Beranda blog Halaman 156

Rahasia Penggandengan Lafaz Salat dan Zakat dalam Alquran

0
penggandengan lafaz salat dan zakat dalam Alquran
penggandengan lafaz salat dan zakat dalam Alquran

Ada dua dari lima rukun Islam yang sering disebut bersamaan dan bergandengan dalam Alquran, yaitu salat dan zakat. Setidaknya ada 26 ayat yang menunjukkan tradisi Alquran tersebut. Penggandengan lafaz salat dan zakat dalam Alquran yang dapat dibilang tidak sedikit itu kemudian dicoba diulik rahasia dan maknanya oleh para mufasir, ada apakah gerangan? Apakah ada maksud tertentu?

Lafaz Salat dan Zakat dalam Alquran

Menurut Arfando dalam bukunya, Misteri Angka Dibalik Alquran (hal. 216), lafaz salat disebutkan sebanyak 76 kali. Lafaz salat ini memiliki banyak makna, tergantung konteks dari ayat tersebut. Menurut Ahmad Sarwat dalam Al Wujuh wa An Nazhair (h. 16-19), lafaz salat dapat bermakna sebagai salat lima waktu, salat Jumat, salat jenazah, keberkahan dan rahmat, memintakan ampun, membaca salawat, mendoakan dan membaca Alquran.

Adapun lafaz zakat disebutkan sebanyak 31 kali (Misteri Angka Dibalik Alquranh/hal. 216). Makna zakat di dalam Alquran secara umum menurut Al ‘Aini dalam kitabnya Umdatul Qari (13/hal. 180) bermakna membersihkan diri, sehingga orang yang menunaikan ibadah zakat akan bersih diri dan hartanya. Dalam kitab Aunul Ma’bud (2/hal. 73) disebutkan bahwa zakat dapat bermakna anumuw yang berarti mengamankan pelakunya dari kotoran dan bujukan setan.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 43: Dalil Kewajiban Zakat

Penggandengan Lafaz Salat dan Zakat dalam Alquran

Di dalam Alquran terdapat penyebutan lafaz salat dan zakat secara bergandengan. Menurut Fu’ad Abdul Baqi dalam Mu’jam Al Mufahras li Alfazh Alquran, lafaz salat tidak pernah mendahului lafaz zakat.  Setidaknya ada 26 tempat yang menyebutkan lafaz salat dan zakat secara bergandengan (Misteri Angka Dibalik Alquran/hal. 216). Salah satunya ialah sebagai berikut:

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ ۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Artinya: Dan laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al Baqarah [2]: 110)

Adanya penggandengan lafaz salat dan zakat dalam Alquran memiliki makna bahwa kedua ibadah ini memiliki hubungan yang sangat erat. Di dalam Tafsir Al Munir (1/hal. 115) karya Wahbah Zuhaili menyatakan bahwa hubungan kedua ibadah ini terletak pada fungsinya, yakni ibadah yang sama-sama dilakukan dalam rangka bersyukur kepada Allah Swt. Jika salat merupakan ibadah fisik yang dapat menyucikan jiwa, maka zakat merupakan ibadah sosial yang dapat menyucikan harta. Beliau juga menambahkan bahwa yang dimaksud dengan salat dan zakat dalam penggandengan ini adalah salat fardu dan zakat wajib yang diperintahkan kepada manusia.

Adapun menurut Abdurrahman Qadir dalam bukunya Zakat dalam Dimensi Mahdhah dan Sosial (hal. 43) menyebutkan bahwa kedua ibadah ini merupakan perwujudan dari konsekuensi manusia sebagai hamba. Jika ibadah salat adalah ibadah yang langsung berhubungan dengan Tuhan, maka ibadah zakat adalah ibadah yang berhubungan dengan manusia, sehingga secara tersirat Alquran menginginkan hamba-Nya memiliki ketaatan yang komprehensif. Selain punya hubungan baik dengan Allah Swt. manusia juga dituntut untuk memiliki hubungan baik kepada manusia lainnya.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Isra Ayat 78: Matahari sebagai Petunjuk Waktu Salat

Dalam buku Masail Fiqhiyah Zakat, Pajak, Asuransi dan Lembaga Keuangan (hal. 4) karangan M. Ali Hasan dinyatakan bahwa kedua ibadah ini, yakni salat dan zakat merupakan ibadah yang sangat menentukan arah hidup manusia setelah ia mengucap dua kalimat syahadat. Sebagai manusia yang berstatus hamba sekaligus bersosial, maka kedua ibadah ini harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Itulah mengapa saat Abu Bakar Ash Shiddiq menjadi khalifah, ia sangat bertekad untuk memerangi orang yang menunaikan salat tetapi enggan untuk berzakat. Sebab, ibadah vertikal yang ditujukan kepada Allah Swt. masih kurang sempurna tanpa adanya ibadah horizontal yang dapat memperkuat sendi-sendi sosial (Yusuf Qardhawi, Fikih Al Zakah)

Dalam penggandengan kedua lafaz tersebut, terlihat bahwa perintah zakat selalu terletak setelah perintah salat. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi Ketuhanan harus selalu diutamakan dan diikutsertakan dalam suatu hal apapun, termasuk yang menyangkut hubungan sosial. Dengan kata lain, hubungan kepada Allah Swt. merupakan aspek utama yang dapat mengantarkan seseorang pada kebaikan-kebaikan sosial. (Syaiful Anwar, Mukjizat Alquran: Studi Penggandengan Kata Salat dan Zakat dalam Alquran/ hal. 63)

Dari beberapa referensi di atas, maka dapat dilihat bahwa penggandengan lafaz salat dan zakat merupakan isyarat kepada manusia untuk bersifat moderat, tidak terlalu materialis dan juga tidak terlalu spiritualis, melainkan lurus dan berimbang. Manusia yang sudah menjalankan kewajiban vertikal kepada Allah Swt. tentu tidak akan melupakan kewajiban sosial, sehingga dengan penggandengan lafaz salat dan zakat ini, umat Islam diharapkan akan tampil sebagai manusia yang cakap dalam peribadatan secara personal sekaligus cakap dalam peribadatan secara sosial. Wallahu a’lam.

