Beranda blog Halaman 181

Tafsir Surah An-Najm Ayat 24-28

0
Tafsir Surah An-Najm
Tafsir Surah An-Najm

Tafsir Surah An-Najm Ayat 24-28 membahas seputar prasangka yang dimiliki oleh kaum kafir Quraisy. Prasangka yang dimiliki oleh kaum kafir Quraisy tersebut menunjukkan kebodohannya. Pada Tafsir Surah An-Najm Ayat 24-28 ini juga menjadi pengingat bahwa apa yang kita lakukan harus berdasarkan keyakinan bukan hanya sekadar prasangka atau perkiraan.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah An-Najm Ayat 20-23


Ayat 24-25

Maka Allah swt menambahkan dalam ayat ini apakah mereka itu mengharapkan sesuatu yang mereka cita-citakan berupa syafaat dari tuhan-tuhan mereka di akhirat? Tidak, sama sekali berhala-berhala itu tidak ada gunanya, ia tidak akan membantu apa-apa karena berhala-berhala itu adalah benda mati yang keras bagai batu. Bahwasanya segala apa yang ada di dunia dan di akhirat adalah milik Allah, dan berhala-berhala itu tidak memiliki apa-apa.

Allah telah membuat mereka berputus asa untuk mendapat kebaikan dari ibadat kepada berhala. Berhala itu tidak dapat menjadi alat penghubung untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah.

Ayat 26

Kemudian Allah swt menerangkan tentang betapa banyak malaikat di langit yang tidak dapat menolong manusia dengan pertolongan apa pun, kecuali bila Allah memberikan izin kepada mereka untuk orang yang dikehendaki-Nya yaitu orang yang ikhlas dalam perkataan dan perbuatannya. Apabila keadaan malaikat demikian halnya, sedangkan malaikat adalah makhluk yang dekat kepada Tuhan, maka bagaimana dengan berhala-berhala yang hanya berupa benda mati tidak mempunyai ruh dan kehidupan itu? Jelasnya berhala-berhala itu sama sekali tidak ada manfaatnya.


Baca Juga: Tujuan Al-Quran Diturunkan: Merubah Tradisi Buruk Masyarakat Jahiliyyah


Ayat 27

Allah swt menerangkan bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat dan apa-apa yang terjadi di alam akhirat sebagaimana yang telah disampaikan para rasul; mereka itu menambah kekafiran dengan kebodohan perkataan mereka yang menganggap bahwa malaikat itu adalah anak perempuan Tuhan (Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan).

Allah swt mencap orang-orang yang seperti itu sebagai orang-orang yang tidak beriman dan sebagai isyarat bahwa perkataan mereka telah sampai kepada batas kekejian yang tidak mungkin berasal dari orang yang percaya adanya hisab dan pembalasan. Perkataan mereka itu mengandung dua dosa: Yaitu pengakuan bahwa Tuhan mempunyai anak, dan bahwa anak Tuhan yang mereka katakan itu perempuan, dengan pengakuan yang demikian itu mereka merasa bangga telah melebihi Tuhan, karena mereka mempunyai anak laki-laki.

Ayat 28

Ayat ini menjelaskan bahwa perkataan yang demikian itu adalah suatu tanda bahwa mereka tidak mendapat petunjuk Tuhan berupa pengetahuan yang membawa mereka ke jalan benar yang menyebabkan mereka mengatakan seperti itu. Mereka hanya terpengaruh oleh prasangka yang menjauhkan mereka dari kebenaran. Sesungguhnya suatu pengetahuan yang benar haruslah berdasarkan keyakinan, bukan hanya perkiraan atau persangkaan. Adapun orang musyrik itu hanyalah mengikuti persangkaan dalam menamakan malaikat sebagai anak perempuan Tuhan, bukan dengan analisa ilmiah. Dalam hadis sahih dikatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالظَنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ. (رواه البخاري ومسلم)

“Jauhilah prasangka buruk, sesungguhnya prasangka buruk adalah perkataan yang paling dusta.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim);Dalam ayat yang lain yang sama artinya, Allah berfirman:

وَجَعَلُوا الْمَلٰۤىِٕكَةَ الَّذِيْنَ هُمْ عِبٰدُ الرَّحْمٰنِ اِنَاثًا ۗ اَشَهِدُوْا خَلْقَهُمْ ۗسَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْـَٔلُوْنَ   ١٩ 

Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat hamba-hamba (Allah) Yang Maha Pengasih itu sebagai jenis perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan (malaikat-malaikat itu)? Kelak akan dituliskan kesaksian mereka dan akan dimintakan pertanggungjawaban. (az-Zukhruf/43: 19)

Tegasnya bahwa suatu hal yang berhubungan dengan iktikad hendaklah berdasarkan pemikiran yang sehat yang dapat diterima oleh akal dan tidak bertentangan dengan wahyu.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah An-Najm Ayat 29-31


Self Reward Berujung Pemborosan, Begini Manajemen Harta ala Alquran

0
Self Reward Berujung Pemborosan, Begini Manajemen Harta ala Al-Qur’an
Self Reward Berujung pada Pemborosan

Belakangan ini ramai diperbincangkan mengenai self reward yang dinilai efektif untuk menjaga keseimbangan mental dan meningkatkan kecintaan terhadap diri sendiri.

Self reward berasal dari 2 kata, yaitu “self” yang berarti diri dan “reward” yang berarti penghargaan. Berdasarkan hal tersebut, self reward dapat diartikan sebagai salah satu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Di antara manfaat self reward adalah kita akan lebih menghargai diri sendiri atas usaha yang telah kita lakukan, lebih mencintai hidup, menambah motivasi, membangkitkan semangat, melepas stress, menanamkan pemikiran positif, dan menjaga kesehatan mental (Rendika Vhalery: 2021).

Sebagaimana yang dikutip dari artikel di website Universitas Islam Indonesia, Hazhira Qudsyi, S.Psi., M.A, mengungkapkan bahwasanya setiap bagian dari badan kita merupakan nikmat dari Allah dan mencintai diri sendiri merupakan bentuk rasa syukur kita atas nikmat tersebut. Salah satu upaya menjaga mental diri yaitu dengan melakukan self reward yang dinilai efektif bagi sebagian orang.

Self reward yang tepat memang dapat membawa dampak yang baik bagi diri kita. Namun, saat ini sering kita jumpai self reward menjadi dalih atas pemborosan yang dilakukan seseorang ataupun sekelompok orang. Tak jarang self reward yang dilakukan manusia terhadap dirinya melampaui batas kewajaran dan cenderung kepada perbuatan pemborosan. Apakah self reward semacam itu masih diperbolehkan dan baik untuk terus dilakukan? Untuk itu, mari kita lihat sejenak bagaimana ajaran Al-Qur’an mengenai manajemen harta.

Baca juga: Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 25: Hakikat Rezeki Yang Sebenarnya

Ayat-Ayat tentang Manajemen Harta

Beberapa ayat Al-Qur’an menginstruksikan beberapa aturan dalam menggunakan harta benda. Di antaranya yaitu QS. Al-Isra ayat 26-27, QS. Al-An’am ayat 141, dan QS. Al-Isra Ayat 29. Berikut ulasan singkatnya.

