Beranda blog Halaman 264

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 56-60

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Setelah Ibrahim mendengar jawaban ayah dan kaumnya, maka Ibrahim muda, mencoba mengalihkan pembahasan tentang ketauhidan, Tuhan yang Esa, Tuhan langit dan bumi, yang menciptakan alam semesta beserta isinya, itulah Tuhan yang diyakini oleh Ibrahim, sebagaimana yang akan diterangkan dalam Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 56-60.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 52-55


Ayat 56

Ayat ini menerangkan bahwa setelah Ibrahim memahami adanya kenyataan tersebut di atas, maka dia membalas jawaban mereka dengan ucapan yang tidak lagi mengungkap kesesatan mereka dalam penyembahan terhadap patung dan berhala, melainkan ia beralih kepada menerangkan kebenaran dan menyebutkan Tuhan yang sesungguhnya patut disembah.

Maka Ibrahim menerangkan kepada mereka bahwa ia datang membawa kebenaran, bukan berolok-olok, bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan Langit dan Bumi. Dialah yang patut disembah, karena Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi itu dan menciptakan diri mereka, serta memberikan rahmat dan perlindungan-Nya kepada semua makhluk-Nya, karena Ia Mahakuasa dan Maha Pengasih.

Dengan demikian mereka sadar bahwa menyembah Allah adalah tindakan yang benar, sedang menyembah patung dan berhala adalah kesesatan yang besar.

Pada akhir ayat ini diterangkan, bahwa untuk memantapkan keyakinan mereka kepada akidah tauhid, maka Ibrahim mengulas ucapannya tadi dengan menegaskan bahwa ia dapat dan bertanggungjawab penuh untuk memberikan bukti-bukti atas kebenaran apa yang disampaikannya kepada mereka. Keterangan ini dimaksudkan untuk melenyapkan prasangka mereka bahwa Ibrahim hanya berolok-olok kepada mereka dengan ucapan-ucapan yang tersebut di atas.

Ayat 57

Ayat ini menerangkan apa yang terkandung dalam hati Ibrahim yang diucapkan dan didengar oleh sebagian  kaumnya yaitu ia bertekad untuk menghancurkan patung-patung yang menjadi sesembahan kaumnya, apabila mereka sudah pergi meninggalkan tempat tersebut.

Ayat 58

Dalam ayat ini disebutkan bahwa apa yang menjadi tekad Ibrahim itu untuk memanfaatkan perayaan besar itu untuk menghancurkan patung-patung itu benar-benar dilaksanakannya, sehingga sepeninggal kaumnya, patung-patung itu dirusaknya sehingga hancur berkeping-keping, kecuali sebuah patung yang terbesar. Patung itu tidak dirusaknya, karena ia berharap bila mereka kembali ke sana dan bertanya kepadanya tentang siapa orang yang merusak patung-patung yang lain itu, maka ia akan menyuruh mereka bertanya kepada patung yang terbesar itu, yang tentu saja tidak dapat menjawab pertanyaan mereka.


Baca Juga: Surah Ash-Shaffat Ayat 96: Apakah Allah Swt Mengatur Seluruh Tindakan Manusia?


Ayat 59

Ayat ini menjelaskan bahwa apa yang diharapkan oleh Ibrahim, benar-benar terjadi. Setelah mendengar berita bahwa patung-patung mereka telah rusak, mereka datang kembali ke tempat itu dan bertanya kepada Ibrahim, siapakah yang telah melakukan perbuatan jahat ini terhadap tuhan-tuhan mereka? Sungguh dia benar-benar termasuk orang yang zalim.”

Dari ucapan ini dapat kita pahami bahwa sampai saat itu mereka masih belum menerima sepenuhnya apa yang disampaikan Ibrahim kepada mereka, dan mereka masih menyembah dan mengagungkan berhala-berhala itu, dan masih menyebutnya sebagai tuhan-tuhan mereka. Hal ini menimbulkan kemarahan terhadap orang yang membinasakannya.

Ayat 60

Allah menerangkan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang berada di dekat penyembahan patung-patung itu menjawab pertanyaan di atas dengan mengatakan bahwa mereka mendengar seorang pemuda yang bernama Ibrahim telah menghancurkan berhala-berhala itu.

Dari sini kita pahami pada saat itu Ibrahim masih sebagai seorang pemuda (± 16 tahun), dan belum diutus Allah menjadi Nabi dan Rasul-Nya. Maka tindakannya dalam membinasakan patung-patung itu bukan dalam rangka tugasnya sebagai Rasul, melainkan timbul dari dorongan kepercayaannya kepada Allah, berdasarkan petunjuk kepada kebenaran yang telah dilimpahkan Allah kepadanya, sebelum ia diangkat menjadi Rasul.

 

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 61-65


 

 

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 49-51

0
Tafsir Surah Al-Anbiya'
Tafsir Surah Al-Anbiya'

Setelah tafsir sebelumnya menerangkan perihal sikap orang kafir, kali ini Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 49-51 akan mengulas tentang sifat-sifat yang dimiliki oleh orang yang bertakwa, diantaranya adalah perasaan takut kepada Allah Swt. Karena itu, mereka sangat memperhatikan al-Qur’an, meyakininya sebagai petunjuk yang mengarahkan pada kebaikan, baik dunia ataupun akhirat. Diakhir Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 49-51 juga akan dikisahkan perjalanan Nabi Ibrahim, dari kecil hingga ia diangkat menjadi utusan Allah Swt.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 46-48


Ayat 49

Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan sifat-sifat orang yang bertakwa, yaitu Pertama, mereka senantiasa takut kepada azab Allah, walaupun azab tersebut merupakan salah satu dari hal-hal yang gaib. Kedua, orang-orang bertakwa yang disebutkan dalam ayat ini adalah mereka yang senantiasa merasa takut akan datangnya hari Kiamat, berusaha mempersiapkan diri menghadapi hal-hal yang akan terjadi kelak di hari Kiamat itu antara lain hari perhitungan dan hari pembalasan.

Oleh karena rasa takut mereka terhadap azab Allah pada hari Kiamat yang akan menimpa orang-orang yang tidak bertakwa, maka mereka yang bertakwa ini selalu menjaga diri terhadap hal-hal dan perbuatan yang mengakibatkan dosa dan azab maka mereka senantiasa melaksanakan perintah Allah, serta menjauhi segala larangan-Nya.

Ayat 50

Dalam ayat ini Allah mengalihkan perhatian kepada Al-Qur’an yang diturunkan-Nya kepada Nabi dan Rasul-Nya yang terakhir, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an itu merupakan peringatan dan pelajaran yang sangat bermanfaat untuk orang-orang yang bertakwa, sehingga sepatutnyalah perintah dan larangan diikuti dan dijadikan pegangan dalam meniti jalan hidup.

Pada akhir ayat ini Allah mencela sikap kaum yang masih mengingkari Al-Qur’an, padahal tidak ada satu alasan pun bagi mereka untuk mengingkarinya, memang Al-Qur’an hanya memberi pelajaran dan tuntunan yang bermanfaat bagi mereka yang mau mengikutinya. Lagi pula, kebaikan dan manfaat Al-Qur’an itu sudah dijelaskan kepada mereka.

