Beranda blog Halaman 304

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97-100

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97-100 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai jaminan Allah kepada orang-orang yang berbuat baik serta beramal saleh. Kedua berbicara mengenai adab ketika membaca al-Qur’an.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 94-96


Ayat 97

Kemudian Allah swt dalam ayat ini berjanji bahwa Allah swt benar-benar akan memberikan kehidupan yang bahagia dan sejahtera di dunia kepada hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan, yang mengerjakan amal saleh yaitu segala amal yang sesuai petunjuk Al-Qur’an dan sunnah Rasul, sedang hati mereka penuh dengan keimanan.

Rasulullah bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَّافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا اٰتَاهُ

(رواه أحمد)

Dari ‘Abdullِah bin Umar bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup dan menerima dengan senang hati atas pemberian Allah. (Riwayat Ahmad)

Kehidupan bahagia dan sejahtera di dunia ini adalah suatu kehidupan di mana jiwa manusia memperoleh ketenangan dan kedamaian karena merasakan kelezatan iman dan kenikmatan keyakinan.

Jiwanya penuh dengan kerinduan akan janji Allah, tetapi rela dan ikhlas menerima takdir. Jiwanya bebas dari perbudakan benda-benda duniawi, dan hanya tertuju kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mendapatkan limpahan cahaya dari-Nya.

Jiwanya selalu merasa puas terhadap segala yang diperuntukkan baginya, karena ia mengetahui bahwa rezeki yang diterimanya itu adalah hasil dari ketentuan Allah swt. Adapun di akhirat dia akan memperoleh balasan pahala yang besar dan paling baik dari Allah karena kebijaksanaan dan amal saleh yang telah diperbuatnya serta iman yang bersih yang mengisi jiwanya.


Baca juga: Tafsir Surah Al-Isra Ayat 72: Balasan di Akhirat bagi Orang yang Buta Hatinya


Ayat 98

Kemudian dalam ayat ini Allah swt mengajarkan adab membaca Al-Qur’an agar dalam membaca dan memahaminya jauh dari gangguan setan. Al-Qur’an memberi petunjuk kepada manusia ke jalan kebahagiaan, dan menentukan mana amal perbuatan yang saleh yang berguna bagi kehidupan manusia dan mana pula perbuatan yang membawa ke jalan kesengsaraan.

Akan tetapi, petunjuk Al-Qur’an itu akan dapat dimengerti dan dipahami dengan benar, apabila akal pikiran si pembaca bersih dari godaan setan.

Firman Allah swt:

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰۤىِٕفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَۚ

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya). (al-A’raf/7: 201)

Dan firman Allah:

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّاۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِۗ

Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. (Fatir/35: 6)

Jika Rasulullah saja diperintahkan Allah untuk berlindung kepada-Nya ketika akan membaca Al-Qur’an, padahal sudah dinyatakan terpelihara, bagaimana halnya dengan manusia yang bukan rasul. Sungguh manusia itu lemah dan mudah terpengaruh oleh setan dalam memahami Al-Qur’an.

Membaca Al-Qur’an adalah usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah. Setan berusaha keras menjauhkan manusia dari petunjuk Allah dengan berbagai cara. Oleh karena itu, Allah memerintahkan untuk memohon pertolongan kepada-Nya dengan ucapan:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Ayat 99-100

Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan bahwa setan tidak punya pengaruh terhadap orang-orang yang beriman, orang-orang yang berserah diri kepada Allah swt, serta sabar dan tawakal menahan derita dalam perjuangan menegakkan agama.

Mereka mampu melawan godaan setan dan menolak untuk mengikuti langkah-langkahnya dan menjadi pengikutnya. Berkat cahaya iman dalam dada mereka, tipu daya setan itu dapat mereka ketahui dan atasi.

Setan itu hanya berpengaruh atas orang-orang yang sudah patuh ke dalam wilayah kekuasaannya, orang-orang yang memandang setan itu sebagai pemimpin lalu mencintainya dan mengikutinya serta mematuhi segala perintahnya. Karena tipu daya dan godaan setan itu, mereka akhirnya mempersekutukan Tuhan atau menyembah setan di samping menyembah Allah swt.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 101-104


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 94-96

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 94-96 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai larangan menjadikan sumpah sebagai penipuan. Kedua berbicara mengenai perumpamaan pembatalan sebuah sumpah. Ketiga berbicara mengenai kekalnya sesuatu yang datang dari Allah SWt.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 91-93


Ayat 94

Allah swt menegaskan kembali kepada orang Islam tentang larangan-Nya menjadikan sumpah sebagai alat penipuan di antara mereka.

Sesudah Allah swt melarang membatalkan perjanjian dan sumpah pada umumnya, dalam ayat ini, Allah swt secara khusus menegaskan larangan membatalkan perjanjian yang telah dibuat kaum Muslimin dengan Nabi Muhammad saw sewaktu masih di Mekah, menjelang hijrah ke Medinah.

Allah swt tidak membenarkan jika membuat perjanjian hanya untuk mengelabui manusia. Timbulnya larangan ini disebabkan oleh adanya keinginan dari kaum Muslimin untuk membatalkan bai’at mereka yang telah diperkuat dengan sumpah. Jika mereka melakukan hal demikian, berarti kaki mereka tergelincir sesudah berpijak di tempat yang mantap.

Mereka akan mengalami penderitaan disebabkan tindakan mereka yang menjadikan sumpah sebagai alat penipu di antara manusia. Ada tiga hukuman bagi yang melanggar jika melakukan tindakan demikian itu.

Pertama : Mereka bertambah jauh dari kebenaran dan hidayah Allah swt, meskipun sudah berada di dalam garis kebenaran itu.

Kedua : Mereka memberi contoh dalam penyelewengan dari jalan Allah. Dengan kebiasaan jelek itu, mereka patut mendapat azab di dunia, seperti pembunuhan, penangkapan, perampasan, dan pengusiran dari kampung halaman.

Ketiga : Mereka akan diazab di akhirat sebagai balasan atas kelancangan mereka menjauhi kebenaran. Mereka dimasukkan ke dalam   golongan orang yang sengsara dan sesat.


Baca juga: Siapakah Orang-Orang yang Sesat dalam Surat Al-Fatihah Ayat 7?

Ayat 95


Dalam ayat ini, Allah menegaskan lagi larangan-Nya tentang membatalkan janji setia itu (bai’at) dengan menyatakan bahwa perbuatan itu sama halnya dengan menukarkan perjanjian dengan Allah dengan harga yang murah.

Misalnya, untuk memperoleh keuntungan duniawi dan harta yang sedikit, mereka membatalkan suatu perjanjian yang mereka adakan sendiri.

