Beranda blog Halaman 504

Ketahui Hikmah Adanya Ayat-Ayat Mutasyabihat dalam Al-Quran

0
ayat-ayat mutasyabihat
ayat-ayat mutasyabihat

Salah satu kajian ilmu Al-Quran yang menimbulkan berbagai perbedaan pendapat adalah kajian muhkam dan mutasyabih. Walaupun beberapa ulama ada yang menolak keberadaan ayat yang bersifat mutasyabihat. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa memang ada ayat-ayat dalam Al-Quran yang masih menimbulkan berbagai kemungkinan makna. Sehingga tidak cukup apabila hanya diartikan secara harfiah. Jika demikian, lantas apa hikmah keberadaan ayat-ayat mutasyabihat dalam Al-Quran?

Definisi Singkat Mutasyabihat

Kata Mutasyabih terambil dari akar kata asy-Syabah yang bermakna serupa (tapi tak sama). Sedangkan secara definitif, Mutasyabih dalam lingkup kajian ulumul Qur’an adalah ayat-ayat yang maknanya masih samar, dan belum ada kejelasan makna. Sehingga butuh penjelasan yang lebih mendalam untuk mengungkap kandungan makna ayat mutasyabihat.

Manna’ al-Qaththan dalam Mabahits fi Ulum Al-Quran menjelaskan bahwa ayat-ayat mutasyabihat memiliki tiga ciri, yaitu: (1) makna yang hanya diketahui oleh Allah; (2) ayat yang mengandung banyak kemungkinan makna; dan (3) ayat yang tidak dapat dipahami secara literal, sehingga butuh penjelasan dalam memahami makna ayat tersebut.


Baca Juga: Pentingnya Ulumul Quran Sebagai Sarana Menggali Pesan Tuhan


Macam-macam Ayat Mutasyabihat

Dalam kitab Manahil al-Irfan fi ‘Ulum Al-Quran karya Muhammad Abd al-’Adzim az-Zarqani, beliau menjelaskan bahwa terdapat tiga macam bentuk ayat-ayat mutasyabihat, antara lain yaitu: Pertama, ayat yang dimana semua manusia tidak mampu menggapai pemahaman terhadap makna dan kandungan ayat tersebut. Ayat-ayat mutasyabihat yang masuk dalam kategori pertama ini adalah ayat-ayat yang berbicara tentang dzat Allah beserta hakikat maupun sifat-Nya. Serta tentang ayat-ayat yang berkenaan dengan waktu terjadinya kiamat dan hal-hal ghaib lainya.

Salah satu contoh ayat mutasyabihat bentuk pertama ini adalah Q.S. Luqman [31] ayat 34:

 اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ࣖ – ٣٤

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.”

Kedua, ayat mutasyabihat yang setiap orang dapat mengetahuinya dengan cara melakukan kajian yang mendalam. Ketegori kedua ini berisi ayat-ayat yang memiliki lafadz yang tidak umum (gharib), tidak adanya kejelasan hukum, kosakata yang bersifat ambigu, dan lain sebagainya. Contoh ayat macam kedua ini adalah Q.S. al-Nisa’ [4] ayat 3:

وَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تُقْسِطُوْا فِى الْيَتٰمٰى فَانْكِحُوْا مَا طَابَ لَكُمْ مِّنَ النِّسَاۤءِ مَثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَ ۚ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا تَعْدِلُوْا فَوَاحِدَةً اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ ذٰلِكَ اَدْنٰى اَلَّا تَعُوْلُوْاۗ – ٣

“Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.”

Dalam ayat tersebut terdapat ketidakjelasan apakah perintah poligami tersebut bersifat wajib atau sunnah, ataupun yang lainya. Sehingga dalam satu ayat dapat melahirkan berbagai pendapat hukum (ma ihtamala aujah).


Baca Juga: Mengulik Makna Kiamat dalam Al-Quran


Ketiga, ayat mutasyabihat yang hanya diketahui oleh sebagian ulama khusus (khawas al-ulama’). Karena dalam memahami ayat tersebut dibutuhkan kejernihan hati dan penyucian jiwa, serta memiliki kompetensi yang tinggi dalam melakukan ijtihad terhadap pemaknaan ayat tersebut. Salah satu contoh ayat kategori ketiga ini adalah Q.S. al-Fath [48] ayat 10:

 اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗيَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِنَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا ࣖ – ١٠

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Dia akan memberinya pahala yang besar.”

Hikmah Keberadaan Ayat-Ayat Mutasyabihat

Masih dalam kitab yang sama yaitu Manahil al-Irfan fi ‘Ulum Al-Quran, az-Zarqani menjelaskan bahwa dari setiap macam ayat-ayat mutasyabihat tersebut memiliki beberapa hikmah yang terkandung di dalamnya. Untuk ayat mutasyabihat ketegori pertama, az-Zarqani menyebutkan terdapat beberapa hikmah, yaitu:

  1. Sebagai bentuk rahmat Allah kepada umat manusia yang sangat lemah ini. Karena ketika Allah hendak menampakkan sedikit keagungan-Nya, maka secara langsung gunung akan hancur dan Nabi Musa sebagai manusia langsung jatuh pingsan (Q.S. al-A’raf [7]: 143). Selain itu, dengan dirahasiakannya waktu kiamat, supaya manusia tidak malas dalam mempersiapkan bekal amal dalam menghadapi kedatangan hari tersebut.
  2. Sebagai bentuk ujian, apakah umat manusia mengimani perkara-perkara yang ghaib yang diceritakan dalam Al-Quran secara yakin ataupun justru menolak kebenaran akan hal ghaib tersebut.
  3. Untuk menunjukkan bahwa manusia itu sangat lemah dan hanya memiliki pengetahuan yang sangat sedikit. Serta menjadi bukti akan kebesaran dan keluasan ilmu Allah.
  4. Dijelaskan oleh al-Razi, bahwa andaikan semua isi ayat Al-Quran itu bersifat muhkamat, maka akan menghasilkan satu madzhab saja yang dianggap benar. Sehingga otomatis akan menyalahkan madzhab lain yang memiliki pemahaman yang berbeda dengan madzhab pertama tersebut.

Baca Juga: Dialektika Kemukjizatan Al-Quran dan Budaya Bangsa Arab Sebagai Bukti Moderatnya Ajaran Islam


Adapun jenis ayat mutasyabihat yang kategori kedua dan ketiga, ayat-ayat tersebut memiliki hikmah sebagaimana berikut:

  1. Sebagai bentuk penetapan akan mu’jizat Al-Quran, dengan ketinggian mutu sastra dan balaghah yang dimiliki Al-Quran.
  2. Az-Zarqani mengutip pendapat al-Razi yang mengatakan bahwa apabila ditemukan suatu ayat yang bersifat mutasyabihat maka akan muncul kesulitan dalam pemahaman ayat tersebut. Sehingga mengakibatkan jalan menuju Allah menjadi lebih sulit dan lebih berat. Namun demikian, bertambahnya kesulitan tersebut justru menambah kadar pahala. Hal ini dikarenakan semakin sulit jalan yang ditempuh dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, maka pahala yang disiapkan akan disesuaikan dengan kadar usahanya. Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Ali Imran [3]: 142.
  3. Dengan adanya ayat yang bersifat muhkamat dan mutasyabihat, maka akan memunculkan ilmu-ilmu baru yang digunakan sebagai perangkat atau alat untuk memahami ayat tersebut. Contohnya seperti ilmu gramatika bahasa Arab, ushul fikih, balaghah, dan lain sebagainya.

Masih mengutip pendapat al-Razi, beliau menjelaskan bahwa dengan adanya ayat muhkamat dan mutasyabihat akan mendorong penggunaan nalar rasio (al-adillah al-aqliyah) sebagai alat bantu dalam memahami makna dan kandungan ayat mutasyabihat tersebut. Sehingga tidak akan jatuh dalam kegelapan taklid.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 42-45

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 42-45 berbicara mengenai umat terdahulu yang ingkar terhadap risalah nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Pada pembahasan kali ini juga dipaparkan mengenai kebiasaan orang-orang kafir yang semaunya sendiri. Sebagaimana pembahasan yang lalu.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 39-41


Lebih lanjut  Tafsir Surat Al An’am Ayat 42-45 ini memberikan pengandaian. Jika seandainya umat terdahulu itu tidak ingkar dan tabah menghadapi cobaan, niscaya akan hidup bahagia baik didunia maupun di akhirat.

Selain itu Tafsir Surat Al An’am Ayat 42-45 juga membicarakan kesombongan mereka akibat dari kesesatan mereka. Allah terkdang menguji mereka dengan nikmat, namun mereka merasa nikmat itu karena usaha mereka sendiri. Padahal datangnya nikmat itu adalah dari Allah swt semata sebagai ujian begi mereka.