Ayat 51

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Allah telah mengutus Nabi Ibrahim a.s., dan Dia telah mengkaruniakan hidayah kepadanya dan menjadikannya pemimpin umatnya dalam mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Dengan hidayah tersebut ia telah dapat menyelamatkan dirinya dan umatnya dari kepercayaan yang sesat dan dari penyembahan kepada selain Allah, seperti patung dan berhala.

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah benar-benar mengetahui hal ihwal Ibrahim, baik sebelum diutus menjadi rasul, maupun sesudahnya. Artinya; Allah mengetahui benar kepribadian, watak dan budi pekertinya. Ibrahim adalah seorang yang menganut kepercayaan tauhid kepada Allah, tanpa dicampuri oleh kemusyrikan sedikit pun, disamping itu ia juga mempunyai sifat-sifat dan budi pekerti luhur, sehingga tepatlah kalau ia dipilih dan diangkat menjadi nabi dan rasul.


Baca Juga: Kisah Nabi Ibrahim Mencari Tuhan Melalui Matahari dalam Al-Quran


Kebanyakan para mufasir mengatakan bahwa Allah telah memberikan petunjuk kebenaran itu kepada Ibrahim sejak sebelum ia diangkat menjadi Rasul, sehingga dengan petunjuk itu ia dapat memperhatikan alam ini sehingga ia sampai kepada keyakinan tentang adanya Allah Yang Maha Esa.

Oleh sebab itu, perjuangannya dalam membasmi kemusyrikan berupa penyembahan patung dan berhala di kalangan kaumnya telah dilakukannya sebelum ia diangkat menjadi rasul.

Sebagai penjelasan layak diterangkan di sini bahwa menurut sejarah Nabi Ibrahim berasal dari Ur al-Kaldaniyah (Ur Kaldea) ibu kota Kerajaan Kaldan (Kaldea) di Mesopotamia Selatan.

Kerajaan Kaldea itu diperintah oleh seorang raja yang bernama Namruz memerintah tahun 2300 SM, sebelum pemerintahan Hammurabi yang memerintah tahun 2000 SM. Raja Namrµz ini terkenal sebagai seorang raja yang amat kejam dan mengaku dirinya sebagai tuhan. Orang-orang Kaldan di samping menyembah tuhan-tuhan yang berupa patung-patung, diperintahkan juga agar menyembah Namrµz.

Raja Namruz inilah yang menyuruh membakar Nabi Ibrahim. Akhirnya Nabi Ibrahim bersama istrinya yang bernama Sarah dan saudara laki-lakinya yang bernama Lut meninggalkan kota Ur, berhijrah ke Harran dan kemudian ke Palestina.

Pada suatu ketika terjadi kelaparan di Palestina, maka Ibrahim bersama istrinya dan Lut bersama istrinya pergi ke Mesir. Di Mesir Ibrahim menghadap Firaun. Firaun memberi mereka hadiah-hadiah, di antara hadiah-hadiah itu seorang perempuan yang bernama Hajar untuk Sarah istri Ibrahim. Setelah kembali ke Palestina, Lut berpisah dan pergi ke Sodom, sebuah kota dekat Laut Mati di Yordania.

Oleh karena Sarah dan Ibrahim belum mempunyai putra, maka Hajar dihadiahkan oleh Sarah kepada Nabi Ibrahim untuk dijadikan istri. Dengan Hajar, Ibrahim mendapat putra, yaitu Ismail.

Kemudian oleh Ibrahim Siti Hajar dan Ismail dipindahkan ke Mekah. Di Mekah Nabi Ibrahim mendirikan kembali Ka`bah, dan Ismail bermukim di Mekah.

Nabi Ibrahim di masa tuanya dikaruniai seorang putra lainnya dari istri pertamanya Sarah, yaitu Ishak. Nabi Ibrahim meninggal dunia dan dikuburkan di Hebron, yaitu tempat di mana Sarah telah dikuburkan lebih dahulu. Dari keturunan Ibrahim a.s., banyak terdapat nabi-nabi, imam-imam, orang-orang yang saleh dan pemimpin yang menyeru kepada agama Allah.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 52-55


 

Belajar Investasi dari Nabi Yusuf, Tafsir Surah Yusuf Ayat 47-49

0
Belajar Investasi dari Nabi Yusuf, Tafsir Surah Yusuf Ayat 47-49
Belajar Investasi dari Nabi Yusuf

Investasi sejatinya berarti menempatkan modal atau dana pada suatu aset yang diharapkan akan memberikan hasil atau akan meningkat nilainya di masa yang akan datang. Dari sini, investasi berarti diawali dengan mengorbankan potensi konsumsi saat ini untuk mendapatkan peluang yang lebih baik atau besar di masa yang akan datang.

Investasi juga merupakan ikhtiar dari umat manusia dalam rangka mewujudkan kesejahteraan hidup di muka bumi. Investasi memiliki tujuan untuk pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang dan dalam rangka memaksimalkan tingkat kesejahteraan.

Di era modern seperti saat ini istilah investasi kian familier di telinga, bahkan pada ekonomi kontemporer, opsi-opsi investasi memiliki beragam alternatif dan pilihan. Dahulu, konsep investasi mungkin terbatas pada instrumen tanah, emas, hingga properti. Beda zaman tentu beda pula pola investasi yang dilakukan. Dewasa ini, terkenal di kalangan milenial mulai dari investasi obligasi, reksadana, hingga instrumen saham. Dilansir dari laman idxchannel.com bahwa generasi milenial mendominasi investor baru di pasar modal.

Apapun bentuk instrumennya, sejatinya praktik di atas adalah bentuk dari investasi, yaitu harapan adanya imbal hasil, baik jangka pendek ataupun jangka panjang, dan juga merupakan ikhtiar mengelola harta dengan tujuan menjadikan kehidupan yang lebih baik. Praktik investasi dalam sejarah peradaban Islam sendiri sebenarnya telah ada. Islam memang tidak menjelaskan secara gamblang mengenai investasi, namun Al-Qur’an menceritakan salah satu konsepnya dalam surah Yusuf.

قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًا فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِه اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ ثُمَّ يَأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَّأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تُحْصِنُوْنَ ثُمَّ يَأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ عَامٌ فِيْهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيْهِ يَعْصِرُوْنَ ࣖ

Dia (Yusuf) berkata, “Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan. 48. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan. 49. Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).” (QS. Yusuf ayat 47-49).

Investasi ala Nabi Yusuf dan Ibrahnya dalam Kehidupan Sehari-hari

Surah Yusuf ayat 47-49 di atas menceritakan Nabi Yusuf menasihati raja untuk menyimpan hasil panen gandum selama tujuh tahun itu pada bulir-bulirnya supaya awet dan tidak cepat rusak, kecuali sebagian kecil saja untuk dimakan. Beliau juga menganjurkan untuk berhemat dan tidak berlebihan dalam konsumsi agar dapat digunakan pada masa paceklik tujuh tahun berikutnya. Tahun paceklik ini digambarkan melalui sapi kurus yang memakan sapi gemuk. karena persediaan pada tahun subur akan dihabiskan pada masa paceklik sebagai tujuh bulir yang kering. Sebagaimana yang dinyatakan Sayyid Qutb dalam tafsirnya. Seakan-akan tahun-tahun ini sendirilah, kata Qutb, yang menghabiskan segala simpanan yang dipersiapkan untuk menghadapi tahun-tahun sulit dan kelaparan ini.

