Beranda blog Halaman 488

Tuntunan Al-Quran dalam Menyikapi Penghinaan Terhadap Nabi SAW

0
Penghinaan terhadap Nabi
Tuntunan Al-Quran Menyikapi Penghinaan terhadap Nabi Saw

Dunia tengah diributkan oleh sebuah polemik yang disulut oleh Emmanuel Macron, Presiden Prancis. Ia menyetujui pembuatan karikatur penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW oleh majalah Charlie Hebdo, dengan dalih kebebasan berekspresi. Ditambah, Macron juga menyatakan bahwa Islam adalah ‘agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia’ (22/10).

Sikap dan pernyataan rasis Macron tersebut tentu menyulut kemarahan umat Muslim. Karena pembuatan karikatur Nabi Muhammad adalah suatu hal yang tabu dalam Islam, apalagi disertai framing yang merendahkan.

Quraish Shihab menyebutkan bahwa menggambar Nabi Muhammad adalah sesuatu yang terlarang, meski fisik Nabi sebenarnya bisa dideskripsikan secara terbatas, merujuk sejumlah riwayat para sahabat.

Upaya penghinaan terhadap sosok agung Muhammad SAW tentu bukan terjadi kali ini saja, melainkan sudah berulang-ulang dalam catatan sejarah. Dan hinaan-hinaan itu tidak sedikit pun mengurangi kemuliaannya.

Baca Juga: Hinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang Diabadikan dalam Al-Quran

Dalam sejarah modern, sebut saja kejadian karikatur Jylland Posten Denmark, Megazinet Norwegia, Die Welt Jerman, dan Tabloid Peta Bekasi. Juga buku “Ayat-ayat Setan” dan film “Innocence of Muslims.” William Montgomery Watt, orientalis asal Britania, menyatakan bahwa tidak ada tokoh besar dalam sejarah yang paling banyak difitnah melebihi Nabi Muhammad SAW.

Penghinaan terhadap Nabi Muhammad bahkan sudah terjadi sejak beliau masih hidup di tengah-tengah sahabat. Al-Quran dengan jelas merekam beberapa di antaranya, yaitu Muhammad dituduh sebagai epilepsi, dukun, pembual, pembohong/penipu, penyair gila, sampai dengan tukang sihir. Berbagai hinaan tersebut bisa dilihat dalam berbagai ayat misalnya Surat al-Anbiya’ 21: 5, al-Haqqah 69: 40-41, al-Haqqah 69: 42, al-Zariyat 51: 52, QS al-Hijr 15: 6, dan Surat al-Furqan 25: 6.

Al-Quran mengisyaratkan bahwa penghinaan terhadap Nabi muncul setidaknya karena dua hal, pertama yaitu keangkuhan sebagaimana disebut dalam Surah al-Jasyiah ayat 35:

ذَٰلِكُمْ بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۚ فَالْيَوْمَ لَا يُخْرَجُونَ مِنْهَا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ.

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya kalian menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat.” (QS al-Jasyiah [45]: 35)

Kedua adalah ketidaktahuan, yang terjadi akibat ketidaksampaian dakwah atau tersampaikannya informasi tentang Nabi secara distorsif, sehingga terjadi kesalahpahaman. Sebagaimana diisyaratkan dalam Surah al-Maidah ayat 104:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ.

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk.” (QS al-Maidah [5]: 104)

Melihat penghinaan seperti di atas tentu saja kita tidak rela, karena itu adalah kemunkaran. Apalagi yang dihina adalah Rasulullah Saw, sosok yang kita cintai melebihi Orangtua, anak, bahkan diri kita sendiri. Pertanyaannya kemudian adalah harus diwujudkan dalam bentuk apa kekecewaan itu? Yang pasti bukan dengan cara kekerasan, apalagi pembunuhan dan teror!

Baca Juga: Tinjauan Tafsir terhadap Jihad, Perang dan Teror dalam Al-Quran

Para ulama telah menegaskan bahwa berbuat kebaikan harus dengan cara yang baik, dan mencegah kemunkaran juga harus dengan cara yang baik. Dalam kalimat bahasa Arab yaitu amar ma’ruf bi al-ma’ruf nahi munkar bi al-ma’ruf. Mencegah kemunkaran tidak boleh dengan memunculkan kemungkaran yang baru, apalagi kemunkaran yang lebih besar.

Allah SWT menyampaikan dalam Surah al-Nisa ayat 140 tentang pentingnya bersikap bijak menghadapi penghinaan:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ.

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Alquran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan, maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.” (QS al-Nisa [4]: 140)

Begitu juga dalam Surah Fusilat ayat 34:

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sampai antara kamu dan dia yang bermusuhan menjadi teman yang sangat setia.” (QS Fusilat [41]: 34)

Sementara Nabi Muhammad yang harus senantiasa menjadi teladan kita, telah memberikan contoh bagaimana menyikapi penghinanya, seperti tatkala diusir, dikejar dan dilempari batu oleh warga kota Taif, sampai berdarah-darah.

Saat itu malaikat meminta Nabi untuk berdoa kepada Allah supaya memerintahkannya agar menimpakan azab untuk mereka. Kemudian, kita tahu, bahwa sikap manusia paling agung ini, dengan keluhuran akhlaknya, justru menengadahkan tangan ke langit dan berucap dengan kasih sayangnya, “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka belum mengetahui.”

Jika Muhammad Saw yang dengan kegigihan dakwahnya bersikap demikian lalu bagaimana dengan kita? Kita belum menyampaikan apa pun tentang keluhuran agama ini kepada mereka. Kita justru selalu menampilkan citra yang buruk tentang agama ini, sehingga gagal meraih simpati.

Baca Juga: Pesan Cinta Syekh Adnan al-Afyouni: Pertahankan Kesejahteraan Indonesia !

Saya jadi teringat muhasabah Habib Ali al-Jufri, seorang dzuriyah Nabi yang mampu meneladani keluhuran akhlak kakeknya yang introspeksi dan berkata, “Duhai Rasulullah… orang-orang yang belum mengetahui, yang menggambarmu, sejatinya bukan menggambarmu. Tetapi menggambar apa yang mereka lihat pada diri kami, yang belum mampu menampilkan ajaran yang engkau bawa ini (secara benar).” Astaghfirullah…

Dari ulasan di atas kita mengetahui bahwa Alquran memberikan tuntunan dalam menyikapi penghina Nabi, agar kita bersikap bijaksana, tabah, dan membalasnya dengan cara yang baik dan elegan. Nabi sendiri memberikan teladan dalam menghadapi penghinanya dengan mendoakan kebaikan dan gigih menyampaikan Islam yang hakiki, dengan cara merangkul bukan memukul. Wallahu A’lam.

Hinaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang Diabadikan dalam Al-Quran

0
Hinaan terhadap Nabi Muhammad dalam Al-Quran
Hinaan terhadap Nabi Muhammad dalam Al-Quran

Dalam menjalankan misi dakwahnya, sudah menjadi ujian tersendiri bagi para nabi untuk menerima segala hinaan dan cemoohan dari kaumnya yang tak mau beriman. Bahkan Nabi Muhammad saw tidak luput dari ujian tersebut. Al-Quran pun telah mengabadikan berbagai peristiwa hinaan terhadap Nabi Muhammad saw.

Dalam catatan sejarah, penyebaran Islam dari masa awal kerasulan Muhammad saw melalui perjalanan yang cukup panjang dan terjal. Di awal masa dakwahnya sudah mendapatkan tekanan, baik secara psikis maupun fisik. Beberapa tekanan fisik seperti pukulan, lemparan batu, pemboikotan hingga percobaan pembunahan sudah pernah dirasakan oleh Nabi Muhammad saw.