  1. Al-Isra’ ayat 26 dan 27.

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا(26)

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِين وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا(27)

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya (QS. Al-Isra: 26-27).

Dalam Tafsir al-Azhar dijelaskan bahwasanya disamping berbakti, berkhidmat, serta menanamkan kasih sayang, cinta, dan rahmat kepada kedua orangtua, hendaklah kita memberikan hak mereka sebagai kaum keluarga yang karib. Mereka berhak ditolong apabila keadaannya sedang tidak baik. Terkadang rezeki kita dan mereka pun tidak sama, ada yang cukup hingga berlebih, dan ada pula yang serba kekurangan. Maka dari itu, keluarga berhak mendapatkan bantuan dari anggota keluarga lain yang dinilai lebih mampu.

Buya Hamka juga menjelaskan bahwa orang pemboros adalah teman setan. Orang yang terhasut oleh setan pasti kehilangan pedoman dan tujuan hidup dengan maksiat dan kesesatannya. Pada ujung ayat, dijelaskan pula bahwasanya seseorang yang menghamburkan hartanya untuk sesuatu yang kurang berfaedah dapat digolongkan bahwa dirinya sudah terpengaruh setan. Di antara sifat setan yaitu tidak mengenal terima kasih, melupakan nikmat, dan seenaknya dalam menggunakan rezeki berupa harta dari Allah. (Hamka, Tafsir Al-Azhar jilid 5).

  1. Al-An’am ayat 141

كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ…

Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Sejalan dengan QS. Al-Isra ayat 26-27, ayat ini turut menginstruksikan kepada kita untuk tidak berlaku boros dalam konteks mengonsumsi ataupun memberikan zakat atas rezeki yang diberikan Allah kepada kita. Dalam artian, kita diperintahkan untuk berzakat/bersedekah sesuai dengan porsinya.

Hal ini mengindikasikan pada kita untuk tidak berlebihan dalam bersedekah/berzakat kepada orang lain. Apabila kepada orang lain saja kita tidak diperkenankan untuk berlebihan, apalagi sekedar digunakan sendiri dan hanya untuk bersenang-senang secara berlebihan dengan dalih self reward.

Baca juga: Surah Al-Furqan [25] Ayat 67: Anjuran Bersedekah Secara Proporsional

  1. Al-Isra ayat 29

وَلَاتَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلولَةً اِلٰى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُوْمًامَّحْسُوْرًا

“Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS. Al-Isra: 29).

Menurut Tafsir al-Mishbah, QS. al-Isra’ ayat 29 ini menjelaskan mengenai larangan untuk enggan mengulurkan tangan dalam kebaikan. Di mana seakan-akan tangannya terbelenggu pada leher, sehingga tidak dapat mengulurkannya. Ayat ini menjelaskan juga mengenai larangan berlebihan dalam mengulurkan tangan (berinfak), karena berlebihan dapat mencelakai diri sendiri maupun orang lain.

Lafaz مَّحْسُوْرًا diambil dari حسر yang berarti tidak berbusana, telanjang, atau tidak tertutup. Dari segi rezeki, seseorang yang tertutup adalah orang yang memiliki kecukupan sehingga tidak perlu berkunjung kepada orang lain untuk meminta. Maka dari itu, orang yang boros hingga kehabisan harta sama dengan membuka kekurangan atau aibnya.

Pendapat lain menyebutkan bahwasanya kata محسورا berasal dari kata حسير yang digunakan untuk menunjuk binatang yang tidak mampu berjalan karena lemahnya, sehingga berhenti ditempat. Demikian juga pemboros, pada akhirnya akan berhenti dan tidak mampu melakukan aktifitas baik untuk dirinya sendiri ataupun bagi orang lain, sehingga terpaksa hidup tercela (M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah jilid 7).

Kesimpulan

Dari penjelasan ayat-ayat di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwasanya kita tidak diperbolehkan untuk berlaku berlebihan dalam memanfaatkan apa yang sudah diberikan Allah. Jika mendapat rezeki, kita dianjurkan untuk saling berbagi (membagikan haknya) dengan tidak berlebihan. Begitu juga kita tidak diperbolehkan melakukan pemborosan untuk diri kita sendiri (konsumtif).

Hal ini sebagaimana tren self reward yang kadang kala melampaui batas, di mana sebagian orang menyenangkan/menghargai dirinya secara berlebihan. Mereka terjerumus dalam perilaku boros yang akhirnya akan mencelakai diri mereka sendiri melalui manajemen buruk terhadap hartanya. Self reward memang baik dilakukan, namun dengan tetap tidak berlebihan.

Baca juga: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 2: Cara Mengelola Harta Anak Yatim

Tafsir Surah An-Najm Ayat 20-23

0
Tafsir Surah An-Najm
Tafsir Surah An-Najm

Tafsir Surah An-Najm Ayat 20-23 mengisahkan tentang kaum kafir Quraisy yang menjadikan benda-benda sebagai berhala. Selain itu, pada Tafsir Surah An-Najm Ayat 20-23 ini menceritakan penolakan Allah terhadap sangkaan kafir Quraisy yang menganggap Allah memiliki anak.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah An-Najm Ayat 16-19


Ayat 20

Dalam ayat ini Allah swt melanjutkan ayat yang sebelumnya yaitu bahwa orang-orang musyrik juga menyembah Manah yang ketiga yakni yang terakhir sebagai anak perempuan Allah.

Manah itu sebuah batu besar terletak di Musyallal dengan Qudaid antara Mekah dan Medinah. Kabilah Khuza’ah, Aus dan Khazraj mengagungkan Manah ini dan dalam melakukan ibadah haji mereka mulai dari Manah sampai ke Ka’bah.

Selain benda-benda yang tiga itu, masih banyak lagi benda-benda yang sangat dimuliakan oleh orang-orang musyrik. Akan tetapi, yang paling termasyhur adalah tiga benda itu. Ibnu Ishak mengatakan bahwa orang-orang Arab menganggap benda-benda yang tiga itu selain Ka’bah sebagai benda sembahan mereka, dibuat seperti bangunan Ka’bah yang mempunyai tabir yang mereka bertawaf padanya seperti tawaf pada Ka’bah dan memotong binatang kurban di sampingnya. Mereka juga mengetahui kemuliaan Ka’bah yaitu bahwa Ka’bah itu adalah rumah Ibrahim dan masjidnya.

Ayat 21

Dalam ayat ini Allah menolak anggapan mereka yang menyatakan bahwa Dia mempunyai anak perempuan dan mereka mempunyai anak laki-laki yang disebabkan oleh persangkaan mereka bahwa perempuan itu lemah dan mempunyai kekurangan sedangkan laki-laki itu sempurna. Ini mengungkapkan anggapan mereka, bahwa Allah mempunyai kekurangan, sedangkan mereka yang memiliki kekurangan itu menganggap diri mereka sempurna.


