Beranda blog Halaman 335

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 61-65

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 61-65 mengisahkan tentang Nabi Musa dan Yusya’ yang akan menyeberangi dua laut. Perjalanan ini mengantarkan Nabi Musa dan Yusya’ berjumpa dengan Nabi Khidir. Selain itu dijelaskan pula dalam Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 61-65 tentang cara orang memperoleh ilmu menurut Imam Al-Ghazali.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 60


Ayat 61

Dalam ayat ini, Allah menceritakan bahwa setelah Nabi Musa dan Yusya’ sampai ke pertemuan dua laut, mereka berhenti, tetapi tidak tahu bahwa tempat itulah yang harus dituju. Sebab, Allah tidak memberi tahu dengan pasti tempat itu. Hanya saja Allah memberi petunjuk ketika ditanya oleh Nabi Musa sebelum berangkat, sebagaimana sabda Rasul saw ketika menceritakan pertanyaan Nabi Musa itu :

يَارَبِّي وَكَيْفَ لِيْ بِهِ؟ قَالَ: تَأْخُذُ مَعَكَ حُوْتًا فَتَجْعَلُهُ بِمِكْتَلٍ فَحَيْثُمَا فَقَدْتَ الْحُوْتَ فَهُوَ ثَمَّ. (رواه البخاري عن أبيّ بن كعب)

Ya Tuhanku, bagaimana saya dapat menemukannya? Allah berfirman, “Bawalah seekor ikan dan masukkan pada sebuah kampil, manakala ikan itu hilang, di situlah tempatnya.” (Riwayat al-Bukhari dari Ubay bin Ka’ab)

Di atas sebuah batu besar di tempat itu, Nabi Musa dan muridnya merasa mengantuk dan lelah. Keduanya pun tertidur dan lupa pada ikannya. Ketika itu, ikan yang ada dalam kampil tersebut hidup kembali dan menggelepar-gelepar, lalu keluar dan meluncur menuju laut. Padahal kampil waktu itu ada di tangan Yusya’. Kejadian ini, yaitu ikan mati menjadi hidup kembali, merupakan mukjizat bagi Nabi Musa a.s..

 Setelah bangun tidur, mereka pun melanjutkan perjalanan. Yusya’ pun lupa tidak menceritakan kepada Nabi Musa kejadian yang aneh tentang ikan yang sudah mati hidup kembali.

Ayat 62

Dalam ayat ini, Allah menceritakan bahwa keduanya terus melanjut-kan perjalanannya siang dan malam. Nabi Musa pun merasa lapar dan berkata kepada muridnya, “Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan ini.”

Perasaan lapar dan lelah setelah melampaui tempat pertemuan dua laut itu ternyata mengandung hikmah, yaitu mengembalikan ingatan Nabi Musa a.s. kepada ikan yang mereka bawa.

Dalam ayat ini, Allah mengungkapkan betapa luhurnya budi pekerti Musa a.s. dalam bersikap kepada muridnya. Apa yang dibawa oleh muridnya sebagai bekal itu merupakan milik bersama, bukan hanya milik sendiri. Betapa halus perasaannya ketika menyadari bahwa letih dan lapar itu tidak hanya dirasakan dirinya, tetapi juga dirasakan orang lain.

Ayat 63

Dalam ayat ini, Yusya’ menjawab secara jujur bahwa ketika mereka beristirahat dan berlindung di batu tempat bertemunya dua laut, ikan itu telah hidup kembali dan menggelepar-gelepar, lalu masuk ke laut dengan cara yang sangat mengherankan. Namun, dia lupa dan tidak menceritakan kepada Nabi Musa a.s.. Kekhilafan ini bukan karena ia tidak bertanggung jawab, tetapi setan yang menyebabkannya.

Ayat 64

Mendengar jawaban seperti tersebut di atas, Nabi Musa menyambut-nya dengan gembira seraya berkata, “Itulah tempat yang kita cari. Di tempat itu, kita akan bertemu dengan orang yang kita cari, yaitu Nabi Khidir.” Mereka pun kembali mengikuti jejak semula, untuk mendapatkan batu yang mereka jadikan tempat berlindung.

Menurut al-Biqa’i, firman Allah dalam ayat ini menunjukkan bahwa mereka itu berjalan di padang pasir, sehingga tidak ada tanda-tanda, akan tetapi ada jejak mereka. Maka ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dalam firman Allah tentang pertemuan dua laut itu ialah pertemuan air tawar (sungai Nil) dengan air asin (Laut Tengah) yaitu kota di Dimyath atau Rasyid di negeri Mesir.

Ayat 65

Dalam ayat ini, dikisahkan bahwa setelah Nabi Musa dan Yusya’ menelusuri kembali jalan yang dilalui tadi, mereka sampai pada batu yang pernah dijadikan tempat beristirahat. Di tempat ini, mereka bertemu dengan seseorang yang berselimut kain putih bersih.

Orang ini disebut Khidir, sedang nama aslinya adalah Balya bin Mulkan. Ia digelari dengan nama Khidir karena ia duduk di suatu tempat yang putih, sedangkan di belakangnya terdapat tumbuhan menghijau. Keterangan ini didasarkan pada hadis berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّمَا سُمِّيَ الْخِضْرُ لِأَنَّهُ جَلَسَ عَلَى فَرْوَةٍ بَيْضَاء، فَإِذَا هِيَ تَهْتَزُّ مِنْ خَلْفِهِ خَضْرَاء. (رواه البخاري)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, “Dinamakan Khidir karena ia duduk di atas kulit binatang yang putih. Ketika tempat itu bergerak, di belakangnya tampak tumbuhan yang hijau.” (Riwayat al-Bukhari)

Dalam ayat ini, Allah swt juga menyebutkan bahwa Khidir itu ialah orang yang mendapat ilmu langsung dari Allah. Ilmu itu tidak diberikan kepada Nabi Musa, sebagaimana juga Allah telah menganugerahkan ilmu kepada Nabi Musa yang tidak diberikan kepada Khidir.

Menurut Hujjatul Islam al-Gazali, bahwa pada garis besarnya, ada dua cara bagi seseorang untuk mendapatkan ilmu:

  1. Proses pengajaran dari manusia, disebut at-ta’lim al-insani, yang dibagi lagi menjadi dua, yaitu: Belajar kepada orang lain (di luar dirinya) dan belajar sendiri dengan menggunakan kemampuan akal pikiran.
  2. Pengajaran yang langsung diberikan Allah kepada seseorang yang disebut at-ta’lim ar-rabbani, yang dibagi menjadi dua juga, yaitu : Diberikan dengan cara wahyu, yang ilmunya disebut: ‘ilm al-anbiya’ (ilmu para nabi) dan ini khusus untuk para nabi dan diberikan dengan cara ilham yang ilmunya disebut ‘ilm ladunni (ilmu dari sisi Tuhan). ‘Ilm ladunni ini diperoleh dengan cara langsung dari Tuhan tanpa perantara. Kejadiannya dapat diumpamakan seperti sinar dari suatu lampu gaib yang langsung mengenai hati yang suci bersih, kosong lagi lembut. Ilham ini merupakan perhiasan yang diberikan Allah kepada para kekasih-Nya (para wali).

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 66-73


Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 57-59

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 57-59 menerangkan tentang dalam memperingati manusia Allah melakukannya dengan cara yang menyenangkan hati hingga sampai ke ancaman. Selain itu Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 57-59 ini juga menjelaskan bahwa Allah Maha pengampun.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 54-56


Ayat 57

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa menolak kebenaran adalah suatu kezaliman yang sangat besar. Allah telah memperingatkan dengan cara yang menyenangkan hati, berupa kabar gembira, ataupun dengan cara ancaman, namun orang-orang kafir dan orang-orang musyrik itu tetap keras kepala, dan tetap memilih kekafiran dan perbuatan maksiat yang terus mereka kerjakan.

Dengan sikap keras kepala dan menolak kebenaran itu berarti mereka telah menganiaya atau menzalimi diri sendiri. Kezaliman pada diri sendiri yang mereka lakukan mengundang hukuman Allah yang datang beruntun atas diri mereka. Setelah mereka menolak kebenaran yang dibawa oleh rasul, mereka pun lupa atas tindakan kekafiran dan kemaksiatannya. Penolakan mereka terhadap kebenaran menyebabkan mereka terseret kepada tindakan-tindakan kemaksiatan.

