Beranda blog Halaman 503

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 28-29: Didikan Allah Swt Kepada Istri-Istri Nabi

0
Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 28-29
Istri-Istri Nabi dalam Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 28-29

Saat seseorang mendapatkan dengan harta berlimpah, sangat wajar jika ia menggunakannya sebagai sarana pemenuhan kebutuhan hidup dan menyimpan sisanya untuk masa depan. Namun, jika orang itu adalah ummahatul mu’minin, para istri Nabi Muhammad Saw, akankan hal itu tetap berlaku? Tulisan ini akan mengulas Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 28-29 tentang kisah Nabi Muhammad dengan para istrinya, tepatnya dalam hal urusan penerimaan harta rampasan perang.

Tafsir Surat Al-Ahzab ayat 28-29 dan Asbabun Nuzulnya

Quraish Shihab, mengutip pendapat Fakhrudin Ar-Razi, menerangkan bahwa akhlak mulia adalah cerminan dari pengagungan Allah dan kasih sayang terhadap makhluk-Nya. Pada awal surat Al-Ahzab ini, Allah Swt memerintahkan untuk bertakwa dan mengagungkan-Nya. Sementara pada Surat Al-Ahzab Ayat 28-29 ini Allah menekankan perintah untuk mengasihi dan menyayangi makhluk dengan permulaan memberi petunjuk untuk istri-istri Nabi. Ayatnya berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ اِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا فَتَعَالَيْنَ اُمَتِّعْكُنَّ وَاُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيْلًا

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu menginginkan kehidupan di dunIa dan perhIasannya, maka kemarilah agar kuberikan kepadamu mut‘ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.”

وَاِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَالدَّارَ الْاٰخِرَةَ فَاِنَّ اللّٰهَ اَعَدَّ لِلْمُحْسِنٰتِ مِنْكُنَّ اَجْرًا عَظِيْمًا

“Dan jika kamu menginginkan Allah dan Rasul-Nya dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyedIakan pahala yang besar bagi sIapa yang berbuat baik di antara kamu.”

Dua ayat di atas turun setelah kaum muslimin memperoleh kemenangan pada Perang Khandaq. Dengan kemenangan tersebut, mereka mendapat banyak harta rampasan perang (ghanimah) dari harta Bani Quraidhah dan Bani Nadhir.

Harta tersebut membuat istri Nabi merasa akan memperoleh tambahan nafkah sebagaimana istri-istri lain yang pada saat itu memperoleh ‘bonus’ bila suami mereka mendapat harta rampasan perang yang lebih banyak dari biasanya.

Sebelumnya para istri Nabi tidak pernah meminta tambahan nafkah. Namun, setelah adanya peristiwa ini dan Allah Swt berfirman tentang seperlima harta rampasan diberikan kepada Nabi mendorong keinginan tersebut muncul.

Padahal, Allah swt. menghendaki Rasul-Nya agar hidup sederhana dan tidak menaruh kesenangan terhadap dunIa yang berlebihan. Maka dari itu turunlah ayat ini untuk mendidik istri Nabi Saw agar hidup sederhana sebagaimana Nabi Muhammad Saw.

Selain Asbabun Nuzul diatas ada riwayat lain berasal dari Al-Qurthubi sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Abu Bakar akan bertamu kepada Rasulullah Saw dan Ia mendapati banyak sahabat menunggu di depan pintu.

Abu Bakar menunggu izin untuk masuk ke rumah. Kemudian Rasulullah mengizinkannya untuk masuk, dan Ia mendapati Rasulullah sedang duduk dan terdiam dengan istri-istrinya di sebelahnya.

Baca Juga: Tafsir Surat An-Nur Ayat 22 dan Kisah Kekecewaan Abu Bakar As-Siddiq

Tak lama kemudian datanglah Umar Bin Khattab. Rasulullah masih tetap terdiam. Umar bermaksud mencairkan suasana dengan berkata seraya bercanda, “Wahai Rasulullah, apabila engkau melihat istriku meminta nafkah kepadaku maka aku akan memukul lehernya.”

Kemudian Rasulullah tertawa dan berkata “Mereka (para istri Nabi) berada di sebelahku untuk meminta nafkah dariku”. Lalu Abu bakar dengan segera menghampiri Aisyah dan memukul lehernya. Umar bin Khattab kemudian menghampiri Hafsah dan juga memukul lehernya.

Abu Bakar dan Umar lalu berkata “Mengapa engkau meminta sesuatu kepada Rasulullah yang mana tidak beliau punyai?”. Kemudian mereka menjawab “Demi Allah kami tidak pernah meminta apapun kepada Rasulullah, hingga (baru) sekarang ini.” Kemudian istri-istri Nabi menetap di rumah (i’tizal) selama satu bulan atau dua puluh sembilan hari hingga turunlah ayat ini.

Didikan Allah kepada Para Istri Nabi

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 28-29 di atas diawali dengan panggilan kepada istri Nabi Saw sebagai bentuk pemuliaan terhadap mereka. Istri-istri Nabi yang dimaksud dalam peristiwa ini adalah ‘Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Habiba binti Abi Sufyan, Ummu Salamah binti Umayyah al-Makhzumiyah, Juwairiyah binti al-Haris al-Khuza’iyah, Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyah, Saudah binti Zam’ah al-Amiriyah, Zainab binti Jahsy dan Safiyah binti uyai al-Nadiriyah.

Allah mendidik istri-istri Nabi untuk tetap hidup meneladani sang suami yang memiliki akhlak paling mulia dengan bertakwa kepada Allah dan hidup sederhana. Al-Thabathaba’i menggarisbawahi kata اِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا (menginginkan kehidupan dunia beserta perhiasannya) sebagai bentuk kecenderungan hati terhadapnya baik mendapatkan hidup yang lapang maupun tidak.

Baca Juga: Sayyid Muhammad Husain Al-Thabathaba’i: Arsitek Tafsir Al-Mizan

Quraish Shihab berpendapat bahwa wajar saja untuk memiliki harta dan perhiasan dunia selama tidak dijadikan pokok dan kecenderungan hati. Ia juga menambahkan bahwa penggunaan kata فَتَعَالَيْنَ dalam ayat ini pada dasarnya merupakan panggilan dari posisi tinggi kepada posisi rendah. Dalam hal ini, Allah ingin mengajak Istri Nabi melalui Nabi untuk menuju posisi yang lebih tinggi (dengan bertakwa kepadanya) daripada saat sebelumnya. Dan pada akhirnya ketika ayat ini turun para istri Nabi dengan kemuliaannya lebih memilih Allah, Rasulullah akhirat dibandingkan dengan kesenangan dan perhIasan dunia.

Mengutip pendapat Quraish Shihab, kurang lebih terdapat tiga hal yang perlu digarisbawahi dari Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 28-29 ini:

Pertama, keinginan istri-istri Nabi untuk mendapatkan nafkah yang lebih banyak saat Nabi memiliki kelebihan harta merupakan suatu yang wajar. Sebagaimana manusia yang lain, istri Nabi juga merupakan manusia biasa.

Namun, permintaan tersebut membuat Rasulullah bersedih hingga enggan menerima tamu. Bagaimanapun juga Nabi ingin istri-istri belIau juga bertakwa dan dekat dengan Allah Swt dan akhirat sebagaimana dirinya.

Kedua, keputusan Nabi untuk menolak permintaan istrinya bukan karena harta yang dimilikinya akan berkurang dan sulit mendapatkannya. Namun, harta tersebut digunakan untuk kepentingan umat Islam, terlebih dengan adanya perintah Allah Swt untuk lebih mengutamakan akhirat daripada dunia.

Bahkan dalam Tafsir Fi Dzilal al-Quran disebutkan bahwa ketika istri Nabi memilih untuk taat kepada Allah dan Rasulnya dan tidak akan meminta sesuatu yang di luar kemampuan Nabi lagi, Nabi pun bergembira.

Baca Juga: Muhammad Abduh: Mufasir Pelopor Pembaharuan Pemikiran di Dunia Islam

Ketiga, adanya perintah Allah untuk tidak memberikan harta secara khusus kepada istri Nabi. Hal ini menjelaskan bahwa hubungan istri, anak, cucu, atau kerabat tidak dapat menghalangi seseorang untuk bertakwa kepada Allah. Istri Nabi Muhammad tetap memiliki derajat keistimewaan dibanding wanita lainnya karena ketakwaannya, sebagaimana firman Allah “Hai Istri-istri Nabi, kamu sekalIan tidak sama seperti wanita-wanita lain, jika kamu bertakwa”.

