Beranda blog Halaman 313

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 20-21

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 20-21 masih berbicara tentang kekuasaan Allah di bumi. Sama halnya dengan di langit, di bumi pun Allah-lah yang menjaga segala ciptaan-Nya. Ia yang memberi rezeki kepada setiap mahluk baik tumbuhan dan hewan, demi membahagiakan manusia supaya bisa memberikan nafkah kepada keluarganya.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 17-19


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 20-21 juga ditegaskan bahwa segala SDA dan SDM yang ada di bumi merupakan ciptaan Allah dan berada dalam kekuasaan-Nya. Keduanya saling terpaut sehingga manusia harus berusaha dan berkerja keras untuk mengolah SDA tersebut.

Selain itu tafsir surah al-Hijr Ayat 20-21 juga mengingatkan manusia sebagai khalifah fi al-Ardh agar selalu berdoa dan bertaubah, meminta ampun kepada-Nya jika terdapat kekeliruan saat menjalani tugas sebagai khalifah. Untuk itu, manusia harus adil, jujur, dan amanah dalam menjalankan tugas tersebut.

Ayat 20

Ayat ini menerangkan anugerah Allah swt yang tidak terhingga kepada manusia, yaitu Dia telah menciptakan bermacam-macam keperluan hidup bagi manusia. Dia telah menciptakan tanah yang subur yang dapat ditanami dengan tanam-tanaman yang berguna dan merupakan kebutuhan pokok baginya.

Dia menciptakan air yang dapat diminum dan menghidupkan tanam-tanaman. Dia juga menciptakan burung yang beterbangan di angkasa yang dapat ditangkap dan dijadikan makanan yang enak dan lezat.

Diciptakan-Nya laut yang di dalamnya hidup bermacam-macam jenis ikan yang dapat dimakan serta mutiara dan barang tambang yang diperlukan oleh manusia dan menjadi sumber mata pencaharian. Laut yang luas dapat dilayari manusia menuju segenap penjuru dunia. Dialah yang menciptakan segala macam sumber kesenangan bagi manusia itu.

Allah swt menciptakan pula binatang-binatang dan makhluk hidup yang lain yang rezekinya dijamin Allah. Allah telah memudahkan pula bagi manusia segala sumber kebutuhan hidup, yang bisa diolah menjadi pakaian, makanan, obat-obatan, dan sebagainya.

Allah menjadikan pula di bumi anak dan cucu sebagai penghibur dan penerus kehidupan manusia. Sebagian manusia menjadi pelayan atau pembantu, dan sebagian lainnya menjadi tuan atau atasan. Allah juga menciptakan binatang peliharaan dan kesenangan.

Ayat ini merupakan peringatan bagi manusia bahwa anak-anak, pembantu-pembantu, dan binatang ternak dijamin Allah rezekinya.


Baca Juga: Makna Khalifah dan Tugasnya Menurut Para Mufasir


Ayat 21

Ayat ini menerangkan bahwa sumber segala sesuatu yang ada di alam ini adalah ciptaan Allah. Semua berasal dari khazanah atau simpanan perbendaharaan Allah, baik yang berupa sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM).

Semua yang ada di atas bumi maupun di dalam perutnya diciptakan Allah untuk manusia. Manusia diberi tugas oleh Allah untuk mengelola, mengambil manfaat, dan memeliharanya. Hal ini ditegaskan Allah dalam Surah Hud/11 ayat 61:

هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ

…Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (do’a hamba-Nya). (Hud/11: 61).

Untuk dapat mengambil manfaat yang besar dari sumber daya alam (SDA) yang tersedia, manusia perlu mengembangkan kemampuan dan keterampilan sumber daya manusia (SDM)-nya dengan menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kemudian untuk betul-betul dapat menggali sumber daya alam itu perlu modal. Dengan kombinasi atau gabungan antara natural resources, yaitu sumber daya alam, skill  atau keterampilan manusia, serta modal yang cukup, manusia dapat meraih rezeki dari Allah untuk kemakmuran dan kesejahteraan hidupnya.

Hal ini sesuai dengan sunatullah yaitu orang yang diberi rezeki hanyalah yang berusaha dan bekerja keras mencarinya.

Berusaha dan bekerja keras untuk memperoleh rezeki dari khazanah perbendaharaan Allah ini juga harus disertai tanggung jawab untuk memelihara (konservasi) kekayaan dan sumber daya alam, dan tidak merusak serta menghancurkannya.

Oleh karena itu, pada akhir ayat 61 Surah Hud, Allah mengingatkan manusia supaya selalu mohon ampunan dan bertobat kepada Allah, serta menghentikan perbuatan-perbuatan yang merusak tatanan alam yang telah ditentukan dalam sunatullah. Hal ini dapat diketahui dari pemahaman ilmu pengetahuan dan teknologi.

Manusia yang baik menurut tuntunan agama Islam ialah yang dapat melaksanakan tugas dengan baik dalam ibadah dan khilafah (melaksanakan tugas kepemimpinan dan pengelolaan alam yang baik).

Dia memperoleh rezeki dengan bekerja dan berusaha secara baik dan sungguh-sungguh, bukan merusak dan menjadi beban bagi orang lain.

Hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh al-Hakim telah memberi tuntunan, antara lain:

عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ يَبْعٍ مَبْرُوْرٍ. (رواه الحاكم)

Dari Rifa’ah bin Rafi’ bahwa Nabi saw ditanya orang, “Usaha manakah yang paling baik?” Rasulullah berkata, “Usaha seseorang yang dikerjakan dengan tangannya dan semua jual beli yang mabrur (jual beli yang bersih tidak ada di dalamnya unsur-unsur tipuan, pemaksaan, dan sebagainya).” (Riwayat al-Hakim).

Menurut hadis ini, rezeki yang baik ialah hasil kerja atau usaha yang baik dari orang itu sendiri (bukan pemberian orang lain), dan hasil dari jual beli yang mabrur. Yang  dimaksud dengan jual beli yang mabrur ialah jual beli yang dilakukan secara wajar, saling rela antara penjual dan pembeli, tanpa paksaan dan tidak ada kebohongan. Firman Allah:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. (an-Nisa’/4: 29).

Menikmati rezeki dari usaha dan keringat sendiri atau hasil dari jual beli adalah cara terhormat sebagai manusia muslim, bukan karena pemberian dan belas kasihan orang lain dan bukan pula karena usaha yang dilarang agama, seperti mengambil hak, atau jual beli dengan memaksa atau tipu muslihat.

Allah Mahaadil dan Mahabijaksana dalam memberikan rezeki kepada para hamba-Nya. Maksudnya ialah memberikan dengan ukuran tertentu, sesuai dengan kebutuhan, keadaan, kemampuan, dan usaha orang tersebut. Dengan demikian, dalam pemberian rezeki tersebut tergambar kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya. Allah swt berfirman:

قُلْ لِّمَنْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ  قُلْ لِّلّٰهِ ۗ كَتَبَ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۗ

Katakanlah (Muhammad), ”Milik siapakah apa yang di langit dan di bumi?” Katakanlah, ”Milik Allah.” Dia telah menetapkan (sifat) kasih sayang pada diri-Nya. (al-An’am/6: 12).

Penganugerahan karunia dan nikmat Allah kepada para hamba-Nya itu disebutkan dalam Al-Qur’an dengan perkataan anzala (menurunkan), sebagaimana tersebut dalam firman-Nya yang lain:

وَاَنْزَلَ لَكُمْ مِّنَ الْاَنْعَامِ ثَمٰنِيَةَ اَزْوَاجٍ ۗ

…Dan Dia menurunkan delapan pasang hewan ternak untukmu… (az-Zumar/39: 6).

Dan firman Allah swt:

وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ

…. Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia…. (al-Hadid/57: 25).

Sesuatu dikatakan turun apabila ia berpindah dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, baik dalam arti yang sebenarnya maupun dalam arti kiasan.

Oleh karenanya, dari ayat ini dapat dipahami bahwa nikmat dan karunia itu berasal dari Allah Yang Mahatinggi lagi Mahakaya, dianugerahkan kepada makhluk yang lebih rendah daripada-Nya. Semua makhluk tergantung seluruh hidup dan kelanjutan kehidupannya kepada nikmat dan karunia Allah.

Dengan demikian, merupakan suatu kewajiban bagi setiap makhluk mensyukuri nikmat dan karunia Allah dengan menghambakan diri kepada-Nya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 22-23


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 17-19

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 17-19 masih menyinggung tentang kekuasaan Allah yang selalu dijaga dan dirawat. Terutama kekuasaan-Nya di langit, yang mendapat penjagaan super ketat oleh para Malaikat untuk menghalau jin dan setan yang berusaha mencuri informasi-informasi yang seharunya tidak boleh diketahui.

Dikisahkan pula dalam tafsir surah al-Hijr Ayat 17-19  bahwa jika mereka mendekati langit dan berniat mencuri informasi, maka mereka akan dikejar oleh panah-panah api yang siap membakar. Sehingga tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui informasi tersebut, kecuali atas kehendak-Nya.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 14-16


Setelah menjelaskan kekuasaan Allah di langit, dalam tafsir surah al-Hijr Ayat 17-19 juga menjelaskan tentang kekuasaan-Nya di bumi. Bahwa bumi yang terdiri dari; gunung, pohon, lautan, daratan, hewan, tumbuhan, serta segala isinya khusus Dia ciptakan untuk manusia. Supaya manusia bisa memanfaatkan fasilitas tersebut demi kemaslahatan bersama.

