Beranda blog Halaman 489

Hassan Hanafi dan Paradigma Tafsir Pembebasan; Sebuah Refleksi Metodologis

0
hassan hanafi
hassan hanafi (islamlib.com)

Hassan Hanafi adalah seorang filsuf, sastrawan, dan mufasir Al-Quran berkebangsaan Mesir yang lahir pada tahun 1935. Metode tafsir tematik yang ia gagas telah lama dikenal oleh sarjana tafsir di Indonesia. Hassan Hanafi menyebut metode tafsir tematiknya, selain sebagai al-tafsīr al-maudhū’ī yang selaras dengan pengertian tekstualnya, juga dengan sebutan al-tafsir al-ushūlī yang menjunjung asas al-manhaj al-mujtamā’ fī al-tafsīr.

Yudian Wahyudi Asmin dalam The Slogan “Back to the Qur’an and the Sunna”: A Comparative Study of the Responses of Hasan Hanafi, Muhammad ’Abid Al-Jabiri and Nurcholish Madjid bahwa asas tersebut menempatkan kepentingan-kepentingan pembaca Al-Quran sebagai core value dari teks dengan menafsirkan ayat berlandaskan kepentingan umum (mashālih al-‘ibād).

Berbeda dengan kritik Lien Iffah Naf’atu Fina (2012) yang menyebut bahwa Hanafi terkesan lupa menggiring konteks penurunan wahyu dalam metode tafsirnya dan hanya berfokus pada tujuan penafsiran yang bersifat pragmatis, Yudian Wahyudi Asmin menyebut bahwa metode tafsir tematik Hanafi memang dirancang agar terpisah dari dialektika mengenai pewahyuan. Menurut Hanafi dalam Wahyudi, tafsir tematik membahas tentang “apa” sedangkan teori pewahyuan hanya membahas tentang “bagaimana”.

Mengenai tafsir tematik yang ia usung, Hanafi dalam Method of Thematical Interpretation of the Qur’an’, in The Quʼran as Text mensyaratkan lima premis bagi seorang penafsir yang berakar dari kerangka pemikiran fenomenologi Husserlian. Kelima premis ini menjadi pondasi filosofis-faktual dan memegang peran-peran kunci bahwa tafsir sebagai pernyataan realitas, deklarasi historis, pengakuan batasan-batasan personal, penegasan atas pluralisme, dan penjunjung transparansi.

Kelima premis tersebut, antara lain:

Pertama, wahyu diletakkan ke berbagai lokus tematik—tanpa diafirmasi atau dinegasi—dan diperjelas posisinya dalam teori tafsir dan hermeneutika. Hassan Hanafi menyebut bahwa Al-Quran tidak sekedar berbicara tentang dogma, ibadah praktis, maupun informasi faktual. Hanafi mengutuk para penafsir lintas masa karena gagal memahami konsep sejarah dalam Al-Quran.

Baca juga: Massimo Campanini; Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Italia

Bertolak belakang dari pemikiran mayoritas penafsir, ia menyebut bahwa Al-Quran tidak berbicara tentang peristiwa-peristiwa secara materiil yang menyertakan konteks ruang dan waktu secara deskriptif, melainkan teks tersebut memantik aksi yang bersumber dari korespondensi Al-Quran dengan pengalaman manusia. Konsekuensinya, Hanafi pun menentang tradisi israiliyyat untuk diadopsi sebagai sumber penulisan sejarah dalam Al-Quran.

Kedua, Al-Quran diposisikan sebagai teks yang dapat ditafsirkan dan dijadikan sumber hukum, karya sastra, teks filosofis, maupun dokumen sejarah. Ia tidak harus memiliki kategori khusus ataupun dilekatkan dengan sifat sakral dan mistik. Hanafi menyebut problem seputar tafsir bias dari konflik kepentingan sehingga ia memandang setiap pendekatan sastra dan sejarah dalam penafsiran Al-Quran klasik sebagai produk yang bersifat tautologis dan involutif.

Ketiga, model tafsir tematik tidak mengenal produk penafsiran yang “sesat” atau pemahaman yang “benar” dan “salah”. Derivasi dalam dialektika penafsiran Al-Quran didasarkan pada perbedaan pendekatan dalam memahami teks yang dapat disinyalir dari perbedaan motif maupun kepentingan, dimana keseluruhan perbedaan tersebut bersifat fenomenologis.

Keempat, tafsir bersifat plural. Teks hanyalah medium bagi kepentingan dan hasrat manusia yang kemudian diisi dengan pengaruh ruang dan waktu. Konsep “Islam kiri” Hanafi menggiring metode penafsiran dari pendekatan historis menuju fenomenologis. Paradigma tersebut memposisikan Al-Quran sebagai sumber utama untuk mengelaborasi peran dan posisi manusia di dunia serta memaparkan hubungan antarmanusia dalam konteks bermasyarakat dan bernegara.

Kelima, konflik tafsir secara esensial merupakan konflik sosio-politik dan bukan bagian dari konflik teoritis. Teori pada dasarnya hanya problem epistemologi semata sedangkan tafsir adalah bentuk komitmen kontekstual dan senjata ideologis penafsir. Tafsir digunakan untuk mempertahankan atau mengkritisi status quo antar kelompok.

Baca juga: Pendekatan Maqashid dalam Penafsiran Al-Quran, Prof. Mustaqim: Tafsir itu Tidak Hanya On Paper

Premis kelima ini menegaskan bahwa model tafsir Hassan Hanafi berorientasi pada pendekatan hermeneutika subjektivis. Komitmen terhadap kepentingan penafsir sangat ditonjolkan. Dalam kondisi tertentu, seorang penafsir dituntut merumuskan serangkaian gerakan pragmatis dan revolusioner sebagai sarana untuk mereduksi jarak antara realitas dengan idealitas dalam penafsiran.

Selain kelima premis di atas, Hassan Hanafi turut mensyaratkan delapan aturan yang perlu direngkuh seorang penafsir dalam proses penafsiran, antara lain; (1) komitmen sosio-politik; (2) mencari sesuatu; (3) merangkum sinopsis dari kumpulan ayat dalam satu tema; (4) mengklasifikasi bentuk-bentuk linguistik; (5) membangun struktur; (6) menganalisa fakta historis dan kontekstual; (7) membandingkan antara das sein dan dan sollen; (8) mendeskripsikan model-model aksi.

Bila dilihat dari serangkaian premis dan aturan yang Hanafi munculkan, dapat disimpulkan bahwa ia memiliki orientasi subjektivisme dan relativisme dalam tafsir tematik.

Hanafi dalam berpegang teguh pada pemikiran bahwa penafsir merupakan figur yang memiliki keberpihakan ̶ berbeda dengan Rasul yang bertugas menyampaikan wahyu secara verbatim ̶ seorang penafsir dituntut untuk menjadi agen perubahan sosial. Dalam Al-Turast wa al-Tajdid: Mawqifuna min al-Turats al-Qadim, ia memaparkan bahwa penafsiran adalah kegiatan produksi dan dialektika antara pra-pemahaman penafsir dengan teks, bukan kegiatan transmisi makna, sebab sulit melacak makna awal yang objektif dari penurunan wahyu (murād Allah) yang bersifat transendental.

Di satu sisi, Hanafi berpendapat bahwa kalaupun makna objektif tersebut akhirnya mampu dilacak oleh seorang penafsir, ia tetap memerlukan upaya kontekstualisasi dan reproduksi makna sehingga nilai di dalamnya dapat diaplikasikan oleh pembaca modern. Sedangkan sisi lain, Hanafi menegaskan bahwa penafsir yang mengklaim dirinya berorientasi objektif akan kehilangan konteks dan relevansi bila tidak mengikatkan ideologi penafsiran dengan dimensi eksistensialnya.

Dua pernyataan tersebut mengindikasikan semangat besar Hanafi untuk memunculkan produk tafsir yang praktis dan mudah diakses bagi umat Islam. Terlepas dari idealisme tersebut, penulis menemukan setidaknya tiga kelemahan dari tawaran metodologi tafsir tematik Hassan Hanafi dengan model signifikansi fenomenal tersebut, antara lain;

Pertama, relativisme tafsir tematik berpotensi memunculkan bias serta menyulitkan masyarakat dalam menentukan paradigma global yang bersumber dari Al-Quran sebab kitab suci tersebut telah diposisikan hanya sebagai objek atau subjek pengetahuan ̶ bergantung dari posisi penafsir ̶ dan tidak diamati secara paralel.

Kedua, penafsiran Hanafi seringkali abai dengan konteks sosio-historis penurunan wahyu kepada Nabi (asbāb al-nuzūl) dengan menganggap konteks ini tidak relevan dengan konflik dan problem kontemporer. Pemahaman tersebut dapat menghapus struktur transendental nash lewat upaya desakralisasi teks Al-Quran yang berimplikasi pada permasalahan akidah bagi kalangan Muslim awam.

Ketiga, pemunculan tafsir dengan merangkum sinopsis ayat secara tematik berpotensi untuk mencerabut teks dari konteks tutur suratnya. Alasan ini didasarkan pada pernyataan Hanafi mengenai perlunya meninggalkan konsep tafsir tahlili yang berimplikasi pada reduksi pemahaman mengenai peran penting koherensi dan sintegritas antar ayat dan surat (munāsabah) dalam teks Al-Quran. Wallahu A’lam.

Teladan Akhlak Nabi Muhammad SAW Kepada sang Ibunda: ‘Saya Anak dari Seorang Perempuan’

0
Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (1): Surah Yunus Ayat 58
Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (1): Surah Yunus Ayat 58

Bulan Maulid (Rabiul Awal) ini merupakan momen yang pas untuk kembali mengeja dan mengaji keteladanan Nabi Muhammad saw. Salah satu dari banyak teladan akhlak Nabi Muhammad saw yang akan diulas di sini adalah penghormatan Nabi yang luar biasa terhadap ibundanya dan kaum ibu.

‘Saya adalah anak dari seorang perempuan Quraisy yang (juga) makan daging dendeng”, potongan hadis Nabi yang dijadikan quote oleh Bint Syathi’ di halaman awal bukunya, Umm an-Nabi ini menjadi petunjuk yang valid bahwa Nabi Muhammad saw, manusia berakhlak mulia ini sangat menghormati dan memuliakan ibunya. Bahkan, di tempat yang mempunyai tradisi berbangga-banggaan dengan nama sang ayah, Nabi Muhammad saw malah dengan sangat bangga menyebutkan identitas ibundanya di belakang namanya. Faktor ini yang menjadikan teladan Nabi Muhammad ini menjadi sangat istimewa.