Quraish Shihab menafsirkan surah Yusuf ayat 47-49 di atas yaitu ketika sang raja bermimpi pada ayat sebelumnya dan bertanya kepada Nabi Yusuf as ta’bir mimpinya (QS. Yūsuf [12]: 46). Kemudian dijawab oleh Nabi Yusuf as. agar mereka menanam gandum selama tujuh tahun seperti biasanya dengan baik dan sungguh-sungguh, karena tujuh tahun yang akan datang akan terjadi kekurangan bahan makanan dan kekeringan yang panjang, dan setelah itu keadaan kembali normal. Maka cara untuk menanggulangi masalah ketika terjadi kekeringan dan masa yang sangat sulit tersebut dengan menyimpan hasil dari menanam dengan sungguh-sungguh tersebut selama tujuh tahun.

Baca juga: Tafsir Surat Yusuf Ayat 3: Mengapa Kisah Nabi Yusuf adalah Kisah Terbaik?

Cerita Nabi Yusuf menginspirasi banyak orang tentang pentingnya mengatur keuangan untuk masa depan. Ibrah yang dapat diambil dari ayat di atas adalah kita sebagai manusia tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Oleh karena itu, perlu penjagaan, perlu kesiapan, perlu bekal untuk masa depan agar lebih baik. Investasi adalah salah satu alternatif  terbaik untuk menangani hal itu.

Dalam surah Yusuf ayat 47-49 tersebut diterangkan bahwa Nabi Yusuf as. telah melakukan investasi dalam jangka waktu tujuh tahun untuk menghadapi paceklik tujuh tahun yang akan datang. Kita sebagai manusia biasa yang tidak tahu hal apa yang akan terjadi kedepannya, juga perlu melakukan investasi agar kehidupan di masa akan datang lebih terjamin. Mempersiapkan sesuatu yang akan datang dengan bekal sebaik mungkin seperti yang dicontohkan Nabi Yusuf as. agar terhindar dari sesuatu yang tidak diinginkan.

Nasihat lain dari kandungan surah Yusuf di atas bahwa dalam kehidupan ini ada masa produktif dan masa tidak produktif. Ketika sedang berada di masa produktif, kita mempunyai pendapatan, juga pengeluaran. Belajar dari cerita Nabi Yusuf, saat memperoleh pendapatan, hendaknya kita mulai menyisihkan sebagiannya untuk ditabung dan diinvestasikan. Oleh karenanya kita perlu merencanakan dengan cermat terkait ‘masa tabur’ dan ‘masa tuai’ agar masa depan lebih baik dan mensejahterakan. Wallahua’lam.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat 18:  Intropeksi Diri, Manajemen Waktu, dan Tabungan Kebaikan dalam Al Quran

Eksklusivitas Kajian Rasm di Masa Sekarang, Sebuah Rahmat atau Laknat?

0
Eksklusivitas Kajian Rasm di Masa Sekarang, Sebuah Rahmat atau Laknat?
Mushaf Tashkent, ilustrasi rasm ‘uthmani

Tidak semua kajian dalam wilayah diskursus Al-Qur’an menjangkau setiap pengkaji Al-Qur’an. Beberapa di antaranya bahkan hanya familier di telinga kalangan tertentu saja. Faktor penyebabnya sangat beragam, mulai dari tingkat kesulitan hingga nuansa eksklusif yang melingkupi tiap sisi kajian.

Dalam pengantarnya terhadap Keragaman Qira’ah Mushaf Kuno Ternate, Mustopa menyebut bahwa qira’ah, ilmu yang membahas variasi mazhab bacaan Al-Qur’an, merupakan salah satu dari beberapa kajian eksklusif Al-Qur’an. Menurutnya, tingkat kesulitan menjadi salah satu faktor yang menjadi penyebab.

Penulis sendiri menganggap nuansa eksklusif qira’ah lebih disebabkan marwah yang dimilikinya. Hafal Al-Qur’an secara utuh yang disyaratkan oleh beberapa ulama sebagai pondasi awal agaknya juga memunculkan nilai prestise tertentu yang mengesankan rasa ‘wah’ dalam kajian qira’ah, hingga praktis hanya menjangkau kalangan tertentu. Meskipun dalam dhawuh-nya, Gus Baha’ menyebut ilmu sharaf sebagai salah satu akar perbedaan qira’ah. Sehingga cakap dalam ilmu qira’ah sejatinya tak jauh berbeda dengan cakap dalam ilmu sharaf.

Baca juga: Mabadi’ Asyrah: Sepuluh Dasar Ilmu Qiraat yang Perlu Diketahui

Eksklusivitas Kajian Rasm

Seperti halnya ilmu qira’ah, problem eksklusif juga terjadi pada ilmu rasm atau tata cara penulisan ayat Al-Qur’an. Bahkan tingkat eksklusivitas rasm dapat dikatakan jauh lebih tinggi mengingat jangkauan kajiannya yang lebih sempit dengan minimnya minat pengkaji. Tingkat kesulitan disinyalir sebagai alasan utama. Namun lebih dari itu, kesan prestise yang dimiliki qira’ah agaknya tidak dimiliki ilmu rasm, hingga setiap kalangan ingin menguasainya.

Sejarah menyebutkan bahwa dua ilmu ini pada dasarnya selalu berjalan berdampingan. Klausul qira’ah sahih misalnya, mengharuskan adanya kesesuaian dengan rasm al-mushaf. Atau keberadaan beberapa imam qira’ah yang memiliki basic yang cukup kuat dalam bidang rasm seperti Ibn ‘Amir al-Syamiy, Hamzah al-Kufiy, dan ‘Ali al-Kisa’iy.

Namun demikian, sejarah juga menyebutkan bahwa penggunaan kaidah-kaidah rasm dalam penulisan Al-Qur’an telah lama mengalami masa fatrah (kekosongan). Dari abad pertama hijriah (sekitar abad ke-7 dan ke-8 masehi), dibuktikan dengan penemuan 6 mushaf kuno ‘Uthman. Dari masa itu, hingga masa mushaf cetak di Kazan tahun 1848 M. oleh Muhammad Syakir Murtadha yang menggunakan rasm, tidak banyak informasi yang menjelaskan aplikasi rasm dalam mushaf Al-Qur’an (baca selengkapnya di Sejarah yang Hilang dalam Penulisan Rasm Mushaf Al-Qur’an).

Memang diakui bahwa perjalanan teoritis ilmu rasm pada masa-masa fatrah (kekosongan) tersebut tetap berjalan. Banyak karya-karya yang lahir mewakili setiap abad, sebagaimana telah diulas lengkap oleh Zainal Arifin Madzkur. Akan tetapi hal itu justru semakin meneguhkan eksklusivitas kajian rasm yang hanya menjangkau elit tertentu, yang dalam hal ini adalah alim dan pakar Al-Qur’an.

Baca juga: Tiga Imam Qira’ah yang Concern Pada Kajian Rasm

Sebuah Rahmat atau Laknat?

