Beranda blog Halaman 444

Perbedaan Sinonim Kata Sanah dan ‘Am dalam Al-Quran

0
Perbedaan Sinonim Kata Sanah dan ‘Am dalam Al-Quran
Perbedaan Sinonim Kata Sanah dan ‘Am dalam Al-Quran

Al-Quran, sebagaimana kita tahu, mengandung banyak sekali kosakata yang beragam, yang tak jarang kita tahu memiliki makna yang bersinonim, muradif. Itulah di antara keluhuran mukjizat al-Quran yang bahkan orang Arab sendiri tidak mampu untuk mendatangkan satu contoh kalimat pun yang bisa menandinginya. Seperti halnya dengan perbedaan sinonim kata sanah dan ‘am dalam al-Quran. 

Lafal-lafal al-Quran memiliki karakteristik yang khusus, itulah sebabnya. Selain karakter yang khas, al-Quran juga memiliki uslub-uslub (gaya) yang beragam, yang penuh dengan makna sastrawi nan dalam. Oleh karena itu, dirasah(studi) al-Quran merupakan yang terpenting di antara dirasah ilmu-ilmu lainnya, yang tidak dapat sempurna kecuali dengan topangan ilmu tafsir.

Di antara contoh kosakata muradif di dalam al-Quran adalah lafal al-sanah dan al-‘am yang diartikan dengan tahun. Al-Sanah (singular) dalam al-Quran disebut sebanyak 7 kali, di antaranya ada di Q.S. al-Baqarah [2]: 96, Q.S. al-Maidah [5]: 26, Q.S. al-Hajj [22]: 47, Q.S. al-‘Ankabut [29]: 14, Q.S. al-Sajdah [32]: 5, Q.S. al-Ahqaf [46]: 15, dan Q.S. al-Ma’arij [70]: 4.

Sementara dalam bentuk pluralnya (sinin) disebut 12 kali, di antaranya dalam Q.S. al-A’raf [7]: 130, Q.S. Yunus [10]: 5, Q.S. Yusuf [12]: 42 dan 47, Q.S. al-Isra’ [17]: 12, Q.S. al-Kahfi [18]: 11 dan 25, Q.S. Thaha [20]: 40, Q.S. al-Mukminun [23]: 112, Q.S. al-Syu’ara` [26]: 18 dan 205, dan Q.S. al-Rum [30]: 4.  

Baca juga: Merancang Resolusi Tahun 2021 Berbasis Al-Quran

Kemudian kata al-‘aam dalam al-Quran disebut sebanyak 9 kali, di antaranya dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 259 dua kali, Q.S. al-Taubah [9]: 28, 37 (dua kali) dan 126, Q.S. Yusuf [12]: 49, Q.S. al-‘Ankabut [29]: 14, dan Q.S. Luqman [31]: 14 (Abd al-Baqi, 1945).

Perbedaan di Kalangan Ulama

Terjadi beberapa perbedaan pendapat mengenai tafsir kedua lafal; al-sanah dan al-‘am tersebut. Namun secara garis besar terbagi menjadi tiga pendapat;

Pertama. Lafal sanah dan ‘am dalam al-Quran mengandung makna satu. artinya sama-sama bermakna tahun. Perbedaan antara keduanya hanya pada sisi balaghah al-Quran dalam penggunaannya untuk menghindari pengulangan satu lafal pada tempat yang berbeda. Pendapat ini digamit oleh Imam al-Zamakhsyari dan Ibn ‘Asyur, pengarang Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir.

Kedua. Perbedaan antara makna keduanya adalah; lafal sanah digunakan untuk menunjukkan tahun yang buruk/celaka(syaqa’) sementara lafal ‘am digunakan untuk menunjukkan kondisi tahun yang sejahtera dan subur seperti dalam Q.S. al-‘Ankabut [29]: 14.

وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَلَبِثَ فِيهِمۡ أَلۡفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمۡسِينَ عَامٗا فَأَخَذَهُمُ ٱلطُّوفَانُ وَهُمۡ ظَٰلِمُونَ ١٤

Artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”

Lafal sanah dalam ayat tersebut menunjukkan tahun-tahun yang dilalui Nabi Nuh mengajak kaumnya untuk bertauhid kepada Allah. Tetapi alih-alih diterima dan diikuti ajarannya, Nabi Nuh justru mendapat pengkhianatan dan siksaan, hingga akhirnya mereka—kaum Nabi Nuh—disiksa oleh Allah dengan ditenggelamkan.

Baca juga: Momentum Hijrah di Tahun Baru, Penjelasan Surat An-Nisa Ayat 100

Selanjutnya, lafal yang dipakai adalah ‘am (khamsina ‘am), tidak lagi lafal sanah. Hal tersebut menunjukkan pada tahun-tahun pascaselamatnya Nabi Nuh beserta kaumnya yang beriman dari bahtera, mereka hidup dengan sejahtera. Ulama yang menggamit pendapat ini salah satunya adalah al-Raghib al-Ashfihaniy (1108), ia berkata; “Umumnya, penggunaan diksi sanah digunakan untuk tahun yang di dalamnya terjadi berbagai kesulitan dan hal-hal yang tidak baik. Sementara diksi ‘am digunakan untuk maksud sebaliknya.”

Ketiga. Lafal al-‘am lebih umum ketimbang lafal sanah. Sebab lafal al-‘am yang memiliki bentuk nomina ‘aum yang berarti berenang atau beredar untuk menunjukkan perjalanan matahari yang beredar pada garis edarnya selama dua belas bulan. Hal ini ditunjukkan oleh Q.S. Yasin [36]: 40.

لَا ٱلشَّمۡسُ يَنۢبَغِي لَهَآ أَن تُدۡرِكَ ٱلۡقَمَرَ وَلَا ٱلَّيۡلُ سَابِقُ ٱلنَّهَارِۚ وَكُلّٞ فِي فَلَكٖ يَسۡبَحُونَ ٤٠

Artinya, “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”

Kosakata Muradif yang Sejatinya Bukan

Selain dengan lafal al-sanah dan al-‘am, kosakata muradif dalam al-Quran adalah al-khauf dan al-khasyyah yang berarti takut. Manna’ Khalil al-Qathan (2007) dalam Mabahits-nya mengikuti pendapat kedua dalam menyikapi hal ini. Ia memaknai keduanya dengan masing-masing asalnya. Ia mengatakan makna al-khasyyah lebih tinggi dari al-khauf, sebab al-khasyyah diambil dari kata-kata syajarah khasyyah yang berarti pohon yang kering. Sementara al-khauf diambil dari kata-kata naqah khaufa` yang berarti unta betina yang berpenyakit.

Kemudian dalam konteks makna takut, Khalil mengartikan al-khasyyah dengan makna rasa takut yang timbul karena agungnya sosok yang ditakuti, kendati ia yang takut tersebut adalah seorang yang kuat. Oleh karena itu, al-khasyyah adalah al-khauf atau rasa takut yang disertai dengan rasa hormat (takzim).

Baca juga: Surat Yunus [10] Ayat 6: Refleksi Pergantian Tahun

Sementara lafal al-khauf diartikan takut karena yang ditakuti lebih kuat, misalnya yang digunakan dalam al-Nahl [16]: 50, digunakan untuk mensifati para malaikat yang telah disebutkan kekuatan dan kehebatan mereka. Maka penggunaan lafal al-khauf dalam al-Nahl [16]: 50 tersebut untuk menjelaskan bahwa sekalipun para malaikat kuat dan ‘gigantis’ tetapi di hadapan Allah mereka adalah makhluk yang lemah.

Ala kulli hal, dalam momen pergantian tahun ini, mengingat dan sadar bahwa kesempatan hidup hanya sekali adalah sebenar-benarnya perayaan. Boleh kita mengira umur begitu panjang, tapi kita harus tahu, bahwa hidup di dunia hanya terdiri dari tiga helaan napas; napas yang telah terhempas, napas yang sedang kita hirup dan akan kita hempaskan, dan napas yang akan datang. Sementara jarak kita dengan kematian hanyalah selemparan batu. Artinya sangat dekat. Dan Allah tidak menilai panjang-pendek umur seorang hamba, tetapi apa yang telah diperbuatnya untuk Allah. Kullu ‘am wa antum bi khair!!

