Beranda blog Halaman 292

Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 39-44

0
Tafsir Surah Al Mursalat
Tafsir Surah Al Mursalat

Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 39-44 Allah menantang orang-orang kafir dengan ejekan kepada mereka agar menggunakan kepandaiannya untuk menyelamatkan diri dari siksaan-Nya. Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 39-44 ini juga menggambarkan keadaan surga yang di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir, buah-buahan segar berasa manis dan boleh dipetik kapan saja, itulah balasan bagi orang-orang yang beriman selama hidupnya di dunia.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 29-38


Ayat 39

Dalam ayat ini, Allah menantang dengan cara mengejek orang-orang kafir dan orang-orang yang merasa mempunyai kekuatan membela diri, untuk menggunakan kepandaian dan tipu dayanya guna menyelamatkan diri dari siksaan-Nya.

Selain itu, ayat ini memberikan suatu pelajaran keras bagi orang-orang yang menentang agama Islam, yang selalu menipu dan mempermainkan orang-orang yang beriman bahwa kelak pada saatnya mereka akan mengetahui betapa lemahnya alasan mereka yang suka mengolok-olokkan agama itu.

Ayat 40

Allah mengulangi lagi ancaman-Nya bahwa kecelakaan besar di hari kebangkitan bagi orang-orang yang mendustakan-Nya. Kecelakaan buat mereka di hari kebangkitan karena waktu itulah terbukti kelemahan dan mereka berhadapan dengan Allah yang mereka dustai. Pada saat seperti itu terbukti betapa batalnya dakwaan yang mereka yakini selama ini.

Ayat 41

Dalam ayat ini dan ayat berikutnya Allah menerangkan berbagai kenikmatan buat orang-orang yang bertakwa yaitu naungan surga yang berada di (sekitar) mata air, di bawah pohon rindang yang mengalir anak-anak sungai di bawahnya, tidak pernah mereka merasakan udara panas dan gejolak api yang membakar. Dalam ayat ini, Allah berfirman:

هُمْ وَاَزْوَاجُهُمْ فِيْ ظِلٰلٍ عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ مُتَّكِـُٔوْنَ ۚ     ٥٦

Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan. (Yasin/36: 56)


Baca Juga: Zanjabil dan Kafur: Dua Minuman Surga yang Disebutkan dalam Al-Qur’an


Ayat 42

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa di dalam surga terdapat anak sungai, berbagai jenis buah-buahan yang cita rasanya manis dan lezat, boleh dipetik dan dimakan kapan saja dikehendaki tanpa ada yang mengganggu. Bagi yang memakannya tidak perlu takut dan khawatir akan menimbulkan penyakit kalau terlalu banyak memakannya.

Ayat 43

Penduduk surga diterima dengan sambutan yang ramah dari penjaganya, yang mengatakan bahwa orang yang berbuat baik di dunia dahulu, dibolehkan menikmati segala buah-buahan dan minuman yang telah tersedia selama-lamanya. Mereka tidak akan sakit dan tidak pula perlu khawatir akan habis. Inilah balasan terhadap segala jerih payah mereka dulu dengan beramal menaati Allah, berjuang bersungguh-sungguh mendekatkan diri kepada-Nya.

Ayat 44

Selanjutnya Allah menerangkan bahwa semua kenikmatan itu merupakan pemberian dari-Nya sebagai pembalasan bagi orang yang bertakwa, dan orang yang senantiasa mengamalkan kebaikan dengan dasar dan menghambakan diri kepada-Nya. Tidak ada kebaikan yang luput dari pembalasan pahala Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat lain:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اِنَّا لَا نُضِيْعُ اَجْرَ مَنْ اَحْسَنَ عَمَلًاۚ    ٣٠

Sungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang mengerjakan perbuatan yang baik itu. (al-Kahf/18: 30)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 45-50


Tafsir Ahkam: 3 Masalah Terkait Membasuh Kaki Saat Wudhu yang Penting Diperhatikan

0
Tafsir Ahkam: 3 Masalah Terkait Membasuh Kaki Saat Wudhu yang Penting Diperhatikan
Ilustrasi Membasuh Kaki Saat Wudhu

Ada berbagai permasalahan penting yang disebutkan oleh ahli tafsir ketika menjelaskan ayat tentang kewajiban berwudhu apabila hendak mengerjakan salat. Tiga di antaranya berhubungan dengan ketentuan-ketentuan membasuh kaki yang penting diperhatikan oleh setiap mukmin. Yaitu, Pertama, apakah mata kaki termasuk anggota yang wajib dibasuh? Kedua, yang diwajibkan pada kaki apakah membasuh ataukah cukup mengusap? Ketiga, manakah anggota kaki yang diistilahkan ka’bun atau yang menjadi batas kaki yang wajib di basuh?

Ayat Tentang Kewajiban Membasuh Kaki Saat Wudhu

Ulama’ mengulas hukum kewajiban membasuh kaki saat wudhu merujuk pada firman Allah yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak berdiri melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki (QS. Al-Ma’idah [5] :6).

Permasalahan pertama, yakni apakah mata kaki sebagai batas kaki wajib dibasuh saat wudhu, adalah permasalahan yang juga terjadi pada pembasuhan siku sebagai batas dari tangan. Mayoritas ulama menyatakan mata kaki wajib dibasuh. Sedangkan Imam Zufar menyatakan sebaliknya. Perbedaan ini bermuara pada apakah batas sesuatu masuk pada hukum yang mengenai bagian yang dibatasi? (Tafsir Mafatihul Ghaib/5/485 dan Al-Majmu’/1/422).

Permasalahan kedua, yakni yang diwajibkan pada kaki apakah membasuh atau mengusap? Permasalahan ini bermuara pada sebagian qiraah yang menyatakan bahwa waarjulakum dapat dibaca kasrah menjadi waarjulikum. Dibaca kasrah ini sebab athaf kepada lafad ruusikum yang di-jer-kan oleh ba’. Sehingga antara kepala dan kaki memiliki kesamaan dalam perlakuan tatkala wudhu, yakni diusap (Tafsir Al-Jami’ li Ahkm al-Qur’an /5/487).

Imam Al-‘Umrani menjelaskan, ada empat pendapat terkait membasuh atau mengusap kaki. Pendapat pertama, yakni mayoritas ulama’, menyatakan kaki wajib dibasuh. Pendapat kedua, yakni dari Syiah Imamiyah, kaki hanya wajib diusap. Pendapat ketiga, yakni pendapat Ibn Jarir Ath-Thabari, boleh mengusap dan boleh membasuh. Pendapat keempat, yakni sebagian Mazhab adz-Dzahiriyah, wajib mengusap dan wajib juga membasuh (Al-Bayan/1/130).

Baca juga: Tafsir Ahkam: Apakah Siku Wajib Dibasuh Saat Wudhu?

Permasalahan ketiga, yakni manakah anggota kaki yang diistilahkan ka’bun atau yang menjadi batas kaki yang wajib dibasuh? Ibn Katsir menjelaskan bahwa sebagian pendapat menyatakan bahwa ka’bun dalam ayat di atas bukanlah mata kaki sebagaimana umumnya dipahami. Pendapat ini adalah pendapat Syiah yang berlawanan dengan mayoritas ulama (Tafsir Ibn Katsir/3/59).

