Beranda blog Halaman 505

Tafsir Surat Al An’am Ayat 36-38

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Dalam pembahasan yang lalu Allah menyatakan bahwa orang-orang kafir itu pada dasarnya tidak mau beriman dan sengaja mencari-cari kesalahan. Maka dari itu tidak akan pernah menerima risalah Nabi Muhammad saw. lebih lanjut mengenai respons atas risalah Nabi Muhammad, Tafsir Surat Al An’am Ayat 36-38 membagi kepada dua kelompok.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 34-35


Kelompok pertama adalah orang yang hidup jiwanya. Mereka akan menerima dengan hati yang murni. Sedang kelompok kedua dalam pembahasan Tafsir Surat Al An’am Ayat 36-38 ini adalah manusia yang mati jiawanya. Manusia seperti ini sudah pasti membangkang karena risalah Nabi Muhammad saw bukan untuk orang yang membangkang.

Selanjutnya Tafsir Surat Al An’am Ayat 36-38 berbicara mengenai perminataan-permintaan orang kafir yang aneh-aneh. Padahal permintaan itu bisa menjadi bumerang kepada mereka sendiri. Setelah itu pembahasan Tafsir Surat Al An’am Ayat 36-38 ini ditutup dengan pembiacaraan kekuasaan Allah swt atas segala yang ada, baik manusia, hewan, pepohonan, bebatuan segala yang meliputi alam raya.

Ayat 36

Ayat ini menerangkan bahwa yang akan memperkenankan seruan Allah adalah hanya bagi orang yang mendengar. Kemudian, dalam menghadapi seruan Nabi dan risalah yang disampaikannya, manusia terbagi dua, yaitu manusia yang hidup jiwanya dan manusia yang mati jiwanya.

Manusia yang hidup jiwanya ialah manusia yang menggunakan akal, pikiran, perasaan dan kehendak serta pilihan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Dengan anugerah itu, mereka dapat melihat, memperhatikan dan menilai segala sesuatu yang dikemukakan kepada mereka. Yang baik mereka ambil, sedang yang buruk mereka buang.

Karena itu hati dan pikiran mereka terbuka untuk menerima petunjuk Allah, Mereka ibarat tanah yang subur. Sedikit saja disirami air, tanah itu akan menjadi subur, dapat menumbuhkan tanaman-tanaman dengan mudah dan cepat.

Sedangkan manusia yang mati jiwanya ialah manusia yang tidak mau menggunakan akal, pikiran, perasaan, pilihan dan mata hati yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Hati mereka telah tertutup oleh rasa dengki. Karena itu segala keterangan yang dikemukakan Nabi tidak akan mereka dengar dan perhatikan.

Seandainya mereka dapat melihat dan memperhatikan dalil-dalil dan bukti-bukti yang dikemukakan Rasul dan pikiran mereka menerimanya, namun semuanya itu ditolak dan tidak diterima karena rasa dengki tersebut. Mereka diibaratkan seperti tanah yang tandus, berapa pun air yang dialirkan padanya, tanah itu tidak akan menumbuhkan tumbuhan yang ditanam.

Kelompok manusia yang kedua ini adalah orang-orang kafir yang kekafirannya telah mendalam, sehingga tidak ada harapan bahwa mereka akan beriman dan mematuhi seruan Nabi. Maka Allah menganjurkan agar Muhammad saw tidak bersedih hati atas sikap mereka, dan menyerahkan keadaan mereka kepada Allah. Allah akan membangkitkan mereka dari kuburnya di hari Kiamat dan akan mengazab mereka sebagai balasan dari kekafiran mereka.

Ayat 37

Ayat ini menegaskan lagi tentang sikap orang-orang musyrik yang sangat ingkar kepada seruan Nabi Muhammad dan kepada ayat-ayat Allah. Mereka meminta agar diturunkan kepada mereka bukti-bukti dan keterangan-keterangan tentang kebenaran kenabian Muhammad, sebagaimana yang pernah diturunkan kepada Rasul-rasul dahulu.

Mereka tidak merasa cukup dengan bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang terdapat di dalam Alquran, padahal bukti dan keterangan yang terdapat di dalam Alquran itu adalah yang paling tinggi nilainya bagi orang-orang yang mau menggunakan akal, pikiran dan mata hatinya.

Mereka tetap menuntut agar diturunkan bukti dan keterangan seperti telah diturunkan kepada umat-umat yang dahulu, tetapi mereka tidak mau memikirkan dan mengambil pelajaran dari sunnah Allah yang berlaku bagi orang-orang yang menerima bukti dan keterangan seperti itu serta akibat yang dialami oleh orang-orang dahulu, yaitu mereka dihancur leburkan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang pedih, karena mereka tetap dalam keingkaran dan tidak memperhatikan bukti-bukti dan keterangan-keterangan itu.

Orang-orang musyrik Mekah itu tidak mau tahu bagaimana kasih sayang Allah kepada mereka, yaitu mengapa Allah tidak menurunkan bukti dan keterangan seperti yang diturunkan kepada umat yang dahulu, agar mereka tidak dihancurkan di dunia ini, dengan demikian mereka mendapat kesempatan untuk bertobat dan berbuat baik, tetapi mereka tidak mau mensyukuri nikmat Allah yang telah diturunkan kepada mereka, tetapi tetap ingkar dan membangkang.

Sebenarnya Allah Kuasa menurunkan apa yang mereka minta, tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya, Dia hanya menurunkan bukti dan keterangan, Dia tidak menurunkan bukti dan keterangan berdasarkan permintaan dan hawa nafsu orang-orang musyrik, apalagi bila permintaan itu adalah semata-mata untuk melemahkan dan menyulitkan Nabi.


Baca juga: Muballigh Atau Ustaz, Samakah Makna Keduanya?


Ayat 38

Ayat ini menyatakan bahwa Allah menguasai segala sesuatu, ilmu-Nya melingkupi seluruh makhluk yang ada, Dialah yang mengatur alam semesta. Semua yang melata di permukaan bumi, semua yang terbang di udara, semua yang hidup di lautan, dari yang terkecil sampai yang terbesar, dari yang nampak sampai yang tersembunyi, hanya Dialah yang menciptakan, mengembangkan, mengatur dan memeliharanya.

Makhluk Allah yang hidup di dunia ini tidak hanya terbatas pada jenis manusia, tetapi masih terdapat banyak macam dan ragam makhluk-makhluk lain. Bahkan masih banyak yang belum diketahui oleh manusia. Semuanya itu tunduk dan menghambakan diri kepada Allah, mengikuti perintah-perintah-Nya dan menghentikan larangan-larangan-Nya.

Maksud kata dabbah dalam ayat ini ialah: Segala makhluk yang diciptakan Allah di bumi. Disebut “binatang di bumi” karena binatang yang di bumi itulah yang mudah dilihat dan diperhatikan oleh manusia.

Pada ayat yang lain Allah menyebutkan bahwa selain di bumi, di planet-planet yang lain pun terdapat makhluk hidup. Allah swt berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ خَلْقُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيْهِمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ ۗوَهُوَ عَلٰى جَمْعِهِمْ اِذَا يَشَاۤءُ قَدِيْرٌ

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah penciptaan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia kehendaki. (asy-Syµra/42: 29)

Adanya makhluk-makhluk hidup yang disebutkan Allah pada planet-planet yang lain, sebagaimana yang disebutkan oleh ayat ini, merupakan suatu pengetahuan yang diberikan Allah kepada manusia, dan sebagai bahan pemikiran dan penyelidikan.

Ayat ini mendorong orang-orang yang beriman agar menyelidiki segala rupa kehidupan makhluk Allah yang ada di alam ini, untuk memperkuat iman dan menambah ketaatan serta ketundukan kepada Allah Yang Mahakuasa.

Allah menyatakan bahwa di dalam Alquran itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan bimbingan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat dan kebahagiaan makhluk pada umumnya.

Menurut Ibnu ‘Abbas, yang dimaksud dengan “al-kitab” dalam ayat ini ialah “Ummul Kitab”, yakni Lauh Mahfuz. Karena maksud ayat ini menurutnya adalah: segala sesuatu telah dituliskan dalam Lauh Mahf. Menurut Ibnu Kasir tidak ada satu makhluk pun yang dilupakan Allah dalam pemberian rezekinya, sebagaimana firman Allah swt:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

Dan tidak satupun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (Hµd/11: 6)

Semua makhluk yang diciptakan Allah, baik di langit maupun di bumi, akan mati dan kembali kepada pemiliknya, yaitu Allah. Kemudian Dia akan membangkitkannya dan menghimpunnya untuk memberi pahala atas perbuatan yang baik dan memberi siksaan atas perbuatan yang buruk.