Peringatan Allah ini berhubungan dengan ihwal orang-orang Mekah yang telah mem-bai’at Nabi saw kemudian mereka bermaksud membatalkan bai‘at itu setelah melihat kekuatan orang Quraisy, serta penganiayaan mereka kepada orang Islam.

Kemudian orang-orang Quraisy menjanjikan pula kepada orang Islam akan memberikan sesuatu jika mereka mau kembali kepada agama kesyirikan. Oleh sebab itu, Allah memperingatkan mereka dengan ayat ini dan mencegah mereka agar jangan sampai membatalkan bai’at kepada Nabi itu, hanya untuk memperoleh harta duniawi.

Karena apa yang ada pada Allah seperti pahala di akhirat dan agama yang dibawa Nabi saw untuk kehidupan duniawi, jauh lebih baik dari apa yang dijanjikan oleh pemimpin musyrik itu. Jika mereka mempergunakan akal pikiran dan merenungkan persoalan-persoalan itu, tentulah mereka lebih cenderung untuk tetap setia kepada Nabi saw dan menolak ajakan pemimpin-pemimpin musyrik itu.

Ayat 96

Dalam ayat ini, Allah swt menjelaskan bahwa segala apa yang dimiliki dan datang dari manusia, berupa pemberian harta benda duniawi, adalah terbatas dan ada akhirnya, sedang apa yang ada pada sisi Allah, berupa pahala dan ganjaran dalam surga, tidak ada batasnya, tak putus-putus bahkan selama-lamanya.

Maka kepada mereka yang beriman, sabar menghadapi tugas-tugas agama, dan tabah menghadapi penderitaan, Allah pasti memberi ganjaran yang lebih dari apa yang mereka kerjakan. Tuhan menonjolkan sifat sabar atau tabah karena sifat itu merupakan asas dari segala amal perbuatan.

Firman Allah:

فَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚوَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۚ

Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (asy-Syµra/42: 36)

Firman Allah juga:

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (al-Kahf/18: 46)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 97-100


(Tafsir Kemenag)

Surah Al-Anbiya [21] Ayat 35: Setiap Makhluk Pasti Akan Mati

0
Setiap Makhluk Pasti Akan mati
Setiap Makhluk Pasti Akan mati

Kematian adalah ujung perjalanan setiap makhluk di dunia, baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Kematian makhluk adalah hal yang wajar, karena setiap makhluk pasti akan mati dan hanya Allah swt Yang Maha Kekal Abadi. Namun, berbeda dengan kematian makhluk lain, kematian manusia hanya salah satu fase kehidupan, bukan akhir segalanya. Sebab, setelah kematian masih ada alam akhirat di mana setiap manusia mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kepastian kematian makhluk telah ditegaskan dalam Al-Qur’an surah al-Anbiya [21] ayat 35. Ayat ini secara umum menginformasikan bahwa setiap makhluk pasti akan mati, tanpa terkecuali.

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ ٣٥

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya [21] Ayat 35).

Baca Juga: Tafsir Q.S. Ali Imran [3]: 145: Menyoal Kematian dan Ragam Motif di Balik Amal

Menurut Quraish Shihab, surah al-Anbiya [21] ayat 35 merupakan khitab Allah swt kepada nabi Muhammad saw, bahwa setiap yang berjiwa, yakni manusia, engkau Muhammad, atau siapa pun akan merasakan mati, tanpa terkecuali. Kalian juga akan mendapatkan cobaan di dunia untuk melihat siapa yang sabar dan siapa yang bersyukur. Dan ketahuilah bahwa hanya kepada-Nya kalian dikembalikan.

Secara umum, penggunaan kata nafs sering kali difungsikan Al-Qur’an untuk menunjukkan manusia, bukan tumbuh-tumbuhan, binatang, atau malaikat. Karena itu, sebagian ulama membatasi makna nafs di sini hanya pada manusia, terutama jika dihubungkan dengan ayat sebelum dan sesudah kata nafs yang merujuk pada manusia, yakni kalian (Tafsir al-Misbah [8]: 451).

Kendati demikian, surah al-Anbiya [21] ayat 35 juga bisa dimaknai seluruh yang bernyawa akan mati (kematian makhluk), termasuk manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang, atau malaikat. Hal ini dikuatkan oleh ayat lain, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal.” (QS. Ar-Rahman [55] ayat 26-27).

Al-Sa’adi menuturkan dalam kitabnya Taisir al-Karim al-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, maksud dari setiap yang bernyawa akan mati pada surah al-Anbiya [21] ayat 35 adalah kepastian kematian makhluk seluruhnya, tanpa pengecualian. Allah swt telah menciptakan mereka dan Dia pula yang akan mengakhiri kehidupan mereka di dunia.

Di samping itu, surah al-Anbiya [21] ayat 35 juga memberitahukan bahwa seluruh manusia di dunia akan mendapatkan cobaan, baik dalam bentuk keburukan maupun kebaikan. Semua itu – cobaan – berikan agar dapat diketahui siapa yang di antara mereka yang paling baik amal perbuatannya. Amal perbuatan ini kelak akan dipertanggungjawabkan, tepatnya ketika manusia kembali kepada Allah swt.

Menurut Syekh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Marah Labid, surah al-Anbiya [21] ayat 35 turun berkenaan dengan orang-orang kafir yang berkat, “kita tunggu hingga Muhammad wafat, barulah kita bisa bersenang-senang.” Mereka mengira bahwa jika nabi Muhammad wafat, maka syariatnya akan berubah sebagaimana yang terjadi pada agama-agama terdahulu.

Surah al-Anbiya [21] ayat 35 lalu menegaskan bahwa nabi Muhammad saw memang akan wafat – berpisah dari dunia – sebagaimana nabi-nabi terdahulu. Namun bukan berarti manusia dapat bersenang-senang sepeninggalnya, karena mereka akan mendapatkan cobaan hidup, baik dalam bentuk keburukan maupun kebaikan. Semua itu bertujuan untuk menguji apakah manusia mampu bersabar dan bersyukur.

Kemudian, akhir surah al-Anbiya [21] ayat 35 ditutup dengan kalimat Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. Maksud kalimat ini adalah kalian akan kembali kepada Allah swt setelah kematian kalian dan Dia akan membalas segala amal perbuatan kalian. Jika kalian mampu bersabar dan bersyukur ketika mendapatkan musibah dan nikmat, maka kalian akan beruntung. Sebaliknya, kalian akan merugi jika tidak mampu bersabar dan berlaku kufur.