Syiah meyakini bahwa ka’bun adalah tulang bulat di punggung telapak kaki, atau mungkin bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dinamai dengan tumit. Sehingga menurut mereka, satu kaki hanya memiliki satu ka’bun. Para ulama menentang pendapat ini dengan hadis yang diriwayatkan dari sahabat Nu’man ibn Basyir dan berbunyi (Tafsir Mafatihul Ghaib/5/488):

أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِوَجْهِهِ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ « أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ – ثَلاَثاً – وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ ». قَالَ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يُلْزِقُ كَعْبَهُ بِكَعْبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَتِهِ وَمَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِهِ

Rasulullah salallahualaihi wasallam menghadapkan diri beliau kepada orang-orang. Lalu beliau bersabda: “Rapikan shaf-shaf kalian”. Beliau mengulanginya tiga kali. “Demi Allah, hendaknya kalian merapikan shaf-shaf kalian, atau Allah akan membalik hati kalian”. Nu’man berkata: Aku melihat salah seorang menempelkan mata kakinya ke mata kaki temannya, menempelkan lututnya ke lutut temannya, dan menempelkan bahunya ke bahu temannya (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan selainnya).

Dalam hadis di atas, satu orang menempelkan ka’bun-nya ke ka’bun orang di sampingnya, menunjukkan ka’bun itu letaknya di samping. Dan masing-masing kaki memiliki dua ka’bun di samping kanan dan kirinya. Sehingga lebih tepat memaknai ka’bun sebagai mata kaki daripada tumit.

Kesimpulan

Menurut mayoritas ulama, salah satu kewajiban dalam wudhu adalah membasuh kaki. Batas kaki di sini adalah mata kaki yang juga wajib dibasuh. Wallahu a’lam bish shawab.

Baca juga: Tafsir Ahkam: Beda Pendapat Tentang Batas Mengusap Kepala Saat Wudhu

Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 29-38

0
Tafsir Surah Al Mursalat
Tafsir Surah Al Mursalat

Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 29-38 mengisahkan orang-orang yang hendak dimasukkan ke dalam neraka akan ditegur malaikat dengan suara yang keras. Di dalam neraka manusia-manusia tidak sanggup lagi berbicara karena terpukau dengan siksaan yang dahsyat. Sekali lagi Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 29-30 menegaskan bahwa pada hari itu akan terpisah kebenaran dan kebatilan, siapapun tidak akan bisa terlepas dari dosa-dosanya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 24-28


Ayat 29

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa orang-orang yang bernasib malang yang hendak dimasukkan ke dalam neraka Jahanam, akan ditegur oleh malaikat penjaga dengan suara keras agar mereka pergi kepada azab dan siksaan yang didustakan ketika masih di dunia dahulu.

Ayat 30

Gumpalan asap neraka itu bercabang tiga. Satu bagian di sebelah kanan, satu cabang di kiri, dan yang ketiga di atas pundak mereka, sehingga mereka terkepung di dalamnya dan tidak dapat keluar lagi. Di dalam ayat yang lain, Allah berfirman:

اِنَّآ اَعْتَدْنَا لِلظّٰلِمِيْنَ نَارًاۙ اَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا

Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. (al-Kahf/18: 29)

Ayat 31

Allah mengatakan dalam ayat ini bahwa biarpun neraka itu disebutkan punya lindungan namun bukan melindungi mereka dari panasnya api neraka. Tidak ada tempat beristirahat dan tempat berteduh dari kepanasan. Ditegaskan pula di sini bahwa lindungan mereka bukan lindungan seperti yang diperoleh seorang mukmin, karena tidak ada yang dapat menaungi mereka dari panas gejolak api neraka.

Ayat lain menerangkan:

فِيْ سَمُوْمٍ وَّحَمِيْمٍۙ    ٤٢  وَّظِلٍّ مِّنْ يَّحْمُوْمٍۙ    ٤٣  لَّا بَارِدٍ وَّلَا كَرِيْمٍ   ٤٤

(Mereka) dalam siksaan angin yang sangat panas dan air yang mendidih, dan naungan asap yang hitam, tidak sejuk dan tidak menyenangkan. (al-Waqi’ah/56: 42-44)


Baca Juga: Mengenal Kuliner Neraka dalam Al-Quran, dari Buah Zaqqum hingga Shadid


Ayat 32-34

Allah menyebutkan pula bahwa neraka itu selalu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana ke seluruh penjuru. Allah meng-umpamakan gejolak api neraka Jahanam yang sangat dahsyat itu dengan unta kuning yang sangat banyak dan bergerak cepat. Allah mengulangi lagi ancamannya bahwa kecelakaan bagi orang yang mendustakan karena mereka tidak dapat mengelakkan diri dari siksaan yang begitu hebat.

Ayat 35

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa pada hari itu manusia tidak bisa berbicara dan hanya terpukau karena kedahsyatan keadaan. Mereka tidak diizinkan berbicara, dan andaikata diizinkan pun, hal itu tidak ada gunanya.

Ayat 36

Allah selanjutnya menerangkan bahwa mereka tidak diizinkan untuk minta uzur, sebab hari itu bukanlah hari pembelaan diri, tetapi hari untuk menerima keputusan. Mereka dapat mengeluh dan menyesali nasib, namun untuk mengajukan sanggahan tidak mungkin lagi karena keputusan Allah tidak dapat diganggu gugat. Dalam Surah al-An‘am/6: 23, orang musyrik di hari itu menyatakan bahwa mereka tidak mau musyrik lagi. Pada Surah an-Nisa’/4: 42 disebutkan bahwa mereka tidak bisa menyembunyikan pembicaraannya, dan dalam ayat az-Zumar/39: 31 disebutkan mereka orang-orang kafir berdebat di muka Allah, saling menuduh, dan saling menyalahkan.

Ayat 37

Dalam ayat ini, Allah mengulangi lagi ancaman-Nya bahwa kecelakaan besar di hari itu bagi orang yang mendustakan. Sebab rasul telah mengajak mereka supaya beriman dan mengancam dengan memperingatkan mereka dengan akan datangnya azab yang mereka hadapi itu. Sayang mereka tidak mau menerima dan mendengarkan ajakan itu.

Ayat 38

Allah menerangkan bahwa hari ini adalah hari keputusan. Inilah hari yang memisahkan antara kebenaran dan kebatilan, hari ketika diungkapkan kebenaran dan kepalsuan seseorang.

Di hari itu, Allah menghimpun semua manusia yang pernah hidup di dunia ini sejak zaman Nabi Adam sampai akhir masa pada tempat yang satu. Tujuannya untuk memberikan suatu keputusan hukum buat mereka siapa yang salah dan siapa yang benar, sehingga masing-masing orang memperoleh haknya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 39


Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 24-28

0
Tafsir Surah Al Mursalat
Tafsir Surah Al Mursalat

Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 24-28 mengajak manusia untuk melihat kekuasaan Allah yang terbentang luas di cakrawala ini. Seperti penciptaan bumi dan atmosfernya, gunung-gunung yang menjadi pasak bumi dan air tawar yang diminum setiap hari. Semua itu merupakan anugerah dari Allah untuk semua makhluknya. Selengkapnya baca Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 24-28…..


