Beranda blog Halaman 263

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 80-83

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 80-83 diawali dengan penjelasan karunia Allah kepada Daud dan Sulaiman, diantaranya adalah, Daud dianugerahi keterampilan dan pengetahuan dengan kepandaiannya terhadap besi, apapun bentuk besi yang ia buat lebih istimewa dari kaumnya. Sementara Sulaiman dianugerahi kekuasaan, dimana angin, jin, dan hewan tunduk padanya atas izin Allah Swt., dan dengan bantuan mereka ia mampu mmebuat istana megah yang sulit dinalar oleh panca indra ketika itu.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 77-79


Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 80-83 menjelaskan pula sekilas kisah nabi Ayyub AS, yang terkenal dengan kesabarannya, berharap dengan kisah Ayyub dan Nabi sebelumnya dapat menjadi motivasi dan pelajaran berharga bagi Rasulullah dan ummatnya.

Ayat 80

Pada ayat ini Allah menyebutkan karunianya yang lain, yang diberikannya kepada Daud a.s., yaitu bahwa Daud telah diberi-Nya pengetahuan dan keterampilan dalam kepandaian menjadikan besi lunak di tangannya tanpa dipanaskan, karena keistimewaan ini Daud bisa membuat baju besi yang dipergunakan orang-orang di zaman itu sebagai pelindung diri dalam peperangan.

Kepandaian itu dimanfaatkan pula oleh umat-umat yang datang kemudian berabad-abad lamanya. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan yang dikaruniakan Allah kepada Nabi Daud a.s. itu telah tersebar luas dan bermanfaat bagi orang-orang dari bangsa lain. Di samping menjadi mukjizat Nabi Daud.

Sebab itu, pada akhir ayat ini Allah mengajukan pertanyaan kepada umat Nabi Muhammad, apakah turut bersyukur atas karunia tersebut? Sudah tentu, semua umat yang beriman kepada-Nya, senantiasa mensyukuri segala karunia yang dilimpahkan-Nya.

Ayat 81

Pada ayat ini Allah mulai menyebutkan nikmat-Nya yang khusus dilimpahkan-Nya kepada Nabi Sulaiman a.s., yaitu bahwa Dia telah menundukkan angin bagi Sulaiman a.s., sehingga angin tersebut dengan patuh melakukan apa yang diperintahkannya. Misalnya, angin tersebut berhembus ke arah negeri tertentu, dengan hembusan yang keras dan kencang atau pun lunak dan lambat, sesuai dengan kehendak Nabi Sulaiman a.s.. Allah berfirman:

فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَاۤءً حَيْثُ اَصَابَۙ

Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya. (¢ād/38: 36)

Menurut pendapat ulama lainnya Sulaiman menggunakan angin sebagai alat transportasi yang mengangkutnya dari satu kota ke kota lain. Firman Allah:

وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَّرَوَاحُهَا شَهْرٌۚ

Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula). (Saba`/34: 12)

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan, bahwa Dia senantiasa mengetahui segala sesuatu, sehingga tidak sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.


Baca Juga: Mengenal Tujuh Istilah Angin yang Disebutkan dalam Al-Quran


Ayat 82

Ayat ini menjelaskan rahmat Allah yang lain  yang dikarunia-kan-Nya khusus kepada Nabi Sulaiman a.s., yaitu bahwa Allah juga menundukkan segolongan setan yang patuh melakukan apa yang diperintahkan Sulaiman a.s. kepada mereka, misalnya: menyelam ke dalam laut untuk mengambil segala sesuatu yang diperlukannya, atau melakukan hal-hal untuk keperluan Sulaiman a.s. seperti mengerjakan bangunan dan sebagainya.

Pada ayat ini Allah menegaskan pula bahwa Dia senantiasa menjaganya sehingga setan tersebut tidak merusak dan tidak bermain-main dalam melakukan tugasnya.

Ayat 83

Dengan ayat ini Allah mengingatkan Rasul-Nya dan kaum Muslimin kepada kisah Nabi Ayyub a.s. yang ditimpa suatu penyakit yang berat sehingga berdoa memohon pertolongan Tuhannya untuk melenyapkan penyakitnya itu, karena ia yakin bahwa Allah amat penyayang.

Pendapat ulama lain mengatakan bahwa Nabi Ayyub pada ayat ini hanya mencurahkan isi hatinya kepada Allah seraya mengagungkan kebesaran Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Walaupun berbeda-beda riwayat yang diperoleh tentang Nabi Ayyub, baik mengenai pribadinya, masa hidupnya dan macam penyakit yang dideritanya, namun ada hal-hal yang dapat dipastikan tentang dirinya, yaitu bahwa dialah seorang hamba Allah yang saleh, telah mendapat cobaan dari Allah, baik mengenai harta benda, keluarga, dan anak-anaknya, maupun cobaan yang menimpa dirinya sendiri. Dan penyakit yang dideritanya adalah berat. Meskipun demikian semua cobaan itu dihadapinya dengan sabar dan tawakkal serta memohon pertolongan dari Allah dan sedikit pun tidak mengurangi keimanan dan ibadahnya kepada Allah.

 (Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 84-86


 

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 77-79

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 77-79 setelah mengulas sedikit kisah Nabi Nuh dan kaumnya yang beriman, kemudian dilanjutkan dengan kisah Nabi Daud beserta anaknya Nabi Sulaiman. Dijelaskan pula bagaiman kecerdasan Sulaiman AS, yang dapat memberikan keputusan yang dinilai tepat dan diakui oleh Daud AS. Allah pun menganugerahi kepada mereka berdua karunia-Nya, sebagai bentuk apresiasi atas ketaatan mereka.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 74-76


Ayat 77

Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah menurunkan pertolongan kepada Nabi Nuh dan pengikutnya yang beriman terhadap kejahatan orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat-Nya, dan tidak menerima bukti-bukti dan keterangan yang disampaikan Rasul-Nya.

Pada akhir ayat ini Allah menerangkan alasan mengapa Dia menolong Nabi Nuh sehingga kaum kafir itu dimusnahkan oleh azab yang dahsyat karena kejahatan kaumnya seperti syirik, baik perkataan maupun perbuatan mereka. Mendurhakai Allah, dan menyalahi perintah-perintah-Nya adalah perbuatan jahat kaumnya turun temurun. Maka sepantasnyalah mereka menerima balasan dari Allah.

Kisah-kisah yang dikemukakan dalam Al-Qur’an ini haruslah menjadi pelajaran bagi umat manusia, setelah diutusnya Nabi Muhammad saw, kepada seluruh umat manusia. Allah berfirman:

فَاعْتَبِرُوْا يٰٓاُولِى الْاَبْصَارِ

Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan! (al-Hasyr/59: 2);

Ayat 78

Pada ayat ini Allah menerangkan keadaan Daud dan Sulaiman ketika mereka memberi keputusan dalam suatu perkara yang terjadi di antara rakyat mereka.

Dalam suatu riwayat Ibnu Abbas yang dikutip dari tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa sekelompok domba telah merusak tanaman seorang petani pada waktu malam, lalu terjadilah sengketa antara pemilik tanaman dan pemilik domba, dan kemudian mereka datang kepada Daud a.s. untuk minta diadili.

Setelah mengadakan pemeriksaan maka Daud a.s. memberi keputusan agar domba-domba itu diserahkan kepada pemilik tanaman, karena dinilai harganya sama dengan nilai tanaman yang dirusaknya.