Hal senada disampaikan oleh Jamaluddin al-Qasimi dalam tafsirnya Mahasin al-Ta’wil. Ia menyampaikan bahwa makna ayat di atas adalah setiap makhluk pasti akan mati, tanpa terkecuali. Kematian makhluk adalah hal wajar dan tidak bisa dihindari. Hanya saja, terkhusus bagi manusia, mereka akan mendapatkan ujian selama kehidupannya untuk menentukan apakah mereka termasuk orang yang sabar dan bersyukur.

Berdasarkan penjelasan di atas, setidaknya ada tiga poin yang bisa penulis simpulkan, yaitu: Pertama, setiap makhluk pasti akan mati tanpa terkecuali. Artinya, semua manusia – terlepas dari latar belakangnya, baik orang biasa maupun bangsawan – akan mati dan meninggalkan dunia ini. Oleh karena itu, sebaiknya mereka tidak menyia-nyiakan hidupnya.

Baca Juga: Kematian dalam Al-Quran dan Penggunaannya Menurut Hamza Yusuf

Kedua, kehidupan dunia adalah ujian bagi manusia. Setiap musibah atau nikmat yang didapatkan manusia di dunia pada hakikatnya adalah cobaan bagi mereka. Musibah yang menimpa manusia adalah ujian kesabaran, apakah mereka mampu bersabar? Sedangkan nikmat dan rezeki yang melimpah adalah ujian rasa syukur, apakah mereka mau bersyukur?

Ketiga, setiap makhluk akan kembali kepada Allah Swt. Manusia berserta makhluk lainnya akan kembali ke hadirat Allah Swt. Hanya saja manusia ketika kembali membawa amal perbuatannya. Jika mereka melakukan ketaatan dan kebaikan, Allah akan melimpahkan kesejahteraan kepada mereka. Sebaliknya, jika mereka melakukan dosa dan kezaliman serta tidak bertobat, neraka adalah tempat kembali bagi mereka. Wallahu a’lam.

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 91-93

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 91-93 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai perintah Allah agar menepati sebuah janji yang sudah terikat. Kedua berbicara mengenai perumpamaan orang-orang yang telah mengingkari sebuah janji. Ketiga mengenai kuasa Allah untuk mempersatukan manusia dalam satu agama. Namun Allah punya kehendak lain.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 90 (3)


Ayat 91

Dalam ayat ini, Allah swt memerintahkan kaum Muslimin untuk menepati janji mereka dengan Allah jika mereka sudah mengikat janji itu. Menurut Ibnu Jarir, ayat-ayat ini diturunkan dengan bai’at (janji setia) kepada Nabi Muhammad saw yang dilakukan oleh orang-orang yang baru masuk Islam.

Mereka diperintahkan untuk menepati janji setia yang telah mereka teguhkan dengan sumpah, dan mencegah mereka membatalkannya. Jumlah kaum Muslimin yang sedikit janganlah mendorong mereka untuk membatalkan bai’at itu setelah melihat jumlah kaum musyrikin yang besar.

Menurut ayat ini, semua ikatan perjanjian yang dibuat dengan kehendak sendiri, wajib dipenuhi baik perjanjian itu sesama kaum Muslimin ataupun terhadap orang di luar Islam. Allah swt melarang kaum Muslimin melanggar sumpah yang diucapkan dengan mempergunakan nama Allah, karena dalam sumpah seperti itu, Allah telah ditempatkan sebagai saksi.

Allah akan memberi pahala bagi mereka yang memenuhi apa yang diucapkannya dengan sumpah atau membalas dengan azab bagi mereka yang mengkhianati sumpah itu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala amal perbuatan manusia. Dialah yang mengetahui segala perjanjian yang mereka kuatkan dengan sumpah, dan mengetahui pula bagaimana mereka memenuhi janji dan sumpah itu.

Ayat 92

Dalam ayat ini, Allah mengumpamakan orang yang melanggar perjanjian dan sumpah itu sebagai seorang wanita yang mengurai benang yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. Demikian itu adalah gambaran tingkah laku orang gila dan orang bodoh.

Pelanggaran terhadap bai‘at perjanjian atau sumpah berarti menjadikan sumpah sebagai alat penipuan sesama manusia.

Sebab jika satu golongan atau seseorang membuat perjanjian dengan golongan lain yang lebih besar dan kuat daripadanya untuk menenteramkan hati mereka, kemudian jika ada kesempatan, dia mengkhianati perjanjian itu, maka tingkah laku seperti demikian itu dipandang sebagai suatu penipuan.

Allah swt melarang tingkah laku demikian karena termasuk perbuatan bodoh dan gila, walaupun dia dari golongan yang kecil berhadapan dengan golongan yang besar. Lebih terlarang lagi jika golongan besar membatalkan perjanjian terhadap golongan yang lebih kecil.

Diriwayatkan bahwa Mu’awiyah, khalifah pertama Dinasti Bani Umaiyyah, pernah mengadakan perjanjian damai dengan Kaisar Romawi dalam jangka tertentu.

Menjelang akhir perjanjian damai tersebut, Mu’awiyah membawa pasukannya ke perbatasan dengan rencana bila saat perjanjian itu berakhir dia langsung akan menyerang. Lalu seorang sahabat bernama Amr bin Anbasah berkata kepadanya, “Allahu Akbar, wahai Mu’awiyah, tepatilah janji, jangan khianat, aku pernah mendengar Rasul saw bersabda:

مَنْ كَانَ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ قَوْمٍ أَجَلٌ فَلاَ يَحُلَّنَّ عُقْدَةً حَتَّى يَنْقَضِيَ أَمَدُهَا.

(رواه أحمد)

Barang siapa ada perjanjian waktu antara dia dengan golongan lain, maka sekali-kali janganlah dia membatalkan perjanjian itu sampai habis waktunya. (Riwayat Imam Ahmad)

Setelah Mu’awiyah mendengarkan peringatan temannya itu, dia pun pulang membawa kembali pasukannya.

Demikianlah Islam menetapkan ketentuan-ketentuan dalam tata pergaulan antara manusia untuk menguji di antara mereka siapakah yang paling kuat berpegang kepada perjanjian yang mereka adakan sendiri, baik perjanjian itu kepada Allah dan rasul-Nya seperti bai’at, ataupun kepada sesama manusia.

Pada hari kiamat kelak akan kelihatan: mana yang hak dan mana yang batil serta  mana yang jujur dan mana yang khianat. Segala perselisihan akan dijelaskan, masing-masing akan mendapat ganjaran dari Allah swt.