Ayat 42

Ayat ini menegaskan bahwa sebenarnya Allah telah mengutus para rasul kepada umat-umat yang terdahulu, yang menyeru manusia memeluk agama tauhid yang hanya menyembah Allah semata. Para rasul telah menyampaikan kabar gembira dan peringatan Allah, tetapi orang-oang kafir mengingkarinya.

Oleh karena itu, Allah menimpakan kepada mereka kesengsaraan, malapetaka dan permusuhan di antara mereka, agar cobaan-cobaan itu menjadi pelajaran bagi mereka, sehingga mereka bertobat dan mengikuti seruan para rasul.

Telah menjadi tabiat kebanyakan manusia, jika mereka ditimpa bahaya dan kesengsaraan, mereka ingat kepada Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya. Karena dengan cobaan-cobaan itu perasaan mereka bertambah halus, budi pekertinya bertambah baik, jiwanya terlatih sehingga dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, timbul rasa cinta dan kasih sayang sesama manusia, ingat kepada Yang Mahakuasa dan Maha Penolong yang sebenarnya.

Tetapi banyak pula di antara manusia yang tidak mempan lagi baginya segala macam cobaan penderitaan yang diberikan kepadanya, bahkan cobaan itu menambah keingkarannya termasuk diantara mereka umat-umat yang pernah hidup dimasa Nabi.

Ayat 43

Sebenarnya yang paling baik bagi umat-umat terdahulu ialah mengikuti seruan para pasul yang diutus Allah kepada mereka, tunduk dan patuh kepada Allah ketika datang azab, malapetaka atau penderitaan yang ditimpakan itu, agar Allah mengampuni dosa-dosa mereka serta memberikan nikmat dan rahmat kepada mereka.

Tetapi hati mereka telah sesat dan terkunci mati, tidak dapat lagi menerima peringatan dan pelajaran apa pun yang disampaikan kepada mereka. Setan menanamkan ke dalam hati dan pikiran mereka rasa senang dan gembira mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa dan syirik, serta mendorong  mereka agar selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela itu.


Baca juga: Tafsir Surat Ibrahim Ayat 7: Hikmah dan Cara Mensyukuri Nikmat Allah


Ayat 44

Manakala orang-orang yang sesat hatinya dan telah dipalingkan setan melupakan segala peringatan dan ancaman Allah, dan keingkaran mereka bertambah, maka Allah menguji mereka dengan mendatangkan kebaikan dan menambah rezeki, menyehatkan jasmani mereka, menjaga keamanan diri mereka dan membukakan pintu kesenangan, sehingga mereka lupa bahwa nikmat yang mereka terima dan rasakan itu datang dari Allah.

Mereka beranggapan bahwa semua itu semata karena hasil usaha mereka sendiri. Oleh karena itu, mereka bertambah sombong dan takabur, tidak bersyukur kepada Allah, bahkan nikmat itu mereka jadikan sebagai alat untuk menambah kekuasaan dan kebesaran mereka.

Bila orang-orang yang ingkar itu telah bergembira dan bersenang hati dengan nikmat yang telah diberikan Allah, dan beranggapan bahwa yang mereka peroleh itu benar-benar merupakan hak mereka, maka Allah menimpakan azab kepada mereka dengan tiba-tiba, sehingga mereka berduka cita dan putus asa dari rahmat Allah.

Rasulullah saw bersabda:

إِذَا رَأَيْتَ الله َيُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيْمٌ عَلَى مَعَاصِيْهِ فَإِنَّمَا ذَالِكَ مِنْهُ اِسْتِدْرَاجٌ

(رواه أحمد والطبرانى والبيهقى)

“Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hamba kenikmatan dunia yang disukainya, sementara ia tetap bermaksiat kepadanya, maka itu adalah istidraj) (pembiaran).” (Riwayat Ahmad, at-Tabrani dan al-Baihaqi)

Dari ayat ini dipahami bahwa cobaan Allah kepada manusia ada yang berupa kesengsaraan dan penderitaan dan ada pula yang berupa kesenangan dan kemewahan. Orang-orang yang beriman dan diberi cobaan kesengsaraan dan penderitaan biasanya mereka sabar dan tabah, serta mendekatkan diri kepada Allah dan mohon pertolongan kepada-Nya.

Bila mereka diberi cobaan kesenangan dan kemewahan mereka bersyukur kepada Allah, ingat akan hak-hak orang fakir dan miskin yang ada di sekelilingnya dan menafkahkan sebagian harta mereka di jalan Allah. Mereka yakin bahwa kesenangan dan kemewahan itu hanyalah sementara, sedang kesenangan dan kemewahan yang sebenarnya dan yang kekal ialah di akhirat nanti.

Sebaliknya, bila orang-orang yang ingkar kepada Allah diberi cobaan kesengsaraan dan penderitaan, mereka putus asa dan bertambah ingkar kepada Allah. Bila mereka diberi kesenangan dan kemewahan, mereka mengatakan bahwa semua yang mereka dapat, mereka peroleh dari hasil usaha mereka sendiri, tanpa pertolongan seorang pun.

Ayat ini mengisyaratkan bahwa manusia itu pada umumnya banyak yang tabah dan sabar bila diberi cobaan penderitaan dan kesengsaraan, tetapi banyak yang lupa diri dan bertambah ingkar bila diberi cobaan kesenangan dan kemewahan.

Ayat ini merupakan peringatan dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman, bahwa segala macam yang didatangkan Allah kepada mereka baik berupa malapetaka dan penderitaan ataupun yang berupa kesenangan dan kemewahan, semuanya itu adalah cobaan bagi mereka, agar iman mereka bertambah kuat, karena itu mereka harus tabah dan sabar menghadapinya.

Rasulullah saw bersabda:

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذٰلِكَ لأَِحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، اِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَاِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

(رواه مسلم عن صهيب)

Sungguh mengagumkan keadaan orang-orang yang beriman, karena semua yang menimpanya adalah baik baginya, dan yang demikian itu tidak terdapat pada seorang pun, kecuali bagi orang-orang beriman. Jika kegembiraan menimpanya, ia bersyukur, dan itu adalah baik baginya. Jika kesukaran menimpanya, ia bersabar, dan itu adalah baik pula baginya. (Riwayat Muslim dari Suhaib)

Ayat 45

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang yang ingkar dan mendustakan Rasul-rasul itu binasa karena diri mereka sendiri, tidak seorang pun yang luput dari azab itu. Segala puji bagi Allah yang telah menghancurkan orang-orang yang zalim itu dan yang telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang beriman.

Ayat ini menganjurkan kepada kaum Muslimin agar mengucapkan hamdalah “Alhamdulillahi rabbil alamin” (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam), setiap mendapat nikmat, rahmat dan pertolongan Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 46-49


(Tafsir Kemenag)

Sayyid Muhammad Husain Al-Thabathaba’i: Arsitek Tafsir Al-Mizan

0
Husain Al-Thabathaba'i
Husain Al-Thabathaba'i

Thabathaba’i memiliki nama lengkap al-Sayyid Muhammad Husain bin al-Sayyid Muhammad bin Muhammad Husain bin al-Mirza ‘Ali Ashghar Syaikh al-Islam al-Thabathaba’i al-Tabriz al-Qadhi. Beliau lahir di kota Tabriz, Iran (Persia), pada tanggal 29 Zulhijjah tahun 1321 H dalam keluarga ulama yang banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka.

Pada masa kehidupannya, ayah Husain Al-Thabathaba’i–yang bernama Muhammad–merupakan salah seorang ulama terkenal, tidak saja di Tabriz tapi juga di berbagai daerah lainnya di Iran. Dia adalah keturunan seorang ulama besar; Mirza Ali Ashgar Syaikh al-Islam yang dikenal sebagai salah seorang ulama terhormat di Tabriz.

Sementara kakeknya, al-Sayyid Muhammad Husain, adalah salah seorang murid terbaik dari pengarang al-Jawahir dan Syaikh Musa Kasyif al-Githa. Bila diruntun sampai ke atas, maka dapat ditemukan bahwa nasab keluarganya bersambung hingga kepada ‘Ali ibn Abi Thalib. Dengan demikian, al-Thabathaba’i adalah keturunan Rasulullah Saw.

Kehidupan masa kecil Thabathaba’i sangatlah sulit. Sejak berumur lima tahun, ia telah menjadi seorang piatu karena ditinggal wafat ibunya. Empat tahun kemudian ia kembali menjadi yatim setelah ayah tercinta menyusul ibunya. Belum lagi dengan tidak adanya penghasilan tetap untuk menyangga kebutuhan hidup yang disertai dengan menjauhnya para sahabat dan teman kerabat.

