Beranda blog Halaman 271

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 64-65

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 64-65 berbicara mengenai batas kemampuan Iblis dalam menggoda manusia. Godaan Ibis tidak akan mampu mempengaruhi hamba Allah yang salih.


Baca juga: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 61-63


Ayat 64

Ayat ini menjelaskan lebih jauh, sampai di mana kemampuan Iblis untuk menggoda keturunan Adam di muka bumi ini. Allah swt membiarkan Iblis menghasut siapa saja di antara keturunan Adam, sesuai kesanggupan dan kemampuannya dengan bujukan dan tipu dayanya.

Tipu daya Iblis untuk menggoda keturunan Adam digambarkan seakan-akan panglima yang sedang mengerahkan bala tentara berkuda dan diperkuat dengan tentara yang berjalan kaki. Mereka menyerang musuhnya dengan iringan suara yang gegap gempita guna mengejutkan musuh-musuhnya agar segera tunduk dan takluk di bawah kekuasaannya.

Sehubungan dengan penafsiran ayat ini, Imam Mujahid menjelaskan bahwa setiap tentara berkuda yang digunakan menyerang musuh dengan melanggar hukum-hukum Allah, adalah bala tentara yang tergoda Iblis. Dan bala tentara yang berjalan kaki yang berperang dengan melanggar ketentuan Allah termasuk bala tentara Iblis.

Mufasir lain menjelaskan bahwa setan tidak lagi mempunyai bala tentara berkuda dan bala tentara yang berjalan kaki. Maksud perumpamaan itu ialah sebagai gambaran pengikut-pengikut Iblis dan pendukung-pendukungnya, tanpa mempedulikan keadaannya, apakah yang bertindak sebagai pendukung atau pengikut itu tentara berkuda atau tentara yang berjalan kaki.

Sebagai gambaran yang jelas, Allah mengumpamakan Iblis dan pengikut-pengikutnya dalam menggoda keturunan Adam sebagai orang yang berserikat mengumpulkan harta kekayaan dan anak-anak, yang mendorong mereka terjerumus kepada kemaksiatan dan menuruti hawa nafsu.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa Iblis berusaha dengan sekuat tenaga untuk menggoda keturunan Adam, agar mereka terjerumus ke dalam larangan Allah. Iblis menggoda hati mereka agar tertarik pada agama yang tidak diridai Allah, menggodanya supaya berzina, atau senang membunuh dan menguburkan anaknya hidup-hidup.

Allah juga membiarkan Iblis memberikan janji-janji kepada keturunan Adam dengan janji yang dapat memperdayakan mereka sehingga terlena dari perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya.

Akan tetapi, janji-janji setan hanya tipuan belaka, tidak ada satu pun godaan yang bisa mencegah hukum-an Allah yang akan ditimpakan kepada mereka. Janji-janji setan itu hanya tipuan yang memukau sehingga mereka tidak mampu lagi membedakan mana yang benar dan mana yang batil.

Allah swt berfirman:

وَقَالَ الشَّيْطٰنُ لَمَّا قُضِيَ الْاَمْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَخْلَفْتُكُمْۗ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّآ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ ۚفَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ

Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, ”Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. (Ibrahim/14: 22)


Baca juga: Penjelasan Al-Quran tentang Orang yang Tidak Bisa Disesatkan Iblis, Siapa Dia?


Ayat 65

Selanjutnya Allah swt menjelaskan keterbatasan godaan Iblis terhadap keturunan Adam dengan menegaskan bahwa sebenarnya hamba-hamba Allah yang selalu menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, tidak akan terpengaruh oleh godaannya.

Iblis tidak mempunyai kekuasaan untuk memaksa agar mereka tunduk di bawah tipu dayanya. Kemampuan Iblis hanyalah menggoda saja. Orang-orang yang dapat dipengaruhi ialah mereka yang tidak mempunyai iman yang kuat.

Oleh karena itu, Allah swt menegaskan pada akhir ayat ini bahwa bagi mereka yang mempunyai iman yang kuat itu cukup berserah diri kepada Allah, dan meminta perlindungan kepada-Nya agar terlepas dari godaan dan tipu daya setan.

Dalam ayat ini, terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa manusia pada dasarnya tidak mempunyai kekebalan terhadap godaan setan dan tidak mempunyai kontrol pribadi yang menyelamatkan dirinya dari kesesatan. Kekebalan dan kontrol pribadi itu hanyalah perlindungan dan limpahan rahmat Allah swt.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 66-69


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Ahkam: Hukum dan Ketentuan Jumlah Mahar dalam Pernikahan

0
Tafsir Ahkam: Hukum dan Ketentuan Jumlah Mahar dalam Pernikahan
Hukum dan Ketentuan Jumlah Mahar dalam Pernikahan

Salah satu bahasan yang terkait dengan pernikahan dan tak jarang menjadi ‘momok’ menakutkan bagi anak muda zaman now adalah soal mahar, tak sedikit dari mereka yang berpikir ulang untuk menikah karena terhalang tingginya angka mahar. Nah bagaimanakah ayat Al-Qur’an berbicara terkait hal ini? Apakah ada batasan minimal atau maksimalnya? Mari kita cermati penjelasan dari para ulama berikut.

Definisi dan Terminologi Mahar dalam Al-Qur’an

Sebagaimana disebutkan dalam al-Mu’jam al-Wasith (hlm. 889), secara bahasa kata mahar memiliki beberapa makna, salah satunya berarti sesuatu yang diberikan oleh seorang suami kepada istrinya dalam suatu akad pernikahan.

Kata mahar sendiri dalam Al-Qur’an setidaknya diungkapkan menggunakan dua diksi kata, yakni al-ajr dan al-shadaq sebagaimana terdapat pada ayat-ayat berikut:

Pertama, mahar diungkapkan dengan kata al-ajr seperti terdapat dalam Q.S. Al-Nisa [4]: 25 yang berbunyi,

فَانْكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Terjemahnya, “...Maka nikahilah mereka dengan seizin keluarganya dan berilah maskawin mereka dengan cara yang baik...”.

Kata al-ujur pada ayat di atas merupakan bentuk jamak dari kata al-ajr, yang dalam ayat ini bermakna mahar.

Kedua, sedangkan mahar yang disebutkan dengan kata shaduqaat yang merupakan bentuk jamak dari shadaaq, disebutkan misalnya pada Q.S. Al-Nisa [4]: 4 yang berbunyi,

وَآتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً…

Terjemahnya:

Dan tunaikanlah kepada wanita-wanita itu maharnya, sebagai pemberian yang penuh kerelaan…”.