Baca juga: Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 7-8: Hiasi Dirimu Dengan Amal Saleh, Bukan Perhiasan Dunia


Ayat 93

Kemudian Allah swt dalam ayat ini mengemukakan bahwa sekiranya Dia berkehendak, tentu Dia mampu mempersatukan manusia ke dalam satu agama sesuai dengan tabiat manusia itu, dan meniadakan kemampuan ikhtiar dan pertimbangan terhadap apa yang dikerjakan.

Dengan demikian, manusia hidup seperti halnya semut atau lebah, atau hidup seperti malaikat yang diciptakan bagaikan robot yang penuh ketaatan kepada Allah, sedikit pun tidak akan menyimpang dari ketentuan yang benar, atau tersesat ke jalan yang salah.

Akan tetapi, Allah swt tidak berkehendak demikian dalam menciptakan manusia. Allah menciptakan manusia dengan menganugerah-kan kemampuan berikhtiar dan berusaha dengan penuh pertimbangan.

Daya pertimbangan itu sejak azali diberikan kepada manusia. Pahala dan siksa berkaitan erat dengan pilihan dan pertimbangan manusia itu. Masing-masing diminta pertanggungjawaban terhadap segala perbuatan yang dihasilkan oleh pertimbangan dan pilihan mereka itu. Sebagaimana firman Allah:

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ    ٣٩  وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ  ٤٠

Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). (an-Najm/53: 39-40)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 94-96


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Taha Ayat 55: Belajar dari Teologi Tanah

0
belajar dari teologi tanah
belajar dari teologi tanah

Kehidupan manusia tidak bisa terpisah dari tanah, mulai dari awal penciptaannya, kelangsungan hidupnya hingga terakhir di saat kematiannya. Ketika sudah demikian, sudah seharusnya tanah dirawat dan dilestarikan dengan benar. Terkait dengan tanah, ada satu petunjuk dari ayat Al-Quran tentang teologi tanah, yaitu surah Taha ayat 55,

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.

Baca Juga: Membaca Fenomena Banjir dalam Surah Saba’ Ayat 15-17 Melalui Kacamata Tafsir Ekologi

Konteks ayat

Ayat ini dan beberapa ayat sebelumnya masih merupakan rangkaian dari penjelasan dan argumentasi Nabi Musa As. terhadap Firaun yang menyangkal kenabian Musa dan keesaan Allah. Seperti biasa, Al-Quran mencoba meyakinkan para pengingkar Allah itu dengan menyatakan dan memberitahukan kekuasaan-kekuasaan Allah Swt yang ada di bumi, yang sangat dekat dengan kehidupan manusia dalam kesehariannya, salah satunya yaitu tanah.

Terkait dengan petunjuk peran tanah dalam ayat ini, dua ayat sebelumnya masih sangat erta kaitannya, tepatnya ayat 53-54. Pada dua ayat ini Al-Quran menginformasikan tentang tanah dan fungsinya. Di ayat 53, misalnya di situ disampaikan bahwa di bumi (dengan tanahnya), Allah telah menjadikan jalanan yang bisa dilewati manusia untuk lalu lalang. Selain itu juga menjadi tempat tumbuhnya tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam yang dikonsumsi oleh semua makhluk Allah yang hidup di atasnya. Selain itu, dilanjutkan oleh ayat 54, tanah juga berfungsi menjadi lahan atau tempat untuk menggembalakan binatang ternak.

Baca Juga:Tafsir Ekologi: Mengenal Ayat-Ayat Lingkungan dalam Al-Quran

Teologi tanah

At-Tabari dalam tafsirnya menyampaikan bahwa ayat ke 55, semakin memperkuat informasi peran tanah bagi manusia yang sudah dijelaskan di dua ayat sebelumnya. Allah untuk ke sekian kalinya menginformasikan tentang kekuasaanNya, Dia menciptakan semua manusia dari satu bahan yang sama, yaitu tanah, lalu terbentuklah tubuh manusia yang sehat dan kuat. Setelah itu mereka (manusia) pada akhirnya nanti akan mati dan dikubur di tempat yang sama, yaitu tanah dan akhirnya kembali menjadi tanah seperti ketika belum diciptakan. Kemudian masih dari bahan yang sama pula Allah akan mengeluarkan dan menghidupkan manusia kembali di kehidupan yang kedua nanti di hari kebangkitan.

Melalui ayat ini pula Allah mengingatkan manusia akan asal muasalnya. Semua manusia berasal dari hal yang sama dan nanti akan kembali menjadi hal yang sama pula. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan dirinya dan merasa lebih dari yang lain. Pembeda dari mereka hanyalah satu, imannya, sebagaimana firmanNya dalam surah Al-Hujurat [49]: 13, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ (sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa

Topik lain yang dibicarakan ayat ini adalah teologi tanah. Untuk manusia tanah adalah segalanya, dari tanah manusia dapat bertahan hidup, mulai dari tempat tinggal mereka yang berdiri tegak di atas tanah, makanan dan minuman yang dikonsumsi mereka tidak lain merupakan hasil dari tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di atas tanah dan pakaian mereka yang digunakan untuk menutupi dan melindungi mereka juga tidak lain hasil dari tanah.

Tanah selau memberi apa yang manusia butuhkan, seseorang menanam padi, tanah akan tumbuh padi. Tanah ditanami ganja, nantinya akan menghasilkan ganja. Air yang menjadi kebutuhan utama manusia juga bersumber dari tanah, hingga SDA yang tidak dapat diperbarui pun seperti barang tambang, emas, perak, batu bara dan yang lainnya dihasilkan dari tanah. Uniknya, tanah tidak hanya selalu memberi, tapi tanah juga senantiasa menerima semua perlakuan manusia, hingga pada satu keadaan, ketika semua orang tidak mau menerima kondisi tersebut, hanya tanahlah satu-satunya yang bersedia menerima, yaitu mayat (bangkai) manusia.

Baca Juga: Memperingati Earth Day: Simak Perhatian Al-Quran Terhadap Lingkungan

Jaga bersama tanah kita

Meski informasi teologis ayat tentang tanah di atas menjadi topik utama dalam konteks ayat, maka informasi ekologis di dalamnya juga tidak bisa kita kesampingkan. Dari sini kita akan mengenal cara melestarikan tanah dan menjauhi hal-hal yang merusak tanah.

Sebagai contoh sederhana, cara melestarikan dan menjaga kondisi tanah agar tetap maksimal yaitu dengan reboisasi, konservasi tanah dan yang lainnya, sedang menjauhi hal-hal yang merusak tanah antara lain tidak mencemari tanah dengan sampah, tidak menebang pohon sembarangan yang akhirnya akan menyebabkan erosi, tidak menambang dan mengebor dengan sembarangan, dan menjauhi kesalahan-kesalahan lainnya.