Momentum Hijrah di Tahun Baru, Penjelasan Surat An-Nisa Ayat 100

0
Tahun Baru
Tahun Baru 2021

Hari ini adalah hari pertama tahun baru 2021. Sebagai permulaan, ada baiknya kita memulai hijrah dari kebiasaan buruk ke kebiasaan yang baik. artikel ini akan menguraikan soal hijrah terutama dalam Surat An-Nisa ayat 100. Allah Swt berfirman:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di ‎muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang ‎siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan ‎Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke ‎tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. ‎Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An-‎Nisa’: 100)‎

Alhamdulillah, atas perkenan Allah hari ini kita memasuki tahun baru ‎‎2021. Ibarat sebuah buku berisi 365 halaman, inilah halaman pertama yang ‎kita buka. Apakah mau kita isi dengan catatan hitam, ataukah akan kita hiasi ‎dengan tinta emas? Itu semua terserah kita. Selanjutnya, masih tersisia 364 ‎halaman lainnya yang masih bersih tanpa ada catatan apa pun.‎

Hemat penulis, momen tahun baru adalah momen terbaik untuk ‎menyusun mimpi-mimpi baru, langkah-langkah baru, yang jauh lebih baik dan ‎bermakna dari tahun lalu. Inilah momentum untuk memperbaiki diri, setelah ‎sebelumnya melakukan refleski, koreksi serta introspeksi diri. Inilah saat yang ‎tepat untuk melakukan apa yang dalam bahasa agama disebut “Hijrah”. ‎

Ditinjau dari segi bahasa kata “Hijrah” berasal dari bahasa Arab, yang ‎mempunyai arti berpindah dari satu tempat ke tempat lain, meninggalkan ‎suatu perbuatan, dan menjauhkan diri dari pergaulan yang buruk. ‎

Adapun secara istilah, hijrah mengandung beberapa makna: Pertama, ‎hijrah (meninggalkan) semua perbuatan yang dilarang Allah Swt, ‎sebagaimana ditegaskan dalam salah satu hadis Nabi Saw: “Orang yang ‎berhijrah adalah orang yang mampu menjauhi serta menghindari apa yang ‎dilarang Allah untuk melakukannya.”‎

Kedua, hijrah (menjauhkan diri) dari lingkungan yang tidak ‎mendukung aktivitas ibadah yang kita lakukan. Jika kita tinggal di suatu ‎tempat yang tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas ibadah, karena ‎ada gangguan dan cobaan orang-orang yang membenci ajaran agama kita, ‎maka kita wajib berhijrah dari tempat itu ke tempat lain yang lebih aman, ‎untuk dapat melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya. Inilah ‎hijrah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. dan para pengikutnya.‎

Selain itu, kita juga dianjurkan berhijrah dari daerah yang tidak aman ‎ke daerah yang aman, seperti adanya bencana alam, kebanjiran, gunung ‎meletus, tsunami dan lain-lain.‎

Menurut Mahmud Syaltout, hijrah dibagi menjadi dua bagian, yakni ‎hijrah “Badaniah”, dan hijrah “Qalbiyah”. Hijrah badaniah yaitu hijrah ‎menggunakan kekuatan fisik, dengan berpindah dari satu daerah atau tempat ‎yang tidak nyaman, menuju daerah yang memberikan harapan hidup lebih ‎baik di masa yang akan datang. Sedangkan hijrah “Qalbiyah” adalah hijrah ‎yang didasari oleh keyakinan dan hati nurani. Hijrah ini dilakukan tanpa ‎pindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi pindah dari kondisi batin yang ‎tidak sehat berupa kemaksiatan, kejahatan dan kemunkaran, kepada sikap ‎batin yang baik yang diridloi Allah Swt.‎

Pandangan yang dikemukakan Mahmud Syaltout ini sejalan dengan ‎apa yang dipahami oleh para sufi ketika menafsirkan ayat wa man yakhruj ‎min baitihi muhajiran ila Allahi wa rasulihi… ‎

Dalam beberapa kitab tafsir sufi dijelaskan bahwa makna bait (rumah) ‎dalam ayat tersebut, selain secara zahir diartikan sebagai rumah tempat ‎tinggal, makna hakiki (substansi)-nya adalah rumah di dalam diri setiap ‎manusia. Maka, tafsir ayat tersebut adalah bahwa “…dan barangsiapa yang ‎keluar dari (ego) dirinya menuju Allah dan rasul-Nya…”‎

Hijrah secara hakiki adalah keluar dari ego, menuju keridlaan Allah ‎Swt., sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah Saw. dalam hadis di atas. ‎

Orang yang berhijrah secara hakiki adalah orang yang meninggalkan ‎segala bentuk kejahatan, kemungkaran dan kemaksiatan yang bersumber dari ‎dirinya. Dia tinggalkan kesombongan, prasangaka buruk (su’uzhan), ‎kedengkian, kemarahan, kebakhilan, keputusasaan. Dia hiasi dirinya dengan ‎kerendahhatian (tawaduk), kesabaran, rasa syukur, berbaik sangka, istiqamah ‎dalam kebaikan serta tawakkal kepada Allah. Inilah hijrah yang ‎sesungguhnya, keluar dari ego.‎

So, tahun baru 2021 yang baru saja kita buka halaman pertamanya ini, ‎adalah momentum yang sangat tepat untuk kita melakukan hijrah qalbiyah, ‎yaitu keluar dari segala perangai dan perilaku buruk kita selama ini. Kita ‎hijrahkan diri, keluar dari ego menuju keridaan Allah Swt.‎

Semoga di tahun baru ini, kehidupan kita jauh lebih baik dan berkah daripada tahun lalu. Amin.

Merancang Resolusi Tahun 2021 Berbasis Al-Quran

0
Merancang resolusi tahun 2021
Merancang resolusi tahun 2021

Desember 2020 sebentar lagi berakhir. Dunia akan memasuki awal tahun 2021. Umumnya kita sering membuat resolusi untuk menyambut tahun yang akan datang dengan sederet daftar list agenda ke depan. Pada tahun lalu pun mungkin kita juga telah membuat resolusi dengan matang-matang. Namun sayangnya hal tak terduga membuat rencana yang telah dibangun dengan rapi tersebut meleset dengan adanya musibah pandemik yang berlangsung hampir selama satu tahun ini. Tapi kawan, Allah menyuruh kita untuk tetap optimis dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Banyak hikmah yang bisa diambil dari jeda pademi ini. Kita bisa belajar lebih jernih lagi dalam membuat perencanaan yang salah satunya berbasis landasan Al-Quran. Lalu, bagaimanakah merancang resolusi tahun 2021 dengan berbasiskan Al-Quran? Simak penjelasan berikut!

Memulai resolusi dengan introspeksi

Ada satu ayat Al-Quran yang sangat relevan dengan situasi manusia saat ini dan dapat diambil hikmah dalam rangka mengawali resolusi tahun baru. Ayat tersebut adalah surah At-Taubah ayat 126:

أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِى كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, dan mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?”

Konteks ayat tersebut menurut At-Thabari dalam Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an sebetulnya ditujukan kepada orang-orang munafik sebagai sebuah sindiran keras. Orang-orang munafik selalu ditimpa fitnah sekali maupun dua kali dalam setiap tahun, tapi tetap saja mereka tidak mau bertaubat dan memetik hikmah. At-Thabari menuturkan bahwa fitnah yang dimaksud bisa berupa krisis ekonomi bencana alam maupun musibah besar. Fitnah yang semakin menyudutkan munafiqun tersebut memang dimaksudkan Allah untuk memberi pelajaran agar bertaubat dan kembali berislam tanpa kemunafikan.

Baca juga: Tinggalkan Rebahan, Mari Produktif di Tengah Pandemi: Tafsir Surat Al-Asr Ayat 1-3

Meskipun konteks ayat tersebut pada mulanya ditujukan kepada orang munafiq namun ia juga tidak keliru untuk dijadikan pegangan bagi setiap orang yang mengalami fitnah. Apalagi sepanjang tahun 2020 ini dunia terkena musibah non alam yaitu pandemik covid-19. Bisa dikatakan ini sebagai ujian kolektif dari Allah karena dampaknya memang dirasakan setiap manusia di seluruh dunia tanpa terkecuali.

