Beranda blog Halaman 333

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 89-97

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 89-97 mengisahkan tentang perjalanan Nabi Zulkarnain hingga ia tiba menjumpai segolongan umat manusia yang hidupnya tidak di bawah bangunan rumah dan tidak pula dinaungi pohon dari panasnya matahari.

Dikisahkan pula dalam Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 89-97 ini bahwa Nabi Zulkarnain dalam perjalanannya juga berjumpa dengan orang-orang yang tidak mengerti pembicaraan kawan-kawannya apalagi bahasa orang lain.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 81-88


Ayat 89-90

Ayat menjelaskan bahwa Zulkarnain menempuh jalan ke arah Timur. Setelah ia sampai ke pantai Afrika sebelah barat, lalu ia kembali menuju ke arah timur sehingga sampailah ia ke tempat terbitnya matahari di sekitar negeri Tiongkok di mana ia menjumpai segolongan umat manusia yang hidupnya tidak di bawah bangunan rumah dan tidak ada pula pohon-pohon menaunginya dari panasnya matahari.

Mereka langsung mendapat sorotan cahaya matahari karena tidak terlindung oleh atap atau bukit-bukit yang berada di sekitarnya. Mereka pada siang hari berada dalam lubang-lubang di bawah tanah dan baru muncul di atas permukaan bumi setelah matahari terbenam, untuk mencari penghidupannya. Keadaan mereka jauh berbeda sekali dengan penghuni dunia yang lainnya, karena mereka hidupnya masih primitif dan tidak mempunyai bangunan untuk tempat tinggal.

Ayat 91

Selanjutnya perjalanan Zulkarnain itu seperti yang telah diterangkan di atas, sampai ke ujung Barat dan Timur dan telah sampai ke puncak kebesarannya dalam pemerintahannya yang jarang ada bandingannya. Sungguh Kami mengetahui apa saja yang ada padanya dan apa-apa yang diperbuatnya bersama bala tentaranya, walaupun mereka tersebar luas di seluruh permukaan bumi.

Ayat 92

Kemudian dia menempuh suatu jalan lain lagi yaitu jalan antara Masyriq (arah timur) dan Maghrib (arah barat) membelok ke arah utara. Yakni ke arah dua gunung di Armenia dan Ajerbaijan.

Ayat 93

Ketika  dia sampai ke suatu tempat di antara dua buah gunung yang terletak di belakang sungai Jihun di negeri Balkh dekat kota Tirmiz. Dia menjumpai segolongan manusia yang hampir tidak mengerti pembicaraan kawan-kawannya sendiri apalagi bahasa lain, karena bahasa mereka sangat berbeda dengan bahasa-bahasa yang dikenal oleh umat manusia dan taraf kecerdasan mereka pun sangat rendah.


Baca Juga: Mengenal Imran Hosein dan Diskursus Yajuj dan Majuj di Dunia Modern


Ayat 94

Mereka melalui juru bicaranya berkata, “Wahai Zulkarnain sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj oleh sebagian peneliti ditengarai sebagai bangsa Tartar dan Mongol, sangat membuat kerusakan di muka bumi dengan pembunuhan, perampasan dan segala macam keganasan, maka bersedialah kamu menerima sesuatu upah dari kami yang kami kumpulkan dari harta benda kami supaya kamu membuatkan benteng untuk menjaga kami dari serbuan mereka.”

Ayat 95

Zulkarnain menjawab, “Apa-apa yang telah Allah karuniakan kepadaku yaitu ilmu, pengetahuan yang cukup, kerajaan besar, kekuasaan yang luas dan kekayaan yang melimpah ruah itu adalah lebih baik dari pada upah yang kamu sodorkan kepadaku, maka kami ucapkan terima kasih atas segala kebaikanmu itu dan aku hanya memerlukan bantuan kekuatan tenaga manusia dan alat-alat agar aku dapat membuatkan benteng antara kamu dan mereka.

Ayat 96

“Bawalah kepadaku potongan-potongan besi.” Dan setelah mereka membawa potongan-potongan besi itu, lalu Zulkarnain merangkai dan memasang besi-besi itu sehingga tingginya sama rata dengan kedua puncak gunung itu. Lalu ia berkata kepada pekerja-pekerjanya, “Gerakkanlah alat-alat peniup angin untuk menyalakan api dan memanaskan besi-besi itu.”

Sehingga bilamana besi itu telah merah seperti api, maka dia berkata pula, “Sekarang berilah aku tembaga yang mendidih agar kutuangkan ke atas besi yang panas itu,” sehingga lubang-lubangnya tertutup rapat dan terbentuklah sebuah benteng besi yang kokoh dan kuat.

Ayat 97

Dan tatkala Yakjuj dan Makjuj mengadakan penyerbuan ke tempat tersebut, mereka tidak bisa mendakinya karena tingginya yang luar biasa dan mereka tidak bisa pula melubanginya karena keras dan tebal sekali.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 98-100


Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 81-88

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 81-88 mengulas tentang penjelasan Nabi Khidir yang mengharapkan supaya Allah memberi rezeki yang lebih baik daripada anaknya yang telah dibunuh. Selain itu Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 81-88 juga mengulas kisah Nabi Dzulkarnain sebagai bentuk mukjizat dari Nabi Muhammad yang sedang diuji kenabiannya oleh orang-orang Quraisy.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 77-81


Ayat 81

Ayat ini menjelaskan bahwa Khidir mengharapkan supaya Allah memberi rezeki kepada kedua orang tuanya itu dan seorang anak laki-laki yang lebih baik dari anaknya yang telah dibunuh itu, dan lebih banyak kasih sayangnya kepada ibu bapaknya. Tindakan Khidir membunuh anak tersebut dilandasi oleh keinginan agar pada waktunya Allah dapat menggantikan anak itu dengan yang lebih baik akhlaknya.

Ayat 82

Adapun yang menjadi pendorong bagi Khidir untuk menegakkan dinding itu adalah karena dibawahnya ada harta simpanan milik dua orang anak yatim di kota itu, sedangkan ayahnya seorang yang saleh. Allah memerintahkan kepada Khidir supaya menegakkan dinding itu, karena jika dinding itu jatuh (roboh) niscaya harta simpanan tersebut akan nampak terlihat dan dikhawatirkan akan dicuri orang.

Allah menghendaki agar kedua anak yatim itu mencapai umur dewasa dan mengeluarkan simpanannya itu sendiri dari bawah dinding, sebagai rahmat dari pada-Nya. Khidir tidak mengerjakan semua pekerjaan itu atas dorongan dan kemauannya sendiri melainkan semata-mata atas perintah Allah, karena sesuatu tindakan yang berakibat merugikan harta benda manusia dan pertumpahan darah tidak boleh dikerjakan kecuali dengan izin dan wahyu dari Allah.

Demikianlah penjelasan Khidir tentang berbagai tindakannya yang tidak biasa yang membuat Nabi Musa tidak bisa sabar, sehingga mempertanyakannya.

Usaha Khidir untuk menegakkan dinding yang hampir roboh, dapat pula dipahami kebijaksanaannya karena robohnya dinding itu mengakibatkan harta benda simpanan dua anak yatim itu diambil orang. Allah telah memberikan kepada Khidir ilmu hakekat dan hal ini tidak mungkin dimilikinya kecuali setelah membersihkan dirinya dan hatinya dari ikatan syahwat jasmani.

Nabi Musa ketika telah sempurna ilmu syariatnya diutus oleh Tuhan untuk menemui Khidir supaya belajar dari padanya ilmu hakekat, sehingga sempurnalah ilmu yang wajib dituntut oleh setiap orang yang beriman yaitu ilmu tauhid, fiqih dan tasawuf atau iman, Islam dan ihsan.

Ayat 83

Orang-orang Quraisy bertanya kepada Muhammad setelah mereka mengadakan pembicaraan lebih dahulu dengan orang-orang Yahudi tentang apa yang harus mereka tanyakan kepada Muhammad untuk menguji kebenaran kenabiannya.

Mereka bertanya kepada Muhammad tentang Zulkarnain, maka Allah menyuruh Muhammad menyatakan kepada mereka itu, ”Akan kubacakan padamu cerita-cerita yang lengkap tentang apa yang kamu tanyakan itu karena aku telah diberi keterangan oleh Tuhanku.” Kemudian beliau memberikan perinciannya sebagaimana dijelaskan ayat berikut:

Ayat 84

Sesungguhnya Tuhan telah memberikan kekuasaan kepada Zulkarnain untuk menjelajahi alam ini sebagaimana yang dia kehendaki sehingga dia sampai kepada semua pelosok dunia dan menguasai kerajaan-kerajaan bumi, dan Tuhan telah memberikan kepadanya cara-cara untuk mencapai segala maksud dan tujuannya karena Tuhan telah memberikan kepadanya ilmu pengetahuan yang cukup, kekuasaan yang luas dan alat perlengkapan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuannya itu.

