Beranda blog Halaman 86

Bantahan al-Razi terhadap Kisah “Miring” Nabi Dawud (Bag. 2)

0
Bantahan Imam al-Razi terhadap Kisah “Miring” Nabi Dawud (Bag. 2)
Bantahan Imam al-Razi terhadap kisah “miring” Nabi Dawud a.s.

Pada tulisan sebelumnya, telah dipaparkan ada tiga pandangan dan penafsiran ulama mengenai latar belakang dari kisah Nabi Dawud a.s. dalam Q.S. Shad ayat 21-25. Hal ini juga telah dipertegas oleh Imam al-Razi dalam kitab Mafatih al-Ghaib. Beliau mengatakan bahwa setidaknya ada tiga pendapat yang beredar di kalangan umat muslim terkait kisah Nabi Dawud a.s. tersebut.

وَأَقُولُ لِلنَّاسِ فِي هَذِهِ الْقِصَّةِ ثَلَاثَةَ أَقْوَالٍ أَحَدُهَا: ذَكَرَ هَذِهِ الْقِصَّةَ عَلَى وَجْهٍ يَدُلُّ عَلَى صُدُورِ الْكَبِيرَةِ عَنْهُ وَثَانِيهَا: دَلَالَتُهَا عَلَى الصَّغِيرَةِ وَثَالِثُهَا: بِحَيْثُ لَا تَدُلُّ عَلَى الْكَبِيرَةِ وَلَا عَلَى الصَّغِيرَةِ

Saya katakan terkait kisah ini (perihal Nabi Dawud a.s.), orang-orang terbagi menjadi tiga pendapat. Pertama, menceritakan kisah tersebut melalui cara yang mengindikasikan bahwa Nabi Dawud a.s. melakukan dosa besar. Kedua, menceritakan kisah tersebut dengan kisah yang mengindikasikan bahwa beliau melakukan dosa kecil. Ketiga, menceritakan kisah dengan tanpa disertai indikasi apapun bahwa Nabi Dawud a.s. melakukan dosa, baik dosa besar maupun dosa kecil. [Mafatih al-Ghaib, juz 26, hlm.173].

Pada tulisan kali ini, akan dibahas sanggahan Imam al-Razi terkait kisah “miring” yang dinisbatkan kepada Nabi Dawud a.s. Penulis secara spesifik memilih perspektif Imam al-Razi karena sebagaimana penulis dapati bahwa dalam kitab Mafatih al-Ghaib beliau memaparkan berbagai sanggahan-sanggahan argumentatif yang dikaji secara panjang lebar dan komprehensif.

Perlu diketahui bahwa Imam al-Razi lebih condong kepada riwayat ketiga. Akan tetapi, ulama yang berafiliasi dengan riwayat ketiga ini pun memiliki versi yang beragam terkait kisah yang terjadi sebenarnya. Terlepas dari perbedaan versi tersebut, secara umum mereka meyakini bahwa kisah yang sebenarnya terjadi adalah Nabi Dawud a.s. diuji oleh Allah Swt., tetapi beliau tidak melakukan perbuatan dosa dalam hal ini.

Baca juga: Pandangan Ulama Seputar Kisah Nabi Daud a.s. (Bagian 1)

Secara panjang lebar, Imam al-Razi membantah riwayat pertama yang mengatakan bahwa Nabi Dawud a.s. berniat membunuh suami seorang perempuan agar dapat menikahinya. Dalam hal ini penulis mencoba mensimplifikasi argumentasi Imam al-Razi dalam kitab Mafatih al-Ghaib dan merumuskannya menjadi tiga poin utama [Mafatih al-Ghaib, juz 26, hlm. 163-167].

Pertama, kisah tersebut mengandung unsur-unsur yang mendiskreditkan seorang nabi. Pasalnya, ada dua tindakan dosa yang jangankan seorang nabi, orang salih yang bukan nabi saja tidak akan melakukannya hal tersebut. Tindakan dosa yang dimaksud adalah berusaha membunuh orang dengan tujuan menikahi istrinya. Hal ini berdasarkan Q.S. Al-Nisa’ ayat 93:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا

“Dan barang siapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, balasannya ialah neraka Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (Q.S. An-Nisa’ [04]: 93).

Selain itu, Rasulullah saw. juga bersabda:

مَنْ أَعَانَ عَلَى قَتْلِ مُؤْمِنٍ وَلَوْ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ، لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ: آيِسٌ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Barang siapa yang punya kontribusi dalam membunuh orang mukmin meski hanya dengan satu kalimat, ia akan menemui Allah Swt. (kelak di hari kiamat) dalam keadaan tertulis di antara kedua matanya, ‘orang yang putus asa dari rahmat Allah” (H.R. Ibnu Majah).

Baca juga: Ibrah Kisah Nabi Daud: dari Taubat hingga Manajemen Ibadah

Dalam hadis lain, Beliau saw. bersabda:

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Orang muslim (sejati) adalah ketika kaum muslim lain selamat dari ucapan dan tindakannya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kedua, secara struktur susunan ayat, akan terjadi disharmoni antara ayat 21-25 dari Q.S. Shad tersebut dengan ayat sebelum dan sesudahnya manakala ayat tersebut dimaknai sebagai teguran atas tindakan “miris” yang dilakukan Nabi Dawud a.s.

Hal ini karena ayat sebelum dan sesudah lima ayat tersebut membicarakan perihal karakter-karakter terpuji yang dimiliki Nabi Dawud a.s. sehingga beliau mendapat pujian dan kedudukan istimewa di hadapan Allah Swt. Menafsiri kisah dalam lima ayat tersebut sebagai teguran Allah Swt. atas perbuatan dosa yag dilakukan Nabi Dawud a.s. akan menimbulkan kontradiksi dan disharmoni dengan ayat sebelum dan sesudahnya.

Baca juga: Ketika Allah Mengajarkan Nabi Daud tentang Kepemimpinan

Ketiga, jika diasumsikan bahwa cerita tersebut merupakan fakta, hal itu tidak lantas mengharuskan orang-orang untuk menyebarkan kisah tersebut ke ruang publik. Sebab Allah Swt. melarang menyebarluaskan cerita buruk pada diri orang muslim. Allah Swt. Berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. An-Nur [24]: 19).

Di samping itu, Imam al-Razi juga mengatakan bahwa menyebarluaskan kisah tersebut (andai memang benar) tidak akan mendatangkan faedah dan manfaat. Alih-alih mendapat manfaat, ia justru menyebabkan pelakunya mendapatkan dosa karena menyebarkan keburukan orang lain.

Baca juga: Tujuh Kitab Populer untuk Referensi Asbabunnuzul

Menurut Imam al-Razi, di akhirat kelak Allah Swt. juga tidak akan meminta pertanggungjawaban perihal mengapa seseorang tidak menyebarluaskan kisah tersebut. Justru, orang tersebut akan mendapat azab yang pedih jika kisah tersebut ternyata tidak benar [Mafatih al-Ghaib, juz 26, hlm. 176].

Maka dari itu, sebagai langkah antisipasi, sebaiknya seorang muslim tidak sembarangan menyebarluaskan kisah-kisah yang masih belum dapat dibuktikan validitasnya. Dalam membaca kitab-kitab tafsir atau kisah umat terdahulu, ia harus selalu melakukan check dan recheck sebab banyak kisah israiliyat yang belum terbukti kebenarannya, termasuk dalam penafsiran Q.S. Shad ayat 21-25 tersebut.

Oleh karenanya, Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang lebih utama adalah menafsiri dan memahami ayat kisah tersebut sesuai dengan makna leterlek-nya, sedangkan kebenarannya diserahkan kepada Allah Swt. semata [Tafsir Ibnu Katsir, juz 7, hlm. 60].

Pandangan Ulama Seputar Kisah Nabi Daud As. (Bagian 1)

0
Pandangan Ulama Seputar Kisah Nabi Daud As.
Pandangan Ulama Seputar Kisah Nabi Daud As.

Selain berisi aturan hukum, etika-moral dan keyakinan-teologis, Alquran banyak mengandung kisah-kisah nabi dan umat terdahulu. Misalnya kisah Nabi Adam as., Nabi Nuh as., Nabi Ibrahim as., Nabi Musa as. dan nabi-nabi yang lain. Di antara kisah yang diceritakan Alquran adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada Nabi Daud as.