Beberapa tuduhan dan hinaan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad yang kemudian direkam dalam Al-Quran antara lain sebagai berikut:

Tuduhan sebagai dukun

Satu tuduhan yang dilayangkan kaum Quraisy ialah menganggap Nabi saw sebagai dukun. Tuduhan itu kemudian dibantah oleh ayat al-Quran dalam surat at-Tur ayat 29-30 yang bunyinya:

فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ

أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ

“Maka peringatkanlah karena dengan nikmat Tuhanmu (kamu) bukanlah seorang dukun dan bukan pula orang gila”

“Bahkan mereka berkata: “dia oadalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakan menimpanya”

Baca juga: Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Tiga Artikel Refleksi Peringatan Kelahiran Baginda Rasulullah

Ibnu Abbas ra dalam riwayatnya menceritakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan adanya orang-orang Quraisy yang berkumpul di Darun Nadwah untuk meembicarakan Muhammad saw hingga Salah satu dari mereka sampai menyarankan untuk mengikat tubuh Nabi saw dengan tali hingga datang masa ajalnya. Ini juga yang dilakukan mereka kepada para penyihir sebelumnya seperti Zuhair dan Nabighah. Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat tersebut sebagai respon atas peristiwa tersebut. (Imam al-Suyuthi, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul, 1:201)

Ibnu Kathir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini membantah tuduhan yang disampaikan oleh para pendusta dan pelaku kedzaliman. Ayat ini seakan-akan berbicara bahwa “engkau bukanlah seorang dukun seperti yang dituduhkan para pembesar Quraisy”(Ibnu Kathir, Tafsir al-Quranul Adzim, 7:436)

Tentang lafad كَاهِنٍ, al-Asfahani menerangkan bahwa kahin atau dukun ialah orang yang menyampaikan kabar dan berita amsa lalu yang tersembunyi kemudian ditambahi dengan persangkaan yang boleh jadi benar, bisa juga salah. (al-Ragib al-Asfahani, al-Mufradat fi Garibil Quran,1:72)

Baca juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

Tuduhan sebagai penyair

Tuduhan ini berkaitan dengan risalah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw yakni berupa Al-Quran. bagi mereka yang tidak beriman, ayat-ayat Al-Quran tidak lebih dari sekedar syair-syair yang diciptakan Muhammad. Ini setidaknya terekam dalam surat al-Anbiya’ ayat 5. Allah berfirman:

بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ

“Bahkan mereka mengatakan: “(Al-Quran) ialah mimpi-mimpi yang kacau, atau hasil rekayasa (Muhammad), atau bahkan dia hanya seorang penyair, maka coba datangkanlah kepada kita suuatu tanda seperti halnya para rasul yang sudah diutus di masa terdahulu”

Husain at-Thabathaba’i dalam al-Mizan fi Tafsiril Quran menerangkan ayat tersebut dengan menggambarkan peningkatan penolakan terhadap risalah yang dibawa Nabi saw. Pertama, mereka menilai bahwa al-Quran hanyalah kumpulan mimpi yang kacau, yakni tidak bisa terlihat maknanya. Kedua, mereka mulai menuduh Muhammad sebagai penyair dan Al-Quran yang dibawanya tak lain hanya sebuah rekayasa/buatan. Ini juga mengindikasikan bahwa Muhammad sebagai penyair hanya menyampaikan syair berdasar pada imajinasi belaka.

Bantahan terhadap tudahan bahwa Nabi Muhammad saw merupakan penyair ini juga disampaian dalam firman-Nya pada surat Yasin ayat 69:

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ

“Dan tidak kami mengajarkan kepadanya (Muhammad) tentang syair dan itu tidak pantas baginya, sungguh al-Quran itu tidak lain hanyalah sebuah pelajaran dan kitab yang jelas”

Baca juga: Teladan Akhlak Nabi Muhammad SAW Kepada sang Ibunda: ‘Saya Anak dari Seorang Perempuan’

Quraish Shihab menerangkan bahwa Muhammad saw memiliki kedudukan sebagai Rasul yang demikian terhormat sehingga sangat tidak wajar menjadi penyair. Di sisi lain, akhlak bawaan serta budi pekerti yang luhur juga bertentangan dengan para penyair terdahulu. Mereka (para penyair pada masa itu) sering tenggelam dalam minuman keras dan rayuan perempuan (Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah,11:188)

Tuduhan sebagai pembohong

Tuduhan sebagai “tukang bohong” juga pernah dilekatkan kepada Nabi Muhammad. Tuduhan ini mungkin yang sering ia dengar semenjak ia menyampaikan risalah kenabiannya. Salah satu firman-Nya yang menunjukan atas tuduhan orang kafir ialah dalam surat al-Furqan ayat 4 yakni:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا

“Dan orang-orang kafir berkata: “(al-Quran) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan olehnya (Muhammad), dan dibantu oleh orang –orang lain, maka sungguh mereka telah berbuat dzalim dan dusta yang besar”

Mayoritas Mufassir berpendapat bahwa إِفْكٌ bermakna keterbalikan, kebohongan, tipu daya dan sebagainya. Ini bisa diartikan bahwa yang dilakukan Muhammad menurut kaum Kafir ialah kebohongan dan hanyalah pemutarbalikan fakta. Tuduhan ini seakan-akan memperlihatkan kebodohan kaum Quraisy. Padahal Muhammad sendiri sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul sudah dikenal di kalangannya sebagai al-Amin yakni orang yang jujur dan dapat dipercaya.

Tuduhan itu masih ada di masa sekarang

Selain beberapa tuduhan yang sudah disebutkan sebelumnya, masih banyak lagi tuduhan dan hinaan lain yang mengatakan bahwa Muhammad ialah orang gila dan sebagainya.

Adapun di masa sekarang, hinaan dan tuduhan itu masih terus ada. Hal ini diakibatkan karena mereka tidak benar-benar mengenal islam dan Nabi Muhammad saw. Sedangkan informasi yang mereka dapat malah dari mereka yang memusuhi Islam terlebih propaganda yang sudah disebarkan sejak perang salib.

Baca juga: Tafsir At-Taubah 128; Potret Cinta Nabi Muhammad Saw pada Umatnya

Kebencian mereka semakin diperparah dengan gambaran buruk sebagian kaum muslim yang akhir-akhir ini lebih memilih jalur ekstrim hingga menebarkan teror dimana-mana yang justru semakin menampakan kebodohannya.

Memang balasan bagi mereka yang menghina Nabi Muhammad sudah sangat jelas dan dijanjikan oleh Allah swt dengan siksa yang pedih. Namun respon sakit hati dan marah kaum Muslim terhadap para penghina Nabi Muhammad bisa dikatakan sebuah kewajaran.

Adapun Quraish Shihab menganggap bahwa hinaan dan tuduhan itu memang selalu beriringan dengan tugas dakwah para Nabi. Lebih lanjut, Quraish Shiahab memberi solusi dalam menghadapi penghinaan tersebut. Menurutnya berdakwah dengan meningkatkan informasi yang benar tentang ajaran Islam dan Nabi Muhammad saw merupakan cara yang baik untuk dilakukan dalam rangka melawan hinaan tersebut. Dakwah tersebut bisa dalam bentuk lisan, tulisan dan perilaku yang mencerminkan kebaikan. Wallahu a’lam[]

Kenali Ayatul Qurra (Ayat Para Pembaca Al-Quran), Begini Penjelasannya

0
Ayat para pembaca Al-Quran
Ayat para pembaca Al-Quran

Dari sekian banyak Al-Quran dan hadis yang menyebut kemuliaan Al-Quran dan para pembacanya, surat Fathir ayat 29-30 adalah ayat yang dijuluki sebagai Ayatul Qurra’ atau ayat para pembaca Al-Quran. Hal ini kemungkinan tidak lepas dari kandungan ayat ini yang secara jelas dan gamblang menyinggung para pembaca Al-Quran, serta balasan dari ibadah membaca Al-Quran mereka. Dari siapakah julukan itu muncul? Dan bagaimana bunyi serta penjelasan ayat tersebut? simak uraiannya berikut ini:

Asal Usul Julukan Ayatul Qurra’ (Ayat Para Pembaca Al-Quran)

Sebutan Surat Fathir ayat 29-30 sebagai Ayatul Qurra’ (Ayat Para Pembaca Al-Quran) bukanlah sebutan yang dibuat serampangan atau muncul baru-baru saja. Sebutan ini terdokumentasikan dalam beberapa babon kitab tafsir. Diantaranya di dalam Tafsir At-Tahabari karya Ibn Jarir At-Thabari. Ibn Jarir sendiri menyebut julukan ini melalui tiga riwayat yang seluruhnya bermuara pada Imam Mutharrif Ibn ‘Abdullah (Tafsir At-Thabari/10/410).

Baca Juga: Hukum Membaca Al-Quran dengan Ilmu Tajwid dan Objek Pembahasannya

Selain di dalam Tafsir Ath-Thabari, julukan ini juga terdokumentasikan dalam Tafsir Ibn Katsir, Tafsir Ruhul Ma’ani karya Imam Al-Alusi, Tafsir Ad-Durrul Mantsur karya Imam As-Suyuthi, dan Tafsir Al-Kasysyaf karya Imam Az-Zamakhsyari. Semuanya menyebut bahwa julukan tersebut berasal dari Imam Mutharrif Ibn ‘Abdullah.