Ayat 85

Ayat ini menjelaskan bahwa Zulkarnain menempuh jalan ke arah Barat. Setelah dia menempuh jalan itu, maka sampailah ia ke ujung bumi sebelah barat di mana kelihatan matahari terbenam seolah-olah masuk ke dalam lautan Atlantik. Di mana dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang tampak kehitam-hitaman seperti lumpur.

Dia telah melalui negeri Tunis dan Maroko dan sampailah ke pantai Afrika sebelah barat, dan di sana menjumpai beberapa kaum kafir. Allah telah menyuruhnya untuk memilih di antara dua hal, yaitu menyiksa mereka dengan pertumpahan darah atau mengajak mereka supaya beriman kepada Allah. Yang demikian ini dijelaskan dalam firman Allah yang disampaikan kepada Zulkarnain secara ilham.

Zulkarnain disuruh supaya membunuh mereka jika mereka tidak mau mengakui Keesaan Allah dan tidak mau tunduk kepada ajakannya, atau mengajarkan kepada mereka petunjuk-petunjuk sehingga mereka mengenal hukum dan syariat agama dengan penuh keyakinan.

Ayat 87

Zulkarnain berkata kepada sebagian komandan pasukannya, “Adapun orang yang berbuat aniaya terhadap dirinya dan terus-menerus hidup dalam kemusyrikan kepada Allah maka kami akan mengazabnya dan kemudian di akhirat akan dikembalikan kepada Tuhannya untuk diazab dengan azab yang tidak ada taranya dalam neraka Jahannam.”

Ayat 88

Adapun orang yang membenarkan Allah dan Keesaan-Nya dan beramal saleh, maka baginya disediakan pahala yang terbaik sebagai balasan atas segala kebijaksanaannya yang telah diperbuatnya selama dia hidup di dunia, dan akan kamu titahkan kepadanya di dunia perintah-perintah yang mudah dikerjakannya yaitu beberapa amalan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah seperti salat, zakat, jihad dan sebagainya.

(Tafsir Kemenag)


Baca Juga: Belajar Metode Demonstrasi Dari Kisah Nabi Khidir Dan Musa


Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 78-80

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 78-80 ini akhirnya Nabi Musa menjelaskan alasan ia membunuh anak kecil, melubangi perahu yang mengantarkannya serta memperbaiki rumah yang telah rubuh dan Nabi Musa pun berhenti mengikuti Nabi Khidir. Di dalam Tafsir Surah Al-kahfi ayat 78-81 ini diulas alasan mengapa Nabi Musa tidak dapat bersabar ketika mengikuti Nabi Khidir.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 74-77


Ayat 78

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 78-80 khususnya Ayat ini menjelaskan jawaban Khidir kepada Musa, “Pertanyaanmu yang ketiga kalinya ini adalah penyebab perpisahan antara aku dan kamu.” Sebagian Ulama Tafsir mengatakan bahwa sebab perpisahan itu tidak terjadi pada pertanyaan yang pertama dan kedua, oleh karena pertanyaan pertama dan kedua itu menyangkut perbuatan yang munkar yaitu membunuh anak yang tidak berdosa dan membuat lubang (merusak) pada dinding kapal, maka wajarlah bila dimaafkan.

Adapun pertanyaan yang ketiga adalah Khidir berbuat baik kepada orang yang kikir, yang tidak mau memberikan jamuan kepadanya, dan perbuatan itu adalah perbuatan yang baik yang tidak perlu disangkal dan dipertanyakan.

Khidir berkata, ”Aku akan memberitahukan kepadamu berbagai hikmah perbuatanku, yang kamu tidak sabar terhadapnya, yaitu membunuh anak, melubangi kapal dan menegakkan dinding rumah.

Tujuannya ialah untuk menyelamatkan kapal dari penyitaan orang yang zalim, menyelamatkan ibu-bapak anak yang dibunuh itu dari kekafiran andaikata ia hidup dan menggantinya dengan adiknya yang saleh serta menyelamatkan harta pusaka kepunyaan dua anak yatim yang berada di bawah dinding yang akan roboh itu.”

Ayat 79

Khidir menerangkan sebab ia mengerjakan berbagai tindakan yang telah dilakukannya. Adapun perbuatan Khidir melubangi perahu karena perahu itu kepunyaan satu kaum yang lemah dan miskin. Mereka tidak mampu menolak kezaliman raja yang akan merampas perahunya itu, dan mereka mempergunakan perahu itu untuk menambah penghasilannya dengan mengangkut barang-barang dagangan atau menyewakannya pada orang-orang lain.

Khidir sengaja membuat cacat pada perahu itu dengan jalan melubanginya karena di hadapannya ada seorang raja zalim yang suka merampas dan menyita setiap perahu yang utuh dan tidak mau mengambil perahu yang cacat, sehingga karena adanya cacat tersebut perahu itu akan selamat.

Para Nabi biasanya menetapkan sesuatu sesuai dengan kenyataan-kenyataan yang nampak di hadapannya, sedangkan soal-soal yang merupakan rahasia intern diserahkan kepada kebijaksanaan Allah sesuai dengan bunyi sebuah hadis yang dikutip dari Kitab Tafsir al-Marāgi jilid VI halaman 7 sebagai berikut:

نَحْنُ نَحْكُمُ بِالظَّوَاهِرِ وَالله ُيَتَوَلَّى السَّرَائِرَ

 “Kami (para Nabi) menetapkan sesuatu sesuai dengan fakta yang nampak dalam pandangan mata, sedangkan Allah mengetahui hakikatnya.”

Hukum-hukum yang berlaku di dunia ini berlandaskan kepada sebab-sebab yang hakiki yaitu fakta-fakta yang sebenarnya dan hal ini hanya diperlihatkan Allah kepada beberapa orang hamba-Nya saja. Oleh karena itu Nabi Musa menyangkal atas perbuatan Khidir dan beliau tidak mengetahui bahwa Khidir telah diberi ilmu laduni yang dapat mengetahui rahasia-rahasia perkara gaib.

Martabat Nabi Musa adalah di dalam bidang ilmu syariat dan hukum-hukum yang berlandaskan kepada alam yang nyata, sedangkan Khidir diberi pengetahuan ilmu hakekat sehingga mengetahui rahasia-rahasia perkara gaib.

Pada pertanyaan Nabi Musa yang pertama dan yang kedua ada penerapan sebuah kaidah dalam ilmu usul fiqih yang maksudnya, apabila terjadi dua kemudaratan yang tidak dapat dihindarkan lagi, maka ambillah kemudaratan yang paling ringan untuk menghindari kemudaratan yang lebih besar. Seandainya perahu itu tidak dilubangi dindingnya tentu akan disita oleh raja suatu negara yang zalim yang bakal melaluinya.

Ayat 80

Adapun anak yang dibunuh itu, adalah anak yang kafir sedangkan kedua orang tuanya termasuk orang yang sungguh-sungguh beriman. Maka kami khawatir karena kecintaan kedua orang tuanya kepada anak itu keduanya akan tertarik kepada kekafiran. Qatadah berkata, “Kedua orang tuanya gembira ketika anak itu dilahirkan, dan keduanya bersedih ketika anak itu terbunuh.”

Dan seandainya dia masih hidup akan mengakibatkan kesusahan dan kebinasaan pada kedua orang tuanya. Oleh sebab itu hendaklah setiap orang menerima ketentuan Allah dengan senang hati karena ketentuan Allah bagi seorang mukmin dalam hal yang tidak disukainya adalah lebih baik daripada ketentuan Allah terhadapnya dalam hal-hal yang disukainya. Disebutkan dalam sebuah hadis bahwa Nabi saw bersabda:

لاَيَقْضِي الله ُلِمُؤْمِنٍ قَضَاءً اِلاَّ كَانَ خَيْرًا لَهُ. (رواه احمد وابو يعلى)

“Allah tidak menetapkan kepada seorang mukmin suatu ketetapan, kecuali ketetapan itu terdapat kebaikan baginya.” (Riwayat Ahmad dan Abu  Ya’la)

Sesuai pula dengan firman Allah:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah/2: 216)

Khidir berkata, “Kami telah mengetahui, bahwa anak itu jika sudah dewasa, akan mengajak ibu bapaknya kepada kekafiran dan mereka berdua akan mengikuti ajakannya karena sangat cinta kepada anaknya.”

(Tafsir Kemenag)


Baca Juga: Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam Al-Quran: Refleksi Kepatuhan Terhadap Guru


Bom Bunuh Diri Tinjauan Tafsir Maqashidi

0
bom bunuh diri tinjauan tafsir maqashidi
bom bunuh diri tinjauan tafsir maqashidi

Beberapa waktu lalu kita digemparkan kembali dengan aksi pengeboman (bom bunuh diri) yang dilakukan oleh sepasang suami istri yang diduga pengikut kelompok JAD (Jamaah Ansharut Daulah). Mereka melakukan aksinya di depan salah satu gereja di Makassar. Aksi ini tentunya menuai kecaman yang keras dari beberapa organisasi masyarakat serta pemerintah di Indonesia.