Ayat 17-18

Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt menjaga langit dan isinya dari setan yang terkutuk. Pada ayat yang lain Allah swt berfirman:

وَحِفْظًا مِّنْ كُلِّ شَيْطٰنٍ مَّارِدٍۚ

Dan (Kami) telah menjaganya dari setiap setan yang durhaka. (ash-Shaffat/37: 7).

Sementara itu ada setan yang tidak mengindahkan larangan-larangan Allah. Ia mencari berita yang mungkin didengarnya dari para malaikat, maka setan-setan yang demikian itu diburu oleh semburan api yang membakar, sehingga ia lari dan tidak sempat mendengar pembicaraan para malaikat itu. Hal ini dijelaskan oleh firman Allah swt:

لَا يَسَّمَّعُوْنَ اِلَى الْمَلَاِ الْاَعْلٰى وَيُقْذَفُوْنَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍۖ

Mereka (setan-setan itu) tidak dapat mendengar (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. (as-Shaffat /37: 8).

Dan firman Allah swt:

وَّاَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاۤءَ فَوَجَدْنٰهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيْدًا وَّشُهُبًاۖ  ٨  وَّاَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِۗ فَمَنْ يَّسْتَمِعِ الْاٰنَ يَجِدْ لَهٗ شِهَابًا رَّصَدًاۖ  ٩

Dan sesungguhnya kami (jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami (jin) dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mencuri dengar (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa (mencoba) mencuri dengar (seperti itu) pasti akan menjumpai panah-panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (al-Jinn/72: 8-9).

Seperti yang tersebut di atas bahwa ada beberapa ayat yang menerangkan berbagai usaha setan untuk mendengarkan pembicaraan para malaikat di langit, tetapi sebelum sempat ia mendengarkannya, ia dikejar dan dibakar oleh semburan api yang panas.

Hal ini termasuk perkara yang gaib karena sukar diketahui dan tidak dapat dilihat oleh mata manusia dan tidak dapat pula diketahui hakikatnya, serta bukti-bukti yang dapat dijadikan dasar untuk menetapkan maksud ayat yang sebenarnya.

Karena yang menerangkan hal ini adalah Al-Qur’an dan pikiran manusia belum sampai kepadanya, maka bagi kaum Muslimin wajib mengimaninya, dan percaya bahwa langit dan bumi serta alam semesta ini adalah milik Allah Yang Maha Pencipta.

Allah swt menjaga dan mengatur semua milik-Nya itu. Bagaimana cara Dia mengatur dan menjaga, sangat sedikit pengetahuan manusia tentang hal itu. Demikian pula bagaimana setan mengintip pembicaraan para malaikat dan bagaimana bentuk semburan api itu memburu setan. Hanya Allahlah Yang Mengetahui.


Baca Juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 33-35: Tanda-Tanda Kekuasaan Allah Swt di Muka Bumi


Ayat 19

Setelah Allah swt menerangkan tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya di langit, dalam ayat ini Allah menerangkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang dapat dilihat, diketahui, dirasakan, dan dipikirkan oleh manusia.

Di antaranya, Allah menciptakan bumi seakan-akan terhampar, sehingga mudah didiami manusia, memungkinkan mereka bercocok tanam di atasnya, dan memudahkan mereka bepergian ke segala penjuru dunia mencari rezeki yang halal dan bersenang-senang.

Allah menciptakan di bumi jurang-jurang yang dalam dan dialiri sungai-sungai yang kecil yang kemudian bersatu menjadi sungai yang besar menuju lautan luas.

Diciptakan-Nya pula gunung-gunung yang menjulang ke langit, dihiasi oleh aneka ragam tanaman dan tumbuh-tumbuhan yang menghijau, yang menyenangkan hati orang-orang yang memandangnya, sebagaimana firman Allah:

وَهُوَ الَّذِيْ مَدَّ الْاَرْضَ وَجَعَلَ فِيْهَا رَوَاسِيَ وَاَنْهٰرًا ۗوَمِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ جَعَلَ فِيْهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ   ٣

Dan Dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di atasnya. Dan padanya Dia menjadikan semua buah-buahan berpasang-pasangan; Dia menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir. (ar-Ra’d/13: 3).

Ayat 19 Surah al-Hijr ini menyiratkan bagaimana proses geologi berjalan puluhan, ratusan bahkan jutaan tahun. Berdasarkan kajian saintis, pada dasarnya proses geologi berupa siklus yang tiada berhenti.

Di dasar lautan, seperti di Lautan Pasifik misalnya, berjalan suatu proses penghamparan material-material magmatik yang keluar dari punggungan tengah samudra secara terus-menerus dan membentuk lempeng samudra [lihat keterangan an-Naml/27: 88 dan at-Thur/52: 6].

Lempengan ini terus bergerak dan menabrak lempengan lainnya.

Sementara itu berjalan pula proses erosi yang bermula dari tempat-tempat yang tinggi dan untuk kemudian material hasil erosi ini  dihamparkan dan diendapkan pada tempat-tempat yang lebih rendah.

Endapan ini kemudian mengalami tekanan akibat pergerakan lempengan-lempengan dan membawa lapisan-lapisan batuan hasil erosi ini tertekuk dan terangkat, sampai membentuk pegunungan. Lihat pula an-Nahl/16: 15 yang terkait dengan ayat ini.

Betapa agungnya Allah yang menciptakan semuanya itu yang dapat dirasakan manfaat dan nikmatnya oleh manusia, tetapi kebanyakan mereka ingkar kepada Sang Penciptanya.

Allah telah menciptakan beraneka ragam tanam-tanaman dan tumbuh-tumbuhan, masing-masing mempunyai ukuran dan kadar yang ditentukan. Pohon durian yang batangnya kokoh itu serasi dengan buahnya yang besar dan berduri. Batang padi serasi dan sesuai pula dengan buahnya yang bertangkai dan tanah untuk tempat tumbuhnya.

Demikian pula tumbuh-tumbuhan yang lain diciptakan Allah seimbang, serasi, dan sesuai dengan iklim, keadaan daerah, dan keperluan manusia atau binatang tempat ia tumbuh. Sementara itu, perbedaan daerah dan tanah tempat tumbuh suatu pohon akan menimbulkan perbedaan rasa dan ukuran buahnya.

Unsur gula di dalam tebu berlainan dengan unsur gula dalam air kelapa, berlainan manisnya dengan mangga dan jeruk. Buah salak sewaktu masih berupa putik dikelilingi oleh duri-duri yang tajam, tetapi setelah ia masak, seakan-akan duri-duri itu menguakkan diri, sehingga mudah untuk manusia mengambil buahnya yang rasanya manis.

Putik pepaya pahit rasanya sewaktu masih kecil, sehingga manusia tidak mau mengambil dan memakannya. Semakin besar putiknya itu, semakin berkurang rasa pahitnya, dan semakin dekat pula manusia kepadanya. Setelah masak, buahnya dipetik dan menjadi makanan yang disenangi.

Demikian Allah menciptakan sesuatu dengan ukuran dan kadar yang tertentu, sehingga melihat kesempurnaan ciptaan-Nya itu akan bertambah pula iman di dalam hati orang yang mau berpikir dan bertambah pula keyakinan bahwa Allah adalah Maha Sempurna.

Allah swt berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَ جَنّٰتٍ مَّعْرُوْشٰتٍ وَّغَيْرَ مَعْرُوْشٰتٍ وَّالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا اُكُلُهٗ وَالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَّغَيْرَ مُتَشَابِهٍۗ  كُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖٓ اِذَآ اَثْمَرَ وَاٰتُوْا حَقَّهٗ يَوْمَ حَصَادِهٖۖ وَلَا تُسْرِفُوْا ۗاِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَۙ

Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. (al-An’am/6: 141)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 20-21


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 14-16

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 14-16 diawali dengan ulasan sikap ingkar orang kafir  dalam menerima kebenaran. Bahkan jikapun permintaan mereka terpenuhi – agar bisa melihat tanda-tanda kekuasaan Allah seperti malaikat – tetap saja mereka tidak akan beriman.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 10-13


Dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 14-16 juga dijelaskan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah, diantara yang disebutkan adalah bulan; matahari, bintang, langit, planet-planet, siang, malam, serta perubahan cuaca. Semuanya merupakan tanda dari kekuasaan Allah, hanya saja manusia tidak mau berfikir dan acuh terhadap tanda-tanda yang melimpah tersebut.

Ayat 14-15

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang musyrik Mekah itu adalah orang-orang yang sangat ingkar dan tidak mau menerima kebenaran. Keadaan mereka seperti itu dilukiskan Allah dalam ayat ini. Seandainya Allah membukakan pintu-pintu langit bagi mereka dan menyediakan tangga untuk naik ke langit itu, maka mereka pun akan naik.

