Beranda blog Halaman 270

Tafsir Surah Yasin Ayat 69

0
Tafsir Surah Yasin
Tafsir Surah Yasin

Selain menolak seruan dari para utusan, kaum kafir juga menuduh bahwa al-Qur’an hanyalah bait-bait syair yang dibuat oleh Muhammad dan pengikutnya. Adapun Tafsir Surah Yasin Ayat 69 berisi bantahan Allah atas klaim tersebut, dan menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah wahyu Allah yang disampaikan melalui lisan Nabi Muhammad Saw.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Yasin Ayat 66-68


Ayat 69

Pada ayat ini, Allah membantah tuduhan kaum kafir yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah syair yang diciptakan oleh Nabi Muhammad saw sendiri. Dengan demikian, menurut tuduhan mereka, Muhammad adalah seorang penyair. Hal ini dibantah keras pada ayat ini, karena Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang membawa kebenaran.

Sedang Nabi Muhammad saw bertugas menyampaikannya kepada umat manusia semua kebenaran yang diterima dari Allah. Nabi Muhammad bukan penyair yang hanya mengkhayal, tetapi rasul Allah yang membawa kebenaran untuk memperbaiki orang-orang jahiliah.

Al-Qur’an jauh berbeda dengan syair yang berkembang di tanah Arab ketika itu. perbedaan itu dapat dilihat dalam hal:

  1. Syair Arab waktu itu merupakan rangkaian kalimat-kalimat yang terikat pada wazan (timbangan kalimat) atau pola tertentu, bahr-bahr (irama dan notasi dalam syair Arab) tertentu, seperti bahr kamil, bahr rajaz, dan lain-lain.

Sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an susunan kalimatnya begitu indah, pilihan diksi kata-katanya begitu tepat, tetapi tidak terikat pada wazan dan bahr syair Arab.

  1. Syair Arab juga terikat pada qafiyah, yaitu huruf akhir tertentu. Jika hal itu tidak dipenuhi, maka rusaklah syair tersebut, sehingga ada unsur pemaksaan atau takalluf.

Pada ayat-ayat Al-Qur’an memang ada beberapa huruf akhir yang sama sehingga bersajak (masju’), tetapi menjadi lebih indah karena tidak kaku dan tidak ada unsur pemaksaan (takalluf).

  1. Isi syair Arab biasanya berupa khayalan penyair dengan imajinasi yang tinggi sehingga melupakan banyak hal yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.

Sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an semuanya sesuai dengan kenyataan, baik alam gaib maupun alam nyata, sehingga memberi informasi yang benar.


Baca Juga: Tafsir Surah Yasin ayat 69-70: Al-Quran Bukan Syair, Ini Penjelasannya


  1. Syair-syair Arab biasanya berupa puji-pujian yang berlebih-lebihan terhadap raja atau kepala suku sehingga menjadikan para raja bertambah sombong. Syair bisa juga berisi celaan atau ejekan terhadap musuh sehingga meningkatkan permusuhan yang ada.

Sedangkan Al-Qur’an selalu berbicara masalah kebenaran tanpa membuat orang menjadi sombong, bahkan ayat Al-Qur’an melarang kesombongan dan rasa kebencian maupun permusuhan.

  1. Syair-syiar Arab seringkali disusun dan dirangkai oleh penyair dan digunakan untuk mendapat hadiah sebagai mata pencaharian penyair.

Sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an semata-mata memberi informasi, petunjuk, dan pelajaran yang baik. Bahkan ayat Al-Qur’an tidak boleh diperjualbelikan dengan harga murah untuk memperoleh penghasilan tertentu.

Dari hal-hal di atas terbukti bahwa bahasa Al-Qur’an lebih indah dari syair dan kandungan isinya lebih baik dan memberi manfaat yang lebih besar bagi kehidupan manusia secara keseluruhan.

Allah menegaskan bahwa Dia tidak mengajarkan syair kepada Muhammad saw. Ia hanyalah mewahyukan Al-Qur’an kepadanya, untuk disampaikan kepada umat manusia. Tuduhan kaum musyrik dan kaum kafir bahwa Muhammad saw adalah penyair adalah tuduhan yang tidak patut dan tidak dapat diterima akal yang sehat.

Kemudian Allah menegaskan lagi bahwa Al-Qur’an yang disampaikan oleh Muhammad saw adalah pelajaran dan kitab suci yang memberikan penerangan kepada umat manusia untuk mencapai kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Kaum musyrik mengatakan Al-Qur’an itu syair, karena kata-kata dan kalimat-kalimat yang terdapat di dalamnya demikian indah dan tepat. Bahkan kadang-kadang mereka mengatakan Al-Qur’an adalah sihir, karena kata-kata dan susunan kalimatnya memang memesona siapa saja yang mendengarnya.

Akan tetapi, tuduhan mereka ini sama sekali tidak benar. Al-Qur’an bukanlah sihir ataupun syair, karena syair merupakan susunan yang terikat kepada pola-pola tertentu, sedang Al-Qur’an tidaklah demikian.

 (Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Yasin Ayat 70-77


Tafsir Surah Yasin Ayat 66-68

0
Tafsir Surah Yasin
Tafsir Surah Yasin

Tafsir Surah Yasin Ayat 66-68 menegaskan bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, dan Dia pula yang menetapkan atas sesuatu tersebut. Berulang kali Allah mengingatkan orang kafir untuk beriman melalui lisan para utusan, namun ditolak. Meski demikian, Allah masih menunjukkan rahmat-Nya, dengan tidak lansug menurunkan azab, Allah membiarkan mereka terbuai dengan dunia, dan menyesal kelak di akhirat.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Yasin Ayat 63-65


Pada ayat ini juga diterangkan bahwa semakin panjang usia manusia, maka ia akan kembali seperti ketika awal ia hadir di dunia. Akal dan tubuhnnya akan melemah, sama persis seperti anak kecil, yang manja dan butuh untuk diperhatikan. Adapun kondisi orang Kafif, meski sudah diberikan oleh Allah umur yang panjang, namun tidak memanfaatkannya untuk beramal saleh.