Contoh salah satu tragedi kesalahan perlakuan terhadap tanah yang masih terasa kerugian dan mudharatnya bagi masyarakat Indonesia, adalah Lumpur Lapindo. Dilansir tirto.id, fenomena Lumpur Lapindo ini bahkan menjadi perhatian para ahli dunia, karena dianggap sangat langka dan menarik untuk diteliti. Di situ juga disampaikan bahwa kesimpulan sementara para ahli geologi dunia menyatakan bahwa semburan lumpur di Sidoarjo tersebut disebabkan karena faktor kesalahan prosedur pengeboran dan hal ini juga diperkuat oleh hasil penelitian Drilling Engineers Club.

Sembari mentadabburi kekuasaan Allah melalui tanah, mari kita bersama-sama menjaga dan melestarikannya, minimal dengan tidak merusaknya. Teringat pepatah arab yang berbunyi, idza lam takun milhan tushlih, la takun dzubaban tufsid (jika kamu belum bisa menjadi garam yang mengenakkan makanan, maka jangan menjadi lalat yang mengotorinya).

Wallahu a’lam

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 90 (3)

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 90 bagian tiga berbicara mengenai salah satu macam keadilan, yakni macam keempat, setelah sebelumnya membahas tiga macam lainnya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 90 (2)


Keempat : Keadilan dalam Hukum

Dalam Islam semua manusia sama di hadapan Tuhan, tidak ada perbedaan orang kulit putih dan kulit hitam, antara anak raja dengan anak rakyat, semua sama dalam perlakuan hukum. Melaksanakan keadilan hukum dipandang oleh Islam sebagai melaksanakan amanat.

Firman Allah swt:

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ

Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil…. (an-Nisa’/4: 58)

Hadis Nabi saw:

إِنَّمَا هَلَكَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوْا إِذاَ سَرَقَ فِيْهِمُ الشَّرِيْفُ تَرَكُوْهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيْهِمُ الضَّعِيْفُ اَقَامُوْا عَلَيْهِمُ الْحَدّ. وَ اللهِ لَوْ سَرَقَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ مُحَمَّدٍ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

(رواه مسلم)

Sesungguhnya kehancuran umat sebelummu karena jika orang terpandang yang mencuri mereka tidak menghukumnya, namun jika orang lemah yang mencuri, mereka menghukumnya. Demi Allah, sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti kupotong tangannya. (Riwayat Muslim)

Di samping berlaku adil, Allah swt memerintahkan pula berbuat i¥s±n seperti membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan yang lebih baik/besar atau memaafkan orang lain.

Firman Allah:

وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا

Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (peng-hormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu. (an-Nisa’/4: 86)

Al-Ihsan terbagi dalam tiga kategori:

  1. Al-Ihsan dalam ibadah: engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Jika tidak melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihatmu.

Hadis Nabi Muhammad saw:

اَْلاِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَّمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

(رواه البخاري عن أبي هريرة)

Ihsan itu ialah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, apabila kamu tidak melihat-Nya, Dia pasti melihatmu. (Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah)


Baca juga: Mengenal Tafsir Al-Ubairiz Karya Gus Mus


  1. Al-Ihsan dalam balasan dan sanksi dengan seimbang, dan menyempurna-kan hak dalam pembunuhan dan luka dengan qisas.
  2. Al-Ihsan dalam menepati hak atau hutang dengan membayarnya tanpa mengulur waktu, atau disertai tambahan yang tidak bersyarat.

Tingkat al-ihsan yang tertinggi ialah berbuat kebaikan terhadap orang yang bersalah. Diriwayatkan bahwa Isa a.s. pernah berkata, “Sesungguhnya al-i¥s±n itu ialah kamu berbuat baik kepada orang yang bersalah terhadapmu. Bukanlah al-i¥s±n bila kamu berbuat baik kepada orang yang telah berbuat baik kepadamu.”

Allah swt memerintahkan pula dalam ayat ini untuk memberikan sedekah kepada kerabat untuk kebutuhan mereka. Bersedekah kepada kerabat sebenarnya sudah termasuk dalam pengakuan berbuat adil dan al-ihsan. Namun disebutkan secara khusus untuk memberikan pengertian bahwa urusan memberikan bantuan kepada kerabat hendaklah diperhatikan dan diutamakan.

Sesudah menerangkan ketiga perkara yang diperintahkan kepada umat manusia, Allah swt meneruskan dengan menerangkan tiga perkara lagi yang harus ditinggalkan.

Pertama : Melarang berbuat keji (fahisyah), yaitu perbuatan-perbuatan yang didasarkan pada pemuasan hawa nafsu seperti zina, minuman-minuman yang memabukkan, dan mencuri.

Kedua : Melarang berbuat mungkar yaitu perbuatan yang buruk yang berlawanan dengan pikiran yang waras, seperti membunuh dan merampok hak orang lain.

Ketiga : Melarang permusuhan yang sewenang-wenang terhadap orang lain.

Demikianlah dalam ayat ini, Allah swt memerintahkan tiga perkara yang harus dikerjakan, yaitu berbuat adil, al-ihsan, dan mempererat persaudaraan. Allah juga melarang tiga perkara, yaitu berbuat keji, mungkar, dan permusuhan.

Semua itu merupakan pengajaran kepada manusia yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, maka sewajarnya mereka mengamalkannya.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 91-93


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 90 (2)

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 90 bagian dua berbicara mengenai keadilan. Semua utusan yang turun ke bumi hanya mempunya satu misi khusus yaitu menebar keadilan bagi seluruh alam. Adanya syariat dan hukum tidak lain merupakan perangkat untuk mencapai keadilan itu.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 90 (1)


Allah swt menetapkan keadilan sebagai landasan umum bagi kehidupan masyarakat untuk setiap bangsa di segala zaman. Keadilan merupakan tujuan dari pengutusan rasul-rasul ke dunia serta tujuan dari syariat dan hukum yang diturunkan kepada mereka.

Firman Allah swt:

لَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنٰتِ وَاَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتٰبَ وَالْمِيْزَانَ لِيَقُوْمَ النَّاسُ بِالْقِسْطِۚ وَاَنْزَلْنَا الْحَدِيْدَ فِيْهِ بَأْسٌ شَدِيْدٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهٗ وَرُسُلَهٗ بِالْغَيْبِۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ ࣖ

Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun (Allah) tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat, Mahaperkasa. (al-Hadid/57: 25)

Menurut Mahmud Syaltut, Allah swt menyebutkan besi dalam rangkaian pembinaan keadilan, mengandung isyarat yang kuat dan jelas bahwa pembinaan dan pelaksanaan keadilan adalah ketentuan Ilahi yang wajib dikerjakan.

