Beranda blog Halaman 272

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 56-58

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 56-58 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai tantangan kepada orang-orang yang menyekutukan Allah SWT. Kedua berbicara mengenai kekeliruan besar yang telah dilakukan oleh orang musyrik. Ketiga mengenai ancaman bagi pengingkar hari kiamat.


Baca juga: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 54-55


Ayat 56

Sabab nuzul ayat ini ialah sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ibnu Mas’µd bahwa ada manusia yang menyembah manusia dan jin. Jin tersebut sebagian masuk Islam, dan sebagian lagi tetap dalam keyakinannya. Maka turunlah ayat ini.

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasul-Nya agar mengatakan kepada kaum musyrikin Mekah ucapan berikut ini, “Pada saat kamu ditimpa bahaya, seperti kemiskinan dan serangan penyakit, cobalah panggil mereka yang kamu anggap tuhan selain Allah, apakah tuhan-tuhan itu mampu menghilangkan bahaya yang menimpa kamu?”

Maka dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa orang-orang yang mereka anggap tuhan itu tidak akan mampu menolak bahaya atau memindahkannya kepada orang lain. Sebab, mereka memang tidak mempunyai kekuasaan untuk melakukan yang demikian.

Yang mempunyai kekuasaan dan kemampuan untuk menghilang-kan bahaya itu ialah Pencipta alam semesta ini dan sekaligus Pencipta mereka, yaitu Allah Yang Maha Esa. Oleh karena itu, Allah itulah yang harus disembah.

Ayat 57

Di atas telah disebutkan bahwa kaum musyrik menyembah para malaikat, jin, Nabi Isa, dan ‘Uzair. Mereka menganggapnya sebagai tuhan yang dapat menghilangkan bahaya dan kemudaratan mereka.

Lalu Allah menyebutkan bahwa yang mereka sembah itu sendiri sebenarnya mencari wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jalan itu tidak lain ialah taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Imam at-Tirmizi dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah, ia berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيْلَةَ، وَمَا الْوَسِيْلَةُ؟ قَالَ: اَلْقُرْبُ مِنَ اللهِ ثُمَّ قَرَأَ هٰذِهِ الْاٰيَةَ.

Rasulullah saw bersabda, “Mohonkanlah wasilah untukku kepada Allah.” Mereka bertanya, “Apakah wasilah itu? Nabi pun berkata, “Mendekatkan diri kepada Allah.” Kemudian Nabi membaca ayat ini (ayat 57).

Lebih lanjut Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang paling dekat sekalipun, di antara para malaikat, jin, Nabi Isa, dan ‘Uzair, kepada Allah tetap mencari wasilah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dengan menaati dan menghambakan diri kepada-Nya. Oleh karena itu, apakah mereka layak disembah? Mengapa kamu tidak langsung saja menyembah Allah?

Pada bagian akhir ayat ini, Allah swt menyebutkan bahwa sesungguhnya azab Tuhan adalah hal yang (harus) ditakuti oleh siapa pun, baik para malaikat, para rasul dan nabi-Nya, maupun manusia seluruhnya.


Baca juga: Tafsir Surah Ath-Thur Ayat 21: Orang-Orang Beriman Akan Bersama Anak-Cucunya di Surga


Ayat 58

Allah swt memberikan peringatan kepada kaum musyrikin Mekah yang mengingkari terjadinya hari kebangkitan, hari pembalasan, dan kerasulan Muhammad, bahwa tidak ada suatu negeri pun yang penduduknya durhaka, melainkan dibinasakan keseluruhannya, sebelum hari kiamat datang atau ditimpa bencana yang hebat karena dosa dan keingkaran mereka kepada nabi-nabi yang pernah diutus kepada mereka.

Allah swt berfirman:

وَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ اَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهٖ فَحَاسَبْنٰهَا حِسَابًا شَدِيْدًاۙ وَّعَذَّبْنٰهَا عَذَابًا نُّكْرًا   ٨  فَذَاقَتْ وَبَالَ اَمْرِهَا وَكَانَ عَاقِبَةُ اَمْرِهَا خُسْرًا   ٩

Dan betapa banyak (penduduk) negeri yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan rasul-rasul-Nya, maka Kami buat perhitungan terhadap penduduk negeri itu dengan perhitungan yang ketat, dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan (di akhirat). Sehingga mereka merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan akibat perbuatan mereka, itu adalah kerugian yang besar. (at-Talaq/65: 8-9)

Allah swt menjelaskan bahwa yang demikian itu telah tercantum dalam kitab Allah, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmizi dari ‘Ubadah bin Sāmit ia berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اَوَّلَ مَا خَلَقَ اللهُ الْقَلَمُ، فَقَالَ لَهُ اكْتُبْ. فَقَالَ مَا اَكْتُبُ؟ قَالَ: اُكْتُبِ الْمُقَدَّرَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. (رواه الترمذي عن عبادة بن الصامت)

Sebenarnya yang diciptakan pertama kali oleh Allah ialah qalam (pena), kemudian Allah swt berfirman pada qalam itu, “Catatlah,” lalu qalam itu berkata, “Apa yang akan saya catat?” Allah swt berfirman, “Catatlah hal-hal yang telah ditentukan, dan apa yang akan terjadi hingga hari kiamat.” (Riwayat Imam at-Tirmizi dari ‘Ubadah bin Sāmit).


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 59


(Tafsir Kemenag)

Ragam Pemaknaan Kata Rabb dalam Surah al-Fatihah Ayat 2 dan Kaitannya dengan Pendidikan

0
Kata Rabb
Kata Rabb dalam Surah Al-Fatihah Ayat 2

Lafaz rabb (رَبّ) dalam Q.S. al-Fatihah(1): 2 menjadi salah satu term pembahasan utama dalam kajian Tafsir Tarbawi. Kata rabb (رَبّ) sangat erat hubungannya dengan istilah tarbiyyah apabila dirunut dengan menggunakan pendekatan ilmu Sharf. Alasan mendasar inilah yang menjadikan kajian atas Q.S. al-Fatihah ayat 2 menjadi salah satu kajian yang tidak bisa dilepaskan dari Tafsir Tarbawi.

Maka melihat ragam penafsiran Surah al-Fatihah ayat 2 oleh para mufasir secara umum maupun mufasir yang concern di bidang Tafsir Tarbawi akan menjadi suatu kajian yang menarik. Sebab selain menyimak pemaknaan para mufassir terkait kata rabb (رَبّ) serta implikasinya terhadap makna Tuhan sebagai rabb al-‘alamin, pembaca juga dapat melihat hubungan ayat tersebut dalam upaya memperluas wacana Tafsir Tarbawi.

