Beranda blog Halaman 178

Tafsir Surah Fussilat Ayat 40-41

0
Tafsir Surah Fussilat
Tafsir Surah Fussilat

Tafsir Surah Fussilat Ayat 40-41 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai kekuasaan Allah meliputi segala hal termasuk hal yang samar. Kedua mengenai tanda-tanda orang yang ingkar.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Fussilat Ayat 38-39


Ayat 40

Ayat ini menerangkan bahwa Allah Maha Mengetahui semua yang dilakukan dan tipu daya yang dibuat oleh orang-orang yang menentang Al-Qur’an menurut keinginan hawa nafsu mereka sendiri, mengingkari, dan mencelanya. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dan tidak diketahui Allah. Oleh karena itu, Dia akan membalas segala perbuatan mereka itu dengan ganjaran yang setimpal.

Kemudian Allah menerangkan perbedaan dan bentuk pembalasan yang akan diterima oleh orang-orang mukmin dan orang-orang kafir di akhirat nanti dengan mengatakan bahwa orang-orang yang dimasukkan ke dalam neraka karena mengingkari Allah, rasul, dan ayat-ayat-Nya tidak sama dengan orang-orang beriman yang memercayai ayat-ayat Al-Qur’an, mengikuti rasul-Nya, dan mendapat surga. Allah akan menetapkan keputusan dengan adil antara mereka dan balasan yang akan mereka peroleh tentu pula tidak sama.

Ayat ini ditujukan kepada seluruh manusia yang kafir dan mukmin. Akan tetapi, sebagian ulama berpendapat bahwa ayat ini berarti umum dan khusus. Umum meliputi seluruh manusia yang kafir dan beriman, khusus berhubungan dengan Abµ Jahal yang mengingkari Rasulullah saw dan orang-orang yang beriman kepadanya.

Diriwayatkan oleh Abd ar-Razzaq, Ibnu al-Munzir, Ibnu Asakir dari Busyair bin Tamim, ia berkata, “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abµ Jahal dan ‘Ammar bin Yasir.”

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad telah mengetahui akibat yang diperoleh orang-orang yang berbuat dosa di akhirat nanti, dan akibat yang akan diperoleh orang-orang yang beriman kelak. Oleh karena itu, manusia dipersilakan untuk melakukan apa saja yang dikehendaki, ia telah mengetahui akibatnya. Allah melihat segala perbuatan manusia dan memberi balasan sesuai dengan yang telah diperbuatnya.


Baca juga: Tafsir Ahkam: Kesunnahan Memotong Kumis


Ayat 41

Pada ayat ini diterangkan tanda-tanda orang-orang yang ingkar itu ialah mengingkari ayat-ayat Allah, dan mengingkari Al-Qur’an ketika disampaikan kepada mereka. Mereka akan memperoleh ganjaran yang setimpal dengan kekafiran mereka itu.

Kemudian Allah menerangkan bahwa Al-Qur’an itu adalah sebuah kitab yang mulia, yang tidak dapat dibatalkan isinya, dan tidak dapat diubah-ubah sedikit pun.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Fussilat Ayat 42-43


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Sosiologis Surah An-Nisa Ayat 34: Makna Alternatif Kata Rijal dan Nisa

0
Tafsir Sosiologis Surah An-Nisa Ayat 34: Makna Alternatif Kata Rijal dan Nisa
Makna Alternatif Kata Rijal dan Nisa

Salah satu ayat dalam Al-Qur’an yang cukup populer dan sering dibahas terkait tema kehidupan rumah tangga adalah QS. An-Nisa: 34. Bila dibaca sekilas, ayat ini seakan-akan mengandung ajaran bahwa kepemimpinan di keluarga berada di tangan suami dan kewajiban istri untuk patuh secara mutlak kepada suaminya. Begitulah narasi yang juga sering terdengar. Namun benarkah demikian adanya? Mari kita bahas kembali kandungan ayat tersebut yang berbunyi:

{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ} [النساء: 34]

Artinya, “Laki-laki adalah pengayom bagi perempuan sebab keistimewaan yang diberikan Allah dan sebab mereka menafkahkan sebagian dari harta-harta mereka…” (QS. An-Nisa: 34).

Seringkali ayat di atas oleh sebagian kalangan – Termasuk banyak tafsir yang beredar di pesantren – dijadikan dalil yang menjustifikasi superioritas kaum laki-laki, khususnya sebagai pemimpim keluarga. Pada dasarnya, pandangan seperti ini tidak seluruhnya salah sebagaimana tidak seluruhnya benar. Akan tetapi, yang dimaksud dengan pemimpin dalam institusi keluarga adalah kemimpinan yang berdasarkan musyawarah bukan kepemimpinan yang berdasarkan otoritas semena-mena.

Oleh karena itu, kepemimpinan dalam keluarga hendaknya tidak selalu berdasarkan kehendak suami semata, tanpa melibatkan unit-unit yang ada dalam keluarga tersebut. Ada anggota keluarga lain yang perlu diperhitungkan haknya, semisal anak, dan terlebih lagi istri.

Sementara itu, pada ayat di atas ada term gender, yaitu kata rijal yang disandingakan dengan kata nisa sebagai lawan dari rijal. Sebagaimana yang kita tahu, bahwa kata rijal biasanya dimaknai dengan laki-laki dan kata nisa dengan makna perempuan. Akan tetapi ada makna lain dari kedua kata tersebut. Dr. Hj. Zaitunah Subhan dalam bukunya yang berjudul Tafsir Kebencian: Studi Bias Gender dalam Tafsir Al-Qur’an (hal. 110), mengatakan bahwa istilah-istilah gender dalam Al-Qur’an memiliki makna-makna yang signifikan.

