Beranda blog Halaman 487

Empat Tipologi Bencana dalam Perspektif al-Quran

0
bencana dalam perspektif al-Quran
bencana dalam perspektif al-Quran

Tulisan sedehana ini mencoba mengurai tentang berbagai tipologi bencana dalam perspektif  al-Quran. Ini mengingat bahwa bencana dalam perspektif al-Quran disebut dengan  banyak istilah. Ada istilah balâ’ (ujian untuk menguji kesabaran dan kualitas amal perbuatan), adzab (siksa sebagai akibat perbuatan zhalim dan fasik), tadmîr (penghancuran secara total akibat pendustaan ayat-ayat Allah dan para rasulNya), fitnah  (cobaan untuk menguji keimanan seseorang) dan mushîbah (bencana yang mengenai seseorang atau kaum secara tepat sasaran).

Dari sekian istilah yang ada, yang paling popular untuk menyebut bencana dalam perspektif al-Quran adalah term mushîbah. Di dalam al-Quran, term tersebut terulang sebanyak sepuluh kali. Secara bahasa, kata mushîbah  dari kata ashâba-yushîbu-ishâbah,  berarti suatu peristiwa yang menimpa seseorang atau kaum secara tepat sasaran.  Dari sisi bahasa,  sebagaimana dinyatakan pakar tafsir al-Quran ar-Râghib al-Asfihâni, musibah sebenarnya bisa berupa hal yang baik (khair), dan bisa pula berupa yang buruk (syarr). Namun, umumnya orang kemudian menisbatkan kata ‘musibah’, hanya  pada saat tertimpa hal-hal buruk dan yang tidak disukai. Inilah yang disebut proses penyempitan makna mushibah.

Lalu mengapa musibah itu bisa terjadi? Al-Quran menjelaskan bahwa seringkali musibah terjadi karena perilaku manusia yang menyalahi sunnatullâh, sehingga merusak  hukum keseimbangan dalam kehidupan.  Misalnya karena manusia menggunduli hutan, maka terjadi musibah tanah longsor. Karena manusia membuang sampah sembarangan, maka menyebabkan kotor, polusi dan banjir.

Itulah mengapa Al-Quran menyebut bahwa musibah terjadi karena perilaku manusia.Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. Q.S. al-Syûra [42]: 30. Dengan begitu mestinya manusia mau melakukan introspeksi diri atau muhasabah, agar ke depan perilakunya menjadi lebih baik.

Namun  demikian,  secara teosentris tidak ada musibah  yang terjadi, kecuali atas izin Allah Swt. Dalam konteks bencana dalam perspektif Al-Quran, terdapat satu ayat yang berbunyi:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيم

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.  (Q.S. al-Taghabun [64]: 11).

Terjadinya musibah memang diizinkan Allah Swt sebagai sebuah mekanisme dalam sistem hukum kehidupan, namun  belum tentu diridlai oleh Allah Swt. Jadi, istilah “atas izin  Allah” itu tidak berarti mesti diridlai oleh Allah Swt. Bagaimana mungkin diridhai, sementara penyebab terjadinya musibah tersebut adalah perilaku penyimpangan.

Baca Juga: Musibah Ledakan di Beirut, Ingat Tafsir Surat At Taghabun Ayat 11

Lalu masalahnya apakah  setiap bencana yang menimpa masyarakat kita  ini secara pasti bisa kita katakan sebagai azab?  Nanti dulu,  jangan  terburu-buru menghakimi, apalagi melakukan blamming the victim  (menyalahkan korban). Memang sekarang ini banyak bencana  menimpa kita, mulai dengan bencana gempa bumi, gunung melatus, banjir tsunami, dan pandemi wabah corona (Covid 19) akhir-akhir ini.

Bencana  memang bisa merupakan azab, bisa juga merupakan ujian atau peringatan, bahkan  mungkin justru merupakan rahmat bagi kita. Hemat penulis, dengan menganalisa term-term bencana dalam perpektif al-Quran dan konteks internal ayatnya, maka setidaknya musibah atau bencana yang menimpa manusia dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu:

Pertama, bencana atau musibah sebagai azab atau siksaan. Ini biasanya menimpa pada orang-orang  yang berbuat zhlim dan fasik. Umat-umat terdahulu  yang mendustakan ayat-ayat Allah Swt, mendustakan para nabi dan kafir, mereka banyak tertimpa musibah sebagai azab. Hal ini antara lain ditegaskan  dalam al-Quran: “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik”. (Q.S. al-Araf [7]: 165). Ayat ini konteksnya adalah bahwa orang-orang  Yahudi Bani Israil berlaku zhalim dan fasik, ditimpkan  siksa yang keras.

Kedua, bencana atau musibah sebagai indzâr (peringatan). Ini biasanya menimpa pada orang-orang  ‘beriman’, tetapi masih  sering melakukan pelanggaran. Artinya, ada tindakan dan perilaku  mereka yang sudah terlalu jauh  melenceng. Banyak kerusakan di muka  bumi,  karena perilaku kekufuran teologis, maupun kekufuran sosial  yang dilakukan manusia. Maka, Allah Swt mengingatkan antara lain dengan memberikan musibah yang menimpa pada manusia agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Al-Quran menyatakan: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. al-Rum [30]: 41). Literatur tafsir klasik  seperti  Tafsir al-Thabari,  menjelaskan bahwa  fasad (kerusakan)  yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kemaksiatan dan kekufuran.

Baca Juga: Penjelasan Al Quran tentang Musibah dan Pandemi

Ketiga, bencana atau musibah sebagai  bala’  (ujian). Ini  secara umum akan menimpa semua manusia  untuk melihat kualitas amal perbuatannya, sebagaimana  firman Allah Swt,  “Dia  Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun  (Q.S. al-Mulk [67]: 2).

Apabila bala’ ini menimpa pada orang-orang yang beriman, maka biasanya  untuk konteks menguji kesabaran mereka. Di antara bentuk bentuk ujian ini adalah rasa takut, kelaparan, kehilangan harta, jiwa dan gagal panen misalnya Allah Swt berfirman:  Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar  (Q.S. al-Baqarah [2]: 155).

Keempat, bencana atau musibah sebagai rahmat. Ini biasanya menimpa pada orang-orang mukmin yang muhsinin. Akan tetapi, tampaknya untuk melihat bencana sebagai rahmat diperlukan kejernihan hati nurani.  Agak sulit  rasanya memahami musibah sebagai  rahmat, kecuali  orang-orang yang sudah  mencapai maqam ‘mukmin plus (baca muhsinîn). Al-Quran jelas menyebut bahwa rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang muhsinîn (orang-orang yang berbuat baik).

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Hadid Ayat 22-23: Hikmah di Balik Musibah

Siapa muhsinin itu? Dalam al-Quran  antara lain dijelaskan, mereka adalah orang yang ahli mendermakan hartanya di jalan Allah Swt, mereka yang berinfak baik di saat senang maupun susah dan menahan amarahnya serta mau memberi maaf kepada orang lain, mereka yang beriman, beramal shalih dan bertakwa kepada Allah Swt.

Walhasil, bagi orang yang beriman,  tidak ada suatu musibah yang terjadi dan menimpa hamba-Nya,  kecuali pasti ada nilai kebaikan dan kemaslahatan. Hanya saja kadang pandangan dan ilmu kita yang terlalu sempit, dalam  melihat setiap peristiwa musibah dari sudut kepentingan manusia semata. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat An-Nur [24] Ayat 30: Perintah Menjaga Pandangan

0
Perintah menjaga pandangan
Perintah menjaga pandangan

Al-Qur’an adalah kitab pedoman bagi umat Islam. Di dalamnya, terdapat banyak tuntunan bagi manusia untuk menjalani kehidupan di dunia, baik perihal ibadah maupun etika sosial-kemasyarakatan, seperti etika bertamu dan perintah menjaga pandangan. Tuntunan tersebut diberikan agar manusia tidak mencederai hak sesama manusia lainnya.

Setiap tuntunan Al-Qur’an seperti perintah menjaga pandangan adalah ajaran yang mengandung dua manfaat, yakni internal dan eksternal. Pada satu sisi, menjaga pandangan mencegah seseorang dari mencederai hak orang lain yang dilihatnya. Di sisi lain, menjaga pandangan juga dapat mencegah seseorang dari gejolak nafsu yang diakibatkan pandangan berlebih.

Menjaga pandangan sangatlah penting bagi manusia, baik perempuan maupun laki-laki, karena mata adalah jendela hati. Ia juga merupakan sahabat sekaligus penuntun hati. Mata mentransfer objek dan informasi-informasi yang dilihatnya ke hati, kemudian informasi tersebut – baik negatif maupun positif – tertanam, berkembang dan mempengaruhi perilaku seseorang.