Sebagian ulama menyamakan makna tiga kata tersebut. Namun al-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasysyaf menjelaskan bahwa penggunaan kata al-ajr sebagai ganti dari kata mahar adalah karena mahar itu berposisi sebagai penghargaan dan penghormatan kepada pihak perempuan yang sudah berkenan untuk dinikahi.

Selain itu, pengarang kitab al-Fiqh al-Manhajiy ‘ala Mazhab al-Imam al-Syafi’i (4/75) menjelaskan bahwa di antara faedah mengapa mahar disebutkan dengan istilah shadaaq -yang satu akar kata dengan kata shadaqa yang berarti kejujuran- adalah untuk menekankan sejatinya mahar itu adalah tanda keseriusan dan benarnya komitmen pihak laki-laki untuk menikahi perempuan yang dipinangnya itu.

Baca juga: Tafsir Surah An-Nisa Ayat 3: Pesan Utama Al-Qur’an yang Sering Dilupakan

Apakah Wajib Membayar Mahar?

Lalu muncul pertanyaan, apa hukum mahar itu sendiri dan kapan dibayarkan? Apakah saat akad nikah atau sebelumnya? Atau ketika sudah melakukan hubungan suami-istri? Dalam kitab Ahkam al-Qur’an li al-Imam al-Syafi’i yang disusun oleh al-Baihaqi disebutkan bahwa dari semua ayat yang berbicara tentang mahar, ada tiga kemungkinan hukum yang bisa diambil, yaitu:

Pertama, Mahar menjadi wajib hanya jika ditetapkan sendiri oleh pihak laki-laki, baik sudah berhubungan badan ataupun belum. Jika ia tidak menetapkan jumlah maharnya, maka tidak wajib baginya untuk membayar mahar.

Kedua, Mahar itu menjadi wajib bersamaan dengan adanya akad nikah, meskipun jumlah maharnya tidak disebutkan saat akad serta meskipun belum berhubungan badan sama sekali.

Ketiga, Mahar itu pada dasarnya tidak wajib. Ia menjadi wajib dibayarkan jika terjadi pada dua keadaan berikut 1). Mahar telah ditetapkan dan disebutkan ketika akad nikah dan 2). Ketika sudah melakukan hubungan badan -sekalipun belum disebutkan jumlah maharnya saat akad nikah.

Al-Baihaqi kemudian menyebutkan dalam Ahkam al-Qur’an li al-Imam al-Syafi’i (1/196-199) bahwa kemungkinan ketiga inilah yang dipilih oleh al-Syafi’i dan yang didukung oleh dalil-dalil yang ada. Misalnya firman Allah pada Q.S. Al-Baqarah [2]: 236 yang berbunyi,

لَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِنْ طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ مَا لَمْ تَمَسُّوهُنَّ أَوْ تَفْرِضُوا لَهُنَّ فَرِيضَةً…

Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kalian, jika kalian menceraikan istri-istri kalian sebelum kalian bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya…”.

Ayat di atas menunjukkan bahwa akad nikah itu tetap sah dilaksanakan meskipun pihak laki-laki belum menetapkan jumlah mahar yang akan diberikan kepada pihak wanita. Serta tidak ada kewajiban untuk membayarkan mahar jika terjadi perceraian sebelum adanya hubungan badan.

Namun jika sebelumnya mahar sudah ditentukan dan terjadi perceraian sebelum hubungan badan, maka diwajibkan untuk membayar setengah dari jumlah mahar tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 237.

وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ…

dan jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum berhubungan dengan mereka, padahal sebelumnya sudah ditentukan maharnya, maka bayarlah setengah dari yang telah kamu tentukan itu…”

Juga didukung oleh ayat lain misalnya dalam Q.S. Al-Nisa [4]: 24 yang bunyinya,

…فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً…

…Maka istri-istri yang telah kalian campuri, maka berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban…”. Ayat ini menjelaskan bahwa jika sudah terjadi hubungan badan, maka wajib membayarkan maharnya. Jika mahar belum ditetapkan sebelumnya saat akad nikah, maka jatuhnya adalah membayar mahar mitsil.

Baca juga: Surah An-Nisa Ayat 3, Praktik Poligami Menurut Mufasir Indonesia

Jumlah Mahar yang Wajib Dibayarkan

Para ulama berbeda pendapat mengenai berapa jumlah mahar, sebagaimana direkam oleh al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (6/211-213). Beberapa pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, pendapat yang dipegangi oleh Imam al-Syafi’i dan mayoritas ulama baik salaf maupun khalaf. Mereka berpegang pada keumuman ayat yang berbunyi {أن تبتغوا بأموالكم}, pada ayat tersebut kata amwal yakni harta, disebutkan tanpa ada batasan apapun.

Maka mahar itu sah diberikan berapapun jumlahnya tanpa ada batasan minimal maupun maksimal, selama mahar itu memiliki nilai materi, baik berupa emas, barang, uang ataupun jasa yang umumnya dibayar menggunakan uang seperti mengajarkan Al-Qur’an dan lain-lain. Ini dengan catatan telah tercapai kesepakatan antara kedua belah pihak.

Pendapat ini juga dikuatkan oleh hadis Rasulullah riwayat Muslim dari Sahl bin Sa’d al-Sa’idi yang berbunyi (al-Nawawi, al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim, 885-886),

…انظُر وَلَو خَاتَمًا مِن حَدِيدٍ…

Terjemahnya, “…carikanlah (maharnya) walaupun hanya sebuah cincin dari besi…”.

Dari hadis ini dapat ditarik kesimpulan bahwa tidak ada batasan minimal ataupun maksimal terkait mahar, karena cincin dari besi merupakan sesuatu yang hampir tidak ada harganya sama sekali.

Kedua, adalah pendapat yang dipegangi oleh Abu Hanifah dan beberapa pengikutnya. Pendapat ini mengatakan bahwa jumlah minimal mahar itu senilai satu dinar emas atau sepuluh dirham. Hal ini di-qiyas-kan kepada pendapat Abu Hanifah bahwa pencuri itu baru bisa dihukum potong tangan jika harta yang dicurinya lebih dari satu dinar atau sepuluh dirham.

Ketiga, Imam Malik yang pernah menyatakan mahar itu minimal seperempat dinar. Keempat, al-Nakha’i yang menyebutkan bahwa jumlah minimalnya adalah empat puluh dirham. Lalu kelima, dari Sa’id bin Jubair yang mengatakan bahwa minimalnya adalah 50 dirham.