Ayat 66

Ayat ini menerangkan kekuasaan Allah terhadap hamba-hamba-Nya, yaitu jika Dia menghendaki dapat saja menghapus penglihatan dan pendengaran orang-orang kafir, sehingga tidak dapat melihat padahal mereka harus banyak beramal dan berbuat baik. Akan tetapi, karena sifat kasih sayang Allah kepada manusia, maka hal itu tidak dilakukan-Nya.

Orang-orang kafir tetap dapat melihat dan berbuat baik di dunia sesuai dengan petunjuk agama. Akan tetapi, hal itu tidak mereka lakukan, bahkan mereka banyak berbuat dosa.

Dengan demikian,  di samping mereka tidak memiliki amal kebaikan yang perlu diberi pahala, dosa-dosa mereka juga sangat banyak sehingga siksaan Allah di akhirat tentu sangat berat. Mereka tidak dapat mengelak dari semua itu karena adanya kesaksian tangan dan kaki mereka.

Ayat 67

Ayat ini juga menerangkan kekuasaan Allah, yaitu jika Allah menghendaki maka Dia dapat mengubah bentuk orang-orang kafir di tempat mereka berada, sehingga tidak sanggup lagi berjalan dan kembali.

Akan tetapi, hal itu tidak dilakukan karena Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Meskipun begitu, orang-orang kafir yang memiliki kesempatan untuk beramal saleh sesuai petunjuk agama juga tidak melakukannya, bahkan mereka bertambah ingkar sehingga pantas mendapat siksa yang berat dan menghinakan di akhirat.


Baca Juga: Keistimewaan Ka’bah dalam Al-Quran dan Pahala Memandangnya


Ayat 68

Selanjutnya Allah menegaskan bahwa barang siapa yang dipanjangkan umurnya, niscaya akan  dikembali kepada awal kejadiannya. Artinya, mereka kembali lemah dan kurang akal seperti anak kecil.

Tidak kuat lagi melakukan ibadah-ibadah yang berat dan mulai banyak lupa, sehingga tidak banyak dapat melakukan ibadah dengan baik. Pada akhir ayat ini, Allah mempertanyakan mengapa mereka tidak mengerti dan  menggunakan kesempatan selagi masih muda dan kuat.

Nabi saw menerangkan hal ini dalam hadisnya yang berbunyi:

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: فَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ. (رواه الحاكم عن ابن عباس)

Pergunakan kesempatan yang lima sebelum datang yang lima: waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, waktu kayamu sebelum waktu miskinmu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, waktu mudamu sebelum waktu tuamu, dan waktu hidupmu sebelum waktu matimu.(Riwayat al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas)

Apakah orang-orang kafir tidak mempergunakan akalnya bahwa semakin panjang dan tua umur seseorang semakin lemah jasmani dan rohaninya dan semakin tidak mampu ia berbuat.

Allah telah memberinya umur yang cukup kepada mereka untuk dapat berbuat banyak, beramal saleh, menuntut ilmu yang cukup, beribadah dengan baik, dan sebagainya. Akan tetapi, mereka tidak mempergunakan umur itu dengan sebaik-baiknya.

Allah mengutus para rasul kepada mereka dengan membawa petunjuk ke jalan yang lurus, tetapi mereka tidak mengikuti rasul dan petunjuk itu bahkan mereka mendustakan dan mengingkarinya.

 

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Yasin Ayat 69


Tafsir Surah Yasin Ayat 63-65

0
Tafsir Surah Yasin
Tafsir Surah Yasin

Melanjutkan sebelumnya tentang orang kafir yang dimasukkan dalam neraka, Tafsir Surah Yasin Ayat 63-65 menegaskan kepada orang kafir bahwa neraka tersebut telah dipersiapkan untuk mereka. Saat kaum kafir merasakan siksa neraka, mereka mulai menyesal, membela diri, memohon belas kasih dan ampunan Allah. Tetapi, usaha mereka percuma, sudah terlambat bagi mereka untuk memohon ampunan dari-Nya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Yasin Ayat 59-62


Ayat 63

Allah menyatakan kepada orang-orang kafir, “Hai orang-orang kafir, inilah neraka Jahanam yang pernah Aku janjikan kepadamu dan janji itu telah disampaikan oleh rasul yang telah diutus kepadamu semasa hidup di dunia dahulu. Akan tetapi, kamu tidak mempercayainya, bahkan kamu ingkar dan durhaka kepada-Ku dan menyembah tuhan selain-Ku.”

Al-Qur’an menggunakan kata hazihi yaitu bentuk isim isyarah untuk sesuatu yang dekat guna menggambarkan bahwa neraka jahanam sudah berada di hadapan mereka, ini merupakan sebuah gambaran yang mengerikan.

Ayat 64

Selanjutnya, Allah memerintahkan kepada mereka, “Hai orang-orang kafir, masuklah dan rasakanlah pada hari ini panasnya api neraka. Tetaplah di dalamnya sebagai balasan dari keingkaran dan perbuatan dosa yang telah kamu kerjakan dahulu.”

Dari ayat-ayat ini dipahami, seakan-akan Allah memperingatkan kepada orang-orang kafir yang sedang diazab itu bahwa mereka tidak perlu lagi menyesal, putus asa dan bersedih hati karena azab yang sedang mereka alami.

Azab yang diberikan kepada mereka merupakan ketetapan Tuhan yang tidak mungkin diubah lagi. Kepada mereka sewaktu hidup di dunia telah disampaikan bermacam-macam peringatan dan bermacam-macam cobaan, tetapi mereka tetap ingkar. Oleh karena itu, rasakanlah dan terimalah azab yang sedang ditimpakan itu.


Baca Juga: Tiga Macam Bentuk Jadal (Perdebatan) Yang Direkam dalam Al-Quran


Ayat 65

Ketika menerima azab di neraka, ada sebagian dari orang-orang kafir yang mengingkari perbuatan-perbuatan jahat mereka di dunia sebagaimana diterangkan dalam firman Allah:

ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ اِلَّآ اَنْ قَالُوْا وَاللّٰهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِيْنَ

Kemudian tidaklah ada jawaban bohong mereka, kecuali mengatakan, “Demi Allah, ya Tuhan kami, tidaklah kami mempersekutukan Allah.” (al-An’am/6: 23)

Maka pada ayat 65 ini, Allah mengunci mati mulut-mulut mereka sehingga mereka tidak dapat berbohong maupun mendebat adanya perbuatan mereka.