Situasi ini semakin diperparah lagi dengan sejumlah kesulitan lainnya. Keadaan sosial-ekonomi yang tidak stabil dan buruk melanda daerahnya sebagai imbas dari invasi Rusia. Namun, semua kesempitan hidup tersebut tidak membuatnya berputus asa, sebaliknya itu semua ia jadikan sebagai sarana untuk mempraktekkan kehidupan ‘irfani dengan cara melatih jiwa dan hatinya dari pengaruh keduniawian.

Perjalanan Intelektual Husain Al-Thabathabai

Sebagaimana para pemikir muslim lainnya, pendidikan masa kecil Thabathaba’i dilakukan secara tradisional. Di tanah kelahirannya, Tabriz, dia telah mempelajari Al-Quran dan berbagai kitab klasik mengenai kesusasteraan dan sejarah, seperti, Gulistan dan Bustun karya Sa’di, Nesab dan Akhlaq, Anvar-e Sohayli, Tarikh-e Mo’jam, dan Irsyad Al-Qur’an, al-Hisab, serta beberapa karya ulama lainnya, seperti Amir-e Nezam.

Secara umum, perjalanan pendidikan Thabathaba’i tidak bisa dilepaskan dari tiga lokasi yang merupakan poros utama perjalanannya untuk menimba ilmu. Ketiga tempat tersebut ialah kota kelahirannya, Tabriz, Universitas Syi’ah di Najaf dan terakhir di Universitas Qom di Qom.

Kota Tabriz
Pemandangan Kota Tabriz Saat Ini

Tanah kelahiran Husain Al-Thabathaba’i menjadi “sekolah” pertama baginya untuk mengenyam pendidikan. Wali yang diamanahi oleh ayahnya untuk mengurus segala keperluannya, mendatangkan seorang guru privat yang datang ke rumah. Proses belajar sistem privat ini dijalani Thabathaba’i selama enam tahun dari 1922 sampai 1928.

Di kota ini pula, dia berkenalan dengan ilmu pengetahuan langsung dari keluarganya yang terkenal sebagai keluarga ulama, dan secara tidak langsung dia belajar dari kaumnya yang merupakan komunitas yang akrab dengan berbagai pengetahuan, baik pengetahuan keislaman maupun pengetahuan umum.

Baca Juga: Wahbah az-Zuhaili: Mufasir Kontemporer yang Mendapat Julukan Imam Suyuthi Kedua

Thabathaba’i mulai mengkaji berbagai buku klasik yang berisi tentang agama dan bahasa Arab sambil mempelajari ilmu-ilmu dasar yang diberikan oleh para gurunya. Selain itu, dia juga mulai mempelajari beberapa bidang ilmu seperti gramatika, sintaksis, retorika, fikih, ushul fikih, logika dan filsafat serta apa yang disebut olehnya sebagai “spiritual science”.

Proses belajar keseluruhan bidang ilmu tersebut ditekuninya dalam waktu selama tujuh tahun sejak tahun 1928, dan dia menamatkan semuanya pada tahun 1935. Pada tahun yang sama Thabathaba’i melanjutkan pelajarannya secara formal di universitas Syi’ah di kota Najaf, Irak. Di Universitas ini, Thabathaba’i meneruskan kajian ilmu naqliyah, seperti syari’ah dan prinsip-prinsip jurisprudensi.

Dalam bidang fikih, Thabathaba’i belajar dengan dua orang syaikh terkemuka pada waktu itu, yakni: Syaikh Mirza dan Muhammad Husain Na’ini. Dia juga mempelajari dan menekuni beberapa cabang ilmu aqliyah, seperti filsafat dan esoteris. Di sisi lain, ia turut mendalami ilmu esoteris, spiritual atau ‘lrfani, dengan menelaah berbagai karya filsafat klasik, diantaranya, al-Syifa karya Ibn Sina dan al-Asfar al- ‘Arba’ah karya Sadr al-Din Syirazi.

Masa belajar Thabathaba’i di Najaf memakan waktu hampir sepuluh tahun lamanya. Selama kurun waktu itu, dia menggali semua sumber ilmu pengetahuan. Sehingga akhirnya dia mampu menguasai berbagai ilmu tersebut dengan baik dan sempurna, mulai dari fikih, tasawuf atau ‘irfani, matematika sampai filsafat.

Adanya agresi Uni Sovet atas Iran mengharuskan Husain Al-Thabathaba’i untuk pindah dari kota kelahirannya, Tabriz, ke kota suci Qom. Sehingga kepindahannya ini lebih bernuansa sosial-politik ketimbang intelektual. Di Universitas Qom ini Thabathaba’i memasuki dan mengalami masa kecemerlangan dalam karir intelektualnya.

Dari kota Qom, Thabathaba’i mulai dikenal orang secara luas, terutama mereka yang datang dari kalangan akademis. Karena di kota suci ini, dia menemukan lingkungan yang kondusif sebagai seorang ‘arif sekaligus ilmuwan. Suatu keadaan dan situasi yang belum–atau sulit–ditemuinya tatkala berada di Tabriz.

Baca Juga: Obituari: Syekh Nuruddin Itr, Sang Mufasir dan Pembaharu Ilmu Hadis

Selama berada di Qom, kegiatan ilmiah Thabathaba’i dapat dikelompokkan dalam empat bagian, yaitu: pertama, menghidupkan kembali ilmu-ilmu aqliyah; kedua, memberikan pengaruh kepada masyarakat dalam pemikiran dan akhlak; ketiga, memberikan bimbingan kepada mereka yang telah mapan dalam berpikir tentang filsafat dan ilmu kalam; keempat, menulis berbagai buku dan artikel lainnya, baik berbahasa Arab maupun Persia.

Mengenal Tafsir Al-Mizan Fi Tafsir al-Qur’an

Salah satu karya Husain Al-Thabathaba’i paling terkenal adalah Tafsir Al-Mizan atau Al-Mizan Fi Tafsir Al-Qur’an. Tafsir ini merupakan karya terbesar Thabathaba`i, sebuah karya monumental yang telah memberikan pengaruh signifikan tidak saja dilingkungan Syiah, tetapi di dunia Sunni. Dalam dunia pemikiran Islam kontemporer, hampir semua peneliti yang mengkaji tafsir tidak meninggalkan karya ini tafsir dalam kajian mereka.

Al-Mizan fi Tafsir Al-Quran
Al-Mizan fi Tafsir Al-Quran

Al-Mizan Fi Tafsir Al-Qur’an ditulis Thabathaba’i atas permintaan murid-muridnya yang menginginkan sebuah tafsir Al-Qur’an secara ilmiah. Butuh waktu sekitar 17 tahun lamanya bagi beliau untuk menyelesaikan sebuah maha karya tafsir yang terdiri dari 20 jilid, di mana satu jilid berfungsi sebagai fahrasat atau indeksnya. Buku ini kemudian diterbitkan secara berangsur-angsur dari 1375 H/1957 M hingga 1392 H/1974 M.

Tafsir ini dinamakan Al-Mizan karena di dalamnya termuat banyak pandangan-pandangan ahli antara lain tafsir, hadis, ushul fikih, bahasa, filsafat dan lainnya. Selanjutnya al-Tabataba’i menimbang dan memilih pendapat yang lebih kuat serta menolak pandangan yang dianggap lemah. Tampak dari uraian-uraiannya bahwa kitab tafsir ini menggunakan metode tahlili.

Husain Al-Thabathaba’i wafat dan dimakamkan di kota Qom pada 15 November 1981, ratusan ribu orang termasuk ulama, pembesar, dan tokoh pejuang keagamaan hadir di pemakamannya. Beliau adalah salah satu dari sekian banyak tokoh tafsir yang menginspirasi Prof. Dr. Quraish Shihab, bahkan dalam Tafsir Al-Misbah pendapat Thabathaba’i seringkali dikutip.  Wallahu a’lam.

Kalimat Basmalah dalam Al-Quran dan Memahami Maknanya dengan Metode Tadabbur

0
kalimat basmalah
kalimat basmalah

Kalimat basmalah (بسملة) adalah bentuk dasar dari kata kerja basmala (بسمل). Arti dari kata keja ini adalah “Membaca bismillahir Rahmanir Rahim.” Dengan begitu kata basmalah (بسملة) artinya “pembacaan Bismillahir Rahmanir Rahim.” Kalau Anda berkata dalam kalimat bahasa Arab: هُوَ بَسْمَلَ, maka artinya adalah “Dia membaca bismillahir Rahmanir Rahim.”

Kalimat basmalah بسم الله الرحمن الرحيم ditemukan sebanyak 115 kali di dalam Al-Quran, dengan rincian sebagai berikut:

Pertama, 1 kalimat basmalah di awal surat Al-Fatihah dan diberi nomor 1. Pemberian nomor tersebut menunjukkan tanda bahwa kalimat basmalah itu adalah ayat pertama dari surat al-Fatihah. Karena itu, setipa kali Anda membaca al-Fatihah, maka Anda pun harus membaca basmalah itu, karena dia adalah ayat pertama.