Siapakah Mutharrif Ibn ‘Abdullah? Imam Mutharrif bernama lengkap Mutharrif ibn ‘Abdullah ibn Asy-Syikhkhir. Beliau merupakan salah satu tokoh terkemuka dari kalangan tabi’in, dan juga dikenal sebagai sosok yang zuhud dan sosok tsiqah atau terpercaya dalam periwayatan hadis. Beliau lahir kemungkinan di masa Nabi masih hidup dan wafat tahu 87 H. di Bashrah (Al-A’lam Liz Zirikli/7/250).

Baca Juga: Inilah Keutamaan Membaca Al-Quran dengan Tartil

Menjual Hal Yang Tidak Membuat Rugi

Allah berfirman dalam Surat Al-Fathir ayat 29-30

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (٢٩) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. 30. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri (QS. Fathir [35] 29-30).

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan, tijarah secara bahasa maknanya adalah barter. Dan termasuk mirip dengan barter, adalah tindakan Allah dalam memberi pahala kepada hambanya-Nya sebagai ganti amal soleh yang ia lakukan. Imam Al-Qurthubi menerangkan, penggunakan kata tijarah untuk praktek bagaimana Allah memberi pahala sebagai ganti dari amal soleh, adalah sebuah kiasan. Imam Al-Qurthubi kemudian mengutip beberapa ayat Al-Quran yang menggunakan makna ini. Salah satunya adalah Surat Al-Fathir ayat 29-30 (Tafsir Al-Jami Li Ahkamil Qur’an/5/151).

Baca Juga: Mengaplikasikan Metode Tadabbur Saat Membaca Al-Quran dan Langkah-Langkahnya

Dalam ayat di atas Allah mengumpamakan para pembaca Al-Quran sebagai pelaku jual-beli. Namun tidak seperti jual beli pada umumnya, yang untung dan rugi adalah hal biasa di dalamnya. Istilah merugi tidaklah ada pada kamus hidup para pembaca Al-Quran. Pembaca Al-Quran bagaikan penjual yang menjual sesuatu yang tak pernah membuatnya rugi.

Keterangan ini tidak sedang merendahkan derajat para pembaca Al-Quran yang merupakan pekerjaan mulia kemudian diturunkan pada setingkat orang melakukan jual-beli yang kental berbau duniawi. Keterangan ini hendak mendekatkan Al-Quran kepada manusia, sesuai dengan adat serta kebiasaan manusia yang tak bisa lepas dari transaksi barter atau jual beli. Bahwa apabila manusia menginginkan menjual sesuatu yang tidak membuatnya rugi, maka bacalah Al-Quran. Maka ia akan memperoleh laba di akhirat yang bersifat pasti. Tidak bersifat spekulatif.

Imam Al-Alusi dalam tafsirnya menerangkan, yang dimaksud pembaca Al-Quran dalam ayat di atas tidaklah sekedar orang yang pernah membaca Al-Quran, melainkan orang yang menjadikan membaca Al-Quran sebagai kegiatan sehari-hari sehingga Al-Qurra’ juga menjadi julukan bagi mereka. Ada juga yang menyatakan, maksud dari “membaca” dalam ayat di atas adalah, mengikuti dan mengamalkan kandungan Al-Quran. Imam Al-Alusi juga menjelaskan, menurut pendapat yang unggul, ayat ini tidaklah hanya ditunjukkan pada para sahabat nabi saja. Namun, orang-orang mukmin secara umum (Tafsir Ruhul Ma’ani/16/395).

Wallahu A’lam

Tafsir Surat Al An’am Ayat 96

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 96 berbicara mengenai perpurataran waktu antara siang dan malam. Dua kejadian tersebut memiliki kegunaan masing-masing. Waktu siang dijadikan sebagai waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan malam dijadikan sebagai waktu untuk istirahat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 93-95


Allah swt dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 96 memerintahkan manusia untuk memikirkan kedua hal tersebut. Khususnya bagi orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah. Sebagaiman telah disinggung pada pembahasan lalu.

Lebih lanjut Tafsir Surat Al An’am Ayat 96 berbicara mengenai fenomena siang dan malam dari sudut pandang sains modern. Disertai pula penjelasan mengenai sistem kalender yang berlaku sampai saat ini.

Ayat 96

Allah menyuruh manusia agar memperhatikan perputaran waktu yang disebabkan oleh peredaran benda-benda langit yang berlaku menurut hukum sebab dan akibat. Allah mengajak manusia memperhatikan alam terbuka yang dapat dilihat sehari-hari. Allah menyingsingkan cahaya pagi yang menghapus kegelapan malam. Cahaya itu tampak di ufuk langit bagian timur sesudah terbitnya matahari sehingga dunia tampak bercahaya terang.

Keadaan ini mereka alami di saat-saat mereka melakukan segala macam kegiatan untuk keperluan hidup mereka. Sebagai kebalikan dari suasana tersebut, Allah mengajak manusia untuk memperhatikan keadaan malam yang gelap. Allah menciptakan malam untuk beristirahat setelah mereka penat karena bekerja di siang hari.

Keadaan ini digambarkan sebagai suasana ketenangan. Suasana yang silih berganti antara siang dan malam seperti keadaan yang mempunyai persamaan dengan perputaran hidup, agar mereka mempunyai pandangan hidup yang lebih luas.

Uraian ilmiahnya sebagai berikut:

Kata husbānā (perhitungan) dalam ayat ini dimaksudkan sebagai perhitungan kalender (penanggalan). Dalam sejarah peradaban manusia, telah terbukti bahwa matahari dan bulan digunakan untuk perhitungan penanggalan.

Penanggalan berbasis pada gerak dan posisi matahari di langit bumi, atau yang dikenal dengan Solar Calendar, telah dilakukan oleh peradaban Barat (berasal dari Romawi dan Yunani), India; sedang peradaban Yahudi, Arab, Cina, juga India menggunakan Lunar Calendar, yaitu perhitungan berbasiskan kepada gerak dan posisi bulan di langit bumi.

Dalam bahasa astronomi, Solar Calendar berbasiskan pada lintasan-orbit bumi terhadap posisi matahari, sedang Lunar Calendar berbasis pada lintasan-orbit bulan terhadap posisi bumi dan matahari.

Dalam dunia astronomi-astrofisika, bulan juga digunakan dalam perhitungan penentuan kestabilan dinamika rotasi (rotational dynamic stability) bumi. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan bulan sangat diperlukan agar precession (perkitaran) bumi pada sumbunya stabil.


Baca juga: Tafsir At-Taubah 128; Potret Cinta Nabi Muhammad Saw pada Umatnya


Bulan memberikan kestabilan dalam dimensi waktu 10-100 tahun, sedang Venus dan Mars memberikan kestabilan dalam dimensi waktu 100-500 tahun. Sedang planet Yupiter dan Saturnus, juga ikut memberikan rotational dynamic stability terhadap bumi kita ini, juga bertindak sebagai shield (perisai) bagi bumi terhadap hamburan meteor yang akan membentur bumi.

Allah menyebutkan sebab-sebab yang mengubah suasana siang menjadi malam yaitu matahari yang beredar menurut waktu-waktu yang telah ditentukan. Sebagai bandingannya disebutkan, bahwa bulan tampak cemerlang di waktu malam. Baik matahari maupun bulan beredar di angkasa raya menurut garis edarnya secara teratur dan tertentu.

Allah menyebutkan matahari dan bulan karena kedua benda langit itulah yang paling menonjol di antara benda-benda langit yang lain, yang secara umum manusia dapat memahami secara mudah kapan matahari dan bulan itu terbit dan kapan benda langit itu terbenam, dengan maksud agar manusia dapat memahami bahwa tiap-tiap kehidupan didahului oleh tiada dan akan kembali kepada tiada pula.

Mengenai manfaat peredaran matahari dan bulan ini Allah menjelaskan selanjutnya dengan firman-Nya:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu).  (Yµnus/10: 5)

Dalam ayat ini, Allah menyebutkan tiga macam nikmat-Nya yang dapat dinikmati secara langsung oleh manusia yaitu nikmat yang diperoleh mereka tanpa usaha; nikmat cahaya pagi, nikmat ketenangan malam dan nikmat sinar matahari dan bulan agar manusia secara menyeluruh dapat memahami rahmat Allah yang menyeluruh bagi semua makhluk-Nya.

