Beranda blog Halaman 439

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 71-73

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Pada Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 71-73 pertanyaan dari Bani Israil yang mendetail menjadi terang. Akhirnya mereka mendapatkan sapi yang dimaksud meskipun sedikit sukar untuk mendapatkannya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 66-70


Dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 71-73 ini juga memaparkan alasan perintah untuk mencari sapi tersebut, yaitu karena adanya pembunuhan yang tidak diketahui siapa pembunuhnya. Akhirnya setelah sapi tersebut disembelih dan pembunuhnya dapat diketahui.

Ayat 71

Seekor sapi yang diperintahkan untuk disembelih itu ialah seekor sapi yang belum pernah dipergunakan untuk membajak dan mengangkut air, sehat, dan tidak cacat sedikit pun. Setelah mendapat keterangan ini, mereka menyatakan sekarang barulah jelas buat mereka.

Akhirnya mereka pun mendapatkannya dan kemudian mereka menyembelihnya. Hampir-hampir mereka tidak sanggup mengerjakannya, karena terlalu sukar untuk mendapatkan sapi yang dimaksud.

Dalam suatu hadis disebutkan, “Kalau sekiranya mereka langsung menyembelih saja seekor sapi betina pada waktu mereka menerima perintah, cukuplah sudah. Tetapi mereka mengajukan pertanyaan yang memberatkan mereka sendiri, maka Allah pun memberatkannya.” (Riwayat Ibnu Jarir dari Ibnu ‘Abbas)

Permintaan Nabi Musa atas perintah Allah kepada kaumnya itu (ayat 67) sederhana sekali: “Sembelihlah seekor sapi betina”. Selesai, tanpa harus banyak bertanya. Tetapi mereka sudah biasa cerewet dan mengajukan pertanyaan macam-macam sekitar sapi itu—yang maksudnya hendak mengejek—padahal soalnya sudah jelas. Karena mereka keras kepala, maka akibatnya menyulitkan mereka sendiri, seperti dilukiskan dalam ayat 71 dan dipertegas dalam hadis di atas.

Cara-cara bertanya demikian itu kemudian menjadi ungkapan dalam bahasa Arab, ditujukan kepada mereka yang cerewet dengan pertanyaan yang dicari-cari: Ma hiya wa ma lawnuha, (Yang bagaimana dan apa warnanya?).Ayat-ayat di atas (67-71) merupakan satu kesatuan. Peristiwanya erat hubungannya dengan ayat 72 di bawah.

Menurut tradisi Yahudi dalam syariat Musa a.s., apabila terjadi suatu pembunuhan yang tidak diketahui siapa pembunuhnya, maka para sesepuh dan hakim harus keluar mengukur jarak ke kota-kota sekeliling orang yang terbunuh; mereka harus mengambil seekor lembu betina muda yang belum pernah dipakai membajak; mereka harus mematahkan leher lembu itu di suatu lembah; semua sesepuh dari kota terdekat harus membasuh tangannya ke atas lembu muda yang lehernya sudah dipatahkan di lembah itu, dan mereka harus menyatakan, bahwa tangan mereka tidak mencurahkan darah dan mata mereka tidak melihatnya; maka diadakan perdamaian dan mereka mengimbaunya untuk tidak menimpakan darah kepada orang yang tidak bersalah (Kitab Ulangan xxi. 1-9).


Baca juga: Inilah 3 Syarat Utama Implementasi Islam Wasathiyah Menurut Quraish Shihab


Ayat 72

Allah swt mengungkapkan dalam ayat ini kejahatan yang berkenaan dengan pembunuhan terhadap seseorang kemudian mereka saling tuduh-menuduh mengenai pelaku pembunuhan itu sehingga perkara ini menjadi kabur.

Tetapi Allah tidak membiarkan perkara ini tetap kabur dan tertutup. Untuk membuka rahasia pembunuhan itu Allah memerintahkan kepada mereka agar menyembelih sapi, sebagaimana disebutkan dalam ayat 67 yang lalu.

Bila diperhatikan urutan cerita seperti yang tercantum di awal kelompok ayat ini maka ayat 72 terletak di depan ayat 67, sebab peristiwa pembunuhan inilah yang mengakibatkan adanya perintah Allah untuk menyembelih sapi. Tetapi di dalam urutan ayat peristiwa penyembelihan sapi itulah yang didahulukan, karena yang diperintahkan ialah pengusutan perkara pembunuhan itu dengan mencari lebih dahulu pembunuhnya dengan jalan menyembelih sapi.

Ayat 73

Dalam ayat ini Allah memerintahkan agar orang yang terbunuh itu dipukul dengan sebagian anggota tubuh sapi itu agar orang itu hidup kembali. Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan menjadi saksi atas kematiannya sehingga si pembunuh terbongkar sesuai dengan tradisi Israil.

Diriwayatkan bahwa ketika Bani Israil memukul orang yang terbunuh itu, maka dengan izin Allah berdirilah dia. Urat-urat lehernya mengucurkan darah seraya berkata,  Saya dibunuh oleh si Anu dan si Anu.” Kedua pembunuh itu adalah anak paman orang yang dibunuh. Kemudian dia pun mati kembali. Maka kedua pembunuh tersebut ditangkap dan dibunuh.

Nabi Musa a.s. menyuruh mereka memukulkan sebagian tubuh sapi itu dan bukan Nabi Musa sendiri yang melakukannya. Hal itu dilakukan untuk menghindari tuduhan bahwa ia berbuat sihir. Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada bangsa Yahudi agar mereka memahami rahasia syariat agama sehingga mereka tunduk kepada syariat itu, agar mereka mencegah diri dari mengikuti hawa nafsu dan agar mereka menaati Allah dalam semua perintah-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 74


(Tafsir Kemenag)

Mengenal Kitab Mabadi’ Ilm Ushul At-Tafsir: Pengantar Ilmu Tafsir Karya Ulama Sulawesi

0
Mabadi' Ilmu Ushul At-Tafsir
Mabadi' Ilmu Ushul At-Tafsir

Sebagai negara yang memiliki penduduk Islam terbesar di Dunia, Indonesia telah melahirkan berbagai ulama atau cendekiawan Islam di berbagai bidang keilmuan Islam. Namun, tidak banyak dari mereka yang memiliki karangan kitab berbahasa Arab, terlebih dalam bidang ilmu tafsir. Oleh karena itu, kiranya penting bagi penulis untuk memperkenalkan salah satu kitab pengantar ilmu tafsir karya ulama Sulawesi yang berjudul Mabadi’ Ilm Ushul At-Tafsir.

Latar Belakang Penulisan

Abduh Pabbajah menguraikan latar belakang penulisan kitab Mabadi’ Ilm Ushul At-Tafsir dalam mukaddimahnya. Di situ dijelaskan bahwa alasan penulisan kitab ini adalah sebagai buku pegangan bagi para mahasiswa yang menempuh studi di Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin cabang Parepare. Tidak hanya itu, kitab tersebut juga dimaksudkan oleh Abduh Pabbajah untuk para mahasiswa yang belajar di Universitas Islam ad-Dariyah.

Selain itu, setelah menyampaikan pendahuluannya, Abduh Pabbajah kemudian menyampaikan tiga ayat Al-Quran yang menjelaskan bahwa Al-Quran merupakan kitab suci yang berfungsi sebagai petunjuk bagi umat Islam. Ketiga ayat tersebut adalah Q.S. al-Baqarah [2]: 1-2, Q.S. al-Nahl [16]: 89, dan Q.S. al-Isra’ [17]: 9.

Baca Juga: Mengenal Muhammad Abduh Pabbajah, Mufasir Nusantara Asal Sulawesi

Tidak berhenti disitu, Abduh Pabbajah kemudian menguraikan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi yang inti pembahasannya adalah akan ada pada suatu masa dimana berbagai fitnah banyak bermunculan. Dan supaya bisa terlepas dari fitnah tersebut maka umat Islam perlu untuk seantiasa berpegang teguh pada ajaran-ajaran Al-Quran.

Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa penyusunan kitab tersebut tidak hanya sebagai buku ajar bagi para mahasiswa tetapi juga sebagai petunjuk dasar dalam memahami Al-Quran, supaya dapat menjadikan Al-Quran sebagai pedoman utama dalam menghadapi zaman yang penuh fitnah.

Kitab tersebut ditulis di Parepare pada masa tahun ajaran 1973, atau dalam penanggalan hijriyah bertepatan pada 14 Jumadi al-Tsani 1395 H. Kitab tersebut disusun dalam beberapa jilid, namun penulis belum mengetahui kepastian terkait dalam berapa jilid kitab tersebut disusun. Penulis hanya menemukan file kitab tersebut pada bagian jilid pertama yang memuat pembahasan hingga 32 halaman.

Baca Juga: Mengenal Tafsir Firdaus An-Naim, Tafsir Nusantara Asal Madura

Gambaran Umum Isi Kitab

Secara umum, pada jilid pertama kitab Mabadi’ Ilm Ushul At-Tafsir ini menguraikan terkait enam tema pokok pembahasan yaitu (1) Mabadi’ al-Asyrah dalam ilmu ushul al-tafsir; (2) definisi Al-Qur’an, surah, dan ayat; (3) definisi wahyu dan proses penurunan wahyu Al-Qur’an; (4) I’jaz al-Qur’an (mukjizat Al-Qur’an); (5) Nuzul al-Qur’an dan faidah dari ilmu Asbab al-Nuzul.

