Beranda blog Halaman 490

Tafsir Surat Al An’am Ayat 108-110

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pada pembahasan yang lalu Nabi Muhammad saw dan orang-orang mukmin diperintahkan agar selalu berpegang pada wahyu, pada Tafsir Surat Al An’am Ayat 108-110 ini Allah swt memerintahkan agar tidak memaki sembahan orang kafir karena menyebabkan mereka akan membalas makian itu.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 104-107


Selanjutnya Tafsir Surat Al An’am Ayat 108-110 berbicara mengenai permintaan orang-orang kafir yang menginginkan mukjizat Nabi Muhammad saw agar mereka percaya. Namun sebenarnya orang-orang kafir itu tidak akan beriman seandainya mukjizat didatangkan. Hal itu akan mencelakakan mereka karena apabila tidak beriman setelah datangnya mukjizat maka azab akan langsung menimpa sebagaimana umat terdahulu.

Pada akhir Tafsir Surat Al An’am Ayat 108-110 ini Allah menegaskan bahwa Allah akan membiarkan mereka memperturutkan hati mereka bergelimang dalam kekafiran dan kemaksiatan. Hati mereka diliputi oleh kebingungan dan keragu-raguan terhadap ayat-ayat yang mereka dengar.

Ayat 108

Mengenai sebab turunnya ayat ini diceritakan sebagai berikut, pada suatu ketika orang-orang Islam mencaci-maki berhala, sembahan orang-orang kafir, kemudian mereka dilarang dari memaki-maki itu. (Riwayat Abd ar-Razzaq dari Qatadah).

Allah melarang kaum Muslimin memaki berhala yang disembah kaum musyrik untuk menghindari makian terhadap Allah dari orang-orang musyrik, karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui sifat-sifat Allah dan sebutan-sebutan yang seharusnya diucapkan untuk-Nya. Maka bisa terjadi mereka mencaci-maki Allah dengan kata-kata yang menyebabkan kemarahan orang-orang mukmin.

Dari ayat ini dapat diambil pengertian bahwa sesuatu perbuatan apabila dipergunakan untuk terwujudnya perbuatan lain yang maksiat, maka seharusnyalah ditinggalkan, dan segala perbuatan yang menimbulkan akibat buruk, maka perbuatan itu terlarang.

Ayat ini memberikan isyarat pula kepada adanya larangan bagi kaum Muslimin bahwa mereka tidak boleh melakukan sesuatu yang menyebabkan orang-orang kafir tambah menjauhi kebenaran. Mencaci-maki berhala sebenarnya adalah mencaci-maki benda mati. Oleh sebab itu memaki berhala itu adalah tidak dosa.

Akan tetapi karena memaki berhala itu menyebabkan orang-orang musyrik merasa tersinggung dan marah, yang akhirnya mereka akan membalas dengan mencaci-maki Allah, maka terlaranglah perbuatan itu.

Allah memberikan penjelasan bahwa Dia menjadikan setiap umat menganggap baik perbuatan mereka sendiri. Hal ini berarti bahwa ukuran baik dan tidaknya sesuatu perbuatan atau kebiasaan, adakalanya timbul dari penilaian manusia sendiri, apakah itu merupakan perbuatan atau kebiasaan yang turun-temurun ataupun perbuatan serta kebiasaan yang baru saja timbul, seperti tersinggungnya perasaan orang-orang musyrik apabila ada orang-orang yang memaki berhala-berhala mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa ukuran untuk menilai perbuatan atau kebiasaan itu baik atau buruk, adalah termasuk persoalan yang ikhtiyari. Hanya saja di samping itu Allah telah memberikan naluri pada diri manusia untuk menilai perbuatan dan kebiasaan itu, apakah perbuatan dan kebiasaan itu termasuk baik ataukah buruk.

Sedangkan tugas-tugas Rasul adalah penyampaikan wahyu yang membimbing dan mengarahkan naluri untuk berkembang sebagaimana mestinya ke jalan yang benar agar mereka dapat menilai perbuatan serta kebiasaan itu dengan penilaian yang benar.

Pada akhir ayat ini Allah memberikan penjelasan bahwa manusia keseluruhannya akan kembali kepada Allah setelah mereka mati, yaitu pada hari kebangkitan; karena Dialah Tuhan yang sebenarnya dan Dia akan memberitakan seluruh perbuatan yang mereka lakukan di dunia, dan akan memberikan balasan yang setimpal.

Ayat 109

Muhammad bin Ka’ab berkata, “Orang Quraisy berkata kepada Nabi saw, “Wahai Muhammad, engkau menceritakan bahwa Musa a.s. memiliki tongkat yang dipukulkan ke batu, lalu keluar dua belas mata air, Isa a.s. menghidupkan orang-orang mati dan kaum Samud memiliki unta. Maka datangkanlah kepada kami sebagian hal tersebut, kami akan mempercayaimu.” Rasulullah saw menjawab, “apa yang kalian mau?”

Orang Quraisy menjawab, “Bukit Safa jadikan emas.” Rasul menjawab, “kalau aku lakukan, apakah kalian mengimaniku.” Mereka menjawab, “ya, demi Allah kami semua mengikutimu.” Lalu Rasulullah saw berdoa, maka datanglah Jibril a.s. dan berkata, “jika engkau mau Bukit Safa dijadikan emas, namun saya tidak diperintahkan untuk mendatangkan mukjizat, untuk didustakan kecuali ditimpakan siksa, atau dibiarkan agar bertobat sebagian mereka.” Maka Allah menurunkan ayat ini.


Baca juga: Al-Mar’ah fil Islam: Antologi Kesetaraan Perempuan dalam Al-Quran, Hadis, dan Sejarah Nabi


Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan bahwa seandainya Nabi dapat mendatangkan mukjizat seperti yang mereka harapkan, niscaya mereka akan percaya bahwa ayat-ayat yang diterima Nabi itu benar-benar datang dari Allah dan mereka akan mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa keingkaran mereka kepada ayat-ayat Allah telah memuncak. Mereka sebenarnya tidak sanggup memahami bukti-bukti kebenaran yang terkandung dalam ayat-ayat yang diterima oleh Nabi, kemudian mereka mengusulkan agar diturunkan tanda-tanda kebenaran yang lain.

Hal ini menunjukkan bahwa mereka hanyalah mencari-cari persoalan untuk menjatuhkan pribadi Nabi dengan jalan meminta turunnya mukjizat, padahal mukjizat-mukjizat itu diberikan berdasarkan izin Allah dan kebijaksanaan-Nya, tidak tergantung pada kehendak serta kemauan seseorang.

Allah memerintahkan kepada Nabi bahwa sesungguhnya ayat-ayat itu datang dari Allah semata, jadi kekuasaan menurunkan wahyu itu tidak di tangan Muhammad melainkan di tangan Allah yang diberikan menurut kehendak-Nya.

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِرَسُوْلٍ اَنْ يَّأْتِيَ بِاٰيَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ

Tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu bukti (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. (ar-Ra’d/13: 38)

Sesudah itu Allah menjelaskan kepada kaum Muslimin yang mengharapkan datangnya mukjizat kepada Nabi, untuk memenuhi permintaan orang-orang kafir itu bahwa meskipun diturunkan mukjizat sesuai dengan permintaan mereka, mereka tidak akan pernah beriman. Oleh sebab itu orang Islam tidak perlu menghiraukan tuntutan mereka itu.

Ayat 110

Sesudah itu Allah memberikan penjelasan kepada kaum Muslimin bahwa mereka tidak mengetahui bahwa Allah kuasa untuk memalingkan hati dan penglihatan orang-orang musyrik; maka sebagaimana mereka tidak beriman sebelum mereka meminta mukjizat itu, begitu jugalah mereka tidak mau beriman sesudah datangnya mukjizat, karena hati mereka telah dipalingkan dari kebenaran.

Allah berfirman:

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِّنَ السَّمَاۤءِ فَظَلُّوْا فِيْهِ يَعْرُجُوْنَۙ  ١٤  لَقَالُوْٓا اِنَّمَا سُكِّرَتْ اَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَّسْحُوْرُوْنَ ࣖ   ١٥

Dan kalau Kami bukakan kepada mereka salah satu pintu langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, ”Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang yang terkena sihir.”  (al-Hijr/15: 14-15)

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Allah akan membiarkan mereka memperturutkan hati mereka bergelimang dalam kekafiran dan kemaksiatan. Hati mereka diliputi oleh kebingungan dan keragu-raguan terhadap ayat-ayat yang mereka dengar. Mereka tidak dapat membedakan antara kebenaran dan tipuan. Mereka dibiarkan dalam kegelapan dan kesesatan yang nyata.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 111-113


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Hud Ayat 112: Perintah Istiqomah Dalam Kebaikan

0
Istiqomah dalam kebaikan
Istiqomah dalam kebaikan

Sehari-hari, umat Islam sering mendengar ajakan atau perintah istiqomah dalam kebaikan dan menjauhi keburukan dalam berbagai kegiatan maupun kesempatan. Namun meskipun begitu, masih banyak orang yang belum mengetahui secara mendalam tentang makna istiqomah dan bagaimana Al-Qur’an berbicara mengenainya.

