Beranda blog Halaman 504

Tafsir Surat At-Taubah Ayat 122: Pencari Ilmu Wajib Membangun Expertise

0
Membangun expertise bagi pencari ilmu
Membangun expertise bagi pencari ilmu

Kita sepakat, mencari ilmu wajib bagi setiap manusia yang berakal. “Thalabul ‘ilm faridatun ‘ala kulli muslimin wal muslimah”, sabda Nabi yang berarti mencari ilmu fardhu bagi tiap umat Islam, menjadi salah satu landasan perintah tersebut. Akan tetapi, tidak hanya itu. Membangun expertise (keahlian), juga penting dan Allah perintahkan melalui firmanNya dalam Surat Al-Taubah ayat 122:

وَمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةٗۚ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَةٖ مِّنۡهُمۡ طَآئِفَةٞ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ لَعَلَّهُمۡ يَحۡذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya”


Baca juga: Inilah Cara Memberikan Nasihat Kepada Pemimpin Menurut Al-Quran


Mencari ilmu sama dengan memajukan peradaban

Surat at-Taubah ayat 122 ini merupakan warning terhadap sahabat Nabi agar sebagian mereka memperdalam ilmu agama, setelah mereka semua memilih untuk ikut jihad di medan perang. Secara kronologis, ayat ini turun berkenaan dengan perintah Rasulullah kepada sahabatnya untuk ikut sariyyah (peperang tanpa Rasulullah). Lalu, seluruh sahabat bertandang ke medan perang, hingga Rasulullah pun sendirian di Madinah. Lalu turunlah ayat ini untuk menyerukan perintah memperdalam ilmu agama bagi sebagian sahabat, agar tidak semua pergi berperang. (Lubabun Nuzul fi Asbabin Nuzul, Jalaluddin As-Suyuthi)

Pada ayat-ayat sebelumnya dalam surat at-Taubah, Allah lebih menekankan perintah untuk berperang dan larangan untuk ceroboh dalam peperangan. Setelah cukup menyampaikan perintah itu, Allah lalu menutup surat ini dengan instruksi memperdalam ilmu agama. Karena, ilmu dan pengetahuan juga menjadi salah satu kunci majunya suatu peradaban.

Ibnu ‘Asyur dalam at-Tahrir wat-Tanwir menyebutkan, memperdalam ilmu dan pengetahuan termasuk tujuan ajaran Islam.


Baca juga: Maqashid Al-Quran dari Ayat-Ayat Perang [2]: Mengembangkan Kemampuan Akal dalam Berkomunikasi


Menurut Ibnu ‘Asyur, transmisi ilmu dan etiket keislaman termasuk tujuan ajaran Islam dan upaya untuk membangun religiusitas masyarakat, serta mewujudkan umat yang berperadaban agar umat Islam memiliki kebijakan yang sesuai dengan Islam. Maka menyuruh umat untuk berperang saja tidak memenuhi maslahat. Sebagian mereka harusnya, ada yang mendalami ilmu agama.

Lalu, apa yang dimaksud ilmu agama? Apa hanya ilmu tentang akidah dan tatacara ibadah? Ternyata tidak sesederhana itu.

Thantawi Jauhari dalam al-Jawahir fi Tafsiril Quranil Karim menyebutkan ilmu agama dalam ayat itu mencakup semua ilmu. Baik yang berorientasi pada ilmu agama langsung seperti; tafsir, fikih, dan akidah, atau pun tidak seperti; teknik, kedokteran, ilmu pertambangan, dan lain-lain. Masing-masing ilmu tersebut merupakan urusan penting bagi umat. Sehingga, wajib untuk diperdalam.

Imam az-Zarnuji dalam kitab at-Ta’limul Muta’allim mengistilahkan ilmu jenis kedua itu dengan “ma yaqa’u fi ba’di ahyaanin” (ilmu yang dibutuhkan pada masa tertentu). Menurutnya, hukum mempelajari ilmu ini pun juga wajib secara kifayah (kewajiban kolektif).


Baca juga: Tafsir Surat An-Nahl Ayat 97: Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Beribadah


Tafaqqahu fiddin, kewajiban Membangun Expertise bagi Pencari Ilmu

Tafaqqahu merupakan derivasi dari mashdar tafaqquh, yang berarti takalluful faqahah (mencari pemahaman dengan sungguh). Ibnu ‘Asyur mentafsir dengan fahmu ma yaduqqu (faham secara mendalam), atau semakna dengan ahli suatu bidang ilmu. Maka, ayat ini menjadi dalil perintah untuk membangun kepakaran (expertise).

Bila melihat konteks ayat, perintah membangun expertise bukan berarti lebih penting daripada berperang. Melainkan lebih pada pembagian tugas untuk berperang dan mendalami ilmu. Karena, pada waktu itu, seluruh sahabat ikut berperang, maka, Allah memerintahkan agar sebagian meraka belajar dan membangun kepakaran.

Kedua hal tersebut saling berkait-kelindan, sehingga harus dibagi sesuai kebutuhan dan pemenuhan tujuan ajaran Islam. Artinya, jumlah orang yang mendalami ilmu agama harus bisa memenuhi kebutuhan umat dalam mewujudkan masyarakat yang berperadaban. Begitu pun jumlah orang yang ikut berperang, harus bisa memenuhi kebutuhan keamanan. Sehingga, kita bisa memahami, bahwa substansi ayat itu adalah perintah untuk membangun kepakaran bagi sejumlah orang sesuai dengan kebutuhan zamannya.

Bila kita hadapkan dengan situasi saat ini. Yang kata Tom Nichols dalam the Death of Expertise, ‘These are dangerous times. Never have so many people had access to so much knowledge, and yet been so resistant to learning anything’ (sekarang ini adalah fase yang berbahanya, karena banyak orang yang bisa mengakses ilmu pengetahuan, tapi tidak banyak mau belajar apa pun). Maka, membangun expertise perlu untuk direvitalisasi. Digelorakan lagi.

Karena itu, kita butuh banyak lagi orang yang mau belajar dan mendalami ilmu, sehingga bisa memproduksi generasi-generasi yang expert, yang cukup untuk bisa memperbaiki peradaban. Maka, siapa saja yang memutuskan untuk menjadi pelajar dan pembelajar, sudah seharusnya untuk mendalami ilmu yang ia pelajari. Karena, tugas pelajar tidak hanya belajar, tapi juga menyampaikan pada yang lain. Apalagi bagi pembelajar, harus ahli agar bisa profesional pada bidangnya. Dengan begitu, kita bisa berkontribusi lebih optimal sesuai dengan keahlian masing-masing. Wallahu a’lam[]

 

Inilah Cara Memberikan Nasihat Kepada Pemimpin Menurut Al-Quran

0
Nasihat Kepada Pemimpin
Nasihat Kepada Pemimpin foto: vectorstock.com

Setiap orang boleh–bahkan harus–memberikan nasihat kepada pemimpin yang zalim, terutama orang berilmu (alim) dan memiliki kepahaman mendalam mengenai permasalahan yang dihadapi. Dengan saran tersebut diharapkan para pemimpin dapat kembali ke jalan kepemimpinan sesungguhnya.

Pemimpin adalah rantai yang menggerakkan sepeda (bangsa dan negara). Ketika rantai tersebut berkarat dan mengakibatkan malfungsi serta terhambatnya laju sepeda, maka saat itu dibutuhkan pelumas rantai, yaitu orang-orang alim. Mereka bertugas untuk menghilangkan karat-karat itu dari rantai sepeda.

Ketika seseorang ingin melumasi rantai agar karat menghilang, tentu harus dilakukan dengan cara yang benar. Begitu pula ketika orang alim ingin memberikan nasihat kepada pemimpin. Ada langkah-langkah konkrit dan jitu yang harus dilaksanakan agar nasihat mereka dapat didengar dan diterima dengan baik oleh si pemimpin.

Tanpa langkah yang baik, sebuah nasihat mungkin tidak akan bermakna. Karena memberikan nasihat kepada pemimpin itu seperti memberi makanan kepada orang yang membutuhkan. Jika hal tersebut dilakukan dengan metode yang salah–dilempar misalnya–maka dapat dipastikan bahwa orang itu tidak akan menerimanya, begitu juga sebaliknya.

Baca Juga: Pemimpin Harus Berlaku Adil dan Menjalankan Amanah

Nasihat yang baik adalah hikmah yang disampaikan dengan bahasa lembut, baik, sopan, tegas dan tidak dibumbui oleh keinginan untuk mempermalukan si pemimpin. Jika nasihat disampaikan menggunakan bahasa kasar, diksi provokatif, dan semata-mata untuk menjatuhkan pemimpin–terlepas dari efektifitasnya–maka itu adalah nasihat yang kurang baik.

Cara Memberikan Nasihat Kepada Pemimpin Menurut Al-Qur’an

Al-Qur’an seringkali mengajarkan kepada pembaca-nya untuk bersikap adil serta bijaksana dalam segala kondisi dan situasi, termasuk dalam konteks memberikan nasihat kepada pemimpin. Karena nasihat yang baik juga harus disampaikan dengan cara yang baik pula. Salah satu pengajaran nilai tersebut termaktub dalam firman Allah Swt yang berbunyi:

اِذْهَبْ اَنْتَ وَاَخُوْكَ بِاٰيٰتِيْ وَلَا تَنِيَا فِيْ ذِكْرِيْۚ ٤٢اِذْهَبَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۚ ٤٣ فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى ٤٤

“Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha [20]: 42-44)

Menurut Quraish Shihab, kelompok ayat di atas merupakan lanjutan kisah nabi Musa as dan nabi Harus as yang diberi tugas untuk menyampaikan dakwah kepada Fir’aun dan bani Israil. Keduanya diutus oleh Allah karena pada waktu itu bani Israil sudah mulai jauh dari Allah Swt dan karena kesewenangan Fir’aun (Tafsir Al-Misbah 8]: 305).