Rabb (رَبّ): Satu Kata Ragam Makna

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam

Penafsiran atas ayat ini dibuka dengan penafsiran dari Ibn Abbas—seorang mufasir kenamaan di era Sahabat yang mendapat doa khusus dari Nabi Saw. Ia menjelaskan frasa rabb al-‘alamin lebih pada orientasi Tauhid sebagaimana penjelasannya berikut ini,

رب كل ذي روح دب على وجه الأرض ومن أهل السماء ويقال سيد الجن والإنس ويقال خالق الخلق ورزاقهم ومحولهم منحال إلى حال

Rabb al-‘alamin bermakna Rabb segala sesuatu yang memiliki ruh yang berjalan di muka bumi ini serta penduduk langit. Rabb al-‘alamin juga disebut sebagai sayyid al-jin wa al-ins serta khaliq al-khalq, pemberi rizki semuanya dan mengatur keadaan mereka dari satu keadaan ke keadaan yang lain”.

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Pentingnya Nalar Induktif bagi Kemajuan Pendidikan Islam

Penafsiran Ibn Abbas tidak memiliki tendensi untuk mengorientasikan penafsiran rabb dengan tarbiyah. Ia lebih condong memperluas makna rabb dalam konteks kalimat rabb al-‘alamin dalam ranah Tauhid. Hal ini juga diikuti oleh Ibn Katsir yang menambahkan keterangan bahwa lafadz rabb hanya boleh dipakai untuk/oleh Allah Swt. saja.

Lain halnya dengan al-Baidhawi yang dalam karya tafsirnya memberikan orientasi baru atas makna rabb. Berikut ini penafsirannya,

الرب في الأصل مصدر بمعنى التربية وهي تبليغ الشيئ إلى كماله شيئا فشيئا

Rabb merupakan bentuk masdar yang bermakna tarbiyyah (pendidikan, pemeliharaan, dll) yaitu sebuah aktivitas mengantarkan sesuatu kepada bentuk sempurnanya secara step by step”.

Penjelasan al-Baidhawi ini diikuti oleh al-Zamakhsyari serta Ibn ‘Ajibah yang semuanya berangkat dari menyepadankan makna rabb dan tarbiyah. Orientasi makna tarbawi juga dapat dilihat dalam pendapat al-Sa’di serta Quraish Shihab yang menafsirkan rabb dengan menyepadankan maknanya dengan bentuk pelaku (isim fa’il)—murabbi—yang bermakna pendidik atau pemelihara.

Para mufassir yang telah disebutkan penafsirannya tersebut merupakan mufassir yang tidak concern dalam ranah Tafsir Tarbawi. Namun dalam redaksi penafsirannya, sebagian mufasir belum memperlihatkan keterkaitan rabb dengan aktivitas tarbiyyah  dan sebagian lainnya sudah.

Jika dianalisa, maka ragam penafsiran tersebut didapati dari metode penafsiran yang diaplikasikan oleh masing-masing mufassir. Di mana mufassir yang tidak memperhatikan aspek semantik dari kata rabb cenderung mengorientasikan penafsirannya dalam ranah Tauhid, sedangkan yang mencoba mengolah sisi semantik dari kata rabb akan terlihat memberikan nuansa tarbawi dalam penafsirannya.

Lalu bagaimana dengan mufassir yang concern dalam ranah Tafsir Tarbawi? Dari mana mereka berangkat dalam penafsirannya sehingga mampu memberi nuansa tarbawi dalam penafsirannya? Simak penafsiran beberapa mufassir tarbawi kenamaan Indonesia berikut ini.

Dalam diskursus ini, nama Abuddin Nata dengan karyanya Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan mungkin menjadi salah satu referensi otoritatif sejauh ini. Dengan karyanya tersebut—yang booming di tahun 2002, ia berhasil memberikan wacana baru bagi ranah kajian tafsir.

Nata menafsirkan Q.S. al-Fatihah(1): 2 dengan murni berangkat dari horisonnya sebagai pendidik. Ia memaknai kata rabb (رَبّ) sebagai pemilik yang mendidik yaitu subjek yang mempengaruhi objek yang didiknya dan memikirkan keadaannya. Dari definisi tersebut, Nata membagi pendidikan yang dilakukan oleh Allah menjadi dua macam model.

Pertama, Allah melakukan pendidikan, pembinaan atau pemeliharaan terhadap kejadian fisik makhluknya yang terlihat pada pengembangan jasad atau fisik sehingga mencapai kedewasaan. Kedua, pendidikan terhadap potensi kejiwaaan dan akal pikirannya, pendidikan keagamaan dan akhlaknya yang terjadi dengan diberikannya potensi-potensi tersebut kepada manusia sehingga dengan itu semua manusia dapat mencapai kesempurnaan akalnya dan bersih jiwanya.

Penafsiran Abuddin Nata tersebut dalam hemat analisa penulis setidaknya memberikan tiga poin yang menarik: 1) Nata memaknai kata rabb (رَبّ) sebagai “pemilik yang mendidik” yang terkesan mengkompromikan pendapat yang berorientasi tauhid dan tarbawi; 2) Nata mengembangkan makna rabb al-‘alamin ke dalam dua orientasi tarbiyyah atau pendidikan, pemeliharaan atau pembinaan yaitu jasmani dan rohani; 3) penafsiran Nata berpotensi untuk dikontekstualisasikan sebagai sebuah sistem pendidikan ideal saat ini.

Jika membandingkan ragam penafsiran para mufassir umum dan mufassir tarbawi, maka akan dijumpai perbedaan yang cukup mencolok. Sebab mufassir umum tidak berupaya untuk mengembangkan nuansa tarbawi dan bahkan ada yang tidak memberikan atensi pada orientasi tarbawi, sedangkan mufassir tarbawi akan berupaya mengembangkan makna dalam upaya memperluas wacana Tafsir Tarbawi.

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Dasar Pendekatan Saintifik dalam Pendidikan Islam

Maka kesimpulan yang dapat diambil dan perlu dipahami bahwa setiap mufassir selalu berangkat dari sebuah kepentingan. Hassan Hanafi dalam karyanya Islam in the Modern World: Religion, Ideology and Development mengemukakan pendapat risetnya bahwa,

“Setiap penafsiran, baik yang menggunakan pendekatan riwayat (bil ma’tsur) maupun rasional (bil ra’yi) selalu berangkar dari kepentingan. Tidak ada penafsiran yang sepenuhnya objektif, absolut dan universal”.

