Beranda blog Halaman 158

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 45-46

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 45-46 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai celaan kepdaa orang-orang kafir. Kedua mengenai dakwah Nabi Musa kepada Fir’aun.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 41-44


Ayat 45

Ayat ini mengandung celaan terhadap kaum kafir Mekah yang masih belum mau beriman dan masih tetap menyembah berhala-berhala. Celaan itu ditujukan kepada mereka karena Al-Qur’an turun dalam bahasa mereka, dimana merekalah seharusnya yang lebih memahaminya dan mengimaninya terlebih dahulu.

Untuk itulah Allah meminta Nabi Muhammad bertanya kepada rasul-rasul terdahulu, pernahkah Allah menjadikan sembahan selain-Nya. Perintah agar Nabi saw bertanya kepada nabi-nabi terdahulu itu, menurut pendapat sebagian ulama, terjadi pada waktu Nabi saw melakukan isra’ mi’raj.

Ada pula yang berpendapat bahwa pertanyaan kepada rasul-rasul itu dilakukan dengan memeriksa isi kitab-kitab suci terdahulu, yaitu Taurat dan Injil. Para nabi itu pasti akan menjawab bahwa mereka tidak pernah menyaksikan adanya tuhan selain Allah.

Dengan demikian perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk bertanya kepada nabi-nabi terdahulu itu bukanlah bertanya karena tidak tahu, tetapi bertanya untuk menunjukkan bahwa kaum Quraisy yang menyembah berhala-berhala itu keliru karena hal itu tidak pernah diajarkan dalam agama-agama terdahulu. Oleh sebab itu mereka seharusnya beriman.


Baca juga: Ketentuan Menyentuh Kemaluan yang Batalkan Wudu Menurut Mazhab Syafii


Ayat 46

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah telah mengutus Nabi Musa kepada Fir’aun dan rakyatnya untuk menyampaikan ajaran-ajaran Allah. Nabi Musa diutus kepada Fir’aun dengan dilengkapi beberapa mukjizat, misalnya tongkat menjadi ular, tangan yang bercahaya, dan sebagainya.

Inti seruan Nabi Musa kepada Fir’aun adalah agar Fir’aun mengakui Allah sebagai Tuhan yang menciptakan dan memelihara seluruh alam ini, dan mengakuinya sebagai utusan-Nya.

Penegasan berkenaan dengan Nabi Musa itu mengandung pula penegasan mengenai Nabi Muhammad saw. Kaum kafir Mekah hendaknya juga mengimani Allah swt sebagai Tuhan Yang Maha Esa, mengimani Muhammad saw sebagai Rasul-Nya dan mengimani mukjizatnya yang utama yaitu Al-Qur’an.

Selanjutnya penegasan itu mengandung arti bahwa agama yang diserukan Nabi Muhammad sama dengan yang diserukan Nabi Musa dan seluruh nabi, yaitu Islam. Allah berfirman:

اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللّٰهِ الْاِسْلَامُ

Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. (Ali Imran/3:19)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 47-48


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 41-44

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 41-44 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai himbauan Allah agar Nabi Muhammad tidak merisaukan keingkaran orang-orang musyrik. Kedua mengenai perintah Allah agar Nabi berpegang teguh pada al-Qur’an. Ketiga mengenai kemuliaan al-Qur’an.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 39-40


Ayat 41-42

Di dalam dua ayat ini dijelaskan bahwa Nabi saw tidak perlu terlalu merisaukan penentangan orang-orang musyrikin Mekah. Mereka pasti akan dihukum oleh Allah pada saat yang dikehendaki-Nya.

Kemungkinan hukuman itu dalam dua cara. Pertama, Allah akan menghukum mereka setelah Nabi saw meninggal; dengan demikian hukuman itu tidak sempat beliau saksikan sendiri di dunia. Kedua, hukuman terhadap orang-orang yang kafir itu dilaksanakan Allah sekarang juga yaitu pada saat Nabi saw masih hidup.

Bukti hukuman seperti itu menurut sebagian ulama adalah terbunuhnya banyak pemimpin kaum kafir Mekah pada Perang Badar. Demikianlah ancaman Allah terhadap kaum kafir itu. Pernyataan itu kembali menguatkan hati Nabi saw bahwa mereka yang menentang itu memang betul-betul membutakan mata hatinya karena itu perlu didakwahi lebih intensif lagi.


Baca juga: Mengenal Kiai Dahlan Khalil, Ahli Alquran dari Rejoso Jombang


Ayat 43

Pada ayat ini Nabi saw diminta Allah untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an, yaitu lebih meningkatkan iman kepadanya dan lebih giat menyampaikan ajaran-ajaran Allah di dalamnya.

Hal itu karena ajaran-ajaran yang terdapat di dalam Kitab itu mutlak benar dan menjamin kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat. Sedangkan bagi mereka yang tetap membangkang tentu Allah akan menentukan hukuman buat mereka.