Para pelaksananya dapat mempergunakan kekuatan yang dibenarkan Tuhan, seperti dengan peralatan besi (senjata) yang punya daya kekuatan yang dahsyat.

Adapun macam-macam keadilan yang dikemukakan oleh Islam antara lain sebagai berikut:

Pertama: Keadilan dalam Kepercayaan

Menurut Al-Qur’an kepercayaan syirik itu suatu kezaliman. Sebagaimana firman Allah swt:

لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. (Luqman/31: 13)

Mengesakan Tuhan adalah suatu keadilan, sebab hanya Dialah yang menjadi sumber hidup dan kehidupan. Dia memberi nikmat lahir dan batin. Segala ibadah, syukur, dan pujian hanya untuk Allah swt. Mengarahkan ibadah dan pujian kepada selain Allah adalah perbuatan yang tidak adil atau suatu kezaliman. Hak manusia mendapatkan rahmat dan nikmat dari Allah, karena itu manusia berkewajiban mengesakan Allah dalam itikad dan ibadah.;Kedua: Keadilan dalam Rumah Tangga.


Baca juga: Mengenal Fenomena Tafsir Lisan dan Kajiannya Perspektif Andreas Gorke


Rumah tangga merupakan bagian dari masyarakat. Bilamana rumah tangga sejahtera, masyarakat pun akan sejahtera dan negara akan kuat.

Dari rumah tangga yang baik lahir individu-individu yang baik pula. Oleh karena itu, Islam menetapkan peraturan-peraturan dalam pembinaan rumah tangga yang cukup luwes dan sempurna. Keadilan tidak hanya mendasari ketentuan-ketentuan formal yang menyangkut hak dan kewajiban suami istri, tetapi juga keadilan mendasari hubungan kasih sayang dengan istri.;Ketiga: Keadilan dalam Perjanjian

Dalam memenuhi kebutuhan hidup, setiap orang ataupun bangsa pasti memerlukan bantuan orang lain. Tolong-menolong dan bantu-membantu sesama manusia dalam usaha mencapai kebutuhan masing-masing merupakan ciri kehidupan kemanusiaan. A

gama Islam memberikan tuntunan dalam menyelenggarakan hidup tolong-menolong itu. Umpamanya dalam soal muamalah, seperti utang piutang, jual beli, sewa menyewa, dan sebagainya, dengan suatu perjanjian, Islam memerintahkan agar perjanjian itu ditulis.

Firman Allah swt:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَاتِبٌۢ بِالْعَدْلِۖ ذٰلِكُمْ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ وَاَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَاَدْنٰىٓ اَلَّا تَرْتَابُوْٓا

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. … Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan…. (al-Baqarah/2: 282)

Pada persaksian yang banyak terjadi dalam perjanjian-perjanjian, Islam menetapkan pula adanya keadilan. Keadilan dalam persaksian ialah melaksanakannya secara jujur isi kesaksian itu tanpa penyelewengan dan pemalsuan.

Firman Allah swt:;

وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَۗ وَمَنْ يَّكْتُمْهَا فَاِنَّهٗٓ اٰثِمٌ قَلْبُهٗ ۗ

…Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian, karena barang siapa menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa)…. (al-Baqarah/2: 283)

Firman Allah swt:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ ۚ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu…. (an-Nisa’/4: 135)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 90 (3)


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 90 (1)

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 90 bagian pertama ini berbicara mengenai perintah Allah kepada seluruh umat Islam agar selalu berbuat baik dan adil serta mengamalkan al-Qur’an.

Baca sebelumnya:  Tafsir Surah An-Nahl Ayat 88-89

Ayat 90

Allah swt memerintahkan kaum Muslimin untuk berbuat adil dalam semua aspek kehidupan serta melaksanakan perintah Al-Qur’an, dan berbuat ihsan (keutamaan). Adil berarti mewujudkan kesamaan dan keseimbangan di antara hak dan kewajiban. Hak asasi tidak boleh dikurangi disebabkan adanya kewajiban. Ayat ini termasuk ayat yang sangat luas dalam pengertiannya. Ibnu Mas’µd berkata:

وَأَجْمَعُ اٰيَةٍ فِى كِتَابِ اللهِ لِلْخَيْرِ وَ الشَّرِّ هِيَ اْلاٰيَةُ الَّتِى فِى النَّحْلِ: إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ.

(رواه البخاري عن ابن مسعود في الكتاب الاداب المفرد)

Dan ayat paling luas lingkupnya dalam Al-Qur’an tentang kebaikan dan kejahatan ialah ayat dalam Surah An-Nahl (yang artinya): “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan”. (Riwayat Bukhari dari Ibnu Mas’ud dalam kitab al-Adab al-Mufrad)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ikrimah bahwa Nabi Muhammad saw membacakan ayat ini kepada al-Walid. “Ulang kembali hai saudaraku,” kata al-Walid, maka Rasul saw mengulang kembali membaca ayat itu. Lalu al-Walid berkata, “Demi Allah sungguh Al-Qur’an ini memiliki kelezatan dan keindahan, di atasnya berbuah, di bawahnya berakar, dan bukanlah dia kata-kata manusia.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ada seorang sahabat yang semula kurang senang kepada Rasul saw. Sewaktu dibacakan kepadanya ayat ini oleh Rasul saw, maka iman dalam jiwanya menjadi teguh dan dia menjadi sayang kepada Nabi saw.

Pada ayat ini disebutkan tiga perintah dan tiga larangan. Tiga perintah itu ialah berlaku adil, berbuat kebajikan (ihsan), dan berbuat baik kepada kerabat. Sedangkan tiga larangan itu ialah berbuat keji, mungkar, dan permusuhan.

Kezaliman lawan dari keadilan, sehingga wajib dijauhi. Hak setiap orang harus diberikan sebagaimana mestinya. Kebahagiaan barulah dirasakan oleh manusia bilamana hak-hak mereka dijamin dalam masyarakat, hak setiap orang dihargai, dan golongan yang kuat mengayomi yang lemah. Penyimpangan dari keadilan adalah penyimpangan dari sunnah Allah dalam menciptakan alam ini. Hal ini tentulah akan menimbulkan kekacauan dan kegoncangan dalam masyarakat, seperti putusnya hubungan cinta kasih sesama manusia, serta tertanamnya rasa dendam, kebencian, iri, dengki, dan sebagainya dalam hati manusia.


