Beranda blog Halaman 502

Mengaplikasikan Metode Tadabbur Saat Membaca Al-Quran dan Langkah-Langkahnya

0
Membaca Al-Quran
Membaca Al-Quran

Apa yang harus kita lakukan untuk mengimplementasikan makna tadabbur Al-Quran pada saat membaca Al-Quran? Ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk memahami, menghayati, dan mendalami, serta mengamalkan pesan-pesan Al-Quran. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Baca dan jagalah huruf-huruf Al-Quran sesuai dengan makhrajnya (sesuai dengan bunyi dan posisinya) agar sesuai dengan maknanya. Jika kita salah membaca huruf, maka pesannya menjadi salah. Bedakan ketika mengucapkan ح, خ, dan هـ. Bedakan ketika mengucapkan ث, س, ش, dan ص. Salah baca, salah makna.

2. Setiap kata dari ayat-ayat yang dibaca harus dipahami, diresapi, dan dihayati maknanya sehingga setiap ayat akan dipahami pesan-pesan yang disampaikannya. Jangan lewatkan sebuah ayat tanpa paham, hayati, dan dalami maknanya.

3. Apabila kita membaca sebuah ayat yang mengandung pesan dan makna rahmat Allah, maka kita berhenti sejenak untuk memahami, menghayati, dan mendalami maknanya. Berdoalah kepada Allah agar kita mendapatkan rahmat-Nya sesuai dengan pesan ayat.

4. Apabila kita membaca sebuah ayat yang mengandung ancaman dan hukuman Allah, maka kita berhenti sejenak dan memahami, menghayati, dan mendalami maknanya. Berdoalah kepada Allah agar dilindungi dari siksaan dan azab yang berat itu, dan dijauhkan dari siksaan api nereka.

5. Apabila kita membaca sebuah ayat yang menunjukkan panggilan kepada orang-orang yang beriman, seperti يأيها الذين آمنوا, maka berhentilah sejenak untuk memahami, menghayati, dan mendalami pesannya di dalam lubuk hari Anda, lalu bacalah, “Ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu. Yang Engkau perintahkan aku akan kerjakan, dan yang Engkau larang, aku tinggalkan dan jauhi.

6. Apabila Anda membaca ayat yang di dalamnya terkandung kata-kata “pengampunan dosa, permohonan ampun atas segala dosa”, maka katakanlah, “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, daosa kedua orang tuaku, dan dosa-dosa lainnya.”

7. Apabila Anda membaca ayat yang di dalamnya terkandung perbuatan taubat, atau perintah untuk pertobat, maka berhentilah sejanak di ayat itu, lalau katakanlah: “Ya Allah aku bertobat kepada-Mu, dan terimalah taubatku.”

Selain ketika membaca al-Quran, ada beberapa hal lagi yang perlu kita lakukan dalam melakukan tadabbur terhadap Al-Quran. Fawwaz Ahmad Zamraly tentang sarana-sarana yang dapat membantu tadabbur Al-Quran sangat menarik untuk dikemukakan dalam uraian ini.

Baca Juga: Memahami Makna Tadabbur al-Quran dan Implementasinya

Dia menguraikan 13 sarana ini dalam suatu uraian yang sangat panjang. Tiga belas sarana itu harus diupayakan oleh seseorang sehingga dia dapat melakukan tadabbur terhadap Al-Quran. Tiga belas sarana itu dapat disimpulkan dalam uraian yang ringkas sebagai berikut:

1. Ada sikap yang kuat di dalam hati untuk Mengagungkan Allah Swt dan Mencintai-Nya.

2. Menghadirkan hati dan menfokuskan pendengaran ketika membaca Al-Qur’an.

3. Selalu beristighfar, bertaubat dan menjauhkan perbuatan maksiat kepada Allah.

4. Membaca, mendengar, dan bertadabbur Al-Quran itu harus dengan hati yang tulus hanya karena Allah.

5. membaca Al-Quran harus dengan hati yang khusyu, takut, dan tunduk kepada Allah.

6. memperhatikan dan menelaah hasil penafsiran para ulama tafsir tentang ayat-ayat Al-Quran.

7. Memohon perlindungan kepada Allah Swt dari godaan setan yang dapat mengganggu tadabbur.

8. Memilih waktu-waktu yang tepat untuk membaca Al-Quran, seperti pada saat hati pembacanya riang, gembira, dan senang, seperti pada pagi hari atau malam hari.

9. Memilih tempat-tempat yang tepat untuk membaca, seperti di masjid.

10. Memilih ukuran atau jumlah ayat yang dibaca sehingga tidak ada rasa terpaksa untuk membacanya.

11. Membaca ayat ayat al-Quran secara pelan-pelan, tidak terburu-buru sehingga memungkinkan untuk memahami dan tadabbur terhadap apa yang dibaca.

12. Membaca Al-Quran dengan baik dan benar sesuai dengan makhraj dan tajwidnya.

13. Selalu dekat dengan Al-Quran dan membacanya.

Tiga belas hal tersebut kelihatannya cukup berat untuk dilakukan. Tetapi, kalau sudah kita membiasakannya kita akan bisa dan kita dapat merasakan kenikmatan melakukan tadabbur itu. Wallahu A’lam.

Ikrar Setia Kaum Hawariyyun: Refleksi Peringatan Hari Sumpah Pemuda

0
Ikrar setia Kaum Hawariyyun
Ikrar setia Kaum Hawariyyun

Pemuda biasanya dikaitkan dengan orang yang umurnya berkisar antara 15-30 tahun. Pemuda memiliki karakter spesifik yang produktif, jiwanya  optimis, revolusioner dan visioner. Mereka juga memiliki kontribusi yang besar dalam pembentukan serta keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karakter pemuda ini juga digambarkan dalam Al-Quran dengan mengkisahkan kaum  Hawariyyun, sahabat Nabi Isa dari golongan Pemuda.

Kisah Nabi Isa dan Kaum Hawariyyun

Ketika Nabi Isa akan dibunuh oleh orang-orang Yahudi, Nabi Isa mengumpulkan seluruh pengikut-pengikutnya dan bertanya kepada mereka.

“Siapakah diantara kalian yang ingin menjadi temanku di Surga dengan menyerupai diriku dan menggantikan posisiku untuk dibunuh oleh kaum Yahudi?”, tanya Nabi Isa.

Tentu, dibutuhkan loyalitas yang tinggi dan komitmen yang kuat untuk melakukan itu. Semua pengikut Nabi Isa diam kecuali sekelompok Kaum Hawariyyun yang berjumlah 12 orang. Mereka para pemuda sekaligus sahabat Nabi Isa yang dengan tegas menyatakan siap berkorban demi keberlangsungan syariat yang dibawa Nabi Isa.

Kemudian Nabi Isa mengulangi pertanyaan hingga tiga kali, dan hanya mereka pulalah yang menyatakan siap berkorban. (al-‘Alusi, Ruhul Ma’ani)

baca juga: Ini Daftar 15 Bayi yang bisa Bicara Menurut Para Mufassir

Peristiwa ini terekam dalam Al-Quran Surat Ali ‘Imran ayat 52-53:

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri”

“Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)”

Nabi Isa menguji keimanan dan komitmen para kaumnya dengan bertanya, “siapakah diantara kalian yang siap menjadi Penolong agama Allah?”

Baca juga: Inilah Tiga Mukjizat Al-Quran

Sekelompok Pemuda dari Hawariyyun menjawab dengan tegas bahwa kami siap menjadi penolong agama Allah. Diriwayatakan mereka terdiri dari dua belas orang dari keturunan Nabi Sham’un, Ya’kub dan Yuhana. Mereka menggunakan baju putih dan pekerjaannya mencari ikan. (as-Shabuni, Shafwatut Tafasir)

Para Mufassir berbeda pendapat terkait Makna “Man Anshari Ila Allaah” .  Al-Jilani menafsirkan siapa yang siap berdakwah dengan menunjukkan kebenaran kepada orang-orang yang tersesat dan menolong serta menjagaku (Nabi Isa) atas kedhaliman Mereka?  Kaum Hawariyyun pun Menjawab “Kami siap menjadi penolong Utusan Allah, kami akan menjaganya dengan sebaik-baiknya dan mengembangkan seluruh potensi yang kita miliki untuk melanjutkan syariat dan Hukum-hukum Allah agar senantiasa terus hidup dan berjalan di Muka bumi. Karena Sesungguhnya kami Telah bersaksi atas kerasulanmu dan Atas apa yang diwahyukan kepadamu, dan kami termasuk orang yang berpasrah diri dengan Iman yang Murni dan kebaikan-kebaikan yang diberikan kepada kami semuanya datang dari Allah dan untuk dikembangkan demi kemaslahatan dibumi. (‘Abdul Qadir al-Jailani, Tafsir al-Jilani)

Pemuda Hawariyyun digambarkan Al-Quran sebagai pemuda yang loyal dan berkomitmen. Perubahan yang dibawa Nabi Isa menjadi momen bagi mereka untuk ikut menjadi pelopor perubahan dari kekufuran yang telah sekian lama tumbuh subur di masa itu.