Pada ayat tersebut Allah seakan berfirman, “Wahai Musa pergilah engkau beserta saudaramu Harun dengan membawa ayat-ayat-Ku (yakni mukjizat-mukjizat yang telah aku berikan), dan juga ayat-ayat-Ku (perintah Allah Swt). Berpegang teguhlah dengannya dan jangan kamu berdua lalai, jemu, melemah dan terlena dalam mengingat-Ku.”

Dia lalu berfirman, “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun penguasa tirani itu dengan berbekal mukjizat-mukjizat yang telah Ku-anugerahkan padamu, karena sesungguhnya ia telah melampaui batas dalam kedurhakaan. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, yakni dengan cara yang tidak mengandung antipati dan amarahnya, mudah-mudahan ia ingat akan kebesaran Allah dan kelemahan makhluk atau paling tidak ia akan takut kepada-Ku.”

Pada ayat ini Allah memerintahkan nabi Musa dan nabi Harun berdakwah dengan kata-kata yang lemah lembut dan bukan dengan kata-kata memerangi atau membunuh. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Fir’aun atau Ramses II adalah penguasa yang melampaui batas dan sukar menyadari kekuasaan adalah titipan Allah, ia tetap harus didakwahi dengan cara yang terbaik, yakni lemah lembut (Tafsir Al-Misbah 8]: 307).

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 32: Yang Lebih Penting dari Pemimpin Adalah Kebijakan yang Berpihak

Hal itu dilakukan karena dakwah adalah upaya menyampaikan hidayah. kata hidayah terdiri dari huruf ha, dal dan ya yang salah satu maknanya adalah menyampaikan dengan lemah lembut. Dari sinilah lahir kata hidayah yang secara asal merupakan penyampaian sesuatu dengan lemah lembut guna menunjukkan simpati. Dengan demikian, seorang mubalig harus bijak dalam berdakwah dengan mendahulukan kelembutan, bukan kekerasan.

Dalam konteks memberikan nasihat kepada pemimpin seorang muslim juga harus berlaku demikian. Sebaiknya ia mengedepankan narasi-narasi dan diksi yang tidak mengandung kekerasan dan kebencian agar nasihatnya menembus hati-hati yang zalim. Karena jika suatu nasihat disampaikan dengan diksi yang provokatif, itu tidak akan diterima dan bahkan mungkin mengundang amarah dan kebencian.

Dengan demikian, menasihati pemimpin berarti membantu mereka berjalan di atas kebenaran, menaatinya dalam rambu yang dibenarkan (agama dan konstitusi), mengingatkan dengan cara yang terbaik sesuai situasi kondisi (lemah lembut diutamakan), memberitahu mereka letak-letak kesalahannya, dan memberikan mereka solusi yang seharusnya dilakukan, bukan hanya menyalahkan.

Adapun pemimpin-pemimpin yang tetap lalai pasca diingatkan dan diperingatkan sebaiknya dievaluasi secara komprehensif kinerjanya. Evaluasi tersebut penting dilakukan agar pemimpin itu dipertimbangkan untuk dipilih atau tidak pada periode selanjutnya. Ingatlah “rantai yang sudah tidak bisa digunakan untuk menggerakkan sepeda sudah selayaknya untuk diganti.” Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 3-5

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 3-5 ini berbicara tentang kepantasan Allah untuk disembah oleh manusia. Allah juga menerima doa dan harapan seluruh manusia. Nama Allah telah dikenal oleh orang-orang sebelum Muhammad diutus. Ke-berhak-an Allah untuk disembah tersebut karena Dia menjadi tujuan manusia untuk memohon pertolongan dan Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk membangkitkan orang mati, sebagaimana pembahasan sebelumnya.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 2


Orang-orang musyrik tidak mempercayai adanya hari kebangkitan. Padahal hal itu jelas-jelas sudah dipahami oleh mereka. Hal ini tidak lain merupakan pembangkangan dari mereka dan Allah Maha mengetahui isi hati mereka sedalam apapun mereka sembunyikan. Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 3-5 ditambahkan bahwa orang-orang musyrik tersebut tidak berusaha menggunakan akalnya untuk merenungkan kebenaran Alquran.

Pada akhirnya pembahasan Tafsir Surat Al An’am Ayat 3-5 ini ditutup dengan pernyataan Allah  atas orang-orang musyrik. Mereka sengaja berpaling dari kebenaran dan akibat dari sikap tersebut adalah ditutupnya pintu kebenaran bagi mereka.

Ayat 3

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah adalah yang berhak disembah, yang menerima doa dan harapan dari semua makhluk-Nya di langit dan di bumi. “Allah” adalah nama yang agung bagi Tuhan Rabbal ‘Alamin, yang sudah dikenal oleh Bangsa Arab sebelum Islam. Bangsa Arab pada zaman jahiliah, bila ditanya tentang Tuhan yang berhak disembah, mereka akan menjawab “Allah.” Tuhan yang memiliki sifat-sifat yang mereka kenal itulah yang mereka sembah.

Ayat lain yang sejalan dengan maksud ayat ini ialah firman Allah:

وَهُوَ الَّذِيْ فِى السَّمَاۤءِ اِلٰهٌ وَّ فِى الْاَرْضِ اِلٰهٌ ۗوَهُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ

Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Mahabijaksana, Maha Mengetahui. (az Zukhruf/43: 84)

Kedua ayat ini, yakni al An’am/6:3 dan az Zukhruf/43:84 dengan jelas mengagungkan Allah karena kekuasaan-Nya menghidupkan kembali orang yang telah mati, dan lebih-lebih karena kekhususan diri-Nya dalam mengetahui hari kebangkitan dan keesaaan-Nya dalam ketuhanan serta keesaan zat-Nya yang disembah di langit dan di bumi. Kepada Allah sajalah ditujukan doa segala makhluk di alam semesta ini.

Kemudian Allah menegaskan bahwa Dia mengetahui segala yang mereka rahasiakan atau yang mereka tampakkan, baik perkataan dan perbuatan mereka maupun segala yang terbetik dalam hati mereka. Semua yang diusahakan oleh manusia, tidak luput dari pengetahuan Tuhan. Perbuatan yang baik akan diberi pahala, perbuatan yang buruk akan diberi hukuman. Sangatlah sempurna perhatian Tuhan terhadap perbuatan manusia karena semua perbuatan akan mendapatkan balasan dari-Nya.

Ayat 4

merenungkan bukti-bukti kebenaran ayat-ayat Alquran yang menjelaskan bukti-bukti keesaan Allah, hari kebangkitan dan keluasan ilmu-Nya. Bahkan mereka tidak pula merenungkan dan tidak berusaha mencari petunjuk dari tanda-tanda alamiyah yang mereka saksikan di permukaan bumi ataupun di dalam diri mereka sendiri.

Semua ayat kauniyah dan ayat yang meneguhkan kenabian Muhammad, semuanya mereka tinggalkan dan dustakan. Padahal ayat-ayat itulah yang menunjukkan adanya Tuhan Yang Maha Esa yang menguasai dan mengurusi alam semesta ini dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.


Baca juga: Zaghlul al-Najjar, Geolog Asal Mesir Pakar Tafsir Sains Al-Quran


Sekiranya mereka tidak berpaling dari ayat-ayat Allah akibat keras kepala, atau fanatik kepada pemimpin-pemimpin mereka, tentu kebenaran akan tampak bagi mereka, dan mereka tidak akan menentang ajaran Rasulullah saw.

Senada dengan ayat ini, Allah berfirman pada Surah al Anbiya′/21: 2-3:

مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ ذِكْرٍ مِّنْ رَّبِّهِمْ مُّحْدَثٍ اِلَّا اسْتَمَعُوْهُ وَهُمْ يَلْعَبُوْنَ ۙ  ٢  لَاهِيَةً قُلُوْبُهُمْ

Setiap diturunkan kepada mereka ayat-ayat yang baru dari Tuhan, mereka mendengarkannya sambil bermain-main. Hati mereka dalam keadaan lalai. (al Anbiya′/21: 2-3)

Ayat 5

Allah menerangkan bahwa sebab orang-orang musyrik selalu berpaling dari ayat-ayat Allah, karena mereka telah mendustakan yang hak ketika yang hak tersebut datang kepada mereka. Kejahatan mereka ini sebagai akibat mereka menutup jalan untuk memperoleh ilmu pengetahuan.

Yang dimaksudkan dengan “yang hak” ialah agama Allah yang dibawa Nabi Muhammad, yang mengandung kaidah-kaidah agama, hukum-hukum syariat, ibadah, muamalat, haram dan halal, akhlak dan lain sebagainya, yang kesemuanya itu dijelaskan dalam Alquran. Mereka mendustakan agama berarti mendustakan Alquran sebagai dasar agama. Jika mereka memahami Alquran dan merenungkannya tentu mereka tidak mendustakan ajaran-ajaran agama itu.

Allah menegaskan kelak akan terbukti bagi mereka kebenaran berita-berita yang selalu mereka ejek di dunia. Suatu ketika mereka mengalami kehinaan di dunia ini, dan kebinasaan di akhirat akibat kedustaan mereka kepada agama. Sebaliknya mereka menyaksikan kemenangan kaum Muslimin. Peringatan Allah kepada mereka, sebelumnya dianggap angin lalu.

Demikian pula terhadap janji Allah untuk kemenangan kaum Muslimin, yang ternyata kemudian berita-berita itu terbukti, antara lain dengan datangnya musim kering yang menimpa mereka, dan hancurnya kaum musyrik pada Perang Badar dan perang-perang yang lain, serta kemenangan kaum Muslimin dengan pembebasan kota Mekah (Fath Makkah).