Betapa agung dan luhur budi pekerti Nabi Muhammad saw. Pujian ini disampaikan oleh Allah dalam ayatNya, surat Al-Qalam ayat 4.

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Satu dari banyak rekaman sejarah tentang keluhuran akhlak Nabi Muhammad saw adalah episode penghormatan Nabi Muhammad kepada ibundanya. Sebagaimana diketahui, Sayyidah Aminah, ibunda Nabi Muhammad saw wafat ketika anak semata wayangnya berumur enam tahun, kebersamaan yang sangat singkat antara ibu dan anak.

Baca juga: Inilah Alasan Mengapa Umat Islam Harus Mengenal Rasulullah SAW

Meskipun demikian, hal itu tidak mengurangi penghormatan Nabi Muhammad kepada ibundanya, bahkan keagungan sikap yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad ketika memuliakan ibundanya tersebut menjadi pedoman dan teladan bagi umat manusia seluruhnya dalam menghormati ibunya. Hal ini juga tidak lepas dari sikap Nabi Muhammad saw yang juga sangat menghormati kaum ibu. Ini faktor kedua yang menjadikan teladan akhlak Nabi Muhammad tersebut menjadi sangat revolusioner.

Beberapa riwayat penghormatan Nabi Muhammad saw kepada ibundanya

  1. Quarish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad menukil beberapa riwayat tentang penghormatan Nabi Muhammad kepada ibundanya. Misal riwayat hadis tentang prioritas utama berbakti kepada kedua orang tua daripada kewajiban lainnya,

لَوْ كُتْتُ أَدْرَكْتُ وَالِدِي أَوْ أَحَدُهُمَا وَأَنَا فِي صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَقَدْ قَرَأْتُ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ تُنَادِي: يَا مُحَمَّدُ، لَأَجَبْتُهَا لَبَّيْك.رواه البيهقي

Seandainya aku mendapati kedua orang tuaku atau salah seorang dari mereka memanggilku “Wahai Muhammad,” sedang saat itu aku dalam keadaan shalat isya dan telah membaca al-Fatihah, niscaya pasti aku menjawab “Keperkenankan panggilanmu.” (HR. al-Baihaqi)

Hadis ini menurut Quraish Shihab menggambarkan keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad. Sampai-sampai, hadis ini digambarkan memenuhi panggilan kedua orang tua akan lebih didahulukan daripada kewajibannya kepada Allah. Begitulah teladan akhlak Nabi Muhammad saw.

Satu lagi riwayat tentang penghormatan Nabi Muhammad kepada ibundanya yaitu ketika Nabi selalu mampir berziarah ke kuburan sang ibunda setiap melewati lokasi kuburan beliau. Dikisahkan pula bahwa Nabi sampai menangis, hingga para sahabat (yang bersamanya) juga ikut menangis. Ketika ditanya sebab tangisannya, Nabi menjawab, ‘Aku disentuh oleh rahmat ibuku, maka aku menangis.’ 

Baca juga: Mengenal Nabi Muhammad saw Lebih Dekat Melalui Al-Quran dan Hadis

Selain menginformasikan kisah tangisan Nabi ketika ziarah ke makam ibunya, riwayat di atas juga mengajarkan kepada kita semua, umat Nabi Muhammad saw bahwa bakti anak kepada ibundanya tidak berhenti ketika ibu meninggal dunia. Bakti itu bisa terus dilanjutkan antara lain dengan mendoakan ibu, melanjutkan dan melaksanakan kebaikan-kebaikan yang dicontohkan dan diajarkan ibu, senantiasa menyambung silaturahim dengan saudara ibu, teman-teman ibu, menghormati para ibu, dan lainnya.

Teladan Akhlak Nabi Muhammad saw kepada kaum ibu

Sikap hormat luar biasa kepada kaum ibu yang juga diberikan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw dapat kita lihat dari beberapa riwayat dan penjelasan berikut:

Surat Luqman ayat 14

Ayat ini mendeskripsikan keadaan seorang ibu ketika hamil, melahirkan dan menyusui. Dalam kondisi ini ia lemah dalam segala hal, mual, muntah, pusing, badan terasa sakit semua, makan tidak enak, tidur apalagi, bolak-balik ke kamar mandi, cepat merasa lelah, menjadi lebih sensitif dan masih banyak yang lainnya. Ketika melahirkan pun harus berjuang antara hidup dan mati.

Berlanjut setelah melahirkan ada yang Namanya baby blues sindrom, yaitu gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu setelah melahirkan. Kondisi ini menyebabkan ibu mudah sedih, lelah, lekas marah, menangis tanpa alasan yang jelas, mudah gelisah, dan sulit untuk berkonsentrasi. Lantas, masihkah kita kekurangan alasan untuk berbakti kepada ibu?

Meyinggung apa yang sering disampaikan oleh bu Nur Rofiah (founder Ngaji Keadilan Gender Islam), ayat di atas itu merupakan reformasi yang dilakukan Al-Quran yang dibawa oleh Nabi Muhammad dalam rangka mengakui eksistensi seorang ibu di tengah tradisi yang abai dan lupa kepada kaum perempuan dan kaum ibu. Bahkan di akhir ayat dikatakan bahwa orang yang tidak menghormati kedua orang tuanya, termasuk ibu dianggap tidak bersyukur kepada Allah.

Baca juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

Hadis Abu Hurairah tentang keutamaan berbakti kepada ibu

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakan orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Rasul menjawab “ibumu”. Dia bertanya lagi “kemudian siapa?” Rasul menjawab “ibumu.” Dia bertanya lagi “kemudian siapa?” Jawaban Rasul tetap sama “ibumu” (HR. Al-Bukhari)

Tidak ada yang tahu pasti kenapa Nabi Muhammad saw mengatakan demikian, memberi nilai ibu tiga kali lebih utama daripada ayah. Alasan untuk merasionalisasi ucapan Nabi itu coba disampaikan oleh beberapa pensyarah hadis, misal ibnu Battal. Dalam kitabnya, Syarh Shahih Al-Bukhari ia memberi alasan bahwa ibu mengalami tiga kesluitan dan kesusah payahan yang tidak dialami oleh ayah, yaitu hamil, melahirkan dan menyusui. Keterangan ini juga dikutip oleh Ibnu Hajar Al-Asqalaniy dalam Fathul Bari.

Masih banyak hadis-hadis lain terkait keutamaan ibu, misal riwayat tentang keutamaan menjaga atau menemani ibu daripada pergi berperang, riwayat tentang surga di telapak kaki ibu dan yang lainnya.

Apresiasi yang sangat tinggi bagi sahabat yang berbakti kepada ibu dan berlaku pula sebaliknya

Sebagai ‘ibarat dalam hal ini yaitu dua nama sahabat yang terkenal, yaitu Uwais Al-Qarani dan ‘Alqamah. Uwais Al-Qarani dalam Musnad Ahmad dan Shahih Muslim diberi predikat khair at-tabiin (sebaik-baiknya tabiin) karena baktinya kepada ibunya. Sebaliknya Alqamah, dalam Al-Kabair-nya adz-Dzahabi, ia dikisahkan mengalami kesulitan ketika sakaratul maut karena murka sang ibunda, sebelum akhirnya sang ibu meridlai dan memaafkannya, dan ‘Alqamah pun bisa meninggal dengan tenang.

Semoga kita semua bisa mengambil teladan akhlak luhur Nabi Muhammad saw. Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad wa ‘Ala Ummi Muhammad. Teruntuk ibu kita semua, al-Fatihah.

Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Al An’am Ayat 93-95

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pada pembahasan sebelumnya dijelaskan mengenai sikap orang Yahudi yang tidak konsisten dalam menerima kitab Allah swt, yaitu menerima Taurat namun menolak Alquran. Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 93-95 ini merupakan penjelasan mengenai pelegitimasian sikap mereka.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 91-92


Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 93-95 ini juga dipaparkan mengenai orang-orang dari kalangan Yahudi yang mengaku-ngaku mendapatkan wahyu Allah swt. Salah duanya adalah Musailamah al-Kazzab di Yamamah dan Aswad al-Insi di Yaman.

Selanjutnya Tafsir Surat Al An’am Ayat 93-95 berbicara mengenai nasib orang-orang zalim pada hari kiamat. Mereka datang kepada Allah swt tanpa embel-embel apapun yang dulu mereka bangga-banggakan ketika di dunia.

Ayat 93

Allah menjelaskan kepada kaum Muslimin bahwa tidak ada orang yang lebih zalim dari orang-orang Yahudi yang mengingkari kebenaran Alquran yang diturunkan kepada Muhammad.

Perkataan mereka telah mengkhianati ajaran agama tauhid. Begitu juga perkataan mereka yang mengaku menerima wahyu dari Allah, seperti Musailamah al-Kazzab di Yamamah, al-Aswad al- Ansi di Yaman, Tulaihah al-Asadi dari Bani Asad, dan orang-orang yang mengaku dirinya mampu membuat kitab seperti Alquran.

Firman Allah ini mengandung sindiran halus bagi para pendeta Yahudi yang dipuja-puja oleh pengikut-pengikutnya karena mereka itu mengaku mendapat wahyu dari Allah yang dapat digunakan untuk menyelesaikan segala sesuatu yang sukar dipahami dari Taurat.

Menurut kenyataan, mereka inilah yang selalu memusuhi Muhammad. Alquran juga mengandung sindiran kepada sastrawan-sastrawan Arab yang merasa mampu menyusun kitab-kitab yang dapat menyamai Alquran seperti firman Allah:

لَوْ نَشَاۤءُ لَقُلْنَا مِثْلَ هٰذَا

… jika kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini. (al-Anfal)/8: 31)

Allah menyebutkan ancaman dan siksaan yang akan diterima oleh orang-orang yang zalim itu, dikala mereka menghembuskan nafas yang terakhir, sebagai imbalan kejahatan dan dosa yang mereka lakukan.

Alangkah dahsyatnya seandainya Nabi Muhammad dan kaum Muslimin melihat penderitaan yang diderita oleh orang-orang yang jahat itu pada waktu mereka menghadapi sakaratul maut, yaitu penderitaan yang akan mereka alami menjelang kematian, tidak terlukiskan kedahsyatannya. Pada waktu itu malaikat maut mengulurkan tangannya untuk merenggut nyawa mereka yang bergelimang dengan dosa, dengan renggutan yang keras.