Merujuk ayat tersebut, musibah pandemi kali ini justru menjadi momentum yang sangat pas untuk introspeksi diri. Brangkali kita terlalu ambisius dalam mengerjakan sesuatu hingga kurang syukur, hingga diturunkannya pandemi sebagai waktu jeda. Barangkali kita masih belum maksimal dalam ikhtiar, masih sering malas dan menunda-nunda pekerjaan hingga diberikan waktu pandemic untuk berfikir ulang dan mengasah keahlian lebih maksimal. Dan untuk merancang resolusi 2021 baru memang harus dimulai dengan introspeksi dan muhasabah diri.

Baca juga: Sertifikasi Da’i dan Pentingnya Muhasabah Diri

Merancang dengan matang proyeksi setahun ke depan

Setelah muhasabah diri selesai, langkah kedua untuk resolusi adalah merakit proyeksi dengan perencanaan yang maksimal. Kita bisa mengulik dalil dalam Al-Quran surah Al-Hasyar ayat 18 untuk memantapkan hal tersebut. Adapun bunyi ayatnya adalah sebagai berikut;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Sebagaimana tersebut dalam lafadz “waltandzur ma qaddamat lighad’ adalah perintah Allah kepada manusia untuk memperhatikan amalan yang akan dilakukan untuk hari esok. Dalam Tafsir al-Misbah, Quraish Shihab tidak menerangkan secara rinci makna hari esok, ini artinya pengertiannya bisa menjadi dua kemungkinan. Jika menurut Al-Mahalli dan As-Suyuthi dalam Tafsir Jalalayn hari esok dimaknai sebagai hari akhirat kelak, sedang Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al’Adhim menjelaskan hari esok dengan mengumpamakan aktivitas yang berhubungan dengan amaliyah di dunia.

Adanya perbedaan pendapat tersebut tentunya bukanlah suatu penghalang bagi kita untuk mengambil esensi dan esensi ayatnya, yaitu untuk selalu merencanakan yang terbaik bagi hidup kita ke depan. Bahkan akan lebih sempurna jika kita mengambil kedua pendapat tersebut yakni untuk urusan duniawi dan ukhrawi. Merencanakan dengan baik proyeksi dan agenda untuk kesuksesan hidup kita di dunia, seperti meruntut agenda dan target apa saja yang harus dilakukan selama satu ke depan. Kemudian juga mendaftar amaliyah apa saja yang bisa kita lakukan dengan orientasi akhirat seperti target berkurban, sedekah, atau ritual ibadah sunnah. Karena sebagai umat Rasulullah kita selalu diajarkan untuk menjadi umat yang sukses baik di dunia maupun di akhirat.

Baca juga: Istighfar Seperti Apa yang Dimaksud Dalam Dua Ayat Ini? Tafsir Surat An-Nisa Ayat 110 dan 64

Libatkan Allah dalam setiap rencanamu

Jika target dan agenda untuk resolusi tahun depan telah kita rencanakan dengan apik, hal terakhir yang wajib kita lakukan adalah melibatkan Allah di dalamnya. Kita minta Allah untuk meridhoi, menyertai, menjamin harapan-harapan itu. Hendaknya kita juga meminta Allah sebagai penolong dari setiap urusan kita, sebagaimana firman-Nya dalam surah Ali Imran ayat 60:

إِن يَنصُرْكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ ۖ وَإِن يَخْذُلْكُمْ فَمَن ذَا ٱلَّذِى يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعْدِهِۦ ۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”

Dalam ayat tersebut Allah secara tegas memberitahu kepada orang-orang mukmin bahwa hanya Dialah satu-satunya yang dapat menjadi penolong segala urusan. Sebagaimana yang diterangkan Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah segala macam urusan orang-orang mukmin hanya dapat disandarkan pada Allah semata. Karena Allah-lah Sang Maha Penolong.

Baca juga: 3 Macam Sikap Sabar yang Digambarkan dalam Al-Quran

Begitu pentingnya melibatkan Allah dalam setiap rencana dan urusan kita. Jika Allah meridhoi, apapun bisa terjadi. Jika Allah menyertai, apapun akan diberi jalan terang. Jika Allah telah menolong, maka setiap rencana yang terasa sulit dan amat berat akan menjadi sangat mudah. Dan jika Allah telah menjamin, maka apabila suatu ketika rencana itu berjalan tidak semestinya pasti Allah tidak akan membiarkannya begitu saja. Ia akan menggantinya dengan lebih indah dan sempurna, karena Allah adalah sebaik-baik perancang dan perencana.

Wallahu a’lam.

Pengertian Kata Syukur dan Penggunaannya dalam Kehidupan Sehari-hari

0
Kata Syukur
Pengertian Kata Syukur

Kata syukur adalah kata yang sudah sangat populer di kalangan kita, baik di media masa elektronik, media masa cetak, maupun media-media lainnya. Kepopulennya disebabkan karena kata sudah menjadi bahasa baku bahasa Indonesia.

Kata syukur ini pada mulanya bukanlah milik atau lahir dari bahasa Indonesia sendiri, tetapi berasal dari kosa kata bahasa Arab. Tidak ada yang tahu sejak kapan kata ini digunakan di dalam bahasa Indonesia.

Tetapi yang jelas, kata ini digunakan setelah terjadi asimilasi budaya antara budaya Islam dan budaya Nusantara pada masa dahulu ketika Islam tersebar di Nusantara. Sudah tentu, bahwa yang menggunakan pada masa-masa awal itu adalah penganjur dan mubalig Islam, serta ulama yang menyebarkan agama Islam ketika itu.

Di samping kata syukur kita juga mengenal beberapa istilah yang terkait yaitu, kata “syukuran” dan “tasyakuran.” Keduanya juga berasal dari kata syukur. Kata “syukuran” diartikan dengan ucapan dan mengadakan selamatan untuk bersyukur kepada Tuhan, misalnya karena terhindar maut, terhindar dari penyakit, dan sebagainya. Kata “tasyakuran” tidak ditemukan di dalam KBBI. Ini berarti bahwa kata ini belum menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia.

Penggunaan kata syukur di dalam bahasa Indonesia seringkali dirangkaian dengan kata “alhamdulillah” sehingga susunannya menjadi “syukur al-hamdulillah.” Penggunaan seperti ini sudah sangat populer digunakan dalam bahasa sehari-hari, dalam bahasa pergaulan kita. Misalnya, “syukur al-hamdulillah” saya lulus dalam ujian dengan nilai cumlaude.

Penggunaan kata syukur juga seringkali dikaitkan dengan kata “puja dan puji” sehingga menjadi “puja dan puji syukur” seperti dalam kalimat yang sering kita ucapkan atua sering kita dengart dalam kalimat pembukaan acara. Misalnya ucapan yang berbunyi “Mari kita memanjaktkan puja dan puji syukur ke hadirat Allah Swt.”

Baca Juga: Tafsir Surat Ar-Rahman Ayat 10 -13: Syukurilah Nikmat Allah SWT, Jangan Sampai Mendustakannya

Mungkin juga kita tidak menggunakan kata syukur di dalam ucapan kita seperti ketika Anda ditanya tentang kabar Anda. “Bagaiman kabar Pak. Jawabnya: “Alhamdulillah.” Ucapan ini juga sudah menunjukkan “Syukur alhamdulillah.”

Kata syukur ini pada dasarnya berasal dari kata syukr (شكر) yang ada di dalam bahasa Arab. Kemudian digunakan di dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa baku. Dalam bahasa Indonesia (KBBI, h. 878) kata ini diartikan dengan dua arti, yaitu:

  1. Terima kasih kepada Allah, seperti dalam ungkapan: “Ia mengucapkan syukur kepada Allah karena terlepas dari marabahaya.”
  2. Untunglah (menyatakan lega, senang, dsb), seperti dalam ungkapan: “Untunglah suamiku tidak mengalami cedera di kecelakaan itu.”

Dari kata syukur ini (KBBI, h. 763) lahir berbagai bentuk kata yang lain, seperti “bersyukur, mensyukuri, dan syukuran.”

Bersyukur artinya berterima kasih; mengucap syukur, seperti dalam ungkapan: “Saya sangat bersyukur, dia terhindar dari bahaya.”

Mensyukuri, artinya mengucap terima kasih kepada; berterima kasih karena suatu hal; berselamatan untuk bersyukur kepada Tuhan (karena terhindar dari maut, sembuh dari penyakit, dsb), seperti dalam ungkapan: “Ibu itu membuat sebuah tumpeng untuk mensyukuri putrinya yang baru sembuh.” Syukuran, artinya ucapan syukur.