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan itu menyebabkan mereka lupa atas nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya. Akhirnya, mereka sama sekali tidak dapat memikirkan akibat apa yang akan menimpa diri mereka sendiri. Hatinya telah membatu, sehingga tidak dapat memahami kebenaran manapun.

Seruan kebenaran syariat Islam tidak mereka dengar lagi, kian hari mereka bertambah parah, sehingga obat apapun yang diberikan tidak akan dapat menolong. Ayat ini sangat tepat diberlakukan pada orang musyrik Mekah yang mati dalam kekafiran.

Ayat 58

Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan bahwa Dia Maha Pengampun, dan rahmat-Nya Maha Luas, meliputi seluruh alam, seluruh apa yang ada di langit dan di bumi. Salah satu bukti atas sifat pemurah dan rahmat Allah Yang Maha Luas itu ialah Dia tidak segera menjatuhkan azab atas orang-orang kafir musyrik.

Hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan bagi mereka kembali menjadi sadar, karena setiap manusia mempunyai benih kebaikan di dalam dirinya. Diharapkan pikirannya yang jernih akan menyuburkan fitrah manusiawinya untuk berkembang dan ingat kembali kepada Tuhan.

Sehingga kalau mereka mau memohon ampun, meskipun dosa-dosanya menumpuk dan menggunung, niscaya akan di-ampuni oleh Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih. Memang ada di antara orang-orang yang sesat itu yang dapat melepaskan diri dari kesesatan, kemudian kembali ke jalan yang benar.

 Meskipun Allah memiliki sifat menahan murka, Maha Pengampun dan Mahaluas Rahmat-Nya, namun kalau tenggang waktu yang sudah diberikan tidak juga digunakan untuk menyadari diri, maka akan datang waktu yang sudah dijanjikan Allah untuk mengazab para musyrikin dan orang-orang kafir itu. Kalau ketentuan batas waktu itu sudah tiba, mereka harus mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya. Mereka harus menanggung azab Allah akibat perbuatan mereka sendiri. Pada waktu itu, tidak ada seorang pun yang dapat membelanya, dan tidak ada suatu tempat pun yang dapat dijadikan untuk berlindung.

Ayat 59

Dalam ayat ini, Allah mengingatkan kembali negeri-negeri yang telah dibinasakan beserta penduduknya, karena tetap berbuat zalim dan kufur kepada ayat-ayat Allah, kendatipun telah diberi peringatan dan ancaman oleh para rasul yang diutus kepada mereka. Negeri-negeri beserta penduduknya itu antara lain: Madyan (negeri kaum Syuaib), Hijr (negeri kaum ¤amud), al-Ahqaf (negeri kaum ‘Ad), dan Sodom (negeri kaum Luth).

Kebinasaan mereka itu sengaja disebutkan kembali dengan maksud bahwa kendati Allah memiliki sifat Pengampun dan Mahaluas Rahmat-Nya, namun kalau suatu bangsa atau penduduk suatu negeri tetap berbuat zalim dan kufur kepada ayat-ayat Allah, mereka akan dihancurkan beserta negerinya.

Selain dari sifat tersebut di atas, Allah juga memiliki sifat Maha Adil. Dia akan menjatuhkan azab dan hukuman sesuai dengan tindak perbuatan hamba-Nya itu sendiri. Hal ini pun berlaku atas kaum kafir dan musyrikin Quraisy. Kalau sudah datang waktunya, maka para pemuka kaum Quraisy Mekah itu dihancurkan Tuhan, yaitu pada Perang Badar.

Peringatan ini dimaksudkan juga untuk menambah kuat dan mantap keimanan orang-orang yang sudah beriman.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 60


Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 54-56

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 54-56 ini mengisahkan tentang macam-macam perumpamaan dalam Alquran sebagai bentuk pembelajaran bagi manusia sebagai makhluk yang paling suka membantah.

Ayat 54

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 54-56 khususnya pada ayat ini menjelaskan bahwa berbagai macam perumpamaan dikemukakan Allah di dalam Al-Qur’an, baik berupa perbandingan terhadap sesuatu ataupun berbentuk kisah. Hal ini dimaksudkan sebagai cermin perbandingan bagi manusia, sebab ia mempunyai akal pikiran. Dari binatang kecil, seperti nyamuk, semut, lalat, dan lebah, sampai benda-benda alam yang besar, seperti gunung dan samudera, dijadikan contoh untuk menarik perhatian manusia.

Namun demikian, manusia adalah makhluk yang paling suka membantah. Artinya, ketika Allah menyadarkan akal pikiran dan budi luhurnya dengan berbagai macam perumpamaan itu, mereka pun mencari-cari dalih untuk mengingkari dan tidak mau mematuhinya. Hal itu disebabkan oleh pengaruh hawa nafsu, kesombongan, dan tipu daya setan dan Iblis.

Dalam suatu hadis diriwayatkan bahwa Rasulullah saw datang kepada Ali dan Fatimah pada suatu malam dan bertanya:

اَلاَ تُصَلِّيَانِ؟ فَقُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّمَا أَنْفُسُنَا بِيَدِ اللهِ فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثَنَا، فَانْصَرَفَ حِيْنَ قُلْتُ ذٰلِكَ وَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيَّ شَيْئًا ثُمَّ سَمِعْتُهُ وَهُوَ مُوَلٍّ يَضْرِبُ فَخِذَهُ وَيَقُوْلُ: وَكَانَ الْإِنْسَانَ أَكْثَرَ شَيْئٍ جَدَلاً. (رواه البخاري عن علي بن أبي طالب)

“Apakah kamu berdua salat?” Maka saya (Ali) menjawab, “Hai Rasulullah, diri kami ini sesungguhnya ada di tangan Allah, kalau dia mau membangkitkan kami, tentu Dia sanggup membangkitkan kami.” Maka beliau berpaling ketika saya mengucapkan itu, dan beliau tidak menjawab perkataan saya sedikit pun. Kemudian saya mendengar beliau memukul pahanya sendiri sambil berpaling dan mengucapkan, “Tetapi manusia itu adalah makhluk yang paling banyak membantah.” (Riwayat al-Bukhari dari Ali bin Abu Thalib)

Ayat 55

Setelah cukup banyak macam perumpamaan dan kias perbandingan dipaparkan dalam Al-Qur’an, tetapi ternyata manusia banyak yang ingkar, maka Allah kembali memberikan penjelasan tentang kesombongan orang-orang kafir pada masa dahulu. Mereka mendustakan rasul dan tidak mau mengikuti petunjuk-petunjuk yang dibawanya.

Kendati mereka telah menyaksikan sendiri tanda-tanda dan bukti-bukti yang jelas tentang kebenaran petunjuk-petunjuk itu, tetapi mereka tidak juga insaf dan tetap tidak mau mengikutinya. Padahal kalau mereka mau mengikuti petunjuk para rasul dan meninggalkan kemusyrikan, mau mohon ampun kepada Allah, dan bertobat atas kemaksiatan yang dilakukannya pada waktu yang silam, niscaya mereka akan diberi ampunan. Tetapi semua itu tidak mereka kerjakan.

Demikian pula kaum musyrikin Quraisy, mereka tidak mau mengikuti petunjuk Al-Qur’an, karena sifat ingkar dan keras kepala yang telah mengakar pada jiwa mereka. Sifat inilah yang mendorong mereka meminta ditimpakan siksaan atas mereka, sebagaimana yang pernah ditimpakan kepada orang-orang yang terdahulu, yaitu azab yang membinasakan mereka sampai ke akar-akarnya (azab isti’shal), atau azab yang ditimpakan kepada mereka berturut-turut, azab demi azab dengan nyata.

Permintaan orang-orang musyrik Quraisy yang menentang Allah dan mengejek Rasulullah saw itu diterangkan oleh Allah swt dalam firman-Nya:

وَاِذْ قَالُوا اللهم  اِنْ كَانَ هٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَاَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ اَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ اَلِيْمٍ

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, ”Ya Allah, jika (Al-Qur’an) ini benar (wahyu) dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.” (al-Anfal/8: 32); Sikap mereka yang demikian itu menunjukkan kekafiran yang berlebihan yang mencelakakan bagi diri mereka sendiri.