Pada akhir ayat Allah menegaskan bahwa penciptaan yang sangat tinggi nilainya itu, adalah ketentuan Allah sesuai dengan keluasan ilmu-Nya, kebesaran kekuasaan dan ketinggian hikmah-Nya.

Allah berfirman:

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ

Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (al-Qamar/54: 49)


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 97-98


(Tafsir Kemenang)

Tafsir At-Taubah 128: Potret Cinta Nabi Muhammad Saw pada Umatnya

0
Cinta Nabi Muhammad kepada umatnya
Cinta Nabi Muhammad kepada umatnya

Di momen bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw seperti saat ini, umat Islam perlu meningkatkan kecintaanya pada Beliau. Salah satunya dengan mengingat-ingat bagaimana besarnya kadar cinta Beliau kepada kita, umatnya. Dalam At-Taubah: 128 dinarasikan sebagian potret cinta Nabi Muhammad Saw pada umatnya:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.

Ayat di atas menginformasikan kepada kita bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang rasul dari kalangannya sendiri dan beliau memperlakukan mereka (umatnya) dengan empat sifat mulia. Yaitu bahwa beliau merasa berat atas penderitaan mereka, sangat menginginkan keselamatan mereka, amat mengasihi serta menyayangi mereka.

Al-Biqa’i menafsirkan kata “min anfusikum” dengan merujuk pada ungkapan “nafsah wahidah” di awal surat An-Nisa. Maknanya, bahwa Nabimu sama sepertimu yang merupakan anak cucu Nabi Adam dan Siti Hawa as.

Baca Juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

Sementara Nawawi al-Bantani dalam Marah Labid cenderung menafsirkannya spesifik orang Arab suku Quraisy, sebab konteksnya kala itu Al-Quran sedang menyapa mereka.

Namun apabila kata tersebut dibaca “min anfasikum” (fa’-nya difathah) sebagaimana qiraat Fatimah dan Aisyah ra, maka ia bermakna Rasul yang paling mulia dan paling utama dari kalian. Ini selaras dengan HR. Hakim no. 6996 bahwa Nabi Muhammad Saw ialah sosok pilihan yang terbaik di antara seluruh manusia yang ada.

Empat sifat Nabi

Nabi yang diutus dan sebagai yang terbaik dari kalangannya tersebut sangat mencintai umatnya. Ia merasa berat atas penderitaan umatnya. Ia tidak tega melihat mereka tertimpa musibah atau kesulitan di dunia maupun terkena azab di akhirat. Oleh karena itu Nabi menyeru pada pemuka agama untuk tidak memberatkan umat:

يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Permudahlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari” (HR. Bukhari no. 67).

Sebaliknya, Nabi sangat menginginkan kemanfaatan, kemudahan dan keselamatan bagi umatnya. Makna ini diungkapkan dengan diksi harish yang biasanya digunakan untuk menunjukkan kegigihan dan keinginan kuat seseorang meraih sesuatu.

Dalam konteks agama, Nabi berusaha semaksimal mungkin supaya umatnya mendapatkan hidayah. Dalam kitab Nurul Yaqin misalnya, dikisahkan bagaimana semangat Nabi berdakwah ke kota Ta’if. Meski mendapatkan perlakuan amat buruk dari penduduk Ta’if selama sebulan lamanya di sana, Beliau tidak sudi mereka diazab karenanya, bahkan mendoakan baik keturunan mereka.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 21: Nabi Muhammad Saw Adalah Suri Tauladan Bagi Manusia

Di bagian akhir At-Taubah: 128 diterangkan pula bahwa Nabi Muhammad Saw amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Dua sifat tersebut (rauf dan rahim) juga merupakan di antara sifat Allah yang terangkum dalam al-Asmaul Husna.

Salah satu bentuk kasih sayang Nabi pada umatnya ialah pemberian syafaatul uzma kelak di yaumul hisab (hari perhitungan). Dalam tafsirnya, Ibn Katsir mengutip hadis riwayat Ahmad yang menggambarkan hal tersebut.

ألا وإني آخذ بحجزكم أن تهافتوا في النار كتهافت الفراش أو الذباب

“Ketahuilah, sesungguhnya aku memegang pinggang kalian agar tidak terjatuh seperti terjatuhnya kupu-kupu atau lalat.” (HR. Ahmad no. 3521)

Wahyu yang terakhir turun dan terakhir ditulis

Ayat 128 dari surat At-Taubah ini istimewa tidak hanya karena menarasikan besarnya cinta Nabi Muhammad pada umatnya, ia dan ayat setelahnya juga tercatat secara khusus dalam sejarah Al-Quran, dua ayat terakhir tersebut disebut-sebut sebagai bagian terakhir yang dimasukkan ke dalam mushaf.

Diceritakan pada masa kekhalifahan Abu Bakar as-Siddiq ra, atas usulan Umar ra, diinisiasi pengumpulan Al-Quran dalam satu mushaf setelah sebelumnya ayat-ayat-ayat Al-Quran terpisah-pisah di berbagai tempat.

Zaid bin Sabit yang mengetuai proyek tersebut mensyaratkan hapalan dan tulisan untuk suatu ayat ditulis. Namun tidak ditemukan bukti tulisan untuk dua ayat terakhir surah At-Taubah tersebut kecuali dari Khuzaimah yang datang di saat-saat terakhir penulisan.

Baca Juga: Pengumpulan Al-Quran dan Kisah Diskusi Alot Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit

Selain itu, As-Suyuti dalam al-Itqan menyebutkan banyak pendapat mengenai ayat yang terakhir diturunkan. Salah satunya dua ayat terakhir dari surat at-Taubah. Ini berdasarkan riwayat dalam beberapa kitab hadis seperti al-Mustadrak dan Zawaidul Musnad.

Berdasarkan pendapat ini bisa jadi hal tersebut pulalah yang menjadikan Zaid dan Tim Penyusun Mushaf sukar menemukan bukti tulisan untuk dua ayat tersebut sebagaimana yang diceritakan di atas.

Demikianlah kiranya sebagian potret cinta Nabi Muhammad Saw pada kita semua, umatnya. Semoga kita diberikan kemampuan meneladani budi pekerti beliau dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat serta termasuk yang menerima syafaatnya kelak. Amin ya rabbal ’alamin. Allahumma Shalli wa sallim alaih

Kategorisasi Makharij al-Huruf Menurut As-Syathibi

0
Makharij al-Huruf Asy-Syathibi
Makharij al-Huruf Asy-Syathibi

Setelah mengetahui pengertian dasar Makharij al-Huruf, saat ini kita akan membahas tentang pembagiannya. Sebagaimana telah dijelaskan tentang riwayat yang masyhur dalam ilmu Tajwid di Indonesia sebelumnya. Sehingga pada artikel ini akan terlebih dahulu mengacu kepada pendapat ِAs-Syathibi.

Pembagian Makharij al-Huruf menurut As-Syathibi

Secara garis besar, as-Syathibi mengkategorikan Makharij al-Huruf dalam empat bagian. Keempat bagian ini kemudian dispesifikasi menjadi empat belas tempat keluarnya huruf. Berikut adalah spesifikasi tersebut berdasarkan pemaparan ad-Dani dalam at-Tahdid fi al-Itqon wa at-Tajwid yang menggunakan thariq syathibiyyah.

  • al-Halq (Tenggorokan)

Pada bagian anggota tubuh ini, as-Syathibi membaginya dalam tiga tempat dengan tujuh huruf di dalamnya.

  1. Tenggorokan atas: ء (Hamzah), ا (Alif), ه(Ha).
  2. Tenggorokan tengah, ع(‘Ain) dan ح(Cha)
  3. Tenggorokan bawah: غ (Ghain) dan خ (Kh)
  • al-Lisan (Lidah)

Terdapat sepuluh Makharij al-Huruf pada bagian lidah. Di dalamnya mengandung empat belas huruf.