Dalam Q.S. Shad [38]: 21-25, Allah Swt. mengisahkan dua orang yang berperkara dan meminta penyelesaian dari Nabi Daud as. Namun, ulama tafsir memiliki pandangan yang bervariasi mengenai maksud dari kisah yang termaktub dalam ayat tersebut. Sebelum lebih jauh membahas penafsiran dari para ulama, berikut redaksi Q.S. Shad [38]: 21-25 beserta artinya:

وَهَلْ أَتَاكَ نَبَأُ الْخَصْمِ إِذْ تَسَوَّرُوا الْمِحْرَابَ (21) إِذْ دَخَلُوا عَلَى دَاوُودَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ قَالُوا لَا تَخَفْ خَصْمَانِ بَغَى بَعْضُنَا عَلَى بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَاهْدِنَا إِلَى سَوَاءِ الصِّرَاطِ (22) إِنَّ هَذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ (23) قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَى نِعَاجِهِ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ (24) فَغَفَرْنَا لَهُ ذَلِكَ وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَى وَحُسْنَ مَآبٍ (25)

  1. Dan apakah telah sampai kepadamu berita orang-orang yang berselisih ketika mereka memanjat dinding mihrab?
  2. Ketika mereka masuk menemui Dawud lalu dia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut! (Kami) berdua sedang berselisih, sebagian dari kami berbuat zhalim kepada yang lain; maka berilah keputusan di antara kami secara adil dan janganlah menyimpang dari kebenaran serta tunjukilah kami ke jalan yang lurus.
  3. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja, lalu dia berkata, “Serahkanlah (kambingmu) itu kepadaku! Dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.”
  4. Dia (Dawud) berkata, “Sungguh, dia telah berbuat zhalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (ditambahkan) kepada kambingnya. Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zhalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; dan hanya sedikitlah mereka yang begitu.” Dan Dawud menduga bahwa Kami mengujinya; maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat.
  5. Lalu Kami mengampuni (kesalahannya) itu. Dan sungguh, dia mempunyai kedudukan yang benar-benar dekat di sisi Kami dan tempat kembali yang baik. Q.S. Shad [38]: 21-25.

Baca Juga: Ibrah Kisah Nabi Daud: dari Taubat hingga Manajemen Ibadah

Menafsiri kisah di atas, setidaknya ada tiga versi mengenai maksud dari kisah yang diceritakan.

Pertama, sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa kisah di atas sebenarnya berisi teguran kepada Nabi Dawud as. atas tindakan yang beliau lakukan. Dalam Kitab Bahr al-‘Ulum dikisahkan, pada suatu hari Nabi Dawud as. bersabda di hadapan Bani Israil, “Adakah di antara kalian yang mampu beribadah kepada Allah Swt. seharian penuh tanpa sedikitpun tergoda oleh tipu daya setan?” Mereka menjawab, “Kami tidak mampu.” Pada saat itulah, terbesit dalam hati Nabi Dawud as. bahwa beliau mampu melakukan hal tersebut.

Beliau kemudian memasuki mihrab dan menguncinya agar tidak mendapat gangguan apapun ketika beribadah. Beberapa saat kemudian, ada burung yang sangat indah hinggap di tempat ibadah beliau. Singkat cerita, beliau mengejar burung tersebut sampai keluar, namun tiba-tiba beliau mendapati seorang wanita yang sedang mandi. Karena kebetulan dibelakang mihrabnya ada telaga yang biasa dijadikan tempat mandi para perempuan.

Akhirnya, fokusnya untuk menjalankan ibadah pun tidak terlaksana, gara-gara bertemu dengan perempuan cantik yang sedang mandi di telaga tadi. Diam-diam, Nabi Daud as. menaruh perasaan terhadap perempuan tersebut. Ia kemudian menanyakan perihal status perkawinannya. Perempuan tadi mengatakan bahwa ia sudah menikah, tetapi suaminya sekarang sedang ada dalam medan perang.

Mengetahui hal tersebut, Nabi Daud as. secara diam-diam mengirim surat kepada komandan perang dimana suami perempuan tadi ikut berperang. Dalam suratnya, Nabi Daud as. memerintahkan komandan perangnya agar menempatkan suami perempuan tadi di garda depan dengan harapan agar ia gugur di medan perang dan setelah itu akan menikahi istrinya.

Guna memberikan sindiran kepada Nabi Daud as. atas tindakannya tersebut, Allah mengutus dua malaikat yang menyamar menjadi dua orang yang sedang berperkara masuk ke dalam mihrab Nabi Daud as. sebagaimana diceritakan dalam ayat tersebut. (Bahr al-‘Ulum, Juz 3, 162-163)

Baca Juga: Ketika Allah Mengajarkan Nabi Daud tentang Kepemimpinan

Kedua, dalam Tafsir al-Bahr al-Madid dan beberapa kitab tafsir lain diceritakan bahwa di zaman Nabi Daud as. ada seorang laki-laki bernama Uriya. Ia memiliki istri yang sangat cantik. Karena kecantikannya itu, Nabi Dawud as. kemudian ingin menikahinya dan meminta kepada Uriya agar menceraikan istrinya supaya bisa dinikahi oleh Nabi Daud as.

Namun, perlu dipahami bahwa tradisi ini lumrah terjadi dan bukan merupakan suatu yang tabu pada masa itu. Hal ini sama seperti yang terjadi pada sahabat Muhajirin dan Anshar ketika dipersaudarakan oleh Nabi Muhammad Saw. ketika baru hijrah ke Madinah. Sahabat Anshar dengan suka cita menceraikan salah satu istrinya untuk diberikan kepada sahabat Muhajirin yang tidak memiliki istri.

Tindakan Nabi Daud as. ini kemudian mendapat teguran dari Allah Swt., sebab hal itu hanya dilandaskan pada nafsu semata. Padahal saat itu, Nabi Daud as. telah memiliki 99 orang istri, sementara istri Uriya hanya memiliki seorang perempuan tadi. Maka Allah swt. mengutus dua malaikat yang menjelma menjadi sosok manusia yang sedang berperkara masuk ke dalam mihrab Nabi Daud as., sebagaimana diceritakan dalam ayat diatas. (al-Bahr al-Madid, Juz 5, 16)

Ketiga, berbeda dengan dua kisah di atas, versi ini sedikitpun tidak mengandung kisah yang terkesan mendiskreditkan Nabi Daud as. Menurut versi ketiga ini, ayat di atas mengisahkan perihal dua orang yang sedang berperkara melompati tembok pagar guna menemui Nabi Daud as. yang sedang beribadah. Mengetahui kedatangan dua orang tersebut, Nabi Daud as. kaget bahkan sempat menduga bahwa mereka ingin mencelakainya. Tapi ternyata, mereka berdua tidak punya niat jahat dan memang benar-benar ingin minta putusan dari Nabi Daud as. terkait masalah yang sedang mereka perselisihkan. Karena prasangka Nabi Daud as. Tadi, akhirnya beliau pun sujud memohon ampun kepada Allah Swt. (Tafsir al-Maraghi, Juz 23, 108-109)

Menurut Imam al-Razi, tiga versi di atas memang populer dan beredar di berbagai kitab tafsir. Akan tetapi, harus diyakini bahwa nabi dan rasul adalah manusia yang terpelihara dari perbuatan dosa. Karena ituah, banyak para ahli tafsir dari kalangan muhaqqiqin yang menolak dua versi pertama, lebih-lebih versi pertama.

Wallahu a’lam bish shawab.

Kriteria ‘Ulul Albab’ dalam Alquran

0
kriteria ulul albab dalam Alquran
kriteria ulul albab dalam Alquran

Konsep kecerdasan dalam Islam sedikit berbeda dengan definisi cerdas secara umum. Orang–orang yang terpilih karena kecerdasannya oleh Al-Quran disebut sebagai golongan ulul albab (terjemahan kemenag: orang-orang yang berakal). Mereka inilah yang menjadi standariasi kecerdasan di dalam Islam.