Baca juga: Ilmu Tajwid: Mengenal Hukum Mad Asli (Mad Thobi’i)


Semua yang disebutkan itu akan menimbulkan permusuhan yang menyebabkan kehancuran. Oleh karena itu, agama Islam menegakkan dasar-dasar keadilan untuk memelihara kelangsungan hidup masyarakat. Dalam Al-Qur’an banyak ditemukan ayat-ayat yang turun di Mekah maupun di Medinah, yang memerintahkan manusia berbuat adil dan melarang kezaliman. Di antaranya adalah:

Firman Allah swt:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (al-Ma’idah/5: 8)


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 90 (2)


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 88-89

0
tafsir surah an-nahl
tafsir surah an-nahl

Tafsir Surah An-Nahl Ayat 88-89 berbicara mengenai azab orang-orang yang sesat lagi menyesatkan. Kedua berbicara mengenai keadaan kelak di hari kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 86-87


Ayat 88

Sesudah menyebutkan azab atas orang-orang yang sesat, dalam ayat ini, Allah swt menjelaskan azab bagi orang-orang sesat lagi menyesatkan. Mereka ialah orang-orang kafir yang menentang kenabian dan kerasulan Muhammad saw serta mendustakan Al-Qur’an. Selain itu, mereka dengan sengaja menghalang-halangi orang lain yang ingin masuk agama Islam, dan ingin beriman kepada Allah dan rasul-Nya.

Allah menimpakan azab yang lebih besar kepada mereka daripada azab orang-orang yang sesat saja, karena mereka tidak hanya kafir, tetapi juga membawa orang lain kepada kekafiran atau menghalangi orang lain untuk beriman. Jadi, mereka melakukan dua macam dosa: dosa yang disebabkan kekafiran dan dosa karena menyesatkan orang lain, sebagaimana firman Allah swt:

وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْـَٔوْنَ عَنْهُ ۚوَاِنْ يُّهْلِكُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ  

Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan (Al-Qur’an) dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari. (al-An’am/6: 26)

Oleh karena itu, azab yang ditimpakan kepada mereka ada dua macam pula: azab atas kekafiran mereka sendiri dan azab atas perbuatan mereka menyesatkan orang lain. Pada ayat ini, terdapat dalil yang menunjukkan bahwa azab atas orang-orang kafir berbeda-beda seperti halnya orang-orang mukmin berbeda-beda kedudukan mereka dalam surga.


Baca juga: Penjelasan Al-Quran tentang Orang yang Tidak Bisa Disesatkan Iblis, Siapa Dia?


Ayat 89

Dalam ayat ini, Allah swt menjelaskan kembali apa yang akan terjadi pada hari kiamat atas setiap umat, yakni kehadiran seorang nabi dari kalangan mereka sendiri, yang akan menjadi saksi atas perbuatan mereka.

Nabi Muhammad saw menjadi saksi pula atas umatnya. Pada hari akhir itu, dia menjelaskan sikap kaumnya terhadap risalah yang dibawanya, apakah mereka beriman dan taat kepada seruannya, ataukah mereka melawan dan mendustakannya. Para nabi itulah yang paling patut untuk menjawab segala alasan dari kaumnya.

Ketika memberikan kesaksian, para rasul tentu berdasarkan penghayatan mereka sendiri atau dari keterangan Allah swt sebab mereka tidak lagi mengetahui apa yang terjadi atas umatnya sesudah mereka wafat.

Rasulullah mencucurkan air mata sewaktu sahabatnya, Abdullah bin Mas’µd, membaca ayat yang serupa maknanya dengan ayat di atas:

فَكَيْفَ اِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ اُمَّةٍۢ بِشَهِيْدٍ وَّجِئْنَا بِكَ عَلٰى هٰٓؤُلَاۤءِ شَهِيْدًاۗ 

Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), jika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka. (an-Nisa’/4: 41)

Abdullah bin Mas’µd berhenti membaca ketika sampai ayat ini, karena Rasul saw berkata kepadanya, “Cukup.” ‘Abdullah bin Mas’µd kemudian menoleh kepada Rasul saw, dan melihatnya mencucurkan air mata.

Menjadi saksi pada hari kiamat adalah kedudukan yang mulia, tetapi berat. Rasul saw akan menjelaskan kepada Allah pada hari kiamat keadaan umatnya sampai sejauh mana mereka mengamalkan petunjuk Al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya.

Pada hari itu, tak ada alasan lagi bagi umat untuk tidak mempertanggungjawabkan amal perbuatan mereka di dunia, sebab Al-Qur’an telah menjelaskan kepada mereka segala sesuatu, yang baik ataupun yang buruk, yang halal dan yang haram, serta yang benar dan yang salah.

Al-Qur’an memberikan pedoman bagi manusia jalan mana yang lurus dan yang sesat, serta arah mana yang membawa bahagia dan mana yang membawa kesengsaraan.

Barang siapa membenarkan Al-Qur’an dan mengamalkan segala petunjuk yang terdapat di dalamnya, tentulah ia memperoleh rahmat dalam kehidupan dunia dan akhirat. Al-Qur’an memberi kabar yang menyenangkan kepada orang yang taat dan bertobat kepada Allah dengan pahala yang besar di akhirat dan kemuliaan yang tinggi bagi mereka.

Rasul saw yang diberi tugas untuk menyampaikan Al-Qur’an, kelak akan dimintai pertanggungjawaban tentang tugas dan kewajibannya itu pada hari kiamat, sebagaimana firman Allah:

فَلَنَسْـَٔلَنَّ الَّذِيْنَ اُرْسِلَ اِلَيْهِمْ وَلَنَسْـَٔلَنَّ الْمُرْسَلِيْنَۙ 

Maka pasti akan Kami tanyakan kepada umat yang telah mendapat seruan (dari rasul-rasul) dan Kami akan tanyai (pula) para rasul. (al-A’raf/7: 6)

Di antara tugas Rasulullah adalah menjelaskan Al-Qur’an kepada manusia tentang masalah-masalah agama karena ayat-ayat Al-Qur’an ada yang terperinci dan ada pula yang umum isinya. Rasulullah menjelaskan ayat-ayat Allah yang masih bersifat umum itu.

Firman Allah swt:

وَاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ  

Dan Kami turunkan Az-zikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan. (an-Nahl/16: 44)

Selain menjelaskan ayat-ayat yang masih bersifat umum, Rasulullah menetapkan pula petunjuk-petunjuk dan hukum-hukum yang bertalian dengan urusan agama dan akhlak.


Baca setelahnya: Tafsir Surah An-Nahl Ayat 90 (1)


(Tafsir Kemenag)

Kasus Marital Rape dan Penafsiran Surah An-Nisa Ayat 34

0
Marital Rape
Marital Rape dan Penafsiran Surah An-Nisa Ayat 34

Kajian tentang perkosaan dalam rumah tangga atau dalam bahasa praktisnya Marital Rape kembali hadir menjadi sebuah kontroversi setelah terbitnya Rancangan Undang Undang (RUU) KUHP Pasal 479. Dalam Pasal ini, ancaman pidana bagi pelaku perkosaan paling lama 12 tahun. Meskipun Revisi dari KUHP tersebut belum resmi diterbitkan, akan tetapi Pasal ini dianggap oleh beberapa khalayak sebagai pasal kontroversial.