Pada pembahasan pertama yaitu tentang Mabadi’ al-Asyrah, dijelaskan terkait sepuluh dasar-dasar pokok dalam sebuah disiplin ilmu ushul al-tafsir. Dalam sepuluh poin dasar tersebut tercakup pembahasan terkait al-Had (definisi), al-Mudhu’ (ruang lingkup), Istimdad (rujukan), Masa’il (masalah), Hukm asy-Syari’ fihi (hukum mempelajarinya), Nisbah (posisi), Wadhi’ (pencetus), Syaraf (keutamaan), Tsamrah (kegunaan), dan Ism (nama ilmu tersebut).

Abduh Pabbajah menjelaskan bahwa pencetus ilmu ushul at-tafsir adalah Syaikh Abu al-Fadhl Jalaluddin Abdurrahman al-Bulqiniy (w. 824 H). Adapun terkait definisi ilmu ushul al-tafsir, Abduh Pabbajah mendefinisikanya sebagaimana berikut:

عِلْمٌ بِهِ يُعْرَفُ اَحْوَالُ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ الَّتِيْ تُعْرَضُ لَهُ مِنْ جِهَّةِ الْإِسْنَادِ وَالنُّزُوْلِ وَغَيْرِهِ

Ilmu yang denganya dapat diketahui hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an al-Karim, yang (ragam ahwal tersebut) diperlihatkan melalui pengkajian Al-Qur’an dari sisi sanad, proses turunya, dan selainya

Baca Juga: Mengenal Kitab Fathul Khabir dan Ulumul Qurannya Karya Syekh Mahfudz At Tarmasi

Kemudian, pada pembahasan kedua, di dalamnya dijelaskan terkait beberapa definisi dasar dari beberapa istilah yang sangat berkaitan erat dengan Al-Quran yaitu seperti istilah al-Quran, as-Surah, dan al-Ayah. Setelah menjelaskan ragam definisi tersebut, Abduh Pabbajah juga memperingatkan terkait ketidakbolehan membaca Al-Quran dengan selain bahasa Arab, dan peringatan terkait keharaman menafsirkan hanya berdasarkan akal (al-ra’y) semata.

Selanjutnya pada pembahasan ketiga, Abduh Pabbajah membahas terkait definisi wahyu baik dari sisi definisi lughawiy dan syar’iy. Setelah menjelaskan terkait definisinya, Abduh Pabbajah kemudian mengulas secara umum terkait bagaimana proses turunya wahyu dan keadaan Nabi ketika menerima wahyu tersebut.

Lanjut ke pembahasan berikutnya yaitu pembahasan keempat terkait i’jaz al-qur’an (mukjizat Al-Qur’an). Dalam menjelaskan i’jaz al-qur’an tersebut, Abduh Pabbajah mengutip pendapat seorang Filsuf yang bernama Farid Wajdi dari kitabnya yang berjudul Da’irah Ma’arif. Sisi i’jaz yang ditonjolkan dalam kitab tersebut adalah sisi i’jaz lughawiy yaitu mukjizat Al-Quran dalam aspek kebahasaan.

Argumen lain selain dari aspek mukjizat kebahasaan adalah karena wahyu Al-Quran diturunkan menggunakan redaksi ruh min amrina (QS. asy-Syura [42]: 52).

Baca Juga: Belajar Sabab Nuzul dalam Menafsirkan Al Quran Sangat Penting!

Terakhir, pembahasan kelima yaitu terkait Nuzul al-Qur’an dan faidah ilmu Asbab al-Nuzul. Pada pembahasan ini, Abduh Pabbajah menguraikan bagaimana awal mula ketika wahyu turun di Gua Hira, kemudian dijelaskan terkait hikmah mengapa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur (munajjaman) ketimbang diturunkan secara sekaligus (jumlah wahidah)

Salah satu hikmah diturunkannya Al-Quran secara berangsur-angsur adalah supaya umat Islam mudah dalam menghafalkannya. Selain itu hikmah lainya adalah karena dalam Al-Quran terkandung ayat-ayat yang terkena naskh atau mansukh. Dan proses naskh-mansukh tersebut hanya dapat terjadi jika Al-Quran diturunkan secara terpisah (mufarraqan).

Kemudian, terkait faidah mempelajari ilmu asbab an-nuzul adalah agar dapat membantu dalam memahami ayat Al-Quran secara baik dan benar. Untuk lebih meyakinkan pembaca, Abduh Pabbajah kemudian menguraikan sebuah riwayat tentang kesalahpahaman pemahaman ayat Al-Quran jika melalaikan asbab al-nuzul-nya.

Dalam sebuah riwayat terdapat seseorang yang bernama Qudamah ibn Madh’un. Ia merupakan seorang muslim namun masih minum khamr. Ketika hal tersebut diketahui oleh Umar, maka seketika ia mengingatkannya. Namun, Qudamah justru membela diri seraya mengutip QS. Al-Ma’idah [5] ayat 93:

Tidak berdosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan tentang apa yang mereka makan (dahulu), apabila mereka bertakwa dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, selanjutnya mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan

Dengan berdalil pada ayat tersebut, Qudamah mempertanyakan kepada Umar mengapa aku terkait larangan minum khamr, padahal ia merupakan seorang muslim yang taat dan juga pernah ikut berperang Badar bersama Nabi. Intinya Qudamah mencari pembenaran bahwa perilakunya itu sesuai dengan ayat yang ia kutip tersebut.

Mendengar hal tersebut, maka Ibnu Abbas kemudian meluruskan bahwa ayat yang dikutip Qudamah tersebut merupakan ayat keringanan yang diberikan Allah, karena memang pada saat itu khamr belum diharamkan. Namun, karinganan tersebut telah dicabut setelah diturunkanya QS. al-Ma’idah [5] ayat 90 tentang keharaman khamr.

Dengan demikian, maka kitab Mabadi’ Ilm Ushul At-Tafsir ini merupakan kitab pengantar ilmu tafsir yang menguraikan terkait dasar-dasar ilmu tafsir secara global dan ringkas. Kitab ini tentu memberi warna tersendiri dalam khazanah kajian ilmu Al-Quran dan tafsir di Indonesia. Oleh karena itu, kitab tersebut sangat bermanfaat bagi para pengkaji Al-Quran, khususnya bagi mereka yang masih awam terhadap ilmu tafsir Al-Quran. Wallahu A’lam

Konteks dan Keterampilan dalam Memahami Al-Quran Menurut Ingrid Mattson

0
Ingrid Mattson
Ingrid Mattson

Dalam sebuah artikel berjudul How To Read The Quran, Ingrid Mattson mengatakan, membaca kitab suci – termasuk memahami Al-Qur’an – bisa jadi merupakan sebuah langkah problematik, sebab setiap kitab suci agama besar dunia senantiasa dipuja dan digandrungi oleh jutaan orang. Mereka berinteraksi dengan kitab suci secara mendalam lebih dari sekedar membaca buku biasa. Kitab suci bagi mereka adalah pedoman jalan hidup (way of life) yang harus dipatuhi.

Ketika membaca kitab suci, kita menyadari bahwa kita sedang memasuki sebuah semesta yang penuh dengan dimensi spiritual, emosional, historis dan bahkan politik. Karena itu, siapapun yang ingin membaca kitab suci – seperti memahami Al-Qur’an – membutuhkan instrumen tertentu yang melaluinya ia akan mendapatkan pengalaman baru dan menantang yang memperkaya pengetahuan serta pemahamannya yang komprehensif terkait kitab suci.

Dalam konteks memahami Al-Qur’an – menurut Ingrid Mattson – seseorang harus mengeksplorasi tiga konteks utama, yakni: Pertama adalah konteks di mana Al-Qur’an diwahyukan dan ditransmisikan, ditafsirkan, serta dibaca selama berabad-abad; Kedua adalah konteks pribadi pembaca meliputi latar belakang sosial, asumsi, dan prasangka yang dapat mempengaruhi pembacaan terhadap Al-Qur’an; Ketiga adalah pemahaman terhadap istilah yang Al-Qur’an gunakan.

Melalui ketiga konteks tersebut, seseorang akan bisa memahami Al-Qur’an lebih “objektif.” Oleh karenanya, sebelum mendekati Al-Qur’an seseorang harus meninjau kembali pemahamannya tentang Al-Qur’an, Islam dan Muslim. Ia harus mempertimbangkan adanya kemungkinan ketidakbenaran sumber yang selama ini ia pahami. Dengan itu, ia akan lebih mudah mengidentifikasi potensi hambatan kognitif dan emosional untuk mendapatkan pengalaman otentik dengan Al-Qur’an.

Misalnya, jika Anda seorang muslim, maka Anda memiliki konteks budaya dan pengalaman formatif yang telah membentuk pemahaman Anda terhadap Al-Qur’an. Pada titik tertentu, Anda – mungkin – akan kesulitan untuk membuka hati sepenuhnya terhadap pesan Al-Qur’an karena telah diajari untuk memahami ayat-ayat dengan cara tertentu yang – terkadang – sempit dan sektarian. Akibatnya, makna-makna Al-Qur’an direduksi oleh pemahaman yang ada.