Secara bahasa, istiqomah berasal dari bahasa Arab istiqamah yang bermakna lurus dan tegak. Sedangkan menurut istilah, istiqomah berarti terus berpegang teguh pada ajaran Islam, baik urusan akidah, ibadah, akhlak, maupun muamalah. Di Indonesia, istiqomah sering diterjemahkan sebagai konsisten dalam melaksanakan sesuatu atau bersikap.

Istiqomah dalam kebaikan adalah sebuah pembuktian tentang sejauh mana seseorang dalam berislam pasca beraksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt dan nabi Muhammad Saw merupakan utusan-Nya. Para ulama bahkan menyebutkan bahwa “al-istiqamah khairun min alfi karamah.” Artinya, sikap dan perbuatan istiqomah jauh lebih baik dari seribu karomah (Syarh al-Hikam al-‘Atha’iyyah [1]: 126).

Baca Juga: Amal Banyak Tapi Sering Menyebut Kebaikannya, Bagaimana Menurut Al-Quran?

Ada banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai istiqomah dalam kebaikan. Tercatat, kata istiqomah dan derivasinya disebutkan sebanyak 22 kali dan tersebar dalam beberapa surah. Secara umum, ayat-ayat tersebut berbicara mengenai perintah istiqomah dalam kebaikan dan keutamaannya, serta janji Allah Swt bagi orang-orang yang senantiasa bersikap istiqomah dalam beragama.

Tafsir Surah Hud [11] Ayat 112: Perintah Istiqomah Dalam Kebaikan

Bersikap istiqomah dalam kebaikan maupun menjauhi keburukan tidaklah mudah. Karena setiap orang seringkali mengalami fluktuasi keimanan yang kadangkala meningkat dan kadangkala menurun. Ketika iman seseorang naik, maka kemungkinan besar semangat beribadahnya akan meningkat, begitu pula sebaliknya.

Menjaga konsistensi keimanan tidaklah mudah. Allah Swt Bahkan mengingatkan nabi Muhammad Saw – sebagai manusia terbaik dan paling beriman – agar selalu istiqomah dalam kebaikan dan berusaha menjaga stabilitas grafik keimananya serta meningkatnya. Narasi persuasif Allah Swt ini tertuang dalam surah Hud [11] Ayat 112 yang berbunyi:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ١١٢

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Menurut Quraish Shihab, ayat ini merupakan perintah istiqomah dalam kebaikan dan konsistensi dalam mengikuti tuntunan Allah Swt dalam Al-Qur’an. Karena pada ayat sebelumnya, yakni surah Hud [11] Ayat 111, dikisahkan bahwa bani Israil tidak berpegang teguh kepada kitab Taurat dan berselisih tentangnya. Akibatnya, sebagian mereka ada yang mempercainya dan ada pula yang tidak.

Agar kisah bani Israil dan Taurat tidak terulang, pada surah Hud [11] Ayat 112 mengingatkan nabi agar senantiasa konsisten berpegang teguh pada Al-Qur’an dan ajarannya. Seakan-akan Allah Swt berfirman, “Dulu sebelum zamanmu wahai Muhammad, bani Israil telah diberikan kitab Taurat melalui Musa, akan tetapi mereka semua tidak berpegang teguh padanya dan malah memperselisihkannya.”

“Akibat dari tindakan tersebut, mereka tercerai berai dan tersesat. Oleh karena itu ya Muhammad, maka istiqomahlah kamu, yakni bersungguh-sungguh memelihara, mempercayai, mengamalkan serta mengajarkan tuntunan-tuntunan-Nya, baik menyangkut dirimu secara pribadi, maupun masyarakat sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan juga hendaklah kamu bersikap serupa terhadap orang-orang yang bertaubat bersamamu.

“Selain harus istiqomah dalam kebaikan wahai Muhammad, engkau beserta umatmu juga dilarang untuk melakukan segala macam keburukan dan janganlah kamu semua melampaui batas yang telah ditetapkan Allah Swt. Karena itu dapat mencederai kesucianmu dan kebaikan umatmu. Ketahuilah sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Kata fastaqim pada ayat ini diambil dari kata qama yang berarti mantap, terlaksana, berkonsentrasi serta konsisten. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa kata fastaqim diambil dari kata berdiri yang mengisyaratkan kemantapan dan kekokohan. Istilah ini dapat digambarkan seperti tiang yang berdiri tegak, tumbuhan yang akarnya kuat, dan permukaan air yang stabil (Tafsir Al-Misbah [6]: 360).

Dengan demikian, kata fastaqim adalah perintah untuk menegakkan sesuatu sehingga ia menjadi sempurna, mantap, dan seluruh yang diharapkan darinya berada dalam bentuk sesempurna mungkin, tidak ada kekurangan, keburukan dan kesalahan sedikitpun. Jadi, ketika Allah Swt memerintahkan seseorang dengan kata fastaqim, berarti ia harus melaksanakan perintah tersebut sesempurna mungkin sesuai kemampuan dirinya.

Secara umum, ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad Saw untuk istiqomah dalam kebaikan dan menegakkan tuntunan wahyu-wahyu llahi sebaik mungkin sehingga terlaksana secara sempurna sebagaimana mestinya. Tuntunan wahyu ada bermacam-macam, ia mencakup seluruh persoalan agama, dan kehidupan dunia maupun akhirat. Dengan demikian, perintah tersebut mencakup perbaikan kehidupan duniawi dan ukhrawi, pribadi, masyarakat dan lingkungan.

Baca Juga: Tuntunan Al-Quran dalam Menyikapi Penghinaan Terhadap Nabi SAW

Redaksi ayat di atas memisahkan Nabi Muhammad Saw dengan orang-orang yang telah bertaubat. Hal ini bukan saja untuk menunjukkan betapa tinggi kedudukan Nabi Saw, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa tugas dan beban yang diletakkan di pundak Nabi Muhammad Saw dalam soal perintah ini lebih berat daripada lainnya. Beliaulah yang berkewajiban tampil terlebih dahulu, setelah itu umat Islam mencontoh perbuatan Nabi Saw tersebut (Tafsir Al-Misbah [6]: 362).

Menurut al-Biqa‘i, kata istaqim pada Hud [11] Ayat 112 mengandung makna moderasi, karena pada ayat tersebut perintah melakukan berpadu dengan larangan agar melampaui batas. Dengan demikian, istaqim adalah pertengahan antara melebihkan (melampaui batas) dan mengurangi (tidak sempurna dalam mengerjakan ataupun meninggalkannya).

Hal serupa dikatakan Sayyid Qutb. Menurutnya, “Istiqamah adalah moderasi serta menelusuri jalan yang ditetapkan tanpa penyimpangan. Ini menuntut kewaspadaan terus-menerus, perhatian bersinambung, upaya pengamatan terhadap batas-batas jalan, pengendalian emosi yang dapat memalingkan sedikit atau banyak, karena perintah ini merupakan tugas abadi dalam setiap gerak dari gerak-gerak hidup ini.”

Larangan yang datang pada ayat ini sesudah perintah istiqomah bukanlah larangan pengabaian atau pengurangan, tetapi larangan pelampauan batas. Karena perintah istaqim serta apa yang diakibatkaanya dalam jiwa manusia bisa jadi membuat seseorang melampaui batas dan berlebihan sehingga mengalihkan ajaran agama ini dari kemudahan menjadi kesukaran. Padahal Allah Swt menghendaki agar agama-Nya dilaksanakan sebagaimana ia diturunkan.

Allah Swt menghendaki agar istiqomah ini sesuai dengan yang diperintahkan-Nya, tidak berkurang dan tidak berlebih. Kelebihan dan pelampauan batas serupa dengan pengabaian dan pengurangan, keduanya mengantar agama ini menyimpang dari cirinya yang dikehendaki Allah swt. Ini adalah satu pesan yang sangat berharga untuk memantapkan jiwa dalam jalan lurus dan lebar, tanpa penyimpangan menuju pelampauan batas atau pengabaian. Wallahu a’lam.

Maksud Larangan Berlebihan Memuji Rasulullah SAW, Tafsir Surah an-Nisa 49

0
Maksud Larangan Berlebihan Memuji Rasulullah SAW
Maksud Larangan Berlebihan Memuji Rasulullah SAW

Memuji Rasulullah SAW merupakan bagian dari takdzim umat Islam kepada  Nabi Muhammad saw. Bagi para muhibbin puji-pujian sudah menjadi ekspresi kecintaannya kepada sang Nabi, dan bagi umumnya manusia agar mudah meneladani akhlaknya setelah tertanam kecintaan yang mendalam.