Sulaiman a.s. yang juga mendengarkan putusan itu mempunyai pendapat yang lain, yang lebih tepat dan lebih adil. Lalu Nabi Sulaiman berkata dalam majelis tersebut bahwa “Sebaiknya domba-domba itu diserahkan dulu kepada pemilik tanaman sehingga ia dapat mengambil manfaat dari susu, minyak dan bulunya, sementara kebun itu diserahkan kepada pemilik domba untuk diolahnya sendiri. Apabila nanti tanamannya sudah kembali kepada keadaannya seperti sebelum dirusak oleh domba-domba tersebut, maka kebun itu diserahkan kepada pemiliknya, domba-domba itu pun dikembalikan pula kepada pemiliknya.”

Pendapat Sulaiman jelas lebih tepat, karena akhirnya maing-masing dari kedua pihak yang berperkara akan mendapatkan kembali miliknya dalam keadaan utuh.

Perbedaan pandangan antara ayah dan anak dalam mengambil keputusan atas perkara tersebut adalah bahwa Daud a.s. lebih menitik beratkan perhatiannya kepada nilai kerusakan tanaman itu, yang dilihatnya sama dengan nilai domba yang merusaknya lalu ia memutuskan agar domba-domba itu diserahkan sepenuhnya kepada pemilik tanaman.

Sedang Sulaiman a.s. lebih menitik beratkan pandangannya kepada manfaat domba dan manfaat tanaman itu, maka ia mengambil keputusan yang demikian itu. Bagaimana pun juga, masing-masing mereka mendasarkan keputusannya kepada ijtihad, bukan kepada wahyu, sehingga lahirlah dua keputusan yang berbeda.

Selanjutnya Nabi Daud pun mengakui pendapat anaknya itu lebih tepat, sehingga itulah yang ditetapkannya kemudian sebagai keputusannya, dan membatalkan pendapatnya yang semula.

Pada akhir ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyaksikan dan mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Daud dan Sulaiman dalam memeriksa dan memutuskan perkara tersebut, sehingga tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.


Baca Juga: Inilah 8 Manfaat Buah Zaitun, Buah yang Disebut dalam Al-Quran


Ayat 79

Pada permulaan ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada Sulaiman kemampuan yang lebih tinggi dalam memahami berbagai masalah.

Hal ini memang terbukti dalam keputusan yang mereka berikan kepada masing-masing pihak dalam perkara yang terjadi antara pemilik domba dan pemilik tanaman seperti tersebut di atas, dimana keputusan yang diberikan Sulaiman dirasa lebih tepat, dan lebih memenuhi keadilan.

Sesudah menyebutkan hal itu, maka Allah menerangkan selanjutnya rahmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka berdua, yaitu hukum-hukum dan ilmu pengetahuan, baik mengenai agama, atau pun masalah duniawi.

Rahmat seperti itu juga diberikan Allah kepada nabi-nabi-Nya yang lain, karena itu merupakan syarat pokok untuk menjadi Nabi.

Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan nikmat yang khusus dikaruniakan-Nya kepada Nabi Daud a.s. yaitu: bahwa Allah telah menjadikan gunung-gunung dan burung-burung tunduk kepada Daud a.s., semuanya bertasbih bersamanya.

Para akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia kuasa untuk memberikan karunia semacam ini kepada hamba-Nya, karena Dialah Pencipta dan Pemilik seluruh alam ini.

 (Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 80-82


 

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 74-76

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Sebelumnya telah cukup detail membahas tentang kisah Ibrahim, kali ini Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 74-76 akan kembali menceritakan kisah para Nabi. Adapun Nabi yang akan diulas kali ini adalah Nabi Luth AS, poin-poin yang akan dijelaskan adalah rahmat Allah kepada Nabi Luth. Selain itu juga akan diurai sekilas tentang kisah Nabi Nuh yang dikenal sebagai bapak kedua umat manusia. Berikut ulasan lengkapnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 70-73


Ayat 74

Pada ayat ini Allah menerangkan tiga macam rahmat yang dikaruniakan kepada Nabi Lut:

Pertama, Nabi Lut telah dikaruniai-Nya hikmah dan kearifan memberi putusan atau hukuman, sehingga dengan itu ia dapat memberikan penyelesaian dan keputusan dengan baik dalam perkara-perkara yang terjadi di kalangan umatnya.

Kedua, Ia juga dikaruniai ilmu pengetahuan yang sangat berguna terutama ilmu agama, sehingga ia dapat mengetahui dan melaksanakan dengan baik kewajiban-kewajibannya terhadap Allah dan terhadap sesama makhluk. Kedua syarat ini sangat penting bagi orang-orang yang akan diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul-Nya.

Ketiga, Ia telah diselamatkan Allah ketika negeri tempat tinggalnya, yaitu Sodom ditimpa azab Allah karena penduduknya banyak berbuat kejahatan dan kekejian secara terang-terangan.

Perbuatan-perbuatan keji yang mereka kerjakan di antaranya melakukan hubungan kelamin antara sesama lelaki (homosex), mengganggu lalulintas perniagaan dengan merampok barang-barang perniagaan itu, mendurhakai Lut dan tidak mengindahkan ancaman Allah dan lain-lain.

Maka kota Sodom itu dimusnahkan Allah. Nabi Lut beserta keluarganya diselamatkan Allah kecuali istrinya yang ikut mendurhakai Allah.

Pada akhir ayat ini Allah menjelaskan apa sebabnya kaum Lut sampai melakukan perbuatan jahat dan keji semacam itu, ialah karena mereka telah menjadi orang-orang jahat dan fasik, sudah tidak mengindahkan hukum-hukum Allah, dan suka melakukan hal-hal yang terlarang, sehingga mereka bergelimang dalam perbuatan-perbuatan dosa dan ucapan-ucapan yang tidak senonoh yang semuanya dilakukan mereka dengan terang-terangan, tanpa rasa malu.

Ayat 75

Allah menjelaskan dalam ayat ini rahmat-Nya kepada Nabi Lut a.s., dengan memasukkannya ke dalam lingkungan rahmat-Nya. Maksudnya ialah bahwa Nabi Lut termasuk orang-orang yang dikasihi dan disayangi Allah, sehingga ia menjadi salah seorang penghuni surga-Nya.

Dalam suatu hadis sahih, disebutkan:

قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ لِلْجَنَّةِ: أَنْتِ رَحْمَتِى أَرْحَمُ بِكِ مَنْ اَشَاءُ مِنْ عِبَادِيْ. (رواه البخاري)

Allah berfirman kepada surga, “Kamu adalah rahmat-Ku, dengan kaulah Aku rahmati orang-orang yang Aku kehendaki di antara hamba-hambaKu.” (Riwayat al-Bukhāri)

Akhirnya, pada ujung ayat ini Allah menjelaskan apa sebabnya dia mengaruniakan rahmat yang begitu besarnya kepada Nabi Lut yaitu karena dia termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang saleh yang selalu menaati perintah dan larangan Allah.


Baca Juga: Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 80-81: Benarkah Kaum Nabi Luth Homoseksual?


Ayat 76

Dengan ayat ini Allah mengingatkan Rasulullah dan kaum Muslimin kepada kisah Nabi Nuh a.s., yang disebut sebagai bapak kedua bagi umat manusia. Jauh sebelum Nabi Muhammad, bahkan sebelum Nabi Ibrahim dan Lut, Nabi Nuh telah diutus Allah sebagai Rasul-Nya. Karena keingkaran kaumnya yang amat sangat, sehingga mereka tidak memperdulikan seruannya kepada agama Allah, akhirnya ia berdoa kepada Tuhan:

وَقَالَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَرْضِ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ دَيَّارًا

Dan Nuh berkata, ”Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. (Nµ¥/71: 26)

Dan doanya lagi:

اَنِّيْ مَغْلُوْبٌ فَانْتَصِرْ

“Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).”  (al-Qamar/54: 10)

Akan tetapi doa-doa tersebut diucapkannya setelah 950 tahun lamanya ia melakukan dakwahnya, namun kaumnya tetap juga ingkar dan tidak memperdulikan seruannya kepada agama Allah.