Baca juga: Perbedaan Penafsiran Surah Al-Nisā’ [4]: 34 dari Klasik hingga Kontemporer

Makna sosiologis kata rijal dan nisa yang sangat cair

Term nisa identik dengan konotasi feminin, domestik, lemah lembut, bahkan bermakna banyak lupa sebagaimana dikatakan Lois Ma’luf dalam kitab al-Munjid fi alLughah wa al-A’lam (hal. 807). Sedangkan kata rijal bermakna orang yang berjalan kali, karena rijal merupakan bentuk plural al-rajil yang terambil dari kata al-rijlu yang bermakna kaki.

Hal ini, karena pada zaman Al-Qur’an di turunkan, laki-laki (suami) seringkali berjalan untuk mencari nafkah sementara istri hanya tinggal di rumah. Oleh karena itu, laki-laki yang berusaha berjalan untuk mencari nafkah adalah qawwam (pengayom/pemimpin) dalam rumah tangga (al-Ashafani, al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an).

Pemaknaan seperti ini berdasarkan perwujudan bahasa atau peristiwa bahasa yang dikembangkan dalam studi lingusitik filologi yang tidak bisa terlepas dengan budaya suatu bangsa. Sebagaimana pengertian di atas, bahwa rijal adalah orang yang berjalan, berupaya, dan berusaha untuk mengayomi dang menghidupi keluarganya, sehingga ia mendapatkan jabatan qawwam atau pemimpin.

Maka, menurut Dr. Zaitunah, secara sosiologis siapapun yang mampu berjalan, berusaha, dan berupaya untuk mengayomi dan menjadi penopang keluarga, dialah yang menjadi pemimpin. Dialah yang disebut rijal dalam ayat di atas, tanpa memandang apakah ia perempuan secara biologis ataupun laki-laki.

Jadi, jika ada seorang wanita (istri) lebih aktif dalam keluarga, bekerja untuk mencari nafkah dari berbagai profesinya masing-masing, maka sejatinya wanita itulah yang disebut rijal (pria) secara sosiologis. Kendatipun, secara biologis ia adalah perempuan yang tetap mengalami haid, melahirkan, dan sebagainya sebagai sifat kodratinya.

Sebaliknya, jika ada laki-laki yang hanya menganggur di rumah, tanpa ada usaha untuk mencari nafkah karena berbagai faktor, maka sejatinya ia adalah nisa (perempuan) secara sosiologis, meskipun secara biologis ia tetap adalah laki-laki.

Melalui pendeketan seperti ini terhadap ayat di atas, maka pemahamannya lebih komprehensif dan lebih holistik, di mana seorang laki-laki diangkat menjadi pemimpin sebenarnya bukan karena faktor ia berjenis kelamin laki-laki. Akan tetapi, lebih disebabkan sebagaimana disebutkan oleh kelanjutan ayat tersebut, yaitu karena sudah diberi keistimewaan oleh Allah (keistimewaan yang bersifat temporal) dan karena berusaha menafkahi dan mengayomi keluarganya.

Tidak hanya itu, ayat tersebut dengan pendekatan seperti di atas juga akan mencakup kepada wanita-wanita tangguh yang memperjuangkan rumah tangganya sendirian. Karena realitas di masyarakat tidak sedikit wanita yang berusaha mencari nafkah sendiri walaupun sudah bersuami karena banyak faktor. Semisal suaminya mengalami disfungsi (cacat), atau karena istrinya berpendidikan sehingga menjadi dosen dan sebagainya, sementara suaminya pengangguran. Dengan demikian, wanita-wanita seperti ini adalah rijal secara sosiologis. Wallahu a’lam.

Baca juga: Nasaruddin Umar: Al-Qur’an Bedakan antara Gender dan Jenis Kelamin

Tafsir Surah Fussilat Ayat 38-39

0
Tafsir Surah Fussilat
Tafsir Surah Fussilat

Tafsir Surah Fussilat Ayat 38-39 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai motivasi dari Allah kepada Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi orang musyrik. Kedua berbicara mengenai bukti kekuasaan Alllah SWT.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Fussilat Ayat 35-37


Ayat 38

Kemudian Allah memperingatkan Nabi Muhammad bahwa jika orang-orang musyrik yang menyembah bintang-bintang itu bersikap angkuh dan tidak mengindahkan seruannya, biarkan saja mereka dengan kesesatan yang mereka lakukan itu. Allah tidak memerlukan mereka sedikit pun. Mereka beriman atau tidak beriman tidak ada artinya bagi Allah sedikit pun.

Allah melanjutkan peringatan-Nya bahwa para makhluk yang berada di sisi-Nya lebih baik dari orang-orang musyrik itu, tidak ada yang bersikap angkuh dan menyombongkan diri kepada-Nya. Mereka senantiasa bertasbih, salat siang dan malam, dan sedikit pun mereka tidak pernah merasa jemu.