Namun disayangkan jika puji-pujian ini dianggap berlebihan dan syirik oleh sebagian kelompok, padahal sangat jauh dari kata terlarang. Lantas apa maksud larangan berlebihan memuji Rasulullah saw. dalam hadits?

Jawaban dari pertanyaan di atas sebetulnya telah dijawab oleh para ahli tafsir ketika menjelaskan firman Allah swt. (QS. an-Nisaa’: 49),

  أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا (49)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?, sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun.”

Sebagaimana penjelasan al-Qurthuby, ayat ini adalah lanjutan ayat-ayat sebelumnya (dari ayat 44) yang menjelaskan tentang perbuatan tercela orang-orang yahudi dan nashrani. Yaitu pujian mereka terhadap diri sendiri, seperti pengakuan mereka sebagai anak tuhan, pengakuan hanya mereka yang masuk surga, dan pengakuan terbebasnya mereka dari dosa. Dan hakikat kesucian (keutamaan) adalah bagi orang-orang yang perilakunya baik di sisi Allah swt.


Baca juga: Riwayat Israiliyyat Batil dalam Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis


Adapun pujian terhadap orang lain, jika pujiannya tidak sesuai realita atau melampaui batas, maka perbuatan ini dilarang dalam agama. Dan sebaliknya, apabila pujiannya sebab kebaikannya dan sesuai dengan realita, maka hal ini termasuk perbuatan terpuji karena bisa memantik motivasi melakukan kebaikan kepada yang lainnya. Dan sebaik-baiknya manusia dalam hal apapun adalah Rasulullah saw. (al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, juz 5, hlm. 264 )

Al-Qurthuby juga meluruskan pemahaman maksud larangan terkait berlebih-lebihan memuji Rasulullah saw. seperti berlebihannya kaum Nashrani terhadap Nabi Isa as. dalam hadits (HR. al-Bukhari, no: 3189).

فمعناه لا تصفوني بما ليس فيّ من الصفات، تلتمسون بذلك مدحي، كما وصف النصارى عيسى بما لم يكن فيه، فنسبوه إلى أنه ابن الله، فكفروا بذلك وضلّوا.

Artinya: “Makna (haditsnya) adalah janganlah menyebutkan sifat-sifat yang tidak terdapat pada diriku, untuk memujiku. Sebagaimana orang-orang Nashrani menyebutkan sifat yang tidak terdapat pada Isa, dengan menisbahkannya sebagai putra Allah. Maka mereka menjadi kufur dan tersesat sebab hal itu.”   

Semua sifat-sifat kemuliaan, kesempurnaan dan keindahan yang dimiliki makhluk terdapat pada diri Rasulullah saw. Dan suatu sanjungan yang diperuntukkan baginda nabi dengan pujian-pujian indah yang menunjukkan luhurnya derajat beliau selama tidak melampaui batas seperti berlebihannya orang-orang Nashrani terhadap Nabi Isa, maka sah-sah saja. Bahkan pujian ini dinilai sangat baik, karena keberadaan Rasulullah sebagai suri tauladan yang memang perlu diketahui keluhuran akhlaknya agar dapat diikuti.


Baca juga: 3 Konsep Takwa dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 133-134


Hal ini senada dengan ungkapan al-Bushiri dalam qasidahnya al-Burdah:

دع ما ادعته النصارى في نبيهم      واحكم بما شئت مدحا فيه واحتكم

وانسب إلى ذاته ما شئت من شرف     وانسب إلى قدره ما شئت من عظم

فإن فضل رسول الله ليس له      حد فيعرب عنه ناطق بفم

 

Tinggalkan tuduhan orang-orang Nasrani terhadap Nabi Mereka. Dan tetaplah menyanjung Nabi Muhammad saw. dengan pujian sesukamu, dan teruslah tetapkan keutamaannya.

Nisbahkan semua bentuk kemuliaan pada dzat Nabi Muhammmad saw. sesukamu. Dan nisbahkan pula semua penghormatan dan ketinggian sebuah derajat pada derajat Nabi Muhammmad saw. sesukamu

Sesungguhnya keutamaan Rosulullah Muhammad tidaklah terbatas, hingga tak dapat diungkapkan oleh seorang pun melalui kata-kata


Baca juga: Surat Al-Hujurat Ayat 13: Dalil Sila Kedua Pancasila


Maka dari itu, Rasulullah tidak pernah ingkar ketika mendapat pujian-pujian dari para sahabatnya, seperti Abbas, Hassan bin Tsabit dan Ka’ab bin Zuhair dalam syair-syairnya. Diantara syair mereka adalah:

وأحسن منك لم تر قط عيني         وأجمل منك لم تلد النساء

خُلِقْتَ مبرءاً من كل عيب         كأنك قد خُلِقْتَ كما تشاء

Mataku benar-benar tidak pernah melihat orang sebaik dirimu, dan tidak pernah ada seorang perempuan-pun yang melahirkan bayi seperti dirimu.

Engkau (wahai Rasulullah) diciptakan dalam keadaan suci dari segala aib, seakan engkau diciptakan sesuai keinginan dirimu sendiri.

Wallahu A’lam

Riwayat Israiliyyat Batil dalam Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

0
Riwayat Israiliyyat batil pada kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis
Riwayat Israiliyyat batil pada kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

Dalam Ilmu Al-Quran, dikenal istilah riwayat israiliyyat. Pengertiannya yang paling sederhana, riwayat israiliyyat adalah riwayat-riwayat yang bersumber dari para ahli kitab Yahudi atau Nasrani.  Tapi salah satu ulama pemerhati tafsir, Husein al-Dzahabi, memperluas cakupan sumbernya menjadi semua hal di luar Islam dan tidak hanya terbatas pada Yahudi atau Nasrani saja. (ad-Dakhil fit-Tafsir, Ulinnuha, 132)

Riwayat israiliyyat dapat dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, sahih dan sesuai ajaran Islam. Tipe ini boleh diterima dan diriwayatkan. Kedua, tawaqquf. Dalam kajian israiliyyat, ini berarti tidak ditemukan penjelasan/alasan untuk membenarkan atau menentang riwayat tersebut. Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang kebolehan periwayatannya. Kategori terakhir, adalah batil/bohong dan bertentangan dengan ajaran agama. Jenis ini tidak boleh dinukil kecuali dengan menyebut status riwayat tersebut.

Baca juga: Kisah Al-Quran: Ratu Balqis, Pemimpin Perempuan nan Demokratis dan Diplomatis

Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran, penyebutan kisah masyhur ini menempati porsi khusus di surah al-Naml. Tokoh kunci yang mempertemukan keduanya adalah burung Hud-Hud.  Alkisah, nabi Sulaiman memeriksa rombongan bala tentaranya dan tidak menemukan Hud-Hud. Burung itu tiba kemudian dengan membawa kabar  tentang negara Saba` yang rakyatnya tidak menyembah Allah.

Menguji kebenaran berita itu, Nabi Sulaiman berinisiatif mengirim surat berisi ajakan ketauhidan dengan mengutus Hud-Hud. Kejadian ini diabadikan dalam Surat An-Naml ayat 27-28:

قَالَ سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ
ٱذْهَب بِّكِتَٰبِى هَٰذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَٱنظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ

“Dia (Sulaiman) berkata, “ Akan kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta””

“Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”

Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman Dalam Al-Quran: Kepribadiannya Sebelum Menjadi Raja

Sebagai balasan atas surat itu, ratu Balqis terlebih dahulu mengutus orang-orangnya dengan membawa hadiah untuk mempertimbangkan keputusan selanjutnya. Tapi hadiah itu ditolak oleh nabi Sulaiman sembari berpesan pada para utusan itu bahwa dia akan datang ke negeri Saba` bersama pasukannya.

Ayat-ayat Al-Quran yang memuat kisah ini selanjutnya menceritakan tentang nabi Sulaiman yang berusaha memindahkan singgasana ratu sebelum Balqis datang. Dari sekian rakyatnya, yang berhasil melakukannya  dengan cepat adalah seorang ‘alim. Nabi Sulaiman kemudian meminta singgasana itu dimodifikasi sedemikian rupa untuk menguji Balqis.

Saat Balqis tiba, nabi Sulaiman menanyakannya tentang singgasana itu, apakah Balqis mengenalinya atau tidak. Yang dijawab dengan kalimat, seakan-akan itulah dia. Selain itu, Balqis juga diajak memasuki istana berlantai kaca bening beralaskan air. Mengira itu adalah kolam, Balqis melangkah masuk dengan menyingkap penutup kedua betisnya.