Baca Juga: Pemahaman Anak Allah dalam Perspektif Alkitab dan Al-Qur’an


Ayat 22

Pembagian yang seperti mereka katakan dalam ayat 21 itu adalah pembagian yang tidak adil, kurang pantas dan tidak sempurna sebab mereka menganggap bahwa Tuhan mereka mempunyai apa-apa yang mereka sendiri membencinya. Dan untuk mereka apa-apa yang mereka sukai.

Ayat 23

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa mereka menamakan berhala-berhala itu tuhan, padahal itu hanyalah nama-nama yang tidak mempunyai arti sama sekali. Mereka mengira dan berkeyakinan bahwa berhala-berhala itu mempunyai hak untuk di-iktikafi demi ibadat kepadanya dan sebagai tempat menyajikan binatang kurban. Mereka tidak mempunyai alasan atau mereka tidak dapat menjelaskan apa yang mereka katakan dan mereka lakukan. Mereka hanya meniru orang-orang yang terdahulu yang selanjutnya akan diikuti oleh anak cucu mereka.

Dalam ayat yang lain yang bersamaan artinya, Allah berfirman:

مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖٓ اِلَّآ اَسْمَاۤءً سَمَّيْتُمُوْهَآ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ

Apa yang kamu sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. (Yusuf/12: 40)

Kemudian Allah swt menguatkan penjelasan-Nya dengan menerangkan bahwa mereka tidak mempunyai alasan kecuali karena berbaik sangka kepada bapak-bapaknya, yang berjalan pada jalan yang salah dan mempertahankan kedudukan mereka dalam masyarakat, atau karena hormat mereka terhadap bapak-bapaknya. Yang jelas mereka menyembah berhala-berhala itu hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan saja, bahwa bapak-bapak mereka dahulu itu berjalan pada jalan yang benar, padahal sebenarnya mereka mengikuti hawa nafsu mereka.

Selanjutnya, Allah swt menerangkan bahwa seharusnya mereka tidak pantas untuk berbuat seperti itu karena telah datang peringatan, apa yang mereka lakukan saat itu adalah suatu kelalaian dan kesalahan.

Kemudian dalam ayat ini Allah menerangkan, bahwa mereka hanyalah mengikuti pendapat saja, sedangkan Allah telah mengutus rasul-Nya dengan kebenaran yang nyata dan dengan alasan yang jelas. Maka sudah seharusnyalah mereka menyadari kesalahannya. Akan tetapi, mereka masih tetap berpaling dari kebenaran. Diterangkan dalam firman Allah sebagai berikut:

كَاَنَّهُمْ حُمُرٌ مُّسْتَنْفِرَةٌۙ  ٥٠  فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍۗ  ٥١

Seakan-akan mereka keledai liar yang lari terkejut, lari dari singa. (al-Muddassir/74: 50-51)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah An-Najm Ayat 24-28


Tafsir Surah An-Najm Ayat 16-19

0
Tafsir Surah An-Najm
Tafsir Surah An-Najm

Pada Tafsir Surah An-Najm Ayat 16-19 ini masih berkaitan dengan penafsiran sebelumnya. Tafsir Surah An-Najm Ayat 16-19 menekankan kekuasaan Allah berdasarkan ciptaanNya. Sebagaimana kekuatan malaikat Jibril serta keajaiban Sidratul Muntaha yang semuanya pernah Nabi Muhammad lihat atas izin Allah.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah An-Najm Ayat 6-15


Ayat 16 

Selanjutnya dalam ayat ini Allah swt menerangkan bahwasannya Muhammad saw melihat Jibril di Sidratul Muntaha itu ketika Sidratul Muntaha tertutup oleh suasana yang menandakan kebesaran Allah berupa sinar-sinar yang indah dan malaikat-malaikat.

Al-Qur’an tidak menerangkan dengan jelas, namun bagi kita cukuplah penjelasan yang demikian, tidak menambah atau menguranginya, bila tidak ada dalil yang jelas yang menerangkannya. Seandainya ada manfaatnya untuk dijelaskan niscaya hal itu dijelaskan oleh Allah swt.

Ayat 17

Kemudian dalam ayat ini Allah menjelaskan lagi bahwa tatkala Rasulullah saw melihat Jibril di sana, ia tidak berpaling dari memandang semua keajaiban Sidratul Muntaha sesuai dengan apa yang telah diizinkan Allah kepadanya untuk dilihat. Dan ia tidak pula melampaui batas kecuali apa yang telah diizinkan kepadanya.

Ayat 18

Ayat ini menerangkan bahwa dengan melihat Sidratul Muntaha, berarti Muhammad saw telah melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Allah yang merupakan keajaiban dari kekuasaan-Nya.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lain bahwa saat itu Muhammad saw melihat suatu lambaian hijau dari surga yang memenuhi ufuk (arah pandangan).

Maka hendaklah kita tidak membatasi apa yang telah dilihat oleh Muhammad saw dengan mata kepalanya, setelah diterangkan secara samar-samar dalam Al-Qur’an tentang hal itu. Yang jelas ialah bahwa Nabi telah melihat tanda-tanda kebesaran Allah swt yang tidak terbatas.


Baca  Juga: Argumentasi Kekuasaan dan KeEsaan Allah Swt: Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 164


Ayat 19

Allah swt bertanya kepada orang-orang musyrik, apakah setelah mereka mendengar tanda-tanda Allah baik kesempurnaan maupun keagungan-Nya dalam kekuasaan, dan setelah mendengar keadaan malaikat dengan kedudukan dan kemampuan mereka yang tinggi, masih saja menjadikan berhala-berhala yang hina keadaannya itu sebagai sekutu bagi Allah, sedangkan mereka mengetahui kebesaran-Nya?

Pertanyaan ini merupakan cemoohan dari Tuhan, sebab bagi seorang yang berakal tidak mungkin terlintas dalam pikirannya untuk menyembah berhala yang mereka buat sendiri, kemudian diletakkan dalam suatu rumah yang mereka dirikan sebagai tandingan Ka’bah.

Adapun al-Lata adalah nama sebuah batu besar yang berwarna putih, di atas batu itu diukir gambar sebuah rumah. Al-Lata ini terletak di daerah Thaif. Rumah itu dipasangi tabir. Di sekelilingnya ada teras yang diagung-agungkan oleh orang-orang Thaif, antara lain Kabilah Saqif dan pengikut-pengikutnya. Mereka tergolong orang-orang yang lebih membanggakan benda itu daripada orang-orang Arab yang lain selain Quraisy. Kata Ibnu Jarir, mereka menganggap bahwa kata al-Lata itu diambil dari lafal Allah. Mereka menganggap al-Lata (Mahasuci Allah dari apa yang mereka katakan). Menurut Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Rabi’ bin Anas, mereka menamakan al-Lata dari nama seorang laki-laki yang menumbuk tepung untuk jemaah haji. Setelah ia mati, maka orang-orang berkerumun melakukan iktikaf di atas kuburnya yang selanjutnya mereka menyembah dan membuatkan patungnya.