Allah berfirman:

وَتَرَى الْمَلٰۤىِٕكَةَ حَاۤفِّيْنَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْۚ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَقِيْلَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Dan engkau (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling Arasy, bertasbih sambil memuji Tuhannya; lalu diberikan keputusan di antara mereka (hamba-hamba Allah) secara adil dan dikatakan, “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (az-Zumar/39: 75)


Baca juga: Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Mencukur Bulu Kemaluan


Ayat 39

 Ayat ini menerangkan bahwa di antara bukti-bukti kekuasaan Allah membangkitkan manusia di hari Kiamat nanti ialah bumi yang tandus dan mati, tidak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan sedikit pun. Akan tetapi, apabila Dia menyirami tanah itu dengan air hujan dengan mengalirkan air kepadanya, maka bumi itu berubah menjadi hijau, karena tanahnya menjadi subur dan ditumbuhi tanam-tanaman.

Allah berfirman:

وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ

Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah. (al-Hajj/22: 5)

Ayat ini berkaitan dengan tumbuhnya tumbuh-tumbuhan dengan adanya anugerah berupa air yang diturunkan dalam bentuk hujan.  Pesan yang mirip, juga dapat ditemui pada Surah al-Hajj/22 ayat 5, yang pada akhir ayatnya berbunyi: “…Dan engkau melihat bumi kering kerontang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya dia bergerak dan mengembang dan menumbuhkan berbagai jenis tanaman yang indah.” Kata “bergerak dan mengembang” dikaitkan dengan gerakan butiran tanah saat biji tumbuhan berkecambah dan akarnya berkembang dan tumbuh hingga menjadi pohon dewasa.

Allah yang telah menghidupkan bumi yang mati itu dengan menyiramkan air, dan menghidupkan tumbuh-tumbuhan, sehingga bumi itu menghijau, kuasa pula menghidupkan manusia yang telah mati, dan kuasa membangkitkannya dari kubur. Semuanya itu tidak ada yang sukar bagi-Nya. Semuanya mudah bagi-Nya. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.;


Baca setelahnya: Tafsir Surah Fussilat Ayat 40-41


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Fussilat Ayat 35-37

0
Tafsir Surah Fussilat
Tafsir Surah Fussilat

Tafsir Surah Fussilat Ayat 35-37 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai tips menghadapi orang kafir. Kedua mengenai tips berlindung dari godaan setan. Ketiga mengenai hikmah adanya malam.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Fussilat Ayat 34


Ayat 35

Pada ayat ini, Allah menerangkan cara yang paling baik menghadapi orang-orang kafir, yaitu orang yang sabar ketika menderita kesulitan dan kesengsaraan, dapat menahan marah, tidak pendendam, dan suka memaafkan.

Anas r.a. dalam menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sabar dalam ayat ini ialah apabila seseorang dimaki oleh orang lain, ia berkata, “Jika engkau memakiku dengan alasan yang benar, mudah-mudahan Allah akan mengampuni dosamu. Jika engkau memakiku dengan alasan yang tidak benar, mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku.”

Nasihat agar berlaku sabar, menahan marah, dan suka memaafkan kesalahan orang lain itu adalah suatu nasihat yang paling utama dan tinggi nilainya. Yang dapat menerima nasihat itu hanyalah orang-orang yang beriman dan beramal saleh, yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat nanti.

Qatadah mengatakan bahwa arti dari “keuntungan yang besar” ialah surga. Maksud ayat ini ialah kesabaran itu hanyalah dianugerahkan kepada orang-orang yang akan masuk surga.
Ayat 36

Ayat ini menerangkan bahwa jika setan menggoda agar engkau membalas kejahatan dengan kejahatan pula, maka berlindunglah kepada Allah dari segala tipu daya setan yang terkutuk itu. Allah Maha Mendengar permohonanmu dan Maha Mengetahui segala yang dibisikkan setan ke dalam dadamu itu.


Baca sebelumnya: Self Reward Berujung Pemborosan, Begini Manajemen Harta ala Al-Qur’an


Ayat 37

Ayat ini menerangkan bahwa di antara tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ialah adanya malam sebagai waktu istirahat, siang waktu bekerja dan berusaha, matahari yang memancarkan sinarnya, dan bulan yang bercahaya. Dia yang mengatur perjalanan planet-planet pada garis edarnya di cakrawala sehingga dengan demikian diketahui perhitungan tahun, bulan, hari, dan waktu sebagaimana firman Allah:

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاۤءً وَّالْقَمَرَ نُوْرًا وَّقَدَّرَهٗ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوْا عَدَدَ السِّنِيْنَ وَالْحِسَابَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). (Yµnus/10: 5)

Setelah Allah menerangkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya, Dia memperingatkan hamba-hamba-Nya agar jangan sekali-kali bersujud kepada tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya itu, seperti matahari, bulan, bintang, dan sebagainya.

Jangan sekali-kali memuliakan, menyembah, dan menganggapnya mempunyai kekuatan gaib, karena semuanya itu hanya Dialah yang menciptakan, menguasai, mengatur, dan menentukan ada dan tidaknya.

Seakan-akan ayat ini menerangkan dan mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia di antara makhluk-makhluk yang diciptakan-Nya. Karena itu tidak pantas manusia memuliakan, menganggap keramat, dan menghormati makhluk Tuhan yang lebih rendah daripadanya.

Yang patut disembah, dimuliakan, dan dihormati adalah sesuatu yang paling berkuasa dan paling mulia yaitu Allah. Seandainya ada manusia yang menyembah dan memuliakan makhluk selain Allah, berarti manusia telah merendahkan martabat dirinya sendiri.

