Beranda blog Halaman 502

Mengenal Ahmad Musthafa Al-Maraghi dan Magnum Opusnya

0
Ahmad Musthafa al-Maraghi
Ahmad Musthafa al-Maraghi

Ahmad Musthafa Ibn Muhammad Ibn Abdu al-Mun’im al-Maraghi ialah salah satu mufassir era modern yang terkenal dengan magnum opusnya, Tafsir al-Maraghi. Ia lahir di bulan Rabi’ul Akhir 1298 H/ 9 Maret 1883 M di Mesir. Nama al-Maraghi diambil dari nama daerah tempat ia dibesarkan yaitu Maragah, sebuah kota di Provinsi Suhaj, Mesir. Ahmad Musthafa al-Maraghi dikenal sebagai mufassir yang membawa semangat gurunya, Muhammad Abduh, yang terkenal akan semangat pembaharuan (tajdid) dan menolak taqlid.

Ahmad Musthafa al-Maraghi dibesarkan oleh orang tua yang memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni. Darinya, al-Maraghi mempelajari dasar-dasar keilmuan ia melanjutkan pendidikannya di sebuah madrasah yang ada di tempat tinggalnya, hingga kemudian orang tuanya mengirimkannya ke Universitas al-Azhar untuk meningkatkan level keilmuannya. Di al-Azhar inilah, Musthafa al-Maraghi bertemu dengan Muhammad Abduh.

Selama mengikuti pengajaran yang diampu oleh Muhammad Abduh, terjadi lompatan positif dalam diri al-Maraghi khususnya pada penguasaan keilmuannya. Ia merasa seperti tidak hanya diajarkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas akademik namun juga mengenai persoalan yang terjadi di masyarakat. Dalam bidang tafsir, al-Maraghi dengan mantap menjadikan manhaj (kerangka berpikir) Abduh sebagai manhaj tafsirnya. Sebuah manhaj yang didasarkan pada argumen bahwa fungsi al-Qur’an ialah sebagai hidayah.

Baca Juga: Muhammad Abduh: Mufasir Pelopor Pembaharuan Pemikiran di Dunia Islam

Selama menuntut ilmu di al-Azhar, Musthafa al-Maraghi dikenal sebagai murid yang memiliki akhlak yang baik serta semangat yang kuat dalam meningkatkan ilmu. Ia pun bersama teman-temannya membuat sebuah kelompok belajar yang ditujukan untuk menguasai pelajaran di kelas maupun di luar kelas. Pada tahun 1909 M, al-Maraghi berhasil menyelesaikan pendidikannya di al-Azhar. Perlu diketahui bahwa selama al-Maraghi kuliah di al-Azhar, ia juga mengambil kuliah di Universitas Darul Ulum dan lulus di tahun yang sama.

Selepas lulus dari perguruan tinggi, al-Maraghi meniti karirnya dalam bidang pengembangan ilmu. Ia dipercaya menjadi guru di beberapa madrasah dan kemudian diangkat menjadi direktur Madrasah Mu’allimin di Fayum, Kairo. Pada tahun 1916, ia diangkat menjadi dosen di Universitas al-Azhar Sudan selama empat tahun. Tahun 1920, ia kembali ke Mesir dan menjadi dosen di Universitas al-Azhar Kairo serta puncaknya diangkat sebagai rektor selama dua periode yaitu pada tahun 1928 dan 1935 M.

Ahmad Musthafa al-Maraghi wafat di Kairo, saat usianya menginjak 69 tahun. Selama hidupnya ia adalah sosok cendekiawan yang produktif, hal ini bisa dilihat dari banyaknya warisan intelektual yang ia tinggalkan. Beberapa diantaranya ialah Ulum al-Balaghah, Tarikh Ulum al-Balaghah wa Ta’rif bi Rijaliha, al-Rifq bi al-Hayawan fi al-Islam serta magnum opusnya Tafsir al-Maraghi.

Mengulas Ringkas Tafsir al-Maraghi

Dalam pendahuluan kitabnya, Al-Maraghi mengatakan bahwa tujuan dari lahirnya Tafsir al-Maraghi sebagai salah satu kitab tafsir modern ialah menyajikan sebuah kitab tafsir yang mudah dipahami oleh masyarakat secara umum. Hal ini didasarkan pada banyaknya permintaan yang ditujukan kepadanya mengenai tafsir yang mudah dipahami oleh kalangan non intelektual.

Tafsir Al-Maraghi
Tafsir Al-Maraghi

Kitab tafsir ini ditulis dengan metode tahlili atau ayat per ayat mulai dari surah al-Fatihah sampai al-Nas. Dari sisi sumber penafsiran, tafsir ini mengusung metode bil iqtiran atau mengombinasikan antara metode bil ma’tsur dan bil ra’yi al-mahmudah. Hal ini didasarkan oleh keinginannya, sebagaimana manhaj Abduh, untuk melakukan pembaharuan dan mencoba mencari solusi atas persoalan yang terjadi di masyarakat, sehingga riwayat-riwayat salaf dijadikan sebagai jembatan untuk melakukan ijtihad baru dan menghasilkan penafsiran yang sesuai dengan konteks yang dihadapi.

Maka jika dilihat dari sisi corak penafsirannya, Tafsir al-Maraghi, sebagaimana al-Manar, mengadopsi corak adabi ijtima’i atau secara sederhana dapat dipahami sebagai corak penafsiran yang menjadikan aspek sastrawi sebagai dasar dalam menghasilkan sebuah penafsiran yang mampu menghadirkan fungsi al-Qur’an sebagai hidayah yang mampu menjawab persoalan-persoalan yang dialami oleh masyarakat.

Adapun jika dilihat dari sisi sitematika pemaparan penafsirannya, dapat diuraikan bahwa al-Maraghi pertama-tama menampilkan ayat yang akan ditafsirkan. Kemudian ia menampilkan makna kosa kata yang dinilai sulit maupun gharib (asing). Selanjutnya ia memberikan makna ijmali dari ayat yang ditafsirkan sebagai langkah awal untuk mempermudah dalam memahami ayat. al-Maraghi juga menyisipkan asbabun nuzul jika ayat yang dikaji memiliki riwayat asbabnun nuzul.

Baca Juga: Kaidah Asbabun Nuzul: Manakah yang Harus didahulukan, Keumuman Lafaz atau Kekhususan Sabab?

Lalu al-Maraghi masuk pada penafsiran ayat secara tafshili atau terperinci dengan melakukan metode tafsirul Qur’an bil Qur’an, menguraikan pendapat mufassir sebelumnya dan menguatkan pendapat yang dianggap lebih baik. Setelah itu ia juga berupaya menggapai maghza (signifikansi) dari ayat yang ditafsirkan sebagai upaya untuk memberikan nuansa fungsi al-Qur’an sebagai hidayah yang mampu menjadi panduan dalam berkehidupan.

Adapun jika dilihat dari cara penjabarannya, al-Maraghi terkesan menghilangkan istilah-istilah keilmuan yang mungkin akan menyulitkan pembacanya seperti istilah-istilah dalam ilmu Nahwu, Shorof dan Balaghah. Hal menarik lainnya juga, al-Maraghi berusaha menghadirkan integrasi keilmuan (ke-Islaman dan non ke-Islaman) dalam penafsirannya. Terakhir dalam menyikapi kisah-kisah isra’iliyyat, al-Maraghi terkesan selektif dan bahkan menyesalkan para pendahulunya yang mudah sekali memasukkan riwayat-riwayat tersebut dalam penafsiran mereka.

Sebagai salah satu karya tafsir era modern, Tafsir al-Maraghi menjadi salah satu karya tafsir yang menyajikan nuansa baru dalam khazanah Islam. Menjadi salah satu dari karya tafsir yang memprakarsai lahirnya penafsiran yang tidak buta akan konteks yang sedang dihadapi dan bahkan mencoba untuk menghadirkan solusi. Bagi para peminat kajian al-Qur’an dan tafsir, kitab ini bisa menjadi rujukan yang sangat baik untuk dikaji dan diteliti. Wallahu a’lam.

Ini Golongan Orang yang Mendapat Rukhsah Tidak Puasa

0
Daftar orang yang mendapat rukhsah untuk tidak puasa
Daftar orang yang mendapat rukhsah untuk tidak puasa

Segala jenis perintah dan larangan dari Allah swt tidaklah melewati batas kemampuan yang dimiliki oleh hamba-Nya. Semua telah diatur oleh Allah agar perintah dan larangan yang telah ditetapkan tidak menjadi beban bagi manusia. Hal ini bisa dilihat melalui ayat-ayat yang menjelaskan tentang rukhsah atau keringanan bagi umat Islam yang terkendala melakukan kewajiban syariat tertentu. Salah satunya adalah rukhsah untuk tidak berpuasa.