Apalagi tangan-tangan mereka kemudian berbicara dan kaki-kaki mereka menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan, sehingga mereka tidak mungkin lagi mengelak atas adanya perbuatan-perbuatan mereka yang melawan agama. Pada hari akhirat ini, hukum berlaku dengan seadil-adilnya sesuai dengan segala perbuatan mereka di dunia.

Menurut riwayat Anas bin Malik dikatakan:

كُنَّا عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَضَحَكَ فَقَالَ: هَلْ تَدْرُوْنَ مِمَّ أَضْحَكَ؟ قُلْنَا: الله وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: مَنْ مُخَاطَبَةِ الْعَبْدِ ربَّهُ، يَقُوْلُ: يَا رَبِّ أَلمَ ْتَجْرني مِنَ الظُّلْمِ قَالَ يَقُوْلُ: بَلَى فَيَقُوْلُ فَإِنِّي لَا أُجِيْزُ عَلَى نَفْسِي إِلاَّ شَاهِدًا مِنيِّ، قَالَ فَيَقُوْلُ كَفَى بِنَفْسِكَ الْيَومَ عَلَيْكَ شَهِيْدًا وَ بِالْكَرَامِ الْكَاتِبِيْنَ شُهُوْدًا، قَالَ فَيَخْتِمُ عَلَى فِيْهِ فَيُقَالُ ِلأَرْكَانِهِ اِنْطَقَى قَالَ فَتَنْطِقُ بِأَعْمَالِهِ.( رواه الامام أبو يعلى الموصلى)

Kami sedang berada di sisi Nabi saw, tiba-tiba beliau tertawa. Lalu beliau berkata, “Tahukah kamu mengapa saya tertawa?” Kami menjawab, “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “(Saya tertawa) karena adanya pembicaraan antara seorang hamba dengan Tuhannya.” Hamba itu berkata, ‘Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah menyelamatkan aku dari kezaliman?’ Tuhannya menjawab, ‘Ya benar, kamu telah Aku selamatkan.’

Hamba berkata, ‘Sesungguhnya aku tidak akan mengizinkan atas diriku kecuali seorang saksi daripadaku.’ Tuhannya menjawab, “Cukup, kamu menjadi saksi atas dirimu dan para malaikat pencatat amal juga menjadi saksi.” Nabi saw lalu berkata, “Kemudian mulut hamba tadi ditutup, lalu anggota-anggota badan diperintahkan untuk berbicara, “Bicaralah”!” Kata Nabi saw lagi, “Maka anggota-anggota badan itu berbicara (sesuai perbuatannya).” (Riwayat Imam Abu Ya’la al-Maushuli)

Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang persaksian anggota tubuh manusia terhadap perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia ini, di antaranya ialah firman Allah:

يَّوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ اَلْسِنَتُهُمْ وَاَيْدِيْهِمْ وَاَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (an-Nur/24: 24)

Allah menjadikan tangan dan kaki berbicara sebagai saksi karena tanganlah yang mengerjakan perbuatan itu, sedang kaki ikut menyaksikan apa yang dikerjakan oleh tangan itu. Jadi perbuatan tangan merupakan suatu ikrar atau pengakuan, sedangkan perkataan kaki merupakan persaksian.

Jika semua perbuatan buruk seorang manusia dibukakan dan diungkapkan selama hidup di dunia dan diketahui oleh orang banyak maka ia merasa malu dan merasa sukar menyembunyikan muka mereka.

Bahkan banyak pula di antara manusia yang membunuh dirinya karena tidak sanggup menahan rasa malu itu. Di akhirat, mereka akan mengalami apa yang mereka tidak sanggup mengalami dan menanggungnya semasa hidup di dunia.

 (Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Yasin Ayat 66-68


 

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 72-75

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 72-75 bercara mengenai dua hal. Pertama mengenai orang-orang yang buta hatinya. Kedua mengenai tipu daya orang-orang musyrik kepada Nabi Muhammad SAW.


Baca juga: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 70-71


Ayat 72

Kemudian dijelaskan bahwa barang siapa yang buta hatinya di dunia, yakni yang tidak mau melihat kebenaran petunjuk Allah, dan tidak mau memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya, niscaya di akhirat nanti ia lebih buta dan tidak dapat mencari jalan untuk menyelamatkan dirinya dari siksaan neraka.

Bahkan, mereka lebih sesat lagi dari keadaannya di dunia, karena roh mereka pada waktu itu ialah roh pada waktu di dunia juga. Roh yang dibangkitkan Allah swt di akhirat ialah roh yang keluar dari jasadnya ketika meninggal dunia seperti buah-buahan yang muncul dari batangnya.

Buah dan batang mempunyai sifat yang sama. Demikian pula roh manusia pada waktu itu, dia bangkit dengan membawa seluruh sifat, akhlak, dan amalnya. Ia mengetahui keadaan dirinya. Ia merasa bahagia ataupun celaka sesuai dengan keadaan dirinya.

Apabila keadaan roh manusia itu lalai di dunia, di akhirat pun akan lalai karena ia telah mengabaikan berbagai sarana dan alat untuk menguasai ilmu, dan terbiasa malas mengamalkan perintah Allah. Ia pun akan mengumpat-umpat dan mencerca dirinya sendiri.


Baca juga: Makna Pengulangan Lafaz al-Rahmān al-Rahīm dalam Surah al-Fatihah


Ayat 73

Dalam ayat ini dijelaskan usaha yang dilakukan kaum musyrikin Quraisy untuk menipu Nabi Muhammad saw, sehingga beliau hampir saja teperdaya, berpaling dari wahyu yang telah diterimanya dari Allah swt, dan memenuhi permintaan mereka agar mengakui tuhan-tuhan mereka.

Karena perlindungan Allah, Nabi tetap bisa teguh pendiriannya dalam menyebarkan dakwah, walaupun tekanan dari orang-orang Quraisy semakin hebat.