Seandainya mereka melihat malaikat-malaikat di langit atau suatu keajaiban yang merupakan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah, mereka tidak akan mengakuinya, bahkan mereka mengatakan:

“Mata kami telah dikaburkan sehingga kami tidak melihat dengan jelas suatu tanda yang ada di hadapan kami. Apa yang terlihat oleh kami tidak lain hanyalah khayalan belaka, sebagai hasil sihir Muhammad yang telah menyihir kami, sehingga kami tidak lagi melihat hakikat kebenaran.”

Ayat ini senada dengan firman Allah swt:

وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتٰبًا فِيْ قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوْهُ بِاَيْدِيْهِمْ لَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ

Dan sekiranya Kami turunkan kepadamu (Muhammad) tulisan di atas kertas, sehingga mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, niscaya orang-orang kafir itu akan berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (al-An’am/6: 7)


Baca Juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 37: Siang dan Malam Sebagai Tanda Kekuasaan Allah Swt


Ayat 16

Ayat ini menerangkan bahwa Allah swt menciptakan berbagai benda angkasa berupa planet yang tidak terhitung banyaknya, bulan, dan bintang yang kesemuanya menghiasi langit, sehingga menarik hati orang-orang yang memandangnya.

Semua itu menjadi bahan pemikiran bagi orang-orang yang mau berpikir, terutama dalam mencari manfaatnya bagi manusia dan kemanusiaan, sebagaimana firman Allah swt dalam ayat yang lain:

تَبٰرَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِى السَّمَاۤءِ بُرُوْجًا وَّجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَّقَمَرًا مُّنِيْرًا    ٦١  وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ اَرَادَ اَنْ يَّذَّكَّرَ اَوْ اَرَادَ شُكُوْرًا   ٦٢

Mahasuci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan bulan yang bersinar. Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur. (al-Furqan/25: 61-62).

Pada ayat yang lain, Allah swt menerangkan pula:

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ

Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang. (al-Mulk/67: 5).

Bintang-bintang yang diciptakan Allah itu ada yang tidak bercahaya dan ada pula yang bercahaya, berkelap-kelip di malam hari, sebagaimana firman Allah swt:

فَقَضٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ فِيْ يَوْمَيْنِ وَاَوْحٰى فِيْ كُلِّ سَمَاۤءٍ اَمْرَهَا ۗوَزَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَۖ وَحِفْظًا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ

Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui. (Fushshilat/41: 12).

Dan firman Allah swt:

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَجَعَلْنٰهَا رُجُوْمًا لِّلشَّيٰطِيْنِ وَاَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيْرِ

Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami menjadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala. (al-Mulk/67: 5).

Benda-benda angkasa itu merupakan petunjuk bagi para musafir yang berjalan di tengah-tengah padang pasir di malam hari, kapal-kapal yang berlayar di tengah lautan, serta kapal terbang dan kapal ruang angkasa yang terbang menuju tempat tujuannya.

Peredaran matahari, bulan, dan bintang dapat pula dijadikan dasar untuk mengetahui bilangan hari, bilangan tahun, dan perhitungan waktu, sebagaimana firman Allah swt:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَۗ مَا خَلَقَ اللّٰهُ ذٰلِكَ اِلَّا بِالْحَقِّۗ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (Yunus/10: 5).

Suasana malam di saat langit cerah tidak berawan, bintang-bintang bertaburan di angkasa raya dan cahayanya yang hilang-hilang timbul, dan cahaya bulan purnama menimbulkan ketenteraman dalam hati bagi orang-orang yang telah beriman kepada Allah. Semua itu menambah kuat imannya, sehingga tanpa disadari mulutnya mengucapkan kata-kata yang mengagung-kan Allah.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 17-19


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 10-13

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 10-13 menerangkan kondisi nabi yang bersedih atas sikap orang kafir terhadap dirinya. Allah pun menghibur nabi dengan kisah para rasul sebelumnya yang mengalami hal serupa dari umatnya, hingga kemudian umat tersebut dibinasakan. Namun, dalam tafsir ini dijelaskan bahwa sunnatullah itu sudah berakhir (ditiadakan) bagi umat Nabi Muhammad, sayangnya masih banyak dari umat Muhammad Saw yang tidak mau beriman.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 9 (Part 3)


Ayat 10-11

Dengan ayat ini Allah swt menghibur hati Nabi Muhammad saw yang sedang bersedih hati dan mengalami penderitaan akibat olok-olok, cercaan, dan kezaliman orang-orang musyrik Mekah.

Beliau merasa sedih atas kebodohan kaumnya yang tidak mau memahami Al-Qur’an, bahkan menuduh dirinya orang gila. Allah swt menerangkan bahwa apa yang sedang dialami Nabi Muhammad itu telah dialami pula oleh para rasul sebelumnya yang diutus kepada umat-umat yang dahulu.

Hampir semua umat itu memperolok-olokkan para rasul bahkan di antara mereka ada yang mengadakan rencana jahat untuk membunuhnya. Mereka mengingkari seruan rasul dan tetap melaksanakan adat kebiasaan dan kepercayaan warisan nenek moyang mereka.

Hampir semua rasul diutus kepada kaumnya sendirian, tanpa teman dan pembantu yang menolongnya kecuali pembantu dan penolong dari para pengikut yang diperoleh setelah banyak berdakwah.

Pada umumnya, para rasul itu orang miskin, tanpa pembesar atau penguasa yang menyokongnya, dan tanpa harta benda yang cukup untuk membiayai dakwahnya, tetapi semua rasul adalah orang-orang yang amanah, tabah, dan sabar melaksanakan tugas-tugas yang dipikulkan kepada mereka.

Dengan ayat ini, seakan-akan Allah swt menegaskan kepada Nabi Muhammad agar tidak berputus asa disebabkan oleh sikap dan tindakan orang-orang kafir itu, karena semua rasul mengalami cobaan dan tantangan seperti itu.

Sikap orang kafir yang demikian itu adalah karena akhlak mereka telah rusak, dan nafsu telah mengalahkan semua kebenaran yang mungkin bisa masuk ke dalam hati mereka. Oleh karena itu, mereka tidak dapat menerima kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka.


Baca Juga: Hinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang Diabadikan dalam Al-Quran


Ayat 12-13

Ayat ini menerangkan tanggapan orang kafir terhadap Al-Qur’an. Mereka memperolok-olokkannya dan tidak menerimanya. Hal ini disebab-kan oleh sikap ingkar dan memperolok-olokkan itu telah tumbuh subur di dalam hati mereka, sehingga dalam diri mereka tidak ada lagi kesediaan menerima kebenaran.

Di dalam hati mereka, tidak ada lagi pelita yang memancarkan cahaya yang dapat menuntun dan menerangi jalan menuju kebenaran. Keadaan mereka itu sama dengan keadaan umat-umat yang dahulu menerima kitab Allah yang disampaikan oleh para rasul, namun tidak ada yang berbekas sedikit pun di dalam hati mereka.

Oleh karena itu, bagi umat yang telah diutus kepada mereka para rasul, namun mereka mengingkari seruan rasul itu, berlaku sunatullah, yaitu Allah akan membinasakan setiap orang yang mendurhakai rasul dan risalah yang disampaikannya, serta menolong dan memberi kemenangan kepada orang-orang yang menerima seruannya.

Pada suatu saat nanti, orang-orang kafir akan mengetahui kebenaran berita dan peringatan Al-Qur’an, sebagaimana yang ditegaskan dalam firman Allah swt:

وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَاَهٗ بَعْدَ حِيْنٍ

Dan sungguh, kamu akan mengetahui (kebenaran) beritanya (Al-Qur’an) setelah beberapa waktu lagi. (Sad/38: 88).

Kebenaran berita-berita Al-Qur’an yang dimaksud ayat di atas ada yang terlaksana di dunia, seperti kebenaran janji Allah kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan menang dalam peperangan melawan kaum musyrikin, dan ada yang terlaksana di akhirat, seperti kebenaran janji Allah tentang balasan dan perhitungan yang akan dilakukan terhadap manusia di hari akhir nanti.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 14-16


Lima Makna Kata Jaza’ dalam Al-Quran

0
Kata Jaza' dalam Al-Quran
Kata Jaza' dalam Al-Quran

Kata Jaza’ berasal dari akar kata جَزَى يجزئ جَزَاءً yang memiliki arti upah, imbalan ataupun balasan . Akan tetapi jika dilihat dalam kitab Mu’jam al-Wasith karya Ibrahim Musthofa, kata jaza’ dimaknai dengan “الثواب و العقاب ” yaitu balasan bagi kebaikan yang dikerjakan dan hukuman bagi keburukan yang dikerjakan. Kata jaza’ juga bermakna al-gana’ wa al-kifayah (الغناء و الكفاية) artinya kekayaan dan keucukupan.

Kemudian dalam mendefinisikan kata jaza’ para ulama memiliki pandangan yang berbeda. Menurut al-Rahgib al-Ashafani jaza’ adalah :

اَلْجَزْءُ مَا فِيْهِ مِنَ الْمُقَابَلَةِ انَّ خَيْرً فَخَيْرٌ وَ انَّ شَرًّ فَشَرٌّ

“Jaza’ adalah balasan yang setimpal (yaitu) jika (perbuatannya) baik, maka balasannya pun baik, dan jika (perbuataannya) jahat maka balasannya jahat pula.”