Dalam ilmu ushul fiqih dikatakan bahwa rukhsah memberikan pengecualian dari pirinsip umum karena adanya kebutuhan (al-hajat) dan keterpaksaan (ad-dharurat). Sesuai dengan faktor kebolehannya, maka rukhsah terbatas pada kadar kebutuhan atau keterpaksaannya saja. Dalam hal puasa, terdapat beberapa orang dalam kategori ini yang mendapatkan dispensasi atau rukhsah. Siapa sajakah mereka?

Allah swt telah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 184:

أَيَّامًا مَّعْدُودَٰتٍ ۚ فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهُۥ ۚ وَأَن تَصُومُوا۟ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

 “(yaitu dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebaikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 184)

Baca juga: Hikmah Puasa Dalam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 183

Puasa apa yang ada rukhsahnya?                               

Petunjuk yang tertera pada ayat di atas adalah redaksi ayyaman ma’dudat (beberapa hari tertentu). Redaksi ini masih memungkinkan beberapa pengertian, bisa berarti sehari, dua hari, tiga hari, bahkan seminggu atau sebulan. Dalam tafsir al-Bahrul Muhith karya Abu Hayyan dijelaskan, maksud dari beberapa hari tertentu tersebut adalah puasa tiga hari setiap bulan dan puasa ‘Asyura yang sebelumnya diwajibkan. Ini berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh sahabat Ibnu ‘Abbas dan Atha’.

Namun, pendapat yang lebih diterima adalah pendapat Ibnu Jarir at-Thabari. Menurutnya, hari-hari (wajibnya berpuasa) yang dimaksud adalah bulan ramadhan. Alasannya, karena tidak ada dalil yang menunjukkan puasa yang hukumnya wajib bagi umat Islam selain puasa bulan ramadhan. Ini ditunjukkan dengan bunyi ayat selanjutnya yang berarti, “Bulan ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS. al-Baqarah [2]: 185)

Dipahami dari penjelasan at-Thabari tersebut, redaksi syahru ramadhan pada ayat 185 surat al-Baqarah adalah penafsiran dari redaksi ayat sebelumnya yakni ayyaman ma’dudat (beberapa hari tertentu). Pendapat inilah yang kemudian diambil oleh mayoritas ulama. Maka, puasa yang terdapat rukhsah bagi orang-orang yang berada dalam kondisi al-hajat dan ad-dharurat berdasarkan ayat di atas adalah puasa ramadhan.

Baca juga: Puasa Asyura: Bentuk Rasa Syukur atas Nikmat Allah

Orang-orang yang mendapat rukhsah puasa

  1. Orang yang sedang sakit. Kondisi sakit yang yang mendapat keringanan adalah sakit parah yang membahayakan tubuh, menambah parah penyakit, atau khawatir memperlambat kesembuhan. Orang ini yang oleh al-Qurthubi disebut sebagai orang yang mampu berpuasa damun disertai dharar (bahaya) dan masyaqqah (kesulitan), maka lebih diutamakan untuk berbuka.
  2. Orang yang bepergian (musafir). Safar atau perjalanan yang dilakukan harus sebelum waktu fajar. Artinya, jika perjalanannya pada tengah hari, maka tidak mendapat rukhsah puasa. Kemudian, jarak perjalanan yang ditempuh untuk mengambil rukhsah puasa adalah jarak yang sama dengan perjalanan yang boleh untuk qashar shalat. menurut Imam Syafi’i, Malik, dan Ahmad adalah kurang lebih 16 farsakh/89 km.
  3. Orang tua renta, orang sakit yang tidak ada harapan sembuh, serta perempuan hamil dam menyusui. Mereka tersebut menurut madzhab Syafi’i dan Ahmad adalah orang yang masuk dalam kategori wa ‘alalladzina yuthiqunahu fidyatun (Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah).

Baca juga: Doa Al-Quran: Doa Agar Diringankan Dari Beban Kehidupan

Dua kategori pertama memiliki kewajiban untuk mengganti puasanya di lain hari dan tidak disyaratkan berturut-turut sesuai puasa yang ditinggalkan. Sedangkan kategori terakhir, diwajibkan membayar fidyah saja tanpa mengganti puasa, kecuali untuk ibu hamil dan menyusui. Untuk kedua perempuan ini, jika merasa khawatir terhadap anaknya, maka dibebankan fidyah dan qadha’. Tetapi, jika yang dikhawatirkan adalah dirinya saja atau dirinya serta sang anak, maka cukup dengan qadha’. Wallahu a’lam[]

Tafsir Surat Al An’am Ayat 53-55

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pembahasan yang lalu membicarakan tentang pemuka-pemuka Quraisy yang enggan se level dengan pemeluk Islam yang notabene dari kalangan bawah, Tafsir Surat Al An’am Ayat 53-55 ini mengonfirmasi bahwa keadaan yang dialami oleh pemuka Quraisy itu merupakan sebuah cobaan dari Allah swt.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 51-52


Dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 53-55 ini Allah swt menginformasikan bahwa cobaan itu banyak bentuknya. Adakalanya berbentuk perbedaan kasta, perbedaan pengetahuan, dan lain sebagainya.

Setelah itu Tafsir Surat Al An’am Ayat 53-55 berbicara mengenai perintah Allah swt kepada Nabi Muhammad saw agar senantiasa mengucapkan salam kepada semua orang mukmin, baik yang miskin maupun kaya, yang pintar maupun yang tidak, yang sehat maupun yang miskin.

Ayat 53

Perumpamaan yang diterangkan pada ayat yang lalu adalah semacam cobaan dan ujian Allah kepada orang-orang yang beriman. Cobaan itu sengaja diberikan Allah untuk menguji dan memperkuat iman seseorang yang benar-benar beriman, tabah dan sabar menghadapi cobaan-cobaan itu, sebaliknya orang  yang kurang atau tidak beriman pasti tidak akan tabah dan sabar menghadapinya.

Cobaan dan ujian itu diberikan Allah beraneka bentuk. Adakalanya cobaan itu berupa perbedaan-perbedaan yang terdapat di antara manusia; ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang kuat dan ada yang lemah, ada yang berkuasa dan ada yang dikuasai, ada yang menindas dan ada yang tertindas dan sebagainya. Demikian pula ada yang bodoh dan ada yang pandai, ada yang sehat dan ada yang sakit dan sebagainya.

Orang-orang yang lemah imannya akan merasa terhina dengan perkataan orang-orang kafir, “Orang-orang yang memeluk agama Islam itu hanyalah orang-orang bodoh, orang-orang miskin dan orang-orang yang berasal dari kasta yang rendah.” Atau perkataan orang-orang kafir, “Bahwa kamilah yang dicintai Allah karena kami diberi rezeki yang banyak dan pengetahuan yang tinggi oleh Allah.” Dan sebagainya. Sedangkan orang yang kuat imannya tidak terpengaruh sedikit pun oleh perkataan yang demikian itu, bahkan imannya bertambah kuat karenanya.

Allah-lah yang menetapkan pemberian dan penambahan nikmat kepada seorang hamba-Nya. Pemberian nikmat tersebut untuk menguji siapa yang bersyukur dan siapa yang ingkar. Bila manusia bersyukur akan ditambah nikmatnya. Tetapi, yang ingkar akan diazab.

Allah swt berfirman:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ” Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (Ibrahim/14: 7)

Ayat 54

Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad, dan orang-orang beriman agar mengucapkan “salam” kepada orang-orang beriman yang mereka temui, atau bila berpisah antara satu dengan yang lain. Ucapan salam itu adakalanya “salamun alaikum” adakalanya “assalamualaikum atau assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh”, dan ditindaklanjuti dengan memelihara kedamaian.

Perkataan “salām” berarti “selamat”, ”sejahtera” atau “damai”. ”As-Salam” ialah salah satu dari nama-nama Allah, yang berarti bahwa Allah selamat dari sifat-sifat yang tidak layak baginya, seperti sifat lemah, miskin, baharu, mati dan sebagainya.

Ucapan “salam” yang diperintahkan Allah agar orang-orang mukmin mengucapkannya dalam ayat ini, mengandung pengertian bahwa Allah menyatakan kepada orang-orang yang telah masuk Islam, mereka telah selamat dan sejahtera dengan masuk Islam itu, karena dosa-dosa mereka telah diampuni, jiwa dan darah mereka telah dipelihara oleh kaum Muslimin, dan mereka telah mengikuti petunjuk yang membawa mereka kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, sesama muslim tidak boleh berkelahi, apalagi bermusuhan.

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan “salam” dalam ayat ini ialah “salam” yang harus diucapkan Rasulullah saw, kepada orang-orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh orang-orang Quraisy, yang datang kepada Rasulullah saw, di waktu beliau sedang berbicara dengan pembesar-pembesar Quraisy.

Janganlah mereka diusir, sehingga menyakitkan hatinya. Sekalipun mereka miskin tetapi kedudukan mereka lebih tinggi di sisi Allah, karena itu ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik atau suruhlah mereka menunggu sampai pembicaraan dengan pembesar-pembesar Quraisy itu selesai. Menurut golongan ini bahwa pendapat mereka sesuai dengan sebab ayat diturunkan.