Nabi Sulaiman justru berkata, sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca. Lantas, menyadari betapa agung ilmu dan kekayaan nabi Sulaiman, ratu Balqis akhirnya berujar, Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam. (QS. al-Naml [27]: 44)

Riwayat Israiliyyat Batil Berkenaan dengan Kisah Nabi Sulaiman dan Balqis

Riwayat ini menjelaskan ayat-ayat kisah tentang singgasana dan istana berlantai kaca. Salah satu tafsir yang memuat riwayat israiliyyat ini adalah Tafsir al-Khazin.

“Dikatakan bahwa penyebab Nabi Sulaiman ingin memindahkan singgasana Ratu ke kerajaannya—sebagaimana diriwayatkan dari Wahb dari Muhammad ibn Ka’b dan dari selain keduanya—, bahwa setan khawatir nabi Sulaiman menikahi Balqis. Karena ibu Balqis adalah keturunan jin, dan mereka takut saat Balqis melahirkan anak, mereka akan mengabdi dan menjadi budak nabi Sulaiman selamanya. Maka mereka mengatakan hal-hal yang buruk (tentang Balqis) kepada nabi: “Sesungguhnya pada akalnya (Balqis) terdapat sesuatu dan kakinya serupa himar (keledai). Demi mendengar hal tersebut, nabi Sulaiman ingin menguji kecerdasan Balqis dengan memindahkan singgasananya dan membangun istana untuk membuktikan ucapan setan dengan melihat kedua betisnya” (Tafsir al-Khazin [3]: 348)

Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis Dalam Al-Quran

Muhammad Abu Syahbah, pengajar Ilmu Al-Quran dan Hadis di al-Azhar Kairo, sekaligus penulis Israiliyyat dan Hadis-Hadis Palsu Tafsir Al-Quran, mengkritisi riwayat di atas di dalam bukunya. Syahbah mengomentari, bahwa yang diinginkan nabi Sulaiman dengan pemindahan singgasana dan pembangunan istana tidak lain adalah untuk memperlihatkan kebesaran kekuasaan serta kemajuan peradaban yang dianugerahkan kepadanya, yang tidak dimiliki Balqis.

Lebih lanjut Syahbah mengatakan, bahwa dengan segala nikmat dan kekuasaan yang luar biasa, mustahil bagi nabi Sulaiman untuk membangun istana hanya demi tujuan duniawi. Dia lebih mulia dan agung dari semua itu. Wallahu a’lam[]

3 Konsep Takwa dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 133-134

0
3 konsep takwa
3 konsep takwa

Secara sederhana, takwa ialah bentuk kesalehan diri di mana seseorang senantiasa melaksakanan segala perintah Allah dan dengan segenap usaha menjauhi larangan-Nya. Konsep takwa juga sering disebut dalam Al-Quran.

Di berbagai surat disebutkan beragam sikap dan perilaku yang menunjukan konsep takwa seseorang. Konsep tersebut juga ditemukan dalam surat Ali ‘Imran ayat 133-134. Firman tersebut berbunyi:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”

Quraish Shihab menyatakan dalam Tafsir al-Misbah bahwa ayat itu mengandung pesan untuk meningkatkan upaya dalam menjalankan ketakwaan. Jika ayat-ayat yang lain sekedar menerangkan agar menjalankan yang wajib dan meninggalkan yang haram, maka ayat ini lebih menekankan pada peningkatan dengan cara berkompetisi. Kata “bersegeralah kamu” sebagai ketergesaan seseroang untuk meraih ampunan dan berlomba mencapai surga.

Baca juga: Kriteria Orang Bertakwa dalam Al-Quran Surat Yunus Ayat 133-135

Ayat tersebut kemudian diakhiri dengan kalimat al-Muttaqin yang selanjutnya dijelaskan pada ayat ke 134 yang berbunyi:

 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang berinfaq, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema‟afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”

Ayat ini menjelaskan ciri orang-orang yang bertakwa sebagai ahli surga. Dari ayat tersebut maka akan ditemukan tiga konsep takwa yang termuat di dalamnya antara lain:

Berinfak dalam segala kondisi

Ibnu Kathir dalam tafsir-nya menerangkan bahwa berinfaq dalam kondisi lapang maupun sempit bisa diartikan demikian. Namun lebih luas diterangkan bahwa kondisi yang dimaksud juga bisa dalam keadaan giat ataupun malas, sehat ataupun sakit dan dengan segala kondisi apapun. Para ahli surga tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak dilalaikan oleh keadaan apa pun dalam bertakwa kepada-Nya.

Pada Tafsir al-Maraghi juga disebutkan bahwa berinfak dihadapkan pada dua kondisi, yakni keadaan mudah dan susah. Sebagian orang teramat berat untuk menginfakkan harta yang ia cintai. Bila mereka berhasil melakukannya maka itu menunjukan ketakwaan.

Lebih lanjut, al-Maraghi menerangkan bahwa dianjurkannya bersedekah dalam keadaan lapang ialah demi menghapus rasa takabur, cinta harta dan memendam nafsu keinginan karena hartanya.

Adapun anjuran berinfak dalam keadaan susah ialah sebagai tantangan, karena pada umumnya mereka dalam kondisi tersebut cenderung meminta dari pada memberi. Maka bagi mereka yang masih bisa menyisihkan hartanya walaupun dalam keadaan susah, itulah ciri ahli surga.

Baca juga: Takwa dan Tawakkallah, Tips Mencari Rezeki Menurut Al-Quran

Menahan amarah

Ciri kedua yang disebut pada ayat diatas ialah وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ yakni mereka yang mampu menahan amarah. Menurut Ibnu Kathir, kata al-Kadhimin mengandung makna penuh kemudian menutupnya dengan rapat. Ia mengibaratkan seperti wadah yang penuh dengan air kemudian ditutup dengan rapat agar tidak tumpah. Ini merupakan analogi sederhana untuk menujukan bahwa ketika seseorang marah, keinginan untuk menbalas masih ada. Tetapi, ia mencoba menutupnya hingga tidak terlampiaskan kemarahan tersebut.

Bagi al-Maraghi, mereka ialah orang yang mampu mengekang amarah dan tidak mau melampiaskannya meskipun hal itu bisa saja dilakukan. Sedangkan mereka yang cenderung menuruti nafsu amarah hingga bertekad untuk dendam, maka bisa dikatakan tidak stabil dan tak mau berpegang pada kebenaran.

Ini juga sejelan dengan sabda Nabi Muhammad saw:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

“Bahwa Rasulullah saw bersabda: barangsiapa menahan amarah sedang ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan semua manusia hingga Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jelita yang ia kehendaki”(HR. Abu Dawud)

Baca juga: Tafsir Surat An-Nahl Ayat 97: Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Beribadah

Memaafkan sesama

Ibn kathir menjelaskan bahwa ini merupakan tingkatan setelah seseorang mampu menahan amarah, yakni mau memaafkan. al-‘Afin sendiri terambil dari kata al-‘Afni yang bermakna menghapus dan maaf. Ini menunjukan bahwa orang yang mau memaafkan berarti ia telah menghapus bekas luka di hatinya akibat kesalahan yang dilakukan orang lain.

Bila pada tahap “menahan amarah”, orang tersebut masih memiliki rasa sakit hati yang terpendam, maka pada tahap ini, orang tersebut benar-benar terhapus dan hilang hingga seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu.

al-Maraghi berpendapat bahwa ini merupakan tingkat penguasaan dan pengendalian diri yang jarang dilakukan tiap orang. Mereka yang suka memberi maaf atas kesalahan orang lain dan tidak menuntut balasan merupakan para ahli surga yang sudah dijanjikan Allah melaui firman-Nya.

Baca juga: Pengertian dan 4 Keutamaan Tawakal Menurut Al-Quran

Ibn Kathir juga mengingatkan bahwa ayat ini ditutup dengan “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” yang mengindikasikan bahwa ketakwaan seseorang berada pada tingkatan tertinggi apabila ia mau berbuat baik pada orang yang telah berbuat kesalahan padanya. Sehingga ia tidak hanya menahan amarah dan memaafkan. Namun, juga membalasnya dengan perbuatan baik. Wallahu a’lam[]

Yusuf al-Qaradhawi: Pengkaji Al-Quran dan Maestro Kajian Islam Kontemporer

0
Yusuf Al-Qaradhawi
Yusuf Al-Qaradhawi

Nama lengkapnya adalah Yusuf Abdullah al-Qaradhawi, ia dilahirkan pada tanggal 9 September 1926 di sebuah desa yang bernama Shafath Turaab, daerah Mahallah al-Kubra Provinsi al-Garbiyah Republik Arab Mesir. Syekh Yusuf al-Qaradhawi, biasa orang menyebut, berasal dari kalangan keluarga yang taat beragama dan hidup sederhana.