Baca juga: Surah Al-Hajj [22] Ayat 34: Berkurban Adalah Syariat Agama Samawi

Definisi Jaza’ 

Definisi yang dikemukakan oleh al-Rahib al-Ashafani tersebut menekankan adanya dua unsur dalam kriteria balasan. Pertama, adanya wujud balasan artinya setiap perbuatan baik maupun buruk pasti mendapatkann balasannya. Kedua, perbuatan baik hanya akan dibalas dengan kebaikan dan perbuatan jahat hanya akan dibalas dengan kejahatan. Jika perbuatan baik dibalas dengan kejahatan atau sebaliknya, maka hal tersebut tidak setimpal. Balasan yang dimaksud disini tidak difokuskan pada kuantitas balasannya. Boleh jadi balasan yang didapatkan lebih besar dari perbuatannya.

Kata jaza’ dengan berbagai bentuknya disebutkan dalam al-Quran sebanyak 118 kali yang semuanya hampir merujuk pada arti kata balasan. Makna balasan yang terdapat dalam kata jaza’ sifatnya masih umum dan netral, artinya kemungkinan berarti balasan baik atau balasan buruk sesuai dengan konteks kalam yang ditandai dengan adanya indikator (qarinah).

Jika suatu ayat mengarah pada yang baik berarti itulah indikator yang menunjukkan bahwa jaza’ disitu mengandung makna balasan baik dan sebaliknya. Apabila kata jaza’ disebutkan tanpa menyertakan keterangan apapun sesudahnya, maka kata jaza’ tersebut mempunyai makna balasan yang setidaknya seimbang dengan perbuatan yang ia lakukan.

Baca juga: Mengenal Tujuh Istilah Angin yang Disebutkan dalam Al-Quran

Lima makna jaza’ di dalam al-Quran :

  1. Jaza’ : Balasan Buruk, QS.Yunus (10) : 27.

وَالَّذِيْنَ كَسَبُوا السَّيِّاٰتِ جَزَاۤءُ سَيِّئَةٍ ۢبِمِثْلِهَاۙ وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗمَا لَهُمْ مِّنَ اللّٰهِ مِنْ عَاصِمٍۚ كَاَنَّمَآ اُغْشِيَتْ وُجُوْهُهُمْ قِطَعًا مِّنَ الَّيْلِ مُظْلِمًاۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ٢٧ ( يونس/10: 27)

Adapun orang-orang yang berbuat kejahatan (akan mendapat) balasan kejahatan yang setimpal dan mereka diselubungi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan wajah mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.            (Yunus/10:27)

Kata jaza’ pada ayat tersebut bermakna balasan yang berupa hukuman di akhirat. Hal tersebut ditunjukan karena adanya kata al-sayyi’at setelah kata jaza‘ yang menjadi isyarat bahwa perbuatan tersebut adalah perbuatan buruk. Prof. Quraish Shihab mengatakan dalam tafsirnya Al-Misbah bahwa ayat tersebut menggunakan kata  kasaba yang dirangkaikan dengan kata al-sayyi’at. Hal ini berarti bahwa pelakunya melakukan keburukan tersebut dengan mudah, dan jiwanya telah demikian bejat, keburukannya pun telah berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan yang mudah baginya “Al-Misbah (6, 64)”.

Baca juga: 3 Hal yang Menjadikan Hermeneutika Al-Qur’an Penting Digunakan menurut Fahruddin Faiz

  1. Jaza’ : Balasan Baik , QS. Saba’ (34) : 37.

وَمَآ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ بِالَّتِيْ تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفٰىٓ اِلَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًاۙ فَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ جَزَاۤءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوْا وَهُمْ فِى الْغُرُفٰتِ اٰمِنُوْنَ ٣٧ ( سبأ/34: 37)

Dan bukanlah harta atau anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami; melainkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda atas apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga). (Saba’/34:37).

Dalam Tafsir Kemenag dijelaskan bahwasanya Allah membantah keyakinan orang kafir tersebut. Kedudukan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh harta dan keturunannya, melainkan iman dan takwanya. Harta dan anak akan bermanfaat bila ia membantu seseorang untuk meningkatkan keimanan dan amal salehnya. Dan bukanlah harta atau anak-anakmu yang mendekatkan kamu kepada Kami; melainkan keimanan dan ketakwaanmu.

Karena itu, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itulah yang dekat dengan Kami dan memperoleh balasan yang berlipat ganda, sepuluh kali, tujuh ratus kali, bahkan tidak terbatas, atas apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka dalam keadaan aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi dalam surga.

Kata jaza’ pada ayat tersebut merujuk kepada makna balasan baik, karena ada kata dhi’f setelahnya yang memiliki makna bahwasanya yang dilipat gandakan merupakan balasan baik.

  1. Jaza’ : Membela QS. Luqman (31) : 33.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِيْ وَالِدٌ عَنْ وَّلَدِهٖۖ وَلَا مَوْلُوْدٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَّالِدِهٖ شَيْـًٔاۗ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ ٣٣ ( لقمٰن/31: 33)

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah pada hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sungguh, janji Allah pasti benar, maka janganlah sekali-kali kamu teperdaya oleh kehidupan dunia, dan jangan sampai kamu teperdaya oleh penipu dalam (menaati) Allah. (Luqman/31:33).

Kata yajzi dan jazin dalam ayat tersebut bermakna menolong atau memberi pertolongan. Sesungguhnya yang dapat menolong seseorang di akhirat kelak adalah amal shaleh. Di dalam tafsir al-Maraghi dijelaskan bahwasanya semua perkara saat itu pada kekuasaan Allah yang disisiNya tidak bermanfaat sedikit pun segala bentuk syafaat dan koneksi, yang semuanya itu hanya dapat memberi manfaat ketika di dunia. Maka dari itu tidak dapat memberi manfaat apapun disisiNya melainkan hanya satu sarana, yiatu amal shaleh yang dikerjakan oleh seseorang semasa didunia.

  1. Jaza’ : Denda, QS. Al-Ma’idah (5) :95.

وَمَنْ قَتَلَهٗ مِنْكُمْ مُّتَعَمِّدًا فَجَزَۤاءٌ مِّثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهٖ ذَوَا عَدْلٍ مِّنْكُمْ …… ٩٥ ( الماۤئدة/5: 95)

Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan hewan ternak yang sepadan dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu (Al-Ma’idah/5:95).

Kata jaza’ yang ada pada surat tersebut bermakna denda. Dalam tafsir al-Misbah dijelaskan bahwa ayat tersebut menegaskan ancaman yang diakibatkan oleh pelanggaran, yakni sifat iman dengan menyatakan: hai orang-orang beriman janganlah kamu membunuh atau menyembelih binatang buruan yang halal dimakan di luar keadaan ihram, yakni membununya ketika kamu sedang berihram, baik untuk haji ataupun umrah.

Baca juga: Memahami Tafsir sebagai Produk dan Proses Perspektif Abdul Mustaqim

Demikian juga jika kamu berada dalam wilayah Tanah Haram. Barang siapa diantara kamu membununya dengan sengaja dan menyadari bahwa itu terlarang baginya, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak serupa, yakni seimbang atau paling dekat persamaannya dengan buruan yang dibunuhnya.

  1. Jaza’ : Pajak, QS. At-Taubah (9):29

قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَلَا يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَلَا يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حَتّٰى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَّدٍ وَّهُمْ صٰغِرُوْنَ ࣖ ٢٩ ( التوبة/9: 29)

Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan Kitab, hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (At-Taubah/9:29).

Thahir Ibn ‘Asyur berpendapat bahwa kata jizyah ini terambil dari bahasa Persia yaitu Kizyat yang berarti pajak. Hal tersebut karena patron kata jizyah yang biasanya digunakan untk menggambarkan keadaan sesuatu tidaklah tepat bagi suatu pungutan yang bersifat material, karena pungutan dalam hal ini jizyah, bukanlah satu keadaan tetapi ia adalah materi yang harus diserahkan. Keadaan penyerahan itu digambarkan oleh kata   عن يد “Al-Misbah (5, 575)”.

Meski ada beberapa kata jaza’ yang maknanya tidak secara langsung merujuk kepada pembalasan, namun makna-makna tersebut masih berhubungan dan dapat dirujukkan kepada makna pembalasan. Makna pembalasan pada kata jaza’ mencakup balasan baik dan balasan buruk, namun lebih dominan kepada balasan buruk.

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 9 (Part 3)

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Setelah masa kodifikasi tersebut, al-Quran kemudian disebarkan keseluruh penjuru negeri agar bisa dipelajari oleh umat Muslim di dunia. Adapun bagian akhir dari Tafsir Surah al-Hijr Ayat 9 (Part 3) adalah penegasan sekaligus pembuktian bahwa kemurnian al-Qur’an masih tetap terjaga hingga kini, dengan keragaman metode yang digunakan oleh para ulama untuk menjaganya.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 9 (Part 2)


Berikut dalam Tafsir Surah al-Hijr Ayat 9 (Part 3) akan dijelaskan tentang usaha menjaga al-Quran dan perbedaan dialek, serta sekilas tentang perjalanan aksara al-Quran.