Menurut riwayat, Nabi Nuh a.s. diutus Allah menjadi Rasul-Nya pada waktu itu ia berusia 40 tahun. Sesudah terjadinya azab Allah berupa angin taufan dan banjir besar Nabi Nuh masih hidup selama 40 tahun. Dengan demikian, maka diperkirakan usianya mencapai ±1050 tahun.

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa setelah Nuh a.s. mengucapkan doa-doa tersebut maka Allah mengabulkannya, yaitu dengan menimpakan banjir yang amat dahsyat, sehingga air laut meluap tinggi dan membinasakan negeri tersebut bersama orang-orang yang tidak beriman.

Adapun Nabi Nuh dan keluarganya kecuali istri dan anaknya yang durhaka, serta kaumnya yang beriman, telah diselamatkan Allah dari malapetaka yang dahsyat itu, yaitu dengan sebuah perahu besar yang dibuat Nabi Nuh sebelum terjadinya banjir atas perintah dan petunjuk Allah.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 77-79


 

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 70-73

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 70-73 berbicara tentang kecaman Allah kepada penduduk kota Ur, yakni kaumnya Ibrahim, yang berusaha memadamkan cahaya kebenaran. Sementara Ibrahim mendapatkan karunia yang melimpah dari Allah Swt., ia pun hijrah ke Syam, dengan kaum yang beretika baik dan menerimanya. Selain itu, Ibrahim dikaruniai keturunan yang sholeh, sebagian mereka bahkan diangkat menjadi Nabi dan Rasul, sama seperti dirinya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 66-69


Ayat 70

Allah menegaskan dalam ayat ini bahwa makar yang dilaksanakan kaum musyrik terhadap para nabi untuk membinasakannya, telah menimbulkan akibat yang sebaliknya, yaitu menyebabkan mereka itu menjadi orang-orang yang paling merugi.

Dengan ucapan dan perbuatan itu, mareka ingin memadamkan cahaya kebenaran yang disampaikan Ibrahim, dengan cara menyalakan api unggun untuk membinasakannya. Tetapi akhirnya api yang mereka nyalakan itulah yang padam tanpa menimbulkan bekas apa pun terhadap Ibrahim a.s., berkat perlindungan Allah Yang Mahakuasa. Hal ini menunjukkan dengan jelas batilnya kepercayaan yang mereka anut, dan jahatnya cara yang mereka tempuh untuk mencapai kemenangan. Sebaliknya Ibrahim berada pada pihak yang benar, karena ia menyampaikan patunjuk Allah untuk membasmi kebatilan dan kezaliman.

Ayat 71

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah melengkapi rahmat-Nya kepada Ibrahim. Allah telah menyelamatkannya dari kobaran api. Dalam sejarah diterangkan bahwa Allah telah menyelamatkannya dari kejahatan penduduk kota Ur di Mesopotamia Selatan, yaitu negeri asalnya, lalu ia hijrah ke negeri Harran, kemudian ke Palestina di daerah Syam.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa negeri Syam adalah negeri yang telah diberi Allah keberkahan yang banyak untuk semua manusia. Sehingga negeri tersebut amat subur, banyak air dan tumbuh-tumbuhannya, sehingga memberikan banyak manfaat bagi penduduknya. Selain itu, negeri tersebut juga merupakan tempat lahir para nabi yang membawa sinar petunjuk bagi umat manusia. Baitul Makdis yang terletak di Palestina juga termasuk daerah Syam, dan kiblat pertama bagi umat Islam.

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Nabi Lut juga berhijrah bersama ke negeri Syam itu. Menurut keterangan sejarah Nabi Lut adalah anak saudara lelaki Ibrahim a.s.

Ayat 72

Dalam ayat ini Allah menyebutkan nikmat-Nya yang lain kepada Ibrahim a.s. sebagai tambahan atas nikmat-Nya yang telah lalu, yaitu bahwa Allah telah menganugerahkan seorang putra yaitu Ishak, sedang Yakub adalah putra dari Ishak, jadi sebagai cucu Ibrahim yang melahirkan keturunan Bani Israil. Di samping itu Ibrahim juga mempunyai seorang putra lainnya, yaitu Ismail, dari Siti Hajar. Allah telah menjadikan kesemuanya, yaitu Ibrahim, Ismail, Ishak dan Yakub sebagai nabi-nabi dan orang-orang yang saleh.


Baca Juga: Kisah Bani Israil Pasca Kehancuran Firaun dan Bala Tentaranya dalam Al-Quran


Ayat 73

Allah menyebutkan dalam ayat ini tambahan karunia-Nya kepada Ibrahim, selain karunia yang telah diterangkan pada ayat yang lalu, yaitu bahwa keturunan Ibrahim itu tidak hanya merupakan orang-orang yang saleh, bahkan juga menjadi imam atau pemimpin umat yang mengajak orang untuk menerima dan melaksanakan agama Allah, dan mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang baik dan bermanfaat, berdasarkan perintah dan izin Allah.

Nabi Ibrahim yang diberi gelar “Khal³lullāh” (kekasih Tuhan) juga merupakan bapak dari beberapa nabi karena banyak di antara nabi-nabi yang datang sesudahnya adalah dari keturunannya, sampai dengan Nabi dan Rasul yang terakhir, yaitu Muhammad saw adalah termasuk cucu-cucu Ibrahim a.s. melalui Nabi Ismail. Mereka memperoleh wahyu Allah yang berisi ajaranajaran dan petunjuk ke arah bermacam-macam kebajikan, terutama menaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

Di samping itu Allah juga mewahyukan kepada mereka agar mendirikan salat dan membayarkan zakat. Kedua macam ibadah ini disebutkan Allah secara khusus, sebab ibadah salat memiliki keistimewaan sebagai ibadah jasmaniah maupun sebagai sarana yang mengokohkan hubungan hamba dengan Tuhannya, sedang zakat mempunyai keistimewaan baik sebagai ibadah harta yang paling utama yang mempererat hubungan dengan sesama hamba, lebih-lebih bila diingat bahwa harta benda sangat penting kedudukannya dalam kehidupan manusia.

Kedua macam ibadah ini, walaupun harus dilengkapi dengan ibadah-ibadah lainnya, namun ia telah mencerminkan dua sifat utama pada diri manusia yaitu taat kepada Allah, dan kasih sayang kepada sesama manusia.

Akhirnya, pada ujung ayat ini Allah menerangkan bahwa keturunan Nabi Ibrahim itu adalah orang-orang yang beribadat kepada Allah semata-mata dengan penuh rasa khusyuk dan tawadu’.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 74-76


 

Tafsir Ahkam : Apakah Boleh Mempelajari dan Mengajarkan Ilmu Sihir?

0
Apakah Boleh Mempelajari dan Mengajarkan Ilmu Sihir?
Apakah Boleh Mempelajari dan Mengajarkan Ilmu Sihir?

Berbicara tentang sihir, mungkin beberapa orang pernah berfikir. Apakah ilmu sihir itu benar-benar ada? Atau hanya sebatas cerita fiksi layaknya film-film di televisi?