Bom bunuh diri di dalam Islam sebenarnya lekat dikaitkan dengan aksi terorisme. Gerakan ini biasanya didalangi karena mis-interpretasi (kesalahpahaman) terkait dengan pemaknaan teks-teks yang tupoksinya mengarah kepada perintah untuk berjihad. Artinya dalam memahami teks-teks tersebut mereka lebih menekankan terhadap pembacaan secara tekstualis-literalis.

Oleh karenanya penting bagi kita membedah ayat-ayat sensitif tersebut dengan pembacaan yang kontekstual dan moderat, sehingga kita tidak salah dalam memahami dan memaknainya, dalam penelitian ini kami menggunakan tafsir maqashidi sebagai solusi dalam membaca ayat-ayat tersebut.

Baca Juga: Bom Bunuh Diri Bukan Jihad! Inilah Makna Jihad Dalam Al-Qur’an

Tafsir Maqashidi sebagai Tafsir Berbasis Moderat

Menurut Abdul Mustaqim dalam kitab al-Tafsir al-Maqhasidi (al-Qadhaya al-Mu’ashirah fi Dhau’il Qur’an wa al-Sunnah al-Nabawiyah) mengatakan bahwa Tafsir maqashidi adalah sebuah metode penafsiran yang menggali pesan-pesan, maksud dari ayat-ayat Al-Qur’an ataupun teks-teks hadis bukan hanya yang berbicara terkait dengan hal-hal ibadah (ta’abbudi) tetapi juga membicarakan ayat-ayat atau hadis-hadis yang bisa dinalar (ta’aqquli).

Sesuai namanya, tafsir maqashidi juga sangat berkaitan dengan realisasi tujuan syariat atau yang biasa dikenal dengan istilah maqashid al-syari’ah, tetapi cara kerja tafsir maqashidi memiliki cakupan yang lebih luas, bukan hanya diaplikasikan pada ayat-ayat hukum saja, tetapi juga ayat-ayat yang berbicara akidah, sosial, ekonomi, budaya dan lain sebagainya.

Di samping itu, nalar berfikir dari tafsir maqashidi adalah tercapainya sebuah maslahah dan menghindarkan dari mafsadah. Hal ini juga didukung oleh Wasfi ‘Asyur dalam kitab al-Tafsir al-Maqhasid Li Suwar al-Qur’an al-Karim, beliau mengatakan bahwa tafsir ini memiliki corak yang pemaknaannya mengarah pada visi al-Qur’an baik universal maupun parsial yang bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan manusia.

Itulah yang ingin ditunjukkan oleh tafsir maqashidi, gaya penafsiran seperti ini sangatlah penting bagi kita, agar hasil pemahaman dan pemaknaan terhadap sebuah nash, tidak terkesan melangkahi rambu-rambu dalam penafsiran, sebab dewasa ini fenomena yang berkembang di masyarakat adanya upaya pemaknaan suatu nash yang simplifikatif (cenderung mengambil sesuatu tanpa pikir panjang).

Baca Juga: Bom Bunuh Diri Termasuk Mati Syahid?: Surah An-Nisa’ Ayat 29-30

Membedah Ayat yang Sering Disalahpahami dalam Kaca Mata Tafsir Maqhasidi

Sebagaimana statemen di atas, bahwa salah satu faktor yang menjadikan seseorang ekstrim dalam melakukan tindakan semisal bom bunuh diri, radikal dan lain sebagainya, adalah proses pengambilan dalil yang cenderung asal-asalan atau sembrono.

Ayat yang biasa digunakan dan dipahami teroris yang melancarkan aksinya secara serampangan adalah QS. al-Anfal ayat 60,

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ وَمِنْ رِبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِنْ دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”

Dalam bukunya yang berjudul Islam yang Saya Pahami, Quraish Sihab mengatakan bahwa penafsiran kata “menggetarkan” dalam ayat di atas dipahami oleh para teroris sebagai izin melakukan teror. Salah satunya dengan melakukan bom bunuh diri. Padahal jika membaca secara holistik ayat-ayat yang berbicara tentang perang maka kita temui tujuan dari perang yang dilakukan Nabi adalah untuk menciptakan kedamaian, maka penafsiran yang mendukung aksi teror sangatlah jauh dan bertentangan dari pesan damai yang diajarkan oleh Rasul.

Jika ditinjau dari kajian tafsir maqashidi dalam memaknai ayat ke 60 tersebut, maka kita dapat menepis adanya kesalahan dalam penafsiran tersebut. Bahwa makna kata “menggetarkan” bukanlah berarti seenak diri untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain, karena substansi dari menggetarkan itu adalah ketika kita telah menyiapkan perlengkapan dan peralatan perang dengan sebaik-baiknya sehingga membuat musuh takut (lebih kepada pengamanan atau bentuk kewaspadaan). Hal ini senada dengan pendapat Ath-Thabari dalam tafsirnya yang mengatakan ayat ini adalah ayat bertahan (defend) bukan penyerangan.

Musuh dalam ayat tersebut diartikan bukan non-muslim secara umum, melainkan orang-orang non-muslim yang tergolong sebagi kafir harbi yang berkhianat terhadap perjanjian yang telah ditandatangani sebagaimana penejalasan Imam Al-Biqa’i dalam tafsir Nadzm al-Durar, beliau mengatakan bahwa umat Yahudi mengingkari isi perjanjian dengan menginjak-injaknya dan memerangi umat Islam untuk itu kita diperintahkan untuk mempersiapkan kekuatan fisik dan juga peralatan perang dengan semaksimal mungkin.

Baca Juga: Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 207: Ajaran Bom Bunuh Diri?

Hal di atas didukung pula dengan statemen yang dijelaskan oleh Abdul Mustaqim dalam kitab Tafsir Maqashidi nya beliau mengatakan bahwa Rasul ketika ber-mu’amalah dengan non-muslim (kafir) tidak lantas memerangi secara langsung, hanya Rasul melihat bagaimana perlakuan orang kafir tersebut kepada umat Islam, jika kafir tersebut melakukan teror atau memerangi umat Islam maka Rasul juga akan membencinya dan sebaliknya, jika kebaikan yang diterima oleh umat Islam maka beliau akan mencintai orang kafir sebagaiman mencintai umat Islam.

Dalam kajian tafsir maqashidi aksi teror dengan melakukan bom bunuh diri tidak dibenarkan di dalam agama, sebab salah satu ajaran dari maqhasid syariah adalah hifdz al-nafs (menjaga jiwa), artinya Islam memosisikan jiwa secara terhormat dan mulia bukan menganggapnya sebagai hal yang hina. Tidak dibenarkan melakukan aksi teror dengan pengeboman diri, sebab selain merugikan diri sendiri hal demikian juga sangat merugikan orang lain.

Oleh karenanya, dari hasil penafsiran maqashidi di atas, kita yakini bahwa Islam hadir bukan sebagai agama yang marah melainkan agama yang ramah atau rahmatan lil ‘alamin, yakni agama yang menyebarkan pesan-pesan kedamaian dan cinta kasih apapun bentuknya dan kepada siapapun objeknya. Sedangkan aksi terorisme, baik melakukan bom bunuh diri, ataupun membunuh orang non-muslim yang jelas-jelas tidak memerangi kita bukanlah ajaran dari agama Islam dan tidak dibenarkan adanya.

Wallahu a’lam

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 74-77

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 74-77 melanjutkan kisah perjalanan Nabi Musa dan Nabi Khidir dikisahkan dalam Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 74-77 ini Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil dan memperbaiki rumah yang hampir roboh ketika tiba di suatu desa yang penduduknya kaya raya namun sangat kikir.


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 66-73


Ayat 74

Dalam Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 74-77 khususnya ayat ini, Allah mengisahkan bahwa keduanya mendarat dengan selamat dan tidak tenggelam, kemudian keduanya turun dari kapal dan meneruskan perjalanan menyusuri pantai. Kemudian terlihat oleh Khidir seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannya, lalu dibunuhnya anak itu.

Ada yang mengatakan bahwa Khidir itu membunuhnya dengan cara memenggal kepalanya, ada yang mengatakan dengan mencekiknya. Akan tetapi, Al-Qur’an tidak menyebutkan bagaimana cara Khidir membunuh anak itu, apakah dengan memenggal kepalanya, membenturkan kepalanya ke dinding batu, atau cara lain. Kita tidak perlu memperhatikan atau menyelidikinya.

Melihat peristiwa itu, dengan serta merta Nabi Musa berkata kepada Khidir, “Mengapa kamu bunuh jiwa yang masih suci dari dosa dan tidak pula karena dia membunuh orang lain? Sungguh kamu telah berbuat sesuatu yang mungkar, yang bertentangan dengan akal yang sehat.

Dalam ayat ini, pembunuh disebut dengan kata nukr (mungkar), sedangkan melubangi perahu dalam ayat 71 disebut kata imr (kesalahan yang besar). Penyebabnya adalah pembunuhan terhadap anak itu lebih keji dibandingkan dengan melubangi perahu. Melubangi perahu tidak menghilangkan nyawa apabila tidak tenggelam.