Allah menggambarkan saat-saat yang dahsyat itu dengan nada mencela mereka. Malaikat seakan-akan berkata, “Kalau memang kamu merasa mampu, lepaskanlah nyawamu dari badanmu agar terhindar dari renggutan ini.” Perintah ini tidak akan dapat mereka lakukan, karena masalah ini di luar kemampuan mereka.

Pada saat itu mereka tidak dapat menghindarkan diri dari siksa yang pedih dan menghinakan, karena mereka telah berani memutarbalikkan kebenaran, berkata dusta, dan sikap mereka yang congkak dan sombong terhadap ayat-ayat Allah, seperti perkataan mereka bahwa mereka mampu menurunkan kitab seperti Alquran.

Dalam ayat ini terdapat bandingan yang jelas antara ketidakmampuan mereka untuk membuat kitab semacam Alquran dengan ketidakmampuan mereka menghindarkan diri dari malaikat maut. Maksudnya agar mereka dapat menyadari bahwa apa yang mereka katakan itu sebenarnya hanya dusta belaka, sedang Alquran adalah datang dari Allah kepada Muhammad, yang tidak dapat ditandingi oleh siapa pun juga.

Ayat 94

Allah menjelaskan nasib orang-orang zalim di hari Kiamat. Mereka datang menghadap Allah sendiri-sendiri dengan tidak membawa harta benda, anak dan pangkat, terlepas dari kebanggaan, dukungan dan kedudukan duniawi.

Berhala-berhala yang dikira dapat memberikan syafa’at, tidak ada gunanya sama sekali. Keadaan mereka seperti diciptakan pada pertama kalinya, pada waktu mereka berada dalam kandungan ibu, seperti dijelaskan dalam hadis:

أَيُّهَا النَّاسُ: إِنَّكُمْ تُحْشَرُوْنَ إِلَى اللهِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيْدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِيْنَ

(رواه البخاري ومسلم عن ابن عبّاس)

“Wahai manusia, sebenarnya kamu akan dikumpulkan kehadirat Allah di padang Mahsyar dalam keadaan tidak bersepatu, tidak berpakaian dan tidak berkhitan sebagaimana Kami memulai penciptaan pertama kali, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah janji yang pasti Kami tepati, bahwa kami benar-benar akan melaksanakannya.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)

Mereka meninggalkan di dunia apa saja yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka, yang menjadi kebanggaan mereka, yaitu harta benda, anak, istri dan kedudukan yang menyebabkan mereka congkak dan tidak mau beriman kepada Rasul-rasul. Semuanya tidak dapat menolong mereka dari siksa Allah di akhirat.

Allah menjelaskan bahwa Dia tidak akan mempedulikan apa saja yang mereka anggap dapat memberi syafa’at; baik itu berupa berhala-berhala yang mereka persekutukan dengan Allah atau pendeta-pendeta yang mereka anggap sebagai perantara yang dapat menghubungkan doa mereka kepada Allah.

Tegasnya pada hari itu tidak dipedulikan syafa’at dan tebusan, masing-masing orang bertanggung jawab terhadap amalnya sendiri-sendiri. Pada hari itu masing-masing manusia terpisah dari segala sesuatu yang biasanya menjadi kebanggaan mereka di dunia.

Harapan mereka telah pupus karena apa yang mereka sangka tidak pernah tiba. Syafa’at dan tebusan yang mereka duga akan dapat menolong mereka, sedikit pun tidak memenuhi harapan mereka.


Baca juga: Hari Sumpah Pemuda: Ini 3 Artikel Refleksi Peringatan Sumpah Pemuda dalam Al-Quran dan Tafsir


Ayat 95

yaitu Allah. Allah mengembang biakkan segala macam tumbuh-tumbuhan dari benih-benih kehidupan, baik yang berbentuk butiran-butiran ataupun biji-bijian.

Diwujudkan demikian adalah dengan maksud agar mudah dipahami oleh manusia, sesuai dengan pengetahuan mereka secara umum; termasuk pula segala jenis kehidupan yang oleh ilmu pengetahuan digolongkan pada tumbuh-tumbuhan yang berkembang biak dengan spora atau dengan pembelahan sel yang hanya dapat diketahui oleh orang-orang tertentu.

Kesemuanya itu berkembang biak menurut hukum sebab dan akibat yang telah ditentukan oleh Allah.

Uraian ilmiah tentang ayat ini adalah sebagai berikut:  mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, merupakan siklus kehidupan (life cycle) dari semua makhluk hidup atau living organisms (sering hanya ditulis organisms), utamanya dari jenis makhluk tingkat tinggi, seperti manusia, hewan ataupun tumbuhan.

Jika berbicara tentang tanaman/tumbuhan, maka kalimat mengeluarkan yang hidup dari yang mati, mengisyaratkan bahwa tanaman (yang hidup itu) keluar dari biji-biji yang ditanam. Biji-biji ini dapat dianggap sesuatu yang mati. Sebab jika tidak menemukan kondisi yang sesuai, ia tetap merupakan benda mati.

Sedangkan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, mengisyaratkan bahwa biji-biji (yang mati itu) keluar atau dihasilkan oleh tanaman (yang hidup). Siklus kehidupan organisma merupakan proses metabolisme yang terjadi pada semua makhluk hidup; dan dikendalikan oleh sistem gen yang kompleks. Inilah yang merupakan kekuasaan atau ayat Allah.

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa yang menciptakan segala-galanya mempunyai sifat yang Mahasempurna yang mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas dan mempunyai ilmu pengetahuan yang tinggi, yaitu Allah. Dengan demikian, hanya Allah yang seharusnya disembah, dan tidak boleh disekutukan dengan yang lain.

Allah mencela orang-orang musyrik, mengapa mereka menyimpang dari ibadah yang benar yaitu menyimpang dari agama tauhid menuju penyembahan tuhan selain Allah, padahal kalau mereka mau memperhatikan kejadian alam semesta ini, niscaya mereka mengetahui bahwa perbuatan mereka itu adalah perbuatan yang tidak benar.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 96


(Tafsir Kemenag)

Surat Al-‘Alaq Ayat 1-5: Allah Swt mengangkat Muhammad Saw Menjadi Rasul

0
Allah Swt mengangkat Muhammad Saw menjadi rasul
Allah Swt mengangkat Muhammad Saw menjadi Rasul

Sebelum Allah Swt mengangkat Muhammad Saw menjadi rasul, beliau dikenal sebagai sosok yang terpuji, benar, jujur, amanah, sabar, pemalu, dan rendah hati. Bahkan bangsa Arab Mekah menjuluki beliau dengan sebutan “Al-Amin”, yakni orang yang dapat dipercaya. Hampir tidak ada orang Quraisy yang tidak mengetahui kemuliaan dirinya.

Selain terkenal karena kemuliaan sifatnya, Nabi Muhammad Saw juga dikenal sebagai seorang yang cerdas dan bijaksana. Hal ini dapat dilihat dari peristiwa pengembalian Hajar Aswad pada tahun 25 SH, yakni saat beliau berumur 35 tahun. Pada waktu itu, kaum Quraisy berselisih paham tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya pasca renovasi Ka’bah akibat banjir.

Setelah melakukan perdebatan – yang hampir menumpahkan darah – kaum Quraisy sepakat bahwa yang berhak meletakkan Hajar Aswad adalah orang pertama yang memasuki Masjid Al-Haram dan ternyata orang tersebut adalah nabi Muhammad Saw. Mengetahui hal ini, kaum Quraisy menerimanya dengan ikhlas, karena Muhammad Saw terkenal sebagai orang mulia diantara mereka.

Namun mencenangkan, apa yang mereka lihat bukanlah kejadian nabi Muhammad Saw memindahkan Hajar Aswad secara langsung ke tempatnya, tetapi beliau meminta para pemuka kaum Quraisy untuk memegang setiap ujung sebuah selendang. Kemudian beliau meletakkan Hajar Aswad di atas selendang tersebut dan para pemuka kaum Quraisy mengangkatnya secara bersama-sama. Barulah nabi Muhammad Saw meletakkan Hajar Aswad ke tempat semestinya.

Baca Juga: Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Tiga Artikel Refleksi Peringatan Kelahiran Baginda Rasulullah

Jauh sebelum Allah Swt mengangkat Muhammad Saw menjadi rasul, Beliau memiliki kebiasaan ber-khalwat, yakni menyendiri untuk meresapi hakikat kehidupan dan memikirkan persoalan kehidupan manusia. Nabi Muhammad melakukan hal ini akibat berbagai kegundahan, kegelisahan, dan kecemasan atas realitas sosial masyarakat Mekah kala itu yang sudah melampaui batas.

Ketika memasuki usia 40 tahun, nabi Muhammad Saw semakin memupuk kegemaran mengasingkan diri (uzlah) dan menyendiri (ikhtila) di gua Hira. Tak jarang beliau berada di sana selama berhari-hari bahkan berpuluh-puluh malam. Jikalaupun beliau kembali ke rumah, biasanya hanya untuk sekedar menyambangi istri beliau, yakni Khadijah ra dan mengambil bekal baru untuk ber-uzlah kembali.

Surat Al-‘Alaq Ayat 1-5: Bukti Pengangkatan Muhammad Saw Sebagai Rasul

Nabi Muhammad Saw senantiasa melakukan ritual tersebut – uzlah dan ikhtila – hingga turun kepadanya wahyu pertama Al-Qur’an, yakni Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5. Menurut mayoritas ulama, ayat ini merupakan bukti peresmian bahwa Allah Swt mengangkat Muhammad Saw menjadi rasul melalui perantara malaikat Jibril as yang membawa wahyu tersebut.

Meskipun demikian, menurut Imam al-Syaukani dalam Fath al-Qadir nabi Muhammad Saw telah menjadi nabi sebelum Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5, yakni melalui mimpi (al-rukyah al-shadiqah). Sedangkan Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5 adalah peresmian beliau sebagai rasul. Pendapat ini diperkuat oleh pandangan imam al-Baihaqi yang mengatakan bahwa Muhammad Saw telah diangkat menjadi nabi pada bulan Rabiul Awal atau 6 bulan sebelum peristiwa gua Hira.