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 20-23


Ayat 24

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa terlepas dari semua itu kalau memang manusia tak mau mengubah tabiat dan karakternya, tetap saja kafir laknat, dan lebih dari itu juga berusaha merongrong kewibawaan Ilahi itu dengan mempersekutukan-Nya dengan makhluk lain ciptaan-Nya, dan sama sekali tidak yakin adanya hari kebangkitan, hari manusia menerima ganjaran amal perbuatan baiknya, maka Tuhan mengancam untuk kedua kalinya, “Celaka besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”

Ayat 25

Setelah menyebutkan berbagai rupa nikmat-Nya di sekitar proses kejadian manusia, maka dalam ayat ini, Allah mengajak manusia memperhatikan dengan seksama terhadap nikmat-Nya yang ada di cakrawala ini. Hal ini diungkapkan Allah dengan kalimat pertanyaan, “Bukankah Kami telah menciptakan bumi yang terhampar dan terbentang begitu luas sebagai tempat berkumpul dan tempat hidup bersama-sama mencari penghidupan.

Secara saintifik, planet bumi ini beserta atmosfernya telah diciptakan Allah dengan benar dan tepat. Bumi kita dan atmosfernya mengandung substansi atau materi yang mendukung adanya proses kehidupan, antara lain adanya gas nitrogen (N2) yang tak berbahaya bagi makhluk hidup, namun sangat dibutuhkan untuk timbulnya suatu proses kehidupan, dan gas oksigen (O2), yang sangat dibutuhkan dalam kelangsungan kehidupan semua makhluk hidup. Oleh sebab itu, di bumi semua kehidupan berkumpul (lebih detail lihat Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid 5 Surah Ibrahim/14:19).

Ayat 26

Kegunaan bumi diciptakan terhampar dan tempat berkumpul bukan saja untuk yang masih hidup yang tinggal di atas permukaannya, melainkan juga bagi yang telah meninggal dunia untuk dikuburkan dalam perutnya. Itulah sebabnya dikatakan bumi untuk orang yang masih hidup dan yang sudah meninggal. Kifat dalam bahasa Arab berarti kuburan bagi yang meninggal dan rumah bagi yang masih hidup.

Menurut para ilmuwan, bagian atas bumi merupakan lempengan-lempengan kulit bumi yang saling berinteraksi satu sama lain dan mengakibatkan terjadinya deformasi kerak bumi yang antara lain dimanifestasikan dengan pembentukan pegunungan, gunung api dan gempa bumi. Pegunungan-pegunungan yang tinggi ikut serta dalam siklus hidrologi dimana air akhirnya tersimpan di daratan dan menjadi sumber air minum manusia dan kehidupan lainnya.

Ayat 27

Selain itu, Allah juga mengarahkan perhatian manusia kepada tujuan penciptaan gunung yang menjulang tinggi dari permukaan bumi. Ia dikatakan sebagai pasak bumi dan dengan demikian, manusia merasa tenteram tinggal di bumi. Gunung itulah yang bertugas sebagai pasak tiang untuk menjaga keseimbangan bumi tersebut. Terkadang sebagian badan gunung-gunung itu terbenam dalam tanah atau dalam laut maupun sungai-sungai.

Selanjutnya Allah mengajak manusia memikirkan tentang air tawar yang diminum setiap hari, sebagai anugerah dari-Nya. Dialah yang menurut ayat ini memberikan minum. Terkadang air itu tercurah dari langit yang dibawa hujan yang berasal dari gumpalan awan atau dari salju mencair dan adakalanya pula mengalir dari anak-anak sungai atau memancar dari mata air, di bawah celah-celah gunung maupun di pinggir kali, dan sebagainya.

Ayat 28

Oleh karena itu, bagi siapa yang masih mendustakan nikmat Allah itu terkena oleh kutukan ayat ini, “Celaka besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 29


Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 20-23

0
Tafsir Surah Al Mursalat
Tafsir Surah Al Mursalat

Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 20-23 Allah mengingatkan kepada manusia tentang asal-usul penciptaannya. Dalam Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 20-23 ini dijelaskan bahwa manusia diciptakan secara bertahap yang berawal dari setetes mani yang kemudian Allah jadikan sebaik-baiknya susunan pada tubuh manusia daripada susunan pada makhluk lainnya.

Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 20-23 ini mengajak kita untuk berpikir akan kekuasaan Zat yang Maha Pencipta sehingga kita senantiasa bersyukur kepada Allah.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 12-19


Ayat 20-22

Pada ayat ini, Allah mengingatkan kembali dengan suatu pertanyaan, “Tidakkah manusia itu dijadikan dari setetes air yang hina?” Air yang hina yang disebut mani ini tersimpan dalam tempat yang kokoh yakni rahim ibu. Di situlah mani sang ayah dengan sel telur ibu bercampur dan mengikuti proses kejadian tahap demi tahap yang diatur dengan sangat rapi dan teliti oleh yang Mahakuasa. Setelah cukup waktu yang ditetapkan, maka lahirlah calon manusia itu dalam bentuk bayi.

Ketiga ayat di atas kembali mengulang mengenai peran air mani dalam perkembangan manusia. Namun, dalam ayat ini disebutkan rahim secara khusus. Untuk itu, tekanan interpretasi yang berkait dengan ayat ini adalah rahim.

Menurut sains, rahim atau uterus adalah tempat dimana embrio dan janin tumbuh dan berkembang, sebelum dilahirkan dalam bentuk anak manusia yang utuh. Rahim disebutkan sebagai tempat yang kokoh dan aman karena beberapa hal, yaitu:

  1. Letaknya terlindung karena terletak di antara tulang panggul. Ia ‘dipegang’ secara kuat di kedua sisinya oleh otot-otot, yang pada saat bersamaan memberikan kebebasan kepada rahim untuk bergerak dan tumbuh sampai beberapa ratus kali ukuran sebelumnya, pada saat puncak kandungan sebelum melahirkan.
  2. Pada saat kehamilan, dihasilkan suatu cairan yang dinamakan progesteron, atau biasa disebut sebagai hormon kehamilan, yang berfungsi untuk merendahkan frekuensi kontraksi rahim.
  3. Embrio yang ada di dalam rahim dikelilingi oleh beberapa lapisan membran yang menghasilkan suatu cairan dimana embrio itu berenang di dalamnya. Hal ini menjaga embrio dari kemungkinan rusak akibat benturan dari luar.;Ada satu ayat lain yang mengindikasikan tahapan-tahapan pengembangan dan keamanan yang ditawarkan rahim kepada janin:

يَخْلُقُكُمْ فِيْ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ خَلْقًا مِّنْۢ بَعْدِ خَلْقٍ فِيْ ظُلُمٰتٍ ثَلٰثٍۗ ذٰلِكُمُ اللّٰهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُۗ  لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ فَاَنّٰى تُصْرَفُوْنَ  ٦

… Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang memiliki kerajaan. Tidak ada tuhan selain Dia; maka mengapa kamu dapat dipalingkan? (az-Zumar/39: 6)

Mengenai tahapan-tahapan sudah kita bahas di depan. Sedangkan mengenai keamanan janin di dalam rahim, para ahli menemukan adanya tiga lapis membran (di dalam ayat di atas disebutkan dengan ‘tiga kegelapan’) yang dapat mengamankan janin selama berada di dalam rahim, yaitu:

  1. Lapisan membran amnion yang mengandung cairan sehingga janin dalam keadaan berenang. Kondisi demikian ini melindungi janin apabila ada benturan dari luar. Di samping itu, posisi berenang ini memberikan kesempatan kepada janin dalam memposisikan diri saat akan dilahirkan.
  2. Lapisan membran chorion
  3. Lapisan membran decidua;Beberapa peneliti menghubungkan tiga lapisan kegelapan dalam ayat di atas dengan lapisan membran amniotik yang mengelilingi rahim, dinding rahim itu sendiri, dan dinding abdomen di bagian perut.

Baca Juga: Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat 14-16: Asal Mula Penciptaan Manusia dan Jin


Ayat 23

Dalam urusan mengatur dan menetapkan masa lamanya si anak “tersimpan” dalam rahim itu dan kemudian menetapkan bila dia harus lahir sebagai anak yang sempurna ke alam ini, adalah urusan Allah semata. Manusia boleh mengetahui lewat pikirannya, namun soal pengaturannya tetaplah di tangan Yang Mahakuasa. Terhadap soal ini, Allah menegaskan bahwa Dialah sebaik-baiknya yang menentukan.

Betapa tepat, indah, dan harmonis kejadian manusia yang diciptakan-Nya itu dapat kita bandingkan, umpamanya, dengan bentuk dan rupa hewan. Sekalipun jenis makhluk hewan itu tidak ada yang cacat maupun yang janggal menurut penglihatan kita, namun ciptaan dan susunan anatomi tubuh manusia tetap jauh lebih sempurna, indah, dan menarik, dibandingkan dengan segala makhluk hidup yang ada. Dengan merenungkan hal itu, barulah kita menyimpulkan bahwa memang Tuhanlah yang sebaik-baik menentukan.

Ayat ini mengandung ajakan bagi manusia untuk berpikir dan menyimpulkan sikap hidupnya terhadap Zat yang menjadikan itu. Apakah tidak patut manusia bersyukur dan berterima kasih kepada-Nya? Apakah tidak selayaknya kalau manusia menanggalkan sikap ingkar dan keras kepalanya setelah ia menyadari sepenuhnya betapa kasih sayang Allah, dan betapa Allah telah membimbing kehidupan ini dengan mengirim rasul-Nya guna mengajarkan ajaran tentang keesaan-Nya?

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 24-28


Tafsir Surah Al-Isra Ayat 82: Al-Qur’an Sebagai Syifā’ (Penyembuh) Lahir dan Batin

0
Tafsir Surah Al-Isra Ayat 82: Al-Qur’an Sebagai Syifā’ (Penyembuh) Lahir dan Batin
Surah Al-Isra Ayat 82

Islam sebagai ajaran agama memiliki dua sumber yang bersifat primer dan fundamental, yaitu al-Qur’an dan hadis. Keduanya merupakan pedoman hidup yang dapat mengantarkan seseorang kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Siapa memegang teguh keduanya akan selamat dan bahagia. Sebaliknya, siapa yang meninggalkan bahkan mengingkari keduanya, tidak akan selamat dan di kemudian hari akan mendapatkan kerugian.

Al-Qur’an memiliki beberapa fungsi, di antaranya sebagai petunjuk bagi manusia, serta pembeda dalam menetapkan perkara yang haq dan bathil (Surah al-Baqarah ayat 185). Selain itu, al-Qur’an juga berfungsi sebagai syifā’ (obat/penyembuh) dan rahmah bagi orang-orang yang beriman. Oleh karena itu al-Qur’an memiliki nama lain, yaitu “asy-Syifā”.  Berikut firman Allah Swt mengenai al-Qur’an sebagai syifā’ :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Artinya: Kami turunkan dari Al-Qur`ān (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur`ān itu) hanya akan menambah kerugian. (QS.  Al-Isra’ (17):  82).

Baca juga: Tiga Fungsi Pokok Al-Quran [3]: Makna Al-Furqan dalam Surat Al-Baqarah Ayat 185

Tafsir Surah Al-Isra Ayat 82

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna dari QS. Al-Isra ayat 82 adalah bahwa al-Qur’an dapat menghilangkan segala penyakit yang ada di dalam hati, seperti syakk (keragu-raguan), nifāq (kemunafikan), syirik (penyekutuan terhadap Allah), zaig (penyimpangan dari kebenaran), dan mail (kecenderungan pada keburukan). Al-Qur’an dapat menyembuhkan segala penyakit tersebut. Al-Qur’an juga menjadi rahmat, karena dapat menghasilkan atau mendatangkan keimanan, hikmah (kebijaksanaan), dorongan pada kebaikan, dan kegemaran untuk berbuat baik. Semua hal tersebut hanya dapat diraih oleh orang-orang yang beriman pada al-Qur’an, membenarkannya, serta mengikuti petunjuk yang ada di dalamnya. Demikianlah al-Qur’an menjadi syifa’  dan rahmat yang sebenar-benarnya (Tafsir Ibnu Katsir, 1997).

Ibnu Katsir juga menjelaskan, sedangkan bagi orang-orang kafir lagi zalim terhadap dirinya sendiri ketika ia mendengarkan al-Qur’an, maka itu hanya akan menambah pengingkaran dan kekufurannya saja. Hal ini telah ditegaskan dalam ayat lain surah Fushilat (41) ayat 44 bahwasannya al-Qur’an itu petunjuk bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang tidak beriman (kafir), al-Qur’an menjadi kegelapan belaka disebabkan pada telinga mereka terdapat sumbatan.

Kemudian, asy-Syaukani menjelaskan telah terjadi ikhtilaf  di kalangan ahlul ilmi terkait makna “syifā‘”—dalam Al-Isra ayat 82 tersebut— dengan dua pendapat; Pendapat pertama, al-Qur’an sebagai obat bagi qolbun (hati) untuk menghilangkan kejahilan, keragu-raguan, serta menyingkap penyimpangan tentang hal-hal yang berkaitan dengan (wujud) Allah Swt; Pendapat kedua, bahwasannya al-Qur’an sebagai obat bagi penyakit-penyakit zahir —seperti pusing, demam, infeksi, bengkak disengat sesuatu, dsb.— dengan cara ruqyah dan ta’awwudz (memohon perlindungan kepada Allah). Tidak ada keberatan (perdebatan) terkait syifa’ yang memiliki dua makna. Ini termasuk dalam bab keumuman majaz atau termasuk dalam bab musytarak (lafadz yang memiliki dua makna atau lebih). (Fath al-Qadīr, 2007).