Tradisi Hafalan Alquran di Indonesia

0
Hafalan Alquran
Hafalan Alquran

Ketika berbicara mengenai tradisi, maka pembahasan tidak terlepas dari bagaimana awal mula kemunculan sebuah tradisi, dan bagaimana perkembangan serta dinamikanya. Masyhur diketahui bahwa seseorang yang membawa dan memulai tradisi hafalan Alquran di Indonesia yang tersistematisasi dalam sebuah lembaga pendidikan adalah KH. M. Munawwir Krapyak.

Dalam buku Para Penjaga Al-Quran: Biografi para Penghafal Al-Quran di Nusantara disebutkan bahwa meskipun beliau bukan seseorang yang pertama kali mendirikan pondok pesantren tahfiz Alquran di Indonesia, namun rupa-rupanya metode tahfiz yang ditradisikan Kiai Munawwir dalam pesantren yang didirikannya, dijadikan rujukan oleh hampir seluruh pondok pesantren tahfiz Alquran yang muncul belakangan (Sohib dan Surur, 2011). Kemasyhuran tradisi tahfiz Alquran dalam pondok pesantren semakin menguat seiring dengan didirikannya pondok pesantren tahfiz Alquran oleh murid-murid Kyai Munawwir.

Seiring dengan berjalannya masa dan kurun waktu, tradisi tahfiz Alquran di Indonesia yang dulunya berawal atau muncul dari pesantren, berkembang dan bertransformasi menjadi tradisi hafalan Alquran dalam rumah tahfiz hingga tahfiz virtual. Perbedaan yang cukup mendasar antara tradisi tahfiz di pesantren dengan tradisi tahfiz di rumah tahfiz adalah peran dan hubungan antara guru dan murid.

Baca Juga: Dinamika Perkembangan Tafsir Indonesia: Dari Masuknya Islam hingga Era Kolonialisme

Menurut Martin van Bruinessen, peran Kiai di pesantren tidak hanya sebatas guru dari murid-murid yang diajarinya (Martin Van Bruinessen, 1994). Namun juga penjalan kebijakan, membina, mendidik, mengayomi, mengasuh, memberikan tauladan, hingga menjadi kepercayaan bagi para santri, bahkan kalangan masyarakat setempat. Peran kiai di pesantren tahfiz tampak sentral dan kompleks, mungkin ini yang menjadikan santri begitu memuliakan kiai sebagai sosok murabbi yang tidak hanya mendampingi yang sifatnya akademis, namun juga perihal adab-spiritual.

Berbeda dengan tradisi tahfiz di rumah tahfiz yang peran guru atau ustaz sebatas menjadi membimbing hafalan Alquran (Khaeriyah, 2019). Bukan sebagai pemangku kebijakan, sekaligus mendidik dan mengayomi santri tahfiz sebagaimana yang diperankan oleh Kiai di pesantren tahfiz yang diasuhnya. Sebagaimana yang sudah disebutkan, bahwa tradisi tahfiz Alquran berkembang hingga tahfiz virtual. Tahfiz virtual (tahfiz online) merupakan salah satu program unggulan Yayasan Indonesia Berkah, yang pelaksanaannya tidak dengan tatap muka secara langsung antara guru dan murid, tetapi melalui perantara media sosial (whatsapp) (Wajdi, dkk., 2020). Transformasi tradisi tahfiz tradisonal menjadi tahfiz virtual ini tentunya mengubah sistem tahfiz tradisional yang mengharuskan bertemunya guru dan murid, tetapi justru tahfiz virtual tidak melakukan hal demikian.

Adapun dilihat dari segi etnografi, menurut Ali Romdhoni, tradisi tahfiz Alquran dapat diklasifikasikan menjadi tiga macam. Pertama, tradisi tahfiz Alquran yang orientasinya murni untuk ibadah. Dalam hal ini yang dimaksud adalah menghafal Alquran sebagai tujuan (ibadah), bukan sebagai wasilah untuk mencapai sesuatu yang lain. Kedua, tahfiz Alquran untuk kajian keislaman. Ali menjelaskan bahwa penghafal Alquran yang masuk dalam klasifikasi ini menjadikan hafalannya sebagai proses untuk memperoleh pemahaman wahyu ilahi dengan nalar kritis, mengkaji dengan perangkat-perangkat metodologi untuk memahami ayat-ayat dalam Alquran.

Baca Juga: Sejarah dan Dinamika Tradisi Kelisanan Al-Qur’an dari Masa ke Masa

Ketiga, tahfiz Alquran untuk memelihara kemurnian Alquran (Romdhoni, 2015). Jika hanya melihat pada tiga klasifikasi yang telah dipaparkan, tentu ada beberapa yang terlewat. Misalnya adalah tradisi tahfiz di Indonesia yang dijadikan sebagai syiar agama Islam, selain itu juga dijadikan sebagai kompetisi dalam sebuah kejuaraan.

Tradisi tahfiz dijadikan sebagai syiar agama Islam dapat ditemukan di majlis-majlis sima’an Alquran, baik yang skalanya lokal, hingga nasional. Tidak hanya sekedar kegiatan syiar Islam, bahkan majlis tersebut hingga dilembagakan seperti Jantiko Mantab, Jami’iyatul Qurra’ wal Huffad, dan lain-lain. Biasanya pelaksanaan sima’an Alquran dibacakan oleh para hafiz secara bergantian, disimak hingga khatam oleh para mustami’in, dan dilanjutkan dengan doa khotmil qur’an.

Adapun tradisi tahfiz dijadikan sebagai kompetisi, dapat ditemukan dalam perlombaan MHQ (Musabaqah Hifdzil Qur’an). Di tingkat Indonesia sendiri, MHQ merupakan salah satu cabang dari Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) sebagaimana yang diputuskan oleh Departemen Agama RI dengan memasukkan MHQ pada cabang MTQ tingkat nasional kira-kira tahun 1980 awal. Tidak hanya tahfiz 30 juz yang dikompetisikan, di antara cabang lain yang diperlombakan adalah tahfiz 1 juz, 5 juz, 10 juz, dan 20 juz.