Baca setelahnya:  Surat Al An’am Ayat 39-41


(Tafsir Kemenag)

Baca Ayat Ini Untuk Menjaga Hafalan Al-Quran dan Semua Ilmu Pengetahuan

0
Hafalan Al-Quran
Hafalan Al-Quran

Berbagai cara telah dilakukan oleh umat Islam untuk menjaga keotentikan Al-Quran. Sejak pewahyuan–yakni zaman nabi Muhammad Saw–Al-Quran telah dibaca dan dihafal oleh mayoritas masyarakat Islam, terutama sahabat-sahabat Rasulullah Saw. Hasilnya, sebagian besar dari mereka memiliki hafalan Al-Quran yang lengkap. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai huffazhul Qur’an.

Pasca Rasulullah wafat (632 M), Abu bakar yang menjadi khalifah dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa besar berkenaan kemurtadan sebagian orang Arab yang berujung pada peperangan, yakni perang Yamamah. Perang ini terjadi pada tahun 12 H melibatkan sejumlah sahabat yang hafal Al-Quran dan 70 orang dari huffazhul Qur’an tersebut gugur di jalan Allah.

Melihat kejadian ini, Umar bin Khattab merasa khawatir. Ia kemudian menghadap Abu bakar dan mengusulkan agar Al-Quran dikumpulkan dan dibukukan sebab peperangan Yamamah telah menewaskan banyak sahabat yang Hafal Al-Quran. Ia takut jika kompilasi tidak dilakukan, maka Al-Quran akan hilang seiring hilangnya hafalan Al-Quran yang ada pada sahabat nabi Saw.

Kompilasi Al-Quran pun dilaksanakan dan penulisan Al-Quran selanjutnya terus berkembang hingga saat ini. Selain menjaga Al-Quran melalui tulisan, umat Islam juga menjaganya melalui hafalan. Tercatat semenjak masa Rasulullah Saw hingga abad 21, tradisi menghafal Al-Quran senantiasa eksis dan tersebar di berbagai penjuru Dunia. Bagi huffazhul Qur’an, menghafal bukan hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga merupakan sebuah tugas suci.

Baca Juga: Pengumpulan Al-Quran dan Kisah Diskusi Alot Abu Bakar, Umar bin Khattab 

Para penghafal Al-Quran menggunakan berbagai metode untuk menyelesaikan hafalan Al-Quran mereka. Biasanya hal tersebut dilakukan melalui pembacaan berulang-ulang terhadap Al-Quran. Ada yang menamatkan Al-Quran dalam seminggu, ada yang menamatkan dalam 2 minggu, dan ada pula yang menamatkannya dalam jangka waktu sebulan.

Doa Agar Hafalan Al-Quran Terjaga

Selain berusaha dengan giat menghafal Al-Quran melalui pembacaan berulang-ulang, para penghafal Al-Quran (huffazhul Qur’an) juga melakukan tirakat-tirakat yang dianggap mampu untuk membantu menghafal atau menjaga hafalan Al-Quran. Karena bagi mereka menghafal Al-Quran tidak cukup hanya melalui usaha, tetapi juga melalui pertolongan Allah Swt.

Salah satu doa yang bisa diamalkan untuk menjaga hafalan Al-Quran adalah QS. Al-Fatihah [1]: 1, QS. Ar-Rahman [55]: 1-6, QS. Al-Qiyamah [75]: 16-19, dan QS. Al-Buruj [85]: 21-22. Menurut Imam al-Ghazali dalam adz-Dzahabul Ibris, jika semua ayat tersebut dibaca dan dituliskan dalam sebuah wadah air untuk minum, maka itu dapat membantu menjaga hafalan dan semua ilmu pengetahuan.

Amaliyah ini al-Ghazali kutip dari Hisyam bin Al-Kalbi (w. 202 H) yang berkata, “Aku memiliki seorang putra yang belajar menghafal Al-Quran. Setiap kali ia membaca dan menghafalnya ia lupa. Lantas, pada suatu malam saya bermimpi seseorang berkata, tulislahh di dalam wadah yang bersih bacaan,

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١  الرَّحْمٰنُۙ ١ عَلَّمَ الْقُرْاٰنَۗ ٢ خَلَقَ الْاِنْسَانَۙ ٣ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ ٤ اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ ٥ وَّالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ ٦لَا تُحَرِّكْ بِهٖ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهٖۗ ١٦ اِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهٗ وَقُرْاٰنَهٗ ۚ ١٧ فَاِذَا قَرَأْنٰهُ فَاتَّبِعْ قُرْاٰنَهٗ ۚ ١٨ ثُمَّ اِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهٗ ۗ ١٩بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌۙ ٢١ فِيْ لَوْحٍ مَّحْفُوْظٍ ࣖ ٢٢

Artinya:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah [1]: 1)

“(Allah) Yang Maha Pengasih, Yang telah mengajarkan Al-Quran. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan, dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya).” (QS. Ar-Rahman [55]: 1-6)

“Jangan engkau (Muhammad) gerakkan lidahmu (untuk membaca Al-Quran) karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya Kami yang akan mengumpulkannya (di dadamu) dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.  Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.” (QS. Al-Qiyamah [75]: 16-19)

“Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-Buruj [85]: 21-22)

Lalu tuangkan air zamzam ke dalam wadah tersebut kemudian minumkanlah kepada anakmu, maka in sya Allah dia akan hafal Al-Quran dan ilmu pengetahuan yang lain.” Hisyam bin Al-Kalbi melakukan sebagaimana yang diperintahkan dan tak lama kemudian anaknya mampu menjadi salah satu huffazhul Qur’an.

Baca Juga: Mana yang Lebih Utama, Membaca Al-Quran dengan Hafalan atau dengan Melihat Mushaf?

Bagi siapa yang ingin menghafal Al-Quran dan menjaga hafalannya tersebut dapat melakukan amaliyah di atas dengan catatan bahwa ia juga berusaha sungguh-sungguh menghafal dan menjaga hafalannya melalui pembacaan berulang-ulang terhadap Al-Quran Al-Karim. Doa ini hanya berfungsi sebagai sarana pembantu, bukan sarana utama. Allahumarhamna bil Qur’an, aamiin.

Tafsir Surat al-Ma’un ayat 4-7 : Celakalah Mereka yang Lalai dari Sholat

0
Surat al-Maun ayat 4-7
Tafsir Surat al-Maun ayat 4-7/ celaka bagi yang lalai sholat

Shalat menjadi salah satu pembuktian atas penghambaan kita kepada Allah swt. Ibadah 5 waktu ini benar-benar ditekankan dalam ajaran Islam. Karena perintah ini langsung disampaiakan Allah swt kepada Nabi Muhammad tanpa perantara. Namun demikian masih ada dari kita yang justru menggampangkan ibadah ini. Padahal dalam Surat Al-Ma’un ayat 4-7 telah diingatkan tentang celakanya mereka yang lalai dalam melaksanakan Shalat.

Tafsir Surat al-Ma’un ayat 4-7

Surat al-Ma’un merupakan salah satu surat dari sekian banyak surat/ayat yang mengintakan umat Islam agar tidak melalaikan Shalat. Adapun bunyi ayat tersebut ialah:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ (7)

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang yang berbuat riya’, dan enggan (menolong dengan) barang berguna”

Pada 3 ayat sebelumnya telah dijelaskan perihal para pendusta agama dengan menjelaskan sikap-sikap yang tercela terhadap sesama manusia. Sedangkan pada ayat berikutnya lebih menguraikan tentang perbuatan buruk terhadap Allah swt.

Seperti yang dijelaskan dalam Tafsir al-Munir, Wahbah az-Zuhaili mengambil riwayat dari ibn ‘Abbas yang mengatakan bahwa ayat ke-empat ini turun berkaitan dengan orang munafik yang menunaikan shalat jika orang mukmin melihatnya. namun ketika sendirian, mereka tidak melaksanakannya serta menahan untuk menolong dengan sukarela. Riwayat ini juga dikutip dalam Tafsir Jalalain.

Adanya huruf ف pada awal ayat ke 4 menjadi penghubung dengan kalimat sebelumnya sehingga menurut Quraish Shihab kalimat sebelum dan sesudahnya seperti hubungan sebab akibat. Ini seperti yang juga dijelaskan oleh Husain Thabathaba’i dalam tafsir al-Mizan bahwa adanya huruf ف menunjukan keterkaitan antara orang yang mendustakan agama/hari pembalasan dengan mereka yang lalai dalam sahalatnya.