Hal penting yang dapat penulis tekankan disini ialah bahwa umat Nabi Muhammad Saw khususnya kaum hawa, juga dapat meneladani akhlak mulia istri-istri Nabi dan akan memiliki derajat yang berbeda dengan manusia lainnya, bila ia bertakwa. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 80-81: Benarkah Kaum Nabi Luth Homoseksual?

0
Benarkah Kaum Nabi Luth homoseksual?
Benarkah Kaum Nabi Luth homoseksual?

Perilaku yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth dalam kajian Islam diistilahkan dengan Liwath atau dalam bahasa Indonesia lebih dikenal dengan sodomi. Namun ada juga yang beranggapan bahwa perilaku sodomi ini sama dengan homoseksual. Inilah yang diyakini mayoritas masyarakat. Tetapi, sebenarnya, dua hal ini berbeda.

Perbedaan Liwath dan homoseksual

Liwath atau sodomi sering dikaitkan dengan homoseksual. namun Husain Muhammad dalam Fiqh Seksualitas menerangkan bila dua hal tersebut ialah berbeda. Ia menjelaskan bahwa dalam bahasan seksualitas ada yang dinamakan orientasi seksual dan perilaku seksual.

Orientasi seksual (sexual orientation) ialah kemampuan manusia yang berkaitan dengan emosi, rasa sayang, dan hubungan seksual. Orientasi ini bersifat kodrati dan tak dapat dirubah. Husain Muhammad menambahkan bahwa tiap orang tidak bisa memilih untuk dilahirkan dengan orientasi seksual tertentu. Adapun jenis orientasi terbagi menjadi 4 yakni heteroseksual (berbeda lawan jenis), homoseksual (sesama jenis), biseksual (kedua jenis), dan aseksual (tidak keduanya).

Sedangkan perilaku seksual (sexual behavior) ialah cara/perbuatan seseorang untuk melampiaskan hasrat seksualnya. Perilaku ini sangat erat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya dan kebiasaan masyrakat. Oleh karenanya perilku ini bukanlah kodrati dan bisa dipelajari. Berbagai cara yang dilakukan semisal bersetubuh (jimak), masturbasi, anal/oral seks hingga sodomi.

Baca juga: Kisah perilaku Homoseksual Kaum Nabi Luth

Dari sinilah Husain Muhammad menemukan perbedaan mendasar antara orientasi seksual dan perilaku seksual. Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa homoseksual dan sodomi(liwath) merupakan dua hal yang berbada. Homoseksual lebih condong pada hasrat sedang sodomi masuk dalam ranah tindakan.

Musdah Mulia dalam bukunya Mengupas seksualitas menjelaskan bahwa dua hal tersebut tidak bisa serta merta dikaitkan. Boleh jadi seseorang memiliki orientasi homoseksual namun tidak melampiaskannya dengan sodomi, begitu pula pada pelaku sodomi yang bisa jadi tidak berlandaskan pada orientasi homoseksual. Ini juga bisa terjadi pada mereka yang heteroseksual dan orientasi yang lain

Baca juga: Ikrar Setia Kaum Hawariyyun: Refleksi Peringatan Hari Sumpah Pemuda

Tafsir Al-A’raf ayat 80-81: sodomi sebagai perbuatan keji

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini)

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah memberikan perhatian khusus terhadapa lafad لِقَوْمِهِ (kepada kaumnya). Pada ayat itu tidak disebutkan nama kaumnya karena membahas keburukan kaum tersebut. Hal ini yang menurut Quraish Shihab menjadi dasar bahwa tiap membicarakan keburukan tidak perlu menyebutkan nama pelaku, cukup membicarakan perbuatannya.

Pada ayat berikutnya mulai diperjelas perilaku kaum Luth yang dikatakan sebagai (perbuatan keji), ayat tersebut berbunyi:

 إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas

Lafad لَتَأْتُونَ menjadi penegas bahwa mereka banar-banar melampiaskan hasratnya kepada laki-laki (sesama jenis). Imam al-Thabari mengutip riwayat Abu Ja’far yakni

أَيُّهَا الْقَوْمَ، لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ فِي أَدْبَارِهِمُ، شَهْوَةَ مِنْكُمْ لِذَلِكَ، مِنْ دُوْنَ الَّذِي أَبَاحَهُ اللهُ لَكُمْ وأَحَلَّهُ مِنَ النِّسَاءِ

“Wahai kaum Luth, kalian telah melakukan hubungan seks secara keci dengan laki-laki melalui anus mereka dan bukannya dengan perempuan sebagaimana yang dihalalkan Allah” (Imam al-Thabari, Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran, 12:548)

Berdasar riwayat tersebut, tampak bahwa mereka (kaum Luth) melakukan Liwath/sodomi yang merupakan salahsatu perilaku seksual. Hal ini sangat berbeda dengan homoseksual yang berkaitan dengan orientasi seksual.

Baca juga: Isyarat Pelestarian Alam Dibalik Kisah Nabi Shalih, Unta dan Kaum Tsamud

Perilaku seksual Kaum Luth

Musdah Mulia juga menambahkan bahwa pelanggaran yang dilakukan oleh kaum Luth ialah mengekspresikan perilaku seksual terlarang yakni mengandung kekerasan dan penganiayaan yakni dalam bentuk sodomi dan tidak bisa dikaitkan dengan homoseksual.

النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَلْعُونٌ مَنْ عَمِلَ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ

“Nabi Saw bersabda: “ terlaknatlah orang yang melakukan perilaku Kaum Luth””

Hadis ini menjadi penjelas bahwa yang dipraktikan oleh kaum Luth ialah perilaku seksual (sexual behavior), bukan seksual (sexual orientation).

Beberapa riwayat yang dikutib beberapa mufasir malah menunjukan bahwa perliku sodomi yang dilakukan kaum Luth sudah dilakukan terlebih dahulu dengan para istrinya. Seperti yang dipaparkan Imam al-Suyuthi dalam al-Dur al-Manthur.

إِنَّمَا بَدْء قوم لوط ذَاك صَنعته الرِّجَال بِالنسَاء ثمَّ صَنعته الرِّجَال بِالرِّجَالِ

“Sesungguhnya di awal masa, kaum Luth melakukannya (sodomi) kepada perempuan, lantas kemudian melakukanya (sodomi) kepada laki-laki”

dari riwayat tersebut mengindikasikan bahwa kaum Luth bukanlah homoseksual melainkan biseksual karena mereka juga melakukan hal tersebut pada perempuan (istrinya).

Baca juga: Kisah Nabi Nuh As dan Keingkaran Kaumnya Dalam Al-Quran

Azab merupakan kuasa Tuhan

Keberadaan kaum Homoseksual selalu dikaitkan dengan kisah perilku Nabi Luth yang menyimpang. Dijelaksan pula kemurkaan Tuhan pada ayat ke 84 pada surat al-A’raf berikut ini:

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ

“Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu”

Azab yang diturunkan Allah kepada kaum Luth ialah hujan Batu hingga membuat kaum Luth hancur tak tersisa kecuali mereka yang masih beriman. Namun Musdah Mulia mengatakan bahwa azab pedih dalam kisah kaum Luth juga ditimpakan kepada umat nabi-nabi lain. hal ini karena kemurkaan Allah kepada siapa saja yang berbuat keji dan melampaui batas, tidak pandang gender dan orientasi seksualnya.

Perilaku yang menyimpang bisa saja menjadi pemicu keburukan lain. pelampiasan hasrat yang keliru bisa menimbulkan penyakit menular dan berbahaya. dan ini selain merugikan diri juga merugikan orang lain. bahkan perilaku ini dalam kisah kaum Luth membuat mereka membangkang pada ajaran Luth. Itulah yang membuat Allah murka dan meng-azab mereka

Namun demikian, yang perlu ditekankan ialah bahwa orientasi seksual merupakan takdir yang diberikan, bukan dibentuk. Mereka yang terlahir dengan orientasi seksual berbeda dari kebanyakan orang juga masih memiliki hak untuk hidup yang layak. Oleh karenanya sebagai sesama manusia, rasanya kurang pantas untuk memandang rendah dan mengucilkan mereka yang memiliki orientasi seksual berbeda. Yang terpenting ialah selama tidak berbuat pada perilaku yang menyimpang dan melampau batas, mereka tetaplah saudara sesama manusia. Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Al An’am Ayat 50

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pembahasan Tafsir Surat Al An’am Ayat 50 diawali dengan perbedaan risalah yang diemban nabi Muhammad saw dan nabi-nabi terdahulu. nabi-nabi terdahulu menyampaikan risalahnya khusus kepada kaumnya saja sedangkan risalah Nabi Muhammad saw untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 46-49


Orang-orang kafir tersebut beranggapan bahwa seorang nabi atau rasul harus melebihi dari manusia bahkan setara malaikat dan mengetahui hal-hal gaib. Ha ini berimbas pada permintaan mereka yang aneh-aneh karena menganggap Nabi Muhammad saw harus bisa memenuhi semua kriteria mereka. Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 50 ini membantah anggapan orang-orang kafir tersebut.

Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 50 Allah swt memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menegaskan dirinya bahwa ia bukanlah orang yang mengetahui hal-hal gaib sebagaimana yang mereka inginkan dan khayalkan. Ia hanya utusan Allah Swt untuk menyampaikan kebanaran.

Ayat 50

Para rasul yang diutus adalah manusia biasa, mereka bertugas menyampaikan agama Allah kepada umat mereka masing-masing.

Berlainan dengan Nabi Muhammad, beliau bertugas menyampaikan agama Allah kepada seluruh umat manusia. Mereka memberi kabar gembira kepada orang-orang yang mengikuti seruannya dengan balasan pahala yang berlipat ganda dari Allah, memberi peringatan dan ancaman kepada orang yang mengingkari risalah dengan balasan azab yang besar.

Para rasul itu bukanlah seperti para rasul yang diinginkan oleh orang-orang kafir, yaitu orang-orang yang dapat melakukan keajaiban, mempunyai kemampuan di luar kemampuan manusia biasa, seperti mempunyai ilmu yang melebihi ilmu manusia, ia bukan manusia, tetapi seperti malaikat, atau mempunyai kekuasaan seperti kekuasaan Allah dan sebagainya.

Dalam ayat ini Allah memerintahkan agar Nabi Muhammad menerangkan kepada orang-orang musyrik itu bahwa dia adalah Rasul yang diutus Allah, ia adalah manusia biasa, padanya tidak ada perbendaharaan Allah, ia tidak mengetahui yang gaib dan ia bukan pula malaikat.

Yang dimaksud dengan “perbendaharaan” ialah suatu tempat menyimpan barang-barang, terutama barang-barang berharga milik sendiri atau orang lain yang dititipkan kepada orang yang memegang perbendaharaan itu.

Orang-orang kafir beranggapan bahwa Nabi Muhammad, jika ia benar-benar seorang Rasul Allah tentu ia adalah bendahara Allah. Oleh karena itu, mereka meminta agar Nabi Muhammad memberi dan membagi-bagikan kepada mereka barang-barang yang berharga yang disimpan dalam perbendaharaan serta memanfaatkannya.

Anggapan orang-orang kafir itu adalah anggapan yang sangat jauh dari kebenaran, karena Allah-lah pemilik seluruh alam ini, sebagaimana firman Allah swt:

لِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا فِيْهِنَّ ۗوَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Milik Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (al-Ma′idah/5: 120)

Dalam mengurus dan mengatur milik-Nya itu Allah tidak memerlukan sesuatu pun, sebagaimana firman Allah swt:

وَلَا يَـُٔوْدُهٗ حِفْظُهُمَاۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

… Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar.  (al-Baqarah/2: 255)

Allah menegaskan bahwa Dia-lah yang memiliki perbendaharaan langit dan bumi, firman-Nya:

وَلِلّٰهِ خَزَاۤىِٕنُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۙ وَلٰكِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَا يَفْقَهُوْنَ

Padahal milik Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami. (al-Munafiqµn/63: 7)

Tugas Rasul hanyalah menyampaikan agama Allah kepada manusia sesuai dengan kesanggupannya sebagai seorang manusia. Ia tidak dapat melakukan sesuatu yang tidak sanggup manusia melakukannya, kecuali jika Allah menghendakinya.

Karena itu, ia tidak akan dapat memberi rezeki kepada pengikut-pengikutnya yang miskin, tidak dapat memenangkan pengikut-pengikutnya dalam peperangan semata-mata karena kekuasaannya, ia tidak sanggup mengetahui apakah seseorang telah benar-benar beriman kepadanya setelah dibimbingnya atau menjadikan seseorang itu tetap di dalam kekafiran.

Allah swt berfirman:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ

Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki… (al-Baqarah/2: 272)

Firman Allah swt:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima  petunjuk. (al-Qasas/28: 56)

Nabi saw memang dapat memberikan petunjuk, tetapi petunjuk dalam pengertian irsyad dan bayan (bimbingan dan penjelasan), bukan petunjuk dalam pengertian taufik. Allah swt berfirman:

وَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ

Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus. (asy-Syµra/42: 52)

Karena itu jika orang-orang kafir meminta kepada Muhammad saw sesuatu yang aneh, seperti mengalirkan sungai-sungai di padang pasir tanah Arab dan adanya kebun-kebun yang indah di sana, menjatuhkan langit bergumpal-gumpal untuk mengazab mereka, diperlihatkan Allah malaikat kepada mereka, tentu saja Muhammad tidak akan sanggup memenuhinya bahkan mustahil ia dapat memenuhinya.

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar menegaskan kepada orang-orang kafir bahwa ia tidak pernah mengatakan, ia mengetahui yang gaib yang tidak diketahui manusia, karena ia tidak diberi kesanggupan untuk mengetahuinya.

Sesuatu yang gaib ada dua macam, yaitu:

  1. Gaib mutlak (hakiki) yang tidak diketahui oleh suatu makhluk pun, termasuk malaikat. Hanya Allah sajalah yang mengetahuinya. Inilah gaib yang dimaksud dalam ayat di atas.

Allah swt berfirman:

قُلْ لَّا يَعْلَمُ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ الْغَيْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗوَمَا يَشْعُرُوْنَ اَيَّانَ يُبْعَثُوْنَ

Katakanlah (Muhammad), ”Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan..” (an-Naml/27: 65)

Jika Allah menghendaki, maka Dia memberi tahu yang gaib macam ini kepada para Rasul-Nya, seperti memberitahu Nabi Musa seseorang dari Bani Israil yang membunuh saudaranya, setelah saudaranya yang terbunuh itu hidup kembali, setelah dipukul dengan bagian dari sapi betina yang telah disembelih. Contoh lain adalah memberitahu Nabi Isa bahwa sesudahnya, Allah akan mengutus seorang rasul dari keturunan Ismail dan sebagainya.

  1. Gaib nisbi (relatif), yaitu yang tidak diketahui oleh sebagian makhluk, tetapi diketahui oleh yang lain.

Sebab-sebab sebagian makhluk mengetahuinya, dan sebagian yang lain tidak mengetahuinya, di antaranya adalah karena:

  1. Ilmu pengetahuan yang dimiliki. Orang-orang yang berilmu lebih dapat mengetahui hakikat sesuatu sesuai dengan bidang ilmu pengetahuannya dibanding dengan orang yang tidak berilmu.
  2. Pengalaman mengerjakan sesuatu pekerjaan, seperti bergeraknya sesuatu menandakan ada tenaga yang menggerakkannya dan sebagainya.
  3. Firasat atau suara hati, tentang ada dan tidaknya sesuatu. Firasat atau suara hati ini diperoleh seseorang karena kebersihan jiwanya, atau karena latihan-latihan yang biasa dilakukannya untuk itu. Gaib yang tidak hakiki ini bukanlah termasuk gaib yang disebutkan di atas yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.

Sebagian ahli tafsir, menjadikan ayat “wala aqµlu lakum inni malak” sebagai alasan untuk menguatkan pendapat mereka yang mengatakan bahwa malaikat itu lebih tinggi tingkatannya dari manusia. Tetapi bila diperhatikan benar-benar, bahwa ayat ini tidak dimaksudkan untuk menerangkan, siapa yang lebih utama antara malaikat dengan manusia. Ayat ini hanya menerangkan, siapa dan bagaimana sebenarnya seorang rasul itu.

Sebagaimana diketahui bahwa menurut kepercayaan orang-orang Arab jahiliah waktu itu, malaikat adalah suatu makhluk Allah yang lebih tinggi tingkatannya dibanding dengan tingkatan manusia. Malaikat mengetahui yang gaib dan yang tidak diketahui manusia.

Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa malaikat adalah anak Allah. Karena itu mereka berpendapat bahwa nabi dan rasul itu bukanlah dari manusia biasa, setidaknya sama tingkatannya dengan tingkatan malaikat. Mereka minta kepada Nabi Muhammad agar diperlihatkan kepada mereka malaikat itu dan hendaklah Allah mengutus malaikat kepada mereka.

Untuk membantah dan memberi penjelasan kepada orang-orang musyrik. seakan-akan Nabi Muhammad menyuruh mengikuti pendapat mereka terlebih dahulu dengan mengatakan “wala aqµlu lakum inni malak” (dan aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa aku adalah malaikat).