Kedua, 1 kalimat basmalah terdapat di dalam surat al-Naml [27] ayat ke-30. Basmalah di dalam surat ini adalah salah satu ayat dari surat al-Naml. Satu-satunya kalimat basmalah yang terdapat di tengah surat Al-Quran.

Ketiga, 113 kalimat basmalah terdapat di setiap awal surat dan tidak diberi nomor. Ini menunjukkan bahwa kalimat basmalah ini bukanlah ayat pertama dari setiap surat, seperti pada surat al-Fatihah. Satu-satunya surat yang tidak diawali dengan kalimat basmalah adalah surat Al-Taubah, surat yang ke-9. Perpindahan bacaan dari surat yang satu ke surat yang lain harus diawali dengan kalimat basmalah, kecuali pada surat al-Taubah. Ketika Anda membaca surat al-Taubah langsung baca ayat pertama, tanpa diawali dengan basmalah.

Ada 1 basmalah (بسم الله) tanpa penyebutan الرحمن الرحيم terdapat di dalam surat Hud [11] ayat ke-41.

Kalimat بسم الله الرحمن الرحيم adalah kalimat Allah yang terdapat di dalam Al-Quran, yang mudah diucapkan, mudah dibaca, dan mudah dipahami maknanya. Artinya sangat mudah dan sangat sederhana, yaitu “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”

Tadabbur terhadap kalimat basmalah tidak hanya kita memahami artinya, tidak hanya memahami maknanya, tetapi juga harus mendalami kandungannya dan menghayati isinya, serta mengamalkannya.

Baca Juga: Memahami Kalimat Ta’awwudz Sebelum Membaca Al-Quran dengan Metode Tadabbur

Kalimat بسم الله mengandung makna yang dalam. Ketika Anda membaca kalimat ini, Anda harus menghayati maknanya bahwa Aku menyebut nama Allah, Zat Yang Maha Agung, Zat Yang Maha Esa, Zat Yang Maha Kuasa, Zat yang harus disembah, yang tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Kata الرحمن mengandung makna yang sangat dalam. Ketika Anda membaca kata ini, Anda harus menghayati maknanya bahwa Allah yang Maha Esa, Maha Kuasa itulah yang dapat memberikan rahmat, karunia, dan nikmat kepada semua makhluk-Nya, hamba-hamba-Nya yang ada di dunia ini, termasuk aku yang mendapatkan-Nya. Seandainya bukan karena rahmat-Nya, aku tidak akan dapat menjalani kehidupan di dunia ini dengan baik dan sempurna.

Kata الرحيم juga mengandung makna yang sangat dalam. Ketika Anda membaca kata ini, Anda harus menghayati maknanya bahwa Allah yang Maha Esa, Maha Kuasa itulah yang memiliki dan menguasai hari kemudian, hari akhirat, yang dapat memberikan rahmat, karunia, dan nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang telah menaati perintah-Nya sewaktu berada di dunia ini. Karena rahmat-Nya, manusia yang saleh mendapat rahmat-Nya (surga-Nya) di akhirat. Seandainya bukan karena rahmat-Nya, manusia di akhirat nanti tidak diampuni dosanya, tidak diberinya ganjaran pahala yang berlipat ganda, dan tidak dimasukkannya ke dalam surga.

Baca Juga: Mengapa Surat At-Taubah Tanpa Basmalah? Begini Penjelasannya Dalam Tafsir Al-Mishbah

Oleh sebab itulah, setiap kali kita mengawali sesuatu dalam kehidupan kita, dalam kegiatan kita sehari-hari, maka mulailah pekerjaan itu dengan mengucapkan atau membaca kalimat بسم الله الرحمن الرحيم untuk mendapatkan keberkahan dan rahmat-Nya. Maknanya adalah kita bermohon kepada Allah agar apa yang kita lakukan, apa yang kita ucapkan, dan apa saja yang hendak kita perbuat untuk kebaikan, maka mulailah dengan membaca kalimat بسم الله الرحمن الرحيم, agar kita mendapatkan rahmat-Nya di dunia dan di akhirat.

Kisah perilaku Homoseksual Kaum Nabi Luth

0
Kisah Kaum Nabi Luth As
Kisah Kaum Nabi Luth As

Berbagai kisah sering kali disebutkan dalam Al-Quran. Kisah-kisah tersebut bukanlah fiksi semata melainkan benar-benar terjadi. Segala pelajaran dan hikmah menjadi hal yang bisa diambil dari tiap kisah tersebut seperti kisah kaum Nabi Luth As. dengan perilaku menyimpangnya.

Perilaku menyimpang yang dilakukan kaum Nabi Luth ialah homoseksual. Secara sederhananya perilaku ini digambarkan sebagai keadaan tertarik terhadap orang dari jenis kelamin yang sama. Lebih jelasnya, perilaku ini dilampiaskan dengan memuaskan hasrat seksual dengan sesama jenis. Perilaku ini setidaknya disinggung dalam Al-Quran  dan salah satunya terdapat pada Surat Al-A’raf ayat 80-81.

Baca juga: Surat Al-Mu’awwidzatain Dan Memahami Kisah Disihirnya Nabi Muhammad

Surat Al-A’raf ayat 80-81, penyimpangan Kaum Sodom

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Dan (kami telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). Dan ingatlah tatkala Dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengajarkan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oelh seorang pun (di dunia ini) sebelummu. Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka) bukan kepada wanita, tetapi kamu adalah kaum yang melampaui batas”

Pada ayat tersebut, Nabi Luth tidak secara langsung menegur dan menyatakan bahwa perilaku kaumnya tidak disukai Allah. Melainkan, ia mengajak kaumnya untuk berfikir dengan mengawali sebuah pertanyaan meskipun bersifat istifham inkari, yakni pertanyaan yang bertujuan untuk mengingkari perbuatan yang menyalahi fitrah.

Ali as-Shabuni juga menerangkan bahwa Nabi Luth menanyakan kepada kaumnya dengan menggunakan pertanyaan yang mecela yakni :”apakah kalain tega melakukan perbuatan yang nista dan belum pernah dilakukan oleh satu kelompok manusia manapun di muka bumi?” (Ali as-Shabuni, Safwatut Tafsir , 4: 412)

Baca juga: Isyarat Pelestarian Alam Dibalik Kisah Nabi Shalih, Unta dan Kaum Tsamud

Dalam Mu’jam mufradat li Alfadz al-Quran diterangkan bahwa kata الْفَاحِشَةَ dengan segala bentuk turunannya disebut sebanyak 7 kali dalam Al-Quran. Ia menjelaskan bahwa al-faahisya bermakna segala perbuatan atau perkataan apa saja yang sangat keji. (Ali as-Shabuni, Mu’jam mufradat Alfadz al-Quran, 387)

Adapun lafad  الْفَاحِشَةَ  pada ayat 80 menurut as-Sya’rawi dalam Tafsir as-Sya’rawi memaknai sebagai tambahan pada kekotoran berupa perbuatan homoseksual itu sendiri. Semisal seorang lelaki dan perempuan yang berzina diluar nikah, maka hal itu merupakan perbuatan kotor dan bila perbuatan itu dilakukan setelah menikah menjadi halal. Sedangkan, bila hubungan itu dilakukan pada sesama jenis, maka itulah yang dinamakan tambahan kekotoran /paling kotor dan terkutuk (Mutawalli as-Sya’rawi, Tafsir as-Sya’rawi, juz 4, 694)

Penyebab homoseksual Kaum Sodom

Yang menjadi pertanyaan besar pada peristiwa Kaum Luth ialah darimana mereka memiliki perilaku tersebut. As-Suyuthi menukil riwayat Ibnu Abbas. Riwayat tersebut mengatakan bahwa pada awalnya, kaum Sodom memiliki pohon dan kebun yang lebat buahnya. Akan tetapi, suatu ketika mereka tertimpa musim paceklik hingga kekurangan pangan.

Lalu sebagian mereka  berkata bahwa musim paceklik ini disebabkan banyaknya orang asing yang berkunjung ke negeri sodom. Oleh karenanya, apabila menemui orang asing tersebut maka “kumpulilah” dengan cara sodomi. Setelah itu niscaya mereka tidak akan datang lagi ke negeri ini.