Ayat 45

Allah menegaskan bahwa turunnya Al-Qur’an itu sesungguhnya adalah kemuliaan bagi Nabi saw dan kaumnya, yaitu suku Quraisy pada khususnya dan bangsa Arab pada umumnya.

Hal itu karena Al-Qur’an itu diturunkan dalam bahasa mereka. Dengan begitu bangsa Arab, khususnya suku Quraisy, tentu yang paling paham maknanya, karena itu seharusnya mereka menjadi yang pertama dalam mengimaninya dan melaksanakan ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya.

Dalam ayat lain Allah menyatakan Al-Qur’an sebagai kehormatan yang telah diberikan kepada mereka:

لَقَدْ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكُمْ كِتٰبًا فِيْهِ ذِكْرُكُمْۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab (Al-Qur’an) yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu. Maka apakah kamu tidak mengerti? (al-Anbiya’/21: 10)

Selanjutnya, orang-orang musyrikin Mekah seharusnya menjadi pelopor dalam menyebarkan ajaran-ajaran yang terdapat dalam Al-Qur’an. Untuk itu semua mereka akan diminta pertanggungjawabannya. Bila mereka tidak mengimaninya, tidak menjalankannya, dan tidak menyebarluaskannya, maka kedudukan mereka akan digantikan oleh kaum-kaum lain, sebagaimana firman Allah:

هٰٓاَنْتُمْ هٰٓؤُلَاۤءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۚ فَمِنْكُمْ مَّنْ يَّبْخَلُ ۚوَمَنْ يَّبْخَلْ فَاِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَّفْسِهٖ ۗوَاللّٰهُ الْغَنِيُّ وَاَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ ۗوَاِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْۙ ثُمَّ لَا يَكُوْنُوْٓا اَمْثَالَكُمْ

Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada orang yang kikir, dan barang siapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini). (Muhammad/47: 38)

Karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, kaum Muslimin yang bukan bangsa Arab dan tidak berbahasa Arab berarti perlu belajar bahasa Arab agar dapat memahami ajaran-ajaran yang terdapat di dalamAl-Qur’an itu dengan baik. Di antara mereka perlu ada yang mendalami ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya, melaksanakannya, dan mendakwahkannya.

Bila mereka melakukan yang demikian itu, maka kedudukan mereka setingkat dengan suku Quraisy yang dianugerahi kemulian sebagai umat pertama yang menerima Islam dan menyebarluaskannya kepada bangsa-bangsa lain. Mereka adalah para ulama.

Dengan demikian di pundak para ulama terletak tanggung jawab besar dan mereka juga akan diminta pertanggungjawaban nanti di akhirat oleh Allah swt.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 45-46


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 39-40

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 39-40 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai penyesalan orang-orang kafir. Kedua mengenai kehendak Allah untuk menggerakkan hati manusia.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 37-38


Ayat 39

Selanjutnya Allah menegaskan kepada mereka bahwa bagaimanapun penyesalan mereka dan apa pun alasan mereka tidak akan diterima. Hal itu karena mereka telah berbuat aniaya, yaitu tidak mengimani-Nya dan tidak menjalankan perintah-perintah-Nya. Mereka akhirnya akan dijebloskan ke dalam neraka bersama setan-setan teman-teman mereka itu.


Baca juga: Mengenal Imam Mazhab Rasm Bagian 2: Abu Dawud Sulaiman Najah


Ayat 40

Pada ayat ini Allah bertanya kepada Nabi Muhammad saw yang selalu ingin agar orang-orang kafir itu beriman, apakah ia mampu membuat orang yang tuli mendengar ajakan untuk beriman dan berbuat baik, dan apakah ia mampu membuka hati orang yang telah tertutup mata hatinya.

Tentu saja Nabi saw. tidak akan mampu, karena yang mampu melakukannya hanyalah Allah, sedangkan Allah tidak akan mengembalikan mereka yang sesat itu bila mereka sendiri tidak bersedia kembali kepada jalan yang benar.

Pertanyaan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw itu bukanlah untuk maksud bertanya, tetapi justru untuk menegaskan bahwa telinga dan mata batin mereka sebenarnya sudah tuli dan buta, karena itu kebenaran apa pun yang disampaikan kepada mereka tidak akan mereka terima.

Oleh karena itu tugas beliau sebagai seorang rasul hanya menyampaikan. Dalam menyampaikan firman-firman Allah kepada kaum kafir Mekah itu, Nabi saw telah melaksanakannya dengan segenap tenaga dan upaya, namun sebagian mereka menentangnya.

Nabi saw dan umatnya diboikot, bahkan diancam akan dibunuh. Untuk menyelamatkan diri Nabi saw memerintahkan pengikut-pengikutnya untuk berhijrah, pertama ke Abessinia, dan kedua ke Medinah.