Menurut Ibnu Jarir, al-‘Uzza berasal dari kata ‘Aziz, al-‘Uzza ialah sebuah pohon yang di atasnya ada sebuah bangunan dan bertirai, bertempat di Nakhlah yaitu antara Mekah dan Thaif; orang-orang Quraisy mengagungkan pohon itu.

Diriwayatkan bahwa Abu Sufyan ketika masih musyrik berkata pada waktu peperangan U¥ud bahwa merekalah yang mempunyai ‘Uzza, sedangkan yang lain tidak. Maka bersabdalah Rasulullah saw.

قُوْلُوْا: اَلله ُمَوْلاَ نَا وَلاَ مَوْلَى لَكُمْ .(رواه البخاري وأحمد)

“Katakanlah! Allah adalah Tuhan kami, dan kamu tidak mempunyai Tuhan.” (Riwayat al-Bukhari dan Ahmad)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah An-Najm Ayat 20-23


Tafsir Surah An-Najm Ayat 6-15

0
Tafsir Surah An-Najm
Tafsir Surah An-Najm

Pada Tafsir Surah An-Najm Ayat 6-15 mendeskripsikan bagaimana kekuatan yang dimiliki oleh malaikat Jibril dan membahas tentang letak surga. Kemudian, pada Tafsir Surah An-Najm Ayat 6-15 ini menjelaskan bagaimana Nabi Muhammad mengetahui bentuk malaikat Jibril dan pernah bertemu dengan malaikat Jibril dengan bentuk aslinya. Hal tersebut membantah keraguan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad yang tidak mengetahui bentuk malaikat Jibril.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah An-Najm Ayat 3-5


Ayat 6

Allah swt menerangkan dalam ayat ini, bahwa Jibril itu mempunyai kekuatan yang luar biasa. Seperti dalam riwayat bahwa ia pernah membalikkan perkampungan Nabi Lut kemudian mereka diangkat ke langit lalu dijatuhkan ke bumi. Ia pernah menghembus kaum ¤amµd hingga berterbangan. Dan apabila ia turun ke bumi hanya dibutuhkan waktu sekejap mata. Lagi pula ia dapat berubah bentuk menjadi seperti manusia.

Ayat 7-9

Setelah itu Muhammad saw melihat Jibril di tempat yang tinggi. Kemudian Jibril memenuhi angkasa itu, lalu mendekati Muhammad saw dan Jibril semakin mendekat lagi kepada Muhammad saw hingga jaraknya kira-kira hampir dua ujung busur panah lagi atau lebih dekat lagi.

Ayat 10

Selanjutnya diterangkan bahwa setelah Nabi Muhammad saw sudah berdekatan benar dengan Jibril, Jibril menyampaikan wahyu Allah mengenai persoalan-persoalan agama.

Ayat 11

Ayat ini menerangkan bahwa kebanyakan manusia menyangka bahwa ia telah menggambarkan apa yang dilihatnya, padahal hatinya belum yakin terhadap apa yang telah ia lihat, tidak demikian penglihatan dan keyakinan Muhammad saw terhadap Jibril meskipun kedatangannya kepada Muhammad saw kerap kali berbeda bentuknya, karena Muhammad saw telah mengetahui bentuk yang aslinya.

Karena Allah swt menguatkan keterangan bahwa kedatangan Jibril menyamar dalam bentuk seorang sahabat yang bernama Dihyah al-Kalbi tidaklah menghilangkan ciri-cirinya karena Muhammad saw pernah melihat bentuknya yang asli sebelum itu, yaitu di Gua Hira ketika menerima wahyu pertama, walaupun kemudian Jibril menampakkan diri lagi dengan rupa yang lain.


Baca Juga: Agen dalam Mekanisme Pewahyuan Al-Quran: Tuhan, Jibril ataukah Keduanya?


Ayat 12

Dalam ayat ini, Allah bertanya apakah orang-orang Quraisy akan mendustakan dan membantah Muhammad saw mengenai bentuk Jibril yang telah pernah dilihat Muhammad saw dengan mata kepalanya sendiri.

Ayat 13-14

Selanjutnya dalam ayat-ayat ini Allah menerangkan bahwa sesungguhnya Muhammad saw pernah melihat Jibril (untuk kedua kalinya) dalam rupanya yang asli pada waktu melakukan mi’raj ke Sidratul Muntaha yaitu suatu tempat yang merupakan batas alam yang dapat diketahui oleh para malaikat.

Ada yang berpendapat bahwa maksud ayat ini adalah seperti dalam firman Allah:

وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰىۙ    ٤٢

Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu). (an- Najm/53: 42)

Setiap Mukmin wajib mempercayai bahwa Sidratul Muntaha itu sebagaimana yang telah diterangkan oleh Allah dalam ayat-Nya. Tetapi ia tidak boleh menerangkan tempatnya dan sifat-sifatnya, dengan keterangan yang melebihi daripada apa yang telah diterangkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, kecuali bila keterangan itu kita dapat dari hadis Nabi Muhammad saw yang;menerangkan kepada kita dengan jelas dan pasti, karena hal itu termasuk dalam hal yang gaib yang belum diizinkan kita untuk mengetahuinya.

Menurut hadis yang diriwayatkan oleh A¥mad, Muslim, at-Tirmizi, dan lain-lainnya bahwa Sidratul Muntaha itu ada di langit yang ketujuh.

Ayat 15

Dalam ayat ini Allah swt menerangkan bahwa di tempat itulah (di dekat Sidratul Muntaha) letak surga. Ia merupakan tempat tinggal bagi orang-orang yang takwa dan orang-orang yang mati syahid.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah An-Najm Ayat 16-19


Tafsir Surah An-Najm Ayat 3-5

0
Tafsir Surah An-Najm
Tafsir Surah An-Najm

Dalam Tafsir Surah An-Najm Ayat 3-5 menegaskan bagaiamana Nabi Muhammad menjadi seorang Rasul yang terpercaya. Tidak diragukan lagi atas kerasulannya. Karena Rasulullah merupakan seseorang yang dijamin tidak melakukan segala sesuatunya karena hawa nafsunya. Dalam Tafsir Surah An-Najm Ayat 3-5 kita akan menemukan perjalanan Nabi Muhammad dalam menjadi seorang Rasul.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah An-Najm Ayat 1-2


Ayat 3

Dalam ayat ini Allah swt menerangkan bahwa Muhammad saw itu tidak sesat dan tidak keliru karena beliau seorang yang tidak pernah menuruti hawa nafsunya termasuk dalam perkataannya. Orang yang mungkin keliru atau tersesat ialah orang yang menuruti hawa nafsunya. Sebagaimana firman Allah:

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ

Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. (Shad/38: 26)

Ayat 4

Dalam ayat ini, Allah menguatkan ayat sebelumnya, yakni bahwa Muhammad saw hanyalah mengatakan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk disampaikan kepada manusia secara sempurna, tidak ditambah-tambah dan tidak pula dikurangi menurut apa yang diwahyukan kepadanya.