Allah mengingatkan Rasul-Nya, kalau ia mengikuti apa yang mereka kehendaki, mereka tentu akan mengambilnya sebagai sahabat atau mengangkatnya menjadi pemimpin. Mereka juga akan menyatakan di hadapan manusia bahwa Nabi saw telah menyetujui dan mengakui agama mereka. Dengan demikian, Nabi saw akan terjauh dari petunjuk dan bimbingan Allah swt.

Ayat 74

Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad hampir ter-pengaruh bila Allah tidak memperkuat hatinya menghadapi tekanan dan tipu daya orang-orang Quraisy itu, sehingga beliau tidak berpaling sedikit pun.

Dari keterangan ayat ini dapat dipahami bahwa Rasulullah cenderung untuk mendekati orang-orang Quraisy. Hal itu bukan karena hati Nabi saw lemah, tetapi menunjukkan bahwa tekanan dan tipu daya itu sangat hebat. Hanya karena pertolongan Allah, maka Rasul tidak jadi mendekati mereka.

Ayat 75

Allah swt mengingatkan Rasul-Nya bahwa jika ia sempat ter-pengaruh oleh tekanan orang-orang kafir itu, Allah akan menimpakan siksaan berlipat ganda kepadanya, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan demikian, kadar hukuman terhadap Rasulullah dua kali lipat dari hukuman terhadap orang lain, begitu juga bagi para istri Nabi. Dalam hal ini, Allah swt berfirman:

يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ مَنْ يَّأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُّضٰعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا   ۔

Wahai istri-istri Nabi! Barang siapa di antara kamu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya azabnya akan dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya. Dan yang demikian itu, mudah bagi Allah. (al-Ahzab/33: 30)

Istri-istri Nabi bila sampai tergelincir menuruti ajakan hawa nafsu, hukumannya dua kali lipat dari istri-istri orang kebanyakan. Dari ayat itu dipahami bahwa hukuman bagi ulama, cendikiawan, dan pemimpin umat lainnya bila bersalah, akan lebih besar daripada hukuman bagi orang kebanyakan.

وَقَالُوْا رَبَّنَآ اِنَّآ اَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاۤءَنَا فَاَضَلُّوْنَا السَّبِيْلَا۠   ٦٧  رَبَّنَآ اٰتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيْرًا ࣖ   ٦٨

Dan mereka berkata, ”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” (al-Ahzab/33: 67-68)

Allah swt mengingatkan Nabi saw bahwa apabila memenuhi keinginan orang-orang musyrik itu, Allah akan mengazabnya berlipat ganda, baik di dunia ataupun di akhirat. Ia tidak akan menemukan seorang penolong pun yang dapat melepaskannya dari azab itu. Menjadi keharusan bagi setiap kaum Muslimin agar menjadikan ayat ini sebagai pedoman dalam setiap langkahnya dalam beragama.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 76-78


(Tafsir Kemenag)

20 Macam Jenis Hati yang Disebutkan dalam Al-Quran dan Karakteristiknya (Bag. 2)

0
Jenis Hati
Ragam Jenis Hati dalam Al-Quran

Pada tulisan kali ini, penulis akan melanjutkan penjelasan tentang 10 macam jenis hati manusia beserta karakternya yang disebutkan di dalam Al-Qur’an. Berikut penjelasannya:

  1. Qalbun laahiy, yaitu jenis hati yang lalai terhadap al-Qur’an, karena disibukkan oleh syahwat kepada dunia. Sebagaimana diungkapkan dalam Q.S. Al-Anbiya’: 3.

 لاَهِيَةً قُلُوبُهُمْ

“Hati mereka dalam keadaan lalai.”

  1. Qalbun aatsim, yaitu hati yang berdosa, karena menyembunyikan persaksian yang benar. Seperti dijelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah: 283.

وَلاَ تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَن يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ ءَاثِمٌ قَلْبُهُ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“…Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Baca Juga: 20 Macam Jenis Hati yang Disebutkan dalam Al-Quran dan Karakteristiknya (Bag. 1)

  1. Qalbun mutakabbir, yaitu hati yang sombong dan enggan mengakui keesaan Allah, tidak taat kepada-Nya, serta banyak berbuat zalim. Seperti ditegaskan dalam Q.S. Ghafir ayat 35.

الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِ اللهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللهِ وَعِندَ الَّذِينَ ءَامَنُوا كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

“(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.”

  1. Qalbun ghalizh, yaitu hati yang keras dan kasar, yang hilang darinya kelembutan dan kasih sayang. Sebagaimana termaktub dalam Q.S. Ali Imran: 159.

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”

  1. Qalbun makhtum, yaitu hati yang tidak bisa mendengar petunjuk dan tidak dapat memahaminya. Seperti ditegaskan dalam Q.S. Al-Jatsiyah: 23.,

أَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللهِ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

  1. Qalbun qasiy, yaitu hati yang keras membatu, tidak mau beriman. Sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. Al-Maidah: 13.

فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً

 “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu…”

  1. Qalbun ghafil, yaitu hati yang lalai dari mengingat Allah, serta mengikuti hawa nafsunya semata. Seperti ditegaskan dalam Q.S. al-Kahf: 28.

وَلاَتُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“…Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

  1. Qalbun aghlaf, yaitu hati yang tertutup, tidak bisa ditembus oleh nasihat serta ajaran Rasulullah Saw. Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. al-Baqarah: 88.

وَقَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَل لَّعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَقَلِيلاً مَّايُؤْمِنُونَ

“Dan mereka berkata: “Hati kami tertutup”. Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman.”

  1. Qalbun zaigh, yaitu jenis hati yang menyimpang dari kebenaran dan cenderung pada kesesatan. Hal ini termaktub dalam Q.S. Ali ‘Imran: 7.

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَاتَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِ ,

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.”

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Isra Ayat 72: Balasan di Akhirat bagi Orang yang Buta Hatinya

  1. Qalbun murib, yaitu jenis hati yang selalu ragu-ragu. Sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. At-Taubah: 45.