Baca juga: Al Qur’an Maghribi, Mushaf Unik yang Huruf Qaf-nya Bertitik Satu


Mereka yang Lalai

dalam Tafsir al-Quran al-Adzim, Ibn kathir menjelaskan bahwa makna lil mushallin menunjukan pada mereka yang ahli shalat dan biasa melakukannya Adapun kata سَاهُونَ pada ayat ke 5, Nasir Makarim Syirazi dalam Tafsir al-Amtsal menjelaskan bahwa kata saahun berakar pada kata sahwun dan ini merupakan sumber kelalaian manusia. Sedangkan pada ayat ini, kata tersebut lebih menekankan pada kelalaian terhadap seluruh bagian-bagian shalat.

Ibn kathir dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa makna lil mushallin menunjukan pada mereka yang ahli shalat dan biasa melakukannya. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kelalaian ini terjadi pada tiga hal, pertama ialah mereka yang lalai dalam melaksanakan shalat seperti lalai terhadap syarat maupun rukun dalam shalat. Kedua ialah mereka yang lalai dalam waktu shalat, yakni yang mengakhirkan waktu shalat (tanpa ada udzur) dan menjadikannya kebiasaan. Dan ketiga ialah mereka  yang lalai dalam kekhusyuan.

Berbeda dengan al-Zamakshsyari, dalam al-kasysyaf disebutkan bahwa penggunaan kata عَنْ ini dipahami bahwa yang dimaksud lalai ialah mereka yang meninggalkan shalat dan minimnya kepedulian mereka terhadap ibadah tersebut. Al-Qurthuby juga sependapat akan hal itu, ia menambahkan dalam tafsirnya bahwa jika lalai yang dimaksud ialah dalam salat, tentu ancaman itu akan menimpa seluruh orang beriman karena dalam shalat tidak menutup kemungkinan mereka mendapat bisikan setan maupun lupa dengan sendirinya. Dan itu hal yang manusiawi.


Baca juga: Memahami Kalimat Ta’awwudz Sebelum Membaca Al-Quran dengan Metode Tadabbur


Mereka yang Riya’ dan Enggan Membantu

Perbuatan riya’ merupakan hal yang sulit terlihat, bahkan mustahil untuk diketahui orang lain. riya’ sendiri merupakan penyakit hati dimana seseorang beramal bukan karena Allah melainkan untuk mendapat popularitas semata. Bahkan Rasul menyamakan perbuatan riya’ dengan syirik kecil seperti sabdanya yakni:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ ” قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: ” الرِّيَاءُ “

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan dari kalian adalah syirik kecil” mereka bertanya: Apa itu syirik kecil Wahai Rasulullah?, Rasul menjawab : Riya”(HR. Ahmad)

Adapun pada ayat terakhir, Husain Thabathaba’i mengatakan bahwa al-Ma’un yakni membantu orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti memberi makanan atau meminjamkan barang-barang yang diperlukan orang lain.

Quraish Shihab berpandangan bahwa ayat 6 dan 7 masih memiliki keterkaitan erat dengan ayat-ayat sebelumnya. Menurutnya kelalaian dalam shalat senantiasa dilakukan oleh orang-orang yang selalu berbuat riya’, tidak ikhlas, munafik, dan suka menghalangi dirinya dan orang lain dalam membantu sesama. Dalam tafsir al-Misbah, ia malanjutkan bahwa azab dan kecelakaan akan menimpa bagi mereka yang bersembahyang dengan hati yang lalai, beramal dengan riya’ dan tidak mau meminjamkan barang-barang miliknya kepada orang yang membutuhkan. 


Baca juga; Tidak Sama yang Buruk dengan yang Baik, Jangan Terjebak Keburukan yang Melenakan!


Sebuah Renungan dan Introspeksi Diri

Kemukjizatan al-Quran begitu sangat jelas terlihat dari isi-sisnya yang seimbang. Tidak hanya membawa kabar gembira (Basyiran) tapi juga menyampaikan ancaman (Nadliron). Ini sudah menjadi konsekuensi umat Islam dalam beriman dan bertaqwa.

Tak bisa dipungkiri juga bahwa semua hal yang disinggung dalam surat al-Ma’un banyak dilakukan oleh umat Islam hingga sekarang. Kecaman bagi mereka yang lalai dalam menjalankan ibadah hingga tidak mau membantu kepada sesama menjadi cambuk peringatan bagi kita untuk senantiasa bermuhasabah diri dan tak henti-hentinya selalu bertaubat dengan memperbaiki kesahalan yang telah lalu. Wallahu A’lam

Al Qur’an Maghribi, Mushaf Unik yang Huruf Qaf-nya Bertitik Satu

0
Al Qur’an Maghribi
Al Qur’an Maghribi

Bagi muslim Indonesia, tentu sangat familiar dengan mushaf Al Qur’an dengan khat naskhi seperti yang kita baca sehari-hari. Mushaf Al Qur’an yang sering kita baca ini masuk kategori mushaf Al Masyriqiyyah, yang mana biasa digunakan oleh negara-negara muslim dari wilayah Mesir ke timur. Sementara di wilayah yang mencakup negara-negara muslim dari Libya ke barat tidak menggunakan khat naskhi, mereka menggunakan khat maghribi yang juga menjadi nama mushaf tersebut.

Perbedaan berdasarkan letak geografis ini memang membuat khazanah mushaf semakin variatif. Salah satu keunikan Al Qur’an maghribi atau yang membedakan dengan mushaf masyriqi adalah penulisan khatnya. Tentu sangat jelas, ketika melihat huruf qaf yang hanya bertitik satu, dan huruf fa’ titiknya di bawah huruf.


Baca juga: Benarkah Warna Merah Lafadz Walyatalattaf sebagai Tanda Tetesan Darah Usman bin Affan?


Namun, membicarakan Al Qur’an maghribi tanpa melihat tampilannya sangatlah tidak lengkap. Berikut contoh tampilannya,

Dari gambar di atas, tampak fa’ pada penulisan Al fatihah menggunakan titik satu yang bukan diletakkan di atas, namun di bawah. Kemudian dalam kata al-mustaqim juga terlihat penulisan qaf-nya hanya bertitik satu, bukan bertitik dua layaknya penulisan yang sering kita temui. Penulisan huruf nun di akhir kalimat pun tidak disertai dengan titik.

Bagi kalangan yang mendalami ilmu khat, tentu hal seperti ini sangatlah lumrah. Namun berbeda dengan orang awam, keragaman seperti ini harus juga dijelaskan. Supaya tidak terjadi kegagapan dan menganggap suatu kemasygulan atau kesalahan. Apalagi mushaf maghribi tidak hanya berbeda jenis khatnya, namun juga qiraatnya.

Perihal khat atau kaligrafi, sebenarnya dua klasifikasi masyriqi dan maghribi ini lahir dari satu rahim yang sama, yakni khat kufi lama. Namun seiring berjalannya waktu, muslim bagian barat jazirah Arab seperti di kawasan Afrika utara, yaitu Mesir, Libiya, Tunisia, al-Jazair, dan Maroko lebih mengembangkan khat jenis maghribi ini.


Baca juga: Apakah Terjemahan Al-Quran Dapat Disebut Karya Tafsir? Inilah Pemetaan Levelisasi Mufasir Menurut Para Ahli


Sementara di wilayah timur jazirah Arab lebih memilih khat yang merujuk kaidah al-mansubah, yang mana dipelopori oleh Ibnu Muqlah. Maka di wilayah timur, berkembang khat naskhi, tsulus, riq’ah, dan farisi. Adapun penulisan mushaf masyriqi menggunakan khat naskhi karena dianggap paling mudah untuk dibaca oleh semua kalangan.

Spesifikasi Al Qur’an Maghribi

Adalah keniscayaan jika terdapat keunikan dalam mushaf Maghribi. Tentu, keunikan ini terjadi lantaran kita belum terbiasa melihatnya. Secara tartib mushaf (urutan surat), mushaf maghribi sama persis dengan mushaf masyriqi. Begitupun dengan rasm, Maghribi juga mengikuti kaidah rasm Usmani. Rasm mushaf maghribi ini secara umum mengacu pada kitab al-Muqni’ karya Abu ‘Amr ad-Dani (w. 444 H/1052 M.).