Secara bahasa (etimologi) kata syukr (شكر) di dalam bahasa Arab adalah bentuk kata dasar (mashdar) dari kata kerja syakara (شكر) – yasykuru (يشكر). Seliain kata ini, ada juga bentuk kata dasar yang lain, yaitu syukūran(شكورا) dan syukrānan (شكرانا).

Dalam pengertian kebahasaan ini, kata syukr (شكر) memiliki banyak arti, seperti 1) berterima kasih kepada (syakara al-rajul wa lahu), 2) Allah memberi kamu pahala (Syakara Allah sa’yaka), 3) memuji (syakara al-rajula).

Dari kata ini lahir beberapa bentuk kata yang lain, seperti syākir (شاكر), yang berarti ‘seseorang yang bersyukur’ yang bentuk jamaknya adalah syākirūn (شاكرون), yang berarti ‘orang-orang yang bersyukur. Lahir pula kata syakūr, yaitu salah satu dari sifat-sufat Allah swt. yang berarti ‘Yanga Maha Mensyukuri’.

Baca Juga: Mencontoh Spirit dan Doa Nabi Sulaiman dalam Mensyukuri Nikmat

Ada sejumlah pengertian syukur secara terminologi yang dikemukakan oleh para ulama. Al-Jurjani mengatakan bahwa syukur ialah suatu kebaikan untuk menerima nikmat, baik secara lisan, dengan tangan atau dengan hati.

Ada yang berpendapat bahwa pujian terhadap seseorang yang berbuat baik dilakukan dengan cara menyebut/mengingat kebaikannya. Seorang hamba disebut bersyukur kepada Allah berarti dia memuji kepadanya dengan mengiongat kebajikannya yang merupakan nikmat, dan Allah mensyukuri seorang hamba yaitu dengan menerima kebajikan manusia karena ketaatannya kepada Allah (kitab al-Ta’rifat, h. 128).

Syukur, menurut al-Jurjani, terbagi atas dua macam, yaitu 1) al-syukr al-lughawi (syukur secara kebahasaan), dan 2) al-syukr al-‘urfi. Al-syukr al-lughawi ialah ungkapan tentang sesuatu yang baik (indah) terhadap sesuatu yang mulia terhadap nikmat, baik secara lisan, maupun secara badaniah.

Al-Syukr al-lughawi ialah sikap seorang hamba Allah terhadap semua hal yang diberikan oleh Allah sebagai nikmat yang telah dianugerahkan Allah swt, seperti pendengaran, penglihatan, dan lain-lainnya terhadap segala apa yang diciptakan Allah swt. Al-syukr al-lughawi lebih bersifat umum, sedangkan al-syukr al-‘urfi lebih khusus (kitab al-Ta’rifat, h. 128).

Surat Yunus [10] Ayat 6: Refleksi Pergantian Tahun

0
Pergantian Tahun
Pergantian Tahun

Pergantian tahun merupakan momen yang sangat dinantikan oleh sebagian masyarakat dunia. Biasanya, pergantian tahun akan dirayakan dengan berbagai macam cara, mulai dari sekedar doa dan harapan hingga perayaan-perayaan yang memakan biaya besar. Itu semua adalah ekspresi kegembiraan, kesedihan, kekecewaan atas tahun yang dilalui serta harapan kebaikan pada tahun yang akan datang.

Bagi masyarakat dunia khususnya di Indonesia, pergantian tahun dijadikan sebagai sarana merefleksikan  dan mengintrospeksikan diri terkait peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di tahun sebelumnya. Kemudian, pergantian tahun juga dijadikan sebagai langkah awal untuk menjadi lebih baik dan lebih produktif di tahun selanjutnya.

Di Indonesia, biasanya menjelang pergantian tahun terjadi diskursus rumit tentang hukum merayakan tahun baru sebagaimana diskursus mengucapkan selamat natal. Kelompok pertama menyatakan bahwa tidak boleh merayakan tahun baru dengan berbagai atributnya karena mengikuti kebudayaan orang kafir. Sebaliknya, kelompok kedua menyatakan bahwa tidak mengapa merayakan tahun baru dengan berbagai tindakan positif ataupun dalam rangka muhasabah diri.

Terlepas dari perdebatan itu, penulis berkeyakinan bahwa setiap pergantian waktu, detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun adalah fenomena yang wajar ditemui. Jika pergantian tahun dapat menjadi sarana bertadabbur dan berfikir, maka tak salah untuk sekedar diperingati selama tidak diisi dengan perbuatan yang melanggar norma agama. Dalam konteks ini, pergantian tahun adalah salah satu dari ayat-ayat Allah swt bagi manusia.

Pergantian waktu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah swt

Dalam Al-Qur’an, Allah swt sering kali menyebutkan perilhal waktu dan semisalnya untuk menjelaskan sesuatu yang dianggap penting (misalnya, wal ashr yakni demi masa). Karena pada hakikatnya, waktu adalah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia. Hanya saja mereka sering mengabaikan atau lalai terhadapnya. Manusia baru menyesal manakala waktu sudah terbuang sia-sia dan tak mungkin kembali lagi.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai waktu adalah surat Yunus [10] ayat 6. Firman Allah swt:

اِنَّ فِى اخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا خَلَقَ اللّٰهُ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَّقُوْنَ ٦

Sesungguhnya pada pergantian malam dan siang dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, pasti terdapat tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Yunus [10] ayat 6).

Menurut Quraish Shihab, ayat ini menegaskan bahwa: sesungguhnya pada pergantian, yakni perputaran bumi pada porosnya yang mengakibatkan terang dan gelap dan perbedaan baik dalam panjang maupun pendeknya waktu malam dan siang dan juga pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, baik fenomena alam maupun makhluk di dalamnya, benar-benar terdapat tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah swt bagi orang-orang yang bertakwa.

Penyebutan kata malam terlebih dahulu pada ayat ini – menurut sebagian ulama – menandakan bahwa kegelapan terwujud terlebih dahulu sebelum wujud cahaya (makhluk). Kemudian Allah swt dengan anugerah-Nya menerangi secara material dan spiritual makhluk-makhluk dalam semesta, termasuk perjalanan hidup manusia. Sebab tanpa penerangan dari-Nya, manusia akan hidup dalam kegelapan seutuhnya.

Kalimat ikhtilaf al-laili wa al-nahari dapat diartikan sebagai perbedaan atau pergantian malam dan siang. Bila dipahami dalam arti perbedaan, maka ini mengisyaratkan bahwa malam dan siang adalah dua cahaya yang masing-masing memiliki keistimewaan. Perbedaan keduanya merupakan salah satu gejala alam di mana setiap makhluk tak mampu mengelaknya. Adapun ikhtilafi dalam arti pergantian, maka ini disebabkan oleh rotasi bumi pada porosnya.

Selanjutnya, pada surat Yunus [10] ayat 6 Allah swt juga mengaskan bahwa pergantian siang dan malam serta berbagai ciptaan yang ada di langit dan di bumi merupakan tanda-tanda-Nya bagi orang yang bertakwa. Hal ini menandakan bahwa pergantian waktu, siang dan malam ataupun pergantian tahun adalah fenomena yang harus direnungi dalam rangka mentadabburi ayat-ayat Allah swt. Mereka yang mampu melakukannya adalah orang-orang yang bertakwa.

Melalui surat Yunus [10] ayat 6, kita dapat belajar dan memahami bahwa pergantian waktu – termasuk pergantian tahun – adalah fenomena alam yang Allah swt ciptakan untuk keteraturan alam dan juga untuk direnungi oleh manusia sebagai makhluk beriman serta sebagai tujuan hidup mereka. Dengan perenungan tersebut, manusia akan semakin yakin dan mengenal Sang Maha Pencipta lebih jauh guna beribadah kepada-Nya.

Dengan demikian, pergantian tahun atau tahun baru adalah satu hal dari sekian banyak hal yang patut manusia renungkan. Ini adalah momentum untuk mengevaluasi diri terkait apa yang telah dilakukan selama ini, apa saja yang kurang dan harus diperbaiki sebagai seorang hamba dan manusia. Kemudian, kita juga harus merancang dan memperbaiki berbagai hal yang kurang sempurna di masa lalu agar menjadi lebih baik lagi.