Ayahnya adalah seorang petani yang wafat pada saat al-Qaradhawi berusia dua tahun, sehingga ia diasuh oleh pamannya dan hidup bergaul dengan putra-putri pamannya yang dianggap sebagai saudara kandungnya sendiri.

Ketika berusia lima tahun, Yusuf al-Qaradhawi dimasukkan ke salah satu lembaga pendidikan al-Quran al-Kuttabdi desanya. Kemudian saat berusia sepuluh tahun, pada pagi hari ia belajar pada sekolah “al-Ilzamiyahyang berada di bawah Departemen Pendidikan Mesir dan sore harinya ia belajar al-Quran di al-Kuttab”. Di sekolah ini, ia belajar pengetahuan umum seperti matematika, ilmu sejarah, ilmu pengetahuan alam, ilmu kesehatan dan sebagainya.

Pada usia sepuluh tahun, ia telah hafal al-Quran dan menguasai ilmu tilawah. Suaranya merdu dan bacaannya fasih. Sejak saat itu, Yusuf al-Qaradhawi sering diangkat menjadi imam oleh penduduk desanya, terutama dalam sholat berjama’ah al-jahriyah (Maghrib, Isya’ dan Shubuh). Setelah tamat dari sekolah “al-Ilzamiyah”, ia melanjutkan pendidikannya ke Ma’had al- I’dadiyah, kemudian di Ma’had S|anawi di Propinsi Thanta Mesir.

Setelah itu, al-Qaradhawi terus melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar pada tahun 1952-1953 dan lulus dengan predikat terbaik. Setelah itu, ia memperdalami kembali kemampuan bahasa Arabnya di Fakultas Bahasa Arab Universitas al-Azhar selama dua tahun dan memperoleh ijazah internasional dan sertifikat mengajar.

Pada tahun 1957, ia melanjutkan pendidikannya di Ma’had al-Buhuts wa al-Dirasat al-Arabiyah al-‘Aliyah (Lembaga Tinggi Riset dan Kajian Kearaban). Pada tahun yang sama, ia melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Ushuluddin program Pascasarjana di Universitas al-Azhar dengan konsentrasi Tafsir-Hadis, dan tamat pada tahun 1960.

Setelah berhasil memperoleh gelar Magister, ia melanjutkan studi pada program Doktor dengan disertasi Al-Zakat fi al-Islam wa Atsaruha fi Hall al-Masyakil al-Ijtima’iyah. Disertasi itu direncanakan akan selesai dalam waktu dua tahun, namun karena terjadi krisis politik di Mesir, sehingga harus ditunda penyelesaiannya selama tiga belas tahun. Akhirnya pada tahun 1972, ia berhasil mendapat gelar Doktor dengan predikat cumlaude.

Dalam pengembaraan ilmiahnya, al-Qaradhawi banyak menelaah pendapat para ulama terdahulu seperti al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Syaikh al-Bakhi al-Khauli, Muhammad Abdullah Darraz serta Syaikh Mahmud Syaltut. Ia juga sangat menghayati pengajaran dan perjuangan salah satu panutannya, Hasan al-Bana (Pendiri Gerakan Islam al-Ikhwan al-Muslimun pada tahun 1928 di Propinsi Ismailiyah Mesir).

Berdasarkan informasi yang diterima, al-Qaradhawi sering mendengar ceramah Hasan al-Bana ketika ia datang ke Thahta, tempat ia sekolah di Madarasah I’dadiyah. Bahkan al-Qaradhawi juga selalu mengikuti kunjungan al-Bana ke beberapa daerah untuk mendengarkan ceramah ceramahnya.

Yusuf al-Qaradhawi juga membaca hampir seluruh tulisan al-Bana, baik dalam bentuk buku maupun artikel yang sering dimuat dalam majalah al-Syabab. Menurutnya, karya-karya hasil pikiran al-Bana sederhana bahasannya, menyenangkan menyentuh akal dan hati, serta mudah dipahami oleh semua lapisan masyarakat.

Selain mengembangkan misi berkhidmat kepada Islam, berceramah, menyampaikan masalah-masalah aktual dan keislaman dalam pergerakan Islam kontemporer di berbagai tempat belahan dunia, al-Qaradhawi pernah memegang berbagai jabatan penting seperti pengawas Pendidikan Agama pada Kementerian Wakaf di Mesir, Biro Umum Bidang Kebudayaan Islam di Universitas Al-Azhar di Mesir, Dekan Fakultas Syariah dan Studi Islam di Universitas Qatar, Direktur Kajian Sunnah dan Sirah di Universitas Qatar, serta Ketua Persatuan Ulama Internasional yang berpusat di Qatar sampai sekarang.

Sebagai seorang intelektual muslim, Yusuf al-Qaradhawi memiliki karya yang jumlahnya sangat banyak dalam berbagai dimensi keislaman dan hasil karangan yang berkualitas, seperti masalah-masalah; fiqh dan ushul fiqh, ekonomi Islam, ulum al-Quran dan al-Sunnah, akidah dan filsafat, fiqh prilaku, dakwah dan tarbiyah, gerakan dan kebangkitan Islam, penyatuan pemikiran Islam, pengetahuan Islam umum, serial tokoh-tokoh Islam, sastra dan lainnya.

Sebagian dari karyanya itu telah diterjemahkan ke berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia, tercatat sedikitnya 55 judul buku karya al-Qaradhawi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di antara karya-karyanya tersebut antara lain: Al-Halal wa al-Haram fi al-Islam (Halal dan Haram dalam Islam), Fiqh al-Zakat, yang berasal dari Disertasinya yang berjudul Al-Zakat fi al-Islam wa Atsaruha fi Hall al-Masyakil al-Ijtima’iyah (Zakat dalam Islam dan Pengaruhnya bagi Solusi Problematika Sosial), Al-Ijtihad fi al-Syari‘at al-Islamiah ma’a Nazarat Tahliliyah fi al-Ijtihadi al-Mu‘ashir (Ijtihad dalam Syari’at Islam dan Beberapa Ijtihad Kontemporer), Musykilat al-Faqr wa Kaifa ‘Alajaha al-Islam (Problema Kemiskinan dan Bagaimana Solusinya Menurut Islam), Ri’ayah al-Bi’ah fi Syari’ah al-Islam (Merawat Lingkungan Menurut Syari’at Islam), Kaifa Nata‘amal ma‘a al-Sunnah al-Nabawiyyah (Bagaimana Berinteraksi dengan Sunnah), Kaifa Nata‘amal ma‘a al-Qur’an al-‘Azim (Bagaimana Berinteraksi dengan Al-Qur’an) dan lainnya.

Ciri khas dari karya-karya yang dihasilkan oleh Yusuf al-Qaradhawi ialah pada upayanya untuk menelaah sumber-sumber primer Islam dan mencoba menghasilkan sebuah produk pemikiran baru yang sejalan dan responsif terhadap perkembangan zaman serta bahasa penyajian yang mudah untuk dipahami.

Hal ini merupakan wujud dari kekaguman al-Qaradhawi pada al-Bana yang selalu berupaya melahirkan karya ilmiah yang mudah dipahami tanpa terbatas pada sasaran pembaca tertentu namun diharapkan isinya mampu berimplikasi besar terhadap kehidupan masyarakat.

Sampai saat ini Yusuf al-Qaradhawi masih aktif dalam dunia akademik dan produktif dalam menghasilkan karya-karya. Sebagaimana beberapa artikel singkatnya yang bisa diakses langsung di web resmi miliknya.

Tentunya sebagai akademisi, semangat Yusuf al-Qaradhawi yang tetap produktif mengkaji dan menghasilkan perbendaharaan bagi khazanah Islam di usianya yang sudah sangat senja (94 tahun) harus diteladani dan diilhami bahwa belajar adalah kerja seumur hidup. Wallahu a’lam.

Suleiman Ali Mourad, Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Lebanon

0
Suleiman A Mourad
Suleiman A Mourad

Untuk membuktikan kebenaran Al-Quran, para pengkaji tidak luput pandangannya dari segi historis yang terdapat pada Al-Quran. Mereka berusaha mencari dan meneliti kebeneran sejarah atau kisah-kisah yang terkandung di dalamnya. Bahkan tidak sedikit sekali dari mereka membanding-bandingkan kisah-kisah tersebut dengan kitab-kitab suci sebelumnya.

Salah satunya adalah kisah Maryam yang paling popular di kalangan ahli al-Kitab, dan kemudian ditulis oleh Suleiman Ali Mourad. Suleiman Ali Mourad adalah Associate Professor Bidang Agama di Smith College. Dia saat ini sedang mengerjakan studi tentang Tahdhib fi tafsir al-Qur’an dari al-Hakim al-Jishumi.