Pada umumnya, sihir memiliki stigma yang negatif di kalangan masyarakat. Ilmu sihir dipandang sebagai media kejahatan, manipulasi, ataupun sebagainya. Selanjutnya, ditinjau  mengenai hukum mempelajari ilmu sihir, ada beberapa ulama berpendapat mengenai hukum mempelajari ilmu sihir.

Sebelum mengetahui bagaimana hukumnya mempelajari ilmu sihir, maka perlu saya ulas terlebih dahulu, apa itu sihir?

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, sihir adalah mantra-mantra yang dibacakan oleh tukang sihir untuk memudharatkan atau membahayakan orang lain. Beberapa dampak yang timbul dari sihir diantaranya yaitu, sakit-sakitan, gila, stres, ada yang mulanya sangat benci kemudian cinta, ada yang mulanya cinta kemudian menjadi sangat benci, sampai-sampai ada juga yang mati terbunuh tanpa sebab.” (Riyadhusshalihin, 6:573)

Baca juga; Tafsir Surah Al-Anbiya 90: Etika Berdoa dan Bacaan Doa Akhir dan Awal Tahun Beserta Terjemahannya

Ragam Pendapat Tentang Keberadaan Sihir.

Mayoritas ulama, dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah, berpandangan bahwa sihir itu memang ada, dan memiliki realitas dan efek. (Tafsir Ibn Katsir Asy-Syamilah)

Berikut beberapa landasan Ahlu Sunnah wal Jamaah dalam pandangannya :

فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ

“Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya.” (Al-Baqarah [1]:102)

Pada ayat ini, telah membuktikan bahwa sihir itu nyata adanya. Karena dengan sihir itu mereka dapat memisahkan antara suami dan istri, sehingga dapat menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara pasangan.

وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِى الْعُقَدِ

“Dan aku berlindung pula dari kejahatan perempuan-perempuan penyihir yang meniup pada buhul-buhul dengan rapalan-rapalan yang dilafadzkannya.” (Al-Falaq [113]:4)

Pada ayat ini, telah menunjukkan bahwa efek sihir sangat besar. Sampai kita diperintahkan  oleh Allah untuk berlindung kepada-Nya dari kejahatan tukang sihir yang membuat simpul.

اَنْ يَهُوْدِيًا سِحْرُ النَّبِيّ مُحَمَّد فَاشْتَكٰى لِذٰلِكَ اَيَّامًا، فَأَتَاهُ جِبْرِيْل فَقَالَ : إِنَّ رَجُلًا مِنَ الْيَهُوْدِ سحرك، عَقْدٌ لَّكَ عَقْدًا فِي بِىْٔرٌ كَذَا وَكَذَا، فَأرْسَلَ النَّبِيّ مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم فَاسْتَخْرَجَهَا فَحَلَّهَا، فَقَامَ كَأَنَّمَا نَشَطَ مِنْ عَقَالٍ (رواه النسائي)

“Seorang Yahudi menyihir Nabi Muhammad, dan dia mengeluh tentang hal itu selama berhari-hari, maka Jibril datang kepadanya dan berkata: Seorang pria Yahudi menyihirmu, dia membuat kontrak untukmu dalam sumur ini-dan -sumur seperti itu. Sehingga Nabi Muhammad saw, mengirim, mengeluarkannya dan melepaskannya, jadi dia bangun seolah-olah dia telah diberi energi dari ikat kepala.” (HR. An-Nasa’i) (Fathul Bari).

Namun, berbeda lagi dengan pandangan Kaum Mu’tazilah. Mereka beranggapan bahwa sihir tidak memiliki realitas dalam kenyataan, melainkan itu adalah penipuan, kamuflase,  menyesatkan, dan itu adalah salah satu pintu sihir.  Kaum Mu’tazilah menunjukkan bahwa sihir tidak memiliki realitas dengan beberapa dasar dalil landasan sebagai berikut :

سَحَرُوْٓا اَعْيُنَ النَّاسِ وَاسْتَرْهَبُوْهُمْ وَجَآءُوْ بِسِحْرٍ عَظِيْمٍ

“Mereka menyihir mata orang banyak dan menjadikan orang banyak itu takut, karena mereka memperlihatkan sihir yang hebat (menakjubkan)” (Al-A’raf [7]:116)

Menurut pandangan Kaum Mu’tazilah, surah Al-A’raf ayat 116  ini menunjukkan bahwa sihir hanya untuk mata.

فَاِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ اِلَيْهِ مِنْ سِحْرِهِمْ اَنَّهَا تَسْعٰى

“Maka tiba-tiba tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia merayap cepat, karena sihir mereka.” (Thaha [20]:66)

Menurut pandangan kaum mu’tazilah, surah Thaha ayat 66 ini menegaskan bahwa sihir adalah fiksi, bukan kenyataan.

وَلَا يُفْلِحُ السّٰحِرُ حَيْثُ اَتٰى

“Dan tidak akan menang pesihir itu, dari mana pun ia datang.” (Thaha [20]:69)

Kemudian, mereka juga beranggapan, jika sihir berjalan di atas air, atau terbang di udara, atau mengubah debu menjadi emas di atas kebenaran, kepercayaan pada keajaiban para nabi akan batal, dan kebenaran akan dikacaukan dengan kebatilan, maka dia tidak akan lagi mengetahui (Nabi) dari (penyihir) karena tidak ada perbedaan antara mukjizat para nabi dan tindakan para penyihir.

 Baca juga: Belajar Investasi dari Nabi Yusuf, Tafsir Surah Yusuf Ayat 47-49

Pendapat Ulama Tentang Mempelajari Ilmu Sihir

Beberapa ulama telah berpendapat,  mempelajari sihir diperbolehkan saja, asalkan dengan bukti bahwa para malaikat telah mengajarkan sihir kepada orang-orang, sebagaimana Al-Qur’an memberi tahu kepada mereka. Pendapat ini dikutip oleh Fakhrurrazi dari kalangan ulama Sunni. (Tafsir Ayatul Ahkam 2)

Kemudian Jumhur Ulama juga mengharamkan untuk mempelajari sihir ataupun mengajarkan sihir, sebab di dalam Al-Qur’an telah menyebutkan, bahwa sihir termasuk dalam konteks fitnah yang menunjukkan bahwa itu adalah sebuah penistaan, lantas bagaimana bisa hal tersebut diperbolehkan?

Rasulullah juga berpendapat, mempelajari ataupun mengajarkan ilmu sihir merupakan bagian dari sejumlah dosa besar, seperti dalam hadits shahih, yaitu :

اِجْتَنِبُوا السَّبْعِ المُوبِقَاتِ، قَالُوا وَمَا هُنَّ يَا رَسُولُ الله؟ قَالَ الشِّرْكُ بالله، والسحر، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِحرمَرَمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقّ، وَاَكْلُ الرِّبَا، وَاَكْلُ مَال الْيَتِيْمِ، وَالتَوْلِي يَومُ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمؤْمِنَاتِ

“Hindarilah tujuh dosa.” Mereka berkata, “Dan apakah itu, ya Rasulullah? ” Dia mengatakan kemusyrikan, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling pada hari rayap, memfitnah wanita yang suci, wanita yang beriman”

Dikatakan oleh Al-Alusi, bahwa mempelajari ilmu sihir diperbolehkan. Adapun Imam Al-Razi juga mengatakan demikian :

اِتَّفَقُوْا الْمُحَقِّقُونَ عَلَى أنَّ الْعِلْمُ بِالسِّحْرِ لَيْسَ قَبِيْح وَلَا مَحْظُور يَعْنِى إِنَّمَا الْمَحْظُوْر الْعَمَل بِهِ

“Beberapa ulama sepakat bahwa mempelajari ilmu sihir tidak jelek dan tidak dilarang. Akan tetapi yang terlarang ialah jika menggunakan ilmu sihir.”  (Kitab Hushunul Hamidiyah)

هَلْ يَسْتَوِيَ الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar [39] : 9)

Jika seorang pun tidak tahu menahu tentang sihir, mungkin beberapa orang tidak akan bisa membedakan antara mana yang sihir dan mana yang mu’jizat. Lantas bagaimana bisa ilmu sihir itu dilarang dan buruk untuk dipelajari?