Rasm tersebut juga yang membedakan dengan mushaf lainnya, misalnya mushaf Madinah. Mushaf ini justru menggabungkan dua rujukan yang dikenal dengan syaikhani, baik riwayat Abu ‘Amr ad-Dani (w. 444 H.) melalui kitab Al-Muqni’ fi Ma’rifati Marsum Masahif Ahl al-Amsar. Maupun riwayat Abu Dawud Sulaiman bin Najah (w. 496 H.) dalam Mukhtasar at-Tabyin li Hija’ at-Tanzil.


Baca juga: Pesan Kinasih Shalawat Fadhailul Qur’an, Syair Anggitan Kyai Ahsin Sakho Muhammad


Adapun qiraat yang dijadikan rujukan mushaf Maghribi adalah qiraat Imam Nafi’ (w. 169 H/ 785-6 M), baik riwayat Qalun (w. 220 H/835-6 M) maupun Warasy (w. 197 H/ 813-4 M). hanya saja gambar di artikel ini merujuk pada riwayat Warasy. Kemudian, salah satu contoh yang kentara untuk melihat qiraat ini adalah yu’minuuna. Di mushaf yang sering kita baca dengan qiraah Ashim riwayat Hafs tertulis يؤمنون (dengan hamzah). Namun di mushaf maghribi ini tertulis يومنون (tanpa ada hamzahnya).

Selain itu, jumlah ayatnya pun berbeda dengan mushaf yang sering kita pakai. Total ayat mushaf maghribi secara umum berjumlah 6214 ayat. Hal ini dikarenakan perwaqafan yang kadang berbeda.

Tentu, keragaman seperti ini semakin lebih menyadari adanya ragam budaya di tiap-tiap wilayah muslim dunia. Semoga bermanfaat

Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 109: Betapa Luasnya Ilmu Allah

0
luasnya ilmu allah
ilmu kita ibarat setetes tinta

Sebagai Dzat yang menciptakan, memberikan ilmu, dan mengatur seluruh alam raya, tentunya Allah mengetahui segala hal yang telah dan akan terjadi di alam raya ini. Semua yang diketahui manusia, sudah pasti diketahui lebih dahulu oleh Allah swt., karena yang menciptakan tentu lebih dahulu (qadim) dari yang diciptakan. Tetapi tidak sebaliknya, apa yang diketahui Allah swt., belum tentu dapat dipahami–atau sekadar diketahui–oleh makhluk-Nya.

Ketika seseorang membicarakan tentang keluasan ilmu Allah swt., tak jarang kita mendengar sebuah gambaran bahwa, luasnya ilmu Allah itu tidak akan bisa habis meskipun dituliskan dengan tinta yang kuantitasnya sebanyak seluruh lautan. Bahkan meski telah didatangkan berulang kali tinta sebanyak lautan itu, tidak akan cukup untuk menuliskan seluruh ilmu Allah Swt.

Gambaran tersebut sejatinya merupakan gambaran yang diberikan oleh Allah sendiri, yang terdokumentasikan dalam Q.S. Al-Kahfi [18] ayat 109. Berikut adalah kutipan ayat yang dimaksud keluasan ilmu Allah swt;

قُل لَّوۡ كَانَ ٱلۡبَحۡرُ مِدَادࣰا لِّكَلِمَـٰتِ رَبِّی لَنَفِدَ ٱلۡبَحۡرُ قَبۡلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَـٰتُ رَبِّی وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِهِۦ مَدَدࣰا

Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” [Surat Al-Kahfi (18): 109]

Baca juga: Alasan Penting Harus Ada yang Memperdalam Ilmu Agama Menurut Al Quran

Ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang menganggap bahwa mereka telah mendapatkan ilmu yang sangat banyak dengan sampainya kitab Taurat kepada mereka. Disebutkan oleh Imam Jalaluddin as-Suyuti dalam kitab Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, awalnya ialah ketika orang-orang Yahudi mendengar Q.S. Al-Isra’ [17] ayat 85, yang artinya: “Sedangkan kalian diberi pengetahuan hanya sedikit.”

Tatkala mereka mendengar ayat yang menyebutkan bahwa ilmu mereka masih sedikit, salah seorang dari kaum Yahudi menjawab, “Kami telah mendapatkan ilmu yang sangat banyak, yaitu dengan diberikannya kitab Taurat kepada kami. Dan barang siapa telah diberi kitab Taurat, maka ia telah mendapatkan banyak kebaikan.” Setelah itu diturunkanlah surat Al-Kahfi ayat 109, sebagai penegasan bahwa ilmu yang mereka peroleh masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan ilmu yang Allah miliki.

Syekh Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Tafsir Mafatih al-Ghaib memberikan penjelasan bahwa, memang benar jika dikatakan dalam kitab Taurat terdapat hikmah yang sangat banyak. Akan tetapi hikmah yang sangat banyak itu pun masih belum sebanding dengan ilmu Allah Swt. Sehingga hikmah di dalamnya seakan hanya setetes dari keseluruhan samudera ilmu yang dimiliki Allah swt.

Setelah mengetahui sebab turunnya ayat tersebut, tidakkah kita bertanya-tanya tentang maksud “kalimatu rabbi” atau “kalimat Allah” dalam ayat tersebut? Karena ayat-ayat Allah ini sangat luas, baik mencakup ayat qauliyah juga ayat kauniyah. Terkait hal ini, Syekh Ibnu ‘Asyur telah menjelaskannya dalam Tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir.

Baca juga: Keutamaan Ilmu Menurut Al-Quran: Tafsir QS. Al-Mujadilah [58] Ayat 11

Menurut beliau, kalimat Allah yang dimaksud dalam ayat tersebut ialah segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu Allah swt. Baik yang telah diwahyukan Allah kepada para utusan-Nya dan untuk disampaikan kepada umatnya, maupun yang tidak disampaikan. Karena Allah mampu memberikan seluruh pengetahuan (ilmu), maka yang diberikan itu menjadi sesuatu yang mungkin diketahui (ma’lum). Kemudian setelah diketahui, ilmu tersebut disebut sebagai kalimat.

Dalam benak manusia, air laut laut merupakan gambaran dari sesuatu yang sangat banyak. Sesuatu yang sangat banyak itu ialah wujud dari keagungan pemiliknya, yaitu Allah swt. Akan tetapi sekali pun lautan dikatakan sangat banyak, tentu belum seberapa jika dibandingkan dengan ilmu Allah.

Bagaimana bisa dianggap belum seberapa? Karena air di seluruh lautan itu bisa habis, bahkan meskipun didatangkan lagi, sedangkan ilmu Allah tidak ada habisnya. Penjelasan lebih dalam terkait hal ini dapat dirujuk dalam Tafsir Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil karya Imam al-Baidhawi, maupun Tafsir Mafatih al-Ghaib karya Syekh Fakhruddin ar-Razi. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 34-35

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pada pembahasan sebelumnya Allah membesarkan hati Nabi Muhammad agar tidak terlalu risau atas respons orang-orang kafir. Allah swt mengiformasikan bahwa rasul-rasul terdahulu pun mengalami pembangkangan dari kaumnya. Begitu pun pembahasan dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 34-35 ini. Allah swt mengingatkan bahwa jangan terlalu bersedih hati dan berduka.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 31-33


Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 34-35 ini juga dipaparkan mengenai siapa saja umat terdahulu yang membangkang dan bentuk azab yang ditimpakan kepada mereka. Ayat ini selain sebagai penghibur Nabi Muhammad saw, juga sebagai cobaan dari Allah agar selalu tabah. Hal itu juga berlaku kepada orang-orang mukmin.

Pada akhir Tafsir Surat Al An’am Ayat 34-35 ini Allah swt mengatakan kepada Nabi Muhammad saw bahwa tidak ada gunanya untuk memenuhi segala keinginan orang-orang kafir. Karena sejatinya mereka ingin membangkang bukan berusaha mencari kebenaran.

Ayat 34

Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad agar jangan bersedih hati dan berduka cita atas tindakan-tindakan orang-orang kafir itu, karena yang demikian itu adalah suatu yang biasa terjadi para nabi dan rasul yang telah diutus Allah sebelumnya didustakan dan diingkari pula, bahkan disakiti dan pengikut-pengikut mereka dianiaya. Tetapi mereka tetap tabah dan sabar menghadapi yang demikian itu.