Refleksi Sumpah Pemuda

Kisah ini dapat kita jadikan sebagai refleksi untuk mengingat sumpah pemuda. Sumpah pemuda dipelopori oleh para pemuda dan juga sebagai kristalisasi pembentukan negara kesatuan republic Indonesia. Karena keberanian dan sikap visioner para pemuda yang andil dalam sumpah pemuda terwujudlah kemerdekan Indonesia.

Kini, kita sebagai pemuda dapat meneladani semangat revolusioner dan loyalitas dari kisah pemuda Hawariyyun. Mereka siap berkorban dan melakukan apa saja demi menjaga ketauhidan. Kita dapat berkontribusi apapun potensi yang kita miliki untuk agama dan bangsa. Dengan membangun  keloyalitasan kita Pada Negara dan agama, maka hal-hal sulit dan berat menjadi mudah kita lakukan. Tapi perubahan tidak dapat kita lakukan sendirian, kita harus saling berkolaborasi dengan pemuda lainnya. Hal itu juga yang dikisahkan Al-Quran dengan pemuda hawariyyun, mereka berkolaborasi dan berkomitmen bersama. Sehingga tetap ada yang menjaga kebenaran dan berjuang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca juga: Cara Elegan Merawat Keberagaman Menurut Al-Quran

Dengan berkolaborasi, perubahan menjadi lebih mudah dilakukan dan diwujudkan. Hal baik yang awal mulanya manfaatnya kecil bisa menjadi lebih besar kebermanfaatannya. Sesuatu yang dirasa berat dan sulit jika dilakukan sendiri, akan lebih mudah dan mungkin jika dilakukan bersama. Perubahan bisa dilakukan dimana dan apa saja, kontribusi kecil maupun besar dilingkungan kita yang sekiranya membawa manfaat lanjutkan dan terus lakukan inovasi. Wallahu a’lam[]

Konsekuensi Perbedaan Qiro’ah pada Penafsiran Al-Quran Menurut Mufassir

0
Konsekuensi Perbedaan Qiro’ah
Konsekuensi Perbedaan Qiro’ah

Al-Qur’an diturunkan dengan beberapa lahjah, tidak hanya satu, atau yang masyhur dengan istilah sab’atu ahruf. Akan tetapi juga ditemukan suatu ayat mempunyai tata cara baca lebih dari satu, misalnya di dalam surat al-Fatihah, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ dan  يَوْمِ الدِّينِ  ملك , dan di beberapa ayat yang lain. Lantas adakah konsekuensi perbedaan qiro’ah pada penafsiran Al-Quran?

Nabi Muhammad Saw sebagai pembaca sekaligus pengamal al-Qur’an pertama kali, mempunyai banyak murid yang berbeda-beda kapasitas keilmuannya, yaitu para sahabat, meskipun mereka tidak perlu diragukan lagi integritasnya. Termasuk dalam menerima cara pembacaan (qiro’ah) al-Qur’an, ada sahabat yang menerima hanya satu tata cara baca, ada yang dua, dan ada beberapa sahabat yang menerima dari Nabi Saw tata cara baca (qiro’ah) yang bermacam-macam. Lantas para sahabat berpencar ke luar wilayah arab guna menyebarkan ajaran islam, berbekal qiro’ah yang mereka ketahui.

Perbedaan pengetahuan tentang qiro’ah inilah yang akan diikuti oleh generasi selanjutnya, yaitu generasi tabi’in, dilanjutkan oleh tabi’i tabi’in dan seterusnya. Sampai pada generasi ulama yang fokus mempelajari qiro’ah. Inilah yang melatar belakangi lahirnya ilmu qiro’ah (Syekh Az-Zarqani, Manahil ‘Irfan, [Beirut : Dar Al-Kutub Al-Ilmia] hal. 228).

Berpijak pada ilmu qiro’ah, timbul pertanyaan : Apakah perbedaan qiro’ah menimbulkan penafsiran yang berbeda pula? mari kita pelajari lewat tafsir para ulama mufassir yang kredibel.


baca juga: Memahami Makna Tadabbur al-Quran dan Implementasinya


Pada surat al-fatihah ayat ketiga, ada qiro’ah ‘ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ‘ dengan alif, yang diriwayatkan oleh Imam Al-Kisai dan ‘Asim, sedangkan yang lain tanpa alif ‘مَلِك ‘. Lafadz مالك adalah isim fa’il dari مَلَكَ – مِلْك yang bejrarti ‘memiliki’, sehingga berimplikasi pada makna ‘Dzat yang memiliki’ yang memiliki hal segala hal. Sedangkan مَلِك terbentuk dari lafadz مُلْك yang berarti ‘kerajaan/kekuasan’, sehingga berimplikasi pada makna ‘raja/penguasa’ yang mempunyai wewenang segala hal yang ada dalam kekuasaannya. (Syekh Sulaiman Al-Jamal, Tafsir Jamal [Beirut ; Dar Al-Kutub Al-Ilmiah] juz 8, hal 456).

Syekh Muhamad Mutawalli Sya’rowi menjelaskan perbedaan makna keduanya, ketika Allah Swt berfirman ‘مالك يَوْمِ الدين’ maka mengandung makna bahwa Dia adalah satu-satunya dzat yang memiliki hari tersebut, terserah apa yang akan dilakukan sesuai kehendakNya. Sedangkan ketika Allah berfirman ‘ملك يَوْمِ الدين’ maka kehendakNya dan otoritasNya melebihi siapapun, baik itu yang merasa punya otoritas.


Baca juga: Mengenal Tafsir As-Sya’rawi: Tafsir Hasil Kodifikasi Ceramah


Jika orang yang membaca qiro’ah yang pertama, maka berarti dia menegaskan bahwa ‘pemilik hari itu (kiamat) hanya Allah Swt’, tidak ada satupun yang mampu mengintervensi. Namun jika membaca qiro’ah yang kedua, maka dia menyatakan bahwa ‘Allah Swt pada hari itu (kiamat) menghakimi semua makhluknya, termasuk orang yang dianggap raja/penguasa ketika di dunia’. (Syekh Mutawalli Sya’rowi, Tafsir Sya’rowi [Kairo : Dar An-Nur, 2010] juz 1, hal. 73)

Konsekuensi Perbedaan Qiro’ah Menurut Mufassir

Imam Fahrudin ar-Razi menjelaskan konsekuensi hukum dari kedua qiro’ah tersebut. Menurutnya:

  1. Qiro’ah مَالِكِ menunjukan harapan yang lebih besar daripada qiro’ah مَلِك. Karena qiro’ah pertama berimplikasi pada seorang hamba meminta sandang, pangan, papan, rokhmat, pendidikan dan segala kebutuhannya. Sedangkan qiro’ah kedua berimplikasi pada keadilan.
  2. Meskipun qiro’ah مَلِك lebih luas daripada مَالِكِ hanya saja seakan Allah yang mengharapkan manusia, berbeda dengan مَالِكِ yang menunjukan bahwa manusia yang berharap pada Allah Swt.
  3. Qiro’ah مَلِك ketika dihadapkan pada kondisi fisik seseorang, maka yang masuk hanya orang yang fisiknya kuat. Berbeda dengan مَالِكِ, yang mengayomi siapa saja termasuk orang yang sakit dan lemah atau kekurangan secara fisik. Bahkan para pendosa sekalipun.
  4. Qiro’ah مَلِك mengandung unsur wibawa, kekuasaan dan politik. Sedangkan qiroah مَالِكِ mengandung nilai kasih sayang. (Imam Fahrudin ar-Razi, Mafatihul Ghoib, [Kairo: Darul Hadis, 2012] juz 1, hal. 265-267)

Perbedaan qiro’ah yang berimplikasi makna beda juga ada pada surat at-Taubah ayat 128 :

لَقَدْ جاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ ما عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُفٌ رَحِيمٌ (128)

Artinya : “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At-Taubah : 128)


Baca juga: Pentingnya Menata Niat Bagi Pengajar dan Pelajar Al-Quran


Yang menjadi konsentrasi kita adalah lafadz ‘ مِنْ أَنْفُسِكُمْ ‘. Jumhur ulama qiro’ah membaca dengan mengharokati dhomah huruf fa’, sedangkan Abi Amr Ra membaca lafadz dengan mengharokati fathah huruf fa’’ مِنْ أَنْفَسِكُمْ’.