Pertanyaan yang kemudian dilontarkan adalah, “apakah eksklusivitas kajian rasm dianggap sebagai rahmat atau malah menjadi ‘laknat’?

Ilmu rasm sendiri memiliki fokus pada garis anatomi huruf. Dalam mushaf-mushaf yang saat ini beredar, masih banyak kita jumpai model penulisan yang sebenarnya tidak sesuai dengan kaidah penulisan rasm. Namun demikian, perbedaan penulisan ini tidak memiliki implikasi yang cukup berarti dalam pembacaan. Karenanya tidak begitu banyak kalangan yang mempersoalkannya.

Dari sisi ini, mungkin eksklusivitas kajian rasm menyimpan hikmah tersendiri dengan menciptakan ketenangan di kalangan internal umat Islam. Kita tentu tidak ingin bukan, cerita perseteruan di Azerbaijan pada era khalifah ‘Uthman terulang kembali?

Namun di sisi lain, dengan menjadi eksklusif-nya kajian rasm, ruang-ruang diskusi publik menjadi tertutup. Jangankan memunculkan peminat, sekadar mengetahui apa itu rasm saja tidak. Akibatnya, rasm menjadi sesuatu yang tidak tersentuh sama sekali. Hal ini lah yang kadang menjadi polemik tersendiri ketika terjadi kehebohan terkait penulisan Al-Qur’an yang ‘aneh’ atau tidak biasa.

Peristiwa ‘Al-Fur’an’ pada 2018 silam sejatinya tidak perlu menjadi heboh karena hanya perbedaan sistem naqth saja. Namun karena kurangnya edukasi, jagad maya menjadi ramai tak terkendali. Hal ini tak lain karena minimnya ruang diskusi publik untuk rasm, yang seandainya terbuka cukup luas akan melahirkan respon-respon positif dari masyarakat Islam.

Kesimpulan

Apa pun itu, rahmat atau mungkin sebaliknya, polemik yang terjadi terkait eksklusivitas kajian rasm merupakan sesuatu yang tidak dapat dibendung. Umat Islam memiliki latar yang beragam. Mustahil memaksakan satu kajian untuk menjadi populer seketika. Namun bukan tidak mungkin membangun tradisi edukasi: mendasari segala sesuatu dengan ilmu, bukan omong kosong yang mengikuti hawa nafsu. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

Baca juga: Mengapa Kita Membaca Al-Quran dengan Qiraat Ashim Riwayat Hafs?

Tafsir Surah Hud Ayat 27: Konflik Sosial di Balik Pendustaan Dakwah Nabi Nuh

0
Tafsir Surah Hud Ayat 27: Konflik Sosial Dibalik Pendustaan Dakwah Nabi Nuh
Sayyiduna Nuh as

Nabi Nuh ‘alaihissalam dalam Kisah Para Nabi-nya Ibnu Katsir, diceritakan merupakan cicit Nabi Idris dan keturunan kesembilan Nabi Adam. Silsilahnya merentang sedari Nuh bin Lamik bin Matwasyalakh bin Khanukh (Idris) bin Yarad bin Mahlayil bin Qanin bin Anwasy bin Syits bin Adam.

Kisahnya menjadi pelajaran bagi umat manusia yang jamak diceritakan tentang datangnya banjir besar. Sebuah azab yang menenggelamkan daratan hingga melampaui puncak gunung. Nabi Nuh bersama segelintir pengikutnya berada di atas bahtera, sedangkan seluruh kaumnya yang berdusta tenggelam binasa, termasuk istri dan anaknya. Apa penyebab mereka lebih memilih menyembah berhala?

Baca juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 43-44: Kuasa Allah Swt dan Bahtera Nabi Nuh As

Konteks sosial umat Nabi Nuh

Dalam buku The Greatest Stories of Al-Qur’an, disebutkan bahwa jauh sebelum Nuh mengemban risalah kenabian di kawasan yang dilalui sungai Eufrat dan Tigris itu merupakan daerah dengan kehidupan yang begitu sederhana.

Lambat laun (beriringan dengan dinamika sosial yang menyejarah) kawasan tersebut berubah mencekam, penuh dengan ketegangan sosial. Golongan yang punya posisi kuat (secara ekonomi-politik) menindas golongan yang lemah. Berangkat dari situasi ketimpangan inilah kebobrokan kaum Nabi Nuh bermula.

Orang-orang mulai melupakan ibadah kepada Allah Swt dan lebih memilih menyembah berhala yang mereka buat sendiri yang mereka namai dengan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr (berasal dari nama lima orang saleh ketika itu. Dinamai demikian untuk mengenang mereka). Lalu mereka meletakkannya di lembah sungai Eufrat sebagai sesembahan.

Melihat kaumnya berlaku demikian, Nabi Nuh mencoba memperingatkan mereka agar kembali ke jalan Allah. Lalu bagaimana tanggapan kaumnya? Mari kita telaah surah Hud ayat 27:

فَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja. Kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang berdusta.” (QS. Hud [11]: 27).

Begitulah jawaban kaumnya, Nabi Nuh beserta pengikutnya malah diejek oleh mereka, terutama oleh pemuka kaum (mala’). Fakhruddin al-Razi dalam tafsirnya Mafatih al-Ghaib, menyebut ada tiga alasan yang membuat pemuka kaum tersebut mencela dakwah Nabi Nuh.

Pertama, karena Nuh ialah manusia biasa. Lalu kedua, pengikutnya terdiri dari orang-orang hina (aradzil), seperti penenun dan tukang kayu rendahan. Jika Nuh memang benar, pikir mereka, maka ia akan diikuti oleh kalangan terpandang dan mulia. Ketiga, mereka menganggap Nuh dan pengikutnya tidak mempunyai keunggulan intelektual, tidak mempunyai pertimbangan yang baik serta argumentasi yang kuat (Mafatih al-Ghaib Juz 17, hal 336).

Baca juga: Kisah Nabi Nuh As dan Keingkaran Kaumnya Dalam Al-Quran

Penolakan dakwah Nabi Nuh lebih dari sekadar masalah teologis

Pada waktu itu telah terbentuk semacam kelas sosial dalam sejarah umat manusia. Di antaranya mala’ yang menurut Ibnu ‘Asyur ialah pemuka-pemuka yang memimpin kaum (al-Tahrir wa al-Tanwir Juz 12, hal 45). Dalam kisahnya, mereka mengejek Nabi Nuh dan pengikutnya seraya membandingkan harta mereka dengan hartanya yang melimpah. Artinya, mala’ ini punya relasi kuasa yang kuat secara politik dan ekonomi.

Kemudian ada golongan orang rendahan, aradzil. Dari segi bahasa, kata aradzil merupakan jamak dari ardhal, atau radhil yang artinya orang yang direndahkan. Sebagaimana tafsiran Ibnu ‘Asyur, mereka adalah golongan kaum yang tak punya kuasa memimpin dan tak berpunya, namun punya jiwa yang bersih, berkat petunjuk Allah Swt.

Dari golongan orang yang lemah, miskin lagi tertindas ini ternyata hanya segelintir dari mereka yang mengikuti ajakan Nabi Nuh. Selebihnya, lebih memilih menjadi pengikut mala’, karena takut dan lebih menggangap benar apa yang dikatakan golongan atas, yang tentu saja punya posisi kuat.