Dilihat dari sisi kebahasaan, kata Ulul sendiri merupakan piranti kepemilikan dalam bahasa Arab. Sedangkan kata Albab merupakan bentuk jamak dari kata Lubb, menurut Imam Al-Ghazali Lubb merupakan intisari dari hati manusia. Jadi pada dasarnya, konsep kecerdasan dalam Islam tidak sepenuhnya berhubungan dengan kejeniusan akal, namun juga hal-hal yang berhubungan dengan hati.

Baca Juga: Konsep Kepribadian Ulul Albab dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 190-191

Surah Ali Imran ayat 190-191 menunjukkan kepada orang-orang yang beriman tentang standar menjadi ulul albab. Dalam dua ayat ini, predikat ulul albab bukan sekadar untuk orang-orang yang cerdas secara intelektual saja, tetapi juga cerdas secara emosional dan lainnya.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًاج سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (190) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka”. (Q.S. Ali ‘Imrān/3: 191).

Merenungi ayat-ayat qauliyah dan kauniyah

Menurut ayat di atas, kecerdasan orang yang berpredikat Ulul Albab sudah sampai pada level pemikiran kritis. Tidak hanya mampu menggunakan akal, namun juga mampu mengeksplorasi akalnya. Standarnya, dengan apa yang sudah dihadirkan Allah di dunia ini, dia mampu berpikir tentang konsep ketuhanan. Hal ini seperti kekritisan Nabi Ibrahim saat mempertanyakan konsep ketuhanan.

Dalam Kitab Asbabun Nuzul di sebutkan, bahwa ayat ini turun saat orang-orang Quraisy meminta Rasulullah saw. berdoa agar bukit Shafa dijadikan emas sebagai bukti kenabiannya. Kemudian ayat ini turun, sebagai bentuk sindiran kepada bangsa Arab Quraisy yang tak mampu menggunakan akalnya dengan baik. Hal ini dikarenakan beberapa hal.

Pertama, Standar Tuhan menurut Kafir Quraisy diukur menggunakan benda yang bersifat kuantitatif, mereka hanya memedulikan harta, berhala-berhala yang mereka sembah terbuat dari logam-logam mulia. Kedua, permintaan orang-orang kafir tersebut tidak terlihat sebagai tuntutan pembuktian yang berbobot, karena seharusnya dengan kecerdasan mereka, mereka mampu mengajukan pembuktian yang lebih masuk akal. Hal ini mencederai citra masyarakat Arab yang terkenal cerdas dalam bertutur kata.

Ulul Albab tidak hanya membaca ayat-ayat Allah yang bersifat Qauliyah (ucapan), tetapi juga mampu mempelajari dan mentadabburi ayat-ayat Allah yang bersifat Kauniyah (alam ciptaan Tuhan). Mereka yang cerdas dalam menangkap pesan dan nilai yang terkadung di alam semesta inilah yang disebut ulul albab.

Dalam Tafsir Mafatih Al-Ghaib disebutkan, bahwa Rasulullah pernah bersabda bahwa “Sungguh celaka orang yang hanya membaca ayat ini, namun tidak mau memikirkannya lebih jauh”.

Baca Juga: Konsep Makna Uli An-Nuha dalam Tafsir Surah Thaha Ayat 49-55

Cerdas intelektual dan emosional

Tidak hanya mempelajari dan memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, ulul albab juga melibatkan Allah dalam segala gerak geriknya, dalam keadaan Qiyam (berdiri), Qu’ud (duduk), dan Junub (berbaring). Al-Qurthubi menafsirkan kata-kata tersebut sebagai ‘setiap waktu’, karena manusia pasti melakukan ketiga hal tersebut setiap harinya. Sedangkan ‘Ala’uddin Al-Baghdadi menyebutkan bahwa yang dimaksud ketiga kata di atas, adalah setiap kondisi manusia, karena ketiganya berhubungan dengan shalat. Saat seseorang bisa shalat sambil berdiri (Qiyam), atau sambil duduk (Qu’ud), maupun berbaring (Junub), mereka tak melupakan Allah.

Saat sehat, mereka ingat Allah sebagai Sang Maha Pemberi, termasuk kesehatan. Sedangkan di saat sakit dan terpuruk, mereka juga ingat bahwa Allah adalah Sang Maha Penolong, yang akan membantu mereka kembali berdiri. Bagian ini mungkin yang mengarah pada maksud bahwa ulul albab tidak hanya berhubungan dengan kecerdasan intelektual, melainkan juga kecerdasan emosional.

Termasuk bagian dari cerdas secara emosi yaitu menjaga diri untuk tidak bersikap su’ dzan kepada Allah, karena para ulul albab ini mereka yakin bahwa tidak pernah ada ciptaan Allah yang sia-sia (Maa Khalaqta Hadza Bathila). Semua memiliki maksud dan tujuannya masing-masing. Dengan demikian, ulul albab ini akan pandai mengelola setiap keadaan dan peluang untuk menjadikannya sesuatu yang bermanfaat. ِ

Sebagaimana bunyi sebait syair,

إِذَا الْمَرْءُ كَانَتْ لَهُ فكْرَةٌ … فِفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ عبرَة

“Selama seseorang masih punya akal … ada pelajaran di balik segala permasalahan”

Ulul Albab merupakan orang-orang proporsional yang mampu menciptakan keseimbangan antara akal dan hati, antara logika dan iman. Wallah a’lam

Kriteria Memilih Pemimpin Perspektif Alquran

0
Kriteria Memilih Pemimpin Perspektif Alquran
Kriteria Memilih Pemimpin Perspektif Alquran

Pemimpin merupakan suatu hal yang harus ada dalam aktivitas kehidupan sosial masyarakat, yang nantinya akan sangat berperan penting dalam menentukan arah tujuan. Dalam Islam, segala sesuatunya telah diatur secara sempurna dan menyeluruh, termasuk di dalamnya kriteria dalam memilih seorang pemimpin. Oleh karena itu, untuk menjadi pemimpin di masa depan mesti mempersiapkan diri, karena tanggung jawab dari seorang pemimpin sangat besar.

Definisi Pemimpin

Pemimpin dalam KBBI berarti: 1) orang yang memimpin. 2) petunjuk, sedangkan memimpin artinya: 1) mengetahui atau mengepalai, 2) memenangkan paling banyak, 3) membimbing, 4) memandu, 5) melatih, mendidik dan mengajari. Dari pembagian makna di atas, bisa dikatakan bahwa yang dimaksud dengan pemimpin ialah orang yang mengetahui atau mengepalai suatu bagian lembaga maupun organisasi yang berpengaruh dalam kelancaran untuk mencapai tujuan yang diinginkan bagi para pengikutnya.

Secara penamaan pemimpin di Indonesia dari level kepala desa hingga presiden, dapat disebut dengan ulil amri. Menurut Bahasa, ulil amri artinya menyuruh, lawan dari kata melarang, kemudian secara istilah yaitu orang yang memerintah dan dapat diajak untuk bermusyarawah.

Dalam Islam, pemimpin dapat dipahami juga sebagai umara yang sering disebut dengan ulil amri. (QS. An-Nisa ayat 59) “Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu”.

M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah (Jilid 2), menjelaskan bahwa kata ulil amri adalah orang-orang yang berwenang mengurus kaum muslimin. Mereka adalah orang yang dapat diandalkan dalam menangani persoalan-persoalan kemasyarakatan. Bisa saja mereka adalah para penguasa/pemerintah, ulama, ataupun yang mewakili masyarakat dalam berbagai kelompok dan profesinya. Dan perintah taat kepada ulil amri tidak disertai dengan kata taatilah. Karena mereka tidak memiliki hak untuk ditaati, bila ketaatan kepada mereka bertentangan dengan ketaatan kepada Allah Swt. atau Rasulullah Saw.

Baca Juga: Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

Kriteria seorang Pemimpin

Sosok siapa yang akan teringat ketika mendengar kata “pemimpin”? Secara umum, akan diingat kepada baginda Nabi Muhammad Saw, Muhammad Al-Fatih, Ir. Sukarno, Jendral Sudirman, Erdogan atau bahkan Presiden Republik Indonesia. (Dalam Jurnal Forum Manajemen Vol. 15 No. 2) Pemimpin yang benar-benar pemimpin setidaknya terdapat beberapa kriteria, yaitu:

Memiliki pengikut

Pengikut merupakan sebuah kemutlakan bagi pemimpin. Seseorang tidak akan dikatakan pemimpin jika tidak memiliki pengikut, karena keberadaan pengikut ini menjadi salah satu bukti eksisnya suatu proses kepemimpinan.