Baca juga: Makna dan Keutamaan Surah Al-Ashr dalam Kehidupan Sehari-Hari

Adapun menurut Abu Hayyan, apa pun yang dilakukan dengan mengagungkan selain Allah dari bintang dan setan, dan menambahkan apa yang telah ditentukan oleh Allah padanya maka itu merupakan kafir, maka tidak boleh mempelajarinya atau mengamalkannya jika apa yang dia niatkan dengan belajar menumpahkan darah dan memisahkan pasangan dan teman.

Tetapi jika dia tidak tau apapun tentang sihir, maka secara dzahir tidak boleh mempelajari ilmu sihir, ataupun mengamalkan ilmu sihir. Karena sejatinya itu adalah sejenis khayal imajinasi, tipu daya, dan fitnah yang termasuk dari pintu kebatilan. Adapun jika ia mempelajari ilmu sihir dengan tujuan hanya sebagai hiburan, bermain-main, dan untuk meringankan pekerjaannya, maka ia dibenci.

Allahul Musta’an. Wallahu a’lamubisshawab[].

Tafsir Surah Al-Anbiya 90: Etika Berdoa dan Bacaan Doa Akhir dan Awal Tahun Beserta Terjemahannya

0
Etika Berdoa dan Bacaan Doa Akhir dan Awal Tahun
Etika Berdoa dan Bacaan Doa Akhir dan Awal Tahun

Resolusi tahun baru merupakan ikrar atau janji yang dibuat untuk diri sendiri. Pada umumnya, resolusi tahun baru diambil orang pada hari pertama tahun itu. Akan tetapi kita juga perlu menguatkan resolusi kita dengan doa. Adapun untuk itu, pada tulisan ini akan mengulas tentang etika berdoa dan melampirkan doa awal dan akhir tahun Hijriyah.

Etika Berdoa

Pada Surah al-Anbiya ayat 90 dijelaskan bahwa berdoa dilakukan dengan cara khusyu’, karena pada ayat ini menggunakan  kata khusyu’ di dalamnya.

فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَٰشِعِينَ

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (Q.S Al-Anbiya ayat 90).

Baca juga: Belajar Investasi dari Nabi Yusuf, Tafsir Surah Yusuf Ayat 47-49

Kata khusyu’ adalah masdar dari kata (خَشَع يَخْشَعُ خُشوعاً) yang berarti tunduk, rendah dan takut. Dalam Lisanul Arab, menurut Ibnu Manzur kata khusyu’ berarti mengarahkan pandangannya ke tanah dan menundukkannya serta merendahkan suaranya.

Adapun khusyu’ menurut Muhammad Shalih Al-Munjid berarti diam, ketenangan, kerendahan diri yang membawa kepada rasa takut kepada Allah dan perasaan selalu diawasi.

Kemudian Tafsir al-Misbah karangan Quraish Shihab menuliskan tentang ayat di atas bahwa Allah Swt akan mewujudkan harapan umatnya. Doanya, Allah kabulkan dan Allah Swt akan karuniai–meskipun dalam umur yang sudah tua dan dalam keadaan istrinya mandul, mengapa begitu? karena ayat di atas menceritakan seorang anak bernama Yahyâ. Sesungguhnya para nabi yang terpilih itu selalu bergegas untuk melakukan setiap perbuatan baik, memohon doa karena haus akan kasih sayang Allah, dan hanya takut serta mengagungkan diri Kami.

Maka, sudah jelas, bahwa ayat tersebut menjelaskan, ketika berdoa kita disarankan untuk khusyu’, berdoa karena benar-benar haus kasih sayang Allah Swt dan menunduk serta merendahkan suaranya. Dengan begitu, perlu kita berdoaakhir dan awal tahun dengan khusyu’.

Baca juga: Penafsiran Kyai Sholeh Darat tentang Makna Alif Lam Mim

Doa Akhir Tahun

Doa ini ditulis oleh Mufti Jakarta abad 19-20 Habib Utsman bin Yahya dalam karyanya Maslakul Akhyar :

اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْه وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

Allahumma ma amiltu min amalin fi hadzihis sanah ma nahaitani anhu wa lam atub minhu wa halumta fiha alayya bifadhlika ba’da qudratika ala uqubati wa da’autani ilat taubati min ba’di jara’ati ‘ala ma’shiyatika fainni istaghfartuka faghfirli wa ma amiltu fiha mimma tardha wa wa’adhtani alaihits tsawaba. Fa as’aluka an tataqabbala minni wa la taqtha’ raja’iy minka ya karim.

Artinya: Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berrarti mendurhakai-Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah pupuskan harapanku. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.

Doa yang dibaca sebanyak 3 kali ini diharapkan menjadi akhir tahun yang baik. Semoga Allah menerima doa yang kita baca di akhir Dzulhijjah sekurang-kurangnya sebelum Maghrib hari ini.

Baca juga: Metodologi dan Pendekatan dalam Penelitian Studi al-Quran dan Tafsir

Kemudian setelah shalat maghrib, dianjurkan untuk membaca doa awal tahun berikut:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِه، وَالعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

“Allahumma antal abadiyyul qadimul awwalu wa ala fadhlikal adzimi wa karimi judikal mu’awwal. Wa hadza ‘ammun jadidun qad aqbala. As’alukal ishmata fihi minas syaithani wa awliya’ihi wal ‘auna ala hadzhin nafsil ammarati bis suu’. Wal istighala bima yuqarribuni ilaika zulfa ya dzal jalali wal ikram.”

Artinya: Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Dan atas karunia-Mu yang besar dan mulia kemurahan-Mu, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun meminta tolong-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku meminta aktivitas keseharian yang mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.

Ketika kita sudah menngamalkan doa tersebut, semoga apa yang menjadi resolusi kita di tahun berikutnya akan diberkahi oleh Allah. Amim.

Penafsiran Kyai Sholeh Darat tentang Makna Alif Lam Mim

0
Penafsiran Kyai Sholeh Darat tentang Makna Alif Lam Mim
Penafsiran Kyai Sholeh Darat tentang Makna Alif Lam Mim

Alif lam mim (الم) merupakan salah satu dari fawatih as-suwar (awalan/pembuka surah) yang berupa huruf-hurf yang terputus (al-ahruf al-muqaththa’ah). Ia terdapat di 6 surah dalam Al-Qur’an dan dalam bahasa Arab tidak diketahui makna umumnya. Mayoritas mufassir memilih untuk tidak menafsirkannya kecuali dengan ucapan wallahu a’lam. Meski begitu, tetap ada sebagian mufassir yang berusaha menta’wilkannya. Syaikh Muhammad Shalih ibn Umar as-Samarani atau dikenal dengan Kyai Sholeh Darat adalah seorang mufassir nusantara asal Jepara, yang berupaya menta’wilkan makna alif lam mim dalam Al-Qur’an.