Ayat 9 (Part 3)

Kemudian usaha menjaga kemurnian Al-Qur’an itu tetap dilakukan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia, sampai kepada generasi yang sekarang ini.

Untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an itu di Indonesia dilakukan dalam bermacam-macam usaha, di antaranya ialah:

  1. Membentuk “Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an” yang bertugas antara lain meneliti semua mushaf yang akan dicetak sebelum diedarkan ke masyarakat. Tim berada di bawah pengawasan Menteri Agama.
  2. Pemerintah telah mempunyai naskah Al-Qur’an yang menjadi standar dalam penerbitan Al-Qur’an di Indonesia, yang telah disesuaikan dengan Mushaf al-Im±m.
  3. Mengadakan Musabaqah Tilawatil Qur’an setiap tahun yang ditangani dan diurus oleh negara.
  4. Usaha-usaha lain yang dilakukan oleh masyarakat muslim, seperti membentuk lembaga pendidikan, kajian, dan tahfiz Al-Qur’an;Kedua:

Setelah ‘Utsman bin ‘Affan wafat, al-Mushaf al-Imam tetap dianggap sebagai pegangan satu-satunya oleh umat Islam dalam bacaan Al-Qur’an.

Meskipun demikian, terdapat juga beberapa perbedaan dalam bacaan tersebut. Sebab-sebab timbulnya perbedaan itu dapat disimpulkan dalam dua hal:

Pertama : Penulisan Al-Qur’an itu sendiri yang belum sempurna.

Kedua : Perbedaan dialek orang-orang Arab.

Penulisan Al-Quran itu dapat menimbulkan perbedaan karena al-Mushaf al-Imam ditulis oleh sahabat-sahabat yang tulisannya belum dapat dikatakan tulisan yang sempurna karena belum mendapat tanda baca dan titik.

Sebagaimana yang diterangkan Ibnu Khaldun dalam bukunya “Muqaddimah Ibnu Khaldun”, ia berkata:

“Perhatikanlah akibat-akibat yang terjadi karena tulisan mushaf yang ditulis sendiri oleh para sahabat dengan tangannya. Tulisan itu belum sempurna, sehingga kadang-kadang terjadi beberapa kesalahan dalam memahami bacaan dari tulisan tersebut karena tanpa titik dan baris.”


Baca Juga : Kontribusi Al-Qur’an terhadap Perkembangan Bahasa Arab


Adapun perbedaan dialek orang-orang Arab yang telah ditoleransi oleh Rasulullah menimbulkan macam-macam qira’at (bacaan), sehingga pada tahun 200 Hijriah muncullah ahli-ahli qira’at yang tidak terhitung banyaknya.

Di antara dialek-dialek bahasa Arab yang terkenal ialah lahjah Quraisy, Huzail, Tamim, Asad, Rabi’ah, Hawazin, dan Sa’ad. Pada waktu itu muncullah para ahli qira’at yang masyhur, dan yang termasyhur ada tujuh orang, yaitu: ‘Abdullah bin Amir, Abu Ma’bad ‘Abdullah bin Katsir, Abu Bakar Ashim bin Abi an-Najud, Abu Amr bin A’la, Nafi’ bin Abi Nu’aim, Abul Hasan ‘Ali bin Hamzah al-Kisā’i, Abu Jarah bin Habib Ibnu Zayyat/Hamzah. Qira’at-qira’at itu dipopulerkan orang dengan nama “Qira’at Sab’ah” (bacaan yang tujuh).

Sebagaimana diterangkan di atas, Al-Qur’an mula-mula ditulis tanpa titik dan baris, namun hal ini tidak mempengaruhi bacaan Al-Qur’an karena para sahabat dan para tabi’in selain hafal Al-Qur’an juga orang-orang yang fasih dalam bahasa Arab.

Oleh sebab itu, mereka dapat membacanya dengan baik dan tepat. Tetapi setelah agama Islam tersiar dan banyak bangsa yang bukan Arab memeluk agama Islam, sulit bagi mereka membaca Al-Qur’an tanpa titik dan baris. Sangat dikhawatirkan bahwa hal ini akan menimbulkan kesalahan dalam bacaan Al-Qur’an.

Maka Abul Aswad Ad-Du’ali mengambil inisiatif untuk memberi tanda-tanda baca dalam Al-Qur’an dengan tinta yang berlainan warnanya. Tanda titik ialah titik di atas untuk fathah, titik di bawah untuk kasrah, titik sebelah kiri atas untuk «amah, dan dua titik untuk tanwin. Hal ini terjadi pada masa Ali bin Abi Thalib.

Kemudian di masa khalifah Abdul Malik bin Marwan, Nasr bin A¡im, dan Yahya bin Ya’mar menambahkan tanda-tanda untuk huruf-huruf yang bertitik dengan tinta yang sama dengan tulisan Al-Qur’an untuk membedakan antara maksud dari titik Abul Aswad Ad-Du’ali dengan titik yang baru ini.

Titik Abul Aswad adalah untuk tanda baca dan titik Nasr bin A¡im adalah titik huruf. Cara penulisan semacam ini tetap berlaku pada masa Bani Umayyah, dan pada permulaan kerajaan Abbasiyah, bahkan tetap pula dipakai di Spanyol sampai pertengahan abad keempat hijriah.

Kemudian ternyata cara pemberian tanda seperti ini masih menimbulkan kesulitan bagi para pembaca Al-Qur’an karena terlalu banyak titik, sedang titik itu lama kelamaan hampir menjadi serupa warnanya.

Maka al-Khalil mengambil inisiatif untuk membuat tanda-tanda yang baru, yaitu wau kecil ( و ) di atas untuk «ammah, huruf alif kecil ( ا ) untuk tanda fathah, huruf ya kecil ( ي ) untuk tanda kasrah, kepala huruf s³n ( س ) untuk tanda syiddah, kepala ha ( ه ) untuk sukun dan kepala ‘ain ( ع ) untuk hamzah.

Kemudian tanda-tanda ini dipermudah dengan dipotong dan ditambah sehingga menjadi bentuk yang ada sekarang.

Demikianlah usaha Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin memelihara dan menjaga Al-Qur’an dari segala macam campur tangan manusia, sehingga Al-Qur’an yang ada pada tangan kaum Muslimin pada masa kini, persis sama dengan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

Ini merupakan bukti dari jaminan Allah yang akan tetap memelihara Al-Qur’an untuk selamanya

 (Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 10-13


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 9 (Part 2)

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Setelah sebelumnya mengisahkan perjalan al-Quran di era Nabi, adapun Tafsir Surah al-Hijr Ayat 9 (Part 2) meneruskan kisah tersebut, yakni perjalanan al-Quran pada masa sahabat, khususnya ketika tampuk kepemimpinan khalifah empat, yakni dimulai dari Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Terutama sejarah panjang kodifikasi di masa khalifah Utsman, berikut uraiannya.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 9 (Part 1)


Ayat 9 (Part 2)

Sesudah Rasulullah saw wafat, para sahabat sepakat memilih Abu Bakar sebagai khalifah. Pada permulaan masa pemerintahannya banyak di antara orang-orang Islam yang belum kuat imannya menjadi murtad dan ada pula di antara mereka mendakwakan diri menjadi nabi.

Oleh karena itu, Abu Bakar memerangi mereka. Dalam peperangan ini telah gugur 70 orang penghafal Al-Qur’an dan sebelum itu telah gugur pula beberapa orang. Atas anjuran Umar bin Khathtab dan diterima oleh Abu Bakar, maka Zaid bin Tsabit ditugaskan menulis kembali Al-Qur’an yang naskahnya telah ditulis pada masa Nabi dan didukung oleh hafalan para sahabat yang masih hidup.

Setelah selesai menuliskannya dalam lembaran-lembaran, diikat dengan benang, tersusun menurut urutan yang telah ditetapkan Rasulullah, mushaf itu kemudian diserahkan kepada Abu Bakar.

Setelah Abu Bakar meninggal, mushaf ini diserahkan kepada penggantinya Umar bin al-Khathab.

Setelah Umar meninggal mushaf ini disimpan di rumah Haf¡ah, putri Umar dan istri Rasulullah, sampai kepada masa pembukuan Al-Qur’an di masa khalifah Utsman bin ‘Affan.

Di masa khalifah Utsman bin ‘Affan, daerah pemerintahan Islam telah sampai ke Armenia dan Azerbaijan di sebelah timur dan Tripoli di sebelah barat.

Dengan demikian, para sahabat waktu itu telah terpencar-pencar di Mesir, Syria, Irak, Persia, dan Afrika. Ke mana mereka pergi dan di mana mereka tinggal, Al-Qur’an Al-Karim itu tetap menjadi imam mereka, di antara mereka banyak yang hafal Al-Qur’an.