Baca Juga: Amina Wadud dan Hermeunitika Tauhid dalam Tafsir Berkeadilan Gender

Hal serupa disampaikan oleh Walid saleh dalam Quranic Commentaries. Ia menegaskan bahwa dalam dunia Islam tradisional, Al-Qur’an telah dipahami melalui bahasa tafsir, dan sebagian besar umat Islam meyakini bahwa makna Al-Qur’an yang sebenarnya adalah sebagaimana makna yang dikatakan tafsir. Akibatnya, tafsir seakan-akan sejajar dengan Al-Qur’an itu sendiri. Dalam konteks ini, makna ayat Al-Qur’an direduksi dan disamakan dengan tafsir Al-Qur’an.

Dengan demikian, penting bagi para pembaca untuk memeriksa kembali asumsi mereka tentang cara membaca Al-Qur’an dan memahami cara Al-Qur’an ditafsirkan oleh orang-orang yang percaya bahwa itu adalah kalam Ilahi. Meskipun Al-Qur’an adalah Firman Tuhan, namun bukan berarti ia harus – selalu – dibaca secara harfiah (literal) dan mengabaikan konteks sosial hukum tertentu, atau mengabaikan makna simbolis dan makna batinnya.

Menelaah linguistik dan sejarah Al-Qur’an atau mencari makna batinnya bukanlah inovasi modern. Sebaliknya, penafsiran semacam ini telah dimulai oleh nabi Muhammad saw beserta para sahabatnya dam berlanjut hingga hari ini. Oleh karena itu, pembaca Al-Qur’an harus melepaskan gagasan bahwa pembacaan literalis adalah lebih otentik atau lebih saleh ketimbang pembacaan informatif dan kontekstual sebagaimana yang dianggap oleh sebagian kelompok fundamentalis.

Ingrid Matsson juga mewanti-anti terhadap orang-orang yang percaya pada kitab suci selain Al-Qur’an agar berhati-hati untuk tidak secara otomatis menerapkan tradisi hermeneutik mereka pada Al-Qur’an. Di sisi lain, para pembaca Muslim juga perlu mengeksplorasi kemungkinan bahwa apa yang telah diajarkan kepada mereka tentang cara menafsirkan Al-Qur’an mungkin tidak sesuai dengan pemahaman banyak Muslim lainnya.

Keterampilan Yang Harus Dimiliki Seseorang Muslim Untuk Memahami Al-Qur’an

Literasi Al-Qur’an sangat bervariasi dalam masyarakat Muslim dan tidak selalu berhubungan dengan pencapaian pendidikan seseorang. Karena banyak dari tokoh Muslim yang tidak mengenyam pendidikan formal, namun mereka memiliki literasi Al-Qur’an yang tinggi. Pendidikan Al-Qur’an membentuk fondasi keaksaraan dalam masyarakat Muslim tradisional, tetapi modernitas – sedikit atau banyak – telah memutuskan hubungan itu pada beberapa tempat.

Menurut Ingrid Mattson, seorang muslim membutuhkan empat keterampilan untuk memahami Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai sumber pertunjuk kehidupan. Keterampilan pertama adalah kemampuan membaca aksara Arab, karena bahas asli Al-Qur’an adalah bahasa Arab. Oleh karenanya, awal dari pendidikan agama untuk sebagian besar anak-anak Muslim dan para Mualaf non-Arab adalah pengetahuan tentang alfabet Arab dan bagaimana merangkainya.

Keterampilan kedua adalah belajar bahasa Arab Al-Qur’an (uslub Al-Qur’an) dengan cukup baik untuk dapat memahami setiap arti kata dan kalimat serta makna-makna relasionalnya. Bagi anak-anak yang berbahasa Arab, pemahaman tentang arti kata-kata tersebut muncul pertama kali sebagai konsekuensi dari pengetahuan umum mereka tentang bahasa Arab, yang kemudian dilengkapi oleh guru mereka.

Untuk memahami Al-Qur’an dengan baik, Muslim non-Arab membutuhkan pendidikan tambahan yang terdiri dari mempelajari kosa kata dan tata bahasa Arab dasar atau memiliki akses ke terjemahan dalam bahasa induk mereka. Bagi orang Arab maupun non-Arab sekarang, pemahaman ilmiah tentang Al-Qur’an membutuhkan studi panjang bertahun-tahun karena bahasa Arab ammiyah atau kontemporer sedikit berbeda dengan bahasa Al-Qur’an.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Hujurat Ayat 13: Apakah Al-Quran Menyetarakan Kasta dalam Pernikahan?

Keterampilan ketiga – yang sangat membantu dalam memahami keberadaan spiritual teks – adalah pengetahuan dan kemampuan untuk membaca Al-Qur’an dengan cara yang tepat, seperti seni tajwīd (pelafalan “baik” atau “indah”) tentang melafalkan huruf dengan benar, penggunaan nada yang tepat, panjang pendek, dan sebagainya. Hal ini penting diketahui karena Al-Qur’an diwahyukan dalam tradisi kelisanan sebagaimana diterangkan oleh Walter J. Ong dalam Orality and literacy.

Keterampilan keempat – yang membuat seseorang akrab dengan Al-Qur’an – adalah menghafal Al-Qur’an setidaknya beberapa ayat dan surah. Dalam setiap ritual sembahyang, surat al-Fatihah harus diucapkan, lalu diikuti dengan surat atau sekelompok ayat yang dipilih oleh jamaah. Bagian-bagian Al-Qur’an ini tidak dibaca dari teks, namun dibaca menggunakan hafalan mereka.

Berdasarkan penjelasan di atas, dalam memahami Al-Qur’an seseorang harus mengidentifikasi bahasa Al-Qur’an dan historisitasnya serta mengevaluasi pra-pemahaman sendiri agar makna Al-Qur’an tidak tereduksi oleh asumsi pribadi. Selain itu, ia membutuhkan keterampilan khusus, seperti bahasa Arab, uslubul qur’an, ilmu tajwid (kelisanan), dan hafalan Al-Qur’an dalam rangka lebih dekat dan memahami Al-Qur’an secara otentik. Wallahu a’lam.

Riwayat Manuskrip Al-Qur’an Bone Sulawesi Selatan di Museum Aga Khan Kanada

0
Manuskrip Al-Qur’an Bone
Manuskrip Al-Qur’an Bone

Khazanah mushaf Nusantara selalu menyajikan kekayaan yang luar biasa. Salah satunya adalah manuskrip Al-Qur’an Bone Sulawesi Selatan yang kini ada di Museum Aga Khan Kanada. Rasa penasaran saya membawa pada pencarian riwayat perpindahan mushaf ini, bagaimana bisa ke sana?

Manuskrip Al-Qur’an Bone yang kini ada di Museum Aga Khan Kanada memiliki kode AKM 00488. Ada beberapa penelitian mengenai mushaf ini. Annabel Teh gallop mencatatnya dalam artikel The Bone Qur’an from South Sulawesi”, Kemudian Juhrah M.Adib dan Sabil Mokodenseho mencatatnya dalam “Mushaf Bone: Telaah Aspek Kodikologi, Tulisan, Teks, dan Visual Al-Qur’an”. Sementara Ali Akbar, peneliti Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an hanya membahas sedikit dalam Mushaf Kuno Nusantara Sulawesi & Maluku” .

Ali Akbar menyebut bahwa manuskrip Al-Qur’an Bone dalam inventarisasinya, memiliki kesamaan dengan mushaf-mushaf Bugis yang tersebar di Indonesia. Setidaknya ada 5 mushaf yang masih dalam satu akar yang sama. Pertama mushaf koleksi Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat yang berkolofon Kedah (Malaysia sebelah utara) dengan tanggal 25 Ramadan 1166 H (26 Juli 1753), kedua mushaf koleksi Perpustakaan Nasional RI Jakarta nomor A.49 dengan tarikh Sya’ban 1143 H (Februari/Maret 1731, ketiga Mushaf Sultan Ternate bertarikh 9 Zulhijah 1185 (14 Maret 1772), keempat mushaf lain di Museum Babullah istana Ternate (tanpa kolofon), dan kelima Mushaf Bone yang kini di Museum Aga Khan dengan tarikh 25 Ramadan 1219 H (28 Desember 1804).

Mushaf-mushaf Bugis ini memiliki keunikan tersendiri, Ali Akbar menyebut ada 4 aspek keunikannya. Pertama, usia naskah mushaf Bugis rata-rata bertarikh abad ke-18. Kedua, mushaf-mushaf Bugis berpindah-pindah karena sesuai tradisi orang Bugis yang suka berlayar, sehingga tersebar di berbagai wilayah. Ketiga, mushaf Bugis ini memiliki fitur yang paling lengkap di antara mushaf Nusantara lainnya. Sehingga selain ayat-ayat Al-Qur’an, mushaf Bugis juga mencantumkan teks ulumul Qur’an, daftar imam qiraat, doa khatm Al-Qur’an, statistik jumlah huruf, dan catatan lainnya yang antar mushaf berbeda-beda. Keempat, mushaf Bugis pada umumnya memuat iluminasi yang indah.