Abdullah bin Amr bin A¡ menulis setiap apa yang ia dengar dari Rasulullah saw, karena ia mau menghafalkannya. Tapi orang-orang Quraisy melarangnya. Mereka mengatakan mengapa ia menulis setiap perkataan Muhammad saw, sedangkan Muhammad itu adalah manusia biasa yang berkata dalam keadaan marah. Maka berhentilah Abdullah bin Umar menulis. Kemudian ia mendatangi Rasulullah saw, dan memberitahukan perihalnya itu. Maka bersabdalah Rasulullah saw:

أُكْتُبْ فَوَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ مَا خَرَجَ مِنِّيْ اِﻻَّ الْحَقُّ. (رواه أحمد وأبوداود)

“Tulislah demi Zat yang menguasai diriku, tidak ada yang keluar dari perkataanku kecuali kebenaran.” (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud) ;Al-Hafiz, Abu Bakar al-Bazzar menyebutkan riwayat Abu Hurairah bahwasanya Nabi Muhammad saw bersabda:

مَا أَخْبَرْتُكُمْ اَنَّهُ مِنْ عِنْدِ اللهِ فَهُوَ الَّّذِي لاَ شَكَّ فِيْهِ. (رواه ابن حبان والبزار)

“Sesuatu yang aku kabarkan kepadamu bahwa ia dari Allah swt, maka tidak ada keraguan padanya.” (Riwayat Ibnu Hibban dan al-Bazzar);Dari Yunus, Lai¡, Muhammad bin Said bin Abu Said, dari Abu Hurairah mereka berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَاَقُوْلُ إِﻻَّحَقًّا. (رواه أحمد والبزار)

“Tidaklah aku berkata kecuali yang benar.” (Riwayat Ahmad dan al-Bazzar)


Baca Juga: Kisah Al-Quran: Biografi Nabi Ibrahim dan Perjalanan Dakwahnya 


Ayat 5

Dalam ayat ini Allah swt menerangkan bahwa Muhammad saw (kawan mereka itu) diajari oleh Jibril. Jibril itu sangat kuat, baik ilmunya maupun amalnya. Dalam firman Allah dijelaskan:

اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ  ١٩  ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ  ٢٠  مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ  ٢١ 

Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy, yang di sana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya. (at-Takwir/81: 19-21)Kemudian Muhammad saw mempelajarinya dan mengamalkannya. Ayat ini merupakan jawaban dari perkataan mereka yang mengatakan bahwa Muhamamd saw itu hanyalah tukang dongeng yang mendongengkan dongeng-dongen (legenda-legenda) orang-orang dahulu.

Dari sini jelas bahwa Muhammad saw itu bukan diajari oleh seorang manusia, tapi ia diajari oleh malaikat Jibril yang sangat kuat.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah An-Najm Ayat 6-15


 

 

Tafsir Ahkam: Serba-serbi Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam

0
Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam
Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam

Islam memberikan perhatian terhadap kebersihan dan kerapian penampilan. Ini ditunjukkan dengan disyariatkannya kesunnahan memotong kuku. Aktivitas memotong kuku, meski tampak remeh, memperoleh perhatian dalam Islam. Para ulama’ juga menjelaskan bagaimana cara potong kuku yang benar serta waktu terbaik dalam melakukannya. Hal ini dijelaskan dalam beberapa literatur kitab fikih dan kitab tafsir. Lebih lengkapnya, simak penjelasan para pakar tafsir dan fikih berikut ini:

Anjuran Memotong Kuku dalam Al-Qur’an

Para ahli tafsir menyinggung perihal kesunnahan potong kuku tatkala mengomentari firman Allah yang berbunyi:

۞ وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ

 (Ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “(Aku mohon juga) dari sebagian keturunanku.” Allah berfirman, “(Doamu Aku kabulkan, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (QS. Al-Baqarah [2]: 124).

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa di antara kalimat yang diperintahkan oleh Allah agar dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim adalah perintah untuk memotong kuku. Ia kemudian mengutip hadis yang disebutkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam kitab Nawadirul Ushul bahwa Nabi bersabda:

قصوا أظافيركم وادفنوا قلاماتكم ونقوا براجمكم

Potonglah kuku-kuku kalian, kuburkan bekas potongannya dan bersihkan ruas jari-jari kalian (HR. Imam At-Tirmidzi).

Imam At-Tirmidzi menjelaskan, anjuran tersebut berkaitan dengan kotoran-kotoran yang berada di bawah kuku, yang menjadi sumber penyakit sekaligus menghalangi air menyentuh kulit saat wudhu dan mandi besar. Sehingga menyebabkan wudhu dan mandi besar pelakunya menjadi tidak sah (Tafsir Al-Qurthubi/2/102).

Hukum memotong kuku adalah sunnah. Imam Al-‘Umrani menjelaskan bahwa hukum sunnah tersebut salah satunya didasarkan pada surah Al-Baqarah ayat 124 di atas. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa para ulama’ sepakat bahwa hukum memotong kuku adalah sunnah. Entah itu pada laki-laki atau perempuan, entah itu kuku tangan atau kuku kaki (Al-Bayan/1/94 dan Al-Majmu’/1/286):

Kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah mendokumentasikan bahwa cukup banyak ulama’ yang menyatakan bahwa hukum sunnah pada memotong kuku telah disepakati ulama’. Di antaranya adalah Ibn Hazm, As-Syaukani, Ibn ‘Abdil Bar dan Imam An-Nawawi. Dan tidak ada ulama’ yang memberi pernyataan yang berbeda. Sehingga pernyataan tersebut bukan klaim belaka (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah/1/196).

Baca juga: Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 6: Hukum Wudhu Perempuan yang Memakai Kuteks

Kesunnahan Lain Ketika Memotong Kuku

Terkait hukum sunnah tersebut, ulama’ memberikan beberapa keterangan tambahan:

Pertama, dianjurkan usai memotong kuku untuk menguburkan potongan-potongan kuku tersebut. Hal ini disebabkan karena jasad manusia memiliki kemuliaan, maka sudah seharusnya menjaga kemuliaan tersebut dengan mengubur hal-hal yang jatuh atau lepas dari tubuhnya. Sebagaimana tubuh manusia tatkala meninggal (Tafsir Al-Qurthubi/2/102).

Kedua, dianjurkan memotong kuku dari tangan kanan, selanjutnya tangan kiri. Kemudian kaki kanan, disusul kaki kiri.

Ketiga, menurut Imam Al-Ghazali, dianjurkan memotong kuku berurutan mulai dari jari telunjuk tangan kanan, jari tengah, jari manis, dan jari kelingking kanan. Kemudian dilanjutkan dengan jari kelingking tangan kiri sampai jari jempol tangan kiri, baru kemudian jari jempol tangan kanan (Al-Majmu’/1/286).

Keempat, waktu yang baik untuk memotong kuku adalah hari jum’at.