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 70-71

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 70-71 berbicara megenai dua hal. Pertama mengenai kemuliaan bagi orang-orang yang beruntung di akhirat. Kedua mengenai nikmat-nikmat yang berlimpah ruah dii surga.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 68-69


Ayat 70

Kemudian terdengar pula seruan berikutnya, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu dan istri-istrimu ke dalam surga yang telah dijanjikan kepadamu dahulu, bersenang-senang dan bersuka-rialah di dalamnya menikmati karunia Allah yang telah dilimpahkan kepada kamu semua.” Karena Allah memuliakan mereka dengan memasukkan ke dalam surga.

Dalam ayat yang lain, diterangkan bahwa orang-orang yang beriman beserta istri dan anak cucu mereka yang beriman akan ditinggikan derajatnya di dalam surga, seperti derajat bapak-bapak mereka yang mantap dan kuat imannya. Allah berfirman:

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۚ  كُلُّ امْرِئٍ ۢبِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ

Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya. (at-Tµr/52: 21)


Baca juga: Mengenal Imam Mazhab Rasm Bagian 2: Abu Dawud Sulaiman Najah


Ayat 71

Setelah orang-orang yang beriman beserta keluarga mereka masuk surga, datanglah kepada mereka pelayan-pelayan membawa piring-piring emas yang berisi makanan-makanan yang lezat dan piala-piala yang berisi minuman yang menyegarkan jasmani dan rohani.

Di dalam surga itu mereka memperoleh semua yang mereka inginkan, semua yang menyejukkan dan menenteramkan hati mereka, semua yang indah menurut pandangan dan pendengaran mereka.

Tidaklah dapat digambarkan keadaan surga itu sebelumnya, karena semuanya itu belum pernah ada contoh dan bandingannya dalam kehidupan duniawi. Dinyatakan pula bahwa orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan kekal di dalam surga mengecap kenikmatan hidup di dalamnya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 72-73


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 68-69

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 68-69 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai keadaan hari kiamat. Salah satunya adanya kebingungan yang dahsyat. Kedua mengenai hamba-hamba yang terpilih.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 67


Ayat 68

Dalam ayat ini diterangkan pernyataan Allah kepada orang-orang yang beriman, pada waktu terjadi hari Kiamat, yang pada saat itu semua manusia berada dalam kebingungan dan ketakutan.

Allah berkata kepada mereka, “Wahai hamba-hamba-Ku, tidak ada sesuatu pun yang perlu kamu takutkan dan khawatirkan pada hari Kiamat, kamu semua telah menempuh jalan yang lurus selama hidup di dunia dan telah melakukan segala sesuatu karena cintamu kepada-Ku dan karena kamu mencari keridaan-Ku.

Karena itu, pada hari ini, kamu semua berada di bawah perlindungan-Ku dan dalam jaminan keamanan dari-Ku. Wahai hamba-hamba-Ku, janganlah kamu bersedih hati karena berpisah dengan dunia dan janganlah khawatir menghadapi hidup pada masa yang akan datang.

Hendaklah kamu yakin bahwa sejak saat ini, kamu telah lepas dari segala cobaan dan malapetaka yang akan menimpamu, dan pada saat ini pula kamu akan menempati tempat yang paling baik yang tak ada tandingannya, yaitu surga yang mempunyai kenikmatan yang sempurna.”


Baca juga: Etika Bermedia Sosial dalam Pandangan Alquran


Ayat 69

Dalam ayat ini diterangkan tentang hamba-hamba yang diseru Allah pada hari itu, yaitu hamba-hamba yang telah beriman kepada ayat-ayat-Nya, yang jiwanya telah tunduk dan patuh kepada-Nya, yang melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhkan larangan-larangan-Nya.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa al-Mutamir bin Sulaiman dari ayahnya berkata, “Pada waktu terjadinya hari Kiamat, ketika manusia dibangkitkan dari kuburnya, tidak ada seorang pun yang tidak merasa takut dan khawatir serta bingung.

Ketika itu, terdengarlah suara, “Wahai hamba-hamba-Ku, tidak ada yang perlu kamu takuti dan khawatirkan pada hari ini dan janganlah kamu risau hati.” Setelah mendengar itu, semua manusia mengharapkan agar ia termasuk hamba-hamba Allah yang dimaksud dalam seruan itu, terdengar lagi seruan yang kedua, “Wahai orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, yang tunduk dan berserah diri kepada Allah.”

Mendengar seruan itu, maka orang-orang yang beriman bergembira dan hilanglah kesedihan, ketakutan dan kebingungan mereka. Sedangkan orang-orang kafir berputus asa.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 70-71


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 67

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 67 berbiacara mengenai keadaan yang terjadi ketika hari kiamat. Salah satunya adalah hubungan antara orang musyrik dan sesembahannya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 65-66


Ayat 67

Ayat ini menerangkan bahwa pada hari Kiamat, persahabatan dan hubungan akrab antara orang-orang kafir, baik hubungan persahabatan yang terjadi antara mereka maupun hubungan mereka dengan sesembahan yang mereka sembah selain Allah; akan berubah menjadi permusuhan, dan mereka akan saling tuduh satu dengan yang lain.

Seorang teman menuduh temannya yang lain yang menjadi sebab ia masuk neraka dan sengsara pada hari itu, sedangkan berhala-berhala mengingkari penyembahan yang dilakukan penyembah-penyembahnya semasa hidup di dunia karena berhala-berhala itu sebagai benda mati tidak tahu-menahu sedikit pun tentang apa yang telah dilakukan penyembah-penyembahnya semasa hidup di dunia.

Masing-masing berlepas diri dari tuduhan pihak yang lain.