Baca juga: Jejak Manuskrip Al-Quran Malaysia di Pulau Dewata

Pada kasus Mushaf Bone AKM 00488, mushaf ini bahkan disebut oleh Annabel sebagai the most complex Southeast Asian Qur’an manuscript yet known (manuskrip Al-Qur’an Asia Tenggara paling kompleks yang pernah diketahui). Ini yang kemudian diuraikan dalam artikelnya dan dikuatkan juga oleh Juhrah M.Adib dan Sabil Mokodenseho. Namun dalam tulisan ringan ini hendak menelusuri sisi historisitasnya saja. Kali lain, akan membahas bagaimana keunikan fisiknya.

Kolofon Al-Qur’an Bone

Seperti yang telah disebutkan bahwa mushaf ini begitu kompleks. Maka tak heran jika kolofonnya juga penuh informasi. Kolofon ini ditulis dengan bahasa Arab yang berarti sebagai berikut.

“Maka selesai sudah pembuatan mushaf agung ini, yang indah dan megah, pada hari Selasa di Bulan Ramadhan yang penuh rahmat pada shalat ashar di hari -25 Ramadhan, di Kota Layka, pada masa Raja kita Sultan Ahmad al-Salih, sang pnerang bagi umat dan agama. Semoga Allah memperpanjang hidupnya dan melindungi keadilannya di tanah Bone di tahun 1219 H. Teriring sholawat dan salam melalui mushaf ini dengan tulisan tangan al-faqir al-haqir al-dhaif Ismail ibn Abdullah Al-Jawi al-Makassari, Makassar adalah asal dan tempat kelahirannya. Syafi’i adalah madzhabnya dan Naqashabandiyah adalah thariqahnya. Semoga Allah mengampuninya dan keturunanya dan semua umat Muslimin dan Muslimat, Amin.”

Begitu banyak informasi yang disajikan penulis mushaf untuk sang pembaca. Selain itu, mushaf ini patut disebut sebagai mushaf yang istimewa karena masih terawat dengan baik dan lengkap kondisinya 30 juz.

Dari Indonesia Hingga ke Kanada

Annabel dalam penelitiannya menyebutkan bahwa untuk kali pertama ia meneliti mushaf ini ada di Balai Lelang Christie London, Inggris pada tahun 2004.  Balai Lelang Christie ini merupakan salah satu balai lelang tertua di dunia yang menjual karya seni, furnitur, perhiasan, dan barang lainnya. untuk melihat koleksi lain, dalam liputan 2018 lalu, balai lelang ini pun memamerkan koleksi barang-barang milik Stephen Hawking.

Baca juga: Jejak Manuskrip Qiraat Al-Quran di Kalimantan Selatan

Kemudian manuskrip Al-Qur’an Bone ini berpindah tangan ke Aga Khan Trust for Culture yang bertempat di Jenewa Swiss. Di sinilah penelitian Annabel yang lebih detail dilaksanakan pada bulan Juni tahun 2008.  Aga Khan Trust for Culture merupakan agensi Jaringan Pengembangan Aga Khan yang menangani berbagai koleksi seni rupa dan warisan islam. Sebagai tambahan informasi, Aga Khan yang dimaksud merupakan Pangeran Shah Karim Al Hussaini (Aga Khan IV), seorang imam ke-49 dari Syiah Ismaili Nizari. Selanjutnya pada tahun 2014, Manuskrip Al-Qur’an Bone pun ikut diboyong ke Museum Aga Khan di Toronto Kanada.

Untuk melihat bagaimana kondisi salah satu mushaf terbaik dari Nusantara ini silahkan klik link ini. Dari berbagai riwayat perpindahan mushaf ini, nampaknya kita perlu melakukan refleksi. Al-Qur’an Bone ini ditulis di Indonesia, kemudian dibawa ke London Inggris, berpindah ke Swiss dan saat ini ada di Kanada. Inilah gambaran kecil dari karya intelektual kita yang masih banyak ada di luar negeri, kita tentu akan kesusahan untuk meneliti lebih lanjut naskah-naskah seperti ini, kecuali datang ke sana.

Baca juga: Surat Al-A‘raf [7] Ayat 55: Etika Berdoa Menurut Al-Qur’an

Salah satu usaha yang terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah menjaga semua peninggalan nenek moyang kita yang masih ada di Indonesia, dan melestarikannya. Sekaligus terus mendukung upaya pihak-pihak berwenang mengembalikan segala kekayaan kita. Karena di berbagai kesempatan, saat saya bertemu dengan para peneliti naskah dan juga pihak Perpustakaan Nasional, selalu menyayangkan aksi jual beli naskah yang masih ada oleh oknum tak bertanggung jawab. Semoga lestari kekayaan negeri.

Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 66-70

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 66-70 berbicara mengenai maksud dan tujuan dari hukuman yang ditimpakan kepada Bani Israil. Tujuannya tidak lain agar menjadi peringatan bagi hambaNya yang lain untuk tidak melampaui batas-batas ketentuan Allah swt.


Baca juga: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 63-65


Dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 66-70 juga berbicara mengenai perintah Nabi Musa kepada Bani Israil untuk menyembelih seekor sapi. Bani Israil kala itu memiinta secara detail sapi yang apa yang dimaksud oleh Nabi Musa as. Dan pada akhirnya hal tersebut membuat mereka kesusahan sendiri.

Ayat 66

Pada ayat ini Allah menerangkan maksud dari hukuman yang dijatuhkan kepada Bani Israil, untuk menjadi pelajaran bagi manusia agar mencegah perbuatan-perbuatan yang melampaui ketentuan-ketentuan Allah, baik untuk orang yang hidup pada waktu itu maupun yang hidup sesudahnya sampai hari kiamat.

Hukuman itu juga menjadi pelajaran yang baik bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka senantiasa mengambil pelajaran dengan segala macam kejadian dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang melampaui batas.

Ayat 67

Ketika Nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi, mereka berkata kepada Nabi Musa, “Apakah kamu mempermainkan kami? Kami bertanya kepadamu tentang perkara pembunuhan, lalu kamu menyuruh kami menyembelih seekor sapi. Ini ganjil sekali dan jauh daripada yang kami maksudkan.”

Seharusnya Bani Israil menjalankan perintah Nabi Musa itu dan menyambutnya dengan patuh dan taat, kemudian mereka menunggu apa yang akan terjadi sesudah itu, tetapi mereka berbuat sebaliknya.

Perkataan mereka itu sebagai bukti bahwa mereka sangat kasar tabiatnya dan tidak mengakui kekuasaan Allah. Nabi Musa menjawab, “Saya berlindung kepada Allah dari memperolok-olokkan manusia karena perbuatan itu termasuk perbuatan orang jahil, lebih-lebih bagi seorang rasul yang akan menyampaikan risalah dan hukum-hukum Allah kepada manusia.”

Ayat 68

Bani Israil berkata lagi kepada Nabi Musa, “Tanyakanlah kepada Tuhanmu agar diterangkan kepada kami tanda-tanda sapi yang dimaksudkan itu.” Nabi Musa menjawab, “Sapi yang harus disembelih itu bukan yang tua dan bukan pula yang muda, tetapi yang sedang umurnya. Turutilah perintah itu dan laksanakanlah segera.”

Mereka disuruh segera menaati perintah itu dan dilarang berkeras kepala. Sebenarnya mereka dapat melaksanakan penyembelihan sapi itu dengan keterangan yang sudah diberikan. Tetapi mereka membandel dan terus melanjutkan dan memperbanyak pertanyaan.


Baca juga: Inilah Tiga Sikap Kerukunan Umat Beragama Menurut Quraish Shihab


Ayat 69

Sesudah menanyakan umur sapi itu, mereka berkata, “Terangkanlah kepada kami, bagaimana warna sapi itu.” Mereka diberi jawaban yang cukup jelas yang dapat membedakan sapi yang dimaksud. Musa mengatakan bahwa warna sapi itu kuning tua dan menyenangkan orang yang melihatnya. Tetapi mereka tidak puas dengan jawaban tersebut. Mereka terus bertanya dan menambah pertanyaan yang mempersulit diri mereka sendiri.

Ayat 70

Pada ayat ini mereka menanyakan lagi tentang apa yang telah mereka tanyakan sebelumnya, “Sapi apakah itu, karena sapi itu masih samar bagi kami.” Semua itu sebenarnya sudah diterangkan. Tetapi mereka merasa belum sempurna penjelasan yang telah diberikan, bahkan bagi mereka masih samar-samar karena ciri-ciri sapi itu hampir serupa sehingga tidak dapat menemukan mana yang akan disembelih.

Dengan pertanyaan yang terakhir, mereka mengharapkan mendapat petunjuk tentang sapi yang dibutuhkan atau petunjuk kepada hikmah dan rahasia perintah penyembelihan sapi itu.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 71-73


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Al-Waqiah Ayat 7-12: Merenungi Tiga Macam Kondisi Manusia

0
Surat Al-Waqiah ayat 7-12
Surat Al-Waqiah ayat 7-12

Masih seputar gambaran tentang keadaan di hari kiamat, surat Al-Waqiah ayat 7-12 menjelaskan tentang klasifikasi kondisi orang-orang pada saat itu. Pada kelompok ayat ini disampaikan bahwa manusia akan dibedakan menjadi tiga golongan, ashab al-maimanah (golongan kanan), ashab al-masy’amah (golongan kiri) dan as-sabiqun as-sabiqun.