Jadi pendustaan serta ejekan pemuka kaum atas seruan dakwah Nabi Nuh sebetulnya juga berkelindan erat dengan kepentingan mereka untuk terus melanggengkan kuasa yang telah lama mapan. Lebih jelas lagi, seperti yang dikisahkan dalam surah Al-Mukminun ayat 24 berikut:

فَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا هَذَا إِلا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُرِيدُ أَنْ يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لأنزلَ مَلائِكَةً مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الأوَّلِينَ

Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab, “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud menjadi seorang yang lebih tinggi daripada kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu” (QS. Al-Mukminun [23]: 24).

Mengutip penafsiran Abu Hayyan Al-Andalusi, para pemuka yang angkuh menganggap Nabi Nuh tidak lebih dari manusia biasa. Dakwahnya dianggap demi untuk mendapatkan kemuliaan di antara mereka, dan supaya bisa memimpin mereka (al-Bahr al-Muhit fi al-Tafsir Juz 7, hal 557).

Dalih pemuka kaum (mala’) ini menunjukkan bahwa mereka merasa terancam akan seruan Nabi Nuh untuk kembali ke jalan Allah Swt. Sekiranya jika mereka menjadi pengikutnya, maka kuasa politik mereka akan runtuh digantikan oleh Nabi Nuh sendiri yang memimpin kaum. Lebih jauh lagi, kontrol atas kuasa ekonominya yang membuahkan kekayaan melimpah dari penindasan terhadap golongan orang lemah juga ikut terancam lenyap.

Maka dengan angkuhnya mereka mendustakan risalah kenabian. Lagi pula posisi Nabi Nuh begitu lemah dihadapan para pemuka kaum. Mereka seenaknya saja mencaci maki, bahkan memukuli, hingga mencekik Nabi Nuh, tetapi ia masih saja memperingatkan kaumnya saban hari, meski selalu didustakan. Sampai pada suatu hari datanglah terjangan tsunami banjir besar yang membinasakan para pendusta itu. Wallahua’lam.

Baca juga: Tafsir Surat As-Shaffat Ayat 78-81: Terima Kasih Allah kepada Nabi Nuh

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 46-48

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 46-48 menjelaskan bahwa orang kafir Ketika ditimpa musibah mereka seringkali mengeluh, padahal musibah yang terjadi akibat dari perbuatan mereka sendiri. Yang perbuatan itu akan diadili di hadapan Allah, dan peradilannya sangat teliti dan tepat, tidak ada satupun yang bisa menghindari mahkamah-Nya, dan tidak pula dirugikan dan diuntungkan, semua sudah berdasar porsi masing-masing. Pun, Kitab-Kitab yang diturunkan, telah memberi penjelasan yang nyata, namun sedikit yang mengikutinya.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 43-45


Ayat 46

Allah menerangkan dalam ayat ini salah satu dari sifat kaum kafir, yaitu bila mereka ditimpa oleh azab Allah, walaupun hanya sedikit saja, mereka mengeluh dan menyesali diri, dengan mengatakan, “Aduhai, celakalah kami, bahwasannya kami adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri.”

Sebelum azab itu datang menimpa, mereka tidak mempercayainya, bahkan mereka menantang, agar azab tersebut didatangkan segera kepada mereka, karena keingkaran dan keangkuhan mereka. Tetapi setelah azab itu datang menimpa barulah mereka tahu tentang kekuasaan Allah sehingga timbullah penyesalan dalam hati mereka

Ayat 47

Dengan tegas Allah menyatakan dalam ayat ini, bahwa dalam menilai perbuatan hamba-Nya kelak di hari Kiamat. Allah akan menegakkan neraca keadilan yang benar-benar adil, sehingga tidak seorang pun akan dirugikan dalam penilaian itu.

Maksudnya penilaian itu akan dilakukan setepat-tepatnya, sehingga tidak akan ada seorang hamba yang amal kebaikannya akan dikurangi sedikit pun, sehingga menyebabkan pahalanya dikurangi dari yang semestinya ia terima. Sebaliknya tidak seorang pun di antara mereka yang kejahatannya dilebih-lebihkan, sehingga menyebabkan ia mendapat azab yang lebih berat daripada yang semestinya, walaupun Allah kuasa berbuat demikian.

Adapun memberikan pahala yang berlipat ganda dari jumlah kebaikannya atau menimpakan azab yang lebih ringan dari kejahatannya adalah terserah kepada kehendak Allah, dan Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Dalam keadilan Allah dijelaskan bahwa semua kebajikan manusia, betapapun kecilnya niscaya dibalas-Nya dengan pahala, dan semua kejahatannya betapapun kecilnya niscaya dibalas-Nya dengan azab atau siksa-Nya. Dalam hubungan ini, Allah berfirman dalam ayat yang lain:

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ  ٧  وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ ࣖ  ٨

Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.(az-Zilzāl/99: 7-8);Kemampuan teknologi saat ini telah mampu mencatat segala peristiwa dengan teliti dan menyimpan dalam waktu yang lama, apalagi kemampuan Allah.


Baca Juga: Bagaimana Sikap Kita Terhadap Ajaran dalam Kitab Taurat dan Injil?


Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa cukuplah Dia sebagai saksi pembuat perhitungan yang paling adil. Ini merupakan jaminan bahwa penilaian yang akan dilakukan terhadap segala perbuatan hamba-Nya akan dilakukan-Nya kelak di hari perhitungan dengan penilaian yang seadil-adilnya, sehingga tidak seorang pun hamba yang dirugikan atau dianiaya ketika menerima pahala dari kebaikannya atau menerima azab dari kejahatan yang telah dilakukannya.

Ayat 48

Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa dan Harun. Kitab Taurat tersebut adalah merupakan penerangan dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah. Kitab Taurat juga disebut al-Furqān, sebagaimana halnya Al-Qur’an, karena Kitab Taurat tersebut juga berisi syariat, yaitu hukum-hukum dan peraturanperaturan yang membedakan antara hak dan batil, antara baik dan buruk secara hukum, sehingga setiap tingkah laku dan perbuatan manusia, baik atau buruk, dijelaskan akibat hukum atau sangsinya. Tidak demikian halnya kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. Ia tidak membawa syariat.

Pada akhir ayat tersebut ditegaskan bahwa kitab Taurat yang berfungsi sebagai pembawa syariat, dan sebagai sinar petunjuk dan peringatan, hanyalah berguna bagi orang-orang yang bertakwa. Ini berarti kitab Taurat bagi orang-orang yang tidak bertakwa, yaitu yang tidak bersedia melaksanakan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya, maka Taurat itu tidaklah menjadi petunjuk. Untuk itu mereka disediakan azab yang dahsyat, karena mengingkari petunjuk Allah.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 49-51


 

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 43-45

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 43-45 adalah kelanjutan sebelumnya, tunjuan dari pertanyaan yang diajukan oleh Nabi adalah untuk melemahkan keyakinan mereka terhadap tuhan yang disembah, bahwa tuhan-tuhan itu tidak akan bisa menolong mereka dari hari Kiamat. Allah juga mempertegas bahwa kenikmatan yang dirasakan orang kafir selama di dunia adalah ujian dari Allah Swt, maka kaum Mukmin tidak perlu iri, sebab kenikmatan itu akan menjadi bumerang kelak di hadapan Allah Swt.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 38-42


Ayat 43

Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya, di mana Allah menyuruh Rasul-Nya untuk mengajukan pertanyaan kepada kaum kafir, untuk menyadarkan mereka tentang kekuasaan Allah. Isi pertanyaan yang disebutkan dalam ayat ini adalah, “Apakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari azab Allah? Tuhan-tuhan yang mereka sembah sudah pasti tidak mampu menolong mereka, bahkan menolong dirinya sendiri pun tidak mampu. Pada akhir ayat ini Allah menegaskan kembali, bahwa tuhan-tuhan yang disembah mereka itu tidak akan luput dari azab Allah. Kalau demikian halnya, bagaimana mereka akan mampu untuk melindungi para penyembahnya?