Asy-Syaukani juga menjelaskan kemudian Allah menjadikan al-Qur’an sebagai rahmah bagi orang-orang yang beriman, karena terkandung di dalamnya berbagai macam ilmu yang bermanfaat, serta mengandung kemaslahatan bagi agama dan urusan dunia (muamalah duniawiyah). Kemudian, tatkala orang-orang yang beriman membacanya dan men-tadabburi-nya, maka akan mendatangkan pahala yang besar, rahmat, maghfirah, dan keridaan dari Allah Swt.

Berdasarkan penjelasan Ibnu Katsir dan asy-Syaukani dalam masing-masing kitab tafsirnya bahwa al-Qur’an senantiasa menjadi syifa’ bagi orang-orang yang beriman dalam mengobati berbagai macam penyakit batin (hati) dan penyakit zahir (fisik). Al-Qur’an dapat menjadi syifa’ dengan cara membacanya, mentadabburinya, dan juga mengamalkan isinya.

Baca juga: Tafsir Ayat Syifa: Al-Quran sebagai Obat Penyakit Hati Manusia

Praktik penyembuhan dengan al-Qur’an

Ada beberapa surah yang biasa dibaca oleh Nabi saw sebagai bentuk tindakan preventif dan kuratif terhadap berbagai penyakit, yaitu al-mu’awwidzatain (surah an-Nas dan al-Falaq) yang berfungsi mencegah gangguan setan, sihir, orang yang hasad, makhluk-makhluk yang berbahaya, dsb. Selain itu, ada juga ummul kitab (surah al-Fatihah) yang pernah dibaca sahabat untuk mengobati seseorang yang bengkak (demam) disebabkan  sengatan binatang. Hal ini telah diceritakan dalam hadis muttafaqun ‘alaih berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا فِي سَفَرٍ، فَمَرُّوا بِحَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ، فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ، فَقَالُوا لَهُمْ : هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ ؟ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَيِّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ : نَعَمْ. فَأَتَاهُ، فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، فَبَرَأَ الرَّجُلُ، فَأُعْطِيَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ، فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا، وَقَالَ : حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلَّا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسَّمَ وَقَالَ : “ وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ؟ “ ثُمَّ قَالَ: “خُذُوا مِنْهُمْ، وَاضْرِبُوا لِي بِسَهْمٍ مَعَكُمْ”.

Artinya: Dari Abu Sa’id Al-Khudri (diriwayatkan) bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah saw dahulu berada dalam perjalana, lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para sahabat yang mampir, Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyah karena pembesar kampung kami tersengat binatang atau terserang demam?”. Di antara para sahabat lantas menjawab, Iya ada”.  Lalu ia (salah satu sahabat) pun mendatangi pembesar tersebut dan meruqyahnya dengan membaca surah Al-Fatihah. Pembesar tersebut pun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan (hadiah) seekor kambing, namun ia enggan menerimanya sampai kisah tadi diceritakan terlebih dahulu pada Nabi saw. Lalu ia mendatangi Nabi saw dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau. Ia berkata, Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah melainkan hanya membacakan surah Al-Fatihah.” Rasulullah saw lantas tersenyum dan berkata, Bagaimana engkau bisa tahu Al-Fatihah adalah (surah yang dapat dijadikan) ruqyah? Beliau pun bersabda, Ambillah kambing itu dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Demikianlah tafsir singkat al-Qur’an surah al-Isra ayat 82 yang berisikan penjelasan al-Qur’an sebagai syifa’ (penyembuh) bagi orang-orang yang beriman atas berbagai macam penyakit, baik penyakit batin (hati), maupun penyakit zahir (fisik) sebagaimana penjelasan di atas. Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang beriman yang bisa mendapatkan manfaat dari al-Qur’an ini.

Baca juga: Keistimewaan Madu Sebagai Obat dalam Tafsir Surah AN-Nahl Ayat 68-69

Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 12-19

0
Tafsir Surah Al Mursalat
Tafsir Surah Al Mursalat

Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 12-19 mengancam orang-orang kafir akan diazab sedangkan orang yang beriman akan memperoleh kenikmatan di hadapan Allah kelak, hari ancaman tersebut disebut dengan yaumul fashl (Hari Pemisah). Dijelaskan pula dalam Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 12-19, Allah telah memberi balasan beruba macam-macam azab terhadap kaum yang terdahulu.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 1-11


Ayat 12

Ayat ini menegaskan bahwa sampai kapankah urusan umat dengan rasul mereka ditangguhkan, sehingga yang kafir harus diazab atau mendapatkan kehinaan, dan sebaliknya yang beriman memperoleh kenikmatan dan pemeliharaan dari Allah? Ayat ini merupakan ancaman betapa hebatnya masalah-masalah yang dihadapi umat di hari itu, dan betapa beratnya tanggung jawab manusia di hadapan Allah kelak.

Ayat 13

Kemudian Allah menerangkan bahwa pada hari yang dijanjikan itu Dia menyelesaikan segala perkara yang terjadi di antara sesama makhluk. Pada hari itulah tegaknya Mahkamah Ilahi yang mengadili segala perkara dengan seadil-adilnya. Itulah hari yang disebut Yaumul Fashl (hari pemisah).

Ayat 14

Dalam ayat ini, Allah menunjukkan betapa dahsyatnya hari itu dalam bentuk pertanyaan kepada Nabi Muhammad, “Tahukah engkau apakah hari pemisah itu?” Apakah hari saat umat dan rasul mereka masing-masing dikumpulkan?

Ayat 15

Kemudian Allah sendiri menjelaskan jawaban dari pertanyaan yang disebutkan dalam ayat di atas. Pada hari itu azab dan kehinaan menimpa orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul serta kitab suci yang diturunkan-Nya. Azab akan dijatuhkan kepada manusia yang suka mendustakan apa yang telah disampaikan dan diceritakan para rasul.

Semua orang kafir masih ragu terhadap semua yang ditegaskan Allah. Akan tetapi, Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Ayat lain menegaskan:

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْاَرْضُ غَيْرَ الْاَرْضِ وَالسَّمٰوٰتُ وَبَرَزُوْا لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ   ٤٨

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa. (Ibrahim/14: 48)


Baca Juga: Tafsir Surat Al-Waqiah Ayat 1-6: Hari Kiamat itu Pasti, Inilah Visualisasinya


Ayat 16

Ayat ini dimulai dengan pertanyaan Allah, “Apakah Kami tidak membinasakan orang-orang yang telah mendustakan rasul-Nya sebelum kamu?” Sejarah para nabi dan rasul bersama kaumnya mencatat bahwa hampir setiap bangsa yang telah mendurhakai Allah dan rasul-Nya telah dibinasakan dengan berbagai macam azab yang satu dengan yang lainnya berbeda.

Terkadang Allah menghancurkan mereka dengan banjir seperti nasib yang telah diderita oleh umat Nabi Nuh, ketika negeri mereka ditenggelamkan Allah dengan air bah. Ada yang ditelan binasa oleh bumi setelah negeri itu dilanda oleh gempa yang sangat hebat, seperti halnya umat Nabi Lut. Ada pula yang diserang angin kencang selama 8 hari 7 malam, yang menyebabkan seluruh penduduknya tewas, kecuali orang yang beriman, yakni umat Nabi Saleh. Begitulah seterusnya.