Mereka mempunyai naskah-naskah Al-Qur’an, tetapi naskah-naskah yang mereka miliki itu tidak sama susunan surah-surahnya karena dicatat sesuai dengan pemahaman mereka atau masih bercampur dengan penjelasan-penjelasan Rasul sebagai tafsirnya.

Hal ini menimbulkan pertikaian tentang bacaan Al-Qur’an di antara mereka. Asal mula perbedaan bacaan ini ialah karena Rasulullah sendiri memberi kelonggaran kepada kabilah-kabilah Arab yang berada di masanya, untuk membacakan dan melafazkan Al-Qur’an itu menurut dialek mereka masing-masing. Kelonggaran ini diberikan Nabi supaya mereka mudah mengucapkan dan menghafal Al-Qur’an.

Tetapi kemudian timbul kekhawatiran bahwa pertikaian tentang bacaan Al-Qur’an ini kalau dibiarkan saja akan mendatangkan perselisihan dan perpecahan yang tidak diinginkan di kalangan kaum Muslimin.

Orang yang mula-mula menunjukkan perhatiannya tentang hal ini adalah seorang sahabat yang bernama Huzaifah bin Yaman.


Baca Juga : Sejarah Kodifikasi Al-Quran dalam Al-Tibyan fi Ulum al-Quran


Beliau ikut dalam peperangan menaklukkan Armenia dan Azerbaijan. Selama dalam perjalan-an, ia pernah mendengar kaum Muslimin bertikai tentang bacaan beberapa ayat Al-Qur’an dan pernah mendengar perkataan seorang muslim kepada temannya, “Bacaan saya lebih baik daripada bacaanmu.”

Ketika hal ini disampaikan kepada Khalifah Utsman bin ‘Affan, beliau langsung menyetujui dilakukannya penulisan Al-Qur’an, maka segera dibentuk tim yang terdiri dari para penulis wahyu, seperti Zaid bin Tsābit yang menjadi ketua tim, ‘Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘Ash dan ‘Abdurrahman bin Harist bin Hisyam, dan lain-lain.

Mushaf yang berisi lembaran bertuliskan Al-Qur’an, yang pernah disusun oleh Khalifah Abu Bakar, dan disimpan di rumah Hafshah, diminta  kembali oleh U£man.

Karena tim ini bertugas menyalin kembali tulisan Al-Qur’an yang ada di mushaf tersebut dan menyeragamkan bacaan dan tulisannya. Hasil kerja tim ini akan menjadi acuan dan rujukan bagi bacaan Al-Qur’an umat Islam di seluruh dunia.

Dalam menjalankan tugasnya, tim ini memberlakukan syarat-syarat berikut:

  1. Tidak ditulis kecuali yang diyakini betul-betul Al-Qur’an, dengan mengacu pada tulisan dan hafalan sahabat.
  2. Tidak ditulis kecuali ayat-ayat yang diyakini tidak pernah dinasakh.
  3. Jika ada kata yang memiliki beberapa bacaan berbeda, maka ditulis dengan dialek Quraisy karena mayoritas Al-Qur’an ditulis dalam dialek itu.
  4. Jika ada dua bacaan berbeda tetapi bisa ditampung dalam satu tulisan, ditulis dalam satu tulisan seperti malik dan m±lik.

Mushaf yang sudah diseragamkan bacaannya itu dikenal dengan nama al-Mushaf al-Imam atau al-Mushaf al-‘Utsman. Mushaf ini digandakan menjadi lima mushaf, masing-masing dikirim ke Mekah, Syiria, Basrah, Kufah, dan sebuah ditinggalkan di Medinah.

Demikianlah Al-Qur’an itu dibukukan pada masa sahabat. Semua mushaf yang diterbitkan kemudian harus disesuaikan dengan al-Mushaf al-Imam. Kemudian usaha menjaga kemurnian Al-Qur’an itu tetap dilakukan oleh kaum Muslimin di seluruh dunia, sampai kepada generasi yang sekarang ini.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 9 (Part 3)


 

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 9 (Part 1)

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 9 (Part 1) berbicara tentang kecaman Allah kepada orang-orang yang mengabaikan al-Quran, atau bahkan mengejek dan meragukan kemurnian al-Quran. Maka dengan tegas Allah menyampaikan bahwa keraguan, ejekan, dan cemoohan mereka terhadap al-Quran dan Rasul-Nya, sama sekali tidak mengurangi kesucian al-Quran tersebut.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah al-Hijr Ayat 7-8


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 9 (Part 1) juga menegaskan bahwa al-Quran akan tetap terjaga sampai hari kiamat tiba, dan kesuciannya pun akan tetap terjamin sepanjang masa. Dimulai dari era Nabi Muhammad, sahabat, tabi’in hingga generasi-generasi selanjutnya yang Allah jamin sebagai penjaga kesucian al-Quran.

Dan Tafsir Surah al-Hijr Ayat 9 (Part 1) turut mengisahkan bagaimana perjalan al-Quran itu digaungkan, dibaca, dan dipelajarai, terutama di era Nabi Muhammad Saw. Secara ringkas dan lugas Tafsir Surah al-Hijr Ayat 9 (Part 1) akan menjelaskan kisah tersebut dengan cukup sistematis.

Ayat 9 (Part 1)

Ayat ini merupakan peringatan keras bagi orang-orang yang mengabaikan Al-Qur’an dan tidak percaya bahwa Al-Qur’an itu diturunkan Allah kepada rasul-Nya Muhammad.

Seakan-akan Allah mengatakan kepada mereka, “Kamu ini hai orang-orang kafir sebenarnya adalah orang-orang yang sesat yang memperolok-olokkan nabi dan rasul yang telah Kami utus untuk menyampaikan agama Islam kepadamu.

Sesungguhnya sikap kamu yang demikian itu tidak akan mempengaruhi sedikit pun terhadap kemurnian dan kesucian Al-Qur’an karena Kamilah yang menurunkannya.

Kamu menuduh Muhammad seorang yang gila tetapi Kami menegaskan bahwa Kami sendirilah yang memelihara Al-Qur’an itu dari segala macam usaha untuk mengotorinya dan usaha untuk menambah, mengurangi dan mengubah ayat-ayatnya.

Kami akan memeliharanya dari segala macam bentuk campur tangan manusia terhadapnya.

Akan datang saatnya nanti manusia akan menghafal, membaca, mempelajari, dan menggali isinya, agar mereka memperoleh dari Al-Qur’an itu petunjuk dan hikmah, tuntunan akhlak dan budi pekerti yang baik, ilmu pengetahuan dan pedoman berpikir bagi para ahli dan cerdik pandai, serta petunjuk ke jalan hidup di dunia dan di akhirat nanti.”

Jaminan Allah swt terhadap pemeliharaan Al-Qur’an itu ditegaskan lagi dalam firman-Nya:

يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْۗ وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya. (ash-Shaff/61: 8).

Mengenai jaminan Allah terhadap kesucian dan kemurnian Al-Qur’an serta penegasan bahwa Allah sendirilah yang memeliharanya terbukti dengan memperhatikan dan mempelajari sejarah turunnya Al-Qur’an, cara-cara yang dilakukan Nabi saw ketika menyiarkan, memelihara, dan membetulkan bacaan para sahabat, melarang menulis selain ayat-ayat Al-Qur’an, dan sebagainya.

Kemudian usaha pemeliharaan Al-Qur’an ini dilanjutkan oleh para sahabat, tabiin, dan oleh setiap generasi kaum Muslimin yang datang sesudahnya, sampai sekarang ini.

Untuk mengetahui dan membuktikan bahwa Al-Qur’an yang sampai kepada kita sekarang terpelihara kemurniannya, diterangkan dalam sejarah  Al-Qur’an, baik di masa Rasulullah, maupun di zaman sahabat, dan usaha kaum Muslimin memeliharanya pada saat ini.

Di sisi lain otentisitas Al-Qur’an dapat dilacak dari sejarah penulisan dan bacaannya.

Pertama:

Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw dalam waktu kurang lebih 23 tahun. Setiap turun ayat, Nabi menyuruh para sahabatnya menghafal dan menuliskannya di batu, kulit binatang, dan pelepah korma.

Nabi memiliki beberapa orang sahabat yang bertugas menulis wahyu dan mendampingi beliau ketika turun ayat. Di antara penulis wahyu itu adalah Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin ‘Affan, Ubay bin Ka’ab, dan lain-lain.

Setiap ayat turun, Nabi menjelaskan kepada para penulis wahyu di bagian mana dari ayat-ayat yang turun lebih dulu atau di surah apa ayat itu diletakkan dan ditulis.

Beliau melarang para sahabat menulis selain Al-Qur’an, baik itu penjelasannya yang menjadi tafsir dari ayat atau keterangan yang ditulis oleh para sahabat itu sendiri.

Hadis Nabi saw seperti diriwayatkan Abu Sa‘id al-Khudri:

لاَ تَكْتُبُوْا عَنِّي شَيْئًا سِوَى الْقُرْآنِ، وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا سِوَى الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ (رواه مسلم)

Jangan kalian menulis dariku apapun selain Al-Qur’an. Barang siapa yang menulis selain Al-Qur’an, hendaklah dia menghapusnya. (Riwayat Muslim).