Kemudian Allah memerintahkan agar Nabi Muhammad menegaskan kepada orang-orang musyrik itu bahwa yang disampaikannya itu tidak lain hanyalah wahyu dari Allah, bukan sesuatu yang dibuat-buat oleh Nabi.

Nabi Muhammad sejak kecil sudah dikenal sebagai al-Amin, “yang amat tepercaya”. Ia diperintahkan Allah untuk menyampaikan apa saja wahyu yang diterimanya. Allah telah menjulukinya sebagai al-balagul mubin (penyampai yang nyata). Tetapi kritikan kepada beliau pun telah disampaikan seperti kasus Abdullah bin Ummi Maktum.

Kemudian Allah menegaskan bahwa tidak sama antara orang yang buta dengan orang yang melihat, orang yang mendapat petunjuk dengan orang yang tidak mendapat petunjuk, tidak sama sifat Allah dengan sifat manusia, demikian pula antara sifat dan tugas malaikat dengan sifat dan tugas Rasul.

Hendaklah perhatikan perbedaan-perbedaan yang demikian, agar nyata mana yang benar, mana yang salah, mana yang harus diikuti dan mana yang harus dihindari. Hanya orang-orang yang tidak mau menggunakan akallah yang tidak dapat melihat perbedaan-perbedaan itu.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 51-52


(Tafsir Kemenag)

Ikutilah Nabi Muhammad Saw Niscaya Allah Mencintai Dirimu

0
Budi pekerti Rasulullah
Budi pekerti Rasulullah

Bagi umat Islam, Nabi Muhammad Saw merupakan sosok manusia sempurna tiada tara, baik jasad maupun roh (insan al-kamil). Syaikh Dr. Ali Jum’ah mengatakan bahwa Rasulullah Saw telah menjadi manusia sempurna bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul. Kesempurnaan beliau itu terlihat dalam setiap gerak-geriknya.

Mantan mufti Mesir tersebut juga mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw tidak hanya seorang manusia sempurna, tetapi jauh lebih tinggi dari itu, yakni insan rabbani atau manusia rabbani. Proses transformasi ini terjadi ketika beliau berumur 40 tahun saat diangkat menjadi Nabi dan Rasul, saat di mana wahyu Al-Qur’an pertama kali diwujudkan.

Jika kita mencermati Al-Qur’an, maka dapat ditemukan bahwa Nabi Muhammad Saw dengan segala kesempurnaan-nya tidaklah dihadirkan hanya sebagai sosok yang harus dikagumi, digilai, dan dicintai, tetapi ia adalah representasi puncak kesempurnaan manusia yang harus dicontoh, digapai dan diikuti. Allah Swt berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa sosok Nabi Muhammad Saw merupakan barometer kehidupan beragama umat Islam. Sebagai pembawa pesan Allah Swt, Muhammad Saw sukses menghidupkan pesan tersebut dalam dirinya dan bagi orang di sekitarnya. Sifat, sikap dan nilai-nilai yang dibawa beliau–meskipun tidak seluruhnya–merupakan representasi dari ajaran-ajaran Al-Qur’an.

Baca Juga: Benarkah Nabi Muhammad Mengidap Epilepsi Ketika Menerima Wahyu?

Berkenaan dengan sifat beliau, Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah ra dan dijawab, “Akhlak Nabi Muhammad Saw adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim). Jawaban singkat Aisyah ini sangat singkat, namun sarat makna. Ia menyifati baginda nabi dengan satu sifat yang paling agung, yakni Al-Qur’an yang diturunkan Allah Swt.

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 31

Allah Swt berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٣١

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali Imran [2]: 31)

Diriwayatkan bahwa ayat ini turun menanggapi ucapan delegasi Kristen Najran yang menyatakan bahwa pengagungan mereka terhadap Nabi ‘Isa as adalah pengejawantahan dari cinta kepada Allah Swt. Riwayat lain menyatakan bahwa ayat ini turun menanggapi ucapan sementara kaum muslimin yang mengaku cinta kepada Allah swt. (Tafsir Al-Misbah [2]: 69).

Dalam ayat ini Allah Swt seakan-akan berkata, “Katakanlah wahai Nabi agung Muhammad kepada mereka yang merasa mencintai Allah, Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, yakni laksanakan apa yang diperintahkan Allah melalui aku, yaitu beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan bertakwa kepada-Nya.”

Lalu, “Jika itu kamu laksanakan, maka kamu telah memasuki ke pintu gerbang meraih cinta Allah, dan jika kamu memelihara kesinambungan ketaatan kepada-Nya serta meningkatkan pengamalan kewajiban dengan melaksanakan sunnah-sunnah Nabi Muhammad Saw niscaya Allah akan mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu. Semua itu karena Allah Maha Pengampun terhadap siapa pun yang mengikuti rasul lagi Maha Penyayang.”

Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa mengikuti Rasul–dalam hal-hal yang sifatnya wajib–dapat mengantarkan seseorang memasuki pintu gerbang cinta sejati kepada Allah. Menurut Quraish Shihab, mengikuti rasul dalam batas minimal seperti yang digambarkan ayat tersebut adalah tangga pertama menuju puncak mahabbatullah.

Secara umum, mengikuti rasul itu bertingkat-tingkat. Mengikuti dalam amalan wajib, selanjutnya mengikuti beliau dalam amalan sunnah muakkadah, lalu sunnah-sunnah yang lain walau tidak muakkadah, dan mengikuti beliau, bahkan dalam adat istiadat serta tata cara kehidupan keseharian beliau, walau bukan merupakan ajaran agama.

Mengikuti Nabi Muhammad Saw dalam memilih model dan warna alas kaki atau pakaian bukanlah bagian dari ajaran agama Islam, tetapi apabila hal itu dilakukan demi cinta dan berlandaskan keinginan untuk meneladani beliau, maka Allah tidak akan membiarkan seseorang yang cinta kepada Nabi-Nya bertepuk sebelah tangan. Cinta itu akan terbalas tuntas tanpa kurang sedikit pun. (Tafsir Al-Misbah [2]: 70).

Al-Qusyairi melukiskan cinta manusia kepada Allah atau al-mahabbah sebagai “mementingkan kekasih dari sahabat.” Maksudnya, mementingkan hal-hal yang diridhai kekasih dalam hal ini Allah Swt daripada kepentingan ego. Jika kepentingan tersebut bertentangan dengan ketentuan Allah, maka patuhi ketentuan-Nya. “Kalau kamu mencintai Alllah, maka ikutilah aku niscaya Allah mencintai kamu” (QS. Al ‘Imran [3]: 31)

Baca Juga: Inilah Alasan Mengapa Umat Islam Harus Mengenal Rasulullah SAW

Cinta kepada Allah dan Rasul tidak harus dipertentangkan dengan cinta kepada dunia dengan segala kemegahannya. Bisa saja seseorang tetap taat kepada Allah atau cinta kepada-Nya dan pada saat yang sama dia berusaha sekuat tenaga untuk meraih sebanyak mungkin gemerlapnya duniawi–namun ia tidak menempatkannya di dalam hati–karena mencintai merupakan naluri manusia.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa mengikuti Rasul–baik perintah, larangan, dan anjurannya dengan berlandaskan cinta–merupakan sarana untuk mendapatkan cinta Allah Swt. Dengan demikian, cinta adalah ketaatan dan ketaatan akan bermakna dengan rasa cinta. Apabila ini sudah tertanam dalam hati seorang muslim, maka tidak ada satupun yang dapat menggoncang imannya. Wallahu a’lam.

Benarkah Basmalah Termasuk Ayat Al-Quran?

0
Benarkah basmalah termasuk ayat Al-Quran?
Benarkah basmalah termasuk ayat Al-Quran?

Salah satu ayat yang memancing perhatian para ulama adalah basmalah. Basmalah termasuk ayat yang cukup sering ditemui dalam Al-Quran. Hampir setiap surat di awali basmalah. Namun statusnya sebagai ayat Al-Quran maupun bentuknya sebagai ayat tersendiri, di beberapa tempat di dalam Al-Quran, masih diperdebatkan oleh para ulama.

Salah satu perdebatan mengenai basmalah yang kemudian sempat menjadi identitas suatu ormas Islam tertentu adalah, perdebatan mengenai benarkah basmalah termasuk ayat Surat Al-Fatihah? Wajibkah membaca basmalah saat membaca Al-Fatihah di dalam salat?

Tulisan ini mencoba merangkum kesimpulan serta perdebatan ulama mengenai status basmalah sebagai ayat dari Al-Quran.