Ayat 56

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tugas para rasul-Nya, yaitu menyampaikan petunjuk dan menyadarkan manusia untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan dua cara:

  1. Dengan cara tabsyir, yaitu menyampaikan berita-berita yang menggembirakan. Barang siapa yang menuruti dan menaati petunjuk Allah, niscaya Dia akan memberikan keselamatan di dunia dan di akhirat.
  2. Dengan cara indzar, yaitu menyampaikan berita-berita yang berisi ancaman. Barang siapa yang tidak mau mematuhi petunjuk Allah, tetapi menuruti setan dan hawa nafsu, maka dia akan mendapatkan kerugian dan kecelakaan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Petunjuk yang dibawa para rasul adalah petunjuk kebenaran yang mutlak karena dan datang dari Allah. Barang siapa membantahnya seperti yang dilakukan oleh orang-orang kafir, berarti ia membantah kebenaran mutlak. Dengan kata lain, orang-orang kafir itu membuat kesalahan mutlak.

Apalagi cara yang mereka tempuh adalah cara yang salah. Mereka tidak menempuh jalan yang lurus, berarti mereka berada pada jalan yang bengkok. Mereka menentang kesucian, berarti mereka menempuh jalan yang kotor. Keinginan mereka untuk menumpas kebenaran hanya akan sia-sia. Sebab kebenaran akan tetap tegak.

Inilah yang selalu dialami oleh setiap rasul dalam mengemban tugasnya menyampaikan kebenaran dan petunjuk-petunjuk Allah. Para rasul mendapat tantangan dan perlawanan dari orang-orang yang sombong. Seruan kebenaran dan ancaman Allah hanya jadi bahan ejekan dan olok-olokan mereka. Bahkan tidak jarang terjadi, kalau orang-orang kafir itu terdesak dan kewalahan, mereka mengeluarkan ancaman-ancaman yang langsung ditujukan kepada para rasul atau pengikut-pengikutnya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al Kahfi ayat 57-59


Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 51-53

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 51-53 menjelaskan bahwa setan tidak berhak untuk menjadi pelindung bagi manusia, sebab Allah maha kuasa atas segala sesuatu di alam semesta ini. Dalam Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 51-53 ini dikisahkan pula bahwa ketika penciptaan manusia setan tidak didatangkan untuk menyaksikan. Kemudian Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 51-53 ini juga mengingatkan kembali kepada manusia untuk mempercayai hari akhir.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-kahfi ayat 50


Ayat 51

Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan tentang kekuasaan-Nya, dan menyatakan bahwa setan tidak berhak untuk menjadi pembimbing atau pelindung bagi manusia. Setan tidak mempunyai hak sebagai pelindung, tidak hanya disebabkan kejadiannya dari nyala api saja tetapi juga karena mereka tidak mempunyai saham dalam menciptakan langit dan bumi ini.

Allah swt menegaskan bahwa Iblis dan setan tidak dihadirkan untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi ketika Allah menciptakannya, bahkan tidak pula penciptaan diri mereka sendiri, dan tidak pula sebagian mereka menyaksikan penciptaan sebagian yang lain. Bilamana mereka tidak punya andil dalam penciptaan itu, bagaimana mungkin mereka memberikan pertolongan dalam penciptaan tersebut.

Dengan demikian, patutkah setan-setan itu dijadikan sekutu Allah? Allah swt dalam menciptakan langit dan bumi ini tidak pernah sama sekali menjadikan setan-setan, berhala-berhala, dan sembahan-sembahan lainnya sebagai penolong. Hanya Allah yang menciptakan alam semesta ini, tanpa pertolongan siapapun.

Oleh karena itu, setan-setan dan berhala-berhala tidak patut dijadikan sekutu bagi Allah dalam peribadatan seorang hamba-Nya. Sebab, yang disembah hanyalah yang ikut menciptakan bumi dan langit. Sekutu dalam penciptaan, sekutu pula dalam menerima ibadah. Dan sebaliknya tidak bersekutu dalam penciptaan, tidak bersekutu pula dalam menerima ibadah. Maka yang berhak menerima ibadah hanyalah Allah swt.

Allah swt berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِۚ لَا يَمْلِكُوْنَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيْهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَّمَا لَهٗ مِنْهُمْ مِّنْ ظَهِيْرٍ   ٢٢

Katakanlah (Muhammad), ”Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah! Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai peran serta dalam (penciptaan) langit dan bumi dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (Saba/34: 22);

Ayat 52

Allah dalam ayat ini mengingatkan Rasulullah tentang hari kiamat. Allah menyeru kaum musyrikin dengan seruannya, “Cobalah panggil orang-orang atau sembahan-sembahan yang kamu muliakan ketika di dunia, dan kamu anggap sebagai sekutu-Ku. Barangkali mereka sanggup memberikan perlindungan dan syafaat kepadamu, lalu melepaskan kamu dari azab yang sedang kamu hadapi saat ini.”

Lalu mereka segera memanggil sembahan-sembahan itu untuk meminta pertolongan dan memberi syafaat kepada mereka. Akan tetapi, ternyata sedikit pun sembahan-sembahan itu tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong mereka, bahkan tidak menjawab panggilan itu. Allah menjadikan antara orang-orang kafir itu dengan sembahan-sembahan mereka, tempat kebinasaan (maubiq/api neraka).

Maubiq dalam ayat ini dapat pula berarti permusuhan, maksudnya terjadi permusuhan antara sembahan-sembahan itu dan penyembah-penyembahnya, sebagaimana dalam firman Allah swt:

وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لِّيَكُوْنُوْا لَهُمْ عِزًّا ۙ  ٨١  كَلَّا ۗسَيَكْفُرُوْنَ بِعِبَادَتِهِمْ وَيَكُوْنُوْنَ عَلَيْهِمْ ضِدًّا ࣖ  ٨٢

Dan mereka telah memilih tuhan-tuhan selain Allah, agar tuhan-tuhan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sama sekali tidak! Kelak mereka (sesembahan) itu akan mengingkari penyembahan mereka terhadapnya, dan akan menjadi musuh bagi mereka. (Maryam/19: 81-82)

Ayat 53

Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan bahwa orang-orang yang berdosa, yakni penyembah-penyembah berhala atau selain Allah, menyaksikan api neraka pada hari kiamat. Mereka menyadari bahwa mereka akan memasuki neraka itu, dan tidak ada jalan keluar dari ancaman itu sama sekali.

Allah telah menetapkan azab kepada mereka. Tidak ada kemungkinan lagi bagi mereka untuk menghindarkan diri dari azab, karena sudah terkepung dari segala penjuru. Alangkah besar duka cita mereka itu ketika menunggu hukuman yang dijatuhkan atas diri mereka.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 54-56


 

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 50

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 50 mengisahkan tentang perintah Allah kepada malaikat untuk sujud kepada Adam. Sedangkan Iblis menolak perintah Allah sebab merasa dirinya lebih mulia dari manusia yang diciptakan dari tanah. Dalam tafsir Surah Al-Kahfi ayat 50 ini dijelaskan pula bahwa kesombongan iblis tersebut sebab dia merasa penciptaan Api lebih tinggi derajatnya ketimbang tanah.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 49


Ayat 50

Dalam ayat ini dijelaskan ketika Allah memerintahkan malaikat untuk sujud kepada Adam, mereka menaati perintah itu dan sujud kepada-nya. Hanya Iblis yang menolak perintah itu. Malaikat yang selalu taat kepada Allah termasuk makhluk gaib, tidak seorangpun yang mengetahui hakikat-nya. Menurut penjelasan Al-Qur’an, malaikat terbagi menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan mempunyai tugas masing-masing.

Dalam Islam, yang memberi ilham kepada manusia untuk cenderung kepada kebenaran dan kebaikan adalah malaikat, sebagaimana yang terjadi pada kisah Maryam a.s. Sedangkan yang menggoda dan menimbulkan was-was dalam hati manusia ialah setan. Dia ingin mendorong manusia berbuat kejahatan, sebagaimana firman Allah swt:

اَلشَّيْطٰنُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاۤءِ ۚ

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir). (al-Baqarah/2: 268)

Malaikat dan setan adalah makhluk rohani yang memiliki hubungan dengan jiwa manusia, namun tidak diketahui hakikatnya. Manusia harus beriman sebagaimana yang diperintahkan dalam rukun iman tanpa menambah dan menguranginya.