Penentangan dan ancaman itu kadang-kadang membuat hati Nabi saw. kecewa dan hampir-hampir putus asa. Namun dengan turunnya ayat-ayat seperti ayat ini, hati beliau terhibur kembali. Beliau sadar bahwa ia tidak bersalah, tetapi merekalah yang tertutup hatinya.

Yang mampu membukanya hanyalah Allah, karena itu beliau tidak lagi berputus asa, tetapi terus berdakwah, dengan harapan pada suatu saat Allah akan menurunkan hidayah-Nya kepada mereka.

Di dalam ayat lain Allah berfirman mengenai pemberian hidayah yang merupakan wewenang Allah itu:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ

Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (al-Baqarah/2: 272)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 41


(Tafsir Kemenag)

Nafi’ al-Madaniy: Pakar Qiraah yang Serius pada Kajian Rasm

0
Mengenal Imam Nafi' al-Madaniy
Mengenal Imam Nafi' al-Madaniy

Saya sempat memberikan ulasan tentang kedekatan relasi antara rasm dan qiraah, yang dibuktikan dengan adanya tiga imam qiraah, yang juga memiliki concern terhadap rasm. Ulasan tersebut dapat dibaca pada tulisan berjudul Tiga Imam Qiraah yang Concern Pada Kajian Rasm. Kemudian, pada upaya telaah terhadap rekonstruksi Mushaf Madinah, saya mendapati bahwa saya telah ‘melewatkan’ satu imam qiraah yang cukup penting dalam perhatiannya terhadap kajian rasm, yakni Nafi’ al-Madaniy, imam qiraah kota Madinah. Untuk itu, dalam tulisan kali ini akan saya ulas biografi imam Nafi‘ berikut kontribusinya dalam kajian rasm.

Biografi Singkat Imam Nafi‘

Beliau memiliki nama lengkap Abu ‘Abd al-Rahman Nafi‘ bin ‘Abd al-Rahman bin Abu Nu‘aim al-Madiniy. Beliau memiliki nama kunyah Abu Ruwaim Ashfihaniy. Beliau lahir pada tahun 70 H. dan wafat pada tahun 169 H. di Madinah.

Salah satu karamah yang beliau miliki adalah terciumnya wangi misk ketika beliau berbicara. Saat ditanya, “Apakah engkau mennggunakan wewangian setiap datang ke majelis qiraah?”, beliau menjawab, “Tidak. Aku tidak menggunakan wewangian apa pun, tetapi aku pernah bermimpi bertemu Rasulullah Saw. dan beliau membacakan kepadaku tepat berada di mulutku.”

Baca juga: Mengenal Imam Mazhab Rasm Bagian 2: Abu Dawud Sulaiman Najah

Dalam bidang qiraah, beliau telah melakukan pembacaan kepada 70 orang tabi’in. Di antaranya, Abu Ja‘far Yazid bin al-Qa‘qa‘ yang mengambil riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, Abu Hurairah, dan ‘Abdullah bin ‘Ayyasy, serta kepada ‘Abd al-Rahman bin Hurmuz al-A‘raj yang juga mengambil riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Abbas dan Abu Hurairah.

Sebagai seorang imam qiraah, beliau memiliki dua perawi yang dianggap paling masyhur, yakni Abu Musa ‘Isa bin Maina (120-220 H.) yang dijuluki dengan Qalun, karena keindahan suara yang dimilikinya dan Abu Sa‘id ‘Utsman bin Sa‘id al-Mishriy (110-197 H.) yang mendapat julukan Warsy karena kulitnya yang terlampau putih.

Kontribusi Nafi‘ dalam Kajian Rasm

Sebagai seorang imam qiraah kota Madinah, Nafi’ al-Madaniy juga memiliki kepakaran dalam bidang rasm, khususnya mushaf-mushaf Madinah yang disalin dari salah satu master mushaf yang dikirimkan oleh ‘Utsman. Berdasarkan informasi yang diberikan Ahmad bin Ahmad bin Mu‘ammar Syirsyal, Nafi‘ bahkan memiliki mushaf salinan tersendiri yang juga menjadi bahan rujukan pada karya tulisnya. Catatan yang dinukilnya dari Abu Dawud menyebutkan,

أَنَّ مَصَاحِفَ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ عَلَى الْهَاءِ لِرِوَايَةِ الْغَازِي بْنِ قَيْسٍ عَنْ نَافِعٍ بْنِ أَبِي نُعَيْمٍ الْمَدِنِي، وَأَخْذِهِ الْهِجَاءَ عَنْهُ وَمِنْ مُصَنَّفِهِ، وَأَنَّهُ عَرَضَ مُصْحَفَهُ بِمُصْحَفِ نَافِعٍ ثَلَاثَ عَشْرَةَ مَرَّةً

“Bahwa sesungguhnya mushaf-mushaf penduduk Madinah (ditulis) dengan ha’ berdasarakn riwayat al-Gaziy bin Qais dari Nafi‘ bin Abi Nu‘aim al-Madiniy, dan berdasar pada pengambilan hija’ (rasm) dari Nafi‘ dan dari karangannya, serta al-Gaziy juga membandingkan mushafnya dengan mushaf Nafi‘ sebanyak 13 kali.”