Surat Al-Waqiah ayat 7-12 berbunyi,

وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12

dan kamu menjadi tiga golongan, (7) yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu,  (8) dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu, (9)  dan orang-orang yang paling dahulu (beriman), (10) merekalah yang paling dahulu (masuk surga).(11) Mereka itulah orang yang dekat (kepada Allah), Berada dalam surga kenikmatan, (12)

Sebagaimana diinformasikan dalam redaksi ayat, pada hari kiamat manusia akan terbagi menjadi tiga kelompok. kelompok pertama disebut ashab al-maimanah, kelompok kedua dinamakan ashab al-masy’amah, dan kelompok ketiga disebut as-sabiqun as-sabiqun. Klasifikasi ini ada yang menyebutnya dengan tempat atau kedudukan manusia di hari kiamat, seperti penjelasan yang dikutip dalam Tafsir At-Tabari. Jadi, ada dua kelompok yang bertempat di surga dan satu kelompok di neraka. Demikian lanjutan penjelasan At-Tabari.

Baca Juga: Kenali Kandungan Surat Al-Waqiah dan Beberapa Keutamaannya

Siapa itu ashab al-maimanah, ashab al-masy’amah dan as-sabiqun as-sabiqun?

Penggunaan kanan dan kiri dalam surat Al-Waqiah ayat 7-12 ini tidak lain mengambil dari bagian yang sudah familiar dengan kehidupan manusia yaitu sisi kanan dan kiri. Dalam tradisi di masyarakat, menurut Ibnu Asyur sisi kanan biasa diidentikkan dengan kebaikan, kemuliaan, pertolongan dan keberkahan; sedang sisi kiri sebaliknya, diasosiasikan dengan kejelekan. kemudharatan, tidak bermanfaat dan semacamnya. Di sinilah Al-Quran berinteraksi dengan sedikit kebiasaan masyarakat Arab saat itu.

Beragam penjelasan telah disampaikan oleh para mufasir dalam mendefinsikan tiga kelompok di atas. Al-Qurthubi senidri menyajikan banyak versi tentang identitas ashab al-maimanah, ashab al-masy’amah dan as-sabiqun. Ashab al-maimanah yaitu mereka yang dibawa di sisi kanan menuju ke surga, sedang ashab al-masy’amah adalah mereka yang dibawa di sisi kiri menuju ke neraka.

Selain itu, Al-Qurthubi juga mengutip beberapa identitas lain dari ashab al-maimanah yaitu mereka yang berada di sebelah kanan Nabi Adam yang kelak akan masuk surga. As-Samarqandi dalam Bahrul Ulum menambahkan bahwa posisi di sebelah kanan Nabi Adam itu ketika di hari kiamat; mereka juga orang-orang yang diberikan catatan amalnya dengan tangan kanan.

Ashab al-maimanah juga sebutan untuk ahl al-hasanat (orang-orang yang berbuat kebaikan) dan berkomitmen untuk selalu berbuat kebaikan. Syeikh Nawawi Al-Bantani juga menuturkan pengertian yang terakhir ini. Sementara untuk ashab al-masy’amah, singkatnya adalah kebalikan dari semua hal yang diidentikkan dengan ashab al-maimanah.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Waqiah Ayat 1-6: Hari Kiamat itu Pasti, Inilah Visualisasinya

Kemudian, bagaimana dengan kelompok as-sabiqun? Jika ashab al-maimanah adalah simbol kebaikan dan ashab al-masy’amah adalah simbol kejelekan, lalu as-sabiqun simbol dari apa? Ada yang menyebut as-sabiqun dengan mereka yang pernah shalat menghadap dua kiblat (masjid al-aqsha dan ka’bah di masjid al-haram) yang berarti generasi awal Islam, lebih dulu beriman kepada Allah dan rasulNya, lebih dulu melakukan perintah-perintah Allah dan RasulNya. Kurang lebih demikian intisari penjelasan dari para mufasir tentang as-sabiqun.

Selain beberapa pengertian di atas, ada keterangan tambahan dari At-Thabari yang menarik dan sedikit berbeda dalam mendefinisikan tiga kelompok di atas. Pengertian ini dikaitkan dengan ilmu dan hawa nafsu. Mereka yang memenangkan ilmunya daripada hawa nafsunya adalah as-sabiqun, mereka yang bisa menyeimbangkan antara ilmu dan hawa nafsunya ialah ashab al-maimanah dan mereka yang ilmunya tunduk pada hawa nafsunya disebut dengan ashab al-masy’amah.

Penafsiran yang sedikit berbeda juga ditambahkan oleh Al-Qurthubi. Orang-orang yang dari awal istiqamah berbuat kebaikan hingga akhir umurnya maka ia disebut dengan as-sabiqun. Orang-orang yang berbuat dosa yang kemudian menyadari kesalahannya dan bertaubat, mereka lah ashab al-maimanah. Orang-orang yang berbuat dosa, tidak pernah mau menyadari kesalahannya dan juga tidak mau bertaubat dan memperbaiki diri, mereka itu ashab al-masy’amah.

Dari beberapa pengertian di atas, kita juga dapat mengambil petunjuk bahwa hidup bahkan mati pun tidak hanya tentang kebaikan dan kejelekan, melainkan ada sesuatu yang lebih dari itu, di atas kebaikan yaitu kemuliaan. Tidak hanya ashab al-maimanah dan ashab al-masy’amah, tetapi ada pula as-sabiqun.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 8-11: Penyesalan Orang yang Ingkar di Hari Kiamat

Keadaan Manusia di Akhirat Berkaitan Erat dengan Amal Perbuatannya di Dunia

Terkait dengan macam kondisi manusia dalam surat Al-Waqiah ayat 7-12, Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib mengaitkannya dengan ayat yang lain, tepatnya di surat Fatir ayat 32 yang juga menyinggung tentang tiga klasifikasi keadaan manusia. Bedanya pada ayat ini konteks ayat tidak sedang menggambarkan keadaan kiamat, melainkan tentang respon penerimaan umat Muhammad terhadap Al-Quran.

Di situ disampaikan bahwa ada tiga respon penerimaan umat Muhammad terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi. Pertama, dhalim li nafsih (mendzalimi dirinya sendiri), kedua, muqtasid (pertengahan), ketiga sabiq bi al-khairat (lebih dulu berbuat kebaikan).

Ibn Abbas sebagaimana dikutip oleh Ibn Katsir dan juga At-Tabari menjelaskan keterkaitan tiga macam penerimaan ini dengan keadaan mereka di akhirat nanti. Dhalim li nafsih ditafsirkan dengan orang yang dzalim pada dirinya sendiri yang kelak akan diampuni (terkecuali syirik dan jika orang itu bertaubat), muqtasid yaitu mereka yang kelak mudah penghitungan amalnya sedang sabiq bi al-khairat adalah mereka yang masuk surga tanpa hisab.

Dengan begitu, keadaan manusia di hari kiamat seperti yang telah dijelaskan dalam surat Al-Waqiah ayat 7-12 itu tidak tiba-tiba saja terjadi tanpa proses dan sebab. Segala keputusan dan perbuatan di dunia juga ikut menentukan keadaan dan nasib mereka di akhirat, sebagaimana disiratkan dalam surat Fatir ayat 32.

Baca Juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 32: Pada Akhirnya Semua Akan Menghadap Allah SWT

Selain itu, surat Al-Zalzalah ayat 7-8 semakin memperjelas relasi antara amal perbuatan manusia di dunia dan balasan di akhirat. Pada dua ayat ini, masih mengikut penafsiran At-Tabari dijelaskan bahwa -seakan- Allah menyatakan ‘Maka siapa (di dunia) mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (di akhirat)’, ‘dan siapa mengerjakan (di dunia) kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (di akhirat).

Demikian berarti bahwa mengaji tentang keadaan manusia di hari kiamat kelak, khususnya surat Al-Waqiah ayat 7-12 secara tidak langsung meminta kita untuk mengevaluasi amal perbuatan kita selagi masih di dunia. Semoga kita tergolong dari orang-orang yang baik dan mulia.

Wallahu A’lam

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 63-65

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Pada penjelasan yang lalu telah berbicara mengenai perintah Allah agar selalu berpegang teguh atas perintah para Nabi agar mendapatkan ganjaran dari sisi Allah swt, Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 63-65 ini berbicara mengenai nenek moyang orang Yahudi yang ingkar janji kepada Allah swt.


Baca juga: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 61-62


Ingkar janji yang dimaksud dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 63-65 ini adalah ketika Allah mengangkat bukit Sinai karena pembangkangan yang dilakukan oleh Bani Israil kala itu. Namun tetap saja selang beberapa waktu mereka tetap dalam keingkaran.

Selain itu Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 63-65 ini juga berbicara mengenai pelarangan bagi Bani Israil. Pelarangan itu adalah tidak diperbolehkan untuk melakukan aktifitas apapun pada hari Sabtu selain ibadah. Namun lagi-lagi mereka melanggarnya.