Qiro’ah pertama adalah bentuk jamak dari نفْس yang berarti ‘diri/jiwa’, sedangkan qiro’ah kedua adalah bentuk isim tafdhil dari lafadz نفيس yang berarti ‘indah/bersih’ dan berimplikasi pada makna ‘paling indah/bersih’. Imam Ibnul Jauzi dalam kitab Zadul Masir fi ilmi Tafsir menjelaskan masing-masing interpretasi dari kedua qiro’ah di atas. Menurutnya, qiro’ah pertama menunjukkan beberapa makna.

Yang pertama, Nabi Saw dari bangsa Arab, kedua, Nabi Saw dari kelompok yang kalian kenal, ketiga, dari nikah yang sah, keempat, dari golongan manusia bukan malaikat. Sedangkan qiro’ah kedua menunjukkan makna ; pertama, Nabi Saw paling utama akhlaknya, kedua, paling mulia nasabnya, ketiga, paling taat kepada Allah Swt. (Ibnu Jauzi, Zadul Masir fi Ilmi Tafsir, [Maktabah Syamilah] juz 2, hal. 313)

Dari uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan, bahwa ragam qiro’ah sedikit banyak menimbulkan penafsiran yang beda pula. Wallohu A’lm []

Surat Al-Mu’awwidzatain Dan Memahami Kisah Disihirnya Nabi Muhammad

0
Surat Al-Mu’awwidzatain
Surat Al-Mu’awwidzatain

Keberadaan Surah An-Nas dan Al-Falaq atau disebut juga dengan surat Al-Muawwidzatain (2 surat yang dibuat perlindungan), sebuah surat yang erat kaitannya dengan peristiwa disihirnya Nabi Muhammad. Ya, karena peristiwa tersebut ditengarai sebagai asbabun nuzul atau sebab diturunkannya Surah Al-Falaq dan An-Nas. Hal ini sebagaimana yang disinggung Imam As-Suyuthi dalam kitab Lubabun Nuqul Fi Asbabin Nuzul.

Kisah disihirnya Nabi Muhammad adalah kisah yang cukup menyedot perhatian para ulama’. Hal ini berkaitan banyaknya anggapan bahwa kesempurnaan dan keterjagaan Nabi Muhammad seharusnya membuat dirinya tidak mempan disihir. Namun nampaknya riwayat-riwayat tentang turunnya Surat Al-Mu’awwidzatain seperti mementahkan anggapan tersebut.


Baca juga: Rambu-Rambu Ketaatan Terhadap Pemimpin: Tafsir Surat An-Nisa Ayat 59


Lalu apakah riwayat disihirnya Nabi Muhammad benar adanya? Apabila benar, apakah kejadian tersebut tidak menciderai keterjagaan Nabi Muhammad? Tulisan ini tidak hendak memaparkan secara lengkap riwayat tentang disihirnya Nabi, tapi akan mengulas tentang  kisah disihirnya Nabi Muhammad berdasar keterangan para ulama’. Sehingga memperlengkap referensi tentang sebab turunnya Surat Al-Mu’awwidzatain.

Disihirnya Nabi Sebagai Sebab Turunnya Surat Al-Muawwidzatain

Riwayat disihirnya Nabi sebagai sebab turunnya Surat Al-Muawwidzatain disebutkan salah satunya oleh Imam As-Suyuthi dalam Lubabun Nuqul. Imam as-Suyuthi menyodorkan dua riwayat yang memiliki cerita agak berbeda. Pertama, riwayat Ibn Abbas yang mengkisahkan dua malaikat yang berbincang-bincang kemudian menyinggung bahwa Nabi disihir, serta sihir itu hancur dengan bacaan Surat Al-Muawwidzatain. Kemudian yang kedua, riwayat Anas ibn Malik yang menceritakan Nabi sakit keras dan Malaikat Jibril turun membawa Surat Al-Mu’awwidzatain.

Namun Imam As-Suyuthi menjelaskan di tengah-tengah memaparkan dua riwayat tersebut, bahwa hadis disihirnya Nabi dapat ditemukan rujukannya dalam kitab sahih. Hanya saja, tanpa menyinggung tentang Surat Al-Muawwidzatain. Mengenai sebab turunnya Surat Al-Mu’awwidzatain, disebutkan dalam riwayat yang berbeda. Oleh karena itu, secara tidak langsung Imam As-Suyuthi mengakui, sebenarnya masih ada masalah terkait benar tidaknya kisah disihirnya Nabi merupakan sebab turunnya Surat Al-Mu’awwidzatain (Lubabun Nuqul/148).


Baca juga: Benarkah Nabi Adam AS Penghuni Pertama di Bumi?


Disihirnya Nabi Tidak Menciderai Keterjagaan Nabi Muhammad

Sayyid Muhammad ibn Alwi Al-Maliki dalam kitab Muhammad Rasulullah Al-Insan Al-Kamil menjelaskan, riwayat tentang disihirnya Nabi Muhammad adalah riwayat yang sahih dan disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim. Sehingga tidak perlu ada kajian lagi mengenai keabsahan hadis disihirnya Nabi. Hanya saja, meski riwayat disihirnya Nabi Muhammad adalah riwayat yang sahih, akan tetapi tidak lantas riwayat tersebut menunjukkan terciderainya keterjagaan Nabi dengan sebab Nabi mempan terkena sihir (Muhammad Rasulullah/122).

Batasan terciderainya keterjagaan Nabi adalah, apabila pengaruh sihir tersebut sampai mempengaruhi kejujuran Nabi atau sifat-sifat Nabi yang lain. Maka apabila sihir tersebut tidak sampai mempengaruhi kejujuran Nabi, atau hanya sekedar membuat Nabi seperti kebingungan, tapi beliau tetap tahu mana yang sebenarnya terjadi dan mana yang tidak, maka sihir tersebut tidak sampai menciderai keterjagaan Nabi.

Sayyid Muhammad mengajukan bukti bahwa sihir tersebut tidak sampai mempengaruhi sifat-sifat Nabi, dan bahwa akal serta hati Nabi tetap terjaga, dengan tidak adanya riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad tatkala disihir mengucapkan atau melakukan sesuatu di luar hal-hal yang biasa beliau lakukan. Padahal andai kata ada, pasti akan tersebar luas disebabkan banyaknya musuh-musuh Nabi Muhammad yang menunggu munculnya suatu kesalahan dari Nabi Muhammad, untuk dijadikan bahan mengejek maupun menyakiti beliau (Muhammad Rasulullah/123).


Baca juga: Ibn Katsir: Sosok di Balik Lahirnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim


Justru keberadaan Nabi yang terkena sihir sehingga sempat membuat beliau kebingungan, menunjukkan bahwa Nabi Muhammad benar-benar terjaga hati, akal, aqidah dan ucapannya. Hal itu juga menunjukkan bahwa hal-hal ringan yang biasa menimpa lumrahnya manusia, yang juga menimpa Nabi Muhammad, sekuat apapun tidak akan sampai menciderai sifat-sifat kenabian beliau (Muhammad Rasulullah/123).

Anggapan Keliru Tentang Keterjagaan Nabi

Ishamah atau keterjagaan nabi kadang difahami secara keliru oleh sebagian orang. Mereka menganggap bahwa Nabi Muhammad terjaga berarti beliau, yang dianggap sebagai kekasih Allah yang mengetahui banyak tentang hal-hal ghaib, berarti tidak mempan terkena hal-hal semacam sihir para dukun yang notabene menyembah selain Allah. Maka saat mendengar riwayat bahwa Nabi pernah terkena sihir, mereka pun kaget atau bahkan tidak mempercayai riwayat tersebut.