  1. Lidah bagian atas yang bersentuhan dengan langit-langit mulut, menghasilkan bunyi huruf ق (Qof)
  2. Lidah bagian atas yang bersentuhan dengan langit-langit mulut, namun sedikit di bawah makhraj huruf qaf, menghasilkan bunyi huruf ك (Kaf)
  3. Lidah bagian tengah yang bersentuhan dengan langit-langit mulut bagian tengah. Pada makhraj ini terdapat tiga huruf, yaitu huruf ج (Jim), ش (Syin), dan ي (Ya’)
  4. Bagian antara ujung lidah dan bagian dalam gigi seri atas, tepatnya agak menyentuh langit-langit muulut bagian atas merupakan makhraj dari huruf ط (Tha’) dan ت (Ta) dan د (Dal)
  5. Persentuhan antara ujung lidah dengan sebagian sisi tengah gigi seri atas merupakan makhraj dari huruf ظ (Dho), ذ (Dzal) dan ث (Tsa)
  6. Persentuhan antara ujung lidah dengan gigi seri atas merupakan makhraj dari huruf ص (Shad) dan ز (Zai) dan س (Sin)
  7. Ujung lidah bersentuhan dengan bagian atas langit-langit mulut dan sedikit pada gigi seri atas, dan juga disambungkan dengan pangkal hidung apabila pada posisi diidghamkan, merupakan makhraj huruf ن (Nun)
  8. Satu bagian dengan huruf Nun, namun lebih jelas dan cepat inhiraf(pergerakann)nya, yakni huruf ر (Ra’)
  9. Bagian awal sisi lidah disentuhkan dengan gigi geraham, boleh kiri atau kanan merupakan makhraj dari huruf ض (Dhod)
  10. Bagian sisi lidah bawah isentuhkan dengan langit-langit mulut bagian atas menghasilkan huruf ل (Lam)

Baca Juga: Pengertian Makharijul Huruf dalam Ilmu Tajwid dan Pembagiannya Menurut Ulama

  • As-Syafatain (Dua bibir)
  1. Bibir bagian dalam yang disentuhkan pada ujung-ujung gigi seri atas akan menghasilkan makhraj huruf ف (Fa’).
  2. Gerakan antara dua mulut a merupakan makhraj huruf و (Wawu), م (Mim), ب (Ba’).
  • At-Tanwin

Maksud dari Tanwin dalam hal ini terletak pada pangkal hidung. Makhraj ini khusus untuk نۡ (Nun sukun) yang didahului huruf yang ringan dibaca oleh bibir.

Contoh pada huruf yang digarisbawahi di Surat al-Kahfi ayat 34

أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالࣰا وَأَعَزُّ نَفَرࣰا

Contoh pada Surat at-Taubah ayat 43

عَفَا ٱللَّهُ عَنكَ

Makharij al-Huruf penting untuk diketahui dan dipelajari. Sebab merupakan salah satu faktor utama seseorang membaca al-Qur’an dengan benar. Walaupun lisan kita tidak sefasih Rasulullah SAW, namun tidak ada salahnya untuk mempelajari dan mempraktekkannya. Wallahu a’lam

Muhammad Ali Ash-Shabuni, Begawan Tafsir Ayat Ahkam Asal Aleppo, Suriah

0
ali ash-shabuni
muhammad ali ash-shabuni

Muhammad Ali Ash-Shabuni adalah mufasir kontemporer yang concern pada bidang syari’ah. Beliau termasuk kategori ulama mufasir yang produktif terutama di bidang Tafsir Al-Quran sebagaimana yang disampaikan Muhammad Ali Iyazi dalam al-Mufassirun wa Hayatuhum wa Manhajuhum.

Ali Ash-Shabuni merupakan seorang profesor di bidang Syari’ah dan Dirasah Islamiyah (Islamic Studies) di Universitas King Abdul Aziz, Makkah Al-Mukarramah. Magnum opus-nya berupa Shafwah at-Tafasir dan Rawa’i al-Bayan menjadi bukti kepakarannya di bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir.

Profil, Perjalanan Intelektual, dan Karir Muhammad Ali Ash-Shabuni

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Jamil al-Shabuni. Beliau lahir di kota Helb, Syiria pada tahun 1928 M. Ash-Shabuni lahir dan besar di tengah-tengah keluarga terpelajar. Ayahnya, Syaikh Jamil merupakan salah seorang ulama senior di Aleppo, Damaskus, Suriah. Ia mengenyam pendidikan pertamanya dari bimbingan sang ayah. Ia belajar bahasa Arab, ilmu waris, dan ilmu-ilmu agama.

Sejak usia kanak-kanak, Ash-Shabuni sudah memperlihatkan talenta, bakat dan kecerdasannya dalam menyerap berbagai ilmu agama. Tak pelak, Ash-Shabuni sudah hafal Al-Quran di usia yang masih belia. Maka, tak heran kemampuannya menjadi buah bibir (pujian) di banyak ulama. Ash-Shabuni juga berguru pada ulama terkemuka di Aleppo, seperti Syekh Muhammad Najib Sirajuddin, Syekh Ahmad al-Shama, Syekh Muhammad Said al-Idibi, Syekh Muhammad Raghib al-Tabbakh, dan Syekh Muhammad Najib Khayatah.

Baca juga: Wahbah az-Zuhaili: Mufasir Kontemporer yang Mendapat Julukan Imam Suyuthi Kedua

Setelah menuntaskan rihlah ilmiahnya di Suriah, Ash-Shabuni melanjutkan pendidikannya di Unievrsitas Al-Azhar, Mesir hingga ia mendapatkan gelar Lc (gelar S1) pada tahun 1371 H/ 1952 M. Setelah itu, pendidikan S2-nya ditempuh di universitas yang sama sampai meraih gelar Magister dengan tesis tentang perundang-undangan dalam Islam pada tahun 1952 M.

Dalam bidang spesialisasi hukum syari’, Ia menjadi utusan dari Kementerian Wakaf, Suriah untuk menyelesaikan Al-Dirasah Al-‘Ulya (sekolah pascasarjana). Saat ini Ash-Shabuni bermukim di Makkah dan tercatat sebagai dosen tafsir dan ulumul Quran di Fakultas Syariah dan Dirasah Islamiyah, Universitas Malik bin Abdul Aziz, Makkah.

Menurut penilaian Syekh Abdullah al-Hayyat selaku khatib Masjidil Haram dan mustasyar Kementerian Ta’limiyyah Arab Saudi, Ali Ash-Shabuni adalah seorang ulama yang memiliki disiplin ilmu yang beragam. Salah satu cirinya ialah intensitas waktunya banyak dipergunakan untuk bidang ilmu pengetahuan, seperti menulis dan menelurkan buah pemikiran yang bermanfaat dan memberi pencerahan kepada umat, serta dihasilkan dari penelitian yang cukup lama dan mendalam.

Lebih dari itu, Muhammad Al-Ghazali ketua jurusan dakwah dan ushuluddin fakultas Syariah Makkah menegaskan bahwa as-Shabuni dalam menafsirkan Al-Quran mencantumkan pendapat para ulama baik salaf maupun khalaf, kemudian meringkasnya dalam segi sosial dan bahasa sehingga pembaca bisa melihat pendapat antara tafsir bil manqul dan bil ma’qul dan mengambil manfaat dari pendapat keduanya.

Tatkala menuangkan gagasannya, Ali Ash-Shabuni tidak tergesa-gesa apalagi mengejar syahwat kuantitas karya tulis semata, melainkan menekankan bobot ilmiah, kedalaman analisis, serta mengetengahkan kualitas karya ilmiah yang dihasilkan agar mampu mendekati kesempurnaan dan memprioritaskan validasi serta tingkat kebenaran.

Baca juga: Mutawalli As-Sya’rawi: Mufasir Kontemporer dari Mesir

Karya-karya

Karya-karya Ash-Shabuni telah mendunia dan menjadi rujukan bagi pelajar muslim yang hendak mempelajari Ilmu Al-Quran dan tafsir tak terkecuali pesantren di Indonesia. Ali Ash-Shabuni termasuk penulis yang produktif. Ia banyak menghasilkan karya-karya terutama karya dalam bidang Al-Quran dan tafsir. Berikut karyanya,

  1. Shafwah At-Tafasir
  2. Rawa’i Al-Bayan Fi Tafsir Ayat Al-Ahkam min Al-Quran
  3. At-Tibyan Fi Ulum Al-Quran
  4. Tafsir al-Wadih al-Muyassar
  5. Qubs min al-Quran al-Karim: Dirasah Tahliliyah Muwassa’ah bi Alidaf wa Maqasid al-Suwar al-Karimah
  6. Min Kunuz al-Sunnah: Dirasat Adabiyyah wa Lughawiyyah min Hadits Syarif
  7. Al-Zawaj al-Islami al-Mubakkir Sa’adah wa Hasanah
  8. Mukhtasar Tafsir Ibn Katsir
  9. Mukhtasar Tafsir At-Thabari Jami’ Al-Bayan
  10. An-Nubuwwah Wal Anbiya’
  11. Al-Mawarits Fi Al-Syari’ah Al-Islamiyyah ‘Ala Dhu’i Al-Kitab Wa Al-Sunnah
  12. Tanwiru Al-Adzhan Min Tafsir Ruh Al-Bayan

Karya-karyanya di atas banyak menjadi rujukan di berbagai dunia. Di samping sibuk mengajar, Ash-Shabuni tercatat aktif dalam organisasi Liga Muslim Dunia. Ia menjabat sebagai penasihat pada Dewan Riset Kajian Ilmiah mengenai Al-Quran dan Sunnah.