Tetapi pembunuhan atau menghilangkan nyawa yang tidak sejalan dengan ajaran agama itu nyata-nyata suatu perbuatan mungkar. Pembunuhan yang dapat dibenarkan oleh ajaran agama hanyalah karena murtad, zina muhsan, atau karena qishash.

Ayat 75

Dalam ayat ini dijelaskan bagaimana Khidir mengingkari pertanyaan Musa, seraya berkata kepada Musa as, “Bukankah sudah ku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya kau tidak akan dapat sabar untuk mempelajari ilmu hakikat bersamaku.”

Memang sudah dua kali Musa membantah dan tidak menyetujui perbuatan Khidir, padahal Musa telah berjanji tidak akan mengadakan sangkalan apa-apa terhadap apa yang diperbuat oleh Nabi Khidir. Peringatan Khidir kepada Musa itu adalah peringatan yang terakhir.

Ayat 76

Selanjutnya Musa berkata, “Kalau sekiranya aku bertanya lagi kepadamu tentang suatu perbuatanmu yang aneh-aneh itu yang telah aku saksikan, karena aku ingin mengetahui hikmahnya bukan untuk sekedar bertanya saja. Maka jika aku bertanya sekali lagi sesudah kali ini, maka janganlah kamu mengizinkan aku menyertaimu lagi, karena kamu sudah cukup memberikan maaf kepadaku.” Inilah kata-kata Musa yang penuh dengan penyesalan atas perbuatannya yang terpaksa dia akui dan insafi.

Diriwayatkan dalam suatu hadis yang sahih bahwa Nabi Muhammad saw bersabda tentang keadaan Nabi Musa itu sebagai berikut:

رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْنَا وَعَلَى مُوْسَى، لَوْ صَبَرَ عَلَى صَاحِبِهِ لَرَأَى الْعَجَبَ، لَكِنْ أَخَذَتْهُ مِنْ صَاحِبِهِ ذَمَامَةُ فَقَالَ: اِنْ سَأَلْتُكَ عَنْ شَيْئٍ بَعْدَهَا فَلاَ تُصَاحِبْنِيْ قَدْ بَلَغْتَ مِنْ لَدُنِّيْ عُذْرًا.  (رواه مسلم عن أُبي بن كعب)

Semoga Allah memberi rahmat kepada kita dan kepada Musa. Seandainya beliau sabar pada sahabatnya (Khidir), tentu beliau banyak menyaksikan keajaiban tentang ilmu hakikat, tetapi karena beliau merasa malu untuk menghadapi celaan lagi dari sahabatnya (Khidir), maka beliau berkata, “Kalau aku bertanya lagi kepadamu tentang sesuatu sesudah ini, maka janganlah kamu menemani aku. Sesungguhnya kamu sudah cukup memberi maaf kepadaku.” (Riwayat Muslim dari Ubay bin Ka’ab)

Ayat 77

Lalu Musa dan Khidir meneruskan perjalanan mereka berdua sampai ke suatu negeri. Mereka minta agar penduduk negeri itu menjamunya tetapi penduduk negeri itu sangat kikir tidak mau memberi jamuan kepada mereka.

Mereka sangat rendah akhlaknya, sebab menurut kebiasaan waktu itu, bilamana ada seorang hartawan tidak mau memberi derma kepada seorang peminta-minta, maka hal seperti itu sangat dicela dan jika ia menolak untuk memberi jamuan kepada tamunya maka hal itu menunjukkan kemerosotan akhlak yang rendah sekali.

Dalam hal ini orang-orang Arab menyatakan celaannya yang sangat keras dengan kata-kata. Si pulan menolak tamu (mengusir) dari rumahnya. Qatadah berkata, “Sejelek-jelek negeri ialah yang penduduknya tidak suka menerima tamu dan tidak mau mengakui hak Ibnu Sabil (orang yang dalam perjalanan kehabisan bekal).”

Di negeri itu Musa dan Khidir menemukan sebuah dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidir memperbaikinya dengan tangannya, sehingga dinding itu tegak  menjadi lurus kembali. Keanehan itu termasuk mukjizatnya. Musa yang melihat dinding itu ditegakkan kembali oleh Khidir tanpa mengambil upah apa-apa, Musa ingin mengusulkan kepada Khidir supaya menerima bayaran atas jasanya menegakkan dinding itu, yang dengan bayaran itu ia dapat membeli makanan dan minuman yang sangat dibutuhkannya.

(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 66-73

0
Tafsir Surah Al-Kahfi
Tafsir Surah Al-Kahfi

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 66-73 mengisahkan tentang perjalanan Nabi Musa dalam menimba ilmu kepada Nabi Khidir. Sebelum perjalanan dilakukan Nabi Khidir telah mengingatkan Nabi Musa bahwa ia tidak akan mampu bersabar bersamanya dan Nabi Musa berjanji untuk bersabar ketika mengikuti Nabi Khidir. Selengkapnya kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 66-73 di bawah ini….


Baca Sebelumnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 61-65


Ayat 66

Dalam ayat ini, Allah menyatakan maksud Nabi Musa a.s. datang menemui Khidir, yaitu untuk berguru kepadanya. Nabi Musa memberi salam kepada Khidir dan berkata kepadanya, “Saya adalah Musa.” Khidir bertanya, “Musa dari Bani Israil?” Musa menjawab, “Ya, benar!” Maka Khidir memberi hormat kepadanya seraya berkata, “Apa keperluanmu datang kemari?”

Nabi Musa menjawab bahwa beliau datang kepadanya supaya diperkenankan mengikutinya dengan maksud agar Khidir mau mengajarkan kepadanya sebagian ilmu yang telah diajarkan Allah kepadanya, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

Dalam ayat ini, Allah menggambarkan secara jelas sikap Nabi Musa sebagai calon murid kepada calon gurunya dengan mengajukan permintaan berupa bentuk pertanyaan. Itu berarti bahwa Nabi Musa sangat menjaga kesopanan dan merendahkan hati.

Beliau menempatkan dirinya sebagai orang yang bodoh dan mohon diperkenankan mengikutinya, supaya Khidir sudi mengajarkan sebagian ilmu yang telah diberikan kepadanya. Menurut al-Qadhi, sikap demikian memang seharusnya dimiliki oleh setiap pelajar dalam mengajukan pertanyaan kepada gurunya.

Ayat 67

Dalam ayat ini Khidir menjawab pertanyaan Nabi Musa sebagai berikut, “Hai Musa, kamu tak akan sabar mengikutiku. Karena saya memiliki ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadaku yang kamu tidak mengetahuinya, dan kamu memiliki ilmu yang telah diajarkan Allah kepadamu yang aku tidak mengetahuinya.”

Kemampuan Khidir meramal sikap Nabi Musa kalau sampai menyertainya didasarkan pada ilmu ladunni yang telah beliau terima dari Allah di samping ilmu anbiya’ yang dimilikinya, seperti tersebut dalam ayat 65 di atas. Dan memang demikianlah sifat dan sikap Nabi Musa yang keras dalam menghadapi kenyataan-kenyataan yang bertentangan dengan syariat yang telah beliau terima dari Allah.

Ayat 68

Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 66-73 khususnya dalam ayat ini, Khidir menegaskan kepada Nabi Musa tentang sebab beliau tidak akan sabar nantinya kalau terus menerus menyertainya. Di sana Nabi Musa akan melihat kenyataan bahwa pekerjaan Khidir secara lahiriah bertentangan dengan syariat Nabi Musa a.s.

Oleh karena itu, Khidir berkata kepada Nabi Musa, “Bagaimana kamu dapat bersabar terhadap perbuatan-perbuatan yang lahirnya menyalahi syariatmu, padahal kamu seorang nabi. Atau mungkin juga kamu akan mendapati pekerjaan-pekerjaanku yang secara lahiriah bersifat mungkar, sedang pada hakikatnya kamu tidak mengetahui maksud atau kemaslahatannya.

Sebenarnya memang demikian sifat orang yang tidak bersabar terhadap perbuatan mungkar yang dilihatnya. Bahkan segera ia mengingkarinya.

Ayat 69

Dalam ayat ini, Nabi Musa berjanji tidak akan mengingkari dan tidak akan menyalahi apa yang dikerjakan oleh Khidir. Beliau juga berjanji akan melaksanakan perintah Khidir selama perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah. Janji yang beliau ucapkan dalam ayat ini didasari dengan kata-kata “insya Allah” karena beliau sadar bahwa sabar itu perkara yang sangat besar dan berat, apalagi ketika melihat kemungkaran.

Ayat 70

Dalam ayat ini, Khidir dapat menerima Musa a.s. dengan pesan, “Jika kamu (Nabi Musa) berjalan bersamaku (Khidir) maka janganlah kamu bertanya tentang sesuatu yang aku lakukan dan tentang rahasianya, sehingga aku sendiri menerangkan kepadamu duduk persoalannya. Jangan kamu menegurku terhadap sesuatu perbuatan yang tidak dapat kau benarkan hingga aku sendiri yang mulai menyebutnya untuk menerangkan keadaan yang sebenarnya.”