Pergantian tahun dapat menjadi momentum kebangkitan seseorang dalam hidup, baik itu berkenaan dengan pekerjaan, keluarga, pendidikan maupun ibadah sebagai bagian terpenting hidup. Jangan sampai kita membuat pergantian tahun menjadi titik awal keburukan dan titik terjauh dari Allah swt. Selain itu, pergantian tahun semestinya diisi dengan berbagai hal positif, bukan sebaliknya. Semoga pergantian tahun menjadi langkah awal kita menjadi baik guna menebar kebaikan. Aamiin.

Tafsir Surat Yasin ayat 30-31: Hikmah dari Kisah Terdahulu

0
Yasin Ayat 30-31
Surat Yasin Ayat 30-31

Pembahasan sebelumnya telah mengulas bagaimana kaum Antokiah akhirnya dibinasakan oleh  Allah cukup dengan sekali teriakan, mereka pun mati seketika. Tanpa perlu menurunkan bala tentara-Nya untuk menyiksa kaum tersebut. Ini sebagai bentuk kehinaan kepada kaum yang congkak padahal mereka begitu kerdil dihadapan Allah. Tulisan kali ini akan mengulas tafsir surat Yasin ayat 30-31 tentang kisah-kisah terdahulu yang bisa diambil hikmahnya. Allah berfirman:

يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ

اَلَمْ يَرَوْا كَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِّنَ الْقُرُوْنِ اَنَّهُمْ اِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُوْنَ

  1. Alangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu, setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya.
  2. Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tidak ada yang kembali kepada mereka.

Secara umum dua ayat ini menyinggung orang-orang yang mengolok-olok para utusan Allah Swt dan ending-nya akan menyesal di akhirat. Seharunya mereka belajar kepada kaum-kaum terdahulu yang telah dibinasakan karena kasus yang sama, dan menyadari kalau mereka itu tidak bisa kembali untuk menebus kesalahannya.

Menurut al-Wahidi kata hasratan menunjukkan penyesalan yang besar bagi setiap hamba, dan penyesalan ini akan dirasakan kelak di akhirat. Penyesalan yang dimaksud adalah hadirnya para utusan yang membawa risalah saat didunia, namun mereka cemoohi, acuhi, bahkan mereka ingkari, sebagaimana dikutip dari Ibnu Kathir.

Terkait kata ini, ada dua riwayat yang dinukil oleh Thabari dalam tafsirnya, pertama riwayat dari Qatadah, ia berpendapat bahwa perkara yang mereka sesali adalah menelantarkan perintah-perintah Allah. Sedangkan riwayat kedua dari Mujahid, bahwa penyesalan mereka adalah mengolok-olok para utusan-Nya.

Quraish menyebut huruf ya’ yang menyertai kata tersebut berfungsi sebagai pengundang mitra bicara, yang dalam konteks ayat ini adalah ‘Ibad (hamba-hamba). Seyogyanya sebagai hamba mereka harus menyambut panggilan/seruan ilahi yang dibawa oleh para Rasul, namun mereka malah menampiknya, maka wajar apabila mereka merasa sangat menyesal.

Menurut Thabari ayat 31 ditujukan kepada kaum kafir era Nabi Muhammad, dimana Allah ingin menyatakan kepada mereka agar mau mengambil pelajaran dari nenek moyang mereka yang telah diazab terlebih dahulu.

Terlebih lagi kata kam ahlakna menurut Ibnu ‘Ayur menujukkan makna jumlah al katsrah, yakni sudah banyak peristiwa serupa terjadi pada masa lampau, seperti yang terjadi pada kaum ‘Ad, Tsamud, dan sebagainya.

Namun Zuhaili menilai ayat ini tidak hanya berfokus pada era Nabi Muhammad, menurutnya kata al-Qurun dalam ayat ini bermakna al-umam yang berarti umat-umat. Ini mengindikasikan bahwa ayat ini tidak hanya ditujukan – sebagai pelajaran – kepada orang kafir dimasa Nabi, namun juga kepada generasi-generasi setelahnya (sampai sekarang) agar tidak lupa terhadap sejarah umat masa lalu yang telah diceritakan al-Quran sehingga dapat mengambil pelajaran darikisah tersebut.

Sedangkan kata yarji’un berasal dari akar kata ra-ja-‘a, yang berarti kembali. Zamakshyari memahami kata ini secara utuh sebagai kesatuan ayat bahwa, tidakkah mereka menyadari betapa banyak kami sudah membinasakan kaum-kaum yang ingkar dari tiap generasi (umat) sebelum mereka dan kondisi mereka tidak bisa kembali kepada para Rasul itu.

Zamakhsyari juga menegaskan bahwa ayat ini sekaligus menjadi argumen untuk ahl raj’ah, yakni kaum yang menganggap adanya hari kebangkitan sebelum terjadinya kiamat. Mufassir lain seperti Wahbah Zuhaili dan Ibnu katsir menyebut kaum ini dengan al-Duhriyyah, yang merujuk pada firman Allah dalam QS. al-Jissiyah: 24:

وَقَالُوْا مَا هِيَ اِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوْتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَآ اِلَّا الدَّهْرُۚ وَمَا لَهُمْ بِذٰلِكَ مِنْ عِلْمٍۚ اِنْ هُمْ اِلَّا يَظُنُّوْنَ

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” Tetapi mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu, mereka hanyalah menduga-duga saja.

Adapun al-Biqa’i cenderung memahami kata yarji’un dalam arti bertaubat atas kedurhakaan mereka dan kembali kejalan yang benar dengan mengikuti para Rasul. Menurutnya, kata yarji’un ini mirip dengan ayat dalam QS. as-Sajdah: 21 ;

وَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Dan pasti Kami timpakan kepada mereka sebagian siksa yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat); agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Demikianlah ringkasan tafsir surat yasin ayat 30-31. Nantikan edisi tafsir surat Yasin selanjutnya. Wallahu a’lam.

Pengkaji Al-Quran Kontemporer: Abdullah Saeed, Pencetus Hermeneutika Kontekstual Al-Quran

0
abdullah saeed
Abdullah Saeed (unimelb.edu.au)

Teks Al-Quran boleh berhenti, akan tetapi penafsiran Al-Quran haruslah terbuka sehingga ia dapat dikatakan shalih li kulli zaman wa makan. Kira-kira demikianlah yang ada di benak cendekiawan Muslim dan berusaha mencarikannya sebuah problem solving guna menyikapi problematika yang terjadi masyarakat Muslim.

Sebut saja, misalnya, Fazlur Rahman dengan hermeneutika double movement-nya, Hassan Hanafi dengan hermeneutika sosial-nya (al-manhaj al-ijtima’i fi at-tafsir), Nasr Hamid Abu Zaid dengan hermeneutika inklusif-nya, Husein Muhammad dengan hermeneutika feminis-nya, Muhammad Syahrur dengan teori the limit-nya, Abdullah Saeed dengan hermeneutika kontekstual-nya (contextual approach), dan sebagainya.

Pada pembahasan kali ini kita akan fokus pada Abdullah Saeed, penggagas hermeneutika kontekstual. Saeed dalam Islamic Thought: An Introduction, menyebut kelompok intelektual di atas sebagai the progressive-ijtihadist, yaitu para cendekiawan kontemporer yang berupaya “menafsir ulang” ajaran agama sesuai konteks kekinian. Saeed sendiri concern pada kajian penafsiran Al-Quran. Hal ini terlihat dari karyanya baik dalam bentuk buku maupun artikel jurnal yang akan kita ulas berikut ini.

Biografi dan Perjalanan Intelektual

Abdullah Saeed lahir di Maldives, pada 25 September 1964. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di sebuah kota bernama Meedhoo, sebuah kota yang merupakan bagian dari kota Addu Atoll. Ia adalah keturunan suku bangsa Arab Oman yang bermukim di Maldives.

Setelah menginjak dewasa, untuk kepentingan studi atau rihlah keilmuan, pada tahun 1977, ia hijrah ke Arab Saudi untuk menuntut ilmu. Perjalanan intelektualnya diawali dengan belajar Bahasa Arab di Institute of Arabic Language di Saudi Arabia. Ia kemudian lulus dan mengantongi gelar BA pada tahun 1977. Tidak cukup berbekal BA, Abdullah Saeed masih “haus” keilmuan, kemudian ia memutuskan untuk melanjutkan kembali pendidikannya ke program master dan Ph.D nya di bidang applied linguistic untuk master-nya dan Ph.D-nya dalam bidang Islamic Studies di The University of Melbourne, Australia.