Baca juga: Kalimat Basmalah dalam Al-Quran dan Memahami Maknanya dengan Metode Tadabbur

Antara yang Disepakati dan yang Diperselisihkan Ulama

Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki dalam Nahjut Taisir memaparkan kesimpulan beliau, mengenai perdebatan ulama terkait apakah basmalah termasuk ayat Al-Quran atau tidak. Hasilnya, ada yang disepakati bahwa basmalah termasuk Al-Quran, ada yang disepakati bukan termasuk Al-Quran. Adapula yang masih diperdebatkan apakah termasuk Al-Quran atau tidak (Nahjut Taisir/20).

Berikut perincian serta keterangan dari kesimpulan di atas:

Pertama, basmalah dalam surat An-Naml. Basmalah ini disepakati terhitung termasuk Al-Quran dan ayat tersendiri dalam Surat An-Naml. Basmalah di Surat An-Naml terdapat dalam ayat:

إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan Sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS. An-Naml [27] 30).

Kedua, basmalah di awal Surat Al-Baraah atau At-Taubah. Basmalah ini disepakati bukan termasuk Al-Quran. Imam Al-Qurthubi di dalam tafsirnya memaparkan ada sekitar 6 pendapat mengapa di awal surat Al-Baraah tidak terdapat basmallah. Diantaranya dikarenakan adanya anggapan bahwa Al-Baraah bukan surat tersendiri. Melainkan menjadi satu dengan Surat Al-Anfal (Tafsir Al-Qurthubi/8/60).

Baca juga: Mengapa Surat At-Taubah Tanpa Basmalah? Begini Penjelasannya Dalam Tafsir Al-Mishbah

Ketiga, basmalah di awal setiap surat selain Surat At-Taubah. Para ulama berbeda pendapat mengenai status basmalah ini.

Ada yang mengatakan bukan termasuk Al-Quran, ada yang mengatakan termasuk Al-Quran namun bukan bagian surat, ada yang mengatakan termasuk Al-Quran dan termasuk ayat surat, adapula yang masih memberi perincian. Berikut penjabarannya (Tafsir Al-Munir/1/44):

  1. Madzhab Malikiyah berpendapat bahwa basmalah di awal setiap surat termasuk Al-Fatihah, bukan termasuk surat tersebut dan bukan termasuk Al-Quran.
  2. Madzhab Hanafiyah berpendapat bahwa basmalah di awal setiap surat termasuk Al-Fatihah, bukan termasuk surat tersebut. Hanya saja, Hanafiyah meyakini basmalah adalah Al-Quran dan termasuk pemisah antar surat. Malikiyah dan Hanafiyah meyakini basmalah di awal surat bukan bagian dari surat tersebut berdasar hadis yang diriwayatkan sahabat anas:

قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Anas berkata, saya salat bersama Rasulullah salallahualaihi wasallam dan Abi Bakr, ‘Umar serta ‘Utsman. Lalu aku tidak mendengar dari mereka bacaan bismillah hirrahman nirrahim” (HR. Imam Muslim)

  1. Madzhab Hanbaliyah berpendapat bahwa basmalah di awal Surat Al-Fatihah, termasuk surat tersebut. Tidak di selain Surat Al-Fatihah.
  2. Madzhab Syafi’iyah berpendapat bahwa basmalah di awal setiap surat termasuk Al-Fatihah, merupakan ayat dari surat tersebut. Hanya saja, masih diperdebatkan mengenai apakah basmalah tersebut termasuk ayat tersendiri, atau bagian dari ayat lain. Dasar kedua pendapat di atas mengenai bahwa basmalah termasuk ayat dari Al-Fatihah, adalah hadis sahih yang diriwayatkan sahabat Abi Hurairah:

قال : « إذا قرأتم : الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ ، فاقرؤوا بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ، إنها أم القرآن ، وأم الكتاب ، والسبع المثاني ، وبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ أحد آياتها »

“Nabi bersabda: “Ketika kalian membaca al-hamdulillah hirabbil ‘alamin, maka bacalah bismillah hirrahman nirrahim. Al-Fatihah adalah induk Al-Quran, induk Al-Kitab, dan as-sab’u al-matsani. Dan basmalah adalah salah satu ayatnya” (HR. Imam ad-Daruqutni).

Baca juga: Inilah Alasan Dianjurkan Bertaawudz Sebelum Membaca Basmalah

Demikianlah uraian pendapat para ulama mengenai status basmalah sebagai ayat dari Al-Quran. Silang pendapat di atas masih belum menyinggung mengenai bolehnya membaca basmalah di awal Surat At-Taubah. Juga belum membahas mengenai keharusan membaca basmalah tatkala membaca surat Al-Fatihah maupun kesunnahan membaca basmalah dengan keras maupun lirih tatkala di dalam salat. Wallahu a’lam[]

Tafsir Ahkam; Apa Itu Nusyuz Suami? Berikut Penjelasannya

0
ilustrasi nusyuz suami
ilustrasi nusyuz suami

Selama ini kita sering mendengar atau membaca di literatur fikih klasik istilah nusyuz yang dikaitkan dengan pembangkangan istri kepada suami. Namun sebenarnya di dalam Al-Quran kata nusyuz juga berkaitan dengan suami. Lalu apakah sebenarnya nusyuz suami itu?

Istilah nusyuz suami tidak diketahui banyak orang, padahal ia disebutkan di dalam Al-Quran surah An-Nisa’ ayat 128 yang berbunyi sebagai berikut:

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِن بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَالصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ الْأَنفُسُ الشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Pengertian nusyuz

Kata nusyuz (نُشُوْزٌ) sebagaimana yang diterangkan dalam kamus Lisanul ‘Arab berasal dari kata kerja nasyaza-yansyuzu-nusyuzan (نَشَزَ- يَنْشُزُ- نُشُوْزًا). Ia seakar dengan kata nasyazun (نَشَزٌ) yang berarti tempat atau daratan tinggi. Sesuatu dikatakan nusyuz ketika ia meninggi atau lebih terlihat dibanding yang lain.


Baca Juga: Sabab Nuzul, Perempuan dan Respon al-Qur’an


Adapun dalam fikih munakahat, nusyuz ialah istilah untuk merujuk pada ketidaksukaaan dan perlakuan buruk seseorang terhadap pasangannya. Ia seakan-akan merasa berkedudukan lebih tinggi dibanding pasangannya. Menurut Abu Ishaq, perbuatan nusyuz tersebut dapat muncul dari istri maupun dari suami.

Istri yang nusyuz ialah istri yang membangkang perintah suaminya, selama hal tersebut tidak berhubungan dengan perbuatan yang dilarang syariat. Sementara suami dikatakan nusyuz ketika memukul, berpaling atau membahayakan istrinya.

Hukum nusyuz

Perbuatan nusyuz baik dari pihak istri maupun suami tidak dibenarkan syariat. Islam menghendaki relasi suami-istri terjalin dengan saling bahagia-membahagiakan. Namun bagaimanapun juga, gesekan kecil adalah hal yang wajar dalam kehidupan rumah tangga. Untuk itu, Islam telah menyediakan solusi atasnya.

Dalam pandangan klasik, terdapat perbedaan dalam penyelesaian masalah antara nusyuz istri dan nusyuz suami. Perbedaan tersebut didasari oleh perbedaan redaksional Alquran yang membahas masalah nusyuz istri dan suami, yaitu QS. An-Nisa: 34 dan 128. Selain itu juga dipengaruhi oleh budaya Arab kala itu.

Imam Syafii dalam tafsir Ahkamul Qur’an menyatakan bahwa ketika istri melakukan nusyuz, suami hendaknya menasihatinya terlebih dahulu. Apabila nasihat tidak membuahkan hasil, maka ia dapat mendiamkannya. Selanjutnya apabila istri tetap atas tindakan nusyuznya, maka suami diperbolehkan memukul.

Adapun bila suami yang nusyuz kepada istri, istri dapat mengajak berdamai dengan mendatangkan mediator. Bila diperlukan, istri dapat merelakan sebagian haknya seperti mahar atau jatah gilirnya apabila suami berpoligami. Bila berbagai usaha tersebut tidak berhasil, maka istri dapat mengajukan khulu’ (gugat cerai).


Baca Juga: Tafsir Ahkam: Macam-Macam Hukum Talak


Tafsir dan hukum yang responsif gender

Pandangan fikih klasik di atas sudah kurang relevan untuk masa sekarang, di mana kedudukan laki-laki dan perempuan telah berimbang. Pemukulan dan pengurangan hak-hak perempuan tidak lagi dianggap sebagai jalan keluar dari masalah rumah tangga. Bahkan hal tersebut malah dapat memperburuk suasana.