Semua manusia bisa merasakan bahwa jika ia bermaksud mengerjakan sesuatu, terjadi pergolakan dalam jiwanya antara cenderung kepada kebaikan atau kejahatan, hingga keinginan yang satu mengalahkan yang lain. Jika kita cenderung kepada kebaikan, itu adalah akibat dorongan malaikat, dan jika cenderung kepada kejahatan, maka itu adalah dorongan setan.

Dilihat dari segi kejadian, keduanya berasal dari unsur yang berbeda. Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan jin atau setan diciptakan dari lidah api. Firman Allah swt:

وَخَلَقَ الْجَاۤنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍۚ

Dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap. (ar-Rahman/55: 15)

Sabda Rasulullah saw:

خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُوْرٍ وَخُلِقَ إِبْلِيْسُ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ. (رواه مسلم عن عائشة)

Malaikat diciptakan dari cahaya, Iblis diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan seperti yang diceritakan kepadamu. (Riwayat Muslim dari ‘A’isyah r.a.)

Iblis menolak sujud kepada Adam karena menurutnya, unsur api lebih tinggi dari tanah. Karena Adam dibuat dari unsur tanah, Iblis merasa hina jika disuruh sujud dan hormat kepadanya, sebagaimana yang diceritakan Allah dalam firman-Nya:

قَالَ مَا مَنَعَكَ اَلَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗقَالَ اَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّارٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

(Allah) berfirman, ”Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, ”Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (al-A’raf/7: 12)

Pendapat Iblis ini sangat keliru karena ketinggian derajat dan kemuliaan tidak tergantung pada asal usul, melainkan pada ketaatan kepada Allah. Karena tidak mau sujud kepada Adam, maka Iblis menjadi fasik dalam artian tidak taat kepada perintah Tuhan. Iblis menolak untuk taat karena isi perintah Allah tersebut berlawanan dengan jalan pikirannya. Jadi, dia keberatan untuk sujud kepada Adam. Iblis memiliki bakat suka membang-kang dan selalu melakukan perlawanan sesuai dengan dasar kejadiannya dari nyala api.

Sesudah menjelaskan kefasikan Iblis, Tuhan mengingatkan manusia agar jangan sampai menempatkan Iblis dan keturunannya sebagai pemimpin, karena mereka adalah musuh manusia dan musuh Tuhan. Banyak riwayat, baik yang datang dari Nabi Muhammad saw maupun dari sahabat, yang menunjukkan Iblis dan keturunannya (setan) terus-menerus berkembang-biak, dan umat manusia diingatkan agar tidak tergoda rayuannya untuk mengikutinya.

Setan bertebaran di muka bumi ini untuk menggoda manusia. Hanya manusia yang zalim yang tunduk kepada godaan setan dan menjadikan mereka sebagai pemimpin dan pelindung. Sungguh, setan itu seburuk-buruk makhluk Allah. Orang-orang yang mengikuti setan dikatakan zalim karena Allah swt yang telah menurunkan rahmat dan kenikmatan kepada mereka ditinggalkan dan lebih memilih ajakan setan.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 51-53


Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 60

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 60 menceritakan tentang perjalanan Nabi Musa menuju dua laut, mulai dari durasi waktu yang diperlukannya hingga asal tempat itu ditemukan. Selengkapnya Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 60 di bawah ini….

Ayat 60

Dalam Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 60 ini, Allah menceritakan betapa gigihnya tekad Nabi Musa a.s. untuk sampai ke tempat bertemunya dua laut. Berapa tahun dan sampai kapan pun perjalanan itu harus ditempuh, tidak menjadi soal baginya, asal tempat itu ditemukan dan yang dicari didapatkan.

Penyebab Nabi Musa a.s. begitu gigih untuk mencari tempat itu ialah beliau mendapat teguran dan perintah dari Allah, seperti yang diriwayatkan dalam hadis yang antara lain berbunyi sebagai berikut:

إِنَّ مُوْسَى قَالَ خَطِيْبًا فِي بَنِي إِسْرَائِيْلَ فَسُئِلَ أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ؟ قَالَ أَنَا، فَعَتَبَ اللهُ عَلَيْهِ إِذْلَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَيْهِ فَأَوْحَى اللهُ إِلَيْهِ إِنَّ لِيْ عَبْدًا بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ. (رواه البخاري عن أبي بن كعب)

Bahwasanya Musa a.s. (pada suatu hari) berkhutbah di hadapan Bani Israil. Kemudian ada orang bertanya kepada beliau, “Siapakah manusia yang paling alim.” Beliau menjawab, “Aku.” Maka Allah menegurnya karena dia tidak mengembalikan ilmu itu kepada Allah Ta’ala. Kemudian Allah mewahyukan kepadanya, “Aku mempunyai seorang hamba di tempat pertemuan dua laut yang lebih alim daripadamu.” (Riwayat al-Bukhari dari Ubay bin Ka’ab)

Dalam wahyu tersebut, Allah menyuruh Nabi Musa agar menemui orang itu dengan membawa seekor ikan dalam kampil (keranjang), dan dimana saja ikan itu lepas dan hilang di situlah orang itu ditemukan. Lalu Musa a.s. pergi menemui orang yang disebutkan itu, dan dalam hadis tidak diterangkan di mana tempatnya. Demikianlah kebulatan tekad yang dimiliki oleh seorang yang berhati dekat dengan Tuhannya. Dengan tangkas dan giat, dia melaksanakan seruan-Nya.

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa yang dimaksud Musa dalam ayat ini adalah Nabi Musa bin Imran, nabi Bani Israil yang Allah turunkan kepadanya kitab Taurat yang berisi syariat. Nabi Musa adalah seorang nabi yang mempunyai berbagai mukjizat yang luar biasa.

Alasan mereka antara lain ialah Musa yang disebut-sebut dalam Al-Qur’an ialah Musa yang menerima Kitab Taurat. Dengan demikian, Musa di sini pun tentu Musa yang menerima Taurat itu pula. Jika yang dimaksud dalam ayat ini adalah Musa yang lain, tentu ada penjelasannya.

Menurut Nauf al-Bukali, yang dimaksud Musa di sini ialah Musa bin Misya bin Yusuf bin Yakub, yaitu seorang nabi yang diangkat sebelum Nabi Musa bin Imran. Alasan mereka antara lain:

  1. Tidak masuk akal kalau yang dimaksud dengan Musa di sini ialah Nabi Musa bin Imran. Sebab beliau adalah seorang nabi yang telah pernah berbicara langsung dengan Allah, menerima kitab Taurat dari-Nya, dan dapat mengalahkan musuhnya dengan mukjizat yang luar biasa. Bagaimana mungkin dapat diterima akal, seorang yang luar biasa seperti itu disuruh Allah pergi menemui orang lain dan masih harus berguru kepadanya.
  2. Musa bin Imran, nabi Bani Israil itu, setelah keluar dari Mesir dan pergi ke Gurun Pasir Sinai, tidak pernah meninggalkan tempat itu dan beliau wafat di sana.

Alasan-alasan mereka ini dapat dibantah. Seseorang bagaimanapun tinggi ilmu pengetahuannya, tentu saja masih ada segi kelemahannya. Demikian pula halnya dengan Nabi Musa, tentu ada segi kekurangan dan kelemahannya. Pada segi inilah kelebihan Nabi Khidir dari Nabi Musa. Inilah yang harus dipelajari Nabi Musa darinya, yaitu hal-hal yang diceritakan Allah swt pada ayat-ayat berikut.

Kepergian Nabi Musa dari Semenanjung Sinai boleh jadi tidak diberi-tahukan kepada Bani Israil, sehingga mereka menyangka kepergiannya untuk bermunajat kepada Allah. Setelah kembali, Nabi Musa tidak menceritakan peristiwa pertemuannya dengan Khidir karena peristiwa itu boleh jadi belum dapat dipahami kaumnya. Oleh karena itu, dipesankan kepada pemuda yang ikut bersamanya agar merahasiakannya.

Pemuda yang menyertai Nabi Musa ini bernama Yusya’ bin Nun bin Afratim bin Yusuf a.s. Dia adalah pembantu dan muridnya. Yusya’ inilah yang memimpin Bani Israil memasuki Palestina ketika Nabi Musa telah meninggal dunia.