Dalam Alquran berulang kali diceritakan ejekan-ejekan kaum musyrik terhadap para nabi dan agama Allah, ejekan ini bertingkat-tingkat. Pertama, mereka tidak memperdulikan ayat-ayat Allah dan tanda-tanda alami serta tidak mau merenungkannya. Kedua, mereka mendustakannya. Sikap kedua ini melebihi tingkatan pertama, karena orang-orang yang bersikap acuh belum tentu mendustakan. Ketiga, mereka memperolokkannya. Orang yang mendustakan belum tentu dia sampai pada sikap memperolokkan. Sikap memperolokkan ini sudah mencapai puncak keingkaran. Orang-orang kafir menjalani ketiga tingkatan tersebut.


Baca Setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 6-8 


(Tafsir Kemenag)

Maqashid Al-Quran dari Ayat-Ayat Perang [2]: Mengembangkan Kemampuan Akal dalam Berkomunikasi

0
Maqashid Al-Quran dari Ayat Perang
Maqashid Al-Quran dari Ayat Perang

Pada tulisan sebelumnya sudah dibahas maqashid Al-Quran dari ayat perang yang pertama, yaitu Hifz al-Din wa Tathwir Wasailih (mempertahankan agama dan mengembangkan segala sarana untuk kemajuan agama). Di artikel ini akan dilanjutkan pada maqashid Al-Quran dari ayat perang yang kedua, hifz al-Aql wa tatwiruh (mengembangkan kemampuan akal dengan baik).

Dari konsep-konsep maqashid Al-Quran yang ada, penulis menawarkan tujuh poin utama: lima bagian disintesakan dari maqashid al-shari‘ah yaitu al-din, al-nafs, al-‘aql, al-‘irdh, dan al-mâl, ditambah dengan dua poin lain: al-huquq al-insaniyah dan ‘imarat al-‘alam. Ketujuh maqshid tersebut tidak  cukup dengan hanya di-idafah-kan kepada term hifz sebagaimana yang dikenal dalam ilmu maqashid  al-sharî‘ah.  

Kata hifz lebih menonjolkan sisi pasif dan bukan aktif. Sedangkan perkembangan dunia saat ini tentunya menuntut manusia untuk bergerak aktif dan bukan hanya menjadi pribadi yang pasif dan menunggu apa yang akan terjadi. Dengan demikian, penulis mempertimbangkan gagasan Jasser Audah yang menawarkan term development  atau tathwir untuk menyandingi term hifz dengan menerapkan teori sistem.


Baca Juga: Maqashid Al-Quran dari Ayat-Ayat Perang [1]: Mempertahankan Agama Tidak Selalu Harus dengan Kekerasan


Ayat-ayat yang digunakan sebagai contoh di sini masih sama, yaitu ayat perang yang tersebar surat at-Tawbah ayat 5, 29, 36 dan 41, di samping itu juga berlaku untuk ayat-ayat yang bertema sama.

  1. Surat at-Tawbah [9]: 5

فَاِذَا انْسَلَخَ الْاَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُّمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍۚ فَاِنْ تَابُوْا وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Apabila telah habis bulan-bulan haram, maka perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu temui, tangkaplah dan kepunglah mereka, dan awasilah di tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan melaksanakan salat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

  1. Surat at-Tawbah [9]: 29

قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَلَا يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَلَا يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حَتّٰى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَّدٍ وَّهُمْ صٰغِرُوْنَ ࣖ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan Kitab, hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”

  1. Surat at-Tawbah [9]: 36

وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

“….dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”

  1. Surat at-Tawbah [9]: 41

اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”


Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Beruntunglah Bagi Mereka yang Menjadi Pakar di Bidangnya


Hifz al-‘Aql wa Tathwiruh

Maqashid AlQuran yang kedua adalah agar manusia bisa mengembangkan kemampuan akalnya dengan baik. Pencapaian akal yang baik harus didukung dengan pengembangan berbagai ilmu pengetahuan dan menarik ‘ibrah dari perjalanan sejarah manusia. Dalam banyak ayat, Al-Quran memberikan apresiasi kepada mereka yang menjaga dan menggunakan akalnya dengan baik. Seperti pada ayat:

 يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al- Mujadilah [58]: 11).

Menggunakan akal sehat merupakan perintah atas semua umat Muslim dalam segala keadaan. Akal sehat juga dibutuhkan ketika mengontekstualisir ayat Al-Quran, termasuk ayat perang dengan masanya dan juga masa kini. Aktivitas ini  penting  untuk  menjadikan Al-Quran mu’ashir li nafsih,  wa mu‘ashir lana fî al-waqt dhatih. Hal ini disampaikan oleh al-Jabiri dalam Madkhal Ila Al-Quran al-Karim. Menafikan akal dalam proses mendialogkan antara teks dan realita sama artinya dengan menafikan salah satu spirit dari tujuh semangat maqashid Al-Quran.

Dalam konteks keindonesiaan, mengadopsi begitu saja perintah “radikal” yang terekam dalam ayat perang, berarti “membunuh” akal itu sendiri. Tipologi masyarakat Indonesia yang “cepat panas” dan “suka dipuji” seharusnya lebih harus diperhatikan dalam proses penafsiran ayat-ayat tersebut.

Dalam menghadapi masyarakat dengan tipe demikian sejatinya juga telah diakomodir oleh salah satu diksi yang dicontohkan Al-Quran dalam berkomunikasi dengan penganut agama lain dalam ayat:

قُلْ مَنْ يَّرْزُقُكُمْ مِّنَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ اللّٰهُ ۙوَاِنَّآ اَوْ اِيَّاكُمْ لَعَلٰى هُدًى اَوْ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ () قُلْ لَّا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّآ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـَٔلُ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ () قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّۗ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيْمُ

“Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?’ Katakanlah: ‘Allah’, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Katakanlah: ‘Kamu tidak akan ditanya (bertanggung jawab) tentang dosa yang kami perbuat dan kami tidak akan ditanya (pula) tentang amal yang kamu perbuat’. Katakanlah: ‘Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui”. (QS. Saba’ [34]: 24-26).


Baca Juga: Pentingnya Berprasangka Baik Dalam Rangka Toleransi Beragama dalam Al-Quran


Jika kita perhatikan lebih saksama, ayat tersebut mengajarkan bagaimana seharusnya memilih diksi yang tepat dalam mengomunikasikan tentang Islam kepada non-Muslim. Tentunya proses seleksi untuk menentukan diksi yang tepat di antaranya menggunakan pertimbangan akal.

Kandungan ayat tersebut menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah seakan mengajarkan kita untuk berkata: “Mungkin kami yang benar, mungkin pula kamu; mungkin kami yang salah, mungkin pula kamu. Kita serahkan saja kepada Tuhan untuk memutuskannya”. Ungkapan yang tentu saja “lebih sopan” dibanding dengan: “Kamilah yang benar, dan kamu sekalianlah yang sesat”.

Kesimpulan ini ditarik dari pemilihan kata ajramna yang berarti pelanggaran-pelanggaran untuk mendeskripsikan ajaran agama Islam, dan justru penggunaan kata ta‘malun yang berarti amal baik untuk menjelaskan keyakinan orang-orang non-Muslim. Allah sama sekali tidak mengajarkan kita untuk menggunakan kata “dosa” atau pun “pelanggaran” ketika menunjukkan eksistensi kaum non-Muslim demi menghindari apriori terhadap Islam juga untuk menjaga perasaan mereka.

Hal ini bukan berarti bahwa kita menganggap agama kita sebagai ajaran yang salah. Tapi merupakan sebuah etika ketika berhadapan dan berkomunikasi kepada “yang lain” tentang perbedaan yang ada. Dalam konteks pribadi, mengimani agama Islam sebagai agama yang benar adalah sebuah keharusan, karena keimanan mutlak didasari oleh keyakinan akan kebenaran.

Namun demikian, mengekspos keyakinan pribadi tersebut dengan mendiskreditkan mereka yang berbeda keyakinan bukanlah pilihan bijak dalam komunikasi antaragama. Kita bebas memuji agama kita “di dalam”, dan di saat yang sama kita diajarkan untuk tidak berlebihan dalam memaksakannya “ke luar”. Memperkenalkan the polite Islam, justru menjadi sebuah pilihan bijak dalam proses dakwah masa kini.

Dengan demikian, menderadikalisir ayat-ayat “radikal” layak untuk dipertimbangkan khususnya dalam ranah tafsir Nusantara untuk Indonesia yang berkemajuan.

Wallahu A’lam

Fakhruddin Ar-Razi: Sosok di Balik Lahirnya Tafsir Mafatih Al-Ghayb

0
Fakhruddin Ar-Razi
Fakhruddin Ar-Razi

Fakhruddin Ar-Razi adalah panggilan masyhurnya. Nama lengkapnya ialah Muhammad ibn Umar ibn al-Husain ibn al-Hasan ibn Ali al-Tamimi al-Bakri al-Thabrastani Ar-Razi. Ia juga memiliki panggilan terkenal lainnya yakni Ibn al-Khatib al-Syafi’i yang diambil dari penisbatannya terhadap ayahnya.

Ar-Razi lahir pada tahun 544 H di Ray (Razi), sebuah daerah yang saat ini dikenal sebagai bagian dari Ibu Kota negara Iran. Ia mendapati ilmu agama pertama kali melalui ayahnya, Dhiyauddin yang dikenal juga sebagai al-Khatib al-Rayy, yang merupakan seorang ulama di daerahnya. Kemudian ia melanjutkan pengembaraannya mencari ilmu kepada al-Sam’ani dan al-Majid al-Jilli serta kepada para Ulama lainnya yang terkenal di zamannya.