Ayat 63

Allah mengingatkan kembali kesalahan lain dari nenek moyang orang Yahudi ketika Allah mengambil janji dari mereka, yaitu bahwa mereka akan beriman dan akan mengamalkan apa yang ada dalam Taurat. Ternyata mereka tidak mengamalkannya, bahkan mengingkarinya.

Lalu Allah mengangkat bukit (Gunung Sinai) ke atas kepala mereka untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya agar mereka beriman kepada-Nya dan berpegang teguh kepada kitab Taurat itu.

Isi perjanjian tersebut berupa perintah Allah kepada mereka, “Peganglah kitab Taurat dengan sungguh-sungguh dan tetaplah mengerjakan isinya, pelajarilah Taurat itu, perhatikan isinya dan amalkan hukum-hukum yang termaktub di dalamnya.”

Ayat ini memberi pengertian bahwa orang yang meninggalkan syariat dan meremehkan hukum Allah disamakan dengan orang yang mengingkari dan menentangnya. Maka sudah sepatutnya dia pada hari Kiamat nanti dikumpulkan dalam keadaan buta. Dia tidak dapat melihat jalan kemenangan dan jalan kebahagiaan.

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْٓ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا   ١٢٥

  قَالَ كَذٰلِكَ اَتَتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَاۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى   ١٢٦

Dia berkata, ”Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?” Dia (Allah) berfirman, ”Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan.” (Taha/20: 125 dan 126)

Apabila seseorang mengingkari syariat Allah dan menyia-nyiakan hukum-Nya, berarti syariat itu tidak mempunyai pengaruh apa-apa pada jiwanya. Sehubungan dengan pengertian ayat ini dapat dikatakan bahwa orang-orang yang hanya membaca Alquran tanpa mengamalkan isinya mereka tidak mendapat manfaat dari kandungan Alquran itu. Maksud mengikuti kitab-kitab suci ialah mengamalkan isinya, bukan hanya sekadar membaca dan melagukannya dengan macam-macam lagu yang merdu.

Kemudian Allah memerintahkan agar Bani Israil berpegang teguh dengan Taurat, selalu mempelajarinya, dan mengamalkan isinya agar mereka menjadi orang yang bertakwa.


Baca juga: Fadhilah Taubat dalam Al-Quran: Menghapus Dosa dan Membuka Pintu Rezeki


Ayat 64

Sesudah Bani Israil mengambil perjanjian dari Allah seperti disebutkan pada ayat yang lalu, mereka berpaling dan tidak menepati perjanjian itu. Mereka banyak melanggar ketentuan-ketentuan dalam Taurat, baik oleh nenek moyang mereka zaman dahulu maupun oleh mereka yang hidup kemudian.

Umpamanya pada zaman mereka hidup di padang pasir yang tandus, mereka menentang Nabi Musa, menyakitinya, dan melawan segala perintahnya.

Pada masa berikutnya mereka membunuh Nabi Yahya, mengingkari Nabi Isa bahkan merencanakan akan membunuhnya. Keingkaran mereka terhadap Nabi Muhammad saw, termasuk bukti penyelewengan mereka dari Taurat.

Maka sudah sewajarnya mereka mendapat azab dari Allah, atau Allah melenyapkan nikmat dari mereka untuk selama-lamanya. Tetapi Allah tidak berbuat demikian, karena kasih sayang-Nya. Mereka tidak dibinasakan, dan Allah selalu membuka pintu tobat bagi yang ingin kembali ke jalan yang benar.

Ayat 65

Dalam ketentuan syariat agama Yahudi, pada hari ketujuh, Sabat (dari bahasa Ibrani, shabbath, berarti “istirahat”) orang dilarang mengerjakan apa pun, karena hari itu khusus untuk ibadah. Dalam bahasa Arab sabt (Sabtu), dari kata sabata, yasbitu, sabtan, juga berarti “istirahat” atau “tenang.” Pada hari itu setelah “langit, bumi, dan segala isinya diselesaikan” Tuhan beristirahat.

“Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya” (Kejadian ii. 1-3), yang juga dipakai untuk merayakan terbebasnya orang Israil dari perbudakan di Mesir. Menurut Perjanjian Lama, mereka yang melanggar kekudusan Sabat, termasuk menangkap ikan pada hari itu, dapat dijatuhi hukuman mati: “Siapa yang melanggar kekudusan hari Sabat itu pastilah ia dihukum mati, sebab orang yang melakukan pekerjaan pada hari itu, orang itu harus dilenyapkan dari antara bangsanya”. (Kitab Keluaran 31. 14).

Pada hari yang sangat dihormati itu biasanya ikan-ikan bebas bermunculan sehingga menutupi permukaan air laut, karena hari itu tidak ada orang yang berani mengganggunya. Di luar hari Sabtu ikan-ikan itu menghilang lagi (al-A’raf/7 : 163).

Banyak mufasir menyebutkan, larangan ini oleh mereka diakali; pada hari-hari sebelum Sabat mereka membuat kolam besar dan air laut dialirkan ke dalamnya. Pada hari Ahad mereka bekerja mengambil ikan yang sudah terjaring itu. Tetapi dalam hukum Tuhan mereka tetap melanggar, maka Allah menjatuhkan hukuman dengan menjadikan mereka kera, sehingga mereka jauh dari kebajikan serta hina dan rendah.

Menurut Mujahid, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, “Fisik mereka tidak ditukar menjadi kera, tetapi hati, jiwa, dan sifat merekalah yang dijadikan seperti kera, sehingga mereka tidak dapat menerima pengajaran dan tidak dapat memahami ancaman.” Pada ayat ini mereka diserupakan dengan kera dan pada ayat yang lain mereka diserupakan dengan keledai, sesuai dengan firman Allah:

مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًاۗ

Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.….(al Jumu’ah/62:5)

Jumhur ulama berpendapat bahwa mereka benar-benar bertukar wujud menjadi kera sebagai hukuman terhadap keingkaran mereka. Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka yang diubah menjadi kera tidak beranak, tidak makan, tidak minum, dan tidak dapat hidup lebih dari tiga hari. Di dalam Alquran terdapat ayat yang serupa maksudnya:

وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيْرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوْتَۗ

… Dan di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah Tagut.”…(al-Ma′idah/5:60)


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 66-70


(Tafsir Kemenag)

Keistimewaan Buah Delima (Ar-Rumman) yang Disebut dalam Al-Quran

0
Buah Delima
Buah Delima

Di antara nama buah-buahan yang disebutkan al-Qur’an, terdapat nama buah delima. Nama delima dimasukkan ke dalam kalam Tuhan bukan tanpa sebab. Di balik peyebutannya, ternyata dapat ditemukan makna-makna filosofis dan saintifik.

Artikel ini akan mengulas tentang buah ini dan keistimewaannya dalam al-Qur’an. Penulis menggunakan pendekatan saintifik dan historis untuk menguraikan penjelasan dalam ayat-ayat al-Quran terkait buah delima.

Penyebutan term ar-Rummān

Ar-Rummān alias buah delima (Punica granatum), disebut sebanyak tiga kali dalam al-Qur’an, yakni pada ayat-ayat berikut:

  1. (QS. Al-An’am[6]: 99).

وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجۡنَا بِهِۦ نَبَاتَ كُلِّ شَيۡءٖ فَأَخۡرَجۡنَا مِنۡهُ خَضِرٗا نُّخۡرِجُ مِنۡهُ حَبّٗا مُّتَرَاكِبٗا وَمِنَ ٱلنَّخۡلِ مِن طَلۡعِهَا قِنۡوَانٞ دَانِيَةٞ وَجَنَّٰتٖ مِّنۡ أَعۡنَابٖ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُشۡتَبِهٗا وَغَيۡرَ مُتَشَٰبِهٍۗ ٱنظُرُوٓاْ إِلَىٰ ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثۡمَرَ وَيَنۡعِهِۦٓۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمۡ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ  ٩٩

  1. (QS. Al-An’am[6]: 141).

۞وَهُوَ ٱلَّذِيٓ أَنشَأَ جَنَّٰتٖ مَّعۡرُوشَٰتٖ وَغَيۡرَ مَعۡرُوشَٰتٖ وَٱلنَّخۡلَ وَٱلزَّرۡعَ مُخۡتَلِفًا أُكُلُهُۥ وَٱلزَّيۡتُونَ وَٱلرُّمَّانَ مُتَشَٰبِهٗا وَغَيۡرَ مُتَشَٰبِهٖۚ كُلُواْ مِن ثَمَرِهِۦٓ إِذَآ أَثۡمَرَ وَءَاتُواْ حَقَّهُۥ يَوۡمَ حَصَادِهِۦۖ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ  ١٤١

  1. (QS. Ar-Rahman[55]: 68).

فِيهِمَا فَٰكِهَةٞ وَنَخۡلٞ وَرُمَّانٞ  ٦٨

Dalam beberapa kesempatan, kata rummān dimaknai sebagai fākihah ma’rūfah yu’kalu habbuha (buah yang dikenal secara umum yang bijinya dapat dimakan). (Ibrahim: 1988). Sedangkan menurut penjelasan yang lain, ia dideskripsikan dalam bentuk ‘pohon delima’, bukan buah delima. (Husain al-Baghawi: 2002).