Musthafa al-Bugha dkk dalam kitab al-Fiqh al-Manhajiy (4/78) mencoba memberikan pendapat yang menengahi pendapat-pendapat yang ada. Yakni dianjurkan membayar mahar itu tidak kurang dari sepuluh dirham -supaya keluar dari khilaf, karena Imam Abu Hanifah mewajibkan demikian- dan tidak lebih dari lima ratus dirham karena mahar anak dan istri-istri Rasulullah tidak pernah melebihi angka tersebut. Wallahu A’lam.

Baca juga: Pernikahan; Tujuan dan Hukumnya, Tafsir Surat An-Nahl Ayat 72

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 61-63

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 61-63 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai permusuhan iblis dengan anak cucu Adam. Kedua berbicara mengenai pembangkangan Iblis kepada Allah.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 60


hal Ketiga yang di bahas dalam Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 61-63 ini adalah mengenai permintaan Iblis untuk hidup sampai kiamat.

Ayat 61

Allah swt memerintahkan Rasulullah agar mengingatkan kaumnya akan permusuhan Iblis kepada Adam dan keturunannya. Permusuhan itu telah berlangsung lama sejak penciptaan Adam.

Ketika Allah swt memerintahkan kepada para malaikat agar sujud untuk memberikan penghormatan kepada Adam, mereka lalu sujud kepadanya, kecuali Iblis.

Ia merasa lebih mulia dan menolak perintah Allah. Sikap seperti itu disebabkan oleh kesombongannya, seperti tergambar dalam kata-katanya, “Apakah saya akan sujud kepada Adam yang diciptakan dari tanah, sedangkan aku diciptakan dari api.” Menurut anggapan Iblis, api lebih mulia daripada tanah.

Kata-kata Iblis serupa itu diungkapkan dalam ayat lain, seperti tersebut dalam firman Allah:

قَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

(Iblis) berkata, ”Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (Sad/38: 76)

Iblis menjadi kafir karena tidak menaati perintah Allah dan bersikap sombong. Ia beranggapan bahwa Allah swt telah memerintahkan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Anggapan Iblis yang demikian hanyalah khayalannya sendiri.

Anggapannya bahwa api lebih mulia dari tanah adalah anggapan yang tidak benar, karena api dan tanah sama-sama makhluk Allah. Allah yang menciptakannya dari tiada, kemudian melebihkan kegunaannya dari yang satu atas yang lain, sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.

Api bisa membakar, sementara tanah bisa menumbuhkan. Keduanya menjadi penunjang kehidupan manusia. Jadi secara kodrati, keduanya tidak bisa dilebihkan antara satu dengan yang lain. Keduanya mempunyai kelebihan masing-masing.


Baca juga: Realisasi Lafadz Ishlah dalam Al-Quran: Sembilan Cara Merawat Bumi


Ayat 62

Kemudian dijelaskan bahwa kelancangan dan pembangkangan Iblis terhadap perintah Allah ketika ia meminta agar Allah menerangkan kepada-nya, apa alasan yang menyebabkan dia harus sujud kepada Adam.

Perminta-an Iblis itu diungkapkan dalam bentuk kalimat tanya dimaksudkan untuk menunjukkan sikapnya yang merasa heran mendengar perintah Allah agar sujud kepada Adam. Karena pengingkarannya ini, Iblis mendapat murka, dan menjadi jauh dari rahmat Allah.

Itulah sebabnya mengapa Iblis memohon kepada Allah agar menangguh-kan hukuman dan kematiannya sampai hari kiamat dan diberi kesempatan untuk menggoda dan menyesatkan keturunan Adam, kecuali sebagian kecil saja dari keturunannya yang memang kuat imannya.

Allah swt berfirman:

اِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌ اِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغٰوِيْنَ

Sesungguhnya kamu (Iblis) tidak kuasa atas hamba-hamba-Ku, kecuali mereka yang mengikutimu, yaitu orang yang sesat. (al-Hijr/15: 42)

Ayat 63

Allah mengabulkan permintaan Iblis dan membiarkan ia pergi menuruti keinginan dan melaksanakan tipu dayanya hingga hari kiamat datang.

Namun demikian, Allah memberi syarat bahwa barang siapa di antara keturunan Adam yang teperdaya mengikuti Iblis, balasannya adalah neraka Jahanam sebagai hukuman yang harus ditimpakan kepadanya. Demikian juga hukuman yang ditimpakan kepada orang-orang yang mengikuti ajakannya, karena berani menyimpang dari perintah Allah dan melanggar larangan-Nya.

Allah swt berfirman:

قَالَ فَاِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَۙ  ٣٧  اِلٰى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُوْمِ   ٣٨

Allah berfirman, ”(Baiklah) maka sesungguhnya kamu termasuk yang diberi penangguhan, sampai hari yang telah ditentukan (kiamat).” (al-Hijr/15: 37-38)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 64-65


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Yasin Ayat 59-62

0
Tafsir Surah Yasin
Tafsir Surah Yasin

Sebelumnya telah dijelaskan bagaimana kondisi orang yang beriman. Kali ini, Tafsir Surah Yasin Ayat 59-62 akan menjelaskan kondisi orang-orang yang ingkar. Mereka berada pada kloter sendiri, dipisah dari rombongan kaum beriman, lalu digiring ke dalam neraka, bersiap menerima siksa. Allah mengingatkan manusia agar tidak mudah terpedaya dengan tipu daya setan, sebab dia adalah musuh yang nyata, dan setanlah yang banyak menyebabkan manusia masuk ke dalam neraka.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Yasin Ayat 55-58


Ayat 59

Allah memerintahkan kepada orang-orang kafir agar segera berpisah dari orang-orang yang beriman dan masuk ke dalam neraka sebagai tempat yang telah disediakan untuk mereka.

Perintah ini disampaikan Allah, sewaktu seluruh manusia telah selesai dihisab di Padang Mahsyar. Orang-orang yang beriman diperintahkan masuk ke dalam surga dan orang-orang kafir diperintahkan masuk ke dalam neraka.