Memiliki kekuasaan

Kekuasaan itu kekuatan, otoritas dan legalitas yang memberikan wewenang kepada pemimpin guna mempengaruhi dan menggerakkan bawahan untuk berbuat sesuatu. Seseorang pemimpin umumnya diikuti oleh orang lain karena dia memiliki kekuasaan yang membuat orang lain menghargai keberadaannya.

Memiliki kemampuan

Kemampuan merupakan segala daya, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan atau keterampilan teknis dan sosial, yang dianggap melebihi anggota biasa.

Dalam Alquran  dapat dijumpai beberapa ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat pokok yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, di antaranya:

Memiliki Kesabaran dan Ketabahan

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ ۖ

“Dan Kami jadikan mereka pemimpin ketika mereka sabar/tabah”. (Alsajdah [32]: 24)

Kesabaran dan ketabahan dijadikan pertimbangan dalam mengangkat seorang pemimpin. Sifat ini merupakan syarat pokok yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sedangkan sifat yang lain adalah sifat-sifat yang lahir akibat adanya sifat pokok (kesabaran) tersebut.

Mampu menjadi contoh

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا۟ ۖ وَكَانُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا يُوقِنُونَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (Alanbiya [21]: 73)

Seorang pemimpin, dituntut tidak hanya mampu menunjukkan, tetapi juga mengantarkan rakyat ke pintu gerbang kebahagiaan. Atau dengan kata lain, tidak hanya sekadar mengucapkan dan memberikan saran, tetapi hendaknya mampu mempraktekkan pada diri sendiri terlebih dahulu, kemudian menyosialisasikannya di tengah masyarakat.

Baca Juga: Surah Alnisa’ [4]: 59: Beragam Pendapat Ulama Tentang Makna Ulil Amri

Memiliki Kekuatan

Pemimpin yang kuat merupakan pemimpin yang mampu menegakkan tugas dan menanggung beban amanahnya. Pemimpin yang memiliki kriteria kuat dan amanah sekaligus ini tentunya sangat jarang ditemukan. Akan tetapi, jika kriteria yang dimiliki dari seorang calon pemimpin hanya salah satu di antara kedua kriteria ini, maka prioritas utama ditentukan menurut kebutuhan dari wilayah yang dipimpinnya. Jika wilayahnya dalam keadaan tidak aman, pemimpin yang kuat dan berani lebih bermanfaat daripada pemimpin yang jujur namun lemah.

Imam al-Mawardi dalam buku Ahkam Sulthaniyah (15) menjelaskan apabila terdapat dua orang yang memenuhi syarat untuk diangkat menjadi pemimpin, jika salah satu dari keduanya lebih pandai, sementara yang satunya lebih berani, maka yang layak dipilih adalah sosok yang lebih dibutuhkan pada periode itu.

Jika kondisinya lebih membutuhkan sifat keberani lantaran merebaknya usaha untuk melakukan pemisahan antar wilayah dan maraknya pemberontakan, sosok pemimpin yang lebih layak dipilih tentunya yang lebih memiliki keberanian. Akan tetapi juga, kondisinya lebih membutuhkan keilmuan lantaran meratanya sikap hidup yang jumud dan menyebarnya paham-paham yang bertentangan dengan ideologi negara dan agama, pemimpin yang layak dipilih adalah yang lebih memiliki ilmu/cendekiawan.

Baca Juga: Pemimpin Harus Berlaku Adil dan Menjalankan Amanah

Menunaikan Amanah dan Adil

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Alnisa’ [3]: 58)

Ayat ini merangkum dua kriteria penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu anjuran menunaikan amanah dan berlaku adil dalam segala urusan. Dalam ayat ini ketika memerintahkan agar menetapkan hukum dengan adil, ini berarti perintah berlaku adil ditujukan kepada manusia secara keseluruhan. Dengan demikian baik amanah maupun keadilan harus ditunaikan dan ditegakkan tanpa membedakan agama, keturunan, atau ras.

Dari hal ini tentu dapat diketahui bagaimana pentingnya sebuah pengetahuan dalam memilih pemimpin ataupun menyempurnakan keilmuan untuk menjadi seorang pemimpin. Melalui bekal tersebut, semoga pemimpin kedepannya Insya Allah dapat menjalankan roda kepemimpinannya untuk kesejahteraan rakyat dan negara.

Wallahu a’lam bish shawab.

Hubungan antara Doa dan Puasa

0
Makna doa dalam kajian semantik
Makna doa dalam kajian semantik

Pada sela sela ayat tentang puasa, Q.S. Al-Baqarah 183-187, terdapat ayat tentang berdoa kepada Allah. Informasi ini berada di Q.S. Al-Baqarah 186. Ayat ini mengabarkan bahwa Allah itu dekat dan akan menjawab permohonan hamba; “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. Al-Baqarah: 186)

Ayat ini menginformasikan secara pasti bahwa Allah, selain dekat, Dia pasti akan mengabulkan permohonan hamba. Syaratnya adalah ia berdoa. Seandainya si hamba tidak meminta, Dia tidak akan mengabulkan. Seolah pengabulan itu akan terwujud apabila hamba berdoa atau meminta. Selain itu, ayat ini mengemukakan bahwa apabila doa ingin dikabulkan, maka hamba harus senantiasa memenuhi perintah-Nya dan tetap beriman.

Dari rangkaian ayat yang berkaitan dengan puasa, seolah tidak ada hubungan langsung antara puasa dengan doa. Namun, dalam kenyataannya, ayat ini terselip di antara ayat sebelum dan setelahnya yang berkaitan dengan puasa. Lalu, bagaimana hubungan antara keduanya?

Baca juga: Makna Doa dalam Kajian Semantik Alquran

Kiranya, implementasi teori munasabah ayat Alquran dapat dijadikan dasar. Munasabah menjadi salah satu disiplin ilmu Alquran yang membahas tentang hubungan ayat atau surah dalam Alquran. Al-Suyuthi dalam al-Itqan fi ‘Ulum Alquran (1997) menyebutkan bahwa munasabah merupakan ‘keterkaitan ayat-ayat Alquran antara sebagiannya dengan sebagian yang lain, sehingga ia terlihat sebagai suatu ungkapan yang rapi dan sistematis.

Munasabah menampilkan keserasian dan kerapian susunan ayat Alquran yang satu sama lain akan menggambarkan keterkaitannya. Para ulama ahli ilmu Alquran telah banyak membahas secara jelas tentang munasabah ini.

Sehubungan dengan puasa dan doa, boleh dikatakan keduanya berada dalam satu surah dengan jenis munasabah antarayat. Istilah yang dikenal adalah munasabah al-ayat fi surah wahidah, sebagaimana pernah diungkap oleh Rosihon Anwar dalam Samudera Alquran (2006). Hubungan ayat dan makna pada jenis ini terdapat pada rangkaian ayat dalam surah yang sama.

Baca juga: Mengenal Macam-Macam Pembagian Munasabah Alquran

Doa dan puasa berada pada satu keterkaitan makna. Hal ini dapat dikuatkan oleh beberapa argumentasi.

Pertama, doa dan puasa, mengutip pendapat al-Shabuni dalam Rawa’i al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam berada dalam rangkain ayat tentang syariat puasa. Secara lebih rinci, kewajiban puasa disebutkan pada Q.S. Al-Baqarah: 183. Lama berpuasa dan keringanan bagi orang yang tidak berpuasa tersebut pada Q.S. Al-Baqarah: 184.

Alquran diturunkan untuk petunjuk bagi manusia, keringanan bagi orang yang tidak sanggup berpuasa, permulaan puasa dengan menyaksikan datangnya bulan, Allah mempermudah urusan hambar, melakukan penggenapan hitungan puasa, serta mengagungkan Allah, termaktub dalam Q.S. Al-Baqarah: 185. Sesuatu yang dibolehkan untuk dilaksanakan pada siang bulan Ramadan serta melakukan iktikaf sebagai kegiatan untuk mendekatkan diri pada Allah Swt., termaktub dalam Q.S. Al-Baqarah: 187.