Pertanyaan Allah yang demikian mengandung suatu peringatan halus agar manusia yang masih kafir itu hendaknya mawas diri, sebab bagaimana pun juga sunatullah peraturan Allah yang berlaku tidak akan diubah. Dalam hal ini, siapa yang kafir baik dahulu maupun sekarang atau pada masa yang akan datang, tetap akan merasakan siksaan dari-Nya. Oleh karena itu, hendaklah manusia sadar sebelum datang penyesalan yang tiada berguna.

Ayat 17

Ayat ini menyatakan bahwa azab Allah yang menimpa bangsa-bangsa dahulu kala itu silih berganti datangnya. Umat yang satu binasa, ada umat lain yang serupa. Pada saatnya mereka akan binasa pula bila tidak mau belajar dari sejarah nenek moyang mereka yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya.

Dengan penurunan Al-Qur’an, Allah memperingatkan orang Mekah yang bersikap menantang dan mendustakan Nabi Muhammad dan juga kepada umat yang hidup sesudah beliau pada masa kini dan akan datang. Hendaklah umat manusia selalu belajar dari sejarah, karena sejarah itu akan datang mengulang dirinya.

Ayat 18

Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 12-19 khususnya dalam ayat ini, Allah sekali lagi menegaskan bahwa apa yang telah diperbuat-Nya terhadap umat dahulu akan sama saja dengan apa yang dilakukan-Nya terhadap umat sekarang. Sebab sunnah-Nya sejak dahulu sampai sekarang tetap sama, tidak akan berubah sedikit pun. Begitulah Dia telah menghancurkan orang-orang yang berdosa akibat perbuatan dan sikap mereka yang mendustai-Nya.

Ayat 19

Ayat ini berisi kecaman Allah terhadap orang-orang yang mendustakan-Nya serta para nabi dan rasul-Nya dengan kecaman “celakalah orang yang mendustakan”.

Pengulangan sumpah dan kecaman yang terdapat dalam Surah al-Mursalat ini, di samping dimaksudkan untuk menegaskan arti (ta’kid), juga mengandung pengertian lain, yakni bahwa kecaman tersebut tidak hanya diberlakukan di akhirat, melainkan juga diperlihatkan-Nya di dunia ini.

Imam al-Qurthubi mengatakan kata wail diulang-ulang dalam surah ini untuk menunjukkan bahwa untuk masing-masing bangsa yang mendustakan Allah, diberikan siksaan yang berlainan dengan apa yang diterima oleh bangsa lain sebelumnya. Masing-masing umat nabi dahulu kala yang bersikap membangkang telah menerima siksaan Ilahi yang berlainan satu dengan lainnya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al Mursalat ayat 20-23


Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 1-11

0
Tafsir Surah Al Mursalat
Tafsir Surah Al Mursalat

Di awal Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 1-11 menjelaskan tentang perbedaan pendapat dari arti Al-Mursalat. Sebagian ulama mengartikan dengan “Malaikat-malaikat yang diutus,” sebagian lainnya mengartikan al-mursalat dengan “Angin yang bertiup terus-menerus,” ada juga yang mengartikan sebagai “malaikat yang menjauh dari kebathilan.”

Selain itu Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 1-11 ini juga menegaskan bahwa malaikat turun membawa wahyu kepada para Nabi untuk membantah orang-orang musyrik yang tidak percaya dengan hari kebangkitan. Sekilas digambarkan pula dalam Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 1-11 mengenai dahsyatnya hari kiamat.


Baca Juga: Tafsir Surah An Naba Ayat 1


Ayat 1

Dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan malaikat-malaikat yang menyebarkan kebaikan. Al-Mursalat (malaikat-malaikat yang diutus) adalah para malaikat yang bertugas untuk menyampaikan nikmat atau karunia Ilahi kepada suatu kaum atau mendatangkan siksaan kepada kelompok lain yang pantas menerimanya. Sebagian ulama mengartikan al-mursalat itu dengan angin yang bertiup terus-menerus ke segala arah atas perintah Tuhan untuk menyebarkan rahmat dan nikmat ke dunia ini.

Ayat 2

Allah juga bersumpah dengan angin yang bertiup dengan kencang. Ada pula yang mengartikan al-‘ashifat dengan malaikat-malaikat yang menjauhkan diri dari kebatilan sebagaimana halnya angin kencang yang berhembus meniup onggokan tanah atau debu di atas batu. Yang lain menafsirkannya dengan angin yang menyebarkan air hujan.

Ayat 3

Selanjutnya Allah bersumpah dengan malaikat-malaikat yang menyebarkan rahmat-Nya seluas-luasnya. Terdapat berbagai macam penafsiran tentang kata an-nasyirat di sini. Ada yang mengartikannya dengan malaikat yang menebarkan maut kepada orang yang ditetapkan kematiannya tanpa diketahui sedikit pun. Ada pula yang menafsirkannya dengan malaikat yang menebarkan dan meratakan syariat-syariat Allah kepada sekalian nabi dan rasul-Nya.

Ayat 4

Allah bersumpah pula dengan para malaikat yang membedakan antara yang hak dengan yang batil dengan sejelas-jelasnya, membedakan antara petunjuk dan kesesatan. Sebagian mufasir mengartikan al-fariqat dengan angin yang dapat membedakan mana yang membawa rahmat dan mana yang bertugas merusak manusia banyak. Dengan kata lain, angin pembawa rahmat dan angin pembawa bencana.

Ayat 5

Dalam ayat ini, Allah bersumpah dengan malaikat yang bertugas membawa wahyu kepada para nabi dan rasul. Akan tetapi, seperti pada ayat-ayat sebelumnya, ada yang mengartikan al-mulqiyat ini dengan angin yang menurunkan peringatan akan bencana Allah kepada manusia.


Baca Juga: Benarkah Malaikat Sujud Kepada Nabi Adam? Begini Pendapat Mufassir


Ayat 6

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa kedatangan wahyu kepada para nabi yang dibawa oleh malaikat adalah untuk menyampaikan alasan guna membantah ketidakpercayaan orang musyrik kepada adanya hari kebangkitan, dan untuk mengancam mereka dengan azab yang pedih bila mereka membangkang perintah Tuhan.

Ayat 7

Setelah bersumpah dengan beberapa macam makhluk-Nya di atas, maka dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa sesungguhnya apa yang telah dijanjikan kepada manusia itu pasti akan terjadi. Yang dijanjikan itu adalah datangnya hari kebangkitan, terjadinya kiamat, dihidupkannya kembali segala makhluk yang sudah mati sejak dahulu, sekarang, hingga yang akan datang dan dikumpulkan di Padang Mahsyar. Semuanya itu menurut penegasan ayat ini pasti akan terjadi!