Ayat ini juga memperingatkan manusia yang menyekutukan Allah, penyembah-penyembah patung, penyembah-penyembah matahari, bulan, dan bintang-bintang agar menyadari kedudukannya di antara makhluk-makhluk yang lain itu.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Fussilat Ayat 38-39


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Fussilat Ayat 34

0
Tafsir Surah Fussilat
Tafsir Surah Fussilat

Tafsir Surah Fussilat Ayat 34 berbicara mengenai perbedaan antara orang yang dikaruniai pahala oleh Allah SWT dengan orang yang dibenci oleh Allah SWT.


Baca sebeleumnya: Tafsir Surah Fussilat Ayat 31-33


Ayat 34

Ayat ini menerangkan bahwa kebaikan yang diridai Allah dan diberi pahala itu tidak sama dengan keburukan yang dibenci-Nya dan orang yang melakukannya pasti diazab.

Ayat ini dapat ditafsirkan dengan pernyataan bahwa tidak sama dakwah orang yang menyeru kepada Allah dan mengikuti Islam, dengan perbuatan mencela orang-orang yang melaksanakan dakwah itu.

Sikap orang kafir yang mencela para dai diterangkan dalam firman Allah:

وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا فِيْٓ اَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُوْنَآ اِلَيْهِ

… Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau seru kami kepadanya… (Fussilat/41: 5)

Dan firman Allah:

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَا تَسْمَعُوْا لِهٰذَا الْقُرْاٰنِ وَالْغَوْا فِيْهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُوْنَ

Dan orang-orang yang kafir berkata, “Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka).” (Fussilat/41: 26)

Dengan ayat ini, seakan-akan Allah menyatakan kepada Rasulullah saw bahwa jika ia mengerjakan kebaikan, maka akan memperoleh ganjaran kebaikan berupa penghargaan selama hidup di dunia dan pahala yang besar di akhirat nanti. Sedang orang-orang kafir yang mengerjakan kejahatan itu akan memperoleh penghinaan di dunia, dan di akhirat mereka akan memperoleh azab yang pedih.


Baca juga: Kontekstualisasi Penggunaan Term Tijarah (Perniagaan) dalam Al-Qur’an


Rasulullah juga dilarang untuk membalas kejahatan mereka dengan kejahatan. Jika ia membalas kejahatan dengan kejahatan tentu mereka akan memperoleh kerugian yang berlipat ganda. Oleh karena itu, Rasulullah diperintahkan untuk membalas kejahatan mereka dengan kebaikan.

Kemudian Allah menerangkan cara membalas kejahatan orang-orang kafir itu dengan kebaikan dengan memerintahkan kepada Rasulullah agar membalas kebodohan dan kejahatan orang-orang kafir dengan cara yang paling baik, membalas perbuatan buruk mereka dengan perbuatan baik, memaafkan kesalahan mereka, dan menghadapi kemarahan mereka dengan kesabaran.

Jika Nabi berbuat demikian, lambat laun mereka akan menilai sendiri perbuatan mereka, dan menimbulkan malu kepada mereka karena tindakan-tindakan mereka itu.

Allah menerangkan hasil yang akan diperoleh orang-orang yang beriman jika membalas perbuatan buruk orang-orang kafir dengan perbuatan baik. Allah mengatakan jika orang-orang beriman berhasil berbuat demikian, tentu permusuhan orang-orang kafir kepada mereka akan berubah menjadi persahabatan, kebencian akan berubah menjadi kecintaan.

Ibnu ‘Abbas berkata bahwa pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada manusia agar berlaku sabar ketika marah, penyantun terhadap orang yang bodoh, dan memaafkan kesalahan orang. Jika seseorang mengerjakan yang demikian, Allah akan memelihara mereka dari setan, dan musuh-musuh mereka akan tunduk dan patuh kepada mereka.

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki mencela Qunbur, budak ‘Ali bin Abi Talib, yang telah dimerdekakannya. Ali lalu memanggilnya dan berkata, Wahai Qunbur, tinggalkanlah orang yang mencelamu itu, biarkanlah ia, semoga Tuhan Yang Maha Penyayang meridai, dan setan menjadi marah.”

Menurut Muqatil, ayat ini turun berhubungan dengan Abµ Sufyan. Dia adalah salah seorang musuh Rasulullah yang paling besar. Akan tetapi karena kesabaran dan sikap Nabi yang baik kepadanya, Abµ Sufyan menjadi sahabat Nabi yang akrab, dengan mengadakan hubungan perbesanan (musaharah).


Baca setelahnya: Tafsir Surah Fussilat Ayat 35-37


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah al-Qamar Ayat 49-55

0
Tafsir Surah al-Qamar
Tafsir Surah al-Qamar

Tafsir Surah al-Qamar Ayat 49-55 membahas tentang balasan kepada setiap manusia sesuai dengan perbuatannya masing-masing. Dari Tafsir Surah al-Qamar Ayat 49-55 menjadi peringatan bahwa setiap perbuatan sekecil apapun akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Qamar Ayat 45-48


Ayat 49

Seluruh makhluk diciptakan-Nya sesuai ketentuan dan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya. Karena itu bila seseorang dihukum karena ketetapan dan hukum-hukumnya itu. Dan segala sesuatu akan terjadi sesuai ketetapan-Nya. Dalam ayat lain Allah juga berfirman mengenai ketetapan atau takdir yaitu:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهٗ تَقْدِيْرًا  ٢

Dan Dia menciptakan segala sesuatu, lalu menetapkan ukuran-ukurannya dengan tepat. (al-Furqan/25: 2) ;Tetapi manusia wajib berusaha, ketentuan-Nya diserahkan kepada Allah sesuai firman Allah:

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ    ٣٩  وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ  ٤٠

Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). (an-Najm/53: 39-40);Dalam hadis sahih yang diriwayatkan Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah: Rasulullah saw bersabda, “Minta tolonglah kepada Allah, dan jangan bersikap lemah. Bila sesuatu menimpamu, maka katakanlah, Allah telah menetapkannya. Apa yang Dia kehendaki, Dia kerjakan, dan jangan kamu berkata: seandainya aku berbuat begini maka akan begitu. Sesungguhnya kata “seandainya” membuka (kemungkinan pada) perbuatan setan. Sesuai dengan hadis Rasulullah saw:

قَاَل رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ شَئٍ بِقَدَرٍ، حَتَّى اْلعَجْزِ وَ اْلكَيْسِ. (رواه أحمد ومسلم عن ابن عمر)

Rasullah saw bersabda: segala sesuatu ditetapkan ukurannya bahkan kelemahan dan kecerdasan. (Riwayat Imam Ahmad dan Muslim dari Ibnu ‘Umar)

Allah swt berfirman:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ   ١١

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (ar-Ra‘d/13: 11)

Ayat 50

Sesungguhnya perintah Allah hanya disampaikan satu kali dan perintah itu pasti terjadi dengan cepat, lebih cepat dari kedipan mata. Bila Allah swt menghendaki terjadinya sesuatu maka Ia hanya mengatakan “Jadilah” yang dikehendaki-Nya itu segera terwujud. Begitu pulalah mengenai hukuman terhadap orang kafir, hukuman pasti terlaksana di akhirat.

Ayat 51

Ayat ini menerangkan bahwa Allah membinasakan orang-orang yang sama dengan mereka, yaitu umat-umat yang mendustakan para nabi pada zaman lampau, mereka telah hancur karena pembangkangannya. Peristiwa-peristiwa itu hendaknya menjadi pelajaran bagi kaum kafir Mekah dan bagi siapa saja sesudah mereka beriman.

Allah berfirman dalam ayat lain mengenai hukuman yang dijatuhkan kepada satu generasi, sama dengan hukuman yang dijatuhkan pada generasi sebelumnya.

وَحِيْلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُوْنَۙ  كَمَا فُعِلَ بِاَشْيَاعِهِمْ مِّنْ قَبْلُۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا فِيْ شَكٍّ مُّرِيْبٍ ࣖ  ٥٤

Dan diberi penghalang antara mereka dengan apa yang mereka inginkan sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang sepaham dengan mereka yang terdahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) dalam keraguan yang mendalam. (Saba’/34: 54)


Baca Juga: Balasan Kebaikan Adalah Ridha Allah Swt Bagi Hamba-Nya


Ayat 52-53

Semua perbuatan manusia terhimpun dalam buku catatan masing-masing. Hal itu karena setiap perbuatan manusia kecil ataupun besar, baik atau buruk dicatat oleh malaikat di dalam buku catatan itu, Malaikat Kiram atau sebut saja Raqib, mencatat perbuatan yang baik dan malaikat Katibin atau ‘Atid mencatat perbuatan yang tidak baik.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ   ١٨

Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (Qāf/50: 18)

Oleh karena semua aktivitas manusia, baik perbuatan maupun ucapan, yang baik maupun yang buruk, besar maupun kecil tercatat di dalam buku catatan masing-masing, maka sangat mudah bagi Allah menjatuhkan hukuman kepada yang berdosa dan memberikan pahala kepada yang ber-buat baik.

Ayat 54-55

Bagi mereka yang bertakwa, Allah memberikan surga-surga sesuai tingkat ketakwaan mereka. Sebagaimana diketahui surga itu bertingkat-tingkat. Di dalam surga-surga mengalir sungai-sungai yang menunjukkan bahwa surga adalah tempat yang menyejukkan, indah dan memberikan hasil yang banyak. Mereka menempati tempat yang benar yang tidak ada cacat atau kekurangannya dan mereka berada di bawah naungan Maharaja yang Mahakuasa, yang akan memberi mereka apa yang Ia kehendaki tanpa halangan siapa pun.

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Fussilat Ayat 31-33

0
Tafsir Surah Fussilat
Tafsir Surah Fussilat

Tafsir Surah Fussilat Ayat 31-33 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai keberuntungan bagi orang beriman. Kedua anugerah bagi mereka. Ketiga mengenai para pengingkar al-Qur’an.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Fussilat Ayat 29-30


 Ayat 31

Selanjutnya para malaikat itu menyatakan kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka selalu mendampingi dan menolong orang-orang tersebut dalam  segala urusan dunia. Para malaikat selalu memberi petunjuk yang menuju kepada kebaikan, kebenaran, dan kemaslahatan. Demikian pula para malaikat akan bersama-sama orang-orang beriman di akhirat nanti, menemani mereka di dalam kubur, pada waktu hari Kiamat, dan hari perhitungan sampai mereka masuk ke dalam surga.

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang menyatakan kepada orang-orang beriman dalam ayat ini ialah Allah sendiri, sehingga maksud ayat ini adalah: “Dan Allah wali bagi orang-orang yang beriman yang kuat pendiriannya . . .”

Malaikat mengatakan bahwa di dalam surga itu orang-orang yang beriman akan memperoleh berbagai macam kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan yang selalu diidam-idamkan, serta segala yang diinginkan dan diminta.

Ayat 32

Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah menganugerahkan yang demikian itu sebagai suatu kemuliaan bagi mereka. Dia mengampuni segala dosa-dosa dan mencurahkan rahmat kepada mereka.