Di sela ayat 185 dan 187 itulah terdapat ayat tentang berdoa. Dari satu tema itu, dapat diasumsikan bahwa pada rangkaian ayat tersebut, doa dan puasa memiliki hubungan.

Baca juga: Doa Nabi Muhammad saw. dalam Alquran

Kedua, doa dan puasa sama sama bentuk ibadah. Puasa pada ayat 183 bertujuan meraih ketakwaan. Berdoa pada ayat 186 berujung pada harapan mendapatkan petunjuk. Ketakwaan dan meraih petunjuk, keduanya menampilkan tujuan kebaikan dalam meraih kedekatan kepada Allah.

Di sini, dapat dikatakan terdapat hubungan antara redaksi la’allakum tattaquna  (agar kamu bertakwa) dengan la’allahum yarsyuduna (agar mereka mendapatkan petunjuk). Keduanya menggunakan kata la’alla yang bermakna pengharapan (li tarajji) dari hamba, dan sementara ulama memandang kata ini bermakna pasti bagi Allah.

Yang berbeda adalah pada ayat 183 berada pada subjek kedua (kamu) sementara pada ayat 186 berada pada subjek ketiga jamak (mereka). Dalam kata lain, untuk menjadi takwa, salah satunya adalah seseorang dapat meraihnya dengan mendapatkan petunjuk.

Ketiga, dalam berpuasa, seseorang meraih ketakwaan dengan cara menyadari bahwa puasa itu adalah kewajiban. Beban taklif puasa pada dirinya mendekatkan kesadaran pada ketundukan akan aturan yang diberikan oleh Allah. Redaksi diwajibkan atas kamu berpuasa menegaskan bahwa ketika ingin meraih ketakwaan, kewajiban harus dilaksanakan sesuai aturan.

Begitu pun dalam berdoa, seseorang meyakini bahwa Allah itu dekat. Ia pun meneguhkan sepenuh hati bahwa Dia akan mengabulkan segala permintaan hamba ketika hamba meminta. Dalam keterangan lain, berdoa adalah ibadah. Sebab, doa adalah inti ibadah.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Hukum Berdoa Meminta Kematian

Dalam berpuasa, seorang muslim dianjurkan untuk banyak memohon kepada Allah. Puasa pun adalah kewajiban dan ciri seseorang beriman. Ketika sedang berpuasa dan berdoa, seseorang sedang meneguhkan bahwa Allah itu dekat dan memantapkan hati bahwa puasa adalah bentuk pengabdian kepada Allah melalui pelaksanaan kewajiban dari-Nya.

Keempat, puasa tidak sekadar menahan lapar, haus, dan dorongan seksual di siang hari. Puasa mengarahkan diri untuk mengendalikan hawa nafsu. Puasa pun menjadi proses untuk menyucikan diri dengan menjalankan ketakwaan. Perlu diingat pula, dalam berdoa kepada Allah, seseorang harus menyucikan diri sehingga ia mampu untuk berdekatan dengan Yang Maha Suci.

Doa dan puasa, keduanya adalah proses untuk mendekatkan diri kepada Allah. Pendekatan diri seorang hamba dapat diupayakan dengan menjalankan kewajiban sebagai bentuk ketakwaan dan menyadari sepenuh hati bahwa Allah itu dekat. Pun demikian, ketika hamba meminta, Allah akan mengabulkannya. Wallahu a’lam.

Membaca Surah-Surah Pilihan: Antara Amalan, Tradisi dan Doa

0
membaca surah-surah pilihan di pesantren
membaca surah-surah pilihan di pesantren

Sebagai kitab suci umat Islam, Alquran merupa dalam banyak bentuk pemaknaan. Sebagian muslim menilainya sebagai kitab yang mesti diamal-bacakan setiap harinya demi perolehan pahala. Sebagian lainnya membuka kitab suci tersebut, lantaran di dalamnya tersimpan sekian pengetahuan yang perlu didedah. Sementara beberapa yang lain menilai Alquran sebagai ‘mukjizat’ bagi pembacanya. Untuk status Alquran yang terakhir tersebut, orang yang membaca surah-surah pilihan atau ayat tertentu secara ajeg, dia meyakini bahwa Alquran akan memberi dampak positif baginya dan atau bisa menolak segala bentuk bala bencana.

Seperti halnya yang dilakukan oleh santri putri di Pondok Pesantren Daar al-Furqon di Desa Janggalan, Kudus. Para santri putri ini membaca beberapa surah yang dinilai memiliki manfaat baik bagi dirinya, sekaligus pesantren yang jadi lokasi mukim mereka. Pembacaan rutin ini ditunaikan setiap hari, dengan pemilihan waktu setelah salat fardu. Waktu yang dinilai mustajab untuk memunajatkan doa dengan lantaran kalam dari kitab suci Alquran.

Baca Juga: Living Quran; Melihat Kembali Relasi Al Quran dengan Pembacanya

Sketsa Kecil Pesantren Dar al-Furqon

Pondok Pesantren Daar al-Furqon sendiri berdiri pada 1984 dibawah asuhan K.H.S Abdul Qadir bin Umar Basyir. Secara sanad keilmuan, K.H.S Abdul Qadir bin Umar Basyir mengenyam pendidikan di Madrasah Tasywiquth Thulab Salafiyyah sebagai modal awal mendalami ilmu dan hafalan Alquran. Selain itu, ia juga tercatat pernah nyantri di Jombang dibawah asuhan KH Dahlan. Setelahnya, kembali lagi ke Kudus dan nyantri dibawah asuhan KH Arwani Amin sebelum memutuskan mendirikan pesantren. Pesantren ini di tahun 2009 diteruskan oleh putranya, KH Abdul Basith bin Abdul Qadir bin Umar Basyir.

Sementara untuk pesantren putrinya, baru berdiri dua dekade setelahnya, tepatnya pada 2005 dengan jarak 100-an meter dari lokasi pondok pesantren pusat. Pesantren putri ini diasuh oleh Nyai Hj. Khoirin Nida (istri KH Abdul Basith). Pada awal pendiriannya, tercatat hanya sejumlah 7 orang yang menjadi santriwati di pesantren putri Daar al-Furqon ini. Kendati demikian, lamat-lamat pesantren putri tersebut terus mengalami perkembangan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas pengajarannya.

Baca Juga: Asal Muasal Amalan Baca Surah Alkausar Tujuh Kali saat Sahur

Ihwal Kitab Kanzu al-Nafais

Siti Fauziyah dalam artikelnya Pembacaan Alquran Surat-Surat Pilihan di Pondok Pesantren Putri Daar al-Furqon Janggalan Kudus (Studi Living Quran) (2014) mencatat, ada lima surah yang rutin diamal-tunaikan oleh para santri putri. Kelima surah tersebut dirangkum di kitab Kanzu al-Nafais bersamaan dengan bacaan wirid, doa-doa, dan amalan lainnya.

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi produksi kitab Kanzu al-Nafais ini. Pertama, sebagai pegangan bagi para santri dalam belajar membaca Alquran. Dengan membaca surah-surah pilihan di kitab tersebut dengan saksama, maka lamat-lamat bacaan para santri akan lebih lancar. Nyai Hj. Khoirin Nida menilai bahwa masih ada santri putri yang belum lancar membaca Alquran. Jika membacanya saja masih kurang lancar, maka santri tersebut akan kesulitan dalam mengahafalkannya, terlebih memahami kedalaman makna yang ada di dalam Alquran.

Kedua, kitab ini disusun dari lima surah yang dinilai oleh Nyai Hj. Khoirin Nida memiliki keutamaan tertentu ketika dibaca. Lima surah tersebut antara lain; Surah Yasin dibaca setelah menunaikan salat mahgrib, Surah al-Mulk setelah salat isya’, Surah al-Waqiah ba’da salat subuh, Surah ad-Dukhan usai merampungkan salat dhuhur, dan Surah ar-Rahman di waktu salat ashar.

Ketiga, sebagai bentuk pengejawantahan rasa taat kepada para kyai yang dulu pernah mengajari Ny Hj. Khoirin Nida ilmu-ilmu Alquran seperti ketika nyantri di Pondok Pesantren Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta. Nyai Hj. Khoirin Nida memang pernah tercatat menjadi santri selama 4 tahun di pondok pesantren tersebut.