Faid al-Rahman fi Tarjamah al-Kalam al-Malik adalah nama kitab tafsir berbahasa Jawa anggitan Kyai Sholeh Darat yang memuat makna alif lam mim tersebut. Dalam kitab tafsirnya itu, Kyai Sholeh Darat menjelaskan 5 makna dan rahasia dari tiga huruf istimewa tersebut.

Pertama, rahasia Alif Lam Mim diketahui Nabi.

Awalnya Kyai Sholeh Darat menjelaskan bahwa makna lafadz alif lam mim hanya diketahui oleh Allah (asrar). Namun Allah memberitahu maksud dari rahasia lafadz tersebut kepada Nabi Muhammad ketika para malaikat, para nabi dan para rasul tidak ada yang mendengarnya. Kyai Darat mendasarkan argumentasinya tersebut atas sebuah hadis yang menceritakan peristiwa turunnya lafadz kaf ha ya ‘ayn shad (Surat Maryam ayat 1).

Baca juga: Belajar Investasi dari Nabi Yusuf, Tafsir Surah Yusuf Ayat 47-49

Saat itu, sewaktu Malaikat Jibril mengucapkan huruf kaf, Nabi menimpali dengan ucapan yang dibahasa Jawakan oleh Kyai Darat dalam tafsirnya “sampun ngerti kula” (saya sudah mengerti). Begitu seterusnya hingga akhir huruf shad. Jibril kemudian berkata “bagaimana Baginda bisa mengetahuinya, (padahal) saya tidak mengetahui”.

Kedua, Alif Lam Mim merupakan isyarat Allah Qadim

Alif lam mim termasuk daripada al-ahruf al-muqaththa’ah. Menurut Kyai Sholeh Darat, kalamullah tidak memiliki akhir, sedangkan al-ahruf al-muqaththa’ah secara huruf memiliki akhir, tapi secara arti tidak memiliki akhir. Dengan begitu, sebenarnya alf lam mim mengisyaratkan bahwa kalamullah itu qadim sekaligus tidak berakhiran.

Ketiga, ketidakterbatasan Kalamullah

Pandangan ini masih berkaitan dengan penjelasan sebelumnya mengenai al-ahruf al-muqaththa’ah. Kyai Sholeh Darat kemudian membuat klasifikasi fawatih as-suwar berupa huruf hijaiyah. Menurutnya, al-ahruf al-muqaththa’ah terbagi atas dua jenis: pertama, terputus secara tulisan dan bacaan seperti lafadz nun, qaf, dan shad, dan kedua, terputus dalam segi bacaan saja seperti alif lam mim.

Jenis pertama menunjukkan makna yang tiada batasnya, seperti halnya kalamullah yang tidak memiliki akhir, tidak berupa huruf, dan juga tak bersuara. Sedangkan jenis kedua mengisyaratkan bahwa al-ahruf al-muqaththa’ah itu jika disusun, maka tidak akan pernah selamanya habis. Seperti huruf fa’, ‘ayn, dan lam apabila disusun maka dapat menjasi beberapa kata, misalnya fi’lun, laf’un, ‘alafun dan seterusnya.

Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya kalamullah berupa al-ahruf al-muqaththa’ah merupakan isyarat kalam qadim, sedangkan kalimat yang dapat tersusun sesuai kaidah bahasa merupakan isyarat kalam hadis (baru) yang berupa ungkapan. Sifat dari kedua kalam tersebut pada dasarnya tidak memiliki akhir sebagaimana yang dijelaskan dalam Surah Al-Kahfi ayat 109:

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”

Baca juga: Tafsir Surah al-Maidah Ayat 2: Anjuran untuk Takziyah, dan Berikut Waktu Terbaik untuk Takziyah

Kedua kalam qadim tersebut diwujudkan Allah dalam bentuk huruf dan susunan kalimat karena sifat lemah dan terbatasnya pemahaman manusia. Adapun perwujudan kalam yang berupa huruf dan yang berbilang dengan bentuk bahasa Arab semata-mata bertujuan agar makhluk bisa memahaminya sebagaimana tujuan diturunkannya kitabullah yang tertera dalam Surat Az-Zukhruf ayat 3:

إِنَّا جَعَلْنَٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).”

Keempat, isyarat totalitas wujud dan tingkatan spiritualitas

Kyai Sholeh Darat sebelumnya telah memaparkan perbedaan para mufassir soal makna alif lam mim dan ia menyatakan bahwa kesemuanya merupakan pendapat yang sahih dan mu’tamad. Namun, dalam memaknai alif lam mim ini Kyai Sholeh Darat memilih pendapat kasyf Ibnu Arabi dalam Futuhat al-Makiyyah bahwa huruf-huruf tersebut memiliki wujud (eksistensi) serta bertingkat.

Baca juga: Makna dan Keutamaan Surah Al-Ashr dalam Kehidupan Sehari-Hari

Ibnu Arabi menyisir sisi ontologis huruf-huruf hijaiyah, serta berusaha pula menyingkap eksistensi makna alif lam mim. Alif adalah isyarat kepada Dzat yang menjadi wujud pertama (awwal al-wujud) yaitu Allah. Lam sebagai pemadatan simbol “ila” menjadi isyarat perantara (ausath al-wujuh) yang dinamakan Jibril. Dalam Futuhat al-Makiyyah sebenarnya dijelaskan bahwa Jibril kadangkala dinisbatkan sebagai sosok, namun adakalanya dinisbatkan sebagai bentuk kesempurnaan akal yang dimiliki Nabi. Adapun mim merupakan isyarat Muhammad sebagai wujud terakhir.

Selain itu Kyai Sholeh Darat menuturkan bahwa alif lam mim ini juga memiliki isyarat atas tiga maqam. Alif dengan bentuknya yang tegak mengisyaratkan sifat istiqamah syariat. Lam merupakan perantaraan sebagaimana ilmu thariqat. Sedangkan mim merupakan isyarat untuk ilmu hakikat.

Kelima, peneguhan Al-Quran merupakan firman Allah

Pandangan ini merujuk pada asbabun nuzul-nya, yaitu saat kafir Arab menghina Nabi serta mengatakan bahwa Al-Quran merupakan buatan Muhammad. Kemudian Allah turunkan lafadz alif lam mim ini sebagai penegasan bahwa Al-Qur’an merupakan kalam-Nya. Lafadz sedalam dan seindah alif lam mim itu tentu tidak ada yang bisa membuat kecuali Allah, padahal kaum Quraisy merupakan orang-orang yang sangat fasih menyusun syair.

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 66-69

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 66-69 menerangkan tentang pengakuan kaum Ibrahim bahwa patung tersbebut tidak dapat berbicara, memndengar, dan melihat. Akan tetapi, mereka tidak berhenti membela patung yang dianggap mereka sebagai tuhan itu, dan puncaknya mereka memutuskan untuk membakar Ibrahim dengan dalih telah menghina tuhan mereka, di sini terlihat bagaima keputusasaan mereka dengan kecerdasan Ibrahim. Adapun Ibrahim, dilindungi oleh Allah Swt dari panasnya api tersebut.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 61-65


Ayat 66

Allah menerangkan dalam ayat ini, bahwa setelah mereka mengakui bahwa patung-patung itu tidak dapat mendengar, berpikir dan berbicara, maka Ibrahim segera menjawab dengan mengatakan mengapa mereka menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun, dan tidak pula dapat mendatangkan mudarat kepada mereka, bahkan ia tidak dapat berbicara dan mempertahankan diri.