Ayat lain yang senada dengan ayat ini ialah firman Allah:;

اُحْشُرُوا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا وَاَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ ۙ  ٢٢  مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَاهْدُوْهُمْ اِلٰى صِرَاطِ الْجَحِيْمِ   ٢٣

(Diperintahkan kepada malaikat), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah, selain Allah, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka. (ash-Saffat/37: 22-23)


Baca Juga: Urgensi Taubat dari Perbuatan Dosa dalam Surat Al-Furqan Ayat 68-70


Ayat 60

Pada ayat ini diterangkan bahwa orang-orang kafir yang digiring masuk neraka itu dihardik dan diingatkan Allah kepada perbuatan-perbuatan dosa yang pernah mereka kerjakan di dunia. Allah berfirman, “Bukankah dahulu pernah Aku wasiatkan kepadamu agar jangan sekali-kali menyembah setan. Di samping itu, telah Aku kemukakan kepadamu bukti-bukti yang kuat menurut akal pikiran, dan Aku utus rasul kepadamu dengan membawa kitab yang berisi petunjuk ke jalan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sebenarnya dengan hidayat dan pengutusan rasul itu telah cukup sebagai alasan bagimu untuk tidak mengikuti godaan setan. Tetapi semuanya itu tidak kamu hiraukan, sehingga jadilah nasibmu seperti keadaan sekarang ini.”

Allah menerangkan alasan-Nya melarang manusia mengikuti setan, yaitu karena setan itu merupakan musuh yang nyata bagi manusia. Permusuhan manusia dengan setan telah berlangsung sejak dahulu, yaitu sejak setan menyesatkan Adam dan Hawa, sehingga mereka dikeluarkan Allah dari surga. Sejak itu setan selalu berusaha dan berdaya upaya menyesatkan manusia.

Ayat 61

Allah memerintahkan manusia agar hanya menyembah-Nya, mengikuti semua yang diperintahkan-Nya, dan menghentikan semua yang dilarang-Nya. Jika seseorang telah melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya dan menghentikan semua yang dilarang-Nya berarti ia telah menempuh jalan yang diridai, dan itulah jalan yang lurus dan itulah agama yang benar yang berasal dari Tuhan semesta alam.

Ayat 62

Ayat ini menerangkan pengaruh dan akibat godaan setan kepada manusia, yaitu mereka ingkar dan tidak menaati Allah, bahkan banyak di antara mereka yang mempersekutukan-Nya.

Alangkah lemahnya hati manusia, sehingga mereka dapat tergoda oleh setan. Padahal mereka telah dianugerahi akal, pikiran, perasaan, kemampuan jasmani dan rohani, demikian pula taufik dan hidayah berupa agama yang disampaikan rasul kepada mereka.

Sebenarnya dengan semua anugerah yang diberikan itu, manusia dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana jalan yang lurus dan mana jalan yang sesat, mana perbuatan dosa dan mana amal yang saleh. Tetapi mereka lalai dan selalu memperturutkan hawa nafsunya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Yasin Ayat 63-65


 

Tafsir Surah Yasin Ayat 55-58

0
Tafsir Surah Yasin
Tafsir Surah Yasin

Tafsir Surah Yasin Ayat 55-58 berbicara tentang kondisi orang-orang beriman ketika hari kebangkitan tiba, dimana mereka mendapatkan balasan dari Allah Swt berupa surga, suatu nikmat yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Nikmat pertama yang tak terbandingkan adalah disaat mereka mendapat ucapan ‘salam’ dari Allah Swt, sebuah nitkmat yang tiada tara, melebihi semua nikmat yang telah dicicipi di syurga.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Yasin Ayat 51-54


Ayat 55

Allah menerangkan bahwa orang-orang yang beriman dibalas Allah dengan pahala yang berlipat ganda, berupa surga yang penuh kenikmatan. Di dalamnya, mereka merasakan kesenangan dan kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan, keindahan yang belum pernah mereka lihat, dan suara yang menyejukkan kalbu yang belum pernah mereka dengar.

Waktu itu tidak terpikir olehnya azab yang sedang diderita orang-orang kafir yang terbenam dalam neraka. Yang dirasakan dan diingatnya hanyalah kegembiraan dan kepuasan hati bersama teman-temannya di dalam surga.

Ayat 56

Di dalam surga orang-orang yang beriman dan istri-istri mereka berada dalam taman-taman yang indah dengan pohon yang rindang, duduk di atas sofa dan tempat-tempat tidur, berbincang-bincang sambil menikmati berbagai macam rezeki yang mereka peroleh dari Tuhan mereka.

Dari perkataan “hum wa azwajuhum” (mereka dan pasangan mereka) dapat dipahami bahwa orang-orang yang beriman akan tinggal bersama pasangan mereka dengan bahagia dan damai dalam surga dan memperoleh nikmat yang berbagai macam bentuk yang tiada taranya.

Ada yang dalam bentuk langsung mereka nikmati, seperti memperoleh tempat yang nyaman dan indah, serta merasakan makanan yang lezat dan sebagainya. Ada pula dalam bentuk pemenuhan keinginan dan cita-cita mereka sebagai anggota atau kepala keluarga. Selama hidup di dunia mereka mencita-citakan keluarga yang berbahagia, mempunyai istri yang cantik dan setia. Keinginan-keinginan mereka yang seperti itu dipenuhi Allah dalam surga nanti.

Baca Juga:

Bahkan pada ayat yang lain diterangkan bahwa anak cucu mereka yang beriman ditinggikan Allah derajatnya seperti derajat bapak dan ibu mereka. Mereka dikumpulkan dengan orang tua mereka di dalam surga, tanpa membeda-bedakan pemberian nikmat kepada masing-masing anggota keluarga itu. Allah berfirman:

وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ اَلَتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍۚ  كُلُّ امْرِئٍ ۢبِمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ

Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya. (at-Thur/52: 21)

Dari ayat ini dipahami pula agar setiap mukmin selalu berusaha untuk menjadikan suami, istri, anak-anak dan keluarga mereka, menjadi orang-orang beriman yang baik, agar cita-cita mereka untuk dapat saling berhubungan dengan keluarga mereka dikabulkan Allah di akhirat.

Ayat 57

Orang-orang yang beriman akan memakan bermacam-macam buah-buahan yang lezat di dalam surga, dan memperoleh semua yang mereka inginkan. Bagi yang suka bermain disediakan berbagai alat permainan, yang suka olahraga juga disediakan semua kebutuhan olahraga. Demikian pula berbagai alat kesenian yang mereka inginkan Firman Allah:

يَدْعُوْنَ فِيْهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ اٰمِنِيْنَۙ

Di dalamnya mereka dapat meminta segala macam buah-buahan dengan aman dan tenteram. (ad-Dukhan/44: 55)

Ayat 58

Yang mereka inginkan itu ialah salam dari Allah yang disampaikan kepada mereka untuk memuliakan mereka. Salam ini langsung disampaikan Allah atau mungkin dengan perantaraan malaikat, seperti firman Allah:

وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍۚ   ٢٣  سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِۗ     ٢٤

…sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan), “Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.” Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu. (ar-Ra’d/13: 23-24).