Jika pandangan mata tak tertuntun, maka itu akan mempengaruhi dan mengotori hati, bahkan mungkin mematikannya. Sedangkan pandangan yang tertata dapat membuat hati menjadi lapang, hidup, bersih, dan bening layaknya cermin. Dengan hati yang bersih ini, seseorang dapat memberikan nilai positif bagi dirinya dan lingkungan sekitar.

Tafsir Surah An-Nur [24] Ayat 30: Perintah Menjaga Pandangan

Karena menjaga pandangan sangat vital dan signifikan bagi kehidupan manusia, maka Allah Swt melalui Al-Qur’an memerintahkan setiap hamba yang beriman agar menundukkan pandangannya dari segala sesuatu yang dikhawatirkan dapat menjerumuskan kepada kemaksiatan. Perintah ini termaktub pada surah an-Nur [24] ayat 30 yang berbunyi:

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ ٣٠

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Menurut Quraish Shihab, ayat di atas merupakan kelanjutan dari larangan bagi tamu untuk melihat rahasia pemilik rumah yang disebutkan pada surah an-Nur [24] ayat 29. Pada ayat 30 kemudian dilanjutkan dengan perintah menjaga pandangan dan kemaluan, karena barangkali ketika seseorang bertamu matanya menjadi liar dan karena itu pula hasratnya menjadi-jadi.

Baca Juga: Baca Ayat Ini Untuk Menjaga Hafalan Al-Quran dan Semua Ilmu Pengetahuan

Thahir Ibnu ‘Asyur juga menghubungkan an-Nur [24] ayat 29 dan 30. Menurutnya, setelah ayat 29 menjelaskan ketentuan memasuki rumah, di sini (ayat 30) diuraikan etika yang harus diperhatikan bila seseorang telah berada di dalam rumah, yakni tidak mengarahkan seluruh pandangan kepadanya dan membatasi diri dalam pembicaraan serta tidak mengarahkan pandangan kecuali sesuatu yang sukar dihindari.

Apapun hubungannya, yang jelas ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad Saw, seakan-akan Allah Swt berfirman, “Hai Rasul, katakanlah yakni perintahkanlah kepada laki-laki mukmin yang demikian mantap imannya bahwa: Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mereka yakni tidak membukanya lebar-lebar untuk melihat segala sesuatu yang terlarang seperti aurat wanita dan sesuatu yang kurang pantas untuk dilihat seperti area kamar.”

Dan di samping itu, hendaklah mereka memelihara secara utuh dan sempurna kemaluan mereka sehingga sama sekali tidak menggunakannya kecuali pada yang halal, tidak juga membiarkannya terlihat kecuali kepada siapa yang boleh melihatnya. Yang demikian itu yakni menahan pandangan dan memelihara kemaluan adalah lebih suci dan terhormat bagi mereka. Ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Kata yaghudhdhu pada surah an-Nur [24] ayat 30 terambil dari kata ghadhdha yang berarti menundukkan atau mengurangi. Apa yang dimaksud di sini adalah mengalihkan arah pandangan, serta tidak memantapkan pandangan dalam waktu yang lama kepada sesuatu yang terlarang atau sesuatu yang kurang pantas untuk dilihat (Tafsir Al-Misbah [9]: 324).

Sedangkan kata furuj adalah jamak dari kata farj yang pada mulanya berarti celah di antara dua sisi. Al-Qur’an menggunakan kata yang sangat halus itu untuk sesuatu yang sangat rahasia bagi manusia, yakni alat kelamin. Memang kitab suci Al-Qur’an dan hadis selalu menggunakan kata-kata halus, atau kiasan untuk menunjuk hal-hal yang dianggap oleh manusia sebagai aib untuk diucapkan (Tafsir Al-Misbah [9]: 325).

Ayat di atas menggunakan kata min ketika berbicara tentang abshar atau pandangan-pandangan dan tidak menggunakan kata min ketika berbicara tentang furuj atau kemaluan. Kata min itu dipahami dalam arti sebagian, karena memang agama memberi sedikit kelonggaran bagi mata dalam pandangannya. Ali bin Abi Thalib berkata, “Anda diberi toleransi dalam pandangan pertama, tapi tidak dalam pandangan kedua.”

Menurut Yusuf Qardhawi dalam al-Halal wa al-Haram, yang dimaksud dari “menundukkan pandangan pada surah an-Nur [24] ayat 30 bukanlah memejamkan mata dan menundukkan kepala ke tanah, karena itu merupakan hal yang sangat sulit dilakukan dan berpotensi menimbulkan bahaya. Apa yang dimaksud dari ayat tersebut sebenarnya adalah menjaga pandangan dari sesuatu yang dilarang syariat.

Baca Juga: Baca Ayat Ini untuk Menghilangkan Rasa Takut dan Menjaga Kesehatan Mental

Lebih jauh, Yusuf Qardhawi menegaskan bahwa pandangan yang terjaga adalah pandangan yang apabila melihat kepada lawan jenis, maka ia tidak mengamati secara intens keelokannya dan tidak menoleh kepadanya dalam jangka waktu yang lama, serta tidak pula melekatkan pandangannya itu terhadap lawan jenis atau sesuatu yang lain tanpa henti.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa surah an-Nur [24] ayat 30-31 merupakan perintah menjaga pandangan dan kemaluan – baik bagi laki-laki maupun perempuan – dari hal yang tidak dihalalkan. Maksud menjaga pandangan di sini adalah tidak melihat secara intens lawan jenis, menghindarkan pandangan dari hal yang tidak dibolehkan, bukan menundukkan kepala secara berlebihan dan bukan pula memejamkan mata, karena ini berpotensi membahayakan. Wallahu a’lam.

Kajian Barat atas Timur: Dari Edward Said Sampai Angelika Neuwirth

0
Kajian Barat atas Timur
Kajian Barat atas Timur

Beragam tawaran rekonstruksi baik dalam diskursus sejarah sampai penafsiran kitab suci mewarnai corak kajian Barat atas Timur. Dalam pandangan Edward Said (Orientalism: 309-317), upaya rekonstruksi Barat atas Timur lebih tepat jika dimaknai sebagai perlakuan terhadap kawasan dianggap terisolasi dari kemajuan Barat. Sehingga nantinya tanpa sadar Timur akan terbawa dalam keilmuan Barat, kesadaran Barat dan kemudian, keimperiuman Barat. Sederhananya, menurut Said, “Timur diciptakan untuk Barat”.

Dalam ranah ilmiah, bagi Said, penemuan-penemuan “objektif” oleh para sarjana Barat—untuk tidak menyebut orientalisme—merupakan kebenaran yang sifatnya ilutif. Sebagaimana yang dikatakan Nietzche—yang dikutip oleh Said—bahwa “kebenaran adalah ilusi yang orang telah lupa bahwa ia adalah ilusi”. Lebih jelasnya Said (Orientalism: 312) mengatakan:

“Pandangan Nietzche ini mungkin tampak terlalu nihilistik, tetapi setidak-tidaknya pandangan ini akan menarik perhatian kita untuk melihat kenyataan bahwa selama masih berada dalam kesadaran Barat, Timur hanyalah satu kata yang kemudian diberi makna, asosiasi, dan konotasi.”

Pendapat Said ini dapat dikatakan mensinyalir bahwa seluruh spektrum kajian Barat atas Timur berisi muatan ideologis dan pragmatis demi mengokohkan posisi Barat. Dalam konteks al-Qur’an, Hamid Fahmy Zarkasyi juga menilai bahwa kajian Barat atas Timur terutama ketika mengkaji al-Qur’an cenderung memakai framework yang sama saat mengkaji Bibel. Sehingga muatan ideologis dalam metodologi penafsiran menghasilkan ketidaksesuaian hasil kajian yang dapat membawa pada kesalahpahaman (Zarkasyi, 2011: 1-2).

Baca Juga: Robert of Ketton dan Dinamika Penerjemahan Al-Quran, Menjawab Kesimpulan Keliru Soal Kontribusi Orientalis

Meskipun pandangan Zarkasyi—sebagaimana juga pendapat Muhammad Imarah—ini sebenarnya secara metodologi dapat dikritik sebab tidak menunjukkan kepada aliran yang mana kritik itu dilontarkan sedangkan dalam kajian Hermeneutika setidaknya ada tiga aliran yakni subjektivis, objektivis, dan subjektivis cum objektivis (Sahiron, 2017: 4-5).

Pandangan Said tentang “kebenaran ilutif”, menarik untuk disandingkan dengan beberapa pandangan sarjana Barat yang lain. Maxim Rodinson, misalnya, berpandangan bahwa para sarjana memang tidak bisa sepenuhnya netral namun itu bukanlah alasan untuk menolak upaya-upaya untuk sampai kepada objektivitas kajian Barat atas Timur (Fauzi, 1992: 4-5).