Ayat 67

Dalam ayat ini disebutkan lanjutan dari ucapan Ibrahim kepada mereka, bahwa mereka akan celaka bersama patung-patung yang mereka sembah selain Allah. Apakah mereka tidak memahami keburukan dan kesesatan perbuatan mereka?

Ucapan itu telah menyebabkan para penyembah patung itu sungguh-sungguh terpojok, dan mengobarkan kemarahan mereka yang amat sangat.

Ayat 68

Pada ayat ini diterangkan bahwa setelah mereka kehabisan akal dan alasan untuk menjawab ucapan Ibrahim, dan kemarahan mereka memuncak, maka mereka sepakat untuk membakar Ibrahim, dan membela tuhan-tuhan mereka, jika mereka benar-benar ingin balas dendam.

Dengan demikian mereka memutuskan untuk membinasakan Ibrahim, tindakan itu mereka pandang sebagai cara yang terbaik untuk membela kehormatan tuhan-tuhan mereka, dan untuk melenyapkan rintangan yang menghalangi mereka dalam menyembah patung-patung.

Mereka memilih cara yang paling kejam untuk membinasakan Ibrahim, yaitu dengan membakarnya dalam sebuah api unggun. Dengan cara ini Ibrahim dapat dilenyapkan, agar mereka dapat mencapai kemenangan untuk harga diri dan tuhan-tuhan mereka.


Baca Juga: Tafsir Ayat Syifa: Menebar Keselamatan dan Mencegah Kegaduhan


Ayat 69

Dalam ayat ini dijelaskan tindakan Allah untuk melindungi dan menolong Ibrahim dari kekejaman kaumnya, yaitu membakar Ibrahim dalam api yang sedang berkobar-kobar.

Sebagaimana diketahui bahwa Allah telah memberikan sifat-sifat tertentu bagi setiap mahluk-Nya. Sifat itu tetap berlaku baginya sebagai Sunnah Allah di dunia. Antara lain ialah api, yang bersifat panas dan membakar, sehingga logam-logam yang amat kuat pun dapat dicairkan dengan api, apalagi tubuh manusia. Maka Allah melindungi Ibrahim dari panas api tersebut dengan cara mencabut sifat panas dan membakar, dari api yang sedang menyala sehingga Ibrahim tidak merasa panas ketika dibakar dan  tidak terbakar dalam api unggun yang menyala-nyala.

Allah berfirman, “Hai api, jadilah engkau dingin, dan memberi keselamatan bagi Ibrahim.” Dengan adanya perintah Allah kepada api tersebut, maka sifatnya berubah dari panas menjadi dingin, dan tidak merusak terhadap Ibrahim sampai api itu padam. Ini menambah bukti tentang kekuasaan Allah yang seharusnya disadari oleh orang-orang kafir.

Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhāri dari Ibnu ‘Abbas disebutkan bahwa ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, ia membaca:

حَسْبُنَا الله ُوَنِعْمَ الْوَكِيْلُ

“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”  (Riwayat al-Bukhāri)

Demikianlah pertolongan dan perlindungan yang biasa diberikan Allah kepada para nabi, wali-wali dan hamba-hamba-Nya yang saleh. Walaupun pada waktu itu Ibrahim belum menjadi nabi dan rasul, namun ia tetap merupakan seorang hamba Allah yang saleh.

Patut kiranya diingat bahwa Nabi Muhammad juga mengalami makar dari kaum kafir Quraisy yang berusaha untuk membinasakannya, seperti peristiwa sebelum dan sesudah hijrah. Akan tetapi walaupun mereka telah membuat rencana yang rapi untuk mencapai maksud tertentu, namun pelaksanaannya tidaklah membawa hasil seperti yang mereka harapkan, karena Allah telah memberikan pertolongan dan perlindungan-Nya kepada Rasul-Nya, sebagai pelaksanaan dari janji-Nya:

وَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ

Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. (al-Mā`idah/5: 67)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 70-73


 

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 61-65

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 61-65 masih bersama kisah Ibrahim, setelah Ibrahim diketahui sebagai dalang penghancuran patung-patung, Ibrahim pun diadili dan ditanya untuk mencari bukti konkrit bahwa dialah pelakunya. Akan tetapi, Ibrahim tidak mengakui, justru ia menuduh patung besarlah pelaku sebenarnya, ini semakin membuat hadirin bingung. Saling bantah-membantah argumen pun terjadi antar kedua pihak, dan Ibrahim tak gentar dengan keyakinannya yang benar, meski tidak ada satupun yang memihak.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 56-60


Ayat 61

Ayat ini menjelaskan bahwa setelah mereka mendapat jawaban bahwa yang merusakkan patung-patung itu adalah seorang pemuda yang bernama Ibrahim, maka mereka menyuruh agar pemuda itu dihadapkan kepada orang banyak, dengan harapan kalau-kalau ada orang lain yang menyaksikan pemuda tersebut melakukan pengrusakan itu, sehingga kesaksian itu akan dapat dijadikan bukti.

Hal ini memberikan pengertian bahwa di kalangan mereka pada masa itu sudah berlaku suatu peraturan, bahwa mereka tidak akan menindak secara langsung seseorang yang dituduh sebelum ada bukti-bukti, baik berupa persaksian dari seseorang, maupun berupa pengakuan dari pihak yang tertuduh.

Ayat 62

Pada ayat ini diterangkan bahwa setelah Ibrahim mereka hadapkan kepada orang banyak, maka mereka mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan terhadapnya dengan mengajukan pertanyaan, apakah betul dia yang melakukan pengrusakan terhadap berhala-berhala itu. Pertanyaan ini mereka ajukan dengan harapan bahwa Ibrahim akan mengakui bahwa dialah yang melakukan pengrusakan itu. Pengakuan itu akan mereka jadikan alasan untuk menghukum Ibrahim.


Baca Juga: Tafsir Surat Ibrahim Ayat 7: Cara Menghilangkan Sikap Insecure


Ayat 63

Diterangkan dalam ayat ini jawaban Ibrahim atas tuduhan itu. Dimana jawaban Ibrahim ternyata sangat mengagetkan mereka, sebab tidak sesuai dengan harapan mereka, karena Ibrahim tidak memberikan pengakuan bahwa ia yang melakukan pengrusakan, tetapi ia mengatakan bahwa yang melakukan pengrusakan terhadap patung-patung itu justru adalah patung terbesar yang masih utuh.

Jawaban semacam itu dimaksudkan Ibrahim untuk mencapai tujuannya, yaitu untuk menyadarkan kaumnya bahwa patung-patung itu tidak patut untuk disembah, karena ia tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi untuk membela dirinya.

Jelas bahwa kaumnya tidak akan percaya bahwa patung terbesar itulah yang melakukan pengrusakan terhadap patung-patung yang lain. Sebab, mereka menyadari bahwa hal itu mustahil akan terjadi, karena patung tidak dapat berbuat apa pun, sebab dia adalah benda mati. Jika mereka telah menginsafi hal tersebut, sudah sepatutnya mereka berhenti menyembah patung.

Pada akhir ayat ini disebutkan ucapan Ibrahim selanjutnya terhadap kaumnya, yang menyuruh mereka menanyakan kepada patung-patung itu sendiri, siapakah yang telah merusak mereka.