Dalam ayat ini, Allah telah memberikan contoh tentang kesopanan menurut ajaran Islam, yaitu untuk memanggil bujang atau pembantu rumah tangganya dengan sebutan fata (pemuda) bagi pembantu lelaki, dan fatat bagi pembantu perempuan. Nabi Muhammad saw pernah bersabda:

لاَ يَقُوْلُ أَحَدُكُمْ عَبْدِيْ وَلاَ أَمَتِيْ وَلْيَقُلْ فَتَايَ وَ فَتَاتِيْ. (رواه البخاري و مسلم عن أبي هريرة)

Janganlah seseorang di antara kamu memanggil hambaku atau hamba perempuanku, tetapi hendaklah memanggil fataya atau fatati. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Mengenai orang yang hendak dijumpai oleh Nabi Musa a.s. adalah Balya bin Malkan. Kebanyakan para ahli tafsir menjulukinya dengan sebutan Khidir. Mereka juga berpendapat bahwa beliau seorang nabi dengan alasan firman Allah swt:

اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا  ٦٥  قَالَ لَهٗ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰٓى اَRنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا  ٦٦

…yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya, ”Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?” (al-Kahf/18: 65-66)

Yang dimaksud dengan rahmat dalam ayat ini ialah wahyu kenabian. Sebab sambungan (akhir) ayat ini menyebutkan rahmat itu langsung diajarkan dari sisi Allah tanpa perantara dan yang berhak menerima seperti itu hanyalah para nabi. Lagi pula dalam ayat berikutnya disebutkan supaya (Nabi) Khidir mengajarkan ilmu yang benar kepada Nabi Musa. Tidak ada nabi yang belajar kepada bukan nabi. Bahkan pada ayat 82 juga disebutkan:

وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ

Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. (al-Kahf/18: 82)

Maksud ayat di atas adalah setelah Nabi Musa dan Yusya’ mengikutinya, Nabi Khidir melakukan yang aneh-aneh dan tidak masuk akal. Tetapi waktu Nabi Musa bertanya kepadanya, demikianlah jawabannya. Ini berarti bahwa tindakan Nabi Khidir itu berdasarkan wahyu dari Allah, dan ini adalah satu bukti yang kuat bagi kenabiannya.

Dari uraian-uraian di atas dapat diambil kesimpulan dan pelajaran bahwa rendah hati itu mempunyai nilai yang jauh lebih baik daripada sombong.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al Kahfi ayat 61-65


Tafsir Surah Al-A’la Ayat 14-15: Idul Fitri sebagai Momentum Manusia yang Beruntung

0
idul fitri sebagai momentum mencapai manusia yang beruntung
idul fitri sebagai momentum mencapai manusia yang beruntung

Idul Fitri adalah proses ritual keagamaan sekaligus ritual sosial untuk mencapai derajat manusia yang beruntung. Isyarat ini ditunjukkan oleh ayat Al-Quran, salah satunya dalam surah Al-A’la ayat 14-15.

Kenapa Idul Fitri penting untuk diperhatikan oleh setiap insan Muslim? Karena di dalamnya terdapat proses untuk mencapai derajat manusia yang beruntung. Keberuntungan tersebut setelah melewati ibadah puasa Ramadhan dan diiringi dengan rangkaian Idul Fitri.

Allah telah menegaskan dalam Al-Quran bahwa orang yang menunaikan zakat, menyebut (mengagungkan) Allah, dan melaksanakan salat ia termasuk manusia yang beruntung. Kandungan tersebut terdapat dalam surah al-A’la ayat 14-15:

قَدۡ أَفۡلَحَ مَن تَزَكَّىٰ  ١٤ وَذَكَرَ ٱسۡمَ رَبِّهِۦ فَصَلَّىَّ  ١٥

Artinya: Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) (14) dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang (15)

Dalam surah Al-A’la ayat 14-15 tersebut, di awali dengan bentuk tahqiq “menyatakan tanpa keraguan” ayat di atas mengisyaratkan bahwa tiga rangkaian tersebut akan mengatarkan manusia ke puncak kebahagiaan. Adapun tiga rangkaian tersebut terdapat dalam momen Idul Fitri, sehingga dapat kita sederhanakan Idul Fitri ialah momen meraih kebahagiaan dan keberuntungan.

Keberuntungan “falaha” menurut Muhammad Sayyid Thanthawi adalah sampainya seseorang kepada apa yang ia inginkan, berupa kemenangan (keberuntungan) dan kemanfaatan. Al-Tafsīr al-Wasith li al-Qur’an al-Karīm (15:368).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Makna Shalat Ied Pada Hari Raya Idul Fitri

Tafsir surah Al-A’la ayat 14-15: Pertama, Membersihkan Diri

Membersihkan diri dalam ayat tersebut terdapat di dalam kata tazakka, dari kata zakaa (زكي) yang berarti ‘bersih’, karena dalam ayat tersebut ada penambahan dalam lafaznya yang berada di huruf ‘ك’ maka di dalam maknanya juga berbeda; tambahnya suatu lafaz berarti menunjukkan bertambahnya makna.

Apabila dilihat secara mendalam, salah satu prosesi dari Idul Fitri ada istilah zakat fitrah. Kata zakat dalam konteks bahasa Arab, pada dasarnya diambil dari kata زكي; dengan mempunyai makna tujuan adanya zakat fitrah untuk membersihkan badan. Dengan demikian, tidak heran ulama ahli fiqh membagi zakat dalam dua diskursus, yaitu zakat mal (harta) dan zakat badan (zakat fitrah).

Dengan demikian, dalam ayat 14 tersebut dapat diartikan dengan “beruntunglah orang yang membersihkan diri (zakat harta)”. Pendapat tersebut sebagaimana yang dipilih oleh Abu al-Ahwash yang dikutip oleh Imam al-Mawardi dalam kitab tafsirnya, al-Nukāt wa al-‘Uyūn (6:255).

Oleh karena itu, apabila menggunakan perspektif tujuan dan pendekatan bahasa maka zakat fitrah sebagai “membersihkan diri” tidak bisa dihindarkan. Karenanya, walaupun secara syari’at (pelaksanaan, waktu) berbeda antara zakat harta dan badan, namun dalam tujuannya sama yaitu membersihkan diri. Disamping itu dimensi yang terdapat di dalamnya meniscayakan dimensi sosial.

Baca Juga: Surah at-Taubah [9] Ayat 103: Tujuan Zakat Menurut Al-Qur’an

Tafsir surah Al-A’la ayat 14-15: Kedua, Mengingat Nama Tuhannya

Imam Al-Mawardi mencatat ada enam makna dalam وَذَكَرَ ٱسۡمَ رَبِّهِۦ, yaitu; pertama meng-Esakan Allah; kedua, berdoa dan berharap kepada Allah; ketiga, beristigfar dan bertaubat; keempat, mengingat-Nya dengan hati ketika salat dan takut akan siksa-nya, berharap kemurahannya (balasan), dengan berharap dan takut tersebut diharapkan mendapatkan khusyu (konsentrasi) di dalam melaksanakan salatnya; kelima, menyebut (mengingat) Allah tatkala takbiratul ihram; keenam, memulai bacaan surat dengan nama Allah (bismillah). al-Nukāt wa al-‘Uyūn (6:255).

Benang merahnya, keragaman pendapat mufasir di atas dapat kita fahami bahwa semua praktik yang bertujuan untuk mengingat, menyebut, dan mengagungkan Allah maka itu termasuk dalam penggalan ayat وَذَكَرَ ٱسۡمَ رَبِّهِۦ, yang akan mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan. Artinya orang yang bertakbir pada malam Idul Fitri dengan menyebut nama Allah dan mengagungkan dengan lantunan takbir merupakan proses mengingat Allah, dan termasuk dalam ayat di atas.

Perihal makna ‘mengingat’ yang dikhususkan dalam konteks salat, sebagaimana makna-makna di atas, hal tersebut dilihat dari lafaz setelahnya “فَصَلَّى” yang hubungan dan maknanya satu kesatuan, yakni dalam rangka mentauhidkan, keikhlasan, dan ketaatan kepada Allah.

Baca Juga: Menelisik Makna Idulfitri: Makna Ied dan Makna Fitri

Tafsir surah Al-A’la ayat 14-15: Ketiga, Menjaga Salat

Wahbah al-Zuhaili dan mayoritas mufasir menafsirkan ‘salat’ dalam ayat tersebut ialah salat lima waktu.