إِنَّماَ يَسْتَئْذِنُكَ الَّذِينَ لاَيُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ ,

“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”

Demikianlah uraian singkat tentang macam-macam jenis hati manusia beserta karakternya dalam Al-Qur’an. Semoga kita termasuk ke dalam kelompok manusia yang memiliki hati yang tenang (qalbun muthmainnun) yang diridai Allah Swt. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 70-71

0

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 70-71 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai kelebihan manusia dibanding makhluk yang lainnya. Kedua berbicara mengenai hari perhitungan. Semua amal ketika didunia akan ditampakkan tanpa ada pengurangan atau penambahan.


Baca juga: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 66-69


Ayat 70

Allah memuliakan Bani Adam yaitu manusia dari makhluk-makhluk yang lain, baik malaikat, jin, semua jenis hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Kelebihan manusia dari makhluk-makhluk yang lain berupa fisik maupun non fisik, sebagaimana firman Allah:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ  ٤  ثُمَّ رَدَدْنٰهُ اَسْفَلَ سَافِلِيْنَۙ  ٥  اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍۗ  ٦

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya. (at-Tin/95: 4-6)

Selain diberi panca indera yang sempurna, manusia juga diberi hati yang berfungsi untuk menimbang dan membuat keputusan. Firman Allah:

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (an-Nahl/16: 78)

Kemuliaan manusia ini sesuai dengan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Firman Allah:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ”Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, ”Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, ”Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah/2: 30)

Meskipun demikian, banyak manusia yang tidak menyadari akan ketinggian derajatnya sehingga tidak melaksanakan fungsinya sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ  لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ

Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. (al-A’raf/7: 179)


Baca juga: Ayat-Ayat Al-Qur’an yang Turun Lebih dari Sekali dan Hikmah di Baliknya


Ayat 71

Allah swt mengingatkan para hamba-Nya akan hari perhitungan. Pada hari itu, Allah swt memanggil manusia dengan membawa kitab mereka masing-masing yang memuat catatan yang lengkap tentang amal perbuatan mereka. Ketika itu, mereka akan mendapatkan keputusan yang adil, sesuai dengan amal yang mereka lakukan di dunia, yang semuanya telah tercatat dalam kitab itu.

Maka berbahagialah mereka yang ketika diberikan kitab amalannya diterima dengan tangan kanannya. Mereka ini akan membaca kitab itu dengan penuh kegembiraan, karena mereka berbahagia melihat catatan amal saleh mereka.

Allah swt berfirman:

فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖ فَيَقُوْلُ هَاۤؤُمُ اقْرَءُوْا كِتٰبِيَهْۚ

Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, ”Ambillah, bacalah kitabku (ini).” (al-Haqqah/69: 19)

Juga firman-Nya:

فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖۙ   ٧  فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَّسِيْرًاۙ   ٨

Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. (al-Insyiqaq/84: 7-8)

Allah lalu menegaskan bahwa mereka tidak dianiaya sedikit pun. Maksudnya ialah tidak akan dikurangi sedikit pun pahala yang harus mereka terima, karena yang menciptakan alam akhirat ialah Yang Menciptakan alam ini juga, sehingga mustahil bagi-Nya untuk mengurangi pahala yang harus diterimanya. Allah swt Mahaadil dan keadilan-Nya itu tampak pada ciptaan-Nya di alam dunia ini.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 72-75


(Tafsir Kemenag)

20 Macam Jenis Hati yang Disebutkan dalam Al-Quran dan Karakteristiknya (Bag. 1)

0
Jenis Hati
Ragam Jenis Hati dalam Al-Quran

Di dalam al-Qur’an disebutkan setidaknya 20 macam atau jenis hati manusia dengan beragam karakteristiknya. Untuk lebih memudahkan kita memahami masing-masing jenis hati yang disebutkan di dalam al-Qur’an, penulis akan menjelaskan macam-macam hati tersebut secara bertahap. Ada pun setiap tahap akan berisi sepuluh jenis hati.

Berikut penulis jelaskan secara singkat sepuluh macam hati manusia dengan beragam karakteristiknya tersebut menurut al-Qur’an.

  1. Qalbun salim, yaitu hati yang sehat, bersih (selamat). Artinya hati yang sehat, bersih dan selamat dari kekufuran dan kemunafikan. Hati yang ikhlas lillahi ta’ala. Jenis hati yang pertama ini termaktub dalam Q.S. Asy-Syu’ara: 89.

 إلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“…kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

Baca Juga: Apa Maksud Qalbun Salim (Hati yang Sehat) dalam As-Syu’ara: 88-89?

  1. Qalbun munib, yaitu hati yang selalu kembali dan bertaubat kepada Allah. Termaktub di dalam Q.S. Qaf: 33.

 مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَآءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ

“…(yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.”

  1. Qalbun mukhbit, yaitu hati yang tunduk dan tenang. Termaktub di dalam Q.S. Al-Haj: 54.

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ

“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya.”

  1. Qalbun wajil, yaitu hati yang takut kepada Allah serta khawatir kalau amalnya tidak diterima Allah, serta tidak selamat dari siksa (api) neraka. Termaktub dalam Q.S. Al-Mukminun: 60.

والَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”

  1. Qalbun taqiy, yaitu hati yang selalu mengagungkan syiar-syiar Allah Swt. Termaktub di dalam Q.S. Al-Hajj: 32.

 ذلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّـهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”

  1. Qalbun mahdiy, yaitu hati yang ridla dengan ketetapan (qadla) dan takdir (qadar) Allah, serta berserah diri kepada Allah atas segala urusan yang menimpanya. Termaktub dalam Q.S. At-Taghabun: 11.

مَآأَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

  1. Qalbun muthmainun, yaitu hati yang tenang karena mengesakan Allah dan mengingat-Nya. Termaktub dalam Q.S. Ar-Ra’du: 28.

الَّذِينَ امَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ,

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”

  1. Qalbun hayy, yaitu hati yang memahami ‘ibrah dari kisah-kisah umat terdahulu yang Allah ceritakan dalam al-Qur’an. Seperti disebutkan dalam Q.S. Qaf: 37.

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.”