Baca juga: Mengenal Toshihiko Izutsu, Poliglot Asal Jepang, Pengkaji Semantik Al-Quran

Setelah Ph.D, ia kemudian menjadi dosen di University of Melbourne pada tahun 1993 pada fakultas Department of Asian Languages and Anthropology. Atas dedikasinya sebagai cendekiawan muslim, ia mendapat pengharfaan dari Sultan Oman sebagai Professor Bidang Bahasa Arab dan Islamic Studies 2003. Meski demikian, ia tetap mendedikasikan dirinya untuk berkhidmah sebagai Direktur Center for the Study of Contemporary Islam di Universitas Melbourne, Australia.

Di tempat mengabdinya itu, Saeed mengampu beberapa mata kuliah seperti Studi Arab dan Islam pada program S1, S2 dan S3, Great Texts of Islam: Qur’an, Muslim Intellectuals and Modernity, Great Empires of Islamic Civilization, Islamic Banking and Finance, Qur’anic Hermeneutics. Methodologies of Hadith, Methods of Islamic Law, Islam and Human Rights, dan Islam and Muslim in Australia, dan materi kuliah keislaman lainnya.

Abdullah Saeed memiliki kepribadian dan karakter yang kuat. Ia dikenal sebagai sosok yang humanis, ramah dan no profile. Wawasannya tentang keislaman dan Al-Quran sangatlah luas serta profesional dan konsisten terhadap kajian keilmuannya. Selain menjadi dosen, Saeed aktif di beberapa organisasi sosial-kemasyarakatan termasuk juga pengabdian masyarakat, misalnya ia perna terlibat dalam dialog interfaith (Islam-Kristen dan Islam-Yahudi), menjadi pemimpin komunitas Muslim di Australia.

Di samping itu, Saeed juga tergabung dalam Asosiasi Profesor Asia Institute pada Universitas Melbourne dan Akademi Agama Amerika. Tidak hanya itu, ia juga menjadi editorial jurnal skala internasional seperti Jurnal Studi Al-Quran di Inggris, Studi Islam di Pakistan, dan Jurnal Arab, Islam and Middle East di Australia.

Mengutip dari Lien Iffa Naf’atu Fina dalam Interpretasi Kontekstual Abdullah Saeed; Sebuah Penyempurnaan Terhadap Gagasan Tafsir Fazlur Rahman, Saeed telah membangun pondasi studi Islam yang kuat di Australia khususnya Universitas Melbourne. Sejak itu, program Islamic Studies berkembang pesat. Prestasi ini kemudian mengorbitkan nama Abdullah Saeed menjadi pakar studi Islam terkemuka, kalau bukan satu-satunya yang terbaik di Australia.

Baca juga: Massimo Campanini; Pengkaji Al-Quran Kontemporer dari Italia

Karya-Karya

Saeed merupakan professor yang produktif. Karya-karyanya baik buku maupun artikel jurnal banyak diterbitkan mulai tingkat lokal hingga internasional. Karya lebih lengkap bisa anda lihat di laman web miliknya pada Universitas Melbourne. Berikut beberapa karyanya,

Yang menarik dari perjalanan intelektual Saeed adalah pergumulannya dalam dua corak atau iklim intelektual antara keilmuan Timur Tengah (tepatnya Arab Saudi yang populer akan pemahaman fundamental, tekstualis) dan keilmuan Barat (dalam hal ini adalah Australia, yang terkenal liberal-rasional) menjadikannya sebagai pakar di bidang keduanya. Sehingga ia memiliki sumber daya intelektual yang kaya akan dua tradisi keilmuannya dan meraciknya dalam komposisi yang “pas” atau objektif. Wallahu A’lam.

Fadhilah Taubat dalam Al-Quran: Menghapus Dosa dan Membuka Pintu Rezeki

0
Fadhilah taubat dalam Al-Quran
Fadhilah taubat dalam Al-Quran

Jumlah istighfar yang dianjurkan Rasulullah kepada umatnya dalam sehari tak kurang dari 70 kali, karena itu dapat menghapuskan dosa sebanyak 700 jenis sebagaimana hadis riwayat Anas bin Malik. Ini menandakan bahwa manusia memang gudangnya salah dan dosa. Namun, ampunan Allah akan selalu terbuka kepada manusia dengan syarat jika ia mau bertaubat. Bertaubat bahkan sangat dianjurkan oleh Allah sebagaimana firman-Nya dalam surah Az-Zumar ayat 53. Selain dalam surah Az-Zumar ayat 53 sebenarnya Allah juga banyak menyinggung masalah taubat tersebut bahkan memberikan isyarat mengenai fadhilah taubat seperti dalam surah Nuh ayat 10-12, dan surah Hud ayat 3 dan 52.

Taubat dapat menghapus dosa sebanyak apapun

Anjuran Allah mengenai taubat banyak sekali disebutkan dalam Al-Quran, seperti dalam surah As-Syu’ara ayat 25:

وَهُوَ الَّذِي يقْبَلُ التوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيعْلَمُ مَا تفْعَلُونَ

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Baca juga: Tuntunan Al-Quran dalam Melaksanakan Tahapan Taubat dari Dosa-Dosa

Kemudian dalam surah Az-Zumar ayat 53:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-‘Adhim menyampaikan bahwa ayat tersebut mengabarkan seruan kepada setiap orang yang berbuat maksiat seperti kekafiran dan lainnya untuk segera bertaubat kepada Allah. Ibnu Katsir juga menjelaskan bahwa setiap dosa akan diampuni Allah, dan jangan pernah sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah, karena pintu rahmat dan taubat Allah terbuka lebar.

Baca juga: Inilah 4 Doa Taubat Para Nabi dalam Al-Quran

Dalil-dalil taubat sebagaimana ayat-ayat di atas dan banyak tersebar di ayat-ayat lain dalam Al-Quran mengindikasikan betapa pentingnya perilaku taubat bagi manusia. Dosa yang dilakukan manusia seburuk apapun dan sebesar apapun akan diampuni dengan taubat sebagaimana yang disampaikan Ibnu Katsir, “meskipun dosa-dosa tersebut sangatlah banyak bagaikan buih di lautan”. Rasulullah juga menjelaskan fadhilah taubat dalam sebuah hadis “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menyeru dan mengharap pada-Ku, maka pasti Aku ampuni dosa-dosamu tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya dosamu membumbung tinggi hingga ke langit, tentu akan Aku ampuni, tanpa Aku pedulikan. Wahai anak Adam, seandainya seandainya engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi dalam keadaan tidak berbuat syirik sedikit pun pada-Ku, tentu Aku akan mendatangi-Mu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR At-Tirmidzi)

Taubat membuka jalan rezeki

Fadhilah taubat yang lain ternyata tidak hanya dapat menghapuskan dosa-dosa dan kehilafan, melainkan juga mengundang rahmah Allah yaitu berupa nikmat rezeki. Ayat-ayat yang menyandingkan kaitan taubat dan rezeki salah satunya dalam surah Hud ayat 3:

وَأَنِ ٱسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُم مَّتَٰعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِى فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِن تَوَلَّوْا فَإِنِّى أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يوْمٍ كَبِيرٍ

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.”

Baca juga: Ibrah Kisah Nabi Daud: dari Taubat hingga Manajemen Ibadah

Ayat tersebut sebagaimana diterangkan oleh Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Quran adalah janji Allah kepada makhluknya yang mau beristighfar dan bertaubat. Allah akan memberikan kenikmatan kepada siapa saja dengan berbagai manfaat kelapangan rezeki dan kemakmuran hidup. Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-‘Adhim menerangkan bahwa perintah Allah kepada manusia untuk beristighfar agar menghapuskan dosa-dosa yang lalu. kemudian Allah juga memerintahkan manusia bertaubat untuk masa yang akan mereka hadapi nanti. Ketika seseorang telah memiliki sifat dan terbiasa seperti ini maka menurut Ibnu Katsir Allah akan memudahkan rezekinya, melancarkan urusannya, dan menjaga keadaannya.