Ibn ‘Asyur, salah seorang ulama kontemporer, dalam tafsirnya memberikan penilaian khusus tentang pemukulan suami akibat nusyuz istri. Menurutnya, kebolehan tersebut haruslah dibatasi secara ketat, yaitu pada kasus di mana istri telah bertindak terlewat batas.

Pemukulan tersebut menurutnya juga tidak dilakukan semena-mena, melainkan haruslah sesuai keperluan. Sebab bila tidak, suami berpotensi melakukan kezaliman baru. Ulama Suriah tersebut bahkan mendorong pemerintah setempat melarang pemukulan istri bagi mereka yang tidak mampu mengendalikan amarahnya.


Baca Juga: Laleh Bakhtiar dan Penafsiran Al-Quran dengan Hadis


Lebih jauh, Faqihuddin Abdul Kodir dalam Qiraah Mubadalah, menyatakan bahwa pendisiplinan istri dengan cara memukulnya tidak bersifat qat’iy. Ia mencatat perbedaan pendapat para ulama atas hal tersebut yang sebagiannya menghukumi makruh.

An-Nisa: 34 menurutnya terbuka untuk ditafsirkan ulang secara lebih komprehensif dengan melibatkan nas-nas lain yang terkait. Di antaranya keharusan memperlakukan dengan baik atau mu’asyarah bil ma’ruf (An-Nisa: 19) dan saling menutupi kekurangan masing-masing sebagaimana filosofi pakaian (Al-Baqarah: 187).

Dalam hadis juga disebutkan misalnya bahwa Nabi Saw tidak pernah sekalipun memukuli istrinya (Muslim, no. 6195). Beliau bahkan melarang suami memukul istri (Abu Daud, no. 2146), sebab sama saja ia memperlakukan mereka layaknya hamba sahaya (Bukhari, no. 5295). Nas-nas di atas perlu dikaitkan dengan ayat nusyuz sehingga menghasilkan penafsiran yang ramah gender.

Alhasil, nusyuz menurut Faqihuddin adalah ketidaktaatan pasangan terhadap komitmen bersama yang dapat melemahkan ikatan keduanya. Dan tips melaluinya ialah dengan selalu berbuat baik (ihsan) serta menjaga diri (takwa) dari sikap dan tindakan buruk terhadap pasangan, termasuk pemukulan suami terhadap istrinya.

Wallahu A’lam

Al Qur’an Al-Akbar Palembang, Mushaf Terbesar Dunia yang Ada di Indonesia

0
Al Qur’an Al-Akbar Palembang
Al Qur’an Al-Akbar Palembang (ikutilangkahkaki)

Kita semua menyadari bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Besaran penduduk ini juga diiringi dengan ekspresi keberagamaan yang berniali etika dan estetika. Salah satu ekspresi keberagamaan yang bertendensi pada estetika adalah seni mushaf. Seni ini menunjukkan karya kreativitas yang menawan, baik dari sisi iluminasi, kaligrafi, maupun ukuran besar kecilnya. Di antara karya yang mencakup segala keindahan itu adalah Al Qur’an Al-Akbar Palembang.

Al Qur’an Al Akbar merupakan mushaf Al Qur’an yang mendapatkan catatan rekor di dunia karena ukurannya yang luar biasa. Al Qur’an dengan tebal 9 meter ini memiliki jumlah 630 halaman, dan per halaman berukuran 177 cm x 140 cm. Dengan medium kayu tembesu khas Palembang dan ukiran khas Kesultanan Palembang Darussalam, pengerjaan mushaf ini tentu melibatkan banyak pihak.


Baca juga: Sayyid Muhammad Husain Al-Thabathaba’i: Arsitek Tafsir Al-Mizan


Semula mushaf ini dibuat atas inisiatif Syofwatillah Mohzaib, salah seorang yang piawai di bidang kaligrafi dan ukir. Pada tahun 2002 di bulan Romadhan ia mulai merealisasikan niat tersebut, dan berhasil menyelesaikan satu lembar. Kemudian ia tunjukkan pada H. Marzuki Alie, salah satu tokoh Palembang. Satu lembar itu pun berhasil dipamerkan di Masjid Agung Palembang pada malam tahun baru Hijriyah. Tentu pameran ini juga bertujuan untuk membangun relasi terhadap para dermawan yang mau mensupport dana.

Karena wasilah pameran tersebut, akhirnya Taufik Kiemas yang saat itu berkunjung ke Masjid Agung ikut membantu sebesar Rp 200 juta. Lantas dibentuklah tim pembuatan Al Qur’an Al Akbar yang terdiri dari jajaran pelindung dan penasehat (salah satunya Taufik Kiemas), dewan Pembina, ketua harian, ketua teknis dan berbeagai seksi lainnya. Ketua teknis ini pun langsung dipegang oleh Syofwatillah Mohzaib.

Selain itu, mushaf ini juga dikoreksi oleh tim tashih yang terdiri dari ulama dan akademisi. Mereka yaitu KH. A. Sazily Mustafa, KH. Kgs. Nawawi Dencik, KH. Abdul Qodir, KH. Hasnuri Royani, KH. Muslim Anshori, dan dosen IAIN Raden Fatah Drs. Sanusi Goloman Nasution.

Di awal pembentukan tim ini, mereka menarjetkan akan selesai pada tahun 2004. Namun karena terkendala oleh dana dan bahan baku, akhirnya penyelesaian pun mundur sampai tahun 2008. Kayu yang semula dianggarkan hanya 2 juta, ternyata melonjak hingga 7 juta dan 10 juta. Beruntungya,  pada tahun 2005 panitia berhasil menggaang dana Rp 800 juta, dan hingga selesai, seluruh total biaya mencapai Rp 1,2 miliar. Dari besaran dana yang dikeluarkan, tentu ini menjadi karya seni mushaf yang spektakuler.


Baca juga: Baca Ayat Ini Untuk Menjaga Hafalan Al-Quran dan Semua Ilmu Pengetahuan


Meskipun selesai pada tahun 2008, namun mahakarya ini diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 20 Januari 2012. Saat itu bertepatan dengan konferensi parlemen Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang dihadiri dari 53 negara dan mereka semua membubuhkan tanda tangan di peresmian tersebut.

Keindahan Al Qur’an Al-Akbar

Kerumitan pembuatan Al Qur’an Al Akbar, tentu sebanding dengan keindahan mushaf tersebut. Untuk menjaga keutuhan dan perawatan, mushaf ini akhirnya dibuatkan museum yang bernama Bayt Al Qur’an Al Akbar. Museum ini berada di komplek Pesantren IGM Iksaniyah Gandus, Palembang. Museum ini kemudian dibuka untuk umum dan menjadi salah satu destinasi wisata rujukan di Palembang.

Keindahan Al Qur’an Al Akbar selain pada ukirannya juga terpancar pada perpaduan warna yang digunakan. Warna dasar mushaf ini adalah merah tua yang sesuai degan warna khas songket Palembang. Sementara huruf-huruf pada ayatnya diukir timbul dengan sentuhan warna emas yang menandakan warisan Kesultanan Palembang.


Baca juga: Al Qur’an Maghribi, Mushaf Unik yang Huruf Qaf-nya Bertitik Satu


Al Qur’an ini dipajang dan bisa dilihat dekat oleh para pengunjung. Pada lantai dasar Al-Quran dibuat tinggi menjulang ke atas yang terdiri dari lima lantai. Di setiap lantai tersebut, pengunjung bisa melihat lembaran Al Qur’an dan bisa digunakan sebagai objek foto. Keunikan lainnya, lembaran Al-Quran tersebut bisa diputar-putah sehingga pengunjung bisa melihat lembaran ayat suci di kedua sisinya.

Adanya Al Qur’an Al Akbar menunjukkan ekspresi keagamaan yang menunjukkan nilai estetika oleh para pemeluknya. Betapa bangganya Muslim Indonesia, keragaman seninya diekspresikan dengan sempurna hingga menjadi monumen level dunia.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam []

Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat 9: Sahabat Ansar, Suri Tauladan untuk Bersikap Rela Berkorban

0
rela berkorban
sikap tolong-menolong & rela berkorban (kumparan)

Rela berkorban berarti menunjukkan kesetiaan dengan menyerahkan segala yang kita miliki pada objek yang kita cintai. Misalnya, jika seseorang cinta tanah air, sudah pasti ia akan rela berkorban demi keberlangsungan negerinya. Akan tetapi, bila melihat masih banyak orang yang jangankan rela berkorban, peduli pada sesama manusia pun tidak, maka sungguh kentara lunturnya sikap rela berkorban.