Apa yang disebutkan di atas diungkapkan Nabi Ibrahim kepada kaumnya sebagai berikut:

وَقَالَ اِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْثَانًاۙ مَّوَدَّةَ بَيْنِكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ ثُمَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَّيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۖوَّمَأْوٰىكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَۖ   ٢٥

Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah, hanya untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan di dunia, kemudian pada hari Kiamat sebagian kamu akan saling mengingkari dan saling mengutuk; dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sama sekali tidak ada penolong bagimu.” (al-Ankabut/29: 25)

Rasulullah saw bersabda:

عَنْ عَلِى بْنِ أَبِى طَالِبٍ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ  اَلأَخِلاَّءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلاَّ اْلمُتَّقِيْنَ) قَالَ: خَلِيْلاَنِ مُؤْمِنَانِ وَخَلِيْلاَنِ كَافِرَانِ فَتُوُفِّيَ أَحْدُ الْمُؤْمِنَيْنِ وَبُشِّرَ بِالْجَنَّةِ فَذَكَرَ خَلِيْلَهُ فَيَقُوْلُ: اللَّهُمَّ ﺇنَّ فُلاَناً خَلِيْلِي يَأْمُرُنِي بِطَاعَتِكَ وَطَاعَةِ رَسُوْلِكَ وَيَأْمُرُنِي بِالْخَيْرِ وَيَنْهَانِي عَنِ الشَّرِّ وَيُنَبِّئُنِي أَنِّي مُلاَقِيْكَ. اللَّهُمَّ فَلاَ تُضِلَّهُ بَعْدِي حَتَّى تُرِيَهُ مِثْلَ مَا أَرَيْتَنِي وَتَرْضَى عَنْهُ كَمَا رَضِيْتَ عَنِّي، فَيُقَالُ لَهُ: اِذْهَبْ فَلَوْ تَعْلَمُ مَالَهُ عِنْدِي لَضَحِكْتَ كَثِيْراً وَبَكَيْتَ قَلِيْلاً، قَالَ: ثُمَّ يَمُوْتُ اﻵخَرُ فَتَجْتَمِعُ أَرْوَاحُهُمَا، فَيُقَالُ: لِيُثْنِ أَحَدُكُمَا عَلَى صَاحِبِهِ، فَيَقُوْلُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لِصَاحِبِهِ: نِعْمَ الأَخُ، وَنِعْمَ الصَّاحِبُ، وَنِعْمَ الْخَلِيْلُ، وَاِذَا مَاتَ اَحَدُالْكَافِرِيْنَ وَبُشِّرَ بِالنَّارِ ذَكَرَ خَلِيْلَهُ فَيَقُوْلُ: اَللَّّهُمَّ اِنَّ خَلِيْلِى فُلاَناً كَانَ يَأْمُرُنِى ِبمَعْصِيَتِكَ وَمَعْصِيَةِ رَسُوْلِكَ وَيَأْمُرُنِي بِالشَّرِّ، وَيَنْهَانِى عَنِ الْخَيْرِ ، وَيُخْبِرُنِي أَنِّي غَيْرُ مُلاَقِيْكَ، اللَّهُمَّ فَلاَ تَهْدِهِ بَعْدِي حَتَّى تُرِيَهُ مِثْلَ مَاأَرَيْتَنِي وَتَسْخَطَ عَلَيْهِ كَمَا سَخِطْتَ عَلَيَّ، قَالَ: فَيَمُوْتُ الْكَافِرُ اﻵخَرُ، فَيُجْمَعُ بَيْنَ أَرْوَاحِهِمَا، فَيُقَالُ: لِيُثْنِ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْكُمَا عَلَى صَاحِبِهِ، فَيَقُوْلُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا لِصَاحِبِهِ: بِئْسَ اْلأَخُ، وَبِئْسَ الصَّاحِبُ، وَبِئْسَ الْخَلِيْلُ.(رواه ابن ابي حاتم)

‘Ali bin Abi Talib berkata,”Orang-orang yang berteman (pada waktu di dunia) akan menjadi bermusuhan antara sebagian mereka dengan sebagian yang lain pada hari Kiamat, kecuali orang-orang yang bertakwa.” Ali melanjutkan, “Ada dua orang mukmin yang berteman, dan dua orang kafir yang berteman. Lalu salah seorang dari dua orang mukmin itu meninggal dunia. Ia diberi kabar gembira dengan masuk surga, maka ia teringat temannya.


Baca juga: Mengenal Imam Mazhab Rasm Bagian 2: Abu Dawud Sulaiman Najah


Ia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya si fulan temanku dahulu pernah mengajakku untuk taat kepada-Mu dan rasul-Mu. Ia mengajakku untuk kebaikan, serta melarangku dari keburukan, dan mengabarkan kepadaku bahwa kelak aku akan bertemu dengan-Mu. Oleh karena itu, ya Allah, jangan sesatkan dirinya setelah kepergianku, sampai saat Engkau memperlihatkan (surga)kepadanya, sebagaimana telah Engkau perlihatkan kepadaku, sampai Engkau rida kepadanya sebagaimana Engkau rida kepadaku.” Kemudian dikatakan kepada mukmin tersebut, “Pergilah, seandainya kamu tahu apa yang Aku sediakan baginya disisi-Ku tentulah kamu akan banyak tertawa dan sedikit menangis.”

Ali melanjutkan, “Lalu mukmin yang satu lagi meninggal, sehingga ruh mereka bertemu. Setelah itu, dikatakan kepada mereka, “Hendaklah masing-masing kalian memuji temannya.” Maka masing-masing mereka berkata, “(Engkau)adalah sebaik-baiknya saudara, sahabat, dan teman.”

Dan apabila meninggal dunia satu di antara dua teman yang kafir, maka ia dikabari akan masuk neraka. Lalu ia teringat temannya, maka ia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya si fulan temanku pernah mengajakku untuk durhaka kepada-Mu dan rasul-Mu. Ia mengajakku untuk berbuat jahat dan melarangku berbuat baik, memberitahu kepadaku bahwa aku tidak akan bertemu dengan-Mu.