Dengan demikian, ayat ini mengemukakan dua macam kelemahan tuhan-tuhan yang disembah kaum kafir itu, yang menyebabkan tidak pantasnya disembah dan dipertuhan. Pertama, mereka tidak mampu untuk menolong diri sendiri. Kedua, bahwa mereka pun tidak luput dari azab Allah. Dengan demikian, keadaannnya lebih lemah dari penyembahnya.

Dengan adanya dua kenyataan itu, seharusnya mereka dapat mengambil kesimpulan, bahwa benda-benda yang mereka sembah itu tidak mempunyai kemampuan apa pun untuk melindungi mereka dari azab Allah.

Ayat 44

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberikan kenikmatan hidup dan harta kekayaan kepada kaum kafir itu, sehingga mereka dapat hidup enak dengan usia panjang. Akan tetapi kaum Muslimin tidak perlu iri hati dan merasa silau melihat kenikmatan hidup mereka itu, karena semua kekayaan dan kemewahan itu diberikan Allah kepada mereka sebagai ujian, jika harta itu akan menyebabkan hati mereka menjadi sombong, dan tabiat mereka menjadi kasar sehingga menjerumuskan mereka kepada perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Semuanya itu mengakibatkan dosa-dosa mereka bertambah banyak, dan azab yang akan mereka terima bertambah berat.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa Allah memberi mereka kemewahan dan kenikmatan hidup bukanlah karena Allah tidak kuasa menurunkan azab kepada mereka, tetapi sebaliknya kemewahan itu adalah ujian bagi mereka yang dapat menjerumuskan mereka kepada kebinasaan lahir batin, serta azab yang pedih.

Dalam ayat ini disebutkan pula bentuk kerugian lain yang ditimpakan Allah kepada mereka, yaitu berkurangnya jumlah para pengikut mereka lantaran banyak yang masuk Islam, dan akibatnya daerah kekuasaan mereka pun makin berkurang pula karena agama Islam telah tersebar ke daerah-daerah yang semula termasuk daerah kekuasaan mereka. Dengan susutnya jumlah pengikut dan daerah kekuasaan mereka, berarti kekuatan mereka pun semakin berkurang.

Setelah menggambarkan keadaan mereka itu yang telah menjadi rapuh karena kemewahan, dan telah menjadi lemah karena berkurangnya jumlah pengikut dan kekuasaan mereka, maka Allah pada akhir ayat tersebut mengajukan satu pertanyaan yaitu dalam keadaan semacam itu siapakah yang dapat memperoleh kemenangan, apakah mereka masih memiliki harapan?

Sudah tentu mereka tidak akan memperoleh kemenangan. Di samping keadaan mereka telah rapuh dan lemah, kekuasaan Allah adalah mutlak atas hamba-Nya, dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Tidak sesuatu pun yang dapat mengalahkan-Nya.


Baca Juga: Surah Az-Zukhruf Ayat 32: Jawaban Al-Quran Untuk Mereka yang Menyangkal Kenabian Muhammad


Ayat 45

Dalam ayat ini Allah menyuruh Nabi Muhammad saw untuk menegaskan kepada kaum kafir dan musyrik itu tugas pokoknya sebagai Rasul, yaitu sekedar menyampaikan peringatan Allah kepada mereka dengan  perantaraan wahyu, yaitu Al-Qur’an, serta menerangkan kepada mereka akibat dari kekufuran, dengan menerangkan kisah-kisah tentang umat yang terdahulu. Adapun perhitungan dan pembalasan atas perbuatan mereka adalah menjadi kekuasaan Allah, bukan kekuasaan Rasul.

Dalam ayat ini juga terdapat sindiran terhadap kaum kafir itu, bahwa mereka adalah seperti orang-orang tuli, tidak mendengarkan dan tidak memperhatikan peringatan yang disampaikan kepada mereka. Hati mereka seperti telah tertutup, dan tidak menerima kebenaran dan petunjuk Allah yang disampaikan Rasul kepada mereka. Hal ini merupakan tanda-tanda orang-orang yang ingkar pada Tuhan, sebagaimana firman Allah:

صُمٌّ ۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ

(Mereka) tuli, bisu dan buta, maka mereka tidak  mengerti. (al-Baqarah/2: 171)

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 46-48


 

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 38-42

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 38-42 berbicara tentang angkuhnya orang kafir, selain menuduh dan mengejek Nabi, mereka juga lantang bertanya perihal hari Kiamat. Padahal, jika hari itu terjadi, mereka tidak akan bisa mengelak dari ganasnya. Karena itu, Allah memerintahkan Nabi untuk balik bertanya kepada mereka, sekaligus menegaskan bahwa tidak ada yang bisa menolong mereka jika itu tiba.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 35-37


Ayat 38-39

Dalam ayat ini Allah memperlihatkan betapa nekadnya kaum kafir itu, ketika mereka berkata kepada Nabi Muhammad dan kaum Muslimin dengan sikap menantang, “Kapankah azab akhirat yang dijanjikan itu akan datang? Jika ancaman itu benar, cobalah perlihatkan sekarang juga!”

Mereka meminta segera didatangkan azab Allah kepadanya, ucapan itu menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak percaya sama sekali tentang adanya azab tersebut. Dengan sendirinya, mereka juga tidak percaya tentang hari akhirat, serta kekuasaan Allah untuk memperhitungkan dan membalas perbuatan manusia.

Ayat 40

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa seandainya kaum kafir itu mengetahui, bahwa kelak mereka tidak akan berdaya untuk mengelakkan diri dari azab api neraka yang akan menyerbu mereka dari segala arah, niscaya mereka tidak akan berkata demikian. Oleh sebab itu, tantangan mereka agar azab tersebut didatangkan segera kepada mereka, adalah betul-betul timbul dari kebodohan dan keingkaran mereka, karena mereka menutup diri terhadap ajaran-ajaran yang benar, yang disampaikan oleh Rasulullah.