Dengan demikian, sebelum turunnya Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5 telah ada komunikasi ilahi kepada nabi Muhammad Saw. Menurut Ibnu Hajar al-‘Ashqalani wahyu atau komunikasi ilahi lewat mimpi-mimpi ini berfungsi sebagai persiapan mental bagi beliau dalam menerima wahyu-wahyu berikutnya, yakni melalui perantara malaikat Jibril yang datang dalam keadaan terjaga (sadar).

Penjelasan peristiwa wahyu pertama dan turunnya Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5 di atas sebagai bukti Allah Swt mengangkat Muhammad Saw sebagai rasul tercatat dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, bahwa Aisyah ra berkata, “Wahyu yang diterima Rasulullah dimulai dengan suatu mimpi yang benar (al-rukyah al-shadiqah). Dalam mimpi itu beliau menglihat cahaya terang laksana fajar menyingsing di pagi hari….”

Dikisahkan, kemudian beliau pergi untuk melakukan khalwat (uzlah). Beliau melakukan khalwat di gua Hira selama beberapa malam, lalu pulang ke rumah kepada keluarganya (Khadijah) untuk mengambil bekal. Ketika beliau kembali ke gua Hira akhirnya turunlah wahyu Allah Sawt, yakni Surah Al-‘Alaq Ayat 1-5 yang disampaikan oleh malaikat Jibril dalam bentuk aslinya.

Baca Juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

Selepas menerima wahyu tersebut, nabi Muhammad Saw kemudian pulang ke rumah menemui istrinya, Khadijah binti Khuwailid ra, dalam keadaan gemetar dan ketakutan. Khadijah yang melihat keadaan nabi sedemikian rupa – padahal sebelumnya tidak pernah terjadi – kemudian menyelimuti baginda nabi Saw dan mencoba menenangkan beliau.

Setelah itu, barulah nabi Muhammad Saw menceritakan peristiwa apa yang terjadi di gua Hira, bahwa ia telah didatangi seorang malaikat yang membawa wahyu Allah Swt. Mendengar cerita suaminya, Khadijah langsung percaya dan mengimani dirinya, sebab suaminya itu sejak kecil terkenal sebagai seorang pria jujur. Ia yakin bahwa suaminya telah dipilih oleh Allah Swt untuk menjadi rasul bagi umat manusia.

Untuk mengetahui info lebih lanjut mengenai peristiwa ini, Khadijah kemudian mengajak nabi Saw menemui pamanya, Waraqah bin Naufal, seorang yang beragama Nashrani dan pernah menyalin kitab Injil berbahasa Ibrani. Khadijah berkata kepadanya, “Wahai paman, dengarkan kemenakanmu ingin bercerita sesuatu kepadamu agar engkau memberikan pendapat tentangnya.”

Waraqah menjawab, “Wahai anak saudaraku, apakah gerangan yang telah menimpa dirimu.” Kemudian nabi Muhammad Saw bercerita mengenai hal yang dialaminya. Lalu Waraqah berkata, “Itu adalah malaikat yang pernah turun kepada nabi Musa. Seandainya aku masih hidup dan masih kuat, pastilah aku akan menolongmu, karena engkau akan diusir oleh kaummu nanti.”

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 56: Perintah Bershalawat Kepada Nabi Muhammad Saw

Rasulullah Saw kemudian balik bertanya, “Akankah mereka mengusirku?” “Ya,” jawab Waraqah secara singkat. Ia juga berkata, “Tak seorangpun yang mengalami apa yang engkau alami ini, kecuali dimusuhi oleh orang-orang jahil (bodoh). Dan kalau saja aku ini masih hidup pada saat pengusiranmu itu, pastilah aku akan menolongmu.” Kata-kata tersebut ia ucapkan dengan penuh keyakinan. Namun naas, tak berselang lama setelah peristiwa ini, ia kembali ke hadirat Allah Swt.

Setelah mendengarkan penuturan Waraqah, nabi Muhammad dan Khadijah tersadar bahwa ini akan menjadi suatu peristiwa yang sangat besar dan akan menggoncangkan dunia Arab. Di sisi lain, Nabi Muhammad Saw juga menjadi lebih yakin bahwa Allah Swt telah mengangkat dirinya sebagai rasul bagi seluruh umat manusia dan akan mengemban amanat agung, yakni agama Islam. Wallahu a’lam.

Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Tiga Artikel Refleksi Peringatan Kelahiran Baginda Rasulullah

0
Tiga artikel untuk Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Tiga Artikel Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Kamis (29/10), 12 Rabi’ul Awwal 1442 H, adalah hari peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Pada momen ini kita diajak untuk mengenang kembali sosok pembawa agama paripurna, yang menebar rahmat untuk semesta. Seperti yang Allah firmankan dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 107:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam”

Kehadiran Nabi sebagai rahmat semesta tidaklah berlebihan. Sejarah membuktikan, sosoknya amat berpengaruh terhadap peradaban umat Islam, bahkan pengaruhnya itu juga diakui oleh masyarakat non Islam, seperti penduduk Ethiopia yang kala itu dipimpin Raja Najashi.

Ia manusia paling sempurna di segala bidang. Pencipta sistem sosial berkemajuan. Rasul yang menyampaikan risalah penuh kasih. Pemimpin yang dicintai oleh umatnya. Dan, manusia paling luhur pekertinya. 

Di masa krisis ini, tentu perayaan maulid tidak semeriah biasanya. Tetapi, Nabi Saw dan keluhuran pekertinya tetap bisa kita teladani melalui perjalanan dakwah yang telah ia lalui. Untuk itu, kami hadirkan 3 artikel pilihan sebagai refleksi  peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 21: Nabi Muhammad Saw Adalah Suri Tauladan Bagi Manusia

Pada artikel pertama, penulis mengungkap pribadi Nabi yang multi talenta, manusia sempurna. Kegigihannya mendakwahkan Islam yang damai dan penuh rahamat serta perbuatannya yang selalu baik pada semua orang, menjadikannya tokoh berpengaruh. Tidak hanya di kalangan muslim, tetapi juga non Muslim, seperti Michael Hart dan John Lespito.

Keberhasilan dakwahnya, diiringi building personality yang sempurna ini membuat Nabi menjadi sosok teladan baik bagi manusia, muslim pada khususnya. Surat Al-Ahzab ayat 21 ini kemudian mempertegas bahwa Nabi Muhammad Saw adalah suri tauladan yang baik bagi umat Islam. Sekaligus mengecam perilaku munafik, yang di mulut Islam, tapi di hati dan perilaku sama sekali tidak mencerminkan budi perkerti Nabi.

Tafsir Al-Qalam 2-4: Pujian Allah terhadap Budi Pekerti Mulia Rasulullah

Arikel kedua ini menjelaskan akhlak Nabi Saw. sebagai akhlak yang paling mulia. Sampai-sampai, tidak ada satu sahabat pun yang tidak memenuhi pangginan Nabi. Semua selalu menjawab labbayka kupenuhi panggilanmu). Karena hal ini, Allah memuji keluhuran budi pekerti Nabi lewat firmanNya, surat Al-Qalam ayat 4.

Dalam tulisannya ini, penulis juga menerangkan, surat Al-Qalam ini turun untuk menyangkal pelecehan para Kafir Quraish yang berkata bahwa Nabi orang gila. Allah menangkis hal itu dengan firman-Nya, Surat Al-Qalam ayat 2.

Inilah Potret Perayaan Maulid Nabi dalam Al-Quran

Artikel terakhir menyorot bagaimana potret perayaan Nabi dalam Al-Quran, yang dilakukan umat pra Islam. Seperti yang dinarasikan dalam surat as-Shaffat ayat 6.

Pada sumber ajaran pra Islam, yakni Taurat dan Injil wujud, sifat dan kebesaran Nabi Akhiruzzaman. Nabi itu tak lain ialah Nabi Muhammad Saw. Hal ini terbukti dengan pengakuan Rahib Buhaira yang menyatakan tanda-tanda kenabian pada diri Nabi Muhammad yang ia peroleh dari kitab Injil. Dalam Al-Quran, data historis ini termaktub dalam Surat As-Shaffat ayat 6. Memberi kabar gembira akan kelahiran Nabi Muhammad inilah, yang menjadi salah satu potret perayaan maulid dalam Al-Quran.

Selain itu, tulisan ini juga menyajikan informasi lain tentang cara merayakan maulid dalam Al-Quran. Yakni, perintah selawat kepada Baginda Nabi setiap saat dan kesempatan. Bahkan, Allah, Para malaikat pun bershalawat kepada Nabi. Perintah ini berlandaskan firman Allah pada Surat Al-Ahzab ayat 56.

Demikian tiga artikel yang dapat dibuat refleksi dalam momentum peringatan maulid Nabi Muhammad Saw . Sepanjang cara menyemarakkan peringatan diekspresikan pada kegiatan positif, berarti kita telah meneladani pekerti Nabi Saw, Insan paling mulia. 

Wallahu a’lam[]

Introducing English Semantics: Teori Semantika Al-Quran Ala Charles W. Kreidler

0
introducing english semantics
introducing english semantics

Introducing English Semantics merupakan buku pengantar studi semantika yang komprehensif dan ringan. Sebagaimana gagasan yang tercantum di dalam judul, buku ini menyajikan konsep semantika melalui kekayaan leksikal dan gramatika bahasa Inggris. Charles W. Kreidler (1924-2013) dalam Introducing English Semantics memiliki visi untuk memberikan pemahaman singkat bagi berbagai jenis akademisi; akademisi linguistik maupun umum. Visi tersebut diaplikasikan dalam penulisan prinsip dan metodologi semantika secara ringkas.

Kreidler mengeksplorasi potensi bahasa Inggris untuk mengakumulasi dan mengklaim makna melalui kata, komponen kata, dan kalimat. Ia mengartikulasikan proses tersebut di dalam bukunya dengan linguistik-semantik. Charles W. Kreidler memberikan pengantar singkat mengenai bahasa dan makna bahasa dalam bab “The Study of Meaning”.

Penulis tertarik dengan gagasan Charles W. Kreidler mengenai idiosinkrasi bahasa manusia dalam The Nature of Language. Menurut Charles W. Kreidler, bahasa manusia mengandung sifat independen dan kreatif. Independensi bahasa manusia terlihat pada kapasitasnya untuk mengekspresikan pengalaman dan keinginan pribadi. Manusia pun memiliki kapasitas untuk mengutarakan jenaka, dualitas makna, hingga rencana masa depan melalui sifat kreatif. Kedua hal tersebut berlawanan dengan sifat alami hewan yang terikat pada stimulus atau insting.