Berkat kiprahnya dalam duna pendidikan Islam, pada tahun 2007 dalam sebuah acara bertajuk Dubai Internaitional Quran Award, Ash-Shabuni dinobatkan sebagai personality of the Muslim World. Penobatan beliau menambah daftar panjang ulama kelas dunia, di antaranya Syekh Yusuf al-Qaradhawi. Wallahu A’lam.

Sejarah Baru! KH Sya’roni Ahmadi, Gus Mus dan Sembilan Kaligrafer akan Tulis Ulang Mushaf Menara Kudus

0
Tulis Ulang Mushaf Menara Kudus
Tulis Ulang Mushaf Menara Kudus/ beta news

Sejarah baru dalam khazanah mushaf Al Qur’an Nusantara telah dimulai. Yayasan Masjid dan Makam Menara Kudus yang dipimpin Em. Najib Hasan akan menulis ulang Mushaf Menara Kudus yang familiar disebut Qur’an Pojok. Rabu (28/10) kemarin, penulisan ayat pertama diawali oleh KH. Sya’roni secara seremonial dalam rangkaian acara “Mbabar Mushaf Menara”.

Dalam sejarahnya, Mushaf Menara Kudus merupakan mushaf Al Qur’an yang dicetak dengan menggunakan sistem pojok. Sistem ini mengakhiri setiap sudut lembarannya dengan akhiran ayat dan berjumlah 15 baris pada setiap lembarnya. Mushaf Menara ini biasa digunakan oleh para santri penghafal Al Qur’an, dan merupakan hasil reproduksi dari mushaf penerbit Usman Bik Turki milik KH M Arwani Amin. Adapun master mushaf ini dulu ditulis oleh kaligrafer berkebangsaan Turki yang bernama Mustafa Nazif dan diterbitkan Jumadil Ula 1370 H.

Alkisah, sebelum Mushaf Menara dicetak, terlebih dahulu diperiksa dan diteliti oleh tiga ulama’ ahli Qur’an Kudus. Mereka yaitu K.H. Muhammad Arwani Amin (wafat tahun 1994), K.H. Hisyam Hayat (wafat tahun 1986), dan K.H. M. Sya’roni Ahmadi. Selain itu, pencetakan mushaf ini juga terlebih dahulu mendapat tanda tashih dari Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama RI pada tanggal 16 Mei 1974.

Seiring berjalannya waktu, mushaf Menara menjadi kebanggan tersendiri oleh warga Kudus. Ratusan ribu bahkan jutaan eksemplar telah beredar seantero Nusantara. Karena berulang kali dicetak, dan mushaf master yang orisinil sempat kebakaran pada tahun 2000-an awal, maka kualitas cetakan bisa dibilang semakin memudar.


Baca juga: Mushaf Istiqlal, Masterpiece Kebudayaan Islam di Era Soeharto


Selain itu, dari tiga tokoh ahli Al Qur’an yang berjasa meneliti mushaf Menara tempo dulu, dua di antaranya telah wafat. Saat ini yang masih sugeng (hidup dalam bahasa Jawa halus) hanyalah KH. M. Sya’roni. Atas pertimbangan inilah kemudian Yayasan Masjid dan Makam Menara Kudus berinisiatif untuk menuliskan kembali mushaf Menara.

Wajah Baru Mushaf Menara

Penulisan Mushaf Menara ini telah dimulai dengan lafadz basmalah yang digores langsung oleh KH Sya’roni Ahmadi. Sebagaimana yang dilansir oleh Jawa Pos radar Kudus, goresan awal ini ditulis menggunakan tinta Jepang. Setelah goresan itu, nantinya akan dilanjutkan oleh sembilan kaligrafer hingga selesai 30 juz. Sembilan kaligrafer yaitu Huda Purnawadi, Kholis Fuad, Miftahul Huda, Ahmad Jamal, Sittu Attiyah, Ahmad Muslim, Ahmad Turmudzi El Faiz, Rizki Aria, dan Darmawan Saputra. Kaligrafer-kaligrafer yang mendapat tugas menulis ini pun sangat berkompeten dan merupakan kaligarfer berprestasi baik tingkat Nasional maupun Internasional.

Rabu kemarin, penulisan Mbabar Mushaf Menara ini dilakukan di bawah bangunan Menara Kudus secara langsung. Hal ini untuk menunjukkan bahwa corak yang akan digunakan untuk mengisi illuminasi merupakan ornament khas Kudus.


Baca juga: Teladan Akhlak Nabi Muhammad SAW Kepada sang Ibunda: ‘Saya Anak dari Seorang Perempuan’


Ketua Panitia Mbabar Mushaf Menara Abdul Jalil menyebut, iluminasi cover luar akan bergambar Menara Kudus. Kemudian bingkai surat Al-Fatihah ada gambar gerbang Arya Penangsang. Sementara iluminasi motifnya berbentuk rumah adat Kudus. Selain itu, iluminasi juga mengakomodir khazanah sumber daya alam seperti cengkeh, tembakau, parijoto, dan jambu bol. Buah dan rempah-rempah ini diyakini telah memberi kontribusi terhadap peradaban Kudus.

 Mushaf ini pun ditulis di atas kertas berukuran 105 x 76 cm. Rencananya, mushaf ini dilaunching pada 9 Rajab 1442 H Saat perayaan ta’sis Masjid Al-Aqsha Kudus. Menariknya, KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) juga akan dilibatkan dalam penulisan mushaf ini, terlebih pada lafadz Walyatalattaf dalam surat Al-Kahfi.

 ”Awalannya ditulis langsung Mbah KH. Sya’roni. Nanti bagian tengah ditulis langsung KH. Musthofa Bisri. Dan paling akhir ditulis ketua YM3SK Em. Najib Hasan,” ungkap Abdul Jalil.

Dari segi gaya penulisannya, ternyata mushaf Menara ini nanti menggunakan khat gaya Turki. Lebih spesifiknya mengikuti karya agung Hafiz Usman, salah satu pesohor kaligrafi dari Turki yang wafat tahun 1698 M. Sementara rasm-nya juga akan merujuk dari hasil penelitian tiga ulama Kudus yang tadi disebutkan.


Baca juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan


Dalam proses pengerjaannya, setiap kaligrafer ditargetkan untuk menyelesaikan satu halaman per harinya. Seusai menulis, halaman tersebut langsung discan dan dikirim ke Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur’an Kemenag untuk ditashih. Dengan cara seperti itu, diharapkan bisa selesai tepat waktu. Tentu ini semua merupakan inisiatif luar biasa.

Kita perlu mendukung upaya pelestarian budaya seperti ini, semoga itikad baik penulisan mushaf Menara ini bisa berjalan dengan baik. Amin.

Wallahu a’lam[]

 

Hassan Hanafi dan Paradigma Tafsir Pembebasan; Sebuah Refleksi Metodologis

0
hassan hanafi
hassan hanafi (islamlib.com)

Hassan Hanafi adalah seorang filsuf, sastrawan, dan mufasir Al-Quran berkebangsaan Mesir yang lahir pada tahun 1935. Metode tafsir tematik yang ia gagas telah lama dikenal oleh sarjana tafsir di Indonesia. Hassan Hanafi menyebut metode tafsir tematiknya, selain sebagai al-tafsīr al-maudhū’ī yang selaras dengan pengertian tekstualnya, juga dengan sebutan al-tafsir al-ushūlī yang menjunjung asas al-manhaj al-mujtamā’ fī al-tafsīr.

Yudian Wahyudi Asmin dalam The Slogan “Back to the Qur’an and the Sunna”: A Comparative Study of the Responses of Hasan Hanafi, Muhammad ’Abid Al-Jabiri and Nurcholish Madjid bahwa asas tersebut menempatkan kepentingan-kepentingan pembaca Al-Quran sebagai core value dari teks dengan menafsirkan ayat berlandaskan kepentingan umum (mashālih al-‘ibād).