Penekanan atas pemahaman ini diperlukan untuk memberikan sebuah underlined point bahwa keragaman dalam penafsiran adalah hal lumrah. Hal ini penulis rumuskan dengan kaidah: li kull mufassir ra’y, wa li kull ra’yih manahijuh (setiap mufassir memiliki pemikirannya masing-masing dan setiap pemikirannya memiliki metode-metode tersendiri). Wallahu a’lam bish shawab.

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 54-55

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 54-55 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai kehendak Allah SWT. Bila Allah berkehendak memberi rahmat maka akan selamat begitupun sebaliknya. Kedua berbicara mengenai salah satu contoh kehendakNya, yaitu siapa yang dipilih oleh Allah menjadi seorang nabi dan rasul.


Baca juga: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 52-53


Ayat 54

Allah swt menjelaskan bahwa Dialah yang lebih mengetahui tentang keadaan orang-orang musyrik itu. Bila Allah menghendaki, tentu Dia akan memberikan rahmat-Nya dengan jalan memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada mereka, sehingga selamat dari kesesatan dan menjadi manusia yang patuh. Tetapi bila Dia menghendaki untuk menyiksanya, tentu mereka tidak akan memperoleh hidayah untuk beriman.

Dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa kaum Muslimin tidak boleh menghina kaum musyrikin, dan mengatakan mereka sebagai ahli neraka. Kepastian seseorang masuk neraka ataupun tidak, termasuk masalah gaib yang hanya diketahui Allah swt. Kaum Muslimin juga tidak boleh melaku-kan sesuatu yang membuat mereka malu, karena yang demikian itu hanya menyebabkan mereka dengki dan menimbulkan permusuhan.

Di akhir ayat ditegaskan bahwa Allah tidak mengutus Rasul-Nya untuk memaksa mereka melakukan apa yang diridai-Nya. Akan tetapi, Allah mengutusnya sebagai pemberi berita gembira dan peringatan. Itulah sebab-nya Allah melarang Rasulullah melakukan pemaksaan terhadap mereka, dan memerintahkan agar semua sahabatnya bersikap lapang dada.


Baca juga: Tafsir Surah Ath-Thur Ayat 21: Orang-Orang Beriman Akan Bersama Anak-Cucunya di Surga


Ayat 55

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt lebih mengetahui keadaan hamba-Nya yang di langit atau di bumi, yang tampak ataupun yang tidak. Dia memilih di antara hamba-Nya, siapa yang pantas menerima tugas kenabian dan pengetahuan agama. Dia pula yang melebihkan hamba yang satu dari hamba yang lainnya, sesuai dengan ilmu dan kuasa-Nya semata.

Ayat ini juga merupakan sanggahan terhadap kaum musyrikin yang mengatakan  bahwa jauh kemungkinannya Muhammad yang hanya seorang anak yatim piatu dan diasuh oleh pamannya, Abµ Talib, menjadi seorang nabi.

Kalau pengikut-pengikutnya hanyalah orang-orang kelaparan, dan berpakaian compang-camping, tidak mungkin orang bangsawan dan pemuka-pemuka Quraisy mau menjadi pengikutnya.

Penyebutan bahwa Allah lebih mengetahui makhluk-Nya yang ada di langit dan di bumi pada ayat ini merupakan sanggahan terhadap dugaan dan keinginan mereka bahwa sepatutnya Allah mengirim malaikat atau orang besar dari Mekah atau Taif, untuk menjadi utusan-Nya. Firman Allah:

 لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا الْمَلٰۤىِٕكَةُ

Mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita. (al-Furqan/25: 21)

Firman Allah pula:

وَقَالُوْا لَوْلَا نُزِّلَ هٰذَا الْقُرْاٰنُ عَلٰى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيْمٍ

Dan mereka (juga) berkata, ”Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada orang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu dua negeri ini (Mekah dan Taif)?” (az-Zukhruf/43: 31)

Di antara hamba Allah yang dipilih untuk menjadi utusan-Nya ialah mereka yang mempunyai keutamaan rohani dan jiwa yang bersih. Allah swt melebihkan sebagian nabi atas sebagian yang lain sesuai dengan pilihan-Nya juga, seperti Nabi Ibrahim diberi keistimewaan sehingga diberi gelar Khalilullah dan Nabi Musa diberi keistimewaan pula sehingga diberi gelar Kalimullah.

Nabi Muhammad diberi mukjizat yang tertinggi di antara semua mukjizat yaitu Al-Qur’an dan diberi kemuliaan menghadap langsung ke hadirat-Nya ketika Isra’ dan Mi’raj.

Allah swt berfirman:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍۘ مِنْهُمْ مَّنْ كَلَّمَ اللّٰهُ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجٰتٍۗ وَاٰتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنٰتِ وَاَيَّدْنٰهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِۗ

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang (langsung) Allah berfirman dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat. Dan Kami beri Isa putra Maryam beberapa mukjizat dan Kami perkuat dia dengan Rohulkudus. (al-Baqarah/2: 253)

Di akhir ayat, Allah menyebutkan bahwa Dia telah memberikan Zabur kepada Daud a.s. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa keutamaan Nabi Daud, bukan hanya karena menjadi raja, tetapi karena ia juga memperoleh kitab dari Allah.

Penyebutan Zabur secara khusus dalam ayat ini karena dalam kitab itu disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi penutup dan umatnya adalah umat yang baik pula.

Allah swt berfirman:

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصّٰلِحُوْنَ

Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauḥ Maḥfµ§), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh. (al-Anbiya’/21: 105)

Yang dimaksud dengan hamba-hamba-Ku yang saleh dalam ayat di atas adalah Nabi Muhammad dan umatnya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 56-57


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Fatir Ayat 29: 3 Perniagaan yang Tidak Akan Pernah Rugi

0
Tafsir Surat Fatir Ayat 29: 3 Perniagaan yang Tidak Akan Pernah Rugi
Perniagaan yang Tidak Akan Pernah Rugi

Dalam kegiatan bisnis (perniagaan), adakalanya seseorang mendapatkan keuntungan dan adakalanya mendapatkan kerugian. Setiap orang tentu berharap perniagaan yang sedang dilakukannya akan selalu mendatangkan laba (keuntungan). Namun, jangan dinafikan bahwa dalam berbisnis terkadang seseorang akan berada pada posisi jatuh (mendapatkan kerugian). Nah, ada tiga jenis perniagaan yang tidak akan pernah mengalami kerugian sebagaimana dinyatakan dalam QS. Fatir ayat 29. Simak penjelasannya berikut:

Perniagaan yang Tidak Akan Rugi

Di dalam al-Qur’an ada satu ayat di mana Allah Swt menyebutkan jenis-jenis perniagaan yang tidak akan pernah mengalami kerugian atau dengan kata lain perniagaan yang akan selalu memberikan keutungan. Allah Swt berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ يَرۡجُونَ تِجَٰرَةٗ لَّن تَبُورَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Qur`ān), mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi. (QS. Fatir (35): 29).

Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan tiga jenis ibadah (amal saleh) yang diumpamakan dengan perniagaan – antara seorang hamba dengan Allah — yang tidak akan mengalami kerugian atau dalam kata lain perniagaan yang pasti akan memberikan keuntungan; pertama, membaca al-Qur’an. Kedua, melaksanakan (menegakkan) salat. Ketiga, menginfakkan sebagian rezeki baik secara diam-diam maupun terang-terangan.

Baca juga: Tafsir Surah An-Nisa’ ayat 29: Prinsip Jual Beli dalam Islam

Tafsir Surah Fatir Ayat 29

Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam kitabnya Tafsīr al-Qur’an al-Azhīm atau yang masyhur dengan Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut – QS. Fatir ayat 29 — Allah Ta’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya yang beriman, yang senantiasa membaca kitab-Nya, mengimaninya, dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, lalu hamba tersebut menegakkan salat, menginfakkan sebagian rezeki yang telah Allah karuniakan pada hal-hal yang disyari’atkan baik di waktu malam maupun siang, dan baik secara diam-diam maupun terang-terangan, bahwa hamba tersebut sungguh telah mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah rugi.

Kemudian Ibnu katsir menjelaskan maksud dari “mereka mengharapkan perniagaan yang tidak akan pernah rugi” adalah mereka mengharapkan pahala di sisi Allah atas segala amal yang telah dilakukan. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala pada ayat berikutnya:

لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُوْرَهُمْ وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ

Artinya: Agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. (QS. Fatir (35): 30).

Maksud dari ayat tersebut – QS. Fatir (35) ayat 30 — adalah agar Allah menyempurnakan pahala-pahala dari segala ibadah yang telah mereka lakukan dan melipatgandakannya dengan menambahkan beberapa karunia dari yang telah diberikan sebelumnya. Kemudian, Allah juga akan mengampuni segala dosa mereka, karena amat sedikit orang-orang yang mengerjakan amalan-amalan seperti mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 1997).

As-Sa’di (w. 1376 H) dalam kitab tafsirnya Taisir al-Karīm ar-Rahmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān atau yang masyhur dengan Tafsir as-Sa’di menjelaskan makna dari ayat tersebut – QS. Fatir ayat 29 — adalah mereka senantiasa mengikuti (petunjuk) al-Qur’an terkait dengan segala perintah yang ada di dalamnya, lalu mereka senantiasa menjauhi dan meninggalkan segala larangan yang ada di dalamnya. Selain itu, mereka juga membenarkan al-Qur’an, meyakininya – bersumber dari Allah Swt —, dan tidak mendahulukan sesuatu apapun berupa qaul-qaul (perkataan-perkataan) yang menyelisihi al-Qur’an. Kemudian, mereka juga selalu membaca setiap lafadznya dan mempelajari isinya atau makna-maknanya.

Baca juga: Surah Al-An’am [6] Ayat 164: Seseorang Tidak Akan Memikul Dosa Orang Lain

Selanjutnya perkara khusus setelah membaca dan mempelajari al-Qur’an adalah salat. Salat merupakan tiang (pondasi) agama, cahaya bagi kaum Muslimin, barometer keimanan, serta tanda benarnya keislaman seorang hamba. Terakhir, menginfakkan sebagaian harta yang telah dikaruniakan kepada mereka. Infak ini dapat diberikan kepada karib-kerabat, orang-orang miskin, anak-anak yatim, dan selainnya baik secara diam-diam maupun terang-terangan. infak di sini mencakup zakat, sedekah, nadzar, dan pembayaran kafarat.

Ketiga hal tersebut adalah perniagaan yang tidak akan pernah mendatangkan kerugian. Hal itu disebabkan semua jenis perniagaan tersebut adalah perniagaan yang paling agung, paling tinggi, dan paling utama, karena semata-mata untuk mencari rida tuhan mereka, keuntungan berupa pahala dari-Nya, serta mencari keselamatan dari kemurkaan dan siksa-Nya. Namun, dengan syarat semua hal tersebut dikerjakan secara ikhlas. (Tafsir as-Sa’di, 1442 H.).

Demikianlah tiga jenis perniagaan yang telah dijelaskan, yaitu membaca dan mengamalkan al-Qur’an, menegakkan (mendirikan) salat, serta menginfakkan sebagian harta yang telah Allah karuniakan. Ketiga perniagaan tersebut adalah jenis perniagaan yang tidak akan pernah mengalami kerugian atau dengan kata lain akan mendatangkan keuntungan, baik di dunia maupun di akhirat. Semoga kita dapat mengerjakan tiga jenis perniagaan tersebut.

Wallahu a’lam bi ash-shawwab.

Baca juga: Surah Al-Furqan [25] Ayat 67: Anjuran Bersedekah Secara Proporsional

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 52-53

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 52-53 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai penjelasan tentang hari kiamat. Kedua berbicara mengenai perintah untuk selalu berkata yang baik.


Baca juga: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 50-51


Ayat 52

Kemudian dijelaskan bahwa hari kebangkitan itu adalah hari ketika Allah swt memanggil semua manusia, lalu mereka akan mematuhi panggilan itu sambil memuji-Nya.

Maksudnya ialah bahwa pada hari itu Allah dengan kemahakuasaan-Nya memanggil seluruh manusia. Lalu mereka bangkit dari kuburnya sambil memuji kekuasaan Allah yang telah membangkitkan mereka sesuai dengan janji yang telah ditetapkan.