Tughrul Tower
Tughrul Tower (Monumen terletak di Kota Ray dibangun abad 12) foto: wikipedia

Dari hasil pengembaraannya mencari ilmu, Ar-Razi mampu menguasai berbagai keilmuan baik keilmuan agama dan humaniora (seperti Tafsir, Kalam, Ushul Fiqh, Bahasa, Filsafat, Logika) maupun Sains (seperti pengobatan dan astronomi). Maka tepat jika dikatakan bahwa Ar-Razi adalah seorang ulama yang tidak mendikotomi ilmu.

Ia juga dikenal pandai dalam beretorika, sampai ia dijuluki sebagai orang yang mampu beretorika dengan lisan orang Arab maupun A’jam. Kemampuannya ini juga ia gunakan untuk melakukan kritik dan berdebat dengan orang-orang maupun kelompok-kelompok yang dianggapnya menyimpang dan tidak sesuai dengan pandangan yang ia pegang, terutama dalam bidang Aqidah.

Ar-Razi meninggalkan warisan pemikirannya dalam karya-karyanya di berbagai bidang keilmuan. Karyanya yang dianggap paling agung adalah karyanya dalam bidang Tafsir yang diberi judul Mafatih al-Ghaib. Adapun dalam bidang Kalam ia memiliki karya yang berjudul al-Mathalib al-‘Aliyah dan Kitab al-Bayan wa al-Burhan fi Radd Ahli al-Zaig wa al-Thugyan. Kemudian dalam bidang Ushul Fiqh, karyanya berjudul al-Mahshul dan Syarh al-Wajiz fi al-Fiqh li al-Ghazali.

Dalam bidang Hikmah atau Filsafat, ia menulis sebuah karya yang merupakan catatan atas karangan Ibn Sina yakni al-Mulakhash wa Syarh al-Isyarat li Ibn Sina. Di bidang bahasa, ia menulis syarah atas karya nahwu Imam al-Zarkasyi yang berjudul Syarh al-Mufasshal fi al-Nahwi li al-Zarkasyi. Serta dalam bidang pengobatan ia menulis Masa’il fi al-Thib.

Baca Juga: Ibn Jarir At-Thabari: Sang Bapak Tafsir

Fakhruddin Ar-Razi wafat pada tahun 606 H dan tidak diketahui pasti di mana daerah terakhir yang menjadi persinggahan terakhirnya. Al-Dzahabi mengatakan bahwa Ar-Razi wafat di tanah kelahirannya di Rayy, adapun pendapat lainnya mengatakan bahwa kota Hirrah merupakan tempat terakhir yang disinggahi Ar-Razi sebelum menghembuskan nafas terakhir. Sebagaimana tempat wafatnya, penyebab kematian Ar-Razi juga masih simpangsiur. Al-Dzahabi mengatakan bahwa wafatnya Ar-Razi disebabkan oleh racun yang diberikan oleh lawan debatnya dalam masalah Aqidah.

Mengulas Sekilas Magnum Opus Ar-Razi (Mafatih al-Ghaib)

Fihi kullu syai’ illa al-tafsir (di dalamnya terdapat banyak sekali pembahasan kecuali tafsir itu sendiri) begitu kiranya salah satu pendapat yang masyhur tentang Mafatih al-Ghaib. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Ar-Razi adalah sosok cendekiawan Islam yang tidak mendikotomi ilmu pengetahuan (keIslaman dan Sains) dan Mafatih al-Ghaib bisa jadi salah satu dari upayanya untuk memadukan keilmuan yang telah dikuasainya.

Pendapat di atas bisa dibuktikan saat membaca Mafatih al-Ghaib yang memang memberikan porsi yang besar bagi muatan ilmu-ilmu selain tafsir di dalamnya. Salah satu contohnya ialah tatkala ia menjelaskan makna al-‘alamin pada ayat ke-2 surah al-Fatihah. Begini kutipan tafsirnya:

إِنَّ الْعَالَمِينَ عِبَارَةٌ عَنْ كُلِّ مَوْجُودٍ سِوَى اللَّهِ تَعَالَى، وَهِيَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ: الْمُتَحَيِّزَاتُ، وَالْمُفَارِقَاتُ، وَالصِّفَاتُ. أَمَّا الْمُتَحَيِّزَاتُ فَهِيَ إِمَّا بسائط أو مركبات، أو الْبَسَائِطُ فَهِيَ الْأَفْلَاكُ وَالْكَوَاكِبُ وَالْأُمَّهَاتُ، وَأَمَّا الْمُرَكَّبَاتُ فَهِيَ الْمَوَالِيدُ الثَّلَاثَةُ، وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَمْ يَقُمْ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّهُ لَا جِسْمَ إِلَّا هَذِهِ الْأَقْسَامُ الثَّلَاثَةُ، وَذَلِكَ لِأَنَّهُ ثَبَتَ بِالدَّلِيلِ أَنَّهُ حَصَلَ خَارِجَ الْعَالَمِ خَلَاءٌ لَا نِهَايَةَ لَهُ، وَثَبَتَ بِالدَّلِيلِ أَنَّهُ تَعَالَى قَادِرٌ عَلَى جَمِيعِ الْمُمْكِنَاتِ، فَهُوَ تَعَالَى قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ أَلْفَ أَلْفَ عَالَمٍ خَارِجَ الْعَالَمِ، / بِحَيْثُ يَكُونُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْ تِلْكَ الْعَوَالِمِ أَعْظَمَ وَأَجْسَمَ مِنْ هَذَا الْعَالَمِ، وَيَحْصُلُ فِي كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهَا مِثْلَ مَا حَصَلَ فِي هَذَا الْعَالَمِ من العرش والكرسي والسموات وَالْأَرَضِينَ وَالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ، وَدَلَائِلُ الْفَلَاسِفَةِ فِي إِثْبَاتِ أَنَّ الْعَالَمَ وَاحِدٌ دَلَائِلُ ضَعِيفَةٌ رَكِيكَةٌ مَبْنِيَّةٌ عَلَى مُقَدِّمَاتٍ وَاهِيَةٍ

Secara ringkas, inti dari kutipan tafsir di atas menerangkan bahwa Fakhruddin Ar-Razi tidak bersepakat dengan para filosof di zamannya yang menyatakan bahwa alam semesta hanya satu dan yang ditempati oleh manusia saat ini. Baginya, kata al-‘alamin merupakan isyarat yang menunjukkan bahwa tidak menutup kemungkinan jika alam semesta berjumlah tidak terhingga dan bahkan lebih besar dari alam yang manusia tempati saat ini. Sebab tidak ada kemungkinan yang tidak mungkin diwujudkan oleh Sang Maha Mampu.

Al Tafsir al Kabir Mafatih Al-Ghayb
Al Tafsir al Kabir Mafatih Al-Ghayb

Terlihat bahwa dalam tafsirnya, Fakhruddin Ar-Razi menggunakan isyarat bahasa dan menggunakannya sebagai titik pijak untuk melakukan eksporasi penjelasan lanjutan dengan ilmu-ilmu lainnya yang ia kuasai. Bahkan pernyataan Ar-Razi mengenai kemungkinan adanya lebih dari satu alam semesta di abad ke-12/13 M tersebut, diakui secara ilmiah oleh para pakar astronomi abad ke-21. Mereka menemukan bahwa sebuah teori mengenai saluran ruang angkasa atau yang disebut wormholes yang mampu menghubungkan antara satu ruang dimensi dengan ruang dimensi lainnya.

Fakhruddin Ar-Razi dan pemikirannya dapat menjadi inspirasi bagi calon-calon cendekiawan Islam masa kini untuk tidak mendikotomi ilmu dan justru mencoba menguasai seluruhnya. Sebab majunya keilmuan menjadi suatu penanda majunya suatu peradaban. Maka apabila peradaban Islam ingin mengulang masa keemasannya, umat Islam haruslah menjadi pionir terdepan dalam setiap bidang keilmuan. Wallahu a’lam.

Mengenal Hasan At-Turabi, Mufasir Kontemporer asal Sudan

0
hasan at-turabi
hasan at-turabi

Kehadiran mufasir kontemporer semakin memperkaya jagat dunia penafsiran Al-Quran salah satunya adalah Hasan at-Turabi. Ia merupakan penulis Kitab Tafsir At-Tawhidi. Ia juga adalah seorang akademisi Islamic Studies dan hukum, ulama cum politikus dan pemikir besar Muslim asal Sudan yang membuat gerakan pembaruan (tajdid) pada masalah keagaaman, hukum, politik, dan persoalan sosial lainnya. Kontribusi pemikirnya baik masyarakat Sudan maupun internasional cukup berpengaruh.

Biografi Intelektual Hasan At Turabi

Nama lengkap Hasan at-Turabi adalah Hasan Abdullah at-Turabi. Ia lahir di Kota Kasala, Sudan pada tahun 1932 M. Hasan at-Turabi lahir dan tumbuh dari lingkungan keluarga yang agamis dan kental tradisi sufisme. Sejak kecil ia dididik menjadi agamawan yang taat dan berkeilmuan tinggi. Hasan at-Turabi berhasil merampungkan strata satunya (S1) di fakulras hukum Universitas Khartoum Sudan pada tahun 1955.

Merasa tak puas dengan studinya di lingkungannya, ia rihlah ilmiah ke Eropa tepatnya London untuk melanjutkan S2-nya dalam bidang hukum dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 1959. Kemudian, ia pergi ke Paris untuk melanjutkan studi Ph.D-nya dalam bidang hukum di Universitas Sorbonne dan lulus pada tahun 1964. Pada waktu menetap di Paris inilah, ia menjelajahi benua biru Eropa dan benua Amerika dengan melakukan beberapa kunjungan di sana.