Farid Essack juga mengutarakan pendapat yang serupa dengan apa yang disampaikan oleh Rodinson dan menegaskan bahwa tidak ada peneliti yang benar-benar murni (Essack, 2007: 9). Baik Rodinson maupun Essack meyakini bahwa meskipun peneliti tidak bisa dipisahkan dari bias subjektivitas, namun itu tidak bisa menjadi alasan untuk menolak setiap kebenaran ilmiah yang disajikan dengan bangunan kerangka metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sinisme yang telah dibangun Said dalam melihat kajian Barat atas Timur mungkin saat ini sudah tidak relevan lagi digunakan, khusunya dalam ranah kajian al-Qur’an. Kehadiran kajian intertekstualitas memberikan—setidaknya—bukti bahwa ada pergeseran paradigma (shifting paradigm) dari negatif menuju apresiatif-positif (Fina, 2015: 121).

Kelahiran kajian ini tidak bisa dilepaskan dari pemikiran seorang Profesor Universitas Freie Jerman sekaligus pendiri lembaga penelitian Corpus Coranicum, Angelika Neuwirth. Salah satu tulisan pertama Neuwirth yang membahas kajian intertekstualitas terdapat dalam artikelnya yang berjudul “Qur’anic Reading of the Psalms”, di mana ia melakukan kajian intertekstualitas antara Q.S al-Rahman dan Psalm 136 (Neuwirth, 2010).

Menurut Lien Iffah Naf’atu Fina—yang mengkaji gagasan intertekstualitas Angelika Neuwirth dalam tesisnya—pada mulanya al-Qur’an diklaim meminjam, terpengaruh dan bahkan menjiplak Bible, namun belakangan pandangan peyoratif sarjana Barat ini mengalami pergeseran.

Saat ini Al-Qur’an telah diposisikan pada tempatnya yakni sebagai teks yang independen dan memiliki karakteristik atau keunikan tersendiri. Secara prinsipil, paradigma kajian ini mendorong pada pandangan bahwa masing-masing teks keagamaan tidak bisa diperbandingkan. Sehingga hasil yang didapati dalam kajian ini sifatnya lebih akademis, idealogis, dan ilmiah (Fina, 2015: 138).

Baca Juga: Massimo Campanini; Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Italia

Perkembangan kajian Islam khususnya al-Qur’an dalam kesarjanaan Barat dapat dikatakan telah membangkitkan nalar kritis kesarjanaan Muslim. Lahirnya sarjana-sarjana muslim yang berpengaruh dalam pengembangan pemikiran Islam—terutama dalam diskursus how do we interpret the Qur’an (metode tafsir)atau yang dapat disebut sebagai the new muslim intellectuals, semisal Fazlur Rahman, Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Farid Essack, menunjukkan bahwa adanya penerimaan model pemikiran Barat oleh kesarjanan muslim.

Lahirnya metode tafsir kontekstual merupakan salah satu ciri dari pemikiran sarjana muslim kontemporer. Keinginan untuk menjembatani gap antara pembaca saat ini dengan konteks historis menjadi aspek paling menonjol (Gokkir, 2005: 90). Teori double-movement Rahman (1966: 41) dapat dikatakan sebagai salah satu teori yang paling aplikatif.

Selain berupaya untuk menjembatani gap antara pembaca saat ini dan konteks historis al-Qur’an, Rahman juga menarik ideal moral atau basic ideas al-Qur’an yang diturunkan sebagai rahmat bagi semesta alam. Dalam konteks ayat-ayat hukum, penerapan teori Rahman ini akan memunculkan hukum yang tidak hanya berdimensi hitam-putih, namun juga bervisi etis. Wallahu A’lam

Mengenal Tafsir Al-Huda, Tafsir Al-Quran Berbahasa Jawa Latin Karya Kolonel Bakri Syahid

0
tafsir al-huda
tafsir al-huda (nusantarainstitute)

Ada beberapa tafsir yang populer dan masih digunakan oleh banyak masyarakat untuk mengkaji Al-Quran, seperti Tafsir Al-Iklil fi Ma’ani al-Tanzil karya Kiai Misbah Musthofa, Al-Ibriz li Ma’rifah Tafsir Al Quran Al Aziz karya Kiai Bisri Musthofa.

Pada tahun 1977, muncul kitab tafsir dari seorang purnawirawan dari Yogyakarta yang kemudian dicetak untuk pertama kalinya pada tahun 1979. Tafsir tersebut diberi nama Al-Huda, Tafsir Al-Quran Basa Jawi. Tafsir ini bisa dikatakan unik, karena menggunakan bahasa Jawa halus dan kental dengan budaya Jawa dalam penafsirannya. Keunikan lain dari tafsir ini adalah karena ditulis oleh seseorang yang berpangkat kolonel dan berkecimpung dalam dunia militer dan politik. Untuk mengetahui lebih dalam tentang Tafsir Al-Huda, berikut tentang tafsir tersebut.

Sejarah Penulisan

Sebagaimana penulis ungkapkan dalam purwaka Tafsir Al-Huda, bahwa penulisan tafsir ini berawal dari sebuah acara sarasehan Bakri Syahid bersama beberapa kolega dan teman dari jawa yang merantau di berbagai negara, seperti Singapura, Suriname, dan sebagainya di kediaman Syeh Abdul Manan, Makkah. Dalam acara tersebut, terdapat kesadaran dan keprihatinan akan minimnya tafsir Al-Quran yang menggunakan bahasa Jawa dengan huruf latin. Berangkat dari usulan tersebut, Kolonel Bakri Syahid mulai menyusun karyanya.

Karya ini mulai ditulis pada tahun 1970 dan selesai pada tahun 1977. Kemudian pertama kali dicetak pada tahun 1979 oleh percetakan Bagus Arafah. Sejak diterbitkan, tafsir ini telah mengalami kurang lebih 8 kali cetak ulang. Dan setiap cetakannya berkisar antara 1000-2000 eksemplar. Tafsir yang telah dicetak ini tidak hanya disebarluaskan di Indonesia, tapi juga untuk masyarakat Jawa yang tinggal di Suriname dan berbagai negara lain. Sayangnya penerbitan tafsir ini sudah tidak dilanjutkan lagi semenjak Bakri Syahid wafat pada tahun 1994. Dan kemudian percetakan Bagus Arafah juga sudah tidak beroperasi lagi.

Baca juga: Brigjen Bakri Syahid : Mufasir Quran Bahasa Jawa

Banyak respon positif dari masyarakat atas terlahirnya tafsir ini. Terbukti dengan pemberian kata sambutan oleh ketua MUI Yogyakarta dan Menteri Agama dalam tafsir tersebut dalam terbitan pertamanya.

Spesifikasi Tafsir Al-Huda

Berdasarkan pemetaan metode di atas, Tafsir Al-Huda bisa dikategorikan dalam tafsir dengan metode gabungan antara ijmali dan tahlili. Karena Bakri Syahid menjelaskan beberapa ayat secara global dan singkat, dan terkadang menjelaskan dengan rinci dibeberapa ayat yang lain.

Metode ijmali dalam Tafsir Al-Huda sering kita temukan dalam penjelasan ayat yang tidak lebih dari dua baris, dan diawali dengan kata-kata penjelas, seperti: maksudipun.. inggih punika.. artosipun… kadosta… lan tegesipun. Dan metodet tahlili bisa kita temukan saat Bakri Syahid menjelaskan suatu ayat dengan panjang lebar dan mencakup berbagai aspek.

Diantara contoh penafsiran ijmali dapat kita lihat dalam menafsirkan kata sahur dalam Surat Ali Imran ayat 17:

Terjemah Departemen Agama: “(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur”.

Sementara dalam Tafsir Al-Huda, Bakri Syahid menuliskan “yaiku wong-wong kang padha sabar, padha temen, padha sungkem ngabekti, padha gelem darma la nana ing wektu sahur lingsir wengi padha nyuwun pangapura.” Dan di akhir terjemahan ayat tersebut, Bakri menuliskan catatan kaki tentang arti waktu sahur tersebut sebagai berikut: “wakdal sahur menika ngajengaken subuh kirang langkung 30 menit, dene imsak kirang 10 menit

Baca juga: Alasan Tafsir Jalalain Jadi Tafsir Favorit di Pesantren

Model penafsiran secara ringkas seperti di atas, akan banyak kita temukan dalam Tafsir Al-Huda. Sedangkan metode tahlili hanya ada beberapa ayat yang mencantumkan penjelasan panjang lebar. Seperti dalam menjelaskan Surat Taha ayat 131:

Dalam menjelaskan ayat tersebut, Bakri Syahid menuliskan panjang lebar sampai tujuh paragraf yang terdiri dari 48 baris.

suraosipun ayat punika estunipun sampun cetha gamblang, kados ingkang sampun kaweco ing ayat 88 surah al Hijr. Aslining kadadosan sabab musababipun tumuruning ayat punika kagem gegebangipun kanjeng nabi Muhammad s.a.w ngasto leadership ing ummatipun ingkang dipun trisnani, katitik saking agenging lelabuhanipun sarta kaikhlasanipun ambudidaya supados ummatipun manggih karaharja ing donya serta makmur nampi nikmat ing akheratipun. Kapemimpinan Rasulullah s.a.w prayogi saget katuladha ing para pemimpin bangsa serta para ulama-ipun. Inggih punika gesangipun sarwa leres, resik, bares lan beres!