Tak disangka, ternyata anjuran yang bersifat tahayul ini diikuti oleh Kaum Sodom hingga pada akhirnya menjadi kebiasaan bagi mereka. (Imam as-Suyuthi, Durul Manthur fi Tafsir bil Ma’thur,3: 495)

Mereka banar-benar melampaui batas

Perbuatan kaum Nabi Luth merupakan perilaku yang tercela. Disebutkan bahwa mereka suka menyetubuhi laki-laki dibanding menggauli wanita yang sudah dinikahi. Padahal, berhubungan dengan wanita yang sah memungkinkan bisa melahirkan keturunan dan meneruskan keberlangsungan hidup manusia. Hingga ayat tersebut diakhhiri dengan lafadz مُسْرِفُونَ yang menurut Wahbah az-Zuhaili dimaknai bahwa perbuatan Kaum Luth benar-benar melampau batas (Wahbah az-Zuhaili, Tafsirul Wasith, 2:798)

As-Sya’rawi menyampaikan bahwa Allah sudah menciptakan manusia dengan sedemikian rupa dan menjadikan syahwat dalam keadaan normal sehingga bermanfaat dan bernilai positif. Allah pun sudah menciptakan perempuan dengan rahim sebagai alat reproduksi sehingga selain sebagai penyalur syahwat juga yang paling utama ialah melanjutkan garis keturunan . Namun bila hasrat ini tidak disalurkan secara semestinya dan di luar kewajaran, maka itu dinamakan melampaui batas. (Mutawalli al-Sya’rawi, Tafsir as-Sya’rawi, 4:696)

Baca juga: Kisah Nabi Hud As dan Kaum ‘Ad Dalam Al-Quran

Hamka juga berkomentar bahwa laki-laki yang memiliki syahwat untuk bersetubuh dengan sesama laki-laki termasuk ke dalam katagori orang yang abnormal (diluar kebiasaan) yaitu kemanusiaannya sudah rusak (Hamka, Tafsir al-Azhar, 19:138)

Penyimpangan di masa sekarang

Perilaku penyimpang yang terjadi di masa Nabi Luth juga masih terjadi di era sekarang. Namun perubahan gaya hidup seakan-akan mulai digencarkan para pelaku. Jika zaman Nabi Luth, mereka hanya sekedar melampiaskan syahwat yang tidak lagi normal, maka di era sekarang, para pelaku mulai berani melakukannya dan manganggap bahwa penyimpangan tersebut sudah menjadi kenormalan baru bagi manusia.

Dengan atas nama HAM, mereka juga berniat untuk menunjukan diri dan meminta pengakuan secara legal. Berbagai komunitas dibentuk dalam rangka lebih leluasa lagi dalam menampakkan keberadaanya. Beberapa kegiatan juga digelar hingga mereka memanfaatkan jejaring teknologi demi lebih dikenal luas. Bahkan, sebagian mereka juga berjuang agar pernikahan sejenis bisa dilegalkan.

Sudah semestinya perilaku menyimpang ini dihindari karena berdampak buruk bagi peradaban manusia. Para tokoh tafsir juga sependapat bahwa perilaku tersebut termasuk perbuatan yang sangat kotor, keji dan bertentang dengan fitrah manusia. Wallahu a’lam[]

Inilah Keutamaan Membaca Al-Quran dengan Tartil

0
tartil al-quran
tartil al-quran

Akibat terlalu semangat ingin membaca dalam jumlah banyak maupun memahami Al-Quran, banyak umat muslim mengabaikan tata cara yang baik dalam membaca Al-Quran. Salah satunya adalah membaca Al-Quran dengan tartil. Tartil adalah membaca Al-Quran secara perlahan, tidak tergesa-gesa dan sesuai kaidah tajwid sebagaimana dalam firman-Nya warattilil qurana tartilan. Dewasa ini, membaca Al-Quran secara tartil agaknya diabaikan oleh beberapa – untuk tidak menyebut sebagian bahkan mayoritas – kalangan.

Padahal membaca Al-Quran dengan tartil sangat dianjurkan dalam syariat Islam. Tidak sekadar karena Al-Quran menggunakan Bahasa Arab, tapi karena seperti itulah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Bahkan Nabi Muhammad sendiri yang asli orang Arab dan disebut-sebut paling fasih dalam mengucapkan huruf dhad, berulang kali dipergoki membaca Al-Quran secara tartil. Beliau membaca Al-Quran dengan pelan serta berhati-hati, jauh dari seperti membaca seenaknya sendiri sebab beliau adalah orang Arab.

Anjuran Membaca Al-Quran Dengan Tartil

Tartil maknanya adalah perlahan-lahan. Sedang membaca Al-Quran secara tartil, mengutip keterangan Imam A-Zarkasyi, berarti membaca Al-Quran dengan memperjelas setiap huruf, membaca dengan fasih disertai menghayati makna, teratur nafasnya tatkala membaca, serta tidak melipat-lipat huruf (Al-Burhan/1/449). Allah swt berfirman.,

اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ

atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. (Q.S. Al-Muzzammil [73]: 4)

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ya’la ibn Mamlik yang menceritakan bagaimana Ummi Salamah menceritakan salat Nabi, disebutkan:

ثُمَّ نَعَتَتْ قِرَاءَتَهُ فَإِذَا هِىَ تَنْعَتُ قِرَاءَةً مُفَسَّرَةً حَرْفًا حَرْفًا

Ummi Salamah lalu menggambarkan cara membaca Nabi Muhammad. Saat itu Ummi Salamah mempraktikan membaca dengan memperjelas setiap satu persatu huruf. (H.R. Imam At-Tirmidzi)

Baca juga: Memahami Kalimat Ta’awwudz Sebelum Membaca Al-Quran dengan Metode Tadabbur

Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah ibn Mughaffal disebutkan:

رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَقْرَأُ وَهْوَ عَلَى نَاقَتِهِ وَهْىَ تَسِيرُ بِهِ وَهْوَ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفَتْحِ قِرَاءَةً لَيِّنَةً يَقْرَأُ وَهْوَ يُرَجِّعُ

Aku melihat Nabi Muhammad salallahualaihi wasallam membaca Al-Quran sementara ia di atas untanya. Si unta berjalan dan Nabi membaca Surat Al-Fath dengan lembut. Nabi membaca dengan mengulang-ulang suara (HR. Imam Bukhari).

Dalam riwayat lain disebutkan, Nabi Muhammad membaca basmalah dengan memanjangkan “bismillaah”, memanjangkan “ar-rahmaan”, dan memanjangkan “ar-rahiim”. Nabi juga membaca Al-Quran dengan memotong ayat per ayat, tidak menggandengkan ayat satu dengan ayat lain dengan sekali nafas.

Berbagai keterangan di atas menunjukkan, membaca Al-Quran secara tartil dianjurkan dalam Islam. Oleh karena itu, para ulama melarang secara ceroboh membaca Al-Quran secara cepat. Sahabat Ibn ‘Abbas berkata: “Membaca satu surat dengan tartil lebih aku sukai daripada membaca Al-Quran seluruhnya”. Imam Mujahid menyatakan, bila ada dua orang dalam waktu yang sama, yang satu hanya membaca Al-Baqarah dan yang satu membaca Al-Baqarah serta Ali Imran, maka yang hanya membaca Al-Baqarah sajalah yang lebih baik menurutnya (At-Tibyan/71).

Baca juga: Mana yang Lebih Utama, Membaca Al-Quran dengan Hafalan atau dengan Melihat Mushaf?

Keutamaan Tartil Bagi Yang Tidak Memahami Bahasa Arab

Imam An-Nawawi dalam At-Tibyan mengutip keterangan para ulama yang menjelaskan, tartil dianjurkan untuk tujuan menghayati makna Al-Quran maupun selainnya. Para ulama juga menjelaskan, tartil juga dianjurkan bagi orang non Arab yang tidak mengerti makna Al-Quran. Hal ini disebabkan membaca Al-Quran secara tartil lebih mendekatkan pada mengagungkan serta memuliakan Al-Quran, dan lebih mengena pada hati (At-Tibyan/71).

Maka tak tepat bila menyimpulkan bahwa untuk apa membaca tartil, kalau tidak memahami makna Al-Quran? Tartil tidak semata-mata memberi kesempatan pembacanya untuk memahami kandungan setiap ayat yang ia baca. Tartil juga mendorong hati untuk senantiasa memuliakan Al-Quran. Sehingga keyakinan akan keagungan Al-Quran dapat tertancap dalam hati meski tanpa melalui perantaraan memahami makna Al-Quran. Wallahu A’lam.

Inilah Ayat-Ayat Transformasi Sosial dalam Al-Quran

0
transformasi sosial
jual beli merupakan bentuk transformasi sosial (inside lombok)

Transformasi sosial dalam istilah Al-Quran mempunyai padanan kata dengan Ishlah. Kata ini berasal dari bentuk dasar shaluha, ber-wazan af’ala, yang berarti baik atau bagus, kebaikan yang membawa manfaat dan menolak kerusakan. Para mufasir, dalam kaitan ini tidak ada yang secara khusus mendefinisikan transformasi sosial, namun secara implisiit pembahasan hal ini sangatlah banyak.