Baca juga: Tafsir Surat Al-Fath Ayat 1-3: Kunci Kemenangan Ada pada Perdamaian


Kepada orang-orang yang masuk Islam, Allah menjanjikan akan melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka, sebagai suatu kemurahan daripada-Nya.

Di antara rahmat yang dilimpahkan Allah ialah tidak dihukumnya orang-orang yang:

  1. Berbuat maksiat dengan tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah perbuatan maksiat.
  2. Mengerjakan larangan karena tidak sadar, lantaran sangat marah atau karena dorongan hawa nafsu. Kemudian mereka bertobat, dan menyesal atas perbuatan itu, mereka berjanji tidak akan mengulangi lagi, serta mengadakan perbaikan dengan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, dan mengikis habis pengaruh pekerjaan buruk itu dalam hatinya, hingga hati dan jiwanya bersih, dan dirinya bertambah dekat kepada Allah.

Dari ayat ini dapat diambil suatu dasar dalam menetapkan hukuman bahwa hal-hal yang dapat menghapuskan, mengurangi atau meringankan hukuman seseorang yang akan atau telah diputuskan hukumannya, yaitu:

  1. Kesalahan yang diperbuatnya dilakukan tanpa disadari, atau perbuatan itu dilakukan tanpa kemauan dan ikhtiarnya.
  2. Tindakan atau tingkah lakunya menunjukkan bahwa ia telah berjanji dalam hatinya tidak akan mengulangi perbuatan itu, ia telah menyesal karena mengerjakan kejahatan tersebut, serta melakukan perbuatan-perbuatan baik.

Ayat 55

Jalan hidup orang-orang beriman adalah mengerjakan kebaikan. Kalaupun mereka berbuat salah, itu karena kekeliruan. Sedangkan jalan hidup orang yang tidak beriman adalah berbuat dosa. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada manusia dengan sejelas-jelasnya agar orang-orang beriman mengetahui secara nyata, mana jalan orang-orang baik dan mana jalan orang-orang berdosa.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 56-58


(Tafsir Kemenag)

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 21: Nabi Muhammad Saw Adalah Suri Tauladan Bagi Manusia

0
Suri Tauladan
Nabi Muhammad Adalah Suri Tauladan

Nabi Muhammad Saw adalah manusia pilihan yang kisah hidupnya menjadi suri tauladan bagi manusia di seluruh penjuru dunia, terutama umat Islam. Setiap perkataan dan tingkah laku beliau merupakan wujud dari kebaikan dan manifestasi nila-nilai ajaran Islam fundamental. Bahkan sebagian orang menganggap bahwa segala gerak-gerik Muhammad Saw merupakan representasi wahyu Allah Swt.

Nabi Muhammad Saw–sebagai nabi terakhir menurut umat Islam–merupakan representasi manusia sempurna yang multi-talenta. Selain sukses dalam melaksanakan misi risalah ilahi di muka bumi, pada saat yang bersamaan beliau juga menjadi sosok yang paling berkompeten di kalangan manusia. Ia adalah pemimpin terbaik, ia adalah suami terbaik, ia adalah ayah terbaik, ia adalah kakek terbaik, dan ia adalah yang terbaik diantara orang-orang terbaik.

Berkat keluhuran budi dan kompetensi yang dimiliki-nya tersebut, nabi Muhammad Saw tidak hanya diakui dan dikagumi oleh umat Islam, tetapi juga orang-orang non-muslim. Menurut John Lespito dalam Ensiklopedi Oxford, Muhammad Saw adalah salah satu tokoh yang membangkitkan peradaban besar di dunia. Bahkan Michael H Hart dalam buku The 100 menetapkan beliau sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia.

Hart berkata, “Ia (Muhammad Saw) adalah satu-satunya manusia yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa, baik dalam hal agama maupun duniawi.” Nabi Muhammad Saw tak hanya dikenal sebagai pemimpin umat Islam, tapi beliau juga dikenal sebagai seorang pedagang terjujur, pemimpin militer terhebat, pejuang kemanusiaan tergigih yang pernah ada, dan ia adalah suri tauladan bagi manusia.

Baca Juga: Ikutilah Nabi Muhammad Saw Niscaya Allah Mencintai Dirimu

Sosok Nabi Muhammad Saw dengan segala kesempurnaannya adalah suri tauladan bagi manusia. Sebagai pengikutnya, umat Islam seharusnya mengikuti segala tindak-tanduknya, bukan hanya dalam hal-hal yang bersifat peribadahan, tetapi seluruh sifat, sikap dan perilaku beliau, baik dalam aspek keagamaan maupun aspek sosial. Karena itu semua adalah ajaran Islam yang sesungguhnya.

Tafsir QS. Al-Ahzab [33]: ayat 21

Jika kita mencermati Al-Qur’an, maka dapat ditemukan bahwa nabi Muhammad Saw dengan segala kesempurnaan-nya tidaklah dihadirkan hanya sebagai sosok yang harus dikagumi, digilai, dan dicintai, tetapi ia adalah representasi puncak kesempurnaan manusia yang harus dicontoh, digapai dan diikuti. Allah Swt berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa sosok Nabi Muhammad Saw merupakan barometer kehidupan dan suri tauladan bagi manusia. Sebagai pembawa pesan Allah Swt, Muhammad Saw sukses menghidupkan pesan tersebut dalam dirinya dan bagi orang di sekitarnya. Sifat, sikap dan nilai-nilai yang dibawa beliau–meskipun tidak seluruhnya–merupakan representasi dari ajaran-ajaran Al-Qur’an.

Menurut Quraish Shihab, ayat ini–bisa jadi–merupakan kecaman kepada orang-orang munafik yang mengaku memeluk Islam, tetapi tidak mencerminkan ajaran Islam. Kecaman tersebut dikesankan oleh kata laqad. Seakan-akan ayat di atas mengatakan, “Kamu telah melakukan aneka kedurhakaan, padahal sesungguhnya di tengah kamu ada nabi Muhammad yang mestinya kamu teladani.”

Kata uswatuni atau iswah berarti teladan. Az-Zamakhsyari mengatakan bahwa ayat ini memiliki dua kemungkinan makna, yaitu: Pertama, nabi Muhammad dalam arti kepribadian beliau secara total adalah teladan. Kedua, diantara kepribadian beliau terdapat hal-hal yang patut diteladani. Bagi mayoritas ulama, pendapat pertama adalah yang paling kuat, karena kata fi dalam QS. Al-Ahzab [33]: 21 bermakna seluruhnya.

Pakar tafsir dan hukum, al-Qurthubi, mengemukakan bahwa dalam soal-soal agama, keteladanan itu merupakan kewajiban, tetapi dalam soal-soal keduniaan maka ia merupakan anjuran. Dalam soal keagamaan, beliau wajib diteladani selama tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa ia adalah sebuah anjuran semata.

Baca Juga: Ibn Katsir: Sosok di Balik Lahirnya Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim

Sebagian ulama lain berpendapat bahwa keteladanan ini terbatas pada akhlak dan hal-hal keagamaan. Adapun aspek kehidupan yang lain, Nabi Muhammad Saw telah menyerahkan sepenuhnya kepada para pakar di bidang masing-masing. Ini didasarkan pada sebuah hadis beliau yang bermakna, “Apa yang aku sampaikan menyangkut ajaran agama, maka terimalah, sedang kamu lebih tahu persoalan keduniaan kamu.”

Imam al-Qarafi menegaskan bahwa seseorang harus cermat dalam memilah ketauladanan dari Nabi Saw. Karena menurutnya beliau dapat berperan sebagai Rasul, atau Mufti, atau Hakim Agung atau Pemimpin masyarakat, dan dapat juga sebagai seorang manusia, yang memiliki kekhususan-kekhususan yang membedakan beliau dari manusia-manusia lain, sebagaimana perbedaan seseorang dengan lainnya.

Ketika beliau dalam posisi sebagai nabi dan rasul, maka ucapan dan sikapnya pasti benar, karena itu bersumber langsung dari Allah Swt. Ketika beliau berposisi sebagai mufti, fatwa-fatwa beliau berkedudukan setingkat dengan butir pertama di atas, karena fatwa beliau adalah berdasar pemahaman atas teks-teks keagamaan di mana beliau diberi wewenang oleh Allah untuk menjelaskannya Tafsir Al-Misbah [11]: 245).

Ketika beliau berposisi sebagai pemimpin masyarakat, maka tentu saja petunjuk-petunjuk beliau disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan perkembangannya, sehingga tidak tertutup kemungkinan lahirnya perbedaan tuntunan kemasyarakatan antara satu masyarakat dengan masyarakat lain. Rasul Saw tidak jarang memberi petunjuk yang berbeda untuk sekian banyak orang yang berbeda dalam menyesuaikan dengan masing-masing mereka.