Baca Juga: Surah Ar-Ra’d [13] Ayat 28: Zikir Dapat Menenangkan Hati

  1. Qalbun maridl, yaitu hati yang mengandung penyakit, seperti kemunafikan serta keraguan akan kebenaran. Hati yang di dalamnya terdapat kejahatan serta syahwat kepada yang haram. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-Baqarah: 10

 فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu…”

  1. Qalbun a’ma, yaitu hati yang tidak bisa melihat dan memahami kebenaran serta pelajaran yang telah Allah berikan melalui ayat-ayat-Nya. Seperti disebutkan dalam Q.S. Al-Hajj: 46

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”

Empat Kata yang Digunakan Al-Quran untuk Makna Kematian

0
Kata yang digunakan
4 Kata yang digunakan untuk makna kematian

Di antara kelebihan bahasa Arab, dibanding bahasa-bahasa lain adalah kekayaan kosa katanya yang melimpah. Sampai-sampai al-Iraqi Jawwad Ali, dalam kitab al-Mufashal fi Tarikh al-Arab Qabl Islam-nya menyebutkan jumlah kosa kata yang digunakan dalam bahasa Arab mencapai 12,3 juta, tepatnya berjumlah 12.305.052 kosakata.

Jumlah sebanyak itu mungkin membuat kita bertanya, apa kira-kira yang menyebabkannya sebanyak itu? Ternyata di antara faktor-faktor itu adalah penggunan kosa kata yang berlebihan. Bahasa Arab tidak sedikit memiliki beberapa kosa kata yang berbeda namun memiliki arti dan makna yang sama. Dalam kesusastraan bahasa Arab itu dikenal dengan istilah muradif atau sinonim dalam bahasa indonesia.

Di dalam KBBI sinonim diartikan sebagai hubungan antar bentuk-bentuk kata yang mirip (memiliki makna yang sama). Tidak jauh berdeda dengan yang dipahami dalam kajian bahasa Arab, bahwa muradif adalah istilah untuk beberapa kata yang memiliki makna atau arti yang sama.

Sebetulnya dalam kajian semantik, ulama masih berbeda pendapat tentang apakah istilah muradif itu benar-benar ada di dalam al-Quran dan bahasa Arab, ataukah tidak. Yang mengatakan tidak, menganggap pada dasarnya kata-kata yang selama ini diduga sama (muradif), sebenarnya memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Karena setiap kata pada dasarnya memiliki arti masing-masing, hanya saja karena ada kemiripan dengan kata lain secara makna, maka ia pun dianggap sama, padahal sebenarnya jauh berbeda (Thariqah al-Husul ‘Ala Ghayah al-Wushul ,121).

Tetapi bagaimana pun mayoritas ulama tetap memilih pandangan yang menganggap istilah sinonim itu berlaku dan terjadi dengan pengertiannya yang sebenarnya. Hanya sebagian ulama saja yang tidak menerima pandangan ini.

Baca Juga: Tafsir Q.S. Ali Imran [3]: 145: Menyoal Kematian dan Ragam Motif di Balik Amal

Sebagai contoh, diantara kata-kata muradif yang tersebar dalam Mushaf al-Quran adalah kalimat atau kata yang digunakan untuk arti kematian. Al-Quran setidaknya menyebut empat kata yang digunakan untuk arti kematian ini.

Maut (موت)

Dalam berbagai bentuk derivasinya, kata maut terlulang sebanyak 161 kali di dalam 53 surah yang berbeda. Salah satunya adalah dalam Q.S. Al-Imran (3) 185,

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, kemudian kamu (semua) akan kembali kepada kami”.

Secara bahasa kata maut berarti diam dan berhentinya sesuatu dari suatu keadaan. Orang-orang arab biasa mengatakan “matat ar-rihu” (angin telah mati) dan “matat an-naru” (api telah mati), setelah angin kencang berhenti dan api besar menjadi padam.

Karena mati identik dengan diam maka ketika ruh meninggalkan jasad, jasad menjadi terdiam. Itu sebabnya al-Quran menggunakan kata maut untuk mewakili makna kematian yang menunjukkan terhentinya aktivitas tubuh.

Yang menarik, Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab-nya menyebutkan lima jenis kematian yang ditunjukkan oleh kata maut. Pertama, mati yang dialami tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Ditandai dengan lesu, lembek dan menyusutnya tanaman itu. Contohnya dalam Q.S. al-Baqarah (2) 164. Kedua, mati yang dialami oleh manusia, dengan hilangnya kekuatan tubuh untuk bergerak. Seperti yang terdapat dalam Q.S. Maryam (19) 23.

Ketiga, matinya akal. Yaitu mati karena kebodohan. Seperti dalam Q.S. al-An’am (6) 122. Keempat, mati dengan artian hilangnya kebahagian dan kesenangan, yaitu ketika mengalami kesedihan, ketakutan dan kekhawatiran yang dapat mengeruhkan kehidupan. Seperti dalam Q.S. Ibrahim (14) 17. Dan yang kelima, mati yang sementara, yaitu ketika tidur. Seperti dalam Q.S. Az-Zumar (39) 42. (Lisanul ‘Arab [2] 91-92)

Wafat (وفاة)

Dalam al-Quran kata ini biasanya diubah menjadi bentuk kata kerja tawaffa-yatawaffa saat menunjukkan makna kematian. seperti dalam Q.S. Az-Zumar (39) 42.

اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.”

Wafa dan tawaffa sendiri berarti memenuhi atau menepati sesuatu yang telah ditentukan. Orang yang berjanji melakukan sesuatu ketika telah menepati janjinya akan disebut waafiin (orang yang telah menepati janji).

Karena itu kata wafat tidak hanya sekedar bermakna kematian tapi juga bermakna menunaikan dan menepati batas hitungan usia. Jika usia seseorang tertulis berusia 60 atau 80 tahun, maka tatkala usia itu telah sampai, dia akan disebut telah tawaffa yaitu telah menunaikan batas hidupnya di dunia. Karena itu pula di dalam Q.S. Ali-Imran (3) 55, Allah menggunakan kata tawaffa bukan maut saat Allah Swt berfirman kepada Nabi Isa, karena dalam keyakinan kita Nabi Isa sebenarnya belum mati tapi hanya diangkat kelangit karena batas waktu hidupnya telah sampai dan akan diturunkan lagi kemuka bumi diakhir zaman nanti.