Al-Khazin dalam Tafsir Lubab al-Ta’wil fi Ma’ani al-Tanzil menuturkan satu cerita mengenai Hasan Al-Basri yang selalu dimintai solusi oleh orang-orang. Setdaknya, terdapat 4 masalah yang solusinya diberikan sama oleh Hasan Al-Basri, yaitu dengan beristighfar dan bertaubat. Dalam kitab yang juga akrab disebut Tafsir Al-Khazin ini menyebutkan pengaduan pertama mengaai kegersangan bumi, maka Hasan Al-Basri mengatakan “Beristighfarlah kepada Allah!”. Orang kedua mengadu akan kemiskinan yang ia hadapi, Hasan Al-Basri pun berkata “Beristighfarlah kepada Allah!”.

Pengaduan ketiga meminta didoakan agar mendapatkan anak, maka Hasan Basri pun mengatakan “Beristighfarlah kepada Allah!”. Kemudian pengaduan keempat adalah perihal kekeringan yang terjadi di kebunnya, lantas Hasan Al-Basri pun kembali mengatakan “Beristighfarlah kepada Allah!”. Dalam Tafsir Al-Khazin Hasan Basri juga menjelaskan bahwa solusi sama yang ia berikan atas perkara-perkara tersebut bukanlah atas dasar perkataanya semata, melainkan merujuk dalil surah Hud ayat 3 dan 52 serta sunnah sahabat yang dilakukan Umar bin Khattab.

Baca juga: Tafsir Surat Hud Ayat 3: Raih Kebahagiaan dengan Beristighfar

Fadhilah taubat dan istighfar memanglah besar. Selain dapat merontokkan dosa sebagaimana fungsi aslinya, buah istighfar dan taubat adalah limpahan rezeki dari Allah. Salah satu hijab yang menghalangi turunnya rahmah dari Allah adalah diri yang kotor yang penuh dosa dan maksiat. Sedangkan ketika seseorang bertaubat dengan taubat nasuha, maka dirinya akan kembali bersih dan kembali mendapatkan kasih sayang Allah. Dan ketika Allah telah memberikan kasih sayang-Nya, maka tidak akan ada yang bisa menghalangi turunnya rahmah-Nya yang luar biasa berupa rezeki dan kenikmatan, baik lahiriyah maupun bathiniyah. Wallahu a’lam[]

Pengertian dan Penyebab Datangnya Musibah Menurut Al-Quran

0
penyebab datangnya musibah
Penyebab datangnya musibah dalam Surat As-Syura Ayat 30

Secara etimologi kata musibah berasal dari bahasa Arab ashaba-yushibu-ishabatan yang memiliki banyak makna, diantaranya: ashaba al-gard (mengenai sasaran), ashabathu al-ni‘amat (memperoleh atau mendapatkan nikmat), ashaba min al-mal (mengambil sebagian dari harta). Selain itu, musibah juga bermakna ashabathu al-mushibah, yakni musibah telah menimpanya. Dengan demikian, makna musibah pada konteks tertentu bisa jadi bencana atau malapetaka.

Ragib al-Ashfahani berkata, “Kata ashaba bisa digunakan untuk hal yang baik dan hal yang buruk sebagaimana firman Allah swt dalam surat at-Taubah [9] ayat 50, “Jika engkau (Muhammad) mendapat kebaikan, mereka tidak senang; tetapi jika engkau ditimpa bencana, mereka berkata, “Sungguh, sejak semula kami telah berhati-hati (tidak pergi berperang),” dan mereka berpaling dengan (perasaan) gembira.”

Pada ayat di atas, kata ashaba digunakan untuk hal baik dan hal buruk, yakni kebaikan dan musibah. Dari sini kita dapat memahami bahwa secara umum kata ashabai digunakan untuk menerangkan sesuatu yang didapatkan manusia, baik ataupun buruk. Jika subjeknya baik, maka makna musibah yang dimaksud adalah mendapatkan kebaikan, begitu pula sebaliknya.

Sementara kata ‘musibah’ menurut Ragib al-Ashfahani pada mulanya digunakan untuk hal-hal berkenaan dengan melempar ‘ramyatun mushibatun’ (lemparan yang tepat sasaran). Namun, kata musibah secara sosiologis sering digunakan – hanya – terbatas pada sesuatu bencana atau malapetaka yang menimpa manusia atau sesuatu yang ttidak disenangi.  Dalam kamus Mu‘jam al-Wasith misalnya, makna musibah adalah sebagai segala sesuatu yang tidak disenangi manusia.

Menurut Muhammad Sayyid Thanthawi, musibah merupakan isim fa’il dari ishabah yakni kepedihan yang datang pada diri seseorang disebabkan karena suatu bencana yang menimpanya. Sementara menurut Abu Hayyan, makna musibah adalah segala kepedihan atau kesedihan yang menimpa manusia, baik itu pada diri, harta, ataupun keluarga, baik kesedihan berskala kecil maupun besar (al-Bahru al-Muhith).

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwasanya makna musibah di masyarakat mengalami penyempitan makna. Pada konteks saat ini, makna musibah sering dipahami sebagai suatu keburukan, malapetaka, dan bencana yang menimpa manusia atau sesuatu yang menimpa manusia sementara ia tidak menginginkannya. Pemaknaan ini sebenarnya tidak salah, Al-Qur’an juga menyebutkan demikian berkenaan dengan kata musibah dalam konteks tertentu.

Penyebab Datangnya Musibah Menurut Al-Qur’an

Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa ada berbagai macam musibah atau malapetaka yang akan menimpa manusia selama hidupnya, seperti bencana alam (gempa, air bah, badai, dan halilintar), kematian, kefakiran (kelaparan, ketakutan, kekurangan harta dan bahan pangan) dan sebagainya. Selain itu, Al-Qur’an juga menerangkan bahwa semua musibah itu ada penyebabnya, yakni Allah swt sebagai Prima Causa.

Hal ini Allah firmankan dalam surat al-Hadid ayat 22 yang berbunyi:

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ ٢٢

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid ayat 22).

Menurut as-Sa’adi, ayat di atas adalah pernyataan secara umum bahwa  penyebab datangnnya musibah yang menimpa manusia baik itu kebaikan ataupun keburukan, semuanya telah ditetapkan oleh Allah swt. Jadi, tidak ada manusia yang mampu menolak dan menentangnya. Manusia hanya bisa bersyukur apabila mendapatkan kebaikan, dan tabah serta sabar manakala mendapatkan keburukan.

Surat al-Hadid ayat 22 merupakan ajaran Allah swt tentang tauhid kepada manusia, bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa hadir karena kehendak-Nya. Tidak ada sesuatu yang muncul sendirinya ataupun ada secara tiba-tiba. Allah swt ingin menegaskan bahwa Dia adalah Sang Prima Causa dari eksistensi semesta, termasuk semua perjalanan sejarah manusia. Dengan demikian, makatak layak jika seseorang menganggap apa yang didapatkannya murni merupakan hasil kerja kerasnya.

Namun pada ayat yang lain, yakni surat as-Syura ayat 30, Allah swt juga menerangkan bahwa tindakan manusia juga berperan dalam proses datangnya musibah. Firman-Nya:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ ٣٠

Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. as-Syura ayat 30).

Pada ayat ini Allah swt menegaskan bahwa segala macam penyebab datangnya musibah yang menimpa manusia itu adalah perbuatan tangan mereka sendiri. Dia hanya memberikan apa yang pantas manusia dapatkan. Jika ayat ini dibandingkan dengan surat al-Hadid ayat 22, maka seakan-akan Allah swt memberitahu kepada manusia bahwa Dia adalah Sang Prima Causa, namun tindakan mereka juga memberi andil terhadap musibah yang menimpa mereka.

Dengan kata lain, meskipun musibah hakikatnya merupakan ketetapan Allah swt, namun pada saat bersamaan itu juga merupakan buah dari perbuatan manusia, baik ataupun buruk. Dalam konteks ini, manusia berarti diperintahkan untuk senantiasa melakukan perbuatan baik, karena itu dapat mendatangkan dampak yang baik pula. Sebaliknya, manusia diperintahkan untuk meninggalkan perbuatan buruk, karena itu mendatangkan dampak yang buruk pula seperti musibah.

Ayat ini secara tidak langsung juga memerintahkan manusia untuk mengintrospeksi segala perbuatan yang telah dilakukan. Jika kita banyak melakukan kebaikan, maka ditambah. Sebaliknya, jika kita banyak melakukan kesalahan, maka sebaiknya kita bertaubat dari segala perbuatan buruk dan tidak mengulanginya agar tidak mendapatkan musibah sebagai peringatan.