Sudah saatnya kita harus belajar untuk rela berkorban, yang antara lain dapat kita peroleh dari Sahabat Ansar. Sahabat Nabi yang pantas jadi suri tauladan untuk rela berkorban.

Sahabat Ansar yang rela berkorban demi Kemakmuran Kaum Muhajirin

Sikap rela berkorban Sahabat Ansar menuai pujian dari Allah swt. melalui firman-Nya, Surat al-Hasyr ayat 9:

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

“Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung”

Ayat ini turun berkenaan dengan pembagian harta fai’ dari klan Bani Nadhir. Sahabat Ansar meminta kepada Nabi Saw. untuk membagi tanah miliknya, yang kelak ingin mereka berikan pada Kaum Muhajirin. Dalam Asbabun Nuzul, al-Wahidi mencantumkan hadis riwayat Yazid bin ‘Asham.

Baca juga: Ragam Bentuk Keadilan Sosial dalam Pandangan Al-Quran

Sesaat setelah Nabi dan para Muhajirin sampai di Madinah, para kaum Ansar meminta kepada Nabi Saw. untuk membagi dua tanah milik mereka. Satu bagian untuk Kaum muhajirin dan satu lagi untuk mereka. Tetapi kemudian Nabi Saw. menangkis permintaan itu.

“Tidak. Mereka (Kaum Muhajirin) akan memberimu upah dan kamu (Kaum Ansar) cukup memberi mereka kurma. Sedangkan tanah itu tetap milikmu”, jelas Nabi Saw.

Sahabat Ansar tetap bersikeras meminta Nabi untuk membagi tanah itu. Mereka menyatakan kerelaannya jikalau Muhajirin juga dapat bagian. Lalu, turunlah ayat ini, sebagai bentuk pujian Allah kepada kaum Ansar yang relah memberikan apa yang sebenarnya ia miliki atas dasar rasa cinta pada kaum Muhajirin.

Kerelaan Sahabat Ansar ini menjadi bukti kesetiaan mereka kepada Sahabat Muhajirin. Hal ini tentu saja, dilatari oleh rasa cinta kasihnya kepada kaum Muhajirin, yang sudah dideklarasikan oleh Nabi Saw. sendiri sebagai saudara mereka. Hal inilah yang kemudian membuat kedua belah pihak merasa setubuh, memiliki satu sama lain. Sehingga, mereka rela mengorbankan apa saja demi kepentingan saudaranya.

Berkorban meski sedang butuh-butuhnya

Tidak hanya itu, sikap rela berkorban Sahabat Ansar juga tampak tatkala mereka mendahulukan kepentingan orang lain, meski mereka sendiri pun sangat butuh. Hal ini dinarasikan dalam satu hadis riwayat Abu Hurairah yang disitir oleh Imam Al-Baghawi dalam Tafsir Al-Baghawi.

Waktu itu, Nabi kedatangan tamu, seorang lelaki yang sedang kepayahan. Lalu, ia meminta istrinya untuk menyiapkan jamuan. Tapi, ternyata mereka sedang tidak punya hidangan yang bisa disuguhkan. Hingga datanglah seseorang dari Kaum Ansar, untuk membantu Nabi Saw.

Sahabat Ansar ini ialah Abu Thalhah. Ia lantas bergegas pulang menemui istrinya untuk menyiapkan hidangan.

“Makanan ini hanya cukup untuk anak kita”, kata istri Abu Thalhah.

Meskipun sedang dalam keterbatasan, Abu Thalhah ini bersikeras membantu Nabi Saw. Ia meminta istrinya untuk menidurkan anak-anak mereka lebih awal dan mematikan lampu agar tidak menangis karena lapar. Baru setelah itu, makanan tersebut ia bahwa dan ia suguhkan untuk tamu Nabi Saw.

Baca juga: Islam Menyerukan Keadilan Sosial, Begini Penjelasan Para Mufassir

Mendengar kejadian ini, Rasulullah pun berkata, “Takjublah penduduk langit atas perbuatan kalian berdua”. Lalu, turun penggalan ayat wa yu’tsiruna ‘ala anfusihim walaw kana bihim khashasah.

Peristiwa ini mengajarkan kepada kita untuk rela berkorban meski dalam keadaan sangat butuh demi mencapai kebaikan yang lebih besar.

Berkorban dengan rela dan ikhlas

Dari ayat tersebut, setidaknya kita dapat mengambil empat poin tentang pengorbanan. Pertama, rasa cinta kasih penting untuk dijadikan alasan berkorban. Karena tidak ada pengorbanan sebagai manifestasi kesetiaan kecuali didasari oleh perasaan cinta.

Kedua, ikhlas atau berkorban tanpa pamrih yang ditunjukkan oleh penggalan ayat wa la yajiduna fi sudurihim hajat. Ibnu ‘Asyur dalam at Tahrir wat Tanwir memaknainya dengan tidak membiarkan kepentingan pribadi mencampuri kepentingan bersama. Sehingga, pengorbanan tidak dilandasi oleh hawa nafsu belaka, melainkan murni kepentingan bersama.

Ketiga, berkorban dengan penuh kerelaan. Sebagaimana ketika sahabat Ansar meminta Nabi Saw. untuk membagi rata tanah untuk mereka dan Muhajirin. Mereka meminta Nabi dengan benar-benar rela.

Keempat, berkorban meski dalam keterbatasan. Ini bisa dibilang sebagai titik nadir bagi seseorang yang hendak berkorban. Ketika ia dihadapkan berbagai pilihan, tetapi yang harus ia pilih ialah melepas segala tanggungannya walau sangat butuh untuk diselesaikan sekalipun. Hal ini demi mewujudkan kebaikan yang berdampak lebih besar.

Berkorban dengan rela dan ikhlas walau dalam keadaan terbatas seyogyanya kita tancapkan pada diri kita. Agar kelak, derap langkah yang kita pilih senantiasa maslahah untuk masyarakat sekitar. Dan agar cinta pada tanah kelahiran tidak usang seiring dengan spirit pengorbanan yang hilang. Wallahu A’lam

Tafsir Surat Al An’am Ayat 46-49

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Sebagaimana telah lalu, pembahasan Tafsir Surat Al An’am Ayat 46-49 diawali dengan nikmat Allah swt yang telah diberikan kepada orang-orang yang mneyekutukanNya. Allah swt menyindir mereka seandainya nikmat-nikmat dicabut apa yang bisa mereka perbuat.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 42-45


Lebih lanjut Tafsir Surat Al An’am Ayat 46-49 berbicara tentang azab yang akan menimpa orang-orang musyrik itu. Baik berupa azab secara langsung maupun tidak, bisa terlihat mata maupun tidak, siang maupun malam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 46-49 diakhiri dengan antitesis dari anggapan orang-orang musyrik yang ingkar terhadap risalah Nabi Muhammad saw bahwa tujuan Allah swt mengutus nabinya supaya menjadi pedoman hidup bagi manusia sehingga mendapatkan kebahagian di dunia dan akhirat.

Ayat 46

Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar menyampaikan kepada orang-orang kafir, bahwa Allah-lah yang memberi manusia pendengaran, penglihatan serta memberi hati dan perasaan.

Bagaimanakah seandainya Allah mengambil semua yang telah diberikan-Nya itu dari mereka. Dapatkah mereka meminta kepada tuhan-tuhan mereka atau sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah untuk mengembalikannya? Oleh karena Allah yang memberi penglihatan dan pendengaran, maka semuanya hendaknya digunakan untuk memperdalam keimanan.

Dengan ayat ini Allah membuktikan bahwa berhala-berhala, sembahan-sembahan dan tuhan-tuhan selain Allah yang disembah orang-orang musyrik tidak mempunyai kekuasaan dan kesanggupan sedikit pun untuk memenuhi atau menolak permintaan orang-orang yang menyembahnya.

Patung-patung dan berhala-berhala itu adalah benda-benda mati yang dibuat manusia untuk dijadikan sembahan. Yang dapat memperkenankan seruan, menolong dan melindungi mereka hanyalah Allah Yang Mahakuasa; tidak ada yang lain. mengapa mereka masih memuja dan meminta pertolongan kepada berhala-berhala itu?

Demikianlah Allah mengemukakan segala macam bukti dan keterangan kepada orang-orang musyrik, dengan menjadikan sembahan-sembahan dan berhala-berhala yang mereka sembah sebagai dalil dan keterangan bagi kesesatan mereka, tetapi mereka tetap ingkar dan tidak beriman.