Tegesipun: boten kengsing sembrono utawa ugal-ugalan, lan boten kenging culika utawi edan-edanan, punapa dene boten kenging umuk tuwin oncor-oncoran. Balik kedah khusyu’ tunduk dhumateng gusti Allah, andhap ashor, lembah manah, welas asih dhateng sasamining titah, langkung langkung ingkang sami dados pimpinan dhateng wewengkanipun.

Awit inggih para panjenenganipun wau, ingkang badhe sami dados panutan utawi gurunipun!

Menggah badhe pikantukipun hasil/sukses Kanjeng Nabi s.a.w utawi titiyang dados pemimpin ingkang saestu wau, dene ngantos dipun lampahi karaya-raya purun sami ngrekaos utawi sengsara, punika wonten ngarsanipun Gusti Allah badhe angsal ganjaran ingkang sakalangkung ageng lan derajat ingkang luhur sarta karenan dening Allah Pangeran ingkang Maha Agung. Lan wonten ing gesangipun bebrayan ing donya, badhe saged pikantuk seneng utawi lega, margi rumaos sampun ludhang sampun saged ngeberaken utawi ambage kalangkungan paparinging Pangeran, ingkang minangka dados titipan, sami ugi pangkat, semat, ilmu, lan kawibawan. Utawi badhe saged kraos marem utawi bingah, jalaran rumaos sampun saged netepi utawi nyekapi kuwajibanipun, ingkang dados kautamaning gesang wonten ing „alam Donya punika.

Dalam menjelaskan ayat tersebut, Bakri Syahid secara detail menjelaskan tentang kepemimpinan (leadership). Dia juga mengungkapkan salah satu kunci kesuksesan kepemimpinan Nabi Muhammad terletak pada keikhlasan dan kebaikan yang diupayakan beliau agar umatnya tidak terjerumus kedalam siksa api neraka. Oleh karenanya Bakri Syahid berharap agar setiap pemimpin bisa mencontoh teladan Nabi Muhammad dan tidak tergoda dengan kesenangan duniawi.

Berdasarkan contoh penafsiran di atas, kiranya Tafsir Al-Huda termasuk tipe penafsiran yang banyak menggunakan penalaran dan ijtihad pengarang sesuai dengan pemahaman pengarang terhadap kandungan makna tersebut. Selain minimnya pencantuman riwayat yang berhubungan dnegan ayat tersebut, penafsiran Bakri Syahid juga cenderung rasional. Maka dari itu, banyak peneliti yang menggolongkan tafsir ini termasuk tafsir bi al-ra’yi. Wallahu A’lam.

Sejarah Penomoran Ayat Mushaf Al-Quran dari Jerman hingga Turki

0
Penomoran Ayat Mushaf Al-Quran dari Jerman hingga Turki
Penomoran Ayat Mushaf Al-Quran dari Jerman hingga Turki

Pandangan umum kita tentang penomoran ayat mushaf Al-Quran adalah suatu yang lazim keberadaannya dalam mushaf Al-Quran. Padahal mushaf Al Qur’an semula sangat sederhana dan dalam perkembangannya, penomoran ayat baru diterima dunia muslim pada abad ke-19. Tentu pembatas ayat per ayat sebelum masa itu tidaklah berupa nomor seperti yang kita temui dewasa ini, melainkan sebuah ikon lingkaran, maupun bunga-bungaan.

Dalam hal ini, Ali Akbar seorang peneliti dari Lajnah Pentashihan Al Qur’an pernah membagikan artikel dengan judul Nomor Ayat dalam Qur’an. Dalam penelusurannya, Ali Akbar membaca berbagai buku dan katalog mushaf di dunia Islam. Rujukan itu di antaranya The 1400th Anniversary of the Qur’an (Istanbul: Antik AS, 2010), Ninety-Nine Qur’an Manuscripts from Istanbul, M Ugur Derman (Istanbul: Turkpetrol Vakfi, 2010), Katalog The Qur’an (London: World of Islam Festival, 1976). Serta Qur’ans and Bindings from the Chester Beatty Library, David James (London: World of Islam Festival Trust, 1980).

Dari penelusurannya itu, ternyata tidak ada mushaf yang memiliki nomor ayat dari masa awal hingga abad ke-19. Padahal penelusuran ini menjangkau mushaf-mushaf yang ada di berbagai dunia. Menariknya, diluar dari dunia Islam, ternyata sudah pernah ada mushaf yang bernomor ayat pada abad ke-17. Mushaf ini merupakan Qur’an edisi Abraham Hinckelmann cetakan Hamburg Jerman pada tahun 1694.

Abraham Hinckelmann merupakan kepala pastur yang berpendidikan Oriental Studies di Wittenberg pada tahun 1668-1672. Karena Pendidikan inilah ia tertarik untuk mengumpulkan manuskrip Al Qur’an hingga berhasil menerbitkan dengan judul Alcoranus s. Lex Islamitica Muhammadis, filii Abdallae pseudoprophetae. Artikel terkait: Sejarah Pencetakan Al-Quran dari Italia hingga Indonesia

Mushaf cetakan ini memang menampilkan sistem penomoran ayat dengan bentuk angka Arab Barat, yakni angka 1,2,3,4,5 dan seterusnya.

Dari gambar di atas, penomoran ini sama seperti yang digunakan dalam mushaf Maroko saat ini. Letak awal dan akhir ayat juga sama persis. Misalnya penomoran ayat pertama, bukan diletakkan diakhir ayat melainkan di awal ayat. Namun menariknya, khat yang digunakan cenderung mendekati khat naskhi bukan khat maghribi sebagaimana lazimnya.


Baca juga: Mushaf Istiqlal, Masterpiece Kebudayaan Islam di Era Soeharto


Setelah mushaf edisi Abraham Hinckelmann ini, perembangan pencetakan mushaf lainnya di dunia Barat juga mencantumkan nomor ayat. Namun penomoran ayat ini belum diaplikasikan di dunia Muslim, di Turki pun baru terjadi pada abad ke-19.

Penomoran Ayat Mushaf di Turki

Turki merupakan pusat dari kaligrafi dan seni mushaf. Di sana terdapat pengharagaan yang lebih bagi para kaligrafer. Kemampuan menggores kaligrafi seniman Turki tentu juga berdampak pada perkembangan mushaf cetak. Saat itu, tradisi penyalinan mushaf manuskrip lebih semarak tinimbang mushaf cetak. Namun, penyalinan mushaf secara langsung ini pun tidak mencantumkan nomor ayat.

Sampai pada tahun 1881, salah satu mushaf cetak yang draft original-nya ditulis oleh Hafiz Usman mencantumkan nomor ayat. Mushaf ini dicetak oleh Matba’ah Usmaniyah (Percetaakan Usmaniyah) di Istanbul. Hafiz Usman sendiri seorang Khattat (kaligrafer) yang dikagumi di Turki bahkan dunia, karakter goresan yang indah menjadikannya banyak meninggalkan karya hebat. Dalam dunia mushaf, Hafiz Usman mewariskan 25 mushaf yang salah satunya digunakan oleh percetakan tersebut.


Baca juga: Al Qur’an Maghribi, Mushaf Unik yang Huruf Qaf-nya Bertitik Satu


Dilihat dari tanggal percetakannya, mushaf ini dicetak setelah Hafiz Usman wafat. Kaligrafer yang terkenal ini wafat pada tahun 1698, sementara mushaf dicetak tahun 1881. Tentu ini menandakan bahwa penerbit juga memiliki kuasa atas perubahan yang ada.

Paling tidak ada dua hal yang menarik dalam mushaf cetak Hafiz Usman ini. Pertama terkait penomoran ayat yang tidak keseluruhan ada. Kedua penomoran ayat terletak di awal, bukan di akhir seperti yang kita temui sekarang. Mengenai keunikan pertama, nampaknya mushaf goresan tangan asli belumlah mencantumkan nomor ayat, sehingga lembaran awal yakni surat Al Fatihah dan awal surat Al Baqarah pembatas ayatnya berupa ikon bunga. Ini juga dikuatkan dengan manuskrip Hafiz Usman yang lain yang hanya mencantumkan ikon bunga, bukan nomor ayat.