Allah swt berfirman:

وَاسْتَمِعْ يَوْمَ يُنَادِ الْمُنَادِ مِنْ مَّكَانٍ قَرِيْبٍ   ٤١  يَوْمَ يَسْمَعُوْنَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ۗذٰلِكَ يَوْمُ الْخُرُوْجِ   ٤٢

Dan dengarkanlah (seruan) pada hari (ketika) penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari (ketika) mereka mendengar suara dahsyat dengan sebenarnya. Itulah hari keluar (dari kubur). (Qaf/50: 41-42)

رُوِيَ عَنْ أَنَسٍ مَرْفُوْعًا: لَيْسَ عَلَى أهل: لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْشَةٌ فِى قُبُوْرِهِمْ، كَأَنِّيْ بِأَهْلِ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ يَقُوْمُوْنَ مِنْ قُبُوْرِهِمْ يَنْفُضُوْنَ التُّرَابَ عَنْ رُؤُوْسِهِمْ، يَقُوْلُوْنَ: لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ. وفى رواية الطبراني عن ابن عمر: يَقُوْلُوْنَ اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ. (رواه الطبراني)

Diriwayatkan dalam sebuah hadis marfu’ dari Anas bahwa beliau berkata, “Orang-orang yang mengucapkan, “Tiada tuhan selain Allah,” tidaklah merasa kesepian di alam kubur. Seolah aku bersama mereka keluar dari kuburnya dengan menyeka debu tanah dari kepala mereka, seraya berkata, “Tiada tuhan selain Allah.” Dalam riwayat a¯-°abr±n³ dari Ibnu Umar bahwa mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan kami.” (Riwayat at-Tabrani)

Pada saat bangkit dari kubur, mereka mengira bahwa mereka hidup di dunia tidak lama, tetapi hanya sebentar saja.

Allah swt berfirman:

كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا عَشِيَّةً اَوْ ضُحٰىهَا ࣖ

Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari. (an-Nazi’at/79: 46) (Perhatikan pula Yµnus/10: 45)

Al-Hasan al-Basri memberi penjelasan bahwa yang dimaksud dengan dekatnya hari kebangkitan itu ialah di hari itu kamu merasa seolah-olah pernah berada di dunia, (padahal kamu sekian lama berada di sana), dan tiba-tiba kamu sekarang telah berada di akhirat dan dalam menjalani proses penghitungan amal baik dan buruk.


Baca juga: Ingin Dikenang Baik di Dunia dan Akhirat? Amalkan Doa Nabi Ibrahim Ini!


Ayat 53

Allah memerintahkan kepada Rasulullah agar mengatakan kepada semua hamba-Nya supaya mengucapkan perkataan yang lebih baik pada saat berbicara atau berdebat dengan orang-orang musyrik ataupun yang lainnya.

Agar mereka tidak menggunakan kata-kata yang kasar dan caci-maki yang akan menimbulkan kebencian, tetapi hendaklah menggunakan kata-kata yang benar dan mengandung pelajaran yang baik.

Allah swt berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik. (an-Nahl/16: 125).

Perhatikan pula al-‘Ankabµt/29: 46. Allah swt menjelaskan alasan larangan-Nya itu, yaitu setan bisa merusak suasana dan menyebarkan bencana di antara kaum Mukminin dengan orang-orang musyrik ketika mereka berbicara kasar dan berselisih. Perselisihan di kalangan mereka bisa menimbulkan pertentangan, bahkan perkelahian.

Dalam hal ini, Rasulullah saw pernah melarang seorang laki-laki Muslim menudingnya dengan menggunakan sepotong besi, karena khawatir kalau-kalau setan melepaskan senjata itu dari tangannya lalu meluncur mengenai Rasul. Hal ini akan menyebabkan orang itu berdosa dan dimasukkan ke dalam neraka.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:

وَلاَ يُشِيْرَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَى أَخِيْهِ بِالسِّلاَحِ. فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِى لَعَلَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ فِى يَدِهِ فَيَقَعُ فِى حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ. (رواه أحمد عن أبي هريرة)

Janganlah seorang di antara kamu mengacung- acungkan senjata kepada saudaranya, karena sesungguhnya ia tidak mengetahui, boleh jadi setan melepaskan senjata dari tangannya, sehingga dia akan masuk ke lembah neraka. (Riwayat Imam Ahmad dari Abu Hurairah)

Kemudian Allah menegaskan bahwa setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Permusuhan di antara keduanya sudah berlangsung lama. Dalam ayat lain Allah swt berfirman:

ثُمَّ لَاٰتِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَاۤىِٕلِهِمْۗ

Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. (al-A’raf/7: 17)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 54-55


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Yasin Ayat 43-47

0
Tafsir Surah Yasin
Tafsir Surah Yasin

Dalam Tafsir Surah Yasin Ayat 43-47 Allah menegaskan kepada manusia agar bersyukur atas ciptaan dan kekuasaan Allah. Jangan pula takabbur (sombong),atas pencapaian selama ada di dunia. Jika enggan bersyukur, dan masih tetap sombong, maka Allah menilai sebagai keingkaran, dan terhadap hamba-hamba yang ingkar, Allah dengan mudah membinasakan mereka, mengazab mereka sewaktu di dunia dengan amat pedih.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Yasin Ayat 41-42


Ayat 43

Allah memperingatkan bahwa jika Dia menghendaki untuk menenggelamkan kapal-kapal yang berlayar di lautan itu, niscaya akan terjadi. Datangnya angin badai yang kencang yang menimbulkan gelombang-gelombang yang dahsyat, akan menyebabkan kapal-kapal itu tenggelam, para penumpangnya binasa dan terkubur ke dasar laut, tidak dapat ditolong lagi.

Hal ini merupakan suatu peringatan agar manusia jangan sombong, takabur, dan merasa bahwa prestasi mereka menciptakan kendaraan yang dapat berjalan di darat, laut, dan udara adalah semata-mata karena kepandaian otaknya, bukan karena karunia dari Allah.

Dari ilmu alam kita dapat mengetahui bahwa sesuatu dapat terapung di atas air, jika berat jenis benda itu lebih ringan dari berat jenis air yang dilaluinya. Ini ketentuan atau sunatullah yang ditetapkan Allah terhadap air yang diciptakan-Nya.

Dengan menyiasati hukum alam tentang air yang dapat membuat suatu benda menjadi tenggelam dan dapat pula terapung, maka manusia dapat membuat kapal selam yang dapat menyelam jauh ke dasar laut, tetapi pada waktu yang diperlukan dapat timbul ke permukaan air.

Hal itu dilakukan dengan mengurangi udara dalam rongga kapal selam sehingga menjadi tenggelam. Akan tetapi, jika udara dipompakan lagi ke dalam rongganya, kapal selam itu akan menjadi ringan sehingga bisa terapung di permukaan air.

Ayat 44

Pada ayat ini, Allah menegaskan bahwa karena kasih sayang-Nya yang sangat besar terhadap hamba-hamba-Nya, dan agar mereka dapat bersenang-senang menikmati karunia-Nya, maka Allah tidak membiarkan kendaraan-kendaraan itu semua binasa, baik yang berjalan di darat, berlayar di permukaan dan di dalam air, maupun yang terbang di udara.