Allah swt berfirman:

وَاِنْ يُّكَذِّبُوْكَ فَقَدْ كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوْحٍ وَّعَادٌ وَّثَمُوْدُ

Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan engkau (Muhammad), begitu pulalah kaum-kaum yang sebelum mereka, kaum Nµh, ’Ad, dan Samµd (juga telah mendustakan rasul-rasul-Nya) (al-Hajj/22: 42)

Firman Allah swt:

وَاِنْ يُّكَذِّبُوْكَ فَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّنْ قَبْلِكَۗ وَاِلَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُمُوْرُ

Dan jika mereka mendustakan engkau (setelah engkau beri peringatan), maka sungguh, rasul-rasul sebelum engkau telah didustakan pula. Dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan. (Fatir/35: 4)

Dari ayat yang berarti (sampai datang pertolongan Kami kepada mereka) dipahami bahwa para nabi dan rasul terdahulu sangat tabah dan sabar menghadapi segala macam tindakan kaumnya walau apapun yang terjadi.

Karena tindakan-tindakan yang demikian itu Allah menimpakan kepada mereka malapetaka yang besar, seperti sambaran petir, goncangan gempa yang dahsyat, serangan badai dan sebagainya, Allah menyelamatkan para nabi dan rasul beserta kaumnya yang beriman dari azab yang besar dan menyelamatkan mereka dari tindakan kaumnya yang ingkar itu.

Ayat ini merupakan hiburan bagi Nabi Muhammad dalam menghadapi perlakuan dan tindakan orang-orang musyrik Mekah, karena sebagaimana nabi-nabi dan rasul-rasul terdahulu diselamatkan Allah pasti Dia menyelamatkan Nabi Muhammad dan kaum Muslimin, serta memenangkan agama Islam.

Hiburan ini dijelaskan lagi dengan tegas dalam firman Allah swt yang lain :

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُولُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَّهُمْ ۗ كَاَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوْعَدُوْنَۙ  لَمْ يَلْبَثُوْٓا اِلَّا سَاعَةً مِّنْ نَّهَارٍ ۗ بَلٰغٌ ۚفَهَلْ يُهْلَكُ اِلَّا الْقَوْمُ الْفٰسِقُوْنَ

Maka bersabarlah engkau (Muhammad) sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati dan janganlah engkau meminta agar azab disegerakan untuk mereka. Pada hari mereka melihat azab yang dijanjikan, mereka merasa seolah-olah mereka tinggal (di dunia) hanya sesaat saja pada siang hari. Tugasmu hanya menyampaikan. Maka tidak ada yang dibinasakan kecuali kaum yang fasik (tidak taat kepada Allah).  (al-Ahqaf/46: 35)

Firman Allah swt:

وَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيْلًا

Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik. (al-Muzzammil/73: 10)

Allah juga menegaskan bahwa pertolongan dan janji Allah yang telah ditetapkan tidak akan berubah sedikitpun, baik ucapan janji itu sendiri maupun maksud dan isi dari janji itu.

Ayat ini juga mengisyaratkan kepada Nabi Muhammad bahwa kisah yang berhubungan dengan sikap dan tindakan orang-orang dahulu terhadap nabi-nabi dan rasul-rasul mereka serta ketabahan, kesabaran dan pertolongan Allah kepada para nabi dan rasul beserta pengikut-pengikut mereka telah disampaikan Allah dalam Surah al-An’am/6 ini.

Dengan ayat ini Allah menjanjikan pula pertolongan dan kemenangan kepada Rasulullah dan orang-orang yang beriman. Ini ditegaskan pula oleh firman Allah swt:

اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُ

Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat) (al-Gafir /40: 51)

Firman Allah swt:

لِيَجْزِيَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْ فَضْلِهٖۗ  اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ

Agar Allah memberi balasan (pahala) kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dari karunia-Nya. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar (kafir). (ar-Rµm/30: 45)

 Ayat-ayat di atas dan ayat-ayat yang sebelumnya menerangkan syarat-syarat datangnya pertolongan Allah kepada orang-orang yang beriman, yaitu:

  1. Beriman dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.
  2. Selalu menegakkan yang hak dan berlaku adil.
  3. Selalu tabah dan sabar dalam keadaan bagaimanapun dalam menghadapi cobaan-cobaan Allah.

Baca juga: Ragam Bentuk Keadilan Sosial dalam Pandangan Al-Quran


Ayat 35

Dalam ayat ini Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad, bahwa jika Nabi merasa keberatan atas keingkaran orang-orang musyrik yang berpaling dari agama Allah dan mengajukan permintaan-permintaan yang beraneka ragam agar mereka beriman, maka Nabi dipersilakan mencari lorong di bumi atau tangga ke langit untuk mendapatkan bukti lain untuk memuaskan mereka.

Nabi tentu tidak akan bisa karena itu jangan marah atau sedih karena pembangkangan mereka. Yang akan memberikan petunjuk kepada mereka hanyalah Allah karena itu serahkanlah semuanya kepada Allah.

Sesungguhnya orang-orang musyrik sejak dahulu telah meminta hal yang demikian itu, disebabkan oleh keingkaran mereka bukan untuk mencari kebenaran, karena permintaan itu tidak dipenuhi maka bertambahlah keingkaran mereka, sebagaimana tersebut dalam firman Allah swt:

وَقَالُوْا لَنْ نُّؤْمِنَ لَكَ حَتّٰى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْاَرْضِ يَنْۢبُوْعًا

Dan mereka berkata, ”Kami tidak akan percaya kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami.”                        (al-Isra′/17:90)

Firman Allah swt:

اَوْ يَكُوْنَ لَكَ بَيْتٌ مِّنْ زُخْرُفٍ اَوْ تَرْقٰى فِى السَّمَاۤءِ ۗوَلَنْ نُّؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتّٰى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتٰبًا نَّقْرَؤُهٗ

Atau engkau mempunyai sebuah rumah (terbuat) dari emas, atau engkau naik ke langit. Dan kami tidak akan mempercayai kenaikanmu itu sebelum engkau turunkan kepada kami sebuah kitab untuk kami baca.” (al-Isra′/17: 93)

Allah menegaskan, “Engkau hai Muhammad adalah manusia yang diangkat menjadi Rasul, karena itu engkau tidak dapat melakukan sesuatu yang melampaui batas kesanggupan manusia. Yang sanggup mendatangkan yang demikian itu hanyalah Allah, karena Allah yang menguasai segala sesuatu.”

Jika Allah menghendaki mereka mendapat petunjuk, beriman dan mengakui risalah yang engkau sampaikan, atau menjadikan mereka seperti malaikat, yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah, atau menjadikan semua mereka menjadi orang yang baik, sama tingkatan dan kemampuan mereka, sama adat dan budi pekerti mereka, tentulah yang demikian itu amat mudah bagi Allah.

Tetapi Allah berkehendak lain. Allah menganugerahkan kepada mereka akal, pikiran, kemauan dan perasaan, yang dengannya mereka dapat menimbang dan memilih mana yang baik, mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah dan sebagainya.

Allah mengatur alam ini dengan sunnah-Nya. Segala sesuatu berjalan menurut sunnah-Nya, tidak seorangpun sanggup merobah, menambah, mengurangi atau menukar sunnah-Nya itu. Karena itu janganlah engkau hai Muhammad seperti orang yang tidak tahu tentang sunnah-Nya itu, sehingga mencita-citakan sesuatu yang tidak sesuai dengan sunnah Allah.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 36-38


(Tafsir kemenag)

Al-Quran adalah Obat Bagi Penyakit Rohani: Tafsir Surat Al-Isra Ayat 82

0
Surat Al-Isra ayat 82
Surat Al-Isra ayat 82

Sebagai wahyu yang dipandang begitu bernilai, Al-Quran dengan tingkat sakralitasnya telah menghadirkan pemahaman, resepsi, dan budaya tanpa batas. Semua ini bisa dilacak berdasarkan sejumlah peristiwa yang berkembang dalam sejarah peradaban masyarakat muslim di seluruh penjuru dunia, terutama timur tengah.

Al-Quran menjelma dari sebuah kitab suci yang diturunkan dari Allah Swt menjadi salah satu bagian dari kehidupan masyarakat. Sejak awal pewahyuan, Al-Quran selalu mempengaruhi lingkungan sekitar, mulai dari dibaca, diamalkan, ditransmisikan hingga berpengaruh terhadap arsitektur (kaligrafi dalam bangunan), peradaban dan budaya.

Interaksi Al-Quran dan masyarakat Islam terus menerus terjadi (berkesinambungan) hingga saat ini. Salah satu produk interaksi tersebut adalah tradisi rukyah. Bagi sebagian besar masyarakat muslim, Al-Quran berperan sebagai as-syifa (obat atau penawar) terhadap berbagai penyakit, baik penyakit batin maupun jasmani.