Baca juga: Michael Sells, Mengenalkan Aspek Aural dan Skriptural Sebagai Pendekatan Terhadap Al-Qur’an

Sifat alami bahasa manusia adalah konvensional. Manusia biasa memainkan dan menyusun fonema dan huruf menjadi satuan kata yang singular. Charles W. Kreidler menyadari tendensi tersebut sehingga ia menggunakan framework gramatika, fonologi, sintaksis, dan morfologi untuk menggali makna bahasa secara tepat. Di sisi lain, usaha Kreidler untuk memunculkan buku pengantar semantika secara sederhana membuatnya menghindari penggunaan framework yang lebih kompleks.

Menurut hemat penulis, konsep The Nature of Language dari Kreidler akan menjadi argumentasi yang lebih efektif bila dikaitkan dengan kajian kontekstualitas dan sosiologi bahasa. Dalam studi Al-Quran, studi semantika mengandung peran untuk membaca teks ‘otoritatif’ tersebut sebagai diskursus yang humanis. Tanpa pengkajian melalui berbagai cabang ilmu modern seperti semantika dan hermeneutika, Al-Quran takkan menemukan titik temu demokratis dengan masyarakat modern.

Baca juga: Laleh Bakhtiar dan Kontribusinya Dalam Kajian Tafsir

Mengutip Naṣr Ḥāmid Abū Zayd dalam Rethinking the Qur’ān: Towards a Humanistic Hermeneutics, metode tersebut berfungsi untuk memurnikan nilai dan makna Al-Quran dari berbagai manipulasi kekuatan, baik secara politik, budaya, maupun agama. Toshiko Izutsu dalam God and Man in the Qur’an menempatkan kajian semantika Al-Quran sebagai pembahasan pertama di dalam bukunya. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan perspektif baru bagi sarjanawan Muslim saat membaca dialektika keilmuan Timur.

Singkat kata, teori semantika yang Charles W. Kriedler jelaskan memiliki sasaran yang sama dengan ilmu ma’āni Al-Quran yakni memahami makna, pesan, dan kesan Al-Quran. Perbedaan antara semantika dan ma’āni secara garis beras terletak pada kiblat pengetahuan (Barat dan Timur) beserta alat-alat metodologis di dalamnya. Wallahu A’lam.

Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

0
Tiga artikel untuk Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Tiga Artikel Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Quraish Shihab menyebut perjalanan hidup Nabi Muhammad saw. di dunia dengan dua isilah berbeda, yakni maulud dan maulid. Maulud ialah perjalanan hidup Nabi yang menekankan pada sosoknya. Hal ini berdasarkan kosakata maulud sendiri yang menunjukkan makna yang dilahirkan, sehingga berhubungan dengan sosok. Sementara maulid, diartikan dengan informasi-informasi yang berkaitan dengan perjalanan hidup Nabi. Sebagaimana maulid, yang bermakna tempat atau waktu dilahirkannya Nabi, sehingga titik tekan maulid ada pada peristiwa yang melingkupi hidup Nabi Saw.

Dengan demikian, jika kita bicara maulid Nabi, berarti kita mengisahkan segala peristiwa yang bersinggungan dengan kehidupan Nabi. Peristiwa yang melingkupi perjalanan hidup Nabi Muhammad Saw. berkenaan dengan dakwah Islam menyimpan nilai kasih dan sayang untuk seluruh umat manusia. Kasih itu salah satunya terejawantah dari upaya meretas kekerasan, ketertindasan dan ketidakadilan pada diri perempuan.

Upaya itu kita temui dari berbagai ayat dan hadis yang Nabi telah sampaikan pada kita. Mulai dari perlindung hidup perempuan yang dapat kita lihat dari larangan membunuh bayi perempuan, hingga penyetaraan hak untuk berkarya.

Meretas jejak kekerasan pada perempuan

Dalam perjalanan Nabi berdakwah, ia membawa misi untuk menumpas kekerasan terhadap perempuan yang telah menjadi budaya pada fragmen sejarah masa lalu. Antara lain, membekukan tradisi membunuh bayi perempuan yang telah masyhur di masyarakat Arab Jahiliyyah. Ini termaktub dalam surat An-Nahl ayat 58-59:

وَاِذَا بُشِّرَ اَحَدُهُمْ بِالْاُنْثٰى ظَلَّ وَجْهُهٗ مُسْوَدًّا وَّهُوَ كَظِيْمٌۚ يَتَوٰرٰى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوْۤءِ مَا بُشِّرَ بِهٖۗ اَيُمْسِكُهٗ عَلٰى هُوْنٍ اَمْ يَدُسُّهٗ فِى التُّرَابِۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَحْكُمُوْنَ

Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu. (Q.S. An-Nahl [16]: 58-59)

Mengutip Muhammad al-Ghazali dalam al-Ma’ah fil Islam, sebelum Nabi hadir dengan membawa ajaran Islam, masyarakat dunia menstigmatisasi perempuan dengan berbagai hal buruk, bahkan sampai tidak dianggap sebagai manusia. Di Romawi Kuno, perempuan hanya dijadikan objek pelampiasan hawa nafsu, sama sekali tak memiliki hal. Begitu pun dalam masyarakat Arab Jahiliyyah. Mereka menstigmatisasi perempuan sebagai sumber kefakiran dan kerendahan. Stigma ini kemudian yang melahirkan tradisi membunuh bayi perempuan hidup-hidup sebagaimana yang dinarasikan ayat di atas.

Baca juga: Mengenal Nabi Muhammad saw Lebih Dekat Melalui Al-Quran dan Hadis

Lalu, Nabi datang dan menyampaikan ayat itu pada umatnya, agar sadar tindakan mereka salah. Allah menutup firman-Nya itu dengan penjelasan bahwa yang mereka perbuat itu buruk. Berdasarkan satu riwayat dalam Tafsir al-Baghawi, frasa ala sa’a ma yahkumun di akhir ayat itu ditujukan pada penguburan bayi perempuan hidup-hidup.

Sementara itu, penghapusan kekerasan perempuan yang Nabi sabdakan sendiri antara lain berupa larangan memukul, yang ada pada riwayat Abdullah bin Za’mah dalam Fathul Bari:

عن عبد الله بن زمعة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال لا يجلد أحدكم امرأته جلد العبد ثم يجامعها في آخر اليوم

“Dari Abdullah bin Zam’ah dari Nabi Saw., bersabda: “janganlah seseorang di antara kamu memukul istrinya layaknya memukul hamba sahaya, (padahal) ia menggaulinya di ujung hari”

Hadis ini disabdakan Nabi dalam konteks menyindir pada laki-laki yang memukul istrinya, yang harusnya dicintai. Dari sindiran ini, tampak bahwa Nabi mengajarkan untuk menjunjung martabat perempuan dengan larangan menginjak harga dirinya melalui praktik anarkistik.

Menumpas ketertindasan dan ketidakadilan

Penumpasan ketidakadilan Nabi sampaikan antara lain tentang perubahan ketentuan waris, yang asalnya hanya hak laki-laki, kemudian juga diberikan pada perempuan. Hal ini tampak pada firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 7:

لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا تَرَكَ ٱلۡوَٰلِدَانِ وَٱلۡأَقۡرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنۡهُ أَوۡ كَثُرَۚ نَصِيبٗا مَّفۡرُوضٗا

“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan” (Q.S. An-Nisa [4]: 7)

Mengutip al-Wahidi dalam Asbabun Nuzul, ayat ini merespons Ummu Kujjah yang ditinggal mati suaminya, Aus bin Tsabit. Ia dan tiga putrinya terancam tidak dapat warisan karena waktu itu, perempuan tidak memiliki hak waris. Keponakan mediang suaminya yang bersikeras mengambil harta warisan itu memperparah kondisi Ummu Hujjah, hingga ia beranikan mengadu pada Nabi saw.

Baca juga: Mengapa Nama Nabi Muhammad Saw Sedikit Sekali Tersebut Oleh Al-Quran?

“Pulanglah dulu, sampai aku dapat jawaban dan Allah swt”, jawab Nabi Saw.

Lalu, ayat ini turun untuk menyerukan keadilan laki-laki dan perempuan dalam hak waris, sekaligus memberangus tradisi Jahiliyyah yang menindas perempuan.

Selain perihal waris, Nabi juga berupaya menghilangkan praktik pemaksaan pernikahan pada perempuan melaui sabdanya. Mengutip Faqihuddin Abdul Kodir dalam 60 Hadis Hak-hak Perempuan dalam Islam: Teks dan Interpretasi, hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Buraydah dalam Sunan Ibnu Majah dan An-Nasa’i:

عن ابنِ بُريدةَ عن أبيهِ قالَ : جاءت فتاةٌ إلى رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وعلى آلِهِ وسلَّمَ فقالت : إنَّ أبي زوَّجني ابنَ أخيهِ ليرفعَ بي خسيستَه ، قالَ : فجعلَ الأمرَ إليها فقالت : قد أجزتُ ما صنعَ ولَكنِّي أردتُ أن أُعلِمَ النِّساءَ أن ليسَ إلى الآباءِ من الأمرِ شيءٌ

“Dari Ibnu Buraydah dari ayahnya. Sang ayah berkata: “ada seorang perempuan muda datang ke Nabi Saw, dan bercerita: “Ayah saya menikahkan saya dengan anak saudaranya untuk mengangkat derajat melalui saya”, Nabi Saw. memberikan keputusan akhir di tangan sang perempuan. Kemudian perempuan itu berkata: “Ya Rasulullah, saya rela dengan yang dilakukan ayah saya, tetapi saya ingin mengumumkan kepada para perempuan bahwa ayah-ayah tidak memiliki hak untuk urusan ini””

Budaya Arab pra Islam yang benar-benar tidak menyediakan ruang berbicara dan berpendapat bagi perempuan, diganti oleh hadis ini, yang mempertegas kewenangan perempuan untuk menentukan pilihannya. Tidak melulu bertekuk lutut pada apa kata lelaki. Hadis beserta ayat di atas sekaligus dapat kita pahami bahwa ajaran yang dibawa oleh Nabi baik melalui perantara firman-Nya, maupun sabdanya sendiri, sarat akan keadilan dan kesetaraan hak untuk laki-laki dan perempuan.