Salam berarti selamat dan sejahtera, terpelihara dari segala yang tidak disenangi memperoleh semua yang diingini sehingga orang itu memperoleh kenikmatan jasmani dan rohani yang tiada bandingannya.

(Tafsir Kemenag)

Baca Setelahnya : Tafsir Surah Yasin Ayat 59-62

 

Tafsir Surah Yasin Ayat 37-40

0
Tafsir Surah Yasin
Tafsir Surah Yasin

Tafsir Surah Yasin Ayat 37-40 menjelaskan tentang bukti-bukti keuasaan Allah Swt. Diantaranya, siang dan malam, peredaran matahari, serta jarak khusus untuk peredaran bulan. Fenomena-fenomena tersebut kemudian melahirkan ilmu yang bermanfaat bagi manusia, seperti ilmu falak/astronomi, yang memungkinkan manusia mengetahui aktivitas di angkasa. Berikut uraian lengkapnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Yasin Ayat 33-36


Ayat 37

Pada ayat ini, Allah menjelaskan bukti yang lain tentang kekuasaan-Nya Yang Mahabesar dan bukti adanya hari kebangkitan, yaitu adanya waktu malam. Allah menanggalkan siang dan mendatangkan malam, tiba-tiba manusia berada dalam kegelapan.

Ayat ini meletakkan dasar-dasar bagi ilmu pengetahuan alam dan ilmu falak. Terjadinya siang dan malam karena bergeraknya tata surya, terutama bumi dan matahari, sehingga bagian muka bumi yang terkena cahaya matahari mengalami siang, dan bagian yang tidak terkena cahaya matahari mengalami malam. Hal ini terjadi silih berganti.

Kemajuan ilmu pengetahuan manusia mengenai ilmu falak atau astronomi pada masa sekarang ini telah memungkinkan mereka mengetahui benda-benda di angkasa raya. Dengan kemajuan teknologi, manusia akhirnya dapat pula mengarungi ruang angkasa, tidak hanya sekadar mengamatinya dari bumi.

Adanya siang dan malam juga berfaedah bagi manusia. Waktu siang mereka gunakan untuk bekerja bagi keperluan hidup mereka. Sedang waktu malam pada umumnya digunakan untuk beristirahat dan tidur, sebagai salah satu dari kebutuhan jasmaniah dan rohaniah mereka.

Ayat 38

Allah menjelaskan bukti lain tentang kekuasaan-Nya, yaitu peredaran matahari, yang bergerak pada garis edarnya yang tertentu dengan tertib menurut ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Sedikit pun ia tidak menyimpang dari garis yang telah ditentukan itu. Andaikata ia menyimpang seujung rambut saja, niscaya akan terjadi tabrakan dengan benda-benda langit lainnya. Kita tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi akibat peristiwa itu.

Dilihat sepintas lalu, orang akan menerima bahwa hanya matahari yang bergerak, sedang bumi tetap pada tempatnya. Di pagi hari, matahari terlihat di sebelah timur, sedang pada sore hari ia berada di barat. Akan tetapi, ilmu falak mengatakan bahwa matahari berjalan sambil berputar pada sumbunya, sedang bumi berada di depannya, juga berjalan sambil berputar pada sumbunya, dan beredar mengelilingi matahari.

Ternyata apa yang ditetapkan oleh ilmu falak sejalan dengan apa yang telah diterangkan dalam ayat tersebut. Oleh sebab itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa semakin tinggi kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia, semakin terbuka pula kebenaran-kebenaran yang telah dikemukakan Al-Qur’an sejak empat belas abad yang lalu. All±hu Akbar. Allah Mahabesar kekuasaan-Nya.


Baca Juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 38: Kuasa Allah Swt dalam Pergerakan Matahari


Ayat 39

Allah telah menetapkan jarak-jarak tertentu bagi peredaran bulan, sehingga pada setiap jarak tersebut ia mengalami perubahan, baik dalam bentuk dan ukurannya, maupun dalam kekuatan sinarnya.

Mula-mula bulan itu timbul dalam keadaan kecil dan cahaya yang lemah. Kemudian ia menjadi bulan sabit dengan bentuk melengkung serta sinar yang semakin terang.

Selanjutnya bentuknya semakin sempurna bundarnya, sehingga menjadi bulan purnama dengan cahaya yang amat terang. Tetapi kemudian makin menyusut, sehingga pada akhirnya ia menyerupai sebuah tandan kering yang berbentuk melengkung dengan cahaya yang semakin pudar, kembali kepada keadaan semula.

Jika diperhatikan pula benda-benda angkasa lainnya yang bermiliar-miliar banyaknya, dengan jarak dan besar yang berbeda-beda, serta kecepatan gerak yang berlainan pula, semua berjalan dengan teratur rapi, semua itu akan menambah keyakinan kita tentang tak terbatasnya ruang alam ini dan betapa besarnya kekuasaan Allah yang menciptakan dan mengatur makhluk-Nya.

Dengan memperhatikan semua itu, tak akan ada kata-kata lain yang ke luar dari mulut orang yang beriman, selain ucapan “Allahu Akbar, Allah Mahabesar, lagi Mahabesar kekuasaan-Nya.”

Ayat 40

Berdasarkan pengaturan dan ketetapan Allah yang berlaku bagi benda-benda alam itu, peraturan yang disebut “Sunnatullah”, maka tidaklah mungkin terjadi tabrakan antara matahari dan bulan, dan tidak pula malam mendahului siang.

Semuanya akan berjalan sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan-Nya. Masing-masing tetap bergerak menurut garis edarnya yang telah ditetapkan Allah untuknya.

Betapa kecilnya kekuasaan manusia, dibanding dengan kekuasaan Allah yang menciptakan dan mengatur perjalanan benda-benda alam sehingga tetap berjalan dengan tertib. Manusia telah membuat bermacam-macam peraturan lalu lintas di jalan raya dilengkapi dengan rambu-rambu yang beraneka ragam. Akan tetapi kecelakaan lalu-lintas di jalan raya tetap terjadi di mana-mana. Peraturan manusia selalu menunjukkan sisi kelemahannya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Yasin Ayat 41-42


Tafsir Surah Yasin Ayat 51-54

0
Tafsir Surah Yasin
Tafsir Surah Yasin

Tafsir Surah Yasin Ayat 51-54 menjelaskan tentang peristiwa hari kebangkitan. Setelah tiupan sangkakala yang pertama, pada tiupan kedua seluruh manusia yang telah mati akan hidup dan dibangkitkan dari kuburnya. Mereka yang ingkar heran, sadara, bahwa peristiwa kebangkitan itu ada, dan ucapan para utusanbenar adanya. Disisi lain, Allah menunjukkan kuasa-Nya, betapa mudah bagi Allah untuk membangkitkan manusia, dan manusia akan menghadap-Nya untuk dimintai pertanggung jawaban selama hidup di dunia.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Yasin Ayat 48-50


Ayat 51

Setelah seluruh manusia mati dengan tiupan sangkakala yang pertama, selanjutnya ditiuplah sangkakala kedua untuk membangkitkan mereka dari kuburnya. Pada waktu itu, seluruh manusia bangkit dan hidup kembali. Mereka bangun dan bergegas menemui Allah Yang Mahakuasa untuk menerima hisab mereka.