Ucapan ini menyebabkan kaumnya semakin terpojok, karena seandainya mereka bertanya kepada patung-patung itu, niscaya mereka tidak akan memperoleh jawaban, sebab patung-patung tersebut tidak mendengar dan tidak dapat berbicara. Kalau demikian keadaannya, patutkah patung-patung itu disembah? Jika masih ada orang yang menyembahnya, pastilah orang tersebut tidak mempergunakan pikirannya yang sehat.

Ayat 64

Pada ayat ini diterangkan keadaan kaum penyembah patung itu setelah mendengar jawaban Ibrahim. Mereka lalu menyesali diri, mereka menyembah patung-patung yang ternyata tidak mampu mempertahankan diri terhadap orang yang ingin merusaknya, dan tidak mampu membinasakannya. Kalau demikian halnya bagaimana ia akan mampu menolong dan melindungi orang lain. Oleh sebab itu patung tersebut tidak patut disembah.

Penyesalan diri mereka itu tampak jelas pada ucapan mereka yang saling menyalahkan antara sesama mereka bahwa mereka termasuk orang-orang yang zalim karena menyembah sesuatu yang tidak dapat berpikir dan berbicara. Itu merupakan suatu kebodohan diri mereka sendiri.

Ayat 65

Pada ayat ini diterangkan keadaan mereka setelah menyesali kesalahan dan kebodohan diri mereka. Mereka lalu menekurkan kepala dan berdiam diri. Pada saat itulah setan kembali menggoda mereka, sehingga kesadaran mereka yang tadinya telah mulai bersemi lalu lenyap dan mereka kembali kepada kepercayaan semula, dan ingin membela patung-patung yang menjadi kepercayaan mereka. Oleh sebab itu mereka lalu berkata kepada Ibrahim, “Mengapa Ibrahim menyuruh mereka bertanya kepada patung-patung ini, padahal dia sudah mengetahui bahwa patung-patung itu tidak dapat berbicara.”

Ucapan ini merupakan pengakuan mereka bahwa mereka pun mengetahui bahwa patung-patung itu tidak dapat mendengar, berpikir dan berbicara, akan tetapi mereka tetap menyembah dan mempertuhankannya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 66-70


 

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 52-55

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Melanjutkan kisah Ibrahim AS, kali ini Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 52-55 menceritakan bagaimana Ibrahim bertanya dan berdebat dengan ayahnya bernama Azar, tentang kelakukan mereka yang masih menyembah berhala sebagai tuhan. Di sini, Ibrahim menggunakan argumen rasional untuk melemahkan sikap fanatik mereka. Berikut kisah lengkapnya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 49-51


Ayat 52

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah mengaruniakan petunjuk kepada Ibrahim, sehingga ia bertanya kepada ayahnya Azar yang sedang berkumpul bersama kaumnya, tentang patung-patung yang mereka buat dan mereka sembah dengan tekun.

Pertanyaan itu mengandung arti bahwa Azar dan kaumnya seharusnya menggunakan akal pikiran mereka untuk merenungkan bahwa benda-benda tersebut tidak patut disembah, karena tidak mempunyai sifat-sifat sebagai Tuhan yang layak untuk disembah. Mereka menyembah barang-barang yang dicipta, bukan pencipta, serta tidak dapat mendatangkan manfaat untuk dirinya, apalagi untuk orang lain.

Mereka tidak mau menyembah Allah padahal Allah adalah Pencipta, Pemelihara, Pendidik, Pelindung, dan Penguasa seluruh mahluk. Andaikata mereka mau memikirkannya, niscaya mereka tidak akan berbuat demikian. Jadi mereka itu sebenarnya adalah orang-orang yang tidak mau menggunakan akal pikiran yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka.

Ayat 53

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Azar dan kaumnya menjawab pertanyaan Ibrahim dengan pernyataan bahwa mereka menyembah patung hanyalah sekedar mengikuti perbuatan nenek moyang mereka.

Jawaban tersebut menunjukkan berbagai kelemahan. Pertama, mereka tidak dapat menjawab pertanyaan Ibrahim dengan menggunakan alasan-alasan yang masuk akal, yang didasarkan atas kebenaran. Kedua, mereka dalam hidup beragama hanya  didasarkan rasa ta’assuub (fanatik) kepada tradisi nenek moyang, bukan berdasarkan keyakinan dan pemikiran yang sehat.

Ketiga, mereka menutup diri terhadap hal-hal yang berbeda dari kebiasaan mereka, walaupun nyata kebenarannya. Seolah-olah telinga mereka telah tersumbat, dan hati mereka telah tertutup rapat.

Sikap ta’assub (fanatik) dan taklid buta adalah ciri khas orang-orang yang tidak mampu mempertahankan prinsip mereka dengan bukti yang benar dan hujjah yang kuat, karena memang prinsip yang mereka anut itu tidak benar.

Mereka menganutnya hanya sekedar menjaga tradisi yang mereka pusakai dari nenek moyang. Sikap tersebut sangat menghambat kemajuan manusia, dan menjerumuskan mereka kepada keingkaran terhadap kebenaran, bahkan membawa kepada kekufuran terhadap Allah.


Baca Juga: Ketika Nabi Ibrahim Menanyakan Allah tentang Cara Menghidupkan Orang Mati


Dalam kalangan kaum Muslimin kita dapati orang-orang yang taklid buta terhadap satu mazhab, atau terhadap seorang imam, sehingga mereka tak mau menerima kebenaran yang datang dari orang lain.

Sikap semacam itu bertentangan dengan ajaran agama Islam, yang selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akal pikirannya dalam mencari kebenaran.

Para imam dari berbagai mazhab fiqh Islam melarang para pengikutnya untuk bertaklid buta kepadanya, dan menganjurkan agar mereka terbuka menerima pendapat orang lain, bila ternyata pendapat itu lebih benar dari pendapat yang dianutnya.

Ayat 54

Ayat ini menerangkan bahwa Ibrahim membalas jawaban mereka itu dengan menunjukkan keburukan perbuatan nenek moyang mereka yang menyembah selain Allah. Ibrahim mengatakan kepada ayahnya dan juga kaumnya, bahwa mereka semuanya berada dalam kesesatan, karena mereka menyembah patung dan berhala.

Dengan perbuatan itu mereka telah jauh dari kebenaran dan menyimpang dari jalan yang benar. Mereka tidak berpegang kepada agama yang benar dan akal sehat. Yang menjadi pegangan mereka hanyalah keinginan hawa nafsu dan bisikan iblis.

Ayat 55

Dalam ayat ini disebutkan jawaban Azar dan kaumnya kepada Ibrahim yaitu, apakah Ibrahim datang kepada mereka dengan membawa kebenaran, ataukah hanya ingin berolok-olok saja.

Dari ucapan mereka dapat disimpulkan beberapa pertanyaan seputar sikap mereka. Pertama, bahwa mereka setelah mendengarkan ucapan Ibrahim yang bersifat merendahkan martabat tuhan-tuhan mereka, dan menyatakan sesatnya perbuatan mereka, maka hati mereka mulai tergugah, karena ucapan semacam itu belum pernah terdengar di kalangan mereka.

Kedua, karena melihat sikap Ibrahim yang bersungguh-sungguh dan keras dalam ucapannya, maka hati mereka mulai ragu terhadap kebenaran dan perbuatan mereka sendiri sebagai penyembah patung.

Ketiga, mereka meminta kepada Ibrahim agar memberikan bukti-bukti dan alasan-alasan yang menunjukkan kebenaran ucapan Ibrahim kepada mereka. Keempat, jika Ibrahim tidak dapat memberikan bukti-bukti tersebut, maka mereka menganggap Ibrahim hanya memperolok-olok mereka.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 56-60