Defini maulid yang dituturkan Quraish Shihab di atas, mengajak kita untuk tidak memperingati maulid dengan hingar-bingar seremoninya semata. tetapi lebih jauh, dengan merenungi perjalanan Nabi saw. mensyiarkan Islam yang penuh kasih dan sayang untuk semesta. Perjalanan yang begitu beratnya dan tidak sebentar dalam menumpas kekerasan dan ketidakadilan sampai menjadikannya sebagai insan paling mulia. Shallu ‘Alannabiy.

Wallahu A’lam[]

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 22

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Setelah berbicara mengenai permisalan keadaan orang munafik, Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 22 berbicara mengenai segala yang ada di alam raya ini. Mulai dari langit yang dijadikan sebagai atap hingga air hujan yang menumbuhkan pepohonan.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 19-21


Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 22 ini mempertegas kembali akan kekuasaan Allah swt dengan mengatur alam dengan penuh keteraturan. Keteraturan ini adalah apa yang dalam ilmu pengetahuan modern disebut dengan ekosistem.

Selain itu dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 22 dijelaskan mengenai siklus air dan segala macam prosesnya. Selain itu juga dibahas mengenai atmosfer yang menjadi atap bumi agar aman dari ancaman. Semuanya diciptakan Allah swt untuk kenyamanan manusia di bumi.

Ayat 22

Allah swt menerangkan bahwa Dia menciptakan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, menurunkan air hujan, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menjadikan tumbuh-tumbuhan itu berbuah. Semuanya diciptakan Allah untuk manusia, agar manusia memperhatikan proses penciptaan itu, merenungkan, mempelajari dan mengolahnya sehingga bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan sesuai dengan yang telah diturunkan Allah.

Dengan jelas Allah menerangkan dalam ayat ini terutama pada bagian yang mengungkapkan “Dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan.”

Dengan terang Allah menyebutkan bumi, langit dan benda-benda langit, seperti matahari dan bintang-bintang adalah ciptaan Allah yang merupakan satu kesatuan dan semuanya diatur dengan satu kesatuan sistem yang dalam ilmu pengetahuan modern disebut ekosistem. Selama belum dirusak oleh tangan-tangan manusia yang memperturutkan hawa nafsunya, semua berjalan dengan tertib dan teratur.

Laut yang luas yang disinari panas matahari kemudian menyebabkan uap air yang banyak. Uap air ini naik ke atas menjadi awan dan mendung, kemudian disebarkan oleh angin ke seluruh permukaan bumi, sehingga uap air yang banyak sekali ini di atas gunung-gunung menjadi dingin dan kemudian menjadi titik-titik dan menjadi hujan dapat mengairi permukaan bumi yang luas, bukan hanya timbul hujan di atas laut, tetapi juga di darat, karena bantuan angin yang menyebarkannya.

Disebabkan hujan yang turun dari langit itu kemudian bumi menjadi subur, berbagai tanaman buah, sayur, biji-bijian serta ubi dan sebagainya tumbuh dan memberikan banyak manfaat bagi manusia dan semua makhluk di bumi.

Di samping itu, turunnya hujan juga menimbulkan sungai, danau dan sumur terisi air serta memperluas kesuburan bumi. Hutan yang lebat juga membantu menyalurkan air dalam bumi, membantu menyalurkan udara segar, menyejukkan udara yang panas dan memelihara kesuburan bumi.

Manusia dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mengetahui kapan banyak turun hujan dan kapan jarang hujan atau bahkan sama sekali tidak ada hujan, berdasarkan letak bintang di langit maupun peredaran angin.

Juga dapat diketahui di mana berkumpulnya ikan-ikan di laut yang banyak sekali jenis dan ragamnya, bahkan ke mana burung-burung pergi pada musim-musim tertentu dapat diketahuinya.

Berikut penjelasan saintis/ilmuan tentang langit sebagai atap: Atap untuk sebuah bangunan terutama diperlukan agar penghuni yang tinggal di dalamnya terhindar dari hujan dan panas matahari. Dalam konteks ayat di atas langit sebagai atap adalah perumpamaan yang ditujukan untuk bumi tempat kita hidup.

Setiap saat, bumi dihujani benda angkasa yang antara lain adalah meteorit. Akan tetapi, sampai saat ini bumi tidak porak-poranda. Hal ini disebabkan bumi diselimuti oleh gas atau udara yang bernama atmosfer.

Sebelum sampai ke bumi, meteorit akan terpecah belah dan hancur saat memasuki atmosfer. Sebelum sampai ke atmosfer sinar yang dipancarkan matahari pun memecahkan meteorit yang ada.

Radiasi sinar matahari inilah yang dapat meledakkan meteorid dalam perjalanannya ke bumi dan kemudian diserap oleh lapisan ozon. Dengan demikian atmosfer dan lapisan ozon merupakan selubung pengaman atau dengan kata lain boleh disebut sebagai atap bagi bumi. Bumi tidak mungkin dihuni oleh makhluk hidup tanpa adanya atap tersebut. Ayat lain yang menyatakan hal yang sama adalah al-Anbiya′/21: 32 yang artinya:

Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan, angin, awan dan lain-lainnya). (al Anbiya′/21: 32)

Tebal atmosfer mencapai 560 kilometer, diukur dari permukaan bumi. Penelitian mengenai atmosfer dimulai dengan menggunakan fenomena alam yang dapat dilihat dari bumi, seperti warna-warna indah saat matahari terbit dan terbenam, dan kilapan cahaya bintang. Dalam tahun-tahun belakangan ini, dengan menggunakan peralatan canggih yang ditaruh dalam satelit di luar angkasa, kita dapat mengerti lebih baik mengenai atmosfer dan fungsinya untuk bumi.

Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa kehidupan di bumi didukung oleh tiga hal, yaitu adanya atmosfer, adanya energi yang datang dari sinar matahari, dan hadirnya medan magnet bumi.

Atmosfer diketahui menyerap sebagian besar energi sinar matahari, mendaur ulang air dan beberapa komponen kimia lainnya, dan bekerjasama dengan muatan listrik dan magnet yang ada untuk menghasilkan cuaca yang nyaman. Atmosfer juga melindungi kehidupan bumi dari ruang angkasa yang hampa udara dan bersuhu rendah.

Atmosfer terdiri atas lapisan-lapisan gas yang berbeda-beda. Empat lapisan dapat dibedakan berdasarkan perbedaan suhu, perbedaan komposisi bahan kimia, pergerakan-pergerakan bahan kimia di dalamnya, dan perbedaan kepadatan udara. Keempat lapisan tersebut adalah Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, dan Thermosfer, atau dapat pula dibagi menjadi tujuh seperti yang dijelaskan pada al-Baqarah/2: 29.

Komposisi gas di atmosfer terutama terdiri atas nitrogen (78%), oksigen (21%) dan argon (1%). Beberapa komponen yang sangat berpengaruh pada iklim dan cuaca juga hadir, meski dalam jumlah yang sangat kecil seperti uap air (0,25%), karbondioksida (0,036%) dan ozone (0,015%)

selanjutnya Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 22 juga berbicara perihal angin, awan dan air hujan.

Hubungan angin dan awan yang kemudian menghasilkan hujan dapat dijelaskan dengan melihat pada siklus air. Siklus air berlangsung mulai penguapan air laut yang membubung ke atas menjadi awan lalu turun ke bumi dalam bentuk tetes air hujan, kemudian air yang turun dalam bentuk hujan itu kembali lagi ke laut melalui sungai dan air bawah tanah. Alquran tidak menyebut secara rinci siklus air seperti itu, akan tetapi, banyak ayat yang menjelaskan beberapa bagian dari proses keseluruhannya secara sangat akurat. Antara lain dua ayat di bawah ini.


Baca juga:Tafsir Surat Al-Qalam ayat 1: Islam Menjunjung Tinggi Budaya Literasi


Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka gembira. (ar Rum/30: 48)

Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (an Nur/24: 43)

Kedua ayat di atas menggambarkan tahapan-tahapan pembentukan awan yang menghasilkan hujan, yang dalam gilirannya, merupakan salah satu tahap dalam siklus air. Dengan melihat lebih cermat kedua ayat di atas maka tampak nyata adanya dua fenomena.

Pertama adalah penyebaran awan dan lainnya adalah penyatuan awan. Dua proses yang berlawanan terjadi sehingga awan hujan dapat dibentuk. Dua proses yang disebutkan dalam Alquran ini baru ditemukan oleh ilmu meteorologi modern sekitar 200 tahun yang lalu.

Ada dua tipe awan yang dapat menghasilkan hujan. Keduanya dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuknya, yaitu stratus (tipe berlapis) dan cumulus (tipe menumpuk).

Pada tipe awan yang berlapis, dua tahapan penting yang terjadi adalah tahap awan tipe stratus dan nimbostratus (nimbo artinya hujan). Ayat pertama di atas (ar Rum/30: 48), secara sangat jelas memberikan informasi mengenai formasi awan yang berlapis.

Tipe awan semacam itu hanya akan terbentuk dalam kondisi angin yang bertiup secara bertahap dan secara perlahan menaikan awan ke atas. Selanjutnya, awan tersebut akan berbentuk seperti lapisan-lapisan yang melebar (“Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit…..”).

Apabila kondisinya cocok, (antara lain jika suhu cukup rendah dan kadar air cukup tinggi) maka butir-butir air akan menyatu dan menjadi butiran-butiran air yang lebih besar. Kita dapat melihat proses tersebut sebagai menghitamnya awan.

Dalam terjemahan Quraish Shihab, bagian ini disebutkan sebagai: “……dan menjadikannya bergumpal-gumpal….”. Namun dalam terjemahan Alquran dalam bahasa Inggris, bagian ini diterjemahkan sebagai: “…. and makes them dark… . Akhirnya, butiran air hujan akan jatuh dari awan: “…..lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya….”.

Tipe awan yang kedua yang dapat menghasilkan hujan adalah tipe awan yang bertumpuk-tumpuk. Awan ini terbagi berdasarkan bentuknya dalam beberapa nama, yaitu cumulus, cumulonimbus dan stratocumulus.

Awan ini ditandai oleh bentuknya yang bergumpal-gumpal dan saling bertumpuk. Cumulus dan cumulonimbus adalah tipe awan yang bergumpal-gumpal, sedangkan stratocumulus tidak bergumpal, sedikit menipis dan melebar. Ayat kedua (an-Nµr/24: 43) menjelaskan pembentukan tipe awan ini.