Meskipun menjadi rencana yang disambut baik oleh sebagian pihak, akan tetapi masyarakat sendiri menurut Komnas Perempuan masih banyak yang menganggap dengan tidak serius bahkan banyak juga yang menilai tidak ada istilah perkosaan dalam rumah tangga. Padahal, peraturan tentang marital rape ini sebenarnya sudah diatur dalam Pasal 53 UU No. 23 Tahun 2004 tentang PKDRT.

Asal-usulnya disinyalir berasal dari budaya patriarki yang sudah mengakar di masyarakat kita. Ditambah lagi peraturan perundangan yang relasi gendernya timpang. Seperti ditunjukkan dalam Pasal 79 ayat (1), Pasal 80 ayat (4) dan Pasal 83 suami dianggap sebagai pencari nafkah, sebagai pemimpin, sedangkan istri adalah seseorang yang mengurus rumah tangga, yang harus siap melayani suami, berbakti lahir batin kepada suami termasuk dalam berhubungan seksual.

Sementara itu, kasus aduan tentang kekerasan terhaap perempuan termasuk di dalamnya marital rape masih sangat tinggi. Berdasarkan laporan Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan (Catahu) 2021: Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2020, terdapat sedikitnya 8.234 kasus data aduan yang terkumpul sepanjang tahun 2020. Jenis kekerasan yang paling banyak adalah KDRT dan relasi personal sebanyak 6.480 kasus atau kurang lebih 79% dari seluruh aduan. Disusul oleh kekerasan terhadap istri (KTI) sebanyak 3.221 kasus, kekerasan terhadap anak perempuan sebanyak 924 kasus, dan sisanya kekerasan oleh mantan suami, mantan pacar, dan sebagainya.

Baca Juga: Memahami Makna Seksualitas Perempuan Melalui Kisah Yusuf dan Zulaikha dalam Al-Quran

Bisa dikatakan bahwa salah satu unsur yang melanggengkan patriarki adalah pemahaman yang salah terhadap Surah An-Nisa’ (4) :34. Ayat ini acapkali digunakan sebagai legitimasi ketidaksetaraan relasi antara suami dan istri, bahkan sering menjadi rujukan kebolehan marital rape. Benarkan demikian? Mari kita pahami lebih lanjut tentang ayat ini. Allah Swt berfirman:  

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهْجُرُوهُنَّ فِى ٱلْمَضَاجِعِ وَٱضْرِبُوهُنَّ

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka.”

Apakah dengan ayat di atas suami berhak melakukan kekerasan terhadap istri? Tentu tidak. Masturiyyah Sa’dan dalam artikelnya Posisi Perempuan Kepala Keluarga dalam Konstestasi Tafsir dan Negosiasi Realitas Masyarakat Nelayan Madura: Kajian Muhammad Syahrur, menjelaskan bahwa sesuai dengan prinsip tafsir Syahrur, ruang sosial dan kepemimpinan tidak hanya milik laki-laki tetapi juga milik perempuan. Kepemimpinan tidak berdasarkan gender, tetapi berdasarkan kapasitas dan kemampuan yang dimiliki seseorang.

Dalam ayat tersebut, Syahrur memaknai kata qawwamun (kepemimpinan) oleh seorang laki-laki karena Allah telah melebihkan sebagian laki-laki atas sebagian perempuan berupa ilmu, agama, akal dan kekuasaan. Oleh karena itu, apabila laki-laki diberikan beban kepemimpinan karena ada kelebihan tersebut, bukan semata karena dia adalah laki-laki. Maka dari itu, seorang laki-laki yang tidak memiliki kelebihan tersebut, maka ia jelas tidak dibenarkan untuk menjadi pemimpin atas perempuan.

Merujuk pada idealitas Islam, tentu kebenaran untuk melakukan perkosaan terhadap pasangannya tidaklah benar. Menurut Husein Muhammad dalam bukunya Fiqh Perempuan, Islam selalu hadir dalam sifat-sifat dan gasgasan besar kemanusiaan (humanisme universal). Agama menurutnya dihadirkan oleh Tuhan sebagai sarana pembebasan dari bentuk penindasan, tirani, kebiadaban, dan perbudakan manusia.

Al-Qur’an berbicara secara tegas tentang perlindungan Hak Asasi Manusia dalam QS. Al-Hujurat (49) : 13. Didalamnya, Allah Swt menjelaskan bahwa Ia menciptakan manusia baik itu laki-laki dan perempuan berbangsa-bangsa, bersuku-suku, supaya mereka saling mengenal. Karena Allah sendiri pun tidak membedakan manusia antara laki-laki dan perempuan, bangsa satu dengan yang lain kecuali tingkat ketakwaan manusia pada-Nya.

Ditambah lagi, dalam QS. Al-Isra’ (17) : 70 disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia di muka bumi ini. Kemuliaan tersebut menurut Husein Muhammad merupakan hak alami setiap manusia yang karena itu, ia tidak boleh dilecehkan, dinodani, diperlakukan kasar, bahkan dihancurkan. Hal ini berlaku untuk seluruh manusia, tanpa memebedakan mereka laki-laki atau perempuan, suami atau isteri.

Baca Juga: Mengenal Badriyah Fayumi, Mufasir Perempuan Indonesia Pejuang Keadilan Gender

Oleh karena itu, apapun bentuk pelecehan bahkan perkosaan kepada siapapun baik itu relasi suami-isteri atau bukan, sama sekali tidak dibenarkan dalam Islam. Cara pandang masyarakat tentang pernikahan sebagai suatu keabsahan untuk melakukan hubungan seksual saja perlu diubah dengan lebih memperhatikan apa yang Allah ingin sampaikan dalam QS. Ar-Rum (30) : 21.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasanganmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Menurut Nur Rofi’ah dalam bukunya Nalar Kritis Muslimah, tujuan perkawinan dalam di atas jelas bukan kepuasan seks suami atas dasar kekuasaan mutlaknya pada istri. Melainkan sakinah (ketenangan jiwa) antara suami istri yang tumbuh atas dasar mawaddah warahmah (cinta dan kasih). Sehingga, etika dasar hubungan seksual dan istri adalah dapat memberikan ketenangan jiwa kepada kedua belah pihak dan dilakukan dengan cara yang mencerminkan cinta dan kasih.