Meskipun secara tegas pada surat as-Syura ayat 30 diterangkan bahwa penyebab datangnya musibah adalah perbuatan manusia sendiri, namun bukan berarti kita boleh menuduh orang yang ditimpa musibah pantas mendapatkannya berkat dosa-dosanya atau perkataan semisal. Sebab kita (manusia) tidak mengetahui apakah musibah tersebut merupakan  peringatan terhadap dosa atau cobaan dari Allah untuk meninggikan derajatnya.

Karena itulah, Allah swt dalam surat Fathir ayat 45 mengingatkan manusia agar tidak merasa suci dan merasa paling benar, firman-Nya:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللّٰهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوْا مَا تَرَكَ عَلٰى ظَهْرِهَا مِنْ دَاۤبَّةٍ وَّلٰكِنْ يُّؤَخِّرُهُمْ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ فَاِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِعِبَادِهٖ بَصِيْرًا ࣖ ٤٥

Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini, tetapi Dia menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang sudah ditentukan. Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.”

Melalui ayat di atas, Allah swt ingin mengingatkan manusia bahwa mereka semua berpotensi mendapatkan musibah atau azab atas perbuatan mereka tanpa terkecuali. Hanya saja, Dia menangguhkan atau memaafkan perbuatan buruk tersebut (baca surat as-Syura ayat 30). Namun jika ajal atau waktunya telah tiba, maka manusia akan menghadap Allah swt untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Wallahu a’lam.

Mengenal Tiga Kitab Tafsir Berdasarkan Tartib Nuzuli

0
Tiga Kitab Tafsir Berdasarkan Tartib Nuzuli
Tiga Kitab Tafsir Berdasarkan Tartib Nuzuli

Selama ini kita sangat familiar model kitab tafsir berdasarkan tartib mushafi. Susunan ini mengikuti urutan mushaf Utsmani yakni dari surat Al-Fatihah sampai surat Al-Nas. Namun, seiring berkembangnya zaman, ulama tafsir pun menyajikan pola tafsir baru yang berdasarkan pada tartib nuzuli. Sebuah susunan yang mengedepankan rentetan turunnya surah-surah Al-Qur’an. Dengan begitu, tafsir seperti ini diawali dengan surat Al-Alaq.

Di Indonesia, kajian mengenai tafsir nuzuli semakin marak. Salah satu peneliti yang getol membahas tafsir nuzuli adalah Aksin Wijaya. Peneliti tafsir produktif ini telah melahirkan karya dengan judul Sejarah Kenabian dalam Perspektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzat Darwazah. Aksin menyebut tafsir nuzuli merupakan salah satu upaya untuk menghadirkan sejarah kenabian berbasis Al-Qur’an. Hal ini sebagai pembacaan alternatif atas sikap sebagian sarjana barat yang menganggap literatur tarikh, hadis, dan sirah Nabi tidak mampu mengakomodir catatan kehidupan Nabi Muhammad.

Baca juga: Serial Diskusi Tafsir 4 Menghadirkan Aksin Wijaya dan Wardatun Nadhiroh

Selain itu, KH. Afifuddin Dimyati (Gus Awis) menyebut bahwa tafsir nuzuli merupakan upaya ulama untuk menghasilkan makna kontekstual ayat-surah secara kronologis sesuai dengan dakwah kenabian. Dengan begitum sejarah ayat dan dakwah nabi akan dipahami dengan baik dan diharapkan mampu mengatasi problem masyarakat.

Baca juga: Gus Awis: Ulama Muda, Pakar Sastra dan Tafsir Al-Qur’an yang Produktif dari Indonesia

Kemudian, kitab-kitab tafsir seperti ini menarik perhatian Gus Awis dan memasukkannya dalam katalog tafsir ‘Babon’ yang berjudul Jam’ul Abiir.  Di antara kitab-kitab tafsir nuzuli itu ada tiga:

  1. At-Tafsir Al Hadits karya Muhammad Izzat Darwazah

Secara personal, Izzat Darwazah lahir pada tahun 1888 M. dan meninggal pada tahun 1984 M. Ia merupakan seorang cendekiawan, sastrawan, penerjemah, politikus, dan mufassir asal Nablus Palestina di zaman Ottoman dan ia meninggal di Damaskus Syria. Tercatat ia piawai bahasa Arab, Inggris, Turki, dan Prancis, sehingga ia turut mengikuti berbagai percaturan politik di negaranya. Ia termasuk penulis yang produktif dan berhasil menulis 30-an karya, salah satunya adalah At-Tafsir Al-Hadis.

At-Tafsir Al-Hadis merupakan kitab tafsir yang dicetak sebanyak 12 jilid. Kitab ini termasuk pionir tafsir nuzuli yang ditulis dengan analisa mendalam (tahlili). Dengan analisanya, Izzat Darwazah mengombinasikan sumber tafsir dari berbagai riwayat (bil ma’tsur) dengan pemikirannya (bil-ra’yi). Selain itu, tafsir ini secara detail membahas hal-hal yang besar maupun kecil, asbabun nuzul, kata-akata asing, hingga nasakh-mansukhnya. Karena ditulis dengan pendekatan kronologis, Izzat Darwazah menghadirkan suasanan pewahyuan bagi para pembacanya.

  1. Ma’arij al-Tafakkur wa Daqaiq al-Tadabbur karya Abdurrahman Hasan Habannakah Al Maidani

Syekh Habannakah lahir di Syria pada tahun 1345 H./1926 M. dan meninggal pada 1425 H./ 2004 M. ia mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar namun menjadi dosen di berbagai kampus, seperti Universitas Imam Muhammad bin Saud Riyadh, dan Universital Ummul Quro Makkah. Sebelum menysusu kitab tafsir Ma’arij al-Tafakkur wa Daqaiq al-Tadabbur, ia terlebih dulu menuliskan kaidah-kaidah penafsiran dengan judul Al-Qawaid al-Amtsal litadabburi kitabillah.

Ma’arij al-Tafakkur wa Daqaiq al-Tadabbur ini, disusun berdasarkan kitab kaidahnya. Kemudian selama meyusun tafsirnya, ia merujuk pada urutan kronologis turunnya surah yang ada dalam mushaf Syekh Muhammad Ali Kholaf al Husaini al Mashri. Ia berusaha menghadirkan makna-makna ayat sejalan dengan tema sentral surah yang menghimpunnya.

Kitab ini dicetak cukup tebal dengan 15 jilid yang komperehensif. Syekh Habannakah memberikan sentuhan kebahasaan, qiraat, dan riwayat-riwayat penafsirannya. Yang menarik menurut catatan Gus Awis adalah, kitab ini menampilkan tema dan pelajaran dari masing-masing ayat, sehingga selain berfungsi sebagai tafsir, kitab ni cocok untuk tadabbur.

Baca juga: Sababun Nuzul Mikro dan Makro: Pengertian dan Aplikasinya

  1. Fahmul Qur’an al-Hakim karya Muhammad Abid Al-Jabiri

Muhammad Abid Al-Jabiri merupakan tokoh pembaharu dalam bidang kajian dan pemikiran Islam. Bukunya yang terkenal adalah Kritik Nalar Arab yang ditulis hingga 4 seri. Ia lahir pada tahun 1935 M. dan meninggal pada 2010 di Maroko. Ia merupakan tokoh yang serius mengkaji Ibnu Rusyd, bahkan UNESCO memberikan penghargaan atas dedikasinya. Namun, di balik prestasi dan ketokohannya di bidang pemikiran, ia ternyata menuliskan tafsir dengan susunan tartib nuzuli.

Kitab Fahmul Qur’an Al-Hakim, dicetak sebanyak 3 jilid. Jika dua kitab sebelumnya masuk kategori tahlili (analitik), maka tafsir ini termasuk ijmali (global). Tafsir ini ditulis sesuai kronologis turunnya ayat berdasarkan riwayat yang menguatkannya. Ia membagi tafsirnya menjadi 3 bagian, yakni mukaddimah, istihlal, istihrod dan catatan-catatan kaki.

Tentu, setiap tafsir memiliki keunikannya masing-masing, sesuai karakter dan tujuan dituliskannya tafsir itu. Namun, secara umum usaha yang ingin dikembangkan oleh Izzat Darwazah, Syekh Habannakah, dan Abid Al-Jabiri adalah mengkonstruksi bangunan pikir Al-Qur’an sesuai kronologis turunnya ayat.

Wallahu a’lam[]