Oleh karena itu ya Allah, janganlah Engkau beri petunjuk kepadanya setelah kepergianku, sampai Engkau tunjukkan sesuatu (neraka) seperti yang Engkau tunjukkan kepadaku, dan murkailah dia seperti Engkau murka kepadaku.” kemudian Ali melanjutkan, “lalu orang kafir lainnya meninggal, maka ruh mereka bertemu.

Setelah itu dikatakan kepada mereka, “Hendaklah masing-masing kalian memuji temannya.” Maka masing-masing mereka berkata, “(Engkau) adalah seburuk-buruk saudara, teman dan kekasih. (Riwayat Ibn Abi Hatim)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 68-69


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 65-66

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 65-66 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai perselisihan di antara Bani Israil. Kedua mengenai bantahan terhadap kaum musyrik Mekkah.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 63-64


Ayat 65

Bani Israil berselisih pendapat mengenai Nabi Isa baik semasa ia hidup maupun setelah meninggal. Yang menjadi ajang perselisihan pada waktu ia masih hidup adalah yang menerimanya sebagai nabi dan manusia suci, ada yang menuduhnya sebagai anak dari hubungan haram yang dilakukan ibunya.

Dan setelah ia meninggal ada yang memandangnya anak Tuhan, atau Tuhan itu sendiri, dan ada yang memandangnya manusia biasa yang diutus sebagai rasul.

Perselisihan itu sangat tajam sehingga terbentuk banyak sekali sekte yang berseberangan. Mereka tidak hanya berpecah belah tetapi juga saling membunuh (berperang-perangan).

Yang berpandangan salah di antara sekte-sekte itu berpandangan salah mengenai Nabi Isa sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat di atas, akan bernasib malang, yaitu azab yang pedih di dalam neraka di hari akhirat.


Baca juga: Surah Al Baqarah Ayat 256 dalam Sudut Pandang Bisri Mustafa


Ayat 66

Ayat ini membantah kaum musyrikin Mekah yang salah memahami Surah al-Anbiya’/21: 98, bahwa orang yang menyembah selain Allah akan bersama sembahannya itu nanti masuk neraka. Nabi Isa disembah, karena itu, menurut mereka, juga akan masuk neraka bersama mereka yang menyembahnya.

Allah telah membantahnya dengan menjelaskan tentang Nabi Isa secara panjang lebar dalam ayat-ayat di atas. Nabi Isa memang disembah, tetapi yang menyembahnya adalah mereka yang sesat.

Oleh karena itu Nabi Isa tidak akan masuk neraka. Yang akan masuk neraka adalah mereka yang sesat. Begitu juga orang-orang sesat yang menyembah berhala-berhala, yaitu kaum musyrikin Mekah. Mereka bersama sesembahan mereka itu yang akan masuk neraka.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa bila kaum musyrikin Mekah itu tetap tidak mau menerima penjelasan yang begitu gamblang, Allah bertanya apakah mereka tidak akan menyesal.

Sebab kiamat pasti datang, dan bila datang ia akan terjadi secara tiba-tiba pada saat mereka terlena oleh kenikmatan duniawi. Sebelum terlambat, di sini Allah meminta mereka agar beriman kepada Nabi Muhammad dan agama yang didakwahkannya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 67


(Tafsir Kemenag)

https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/kepada

Para Suami Wajib Memperlakukan Istri Dengan Baik

0
suami wajib memperlakukan istri dengan baik
suami wajib memperlakukan istri dengan baik

Pernikahan merupakan prosesi sakral yang dilalui oleh sepasang manusia, yakni suami dan istri. Dalam ajaran Islam, pasangan suami istri memiliki hak dan kewajiban masing-masing yang tidak boleh diabaikan. Hak dan kewajiban ini diamanahkan oleh Allah swt bagi keduanya untuk ditunaikan demi menjaga keharmonisan dan keutuhan rumah tangga. Salah satunya adalah para suami wajib memperlakukan istri dengan baik, begitu pula sebaliknya.

Perintah memperlakukan istri dengan baik Allah firmankan dalam QS. An-Nisa [4] ayat 19 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَرِثُوا النِّسَاۤءَ كَرْهًا ۗ وَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ لِتَذْهَبُوْا بِبَعْضِ مَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اِلَّآ اَنْ يَّأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ ۚ وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ ۚ فَاِنْ كَرِهْتُمُوْهُنَّ فَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّيَجْعَلَ اللّٰهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا ١٩

“Wahai orang-orang beriman! Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” (QS. An-Nisa [4]: ayat 19).

Baca Juga: Sebagian Karakteristik Ortografi Mushaf Utsmani

Secara umum, QS. An-Nisa [4] ayat 19 berisi dua diskursus utama, yakni: pertama, pembebasan perempuan jahiliyah – istri – dari cengkeraman kekuasaan kaum laki-laki. Sebab dahulu para janda (istri yang ditinggal suaminya) sering diakusisi secara paksa dan dirampas hak-haknya. Kedua, memuliakan perempuan sebagai partner berumah tangga secara simetris. Artinya para suami wajib memperlakukan istri dengan baik, begitu pula sebaliknya.

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menuturkan, QS. An-Nisa [4] ayat 19 berkaitan erat dengan adat buruk masyarakat Jahiliyah di mana apabila seorang mati meninggalkan istri, maka anak tirinya atau salah satu keluarganya datang kepada mantan istri tersebut seraya meletakkan pakaian padanya. Ini merupakan simbolisasi bahwa yang bersangkutan lebih berhak untuk mempersuntingnya dari orang lain. Pada saat yang sama – bahkan – kebebasan perempuan itu direnggut sepenuhnya.

 Kemudian, jika mereka – anak tiri atau bagian keluarga – ingin menikahi perempuan itu, mereka tidak akan membayar mahar sama sekali dengan alasan sudah cukup dengan mahar yang dibayarkan almarhum. Yang lebih memprihatinkan, manakala mereka tidak menginginkannya, sang perempuan diabaikan hingga terluntang-lantung atau bahkan dipersulit keadaannya. Tidak jarang, untuk memperoleh kebebasan ia harus membayar dengan warisan yang ditinggalkan suaminya (Tafsir Marah Labid).