Terlepas dari perdebatan apakah seorang muslim harus meneladani seluruh kepribadian Nabi Muhammad Saw atau hanya sebagian saja, pada faktanya beliau adalah rahmat bagi alam semesta dan suri tauladan bagi manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Apa yang semestinya diteladani darinya bukan hanya terbatas pada hal-hal yang bersifat formal dan simbolik, namun juga hal-hal substansial dan universal. Wallahu a’lam.

Riyadhah KH. M. Munawwir Krapyak, dari Wirid Al Qur’an hingga Bertemu Nabi Khidir

0
Riyadhah KH. M. Munawwir
Riyadhah KH. M. Munawwir

Membaca kisah para ulama selalu memberikan keteladanan yang mendalam, terlebih tentang riyadhah, tirakat dan segala hal yang berkaitan dengan perjuangan. Begitu pun dengan mahaguru Pesantren Al Qur’an KH. M. Munawwir Krapyak, cerita perjuangannya laksana oase bagi para pembelajar Al Qur’an. Tulisan ini akan mengulas kisah riyadhah KH. M. Munawwir Krapyak, dari wirid al Qur’an hingga bertemu nabi Khidir

Dalam buku Para Penjaga Al-Qur’an biografi Huffaz Al-Qur’an di Nusantara, profil sang Kyai menjadi pembuka buku tersebut. Kyai yang lahir dari pasangan KH. Abdullah Rosyad dan Khadijah ini ternyata cucu dari ajudan Pangeran Diponegoro, yakni KH. Hasan Besari. Disebutkan juga bahwa kealiman KH. Munawwir dalam fan Ilmu Al Qur’an merupakan wasilah dari doa kakeknya yang ingin menghafalkan Al Qur’an namun serasa berat. Kemudian, doa dan usahanya terwujud melalui cucunya ini.


Baca juga: Sayyid Muhammad Husain Al-Thabathaba’i: Arsitek Tafsir Al-Mizan


Semasa kecil Kyai Munawwir layaknya anak-anak pada umumnya saat belajar Al Qur’an. Ia diberikan iming-iming hadiah di tengah proses penggemblengan yang ketat. Ayahnya sendiri selaku guru pertama, memberikan tantangan jika mampu megkhatamkan Al Qur’an dalam waktu seminggu maka Munawwir kecil mendapatkan imbalan Rp 2,50. Ternyata tantangan ini terlaksana dengan baik menjadi rutinitas, sampai tak lagi diiming-imingi hadiah tersebut.

Seiring bertambahnya usia, Kyai Munawwir mulai mengembara untuk mencari ilmu pada ulama-ulama lain baik di Nusantara maupun Haramain. Di antara guru-gurunya di Nusantara yaitu KH. Abdullah (Kanggotan – Bantul), KH. Kholil (Bangkalan – Madura), KH. Soleh (Darat – Semarang) dan KH. Abdurrahman (Watucongol – Magelang). Setelah itu, Kyai Munawir menimba ilmu ke Haramain dan berguru pada Syaikh Abdullah Sanqara, Syaikh Syarbini,  Syaikh Mukri, Syaikh Ibrahim Huzaimi, Syaikh Manshur, Syaikh Abdus Syakur, Syaikh Mushthafa, Syaikh Yusuf Hajar (guru dalam qira’ah sab’ah).

Dalam proses menimba ilmu inilah Kyai Munawwir memiliki riyadhah dan kegigihan yang luar biasa. Tak hanya itu, keistiqomahannya pun diterapkan hingga pulang ke Nusantara.


Baca juga: Abdul Qadir Mulla Huwaisy: Ahli Hukum Islam Penulis Tafsir Bayani al-Maani


Riyadhah Hafalan Al Qur’an hingga Bertemu Nabi Khidir

Kyai Munawwir dalam menghafal memiliki metode tersendiri. Pada tiga tahun pertama, ia mengkhatamkan Al Qur′an sekali selama tujuh hari tujuh malam. Tiga tahun selanjutnya, ia mengkhatamkan Al-Qur′an dalam waktu tiga hari tiga malam. Kemudian tiga tahun terakhir, ia hanya butuh waktu sehari semalam untuk mengkhatamkan Al-Qur′an. Bahkan menurut muridnya, setelah melalui tiga tahapan itu, Kyai Munawwir pernah khatam Al Qur’an tanpa henti selama 40 hari, hingga bibirnya berdarah.

Selain itu, ada kisah populer yang dituturkan oleh KH. Arwani Kudus bahwa Kyai Munawwir pernah didoakan Nabi Khidir. Saat itu Kyai Munawwir sedang melakukan perjalanan dari Mekkah ke Madinah. Namun ia berjumpa dengan orang tua yang tak ia kenal, lalu berjabat tangan. Ketika itu, Kyai Munawwir meminta doa agar menjadi orang yang benar-benar Hafiz Al Qur’an. Lalu orang itu pun menjawab Insya Allah.  Di kalangan Pesantren kisah-kisah seperti ini merupakan karomah sebab kebersihan hati sang Kyai.

Sepulang belajar dari Makkah Al Mukarraomah dan Madinah Al Munawwarah, Kyai Munawwir tetap menjaga amalan riyadhah. Dikisahkan KH. M. Munawwir selalu menunaikan shalat di awal waktu. Shalat sunnah juga tidak pernah lepas, seperti sunnah rawatib, witir, isyraq, dhuha, dan shalat tahajud yang mana semua shalat itu sebagai sarana untuk melantunkan hafalannya.

Kyai Munawwir juga mewiridkan al-Quran tiap ba’da Ashar dan ba’da Shubuh. Wirid Al Qur’an pun ia lantunkan sering kali memegang mushaf Al Qur’an, meski sudah hafal. Hal ini tentu lebih menguatkan hafalan dan memperlancar wirid. Banyak juga yang meyakini keistiqomahan Kyai Munawwir dalam mewiridkan Al Qur’an dalam kondisi apapun. Bahkan kemanapun beliau bepergian, baik berjalan kaki maupun berkendara. Secara rutin Kyai Munawwir mengkhatamkan Al Qur’an seminggu sekali, seperti halnya yang ia lakukan saat kecil.


Baca juga: Jalaluddin As-Suyuthi: Pemuka Tafsir yang Multitalenta dan Sangat Produktif


Dari riyadhah yang begitu konsistennya, Kyai Munawwir pun berhasil mencetak banyak ulama Al Qur’an. Di antara santri-santrinya yang meneruskan jejak perjuangan di daerah masing-masing yaitu, KH. Arwani Amin (Kudus), KH. Ahmad Umar Abdul Manan (Pesantren AlMuayyad, Mangkuyudan Solo), KH. Muntaha (Pesantren Al-Asy’ariyyah, Kalibeber Wonosobo), KH. Ahmad Badhawi Abdur Rosyid (Kaliwungu Semarang), KH. Zuhdi (Nganjuk Kertosono), dan kyai lainnya.

Hingga saat ini, Kyai Munawwir diyakini sebagai mahaguru pesantren Al Qur’an, bahkan ilmu Al Qur’an di pesantren Jawa kembali pada sanad Kyai Munawwir Krapyak. Tentu, hal ini tercapai berkat riyadhah, keikhlasan dan keistiqomahan Kyai dalam mengajarkan Al Qur’an.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam[]

Abdul Qadir Mulla Huwaisy: Ahli Hukum Islam Penulis Tafsir Bayani al-Maani

0
Abdul Qadir Mulla Huwaisy
Abdul Qadir Mulla Huwaisy

Perkembangan kajian tafsir Al-Quran dari waktu ke waktu mengalami perubahan paradigma penafsiran. Jika dahulu normatifnya produk penafsiran Al-Qur’an menggunakan tartib mushafi, maka pada era kontemporer ini mulai muncul produk tafsir yang menggunakan tartib nuzuli. Yaitu menafsirkan Al-Quran menggunakan urutan kronologis turunya ayat Al-Qur’an. Mungkin jika mendengar kata tafsir nuzuli, maka nama yang sering disematkan dengan kata tersebut adalah Muhammad Izzah Darwazah. Namun, ternyata terdapat seorang ulama kontemporer asal Irak yang juga termasuk pelopor tafsir nuzuli yaitu Abdul Qadir Mulla Huwaisy.

Biografi Intelektual Abdul Qadir

Memiliki nama lengkap Sayyid Abdul Qadir ibn Muhammad Huwaish ibn Mahmud. Nasab dari ayahnya terus bersambung hingga Sayyid Musa al-Kadzim ibn Imam Ja’far ash-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir ibn Imam Zainal ‘Abidin ibn Sayyidina Husain ibn Amirul Mu’minin Ali ibn Abi Thalib. Sedangkan nasab dari ibunya berasal dari jalur sayyidina Hasan. Sehingga baik nasab dari ayahnya maupun ibunya, semuanya bersambung hingga Rasulullah.