Nabi Musa mau menerima syarat itu, memang sebenarnya sikap Nabi Musa yang demikian itu merupakan sopan-santun orang yang terpelajar terhadap cendekiawan, sikap sopan-santun murid dengan gurunya atau sikap pengikut dengan yang diikutinya. Kadang-kadang rahasia guru atau orang yang diikuti belum tentu dipahami oleh murid atau pengikutnya ketika itu juga, tetapi baru dapat dipahami kelak di kemudian hari.

Ayat 71

Dalam ayat ini, Allah mengisahkan bahwa keduanya (Nabi Musa dan Khidir) telah berjalan di tepi pantai untuk mencari sebuah kapal, dan kemudian mendapatkannya. Keduanya lalu menaiki kapal itu dengan tidak membayar upahnya, karena para awak kapal sudah mengenal Khidir dan pembebasan upah itu sebagai penghormatan kepadanya.

Ketika kapal itu sedang melaju di laut dalam, tiba-tiba Khidir mengambil kampak lalu melubangi dan merusak sekeping papan di dinding kapal itu. Melihat kejadian seperti itu, dengan serta merta Nabi Musa berkata kepada Khidir, “Mengapa kamu lobangi perahu itu? Hal itu dapat menenggelamkan seluruh penumpangnya yang tidak berdosa?

Sungguh kamu telah mendatangkan kerusakan yang besar dan tidak mensyukuri kebaikan hati para awak kapal yang telah membebaskan kita dari uang sewa kapal ini.” Kemudian Nabi Musa mengambil kainnya untuk menutup lubang itu.

Ayat 72

Dalam ayat ini, Khidir mengingatkan kepada Nabi Musa tentang persyaratan yang harus dipenuhinya kalau masih ingin menyertai Khidir dalam perjalanan. Khidir juga mengingatkan bahwa Nabi Musa takkan sanggup bersabar atas perbuatan-perbuatan yang dikerjakannya, bahkan beliau akan melawan dan menamakan perbuatan-perbuatan yang dikerjakan-nya itu sebagai kesalahan yang besar, karena Nabi Musa tidak memiliki pengetahuan untuk mengetahui rahasia apa yang terkandung dibalik perbuatan-perbuatan itu. Khidir berkata kepada Nabi Musa, “Bukankah telah kukatakan bahwasanya kamu sekali-kali tidak akan sanggup bersabar bersamaku?”

Ayat 73

Dalam ayat ini, Nabi Musa insaf dan mengetahui kealpaannya atas janjinya. Oleh karena itu, dia meminta kepada Khidir agar tidak menghukumnya karena kealpaannya, dan tidak pula memberatkannya dengan pekerjaan yang sulit dilakukan. Nabi Musa juga meminta kepada Khidir agar diberi kesempatan untuk mengikutinya kembali supaya memperoleh ilmu darinya, dan memaafkan kesalahannya itu.

(Tafsir Kemenag)


Baca Setelahnya: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 74-77


Mari Berkenalan Dengan Tiga Sosok Qari Terkemuka Pada Masa Rasulullah

0
Qari Terkemuka
Qari Terkemuka

Sejak diwahyukan pertama kali pada 17 Ramadhan tahun 13 SH/603 M Al-Qur’an senantiasa dibaca oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Tidak hanya itu, mereka juga berbondong-bondong menghafal dan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, di antara mereka ada yang terkenal sebagai penghafal dan qari terkemuka pada masa Rasulullah.

Dari sekian banyak sahabat yang membaca dan menghafal Al-Qur’an, ada tiga sosok sahabat yang dapat disebut sebagai qari terkemuka pada masa Rasulullah, yakni Abdullah bin Mas’ud atau Ibnu Mas’ud, Abu Musa al-Asy’ari, dan Ubay bin Ka’ab. Ketiganya merupakan qari kebanggaan nabi Muhammad saw dengan kelebihan mereka masing-masing.

1. Abdullah bin Ma’sud atau Ibnu Mas’ud

Abdullah bin Mas’ud adalah salah satu dari golongan sahabat yang pertama masuk Islam (al-sabiquna al-awwaluna). Setelah memeluk Islam, ia menawarkan diri menjadi pelayan pribadi nabi Muhammad saw. Permohonannya tersebut lalu dikabulkan Nabi saw. Maka tak heran interaksinya dengan baginda cukup intens, terutama berkenaan dengan pembelajaran Al-Qur’an.

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Ma’sud senantiasa mendampingi nabi Muhammad saw ke mana pun beliau pergi. Ia juga selalu menyediakan kebutuhan harian nabi, mulai dari menyediakan air mandi hingga membawakan sendal dan siwak. Ia bahkan kerap kali memasuki kamar baginda untuk sekedar menyiapkan atau merapikan tempat tidur (Sirah 60 Sahabat Nabi Muhammad Saw).

Baca Juga: Inilah Lima Fadilah Membaca Al-Qur’an Menurut Hadis-Hadis Sahih

Karena kebersamaan bersama nabi inilah, Abdullah bin Mas’ud memiliki banyak kesempatan untuk belajar dengan nabi saw, termasuk membaca dan menghafal Al-Qur’an. Ia bahkan merupakan salah satu dari sedikit sahabat yang langsung belajar Al-Qur’an dari mulut beliau. Hal ini bertambah istimewa dengan sokongan kecerdasan yang tinggi dan kekuatan hafalannya.

Saking luasnya pengetahuan Abdullah bin Mas’ud tentang Al-Qur’an, ia bahkan mengetahui dengan rinci kapan, di mana, dan kepada siapa sebuah ayat diturunkan. Karena alasan inilah Nabi bersabda, “Ambillah Al-Qur’an dari empat orang, yaitu dari Abdullah bin Mas’ud, Salim, Mu’adz bin Jabal dan Ubay bin Ka’ab.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ahmad).

Selain memiliki pemahaman yang kuat tentang Al-Qur’an, Abdullah bin Ma’sud juga memiliki suara yang merdu. Ia dikenal sebagai salah satu Qari terkemuka pada masa Rasulullah. Dikisahkan juga bahwa baginda senang mendengarkan bacaan Al-Qur’annya untuk dinikmati sekaligus mengecek bacaan tersebut.

Nabi Muhammad sering memuji bacaan Ibnu Mas’ud dan salah satunya adalah sabda beliau kepada sahabat-sahabatnya, “Barang siapa yang ingin membaca Al-Qur’an yang baik seperti pertama kali turun, maka bacalah seperti bacaan Abdullah bin Mas’ud.”(HR. Ibnu Majah, Ahmad). Ini menunjukkan begitu bagusnya bacaan Ibnu Mas’ud.

Kemudian, dalam Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam diterangkan bahwa Abdullah bin Mas’ud adalah sahabat yang pertama kali membacakan Al-Qur’an secara terang-terangan di hadapan kaum Quraisy. Akibat tindakannya ini, ia disakiti dan dipukuli hingga babak perlu karena ia bukan golongan bangsawan. Namun itu semua tidak melonggarkan niatnya sedikit pun untuk menyebarkan Al-Qur’an.

Pada zaman pemerintahan Umar  bin Khattab, Abdullah bin Mas’ud bertugas di Kufah untuk mengajarkan agama Allah di sana. Ali bin Abi Muthalib memuji Ibnu Mas’ud dan menyatakannya sebagai orang berilmu, yang mengetahui Al-Qur’an dan sunah sebab ia juga meriwayatkan sebanyak 840 hadis. Dia wafat di Madinah pada tahun 32 Hijriah dalam usia 65 tahun.

2. Abu Musa al-Asy’ari

Abu Musa al-Asy’ari memiliki nama lengkap Abdullah bin Qais bin Sulaim. Dia adalah salah satu qari terkemuka pada masa Rasullah yang sering dipuji karena kekuatan hafalan dan kebagusan bacaannya.  Bisa dikatakan bahwa ia merupakan salah satu dari segelintir orang yang pernah diminta nabi Muhammad saw untuk membacakan Al-Qur’an.

Sebelum memeluk Islam, Abu Musa al-Asy’ari adalah penduduk sebuah perkampungan di Yaman. Namun ketika ia mendengar tentang munculnya seorang rasul di Mekah, ia kemudian bersegera datang ke sana menyambut seruan tauhid dari nabi Muhammad saw. Selain itu, ia juga bertujuan untuk menjadi murid nabi saw karena kagum terhadap beliau.

Di Mekah, Abu Musa al-Asy’ari menghabiskan waktunya dengan menghadiri majelis nabi Muhammad saw. Dalam kesempatan itu, ia sering menerima petunjuk dan keimanan dari beliau. Pada saat bersamaan, ia juga mempelajari dan menghafal Al-Qur’an dengan serius secara langsung di hadapan nabi sejak keislamannya pertama kali (Kisah-Kisah Ajaib Para Penghafal Alquran).

Sebagai qari terkemuka pada masa Rasulullah, Abu Musa al-Asy’ari tidak hanya memiliki  hafalan yang kuat, tetapi juga suara nan merdu. Dengan suaranya itu, bacaan Al-Qur’annya mampu menembus tirai hati orang-orang. Siapa pun yang mendengar suara Abu Musa al-Asy’ari, niscaya akan tergerak hatinya untuk mengikuti apa yang diucapkannya.