Karena alasan itulah, Allah swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal, yakni tidak dibenarkan dengan alasan apapun bagi kamu berlaku seperti perbuatan orang yang tidak beriman yang mempusakai – mewarisi – harta atau wanita dengan jalan paksa, yakni dengan memaksa. Dan janganlah kamu menyusahkan mereka, yakni membatasi gerak-gerik perempuan atau mencegah mereka menikah lagi dengan seseorang yang ia cintai (Tafsir al-Ragib).

Imam Abd al-Karim al-Qusyairi menyebutkan, penggalan awal QS. An-Nisa [4] ayat 19 tentang larangan penindasan dan pemaksaan terhadap perempuan merupakan ilustrasi dari larangan “memanfaatkan” atau mengambil keuntungan dari kaum yang lemah, karena menipu itu merupakan perbuatan tidak terpuji di sisi Allah. Siapa yang melakukan perbuatan tersebut, maka Allah swt. tidak akan memberi keberkahan dalam hidupnya dan di akhirat kelak ia akan mendapat siksa (Lathaif al-Isyarat).

Kemudian pada penggalan selanjutnya, Dan bergaullah dengan mereka secara makruf, Allah swt. mengingatkan bahwa para suami wajib memperlakukan istri dengan baik. Makruf di sini mencakup tidak mengganggu, tidak memaksa, tidak menindas, tidak menghardik, tidak kasar, tidak jahat, menghormati, menyayangi dan menghargainya secara proporsional. Makna makruf menurut sebagian ulama mendekati makna ihsan, yakni berbuat baik semaksimal mungkin (Tafsir al-Misbah).

Imam al-Qusyairi mengartikan Dan bergaullah dengan mereka secara makruf dengan makna ajarilah mereka – perempuan – pengetahuan agama, didiklah dengan adab atau etika Islam, dan temanilah dengan baik meskipun sedang dalam keadaan hati tidak senang. Selain itu, janganlah membebani pikiran mereka, jangan semena-mena memberikan tugas berkhidmat dan sebagainya serta jagalah apa yang dapat membuat mereka malu (Lathaif al-Isyarat).

Sedangkan Imam al-Qurthubi mengatakan, makna Dan bergaullah dengan mereka secara makruf adalah para suami wajib memperlakukan istri dengan baik secara proporsional sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah swt. Perintah ini berlaku kepada seluruh muslim, baik suami atau istri, termasuk juga wali mereka. Berlaku baik di sini maksudnya adalah dengan berinteraksi sesuai dengan ajaran agama dan memberikan hak-hak pasangan (al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an).

Baca Juga: Biografi Al-Zamakhsyari: Sang Kreator Kitab Tafsir Al-Kasysyaf

Berkenaan tentang perintah memperlakukan dengan istri dengan baik atau makruf, Asy-Sya’rawi memiliki pandangan menarik. Menurutnya, kata makruf mengarah pada makna perlakuan baik meskipun sudah tidak cinta lagi. Ini berbeda dengan mawaddah yang berarti berbuat baik dengan penuh rasa senang dan cinta. Artinya, para suami wajib memperlakukan istri dengan baik meskipun sudah tidak cinta, terutama di penghujung usia (al-Khawatiry Haula Al-Qur’an al-Karim).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa QS. An-Nisa [4] ayat 19 perintah memuliakan dan memperlakukan istri dengan baik. Oleh karena itu, segala bentuk kekerasan dan penindasan, baik fisik maupun psikis tidak dibenarkan apa pun alasannya. Perintah ini berlaku tidak hanya untuk suami kepada istri, melainkan juga sebaliknya. Suami istri wajib hidup berdampingan dan bergaul secara simetris sehingga tidak terjadi ketimpangan dan ketidakadilan. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 63-64

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 63-64 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai proses dakwah Nabi Isa. Kedua mengenai inti ajaran Nabi Isa.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 61-62


Ayat 63

Ayat ini menjelaskan bagaimana sesungguhnya dakwah Nabi Isa kepada Bani Israil. Nabi Isa menyampaikan pokok-pokok ajaran yang diterimanya dari Allah swt, antara lain tentang iman kepada Allah sebagai Tuhan yang Maha Esa, iman kepada adanya hari kemudian, berbuat baik kepada sesama manusia, dan tidak melakukan perbuatan jahat.

Nabi lsa menegaskan bahwa pokok-pokok ajaran yang disampaikannya itu adalah hikmah, yaitu beragama tauhid yang perlu dijalankan, yakni melakukan perbuatan-perbuatan mulia dan menjauhi perbuatan-perbuatan jahat yang akan menentukan kebahagiaan umat manusia di dunia dan akhirat. (Mengenai rincian apa itu hikmah, baca Surah al-Isra’/17: 23-39).

Nabi Isa juga menjelaskan tugasnya yang lain, yaitu menjelaskan apa yang diperselisihkan oleh Bani Israil. Perselisihan itu ada yang berkenaan dengan masalah agama, misalnya mengenai apakah hewan yang berkuku dan lemak sapi dan domba haram (al-An’am/6:146).

Nabi Isa datang menjelaskan kehalalan semuanya itu (Ali Imran/3:50). Menurut Ibn Jarir, perselisihan itu mengenai persoalan-persoalan dunia, bukan mengenai agama. Hal itu tampaknya berkenaan dengan perpecahan Bani Israil menjadi berbagai sekte yang selalu baku hantam satu sama lainnya.

Setelah itu Nabi Isa meminta mereka bertakwa, yaitu mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Takwa adalah konsekuensi iman, yaitu menjalankan nilai-nilai yang terkandung dalam hikmah di atas.

Artinya, iman perlu dibuktikan dengan pelaksanaan perbuatan-perbuatan baik tersebut. Dan Nabi Isa meminta umatnya agar mematuhinya, yaitu menjalankan segala yang ia sampaikan dan tidak selalu memperselisihkan ajaran-ajaran agama.