Baca juga: Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Mencukur Bulu Kemaluan


Ayat 33

Ayat ini mencela orang-orang yang mengatakan yang bukan-bukan tentang Al-Qur’an. Al-Qur’an mempertanyakan: perkataan manakah yang lebih baik daripada Al-Qur’an, siapakah yang lebih baik perkataannya dari orang yang menyeru manusia agar taat kepada Allah.

Ibnu Sirin, as-Suddi, Ibnu Zaid, dan al-Hasan berpendapat bahwa orang yang paling baik perkataannya itu ialah Rasulullah saw. Apabila membaca ayat ini, al-Hasan berkata bahwa yang dimaksud adalah Rasulullah, ia adalah kecintaan dan wali Allah. Ia adalah yang disucikan Allah dan merupakan pilihan-Nya. Ia adalah penduduk bumi yang paling cinta kepada Allah. Allah memperkenankan seruannya dan ia menyeru manusia agar mengikuti seruan itu. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa ayat ini maksudnya umum, yaitu semua orang yang menyeru orang lain untuk menaati Allah. Rasulullah termasuk orang yang paling baik perkataannya, karena beliau menyeru manusia kepada agama Allah.

Ayat ini menerangkan bahwa seseorang dikatakan paling baik apabila perkataannya mengandung tiga perkara, yaitu:

  1. Seruan pada orang lain untuk mengikuti agama tauhid, mengesakan Allah dan taat kepada-Nya.
  2. Ajakan untuk beramal saleh, taat melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-Nya.
  3. Menjadikan Islam sebagai agama dan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah saja.;Dengan menerangkan perkataan yang paling baik itu, seakan-akan Allah menegaskan kepada Rasulullah bahwa tugas yang diberikan kepada beliau itu adalah tugas yang paling mulia. Oleh karena itu, beliau diminta untuk tetap melaksanakan dakwah, dan sabar dalam menghadapi kesukaran-kesukaran dan rintangan-rintangan yang dilakukan orang-orang kafir.

Dari ayat ini dipahami bahwa sesuatu yang paling utama dikerjakan oleh seorang muslim ialah memperbaiki diri lebih dahulu, dengan memperkuat iman di dada, menaati segala perintah Allah, dan menghentikan segala larangan-Nya. Setelah diri diperbaiki, serulah orang lain mengikuti agama Allah.

Orang yang bersih jiwanya, kuat imannya, dan selalu mengerjakan amal yang saleh, ajakannya lebih diperhatikan orang, karena ia menyeru orang lain dengan keyakinan yang kuat dan dengan suara yang mantap, tidak ragu-ragu.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Fussilat Ayat 34


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah al-Qamar Ayat 45-48

0
Tafsir Surah al-Qamar
Tafsir Surah al-Qamar

Pada Tafsir Surah al-Qamar Ayat 45-48 mengisahkan kebesaran Allah yang ditunjukkan melalui kemenangan umat Islam dalam perang Badar. Dalam perang tersebut umat Islam hanya memilki sedikit pasukan dibanding dengan kaum kafir Mekah. Selain itu, Tafsir Surah al-Qamar Ayat 45-48 menjelaskan akibat yang akan diterima oleh orang-orang yang durhaka kepada Allah.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Qamar Ayat 37-44


Ayat 45

Allah menegaskan bahwa kesatuan mereka akan dicerai-beraikan dan kekuatan mereka akan dipatahkan oleh pasukan Islam. Janji Allah itu terbukti dalam Perang Badar, dimana lebih dari 70 orang pemuka-pemuka mereka tewas dan sisanya lari terbirit-birit kembali ke Mekah. Bukti tentang benarnya kenabian Muhammad saw, karena ayat ini turun di Mekah, sedang Nabi saw belum mempunyai pasukan, bahkan pengikut-pengikut Nabi terpencar-pencar, diburu dan disiksa oleh orang-orang musyrik di mana saja mereka berada, ‘Umar bin Khattab berkata, “Ketika ayat itu turun saya tidak mengerti apa maksudnya. Tetapi pada Perang Badar, saya lihat Nabi saw memakai baju besi dan saya dengan beliau membaca ayat ini, ‘Golongan itu pasti akan dikalahkan,’ waktu itu barulah saya mengerti maksud ayat tersebut.”

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi saw berkata ketika beliau masih dalam kemah, pada hari Perang Badar:

اَنْشُدُكَ عَهْدَكَ وَوَعْدَكَ: اَللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ لَمْ تُعْبَدْ بَعْدَ الْيَوْمِ فِى اْلأَرْضِ أَبَدًا, فَأَخَذَ اَبُوْ بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِيَدِهِ وَقَالَ حَسْبُكَ ياَ رَسُوْلَ اللهِ اَلْحَحْتَ عَلَى رَبِّكَ فَخَرَجَ وَهُوَ يَثِبُ فِى الدَّرْعِ وَهُوَ يَقُوْلُ سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّوْنَ الدُّبُرَ بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ. (رواه البخاري)

“Aku menagih pesan-Mu dan janji-Mu! Ya Allah, jika Engkau menghendaki (kekalahan kami) niscaya Engkau tidak akan disembah lagi sesudah hari ini”. Lalu Abu Bakar memegang tangan Nabi dan berkata, “Cukup sudah ya Rasulullah! Engkau telah begitu mendesak Tuhanmu.”Lalu beliau keluar (dari kemah) melompat dengan memakai baju besi sambil membaca ayat ini. (Riwayat al-Bukhari)

Kemudian Allah menyatakan bahwa yang tersebut itu adalah azab dunia dan mereka akan menemui azab yang lebih hebat lagi pada hari Kiamat.