هِيَ الصَلَوَاتُ الخَمْسُ والمُحَافَظَةُ عَلَيْهَا وَالْأِهْتِمَامُ بِهَا

Salat yang dimaksud ialah menjaga dan memerhatikan salat lima waktu. Al-Tafsīr  al-Munīr fī al-‘Aqīdah wa al-Syarī’ah wa al-Manhaj (30:198).

Akan tetapi Abū Sa’īd al-Khudri berpendapat bahwa maksud salat dalam ayat tersebut ialah salat ‘id. Masuk akal juga, apabila kita cermati secara seksama, teks dalam ayat tersebut menggunakan “fa” huruf athaf yang bermakna ‘kemudian’. Jadi, pelaksanaan salat tersebut setelah melakukan zakat dan mengingat Allah.

Pendapat tersebut juga diperkuat oleh pendapat Abū al-Ahwash, yang mengatakan bahwa “mengerjakan salat setelah zakat”. Walaupun al-Ahwash tidak menyebutkan secara spesifik zakat apa dan salat apa yang dimaksud, namun melihat keumuman ayat pendapatnya, dapat diartikan setelah setelah menunaikan zakat fitrah kemudian salat idul fitri.

Bahkan Fakhruddin al-Razi secara filosofis mempertanyakan kenapa dalam ayat tersebut penyebutan zakat didahulukan dari pada salat, padahal kebanyakan ayat al-Quran mengatakan sebaliknya. Ternyata dalam melaksanakan dua kewajiban itu, kemungkinan besar ada orang yang menunaikan zakat terlebih dahulu; sebagaimana jawaban dari al-Wāhidiy.

Alhasil, Idul Fitri secara global merupakan momen yang berisi tiga prosesi, yaitu zakat fitrah, mengagungkan Allah, dan melaksanakan salat Idul Fitri. Oleh karena itu, orang yang benar-benar menjaga dan memeriahkan hari raya Idul Fitri dengan tiga prosesi (di atas) maka ia termasuk orang yang beruntung.

Wallahu A’lam.

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 49

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 49 ini menerangkan bahwa salah satu peristiwa yang terjadi di hari kiamat adalah diberikannya buku catatan amal semasa hidupnya.

Ayat 49

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 49 ini, Allah swt menambahkan keterangan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di hari kiamat, yaitu buku catatan amal perbuatan seseorang semasa hidupnya di dunia diberikan kepadanya. Isi catatan itu ada yang baik dan ada yang buruk, dan ada yang diberikan dari sebelah kanan, ada pula yang dari sebelah kiri.

Orang-orang mukmin dan beramal saleh menerimanya dari sebelah kanan, lalu ia melihat isinya. Ternyata kebaikannya lebih besar dari kejahatannya, dan kejahatan itu segera diampuni oleh Allah swt. Maka dia dimasukkan ke dalam surga, sebagaimana firman Allah swt:

فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖ فَيَقُوْلُ هَاۤؤُمُ اقْرَءُوْا كِتٰبِيَهْۚ   ١٩  اِنِّيْ ظَنَنْتُ اَنِّيْ مُلٰقٍ حِسَابِيَهْۚ  ٢٠  فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۚ  ٢١  فِيْ جَنَّةٍ عَالِيَةٍۙ  ٢٢

Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, ”Ambillah, bacalah kitabku (ini).” Sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridai, dalam surga yang tinggi. (al-Haqqah/69: 19-22)

Kepada orang kafir dan orang yang bersalah, kitab catatan amal mereka di dunia diberikan dari sebelah kiri. Lalu mereka melihat isinya, dan ternyata penuh dengan catatan dari berbagai kejahatan, baik berupa perbuatan ataupun perkataan. Bukti-bukti demikian itu menimbulkan rasa ketakutan di hati mereka terhadap hukuman Allah dan kecaman-kecaman manusia.

Dengan penuh penyesalan mereka berkata, “Aduhai, celaka kami, mengapa buku catatan ini sedikit pun tidak meninggalkan kesalahan kami yang kecil apalagi yang besar, semuanya dicatatnya.” Keadaan mereka diterangkan Allah lebih jauh dengan firman-Nya:

وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِشِمَالِهٖ ەۙ فَيَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ لَمْ اُوْتَ كِتٰبِيَهْۚ  ٢٥  وَلَمْ اَدْرِ مَا حِسَابِيَهْۚ  ٢٦  يٰلَيْتَهَا كَانَتِ الْقَاضِيَةَۚ  ٢٧  مَآ اَغْنٰى عَنِّيْ مَالِيَهْۚ   ٢٨  هَلَكَ عَنِّيْ سُلْطٰنِيَهْۚ  ٢٩  خُذُوْهُ فَغُلُّوْهُۙ  ٣٠  ثُمَّ الْجَحِيْمَ صَلُّوْهُۙ  ٣١

Dan adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kirinya, maka dia berkata, ”Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku, sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku, Wahai, kiranya (kematian) itulah yang menyudahi segala sesuatu. Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku.” (Allah berfirman), ”Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.” Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. (al-Haqqah/69: 25-31)

Mereka mendapatkan segala tindakan mereka yang melanggar aturan agama dan kemanusiaan tertulis di hadapan mereka. Mereka lupa bahwa selama hidup di dunia ada malaikat-malaikat yang selalu mencatat dengan teliti segala perbuatan dan perkataan mereka. Firman Allah swt:

وَاِنَّ عَلَيْكُمْ لَحٰفِظِيْنَۙ  ١٠  كِرَامًا كَاتِبِيْنَۙ  ١١  يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ  ١٢

Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (amal perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. (al-Infithar/82: 10-12)

Semua perbuatan manusia sengaja ditulis dalam buku catatan amal untuk diperlihatkan kepada mereka pada hari kiamat. Firman Allah swt:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا  ۛوَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْۤءٍ ۛ

(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan…. (Ali ‘Imran/3: 30)

Dalam Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 49 ini dijelaskan bahwa Tidak ada seorangpun pada hari kiamat itu yang teraniaya. Setiap amal perbuatan akan ditimbang betapapun kecilnya. Allah swt menjamin tegaknya keadilan pada hari itu. Firman-Nya:

وَنَضَعُ الْمَوَازِيْنَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔاۗ وَاِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ اَتَيْنَا بِهَاۗ وَكَفٰى بِنَا حَاسِبِيْنَ

Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan. (al-Anbiya’/21: 47)

Allah swt tidak akan merugikan hamba-hambanya, sebaliknya akan memberikan pengampunan kepada mereka yang bersalah, kecuali dosa kekufuran. Dia memberikan hukuman kepada mereka berdasar hikmah dan keadilan-Nya. Allah memberikan pahala bagi mereka yang taat, dan menjatuhkan hukuman bagi yang berbuat maksiat.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 50


 

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 47-48

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 47-48 menerangkan berbagai peristiwa yang terjadi pada hari kiamat.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 39-46 


Ayat 47

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 47-48 khususnya dalam ayat ini, Allah swt menerangkan berbagai peristiwa yang terjadi pada hari kiamat. Peristiwa-peristiwa itu antara lain:

Pada hari itu, Allah swt mencabut gunung-gunung dari cengkeraman bumi, sehingga hancur menjadi debu lalu diterbangkan ke udara sebagai-mana Allah menerbangkan awan. Dalam ayat yang lain Allah swt berfirman:

اِذَا رُجَّتِ الْاَرْضُ رَجًّاۙ   ٤  وَّبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّاۙ    ٥  فَكَانَتْ هَبَاۤءً مُّنْۢبَثًّاۙ   ٦

Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan. (al-Waqi’ah/56: 4-6)

Keadaan permukaan bumi ketika itu tampak polos. Tidak ada lagi sisa-sisa benda peradaban manusia, pohon-pohon kayu, sungai-sungai, dan laut yang selama ini terdapat di permukaan bumi. Semua manusia tampak jelas di hadapan Tuhan, tidak ada satu pun yang menutupi keadaan mereka seperti diterangkan Allah dalam firman-Nya:

وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّيْ نَسْفًا ۙ  ١٠٥  فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا ۙ  ١٠٦  لَّا تَرٰى فِيْهَا عِوَجًا وَّلَآ اَمْتًا ۗ  ١٠٧