Apalagi jika orang-orang yang menggunakan kendaraan itu tidak takabur serta selalu cermat dan berhati-hati. Apabila sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, itu adalah karena yang bersangkutan tidak berhati-hati, kurang cermat, lalai, atau sebab lainnya.

Ayat 45

Allah menerangkan bahwa andaikata terhadap orang-orang yang ingkar itu dianjurkan agar mereka menjaga diri terhadap siksaan Allah yang akan datang di kemudian hari, mereka akan tetap berpaling, tidak mau mendengarkan anjuran itu. Padahal, anjuran itu disampaikan agar mereka mendapatkan rahmat dari Allah.

Menjaga diri dari siksaan Allah ialah dengan cara bertakwa kepada-Nya, yaitu melakukan apa-apa yang diperintahkan-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, dan mensyukuri setiap karunia-Nya. Akan tetapi, hati orang-orang yang ingkar telah tertutup terhadap kebenaran. Mereka senantiasa berpaling dari nasihat-nasihat yang baik. Oleh sebab itu, wajarlah mereka ditimpa kemurkaan dan siksaan Allah.

Ayat 46

Allah menegaskan bahwa orang-orang yang ingkar itu senantiasa memalingkan muka dari setiap tanda-tanda yang menunjukkan keesaan dan kekuasaan-Nya, serta mengakui kerasulan utusan-Nya. Hati mereka telah buta, walaupun mata kepala mereka dapat melihat dengan terang semua tanda-tanda tersebut.


Baca Juga: Membayar Utang Adalah Tanda Bagi Keimanan Seseorang


Ayat 47

Allah menyebutkan sisi lain dari keingkaran mereka, yaitu keengganan mereka menyumbangkan sebagian harta yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka. Apabila kepada mereka dianjurkan menafkahkan harta bagi kepentingan fakir miskin dan orang yang memerlukan bantuan, mereka menjawab kepada orang-orang beriman yang menganjurkan itu, “Apa perlunya kami memberi mereka itu makan, karena Allah dapat memberi makan bila Allah menghendaki.”

Di samping itu, mereka mengatakan bahwa orang-orang mukmin yang suka menyumbangkan harta benda untuk membantu fakir miskin itu adalah orang-orang yang sesat dan bodoh.

Alangkah jauh pendapat mereka itu dari kebenaran. Menyumbangkan sebagian harta benda dan menolong orang lain berupa sumbangan wajib, seperti zakat, maupun sumbangan suka rela, seperti sedekah, merupakan perwujudan dari rasa iman dan syukur atas nikmat Allah, dan sekaligus menghilangkan sifat bakhil dari jiwa manusia. Harta benda, menurut ajaran Islam mempunyai fungsi sosial, bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri.

Harta benda haruslah dijadikan alat untuk mempererat tali persaudaraan, solidaritas, dan kegotongroyongan. Manusia tidak akan dapat hidup sendiri, tanpa mengharapkan pertolongan orang lain dalam berbagai keperluan hidup, walau pun ia seorang yang kaya raya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Yasin Ayat 48-50


Tafsir Surah Yasin Ayat 41-42

0
Tafsir Surah Yasin
Tafsir Surah Yasin

Masih terkait dengan kekuasaan Allah Swt., dalam Tafsir Surah Yasin Ayat 41-42 juga dijelaskan bahwa kapal yang berlayar dilaut juga bagian dari kekuasaan Allah Swt. Allah-lah yang memperlayarkan kapal tersebut, mengatur angin, mengaruskan air, sehingga kapal tersebut bisa berlayar dengan nyaman.

Selain itu, Allah pula yang menciptakan kendaraan lainnya,  supaya manusia dapat memanfaatkan, serta mengembangkannya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Yasin Ayat 37-40


Ayat 41

Pada ayat ini, Allah mengemukakan bahwa kapal yang berlayar di tengah samudera merupakan salah satu bukti kebesaran dan kekuasaan-Nya. Kapal itu mengangkut manusia dan barang-barang keperluannya dari suatu negeri ke negeri yang lain, baik yang berdekatan letaknya maupun yang berjauhan.

Penggunaan alat-alat angkutan laut sebagai salah satu sarana perhubungan yang dimanfaatkan manusia untuk bergerak dan mengangkut barang, telah dikenal sejak zaman dahulu kala, bahkan telah dikenal sejak zaman Nabi Nuh.

Orang yang mula-mula membuat kapal adalah Nabi Nuh. Kapal itu dibuat atas perintah dan bimbingan Allah. Hal ini diterangkan dalam firman-Nya:

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِاَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا

Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami. (Hud/11: 37)

Perahu, sampan, dan kapal yang berbobot berat, baik yang digerakkan oleh tenaga manusia, kekuatan angin, maupun tenaga mesin dapat meluncur dengan mudah di atas air mengangkut manusia dan barang dari suatu pulau ke pulau yang lain, dari suatu benua ke benua yang lain, tentu terkait dengan suatu kekuatan yang menahan kapal itu, sehingga tidak tenggelam.

Hal ini merupakan bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran Allah melalui pemberlakuan hukum alam-Nya.

Allah berfirman:

اَلَمْ تَرَ اَنَّ الْفُلْكَ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللّٰهِ لِيُرِيَكُمْ مِّنْ اٰيٰتِهٖۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ

Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran)-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur. (Luqman/31: 31)


Baca Juga: Mensyukuri Eksistensi Laut Bagi Umat Manusia


Ayat 42

Pada ayat ini, Allah mengingatkan manusia kepada bukti kekuasaan-Nya yang lain. Allah memberikan kepada manusia bermacam-macam kendaraan selain perahu, bahtera dan kapal, yaitu hewan-hewan yang dapat dijadikan kendaraan atau alat angkutan misalnya: kuda, keledai, unta, gajah dan sebagainya. Ini merupakan alat angkutan darat bagi manusia.

Pada ayat yang lain Allah berfirman:

وَّالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةًۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui. (an-Nahl/16: 8)

Untuk memungkinkan pengangkutan orang dan barang-barang yang lebih banyak, manusia dapat membuat alat-alat angkutan darat yang ditarik oleh hewan-hewan tersebut, seperti dokar, pedati, gerobak, dan sebagainya.

Dengan menggunakan akal yang dikaruniakan Allah kepadanya, manusia dapat pula membuat alat angkutan yang bergerak dengan tenaga mesin yang memakai bahan bakar berupa minyak bumi atau batu bara, yang juga disediakan dan dikaruniakan Allah kepada manusia. Kendaraan bermesin ini dapat berjalan lebih cepat dan bermuatan lebih banyak.