Baca Juga: Mengenal Kuliner Neraka dalam Al-Quran, dari Buah Zaqqum hingga Shadid

Mengenai sedikit perbedaan tersebut, penulis cenderung sesuai dengan pandangan Ibrahim Madzkur yang memaknai kata ar-rummān sebagai buah delima, dan makna ini yang akan dipegangi oleh penulis dalam menguraikan keistimewaan dari penyebutan ar-rummān.

Melihat kemunculan Delima sebagai Fakta Historis

Dalam perspektif ilmu pengetahuan, delima berasal dari kawasan yang sekarang bernama Negara Iran.  Buah delima konon telah mulai dibudidayakan sejak masa Nabi Musa. Pohon ini kemudian menyebar secara cepat, bahkan disebut sebagai tumbuhan asli di sekitar Himalaya dan India Utara.

Pustaka kuno menyatakan bahwa buah ini juga banyak ditemukan di China, Mesir, dan Yunani. Masyarakat China biasa menghidangkan buah delima pada upacara pernikahan. Buah delima juga banyak digunakan oleh masyarakat kuno sebagai simbol yang melambangkan banyak anak, fertilitas, keabadian, dan kemakmuran.

Masyarakat Mesir kuno juga menyertakan buah delima dalam prosesi penguburan jenazah. Sedangkan pada mitologi Yunani, buah ini dikaitkan dengan hilangnya Persephone; putri Demeter; Dewa Tanah.  Konon, Persephone diculik oleh dewa di bawah tanah, Hades, sebab ia telah memakan sebutir biji buah delima. (LPMA dan LIPI).

Pada masa Nabi Musa, tumbuhan ini banyak di tanam di Palestina, Suriah, dan Libanon. Bahkan terdapat kota bernama rimmon, kota ini terletak disekitar Hebron, alkisah penamaan nama rimmon juga dinisbahkan kepada kata ar-rummān (delima).  Penamaan kata rimmon disinyalir dikarenakan karena kota tersebut merupakan penghasil utama dari buah delima.

Apakah hanya itu saja rahasia dibalik penyebutan buah delima? Makna yang lebih menadalam akan tersampaikan melalui data-data saintifik dalam bagian selanjutnya.

Keistimewaan Delima

Sebagaimana kurma dan zaitun, delima banyak digunakan sebagai makanan sehat karena kandungan protein dan lemaknya yang sangat kecil.

Sebaliknya, delima kaya akan sodium, riboflavin, thiamin, niasin, vitamin C, kalsium dan fosfor. Delima juga dipercaya mampun untuk memperlambat penuaan, sekaligus dapat menjadi pertahanan tubuh terhadap penyakit jantung dan kanker.

Di samping sebagai makanan, delima diketahui mempunyai khasiat sebagai obat. Hal ini dibuktikan berdasarkan tulisan dalam Unani Tibb, yakni suatu sistem pengobatan berdasarkan data ilmiah dan prinsip holistik dan pengobatan Yunani, Mesir, Arab, dan India yang dinamai sebagai homeopathy. (LPMA: 2010).

Adapun peyebutan dua nama buah secara khusus, yakni kurma dan delima dalam (QS. Ar-Raḥmān[55]: 68) bukan tanpa sebab. Keduanya memang mempunyai keistimewaan tersendiri jika dibandingkan dengan jenis buah yang lainnya.

Menurut sudut pandang ilmu modern, isi dan perasan dari buah delima mengandung asam sitrat dengan kadar yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan jenis buah-buahan lainnya. Asam sitrat yang terkandung yang terkandung dalam buah delima juga dapat membantu membentuk batu ginjal.

Selain itu, kulit buah delima juga mempunyai kegunaan karena mengandung astringen yang dapat melindungi perut dari buang air, dan sekaligus ia dapat dimanfaatkan untuk membasmi cacing pita. (Quraish Shihab: 2005).

Beberapa data sejarah dan data saintifik yang telah dipaparkan di atas, secara tidak langsung menunjukkan bahwa buah delima sarat akan manfaat dan nilai filosofis.

Baca Juga: Kekhasan Al-Quran Sebagai Mukjizat Bagi Nabi Muhammad Saw

Dalam sudut pandang saintifik, delima mengandung banyak khasiat, mulai dari mencegah penyakit jantung, dampai kanker. Sedang dalam sudut pendang sejarah, delima tidak hanya dimaknai sebagai sebuah makanan bagi masyarakat saat itu, namun buah tersebut melambangkan nilai-nilai yang luhur.

Di sisi lain, fakta sejarah di atas juga menunjukkan bahwa kesitimewaan delima bukan hanya disebabkan karena ia disebutkan dalam al-Qur’an, namun ternyata delima juga menjadi bagian dalam mitologi Yunani.

Dua argumen ini memberikan pengajaran bahwa keistimewaan al-Qur’an tidak terbatas pada satu aspek saja, sebut saja bahasa. Meski sejak awal ia diciptakan sebagai mukjizat yang penuh dengan dimensi kebahasaan yang tinggi, namun tidak berarti keistemawaannya berhenti sampai di situ.

Al-Qur’an akan selalu menampilkan makna yang beragam jika ia dibaca melalui pembacaan yang beragam pula (baca; multi-perspektif). Karena hakikatnya, al-Qur’an itu ḥamālatul aujuhin. Di mana, ia akan senantiasa menarik untuk diperbincangkan dan dipelajari sampai akhir zaman. Wallahu A’lam bis Showāb.

Inilah Empat Makna Doa Nabi Ibrahim Kepada Allah SWT

0
ilustrasi: doa nabi ibrahim a.s.
ilustrasi: doa nabi ibrahim a.s.

Doa menjadi salah satu sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Allah swt tanpa perantara. Karena itu, doa bersifat privasi, personal, dan rahasia. Doa tidak hanya sekadar ungkapan lisan belaka, lebih dari itu adalah ungkapan batin terdalam seorang hamba akan kebutuhannya kepada Allah swt.

Maka tak heran, dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah dijelaskan bahwa doa bermakna dasar kecenderungan terhadap sesuatu dan mengungkapkannya dengan suara atau kalimat yang lembut. Kata doa sendiri sebagaimana disebutkan Muhammad Fuad Abd al-Baqi dalam Mu’jam al-Mufahras li Alfadzi Al-Quran al-Karim, disebutkan sebanyak 212 kali dalam berbagai derivasinya. Di dalamnya termasuk memuat doa Nabi Ibrahim, berikut bentuk doa Nabi Ibrahim dalam beberapa makna,

Talab (Permintaan)

Doa-doa Nabi Ibrahim yang bermakna talab setidaknya termaktub dalam empat tempat, yaitu Q.S. As-Syu’ara [26]: 83-86, Q.S. al-Saffat [37]: 100, Q.S. al-Baqarah [2]: 129, Q.S. al-Mumtahanah [60]: 5,

رَبِّ هَبْ لِيْ حُكْمًا وَّاَلْحِقْنِيْ بِالصّٰلِحِيْنَ ۙ وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَانَ صِدْقٍ فِى الْاٰخِرِيْنَ ۙ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ وَّرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيْمِ ۙ وَاغْفِرْ لِاَبِيْٓ اِنَّهٗ كَانَ مِنَ الضَّاۤلِّيْنَ ۙ

Ibrahim berdoa), “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat, (Q.S. Al-Syu’ara [26]: 83-86)

Dalam ayat yang lain disebutkan,

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (Q.S. al-Saffat [37]: 100),

Dan pada ayat yang lain juga mengandung permintaan (talab) doa Nabi Ibrahim,

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ࣖ

Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 129)

Baca juga: Kisah Nabi Musa dan Doa-Doa yang Dipanjatkannya dalam Surat al-Qashash

Kemudian, dalam Q.S. al-Mumtahanah ayat 5,

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَاۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Q.S. al-Mumtahanah [60]: 5)

Istighasah (Meminta Pertolongan)

Layaknya seorang hamba manusia biasa, Nabi Ibrahim pun juga membutuhkan pertolongan kepada Allah swt. Berbagai ujian dan cobaan yang dihadapinya terus menghantam. Maka tak ada solusi lain selain meminta pertolongan Allah swt (istighatsah). Berikut beberapa doa Nabi Ibrahim dalam bentuk istighatsah,

 وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗٓ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,” Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 126)

Dalam ayat yang lain disebutkan,

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Q.S. Ibrahim [14]: 37)

وَلَا تُخْزِنِيْ يَوْمَ يُبْعَثُوْنَۙ

dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (Q.S. As-Syu’ara [26]: 87)

Baca juga: Inilah 4 Doa Taubat Para Nabi dalam Al-Quran

Tahmid (Pujian)

Tidak hanya berdoa untuk meminta pertolongan semata, Nabi Ibrahim pun juga berdoa dalam kerangka memuji Allah swt sebagai bentuk apresiasi atas anugerah Allah swt yang telah diberikan kepada dirinya baik kesabaran, kenikmatan dan penciptaannya sebagai manusia yang sangat mulia. Berikut doa Nabi Ibrahim yang masuk dalam makna tahmid (pujian),

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ وَهَبَ لِيْ عَلَى الْكِبَرِ اِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَۗ اِنَّ رَبِّيْ لَسَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishak. Sungguh, Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. (Q.S. Ibrahim [14]: 39)

Ayat ini menggambarkan bentuk rasa syukur Nabi Ibrahim a.s dengan memuji kepada Allah swt karena diberikan keturunan yang telah lama diidam-idamkannya, yaitu Ismail dan Ishak. Di hari tuanya.