Larangan secara umum itu adalah untuk menjaga kemurnian tulisan Al-Qur’an agar tidak bercampur-baur dengan tulisan-tulisan lain selain Al-Qur’an, baik bersumber dari Nabi saw maupun sahabat.


Baca Juga : Mengenal Mushaf Pra-Utsmani (1): Sejarah Awal Mula Penulisan Mushaf dan Klasifikasinya


Namun demikian, ada beberapa sahabat yang memang pandai baca tulis, menuliskan ucapan-ucapan Rasul sebagai penafsiran Al-Qur’an dan catatan mereka, seperti ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, dan lain-lain.

Selain ditulis oleh para penulis wahyu dan sebagian sahabat, Al-Qur’an juga dihafal oleh para sahabat dan diwajibkan membacanya dalam salat.

Mengingat pentingnya peran tulis baca dalam menjaga otentisitas atau kemurnian Al-Qur’an, Nabi sangat menghargai orang-orang yang bisa tulis baca, dan menganjurkan sahabat-sahabatnya untuk mempelajarinya.

Setelah Perang Badar, Nabi memanfaatkan para tawanan perang Badar yang pandai baca tulis untuk menebus dirinya dengan mengajar baca tulis 10 orang anak-anak muslim. Dengan keputusan Rasul ini, semakin banyak orang yang bisa baca tulis, semakin banyak pula orang yang bisa mencatat dan menghafal Al-Qur’an.

Dengan demikian, ada tiga faktor yang membantu menjaga kelestarian tulisan dan bacaan Al-Qur’an:

  1. Tulisan atau naskah yang ditulis para penulis wahyu.
  2. Hafalan dari para sahabat yang sangat antusias menghafalnya.
  3. Tulisan atau naskah pribadi yang ditulis oleh para sahabat yang sudah lebih dulu pandai baca tulis seperti ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, dan lain-lain.

Selain tiga faktor di atas, Malaikat Jibril selalu mengecek bacaan Al-Qur’an Rasulullah setiap tahun. Ketika pengecekan, Rasulullah disuruh mengulang bacaan Al-Qur’an yang telah diturunkan. Bahkan sebelum wafat, Malaikat Jibril mengecek dua kali.

Nabi sendiri sering mengecek bacaan sahabatnya. Mereka disuruh membaca Al-Qur’an di hadapannya, dan beliau membetulkan bacaan mereka.

Nabi wafat sesudah Al-Qur’an selesai diturunkan dan telah dihafal oleh orang banyak menurut tertib susunan Al-Qur’an yang kita baca sekarang ini, sesuai dengan petunjuk yang diberikannya ketika membaca Al-Qur’an, baik di dalam maupun di luar salat.

Dengan cara pengamalan yang praktis di atas, Al-Qur’an bisa terpelihara kemurniannya dan tersebar dengan mudah di masyarakat.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 9 (Part 2)


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 7-8

0
Tafsir Surah al-Hijr
Tafsir Surah al-Hijr

Tafsir Surah al-Hijr Ayat 7-8 menerangkan bahwa mereka tidak hanya mengolok Nabi Muhammad, mereka juga menantangnya agar mendatangkan malaikat dengan nada merendahkan, dan dengan dalih sebagai bukti kenabian dirinya, sekaligus berita tentang ancaman azab dari Tuhan-Nya. Sedangkan para malaikat adalah tentara-tentara Allah yang akan membinasakan mereka.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Hijr Ayat 3-6


Tafsir Surah al-Hijr Ayat 7-8 Allah menjawab tantangan dari orang-orang kafir, bahwa tidak ada faedahnya menuruti kemauan mereka. Sebab, jikapun benar Allah menurunkan malaikat dihadapan mereka, serta bukti-bukti lain tentang kenabian Muammad serta kebenaran yang ia bawa, hal itu tidak akan cukup untuk meyakinkan mereka, sebab keraguan mereka akan terus berlanjut dengan keraguan-keraguan yang lain.

Ayat 7

Selanjutnya orang-orang kafir mengatakan, “Seandainya engkau hai Muhammad benar-benar percaya atas kebenaran apa yang engkau sampaikan dan percaya bahwa engkau benar-benar nabi dan rasul Allah, yang diutus kepada kami, tentulah engkau dapat meminta kepada-Nya agar bersama engkau diutus pula seorang malaikat dari langit, yang dapat menguatkan dan membuktikan kenabian dan kerasulanmu itu kepada kami.”

Dari permintaan mereka itu, tergambarlah jalan pikiran mereka tentang kenabian dan kerasulan.

Menurut mereka, jika diutus seorang nabi atau rasul, mesti ada malaikat yang mendampinginya, sehingga malaikat dapat menguatkan kenabian dan kerasulannya, memudahkan manusia menerima risalahnya, atau nabi itu cukup berupa malaikat saja.

Menurut jalan pikiran mereka, yang membawa ayat-ayat Allah hanyalah makhluk rohani, sedangkan manusia adalah makhluk jasmani (dapat dilihat).

Manusia, sekalipun mempunyai kekuatan yang tinggi, tetap tidak mungkin menjadi nabi dan rasul, disebabkan mereka masih bergaul dengan manusia, berada di tengah-tengah mereka, dan masih memiliki kebutuhan jasmani, seperti makan, minum, berpakaian, ingin kekuasaan, ingin mengumpulkan harta, tertarik dengan kehidupan duniawi, dan sebagainya.

Karena itu mustahil seorang manusia menjadi nabi dan rasul, kecuali jika pengangkatan kenabian dan kerasulan itu dikuatkan atau dikukuhkan dengan keberadaan malaikat sebagai pendamping.

Kepercayaan orang-orang musyrik Mekah ini seperti kepercayaan Fir‘aun dan para pengikutnya tentang rasul dan nabi.

Menurut mereka, seharusnya semua rasul yang diutus Allah diangkat dengan upacara yang penuh keagungan dan kebesaran, seperti pengangkatan raja-raja mereka, dengan memakai perhiasan gelang dan kalung yang terbuat dari emas dan pakaian kebesaran, atau rasul itu datang dengan diiringi oleh para malaikat, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah swt:

فَلَوْلَآ اُلْقِيَ عَلَيْهِ اَسْوِرَةٌ مِّنْ ذَهَبٍ اَوْ جَاۤءَ مَعَهُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ مُقْتَرِنِيْنَ   ٥٣  فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهٗ فَاَطَاعُوْهُ ۗاِنَّهُمْ كَانُوْا قَوْمًا فٰسِقِيْنَ   ٥٤

“Maka mengapa dia (Musa) tidak dipakaikan gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?” Maka (Fir’aun) dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik. (az-Zukhruf/43: 53-54)


Baca Juga : Surah Az-Zukhruf Ayat 32: Jawaban Al-Quran Untuk Mereka yang Menyangkal Kenabian Muhammad


Ayat 8

Allah menjawab olok-olok dan ejekan orang musyrik Mekah itu dengan ayat ini, bahwa Dia tidak akan menurunkan malaikat karena tidak ada hikmah dan faedahnya.

Hal tersebut berarti seandainya pun Allah swt menurunkan para malaikat dari langit dan mengangkatnya sebagai rasul yang menyampaikan agama-Nya, hal itu tidak ada manfaatnya dan tidak akan dapat meyakinkan serta meluruskan akidah orang musyrik itu.

Sebagaimana diketahui bahwa malaikat adalah makhluk yang gaib dan halus sehingga mata manusia tidak akan sanggup melihatnya.

Seandainya Allah swt menghendaki dan menjadikan malaikat itu berbentuk manusia, sehingga mata manusia dapat melihatnya.

Kemudian Allah mengutusnya sebagai nabi dan rasul kepada mereka, malaikat itu makan dan minum seperti mereka, berjalan dan bergaul bersama mereka, maka akan timbul pula dalam pikiran mereka bahwa malaikat yang diberi tugas sebagai seorang rasul itu adalah manusia juga seperti mereka, bukan malaikat.

Artinya, keraguan dalam diri mereka akan terus ada. Hal ini diterangkan dalam firman Allah swt:

وَلَوْ جَعَلْنٰهُ مَلَكًا لَّجَعَلْنٰهُ رَجُلًا وَّلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَّا يَلْبِسُوْنَ

Dan sekiranya rasul itu Kami jadikan (dari) malaikat, pastilah Kami jadikan dia (berwujud) laki-laki, dan (dengan demikian) pasti Kami akan menjadikan mereka tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu. (al-An’am/6: 9).

Dari sikap dan cara mereka seperti yang dikemukakan dalam firman Allah di atas, terbuktilah bahwa sebenarnya hati mereka telah tertutup menerima kebenaran. Bukti apa pun yang dikemukakan kepada mereka, mereka tetap tidak akan beriman, Allah swt berfirman:

وَلَوْ اَنَّنَا نَزَّلْنَآ اِلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتٰى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَّا كَانُوْا لِيُؤْمِنُوْٓا اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُوْنَ

Dan sekalipun Kami benar-benar menurunkan malaikat kepada mereka, dan orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) di hadapan mereka segala sesuatu (yang mereka inginkan), mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki. Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (arti kebenaran). (al-An’am/6: 111).