Adanya azab dan hari Kiamat yang datang secara tiba-tiba itu agar dijadikan peringatan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan untuk tetap mengfokuskan perhatian kepada pengamalan agama, sebagaimana firman Allah:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ الْقَيِّمِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا مَرَدَّ لَهٗ مِنَ اللّٰهِ يَوْمَىِٕذٍ يَّصَّدَّعُوْنَ 

Oleh karena itu, hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus (Islam) sebelum datang dari Allah suatu hari (Kiamat) yang tidak dapat ditolak, pada hari itu mereka terpisah-pisah. (ar-Rum/30: 43)


Baca Juga: Tafsir Surah Yasin Ayat 48-50: Hari Kiamat Datang dengan Tiba-Tiba


Ayat 41

Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa azab akhirat yang diancamkan kepada kaum kafir itu pasti akan terjadi, bahkan akan datang kepada mereka secara tiba-tiba dan tak terduga, sehingga menyebabkan mereka menjadi panik tidak sanggup menyelamatkan diri. Dan mereka benar-benar tidak akan diberi tenggang waktu dan kesempatan untuk bersiap-siap guna menyelamatkan diri daripadanya.

Pada akhir ayat ini Allah memberikan hiburan kepada Nabi Muhammad yang selalu mendapat ejekan dari kaum kafir, Allah menegaskan bukan dia saja yang pernah diejek oleh kaum kafir itu. Bahkan semua rasul yang diutus Allah sebelumnya juga menjadi sasaran ejekan kaumnya. Akan tetapi azab yang dahulu mereka perolok-olokkan itu akhirnya datang melanda mereka. Dan tidak seorang pun dapat menyelamatkan mereka dari azab yang dahsyat.

Ayat 42

Dengan ayat ini Allah menyuruh Nabi untuk menjawab ejekan itu dengan cara mengajukan pertanyaan kepada mereka tentang siapakah yang dapat memelihara dan melindungi mereka dari azab Allah, baik pada waktu malam maupun pada waktu siang?

Pertanyaan itu dimaksudkan untuk menyadarkan mereka, bahwa tidak seorang pun kuasa untuk melindungi mereka dari siksa dan azab Allah, karena Dia Mahakuasa untuk berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Andaikata mereka selalu ingat tentang iradah dan kekuasaan Allah, niscaya mereka tidak akan mengejek atau menantang semacam itu. Akan tetapi karena mereka adalah orang-orang yang telah berpaling dari mengingat Allah dan kekuasaan-Nya, maka itulah sebabnya mengapa mereka mengejek Rasul-Nya dan menantang dengan sikap yang angkuh agar azab tersebut segera ditimpakan kepada mereka.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 43-45


 

 

 

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 35-37

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 35-37 menjelaskan bahwa kematian bukanlah cobaan semasa di dunia, sebab ia akan dialami oleh setiap makhluk. Pun cobaan tidak selalu berorientasi buruk, kadang ia bermanifestasi dengan bentuk yang baik dan menyenangkan. Tak terkecuali Muhammad Saw, yang juga diuji dengan sikap orang kafir kepadanya, beragam sikap buruk sudah ia terima, begitupun dengan ujian yang lain.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 33-34


Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 35-37 juga menerangkan watak asal manusia, bahwa manusia adalah makhluk yang tidak sabar, tergesa-gesa, dan penuh dengan hasrta nafsu. Maka, Islam menganjurkan manusia untuk merubah sikap tersebut dengan sikap yang kebih baik, seperti; sabar, behrhati-hati, dan tenga, yang demikian akan mengantarkan manusia pada kesuksesan.

Ayat 35

Dalam ayat ini Allah menyatakan lebih tegas lagi, bahwa setiap mahluk-Nya yang hidup atau bernyawa pasti akan merasakan mati. Tidak satu pun yang kekal, kecuali dia sendiri, dalam hubungan ini, Allah berfirman dalam ayat yang lain:

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ

Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (al-Qashas/28: 88)

Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan cobaan yang ditimpakan Allah kepada manusia tidak hanya berupa hal-hal yang buruk, atau musibah yang tidak disenangi, bahkan juga ujian tersebut dapat pula berupa kebaikan atau keberuntungan.

Apabila ujian atau cobaan itu berupa musibah, maka tujuannya adalah untuk menguji sikap dan keimanan manusia, apakah ia sabar dan tawakkal dalam menerima cobaan itu. Dan apabila cobaan itu berupa suatu kebaikan, maka tujuannya adalah untuk menguji sikap mental manusia, apakah ia mau bersyukur atas segala rahmat yang dilimpahkan Allah kepadanya.

Jika seseorang bersikap sabar dan tawakkal dalam menerima cobaan atau musibah, serta bersyukur kepada-Nya dalam menerima suatu kebaikan dan keberuntungan, maka dia adalah termasuk orang yang memperoleh kemenangan dan iman  yang kuat serta mendapat keridaan-Nya.

Sebaliknya, bila keluh kesah dan rusak imannya dalam menerima cobaan Allah, atau lupa daratan ketika menerima rahmat-Nya sehingga ia tidak bersyukur kepada-Nya, maka orang tersebut adalah termasuk golongan manusia yang merugi dan jauh dari rida Allah. Inilah yang dimaksudkan dalam firman-Nya pada ayat lain:

۞ اِنَّ الْاِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعًاۙ  ١٩  اِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعًاۙ  ٢٠  وَّاِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوْعًاۙ  ٢١  اِلَّا الْمُصَلِّيْنَۙ  ٢٢

Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir,  kecuali orang-orang yang melaksanakan salat. (al-Ma’ārij/70: 19-22)

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa bagaimana pun juga tingkah laku manusia dalam menghadapi cobaan atau dalam menerima rahmat-Nya, namun akhirnya segala persoalan kembali kepada-Nya juga.

Dialah yang memberikan balasan, baik pahala maupun siksa, atau memberikan ampunan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Ayat 36

Dalam ayat ini Allah menerangkan sikap dan kelakuan orang-orang kafir terhadap Nabi Muhammad, yaitu bahwa setiap kali mereka melihatnya, maka mereka menjadikan Nabi sebagai sasaran olok-olokan dan ejekan mereka, seraya berkata kepada sesama mereka, “Inikah orangnya yang mencela tuhan kamu? Padahal merekalah orang-orang yang ingkar dari mengingat Allah.”

Demikianlah ejekan mereka terhadap Rasulullah. Dan mereka tidak menginsafi bahwa yang sebenarnya merekalah yang selayaknya menerima ejekan, karena mereka menyembah patung-patung dan berhala, yang tidak kuasa berbuat apapun untuk mereka, bahkan tangan mereka sendirilah yang membuat tuhan-tuhan mereka itu sehingga mereka yang menjadi khalik sedang tuhan-tuhan mereka menjadi makhluk yang diciptakan.

Dengan demikian, keadaan menjadi terbalik daripada yang semestinya, karena tuhan semestinya sebagai pencipta bukan yang diciptakan.;


Baca Juga: Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 50-51: Tidak Ada Peluang untuk Menyekutukan Allah


Ayat 37

Pada ayat ini, mula-mula Allah menerangkan bahwa manusia dijadikan sebagai mahluk yang bertabiat suka tergesa-gesa dan terburu nafsu. Kemudian Allah memperingatkan kaum kafir agar mereka jangan meminta disegerakannya azab yang diancamkan kepada mereka, karena Allah pasti akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda dari azab-Nya itu.

Di sini dapat kita ketahui bahwa Allah melarang manusia untuk bersifat tergesa-gesa, meminta segera didatangkannya sesuatu yang belum tiba saatnya, dan pasti datangnya.