Ayat 47

Kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan mengingkari seruan Rasul-rasul yang diutus kepada mereka, akan datang azab, adakalanya dengan tiba-tiba, adakalanya dengan tanda-tanda yang datang sebelum azab itu, adakalanya dapat dilihat langsung dengan mata adakalanya tidak dapat dilihat langsung, adakalanya datang di waktu siang hari dan adakalanya datang di malam hari.

Maka hendaklah orang-orang musyrik itu ingat orang-orang zalim dan orang-orang yang mengingkari seruan Rasul pasti ditimpa azab, sedangkan orang-orang yang mengikuti seruan Rasul akan dilindungi dan diselamatkan dari azab itu. Orang yang beriman tidak akan merugi, dan orang yang ingkar akan disiksa.


Baca juga: Tafsir Surat al-Ma’un ayat 4-7 : Celakalah Mereka yang Lalai dari Sholat


Ayat 48

Tujuan Allah mengutus para Rasul itu tidak lain hanyalah untuk menyampaikan berita gembira, memberi peringatan, menyampaikan ajaran-ajaran Allah yang akan menjadi pedoman hidup bagi manusia agar tercapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat, serta memperingatkan manusia agar jangan sekali-kali mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun dan jangan membuat kerusakan di muka bumi.

Barangsiapa yang membenarkan dan mengikuti para Rasul yang diutus kepadanya, mengerjakan amal yang saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap diri mereka akan ditimpa azab di dunia, seperti yang pernah ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan Rasul dahulu dan mengingkari Allah, demikian pula terhadap azab akhirat yang dijanjikan untuk orang-orang yang kafir.

Mereka tidak akan sedih dan putus asa diwaktu menemui Allah terhadap sesuatu yang telah luput dari mereka, karena mereka telah yakin seyakin-yakinnya bahwa semua yang datang itu adalah dari Allah. Mereka yakin bahwa Allah selalu menjaga dan memelihara mereka.

Allah swt berfirman:

لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْاَكْبَرُ وَتَتَلَقّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُۗ هٰذَا يَوْمُكُمُ الَّذِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

Kejutan yang dahsyat tidak membuat mereka merasa sedih, dan para malaikat akan menyambut mereka (dengan ucapan), ”Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.” (al-Anbiya′/21: 103)

Orang-orang yang mengikuti Rasul dan mengerjakan amal yang saleh, tidak akan bersedih hati bila ditimpa musibah, seperti meninggalnya anak atau salah satu anggota keluarganya, musnahnya sebagian atau seluruh hartanya, atau mereka ditimpa penyakit dan sebagainya. Mereka akan tabah dan sabar menghadapinya, apa saja yang terjadi tidak akan mempengaruhi iman, amal, akhlak dan moral mereka. Sebaliknya orang-orang yang kafir akan putus asa dan bersedih hati karena sesuatu cobaan yang kecil dari Allah.

Allah swt berfirman:

مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا فِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا ۗاِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌۖ    ٢٢

 لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ  ٢٣

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. (al-Hadid/57: 22-23)

Ayat 49

Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah yang disampaikan para Rasul kepada mereka, adakalanya mereka mendapat azab di dunia sebelum mendapat azab di akhirat, adakalanya mereka mendapat azab di akhirat saja. Mereka diazab itu tidak lain hanyalah karena kesalahan mereka sendiri yaitu karena keingkaran dan kefasikan mereka.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 50


(Tafsir Kemenag)

Dr. Laleh Bakhtiar, Muslimah Amerika Perintis Psikologi Al-Quran Telah Berpulang

0
Dr. Laleh Bakhtiar
Dr. Laleh Bakhtiar

Dr. Laleh Bakhtiar lahir di Iran, tepatnya di Kota Teheran pada 29 Juli 1938. Kedua orangtuanya,  pasangan relawan medis Dr. Abol Ghassem Bakhtiar dan Helen Jeffreys menjadi inspirasi terbesarnya. Kelak hal inilah yang mendorongnya menjadikan Psikologi dan Sufisme Islam, dan Perjuangan Hak Patriarki dari sudut pandang Muslim menjadi concern keilmuan utamanya.

Sumbangsih Laleh Bakhtiar dalam Pengembangan Studi Islam

Dr. Laleh Bakhtiar merupakan Pendiri sekaligus Presiden Institute of Traditional Psychology and Scholar-in Residence di Kazi Publications. Ia mendapat gelar BA dalam bidang Sejarah di Chatham College dan gelar Master sekaligus Ph.D dalam bidang Filsafat dan Psikologi dari The University of New Mexico, Amerika Serikat. Sedangkan karir studi Islam dimulai dengan belajar kepada gurunya, Sayyid Hossein Nasr selama 30 tahun. Selama hidupnya Dr. Laleh Bakhtiar telah menulis, menerjemahkan mengedit, mengadaptasi lebih dari 150 buku.

Pencapaian terbesar dari keseluruhan karyanya adalah buku berjudul The Sublime Quran, sebuah terjemahan al-Quran. Pasalnya karya-karya tafsir dan terjemahan selama ini didominasi oleh laki-laki. Ia merupakan wanita pertama di Amerika yang memiliki karya terjemahan al-Quran.

Penghargaan terhadap The Sublime Quran salah satunya diberikan oleh Pangeran Yordania, Ghazi bin Muhammad, Kepala Penasihat untuk Urusan Budaya dan Agama Raja Abdullah. Menurutnya karya tersebut sangat sempurna dalam konsistensi interpretasi, metode hingga Bahasa yang digunakannya.

Cendekiawan yang telah bergulat selama 50 tahun itu juga meninjau dimensi mistis Islam dan teks-teks Islam dari perspektif seorang wanita muslim. Ia diakui sebagai cendekiawan dan praktisi perintis dalam disiplin psikologi Islam. Bukunya dengan judul Quranic Psychology of the Self: A Textbook on Islamic Moral Pshycology telah membantu psikologi Al-Quran memiliki ruang keilmuan tersendiri. Selain itu, Dr. Laleh Bakhtiar juga menulis banyak buku tentang persatuan islam, arsitektur, psikoetika dan penyembuhan moral mlalui Sufi Enneagram.

Dr. Laleh Bakhtiar sebagai pejuang keadilan

Tidak berhenti pada penulisan karya, selama bertahun-tahun Dr. Laleh Bakhtiar juga terjun langsung untuk memperlihatkan dengan jelas dedikasi Islam untuk perdamaian dan keadilan dengan mendengarkan berbagai keluhan wanita muslim yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. The Sublime Qur’an nampaknya sengaja ia dedikasikan untuk menjadi alasan mereka lebih berdaya dan kuat dalam menghadapi persoalan yang tidak berpihak kepada wanita muslim.

Pada bulan Desember 2009, Dave Eggers, seorang Novelis Amerika merekomendasikan The Sublime Qur’an, disana ia mengakui akan keistimewaan terjemahan tersebut dari sebelumnya yang mana terlihat dengan jela dedikasi islam untuk keadilan sosial, perdamaian, dan mereka yang kurang beruntung. Pada Mei 2016, Dr. Laleh Bakhtiar dianugerahi penghargaan prestasi seumur hidup oleh Mohammed Web Foundation di Chicago atas kontribusinya pada Komunitas muslim Amerika.


Baca Juga: Laleh Bakhtiar dan Penafsiran Al-Quran dengan Hadis


Muslimah Amerika Pertama yang Menerjemahkan Al-Quran Telah Berpulang

Setiap yang bernyawa pasti akan tiada. Dr. Lelah Bakhtiar, sang pejuang kesetaraan gender sekaligus cendekiawan yang berdedikasi tinggi telah wafat pada 18 oktober 2020 di Chicago Amerika Serikat dalam usia 82 tahun. Di hari-hari mendekati wafatnya Dr. Laleh Bakhtiar dengan bahagia berkumpul dengan keluarganya. Ia dapat membaca pesan dan doa dari seluruh dunia, putra-putrinya juga membaca The Sublime Quran secara bergantian. Pemakamannya akan dilaksankan di Chichago, tempatnya pernah menimba ilmu. Sanak kerabat tentu sangat kehilangan, bahkan sang guru, Sayyid Hossein Nasr berkata:

“Almarhum Laleh Bakhtiar bagi saya, sekaligus, seorang pelajar, seorang teman, dan seorang kerabat. Berakar pada studi Islam dan sangat tertarik pada budaya Persia, dia mengabadiakn seumur hidup untuk (yayasan) beasiswa dan banyak menghasilkan karya hebat dalam bidang studi Islam dan Persia, Sufisme, dan Psikologi. Saya berdoa untuk keberkahan jiwanya.”

Selamat Jalan, Sang pahlawan keadilan dan perdamaian. Jasadmu telah tiada namun jasa dan dedikasimu akan selalu ada.