Baca juga: Surah Al Lahab dan Prinsip Kesetaraan dalam Islam


Ayat 64

Nabi Isa menegaskan inti ajaran yang disampaikannya, yaitu bahwa Tuhan hanyalah Allah. Allah adalah Tuhan semua makhluk, Tuhan dia dan Tuhan mereka juga. Konsekuensi mempertuhankan Allah adalah menyembah-Nya dan mengabdi kepada-Nya.

Menyembah Allah adalah mengerjakan ibadah untuk-Nya, dan mengabdi kepada-Nya adalah melakukan perbuatan-perbuatan baik. Maka jangan menyembah selain dari Allah, karena hal itu akan membawa manusia kepada kesesatan.

Itulah jalan yang lurus, yaitu jalan hidup benar yang menjamin kebahagiaan di dunia dan di akhirat. “Jalan lurus” dalam ayat ini adalah tauhid dan perbuatan baik. “Jalan lurus” dalam ayat 61 adalah percaya kepada adanya hari akhirat yang juga menghendaki perbuatan baik.

Dengan demikian “jalan yang lurus” dalam kedua ayat itu sama hakikatnya, karena iman kepada Allah menghendaki manusia iman kepada hari akhirat dan berbuat baik, dan iman kepada hari akhirat juga menghendaki manusia iman kepada Allah dan berbuat baik.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 65-66


(Tafsir Kemenag)

Bacaan Amin dan Keutamaan Membacanya Setelah surah Al Fatihah

0
Bacaan Amin
Bacaan Amin

Membaca Amin setelah membaca surah Al Fatihah menjadi fenomena yang setiap hari ditemui, terutama ketika melaksanakan shalat yang dijaharkan bacaannya seperti Maghrib, Isya, Subuh, Tarawih, ‘Id, dan lainnya. Karena itu, mengetahui bacaan amin menjadi penting terutama memahami berbagai pendapat, variasi bacaan, hingga keutamaan-keutamaan atasnya.

Dalam membahas seputar bacaan amin tersebut, penulis merujuk pada tema Membaca Amin yang diulas oleh Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya, Tafsir Al-Qurthubi, yang dita’liq oleh Muhammad Ibrahim Al-Hifnawi dan ditakhrij oleh Mahmud Hamid Utsman. Seperti biasanya, Al-Qurthubi dalam mendiskusikan satu tema, terlebih dahulu mengemukakan pendapat-pendapat dari berbagai ulama, dalil-dallil serta keutamaan bacaan amin.

Pendapat Ulama tentang Amin

Mayoritas Ahlul Ilmi mengatakan bahwa kata Amin bermakna do’a: “Ya Allah kabulkanlah (do’a) kami”. Karena itu, ungkapan ini sebaiknya dibaca beriringan ketika membaca do’a. Sementara itu, ulama lainnya berpendapat bahwa kata Amin merupakan salah satu nama Allah SWT. Pendapat kedua ini merujuk kepada riwayat Ja’far bin Muhammad, Mujahid dan Hilal bin Yisaf.

Pendapat lainnya, yakni dari Al-Jauhari, mengatakan bahwa kata Amin memiliki makna demikianlah, maka hendaklah jadilah ia. Dalam satu riwayatnya, Al-Kalabi mengatakan bahwa “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW, Apa makna Amin? Lalu Beliau menjawab “(Ya) Tuhan, lakukanlah”. Riwayat ini berdasarkan jalur Ibnu Abbas dari Abu Shalih.

Muqatil berpendapat bahwa kata Amin merupakan ungkapan penguat do’a yang dimohonkan agar permintaan (do’a) mendapatkan berkah dari Allah SWT. Dalam pendapat lainnya, Al-Tirmidhi mengatakan bahwa kata Amin mengandung makna yaitu “Janganlah Engkau memupus pengharapan kami”.

Baca Juga: Adab Lahiriah dan Adab Batiniah dalam Membaca Al-Qur’an

Lebih jauh, para ulama berbeda pendapat mengenai bolehkah imam shalat membaca Amin dengan suara keras atau tidak. Menurut Imam Syafi’i dan Imam Malik bahwa seorang imam shalat yang boleh membaca Amin dengan suara yang keras. Sebaliknya, Al-Thabari mengatakan bahwa seorang imam shalat tidak boleh mengeraskan suaranya ketika membaca Amin. Di antara dua pendapat ini, pendapat pertama yang paling kuat karena Nabi Muhammad SAW sendiri pernah melakukannya ketika menjadi imam shalat.

Variasi Bacaan Amin

Ada dua variasi bacaan Amin menurut ulama. Pertama, aamin dibaca dengan suara/harakat panjang dengan mengacu pada wazan yaitu faa’iil, hal ini serupa dengan bacaan pada Yaasiin. Kedua, Amin dibaca dengan suara/harakat pendek dengan mengacu pada wazan yaitu yAmin. Selain dua bacaan tersebut, ada juga variasi bacaan lainnya, yakni ammin, dengan mentasydidkan huruf mim.

Namun, pendapat tentang mentasydidkan huruf mim di atas ada yang menolak dan yang menerima. Bagi yang menolaknya misalnya menurut Al-Jauhari mengatakan bahwa mentasydidkan huruf mim sehingga bacaan Amin menjadi ammiin merupakan bacaan yang keliru. Sementara bagi yang menerimanya misalnya menurut Al-Husain bin Al-Fadhl mengatakan bahwa huruf mim ditasydidikan karena ia berasal dari kata amma, yang berarti menuju, sehingga bermakna kami menuju ke arah-Mu.

Keutamaan Membaca Amin

Di atas perbedaan cara membaca Amin yang diulas di atas: Amin, aamin, dan ammin, terdapat keutamaan-keutamaan yang diperoleh bagi orang yang senantiasa membaca Amin setelah bacaan surah Al-Fatihah. Wahb bin Munabbih berpendapat bahwa Allah SWT menciptakan tiap-tiap huruf dari Amin, yakni Alif Mim Ya dan Nun, malaikat yang senantiasa berdo’a kepadanya: “Ya Allah, Ampunilah dosa orang-orang yang membaca Amin”.