Tercatat ia juga merupakan politikus ulung, tapi sebelum terjun ke politik ia banyak bergelut dan mendalami karirnya sebagai akademisi. Salah satu prestasinya dalam bidang akademik adalah ia pernah menjabat sebagai dekan Fakultas Hukum Universitas Khartoum meskipun hanya sebentar lantaran ia menjadi anggota parlemen dan Sekretaris Jenderal (sekjend) Islamic Charter pada bulan Desember 1964.

Baca juga: Mutawalli As-Sya’rawi: Mufasir Kontemporer dari Mesir

Pada tahun 1988, Ia memimpin Front Nasional Islam (NIF) berkoalisi dengan pemerintahan Shadiq al-Mahdi dan mengantarkannya menjadi Jaksa Agung, kemudian Deputi Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri (menlu). Selain itu, dia juga pernah menduduki jabatan strategis, Sekretaris Jenderal Kongres Islam Khartoum yang beranggotakan 55 negara muslim dan Barat. Sejak pemilu 1996, ia menjabat sebagai ketua parlemen, yaitu kedudukan yang dianggap paling berpengaruh kedua setelah presiden yang dijabat oleh Jenderal Umar al-Basyir, “junior’nya di Partai NIF.

Singkat cerita pada Februari 2001, ia ditahan atas tuduhan berkhianat kepada negara. Sebab ia  yang berkapasitas sebagai Presiden Partai Oposisi Populer Nasional (PNC) telah menandatangani MoU dengan John Garang De Mabior, seorang pemimpin Gerakan Pemberontak Kristen Bersenjata di Sudan Selatan SPML/A (Sudan People’s Liberation Movement/ Army). Tuduhan ini tak memiliki dasar yang cukup kuat sehingga lebih dari 18 bulan pengadilan belum membuka kasusnya. Mayoritas masyarakat berasumsi bahwa alasan penahanannya adalah karena ia dianggap cukup “mengusik” kenyamanan pemerintahan Al-Basyir.

Sebagai informasi bahwa At-Turabi merupakan tokoh organisasi Ikhwanul Muslimin (IM) Sudah yang beberapa kali dipenjara karena melakukan pemberontakan terhadap negaranya. Hasan at-Turabi memang merupakan pemikir besar Islam di Sudan dan merupakan eksponen penting yang sangat diperhitungkan dalam proses Islamisasi di Sudan. Sudan dengan mayoritas penduduk muslim diwarnai dengan beberapa kontestasi pemikiran, namun kaitannya dengan pemikiran Islam yang sangat berpengaruh adalah kontestasi pemikiran Hasan at-Turabi dengan Mahmud Mohammad Taha serta muridnya Abdullahi Ahmad al-Na’ai.

Baca juga: Mufasir Indonesia: Biografi Syekh Mahfudz At Tarmasi

Karya Hasan Al Turabi

Hasan At-Turabi dipandang merupakan tokoh gerakan Islam Internasional dan pemikir besar muslim. Kontribusi karyanya dalam konstelasi pemikiran Arab hingga Islam modern berawal dari Women in Islam dan The Prayer yang terbit di akhir 1960-an, dan The Islamic Movement In Sudan (1989).

Di samping itu, karyanya yang berbahasa Arab di antaranya adalah

  1. Al-Iman wa Atsaruha fi Al-Hayat
  2. Al-Muslim Baina Al-Wujdan wa Al-Sultan
  3. Tajdid Al-Fikr Al-Islami dan Al-Wihdah wa Al-Dimukratiyyah wa Al-Fann
  4. Qadaya at-Tajdid,
  5. Al-Tafsial-Tauhidi
  6. Al-Mar’at bain al-Ushul wa al-Taqalidd dan sebagainya.
  7. Qadhaya al-Wahdah wa al-Hurriyyah (tahun 1980),
  8. Tajdid Ushul al-Fiqh (tahun 1981)
  9. Al-Asykal an-Nadzimah li Daulah Islamiyyah Mu’ashirah (tahun 1982),
  10. Tajdîd ad-Din (tahun 1984), M
  11. Manhajiyyatu at-Tasyrî (tahun 1984), Manhajiyyatu at-Tasyrî‟ (tahun 1987)
  12. Al-Musthalahat as-Siyasiyyah fi al-Islam (tahun 2000)

Adapun makalahnya tentang kaum perempuan dan kedudukan komunitas non-muslim di negara-negara Islam telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 2

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Tafsir Surat Al An’am Ayat 2 ini mengembangkan pembahasan sebelumnya. Ketika pembukaan ayat berbicara mengenai kepantasan Allah swt atas pujian karena Dia lah yang menciptakan langit dan bumi secara teratur dan terstruktur tanpa susah payah sedikitpun, pada pembahasan kali ini Allah menyinggung sebagian orang yang tidak mempercayai adanya hari kiamat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 1


Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 2 ini Allah swt merinci proses penciptaan manusia. Perincian tersebut dimulai dari sesuatu yang dianggap mati hingga menjadi manusia yang hidup dan berfikir lalu kemudian kembali seperti sedia kala, yaitu mati. Dan kelak akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggung jawabkan perilakukan semasa di dunia.

Sayangnya sebagian orang tidak percaya akan adanya hari kebangkitan. Asumsi mereka mengatakan bahwa setelah mereka mati jasad akan hancur. Lalu bagaimana sesuatu yang hancur itu menjadi utuh kembali. Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 2 ini Allah menjawabnya dengan mengemukakan proses penciptaan manusia. Apa susahnya menghidupkan sesuatu dari barang mati.

Selain itu dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 2 ini juga dikemukakan teori-teori yang meneliti tentang penciptaan manusia. beragam teori tersbut dikemukakan dengan gamblang dan mudah dimengerti. Dan pada akhirnya hadirnya terori tersebut tidak lain agar manusia menggunakan akalnya untuk berfikir lebih bijak sebagai manusia. Jangan sampai meniru perilaku orang-orang musyrik yang membangkang atas kebenaran.

Pada ayat ini Allah lebih merinci dalam penciptaan-Nya pada makhluk yang banyak memiliki kekuasaan dalam hidupnya di muka bumi ini, yaitu manusia. Allah telah menciptakan nenek moyang manusia, yaitu Adam dari bahan yang sederhana yaitu tanah. Manusia yang sekarang ini menjadi besar dan dewasa juga dari saripati tanah, dan berbagai zat makanan yang ditumbuhkan dari tanah.

Kemudian Allah menetapkan waktu hidupnya di dunia sampai datang waktu ajal dan kematiannya, dan selanjutnya Allah juga menetapkan perjalanan sesudah kematian, yaitu waktu dibangkitkan dari kubur pada hari kebangkitan, meskipun banyak di antara manusia yang masih ragu-ragu.

Manusia yang ragu tentang dibangkitkannya nanti pada hari Kiamat adalah didasarkan pada jalan pikirannya yang pendek dan sederhana, yaitu bagaimana mungkin manusia yang sudah mati dan tubuhnya hancur menjadi satu dengan tanah, atau bahkan menjadi zat bagi tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan kemudian dimakan manusia generasi berikutnya dan menjadi daging ataupun kekuatan bagi manusia lain, bagaimana ini semua dapat dibangkitkan seperti sediakala ketika seseorang itu masih hidup dengan tubuh yang segar dan sehat.

Mestinya apabila kemampuan pikirannya tidak dapat mencapai atau tidak dapat memahami kekuasaan Allah dalam membangkitkan manusia yang sudah mati, seharusnya menyadari bahwa ilmu dan kemampuan pikirannya memang terbatas. Tentang kapan waktu datangnya hari Kiamat pun kita tidak mengetahui. Semua itu adalah bagian dari ilmu dan kekuasaan Allah sebagaiman difirmankan pada Surah al A’raf/7 ayat 187:

اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ  لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَ

… Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia… (al A’raf/7: 187)

Allah mengarahkan firman-Nya kepada orang-orang musyrik yang menyekutukan Allah. Allah dalam ayat ini menunjukkan lagi bukti-bukti keesaan-Nya dan kekuasaan-Nya untuk membangkitkan manusia pada hari Kiamat. Dialah yang menciptakan manusia keturunan Adam ini dari saripati tanah. Setiap kejadian manusia pasti mengandung unsur zat tanah.

Jika diperhatikan proses kejadian manusia, lebih jelas lagi bahwa kejadiannya dari tanah. Kejadian manusia dalam rahim diawali dari nutfah, yaitu percampuran antara sel mani laki-laki (sperma) dengan sel telur dari perempuan (ovum). Disebabkan berasimilasi dengan zat makanan, maka nutfah yang sudah bercampur itu berkembang menjadi janin, kemudian keadaan itu berubah sampai menjadi bayi.

Sel hidup itu tersusun dari zat-zat yang bermacam-macam dan zat itu sendiri hakekatnya terdiri dari unsur kimiawi yang mati seperti zat besi, zat air yang berasal dari tanah. Demikian pula zat makanan, baik dari tumbuhan maupun dari daging hewan tersusun dari zat unsur kimiawi yang berasal dari tanah. Dari zat-zat makanan ini pula terbentuk sel mani yang ada pada manusia atau hewan.

Demikian dengan kodrat Allah Yang Mahabesar, unsur kimiawi yang mati itu menjadi sel hidup dan akhirnya menjadi manusia.


Baca juga: Ngaji Gus Baha’: Bisakah Manusia Berdialog dengan Hewan dan Tanah?


Pendapat Scientist tentang Penciptaan Manusia

Sampai saat ini belum ada teori ilmu pengetahuan yang dapat menjelaskan secara langsung bagaimana penciptaan manusia dari tanah. Tetapi secara tidak langsung, beberapa teori yang berkembang tentang asal kehidupan (origin of life) menerangkan bahwa tanah berperan penting di awal proses.