Meskipun demikian, terjadi banyak perdebatan mengenai pandangan Al-Quran berperan sebagai obat bagi segala penyakit. Apalagi, ketika wacana itu dilanjutkan dengan fungsinya (Al-Quran) sebagai rahmat (karunia) Allah. Benarkah Al-Quran itu memiliki kegunaan yang seperti itu, dan apakah nilai kegunaannya bersifat mutlak atau relatif?

Baca Juga: Al-Quran Sebagai Obat, Bagaimana Memahaminya?

Perdebatan itu kemudian memicu para mufasir Al-Quran untuk menjelaskan dengan berbagai ragam pendekatan, metode dan secara terperinci tentang asal mula pandangan Al-Quran adalah obat segala penyakit. Sebenarnya, jika pandangan tersebut dicermati, maka akan ditemukan bahwa semua itu bermuara pada penafsiran Surat Al-Isra ayat 82.

Tafsir Surat Al-Isra Ayat 82: Al-Quran adalah Obat Rohani

Bagi mereka yang mempercayai efektifitas Al-Quran sebagai obat bagi penyakit jasmani Surat Al-Isra ayat 82 adalah landasan legitimasi. Sedangkan bagi mereka yang menolak–tanpa menyalahkan tradisi rukyah–ayat tersebut memiliki makna bahwa Al-Quran dapat menyembuhkan penyakit rohani, bukan jasmani.

Firman Allah Swt:

 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا ٨٢

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (Surat Al-Isra Ayat 82)

Secara umum ayat di atas bermakna, “Dan bagaimana kebenaran itu tidak akan menjadi kuat dan batil tidak akan lenyap, sedangkan Kami telah menurunkan Al-Quran sebagai obat penawar keraguan dan penyakit-penyakit yang ada dalam dada dan Al-Qur’an juga adalah rahmat bagi orang-orang yang beriman dan ia yakni Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian disebabkan oleh kekufuran mereka.”

Kata شِفَاۤءٌ  syifa’ biasa diartikan kesembuhan atau obat, dan digunakan juga dalam arti keterbebasan dari kekurangan, atau ketiadaan aral dalam memperoleh manfaat. Menurut Thabathaba’i ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai obat penawar penyakit-penyakit jiwa yang dialami manusia, terutama bagi mereka yang beriman.

Pendapat ini berbanding terbalik dengan pendapat ulama-ulama lain yang memahami bahwa ayat-ayat Al-Qur’an dapat juga menyembuhkan penyakit-penyakit jasmani. Mereka merujuk kepada sekian riwayat yang diperselisihkan nilai dan maknanya, antara lain riwayat oleh Ibn Mardawaih melalui sahabat Nabi Saw Ibn Mas‘ud ra, bahwa nabi menyuruh seseorang yang dadanya sedang sakit untuk membaca Al-Qur’an.

Menurut Quraish Shihab, hadis tersebut–jika benar riwayatnya–tidak menunjukkan kepada penyakit jasmani, tetapi itu menunjukkan kepada penyakit rohani/jiwa yang berdampak pada jasmani atau biasa disebut psikosomatik. Memang tidak jarang seseorang merasa sesak nafas atau dada bagaikan tertekan karena adanya ketidakseimbangan rohani.

Seorang sufi besar bernama al-Hasan al-Bashri–sebagaimana dikutip oleh Muhammad Sayyid Thanthawi–dan berdasarkan pada riwayat Abu asy-Syeikh berkata: “Allah menjadikan Al-Qur’an obat terhadap penyakit-penyakit hati, dan tidak menjadikannya obat untuk penyakit jasmani.” (Tafsir Al-Misbah [7]: 532).

Thabathaba’i memahami fungsi Al-Qur’an sebagai obat dalam arti menghilangkan dengan bukti-bukti yang dipaparkannya aneka keraguan atau syubhat serta dalih yang boleh jadi hinggap di hati sementara orang. Hanya saja ulama ini menggarisbawahi bahwa penyakit-penyakit tersebut berbeda dengan kemunafikan apalagi kekufuran.

Pada ayat ini dijelaskan juga bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai rahmat. Rahmat adalah kepedihan di dalam hati karena melihat ketidakberdayaan pihak lain, sehingga mendorong yang pedih hatinya itu untuk membantu menghilangkan atau mengurangi ketidakberdayaan tersebut. Ini adalah rahmat manusia atau makhluk. Sedangkan rahmat Allah dipahami dalam arti bantuan-Nya, sehingga ketidakberdayaan itu tertanggulangi.

Menurut Thabathaba’i, rahmat Allah berarti limpahan karunia-Nya terhadap wujud dan sarana kesinambungan wujud serta aneka nikmat yang tidak dapat terhingga. Rahmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada orang-orang mukmin adalah kebahagiaan hidup dalam berbagai aspeknya, seperti pengetahuan tentang ketuhanan yang benar, akhlak yang luhur, masuk surga dan sebagainya.

Baca Juga: Ibn Katsir: Sosok di Balik Lahirnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim

Karena alasan itulah Al-Qur’an kemudian disifati sebagai rahmat untuk orang-orang mukmin, maknanya Al-Qur’an merupakan limpahan karunia kebajikan dan keberkatan yang disediakan Allah Swt bagi mereka yang menghayati dan mengamalkan nilai-nilai yang diamanatkan di dalamnya. (Tafsir Al-Misbah [7]: 533).

Terlepas dari perdebatan apakah Al-Qur’an dapat menyembuhkan penyakit jasmani dan rohani atau hanya salah satu dari keduanya, terdapat satu kesamaan dalam pendapat dua kelompok yang menafsirkan Surat Al-Isra ayat 82, yaitu peran sentral keimanan. Tanpa keimanan segala macam kelebihan dan keutamaan Al-Qur’an tidak akan bisa dirasakan, baik secara jasmani maupun rohani. Wallahu a’lam.

Kriteria Orang Bertakwa dalam Al-Quran Surat Yunus Ayat 133-135

0
Kriteria Orang Bertakwa
Kriteria Orang Bertakwa

Orang-orang yang bertakwa selalu mendapat posisi khusus di sisi Allah Swt. Bahkan secara terang-terangan, Allah memberikan sejumlah jaminan keistimewaan yang akan diberikan kepada mereka yang bertakwa. Hingga pada puncaknya, mereka juga dijanjikan mendapatkan tempat di surga Allah Swt., sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran (3) ayat 133.

وَسَارِعُوۤا۟ إِلَىٰ مَغۡفِرَةࣲ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِینَ

“Dan bersegeralah kalian mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” [Q.S. Ali ‘Imran (3): 133]

Melalui ayat tersebut, Allah mengimbau hamba-Nya supaya bersegera untuk memohon ampun kepada Tuhannya. Kita pun sadar, bahwa memohon ampun akan kesalahan yang telah dilakukan ialah sebuah kebaikan. Sedangkan bersegera dalam melaksanakan kebaikan ialah kebaikan tersendiri. Sehingga apabila dipandang secara zahir saja, orang yang melakukan perintah tersebut dapat disebut sebagai orang yang melakukan kebaikan berlipat secara bersamaan.

Jika memandang teks surah Ali ‘Imran ayat 133, bisa jadi kita juga akan langsung memandang bahwa orang yang bersegera memohon ampun itu adalah orang bertakwa. Tetapi penjelasan lebih spesifik, melalui lanjutan ayat di atas setidaknya akan memberikan kita gambaran tentang kriteria orang bertakwa yang dimaksud dalam ayat ini.


Baca juga: Memahami Kalimat Ta’awwudz Sebelum Membaca Al-Quran dengan Metode Tadabbur


  1. Menginfakkan Hartanya

Kriteria pertama bagi orang bertakwa ialah mereka yang rela menginfakkan hartanya, baik dalam keadaan lapang maupun keadaan sempit. Keterangan tersebut didasarkan pada penggalan surah Ali ‘Imran ayat 134.

ٱلَّذِینَ یُنفِقُونَ فِی ٱلسَّرَّاۤءِ وَٱلضَّرَّاۤءِ

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit.” [Q.S. Ali ‘Imran (3): 134]

Berkenaan dengan dengan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir mengajukan penafsiran bahwa yang dimaksud waktu lapang dan waktu sempit ialah menginfakkan harta dalam segala keadaan. Baik dalam keadaan susah maupun sejahtera, rela maupun terpaksa, serta sehat maupun sakit. Tentu kadar penginfakan yang dimaksud ialah sesuai kadar kemampuan yang diberikan Allah kepadanya.https://waqfeya.com/book.php?bid=1372

  1. Menahan Amarah

Kriteria kedua yang dimiliki orang-orang bertakwa ialah mampu menahan dan membendung amarahnya sendiri.