 Ayat lain yang berhubungan dengan ayat ini ialah firman Allah:

يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ سِرَاعًا كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَ

(Yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia). (al-Ma’arij/70: 43)

Ayat 52

Ayat ini menerangkan keheranan dan kekagetan orang-orang kafir ketika dibangkitkan dari kubur. Mereka berkata, “Aduhai celakalah kami, siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?” Mereka heran dan tercengang karena dibangkitkan dari alam kubur dan menghadapi malapetaka serta kesulitan pada waktu itu.

Ketika mereka heran dan tercengang, di antara orang-orang yang beriman berkata kepada mereka, “Semua yang terjadi dan yang kita alami ini sesuai dengan yang dijanjikan Allah dan disampaikan oleh para rasul yang telah di- utus kepada kita semua ketika di dunia dahulu.

Kita telah diberitahu akan adanya janji, ancaman, dan hari kebangkitan seperti yang kita hadapi sekarang ini. Oleh karena itu, kita tidak pantas heran dan tercengang dengan keadaan yang kita alami sekarang ini.”

Menurut suatu riwayat bahwa yang dimaksud dengan bunyi sangkakala dalam ayat ini ialah suara malaikat Israfil yang sangat keras yang menyerukan, “Wahai tulang-belulang yang telah hancur-lebur, Allah memerintahkan kamu semua supaya berkumpul kembali seperti semula untuk menerima keputusan yang adil.”

Pada ayat ini orang-orang kafir menanyakan tentang siapa yang membangkitkan dan menghidupkan mereka kembali pada hari kebangkitan ini. Pertanyaan mereka itu dijawab dengan apa yang pernah disampaikan kepada mereka dahulu waktu masih hidup di dunia. Hal ini memberi pengertian bahwa seakan-akan Allah menyuruh mereka mengingat apa yang pernah mereka lakukan dahulu terhadap para rasul yang diutus.


Baca Juga: Apa Makna “Kiamat Sudah Dekat” dalam Al-Quran? Ini Penjelasannya


Ayat 53

Ayat ini menerangkan bagaimana mudahnya bagi Allah untuk membangkitkan seluruh manusia yang pernah ada dahulu sebelum datangnya hari Kiamat. Cukup dengan satu teriakan saja, maka hiduplah kembali seluruh manusia, dan berkumpul di hadapan Allah untuk menerima perhitungan dan keputusan yang adil dari-Nya.

Ayat yang lain yang maksudnya sama dengan ayat ini ialah firman-Nya:

وَمَآ اَمْرُ السَّاعَةِ اِلَّا كَلَمْحِ الْبَصَرِ اَوْ هُوَ اَقْرَبُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Urusan kejadian Kiamat itu, hanya seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (an-Nahl/16: 77)

Dan firman-Nya:

فَاِنَّمَا هِيَ زَجْرَةٌ وَّاحِدَةٌۙ  ١٣  فَاِذَا هُمْ بِالسَّاهِرَةِۗ  ١٤

Maka pengembalian itu hanyalah dengan sekali tiupan saja. Maka seketika itu mereka hidup kembali di bumi (yang baru). (an-Nazi’at/79: 13-14)

Ayat 54

Kemudian Allah menerangkan bahwa pada hari Kiamat itu, setiap manusia akan menerima balasan semua perbuatan yang telah dilakukannya selama hidup di dunia, perbuatan baik dibalas dengan pahala yang berlipat ganda dan perbuatan buruk dan jahat akan dibalas dengan siksa yang seimbang dengan perbuatan itu.

Sebagaimana sifat Allah yang memberikan keputusan dengan adil maka pada hari itu pun Dia memberi keputusan dengan adil. Oleh karena itu, seseorang tidak akan menerima pahala kebaikan yang dikerjakan orang lain, sebaliknya seseorang tidak akan menerima azab karena perbuatan jahat yang dilakukan orang lain.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Yasin Ayat 55-58


 

Tafsir Surah Yasin Ayat 48-50

0
Tafsir Surah Yasin
Tafsir Surah Yasin

Tafsir Surah Yasin Ayat 48-50 menerangkan bahwa orang yang ingkar tidak percaya akan adanya hari kebangkitan. Allah menegaskan bahwa, mudah baginya untuk mengenalkan hari Kebangkitan pada manusia, cukup dengan satu kali teriakan/aba-aba saja, alam ini bisa hancur lebur. Tidak ada yang tau kapan hari Kebangkitan datang, ia hadir secara tiba-tiba, manusia tidak ada persiapan, dan semua makhluk akan binasa.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Yasin Ayat 43-47


Ayat 48

Sisi lain dari sifat-sifat jelek kaum yang ingkar itu adalah ketidakpercayaan mereka tentang akan adanya hari Kebangkitan sesudah mati. Apabila disampaikan bahwa mereka kelak akan dibangkitkan kembali sesudah mati, untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka selama di dunia ini, maka mereka menjawab dengan sikap mengejek, “Bilakah janji itu akan terlaksana?”

Demikian keadaan kaum yang ingkar, hati mereka tidak lagi terbuka untuk menerima kebenaran. Penyesalan mereka barulah akan timbul setelah mereka menghadapi kenyataan tentang apa yang dulunya mereka ingkari.

Ayat 49

Allah memperingatkan, bahwa mereka tidak akan menunggu terlalu lama datangnya hari kebangkitan itu. Cukup dengan suatu teriakan aba-aba saja, yaitu suara tiupan yang pertama dari sangkakala yang membawa kehancuran alam ini.

Kemudian semua manusia akan dibangkitkan kembali dan dikumpulkan ke hadapan Allah untuk diperhitungkan segala perbuatannya selagi di dunia kemudian mereka menerima balasan sesuai dengan perbuatan mereka.