Kebanyakan teori asal kehidupan merupakan pengembangan  konsep lama: Abiogenesis yang diartikan sebagai penurunan kehidupan dari benda mati. Sejak lama Abiogenesis dianggap sebagai konsep yang paling dapat diterima untuk teori asal kehidupan sampai kemudian hukum Biogenesis (omne vivum ex ovo = asal kehidupan dari kehidupan yang lain) lebih  populer seiring dengan perkembangan mikrobiologi modern.

Pendalaman konsep Abiogenesis umumnya mengkaji proses awal mula terbentuknya senyawa-senyawa kimia penting penyusun makhluk hidup (asam amino, protein, dan sebagainya. sampai DNA) secara alami tanpa ada kehidupan sebelumnya.

Keberhasilan yang paling terkenal  adalah teori sup primitif (Soup Theory) ketika percobaan Urey & Miller (1953) berhasil mensintesis molekul-molekul organik dari gas anorganik (Metan, Amonia dan Hidrogen) pada kondisi yang disimulasikan seperti keadaan awal bumi terbentuk. Hasil ini dikembangkan oleh Joan Oro (1961) yang berhasil mensintesis protein  dari larutan Sianida.  Dari beberapa teori Abiogenesis yang berkembang, paling tidak dua diantaranya membicarakan kemungkinan asal kehidupan dari tanah (dan batuan).

Clay theory merupakan teori yang paling mendekati terjemah ayat di atas,  dikembangkan oleh Graham Cairns – Smith (1985) semenjak tahun 1960-an. Clay (Ind.: Liat, lempung) adalah mineral pembentuk partikel tanah dan batuan  yang paling halus terbentuk sebagai hasil pelapukan batuan, yang bisa pula terbentuk dari silikat terlarut.

Mineral liat, sebagaimana mineral lainnya, tetap mempertahankan struktur awal pembentukannya selama pertumbuhan. Masa mineral liat tertentu dapat mempengaruhi lingkungannya sedemikian rupa sehingga terjadi kecenderungan untuk terjadinya replikasi pada proses pembentukan selanjutnya. Mineral liat juga memiliki daya tukar kation yang dapat mengikat berbagai jenis unsur dan molekul baik di  permukaannya maupun di dalam kisi-kisi kristalnya.

Keadaan ini memungkinkan terjadinya suatu proses seleksi alam dimana terjadi penengkapan molekul-molekul tertentu. Suatu molekul proto organik yang cukup kompleks dapat terkatalisasi oleh sifat-sifat permukaan mineral liat. Tahap terakhir dari proses ini adalah terbentuknya senyawa baru (organik) yang juga mampu mereproduksi dirinya sendiri.

Deep hot biosphere. Teori ini dikembangkan oleh Thomas Gold  pada tahun 1990 an yang menyatakan bahwa kehidupan tidak berasal dari permukaan bumi tetapi beberapa kilometer di bawah permukaannya. Kini telah diketahui bahwa kehidupan mikroba cukup banyak ditemukan sampai dengan kedalaman lima kilometer di bawah permukaan bumi dalam bentuk archaea yang umumnya berasal dari umur yang sama atau bahkan lebih awal dari waktu mula terbentuknya bakteri. Dikemukakan bahwa apabila ditemukannya asal kehidupan di bawah permukaan  planet lain pada system tata surya akan meningkatkan kredibilitas teori ini.

Teori lain yang berkembang adalah ”Primitive Extraterrestrial” atau exogenesis yang membahas kemungkinan asal kehidupan dari luar bumi. Perkembangan terakhir, dengan berkembangnya studi tentang DNA, semakin banyak ilmuwan (scientist) yang meyakini bahwa kehidupan hanya bisa terjadi dengan adanya disain yang pintar (brilliant design) dari seorang creator.

Setelah memaparkan pendapat scientist seputar penciptaan manusia dari tanah timbul pertanyaan, jika Allah kuasa menciptakan sel hidup dari zat-zat mati, mengapa Allah tidak kuasa membangkitkan manusia pada hari Kiamat? Bukankah pada proses kejadian manusia itu sendiri terdapat bukti nyata yang menunjukkan kekuasaan Allah untuk mengadakan hari kebangkitan?

Allah menentukan pula dua peristiwa untuk manusia yang tak dapat dielakkan, yaitu waktu kematiannya dan waktu kebangkitannya dari kubur. Baik waktu yang ditetapkan untuk kematian maupun untuk kebangkitan tidak ada yang mengetahui kecuali Allah.

Meskipun orang-orang musyrik mengetahui kejadian diri mereka dengan gamblang dan terbatasnya umur mereka, yang kesemuanya itu membuktikan kekuasaan Allah untuk menentukan hari kebangkitan namun mereka masih tetap ragu. Seharusnya mereka dapat menarik pelajaran dari bukti-bukti itu. Jika Allah berkuasa menciptakan zat-zat yang mati menjadi satu lalu memberinya hidup serta menentukan perkembangannya, tentu Allah juga berkuasa menghimpun kembali zat-zat yang mati dan menghidupkannya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 3-5 


(Tafsir Kemenag)

Maqashid Al-Quran dari Ayat-Ayat Perang [1]: Mempertahankan Agama Tidak Selalu Harus dengan Kekerasan

0
Maqasid Al-Quran
Maqasid Al-Quran

Satu lagi cabang dari ilmu Al-Quran, yaitu ilmu maqashid Al-Quran. Apa pengertian dari ilmu maqashid Al-Quran dan bagaimana contoh penerapannya dalam penafsiran Al-Quran, khususnya pada ayat-ayat perang?

Pengertian Maqashid Al-Quran

Maqasid Al-Quran merupakan  sebuah  term  yang bersifat idiomatis. Terdiri dari dua kata, yaitu maqaṣhid dan Al-Quran. Tidak ada kesepakatan antar ulama tentang definisi maqashid Al-Quran. ‘Abd al-Ṣabūr Syāhīn dalam Tārīkh al-Qur’ān mendefinisikan maqasid Al-Quran sebagai tujuan-tujuan utama yang karenanya Al-Quran diturunkan demi kemaslahatan manusia.

Definisi yang lebih komprehensif ditawarkan oleh Tazul Islam dalam Maqashid al-Qur’an a Search for a Scholarly Definition. Menurutnya, maqashid Al-Quran adalah ilmu untuk memahami diskursus Al-Quran dengan mempertimbangkan tujuan-tujuan utamanya yang merepresentasikan inti Al-Quran sebagaimana ditunjukkan oleh makna-maknanya yang terdistribusi dalam ayat-ayat muḥkamāt (a science of understanding the Qur’anic discourse in light of its purposes [maqāṣid], which represent the core of the Qur’an and are corroborated by their means, and distributed among the understandable [muḥkam] verses of the Qur’an).

Meski demikian, semua definisi yang ditawarkan oleh mereka mengerucut pada satu hal yang  sama bahwa maqashid Al-Quran merupakan inti ajaran Al-Quran yang bersifat abadi dan seharusnya digunakan untuk melihat Al-Quran.


Baca Juga: Mengenal 8 Maqasid Al Quran  Versi Ibnu ‘Asyur


Deradikalisasi Penafsiran Berbasis Maqashid Al-Quran

Deradikalisasi penafsiran merupakan proses elastisitas terhadap hasil pembacaan ayat-ayat yang mengandung diksi “radikal”. Dalam tulisan ini, penulis memilih untuk mengambil ayat al-qitâl (ayat-ayat perang) atau âyât al-sayf (ayat-ayat pedang) sebagai sampel penerapan maqashid   Al-Quran.  

Usaha   untuk   “melunakkan”   tersebut   menjadi sebuah “keharusan” dalam konteks keindonesiaan saat ini. Ketika masyarakat yang ada tidak lagi dibagi-bagi menjadi masyarakat Muslim dan non-Muslim—sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok- kelompok radikal yang ada di Indonesia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai entitas berbeda namun saling terkait dan bersimbiosis mutualisme. Berikut aplikasi deradikalisasi ayat-ayat yang terkesan “radikal” berbasis pada maqashid Al-Quran:

  1. Surat al-Tawbah [9]: 5

فَاِذَا انْسَلَخَ الْاَشْهُرُ الْحُرُمُ فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَيْثُ وَجَدْتُّمُوْهُمْ وَخُذُوْهُمْ وَاحْصُرُوْهُمْ وَاقْعُدُوْا لَهُمْ كُلَّ مَرْصَدٍۚ فَاِنْ تَابُوْا وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Apabila sudah habis bulan-bulan suci itu, maka bunuhlah orang- orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat, mendirikan salat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang”.

Ayat tersebut menunjukkan beberapa diksi “radikal” seperti: membunuh, mengepung dan mengintai orang-orang non-Muslim. Izin tersebut tidak dibatasi kecuali oleh keadaan ketika orang-orang non- Muslim telah masuk Islam yang diungkapkan dengan “mendirikan salat dan menunaikan zakat”.

2. Surat At-Tawbah [9]: 29

قَاتِلُوا الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَلَا يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَلَا يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ حَتّٰى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَّدٍ وَّهُمْ صٰغِرُوْنَ ࣖ

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, mereka yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang telah diberikan Kitab, hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”

3. Surat at-Tawbah [9]: 36

 وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

“……dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”

Diksi ketiga yang menunjukkan kekerasan, merupakan potongan yang tidak utuh dari sebuah ayat. Bagian yang memerintahkan semua umat Islam untuk memerangi dan atau membunuh semua orang non- Muslim, seakan menjadi justifikasi untuk melegalkan segala bentuk anarkisme terhadap “yang lain”. Berbeda dengan ayat-ayat pedang lainnya, ayat ini membatasi perintah untuk memerangi dengan keadaan “sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya”. Namun demikian, bagian tersebut sering dianggap tiada dan diacuhkan, dalam “penafsiran radikal”.