Sayyid Abdul Qadir dilahirkan pada tahun 1885 di kota Anah, Irak. Ayahnya yaitu Sayyid Muhammad merupakan seorang Hakim sekaligus pengajar anak-anak di Huwaisy dekat tempat tinggalnya. Oleh karena itu, julukan (laqab) Huwaisy merupakan nisbah kepada asal tempat tinggalnya. Sedangkan nama Mulla bermakna sebagai guru atau pengajar.


Baca Juga: Para Tabi’in Utama Jebolan Madrasah Tafsir Ibn Mas’ud di Irak


Sayyid Abdul Qadir memulai mempelajari dasar-dasar keilmuan Islam di kota Anah, Irak. Tak lama kemudian, beliau melanjutkan pengembaraan intelektualnya di kota Baghdad. Di tempat tersebut, Sayyid Abdul Qadir mempelajari ilmu-ilmu hukum Islam di Masjid Abu Hanifah. Pada saat umur 11 tahun, beliau telah memakai pakaian kehormatan bagi seorang pelajar yaitu Imamah. Tidak berhenti disitu, ia kemudian melanjutkan belajar di Madrasah al-Syar’iyyah di Dayr az-Zawr, Suriah dan berhasil mendapatkan syahadah al-rasyadiyah.

Karena Sayyid Abdul Qadir merupakan pengikut madzhab Imam Abu Hanifah, maka mayoritas gurunya merupakan pembesar ulama hanafiyah saat itu. Terdapat tiga nama guru yang paling mempengaruhi Sayyid Abdul Qadir, yaitu al-Muhaddits al-Akbar Syaikh Badruddin al-Husaini, Syaikh Husain al-Azhari, al-Allamah Syaikh Ahmad ibn Muhammad Basyir.

Beberapa jabatan yang Sayyid Abdul Qadir emban semasa hidupnya, seperti Hakim Syar’i, pengajar, penasehat, pendakwah, dan anggota di Qadha’i al-Bukamal wa al-Mayadin (1910-1919); ketua Kuttab Mahkamah Syar’iyah wa Mahkamah Isti’naf (1920-1927); Hakim dan anggota Mahkamah Jinayah di al-Mayadin wa Muhafadhah al-Jazirah (1927-1935); Hakim Syar’i di al-Jaulan wa al-Zawiyah ( 1935-1940); dan masih banyak lainya.

Sayyid Abdul Qadir wafat pada tahun 1978, ketika usianya mencapai 98 tahun. Selama hidupnya, ia telah menghasilkan karya tulisan sebanyak kurang lebih sembilan judul buku. Beberapa buku tersebut antara lain yaitu: Ilm al-Faraidh, Husn al-Qaul, al-Tasyri’ al-Islamiy, Qawa’id al-Lughah al-Arabiyah, al-Qaul fi Ilm al-Tauhid, Diwan Khotb wa Mawa’idh, Ahsan al-Bayan fi al-Qur’an, Ahsan al-Sunan fi al-Adzkar wa al-Sunan. Terakhir yaitu karya fenomenalnya yang berjudul Bayani al-Ma’ani.


Baca Juga: Mengenal Al-Alusi: Sang Arsitek Ruh al-Ma’ani


Sekilas Tafsir Bayani al-Ma’ani

Kitab tafsir Bayani al-Ma’ani mulai dikarang oleh Sayyid Abdul Qadir pada tahun 1936. Kitab ini pertama kali diterbitkan oleh Mathba’ah al-Turqiy pada tahun 1962 di Damaskus dengan ketebalan kitab mencapai enam jilid. Walaupun berbeda dengan umumnya kitab tafsir lainya, Sayyid Abdul Qadir menganggap apa yang dilakukan tersebut bukanlah suatu hal yang bid’ah, tetapi justru hal baru yang baik (sunnah hasanah).

Tafsir tersebut terbagi menjadi tiga bagian, dua bagian berisi penafsiran surah-surah makkiyah yang tersusun pada empat jilid pertama tafsirnya. Sedangkan satu bagian sisanya berisi penafsiran kumpulan surah madaniyah yang tertulis dalam dua jilid sisanya. Secara rinci, sistematika dalam tafsir Bayani al-Ma’ani tersusun sebagaimana berikut:

Jilid pertama berisi mukaddimah dan pembahasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu Al-Qur’an dan tafsir, serta penjelasan historis tentang kelahiran Nabi Muhammad. Setelah itu dilanjutkan dengan penafsiran Q.S. al-Alaq [96] – Q.S. al-A’raf [7]; jilid kedua berisi penafsiran Q.S. al-Jin [72] – Q.S. al-Isra’ [17]; jilid ketiga: Q.S. Yunus [10] – Q.S. Ghafir [40]; jilid keempat: Q.S. Fushilat [41] – Q.S. al-Muthaffifin [83]; jilid kelima: Q.S. al-Baqarah [2] – Q.S. al-Nisa’ [4]; terakhir yaitu jilid keenam: Q.S. al-Zalzalah [99] – Q.S. al-Nashr [110].

Dalam sebuah artikel jurnal yang berjudul al-Tafsir bi Hasb al-Nuzul ‘inda al-Hadatsiyyin al-Syaikh Abd al-Qadir Mulla Huwaish Anmudzujan karya Aminah Fadhil Fayadh. Dijelaskan bahwa terdapat enam kitab tafsir kontemporer yang menggunakan urutan tartib nuzuli dalam proses penafsiran Al-Qur’an.

Diantaranya adalah al-Tafsir al-Hadis karya Muhammad Izzah Darwazah (1888-1984), Bayani al-Ma’ani karya Abdul Qadir Mulla Huwaisy (1885-1978), Tafsir al-Qur’an al-Murattab karya Ali As’ad Ahmad Ali (w. 1937), Ma’arij al-Tafakkur wa Daqaiq al-Tadabbur karya Abdurrahman Hasan Habannakah al-Maidani (1908-1978), Madkhal ila al-Qur’an al-Karim karya Muhammad Abid al-Jabiri (1935-2010),dan Ahsan Qashash karya Ibnu Qarnas.

Terkait sumber penafsirannya, Sayyid Abdul Qadir menggabungkan antara tafsir bi al-ma’tsur dengan mengambil riwayat dari Nabi, Sahabat, maupun Tabi’in, serta tafsir bi al-ra’y dengan penggunaan nalar rasio sebagai alat bantu dalam memahami teks Al-Qur’an. Dalam proses penafsiranya, ia mengutamakan al-aqwal al-mu’tamad, kemudian al-ashah, al-shahih, al-ahsan atau menggunakan fatwa.

Sayyid Abdul Qadir Mulla Huwaisy juga mengutip berbagai pendapat dari para Mufasir klasik maupun kontemporer, seperti Ibnu Abbas, al-Baghawi, al-Razi, al-Alusi, Ibnu Katsir, Ibnu Arabi, al-Thabari, al-Zamakhsyari, Muhammad Abduh, dan masih banyak lainya. Selain itu, ia juga mengutip kitab fikih seperti al-Mabsuth, dan al-Bajuri. Sedangkan dalam bidang tasawuf ia mengutip kitab Ihya’ Ulumuddin, al-Risalah al-Qusyairiyah dan masih banyak kitab dengan berbagai cabang keilmuan Islam lainya. Wallahu A’lam

Tafsir Surat Al Baqarah Ayat 1-2

0
tafsir surat al baqarah
Penamaan “Surat Al-Baqarah”

Sebelumnya membahas Tafsir Surat Al Baqarah ayat 1-2, baik kiranya berkenalan dulu dengan Surat al Baqarah. Surat ini berjumlah 286 ayat. Surat ini termasuk golongan surat thiwal (panjang) dan termasuk kategori surat madaniyah. Alasannya karena kebanyak ayatnya turun di setelah Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Selain itu topik pembiraannya berkaitan dengan hukum.

Pembahasan diawali dengan Tafsir Surat Al Baqarah ayat 1-2. Pembahasan ini berkaitan dengan huruf muqata’ah atau huruf lepas yang terpisah-pisah. Ada sekitar 29 surat yang dimulai dengan huruf muqata’ah, salah satunya adalah surat al Baqarah ini.

Dalam Tafsir Surat Al Baqarah ayat 1-2 ini juga dipaparkan mengenai maksud dari penyebutan huruf muqata’ah ini serta apa hikmah yang ada dibalik penyebutannya. setidaknya ada dua pendapat mengenai hal itu.

Pada akhir pembahasan Tafsir Surat Al Baqarah ayat 1-2 ini berkaitan dengan adanya Alquran. Adanya Alquran ini tidak perlu di ragukan lagi kebenarannya karena memang seluruhnya merupakan firman Allah swt untuk seluruh umat manusia yang disampaikan melalui Nabi Muhammad saw.