Amal Ibadahnya Agar Diterima

Meskipun Nabi Ibrahim tergolong ma’shum (terjaga dari dosa), akan tetapi ia tetap memohon kepada Allah swt agar berkenan menerima amal ibadahnya yang telah dikerjakannya, sebagaimana yang termaktub dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 127-128,

وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 127-128)

Hikmah Yang Dapat Dipetik

Berdasarkan uraian di atas, maka jelaslah bahwa doa dalam ajaran Islam merupakan ibadah yang amat penting dan bermanfaat. Ia mengandaikan satu kemesraan sekaligus bentuk penghambaan dirinya kepada Allah swt bahwa ia tak lebih sebagai manusia biasa yang membutuhkan pertolongan, rasa aman, dan anugerah dariNya. Karena apapun yang kita lakukan pada akhirnya Dia lah yang menentukan berhasil tidaknya suatu usaha.

Maka dari itu, doa Nabi Ibrahim di atas mengajarkan kepada kita bahwa segala usaha harus dibarengi dengan doa yang tulus kepadaNya agar segala yang kita lakukan mendapat ridha dan keberkahan dari-Nya. Aamiin. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 61-62

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan mengenai pembangkangan yang dilakukan oleh Bani Israil, dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 61-62 lagi-lagi berbicara mengenai permintaan-permintaan lain dari Bani Israil.


Baca juga: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 59-60


Permintaan lain yang dimaksud dalam Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 61-62 ini adalah sayur-mayur sebagai ganti di Mann dan Salwa. Entah mengapa Bani Israil ini malah meminta sesuatu yang lebih buruk. Padahal Mann dan Salwa merupakan makan penuh gizi yang tidak pernah ada di belahan bumi manapun. Namun sayang Nabi Musa as merasa keberatan dengan permintaan yang satu ini.

Pada akhir pembahasan Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 61-62 ini Allah mengingatkan kepada seluruh hambanya untuk selalu berpegang teguh terhadap ajaran para Nabi mereka agar mendapatkan ganjaran dari sisi Allah swt.

Ayat 61

Ketika Bani Israil tersesat di padang pasir Sinai, mereka berkata kepada Nabi Musa bahwa mereka tidak tahan terhadap satu jenis makanan saja, sedang yang ada hanya mann dan salwa saja (al Baqarah/2:57). Mereka berkata demikian karena keingkaran mereka terhadap Nabi Musa a.s. dan kebanggaan terhadap kehidupan mereka dahulu.

Bani Israil kemudian meminta kepada Musa a.s. agar berdoa kepada Tuhan semoga Dia mengeluarkan sayur-sayuran yang ditumbuhkan bumi sebagai ganti mann dan salwa. Mereka tidak mau berdoa sendiri, tetapi mengharapkan Musa yang berdoa kepada Tuhan, karena mereka memandang Musa orang yang dekat kepada Tuhan dan lagi pula dia seorang Nabi yang dapat bermunajat kepada Allah.

Sayur-mayur dan lain-lain yang mereka minta itu banyak terdapat di kota-kota, tapi tidak terdapat di padang pasir. Sebenarnya permintaan itu tidak sukar dicari, karena mereka dapat memperolehnya asal saja mereka pergi ke kota.

Nabi Musa menolak permintaan itu dengan penuh kekecewaan dan kejengkelan serta mencela sikap mereka karena mereka menolak mann dan salwa, makanan yang sebenarnya mengandung nilai gizi yang tinggi dan sangat diperlukan oleh tubuh, diganti dengan sayur-mayur yang lebih rendah gizinya.

Kemudian Nabi Musa menyuruh mereka keluar dari gurun Sinai dan pergi menuju kota. Di sana mereka akan mendapatkan yang mereka inginkan, sebab gurun Sinai tempat mereka tinggal sampai batas waktu yang telah ditentukan Allah, tidak dapat menumbuhkan sayur-sayuran. Mereka tinggal di gurun Sinai itu karena mereka lemah dan tidak tabah untuk mengalahkan penduduk negeri yang dijanjikan bagi mereka.

Mereka akan lepas dari hal yang tidak mereka sukai, bilamana mereka memiliki keberanian memerangi orang-orang yang di sekitar mereka, yaitu penduduk bumi yang dijanjikan Allah dan menjamin memberi pertolongan kepada mereka. Oleh sebab itu, hendaknya mereka mencari jalan untuk mendapatkan kemenangan dan keuntungan.

Setelah Allah menceritakan penolakan Musa terhadap permintaan mereka dan sebelumnya telah membentangkan pula segala nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, dalam ayat ini Allah mengemukakan beberapa kejahatan keturunan Bani Israil yang datang kemudian, yaitu mereka mengingkari ayat-ayat Allah, membunuh nabi-nabi dan pelanggaran mereka terhadap hukum Allah. Oleh sebab itu, Allah menimpakan kepada mereka kehinaan dan kemiskinan sebagai wujud kemurkaan-Nya.


Baca juga: Kisah Bani Israil Pasca Kehancuran Firaun dan Bala Tentaranya dalam Al-Quran


Sudah semestinya mereka menerima murka Ilahi, menanggung bencana dan siksaan di dunia dan azab yang pedih di akhirat. Demikian pula mereka mendapatkan kehinaan dan kemiskinan karena mereka selalu menolak ayat-ayat Allah yang telah diberikan kepada Nabi Musa berupa mukjizat yang telah mereka saksikan sendiri. Kedurhakaan dan penolakan mereka terhadap Nabi Musa adalah suatu bukti bahwa ayat-ayat Allah tidak berpengaruh pada jiwa mereka. Mereka tetap mengingkarinya.

Mereka membunuh para nabi dari golongan mereka, tanpa alasan yang benar. Memang sesungguhnya orang yang berbuat kesalahan kadang-kadang meyakini bahwa yang diperbuatnya adalah benar. Perbuatan mereka yang demikian itu bukanlah karena salah dalam memahami atau menafsirkan hukum, tetapi memang dengan sengaja menyalahi hukum-hukum Allah yang telah disyariatkan di dalam agama mereka.

Kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan kelancangan mereka membunuh para nabi, karena mereka banyak melampaui batas ketentuan agama mereka. Seharusnya agama mempunyai pengaruh yang besar pada jiwa manusia, sehingga penganutnya takut menyalahi perintah Allah. Apabila seseorang melampaui peraturan-peraturan atau batas-batas agamanya berarti pengaruh agama pada jiwanya sudah lemah.

Semakin sering dia melanggar batas hukum agama itu semakin lemah pulalah pengaruh agama pada jiwanya. Sampai akhirnya pelanggaran ketentuan-ketentuan agama itu menjadi kebiasaannya, seolah-olah dia lupa akan adanya batas-batas agama dan peraturan-peraturannya. Akhirya lenyaplah pengaruh agama dalam hatinya.

Ayat 62

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa tiap-tiap umat atau bangsa pada masa itu yang benar-benar berpegang pada ajaran para nabi mereka serta beramal saleh akan memperoleh ganjaran di sisi Allah, karena rahmat dan magfirah-Nya selalu terbuka untuk seluruh hamba-hamba-Nya.

“Orang-orang mukmin” dalam ayat ini ialah orang yang mengaku beriman kepada Muhammad Rasulullah saw dan menerima segala yang diajarkan olehnya sebagai suatu kebenaran dari sisi Allah. Sabi′in ialah umat sebelum Nabi Muhammad saw yang mengetahui adanya Tuhan Yang Maha Esa, dan mempercayai adanya pengaruh bintang-bintang.

Pengertian beriman ialah seperti yang dijelaskan Rasul saw ketika Jibril a.s. menemuinya. Nabi berkata:

;اَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاْليَوْمِ اْلاٰخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

(رواه مسـلم عن عمر)

Agar kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Kiamat, dan kamu percaya qadar baik atau buruk. (Riwayat Muslim dari ‘Umar r.a.)

Orang Yahudi ialah semua orang yang memeluk agama Yahudi. Mereka dinamakan Yahudi karena kebanyakan mereka dari keturunan Yahudi, salah seorang keturunan Yakub (Israil). Orang-orang Nasrani ialah orang-orang yang menganut agama Nasrani. Kata Nasrani diambil dari nama suatu daerah Nasirah (Nazareth) di Palestina, tempat Nabi Isa dilahirkan.

Siapa saja di antara ketiga golongan di atas yang hidup pada zamannya, sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw dan benar-benar beragama menurut agama mereka, membenarkan dengan sepenuh hati akan adanya Allah dan hari Kiamat, mengamalkan segala tuntutan syariat agamanya, mereka mendapat pahala dari sisi Allah.

Sesudah kedatangan Nabi Muhammad saw, semua umat manusia diwajibkan beriman kepadanya dan seluruh ajaran yang dibawanya, yakni dengan menganut lslam.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 63-65


(Tafsir Kemenag)