Ayat lain yang sama maksudnya dengan ayat ini ialah, firman Allah:

هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّا السَّاعَةَ اَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

Apakah mereka hanya menunggu saja kedatangan hari Kiamat yang datang kepada mereka secara mendadak sedang mereka tidak menyadarinya? (az-Zukhruf/43: 66)

Manusia tidak akan menyadari kedatangan hari Kiamat. Mereka dimatikan secara tiba-tiba dalam keadaan saling berselisih dan berbantah-bantahan dalam urusan dunia. Peristiwa Kiamat atau kematian terjadi secara tiba-tiba karena keduanya terjadi bukan hasil kompromi antara Allah dengan manusia, tetapi karena kehendak dan kekuasaan Allah semata.


Baca Juga: Al-Qur’an dan Realitas Sosial: Membincang Makna Adil dalam Islam


Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir at-Thabari dari Ibnu ‘Umar bahwa ia berkata, “Sangkakala benar-benar akan ditiup di saat keadaan manusia dalam kesibukan urusan mereka masing-masing di jalan, pasar, dan tempat mereka, hingga keadaan dua orang yang sedang tawar-menawar pakaian, misalnya, ketika pakaian belum sampai ke tangan salah seorang di antara mereka, maka tiba-tiba ditiupkan sangkakala, hingga mereka mati bergelimpangan semuanya. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah dalam ayat ini.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda:

لَتَقُوْمَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ نَشَرَ الرَّجُلاَنِ ثَوْبَهُمَا بَيْنَهُمَا فَلاَ يَتَبَايَعَانِهِ وَلاَ يَطْوِيَانِهِ وَلَتَقُوْمَنَّ السَّاعَةُ وَالرَّجُلُ يَلِيْطُ حَوْضَهُ فَلاَ يَسْقِيْ مِنْهُ، وَلَتَقُوْمَنَّ السَّاعَةُ وَقَدِ انْصَرَفَ الرَّجُلُ بِلَبَنِ نَعْجَتِهِ فَلاَ يَطْعَمَهُ، وَلَتَقُوْمَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ رَفَعَ اَكْلَتَهُ اِلَى فَمِهِ فَلاَ يَطْعَمُهَا. (رواه البخارى ومسلم عن أبى هريرة)

“Hari Kiamat itu benar-benar akan terjadi pada saat dua orang sedang menggelar pakaian mereka (sambil tawar-menawar), dan keduanya tidak sempat berjual-beli dan melipat kembali.

Hari Kiamat itu benar-benar akan terjadi pada saat seseorang membuat kolam dan ia belum sempat memberikan minuman dari kolam itu. Hari Kiamat benar-benar akan terjadi pada saat seseorang memeras susu kambingnya dan ia belum sempat meminumnya, dan hari kiamat itu benar-benar akan terjadi pada saat seseorang mengangkat makanan yang akan dimasukkannya ke mulutnya, dan ia belum sempat memakannya.” (Riwayat al-Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah)

Ayat 50

Demikian cepat datangnya peristiwa itu, dan amat tiba-tiba, sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan sedikit pun untuk berwasiat atau meninggalkan pesan kepada keluarganya, dan tidak pula dapat kembali berkumpul dengan mereka. Masing-masing menghadapi persoalannya sendiri, menunggu keputusan dari pengadilan Tuhan Yang Mahaadil dan Mahakuasa.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Yasin Ayat 51-54


 

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 60

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 60 bericara mengenai keadaan pasca isra’ mi’raj. Sebagian orang musyrik tidak percaya dengan kejadian itu dan menganggap Nabi Muhammad sebagai penyihir. Ayat ini turun sebagai bentuk dukungan kepada Nabi agar terus berdakwah meski mendapat tekanan.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 59


Ayat 60

Abu Ya’la dari Ummi Hani meriwayatkan bahwa pagi hari setelah Isra’, sebagian orang-orang Quraisy memperolok-olokkan Rasulullah dan meminta buktinya. Lalu beliau menggambarkan keadaan Baitul Maqdis serta menceritakan kepada mereka tentang kisah isra’. Kemudian Walid bin Mugirah berkata, Orang ini adalah penyihir.” Maka turunlah ayat ini.

Allah swt memberi dukungan kepada Rasulullah dalam melaksanakan tugas-tugas kerasulannya dan akan melindunginya dari tipu daya orang-orang yang mengingkari risalahnya dengan mengingatkan Rasul dan mewahyukan kepadanya bahwa ilmu Tuhan meliputi segala hal ihwal manusia. Maksudnya ialah Allah Mahakuasa terhadap seluruh hamba-Nya.

Mereka berada di bawah genggaman-Nya sehingga tidak dapat bergerak kecuali menurut ketentuan-Nya. Allah berkuasa melindungi Rasul-Nya dari orang-orang yang memusuhinya, sehingga mereka tidak mungkin secara semena-mena menyakiti hatinya.

Allah swt berfirman:

وَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ

Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. (al-Ma’idah/5: 67)

Menurut keterangan al-Hasan, Allah swt akan menghalangi setiap usaha mereka untuk membunuh Nabi. Allah swt berfirman:

وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ خَيْرُ الْمَاكِرِيْنَ

Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.    (al-Anfal/8: 30)

Allah menjelaskan juga pengingkaran orang-orang Quraisy terhadap apa yang diperlihatkan kepada Nabi Muhammad pada malam Isra’ dan Mi‘raj, seperti pohon zaqqµm yang tumbuh di neraka. Hal ini sebagai ujian, siapakah di antara umatnya yang benar-benar beriman dan siapa yang ingkar.


Baca juga: Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 1-5: Pujian kepada Allah dan Fungsi Al-Quran sebagai Pedoman yang Lurus


Mereka yang benar-benar beriman bertambah kuat imannya, akan tetapi mereka yang imannya hanya di mulut saja, bertambah ingkar. Pohon zaqqµm yang disebutkan dalam Al-Qur’an juga menjadi ujian kepada mereka, pada saat mereka mendengar kaum Muslimin membacakan ayat:

اِنَّ شَجَرَتَ الزَّقُّوْمِۙ  ٤٣  طَعَامُ الْاَثِيْمِ ۛ   ٤٤

Sungguh pohon zaqqum itu, makanan bagi orang yang banyak dosa. (ad-Dukhan/44: 43-44)

Mereka memperselisihkannya; orang yang imannya kuat, bertambah kuat imannya, tetapi orang yang mengingkari kerasulan Muhammad saw bertambah kekafirannya. Abu Jahal, misalnya, termasuk orang yang mengingkarinya.