Ayat 8

Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa pada waktu kedatangan hari Kiamat itu, cahaya bintang-bintang telah dihilangkan karena sumbernya telah berantakan, sebagaimana tersebut dalam ayat lain:

وَاِذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْۖ  ٢

Dan apabila bintang-bintang berjatuhan. (at-Takwir/81: 2)

Ayat 9

Dikatakan pula bila langit pecah hancur berantakan berkeping-keping karena terjadinya guncangan gempa yang sangat dahsyat akibat benda-benda langit beradu sesamanya. Demikianlah beberapa ayat lain menceritakan hal yang sama, yakni:

وَيَوْمَ تَشَقَّقُ السَّمَاۤءُ بِالْغَمَامِ وَنُزِّلَ الْمَلٰۤىِٕكَةُ تَنْزِيْلًا   ٢٥

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) langit pecah mengeluarkan kabut putih dan para malaikat diturunkan (secara) bergelombang. (al-Furqan/25: 25)

Ayat 10

Ayat ini menyebutkan bahwa gunung-gunung dihancurkan menjadi debu. Dalam ayat lain disebutkan kedatangan hari Kiamat menyebabkan gunung-gunung beterbangan bagaikan kapas atau bulu yang diterbangkan angin atau dihancurkan sehancur-hancurnya. Firman Allah:

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّيْ نَسْفًا ۙ  ١٠٥

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya.” (Thaha/20: 105)

Ayat 11

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa dengan kedatangan hari Kiamat, para nabi dan rasul dikumpulkan bersama-sama umat masing-masing. Tujuannya agar nabi dan rasul itu diberi kesempatan untuk mempertanggungjawabkan misi kenabian dan kerasulan mereka di hadapan Allah serta umatnya sebagai saksi.

فَكَيْفَ اِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ اُمَّةٍۢ بِشَهِيْدٍ وَّجِئْنَا بِكَ عَلٰى هٰٓؤُلَاۤءِ شَهِيْدًاۗ  ٤١

Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka. (an-Nisa’/4: 41)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al Mursalat Ayat 12-19


Gambaran Delusi Para Penolak Kebenaran dalam Surah Al-Hajj Ayat 46

0
surah Al-Hajj ayat 46
surah Al-Hajj ayat 46

Tidak asing di telinga ketika mendengar istilah delusi yang sering disebut-sebut dalam ilmu psikologi. Delusi sendiri diartikan dengan pikiran atau pandangan yang tidak berdasar (tidak rasional); juga bisa dikatakan sebagai pendapat yang tidak berdasarkan kenyataan yang biasa disebut dengan khayalan.

Meskipun begitu, orang yang ber-delusi sangat yakin akan pendapatnya, tidak peduli apapun pendapat orang dan tidak peduli sedikitpun meski ada bukti-bukti yang membantahnya. Dalam kajian psikologi, delusi merupakan salah satu gejala dari beberapa gangguan jiwa psikotik seperti skizofrenia, gangguan bipolar dan parafrenia.

Zaman sekarang, delusi banyak terjadi ketika seseorang merasa bahwa apa yang ia yakini adalah mutlak benar dengan segenap konspirasi yang sejatinya tidak menunjukkan bukti yang konkret. Selain itu, delusi terjadi ketika seseorang telah terdoktrin dengan suatu keyakinan yang dianggap paling benar dan tidak dapat berubah.

Sehingga, jika ditemukan kebenaran ilmiah pun, orang-orang yang mengalami delusi tidak akan menerimanya. Sebab mereka tidak ingin kehilangan apa yang selama ini dipertahankan dan diyakini. Padahal, keyakinan yang diklaim sebagai kebenaran mutlak tersebut sangat tidak berdasar dan diragukan.

Orang-orang yang mengalami delusi sangat pandai dalam mengarang cerita, mereka berupaya memengaruhi orang lain untuk membenarkan keyakinanya. Tidak peduli walau banyak realita yang membantah, mereka tetap kokoh dan teguh dengan sesuatu yang dianggapnya benar atau tepat.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 8-11: Penyesalan Orang yang Ingkar di Hari Kiamat

Tafsir surah Al-Hajj ayat 46

Terkait dengan delusi ini, terdapat sebuah fakta menarik yang dijelaskan di dalam al-Qur’an mengenai orang-orang kafir yang sulit menerima kedatangan Islam. Mereka yang telah terdoktrin dan sudah kadung nyaman dengan tradisi sebelumnya, seperti menyembah berhala atau tradisi keagamaan dan sosial kemasyarakatan lainnya, menentang keras ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. ini.

Mereka takut akan kehilangan segala hal yang selama ini dipertahankan. Salah satunya, dalam hal perdagangan, para pembuat patung kawatir patung yang mereka buat tidak akan laku jika orang-orang Makkah masuk agama Islam dan meninggalkan berhala. Bukan hanya tentang perdagangan, yang lebih ditakutkan lagi yaitu akan terjadinya perubahan tradisi-tradisi sosial masyarakat lainnya yang akan berpengaruh pada eksistensi pemuka-pemuka Kafir Makkah saat itu.

Orang-orang kafir tersebut seakan telah buram akal pikirnya, padahal sesungguhnya mereka telah melihat bukti-bukti terdahulu tentang umat yang mendurhakai Allah SWT. Tetapi, keyakinan yang teguh dalam benak mereka disertai dengan ketakutan dalam menerima kenyataan menjadi penyebab Islam sulit diterima kala itu.

Allah SWT menggambarkan keadaan orang-orang kafir tersebut dalam surah Al-Hajj ayat 46 sebagai berikut.

أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ

“Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj [22]: 46)

Baca Juga: Tafsir Surah Yasin ayat 69-70: Al-Quran Bukan Syair, Ini Penjelasannya

Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat di atas berbicara tentang orang-orang  kafir Makkah yang tidak mengambil pelajaran dari umat-umat sebelumnya akan kedahsyatan azab Allah SWT kepada umat yang menentang ajaran-Nya. Mereka memiliki hati, tetapi hati mereka tidak dapat menerima kebenaran tersebut.

Orang-orang kafir itu juga telah buta, namun bukan buta mata tetapi buta hati. Mujahid berkata, “Setiap individu memiliki empat mata,” maksudnya adalah, setiap orang memiliki empat mata, yaitu: (1) dua di kepala untuk kehidupan dunia, dan (2) dua lainnya di hati untuk kehidupan akhirat.

Jika kedua mata kapalanya buta, sementara kedua mata hatinya dapat melihat, maka hal itu tidak akan memudharatkannya sedikit pun. Tetapi jika kedua mata kepalanya dapat melihat, sementara kedua mata hatinya buta, maka penglihatannya itu tidak akan memberinya manfaat sedikit pun.

Sayyid Quthb menjelaskan bahwa surah Al-Hajj ayat 46 ini berkenaan dengan kebutaan hati orang-orang yang zhalim. Mereka melihat kebinasaan orang-orang terdahulu, membaca berita-berita tentang mereka, dan mereka mengetahui kesudahannya. Namun mereka seakan tidak peduli, mereka mempunyai hati yang dengan itu dapat memahami dan mereka mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar.