Profil Suleiman Ali Mourad

Mourad lahir dan dibesarkan di Beirut, Lebanon. Dia berasal dari keluarga di desa kecil Benwati daerah Jizzin di Lebanon selatan. Kemudian dia menikahi seorang wanita yang benaman Rana knio dan karuniai satu anak laki-laki dan satu anak perempuan yang diberi nama Jude dan Alya Jasmine.

Perjalana pendidikan Ali Mourad dimulai ketika tinggal di Lebanon, dia masuk pada salah satu universitas yang ada di Libanon yaitu American University of Beirut. Pada saat itu A. Mourad mengambil jurusan matematika. Setelah tiga tahun berkeliaran di padang gurun yaitu jurusan Matematika, kemudian dia memutuskan untuk bergabung dengan departemen sejarah guna mempelajari Sejarah Timur Tengah.

Mourad kemudian datang ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studinya di Yale University, dan di tempat itulah dia mempelajari kurikulum dasar dalam Bahasa Arab dan Studi Islam dan pada akhirnya dia mendapatkan gelar Ph.D. nya.

Baca juga: Tayyar Altikulac: Filolog Muslim Pengkaji Manuskrip Al-Qur’an Kuno

Profesor dan teman sekelas Ali Mourad di AUB dan Yale merupakan instrumental dalam pendidikannya. Sehingga A. Mourad berkata: “Saya sangat berhutang kepada mereka yang telah menanamkan dalam diri saya hasrat keingintahuan serta pengetahuan intelektual, dan membantu saya menjadi sarjana beserta menjadi guru yang lebih baik”.

Menurut Suleiman Ali Mourad sendiri, Hal yang paling menarik tentang perjalanan pendidikannya adalah perjalanannya yang terus berlanjut dan bermanfaat dari banyak teman dan rekannya serta menemukan inspirasi dari karya-karya mereka. Serta dengan murah hati berbagi komentar dan saran mereka tentang tulisan dan penelitiannya.

Adapun guru-guru yang membentuk pemikiran Suleiman Ali Mourad ada banyak sekali diantaranya: 1. Kamal Salibi, padanya dia mempelajari sejarah Abad Pertengahan, Pra-Modern dan Modern Timur Tengah. 2. Tarif Khalidi; Budaya Islam, Sejarah dan Pemikiran Agama. 3. Samir Seikaly; Sejarah Sosial dan Intelektual, dan disiplin Sejarah. 4. Abdul Rahim Abu-Husayn; Sejarah Usmani dan Sejarah Pra-Masa Lebanon Modern. 5. Dan mempelajari Syriac pada Paul-Alain Beaulieu, dll.

Penelitiannya berfokus pada hermeneutika Al-Quran, Islam abad pertengahan, Yerusalem, dan masa Perang Salib. Penelitian A. Mourad sangat bervariasi dan mencerminkan formasi pendidikan yang luas dan keingintahuan intelektual. Sebagai seorang sejarawan Islam, dia sangat tertarik untuk mengeksplor lebih jauh lagi tentang bagaimana umat Islam sejak masa Nabi Muhammad hingga hari ini, memahami tradisi masa lalu dan agama mereka sendiri serta cara mereka menyesuaikannya untuk menghadapi tantangan di lingkungan mereka masingmasing.

Dengan kata lain, yang merupakan daya tarik Mourad untuk mempelajari sejarah dan pemikiran Islam adalah dinamika kehidupan yang dialami umat islam sejak zaman nabi Muhammad sampai saat ini. Tetapi sayangnya sedikit sekali dihargai oleh kebanyakan Muslim dan non-Muslim masa ini. Padahal dari sebuah tradisi besar kita bisa menemukan makna dan interpretasi, dan bahkan untuk menemukan kembali dirinya sendiri.

Baca juga: Massimo Campanini; Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Italia

Pemikiran Suleiman Ali Mourad Tentang Al-Quran

Mourad telah banyak menulis tentang Al-Quran dan sejarah penafsirannya, radikalisasi ideologi Jihad pada periode Perang Salib dan dampaknya pada pemikiran Sunni dan jalannya sejarah Timur Tengah, tulisan sejarah Arab / Islam awal, Yesus dan Maria dalam Al Quran dan sastra Islam, dan Yerusalem dan literatur Fadaʾil (kebajikan agama)

Mengidentifikasi Maria

Menurut A. Mourad, salah satu yang sering diperdebatkan adalah masalah garis keturunan dari Maryam. Ayat-ayat yang relevan yang berkaitan dengan masalah ini adalah Surat Ali Imran Ayat 35, yang artinya:

(ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al-Imran: 35)

Menurut Surat Ali Imran ayat 35 diatas menunjuk bahwa ibu Maryam adalah istri Imran, dan juga pada Surat At-Tahrim ayat 12 menunjukan bahwa maryam sebagai anak perempuan Imran. Sedangkan di dalam surat Maryam ayat28 menunjukan bahwa dia sebagai saudara perempuannya Harun.

Dari ketiga ayat di atas, banyak para ulama modern menganggap bahwa Al-Quran telah mengidentifikasi Maryam sebagai putri Imran dan saudara perempuannya Harun, serta menyebabkan banyak orang berpendapat bahwa Muhammad itu bingung dalam mebedakan apakah Maryam itu ibu Yesus atau saudara perempuan Harun dan Musa, yang ayahnya adalah Imran. A. Mourad juga mengutip dari pendapat at-Thabari yang mengatakan bahwa dalam konteks ayat 35, wanita yang diidentifikasi sebagai istri Imran tidak lain adalah ibu Maryam, Hanna (Anna).

Kemudian A. Mourad menjelaskan dari sumber-sumber Kristen seperti Protevangelium dari James bahwa ayah Maria bernama Joachim. Meskipun laporan-laporan tentang keluarga Maria ini tidak memiliki nilai sejarah yang nyata, begitu mereka diperkenalkan, mereka diterima dari cara orang Kristen dan orang lain mengidentifikasi dirinya.

Baca juga: Pesan Az-Zarkasyi bagi Para Pengkaji Ilmu Al Quran

Kabar dan kelahiran Yesus

Dibagian ini Suleiman Ali Mourad mengakat tentang berita tentang sebelum dan sesudah lahirnya seorang nabi atau utusan Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Maryam dan Injil Lukas, malaikat memberi tahu Maryam bahwa dia akan mengandung anak laki-laki. Sedangkan di surah al -Imran dan Protevangelium dari James, Mary mengatakan bahwa dia akan mengandung firman Allah.

Kesamaan yang dekat ini adalah bukti bahwa di sini Al-Quran meminjam materi dalam perjanjian lama dan perjanjian baru yang digunakan oleh orang Kristen terutama dalam Protevangelium dari James yang banyak digunakan di Timur dalam kekristenan Barat, meskipun teks itu dilarang.

Di dalam Al-Quran menceritakan tentang mengandungnya Maria dalam surat Maryam mencakup ayat 22-6 ini dianggap sebagai satu-satunya bagian dari konsep dan cerita yang tidak memiliki Kristenisasi yang diketahui. Kemudian kisah pada waktu Maryam melahirkan menurut A. Murad, kisah seperti yang muncul dalam surat Maryam jelas jauh lebih pendek daripada yang ada di Pseudo Matthew ditambah lagi dalam surat Maryam, cerita ketika Maria sedang dalam proses persalinan, tidak ceritakan tempatnya hanya diidentifikasikan sebagai tempat yang terpencil. Dalam Pseudo-Matius, Yesus telah dilahirkan, dan insiden itu terjadi selama Perjalanan menuju ke Mesir. Wallahu A’lam.

Hukum Nun Sukun dan Tanwin dalam Ilmu Tajwid

0
Nun Sukun dan Tanwin
Hukum Nun Sukun dan Tanwin

Setelah mengetahui tentang hak-hak huruf melalui Makharijul Huruf dan Shifatul huruf, kita akan beranjak membahas hukum-hukum dalam Ilmu Tajwid. Pada dasarnya, hukum dalam Ilmu Tajwid adalah seputar tata cara membaca huruf hijaiyah yang bertemu dengan huruf lain dan aturan panjang pendeknya. Salah satu hukum yang sering muncul dalam al-Qur’an adalah tentang Nun Sukun dan Tanwin.

Artikel ini akan mengulas tentang hukum nun sukun dan tanwin menurut Qiraat ‘Ashim Riwayat Hafs secara singkat dan jelas berdasarkan penamaan istilah dalam dalam Taqrib an-Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyr.

Macam-macam hukum Nun Sukun dan Tanwin

Menurut al-Jazari, Nun sukun ialah Nun berharakat Sukun yang biasanya berada di pertengahan dan akhir kalimat dalam bahasa Arab. Baik pada Isim, Fi’il, maupun Huruf. Sedangkan, tanwin adalah harakat yang hanya terdapat pada akhir Isim kata benda. Nun Sukun dan Tanwin memiliki empat hukum bacaan apabila bertemu dengan huruf lain.