Karena sikap mereka yang demikian itu, maka Allah memberikan peringatan keras kepada mereka bahwa jika ada malaikat yang diturunkan, maka itu merupakan tanda bahwa mereka akan ditimpa malapetaka yang besar, dan dihancurleburkan sehingga riwayat mereka akan berakhir.

Ketentuan ini sesuai dengan sunatullah yang telah berlaku bagi umat-umat terdahulu yang telah memperolok-olokkan para rasul Allah yang telah diutus kepada mereka. Sebelum azab ditimpakan, diutuslah kepada mereka malaikat, seperti yang pernah terjadi pada kaum Luth, sebagaimana firman Allah swt:

قَالُوْا يٰلُوْطُ اِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَّصِلُوْٓا اِلَيْكَ فَاَسْرِ بِاَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِّنَ الَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ اَحَدٌ اِلَّا امْرَاَتَكَۗ اِنَّهٗ مُصِيْبُهَا مَآ اَصَابَهُمْ  ۗاِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ ۗ اَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيْبٍ

Mereka (para malaikat) berkata, ”Wahai Luth! Sesungguhnya kami adalah para utusan Tuhanmu, mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah beserta keluargamu pada akhir malam dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia (juga) akan ditimpa (siksa) yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat terjadinya siksa kepada mereka itu pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?” (Hud/11: 81).

Mujahid dalam penafsiran ayat ini mengatakan bahwa Allah menurunkan malaikat hanya sebagai rasul Allah, tanda datangnya azab, atau pembawa azab Allah.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Hijr Ayat 9 (Part 1)


Kata Ganti Jamak dalam al-Qur’an Tidak Selalu Bermakna Banyak, Ini Penjelasannya

0
Kata Ganti Jamak dalam al-Qur'an Tidak Selalu Bermakna Banyak, Ini Penjelasannya
Kata Ganti Jamak dalam al-Qur'an

Dalam tatanan kebahasaan kita mengenal istilah kata ganti. Kata ganti secara umum dibedakan menjadi kata ganti tunggal dan kata ganti jamak. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal kata ganti tunggal “aku”, “kamu” dan “dia”, sedangkan untuk kata ganti jamak kita mengenal “kami”, “kalian” dan “mereka”.

Begitu pula dalam bahasa Arab, yang juga menjadi al-Qur’an. Allah Swt merupakan Tuhan Yang Maha Esa. Dzat yang satu dan tidak ada duanya. Banyak ayat al-Qur’an yang menunjukkan bukti ke-Esa-an Allah Swt. Lantas, mengapa Allah Swt juga menjelaskan diri-Nya dengan kata “Kami” di beberapa ayat al-Qur’an? Apakah maksud dari penyebutan kata ganti jamak terhadap sesuatu yang tunggal?

Istilah untuk hal ini dinamakan dengan plural of majesty, yakni penyebutan kata ganti jamak bagi sesuatu yang tunggal dengan tujuan pengagungan diri sendiri atau dalam bahasa Arab disebut dengan jama’ li al-Ta’dzim. Contoh ayat yang menunjukkan plural of majesty terdapat pada Q.S. Al-Baqarah [2]: 34;

وَإِذْ قُلْنَا لِلمَلَائِكَةِ اسْجُدُوْا لِأَدَمَ  فَسَجَدُوْا إِلَّا إِبْلِيْس

“Dan ketika Kami mengatakan kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam, maka mereka bersujud kecuali iblis”

Baca juga: Nilai Kesetaraan Hingga Evaluasi Diri; Qiraah Maqashidiyah Kisah Nabi Adam

Menurut al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, penggunaan kata قُلْنَا dalam ayat ini untuk menunjukkan arti Allah Swt sendiri, tidak menggunakan redaksi قُلْتُ dengan tujuan pengagungan dan penyanjungan terhadap Dzat-Nya. Hal ini serupa dengan pendapat Wahbah az-Zuhaily dalam kitab tafsirnya Tafsir al-Munir, yang mengatakan bahwa penggunaan kata قُلْنَا  dalam bentuk jama’ sebagai bentuk keagungan. Contoh lain juga bisa ditemukan dalam Q.S. Al-Fath [48]: 1;

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًا

“Sungguh, Kami telah membukakan kepadamu kemenangan yang nyata”.

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya ar-Risalah al-Tadmuriyah mengatakan bahwa penggunaan kata jamak dalam hal ini tidak lain karena pengagungan yang menjadi hak bagi Allah Swt untuk menyandangnya. Kata jamak biasa menunjukkan makna berbilang dan Allah Swt terbebas dari bilangan. Penggunaan kata ganti orang pertama jama’ nahnu (Kami) dalam ayat tersebut melahirkan kaidah dalam bahasa Arab, yakni al-mutakallim al-mu’adzdzim li nafsihi atau kata ganti orang pertama dengan tujuan pengagungan terhadap diri sendiri.

Dalam dunia Barat penggunaan kata ganti bentuk jama’ ini disebut dengan istilah nosism. Kata nosism sendiri dalam The Dictionary of Language Therminology (ODLT) berarti penggunaan rujukan untuk diri sendiri dengan kata “kami”. Dalam kamus Oxford, nosism berarti rujukan terhadap individual dalam penggunaan kata “kami” untuk menyatakan pendapatnya. Istilah ini serupa dengan istilah “royal we”. Istilah “royal we” biasa digunakan dalam tatanan kerajaan Inggris ketika raja atau ratu menyebut diri mereka sendiri dalam pertemuan resmi baik secara tertulis maupun lisan.

Dalam konteks Indonesia sendiri penerapan plural of majesty mungkin bisa ditemui pada teks proklamasi Negara kita. Teks proklamasi tertulis dengan ”Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya”. Penggunaan kata “kami” merujuk pada Ir. Soekarno sebagai penulis teks proklamasi. Meskipun memang Bangsa Indonesia menginginkan kemerdekaan, namun tanpa hak kekuasaan yang dimiliki oleh Ir. Soekarno, teks proklamasi tersebut tidak akan berarti.

Adanya istilah-istilah dan manfaat di atas berpengaruh pada kata ganti orang kedua atau “kamu”. Jika kata “aku” memiliki bentuk jama’ “kami”, maka kata “kamu” memiliki bentuk jama’ “kalian”. Hal ini biasa dipakai dalam percakapan bahasa Arab sehari-hari yang menyebut kata انتم (kalian) kepada orang lain padahal hanya satu orang. Oleh karenanya lafadz salam dalam bahasa Arab berbentuk السَّلَامُ عَلَيْكُمْ (semoga keselamatan tercurah kepada kalian). Dan penggunaan kata salam ini umum digunakan untuk laki-laki maupun perempuan dan seorang maupun banyak orang. Dalam al-Qur’an konteks ini bisa ditemui pada Q. S. an-Nahl [16]: 120;

اِنَّ اِبْرَاهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مْنَ الْمُشْرِكِيْن

“Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah)”. (Terjemah al-Qur’an Kemenag RI)

Dalam terjemahan ayat di atas kata اُمَّةً memiliki makna seorang imam. Hal ini berbeda dengan makna asli kata اُمَّةً yang menurut Syekh Raghib al-Ashfahani dalam Mufradat Alfadzil Qur’an bermakna kumpulan dari suatu perkara seperti agama, waktu dan tempat yang sama. Namun beliau mengartikan kata اُمَّةً dalam ayat ini menjadi pemimpin tempat perkumpulan (tempat ibadah). Karena melihat konteks ayat, Nabi Ibrahim a.s. merupakan pembangun tempat ibadah (Ka’bah). Kemudian Ibnu Katsir berpendapat bahwa kata اُمَّةً bermakna sekelompok orang yang membutuhkan pemimpin.

Jika pendapat di atas dilogikakan, اُمَّةً adalah sekelompok orang yang membutuhkan pemimpin dan Nabi Ibrahim a.s. sendiri adalah pemimpin atau pendiri tempat ibadah. Maka, penyebutan kata اُمَّةً dalam ayat tersebut menjadi bentuk perwakilan Nabi Ibrahim a.s. atas umat sebenarnya. Selaras dengan tafsir Kemenag RI yang menerjemahkan kata اُمَّةً sebagai imam (yang menjadi teladan) yang ditujukan pada Nabi Ibrahim a.s. sebagai gelar karena memiliki beberapa sifat kemuliaan.

Baca juga: Kisah Al-Quran: Beberapa Gelar Yang Disandang Nabi Ibrahim a.s.

Penafsiran terhadap kata-kata di atas tidak terekam jejak adanya pertanyaan sahabat mengenai kata tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa sahabat sudah mengerti maksud dari kata tersebut. Fenomena ini bisa diambil hikmahnya bahwa maksud dari penggunaan kata ini tidak lain karena bentuk kesopanan. Kesopanan merupakan salah satu upaya dalam menjaga keharmonisan dalam bermasyarakat. Dan hal tersebut diajarkan oleh al-Qur’an yang notabene pedoman bagi umat Islam. Semoga kita selalu dapat mengambil hikmah dari apa yang disampaikan Allah Swt kepada hamba-Nya melalui pedoman tersebut. Amin.