Berbeda dengan kritik Lien Iffah Naf’atu Fina (2012) yang menyebut bahwa Hanafi terkesan lupa menggiring konteks penurunan wahyu dalam metode tafsirnya dan hanya berfokus pada tujuan penafsiran yang bersifat pragmatis, Yudian Wahyudi Asmin menyebut bahwa metode tafsir tematik Hanafi memang dirancang agar terpisah dari dialektika mengenai pewahyuan. Menurut Hanafi dalam Wahyudi, tafsir tematik membahas tentang “apa” sedangkan teori pewahyuan hanya membahas tentang “bagaimana”.

Mengenai tafsir tematik yang ia usung, Hanafi dalam Method of Thematical Interpretation of the Qur’an’, in The Quʼran as Text mensyaratkan lima premis bagi seorang penafsir yang berakar dari kerangka pemikiran fenomenologi Husserlian. Kelima premis ini menjadi pondasi filosofis-faktual dan memegang peran-peran kunci bahwa tafsir sebagai pernyataan realitas, deklarasi historis, pengakuan batasan-batasan personal, penegasan atas pluralisme, dan penjunjung transparansi.

Kelima premis tersebut, antara lain:

Pertama, wahyu diletakkan ke berbagai lokus tematik—tanpa diafirmasi atau dinegasi—dan diperjelas posisinya dalam teori tafsir dan hermeneutika. Hassan Hanafi menyebut bahwa Al-Quran tidak sekedar berbicara tentang dogma, ibadah praktis, maupun informasi faktual. Hanafi mengutuk para penafsir lintas masa karena gagal memahami konsep sejarah dalam Al-Quran.

Baca juga: Massimo Campanini; Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Italia

Bertolak belakang dari pemikiran mayoritas penafsir, ia menyebut bahwa Al-Quran tidak berbicara tentang peristiwa-peristiwa secara materiil yang menyertakan konteks ruang dan waktu secara deskriptif, melainkan teks tersebut memantik aksi yang bersumber dari korespondensi Al-Quran dengan pengalaman manusia. Konsekuensinya, Hanafi pun menentang tradisi israiliyyat untuk diadopsi sebagai sumber penulisan sejarah dalam Al-Quran.

Kedua, Al-Quran diposisikan sebagai teks yang dapat ditafsirkan dan dijadikan sumber hukum, karya sastra, teks filosofis, maupun dokumen sejarah. Ia tidak harus memiliki kategori khusus ataupun dilekatkan dengan sifat sakral dan mistik. Hanafi menyebut problem seputar tafsir bias dari konflik kepentingan sehingga ia memandang setiap pendekatan sastra dan sejarah dalam penafsiran Al-Quran klasik sebagai produk yang bersifat tautologis dan involutif.

Ketiga, model tafsir tematik tidak mengenal produk penafsiran yang “sesat” atau pemahaman yang “benar” dan “salah”. Derivasi dalam dialektika penafsiran Al-Quran didasarkan pada perbedaan pendekatan dalam memahami teks yang dapat disinyalir dari perbedaan motif maupun kepentingan, dimana keseluruhan perbedaan tersebut bersifat fenomenologis.

Keempat, tafsir bersifat plural. Teks hanyalah medium bagi kepentingan dan hasrat manusia yang kemudian diisi dengan pengaruh ruang dan waktu. Konsep “Islam kiri” Hanafi menggiring metode penafsiran dari pendekatan historis menuju fenomenologis. Paradigma tersebut memposisikan Al-Quran sebagai sumber utama untuk mengelaborasi peran dan posisi manusia di dunia serta memaparkan hubungan antarmanusia dalam konteks bermasyarakat dan bernegara.

Kelima, konflik tafsir secara esensial merupakan konflik sosio-politik dan bukan bagian dari konflik teoritis. Teori pada dasarnya hanya problem epistemologi semata sedangkan tafsir adalah bentuk komitmen kontekstual dan senjata ideologis penafsir. Tafsir digunakan untuk mempertahankan atau mengkritisi status quo antar kelompok.

Baca juga: Pendekatan Maqashid dalam Penafsiran Al-Quran, Prof. Mustaqim: Tafsir itu Tidak Hanya On Paper

Premis kelima ini menegaskan bahwa model tafsir Hassan Hanafi berorientasi pada pendekatan hermeneutika subjektivis. Komitmen terhadap kepentingan penafsir sangat ditonjolkan. Dalam kondisi tertentu, seorang penafsir dituntut merumuskan serangkaian gerakan pragmatis dan revolusioner sebagai sarana untuk mereduksi jarak antara realitas dengan idealitas dalam penafsiran.

Selain kelima premis di atas, Hassan Hanafi turut mensyaratkan delapan aturan yang perlu direngkuh seorang penafsir dalam proses penafsiran, antara lain; (1) komitmen sosio-politik; (2) mencari sesuatu; (3) merangkum sinopsis dari kumpulan ayat dalam satu tema; (4) mengklasifikasi bentuk-bentuk linguistik; (5) membangun struktur; (6) menganalisa fakta historis dan kontekstual; (7) membandingkan antara das sein dan dan sollen; (8) mendeskripsikan model-model aksi.

Bila dilihat dari serangkaian premis dan aturan yang Hanafi munculkan, dapat disimpulkan bahwa ia memiliki orientasi subjektivisme dan relativisme dalam tafsir tematik.

Hanafi dalam berpegang teguh pada pemikiran bahwa penafsir merupakan figur yang memiliki keberpihakan ̶ berbeda dengan Rasul yang bertugas menyampaikan wahyu secara verbatim ̶ seorang penafsir dituntut untuk menjadi agen perubahan sosial. Dalam Al-Turast wa al-Tajdid: Mawqifuna min al-Turats al-Qadim, ia memaparkan bahwa penafsiran adalah kegiatan produksi dan dialektika antara pra-pemahaman penafsir dengan teks, bukan kegiatan transmisi makna, sebab sulit melacak makna awal yang objektif dari penurunan wahyu (murād Allah) yang bersifat transendental.

Di satu sisi, Hanafi berpendapat bahwa kalaupun makna objektif tersebut akhirnya mampu dilacak oleh seorang penafsir, ia tetap memerlukan upaya kontekstualisasi dan reproduksi makna sehingga nilai di dalamnya dapat diaplikasikan oleh pembaca modern. Sedangkan sisi lain, Hanafi menegaskan bahwa penafsir yang mengklaim dirinya berorientasi objektif akan kehilangan konteks dan relevansi bila tidak mengikatkan ideologi penafsiran dengan dimensi eksistensialnya.

Dua pernyataan tersebut mengindikasikan semangat besar Hanafi untuk memunculkan produk tafsir yang praktis dan mudah diakses bagi umat Islam. Terlepas dari idealisme tersebut, penulis menemukan setidaknya tiga kelemahan dari tawaran metodologi tafsir tematik Hassan Hanafi dengan model signifikansi fenomenal tersebut, antara lain;

Pertama, relativisme tafsir tematik berpotensi memunculkan bias serta menyulitkan masyarakat dalam menentukan paradigma global yang bersumber dari Al-Quran sebab kitab suci tersebut telah diposisikan hanya sebagai objek atau subjek pengetahuan ̶ bergantung dari posisi penafsir ̶ dan tidak diamati secara paralel.

Kedua, penafsiran Hanafi seringkali abai dengan konteks sosio-historis penurunan wahyu kepada Nabi (asbāb al-nuzūl) dengan menganggap konteks ini tidak relevan dengan konflik dan problem kontemporer. Pemahaman tersebut dapat menghapus struktur transendental nash lewat upaya desakralisasi teks Al-Quran yang berimplikasi pada permasalahan akidah bagi kalangan Muslim awam.

Ketiga, pemunculan tafsir dengan merangkum sinopsis ayat secara tematik berpotensi untuk mencerabut teks dari konteks tutur suratnya. Alasan ini didasarkan pada pernyataan Hanafi mengenai perlunya meninggalkan konsep tafsir tahlili yang berimplikasi pada reduksi pemahaman mengenai peran penting koherensi dan sintegritas antar ayat dan surat (munāsabah) dalam teks Al-Quran. Wallahu A’lam.

Teladan Akhlak Nabi Muhammad SAW Kepada sang Ibunda: ‘Saya Anak dari Seorang Perempuan’

0
Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (1): Surah Yunus Ayat 58
Dalil Maulid Nabi dalam Al-Quran (1): Surah Yunus Ayat 58

Bulan Maulid (Rabiul Awal) ini merupakan momen yang pas untuk kembali mengeja dan mengaji keteladanan Nabi Muhammad saw. Salah satu dari banyak teladan akhlak Nabi Muhammad saw yang akan diulas di sini adalah penghormatan Nabi yang luar biasa terhadap ibundanya dan kaum ibu.