Dari berbagai uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa hukum potong kuku dalam agama Islam adalah sunnah. Ulama’ sepakat soal hal ini. Dan dianjurkan untuk tidak membuang bekas potongan kuku secara sembarangan. Melainkan dikubur. Membiarkan kuku menjadi panjang hukumnya tidak apa-apa. Hanya saja, apabila tidak rajin membersihkan kotoran di bawahnya, maka akan menjadi sumber penyakit. Selain itu dapat menghalangi sahnya berwudhu dan mandi besar. Wallahu a’lam bish shawab.

Baca juga: Tafsir Surah Ali Imran Ayat 42: Meneladani Kebersihan dan Kesucian Diri Siti Maryam

Kedudukan Manusia Sebagai Khalifah Allah Swt di Muka Bumi

0
Khalifah Allah
Manusia Sebagai Khalifah Allah Swt

Kata khalifah secara harfiah diartikan dengan “pengganti, wakil.” Khalifah Allah berarti pengganti Allah, atau wakil Allah. Khalifatullah fil ardh, artinya “pengganti atau wakil Allah di bumi. Setiap manusia adalah khalifatullah (pengganti, wakil Allah) di bumi. Allah memberikan kewnangan kepada manusia untuk menjadi pengganti atau wakilnya di bumi ini dengan tugas yang sangat mulia yaitu, mengurus, mengelola, memanfaatkan dan menjaga alam untuk kemaslahatan hidup mereka. Allah Swt telah menciptakan bumi ini dengan seluruh isinya untuk manusia, untuk kesejahteraan, dan kemaslahatannya.

Siapa pun Anda, laki-laki mapun perempuan, yang memiliki jabatan tinggi maupun yang memiliki jabatan rendah, yang memiliki jabatan maupun tidak, yang miskin maupun yang kaya, selama Anda menjadi manusia, Anda adalah khalifah (pengganti, wakil) Allah di bumi ini.Anda ditugaskan oleh Allah untuk mengurus bumi ini sesuai dengan tuntan dan tuntunan-Nya. Kedudukan sebagai khalifah Allah adalah jabatan atau kedudukan yang paling tinggi yang diberikan Allah kepada manusia.

Adam dan seluruh keturunannya adalah khalifah Allah di bumi. Kedudukan sebagai khalifah kepada manusia, pertama kali diberikan oleh Allah kepada Adam a.s. Hal ini dinyatakan oleh Allah kepada para malaikatnya ketika Allah ingin menciptakan Adam. Adam langsung diangkat sebagai khalifah. Allah menyatakan di dalam QS. Al-Baqarah [2]: 30:

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Pada saat pengangkatan Adam sebagai kahlifah Allah itulah, maka semua manusia dan seluruh keturunan Adam a.s. hingga akhir zaman adalah khalifah Allah di bumi. Jabatn sebagai khalifah Allah itu adalah jabatan yang paling mulia yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Anda harus bangga dengan jabatan dan kedudukan. Sebagai khalifah Allah, Anda harus mampu mencerminkan segala aspek kehidupanmu sesuai dengan tuntunan dan tuntutan Allah.

Baca Juga: Aspek Pertama Membentuk Pribadi Manusia Unggul: Ilmu Pengetahuan

Allah telah memberikan kedudukan dan jabatan yang sangat mulia bagi manusia, yaitu jabatan kahalifah. Setiap manusia, mulai dari Adam a.s. hingga manusia yang terakhir dari cucu Adam adalah khalifah Allah di bumi. Allah telah menciptakan bumi dan segala isinya ini untuk makhluk manusia, bukan untuk makhluk yang lain. Karena setiap manusia yang lahir ke dunia akan menjadi khalifah Allah di bumi, maka sebelum dia lahir ke dunia ini, ada semua perjanjian kesepakatan antara Allah dan setiap janin yang ada di dalam rahim. Perjanjian itu seperti yang disebutkan di dalam QS. Al-A’raf [7]: 172:

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِيٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَأَشۡهَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡۖ قَالُواْ بَلَىٰ شَهِدۡنَآۚ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنۡ هَٰذَا غَٰفِلِينَ ١٧٢

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Perjanjian kesepakatan seperti itu telah dilakukan oleh Allah hanya kepada manusia, tidak terhadap makhluk-makhluk yang lain. Kesepakatan itu adalah bahwa manusia mengakui dan bersaksi bahwa Tuhannya adalah Allah. Oleh sebab itu, yang menjadi ciri (kriteria) utama bagi seorang kahalifah Allah adalah mengakui dan beriman kepada Allah sebagai tuhannya. Mereka mengakui bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada sekutu baginya, tidak ada Tuhan selain Dia. Apa yang telah menjadi perjanjiannya dengan Allah itu harus dilaksanakan oleh setiap manusia.

Kriteria kedua yang harus dimiliki oleh manusia yang menjadi khalifah Allah adalah menyembah Allah Swt. Menyembah Allah harus disertai dengan keyakinan bahwa Allah adalah Maha Esa, tidak ada sekutu baginya. Perintah untuk menyembah Allah itulah yang disampaikan setiap rasul yang diutus. Perintah untuk menyembah Allah itu yang menjadi tugas pertama dan utama dari tiap Rasul. Manusia harus menyembah Allah, Tuhan yang telah menciptakan bumi dan segala isinya. Sebagai khalifah Allah di bumi, harus menyembah Allah, tidak menyembah yang lain, selain Allah.

Ada sejumlah ayat yang menyebutkan tentang perintah untuk menyembah Allah itu. Di antaranya adalah ayat yang terdapat di dalam QS. Al-Baqarah [2]: 21: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.”

Di dalam ayat ini Allah memerintahkan seluruh manusia untuk menyembah Allah swt, sebab Allah yang telah menciptakan mereka sehingga mereka berada di dunia.

Para rasul utusan Allah yang telah diutus kepada seluruh kaum, mulai dari Nabi Adam a.a. hingga Nabi Muhammad saw., yang menjadi tugas pertama mereka adalah menyerukan kaum dan umatnya untuk beribadah kepada Allah. Hal ini dinyatakan oleh Allah di dalam QS. Al-Nahl [16]: 36: “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”

Di dalam ayat yang lain di dalam QS. Al-Mu’minun [23]: 32 Allah menyatakan: “Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): “Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya).”

Baca Juga: Aspek Kedua Membentuk Pribadi Manusia Unggul: Beramal dan Berkarya

Nabi Nuh, misalnya, yang diutus oleh Allah kepada kaumnya, dakwah yang pertama yang harus dilakukannya kepada kaumnya adalah menyerukan mereka untuk beribadah kepada Allah, yang digambarkan di dalam QS. Al-A’raf [7]: 59: “Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya”. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).”

Dari ayat-ayat itu dapat kita lihat bahwa semua manusia, yang memiliki kedudukan yang tinggi sebagai khalifah Allah itu harus beribadah kepada-Nya, tidak menyembah kepada selain Allah. Wallahu A’lam.