Karena begitu merdunya bacaan Al-Qur’an Musa al-Asy’ari, nabi Muhammad saw bahkan memujikan dengan perkataan, “Ia (Abu Musa) benar-benar telah diberi seruling Nabi Daud.” (HR. Bukhari dan Muslim). Keindahan bacaan ini pula yang membuat para sahabat menanti-nanti kedatangannya untuk menjadi imam di setiap kesempatan shalat. Melalui bacaannya, batin jamaah menjadi tentang dan khusyuk.

Rasulullah saw pun kerap meminta Abu Musa Al-Asy’ari untuk menjadi imam atau membimbing sahabat lainnya.  Abu Musa sangat bertanggung jawab terhadap tugasnya dan memberikan perhatian yang besar terhadap sesama manusia. Sampai-sampai Rasulullah saw bersabda mengenai dirinya: “Pemimpin dari orang-orang berkuda ialah Abu Musa.”

Nama Abu Musa Al-Asy’ari terekam dalam catatan sejarah. Selain dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an, Abu Musa juga merupakan seorang pejuang yang membersamai Rasulullah saw dalam beberapa pertempuran. Sepanjang hidupnya, ia juga telah meriwayatkan 365 hadis. Abu Musa Al-Asy’ari wafat dalam usia 63 tahun, pada tahun 44 Hijriah.

3. Ubay bin Ka’ab

Ubay bin Ka’ab merupakan kaum Anshar yang berasal dari Bani Khazraj dan merupakan salah seorang dari Yathrib (Madinah) yang pertama-tama menerima Islam dan melakukan baiat kepada Nabi Muhammad saw di Aqabah, sebelum terjadinya peristiwa hijrah. Dengan demikian, ia adalah salah satu penduduk Madinah yang paling awal memeluk Islam.

Ketika nabi saw di Madinah, Ubay bin Ka’ab menjadi salah satu sahabat yang berperan penting. Ia mengikuti perang badar dan beberapa perang sesudahnya. Selain itu, Ubay termasuk salah seorang yang pertama-tama mencatatkan ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam bentuk tulisan, karena Ubay merupakan salah seorang penulis bagi Nabi Muhammad.

Ubay bin Ka’ab diriwayatkan memiliki suatu mushaf khusus susunannya sendiri, dan ia termasuk di antara para sahabat yang merupakan penghafal Al-Qur’an (hafiz). Ia belajar dan menghafal Al-Qur’an secara langsung di bawah bimbingan nabi Muhammad saw. Tak jarang beliau mengoreksi bacaannya jika terdapat kesalahan atau kekeliruan (lihat Fadhail Al-Qur’an).

Baca Juga: Membaca Urgensi Konteks Al-Qur’an dari Tiga Karya Fenomenal Imam Jalaluddin As-Suyuthi

Berkat didikan nabi tersebut, Ubay bin Ka’ab menjelma menjadi ahli Al-Qur’an, baik dari segi bacaan maupun tulisan. Selain itu, sebagai qari terkemuka pada masa Rasulullah, Ubai bin Ka’ab juga dikenal sebagai orang yang paling fasih bacaannya di antara kalangan sahabat. Nabi saw bahkan turut memuji dan membanggakannya:

Nabi Muhammad saw bersabda:

“Umatku yang paling penyayang terhadap yang lain adalah Abu Bakar. Yang paling kokoh dalam menjalankan perintah Allah adalah Umar. Yang paling jujur dan pemalu adalah Utsman. Yang paling mengetahui halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal. Yang paling mengetahui ilmu fara’idh (pembagian harta warisan) adalah Zaid bin Tsaabit. Yang paling bagus bacaan Al-Qur’annya adalah Ubay. Setiap umat mempunyai orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. At-Tirmidzi No. 3791).

Sejarawan berbeda pendapat kapan tahun wafatnya Ubay bin Ka’ab: Ada yang mengatakan ia wafat pada masa kekhalifahan Umar, yakni pada tahun 19 H; Ada yang mengatakan pada tahun 20 H; ada menyatakan pada tahun 22 H; dan ada pula yang menyebut ia wafat pada masa khalifah Utsman tahun 29 H. Pendapat terakhir ini merupakan pendapat terkuat, karena Utsman memasukkannya dalam tim penyusun Al-Qur’an. Wallahu a’lam.

Dampak Hate Speech dalam Perspektif Surat al-Hujurat Ayat 12

0
Hate Speech dalam Perspektif Surat al-Hujurat Ayat 12
Hate Speech dalam Perspektif Surat al-Hujurat Ayat 12

Segala bentuk pemanfaatan teknologi jejaring sosial atau telekomunikasi, menimbulkan dua implikasi yaitu positif dan negatif. Salah satu dampak positifnya tentu kita semua sudah merasakannya yaitu mempererat tali saliturrahim dan membuat yang jauh seakan menjadi dekat. Namun disisi lain ada dampak negatif karena penggunaan yang kurang tepat, salah satunya yaitu ujaran kebencian (Hate Speech). Apakah hate speech itu?

Hate Speech adalah sebuah Tindakan yang dalam koridor agama perbuatan yang sangat tidak terpuji, dalam hal ini bisa digambarkan dengan upaya individu atau sekelompok orang yang menyerang individu atau kelompok pihak lain dengan nada kebencian, dan sesungguhnya hal itu menjadikan sebuah luka yang dalam dan susah untuk diobati, dan apabila bisa di obatipun juga akan membutuhkan waktu yang sangat lama, dalam kondisi hati dan pikiran serta perasaan tersakiti maka akan sangat sulit menemukan jalan harmoni. setidaknya itulah gambaran kerusakan yang ditimbulkan oleh Hate Speech.

Baca juga: Mari Amalkan Doa Agar Terhindar dari Kezaliman dan Fitnah dalam Al-Quran

Dalam kehidupan sehari-hari pernahkah kita membayangkan betapa dahsyatnya sebuah ujaran kebencian? Tentu dalam hal ini sebagian besar sepakat bahwa ujaran kebencian atau yang sering disebut hate speech akan sangat berdampak buruk dalam hubungan pertemanan, kekeluargaan, dan persaudaraan. Bahkan dalam skala yang lebih luas implikasi dari ujaran kebencian (Hate speech) dapat mengoyak belah serta memecah belah keutuhan sebuah bangsa.

Al-Qur’an menyampaikan pelajaran yang sangat berharga mengenai bahaya menyebarkan ujaran kebencian (hate speech), yaitu kisah Raja fir’aun yang hancur karena ucapannya sendiri. Sang fir’aun harus mengalami kehancuran karena selalu melontarkan ujaran kebencian (hate speech) kepada nabi Musa. Namun pada akhirnya bukan nabi Musa yang hancur justru ujaran kebencian itu berbalik kepada fir’aun sendiri. Oleh karenanya pesan-pesan dalam Al-Qur’an selalu mengajarkan kepada kita agar tidak mudah membenci orang lain. Seperti yang telah di firmankan dalam surat al Hujurat ayat 12:

يأيها ٱلذين ءامنوا ٱجتنبوا كثيرا من ٱلظن إن بعض ٱلظن إثم ولا تجسسوا ولا يغتب بعضكم بعضا أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا فكرهتموه وٱتقوا ٱلله إن ٱلله تواب رحيم

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Baca juga: Kajian Semantik Kata Jannah dalam Al-Quran dan Korelasi Maknanya

Penafsiran Surat Al-Hujurat Ayat 12

Dalam tafsir ibnu katsir dijelaskan, Telah diriwayatkan kepada kami dari Amirul Mu’minin Umar ibnul Khattab r.a., bahwa ia pernah berkata, “Jangan sekali-kali kamu mempunyai prasangka terhadap suatu kalimat yang keluar dari lisan saudaramu yang mukmin melainkan hanya kebaikan belaka, sedangkan kamu masih mempunyai jalan untuk memahaminya dengan pemahaman yang baik.”

قَالَ مَالِكٌ، عَنْ أَبِي الزِّناد، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا”.

Malik r.a. telah meriwayatkan dari Abuz Zanad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Janganlah kamu mempunyai prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka yang buruk itu adalah berita yang paling dusta; janganlah kamu saling memata-matai, janganlah kamu saling mencari-cari kesalahan, janganlah kamu saling menjatuhkan, janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling berbuat makar, tetapi jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.