‘Saya adalah anak dari seorang perempuan Quraisy yang (juga) makan daging dendeng”, potongan hadis Nabi yang dijadikan quote oleh Bint Syathi’ di halaman awal bukunya, Umm an-Nabi ini menjadi petunjuk yang valid bahwa Nabi Muhammad saw, manusia berakhlak mulia ini sangat menghormati dan memuliakan ibunya. Bahkan, di tempat yang mempunyai tradisi berbangga-banggaan dengan nama sang ayah, Nabi Muhammad saw malah dengan sangat bangga menyebutkan identitas ibundanya di belakang namanya. Faktor ini yang menjadikan teladan Nabi Muhammad ini menjadi sangat istimewa.

Betapa agung dan luhur budi pekerti Nabi Muhammad saw. Pujian ini disampaikan oleh Allah dalam ayatNya, surat Al-Qalam ayat 4.

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam [68]: 4)

Satu dari banyak rekaman sejarah tentang keluhuran akhlak Nabi Muhammad saw adalah episode penghormatan Nabi Muhammad kepada ibundanya. Sebagaimana diketahui, Sayyidah Aminah, ibunda Nabi Muhammad saw wafat ketika anak semata wayangnya berumur enam tahun, kebersamaan yang sangat singkat antara ibu dan anak.

Baca juga: Inilah Alasan Mengapa Umat Islam Harus Mengenal Rasulullah SAW

Meskipun demikian, hal itu tidak mengurangi penghormatan Nabi Muhammad kepada ibundanya, bahkan keagungan sikap yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad ketika memuliakan ibundanya tersebut menjadi pedoman dan teladan bagi umat manusia seluruhnya dalam menghormati ibunya. Hal ini juga tidak lepas dari sikap Nabi Muhammad saw yang juga sangat menghormati kaum ibu. Ini faktor kedua yang menjadikan teladan akhlak Nabi Muhammad tersebut menjadi sangat revolusioner.

Beberapa riwayat penghormatan Nabi Muhammad saw kepada ibundanya

  1. Quarish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi Muhammad menukil beberapa riwayat tentang penghormatan Nabi Muhammad kepada ibundanya. Misal riwayat hadis tentang prioritas utama berbakti kepada kedua orang tua daripada kewajiban lainnya,

لَوْ كُتْتُ أَدْرَكْتُ وَالِدِي أَوْ أَحَدُهُمَا وَأَنَا فِي صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَقَدْ قَرَأْتُ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ تُنَادِي: يَا مُحَمَّدُ، لَأَجَبْتُهَا لَبَّيْك.رواه البيهقي

Seandainya aku mendapati kedua orang tuaku atau salah seorang dari mereka memanggilku “Wahai Muhammad,” sedang saat itu aku dalam keadaan shalat isya dan telah membaca al-Fatihah, niscaya pasti aku menjawab “Keperkenankan panggilanmu.” (HR. al-Baihaqi)

Hadis ini menurut Quraish Shihab menggambarkan keluhuran budi pekerti Nabi Muhammad. Sampai-sampai, hadis ini digambarkan memenuhi panggilan kedua orang tua akan lebih didahulukan daripada kewajibannya kepada Allah. Begitulah teladan akhlak Nabi Muhammad saw.

Satu lagi riwayat tentang penghormatan Nabi Muhammad kepada ibundanya yaitu ketika Nabi selalu mampir berziarah ke kuburan sang ibunda setiap melewati lokasi kuburan beliau. Dikisahkan pula bahwa Nabi sampai menangis, hingga para sahabat (yang bersamanya) juga ikut menangis. Ketika ditanya sebab tangisannya, Nabi menjawab, ‘Aku disentuh oleh rahmat ibuku, maka aku menangis.’ 

Baca juga: Mengenal Nabi Muhammad saw Lebih Dekat Melalui Al-Quran dan Hadis

Selain menginformasikan kisah tangisan Nabi ketika ziarah ke makam ibunya, riwayat di atas juga mengajarkan kepada kita semua, umat Nabi Muhammad saw bahwa bakti anak kepada ibundanya tidak berhenti ketika ibu meninggal dunia. Bakti itu bisa terus dilanjutkan antara lain dengan mendoakan ibu, melanjutkan dan melaksanakan kebaikan-kebaikan yang dicontohkan dan diajarkan ibu, senantiasa menyambung silaturahim dengan saudara ibu, teman-teman ibu, menghormati para ibu, dan lainnya.

Teladan Akhlak Nabi Muhammad saw kepada kaum ibu

Sikap hormat luar biasa kepada kaum ibu yang juga diberikan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw dapat kita lihat dari beberapa riwayat dan penjelasan berikut:

Surat Luqman ayat 14

Ayat ini mendeskripsikan keadaan seorang ibu ketika hamil, melahirkan dan menyusui. Dalam kondisi ini ia lemah dalam segala hal, mual, muntah, pusing, badan terasa sakit semua, makan tidak enak, tidur apalagi, bolak-balik ke kamar mandi, cepat merasa lelah, menjadi lebih sensitif dan masih banyak yang lainnya. Ketika melahirkan pun harus berjuang antara hidup dan mati.

Berlanjut setelah melahirkan ada yang Namanya baby blues sindrom, yaitu gangguan suasana hati yang dialami oleh ibu setelah melahirkan. Kondisi ini menyebabkan ibu mudah sedih, lelah, lekas marah, menangis tanpa alasan yang jelas, mudah gelisah, dan sulit untuk berkonsentrasi. Lantas, masihkah kita kekurangan alasan untuk berbakti kepada ibu?

Meyinggung apa yang sering disampaikan oleh bu Nur Rofiah (founder Ngaji Keadilan Gender Islam), ayat di atas itu merupakan reformasi yang dilakukan Al-Quran yang dibawa oleh Nabi Muhammad dalam rangka mengakui eksistensi seorang ibu di tengah tradisi yang abai dan lupa kepada kaum perempuan dan kaum ibu. Bahkan di akhir ayat dikatakan bahwa orang yang tidak menghormati kedua orang tuanya, termasuk ibu dianggap tidak bersyukur kepada Allah.

Baca juga: Maulid Nabi Muhammad SAW dan Pengangkatan Martabat Perempuan

Hadis Abu Hurairah tentang keutamaan berbakti kepada ibu

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakan orang yang paling berhak aku berbakti kepadanya?” Rasul menjawab “ibumu”. Dia bertanya lagi “kemudian siapa?” Rasul menjawab “ibumu.” Dia bertanya lagi “kemudian siapa?” Jawaban Rasul tetap sama “ibumu” (HR. Al-Bukhari)

Tidak ada yang tahu pasti kenapa Nabi Muhammad saw mengatakan demikian, memberi nilai ibu tiga kali lebih utama daripada ayah. Alasan untuk merasionalisasi ucapan Nabi itu coba disampaikan oleh beberapa pensyarah hadis, misal ibnu Battal. Dalam kitabnya, Syarh Shahih Al-Bukhari ia memberi alasan bahwa ibu mengalami tiga kesluitan dan kesusah payahan yang tidak dialami oleh ayah, yaitu hamil, melahirkan dan menyusui. Keterangan ini juga dikutip oleh Ibnu Hajar Al-Asqalaniy dalam Fathul Bari.

Masih banyak hadis-hadis lain terkait keutamaan ibu, misal riwayat tentang keutamaan menjaga atau menemani ibu daripada pergi berperang, riwayat tentang surga di telapak kaki ibu dan yang lainnya.

Apresiasi yang sangat tinggi bagi sahabat yang berbakti kepada ibu dan berlaku pula sebaliknya

Sebagai ‘ibarat dalam hal ini yaitu dua nama sahabat yang terkenal, yaitu Uwais Al-Qarani dan ‘Alqamah. Uwais Al-Qarani dalam Musnad Ahmad dan Shahih Muslim diberi predikat khair at-tabiin (sebaik-baiknya tabiin) karena baktinya kepada ibunya. Sebaliknya Alqamah, dalam Al-Kabair-nya adz-Dzahabi, ia dikisahkan mengalami kesulitan ketika sakaratul maut karena murka sang ibunda, sebelum akhirnya sang ibu meridlai dan memaafkannya, dan ‘Alqamah pun bisa meninggal dengan tenang.

Semoga kita semua bisa mengambil teladan akhlak luhur Nabi Muhammad saw. Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad wa ‘Ala Ummi Muhammad. Teruntuk ibu kita semua, al-Fatihah.

Wallahu a’lam[]