Ayat 1

Alif Lam Mim. Ayat pertama surah Al-Baqarah ini terdiri dari huruf-huruf lepas. Sebagaimana pada surah-surah Makkiyah banyak yang dibuka dengan huruf-huruf lepas seperti Alif Lam Ra, Alif Lam Mim Ra, Ha Mim, Ta Ha, Kaf Ha Ya ‘Ain Sad, dan lain-lain.

Surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf singkatan (muqata’ah) semuanya berjumlah 29 surah. Selengkapnya sebagai berikut: al-Baqarah dengan Alif Lam Mim, Ali ‘Imran dimulai dengan Alif Lam Mim, al-A’raf dimulai dengan Alif Lam Mim Sad, Yunus dengan Alif Lam Ra, Hud dengan Alif Lam Ra, ar-Ra’d dengan Alif Lam Mim Ra; Ibrahim dengan Alif Lam Ra; al-Hijr dengan Alif LAm Ra;

Maryam dengan Kaf Ha Ya ‘Ain Sad; Taha dengan Ta Ha; asy-Syu’ara′ dengan Ta Sin Mim; an-Naml dengan Ta Sin; al-Qasas dengan Ta Sin Mim; al-‘Ankabut dengan Alif Lam Mim; ar-Rum dengan Alif Lam Mim, Luqman dengan Alif Lam Mim, as-Sajdah dengan Alif Lam Mim, Yasin dengan Ya Sin; Sad dengan Sad; al-Mu′min dengan Ha Mim; Fussilat dengan Ha Miim; asy-Syura dengan Ha Mim; az-Zukhruf dengan Ha Mim; ad-Dukhan dengan Ha Mim; al-Jasiyah dengan Ha Mim; al-hqaf dengan Ha Mim; Qaf dengan Qaf; dan al-Qalam dengan Nun.

Huruf yang disebutkan ini berjumlah 14 huruf, yaitu setengah dari huruf hijaiyah. Huruf-huruf ini adalah huruf-huruf yang banyak terpakai dalam bahasa Arab. Huruf-huruf ini ada yang disebutkan berulang-ulang.

Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari Alquran itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini.

Tentang soal pertama, maka para mufasir berlainan pendapat:

  1. Ada yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, “Allah saja yang mengetahui maksudnya.” Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayat-ayat mutasyabihat.
  2. Ada yang menafsirkannya. Mufasir yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka:
  3. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (singkatan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka Alif adalah singkatan dari “Allah”, Lam singkatan dari “Jibril”, dan Mim singkatan dari Muhammad, yang berarti bahwa Al-Qur′an itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra, Alif singkatan dari “Ana”, Lam singkatan dari “Allah” dan Ra singkatan dari “ar-Rahman”, yang berarti “Aku Allah Yang Maha Pengasih.”
  4. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu.
  5. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan Alif adalah “Alif”, yang dimaksud dengan Lam, adalah “Lam”, yang dimaksud dengan Nµn adalah “Nun”, dan begitu seterusnya.
  6. Huruf-huruf abjad itu untuk menarik perhatian. Ada mufasir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah Alquran untuk menarik perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh Bangsa Arab pada waktu itu, karena itu maka hal ini menarik perhatian mereka.
  7. Untuk tantangan. Menurut para mufasir ini, huruf-huruf singkatan itu disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Al-Qur′an, hikmahnya adalah untuk “menantang”. Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Al-Qur′an itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf singkatan, seperti Alif Lam Mim Ra, Kaf Ha Ya ‘Ain Sad, Qaf, Ta Sin dan lain-lain.

Maka kalau kamu tidak percaya bahwa Alquran datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Alquran ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya”

Maka ada “penantang”, yaitu Allah, dan ada “yang ditantang”, yaitu bangsa Arab, dan ada “alat penantang”, yaitu Alquran. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk beluk bahasa Arab menurut naluri mereka, karena di antara mereka itu ada pujangga-pujangga, penyair-penyair dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab tantangan Alquran dengan membuat ayat-ayat seperti Alquran.

Ada juga di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan Alquran itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayat-ayat Alquran itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri.


Baca juga: Ayat-ayat Spesial itu Dikenal dengan Huruf Muqattaah


Ayat 2

Ayat ini menerangkan bahwa AAlquran tidak dapat diragukan, karena ia wahyu Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw Nabi yang terakhir dengan perantaraan Jibril a.s. :

وَاِنَّهٗ لَتَنْزِيْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ    ١٩٢  نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْاَمِيْنُ ۙ   ١٩٣

Dan sungguh (Alquran) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, yang dibawa oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) (asy-Syu’ara’/26: 192-193)

Yang dimaksud “Al-Kitab” (wahyu) di sini ialah Alquran. Disebut “Al-Kitab” sebagai isyarat bahwa Alquran harus ditulis, karena itu Nabi Muhammad saw memerintahkan para sahabat menulis ayat-ayat Alquran.

Alquran merupakan bimbingan bagi orang yang bertakwa, sehingga dia berbahagia hidup di dunia dan di akhirat nanti. Orang yang bertakwa ialah orang yang memelihara dan menjaga dirinya dari azab Allah dengan selalu melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Di antara tanda-tanda orang yang bertakwa ialah sebagaimana yang tersebut pada ayat-ayat berikut:


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 3


(Tafsir Kemenag)

Spiritualitas dalam Proses Bercocok Tanam: Tafsir Surat Al-Waqiah Ayat 63-67

0
bercocok tanam
bercocok tanam (nusantaranews.co)

Manusia yang gemar bercocok tanam kadang tak sadar memiliki keyakinan, bahwa merekalah yang sepenuhnya menentukan tumbuh tidaknya apa yang mereka tanam. Kebiasaan yang mereka jalani berupa menanam benih, menyemai, memupuk sampai memanen, serta melakukan evaluasi dan perbaikan, membuat mereka merasa seakan karena tidak akan ada satupun proses dari tumbuhnya tanaman mereka yang lewat dari pengawasan mereka, panen mereka pasti berhasil. Mereka memiliki keyakinan, mana mungkin hasil panenku gagal?

Padahal, sebagaimana banyaknya jalan Allah memberi rizki pada hambanya, Allah juga memiliki banyak jalan menghalangi hal yang dicita-citakan hamba-Nya. Dalam proses bercocok tanam, dengan metode serta pengawasan yang ketat, Allah bisa membuat sebuah panen gagal. Misalnya dengan hama baru yang datang. Atau dengan datangnya bencana di luar yang dibayangkan para petani. Misalnya bencana banjir maupun gempa bumi.

Allah berfirman menyitir para petani yang lalai dengan kuasa Allah pada yang mereka tanam,

اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَحْرُثُوْنَۗ ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الزّٰرِعُوْنَ لَوْ نَشَاۤءُ لَجَعَلْنٰهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُوْنَۙ اِنَّا لَمُغْرَمُوْنَۙ بَلْ نَحْنُ مَحْرُوْمُوْنَ

Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang, (sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun.” (Q.S. Al-Waqi’ah [56] 63-67).

Baca juga: Tafsir Ekologi: Mengenal Ayat-Ayat Lingkungan dalam Al-Quran

Al-Quran Membetulkan Nalar Bertanam

Ayat di atas sebenarnya berbicara tentang orang-orang yang tidak percaya dengan adanya hari pembalasan. Allah meminta mereka untuk memilikirkan kembali segala apa yang sudah mereka lakukan. Adakah suatu hal yang tidak mereka sadari? Mereka lalai akan kuasa Allah atas segala hal. Mereka mengira bahwa merekalah yang menetukan tumbuh atau tidaknya apa yang mereka tanam. Namun, benarkah mereka yang menentukan berhasil atau tidaknya apa yang mereka tanam?

Allah meminta mereka memperhatikan pada yang mereka tanam lalu Allah bertanya. “Apakah kalian yang menumbuhkannya, atau Aku?” Allah berlanjut mengajak berfikir. Bisakah tiba-tiba panen mereka gagal lalu tanpa dapat dibayangkan sebelumnya mereka hanya bisa berkata: ““Sesungguhnya Kami benar-benar menderita kerugian. Bahkan Kami menjadi orang-orang yang tidak mendapat hasil apa-apa”?.

Larangan Mengucapkan “Aku Menumbuhkan”

Terkait ayat di atas, Nabi Muhammad melarang para sahabat mengucapkan زرعتُ (aku menumbuhkan), dan menjadikan kata حرثتُ  (aku menanam) sebagai gantinya. Sahabat Abi Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad bersabda:

لاَ يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ زَرَعْتُ وَلَكِنْ لِيَقُلْ حَرَثْتُ

Janganlah salah seorang dari kalian mengucapkan: “Aku menumbuhkan”. Namun berucaplah: “Aku menanam”. (HR. Imam Baihaqi, Ibn Hibban, At-Thabrani)

Abi Hurairah berkata terkait riwayat di atas: “Apa kalian tidak mendengar firman Allah: ‘Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau kamikah yang menumbuhkannya? (Q.S. Al-Waqi’ah [56] 63-64)’ (Sahih Ibn Hibban/13/30).