Hamka menambahkan jika hati yang buta di dalam dada, maka niscaya tidak dapat menerima dan membandingkan apa yang tampak oleh mata. Mata dan telinga hanyalah alat untuk mengontak hati sanubari dengan tempat fakta di sekeliling kita. Karena sejatinya kebutaan tersebut adalah kebutaan hati yang tidak dapat melihat kebesaran Allah walaupun matanya terang.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Isra Ayat 72: Balasan di Akhirat bagi Orang yang Buta Hatinya

Ayat di atas menceritakan tentang keadaan orang-orang kafir yang sejatinya telah melihat bukti-bukti nyata dari pendahulunya, namun mereka tetap berpegang teguh dengan keyakinan yang dianut. Hal ini seakan membuktikan bahwa orang-orang kafir kala itu sedang mengalami delusi, dimana pembuktian tidak memberi pengaruh berarti.

Butanya hati orang-orang kafir menjadi penyebab sulitnya mereka mengakui kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Mereka tahu akibat yang akan terjadi, namun mereka lebih memilih agama nenek moyangnya dan takut jika kehidupan duniawinya akan sirna

Fakta menarik tentang delusi pada orang-orang kafir ini memberi pelajaran kepada kita tentang pentingnya mencerdaskan hati. Sebab ketika hati telah gelap dan buta akan kebanaran, kita akan mengalami delusi kefasikan yang menyeret ke jurang kebinasaan. Oleh sebab itu, riyadhah dalam amal-amal kebaikan sangat diharuskan untuk membina hati yang mulai buram.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengingatkan tentang pentingnya menghidupkan hati dengan nasehat, menyinarinya dengan tafakur, menguatkannya dengan keyakinan, dan senantiasa mengingat kisah-kisah umat terdahulu sebagai sebuah pelajaran. Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 14-17

0
tafsir surah al-ahzab
tafsir surah al-ahzab

Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 14-17 masih berbicara perihal orang munafik, bahwa mereka adalah kaum yang lemah imannya. Setiap ada perintah untuk berperang mereka sering meminta izin kepada Rasulullah untuk tidak ikut dalam medan pertempuran dengan berbagai alasan. Ataupun jika terpaksa ikut mereka akan mencari cara agar tidak ikut beradu dalam peperangan, sikap mereka yang demikian direspon oleh Allah dan mengecam perilaku buruk tersebut.


Baca Sebelumnya : Tafsir Surah Al-Ahzab Ayat 10-13


Ayat 14

Ayat ini menerangkan kelemahan hati dan keyakinan orang-orang munafik dan Yahudi yang sedang menerima cobaan Allah itu. Mereka tidak sanggup mengatasi kesukaran-kesukaran yang sedang mereka hadapi, dan tidak sanggup menghadapi bahaya dan ancaman yang datang kepada mereka, sehingga mereka meminta kepada Rasulullah saw agar diizinkan meninggalkan medan pertempuran.

Keadaan hati dan keyakinan mereka itu dilukiskan Allah sebagai berikut, “Seandainya tentara sekutu itu memasuki rumah-rumah orang munafik dan Yahudi dari segenap penjuru, merusak dan merampas apa yang ada di dalamnya, menganiaya dan membunuh anak-anak dan keluarga mereka, meminta mereka agar kembali memeluk agama syirik.

Kemudian mengadakan keonaran dan menghantam kaum Muslimin dari belakang, tentulah mereka membiarkan tindakan musuh itu dan mengikuti segala yang mereka kehendaki. Hal itu diakibatkan karena ketakutan dan tidak adanya cita-cita dalam hati mereka, kecuali mencari kesenangan duniawi dan keuntungan pribadi belaka.”

Dari ayat ini dipahami bahwa ketakutanlah yang merupakan sebab, sehingga orang-orang munafik dan Yahudi tidak mempunyai pendirian. Ketakutan itu timbul di dalam hati mereka karena tidak ada keimanan sedikit pun. Padahal jika mereka berpikir dengan benar dan menimbang untung ruginya, mereka lebih selamat jika ikut andil dalam peperangan.

Ayat 15

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang minta izin meninggalkan medan pertempuran itu pernah berjanji dengan Rasulullah saw bahwa mereka tidak akan mengkhianatinya dan akan ikut berperang bersama-sama kaum Muslimin menghadapi kaum musyrik. Akan tetapi, akhirnya mereka mengingkari janjinya.

Menurut riwayat, Bani Haritsah pernah lari dari medan Perang Uhud, kemudian mereka minta agar Nabi memaafkan kesalahan mereka. Mereka berjanji tidak akan lari lagi dari medan pertempuran dan akan berjuang dengan Nabi dan kaum Muslimin.

Pada akhir ayat ini, Allah menegaskan bahwa mereka yang telah berjanji itu akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah diucapkannya. Di hari Kiamat, mereka akan diberi pembalasan yang setimpal dengan tindakan mereka itu.

Ayat 16

Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Rasulullah saw agar menyampaikan kepada orang-orang yang menghindarkan diri dan lari dari medan pertempuran itu, bahwa tindakan mereka tidak akan ada manfaatnya sedikit pun.

Mereka tidak akan dapat menghindarkan ajal yang telah ditetapkan Allah, tidak dapat mengelakkan pembunuhan yang ditetapkan Allah terhadap seseorang, yang akan dilakukan oleh musuh-musuhnya. Segala sesuatu itu telah ditetapkan Allah, tidak seorang pun yang dapat mengubahnya.

Seandainya seseorang dapat lari dari pertempuran dan hal itu memberi manfaat kepadanya, serta dapat menghindarkan kematian dirinya, maka yang demikian itu hanyalah bersifat sementara. Hidup di dunia ini adalah hidup yang fana, walaupun dirasakan lama, pada hakikatnya adalah singkat sekali jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang abadi.


Baca Juga : Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 180: Anjuran Berdoa dan Berdzikir dengan Asmaul Husna


Ayat 17

Menurut riwayat lain bahwa yang mengajak itu adalah orang-orang Yahudi. Mereka mengajak orang-orang munafik menghindarkan diri dari Nabi dan orang-orang Muslimin dengan mengatakan, “Apabila Abµ Sufyan menang, tentulah Muhammad dan pengikut-pengikutnya akan dibinasakan semuanya.” Karena itu turunlah ayat ini.

Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menjawab perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa mereka akan selamat bila mereka meninggalkan medan pertempuran. Allah berfirman, “Tidak seorang pun di antara kamu yang sanggup menghindarkan diri dari pembunuhan atau kesengsaraan jika Allah telah menetapkannya.

Demikian pula, tidak seorang pun yang dapat mendatangkan sesuatu kebaikan kepada seseorang jika Allah tidak menghendakinya. Manfaat dan kemelaratan itu hanya Allah yang menetapkannya, tidak seorang pun yang sanggup mengganti atau mengubahnya.

Oleh karena itu, orang-orang munafik dan Yahudi yang mengkhianati Nabi tidak akan mendapatkan orang yang dapat menolong dan mengelakkan bencana yang akan menimpa mereka.

Menurut suatu riwayat, ‘Abdullah bin Ubay dan kawan-kawannya, orang-orang munafik dan Yahudi berkata kepada kaum Muslimin, “Muhammad dan pengikut-pengikutnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya. Oleh karena itu, mereka pasti binasa, dan marilah kita menjauhkan diri dari padanya.”

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al Ahzab Ayat 18-21