Pemahaman yang tepat atas keterjagaan Nabi adalah, segala sesuau yang menimpa Nabi tidak sampai mengurangi derajad beliau. Seperti membuat akal beliau terganggu. Maka Nabi Muhammad bisa saja mengalami hal-hal yang bisa dialami manusia biasa, semacam sakit demam, lupa, disakiti orang lain, selama hal itu tidak sampai menciderai derajad kenabian beliau. Wallahu a’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 12-14

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Masih dalam pembahasan mengenai orang-orang musyrik, dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 12-14 ini menekankan pada perintah Allah kepada Nabi Muhammad agar menanyakan tentang ke-Esaan Allah swt. Sudah pasti orang-orang musyrik itu tahu kebenarannya tapi mereka lebih memilih untuk membangkang.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 9-11 


Lebih jauh, dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 12-14 dijelaskan sifat kasih sayang Allah terhadap orang-orang musyrik. Namun sayangnya mereka tidak merasakan kasih sayang itu karena hatinya sudah terutup akibat dari prilaku mereka sendiri yang ingkar kepada Nabi Muhammad saw. Salah satu contohnya adalah tidak adanya Azab yang langsung ditimpakan kepada mereka sebagaimana umat terdahulu.

Peringatah Allah kepada Nabi Muhammad untuk senantiasa menyampaikan risalahnya diulang lagi dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 12-14 ini. Khususnya sebagai penutup pembahasan kali ini. Nabi Muhammad dihimbau oleh Allah agar tidak menjadi seperti orang-orang musyrik yang taat kepada Allah swt.

(12) Allah menyuruh Rasul-Nya agar bertanya kepada kaumnya yang ingkar, siapa pemilik segala yang ada di langit dan di bumi ini? Pertanyaan ini untuk membantah dasar keyakinan yang menyekutukan Allah (syirik), karena orang Arab jahiliah sebenarnya telah mengakui bahwa yang menciptakan langit dan bumi ini adalah “Allah” (al-‘Ankabµt/29:61 dan Luqman/31: 25).

Kemudian Allah memerintahkan Rasul untuk memberikan jawaban, bahwa “semuanya itu milik Allah”. Kaum musyrik tentu akan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang serupa. Tidak ada jawaban lain bagi mereka; dan mereka tidak akan memungkirinya, karena itu mereka tidak boleh menyandarkan sesuatu dari alam ini selain kepada Allah. Hanya Allah Raja dan Pemilik alam raya ini dengan segala isinya.

Allah, yang diakui oleh orang musyrik sebagai Pencipta yang menciptakan langit dan bumi dan yang memiliki keduanya, telah memperkenalkan diri-Nya melalui Rasul-Nya bahwasanya sifat kasih sayang merupakan keharusan dari zat-Nya, sifat kasih itu meliputi seluruh makhluk-Nya.

Dia Maha Penyayang kepada seluruh hamba-Nya dengan melimpahkan bermacam-macam nikmat lahir dan batin kepada mereka. Jika mereka berbuat dosa Dia tidak segera menjatuhkan azab kepada mereka, sebaliknya mereka diberi kesempatan untuk bertobat dan kembali ke jalan Allah. Perbuatan dosa yang mereka lakukan sehingga mengakibatkan murka Allah adalah akibat kesalahan manusia itu sendiri.

Bukankah karena kasih sayang Allah, manusia itu diciptakan dalam keadaan fitrah yang sempurna? Kemudian mereka diberi kesempatan untuk mengenali dan mengesakan-Nya dengan jalan menunjukkan bukti-bukti yang ada pada diri manusia dan di alam semesta ini. Karena rahmat Allah, rasul-rasul diutus kepada mereka dengan membawa Kitab-kitab yang penuh dengan ajaran-ajaran yang menuju kepada rida-Nya dan yang mencegah mereka dari murka-Nya.

Tetapi kemudian manusia itulah yang menodai ajaran yang baik itu dengan berbagai kejahatan yang mereka lakukan. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan menghina para rasul. Allah berfirman:

وَمَا ظَلَمْنٰهُمْ وَلٰكِنْ كَانُوْا هُمُ الظّٰلِمِيْنَ

Dan tidaklah Kami menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.  (az-Zukhruf/43:76)

Karena rahmat Allah itu pulalah orang musyrik Mekah tidak dibinasakan seperti umat-umat terdahulu.

Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ الله َلَمَّا خَلَقَ خَلْقًا كََتَبَ كِتَابًا عِنْدَهُ فَوْقَ العَرْشِ: إِنَّ رَحْمَتِيْ سَبَقَتْ غَضَبِيْ

(رواه البخاري ومسلم عن أبي هريرة)

Sesungguhnya ketika Allah telah selesai menciptakan makhluk ini, Allah menulis Kitab yang ada di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Berdasarkan kasih sayang itu, Allah akan menghimpun seluruh manusia pada hari Kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Keadilan akan ditegakkan pada hari itu. Tak seorang pun yang akan luput dan dialpakan.

Adalah menjadi rahmat yang besar bagi hidup dan kehidupan manusia, bilamana setiap orang yakin dan sadar akan kejadian hari berkumpul itu. kesadaran ini menjadi pendorong baginya untuk membersihkan jiwanya dan meluhurkan budinya. Ketidakadilan yang terjadi dalam kehidupan duniawi, tentulah akan diperhitungkan oleh Allah dengan penuh keadilan pada hari Kiamat itu.

Orang yang merugikan dirinya sendiri, yakni orang yang menodai fitrah kejadian dirinya yang bersih, merusak mentalnya yang sehat dan menghilangkan kesediaannya untuk menerima kerasulan Muhammad dan tidak mau mendengarkan wahyu, dan mereka memilih jalan kekafiran, karena mereka tidak beriman kepada hari akhirat, merekalah orang yang merugi.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 144: Cinta Tanah Air Itu Fitrah Manusia


(13) Ayat ini menyatakan bahwa alam dengan segala isinya menjadi milik Allah, segala yang terjadi di waktu malam dan di siang hari adalah juga kepunyaan Allah. Bagaimana pun kecilnya sesuatu benda, yang menempati sudut mana pun dalam ruang alam semesta ini, pastilah dia dalam kekuasaan Allah. Tak mungkin ia bergerak dan diam di segala ruang dan waktu tanpa kodrat dan iradat Allah, sebab ia milik-Nya. Penguasaannya mutlak pada Allah.

Kemudian ditegaskan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Jarak jangkauan pendengaran-Nya melingkupi alam ini. Walaupun bunyi langkah seekor semut di atas batu yang licin pun pasti tidak akan luput dari pendengaran dan pengetahuan-Nya.

(14) Dalam ayat ini, Allah memerintahkan lagi kepada Rasul-Nya agar bertanya kepada kaum musyrik:

“Apakah patut selain Allah aku jadikan pelindung yang memberikan pertolongan kepadaku sewaktu dalam kesulitan atau menolak bencana menimpaku?”

Tentulah Rasul tidak berbuat seperti halnya orang-orang musyrik dan ahli-ahli kitab zaman dulu. Mereka itu menjadikan sembahan-sembahan mereka, dan pendeta-pendeta mereka, sebagai pelindung, yang menurut Itiqad (keyakinan) mereka dapat memberikan kebahagiaan kepada mereka atau menolak kesengsaraan dari mereka.

Tidak ada pelindung atau penolong yang sebenarnya kecuali Allah yang menciptakan langit dan bumi. Allah mengemukakan sifat-Nya sebagai Pencipta untuk menegaskan penolakan pikiran yang menempatkan selain Allah sebagai penolong; sebab hanya Allah sajalah yang patut dimintai pertolongan.

Tidak patut selain Dia dijadikan perantara yang dapat mempengaruhi kehendak Ilahi. Hanya kepada Pencipta langit dan bumi ini, doa dan harapan ditujukan. Kehendak-Nya tak dapat dipengaruhi oleh siapapun juga.

Dialah Tuhan Yang memberi rezeki, makan dan minum serta segala kemanfaatan kepada manusia. Sebaliknya Dia tidak memerlukan makan-minum dan rezeki, bahkan Dia Suci dari segala kebutuhan akan makan-minum dan lain sebagainya, dan Dia tidak memerlukan orang lain.

Firman Allah:

مَآ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَآ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. (az-Zariyat/51: 57)

Selanjutnya Rasulullah saw diperintahkan untuk menyampaikan kepada orang kafir bahwa beliau diperintahkan Allah untuk menjadi orang yang pertama berserah diri kepada-Nya, menjunjung tinggi perintah-Nya, tidak akan memohon kepada selain Dia, dan terus menegakkan agama ditengah-tengah umatnya.

Rasul Muhammad juga dilarang untuk menjadi orang musyrik, yakni orang yang menyembah selain Allah dan menganggap selain Allah sebagai penolong atau perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 15-18


(Tafsir Kemenag)

Memahami Makna Tadabbur al-Quran dan Implementasinya

0
tadabbur al-quran
tadabbur al-Quran

Pada tulisan lalu kita telah mengulas seputar Tilawah al-Quran. Dalam tulisan ini kita akan mengurai makna tadabbur al-Quran dan implementasinya.