Baca juga: Mensyukuri Eksistensi Laut Bagi Umat Manusia

Doa Agar Memperoleh Panen Yang Memuaskan

Imam Al-Alusi mengutip keterangan Imam Qurthubi dalam tafsirnya, bahwa agar tanaman terhindar dari penyakit dan memperoleh hasil panen yang memuaskan, bagi petani dianjurkan usai membaca taawuudz serta Al-Waqi’ah ayat 64, agar membaca doa:

اَللهُ تَعَالٰى اَلزَّارِعُ وَالْمُنْبِتُ وَالْمُبْلِغُ اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَارْزُقْنَا ثَمَرَهُ وَجَنِّبْنَا ضَرَرَهُ وَاجْعَلْنَا لِأَنْعُمِكَ مِنَ الشَّاكِرِيْنَ

Allaahu ta’ala az-zaari’u wal munbitu wal mublighu. Allaahumma sholli ‘alaa muhammadin warzuqnaa tsamarahu wajannibna dhararahu waj’al lian’umika minasy syaakiriin

Allah ta’ala yang membuat tanaman tumbuh. Ya Allah, berikan rahmat keagungan-Mu pada Nabi Muhammad. Berilah rizki pada kami berupa buah-buahan tanaman tersebut dan jauhkanlah kami dari bahayanya. Dan jadikan kami termasuk yang mensyukuri nikmat-nikmat-Mu (Tafsir Al-Alusi/20/256). Wallahu A’lam.

Tadabbur Atas Surat Al-‘Alaq Ayat 1-5: Wahyu Pertama Perintah Membaca

0
Surat Al-Alaq Ayat 1-5
Surat Al-'Alaq Ayat 1-5

Wahyu pertama yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya Muhammad saw adalah Surat Al-Alaq Ayat 1-5. Wahyu pertama ini menandai pengangkatan Muhammad sebagai Nabi dan utusan Allah swt. Kelima ayat itu adalah sebagai berikut:

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ. ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ. ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ. عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Rangkaian Surat Al-Alaq Ayat 1-5 di atas memiliki sususan kata yang unik dan serasi. Ada enam kata yang disebut berulang sebanyak dua kali, yaitu kata-kata: اقْرَأْ – رَبُّكَ – الَّذِي – خَلَقَ – الإِنْسَانُ – dan عَلَّمَ. Pengulangan kata-kata ini sekaligus menunjukkan ada pesan penting yang harus ditegaskan yang disampaikan oleh Allah Swt kepada Rasulullah dalam wahyu pertama ini. Pengulangan kata-kata dapat dipahami sebagai berikut:

  1. Kata اقرأ mengandung pesan perintah kepada Nabi Muhammad dan umatnya untuk membaca dan membaca apa saja yang ada di alam raya ini, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.
  2. Kata ربك mengandung pesan bahwa Tuhan yang telah menciptakan manusia yang memerintahkan Nabi Muhammad dan umatnya untuk membaca dan Tuhan pula yang mengajarkan ilmu kepada Nabi Muahmmad dan seluruh manusia.
  3. Kata الذي mengandung pesan bahwa Tuhan-lah yang memerintahkan membaca dan mengajarkan semua ilmu.
  4. Kata خلق mengandung pesan bahwa Tuhanlah yang telah menciptakan alam ini seluruhnya dari tidak ada menjadi ada dan Tuhan pula yang telah menciptakan semua manusia dari tidak ada menjadi ada.
  5. Kata الإنسان mengandung makna bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah dan hanya manusia yang dapat menerima dan memiliki ilmu.
  6. Kata علم mengandung pesan bahwa hanya Allah yang mengajarkan ilmu sehingga manusia pandai menulis dan dapat mengetahui sesuatu yang belum diketahui sebelumnya.

Baca Juga: Memahami Kalimat Ta’awwudz Sebelum Membaca Al-Quran dengan Metode Tadabbur

Ayat pertama dari Surat Al-Alaq Ayat 1-5 di atas adalah ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ. Pesan-pesan penting yang harus kita pahami dari ayat pertama ini adalah sebagai berikut:

Pertama, kata اقرأ dalam ayat ini adalah kata kerja perintah yang menunjukkan arti “Bacalah.” Kata ini menunjukkan perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk membaca. Muhammad Saw diperintahkan untuk membaca, membaca, dan membaca. Apa yang harus dibaca oleh Muhammad tidak disebutkan di dalam ayat ini.

Ini menunjukkan bahwa Muhammad diperintahkan untuk membaca, membaca, dan membaca apa saja. Perintah membaca ini tidak hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad, tetapi juga ditujukan kepada umatnya seluruhnya.

Kedua, frasa باسم ربك menunjukkan arti dengan “nama Tuhanmu.” Kita tahu bahwa Allah mempunyai 99 nama yang paling baik yang kita kenal dengan sebutan “Asmaul Husna.” Kata ربك menunjukkan arti “Tuhanmu, Tuhan Nabi Muhammad.” Kata ربك ini menunjukkan arti bahwa Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan Nabi Muhammad, Tuhan Yang telah memberikan segala nikmat dan rahmat, Tuhan yang telah menghidupkan dan Tuhan yang telah mematikan.

Ketiga, frasa الذي خلق menunjukkan arti “yang telah menjadikan.” Kata خلق yang ada di dalam ayat ini sengaja tidak disebutkan objeknya, untuk menunjukkan bahwa Allah yang telah menciptakan segala sesuatu yang ada di alam ini, yang menciptakan manusia, yang menciptakan seluruh yang ada di alam ini, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi.

Pesan utama dari ayat ini adalah perintah untuk membaca. Membaca tidak hanya ditujukan kepada Nabi Muhammad, tetapi juga kepada seluruh umatnya. Seakan-akan Allah menyatakan: “Wahai Muhammad dan umat manusia, bacalah, bacalah, dan bacalah, baik yang tertulis dan yang tidak tertulis, yang ada di hadapanmu dan yang ada di sekitarmu, dengan menyebut dan mengingat nama Tuhanmu, yang memberi kehidupan kepadamu, yang mengatur segala urusanmu, yang memberi rahmat kepadamu, dan yang mematikanmu, yang telah menciptakan dirimu, menciptakan manusia seluruhnya, dan yang telah menciptakan alam ini seluruhnya, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi ini.”

Baca Juga: Mengaplikasikan Metode Tadabbur Saat Membaca Al-Quran dan Langkah-Langkahnya

Ayat ketiga dari Surat Al-Alaq Ayat 1-5 berbunyi اقرآ وربك الآكرم. Rangkaian ayat ketiga ini juga mengandung pengertian dan makna yang dalam yang perlu kita tadabburi. Tadabbur yang pertama yang harus kita lakukan terhadap maknanya/terjemahannya. Terjemahan dari ayat ini adalah: “Bacalah, wahai Muhammad, sedangkan Tuhanmu adalah Zat Yang Paling Agung.”

Tadabbur kedua yang harus kita lakukan ialah kandungannya. Ayat yang singat dan pendek ini memerintahkan kembali Nabi Muhammad untuk membaca, membaca, dan membaca yang ada di alam ini, baik yang tertulis, seperti Al-Qur’an maupun ayat yang tidak tertulis yang terdapat di alam sekitarnya. Perintah membaca itu ditujukan pula kepada seluruh umatnya.

Perintah untuk membaca kepada Nabi Muhammad itu akan menghasilkan hasil bacaan yang banyak. Dengan banyak membaca, seseorang mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan.

Banyak membaca yang tertulis akan mengahasilkan pengetahuan yang luar biasa. Membaca apa yang ada di alam sekitar menghasilkan pengetahuan empirik yang sangat luas dan dalam. Bahkan, banyak membaca apa yang tertulis dan tidak tertulis akan menjadikan kuatnya iman dan keyakinan tentang pencipta alam raya ini, yaitu Allah swt.

Tetapi, harus Anda ingat sebanyak apa pun ilmu yang engkau miliki dari hasil membaca yang tertulis dan tidak tertulis, maka Allah tetap yang Maha Agung.

Allah Swt tetap yang paling tinggi ilmu-Nya, Allah tetap yang paling luas ilmu-Nya, Allah tetap yang paling dalam ilmu-Nya. Tidak ada satu pun manusia yang dapat menandingi ilmu Allah, tidak ada satu pun manusia yang dapat menyamai ilmu Allah swt.

Baca Juga: Mana yang Lebih Utama, Membaca Al-Quran dengan Hafalan atau dengan Melihat Mushaf?

Oleh sebab itu, frase وربك الآكرم menunjukkan pengertian dan pemahaman bahwa sehebat apa pun ilmu yang engkau peroleh dari hasil bacaanmu sampai kapan pun, maka ilmu Allah Swt tetap yang paling tinggi dan paling luas.