وَٱلۡكَـٰظِمِینَ ٱلۡغَیۡظَ

“Dan orang-orang yang menahan amarah.” [Q.S. Ali ‘Imran (3): 134]

Merujuk penafsiran Syekh Fakhruddin ar-Razi dalam kitab Tafsir Mafatih al-Ghaib, bahwa maksud dari orang-orang yang menahan amarah ialah mereka yang menjaga amarahnya supaya tidak lepas kendali, serta memendam amarah itu supaya tidak keluar dari perutnya.

  1. Pemaaf

Apabila menahan amarah merupakan kriteria yang berdampak pada diri sendiri, maka kriteria orang bertakwa yang berdampak lebih luas ialah memberikan maaf kepada orang lain.

وَٱلۡعَافِینَ عَنِ ٱلنَّاسِ وَٱللَّهُ یُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِینَ

“Dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” [Q.S. Ali ‘Imran (3): 134]

Dalam Tafsir al-Jalalain, Imam Jalaluddin as-Suyuti berpendapat bahwa memaafkan orang lain dalam konteks ini yang dimaksud bukan hanya memaafkan orang yang telah berbuat zalim saja, tetapi lebih kepada tidak membalas perlakuannya. Syekh Muhammad ash-Shawi juga menambahkan bahwa kriteria ini disebutkan karena memaafkan itu lebih spesifik dan lebih samar ketimbang sekadar menahan amarah.


Baca juga: Tidak Sama yang Buruk dengan yang Baik, Jangan Terjebak Keburukan yang Melenakan!


  1. Ketika Berbuat Keji, Memohon Ampun

Menyambung kriteria yang telah disebutkan di atas, kriteria terakhir yang disebutkan ialah apabila telah berlaku keji atau menzalimi dirinya sendiri, bersegera untuk memohon ampun kepada Allah Swt.

وَٱلَّذِینَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوۤا۟ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ یُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمۡ یَعۡلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.” [Q.S. Ali ‘Imran (3): 135]


Baca juga: Mufasir Indonesia: Kiai Misbah, Penulis Tafsir Iklil Beraksara Pegon dan Makna Gandul


Untuk lebih mudah memahami perbedaan perbuatan keji dengan kezaliman, Imam al-Baidhawi dalam Tafsir Anwar at-Tanzir wa Asrar at-Ta’wil berpendapat bahwa “fa’alu fahisyatan” maksudnya ialah melakukan dosa besar, sedangkan “dzalamu anfusahum” ialah berbuat dosa kecil. Dari penjelasan tersebut dapat dimengerti bahwa orang bertakwa akan senantiasa memohon ampun kepada Tuhannya, baik karena melakukan dosa besar maupun dosa yang dianggap kecil.

Itulah kriteria orang bertakwa yang disebutkan dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 133-135. Kriteria di atas tentu tidak mudah dicapai dengan seketika, tetapi tidak ada salahnya untuk mengusahakannya. Wallahu a’lam bish shawab.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 31-33

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Masih dalam pembahasan tentang keadaan orang-orang kafir di akhirat, dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 31-33 in dijelaskan mengenai kerugian yang mereka dapatkan. Berbanding terbalik dengan keadaan orang-orang yang beriman. Mereka mendapatkan dua keuntungan kelak di akhirat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 26-30


Lebih lanjut Tafsir Surat Al An’am Ayat 31-33 berbicara tentang pebedaan antara kehidupan dunia dan akhirat. Dunia hanya sebatas tempat singgah dan bersifat semenatara. Sedang akhirat merupakan tempat yang kekal. Sungguh sangat merugi ketika di dunia hanya main-main. Apalagi melakukan pembangkangan dan pendustaan. Sungguh orang-orang kafir itu benar-benar merugi.

Pada akhir pembahasan, Tafsir Surat Al An’am Ayat 31-33 berbicara tentang kondisi psikologis Nabi Muhammad atas perlakuan orang-orang kafir. Allah menghibur Nabi Muhammad bahwa rasul-rasul terdahulu juga mengalami kesulitan dalam menyampaikan risalahnya.

Ayat 31

Ayat ini menjelaskan tentang kerugian orang-orang kafir yang mengingkari keesaan Allah, kerasulan Muhammad dan hari kebangkitan. Mereka mendustakan pertemuan dengan Allah. Mereka tidak mendapat keuntungan seperti halnya orang-orang beriman.

Keuntungan orang-orang beriman di dunia sebagai buah keuntungan misalnya, kepuasan batin, rida, ketenangan dan merasa bahagia dengan nikmat Allah dalam segala keadaan, mereka bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat, sabar dan tabah terhadap derita.

Adapun keuntungan di akhirat sebagai buah dari imannya, seperti memperoleh rida Ilahi, mengalami kemudahan dalam hisab, dan kebahagiaan surga yang tak dapat digambarkan oleh manusia.

Orang-orang kafir yang mendustakan perjumpaan dengan Allah kehilangan segala keuntungan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang tidak percaya akan hari kebangkitan; hidup bagi mereka terbatas dalam dunia ini saja; oleh karena itu hidup mereka selalu dikejar-kejar oleh keinginan-keinginan yang tak ada batasnya dan kepentingan-kepentingan mereka yang saling bertentangan.

Mereka tidak pernah mengalami kepuasan batin, ketenteraman rohani, dan rida Ilahi, bahkan mereka lebih dekat kepada setan yang membuat mereka lupa daratan. Demikianlah keadaan orang-orang kafir sampai kiamat. hari Kiamat akan datang secara mendadak, tak seorang pun yang dapat mengetahuinya.

Di hari Kiamat orang kafir menyatakan penyesalannya karena mereka membatasi hidup ini pada kehidupan dunia saja sehingga mereka lalai mempersiapkan diri untuk hari Kiamat. Mereka memikul beban yang berat yakni dosa dan kesalahan mereka, dan mereka akan menerima hukuman atas dosa kesalahan itu. Beban berat yang mereka pikul pada hari Kiamat benar-benar merupakan beban yang amat buruk.

Ayat 32

Ayat ini menegaskan gambaran kehidupan duniawi dan ukhrawi. Kehidupan dunia sesungguhnya tidak lain hanyalah permainan dan hiburan. Bagi mereka yang mengingkari hari kebangkitan sehingga mereka sangat mencintai hidup duniawi, seperti anak-anak bermain-main, mereka memperoleh kesenangan dan kepuasan sewaktu dalam permainan itu.

Semakin pandai mereka mempergunakan waktu bermain semakin banyak kesenangan dan kepuasan yang mereka peroleh. Sehabis bermain itu, mereka tidak memperoleh apa-apa. Atau seperti pecandu narkotik, dia mendapatkan perasaan yang amat menyenangkan sewaktu dia tenggelam dalam kemabukan narkotika itu. Hilanglah segala gangguan pikiran yang tidak menyenangkan, lenyaplah kelelahan dan kelesuan rohaniah dan jasmaniah pada waktu itu.

Tetapi itu hanya sebentar, bila pengaruh narkotik itu sudah tidak ada lagi, perasaan yang menyenangkan itupun lenyap dan dia menderita kelelahan lebih berat dari sebelum menggunakan narkotik. Begitulah keadaan orang-orang yang ingkar terhadap hari kebangkitan dan hidup sesudah mati. Mereka membatasi diri mereka dalam kesempatan yang pendek itu. Hidup bagi mereka adalah permainan dan hiburan.

Orang-orang beriman dan bertakwa tidak berpikir seperti orang-orang yang ingkar. Tidaklah patut mereka membatasi diri pada garis kehidupan duniawi. Apakah arti kesenangan dan kenikmatan yang hanya sementara, untuk kemudian menderita dengan tidak memperoleh apa-apa. Oleh karena itu, hendaknya orang-orang beriman memilih kehidupan yang kekal yakni kehidupan ukhrawi, sebab itulah kehidupan yang paling baik.

Untuk menghadapi kehidupan yang panjang ini hendaklah mempersiapkan diri dengan amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah. Kehidupan dunia hanyalah perantara bagi kehidupan akhirat. Orang-orang beriman lebih memilih kehidupan yang abadi daripada kehidupan sementara.