Kata tadabbur (تدبر) berasala dari kata dubur (دبر), yang berarti “belakang” dan lawan dari kata qubul (قبل), yang berarti “depan.” Kata dubur al-syay’ (دبر الشيء) artinya bahagian belakang sesuatu, sedangkan qubul al-Syay’ (قبل الشيء), artinya “bahagian depan sesuatu.”

Dari kata dubur (دبر) terbentuk kata dabbara (دبر), yang berarti “memikirkan sesuatu yang ada di akhir (belakang) sesuatu. Seperti dalam kalimat Tadabbartu al-amr (تدبرت الأمر), yang artinya “memandang, memperhatikan sesuatu yang ada di belakang (di akhirnya). Oleh sebab itu, penekanan makna kata tabaddur (تدبر) terkait dengan sesuatu yang terdapat di akhirnya.

Dari sini dapat dikatakan bahwa tadabbur (تدبر) adalah “pemikiran yang komprehensif yang dapat mengantarkan seseorang kepada akhir petunjuk suatu kalimat (ucapan) dan tujuan-tujuannya yang jauh.” qubul (قبل), yang berarti “depan.” Kalau kata tadabbur dikaitkan dengan Al-Qur’an sehingga menjadi tadabbur Al-Qur’an (تدبر القرآن), maka artinya adalah “pemikiran yang komprehensif yang dapat mengantar kita kepada akhir dari petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dan tujuan-tujuan akhir yang ingin dicapai dari membaca Al-Quran.

Kata tadabbur (تدبر) di dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 4 kali, yang terkait dengan AlQur’an. Di antaranya disebutkan oleh Allah di dalam QS. Muhammad [47]: 24:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ أَمۡ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقۡفَالُهَآ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”

Allah menegaskan di dalam ayat ini, apakah mereka tidak memperhatikan, yaitu membaca, memikirkan, menghayati, dan mendalami pesan-pesan yang terdapat di dalam Al-Quran, hingga mereka beriman kepada Allah. Ataukah hati mereka semua sudah terkunci mati, sehingga tidak dapat berpikir lagi, menghayati, memahami dan mendalami apa yang terdapat di dalam Al-Quran.

Baca Juga: Tafsir Surat Shad Ayat 29: Memahami Tujuan Diturunkannya Al Quran

Jadi, seseorang yang tidak melakukan tadabbur Al-Quran adalah orang-orang yang hatinya telah terkunci sehingga tidak dapat melihat, tidak dapat memahami, dan tidak dapat menghayati lagi apa yang dipesankan oleh Al-Quran. Hati mereka adalah hati yang mati.

Apa kedalaman makna kata tadabbur Al-Quran dan bagaimana implementasi dari makna kata itu? Mari kita perhatikan pendapat seorang ahli ilmu Al-Quran sebagai berikut.

Seorang ahli Ilmu Al-Quran Fawwaz Ahmad Zamraly dalam bukunya Kayfa Tadabbur Al-Quran mengatakan bahwa tadabbur Al-Quran adalah kegiatan membaca Al-Quran yang dirangkaikan dengan pemahaman yang mendalam dan komprehensif terhadap apa yang dibaca dari ayat-ayat Al-Quran. Pembacaan ini disertai dengan hadirnya hati untuk menyelaminya dan menghayatinya, tunduk dan patuhnya seluruh anggota badan untuk mengamalkan segala sesuatu yang dituntut oleh Al-Quran untuk diamalkan.

Jadi, dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ada tiga unsur penting dalam tadabbur Al-Quran, yaitu 1) membaca Al-Quran dengan lidah, 2) memahami dengan akal pikiran apa yang dibaca, 3) menghayati dengan hati apa yang dibaca, dan 4) mengamalkan dengan seluruh anggota badan apa yang dituntut oleh Al-Quran.

Fawwaz selanjutnya mengatakan bahwa, “Seorang mukmin yang berakal waras dan sehat, apabila dia membaca Al-Quran dia harus memahami, mendalami dan menghayati Al-Quran sehingga Al-Quran bagaikan cermin yang dengannya dia dapat melihat di dalam Al-Quran apa yang baik yang harus dilakukan, dan dapat melihat yang buruk yang harus ditinggalkan. Apa yang diminta ditinggalkan oleh Al-Quran, harus dia tinggalkan. Apa yang diminta ditakuti dari siksaannya, dia harus takuti. Apa yang dicintai dan disukai oleh Allah, harus dia penuhi dan mengharapkannya.

Ingat bahwa tadabbur Al-Qur’an adalah membaca, memahami, menghayati, dan mematuhinya dengan mengamalkan apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 16-17: Kisah Iblis Mengganggu Manusia

0
Kisah Iblis mengganggu manusia
Kisah Iblis mengganggu manusia

Allah telah menjelaskan melalui firman-Nya bahwa manusia diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan. Oleh karenanya Allah juga memerintahkan semua makhluk ciptaan-Nya yang lain untuk bersujud kepada manusia. Namun tidak demikian dengan Iblis, ia dalam Al-Quran digambarkan dengan sifat pembangkang. Justru pada tekadnya, Iblis mengganggu Nabi Adam As. dan seluruh keturunannya.

Tekad Iblis ini bermula sejak adanya perintah sujud kepada nabi Adam as. Iblis merasa enggan karena dirinya merasa lebih baik dalam segi material penciptaan (api) daripada Nabi Adam (tanah). bahkan dalam Al-Quran, Iblis bersumpah untuk mengganggu manusia dari berbagai penjuruh.

Baca juga: Tafsir Surat al-A’raf Ayat 12: Congkak Bentuk Pembangkangan Iblis terhadap Allah

Al-A’raf ayat 16-17, Iblis akan selalu mengganggu manusia

Keinginan Iblis dalam merusuhi kehidupan manusia bisa terlihat pada surat Al-A’raf ayat 16-17 yang berbunyi:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيم

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)”

Ayat ini merupakan satu dari berbagai ayat yang menerangkan kisah Nabi Adam As. dengan Iblis. Wahbah az-Zuhaili menerangkan dalam Tafsir al-Munir bahwa kisah ini tertulis setidaknya dalam surat Al-Baqarah, Al-Hijr, Al-Isra’, Al-Kahfi, Taha dan Shad. Adapun pada surat Al-A’raf berisi penjelasan atas pemuliaan Nabi Adam As. dan keturunannya serta permusuhan Iblis dengan segala kedengkiannya.

Baca juga: Ketika Iblis Membangkang Sujud Kepada Adam

Ali as-Shabuni dalam Safwatut Tafasir menjelaskan bahwa Iblis berargumen, karena ia dihukumi sesat, maka ia akan berusaha menghalangi Adam As. dan semua keturunannya dari jalan kebenaran dan keselamatan.

Sedangkan pada ayat berikutnya, dijelaskan dalam Tafsir Jalalain bahwa Iblis akan mendatangi (mengganggu) bani Adam untuk mengajak kesesatan dari berbagai arah. Selain itu juga pada tiap jalan yang dapat merusak keimanan dan ketakwaan setiap manusia.

Adapun dalam Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Quran karya Imam at-Thabari, dikatakan bahwa Iblis akan mendatangi dan menghalangi dari semua jalan kebenaran dan kebatilan, sehingga ia bisa memalingkan manusia dari keselamatan dan memperindah kebatilan.

Gangguan Iblis dari berbagai Arah

Mengenai arah yang akan dilalui oleh Iblis untuk mengganggu manusia, Imam at-Thabari menukil riwayat Ibnu ‘Abbas:

 (ثم لآتينهم من بين أيديهم) ، يقول: أشككهم في آخرتهم = (ومن خلفهم) ، أرغبهم في دنياهم = (وعن أيمانهم) ، أشبِّه عليهم أمرَ دينهم = (وعن شمائلهم) ، أشَهِّي لهم المعاصي.

“(Kemuadian mendatangi dari antara dua tangan mereka) depan yakni urusan akhirat, (dari belakang) yakni urusan dunia, (dari kanan) yakni urusan agama dan (dari kiri) yakni perkara kemaksiatan”

Selain itu, at-Thabari juga menukil pendapat lain yang mengatakan bahwa depan yang dimaksud ialah urusan dunia, bagian belakang ialah akhirat, bagian kanan ialah perkara kebaikan dan bagian kiri merupakan keburukan.