  • Idzhar

Idzhar bermakna jelas. Dalam hal ini ialah ketika membaca kalimat yang di dalamnya terdapat Nun Sukun atau Tanwin bertemu huruf idzhar, maka dibaca dengan jelas keduanya. Adapun huruf-huruf idzhar adalah huruf yang bermakhraj di tenggorokan (al-Halq). Huruf tersebut berjumlah lima, yaitu huruf   ح, خ, ء, ع غ, ه, (Hamzah, ‘Ain, Ghoin, Ha’, Cha, Kho)

Contoh huruf nya ء pada Surat Al-A’raf ayat 42

لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Contoh huruf خ, ه حpada Surat At-Taubah ayat 109-110

وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ

وَٱللَّهُ عَلِیمٌ حَكِیمٌ

Contoh huruf غ pada Surat Al-A’raf ayat 43

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ

Contoh huruf ع pada Surat al-Baqarah ayat 48

 وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ

  • Ikhfa’

Ikhfa’ berarti samar. Apabila seseorang membaca huruf Nun Sukun atau Tanwin yang bertemu dengan huruf-huruf Ikhfa’, maka perlu menyamarkan bacaan hurufnya. Batasan menyamarkan disini ialah mengurangi intensitas bunyi dan artikulasi dari huruf Nun Sukun atau Tanwin, kemudian digabungkan dengan bacaan sebagian makhraj huruf Ikhfa’ selanjutnya. Adapun huruf ikhfa’ terdapat 15, yaitu.

ش, س, ت, ك, ط,ظ, ز, د, ج, ف, ق, ث, ص, ض, ذ

Contoh huruf ض pada Surat Al-Waqi’ah ayat 29

وَطَلْحٍ مَنْضُودٍ

Contoh huruf ص dan ف surat Al-Baqarah ayat 123

وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ

Contoh huruf ت, ث dan ق surat Al-Baqarah ayat 25

,أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي

مِنْ ثَمَرَةٍ,

رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ

Contoh huruf ك pada Surat Al-Baqarah ayat 228

إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

Contoh huruf ج dan ز pada Surat Ali ‘Imran ayat 3

وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

Contoh huruf د pada Surat Al-Baqarah ayat 94

مِنْ دُونِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ

Contoh huruf طَ dan س pada Surat Al-Baqarah ayat 237

,وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ

وَلَا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ

Contoh huruf ذ pada Surat Al-An’am ayat 51

وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَى رَبِّهِمْ

Contoh huruf ظ pada Surat Saba ayat 22

 وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ

Contoh huruf ش pada Surat Al-An’am ayat 6

وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ

  • Idghom

Idghom berarti melebur huruf nun atau tanwin kepada huruf idghom selanjutnya. Adapun huruf idghom adalah huruf hijaiyah selain huruf ikhfa’, yaitu huruf

ي, و, م, ن, ل, ر

Pada bacaan huruf ل, ر  tidak berlaku Ghunnah (mendengung) di dalamnya, istilah yang disematkan ialah Idghom Bi La Ghunnah. Sedangkan kebalikannya, pada huruf ي, و, م, ن dibaca menggunakan Ghunnah dengan Istilah Idghom Bighunnah.

Contoh huruf ل pada Surat An-Nisa’ ayat 67

وَإِذًا لَآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا

Contoh huruf ر pada Surat Al-Baqarah ayat 147

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Contoh huruf ي dan و pada Surat An-Nisa’ ayat 30

 وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا

Contoh huruf م pada Surat Ya-Sin ayat 42

 وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ

Contoh huruf ن pada Surat Yusuf ayat 26

 قَالَ هِيَ رَاوَدَتْنِي عَنْ نَفْسِي

  • Iqlab

Iqlab berarti membalikkan. Maksud dari membalikkan disini adalah memasukkan huruf nun sukun atau tanwin kepada huruf ba’. Contohnya pada

Surat Al-A’raf ayat 103

 ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَى بِآيَاتِنَا

Surat Al-Baqarah ayat 18

صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ

Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam

Tafsir Surat Al An’am Ayat 104-107

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Setelah membahas tentang kekuasaan Allah swt atas alam raya, Tafsir Surat Al An’am Ayat 104-107 ini menguatkan kembali bahwa ayat-ayat Allah swt baik dalam bentuk alam semesta ataupun dalam bentuk perantara Nabi Muhammad saw merupakan hal yang hak dan tidak ada keraguan di dalamnya.


Baca saebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 100-103


Selanjutnya ditegaskan pula dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 104-107 bahwa tujuan peringatan dan bukti kebenaran ayat-ayat Allah swt diulang-ulang dengan aneka ragam gaya supaya menghilangkan keraguan.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 104-107 ini diakhiri dengan perintah Allah swt kepada Nabi Muhammad saw dan seluruh orang mukmin agar selalu berpegang teguh pada wahyu. Karena hanya itu petunjuk kebenaran.

Ayat 104

Allah menjelaskan kepada kaum Muslimin bahwasanya tanda-tanda bukti kebenaran dan dalil-dalil yang kuat telah datang kepada mereka dari-Nya. Tanda-tanda bukti kebenaran dan dalil-dalil yang kuat itu dapat diketahui oleh mereka baik berupa tanda-tanda kekuasaan Allah di jagat raya maupun petunjuk Allah yang diberikan kepada mereka dengan perantaraan Nabi Muhammad berupa wahyu.

Kedua bukti itu dapat memperkuat keyakinan mereka tentang adanya Allah. Sesudah itu Allah menandaskan bahwa barang siapa yang dapat melihat kebenaran dengan jalan memperhatikan kedua bukti itu, dan meyakini adanya Allah serta melakukan amal yang baik, maka manfaat dari semuanya itu adalah untuk dirinya sendiri.

Akan tetapi sebaliknya barang siapa yang tidak mau melihat kebenaran atau berpura-pura tidak mengerti, maka akibat buruk dari sikapnya itu akan menimpa dirinya sendiri.

Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهٖ ۙوَمَنْ اَسَاۤءَ فَعَلَيْهَا

Barang siapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. (Fussilat/41: 46. Perhatikan pula al-Isra′/17: 7)

Di akhir ayat ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada kaumnya bahwa Muhammad sekali-kali bukanlah pemelihara mereka, yakni Nabi Muhammad sekali-kali tidak ditugaskan mengawasi amal-amal mereka dan tidak dapat membuat mereka menjadi mukmin.

Dia hanyalah seorang utusan Allah yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu yang telah diterimanya. Sebenarnya yang mengawasi amal mereka ialah Allah. Dia mempunyai pengawasan yang tak terbatas terhadap semua amal mereka baik yang mereka lakukan secara terang-terangan ataupun yang mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi. Semua amal itu akan diberi balasan yang setimpal.

Ayat 105

Allah menerangkan bahwa Dia telah memberikan bukti-bukti kebenaran secara berulang-ulang di dalam ayat-ayat-Nya dengan gaya bahasa yang beraneka ragam dengan maksud agar dapat memberikan keyakinan yang penuh kepada seluruh manusia dan untuk menghilangkan keragu-raguan, serta memberikan daya tarik kepada mereka agar mereka dapat menerima kebenaran itu dengan penuh kesadaran, dan untuk memberikan alasan kepada kaum Muslimin dalam menghadapi bantahan orang-orang musyrik.

Karena orang-orang musyrik mendustakan ayat-ayat Allah dengan mengatakan Nabi Muhammad mempelajari ayat-ayat itu dari orang lain atau menghafal berita-berita dari orang-orang yang terdahulu seperti firman Allah:

فَهِيَ تُمْلٰى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا

… lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang.”  (al-Furqan/25: 5)

Menurut al-Farra′, Alquran mengandung ayat-ayat yang benar dan dapat diterima oleh orang-orang yang bersih hatinya dan mempunyai niat yang kuat untuk menerima ilmu pengetahuan sehingga dapat menerima kebenaran itu dengan penuh keinsafan.


Baca juga: Mengenal Kanjeng Kiai Al-Quran Keraton Yogyakarta


Ayat 106

Allah memerintahkan kepada Nabi saw serta para pengikutnya agar dalam waktu menyampaikan dakwah Islamiyah, tetap berpegang pada wahyu, karena wahyu itulah yang dapat dijadikan tuntunan untuk dirinya dan kaumnya. Tujuan dari dakwah itu ialah untuk menyampaikan kalimat tauhid yaitu pengakuan secara mutlak bahwa tidak ada Tuhan kecuali Dia.