Dari nukilan di atas, diketahui bahwa Nafi‘ memiliki salinan mushaf tersendiri yang ia simpan. Beliau juga memiliki mushannaf atau karangan yang kemudian menjadi rujukan muridnya, al-Gaziy, dalam masalah hija’ atau rasm.

Baca juga: Kajian Rasm dalam Mushaf Kuno Nusantara

Namun demikian, kepakaran Nafi‘ dalam bidang rasm ini kemudian menjadi masyhur justru bukan dari mushaf dan karya-karya yang dituliskannya, melainkan dari adanya periwayatan dari murid-muridnya tersebut melalui jalur naql. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya informasi mengenai mushaf salinan atau karya-karya yang dituliskannya.

Mengenai murid-murid Nafi‘ yang menjadi pilar periwayatan rasm mushaf Madinah, Ahmad dalam catatannya menyebutkan ada setidaknya dua orang yang cukup penting. Mereka adalah Abu Musa ‘Isa bin Maina atau Qalun (120-220 H.) yang tak lain adalah perawinya sendiri dalam bidang qiraah dan al-Gaziy bin Qais al-Andalusiy (w. 199 H./814 M.) yang menulis karya berjudul Hija’ al-Sunnah.

Baca juga: Diskusi Rasm Tentang Makna Ke-ummiy-an Nabi Muhammad Saw

Saat ini, sebagian riwayat-riwayat Nafi‘ al-Madaniy mengenai rasm dapat dijumpai dalam Mukhtashar al-Tabyin karya Abu Dawud Sulaiman, salah satu imam mazhab rasm. Hal ini karena Abu Dawud sendiri telah mendeklarasikan bahwa sebagian besar materi dalam karyanya tersebut diambil dari riwayat Nafi‘, baik melalui mushaf penduduk Madinah, riwayat Qalun, atau karya al-Gaziy bin Qais. Wallahu a‘lam bi al-shawab[]

Serba-serbi Seputar Surah Alfatihah

0
nama lain surah al-fatihah
Surah Alfatihah

Surah Alfatihah adalah surah Alquran yang paling populer di kalangan umat Islam. Bagaimana tidak? Surah ini dibaca di setiap rakaat salat. Sehingga, seorang muslim minimal membacanya 17 kali sehari, sesuai jumlah rakaat salat lima waktu.

Pembacaan surah Alfatihah juga lazim di berbagai kegiatan sosial masyarakat muslim. Misalnya, ia dibaca ketika hendak memulai acara atau ketika mengakhiri doa bersama.

Tulisan ini berisi serba-serbi informasi tentang surah Alfatihah sebagai pengantar untuk lebih mengenal surah tersebut.

Urutan surah

Dalam susunan mushaf Alquran, surah Alfatihah berada di urutan pertama, meski bukan surah yang pertama turun menurut mayoritas ulama. Menurut mereka, yang pertama turun adalah lima ayat pertama surah Al’alaq. Walaupun demikian, ada pula ulama yang menganggap yang pertama turun adalah surah Alfatihah. Di antaranya al-Zamakhsyari dan Muhammad Abduh.

Al-Wahidi mengatakan, surah Alfatihah turun di periode awal Makkiyyah (Asbab al-Nuzul, hal. 17). Makkiyyah adalah wahyu yang turun di Mekah atau sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah.

Izzah Darwazah dalam al-Tafsir al-Hadis (1/17) menengahi tiga pendapat di atas. Dia mengatakan, surah Alfatihah turun pada urutan kelima setelah surah Al’alaq, Alqalam, Almuzzammil, dan Almuddassir. Namun, surah Alfatihah turun secara lengkap sekaligus, berbeda dengan empat surah sebelumnya yang turun bertahap, yakni awal surahnya terlebih dahulu yang turun. Sehingga, bisa dikatakan, surah Alfatihah adalah surah yang pertama turun secara lengkap.

Ada pula pendapat menarik yang mengatakan bahwa surah Alfatihah turun dua kali; sekali di Mekah dan sekali di Madinah, namun Izzah Darwazah meragukan pendapat ini (al-Tafsir al-Hadis, 1/288).

Nama surah

Surah Alfatihah termasuk surah yang memiliki banyak nama. al-Suyuti dalam al-Itqan (hal. 119) menyebutkan setidaknya ada 25 nama yang dinisbatkan kepadanya. Banyaknya nama, menurutnya, menunjukkan kemuliaan dan keutamaan sesuatu yang dinamakan tersebut. Dalam hal ini berarti surah pembuka ini lebih utama dibanding surah-surah yang lain.