Sementara keunikan kedua, nomor ayat yang diletakkan di awal merupakan hasil refrensi dari percetakan Barat sebelumnya. Namun yang membedakan adalah model nomor yang digunakan, yakni nomor Arab Timur seperti ١, ٢, ٣, ٤, ٥ dan seterusnya. Ali Akbar menyebut keunikan ini sebagai langkah awal ujicoba penomoran ayat, di kemudian hari toh kita bisa melihat modifikasi yang sempurna. Yakni keseluruhan ayat mencantumkan nomornya, dan nomor itu diletakkan di akhir ayat.

Tentu adanya inovasi dan modifikasi ini memudahkan kita untuk membaca mushaf. Alangkah susahnya jika saat ini kita hanya membaca mushaf dengan pembatas ayatnya ikon lingkaran atau bunga. Mari bersyukur!

Wallahu a’lam []

Tafsir Surat Al An’am Ayat 108-110

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pada pembahasan yang lalu Nabi Muhammad saw dan orang-orang mukmin diperintahkan agar selalu berpegang pada wahyu, pada Tafsir Surat Al An’am Ayat 108-110 ini Allah swt memerintahkan agar tidak memaki sembahan orang kafir karena menyebabkan mereka akan membalas makian itu.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 104-107


Selanjutnya Tafsir Surat Al An’am Ayat 108-110 berbicara mengenai permintaan orang-orang kafir yang menginginkan mukjizat Nabi Muhammad saw agar mereka percaya. Namun sebenarnya orang-orang kafir itu tidak akan beriman seandainya mukjizat didatangkan. Hal itu akan mencelakakan mereka karena apabila tidak beriman setelah datangnya mukjizat maka azab akan langsung menimpa sebagaimana umat terdahulu.

Pada akhir Tafsir Surat Al An’am Ayat 108-110 ini Allah menegaskan bahwa Allah akan membiarkan mereka memperturutkan hati mereka bergelimang dalam kekafiran dan kemaksiatan. Hati mereka diliputi oleh kebingungan dan keragu-raguan terhadap ayat-ayat yang mereka dengar.

Ayat 108

Mengenai sebab turunnya ayat ini diceritakan sebagai berikut, pada suatu ketika orang-orang Islam mencaci-maki berhala, sembahan orang-orang kafir, kemudian mereka dilarang dari memaki-maki itu. (Riwayat Abd ar-Razzaq dari Qatadah).

Allah melarang kaum Muslimin memaki berhala yang disembah kaum musyrik untuk menghindari makian terhadap Allah dari orang-orang musyrik, karena mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui sifat-sifat Allah dan sebutan-sebutan yang seharusnya diucapkan untuk-Nya. Maka bisa terjadi mereka mencaci-maki Allah dengan kata-kata yang menyebabkan kemarahan orang-orang mukmin.

Dari ayat ini dapat diambil pengertian bahwa sesuatu perbuatan apabila dipergunakan untuk terwujudnya perbuatan lain yang maksiat, maka seharusnyalah ditinggalkan, dan segala perbuatan yang menimbulkan akibat buruk, maka perbuatan itu terlarang.

Ayat ini memberikan isyarat pula kepada adanya larangan bagi kaum Muslimin bahwa mereka tidak boleh melakukan sesuatu yang menyebabkan orang-orang kafir tambah menjauhi kebenaran. Mencaci-maki berhala sebenarnya adalah mencaci-maki benda mati. Oleh sebab itu memaki berhala itu adalah tidak dosa.

Akan tetapi karena memaki berhala itu menyebabkan orang-orang musyrik merasa tersinggung dan marah, yang akhirnya mereka akan membalas dengan mencaci-maki Allah, maka terlaranglah perbuatan itu.

Allah memberikan penjelasan bahwa Dia menjadikan setiap umat menganggap baik perbuatan mereka sendiri. Hal ini berarti bahwa ukuran baik dan tidaknya sesuatu perbuatan atau kebiasaan, adakalanya timbul dari penilaian manusia sendiri, apakah itu merupakan perbuatan atau kebiasaan yang turun-temurun ataupun perbuatan serta kebiasaan yang baru saja timbul, seperti tersinggungnya perasaan orang-orang musyrik apabila ada orang-orang yang memaki berhala-berhala mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa ukuran untuk menilai perbuatan atau kebiasaan itu baik atau buruk, adalah termasuk persoalan yang ikhtiyari. Hanya saja di samping itu Allah telah memberikan naluri pada diri manusia untuk menilai perbuatan dan kebiasaan itu, apakah perbuatan dan kebiasaan itu termasuk baik ataukah buruk.

Sedangkan tugas-tugas Rasul adalah penyampaikan wahyu yang membimbing dan mengarahkan naluri untuk berkembang sebagaimana mestinya ke jalan yang benar agar mereka dapat menilai perbuatan serta kebiasaan itu dengan penilaian yang benar.

Pada akhir ayat ini Allah memberikan penjelasan bahwa manusia keseluruhannya akan kembali kepada Allah setelah mereka mati, yaitu pada hari kebangkitan; karena Dialah Tuhan yang sebenarnya dan Dia akan memberitakan seluruh perbuatan yang mereka lakukan di dunia, dan akan memberikan balasan yang setimpal.

Ayat 109

Muhammad bin Ka’ab berkata, “Orang Quraisy berkata kepada Nabi saw, “Wahai Muhammad, engkau menceritakan bahwa Musa a.s. memiliki tongkat yang dipukulkan ke batu, lalu keluar dua belas mata air, Isa a.s. menghidupkan orang-orang mati dan kaum Samud memiliki unta. Maka datangkanlah kepada kami sebagian hal tersebut, kami akan mempercayaimu.” Rasulullah saw menjawab, “apa yang kalian mau?”

Orang Quraisy menjawab, “Bukit Safa jadikan emas.” Rasul menjawab, “kalau aku lakukan, apakah kalian mengimaniku.” Mereka menjawab, “ya, demi Allah kami semua mengikutimu.” Lalu Rasulullah saw berdoa, maka datanglah Jibril a.s. dan berkata, “jika engkau mau Bukit Safa dijadikan emas, namun saya tidak diperintahkan untuk mendatangkan mukjizat, untuk didustakan kecuali ditimpakan siksa, atau dibiarkan agar bertobat sebagian mereka.” Maka Allah menurunkan ayat ini.


Baca juga: Al-Mar’ah fil Islam: Antologi Kesetaraan Perempuan dalam Al-Quran, Hadis, dan Sejarah Nabi


Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan bahwa seandainya Nabi dapat mendatangkan mukjizat seperti yang mereka harapkan, niscaya mereka akan percaya bahwa ayat-ayat yang diterima Nabi itu benar-benar datang dari Allah dan mereka akan mengakui bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa keingkaran mereka kepada ayat-ayat Allah telah memuncak. Mereka sebenarnya tidak sanggup memahami bukti-bukti kebenaran yang terkandung dalam ayat-ayat yang diterima oleh Nabi, kemudian mereka mengusulkan agar diturunkan tanda-tanda kebenaran yang lain.

Hal ini menunjukkan bahwa mereka hanyalah mencari-cari persoalan untuk menjatuhkan pribadi Nabi dengan jalan meminta turunnya mukjizat, padahal mukjizat-mukjizat itu diberikan berdasarkan izin Allah dan kebijaksanaan-Nya, tidak tergantung pada kehendak serta kemauan seseorang.

Allah memerintahkan kepada Nabi bahwa sesungguhnya ayat-ayat itu datang dari Allah semata, jadi kekuasaan menurunkan wahyu itu tidak di tangan Muhammad melainkan di tangan Allah yang diberikan menurut kehendak-Nya.

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِرَسُوْلٍ اَنْ يَّأْتِيَ بِاٰيَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ

Tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu bukti (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. (ar-Ra’d/13: 38)

Sesudah itu Allah menjelaskan kepada kaum Muslimin yang mengharapkan datangnya mukjizat kepada Nabi, untuk memenuhi permintaan orang-orang kafir itu bahwa meskipun diturunkan mukjizat sesuai dengan permintaan mereka, mereka tidak akan pernah beriman. Oleh sebab itu orang Islam tidak perlu menghiraukan tuntutan mereka itu.

Ayat 110

Sesudah itu Allah memberikan penjelasan kepada kaum Muslimin bahwa mereka tidak mengetahui bahwa Allah kuasa untuk memalingkan hati dan penglihatan orang-orang musyrik; maka sebagaimana mereka tidak beriman sebelum mereka meminta mukjizat itu, begitu jugalah mereka tidak mau beriman sesudah datangnya mukjizat, karena hati mereka telah dipalingkan dari kebenaran.