Awan tipe ini dibentuk oleh angin keras yang mengarah ke atas dan ke bawah (“….bahwa Allah menggerakkan awan…”).  Dalam terjemahan Alquran bahasa Inggris, bagian ayat ini diterjemahkan sebagai:  …drives clouds with force… . Mendorong awan dengan kuat. Ketika gumpalan awan terjadi, mereka menyatu menjadi gumpalan awan raksasa, bertumpuk-tumpuk satu sama lain. Pada titik ini, awan cumulus atau cumulonimbus sudah dapat menghasilkan air hujan.

Kalimat selanjutnya dari ayat ini, nampaknya menggambarkan secara khusus terjadinya cumulonimbus, suatu keadaan awan yang dikenal dengan nama awan badai. Tumpukan gumpalan awan yang menjulang ke atas ini apabila di lihat dari bawah mirip dengan bentuk gunung.

Dengan menjulang tinggi ke angkasa maka butir air yang sudah terbentuk akan membeku menjadi butiran es (“….. .lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung….”), Awan cumulonimbus juga menghasilkan ciptaan Tuhan yang sangat berharga, yaitu halilintar (“…kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.”)

Ayat lain yang terkait dengan siklus air yang bertalian dengan tahap lain di luar hujan adalah Surah Gafir/23: 18 yang artinya sebagai berikut:

Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya. (Gafir /23: 18)

Ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa air hujan diserap oleh tanah tapi tidak hilang. Artinya air tanah masih dapat dialirkan. Dua ayat di bawah ini juga menggambarkan cara aliran air, yaitu aliran permukaan (ar Ra’d/13: 17) dan aliran air tanah (az Zumar/39: 21) yang artinya demikian:

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan. (ar-Ra’d/13 : 17)

Apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diatur-Nya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkannya –tanaman tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian dijadikan-Nya hancur, berderai-derai. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi yang mempunyai akal sehat. (az-Zumar/39: 21)

Banyak ayat lainnya dalam Alquran yang membicarakan mengenai siklus air, seperti Gafir /40:13; al Mu′minun /23: 18; al Furqan/25: 48; al-‘Ankabµt/29: 63, dan lainnya. Semua ayat-ayat tersebut menyatakan hal yang bersinggungan dengan berbagai ayat yang diacu di muka. Beberapa ayat lainnya juga berbicara mengenai air, namun dengan konteks yang berbeda, seperti yang dapat dilihat dalam surah al Waqi’ah/56: 68-70 yang artinya:

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin. Mengapa kamu tidak bersyukur? (al Waqi’ah/56: 68-70)

Ayat yang berupa kalimat pertanyaan ini menekankan akan ketidak berdayaan manusia dalam mimpi yang paling tua yaitu mengontrol hujan. Fakta memperlihatkan bahwa hujan buatan tidak akan dapat diadakan apabila awan dengan kondisi tertentu tidak tersedia.

Awan tersebut harus memiliki berbagai partikel dalam kadar tertentu, kadar air yang tinggi yang dibawa angin yang naik ke atas, dan terdapat perkembangan tumpukan awan yang mengarah ke atas. Apabila semua karakter ini terdapat pada awan tersebut, barulah hujan buatan dapat dilaksanakan. Akan tetapi, para ahli meteorologi masih mempertanyakan efektivitas cara ini.


Baca juga: Massimo Campanini; Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Italia


Ayat yang berkenaan dengan siklus air selanjutnya adalah ayat yang menjelaskan mengenai sungai-sungai besar dan lautan.

Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tertembus. (al Furqan/25: 53)

Deskripsi sungai besar, muara sungai besar dan laut diwartakan dalam bentuk rasa airnya oleh ayat di atas. Di muara sungai atau estuari, terjadi penggabungan air tawar dan air asin. Namun cara bercampurnya sangat unik. Air tawar yang ditumpahkan ke laut akan tetap tawar sampai jauh ke tengah laut, sebelum benar-benar bercampur dengan air asin. Percampuran terjadi jauh dari mulut sungai di tengah laut.

Satu ayat lagi terkait (tidak langsung) dengan turunnya hujan adalah at Tur/52: 44 yang artinya:

Dan jika mereka melihat gumpalan-gumpalan awan berjatuhan dari langit, mereka berkata: Itu adalah awan yang bergumpal-gumpal. (at Tur/52: 44)

Ayat ini turun untuk menjawab tantangan dari beberapa orang kafir agar Nabi Muhammad menjatuhkan langit di kepala mereka. Mereka menduga bahwa langit adalah lempengan atau kepingan yang menjadi atap dunia. Allah tidak menjawab tantangan mereka di sini dan menjelaskan bahwa mereka hanya akan menemukan awan. Sesuatu yang tidak akan dapat dimengerti oleh mereka pada saat itu.

Orang-orang beriman hanya diperintahkan Allah untuk menjaga konservasi alam ini, karena banyak orang-orang kafir dan durhaka yang menyalahgunakan ilmu pengetahuan untuk merusak alam.

pada akhirnya kesimpulan dari Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 22 ini adalah agar orang yang beriman sebagai khalifatullah fil ard bertugas memelihara lingkungan hidup dan memanfaatkannya untuk mencapai kemanfaatan hidup sehingga kesejahteraan dan kebahagiaan dapat dinikmati dan disyukuri oleh setiap manusia. Karena Allah yang memberikan nikmat-nikmat itu, maka manusia wajib menyembah Allah saja.

Allah memberikan semua nikmat itu agar manusia bertakwa dan melaksanakan tugas-tugasnya sebagai seorang hamba Allah.

Tugas-tugas itu dapat dipahami dari firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (az Zariyat/51: 56)

Allah swt menguji manusia dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya, dengan firman-Nya:

ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. …( al Mulk/67: 2)

Karena manusia telah mengetahui perintah-perintah itu dan mengetahui tentang keesaan dan kekuasaan Allah, maka Allah memberi peringatan, “Janganlah manusia menjadikan tuhan-tuhan yang lain di samping Allah dan jangan mengatakan bahwa Allah berbilang.”


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 23-25


(Tafsir Kemenag)

Mengapa Nama Nabi Muhammad Saw Sedikit Sekali Tersebut Oleh Al-Qur’an?

0
Nama nabi Muhammad
Nama nabi Muhammad dalam Al-Quran

Dulu, penulis bertanya-tanya, mengapa nama Nabi Muhammad saw sedikit sekali tersebut oleh al-Qur’an? Apalagi jika dibandingkan dengan nama nabi-nabi lain yang disebutkan oleh kitab suci umat Islam ini hingga lebih dari 100 kali.

Nama Nabi Musa as misalnya, al-Qur’an menyebutnya hingga 136 kali. Sementara Nabi Ibrahim as tersebut hingga 69 kali. Kemudian di bawahnya ada Nabi Yusuf as yang tertulis sebanyak 58 kali dalam al-Qur’an. Yang paling sedikit adalah Nabi Idris as, Nabi Zulkifli as, dan Nabi Ilyasa’ as yang hanya tersebut dua kali. Nama Nabi Muhammad saw tersebut lebih banyak dari mereka, yaitu 4 kali, sama dengan penyebutan nama Nabi Ayyub as dan Ilyas as.

Jika patokannya adalah penyebutan nama, maka memang sedikit sekali penyebutan nama Nabi Muhammad dalam al-Qur’an. Namun, jika kita pahami bahwa al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, maka dari situ diketahui bahwa di setiap ayat yang tertulis dalam mushaf al-Qur’an terdapat sosok Nabi Muhammad saw yang menerimanya dan menyampaikannya kepada para sahabat.

Ayat-ayat al-Qur’an bak “dialog” antara Allah swt dan Nabi Muhammad saw. Layaknya dua orang yang sedang berbicara, kita tidak akan menemukan satu sama lain menyebut nama asli lawan bicaranya, kecuali untuk tujuan disampaikan kepada orang lain atau pihak ketiga. Yang ada adalah kata ganti “aku” atau “kamu”. Maka di balik dua kata itulah tersimpan nama dua orang yang sedang berbincang.

Demikian halnya al-Qur’an yang tidak banyak menyebut kata “Muhammad” di setiap ayatnya. Karena nama itu telah tersimpan di banyak kata ganti (dhamir) “ka” yang berarti “kamu”. Atau “qul” yang merupakan kata perintah “berkata” yang ditujukan untuk Nabi Muhammad saw. Juga bentuk kata ganti (dhamir) lain, baik yang muttashil (tersambung) atau munfashil (terpisah). Maka betapa banyaknya nama “Muhammad” disebutkan oleh al-Qur’an jika dhamir-dhamir itu ditampakkan kata asalnya.

Baca Juga: Mengenal Nabi Muhammad saw Lebih Dekat Melalui Al-Quran dan Hadis

Dalam banyak konteks, Allah swt memanggil nama Nabi Muhammad saw dengan “ya ayyuhan-Nabiy” atau “ya ayyuhar-Rasul” yang berarti “wahai Nabi” atau “wahai Rasul”. Panggilan seperti ini menunjukkan kedekatan, keakraban, kesayangan, atau bahkan penghormatan dari Allah swt untuk Rasulullah saw.

Seorang anak, jika ingin memanggil ayah atau ibunya, maka ia tidak lantas menyebut nama aslinya secara langsung. Dalam konteks Indonesia, panggilan anak kepada orang tua dengan menyebut nama asli secara langsung justru dapat dinilai tidak sopan. Maka umumnya sang anak akan memanggilnya dengan kata “ayah” atau “ibu” sebagai bentuk penghormatan, kedekatan, atau kesayangan. Demikian halnya orang tua yang memanggil “nak” kepada buah hatinya.

Begitu juga seorang suami jika ingin memanggil istrinya, maka panggilan “sayang” akan lebih romantis dan menunjukkan kedekatan sekaligus kecintaan. Bahkan suami tidak perlu menambahi kata “ku” setelah kata “sayang” untuk menunjukkan kepemilikan. Karena kata “sayang” dalam konteks ini sudah ma’rifat (khusus) tertuju hanya kepada istrinya, sehingga tidak membutuhkan pengkhususan lagi.

Dari sini dapat dimengerti mana kala Allah swt menyebut “ya ayyuhan-Nabiy” atau “ya ayyuhar-Rasul”, karena yang dimaksud dari kata tersebut tidak lain adalah sosok Nabi Muhammad saw, lawan “dialog”-Nya dalam al-Qur’an. Secara psikologi, panggilan semacam ini akan lebih mengena dan menunjukkan kesayangan terhadap lawan bicaranya.