Selain al-Fatihah, nama lain yang populer dari surah ini antara lain; Umm al-Qur’an/al-Kitab (intisari Alquran), al-Sab’ al-Matsani (tujuh ayat yang sering diulang-ulang), al-Wafiyah (penyempurna), al-Asas (pondasi), dan al-Nur (cahaya).

Kata al-Fatihah sendiri bermakna pembuka. Ia dinamakan demikian karena posisinya sebagai pembuka atau pengantar bagi kitab suci Alquran. Nabi Muhammad dalam beberapa riwayat menambahkan kata “al-Kitab” di belakangnya, menjadi “Fatihah al-Kitab”.

Kandungan surah

Meski tergolong surah pendek yang hanya terdiri dari tujuh ayat, surah Alfatihah mencakup tema-tema pokok dari keseluruhan Alquran. Ia membicarakan secara global pondasi dan cabang-cabang agama. Mulai dari akidah, ibadah, syariat, sifat-sifat luhur Allah, doa, puja-puji kepada-Nya, kisah umat terdahulu, dan lain sebagainya (Rawai’ al-Bayan, 1/60).

Baca juga: Empat Pembagian Surah Alquran

Keutamaan surah

Keutamaan surah Alfatihah telah banyak disebutkan dalam hadis. Di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan Ubay bin Ka’ab berikut:

مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ مِثْلَ أُمِّ الْقُرْآنِ وَهِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي

Allah tidak pernah menurunkan wahyu, baik di Taurat maupun di Injil yang seperti induk Alquran, yaitu tujuh ayat yang diulang-ulang (surah Alfatihah) (H.R. al-Tirmizi, al-Nasa’i, dan al-Hakim).

Surah ini juga satu-satunya bagian Alquran yang wajib dibaca di dalam salat. Ini pendapat mayoritas ulama fikih yang didasarkan pada hadis berikut dan yang semakna dengannya:

لَا صَلَاةَ لِمَن لَمْ يَقْرَأْ بفَاتِحَةِ الكِتَابِ

Tidak sah salat seseorang yang tidak membaca Pembuka Alquran (H.R. al-Bukhari).

Selain itu, surah Alfatihah juga berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit. Ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abdul Malik bin Umair berikut:

فاتحةُ الْكتابِ شفاءٌ من كلِّ داءٍ

Pembuka Alquran adalah obat segala penyakit (H.R. al-Darimi).

Khasiat ini bukan asal-asalan. Seorang sahabat bernama Abu Said al-Khudri telah membuktikannya. Beliau dalam H.R. al-Bukhari no. 2115 diceritakan mampu mengobati seorang kepala suku yang jatuh sakit dengan membacakannya surah Alfatihah.

Tafsir khusus surah

Memperhatikan keutamaan dan keluasan kandungan maknanya, beberapa ulama telah menuliskan tafsir khusus surah Alfatihah. Di antaranya adalah Tafsir al-Fatihah karya Ibn Rajab al-Baghdadi (w. 795 H.) dan Tafsir Samudera Al-Fatihah karya Bey Arifin (1995 M.), ulama asal Indonesia.

Demikian beberapa informasi pengantar seputar surah Alfatihah. Untuk selebihnya, pembaca dapat merujuk langsung ke kitab-kitab terkait.

Baca juga: Mengenal Bey Arifin dan Tafsir Samudera Al-Fatihah

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 37-38

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 37-38 berbicara mengenai dua hal. Pertama mengenai konsekuensi menjadikan setan sebagai teman. Kedua mengenai nasib akhir yang akan dialami oleh orang yang bertemankan setan.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 33-36


Ayat 37

Dalam ayat ini diterangkan konsekuensi menjadikan setan sebagai teman, yaitu bahwa setan itu akan selalu berupaya menghalangi mereka untuk menemukan jalan yang benar, yaitu mengimani ajaran-ajaran Allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an.

Mereka akhirnya memang tidak menemukan jalan yang benar itu, tetapi merasa bahwa jalan sesat yang mereka tempuh adalah benar, dan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka adalah salah. Begitulah hebatnya kekuasaan setan atas diri orang itu.


Baca juga: Mengenal Kiai Dahlan Khalil, Ahli Alquran dari Rejoso Jombang


Ayat 38

Dalam ayat ini diterangkan nasib manusia yang bersahabat dengan setan itu di hari akhirat ketika menghadap Allah. Di saat itulah orang itu baru menyadari bahwa ia telah disesatkan oleh setan-setan itu. Di hadapan Allah ia menyesali mengapa ia terlalu dekat dengan setan-setan itu sewaktu di dunia.

Ia menyesal mengapa waktu di dunia dulu mereka dengan setan itu tidak berjauhan sebagaimana jauhnya timur dan barat, yaitu seperti antara satu ujung dengan ujung yang lainnya. Tetapi penyesalan itu tidak berguna, karena dunia sudah digulung dan tidak akan mungkin dikembalikan lagi.