وَقَالَ الطَّبَرَانِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ القِرْمِطي الْعَدَوِيُّ، حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْمَدَنِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ قَيْسٍ الْأَنْصَارِيُّ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدٍ بْنِ أَبِي الرِّجَالِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ حَارِثَةَ بْنِ النُّعْمَانِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم: “ثلاث لازمات لِأُمَّتِي: الطِّيَرَةُ، وَالْحَسَدُ وَسُوءُ الظَّنِّ”. فَقَالَ رَجُلٌ: مَا يُذْهِبُهُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِمَّنْ هُنَّ فِيهِ؟ قَالَ: “إِذَا حَسَدْتَ فَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ، وَإِذَا ظَنَنْتَ فَلَا تُحَقِّقْ، وَإِذَا تَطَيَّرْتَ فَأمض “

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Qurmuti Al-Adawi, telah menceritakan kepada kami Bakr ibnu Abdul Wahhab Al-Madani, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Qais Al-Ansari, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Muhammad ibnu Abur Rijal, dari ayahnya, dari kakeknya Harisah ibnun Nu’man r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Ada tiga perkara yang ketiganya memastikan bagi umatku, yaitu tiyarah, dengki, dan buruk prasangka.

Seorang lelaki bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara melenyapkannya bagi seseorang yang ketiga-tiganya ada pada dirinya?” Rasulullah Saw. menjawab: Apabila kamu dengki, mohonlah ampunan kepada Allah; dan apabila kamu buruk prasangka, maka janganlah kamu nyatakan; dan apabila kamu mempunyai tiyarah (pertanda kemalangan), maka teruskanlah niatmu.

Baca juga: Surah An-Nur [24] Ayat 27: Anjuran Mengucap Salam Ketika Bertamu

Tegasnya, apabila kita ingin meraih ketenangan dan ketentraman maka jauhilah hate speech. Implikasi dari hate speech tidak hanya mengoyak kesatuan suatu bangsa melainkan juga ketentraman harmonisasi intern. Cara yang bisa kita tempuh dalam hal ini ialah dengan membumikan pesan-pesan langit, sebuah istilah untuk menggambarkan luasnya wahyu yang telah diturunkan kepada manusia untuk dipedomani. Membumikan pesan langit bagian dari jihad, ijtihad, dan mujahadah. Kita tak dapat menginkari bahwa Al-Qur’an merupakan serangkaian pesan yang kaya dengan ajaran moral-spiritual, dan penyempurna ajaran-ajaran sebelumnya.

Doa Agar Terhindar dari Kezaliman dan Fitnah dalam Al-Quran

0
Kezaliman dan Fitnah
Doa Agar Terhindar dari Kezaliman dan Fitnah

Agresi militer Israel terhadap warga Palestina menunjukkan kepada dunia bahwa pada saat ini kezaliman dan fitnah masih terjadi di berbagai penjuru dunia. Hal ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut tanpa ada jalan keluar ataupun penanggulangan nyata. Segenap penduduk dunia harus berusaha dan berdoa agar terhindar dari kezaliman dan fitnah.

Ada beragam bentuk kezaliman dan fitnah yang terjadi sat ini, mulai dari hoaks, pembunuhan karakter, penindasan, bullying, hingga perampasan hak. Itu semua terjadi di tengah-tengah masyarakat dunia dan kita – kadang kala – hanya bisa menyaksikan tanpa melakukan pencegahan apa pun. Dari sekian banyak kasus tersebut, hanya segelintir yang bisa diatasi.

Baca Juga: Menyeimbangkan Urusan Dunia dan Akhirat, Perhatikan Semangat Doa Al-Quran Berikut!

Dalam ajaran Islam, kezaliman dan fitnah adalah hal yang terlarang. Terdapat banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis nabi Muhammad saw yang melarang umat Islam melakukan perbuatan zalim dan fitnah. Di antaranya adalah firman Allah swt dalam surah Hud ayat 18, “Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.”

Allah juga berfirman:

وَكَذٰلِكَ اَخْذُ رَبِّكَ اِذَآ اَخَذَ الْقُرٰى وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۗاِنَّ اَخْذَهٗٓ اَلِيْمٌ شَدِيْدٌ ١٠٢

Dan begitulah siksa Tuhanmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, siksa-Nya sangat pedih, sangat berat.” (QS. Hud: 102).

Secara umum, kezaliman terbagi kepada tiga macam, yaitu: pertama, kezaliman hamba kepada Rabb-nya. Kezaliman ini setidaknya ada dua bentuk, yakni kekafiran dan kesyirikan. Lihatlah firman Allah swt dalam surah al-Baqrah ayat 254, “Dan orang-orang kafir itulah orang-orang zalim,” dan Luqman ayat 13 “Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.

Kedua, kezaliman kepada sesama manusia. Menzalimi atau berbuat aniaya kepada sesama manusia juga merupakan perbuatan yang dilarang dalam ajaran Islam dan dibenci Allah swt. Contoh kezaliman ini adalah menyinggung kehormatan orang lain, menyakiti tubuh atau hati orang lain, dan mengambil harta atau hak-hak orang lain tanpa alasan yang benar.

Rasulullah bersabda, “Siapa yang berbuat zalim kepada saudaranya, baik terhadap kehormatannya maupun sesuatu yang lainnya, maka hendaklah ia meminta kehalalannya darinya hari ini juga sebelum dinar dan dirham tidak lagi ada. Jika ia punya amal saleh, maka amalannya itu akan diambil sesuai dengan kadar kezaliman yang dilakukannya. Dan jika ia tidak punya kebaikan, maka keburukan orang yang ia zalimi itu dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Ketiga, zalim terhadap diri sendiri. Kezaliman ini adalah tindakan seorang hamba mengotori dirinya sendiri dengan berbagai perbuatan dosa, pelanggaran dan keburukan yang berujung pada kemaksiatan kepada Allah swt dan rasul-Nya. Dengan demikian, segala bentuk dosa yang dilakukan manusia , baik besar maupun kecil,  sebenarnya merupakan kezaliman atas dirinya sendiri, bukan kepada Allah.

Allah swt berfirman berkenaan dengan kezaliman terhadap diri sendiri ini dalam surah al-Baqarah ayat 57 yang artinya, “Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” Maksudnya, perbuatan dosa manusia tidaklah memberi dampak kepada Allah swt sedikit pun, akan tetapi kepada manusia itu sendiri.

Sedangkan dalam kitab Syarh Arba’in an-Nawawi diterangkan bahwa kezaliman terbagi kepada dua macam; pertama, kezaliman seorang hamba kepada dirinya dan termasuk di dalamnya adalah syirik. Kedua, kezaliman seorang hamba terhadap orang lain. Dalam penjelasan ini, kezaliman kepada Allah tidak dimasukkan, karena pada hakikatnya itu tidak berdampak kepada-Nya, melainkan kepada si pelaku sendiri.

Berdasarkan penjelasan di atas, kezaliman dan fitnah adalah sesuatu yang dilarang dalam agama Islam apa pun alasannya. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim yang baik, kita harus menjauhi perbuatan zalim dan fitnah. Tidak hanya itu, kita juga mesti berusaha dan berdoa agar terhindar dari kezaliman dan fitnah, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dalam Al-Qur’an ada banyak doa agar terhindar dari kezaliman dan fitnah. Salah satunya adalah doa yang dilantunkan oleh pengikut nabi Musa agar terhindar dari fitnah dan kezaliman Firaun yang dikenal sebagai raja diktator. Doa ini diabadikan oleh Allah dalam Firman-Nya pada surah Yunus [10] ayat 85-86 yang berbunyi:

فَقَالُوْا عَلَى اللّٰهِ تَوَكَّلْنَا ۚرَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ٨٥ وَنَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ ٨٦

Lalu mereka berkata, “Kepada Allah-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang kafir.” (QS. Yunus [10] ayat 85-86).

Menurut Quraish Shihab, doa agar terhindar dari kezaliman dan fitnah ini diucapkan oleh pengikut nabi Musa usai mendengar nasihat beliau yang berisi perintah untuk bertawakal kepada Allah swt. Beliau berkata, “Jika kamu benar-benar orang-orang muslim, maka tentu kamu bertawakal kepada Allah swt dan selanjutnya tawakal itu akan berbuah ketenangan hati.”

Mendengar nasihat nabi Musa, mereka lantas berdoa agar terhindar dari kezaliman dan fitnah kepada Allah swt sebagai bentuk tawakal dan keyakinan kepada-Nya. Mereka berucap, “Kepada Allah-lah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang kafir.” (Tafsir al-Misbah [6]: 141).

Ibnu Katsir menyebutkan, doa agar terhindar dari kezaliman dan fitnah ini bermakna, “Ya Allah, jangan engkau menangkan dan kuasakan mereka (Firaun dan koleganya) atas kami (pengikut nabi Musa), sebab itu akan membuat mereka mengira bahwa mereka berkuasa karena berada dalam kebenaran, sedangkan kami berada pada kebatilan, dan kami akan terfitnah karenanya.”

Baca Juga: Doa Nabi Ayyub as dalam Al-Quran untuk Kesembuhan Penyakit

Sedangkan Imam Mujahid mengatakan, doa ini bermakna, “Ya Allah, jangan engkau azab kami melalui tangan-tangan bela tentara Firaun dan tidak pula azab dari sisi Engkau. Sebab, dengan itu mereka akan berkata kepada kami, ‘Jikalau kalian benar, niscaya kalian tidak akan diazab dan tidak akan kami kuasai pula.’ Oleh karena itu, selamatkan kami dengan rahmat dan kebaikan dari-Mu dar orang-orang yang kafir dan menutupi kebenaran. Sungguh, kami telah beriman dan tawakal kepada-Mu.”