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang gunung-gunung, maka katakanlah, ”Tuhanku akan menghancurkannya (pada hari Kiamat) sehancur-hancurnya, kemudian Dia akan menjadikan (bekas gunung-gunung) itu rata sama sekali, (Sehingga) kamu tidak akan melihat lagi ada tempat yang rendah dan yang tinggi di sana.” (Taha/20: 105-107)

Pada hari itu, Allah swt mengumpulkan umat manusia dari zaman awal sampai akhir, sesudah dibangkitkan dari kuburnya masing-masing. Tidak seorang pun pada hari itu yang ketinggalan untuk diperiksa, baik raja maupun rakyat. Keadaan demikian diterangkan Allah swt dalam firman-Nya:

قُلْ اِنَّ الْاَوَّلِيْنَ وَالْاٰخِرِيْنَۙ   ٤٩  لَمَجْمُوْعُوْنَۙ اِلٰى مِيْقَاتِ يَوْمٍ مَّعْلُوْمٍ   ٥٠

Katakanlah, ”(Ya), sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan yang kemudian, pasti semua akan dikumpulkan pada waktu tertentu, pada hari yang sudah dimaklumi. (al-Waqi’ah/56: 49-50)

Firman Allah swt:

ذٰلِكَ يَوْمٌ مَّجْمُوْعٌۙ لَّهُ النَّاسُ وَذٰلِكَ يَوْمٌ مَّشْهُوْدٌ

… Itulah hari ketika semua manusia dikumpulkan (untuk dihisab), dan itulah hari yang disaksikan  (oleh semua makhluk). (Hud/11: 103)

Rasulullah saw menceritakan pula keadaan hari yang dahsyat itu sebagai berikut:

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ يُحْشَرُ النَّاسُ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلاً فَقُلْتُ: اَلرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ جَمِيْعًا يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: اَلْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَهُمَّهُمْ ذٰلِكَ. (رواه مسلم)

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra bahwa dia berkata, “Aku dengar Rasulullah saw bersabda, “Pada hari kiamat itu manusia dikumpulkan (di Padang Mahsyar) berkaki telanjang, bertelanjang bulat, lagi tidak berkhitan.” Aku lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah antara laki-laki dan perempuan saling melihat satu sama lain?” Rasul saw menjawab, “Ya ‘Aisyah, urusan hari kiamat itu lebih dahsyat dari melihat satu sama lain.” (Riwayat Muslim dalam sahihnya)

Ayat 48

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 47-48 khususnya dalam ayat ini Allah swt menerangkan lagi apa yang terjadi pada hari kiamat itu, yaitu malaikat dan manusia dihadapkan kepada Allah dengan berbaris saf demi saf (barisan) seperti dalam salat jamaah, satu sama lain tidak saling menutupi, masing-masing dalam deretannya. Suasana mereka seperti pasukan di hadapan raja.

Lalu Allah menyatakan kepada mereka yang kafir dan ingkar kepada hari kiamat dengan pernyataan yang menggentarkan hati mereka, bahwa mereka didatangkan di hadapan Tuhan tanpa harta dan anak, bahkan tanpa pakaian dan sepatu seperti halnya pada waktu mereka diciptakan pertama kali. Sebagaimana diterangkan Allah pada ayat yang lain dengan firman-Nya:

وَلَقَدْ جِئْتُمُوْنَا فُرَادٰى كَمَا خَلَقْنٰكُمْ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّتَرَكْتُمْ مَّا خَوَّلْنٰكُمْ وَرَاۤءَ ظُهُوْرِكُمْۚ

Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya, dan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia). (al-An’am/6: 94)

Rasulullah saw menerangkan pula tentang peristiwa hari kiamat ini dengan sabdanya:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُنَادِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا عِبَادِيْ أَنَا اللهُ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ أَنَا أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ وَأَحْكَمُ الْحَاكِمِيْنَ وَأَسْرَعُ الْحَاسِبِيْنَ، أَحْضِرُوْا حُجَّتَكُمْ وَيَسِّرُوْا جَوَابَكُمْ فَإِنَّكُمْ مَسْئُوْلُوْنَ مُحَاسَبُوْنَ، يَا مَلاَئِكَتِيْ أَقِيْمُوْا عِبَادِيْ صُفُوْفًا عَلَى أَطْرَافِ أَنَامِلِ أَقْدَامِهِمْ لِلْحِسَابِ. (رواه ابن منده عن معاذ بن جبل)

Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi memanggil pada hari kiamat, “Hai hamba-hamba-Ku. Aku Allah tiada Tuhan kecuali Aku, yang Maha Pengasih di antara yang pengasih, yang Mahabijaksana di antara yang bijaksana, dan yang paling segera mengambil perhitungan. Siapkan alasan-alasanmu, mudahkanlah jawaban-jawabanmu. Kamu sekalian akan ditanya dan akan dihisab. Wahai malaikat-malaikat, aturlah hamba-hamba-Ku berdiri dalam barisan yang rapat untuk dihisab.” (Riwayat Ibnu Mandah dari Mu’adz bin Jabal)

Allah mencerca mereka karena dahulu menganggap bahwa hari kebang-kitan yang dijanjikan Tuhan itu tidak akan terjadi. Dulu mereka selalu menyombongkan diri di hadapan orang-orang Islam dengan harta kekayaan dan anak-anak mereka sambil mengingkari hari kiamat. Tapi pada saat hari kiamat itu terjadi, mereka tidak berkutik lagi.

(Tafsir Kemenag)


Baca Selanjutnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 49


Menelisik Makna Idulfitri: Makna Ied dan Makna Fitri

0
Idulfitri
Idulfitri

Hari ini, kita masih merasakan hari kemenangan umat Islam setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Hari raya Idulfitri merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa, yaitu menjadi manusia yang muttaqin dan kembali fitri kepada-Nya.

Pada kesempatan ini penulis akan mengulas makna Idulfitri dalam dua bagian, yaitu makna Ied dan makna Fitri.

Makna Ied

Ibnu Manzur dalam Lisan al-Arab mengatakan, ‘ied bermakna,

كل يوم فيه جَمْع، واشتقاقه من عاد يعود، كأنهم عادوا إليه

“Hari yang penuh kebersamaan (mampu menyatukan), di hari itu manusia kembali sebagaimana ia kembali (suci) kepada-Nya”.

Ibn Mandzur memberikan pemaknaan tersendiri terhadap redaksi isytaqaqa min ‘ada, yaitu hari di mana semua umat Islam kembali (suci dan bersatu), hari pengganti (kegundahan menjadi kebahagiaan), dan bukan permusuhan.

Sedangkan Syekh Azhari mendefinisikan kata ‘Ied dari perspektif orang Arab, yaitu waktu yang di mana semua umat Islam berbahagia dan sedih (karena Ramadhan telah berlalu) (al-waqtu al-ladzi ya’udu fihi al-farh wa al-hazn). Lebih dari itu, Ahmad Warson Munawwir dalam Kamus al-Munawwir-nya, kata ‘Ied memunculkan beragam makna, di antaranya raja’a (kembali), shara (menjadi), al-syai’ au al-amri (mengulangi), ‘alaihi (kembali kepada keadaan semula), dan nafa’ahu (mendatangkan manfaat, faedah).

Yusuf Qardhawi mendefinisikan yaum al-‘ied,

العيد هو أشبه بمحطة استراحة في رحلة الحياة، أو واحة في صحراء الحياة؛ ولذلك كانت الأمم تخترع المناسبات المختلفة من قديم لتحتفل فيها وتفرح وتمرح

“Tempat persinggahan dalam perjalanan hidup atau oase di padang pasir kehidupan. Oleh karena itu, umat manusia menciptakan sesuatu yang berbeda dari yang dulu guna bahagia, suka cita dan membahagiakan”

Hari kembali (yaum al-ied) merupakan hari kegembiraan dan kebahagiaan (yaum farah wa surur), sebaik-baik hari bagi orang mukmin baik di dunia maupun akhirat karena di hari itu keutamaan Allah swt dilimpahruahkan kepada seluruh umat Islam (afrah al-mu’minin fi dunyahum wa ukhrahum innama hiya bi fadhli maulahum) sebagaimana dilukiskan-Nya dalam Q.S. Yunus [10]: 58,

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Q.S. Yunus [10]: 58)

Imam al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkan redaksi bifadhillahi wa birahmatihi dengan mengutip riwayat qaul dari Ali bin al-Hasan al-Azdari, dari Abu Muawiyah, dari al-Hajjaj, dari ‘Atiyyah, dari Abi Said al-Khudri bahwa yang dimaksud bifadhlillahi ialah Al-Quran, sedangkan wa birahmatihi adalah menjadikan kamu sekalian ahl al-Quran.