Kajian Kata Mukjizat dalam Al-Quran dan Aspek Kemukjizatan Al-Quran

0
Mukjizat
Kata Mukjizat dalam al-Quran

Kata mukjizat terambil dari bahasa Arab, mu’jizah (معجزة), yang berarti sesuatu yang dapat membuat lemah atau tak mampu. Kamus Besar Bahasa Indonesia V kita mengartikan mukjizat sebagai; kejadian (peristiwa) ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Daripada arti mukjizat dalam bahasa Indonesia, arti kata mukjizat dalam bahasa Arab ini lebih pas dan cocok, serta sesuai dengan kegunaan mukjizat itu sendiri, yaitu melemahkan.

Karamah, kata yang kerap disebut-sebut selain mukjizat untuk menyebut sesuatu yang luar biasa, oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia V diartikan sebagai; kemuliaan berupa sesuatu di luar logika manusia yang Allah berikan kepada para wali Allah. Ada kesamaan antara takrif mukjizat dan karamah, yaitu sesuatu yang di luar jangkauan akal atau logika manusia. Bedanya, mukjizat diartikan umum, sementara karamah dikhususkan kepada para wali Allah.

Mukjizat dalam Al-Quran

Definisi kata mukjizat sebagai kejadian ajaib irasional agaknya belum memadai. Ada takrif lain yang lebih spesifik, yaitu kejadian ajaib di luar jangkauan logika manusia yang diberikan kepada para nabi Allah untuk menguatkan kenabiannya. Takrif tersebut terbaca dalam al-Mu’jam al-Wasith yang diterbitkan Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah, Mesir (cet. IV, 2004).

Kita akrab dengan berbagai mukjizat yang dikisahkan di dalam al-Quran. Ada Nabi Musa dengan tongkatnya yang dapat mewujud seekor ular raksasa (Thaha [20]: 19-20).

قَالَ اَلْقِهَا يٰمُوْسٰى فَاَلْقٰىهَا فَاِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعٰى

(Allah) berfirman, “Lemparkanlah (tongkat) itu, wahai Musa!”

Maka, dia (Musa) melemparkannya. Tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat.

Ada Nabi Isa yang dapat menghidupkan orang mati serta mukjizat lainnya yang terbaca dalam Ali ‘Imran [3]: 49 berikut.

وَرَسُوْلًا اِلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ەۙ اَنِّيْ قَدْ جِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ ۙاَنِّيْٓ اَخْلُقُ لَكُمْ مِّنَ الطِّيْنِ كَهَيْـَٔةِ الطَّيْرِ فَاَنْفُخُ فِيْهِ فَيَكُوْنُ طَيْرًاۢ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚوَاُبْرِئُ الْاَكْمَهَ وَالْاَبْرَصَ وَاُحْيِ الْمَوْتٰى بِاِذْنِ اللّٰهِ ۚوَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُوْنَ وَمَا تَدَّخِرُوْنَ ۙفِيْ بُيُوْتِكُمْ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيَةً لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ

(Allah akan menjadikannya) sebagai seorang rasul kepada Bani Israil. (Isa berkata,) “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, sesungguhnya aku membuatkan bagimu (sesuatu) dari tanah yang berbentuk seperti burung. Lalu, aku meniupnya sehingga menjadi seekor burung dengan izin Allah. Aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahir dan orang yang berpenyakit buras (belang) serta menghidupkan orang-orang mati dengan izin Allah. Aku beri tahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kerasulanku) bagimu jika kamu orang-orang mukmin.

Baca Juga: Etika Bergaul dengan Non muslim dalam Pandangan Al-Qur’an

Ada Nabi Sulaiman yang menguasai seluruh makhluk di bumi sebagaimana terbaca dalam al-Naml [21]: 16 dan 39, Saba’ [34]: 12, dan Shad [38]: 36-38. Itu semua adalah mukjizat. Logika manusia tak sanggup menjangkau peristiwa-peristiwa lampau itu.

Peristiwa-peristiwa itu telah selesai pada masanya. Meski demikian, peristiwa demi peristiwa supranatural itu akan terkisah di dalam al-Quran, mukjizat Nabi Muhammad Saw terkekal yang akan tetap eksis sampai Allah berkehendak merampungi dunia ini.

Kemukjizatan Al-Quran

Allah telah menegaskan sendiri dalam banyak ayat al-Quran, bahwa tak seorang pun yang mampu menyamai, apalagi menandingi, kitab suci al-Quran. Misalnya dalam al-Isra’ [17]: 88.

قُلْ لَّىِٕنِ اجْتَمَعَتِ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلٰٓى اَنْ يَّأْتُوْا بِمِثْلِ هٰذَا الْقُرْاٰنِ لَا يَأْتُوْنَ بِمِثْلِهٖ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

Katakanlah, “Sungguh, jika manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur’an ini, mereka tidak akan dapat mendatangkan yang serupa dengannya, sekalipun mereka membantu satu sama lainnya.”

Pernyataan senada—tak seorang pun yang mampu mendatangkan yang serupa dengan al-Quran—ini terulang dalam beberapa ayat lain seperti al-Thur [52]: 33-35, Hud [11]: 13-14, al-Baqarah [2]: 23-24 dan Yunus [10]: 38.

Al-Quran adalah bukti kebenaran risalah Nabi Muhamad. Kita membaca uraian al-Imam Abu Bakr al-Baqilani (w. 403 H) dalam karya monumentalnya, I’jaz al-Quran (2009) berikut;

Al-Quran adalah kitab yang menunjukkan kebenaran ucapan pembawanya (baca: Nabi Muhammad Saw) dan argumentasi yang menjadi saksi dari argumentasi-argumentasi pada nabi pendahulu. Jika orang mengira al-Quran adalah perkataan biasa yang dapat dipahami sampai tuntas, maka ia salah. Orang akan sadar ketidakmampuannya memahami al-Quran seperti halnya kaum Nabi Isa yang menyadari ketidakmampuannya mempelajari tuntas ilmu medis, yang kemudian datanglah Nabi Isa dengan kemampuan menghidupkan orang mati dan menyembuhkan penyakit baras dan kusta.

Seperti juga halnya Nabi Musa yang menaklukkan ilmu sihir (yang waktu itu lagi matang-matangnya) dengan tongkatnya sekali lempar. Lantas para penyihir sadar bahwa apa yang dilakukan Nabi Musa adalah sesuatu yang lebih dari sekadar ilmu sihir. Kesadaran mereka akan ketidakmampuan mengantarkan mereka murtad dari Fir’aun dan meyakini Tuhan Musa.

Hal tersebut juga terjadi di hadapan al-Quran. Kita membaca kisah-kisah islamnya para penyair beken Jahiliyah seperti Utbah, Labid bin Rabiah al-‘Amiriy, Ka’b bin Zuhair, Hassan bin Tsabit, al-Thufail bin ‘Amr al-Dawsiy dan banyak lainnya. Satu kisah nama terakhir bakal kita simak. Kisah ini terekam dalam Abu Hurairah Rawiyat al-Islam (1982) karya Dr. Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib.