Kalimat tauhid itu harus diresapi dengan hati yang ikhlas, serta diamalkan dengan penuh keyakinan dan dijadikan tujuan tertinggi dari kehidupan manusia. Allah memberikan penegasan kepada Nabi dan kaumnya agar berpaling dari perbuatan-perbuatan orang-orang musyrik dan tidak perlu memaksa orang-orang yang tetap bergelimang dalam kemusyrikan serta tidak mengacuhkan ajakan tauhid.

Tidak berkecil hati karena tuduhan-tuduhan yang diarahkan orang-orang musyrik yaitu bahwa wahyu yang disampaikan Nabi adalah dipelajari dari orang-orang Yahudi. Karena kebenaran itu cahayanya cemerlang dengan sendirinya apabila diucapkan dengan lisan dan dilaksanakan dalam bentuk amal perbuatan. Sedangkan kebatilan meskipun diselubungi dengan berbagai hal yang menarik, namun akhirnya akan terungkap juga kebusukannya.

Ayat 107

Dijelaskan bahwa jika Allah berkehendak menjadikan seluruh manusia beriman kepada-Nya, niscaya tidak ada seorang pun yang musyrik.

Di dalam jiwa manusia terdapat potensi untuk menjadi mukmin atau kafir, taat atau fasiq. Manusia telah diberi hak memilih (ikhtiyar). Potensi yang ada pada manusia dapat berkembang sesuai dengan ilmu dan amal manusia itu sendiri, yang pada saat mau memilih perbuatan mana yang harus dilakukan, bertarunglah dua macam dorongan, dorongan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan dorongan untuk melakukan perbuatan jelek.

Apabila manusia memilih perbuatan dengan mengikuti dorongan yang baik, niscaya mereka akan melihat cahaya kebenaran. Akan tetapi bila mereka mengikuti dorongan-dorongan yang jelek, niscaya mereka tenggelam dalam kegelapan.

Allah menegaskan bahwa Nabi, tidak diberi kekuasaan untuk menjadi pemelihara mereka. Nabi hanyalah mengajak kepada kebaikan, maka apabila mereka tidak mau menerima ajakan itu, karena mengikuti dorongan yang buruk, tentulah ajakan itu tidak akan mereka terima, dan mereka tetap bergelimang dalam kebatilan.

Di akhir ayat ini Allah menguatkan penjelasan-Nya bahwa Nabi tidak diutus untuk mengurusi mereka, yakni dia tidak diberi kekuasan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Hal itu adalah urusan mereka sendiri, karena mereka telah diberi hak pilih untuk menentukan nasib mereka sendiri.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 108-110


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Kanjeng Kiai Al-Quran Keraton Yogyakarta

0
Kanjeng Kiai Al-Quran
Kanjeng Kiai Al-Quran keraton Yogyakarta

Kanjeng Kiai Al-Quran merupakan salah satu mushaf kuno Keraton Yogyakarta. Nama Kanjeng Kiai merupakan istilah yang lazim digunakan dalam tradisi Jawa untuk benda-benda pusaka. Dalam buku Mushaf Kuno Nusantara Jawa, ada empat mushaf di perpustakaan Widya Budaya Keraton Ngayogyokarto Hardiningrat. Dari keempat mushaf tersebut, hanya ada satu yang diketahui asal-usulnya, yakni mushaf Kanjeng Kiai Al-Quran ini.

Fisik mushaf ini berukuran 40 x 28 cm, dengan tebal 575 halaman. Ukuran teksnya 32 x 20 cm dengan 15 baris per halamannya. Mushaf dengan kode C4 ini semula milik Kanjeng Gusti Raden Ayu Sekar Kedhaton, putri Sultan Hamengkubuwana II (1772-1828). Dahulu, kitab suci ini digunakan Raden Ayu Sekar Kedhaton untuk mengaji kepada gurunya yang juga abdi dalem, Haji Mahmud. Namun penulis mushaf ini bukanlah guru mengaji tersebut, melainkan seorang Abdi dalem Surakarta yang bernama Ki Atma Parwita Ordonas Sepuh.

Dalam keterangan mushaf ini, terdapat kolofon dengan aksara pegon yang menjelaskan nama penyalin, hingga tanggal penyalinan. Berikut ini kolofon yang tertera:

“Kagungan dalem Qur’an ingkang nerat Abdi Dalem Ki Atma Perwita Hurdenas Sepuh kala wiwit anerat ing dinten Arba’ wanci pukul setengah sewelas tanggal ping selikur ing wulan Rabi’ul Akhir ing tahun Jim Awal angkaning warsa 1725. Kala sampun neratipun ing dinten Salasa wanci pukul setengah sanga tanggal ping nem ing wulan Ramadhan ing Surakarta Adiningrat hadza baladi Jawi.”

Setidaknya, arti dari kolofon ini yaitu:

“Qur’an milik Tuan yang menyalin Abdi Dalem Ki Atma Perwita Ordonas Sepuh. Mulai disalin pada hari Rabu pukul 10.30 tanggal 21 Rabi’ul Akhir tahun Jim Awal 1725 (2 Oktober 1798). Selesai disalin pada hari Selasa pukul 8.30 tanggal 6 Ramadan (12 Februari 1799) di Surakarta Adiningrat, negeri Jawa.”


Baca juga: Mengenal Muhammad Dawam Rahardjo dan Karyanya, Ensiklopedi Al-Quran


Dari keterangan tanggal penyalinan, mushaf ini bisa disebut sebagai salah satu benda pusaka yang selamat dari penjarahan Inggris. Dalam catatan, seperti yang diwatakan tirto, pada tanggal 20 Juni 1812 era Sultan Hamengkubuwono II ribuan manuskrip dari perpustakaan Istana dibawa ke Inggris. Hal ini karena saat itu Keraton Yogyakarta jatuh di tangan Inggris.

Selain itu, mushaf ini termasuk benda pusaka yang terawat, karena kondisinya masih utuh 30 juz. Cover mushaf ini dari bahan kulit. Mushaf ini juga menggunakan khat naskhi dengan rasm campuran (usmani dan imla’i). Tinta yang digunakan terdiri dari dua, hitam dan merah. Tinta hitam digunakan untuk huruf biasa, sementara tinta merah untuk harakat Panjang.

Adapun tanda ayat dalam Kanjeng Kiai Al Qur’an ini menggunakan lingkran kuning. Ini menunjukkan karakteristik manuskrip mushaf kuno yang belum menerapkan sistem penomoran. Untuk menandai ayat yang ada di perbatasan juz, penulisnya memberikan tanda lima lingkaran. Sama dengan mushaf lainnya, setiap awal surat ditandai dengan kotak khusus yang mencantumkan nama surah, jumlah ayat, dan tempat turunnya surat.


Baca juga: Iluminasi Mushaf Al-Bantani; Ekspresi Identitas Keislaman Masyarakat Banten


Kanjeng Kiai Al Qur’an termasuk salah satu manuskrip mushaf Keraton Yogyakarta yang paling indah. Setiap halamannya terdapat hiasan komposisi wana merah, emas, biru, hitam, merah muda, dan hijau muda. Motif yang digunakan pun lebih menunjukkan budaya Jawa. Motif hias ini seperti sulur bunga, motif saton, serta garis tegas membentuk bingkai dengan warna emas dan merah. Motif-motif inilah yang kemudian pada tahun 2011 digunakan sebagai refrensi pembuatan mushaf Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.


Baca juga: Sejarah Baru! KH Sya’roni Ahmadi, Gus Mus dan Sembilan Kaligrafer akan Tulis Ulang Mushaf Menara Kudus


Kanjeng Kiai Al Qur’an sebagai Rujukan Mushaf Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Kanjeng Kiai Al Qur’an merupakan referensi utama dalam pembuatan mushaf keraton pada tahun 2011. Saat itu Sultan Hamengkubuwono X menyebut bahwa pembuatan Mushaf Keraton ini sebagai upaya pelestarian tradisi penyalinan Al Qur’an di lingkungan kesultanan. Berikut salah satu potongan sambutannya:

“Adalah suatu kemuliaan yang tak ternilai bagi saya pribadi beserta seluruh kerabat Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, karena memperoleh berkah, rahmat dan ridha-Nya sehingga dapat mewujudkan tekad untuk memelihara dan menjaga serta melestarikan pusaka budaya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang telah berumur lebih dari 200 tahun berupa Mushaf Al-Qur’an yang memiliki nilai tiada terkira bagi kehidupan manusia.”

Dari penjelasan itu, salah satu pusakan yang berumur lebih dari 200 tahun adalah Kanjeng Kiai Al Qur’an. Namun dalam mushaf tahun 2011 ini, kaligrafi yang digunakan merupakan adopsi dari goresan Usman Taha. Selain itu, iluminasi juga mengambil dari manuskrip dan pusaka lain dari keraton. Hal ini tentu untuk memperkaya khazanah mushaf di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Wallahu a’lam []