Ketika itu ia berkata, “Sebenarnya anak Abu Kabsyah (Muhammad saw) mengancam kamu dengan ancaman neraka, yang bahan bakarnya batu, kemudian ia mengira di neraka itu tumbuh pohon, padahal kamu tahu bahwa api itu membakar pohon.” ‘

Abdullah bin az-Zibara ber-kata, “Sebenarnya Muhammad menakut-nakuti kami dengan pohon zaqqµm itu tiada lain kecuali kurma dan keju, maka telanlah.” Mereka lalu makan kurma dan keju itu.

Orang-orang musyrik Quraisy tidak mempercayai bahwa di neraka ada tumbuh-tumbuhan yang disebut pohon zaqqµm, karena mereka beranggapan bahwa api memusnahkan segalanya. Mereka tidak mengetahui bahwa di dunia ini juga terdapat keajaiban-keajaiban yang mencengangkan, terlebih-lebih lagi di akhirat. Misalnya di dunia ada semacam serat yang tak terbakar oleh api (asbes).

Bahan ini sering dipergunakan untuk bahan baju yang tahan api. Bumi ini mengandung api (yaitu magma) di dalam perut bumi yang akan terlihat pada saat gunung api meletus, tetapi di atasnya tumbuh pohon-pohon yang menghijau. Kayu atau batu pun dapat mengeluarkan api pada saat digosok-gosokkan.

Di dalam air pun terdapat unsur oksigen yang menyebabkan api menyala. Singkatnya, hati orang-orang kafir Quraisy tidak mau menerima kebenaran Al-Qur’an. Keingkaran mereka kepada ar-ru’ya (mimpi atau yang dilihat Nabi saw pada waktu isr±’) dan pohon zaqqµm merupakan bukti yang jelas akan keingkaran mereka.

Allah swt berfirman:

اِنَّا جَعَلْنٰهَا فِتْنَةً لِّلظّٰلِمِيْنَ  ٦٣  اِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِيْٓ اَصْلِ الْجَحِيْمِۙ  ٦٤  طَلْعُهَا كَاَنَّهٗ رُءُوْسُ الشَّيٰطِيْنِ  ٦٥

Sungguh, Kami menjadikannya (pohon zaqqµm itu) sebagai azab bagi orang-orang zalim. Sungguh, itu adalah pohon yang keluar dari dasar neraka Jahim, mayangnya seperti kepala-kepala setan. (as-Saffat/37: 63-65)

Di akhir ayat ditegaskan bahwa Allah hendak mengingatkan mereka akan siksaan-Nya, tetapi yang demikian itu hanya akan menambah mereka bergelimang dalam kedurhakaan dan kesesatan.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 61-63


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 59

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 59 berbicara mengenai permintaan nakal yang diajukan oleh orang-orang musyrik. Mereka meminta kepada Nabi Muhammad SAW agar mengubah gunung jadi emas dan mengubah bukit jadi lahan pertanian.


Baca juga: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 56-58


Ayat 59

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia berkata, “Penduduk Mekah meminta kepada Nabi saw agar mengubah gunung Safa menjadi gunung emas, dan menghilangkan bukit agar tanahnya bisa diguna-kan untuk pertanian.

Malaikat mengatakan kepada Nabi, “Jika engkau mau memenuhi permintaan mereka, penuhilah. Apabila mereka mengingkari, mereka dapat dibinasakan seperti umat-umat terdahulu.” Nabi bersabda, “Tetapi saya ingin menunda permintaan mereka.” Kemudian Allah menurun-kan ayat ini.”

Allah menjelaskan bahwa tidak ada yang mampu menghalangi ter-laksananya mukjizat yang diberikan kepada rasul-Nya. Orang-orang dahulu yang mendustakan tanda-tanda kekuasaan-Nya (mukjizat) seperti yang telah diberikan kepada para rasul-Nya yang terdahulu, akan dimusnahkan.

Begitu pula orang-orang Quraisy yang meminta kepada Nabi Muhammad saw, supaya Allah menurunkan pula tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada mereka. Akan tetapi, Allah tidak mengabulkannya, karena bila tanda-tanda kekuasaan Allah itu diturunkan, pasti mereka mendustakannya juga dan tentulah mereka akan dibinasakan seperti umat-umat yang dahulu.

Sedang Allah tidak akan membinasakan orang-orang Quraisy, karena di antara keturunan mereka ada yang diharapkan menjadi orang-orang yang beriman.


Baca juga: Tafsir Surah Al-Isra Ayat 78: Matahari sebagai Petunjuk Waktu Salat


Allah swt menjelaskan bahwa Dia telah memberikan tanda-tanda kekuasaan-Nya (mukjizat-Nya) kepada Nabi Saleh, seperti yang diminta oleh kaum Samud yaitu unta betina yang dapat mereka saksikan sendiri.

Rasulullah bersabda:

عَنِ الرَّبِيْعِ بْنِ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ النَّاسُ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَوْجِئْتَنَا بِاٰيَةٍ كَمَا جَاءَ بِهَا صَالِحٌ وَالنَّيِبُّوْنَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ شِئْتُمْ دَعَوْتُ الله فَأَنْزَلَهَا عَلَيْكُمْ فَإِنْ عَصَيْتُمْ هُلِكْتُمْ فَقَالُوْا لاَ نُرِيْدُهَا. (رواه البيهقي فى دلائل النبوة)

Diriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Anas, ia berkata, “Orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah saw, “(Kami mau beriman), seandainya didatangkan kepada kami tanda-tanda kekuasaan Allah, seperti yang didatangkan oleh Nabi Saleh dan para nabi (kepada umat mereka).” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Kalau kamu sekalian menginginkan agar saya berdoa kepada Allah, tentulah Allah akan menurunkan (tanda-tanda kekuasaan itu) kepadamu. Tetapi apabila kamu membangkang juga, tentulah kamu akan dibinasakan.” Kemudian mereka berkata, “Kami tidak menginginkan.” (Riwayat al-Baihaqi)

Allah menjelaskan bahwa pada akhirnya kaum Samud tetap tidak menjadi orang-orang yang beriman, bahkan mereka menganiaya unta betina yang menjadi mukjizat Nabi Saleh itu dan menyembelihnya. Allah swt lalu membinasakan mereka karena dosa-dosa mereka, dan menyamaratakan mereka dengan tanah.

Di akhir ayat ini, Allah swt menjelaskan bahwa Dia memberikan tanda-tanda kekuasaan itu untuk mengingatkan manusia agar mengambil pelajaran darinya, sehingga mereka bertobat dan kembali mengikuti bimbingan Allah swt seperti yang diserukan oleh para nabi dan rasul-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 60


(Tafsir Kemenag)