Di akhirat setan-setan yang menjadi teman setia mereka waktu di dunia akan meninggalkan mereka. Di depan Allah setan-setan itu mengingkari persahabatan dan berlepas tangan, sebagaimana diinformasikan dalam firman-Nya:

وَقَالَ الشَّيْطٰنُ لَمَّا قُضِيَ الْاَمْرُ اِنَّ اللّٰهَ وَعَدَكُمْ وَعْدَ الْحَقِّ وَوَعَدْتُّكُمْ فَاَخْلَفْتُكُمْۗ وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِّنْ سُلْطٰنٍ اِلَّآ اَنْ دَعَوْتُكُمْ فَاسْتَجَبْتُمْ لِيْ ۚفَلَا تَلُوْمُوْنِيْ وَلُوْمُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ مَآ اَنَا۠ بِمُصْرِخِكُمْ وَمَآ اَنْتُمْ بِمُصْرِخِيَّ

Dan setan berkata ketika perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamu pun tidak dapat menolongku. (Ibrahim/14: 22)

Demikianlah, setan-setan jelas merupakan teman yang paling jahat: di dunia mereka merayu, tetapi di akhirat mereka berlepas tangan bahkan menjerumuskan manusia.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 39-40


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 33-36

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 33-36 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai bagian terpenting dalam kehidupan, yakni keimanan. Kedua mengenai setan yang akan selalu menemani orang-orang yang terlena oleh dunia.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 29-32


Ayat 33

Ayat ini menegaskan sekiranya bukan karena Allah hendak menghindarkan semua manusia menjadi umat yang satu dalam kekafiran akibat mereka melihat orang-orang kafir memperoleh rezeki yang lapang, karena mengira bahwa harta yang banyak adalah bukti cinta Allah kepada mereka, maka akan Allah berikan kepada orang-orang kafir itu rumah-rumah mewah yang terbuat dari emas dan perak, tetapi Allah menghendaki keimanan mereka.

Ayat 34-35

Begitu juga pintu-pintu rumah orang-orang kafir, dan tempat tidur yang mereka tiduri akan dibuat dari perak. Semua itu adalah perhiasan tempat manusia berbangga-bangga; semua itu hanya merupakan kesenangan kehidupan dunia yang sifatnya sementara, dan hanya dapat bertahan beberapa saat saja lalu hilang lenyap.

Sedangkan kehidupan akhirat yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan yang beraneka ragam dan tak terhitung banyaknya serta kekal abadi telah dipersiapkan untuk orang yang bertakwa kepada Allah, yang tidak menyekutukan-Nya, yang tidak berbuat maksiat dengan melanggar perintah-Nya, tetapi taat dan patuh melaksanakan perintah-Nya. Firman Allah:

بَلْ تُؤْثِرُوْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۖ   ١٦  وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ   ١٧

Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. (al-A’la/87: 16-17)


Baca juga: Hukum Mengulangi Basuhan Wudu Hingga Tiga Kali


Ayat 36

Dalam ayat ini ditegaskan bahwa siapa yang berpaling dari peringatan dan pengajaran Allah, yaitu membutakan hatinya untuk beriman dan mempercayai ajaran-ajaran-Nya yang terdapat dalam Al-Qur’an, maka setan akan selalu menemaninya dan akan selalu berupaya membawanya kepada kesesatan, sehingga Allah akhirnya akan menjadikan setan itu menjadi teman setianya.

Menurut az-Zajjaj, maksud ayat ini adalah bahwa siapa yang berpaling dari Al-Qur’an dan tidak mau mengikuti petunjuk-petunjuk yang terdapat di dalamnya, setan akan terus-menerus menggodanya sampai ia terjerumus ke jalan yang sesat, karena itu ia pasti akan mendapat siksaan Allah. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ ﺇِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِيْنُهُ مِنَ الْجِنِّ. (رواه مسلم)

Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah ada salah seorang dari kalian melainkan didampingi oleh pendamping dari golongan jin.” (Riwayat Muslim)

Di dalam ayat lain Allah berfirman bahwa orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah, maka hati dan pandangan mereka akan dibolak-balik oleh Allah sehingga mereka tidak jadi beriman dan tetap dalam kesesatan mereka:

وَنُقَلِّبُ اَفْـِٕدَتَهُمْ وَاَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوْا بِهٖٓ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّنَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti pertama kali mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan. (al-An’am/6: 110)

Manusia yang sesat akan berbuat dosa, lalu semakin ia bergelimang dosa, semakin tertutup hatinya sehingga tidak mungkin lagi beriman dan berbuat baik, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ وَﺇنْ زَادَ زَادَتْ حَتَّى َيعْلُوَ قَلْبَهُ. (رواه أحمد)

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin jika berbuat dosa niscaya ada titik hitam di dalam hatinya, jika ia bertobat dan meninggalkan dan memohon ampun niscaya hatinya kembali bersih. Namun jika dosanya bertambah, niscaya bertambah titik hitam tersebut sehingga meliputi hatinya.” (Riwayat Ahmad)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 37-38