4. Surat at-Tawbah [9]: 41

اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Keempat ayat tersebut masih diperkuat lagi dengan ayat-ayat semisal yang menyatakan betapa orang-orang non-Muslim tidak akan menyukai dan akan selalu “membahayakan” umat Islam, sampai mereka mengikuti agama-agama tersebut (QS. Al-Baqarah: 120). Ketika seluruhnya disatukan dan dituangkan dalam sebuah ideologi, tentunya akan melahirkan ideologi radikal yang menghalalkan cara-cara “zaman batu” untuk menyelesaikan perbedaan.

Deradikalisasi atas penafsiran ayat-ayat tersebut menjadi sebuah keniscayaan bagi masyarakat Indonesia yang memiliki keragaman budaya dan agama. Proses deradikalisasi ini bisa dilakukan dengan banyak teknik. Dalam tulisan ini, penulis akan menggunakan maqashid Al-Quran.


Baca Juga: Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 120: Benarkah Yahudi dan Nasrani Tidak Rela Terhadap Islam?


Hifz al-Din wa Tatwir Wasailih

Poin   pertama   dari   maqashid   Al-Quran   adalah   mempertahankan agama dan mengembangkan segala sarana untuk kemajuan agama. Dalam konteks penafsiran ayat-ayat pedang di atas, dalam satu sisi memang terlihat seolah poin mempertahankan Islam dari serangan dan bahaya dari luar terpenuhi dengan memperbolehkan dan bahkan memerintahkan untuk mengintai, mengepung, dan bahkan membunuh orang-orang non-Muslim.

Akan tetapi, perlu diperhatikan juga   sisi   tatwîr   wasâilih   yang   menjadi  bagian  dari  hifz  al-dîn. Mempertahankan agama tidak melulu harus dengan kekerasan, sebaliknya, dapat dilakukan dengan cara-cara “elegan” sesuai dengan masa dan wilayahnya.

Dalam bahasa Arab sendiri, kata qatl tidak hanya berarti membunuh secara fisik dengan kekerasan. Akan tetapi juga dapat dimaknai dengan segala hal yang dapat menyebabkan kehinaan dan kematian (yadull ‘alâ idhlâl wa imâtah). Ketika menjelaskan tentang  kata qatala, Ibn Fâris dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah tidak membatasi hanya pada hal-hal bersifat fisik dan dengan cara kekerasan. Akan tetapi ada pula hal-hal psikis dan non-fisik tanpa menggunakan kekerasan yang juga dapat mengakibatkan kehinaan ataupun kematian. Lebih dari itu, kematian juga tidak harus berarti hilangnya nyawa dari badan, akan tetapi bisa juga diartikan dengan hilangnya kesadaran atau sesuatu yang lain dari diri seseorang.

Jika secara bahasa, kata qatl tidak selalu diartikan dengan membunuh secara fisik, maka menafsirkan perintah qâtilû yang ada dalam ayat-ayat sayf dengan arti lain, selain membunuh, tidaklah menyalahi kaidah penafsiran. Ditambah dengan lingkup sosial di mana ayat tersebut “dibaca” dan ditafsirkan.

Mempertahankan Islam dengan kekerasan dalam konteks keindonesiaan tentunya perlu untuk ditimbang kembali. Membunuh dan memerangi bukanlah solusi terbaik dalam meneguhkan agama Islam di Indonesia. Sejarah masuknya Islam di Nusantara menjadi bukti atasnya. Keyakinan Islam yang dianut oleh masyarakat Nusantara saat itu lebih bersifat “adhesi” dari pada “konversi”. Hal ini disampaikan oleh cendekiawan muslim Indonesia, Azyumardi Azra dalam Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara. Islam disebarkan dan dipertahankan dengan “menarik perhatian”, dan bukan dengan “memusnahkan” apa yang telah ada dalam masyarakat lokal.


Baca Juga: Tinjauan Tafsir terhadap Jihad, Perang dan Teror


Seperti disampaikan oleh Mustansir Mir, membaca sebuah ayat tidak dapat dilepaskan dari konteks surat dan keseluruhan al-Qur’ân, karena Al-Quran adalah sebuah kesatuan yang utuh. Demikian pula dengan ayat-ayat pedang di atas. Pada ayat ke-5 dari surat al-Tawbah, misalnya, merupakan poin kedua dari sebuah kaidah utama tentang interaksi politik antara masyarakat Muslim dan non- Muslim dalam keadaan perang.

Dengan demikian, penafsiran ayat tersebut tidak harus sama persis dengan teks tertulisnya, jika diaplikasikan pada wilayah damai seperti Indonesia. Sebaliknya, kata “memerangi” atau “membunuh” harus ditafsirkan dengan “lebih lunak”, semisal dengan melakukan diplomasi atau opsi-opsi lain yang meminimalisir tindak kekerasan. Sesuai dengan maqashid Al-Quran yang pertama.

Wallahu A’lam

Tafsir Surat Al An’am Ayat 1

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Surat Al An’am merupakan surat yang ke-6 menurut urutan Mushaf Usmani. Surat ini berjumlah 165 ayat dan merupakan kategori Surat Makiyah karena mayoritas ayatnya turun sebelum Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Pembahasan kali ini akan diawali dengan Tafsir Surat Al An’am Ayat 1.

Sebagai awalan, Tafsir Surat Al An’am Ayat 1 dibuka dengan kalimat hamdalah (pujian). Allah sengaja mengawali dengan kalimat ini untuk menegaskan kepada manusia tentang kepantasannya untuk dipuji dan disembah. Dua hal tersebut sangat layak dilekatkan kepada Allah karena tidak ada yang bisa menciptakan langit dan bumi berserta isinya dengan sangat teratur ini kecuali Allah swt.

Menariknya, pambahasan dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 1 ini masih mempunyai benang merah dengan pembahasan sebelumnya, yakni mengenai Nabi Isa as yang dijadikan Tuhan. keterkaitan tersebut dibuktikan dengan himbauan Allah kepada manusia agar tidak menyembah selain Allah dengan menjadikan sekutu bagi Allah. Sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Nabi Isa as yang menjadikan Nabi Isa as sebagai Tuhan.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al Maidah Ayat 117-120


Ayat 1

Allah membuka Surah al-An’am dengan memberi petunjuk kepada manusia bahwa segala pujian hanyalah bagi Allah, Pencipta langit, bumi dan segala isinya, serta menerangkan kepada manusia ada jalan kegelapan, yaitu jalan yang diikuti oleh orang-orang yang sesat seperti menganggap makhluk-makhluk ciptaan Allah sebagai tuhan.

Allah juga menunjukkan jalan yang terang dan cahaya yang benar, yaitu mengesakan Allah dan menghindari sikap dan anggapan yang menuju ke arah syirik, yaitu menyekutukan Allah dengan makhluk ciptaaan-Nya. Tetapi orang-orang yang ingkar kepada Allah lebih suka memilih jalan yang tidak benar, yaitu yang mengarah kepada syirik dan kegelapan.

Allah memuji dirinya dengan “Alhamdulillāh“. Dengan demikian para hamba mengetahui bagaimana hendaknya mereka memuji Tuhan yaitu dengan mengucapkan kalimat “Alhamdulillāh”.

Segala puji adalah untuk Allah, karena Dialah yang paling berhak untuk menerima pujian itu, yang memiliki segala sifat-sifat yang terpuji, dan segala sifat-sifat kesempurnaan. Allah menjelaskan tentang diri-Nya sebagai Zat Yang Maha Terpuji itu dengan menerangkan bahwa Allah Pencipta langit dan bumi, gelap dan terang.

Penciptaan langit dan bumi disebutkan secara khusus dalam ayat ini adalah untuk menunjukkan keistimewaannya sebagai ciptaan Allah yang besar, dan senantiasa disaksikan oleh umat manusia. Pada keduanya terdapat pelajaran bagi manusia yang kesemuanya itu merupakan tanda-tanda kesempurnaan Allah.

Penciptaan gelap dan terang yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah penciptaan berbagai kegelapan dan cahaya terang yang nampak oleh indra mata. Keduanya bermanfaat bagi hamba-hamba Allah.

Di antara ulama salaf ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan zulmah (gelap) dalam ayat ini ialah kekufuran, dan yang dimaksud dengan nµr (terang) ialah iman; maka mereka menguraikan maksud ayat-ayat ini sebagai berikut: Allah menciptakan langit dan bumi lalu Dia menunjukkan bukti-bukti untuk mengenal-Nya dan mengesakan-Nya.


Baca juga: Mubarak Atau Mabruk, Manakah yang Lebih Pas?


Allah memperingatkan jalan kesesatan dan menunjukkan jalan lurus dengan menurunkan syariat-syariat dan kitab-kitab-Nya, walaupun demikian orang-orang kafir itu berbuat jauh dari pikiran yang sehat, dan mereka selalu memilih jalan kesesatan. Karena itu Allah berfirman pada akhir ayat ini yang artinya, “Namun orang-orang kafir itu mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan.”

Dalam ayat ini Allah menggunakan zulumat (kegelapan) dalam bentuk jamak (plural) dari  zulmah (gelap). Sedangkan kata nµr (terang) digunakan bentuk kata tunggal. Dimaksudkan dengan perbedaan bentuk itu ialah kesesatan (gelap) banyak macamnya sedangkan petunjuk (terang) hanya satu. Kebenaran hanya satu, sedangkan kebatilan itu berbilang.

Di akhir ayat ini, ditegaskan bahwa orang-orang kafir itu mengambil sikap bertolak belakang. Mereka tidaklah mengkhususkan pujian dan ibadah kepada Allah sebagai Pencipta langit dan bumi dan Yang mengadakan gelap dan terang, tetapi mereka mempersamakan Allah dengan yang lain dalam ibadah dan pujian. Padahal mereka menyadari, hanyalah Allah yang paling berhak menerima ibadah dan pujian itu.