Laku semacam pengamalan atas surah-surah pilihan atau ayat tertentu dari Alquran memang lumrah kita jumpai di negeri ini. Tentu saja, pengamalan itu bentuknya bermacam-macam, selain memang tujuannya juga beragam. Tapi saya rasa, hal tersebut malah menjadi satu wujud pembuktian bagi mereka yang emoh atau benci khususnya pada kebenaran Alquran.

Mengutip ucapan KH Bahauddin Nursalim, “Alquran sebagai mukjizat itu penting. Karena mereka yang tidak menggunakan akalnya, hanya akan menuntut Alquran itu bisa apa, bisa apa. Kalau ada yang mengamalkan rutin demi tujuan tertentu, misalnya ingin kebal dan berhasil, nah itu buktinya.” Kurang lebih demikian.

Isyarat Tanggung Jawab Sosial dalam Alquran (1): Makna Al-‘Alaq

0
Isyarat Tanggung Jawab Sosial dalam Alquran (1): Mengulik Makna Al-‘Alaq
Surah Al-'Alaq

Selama ini kata al-‘alaq pada umumnya dimaknai dengan segumpal darah. Keumuman makna al-‘alaq ini tidak terlepas dari unsur kebahasaan yang melekat padanya. Akan tetapi, sesungguhnya kata al-‘alaq memiliki cakupan makna yang lebih luas dari sekadar hanya segumpal darah. Dikutip dari Tafsir al-Misbah karya Quraish Shihab, kata al-‘alaq sesungguhnya tersirat akan tanggung jawab sosial. Perhatikan Q.S. Al-‘Alaq [96]: 2 berikut:

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ

Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. (Q.S. al-‘Alaq [96]: 2)

Menurut Quraish Shihab, ayat tersebut memiliki titik tekan pada proses kejadian penciptaan manusia. Alquran, lanjut Shihab, mengkalamkan kejadian manusia sangat komprehensif meliputi banyak aspek, baik vertikal maupun horizontal, ritual-sosial maupun muamalah. Bahkan, Alquran telah menuturkan sedemikian rupa potensi manusia yang luar biasa, semisal intelektual, kekuatan hati, kekuatan pikiran, sampai potensi jasadiyah manusia di antaranya sifat tergesa-gesa (Jawa: kesusu, grusa-grusu), tidak enakan (Jawa: sungkan, pekewuh), sifat lemah, merasa jumawa, dan sebagainya.

Baca juga: Empat Falsafah Pendidikan Islam dalam Q.S. Al’alaq: 1-5

Beberapa hal tersebut dapat mengantarkan seseorang untuk menangkap kesan bahwa ayat ke-2 dari surah Al-‘Alaq ini tidak hanya sekadar membincang terkait reproduksi dan awal mula kejadian manusia saja, melainkan juga berbicara terkait sifat bawaan manusia sebagai makhluk sosial. Pandangan tersebut didasarkan pada analisis kebahasaan terkait makna al-‘alaq. Kata tersebut menurut pakar kebahasaan tidak hanya bermakna tunggal, yakni segumpal darah, melainkan terdapat pemaknaan lainnya, di antaranya darah yang membeku; makhluk yang hitam seperti cacing yang terdapat dalam air; dan sesuatu yang bergantung atau berdempet.

Di lain itu, Allah menyandingkan kata al-insan sebelum kata al-‘alaq. Jika dirunut secara semantik, kata al-insan terambil dari kata uns, yaitu senang, jinak, dan harmonis; atau dari kata nisya yang berarti lupa. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata naus, yakni gerak atau dinamika. Makna-makna di atas, kata Shihab, setidaknaya memberikan gambaran umum (overview) tentang potensi atau sifat makhluk tersebut, yakni bahwa ia memiliki sifat lupa dan kemampuan bergerak yang melahirkan dinamika. Ia juga adalah makhluk yang selalu atau sewajarnya melahirkan rasa senang, harmonisme, dan kebahagiaan kepada pihak-pihak lain.

Baca juga: Kisah Khadijah dan Pembacaan Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir atas Q.S. Al-‘Alaq: 1-5

Manusia adalah makhluk pertama yang disebut Allah dalam Alquran melalui wahyu pertama. Bukan saja karena ia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, dan alam raya ini diciptakan dan ditundukkan Allah demi kepentingan manusia itu sendiri, tetapi juga karena kitab suci Alquran ditujukan kepada manusia guna menjadi pelita kehidupannya. Salah satu cara yang ditempuh oleh Alquran untuk mengantar manusia menghayati petunjuk-petunjuk Allah adalah dengan memperkenalkan jati dirinya antara lain melalui uraian proses kejadiannya. Ayat kedua surah Iqra’ menguraikan secara sangat singkat hal tersebut.

Lebih jauh, bisa juga kata ‘alaq, menurut Shihab, dipahami sebagai berbicara tentang sifat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tetapi selalu bergantung kepada selainnya. Hal ini serupa dengan firman Allah “khuliqa al-insanu min ‘ajalyang artinya manusia diciptakan (bersifat tergesa-gesa) (Q.S. Al-Anbiya [21]: 37).

Baca juga: Mengenal Tiga Istilah Manusia dalam Alquran: Nas, Insan, dan Basyar

Dari analisis kebahasaan tersebut, menurut hemat Shihab, dapat disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah Swt. dengan memiliki sifat dependensial (ketergantungan) kepada pihak lain hingga akhir perjalanan hidupnya, bahkan melampaui hidupnya di dunia ini. Sebagai zoon politicon (makhluk sosial), mau tidak mau manusia berada dalam keadaan interdependensi. Artinya, manusia tidak bisa memenuhi semua kebutuhannya secara mandiri tanpa bantuan pihak lain.

Kesan tersebut jelas tidak akan didapatkan apabila kata ‘alaq dipertukarkan dengan kata turab (tanah), misalnya, atau yang lainnya. Kata ‘alaq juga dimaknai sebagai salah satu periode kejadian manusia yang mengantarkan manusia kepada asal mula kejadiannya yang pada akhirnya ia menyadari bahwa dirinya bukanlah satu-satunya makhluk tunggal yang ada di dunia ini. Implikasinya, ia menyadari bahwa ia hidup di tengah lingkungan sosial yang saling membutuhkan. Wallahu a’lam.

Manuskrip Alquran dari Daun Lontar di Museum Gusjigang Kudus

0
Manuskrip Alquran dari Daun Lontar di Museum Gusjigang Kudus
Manuskrip Alquran dari Daun Lontar di Museum Gusjigang Kudus

Sejarah media penulisan di Indonesia mempunyai corak yang beraneka ragam. Seperti penulisan aksara pada batu, kayu, kulit sapi hingga daun lontar.  Daun lontar adalah daun tal atau siwalan (Borossus Flabellifer Polmyra), daun ini termasuk salah satu daun yang bisa digunakan sebagai media untuk tempat menulis. Daun lontar yang dikeringkan bisa dimanfaatkan sebagai karya kerajinan atau pun bahan naskah.

Jauh sebelum mengenal kertas, orang terdahulu sudah terbiasa menulis di daun lontar seperti menulis suluh, manuskrip, sastra yang biasa digunakan untuk prasi, atau tulisan yang disertai dengan narasi. Pada zaman dahulu daun lontar digunakan untuk menulis sejarah kehidupan seperti pelantikan, perjanjian, dan peristiwa penting lainnya pada masa kerajaan. Daun lontar di Nusantara banyak ditemukan dari wilayah Jawa, Sunda, Bali, Madura, Lombok, dan Sulawesi Selatan.

Baca Juga: Manuskrip Alquran dari Kulit Sapi di Museum Gusjigang Kudus

Proses Penulisan Manuskrip Mushaf Alquran dari Daun Lontar

Daun lontar dipilih sebagai tempat untuk menulis naskah manuskrip karena bentuk daunnya yang awet dan tidak mudah rusak. Manuskrip Alquran dari daun lontar terbilang unik dan langka karena jumlahnya yang tidak banyak di Indonesia. Terdapat rangkaian proses pengolahan daun lontar sebelum dijadikan tempat untuk menulis.