Sayyid Quthub, ketika menafsirkan Q.S. Ibrahim ayat 1,

الۤرٰ ۗ كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ بِاِذْنِ رَبِّهِمْ اِلٰى صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِۙ

Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji. (Q.S. Ibrahim [14]: 1)

Landasan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Quran sangat penting dan juga dibutuhkan, mengingat bahwa perubahan sosial tanpa adanya nilai atau norma yang kuat, hanya akan menuju nihilisme, yaitu perubahan tanpa tujuan yang jelas. Selain itu, transformasi sosial juga lebih berdimensi konseptual tentang sosial, karena merupakan konsepsi ilmiah atau alat analisis untuk memahami dunia.

Ayat- Ayat Transformasi Sosial                     

Alif, laam raa (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Litukhrija-n-naas mina-dz-dzulumati ila-n-nuur, dapat dipahami sebagai transformasi menurut Al-Quran, seperti transformasi hasil perjuangan Rasul saw.yang bersifat umum

Pada ayat lain ditegaskan

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Q.S. Ar-Ra’du [13]: 11)

Baca juga: Inilah 4 Karakter Kepemimpinan Transformatif Menurut Al Quran

Menurut al-Maraghi, ayat ini mengandung pengertian bahwa kerusakan yang terjadi pada suatu kaum, tidak akan dicabut oleh Allah kecuali bila mereka sendiri yang mengubahnya. Hal ini menunjukkan adanya hukum perubahan, dalam artian, bahwa nilai-nilai yang dihayati dan kehendak yang mereka inginkan, merupakan sebuah perpaduan yang akan melahirkan kekuatan pendorong untuk melakukan perubahan.

Di sinilah kenapa Al-Quran menekankan kebersamaan dan tanggung jawab kolektif, Menurut Sayyid Quthub, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban umat Islam, yang dalam realisasinya memerlukan kekuasaan dengan tujuan mempersatukan seluruh umat dalam kesatuan agama Allah, karena hal inilah yang nantinya akan menentukan perubahan atau kebangkitan sebuah umat. Selain itu, menurut Muhammad Abduh, amar ma’ruf nahi munkar adalah pemeliharaan sekaligus komando untuk kesatuan umat.

Berbeda dengan Sayyid Quthub dan Muhammad Abduh, walaupun kemungkinan memiliki tujuan yang sama, Thabathaba’i misalnya amar ma’ruf nahi munkar menunjukkan hukum konsalitas dalam masyarakat, yaitu apabila sebagian masyarakat baik, maka seluruh masyarakatnya akan baik pula. Sebaliknya, apabila sebagian masyarakat rusak, maka akan rusak pula seluruhnya. Jika memang demikian, maka upaya dalam mewujudkan tatanan sosial yang baik merupakan sebuah kewajiban.

Selain itu, transformasi sosial dalam Al-Quran ditemukan juga dari makna-makna mplisit tentang hijrah. Hijrah mempunyai makna meninggalkan tempat yang buruk menurut Allah menuju tempat yang lebih baik. Sebagaimana yang telah tercantum dalam Q.S. An-Nisa [4]: 100,

۞ وَمَنْ يُّهَاجِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَرْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗوَمَنْ يَّخْرُجْ مِنْۢ بَيْتِهٖ مُهَاجِرًا اِلَى اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ اَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ

Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Q.S. An-Nisa [4]: 100)

Baca juga: Tafsir Surat Al-Ma’un 1-3: Ingat, Tidak Saleh Sosial Juga Pendusta Agama!

Hijrah juga merupakan ciri orang yang beriman, ditinggikan derajatnya oleh Allah, akan diberi tempat yang bagus di dunia, dan akan dijamin oleh Allah kelak di akhirat. Adapun realisasi pesan-pesan transformasi sosial di atas antara lain adalah masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang selalu berkembang ke arah positif. Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. al-Fath [48]: 29,

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ ۖوَمَثَلُهُمْ فِى الْاِنْجِيْلِۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْـَٔهٗ فَاٰزَرَهٗ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗوَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا ࣖ

Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar. (Q.S. al-Fath [48]: 29)

Menurut Al-Maraghi, ayat ini menunjukkan perkembangan suatu umat, yang lebih ditentukan oleh subjek yang mempunyai peranan, yaitu manusia atau masyarakatnya. Hal ini sesuai dengan apa yang tekandung dalam Q.S. Ar-Ra’du ayat 11. Dari sinilah dpat ditarik sebuah garis merah, bahwa transformasi sosial bermula dari inisiatif kesadaran subjek yaitu individu dan kolektifitas (manusia dan masyarakat) tanpa adanya pemisahan. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 39-41

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Setalah pada ayat yang lalu membahas tentang permintaan aneh orang-orang kafir, Tafsir Surat Al An’am Ayat 39-41 berbicara mengenai orang kafir yang selalu mendustakan segala hal yang berkaitan dengan risalah Nabi Muhammad saw. Mereka seperti orang tuli dan bisu.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 36-38


Lebih lanjut Tafsir Surat Al An’am Ayat 39-41 menegaskan kesesatan mereka merupakan akibat dari perilaku mereka sendiri dan hal itulah yang membuat mereka semakain tersesat dan jauh dari kebenaran.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 39-41 diakhiri dengan sikap mereka yang semaunya sendiri. Ketika mereka ditimpa musibah meminta pertolongan Allah. Sedangkan ketika mereka mendapatkan kebahagiaan mereka kembali mempersekutukan Allah.

Ayat 39

Orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya, yang membuktikan kekuasaan dan keesaan Allah, serta kebenaran risalah yang dibawa Nabi Muhammad, mereka seperti orang tuli, tidak mendengarkan seruan kepada kebenaran, tidak mempedulikan petunjuk ke jalan yang benar.

Mereka juga seperti orang yang bisu, karena tidak membicarakan dan menyampaikan yang hak yang telah mereka ketahui, dan mereka telah tenggelam dalam kegelapan, yaitu kesesatan menyembah berhala, taklid kepada nenek moyang mereka dan kebodohan dalam tauhid. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka.

Allah swt berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ  لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ  ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (al-A’raf/7: 179)

Orang-orang yang dikehendaki sesat oleh Allah, maka Allah membiarkan mereka menempuh jalan yang sesat, karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan tidak mau memahami petunjuk-Nya.

Orang-orang yang dikehendaki Allah mendapat taufik, maka Dia menjadikan mereka mengikuti jalan yang lurus, jalan kebenaran, karena mereka memperhatikan, dan memahami ayat-ayat Allah, kemudian mereka amalkan sesuai dengan sunatullah yang berlaku di alam ini.

Allah swt berfirman:

يَّهْدِيْ بِهِ اللّٰهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهٗ سُبُلَ السَّلٰمِ وَيُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ بِاِذْنِهٖ وَيَهْدِيْهِمْ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus. (al-Ma′idah/5: 16)


Baca juga: Walid bin Mughirah, Tokoh Kafir Quraish yang Memuji Al-Quran


Ayat 40 dan 41

Ayat ini mengingatkan orang-orang kafir tentang sikap dan keadaan mereka ketika ditimpa cobaan berat dari Allah atau datang kiamat. Mereka ingat dan menyeru Allah Yang Maha Esa, memohon pertolongan-Nya agar dihindarkan dari cobaan-cobaan yang berat yang sedang mereka alami itu. Tetapi apabila mereka telah terhindar dari cobaan berat itu, mereka kembali mempersekutukan Allah.

Oleh karena itu Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar menanyakan kepada orang-orang musyrik yang mendustakan ayat-ayat Allah dan mempersekutukan-Nya itu, “Terangkanlah kepadaku hai orang-orang musyrik, jika datang kepadamu azab Allah seperti yang pernah menimpa umat-umat yang terdahulu, seperti serangan angin kencang, banjir besar, petir yang menyambar dari langit dan sebagainya, apakah kamu sekalian akan meminta pertolongan dan perlindungan kepada berhala-berhala dan sembahan-sembahan itu, yang kamu sangka mereka dapat menolong dan melindungimu?”

Pertanyaan itu dijawab oleh Allah, yaitu, “Tidak! Tetapi hanya Dialah yang kamu seru.” Maksudnya: Hai orang-orang musyrik, penyembah-penyembah berhala, jika kamu ditimpa azab, seperti yang pernah menimpa orang-orang terdahulu, maka kamu tidak akan meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah untuk menghindarkan kamu dari azab itu.

Dengan pertanyaan dan jawaban di atas, seakan-akan Allah melukiskan watak orang-orang musyrik pada khususnya dan watak manusia pada umumnya yaitu bahwa manusia dalam keadaan senang tidak ingat kepada Allah, tetapi bila dalam keadaan kesulitan dan kesukaran mereka ingat dan menyembah Allah.