Ajal (أجل).

Ajal adalah salah satu kata yang digunakan al-Quran untuk mewakili makna kematian. Kata ini terulang sebanyak 21 kali, salah satunya terdapat di dalam Q.S. Al-A’raf (7) 34,

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”

Jika tawaffa dibuat untuk menekankan sisi penunaian maka ajal adalah batas waktu yang ditunaikan. Hanya saja, selama ini banyak orang mengira ajal adalah usia atau umur, padahal tidak demikian. Usia adalah waktu yang telah dilalui dan bisa bertambah seiring berjalannya waktu, sementara ajal adalah batas usia yang tidak dapat dikurangi dan ditambahi.

Baca Juga: Pembacaan Zaghlul An-Najjar terhadap Ayat-ayat Kematian

Raji’ (راجع).

Secara bahasa raji’ berasal dari asal kata raja’a yang bermakna kembali, pulang dan pergi ketempat semula. Salah satu ayat yang menggunakan kata ini adalah yang terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah (2) 156.

الَّذِينَ إِذَ أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوا۟ إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ …

“….(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali).

Selain bermakna kematian, kata raji’un diatas juga mengandung pesan bahwa manusia tidaklah tercipta begitu saja tanpa ada yang menciptakannya. Tetapi manusia adalah makhluk ciptaan yang memiliki pencipta sebagai asal usulnya dan pasti akan kembali kepada asal itu.

Demikianlah penjelasan terkait dengan empat kata yang digunakan dalam Al-Quran untuk menyebutkan makna kematian. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 66-69

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 66-69 berbicara mengenai bencana yang akan menimpa orang-orang yang mengingkari nikmat-nikmat Allah SWT. Tidak ada jaminan bagi orang yang kelihatannya aman-aman saja dari bencana. Jika Allah berkehendak maka bencana yang lain akan menimpa mereka.


Baca juga: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 64-65


Ayat 66

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah yang menggerakkan kapal-kapal di lautan untuk para hamba-Nya, agar mereka dapat memanfaatkan kapal-kapal itu sebagai alat pengangkut kebutuhan hidup dari suatu negeri ke negeri lain. Dengan pengangkutan itulah kemakmuran yang terdapat di suatu negeri dapat beralih ke negeri yang lain.

Di akhir ayat, ditegaskan bahwa Allah benar-benar Maha Penyayang terhadap seluruh hamba-Nya, karena ke mana saja manusia mengarahkan pandangannya, tentu akan menyaksikan berbagi nikmat Allah yang tak terhingga, yang menjadi tanda kebesaran kekuasaan-Nya.

Ayat 67

Kemudian Allah mengungkapkan keadaan orang-orang kafir ketika ditimpa mara bahaya yang mengancam jiwanya.

Mereka tidak dapat mengharapkan pertolongan kecuali dari Allah, yang berkuasa mendatangkan manfaat dan menolak bahaya. Allah swt menyatakan bahwa apabila orang kafir ditimpa mara bahaya di lautan, niscaya hilang harapan mereka untuk meminta bantuan dan pertolongan kepada berhala-berhala, jin, malaikat, pohon-pohon, dan batu-batu yang mereka sembah.

Pada saat yang gawat itu, yang mereka ingat hanyalah Allah Yang Maha Esa yang berkuasa dan mampu menghilangkan bahaya itu, maka mereka meminta pertolongan kepada-Nya.

Namun, apabila Allah telah mengabulkan permintaan mereka, yakni mereka telah terlepas dari bencana topan dan badai yang hampir menenggelamkan mereka, dan tiba di darat dengan selamat, mereka pun kembali berpaling menjadi orang-orang yang mengingkari nikmat-nikmat Allah dan kembali menyekutukan-Nya dengan tuhan yang lain.

Allah menegaskan bahwa tabiat manusia cenderung melupakan nikmat yang mereka terima dan selalu tidak beriman atau tidak mau berterima kasih kepada Zat yang memberikan nikmat itu. Ini adalah keanehan yang terdapat pada diri manusia kecuali hamba-Nya yang selalu berada dalam bimbingan dan perlindungan-Nya.


Baca juga: Makna Pengulangan Lafaz al-Rahmān al-Rahīm dalam Surah al-Fatihah


Ayat 68

Allah mengancam orang-orang yang mengingkari nikmat-nikmat-Nya, yang mengira bahwa dengan selamatnya mereka dari ancaman topan dan badai itu, mereka aman dari hukuman Allah Yang berkuasa menjungkirbalikkan sebagian daratan, sehingga mereka terpendam ke perut bumi.

Apabila berkehendak, Allah berkuasa meniupkan angin keras dan menghujani mereka dengan batu-batu kecil sehingga mereka lenyap dalam waktu yang sangat singkat dari permukaan bumi ini.

Dalam keadaan seperti itu, mereka tidak akan mendapatkan seorang pelindung yang mampu menyelamatkan mereka dari bencana tersebut kecuali Allah Yang Mahakuasa menghidupkan dan mematikan seluruh makhluk-Nya.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa bencana itu bisa terjadi di mana-mana, meskipun selamat dari bencana yang mengancam mereka di lautan, yang berupa topan dan badai, di daratan bencana yang lebih dahsyat mungkin saja terjadi, seperti gempa bumi, hujan batu, banjir, dan sebagainya.

Semuanya berada dalam kekuasaan Allah yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh makhluk yang berada di antara keduanya.

Ayat 69

Selanjutnya dijelaskan bahwa Allah berkuasa untuk mengembalikan orang-orang yang mengingkari nikmat-Nya itu ke lautan kembali, setelah mereka merasa aman di darat. Apakah mereka merasa aman dari bencana yang akan menimpa mereka di lautan setelah mereka sampai ke daratan.

Allah berkuasa mengembalikan mereka ke lautan kembali, dengan mengirim angin topan dan tsunami yang sangat dahsyat.

