh manusia yang memerlukannya, terutama pada musim kemarau. Hal ini diterangkan Allah swt dalam firman-Nya yang lain

وَاَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۢ بِقَدَرٍ فَاَسْكَنّٰهُ فِى الْاَرْضِۖ وَاِنَّا عَلٰى ذَهَابٍۢ بِهٖ لَقٰدِرُوْنَ ۚ

Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya. (al-Mu’minun/23: 18).

Dan firman-Nya:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَسَلَكَهٗ يَنَابِيْعَ فِى الْاَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهٖ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا اَلْوَانُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهٗ حُطَامًا ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ

Apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal sehat. (az-Zumar/39: 21)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Ibrahim Ayat 23-24