Allah swt berfirman:

فَاِذَا رَكِبُوْا فِى الْفُلْكِ دَعَوُا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۚ فَلَمَّا نَجّٰىهُمْ اِلَى الْبَرِّ اِذَا هُمْ يُشْرِكُوْنَ

Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). (al-‘Ankabµt/29: 65);Firman Allah swt:

وَاِذَا غَشِيَهُمْ مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۚ فَلَمَّا نَجّٰىهُمْ اِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُّقْتَصِدٌۗ وَمَا يَجْحَدُ بِاٰيٰتِنَآ اِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُوْرٍ

Dan apabila mereka digulung ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Adapun yang mengingkari ayat-ayat Kami hanyalah pengkhianat yang tidak berterima kasih.  (Luqman/31: 32)

Fitrah manusia yang sebenarnya ialah percaya kepada Allah Yang Maha Esa, Penguasa dan Pemilik seluruh alam. Fitrah ini pada seseorang dapat berkembang dan tumbuh dengan subur dan dapat pula tertutup perkembangan dan pertumbuhannya oleh pengaruh lingkungan dan sebagainya.

Rasulullah saw bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ  يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ

(رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة)

“Tidak seorang pun dari anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah (mentauhidkan Allah), maka dua orang ibu-bapaknya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Di samping pengaruh orang tua dan pengaruh lingkungan, pengaruh hawa nafsu dan keinginan pun dapat mempengaruhi atau menutup fitrah manusia itu. Karena itu manusia waktu di masa senang, tidak ingat kepada Allah. Tetapi bila ditimpa kesengsaraan mereka ingat kepada Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 42-45


(Tafsir Kemenag)

Nushrat Amin Khanum: Mujtahidah Kontemporer Penulis Tafsir Makhzan al-Irfan

0
Nushrat Amin
Nushrat Amin

Khazanah kajian tafsir Al-Quran terus berkembang seiring perubahan zaman, baik dari objek kajian maupun subjeknya. Dalam literatur sejarah, mayoritas mufasir klasik maupun kontemporer adalah laki-laki. Sangat jarang sekali ditemukan mufasir dari kalangan perempuan. Kalaupun ada, biografi mereka jarang terekspos di beberapa literatur Islam. Salah satu mufasir perempuan kontemporer yang jarang dikenali adalah Nushrat Amin Khanum.

Nushrat Amin memang bukanlah wanita Iran pertama yang menggeluti bidang penafsiran Al-Quran. Namun, Nushrat Amin bisa dibilang sebagai ulama perempuan yang paling berpengaruh pada abad ke-20 di Iran.

Biografi Intelektual Nusrat Amin Khanum

Perempuan yang dikenal dengan nama Hajiyyah Khanum Nushrat Amin Bigum ini dilahirkan pada tahun 1886 di Kota Isfahan, Iran. Ia memiliki banyak nama julukan (laqab), seperti Aminah, al-Aminiyah, Banu Iraniy (iranian lady), dan Umm al-Fadha’il. Ayahnya bernama Sayyid Muhammad Ali, sedangkan ibunya merupakan putri dari Sayyid Mahdi yang dikenal dengan nama Jinab.


Baca Juga: Bint ِِAs-Syathi: Mufasir Perempuan dari Bumi Kinanah


Sejak usia empat tahun, Nushrat Amin telah menempuh pendidikan pertama tentang Al-Qur’an dan bahasa Persia di Maktab Khanah. Pada umur 15 tahun, Nushrat Amin menikah dengan suaminya yang bernama Mirza Aqa. Setelah menikah, perjalanan intelektual Nusrat Amin belum berhenti. Ia melanjutkan belajar secara privat tentang Fikih, Ushul Fikih, Bahasa Arab, ilmu Logika, Hikmah, dan Filsafat dengan Ayatullah Mir Sayyid ‘Ali Najafabadi di rumahnya sendiri.

Selain guru privat tersebut, Nushrat Amin juga banyak berguru ke berbagai ulama ternama, antara lain yaitu Ayatullah Muhammad Kazim Yazdi, Ayatullah Ibrahim Hosseini Shirazi, Ayatullah Muhammad Riza Najafi Isfahani, Ayatullah Abu Qasim Dahkardi, Ayatullah Muhammad Kazim Shirazi, Ayatullah Abdulkarim Qumi, dan Grand Ayatullah Abdulkarim Ha’iri Yazdi.

Dalam al-Nafahat al-Rahmaniyah, dijelaskan bahwa ketika usia 40 tahun, kepakaran Nushrat Amin Khanum terhadap keilmuan Islam semakin sempurna dan telah mencapai derajat tertinggi sebagai sosok yang kompeten melakukan penetapan hukum syari’ah. Untuk mengetahui kemampuanya, Nushrat Amin diuji oleh berbagai pakar Fikih dengan berbagai pertanyaan. Beberapa nama fuqaha yang menguji Nushrat Amin antara lain adalah Ayatullah Abu al-Hasan al-Isfahani, Ayatullah al-Isthihbanatiy, Ayatullah Muhammad Kazim Shirazi, dan Syaikh Abdulkarim al-Hairi. Semua pertanyaan yang diberikan tersebut mampu dijawab Nusrat Amin dengan argumentasi yang kuat dan ilmiah.

Mirjam Kunkler dan Roja Fazaeli menjelaskan dalam tulisanya yang berjudul The Life of Two Mujtahidah: Female Religious Authority in Twentieth-Century Iran, bahwa pada tahun 1930, Ayatullah Muhammad Kazim Hosseini Shirazi dan Grand Ayatullah Abdul Karim Ha’iri Yazdi memberinya penghargaan berupa ijazah yang diberikan kepada Nusrat Amin sebagai ulama perempuan yang telah mencapai derajat Mujtahidah. Kepakaranya dalam pemahaman keilmuan Islam tersebut juga mendapat pujian dari berbagai ulama Syi’ah, seperti Grand Ayatullah Sayyid Husayn Burujirdi, Allamah Muhammad Husayn Thabathaba’i, Ayatullah Murtadha Muthahhari, dan Ayatullah Yusuf Sani’i.

Pada tahun 1965, Nushrat Amin mendirikan sekolah perempuan dengan nama Dabiristan Dukhtaranih Amin atau yang dikenal dengan Maktab Fatimah di Isfahan. Dalam sekolah tersebut diajarkan beberapa pelajaran, seperti bahasa Persia, Arab, Inggris, Fikih, Hikmah, Tafsir, Ushul Fikih, Filsafat, Mantiq, dan Irfan. Dari sekolah tersebut Nusrat Amin berhasil melakukan kaderisasi dengan baik, sehingga muncul ulama-ulama perempuan dari hasil didikanya. Salah satunya adalah Zina al-Sadat Humayuni.

Nushrat Amin wafat pada hari senin, malam pertama bulan Ramadhan 1403 H/13 Juni 1983, ketika usianya sudah mencapai 79 tahun. Ia dimakamkan di kompleks makam keluarga yang berada di Takht Fulad. Pemakaman Nushrat Amin dihadiri oleh para pembesar ulama Iran. Berbagai gubahan syair dan qashidah dibuat oleh para ahli syair untuk mengenang kematian Nusrat Amin Khanum.


Baca Juga: Laleh Bakhtiar dan Penafsiran Al-Quran dengan Hadis


Semasa hidupnya, Nushrat Amin Khanum telah menghasilkan berabagai karya tulisan dalam beberapa bidang keilmuan Islam. Kurang lebih terdapat 13 judul buku telah ia tulis, diantaranya adalah al-Arba’in al-Hasyimiyah, Tahdzib al-Akhlaq wa Tathir al-A’raq, Hasyiyah Faraid al-Usul, al-Nafahat al-Rahmaniyah fi al-Waridat al-Qalbiyah, Akhlaq Warah Sa’adat Basyar, dan masih banyak lainya. Namun, dari banyaknya karya tersebut, terdapat satu karya tulisnya yang sangat fenomenal yaitu Makhzan al-Irfan.

Sekilas Tafsir Makhzan al-Irfan

Kitab tafsir yang berjudul lengkap Makhzan al-Irfan Dar Tafsir Quran, merupakan tafsir Al-Quran berbahasa Persia karya Nusrat Amin Khanum. Tafsir ini diterbitkan secara berkala dalam bentuk serial volume yang diterbitkan selama hampir dua puluh tahun (1957-1975). Volume pertama dikeluarkan pertama kali pada tahun 1957, dimulai dengan penafsiran dua surah pertama, kemudian melompat langsung ke surah yang lebih pendek yang terletak di akhir urutan Al-Qur’an (Q.S. al-Mulk [67] – Q.S. al-Nas [114]).

Urutan yang demikian tergolong unik, karena normatifnya Mufasir menafsirkan Al-Qur’an secara runut sesuai tartib mushafi. Namun, ternyata urutan model seperti ini juga pernah digunakan oleh seorang Mufasir Persia abad pertengahan yaitu Ya’qub ibn ‘Utsman Kharkhi. Ia juga membuka tafsirnya dengan penjelasan tafsir surah pertama kemudian langsung berpindah ke penafsiran dua juz terakhir dari Al-Qur’an (Q. 67-77, Q. 78-114).