Baca juga: Pakaian Isbal, Indikator Kesombongan, dan Tafsir Ayat-Ayat Takabur dalam Al-Quran

Namun demikian, Imam at-Thabari lebih memilih untuk berpendapat bahwa iblis akan mendatangi manusia baik dari sisi kebenaran maupun kebathilan. Adapun dalam jalan kebenaran akan ia sesatkan dan pada jalan kebatilan maka ia akan hiasi jalan tersebut. Sisi depan dan kanan yang berkaitan dengan akhirat, kebaikan dan keselamatan akan selalu dihalang-halangi oleh iblis, sedangkan Iblis akan menjadikan indah pada arah belakang dan kiri yakni urusan dunia dan kemaksiatan.

Arah yang tidak dilalui Iblis

Masih dalam Jami’ul Bayan karangan imam at-Thabari, menukil riwayat Ibnu ‘Abbas yang mengatakan bahwa Iblis tidak menyebutkan dari atas mereka (manusia). Hal ini karena arah tersebut merupakan arah datangnya rahmat kasih sayang Allah Swt. yang diturunkan kepada hamba-Nya.

Senada dengan pemikiran Fakhruddin ar-Razi, dalam Tafsirul Kabir disebutkan bahwa saat Iblis mengucapkan tekadnya, maka para malaikat menjadi kasihan terhadap nasib manusia.

Lantas malaikat berkata: “wahai tuhan kami, bagaimana mungkin manusia bisa melepaskan diri dari gangguan setan? “

Kemudian, Allah berfirman kepada mereka bahwa bagi manusia masih ada dua jalan. Dua jalan itu ialah jalan atas dan bawah. Apabila manusia mengangkat kedua tangannya dalam doa dan penuh kerendahan hati dalam besujud serta penuh kekhusyuan, maka Aku akan mengampuni dosa-dosa mereka.

Oleh karenanya bagi umat Islam, janganlah pernah berhenti meminta ampunan serta perlindungan dari-Nya. Karena betapapun dosa yang telah dilakukan selama kita masih mau untuk mengankat tangan untuk berdoa serta bersujud (sholat) sebagai bukti kerendahan hati, Insyaallah rahmat-Nya akan selalu turun kepada umat manusia.

Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Luqman ayat 18: Jauhi Sikap Sombong dan Angkuh!

0
Larangan bersikap sombong dan angkuh
Larangan bersikap sombong dan angkuh

Ketika seseorang mendapatkan popularitas, jabatan atau kedudukan yang tinggi, biasanya ia berpotensi untuk bersikap sombong dan angkuh. Ini disebabkan oleh kurangnya kontrol diri dan hati pasca naiknya derajat di masyarakat. Akibatnya, ia kadangkala merasa superior dibandingkan orang lain atau bahkan menghina orang lain dengan segala keterbatasan mereka.

Akar dari permasalahan sikap sombong dan angkuh bukanlah popularitas, jabatan atau kedudukan, tetapi hati yang kotor dan dipenuhi pelbagai penyakit. Sebenarnya, siapapun dan di manapun berhak untuk mendapatkan popularitas, jabatan atau kedudukan yang tinggi, asalkan dirinya mampu membersihkan dan menjaga hati dari berbagai penyakit.

Pada dasarnya, melawan otoritas kesombongan dan keangkuhan bukanlah hal yang mudah. Pertentangan dan perdebatan seseorang dengannya akan senantiasa berlangsung dalam hati selama ia masih hidup. Oleh karena itu, Rasulullah Saw. seringkali mengingatkan umat Islam agar mempersiapkan diri melawan kesombongan. Ia bersabda:

ِرَجَعنَا مِنَ الجِهاَدِ الأَصغَرِ إلى الجهادِ الأَكبَرِقالُوا: وما الجهادُ الأكبَرِ؟ قال: جهادُ القَلب

 “Kita kembali dari Jihad kecil menuju jihad besar.” Mereka bertanya: “Apakah jihad paling besar itu?” Beliau bersabda: “Jihad hati.” (HR. Al-Baihaqi)

Dari hadis di atas dapat dipahami bahwa hati adalah area pertempuran sesungguhnya bagi seorang muslim. Di sana keimanan dan kekufuran bertarung, cinta dan benci saling berlawanan, serta tempat bisikan kebaikan dan kejahatan saling mengalahkan. Tanpa penjagaan dan kewaspadaan yang baik, hati akan dipenuhi dengan pelbagai kejahatan dan dosa.

Baca juga: Pakaian Isbal, Indikator Kesombongan, dan Tafsir Ayat-Ayat Takabur dalam Al-Quran

Dampak Sikap Sombong dan Angkuh

Sikap sombong dan angkuh adalah salah satu dari sekian banyak penyakit hati yang harus disingkirkan. Keduanya tergolong ke dalam al-ifāt al-madzmūmah atau sifat tercela. Ini adalah sifat yang semestinya dihindari dan tidak sepantasnya dimiliki oleh manusia sebagai makhluk yang tidak memiliki daya upaya kecuali atas izin Allah Swt.

Selain merupakan sifat tercela, sombong dan angkuh adalah sifat yang dapat menghantarkan pelakunya ke dalam jurang kenistaan. Iblis yang awalnya berposisi sebagai maha guru para malaikat di surga dengan keilmuanya, jatuh dan terpuruk akibat sikap sombong dan angkuh menolak perintah Allah Swt. untuk bersujud kepada nabi Adam as.

Baca juga: Meski di Bawah Pimpinan Firaun, Allah Tak Perintahkan Nabi Musa Untuk Berontak

Sikap sombong dan angkuh sangatlah berbahaya bagi manusia. Karena itulah ada banyak ayat Al-Qur’an dan hadis yang memperingatkan manusia agar tidak bersikap sombong dan angkuh. Bahkan Nabi Saw mengatakan bahwa orang yang memiliki rasa sombong di dalam hatinya–meskipun sekecil biji sawi atau bahkan atom–tidak akan bisa memasuki surga.

Tafsir QS. Luqman [31] Ayat 18

 Salah satu ayat Al-Qur’an yang melarang manusia untuk bersikap sombong dan angkuh adalah QS. Luqman [31] ayat 18 yang berbunyi:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۚ

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri”

Menurut Quraish Shihab, ayat ini merupakan nasihat Lukman al-Hakim kepada anaknya agar berakhlak dan memiliki sopan santun ketika berinteraksi dengan sesama manusia. Beliau menasihati anaknya dengan berkata: “Dan wahai anakku, janganlah engkau berkeras memalingkan pipimu yakni mukamu dari manusia—siapa pun dia—karena didorong oleh penghinaan dan kesombongan”

Baca juga: Tafsir Surat Al-Ma’un 1-3: Ingat, Tidak Saleh Sosial Juga Pendusta Agama!

Selanjutnya ia juga berujar, “Hadapilah setiap orang dengan wajah berseri penuh rendah hati. Dan bila engkau melangkah, janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh, tetapi berjalanlah dengan lemah lembut penuh wibawa. Sesungguhnya Allah tidak menyukai yakni tidak melimpahkan anugerah kasih sayang-Nya kepada orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Tafsir Al-Misbah [11]: 139).

Kata mukhtālan diambil dari akar kata yang sama dengan khayā atau khayal. Karenanya kata ini pada mulanya berarti orang yang tingkah lakunya diarahkan oleh khayalan, bukan kenyataan yang ada pada dirinya. Biasanya orang semacam ini berjalan dengan angkuh dan merasa dirinya memiliki kelebihan dibandingkan orang lain. Akibatnya, keangkuhan tampak secara nyata dalam kesehariannya.

Sedangkan kata fakhūran bermakna membanggakan diri layaknya seekor kuda yang cara berjalannya mengesankan keangkuhan. Kedua kata ini yakni mukhtālan dan fakhūran mengandung makna kesombongan, kata yang pertama bermakna kesombongan yang terlihat dalam tingkah laku, sedang yang kedua adalah kesombongan yang terdengar dari ucapan-ucapan.