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 29-32

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 29-32 berbicara mengenai tiga hal. Pertama mengenai orang-orang musyrik yang terlena oleh nikmat sehingga lupa untuk bersyukur. Kedua mengenai sambutan tidak baik orang musyrik terhadap datangnya al-Qur’an. Ketiga mengenai siapa yang pantas menjadi seorang rasul.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 27-28


Ayat 29

Allah menerangkan bahwa Dia telah memberikan kenikmatan kepada orang-orang musyrik dan nenek moyang mereka sejak dahulu kala, memanjangkan umur mereka, menganugerahkan beraneka ragam nikmat, tetapi mereka itu terpesona oleh nikmat yang ada pada mereka, terpengaruh oleh kehendak hawa nafsu mereka, lalu menuruti ajakan setan dan melupakan kalimat tauhid.

Maka Allah menjadikan dari keturunan Ibrahim orang-orang yang mengesakan Allah, menyuruh orang-orang kafir di antara mereka agar beriman kepada-Nya, maka dipilih-Nyalah Muhammad saw sebagai Rasul dan diturunkan-Nya Al-Qur’an sebagai kitab yang berisi petunjuk ke jalan yang benar, menyeru mereka untuk berbuat amal baik demi kemaslahatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Ayat 30

Allah menerangkan bahwa ketika disampaikan kepada mereka Al-Qur’an dan mukjizat sebagai bukti kebenaran Rasul, mereka menyambutnya dengan sambutan yang tidak baik. Mereka berkata bahwa apa yang didatangkan kepada mereka adalah sihir dan bukan wahyu dari Allah, oleh karena itu mereka mengingkarinya.


Baca juga: Mengenal Kiai Dahlan Khalil, Ahli Alquran dari Rejoso Jombang


Ayat 31

Mereka berkata, “Kedudukan sebagai rasul adalah kedudukan yang mulia, maka sepantasnyalah orang yang memangku jabatan itu adalah orang yang mulia pula, mempunyai kekayaan dan kedudukan yang tinggi, sedangkan Muhammad saw tidak memiliki yang demikian itu.

Yang pantas menduduki jabatan ini adalah salah satu dari dua orang yang memiliki hal-hal tersebut dari dua kota yang mulia pula yaitu al-Walid bin al-Mugirah dari Mekah atau ‘Urwah bin Mas’µd as-Tsaqafi dari Taif.

Ayat 32

Ayat ini menunjukkan penolakan terhadap keinginan orang-orang musyrik yang tak mau menerima pengangkatan Muhammad saw sebagai rasul; seakan-akan merekalah yang paling berhak dan berwenang membagi-bagi dan menentukan siapa yang pantas menerima rahmat Tuhan.

Allah menyatakan, “Sekali-kali tidaklah demikian halnya, Kamilah yang berhak dan berwenang mengatur dan menentukan penghidupan hamba dalam kehidupan dunia. Kami-lah yang melebihkan sebagian hamba atas sebagian yang lain; ada yang kaya dan ada yang lemah, ada yang pandai dan ada yang bodoh, ada yang maju dan ada yang terbelakang, karena apabila Kami menyamakan di antara hamba di dalam hal-hal tersebut di atas, maka akan terjadi persaingan di antara mereka, atau tidak terjadi situasi saling bantu-membantu antara satu dengan yang lain, dan tidak akan terjadi saling memanfaatkan antara satu dengan yang lain, sebaliknya mereka saling mengejek.

Semuanya itu akan membawa kepada kehancuran dan kerusakan dunia. Kalau mereka tidak mampu berbuat seperti tersebut di atas mengenai urusan keduniaan, mengapa mereka berani menentang berbagai kebijaksanaan Allah dalam menentukan siapa yang pantas diserahi tugas kerasulan itu.

Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa rahmat Allah dan keutamaan yang diberikan kepada orang yang telah ditakdirkan memangku jabatan kenabian dan mengikuti petujuk wahyu dalam Al-Qur’an yang telah diturunkan, jauh lebih baik dan mulia daripada kemewahan dan kekayaan dunia yang ditimbun mereka.

Demikian dikarenakan dunia dengan segala kekayaannya itu berada di tepi jurang yang akan runtuh dan akan lenyap tidak berbekas sedikit pun.


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 33-36


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 27-28

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 27-28 berbicara mengenai pendirian Nabi Ibrahim untuk menegakkan kalimat tauhid.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 24-26


Ayat 27

Dalam ayat ini Nabi Ibrahim menegaskan pendiriannya setelah dia berlepas diri dari bapak dan kaumnya, bahwa dia hanya menyembah Allah yang menciptakannya dan yang menciptakan seluruh manusia.

Dia yang akan menunjukkan jalan yang baik dan benar, yang akan membawa manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Dia yang menyediakan dan memberi makan dan minum, menyembuhkan orang sakit.