Pertama, daun lontar yang sudah dipetik dikeringkan dengan menggunakan panas matahari dengan tujuan merubah warna daun yang asal mulanya hijau menjadi kuning, kemudian daun lontar direndam didalam air yang mengalir selama beberapa hari dan dibersihkan dengan menggunakan serabut kelapa serta dijemur di bawah sinar matahari kembali.

Setelah kering, daun-daun tersebut direbus untuk kedua kalinya dengan menggunakan air rempah agar terhindar dari sisa kotoran dan memastikan struktur daun supaya tetap bagus. Selanjutnya, untuk tahap penulisan dilakukan secara teliti di atas daun lontar kering dengan menggunakan alat pengutik. Semacam alat khusus logam jarum yang dipanaskan. Pada zaman dahulu alat ini juga dipakai secara tradisional untuk menorehkan tulisan aksara jawa kawi.

Baca Juga: Manuskrip Alquran dari Kertas Kuno di Museum Gusjigang Kudus

Karakteristik Manuskrip Mushaf Alquran Dari Daun Lontar di Museum Gusjigang

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, manuskrip mushaf Alquran dari daun lontar diperkirakan berumur 3 abad atau 300 tahun. Manuskrip ini dalam kondisi terawat karena masih utuh terdiri atas 30 juz dan dengan sampul halaman yang terbuat dari pelepah batang pohon lontar serta masih terlihat bagus hingga sekarang.

Disalin di atas daun lontar, pada satu halamannya terdiri dari 17 daun lontar, yang mana pada satu lontar terdiri dari 3 baris. Sehingga, 3×17= 51. Jadi, dalam naskah mushaf Alquran daun lontar terdiri dari 51 baris pada setiap halamannya. Ukuran daun lontar itu sendiri sekitar 3,5 x 30 cm. Manuskrip Alquran daun lontar ini disatukan menggunakan benang wol membentuk garis vertikal ditengahnya serta dilapisi dengan kain supaya kokoh dan rapi menyerupai bentuk buku. Manuskrip mushaf ini tidak memiliki syakl atau tanda baca sebagaimana mushaf-mushaf yang lainnya.

Baca Juga: Manuskrip Mushaf Al-Quran dari Daun Lontar: Koleksi Kiai Abdurrachim asal Grobogan, Jawa Tengah

Berdasarkan sumber yang kami dapatkan dari pihak pengelola museum Gusjigang, bahwa manuskrip mushaf Alquran dari daun lontar ini awal mulanya dibuat atas imbauan kyai kepada santri-santrinya untuk menulis Alquran ketika akan lulus dari pendidikan pondok pesantren. Jadi semacam tugas akhir para santri sebelum haflah. Manuskrip mushaf ini didapatkan dari kolektor asal Salatiga. Kepemilikan manuskrip mushaf tersebut ternyata sudah mencapai tujuh turunan hingga pada akhirnya dipegang oleh Bapak Panji Hanief Gumilang yang awalnya terdapat di rumah Museum Java Mooi Heritage Salatiga, kini sudah bisa dijumpai di Museum Jenang dan Wisata Edukasi Gusjigang Kudus.

Pesan-Pesan Alquran dalam Kisah Hatim al-Asham

0
Pesan-pesan Alquran dalam kisah Hatim al-Asham
Pesan-pesan Alquran dalam kisah Hatim al-Asham

Diriwayatkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad tentang kisah Hatim al-Asham, tepatnya tentang delapan ilmu yang dengannya sudah cukup untuk menjadi bekal dalam menjalani kehidupan. Beliau merupakan salah satu murid dari Syaqiq al-Bakhli. Pada suatu hari beliau ditanya oleh gurunya tentang ilmu yang diperolehnya. “ Wahai anakku, setelah kau berguru kepadaku selama tiga puluh tahun, ilmu apa saja yang kau peroleh selama ini?” Demikian tanya sang guru. Hatim al-Asham menjawab, “Ada delapan hal.”

Mendengar jawaban muridnya itu, Syaqiq al-Bakhli kaget, “Ku habiskan waktuku bersamamu dan kau hanya mendapatkan delapan macam ilmu?” Sang-murid itu langsung menjelaskan bahwa beliau memang hanya mendapat delapan pelajaran, namun menurutnya, hal itu sangat berharga dan sudah mencukupi kebutuhanya serta dapat menjadi jalan keselamatannya. Delapan intisari ilmu yang berharga itu sebagai berikut.

Baca Juga: Tiga Aspek dalam Kandungan Ayat Alquran

  1. Menjadikan amal saleh sebagai kawan sejati

Setiap manusia pasti memiliki kecintaan terhadap sesuatu. Hal yang paling utama untuk dicintai oleh seseorang adalah kawan yang dapat menyertainya di dalam kubur. Hatim al-Asham berkomentar tentang hal ini, “Aku tidak mendapati hal itu selain pada amal saleh. Maka aku menjadikan amal saleh sebagai kawan yang paling aku cintai dan gandrungi, supaya dia menjadi cahaya penerang di dalam kuburku, pendamping yang menemaniku dan tidak meninggalkanku sendirian di sana.”

Komentar Hatim senada dengan hadis Nabi yang menyatakan bahwa tiga hal yang akan menyertai orang yang meninggal, dua hal akan kembali meninggalkan janazah lagi, yaitu keluarga dan hartanya, sedangkan yang satu tetap bertahan bersama orang yang meninggal, yaitu amal saleh. (HR Bukhari dari Anas Ibn Malik).

Ibnu Katsir dalam tafsirnya juga menjelaskan tentang keutamaan amal saleh, tepatnya ketika menafsirkan surah Al-Mu’minun ayat 100. Beliau mengilustrasikan hal tersebut dengan ulasan bahwa seorang hamba pasti akan merasa menyesal di saat meregang nyawanya. Dia meminta agar usianya diperpanjang sekali pun sebentar, hanya untuk bisa berbuat baik, karena pada saat itu, dia baru sadar bahwa hanya amal saleh yang bisa menjadi teman yang memberikan kebahagiaan di alam kuburnya.

2. Menyelisihi dan menundukkan hawa nafsu

Terkait hal ini, al-Asham mengutip sekaligus merenungi ayat 40-41 surah an-Naziat “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.”

Menurut Al-Asham, seseorang yang takut kepada Allah, harusnya dia juga menuruti semua perkataanNya, termasuk dalam menyelisihi dan melawan keinginan nafsunya. Hawa nafsu sejatinya bisa dibiasakan, seperti halnya membiasakan berbuat baik, awalnya pasti sulit dan berat, namun jika ia sungguh-sungguh dan berusaha, maka hawa nafsunya akan terbiasa dan tunduk dalam ketaatan kepada Allah.

3. Tabungan amal untuk akhirat

Pelajaran ketiga yang diperoleh oleh Hatim al-Asham yaitu beliau peroleh dari kandungan surah an-Nahl ayat 96. “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. an-Nahl [16]: 96)

Berdasar pada ayat tersebut, seharusnya manusia mendermakan kenikmatan dunia untuk mencari rida Allah semata. Hatim al-Asham terkenal sebagai orang yang sangat dermawan, beliau membagi-bagikan hartanya kepada orang-orang miskin. Hal ini dilakukannya untuk menjadi tabungan pahala di sisi Allah.

Baca Juga: Memaknai Kandungan al-Quran dan Perintah Iqra’

4. Ketakwaan sebagai satu-satunya kemuliaan

Jika sebagian orang mengira bahwa kemuliaan dan kehormatan terletak pada banyaknya pendukung, berlimpahnya harta dan jabatan. Hatim al-Asham justru tidak meyakini hal tersebut, kemuliaan itu terletak pada ketakwaan seseorang. Sebagaimana firman Allah, “…Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa ” (QS. al-Hujurat [49]: 13)

5. Rida atas rezeki yang Allah berikan

Al-Asham melihat sebagian manusia mencela sebagian lainnya. Sebagian manusia menggunjing sebagian lainnya. Pangkal dari semua itu tidak lain adalah iri dengki dalam urusan harta, jabatan dan ilmu. Lalu ia merenungkan firman Allah, surah az-Zukhruf ayat 32, “…Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia…”

Kita telah mengetahui bahwa setiap manusia sudah mempunyai bagiannya masing-masing, mulai dari rezeki dan nasib mereka. Semua telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman azali. Oleh karenanya jangan pernah merasa iri kepada siapapun dan kita harus ridha dengan pembagian jatah dariNya.