Di samping itu Allah menerangkan bahwa walaupun sifat tergesa-gesa itu sudah dijadikan-Nya sebagai salah satu sifat pada manusia, namun manusia telah diberi kemampuan untuk menahan diri dan mengatasi sifat tersebut, dengan cara membiasakan diri bersikap tenang, sabar, dan mawas diri.

Sifat tergesa-gesa dan terburu nafsu selalu menimbulkan akibat yang tidak baik serta merugikan baik diri sendiri atau orang lain, yang akhirnya akan menimbulkan rasa penyesalan yang tidak berkesudahan.

Sebaliknya, sikap tenang, sabar, berhati-hati dan mawas diri dapat menyampaikan seseorang kepada apa yang ditujunya, dan mencapai sukses yang gemilang dalam hidupnya. Itulah sebabnya Al-Qur’an selalu memuji orang-orang yang bersifat sabar, dan menjanjikan kepada mereka bahwa Allah senantiasa akan memberikan perlindungan, petunjuk dan pertolongan kepada mereka.

Sedang orang-orang yang suka terburu-buru, lekas marah, mudah teperdaya oleh godaan iblis yang akan menjerumuskannya ke jurang kebinasaan, dan menyeleweng dari kebenaran akan mendapat kerugian.

Permintaan orang-orang kafir agar azab Allah segera didatangkan kepada mereka, dengan jelas menunjukkan ketidakpercayaan mereka terhadap adanya azab tersebut, serta keingkaran mereka bahwa Allah kuasa menimpakan azab kepada orang-orang yang zalim.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 38-42


 

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 33-34

0
tafsir surah al-anbiya'
tafsir surah al-anbiya'

Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 33-34 berbiacra perihal waktu, dimana Allah menciptakan waktu siang dan malam, serta mengaturnya sedemikian rupa, sehingga ada bagian yang waktunya siang, adapula yang waktunya malam, kedunya berada pada garis edar yang sudah ditetapkan. Begitupun Muhammad, meski ia seorang Nabi, namun garis hidupnya sudah ditetapkan oleh Allah, dan ada waktu dimana ia akan meninggalkan dunia.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 31-32


Ayat 33

Dalam ayat ini Allah mengarahkan perhatian manusia kepada kekuasaan-Nya dalam menciptakan waktu malam dan siang, serta matahari yang bersinar di waktu siang, dan bulan bercahaya di waktu malam.

Masing-masing beredar pada garis edarnya dalam ruang cakrawala yang amat luas yang hanya Allahlah yang mengetahui batas-batasnya.

Adanya waktu siang dan malam disebabkan karena perputaran bumi pada sumbunya, di samping peredarannya mengelilingi matahari.

Bagian bumi yang mendapatkan sinar matahari mengalami waktu siang, sedang bagiannya yang tidak mendapatkan sinar matahari tersebut mengalami waktu malam. Sedang cahaya bulan adalah sinar matahari yang dipantulkan bulan ke bumi. Di samping itu, bulan juga beredar mengelilingi bumi.

Ayat ini menegaskan kembali apa yang telah Allah firmankan dalam Surah Ibrahim/14:33. Secara luas telah diketahui bahwa matahari dan bulan memiliki “garis edar”.

Akan tetapi untuk “masing-masing dari keduanya (siang dan malam) beredar pada garis edarnya”, merupakan sesuatu yang baru dipahami. Mengapa siang dan malam harus beredar pada garis edar (orbit- manzilah), dan apa bentuk garis orbitnya ?

Setelah dipelajari, ternyata bahwa yang dimaksud dengan “garis edar“ ialah tempat kedudukan dari tempat-tempat di bumi yang mengalami pergantian siang ke malam, atau mengalami terbenamnya matahari (gurub).

Sepanjang garis khatulistiwa garis ini bergeser dari Timur ke Barat seiring dengan urutan tempat-tempat terbenamnya matahari atau pergantian siang ke malam.

Waktu terbenamnya matahari juga akan bergeser seiring dengan gerakan semu matahari terhadap bumi dari utara ke selatan dan sebaliknya. Pergeseran waktu magrib ini juga bergeser dan membentuk tempat kedudukannya sendiri yang dapat dikatakan sebagai garis edar tahunan dari pergantian siang ke malam.

Pada hari-hari tertentu (pada awal bulan) saat terbenam matahari itu juga merupakan awal dari terlihatnya hilal (sabit awal bulan). Sabit ini sangat tipis dan suram sehingga sangat sulit diamati (ruyah).

Waktu terbitnya hilal ini akan  bergeser dari Timur ke Barat, dan sebagaimana halnya pergantian siang ke malam, garis edarnya juga berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lainnya di permukaan bumi.

Bila dipetakan maka tempat kedudukan tempat-tempat waktu terbitnya hilal itu sama dengan waktu terbenamnya matahari itu akan membentuk spiral yang memotong permukaan bumi dua bahkan sampai tiga

Keterangan yang terdapat dalam ayat-ayat di atas adalah untuk menjadi bukti-bukti alamiyah, di samping dalil-dalil yang rasional dan keterangan-keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab suci terdahulu, tentang wujud dan kekuasaan Allah, untuk memperkuat apa yang telah disebutkan-Nya dalam firman-Nya yang terdahulu, bahwa “apabila” di langit dan di bumi ini ada tuhan-tuhan selain Allah niscaya rusak binasalah keduanya.


Baca Juga: Realisasi Lafadz Ishlah dalam Al-Quran: Sembilan Cara Merawat Bumi


Ayat 34

Ayat ini menegaskan bahwa Muhammad sebagai manusia adalah sama halnya dengan manusia lainnya, yaitu bahwa ia tidak akan kekal hidup di dunia ini. Allah belum pernah memberikan kehidupan duniawi yang kekal kepada siapa pun sebelum lahirnya Nabi Muhammad.

Walaupun dia adalah Nabi dan Rasul-Nya, namun ia pasti akan meninggalkan dunia yang fana ini apabila ajalnya sudah datang. Dan mereka pun demikian pula, tidak akan kekal di dunia ini selama-lamanya. Inilah salah satu segi dari keadilan Allah terhadap semua mahluk-Nya, dan merupakan Sunnah-Nya yang berlaku sepanjang masa.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوْلٌۚ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۗ

Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul…. (Āli Imrān/3: 144)

Maka ayat ini menyatakan lebih tegas, bahwa Nabi Muhammad akan meninggalkan dunia yang fana ini, sebagaimana halnya rasul-rasul yang telah ada sebelumnya.

Akan tetapi, walaupun ia suatu ketika meninggal dunia, namun agama Islam yang telah dikembangkannnya akan tetap ada dan semakin berkembang, karena Allah telah memberikan jaminan untuk kemenangannya. Sebab itu adalah sangat keliru, bila kaum musyrikin mengharapkan bahwa dengan wafatnya Nabi Muhammad maka agama Islam akan terhenti perkembangannya, dan dakwah Islamiah akan mereda.

Kenyataan sejarah kemudian menunjukkan bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad dakwah Islamiah berjalan terus sehingga agama Islam berkembang jauh melampaui batas-batas jazirah Arab, baik ke Timur, Utara, maupun ke Barat dan Selatan.

(Tafsir Kemenag)

Baca Setelahnya : Tafsir Surah Al-Anbiya’ Ayat 35-37