Penyebutan nama “Muhammad” secara langsung dalam al-Qur’an terdapat dalam: 1) Q.S. Alu Imran: 144, yang menyatakan akan kerasulan Muhammad di mana sebelumnya telah ada rasul-rasul yang telah wafat, 2) Q.S. al-Ahzab: 40, yang menyatakan bahwa Muhammad saw adalah rasul terakhir, 3) Q.S. al-Fath: 29, yang juga menegaskan Muhammad saw sebagai rasul (utusan) Allah. Dan 4) Q.S. Muhammad: 2, yang berbicara tentang orang-orang yang beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Ada yang menarik dari Q.S. al-Fath: 29 yang berbunyi:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ …

“Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”

Mengenai ayat ini, penulis teringat dawuh Kiai Sya’roni Ahmadi Kudus yang mengatakan, “jika membaca ayat ini maka berhentilah (waqf) pada kata ‘rasulullah’, jangan di-washal (sambung).” Hal itu dimaksudkan agar kita tidak memasukkan Nabi Muhammad saw sebagai bagian dari orang yang keras kepada orang kafir. Dengan kata lain, posisikan statemen “Muhammad adalah utusan Allah” sebagai satu kalimat tersendiri. Sementara “dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir” menjadi kalimat baru.

Dalam pandangan Kiai Sya’roni, secara umum Nabi Muhammad saw tidak bersikap keras terhadap orang kafir. Memang dalam beberapa ayat perang, misalnya Q.S. al-Tawbah: 73 dan Q.S. al-Tahrim: 9, Allah swt memerintahkan Nabi saw untuk berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq serta bersikap keras kepada mereka. Akan tetapi, keramahan dan kelemahlembutan beliau mendahului sifat kerasnya. Dan memang beliau diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana termaktub dalam Q.S. al-Anbiya’: 107.

Kiai Sya’roni menyontohkan bahwa pada dasarnya Nabi saw enggan bermusuhan dan berperang melawan mereka, namun para sahabat memintanya sehingga turunlah ayat izin perang (Q.S. al-Hajj: 39). Dari 27 peperangan yang diikuti, beliau hanya pernah membunuh satu orang dari kalangan kafir, yaitu Ubay ibn Khalaf. Ini terjadi ketika Perang Uhud, di mana sebelumnya Ubay memang bertekad ingin membunuh Nabi saw, sehingga demi membela dan mempertahankan diri serta adanya perintah dari Allah swt, Nabi saw pun membunuhnya.

Kelembutan dan keramahan Nabi saw dicontohkan oleh Kiai Sya’roni melalui peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan kota Makkah). Ketika itu para sahabat yang mengikuti Fathu Makkah ini berencana untuk membalas kematian sahabat, saudara ataupun keluarga mereka yang dibunuh oleh orang-orang kafir.

Namun Nabi saw memiliki pemikiran dan sikap berbeda. Sesampainya di Makkah, saat orang-orang kafir ketakutan dan khawatir dibunuh, justru Nabi saw bersikap lemah lembut. Mereka dikumpulkan di Masjidil Haram terlebih dahulu, lalu malah dilepaskan oleh Nabi saw. Sekiranya mau, beliau dapat membunuh mereka atau menjadikan mereka sebagai tawanan. Namun Nabi saw tidak menginginkan pertumpahan darah. Ia menginginkan perdamaian.

Pemahaman Kiai Sya’roni terhadap Q.S. al-Fath: 29 ini sesuai dengan uraian Imam al-Razi dalam Mafatih al-Ghayb dan Syekh Wahbah Zuhayli dalam Tafsir al-Munir, meskipun keduanya juga tidak menampik adanya penafsiran lain yang memasukkan Nabi Muhammad saw ke dalam golongan orang yang bersikap keras terhadap orang kafir.

Prof. Quraish Shihab termasuk mufasir yang berpandangan demikian. Namun ia memahami kata “keras” dalam ayat ini dengan arti “tegas”, yakni tidak berbasa-basi yang dapat mengorbankan akidah. Bahwa Nabi saw dan para sahabatnya bersikap tegas terhadap orang kafir.

Baik Kiai Sya’roni maupun Prof. Quraish Shihab, meskipun berbeda sudut pandang, keduanya sama-sama ingin menghindarkan sifat “keras” dari pribadi Rasulullah saw. Karena terlampau banyak bukti yang menunjukkan kelembutan beliau terhadap siapapun, orang Islam maupun non-Muslim.

Semoga kita dapat meniru akhlak Nabi Muhammad saw yang kita peringati kelahirannya hari ini. Amiin.

Shallallahu ‘ala Muhammad, Shallallahu ‘ala Muhammad, Shallallahu ‘ala Muhammad, Shallallahu ‘alayhi wa sallam…

Mushaf bu Tien yang Menawan: Cara Soeharto Mengenang Almarhumah Istrinya

0
mushaf Bu Tien
mushaf Bu Tien

Di Indonesia terdapat salah satu mushaf yang dinisbatkan untuk almarhumah ibu negara oleh suaminya yang saat itu menjadi presiden. Ya, Soeharto mempersembahkan sebuah mushaf yang menawan untuk mengenang sosok istrinya Fatimah Siti Hartinah Soeharto. Mushaf ini kemudian dikenal dengan nama Mushaf Bu Tien.

Bu Tien meninggal pada tanggal 28 April 1996. Sementara ide untuk membuat mushaf ini terlaksana pada tahun 1998 awal. Tentu kondisi perpolitikan saat itu sedang tidak kondusif, bahkan sudah masuk pada menit-menit akhir kepemimpinan Soeharto setelah 32 tahun berkuasa. Namun Mushaf ini tetap dikerjakan selama 11 bulan dan bisa selesai peluncurannya saat acara 1000 hari kematian almarhumah, pada tahun 1999.

Catatan mengenai mushaf ini dapat diakses pada booklet yang diluncurkan tahun 1999. Mengenai penamaan mushaf, ternyata terinspirasi mushaf-mushaf yang pernah dibuatkan khusus untuk perempuan di Kairo dan India. Mushaf yang di Kairo itu bernama Mushaf Khwan Barokah yang dibuat pada masa Sultan Sha’ban abad XIV. Sementara mushaf yang di India bernama Mushaf Malika Jahan yang ditulis oleh putri dari kerajaan Oudh abad XVIII.


Baca juga: Mushaf Istiqlal, Masterpiece Kebudayaan Islam di Era Soeharto


Dalam booklet ini juga tercantum alasan pembuatannya. Disebutkan bahwa mushaf Bu Tien dibuat untuk menghormati dan mengingatkan jasa almarhumah sebagai ibu negara sekaligus ibu keluarga. Adapun karkater kuat yang ditampilkan mushaf ini ada lima poin utama. Pertama mushaf ini mudah dibaca, kedua memiliki niali seni tinggi, ketiga menunjukkan ciri kebangsaan, keempat menunjukkan ciri khas yang mengenang almarhumah Bu Tien. Terakhir menunjukkan citra dan aspirasi Bu Tien terhadap agama, bangsa dan tanah air.

Untuk yang terakhir tadi secara khusus memang berkiatan dengan gagasan pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, yang mana di dalamnya juga ada Bayt Al-Quran dan Museum Istiqlal. Selain itu, peranan Bu Tien dalam membangun taman-taman bunga, hingga preservasi pohon langka juga menjadi perhatian tersendiri.  Oleh karena jasa Bu Tien tersebut, maka mushaf dan illuminasinya pun dibuat untuk mewakili apa yang telah dilakukannya.

Dalam pembuatan mushaf yang hanya memakan waktu 11 bulan ini, memang ditangani oleh tim yang professional. Dalam catatan struktur organisasi pelaksanaan mushaf Bu Tien, terdapat beberapa divisi seperti kaligrafi, pewarnaan, Komputer grafik, desain, fotografi, percetakan, hingga bagian pentashihan. Secara keseluruhan mendekati 100 orang yang masuk struktur organisasi tersebut.

Keistimewaan Mushaf Bu Tien

Mushaf dengan nama lengkap Al Qur’an Al Karim: Al Qur’an Mushaf Hjh. Fatimah Siti Hartinah Soeharto ini berukuran 73 cm x 102 cm. Kaligrafi yang digunakan merupakan khat naskhi dan tsuluts, yang mana merujuk pada mushaf standar Indonesia. Pola barisnya terdiri dari 15 baris yang banyak diikuti oleh mushaf Arab Saudi. Jumlah desain iluminasinya mencapai 93 desain dengan kertas bahan Hammer Durex, cat iluminasinya dari akrilik tahan air, dan warna emasnya menganding serbuk serta lembaran emas 24 karat.

Adapun iluminasi dalam mushaf Bu Tien, mengandung makna filosofis berdasarkan kecintaan almarhumah terhadap bunga-bunga yang terdiri dari melati, kenanga, mawar, dan mayang kelapa. Melati mewakili lambang kesederhanaan, kesucian dan keelokan budi. Kenanga sebagai lambang agar mencapai segala keluhuran yang telah dicapai oleh para pendahulu. Mawar sebagai lambang cinta, kasih sayang dan penghormatan. Dan mayang kelapa lambang keberuntungan, kemakmuran dan kesejahteraan.


Baca juga:Empat Presiden Indonesia dan Warisan Mushaf Nusantara


Perihal perpaduan warna, Bu Tien menyukai warna cerah yakni ungu, kuning, dan merah bata yang dapat diartikan sebagai sifat optimistik dan dinamik. Selain itu juga warna-warna yang melambangkan kedalaman, seperti emas, biru, dan hijau. Motif lain juga ditampilkan seperti batik-batik khas Indonesia yang mana berkaitan dengan sifat-sifat manusia. Pola dari Solo dan Yogyakarta seperti Sido Asih, Sido Mukti, Sido Mulyo, Sido Luhur dan pola lainnnya menghiasi mushaf ini.

Adapun motif iluminasi setiap juznya merupakan ekspresi ragam hias yang mewakili dari berbagai provinsi Indonesia. Inilah yang kemudian disebut sebagai sumbangsih Soeharto dalam seni mushaf Indonesia, terlebih setelah sukses membuat mushaf Istiqlal pada tahun 1995. Tak dapat dipungkiri,  di akhir kepemimpinan Soeharto memang memberikan perhatian lebih untuk seni yang luhur ini.

Wallahu a’lam bi al-shawab[]