6. Satu-satunya musuh adalah setan

Pelajaran keenam ini berdasar pada surah Fatir [35] ayat 6, “Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”

Kita menyaksikan betapa banyak manusia satu sama lain saling menzalimi, saling bertikai, itu karena mereka menganggap orang lain sebagai musuh. Padahal manusia adalah saudara yang satu dengan yang lain (ukhwah basyariyah), sebagaimana Hatim al-Asham yang merenungkan firman Allah di atas, bahwa sejatinya yang patut dimusuhi oleh manusia adalah setan, karena ia mengajak kepada jalan kemungkaran.

Baca Juga: Makna Ihsan dalam Alquran

7. Tekun ibadah dan tidak tamak terhadap dunia

Hatim al-Asham berkata, “Aku melihat setiap orang bekerja keras, membanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup, sampai-sampai terjatuh dalam perkara syubhat dan haram, menghinakan dirinya dan merendahkan harga dirinya. Maka aku merenungkan firman Allah, “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya..”(QS. Hud [11]: 6)

Kita pun sadar bahwa rezeki berada di tangan Allah dan Dia telah menjaminnya. Oleh karena itu tidak sepantasnya kita mengharap kepada manusia dan jauh dari harapan kepada Allah.

8. Bersandar kepada Allah semata

Pelajaran terakhir dari Hatim al-Asham, beliau melihat setiap orang bersandar kepada harta, pangkat, dan makhluk-makhluk Allah yang lain. Padahal dalam al-Quran jelas-jelas disebutkan bahwa jika seorang hamba berserah diri kepada Allah semata, maka Dia-lah yang mencukupi segala kebutuhannya dan Allah adalah sebaik-baik tempat bersandarnya manusia yang lemah.

Sebagaimana firmanNya, “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusanNya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. at-Talaq [65]: 3)

Wallah a’lam.

Antara Kajian Ilmu Alquran Klasik dan Hermeneutika

0
kajian ilmu Alquran klasik dan hermeneutika Alquran
kajian ilmu Alquran klasik dan hermeneutika Alquran

Mendesaknya kebutuhan akan penggunaan alat baru dalam menafsirkan Alquran di era ini bukanlah sebuah omong kosong belaka. Oleh beberapa tokoh seperti Hasan Hanafi, Arkoun, dan Nashr Hamid Abu Zaid, hermeneutika Alquran dianggap dapat memenuhi kebutuhan mendesak tersebut -setidaknya untuk sementara waktu sampai ditemukan instrumen penafsiran lain yang dianggap lebih baik.

Keunggulan hermeneutika bukan terletak pada komponen di dalamnya. Sebagaimana disebutkan oleh Fahruddin Faiz, komponen teks, konteks, dan kontekstual yang terdapat dalam hermeneutika pada dasarnya sudah dipraktikkan sejak lama oleh mufasir dan pemikir muslim dalam kajian ulûm al-Qur’ân klasik maupun tafsir, hanya keberadaannya tidak ditemukan dalam bentuk definisi yang baku, melainkan dalam bentuk kesadaran. Kesadaran akan pentingnya konteks dapat dirasakan dari kajian yang berkaitan dengan asbâb al-nuzûl, makki madani, dan nâsikh-mansûkh.

Begitu pun dengan kesadaran kontekstualisasi juga ditemukan dalam karya-karya mufasir modern, seperti Muhammad Abduh dalam Tafsir al-Manar yang bercorak sastra dan sosial kemasyarakatan, dan Thanthawi Jawhari dengan Tafsîr al-Jawâhir-nya yang sarat akan muatan-muatan ilmiah.

Baca Juga: Hermeneutika dan Kontribusinya dalam Menafsirkan Al-Qur’an

Mengapa perlu hermeneutika?

Jika demikian, mengapa urgensi penggunaan hermeneutika tetap diperlukan meski substansinya juga terdapat dalam ulûm al-Qur’ân dan tafsir? Hal ini dikarenakan selama ini komponen teks, konteks, dan kontekstual diterapkan secara terpisah. Kesadaran akan konteks ayat hanya akan membawa seseorang ke ‘masa lalu’, ke masa di mana sebuah teks dilahirkan, apa tujuan ‘pengarang’-nya dan seperti apa pemaknaan para pembaca teks yang menjadi audiens pertama teks.

Pemaknaan yang berhenti di tahap ini akan membawa pembaca kepada masa lalu dan terjebak dalam keterasingan dari aspek ruang dan waktu di mana dia hidup saat ini. Dalam tahap ini, tidak ada pemaknaan baru yang diperoleh dan diterapkan. Pemaknaan yang dihasilkan merupakan reproduksi pemaknaan lama yang dibawa ke masa sekarang. (Hermeneutika Alquran: Tema-tema Kontroversial, 20-21). Oleh Andrew Rippin, pemaknaan seperti ini tidak lebih dari satu mata rantai dalam rantaian historis respon pembaca Alquran. (dalam catatan @studitafsir)

Begitu pun halnya dengan kesadaran kontekstualisasi yang mengabaikan konteks ayat akan menghasilkan pemahaman Alquran yang tercabut dari akar konteks di masa lalu dan berpotensi keluar dari maksud dan spirit teks yang sebenarnya.

Sebagai penjelas, Fahruddin Faiz menyebutkan penafsiran Muhammad Abduh memang kental akan nuansa kontekstualisasinya, namun dalam beberapa hal malah mengabaikan konteks ayat (Hermeneutika Alquran: Tema-tema Kontroversial, 22).

Hal yang serupa dapat dijumpai dari penafsiran Thanthawi Jawhari mengenai rahasia kimia yang tersembunyi di dalam huruf-huruf muqatha’âh. Al-Dzahabi menilai penafsiran ilmiah seperti yang dilakukan oleh Thantawi sangat berlebihan dan cenderung memaksakan keterkaitan antara ayat dengan ilmu kimia (Al-Dakhil dalam Tafsir Ilmi (Kajian Kritik Husein Al-Dzahabi atas Kitab Al-Jawahir Fi Tafsir Alquran, Tajdid (21), 2, 2022, 239).

Pada celah ketimpangan penggunaan ketiga komponen itulah hermeneutika mengambil perannya. Oleh karena itu, harus ada hubungan dialektis antara teks, konteks, dan kontekstual agar pemaknaan Alquran yang dihasilkan benar-benar dapat direalisasikan di masa sekarang dengan tetap memperhatikan konteks masa lalu  ketika Alquran diturunkan.

Komponen konteks diperlukan agar pemaknaan yang dihasilkan tetap berada pada jalur ajaran keimanan yang sama sejak era Alquran diturunkan hingga saat ini. Dalam rangka membuktikan kebenaran adagium Alquran Shalih Li Kulli Zaman wa Makan, komponen kontekstualusasi dalam hermeneutika kiranya dapat menjawab kegelisahan Kuntowijoyo terhadap keraguan sebagian umat Islam tentang kesanggupan teks Alquran yang berasal dari abad ke-7 menjadi ilmu modern (Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi, dan Etika, 27).

Baca Juga: Perbandingan Hermeneutika dan Ilmu Tafsir menurut Nashruddin Baidan

Meski demikian, perlu digarisbawahi bahwa ada beberapa hal yang masih relevan hingga sekarang walau tidak melewati upaya kontekstualisasi, seperti salat, zakat, dan beberapa hal lainnya yang penerapannya bersifat vertikal-ritual dalam bentuk peribadatan formal. (Hermeneutika Alquran: Tema-tema Kontroversial, 21).

Penafsiran Alquran merupakan aktivitas dinamis yang banyak melahirkan produk pemahaman yang dikemas dalam karya-karya tafsir. Idealnya, produk tafsir yang dihasilkan tidak hanya terjebak dan berhenti pada bunyi teks ataupun konteks masa lalunya, namun juga berimplikasi pada kehidupan saat ini. Untuk mewujudkan harapan tersebut, maka hermeneutika dapat dijadikan sebagai solusi alternatif. Wallâhu A’lam.