Selain Surah al-An’am, masih ada empat surah lagi yang dimulai dengan al-hamdulillah, artinya segala puji bagi Allah, yaitu surah pertama al-Fatihah, surah ke-18 al-Kahf, surah ke-34 Saba′, dan surah ke-35 Fatir.

Kecuali memberi petunjuk bagaimana cara yang benar dalam memuji Allah, kita juga diberi petunjuk bagaimana bersikap dan berperilaku yang baik, yaitu hanya Allah yang berhak mendapat pujian, kerena betapapun kita memiliki sedikit atau beberapa kebaikan yang dapat dibanggakan, itu semua dari Allah.

Allah yang Mahasempurna dan menganugerahkan beberapa sifat kebaikannya kepada para makhluk yang dikehendaki-Nya, terutama kepada manusia. Allah betul-betul memuliakan makhluk ini sebagaimana disebutkan dalam Surah al-Isra′/17 ayat 70:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا

Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. (al-Isra′/17: 70)

Langit, bumi dan segala isinya, termasuk manusia ini tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan diciptakan Allah Yang Mahakuasa, dengan aturan dan ketentuan yang sempurna sehingga tidak ada satu makhluk pun yang dapat menyimpang dari aturan dan ketentuan Allah.

Jika makhluk itu terjadi dengan sendirinya atau atas kemauan dan keinginan mereka sendiri, keadaan pasti menjadi kacau, karena semua ingin menjadi yang terbaik atau lebih baik dari yang lain, dan tidak ada yang ingin menjadi jelek, yang lemah atau dikalahkan oleh yang lain.

Tetapi, ternyata semua itu terjadi karena semua makhluk itu tunduk pada aturan dan ketentuan Allah yang Mahakuasa, tetapi juga Mahabijaksana, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Allah menciptakan dan menyediakan bagi manusia az-zulumat, yaitu berbagai kegelapan, jalan yang gelap, suasana yang gelap, hidup yang serba gelap dan sebagainya. Allah juga menciptakan dan menyediakan bagi manusia an-nµr, yaitu cahaya terang, jalan yang terang, kehidupan dan pemikiran yang terang, sikap dan perilaku yang transparan.

Maka terserah manusia akan memilih yang mana. Dalam ayat ini diterangkan, bahwa orang-orang yang ingkar, kafir dan tidak memiliki iman yang kuat banyak yang memilih zulumat yang menyimpang dari fitrah dan nurani manusia sendiri.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 2


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Al-Anbiya’ Ayat 107; Nabi Muhammad Saw Adalah Rahmat Bagi Seluruh Alam

0
Tafsir Surat Al-Anbiya’ Ayat 107
Tafsir Surat Al-Anbiya’ Ayat 107

Muhammad Saw adalah nabi dan rasul terakhir dan terbaik menurut umat Islam. Beliau diberi amanah oleh Allah Swt untuk menyebarkan iman, Islam dan ihsan (ajaran ketauhidan) sebagai bagian akhir mata rantai dari agama samawi yang berkesinambungan disebarkan oleh nabi-nabi terdahulu. Sebagaimana tulisan ini akan mengulas tentang Muhammad SAW adalah rahmat bagi seluruh alam, tepatnya pada tafsir al-Anbiya’ ayat 107. 

Nabi Muhammad Saw dilahirkan dari sepasang orang mulia bermarga Quraisy, yakni Abdullah dan Aminah pada hari senin, 12 Rabiul Awal tahun pasca penyerangan tentara bergajah Abraham ke Mekah atau yang lebih dikenal sebagai ‘ām fīl bertepatan dengan tahun 571 M.

Berkenaan dengan hari kelahirannya tersebut, Rasulullah Saw pernah bersabda–ketika ditanya mengenai alasan beliau melaksanakan puasa Senin–hari Senin adalah hari aku dilahirkan (H.R Muslim). Hadis ini oleh sebagian orang dimaknai sebagai kebolehan merayakan hari kelahiran dengan cara yang baik.

Nama nabi Muhammad sendiri diberikan oleh sang kakek Abdul Muthalib–seorang pemegang kunci Ka’bah–melalui ilham dari Allah Swt. Dikisahkan bahwa sebelum kelahiran nabi Saw, Abdul Muthalib memanjatkan doa di depan Ka’bah dan mendapatkan perintah agar menamai cucunya dengan nama Muhammad.


Baca juga: Inilah Alasan Mengapa Umat Islam Harus Mengenal Rasulullah SAW


Nabi Muhammad belia menjalani kehidupan yang lumayan sulit. Tercatat dalam Intisari Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hazm al-Andalusi bahwa ketika beliau berumur 3 tahun ayahnya meninggal. Kemudian disusul oleh sang ibu dan kakek ketika beliau berumur 6 dan 8 tahun. Beliau lalu diasuh oleh pamannya, yakni Abu Thalib.

Menurut sebagian sejarawan, masa-masa sulit yang dialami oleh nabi Muhammad tersebut merupakan sarana Allah Swt untuk mempersiapkan beliau menghadapi berbagai hambatan dan rintangan dalam berdakwah kelak. Bahkan diceritakan bahwa ketika beliau anak-anak, dadanya pernah dibelah oleh malaikat Jibril untuk membersihkan hatinya.


Baca juga: Tafsir Surat An-Nahl Ayat 97: Kesetaraan Laki-Laki dan Perempuan dalam Beribadah


Tafsir Surat Al-Anbiya’ Ayat 107

Sebenarnya, pengutusan nabi Muhammad bukan semata-mata untuk menyebarkan iman, Islam dan ihsan (ajaran ketauhidan), tetapi pengutusan beliau itu sendiri merupakan rahmat bagi alam semesta. Firman Allah Swt:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ ١٠٧

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107)

Menurut Quraish Shihab, redaksi ayat di atas sangat singkat, tetapi ia mengandung makna yang sangat luas, yakni: 1) Rasul atau utusan Allah dalam hal ini Nabi Muhammad Saw, 2) yang mengutus beliau dalam hal ini Allah, 3) yang diutus kepada mereka (al-‘alamin) serta 4) risalah, yang kesemuanya mengisyaratkan sifat-sifatnya, yakni rahmat.

Nabi Muhammad Saw adalah rahmat, bukan saja kedatangan beliau membawa ajaran, tetapi sosok dan kepribadian-nya adalah rahmat yang dianugerahkan Allah Swt kepada beliau. Ayat ini menyatakan bahwa: “Kami tidak mengutus engkau untuk membawa rahmat, tetapi sebagai rahmat atau agar engkau menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (Tafsir Al-Misbah 8]: 518).

Abdul Karim Al-Qusyairi mengatakan ayat ini bermakna bahwa Allah tidak akan menurunkan azab terhadap manusia yang kufur atau kafir terhadap-Nya selama nabi Muhammad Saw berada di antara mereka. Karena beliau merupakan rahmat dari Allah bagi sekalian makhluk di dunia dan tidak terbatas hanya untuk manusia.

Penyebutan Rasulullah sebagai rahmat merupakan pujian agung Allah kepada beliau. Karena tidak ditemukan dalam Al-Qur’an seorang pun dan tidak juga satu makhluk pun yang disifati dengan sifat rahmat oleh Allah Swt, kecuali Rasulullah Muhammad Saw. Ini seakan-akan sifat rahmat merupakan hak istemewa bagi beliau (Tafsir Al-Misbah 8]: 520).

Pembentukan kepribadian Nabi Muhammad Saw sehingga menjadikan sikap, ucapan, perbuatan, bahkan seluruh totalitas beliau adalah rahmat Allah agar sejalan dengan ajaran yang dibawanya tanpa kurang sedikitpun. Bahkan dikatakan bahwa penjelasan konkret akhlak Al-Qur’an dapat dilihat dari seluruh tingkah-laku dan keseharian nabi Saw.

Sedangkan menurut Muhammad Al-Maturidi, ayat ini memiliki beberapa makna, yaitu: Allah telah mengutus semua rasul sebagai rahmat dari-Nya kepada sekalian alam; Allah mengutus nabi Muhammad dan menjadikannya sebagai rahmat bagi seluruh alam; atau Allah mengutus nabi Muhammad sebagai rahmat dari-Nya bagi seluruh alam.

Makna alam di sini adalah jagat raya yang terdiri dari kumpulan makhluk hidup, baik alam manusia, alam malaikat, alam jin, alam hewan dan tumbuh-tumbuhan. Semua alam itu memperoleh rahmat–tanpa terkecuali–dengan kehadiran nabi terakhir, yakni nabi Muhammad Saw yang membawa ajaran Islam.


Baca juga: Tafsir Kalimat Sawa’: Hidup Damai di Tengah Perbedaan, Kenapa Tidak?


Dengan rahmat itu terpenuhilah hajat batin manusia untuk meraih ketenangan, ketentraman, serta pengakuan atas wujud, hak, bakat dan fitrahnya, sebagaimana terpenuhinya hajat keluarga kecil dan besar, menyangkut perlindungan, bimbingan dan pengawasan serta saling pengertian dan penghormatan.

Bahkan jauh sebelum Eropa mengenal organisasi pecinta binatang, Rasulullah Saw telah mengajarkan perlunya mengasihi binatang. Banyak sekali pesan beliau menyangkut hal ini, dimulai dari perintah tidak membebani melebihi kemampuannya, sampai dengan perintah mengasah pisau terlebih dahulu sebelum menggunakannya menyembelih (HR. Muslim).

Semua sifat rahmat nabi Muhammad Saw di atas sudah sepantasnya menjadi panutan dan ikutan umat Islam. Mereka harus menunjukkan ajaran Islam sesungguhnya sebagaimana yang telah nabi contohkan. Karena ajaran Islam tidak hanya hidup dalam pemikiran pemeluknya, tetapi juga harus dimanifestasikan dalam keseharian mereka. Allahumaj’alna minhum, aamiin.