Tuhan yang mematikan dan menghidupkan, Tuhan yang diharapkan mengampuni dosa di akhirat. Penegasan Nabi Ibrahim diabadikan di dalam Al-Qur’an sebagaimana firman Allah:

الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِ ۙ   ٧٨  وَالَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ ۙ   ٧٩  وَاِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ ۙ    ٨٠  وَالَّذِيْ يُمِيْتُنِيْ ثُمَّ يُحْيِيْنِ ۙ   ٨١  وَالَّذِيْٓ اَطْمَعُ اَنْ يَّغْفِرَ لِيْ خَطِيْۤـَٔتِيْ يَوْمَ الدِّيْنِ ۗ  ٨٢

(yaitu) Yang telah menciptakan aku, maka Dia yang memberi petunjuk kepadaku, dan Yang memberi makan dan minum kepadaku; dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang sangat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat.” (asy-Syµra/26: 78-82)


Baca juga: Tafsir Surah Alhasyr Ayat 9: Prioritas dalam Urusan Ibadah dan Muamalah


Ayat 28

Allah menerangkan bahwa Nabi Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal, agar penduduk Mekah dapat menyadarinya, lalu meninggalkan agama nenek moyangnya yang sesat dan mengikuti agama tauhid yang dianut nenek moyang mereka yang tidak sesat yaitu Ibrahim apalagi jika mereka mengingat, bahwa Nabi Ibrahimlah kebanggaan mereka karena membangun Baitullah yang menjadi kiblat umat Islam sedunia ketika mendirikan salat.

Qatadah berkata, “Dari keturunan Ibrahim itu senantiasa ada yang menyembah Allah sampai hari Kiamat.” Dan Ibnu ‘Araby berkata, “Bahwasanya keturunan Ibrahim dapat turun-temurun beragama tauhid, karena dua doanya yang telah diperkenankan oleh Allah, pertama:

اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ

“Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.” (al-Baqarah/2: 124)

Dan kedua:

وَّاجْنُبْنِيْ وَبَنِيَّ اَنْ نَّعْبُدَ الْاَصْنَامَ

Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala. (Ibrahim/14: 35)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 29-32


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 24-26

0
tafsir surah az-zukhruf
tafsir surah az-zukhruf

Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 24-26 berbicara mengenai tigal hal. Pertama mengenai sikap sombong dari orang-orang musyrik kepada Nabi Muhammad SAW. Kedua mengenai kebinasaan yang akan dialami oleh orang-orang yang mendustakan ayat Allah. Ketiga mengenai perintah kepada Nabi Muhammad untuk memperingatkan orang musyrik.


Baca sebelumnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 21-23


Ayat 24

Allah menerangkan bahwa Nabi Muhammad menghimbau kaumnya dengan ucapan, “Apakah kamu masih tetap mengikuti jejak nenek moyang kamu, sekalipun aku membawa untukmu suatu agama yang nyata dan lebih baik daripada apa yang telah dianut oleh nenek moyangmu itu?”

Kaumnya menjawab dengan sombong, bahwa mereka akan tetap mengikuti jejak nenek moyang mereka dan tidak akan mengikuti agama yang dibawanya, yakni agama yang ditugaskan kepadanya untuk menyampaikannya, dan mereka tetap akan mengingkarinya, sebagaimana firman Allah:

قَالَ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْٓا اِنَّا بِالَّذِيْٓ اٰمَنْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ  ٧٦

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu percayai.” (al-A’raf/7: 76)

Ayat 25

Allah menerangkan bahwa orang-orang yang tetap membangkang dan senantiasa mendustakan rasul-rasul yang diutus kepada mereka dan mengingkari ketuhanan Allah, akan dibinasakan sebagai akibat dari perbuatan mereka yang selalu mendustakan ayat-ayat Allah; kiranya hal itu dapat disaksikan dan menjadi iktibar sesuai dengan firman-Nya:

فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ   ٣٦

Maka berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul). (an-Nahl/16: 36)


Baca juga: Tafsir Surah Quraisy Ayat 1: Mengenal Kabilah Quraisy


Ayat 26

Allah memerintahkan kepada Muhammad saw agar dia memperingatkan kaumnya yang fanatik kepada nenek moyangnya bahwa Nabi Ibrahim telah berlepas diri dari bapak dan kaumnya ketika dia melihat mereka bersungguh-sungguh menyembah berhala, karena yang demikian itu adalah satu hal yang tidak pantas dan membawa kepada kesesatan sebagaimana firman Allah:

وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهِيْمُ لِاَبِيْهِ اٰزَرَ اَتَتَّخِذُ اَصْنَامًا اٰلِهَةً ۚاِنِّيْٓ اَرٰىكَ وَقَوْمَكَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya Azar, ”Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (al-An’am/6: 74)


Baca setelahnya: Tafsir Surah Az-Zukhruf Ayat 27-28


(Tafsir Kemenag)