Allah berfirman:

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِّنَ السَّمَاۤءِ فَظَلُّوْا فِيْهِ يَعْرُجُوْنَۙ  ١٤  لَقَالُوْٓا اِنَّمَا سُكِّرَتْ اَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَّسْحُوْرُوْنَ ࣖ   ١٥

Dan kalau Kami bukakan kepada mereka salah satu pintu langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, ”Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang yang terkena sihir.”  (al-Hijr/15: 14-15)

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Allah akan membiarkan mereka memperturutkan hati mereka bergelimang dalam kekafiran dan kemaksiatan. Hati mereka diliputi oleh kebingungan dan keragu-raguan terhadap ayat-ayat yang mereka dengar. Mereka tidak dapat membedakan antara kebenaran dan tipuan. Mereka dibiarkan dalam kegelapan dan kesesatan yang nyata.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 111-113


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Hud Ayat 112: Perintah Istiqomah Dalam Kebaikan

0
Istiqomah dalam kebaikan
Istiqomah dalam kebaikan

Sehari-hari, umat Islam sering mendengar ajakan atau perintah istiqomah dalam kebaikan dan menjauhi keburukan dalam berbagai kegiatan maupun kesempatan. Namun meskipun begitu, masih banyak orang yang belum mengetahui secara mendalam tentang makna istiqomah dan bagaimana Al-Qur’an berbicara mengenainya.

Secara bahasa, istiqomah berasal dari bahasa Arab istiqamah yang bermakna lurus dan tegak. Sedangkan menurut istilah, istiqomah berarti terus berpegang teguh pada ajaran Islam, baik urusan akidah, ibadah, akhlak, maupun muamalah. Di Indonesia, istiqomah sering diterjemahkan sebagai konsisten dalam melaksanakan sesuatu atau bersikap.

Istiqomah dalam kebaikan adalah sebuah pembuktian tentang sejauh mana seseorang dalam berislam pasca beraksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt dan nabi Muhammad Saw merupakan utusan-Nya. Para ulama bahkan menyebutkan bahwa “al-istiqamah khairun min alfi karamah.” Artinya, sikap dan perbuatan istiqomah jauh lebih baik dari seribu karomah (Syarh al-Hikam al-‘Atha’iyyah [1]: 126).

Baca Juga: Amal Banyak Tapi Sering Menyebut Kebaikannya, Bagaimana Menurut Al-Quran?

Ada banyak ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai istiqomah dalam kebaikan. Tercatat, kata istiqomah dan derivasinya disebutkan sebanyak 22 kali dan tersebar dalam beberapa surah. Secara umum, ayat-ayat tersebut berbicara mengenai perintah istiqomah dalam kebaikan dan keutamaannya, serta janji Allah Swt bagi orang-orang yang senantiasa bersikap istiqomah dalam beragama.

Tafsir Surah Hud [11] Ayat 112: Perintah Istiqomah Dalam Kebaikan

Bersikap istiqomah dalam kebaikan maupun menjauhi keburukan tidaklah mudah. Karena setiap orang seringkali mengalami fluktuasi keimanan yang kadangkala meningkat dan kadangkala menurun. Ketika iman seseorang naik, maka kemungkinan besar semangat beribadahnya akan meningkat, begitu pula sebaliknya.

Menjaga konsistensi keimanan tidaklah mudah. Allah Swt Bahkan mengingatkan nabi Muhammad Saw – sebagai manusia terbaik dan paling beriman – agar selalu istiqomah dalam kebaikan dan berusaha menjaga stabilitas grafik keimananya serta meningkatnya. Narasi persuasif Allah Swt ini tertuang dalam surah Hud [11] Ayat 112 yang berbunyi:

فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ١١٢

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Menurut Quraish Shihab, ayat ini merupakan perintah istiqomah dalam kebaikan dan konsistensi dalam mengikuti tuntunan Allah Swt dalam Al-Qur’an. Karena pada ayat sebelumnya, yakni surah Hud [11] Ayat 111, dikisahkan bahwa bani Israil tidak berpegang teguh kepada kitab Taurat dan berselisih tentangnya. Akibatnya, sebagian mereka ada yang mempercainya dan ada pula yang tidak.

Agar kisah bani Israil dan Taurat tidak terulang, pada surah Hud [11] Ayat 112 mengingatkan nabi agar senantiasa konsisten berpegang teguh pada Al-Qur’an dan ajarannya. Seakan-akan Allah Swt berfirman, “Dulu sebelum zamanmu wahai Muhammad, bani Israil telah diberikan kitab Taurat melalui Musa, akan tetapi mereka semua tidak berpegang teguh padanya dan malah memperselisihkannya.”

“Akibat dari tindakan tersebut, mereka tercerai berai dan tersesat. Oleh karena itu ya Muhammad, maka istiqomahlah kamu, yakni bersungguh-sungguh memelihara, mempercayai, mengamalkan serta mengajarkan tuntunan-tuntunan-Nya, baik menyangkut dirimu secara pribadi, maupun masyarakat sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan juga hendaklah kamu bersikap serupa terhadap orang-orang yang bertaubat bersamamu.

“Selain harus istiqomah dalam kebaikan wahai Muhammad, engkau beserta umatmu juga dilarang untuk melakukan segala macam keburukan dan janganlah kamu semua melampaui batas yang telah ditetapkan Allah Swt. Karena itu dapat mencederai kesucianmu dan kebaikan umatmu. Ketahuilah sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Kata fastaqim pada ayat ini diambil dari kata qama yang berarti mantap, terlaksana, berkonsentrasi serta konsisten. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa kata fastaqim diambil dari kata berdiri yang mengisyaratkan kemantapan dan kekokohan. Istilah ini dapat digambarkan seperti tiang yang berdiri tegak, tumbuhan yang akarnya kuat, dan permukaan air yang stabil (Tafsir Al-Misbah [6]: 360).

Dengan demikian, kata fastaqim adalah perintah untuk menegakkan sesuatu sehingga ia menjadi sempurna, mantap, dan seluruh yang diharapkan darinya berada dalam bentuk sesempurna mungkin, tidak ada kekurangan, keburukan dan kesalahan sedikitpun. Jadi, ketika Allah Swt memerintahkan seseorang dengan kata fastaqim, berarti ia harus melaksanakan perintah tersebut sesempurna mungkin sesuai kemampuan dirinya.

Secara umum, ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad Saw untuk istiqomah dalam kebaikan dan menegakkan tuntunan wahyu-wahyu llahi sebaik mungkin sehingga terlaksana secara sempurna sebagaimana mestinya. Tuntunan wahyu ada bermacam-macam, ia mencakup seluruh persoalan agama, dan kehidupan dunia maupun akhirat. Dengan demikian, perintah tersebut mencakup perbaikan kehidupan duniawi dan ukhrawi, pribadi, masyarakat dan lingkungan.

Baca Juga: Tuntunan Al-Quran dalam Menyikapi Penghinaan Terhadap Nabi SAW

Redaksi ayat di atas memisahkan Nabi Muhammad Saw dengan orang-orang yang telah bertaubat. Hal ini bukan saja untuk menunjukkan betapa tinggi kedudukan Nabi Saw, tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa tugas dan beban yang diletakkan di pundak Nabi Muhammad Saw dalam soal perintah ini lebih berat daripada lainnya. Beliaulah yang berkewajiban tampil terlebih dahulu, setelah itu umat Islam mencontoh perbuatan Nabi Saw tersebut (Tafsir Al-Misbah [6]: 362).

Menurut al-Biqa‘i, kata istaqim pada Hud [11] Ayat 112 mengandung makna moderasi, karena pada ayat tersebut perintah melakukan berpadu dengan larangan agar melampaui batas. Dengan demikian, istaqim adalah pertengahan antara melebihkan (melampaui batas) dan mengurangi (tidak sempurna dalam mengerjakan ataupun meninggalkannya).

Hal serupa dikatakan Sayyid Qutb. Menurutnya, “Istiqamah adalah moderasi serta menelusuri jalan yang ditetapkan tanpa penyimpangan. Ini menuntut kewaspadaan terus-menerus, perhatian bersinambung, upaya pengamatan terhadap batas-batas jalan, pengendalian emosi yang dapat memalingkan sedikit atau banyak, karena perintah ini merupakan tugas abadi dalam setiap gerak dari gerak-gerak hidup ini.”

Larangan yang datang pada ayat ini sesudah perintah istiqomah bukanlah larangan pengabaian atau pengurangan, tetapi larangan pelampauan batas. Karena perintah istaqim serta apa yang diakibatkaanya dalam jiwa manusia bisa jadi membuat seseorang melampaui batas dan berlebihan sehingga mengalihkan ajaran agama ini dari kemudahan menjadi kesukaran. Padahal Allah Swt menghendaki agar agama-Nya dilaksanakan sebagaimana ia diturunkan.

Allah Swt menghendaki agar istiqomah ini sesuai dengan yang diperintahkan-Nya, tidak berkurang dan tidak berlebih. Kelebihan dan pelampauan batas serupa dengan pengabaian dan pengurangan, keduanya mengantar agama ini menyimpang dari cirinya yang dikehendaki Allah swt. Ini adalah satu pesan yang sangat berharga untuk memantapkan jiwa dalam jalan lurus dan lebar, tanpa penyimpangan menuju pelampauan batas atau pengabaian. Wallahu a’lam.