Baca Juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 16-18: Ragam Ancaman Allah serta Ibrah dari Umat Terdahulu


Ayat 46

Peperangan tersebut adalah azab yang akan mereka rasakan di dunia, berupa kekalahan, dibunuh atau ditawan tetapi mereka masih akan menerima azab lain yang lebih dahsyat, yaitu azab neraka di akhirat. Azab akhirat itu lebih hebat dan berlangsung kekal dan kuat selama-lamanya.

Ayat 47

Allah menyatakan, bahwa sesungguhnya orang-orang yang mempersekutukan Allah dan mendustakan rasul-rasul-Nya adalah orang-orang sesat dan menyimpang dari jalan yang benar di dunia. Di akhirat nanti mereka akan ditimpa azab yang pedih akibat kesesatannya.

Ayat 48

Orang-orang yang durhaka akan digiring ke dalam neraka dengan terseret-seret dan terbentur-bentur mukanya ke tanah karena itu mereka sangat menderita. Penderitaan mereka di dalam neraka lebih hebat lagi. Neraka akan melelehkan kulit dan daging mereka.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah al-Qamar Ayat 49-55


Tafsir Surah al-Qamar Ayat 37-44

0
Tafsir Surah al-Qamar
Tafsir Surah al-Qamar

Tafsir Surah al-Qamar Ayat 37-44 membahas penegasan Allah terhadap orang-orang yang mendustai setiap Rasul-Nya dan mengingkari setiap perintahNya. Pada Tafsir Surah al-Qamar Ayat 37-44 kita dapat melihat akibat yang diterima oleh kaum-kaum terdahulu yang membangkang.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah al-Qamar Ayat 27-36


Ayat 37 

Kejahatan mereka sampai ke puncaknya ketika yang mereka minta dari Nabi Luth agar menyerahkan kepada mereka, tamu-tamunya. Tamu-tamu itu adalah malaikat-malaikat yang menyamar sebagai pemuda-pemuda ganteng untuk menguji mereka.

Mereka mengetahui tamu-tamu itu karena pengkhianatan istri Luth yang menyampaikan kepada mereka berita kedatangannya.

Ketika Nabi Luth melihat mereka datang, ia menutup pintu untuk melindungi tamu-tamunya, dan menawarkan kepada mereka “anak-anak perempuannya.” Namun mereka tidak tertarik pada anak-anak perempuannya itu dan berusaha mendobrak pintu. Akhirnya Nabi Luth membukakan pintu. Begitu mereka masuk, mata mereka menjadi buta tidak dapat melihat tamu-tamu tersebut karena ditampar oleh Jibril dengan sayapnya.

Pada akhir ayat ini Allah menyatakan kepada mereka supaya mereka merasakan azab-Nya berupa kebutaan mata mereka, yang sebelumnya kepada mereka telah diberi ancaman.

Ayat 38

Pada pagi harinya, azab pun datang. Mereka dihujani batu oleh Allah sehingga mereka dan negerinya terkubur habis. Nabi Lut sendiri beserta keluarga yaitu kedua putrinya dan mereka yang beriman sudah diperintahkan keluar dari negeri itu sebelum fajar sehingga mereka selamat.

Ayat 39

Demikianlah azab Allah terhadap kaum Nabi Lut. Kedahsyatan azab itu harus mereka rasakan karena mereka tidak mau memperhatikan peringatan-peringatan Allah melalui nabi-Nya. Peringatan-peringatan Allah pasti terjadi, karena itu tidak boleh diabaikan.

Ayat 40

Tafsir ayat ini sebagaimana yang telah diterangkan pada ayat 32 surah ini yang selalu dijadikan penutup dari masing-masing empat kisah tersebut (yaitu kisah kaum Nuh, kisah kaum ‘Ad, kisah kaum Tsamµd dan kisah kaum Luth).

Allah juga kembali menegaskan bahwa Al-Qur’an mudah difahami dan diambil sebagai peringatan karena Allah menyampaikan contoh yang gamblang di dalamnya, karena itu manusia seharusnya mengimaninya dalam menjalankan ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya supaya mereka bahagia di dunia dan di akhirat.

Ayat 41-42

Ayat-ayat ini menerangkan bahwa sungguh peringatan demi peringatan telah berkali-kali disampaikan kepada kaum Fir‘aun dan pengikut-pengikutnya. Namun mereka tetap mendustakannya. Peringatan-peringatan itu adalah semua tanda-tanda kerasulan dan mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi Musa sebagaimana diungkapkan dalam Surah al-A‘raf/7: 133 dan al-Isra’/17: 101. Karena itu Allah menurunkan azab kepada mereka. Azab datang dari Zat yang Mahakuat dan Mahakuasa, yang menunjukkan bahwa azab itu amat hebat. Berupa tenggelamnya Fir‘aun dan pengikutnya di laut merah.


Baca Juga: Surat Asy-Syuara Ayat 65 – 68: Kisah Kehancuran Firaun dan Tentaranya


Ayat 43

Allah memperingatkan orang-orang kafir Mekah apakah mereka merasa lebih mulia dari kaum kafir sebelum mereka yang telah ditimpa hukuman Allah seperti kaum Nuh, kaum ‘Ad dan kaum Tsamud. Apakah mereka akan selamat dari azab Allah karena kekafiran mereka terhadap-Nya dan kedustaan mereka terhadap rasul-Nya. Ataukah mereka benar mendapat jaminan tertulis dalam kitab-kitab suci bahwa mereka merasa bebas dari azab Allah walaupun selalu kafir dan berbuat jahat. Jika keyakinan mereka itu benar perlu menunjukkan landasan kebenaran keyakinan mereka itu.