Berkat kemajuan akal (nalar) dan ilmu pengetahuan yang dikaruniakan Allah kepada manusia, mereka dapat membuat kendaraan-kendaraan yang dapat terbang di udara, mulai dari balon, pesawat terbang, hingga roket-roket yang menggerakkan kapal-kapal ruang angkasa yang kecepatannya dapat melebihi kecepatan suara.

Itu semua merupakan nikmat dari Allah kepada manusia. Dengan menyiasati hukum gravitasi, manusia berhasil menciptakan pesawat terbang untuk kepentingan transportasi manusia.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Yasin Ayat 43-47


Tafsir Surah Yasin Ayat 33-36

0
Tafsir Surah Yasin
Tafsir Surah Yasin

Tafsir Surah Yasin Ayat 33-36 menerangkan tanda kekuasaan Allah diantaranya  tanah. Tanah adalah bukti nyata bahwa Allah Maha Hidup, sebab tanah yang semulanya benda mati, justru dapat menghidupkan makhluk lainnya. Dengan tanah pula, manusia dapat bercocok tanam, menghasilkan tumbuhan yang segar sebagai kebutuhan pangan mereka. Dalam Tafsir Surah Yasin Ayat 33-36 juga dijelaskan tentang penciptaan Allah yang berpasang-pasangan, baik yang sifatnya serasi, atau justu sebaliknya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Yasin Ayat 29-32


Ayat 33

Pada ayat ini diterangkan bahwa salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah dan adanya hari kebangkitan, ialah adanya tanah yang semula mati, tandus dan gersang, serta tidak menumbuhkan tanaman apa pun, namun dengan kekuasaan Allah semuanya menjadi hidup dengan turunnya hujan dari langit.

Hal itu memungkinkan tumbuhnya bermacam-macam tanaman yang menghasilkan bahan makanan bagi manusia dan makhluk lainnya yang hidup di bumi ini. Dengan demikian, manusia dan makhluk itu memperoleh makanan untuk menumbuhkan jasmani dan memberikan kekuatan kepada mereka. Di samping itu, hasil-hasil bumi tersebut dapat pula dijadikan bahan perniagaan untuk diperdagangkan oleh manusia.

Ayat 34

Allah juga menciptakan di bumi ini kebun, ladang, dan sawah, yang dapat ditanami bermacam-macam tanaman yang menghasilkan bahan makanan bagi manusia, seperti korma dan anggur yang menjadi bahan makanan bangsa Arab.

Demikian pula padi, gandum, dan jagung yang menjadi makanan pokok bagi bangsa-bangsa lainnya. Di samping itu, Allah menciptakan pula sumber-sumber air yang kemudian mengalir menjadi sungai-sungai, yang sangat diperlukan bagi kehidupan di bumi.

Bahkan pada masa kita sekarang, air tidak hanya diperlukan untuk minum, mandi, dan mencuci saja, bahkan juga untuk irigasi dan pembangkit tenaga listrik yang amat penting untuk memajukan pertanian dan industri.

Ayat 35

Allah menciptakan dan menganugerahkan semuanya itu kepada manusia, agar mereka memperoleh makanan dari buah dan hasilnya. Begitu pula dari hasil usaha kerajinan tangan mereka, yang sekarang ini kita kenal dengan hasil-hasil pertanian dan industri yang hampir tak terhitung jumlahnya.

Jika mereka mau memikirkan betapa besarnya kekuasaan dan nikmat Allah, mengapa mereka tak mau juga bersyukur kepada-Nya. Sikap dan tingkah laku semacam ini sungguh tak layak bagi orang-orang yang berakal.


Baca Juga: Tafsir Surah Yunus Ayat 12: Bersabar Saat Bahaya dan Bersyukur Kala Bahagia


Ayat 36

Pada ayat ini diterangkan bukti lain tentang kekuasaan Allah, yaitu Dia telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan, baik pasangan jenis, yaitu lelaki dan perempuan, maupun berpasangan sifat, seperti: besar dan kecil, kuat dan lemah, tinggi dan rendah, kaya dan miskin, dan lain sebagainya.

Bahkan perpasangan itu juga terjadi pada arus listrik, yaitu arus positif dan negatif, yang kemudian menimbulkan kekuatan yang dapat membangkitkan tenaga listrik dan menimbulkan cahaya. Tenaga listrik dan cahaya yang dihasilkan sangat vital dalam kehidupan manusia zaman modern ini.

Itu semuanya adalah hal-hal yang berhasil diketahui manusia sampai saat sekarang ini. Akan tetapi perpasangan yang belum dapat dijangkau oleh pengetahuan dan penemuan manusia sampai masa kini, masih banyak lagi.

Boleh jadi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia di masa datang akan dapat pula menyingkapkan sebagian dari rahasia-rahasia yang masih tersimpan tentang adanya perpasangan dalam bidang-bidang yang lain yang belum diketahui pada masa kita sekarang ini.

Pada ayat ini diterangkan tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah, yang terdapat dalam pasangan-pasangan yang telah diciptakan-Nya, yaitu:

  1. Benda-benda yang ditumbuhkan-Nya di bumi yang telah diketahui manusia seperti tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.
  2. Pada diri mereka sendiri, seperti adanya jenis laki-laki dan jenis perempuan. Dari hubungan kedua jenis itu lahirlah keturunan-keturunan mereka.
  3. Hal-hal yang belum diketahui manusia. Ilmu Allah amat luas dan tidak terhingga, sedangkan yang diketahui manusia hanyalah sebagian kecil saja. Mengenai pasangan, juga terdapat hal-hal yang belum terungkap oleh manusia.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Yasin Ayat 37-40


Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 50-51

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 50-51  berbicara mengenai kekuasaan Allah untuk membangkitkan manusia dari kubur meski dalam keadaan hancur lebur. Poinnya adalah bila Allah berkuasa untuk menciptakan pertama kali maka Allah berkuasa pula membangkitkannya.


Baca juga: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 48-49


Ayat 50-51

Allah swt memerintahkan Rasul-Nya untuk memberikan jawaban dan menerangkan kepada kaum musyrikin Mekah bahwa Allah swt berkuasa membangkitkan mereka kembali setelah mereka mati seperti keadaan pada saat pertama kali diciptakan, bagaimanapun juga keadaan mereka, apakah ia berupa tulang, bangkai, batu, besi, atau apa saja menurut pemahaman mereka. Allah swt memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk mengatakan kepada mereka, “Jadilah kamu sekalian batu atau besi.”