Angin itu menyapu mereka dari daratan, sehingga mereka akan digulung oleh gelombang yang dapat menenggelamkan mereka. Pada saat-saat mengalami musibah yang sangat dahsyat itu, mereka tidak akan mendapatkan seorang pun yang dapat menolong untuk melepaskan mereka dari siksa Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 70-71


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Isyari Surah At-Taubah Ayat 108: Makna Bersuci Bagi al-Ghazali

0
Tafsir Isyari Surah At-Taubah Ayat 108: Makna Bersuci Bagi al-Ghazali
Makna Bersuci Bagi al-Ghazali

Thaharah atau bersuci memiliki posisi yang sangat penting dalam Islam. Tak hanya aspek fisik yang menjadikannya syarat keabsahan salat, tetapi juga nuansa metafisik bekal perjalanan salik menuju Khaliq. Meski begitu, nyatanya tak banyak tulisan yang membicarakan masalah bersuci dari aspek yang kedua. Oleh karena itu penulis tertarik menyajikan pembacaan ayat thaharah dalam perspektif tasawuf ala Imam Al-Ghazali.

Ada begitu banyak ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang membahas tentang bersuci. Paling tidak hal itu yang dapat dilihat dari munculnya ragam derivasi kata tha-ha-ra dalam Fath al-Rahman li Thalab Ayat al-Qur’an karya ‘Ilmi Zadah Faidlullah al-Hasaniy. Namun dari sekian banyak ayat tersebut, Al-Ghazali memilih QS. At-Taubah ayat 108 sebagai landasan hukum praktek bersuci.

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

“Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih.”

Bagi beberapa pembaca, ayat ini mungkin tidak asing karena masuk dalam rangkaian cerita Masjid Dlirar, salah satu cerita yang masyhur dijumpai dalam QS. At-Taubah. Ayat 108 ini sendiri berisi lanjutan pesan dari ayat 107, yang melarang umat Islam kala itu melakukan salat di Masjid Dlirar, sebutan untuk masjid yang didirikan Bani Ghanam bin ‘Auf dari kelompok Khazraj.

Sementara isyarat yang terkandung dalam redaksi lamasjidun ussisa sendiri mengacu pada Masjid Quba’ yang didirikan oleh Bani ‘Amr bin ‘Auf dari kelompok Aus yang masuk dalam kategori sahabat Anshar. Sehingga kata thaharah dalam ayat tersebut secara lahir merujuk pada kelompok Anshar ini, yang benar-benar mendasari pendirian masjid dengan takwa kepada Allah.

Baca juga: Tafsir Surat at-Taubah Ayat 107: Mengenal Masjid Dhirar dan Sikap Nabi Terhadapnya

Tafsir Isyari Surah At-Taubah Ayat 108

Dari ayat ini Al-Ghazali menyebutkan dalam Mukhtashar Ihya’-nya bahwa konsep bersuci terbagi menjadi 4 fase, yakni thathhir al-dzahir ‘an al-ahdats atau membersihkan tubuh dari segala jenis hadas dan kotoran, thathhir al-jawarih ‘an al-jara’im wa al-atsam atau membersihkan anggota tubuh dari tindak perbuatan kriminal dan dosa, thathhir al-qalb ‘an al-akhlaq al-dhamimah atau membersihkan hati dari pekerti yang buruk, dan thathhir al-sirr ‘amm siwa Allah atau mengosongkan hati dari selain Allah.

Dalam karyanya yang lain, Al-Arba‘in fi Ushul al-Din, Al-Ghazali memberikan ulasan lebih lanjut bahwa pembagian fase tersebut muncul seiring dengan adanya pengaruh yang timbul dari satu lapisan fase menuju lapisan yang lain. Lapisan-lapisan fase ini sendiri ia sebut dengan qisyr atau kulit. Masing-masing kulit ini akan memberikan ta’tsir (dampak, efek, pengaruh) yang akan menembus ke dalam lapiran kulit yang lebih dalam. Ia mencontohkan,

فَإِنَّكَ إِذَا أَسْبَغْتَ الْوُضُوْءَ، وَاسْتَشْعَرْتَ نَظَافَةَ ظَاهِرِكَ، صَادَفْتَ فِي قَلْبِكَ انْشِرَاحًا وَصَفَاءً كُنْتَ لَا تُصَادِفُهُ مِنْ قَبْلُ

“Karena ketika Engkau telah menyempurnakan wudu, dan merasakan bersihnya zahir(tubuh)-mu, Engkau akan mendapati di dalam hatimu perasaan lapang dan jernih yang tidak Engkau dapati sebelumnya.”

Perjalanan antar-fase ini menjadi mungkin dikarenakan adanya hubungan (‘alaqah) antara dimensi fisik yang terlihat (‘alam al-syahadah) dan dimensi metafisik yang tidak terlihat (‘alam al-malakut).

Nilai aksentuasi dari thaharah sendiri terletak pada aspek yang lebih dalam. Semakin dalam fase yang didapat, semakin sempurna pula ritual thaharah yang dilakukan. Namun tidak menutup kemungkinan setiap fase memiliki aspek pentingnya tersendiri, yakni sebagai media menuju fase yang lebih dalam.

Sebenarnya akan menarik pula jika mengetahui alasan pemilihan Al-Ghazali terhadap QS. At-Taubah ayat 108 sebagai landasan dalil bersuci ini. Karena konteks peristiwa ayat ini tidak secara langsung membicarakan aktivitas bersuci. Penulis sendiri menduga adanya munasabah (kesesuaian) antara kisah dan nilai yang dikandung ayat 108 ini dengan pesan yang ingin disampaikan Al-Ghazali.

Kesesuaian tersebut ada pada isi QS. At-Taubah ayat 108 tentang isyarat akan kemurnian amal dan kebersihan hati dari segala iri hati, seperti perilaku Bani ‘Amr bin ‘Auf dari kelompok Aus, yang sesuai dengan isyarat thaharah pada aspek kebatinan, bukan sekadar penampilan luar. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

Baca juga: Apa Maksud Qalbun Salim (Hati yang Sehat) dalam As-Syu’ara: 88-89?