Dalam hadisnya, Nabi Muhammad SAW bersabdar “Apabila Imam membaca ‘Amin’, kemudian mereka (makmum) membaca ‘Amin’, maka siapa yang ‘Amin’-nya bertepatan dengan pengucapan ‘Amin’ malaikat, akan diampuni dari dosa-dosanya yang telah lalu”.

Mengenai hadis ini, ada empat faktor yang menyebabkan diampuninya dosa-dosa karena membaca Amin. (1) bacaan Amin Imam, (2) bacaan Amin makmum, (3) bacaan Amin malaikat, (4) kesesuaian Amin dalam hal jawabannya, dalam hal waktunya, atau dalam hal sifatnya sebagai do’a yang ikhlas kepada Allah SWT.

Dalam satu riwayat dari Abu Zuhairi mengatakan bahwa kami bersama Nabi Muhammad SAW pernah keluar pada suatu malam, lalu beliau berhenti ketika mendengar seseorang sedang berdo’a, lalu beliau bersabda: “(Do’a) dia akan dikabulkan jika dia mengakhiri do’anya”. Salah di antaranya kami bertanya “Dengan apa dia mengakhiri do’anya?”. Nabi bersabda “Dengan mengucapkan Amin. Seandainya dia mengakhiri do’anya dengan Amin, maka do’anya akan dikabulkan”.

Baca Juga: Makna dan Keutamaan Surah Al-Ashr dalam Kehidupan Sehari-Hari

Hadis lainnya lagi dikatakan bahwa: “Apabila kalian shalat, maka luruskanlah barisan (shaf) kalian, kemudian hendaklah salah seorang di antara kalian mengimami kalian. Apabila dia bertakbir, bertakbirlah kalian. Apaila dia membaca ghair al-maghdubi alaihim wa la al-dhallin (akhir QS. Al-Fatihah: 7), katakanlah kalian Amin, niscaya Allah SWT akan menjawab/mengabulkan (do’a) kalian”.

Demikian banyak keutamaan ketika seseorang membaca Amin setelah bacaan Al-Fatihah. Hal ini menunjukkan bahwa bacaan Amin mengandung keistimewaan yang diberikan kepada umat Islam. Bahkan, Al-Timidzi dalam kitabnya, Nawadir Al-Ushul, mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa Amin adalah satu dari tiga keistimewaan yang diberikan kepadaku (Nabi Muhammad SAW) dan umat Islam, yang tidak diberikan kepada umat lainnya selain Nabi Musa dan Nabi Harun. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 61-62

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 61-62 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai salah satu mukjizat Nabi Isa. Kedua mengenai peringatan Allah agar tidak terjebak oleh rayuan setan.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 58-60


Ayat 61

Allah menerangkan lebih lanjut tentang kelebihan yang diberikan kepada Nabi Isa yang akan menjadi bukti tentang adanya hari Kiamat. Hal itu karena Nabi Isa memiliki mukjizat-mukjizat besar, seperti menghidupkan orang mati, menyembuhkan kebutaan, dan sebagainya. Mukjizat-mukjizat itu merupakan bukti bahwa Allah yang memberikannya mampu menciptakan hari Kiamat.

Di samping itu hadis-hadis sahih menginformasikan akan datangnya Nabi Isa menjelang hari Kiamat. Hadis itu diriwayatkan dari berbagai sumber, di antaranya Abµ Hurairah, Ibn Abbas, Ikrimah, al-¦asan, Qatadah, dan ad-Dahhak, sehingga dipandang mutawatir oleh sebagian ulama. Hadis itu di antaranya adalah:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَماً عَدْلاً. (رواه البخاري ومسلم)

Nabi saw bersabda, “Demi (Allah) yang menguasai jiwaku, hampir saja turun kepada kalian Isa bin Maryam sebagai hakim yang adil. (Riwayat  al-Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian maksud ayat ini adalah bahwa munculnya Nabi Isa menjelang hari Kiamat merupakan tanda bahwa Kiamat akan datang.

Selanjutnya Allah meminta manusia agar tidak meragukan datangnya hari Kiamat. Karena itu mereka harus mempersiapkan diri dengan cara beriman dan berbuat baik, agar dapat memetik buah iman dan amalnya nanti di akhirat. Dengan begitu manusia akan hidup bahagia selamanya di hari akhirat nanti.

Allah meminta Bani Israil agar mengikuti ajaran-ajaran yang telah disampaikan kepada Nabi Isa mengenai adanya hari Kiamat. Ajaran tentang adanya kiamat meminta manusia agar berbuat baik sebagai persiapan untuk menghadapinya. Ajaran itu merupakan jalan yang lurus yang mutlak benar dan pasti dapat mengantarkan manusia ke kehidupan yang bahagia di akhirat. Jalan yang lurus itulah yang diajarkan Islam, yang merupakan agama yang dibawa semua nabi, termasuk nabi terakhir yaitu Muhammad saw.


Baca juga: Etika Bermedia Sosial dalam Pandangan Alquran


Ayat 62

Selanjutnya Allah memperingatkan manusia agar tidak terjebak oleh tipu daya setan. Tugas manusia adalah beribadah, yaitu mengabdi kepada Allah dengan mempersembahkan kebaikan kepada seluruh alam.

Dalam perjuangannya itu ia akan selalu dihalang-halangi dan dihadang oleh setan. Manusia harus melawannya agar usaha dan perjuangannya dalam mewujudkan kebaikan tidak sampai dihentikan setan.

Dengan demikian setan juga bekerja keras, untuk menjatuhkan manusia. Karena ia memang musuh sejati manusia. Permusuhan sejati itu terjadi karena setan dendam akibat dilaknat Allah dan diusir dari surga, karena ia tidak mau sujud kepada nenek moyang manusia, yaitu Adam.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 63-64


(Tafsir Kemenag)