Baca juga: Ingin Punya Keturunan Yang Saleh? Amalkan 3 Doa Nabi Ibrahim Ini

Di sisi lain, perlu dicatat bahwa penggabungan kedua kata–mukhtālan dan fakhūran–pada ayat di atas bukan berarti bahwa ketidaksenangan Allah Swt baru lahir bila keduanya tergabung bersama-sama dalam diri seseorang. Tidak! Jika salah satu dari kedua sifat itu disandang oleh manusia, maka hal itu telah mengundang murka-Nya (Tafsir Al-Misbah [11]: 140).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa QS. Luqman [31] ayat 18 memerintahkan manusia untuk tidak berlaku sombong, baik perasaan, sikap, perkataan maupun perbuatan. Karena hal itu dapat mengundang kemurkaan Allah Swt. dan Dia tidak menyenangi orang-orang yang bersikap sombong dan angkuh di muka bumi sekecil apapun itu. Wallahu a’lam[]

Mengapa Surat al-Insyiqaq Baik Dibaca Ibu Hamil? Simak Penjelasannya

0
surat al-Insyiqaq untuk ibu hamil
Surat al-Insyiqaq untuk ibu hamil

Surat al-Insyiqaq pada masa Nabi dikenal dengan surat idzâ insyaqqat as-Samâ’. Dalam beberapa kitab tafsir dan mushaf, nama surat ini kemudian dipersingkat menjadi al-Insyiqaq. Adapun tema dari surat ke-83 ini, al-Biqâi mengatakan bahwa al-Insyiqâq adalah surat yang menjelaskan lebih rinci akhir surat sebelumnya (al-Muthaffifîn), yakni balasan  nikmat dari Allah bagi para hambaNya yang beriman dan patuh, juga balasan siksa bagi hambaNya yang ingkar. Surat ini dalam perhitungan ulama Makkah, Madinah dan Kuffah terdiri dari 25 ayat, sedangkan menurut perhitungan ulama Basrah terdapat 23 ayat.

Surat al-Insyiqaq oleh sebagian masyarakat diyakini sebagai surat yang baik dibaca seorang perempuan ketika hamil, karena dirasa mampu memperlancar saat persalinan serta untuk kebaikan bayi dan ibunya.

Ayat 1-5 ; Kepatuhan Bumi dan Langit pada Allah

اِذَا السَّمَاۤءُ انْشَقَّتْۙ. وَاَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْۙ . وَاِذَا الْاَرْضُ مُدَّتْۙ , وَاَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْۗ

Lima ayat di awal surat al-Insyiqaq, dalam Tafsir al Misbah dijelaskan, Allah ingin menunjukkan bahwa langit dan bumi sangatlah patuh pada-Nya. Langit yang damai dengan kekokohannya tanpa tiang, bumi yang luas dengan lapangnya, ketika Allah perintahkan untuk langit meruntuhkan dirinya, maka akan runtuhlah langit. Begitupun kelapangan dan keluasan bumi, ketika Allah perintahkan memuntahkan segala isi yang ada dalam perutnya, maka akan hancur gunung yang menjadi pasaknya -saling berbenturan. Langit dan Bumi dalam ayat ini seakan digambarkan hidup, yang penuh kepatuhan pada Rabb-Nya.

Kata adzinat yang terbentuk dari kata udzun memiliki arti telinga sebagai indra pendengaran. Ayat ini menggunakan kata adzinat  dimaksudkan adalah patuh. Seseorang yang mendengarkan dengan baik, tentu akan patuh, sebagaimana kepatuhan langit dan bumi pada Tuhannya.

Pembukaan ayat ini yang dimulai dari kepatuhan Langit dan Bumi, mengingatkan sebagaimana pada awal semua makhluk termasuk manusia menyatakan kepatuhan pada Rabb-nya (baca QS. Fushshilat [41] : 11). Ketika membaca awal surat ini, kemungkinan besar pengharapan agar  anak yang dikandung seorang perempuan hamil,  memiliki kepatuhan pada Allah, sebagaimana kepatuhan langit dan bumi pada-Nya. Ketika membacanya, berdoalah, dan memintalah untuk kepatuhannya pada Allah.


Baca juga: Ingin Punya Keturunan Yang Saleh? Amalkan 3 Doa Nabi Ibrahim Ini


Ayat 6-15; Kabar Pemberian Kitab melalui Tangan Kanan dan Balik Punggung

Sepuluh ayat selanjutnya berbicara tentang balasan, dan penghakiman. Sepuluh ayat ini memperingatkan bahwa antara satu hamba dengan satu hamba lainnya tidak sama. Ada yang menerima kitabnya melalui tangan kanannya, ada juga yang menerima dari balik punggungnya.

يٰٓاَيُّهَا الْاِنْسَانُ اِنَّكَ كَادِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِۚ فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖۙ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَّسِيْرًاۙ وَّيَنْقَلِبُ اِلٰٓى اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًاۗ

Ibnu Asyûr mengartikan kata kadih, dan kadhan, yakni bersungguh-sungguh hingga letih dalam melakukan kegiatan. Menurutnya, manusia dalam bekerja pada dasarnya melihat untuk hari esoknya, bahkan masa depannya. Karena itulah ayat di atas seakan menyatakan bahwa usaha manusia di dunia akan berlanjut akhirnya bertemu Allah. Kata kadhih dan kadhan memberi gambaran perjalanan manusia menuju Allah. Kehidupan di dunia dengan tujuan hidup di akhirat. Manusia mau atau tidak, pasti akan berakhir usahanya dengan kematian dan pertemuan dengan Allah.

Dalam ayat di atas dijelaskan, bahwa ada hamba yang menerima kitab nya melalui tangan kanan. Kata al-Yamîn berarti kanan, namun nenurut Quraish Shihab juga memiliki arti kekuatan. Kebahagiaan, dan keberkatan. Simbol kanan dalam agama adalah lambang kebajikan dan keberuntungan, begitupun dalam ayat di atas menjelaskan penghuni surga disebutkan dengan sebutan  ash-hâb al-yamin (kelompok kanan).

Selanjutnya, selain pemberian kitab melalui tangan kanan, kitab juga diberikan pada sebagian hamba melalui balik punggungnya.

وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ وَرَاۤءَ ظَهْرِهٖۙ فَسَوْفَ يَدْعُوْا ثُبُوْرًاۙ وَّيَصْلٰى سَعِيْرًاۗ اِنَّهٗ كَانَ فِيْٓ اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًاۗ اِنَّهٗ ظَنَّ اَنْ لَّنْ يَّحُوْرَ ۛ بَلٰىۛ اِنَّ رَبَّهٗ كَانَ بِهٖ بَصِيْرًاۗ

Kecelakaan bagi seorang hamba yang menerima kitab dari balik punggungnya. Adalah ia yang tidak sama sekali memiliki perhitungan tentang akhirat. Ayat ini tidak harus dipertentangkan dengan ayat al-Quran lainnya yang mengatakan bahwa ada hamba yang menerima kitab dari tangan kirinya. Ada sebagian ulama yang mengatakan, bisa jadi seorang hamba menerima kitab dari balik punggungnya menggunakan tangan kirinya. Ada pula yang berpendapat, bahwa seseorang yang menerima kitab dari balik punggungnya adalah dari bagian kelompok muslim yang durhaka. Sedangkan yang menggunakan tangan kiri, adalah orang hamba yang kafir.

Dari dua macam penerimaan kitab di hari kemudian nanti, ketika membaca ayat-ayat ini diharapkan ibu hamil memohon untuk calon bayinya, agar termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang menerima kitab melalui tangan kanannya.


Baca Juga: Hikmah Membaca Surat Maryam bagi Ibu Hamil


Ayat 16-19; Tingkatan yang Dilalui Manusia dalam Perjalanan Hidup

فَلَآ اُقْسِمُ بِالشَّفَقِۙ وَالَّيْلِ وَمَا وَسَقَۙ وَالْقَمَرِ اِذَا اتَّسَقَۙ لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍۗ

Dari ayat 16-19 ini, yang menjadi perdebatan para ulama adalah tentang arti, latarkabunna thabaqan ‘an thabaq. Perbedaan ini menurut Quraish Sihab dikarenakan banyaknya makna latarkabunna dan thabaq. Kata rakib  yang menjadi dasar kata la tarkabunna,yang mulanya memiliki makna ‘mengendarai’, secara majazi memiliki arti mengalahkan,menguasai, mengikuti, menelusuri, mengatasi, meninggi, dan selalu bersama. Sedangkan, kata Thabaq, mengandung makna persamaan sesuatu atau situasi yang lain, baik yang bertumpuk atau tidak.

Jabir Ibn Abdillah memahami kalimat di atas sebagai situasi kematian, kebangkitan, dan kebahagiaan atau kesengsaraan. Ibnu Abbas memahami kalimat tersebut sebagai ancaman menyangkut hari Kiamat, yakni situasi yang suli setelah situasi sulit sebelumnya.

Sedangkan al-Biqâi, memahami kalimat tersebut sebagai perjalanan setiap manusia yang bertingkat. Dari tingkat dalam perut ibu, kemudian lahir ke bumi dalam keadaan bayi, menyusu, disapih, kemudian remaja, dewasa, tua dan pikun, hingga meninggalkan dunia menuju Barzakh. Dibangkitkan dari kubur, digiring ke Padang Mahsyar, di hisab, melawati shirat, hingga akhirnya surga, atau neraka.