Mufassir lain mengatakan, seperti al-Zamakhsyari, al-Qurtuby, bahwa yang dimaksud dengan karunia Allah swt (bifadhlillahi) adalah Islam, sementara rahmat-Nya (wa birahmatihi) adalah Al-Quran.

Tidak jauh berbeda, al-Razi misalnya, dalam Mafatih al-Ghaib, ia menafsiri ayat di atas,

والمقصود منه الإشارة إلى ما قرره حكماء الإسلام من أن السعادات الروحانية أفضل من السعادات الجسمانية وقد سبق في مواضع كثيرة من هذا الكتاب المبالغة في تقرير هذا المعنى

“Adapun maksud (isyarah) dari ayat di atas adalah merujuk kepada hukum Islam bahwa kebahagiaan ruhaniyah (al-sa’adah al-ruhaniyyah) lebih utama daripada kebahagiaan jasmaniyah atau materi (al-sa’adah al-jasmaniyyah) sebagaimana disinggung dalam kitab-kitab terdahulu”.

Berpijak pada beberapa mufasir di atas bahwa kata “Ied” memiliki beragama interpretasi. ‘Ied juga bermakna kembali kepada kesucian, rasa sedih karena ramadhan telah pergi, kembali kepada persatuan dan kesatuan, kembali kepada fitrah manusia (untuk beribadah kepada-Nya, kembali dari pribadi yang kurang baik (bahkan buruk) menuju pribadi yang muttaqin (bertakwa), dan tentunya semua itu memunculkan rasa kebahagiaan dan kegembiraan baik di dunia maupun akhirat.

Makna Fitri

Kata fitri secara bahasa berakar kata dari lafadz ifthar (afthara-yufthiru-iftharan), artinya makan pagi, sarapan, memberi makanan buka puasa. Ibn Mandzur dalam Lisan al-Arab, kata fitri bermakna naqidh al-shaum wa qad afthara (kebalikan puasa, yaitu berbuka). Kata fitri juga berdasar pada hadits Nabi saw yang termaktub dalam Fathul Bari, Sunan al-Tirmidzi, Shahih Ibn Khuzaiman Ibn Hibban wal Hakim yaitu

حدثنا محمد بن عبد الرحيم حدثنا سعيد بن سليمان قال حدثنا هشيم قال أخبرنا عبيد الله بن أبي بكر بن أنس عن أنس بن مالك قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يغدو يوم الفطر حتى يأكل تمرات وقال مرجأ بن رجاء حدثني عبيد الله قال حدثني أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم ويأكلهن وترا

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim, Sa’id bin Sulaiman berkata kepada kami Hasyim, telah mengabarkan kepada kami Ubaidillah bin Abi Bakr bin Anas dari Anas bin Malik berkata, “Tidak sekali pun Rasulullah saw pergi (untuk shalat) pada hari raya Idulfitri tanpa makan beberapa kurma terlebih dahulu”. Dalam riwayat lain, “Nabi saw makan kurma dalam jumlah yang ganjil”. (H.R. Bukhari)

Berpijak pada hadits di atas makna Idulfitri adalah hari raya umat Islam untuk kembali berbuka atau menikmati hidangan bersama-sama dengan penuh kebahagiaan dan suka cita. Maka tak heran, jika salah satu sunnah sebelum melaksanakan shalat Idulfitri adalah memakan makanan atau minum meski sedikit sebagai penanda bahwa sudah waktunya berbuka dan haram untuk berpuasa.

Makna lain yang kerapkali disepadankan adalah fitrah. Fitrah bermakna kembali suci, kembali kepada kejadian atau penciptaan awal manusia. Secara istilah, dalam Mausu’ah Mafahim al-Islamiyah al-Ammah sebagaimana dinukil dari Kitab al-Kulliyat li Abi al-Baqa dan Kamus al-Muhith, kata fitrah memiliki dua arti utama;

Pertama, terkait dengan penciptaan asal mula wujud manusia itu sendiri (tata’allaqu bil khalqi wal ibtida’i wal ikhtira’i lil maujudat). Allah swt telah menanamkan fitrah-Nya kepada manusia berupa rasa kasih sayang dan keselamatan bukan sebaliknya. Lebih dari itu, fitrah manusia adalah makhluk Allah yang tunduk patuh atas segala perintahnya, beriman dan penciptaan manusia oleh-Nya diproyeksikan untuk membawa kebahagiaan dan sebagai khalifah di muka bumi.

Kedua, makna fitrah berkaitan dengan agama dan religiusitas (tata’allaqu bi al-din wa al-tadyin). Makna fitrah di sini merujuk pada iman kepada Allah swt. Hal ini termaktub dalam firman-Nya Q.S. al-Rum [30]: 30,

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q.S. al-Rum [30]: 30)

Para mufassir sepakat bahwa kata fitrah di sini bermakna agama Islam. Sebagaimana disampaikan al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan, bahwa fitrah bermakna al-Islam mudz khalaqahum min Adam jami’an, yuqirruna bidzalik (agama Islam sejak Allah swt menciptakan dari Nabi Adam hingga sekarang, dan mereka mengakuinya).

Tidak jauh berbeda, al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib bahwa fitrah manusia adalah

أي إذا تبين الأمر وظهرت الوحدانية ولم يهتد المشرك فلا تلتفت أنت إليهم وأقم وجهك للدين

“Tatkala perkara menjadi jelas, keesaan-Nya tampak nyata sedangkan mereka (kaum musyrik) belum memperoleh petunjuk, maka berpalinglah darinya (dari kaum musyrik) dan hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam)”.

Sementara al-Suyuthi dalam al-Dur al-Mantsur ketika menjelaskan kata fitrah, menukil dari beberapa qaul, misalnya, Mujahid memaknai al-fitrah dengan agama Islam. Ibn Abi Syaibah, Ibn Jarir, Ibn al-Mundzir dari Ikrimah, al-fitrah adalah Islam. Ibn Abi Hikam dari al-Dhahhak memaknai al-fitrah dengan agama Allah di mana semua ciptaan-Nya beragama dengan agama Allah. Begitu pula al-Hakim al-Tirmidzi dalam Nawadir al-Ushul juga mengatakan hal serupa.

Dalam konteks ini, kata fitri bermakna al-fitrah sebagai kembali kepada Islam, kembali kepada agama Allah dan kembali kepada naluri keberagamaan yaitu kepada Allah swt. Setiap manusia yang dilahirkan di muka bumi telah mengandung naluri Islam dan ia terikat oleh perjanjian-Nya.

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa Idul Fitri bermakan kembali kepada fitrah manusia, kesucian atau terbebas dari belenggu dosa dan egosentrisme sehingga berada dalam keadaan yang suci.

Hikmah Idulfitri

Hari raya Idulfitri yang tengah kita rayakan bersama keluarga dan sanak saudara tercinta mengandung dua makna, yaitu makna ketuhanan dan manusia. Idulfitri sebagai makna ketuhanan bahwa manusia tidak “boleh” melupakan Tuhannya sehingga Idulfitri tidak berdasarkan selebrasi kosong tanpa arti, melainkan diawali dengan takbir (Allahu akbar wa lillahil hamd). Lebih lanjut, Idulfitri adalah momentum untuk kembali kepada makna tauhid dan mengesakan-Nya kembali. Betapa banyak umat manusia acapkali “menduakan-Nya” dengan yang lain, harta tahta misalnya, dan sebagainya.

Akhir kata, kami menghaturkan, “Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1442 H”. Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim. Minal aidzin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita semua diterima oleh Allah swt dan di tahun depan kita semua masih dipertemukan kembali dengan ramadhan dan Idulfitri dalam keadaan yang lebih baik lagi, dan menjadi pribadi yang muttaqin, serta dirindukan oleh Allah swt. Aamiin. Wallahu A’lam.