Dalam tulisan yang berjudul “Persian Qur’anic Networks, Modernity and the Writing of ‘an Iranian Lady’, Nushrat Amin Khanum (d. 1983)” karya Travis Zadeh, ia menjelaskan bahwa alasan Nushrat Amin Khanum memilih urutan yang demikian, karena ia takut jika tidak bisa merampungkan penafsiran hingga akhir surah Al-Quran. Hal ini dikarenakan ia memulai proyek penafsiran tesebut di usia yang suduh cukup tua. Selain itu, dua juz terakhir tersebut selain untuk diajarkan juga mudah dihafal. Serta, surah-surah terakhir tersebut sebagian besar diperkirakan turun kepada Nabi Muhammad pada periode awal kenabian. Sehingga bisa dikatakan bahwa tafsir ini sebagian menggunakan tartib nuzuli.


Baca Juga: Jamaluddin al-Qasimi: Sosok Pembaharu Islam Penulis Tafsir Mahasin al-Ta’wil


Tafsir karya Nushrat Amin Khanum ini cenderung bercorak sufi-falsafi. Hal ini dikarenakan ia banyak mengutip dari produk tafsir sufistik seperti Kasyf al-Asrar karya Maybudi, dan Ruh al-Bayan karya Syaikh Ismail al-Burusawi. Selain itu, ia juga sangat dipengaruhi oleh pemikiran filsafat iluminatif Mulla Sadra, sebagaimana tertuang dalam karya Sadra yang berjudul al-Hikmah al-Muta’aliyyah.

Dalam proses penafsirannya, Nushrat Amin Khanum banyak mengacu pada pendapat-pendapat para Mufasir generasi awal, seperti Abdullah ibn Abbas, al-Dahhak, Hasan al-Basri, Muqatil ibn Sulaiman, Muhammad ibn Sa’ib al-Kalbi dan Qatadah. Kemudian, dalam penerjemahan makna kata Al-Quran, ia menggunakan kitab leksikografi Al-Quran karya al-Raghib al-Isfahani yang berjudul al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an.

Selain itu, Nushrat Amin Khanum juga banyak mengutip berbagai pendapat ulama lintas madzhab dalam tafsirnya. Misalnya dari kalangan Syi’ah terdapat nama Muhammad al-Ayyashi, ‘Ali al-Qummi, Tabrizi, Tusi, Abu al-Futuh al-Razi, Fathullah Kashani, Mir Muhammad Karim dan Thabathaba’i. Kemudian, dari kalangan Sunni terdapat nama al-Thabari, al-Baydhawi, dan Tanthawi Jauhari. Wallahu A’lam

Perbedaan Serta Hikmah Keberadaan Al-Quran Dan Hadis Qudsi

0
Al-Quran dan Hadis Qudsi
Al-Quran dan Hadis Qudsi/ Foto: pinterest.com

Apa berbedaan Al-Quran dan hadis yang sama-sama berisi firman Allah swt? kenapa ada firman Allah yang berupa Al-Quran dan ada yang berupa hadis? Dua pertanyaan dari beberapa pertanyaan yang muncul di pikiran saat menemui Hadis Qudsi. Mengenai Al-Quran dan Hadis Qudsi, banyak yang mengerti bahwa keduanya adalah dua hal yang berbeda. Namun tidak semua orang tahu letak perbedaan keduanya dan hikmah di balik firman Allah swt yang dibedakan tersebut.

Perbedaan Al-Quran Dan Hadis Qudsi

Al-Quran dan Hadis Qudsi adalah sama-sama firman Allah swt. Namun, keduanya memiliki sifat yang berbeda sehingga mempengaruhi aspek penggunaannya. Perbedaan yang dimaksud dapat diuraikan dalam penjelasan sebagai berikut:

Al-Quran adalah firman Allah swt yang diturunkan melalui Malaikat Jibril, sedang Hadis Qudsi adalah firman Allah yang disampaikan langsung kepada Nabi Muhammad. Lafad dan makna Al-Quran berasal dari Allah, sehingga cukup dengan membaca lafadznya saja, meski tidak mengerti maknanya, sudah bernilai pahala. Selain itu, lafad Al-Quran mengandung i’jaz sehingga tidak boleh diubah sesuka hati, meski dengan lafad lain yang semakna (Qawaidut Tahdis/22).

Dalam berinteraksi dengan Al-Quran, setiap orang muslim disyaratkan harus suci dari hadas kecil maupun besar saat menyentuh maupun membawanya. Selain itu, orang yang hadas besar juga tidak boleh membacanya. Setiap muslim juga harus meyakini kebenaran Al-Quran. Karena Al-Quran diriwayatkan secara sahih dan mutawatir. Sehingga bisa dipastikan kesahihannya.


Baca Juga: Inilah Telaah Makna Kata Al-Quran


Adapun Hadis Qudsi, maknanya dari Allah sedang lafadnya berasal dari Nabi Muhammad saw. Allah menyampaikan sesuatu kepada Nabi Muhammad, dan Nabi mengolahnya dalam bahasa beliau. Tidak seperti Al-Quran, Hadis Qudsi boleh disampaikan dengan redaksi yang berbeda selama tidak mengubah kandungan makna. Lafad Hadis Qudsi tidak mengandung i’jaz sebagaimana Al-Quran, juga tidak disyaratkan harus suci dari hadas saat menyentuhnya. Keharusan meyakini kesahihan sebuah hadis yang tergolong hadis qudsi, bergantung tingkat periwayatan hadis tersebut, yang bisa saja lemah sehingga tidak harus diyakini kebenarannya (Qawaidut Tahdis/22).

Beberapa ulama’ telah membuat karya khusus yang memuat banyak Hadis Qudsi. Salah satunya adalah ‘Abdur Ra’uf Al-Munawi; pengarang kitab Syarh Faidul Qadir. Al-Munawi menyusun kitab berjudul Al-Ittihafat As-Saniyah Bil Ahadis Al-Qudsiyah yang memuat 272 Hadis Qudsi, dilengkapi nama sahabat yang meriwayatkannya serta mukharrijnya.

Hikmah Keberadaan Al-Quran Dan Hadis Qudsi

Keberadaan firman Allah swt yang dibedakan antara Al-Quran dan Hadis Qudsi memiliki hikmah tersendiri. ‘Abdul ‘Adhim Az-Zarqani dalam kitab Manahilul ‘Irfan menjelaskan, Hadis Qudsi adalah suatu bagian tersendiri dan memiliki karakter tersendiri di luar Al-Quran dan hadis nabi.

Bila Al-Quran adalah firman Allah swt yang harus disampaikan dengan redaksi lafad yang sama, dan hadis nabi adalah ucapan Nabi Muhammad salallahualaihi wa sallam yang boleh disampaikan secara makna atau dalam artian boleh menggunakan redaksi yang berbeda, maka Hadis Qudsi adalah firman Allah yang boleh disampaikan secara makna saja, atau boleh dengan redaksi lafad yang berbeda (Manahilul ‘Irfan/1/37).


Baca Juga: Empat Peran Hadis dalam Menafsirkan Al Quran


Bentuk Hadis Qudsi yang seperti ini memberikan kemudahan tersendiri bagi umat Islam. kemudahan tersebut adalah dapat menyampaikan firman Allah swt, tanpa harus terpaku dengan redaksi yang sama. Selain itu, orang yang hadas sekalipun, boleh membaca, menyentuh maupun membawanya kemana saja.

Dengan ini, untuk berdekatan dengan Allah melalui firman-Nya tanpa harus menjaga diri dari hadas, dan menyampaikan firman Allah dengan redaksi yang bisa disesuaikan dengan tempat dan keadaan, bisa terwujud. Hal ini adalah bentuk rukhsah atau kemudahan tersendiri yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya (Manahilul ‘Irfan/1/37).

Salah satu contoh hadis qudsi adalah hadis yang diriwayatkan sahabat Anas ibn Malik berikut:

 قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: “يَا ابْنَ آدَمَ! إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِي، يَا ابْنَ آدَمَ! لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ، يَا ابْنَ آدَمَ! إنَّكَ لَوْ أتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقَيْتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً” .

Anas ibn Malik berkata: Aku mendengar Rasulullah salallahualaihi wasallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku,  aku ampuni dirimu atas apa yang ada dari dirimu dan aku tidak perduli. Hai anak Adam! Andai dosa-dosamu sampai ke awan langit lalu engkau meminta ampun kepadaku, maka aku mengampunimu. Hai anak Adam! Sesungguhnya engkau andai datang kepadaku membawa kesalahan seberat bumi, lalu engkau menemuiku sembari tidak menyekutukanku dengan apapun, maka pastilah aku datang kepadamu dengan ampunan seberat bumi.” (HR. Imam At-Tirmidzi)

Wallahu A’lam