Baca juga: Doa Al-Quran: Doa Taubat Nasuha


Ayat 33

Allah menyatakan, bahwa Dia mengetahui bahwa perkataan kaum musyrik Mekah menyedihkan hati Nabi Muhammad, seperti mereka mengatakan: Muhammad seorang pendusta, tukang sihir, penyair, tukang tenung dan sebagainya, serta mereka berusaha menjauhkan Muhammad dari kaumnya.

Perlu diketahui bahwa tindakan itu dilakukan bukan hanya karena keingkaran mereka, tetapi mereka adalah orang-orang zalim yang membangkang kepada Allah. Timbulnya kesedihan itu adalah wajar bagi Nabi, karena jiwa dan pikirannya yang bersih lagi suci itu tidak tega melihat kesesatan dan kemungkaran yang ada pada kaumnya, padahal ia selalu mengajak dan menyeru mereka kepada jalan yang benar.

Allah melarang Nabi Muhammad bersedih hati akibat tindakan-tindakan orang kafir karena nabi-nabi terdahulu juga telah mengalami hal yang sama. Larangan ini disebutkan pula dalam firman Allah:

وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْۘ اِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Dan janganlah engkau (Muhammad) sedih oleh perkataan mereka. Sungguh, kekuasaan itu seluruhnya milik Allah. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Yµnus/10: 65);Firman Allah:

فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘاِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ

Maka jangan sampai ucapan mereka membuat engkau (Muhammad) bersedih hati. Sungguh, Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan. (Yasin/36: 76)

Allah melarang Nabi Muhammad bersedih hati karena mereka tidak beriman, dalam firman Allah:

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلَّا بِاللّٰهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِيْ ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُوْنَ

Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan jangan (pula) bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan. (an-Nahl/16: 127)

Firman Allah:

وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُنْ فِيْ ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُوْنَ

Dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka, dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap upaya tipu daya mereka.” (an-Naml/27: 70)

Orang-orang kafir Mekah bukan tidak percaya kepada Nabi Muhammad. Mereka misalnya pernah menyerahkan kepada beliau urusan menyelesaikan perselisihan yang sangat berbahaya bagi persatuan mereka, seperti urusan meletakkan kembali Hajar Aswad (batu hitam) ke tempatnya pada Ka’bah dan sebagainya.

Tetapi mereka tidak mempercayai kenabian Muhammad, ayat-ayat Alquran yang diturunkan Allah, adanya hari Kiamat, hari kebangkitan serta semua yang dibawa dan disampaikan Muhammad.

Ar-Razi dalam tafsirnya menerangkan empat macam bentuk keingkaran orang-orang kafir Mekah, yaitu:

  1. Hati mereka mengakui Muhammad sebagai seorang yang dapat dipercaya, tetapi mulut mereka mendustakannya, karena mereka mengingkari Alquran dan kenabian Muhammad.
  2. Mereka tidak mau menyatakan bahwa Muhammad seorang pendusta, karena mereka mengetahui betul keadaan Muhammad yang sebenarnya yang tidak pernah berdusta. Menurut mereka, Muhammad sendirilah yang mengkhayalkan di dalam pikirannya bahwa Allah telah mengangkatnya menjadi Nabi dan Rasul, lalu ia menyeru manusia.
  3. Mereka selalu mendustakan kenabian dan risalah, sekalipun telah dikemukakan mukjizat-mukjizat dan dalil-dalil yang kuat, mereka tetap mendustakan ayat-ayat Allah, namun terhadap pribadi Muhammad, mereka tidak mendustakannya.
  4. Mereka tidak mau percaya kepada mukjizat dan dalil-dalil itu, bahkan mereka mengatakan bahwa mukjizat itu adalah sihir belaka.

Dari susunan redaksi ayat ini dipahami bahwa Allah meninggikan derajat Nabi Muhammad. Derajat itu tidak akan turun walaupun orang-orang kafir Mekah mendustakan dan mengingkarinya. Ketinggian derajat itu dipahami dari firman Allah swt, yang menyebutkan perintah mengikuti Muhammad disebut sesudah perintah mengikuti Allah.

Allah berfirman:

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا

Barang siapa menaati Rasul (Muhammad), sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka. (an-Nisa′/4: 80)

Firman Allah:

اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ

Bahwasannya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah… (al-Fath/48: 10)


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 34-35


(Tafsir Kemenag)

Tidak Sama yang Buruk dengan yang Baik, Jangan Terjebak Keburukan yang Melenakan!

0
yang buruk
Jangan terlena dengan yang buruk

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Surat Al-Maidah Ayat 100)

Sudah menjadi sunnatullah bahwa di dunia ini selalu ada dua hal yang saling berlawanan satu sama lain. Ada senang ada susah, ada suka ada duka, ada tangis ada tawa, ada benci ada cinta, ada positif ada negatif, ada baik ada buruk.

Secara naluri, manusia akan tertarik kepada hal-hal yang menyenangkan hatinya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih memilih derita daripada bahagia, sedih daripada gembira, duka daripada suka. Setiap orang akan memilih kesenangan, kegembiraan dan kebahagiaan.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 16-17: Kisah Iblis Mengganggu Manusia

Persoalannya adalah, apakah yang menarik hati seseorang itu yang pada gilirannya akan melahirkan kesenangan dan kegembiraan adalah hal yang baik? Ataukah justru yang membuat seseorang tertarik itu hakekatnya adalah sesuatu yang buruk?

Di titik inilah setan menjalankan perannya sebagai penggoda agar manusia jatuh ke dalam jurang kesesatan dengan penuh lumur dosa. Ya, setan sang durjana tidak pernah kehabisan strategi untuk menyeret manusia mengikuti jejak langkahnya agar bisa bersama-sama kekal di neraka kelak.

Dengan kelicikannya, setan akan mempengaruhi manusia untuk menganggap hal-hal yang sesungguhnya buruk untuk dikerjakan dan berdosa jika dilakukan, sebagai hal-hal yang baik dan wajar-wajar saja.

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَلَا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (Surat Fathir Ayat 8)

Ayat tersebut menegaskan tentang kelihaian setan mengaburkan pandangan manusia, menanamkan keraguan dalam hati mereka, membuat mereka ‘buta’ mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Setan dengan kekuatannya mampu meyakinkan manusia bahwa hal buruk yang dilakukan mereka dianggap sebagai sesuatu yang baik.

Banyak kita jumpai dalam kehidupan ini, orang-orang yang biasa melakukan keburukan dan kejahatan tidak menganggap apa yang dilakukannya adalah suatu dosa. Mereka menganggap kebiasaan buruk yang dilakukannya adalah hal yang wajar dan lumrah. Tidak jarang mereka menganggap baik yang dikerjakannya itu.

Para pedagang yang biasa berlaku curang, misalnya, mereka tidak menganggap perbuatannya itu sesuatu yang buruk apalagi dosa. Dengan dalih bahwa tanpa berbuat demikian mereka tidak akan mendapatkan keuntungan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, maka mereka pun tetap melanggengkan praktek curangnya dalam berdagang.

Para pejabat yang biasa melakukan tindak kejahatan berupa korupsi dan penyalahgunaan wewenang karena kekuasaan yang dimilikinya, tetap merasa enjoy dengan perbuatan jahatnya tersebut.

Para penegak hukum yang harusnya menegakkan keadilan tanpa pandang bulu dan pilih kasih, karena iming-iming materi yang menggiurkan, mereka tak segan memutar balikkan fakta dan menafikan nilai-nilai keadilan. Dan mereka tidak merasa bersalah dengan tindakannya tersebut. Jangan-jangan mereka menganggap baik apa yang mereka kerjakan itu.

Para akademisi dan ilmuwan yang harusnya menjunjung tinggi kejujuran, memberikan teladan kepada masyarakat, justru melakukan tindak pengkhianatan intelektual dengan melakukan plagiasi atas karya orang lain, atau memanipulasi data, sekadar untuk menaikkan pangkat, golongan dan jabatannya. Dan mereka merasa bahwa hal itu wajar belaka, bukan merupakan sebuah dosa.

Baca Juga: Tafsir Surat Luqman ayat 18: Jauhi Sikap Sombong dan Angkuh!

Inilah tipu daya setan. Menjadikan pandangan manusia terbolak-balik. Keburukan dianggap kebaikan, sedangkan kebaikan justru dianggap keburukan.

Apabila kita ingin mendapat kebahagiaan dan keberuntungan yang hakiki, maka kita harus hati-hati dan waspada, jangan sampai terjebak keburukan yang melenakan. Wallahu A’lam.