Berbeda, Sayyid Quthub memaknai kalimat tersebut, bahwa manusia akan mengalami sebuah situasi satu menuju situasi lain yang telah digariskan. Situasi tersebut yang dilukiskan olehnya sebagai kendaraan, dan semua manusia akan dibawa oleh kendaraannya pada arah yang ditetapkan yang pada akhirnya akan menemui Tuhannya, sebagaimana ayat-ayat terdahulu.

Membaca berbagai pendapat di atas, penulis sedikit menyimpulkan, bahwa pembacaan surat al-Insyiqaq untuk ibu hamil sebagai bentuk permohonan kepada Allah agar anak yang dikandungnya diberikan situasi-situasi (kendaraan) yang baik, ketetapan yang baik, dengan keimanan dan perjumpaan yang sempurna dengan Tuhannya kelak di akhirat.

Baca juga: Inilah Enam Makna Doa dalam Al-Quran

Ayat 20-25; Siksa Allah Pedih bagi Hamba yang Ingkar, dan Pahala Tiada Putus Bagi Hamba Beriman.

فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَۙ وَاِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْاٰنُ لَا يَسْجُدُوْنَ ۗ ۩ بَلِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُكَذِّبُوْنَۖ وَاللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا يُوْعُوْنَۖ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ اَلِيْمٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ

Enam ayat penutup surat al-Insyiqaq ini mengingatkan kembali akan siksaan pedih bagi hamba yang ingkar, enggan bersujud pada-Nya, dan mendustakan ayat Al-Quran. Sebaliknya, pahala tak terputus bagi yang beriman serta beramal saleh.

Kata yukadzibûn dan yu’ûn, disamping bermakna kesinambungan juga bermakna  seakan sikap buruk itu tampak mereka lakukan. Dan penggunaan kata kerja masa lampau pada kata amanû dalam ayat terakhir tersebut mengisyaratkan bahwa apa yang dikerjakan mereka di dunia akan berlanjut hingga setelah kematian. Kata mamnun yang menutup surat ini, bermakna putus yang berakar dari kata manna, jadi ghairu mamnûn, berarti ganjaran yang tidak putus-putus. Bisa juga terambil dari minnah yang memiliki arti ganjaran yang tidak disebut-sebut. Kurang lebih seperti itu penjelasan Quraish Shihab.

Dari enam ayat terakhir ini, seakan memberikan gambaran pada setiap yang membacanya, khusunya ibu hamil, untuk mengabarkan pada anak yang dikandungnya, bahwa ada hamba yang mendapat siksa, juga hamba yang mendapat pahala yang tidak terputus. Tentu, ketika masa kehamilan seorang ibu sudah memasuki empat bulan, hendaknya seringlah berinteraksi dengan anak dalam kandungannya dengan membaca Al-Quran. Karena pembentukan diri seorang anak salah satunya dimulai sejak ia dalam kandungan ibunya. Selain itu, perbanyaklah berdo’a dan berdzikir ketika kandungan mulai empat bulan, qada dan qadar nya mulai diberikan.

Wawwahu a’lam bissowâb

Pentingnya Menata Niat Bagi Pengajar dan Pelajar Al-Quran

0
belajar al-quran
belajar al-quran (islamidia.com)

Mengajar dan belajar Al-Quran juga memerlukan tujuan yang benar. Tidak asal mengajar Al-Quran dengan dalih bahwa mengajarkan firman Allah dengan model apapun dan tujuan apapun sudah pasti bagus. Mengajar atau belajar Al-Quran tidak boleh untuk tujuan duniawi, seperti dijadikan modus untuk mencari jabatan atau mengundang perhatian manusia. Maka inilah pentingnya menata niat bagi pengajar dan pelajar Al-Quran. Banyak ayat maupun hadis yang menyinggung tentang hal ini.

Kesimpulan di atas disampaikan salah satunya oleh Imam An-Nawawi dalam kitab At-Tibyan, Fi Adabi Hamalatil Qur’an. Imam an-Nawawi menyatakan, tidak sepatutnya mengajar serta belajar Al-Quran dilakukan dengan niat berbau duniawi. Seperti untuk memperoleh harta, jabatan, kekuasaan, posisi di antara teman sejawat, pujian manusia atau perhatian khalayak banyak. Tidak patut pula dilakukan dengan tujuan, agar guru yang dimintai ilmu atau murid yang diajari, memiliki semacam belas kasihan sehingga mau memberi semacam hadiah (At-Tibyan/26).

Dalil Al-Quran dan Hadis

Imam An-Nawawi mengajukan beberapa dalil dari Al-Quran dan hadis yang mendorong agar memiliki niat yang benar, dalam mengajar atau belajar Al-Quran. Di antaranya:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Dan Kami tentukan baginya neraka Jahanam. Ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir (QS. Al-Isra’ [17] 18).

Sedang dari hadis Nabi, diriwayatkan dari Abi Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda:

 مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa yang mencari ilmu, yaitu sesuatu yang sepatutnya dicari karena Allah azza wa jalla semata, dengan tujuan hanya memperoleh sesuatu yang berbau duniawi, maka ia tidak akan menemukan bau surga di hari kiamat (HR. Abi Dawud dan Ibn Majah).

Baca juga: Ini Alasan Penting Belajar Ilmu Al-Quran dan Tafsirnya

Dalam hadis lain, diriwayatkan dari Anas, Khudzaifah dan Ka’ab ibn Malik, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِىَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِىَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ

Barangsiapa mencari ilmu agar keilmuannya tampak di antara para ulama’, unggul diantara orang bodoh, atau mendapat perhatian khalayak banyak, maka Allah akan memasukkannya ke neraka (HR. at-Tirmidzi).

Adanya Kecenderungan Duniawi Tatkala Tujuan Sudah Benar

Berbagai hadis di atas menunjukkan, niat mengajar atau belajar haruslah benar. Tidak boleh untuk tujuan duniawi, tapi haruslah karena Allah. Seperti agar murid yang diajari dapat semakin mengenal Al-Quran dan semakin mudah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Atau mengajar tajwid agar si murid dapat membaca Al-Quran dengan baik dan benar, sebagaimana perintah Allah kepada setiap hambanya agar membaca Al-Quran dengan tartil. Lalu bagaimana bila sudah mengajar atau belajar dengan tujuan karena Allah, tapi tetap terlintas di pikiran adanya tujuan duniawi?

Imam As-Sindiy dalam syarahnya atas hadis Ibn Majah di atas berkomentar, hadis tersebut merupakan ancaman bagi orang yang tidak memiliki tujuan dalam berinteraksi dengan ilmu, kecuali hanya tujuan duniawi saja. Namun apabila ia memiliki niat memperoleh ridha Allah, dan besertaan itu ia memiliki kecenderungan terhadap duniawi, maka tidak masuk pada ancaman tersebut (Hasyiyah As-Sindiy/1/235).

Ini menunjukkan, tidak apa-apa bila di tengah mengajar atau belajar, terlintas tujuan duniawi. Yang terpenting, tujuan duniawi tersebut bukanlah tujuan utama. Melainkan kecenderungan atau keinginan yang kadang tak bisa dihindari manusia. Dan jangan sampai tujuan duniawi tersebut membuat lalai dari tujuan utama. Maka hal inilah betapa pentingnya menata niat kita dalam belajar Al-Quran.

Baca juga: 7 Etika Yang Harus Diperhatikan Ketika Bergaul dengan Al-Quran

Di antara tujuan-tujuan duniawi yang tidak boleh ada saat mengajar atau belajar Al-Quran adalah, agar keilmuannya tampak di antara para ulama’, unggul diantara orang bodoh, atau mendapat perhatian khalayak banyak. Imam al-Mubarkafuri menjelaskan, salah satu gambaran “mengajar atau belajar Al-Quran dengan tujuan agar keilmuannya tampak di antara para ulama’” adalah, seperti agar ia dapat ikut berbicara dalam perdebatan para ulama’. Sehingga ia bisa menunjukkan pada orang lain bahwa ia adalah orang yang berilmu (Tuhfatul Ahwadzi/6/454).

Sedang gambaran “mengajar atau belajar Al-Quran dengan tujuan agar mendapat perhatian khalayak banyak” adalah, seperti agar dengan itu ia memperoleh simpati orang lain sehingga mudah memperoleh harta, jabatan, atau menjadi pusat perhatian khalayak banyak (Tuhfatul Ahwadzi/6/454). Wallahu A’lam.