Maksudnya ialah meskipun mereka telah menjadi batu atau besi, atau menjadi benda apapun menurut dugaan mereka jauh kemungkinannya untuk hidup kembali, sebenarnya Allah swt berkuasa menghidupkan mereka kembali. Itulah sebabnya Allah swt memerintahkan kepada Rasul-Nya agar menjawab keraguan mereka dengan tegas bahwa yang akan menghidup-kan mereka ialah Zat yang menciptakan mereka pertama kali.

Apabila Allah swt berkuasa menciptakan mereka pada kali yang pertama dari tanah, Dia pun berkuasa untuk menghidupkan mereka kembali setelah menjadi tanah.

Kemudian dijelaskan bahwa mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mendengar penjelasan Rasulullah sebagai tanda bahwa mereka mendustakannya dan betul-betul tidak dapat menerima terjadinya hari kebangkitan.

Sikap ini juga sebagai tanda bahwa mereka akan menanyakan kapan terjadinya hari kebangkitan, dan kapan mereka akan dibangkitkan sebagai makhluk baru. Pertanyaan yang serupa dinyatakan dalam ayat-ayat yang lain. Allah berfirman:

وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Dan mereka (orang-orang kafir) berkata, ”Kapan janji (hari kebangkitan) itu (terjadi) jika kamu orang yang benar?” (Yasin/36: 48)

يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِهَاۚ

Orang-orang yang tidak percaya adanya hari Kiamat, meminta agar hari itu segera terjadi. (asy-Syµra/42: 18)


Baca juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 48-50: Hari Kiamat Datang dengan Tiba-Tiba


Pada hari kiamat, manusia akan dibangkitkan dengan disusun kembali dari tulang ekornya. Nabi Muhammad bersabda:

اِنَّ فِى اْلاِنْسَانِ عَظْمًا لاَ تَأْكُلُهُ اْلأَرْضُ اَبَدًا. فِيْهِ يُرَكَّبُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. قَالُوْا: أَيُّ عَظْمٍ هُوَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: عَجَبُ الذَّنَبِ. (رواه مسلم عن أبي هريرة)

“Sesungguhnya pada diri manusia ada tulang yang tidak akan termakan tanah selamanya. Dari tulang itu manusia akan disusun kembali pada hari kiamat.” Para sahabat bertanya, “Tulang apakah itu, wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Tulang ekor.” (Riwayat Muslim dari Abu Hurairah)

Di akhir ayat, Allah swt memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada kaum musyrikin bahwa mereka harus bersiap-siap untuk menghadapi hari kebangkitan, karena waktunya sudah dekat, dan memang pasti datang.

Orang Arab biasanya mengatakan sesuatu yang akan datang dan pasti terjadi, dengan mengatakan waktunya sudah dekat meskipun berselang lama. Dalam hal ini, Allah swt tidak memastikan kapan hari kebangkitan itu datang kepada semua makhluk-Nya, baik kepada malaikat ataupun Rasul-Nya. Dia hanya memberitahukan hari kebangkitan pasti datang dalam waktu dekat.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 52-53


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 48-49

0
tafsir surah al isra'
tafsir surah al isra'

Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 48-49 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai orang-orang yang menganggap Nabi Muhammad SAW gila, penyair, sihir dan sebagainya. Kedua berbicara mengenai orang-orang musyrik yang tidak percaya adanya hari kebangkitan.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 45-47


Ayat 48

Allah swt lalu memerintahkan Rasulullah agar memperhatikan bagaimana kaum musyrikin membuat perumpamaan bagi dirinya, seperti mengatakan bahwa beliau gila, penyair, kena sihir, dan sebagainya.

Dengan demikian, mereka telah menjadi sesat, dan tidak akan mendapat petunjuk karena telah menyimpang dari jalan yang benar. Berbagai perumpamaan yang mereka berikan kepada Nabi Muhammad saw ketika mendengarkannya membacakan Al-Qur’an, adalah pernyataan yang lahir dari sikap mental mereka terhadap wahyu yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.

Mereka sebenarnya tidak mau mengakui kebenaran wahyu yang dibacakan Rasulullah, karena membawa keterangan-keterangan yang bertentangan dengan kepercayaan yang diwarisi secara membabi buta dari nenek moyang mereka. Oleh sebab itu, mereka tidak bisa diharapkan lagi untuk mendapat petunjuk dan bimbingan dari wahyu, karena hati mereka telah diselubungi oleh noda-noda kemusyrikan yang luar biasa.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 28-30: Kecaman terhadap Kaum Musyrikin Mekah


Ayat 49

Allah swt menjelaskan kepada Rasul-Nya apa yang dikatakan oleh kaum musyrikin Mekah mengenai hari kebangkitan.

Mereka mengatakan bahwa apabila mereka telah mati dan menjadi tulang belulang yang lapuk dan tidak utuh lagi, apakah benar mereka akan dibangkitkan kembali seperti makhluk semula. Dari perkataan mereka ini tampak bahwa mereka tidak mau mempercayai adanya hari kebangkitan.

Menurut kepercayaan mereka, apabila manusia telah mati dan menjadi tulang belulang yang bercerai-berai, apalagi telah hancur luluh, tidak mungkin akan terkumpul kembali dan menjadi makhluk semula yang hidup seperti sediakala.

Inilah yang menjadi sebab utama mengapa mereka menolak kebenaran wahyu dan kerasulan Muhammad saw. Keingkaran mereka terhadap hari kebangkitan ini disebabkan oleh sikap mereka yang menyamakan sesuatu yang berada di luar kemampuan pikiran mereka dengan kejadian yang biasa dialami sehari-hari.

Padahal kekuasaan untuk membangkitkan kembali semua makhluk berada di tangan Allah swt yang semula menciptakannya. Semua itu berada di luar kemampuan pikiran atau akal mereka. Jika mau memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah di langit, di bumi, dan di semua benda-benda di sekeliling mereka, pasti mereka akan membenarkan kejadian hari kebangkitan itu.

Allah swt berfirman:

يَقُوْلُوْنَ ءَاِنَّا لَمَرْدُوْدُوْنَ فِى الْحَافِرَةِۗ  ١٠  ءَاِذَا كُنَّا عِظَامًا نَّخِرَةً ۗ  ١١  قَالُوْا تِلْكَ اِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ  ۘ  ١٢

(Orang-orang kafir) berkata, ”Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula?Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kita telah menjadi tulang belulang yang hancur?” Mereka berkata, ”Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.” (an-Nazi’at/79: 10-12)

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ   ٧٨  قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ ۙ  ٧٩

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, ”Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah (Muhammad), ”Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (Yasin/36: 78-79)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Al Isra’ Ayat 50-51


(Tafsir Kemenag)