Maksud Larangan Berlebihan Memuji Rasulullah SAW, Tafsir Surah an-Nisa 49

0
Maksud Larangan Berlebihan Memuji Rasulullah SAW
Maksud Larangan Berlebihan Memuji Rasulullah SAW

Memuji Rasulullah SAW merupakan bagian dari takdzim umat Islam kepada  Nabi Muhammad saw. Bagi para muhibbin puji-pujian sudah menjadi ekspresi kecintaannya kepada sang Nabi, dan bagi umumnya manusia agar mudah meneladani akhlaknya setelah tertanam kecintaan yang mendalam.

Namun disayangkan jika puji-pujian ini dianggap berlebihan dan syirik oleh sebagian kelompok, padahal sangat jauh dari kata terlarang. Lantas apa maksud larangan berlebihan memuji Rasulullah saw. dalam hadits?

Jawaban dari pertanyaan di atas sebetulnya telah dijawab oleh para ahli tafsir ketika menjelaskan firman Allah swt. (QS. an-Nisaa’: 49),

  أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا (49)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?, sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun.”

Sebagaimana penjelasan al-Qurthuby, ayat ini adalah lanjutan ayat-ayat sebelumnya (dari ayat 44) yang menjelaskan tentang perbuatan tercela orang-orang yahudi dan nashrani. Yaitu pujian mereka terhadap diri sendiri, seperti pengakuan mereka sebagai anak tuhan, pengakuan hanya mereka yang masuk surga, dan pengakuan terbebasnya mereka dari dosa. Dan hakikat kesucian (keutamaan) adalah bagi orang-orang yang perilakunya baik di sisi Allah swt.


Baca juga: Riwayat Israiliyyat Batil dalam Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis


Adapun pujian terhadap orang lain, jika pujiannya tidak sesuai realita atau melampaui batas, maka perbuatan ini dilarang dalam agama. Dan sebaliknya, apabila pujiannya sebab kebaikannya dan sesuai dengan realita, maka hal ini termasuk perbuatan terpuji karena bisa memantik motivasi melakukan kebaikan kepada yang lainnya. Dan sebaik-baiknya manusia dalam hal apapun adalah Rasulullah saw. (al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, juz 5, hlm. 264 )

Al-Qurthuby juga meluruskan pemahaman maksud larangan terkait berlebih-lebihan memuji Rasulullah saw. seperti berlebihannya kaum Nashrani terhadap Nabi Isa as. dalam hadits (HR. al-Bukhari, no: 3189).

فمعناه لا تصفوني بما ليس فيّ من الصفات، تلتمسون بذلك مدحي، كما وصف النصارى عيسى بما لم يكن فيه، فنسبوه إلى أنه ابن الله، فكفروا بذلك وضلّوا.

Artinya: “Makna (haditsnya) adalah janganlah menyebutkan sifat-sifat yang tidak terdapat pada diriku, untuk memujiku. Sebagaimana orang-orang Nashrani menyebutkan sifat yang tidak terdapat pada Isa, dengan menisbahkannya sebagai putra Allah. Maka mereka menjadi kufur dan tersesat sebab hal itu.”   

Semua sifat-sifat kemuliaan, kesempurnaan dan keindahan yang dimiliki makhluk terdapat pada diri Rasulullah saw. Dan suatu sanjungan yang diperuntukkan baginda nabi dengan pujian-pujian indah yang menunjukkan luhurnya derajat beliau selama tidak melampaui batas seperti berlebihannya orang-orang Nashrani terhadap Nabi Isa, maka sah-sah saja. Bahkan pujian ini dinilai sangat baik, karena keberadaan Rasulullah sebagai suri tauladan yang memang perlu diketahui keluhuran akhlaknya agar dapat diikuti.


Baca juga: 3 Konsep Takwa dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 133-134


Hal ini senada dengan ungkapan al-Bushiri dalam qasidahnya al-Burdah:

دع ما ادعته النصارى في نبيهم      واحكم بما شئت مدحا فيه واحتكم

وانسب إلى ذاته ما شئت من شرف     وانسب إلى قدره ما شئت من عظم

فإن فضل رسول الله ليس له      حد فيعرب عنه ناطق بفم

 

Tinggalkan tuduhan orang-orang Nasrani terhadap Nabi Mereka. Dan tetaplah menyanjung Nabi Muhammad saw. dengan pujian sesukamu, dan teruslah tetapkan keutamaannya.

Nisbahkan semua bentuk kemuliaan pada dzat Nabi Muhammmad saw. sesukamu. Dan nisbahkan pula semua penghormatan dan ketinggian sebuah derajat pada derajat Nabi Muhammmad saw. sesukamu

Sesungguhnya keutamaan Rosulullah Muhammad tidaklah terbatas, hingga tak dapat diungkapkan oleh seorang pun melalui kata-kata


Baca juga: Surat Al-Hujurat Ayat 13: Dalil Sila Kedua Pancasila


Maka dari itu, Rasulullah tidak pernah ingkar ketika mendapat pujian-pujian dari para sahabatnya, seperti Abbas, Hassan bin Tsabit dan Ka’ab bin Zuhair dalam syair-syairnya. Diantara syair mereka adalah:

وأحسن منك لم تر قط عيني         وأجمل منك لم تلد النساء

خُلِقْتَ مبرءاً من كل عيب         كأنك قد خُلِقْتَ كما تشاء

Mataku benar-benar tidak pernah melihat orang sebaik dirimu, dan tidak pernah ada seorang perempuan-pun yang melahirkan bayi seperti dirimu.

Engkau (wahai Rasulullah) diciptakan dalam keadaan suci dari segala aib, seakan engkau diciptakan sesuai keinginan dirimu sendiri.

Wallahu A’lam

Riwayat Israiliyyat Batil dalam Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

0
Riwayat Israiliyyat batil pada kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis
Riwayat Israiliyyat batil pada kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis

Dalam Ilmu Al-Quran, dikenal istilah riwayat israiliyyat. Pengertiannya yang paling sederhana, riwayat israiliyyat adalah riwayat-riwayat yang bersumber dari para ahli kitab Yahudi atau Nasrani.  Tapi salah satu ulama pemerhati tafsir, Husein al-Dzahabi, memperluas cakupan sumbernya menjadi semua hal di luar Islam dan tidak hanya terbatas pada Yahudi atau Nasrani saja. (ad-Dakhil fit-Tafsir, Ulinnuha, 132)

Riwayat israiliyyat dapat dibagi menjadi tiga kategori. Pertama, sahih dan sesuai ajaran Islam. Tipe ini boleh diterima dan diriwayatkan. Kedua, tawaqquf. Dalam kajian israiliyyat, ini berarti tidak ditemukan penjelasan/alasan untuk membenarkan atau menentang riwayat tersebut. Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang kebolehan periwayatannya. Kategori terakhir, adalah batil/bohong dan bertentangan dengan ajaran agama. Jenis ini tidak boleh dinukil kecuali dengan menyebut status riwayat tersebut.

Baca juga: Kisah Al-Quran: Ratu Balqis, Pemimpin Perempuan nan Demokratis dan Diplomatis

Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis dalam Al-Quran

Di dalam Al-Quran, penyebutan kisah masyhur ini menempati porsi khusus di surah al-Naml. Tokoh kunci yang mempertemukan keduanya adalah burung Hud-Hud.  Alkisah, nabi Sulaiman memeriksa rombongan bala tentaranya dan tidak menemukan Hud-Hud. Burung itu tiba kemudian dengan membawa kabar  tentang negara Saba` yang rakyatnya tidak menyembah Allah.

Menguji kebenaran berita itu, Nabi Sulaiman berinisiatif mengirim surat berisi ajakan ketauhidan dengan mengutus Hud-Hud. Kejadian ini diabadikan dalam Surat An-Naml ayat 27-28:

قَالَ سَنَنظُرُ أَصَدَقْتَ أَمْ كُنتَ مِنَ ٱلْكَٰذِبِينَ
ٱذْهَب بِّكِتَٰبِى هَٰذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَٱنظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ

“Dia (Sulaiman) berkata, “ Akan kami lihat, apa kamu benar, atau termasuk yang berdusta””

“Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan”

Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman Dalam Al-Quran: Kepribadiannya Sebelum Menjadi Raja

Sebagai balasan atas surat itu, ratu Balqis terlebih dahulu mengutus orang-orangnya dengan membawa hadiah untuk mempertimbangkan keputusan selanjutnya. Tapi hadiah itu ditolak oleh nabi Sulaiman sembari berpesan pada para utusan itu bahwa dia akan datang ke negeri Saba` bersama pasukannya.