Kisah Islamnya al-Thufail

Adalah al-Thufail bin Amr al-Dausiy, seorang lelaki penyair beroleh nama di hati kaumnya. Keharuman namanya dikenal oleh kabilah Quraisy di Makkah. Kala al-Thufail ingin bertolak ke Makkah, orang-orang rewel mewanti-wantinya supaya tak mengindahkan seorang lelaki pembuat onar jika ia telah sampai di Makkah nanti. Yang dimaksud lelaki pembuat onar itu tak lain dan tak bukan adalah Nabi Muhammad Saw.

Setibanya di Makkah, dalam sebuah riwayat, al-Thufail diingatkan lagi oleh orang-orang Makkah soal lelaki itu. Al-Thufail juga diminta untuk membuktikannya sendiri dengan bertemu lelaki yang membuat para pembesar Makkah senewen.

Bertemulah al-Thufail dengan lelaki yang dimaksud. Lalu ia melontarkan syair-syair olokan kepada si lelaki. Lelaki itu membalasnya, bukan dengan syair atau retorika apalah-apalah, tapi dengan membacakan tiga ayat al-Quran masing-masing al-Ikhlas, al-Falaq dan al-Nas.

Baca Juga: Citra Nabi Muhammad dalam Al-Quran Perspektif Tarif Khalidi (1)

Al-Thufail terperangah, lidahnya kelu, masih terngiang jelas di kupingnya ayat-ayat al-Quran yang aduhai indahnya dibacakan oleh seorang lelaki di hadapannya. Sebuah untaian kalimat yang takpernah sekali pun keluar dari mulut seseorang kecuali dari Nabi Muhammad Saw.

اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰىهُ ۗ قُلْ فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّثْلِهٖ وَادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Bahkan, apakah (pantas) mereka mengatakan, “Dia (Nabi Muhammad) telah membuat-buat (Al-Qur’an) itu.”? Katakanlah (Nabi Muhammad), “(Kalau demikian,) buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah siapa yang dapat kamu (ajak) selain Allah (untuk menolongmu), jika kamu orang-orang yang benar.”

Jelas sudah, al-Quran bukanlah buatan manusia. Ia adalah benar-benar mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw, yang akan tetap ada hingga hari akhir kelak. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah An-Najm Ayat 1-2

0
Tafsir Surah An-Najm
Tafsir Surah An-Najm

Pada Tafsir Surah An-Najm Ayat 1-2 ini menceritakan tentang sumpah Allah terhadap bintang dan kebenaran tentang Nabi Muhammad saw.  Dijelaskan dalam Tafsir Surah An-Najm Ayat 1-2 ini bagaimana manfaat bintang yang beredar pada porosnya dari sisi ilmu sains modern. Selain itu, dijelaskan juga pada Tafsir Surah An-Najm Ayat 1-2 ini bagaimana Nabi Muhammad sebagai seorang Rasul.

Ayat 1

Allah swt menerangkan bahwa Ia bersumpah dengan makhluk-Nya yang besar yakni bintang yang beredar pada porosnya, sehingga tidak saling berbenturan satu dengan yang lainnya. Bintang-bintang itu merupakan petunjuk bagi manusia dalam hutan dan di padang pasir, di tempat kediaman dan dalam perjalanan, di kampung dan di kota, dan juga di lautan, bintang-bintang itu besar sekali faedahnya bagi kehidupan manusia.

Allah swt mengarahkan sumpah-Nya kepada kaum musyrikin agar mengetahui betapa banyak manfaatnya bintang-bintang bagi mereka. Antara lain untuk mengetahui perubahan musim agar mereka bersiap-siap untuk menggembalakan ternak mereka, kemudian setelah turun hujan mereka dapat menanam tanaman yang sesuai dengan musimnya.

Sumpah Allah tersebut mengingatkan manusia bahwa di sana ada benda-benda yang perkasa di ruang angkasa yang harus mereka ketahui, agar mereka dapat meyakini besarnya sumber kekuasaan Allah dan indahnya ciptaan-Nya.

Ilmu pengetahuan modern telah menerangkan bahwa di angkasa raya ada keajaiban yang dapat dilihat dari cepatnya peredaran dan bentuknya yang besar.

Alam matahari terdiri dari matahari dan 9 buah planet yang kebanyakan dikelilingi oleh beberapa buah bulan. Matahari itu dalam alamnya adalah sebagian daripada alam angkasa. Di alam angkasa ada sekitar 30.000.000.000 (tigapuluh miliar) bintang. Setiap bintang adalah sebagai matahari seperti mataharinya manusia di bumi ini. Ada yang lebih besar dan ada pula yang lebih kecil daripadanya. Umur matahari adalah sekitar lima milyar tahun, umur bumi sekitar 2.000 juta tahun. Umur air di atas bumi sekitar 300 juta tahun. Dan umur manusia sekitar 300.000 tahun.


Baca Juga : Wa An-Najm Idha Hawa: Demi Bintang, Demi Muhammad, Demi Al-Quran


Dan alam semesta itu mempunyai penjaga (hanya Allah-lah yang mengetahuinya). Dan tidak seorang pun yang mengetahui bala tentara Tuhan kecuali Dia.

 Al-‘Amasy dari Mujahid mengatakan bahwa ayat ini merujuk pada Al-Qur’an ketika diturunkan seperti dalam firman-Nya:

فَلَآ اُقْسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوْمِ   ٧٥  وَاِنَّهٗ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُوْنَ عَظِيْمٌۙ    ٧٦  اِنَّهٗ لَقُرْاٰنٌ كَرِيْمٌۙ    ٧٧  فِيْ كِتٰبٍ مَّكْنُوْنٍۙ   ٧٨  لَّا يَمَسُّهٗٓ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَۙ    ٧٩  تَنْزِيْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ   ٨٠ 

Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya itu benar-benar sumpah yang besar sekiranya kamu mengetahui, dan (ini) sesungguhnya Al-Qur’an yang sangat mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauh Mahfudz), tidak ada yang menyentuhnya selain hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan seluruh alam. (al-Waqi’ah/56: 75-80)

Ayat 2

Allah menerangkan bahwa kawan mereka itu (Muhammad) adalah benar-benar seorang Nabi. Dia tidak pernah menyimpang dari jalan yang benar dan juga tidak pernah melakukan kebatilan.

Pada kenyataannya Rasulullah saw adalah seorang rasul yang diberi petunjuk oleh Allah, dia mengikuti kebenaran. Dia bukan seorang yang menyesatkan (dan ia tidak berjalan pada jalan yang ia sendiri tidak mengetahuinya). Dia bukan seorang yang sesat yang berpaling dari kebenaran dengan suatu tujuan tertentu. Keadaan beliau yang seperti itu, bukan saja setelah beliau diangkat menjadi rasul, tetapi juga sebelumnya. Oleh sebab itulah Allah memberikan kepadanya petunjuk dan syariat untuk memberikan sinar terang kepada orang-orang yang sesat baik Yahudi maupun Nasrani yang sebenarnya mereka mengetahui kebenaran itu, tetapi tidak mengamalkannya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelanya : Tafsir Surah An-Najm Ayat 3-5