Doa agar terhindar dari kezaliman dan fitnah di atas juga dapat diamalkan oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, baik bagi diri mereka sendiri maupun orang lain. Namun sebagai catatan, tawakal yang sesungguhnya adalah kombinasi dari usaha dan doa. Artinya, untuk melenyapkan kezaliman dan fitnah, maka diperlukan tidak hanya doa, tetapi juga usaha sungguh-sungguh. Semoga harapan ini bisa tercapai. Aamiin.

Kajian Semantik Kata Jannah dalam Al-Quran dan Korelasi Maknanya

0
Kata Jannah
Kata Jannah dalam al-Quran

Bahasa sebagai alat bagi manusia untuk mengungkapkan pikirannya yang abstrak. Ketika ingin mengutarakan sesuatu, di dalam benaknya sudah terbentuk konsep arti yang sifatnya abstrak. Setelah ditulis atau diucapkan, pikiran tersebut menjadi sesuatu yang konkret sifatnya. Jadi, bisa dikatakan bahwa bahasa sebagai alat untuk memproduksi makna.

Suatu kata terdiri atas lambang bunyi dan konsep atau citra mental benda-benda (objek) yang diacu. Berdasarkan teori Ogden dan Richards yang dikutip oleh Moch. Syarif Hidayatullah dalam Cakrawala Linguistik Arab bahwa hubungan antara lambang (ramz) dan konsep (fikrah) bersifat langsung. Sedangkan hubungan antara lambang dan objek (syai khariji) bersifat tidak langsung dikarenakan hubungan antara objek dan lambang harus melalui konsep. Sifatnya arbitrer (suka-suka).

Tidak ada keharusan untuk memberi lambang bahasa pada objek tertentu, di samping tidak ada jawaban yang mutlak mengenai mengapa objek bisa diberi lambang bahasa tertentu. Contoh pada kasus ini bisa ditinjau pada kata jannnah (جَنَّةٌ) yang akan dikaji dalam tulisan ini.

Baca Juga: Inilah 15 Nama-Nama Surga Yang Disebutkan dalam Al-Qur’an

Kata jannah terdiri atas lambang bunyi, yaitu (ج ن ة) dan konsep atau citra mental benda yang dinamakan sebagai jannah. Jadi, makna kata jannah adalah konsep tentang sesuatu yang tersimpan dalam otak kita kemudian dilambangkan dengan kata ‘jannah’. Hubungan yang tidak langsung tersebut menunjukan bahwa antara bahasa dan realitas itu tidak identik. Sebuah kata hanyalah representasi cara pandang masyarakat tertentu terhadap suatu objek.

Lalu, bagaimana kata  jannah bisa diartikan dengan surga dan apa hubungannya dengan konteks wahyu al-Quran?

Menurut Muhammad Fuad Al-Baqi di dalam Mu’jam Al-Mufahras Li Alfādzil Al-Qur’an Al-Karim, Kata jannah dalam Al-Qur’an terkutip sebanyak 144 kali; dalam bentuk tunggal atau mufrad 68 kali, dalam bentuk mutsanna 07 kali dan dalam bentuk jamak 69 kali. Sementara itu, di kitab Mu’jam Mufradat Alfādz Al-Qur’an karya Raghib Al-Ishfahānī menyebutkan bahwa kata jannah berasal dari kata janna yang bermakna satru as-syai ‘an al-hassah (sesuatu yang tertutup dari panca indera manusia). Dari kata tersebut terbentuklah berbagai macam kontektualisasi perluasan makna, di antaranya:

  1. Kata جَنَّ apabila diidhafahkan dengan kata اللَّيْلُ maknanya menjadi ‘gelap’, seperti pada Q.S. Al-An’am[6]: 76
  2. Kata أَجِنَّة bentuk jamak dari kata جَنِيْن yang bermakna janin dalam kandungan ibunya, seperti pada Q.S. Al- Najm[53] :32
  3. Kata جُنَّة yang bermakna sesuatu yang menutupi atau melindungi badan; perisai, seperti pada Q.S Al-Mujadalah[58] :16
  4. Kata جَنَان yang bermakna hati yang tersembunyi di dalam dada
  5. Kata جُنُوْن yang bermakna hilang akal atau gila, seperti pada Q.S. Ad-dukhan[44]: 14
  6. Kata جِنَّة bentuk jamak dari الجِنّ yang bermakna jin, salah satu makhluk gaib yang tidak wujudnya tidak bisa dilihat oleh panca indra
  7. Kata جَنَّة yang bermakna kebun dengan pepohonan lebat yang dapat menutupi tanah. Kata ini oleh orang Arab sering digunakan untuk menyebut kurma. Biasanya, mereka juga menggunakannya untuk menyebut kebun yang di dalamnya terdapat kurma dan pohon lainnya, seperti pada S. Saba[34]: 15 dan 16 juga Q.S Al-Kahfi[18]: 39.
  8. Kata جَنَّة bentuk tungggal, sedangkan jamaknya جَنَّات bermakna surga. Al-Ishfahānī mempunyai alasan tersendiri kenapa surga bisa disebut dengan istilah jannah, yaitu; pertama, karena serupa dengan kebun di bumi, walaupun antara keduanya memiliki perbedaan. Kedua, karena nikmat-nikmat di dalamnya oleh Allah ditutup dari penglihatan manusia.

Visualisasi Surga

Setelah menjabarkan estimologi dan pergeseran makna kata jannah,  pada nomina جَنَّة terdapat dua makna; yang pertama adalah sungai; yang kedua surga. Berarti ada satu lafal atau kata yang memiliki kepada dua atau lebih makna atau disebut dengan polisemi. Dengan kata lain, polisemi berkaitan dengan kata atau frasa yang memiliki beberapa makna yang berhubungan. Dengan kata lain Polisemi menunjukan bahwa suatu kata memiliki lebih dari satu makna.

Kemudian muncul pertanyaan, apa hubungan makna kata  jannah (taman) dengan makna surga?

Di sini penulis mengutip ayat tentang perumpamaan surga pada Q.S. Ar-Ra’d [13]: 35

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِيْ وُعِدَ الْمُتَّقُوْنَ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ اُكُلُهَا دَاۤىِٕمٌ وَّظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّعُقْبَى الْكٰفِرِيْنَ النَّارُ

Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang yang bertakwa (ialah seperti taman), mengalir di bawahnya sungai-sungai; senantiasa berbuah dan teduh. Itulah tempat kesudahan bagi orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang yang ingkar kepada Tuhan ialah neraka

Dalam kitab Tafsir Asy-sya’rawi, ayat di atas ditafsirkan, bahwa apabila mendengar akan perumpamaan di surga, ketahuilah itu hanya sekedar perumpamaan untuk mendekatkan makna, karena apa yang ada di surga tidak dapat dinyatakan dengan lafadz, sebab tidak ditemukan kenikmatan seperti itu di dunia.

Dalam ayat 35 ini disebutkan bahwa sungai mengalir di bawah surga. Dikarenakan kehidupan bangsa Arab saat turunnya Al-Qur’an sangat kekurangan air. Sampai-sampai mereka pernah meminta Rasulullah mendatangkan mukjizat  berupa air yang terpancar hingga mengalir dan membentuk sungai..

Pernyataan ini diperkuat oleh Ali Sodiqin dalam Antropologi Al-Qur’an, menyatakan bahwa Al-Qur’an tidak turun dalam ruang hampa sejarah, artinya ia turun dalam konteks budaya tertentu yang telah mengakar dan dipilihnya bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an, mengindikasikan bahwa pada mulanya Al-Qur’an mengajukan gagasannya terhadap orang-orang Arab, sekaligus mewakili paradigma sosial budaya Arab. Eksistensinya sebagai pesan Tuhan, Al-Qur’an turun dalam konteks masyarakat Arab abad ketujuh dengan berbagai tradisi dan realita budayanya kala itu.

Baca Juga: Kajian Semantik Kata Surga dan Neraka dalam Al-Quran

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa hubungan lambang, konsep dan acuan kata taman dengan surga tidak telepas dari subjek pembicaranya. Adanya makna psikologis dan budaya mengenai konsep taman dan surga. Makna psikologisnya yaitu visualisasi tentang kenikmatan surga pada masyarakat Arab yang letak geografisnya gurun pasir gersang dan panas dengan simbolitas taman dengan pohon yang rindang; sungai-sungai yang mengalir dan buah-buahan di sana; itu bermakna bahwa janji Allah Swt. terhadap orang yang beriman dan beramal saleh dengan balasan kenikmatan yang menakjubkan yang membuat jiwa selalu berharap untuk mendapatkan hal itu.

Kita tidak bisa mengira akan mendapatkan sungai yang mengalir atau semacamnya. Bahkan bisa jadi lebih menakjubkan dari itu. Karena kata jannah tidak bisa dibaca oleh panca indra manusia. Wallahu A’lam.