Ayat-ayat Al-Quran yang memuat kisah ini selanjutnya menceritakan tentang nabi Sulaiman yang berusaha memindahkan singgasana ratu sebelum Balqis datang. Dari sekian rakyatnya, yang berhasil melakukannya  dengan cepat adalah seorang ‘alim. Nabi Sulaiman kemudian meminta singgasana itu dimodifikasi sedemikian rupa untuk menguji Balqis.

Saat Balqis tiba, nabi Sulaiman menanyakannya tentang singgasana itu, apakah Balqis mengenalinya atau tidak. Yang dijawab dengan kalimat, seakan-akan itulah dia. Selain itu, Balqis juga diajak memasuki istana berlantai kaca bening beralaskan air. Mengira itu adalah kolam, Balqis melangkah masuk dengan menyingkap penutup kedua betisnya.

Nabi Sulaiman justru berkata, sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca. Lantas, menyadari betapa agung ilmu dan kekayaan nabi Sulaiman, ratu Balqis akhirnya berujar, Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam. (QS. al-Naml [27]: 44)

Riwayat Israiliyyat Batil Berkenaan dengan Kisah Nabi Sulaiman dan Balqis

Riwayat ini menjelaskan ayat-ayat kisah tentang singgasana dan istana berlantai kaca. Salah satu tafsir yang memuat riwayat israiliyyat ini adalah Tafsir al-Khazin.

“Dikatakan bahwa penyebab Nabi Sulaiman ingin memindahkan singgasana Ratu ke kerajaannya—sebagaimana diriwayatkan dari Wahb dari Muhammad ibn Ka’b dan dari selain keduanya—, bahwa setan khawatir nabi Sulaiman menikahi Balqis. Karena ibu Balqis adalah keturunan jin, dan mereka takut saat Balqis melahirkan anak, mereka akan mengabdi dan menjadi budak nabi Sulaiman selamanya. Maka mereka mengatakan hal-hal yang buruk (tentang Balqis) kepada nabi: “Sesungguhnya pada akalnya (Balqis) terdapat sesuatu dan kakinya serupa himar (keledai). Demi mendengar hal tersebut, nabi Sulaiman ingin menguji kecerdasan Balqis dengan memindahkan singgasananya dan membangun istana untuk membuktikan ucapan setan dengan melihat kedua betisnya” (Tafsir al-Khazin [3]: 348)

Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis Dalam Al-Quran

Muhammad Abu Syahbah, pengajar Ilmu Al-Quran dan Hadis di al-Azhar Kairo, sekaligus penulis Israiliyyat dan Hadis-Hadis Palsu Tafsir Al-Quran, mengkritisi riwayat di atas di dalam bukunya. Syahbah mengomentari, bahwa yang diinginkan nabi Sulaiman dengan pemindahan singgasana dan pembangunan istana tidak lain adalah untuk memperlihatkan kebesaran kekuasaan serta kemajuan peradaban yang dianugerahkan kepadanya, yang tidak dimiliki Balqis.

Lebih lanjut Syahbah mengatakan, bahwa dengan segala nikmat dan kekuasaan yang luar biasa, mustahil bagi nabi Sulaiman untuk membangun istana hanya demi tujuan duniawi. Dia lebih mulia dan agung dari semua itu. Wallahu a’lam[]

3 Konsep Takwa dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 133-134

0
3 konsep takwa
3 konsep takwa

Secara sederhana, takwa ialah bentuk kesalehan diri di mana seseorang senantiasa melaksakanan segala perintah Allah dan dengan segenap usaha menjauhi larangan-Nya. Konsep takwa juga sering disebut dalam Al-Quran.

Di berbagai surat disebutkan beragam sikap dan perilaku yang menunjukan konsep takwa seseorang. Konsep tersebut juga ditemukan dalam surat Ali ‘Imran ayat 133-134. Firman tersebut berbunyi:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”

Quraish Shihab menyatakan dalam Tafsir al-Misbah bahwa ayat itu mengandung pesan untuk meningkatkan upaya dalam menjalankan ketakwaan. Jika ayat-ayat yang lain sekedar menerangkan agar menjalankan yang wajib dan meninggalkan yang haram, maka ayat ini lebih menekankan pada peningkatan dengan cara berkompetisi. Kata “bersegeralah kamu” sebagai ketergesaan seseroang untuk meraih ampunan dan berlomba mencapai surga.

Baca juga: Kriteria Orang Bertakwa dalam Al-Quran Surat Yunus Ayat 133-135

Ayat tersebut kemudian diakhiri dengan kalimat al-Muttaqin yang selanjutnya dijelaskan pada ayat ke 134 yang berbunyi:

 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(yaitu) orang-orang yang berinfaq, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema‟afkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”

Ayat ini menjelaskan ciri orang-orang yang bertakwa sebagai ahli surga. Dari ayat tersebut maka akan ditemukan tiga konsep takwa yang termuat di dalamnya antara lain:

Berinfak dalam segala kondisi

Ibnu Kathir dalam tafsir-nya menerangkan bahwa berinfaq dalam kondisi lapang maupun sempit bisa diartikan demikian. Namun lebih luas diterangkan bahwa kondisi yang dimaksud juga bisa dalam keadaan giat ataupun malas, sehat ataupun sakit dan dengan segala kondisi apapun. Para ahli surga tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak dilalaikan oleh keadaan apa pun dalam bertakwa kepada-Nya.

Pada Tafsir al-Maraghi juga disebutkan bahwa berinfak dihadapkan pada dua kondisi, yakni keadaan mudah dan susah. Sebagian orang teramat berat untuk menginfakkan harta yang ia cintai. Bila mereka berhasil melakukannya maka itu menunjukan ketakwaan.

Lebih lanjut, al-Maraghi menerangkan bahwa dianjurkannya bersedekah dalam keadaan lapang ialah demi menghapus rasa takabur, cinta harta dan memendam nafsu keinginan karena hartanya.

Adapun anjuran berinfak dalam keadaan susah ialah sebagai tantangan, karena pada umumnya mereka dalam kondisi tersebut cenderung meminta dari pada memberi. Maka bagi mereka yang masih bisa menyisihkan hartanya walaupun dalam keadaan susah, itulah ciri ahli surga.

Baca juga: Takwa dan Tawakkallah, Tips Mencari Rezeki Menurut Al-Quran

Menahan amarah

Ciri kedua yang disebut pada ayat diatas ialah وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ yakni mereka yang mampu menahan amarah. Menurut Ibnu Kathir, kata al-Kadhimin mengandung makna penuh kemudian menutupnya dengan rapat. Ia mengibaratkan seperti wadah yang penuh dengan air kemudian ditutup dengan rapat agar tidak tumpah. Ini merupakan analogi sederhana untuk menujukan bahwa ketika seseorang marah, keinginan untuk menbalas masih ada. Tetapi, ia mencoba menutupnya hingga tidak terlampiaskan kemarahan tersebut.

Bagi al-Maraghi, mereka ialah orang yang mampu mengekang amarah dan tidak mau melampiaskannya meskipun hal itu bisa saja dilakukan. Sedangkan mereka yang cenderung menuruti nafsu amarah hingga bertekad untuk dendam, maka bisa dikatakan tidak stabil dan tak mau berpegang pada kebenaran.

Ini juga sejelan dengan sabda Nabi Muhammad saw:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

“Bahwa Rasulullah saw bersabda: barangsiapa menahan amarah sedang ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan semua manusia hingga Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jelita yang ia kehendaki”(HR. Abu Dawud)

Baca juga: Tafsir Surat An-Nahl Ayat 97: Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Beribadah

Memaafkan sesama

Ibn kathir menjelaskan bahwa ini merupakan tingkatan setelah seseorang mampu menahan amarah, yakni mau memaafkan. al-‘Afin sendiri terambil dari kata al-‘Afni yang bermakna menghapus dan maaf. Ini menunjukan bahwa orang yang mau memaafkan berarti ia telah menghapus bekas luka di hatinya akibat kesalahan yang dilakukan orang lain.

Bila pada tahap “menahan amarah”, orang tersebut masih memiliki rasa sakit hati yang terpendam, maka pada tahap ini, orang tersebut benar-benar terhapus dan hilang hingga seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu.

al-Maraghi berpendapat bahwa ini merupakan tingkat penguasaan dan pengendalian diri yang jarang dilakukan tiap orang. Mereka yang suka memberi maaf atas kesalahan orang lain dan tidak menuntut balasan merupakan para ahli surga yang sudah dijanjikan Allah melaui firman-Nya.

Baca juga: Pengertian dan 4 Keutamaan Tawakal Menurut Al-Quran

Ibn Kathir juga mengingatkan bahwa ayat ini ditutup dengan “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan” yang mengindikasikan bahwa ketakwaan seseorang berada pada tingkatan tertinggi apabila ia mau berbuat baik pada orang yang telah berbuat kesalahan padanya. Sehingga ia tidak hanya menahan amarah dan memaafkan. Namun, juga membalasnya dengan perbuatan baik. Wallahu a’lam[]