Ayat 44

Allah masih melanjutkan pertanyaan apakah mereka merasa merupakan suatu kekuatan yang sangat kompak sehingga begitu kuatnya dan tidak mungkin dikalahkan. Abu Jahal berkata, pasukan mereka banyak dan kuat, mereka pasti akan menang (pada peristiwa Perang Badar).

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah al-Qamar Ayat 45-48


Tafsir Ahkam: Serba-serbi Kesunnahan Mencukur Bulu Kemaluan

0
Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Mencukur Bulu Kemaluan
Kesunnahan Mencukur Bulu Kemaluan

Selain kuku serta kumis yang apabila terlalu panjang dianjurkan untuk di potong, bulu kemaluan seperti itu juga. Islam tidak hanya memberi tuntunan pada perawatan bagian tubuh yang dapat dilihat, tapi juga bagian pribadi yang tak bisa dilihat orang lain. Hal ini berhubungan dengan Kesehatan tubuh serta menjaga kesucian. Lebih lengkapnya, simak penjelasan para pakar tafsir dan fikih berikut ini:

Anjuran Memotong Bulu Kemaluan

Allah berfirman:

۞ وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ

 (Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “(Aku mohon juga) dari sebagian keturunanku.” Allah berfirman, “(Doamu Aku kabulkan, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 124).

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa salah satu kesunnahan yang disinggung oleh surah Al-Baqarah ayat 124 di atas adalah mencukur bulu kemaluan. Ia juga menjelaskan bahwa yang lebih utama dilakukan pada bulu kemaluan adalah mencukur, bukan mencabut. Hal ini berkebalikan pada yang dilakukan terhadap bulu ketiak. Apabila bulu kemaluan dicabut, maka boleh-boleh saja. Sebab tujuan membersihkan diri sudah tercapai (Tafsir Al-Qurthubi/2/105).

Kitab Mausu’ah al-Ijma’ fi Fiqh al-Islami (1/205) mendokumentasikan bahwa mencukur bulu kemaluan merupakan kesunnahan yang telah disepakati para ulama’, antara lain Ibn Hazm, Ibn ‘Abdil Bar, Imam An-Nawawi, As-Syaukani, dan Ibn Qasim. Tidak ditemukan ulama’ yang menyatakan hukum yang berbeda, sehingga bisa dikatakan bahwa kesepakatan ulama’ tersebut benar adanya. Dasar yang dipakai antara lain dua hadis berikut:

الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ ، وَالاِسْتِحْدَادُ ، وَقَصُّ الشَّارِبِ ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ ، وَنَتْفُ الآبَاطِ

Ada lima hal termasuk fitrah, yaitu khitan, mencukur rambut kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak (HR. al-Bukhari).

« مِنَ الْفِطْرَةِ حَلْقُ الْعَانَةِ ، وَتَقْلِيمُ الأَظْفَارِ ، وَقَصُّ الشَّارِبِ »

Termasuk dari fitrah adalah memotong bulu kemaluan, memotong kuku, dan memotong kumis (HR. al-Bukhari).

Baca juga: Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam

Serba-Serbi Ketentuan Memotong Bulu Kemaluan

Para ulama’ memberikan tambahan keterangan (Al-Majmu’/1/289):

Pertama, apabila seorang suami memerintahkan sang istri mencukur bulu kemaluan sang istri sendiri, maka ada dua pendapat di kalangan ulama klasik. Pendapat yang pertama mengatakan wajib atas sang istri melaksanakan apa yang suaminya perintahkan. Adapun pendapat kedua mengatakan hal itu tidak menjadi kewajiban.

Kedua, anjuran pada bulu kemaluan adalah mencukur habis. Apabila dicabut, sekadar dicukur tipis atau diolesi nurah (semacam obat oles), maka boleh-boleh saja. Namun hal itu meninggalkan perilaku yang lebih utama. Beberapa ulama’ menghukumi makruh mencabut bulu kemaluan. Sebab dapat menyakiti diri sendiri (Al-Fawakih Ad-Dawani/8/185).

Ketiga, hukumnya haram memerintahkan orang lain mencukur rambut kemaluan, kecuali suami kepada istrinya sendiri. Itupun hukumnya makruh.

Keempat, waktu yang baik untuk mencukur bulu kemaluan berbeda-beda pada setiap orang bergantung panjang rambut kemaluan.

Kelima, yang dimaksud bulu kemaluan yang disunnahkan untuk dipotong menurut pendapat mashur adalah yang tumbuh di sekitar penis dan vagina. Untuk rambut yang tumbuh di sekitar anus, Imam An-Nawawi menyatakan tidak menemukan dasar kesunnahannya. Namun apabila tujuannya untuk kebersihan dan kemudahan beristinja, maka itu baik juga.

Dari beberapa keterangan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan kesunnahan merawat bulu kemaluan. Yakni dengan memotongnya apabila sudah terlalu panjang. Selain itu, memotong bulu kemaluan juga berhubungan dengan kebersihan diri dan menjaga hubungan antara suami istri. Wallahu a’lam bish shawab.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 223: Inilah Etika dalam Berhubungan Intim Suami Istri