Dari pesan ini dapat kita pahami, bahwa seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi, ilmu yang luas, dan ilmu yang dalam, tidak boleh sombong karena ilmunya itu. Sebab, pada hakikatnya ilmu yang kita miliki itu sangat sedikit, Hanya Allah yg ilmu-Nya tiada tandingannya dengan ilmu manusia. Wallahu A’lam.

Tafsir Surat Al An’am Ayat 51-52

0
tafsir surat al an'am
tafsiralquran.id

Pada Tafsir Surat Al An’am Ayat 51-52 ini Allah swt memberikan peringatan dan penyampaian kepada mereka yang ingkar kepada risalah Nabi Muhammad saw. Sedangkan pembahasan yang lalu merupakan perintah untuk menyampaikan risalah.


Baca sebelumnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 50


Salah satu pengingkaran yang di sebutkan dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 51-52 ini adalah sebuah sebab nuzul yang berkisah tentang keengganan pemuka Quraisy terhadap risalah Nabi Muhammad saw. Pasalnya mereka tidak mau satu level dengan penerima risalah Nabi Muhammad saw dari kalangan bawah. Memang pada saat itu yang menerima risalah Nabi kebanyakan dari kalangan bawah.

Namun lebih lanjut dalam Tafsir Surat Al An’am Ayat 51-52 ini Allah swt menginformasikan kepada bahwa umat-umat terdahulu yang pertama-tama menerima risalah nabinya datang dari kalangan bawah. Hal ini terjadi karena mereka tidak ada urusan dengan gengsi. Pembahasan ini ditutup dengan himbauan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw agar tidak memangdang rendah hamba Allah swt dari kalangan manapun.

Ayat 51

Sebab turun ayat ini diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan at-Tabrani dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, “Para pembesar Quraisy lewat di hadapan Rasulullah saw, dan di dekat beliau ada para sahabat yang dianggap rendah kedudukannya oleh orang-orang Quraisy, seperti Suhaib, Ammar, Khabab dan yang lainnya, para pembesar Quraisy itu berkata:

“Ya Muhammad, apakah kamu rela mereka yang rendah derajat itu menjadi pengganti kami? Apakah mereka itu orang-orang yang dikaruniai Allah di antara kita? Apakah kami akan menjadi pengikut mereka? Maka singkirkanlah mereka dari kamu, mudah-mudahan jika mereka telah tersingkir, kami akan mengikuti engkau.” Maka Allah menurunkan ayat ini.

Pada ayat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya agar memberi peringatan dan menyampaikan ancaman Allah kepada orang-orang yang mengingkari seruannya, setelah pada ayat-ayat yang lalu Allah memerintahkan agar menyampaikan risalah. Hal ini adalah wajar, karena orang yang diberi peringatan dan ancaman itu telah sampai kepadanya seruan Rasul dan pelajarannya, sehingga dapat mengambil manfaat dari ajaran itu, sesuai dengan firman Allah swt:

اِنَّمَا تُنْذِرُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَ ۗوَمَنْ تَزَكّٰى فَاِنَّمَا يَتَزَكّٰى لِنَفْسِهٖ ۗوَاِلَى اللّٰهِ الْمَصِيْرُ

Sesungguhnya yang dapat engkau beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada (azab) Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka yang melaksanakan salat. Dan barang siapa menyucikan dirinya, sesungguhnya dia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allah-lah tempat kembali. (Fatir/35: 18)

Firman Allah swt:

اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍ

Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia. (Yasin/36: 11)

Allah memerintahkan Nabi Muhammad agar memberi peringatan kepada orang-orang yang telah beriman, yang telah mengakui adanya hari akhirat, dan adanya suatu hari yang pada hari itu manusia menghadap Allah mempertanggungjawabkan segala perbuataannya yang telah dilakukannya di dunia, dan tidak seorang pun yang dapat menolong yang lain, sebagaimana tersebut dalam firman Allah swt:

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْـًٔا ۗوَالْاَمْرُ يَوْمَىِٕذٍ لِّلّٰهِ

(Yaitu) pada hari (ketika) seseorang sama sekali tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (al-Infitar/82: 19)

Orang-orang yang benar-benar beriman selalu berusaha menyempurnakan takwanya kepada Allah, selalu mencari keridaan-Nya, tanpa menggantungkan diri kepada orang lain seperti wali-wali dan orang saleh. Mereka yakin dan percaya bahwa iman, amal dan kebersihan jiwa dapat membebaskan mereka dari segala siksaan Allah.

Adapun orang-orang kafir, mereka tidak perlu diberi peringatan, karena peringatan dan ancaman itu tidak berfaedah baginya, mereka tidak percaya sedikit pun bahwa iman, amal dan kebersihan jiwa dapat membebaskan mereka dari siksaan Allah.

Ayat 52

Allah memperingatkan agar Rasulullah jangan sekali-kali mengabaikan orang-orang yang menyembah dan menyeru Allah pagi dan petang, semata-mata untuk mencari keridaan Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, walaupun mereka itu adalah orang-orang yang termasuk golongan rendah dalam masyarakat.

Mereka beribadah, beramal dan bersedekah semata-mata karena Allah, tidak menginginkan pujian dari manusia, sebagaimana tersebut dalam firman Allah swt:

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَاۤءً وَّلَا شُكُوْرًا

(sambil berkata), ”Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. (al-Insan/76: 9)

Firman Allah:

وَمَا لِاَحَدٍ عِنْدَهٗ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزٰىٓۙ  ١٩

اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْاَعْلٰىۚ  ٢٠

وَلَسَوْفَ يَرْضٰى ࣖ  ٢١

Dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna). (al-Lail/92: 19-21)

Sekalipun di antara mereka ada orang yang dipandang rendah kedudukannya dalam masyarakat, tetapi dia di sisi Allah adalah orang yang paling mulia. Allah swt berfirman:

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

… Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (al-Hujurat/49: 13)


Baca juga: Kriteria Orang Bertakwa dalam Al-Quran Surat Yunus Ayat 133-135


Ayat di atas dan sebab turunnya mengisyaratkan kepada Nabi Muhammad, bahwa telah berlaku sunatullah atas beliau seperti yang telah berlaku pada rasul-rasul terdahulu, yaitu kebanyakan dari orang-orang yang lebih dulu beriman dan mengikuti seruan mereka adalah orang-orang yang mempergunakan akal pikirannya, tetapi mereka adalah orang-orang yang miskin atau orang-orang yang dipandang hina oleh masyarakatnya, sedangkan pemuka-pemuka masyarakat dan orang-orang kaya memusuhi dan mengingkari seruan rasul, sebagaimana firman Allah swt.

وَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ  ۙاِنَّا بِمَآ اُرْسِلْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ   ٣٤

وَقَالُوْا نَحْنُ اَكْثَرُ اَمْوَالًا وَّاَوْلَادًاۙ وَّمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِيْنَ   ٣٥

Dan setiap Kami mengutus seorang pemberi peringatan kepada suatu negeri, orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) berkata, ”Kami benar-benar mengingkari apa yang kamu sampaikan sebagai utusan.” Dan mereka berkata, ”Kami memiliki lebih banyak harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami tidak akan diazab. (Saba′/34: 34-35)

Firman Allah swt:

فَقَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖ مَا نَرٰىكَ اِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرٰىكَ اتَّبَعَكَ اِلَّا الَّذِيْنَ هُمْ اَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِۚ وَمَا نَرٰى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍۢ بَلْ نَظُنُّكُمْ كٰذِبِيْنَ

Maka berkatalah para pemuka yang kafir dari kaumnya, ”Kami tidak melihat engkau, melainkan hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya. Kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu adalah orang pendusta.” (Hµd/11: 27)

Allah memperingatkan Nabi Muhammad, bahwa dia tidak berwenang menilai perbuatan orang-orang yang berdoa dan menyembah Allah pagi dan petang, sebagaimana pula mereka tidak berwenang menilai perbuatan Rasul. Yang berwenang menilai semuanya hanyalah Allah karena Dia Pemilik dan Penguasa alam semesta ini.

Orang-orang mukmin bukanlah budak dan bukan pula pesuruh atau pegawai Rasul, mereka adalah hamba Allah yang selalu mencari keridaan-Nya, sedang Rasul adalah utusan Allah yang bertugas menyampaikan wahyu kepada  manusia.

Allah swt berfirman :

فَذَكِّرْۗ اِنَّمَآ اَنْتَ مُذَكِّرٌۙ  ٢١  لَّسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍۙ  ٢٢

Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka. (al-Gasyiyah/88: 21-22)

Oleh sebab itu, janganlah sekali-kali Nabi Muhammad mengusir orang-orang yang menyembah dan menghambakan diri, pagi atau petang itu. Jika Nabi saw, melakukannya maka berarti ia termasuk orang-orang yang zalim, karena yang berwenang menilai dan memberi balasan itu hanyalah Allah semata.


Baca setelahnya: Tafsir Surat Al An’am Ayat 53-55


(Tafsir Kemenag)